Docstoc

Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Islami EKSIS

Document Sample
Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Islami EKSIS Powered By Docstoc
					Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Islami EKSIS


Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam (PSTTI), Sekolah Pascasarjana,
Universitas Indonesia sejak tahun 2006. Jurnal ini terbit empat kali dalam satu tahun, masing-masing pada bulan
Maret, Juni, September dan Desember.




EKSIS Edisi ke-11, Vol. 4, No. 2 April - Juni 2008

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Preferensi Karyawan Muslim Pertamina dalam Membayar Zakat Profesi
melalui Baituzzakah Pertamina

Dede Abdul Fatah


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensitas Muzakki Menunaikan Zakat pada Baitul Mal Masjid Jami‟ An Nur

Thamrin Dahlan


Pengaruh Tingkat Kepuasan dan Kepercayaan Muzakki kepada Lembaga Amil Zakat terhadap Perilaku Berzakat
Muzakki

Sofyan Rizal


Analisis Pengaruh Kualitas Jasa Badan Amil Zakat Nasional pada Kepuasan dan Kepercayaan Muzakki

Erika Takidah


Karakteristik Mustahik dalam Penggunaan Dana ZIS dan Pengaruhnya terhadap Probabilitas Peningkatan
Pendapatan Usaha (Studi Kasus: Mustahik Peserta Program Pemberdayaan Ekonomi LAZ PKPU-Jakarta)

Dyah Esthi Perwitasari


Analisis Pengaruh Dana Zakat, Infak, Sedekah (ZIS), Tingkat Pendidikan dan Lama Usaha Mustahik terhadap
Peningkatan Pendapatan Usaha (Studi Kasus: Para Peserta Program Ikhtiar Peramu Periode 1999-2004)

Ibnu                                                                                                           Siena



EKSIS Edisi ke-10, Vol. 4, No. 2 Januari - Maret 2008

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Bagi Hasil di Bank Syariah Mandiri

Maryanah


Analisis Faktor Internal terhadap Distribusi Bagi Hasil Bank Syariah (Studi Kasus: PT. Bank Syariah Mandiri)

Dahlan A. Rahman


Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Bagi Hasil Nasabah yang Menggunakan Skim
Mudharabah Muqayadah (Studi Kasus: Bank Muamalat Indonesia)

Lukita Tri Prakasa
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan Return Bagi Hasil Deposito Mudharabah Muthlaqah (Studi Kasus:
Unit Usaha Syariah Bank X)

Nasrah Mawardi


Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan Margin Murabahah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan
Rumah (Studi Kasus: PT. Bank Syariah Mandiri)

Mohamad Heykal


Pengaruh Kebijakan Bonus SWBI dan Penjaminan Pemerintah Terhadap Tingkat Imbalan Pasar Uang Antar
Bank Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia

T.Rifqy Thantawi




EKSIS Edisi ke-9, Vol. 3, No. 1 Januari - Maret 2007

Perbandingan Efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvesional di Indonesia

Aida Heralina


Analisis Perbandingan Kinerja Bank Syariah dengan Bank Konvensional Berdasarkan Rasio Keuangan. (Studi
Kasus: BMI dan 7 Bank Umum Konvensional)

Ibnu Fallah Rosyadi


Analisis Kinerja Keuangan Bank Syariah Ditinjau dari Pengaruh Eksternal (Studi Kasus: Bank Syariah Mandiri
Periode Januari 2001 – Juni 2003)

Fadhli Arsil


Perbandingan Kinerja PT. Bank Jabar Syariah Sebelum dan Sesudah Fatwa MUI tentang Haramnya Bunga
Bank

Hendra Prawira


Analisis Perbandingan Kinerja Perusahaan Kelompok Jakarta Islamic Index (JII) dan Perusahaan Kelompok
Manufaktur di Bursa Efek Jakarta (BEJ) Tahun 2003

Soleh Hasbi


Pengaruh Tingkat Hutang terhadap Kinerja Keuangan dan Rasio Harga Saham Perusahaan Publik Kelompok
Jakarta Islamic Index (JII)

Erwansyah




EKSIS Edisi ke-8, Vol. 2, No. 4 Oktober - Desember 2006

Perbandingan Alokasi Investasi di Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah dan Konvensional: Suatu Studi Komparasi

Bey Sapta Utama


Perkembangan Portofolio Investasi yang Optimal pada Cabang Utama Syariah PT. Asuransi Jiwa BRIngin Jiwa
Sejahtera

Anditha Yukihana Rahmayanti
Menyusun Portofolio Investasi Optimal Reksa Dana Batasa Syariah dengan Metode Markowitz

Budi Setyanto


Analisis Risiko Pasar atas Investasi dengan Model Value at Risk (VaR) (Studi Kasus Pada Reksa Dana PMN
Syariah Tahun 2003-2004)

Azizah Fitriyani


Optimalisasi Portofolio Aset Bank Syariah dalam Memaksimalkan Bagi Hasil (Studi Kasus PT. Bank Syariah
Mandiri)

Fitra Previanti


Alternatif Investasi dan Pembentukan Portofolio Optimal Bank Syariah (Studi Kasus UUS Bank Rakyat Indonesia
(Persero), Tbk)

Nazwar Ulfa Nawawi




EKSIS Edisi ke-7, Vol. 2, No. 3 Juli - September 2006

Analisis Kinerja Portofolio Saham Syariah Pada Bursa Efek Jakarta Tahun 2001-2002

T. Farida Rachmawati


Optimal Portofolio Saham Syariah (Studi Kasus BEJ Tahun 2002-2004)

Saptono Budi Satryo


Pengukuran Risiko Portofolio Saham Syariah Dengan Pendekatan Risk Metric (Studi
Perbandingan Model Volatilitas ARCH-GARCH (1,1) dan EWMA
Agus Syabarrudin


Analisis Proforma Saham Syariah Antara yang Konsisten dan yang tidak Konsisten dalam Jakarta Islamic Index
(JII)

Renold Darmansyah


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Earning Per Share (Studi Kasus Pada Bank Syariah „A' di Jakarta Periode
1997 – 2004)

Sutedjo


Hubungan Kausalitas Antara Variabel Makro dan Harga Saham Syariah Jakarta Islamic Index (JII)

Reny Maharani




EKSIS Edisi ke-6, Vol. 2, No. 2 April - Juni 2006

Pengaruh Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas (Studi Kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia)

Riki Antariksa
Potential Loss Perbankan Syariah Akibat Pengenaan PPN pada Pembiayaan Akad Murabahah (Studi Kasus
pada PT. Bank Syariah Mandiri)

Muhammad Syahrir


Analisis Pengukuran Risiko Harga Saham Syariah dengan Pendekatan Model Covariance dan Historical
Simulation

Oom Komariah


Analisis Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing (as-Sharf) dengan metode Extreme Value Theory

Wiku Suryomurti


Analisis Risiko Pasar Exchange Rate pada Bank Syariah

Edit Estetika




EKSIS Edisi ke-5, Vol. 2, No. 1 Januari - Maret 2006

Kritik Terhadap Pendekatan Kajian Ekonomi Islam

Sofyan S. Harahap


Prospek dan Tantangan Sumber Daya Manusia Perbankan Syariah 2006

Adiwarman A. Karim, Sutedjo Prihatono


Macroeconomics from Islamic Worldview

Abdul Ghafar bin Ismail


Risk Reporting of Islamic Banks: Evidence from Empirical Research

Noraini Mohd Arifin, Simon Archer and Rifaat Ahmed Abdel Karim


The Nature of Riba In Islam

M. Umer Chapra


Penghitungan Risiko Pembiayaan dengan Metode Pendekatan Internal dan Standar Studi Kasus pada Bank
Syariah X

Vina Kharisma Dewi




EKSIS Edisi ke-4, Vol. 1, No. 4 Oktober - Desember 2005

Zakat sebagai Alternatif Penggalangan Dana Masyarakat untuk Pembangunan

Mustikorini Indrijatiningrum


Efek Distribusi Produktif Dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) pada Perilaku Konsumsi Mustahik

M. Arief Mufraini
Pengaruh Zakat Produktif terhadap Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi para Mustahik

Husnul Khatimah


Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengumpulan Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf dan Kurban di Dompet
Dhuafa Republika

Emmy Hamidiyah


Modal Pemberdayaan Dana Zakat di Indonesia

Umrotul Khasanah




EKSIS Edisi ke-3, Vol. 1, No. 3 Juli - September 2005

Analisis Investasi dalam Asuransi Syariah

Agus Edi Sumanto


Strategi Investasi pada PT. Asuransi Takaful Keluarga

Isfandayani


Strategi PT. Asuransi Syariah Mubarakah dalam Menembus Pasar

Bagas Adi Pranowo


Analisis Valuasi Penyertaan PT. PNM dengan Komparasi Model Net Asset Valuation (NAV) dan Discounted
Cash Flow (DFC)

Anton Fahlevie


Analisis Kebutuhan dan Peluang Masyarakat Menjadi Nasabah Bank Syariah

Guntur S.mahardika




EKSIS Edisi ke-2, Vol. 1, No. 2 April - Juni 2005

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Masyarakat untuk Menggunakan Jasa Perbankan Syariah (Studi Kasus
pada Masyarakat Kota Bekasi)

Amat Yunus


Karakteristik Dana Pihak Ketiga di Bank Syariah Pasca Fatwa Keharaman Bunga Bank

Muhammad Sholahuddin


Pembiayaan Musyarakah di Perbankan Syariah dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Ita Rosita


Pengaruh Bunga Deposito Konvensional dan Return Deposito Mudharabah terhadap Pertumbuhan Deposito di
BMI

Imbang J, Mangkuto
Mengapa Nasabah Memilih Menggunakan Jasa Bank Syariah (Studi Kasus pada BSM Cabang Thamrin)

Samsudin




EKSIS Edisi ke-1, Vol. 1, No. 1 Januari - Maret 2005

Analisis Faktor-faktor Penyebab Non Performing Financing Studi Kasus pada Bank Syariah “X” di Jakarta

Muhammad Syarif Surbakti


Dampak Kebijakan Perbankan 1998 terhadap Kinerja Penghimpunan dan Penyaluran Dana Masyarakat pada
Bank Syariah (Studi Kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia)

Teddy Sumirat Bassar


Analisis Perhitungan Risiko Kredit dengan Pendekatan Credit Risk dan Portofolio (Studi Kasus Pembiayaan
Murabahah Bai Bithaman Ajil pada BMT Taqwa)

Yuda Septia Fitri


Analisis Risiko Harga Saham Syariah Menggunakan Daily Earning At Risk

Kuncoro Hadi


Analisis SWOT dalam Upaya Pengembangan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Ayu Safira Purwanti


Perbankan Syariah merupakan lembaga investasi dan jasa perbankan, di mana sumber dana
dan sistem operasionalnya berdasarkan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tujuannya tidak
semata-mata mencari keuntungan materi, melainkan mengikuti syariat ajaran Islam.Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui system bagi hasil deposito mudharabah
pada Bank Jabar dan bank konvensional. Untuk mengetahui system penghimpuan dana bank
syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dengan melakukan
observasi untuk memperoleh data. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Data
rekening deposito mudharabah dengan nisbah umum tahun 2009

.Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif system bagi hasil mudharabah.



PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
       Perbankan adalah satu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima
simpanan uang, meminjamkan uang, dan mengirimkan jasa pengiriman uang. Di dalam
sejarah ekonomi kaum muslim, pembiayaan yang dilakukan dengan akad yang sesuai syariah
telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak jaman Rasulullah SAW. Contohnya seperti
praktik-praktik menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan
untuk keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang. Dengan demikian, fungsi-fungsi
utama perbankan modern yaitu menerima deposito, menyalurkan dana, dan melakukan
transfer menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam, bahkan sejak
jaman Rasulullah.

       Perbankan Syariah merupakan lembaga investasi dan jasa perbankan, di mana sumber
dana dan sistem operasionalnya berdasarkan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tujuannya
tidak semata-mata mencari keuntungan materi, melainkan mengikuti syariat ajaran Islam.

       Perbankan syariah pertama kali dilakukan di Negara Malaysia pada pertengahan tahun
40-an, namun usaha perbankan syariah tersebut tidak sukses. Selanjutnya usaha pendirian
bank syariah dilakukan di Negara Mesir pada tahun 1963 dengan nama Mit Gharm Local
Saving Bank.

       Di Indonesia sendiri bank syariah yang pertama didirikan pada tahun 1992 adalah
Bank Muamalat. Perlu diketahui bahwa produk-produk perbankan syariah tidak hanya
ditujukan bagi orang Islam saja tetapi pada hakekatnya semua orang dan golongan. Jadi,
siapapun bisa menjadi nasabah bank syariah sepanjang ia dapat memenuhi persyaratan yang
ada dan yang telah ditentukan oleh pihak bank itu sendiri.

         Sistem perbankan syariah merupakan suatu sistem yang bisa menjadi solusi dalam
permasalahan ekonomi. Saat ini penerapan ekonomi syariah sudah semakin luas. Hal tersebut
dapat dilihat dari banyaknya lembaga keuangan yang berbasis syariah.

         Perkembangan Bank Syariah saat ini sangat pesat dipicu oleh UU No. 10 tahun
1998 yang memungkinkan perbankan menjalankan dual banking system. Bank-bank
konvensional yang menguasai pasar mulai melirik dan membuka Unit Usaha Syariah.

         Dalam meyediakan produk penghimpun dana, Bank Syariah tidak melakukan
pendekatan tunggal bagi para nasabahnya. Misalnya, pada tabungan beberapa bank
memperlakukannya seperti deposito, bahkan ada yang tidak menyediakan produk tabungan
sama sekali. Pada dasarnya, dilihat dari segi sumbernya, dana Bank Syariah terdiri atas
modal, titipan , investasi.

          Menurut Keynes, orang membutuhkan uang untuk 3 kegunaan yaitu; transaksi, jaga-
jaga, dan investasi. Oleh karena itu produk penghimpun dana pun disesuaikan berdasarkan 3
fungsi diatas yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

          Berdasarkan penjelasan diatas maka dalam penulisan ilmiah ini penulis mengambil
judul " ANALISIS SISTEM BAGI HASIL DEPOSITO MUDHARABAH PADA BANK
JABAR SYARIAH "

Rumusan dan Batasan Masalah

Rumusan Masalah

                Dalam perumusan masalah ini, penulis akan mengemukakan permasalahan
        yaitu bagaimana perbandingan perhitungan deposito antara system bagi hasil
        mudharabah dengan bank konvensional.

Batasan Masalah

                Sehubungan dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah diatas,
        maka penulis membatasi masalah tersebut dengan bagaimana system bagi hasil
        deposito Mudharabah yang berlaku pada Bank Jabar Syariah.

Tujuan Penelitian

        Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dari penulisan ilmiah ini adalah

                1.   Untuk mengetahui system bagi hasil deposito mudharabah pada Bank
                        Jabar dan bank konvensional

                2. Untuk mengetahui system penghimpuan dana bank syariah

Manfaat Penelitian
              Manfaat yang ingin dicapai oleh penulis agar bermanfaat dan berguna bagi
       manajemen bank untuk mengetahui perhitungan system bagi hasil deposito
       mudharabah pada Bank Jabar.

Metode Penelitian

              Metode penelitian yang dilakukan penulis dalam melakukan pengumpulan
       data yang diperlukan dengan menggunakan cara sebagai berikut :

Objek Penelitian

       Penulis menggunakan objek penelitian yaitu pada Bank Jabar

Data / Variabel

       1. Data Primer

       Data ini bersumber dari objek penelitian terhadap perusahaan yang diteliti dengan
       melakukan survey di lokasi penelitian.

       2. Data Sekunder

       Data ini diperoleh dengan cara mengumpulkan data yang telah diolah untuk pihak
       perusahaan berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan mudharabah pada Bank
       Syariah sebagai kerangka teoritis dan diperoleh dari referensi buku-buku yang
       mempunyai hubungan dengan objek penelitian.

Metode Pengumpulan Data / Variabel

              Untuk mengumpulkan data yang lengkap dan relevan, penulis menggunakan
       metode pengumpulan data yang terdiri dari :

              1. Studi pustaka

                     Yaitu dengan mencari referensi dari buku-buku yang dapat membantu
                     penulis dalam menyusun penulisan ilmiah ini.

              2. Studi Lapangan
                      a. Observasi : yaitu dengan melihat dan mempelajari secara langsung
                         pada objek penelitian.

                      b. Wawancara : yaitu dengan menanyakan langsung kepada pihak-
                         pihak perusahaan yang menangani suatu operasi yang berhubungan
                         dengan penulisan ilmiah ini.

Alat Analisis yang digunakan

       Analisis Deskriptif

       Dengan menggunakan metode sistem bagi hasil deposito mudharabah.

LANDASAN TEORI

Kerangka Teori

Definisi Bank

Secara umum bank disebut sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima
simpanan, tabungan dan giro. Selain itu, bank juga dikenal sebagai lembaga yang
memberikan pinjaman uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkan. Disamping itu,
bank juga sebagai tempat untuk menukar uang dan menyediakan jasa pembayaran seperti
pembayaran listrik, telefon, uang kuliah dan pembayaran lainnya.

Pengertian bank secara umum menurut Undang0Undang NO. 10 tahun 1998 adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup orang banyak.

(Kasmir, 2002: 23)

Sedangkan bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa lalu lintas
pembayaran.

(Kasmir, 2002: 33)
Funsi dasar bank adalah : (1) menyediakan tempat untuk menitipkan uang dengan aman (safe
keeping function), dan (2) menyediakan alat pembayaran untuk membeli barang dan jasa
(transaction function).

Sebagai lembaga intermediasi, bank konvensional menerima simpanan dari nasabah dan
meminjamkannya kepada nasabah (unit ekonomi) lain yang membutuhkan dana. Atas
simpanan para nasabah itu bank memberi imbalan berupa bunga. Demikian pula, atas
pemberian pinjaman itu bank mengenakan bunga kepada para peminjam. Diakui bahwa peran
bank konvensional itu telah mampu memenuhi kebutuhan manusia, dan aktivitas perbankan
dapat dipandang sebagai wahana bagi masyarakat modern untuk membawa mereka kepada
pelaksanaan    kegiatan   tolong-menolong dan       menghindari    adanya    dana-dana    yang
menganggur.

Pengertian Bank Syariah

Dalam perbankan konvensional terdapat kegiatan-kegiatan yang dilarang Syariah Islam,
seperti menerima dan membayar bunga (riba), membiayai kegiatan produksi dan
perdagangan barang-barang yang dilarang Syaraiah.

Bank Syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan
penerapan prinsip-prinsip Islam. Syariah dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan
perbankan serta bisnis lain yang terklait. Prinsip utama yang di ikuti oleh bank Islami itu
adalah :

       (a) larangan riba dalam berbagai bentuk transaksi

       (b) melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan keuntungan
           yang sah

       (c) memberikan zakat

jika yang dimkasud dengan ”bank” adalah istilah bagi suatu lembaga keuangan, maka istilah
”bank” tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al Qur’an. Tetapi jika yang dimaksud adalah
sesuatu yang memiliki unsur-unsur seperti struktur, manajemen, fungsi, hak dan kewajiban
maka semua itu disebutkan dengan jelas, seperti zakat, shadaqah, bai’ (jual beli), maal(harta),
yang memiliki konotasi fungsi yang dilaksanakan oleh peran tertentu dalam kegiatan
ekonomi. Lembaga-lembaga itu pada akhirnya bertindak sebagai individu yang dalam
konteks fiqih.

Latar Belakang Bank Syariah

Berkembangnya bank-bank syariah di negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awwal
periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekonomi Islam mulai
dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kejadian tersebut adalah Karnaen A.
Perwataatmadja, M. Dawam Rahardjo, A.M, Saefudin, M. Amien Azis. Beberapa uji coba
pada skala yang relative terbatas terbatas telah diwujudkan. Diantaranya adalah Baitut
Tamwil-Salman, Bandung yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk
lembaga serupa dalam bentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti.

Akan tetapi prakarsa lebih khusus untuk mendirikan Bank Islam di Indonesiabaru dilakukan
pada tahun 1990-an. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990
menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.
Hasil Lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang
berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus1990. berdasarkan amanat khusus
Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia.
Kelompok kerja yang disebut Tim Perbankan MUI, bertugas melakukan pendekatandan
konsultasidengan semua pihak terkait.

Prinsip Syariah

Prinsip Perbankan Syariah di Indonesia pertama kali dikenakan kepada masyarakat pada
tahun 1992 dengan diberlakukannya UU No. 7/1992 tentang Perbankan. Meskipun Undang-
undang ini dianggap belum memberiakan landasan hukum yang kuat terhadap pengembangan
Perbankan Syariah karena hanya mengatur bank bagi hasil dan belum secara tegas mengatur
mengenai keberadaan bank berdasarkan prinsip syariah. Namun keberadaan UU No 7 tahun
1992 ini merupakan titik awal dari perkembangan perbankan syariah di Indonesia yang
diikuti berdirinya bank umum syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia
pada tahun 1992.

Ketentuan tentang kegiatan usaha bank berdasarkan prinsip syariah dalam UU No. 7 tahun
1992 sangat terbatas yakni hanya menyangkut kegiatan pembiayaan dan tidak di atur tentang
penghimpunan dana. Untuk itu diberlakukannya undang-undang baru yang lebih jelas dan
lengkap yaitu UU No. 10 tahun 1998 sebagai amandemen UU No. 7 tahun 1992 yang diikuti
dengan dikeluarnya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI atau
Peraturan Bank Indonesia memberikan landasan operasionalsyariah di Indonesia, baik dari
segi kelembagaan maupun landasan operasional syariah.

Beberapa perubahan penting dalam UU No. 10 tahun 1998 antara lain sebagai berikut :

       1. Dalam rangka memperluas jangkauan perbankan syariah oleh Bank Perkreditan
           Rakyat, khususnya untuk mayarakat golongan ekonomi lemah/ pengusaha kecil
           dalam kenyataannya terdapat baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan, maka
           persyaratan bahwa pendirian dan atau pembukaan kantor BPR harus dilakukan
           diwilayah kecamatan dihapuskan, dengan demikian BPR dapat didirikan dan
           membuka kantor di seluruh wilayah Indonesia.

       2. Bank Umum dan BPR dapat menjalankan kegiatan usaha secara konvensional
           atau berdasarkan prinsip syariah, khususnya bagi bank umum yang selama ini
           menjalankan kegiatan usaha secara konvensional dapat membuka cabang
           perusahaan untuk kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

       (Sumber : Zainul Arifis ” Memahami Bank Syariah ”: Alvabet Hal 136)

“ Prinsip Syariah adalah perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain
untuk menyimpan dana dan pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang
dinyatakan sesuai dengan syariah ”

(Sumber : Kasmir, ”Dasar-dasar Perbankan”, PT. Raja Grafindo Persada)




                                       Prinsip Investasi Syariah




               Investor / Investor /

Shahibul maal Shahibul maal
              Masyarakat / Mudharabah

              Gambar 2.1

(Sumber Muhammad Syafi’i Antolo, ”Bank Syariah:Dari Teori ke Praktik”hal 61)

Dasar Hukum Bank Islam

Bank Islam mempunyai dasar-dasar hukum dalam menjalankan kegiatannya. Adapun
landasan hukumnya adalah:

       1. PP No. 72 tahun 1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil

       2. UU No. 7 tahun 1992 Jo UU Perbankan No. 10 tahun 1998

       3. SK Direktur Bank Indonesia No. 32/34/Kep/dir K So BI No. 32/2/UPPB tanggal
           12 Mei 1999 tentang bank umum berdasarkan prinsip syariah.

Perbedaan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan pokok antara bank syariah dengan bank konvensional terletak pada landasan
falsafah yang dianutnya. Bank Islam tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh
aktifitasnya, sedangkan bank konvensional menerapkan sistem bunga dalam seluruh
aktifitasnnya bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan bank. (Kasmir, Bank dan
Lembaga Keuangan Lainnya, 2002)

Dari sisi operasionalnya, dana yang diamnahkan oleh nasabah kepada Bank Islam dapat
berupa titipan maupun investasi, hal ini berbeda dengan deposito pada bank konvensional
diman dengan jelas deposito pada bank konvensional adalah upaya membungakan uang.
Konsep dana titipan pada bank syariah berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka
bank Islam harus dapat memenuhinya. Adapun investasi berbeda dengan membungakan
uang. Setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan,
didalamnya pula terdapat resiko untuk menerima kerugian. Konsep inilah yang menjadi ciri
khas bank Islam dimana bank dengan nasabah sama-sama salaing berbagi baik keuntungan
maupun resiko.

Dari aspek tanggung jawab sosial, bank Islam berkewajiban untuk membayar zakat serta
mengelolanya.

Dari sisi organisasi, dalam bank Islam diharuskan adanya suatu lembaga yang mengawasi
baik operasional maupun produk yang dikembangkan agar sesuai dengan ketentuan syariah.
Lembaga pengawasan tersebut disebut dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Sumber-sumber Dana Bank Syariah

Dana adalah uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam bentuk uang tunai, atau
aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai. Uang tunai yang dimiliki atau
dikuasai oleh bank tidak hanya berasal dari para pemilik bank itu sendiri, tetapi juga berasal
dari titipan atau penyertaan dana orang lain atau pihak lain yang sewaktu-waktu atau pada
suatu saat tertentu akan ditarik kembali, baik sekaligus atau secara berangsur-angsur.
Berdasarkan data empiris selama ini, dana yang berasal dari para pemilik bank itu sendiri,
ditambah cadangan modal yang berasal ari akumulasi keuntungan yang ditanam kembali
pada bank, hanya sebesar 7% sampai 8% dari total aktiva. Ini berarti sebagian besar modal
kerja bank berasal dari masyarakat, lembaga keuangan lain dan pinjaman likuiditas dari
bank sentral.

Untuk menghasilkan keuntungan, uang harus dikaitkan dengan kegiatan ekonomi dasar
(primary economic activities), baik secara langsung melalui transaksi seperti perdagangan,
industri manufaktur, sewa-menyewa dan lain-lain. Atau secara tidak langsung melalui
penyertaan modal guna melakukan salah satu atau seluruh kegiatan usaha tersebut.

Berdasarkan prinsip tersebut bank Syariah dapat menarik dana pihak ketiga tau masyarakat
dalam bentuk :

       Titipan (wadi’ah), yaitu simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya
       (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan;
     Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko () untuk investasi umum () dimana
      bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan portofolio yang
      didanai dengan modal tersebut;

     Investasi khusus (special investmentaccount/mudharabah muqayyadah) dimana bank
      bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee; jadi bank tidak ikut
      berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil risiko atas investaasi itu.

    Dengan demikian sumber dana bank Syariah terdiri dari :

        1. Modal inti (core capital)

        2. Kuasi ekuitas (mudharabah account) dan

        3. Titipan (wadi’ah) atau simpanan tanpa imbalan (non remunerated deposit)

Produk Dana Bank Syariah

Pada dasarnya produk dana bank konvensional dengan bank syariah sama yaitu giro,
tabungan dan deposito namun dalam bank syariah terdapat perbedaan prinsipil seperti yang
dijelaskan berikut ini ;

        1. Giro

            Nasabah yang membuka rekening giro berarti melakukan akad wadi’ah (titipan).
            Ada dua macam yaitu : Wadi’ah Yad Al-Amanah adalah titipan yang dilakukan
            dengan kondisi penerima titipan (bank) tidak wajib mengganti jika terjadi
            kerusakan dan Wadi’ah Yad Dhamanah adalah titipan yang dilakukan dengan
            penerima titipan bertanggung jawab atas nilai (bukan fisik) dari uang yang
            dititipkan.

        2. Tabungan

            Akad yang dilakukan oleh bank syariah dalam tabungan ada dua yaitu : Wadi’ah
            dan Mudharabah. Tabungan yang menggunakan prinsip wadi’ah artinya tabungan
            ini mendapatkan keuntungan karena titipan dapat diambil sewaktu-waktu dengan
            menggunakan buku tabungan dan kartu ATM. Tabungan yang menerapkan prinsip
            seperti ini akan mempunyai keuntungan sebagai berikut :
                 a. Keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara pemilik uang
                      dan mudharib.

                 b.   Adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dan pembagian
                      keuntungan, karena untuk melakukan investasi dengan memutarkan dana
                      itu perlu waktu yang cukup.

       3. Deposito

             Deposito dalam bank syariah ditetapkan sebagai akad mudharabah. Pemilik uang
             sebagai nasabah (deposan) sedangkan bank sebagai mudharib. Tenggang waktu
             merupakan salah satu sifat deposito bahkan dalam deposito terdapat pengaturan
             waktu seperti 30 hari, 90 hari dan sebagainya.

Sistem Penghimpunan Dana Al-Mudharabah

”Mudharabah adalah kerjasama usaha dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul
maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian
pembagian keuntungan”. Bentuk ini menegaskan kerjasama dalam panduan kontribusi 100%
modal kas dari shahibul maaldan keahlian dari mudharib.

   (Sumber : Bank Jabar Syariah)

Sedangkan menurut ensiklopedia hukum Islam bagi hasil (Al-Mudharabah) adalah ”Pemilik
modal menyerahkan modalnya kepada pekerja/pedagang untuk diusahakan dikelola,
sedangkan keuntungan dagang itu dibagi menurut kesepakatan bersama.” Jadi yang dimaksud
dengan sistem bagi hasil adalah ”suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian laba hasil
usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.”

Ketentuan umum skema pembiayaan mudharabah adalah sebagai berikut :

           - Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal harus
              diserahkan tunai, apabila modal diserahkan secara bertahap maka harus jelas
              tahapannya dan disepakati bersama.
           - Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada setiap bulan atau
             waktu yang disepakati. Bank selaku pemilik modal menanggung seluruh
             kerugian kecuali akibat kelalaian dan penyimpanagn pihak nasabah, seperti
             penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan dana.
       -     Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan namun tidak berhak
              mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah. Jika nasabah cidera janji dengan
            sengaja, misalnya tidak mau membayar kewajiban atau menunda pembayaran
            kewajiban, maka ia dapat dikenakan sanksi administrasi.
a. Rukun Mudharabah
     1. Pemilik modal (shahibul maal)
     2. Pemilik usaha (mudharib)
     3. Proyek/usaha (amal)
     4. Modal (ra’sul maal)

     5. Ijab kabul (sighat

     6. Nisbah bagi hasil

b. Jenis-jenis Mudharabah

isyaratkan digunakan untuk bisnis tertentu, atau diisyaratkan digunakan dengan akad tertentu
     atau diisyaratkan digunakan untuk nasabah tertentu.

Karakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai berikut :

      sebagai tanda bukti simpanan, bank menerbitkan bukti simpanan khusus.

         untuk deposito Mudharabah, bank wajib memberikan sertifikat atau tanda
           penyimpanan (bilyet) deposito kepada deposan.

     b. Mudharabah muqayyadah off balance sheet ;

     jenis mudharabah ini merupakan penyaluaran dana mudharabah lansung kepada
     pelaksana usahanya, dimana bank bertindak sebagai perantara (arranger) yang
     mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha.

     Pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank
     dalam mencari bisnis (pelaksana usaha).

     Karakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai berikut :

            Sebagai tanda simpanan bank menerbitkan bukti simpanan khusus.

            Dana simpanan khusus harus disalurkan secara langsung kepada pihak yang
               diamanatkan oleh pemilik dana.
            Bank menerima komisi atas jasa mempertemukan kedua pihak. Sedangkan
               antara pemilik dana dan pelaksana usaha berlaku nisbah bagi hasil dan prinsip
               lainnya.

Pengertian Deposito

       Deposito adalah simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya hanya
dapat dilakukan dalam janka waktu tertentu menurut perjanjian antara pihak ketiga dan bank
yang bersangkutan. Dalam praktek kita mengenal dengan adanya ”deposito berjangka” dan
”sertifikat deposito”. Definisi deposito berjangka adalah seperti yang termaksud dalam
pengertian deposito diatas. Bila waktu yang ditentukan telah habis deposan dapat :

      Menarik deposito berjanka tersebut, atau

      Memperpanjang dengan suatu periode yang diinginkan.

       Bank Indonesia menjamin sepenuhnya pembayaran kembali deposito berjangka pada
tanggal pelunasannya. Tidak seluruh deposito berjangka dijamin oleh Bank Indonesia.
Deposito berjangka yang diterbitkan (dijual) oleh bank komersial asing atau bank komersial
swasta nasional, tidak dijamin kecuali oleh bank-bank pemerintah.

       Pemerintah tidak akan mengadakan pengusutan untuk keperluan pajak mengenai asal-
usul uang yang didepositokan. Pemerintah idak akan mengenakan pajak kekayaan terhadap
simpanan deposito berjangka, dan pajak pendapatan terhadap bunga deposito. Jangka waktu
dipilih sesuai kebutuhan, yaitu :

        Satu bulan

        Tiga bul

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:852
posted:1/9/2012
language:Malay
pages:19