seksual pada lansia by Q4xQa1Qf

VIEWS: 2,320 PAGES: 29

									                                                                                                               1
                                                                            Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



                                               BAB I
                                        PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
             Kehidupan seksual merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga kualitas
   kehidupan seksual ikut menentukan kualitas hidup. Hubungan seksual yang sehat adalah
   hubungan seksual yang dikehendaki, dapat dinikmati bersama pasangan suami dan istri dan
   tidak menimbulkan akibat buruk baik fisik maupun psikis termasuk dalam hal ini pasangan
   lansia.
             Dewasa lanjut (Late adult hood) atau lebih dikenal dengan istilah lansia adalah periode
   dimana seseorang telah mencapai usia diatas 45 tahun. Pada periode ini masalah seksual masih
   mendatangkan pandangan bias terutama pada wanita yang menikah, termasuk didalamnya
   aspek sosio-ekonomi. Pada pria lansia masalah terbesar adalah masalah psikis dan jasmani,
   sedangkan pada wanita lansia lebih didominasi oleh perasaan usia tua atau merasa tua.
             Pada penelitian di negara barat, pandangan bias tersebut jelas terlihat. Penelitian Kinsey
   yang mengambil sampel ribuan orang, ternyata hanya mengambil 31 wanita dan 48 pria yang
   berusia diatas 65 tahun. Penelitian Masters-Jonhson juga terutama mengambil sampel mereka
   yang berusia antara 50-70 tahun, sedang penelitian Hite dengan 1066 sampel hanya
   memasukkan 6 orang wanita berusia di atas 70 tahun(Alexander and Allison,1995).
             Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa:
    Banyak golongan lansia tetap menjalankan aktifitas seksual sampai usia yang cukup lanjut,
       dan aktifitas tersebut hanya dibatasi oleh status kesehatan dan ketiadaan pasangan.
    Aktifitas dan perhatian seksual pasangan suami istri lansia yang sehat berkaitan dengan
       pengalaman seksual kedua pasangan tersebut sebelumnya.
    Mengingat bahwa kemungkinan hidup seorang wanita lebih panjang dari pria, seorang
       wanita lansia yang ditinggal mati suaminya akan sulit untuk menemukan pasangan hidup.
             Saat ini jumlah wanita di Indonesia yang memiliki Usia Harapan Hidup (UHH) diatas
   45 tahun lebih meningkat dan pada usia tersebut wanita masih berharap dapat melakukan
   hubungan seksual secara normal. Karena faktor usia, hubungan seksual pada lansia umumnya
   memiliki frekwensi yang relatif rendah, sehingga diperlukan suatu penelaahan tentang masalah
   seksual pada lansia.
             Fenomena sekarang, tidak semua lansia dapat merasakan kehidupan seksual yang
   harmonis. Ada tiga penyebab mengapa kehidupan seksual tidak harmonis. Pertama, komunikasi
   seksual diantara pasangan tidak baik. Kedua, pengetahuan seksual tidak benar. Ketiga karena
                                                                                                       2
                                                                    Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


  gangguan fungsi seksual pada salah satu maupun kedua pihak bisa karena perubahan fisiologis
  maupun patologis.
         Agar kualitas hidup lansia tidak sampai terganggu karena masalah seksual, maka setiap
  disfungsi seksual harus segra diatasi dengan cara yang benar dan ilmiah. Yang perlu
  diperhatikan dalam penanganan disfungsi seksual ialah pertama kita harus menentukan jenis
  disfungsi seksual dengan tepat, mencari penyebabnya, memberikan pengobatan sesuai
  penyebab dan untuk memperbaiki fungsi seksual seperti dijelaskan dalam makalah ini.


B. Tujuan
  1. Tujuan Umum
     Mengetahui masalah seksual pada masa usia lanjut
  2. Tujuan Khusus
     a. Mengetahui karakteristik masa usia lanjut
     b. Mengetahui perubahan-perubahan pada masa usia lanjut
     c. Mengetahui masalah seksual pada masa usia lanjut
     d. Mengetahui perubahan seksual pada pria lansia
     e. Mengetahui perubahan seksual pada wanita lansia
     f. Mengetahui cara mengatasi permasalah seksual pada masa usia lanjut


C. Manfaat
  1. Bagi mahasiswa
     Merupakan sumber tambahan informasi dan pengetahuan tentang permasalahan seksual
     pada masa usia lanjut sebagai acuan dalam memberikan pelayanan kebidanan pada saat
     praktik lapangan.
  2. Bagi institusi dan civitas akademika
     Mengukur pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam menyusun suatu makalah
     dengan mengambil dari berbagai sumber literature serta dijadikan sebagai sumber bacaan
     tambahan di perpustakaan
                                                                                                          3
                                                                       Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



                                           BAB II
                                 TINJAUAN PUSTAKA


A. DEFENISI MASA USIA LANJUT ( LATE ADULTHOOD)
         Masa usia lanjut merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu
  periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan
  atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat.
             Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam
  mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana
  Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan
  aspek sosial (BKKBN 1998).
             Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses
  penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu
  semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini
  disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
             Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada
  sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi
  memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa
  tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat Dari aspek
  sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di negara Barat,
  penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini dilihat dari
  keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputuan
  serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun.
             Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah
  suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain,
  periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa
  kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak
  memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia
  tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat arti
  penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi
  mereka kesempatan-kesempatan untuk tumbuh berkembang dan bertekad berbakti . Ada juga
  lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikapsikap yang berkisar antara kepasrahan yang
  pasif dan pemberontakan , penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi terkunci dalam diri
                                                                                                              4
                                                                           Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


  mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental
  mereka sendiri.
              Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat ditinjau dari pendekatan
  kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia seseorang ditinjau dari
  hitungan umur dalam angka. Dari berbagai aspek pengelompokan lanjut usia yang paling mudah
  digunakan adalah usia kronologis, karena batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan, karena
  informasi tentang usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.
              Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : Usia
  pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 –
  90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
              Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang
  berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai
  penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-
  hari.
              Saparinah ( 1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan
  kelompok umur yang mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai
  penurunan daya tahan
  tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-
  perubahan dalam hidupnya.
              Demikian juga batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 tahun
  1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan
  bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undang
  tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas. Namun demikian
  masih terdapat perbedaan dalam menetapkan batasan usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke
  dalam penduduk lanjut usia.


B. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIK DAN PSIKIS                         YANG TERJADI PADA MASA
  USIA LANJUT
          Perubahan-perubahan yang umum terlihat pada masa usia lanjut adalah ditandai dengan
  perubahan fisik dan psikologis tertentu. Baik pria maupun wanita, pada usia lanjut mereka akan
  melakukan penyesuaian diri agar mereka tampak siap dan sesuai dengan masa usia lanjut
  tersebut secara baik ataupun tidak baik. Akan tetapi hasil yang diperoleh dari penyesuaian
  tersebut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang tidak baik daripada yang baik,
  terutama adalah terjadinya kemunduran fisik dan mental yang berlangsung secara perlahan dan
  bertahap.
                                                                                                       5
                                                                    Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


1. PERUBAHAN FISIK PADA MASA USIA LANJUT
         Dengan bertambahnya usia, secara umum kekuatan dan kualitas fisik juga fungsinya
  mulai terjadi penurunan. Penurunan ini bisa berlangsung secara perlahan bahkan bisa terjadi
  secara cepat tergantung dari kebiasaan hidup pada masa usia muda.
  Beberapa perubahan gangguan fisik yang timbul adalah sebagai berikut :
     Perubahan pada kulit : kulit wajah, leher, lengan, dan tangan menjadi lebih kering dan
      keriput, kulit di bagian bawah mata membentuk seperti kantung dan lingkaran hitam
      dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas, warna merah kebiruan sering muncul di
      sekitar lutut dan di tengah tengkuk.
     Perubahan otot : pada umumnya otot orang berusia madya menjadi lembek dan
      mengendur di sekitar dagu, lengan bagian atas, dan perut
     Perubahan pada persendian : masalah pada persendian terutama pada bagian tungkai
      dan lengan yang membuat mereka menjadi agak sulit berjalan
     Perubahan pada gigi : gigi menjadi kering, patah, dan tanggal sehingga kadang-kadang
      memakai gigi palsu
     Perubahan pada mata : mata terlihat kurang bersinar dan cenderung mengeluarkan
      kotoran yang menumpuk di susdut mata, kebanyakan menderita presbiop atau kesulitan
      melihat jarak jauh, menurunnya akomodasi karena menurunnya elastisitas mata
     Perubahan pada telinga : fungsi pendengaran sudah mulai menurun, sehingga tidak
      sedikit yang mempergunakan alat bantu pendengaran.
     Perubahan pada sistem pernafasan : nafas menjadi lebih pendek dan sering tersengal-
      sengal, hal ini akibat terjadinya penurunan kapasitas total paru-paru, residu volume paru
      dan konsumsi oksigen basal, ini akan menurunkan fleksibilitas dan elastisitas dari paru


         Selain ganggunan fisik yang bisa terlihat secara langsung, dengan bertambahnya
  usia sering pula disertai dengan perubahan-perubahan akibat penyakit kronis, obat-obat
  yang diminum akibat operasi yang menyiksa kesusahan secara fisik dan psikologis.
         Beberapa gangguan fisik pada bagian dalam tersebut seperti :
     Perubahan pada sistem syaraf otak : umumnya mengalami penurunan ukuran, berat,
      dan fungsi contohnya kortek serebri mangalami atropi.
     Perubahan pada sistem cardiovascular : terjadi penurunan elastisitas dari pembuluh
      darah jantung dan menurunnya kardiak out put
     Penyakit kronis misal diabetes melistus (DM), penyakit cardiovaskuler, hipertensi, gagal
      ginjal, kanker, dan masalah yang berhubungan dengan persendian dan syaraf
                                                                                                       6
                                                                    Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



     Beberapa operasi seperti prostatectomy, histrectomy, dan mastectomy.
      Hasil penelitian menunjukkan timbulnya masalah prostatectomy meliputi gagal ereksi
      mencapai 12 % sampai timbulnya masalah tidak tercapainya ejakulasi sebesar 24 %,
      kanker prostate dan operasi prostad (hilangnya libido, gagal ereksi, volume ejakulasi)
     Perubahan pada sistem ginjal, kandung kencing, dan ureter mengalami penurunan
      efisiensi, jumlah sel dalam ginjal mengalami penurunan menyebabkan gangguan
      pengeluaran toksin dan air dari tubuh.


2. PERUBAHAN PSIKIS PADA MASA USIA LANJUT
         Gangguan psikologis paling umum yang berpengaruh pada orang tua adalah
  timbulnya depresi, dimensia, dan mengigau. Hal ini lebih sering diakibatkan oleh perasaan
  sudah tua, sudah pikun, dan secara fisik sudah tidak menarik bagi pasangan. Perubahan
  akibat depresi dan dimensia bahkan sering mengganggu prilaku seksual termasuk gangguan
  khayal yang dikaitkan dengan kecemburuan phatologis.
          Secara umum beberapa gangguan psikologis yang timbul adalah
     Kecemasan (angietas)
     Depresi
     Rasa bersalah (guilty feeling)
     Masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam berhubungan
      seksual


         Khusus pada perempuan, ada beberapa gangguan yang sangat berpengaruh besar
  terhadap sisi kewanitaannya seperti :
     Penurunan sekresi estrogen setelah menopause
     Hilangnya kelenturan/elastisitas jaringan payudara
     Cerviks yang menyusut ukurannya
     Dinding vagina atropi ukurannya memendek
     Berkurangnya pelumas vagina
     Matinya steroid seks secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas seks
     Perubahan ageing meliputi penipisan bulu kemaluan, penyusutan bibir kemaluan,
      penipisan selaput lendir vagina dan kelemahan otot perineal


         Ada prinsip perkembangan yang dinamakan           Multidirectional, dimana beberapa
  komponen menunjukkan pertumbuhan dan komponen lain nya malah menurun, lansia akan
                                                                                                        7
                                                                     Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


     semakin arif, tapi menurun dalam tugas yang membutuhkan kecepatan memproses
     informasi, misalnya lansia baru mempelajari komputer.


             Disamping itu ada beberapa gangguan mental yang paling umum yang berpengaruh
     pada orang tua adalah depresi, dimensia dan menggigau prilaku seksual mungkin berubah
     secara signifikan pada depresi dan dimensia .


C. MASALAH SEKSUAL PADA MASA USIA LANJUT
             Sejalan dengan bertambahnya usia, masalah seksual merupakan masalah yang tidak
  kalah pentingnya bagi pasangan usia lanjut. Masalah ini meliputi ketakutan akan berkurangnya
  atau bahkan tidak berfungsinya organ sex secara normal sampai ketakutan akan kemampuan
  secara psikis untuk bisa berhubungan sex.
             Disfungsi seksual dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana yang meliputi
  berkurangnya respon erotis terhadap orgasme, ejakulasi prematur, dan sakit pada alat kelamin
  sewaktu masturbasi.
             Alexander dan Allison mengatakan bahwa pada dasarnya perubahan fisiologik yang
  terjadi pada aktivitas seksual pada usia lanjut biasanya berlangsung secara bertahap dan
  menunjukkan status dasar dari aspek vaskular, hormonal dan neurologiknya.


             Perubahan fisiologik aktivitas seksual akibat proses penuaan bila ditinjau dari
  pembagian tahapan seksual menurut Kaplan adalah berikut ini :
  1. Fase desire
     Dipengaruhi oleh penyakit, masalah hubungan dengan pasangan, harapan kultural,
     kecemasan akan kemampuan seks. Hasrat pada lansia wanita mungkin menurun seiring
     makin lanjutnya usia, tetapi bias bervariasi. Interval untuk meningkatkan hasrat seksual
     pada lansia pria meningkat serta testoteron menurun secara bertahap sejak usia 55 tahun
     akan mempengaruhi libido.


  2. Fase arousal
        Lansia wanita : pembesaran payudara berkurang; terjadi penurunan flushing, elastisitas
         dinding vagina, lubrikasi vagina dan peregangan otot-otot; iritasi uretra dan kandung
         kemih.
                                                                                                           8
                                                                        Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



      Lansia pria : ereksi membutuhkan waktu lebih lama, dan kurang begitu kuat; penurunan
       produksi sperma sejak usia 40tahun akibat penurunan testoteron; elevasi testis ke
       perineum lebih lambat.


3. Fase orgasmic
      Lansia wanita : tanggapan orgasme kurang intens disertai lebih sedikit konstraksil
       kemampuan mendapatkan orgasme multipel berkurang.
      Lansia pria : kemampuan mengontrol ejakulasi membaik; kekuatan dan jumlah
       konstraksi otot berkurang; volume ejakulat menurun.


4. Fase pasca orgasmic
   Mungkin terdapat periode refrakter dimana pembangkitan gairah sampai timbulnya fase
   orgasme berikutnya lebih sukar terjadi.


       Tabel perubahan fisiologi dari aktivitas seksual yang diakibatkan oleh proses menua
                                           menurut Kaplan
    Fase tanggapan seksual          Pada wanita lansia                      Pada pria lansia
    Fase desire              Terutama dipengaruhi oleh            Interval untuk meningkaatkan
                             penyakit baik dirinya sendiri atau   hasrat melakukan kontak seksual
                             pasangan, masalah hubungan           meningkat;hasrat sangat
                             antar keduanya, harapan kultural     dipengaruhi oleh penyakit;
                             dan hal-hal tentang harga diri.      kecemasan akan kemampuan seks
                             Desire pada lansia wanita            dan masalah hubungan antara
                             mungkin menurun dengan makin         pasangan. Mulai usia 55 th
                             lanjutny usia, tetapi hal ini bisa   testosteron menurun bertahap yang
                             bervariasi.                          akan mempengaruhi libido.
    Fase arousal             Pembesaran payudara berkurang,       M embutuhkan waktu lebih lama
                             semburat panas dikulit menurun;      untuk ereksi; ereksi kurang begitu
                             elastisitas dinding vagina           kuat; testosteron menurun;
                             menurun; iritasi uretra dan          produksi sperma menurun bertahap
                             kandung kemih meningkat;otot-        mulai usia 40 th; elevasi testis ke
                             otot yang menegang pada fase ini     perinium lebih lambat dan sedikit;
                             menurun.                             penguasaan atas ejakulasi biasany
                                                                  membaik.
                                                                                                              9
                                                                           Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


     Fase         orgasmik(fase Tanggapan orgasmik mungkin          Kemampuan mengontrol ejakulasi
     muskular)                  kurang intens disertai sedikit      membaik; kekuatan kontraksi otot
                                kontraksi; kemampuan untuk          dirasakan berkurang; jumlah
                                mendapatkan orgasme multipel        kontraksi menurun; volume ejakulat
                                berkurang dengan makin              menurun.
                                lanjutnya usia.
     Fase pasca orgasmik        Mungkin terdapat periode            Periode refrakter memanjang secara
                                refrakter, dimana pembangkitan      fisiologis, dimana ereksi dan
                                gairah secara segera lebih sukar.   orgasme berikutnya lebih sukar
                                                                    terjadi.


            Disfungsi seksual pada lansia tidak hanya disebabkan oleh perubahan fisiologik saja,
terdapat banyak penyebab lainnya seperti:
1. Penyebab iatrogenic
    Tingkah laku buruk beberapa klinisi, dokter, suster dan orang lain yang mungkin membuat
    inadekuat konseling tentang efek prosedur operasi terhadap fungsi seksual.
2. Penyebab biologik dan kasus medis
    Hampir semua kondisi kronis melemahkan baik itu berhubungan langsung atau tidak
    dengan seks dan system reproduksi mungkin memacu disfungsi seksual psikogenik


            Beberapa masalah umum yang sering timbul dalam gangguan seksual pada lansia
adalah sebagai berikut :
   Gangguan hasrat
   Tahap pemanasan
   Orgasme
   Rasa nyeri
   Sakit fisik
   Obat dan alkohol
   Gangguan yang tidak khusus


Beberapa hal yang dapat menyebabkan masalah kehidupan seksual antara lain :
1. Infark miokard
    Mungkin mempunyai efek yang kecil pada fungsi seksual. Banyak pasien segan untuk
    terlibat dalam hubungan seksual karena takut menyebabkan infark.
                                                                                                      10
                                                                     Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


2. Pasca stroke
          Masalah seksual mungkin timbul setelah perawatan di rumah sakit karena pasien
   mengalami anxietas akibat perubahan gambaran diri, hilangnya kapasitas, takut akan
   kehilangan cinta atau dukungan relasi serta pekerjaan atau rasa bersalah dan malu atas
   situasi. Pola seksual termasuk kuantitas dan kualitas aktivitas seksual sebelum stroke sangat
   penting untuk diketahui sebelum nasehat spesifik tentang aktivitas seksual ditawarkan.
   Karena sistem saraf otonomik jarang mengalami kerusakan pada stroke, maka respon
   seksual mungkin tidak terpengaruh.
          Libido biasanya tidak terpengaruh secara langsung. Jika terjadi hemiplegi permanent
   maka diperlukan penyesuaian pada aktivitas seksual. Perubahan penglihatan mungkin
   membatasi pengenalan orang atau benda-benda, dalam beberapa kasus, pasien dan
   pasangannya mungkin perlu belajar untuk menggunakan area yang tidak mengalami
   kerusakan. Kelemahan motorik dapat menimbulkan kesulitan mekanik, namun dapat diatasi
   dengan bantuan fisik atau tehnik “bercinta” alternatif. Kehilangan kemampuan berbicara
   mungkin memerlukan sistem non-verbal untuk berkomunikasi.


3. Kanker
   Masalah seksual tidak terbatas pada kanker yang mengenai organ-organ seksual. Baik
   operasi maupun pengobatan mengubah citra diri dan dapat menyebabkan disfungsi seksual
   (kekuatan dan libido) untuk sementara waktu saja, walaupun tidak ada kerusakan saraf.


4. Diabetes mellitus
   Diabetes menyebabkan arteriosklerosis dan pada banyak kasus menyebabkan neuropati
   autonomik. Hal ini mungkin menyebabkan disfungsi ereksi dan disfungsi vasokonstriksi
   yang memberikan kontribusi untuk terjadinya disfungsi seksual.


5. Arthritis
   Beberapa posisi bersenggama adalah menyakitkan dan kelemahan atau kontraktur fleksi
   mungkin mengganggu apabila distimulasi secara memadai. Nyeri dan kaku mungkin
   berkurang dengan pemanasan, latihan, analgetik sebelum aktivitas seksual.


6. Rokok dan alkohol
   Pengkonsumsian alkohol dan rokok tembakau mengurangi fungsi seksual, khususnya bila
   terjadi kerusakan hepar yang akan mempengaruhi metabolisme testoteron. Merokok juga
                                                                                                               11
                                                                              Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


     mungkin mengurangi vasokongesti respon seksual dan mempengaruhi kemampuan untuk
     mengalami kenikmatan.


  7. Penyakit paru obstruktif kronik
     Pada penyakit paru obstruktif kronik, libido mungkin terpengaruh karena adanya kelelahan
     umum, kebutuhan pernafasan selama aktivitas seksual mungkin dapat menyebabkan
     dispnoe, yang mungkin dapat membahayakan jiwa.


  8. Obat-obatan
     Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, antara lain beberapa
     obat anti hipertensi, estrogen, anti psikotik, sedatif, dan lain-lain.


D. PERUBAHAN SEKSUALITAS PADA PRIA LANSIA

                   Seiring proses penuaan, kemampuan seksualitasi juga akan mengalami penurunan.
  Kemampuan untuk mempertahankan seks yang aktif sampai usia lanjut bergantung hanya pada
  beberapa faktor yaitu kesehatan fisik dan mental, dan eksistensi yang aktif serta pasangan yang
  menarik. Perubahan perilaku sekspada pria yang memasuki masa tua meliputi berkurangnya respon
  erotis terhadap orgasme, ejakulasi prematur, dan sakit pada alat kelamin sewaktu masturbasi.


  Beberapa perubahan masalah seksualitas yang terjadi pada pria lansia adalah :
   a. Produksi testoteron menurun secara bertahap. Penurunan ini mungkin juga akan menurunkan
      hasrat dan kesejahteraan . Testis menjadi lebih kecil dan kurang produktif. Tubular testis akan
      menebal dan berdegenerasi. Perubahan ini akan menurunkan proses spermatogenesis, dengan
      penurunan jumlah sperma tetapi tidak mempengaruhi kemampuan untuk membuahi ovum
   b. Kelenjar prostat biasanya membesar, di mana hipertrofi prostate jinak terjadi pada 50% pria
      diatas usia 40 tahun dan 90% pria diatas usia 80 tahun. Dan hipertrofi prostat jinak ini
      memerlukan terapi. Namun hal ini dibahas lebih lanjut dalam pembahasan sistem traktus
      urinarius.
   c. Respon seksual terutama fase penggairahan, menjadi lambat dan ereksi yang sempurna
      mungkin juga tertunda. Elevasi testis dan vasokongesti kantung skrotum berkurang,
      mengurangi intensitas dan durasi tekanan pada otot sadar dan tak sadar serta ereksi mungkin
      kurang kaku dan bergantung pada sudut dibandingkan pada usia yang lebih muda. Dan juga
      dibutuhkan stimulasi alat kelamin secara langsung untuk untuk menimbulkan respon.
      Pendataran fase penggairahan akan berlanjut untuk periode yang lebih lama sebelum mencapai
                                                                                                    12
                                                                   Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



   osrgasme dan biasanya pengeluaran pre-ejakulasi berkurang bahkan tidak terjadi.
d. Fase orgasme, lebih singkat dengan ejakulasi yang tanpa disadari. Intensitas sensasi orgasme
   menjadi berkurang dan tekanan ejakulasi serta jumlah cairan sperma berkurang. Kebocoran
   cairan ejakulasi tanpa adanya sensasi ejakulasi yang kadang-kadang dirasakan pada lansia pria
   disebut sebagai ejakulasi dini atau prematur dan merupakan akibat dari kurangnya
   pengontrolan yang berhubungan dengan miotonia dan vasokongesti, serta masa refrakter
   memanjang pada lansia pria. Ereksi fisik frekuensinya berkurang termasuk selama tidur.
e. Penurunan tonus otot menyebabkan spasme pada organ genital eksterna yang tidak biasa.
   Frekuensi kontaksi sfingter ani selama orgasme menurun.
f. Kemampuan ereksi kembali setelah ejakulasi semakin panjang, pada umumnya 12 sampai 48
   jam setelah ejakulasi. Ini berbeda pada orang muda yang hanya membutuhkan beberapa menit
   saja.
g. Ereksi pagi hari (morning erection) juga semakin jarang terjadi. Hal ini tampaknya
   berhubungan dengan semakin menurunnya potensi seksual. Oleh karena itu, jarang atau
   seringnya ereksi pada pagi hari dapat menjadi ukuran yang dapat dipercaya tentang potensi
   seksual pada seorang pria. Penelitian Kinsey, dkk menemukan bahwa frekuensi ereksi pagi
   rata-rata 2,05 perminggu pada usia 31-35 tahun dan hal ini menurun pada usia 70 tahun
   menjadi 0,50 perminggu. Meski demikian, berdasarkan penelitian, banyak golongan lansia
   tetap menjalankan aktivitas seksual sampai usia yang cukup lanjut, dan aktivitas tersebut hanya
   dibatasi oleh status kesehatan


1. IMPOTENSI ATAU DISFUNGSI EREKSI PADA PRIA LANSIA

  a. Defenisi impotensi atau disfungsi ereksi pada pria lansia
                Impotensi atau Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan secara
      konsisten untuk mencapai dan / atau mempertahankan ereksi sedemikian rupa sehingga
      mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. (Vinik, 1998). Secara umum impotensia
      dibedakan menjadi impotensia coendi (ketidakmampuan untuk melakukan hubungan
      seksual), impotensia erigendi (tidak mampu ber-ereksi) dan impotensia generandi (tidak
      mampu menghasilkan keturunan). Prevalensi DE sekitar 52% pada pria di antara 40-70
      tahun dan bahkan lebih besar pada pria yang lebih tua.
                Untuk timbul ereksi diperlukan adanya rangsangan yang bisa berasal dari
      rangsangan psikologik (fantasi, bayangan erotik), olfaktorik (bau-bauan) dan
      rangsangan sentuh atau rabaan. Rangsangan tersebut melalui jalur kortiko-talamikus,
                                                                                                      13
                                                                     Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



   limbik maupun talamo-retikularis dan sebaliknya kemudian akan diteruskan ke susunan
   saraf ototnom (parasimpatis) akan menyebabkan vasodilatasi korpus kavernosa penis.
   Setelah aktivitas seksual terjadi, saraf simpatis akan membantu terjadinya ejakulasi.
   Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan bahwa proses ereksi menyangkut berbagai
   fungsi diantaranya saraf, vascular, hormonal, psikologik dan kimiawi


b. Etiologi impotensi atau disfungsi ereksi pada pria lansia
   Secara garis besar DE dapat dibagi menjadi 2 bagian besar sebagai berikut:
   1) DE organik, sebagai akibat gangguan akibat gangguan endokrin, neurogenik,
       vaskuler (aterosklerosis atau fibrosis).
          DE endokrinologik biasanya berupa sindroma ADAM (Androgen Deficiency in
           the Aging Male), yang merupakan hipogonadisme pada lansia. DE tipe ini
           disebabkan oleh gangguan testikular baik primer maupun sekunder. Selain itu
           juga dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan hiperprolaktinemia,
           hipertiroid, hipotiroid dan Cushing’s disease.
          DE neurogenik dapat disebabkan oleh gangguan jalur impuls terjadinya ereksi.
           Lesi dilobus temporalis sebagai akibat trauma atau multiple scelrosis stroke,
           gangguan atau rusaknya jalur asupan sensorik misalnya pada polineuropati
           diabetik, tabes dorsalis atau penyakit ganglia radiks dorsalis medula spinalis,
           juga pada gangguan nervus erigentes akibat pasca prostatektomi total atau
           operasi rektosigmoid.
          DE vaskuler merupakan DE yang paling sering pada lansia yang mungkin
           berhubungan erat dengan prevalensi penyakit aterosklerosis yang tinggi pada
           lansia. Gangguan aliran darah arteri ke korpus kavernosus seperti bekuan darah,
           aterosklerosis, atau hilangnya kelenturan dinding pembuluh darah dapat
           menyebabkan DE. Selain itu DE bisa terjadi pada penyakit Leriche, yaitu
           obstruksi di pangkal bifurkasio a. iliaka di daerah a.abdominalis. Serta penyakit
           Peyronie   mengakibatkan      pengisian   darah   tidak      sempurna         yang      akan
           menyebabkan DE.


   2) DE psikogenik, sebelum ini selalu dikatakan sebagai penyebab utama DE, namun
       menurut penelitian hal ini tidak benar. Justru penyebab utama DE pada lansia
       gangguan organik, walaupun faktor psikogenik ikut memegang peranan. DE jenis
       ini yang berpotensi reversibel potensial biasanya yang disebabkan oleh kecemasan,
                                                                                                        14
                                                                       Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



       depresi, rasa bersalah, masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan
       gagal dalam hubungan seksual.


           Ada pendapat yang mengatakan bahwa impotensi merupakan akibat masturbasi
   yang dahulu atau karena terlalu sering ejakulasi atau sebailiknya karena terlalu lama
   menahan dan tidak disalurkan hasrat seks-nya itu. Namun penelitian membuktikan
   bahwa ejakulasi atau tidak ejakulasi dalam waktu yang lama tidak langsung
   mengganggu kesehatan. Masters dan Johnson mengatakan bahwa ereksi dan ejakulasi
   tidak dapat dipelajari karena hal ini terjadi secara reflektoris.
           Selain yang telah disebutkan di atas, sekitar 25 % DE disebabkan oleh obat-
   obatan terutama obat antihipertensi ( Reserpin, ß blocker, guanethidin dan metildopa),
   alkohol, simetidin, antipsikotik, antidepresan, lithium, hipnotik sedatif, dan hormon-
   hormon seperti estrogen dan progesteron.


c. Diagnosa impotensia atau disfungsi ereksi pada pria lansia
           Ada kemungkinan para lansia yang mengalami disfungsi ereksi akan mencari
   pertolongan pada dokter, hal pertama yang perlu dilakukan dokter adalah memberikan
   perasaan nyaman pada pasien dengan menjelaskan bahwa disfungsi ereksi merupakan
   hal biasa yang dialami oleh para lansia pria dan berusaha mencarikan solusi yang efektif
   hingga hal ini akan menenangkan diri pasien. Setiap pasien memiliki privasi, oleh
   karena itu perlu ditanyakan apakah pasien ingin mendiskusikan hal ini dengan atau
   tanpa pasangannya, namun cara yang terbaik adalah bersama pasangan. Karena
   pandangan serta dukungan dari pasangan seksual mereka sangat berharga dan dapat
   mengembalikan kepercayaan diri pasien untuk kembali memulai lagi fungsi seksualnya
   dan secara tidak langsung dapat membantu mengatasi masalah disfungsi ereksi.
           Selain dari segi psikologis perlu juga digali apakah disfungsi ereksi yang terjadi
   murni disfungsi ereksi psikogenik atau ada penyakit atau kelainan lain yang
   menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi. Bila terdapat penyakit atau kelainan yang
   mendasari terjadinya disfungsi ereksi maka perlu ditangani penyakit dan kelainan yang
   mendasarinya. Peninjauan terhadap obat-obatan yang selama ini dikonsumsi oleh pasien
   juga perlu diperhatikan.
           Selain dari anamnesa perlu juga diadakan suatu pemeriksaan fisik untuk
   mengetahui ada tidaknya disfungsi ereksi:
                                                                                                15
                                                               Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



      Apakah ada tanda-tanda penyakit vaskuler, seperti arteri femoral dan perifer
       berkurang atau terdengar bruit.
      Adakah perubahan kulit. Turgor menurun mengakibatkan kulit menjadi kurang
       elsatis.
      Adakah perubahan neuropati otonom (simpatis dan parasimpatis) seperti adanya
       reflek bulbo kavernosus dan kremaster.
      Adakah gejala hipotensi ortostatik.
      Adakah gejala neuropati perifer seperti DM, alkoholisme, kekurangan vitamin B1,
       dan lain-lain.
      Pemeriksaan genitalia, adanya atrofi testis atau dan plak pada peyronie’s disease.
       Peyronie’s disease adalah keadaan dimana terjadi kelainan anatomis penis, berupa
       tumbuhnya jaringan ikat atau plak yang tidak biasa pada jaringan penis sehingga
       aliran darah dalam badan kavernosa penis terganggu untuk mencapai ereksi.
      Pemeriksaan rektal untuk melihat prostate.
      Pemeriksaan laboratorium umum diperlukan untuk menentukan adanya kondisi
       medis penyerta, faktor resiko vaskular atau endokrin yang abnormal.
      Pemeriksaan hormone testoteron dan prolaktin.


d. Terapi impotensi atau disfungsi ereksi pada pria lansia
           Phosphodiesterase-5 (PDE5) inhibitors merupakan terapi pilihan utama untuk
   disfungsi ereksi. PDE5 berada di jaringan kavernosa penis dan akan mendegradasi
   cyclic 3' 5' guanosine monophosphate (cGMP) yang bila bekerja bersama nitrat oksida
   akan menyebabkan relaksasi otot. Oleh karena itu dengan menghambat PDE5, obat ini
   berpotensi untuk mendorong terjadinya ereksi. Namun obat ini menjadi kontra indikasi
   pada pasien yang mendapatkan terapi nitrogliserin atau golongan nitrat lainnya, karena
   efeknya dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis dan penurunan perfusi arteri
   koroner dan dapat menyebabkan miokard infark. Pemakaian obat ini bersama obat-
   obatan alfa bloker.
           Salah satu obat yang sangat populer di dunia untuk mengatasi DE adalah
   sildenafil sitrat (Viagra ®). Obat ini bekerja dengan jalan mem-blok pemecahan GMP
   siklik yang mempertahankan vasodilatasi korpora kavernosa, tetapi obat ini hanya bisa
   diberikan bila keadaan vaskuler penis masih intak. Seperti PDE5 obat ini juga menjadi
   kontraindikasi pada pemakaian obat-obatan golongan nitrat karena dapat menyebabkan
   hipotensi bahkan syok (Vinik, 1998).
                                                                                              16
                                                             Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



       Karena tidak menstimulasi pembentukan cGMP, melainkan hanya memperkuat
/ memperpanjang daya kerjanya, sildenafil tidak efektif jika belum / tidak terdapat
stimulasi atau eksitasi seksual. Efek samping Sildenafil umumnya bersifat singkat dan
tidak begitu serius, yang tersering berupa sakit kepala, muka merah, gangguan
penglihatan (buram sampai melihat segala sesuatu kebiru-biruan), dan mual, yang
kesemuanya berkaitan dengan blokade PDE5 inhibitor yang terdapat di seluruh tubuh.
Obat lain yang kini beredar antara lain Alprostadil (Caverject ®, Muse ®), Vardenafil
(Levitra ®), dan Tadalafil (Cialis ®).
       Apomorfin (Uprima ®) adalah agonis dopamin dengan afinitas bagi reseptor-D1
dan -D2 di hipotalamus yang terkait antara lain pada regulasi ereksi. Daya erektogennya
berdasarkan efek terhadap afinitas lokal dari nitrogenmonoksida, kemudian konversi
guanyltriphosphate menjadi cGMP. Reaksi ini menimbulkan relaksasi otot-otot licin
dari corpus cavernosum, yang dapat terisi darah dan terjadilah ereksi. Setelah
penggunaan sublingual kadarnya dalam darah memuncak dalam 4o-60 menit dan ereksi
dapat terjadi setelah 20 menit. Efek samping yang tersering berupa nausea, sakit kepala,
dan pusing-pusing.
       HRT     (hormon    replacement    therapy)   diindikasikan   pada      pria     dengan
hipogonadal. Pengobatan yang aman dan efektif dengan injeksi intra muscular jangka
panjang, maupun transdermal testoteron gel. Testoteron oral sebaiknya dihindari karena
kemungkinan toksik hepatik pada penggunaan jangka lama. Pada pemakaian
testoterone-containing gel sebaiknya menunggu sekitar 10 -15 menit sampai gel tersebut
diabsorbsi dan kering sebelum melakukan aktivitas seksual. Semua pria yang
menggunakan terapi testoterone replacement perlu mendapatkan pemeriksaan rektal
digital dan PSA test sedikitnya 1 tahun sekali.
       Pemberian testoteron dapat menyebabkan beberapa efek samping, antara lain :
   Pada laki-laki : testis mengecil, produksi sperma berkurang, ginekomastia,
    pembesaran prostat
   Pada wanita : klitoris membesar, tumbuh rambut di daerah muka, volume suara
    membesar
   Umum : hepatotoksik, peningkatan hematokrit darah, aterosklerosis, dan hipertrofi
    jantung.
       Ada beberapa cara lain selain dengan terapi testoteron. Misalnya alat vakum
maupun protesa. Alat vakum meningkatkan pembesaran penis dengan membuat keadaan
vakum yang menarik darah ke dalam penis. Saat terjadi ereksi, sebuah gelang karet atau
                                                                                                    17
                                                                   Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



     cincin konstriksi pasang pada pangkal penis dan alat vakum tersebut dilepas. Gelang
     tersebut dapat memperlambat aliran balik vena dan membantu mempertahankan ereksi
     lebih dari 30 menit. Alat vakum ini dapat mengakibatkan petekhie dan membuat ujung
     penis lebih dingin dari biasanya. Protesa pada penis mungkin membantu ketika cara lain
     tidak berhasil. Pembedahan revaskularisasi penis relatif bersifat eksperimental dan
     belum ada kesuksesan yang tinggi.


2. ANDROPAUSE PADA PRIA LANSIA
  a. Defenisi Andropause pada pria lansia

               Andropause berasal dari kata “Andro = kejantanan” dan “pause = istirahat”.
     Andropause dapat diartikan sebagai perubahan akibat proses menua pada sistem
     reproduksi pria mungkin di dalamnya termasuk perubahan pada jaringan testis,
     produksi sperma dan fungsi ereksi.
               Ada yang memberi istilah andropause sebagai klimakterium laki-laki yang
     berarti seorang laki-laki sedang berada pada tingkat kritis fase kehidupannya, dimana
     terjadi perubahan fisik, hormon dan psikis serta penurunan aktivitas seksual.
     Perubahan-perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap. Tingkah laku, stress
     psikologik, alkohol, trauma, ataupun operasi, medikasi, kegemukan dan infeksi dapat
     memberikan kontribusi pada onset terjadinya andropause ini.
               Sebenarnya andropause bukanlah suatu fenomena baru, hal ini terjadi karena
     kemampuan kita untuk mendiagnosa andropause ini sangat terbatas karena tidak ada
     cara untuk menprediksi siapa yang akan mengalami gejala andropause. Test yang
     sensitif untuk mengetahui bioavaibilitas testoteron baru tersedia akhir-akhir ini,
     sehingga sebelum ada test ini andropause terlewatkan begitu saja tanpa terdiagnosa
     dan tidak memperoleh penatalaksanaan.


  b. Etiologi andropause pada pria lansia
               Mulai sejak kira-kira usia 30 tahun, kadar testoteron dalam tubuh menurun
     kurang lebih 10% setiap dekadenya. Pada saat yang sama Sex Binding Hormone
     Globulin (SHBG) meningkat. SHBG ini akan menangkap banyak testoteron yang
     bersirkulasi dan membuat testoteron tidak tersedia untuk digunakan pada jaringan
     tubuh khususnya untuk terjadinya perilaku seksual yang normal dan terjadinya
     ereksi.
                                                                                                  18
                                                                 Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut




c. Gejala dan efek yang ditimbulkan oleh andropause
            Andropause berhubungan dengan kadar testoteron yang rendah. Setiap pria
   mengalami kemunduran bioavaibilitas testoteron, namun berbeda kadarnya pada
   setiap invididu. Ketika hal ini terjadi pria akan mengalami gejala andropause.
            Beberapa gejala yang dapat timbul antara lain :
      Depresi
      Kelelahan
      Iritabilitas
      Libido menurun
      Sakit dan nyeri
      Berkeringat dan flushing
      Penurunan performa seksual atau disfungsi ereksi
      Sulit berkonsentrasi
      Pelupa
      insomnia
            Setiap ketidakseimbangan yang terjadi dalam tubuh akan menimbulkan efek
   tertentu, demikian juga andropause dalam jangka waktu yang panjang dapat
   menyebabkan:
      Osteoporosis
      Obesitas
      Kehilangan masa otot
      Resiko menderita arteriosklerosis
      Resiko menderita kanker payudara
      Resiko menderita kanker prostat
             Gambar : Pengaruh terapi hormon testoteron pada andropause
                                                                                                       19
                                                                      Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



            d. Terapi
               Terapi yang dapat diberikan pada andropause yaitu dengan testoterone
               replacement therapy baik secara injeksi maupun oral.


E. PERUBAHAN SEKSUALITAS WANITA LANSIA
  Perubahan-Perubahan Fisiologis pada Wanita berkaitan dengan bertambahnya usia :
   • Penurunan Sekresi estrogen setelah menopause
   • Hilangnya kelenturan/elastisitas jaringan payudara
   • Cerviks yang menyusut ukurannya
   • Dinding vagina atropi ukurannya memendek
   • Berkurangnya pelumas vagina
   • Matinya steroid seks secara tidak Iangsung mempengaruhi aktivitas seks
   • Perubahan “ageing” meliputi penipisan bulu kemaluan, penyusutan bibir kemaluan,
     penipisan selaput lendir vagina dan kelemahan utot perinael


  1. KLIMAKTERIUM PADA WANITA LANSIA
            Klimakterium merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium.
     Berlangsung 6 tahun sebelum menopouse dan berakhir 6-7 tahun setelah menopouse
          Tanda-tanda Klimakterium :
     a. Menstruasi tidak lancar atau tidak teratur
     b. Haid banyak ataupun sangat sedikit
     c. Sakit kepala terus menerus
     d. Berkeringat
     e. Neuralgia


          Gejala Psikologis pada masa klimakterimum :
     a. Kemurungan
     b. Mudah tersinggung / mudah marah
     c. Mudah curiga
     d. Insomnia
     e. Tertekan
     f. Kesepian
     g. Tidak sabar
     h. Tegang dan cemas
                                                                                                   20
                                                                  Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut




    Syndrome Menopouse pada masa klimakterimum :
a. Berhentinya menstruasi, makin jarang dan makin sedikit
b. Mengalami atropi pada sistem reproduksi
c. Penampilan kewanitaan menurun
d. Keadaan fisik kurang nyaman
a. Kemerah-merahan pada leher, dahi, bagian atas dada, berkeringat, pusing, iritasi, friigid
e. Berat badan
f. Perubahan kepribadian


    Perubahan Kejiwaan pada masa klimakterimum
a. Merasa tua
b. Tidak menarik lagi
c. Rasa tertekan karena takut menjadi tua
d. Mudah tersinggung
e. Mudah kaget
f. Takut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami
g. Rasa takut karena suami menyeleweng


    Gangguan psikologis pada masa klimakterium pada wanita lansia
a. Ketakutan
   –   Ketergantungan fisik dan ekonomi
   –   Sakit-sakitan yan kronis
   –   Kesepian
   –   Kebosanan karena tidak diperlukan
b. Perubahan mental
   –   Belajar : kurang mampu belajar yang baru
   –   Berfikir : terlalu berhati-hati dalam mengungkapkan alasan
   –   Kreatifitas berkurang
   –   Berkurang rasa humor
   –   Perbendaharaan kata semakin menurun
c. Gangguan mental
   –   Agresi : menyerang disertai kekuatan
   –   Kemarahan dan rasa tidak senang yang kuat
                                                                                                  21
                                                                 Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


     –   Kecemasan yang tidak berobyektif
     –   Kacau & sering bingung
     –   Penolakan ; ketidakmampuan untuk mengakui secara sendiri terhadap keinginan,
         fikiran, perasaan pada kejadian nyata
     –   Ketergantungan : meletakakkan kepercayaan terhadap orang lain
     –   Depresi : perasaan sedih & pesimis
     –   Ketakutan : reaksi emosional terhadap sumber luar
     –   Manipulasi : proses bertingkah laku untuk memuaskan diri sendiri / orang lain
         dengan cara serdik, tidak jujur / tipu muslihat
     –   Rasa sakit yang tidak berpenyebab


2. MENOPAUSE PADA WANITA LANSIA
  a. Defenisi Menopause
             Menopause merupakan masa yang pasti dihadapi dalam perjalanan hidup
     seorang perempuan dan suatu proses alamiah sejalan dengan bertambahnya usia.
     Seorang wanita yang sudah menopause akan mengalami berhentinya haid. Fase ini
     terjadi karena ia tidak lagi menghasilkan esterogen yang cukup untuk mempertahankan
     jaringan yang responsive dalam suatu cara yang fisiologi.


  b. Etiologi menopause
             Akibat dari kadar hormon esterogen, progerseteron dan hormon ovarium yang
     berkurang akan menyebabkan perubahan fisik, psikologis dan seksual yang menurun
     pada wanita pasca menopause (Hacker&Moore, 2001).
             Seseorang disebut menopause jika tidak lagi menstruasi selama 12 bulan atau
     satu tahun. Menopause umumnya terjadi ketika perempuan memasuki usia 48 hingga 52
     tahun (Rachmawati, 2006).
             Menurut Andra (2007), efek berkurangnya hormon estrogen mengakibatkan
     penipisan pada dinding vagina, pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit juga
     akan terlihat. Akhirnya, karena epitel vagina menjadi atrofi dan tidak adanya darah
     kapiler berakibat permukaan vagina menjadi pucat. Selain itu, rugae-rugae (kerut)
     vagina akan jauh berkurang yang mengakibatkan permukaannya menjadi licin,
     akibatnya sering sekali wanita mengeluhkan dispareunia (nyeri sewaktu senggama),
     sehingga malas berhubungan seksual.
                                                                                                 22
                                                                Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


c. Gejala dan efek menopause
            Menopause dianggap sebagian masyarakat sebagai awal dari kemunduran
   fungsi kewanitaan secara keseluruhan, bahkan ada yang menganggap menopause
   sebagai bencana di usia senja. Banyak perempuan menopause merasa menjadi tua, yang
   diasosiasikan dengan ketidakmenarikan dan kehilangan hasrat seksual (Rachmawati,
   2006).
            Banyak yang dikeluhkan seorang perempuan pada tahun-tahun menjelang
   berhentinya haid. Gejala-gejala yang dikeluhkan diantaranya adalah perubahan dalam
   gairah seksual. Berkurangnya cairan vagina, akan timbul rasa sakit kalau terjadi
   hubungan badan, selain itu rasa takut kehilangan suami, anak dan ditinggalkan sendiri
   dapat menyebabkan keinginan seks menurun dan sulit untuk dirangsang.
            Anggapan yang salah tentang seksualitas masa menopause dapat menimbulkan
   kecemasan, karena mereka takut tidak bisa melayani suami dengan baik akan mencari
   wanita lain atau malah menceraikannya, karena dari mereka tidak sedikit yang
   kemudian merasa tidak berarti lagi bagi suaminya, sehingga di sisi lain banyak juga
   suami yang menunjukkan sikap dan perilaku yang sangat mengganggu istri yang telah
   menopause.
            Ada empat kemungkinan mengapa para suami enggan berhubungan seksual lagi
   dengan istrinya yaitu tidak tertarik lagi, ada anggapan salah bahwa menopause berarti
   padamnya dorongan seksual, kesulitan berhubungan intim akibat perlendiran vagina
   berkurang, sementara ereksi tetap kokoh seperti sedia kala, penolakan istri karena
   merasa sakit saat berhubungan seksual (Pangkahila, 1998). Anggapan seperti itu
   sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh salah pengertian atau karena mendengar
   cerita orang lain, kadang pria mencoba mengatasi masalah ini dengan mencari pasangan
   lebih muda dengan harapan bahwa kemampuan seksualnya yang telah surut dapat
   kembali. Rasionalisasi yang umum dilakukan oleh pria dengan mencari pasangan lebih
   muda adalah karena pihak wanita tidak lagi tertarik pada seks setelah menopause, hal ini
   semakin diperparah dengan upaya menghindari berhubungan intim dengan suami
   disebabkan nyeri saat senggama akibat menipisnya selaput lendir liang senggama
   (Hidayana, 2004).
            Perubahan yang terjadi pada organ tubuh wanita menopause disebabkan oleh
   bertambahnya usia dan juga faktor fisik, faktor psikis dapat mempengaruhi kehidupan
   mereka. Gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung,
   sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, cemas, depresi, dan merasa
                                                                                                23
                                                               Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


   kehilangan daya tarik fisik dan seksual, sehingga dia takut ditinggalkan suaminya
   (Purwoastuti, 2008).
           Hasil penelitian dan kajian, diperoleh data bahwa 75% wanita yang mengalami
   menopause akan merasakan sebagai masalah atau gangguan, sedangkan sekitar 25%
   tidak memasalahkannya. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi seorang perempuan
   terhadap menopause, antara lain faktor kultural, sosial ekonomi, gaya hidup, kebutuhan
   terhadap kehidupan seksual, dan sebagainya (Achadiat, 2007).
           Studi yang dilakukan oleh (Duke, 1999) University AS, menunjukkan bahwa
   tidak semua perempuan menopause mengalami penurunan hasrat seksual, 39% wanita
   berusia 61-65 tahun memiliki aktivitas seksual seperti 27% wanita berumur 66-71 tahun,
   13% wanita menopause mempunyai hasrat lebih tinggi dibandingkan ketika masih muda
   (Rachmawati, 2006).


d. Upaya pencegahan terhadap keluhan /masalah menopause yang dapat dilakukan di
   tingkat pelayanan dasar :
   1) Pemeriksaan alat kelamin
      Pemeriksaan alat kelamin wanita bagian luar, liang rahim dan leher rahim untuk
      melihat kelainan yang mungkin ada, misalnya lecet, keputihan, pertumbuhan
      abnormal sepertu benjolan dan radang.
   2) Pap Smear
      Pemeriksaan ini dapat dilakukan setahun sekali untuk melihat adanya tanda radang
      atau deteksi awal bagi kemungkinan adanya kanker pada saluran reproduksi. Dengan
      demikian pengobatan terhadap adanya kelainan dapat segera dilakukan.
   3) Perabaan Payudara
      Ketidakseimbangan hormon yang terjadi akibat penurunan kadar hormone estrogen,
      dapat menimbulkan pembesaran atau tumor payudara. Hal ini juga dapat terjadi pada
      pemberian hormone pengganti untuk mengatasi masalah kesehatan akibat
      menopause.
   4) Penggunaan bahan makanan yang mengandung unsure fito-estro-gen
   5) Hormon estrogen yang kadarnya menurun pada masa menopause digantikan dengan
      makanan yang mengandung unsur fito-estro-gen yang cukup seperti kedelai ( tahu,
      tempe, kecap), papaya dan semanggi merah
   6) Penggunaan bahan makanan sumber kalsium
   7) Menghindari makanan yang banyak mengandung banyak lemak, kopi dan alkohol
                                                                                                       24
                                                                      Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


  3. SENIUM PADA WANITA LANSIA
       Yaitu masa sesudah pasca menopause. Ditandai dengan telah tercapainya keseimbangan
       baru dalam kehidupan wanita, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetatif maupun psikis.


F. UPAYA MENGATASI PERMASALAHAN SEKSUAL PADA LANSIA
              Untuk mengatasi beberapa gangguan baik fisik maupun psikis termasuk masalah
  seksual diperlukan penanganan yang serius dan terpadu. Proses penanganan ini memerlukan
  waktu yang cukup lama tergantung dari keluhan dan kerjasama antara pasien dengan konselor.
  Dari ketiga gangguan tersebut, masalah seksual merupakan masalah yang penanganannya
  memerlukan kesabaran dan kehati-hatian, karena pada beberapa masyarakat Indonesia terutama
  masyarakat pedesaan membicarakan masalah seksual adalah masalah yang tabu.
       Manajemen yang dilakukan tenaga kesehatan untuk mengatasi gangguan seksual pada
  lansia adalah sebagai berikut :
  1.   Anamnesa Riwayat Seks
        a. Gunakan bahasa yang saling menguntungkan dan memuaskan
        b. Gunakan pertanyaan campuran antara terbuka dan teutup
        c. Mendapatkan gambaran yang akurat tentang apa yang sebenarnya salah
        d. Uraikan dengan panjang lebar permasaIahanya
        e. Dapatkan latar belakang medis mencakup daftar lengkap tentang obat-obatan yang
          dikonsumsi oieh pasien
                      Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dihadapan pasangannya. Anamnese harus
       rinci, meliputi awitan, jenis maupun itensitas gangguan yang dirasakan. Juga anamnese
       tentang gangguan sistemik maupun organik yang dirasakan. Penelaahan tentang gangguan
       psikologik, kognitif harus dilakukan. Juga anamneses tentang obat-obatan. Pemeriksaan
       fisik meliputi head to toe.
                      Pemeriksaan tambahan yang dilakukan meliputi keadaan jantung, haati,
       ginjal dan paru-paru. Status endokrin dan metaboliuk meliputi keadaan gula darah, status
       gizi dan status hormonal tertentu. Apabila keluhan mengenai disfungsi ereksi pada pria,
       pemeriksaan khas juga meliputi a.l pemeriksaan dengan snap gauge atau nocturnal penile
       tumescence testing. (Hadi-Martono, 1996)


   2. Pengobatan yang diberikan mencakup ;
        1. Konseling Psikoseksual
        2. Therapi Hormon
                                                                                                          25
                                                                         Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


          3. Penyembuhan dengan obat-obatan
          4. Peralatan Mekanis
          5. Bedah Pembuluh


   3. Bimbingan Psikososial
          Bimbingan dan konseling sangat dipentingkan dalam rencana manajemen gangguan seks
          dan dikombinasikan dengan penyembuhan Pharmakologi


   4. Penyembuhan Hormon
          Pada Pria Lansia    : Penggunaan suplemen testosteron untuk menyembuhkan
                             “Viropause”/andropause pada pria (pemanasan dan ejakulasi)
          Pada wanita lansia : Terapi pengganti hormon (HRT) dengan pemberian estrogen pada
                               klimakterium


   5. Penyembuhan dengan Obat
          a. Yohimbine, Pemakaian Krim vasoaktif
          b. Oral phentholamin
          c. Tablet apomorphine sublingual
          d. Sildenafil, suntik intra-carporal obat vasoaktif
          e. Penempatan intra-uretral prostaglandin


               Obat-obatan yang sering diberikan, pada penderita usia lanjut dengan patologi
      multipel jika sering menyebabkan berbagai gangguan fungsi seksual pada usia lanjut


      Tabel Efek Obat Yang Sering Diberikan dan Pengaruhnya Pada Fungsi Seksual Lansia.
          Golongan Obat                Contoh           Pengaruh Pada Fase       Anjuran Obat Pengganti

Anti hipertensi:diuretika         Gol. tiasid        Fase pembangkitan           Pertimbangkan
                                                                                 penghambat kanal Ca

Anti hipertensi: obat berdaya Klonidin, metil- Fase pembangkitan                 Pertimbangkan
sentral                           dopa                                           penghambat kanal Ca

Anti hipertensi: penyakit beta propanolol            Fase hasrat dan             Pertimbangkan
                                                     penggairahan                penghambat kanal Ca

Anti-hipertensi penghambat        captopril          Fase penggairahan           Pertimbangkan
                                                                                                 26
                                                                Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



ACE                                                                     penghambat kanal Ca

Obat anti -psikotik      Torasin,        Fase desire, fase              Pertimbangkan Buspiron,
                         tiotksen,       pembangkitan, priapismus, turunkan dosis bertahap
                         haloperidol     ejakulasi retrogad

Obat anti-ansietas       diasepam        Fase desire, orgasme           Lebih ditekankan pada
                                                                        pemuaskan

antikolinergik           Atropin,        Fase pembangkitan, fase        Estrogen oral merupakan
                         hidroksisin     desire                         pilihan pada yang takbisa
                                                                        per oral

estrogen                 premarin        Fase                           Bila ada efek samping
                                         pembangkitan(perbaikan         berikan secara siklik
                                         lubrikasi, turunkan rasa
                                         nyeri)

progestin                provera         Fase desire(dapat              Pertimbangkan
                                         diturunkan libido)             alternatifdari Blocker H-2

Antagonis reseptor H-2   simetidin       Fase desire, pembangkitan Waktu pemberian sangat
                                         orgasme                        penting (berhubungan
                                                                        dengan waktu aktivitas
                                                                        seksual)

narkotik                 Kodein,         Fase desire, pembangkitan Kenali dan obatitd.adiksi
                         demerol         orgasme

Sedatif                  Alkohol,        Fase desire, pembangkitan Obati gejala kecemasan;
lain-lain                barbiturat                                     yakinkan ketakutan akan
                         digitalis                                      serangan jantung waktu
                                                                        akt. seksual

Antidepresan trisiklik   Imipramin,      Fase desire, pembangkitan Pertimbangkan: Prozac,
                         amitriptilin    fase muskular terlambat        zoloft

Antidepresan lain        Trasodon,       Priapisme, fase                Pertmb. Prozac, Zoloft
                         inhibitor MAO   pembangkitan, orgasme
                                                                                                       27
                                                                      Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut



                                          BAB III
                                        PENUTUP


A. KESIMPULAN
             Pada usia lanjut, hambatan untuk aktivitas seksual yang dapat dibagi menjadi
  hambatan eksternal yang datang dari lingkungan dan hambatan internal,yang terutama berasal
  dari subjek lansianya sendiri. Hambatan eksternal biasanya berupa pandangan sosial, yang
  menganggap bahwa aktivitas seksual tidak layak lagi dilakukan lagi oleh lansia.Hambatan
  eksternal bilamana seorang janda atau duda akan menikah lagi sering kali juga berupa sikap
  menentang dari anak-anak, dengan berbagai alasan.
             Hambatan internal psikologik seringkali sulit dipisahkan secara jelas dengan
  hambatan eksternal. Seringkali seorang lansia sudah merasa tidak baisa dan tidaak pantas
  berpenampilan untuk menarik lawan jenisnya. Pandangan sosial dan keagamaan tentang
  seksualitas diusia lanjut menyebabkan keinginan dalam diri mereka ditekan sedemikian
  sehingga memberikan dampak pada ketidakmampuan fisik, yang dikenal sebagai impotensia.
  Obat-obatan yang sering diberikan, pada penderita usia lanjut dengan patologi multipel jika
  sering menyebabkan berbagai gangguan fungsi seksual pada usia lanjut.
             Masa tua merupakan masa yang sangat ditakuti dengan alasan terjadinya
  kemunduran fisik terutama pada penampilan. Rasa khawatir akan kehilangan perhatian dari
  pasangan membawa akibat terhadap frekwensi maupun kualitas hubungan seks, baik secara
  langsung maupun tidak.
             Melalui konseling, peran konselor dan tenaga kesehatan dapat menjelaskan kondisi
  umum dan masalah yang timbul pada masa usia lanjut serta pengaruhnya terhadap emosi, pola
  pikir dan hubungan seksual sangat berpengaruh. Melalui beberapa tahapan konseling secara
  terbuka dan kolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan, bisa diperoleh suatu
  pemecahan masalah seksual pada lansia, dengan pemakaian krem vasoaktif, melakukan olah
  raga ringan dan konsumsi makan seimbang, dan solusi-solusi lain secara bertahap masalah pada
  lansia akan terselesaikan.


B. SARAN
             Permasalahan pada masa lansia sering terabaikan, tidak hanya di lingkungan
  keluarga lansia sendiri, tetapi juga di lingkungan masyarakat bahkan pusat pelayanan kesehatan.
  Lansia sebagaimana pria dan wanita mulai dari kanak-kanak hingga dewasa lainnya mempunya
  hak-hak untuk diperlakukan adil dan sama, mendapat informasi dan pelayanan kesehatan yang
                                                                                                     28
                                                                    Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut


sempurna dan optimal, serta diperlakukan dan dihargai masa akhir usia mereka, merasakan
kehidupan yang harmonis serta merasakan kenikmatan seksual yang aman dan nyaman. Oleh
karena itu, pengetahuan tentang permasalahan seksual pada lansia baik pria maupun wanita
perlu sebarluaskan sejak dini, dan perlunya kerjasama yang optimal disetiap instansi pemerintah
dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini agar para lansia mendapatkan kehidupan yang
nayak, dan harmonis sebagai manusia dan warga negara seutuhnya.
                                                                                                   29
                                                                  Masalah Seksual Pada Masa Usia Lanjut




                                   DAFTAR PUSTAKA


1. Darmojo, R Boedi dan Martono, H Hadi.2000.Geriatri ( ilmu kesehatan usia lanjut ).
   Jakarta : FKUI
2. Widyastuti, Yani dan Anita Rahmawati, Yuliasti, E. 2009. Kesehatan Reproduksi.
   Yogyakarta. Fitramaya
3. Modul Kesehatan Reproduksi. 2008. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
4. http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/masalah-seksual-lansia/

5. http://www.smallcrab.com/lanjut-usia

6. http://www.smallcrab.com/lanjut-usia/468-penurunan-seksualitas-pada-lanjut-usia

7. http://www.smallcrab.com/lanjut-usia/493-andropause-waktunya-si-jantan-istirahat

8. http://www.smallcrab.com/lanjut-usia/469-mengenal-impotensi-atau-disfungsi-ereksi

9. http://sehatnews.com/wlovesex/up-date/3999.html

10. http://lead.sabda.org/bab_1_masa_lanjut_usia

11. http://www.damandiri.or.id/file/ratnasuhartiniunairbab2.pdf

12. http://www.docstoc.com/docs/6600963/Masalah-Usia-LAnjut

13. http://www.klipingku.com/result-page/masalah%20seks%20pada%20lansia

								
To top