Docstoc

asuhan keperawatan pada klien dengan TBC

Document Sample
asuhan keperawatan pada klien dengan TBC Powered By Docstoc
					                                        BAB I

                               PENDAHULUAN




A. LATAR BELAKANG
         Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil
  Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan
  bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru
  melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai
  focus primer dari ghon.
         Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan
  dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak
  dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu
  diterbangkan angin kemana-mana. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah
  maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan
  bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.
  Penyakit ini perlu diperhatikan karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat;
  sehingga sering di jumpai. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada
  masyarakat sekitarnya.
         Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah
  satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita
  mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan
  dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan
  pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang
  lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau
  gas buangan.
         Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan
  pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u dan bila
  hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Pada penderita dengan
  TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat dianosis secara
  pasti sekaligus untuk tes kepekaan.
         Peran perawat dalam memberikan K-I-E(komunikasi- Informasi –Edukasi),
  tentunya memegang pola yang sangat penting dalam proses pengobatan penyakit

                                                                                    1
  tuberculosis. Sehingga pengetahuan mengenai mekanisme, pathogenesis dan
  patofisiologi menjadi materi yang mutlak harus dimiliki oleh seorang mahasiswa ilmu
  keperawatan yang nantinya akan terjun langsung dalam dunia klinik. Untuk itulah,
  dalam makalah ini kami memaparkan hasil diskusi kelompok kami tentang ASUHAN
  KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU.


B. TUJUAN
  Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut :
   Tujuan umum : salah satu syarat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
   Tujuan khusus :
     -   Mahasiswa memahami pengertianTBC
     -   Mahasiswa memahami Etiologi TBC
     -   Mahasiswa memahami Manifestasi klinis TBC
     -   Mahasiswa memahami Patofisiologi TBC
     -   Mahasiswa memahami Komplikasi TBC
     -   Mahasiswa memahami pemeriksaan penunjang TBC
     -   Mahasiswa memahami penatalaksaan TBC
     -   Mahasiswa mampu me;alukan asuhan keperawatan pada klien dengan TBC




                                                                                   2
                                    BAB II

                               PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR MEDIS
  1. PENGERTIAN
    -   Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium tuberkulosis
        sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak
        di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer,
        2000).
    -   Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
        parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
        terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda,
        2001)
    -   Tuberkolusis adalah penyakit menular yang menyerang paru.(Dep.Les. RI,
        2001 : 7)
    -   Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil
        Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran
        pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke
        dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami
        proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995.
        hal 73).
    -   Tuberkolusis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium
        tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Kapita Selakta, 2001 : 472)


  2. ETIOLOGI
        Agens infeksius utama, mycobakterium tuberkulosis adalah batang aerobik
     tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar
     ultra violet, dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Yang
     tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis kompleks adalah:
         Mycobakterium tuberculosis
         Varian asian
         Varian african I
         Varian asfrican II


                                                                                       3
      Mycobakterium bovis
     Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan Tb
  (mott, atipyeal) adalah :
      Mycobacterium cansasli
      Mycobacterium avium
      Mycobacterium intra celulase
      Mycobacterium scrofulaceum
      Mycobacterium malma cerse
      Mycobacterium xenopi


3. FAKTOR PREDISPOSISI
      Tubercolosis ditularkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui udara.
  Individu terinsfeksi melalui berbicara, batuk, bersin, tertawa atau bernyanyi,
  melepaskan droplet besar ( lebih besar dari 100u ) dan kecil ( 1 sampai 5 u ).
  Droplet yang besar menetap, sementara droplet yang kecil tertahan diudara dan
  tertiup oleh individu yang rentan. Individu yang beresiko tinggi untuk tertular
  tuberculosis adalah sebagai berikut:
   Mereka yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB aktif.
   Individu imunosupresif ( Termasuk lansia, pasien dengan kanker, mereka yang
     dalam terapi kortikosteroid atau mereka yang terinfeksi dengan HIV ).
   Pengguna obat-obatan IV dan alkoholik.
   Setiap       individu   tanpa    perawatan       kesehatan      yang     adekuat    (
     tunawisma,tahanan, etnik dan ras minoritas terutama anak-anak dibawah usia
     15 tahun atau dewasa muda antara yang berusia 15-44 tahun ).
   Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya ( misalny
     diabetes,     gagal    ginjal   kronis,   silikosis,   penyimpangan   gizi,   bypass
     gasterektomi yeyunoileal ).
   Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi ( Asia tenggara, Afrika,
     Amerika latin, karibia ).
   Setiap individu yang tinggal di institusi ( misalnya fasilitas perawatan jangka
     panjang, institusi psikiatrik, penjara ).
   Indivudi yang tinggal didaerah perumahan substandart kumuh.
   Petugas kesehatan

                                                                                        4
4. PATOFISIOLOGI
     Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga

  tempat yaitu saluran pernafasan , saluran pencernaan dan adanya luka yang

  terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara ( airbone ) yang

  cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang

  terinfeksi sebelumnya .( Sylvia.A.Price.1995.hal 754 )

     Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah

  dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar.

  Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya , sehingga basil ini mengering lalu

  diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah

  maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan

  bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. ( dr.Hendrawan.N.1996,hal 1-2 )

     Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa

  muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah

  bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar

  getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat

  menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa

  mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri

  dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi

  dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa

  membangkitkan reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit pada hari hari

  pertama ini di gantikan oleh makrofag.Pada alveoli yang terserang mengalami

  konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga

  dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional,

  sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan

  yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh
                                                                                   5
limfosit,proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer

paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah

bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang

mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan

menjalani pemeriksaan radiogram rutin.Beberapa respon lain yang terjadi pada

daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan

menimbulkan kavitas.Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain

paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring ,telinga tengah atau

usus.(Sylvia.A Price:1995;754)

   Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan

dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen

bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan

perbatasan bronkus rongga. Bahan perkijauan dapat mengental sehingga tidak

dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan

bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas.Keadaan

ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi

hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.(Syilvia.A

Price:1995;754).

   Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.

Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah

dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Jenis

penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Penyebaran

hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan

tuberkulosis milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah




                                                                             6
  sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar

  keorgan-organ lainnya.



5. KLASIFIKASI
  a. Pembagian secara patologis :
      Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
      Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).

  b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
      Tuberkulosis Paru BTA positif.
      Tuberkulosis Paru BTA negative
  c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
      Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
      Tuberkulosis non aktif .
      Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
  d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
      Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas
        pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu
        lobus paru.
      Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter
        tidak lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu
        bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian
        satu paru.
      For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang
        melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
  e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic
     Society memberikan klasifikasi baru:
      Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak
        tidak pernah, tes tuberculin negatif.
      Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi,
        disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
      Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.


                                                                                  7
      Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
  f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
      Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus
        baru dengan batuk TB berat.
      Kategori II : ditujukan terhadap kasus kambuh dan kasus gagal dengan
        sputum BTA positf.
      Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru
        yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam
        kategori I.
      Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.


6. MANIFESTASI KLINIS
     Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus
  yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak
  terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan
  diagnosa secara klinik.
   Gejala sistemik/umum, antara lain sebagai berikut:
      Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
        malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
        seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
      Penurunan nafsu makan dan berat badan.
      Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
      Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
   Gejala khusus, antara lain sebagai berikut:
      Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
        sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
        kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi",
        suara nafas melemah yang disertai sesak.
      Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
        dengan keluhan sakit dada.
      Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
        pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
        atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.

                                                                               8
     Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
       disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
       tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.


7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
   Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif.
   Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk
    BTA.
   Skin Test (PPD, Mantoux, Tine, Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi
    10 mm atau lebih, timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal)
    mengindikasikan     infeksi   lama    dan    adanya       antibodi   tetapi   tidak
    mengindikasikan penyakit sedang aktif.
   Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian
    paru-paru bagian atas, deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau
    cairan pada effusi. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat
    mencakup area berlubang dan fibrous.
   Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung, urine dan CSF,
    biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa.
   Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB, adanya sel-sel
    besar yang mengindikasikan nekrosis.
   Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi;
    misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air, mungkin ditemukan pada
    TB paru kronik lanjut.
   ABGs : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.
   Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan
    bronchus atau kerusakan paru karena TB.
   Darah : lekositosis, LED meningkat.
   Test Fungsi Paru : VC menurun, Dead Space meningkat, TLC meningkat dan
    menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari
    fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura.




                                                                                     9
8. PROGNOSIS
  -   Jika berobat teratur sembuh total (95%).
  -   Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 % yang mungkin
      relaps.


9. PENATALAKSANAAN
  a. Therapy :
      Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis , yaitu sebagai
      berikut:
       Aktivitas bakterisid
         Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
         (metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur
         dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman
         sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari
         permulaan pengobatan).
       Aktivitas sterilisasi
         Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya
         lambat (metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari
         angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
         Pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat
         saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi
         resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis
         dilskukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam
         obat yang bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini,
         kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan
         resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi yang
         terbanyak ditemukan ialah INH
         Adapun jenis obat yang dipakai adalah sebagai berikut :
         - Obat Primer :                   - Obat Sekunder :
           1. Isoniazid (H)                   1. Ekonamid
           2. Rifampisin (R)                  2. Protionamid
           3. Pirazinamid (Z)                 3. Sikloserin
           4. Streptomisin                    4. Kanamisin


                                                                                    10
          5. Etambutol (E)                   5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
          6. Tiasetazon
          7. Viomisin
          8. Kapreomisin
    Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :

     Tahap INTENSIF
      Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah
      terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab intensif tersebut
      diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular
      dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif
      menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan
      ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya
      kekebalan obat.
     Tahap lanjutan
      Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang
      dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Tahap
      lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga
      mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan obat kategori 1 :

   Tahap        Lama         (H) / day   R day      Z day        F day         Jumlah Hari X
                                                                               Minum Obat

   Intensif     2 bulan      1           1          3            3             60

   Lanjutan     4 bulan      2           1          -            -             54



Paduan Obat kategori 2 :

  Tahap       Lama        (H)    R           Z              E            E      Strep.     Jumlah
                          @300 @450          @500           @ 250        @50    Injeksi    Hari X
                                                                         0
                          mg     mg          mg             Mg                             Minum
                                                                         mg                Obat




                                                                                      11
  Intensif   2 bulan    1       1             3            3        -           0,5 %        60
             1 bulan    1       1             3            3        -                        30

  Lanjutan 5 bulan      2                     1            3        2           -            66



Paduan Obat kategori 3 :

  Tahap          Lama       H @ 300 mg         R@450mg         P@500mg Hari X Minum Obat

  Intensif       2 bulan    1                  1               3            60

  Lanjutan       4 bulan    2                  1               1            54

  3 x week




     OAT sisipan (HRZE)

 Tahap        Lama          H              R           Z                E day           Minum
                                                                                        obat X
                            @300mg        @450mg       @500mg           @250mg
                                                                                        Hari


 Intensif     1 bulan       1             1            3                3               30

 (dosis
 harian)



b. Pencegahan
    - Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak
       anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
    - Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati
       sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi
       penularan.
    - Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak
    - Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.


                                                                                    12
        - Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak
           melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan
           dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi
           udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
        - Tutup        mulut   dengan   sapu     tangan    bila   batuk      serta   tidak
           meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan
           tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan
           untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
    c. Pemberian obat-obatan : OAT (Obat Anti Tuberkulosa), Bronchodilator,
        Expectoran, OBH, dan Vitamin.
    d. Fisioterapi dan rehabilitasi.
    e. Konsultasi secara teratur.




B. KONSEP DASAR ASKEP
  1. PENGKAJIAN
        Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai
        berikut:
     a. Pola aktivitas dan istirahat
        Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas
        pendek), demam, menggigil.
        Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,
        lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C)
        hilang timbul.
     b. Pola nutrisi
        Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
        Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
     c. Respirasi
        Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
        Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,
        mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar
        bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau
        fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan


                                                                                       13
     tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan
     pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
  d. Rasa nyaman/nyeri
     Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
     Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri
     bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
  e. Integritas ego
     Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada
     harapan.
     Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah
     tersinggung.
  f. Keamanan
     Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
     Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
  g. Interaksi Sosial
     Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan
     pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk
     melaksanakan peran.


2. DIAGNOSA
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret
   darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan
   permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang
   kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
   kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia,
   penurunan kemampuan finansial.
d. Gangguan rasa nyaman ( nyeri akut ) berhubungan dengan inflamasi paru, batuk
   menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
   kebutuhan oksigen.


                                                                                      14
        g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan
            dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang
            didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
        h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan
            primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi
            yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang infeksi tentang infeksi
            kuman.


       3. INTERVENSI

      Diagnosa                 Tujuan                  Intervensi                  Rasional
    Keperawatan
1. Bersihan jalan       Setelah diberikan     a. Kaji ulang fungsi           a. Penurunan bunyi
   napas tidak          tindakan keperawatan     pernapasan: bunyi              napas indikasi
   efektif              kebersihan jalan         napas, kecepatan, irama,       atelektasis, ronki
   berhubungan          napas efektif, dengan    kedalaman dan                  indikasi akumulasi
   dengan sekret        criteria hasil:          penggunaan otot                secret/ketidakmamp
   kental atau sekret                            aksesori.                      uan membersihkan
   darah, kelemahan,     Mempertahankan b. Catat kemampuan untuk               jalan napas
   upaya batuk            jalan napas pasien.    mengeluarkan secret            sehingga otot
   buruk, edema          Mengeluarkan           atau batuk efektif, catat      aksesori digunakan
   trakeal/faringeal.     sekret tanpa           karakter, jumlah               dan kerja
                          bantuan.               sputum, adanya                 pernapasan
                         Menunjukkan            hemoptisis.                    meningkat.
                          prilaku untuk       c. Berikan pasien posisi       b. Pengeluaran sulit
                          memperbaiki            semi atau Fowler,              bila sekret tebal,
                          bersihan jalan         Bantu/ajarkan batuk            sputum berdarah
                          napas.                 efektif dan latihan napas      akibat kerusakan
                         Berpartisipasi         dalam.                         paru atau luka
                          dalam program       d. Bersihkan sekret dari          bronchial yang
                          pengobatan sesuai      mulut dan trakea,              memerlukan
                          kondisi.               suction bila perlu.            evaluasi/intervensi
                         Mengidentifikasi    e. Pertahankan intake             lanjut .
                          potensial              cairan minimal 2500         c. Meningkatkan
                          komplikasi dan         ml/hari kecuali                ekspansi paru,
                          melakukan              kontraindikasi.                ventilasi maksimal
                          tindakan tepat.     f. Lembabkan                      membuka area
                                                 udara/oksigen inspirasi.       atelektasis dan
                                                 Kolaborasi:                    peningkatan
                                              g. Berikan obat: agen             gerakan sekret agar
                                                 mukolitik,                     mudah dikeluarkan.
                                                 bronkodilator,              d. Mencegah
                                                 kortikosteroid sesuai          obstruksi/aspirasi.
                                                 indikasi.                      Suction dilakukan
                                                                                bila pasien tidak
                                                                                mampu

                                                                                         15
                                                                                mengeluarkan
                                                                                sekret.
                                                                             e. Membantu
                                                                                mengencerkan
                                                                                secret sehingga
                                                                                mudah dikeluarkan.
                                                                             f. Mencegah
                                                                                pengeringan
                                                                                membran mukosa.
                                                                             g. Menurunkan
                                                                                kekentalan sekret,
                                                                                lingkaran ukuran
                                                                                lumen
                                                                                trakeabronkial,
                                                                                berguna jika terjadi
                                                                                hipoksemia pada
                                                                                kavitas yang luas.

2. Gangguan           Setelah diberikan         a. Kaji dispnea, takipnea,   a. Tuberkulosis paru
   pertukaran gas     tindakan keperawatan         bunyi pernapasan             dapat
   berhubungan        pertukaran gas efektif,      abnormal.                    rnenyebabkan
   dengan             dengan kriteria hasil:       Peningkatan upaya            meluasnya
   berkurangnya        Melaporkan tidak           respirasi, keterbatasan      jangkauan dalam
   keefektifan           terjadi dispnea.          ekspansi dada dan            paru-pani yang
   permukaan paru,     Menunjukkan                kelemahan.                   berasal dari
   atelektasis,          perbaikan ventilasi    b. Evaluasi perubahan-          bronkopneumonia
   kerusakan             dan oksigenasi            tingkat kesadaran,           yang meluas
   membran alveolar      jaringan adekuat          catat tanda-tanda            menjadi inflamasi,
   kapiler, sekret       dengan GDA                sianosis dan                 nekrosis, pleural
   yang kental,          dalam rentang             perubahan warna kulit,       effusion dan
   edema bronchial.      normal.                   membran mukosa, dan          meluasnya fibrosis
                       Bebas dari gejala          warna kuku.                  dengan gejala-
                         distress               c. Demonstrasikan/anjur         gejala respirasi
                         pernapasan.               kan untuk                    distress.
                                                   mengeluarkan napas        b. Akumulasi secret
                                                   dengan bibir disiutkan,      dapat menggangp
                                                   terutama pada pasien         oksigenasi di organ
                                                   dengan fibrosis atau         vital dan jaringan.
                                                   kerusakan parenkim.       c. Meningkatnya
                                                d. Anjurkan untuk               resistensi aliran
                                                   bedrest, batasi dan          udara untuk
                                                   bantu aktivitas sesuai       mencegah
                                                   kebutuhan.                   kolapsnya jalan
                                                e. Monitor GDA.                 napas.
                                                f. Kolaborasi: Berikan       d. Mengurangi
                                                   oksigen sesuai               konsumsi oksigen
                                                   indikasi.                    pada periode
                                                                                respirasi.

                                                                             e. Menurunnya

                                                                                         16
                                                                              saturasi oksigen
                                                                              (PaO2) atau
                                                                              meningkatnya
                                                                              PaC02
                                                                              menunjukkan
                                                                              perlunya
                                                                              penanganan yang
                                                                              lebih. adekuat atau
                                                                              perubahan terapi.
                                                                           f. Membantu
                                                                              mengoreksi
                                                                              hipoksemia yang
                                                                              terjadi sekunder
                                                                              hipoventilasi dan
                                                                              penurunan
                                                                              permukaan alveolar
                                                                              paru.

3. Gangguan            Setelah diberikan      a. Catat status nutrisi      a. Berguna dalam
   keseimbangan        tindakan keperawatan      paasien: turgor kulit,       mendefinisikan
   nutrisi, kurang     diharapkan                timbang berat badan,         derajat masalah dan
   dari kebutuhan      kebutuhan nutrisi         integritas mukosa            intervensi yang
   berhubungan         adekuat, dengan           mulut, kemampuan             tepat
   dengan kelelahan,   kriteria hasil:           menelan, adanya bising    b. Membantu
   batuk yang                                    usus, riwayat                intervensi
   sering, adanya       Menunjukkan berat       mual/rnuntah atau            kebutuhan yang
   produksi sputum,      badan meningkat         diare.                       spesifik,
   dispnea,              mencapai tujuan      b. Kaji ulang pola diet         meningkatkan intake
   anoreksia,            dengan nilai            pasien yang                  diet pasien.
   penurunan             laboratoriurn           disukai/tidak disukai.    c. Mengukur
   kemampuan             normal dan bebas     c. Monitor intake dan           keefektifan nutrisi
   finansial.            tanda malnutrisi.       output secara periodik.      dan cairan.
                        Melakukan            d. Catat adanya anoreksia,   d. Dapat menentukan
                         perubahan pola          mual, muntah, dan            jenis diet dan
                         hidup untuk             tetapkan jika ada            mengidentifikasi
                         meningkatkan dan        hubungannya dengan           pemecahan masalah
                         mempertahankan          medikasi. Awasi              untuk meningkatkan
                         berat badan yang        frekuensi, volume,           intake nutrisi.
                         tepat.                  konsistensi Buang Air     e. Membantu
                                                 Besar (BAB).                 menghemat energi
                                              e. Anjurkan bedrest.            khusus saat demam
                                              f. Lakukan perawatan            terjadi peningkatan
                                                 mulut sebelum dan            metabolik.
                                                 sesudah tindakan          f. Mengurangi rasa
                                                 pernapasan.                  tidak enak dari
                                              g. Anjurkan makan               sputum atau obat-
                                                 sedikit dan sering           obat yang
                                                 dengan makanan tinggi        digunakan yang
                                                 protein dan                  dapat merangsang
                                                 karbohidrat.                 muntah.

                                                                                       17
                                                Kolaborasi:                 g. Memaksimalkan
                                             h. Rujuk ke ahli gizi             intake nutrisi dan
                                                untuk menentukan               menurunkan iritasi
                                                komposisi diet.                gaster.
                                             i. Awasi pemeriksaan           h. Memberikan
                                                laboratorium. (BUN,            bantuan dalarn
                                                protein serum, dan             perencaaan diet
                                                albumin).                      dengan nutrisi
                                             j. Berikan antipiretik            adekuat unruk
                                                tepat.                         kebutuhan
                                                                               metabolik dan diet.
                                                                            i. Nilai rendah
                                                                               menunjukkan
                                                                               malnutrisi dan
                                                                               perubahan program
                                                                               terapi.
                                                                            j. Demam
                                                                               meningkatkan
                                                                               kebutuhan
                                                                               metabolik dan
                                                                               konsurnsi kalori.


4. Gangguan rasa      Setelah diberikan      a. Observasi karakteristik     a. Nyeri merupakan
   nyaman ( nyeri     tindakan keperawatan      nyeri, mis tajam,              respon subjekstif
   akut )             rasa nyeridapat           konstan , ditusuk.             yang dapat diukur.
   berhubungan        berkurang atau            Selidiki perubahan          b. Perubahan
   dengan inflamasi   terkontrol, dengan        karakter                       frekuensi jantung
   paru, batuk        KH:                       /lokasi/intensitas nyeri.      TD menunjukan
   menetap                                   b. Pantau TTV                     bahwa pasien
                         Menyatakan         c. Berikan tindakan               mengalami nyeri,
                          nyeri berkurang       nyaman mis, pijatan            khususnya bila
                          atauterkontrol        punggung, perubahan            alasan untuk
                         Pasien tampak         posisi, musik tenang,          perubahan tanda
                          rileks                relaksasi/latihan nafas        vital telah terlihat.
                                             d. Tawarkan pembersihan        c. Tindakan non
                                                mulut dengan sering..          analgesik diberikan
                                             e. Anjurkan dan bantu             dengan sentuhan
                                                pasien dalam teknik            lembut dapat
                                                menekan dada selama            menghilangkan
                                                episode batukikasi.            ketidaknyamanan
                                             f. Kolaborasi dalam               dan memperbesar
                                                pemberian analgesik            efek terapi
                                                sesuai ind                     analgesik.
                                                                            d. Pernafasan mulut
                                                                               dan terapi oksigen
                                                                               dapat mengiritasi
                                                                               dan mengeringkan
                                                                               membran mukosa,
                                                                               potensial

                                                                                         18
                                                                                ketidaknyamanan
                                                                                umum.
                                                                             e. Alat untuk
                                                                                mengontrol
                                                                                ketidaknyamanan
                                                                                dada sementara
                                                                                meningkatkan
                                                                                keefektifan upaya
                                                                                batuk.
                                                                             f. Obat ini dapat
                                                                                digunakan untuk
                                                                                menekan batuk non
                                                                                produktif,
                                                                                meningkatkan
                                                                                kenyamanan

5. Hipertermi           Setelah diberikan      a.   Kaji suhu tubuh          a. Mengetahui
   berhubungan          tindakan keperawatan        pasien                      peningkatan suhu
   dengan      proses   diharapkan suhu        b.   Beri kompres air            tubuh, memudahkan
   inflamasi aktif.     tubuh kembali normal        hangat                      intervensi
                        dengan KH :            c.   Berikan/anjurkan         b. Mengurangi panas
                                                    pasien untuk banyak         dengan pemindahan
                           Suhu tubuh              minum 1500-2000             panas secara
                            36°C-37°C               cc/hari (sesuai             konduksi. Air
                                                    toleransi)                  hangat mengontrol
                                               d.   Anjurkan pasien             pemindahan panas
                                                    untuk menggunakan           secara perlahan
                                                    pakaian yang tipis dan      tanpa menyebabkan
                                                    mudah menyerap              hipotermi atau
                                                    keringat                    menggigil.
                                               e.   Observasi intake dan     c. Untuk mengganti
                                                    output, tanda vital         cairan tubuh yang
                                                    (suhu, nadi, tekanan        hilang akibat
                                                    darah) tiap 3 jam           evaporasi
                                                    sekali atau sesuai       d. Memberikan rasa
                                                    indikasi                    nyaman dan
                                               f.   Kolaborasi :                pakaian yang tipis
                                                    pemberian cairan            mudah menyerap
                                                    intravena dan               keringat dan tidak
                                                    pemberian obat sesuai       merangsang
                                                    program.                    peningkatan suhu
                                                                                tubuh.
                                                                             e. Mendeteksi dini
                                                                                kekurangan cairan
                                                                                serta mengetahui
                                                                                keseimbangan
                                                                                cairan dan elektrolit
                                                                                dalam tubuh. Tanda
                                                                                vital merupakan
                                                                                acuan untuk

                                                                                          19
                                                                                  mengetahui
                                                                                  keadaan umum
                                                                                  pasien.
                                                                               f. Pemberian cairan
                                                                                  sangat penting bagi
                                                                                  pasien dengan suhu
                                                                                  tubuh yang tinggi.
                                                                                  Obat khususnya
                                                                                  untuk menurunkan
                                                                                  panas tubuh pasien.


6. Intoleransi          Setelah diberikan        a. Evaluasi respon pasien     a. Menetapkan
   aktivitas            tindakan keperawatan        terhadap aktivitas.           kemampuan atau
   berhubungan          pasien diharapkan           Catat laporan dispnea,        kebutuhan pasien
   dengan               mampu melakukan             peningkatan kelemahan         memudahkan
   ketidakseimbanga     aktivitas dalam batas       atau kelelahan.               pemilihan
   n antara suplai      yang ditoleransi         b. Berikan lingkungan            intervensi.
   dan     kebutuhan    dengan kriteria hasil:      tenang dan batasi          b. Menurunkan stress
   oksigen.                                         pengunjung selama             dan rangsanagn
                           Melaporkan atau         fase akut sesuai              berlebihan,
                            menunjukan              indikasi.                     meningkatkan
                            peningkatan          c. Jelaskan pentingnya           istirahat.
                            toleransi terhadap      istirahat dalam rencana    c. Tirah baring
                            aktivitas yang          pengobatandan                 dipertahankan
                            dapat diukur            perlunya keseimbangan         selama fase akut
                            dengan adanya           aktivitas dan istirahat.      untuk menurunkan
                            dispnea,             d. Bantu pasien memilih          kebutuhan
                            kelemahan               posisi nyaman untuk           metabolic,
                            berlebihan, dan         istirahat.                    menghemat energy
                            tanda vital dalam    e. Bantu aktivitas               untuk
                            rentan normal.          perawatan diri yang           penyembuhan.
                                                    diperlukan. Berikan        d. Pasien mungkin
                                                    kemajuan peningkatan          nyaman dengan
                                                    aktivitas selama fase         kepala tinggi, tidur
                                                    penyembuhan.                  di kursi atau
                                                                                  menunduk ke depan
                                                                                  meja atau bantal.
                                                                               e. Meminimalkan
                                                                                  kelelahan dan
                                                                                  membantu
                                                                                  keseimbanagnsuplai
                                                                                  dan kebutuhan
                                                                                  oksigen.

7.   Kurang             Setelah diberikan        a. Kaji ulang kemampuan       a.   Kemampuan
     pengetahuan        tindakan keperawatan        belajar pasien                  belajar berkaitan
     tentang kondisi,   tingkat pengetahuan         misalnya: perhatian,            dengan keadaan
     pengobatan,        pasien meningkat,           kelelahan, tingkat              emosi dan kesiapan
     pencegahan         dengan kriteria hasil:      partisipasi, lingkungan         fisik. Keberhasilan

                                                                                            20
berhubungan        Menyatakan                  belajar, tingkat               tergantung pada
dengan tidak        pemahaman proses            pengetahuan, media,            kemarnpuan
ada yang            penyakit/prognosis          orang dipercaya.               pasien.
menerangkan,        dan kebutuhan          b.   Berikan Informasi yang    b.   Informasi tertulis
interpretasi yang   pengobatan.                 spesifik dalam bentuk          dapat membantu
salah, informasi  Melakukan                    tulisan misalnya:              mengingatkan
yang didapat        perubahan prilaku           jadwal minum obat.             pasien.
tidak               dan pola hidup         c.    Jelaskan                 c.   Meningkatkan
lengkap/tidak       unruk                       penatalaksanaan obat:          partisipasi pasien
akurat,             memperbaiki                 dosis, frekuensi,              mematuhi aturan
terbatasnya         kesehatan umurn             tindakan dan perlunya          terapi dan
pengetahuan/ko      dan menurunkan              terapi dalam jangka            mencegah putus
gnitif              resiko pengaktifan          waktu lama. Ulangi             obat.
                    ulang luberkulosis          penyuluhan tentang        d.   Mencegah
                    paru.                       interaksi obat                 keraguan terhadap
                   Mengidentifikasi            Tuberkulosis dengan            pengobatan
                    gejala yang                 obat lain.                     sehingga mampu
                    mernerlukan            d.   Jelaskan tentang efek          menjalani terapi.
                    evaluasi/intervensi.        samping obat: mulut       e.   Kebiasaan minurn
                   Menerima                    kering, konstipasi,            alkohol berkaitan
                    perawatan                   gangguan penglihatan,          dengan terjadinya
                    kesehatan adekuat           sakit kepala,                  hepatitis
                                                peningkatan tekanan       f.   Efek samping
                                                darah.                         etambutol:
                                           e.   Anjurkan pasien untuk          menurunkan visus,
                                                tidak minurn alkohol           kurang mampu
                                                jika sedang terapi INH.        melihat warna
                                           f.   Rujuk perneriksaan             hijau.
                                                mata saat mulai dan       g.   Debu silikon
                                                menjalani terapi               beresiko keracunan
                                                etambutol.                     silikon yang
                                           g.   Berikan gambaran               mengganggu fungsi
                                                tentang pekerjaan yang         paru/bronkus.
                                                berisiko terhadap         h.   Pengetahuan yang
                                                penyakitnya misalnya:          cukup dapat
                                                bekerja di pengecoran          mengurangi resiko
                                                logam, pertambangan,           penularan/ kambuh
                                                pengecatan.                    kembali.
                                           h.    Review tentang cara           Komplikasi
                                                penularan Tuberkulosis         Tuberkulosis:
                                                dan resiko kambuh              formasi abses,
                                                lagi.                          empisema,
                                                                               pneumotorak,
                                                                               fibrosis, efusi
                                                                               pleura, empierna,
                                                                               bronkiektasis,
                                                                               hernoptisis,
                                                                               u1serasi Gastro,
                                                                               Instestinal (GD,
                                                                               fistula

                                                                                       21
                                                                                    bronkopleural,
                                                                                    Tuberkulosis
                                                                                    laring, dan
                                                                                    penularan kuman.


8. Risiko tinggi         Setelah diberikan       a. Review patologi            a.   Membantu pasien
   infeksi               tindakan keperawatan       penyakit fase                   agar mau mengerti
   penyebaran /          tidak terjadi              aktif/tidak aktif,              dan menerima
   aktivitas ulang       penyebaran/ aktivitas      penyebaran infeksi              terapi yang
   infeksi               ulang infeksi, dengan      melalui bronkus pada            diberikan untuk
   berhubungan           kriteria hasil:            jaringan sekitarnya atau        mencegah
   dengan                                           aliran darah atau sistem        komplikasi.
   pertahanan primer        Mengidentifikasi       limfe dan resiko infeksi   b.   Orang-orang yang
   tidak adekuat,            intervensi untuk       melalui batuk, bersin,          beresiko perlu
   fungsi silia              mencegah/menur         meludah, tertawa.,              program terapi
   menurun/ statis           unkan resiko           ciuman atau menyanyi.           obat untuk
   sekret, malnutrisi,       penyebaran          b. Identifikasi orang-             mencegah
   terkontaminasi            infeksi.               orang yang beresiko             penyebaran infeksi.
   oleh lingkungan,         Menunjukkan/me         terkena infeksi seperti    c.   Kebiasaan ini
   kurang informasi          lakukan                anggota keluarga,               untuk mencegah
   tentang infeksi           perubahan pola         teman, orang dalam              terjadinya
   kuman.                    hidup untuk            satu perkumpulan.               penularan infeksi.
                             meningkatkan        c. Anjurkan pasien            d.   Mengurangi risilio
                             lingkungan yang.       menutup mulut dan               penyebaran infeksi.
                             aman.                  membuang dahak di          e.   Febris merupakan
                                                    tempat penampungan              indikasi terjadinya
                         -                          yang tertutup jika              infeksi.
                                                    batuk.                     f.   Pengetahuan
                                                 d. Gunakan masker setiap           tentang faktor-
                                                    melakukan tindakan.             faktor ini
                                                 e. Monitor temperatur.             membantu pasien
                                                 f. Identifikasi individu           untuk mengubah
                                                    yang berisiko tinggi            gaya hidup dan
                                                    untuk terinfeksi ulang          menghindari/meng
                                                    Tuberkulosis paru,              urangi keadaan
                                                    seperti: alkoholisme,           yang lebih buruk.
                                                    malnutrisi, operasi        g.   Periode menular
                                                    bypass intestinal,              dapat terjadi hanya
                                                    menggunakan obat                2-3 hari setelah
                                                    penekan imun/                   permulaan
                                                    kortikosteroid, adanya          kemoterapi jika
                                                    diabetes melitus,               sudah terjadi
                                                    kanker.                         kavitas, resiko,
                                                 g. Tekankan untuk tidak            penyebaran infeksi
                                                    menghentikan terapi             dapat berlanjut
                                                    yang dijalani.                  sampai 3 bulan.
                                                    Kolaborasi:                h.   INH adalah obat
                                                 h. Pemberian terapi INH,           pilihan bagi
                                                    etambutol, Rifampisin.          penyakit

                                                                                            22
                             i. Pemberian terapi           Tuberkulosis
                                Pyrazinamid                primer
                                (PZA)/Aldinamide,          dikombinasikan
                                para-amino salisik         dengan obat-obat
                                (PAS), sikloserin,         lainnya.
                                streptomisin.              Pengobatan jangka
                             j. Monitor sputum BTA.        pendek INH dan
                                                           Rifampisin selama
                                                           9 bulan dan
                                                           Etambutol untuk 2
                                                           bulan pertama.
                                                      i.   Obat-obat sekunder
                                                           diberikan jika obat-
                                                           obat primer sudah
                                                           resisten
                                                      j.   Untuk mengawasi
                                                           keefektifan obat
                                                           dan efeknya serta
                                                           respon pasien
                                                           terhadap terapi




4. IMPLEMENTASI
  Sesuai dengan Intervensi
5. EVALUASI
  Sesuai dengan tujuan




                                                                    23
                                          BAB III

                                        PENUTUP

       Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin,
atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta
kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC.
Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

       Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil
Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian
bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone
infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon (
Hood Alsagaff, th 1995. hal 73).

       Gejala klinis yang sering ditemui pada tuberculosis paru adalah batuk yang tidak
spesifik tetapi progresif. Pada pemeriksaan fisik kadang kita dapat menemukan suara yang
khas tergantung seberapa luas dan dan seberapa jauh kerusakan jaringan paru yang terjadi.

       Pemeriksaan Rontgen dapat menunjukkan gambaran yang bermacam macam dan
tidak dapat dijadikan gambaran diagnostik yang absolut dari Tuberculosis Paru.

Pada pemeriksaan laboratorium ,peningkatan Laju Endap Darah dapat menunjukan proses
yang sedang aktif ,tapi laju endap darah yang normal bukan berarti menyingkirkan adanya
proses Tuberculosis.

Penemuan adanya BTA pada Dahak , bilasan bronkus ,bilasan lambung ,cairan pleura atau
jaringan paru adalah sangat penting untuk mendiagnosa TBC Paru. Sering dianjurkan untuk
pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali untuk dahak yang diambil pada pagi hari.

       Pengobatan TBC Paru adalah :
Pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan, mencegah kematian dan kekambuhan.
Obat TBC yang utama adalah Isoniazid ,Rifampisin ,pirazinamid ,streptomisin dan
etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan yang biasa digunakan adalah kanamisin ,kuinolon
,makroloid dan amoksisilin di kombinasikan dengan klavulanat.
Pengobatannya secara keseluruhannya dapat mencapai 12 bulan.




                                                                                            24
                                DAFTAR PUSTAKA

………………..Epidemiologi TB Paru di Indonesia, (http://www.tbindonesia.or.id),
diunduh tanggal 9 desember 2011

Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif ,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI Media Aescullapius.

Price, Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit , Edisi
6.Jakarta:EGC

Smeltzer, Suzanne. C dan Bare, Brenda. G. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth Volume 1. Jakarta: EGC

Underwood, J.C.E.1999.Patologi Umum dan Sistematik Volume 2.Jakarta: EGC




                                                                                     25

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1987
posted:1/11/2012
language:Indonesian
pages:25