perilaku terpuji by figo07

VIEWS: 463 PAGES: 29

									                              PERILAKU TERPUJI


1. Berpikir kritis
   Yaitu selalu ingin tahu tentang permasalahan, berpikir positif.
2. Cermat dalam bekerja
   Yaitu teliti. Cermat termasuk akhlaqul qarimah. Sifat cermat itu harus kita
   laksanakan di dalam hal apa saja.
3. Cermat dalam menuntut ilmu
   Seseorang yang cermat, rajin belajar, mencatat pelajaran dengan baik,
   mendengarkan sungguh-sungguh keterangan guru, menanyakan hal-hal yang
   kurang jelas, berpikir kritis dan tidak banyak membuang waktu maka ia akan
   dapat mencapai kesuksesan. Cermat adalah pangkal kesuksesan.
4. Cermat dalam berbuat
   Orang yang cermat dalam berbuat semua tindakannnya telah dipikirkannya secara
   matang. Ia selalu menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat,
   apalagi yang merugikan. Perbuatannya selalu bertujuan baik dan mendatangkan
   kebijakan dimana saja berada. Ia melakukan amar ma‟ruf nahi munkar. Orang
   yang demikian dibutuhkan kehadirannya.
5. Cermat dalam berbicara
   Seseorang yang cermat dalam berbicara. Ia amat menarik dalam pergaulan.
   Bahasanya fasih, bicaranya bersih, pikirannya jernih, iradahnya menuturkan
   kebenaran, dan banyak manfaatnya. Kita dapat memperoleh ilmu yang banyak
   dari seseorang yang cermat berbicara. Oleh karena itu, apa yang dilakukan,
   dipikirkan dahulu, sebab pembicaraan itu mempunyai akibat. Kata pepatah “Pikir
   dahulu pendapatan, sesal kemudian tak ada gunanya.”
   Allah SWT memerintahkan kepada kita agar selalu berbicara dengan baik dan
   cermat. QS. Al-Baqarah ayat 89 :
   Artinya : Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.




                          TAWADU’ (RENDAH HATI)


   Berjalan dan bepergian di atas bumi ini tidak boleh bersifat angkuh dan sombong.
Adapun perangkat kedudukan dan kekayaan tidak boleh dijadikan sebagai
kesombongan, tetapi harus disyukuri sebagai karunia Tuhan, karena pada hakekatnya
Tuhanlah pemberi semua itu. Dia pulalah yang maha kuasa mencabutnya, bagi siapa
yang dikehendakinya. Karena itu kita harus bersifat tawadu‟ dimanapun kita berada.
   Allah berfirman dalam Surat Al-Furqon ayat 63
  
   
                                                      
                                   
                                                    
Artinya   : dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang
            yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang
            jahil   menyapa   mereka,   mereka     mengucapkan    kata-kata   (yang
            mengandung) keselamatan.


   Sifat rendah hati adalah sifat yang terpuji. Orang yang rendah hati tidak suka
menonjolkan diri, tidak sombong dan selalu menjaga agar dirinya tetap dihargai
orang lain menurut apa adanya. Seseorang yang rendah hati selalu menjauhkan dari
sifat dan perbuatan yang berlebih-lebihan, selalu bersifat toleransi terhadap
sesamanya, menghormati dan menghargai pendapat orang lain serta pandai bergaul
sehingga orang lain senang kepadanya.
   Allah SWT berfirman dalam Surat As-Syura ayat 215
                                        
  
                                                                         
Artinya      : dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu
              orang-orang yang beriman.




                                       HEMAT


   Seorang mukmin yang baik dalam kehidupan sehari-hari tidak boros dan tidak
pula kikir dalam membelanjakan hartanya. Harus ada keseimbangan antara kedua
macam sifat tersebut dan selalu dipelihara dan dijaga. Apabila seorang mukmin
menjadi kaya, ia harus mampu menggunakan hartanya untuk kepentingan masyarakat,
dan kalau menjadi miskin ia akan dapat menguasai dirinya dengan pola hidup
sederhana.
   Allah SWT berfirman dalam Al-Qur‟an Surat Al Furqon ayat 67 yang
mengajarkan sifat hemat, tidak terlalu boros dan tidak pula terlalu kikir.
   Sifat kikir atau bakhil akan membawa kerugian dan keruskaan. Karena orang
yang bakhil akan menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri semata. Bahkan ia kaan
menahan keperluan atau kepentingan keluarganya, terlebih untuk masyarakat. Ia tidak
menghiraukan sumbangan sekalipun untuk sarana ibadah, pendidikan dan untuk
membantu orang yang terkena musibah. Orang yang mempunyai sifat seperti itu
diancam oleh Allah dengan api neraka.
                                        ADIL


      Menurut bahasa adil berarti lurus, seimbang, melakukan sesuatu dengan
peraturan dan hukum yang berlaku. Lawan dari adil adalah zalim, aniaya dan berbuat
semena-mena kepada seseorang. Orang Islam wajib menegakkan dan membela
keadilan, sekalipun keadaan itu pahit. Keadilan harus ditegakkan dalam segala
kehidupan, baik dalam hukum, hak dan kewajiban dalam mengambil keputusan.
Keadilan wajib ditegakkan dalam setiap lapisan masyarakat, baik perorangan ataupun
kelompok keadilan. Diberlakukan dalam diri sendiri, orang tua dan keluarga dekat.
Adil terhadap diri sendiri ialah menyampaikan dan memberikan hak orang
sepenuhnya. Adil itu adalah salah satu takwa kepada Allah.
      Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 90 :
   
                                  
                                    
                               
                                       
                    
Artinya   : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat
            kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
            perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
            kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.



                                      EGOIS


1. Pengertian
   Egois merupakan penyakit hati yang lebih mementingkan kepentingan pribadi
   dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.


2. Larangan bersikap egois
   Manusia tidak dapat hidup sendirian dalam banyak hal. Jika kita enggan
   memberikan bantuan kepada orang lain, maka orang lain juga enggan
   memberikan bantuan kepada kita.
   Larangan bersikap egois terdapat dalam Surat Al-Lail ayat 8 – 11.
3. Sebab-sebab timbul sifat egois
   a. Melemahnya iman kepada Allah
   b. Adanya sifat kikir dalam diri
   c. Adanya sifat pendendam dalam hati
   d. Lingkungan/keluarga yang egois
4. Cara menghindari sifat egois
   a. Meningkatkan keimanan kepada Allah
   b. Meningkatkan kesadaran hidup di dunia hanya sementara
   c. Mendiskusikan persoalan dengan orang yang terpercaya
   d. Mendengarkan setiap nasehat
5. Dampak negatif sikap egois dalam kehidupan
   a. Menjauhkan dari rahmat Allah
   b. Memicu sikap kikir dan dusta
   c. Mendorong sikap takabur dalam hati




                     TATA KRAMA DALAM BEPERGIAN


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bepergian adalah sebagai berikut:
a. Sebelum bepergian hendaknya kita minta izin terlebih dahulu kepada orang
   tua/keluarga di rumah yang ditinggalkan. Bila orang tua melarang, maka kita
   harus mengurungkan niat untuk bepergian.
b. Ciumlah kedua tangan (salaman) ayah dan ibu sebelum berangkat.
c. Ucapkanlah “Assalamu‟alaikum” saat berpisah dengan ayah-ibu.
d. Beritahukanlah kepada mereka tujuan dan lama kita pergi.
e. Beritahukan pula alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi selama bepergian.
f. Kepergian itu bukan untuk maksiat.
g. Bila kita akan pergi jauh kita disunahkan untuk salat.
h. Disunahkan berwudhu (dalam keadaan suci) sebelum bepergian
i. Keluarlah dari rumah dengan kaki kanan sambil membaca doa sebelum
   bepergian/ doa keluar rumah.




                                      IBADAH


1. Pengertian ibadah
   Menurut putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, ibadah adalah bertaqaruh
   (mendekatkan diri) kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi
   larangan-Nya serta menyamakan segala yang diizinkan Allah.
2. Macam ibadah:
   a. Ibadah umum/ghairu mahdiah
       Yaitu segala amalan yang diizinkan Allah. Cara pelaksanaannya tidak diatur
       secara terperinci.
   b. Ibadah khusus/madiyah
       Ibadah yang cara pelaksanaannya, hukum-hukumnya ditetapkan oleh Allah
       dan Rasul secara terperinci, tidak boleh dikurangi atau ditambah.
   Semua amalan atau pekerjaan itu bisa bernilai ibadah jika atas dasar iman kepada
   Allah. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah.
                           UKHUWAH ISLAMIYAH




    “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima perkara : (1) membalas
 (mengucapkan salam; (2) melihat (mengunjungi) orang yang sakit; (3) meniringkan
  jenazah; (4) memperkenankan undangan; (5) menyahuti (mendoakan) orang yang
             bersin” (riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


    Salah satu ajaran pokok Islam ialah menanamkan pengertian kepada manusia
bahwa mereka berasal dari turunan dan rumpun yang satu. Perbedaan bangsa, kulit,
bahasa dan lain-lain bukanlah merpakan pengotakan, tetapi semacam jembatan untuk
mendekatkan antara yang satu dengan yang lain. Berbagai kaum dan bangsa,
walaupun berbeda-beda kepercayaan (agama), haruslah saling mengadakan hubungan,
hidup engan rukun dan damai, jangan bermusuh-musuhan, dengan menjaga dan
memelihara identitas masing-masing.
    Khusus terhadap sesama Mukmin dan Muslim, Islam meletakkan dasar-dasar
persaudaraan yang dapat diterapkan secara langsung, praktis dan bersifat edukatif,
direkat oleh persamaan kepercayaan dan aqidah. Allah SWT menyatakan dalam Al
Qur‟an
  
   
                                     
                                             
Artinya     : orang-orang   beriman   itu   Sesungguhnya   bersaudara.   sebab   itu
             damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
             takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujarat : 10)


    Di dalam Al-Qur‟an masih berpuluh ayat lainnya yang menyuruh kaum
Muslimin menggalang persaudaraan yang kuat.
    Hadits yang tertera di awal uraian ini adalah merupakan sebagian dari peraturan
pelaksanaan untuk merealisasikan pol persaudaraan itu.
Ada lima cara yang diuraikan dalam hadits tersebut, yang semuanya mempunyai
tujuan untuk mewujudkan satu persaudaraan, sehingga merupakan satu bangunan
yang kuat dan teguh, yang menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lain.
Atau laksana tubuh yang satu, dimana seluruh tubuh akan merasakan sakit jika ada
satu bagian dari tubuh itu yan mendapat luka.
    Pada hadits tersebut diatas diterangkan lima macam cara yang dapat
memperkuat landasan persaudaraan itu.
1. Mengucapkan salam
          Apabila seorang Muslim bertemu dengan Muslim lainnya, dianjurkan supaya
   mereka saling mengucapkan salam. Ini adalah salah satu etika pergaulan menurut
   ajaran Islam. Salam diucapkan atau diberikan tatkala bertemu atau ketika berpisah.
          Fungsi dan nilai salam ialah untuk merapatkan hubungan dan persaudaraan
   antara satu dengan yang lain. Dengan pemberian salam, maka hubungan jiwa
semakin rapat, hati bertemu dengan hati. Salam dapat mendekatkan yang jauh,
merapatkan yang renggang dan mempererat yang sudah akrab.
     Adapun ucapan salam yang lengkap ialah :




Makna dari ucapan itu ialah : “Keselamatan untukmu dan mudah-mudahan Tuhan
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepadamu”.
     Dipandang dari suduh hukum Islam, mengucapkan salam hukumnya adalah
Sunat-mukkad. Sedang mnjawab salam yang diucapkan orang lain hukumnya
wajib, seperti yang dapat dipahamkan dari ayat Al Qur‟an :
                                           
                                           
     
             
Artinya    : apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan,
            Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari
            padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).
            Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (An-Nisa‟ :
            86)


     Baik di dalam Al-Qur‟an maupun dalam hadits Nabi banyak dijumpai
keterangan-keterangan berkenaan dengan keutamaan mengucapkan salam. Antara
lain :
a. “Apabila kamu masuk rumah, hendaklah kamu memberikan salam kepada
    sesamamu sebagai satu penghormatan yang berkat dan baik di sisi Tuhan”.
    (An-Nur : 61)
b. “Apabila orang-orang yang beriman kepada keterangan-keterangan Kami itu
   datang kepada engkau, ucapkanlah : salam (bahagia untuk kamu”. (Al-An‟am :
   54)
     Adapun di dalam hadits tidak sedikit keterangan mengenai ucapan salam,
bahkan dijelaskan dan diperinci sampai kepada soal yang sekecil-kecilnya.
Diantaranya :
1. “Ucapkan salam lebih dahulu sebelum berbicara”. (as-salam qablal-kalam)
2. “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Tuhan ialah mereka yang
   selalu lebih dahulu mengucapkan salam”. (Riwayat Abu Daud dari Abu
   Amamah).


     Ada tiga perkara yang dapat memesrakan hubungan persaudaraan, yaitu:
1. Mengucapkan salam ketika saling bertemu
2. Memberikan tempat duduk yang lapang dalam satu majelis
3. Memanggil seseorang dengan sebutan nama yang disukainya. (riwayat
   Tabrani).


Nilai Salam
      Bagaimana pentingnya ucapapan salam menurut ajaran Islam, sampai hal
itu dijadikan penutup ataurukun yang terakhir dari shalat.
Ketika seorang Muslim selesai mengerjakan ibadat shalat sebagai media dalam
usaha mendekatkan diri kepada Tuhan, maka upacara itu disudahinya dengan
ucapan “Assalamu‟alaikum warahmatullahi wa barakatuh”. Ini mengandung
hikmah yang penting, bahwa seorang hamba yang telah memusatkan ucapan,
gerak-gerik dan hatinya kepada Yang Maha Kuasa, disuruh untuk mengucapkan
selamat dan damai kepada masyarakat di sekelilingnya, terutama kepada orang-
orang yang mendengarkannya.
      Orang-orang yang tidak mengucapkan salam ketika berjumpa, dipandang
belum memenuhi tata-cara ajaran Islam. Walaupun perbuatan itu menurut hukum
Agama tidak merupakan suatu dosa, tetapi orang yang melalaikannya perlu
disadarkan dengan cara yang bijaksana. Pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW,
bahwa seorang Sahabat bernama Kildah bin Hanbali datang mengunjungi Nabi
tanpa mengucap salam. Rasulullah berkata kepadanya: “Kembalilah, dan
ucapkanlah salam lebih dahulu, dan kemudian tanyakanlah apa boleh masuk
langsung ke dalam rumah”.
     Di atas sudah dijelaskan tentang ucapan (lafaz) salam yang lengkap, yaitu
“Assalamu‟alaikum warahmatullahi wa barakatuh”. Dengan tidak disadari dan
terbawa oleh cara-cara kebiasaan, seringkali kita memendekkan ucapan salam itu
dengan “Assalamu‟alaikum warahmatullah”; atau kadang-kadang hanya dengan
lafaz “Assalamu‟alaikum” saja. Menurut ajaran Islam, tiap-tiap ucapan salam itu
mempunyai nilai-pahala yang berbeda-beda; mengucapkan lafaz salam yang
lengkap lebih bahnyak pahalanya daripada lafaz-salam yang kedua dan ketiga.
     Dalam pada itu, tata-tertib siapa yang sebaiknya lebih dahulu mengucapkan
atau memberikan salam, diterangkan dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari dari Abu Hurairah yang isinya bahwa orang yang seharusnya lebih
dahulu memberikan salam adalah:
1. Orang yang naik kendaraan terhadap orang yang berjalan kaki
2. Orang yang berjalan kaki kepada orang yang duduk
3. Orang (rombongan) yang sedikit kepada orang (rombongan) yang banyak.
4. Orang yang kecil (muda) terhadap orang yang bear (tua)




               IBADAH DAN KEPRIBADIAN MUSLIM
“Aku (Tuhan) tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdikan diri
                                      kepadaKu”


      Untuk mendalami pengeritan ayat tersebut, marilah kita tela‟ah dari sudut bahasa
dengan beberapa akar kata yang mengandung beberapa peristilahan sebagai beirkut :
1. Ya‟budun, mengingatkan kita kepada kata : Al‟abdu, artinya hamba, yaitu suatu
     kata yang mengingatkan status dan kedudukan diri kita masing-masing tidak
     bebas, tetapi terikat dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT.
2.   Ya‟budun, mengingatkan kita kepada kata “Al „ubudiyah”, yang pengertian “Al
     Khudhu waz zulu”, artinya rasa kepatuhan dan rasa hina atau rendah di hadapan-
     Nya. Jadi kita ini adalah makhluk kecil yang tidak layak (pantas) merasa besar
     atau takabbur di hadapan Allah SWt, di dalam kehidupan kita sehari-hari.
3. Ya‟budun, mengingatkan kita kepada kata “al-ibadah” atau “ibadah” yang
     mengandung pengertian “Ath tha‟ah”, artinya ketaatan kita kepada Allah dengan
     melaksanakan petunjuk-petunjuk kewajiban yang dititahkanNya dan menjauhi
     ketentuan-ketentuan laranganNya.
4. Ya‟budun, mengingatkan kita kepada kata “atta‟abbud” yang mengandung
     pengertian : “at tanassuk”, artinya yang melaksanakan ketentuan Allah di dalam
     kehidupannya yang tidak pernah tercemar dengan godaan-godaan duniawiyyah.
5. Hasil penerapan atau pengamalan beberapa pengertian tersebut ialah sebagaimana
     dijelaskan di dalam ayat suci Al-Qur‟an : Fadkhuli fi „Ibadi, yang maksudnya
     “Maka masuklah di dalam golongan hamba-Ku”.
6. Kemudian di hari akhirat akan menerima imbalan yang layak pula sebagaimana
     dijelaskan di dalam Al Qur‟an Wadkhuli janati, yang maksudnya “Masuklah
     syurga-Ku.”.


      Jadi dapatlah disimpulkan bahwa membina kepribadian Muslim adalah segala
usaha, tindakan dan kegiatan bagaimana kita sebagai hamba Allah yang betul-betul
menghambakan diri kepada-Nya melalui ibadah, hingga kita tergolong dan diakui
sebagai hamba-Nya. Tidak mudah untuk memperoleh pengakuan hamba Allah
menurut arti kata yang sebenarnya, sebab semua makhluk yang dijadikannya juga
berstatus hamba, tetapi apakah dengan usaha, tindakan dan kegiatan (perbuatan)
sudah memperoleh penilaian di hadapan Allah, sebagai hamba-Nya?
    Bila semua memperoleh pengakuan atau penilaian sebagai hamba-Nya, maka
tidaklah ada kata “Fadkhuli fi Ibadi” di dalam Al-Qur‟an, pada saat manusia
menerima imbalan amal kebaikannya di akhirat, yang dilanjutkan dengan ayat
wadkhuli jannati (masukilah syurga-Ku).
    Pembinaan kepribadian Muslim adalah pembinaan kepribadiannya yang
meliputi cipta (pikir), rasa (penasaran) dan karsa (kehendak), sebagai hamba Allah
yang baik dengan pikiran, perasaan dan kehendak yang dilandasi dengan ridha Allah
SWT. Aplikasinya adlaah sebagai berikut:
1. Pikiran-pikiran kita supaya diarahkan kepada yang baik-baik, bukan kepada yang
   buruk-buruk yang membawa akibat tidak biak untuk diri kita, keluarga kita,
   masyarakat kita, negara kita dan agama kita.
2. Perasaan-perasaan kita suapya dialihkan kepada kemaslahatan bersama, kebaikan
   bersama, kerukunan bersama, ketenteraman bersama, sesuai dengan petunjuk
   Islam, “Wakunu „ibadallahi ikhwana” (jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah
   yang bersaudara).
3. Kehendak dan tindakan-tindakan kita yang semuanya di atas ridha Allah SWT.
    Ketiga patokan ini adalah merupakan suatu mata rantai membentuk suatu pribadi
yang sehat, hidup mempunyai tujuan, hidup dengan memikirkan hidup ke dua di
akhirat, hidup dengan memikirkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.
    Apabila pengertian-pengertian umum tentang pengabdian tersebut kita
simpulkan, dapatlah kita ambil pedoman-pedoman pokok kehidupan berupa:
1. Insan hamba allah yang berkhidmat kepada Nya (abdun).
2. Insan hamba Allah yang patuh dan merasa diri kerdil, tidak berarti apa-apa di
   hadapan Allah SWT (Al „ubudiyah).
3. Insan hamba Tuhan yang menjalankan ketaatan kepadaNya (Al „ibadah).
4. Insan hamba Tuhan yang berusaha sekuat tenaga tidak tercemar dengan
   melanggar larangan-larangan-Nya (at ta‟abbud).
5. Insan hamba tuhan yang ingin memperoleh pengakuan sebagai hamba-Nya
   (fadkhuli fi‟ibadi).
6. Insan hamba Tuhan yang ingin kebahagiaan dunia dan akhirat (wadkhuli jannati).
    Segala tindakan dan kegiatan kita di dalam melaksanakan enam ketentuan
tersebut, adalah sesungguhnya merupakan nilai-nilai ibadah sepanjang hari dan
malam sampai akhir hayat kita, yaitu pribadi Muslim sebagai pribadi yang selamat
dan menyelamatkan orang lain, pribadi damai, tenteram, aman bagi diri sendiri dan
mendamaikan, menenteramkan dan mengamankan orang lain, serta pribadi yang
berserah diri kepada Allah SWT. Memang ini pulalah yang menjadi pengertian-
pengertian dari kata “Islam” yang mengandung slaam, salamah, silmi, Istislam,
Taslim, Salim dengan arti masing-masing yang sama dengan 6 (enam) macam
pengertian ibadah yang disampaikan sebelumnya.
    Apabila hal-hal tersebut dapat kita laksanakan, di sinilah letak kepribadian
Muslim yang diangkat dari hakikat kejadian manusia yang asasi, yaitu : liya‟budun.
    Terdapat hukum kausal yang tepat dalam hal ini, yaitu mulai dari asas : “wama
khalaqtul jinna wal insa illa liya‟budun”, dan diakhiri dengan : “Wala tamatunna illa
wa antum Muslimun” (Jangan kamu mati, kecuali kamu sudah menjadi Muslim).




                          IBADAH PUASA DAN KESEHATAN


  
          
    
   
         
    
          
            
       
    
             
          
           
   “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
  diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, . (yaitu) dalam
  beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari
yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat
  menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi
    Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika
                                 kamu mengetahui.




    Dalam bahasa Arab puasa disebut Ash Shiyam atau Ash Shaum, yang artinya
menruut bahasa : menahan diri dari suatu perbuatan, misalnya menahan diri dari
makan, berjalan berbidara dan sebagainya.
    Puasa Ramadhan yang diperintahkan dalam agama Islam menruut istilah syariat
ialah : menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa seperti makan,
minum dan bersetubuh dengan wanita (istri), semenjak waktu terbit fajar sampai
waktu terbenam matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena
mengharap ridhaNya.
    Sesungguhnya di dalam ilmu kesehatanpun banyak keharusan berpuasa. Sebagai
contoh dapat kami sebutkan :
1. Pada mereka yang harus menjalani pemeriksaan darah, diharuskan untuk tidak
   makan dan minum sejak malam menjelang tidur sampai saat-saat pemeriksaan
   darah lebih kurang jam 8 pagi. Puasa selama kurang 10 jam ini dimaksudkan agar
   hasil pemeriksaan darah betul murni dan menggambarkan keadaan yang
   sebenarnya.
2. Bagi mereka yang akan menjalankan pembiusan untuk tindakan operasi, juga
   diharuskan berpuasa selama lebih kurang 10 jam dengan tujuan agar saluran
   pencernaannya kosong, bahkan menjelang dilakukannya tindakan operasi
   dilakukan lavement, yaitu usus-usus untuk membersihkan saluran pencernaan
   bagian bawah. Tujuan puasa di sini untuk mencegah terjadinya muntah ini
   kemungkinan akan masuk saluran pernafasan yang akan dapat mengakibatkan
   kematian.
3. Pada jenis penyakit tertentu, misalnya penderita diabetes melitus, juga ada
   keharusan untuk puasa terhadap jenis makanan tertentu, yang tujuannya juga
   untuk menjaga kesehatan




Bekerjanya Saluran Makanan
      Makanan dan minuman yang masukke dalam tubuh lewat mulut, dikunyah dan
dicerna lalu masuk ke dalam saluran makanan menuju ke perut besar (waduk atau
ventriculus).
      Dengan bantuan cairan pencernaan, makanan dicerna menjadi halus dan
diserap sari-sari makanannya. Dari perut besar makanan yang sudah dilumat hasul
diteruskan menuju usus halus yang panjang dan berkelok-kelok. Di sepanjang usus
halus ini sari makanan diserap lewat pembuluh darah menuju ke seluruh tubuh dan
beredar sebagai tenaga untuk kelangsungan hidup manusia. Makanan yang sudah
habis sari-sarinya lalu masuk usus besar yang akhirnya nanti menjadi sisa0sisa
makanan. Ada suatu mekanisme, pengaturan tertentu yang menahan sisa makanan di
poros usus untuk nanti kalau sudah terasa penuh ada rasa ingin membuang dan
manusia dapat mengatur kapan sia makanan ini akan dikeluarkan.
Mengapa Merasa Lapar?
      Makanan yang dikunyah dan masuk perut besar, hanya memerlukan waktu
beberapa menit saja. Akan tetapi di dalam perut besar makanan dicerna dan
diteruskan ke usus halus memerlukan lebih kurang 4 jam sampai makanan benar-
benar habis dicerna. Pada waktu makanan dalam perut besar habis, dan perut kosong,
perut tetap masih berdenyut dan pada waktu inilah orang merasa lapar, sebagai tanda
untuk minta diisi lagi. Akan tetapi pada orang yang berpuasa, tidak boleh diisi
akibatnya orang akan merasa tersiksa dan disinilah letak ujiannya, agar manusia
mampu menahan diri dari kelaparan dan dahaga. Badan lalu merasa lemas dan lesu
karena sari makanan yang menghasilkan tenaga tidak ada lagi.
      Tetapi badan mempunyai persediaan tenaga cadangan yang bernama glucogen
ini akan berubah menjadi glucos (gula) yang menjadi tenaga dan beredar ke seluruh
tubuh. Orang akan merasa sedikit segar lagi dengan cadangan tenaga ini dan lewat
tengah hari orang akan merasa sedikit segar kembali untuk meneruskan puasanya
sampai terbenam matahari.
Apa yang terbaik untuk berbuka puasa?
      Saluran pencernaan yang kosong tidak seyogyanya diberi beban mencerna
makanan yang berat-berat secara tiba-tiba. Nabi Muhammad SAW sendiri
menganjurkan untuk berbuka puasa dengan buah korma yang rasanya manis.
Maknanya adalah kita dianjurkan untuk tidak langsung makan makanan pokok. Buah
korma mengandung gula yang meskipun sedikit sudah akan bermanfaa untuk
mengembalikan tenaga. Saluran lalu mulai bekerja kembali mencerna makanan yang
sedikit itu, untuk nanti sesudah shalat maghrib baru makan makanan pokok
secukupnya dan jangan berlebihan.
      Perut yang lapar dan cairan pencernaan yang tersedia akan menyebabkan
makanan jenis apapun terasa lezat dan nikmat dan disinilah letak nikmat puasa, yaitu
pada waktu berbuka puasa, dapat menikmati makanan senikmat-nikmatnya.
      Untuk berbuka puasa, sebaiknya makan sayuran yang segar-segar yang mudah
dicerna tubuh sehingga meskipun sedikit akan terserap tubuh dengan sempurna.
Sebaliknay pda waktu makan sahur, makanlah makanan berlemak, sebab akan lebih
lama bertahan di dalam perut besar sehingga lebih lama merasa kenyang.


Puasa untuk Pembinaan Kesehatan Mental
      Dalam ibadah puasa, kejujuran yang dituntut adalah kejujuran terhadap diri
sendiri di samping jujur kepada orang lain. Orang yang tahu persis apakah seseorang
itu berpuasa atau tidak, adalah dirinay sendiri, orang lain dapat dibohongi, tetapi
Allah tidak.
      Dalam ilmu Kesehatan Mental, terdapat satu cara penyesuaian diri yang tidak
sehat, yang disebut pembelaan (sanctifi) yaitu orang yang tidak berani mengakui
kepada dirinya bahwa ia telah melanggar nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Misalnya
seorang Muslim yang baik, ia tahu bahwa ia wajib berpuasa, ia sadar bahwa dirinya
sebagai seorang muslim yang telah bersalah dan berdosa kepada Allah, karena tidak
melaksanakan kewajiban pada bulan Ramadhan. Sengaja tidak berpuasa itu adalah
sifat yang tercela yang ia tidak mau menerimanya. Maka untuk menghindari rasa
salah atau tercela itu, ia mengatakan kepada dirinya bahwa ia sehat, dengan demikian
terlepaslah ia dari kecaman hati nurani. Ia tertipu oleh dirinya sendiri.
      Ibadah puasa mencegah terjadinya kelainan kewajiban yang seperti itu, nilai
puasa itu benar-benar menjangkau lubuh hati yang terdalam dari pada diri manusia,
yang menunjang kepada pembinaan akhlak mulia.




               PERSIAPAN MENYONGSONG BULAN RAMADHAN


    
       
     
    
      
      
      
       
      
          
     
    
   
                
 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
  diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-
 penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
 karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
  itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam
 perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu,
   dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan
  bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
                   diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
                               (Al Baqarah ayat 185)




Bulan Ramadhan bulan Al Qur’an
      Apabila hari Jum‟at mendapat sebagai Sayyidul ayyam, yang berarti sebagai
tuan dari hari-hari yang lain, maka bulan Ramadhan merupakan Sayyudussyuhur
yaitu sebagai bulan yang dibesarkan dalam Islam. Mengapa demikian?
      Seperti ayat Al Qur‟an tersebut diatas, Allah memberitahukan kepada kita
sekalian bahwa mu‟jizat terbesar yang diberikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammadi SAW adalah Al Qur‟an yang ditinggalkan untuk ummat semesta alam
ini diturunkan pada bulan Ramadhan. Al Qur‟an merupakan petunjuk Allah yang
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang lurus terang benderang bagi
orang yang takwa, sehingga Allah memberikan jaminan akan petunjuk Al Qur‟an
sebagai tali yang kuat tak akan putus dan manusia tak akan sesat selamanya selagi
manusia mau berpegang kepada Al Qur‟an. Oleh karena itu Al Qur‟an merupakan
nikmat terbesar yang diberikan oleh Khaliq kepada makhlukNya, serta merupakan
bukti nyata kasih Allah kepada makhluknya dan bukti Allah menciptakan manusia
tidak dibiarkan begitu saja. Firman Allah dalam Surat Al Mukminun Ayat 115 :
                                   
                                   
              
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”
      Oleh karenanya puasa merupakan tuntunan Allah, yaitu cara mensyukuri
kenikmatan yang diberikan, dengan diwajibkannya ummat Islam yang kuasa dan
mampu serta memenuhi persyaratan lain untuk melaksanakan ibadah tersebut. Suatu
isyarat dan tuntunan dari Allah syukrunni‟mah atau mensyukuri kenikmatan yaitu
dengan perbuatan dan ibadah yang lebih mendekatkan diri kepada Allah.


Bulan Ramadhan bulan evaluasi
      Allah memberikan tuntunan agar manusia sebagai khalif tullah fil ardli,
makhluk yang dimuliakan kedudukannya dibanding dengan makhluk yang lain selalu
memunyai program dalam kehidupannya, baik hubungannya dengan sesama makhluk.
Semua itu dalam menuju tujuan akhir dalam kehidupan mencari mardlatillah. Dalam
surah Al Hasyr ayat 18 firman Allah :
  
      
        
    
     
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”


      Ayat ini memberikan tuntunan hendaknya manusia suka merenung dan berpikir
kemudian berbuat sesuatu untuk kebaikan dirinya untuk menemui Tuhannya.
      Puasa merupakan program tahunan dari Allah untuk manusia mukmin yang
takwa untuk mengevaluasi diri apa yang telah diperbuat dan apa yang akan dilakukan
untuk masa-masa datang. Tuntunan i‟tikaf pada bulan Ramadhan yang dilakukan
Rasulullah setiap tahun adalah ibadah yang paling tepat untuk itu.


Nabi Muhammad SAW menghadapi bulan Ramadhan
      Apabila kita menilik hadits-hadits tentang sikap Nabi Muhammad menghadapi
bulan Ramadhan, maka Nabi memang mengambil perhatian khusus dalam hal itu.
      Hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi dari Siti „Aisyah mengatakan :

                                                                              ‫ٲ‬
“Aku tidak melihat Nabi Muhammad SAW puasa yang paling banyak (selain bulan
Ramadhan) yaitu puasa bulan Sya‟ban.
      Puasa merupakan ibadah dimana kita harus mengubah pola hidup kita berupa
makan dan minum namun yang lebih penting lagi puasa sebagai sarana
tazkiyatunnafs yang berarti mensucikan diri. Dengan memperbanyak puasa sunat
apda bulan Sya‟ban Nabi memberikan contoh bagaimana menghadapi bulan
Ramadhan. Sehingga pada saat tiba hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan fisik
sudah tidak merupakan kendala untuk menuju tercapainya tujuan puasa, tinggal
bagaimana puasa itu dapat dilaksanakan untuk hal-hal yang bersifat spiritual
sebagaimana dikehendaki oleh Allah


Kepanitiaan bulan Ramadhan
      Untuk menghadapi bulan Ramadhan perlu Pengurus Takmir Masjid, mushola,
langgar-langgar    membentuk    panitia    menghadapi    bulan   Ramadhan.   Panitia
menyiapkan sebaik-baiknya agar bulan ramadhan sebagai bulan yang mulia dan
penuh barokah itu tidak lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan kepada ummat
sebagai bulan yang dihormati dan diagungkan kedatangannya dengan amalan dan
ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan tertatanya Panitia Ramadhan
akan lebih dapat memberikan layanan yang mendukung tercapainya tujuan puasa
yaitu manusia yang takwa yang sebenar-benarnya sesuai maksud tujuan diwajibkan
puasa sebagai tersebut dalam surah Al Baqarah ayat 183


Persiapan-persiapan itu antara lain:
-   Yang berkaitan dengan tempat ibadah.
    Agar tempat ibadah dapat diperindah, sehingga menampilkan wajah yang indah,
    misalnya dengan diperbaharui catnya, tempat wudhu dibersihkan, tikar-tikar yang
    rusak diganti, lampu-lampu lebih diperterang dsb.
-   Yang berkaitan dengan tadarus Al Qur‟an
    Perlu disiapkan Al Qur‟an yang cukup termasuk Al Qur‟an yang ada tarjamahnya.
    Perlu adanya pemimpin atau guru tadarus, sehingga disamping tadarus yang
    hanya membaca, diterangkan juga makna-makna dari ayat-ayat yang dipandang
    perlu.
    Selama   ini   terkesan   bahwa   tadarus   hanya    membaca.   Makin    banyak
    mengkhatamkan makin baik. Sebenarnya itu tidak salah, tetapi membaca
    sekaligus bertadabur, yaitu memahami makna Al Qur‟an kemudian direalisasikan
    dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan seharihari merupakan makna tadarus
    yang sebenarnya.
-   Baik menjelang ta‟jil/buka puasa, menjelang salat tarawih atau qiyamu Ramadhan
    atau sesudah shalat Shubuh sering diadakan pengajian
    Maka perlu pengajian diatur sedemikian dengan pokok-pokok masalah yang telah
    ditentukan dan bervariasi untuk menjaga kejenuhan dan tumpang tindih, apa yang
    telah diterangkan seorang penceramah tak diulang oleh penceramah lain. Syukur
    apabila pengajian-pengajian itu direkam. Sedini mungkin guru telah dihubungi
    sehingga dapat menyiapkan waktu dan isi dengan baik. Sebagai penghormatan
    kepada guru, akan lebih baik sekiranya mungkin penceramah dapat dijemput dan
    diantar, atau mendapat ganti uang sekedar transportasi. Isi pengajian atau ceramah
    tak perlu terlalu tinggi tetapi lebih mengutamakan ibadah praktis disesuaikan
    dengan pendengarnya.
-   Akan lebih baik apabila kegiatan shalat tarawih atau Qiyamu Ramadhan dapat
    dipisahkan antara anak-anak dan oragn tua, sehingga suasanyanya lebih tertib.
    Dalam hal menghidupkan malam bulan Ramadhan perlu digerakka ntarawih atau
    Qiyamu Ramadhan pada lewat tengah malam khususnya bagi orang tua.
-   Sebagai media pendidikan perlu disiapkan lomba-lomba keterampilan ibadah
    sesuai dengan kelompok umurnya agar terbiasa melaksanakan ibadah dengan
    tertib dan benar. Demikian pula untuk menggembirakan jama‟ah ada baiknya
    disediakan jaburan ala kadarnya terutama bagi anak-anak. Perlu disediakan kotak
    amal untuk membiasakan berinfaq maupun shodaqoh secara ajeg menskipun tidak
    terlalu banyak. Program-program tersebut akan terlaksana dengan baik jika ta‟mir
    benar-benar dapat menjalankan fungsi dan tugasnya, serta mendapat dukungan
    dari jama‟ahnya.
-   Yang terakhir perlu dijaga kesehatan diri masing-masing dengan baik, sehingga
    dapat melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna. Insya Allah dengan fisik dan
    mental yang telah disiapkan lebih dahulu, puasa tidak saja memberikan manfaat
    pada diri pelakunya, tetapi juga kepada orang lain dan sesama makhluk pada
    umumnya, sebagai firman Allah yang artinya :
   “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi
   semesta alam”




                                   BUTA HATI




   “Bukalah buta itu orang yang tidak bisa melihat dengan matanya, tetapi buta itu
                     adalah orang buta bashirah (mata hati)-nya
                                  (riwayat Hakim)


    Dalam hadits di atas jelas sekali bagaimana Nabi SAW mendudukkan masalah
buta yang sejak zaman dahulu menjadi problema manusia. Sudah menjadi fakta
dalam hidup ini bagaimana Allah memberi manusia alat untuk memandang yang
disebut mata agar dapat digunakan dalam kepentingan hidup ini. Tetapi memandang
tidak sekedar yang tampak saja tetapi pula dalam bentuk lain. Sebab itu dikenal
dalam Islam masalah bashar mempergunakan mata untuk melihat dan bashirah (mata
hati) untuk mencapai apa yang tidak disanggupi oleh bashar. Jadi melihat dengan
mata biasa (yang ada di kepala bashar) dan melihat dengan mata hati yang ada di
dada (bashirah).
    Dengan hadits yang dikemukakan di atas dapat difahami betapa Nabi SAW
membimbing umat Islam mendudukkan masalah penting ini bahwa buta hati
(bashirah rusak) lebih berat dari buta mata. Karena orang yang buta hatinya itu tidak
melihat yang hak, selalu menolak kebenaran Ilahi, lalu bergelimang dengan
kebathilan, kezaliman, ujub, hawa nafsu dan keinginan syahwat. Bukan saja itu, tetapi
tidak pula dapat mengambil iktibar dan pelajaran dari apa yang terjadi di dunia
sebagai akibat merajalelanya nafsu insani yang merusak, egoisme yang meradang dan
ammanatun bis-su-i, menyeret manusia ke jurang kehancuran.
    Mohd. Rasjid Ridha, seorang ahli tafsir yang banyak sekali menguraikanmasalah
bashar dan bashirah ini, menegaskan bahwa bashirah dan (mata hati) itulah yang
membedakan manusia dari hewan.
    Islam sebagai agama Allah yang bermaksud membina kehidupan manusia yang
baik dan bahagia tampil dalam ajarannya. Karena di dalam surat Al „Alaq ada ayat :




“Bacalah dengan nama Tuhan engkau ….!”
    Iqra‟ dalam ayat ini telah mengerahkan kaum Muslimin untuk sama-sama turun
tangan menanggulangi pemberantasan buta huruf dan ini termasuk dalam istilah
amilus shalihat dan khairat yang dianjurkan Allah. Tetapi Islam lebih maju lagi dari
itu, bukan sekedar buta huruf yang harus dibasmi, tetapi pula dan sangat penting ialah
buta hati. Dan ini cukup berat dan besar tanggung jawabnya karena buta huruf itu
menghinggapi orang awam pada umumnya sedang buta hati menghinggapi seluruh
lapisan manusia, apakah dalam negara yang telah maju atau dalam negara yang baru
berkembang, golongan tinggi atau golongan rendah, di kota dan di desa.


Buta hati
    Ini adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya tetapi belum banyak yang
menyadari, malah penyakit inilah pada hakikatnya yang merusak, menggelisahkan
insani dan membuat dunia ini berada di tepi jurang.
    Hampir setiap minggu diberitakan dalam pers ada korupsi dan pelakunya (sang
koruptor) ditahan dan barang-barangnya disita sebagai akibat perbuatan negatifnya,
namun di tempat lain muncul lagi; adakalanya lebih besar atau lebih kecil. Tetapi
terang pelakunya bukan orang awam yang baru pulih dari penyakit buta huruf, tetapi
orang-orang pandai yang dari kecil dijauhkan dari buta huruf. Belum lagi prebuatan
lain yang timbul dalam kancah buta hati seperti kepalsuan, kezaliman, ketamakan
materi, ambisius, kedurhakaan, kenekatan, dan lain sebagainya.


Bi ismi Rabbik
     Demikian itu dan dalam bentuk lain adalah manifestasi buta hati yang sedang
diidap dunia sekarang disamping sekian banyak keresahan dan kegelisahan oleh
faktor lain seperti bencana topan, gempa bumi, banjir, gunung meletus, hama, dan
lain sebagainya.
     Islam datang dengan obatnya yang mujarab, yaitu buta huruf yang ditakuti itu
memerlukan kesabaran mengatasinya, tetapi masih ringan sebab huruf yang akan
dibaca dan ditulis itu dapat dilihat bentuk dan cara membuatnya. Tapi buta hati
adalah sesuatu yang abstrak, tidak dapat dicapai dengan panca indera, maklum hati
yang dipermasalahkan. Bukan pula hati yang berbentuk segumpal darah, tetapi hati
nurani yang      harus ada sianr tersendiri untuk mencapainya, atau seperti kata
Jalaluddin Rumy, bahwa hati “amanah langit (Allah)”
     Iqra‟ bi ismi rabbik, bacalah dengan nama Tuhan engkau, inilah resepnya.
Dalam arti bahwa ke-Tuhanan dalam pangkuan Iman harus disemaikan dalam hati
insan-insan yang melek mata dalam huruf, baik sejak dari kecil atau setelah dewasa.
Artinya : dengan Tuhan engkau itu ditempatkan pada seseorang sejak dia mengenal
huruf, baik dalam membaca maupun dalam menulis sehingga bila dia nanti memasuki
ilmu dengan tahu huruf-huruf itu maka dia tidak akan membuat hal-hal negatif karena
selalu teringat : bi ismi rabbik itu.
     Bila kesempatan sudah datang yang Islam tampil dala mabad ini, maka salah
satu misi atau risalahnya ialah membebaskan manusia dari buta hati setelah sekian
jauh usaha mengobati buta mata dan buta huruf.


Nilai kehidupan
     Dalam masalahnya sehingga tidak heran kalau tokoh-tokoh tashauf menaruh
perhatian yang besar padanya, seperti Imam Gazali abad ke V H, Jalaludin Rumy,
Ibnul Qayim Al Jauziyah (abad V H) dan lain sebagainya. Malah Iqbal dalam abad
XX, tampil melanjutkan uraian Rumy dalam wajah yang baru. Pada hakikatnya
semua mereka searah bahwa kalau nilai-niali kehidupan ini akan dibina sebaiknya
untuk kebahagiaan maka buta hati ini harus digalakkan dan Islam mempunyai ajaran
lengkap dalam hal ini. Kalau seperti sekarang akal, ratio dengan kemajuan ilmiyah itu
saja yang diagung-agungkan maka seperti kata An Nadawiy dari India, maka hati
mendingin dan kehangatan hdiup menjauhi kegaduhan dunia bertambah. Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur‟an :
   
   
   
          
      
           
                   
“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi
yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”


Marilah kita memahami masalah ini.




                   IDUL FITRI, ISRAF DAN SILATURAHMI
                           ‫ٲ‬                                               ‫ٲ‬




“Allah Maha Besar, Maha Agung. Segala puji adalah untuk Allah semata-mata. Maha
  Suci Allah pagi dan petang; tidak ada Tuhan kecuali Seorang diriNya. Janji Nya
(senantiasa) benar; Dia menolong hambaNya; Dia mengusir musuh-musuh NabiNya,
   dengan sendiriNya saja. Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah, taat
      kepadaNya dengan ikhlas, meskipun orang-orang yang kafir akan benci.”


    Alangkah gembira dan bahagianya kaum Muslimin di seluruh dunia yang telah
berhasil melaksanakan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan yang baru lampau ini.
Mereka gembira, karena sekaligus mencapai dua macam kenikmatan, kenikmatan
lahiriah dan rohaniah, kenikmatan duniawy dan ukhrawy.
    Adapun kenikmatan duniawy yang bersifat lahiriah ialah efek ibadah puasa
dalam meningkatkan ketahanan fisik, kemantapan jiwa, kesucian moral, yang
membentuk watak dan kepribadian mereka menjadi seorang Insan Muttaqin, manusia
yang bertakwa. Dengan latihan mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan,
tertancaplah di dalam jiwa mereka sifat kesabaran, kemauan yang kuat;
keseimbangan, disiplin, daya tahan dan daya juang dan sifat utama lain, yang pada
satu waktu merupakan motor dan pada waktu yang lain merupakan perisai dalam
kehidupan dan perjuangan yang penuh tantangan ini.
    Mengenai kenikmatan ukhrawy yang bersifat rohaniah, maka dengan
melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, setiap Mukmin telah mempunyai simpanan
pada sisi Allah SWT yang akan dinikmati dan dihayatinya di akhirat kelak, di mana
tidak ada sesuatu yang bisa memberikan pertolongan kecuali imbalan amal ibadah
yang dilakukan oleh seorang Mukmin ketika hidupnya di dunia ini.
     Di sinilah terletak sinyalemen yang dikemukakan oleh Rasulullah dalam satu
hadits:

                          ٖ
“Bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah puasa ada dua saat kegembiraan.
Pertama waktu berbuka; kedua, ketika kelak bertemu (menghadap) Ilahi.”


Menyalurkan kegembiraan
     Agama Islam memberikan tuntunan dan bimbingan bagaimana caranya
menyalurkan kegembiraan itu, tidak boleh diperturutkan semaunya saja.
     Kegembiraan karena telah berhasil melampaui masa ujian dan latihan selama
bulan Ramadhan, dilakukan dengan dua cara. Pertama, meningkatkan hubungan yang
bersifat menjulang (vertikal) dengan Allah SWT. Kedua, merapatkan hubungan yang
bersifat mendatar (horizontal) dengan sesama manusia.
     Adapun cara yang pertama dilaksanakan dengan memperbanyak zikrullah,
mengingat dan menyebut nama Allah, mengucapkan kalimah Takbir dan Tahmid.
     Mengenai cara yang kedua, yaitu merapatkan hubungan dengan sesama manusia
dilakukan dalam bentuk wajib tahunan menyantuni fakir miskin, mengeluarkan zakat
fitrah.

								
To top