kelas10_smk_tata-busana_ernawati-izwerni-weni by recca77790

VIEWS: 577 PAGES: 441

									Ernawati | Izwerni | Weni N.




                               untuk
                               Sekolah Menengah Kejuruan




                               Tata
                               BUSANA
                                                                                       m i ra
                                                                               n i N el
                                                                           | We
                                                                     rni
TATA BUSANA




                                                                we
                                                       ti   | Iz
                                                   a
                                                aw
                                          E   rn
untuk SMK




                                   Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
                                   Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
                                   Departemen Pendidikan Nasional
Ernawati, dkk




 TATA BUSANA



 SMK




          Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
          Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang




TATA BUSANA
Untuk SMK

Penulis : Ernawati, dkk




Ukuran Buku               : …… x …… cm




 ……
 ENW               Ernawati, dkk
 ….                Tata Busana: SMK oleh Ernawati, dkk. ----
              Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,
              Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
              Pendidikan Nasional, 2008.
              vi. 414 hlm.
              ISBN ……-……-……-……
              1. Tata Busana




Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008

Diperbanyak oleh….
                           KATA SAMBUTAN


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.



                                             Jakarta,
                                             Direktur Pembinaan SMK
                  KATA PENGANTAR
        Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT,
karena atas izin-Nya jugalah kami dapat menyelesaikan buku yang
berjudul ”TATA BUSANA”. Buku Tata Busana ini disusun berdasarkan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) tahun 2006 dan berdasarkan SKKNI yang terdiri dari X
BAB, mencakup standar kompetensi baik kompetensi dasar,
kompetensi kelompok inti, dan kelompok kompetensi spesialisasi.
        Kelompok unit kompetensi inti/utama terdiri dari menggambar
busana, mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain, membuat
pola busana dengan teknik konstruksi, membuat pola busana dengan
teknik konstruksi diatas kain, membuat pola busana dengan teknik
drapping, membuat pola busana dengan teknik kombinasi, memilih
bahan baku busana sesuai dengan desain, melakukan pengepresan,
menjahit dengan tangan dan menjahit dengan mesin (Sewing),
memotong (Cutting) dan penyelesaian busana (Finishing) menyiapkan
tempat kerja yang ergonomik serta mampu menerapkan kesehatan dan
keselamatan kerja ditempat kerja.
        Buku ini disusun untuk memenuhi tuntutan KTSP dan SKKNI
dibidang keahlian Tata Busana. Penulis telah berusaha agar buku ini
dapat memenuhi tuntutan tersebut di atas, juga dapat menambah
pengetahuan dan keterampilan siswa SMK secara umum dan
masyarakat pencinta busana secara khusus. Buku ini ditulis dengan
bahasa yang jelas dan keterangan yang rinci sehingga mudah
dimengerti baik oleh guru maupun oleh siswa
        Dengan terbitnya buku Tata Busana ini, semoga dapat
menambah rujukan pengetahuan tentang tata busana dan juga dapat
memberikan arti yang positif bagi kita semua. Kami berharap semoga
semua yang telah kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah, dan
semoga beliau senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, agar
penulis, editor dan penilai melalui tulisan ini dapat meningkatkan mutu
pendidikan SMK secara khusus.
        Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis, bila ada
kritik dan saran dari pembaca akan kami terima dengan senang hati.
Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada orang tua, suami,
dan anak-anak tercinta atas dukungannya, seterusnya terimakasih
untuk semua pihak yang telah memberikan dukungan baik berupa moril
maupun materil agar terwujudnya buku ini. Semoga apa yang telah
kami terima dari semua pihak, mudah-mudahan mendapat imbalan dari
Allah Subhanahuwataala dan menjadi amal baik bagi kita semua, amin
yarobbil’alamin.
                                                      Padang, Juli 2008

                                                         Ttd
                                                     Tim Penulis



                                                                      i
                                       DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................             i
DAFTAR ISI ...........................................................................   ii
DAFTAR TABEL ...................................................................         v
DAFTAR GAMBAR ..............................................................             vi
DAFTAR ISTILAH (GLOSARI) .............................................                   xii
PETA STANDAR KOMPETENSI ..........................................                       xiv

BAB I. PENDAHULUAN
  A. Asal usul busana..........................................................            3
  B. Pengertian Busana ......................................................             23
  C. Fungsi busana .............................................................          25
  D. Pengelompokan busana ..............................................                  26
  E. Pemilihan busana ........................................................            27

BAB II. PELAYANAN PRIMA
       A. Melakukan komunikasi di tempat kerja ..................                         35
       B. Bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal ...                              42
       C. Menjaga Standar persentasi personal ...................                         54
       D. Melakukan pekerjaan secara tim ...........................                      56
       E. Menangani kesalah-pahaman antar budaya ..........                               58

BAB III. KESEHATAN, KESELAMATAN dan KEAMANAN KERJA
       A. Dasar-dasar K-3 dan keamanan kerja ................. 68
       B. Standar operasional prosedur k-3 .......................... 82
       C. Hukum K-3 yang berlaku secara internasional ...... 82
       D. Prosedur K-3 di tempat kerja (custum made) ........ 84
       E. Menangani situasi darurat ...................................... 85
       F. Jenis - jenis kecelakaan kerja ................................ 86
       G. Menerapkan praktek K-3 ........................................ 91
       H. Merapikan area dan tempat kerja .......................... 92

BAB IV.        TEKNIK MENJAHIT BUSANA
      A.       Tusuk dasar menjahit ............................................ 100
      B.       Kampuh dasar (menggabungkan).......................... 104
      C.       Teknik menjahit bagian-bagian busana ................. 107
      D.       Belahan busana ..................................................... 123
      E.       Menyelesaikan busana dengan alat jahit tangan ... 138
      F.       Menyiapkan tempat kerja ...................................... 140
      G.       Mengerjakan pengepresan .................................... 146
      H.       Menerapkan praktek K3 dalam mengepres ........... 150




                                                                                               ii
BAB V. PEMILIHAN DAN PEMELIHARAAN BAHAN TEKSTIL
      A. Klasifikasi serat tekstil ............................................ 153
      B. Pemilihan bahan tekstil .......................................... 176
      C. Pemeliharaan Bahan Tekstil .................................. 185
      D. Pemeliharan busana (mencuci busana)................. 187

BAB VI. DESAIN BUSANA
      A. Pengertian desain .................................................. 192
      B. Jenis-jenis desain................................................... 193
      C. Unsur-unsur desain ................................................ 198
      D. Prinsip-prinsip desain ............................................. 208
      E. Penerapan unsur dan prinsip desain pada busana 210
      F. Alat dan bahan untuk mendesain........................... 211
      G. Anatomi tubuh untuk desain................................... 213
      H. Menggambar bagian-bagian busana ..................... 233
      I. Pewarnaan dan penyelesaian gambar................... 238

BAB VII. MEMBUAT POLA BUSANA
     A. Pengertian pola busana .......................................... 241
     B. Konsep dasar membuat pola busana ..................... 248
     C. Membuat pola busana dengan teknik draping ........ 251
     D. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi .... 259
     E. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi di atas
          kain ......................................................................... 279
     F. Membuat pola busana dengan teknik kombinasi .... 302
     G. Menyimpan pola ..................................................... 310

BAB VIII. PECAH POLA BUSANA SESUAI DENGAN DESAIN
  A. Konsep dasar pecah pola busana wanita .................... 313
  B. Pecah pola rok sesuai dengan desain ......................... 315
  C. Pecah pola blus sesuai dengan desain ....................... 321
  D. Pecah pola celana sesuai dengan desain ................... 326

BAB IX. MEMOTONG, MENJAHIT, PENYELESAIAN (Cutting, Sewing,
Finishing)
       A. Menyiapkan tempat kerja ....................................... 332
       B. Menyiapkan bahan ................................................. 333
       C. Meletakkan pola di atas bahan .............................. 339
       D. Memotong bahan sesuai pola pakaian .................. 343
       E. Memindahkan tanda-tanda pola............................. 350
       F. Menjahit.................................................................. 353
       G. Gangguan dan perbaikan mesin jahit .................... 372
       H. Pelaksanaan menjahit ............................................ 374

BAB X. MENGHIAS BUSANA
  A. Menyiapkan tempat kerja, alat dan bahan ................... 378


                                                                                               iii
  B.   Konsep dasar menghias busana ................................. 379
  C.   Membuat desain hiasan untuk busana ........................ 386
  D.   Memindahkan desain hiasan pada kain atau busana .. 399
  E.   Membuat hiasan pada kain atau busana ..................... 399
  F.   Menyimpan kain/busana yang telah dihias ................. 414
  G.   Merapikan area dan alat kerja ..................................... 414



DAFTAR PUSTAKA

CURICULUM VITAE PENULIS




                                                                                 iv
                                DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                     Halaman
1. Perbandingan letak bagian-bagian tubuh menurut desain busana...... 215
2. Ukuran pola standar ............................................................................ 243
3. Penyesuaian pola standar ................................................................. 245




                                                                                                 v
                                 DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                                                           Halaman
1. Macam-macam Tunik .......................................................................... .. 5
2. Kandis .................................................................................................. .. 6
3. Kalasiris ............................................................................................. .. 7
4. Bentuk Pakaian Bungkus ................................................................... .. 8
5. Himation .............................................................................................. .. 9
6. Chlamys ............................................................................................. .. 10
7. Mantel/Shawl ...................................................................................... 11
8. Toga ................................................................................................... 12
9. Palla ................................................................................................... 13
10. Paludamentum, Sagum dan Abolla .................................................. . 14
11. Chiton .............................................................................................. .. 15
12. Peplos . ............................................................................................. .. 16
13. Cape/Cope.. ....................................................................................... .. 17
14. Poncho ............................................................................................... 18
15. Beberapa contoh poncho bahu .......................................................... 19
16. Beberapa contoh poncho panggul ..................................................... 20
17. Bentuk dasar celana .......................................................................... 21
18. Macam-macam bentuk celana ........................................................... 22
19. Kaftan ................................................................................................ 23
20. Hidung berdarah ................................................................................ 89
21. Pendarahan hebat .............................................................................. 90
22. Membalut luka dengan kain kassa tebal .............................................. 90
23. Tusuk Jelujur ....................................................................................... 100
24. Tusuk Flanel ........................................................................................ 101
25. Tusuk Feston ....................................................................................... 102
26. Tusuk Balut .......................................................................................... 102
27. Tusuk Batang/Tusuk tangkai ............................................................... 102
28. Tusuk Rantai ........................................................................................ 103
29. Tusuk Silang ........................................................................................ 103
30. Tusuk Piguar ........................................................................................ 104
31. Kampuh Terbuka ................................................................................. 105
32. Kampuh Balik ....................................................................................... 106
33. Kampuh Pipih ...................................................................................... 106
34. Kampuh Perancis ................................................................................ 106
35. Kampuh Sarung ................................................................................... 107
36. Mengelim ............................................................................................. 108
37. Kelim Sungsang ................................................................................... 108
38. Kelim Tusuk Flanel .............................................................................. 109
39. Kelim yang di rompok .......................................................................... 109
40. Kelim Palsu .......................................................................................... 110
41. Kelim Rol ............................................................................................. 111


                                                                                                          vi
42. Kelim Som Mesin ................................................................................. 111
43. Pemasangan Depun ............................................................................ 112
44. Serip .................................................................................................... 113
45. Menjahit Rompok ................................................................................. 114
46. Tusuk Pemasangan Lengan Licin........................................................ 125
47. Lengan Poff ......................................................................................... 126
48. Lengan Reglan .................................................................................... 127
49. Lengan Setali ....................................................................................... 127
50. Kerah Rebah ........................................................................................ 119
51. Kerah Shiler, Kerah Setali, Kerah Jas ................................................. 121
52. Belahan Langsung ............................................................................... 124
53. Belahan Dua Lajur Sama ..................................................................... 125
54. Belahan Dua Lajur Tidak Sama ........................................................... 126
55. Belahan Dengan Kumai Serong .......................................................... 127
56. Belahan dilapis menurut bentuk........................................................... 128
57. Macam-macam tutup tarik (Resleting) ................................................. 129
58. Tutup Tarik Simetris ............................................................................. 130
59. Tutup Tarik A Simetris ......................................................................... 131
60. Perlengkapan Pemasangan Tutup Tarik ............................................. 132
61. Penyelesaian Klep ............................................................................... 132
62. Penyelesaian Golbi .............................................................................. 133
63. Penyelesaian Klep ............................................................................... 133
64. Proses menoreh rumah kancing dengan mesin .................................. 135
65. Rumah Kancing Passpoille .................................................................. 136
66. Membalikkan Sengkelit ........................................................................ 137
67. Rumah Kancing Sengkelit.................................................................... 138
68. Pemasangan Rumah Kancing Dua dan Empat Lobang ...................... 139
69. Pemasangan Kancing Bertangkai........................................................ 139
70. Pemasangan Kancing Jepret ............................................................... 140
71. Pemasangan Kancing Kait .................................................................. 140
72. Alat Pemotong ..................................................................................... 141
73. Alat-alat Ukur ....................................................................................... 142
74. Alat Memberi Tanda Pada Bahan ........................................................ 143
75. Tempat Menyimpan Jarum .................................................................. 144
76. Teknik Mempres dengan Seterika ....................................................... 147
77. Contoh desain dengan siluet A ............................................................ 194
78. Contoh desain dengan siluet Y ............................................................ 194
79. Contoh desain dengan siluet I ............................................................. 195
80. Contoh desain dengan siluet S ............................................................ 196
81. Contoh desain dengan siluet T ............................................................ 197
82. Value warna putih ke hitam ................................................................. 202
83. Value beberapa warna ke warna putih dan hitam................................ 202
84. Lingkaran warna .................................................................................. 203
85. Warna primer ....................................................................................... 204
86. Warna sekunder .................................................................................. 204
87. Mata terlihat dari depan ....................................................................... 222


                                                                                                          vii
 88. Mata menunduk ................................................................................... 223
 89. Mata terlihat dari samping ................................................................... 223
 90. Hidung tampak depan, tampak ¾, tampak samping dan hidung
     Pada wajah menunduk ........................................................................ 224
 91. Bibir dilihat dari beberapa arah ............................................................ 225
 92. Telinga tampak depan, samping dan tiga perempat ............................ 225
 93. Batas rambut ....................................................................................... 236
 94. Beberapa pergerakan tangan ............................................................. 237
 95. Beberapa gerakan telapak tangan dan jari .......................................... 237
 96. Kaki dengan beberapa gaya berdiri ..................................................... 228
 97. Kaki dengan alas kaki dari beberapa arah........................................... 229
 98. Teknik merobah gaya dan gerak tubuh dengan rangka balok ............. 230
 99. Hasil gerak dan gaya dengan teknik rangka balok .............................. 231
100. Gerak tubuh dengan rangka elips ....................................................... 232
101. Beberapa desain kerah ....................................................................... 234
102. Beberapa model desain lengan ........................................................... 235
103. Beberapa desain blus .......................................................................... 236
104. Beberapa model rok ............................................................................ 237
105. Pola lengan…………………………………………………………........... 243
106. Pola standar badan ……………………………………........... ............... 244
107. Pola standar rok .................................................................................. 244
108. Lingkar badan pola muka dan pola belakang yang telah dibesarkan. . 246
109. Lingkar pinggang pola muka dan pola belakang yang telah dikecilkan246
110. Lebar muka dan lebar punggung yang telah dibesarkan......................247
111. Lingkar panggul pola rok muka dan belakang yang telah dibesarkan. 247
112. Panjang muka dan panjang punggung yang telah ditambah............... 248
113. Lingkar kerung lengan yang telah ditambah........................ ................ 248
114. Pita Ukuran............................................................................. ............. 249
115. Roldresmaker....................................................................... ............... 249
116. Garis-garis pola pada dressform/boneta jahit ................................ ..... 252
117. Arah serat ............................................................................ ............... 252
118. Bahan blaco.......................................................................... ............... 253
119. Blaco pada posisi tengah muka ........................................... ............... 253
120. Membentuk lipit kup pada pinggang................................................ .... 254
121. Blaco pada posisi garis bahu dan leer ………………. ......................... 255
122. Memberi kampuh …………………………………………. ..................... 255
123. Blaco pada posisi tengah belakang ……………………….................... 256
124. Membentuk garis punggung dan lebar punggung ……….. ................. 256
125. Membentuk lipit kup pada pinggang ……………………. ..................... 257
126. Blaco pada posisi garis bahu dan leher …............................ .............. 257
127. Posisi blaco pada pinggang dan panggul ……………… ..................... 258
128. Membuat lipit kup dan sisi rok ……………………………….. ............... 259
129. Cara mengambil ukuran sistem dressmaking ……………… ............... 261
130. Pola dasar badan ……………………………………………… ............... 263
131. Pola lengan…………………………………………………….. ............... 265
132. Pola rok muka dan belakang................................................ .............. 266


                                                                                                       viii
133. Cara mengambil ukuran sistem Soen.................................................. 267
134. Pola dasar badan................................................................................. 268
135. Pola dasar lengan................................................................. ............... 270
136. Pola rok muka dan belakang...................................... ........................ 272
137. Pola dasar pria..................................................................................... 274
138. Pola dasar Badan……………………………………. ................. ……….276
139. Pola dasar lengan anak……………………………………….. ............... 277
140. Pola dasar rok anak……………………………………………................ 278
141. Desain busana wanita…………………………………………. ............... 281
142. Pola badan……………………………………………………… ............... 284
143. Pola lengan……………………………………………………… .............. 286
144. Pola kerah……………………………………………………….. .............. 286
145. Pola celana wanita……………………………………………… .............. 287
146. Desain busana pria...…………………………………………….............. 289
147. Pola kemeja……………………………………………………… ............. 291
148. Pola lengan ……………………………………………………… ............. 293
149. Pola kerah kemeja …………………………………................ ............. 295
150. Pola manset dan klep manset................................................ ............ 295
151. Pola celana pria..................................................................... ............. 296
152. Desain busana anak.............................................................. .............. 299
153. Pola busana anak.................................................................. .............. 300
154. Pola lengan anak................................................................... .............. 301
155. Pola kerah............................................................................................ 302
156. Desain busana pesta…………………………………………… .............. 303
157. Pecah pola………………………………………………………. .............. 304
158. Pengembangan pecah pola ………………………………….. ............... 305
159. Gabungan pola muka kiri dan kanan.................................... ............... 306
160. Menyampirkan kain pada dressform.................................................... 307
161. Mementulkan bahan pada bagian belakang......................... ............... 308
162. Membentuk lipit pada bagian sisi......................................................... 308
163. Membentuk hiasan pada bagian dada………………………. ............... 309
164. Hasil teknik drapping pada bagian muka.............................. ............... 309
165. Pecah pola rok span............................................................. ............... 316
166. Pecah pola rok semi span.................................................... ............... 317
167. Pecah pola rok lipit hadap.................................................... ............... 317
168. Pecah pola rok pias 2 dikembangkan................................... ............... 318
169. Pecah pola rok pias enam .......................................................... ........ 319
170. Pecah pola rok lipit sungkup................................................. ............... 320
171. Pecah pola rok kerut............................................................. ............... 321
172. Pecah pola blus..................................................................... .............. 322
173. Pecah pola kerah dan pola lengan....................................... ............... 323
174. Pecah pola blus belahan asimetris...................................... ................ 323
175. Pecah pola lengan........................................................... .................... 324
176. Pecah pola blus yang dimasukkan ke dalam....................................... 325
177. Pecah pola celana model jodh pure……………………… .................... 327
178. Pecah pola celana model bell botton……………………. ..................... 328


                                                                                                        ix
179. Pecah pola celana knikers………………………………........................ 329
180. Pecah pola celana bermuda……………………………… ..................... 330
181. Contoh rancangan bahan………………………………… ..................... 342
182. Mesin potong bulat……………………………………….. ...................... 346
183. Mesin potong pita………………………………………… ....................... 346
184. Mesin potong lupus………………………………………........................ 347
185. Alat-alat pemberi tanda pada bahan.................................................... 351
186. Pemakaian rader.......................................................... ....................... 352
187. Superimpased seams .......................................................................... 355
188. Lap seam ............................................................................................. 355
189. Lap felled seam ................................................................................... 356
190. Bound seam ........................................................................................ 356
191. Flat seams ........................................................................................... 356
192 Decorative seams ................................................................................. 357
193. Edge neatening ................................................................................... 357
194. Shirt buttonhole band .......................................................................... 357
195. Seam kelas 8 ....................................................................................... 358
196. Mesin jahit dan bagian-bagiannya................................ ....................... 358
197. Macam-macam jahitan.................................................. ...................... 359
198. Mesin jahit yang digerakkan dengan tangan................. ...................... 361
199. Mesin jahit yang digerakkan dengan kaki..................... ....................... 361
200. Dinamo mesin jahit........................................................ ...................... 362
201. Alat pemotong...................................................................................... 362
202. Alat-alat ukur........................................................................................ 363
203. Tempat menyimpan jarum............................................ ....................... 364
204. Boneka jahit (dressform)...................................................................... 365
205. Cara mengeluarkan benang bawah..................................................... 367
206. Pengatur panjang tusukan............................................. ...................... 368
207. Menggulung benang sekoci ......................................... ...................... 369
208. Cara memasang sekoci ke kumparan............................ ..................... 370
209. Pemasangan benang atas.............................................. ..................... 370
210. Ketegangan benang hasil jahitan................................... ..................... 371
211. Mengatur ketegangan benang ............................................................. 371
212. Keseimbangan simetris pada desain hiasan.................. ..................... 380
213. Keseimbangan asimetris pada desain hiasan............... ...................... 381
214. Bentuk ragam hias naturales……………………………. ...................... 382
215. Bentuk ragam hias geometris…………………………… ...................... 383
216. Bentuk ragam hias dekoratif…………………………….. ...................... 384
217. Contoh stilasi……………………………………………… ...................... 385
218. Contoh pola serak/pola tabur……………………………. ...................... 386
219. Contoh pola pinggiran berdiri............................................................... 387
220. Contoh pola pinggiran bergantung................................. ..................... 388
221. Contoh pola pinggiran simetris........................................ .................... 389
222. Contoh pola pinggiran berjalan........................................ .................... 390
223. Contoh pola pinggiran memanjat..................................... .................... 391
224. Contoh pola mengisi bidang segi empat.............................................. 392


                                                                                                         x
225. Contoh mengisi bidang segi empat.................................. ................... 393
226. Contoh pola mengisi bidang sama sisi.................................................394
227. Contoh pola mengisi bidang segi tiga siku....................... ................... 395
228. Contoh pola mengisi bidang lingkaran/oval...................... ................... 396
229. Contoh pola hias bebas.................................................... ................... 397
230. Contoh pola hias bebas.................................................... ................... 398
231. Desain sulaman fantasi.................................................... ................... 404
232. Desain sulaman fantasi dengan pola hias mengisi bidang
     lingkaran................................................................................ .............. 404
233. Desain sulaman hongkong.............................................. .................... 406
234. Desain sulaman aplikasi................................................. .................... 408
235. Desain sulaman melekatkan benang............................. .................... 410
236. Desain terawang hardanger............................................. ................... 412
237. Desain terawang inggris................................................... ................... 413




                                                                                                          xi
                        DAFTAR ISTILAH
1. Cellulose          : Serabut yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
2. Center of interest : Pusat perhatian yang terdapat pada desain busana.
3.“Custom-made”       : busana yang dibuat dengan sistem tailor maupun
                        couture untuk perorangan sesuai dengan desain
                        yang (couturis) exclusive.
4. Customer care      : Pelayanan prima. Pelayanan yang terbaik untuk
                        pelanggan.
5. Depun              : Penyelesaian dengan lapisan menurut bentuk yang
                        dijahit kebagian dalam.
6. Desain             : Kerangka bentuk, rancangan, motif, model.
7. Drapping           :Teknik      pembuatan       pola    dengan     cara
                        memulir/drapping.
8. Dress making       : Pembuatan pakaian wanita.
9. Dressform          : Boneka jahit
10. Dresssmaker       : Penjahit busana wanita
11. Garis Empire      : Garis hias yang melebar terdapat dibawah dada
12. Garis Princess    : Garis dari bahu atau tengah ketiak sampai panjang
                        baju
13. Haute couture     : Pembuatan busana tingkat tinggi.
14. Kampuh kostum : Kampuh yang diselesaikan dengan mesin pada
                        bagian buruk, kemudian tirasnya diselesaikan
                        dengan tangan.
15. Keterampilan-berlipat (multi-skilling).
                      :Proses dimana individu memperoleh tambahan
                        keterampilan yang luas dan spesifik.
16. Lipit kup         : Garis lipatan untuk membentuk tubuh wanita
17. Management Contingency Skill
                      : Keterampilan mengelola kemungkinan/ketidak
                        aturan (solusi dalam menemukan masalah).
18. Measurement       : Ukuran
19. Mesin jahit kabinet :Mesin jahit yang tertutup menyerupai meja/kotak.
20. Memarker          : Membuat rancangan bahan sesuai ukuran
                        sebenarnya
21. Model             : Peragawati/pemesan/pelanggan
22. OH&S              : Occupational health dan safety
23. Pattern making : Pembuatan pola.
24. Pelanggan         : Pemesan/konsumen/kolega.
25. Penilaian berdasarkan kompetensi
                      : Dalam sistem penilaian berdasarkan kompetensi,
                        penilaian      didefinisikan    sebagai     proses


                                                                       xii
                       pengumpulan bukti dan pembuatan pertimbangan
                       untuk mengetahui apakah kompetensi telah
                       dicapai, yang mencakup elemen kopetensi
26. Quality Control : Pengawasan mutu.
27. Serabut sintetis : Serabut buatan
28. SOP              : Standar Operasional Prosedur.
29. Standar          : Level/tingkat yang digunakan untuk mengukur
                       unjuk kerja yang dapat diterima.
30. Sillhoutte       : Bayangan atau garis luar dari pakaian
31. Tailored         : Jahitan, penjahit atau busana untuk pria. Jahitan
                       busana pria (tailor-made lebih banyak digunakan
                       untuk pria dan dress making untuk wanita)
32. Unit kompetensi : Unit kompetensi merupakan komponen berbed
                       dalam standar kompetensi.
33. Tusuk Piqneer    : Tusuk tulang ikan yang dibuat pada river atau
                       kerah mantel wanita
34. Kampuh kostum : Kampuh yang diselesaikan dengan mesin pada
                       bagian buruk, kemudian tirasnya diselesaikan
                       dengan tangan
35. Rompok           : Hiasan tepi dengan kumai serong yang terlihat dari
                       luar dan dalam dengan ukuran yang sama.
36. Serip            : Hiasan dengan lapisan menurut bentuk yang
                       dijahit kearah luar
37. Tunik            : Pakaian yang panjang blusnya sampai diatas lutut
38. Trubenys         : Kain pengeras untuk kerah
39. W H O            : World Health Organization




                                                                     xiii
                 PETA STANDAR KOMPETENSI
          BIDANG KEAHLIAN BUSANA “Custom-made”
       CLOTHING STANDARD COMPETENCY “Custom-made”

KELOMPOK DASAR

A. PELAYANAN PRIMA/CUSTOMER CARE
   1. Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan
   2. Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial dan beragama

B. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA/ OCCUPATIONAL
   HEALTH & SAFETY
   1. Mengikuti prosedur kesehatan keselamatan dan keamanan
      dalam bekerja

KELOMPOK INTI

C. GAMBAR/DRAWING
   1. Menggambar busana

D. POLA/PATTERN MAKING
   1. Mengukur tubuh pelanggan dengan cermat dan tepat sesuai
      dengan kebutuhan desain.
   2. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi
   3. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain
   4. Membuat pola busana dengan teknik draping
   5. Membuat pola busana dengan teknik kombinasi

E. BAHAN BAKU / MATERIAL
   1. Pemilihan/pembelian bahan baku busan sesuai desain

F. POTONG / CUTTING
   1. Memotong bahan

G. PENJAHITAN/SEWING
   1. Menjahit dengan mesin
   2. Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan
   3. Membuat hiasan pada busana

H. PEMELIHARAAN / MAINTENANCE & REPAIR
   1. Memelihara alat jahit

I.   PENYETRIKAAN / PRESSING
     1. Melakukan pengepresan




                                                            xiv
J. PENYELESAIAN / FINISHING
   1. Melakukan penyempurnaan akhir busana


KELOMPOK PENUNJANG

K. DESAIN / FASHION DESIGN
   1. Membuat desain busana

L. STANDAR MUTU / QUALITY CONTROL
   1. Mangawasi mutu pekerjaan busana
M. PEMASARAN / MARKETING
   1. Menghitung harga jual hasil produk


                 KELOMPOK UNIT KOMPETENSI
                       DASAR/UMUM

1. 39. Bus. C-m. CC. 01.A :
   Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan
2. 39. Bus. C-m. CC. 02. A :
   Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang beragama
3. 39. Bus. C-m. OH&S. 03.A :
   Mengikuti prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan
   dalam bekerja

           KELOMPOK UNIT KOMPETENSI INTI/UTAMA

1. 39. Bus. C-m. FDR. 04. A :
   Menggambar busana
2. 39. Bus. C-m. PAT. 06. A :
   Mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain

3. 39. Bus. C-m. PAT. 07. A :
   Membuat pola busana dengan teknik konstruksi
4. 39. Bus. C-m. PAT. 08. A :
   Memuat pola busana dengan teknik konstruksi diatas kain
5. 39. Bus. C-m. PAT. 09. A :
   Membuat pola busana dengan teknik draping
6. 39. Bus. C-m. PAT. 10. A :
   Membuat pola busana dengan teknik kombinasi
7. 39. Bus. C-m MAT. 11. A :
   Memilih/membeli bahan baku busana sesuai busana
8. 39. Bus. C-m. CUT. 12. A :
   Memotong bahan



                                                             xv
9. 39. Bus. C-m. PRES. 13. A :
    Melakukan pengepresan
10. 39. Bus. C-m. SEW. 14. A :
    Menjahit dengan mesin
11. 39. Bus. C-m. SEW. 15. A :
    Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan
12. 39. Bus. C-m. SEW. 16. A :
    Membuat hiasan pada busana
13. 39. Bus. C-m. FNS. 17. A :
    Melakukan penyelesaian akhir busana
14. 39. Bus. C-m. MR. 18. A :
    Memelihara alat jahit

                  KELOMPOK UNIT KOMPETENSI
                     SPESIALISASI/PILIHAN

1. 39. Bus. C-m. FDS. 05. A :
   Membuat desain busana
2. 39. Bus. C-m. QC. 19. A :
   Mengawasi mutu pekerjaan dibidang lingkungan busana
3. 39. Bus. C-m. MK. 20. A :
   Menghitung harga jual hasil produksi




                                                         xvi
                                 BAB I
                       PENDAHULUAN
      Kata ”busana” diambil dari bahasa Sansekerta ”bhusana”. Namun
dalam bahasa Indonesia terjadi penggeseran arti ”busana” menjadi
”padanan pakaian”. Meskipun demikian pengertian busana dan pakaian
merupakan dua hal yang berbeda. Busana merupakan segala sesuatu
yang kita pakai mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Busana ini
mencakup busana pokok, pelengkap (milineris dan aksesories) dan tata
riasnya. Sedangkan pakaian merupakan bagian dari busana yang
tergolong pada busana pokok. Jadi pakaian merupakan busana pokok
yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh.
      Busana yang dipakai dapat mencerminkan kepribadian dan status
sosial sipemakai. Selain itu busana yang dipakai juga dapat
menyampaikan pesan atau image kepada orang yang melihat. Untuk itu
dalam berbusana banyak hal yang perlu diperhatikan dan pertimbangkan
sehingga diperoleh busana yang serasi, indah dan menarik.
      Ilmu tata busana adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana
cara memilih, mengatur dan memperbaiki, dalam hal ini adalah busana
sehingga diperoleh busana yang lebih serasi dan indah. Seiring dengan
pengertian tata busana di atas, dalam buku ini akan dibahas secara rinci
ilmu yang menyangkut tata busana terutama yang tercantum pada
standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang keahlian Tata Busana
untuk SMK. Diharapkan pengetahuan ini dapat membantu siswa maupun
semua pihak yang terlibat pada bidang busana untuk lebih memahami
ilmu busana secara umum.
      Pada Bab pendahuluan buku tata busana dibahas tentang asal usul
busana, pengertian busana, fungsi busana, pengelompokan busana serta
pemilihan busana. Semua ini tidak termasuk kepada tuntutan kompetensi
tetapi sangat diperlukan sebagai pengantar sebelum membahas tentang
tata busana yang diharapkan berdasarkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar. dalam buku ini disebar pada beberapa bab yang
komprehensif dan diharapkan mudah dipahami.
      Pelayanan prima (customer care), membicarakan tentang
pengertian pelayanan prima, jenis-jenis pelayanan, karakter pelanggan,
jenis-jenis kebutuhan pelanggan dan penanganan kebutuhan pelanggan.
Selain itu juga dibahas tentang melakukan komunikasi ditempat kerja,
memberikan bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal, standar
persentasi personal, melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang
beragam yang meliputi komunikasi dengan pelanggan dan kolega dari
latar belakang yang berbeda dan menangani kesalahpahaman antar
budaya.
      Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kesehatan, keselamatan
dan keamanan kerja (K3). Ini penting sekali diperhatikan pada saat
bekerja terutama pekerjaan yang beresiko baik terhadap diri sendiri,


                                                                      1
tempat kerja maupun produk yang dikerjakan. K3 yang dibahas
mencakup dasar-dasar K3, standar operasional prosedur K3, hukum dan
prosedur K3 serta menangani situasi darurat. Hukum K3 yang berlaku
secara international, prosedur K3 ditempat kerja (custum made), Jenis-
jenis kecelakaan kerja, menerapkan praktek kesehatan dan keselaman
kerja serta merapikan area dan tempat kerja.
       Pengetahuan alat jahit dan pemeliharaannya menyiapkan tempat
kerja dan alat menjahit dengan tangan. Menyelesaikan busana dengan
teknik jahit tangan, serta merapikan area dan tempat kerja. Bab V adalah
teknik menjahit busana membahas tentang teknik dasar menjahit,
kampuh dasar, teknik menjahit bagian-bagian busana, belahan busana,
menyiapkan tempat dan alat press, mengerjakan pengepresan dan
menerapkan praktek K3 dalam mengepres.
       Pemilihan dan pemeliharaan bahan tekstil membahas tentang
klasifikasi serat tekstil, pemeliharaan bahan tekstil, bahan utama busana,
bahan pelapis dan bahan pelengkap serta pemeliharaan busana. Desain
busana mencakup pengertian desain, jenis-jenis desain, unsur-unsur
desain, prinsip-prinsip desain, penerapan unsur dan prinsip desain pada
busana, alat dan bahan untuk mendesain, anatomi tubuh untuk desain,
menggambar bagian-bagian busana, serta pewarnaan dan penyelesaian
gambar.
       Membuat pola busana mencakup pengertian pola busana, konsep
dasar membuat pola busana, membuat pola busana dengan teknik
draping, membuat pola busana dengan teknik konstruksi, membuat pola
busana dengan teknik konstruksi di atas kain dan menggambar pola
dengan teknik kombinasi.
       Dalam buku ini juga dibahas beberapa teknik pecah pola busana
sesuai dengan desain, terdiri dari konsep dasar pecah pola busana,
pecah pola rok sesuai desain, pecah pola blus sesuai desain dan pecah
pola celana sesuai dengan desain. Bab IX Memotong bahan, menjahit
dan penyelesaian (cutting, sewing, finishing) membahas tentang tempat
kerja, menyiapkan bahan, meletakkan pola diatas bahan, memotong
bahan sesuai pola pakaian, serta mengemas pola dan potongan bahan
bagian-bagian busana (bundeling).
       Membuat hiasan pada busana membahas tentang tempat kerja dan
alat, konsep dasar menghias busana, membuat desain hiasan untuk
busana, memindahkan desain hiasan pada kain atau busana, membuat
hiasan pada kain atau busana, menyimpan busana atau kain yang telah
dihias serta merapikan area dan alat kerja.
       Materi yang diuraikan di atas, terkelompok pada standar kompetensi
yang terdiri dari standar kompetensi kejuruan dan kompetensi kejuruan
yang tersebar kepada beberapa kompetensi dasar. Agar dapat mengikuti
perkembangan zaman terutama perkembangan IPTEKS diharapkan
siswa selalu mengupdate ilmunya dengan perkembangan yang ada
dilingkungannya sehingga kompetensi yang diperoleh, baik kognitif,



                                                                        2
afektif maupun psikomotor sesuai dengan yang dibutuhkan stakeholders
atau pengguna.
      Berikut ini akan dijelaskan secara singkat tentang pengetahuan
dasar tata busana yang meliputi asal-usul busana, pengertian busana,
fungsi busana, pengelompokan busana dan pemilihan busana.

A. Asal Usul Busana
         Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia
   disamping kebutuhan makanan dan tempat tinggal. Hal inipun sudah
   dirasakan manusia sejak zaman dahulu dan berkembang seiring
   dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Dilihat
   dari sejarah perkembangan kebudayaan manusia, dapat kita pelajari
   hal-hal yang ada hubungannya dengan busana.
         Pada dasarnya busana yang berkembang dimasyarakat dewasa
   ini merupakan pengembangan dari bentuk dasar busana pada
   peradaban Barat. Namun busana baratpun hadir atas sumbangan
   yang tumbuh dari tiga akar budaya yaitu Yunani Kuno, Romawi dan
   Nasrani. Seiring dengan perkembangan zaman, busana mengalami
   perubahan sesuai dengan perkembangan Ilmu, pengetahuan,
   teknologi dan seni (IPTEKS).
         Pada zaman prasejarah manusia belum mengenal busana
   seperti yang ada sekarang. Manusia hidup dengan cara berburu,
   bercocok tanam dan hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke
   tempat lain dengan memanfaatkan apa yang mereka peroleh di alam
   sekitarnya. Ketika mereka berburu binatang liar, mereka
   mendapatkan dua hal yang sangat penting dalam hidupnya yaitu
   daging untuk dimakan dan kulit binatang untuk menutupi tubuh. Pada
   saat itu manusia baru berfikir untuk melindungi badan dari pengaruh
   alam sekitar seperti gigitan serangga, pengaruh udara, cuaca atau
   iklim dan benda-benda lain yang berbahaya.
         Cara yang dilakukan manusia untuk melindungi tubuhnya pada
   saat itu berbeda-beda sesuai dengan alam sekitarnya. Di daerah yang
   berhawa dingin, manusia menutup tubuhnya dengan kulit binatang,
   khususnya binatang-binatang buruan yang berbulu tebal seperti
   domba. Kulit binatang tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari daging
   dan lemak yang menempel lalu dikeringkan. Hal ini biasanya
   dilakukan oleh kaum wanita. Begitu juga dengan daerah yang panas,
   mereka memanfaatkan kulit kayu yang direndam terlebih dahulu lalu
   dipukul-pukul dan dikeringkan. Ada juga yang menggunakan daun-
   daun kering dan rerumputan. Selain itu ada yang memakai rantai dari
   kerang atau biji-bijian yang disusun sedemikian rupa dan untaian gigi
   dan taring binatang. Untaian gigi dan taring binatang ini dipakai di
   bagian leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan pada
   panggul sebagai penutup bagian-bagian tertentu pada tubuh.
         Pemakaian untaian gigi, taring dan tulang, selain berfungsi
   untuk penampilan dan keindahan juga berhubungan dengan


                                                                       3
kepercayaan atau tahayul. Menurut kepercayaan mereka, dengan
memakai benda-benda tersebut dapat menunjukkan kekuatan atau
keberanian dalam melindungi diri dari roh-roh jahat dan agar selalu
dihormati. Cara lain adalah dengan menoreh tubuh dan wajah dan
diberi bahan pewarna yang lebih dikenal men “tattoo”. Namun
mentatto menurut Roosmy M Sood dalam Dra. Arifah A Rianto, M.Pd
(2003:44) bahwa semua yang dilakukan oleh masyarakat primitif
belum dapat dikatakan berbusana karena seni berbusana baru
muncul setelah masyarakat mengenakan penutup tubuh dari kulit
binatang, kulit kayu atau bahan-bahan tenunan.
      Bersamaan dengan penemuan bahan busana baik dari kulit
binatang maupun kulit kayu dan cara pemakaiannya maka lahirlah
bentuk dasar busana. Bentuk dasar busana yang terdapat di
Indonesia, yaitu kutang, pakaian bungkus, poncho, kaftan dan celana.
Untuk lebih jelasnya, bentuk dasar busana akan diuraikan satu
persatu.

1. Kutang.
      Bentuk dasar kutang merupakan bentuk pakaian yang tertua,
bahkan sebelum orang mengenal adanya kain lembaran yang berupa
tenunan, orang sudah mengenal bentuk pakaian ini. Bentuk kutang
menyerupai silinder atau pipa tabung yang berasal dari kulit kayu
yang dipukul-pukul sedemikian rupa sehingga kulit tersebut terlepas
dari batangnya dan dipakai untuk menutupi tubuh dari bawah ketiak
sampai panjang yang diinginkan. Pada zaman dahulu penduduk asli
Amerika yaitu suku Indian sudah mengenal pohon kutang yang
kulitnya dipakai sebagai penutup tubuh.
      Negeri asal kutang yaitu Asia, lalu dibawa ke Iran, Asia kecil,
Mesir dan Roma di Eropa. Di Asia dan Afrika bentuk pakaian ini
menjadi bentuk utama pakaian walaupun berbeda ukuran panjang
dan bentuknya. Ada beberapa jenis pakaian kutang yang dikenal yaitu
:
    a. Tunik
           Tunik atau disebut juga tunika merupakan salah satu bentuk
    busana kutang yang dikenal pada zaman prasejarah.
    Pemakaiannya dari bawah buah dada sampai mata kaki yang
    diberi dua buah tali / ban ke bahu. Bentuk pakaian ini sering
    dipakai oleh wanita dan pria Mesir zaman purbakala. Pada
    perkembangannya bentuk tunik dan cara pemakaiannya
    disesuaikan dengan tingkat dan golongan pemakai; seperti tunik
    talaris dipakai oleh para consul, tunik dengan ukuran
    pendek(sebatas lutut), longgar dan memakai lengan panjang
    hanya boleh dipakai oleh orang-orang istana. Tunik yang
    sederhana dengan hiasan kancing pada leher dan pinggang
    dipakai oleh golongan menengah pada abad ke 6 s.d ke 5 SM di
    Bizentium. Abad ke 5 SM s.d abad ke 1 sesudah masehi di Roma


                                                                   4
ada tunik permata. Perkembangannya sampai abad ke 5 sesudah
masehi panjangnya sampai pertengahan betis. Dengan masuknya
agama islam di Aceh maka terbawa pulalah setelan celana
dengan tunik yang datang dari Pakistan yang selanjutnya disebut
dengan baju kurung.




                    Gambar 1. Macam-macam tunik



                                                             5
b. Kandys
       Kandys merupakan busana yang berasal dari bentuk
kutang yang dipakai oleh pria Hebren di Asia Kecil pada zaman
prasejarah. Busana ini longgar dengan lipit-lipit pada sisi sebelah
kanan dan lengannya berbentuk sayap.




                           Gambar . 2 Kandys



                                                                 6
c. Kalasiris
        Kalasiris yaitu busana wanita Mesir zaman prasejarah.
Kalasiris berbentuk dasar kutang, panjangnya sampai mata kaki,
longgar dan lurus, adakalanya memakai ikat pinggang dan lengan
setali. Kalasiris kadang-kadang dipakai bersama mantel dan cape
yang berbentuk syaal sebagai tambahan.




                       Gambar .3 Kalasiris



                                                             7
2. Pakaian bungkus
        Bentuk pakaian bungkus merupakan pakaian yang
  berbentuk segi empat panjang yang dipakai dengan cara dililitkan
  atau dibungkus ke badan mulai dari dada, atau dari pinggang
  sampai panjang yang diinginkan seperti celemek panggul.
  Pakaian bungkus ini tidak dijahit, walaupun pada saat pakaian
  bungkus ini muncul jarum jahit sudah ada. Pemakaian pakaian
  bungkus ini dengan cara dililitkan ke tubuh seperti yang ada di
  India yang dinamakan sari, toga dan palla di Roma, chiton dan
  peplos di zaman Yunani kuno, kain panjang dan selendang di
  Indonesia.




                Gambar 4. Bentuk pakaian bungkus

       Pada perkembangannya, pakaian bungkus berbeda-beda
  dalam cara pemakaiannya untuk tiap daerah, sehingga muncul
  pakaian bungkus yang namanya berbeda-beda diantaranya :

  a. Himation, yaitu bentuk busana bungkus yang biasa di pakai
  oleh ahli filosof atau orang terkemuka di Yunani Kuno. Himation ini
  panjangnya 12 atau 15 kaki yang terbuat dari bahan wol atau
  lenan putih yang seluruh bidangnya di sulam. Busana ini dapat
  dipakai diatas chiton atau dengan mantel. Bentuk busana yang
  hampir menyerupai himation ini yaitu pallium yang biasa dipakai
  diatas toga oleh kaum pria di Roma pada abad kedua.




                                                                   8
Gambar 5. Himation


                     9
b. Chlamys, yaitu busana yang menyerupai himation, yang
berbentuk longgar. Biasanya dipakai oleh kaum pria Yunani Kuno.




                    Gambar .6 Chlamy



                                                            10
c. Mantel/shawl, yaitu busana yang berbentuk segi empat
panjang yang dalam pemakaiannya disampirkan pada satu bahu
atau kedua bahu. Pada bagian dada diberi peniti sehingga muncul
lipit-lipit dan pada kedua ujungnya diberi jumbai-jumbai.




                        Gambar .7 Mantel/shawl


d. Toga, merupakan bentuk pakaian resmi yang dipakai sebagai
tanda kehormatan dizaman republik dan kerajaan di Roma. Ada
beberapa jenis toga diantaranya yaitu, toga palla yaitu toga yang
dipakai saat berkabung dan toga trabea yang dibuat menyerupai
cape bayi.


                                                              11
                           Gambar .8 Toga



e. Palla, yaitu busana wanita Roma dizaman republik dan
kerajaan, dipakai di atas tunika atau stola. Pemakaiannya hampir
sama dengan shawl yang disemat dengan peniti. Warna palla
pada umumnya warna biru, hijau dan warna keemasan.


                                                             12
Gambar .9 Palla



                  13
f. Paludamentum, sagum dan abolla, yaitu sejenis pakaian jas
militer dizaman prasejarah.




              Gambar. 10 Paludamentum, sagum dan abolla




                                                          14
g. Chiton, yaitu busana pria Yunani Kuno yang mirip dengan
tunik di Asia. Bahan chiton biasanya terbuat dari bahan wol, lenan
dan rami yang diberi sulaman dengan benang berwarna dan
benang emas sebagai pengaruh tenunan Persia.




                          Gambar . 11 Chiton



                                                               15
h. Peplos dan haenos, yaitu busana wanita Yunani Kuno yang
bentuk dasarnya sama dengan chiton, ada yang dibuat panjang
dan ada yang pendek. Pada bagian bahu ada lipit-lipit yang
ditahan dengan peniti dan ada kalanya pada pinggang juga dibuat
lipit-lipit sehingga terlihat seperti blus. Peplos dari Athena
memakai ikat pinggang yang diikat di atas lipit-lipit di pinggang.




                          Gambar. 12 Peplos



                                                               16
i. Cape atau cope, yaitu busana paling luar pada pakaian pria di
Byzantium yang berbentuk mantel yang diikat pada bahu atau
leher dan diberi hiasan bros.




                 Gambar.13. Cape atau cope



                                                             17
3. Poncho
      Poncho terbuat dari kulit binatang, kulit pohon kayu dan
daun-daunan yang diberi lubang pada bagian tengahnya agar
kepala bisa masuk, sedangkan bagian sisi dibiarkan tidak dijahit.
Poncho yang dimaksud disini adalah suatu bentuk dasar pakaian
yang berasal dari penduduk asli Amerika, yaitu bangsa Mexico
dan Peru-Indian, yang pada waktu sekarang sudah hampir hilang
di negeri asalnya. Bentuk aslinya dipergunakan sebagai penutup
badan bagian atas, terdiri dari selembar kain yang dilipat melebar
ditengah-tengahnya. Pada lipatan ini dicari tengah-tengahnya,
dibuatkan lubang untuk lubang leher. Ciri khas bentuk dasar ini
bahwa tengah muka tidak mempunyai belahan seperti gambar
berikut.




              Gambar 14. Poncho

       Perkembangan bentuk poncho terlihat pada bentuk busana
yang dimasukkan dari kepala. Perkembangan celemek panggul
terlihat pada bentuk busana yang dibungkus atau dililitkan ke
badan mulai dari pinggang ke panggul.
 Berdasarkan bentuknya, poncho dapat dibedakan :

a. Poncho bahu
       Poncho bahu yaitu poncho yang menutup bahu dan badan
bagian atas. Panjang poncho bahu ada yang sampai batas lutut
dan ada yang sampai betis. Poncho bahu biasanya dipakai oleh
suku Indian penduduk asli Amerika, Peru, Mexico dan Tiongkok.
Disamping itu juga dipakai sebagai mantel oleh suku Teutonic,
Trank dan Sexon. Poncho bahu diberi lobang sehingga kepala
bisa masuk. Poncho bahu ada yang hanya menutupi bahu saja


                                                               18
seperti poncho bahu di Tiongkok, sementara poncho dari Mexico
dibuat dari bulu binatang yang panjangnya sampai lutut dan ada
juga yang sampai betis.




              Gambar 15. Beberapa contoh poncho bahu




                                                           19
b. Poncho panggul
        Poncho panggul ditemukan pada gambar seorang laki-laki
di istana raja zaman Yunani Kuno. Poncho panggul yaitu poncho
yang menutupi bagian panggul sampai panjang yang diinginkan
dan pada badan bagian atas terbuka. Poncho panggul ada yang
hanya menutupi panggul saja dan ada juga yang dibuat sampai
menutupi mata kaki.




             Gambar 16. Beberapa contoh poncho panggul




                                                           20
          Perkembangan bentuk poncho terlihat pada bentuk busana
   yang dimasukkan dari kepala. Perkembangan celemek panggul
   terlihat pada bentuk busana yang dibungkus atau dililitkan ke
   badan mulai dari pinggang ke panggul.

   4. Celana
         Celana merupakan bagian busana yang berfungsi untuk
   menutupi tubuh bagian bawah, mulai dari pinggang, pinggul dan
   kedua kaki. Bentuk dasar celana dibuat dari bahan berbentuk
   segi empat yang dilipat dua mengikuti panjang kain dan bagian
   lipatan tersebut digunting dan dijahit pada kedua sisinya. Untuk
   lobang kaki sampai paha dibuat guntingan pada bagian tengahnya
   yang kemudian dijahit, sehingga ada lobang untuk kaki. Pada
   bagian pinggang dibuat lajur untuk memasukkan tali sebagai
   penahan celana pada pinggang. Celana seperti ini masih banyak
   ditemui dan dipakai oleh wanita di Aceh.




                       Gambar 17. Bentuk dasar celana


      Bentuk ini muncul untuk melengkapi pakaian kaftan yang
biasanya dibuat menutupi seluruh tubuh, sehingga timbul ide untuk
memisahkan busana bawah dan atas. Busana atas disebut tunik dan
bawah dikenal dengan rok. Dari rok inilah dirubah menjadi bentuk
celana yang diberi lobang untuk memasukkan kaki. Celana biasa
dipakai oleh wanita dan laki-laki seperti di Albania, Persia, Tiongkok,
Tunisia, dan Arab Saudi.
      Bentuk celana bermacam-macam, ada yang longgar seperti
celana perempuan Turki dan ada yang sempit seperti celana kuli di
Jepang. Pada abad ke 18 muncul celana yang panjangnya sampai
lutut yang dikenal dengan culotte. Pada akhir abad ke 18
perkembangan bentuk celana dipengaruhi oleh budaya barat



                                                                    21
sehingga muncul celana pantaloons, yaitu celana panjang yang
sampai mata kaki.




                Gambar 18. Macam-macam bentuk celana


                                                         22
              Berdasarkan bentuk dasar busana di atas maka
       berkembanglah bentuk-bentuk busana yang kita kenal sekarang,
       yang sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman.

       5. Bentuk kaftan
                Bentuk kaftan merupakan perkembangan dari bentuk
          dasar kutang atau tunika yang dipotong bagian tengah muka
          sehingga terdapat belahan pada bagian depan pakaian.
          Orang-orang Babylonia telah lama menggunakanya sebagai
          penutup badan bagian atas. Bentuk kaftan yang asli masih
          dipakai oleh petani di Mesir. Di Indonesia dikenal dengan
          nama kebaya, di Jepang dikenal dengan kimono dan di
          Negara-negara Timur Tengah dikenal dengan jubah. Busana
          kaftan berbentuk baju panjang yang longgar, sisi lurus,
          berlengan panjang dan ada belahan pada tengah muka.
          Dengan kata lain bentuk kaftan memiliki ciri khas, mempunyai
          belahan disepanjang tengah muka dan memakai lengan.
          Belahan ini ada kalanya disemat dengan peniti dan ada juga
          yang dibiarkan lepas (tidak disemat) seperti gambar berikut.




                     Gambar 19. Kaftan


B. Pengertian Busana
      Istilah busana merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi
kita semua. Istilah busana berasal dari bahasa sanskerta yaitu “bhusana”
dan istilah yang popular dalam bahasa Indonesia yaitu “busana” yang
dapat diartikan “pakaian”. Namun demikian pengertian busana dan
pakaian terdapat sedikit perbedaan, dimana busana mempunyai konotasi
“pakaian yang bagus atau indah” yaitu pakaian yang serasi, harmonis,
selaras, enak di pandang, nyaman melihatnya, cocok dengan pemakai
serta sesuai dengan kesempatan. Sedangkan pakaian adalah bagian dari
busana itu sendiri.



                                                                     23
   Busana dalam pengertian luas adalah segala sesuatu yang dipakai
mulai dari kepala sampai ujung kaki yang memberi kenyamanan dan
menampilkan keindahan bagi sipemakai. Secara garis besar busana
meliputi :

   1. Busana mutlak yaitu busana yang tergolong busana pokok
      seperti baju, rok, kebaya, blus, bebe dan lain-lain, termasuk
      pakaian dalam seperti singlet, bra, celana dalam dan lain
      sebagainya.
   2. Milineris yaitu pelengkap busana yang sifatnya melengkapi
      busana mutlak, serta mempunyai nilai guna disamping juga untuk
      keindahan seperti sepatu, tas, topi, kaus kaki, kaca mata,
      selendang, scraf, shawl, jam tangan dan lain-lain.
   3. Aksesoris yaitu pelengkap busana yang sifatnya hanya untuk
      menambah keindahan sipemakai seperti cincin, kalung, leontin,
      bross dan lain sebagainya.

        Dari uraian di atas jelaslah bahwa busana tidak hanya terbatas
pada pakaian seperti rok, blus atau celana saja, tetapi merupakan
kesatuan dari keseluruhan yang kita pakai mulai dari kepala sampai ke
ujung kaki, baik yang sifatnya pokok maupun sebagai pelengkap yang
bernilai guna atau untuk perhiasan. Pemahaman hal di atas sangat
penting sekali bagi seseorang yang akan berkecimpung di bidang tata
busana.
        Pemakaian istilah busana dalam Bahasa Inggris sangat beragam,
tergantung pada konteks yang dikemukakan, seperti :

      a. Fashion lebih difokuskan pada mode yang umumnya
         ditampilkan seperti istilah-istilah mode yang sedang digemari
         masyarakat yaitu in fashion, mode yang dipamerkan atau
         diperagakan disebut fashion show, sedangkan pencipta mode
         dikatakan fashion designer, dan buku mode disebut fashion
         book.
      b. Costume. Istilah ini berkaitan dengan jenis busana seperti
         busana nasional yaitu national costume, busana muslim
         disebut moslem costume, busana daerah disebut traditional
         costume.
      c. Clothing, dapat diartikan sandang yaitu busana yang
         berkaitan dengan kondisi atau situasi seperti busana untuk
         musim dingin disebut winter clothing, busana musim panas
         yaitu summer clothing dan busana untuk musim semi disebut
         spring cloth.
      d. Dress, dapat diartikan gaun, rok, blus yaitu busana yang
         menunjukkan kesempatan tertentu, misalnya busana untuk
         kesempatan resmi disebut dress suit, busana seragam
         dikatakan dress uniform dan busana untuk pesta disebut dress


                                                                   24
          party. Dress juga menunjukkan model pakaian tertentu seperti
          long dress, sack dress dan Malaysian dress.
       e. Wear, istilah ini dipakai untuk menunjukkan jenis busana itu
          sendiri, contoh busana anak disebut children’s wear, busana
          pria disebut men’s wear dan busana wanita disebut women’s
          wear.

C. Fungsi Busana
    Pada awalnya busana berfungsi hanya untuk melindungi tubuh baik
dari sinar matahari, cuaca ataupun dari gigitan serangga. Seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka hal tersebut juga
mempengaruhi fungsi dari busana itu sendiri.
        Fungsi busana dapat ditinjau dari beberapa aspek antara lain
aspek biologis, psikologis dan sosial. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan
sebagai berikut :

   1. Ditinjau dari aspek biologis, busana berfungsi :
      a. Untuk melindungi tubuh dari cuaca, sinar matahari, debu serta
          gangguan binatang, dan melindungi tubuh dari benda-benda
          lain yang membahayakan kulit. Seperti orang yang berada di
          daerah kutup memerlukan busana untuk melindungi tubuhnya
          dari udara dingin. Begitu juga orang yang tinggal di daerah
          yang beriklim panas, busana digunakan untuk melindungi
          tubuh dari udara panas yang mungkin dapat merusak kulit.
      b. Untuk menutupi atau menyamarkan kekurangan dari
          sipemakai. Manusia tidak ada yang sempurna, setiap manusia
          memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk menutupi
          kekurangan dan menonjolkan kelebihannya juga dapat di
          lakukan dengan memakai busana yang tepat. Seperti
          seseorang yang bertubuh kurus pendek, hindari memakai
          kerah dengan ukuran lebar, memakai rok yang terlalu pendek
          (rok mini), dan rok span karena hal ini akan memberikan
          kesan lebih kurus dan lebih pendek. Pilihlah model rok pias,
          model kerah yang dapat menutup tulang leher. Dapat
          menggunakan sepatu yang berhak tinggi dan memakai
          perhiasan yang berukuran kecil atau sedang, serta memakai
          pakaian yang tidak menonjolkan bentuk tubuh yang kurus dan
          pendek tersebut, begitu juga sebaliknya.

   2. Ditinjau dari aspek psikologis
      a. Dapat menambah keyakinan dan rasa percaya diri. Dengan
          busana yang serasi memberikan keyakinan atau rasa percaya
          diri yang tinggi bagi sipemakai, sehingga menimbulkan sikap
          dan tingkah laku yang wajar. Seperti seseorang yang
          pakaiannya tidak sesuai dengan acara yang sedang
          dihadirinya, akan membuat dia risih atau salah tingkah.


                                                                        25
       b. Dapat memberi rasa nyaman. Sebagai contoh pakaian yang
          tidak terlalu sempit atau terlalu longgar dapat memberi rasa
          nyaman saat memakainya. Begitu juga dengan pakaian yang
          modelnya sesuai dengan sipemakai akan membuat dia
          nyaman dalam melaksanakan segala aktifitas yang di
          lakukannya.

   3. Ditinjau dari aspek sosial
       Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat norma-norma yang
   mengatur pola perilaku di masyarakat. Norma-norma tersebut antara
   lain norma kesopanan, norma agama, norma adat dan norma hukum.
   Sebagai masyarakat Timur, norma-norma ini harus dipatuhi oleh
   masyarakat. Tatanan tersebut diantaranya juga mengatur tentang
   bagaimana berpakaian. Dilihat dari aspek sosial busana berfungsi :
       a. Untuk menutupi aurat atau memenuhi syarat kesusilaan.
           Seperti terlihat pada masyarakat yang beragama Islam,
           diwajibkan menutupi auratnya, dimana wanita harus menutupi
           seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Ditempat
           umum hendaklah memakai pakaian yang sopan.
       b. Untuk menggambarkan adat atau budaya suatu daerah.
           Misalnya pakaian adat Minang menggambarkan tentang
           budaya Minangkabau, pakaian adat Betawi menggambarkan
           tentang budaya masyarakat Betawi, pakaian adat Bali, Batak,
           Sulawesi dan lain sebagainya.
       c. Untuk media informasi bagi suatu instansi atau lembaga.
           Seperti seseorang yang berasal dari korps kepolisian
           menggunakan seragam tertentu yang berbeda dengan yang
           lain, seorang siswa atau pelajar menggunakan seragam
           sekolah mereka dan lain sebagainya.
       d. Media komunikasi non verbal.
           Busana yang kita kenakan dapat menyampaikan misi atau
           pesan kepada orang lain, pesan itu akan terpancar dari
           kepribadian kita, dari mana anda berasal, berapa usia yang
           akan anda tampilkan, jenis kelamin apa yang ingin anda akui,
           jabatan atau sebagai apa keberadaan anda dimasyarakat, dan
           sebagainya, inilah yang ingin digarisbawahi melalui
           penampilan busana kita. Ini semua contohnya bisa dilihat dari
           penampilan seorang artis, peran apa dan kesan serta misi apa
           yang akan disampaikan.

D. Pengelompokan Busana
       Dalam berbusana kita perlu memperhatikan norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat, seperti norma agama, norma susila, norma
sopan santun dan sebagainya, dan juga memahami tentang kondisi
lingkungan, budaya dan waktu pemakaian. Dengan demikian baik jenis,
model, warna atau corak busana perlu disesuaikan dengan hal tersebut di


                                                                     26
atas. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, secara garis besar
busana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

   1. Busana Dalam
   Busana dalam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
      a. Busana yang langsung menutup kulit, seperti : BH/Kutang,
         celana dalam, singlet, rok dalam, bebe dalam, corset,
         longtorso. Busana ini berfungsi untuk melindungi bagian-
         bagian tubuh tertentu, dan membantu membentuk/
         memperindah bentuk tubuh serta dapat menutupi kekurangan-
         kekurangan tubuh, dan juga menjadi fundamen pakaian luar.
         Jenis busana ini tidak cocok dipakai ke luar kamar atau keluar
         rumah tanpa baju luar.
      b. Busana yang tidak langsung menutupi kulit, yang temasuk
         kelompok ini adalah busana rumah, seperti : daster, house
         coat, house dress, dan busana kerja di dapur seperti : celemek
         dan kerpusnya. Busana kerja perawat dan dokter, seperti
         celemek perawat dan snal jas dokter. Busana tidur wanita,
         seperti baby doll, nahyapon dan busana tidur pria, antara lain,
         piyama dan jas kamar. Jenis pakaian tersebut di atas tidak etis
         jika dipakai ketika menerima tamu.

   2. Busana Luar
   Busana luar ialah busana yang dipakai di atas busana dalam.
   Pemakaian busana luar disesuaikan pula dengan kesempatanya,
   antara lain busana untuk kesempatan sekolah, busana untuk bekerja,
   busana untuk kepesta, busana untuk olah raga, busana untuk santai
   dan lain sebagainya.

E. Pemilihan Busana
        Dalam berbusana kita perlu menyesuaikan busana dengan bentuk
tubuh, warna kulit, kepribadian, jenis kelamin dan lain sebagainya.
Kesalahan dalam memilih busana akan berakibat fatal bagi sipemakai,
karena busana yang semula diharapkan dapat mempercantik diri dan
dapat menutupi kekurangan tidak terwujud, bahkan kadang-kadang
kekurangan tersebut terlihat semakin menonjol.
        Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas, dalam
memilih busana ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, baik faktor
individu maupun faktor lingkungan. Adapun yang menyangkut faktor
individu seperti : bentuk tubuh, umur, warna kulit, jenis kelamin dan
kepribadian. Sedangkan yang menyangkut faktor lingkungan adalah :
waktu, kesempatan dan perkembangan mode. Untuk lebih jelasnya akan
diuraikan sebagai berikut :




                                                                     27
1. Faktor individu
       Jika kita perhatikan secara teliti, khususnya tentang busana
yang dipakai oleh masing-masing individu dapat disimpulkan bahwa
setiap manusia mengenakan pakaian yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Perbedaan ini tidak hanya terdapat pada model
pakaian saja, tetapi juga terdapat perbedaan dalam pemilihan bahan
busana seperti perbedaan warna, motif, tekstur dan lain-lain
sebagainya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
tersebut antara lain:

   a. Bentuk tubuh
            Bentuk tubuh manusia tidaklah sama satu dengan lainnya,
   perbedaan tersebut disebabkan oleh perkembangan biologis serta
   perbedaan tingkat umur. Setiap manusia mengalami irama
   pertumbuhan yang berbeda-beda, ada yang gemuk pendek, kurus
   tinggi, gemuk tinggi dan kurus pendek. Maka dari itu,
   sewajarnyalah kita di dalam membuat atau memilih busana harus
   mengenali terlebih dahulu bentuk tubuh masing-masing. Karena
   tidak semua busana dapat dipakai oleh semua orang, dengan
   kata lain model busana untuk orang gemuk jelas tidak cocok
   untuk orang yang bertubuh kurus, begitu juga sebaliknya. Maka, di
   dalam memilih busana mengenali bentuk tubuh sangatlah penting.
            Bentuk tubuh ideal sangatlah didambakan oleh semua
   orang, karena hampir semua desain busana dapat dipakainya,
   sehingga bentuk tubuh ideal merupakan dambaan semua orang.
   Adapun yang dimaksud dengan tubuh ideal untuk seorang wanita,
   menurut Enna Tamimi (1982:41) bentuk badan yang ideal
   mempunyai ukuran lingkar dada dan pinggul yang sama besar.
   Ukuran pinggang sekurang-kurangnya 10 cm lebih kecil dari
   ukuran dada atau pinggul, serta letak garis pinggang pada batas
   ¾ tinggi badan yang diukur dari kepala. Dengan kata lain jika letak
   garis pinggang di bawah atau di atas ¾ tinggi badan serta lingkar
   pinggang yang hampir sama besar dengan lingkar badan dan
   lingkar pinggul, maka ukuran yang begini termasuk ukuran yang
   kurang ideal.
            Bentuk tubuh yang kurang ideal ini banyak pula
   macamnya, ada yang gemuk pendek, kurus tinggi, kurus pendek,
   bahkan ada yang bungkuk, panggul terlalu kecil, bidang bahu
   terlalu lebar atau terlalu sempit. Semua bentuk tubuh ini termasuk
   bentuk tubuh yang tidak ideal, karena masing-masingnya memiliki
   kelemahan atau kelainan. Kelemahan-kelemahan ini dapat
   disembunyikan dengan memilih desain pakaian yang sesuai
   dengan bentuk tubuh masing-masing, setiap kekurangan tersebut
   dapat ditutupi dengan busana yang dipakai.
            Untuk seseorang yang bertubuh gemuk pilihlah desain
   yang memberi kesan melangsingkan, dan yang bertubuh kurus


                                                                   28
memilih desain yang memberikan kesan menggemukkan. Desain
busana untuk seseorang yang bidang bahunya sempit pilihlah
desain yang memberikan kesan melebarkan, untuk seseorang
yang memiliki buah dada terlalu kecil atau terlalu besar, semua ini
perlu mendapat perhatian yang serius sebelum membuat busana
agar busana yang serasi dengan bentuk tubuh dapat diwujudkan.

b. Umur
       Umur seseorang sangat menentukan dalam pemilihan
busana, karena tidak seluruh busana cocok untuk semua umur.
Perbedaan tersebut tidak saja terletak pada model, tetapi juga
pada bahan busana, warna, serta corak bahan. Busana anak-
anak jauh sekali bedanya dengan busana remaja dan busana
orang dewasa. Untuk itu di dalam pemilihan busana yang serasi
usia pemakai merupakan kriteria yang tidak dapat diabaikan.

c. Warna Kulit
       Warna kulit adalah suatu hal yang harus dipertimbangkan
dalam memilih busana. Walaupun warna kulit orang Indonesia
disebut sawo matang, namun selalu ada perbedaan antara satu
dengan yang lainnya. Maka, hal ini hendaknya mendapat
perhatian supaya busana yang dipakai betul-betul sesuai dengan
sipemakai

d. Kepribadian
       Kepribadian merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan
dalam memilih busana. Ada beberapa tipe kepribadian yang
sangat mempengaruhi dalam pemilihan busana tersebut, antara
lain :
    1) Tipe Feminim
            Orang yang bertipe feminim memiliki sifat, lemah
    lembut, pemalu, suka menjauhkan diri dari perhatian umum,
    perasaannya halus. Untuk orang yang bertipe feminim ini
    sangat cocok desain busana yang memakai garis lengkung,
    seperti; rok pias, rok kembang dan lain-lain. Warna busana
    yang cocok adalah warna yang telah dicampur dengan warna
    abu-abu, setiap warna yang di campur dengan warna abu-abu
    maka hasilnya akan menjadi warna yang buram. Misalnya
    warna merah dicampur dengan warna abu-abu, maka warna
    merahnya menjadi merah redup. Warna kuning dicampur
    dengan warna abu-abu, maka warna kuningnya menjadi
    redup. Warna biru dicampur dengan warna abu-abu, maka
    warna birunya menjadi redup. Semua warna yang dicampur
    dengan warna abu-abu, cocok untuk orang yang bertipe
    feminim. Tekstur yang cocok untuk tipe feminim ialah tekstur



                                                                29
       yang lembut, halus dan ringan. Motif yang dipakai sebaiknya
       motif yang kecil-kecil.

       2) Tipe Maskulin
          Tipe maskulin adalah orang yang memiliki sifat terbuka,
       agresif, tenang, dan percaya diri. Untuk orang yang bertipe ini
       desain busana yang cocok adalah model yang tidak terlalu
       banyak variasi dan memakai garis yang tegas; seperti :
       memakai kerah minamora, kerah kemeja dan lain-lain. Warna-
       warna cerah sangat cocok untuk kepribadian maskulin.
       Tekstur sebaiknya dipilih yang tebal, berat dan bermotif. Motif
       geometris lebih cocok dipakai dari pada motif bunga-bunga.

       3) Tipe Intermediet
           Tipe intermediet, umumnya mempunyai kepribadian
       diantara kedua tipe di atas. Desain busana yang cocok untuk
       oarang yang bertipe intermediet adalah model yang memakai
       garis vertikal, garis horizontal dan garis diagonal. Pemilihan
       warna busana untuk orang yang berkepribadian seperti ini
       sebaiknya disesuaikan dengan warna kulit. Apabila warna
       kulitnya cerah, pilihlah warna panas. Untuk orang yang tenang
       hindari warna yang kontras dan sebaiknya memilih warna-
       warna dingin. Hindari memakai tekstur yang mengkilat dan
       tekstur yang terlalu halus.

2. Faktor Lingkungan
    Dalam memilih busana, perlu dipertimbangkan keserasian dengan
lingkungan, baik lingkungan masyarakat tempat tinggal, maupun
lingkungan tempat bekerja. Faktor lingkungan ini sangat besar sekali
pengaruhnya dengan kehidupan kita sehari-hari, untuk itu kita
senantiasa berusaha agar selalu diterima oleh lingkungan, antara lain
dengan memakai busana yang serasi. Untuk menciptakan busana
yang serasi banyak faktor yang harus diperhatikan, tetapi keserasian
berbusana yang berkaitan dengan lingkungan adalah sebagai berikut
:
    a. Waktu
          Berbusana mengingat waktu berarti memperhitungkan
    pengaruh sinar mata hari. Keadaan pada waktu-waktu tertentu
    membawakan suasana yang berbeda-beda. Di pagi hari udara
    sejuk suasana tenang, di siang hari udara panas suasana sibuk,
    di malam hari udara dingin suasana tenang.
          Suasana inilah yang mungkin harus dijadikan dasar
    pertimbangan dalam pemilihan busana. Misalnya busana untuk
    siang hari, warna-warna yang panas atau menyolok haruslah
    dihindari, agar tidak mengganggu orang yang melihatnya.



                                                                   30
       Dengan kata lain tidak semua busana dapat dipakai untuk
setiap waktu dan semua kesempatan, karena kesempatan yang
berbeda menuntut pula jenis busana yang berlainan. Jadi setiap
individu tidak hanya dapat memiliki satu atau dua jenis busana
saja, tetapi harus disesuaikan dengan aktifitas masing-masing
mereka. Semakin banyak kegiatan seseorang, maka beraneka
ragam pulalah busana yang dibutuhkan, karena keadaan pada
waktu tertentu membawakan suasana yang berbeda-beda sesuai
dengan waktu dan kesempatan masing-masing, baik di rumah,
dikantor, disekolah, dilapangan olah raga, berpesta dan lain
sebagainya.

b. Kesempatan
       Berbusana menurut kesempatan berarti kita harus
menyesuaikan busana yang dipakai dengan tempat ke mana
busana tersebut akan kita bawa, karena setiap kesempatan
menuntut jenis busana yang berbeda, baik dari segidesain, bahan
maupun warna dari busana tersebut.
Berbusana menurut kesempatan berarti kita harus menyesuaikan
busana yang dipakai dengan tempat kemana busana tersebut
akan kita pakai, karena setiap kesempatan menuntut jenis busana
yang berbeda, baik dari segidesain, bahan, maupun warna dari
busana tersebut. Berikut ini dapat kita lihat pengelompokan
busana menurut kesempatan antara lain :

   1). Busana Sekolah
   Desain busana sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD),
   Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah
   Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), ditentukan oleh Departemen
   Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk pria
   terdiri dari celana dan blus dengan kerah kemeja, untuk wanita
   rok lipit searah untuk SD, rok dengan dua lipit hadap pada
   bagian muka, rok dengan satu lipit hadap pada tengah muka
   untuk SLTA. Warna merah tua untuk SD, warna biru untuk
   SLTP, dan warna abu-abu untuk SLTA. Ada kalanya model
   dan warna busana sekolah ditentukan sendiri oleh pihak
   sekolah masing-masing.

   2). Busana Kuliah
       Desain busana untuk mahasiswa/si adalah bebas. Namun
   kebanyakan dari mereka memilih rok dan blus atau kemeja
   dan celana. Hal ini disebabkan karena rok, blus dan kemeja,
   celana   dalam     pemakaiannya      dapat  diselang-selingi,
   maksudnya: dengan memiliki dua lembar rok atau celana
   pemakaiannya       dapat    divariasikan   dengan      tetap
   memperhatikan keserasiannya.


                                                              31
3). Busana Kerja
    Busana kerja adalah busana yang dipakai untuk
melakukan suatu pekerjaan dalam menjalani kehidupan
sehari-hari. Busana kerja banyak macamnya, sesuai dengan
jenis pekerjaan yang dilakukan. Jenis pekerjaan yang berbeda
menuntut pula perbedaan model, bahan dan warna yang
diperlukan. Untuk busana kerja dibengkel pilihlah desain yang
mempunyai banyak kantong, karena model yang begini dapat
menghemat waktu dan tenaga, sebab alat-alat yang
dibutuhkan dapat disimpan di dalam kantong tersebut yang
bila diperlukan dapat diambil dengan cepat.
    Busana untuk bekerja dikantor, sering dibuat seragam
dengan model klasik, yang biasanya terdiri dari rok dan blus
untuk wanita, celana dan kemeja untuk pria. Jika memilih
model sendiri, pilihlah desain yang sederhana, praktis, tetapi
tetap menarik serta memberikan kesan anggun dan
berwibawa. Hindarilah pakaian yang ketat, serta garis leher
yang rendah atau terbuka, karena desain yang seperti ini
kurang sopan dan mengganggu dalam beraktifitas. Untuk
memilih busana kerja ada beberapa hal yang harus di
perhatikan antara lain :
    a)    Modelnya sopan dan pantas untuk bekerja serta
          dapat menimbulkan kesan yang menyenangkan bagi
          sipemakai dan bagi orang yang melihatnya.
    b)    Praktis dan memberikan keluwesan dalam bergerak.
    c)    Bahan yang mengisap keringat.

4). Busana Pesta
    Busana pesta adalah busana yang dipakai untuk
menghadiri suatu pesta. Dalam memilih busana pesta
hendaklah dipertimbangkan kapan pesta itu diadakan, apakah
pestanya pagi, siang, sore ataupun malam, karena perbedaan
waktu juga mempengaruhi model, bahan dan warna yang
akan ditampilkan. Selain itu juga perlu diperhatikan jenis
pestanya, apakah pesta perkawinan, pesta dansa, pesta
perpisahan atau pesta lainnya. Hai ini juga menuntut kita untuk
memakai busana sesuai dengan jenis pesta tersebut. Misalnya
pesta adat, maka busana yang kita pakai adalah busana adat
yang telah ditentukan masyarakat setempat. Jika pestanya
bukan pesta adat, kita boleh bebas memilih busana yang
dipakai. Walaupun demikian ada beberapa hal yang harus
diperhatikan antara lain :
    a) Pilihlah desain yang menarik dan mewah supaya
       mencerminkan suasana pesta.
    b) Pilihlah bahan busana yang memberikan kesan mewah
       dan pantas untuk dipakai kepesta, misalnya : sutra, taf,


                                                            32
          beludru   dan    sejenisnya.   Tetapi  kita  harus
          menyesuaikan dengan jenis pestanya, apakah pesta
          ulang tahun, pesta perkawinan dan sebagainya.
          Disamping itu juga disesuaikan dengan tempat pesta
          dan waktu pestanya.

   5). Busana Olah Raga
       Busana olahraga adalah busana yang dipakai untuk
   melakukan olahraga. Desain busana olahraga disesuaikan
   dengan jenis olahraganya. Setiap cabang olahraga
   mempunyai jenis busana khusus dengan model yang berbeda
   pula. Untuk olahraga volly dan bola kaki biasanya terdiri dari
   blus kaus dan celana pendek dengan model tertentu, begitu
   juga untuk busana renang didisain dengan model yang
   melekat dibadan dan garis leher yang lebih terbuka. Busana
   renang biasanya dilengkapi dengan kimono yang berfungsi
   untuk menutupi tubuh jika berada di luar kolam renang. Begitu
   juga untuk olahraga sepak takrau, tenis meja dan lain
   sebagainya, masing-masing menuntut pula suatu bentuk
   busana yang khusus. Ada beberapa hal yang harus
   diperhatikan dalam memilih busana olahraga antara lain :
       a). Pilihlah bahan busana yang elastis
       b). Pilihlah bahan yang mengisap keringat
       c) Pilihlah model busana yang sesuai dengan jenis
           olahraga yang dilakukan.

   6). Busana Santai
       Busana santai adalah busana yang dipakai pada waktu
   santai atau rekreasi. Busana santai banyak jenisnya, hal ini
   disesuaikan dengan tempat dimana kita melakukan kegiatan
   santai atau rekreasi tersebut. Ada beberapa hal yang perlu
   diperhatikan dalam memilih busana santai diantaranya yaitu :
       a). Pilihlah desain yang praktis dan sesuaikan dengan
           tempat bersantai. Jika santai di rumah pilihlah model
           yang agak longgar, bila santai kepantai pilih model
           leher yang agak terbuka agar tidak panas, jika santai
           kegunung pilihlah model yang agak tertutup agar udara
           dingin dapat diatasi.
       b) Pilihlah bahan yang kuat dan mengisap keringat.

c. Perkembangan Mode
        Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
mode busana juga berkembang dengan pesat, walaupun kadang
kala mode tersebut tidak sesuai dengan tata cara berbusana yang
baik, namun mode tetap bergulir dari waktu ke waktu.



                                                              33
        Perkembangan mode sangat besar pengaruhnya pada
kepribadian seseorang, sehingga setiap mode yang muncul selalu
saja ada yang pro dan ada yang kontra, apalagi Indonesia yang
terdiri dari bermacam-macam suku yang masing-masingnya
mempunyai busana yang beraneka ragam.
        Bagi masyarakat yang terlalu kaku dan fanatik dengan tata
cara aturan berbusana tentu akan sulit mengikuti perkembangan
mode. Hal ini masih diannggab wajar, karena tanpa disadari mode
tersebut pada umumnya dipengaruhi oleh mode yang datang dari
manca negara yang mungkin akan besar pengaruhnya terhadap
kepribadian seseorang, namun semua ini terpulang kepada
pribadi kita masing-masing dalam memilih mode yang sedang
berkembang.




                                                              34
35
                               BAB II
                   PELAYANAN PRIMA
A. Melakukan Komunikasi Ditempat Kerja
  1. Pengertian Komunikasi
          Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari
  komunikator kepada komunikan dengan melalui suatu sarana atau
  lambang atau penjelasan melalui saluran mekanisme bertujuan untuk
  mendapatkan saling pengertian antara kedua belah pihak.
      Komunikasi menurut “Benny Kaluku, adalah proses penyampaian
  pengertian dan mengandung semua unsur prosedur yang dapat
  mempertemukan suatu pemikiran dengan pemikiran lain. Komunikasi
  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ‘ pengiriman dan
  penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan
  cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
  Komunikasi menurut Keith Davis, adalah proses jalur informasi dan
  pengertian dari seseorang keorang lain. Komunikasi menurut Dr.Phil.
  Astrid Susanto adalah pengoperan lambang-lambang yang
  mengandung arti. Pengertian Komunikasi yang dikemukakan oleh
  Communicative Skil (Air University USA) adalah sebagai suatu proses
  yang mempunyai tiga komponen, yaitu: 1). Komunikasi, yaitu seorang
  yang memindahkan arti. 2). Simbol untuk memindahkan arti.
  3). Penerima, yaitu seorang yang menerima simbol dan
  menterjemahkan artinya.
      Rumusan komunikasi menurut beberapa ahli di atas dapat
  disimpulkan, yaitu: a). Bahwa dalam komunikasi terjadi penyampaian
  pengertian dari seseorang kepada orang lain. b). Bahwa
  penyampaian pesan merupakan suatu proses untuk mencapai suatu
  tujuan. c). Dalam penyampaian pesan menggunakan lambang.
  d). Dalam berkomunikasi terjadi hubungan atau kontak.
      Dengan demikian komunikasi adalah “suatu proses yang
  mencakup penyampaian dan penjalinan yang cermat dari ide-ide
  dengan maksud untuk menimbulkan tindakan-tindakan yang akan
  mencapai tujuan secara efektif” atau tukar menukar informasi antara
  seseorang dengan orang lain, dengan tujuan untuk memperoleh
  saling pengertian.

  2. Dasar-dasar Komunikasi
       Kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung
  identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang disekitar
  kita, dan untuk mempengaruhi orang lain, untuk merasa, berfikir, atau
  berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun tujuan dasar kita
  berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan
  fisikologis kita. Komunikasi melibatkan dua orang atau lebih, bersikap
  sopan dan ramah dengan menggunakan bahasa yang saling


                                                                     35
dimengerti oleh komunikator dan komunikan dengan kondisi fisik
sehat akan menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi.
    Sukses tidaknya suatu pelayanan sangat tergantung dari tepat
tidaknya komunikasi antara customer dengan petugas customer.
Perlu diperhatikan juga agar kelihatan ramah dan sopan, perlu
diperhatikan hal-hal berikut : a). Dengan siapa kita berkomunikasi,
apakah dengan customer, atasan, orang yang lebih tua atau lawan
jenis; b). Volume suara dalam berkomunikasi perlu diperhatikan
sehingga tidak terlalu keras atau terlalu pelan; c). Sikap badan pada
waktu berbicara kepada seseorang maupun terhadap orang banyak
sebaiknya dengan melihat dagu lawan bicara dan hanya sekali-sekali
melihat matanya dengan tersenyum ramah; d). Mimik wajah perlu
diperhatikan, jangan terlalu serius/tegang dan jangan terlalu santai;
e). Memusatkan perhatian/pikiran pada pokok pembicaraan;
f). Menghindari gerakan-gerakan yang merishkan, misalnya
memegang-megang rambut, menggoyang-goyangkan kaki, melipat
kedua tangan kedepan, memasukkan kedua tangan kedalam saku,
mengunyah-ngunyah sesuatu, atau sikap lain yang kurang sopan;
g). Pada waktu berbicara didepan orang banyak , usahakan sikap
badan tidak terlalu santai atau tegang dan jangan gugup atau
gemetar.

3. Melakukan Komunikasi Ditempat Kerja
    Komunikasi dengan pelanggan dan rekan sekerja dilakukan
dengan cara yang ramah, profesional dan terbuka. Bahasa yang
digunakan adalah bahasa yang dimengerti oleh lingkungan tempat
bekerja. Mendengar dan bertanya dengan aktif digunakan untuk
memastikan adanya komunikasi dua arah yang efektif. Berkomunikasi
secara efektif dengan tamu dan kolega merupakan keterampilan yang
seharusnya dimiliki karena hal ini mampu mengatasi keluhan/konflik.
    Komunikasi dalam dunia usaha dapat dilakukan dimana saja, baik
diperusahaan maupun diluar perusahaan (ditempat kerja). Dimanapun
kita bekerja/ ditempat kerja komunikasi perlu dibina dengan baik
antara sesama, misalnya; antara atasan dengan bawahan atau
antara produsen dan konsumen. Komunikasi dalam lingkungan dunia
usaha yaitu proses komunikasi yang dilakukan antara pembeli dan
penjual atau antara produsen (pengusaha)            dan konsumen
(masyarakat).
    Bagi pihak produsen, proses komunikasi harus sudah dilakukan
pada saat perencanaan produksi, yang didahului oleh riset pasar
untuk mengetahui kebutuhan konsumen kemudian melakukan
produksi produk, sampai mengetahui tanggapan konsumen terhadap
produk perusahaan yang telah dipakainya. Apabila telah tercipta
produk yang tepat sasaran, tepat waktu dan sesuai dengan
kebutuhan konsumen, maka komunikasi tersebut sudah dianggap
berhasil.


                                                                  36
    Komunikasi ini dimaksud agar dapat menyalurkan keinginan
konsumen sesuai dengan keinginannya terhadap produk yang
dihasilkan oleh perusahaan. Apabila karyawan yakin akan produk
yang dihasilkan oleh perusahaan dan mengenal secara lengkap
produk tersebut, sehingga karyawan lebih mudah mengkomunkasikan
produk yang dihasilkan itu kepada orang lain diluar perusahaan.
    Selain mengenal secara lengkap produk yang dihasilkan
perusahaan bagi seorang pramuniaga, tenaga pemasaran, perantara
jual beli, tenaga pendemonstrasi, tenaga penyuluh,              perlu
ditumbuhkan sikap-sikap sebagai berikut.

   1) Rasa Percaya Diri
        Sikap rasa percaya diri bagi seseorang adalah merupakan
   modal besar yang harus dimiliki untuk dapat melakukan suatu
   tugas dengan baik. Rasa percaya diri tumbuh dan berkembang
   dengan baik pada diri seseorang, apabila orang tersebut yakin
   apa yang dilaksanakannya. Kekuatan atau rasa percaya diri
   datang dari tindakan-tindakan kita sendiri, dan bukan dari tindakan
   orang lain. Meskipun resiko kegagalan selalu ada dalam setiap
   tindakan untuk memutuskan sesuatu, harus diterima sebagai
   tanggung jawab atau tindakan sendiri. Kegagalan harus diterima
   sebagai pengalaman belajar.
        Belajar dari pengalaman lampau akan membantu kita
   menyalurkan kegiatan-kegiatan untuk mencapai hasil yang lebih
   positif, dan keberhasilan merupakan buah dari usaha-usaha yang
   tidak mengenal lelah. Untuk lebih mengembangkan rasa percaya
   diri, kita harus menerima diri kita sebagaimana adanya untuk lebih
   mengembangkan kekuatan-kekuatan yang ada pada diri kita dan
   mencoba mengurangi kelemahan-kelemahan.
        Berorientasi kepada tujuan akan mendorong munculnya sifat-
   sifat yang baik/percaya diri yang tinggi pada diri kita untuk
   melakukan atau mengerjakan hal-hal yang paling penting dan
   baik. Kebanyakan orang tidak menyadari pada saat kapan dan
   menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dikerjakan.
   Berusaha mencapai satu tujuan dalam waktu yang terlampau
   lama akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan pribadi
   seseorang.
        Anda harus bersedia belajar dari pengalaman dan selalu
   berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan dari waktu ke
   waktu. Anda haruslah selalu sadar akan cara-cara baru untuk
   meningkatkan produktivitas kerja anda sendiri. Salah satu kunci
   utama bagi keberhasilan adalah keterlibatan anda dalam
   pertumbuhan pribadi secara terus menurus.




                                                                   37
2) Berbicara Efektif
    Seseorang yang pekerjaannya selalu berkaitan dengan dunia
bisnis, haruslah mampu menyampaikan pikirannya kepada orang
lain secara efektif dan benar, agar apa yang disampaikan itu
dapat diterima oleh orang lain dengan baik serta mencapai
sasaran yang diinginkan. Apalagi bagi mereka yang memang
tugasnya selalu berhadapan dengan pelanggan. Bagaimana
seseorang dapat berbicara efektif, ia harus memahami prinsip-
prinsip dan teknik berbicara.
    Sebelum memulai pembicaraan, hendaklah harus mempunyai
persiapan yaitu dengan cara mengemas pesan/mengemas apa
yang akan dibicarakan. Persiapan ini akan mempermudah
penyampaian pesan. Persiapan dimaksud sangat berguna, untuk
menghindari penyampaian pesan yang tidak sesuai/sempurna,
serta dapat mempertinggi keyakinan pada diri pembicara, karena
kadang-kadang diantara para komunikan/pendengar biasanya ada
juga yang menguasai materi yang disampaikan.

3) Cara Berfikir Positif
    Cara berfikir positif adalah menanggapi segala kejadian
dengan menyadari bahwa dalam kehidupan ini terkandung segi
baik dan segi buruknya. Penuh perhatian pada saat
berkomunikasi dengan tamu dan kolega adalah sikap yang terpuji.
Akan tetapi adalah lebih baik apabila kita menaruh perhatian
terhadap segi-segi yang positif dari cara berfikir, sehingga konflik
yang ada maupun yang potensial diidentifikasi dan dicarikan
penyelesaiannya dengan bantuan rekan lain bila diperlukan.
    Kebanyakan orang membiarkan lingkungan mengendalikan
cara berfikir mereka, sedangkan bagi seseorang yang menggeluti
dunia usaha lebih baik menggunakan pikirannya untuk
mengendalikan keadaan. Sikap berfikir positif memudahkan
seseorang untuk memfokuskan kegiatan-kegiatan atau pekerjaan-
pekerjannya untuk mencapai hasil yang ingin dicapai. Kita harus
selalu berfikir positif terhadap semua peristiwa dan mencari
hikmah dari setiap pengalaman. Sikap berfikir positif memang
tidak mudah untuk dikembangkan, karena memerlukan waktu dan
kerja keras.
    a) Ada beberapa faktor yang dapat digunakan untuk
        mengembangkan sikap berfikir positif diantaranya:
        Pusatkanlah perhatian sedemikian rupa dan gunakan
        pikiran kita secara produktif
    b) Pilih secara positif yang akan dicapai dalam suatu
        pekerjaan yang sedang dilakoni
    c) Jauhilah pikiran-pikiran atau ide-ide yang negatif




                                                                 38
     d)  Kita harus sadar dalam menggunakan pikiran-pikiran kita
        sendiri, agar tidak mudah dikendalikan oleh pikiran orang
        lain
     e) Berusahalah selalu untuk mencari peluang-peluang yang
        mungkin dapat diraih untuk meningkatkan karir, baik dalam
        kehidupan pribadi, kehidupan kerja, dan dalam kehidupan
        bermasyarakat
     f) Jika ide yang kita kemukakan tidak menghasilkan sesuatu
        yang lebih baik, berusahalah untuk meninggalkan ide
        tersebut
     g) Jangan bebani fikiran anda dengan sesuatu yang merusak
        mental, akan lebih baik anda pusatkan pikiran pada suatu
        pekerjaan yang sedang berlangsung.

4)  Mengembangkan Potensi Diri
    Manusia sebagai pribadi mempunyai potensi yang bisa
dikembangkan agar menjadi pribadi-pribadi yang menyenangkan
bagi orang lain/pelanggan, oleh karena itu diperlukan:

      a) Mengenal diri sendiri.
         Suatu analisis yang benar terhadap diri sendiri akan
         dapat membawa keuntungan dan faedah dalam hal :
         (1). Tidak menjadi manusia yang egois
         (2). Meningkatkan kemampuan dan inisiatif dalam
              berbagai hal
         (3). Memiliki hubungan secara pribadi denga orang lain
         (4). Mengembangkan pribadi kearah yang lebih baik
         (5). Membentuk pribadi yang loyal dan saling
              membutuhkan.

      b) Mengetahui Potensi Pribadi.
          Sebagai manusia kita mempunyai potensi, dengan
      potensi ini orang selalu dinamis dan bersemangat, yaitu
      mempunyai motivasi dan dorongan yang kuat untuk bekerja
      keras serta melakukan tugas yang berkesinambungan.
      Potensi manusia akan luntur bila tidak diaktifkan dan
      digerakkan. Orang yang mengenal dirinya dan mengetahui
      potensi dirinya adalah orang-orang yang memiliki :
          (1). Jiwa pengabdian, orang seperti ini tidak pernah
                menolak tugas yang dibebankan kepadanya.
                Sebagian besar waktu dan pikirannya dicurahkan
                untuk meningkatkan usaha dibidang pekerjaannya,
                serta jarang sekali mengenal lelah
          (2). Andal dalam kejujuran, kejujuran dapat diukur
                melalui tindakan, perbuatan dan tingkah laku, tidak



                                                                39
        dinilai dari ucapan. Ucapan dengan perbuatan
        harus sesuai
(3).   Nalar kesadaran yang baik, orang memiliki kesadara
        yang tinggi adalah orang yang memiliki
        pangdangan dan penilaian yang baik terhadap
        kekurangan dan kelemhnnya, sehingga dia
        mempunyai       kepercayaan     diri   dan    selalu
        melaksanakan      tugas-tugasnya     serta    dapat
        mengendalikan diri
(4).    Gemar menghargai orang lain, setiap gerak
        seseorang harus mempunyai tujuan.
        Tujuan yang serasi menimbulkan motivasi
        kegairahan dalam melaksanakan tugas. Dalam
        mencapai setiap tujuan mka setiap orang wajib
        memiliki rasa menghargai yaitu saling menopang
        dan saling menghargai agar segala gerak langkah
        penuh gairah dan menyenangkan
(5)    Niat untuk memupuk rasa percaya diri, yaitu orang
        yang tidak terpengaruh oleh segala gosip tau
        hasutan/fitnahan orang lain, orang ini akan mudah
        melihat dan mengenal pikiran dan ide-ide orang
        lain yang berharga
(6).     Refleksi kesabaran yang tinggi; kesabaran
        merupakan sumber keberhasilan dan dengan
        kesabaran      seseorang     dapat      memberikan
        kesempatan kepada orang lain untuk memberikan
        pertimbangan atas masalah yang dihadapi dan
        memberikan kesempatan pada diri sendiri
        mengolah masalah yang dihadapi
(7).   Antusias dengan kepribadian yang utuh, orang yang
        dapat mengendalikan pribadi dan energinya yang
        mantap dan berhasil bagi dirinya, tidak peduli
        pekerjaan apa yang dilakukan dalam kehidupan ini
(8).    Gigih dalam prinsip, kepribadian menjadi dewasa
        adalah perasaan hati yang kuat dalam suatu prinsip
(9).    Utama dalam disiplin, disiplin mengajarkan setiap
        individu untuk tunduk dan bersedia mengikuti
        aturan-aturan tertentu dan menjauhi segala
        larangan yang ada. Disiplin diri sendiri hanya akan
        tumbuh dalam suatu suasana dimana antara
        individu akan terjalin sikap persahabatan yang
        berakar dengan dasar saling hormat menghormati
        dan saling percaya mempercayai.




                                                         40
5) Karakteristik Budaya dan Sosial
       Manusia merupakan makhluk yang terus menerus memiliki
   keinginan-keinginan, segera apabila kebutuhan tertentu
   dipenuhi maka kebutuhan lain akan muncul. Proses tersebut
   tidak berhenti, ia berkelanjutan dari kelahiran hingga kematian.
   Manusia secara kontinyu melakukan usaha-usaha untuk
   memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Hal inilah yang
   menyebabkan         manusia      didalam      hidupnya    mesti
   bermasyarakat.
       Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup
   sendiri, tetapi selalu membutuhkan orang lain, baik di rumah
   atau di tempat kerja, manusia dituntut untuk bersosialisai,
   berhubungan dengan orang lain, dan saling melayani dan
   dilayani orang lain. Demikian pula hubungan antara pembeli
   dengan penjual adalah sama seperti hubungan antara sesama
   manusia dalam kehidupan sehari-hari.
       Karakteristik budaya dan sosial dalam kehidupan
   bermasyarakat, masing-masingnya memiliki ciri-ciri masing-
   masing. Budaya adalah seperangkat keyakinan sikap dan
   cara-cara melakukan sesuatu yang berlaku dalam sekelompok
   orang yang cukup homogen. Karena itu budaya penentu
   keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar.
   Keinginan dan perilaku seseorang diperoleh melalui
   pengalaman yang dipelajari dari masyarakat dimana dia
   dibesarkan. Orang Indonesia akan memilih nasi untuk
   memenuhi keinginannya melepaskan rasa lapar, orang
   Amerika akan memilih hamburger untuk melepaskan rasa
   laparnya. Akan tetapi orang Mentawai (salah satu pulau di
   Sumatra Barat), menginginkan Sagu untuk melepaskan rasa
   laparnya. Dengan demikian kita melihat keragaman budaya,
   berarti dalam suatu budaya terdapat sub-sub budaya.
       Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa,
   tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam
   kehidupan bermasyarakat, dijadikan miliknya dengan cara
   belajar. Ciri khas kebudayaan yang biasanya dimiliki oleh
   sekelompok manusia, suku dan sebagainya yang menempati
   suatu daerah geografis turun-temurun, biasanya tampak pada,
   cara makan, berpakaian, rumah, bahasa, bentuk fisik, warna
   kulit dan lain sebagainya.
       Budaya mempengaruhi cara orang berkomunikasi,
   bersikap/berperilaku serta mengambil tindakan. Bahasa
   sebagai alat untuk berkomunikasi adalah bahasa Inggris,
   bagaimana dengan bahasa daerah. Agama dan kepercayaan
   lainnya, merupakan dasar bagaimana kita bersikap, apa yang
   dilakukan dari cara berpakaian baik secara pergaulan maupun



                                                                41
         ditempat kerja. Sikap ditempat kerja, sikap terhadap atasan
         disesuaikan berdasarkan budaya yang dianut.
             Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif
         homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat yang
         tersusun dalam sebuah urutan sedang dan para anggota
         dalam setiap jenjang itu memelihara tingkah laku yang sama
         dengan ciri-ciri sebagai berikut :
         a) Orang yang berada dalam setiap kelas sosial cenderung
              berperilaku sama
         b) Seseorang dikatakan mempunyai pekerjaan rendah,
              hingga sesuai dengan kelas sosialnya
         c) Kelas sosial seseorang dinyatakan dengan beberapa
              variabel antara lain : jabatan, pendapatan, kekayaan,
              pendidikan, dan orientasi terhadap nilai
         d) Seseorang mampu berpindah dari satu kelas sosial yang
              satu ke yang lain.
         e) Kelas sosial menunjukkan perbedaan pilihan produk dan
              merek dalam suatu bidang tertentu seperti: pakaian,
              perabot rumah tangga, aktivitas senggang dan
              kendaraan.

B. Bantuan untuk Pelanggan Internal dan External
  1. Pengertian Pelayanan Prima
      Layanan prima adalah upaya maksimal yang mampu diberikan
  oleh petugas pelayanan dari suatu perusahaan industri jasa
  pelayanan untuk memenuhi harapan dan kebutuhn pelanggan
  sehingga tercapai suatu kepuasan. Hakikat pelayanan prima itu
  sendiri adalah kemampuan maksimum seseorang melalui sentuhan
  kemanusiaannya dalam melayani atau berhubungan dengan orang
  lain. Persoalannya adalah bagaimana dapat menyenangkan,
  memberikan pelayanan dan memberikan kepuasan kepada
  pelanggan sesuai dengan harapan-harapannya.
      Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan
  mempunyai tujuan untuk memenangkan persaingan. Pada jaman
  globalisasi seperti sekarang, memamerkan fasilitas yang disediakan
  oleh perusahaan tidak menjamin perusahaan tersebut memenangkan
  persaingan dan menjamin bahwa pelanggan akan memilihnya.
  Sepanjang ada dana untuk menyediakan fasilitas fisik, suatu
  perusahaan mampu bersaing karena benda-benda fasilitas bisa
  disediakan dan diadakan, misalnya perusahaan penerbangan bisa
  menyediakan pesawat mutakhir untuk para pelanggan. Tetapi benda-
  benda mati tersebut tak berarti apa-apa jika sentuhan manusia tidak
  dapat menghidupkan suasana kemewahan yang disajikan.
      Kepuasan pelanggan merupakan tujuan utama pelayanan prima.
  Oleh karena itu, sebagai aparatur pelayan tidak mempunyai
  sedikitpun alasan untuk tidak berupaya memuaskan pelanggannya.


                                                                  42
Kepeasan pelanggan dapat dicapai, apabila aparatur pelayan
mengetahui siapa yang menjadi pelanggannya. Dengan mengetahui
siapa pelanggan, berarti pelayan lebih mudah memahami keinginan
pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat tercapai apabila kebutuhan,
keinginan, dan harapan pelanggan terpenuhi.
    Hal-hal yang terkait dengan pelayanan prima adalah sebagai
berikut : a) Mampu melakukan komunikasi dengan menerapkan
prinsip-prinsip dasar komunikasi : bahwa komunikasi merupakan
kegiatan dasar manusia dan cara memahami komunikasi dipandang
sebagai suatu proses berkomunikasi, yang meliputi attending
(kehadiran orang yang diajak berkomunikasi), listening (kemampuan
mendengarkan dan menganalisis dengan cepat apa yang dibicarakan
lawan bicara), observing ( mampu meneliti pembicaraan), clarifying
(mampu mengklarifikasikan komunikasi), dan responding (mampu
memberikan tanggapan terhadap komunikasi); b) Mampu
berkomunikasi dalam konsep verbal maupun nonverbal; c) Mampu
bekerja dalam pelayanan secara individu maupun dalam kelompok;
d). Mampu berkomunikasi dalam konsep A3, yaitu attitude (sikap
dalam berkomunikasi), attention (mampu memberikan perhatian pada
saat berkomunikasi), dan action (melakukan tindakan dalam
komunikasi).

   a. Jenis-jenis Pelayanan
      1) Pelayanan prima Bangsa Indonesia
          Bangsa Indonesia akan keragaman dan kehangatan yang
      tulus dalam bernegosiasi, selain memiliki keuletan,
      kepribadian, dan kesabaran yang tinggi dalam berusaha. Ini
      merupakan ketangguhan bangsa Indonesia yang perlu
      ditumbuh kembangkan secara sistematis, profesional, dan
      berkesinambungan dalam praktek bisnis. Semua ini dapat
      disinergikan dalam mutiara ‘Pelayanan Prima’ untuk menjawab
      tantangan globalisasi ekonomi.
          Pada hakekatnya pelanggan itu tidak membeli produk, tapi
      mereka membeli pelayanan. Ini merupakan falsafah bisnis
      dalam upaya memberikan pelayanan yang prima. Pelayanan
      disini adalah pelayanan dalam segala bentuk kreasi dan
      manifestasinya. Untuk itu, mari kita belajar lebih banyak
      tentang para pelanggan kita agar kita dapat memberi
      pelayanan kepada mereka secara lebih baik di masa
      mendatang.
          Dalam membantu pelanggan untuk mendapatkan
      pelayanan prima, sipemberi pelayanan harus dapat memenuhi
      harpn dan keinginan customer yang satu dan yang linnya
      berbeda. Untuk dpat memberikan pelayanan yang prima anda
      perlu mengetahui keinginan-keinginan mereka, pada sat
      berhubungan dengan anda.


                                                               43
    Keinginan dan kebutuhan pelanggan secara rinci sebagai
berikut :

   a) Senyum yang hangat
       Setiap orang, kapan dan dimana dia berada, begitu
   melihat seseorang yang pertama dilihatnya adalah wajah.
   Oleh sebab itu berhati-hatilah degan ekspresi wajah anda.
   Untuk mendukung penampilan latihlah diri sendiri agar
   terbiasa menampilkan ekspresi wajah yang mampu
   menumbuhkan kesan menyenangkan. Suatu senyum
   dapat merupakan alat yang ampuh untuk meraih simpati
   dari pelanggan, disamping menciptakan suasana
   keakraban dapat juga sebagai alat promosi yang efektif.
   Gerak bibir saat tersenyum harus benar-benar tulus, tidak
   dibuat-buat. Latihlah tersenyum didepan kaca, agar anda
   dapat melihat senyum yang termanis, hindari senyum yang
   menampakkan gigi karena ini tidak baik.

   b) Sikap Bersahabat.
           Menciptakan hubungan baik dengan pelanggan
      dengan cara:
      (1). Greting, selalu memberi salam sebelum memulai
            pembicaraan.
      (2). Wel Gome, selalu mengucapkan selamat datang
            kepada pelanggan.
      (3). Help, selalu menawarkan bantuan kepada
            pelanggan, karena dengan demikian pelanggan
            merasa dihargai.
      (4). Bersikap ramah dan sopan dalam berbicara.
      (5). Jangan memotong pembicaraan pelanggan.
      (6). Selalu mengingat dan menyebut nama pelanggan
            pada saat berbicara.
      (7).    Memberikan     pelayanan   terbaik   dengan
            menunjukkan      kesungguhan    anda     dalam
            membantu mereka.
      (8). Selalu menyempatkan diri untuk mengantar
            pelanggn sampai kepintu.

   c) Pelayanan yang cepat dan memuaskan.
          Memberikan pelyanan kepada pelanggan perlu
      menerapkan cara yang tepat dan cepat sehingga
      pelanggan merasa puas.
      (1). Bersikap dalam kadaan siap menerima pelanggan,
           muka ceria, tempat kerja yang rapi dan bersih,
           seperti peralatan dan bahan siap untuk dipakai.



                                                         44
          (2). Sapalah pelanggan dan beri salam         sesuai
               waktunya.

      d) Informasi yang tepat, jelas dan akurat.
         (1). Pada saat memberi informasi, hindarilah
              pertanyaan yang terlalu banyak. Beri kesempatan
              agar pelanggan dapat menyatakan keinginannya
              dengan       bebas     dan    jangan    memotong
              pembicaraan        pelanggan,    sehingga   anda
              mempunyai kesempatan mengopservasi apa
              yang diinginkan pelanggan.
         (2). Bila anda kurang menguasai suatu masalah yang
              dihadapi, sebaiknya serahkan pada atasan atau
              rekan lain yang lebih menguasai, agar pelanggan
              yakin dan tidak kehilangan kepercayaan.
         (3). Hindari pilih kasih dalam memberikan pelayanan.
         (4). Berikan saran-saran atau petunjuk tentang
              keputusan dalam memilih jasa pelayanan yang
              diinginkan.
         (5).  Berikan informasi yang akurat tentang fasilitas
              dan produk yang ada.

   2) Budaya Layanan Prima
       Budaya layanan prima adalah sebuah budaya yang kuat
   yang mewarnai sifat hubungan antara suatu industri jasa
   pelayanan dan pelanggan dan dapat menjadi sarana yang
   sangat baik untuk memperoleh dan memenangkan perhatian
   pelanggan pengguna industri jasa pelayanan tersebut. Budaya
   layanan prima ini dibentuk oleh sikap karyawan dan
   manajemen perusahaan industri jasa pelayanan. Budaya
   layanan prima mengutamakan kepuasan pelanggan.

   3) Sikap Layanan Prima
       Sikap layanan prima berarti pengabdian yang tulus
   terhadap bidang kerja dan yang paling utama adalah
   kebanggaan atas pekerjaan. Sikap layanan prima adalah kita
   tetap menjaga martabat dan nama baik perusahaan tempat
   kita bekerja.

2. Karakter Pelanggan
    Layanan prima sangat memperhatikan individu sebagai pribadi
yang unik dan menarik. Setiap pelanggan memiliki sifat yang
dapat membuat para petugas bahagia atau kecewa. Sentuhan
pribadi mengarahkan para petugas pelayanan untuk berfikir
bahwa memperlakukan orang lain sebagai mana kita
memperlakukan diri kita sendiri perlu selalu dipraktekkan.


                                                            45
    Yang diutamakan dalam layanan prima bukanlah slogan-
slogan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan,
melainkan bentuk nyata pelayanan yang sebelumnya sudah
diberikan dalam pelatihan-pelatihan dan dapat diterapkan pada
saat praktek di lapangan, ketika berhubungan langsung dengan
pelanggan. Karena layanan prima merupakan budaya, identitas,
sarana kompetisi, pelanggan merasa penting, rekan sekerjanya
merasa nyaman bersama kita, dan kita dapat melayani pelanggan
dengan cepat, tepat dan ramah, mengutamakan kepuasan
pelanggan, menepati janji, bahasa yang baik dalam bertelepon,
menunjukkan etik dan sopan santun.
    Bagi pengusaha jasa pelayanan, mengenal karakter
pelanggan adalah penting, karena dengan mengenal karakternya,
kita akan lebih mengenal pula        tipe-tipe, sifat, ciri-ciri dan
kebiasaannya. Dengan demikian, diharapkan perusahaan akan
lebih mudah memasarkan produk barang dan jasa yang
dihasilkan. Secara garis besar ada beberapa tipe pelanggan yang
sering dianut oleh para penyedia jasa ;

   a. Pelanggan Pria
      1). Tidak bertele-tele dalam mencari barang yang
          diinginkan
      2). Sering tertipu karena kurang sabar dalam memilih
          barang yang diinginkan
      3). Mudah dipengaruhi bujukan petugas pelayanan (pada
          bujukan tertentu)
      4). Mudah terpengaruhi oleh penjelasan dan argumentasi
          yang objektif.
      5). Merasa kurang enak tanpa membeli jika memasuki
          toko.

       Cara terbaik memperlakukan pelanggan pria adalah :
   (a) Segera membujuknya atau mempengaruhinya, bahwa
   barang yang diminati adalah tepat sesuai dengan selera;
   (b) Petugas jangan banyak bertanya, layani saja apa yang
   diinginkan; 3) Jawab dan jelaskan semua pertanyaannya,
   jangan bertele-tele, langsung pada inti permasalahan.

   b. Pelanggan Wanita
      1). Sangat bertele-tele memilih barang.
      2). Lebih tertarik pada mode yang lagi trendy.
      3). Mengutamakan status sosial.
      4). Tidak mudah terpengaruh penjelasan/bujukan petugas
          pelayanan.
      5). Dalam memilih barang, biasanya lebih tertarik pada
          motif, bentuk atau warna, bukan pada manfaat barang


                                                                 46
       tersebut, karena wanita cenderung menggunakan
       perasaan.
   6). Lebih menyukai sesuatu yang bersifat modis terutama
       dalam memilih produk pakaian, tas, sepatu, dan
       asesoris sosial dirinya.
   7). Mudah meminta pandangan dan pendapat orang lain.
   8). Menyukai hal-hal yang bersifat romantis.
   9). Kurang menyukai hal-hal yang bersifat teknik.

        Cara terbaik menghadapi pelanggan wanita adalah;
   (a) Sediakan waktu yang cukup luang/lama, agar dia bisa
   memilih barang yang diinginkannya; (b) Petugas
   pelayanan harus lebih sabar menghadapi pelanggan
   wanita, karena wanita lebih cerewet dalam menentukan
   pilihan; (c) Berikanlah pelayanan yang lebih khusus. Misal:
   (1) diskon untuk produk tetentu. (2) obral untuk beberapa
   produk bermerek yang modelnya sudah agak telat.

c. Pelanggan Remaja
   1) Mudah terpengaruh bujukan petugas.
   2) Tidak berfikir hemat
   3) Mudah terpengaruh tayangan iklan yang menarik.
   4) Seleranya sangat modis dalam memilih barang.
   5) Agak boros dalam berbelanja.

d. Pelanggan Usia Lanjut
   1) Tidak bisa mengikuti perkembangan zaman
   2) Sangat sulit terpengaruh bujuk rayu petugas
   3) Sudah mantap dalam memilih barang yang diinginkan
   4) Acapkali menanyakan barang-barang yang sudah
      ketinggalan jaman
   5) Biasanya bersikap ramah dan ngomong pada petugas
      yang masih muda-muda
   6) Penjual sering dianggap seperti anak kecil yang tidak
      tau apa-apa.
   7) Cenderung ingin berlama-lama.

       Cara terbaik memperlakukan pelanggan usia lanjut
   adalah; (a) Sabar dan penuh pengertian dalam
   melayaninya; (b) Dengarkanlah dengan baik nasehat-
   nasehat mereka tanpa membantah atau berdiskusi;
   (c) Apabila kesulitan dalam melayaninya, sebaiknya
   segera alihkan ke petugas yang lebih tua atau lebih
   dewasa.




                                                           47
  e. Pelanggan anak-anak
     1) Keinginannya tidak konsisten, tetapi suka berubah-
        rubah
     2) Sulit untuk diam, karena masih suka bermain-main
     3) Mudah dipengaruhi dengan bujuk rayu

           Cara terbaik untuk memperlakukan pelanggan anak-
       anak adalah; (a) Tidak memperlakukan mereka sebagai
       anak kecil yang tidak berdaya, karena mereka juga butuh
       penghargaan dan perlakuan layaknya orang dewasa;
       (b) Petugas harus sabar dalam melayani pelanggan anak-
       anak, karena keinginan anak terkadang suka berobah;
       (c) Petugas perlu memberikan pujian, misalnya dengan
       kata-kata “wah pasti adik cantik deh kalau pakai baju ini”.

  f.   Pelanggan pendiam
       1) Sulit menyatakan pendapat dengan jelas.
       2) Pemalu
       3) Segan berbicaa karena mungkin memikirkan untung
          ruginya.
       4) Tidak bisa memusatkan perhatian pada satu barang.

3. Motif Dan Karakter Pelanggan
  a) Motif membeli
     Motif dapat diartikan sebagai suatu daya pendorong yang
  menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi
  motif pembeli adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang
  untuk membeli suatu produk atau jasa.
  Untuk megetahui motivasi seseorang membeli suatu prodak
  sangatlah sulit, karena setiap orang memiliki motif yang tidak
  sama, komplek dan bisa berubah setip waktu.
  Secara garis besar motif pembeli dapat digolongkan menjadi
  dua yaitu:
     1). Motif emosional, meliputi rasa lapar, rasa haus,
          keinginan-keinginan,
          kesenangan, kemauan dan jaminan akan cinta, status,
          prestise, kebanggaan dansebagainya.
     2). Motif rasional, meliputi motif berdasarkan harga dan
          pertimbangan, kegunaannya, kekuatannya, efisiensi
          dan sebagainya.

          Berdasarkan motif diatas maka pembeli dapat
          dikelompokkan :
          (a). Kelompok profesi : dokter, ahli komputer, ahli
               hukum, bisnis dan sebagainya.



                                                               48
       (b). Kelompok industri : Perusahaan, industri dan
            sebagainya.
       (c). Perorangan seperti kelas sosial, golongan kelas
            atas yaitu pengusaha kaya, pejabat tinggi.
            Golongan menengah, karyawan dan pengusaha
            menengah. Golongan bawah/rendah seperti,
            buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak dan
            pedagang kecil. Maksud pengenalan motif-motif
            mengapa seseorang membeli sesuatu adalah
            agar penjual mempersiapkan diri dengan
            pengetahuan-pengetahuan yang dijualnya dan
            motif calon pembeli, sehingga pembeli tertarik
            terhadap promosi yang dilakukan.

b) Karakter pelanggan
    Tipe dan karakter pelanggan sangat menentukan dalam
memberikan pelayanan, karena mengetahui tipe dan karakter
pelanggan, maka seseorang ataupemberi pelayanan dapat
memberikan pelayanan sesuai dengan orang yang
dihadapinya.

Karakter manusia dipengaruhi oleh:
   (1). Wilayah geografis, orang yang berasal dari daerah
         geografis yang berbeda akan mempunyai karakter
         yang berbeda pula, misalnya orang yang tinggal
         dipinggir pantai dengan orang yang tinggal di
         pergunungan.
   (2). Kebudayaan, yang merupakan hasil karya manusia
         akan mempengaruhi karakter manusia itu sendiri,
         misalnya cara saaman orang indonesia beda dengan
         orang Amerika.
   (3). Bangsa/suku bangsa, bangsa negro akan berbeda
         sifat dan perilakunya dengan bangsa kulit putih atau
         bewarna lainnya.
   (4). Bahasa, Orang Inggris berbeda sifat dan karakternya
         dengan orng Spanyol dan Jepang. Inggris yang
         mempunyai kerajaan, mempergunakan bahasa yang
         sopan, sedangkan orang Amerika mempunyai
         bahasa yang agak bebs, demikian pula sikapnya
         dalam menghadapi orang lain.
   (5). Adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dan strata sosial
         yang merupakan rekayasa manusia itu sendiri tentu
         mempengaruhi sifat dan perilakunya.

  Demikian bahwaantara manusia yang satu dengan
manusia yang lainnya akan berbeda. Dengan memahami sifat


                                                          49
dan karakter berbagai macam tipe manusia, maka anda akan
dapat berkomunikasi dan bersikap yang sesuai dengan siapa
dan dimana dimana asal pelanggan, sehingga kesalah
pahaman dapat dihindarkan.
    Disamping itu situasinya dan kondisi tertentu amat
mempengaruhi karakter pelanggan, misalnya dalam situasi
yang panas dan kondisi perut lapar, seseorang yang
sebenarnya sabar, bisa menjadi emosional/marah dalam
situasi dilanda kesedihan, seseorang yang tadinya periang,
bisa berubah jadi murung.

c) Tipe-tipe Karakter Pelanggan
   1) Pemarah dan tidak sopan
       Customer bisa menjadi marah dan kurang sopan,
       hanya disebabkan pelayanan yang tidak memuaskan,
       ia mungkin akan menjadi emosi akibat dari
       penanganan yang kurang baik. Cara yang paling tepat
       menghadapinya adalah: Jangan biarkan cusumer
       tersebut berbicara terus, dan jangan menanganinya
       sendiri.
   2). Customer yang ragu-ragu tersebut
       Sebagian customer yng datang masih ragu, sehingga
        tidak     mempunyai     keputusn.    Mereka    akan
        mendenganrkan anda, menanyakan info tambahan,
        tidak dapat memusatkan perhatian pada apa yang
        dikehendakiya. Dalam hal ini anda perlu membuat
        keputusan buat mereka, anda harus memotifasi
        customer untuk dapat mengambil keputusan,
        sehingga mereka merasa puas sebab anda dapat
        berinisiatif.
   3). Customer yang mencurigai
         Customer semacam ini biasanya tiak mempercayai
         informasi    anda,    mereka     akan    mengecek
         kebenarannya yang anda berikan. Terkadang mereka
         menjebak.     Customer    seperti    ini   menuntut
         keberhasilan untuk mengatasinya secara profesional.
         “apabila anda tidak bisa menjawab, jangan pernah
         menerka, cara terbaik untuk menangani orang-orang
         tersebut adalah membuat periapan berhati-hati dan
         tenang dalam kata-kata dan tindakan anda”.
   4). Customer yang pendiam
          Mereka tidak dapat suatu pembicaraan, hanya
          menginginkan informasi.
   5). Customer yang suka mencela




                                                         50
             Ada customer yang dala membeli suatu produk suka
             mencela dan selalu mengatakan ada saja kelemahan
             dari produk yang ditawarkan kepadanya.
       6).   Customer yang tahu segalanya
             Customer ini perlu ditangani dengan hati-hati, hal-hal
             perlu diperhatikan adalah:
             (a). Tempatkan diri anda pada posisi kedua dan
                    pusatkan perhatian pada merek.
             (b). Jangan menentang
             (c). Jangan merasa lebih pntar dari customer
             (d). Jangan bersikap seolah-olah merendahkan
                   customer
             (e). Customer ini mudah terbujuk / dipengaruhi
             (f). Memuji pengetahuan customer
             (g). Memuji kekuasaan mereka dan mengangkat
                   mereka
             (h). Ketegasan dalam memberi petunjuk
             (i). Berikan beberapa penjelasan dan mengambil
                   sikap

4. Jenis-jenis Kebutuhan Pelanggan
    Seperti tercermin pada falsafah bisnis jasa pelayanan yaitu “
pelanggan membeli pelayanan, bukan membeli produk’
Pelanggan itu tidak membeli produk yang kita tawarkan, tetapi
membeli pelayanan yang kita berikan. Kalau pelayanan kita baik,
ramah, penuh perhatian dan dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan pada saat mereka datang dan melihat, maka dari
melihat kemudian mereka mencoba, meneliti sampai akhirnya
memutuskan untuk membeli.
    Setiap pelanggan mengharapkan pelayanan yang baik.
Pelanggan mempunyai hak akan informasi yang jujur dan benar
tentang produk yang akan dibelinya, disamping itu pelanggan juga
mengharapkan pelayanan purna jual (after sales service) atau
pelayanan setelah penjualan, misalnya; ada garansi perawatan,
apa bila barang rusak/cacat, boleh dikembalikan atau ditukar.
Pelanggan juga mengharapkan kelayakan harga atas barang
yang dibelinya, juga mengharapkan potongan harga atas barang
yang di belinya.
    Pada dasarnya harapan pelanggan yang paling utama adalah
kepuasan. Kepuasan pelanggan berarti memberikan kepada
pelanggan apa yang disukainya. Pelayan harus memberikan apa
yang pelanggan inginkan, kapan dan bagaimana cara pelanggan
memperolehnya.
        Cara yang bisa dilakukan untuk memenuhi harapan-
    harapan pelanggan antara lain :
        a) Menemukan kebutuhan pokok pelanggan


                                                                51
      b) Mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi harapan
          pelanggan, sehingga mereka mau kembali datang
          kepada perusahaan kita
      c) Selalu memperhatikan apa yang menjadi harapan
          pelanggan, lakukan melebihi dari yang diharapkan,
          sehingga pelanggan merasa senang.
          Cara diatas dilakukan agar pelanggan merasa puas,
      kepuasan pelanggan banyak ditentukan oleh kualitas
      pelayanan para petugas dilapangan. Jika pelayanan tidak
      sesuai dengan harapan pelanggan, maka pelanggan
      langsung     menilai    pelayanan     yang    diberikan
      mengecewakan. Oleh karena itu, tahapan-tahapan yang
      tiga di atas harus benar-benar diperhatikan oleh para
      petugas pelayanan dilapangan.

5. Penanganan Keluhan Pelanggan
    Menangani keluhan pelanggan secara lebih dini adalah suatu
sikap yang bijaksana dan tepat karena perusahaan akan lebih
mampu mengantisipasi hal-hal yang dapat merugikan. Sekecil
apapun kekecewaan pelanggan adalah merupakan keluhan yang
harus segera ditangani. Para petugas pelayanan harus mampu
mengatasi keluhan tersebut agar tidak semakin membesar dan
berdampak kurang baik bagi perusahaan.
    Ada beberapa kiat dalam menangani keluhan pelanggan :
     a) Hadapilah keluhan pelanggan dengan bijaksana, jangan
        terbawa emosi, jangan mudah marah mendengarkan
        omelan pelanggan
     b) Dengarkan keluhan pelanggan dengan penuh perhatian,
        sedapat mungkin hidupkan suasana penuh keakrapan
     c) Petugas pelayanan tidak boleh membuat janji-janji jika
        hanya untuk menyenangkan pelanggan
     d) Berikanlah rasa simpatik dan ikut merasakan
        keluhahan/kesulitan yang menimpa pelanggan
     e) Tanggapi keluhan pelanggan dengan baik, sertakan
        ucapan maaf yang tulus dan berjanji akan memperbaiki
        kekurangan atas pelayanan yang diberikan. Keluhan
        pelanggan karena sikap petugas yang kurang baik yang
        sering dirasakan/dialami pelanggan antara lain; 1) Cara
        bicara yang ketus, terkesan judes; 2) Memperlihatkan
        wajah yang masam atau cemberut; 3) Bersifat
        pasif/malas-malasan         melayani         pelanggan;
        4) Menganggap rendah terhadap pelanggan.

   Berbahaya lagi bila petugas pelayanan memposisikan dirinya
menjadi pusat perhatian, dengan memakai pakaian dan aksesoris
yang menjolok, serta memakai make–up yang berlebihan.


                                                            52
Biasanya petugas yang seperti tersebut di atas, kebanyakan
bertugas di public relations atau customer service. Banyak
pelanggan merasa rendah diri bila berhadapan dengan petugas
pelayanan seperti ini, akhirnya tentu pelanggan akan
meninggalkannya.

6. Pelayanan Prima
    Pelayanan prima adalah suatu konsep pelayanan dalam
rangka meyakinkan pelanggan. Pelayanan prima dapat dicapai
melalui tindakan, yaitu bagaimana cara mempengaruhi, cara
merayu, meyakinkan dan memberikan suatu jaminan kepada
calon pelanggan atau pelanggan, sehingga mereka tertarik dan
akhirnya membeli atau menggunakan barang dan jasa yang kita
tawarkan.
    Beberapa konsep tindakan yang bisa dilakukan meliputi antara
lain :
       a) Melakukan promosi oleh para salesmen
       b) Memasang iklan di media massa (surat kabar, majalah,
           televisi dan radio
       c) Menyebarkan brosus, spanduk, pamflet, katalog
       d) Menyelenggarakan demo gratis dengan memberikan
           hadiah cuma-Cuma
       e) Mengikuti pameran yang diselenggarakan secara
           bersama-sama dengan perusahaan lain
       f) Mengirim penawaran harga kepada pelanggan atau
           calon pelanggan yang dilampiri dengan surat
           order/pesanan barang.

    Memenangkan strategi persaingan dalam usaha jasa
pelayanan melalui kiat pelayanan prima tidaklah cukup hanya
melakukan suatu proses administrasi saja, tetapi harus didukung
pula oleh tindakan para personalia perusahaan terutama para
petugas pelayanan sebagai jajaran terdepan yang berhadapan
langsung dengan       pelanggan. Misalnya bagaimana cara
merespon keinginan-keinginan pelanggan, agar pelanggan
merasa terpuaskan.
    Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelayanan,
keramah-tamahan, sopan santun dan senyum yang selalu muncul
dari para karyawannya adalah aset yang sangat berharga. Para
petugas pelayanan merupakan ujung tombak perusahaan jasa
pelayanan yang akan berhadapan langsung dengan pihak
konsumen/pelanggan. Petugas pelayanan tidak hanya mampu
bertindak sebagai komunikator atau mediator, tetapi sekaligus
harus mampu menanamkan citra yang positif bagi perusahaan
dan juga harus memiliki kemampuan membantu perusahaan



                                                             53
     memahami bahwa pelanggan adalah aset penting yang harus
     dipelihara dan dipertahankan keberadaannya.
         Oleh karena itu apapun permintaan pelanggan, bagimana
     sikap dan tingkah laku pelanggan layanilah dengan selalu berpikir
     positif. Usahakan selalu bersikap ramah, timbulkanlah sikap awal
     yang baik karena kesan awal adalah penting untuk mempengaruhi
     hubungan selanjutnya.
         Seorang pimpinan perusahaan jasa pelayanan harus selalu
     mengingatkan      karyawannya        (petugas   pelayanan)   agar
     menanamkan sikap menghargai orang lain, supaya orang lainpun
     juga menghargai kita. Salah satu kunci keberhasilan dalam
     mengelola usaha jasa pelayanan terletak pada cara perusahaan
     tersebut memperlakukan pelanggannya. Melayani pelanggan
     dengan sikap hormat, ramah dan dengan tutur bahasa yang baik
     disertai senyum merupakan penghargaan yang tak ternilai bagi
     pelanggan dan akan mendatangkan manfaat yang besar bagi
     perusahaan. Dengan demikian pelanggan akan selalu terkesan
     dan tergerak hatinya untuk mengingat dan tidak mustahil akan
     datang kembali untuk melakukan pembelian ulang keperusahaan
     kita.
         Pelanggan adalah pihak yang harus kita hargai dan hormati,
     karena dari pelangganlah kelangsungan usaha akan terjamin.
     Sikap menghargai pelanggan antara lain dengan melakukan hal-
     hal sebagai berikut :
              a) Bersikap hormat dan ramah
              b) Pergunakanlah tutur kata yang baik dan sopan
              c) Berikan senyuman agar tercipta suasana nyaman
              d) Berbicaralh jujur dan jagalah perasaan pelanggan
              e) Tunjukkanlah bahwa pelayan/ anda siap membantu
              f) Hindarkanlah pelanggan menunggu terlalu lama
              g) Sabarlah dalam memberikan informasi.

C. Menjaga Standar Presentasi Personal
  1. Pengertian dan Tujuan Penampilan Diri
      Dalam menangani pelayanan prima yang dapat disumbangkan
  oleh jajaran petugas terhadap para pelanggan adalah hasil berbagai
  proses yang saling mendukung. Antara lain manajemen pengelolaan
  yang baik, sumberdaya manusia yang cekatan dan jalinan hubungan
  yang saling menguntungkan antara perusanhaan dengan pihak lain
  yang terkait. Pelayanan prima adalah usaha maksimum dari jajaran
  petugas pelayanan sebagai ujung tombak perusahaan industri jasa
  pelayanan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan dalam
  melakukan kegiatan pembeliannya.
      Ada beberapa hal yang yang terkait dalam rangka melaksanakan
  pelayanan prima berdasarkan konsep sikap, yaitu pelayanan
  pelanggan berdasarkan penampilan diri. Penampilan adalah suatu


                                                                   54
bentuk citra diri yang terpancar pada diri seseorang dan merupakan
sarana komunikasi diri kita dengan orang lain. Berpenampilan
menarik adalah salah satu bagian dari kunci sukses dalam bekerja,
terutama pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain.
    Penampilan diri yang baik adalah perpaduan dari keserasian
penampilan luar (fisik) dan penampilan yang timbul dari diri kita
(rohani). Agar dapat tampil serasi didepan pelanggan kita harus dapat
memenuhi beberapa persyaratan, seperti:
       a) Kesehatan tubuh berkaitan dengan makanan yang
           dikonsumsi harus bergizi, dan selalu berolah raga
       b) Perawatan anggota tubuh, seperti ; perawatan kulit,
           perawatan wajah, perawatan tangan dan kaki, perawatan
           rambut serta menghilangkan bau badan dan nafas tidak
           sedap.
    Cara berbusana biasanya memancarkan kepribadian orang yang
memakainya. Dari cara berbusana seseorang dapat dilihat
kepribadiannya, tingkat pendidikannya, lingkungan pergaulannya, dan
seleranya. Untuk dapat tampil dengan busana yang serasi harus
memiliki pengetahuan tentang tentang pilihan yang berhubungan
dengan kepribadian dan pembawaan sipemakai, mampu
menyesuaikan        dengan    kebutuhan,     adat     istiadat   dann
lingkungan/suasana dan kesempatan.

2. Bekerja dengan aman
     Aman berarti, tidak merasa takut atau lepas dari bahaya,
tenteram, sentosa (W.J.S Poerwadarminta). Keamanan berarti,
keadaan aman tidak merasa takut atau lepas dari bahaya,
ketenteraman, sentosa. Keamanan, sangat diperlukan dalam bekerja,
dalam mengemukakan pendapat, dalam menjalankan aktifits sehari-
hari, dalam berkendaraan dan dalam bersosialisasi.
     Kesadaran adalah bagian terpenting yang harus diingat oleh
karyawan agar dapat memberikan kontribusi terhadap keamanan para
tamu/pelanggan, serta karyawan lain. Jangan pernah menempatkan
diri anda atau diri orang lain dalam keadaan bahaya dengan cara,
mempergunakan peralatan yang masih asing bagi anda. Jangan
bersikap seolah-olah ahli dan memberikan penjelasan, ketika teman
tidak bisa memakai peralatan.
Berusahalah untuk selalu menjaga keamanan dilingkungan kerja
masing-masing. Untuk setiap bahaya, upayakan agar keamanan
selalu menjadi prioritas utama. Jika anda menemui hal-hal yang dapat
membahayakan kerja, untuk sementara tinggalkan pekerjaan yang
sedang anda kerjakan.




                                                                  55
D. Melakukan Pekerjaan Secara Tim
    Tim adalah sekumpulan orang berakal yang terdiri atas dua, lima,
hingga dua puluh orang dan memenuhi syarat terpenuhinya
kesepahaman hingga membentuk sinergi antarpelbagai aktivitas yang
dilakukan anggotanya. Jadi perilaku anggota tim harus mencerminkan
keserasian yang menunjukkan bahwa setiap anggota bertindak dalam
bingkai dan sesuai dengan sekumpulan prinsip atau tujuan bersama.
Menurut Zuhair Al Kaid, tim adalah sebuah gambaran dari pelbagai
bentuk kolektivitas yang dibentuk untuk mengikuti dorongan semangat
untuk memiliki keterikatan pada kelompok tertentu. Demikian pula
dorongan untuk pengakuan sosial serta membawa misi keterikatan
secara materi dan maknawi
    Tidak ada orang dalam tim yang bisa persis dengan anda. Anggota
tim tidak berpikir dengan cara yang sama dan memegang nilai yang sama
dengan anda. Memang tim yang semua anggotanya sama persis akan
bebas dari konflik, tetapi akan kekurangan keragaman yang bisa
melahirkan gagasan baru. Meskipun demikian, tim yang terdiri dari
individu-individu berbeda memiliki banyak tantangan. Jika tim anda tidak
menunjukkan rasa saling percaya, saling menghargai dan keterbukaan,
tim tersebut akan terpecah atau terjerat dalam ketidakmanfaatan.


          Kepribadian

         Jenis Kelamin
                                                         Tantangan
            Budaya

            Tujuan


    Tim adalah media agar setiap individu dapat bekerja secara kolektif
dengan penuh sinergi sebagai satu kesatuan yang senyawa. Pekerjaan
atau aktivitas yang dilakukan dalam sebuah tim memiliki nilai lebih karena
tersedianya pelbahai jalinan relasi manusia secara langsung tanpa
adanya rintangan-rintangan formal antara individu. Kondisi ini tentunya
berdampak positif, yaitu dapat memompa semangat anggota tim untuk
bekerja secara produktif.
    Dalam tataran manusiawi, bermain sendiri sangat membosankan dan
lebih cenderung mengantarkan pada kegagalan. Tidak mungkin manusia
dapat hidup dengan menyendiri semata, tim kerja merupakan sumber
penting bagi proses pemutakhiran pengetahuan. Di sana individu-individu
berbeda bersatu dalam satu ikatan dengan cara yang berbeda-beda pula
yang pada akhirnya, karena interaksi yang tidak dapat dihindarkan,
terciptalah sifat-sifat bersama yang membentuk kepribadian setiap
individu dalam tim. Sebuah potensi dapat diinvestasikan untuk


                                                                       56
menghasilkan laba semaksimal mungkin melalui terciptanya suasana
kondusif bagi terciptanya sebuah proses yang interaktif yang
memproduksi pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan
yang telah ada.

       Berikut ini adalah ciri-ciri tim yang memiliki komitmen untuk
bekerja bersama. Sebuah tim yang memiliki model semacam ini
menerima semua anggota dan menggunakan kekuatannya untuk
menghasilkan manfaat bagi tim. Karakteristik tim yang dinamis dan
memiliki anggota beragam sebagai berikut:

   1. Berorientasi pada opini
      a) Berlawanan dengan orang yang bersifat dogmatis, sifat
         berorientasi pada opini akan mengarahkan orang untuk tidak
         mengutuk orang lain.
      b) Anggota yang berorientasi pada opini memperkenalkan
         gagasannya tanpa mengusulkan atau bahkan mengisyaratkan
         agar orang lain memberi posisi istimewa pada gagasannya.
      c) Anggota tim mengatakan gagasannya dan meminta gagasan
         orang lain, bukan menunjukkan bahwa gagasannyalah yang
         memberi jawaban terhadap permasalahannya.
      d) Mereka tidak hanya memfokuskan pada idenya sendiri, tetapi
         menginvestigasi pendapat orang lain.

   2. Berorientasi pada persamaan
      a) Dalam kelompok yang beragam, rasa persamaan merupakan
         titik awal dari komunikasi yang efektif
      b) Anggota tim yang berorientasi pada persamaan melihat
         keragaman sebagai suatu keunggulan “perbedaan yang kita
         miliki memungkinkan kita untuk mengecek setiap sisi, sudut,
         puncak dan dasar suatu permasalahan.”
      c) Sebuah tim yang berorientasi pada persamaan mengandalkan
         pada semua anggota.
      d) Kepercayaan        terhadap    anggota  tim meningkatkan
         produktifitas.

   3. Berfokus pada tujuan
      a) Anggota tim yang memfokuskan pada tujuan kelompok, kecil
         kemungkinannya akan bercekcok dikarenakan keunikan
         masing-masing anggota.
      b) Keseluruhan anggota tim memiliki tujuan yang sama.
      c) Bagi anggota tim yang berfokus pada tujuan, keunikan
         masing-masing anggota bukanlah masalah.
      d) Anggota tim mengakui bahwa individu juga memiliki tujuan dan
         mungkin tujuan tersebut bisa bertentangan dengan tujuan tim.



                                                                  57
       e) Keunikan anggota tim yang muncul kepermukaan segera
          diatasi, tidak dibiarkan sampai melahirkan masalah.

       Tim yang menunjukkan ciri-ciri di atas akan membentuk iklim
       saling percaya dan saling peduli. Anggota tim memiliki sikap yang
       memungkinkan adanya keterbukaan komunikasi. Apabila setiap
       tim menjadikan karakteristik ini sebagai model, perbedaan tidak
       menjadi masalah. Meskipun demikian, dalam kenyataan kita
       menemukan komunikasi sering terputus apabila orang tidak
       memahami atau menerima keunikan. Cara anggota tim
       memahami dan bekerja dengan keunikan individu secara
       langsung mempengaruhi kinerja tim. Perhatikan gambar berikut :


                                   Usia


            Jenis                                         Ras
           kelamin




             Sifat
                                                        Agama


                                  Budaya



   Semua jenis keunikan bisa mendorong tim menuju tujuannya.
   Sebagai contoh, anggota tim yang pendiam seproduktif anggota tim
   yang tegas. Anda mungkin berasumsi bahwa anggota tim yang tidak
   tegas dan bersemangat tidak akan memiliki gagasan yang baik untuk
   berkontribusi. Sebenarnya yang terjadi adalah dia memproses
   informasi dengan sangat hati-hati dan mungkin memiliki gagasan
   yang luar biasa jika diberi kesempatan untuk mengemukakannya.

E. Menangani kesalah pahaman antar budaya
    Tidak disangsikan lagi, setiap anggota tim memiliki latar belakang dan
kemampuan yang berbeda. Perbedaan dalam kepribadian, budaya, jenis
kelamin dan lain sebagainya bisa mendatangkan kesalahpahaman.
Kesalahpahaman sering juga disebabkan oleh penggunaan bahasa.



                                                                       58
Bahasa terikat oleh konteks budaya, dengan kata lain bahasa dapat
dipandang sebagai perluasan budaya.
    Para ilmuwan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi
mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang.
Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya
komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau
mewariskan budaya. Edwar T. Hall mengatakan “budaya adalah
komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya”. Pada satu sisi, komunikasi
merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma
budaya masyarakat baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada
masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal, dari suatu generasi ke
generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya menetapkan norma-norma
(komunikasi) yang dianggap sesuai untuk suatu kelompok tertentu,
misalnya anak perempuan tidak main pistol-pistolan, pedang-pedangan
atau mobil-mobilan. Anak laki-laki tidak gampang menangis, tidak main
boneka.
    Kelompok-kelompok budaya atau subkultur-subkultur yang ada dalam
suatu budaya mempunyai perangkat norma yang berlainan. Misalnya
terdapat perbedaan norma-norma komunikasi antara kaum militer dengan
kaum sipil, kaum konservatif dengan kaum radikal, penduduk kota
berbeda dengan penduduk desa, berkomunikasi dengan orang Amerika
berbeda dengan orang Jerman (perbedaan antar negara). Oleh karena
fakta yang sama atau ransangan komunikasi yang sama mungkin
dipersepsikan secara berbeda oleh kelompok-kelompok yang berbeda
kultur atau subkultur tersebut, kesalahpahaman hampir tidak dapat
dihindarkan. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa berbeda itu buruk.
Kematangan dalam budaya ditandai dengan toleransi atas perbedaan.
Mengutuk orang lain karena mereka berbeda adalah tanda kebebalan
atau kecongkakan.
    Tetapi kesalah pahaman antar budaya perlu diatasi dengan cara
mengenal latar belakang mereka baik dari segi budaya, bahasa, norma
sehari-hari dan lain-lain. Selain itu bisa juga dengan cara berlatih tentang
cara berkomunikasi atau melayani mereka yang berasal dari latar
belakang yang beragam. Dengan memahami dan mengerti latar belakang
masing-masing pelanggan, anda diharapkan kompeten untuk
mengadakan komunikasi dengan para pelanggan dari manapun mereka
berasal, namun semua itu harus didukung dengan kemampuan
berbahasa , baik bahasa daerah maupun bahasa inggris yang memadai.
    Pada kesempatan ini dicontohkan perbedaan pelanggan dari Amerika
dengan pelanggan dari Jerman.

   1. Berkomunikasi dengan pelanggan dari Amerika.
       Masyarakat bisnis Amerika memiliki reputasi yang terkuat di
   dunia, tetapi dalam berbagai hal, mereka adalah bangsa yang paling
   mudah untuk diajak berhubungan. Hal ini dsebabkan oleh filosofi
   bisnis mereka yang tidak rumit. Tujuan mereka adalah mendapatkan


                                                                         59
uang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, dengan bekerja
keras dan menggunakan kecepatan, kesempatan, kekuatan (juga
kekuatan uang itu sendiri) sebagai alat untuk mencapai tujuan ini.
Keputusan bisnis mereka biasanya tidak dipengaruhi oleh perasaan;
dan dolar, bila tidak di-Tuhan-kan, setidaknya dianggap sebagai
penguasa. Pengejaran keuntungan yang semata-mata ini sering
mengakibatkan mereka diangggap sebagai bangsa yang kejam.
    Bangsa Eropa Utara dikenal dapat berhubungan dengan Amerika
dengan sukses. Reputasi mereka sebagai manajer yang berterus
terang disambut baik oleh bangsa Amerika yang terbuka dan berterus
terang, yang sering merasa jengkel dengan apa yang mereka anggap
sebagai tatakrama orang-orang timur yang berliku-liku. Pada
pertemuan, orang Amerika menunjukkan kecenderungan sebagai
berikut :
    a. Mereka individualistik, senang melakukan segala sesuatu
        sendiri tanpa mengeceknya ke kantor pusat. Segala sesuatu
        berjalan kecuali jika dibatasi.
    b. Mereka memperkenalkan informalitas dengan segera; mereka
        melepaskan jas, menggunakan nama depan, membahas
        rincian pribadi, misalnya keluarga.
    c. Mereka memberi kesan naif dengan tidak menggunakan bahsa
        apa pun selain bahasa Inggris, dan dengan tidak
        menggunakan bahasa apa pun selain bahasa Inggris, dan
        dengan menunjukkan rasa percaya yang segera melalui
        keramahtamahan yang berlebihan.
    d. Mereka menggunakan humor kapan pun mereka bisa, sekali
        pun lawan bicara mereka gagal memahaminya atau
        menganggapnya sebagai hal yang salah penempatan.
    e. Mereka bersifat terbuka sejak awal, kemudian melakukan
        proses atas dasar penawaran dan penawaran balik. Mereka
        sering menghadapi kesulitan apabila pihak lain tidak
        menyatakan apa yang mereka inginkan.
    f. Mereka mengambili risiko, tetapi membuat rencana (keuangan)
        yang pasti, yang harus ditaati.
    g. Mereka mempertimbangkan sebagian besar usulan atas dasar
        investasi / keuntungan atau investasi / skala waktu.
    h. Waktu adalah selalu uang. ”ayo kita bicarakan inti
        persoalannya”.
    i. Mereka mencoba mendengarkan persetujuan lisan pada
        pertemuan pertama. ”apakah kita sudah mencapai
        persetujuan?”. mereka ingin berjabatan tangan. Pihak lainnya
        sering merasakan hal tersebut terlalu kompleks untuk disetujui
        pada saat itu juga.
    j. Mereka menginginkan prinsip ”ya” dan akan menyusun
        rinciannya kemudian. Tapi mereka mungkin merasa sulit untuk
        menyusun rincian tersebut dan memeriksa segala sesuatunya


                                                                   60
     walaupun terdapat kepercayaan yang nyata. Orang Jerman,
     orang Perancis, dan yang lainnya lebih suka menyelesaikan
     rincian terlebih dahulu.
k.   Mereka tidak menyukai ketenangan atau kesunyian selama
     negosiasi. Mereka terbiasa menyusun pikiran dengan cepat
     (sangat cepat berpikir).
l.   Mereka oportunis dan penanggungan risiko sering
     mengakibatkan orang Amerika memperoleh bagian bisnis
     yang terbesar, seratus persen jika memungkinkan.
m.   Seringkali mereka kurang sabar, dan akan mengatakan
     sesuatu yang menyebalkan atau menjengkelkan (lihat tawaran
     kami yang berlimpah) untuk menyelesaikan persoalan.
n.   Mereka teguh. Selalu ada pemecahan. Mereka akan
     menjelajahi semua pilihan bila menghadapi jalan buntu.
o.   Mereka konsisten. Ketika mereka berkata ”anda setuju”
     mereka jarang mengubah pikiran mereka.
p.   Mereka mengungkapkan segalanya melalui kata-kata. Tetapi
     bila mereka menggunakan kata-kata seperti ”adil”,
     ”demokratik”, ”jujur”, ”setuju”, ”nilai”, ”menerima”, mereka
     berpikir pihak lain menyetujuinya. Hal ini terjadi karena
     subbudaya Amerika, seperti orang-orang Czech, Jerman, dan
     Polandia, memang memahaminya.
q.   Mereka berterus terang. Mereka akan tidak setuju dan
     menyatakan apa adanya. Hal ini menyebabkan keadaan yang
     memalukan bagi orang-orang Jepang, Arab, Italia, dan Latin
     lainnya.
r.   Mereka sering mengungkapkan kekuatan yang kasar sebagai
     argumen; misalnya kekuatan keuangan mereka dan posisi
     yang tidak dapat dibantah. Mereka akan menggunakan suara
     mayoritas tanpa ragu-ragu jika mereka mendapatkannya dan
     tidak akan membuang banyak waktu untuk berjuang mencapai
     mufakat. Mereka dengan senang hati memecat orang yang
     menghalangi persetujuan.
s.   Mereka menganggap semua negosiator memiliki kecakapan
     teknis dan berharap menang atas pengetahuan teknis mereka
     sendiri. Mereka lupa bahwa pihak lain mungkin melihatnya
     sebagai masalah status negosiator utama. Bagaimana
     seorang kepala perusahaan Meksiko dikalahkan seorang
     insyinyur Amerika?
t.   Mereka menganggap bernegosiasi sebagai pemecahan
     masalah melalui tindakan memberi dan menerima atas dasar
     kekuatan masing-masing. Mereka tidak menghargai bahwa
     pihak lain mungkin hanya memiliki satu posisi.
u.   Paman Sam adalah yang terbaik. Akan tetapi, negosiasi yang
     berhasil harus memasuki dunia budaya pihak lain. Banyak
     orang Amerika menganggap Amerika sebagai kekuatan


                                                              61
       ekonomi dan demokrasi yang paling berhasil, karena itu
       menganggap bahwa norma-norma Amerika adalah norma-
       norma yang benar.
   v. Ini mengakibatkan kurangnya minat atau pengetahuan
       mengenai budaya asing. Bangsa Amerika seringkali hanya
       sedikit mengetahui masalah-masalah seperti menghindari rasa
       malu, pakaian yang layak, penggunaan kartu bisnis, hal yang
       menyenangkan dalam kemasyarakatan dan formalitas yang
       penting bagi orang-orang Arab, Yunani, Spanyol, dan
       sebagainya.
   w. Di Amerika Serikat, dolar adalah yang berkuasa dan akan
       memenangkan sebagian besar argumen. Orang-orang
       Amerika tidak selalu menyadari bahwa orang-orang Meksiko,
       Arab, Jepang, dan yang lainnya jarang sekali mengorbankan
       kehormatan status, protokol, atau nasional untuk keuangan.

       Orang-orang utara yang pragmatik dan tenang dapat hidup
dengan sebagian besar karakteristik ini. Juga, mereka terbiasa
dengan informalitas, nama depan, humor, keteguhan, kekasaran,
kemampuan teknis, tawar-menawar, memberi dan menerima, dan
konsistensi dalam berpegang pada yang telah disetujui. Mereka juga
berharap menandatangani perjanjian tanpa pembuangan waktu yang
tidak perlu atau prosedur yang membingungkan.
       Namun, kehati-hatian harus dijalankan. Orang-orang Amerika
berbicara dengan cepat dan jika mereka menggunakan bahasa
Inggris mungkin terdapat jebakan-jebakan tertentu. Menghadapi
orang Amerika, seseorang harus dapat membaca ”catatan yang baik”,
karena keterbukaan dan kepercayaan yang nyata terhadap pihak lain
biasanya dikosongkan oleh pengawasan legal yang ketat dalam
perjanjian mereka, dan mereka tidak akan ragu-ragu menurut anda di
kemudian hari jika anda tidak memenuhi setiap ketentuan yang telah
anda setujui. Hukum Amerika juga sangat berbeda dengan berbagai
sistem legal lainnya.
    Anda harus selalu berusaha untuk tampak berterus terang, jujur,
tetapi tegas dalam mengadakan persetujuan dengan orang-orang
Amerika yang akan menghormati kegembiraan, ketidaksetujuan yang
terbuka, kewaspadaan dan rencana yang kuat. Anda tidak boleh
”berbasa-basi” seperti bila anda berbicara dengan orang-orang
Jepang atau Italia, ”ya, tapi apa yang terjadi bila...?” adalah
pernyataan yang baik terhadap orang Amerika.

2. Berkomunikasi dengan pelanggan dari Jerman
    Karakteristik budaya bisnis Jerman adalah sikap monokronik
terhadap penggunaan waktu, misalnya hasrat menyelesaikan
serangkaian tindakan sebelum memulai tindakan lain; keyakinan yang
kuat bahwa mereka adalah negosiator yang jujur dan terus terang;


                                                                62
dan cenderung bersikap lugas dan menyampaikan ketidaksetujuan
secara terbuka dari pada menunjukkan kesopanan atau berdiplomasi.
    Perusahaan Jerman adalah entitas tradisional yang bergerak
lambat, yang dibebani oleh petunjuk-petunjuk, sistem dan jalur
hierarkis yang oleh orang-orang Eropa dan Amerika dianggap terlalu
kaku dan ketinggalan zaman. Hierarki bersifat perintah yang seringkali
mengakibatkan rasa hormat yang berlebihan kepada seorang atasan
langsung dan CEO (Chief Executive Officer).
    Bos Jerman adalah orang yang punya privasi tinggi, yang
biasanya duduk terpisah di kantor yang besar di balik pintu yang
tertutup. Para eksekutif Amerika dan skandinavia lebih menyukai
kebijakan pintu terbuka dan mengelilingi kantor dan berbincang-
bincang dengan rekan sekerja. Komunikasi horizontal ini sangat
berbeda dengan sistem vertikel Jerman, dimana instruksi hanya
disampaikan kepada bawahan langsung, dan disimpan dengan kaku
pada bagian (departemen) seseorang.
    Di banyak negara terdapat persaingan bagian, tetapi ketika
berhubungan dengan orang Jerman kita harus ingat bahwa orang
Jerman bisa sangat sensitif dengan hal ini. Berusahalah selalu
menemukan orang yang tepat untuk memperoleh setiap pesan. Jika
anda menghina orang Jerman, ia akan mengingatnya untuk waktu
yang panjang.
    Orang Jerman sangat menghormati harta milik dan kekayaan.
Bangunan kokoh, mobil dan pakaian yang bagus adalah penting bagi
mereka dan akan membuat anda terkesan dengan semua ini. Anda
harus mengakui kehebatan harta milik orang Jerman dan merasa
enggan untuk memamerkan kekuatan, fasilitas anda, dan lain-lain.
Orang Jerman berharap percaya bahwa anda sekuat mereka.
    Ketika mengiklankan produk perusahaan mereka, sebaiknya anda
memasukkan rincian sebanyak mungkin. Orang Jerman tidak
terkesan dengan iklan televisi yang mencolok, slogan yang cerdik,
atau ilustrasi yang artistik. Surat kabar mereka penuh dengan iklan
yang faktual dan padat, yang memberikan informasi yang sebanyak-
banyaknya dalam ruang yang tersedia. Brosur yang ditujukan untuk
pasar Jerman dapat dibenarkan sepenuhnya dikemudian hari. Tidak
peduli seberapa panjang dan membosankan brosur itu, orang Jerman
akan membacanya. Mereka juga mengharapkan produk anda benar-
benar sesuai dengan gambaran yang diberikan.
    Orang Jerman mempunyai gaya yang tersendiri dalam
mengadakan pertemuan dan negosiasi. Anda mungkin terlihat bahwa
prosedur yang diadakan perusahaan besar Jerman jauh lebih formal
dibandingkan dengan prosedur di negara yang anda. Biasanya
disarankan agar anda melakukan pendekatan yang agak lebih formal
dengan orang Jerman pada pertemuan, juga memperhatikan
karakteristik-karakteristik orang Jerman sebagai berikut ini, agar anda
dapat memberikan reaksi secara tepat :


                                                                    63
a. Orang Jerman akan hadir pada pertemuan dengan pakaian
   rapi dan dengan penampilan berdisiplin. Anda harus
   menyesuaikan diri dengan hal ini.
b. Mereka akan memperhatikan susunan tempat duduk secara
   hierarkis dan urutan bicara.
c. Mereka akan hadir dengan persiapan yang baik mengenai
   urusan yang dibicarakan, dan mengharapkan anda
   melakukan hal yang sama.
d. Mereka akan mengajukan argumen yang logis dan penting
   untuk mendukung masalah mereka.
e. Mereka sering memikirkan kemungkinan serangan balasan
   anda dan siap dengan lini serangan yang kedua.
f. Mereka tidak mengakui kasus atau argumen mereka dengan
   mudah, tetapi cenderung mencari persamaan pendapat. Ini
   sering merupakan pendekatan anda yang terbaik untuk
   mencapai kemajuan. Bentrokan dengan perusahaan jerman
   yang cukup besar jarang membuahkan hasil.
g. Mereka yakin bahwa mereka lebih efisien (Grundlich) dari
   pada orang lain dan tidak mudah mengubah pendapat.
h. Mereka menggolong-golongkan argumen mereka. Setiap
   anggota membicarakan kekhususan mereka. Mereka
   berharap pihak anda melakukan hal yang sama.
i. Mereka tidak mencampuri ucapan seorang kolega dan
   biasanya menunjukkan kerjasama yang baik. Akan tetapi,
   mereka saling membantah secara pribadi diantara sesi-sesi.
   Karena wajah mereka tidak menyembunyikan perasaan, anda
   dapat dengan mudah mengetahui perbedaan pendapat
   diantara mereka melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh
   mereka.
j. Seperti orang Jepang, mereka suka membicarakan kembali
   rincian berulang-ulang. Mereka ingin menghindarkan
   kesalahpahaman di kemudian hari. Anda harus sabar.
k. Mereka tidak suka terburu-buru.
l. Mereka suka membuat keputusan dalam pertemuan (tidak
   seperti orang Jepang atau orang Perancis), tapi mereka selalu
   berhati-hati.
m. Mereka biasanya patuh pada apa yang telah mereka setujui
   secara lisan.
n. Jika anda mengadakan penjualan kepada mereka, mereka
   akan bertanya pada anda dengan agresif mengenai hal-hal
   yang dianggap sangat penting oleh orang Jerman, seperti
   kualitas barang, tanggal pengiriman, dan harga yang
   bersaing. Bersiaplah.
o. Pada akhirnya, mereka mengharapkan untuk mendapatkan
   harga terbaik (yang paling murah). Mereka mungkin hanya
   memberi anda bisnis kecil ”percobaan”. Ambillah hal itu akan


                                                             64
        menghasilkan bisnis yang lebih besar pada waktu mendatang
        jika mereka merasa puas.
   p.   Mereka akan bersungguh-sungguh mencari kekurangan
        dalam produk atau pelayanan anda, dan akan mengkritik
        anda secara terbuka (bahkan secara energik) jika klaim anda
        tidak sesuai. Sampaikanlah permohonan maaf bila anda gagal
        dalam hal ini. Mereka senang menerima permohonan maaf
        karena hal ini membuat mereka merasa lebih baik. Juga, anda
        harus mengimbangi.
   q.   Mereka bisa sangat sensitif untuk mengkritik diri mereka
        sendiri. Oleh karena itu anda harus berusaha menghindari
        tindakan yang membuat mereka malu, bahkan tindakan yang
        mengkin dilakukan tanpa disadari.
   r.   Gunakan nama keluarga saja dan tunjukkan penghormatan
        atas gelar mereka. Banyak sekali Doktor di Jerman.
   s.   Jangan memperkenalkan humor atau lelucon selama
        pertemuan bisnis. Mereka bukan orang Amerika, mereka tidak
        suka bercanda. Bisnis adalah serius. Ceritakanlah kisah-kisah
        lucu setelah pertemuan, pada saat minum bir. Anda akan
        menemukan banyak cerita mereka yang lucu dan kasar.
        Tertawalah dengan cara yang terbaik.
   t.   Mereka akan membuat catatan dan kembali dengan
        persiapan yang matang pada hari berikutnya. Akan
        menguntungkan bagi anda untuk melakukan hal yang sama.
   u.   Orang Jerman biasanya mempunyai kecakapan bahasa yang
        baik (terutama bahasa Inggris dan bahasa Perancis) tetapi
        mereka sering kurang pengetahuan mengenai budaya asing
        (mereka mungkin lebih sedikit mengetahui hal-hal tentang
        negara anda dibandingkan dengan yang anda kira). Mereka
        senang menggunakan bahasa Jerman kapan pun mereka
        dapat.
   v.   Mereka biasanya yakin bahwa mereka adalah bangsa yang
        paling jujur, dapat dipercaya, dan tulus hati di seluruh dunia,
        juga dalam negosiasi bisnis. Tunjukkan pada mereka bahwa
        dalam hal ini anda sederajat dengan mereka.

    Orang Jerman memang tulus dan mereka menganggap bahwa
orang lain juga demikian. Mereka sering kecewa karena orang lain
yang lebih menyukai pendekatan yang asal-asalan atau sembrono
terhadap kehidupan yang tidak selalu memberikan jawaban yang
serius terhadap pertanyaan yang serius. Orang Jerman cenderung
melakukan pencarian yang lama akan arti kehidupan yang
sebenarnya dan suka menghabiskan waktu mereka untuk hal-hal
yang menguntungkan, baik untuk memperkaya simpanan kekayaan
atau jiwa mereka.



                                                                    65
       Dalam keseriusan mereka, mereka berusaha keras untuk menjadi
   warga yang patuh dan yang tidak membuat masalah. Di negara yang
   ramai ini, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat umum
   memang sangat kuat. Orang jerman tidak ingin dipandang sebagai
   orang yang tidak konvensional atau tidak lazim. Mereka tidak
   berhasrat untuk menjadi eksentrik (seperti orang-orang Inggris,
   Perancis, atau Amerika). Orang Jerman berusaha untuk tidak
   membuat kesalahan dan biasanya berhasil. Jika anda membuat
   kesalahan, mereka akan mengatakannya kepada anda. Mereka tidak
   kasar ini adalah hasrat mereka yang tidak dapat dihentikan akan
   keteraturan dan kesesuaian. Orang Jerman suak keadilan dan
   mereka sering melakukan sesuatu untuk menunjukkan betapa adilnya
   mereka.
       Orang Jerman sering tampil sebagai orang yang hebat dan tanpa
   humor bagi orang Anglo-Saxon yang suka bersikap sembrono dalam
   percakapan. Orang Jerman tidak memiliki kecanduan seperti orang
   Inggris dan orang Amerika terhadap cerita lucu atau lelucon. Mereka
   menginginkan jalinan persahabatan yang kuat dan tertarik pada
   masalah-masalah kehidupan dan misteri yang membingungkan.
   Orang Anglo-saxon tidak selalu mengetahui cara menjalin
   persahabatan yang cepat dengan mereka. Akan tetapi, ketika mereka
   berhasil memasuki struktur persahabatan Jerman yang agak rumit,
   mereka menemukan banyak ganjaran. Orang Jerman pada umumnya
   adalah teman yang sejati dan setia, yang luar biasa bertahan. Dari
   luar mereka tampak berwajah masam dan berhati-hati. Padahal
   sebenarnya mereka menginginkan kasih sayang dan popularitas.
   Seperti kita, mereka ingin dihormati ketika mereka menemukan
   bahwa orang-orang Inggris, Amerika atau Perancis yang tampaknya
   acuh tak acuh (easy going) dan lucu juga dapat sesetia orang Jerman
   memang merupakan investasi yang sangat berharga.


Rangkuman
        Fungsi komunikasi sebagai komunkasi sosial setidaknya
mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep
diri manusia, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk
memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara
lain lewat komuniksi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan
dengan orang lain.
        Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota
masyarakat (keluarga, kelompok belajar, pelanggan, teman sejawat,
atasan dan bawahan, RT, RW,, desa, kota dan negara secara
keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia, bisa dipastikan
akan “tersesat”, karena ia tidak berkesempatan menata dirinya dalam
suatu lingkungan sosial. Komunikasilah yang memungkinkan individu


                                                                   66
membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai
panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi
pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-
strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik yang ia
masuki. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan
tahu bagaimana makan, minum, berbicara sebagai manusia dan
memperlakukan manusia lain secara beradab, karena cara-cara
berperilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan keluarga dan
pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komuniksi.


      .
 Kompetensi yang diharapkan dari materi pada bab ini adalah :
 Melakukan komunikasi ditempat kerja, Memberikan pelayanan
 secara prima kepada pelanggan, Memberikan bantuan untuk
 pelanggan internal dan eksternal, Standar persentasi personal,
 Melakukan pekerjaan secara tim, mampu melakukan pekerjaan
 dalam lingkungan sosial yang beragam, serta mampu menangani
 kesalah-pahaman antar budaya.


Evaluasi:

1. Jelaskan pengertian komunikasi dan pengertian pelayanan prima.
2. Jelaskan hubungan pelayanan dengan karakter pelanggan.
3. Jelaskan bagaimana cara mengatasi kesalah pahaman antar
budaya.
4. Seorang pelajar mempunyai hak dan kewajiban disekolah,
bagaimana kegiatanmu dalam melakukan kewajiban sebagai
makhluk sosial terhadap guru dan teman-temanmu, hasil jawaban
diskusikan dengan teman sekelas




                                                                 67
                                 BAB III
         KESEHATAN, KESELAMATAN DAN
              KEAMANAN KERJA
A. Dasar-dasar   Kesehatan,                   Keselamatan            dan
   Keamanan Kerja
   Mengapa sebahagian besar orang khawatir dengan kesehatan,
keselamatan dan keamanan kerja. Kesehatan barasal dari kata sehat.
Sehat menurut World Health Organization (WHO) Health is state of
complete physical, mental and social wellbeing and not merely the
absence of disease and infirmity. Sehat menurut “Hanlon” mencakup
keadaan pada diri seseorang secara menyeluruh untuk tetap mempunyai
kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis penuh. UU no
9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan, pasal 2, disebutkan
bahwa yang dimaksud dengan kesehatan ialah: meliputi kesehatan
badan, rohaniah (mental) dan sosial, dan bukan hanya keadaan yang
bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan-kelemahan lainnya. Melalui
upaya kesehatan yaitu: upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan
dan pemulihan kesehatan serta upaya penunjang yang diperlukan.
   Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sehat tersebut
mencakup:
   1. Sehat secara jasmani
   2. Sehat secara mental/rohani
   3. Sehat secara sosial

    Sehat secara jasmani dapat dilihat secara physical (penampilan),
yaitu : a) Dapat melakukan aktifitasnya dengan baik, misalnya: makan,
minum, berjalan dan bekerja; b) Penampilannya baik, misalnya: cara
berpakaian, cara berbicara, atau cara berdandan; c) Dapat menggunakan
sarana dan prasarana kerja dengan baik (sesuai aturan).
    Sehat secara mental/rohani dapat dilihat dari bagaimana seseorang :
a) Menentukan prioritas dengan memilah-milah apa saja yang benar-
benar berguna dalam hidupnya; b) Menghargai dan memberi hadiah diri
sendiri atas tindakan, sikap dan pikiran yang positif; c) Menjalankan hidup
kerohanian secara teratur; d) Mengasihi sesama dengan memberi
bantuan baik dalam bentuk nasehat/moril atau materil; e) Berpikir
kedepan dan mencoba mengantisipasi bagaimana cara menghadapi
kesulitan; f) Berbagi pengalaman dan masalah dengan keluarga atau
teman; g) Mengembangkan jaringan sosial atau kekeluargaan.
    Sehat secara sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor : Antara
lain, a) Urbanisasi; b) Pengaruh kelas sosial; c) Perbedaan ras; d) Latar
belakang etnik; e) Kekuatan politis; dan f) faktor ekonomi.
    Keselamatan berasal dari kata dasar selamat. Selamat: terhindar dari
bahaya, tidak mendapat gangguan, sehat tidak kurang suatu apapun



                                                                        68
(W.J.S Poerwadarminta) Keselamatan : Keadaan perihal terhindar dari
bahaya, tidak mendapat gangguan, sehat tidak kurang suatu apapun.
    Pekerja terkadang tidak merasa bahwa keselamatan dan kecelakaan
itu saling bersinggungan, di dalam bekerja harus selalu berfikir
bagaimana kita mengantisipasi agar dapat mengurangi resiko
kecelakaan. Lakukanlah sesuatu dengan mengharapkan keselamatan
dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Standar Operasional
Prosedur (SOP). Keselamatan dalam menangani bahaya atau resiko
sesuai dengan S O P. Keselamatan dalam menggunakan peralatan dan
melakukan sesuatu pekerjaan dengan keadaan yang sehat dan sesuai
dengan S O P.
    Jadi yang dimaksud dengan keselamatan kerja adalah keselamatan
yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja dan lingkungan, serta
cara-cara melakukan pekerjaan. Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam
tanah dan air, serta di udara. Keselamatan kerja menjadi salah satu
aspek yang sangat penting, mengingat resiko bahayanya dalam
penerapan teknologi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang
yang bekerja, setiap tenaga kerja dan juga masyarakat pada umumnya.
    Setiap orang dituntut untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai
dengan keahlian masing-masing. Siswa merupakan aset yang paling
berharga bagi sekolah. Oleh karena itu agar siswa dapat melaksanakan
pekerjaan dengan baik, maka setiap siswa harus waspada dan berusaha
agar selalu dalam kondisi kesehatan yang baik pula.

Tujuan kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja adalah:
       1. Melindungi para pekerja dari kemungkinan-kemungkinan buruk
           yang mungkin terjadi akibat kecerobohan pekerja/siswa.
       2. Memelihara kesehatan para pekerja/siswa untuk memperoleh
           hasil pekerjaan yang optimal.
       3. Mengurangi angka sakit atau angka kematian diantara pekerja.
       4. Mencegah timbulnya penyakit menular dan penyakit-penyakit
           lain yang diakibatkan oleh sesama kerja.
       5. Membina dan meningkatkan kesehatan fisik maupun mental.
       6. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat
           kerja.
       7. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman
           dan efisien.

   Petugas laboratorium/workshop banyak dihadapkan pada bahaya,
secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam laboratorium/workshop
dapat digolongkan antara lain:

1. Bahaya kebakaran atau ledakan dari zat atau bahan yang mudah
   terbakar atau meledak.
   Bahaya kebakaran disini dapat timbul karena beberapa faktor
   diantaranya:


                                                                    69
   a. Faktor manusia :
      1). Tidak mau tau atau kurang mengetahui prinsip dasar
          pencegahan kebakaran
      2). Menyimpan atau menyusun bahan yang mudah terbakar
          didekat pipa uap atau pipa pembuangan yang panas
      3). Pemakaian tenaga listrik yang berlebihan dan melebihi
          kapasitas yang telah ditentukan
      4). Kurang memiliki tanggung jawab dan disiplin
      5). Adanya unsur kesengajaan
      6). Kegagalan pengolahan dalam menerapkan pencegahan dan
          pengendalian kebakaran sebagai suatu kesatuan prosedur
          perencanaan dan prosedur operasional atau pelaksanaan.

   b. Faktor teknis : Melalui faktor fisik atau mekanis dimana dua
      faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini yaitu
      timbulnya panas akibat pengetesan benda atau adanya kabel
      yang terbuka.

   c. Faktor alam:
      1). Petir adalah salah satu penyebab adanya kebakaran dan
          peledakan
      2). Gunung meletus yaitu yang bisa menyebabkan kebakaran
          hutan yang luas juga perumahan-perumahan yang dilalui oleh
          lahar panas.

   Dengan meniadakan salah satu faktor di atas api akan padam, hal ini
   dapat ditempuh dengan cara mematikan, yaitu menjauhkan bahan
   bakar atau bahan-bahan yang mudah terbakar. Menutupi yaitu
   mengurangi oksigen diudara sekitar kebakaran, caranya adalah
   dengan menyemprotkan busa, pasir atau tanah pada permukaan
   bahan bakar. Bisa juga dengan car pendinginan yaitu menurunkan
   suhu benda-benda yang terbakar dibawah suhu nyalanya, caranya
   adalah dengan menyemprotkan air. Ada beberapa contoh bahan yang
   mudah terbakar dan meledak, yaitu ; kertas, kayu, kain, bahan karet,
   cairan gas, dan bahan padat yang dapat larut dan menyala (minyak,
   cat) peralatan listrik, magnesium, titanium, zirkonium, sodium, lithium
   dan potassium.

2. Bahan beracun dan kaustik.
       Hal ini terjadi karena penggunaan bahan yang berbhaya, seperti
   racun atau bahan lainnya yang merusak organ tubuh atau
   penggunaan peralatan yang tidak berpengalaman secara sempurna.
   Bahaya-bahaya ini umpamanya bahaya kimia tidak hanya berupa
   korosif, oksidasi tetapi juga karsigonesitus, ledakan dan lain-lain.
       Bahaya biologi seperti oleh virus, jamur, bakteri atau sesak nafas
   akibat kebocoran gas, uap kabut dan lain-lain yang masuk kedalam


                                                                       70
   tubuh. Gangguan kesehatan akibat keracunan tidak hanya terjadi
   dengan cepat tetapi setelah beberapa tahun. Zat-zat yang berbahaya
   tersebut harus digunakan dalam kadar konsentrasi yang rendah serta
   pengangkutan dan penyimpanannya harus dalam tangki atau ketel
   tertutup. Jika dilabor atau diruang kerja harus ada instalasi isapan
   udara yang sempurna dan diimbangi dengan pemasukan udara
   segar.
       Untuk menghindari keracunan harus mengikuti hal-hal berikut :
   a). Menjaga kebersihan dan ketertiban; 2). Meningkatkan
   pengetahuan tentang kesehatan dan bahaya keracunan; c). Disiplin
   dalam bekerja; d). Dilarang membawa dan menyimpan makana/rokok
   dalam ruang kerja /labor; e). Mencuci tangan secara teratur;
   f). Mengganti pakaian ketika akan memasuki labor atau memakai
   pakaian pengaman yang disaratkan; g). Bekerja dengan
   menggunakan masker hidung (respirator) sehingga terhindar dari
   gangguan pernafasan terhadap kotoran/debu atau bahan kimia;
   h). Menggunakan pelindung tangan sehingga terbebas dari
   temperatur yang ekstrim, baik terlalu panas atau terlalu dingin serta
   zat kimia kaustik dan benda-benda tajam. Pelindung tangan tersebut
   dapat berupa sarung tangan, gloves, mitten/holder, pads dan lain-lain.

3. Bahaya Radiasi
      Bahaya radiasi merupakan bahaya ergonomi dari segi tata
   letak,pekarangan yang tidak memadai dan lain-lain termasuk bahaya
   fisik berupa temperatur dll.

4. Luka Bakar, luka bakar yang disebabkan terkena zat-zat yang
   berbahaya benda tajam di tempat kerja.

5. Syok akibat aliran listrik
         Penggunaan peralatan listrik yang tidak tepat dan hubungan
   listrik yang salah dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan,
   misalnya kabel stop kontak, kontak sring dan lain-lain. Akibat adanya
   hubungan pendek sehingga menimbulkan panas atau bunga api yang
   dapat menyalakan atau membakar komponen lain, tindakan ceroboh
   serta penyimpanan peralatan yang tidak pada tempatnya.

6. Luka sayat akibat alas gelas yang pecah dan benda tajam.

7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit, bahaya ini maerupakan
   bahaya biologi yang disebabkan oleh virus,bakteri, jamur,dll.

  Pada umum nya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha
pengamanan, antara lain dengan penjelasan peraturan seta penarapan
disiplin kerja.



                                                                      71
   Manejemen kesalamatan dan kesehatan kerja adalah pencapaian
tuuan yangsudah di tentukan sebelumnya dengan menggunakan batuan
orang lain (G.Terry). Untuk mencapai tujuan tersebut G.Terry membagi
kegiatan atau fungsi manajemen menjadi 4 yaitu:

1. Perencanaan.
         Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan
   yang akan di lakukan dimasa mendatang guna mencapai tujuan yang
   telah ditetapkan. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan
   kerja di laboraturium. Dalam perencanaan kegiatan yang ditentukan
   meliputi a). apa yang dikerjakan; b). bagai mana mengerjakannya;
   c).mengapa mengerjakan; e).kapan harus dikerjakan; f).dimana
   kegiatan itu harus dikerjakan ( Laboratorium )
      Kegiatan laboratorium sekarang tidak lagi hanya dibidang
   pelayanan tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang
   pendidikan dan penelitian, juga metoda-metoda yang dipakai makin
   banyak ragamnya ; semuanya menyebabkan resiko bahaya yang
   dapat terjadi dalam laboratorium makin besar. Oleh karena itu usaha-
   usaha pengamanan kerja di laboratorium harus ditanggani secara
   serius oleh organisasi keselamatan kerja laboratorium.

2. Organisasi.
      Organisasi keselamatan kerja laboratorium dapat dibentuk dalam
   beberapa jenjang, mulai dari tingkat laboratorium daerah (wilayah)
   sampai ketingkat pusat (nasional). Keterlibatan pemerintah dalam
   dalam organisasi ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat
   diperlukan. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait
   dalam organisasi ini ditingkat pusat dan tingkat daerah, disamping
   memberlakukan undang-undang keselamatan kerja ditingkat daerah.
   Untuk itu perlu dibentuk komisi keamanan kerja laboratorium yang
   tugas dan wewenangnya dapat berupa : a). Menyusun garis besar
   pedoman keamanan kerja laboratorium; b). Memberikan bimbingan,
   penyuluhan, pelatihan pelaksanaan keamanan kerja laboratorium;
   c). Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium;
   d). Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan
   izin laboratorium; e). Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya
   yang timbul dari suatu laboratorium.

3. Pelaksanaan.
   Fungsi pelaksanaan adalah kegiatan mendorong semangat kerja para
   pekerja/siswa,      mengerahkan        aktivitas    pekerja/siswa,
   mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja/siswa sesuai dengan
   rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
   Pelaksanaan program kesehtan dan keselmtan kerja laboratorium
   sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Untuk itu setiap
   individu yang bekerja dalam laboratorium wajib mengetahui dan


                                                                    72
  memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber
  kecelakaan kerja dalam laboratorium, serta memiliki kemampuan dan
  pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan
  penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Disamping itu juga
  mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani
  berbagai spesimen reagensia dan alat-alat.

4. Pengawasan
      Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar
  pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang
  ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan
  pengawasan perlu diperhatikan dua prinsip pokok yaitu : a) adanya
  rencana; b). Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang
  kepada pekerja/siswa.
      Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah
  sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi
  keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi perlu
  dilakukan terus menerus karena usaha pencegahan bahaya yang
  bagaimanapun juga baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan.
  Untuk sebuah laboratorium perlu dibentuk pengawasan yang
  tugasnya antara lain : a). Memantau dan mengarahkan secara
  berkala praktek-praktek laboratorium yang baik, benar dan aman;
  b). Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara
  menghindari resiko bahaya dalam laboratorium; c). Melakukan
  penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya.

      Ruang lingkup kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja pada
  prinsipnya mencakup tiga aspek, yakni aspek pekerja, pekerjaan dan
  tempat bekerja, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu :

       a) Pekerja/siswa
            Para    pekerja/siswa   di  suatu   perusahaan/sekolah
       kesehatannya harus dijaga dengan baik. Hal tersebut sangat
       penting untuk peningkatan kinerja sehingga memperoleh
       tenaga-tenaga yang produktif dan profesional, sehingga pada
       gilirannya akan membantu          perusahaan/sekolah dalam
       mencapai tujuannya.
            Tugas dan tanggung jawab pekerja/siswa adalah ;
       1). mempelajari dan melaksanakan aturan dan instruksi
       keselamatan kerja; 2). Memberikan contoh cara kerja yang
       aman kepada pekerja baru/ siswa yang kurang berpengalaman;
       3). Menunjukkan kesiapan dan minat untuk mempelajari dan
       melatih diri terhadap kerja yang aman; 4). Melakukan secara
       sungguh-sungguh terhadap keselamatan kerja pada setiap
       tugas pekerjaan.



                                                                    73
 b) Pekerjaan.
     Pekerjaan dapat diselesaikan jika ada pekerja. Namun para
 pekerja/siswa juga tidak banyak berarti apabila pekerjaan yang
 dilaksanakan tidak diperlakukan sesuai dengan aturan atau
 prosedur yang telah ditetapkan. Upaya mengurangi resiko
 dalam melakukan suatu pekerjaan antara lain : 1). Mengadakan
 perubahan dalam pekerjaan yang salah. Misalnya pemakaian
 alat kerja yang tidak sesuai harus diganti secepatnya;
 2). Mencegah terjadinya penularan; 3). Diberlakukannya
 tindakan atau aturan yang ketat untuk melindungi para pekerja
 terhadap penggunaan alat-alat yang membahayakan. Misalnya:
 Menggunakan pakaian sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan
 dan juga melarang seseorang melakukan pekerjaan yang bukan
 menjadi keahliannya; 4). Pencahayaan/penerangan yang sesuai
 dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang
 membutuhkan ketelitian dan cenderung rumit harus diberikan
 penerangan yang lebih. Hal ini dimaksudkan: a) Untuk
 mencegah dan menghindarkan terjadinya kecelakaan: b) Untuk
 menjaga mutu pekerjaan: c) Untuk tidak menurunkan produksi:
 d) Untuk tidak merusak mata; 5) Mengadakan latihan-latihan
 terhadap para pekerja/siswa di dalam bidang khusus.
     Setiap jenis pekerjaan mempunyai sifat-sifat dan cara-cara
 sendiri. Sifat dan cara-cara ini harus dikenal serta dipelajari oleh
 para pekerja/siswa. Hal ini bertujuan: a) Untuk mencegah
 timbulnya kecelakaan-kecelakaan sebagai akibat kurang
 mengetahui sifat dan cara bekerja; b) Menambah pengetahuan
 para pekerja, sesuai bidangnya masing-masing; 6) Tindakan
 untuk mencegah kecelakaan harus bisa dibedakan antara
 usaha-usaha tentang keselamatan kerja dengan usaha
 pencegahan atas penyakit akibat kerja yaitu bahwa keselamatan
 kerja menitikberatkan pada peralatan dari perusahaan,
 sedangkan pencegahan penyakit akibat kerja ditujukan kepada
 orang-orang yang bekerja dalam perusahaan.
     Di samping kecelakaan-kecelakaan itu disebabkan karena
 persoalan teknis, sebagian besar kecelakaan disebabkan
 karena kelelahan. Makin lama seseorang melakukan pekerjaan
 makin berkurang prestasi kerjanya, dan semakin banyak bekerja
 maka akan makin cepat dan hebat tingkat kelelahannya.
 Kelelahan dapat menimbulkan efek buruk terhadap jasmani
 maupun rohani. Efek buruk terhadap jasmani sering disebut
 “Exhaustion” sedangkan efek buruk terhadap rohani disebut
 “Neurastheni”.
    Usaha untuk mencegah/memperkecil kecelakaan, dapat
dilakukan dengan cara:




                                                                  74
     1). Mengadakan pengaturan tata cara kerja, antara lain
        dengan melakukan penjadwalan yang baik dan jam kerja
        rasional serta adanya istirahat berkala di antara jam kerja.
     2). Menerapkan dan mematuhi peraturan sekolah atau
        perundang-undangan lamanya jam kerja.
     3). Menerapkapkan rolling kerja (shift/jam kerja) dengan
        jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Hasil ini perlu
        dilakukan untuk menghindari pekerjaan dari kajenuhan
        atau kebosanan yang berakibat terjadinya kecelakaan.
        Semakin teliti dan halus suatu pekerjaan, makin harus
        diperpendek lamanya bekerja dan harus diselang dengan
        istirahat.

 c) Tempat bekerja
     Tempat bekerja merupakan bagian yang penting begi suatu
 industri/perusahaan atau sekolah, secara tidak langsung tempat
 bekerja akan berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan dan
 keselamatan dari para pekerja/siswa. Keadaan atau suasana
 yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan
 menimbulkan gairah produktifitas kerja.
     Usaha-usaha kesehatan yang perlu dilakukan terhadap
 tempat kerja secara umum adalah dengan menerapkan hygiene
 dan sanitasi tempat kerja secara khusus. Hal-hal yang berkaitan
 dengan hygiene dan sanitasi tempat kerja antara lain:
     1). Penerangan atau pencahayaan dalam ruangan
         kerja/workshop harus disesuaikan/diatur dengan jenis
         pekerjaan yang dilakukan.
     2). Pengontrolan udara dalam ruangan kerja.
     3). Suhu udara dalam ruangan kerja.
     4). Tekanan udara dalam ruangan kerja.
     5). Pencahayaan

    Pencahayaan yang baik adalah                 pencahayaan yang
memungkinkan tenaga kerja/siswa dapat melihat objek-objek yang
dikerjakan secara jelas, tepat dan tanpa gangguan. Pencahayaan
yang cukup dan diatur secara baik akan membantu menciptakan
lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan.
    Intensitas     pencahayaan       yang   kurang      baik     dapat
menyebabkan gangguan visibilitas dan eyestrain. Sebaliknya
intensitas pencahayaan yang berlebih juga dapat menyebabkan
glare, reflection, excessive, shadows, visibility dan eyestrain.
    Tenaga kerja/siswa harus dengan jelas dapat melihat objek-
objek yang ssedang dikerjakan, benda atau alat dan tempat
disekitarnya yang mungkin mengakibatkan kecelekaan perlu
disingkirkan, karena akan memberi pengaruh terhadap para
pekerja/siswa, hal ini dapat dilihat sbb:


                                                                   75
1). Pengaruh pencahayaan di tempat kerja.
    Secara umum jenis pencahayaan ditempat kerja
dibedakan menjadi dua yaitu; a) pencahayaan buatan
(pencahayaan yang dihasilkan oleh cahaya lampu),
b) pencahayaan alamiah (pencahayaan yang dihasilkan oleh
cahaya matahari).
    Tingkat pencahayaan pada tiap-tiap pekerjaan berbeda
tergantung pada sifat dan jenis pekerjaannya. Pekerjaan yang
tingkat ketelitiannya tiggi otomatis intensitas cahaya yang
dibutuhkan juga tinggi begitu sebaliknya.
    Pencahayaan yang kurang memenuhi syarat akan
mengakibatkan; kelelahan mata sehingga berkurangnya daya
daneffisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan / pegal didaerah
mata dan sakit di sekitar mata, kerusakan indra mata,
meningkatkan kecelakaan, pekerja kehilangan produktifitas,
kualitas kerja rendah, banyak terjadi kesalahan.
    Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah
pencahayaan; pemilihan lampu secara tepat, penetapan
sumber-sumber cahaya terhadap alat-alat produksi dan
pekerja, perhitungan letak jendela, penggunaan alat pelapis
yang tidak mengkilat penyaringan sinar matahari langsung,
merubah posisi kerja untuk menghindari bayang-banyang
pantulan sumber kesilauan dan kerusakan.

2). Sistem aplikasi pencahayaan ditempat kerja
    Tempat kerja perlu didesain untuk menghindari
pencahayaan yang merusak mata. Kebutuhan intensitas
pencahayaan bagi pekerja/siswa harus dipertimbangkan saat
mendesain bangunan pemasangan mesin-mesin, alat dan
sarana kerja. Desain ventilasi / pencahayaan harus mampu
mengontrol cahaya kesilauan, pemantulan, dan bayang-
bayang serta untuk kesehatan dan keselamatan kerja.
    Identifikasi penilaian problem dan kesulitan pencahayaan.
Agar masalah pencahayaan yang muncul dapat ditangani
dengan baik, faktor yang perlu diperhitungkan; a). sumber
pencahayaan; b). posisi pekerjaan dalam bekerja; c). jenis
pekerjaan yang dilakukan; d). lingkungan pekerjaan secara
keseluruhan.
    Teknik dan metode yang dapat digunakan untuk
mengidetifikasi dan menilai masalah pencahayaan ditempat
kerja; konsultasi atau wawancara dengan pekerja/siswa dan
supervisor di tempat kerja, mempelajari laporan kecelakaan
kerja sebagai bahan investigasi dapat dilakukan dengan cara:
a). mengukur intensitas pencahayaan; b) kesilauan;
c). pantulan dan bayang-bayang yang ada ditempat kerja;



                                                            76
d). mempertimbangkan faktor sikap bekerja; e). lama bekerja;
f). jenis pekerjaan, dan lain sebagainya.

    Pengaruh penggunaan warna terhadap penerangan.
Warna pencahayaan dan komposisi spektrumnya sangat
penting dalam memperbandingkan dan mengkombinasikan
warna-warna. Warna-warna dalam lingkungan sebagai akibat
pencahayaan memantulkan rupa daripada lingkungan.
Lingkungan tempat kerja tergantung dari dekorasi dan
pencahayaan,        adapun     faktor-faktor     penentu    adalah;
a)      pembagian luminensi, jika mungkin tersebar setengah
lapangan penglihatan, permukaan-permukaan berwarna
menengah, b)pencegahan kesilauan, sumber-sumber cahaya
yang terpilih, pengaturan meja dan mesin, c) warna-warni dari
tempat kerja tergantung dari pencahayaan yang dipakai.
    Standar       pencahayaan      ditempat       kerja,   identitas
pencahayaan yang dibutuhkan dari masing-masing tempat
kerja ditentukan dari jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan.
Standar pencahayaan di Indonesia telah ditetapkan seperti
tersebut dalam Peraturan Mentri Perhubungan (PMP) No. 7
Tahun 1964, tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan dan
pencahayaan yang dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut;
1). Pencahayaan untuk halaman dan jalan dilingkungan
     perusahaan harus mempunyai intensitas pencahayaan
     paling sedikit 20 luks.
2). Pencahayaan untuk pekerjaan yang hanya membedakan
     barang kasar dan besar paling sedikit mempunyai
     intensitas pencahayaan 50 luks.
3). Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang
     membedakan barang kecil secara sepintas lalu paling
     sedikit mempunyai intensitas pencahayaan 100 luks.
4). Pencahayaan untuk pekerjaan yang membedakan dengan
     teliti dari barang kecil agak teliti paling sedikit mempunyai
     intensitas pencahayaan 200 luks.
5). Pencahayaan untuk pekerjaan yang membedakan dengan
     teliti dari barang-barang yang kecil dan halus, paling
     sedikit memilih intensitas pencahayaan 300 luks.
6).     Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang
     membeda-bedakan barang halus dengan kontras yang
     sedang dalam waktu yang lama, harus mempunyai
     intensitas pencahayaan paling sedikit 500-1000 luks.
7). Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang
     membedakan barang yang sangat halus dengan kontras
     yang kurang dan dalam waktu yang lama, harus
     mempunyai intensitas pencahayaan paling sedikit 2000
     luks.


                                                                 77
d) Kecelakaan Akibat Kerja
     Kecelakan tidak terjadi kebetulan melainkan ada sebabnya.
Maka kecelakaan itu dapat dicegah asal kita ada kemauan
untuk mencegahnya. Sebab-sebab kecelakaan akibat kerja ada
2 golongan sebagai berikut; 1). Faktor mekanis dan lingkungan,
meliputi segala sesuatu selain manusia. Faktor ini dapat pula
dibagi-bagi menurut keperluan untuk tujuan apa. Misalnya;
sebuah perusahaan sebab-sebab kecelakaan dapat disusun
menurut pengelolaan bahan, pemakaian alat-alat atau perkakas
yang dipegang oleh tangan, jatuh dilantai dan tertimpa benda
jatuh, menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda
pijar atau pengangkutan. 2). Faktor manusia itu sendiri.
Misalnya seorang pekerja pabrik tekstil mengalami kecelakaan
tertimpa gunting jatuh tepat mengenai punggung kakinya. Jika ia
mengikuti petunjuk kesehatan dan keselamatan kerja dan tidak
meletakkan gunting sembarangan maka gunting tersebut tidak
akan tersenggol dan tidak akan jatuh.

 1). Klasifikasi kecelakaan akibat kerja
     Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut Organisasi
     Perburuhan International tahun 1962 adalah:
     (a). Klasifikasi menurut jenis kecelakaan antara lain;
           terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk atau
           terkena benda-benda,         terjepit, gerakan-gerakan
           melebihi kemampuan, pengaruh suhu tinggi, terkena
           arus listrik, kontak dengan bahan-bahan berbahaya
           atau radiasi, serta jenis-jenis lainnya       termasuk
           kecelakaan-kecelakaan yang data-datanya tidak
           cukup.
     (b). Klasifikasi menurut penyebab, seseorang menjadi
           celaka bisa disebabkan oleh: mesin, alat pengangkut
           dan alat angkat, peralatan lain, bahan-bahan kimia
           (zat-zat dan radiasi), lingkungan kerja, penyebab-
           penyebab yang belum termasuk golongan-golongan
           tersebut atau data tidak memadai.
     (c). Klasifiksi menurut sifat seperti luka atau kelainan
           yaitu; patah tulang, disloksi/keseleo, regang otot/urat,
           memar dan luka dalam, amputsi, luka bakar,
           keracunan-keracunan mendadak, akibat cuaca, mati
           lemas, pengaruh aruh listrik, luka-luka yang banyak
           dan berlainan sifatnya, dan lain-lain.
     (d). Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka ditubuh
           yaitu; kepala, leher, badan, kelainan umum, dan lain-
           lain.
         Dalam suatu penelitian 85% sebab-sebab dari
     kecelakaan kecil bersumber dari manusia, persoalannya


                                                                78
   sangat rumit, misalnya kecelakaan akibat keadaan emosi
   para pekerja/siswa seperti ketidak adilan, perkelahian
   dengan teman sekerja/sekelas atau peristiwa-peristiwa
   percintaan.
       Tanpa diduga-duga manusia kadang-kadang sengaja
   membuat kecelakaan, sehingga kata kecelakaan sudah
   tidak tepat lagi, hal ini terjadi misalnya akibat sebagai
   kejemuan, kebencian, ataupun putus asa.

2). Kerugian-kerugian oleh karena kecelakaan
    Kecelakaan adalah kerugian yang terlihat dari adanya dan
besarnya biaya kecelakaan. Biaya ini menjadi beban bagi
negara dan rakyat seluruhnya. Kecelakaam menyebabkan
lima kerugian yaitu; kerusakan, kekacauan organisasi, keluhan
atau kesedihan, kelainan atau cacat, kematian.
Biaya ini dapat dibagi dua yaitu;
    (a). Biaya langsung adalah biaya atas P3K, pengobatan
         dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan,
         upah selama pekerja tidak mampu bekerja, biaya atas
         kerusakan bahan-bahan dan lain-lain.
    (b). Biaya tersembunyi meliputi; segala sesuatu yang
         terllihat pada waktu dan beberapa waktu sesudah
         kecelakaan terjadi.
              Dalam penelitian diluar negeri perbandingan biaya
         langsung dan biaya tersembunyi adalah 1:4, selain itu
         menunjukkan bahwa besarnya tingkat dan biaya
         kecelakaan kecil dari pada kecelakaan besar, dimana
         kecelakaan     kecil     adalah     kecelakaan     yang
         menyebabkan pekerja tidak masuk kerja atau siswa
         tidak masuk sekolah sebagai akibat kecelakaan
         tersebut. Biasanya pekerja/siswa yang terkena
         kecelakaan kecil dan badannya sehat tapi karena
         salah     satu   organ     tubuhnya     terluka   maka
         pekerja/siswa tersebut tidak bisa bekerja/mengikuti
         praktek, misalnya luka pada jari telunjuk, telapak
         tangan,pada mata dan lain sebagainya.
              Besarnya angka kecelakaan diperusahaan AS
         dari penderita korban pada perang dunia ke-2
         sebanyak 22,088 (luka dan meninggal) korban
         kecelakaan perusahaan adalah 1219 jiwa meninggal
         dan 160747 jiwa luka-luka. Sedangkan di Inggris
         korban perang 8126 jiwa, dan korban kecelakaan
         diperusahaan adalah 107 kematian dan 22002 luka-
         luka. Diduga seluruh dunia terjadi           kecelakaan
         sebanyak 15 juta setahunnya.



                                                             79
3). Pencegahan kecelakaan
        Kecelakaan dapat dicegah asal ada kemauan untuk
    mencegahnya. Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat
    dicegah dengan:
    (a). Peraturan-peraturan, yaitu ketentuan-ketentuan yang
         diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada
         umumnya.
    (b). Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi,
         misalnya kontruksi tempat kerja yang memenuhi
         syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan
         industri/peralatan sekolah tertentu dan alat-alat
         perlindungan diri.
    (c). Pengawasan, yaitu tentang dipatuhinya ketentuan-
         ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.
    (d). Penelitian yang bersifat teknik, yang meliputi sifat
         dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya.
    (e). Riset media, yang meliputi terutama penelitian
         tentang efek-efek fisiologis patologis faktor-faktor
         lingkungan dan teknologi, dan keadaan-keadaan fisik
         yang mengakibatkan kecelakaan.
    (f). Penelitian psikologis, yaitu menyelidiki tentang pola-
         pola kejiwaan yang mengakibatkan terjadinya
         kecelakaan.
    (g). Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-
         jenis kecelakaan yang terjadi.
    (h). Pendidikan,       yang      menyangkut      pendidikan
         keselamatan.
    (i). Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga
         kerja/siswa.
    (j). Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara
         penyuluhan atau pendekatan lain untuk meimbulkan
         sikap untuk selamat.
    (k). Asuransi, yaitu insentif financial untuk meningkatkan
         pencegahan kecelakaan.
    (l). Usaha           keselamatan         pada       tingkat
         perusahaan/sekolah, yang merupakan ukuran utama
         efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja yang
         terkait dengan tataletak alat-alat keperluan siswa
         dalam melakukan praktek.
    (m). Sangat diperlukan bahwa untuk pencegahan
         kecelakaan akibat kerja diperlukan kerja sama
         dengan aneka keahlian.




                                                            80
5. Kecelakaan menurut jenis pekerjaan
    Kecelakaan–kecelakaan diperusahaan berbeda dengan kecelakaan
disekolah kejuruan, diperkebunan, kehutanan, pertambangan atau
perkapalan. Jenis-jenis kecelakaan menurut pekerjaan antara lain:
a). Dipertambangan, misalnya akibat ledakan, rubuhnya dinding dan atap
tambang, jatuh ketika menganalisa atau menuruni tangga dan lain-lain;
b). Diperkapalan, misalnya tenggelam, ditelan ikan, luka oleh barang-
barang atau binatang laut berbisa; c). Diperkebunan atau kehutanan,
antara lain, ketiban kayu atau luka oleh perkakas tangan; d). Pekerjaan
yang berhubungan dengan arus listrik terutama yang bervoltage tinggi
yang kadang-kadang mendatangkan bahaya, terutama bagi mereka yang
tidak tahu seluk beluk listrik, terjadi arus pendek, kebakaran; e). Industri-
industri kimia yang menggunakan bahan-bahan yang mudah terbakar,
maka sebaiknya bahan kimia disimpan ditempat yang aman dan setiap
perusahaan/sekolah kejuruan menyediakan alat-alat pemadam
kebakaran.

a). Alat- alat pelindung diri
    Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan
temapat, peralatan dan lingkungan kerja adalah sangat perlu diutamakan.
Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan; enak dipakai, tidak
mengganggu kerja, memberi perlindungan yang efektif terhadap jenis
bahaya.
    Pakaian kerja harus dianggap sebagai suatu alat yang dapat
memperkecil ancaman terhadap bahaya kecelakaan. Pakaian kerja
untuk tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin sebaiknya
menggunakan pakaian berlengan pendek, pas (tidak longgar) pada dada
atau punggung, tidak berdasi dan tidak ada lipatan-lipatan yang
mendatangkan bahaya. Sedangkan pakaian kerja untuk tenaga kerja
wanita memakai celana panjang, ikat rambut, baju yang pas dan tidak
memakai perhiasan.
    Jenis alat-alat proteksi diri beraneka ragam macamnya, antara lain
sebagai berikut;
    1) Untuk kepala; pengikat dan penutup rambut, topi dari berbagai
        bahan
    2) Untuk mata;kaca mata dari berbagai bahan
    3) Untuk muka; perisai muka
    4) Untuk tangan dan jari; sarung tangan, bidal jari
    5) Untuk kaki; sepatu dan sendal
    6) Untuk alat pernapasan; respirator atau masker khusus
    7) Untuk telinga; sumbat telinga atau tutup telinga.
    8) Untuk tubuh; pakaian kerja yang memenuhi persyaratan
        sesuaikan dengan jenis pekerjaan.




                                                                          81
B. Standar Operasional Prosedur Kesehatan, Keselamatan dan
    Keamanan Kerja
    Standar Operasional Prosedur (SOP) sangat penting bagi kesehatan,
keselamatan dan keamanan kerja dalam menjalani pekerjaan. SOP
sangat besar manfaatnya dalam melaksanakan pekerjaan, dalam
menangani bahaya atau resiko, dalam menggunakan peralatan dan
melakukan sesuatu pekerjaan dengan keadaan yang sehat dan selamat.
    Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja di sekolah mestinya
telah menjadi isu penting, karena Indonesia telah memiliki undang-
undang akan hal ini, namun pelaksanaannya sering diabaikan oleh
perusahaan/sekolah maupun pakerja/siswa. Dengan menerapkan standar
kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja, diharapkan para
pekerja/siswa akan terlindung dari kemungkinan resiko kerja yang selalu
mengancamnya, baik yang disebabkan oleh lingkungan kerja maupun
kesalahan pekerja/siswa itu sendiri (human error).
    Pihak perusahaan/sekolah harus menjamin bahwa lingkungan kerja
dan peralatan yang digunakan aman. Oleh karena itu menjadi kewajiban
bagi setiap perusahaan/sekolah untuk mengadakan pelatihan kepada
para calon karyawannya sebelum beroperasi. Untuk itu dibutuhkan suatu
standar yang berlaku untuk perusahaan/sekolah tersebut.
    Kurangnya pengalaman kerja dapat menyebabkan kecelakaan dalam
bekerja. Supaya kecelakaan kerja lebih kecil diperlukan perhatian dan
kewaspadaan secara terus menerus. Satu upaya penyelamatan juga
tergantung pada unjuk kerja setiap karyawan/siswa. Kecelakaan itu
sangat mudah terjadi. Para praktisi berpendapat bahwa hanya
memerlukan satu orang untuk menimbulkan suatu kecelakaan,
sedangkan untuk mencegah kecelakaan diperlukan kerja sama tim yang
baik dari setiap anggota tim itu sendiri.

C. Hukum Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja yang
    Berlaku Secara International
    Perlindungan tenaga kerja dibidang keselamatan kerja di indonesia
telah mengarungi sejarah yang panjang, dimulai lebih dari satu abad yang
lalu. Usaha penanganan keselamatan kerja di Negeri ini dimulai sejalan
dengan pemakaian mesin uap untuk keperluan pemerintah Hindia
Belanda, yang semula pengawasannya ditujukan untuk mencegah
kebakaran.
    Perusahaan/sekolah kejuruan secara hukum berkewajiban untuk
menghilangkan atau mengurangi resiko/kecelakaan kerja sekecil
mungkin. Ketika pekerja/sekolah dalam keadaan penuh tekanan, atau
bekerja dalam suasana yang sangat sibuk tidaklah mudah untuk
menerapkan keamanan kerja. Namun demikian, dalam keadaan apapun
pekerja/siswa harus tetap memperhatikan dan menerapkan keamanan
dan keselamatan kerja. Jadikan keamanan kerja sebagai prioritas utama.
    Untuk melaksanakan tujuan tersebut perusahaan/sekolah kejuruan
harus menyediakan atau membuat panduan keselamatan kerja. Tugas


                                                                     82
pekerja/siswa adalah menggunakan peralatan dan mengaplikasikan
keselamatan dan keamanan kerja yang telah ditetapkan oleh pihak
perusahaan/sekolah.
    Perusahaan/sekolah        menyediakan         alat-alat    perlindungan
keselamatan kerja, seperti: sandal jepit karet, masker, sarung tangan,
helm, kaca mata, bidal, celemek, alat kerja yang bukan penghantar listrik,
tangga dsbnya. Alat-alat pemadam kebakaran harus ditempatkan
ditempat yang mudah terlihat dan terjangkau serta diberi cat bewarna
merah. Benda-benda yang mudah terbakar harus diperhatikan
keamanannya, serta dilakukan tindakan pencegahan terhadap bahaya
kebakaran.
    Semua pekerja/siswa wajib mengetahui tempat alat-alat pemadam
kebakaran dan mengetahui cara penggunaannya. Untuk mencegah
kecelakaan kerja, semua pekerja/siswa harus mentaati seluruh peraturan
dan tata cara pemakaian alat kerja serta ketentuan kerja yang
dikeluarkan perusahaan dengan berpedoman pada undang-undang yang
berlaku. Perlu selalu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan dari kelalaian
dapat menyebabkan pekerja/siswa diberhentikan dari pekerjaan/sekolah.
Terlebih lagi jika pekerja/siswa diketahui menyalahi prosedur yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. Oleh karena itu sebaiknya pekerja/siswa
selalu berhati-hati dalam mengerjakan tugas masing-masing.
    Bila terjadi kebakaran, pluit/tanda bahaya atau tanda khusus lainnya
harus segera dibunyikan, dan para pekerja/siswa yang ada ditempat
kejadian      tersebut,    terutama      kaum       pria    dan      petugas
pemadam/penanggulangan kebakaran harus berusaha memadamkan
api, dan para pekerja/siswa lain supaya turut membantu bila mana
diperlukan, serta secara periodik akan dilaksanakan latihan pemadam
kebakaran dan pembinaan-pembinaan terhadap regu pemadam
kebakaran yang telah dibentuk.
    Setiap pekerja/siswa harus mematuhi dan melaksanakan instruksi-
instruksi tentang pemakaian alat-alat perlindungan kesehatan dan
keamanan kerja yang disediakan perusahaan/sekolah. Tempat kerja
dipelihara kebersihan serta kerapihannya, dan untuk kesehatan bersama
dilarang meludah dilantai, dilarang membuang sampah di sembarang
tempat. Setiap pekerja/siswa yang mengetahui pekerja lain menderita
penyakit menular, seperti : lepra, syphilis, kolera, TBC, demam berdarah,
muntah ber dan sebagainya, harus melapor kepada pimpinan
perusahaan atau kepala sekolah dan guru tentang penyakit tersebut
untuk diambil langkah-langkah pencegahan dan pengobatan.
    Hubungan keselamatan kerja dengan perlindungan tenaga kerja
meliputi aspek-aspek yang sangat luas, antara lain perlindungan
keselamatan kerja dan kesehatan. Maksud perlindungan ini ialah agar
tenaga kerja/siswa secara umum melaksanakan pekerjaannya sehari-hari
untuk meningkatkan produksi/menerapkan tuntutan kurikulum. Karena itu,
keselamatan kerja merupakan segi penting dari perlindungan tenaga
kerja/siswa disekolah kejuruan.


                                                                         83
D. Prosedur Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Ditempat
    Kerja (Custum Made)
    Perusahaan adalah tempat berhadapannya dua golongan yang
kadang-kadang berbeda atau bertentangan kepentingannya, yaitu
pengusaha dan pekerja. Terutama hal ini berlaku untuk perusahaan-
perusahaan swasta yang           mana pekerja-pekerja memperjuangkan
kesejahteraan dan kesehatan, sedangkan pengusaha memperjuangkan
keuntungan yang sebesar-besarnya. Antara kesejahteraan pekerja dan
keuntungan pengusaha terdapat pertentangan kepentingan. Walaupun
demikian dapat diatasi dengan menjunjung tinggi keselamatan bersama,
antara pengusaha dengan pekerja saling merasa membutuhkan. Untuk
itu ditempat kerja diharapkan memiliki prosedur           kesehatan dan
keselamatan kerja.
    Ditempat kerja/workshop jangan membahayakan kesehatan orang
lain dan diri sendiri. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan
tubuh lain yang tertinggal ditempat kerja, cairan tubuh tersebut mungkin
membawa virus, bakteri dan jenis mikroorganisme lain yang berpotensi
menularkan AIDS, hepatitis dan gangguan kesehatan lain. Laporkan
segera jika anda terjangkit atau terinfeksi suatu penyakit. Pengawas
ditempat kerja akan mempertimbangkan apakah pekerja/siswa tetap
melanjutkan pekerjaannya atau tidak.
    Laboratorium yag diguakan siswa sebagai wadah pengembangan
keterampilan mengamati, megukur dan meneliti berbagai fenomena yang
terkait dengan materi ajar, perlu dilengkapi dengan peraturan
keselamatan kerja. Karena pemahaman            dan pengalaman tentang
keselamatan kerja, adalah modal dasar dalam mencegah dan melindungi
siswa, peralatan dan bahan dari resiko kecelakaan/kerusakan dalam
bekerja.
    Untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, maka setiap
pekerja/siswa mesti menjaga kebersihan dan kesegaran pribadi masing-
masing. Pekerja/siswa akan mengeluarkan banyak keringat ketika dalam
kondisi ruangan hangat. Keringat tidak menimbulkan bau karena akan
menguap dengan cepat, tetapi bakteri yang tertinggal di peluh dapat
menimbulkan bau, terutama pada bagian ketiak, karena keringat tidak
dapat menguap dengan bebas. Mandi setiap hari dan menggunakan
pewangi dan anti-perspiran dapat melindungi diri dari bau badan.
    Disamping higiene personal diatas, penampilan pekerja/siswa seperti
rambut panjang dan terurai tidak tepat bagi yang bekerja di industri
garment dan perhotelan. Karena dapat mengganggu proses kerja, rambut
panjang juga sangat potensial untuk tertinggal pada permukaan benda
yang dikerjakan. Pekerja wanita yang berambut panjang harus diikat dan
ditata dengan baik sehingga tidak mengganggu dalam bekerja.
    Pakaian kerja harus nyaman dan memberikan kesan yang baik
kepada semua orang yang melihatnya. Hindari asesoris dan milineris
yang dapat mengganggu pekerjaan



                                                                     84
E. Menangani Situasi Darurat
    Kecelakaan ditempat kerja/disekolah sebagian besar disebabkan oleh
kurangnya perhatian, kelalaian dan kebiasaan buruk. Kecelakaan
terjadinya tiba-tiba, tanpa direncanakan sehingga dapat menimbulkan
korban, baik berupa benda maupun nyawa. Ada kalanya akibat yang
ditimbulkan mungkin tidak begitu serius. Tetapi rangkaian kejadian atau
gabungan peristiwa akibat dari beberapa kesalahan dapat berakibat fatal.
Dengan demikian kebiasaan untuk bekerja aman dan hati-hati hendaklah
dibiasakan. Perlu selalu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan dari
kelalaian dapat menyebabkan diri sendiri atau diri orang lain dalam
bahaya. Beberapa bahaya tidak dapat dihindari. Beberapa bahaya
ditempat kerja/disekolah terjadi pada situasi normal dan pada situasi
sibuk.
    Orang lain jatuh atau terpeleset karena peralatan atau benda yang
tidak diletakkan pada tempatnya, pekerja/siswa terluka ketika merapikan
barang-barang yang pecah, kulit anda terbakar ketika menggunakan
bahan pembersih, atau terjadi kecelakaan diworkshop, seperti tangan
tertusuk jarum ketika menjahit, kena sengatan listrik ketika
mengoperasikan mesin atau menyeterika, tangan terkena gunting dan
lain sebagainya. Kecelakaan yang terjadi jelas memerlukan bantuan.
Bantuan yang diberikan pada korban secara sementara, sebelum ia
sempat memperoleh perawatan/bantuan medis dari seorang ahli yang
berwewenang, digolongkan sebagai pertolongan pertama atau sering
juga disebut menangani situasi darurat. Pertolongan demikian tidak boleh
menggantikan penanganan korban oleh dokter, kecuali pada kecelakaan-
kecelakaan ringan yang tidak membawa akibat serius. Selain untuk
menenangkan sang korban, mengurangi rasa takut dan kegelisahan,
pertolongan pertama bertujuan untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya bahaya yang lebih fatal. Ketepatan tindakan pertolongan
pertama amat mempengaruhi penyembuhan, cepatnya penyembuhan,
bahkan kadang-kadang dapat menyelamatkan jiwa sang korban.
    Penanggulangan bahaya kebakaran secara darurat, apabila timbul
kebakaran, maka bertindaklah secara cepat dan tepat, jangan panik atau
gegabah. Langkah-langkah tindakan yang dapat dilakukan adalah : 1)
bunyikan tanda bahaya / alarm sebagai tanda telah terjadi sesuatu,
semakin cepat para penghuni lokasi kebakaran diingatkan, semakin
banyak waktu mereka untuk menyelamatkan diri; 2). Hubungi regu
pemadam kebakaran (fire fighters), karena memiliki pengalaman dan
keterampilan untuk menyelamatkan siapa saja yang terjebak dalam asap,
panas dan api; 3). Padamkan api dengan perlengkapan yang tersedia,
setiap ruangan sebaiknya tersedia pengingat yang memberitahukan apa
yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran; 4). Apa bila tidak berhasil
memadamkan, maka segera tinggalkan lokasi tersebut; 5). Beri tahu
orang lain agar segera menghindar dan jangan memasuki ruangan yang
telah terbakar; 6). Apabila asap telah mulai memasuki ruangan, maka



                                                                     85
anda harus keluar ruangan dengan cara merayap; 7). Jika ada
kecelakaan, korban perlu mendapat pertolongan pertama.
    Tindakan-tindakan pertolongan pertama yang penting ialah yang
menyelamatkan jiwa antara lain : penyadaran, menghentikan perdarahan,
serta pertolongan terhadap luka-luka kecil. Peraturan pertolongan
pertama pada kecelakaan, terpenting adalah : 1). Pahami benar apa yang
tidak boleh anda lakukan, karena tidak diobati adalah lebih baik dari pada
pengobatan yang salah; 2). Pahami benar-benar apa yang harus anda
kerjakan, untuk itu bertindaklah cepat bila jiwa korban terancam; serta 3).
Minta segera pertolongan ahli dan dokter pada semua kecelakaan berat.

F. Jenis-jenis Kecelakaan Kerja
   1. Tangan Tertusuk Jarum
      Ketika menjahit jika tidak berhati-hati siswa/pekerja diancam oleh
      tusukan jarum, baik jarum tangan ataupun jarum mesin. Tusukan
      jarum mesin lebih berbahaya, apalagi mesin yang dioperasikan
      dengan dinamo listrik. Sangatlah penting jika hal ini terjadi,
      sikorban mesti diselamatkan dengan cara :
      a. Matikan sumber aliran listrik kemesin jahit.
      b. Laporkan kepada guru pembimbing praktek di workshop
      c. Buka jarum mesin dari mesin jahit
      d. Cabut jarum mesin dari jari/tangan yang tertusuk
      e. Lakukan penekanan pada bekas tusukan jarum, biarkan darah
          keluar beberapa menit untuk membersihkan bekas tusukan
          dari penyebab infeksi
      f. Bersihkan darah/bekas tusukan jarum dengan bahan yang
          bersih
      g. Bila masih berdarah balut bekas tusukan dengan
          menggunakan kain kasa
      h. Bila korban mengeluh kesakitan dan darah masih banyak
          keluar, mintalah pertolongan dokter

   2. Luka Terkena Gunting
       Kegiatan jahit menjahit tidak terlepas dari pemakaian guntuing.
   Jika siswa/pekerja kurang berhati-hati dalam pemakaiannya maka
   kemungkinan gunting tersebut akan membuat siswa/pekerja jadi
   terluka dibuatnya. Jika luka karena gunting/benda tajam lainnya
   lakukan pertolongan sebagai berikut:
       a. Pastikan lukanya kecil atau besar
       b. Biarkan luka kecil atau besar berdarah bebas beberapa menit
          untuk membersihkannya dari penyebab infeksi
       c. Bersihkan luka dengan bahan yang bersih
       d. Jika lukanya kecil tempelkan kasa steril anti septik dan balut
          dengan kain kasa
       e. Jika lukanya besar atau dalam, mintalah pertolongan dokter



                                                                        86
3. Kecelakaan Listrik
     Kecelakaan listrik dapat mengakibatkan terbakar, jatuh dan
kejutan listrik. Salah satu dari padanya dapat menimbulkan
bermacam-macam gejala pada korban yang tertimpa salah satu atau
campuran dari akibat tersebut. Sangatlah penting untuk dapat
mengenal macam-macam gejala itu.
     Hal-hal yang terpenting yang harus diperhatikan pada kecelakaan
sengatan listrik ialah apakah korban masih bernafas dan jantungnya
masih berdenyut atau keduanya berhenti (tidak bernafas dan jantung
tidak berdenyut) ataupun bekerja secara lemah. Kedua hal terpenting
inilah yang harus segera dipulihkan kembali.
          Bila menghadapi tugas harus menolong korban kecelakaan
     listrik, bertindaklah cepat dan menurut urutan berikut:
      a. Matikan sumber aliran listrik ke alat yang rusak, atau bila tidak
          mungkin, hindarkan korban dari aliran listrik.
      b. Lakukan pertolongan (pertama) kecelakaan berdasarkan gejala
          si korban.
      c. Segera setelah anda melihat seseorang dapat kejutan listrik,
          cepat perhatikan kedaan umum. Tetapkan cara terbaik untuk
          membebaskan dari hubungan listrik, tanpa menyebabkan
          tambahan cidera akibat jatuh.
      d. Bila mungkin matikan aliran listrik yang bersangkutan. Pada
          arus listrik bertegang rendah, periksa apakah korban
          bermuatan listrik dengan cara menyentuhnya cepat-cepat
          dengan punggung telapak tangan.
      e. Bila anda merasakan kejutan kecil, ini menunjukkan masih ada
          arus listrik, dorong atau tarik dan berusahalah untuk
          melepaskan si korban.
      f. Pindahkan korban hanya bila dia dalam bahaya dari kebakaran,
          listrik, benda jatuh atau sumber bahaya lain. Bila korban harus
          dipindahkan, mintalah bantun tiga atau empat orang.
      g. Cegahlah membungkukkan atau membongkokkan leher atau
          punggungnya, jaga dia agar tetap lurus.
      h. Topanglah anggota badan yang terluka.
      i. Kemungkinan besar penyadaran akan berhasil bila dimulai dari
          semenit sesudah korban berhenti bernafas. Jadi jangan
          tangguhkan menerapkan penyadaran
      j. Bila korban bernafas dan jantungnya berdenyut, dia tidak
          memerlukan penyadaran.          Bila dia pingsan, berdarah,
          muntahan, gigi lepas atau gigi palsu patah ada kemungkinan
          tertelan dan menyumbat jalan pernafasan, atau kalau korban
          telentang, lidah kebelakang dan menghalangi jalan nafas.
          Pembekokkan leher akut kedepan pada korban yang pingsan
          mungkin pula menghalangi jalan pernafasan.




                                                                       87
4. Cidera Mata
   a. Dilarang menggosok mata yang di dalamnya terdapat
      benda asing.
   b. Suruhlah korban menahan matanya tenang-tenang agar
      matanya jangan sampai bergerk.
   c. Jangan sentuh permukaan mata dengan apapun.
   d. Aturlah pertolongan pengobatan.
   e. Balutlah kedua mata longar-longgar.
   f. Bimbinglah korban ke tempat pos pengobatan

5. Lecet/Luka Kecil dan Memar
   a. Laporkan selalu dan obatilah semua luka tanpa kecuali,
      betapapun kecil tampaknya, karena setiap luka dapat
      terkena infeksi dan meradang jika tidak seger diobati.
   b. Biarkan luka sedang atau kecil berdarah bebas beberapa
      menit untuk membersihkannya dari penyebab infeksi.
   c. Dilarang menutup luka dengan kain tua, saputangan atau
      jari kotor.
   d. Bersihkan luka dengan bahan bersih.
   e. Tempelkan kasa steril anti-septik dan balutlah,
      plester/balutlah luka kecil.
   f. Mintalah pertolongan dokter untuk semua luka yang
      dalam.

6. Luka Bakar dan Air Panas
   a. Mintalah segera untuk pertolongan medis/dokter, tergantung
       pada beratnya luka.
   b. Luka bakar terbaik diobati dengan menyiramnya di bawah
       aliran air dingin yang bersih.
   c. Jangan merobek atau menarik pakaian yang melekat pada
       luka bakar.
   d. Jangan mencoba membuang teh panas, atau zat yang
       serupa dari kulit.
   g. Jaga korban jangan sampai shock.
   h. Bila mungkin lakukan balutan kering steril, atau tutupi luka
       bakar dengan kain atau handuk bersih atau kertas biasa.
       Jangan menyentuh bagian terbakar yang kulitnya melepuh
       atau yang jelas terlihat dagingnya hangus

7. Kejutan (shock)
Hampir setiap kecelakaan atau luka diikuti oleh kejutan. Korban
mungkin pucat dan kulitnya mengerut, denyut lemah dan cepat,
dan mungkin dia pingsan.
   a. Istirahatkan penderita
   b. Jaga penderita tenang dan hangat
   c. Longgarkan pakaian yang ketat


                                                               88
   d. Jaga penderita agar tetap          tenang   dan   yakinkan
      pertolongan akan cepat datang.

8. Keracunan
Pada semua kejadian keracunan mintalah segera pertolongan
dokter. Bila seseorang terisap asap beracun:
   a. Pindahkan korban ke udara segar
   b. Jaga korban jangan sampai shock
   c. Bantulah pernafasan bila pernafasan terhenti (jangan
        dengan cara pernafasan buatan dari mulut ke mulut)

9. Perdarahan dan Cara menghentikannya
   Menghentikan perdarahan secara umum ialah dengan jalan
memberikan tekanan pada luka. Pada perdarahan hebat atau
perdarahan yang sukar dihentikan usahakan dengan segera untuk
memanggil dokter.

   a. Hidung berdarah :
      1). Suruh korban duduk tenang dengan kepala menunduk.
      2). Jangan biarkan dia bersin
      3). Jepit atau suruh jepit sendiri kuat-kuat hidung pada
          sambungan tulang rawan.
      4). Bila perdarahan tidak berhenti dalam 5 sampai 10
          menit, mintalah pertolongan dokter.




                  Gambar 20. Hidung Berdarah

   b. Pergelangan tangan luka sehingga terjadi perdarahan
      hebat.
      1). Tekan luka dengan tangan anda, atau pencet kedua
          tepi luka anda secara serentak. Bila sempat, mula-


                                                             89
        mula tutup luka dengan sapu tangan bersih atau kain
        pembalit sebelum memberi tekanan.




Gambar 21. Perdarahan hebat: naikkan tangan yang luka, tekan kedua tepi
             luka secara serentak




            Gambar 22. Membalut luka dengan kasa tebal

    2). Tahan tekanan pada luka dengan perantaraan kasa
        tebal dan balut erat-erat pada tempatnya. Kasa harus
        cukup besar untuk menutupi seluruh luka dan seluruh
        kasa harus tertutup kain pembalut.
    3). Bila korban mengeluh kaku, gatal atau nyeri pada jari
        atau jari kaki yang dibalut ini berarti balutan terlalu erat,
        kendorkan sedikit.
    4). Bila masih berdarah, tambahkan kasa lagi dan balut
        tanpa membuang kasa pertama.




                                                                    90
            5). Kadang-kadang sepotong benda asing menancap pada
                luka (kaca, logam, kayu). Dalam hal demikian, berikan
                tekanan pada tepi luka dengan memasang kasa sekitar
                luka dan memblutnya ditempatnya. Gunakan pula cara
                ini bila ada potongan tulang menonjol keluar.

G. Menerapkan Praktek Kesehatan dan Keselamatan Kerja
  Bagi peserta didik/pekerja dimanapun berada menerapkan K 3 adalah
  hal yang sangat penting, untu itu semua pihak hendaklah
  menerapkan hal sbb:

  1. Pengusaha menyediakan alat-alat perlindungan keselamatan
     kerja, seperti : sandal jepit, masker, sarung tangan, helm, kaca
     mata, alat kerja yang bukan penghantar listrik, tangga, dsb.
  2. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, semua pekerja
     harus mentaati seluruh peraturan dan tata cara pemakaian alat
     kerja serta ketentuan kerja yang dikeluarkan perusahaan dengan
     berpedoman pada UU no 1 th 1970.
  3. Alat-alat pemadaman kebakaran harus ditempatkan ditempat
     yang mudah terlihat dan terjangkau, serta diberi cat berwarna
     merah.
  4. Semua pekerja wajib mengetahui tempat alat-alat pemadam
     kebakaran dan mengetahui cara penggunaannya.
  5. Benda-benda yang mudah terbakar harus diperhatikan
     keamanannya, serta dilakukan tindakan pencegahan terhadap
     bahaya kebakaran.
  6. Bila terjadi kebakaran, pluit/tanda bahaya atau tanda khusus
     lainnya harus segera dibunyikan, dan para pekerja yang ada
     ditempat kejadian tersebut, terutama pria dan petugas
     pemadam/penanggulangan          kebakaran       harus     berusaha
     memadamkan, dan para pekerja lain harus turut membantu
     bilamana diperlukan.
  7. Secara periodik akan dilaksanakan latihan pemadam kebakaran
     dan pembinaan-pembinaan terhadap regu pemadam kebakaran
     yang telah dibentuk dengan tujuan sbb:

     a. Mencegah dan Mengurangi Kecelakaan
        1) Seluruh peralatan yang pengoperasiannya menggunakan
           arus listrik, kompor/api, ataupun peralatan lainnya yang
           mudah pecah/rusak, harus dilengkapi dengan petunjuk
           pemakaian dan keselamatan kerja.
        2) Pengoperasian peralatan seperti pada ayat 1 di atas,
           harus tetap dibawah pengawasan instruktur.
        3) Praktikan yang akan menggunakan peralatan seperti pada
           ayat a) diatas, terlebih dahulu harus memahami petunjuk
           pemakaian dan keselamatan kerja.


                                                                    91
        4) Setiap praktikan diwajibkan memakai alat pengaman
           sesuai dengan perlatan yang digunakannya.


     b. Mencegah, Mengurangi dan Memadamkan Kebakaran
        1). Penempatan Racun Api harus pada tempat yang mudah
            dijangkau.
        2). Pemeriksaan Racun Api harus dilakukan secara berkala
            oleh ahlinya.
        3). Bahan yang mudah terbakar (minyak, bensin, alkohol dan
            lainnya) harus dijauhkan dari peralatan yang mudah
            menularkan api.
        4). Sebelum menutup laboratorium (setiap hari), teknisi
            diwajibkan untuk memeriksa kompor dan peralatan lainnya
            yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran.

     c. Memberi Pertolongan pada Kecelakaan
        1). Kelengkapan alat P3K harus tetap diperiksa dan dilengkapi
        2). Pertolongan pada setiap kecelakaan harus diberikan
            sesuai dengan tata cara yang semestinya.

     d. Memperoleh Penerangan yang Cukup
        1). Kuat penerangan minimum untuk laboratorium adalah 200
           Lux.
        2). Untuk mencapai kuat penerangan seperti pada ayat a)
           diatas, maka lobang cahaya (pintu dan jendela) harus
           tetap dalam keadaan terbuka.
        3). Apabila melalui cahaya seperti pada ayat b) di atas, kuat
           penerangan belum memadai, maka diupayakan dengan
           penerangan buatan.
        4). Sebelum meninggalkan laboratorium, periksa dan matikan
           semua instalasi.

H. Merapikan area dan tempat kerja
      Menjaga/memelihara area dan tempat kerja membutuhkan
  perhatian dan kewaspadaan yang terus menerus. Satu upaya
  penyelamatan juga tergantung pada unjuk kerja setiap pekerja/siswa
  yang bekerja ditempat tersebut. Kecelakaan sangat mudah terjadi,
  untuk itu setiap bekerja dan selesai bekerja, tempat kerja perlu
  dirapikan. Untuk merapikan area tempat kerja disekolah bisa
  dilakukan bersama-sama atau bertugas sesuai dengan uraian tugas
  masing-masing. Komitmen untuk merapikan area tempat kerja harus
  dilaksanakan bersama-sama seperti uraian tugas berikut.




                                                                  92
1. Kesehatan kerja
   a. Tempat kerja pekerja dipelihara kebersihan dan kerapihannya,
      dan untuk kesehatan bersama, dilarang : meludah di lantai,
      membuang sampah di sembarang tempat.
   b. Setiap pekerja harus mematuhi dan melaksanakan instruksi-
      instruksi tentang pemakaian alat-alat perlindungan K-3 yang
      disediakan perusahaan.
   c. Setiap pekerja yang mengetahui pekerja lain menderita
      penyakit menular, seperti : lepra, syphilis, kolera, TBC, demam
      berdarah muntaber, dsbnya, harus melapor kepada pimpinan
      perusahaan atau atasannya tentang penyakit tsb untuk diambil
      langkah-langkah pencegahan.

2. Tugas dan tanggung jawab
    a. Kepala laboratorium
       1). Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan
           umum keselamatan kerja.
       2). Bersama-sama dengan instruktur, membuat petunjuk
           pemakaian     peralatan  serta  menjabarkan  aturan
           keselamatan kerjanya.
       3). Menjatuhkan sanksi bagi mahasiswa yang tidak
           mengindahkan peraturan keselamatan kerja.

   b. Instruktur
      1). Memberikan petunjuk dan penjelasan kepada pratikan
          tentang:
          a). Kondisi bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerja
          b). Semua pengaman dan alat-alat perlindungan diri bagi
              pratikan.
          c).    Cara-cara    dan   sikap   yang    aman     dalam
              mengoperasikan peralatan
      2). Bersama-sama dengan kepala labor, membuat petunjuk
          pemakaian      peralatan   serta   menjabarkan     aturan
          keselamatan kerjanya.
      3). Memberikan pertolongan pada setiap kecelakaan dan
          melaporkannya kepada kepala laboratorium.

   c. Teknisi
      1). Memasang pada tempat kerja (pada tempat-tempat yang
          mudah terlihat dan terbaca)
      2). Membantu instruktur dalam hal penyedian alat
          perlindungan diri bagi praktikan atau pengguna jasa
          laboratorium (khusus yang berada di labor)
      3). Memeriksa dan melengkapi obat-obatan P3K




                                                                  93
   d. Praktikan
      1). Mematuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan
          dan kesehatan kerja.
      2). Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
      3). Memberikan keterangan yang jujur dan benar, apabila
          terjadi kecelakaan.

3. Menyelenggarakan Penyegaran Udara yang Cukup
    Agar sirkulasi udara tetap berjalan dengan baik, maka pintu dan
    jendela harus dalam keadaan terbuka (selama ada praktikum).
4. Memelihara Kebersihan, Kesehatan, dan Ketertiban
    a. Laboratorium harus tetap dalam keadaan bersih, baik sesudah
        maupun sebelum praktikum, untuk itu instruktur perlu
        mengatur grup/piket kebersihan yang bertanggung jawab atas
        kebersihan laboratorium.
    b. Laboratorium harus menyiapkan tempat penampungan
        sementara bahan-bahan sisa praktikum, sebelum dipindahkan
        ke tempat pembuangannya.
    c. Air buangan/ sisa bahan pencuci lainnya, harus ditampung
        pada tempat tertentu yang sengaja dibuat untuk itu.
    d. Air buangan sisa bahan pencuci lainnya yang mengandung zat
        kimia tidak boleh dibuang langsung ke saluran atau sungai
        tanpa dinetralisir terlebih dahulu.
    e. Setiap orang yang berada di laboratorium harus mentaati tata
        tertib yang berlaku.

5. Mengamankan Pengangkutan Bahan dan Peralatan
    a. Pemasukan dan pengeluaran bahan dan peralatan ke dan dari
        laboratorium harus mendapat persetujuan kepala laboratorium
        dan dilakukan dengan penuh kecermatan dan ketelitian.
    b. Untuk kelancaran dan keselamatan bahan dan peralatan yang
        keluar masuk laboratorium, maka laboratorium diwajibkan
        untuk menyiapkan cara/prosedur/alat pengangkut dan jalan
        khusus.

6. Mengamankan dan Memelihara Laboratorium
    Seluruh pratikan/ pengguna jasa laboratorium, diwajibkan untuk
    mengamankan dan memelihara laboratorium termasuk alat dan
    peralatan serta perabotannya.

7. Pencegahan Bahaya Aliran Listrik
   a. Pemeriksaan dan perawatan sekring, fitting,saklar, sistem
      pertanaha, dan kabel sambung aliran listrik harus dilakukan
      secara berkala.
   b. Bahan-bahan yang mudah menularkan aliran listrik (air, dan
      lain-lain) harus dijauhkan dari instalasi


                                                                94
   c. Periksa apakah tegangan listrik yang ditunjukkan pada pelat
       sesuia dengan tegangan listrik setempat sebelum anda
       menghubungkan alat ini.
   d. Jangan sekali-kali meningkalkan seterika ini tanpa ditunggui
       ketika sedang dihubungkan dengan listrik
   e. Jangan sekali-kali menyelupkan setirika ke dalam air
   f. Jauhkan alat dari jangkauan anak-anak
   g. Pelat tapak seterika dapat menjadi panas sekali dan dapat
       menyebabkan luka bakar kalau disentuh. Jangan biarkan
       kabel bersinggungan dengan pelat tapak seterika ketika
       sedang panas
   h. Jangan memasukkan farfum, cuka, kanji, zat pembersih kerak,
       cairan buat menyeterika atau bahan kimia lainnya kedalam
       tangki air
   i. Bila anda sudah selesai menyeterika, ketika membersihkan
       alat seterika mengisi atau menggosongkan tempat airnya dan
       juga ketika anda meninggalkan seterika sekalipun hanya
       sebentar saja: aturlah pengendali uapnya pada posisi O,
       taruhlah seterika dengan posisi berdiri pada tumitnya dan
       cabut steker listrik dari stopkontak diding.
   j. Jika kabel listrik rusak, maka harus diganti oleh philips,
       authorized servis Philips atau orang yang mempunya keahlian
       sejenis agar tehindar dari bahaya.
   k. Jangan sekali-kali memakai alat seterika ini jika terdapat
       kerusakan apapun.
   l. Alat ini dimaksudkan untuk digunakan hanya dalam rumah
       tangga.

8. Sebelum pertama kali digunakan
  a. Bacalah petunjuk ini secara seksama sebelum menggunakan alat
    dan simpan untuk rujukan di kemudian hari
  b Periksa apakah tegangan listrik yang ditunjukkan pada pelat
    sesuai dengan tegangan listrik setempat sebelum anda
    menghubungkan alat ini
  c. lepaskan stiker atau foil pelindung dari pelat tapak seterika
  d. panaskan seterika sampai suhu maksimum dan seterikakan pada
    sehelai kain lembab selama beberapa menit untuk menghilangkan
    sisa-sisa kotoran apa saja dari pelat tapaknya.
    Seterika ini mungkin akan mengeluarkan asap ketika pertama kali
    digunakan. Ini akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa
    saat.

9. Persiapan menggunakan seterika.
    a. Mengisi tangki air.
       1). Cabut steker penghubung listrik dari stopkontak.
       2). Setel pengedali uap pada posisi O (=tanpa uap)


                                                                95
     3). Buka tutup pengisi (hanya tipe-tipe GC2225, GC2220,
         GC2215, GC2130, GC2125 dan GC2120)
     5). Miringkan seterika
     6). Gunakan gelas ukur untuk mengisi tangki air sampai level
         maksimum.
     7). Pasang kembali tutup pengisian (klik!)

     Jika air keran di sekolah/daerah anda memiliki kesadahan
     yang sangat tinggi, di sarankan agar anda menggunakan air
     yang didistilasi. Jangan menggunakan cuka, kanji, atau cairan
     yang mengandung bahan kimia, dan jangan mengisi tangki air
     melewati tanda batas MAX.

b.    Menyetel suhu
     1. Taruhlah seterika pada posisi berdiri pada tumitnya.
     2. Setel pengatur suhu ke suhu penyeterikaan yang
        diinginkan dengan memutarnya keposisi yang sesuai.
     3. Periksa label pakaian unutk mengetahui suhu seterika
        yang diperlukan
     4. Jika anda tidak tahu terbuat dari bahan apa pakaian yang
        akan anda seterika, tentukan suhu penyetrikaan yang
        benar dengan menyeterika bagian pakaian yang tidak
        akan terlihat bila sedang anda pakai.
     5. Bahan sutra, wol dan simtetis: seterika sisi belakang kain
        untuk mencegah timbulnya bagian yang mengkilat. Hindari
        penggunaan fungsi penyemprot untuk mencegah noda.
     6. Pasang steker pada stopkontak yang ada ardenya
     7. Setelah lampu petunjuk suhu berwarna kuning mati,
        tunggu sebentar sebelum mulai menyeterika. Lampu pilot
        warna kuning akan menyala dari waktu kewaktu selama
        penyeterikaan. Apabila fungsi pemutus panas otomatis
        aktif (lampu pilaot merah berkedip) gerakan seterika sedikit
        untuk me non aktifkan fungsi ini (lampu pilot merah
        berhenti berkedip)

c. Menggunakan seterika
   1. Menyeterika dengan uap
     a. Pastikan bahwa ada cukup air dalam tangki air.
     b. Setel pengatur suhu sesuai dengan posisi yang
        disarankan lihat ‘Menyetel suhu’.
     c. Setel pengendali uap sesuai dengan pasisi uap yang di
        inginkan.
     d. Penguapan akan mulai begitu suhu yang disetel tercapai

     2. Menyeterika tanpa uap
       a. Setel pengendali uap pada posisi 0 (=tanpa uap).


                                                                 96
 b. Setel pengatur suhu sesuai dengan posisi yang
    disarankan.

3. Menyemprot
Untuk menghilangka kusut atau lipatan yang membandel pada
suhu berapa saja
    a. Pastikan bahwa ada cukup air didalam tangki air.
    b. Tekan tombol penyemprot beberapa kali untuk
       melembabkan pakaian yang akan diseterika.
    c. Semburan uap yang kuat dapat membantu
       menghilangkan lipatan yang sangat membandel.
    d. Fungsi semburan uap dapat pula digunakan ketika
       anda memegang seterika pada posisi vertikal. Ini
       berguna untuk menghilangkan lipatan pada pakaian,
       gorden dll. Yang tergantung.
    e. Jangan sekali-kali mengarahkan uap pada orang.
    f. Seterika akan berhenti mengeluarkan uap secara
       otomatis bila suhunya terlalu rendah untuk mencegah
       agar air tidak menetes keluar dari pelat tapak kaki
       seterika. Bila ini terjadi, anda akan mendengar bunyi
       klik.
    g. Sebuah alat pengaman elektronik akan secara
       otomatis mematikan elemen panas jika seterika tidak
       digerakan selama beberapa saat.
    h. Untuk menunjukan bahwa elemen panasnya telah
       dimatikan, lampu pilot berwarna merah petunjuk
       pemutus panas otomatis mulai berkedip.

4. Untuk memanaskan seterika kembali:
   a. Angkat seterika atau gerakan sedikit
   b. lampu pilot pemutus panas otomatis warna merah akan
      mati. Lampu pilot penunjuk suhu warna kuning akan
      menyala, tergantung pada suhu pelat telapak seterika.
   c. Bila lampu pilot bewarna kuning menyala setelah
      seterika digerakan, tunggu sampai lampu pilot tersebut
      mati sebelum mati sebelum anda mulai menyeterika.
   d. Bila lampu pilot bewarna kuning tidak menyala setelah
      seterika digerakkan, seterika tersebut siap untuk
      digunakan.

5. Membersihkan dan memelihara seterika
    a. ‘Calc-Clean’
    Fungsi ‘calc-clean’ menghilangkan kerak dan kotoran.
    Gunakan fungsi ‘Calc-Clean’ dua minggu sekali. Jika air
    didaerah anda sangat sadah (yaitu bila serpihan-serpihan
    kotoran keluar dari pelat tapak seterika selama


                                                         97
             penyeterikaan berlangsung), fungsi ‘Calc-Clean’ harus
             digunakan lebih sering, caranya adalah sebagai berikut.
                 1. Setel pengendali uap pada posisi O.
                 2. Isi tangki air sampai tingkat maksimum. Jangan
                     menuangkan cuka atau zat pembersih kerak
                     lainnya ke dalam tangki air.
                 3. Setel tombol suhu sampai MAX
                 4. Masukan steker ke dalam stopkontak dinding.
                 5. Cabut steker listrik seterika jika lampu pilot
                     berwarna kuning mati
                 6. Pegang seterika di atas tempat mencuci piring dan
                     setel pengendali uap ke posisi ● (Calc-Clean).
                     Tombol pengendali uap akan terdorong keluar
                     sedikit.
                 7. Tarik kenop pengendali uap ke atas untuk
                     melepaskan jarum pengendali uap.
                 8. Gerakan seterika maju mundur.
                 9. Uap dan air yang mendidih akan keluar dari tapak
                     alat. Kotoran dan kerak air (kalau ada) akan
                     mengalir keluar.
                 10. Gunakan cuka untuk membersihkan kerak, bila ada
                     jarum. Jangan membengkokkan atau merusakkan
                     jarum pengendali uap tersebut.
                 11. Panaskan kembali jarum pengendali uap dengan
                     menyipkan ujung jarum tersebut tepat di tengah
                     lubang dan dengan memposisikan secara tepat
                     tonjolan kecil pada sisi jarum ke dalam selot. Setel
                     kenop pengendali uap ke posisi O.
                 12. Ulangi proses ‘Calc-Clean’ tersebut jika seterika
                     masih mengandung banyak kotoran..


Rangkuman
         Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan suatu masalah
penting dalam setiap proses operasional, baik disektor tradisional
maupun sektor modern. Khususnya dalam masyarakat yang sedang
beralih dari suatu kebiasaan kepada kebiasaan lain, perubahan-
perubahan pada umumnya menimbulkan beberapa permasalahan yang
jika tidak ditanggulangi secara cermat dapat membawa berbagai akibat
buruk bahkan berakibat fatal.
         Keselamatan dan kesehatan kerja harus lahir dari doktrin yang
menyatakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, semua
pekerja harus mentaati semua peraturan dan tata cara pemakaian alat
kerja serta ketentuan kerja yang dikeluarkan perusahaan/sekolah dengan
berpedoman pada UU No 1 Tahun 1970.



                                                                      98
        Kecelakaan kerja semakin hari semakin mahal. Kemungkinan
terjadinya kecelakaan sejalan dengan semakin canggihnya peralatan,
perlengkapan dan proses produksi. Itulah sebabnya doktrin kesehatan
dan keselamatan kerja harus bertumpu pada pengendalian kerugian
menyeluruh dan bukan hanya pada penanggulangan.
        Kecelakaan    kerja     tidak   dapat     dielakkan   secara
menyeluruh.Namun demikian setiap perencanaan, keputusan dan
organisasi harus memperhitungkan aspek keselamatan dan kesehatan
kerja dalam perusahaan atau sekolah, efisiensi, kemampuan
karyawan/siswa, keadaan peralatan harus selaras dan seimbang agar
proses produksi yang obtimal, aman dan selamat dapat dicapai.

   Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah :
   Mengikuti prosedur tempat kerja, menangani situasi
   darurat, Menjaga standar penampilan diri yang aman.
   Pelayan, karyawan atau pekerja/siswa mampu mengikuti
   prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan dalam
   bekerja baik disekolah kejuruan maupun diindustri
   busana.




   Evaluasi:

     1. Jelaskan pengertian dari kesehatan, keselamatan dan
     keamanan kerja.
     2. Apa yang harus diperhatikan dalam bekerja agar pekerjaan
     yang dilakukan sesuai dengan prosedur kesehatan,
     keselamatan dan keamanan kerja.
     3. Jelaskan cara mengatasi kecelakaan kerja bagi siswa sbb:
       a. Siswa yang tertusuk jarum mesin
       b. Siswa yang tangannya luka terkena gunting
       c. Siswa yang terkena sengatan listrik sewaktu menyeterika
       d. Siswa yang hidungnya berdarah
     4. Jelaskan manfaat menerapkan K3 ditempat kerja




                                                                 99
                                BAB IV

            TEKNIK MENJAHIT BUSANA
    Teknik menjahit yang benar dapat mempengaruhi kualitas dari hasil
(produk) busana, disamping pola yang baik dan ukuran yang tepat
serta desain yang bagus semua merupakan suatu kesatuan dari
proses pembuatan busana, salah satu diantaranya tidak benar maka
tidak akan tercapai produk yang berkualitas baik. Untuk membuat
suatu busana agar mendapatkan hasil yang optimal, teknik yang
dipakai harus di sesuaikan dengan desain busana dan juga
disesuaikan dengan bahan dasar (pabrik) yang dipakai. Berikutnya
marilah kita lihat teknik menjahit busana yang perlu disesuaikan
dengan desain agar kita dapat memilih dan menerapkan teknik yang
tepat dan sesuai dengan busana yang akan dibuat.

A. Tusuk Dasar Menjahit
   Tusuk dasar yaitu tusuk dengan menggunakan alat jarum tangan.
Ada beberapa tusuk dasar yang biasa digunakan dalam menjahit
busana, antara lain adalah sbb:
   1. Tusuk Jelujur
      Teknik membuat tusuk jelujur, yaitu dimulai dari kanan ke kiri,
   guna tusuk jelujur adalah untuk membuat jahitan menjadi
   sempurna. Tusuk jelujur dapat dibedakan menjadi 3 bentuk.
      a. Tusuk jelujur biasa yaitu tusukan yang menggunakan jarak
         tidak sama.
      b. Tusuk jelujur dengan jarak tertentu yaitu tusukan dengan
         jarak yang sama (konsisten) berguna untuk tusuk
         sementara pada smook.
      c. Tusuk jelujur renggang yaitu tusukan dengan menggunakan
         sengkelik dengan spasi satu, tusukan jelujur renggang ini
         digunakan untuk tanda, dengan menggunakan benang
         rangkap yang nantinya digunting diantara tusukan tersebut
         sehingga meninggalkan jarak benang yang biasa dijadikan
         tanda dalam menjahit busana.




                     Gambar 23. Teknik jelujur



                                                                 100
2. Tusuk Tikam Jejak
     Tusuk tikam jejak yaitu tusuk jahitan dengan bentuk jika dilihat
dari bagian atas tusuknya kelihatan seperti jahitan mesin dan bila
dilihat dari bagian bawah tusukannya seperti jahitan rangkap.
Jarak tusukan bagian bawah dua kali jarak tusukan bagian atas,
teknik menjahitnya adalah dengan langkah maju sebelum
melangkah mundur ke belakang dengan jarak yang sama, tusuk
tikam jejak berguna untuk pengganti jahit mesin.

3. Tusuk Flanel
    Tusuk flanel biasa digunakan untuk mengelim               pinggiran
busana yang diobras. Tusuk flannel sering digunakan, terutama
untuk busana yang dibuat dari bahan yang harganya mahal,
disamping itu tusuk flannel juga dapat digunakan sebagai hiasan,
sebagai tusuk dasar dan sulaman bayangan, untuk sulaman
bayangan dengan jarak yang lebih rapat (dirapatkan) dan dapat
juga mengikuti motif dekonasi. Caranya, jelujur kain yang sudah
diobras 3-4 cm langkah tusukannya mundur 0,75 cm turun
kebawah, tusuk jarum kekanan selanjutnya mundur lagi 0,5 cm
tusuk lagi ke atas seperti tusukan pertama demikian selterusnya
sampai selesai. Untuk mendapatkan hasil tusukan yang halus pada
bagian bawah busana (pada rok) atau dimanapun tusuk flannel
digunakan, lakukan dengan halus/tipis waktu menusukkan jarum
kebahan busana, dengan demikian hasil yang didapatkan juga
halus dan tipis bila dilihat dari bagian balik (bagian buruk busana).




                           Gambar 24. Tusuk flanel

4. Tusuk Feston
    Tusuk feston berfungsi untuk penyelesaian tiras seperti tiras
lingkar kerung lengan atau pada pinggiran pakaian bayi. Tusuk
feston juga dapat berfungsi sebagai hiasan bila benang yang



                                                                   101
digunakan adalah benang hias atau benang sulam dengan
kombinasi warna yang serasi.




                         Gambar 25. Tusuk feston

5. Tusuk Balut
    Tusuk balut berfungsi untuk menyelesaikan tiras pada kampuh
untuk klim rol. Tusuk balut juga dapat digunakan untuk
penyelesaian pinggir teknik aplikasi. Teknik menjahitnya dimulai
dari kiri ke kanan atau sebaliknya kanan kekiri kesan benang dari
tusukan agak miring.




                         Gambar 26. Tusuk Balut

6. Tusuk Batang/tangkai
    Tusuk batang dibuat untuk hiasan, teknik menjahitnya dengan
langkah mundur ± 0,5 cm dan mengaitkan 5 atau 6 benang pada
bahan, jarum ditarik keluar akan menghasilkan tusuk tangkai dan
seterusnya tusuk mundur lagi seperti yang pertama begitu
seterusnya sampai selesai. Untuk membuat tangkai yang lebih
besar maka jarak tusukan dirapatkan dan mengaitkan kain lebih
banyak (besar).




                  Gambar 27..Tusuk batang/tusuk tangkai



                                                             102
7. Tusuk Rantai
     Tusuk rantai fungsinya untuk membuat hiasan tekniknya
dengan langkah maju, dengan memasukkan jarum dari bawah ke
atas, kemudian tusukan kembali pada lubang tempat jarum
dilingkarkan pada jarum, ditarik sehingga benang yang melingkar
berada di lobang kedua selanjutnya jarum kembali menusuk lobang
tempat jarum keluar dan ekor benang melingkar pada jarum seperti
semula, begitu seterusnya sampai selesai dengan mengikuti motif
hiasannya.




                        Gambar 28. Tusuk rantai


8. Tusuk Silang
    Tusuk ini berfungsi untuk membuat hiasan. Teknik
pengerjaannya dengan langkah sebagai berikut: dimulai dari
kanan atas ke kiri bawah, terus kekanan bawah (tusukan pertama).
Kemudian tusuk ke dua di mulai dari kanan bawah terus kekiri
atas, letak tusukan sejajar baik tusukan bagian atas maupun
tusukan bagian bawah, (tusukan yang terlihat menyilang diatas
kain) dan seterusnya sampai selesai.




                        Gambar 29. Tusuk silang



                                                            103
   9. Tusuk Piquar
       Tusuk piguar biasanya berfungsi untuk memasangkan bulu
   kuda pada jas atau mantel. Disamping itu tusuk piquar dapat juga
   digunakan sebagai tusuk hias pada busana atau lenan rumah
   tangga.




                          Gambar 30. Tusuk piquar


B. Kampuh Dasar (Menggabungkan)
    Untuk menyatukan bagian-bagian dari potongan kain pada
pembuatan busana seperti menyatukan bahu muka dengan bahu
belakang, sisi kiri muka dengan sisi kanan belakang dsb, sisa
sambungan disebut dengan kampuh. Teknik menjahit sambungan
supaya hasilnya kuat, maka setiap penyambungan baik diawal ataupun
diakhir tusukan harus dimatikan, agar tidak mudah lepas yaitu dengan
cara menjahit mundur maju atau dengan cara mengikatkan ke dua
ujung benang. Pemakaian kampuh disesuaikan dengan kegunaan
yang lebih tepat. Kampuh (teknik menggabungkan) ada bermacam-
macam antara lain:

   1. Kampuh Terbuka
       Kampuh terbuka yaitu kampuh yang tiras sambungannya
   terbuka/di buka, teknik peyelesaian tiras ini ada beberapa cara:
       a. Kampuh terbuka dengan penyelesaian setikan mesin,
          penyelesaian tiras dengan cara melipat kecil pinggiran tiras
          dan disetik dengan mesin sepanjang pinggiran tersebut.
       b. Kampuh terbuka dengan penyelesaian tusuk balut, yaitu
          penyelesaian tiras di sepanjang pinggiran tiras diselesaikan
          dengan tusuk balut.
       c. Kampuh terbuka yang diselesaikan dengan obras, yaitu
          penyelesaian di sepanjang pinggiran tiras diselesaikan


                                                                  104
      dengan diobras. Cara ini pada saat sekarang banyak di
      pakai terutama untuk busana wanita dan busana pria
      (celana pria).
   d. Kampuh terbuka diselesaikan dengan rombak (dijahit
      dengan kain serong tipis, dilipat dan disetik) ini hanya
      dipakai untuk busana yang dibuat dari bahan/kain tebal.
      Kegunaannya untuk menyambungkan (menjahit) bagian-
      bagian bahu, sisi badan, sisi rok, sisi lengan, sisi jas, sisi
      mantel, sisi celana, dan belakang celana.




                         Gambar 31. Kampuh terbuka




2. Kampuh Balik
    Kampuh balik yaitu kampuh yang dikerjakan dengan teknik
membalikkan dengan dua kali jahit dan dibalikkan dengan cara,
pertama dengan menjahit bagian buruk menghadap bagian buruk
(bagian baik) yang bertiras dengan lebar tiras dengan ukuran 3
mm, jika memungkinkan dibuat lebih halus/kecil, kemudian
dibalikan dan di jahit dari bagian buruk menghadap bagian baik
dengan pinggir tirasnya masuk kedalam, hasil kampuh ini paling
besar 0,5 cm. Kegunaan kampuh balik untuk:
    a. Menjahit kebaya yang dibuat dari bahan tipis
    b. Menjahit kemeja
    c. Pakaian tidur dsb.


                                                                105
                         Gambar 32. Kampuh balik

3. Kampuh Pipih
    Kampuh pipih yaitu kampuh yang mempunyai bekas jahitan
pada satu sisi sebanyak dua setikan, dan sisi yang sebelahnya satu
setikan, kampuh ini bisa dipakai untuk dua sisi (untuk bagian luar
atau bagian dalam yang mana keduanya sama-sama bersih).
Teknik menjahit kampuh pipih, lipatkan kain yang pinggirannya
bertiras selebar 1,5 cm menjadi 0,5 cm, tutup tirasnya dengan
lipatan yang satu lagi. Kampuh ini dipakai untuk menjahit kain
sarung, kemeja, celana, jaket, pakaian bayi, dsb.




                         Gambar 33. Kampuh pipih


4. Kampuh Perancis
    Kampuh perancis adalah kampuh yang hanya terdiri dari satu
jahitan yang didapatkan dengan cara menyatukan dua lembar kain.
Kain bagian baik berhadapan sesama baik, tetapi tidak sama lebar/
pinggirnya, lipatkan pinggir kain yang satu (kain yang lebih lebar)
dengan kain yang lain, lalu jahit tiras dengan lebar 0,6 mm.
Kampuh perancis ini cocok dipakai untuk menjahit bahan yang tipis.




                   Gambar 34. Kampuh perancis



                                                               106
  5. Kampuh Sarung
      Kampuh sarung adalah kampuh yang tampak dari kedua
  sisinya. Cara melakukan setikan kampuh sarung adalah sebagai
  berikut: pinggiran (a) dan (b) sama-sama besar, kampuh semula 1
  cm lalu keduanya di kumpul berpadu, tiras dilipat dengan posisi
  saling berhadapan dan dapat dibantu dengan jelujuran. Tirasnya
  sama-sama di lipat menjadi 0,5 cm lalu dijahit pinggirannya dari
  bagian buruk. Kegunaan kampuh sarung ini adalah untuk menjahit
  kain sarung pelakat (kain sarung bercorak/kotak-kotak) ketika
  menjahit corak/kotaknya harus sama juga untuk menjahit kemeja,
  jas, dan jaket.




                     Gambar 35. Kampuh sarung



C. Teknik Menjahit Bagian-bagian Busana

  1. Menjahit Tepi Pakaian
      Menjahit tepi pakaian yang terdapat pada garis leher, kerung
  lengan, tepi kelim (bawah rok, blus, ujung lengan) dan sebagainya.
  Penyelesaian ini dapat berupa depun, serip, rombak dan lain-
  lain.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat satu-persatu.

     a. Teknik mengelim
        Mengelim/lebar kelim bervariasi sesuai dengan model serta
        jenis bagian busana yang akan di kelim. Untuk bagian
        bawah busana lebar kelim berkisar dari 1 s.d 5 cm. Untuk
        gorden agar lebih seimbang lebar kelim 5 s.d 7 cm dan ada
        juga yang lebih lebar dari itu, yang penting ada
        keseimbangan antara lebar,panjang/tinggi gortden tersebut.
        Kelim dapat dilakukan dengan tangan dan dengan mesin,
        supaya hasil yang didapatkan lebih indah dan bagus kelim
        dapat dikerjakan dengan tangan.

         1) Mengelim
            Mengelim dipakai untuk bawah rok, blus, kebaya, ujung
            lengan dsb.


                                                                107
   Untuk mengelim bagian-bagian busana tesebut di atas,
   lebar kelim berkisar antara 3 s.d 5 cm,caranya:
   a) Lipatkan pinggir rok sesuai lebar yang kita inginkan
   b) Tirasnya dilipatkan kedalam lebih kurang 1 cm dan
       dibantu dengan jelujuran
   c) Kemudian di sum dengan jarum, upayakan dalam
       lipatan betul-betul rata dan dijahit dengan jarum
       tangan. Mengelim/menusukkan benang kebahan
       pada bagian bawah lebih kurang 3 helai benang,
       sehingga tidak kelihatan bekas tusukannya, cara ini
       dilakukan terus-menerus sampai selesai. Supaya
       hasilnya kuat dan hasil tusukan tidak gampang lepas
       lebih kurang setiap 6 langkah tusukan dimatikan
       agar tidak lepas.




               Gambar 36. Mengelim

2) Kelim sumsang
    Teknik mengerjakan/caranya sama dengan mengelim,
tapi beda kerjanya pada cara memasukkan jarumnya yaitu
dua kali dalam satu lubang sehingga benangnya mati dan
tidak mudah lepas. Jika ada yang putus kegunaan sama
dengan mengelim.




                 Gambar 37. Kelim sungsang

3) Kelim tusuk flanel
    Kelim tusuk flanel yaitu kelim yang bahan pinggirnya di
obras, tanpa melipatnya kedalam. Terutama dipakai untuk
teknik pengerjaan yang kelimnya lebih rapi dan lebih




                                                       108
berkualitas dan juga untuk bahan yang tebal, untuk rok,
blus, ujung lengan dan sebagainya. Caranya :
    a). Dilipitkan pinggir rok, selebar yang dinginkan dan di
        bantu dengan jelujur;
    b). Dijahit dengan tusuk flanel yang satu diatas keliman
        tidak tembus sampai keluar dan yang satunya
        dibawah kelim dekat pinggir lipatan dengan langkah
        mundur; 3). Hasil dari bagian baik hanya tampak
        satu baris dengan jarak 0.5 CM




                  Gambar 38. Kelim tusuk flannel

4) Kelim yang dirompok
    Kelim yang di rompok terutama untuk bahan yang tebal
seperti jas, mantel, teknik pengerjaannya sama dengan
disum, cuma tiras pinggirnya tidak dilipatkan tapi dirompok
dengan bahan yang tipis agar tidak terlalu tebal, kemudian
baru di sum.




                  Gambar 39. Kelim yang dirompok


5) Kelim palsu
    Kelim palsu yaitu kelim untuk mengatasi masalah bila
panjang kain tidak cukup untuk dibuat keliman, atau bahan
yang terlalu tebal untuk dikelimkan, maka dibuat kelim
palsu. Membuat kelim palsu yaitu dengan cara
menyambungkan kain untuk kelim, kain yang digunakan
bisa bahan yang sama atau bahan lain yang lebih tipis(jika


                                                         109
bahan yang akan disambung terlalu tebal) tetapi warna kain
penyambungnya sama dengan bahan pakaian. Cara
penggabungannya adalah: Gunting kain sesuai dengan
bentuk yang akan disambung, lalu disatukan dan dikelim
dengan som. Lebar hasil setikan penyambungan tidak
lebih dari 0.5 cm. Untuk kelim, kelim som, kelim sumsang,
tusuk flanel dan kelim rompak di kerjakan dengan jarum
tangan, tapi untuk merompok biasa dikerjakan dengan jahit
mesin dan untuk mensom keduanya tetap dengan tangan.




                      Gambar 40. Kelim palsu

6) Kelim tindas
    Kelim tindas yaitu kelim yang dijahit dengan mesin. Cara
mengerjakan kelim tindas adalah, kelim dilipitkan sesuai
dengan keinginan dan dilipatkan kurang lebih 1 cm,
kemudian ditindas dengan mesin, hasil tindasan hanya satu
jahitan yaitu pada pinggir kelim. Ini biasanya dipakai untuk
pinggiran kemeja, ujung kaki piyama, kaki celana, bawah
rok, blus, dsb.

7) Kelim konveksi
    Kelim konveksi yaitu kelim yang sering dipakai untuk
menjahit pakaian konveksi, yaitu untuk keliman rok, blus,
kemeja, ataupun kaki celanan. Caranya sama dengan kelim
tindas tapi perbedaannya terletak pada tusukannya.
Tusukan kelim konveksi terdiri dari 2 baris yaitu di atas dan
dibawah (double) dan lebarnya kurang lebih 1 cm.

8) Kelim rol.
   Dapat dibuat dengan dua cara :
   a) Kelim yang dibuat dengan mesin serbaguna dengan
       memakai sepatu rol serta setikan zig-zag.
   b) Kelim juga dapat dibuat dengan cara manual,
       dengan memakai jarum tangan dengan cara
       menggulung kecil tiras, kemudian dijahit dengan
       tusuk balut. Kegunaan adalah kelim rol untuk
       mengelim pinggiran kain yang tipis, pinggiran baju
       kerut/rimpel, ujung lengan pof, dsb.


                                                         110
                 Gambar 41. Kelim rol


9) Kelim som mesin
   Kelim som mesin ini adalah kelim yang bekasnya di
bagian baik seperti som tangan tetapi dengan
menggunakan mesin, caranya :
   a) Pinggir kain dikelim dengan jelujur sesuai dengan
       yang diinginkan
   b) Kemudian kelim dilipatkan dengan bagian keliman
       kebawah sebesar keliman yang disisakan biasanya
       0.2 cm
   c) Dijahit pada sisa keliman dengan cara sepatu mesin
       sedikit di angkat
   d) Kemudian turunkan sepatu mesin dan jahit terus
       berulang-ulang sampai selesai
   e) Kelim som dapat dijahit dengan memakai mesin
       serbaguna
   f) Kelim som dapat juga dibuat dengan memakai mesin
       khusus untuk garmen .
   g) Mensom bahan-bahan yang tebal dan untuk
       konveksi (garmen) agar pekerjaan lebih efektif dan
       efisien.




                  Gambar 42. Kelim som mesin


                                                     111
b. Teknik menjahit depun, serip dan rompok
   Menjahit depun, serip dan rompok pada umumnya dipakai
untuk penyelesaian leher, kerung lengan, dan sebagainya,
antara lain:

   1) Depun
       Depun yaitu lapisan menurut bentuk yang letaknya
   kedalam kelim depun dapat diartikan melapis/mengelim
   pinggiran kain dengan menggunakan kain lain yang sama
   bentuknya atau (sama sebangun), jika yang akan dilapisi
   bundar maka depaunya bundar juga, dan bila segi empat
   depunnya segi empat juga. Dengan lebar keliman 3 atau 4
   cm atau sesuai keinginan tapi harus diseimbangkan.
   Caranya sbb :
       a) Gunting depun sesuai dengan bentuk yang akan
           didepun (leher).
       b) Letakan baik depun berhadapan dengan baik
           busana kemudian
           dijahitkan tepat pada garis pola dengan bantuan
           jarum pentul atau jelujuran
       c). Rapikan tiras dan diretak-retak sampai batas jahitan
           dengan jarak 1 s.d 2 cm.
       d). Tindih dari atas depun dan arahkan tiras ke depun.
       e). Pinggir depun di som dengan mengobras terlebih
           dahulu atau melipatkan kedalam 2 cm




                    Gambar 43. Pemasangan depun



                                                           112
2) Serip
    Serip yaitu lapisan menurut bentuk/kain serong yang
hasil lapisannya menghadap keluar. Serip berfungsi
untuk penyelesaian pinggiran busana, disamping itu
serip juga berfungsi untuk hiasan atau fariasi bagian
busana. Serip sering dipakai pada garis leher, kerung
lengan, ujung lengan, ataupun pinggir/bawah rok. Warna
kain yang digunakan untuk serip, bisa kombinasi atau
kain yang warnanya sepadan (serasi).
 Cara menjahitnya:
    a) Tehnik menjahit serip sama dengan menjahit
        depun, tapi serip hasilnya menghadapnya keluar
        dan kalau depun hasilnya menghadap kedalam.
        Teknik meletakan bahan, waktu pemasangan
        serip kain bagian baik menghadap ke bagian
        buruk busana kemudian dijahit pada garis pola.
    b) Tiras jahitan dirapikan dan digunting-gunting
        kecil/halus dengan menggunakan ujung gunting.
    c) Kampuh dijahit dengan posisi tiras diarahkan ke
        luar (kampuh terjahit).
    d) Dibalikan (diarahkan keluar) dan di pres dengan
        seterika agar rapi
    e) Penyelesaian serip setelah dilipatkan kedalam
        lebih kurang 0.5 cm dijahit pada pinggir.




              Gambar 44. Serip

3) Rompok
    Rompok adalah penyelesain pinggir pakaian
dengan menggunakan kumai serong atau bisban.
Rompok sering digunakan untuk menyelesaikan lingkar
kerung lengan, garis leher dan sebagainya. Besarnya
hasil rompok untuk lingkar kerung lengan adalah 0.5 s.d
0.7 cm yang tampak dari bagian baik dan bagian buruk.



                                                   113
Kumai serong didapat dengan menggunting bahan
(kain) dengan arah serong (diagonal) dengan cara
melipat bahan/kain dengan sudut 45 derjat dengan
lebar lebih kurang 2.5 cm. Sedangkan bisban dapat
dibeli di pasaran. Bisban tersedia dengan bermacam-
macam warna.
    a) Cara membuat kumai serong, kain dilipat dengan
        sudut 45 derajat, diukur sesuai dengan lebar
        yang diinginkan, lalu digunting sesuai dengan
        tanda.
    b) Cara menyambung kain serong berbeda dengan
        kain lurus. Menyambung kain serong harus
        sesuai dengan arah benang.
    c) Kegunaan rompok, selain untuk penyelesaian
        pinggiran pakaian, juga dipakai sebagai variasi
        atau hiasan pakaian yang biasa dipakai pada
        bagian leher, kerung lengan, ujung lengan, pada
        garis princes, garis empire atau pada kerah.
    d) Cara menjahitkan rompok pada garis leher sbb:
        Tempat memasangkan rompok pas pada tanda
        pola (gambar a)
        1) Jahitkan kain serong pada pinggir yang akan
            dirompok lebih kurang 0.6 cm dari bagian
            baik, bagian baik bahan berhadapan, dan
            rapikan bis sesuai lebar yang diinginkan
            (gambar b)
        2) Dilipatkan kedalam dengan lebar yang
            diinginkan dan dibagian dalam tiras kain
            serong dilipatkan melebihi batas rompok
            sebesar 1 mm (gambar c)




                     Gambar 45. Menjahit rompok



                                                   114
2. Pemasangan Lengan
    Desain lengan ada bermacam-macam seperti lengan licin,
lengan kop, lengan poff, lengan kop poff, lengan reglan dan
sebagainya. Teknik pemasangan setiap jenis lengan ini juga
berbeda disesuaikan dengan model dan bentuknya, secara prinsip
ada 3 bentuk lengan: 1). lengan yang dijahitkan pada lingkar kerung
lengan, 2) lengan reglan yaitu lengan yang dijahitkan dari garis
leher menuju ketiak, 3). Lengan setali adalah lengan yang menyatu
dengan badan.

   a) Lengan licin yaitu lengan yang bentuk lingkar kerung
      lengannya licin, yang ada hanya kerutan semu pada lengan
      yang tujuannya agar pemasangan lengan tidak kaku dan
      enak dipakai, terutama pada puncak lengan. Cara
      pemasangannya adalah sebagai berikut:
      1) Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis
          sisi.
      2) Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua
          lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak
          antara setikan 0,5 cm.
      3) Jahit sisi lengan
      4) Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan
          ukuran lingkar kerung lengan pada lengan.
      5) Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan
          menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum
          pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat
          pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung
          lengan pada garis kampuh.




                  Gambar 46. Teknik pemasangan lengan licin



                                                               115
b)    Lengan poff
     Lengan poff yaitu lengan yang mempunyai kerutan pada
     puncak lengan, lengan ini banyak dipakai oleh wanita dan
     anak-anak.
     Cara pemasangannya adalah sebagai berikut :
     1) Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis
        sisi.
     2) Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua
        lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak
        antara setikan 0,5 cm. Lalu dikerut sesuai
        kebutuhan/desain
     3) Jahit sisi lengan
     4) Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan
        ukuran lingkar kerung lengan pada lengan.
     5) Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan
        menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum
        pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat
        pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung
        lengan pada garis kampuh.




                   Gambar 47. Lengan poff


c) Lengan reglan adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar
   kerung lengan tetapi mempunyai garis serong dari leher
   sampai ketiak (sisi badan) baik bentuk bagian muka
   maupun bagian belakang.
         Cara menjahitnya adalah :
      1) Satukan badan muka dengan lengan muka
      2) Satukan badan belakang dengan lengan belakang
      3) Satukan sisi dari ujung lengan sampai batas bawah
         busana kiri dan kanan.




                                                             116
              Gambar 48. Lengan raglan


d) Lengan setali adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar
   kerung lengan. Lengan setali dibuat menyatu dengan
   badan, ada yang mempunyai garis bahu dari leher sampai
   panjang lengan atau tidak mempunyai garis bahu (garis
   bahu dibuat pada lipatan kain)
     Cara menjahitnya :
     1) Satukan garis lengan bagian muka dengan bagian
        belakang baik sebelah kiri ataupun sebelah kanan
        kanan (untuk yang ada jahitan di bahu).
     2) Jahit sisi lengan terus ke sisi badan dengan demikian
        lengan sudah dibentuk




              Gambar 49. Lengan setali



                                                         117
3. Pemasangan Kerah
   Kerah merupakan salah satu penyelesaian pinggir pakaian
yang dipasangkan pada leher. Kerah mempunyai bermacam-
macam bentuk, desain dan ukuran. Dari berbagai bentuk desain
kerah akan memberikan kesan atau nilai tersendiri bagi si pemakai.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa teknik pemasangan kerah .

   a. Pemasangan Kerah Memakai Lajur atau Serip
       Pemilihan bentuk kerah haruslah disesuaikan dengan
   bentuk muka, bentuk leher, dan bentuk tubuh seseorang
   seperti, seorang mempunyai leher pendek dan gemuk tidak
   cocok memakai kerah berdiri, akan tetapi orang ini akan
   kelihatan menarik dan cantik dengan style kerah yang dilipatkan
   keluar, dan pada lehernya diturunkan, seperti kemeja yang
   kancingnya tidak dipasangkan pada penegak kerah.
       Setiap jenis kerah mempunyai bagian-bagian seperti bagian
   kerah atas dan bagian kerah bawah juga memakai pelapis
   kerah. Pelapis kerah sekarang ini banyak pula jenis dan
   macamnya. Dalam pemilihan pelapis yang harus diperhatikan
   adalah bentuk (jenis) kerah, asal bahan seperti untuk kerah jas,
   pelapis yang baik dipakai adalah pelapis yang tebal seperti
   pelapis bulu kuda, dan jika untuk kerah rebah (kerah baby)
   cukup dengan pelapis resin (staflek).
       Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, pelapis kerah
   pada umumnya sudah memakai lem yaitu                salah satu
   permukaannya memakai resin thermo plastik, yang dapat
   menempel pada bahan busana dengan cara memberi
   pemanasan dan tekanan beberapa waktu seperti dengan
   sterika prees atau mesin prees yang disebut juga fusing.
       Teknik memotong pelapis kerah adalah sebatas pola (sama
   dengan ukuran pola kerah) berarti tidak termasuk tiras, dan
   dijahit dibatas pelapis dan ada juga yang sama dengan
   lembaran kerah dan pelapis. Pemasangan pelapis dengan cara
   menempelkan pelapis yang memakai lem pada bagian buruk
   bahan kerah dengan tepat kemudian di press dengan mesin
   press atau seterika press.
       Kerah yang dipasang dengan memakai lajur atau serip
   adalah kerah rebah, kerah mandarin, kerah matros (kelasi).

       1) Kerah rebah ( kerah terletak)
          Kerah rebah disebut juga kerah baby karena kerah ini
       banyak dipakai untuk busana bayi, busana anak-anak, dan
       busana wanita. Teknik menjahit kerah rebah adalah sama
       untuk semua jenis, tetapi bentuknya saja yang berbeda
       antara kerah rebah, kerah palerin dan kerah matros.
          Teknik menjahitnya sama yaitu:


                                                               118
   a) Kerah digunting sesuai pola ditambah kampuh 1 cm
   b) Agar bentuknya bagus diberi pelapis vislin dengan
      ukuran sama dengan pola.
   c) Dijahit dengan setikan mesin selebar kampuh
      kecuali pada bagian leher
   d) Tirasnya digunting kecil-kecil sampai pada batas
      setikan dengan jarak 1 s.d 2 cm, tujuannya agar
      bentuk kerah tidak kaku (menurut bentuk) lalu di
      press ( ketika menggunting tiras jangan sampai
      tergunting benang setikan )
   e) Pasangkan pada leher dengan depun (kumai
      serong) dengan posisi badan atau (leher) bagian
      baik, kerah dan depun.
   f) Lalu dijahit dengan mesin pada sekeliling lingkar
      leher sesuai dengan tanda pola.
   g) Gunting kecil-kecil sekeliling leher dan ditindas
      seperti memasang depun
   h) Depun atau kumai serong di somkan ke badan




          Gambar 49. Kerah rebah

2) Pemasangan kerah dengan sesama kerah
    Teknik menjahit kerah sesama kerah antara lain adalah
kerah kemeja, dan kerah bord (kerah sanghai). Untuk kerah
ini selalu menggunakan pelapis kerah untuk menguatkan
dan membantu memperindah bentuk kerah.
    Kerah kemeja adalah kombinasi dua kerah yaitu kerah
bediri dan kerah setengah berdiri. Kerah kemeja dengan
penegak biasa ditemukan pada kemeja pria dan dapat pula
digunakan pada jacket dan pakaian wanita. Jenis kerah ini
mempunyai dua bahagian yaitu bahagian kerah dan
bahagian penegak. Penegak bisa digunting terpisah atau


                                                     119
bisa sejalan dengan kerah. Penegak terpisah, pemasangan
kerah pada pakaian sama seperti kerah berdiri lainnya.
Pelapis kerah di pasangkan pada kerah bahagian bawah,
tetapi apabila bahan pakaian tembus terang atau sangat
tipis pelapis kerah dapat di pasangkan pada kerah bahagian
atas, untuk mencegah agar kampuh tidak kelihatan setelah
kerah selesai di jahit. Bahagian atas kerah dan penegak
boleh distik dengan mesin.
     Cara menjahit kerah kemeja :
     a) Gunting bahagian kerah dan penegak rangkap dua
        dengan garis tengah belakang pada lipatan kain.
        Beri tanda pola pada masing-masing bahagian
        kerah.
     b) Gunting pelapis satu rangkap, kemudian beri tanda
        pola. Pasangkan pelapis pada bagian buruk kerah
        bagian bawah atau kerah bagian atas                atas
        (sesuaikan dengan jenis bahan).
     c) Dempetkan bagian baik kerah dan juga pada bagian
        penegak atas dan kerah bawah, dengan posisi
        bagian baik bahan berhadapan,semat dengan jarum
        pentul, kemudian dijahit. Pada sudut-sudut kerah
        selipkan beberapa helai benang yang berguna untuk
        membalikkan kerah. Tiras di gunting-gunting halus
        (agar menurut bentuk) sebelum dibalikan.
     d) Balikkan kerah kearah bagian baik kerah, kemudian
        tarik lambat-lambat benang yang diselipkan pada
        sudut setelah ujung kerah rata dan bentuk ujung
        kerah sudah sama, sebaiknya di pres untuk
        mendapatkan hasil yang rapi dan bagus.
     e) Jika diinginkan stik mesin garis pinngiran luar kerah.
     f) Dempetkan bagian baik kerah bawah pada penegak
        bahagian bawah. Dempetkan penegak bagian atas
        pada kerah bagian atas kerah terletak antara
        penegak kemudian jelujur
     g) Jahit mesin sepanjang garis kampuh penegaknya.
        Gunting-gunting kampuhnya seperti bentuk segitiga.
        Bukakan kampuh dan press pada papan kerah.
     h) Lipatkan penegak kearah bawah kerah sehingga
        kampuh berada pada bagian dalam kerah.
     i) Pentulkan pinggir penegak atas pada garis leher
        kemudian jelujur.
     j) Jahit dengan mesin bagian penegak yang dimulai
        dari garis tengah belakang, terus ke bahagian atas
        penegak,     terus pada garis leher dan kembali
        ketengah belakang.



                                                           120
3) Pemasangan kerah dengan lapisan
     Kerah yang pemasangannya dilapisi adalah kerah
shiller, kerah jas dan kerah setali (Shal collor). Kerah shiller
(minamora) adalah kerah yang mana lapisan tengah muka
dilipatkan tanpa sambungan, bagian atasnya menjadi
bagian bawah dari kerah setelah dibalik, sama dengan
kerah jas, yang membedakannya adalah : kerah jas lapisan
tengah mukanya disambungkan pada tengah muka karena
ada pembentukan sesuai model pada river bagian
kerahnya.
     Kerah setali (shal collor) yaitu yang dikontruksi sejalan
dengan pola bagian depan, garis luar kerah umumnya
dibuat melengkung, tetapi ada juga yang dibentuk seperti
kerah jas atau seperti kerah baju pramuka, bagian belakang
pada tengah muka memakai lapisan sampai kebagian kerah
dan yang tampak sebagai kerah itu adalah lapisannya.




           Gambar 50. Kerah shiler, kerah setali, kerah jas

4) Pemasangan kerah Shiller
       Kerah shiller yaitu kerah yang bagian atas dan kerah
bagian bawah terdiri dari satu potongan. Garis luar kerah
pada lipatan kain dan tidak ada kampuh, tetapi mempunyai
rever dan garis patahan kerah.
Cara mengerjakan:
   a) Gunting kerah dengan meletakkan pinggiran luar
       pola kerah pada lipatan arah panjang kain (menurut
       serat kain) ditambah kampuh lebih kurang 1,5 cm.
       Pelapis kerah sama dengan kerah bagian bawah.
   b) Pasangkan pelapis kerah pada bagian buruk kerah
       dengan cara di pres atau dijahit dengan mesin.




                                                              121
   c) Lipat dua lebar kerah dengan bagian yang dilapis
      berada sebelah atas kemudian jahit mesin kampuh
      kedua ujung kerah.
   d) Gunting miring kampuh sudut ujung kerah
   e) Balikkan kerah kebagian luar dan rapikan bentuknya,
      kemudian dipress
   f) Pentulkan kedua bahagian kerah mulai dari garis
      tengah belakang, bahu kiri dan bahu kanan sampai
      batas tengah muka
   g) Balikkan lapisan belahan pada bagian baik pakaian
      sehingga menutup bagian kerah sampai garis bahu,
      kemudian pentul dan jelujur.
   h) Gunting kampuh kerah atas pada garis bahu kiri dan
      kanan kemudian lipatkan kearah kerah.
   i) Jahit mesin mulai dari ujung lidah belahan kiri
      sampai ujung lidah belahan kanan. Untuk
      mendapatkan hasil yang sesuai dengan bentuk
      kerah, maka gunting-gunting kampuh dengan ujung
      gunting, tetapi jangan sampai kena setikan.
   j) Balikkan lapisan belahan kearah dalam pakaian dan
      rapikan bentuk sudut lidah belahan.
   k) Lipatkan garis kampuh kerah atas kearah dalam
      kerah mulai dari garis bahu kiri sampai garis bahu
      kanan, pentul dan jelujur.
   l) Jahitkan kerah bagian atas pada kampuh kerah
      bagian bawah dengan tusuk sum atau jahit mesin.
      Jahitkan ujung lapisan belahan pada garis kampuh.

5) Pemasangan kerah setali (shall collor)
   Cara mengerjakan:
   a) Siapkan pola badan depan yang pada garis tengah
      muka sudah berbentuk/pakai kerah
   b) Gunting lapisan kerah sepanjang tengah muka.
   c) Gunting pelapis (interlining) sesuai bentuk kerah dan
      tengah muka badan kemudian interlining di press.
   d) Pentulkan garis leher kerah bagian bawah pada
      garis leher belakang
   e) Sambungkan garis tengah belakang kerah bagian
      bawah kemudian bukakan kampuhnya
   f) Jelujur garis leher kerah bahagian bawah pada garis
      leher belakang dari garis bahu kiri sampai garis bahu
      kanan, kemudian jahit mesin
   g) Gunting kedua sudut kampuh garis leher belakang



                                                       122
               h) Sambungkan garis bahu lapisan leher belakang
                  dengan garis bahu kerah bagian atas terus kegaris
                  leher
               i) Lipatkan pinggir dalam pelapis belahan kearah
                  bagian buruk kain dari pinggir bawah bagian kiri
                  sampai kanan blus
               j) Pentulkan bagian baik kerah atas dengan bagian
                  baik kerah bagian bawah, jelujur, kemudian jahit
                  mesin sepanjang garis luar kerah sampai pinggir
                  bawah blus dan gunting-gunting kecil/halus tirasnya
               k) Arahkan kampuh leher belakang pada kerah bawah
                  kemudian jahitkan kampuh pada kerah bawah lebih
                  kurang 1 mm dari sambungan garis leher
               l) Balikkan kerah bagian atas kearah bagian dalam
                  pakaian kemudian jelujur miring garis luar kerah
                  sampai garis belahan
               m) Lipatkan garis patahan kerah dan pentul mengikuti
                  garis lipatan
               n) Lipatkan garis leher belakang kearah dalam kerah,
                  kemudian pentulkan garis leher belakang pada kerah
                  bagian bawah
               o) Jahitkan pinggir luar lapisan belahan pada pakaian
                  dengan tusuk sum.

D. Belahan Busana
    Belahan busana adalah guntingan pada pakaian yang berfungsi
untuk memudahkan membuka dan menutup pakaian. Disamping itu
juga berfungsi untuk hiasan atau variasi pada pakaian, karena pada
belahan nantinya akan dilengkapi dengan kancing/penutup belahan.
Belahan pada umumnya terdapat pada tengah muka, tengah belakang,
ujung lengan ataupun di tempat-tempat lain pada bagian-bagian
pakaian. Pemakaian belahan busana disesuaikan dengan model
busana atau desain.
    Namun demikian teknik penyelesaian belahan ini berbeda-beda
sesuai dengan jenis serta letak dari belahan itu sendiri. Jenis-jenis atau
macam-macam belahan secara garis besarnya adalah belahan
langsung, belahan memakai lapisan, belahan kumai serong dan
belahan tutup tarik.

   1. Belahan Langsung
       Belahan langsung yaitu belahan dan lapisan belahan dibuat
   sejalan dengan pola bagian badan. Pola belahan ini umumnya
   dipakai untuk blus, kemeja, gaun ditengah muka atau ditengah
   belakang.
   Tekniknya sebagai berikut:


                                                                      123
a. Menggunting belahan dilebihkan ± 2 cm dari tengah muka
   dan langsung ditambahkan untuk lapisan belahan 5 cm,
   dengan cara dilipatkan supaya bayangan cerminnya tepat
   dan pas. Untuk melipatkannya ada yang kedalam ada yang
   keluar.
b. Lipatkan lapisan belahan kearah dalam (bagian buruk),
   belahan ini biasa dipakai untuk blus, gaun dan kemeja.
c. Lipatkan lapisan belahan ke arah luar (bagian baik), pakaian
   kemudian dijahit dengan mesin sisi kiri dan sisi kanan
   dengan hasil jadi 3 s.d 4 cm. Ini biasa dipakai untuk belahan
   kemeja.




                Gambar 51. a, b, c. Belahan langsung

2. Belahan berlapis
Belahan berlapis yaitu belahan yang dilapisi dengan kain.
Belahan yang dilapisi ini ada beberapa macam yaitu belahan
satu lajur belahan, dan belahan dua lajur, belahan kumai
serong dan belahan dilapis menurut bentuk.
Belahan yang dilapisi dengan lajur ada 2 bentuk yaitu dua lajur
sama dan satu lajur.
    a. Belahan dua lajur
       Belahan ini banyak dipakai untuk belahan blus, baju
       kaos laki-laki, ujung lengan kemeja. Belahan dua lajur ini
       juga ada yang sama bentuk dan ada pula yang tidak
       sama bentuk. Maksudnya adalah, belahan dua lajur
       yang sama bentuk bagian atas dan bagian bawah dan
       lebarnya juga sama. Untuk yang tidak sama bentuk,
       antara bagian atas dan bawah tidak sama lebarnya,
       umumnya digunakan untuk ujung lengan kemeja.

   b. Belahan dua lajur sama
      Sediakan 2 lembar lajur dengan ukuran sama dengan
      panjang belahan, ditambah 3,5 cm, untuk lajur belahan
      lebarnya 2 kali lebar belahan ditambah kampuh 2 cm.


                                                             124
Cara menjahitnya :
1) Tentukan tempat belahan              seperti gambar
   (a), panjang belahan 10 cm, lebar belahan setelah
   dijahit 2 cm
2) Berilah tanda kampuh pada sekeliling lajur, ujung
   lajur ditipiskan, seperti gambar (b)
3) Letak lajur kanan pada sisi kanan dan lajur kiri pada
   sisi kiri. Sematkan 1 cm ke kiri dan ke kanan dari
   tempat yang akan digunting kemudian disetik dari a
   ke b
4) Gunting belahan 1 cm sebelum ujung belahan, buat
   guntingan menyudut atau segitiga, seperti gambar
   (c)
5) Lipat lajur bagian buruk menurut tanda yang telah
   ditentukan. Tepi lajur yang bertiras dibuat lipat
   kedalam. Semat dengan jahit kelim atau dijahit
   dengan mesin, seperti gambar (d)
6) Setik ujung belahan dengan mesin dari bagian baik,
   selesaikan ujung belahan bagian buruk dengan
   tusuk kelim.




           Gambar 52. Belahan dua lajur sama




                                                    125
c. Belahan dua lajur tidak sama untuk manset kemeja.
    Lajur luar lebarnya 2 cm dan lajur dalam 1 cm. belahan
dibuat ditengah pola ujung lengan bagian belakang ± 8 cm.
Cara menjahitnya:
    1) Guntinglah tempat belahan sepanjang belahan, 1 cm
        sebelum ujung belahan digunting menyudut (a)
    2) Letakkan lajur yang jatuh dalam bagian baik
        berhadapan dengan bagian buruk lengan, setiklah
        sepanjang belahan.
    3) Goreslah lajur yang letaknya di dalam, balik lajur ke
        bagian baik. Sisi yang masih bertiras diberi lipatan
        dalam ½ cm, lalu setiklah kedua kalinya tepat pada
        jahitan pertama (b).
    4) Letakkan lajur yang ukuran lebar pada bagian baik
        berhadapan dengan bagian buruk lengan. Lalu setik
        sepanjang belahan dengan kampuh ½ cm (c)
    5) Balik lajur kebagian baik. Pada sisi yang masih
        bertiras dibuat lipat dalam selebar ½ cm, lalu setik
        tepat pada jahitan pertama (d).
    6) Penyelesaian pada ujung belahan yang berbentuk
        runcing disetik terakhir dan diteruskan dengan garis
        batas panjang belahan.
    7) Perhatikan guntingan segi tiga dan ujung lajur kecil
        turut dijahit.
    8) Jahit      ujung belahan dua kali      dengan posisi
        melintang, jahitan ini berfungsi sebagai penguat.




             Gambar 53. Belahan dua lajur tidak sama



                                                        126
 d. Belahan dengan Kumai Serong
    Belahan dengan memakai kumai serong pada
umumnya terdapat pada tengah muka pakaian.
Cara menjahitnya:
    1) Sediakan kumai serong 2 lembar yang panjangnya
       sama dengan panjang belahan ditambah 2 cm
       untuk kampuh.
    2) Tentukan tempat belahan (a)
    3) Lebar lajur dilipat dua dan digores, letakkan lipatan
       tersebut tepat pada tempat belahan, dengan posisi
       bagian baik berhadapan dengan bagian baik.
       Sematkan 1/2 cm bagian kiri dan bagian kanan dari
       tempat belahan, kemudian disetik dengan mesin.
       Gunting tepat pada belahan, 1 cm sebelum ujung
       belahan digunting menyerong.
    4) Lipatkan lajur kebagian buruk, aturlah rompoknya
       selebar ½ cm sehingga belahan tadi tertutup. Sisi
       lajur yang bertiras dibuat lipatan dalam dan dijelujur
       tepat pada jahitan pertama. Kemudian disetik dari
       bagian baik.
    5) Lipat kecil pada ujung belahan, lalu dijahit dengan
       tusuk balut.
    6) Segi tiga pada ujung belahan disetik bersama
       dengan lajur.
    7) Ujung lajur yang bertiras diselesaikan dengan tusuk
       feston supaya kelihatan rapi pada bagian buruk,
       tepat pada ujung belahan dibuat kuku belalang atau
       trens sebagai penguat.




             Gambar 54. Belahan dengan kumai serong

 e. Belahan dilapis menurut bentuk
        Belahan dilapis menurut bentuk yaitu belahan dilapis
 dengan kain lain yang sama bentuknya. Belahan ini banyak
 digunakan pada tengah muka pakaian, tengah belakang


                                                         127
       atau pun ujung lengan. Ada belahan yang dilapisi sepanjang
       tengah muka, dan ada juga yang sebagian dari tengah
       muka.
           Belahan yang sepanjang tengah muka yaitu untuk
       belahan jas yang memakai kerah river, kemudian belahan
       blus atau kebaya yang memakai kancing sengkelit. Belahan
       yang panjangnya beberapa cm saja seperti, ditengah muka,
       diujung lengan, atau bagian ditengah belakang.




                 Gambar 55. Belahan dilapisi menurut bentuk



Ada beberapa teknik menjahit belahan antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Teknik menjahit belahan tengah muka yang dilapisi, caranya
    adalah :
     a) Sediakan lapisan yang sesuai dengan tambahan kampuh,
        dengan ukuran lebih kurang 1 cm.
    b) Bagian baik lapisan menghadap bagian baik pakaian lalu
        dijahit tepat pada garis pola dan kampuh digunting-gunting
        halus dengan jarak 1 s.d 2 cm.
    c) Pastikan lapisan pada bagian bawah berhimpit pada kain,
        kemudian ditindih dan dipres agar hasilnya rapi.
2. Teknik menjahit belahan tengah muka yang memakai kancing
    sengkelit, seperti pada kebaya (blus), teknik menjahit
    pelapisnya sama dengan diatas (belahan tengah muka yang
    dilapisi), cuma tepi kain diantara pelapis dan pakaian diletakkan
    sengkelit dengan ukuran teratur dan jumlanya disesuaikan
    dengan desain.l
3. Teknik menjahit belahan yang tidak sepanjang tengah muka
    (seperti belahan baju kurung).
        Cara pemasangan belahannya sama dengan pemasangan
    depun. Perbedaannya terletak pada pola belahan, dengan



                                                                 128
   adanya belahan lapisan juga dilebihkan mengikuti belahan
   kemudian dijahit mengikuti belahan lansung pada sekeliling
   leher. Setelah itu tiras digunting-gunting halus            dan
   ditindis/dijahit pelapis lebih kurang 1mm dan tiras kain
   diarahkan kepelapis
4. Belahan tutup tarik
        Belahan tutup tarik adalah belahan yang dipasangkan tutup
   tarik (retsleiting). belahan ini pada umumnya dipakai untuk
   tengah belakang rok, gaun, baju kurung, celana, dan
   sebagainya. Banyak bentuk (model) dari tutup tarik dan banyak
   pula cara (teknik) pemasangannya yang disesuaikan dengan
   fungsinya.
        Fungsi utama dari tutup tarik adalah untuk memudahkan
   membuka dan memakai pakaian, disamping itu tutup tarik juga
   berfungsi untuk menambah keindahan pakaian tersebut
   Alat utama untuk pemasangan tutup tarik agar lebih mudah
   adalah dengan memakai sepatu khusus yaitu sepatu tutup
   tarik.
   Ada beberapa macam belahan tutup tarik, yaitu:
   a. Belahan tutup tarik simetris
   b. Belahan tutup tarik asimetris
   c. Belahan tutup tarik tersembunyi
   d. Belahan tutup tarik terpisah
   e. belahan tutup tarik memakai golbi.
            Bentuk (model) dari tutup tarik (retsleiting) ini juga
   bermacam-macam, tetapi dalam pemakaiannya perlu
   disesuaikan dengan teknik pemasangannya dan disesuaikan
   pula dengan desain busana, bahan pakaian serta fungsinya.
   Selanjutnya dibahas masing-masing teknik pemasanganya.




    Gambar 56. Macam-macam tutup tarik (retsleiting)



                                                              129
a) Tutup tarik simetris
    Tutup tarik simetris biasanya dipasangkan pada belahan
yang memakai kampuh seperti tengah belakang rok, blus, gaun,
dan ada juga yang ditengah muka atau sisi. Tutup
tarik/retsleiting yang dipakai adalah retsleiting biasa.
Teknik pemasangannya:
    (1) Beri tanda panjang tutup tarik pada bagian dalam
         pakaian
    (2) Jahit kampuh pakaian sampai pada batas tutup tarik
    (3) Bukakan kampuh dan pres
    (4) Letakan tutup tarik pada bagian dalam pakaian, dan
         jelujur dari bagian luar pakaian dengan jarak lebih
         kurang 0.75 cm dari garis tengah belahan
    (5) Jahit dengan mesin sisi pita tutup tarik pada kampuh kiri
         dan kanan dari bagian dalam pakaian
    (6) Jahit dengan mesin tutup tarik dari bagian luar pakaian
         mulai dari sisi kiri terus kesisi kanan belahan sehingga
         terdapat dua lidah yang sama besar.




                     Gambar 57. Tutup tarik simetris


b) Tutup tarik asimetris
    Tempat pemasangan sama dengan tutup tarik simetris,
sama pada belahan yang pakai kampuh dan teknik
pemasangannya adalah sama dari langkah satu sampai
langkah ketiga dan pada langkah keempat.
    (1) Tutup tarik di setik menelengkup pada bagian kiri lebih
        kurang 2 mm dari tanda kampuh.
    (2) Kembangkan kampuh dan rapikan (tekan dengan
         sterika), kemudian setik bagian kanan lebih kurang ¾
         s.d 1 cm dengan posisi tutup tarik bagian luar
         menghadap keatas.



                                                             130
               Gambar 58. Tutup tarik asimetris

c) Tutup tarik tersembunyi (tertutup)
        Tutup tarik ini pada umumnya dipakai pada belahan
belakang baju kurung, gaun, rok, blus, dsb. Pemakaian tutup
tarik ini pada prinsipnya harus pada tempat belahan yang
memakai kampuh.
    Jenis tutup tarik untuk ini adalah tutup tarik yang khusus,
yang sering disebut dalam istilah restleting jepang (restleiting
hilang) alat (sepatu mesin) yang dipakai adalah sepatu khusus
untuk tutup tarik jepang yang mempunyai dua lekukan
(terowong) gigi restleiting.
    Kenapa dikatakan restleiting hilang karena kalau dilihat dari
luar tampaknya hanya seolah-olah sambungan kampuh saja, ini
banyak di pakai pada pakaian-pakaian yang berkualitas, karena
terkesan pemasangannya juga halus.
Teknik pemasangan sebagai berikut:
    (1) Beri tanda panjang restleiting 3 cm dari titik bukaan, lalu
        dijahit kampuh sisa
    (2) Letakan tutup tarik pada bagian dalam pakaian dan
        dijelujur bagian kiri dan bagian kanan tepat pada pinggir
        gigi
    (3) Lalu di jahit dengan memakai sepatu khusus dan gigi
        restleiting tepat (masuk) ke tempat lekukan sepatu
        mesin kiri, sampai ujung restleiting (3 cm) melewati titik
        bukaan
    (4) Jahitkan lagi yang bagian kanan seperti menjahitkan
        yang bagian kiri.

d)  Belahan tutup tarik celana
    Teknik pemasangan tutup tarik celana berbeda dengan
teknik pemasangan tutup tarik lain nya. Untuk celana dengan
gulby dan klep yang terletak di tengah muka celana. Untuk
celana panjang pria gulbinya sebelah kiri dan klep nya sebelah
kanan (bagian kiri di atas, bagian kanan di bawah). Sedangkan



                                                               131
untuk celana panjang wanita gulbinya sebelah kanan dan
klepnya sebelah kiri (bagian kanan diatas dan bagian kiri
dibawah) atau kebalikan dari celana pria.
Teknik pemasangannya
    (1) Sediakan bahan untuk celana dan belahan
    (2) Celana bagian depan yang telah digunting
    (3) Klep
    (4) golbi




             Gambar 59. Perlengkapan pemasangan tutup tarik


Penyelesaian klep
(a) Beri tanda panjang retsleiting, 1 cm dari pinggang pada
    celana
(b) Dempetkan dengan bagian baik celana, kain menghadap
    keatas dengan urutan; celana bahagian kanan, restleting
    tertelungkup (menghadap celana) celana dan klep bagian
    yang baiknya berhadapan
(c) Jahitlah 2 mm diluar garis. Hati-hati jarak retsleting dengan
    setikan yang sama
(d) Klep dikembangakan kekanan dan dilipatkan sampai batas,
    dan jahitlah dari bagian baik sebagai tindihan ( tindihan dari
    klep ).




         c               d
                Gambar 60. Penyelesaian klep




                                                              132
Penyelesaian golbi
(a) Jahitlah golbi rangkap dua pada bagian yang melengkung
    retak-retaklah pada bagian yang melengkung dengan ujung
    gunting yang tajam kemudian balikkan. Jahit tindas dari
    bagian baik, kemudian buatlah jahitan sepenuh gulbi
    dengan jarak ½ s.d ¾ cm
(b) Jahitlah gulbi pada celana kiri, dari pinggang 1 mm diluar
    garis pola sampai keujungnya. Golbi diarahkan kekiri dan
    ditindih.




               Gambar 61. Penyelesaian golbi

Penyelesaian akhir
(a) Hubungan badan kiri dan kanan jahit pada bagian buruk
    mulai dari pesak sampai retsleiting
(b) Jahitlah retsleiting yang sebelahnya lagi pada golbi dengan
    mengatur jarak, supaya retsleiting terjahit dengan rapi
(c) Lipatlah golbi pada celana dan dijahit dari bagian luar
    selebar 4 cm dengan bentuk yang baik (lihat gambar). Ingat
    jangan terjahit klepnya.
(d) Pada bagian pesak dijahitkan sisa klep dengan dilipit kecil
    sebesar 1 c, sebagai penguat pesak.
(e) Hasil akhir




   c                    d                      e
       Gambar 62. Penyelesaian klep



                                                           133
3. Membuat       rumah      Kancing      dan     Pemasangan
   Kancing
     Kancing dan rumah kancing dipakai untuk menutup belahan
yang terdiri atas 2 lapis yang bertumpukan yaitu pada bagian
kiri dan bagian kanan busana. Pemasangan kancing pada
umumnya di bagian tengah muka, tengah belakang dan ada
juga yang disisi ataupun pada bahu, letaknya tersebut
disesuaikan dengan desain.
     Untuk busana wanita letak belahan yang bagian kanan
diatas dan bagian kiri dibawah atau rumah kancing terletak
sebelah kanan dan kancing baju terletah disebelah kiri.
Sedangkan untuk pria belahan bagian kiri diatas dan belahan
bagian kanan dibawah (kebalikan dari letak belahan pakaian
wanita).
     Posisi rumah kancing ada yang memanjang dan ada
melebar/membujur, tergantung jenis belahannya. Belahan yang
pelapisnya mengarah kedalam, rumah kancingnya dibuat
melebar, sedangkan belahan yang pelapisnya mengarah
keluar, atau belahan yang memakai serip, letak lobang kancing
membujur.

Teknik membuatnya:
   a. Jelujur garis tengah muka dan tentukan jarak atau
       tempat lobang kancing.
   b. Memberi tanda pada tempat yang akan dilobangi,
       ukurannya dilebihkan 0,5 mm dari garis tengah kancing,
       agar kancing leluasa keluar masuk. Kemudian tanda
       tadi dilobangi dengan gunting yang tajam dengan
       pendedel, lalu dijelujur rapat disekeliling lobang kancing
       untuk penahan.
   c. Kemudian lobang kancing dijahit dengan tusuk rumah
       kancing

    Rumah kancing ini ada 3 macam yaitu rumah kancing biasa,
rumah kancing possepoile dan rumah kancing sengkelit. rumah
kancing biasa dapat dibuat dengan tangan yaitu dengan
menggunakan teknik rumah kancing atau dengan           tusuk
festoon, biasanya digunakan untuk blus wanita, kemeja, atau
busana anak-anak.

1) Rumah kancing biasa
Rumah kancing biasa, dibuat dengan mesin caranya sbb:
   a). Menggunakan mesin biasa dengan tusukan lurus,
       caranya dengan memasangkan alat pada mesin yang
       membuat tusuk zig-zag adalah gerakan alat yang



                                                             134
       bergerak kearah kiri dan kanan. Sementara tusukan
       mesin tetap lurus sehingga hasilnya menjadi zig-zag.
   b). Menggunakan mesin jahit khusus, lobang kancing ini
       banyak dipergunakan untuk membuat rumah kancing
       pada industri pakaian jadi (garmen).
   c). Menggunakan mesin serbaguna, bila memakai mesin
       serbaguna dengan cara menyetel setikan pada setikan
       zig-zag atau memasangkan alat (suku cadang khusus)
       atau mengikuti teknik dari mesin tersebut, karena mesin
       serbaguna banyak sekali merek dan spesifikasinya.
               Untuk melobanginya dengan bantuan tusukan
       jarum pentul pada kedua ujung lobang kancing, lalu
       digunting dengan ujung gunting atau pendedel sampai
       batas ukuran lobang kancing. Fungsi jarum pentul disini
       agar tidak robek melebihi ukuran lobang kancing.




       Gambar 63. Proses menoreh rumah kancing dengan mesin

2) Rumah kancing passpoille (kumai serong).
      Rumah kancing pass poile biasanya dipakai untuk
belahan busana kerja wanita dan pria, atau untuk busana yang


                                                              135
terbuat dari bahan-bahan yang agak tebal seperti polyester,
wool atau bahan campuran. Lebar bis lobang kancing berkisar
antara 0,4-0,5 cm, bis dibuat dari bahan yang sama dengan
memakai bahan serong.
Teknik menjahit nya:
    a). Beri tanda rumah kancing dan dempetkan kumai serong
         tepat di atas tanda dengan posisi bagian baik pakaian
         keatas, dempetkan kumai serong bagian baik
         menghadap bagian baik busana sesuai dengan ukuran
         panjang lobang kancing (garis tengah kancing) dan
         ditambah 3cm.
    b). Pindahkan tanda panjang dan lebar lobang kancing
         kebahan busana.
    c). Jelujur dan jahit mesin sisi sebelah atas dan sisi sebelah
         bawah belahan.
    d). Gunting garis tengah belahan dengan cara menggunting
         garis-garis tengah mulai dari tengah sampai 0,8 cm
         sebelum ujung sampai kedua ujung dan dari sini di
         gunting arah diagonal menuju sudut.
    e). Balikkan bis kebahagian dalam pakaian dan rapikan
         lebar bis, lalu rapatkan belahan dengan tusuk balut.
    f). Jahitkan guntingan sudut segitiga pada bahagian dalam
         pakaian lalu di stik mesin garis lebar bis pada kedua
         sisinya dari bahagian luar pakaian.
    g). Gunting celahan pada lapisan belahan bahagian dalam
         pakaian sama lebar dengan lebar lobang kancing,
         kemudian jahit dengan tusuk balut




                Gambar 64. Rumah kancing passpoille

3) Rumah kancing sengkelit
    Rumah kancing sengkelit yaitu rumah kancing yang di buat
dari kain serong berbentuk pipa. Rumah kancing ini di buat
untuk pakaian kebaya terbuat dari bahan renda seperti bahan
brokad dan pada belahan yang dilapisi menurut bentuk yang
digunakan pada tengah muka atau tengah belakang blus atau



                                                              136
gaun dan pada ujung lengan. Kancing yang digunakan paling
baik adalah kancing bulat atau kancing bola (ball buttons).
Rumah kancing sengkelit juga dapat di gunakan sebagai
variasi atau hiasan, baik diujung lengan, kerah saku, maupun
tengah muka seperti yang sering terdapat pada pakaian orang
cina. Rumah kancing ini dibuat sebelum belahan pakaian
diselesaikan karena pipa dipasangkan di antara lapisan
belahan. Langkah kerja adalah sebagai berikut:
    a). Gunting kain serong dengan ukuran lebar 1,5 cm dan
        panjang sesuai dengan keinginan.
    b). Lipat dua lebar kain serong dengan bagian buruk kain
        berada sebelah atas dan jahit mesin lebar pipa 0,3 s.d
        0,5 cm.
    c). Pasangkan benang yang besar pada jarum tangan.
    d). Tusukkan jarum pada salah satu ujung pipa sampai
        ujung terakhir (untuk membalikkan pipa).
    e). Tarik jarum dan benang sehingga seluruh pipa
        dibalikan pada bahagian baik kain.
    Membentuk sengkelit pipa memakai tali.
    Cara mengerjakan:
        (1). Gunting kain serong dengan ukuran lebar diameter
            tali ditambah 2,5 cm.
        (2). Potong tali dengan ukuran panjang dua kali panjang
            kain serong.
        3. Lipat dua lebar kain serong dengan bahagian buruk
            kain berada sebelah atas.
        (4). Masukkan tali diantara kain serong dan jahit mesin
            dengan menggunakan sepatu jahit khusus untuk
            menjahit tutup tarik
        (5). Rapikan dan kecilkan tiras.
        (6). Tarik ujung tali sehingga semua pipa dibalikkan
            pada bahagian baik kain




             Gambar 65. Membalikkan sengkelit


                                                           137
   Memasangkan sengkelit pipa pada belahan.
   Cara mengerjakan:
   1) Buat dua buah garis paralel pada kertas pertama 0,6 cm dari
      pinggir dan kedua sama dengan ukuran diameter kancing.
   2) Buat dua buah garis melintang dengan ukuran sama dengan
      diameter kancing.
   3) Letakkan pipa pada garis parallel, kemudian pentul pada
      kedua garis melintang untuk menentukan panjang pipa dan
      beri tanda.
   4) Potong pipa sesuai dengan tanda panjang yang sudah
      ditentukan, dan sejumlah yang dibutuhkan.
   5) Buat tanda tempat pemasangan pipa pada belahan pakaian.
      Pemasangan pipa ada yang rapat atau tidak berjarak antara
      pipa yang pertama dengan pipa yang lainnya dan ada yang
      diberi jarak.
   6) Letakkan pipa pada tempat yang sudah diberi tanda dan jahit
      dengan mesin pada tanda garis tengah belahan.
   7) Dempetkan bagian baik lapisan belahan diatas pipa dan jahit
      dengan mesin pada tanda garis tengah belahan.
   8) Bukakan kampuhnya dan pres.
   9) Balikkan lapisan kearah bagian dalam pakaian, dan jahit
      mesin garis sambungannya.
   10) Jahitkan pinggiran dalam lapisan dengan tusuk sum pada
      pakaian.




                 Gambar 66. Rumah kancing sengkelit


E. Menyelesaikan Busana Dengan Alat Jahit Tangan
  1. Memasang Kancing
        Posisi pemasangan kancing hendaklah tepat digaris tengah
  muka atau tengah belakang, maka dari itu untuk belahan biasa
  yang sudah dilebihkan lidah belahannya 2 atau 1,5 cm maka jelujur
  terlebih dahulu tepat pada garis tengah muka atau tengah
  belakang, agar tepat.



                                                               138
      Kancing berfungsi untuk mengancingkan belahan (penutup
belahan) atau juga untuk hiasan atau variasi busana. Bermacam-
macam bentuk dan model kancing, yaitu kancing lobang dua, dan
kancing lobang empat, kancing bertangkai, kancing hias, kancing
jepret dan kancing kait.
    a. Teknik memasang kancing lobang dua dan empat
        Teknik pemasangannya yaitu membuat tusuk awal dengan
    menyisipkan ujung benang diantara dua belahan dan membuat
    satu atau dua tusukan kecil sebagai penguat kemudian
    memasukkan jarum dari bawah pada lobang pertama dan
    keluar pada lobang kedua, ulangi dengan cara yang sama
    sampai 4 atau 5 kali dan putar kancing dengan pakaian dililitkan
    agar berkaki. Kalau untuk lobang empat dapat dibuat dengan
    dua garis sejajar atau garis silang diatas kancing dengan cara
    mengeluarkan dan memasukkan jarum pada sudut yang
    berhadapan tiga sampai empat kali, kemudian dibalut antara
    kancing 1,2 dan 3 kali putar.benang yang merentang dekat
    jarum pentul, setelah pentul tadi dicabut benang tersebut dibalut
    untuk dijadikan kaki kancing.




           Gambar 67. Pemasangan rumah kancing dua dan empat lobang

   b. Teknik menjahit kancing bertangkai
      Cara memasangnya yaitu dengan membuat tusuk pada
   tanda tempat kancing, kemudian membuat 4 samapi 5 tusukan,
   dan terakhir berikan tusukan penguat.




                   Gambar 68. Pemasangan kancing bertangkai



                                                                      139
     c. Teknik menjahit kancing jepret
         Cara memasangnya yaitu kancing jepret dijahitkan dengan
     tusuk balut atau dengan tusuk festoon. Setiap rumah kancing
     dibuat 4 sampai 5 kali tusukan, dan usahakan tusukan tidak
     tembus ke luar.
         Untuk jenis busana yang berkualitas tinggi, biasanya
     kancing jepret dibungkus dengan bahan yang tipis dan sewarna
     dengan bahan busananya. Cara membungkus kancing jepret
     dapat dilihat pada gambar berikut




                      Gambar 69. Pemasangan kancing jepret

     d. Teknik menjahit kancing kait.
         Biasanya kancing kait terdiri dari dua bagian, yaitu kaitan
     dan matanya. Memasang kancing kait ini diselesaikan dengan
     tusuk feston atau tusuk balut.




                       Gambar 70. Pemasangan kancing kait

F. Menyiapkan Tempat Kerja
         Mengatur tempat kerja menjahit dengan tangan berbeda
  dengan tempat kerja menjahit dengan mesin. Bekerja di sekolah
  berbeda dengan tempat kerja di sebuah usaha busana, juga
  berbeda dengan tempat kerja menjahit untuk ibu rumah tangga.
  Suatu tempat kerja yang diatur teliti dengan mengingat tertib kerja
  dan rasa keindahan, akan menyebabkan siswa yang sedang


                                                                 140
mengikuti praktek busana atau karyawan sebuah usaha busana
dan seorang ibu rumah tangga yang sedang menjahit, tentu akan
bisa bekerja dengan senang. Ruang kerja dan alat yang diperlukan
yaitu yang ergonomik dengan kata lain alat yang sesuai dengan
kebutuhan.
        Menjahit dengan tangan adalah segala kegiatan yang
pengerjaannya semata-mata dengan tangan, seperti memasang
kancing berlobang, kancing jepret, kancing kait dll.
     Untuk itu di ruang menjahit dengan tangan, sebaiknya disiapkan
tempat kerja se asri mungkin, serta alat yang dibutuhkan disusun
sesuai dengan tertib kerja sehingga dapat menambah keindahan
dan dayaguna praktek menjahit. Dalam kegiatan menjahit dengan
tangan bagi siswa disekolah sebaiknya disiapkan kotak jahitan
yang isinya: gunting, jarum tangan, jarum pentul, benang, cincin
jari, pendedel, centimeter dan alat-alat yang diperlukan untuk
menjahit tangan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk
lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan masing-masing alat
tersebut:

1. Alat Menjahit Dengan Tangan.
   a. Macam-macam gunting dan alat pemotong
       Alat potong dalam jahit menjahit ada bermacam-macam
   dengan fungsi yang berbeda-beda pula seperti: gunting kain
   yaitu gunting yang digunakan untuk menggunting kain, gunting
   zig zag , gunting rumah kancing, gunting bordir, gunting tiras,
   gunting listrik, gunting benang jelujur, alat pembuka jahitan atau
   pendedel.
       Gunting kain paling banyak digunakan sedangkan yang
   lainnya hanya sesuai dengan keperluan, gunting harus tajam,
   untuk menguji ketajaman gunting dengan cara menggunting
   perca pada bahagian seluruh mata gunting jika bekas guntingan
   pada perca tidak berbulu berarti gunting itu cukup tajam untuk
   kain.




                          Gambar 71. Alat pemotong



                                                                 141
b. Alat ukur
    Untuk proses pembuatan pakaian mulai dari persiapan pola
sampai penyelesaian diperlukan beberapa alat ukur, yang
penggunaan alat ini berbeda sesuai fungsinya. Ketelitian dalam
mengukur sangat memberikan sumbangan untuk memperoleh
hasil yang berkualitas,. Saat mengukur haruslah diusahakan
setepat mungkin.
    Pita ukuran dalam perdagangan ada yang terbuat dari
plastik, kain, dan kertas, pita ukuran yang terbuat dari kertas
mudah robek. Garis-garis dan angka-angka pita ukuran harus
dicetak terang pada kedua sisinya, logam yang menjepit ujung
pita harus rapi.
    Mistar dapat terbuat dari kayu, aluminium dan plastik, alat
pengukur panjang rok dapat distel dan alat ini lengkap dengan
alat penyemprot, sebelumnya juga dapat dilakukan dengan
centi meter (pita ukuran) kemudian ditandai dengan jarum
pentul ini sekarang masih banyak dipakai karena masih praktis
terutama bagi orang-orang yang sudah terampil.




                      Gambar 72. Alat-alat ukur

c. Alat pemberi tanda pada bahan
    Alat-alat yang digunakan untuk memberi tanda pada bahan
adalah rader, karbon jahit, pensil kapur, Rader biasanya
digunakan berpasangan dengan karbon jahit, rader ada yang
memakai gigi dan ada yang licin. Waktu pemakaian rader



                                                           142
rodanya dapat dipergunakan dengan lancar dan tidak oleng dan
hasilnya dapat memberikan bekas yang rapi, karbon jahit yang
dipakai yaitu karbon jahit yang khusus untuk kain. Warna
karbon bermacam-macam ada berwarna putih, kuning, hijau,
merah. Jangan memakai karbon mesin tik karena karbon
mesin tik tidak dapat hilang walaupun sudah dicuci.
    Kapur jahit, berbentuk segitiga dengan warna putih, merah,
kuning, biru, pensil jahit juga mempunyai isi kapur yang
mempunyai warna yang beraneka ragam memilih warna kapur
atau pensil kapur yang berbeda dengan warna kain.




               Gambar 73. Alat pemberi tanda pada bahan

d. Jarum
    Jarum-jarum mempunyai nomor menurut besarnya.
Pemilihan nomor jarum harus disesuaikan dengan bahan yang
akan dijahit. Pada umumnya syarat macam-macam jarum
adalah ujungnya cukup tajam bentuknya ramping dan tidak
berkarat. Dalam jahit menjahit perlengkapan menyemat dan
jarum terdiri atas jarum jahit mesin jarum tangan, jarum pentul,
pengait benang dan tempat penyimpan jarum. Jarum mesin
yang baik terbuat dari baja ujung tajam agar bahan yang dijahit
tidak rusak. Jarum tangan sama yaitu terbuat dari baja
mempunyai tingkatan nomor, jarum tangan yang baik panjang
dan ramping. Jarum jahit tangan digunakan untuk menghias


                                                            143
   menyisip dan menjelujur. Jarum pentul yang baik juga terbuat
   dari baja panjang 2,5 cm sampai 3 cm. jarum pentul yang
   berkepala dengan warna bermacam-macam itulah yang tajam.
       Pengait benang digunakan untuk pengait benang kelubang
   jarum. Alat ini sangat berguna bagi mengalami kesulitan dalam
   memasukkan benang ke lubang jarum karma penglihatan yang
   kuran tajam.

   e. Tempat menyimpan jarum
      Tempat menyimpan jarum-jarum digunakan kotak atau
   bantalan jarum, jarum pentul atau jarum mesin disematkan
   pada bantalan jarum.




                    Gambar 74. Tempat menyimpan jarum


2. Perlengkapan memampat
   Perlengkapan memampat atau mempres diperlukan untuk
memampat kampuh lengan, kampuh bahu dan kampuh bagian
busana lainya. Pekerjaan memampan sangat diperlukan ketika
menjahit pakaian agar hasil jahitan lebih rapi. Sebenarnya
keberhasilan dalam menjahit sangat tergantung dengan proses


                                                            144
kerja waktu menjahit. Perlakuan yang cermat dan hati-hati selama
tahapan pembuatan busana akan menghasilkan busana yang
tampak indah dan hanya membutuhkan sentuhan ringan sewaktu
penyelesaian anda akan temukan bahwa lebih cepat dan lebih
mudah ditemukan pada unit-unit begitu anda menjahitnya misalnya
tekanlah semua bentuk-bentuk atau penutup kantong dan lainnya.

   a. Menyiapkan Tempat dan Alat Press (Pressing)
       Pressing memberikan pengaruh yang besar pada tampilan
   hasil pakaian, sehingga akan meningkatkan kwalitas dan harga
   jual pakaian tersebut. Proses pressing dapat dibagi dua
   kelompok yaitu:
     1). Pengepressan selama pembuatan pakaian yang disebut
         under pressing.
     2). Pengepressan setelah pembuatan busana selesai disebut
         top pressing.
           Tujuan dari pressing adalah untuk menghilangkan
     kerutan atau menghaluskan bekas-bekas lipatan yang tidak
     diinginkan untuk membuat lipatan-lipatan yang dinginkan.
     Untuk membentuk mencetak busana sesuai dengan lekuk
     tubuh, untuk mempersiapkan busana ke proses berikutnya
     dan untuk memberikan penyelesaian akhir pada busana
     setelah proses pembuatan.

      a). Alat-alat Pressing yang Dibutuhkan
            1) Setrika uap
            2) Alas plastic yang dilapisi busa tebal
            3) Mesin leger, yang berfungsi untuk mengepres
                busana dari paha ke atas (biasa digunakan di
                garmen)
            4) Mesin topper, yang berfungsi untuk mengepres
                busana dari paha ke bawah (biasa digunakan di
                garment)

            5) Sterika press yang dapat distel suhunya dan
               mempunyai semprotan airnya.
            6) Meja sterika (papan sterika)
            7) Papan lengan yang khusus untuk lengan dengan
               ukuran papan, dimana lengan dapat dimasukkan
               pada papan lengan.
            8) Bantalan press yang berfungsi untuk membantu
               menekan dan sebagai alas untuk mempress
               puncak lengan.
            9) Mesin press yang umum dipakai perusahaan-
               perusahaan garment (konveksi)



                                                            145
               10) Mesin press juga banyak model atau tipenya, dan
                   fungsi utamanya untuk mempress.

G. Mengerjakan Pengepresan.
        Pressing yaitu melakukan proses penekanan agar bahan lebih
rapi dan berkualitas tinggi, dengan cara kerjanya:
1). Memeriksa busana yang akan dipres agar jelas yang akan
    dilakukan
2). Mempres bagian atas dan bawah
3). Mempres setikan kelim bawah
4). Mempres ban pinggang, saku atau bagian-bagian busana lainnya.

Pengaturan suhu sewaktu pengepresan disesuai-kan dengan bahan
yang akan di press.
  (a). Pengepresan dengan strika press
       Pada alat tersebut sudah ada tombol pengatur suhu. Suhu
       maksimal 1100 watt. Tombol yang nomor 6 dengan panas
       maksimal 1100 watt. Tombol nomor 1, 2 dan 3 pressnya sama
       dengan memakai strika biasa tanpa uap air. Untuk tombol 4, 5
       dan 6 dapat mempress dengan uap air. Untuk pakaian sintetis
       dan silk panas maksimal sampai nomor 4, tapi harus memakai
       uap air. Dan untuk katun dan lenan bisa lebih.

 (b). Pengepressan dengan mesin press
      Harus disesuaikan dengan tanda-tanda suhu mesin. Nomor 1
      untuk nilon, nomor 2 untuk silk, nomor 3 untuk wool, nomor 4
      untuk katun dan nomor 5 untuk linen. Untuk nomor 1 tanpa uap
      air, untuk silk, wool, katun dan linen sudah memakai uap air.
       Untuk lebih jelasnya lihat buku pedoman petunjuk pemakaian
       mesin press, karena setiap tipe mesin press pengaturannya
       sesuai dengan spesifikasinya masing-masing.

 (c). Memakai Sterika Biasa
       Bila memakai seterika biasa panasnya juga disesuaikan dengan
       bahan yang akan dipress, kemudian dapat dipakai bahan katun
       yang dibasahkan untuk alas pengepresaan agar hasilnya rapi
       dan dapat mengatasi gosong pada pakaian. Pengaturan
       suhunya nomor 2 untuk silk dan nilon, nomor 3 untuk poliester
       dan rayon, nomor 4 untuk wool nomor 5 untuk katun dan nomor
       6. untuk linen dengan strika yang panas maksimal 450 watt.
       Seandainya memakai seterika yang panasnya 300 watt bisa
       dengan panas maksimal untuk mengepres polyester dan rayon
       dan dengan mengalas dengan kain katun basah.




                                                                146
                  Gambar 75. Teknik mempress dengan sterika



1. Teknik Pengepresan (Pressing)
   Untuk mendapat kwalitas produk pakaian yang baik dengan
proses yang baik pula. Salah satunya teknik mempress atau
pressing ada dua tahap pengepressan

   a. Pengepressan antara
       Pengepressa antara yaitu pada saat proses penjahit
   dilakukan pressing pada bagian-bagian pakaian yaitu
   setiaplangkah menjahit di press seperti:
       1) Pengepressan kampuh yaitu kampuh bahu dan kampuh
           sisi, setelah bahu dan sisi disambungkan.
       2) Pengepressan lipit seperti lipit pantas dan lipit-lipit lainya
           bila ada.
       3) Pengepressan lapisan (Interlining) pada tengah muka,
           depun, krah dan sebagainya.
       4) Pengepressan komponen-komponen seperti tutup
           kantong sebelum dipasangkan dan persiapan bagian-
           bagian lainnya.

   b. Pengepressan akhir
      Pengepressan akhir yaitu pengepressan yang dilakukan
   pada saat pakaian sudah siap (sudah jadi). Ini dapat dikerjakan
   dengan sterika press dan untuk di garmen dengan produksi
   yang besar dengan “Stream Doily atau stream tunnel“




                                                                    147
2. Penyetrikaan atau pengepresan
   Penyeterikaan dan prengepresan pakaian jadi dengan tujuan
   menambah kerapian dan keindahan. Langkah kerja hendaklah
   disesuaikan dengan desain busana, seperti contoh berikut:
   a. Penyetrikaan kemeja terlebih dahulu di setrika bagian kerah
       kemudian lengan dan sebagainya. Untuk kemeja lengan
       pendek dapat disetrika dengan melanjutkan garis bahu
       kelengan, tetapi untuk kemeja lengan panjang dengan
       menyetrika mengikuti garis belahan manset lengan.
   b. Untuk penyetrikaan celana dengan cara mendempetkan
       kampuh sisi luar dengan sisi dalam lalu dipress berarti
       patahannya ditengah muka dan tengah belakang pipa
       celana. (cara ini dilakukan untuk celana yang kampuhnya
       terbuka)
   c. Pakaian wanita seperti rok pada saat proses menjahit,
       kampuh dan lipit-lipitnya sudah dilakukan pengepresan,
       sedangkan untuk penyetrikaan akhir, cara pertama adalah
       menyetrika secara keseluruhan, kemudian bagian pinggang,
       bagian kelim, khusus untuk pakaian kerja, baju kurung dan
       blus yang mempunyai lengan licin (lengan suai)
       penyetrikaan lengan tanpa patahan dari puncak lengan
       tetapi patahannya sama dengan lengan kemeja lengan
       panjang.
   d. Pakaian anak-anak seperti gaun, atau rok yang
       kembang/berkerut, di seterika dengan mengembangkan dan
       jangan didempetkan kerutannya.

3. Pengemasan busana
    Kemasan merupakan tampilan terakhir dari busana untuk
diserahkan pada konsumen bila ini merupakan pesanan. Sebelum
dikemas terlebih dahulu diberi label yang merupakan keterangan
atau isyarat untuk perawatan busana tersebut. Bentuk kemasan
yang baik mestinya sudah dirancang sebelumnya.
    Rancangan kemasan harus disesuaikan dengan bentuk produk
dan tampilan yang diinginkan seperti untuk kemasan pakaian jadi
dengan produksi massal memakai kemasan plastik transparan atau
kotak plastik seperti kemasan untuk kemeja. Untuk kemasan jas
atau pakaian pengantin lainnya kemasan dengan gantungan yang
dilengkapi dengan sarung/plastiknya.
    Fungsi kemasan disini adalah untuk keamanan, untuk
keindahan penampilan, dan untuk promosi. Dalam perancangan
kemasan ketiga unsur di atas perlu dipertimbangkan. Makin tinggi
kwalitas produk makin mewah pada kemasannya.




                                                             148
4. Penyimpanan busana
     Penyimpanan busana sangat diperlukan agar busana tidak
rusak oleh ngengat, tempat penyimpanan diberi kamper. Busana
yang disimpan dalam lemari ada yang dilipat, ada yang digantung
seperti jas, pakaian kerja dan sebagainya. Khusus untuk pakaian-
pakaian mewah seperti kebaya wanita yang terbuat dari tile (yang
lemas) dan dihiasi dengan payet-payet jangan digantung karena
akan mengakibatkan pakaian berubah ukuran             menjadi lebih
panjang. Tetepi sebaliknya penyimpanan selendang yang
berjambul harus digantung, supaya jambulnya tidak berobah
bentuk. Penyimpanan kain songket tidak digantung dan tidak
dilipat, tetapi digulung dan dibalut dengan kertas koran/kertas pola
lalu dimasukan kedalam plastik yang diberi kamper.
     Pengemasan pakaian dalam lemari hendaklah sejenis pada tiap
bagian lemari agar kelihatan rapi dan lebih mudah mencarinya.
Dianjurkan sekali seminggu lemari dibuka atau di anginkan agar
tidak pengap dan tidak lembab.

5. Merapikan Area dan Alat Kerja
        Kerapian area kerja disaat bekerja/melakukan kegiatan
menjahit akan memberikan dorongan dalam bekerja sehingga
bekerja dapat lebih efektif dan efesien. Disamping itu juga akan
membantu keselamatan dalam bekerja.
        Apa yang perlu dibudayakan dalam menata dan merapkan
area kerja adalah sebagai berikut, sesuai dengan budaya kerja 5 S
yang dikembangkan di Jepang. Konsep 5 S menitik beratkan akan
pentingnya penataan dan kebersihan di tempat kerja secara
berkesinambungan (kaizen) guna meningkatkan efesiensi proses
kerja. Istilah 5 S berasal dari huruf pertama istilah dalam bahasa
Jepang yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke.

        Pengertian masing-masing elemen tersebut adalah sebagai
berikut :
    a. Seiri yaitu ringkas.
        Jadi menyusun barang-barang atau alat-alat dapat
        mengelompokkan          berdasarkan      urutan  tingkat
        kepentingannya sehingga bekerja lebih ringkas.
    b. Seiton yaitu rapi.
        Menyimpan barang ditempat yang tepat yang telah
        ditentukan sehingga dapat cepat ditemukan pada waktu
        yang dibutuhkan.
    c. Seiso yaitu resik.
        Barang-barang, peralatan dan lokasi kerja ataupun
        lingkungan kerja selalu dalam keadaan bersih.
    d. Seiketsu yaitu rawat.



                                                                149
          Melakukan pengulangan kegiatan ringkas, rapi dan resik
          sebagai kebiasaan.
       e. Shitsuke yaitu rajin.
          Kegiatan ringkas, rapi, resik, rawat dilaksanakan secara
          disiplin dan menjadi kebiasaan hidup atau menetap dalam
          diri kita.

    Manfaat dari bekerja dengan budaya kerja seperti di atas adalah
membuat tempat kerja menjadi lebih teratur dan efesien sehingga
melakukan pekerjaan lebih mudah dan memberikan rasa senang.
    Untuk menjahit tangan seperti menjelujur, mensum atau memasang
kancing, siapkanlah alat-alat yang sesuai dengan keperluan seperti
jarum, kancing, benang, dan sebagainya. Semua alat dan bahan ini
ditempatkan pada satu kotak, dan diletakan pada tempat tertentu.
Bekerjalah pada tempat yang rapi dan bersih sehingga tidak ada
kemungkinan pakaian ternoda.
    Bila akan mengepres pakaian, siapkanlah meja setrika dan
letakkan dekat dengan colokan listrik/stop kontak. Disamping itu perlu
juga disiapkan bantalan setrika dan spray n alat-alat lain yang dirasa
perlu.

H. Menerapkan Praktek K-3
         Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja di sekolah perlu
mendapatkan perhatian dari semua pihak, baik guru, instruktur ataupun
siswa itu sendiri. Dengan menerapkan praktek                 kesehatan,
keselamatan dan keamanan kerja, diharapkan para pekerja/siswa akan
terlindung dari kemungkinan resiko kerja yang selalu mengancamnya,
baik yang disebabkan oleh lingkungan kerja maupun yang disebabkan
oleh pekerja/siswa itu sendiri. Pihak sekolah kejuruan secara hukum
berkewajiban untuk        mengurangi resiko/kecelakaan kerja sekecil
mungkin. Jadikan keamanan kerja sebagai prioritas utama.
     Untuk mencapai tujuan tersebut, siswa harus mematuhi panduan
keselamatan kerja, sehingga tidak membahayakan diri sendiri maupun
diri orang lain.
     Ketika menjahit jika tidak berhati-hati siswa diancam oleh tusukan
jarum, gunting dan lain sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut di
atas maka setiap bekerja harus diterapkan/dipraktekkan apa yang
dituntut oleh aturan-aturan K3. Hal tersebut sangat penting untuk
karena dapat meningkatkan kinerja sehingga siswa akan lebih produktif
dan professional dalam melakukan setiap pekerjaan menjahit atau
mempres.
Setiap siswa hendaklah selalu membiasakan diri untuk:
1). Mempelajari dan melaksanakan aturan dan instruksi keselamatan
     kerja
2). Memberikan contoh cara kerja yang aman kepada siswa baru yang
     kurang berpengalaman


                                                                   150
3). Menunjukkan kesiapan dan minat untuk mempelajari dan melatih
     diri terhadap kerja yang aman
4). Melakukan secara sungguh-sungguh tentang keselamatan kerja
     pada setiap tugas pekerjaan.
     Menerapkan praktek K3 dapat membantu kesuksesan dalam
     bekerja, dan perlu juga disadari bahwa. kecelakaan-kecelakaan
     yang terjadi ditempat kerja disebabkan karena persoalan teknis,
     atau meletakkan alat disembarangan tempat.
Usaha untuk mencegah/memperkecil kecelakaan ditempat kerja, dapat
dilakukan dengan cara:
1). Mengadakan pengaturan tata cara kerja, menyediakan tempat alat-
    alat yang diperlukan
2). Menerapkan dan mematuhi peraturan sekolah dan disesuaikan
    dengan jenis pekerjaan yang dilakukan, karena tempat bekerja
    merupakan bagian yang penting begi siswa di sekolah, secara tidak
    langsung tempat bekerja akan berpengaruh pada kesenangan,
    kenyamanan dan keselamatan dari para siswa. Keadaan atau
    suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan
    menimbulkan gairah produktifitas kerja.


Rangkuman
Pengetahuan teknik menjahit busana sangat perlu bagi semua siswa
khususnya siswa SMK Jurusan Tata Busana. Teknik menjahit yang
benar akan menghasilkan busana yang berkualitas. Sehelai busana
dikatakan berkualitas apabila dikerjakan sesuai dengan teknik jahit
yang sesuai dengan desain, jenis bahan yang dipakai, dan lain
sebagainya.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
perkembangan zaman, maka desain busana berkembang dengan
pesat sekali. Perkembangan desain busana harus diimbangi dengan
teknik menjahit busana itu sendiri. Perkembangan desain seperti
berfariasinya desain kerah, desain lengan, desain rok, desain blus dan
lain sebagainya, mesti diiringi dengan teknik jahit yang sesuai dengan
desain masing-masing.
Untuk menerapkan teknik jahit yang benar dan sesuai dengan desain
busana, diperlukan pengetahuan tentang teknik dasar menjahit,
kampuh dasar (menggabungkan), teknik menjahit bagian-bagian
busana, teknik menjahit belahan busana.
Didalam kegiatan menjahit, siswa tata busana juga harus mampu
menyiapkan/menata tempat kerja yang sesuai dengan kegiatan yang
dilakukan, antara lain menyiapkan tempat untuk kegiatan menjahit
dengan mesin, mejahit dengan tangan, melakukan pengepresan, dan
merapikan area tempat kerja serta menerapkan kesehatan dan
keselamatan kerja



                                                                  151
Kompetensi yang diharapkan dari materi diatas adalah :
1. Teknik dasar menjahit, kampuh dasar (menggabungkan),
   Teknik menjahit bagian-bagian busana, terampil membuat
   bermacam-macam belahan busana.
2. Mampu menyiapkan tempat dan alat pres, melakukan
   pengepresan (pressing), mencakup kemampuan yang
   dibutuhkan untuk pekerjaan pengepresan antara didalam
   membuat busana.
3. Mampu menerapkan praktek Kesehatan dan keselamatan
   kerja dalam mengepres.




 Evaluasi :
 1. Jelaskan pengertian dari teknik dasar menjahit busana.
 2. Jelaskan langkah kerja menjahit belahan dua lajur
 3. Apa saja yang diperlukan didalam pekerjaan mempres dan
    dimana tempat yang efektif diletakkan untuk mempres antara.
 4. Kapan dilakukan pengepresan antara didalam proses
    pembuatan busana.
 5. Jelaskan manfaat melakukan pressing.
 6. Jelaskan penerapan K3 dalam kegiatan mempres busana.




                                                           152
                                BAB V
 PEMILIHAN DAN PEMELIHARAAN BAHAN
              TEKSTIL
 A. Klasifikasi Serat Tekstil
      Bahan dasar busana disebut juga dengan kain. Kain ini terbentuk
 dari serat tekstil yang diolah sedemikian rupa sehingga tercipta kain
 yang kita lihat dipasaran. Serat tekstil secara garis besar dapat
 dikelompokkan atas dua yaitu serat alam dan serat buatan. Jadi kain
 yang kita pakai untuk busana ada yang berasal dari serat alam dan
 ada juga yang berasal dari serat buatan. Untuk lebih jelasnya dapat
 dilihat pada skema berikut :



                          SERAT TEKSTIL




             SERAT ALAM                    SERAT BUATAN




     Serat alam dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa bagian
     seperti yang terlihat pada skema berikut :


                          SERAT ALAM




Serat Tumbuh-             Serat binatang      Serat barang
tumbuhan (Selulosa)       (protein)           galian (Mineral)



     Serat biji              Wol                  Asbes
     Serat                   Bulu-bulu
     batang                  Sutera
     Serat
     daun




                                                                  153
    Berikut ini pengelompokan dari serat buatan atau disebut juga
    dengan serat kimia :


                    SERAT KIMIA (SERAT BUATAN)




Serat yang diolah           Serat            Serat sintetis
kembali                     setengah
                            sintetis             Polyamide...................Nylon
                                                 Polyacrylo-nitrile........Acrylic
    Rayon                      Asetat            Polyester
    Polynosic                                    Polyvinyl-alkohol
                                                 Polyvinylidenechloride
                                                 Polyvinylchloride
                                                 Polyethylene
                                                 Polypropylene
                                                 Polyurethane



    Sesuai dengan asal serat tekstil sebagaimana yang dijelaskan di
atas, maka sifat-sifat, kegunaan dan cara pemeliharaan bahan
tekstilpun berbeda sesuai dengan asal serat tersebut.

1. Serat Alam
    a. Serat Tumbuh-tumbuhan (Selulosa)
        Serat tumbuh-tumbuhan yaitu serat tekstil yang bahan
    pokoknya berasal dari tumbuh – tumbuhan. Serat sellulosa
    mengandung zat arang (C), air (H) dan zat asam (O). Serat
    selulosa terbagi menjadi serat biji, serat batang, serat daun dan
    serat buah. Pada umumnya mempunyai sifat yang hampir sama
    yaitu kuat, padat, mudah kusut, tahan setrika dan tahan chlor

         1) Serat Biji
            Serat biji terdiri atas serat kapas dan kapuk. Namun dalam
         pembuatan busana lebih banyak digunakan serat kapas. Serat
         kapuk banyak dipakai untuk keperluan bahan pengisi
              a) Serat kapas
              Kapas merupakan serat sellulosa yang berasal dari serat
              biji-bijian. Menurut sejarahnya kapas sudah dikenal kira-
              kira 5000 tahun SM. Menurut para ahli, India adalah
              negara tertua yang menggunakan kapas.
              Sifat-sifat serat kapas adalah sebagai berikut :
              • Serat kapas pendek-pendek antara 20-55 mm.
              • Serat kapas sangat kuat. Dalam keadaan basah
                   kekuatannya bertambah lebih kurang 25%. Hal ini


                                                                               154
        perlu diketahui untuk mencuci dan menyetrika bahan
        dari serat kapas. Makin kuat serat makin mudah
        memeliharanya. Kekuatan kapas dapat dipertinggi
        dengan jalan merendam dalam coustic soda. Hal ini
        juga akan menambah kilau dan daya isap pada
        waktu dicelup.
    • Kapas sangat higroskopis atau menghisap air.
    • Kapas kurang kenyal yang menyebabkan kapas
        mudah kusut. Untuk memperbaiki sifat ini kain kapas
        perlu dikanji dan menyempurnakan dengan damar
        buatan.
    • Kapas tahan uji, tahan panas setrika yang tinggi.
    • Tahan sabun yang kuat atau mengandung banyak
        lindi untuk melarutkan kotoran dan tahan obat-obat
        kelantang. Jadi bahan kapas dapat dikelantang.
    • Kapas tidak tahan terhadap asam mineral dan asam
        organik. Walaupun demikian asam organik
        digunakan juga untuk memperindah tenunan dari
        kapas, dengan kadar tertentu kapas dapat menjadi
        tembus terang. Proses ini disebut dengan
        memperkamen.
    • Kain kapas tahan ngengat tetapi tidak tahan
        cendawan. Harus disimpan dalam keadaan kering.
Disamping sifat-sifat yang menguntungkan di atas ada sifat-
sifat yang kurang menguntungkan, namun masih terus
dilakukan penyelidikan untuk mengatasinya diantaranya
bahan kapas susut saat dicuci. Jadi jika menggunakan
bahan kapas hendaklah direndam terlebih dahulu sebelum
digunting agar setelah dibuat pakaian tidak berubah
ukurannya.

Teknik pemeliharaan kain dari serat kapas yaitu :
   • Kain dari serat kapas dapat dicuci dengan sabun cuci
       biasa, sabun cream dan sabun yang banyak lindi.
   • Bahan putih dapat dikelantang dengan sabun biasa
       dan obat-obat kelantang.
   • Dapat di jemur dengan bagian buruk bahan keluar,
       dan dijemur pada tempat yang teduh dan kena angin.
   • Disetrika dengan setrika yang panas supaya
       kusutnya hilang
   • Disimpan di lemari pakaian dan bila bahan tersebut
       tidak sering di pakai, hendaklah sekali dalam sebulan
       dijemur di panas matahari untuk menghilangkan bau
       apeknya.




                                                        155
Bahan dari serat kapas digunakan antara lain untuk :
• Untuk lenan rumah tangga seperti alas kasur, sarung
   bantal, alas meja, lover, serbet dan lain-lain.
• Untuk bahan pakaian seperti pakaian anak, pakaian
   sekolah, pakaian kerja dan lain-lain.
• Sebagai bahan dasar kosmetik seperti kapas
   pembersih, spon bedak dan lain-lain.
• Untuk keperluan kedokteran seperti perban.
Bahan dari serat kapas yang diperdagangkan di pasar
   antara lain popline, blacu, berkoline, kain putih, drill,
   voal dan rubia.

b) Kapuk
Kapuk sudah lama dipergunakan di Indonesia (Jawa)
sebagai bahan pengisi kasur, bantal, tempat duduk dan
lainnya.
Sifat-sifat serat kapuk yaitu :
• Warna serat kapuk coklat kekuning-kuningan dan
    mengkilap.
• Serat kapuk sangat tipis, lembut, licin dan tidak
    elastis sehingga sulit untuk dipintal.
• Serat kapuk mudah mengembang dan berat jenis
    seratnya sangat kecil.
• Menyerap suara, mudah terbakar, sifat melenting
    yang baik, transparan, tidak higroskopis dan
    menahan panas.
• Seratnya pendek dan tidak mempunyai pilinan asli

Kegunaan kapuk yaitu :
• Serat kapuk tidak dapat dijadikan bahan pakaian
   karena kapuk tidak dapat dipintal, namun dapat
   digunakan sebagai bahan campuran serat lain.
• Kapuk sangat baik digunakan untuk mengisi
   pelampung penyelamat karena kapuk mempunyai
   sifat mengembang yang baik.
• Serat sangat baik untuk mengisi kasur dan bantal
   karena kapuk mempunyai sifat melenting yang baik.
• Serat kapuk sangat baik dipakai untuk isolasi panas
   dan suara.
• Biji kapuk yang sudah dipisahkan dapat diambil
   minyaknya untuk pembuatan sabun sedangkan
   ampasnya untuk pupuk.
• Kayu pohon kapuk dapat dipergunakan sebagai
   bahan kertas.



                                                        156
2) Serat Batang
  a) Serat lenen
      Serat lenen diambil dari serat batang pohon flax atau
  vlas yang disambung-sambung sehingga menjadi benang.
  Karena itu tenunan lenan tidak rata. Bahan ini baik
  digunakan untuk kebutuhan lenan rumah tangga seperti
  taplak meja.

 Sifat – sifat serat lenen adalah:
     • Serat lenen kurang tahan terhadap asam dan basa.
     • Proses pengelantangan yang kuat menyebabkan
         berkurangnya berat serat lenen. Lenen lebih kuat dari
         serat-serat alam lainnya, tetapi kurang elastis dan
         kurang lemas. Kekuatannya kira-kira 2 - 3 kali
         kekuatan serat kapas.
     • Kandungan air dalam serat lenen mencapai 7 – 8%
         pada kondisi standar tetapi menyerap dan
         melepaskan uap air lebih cepat.
     • Terasa dingin karena sifat penghantar panas yang
         baik.
     • Mempunyai permukaan yang halus sehingga mudah
         dicuci dan disetrika.
     • Sukar dicelup dibandingkan dengan serat kapas.
     • Dapat dikelantang dengan baik.

    Kegunaan serat lenen yaitu :
    • Digunakan untuk bahan pakaian dan tekstil
       kebutuhan rumah tangga atau lenan rumah tangga
       yang bermutu baik.
    • Sebagai benang jahit, jala dan pipa pemadam
       kebakaran.

    Teknik pemeliharaan bahan dari serat lenen yaitu :
    • Dapat dicuci dengan semua sabun.
    • Hindari pengelantangan dengan chloor.
    • Dijemur pada tempat yang teduh atau dianginkan.
    • Disetrika dengan panas tinggi supaya kusutnya
       hilang.

  b) Serat henep
      Serat henep merupakan serat yang di ambil dari kulit
  pohon henep yang dilepaskan dari batangnya seperti
  lenen.




                                                          157
 Sifat-sifat serat henep yaitu :
 • Serat lebih kuat dari flax (25%), tetapi lebih kasar dan
     lebih tua warnanya. Karena kasar, maka henep tidak
     bisa dipintal atau menjadi benang yang halus.
 • Tahan pengaruh udara dan lembab

 Kegunaan serat henep yaitu :
 • Henep umumnya digunakan untuk tali temali, kanvas
    dan karung.
 • Tenunan campuran antara serat henep dan lenan
 • Tenunan campuran antara serat henep dan kapas,
    tenunan ini seperti sutera asli.

c) Serat Goni
   Serat goni berasal dari serat kulit pohon goni. Serat
goni tidak      digunakan untuk bahan pakaian karena
seratnya yang kasar. Umumnya serat ini banyak dipakai
untuk kebutuhan rumah tangga, seperti tenunan untuk
permadani.

 Sifat-sifat serat goni :
 • Serat goni tidak kuat, tidak tahan udara lembab dan
     cahaya matahari.
 • Serat goni tidak rata, berdebu dan kaku.
 • Panjang serat goni 3-4 m terdiri atas serat tunggal
     sangat pendek 1-5 mm yang direkat oleh perekat
     tumbuh-tumbuhan.
 • Jenis yang baik berwarna putih kekuning-kuningan
     dan yang kurang hitam kemerah-merahan yang
     digunakan untuk karung.
 • Sangat hidroskopis. Dalam keadan basah goni
     menjadi busuk
 • Agak tahan Chloor, bila akan dicuci/dicelup,
     dikelantang terlebih dahulu.
 • Serat goni sukar mengisap ketika dicelup

 Kegunaan serat goni yaitu :
 • Untuk kain kasur, kain kursi dan tirai.
 • Tenunan dasar pada permadani atau linoleum
 • Karung goni untuk kwalitas goni yang buruk.

d) Serat Rosella
    Serat Rosella adalah serat yang diambil dari tanaman
Hibiscus Sabdariffa. Ditanam di Indonesia (Jawa Tengah



                                                       158
   dan Jawa Timur), India, Bangladesh, Thailand, Philiphina
   dan Hindia Barat.

     Sifat-sifat serat Rosella yaitu :
     • Batang dan daun tanaman rosella berwarna hijau tua
         sampai kemerah-merahan.
     • Bunganya berwarna putih, cream sampai kuning.
     • Warna serat yang baik adalah cream sampai putih
         perah, berkilau dan kekuatan cukup.
     • Dalam keadan basah kekuatan serat rosella tetap
     • Kekuatan serat rosella sedikit lebih rendah dari pada
         serat yute.
     • Kegunaan serat rosella yaitu terutama untuk karung
         pembungkus gula dan beras.

3) Serat daun
    Serat daun adalah serat yang terdapat pada pelepah daun
atau daunnya. Serat daun terdiri atas serat abaka dan serat
sisal.
    a) Serat Abaka (henep manila)
    Serat abaka sering juga disebut henep manila. Henep
    manila adalah serat daun dari batang semu sebuah pohon
    yang menyerupai pohon pisang. Seratnya terdapat pada
    pelapak daun tanaman abaka. Banyak di tanam di
    Philiphina, India, Indonesia dan Amerika Tengah.

     Sifat-sifat serat abaka yaitu :
       • Warna serat yang baik bervariasi dari putih sampai
           kuning gading, cream, coklat muda, coklat tua
           sampai hampir hitam tergantung pada letak
           pelepah daun pada batang.
       • Tahan terhadap air laut.
       • Mempunyai sifat mengambang yang baik.
       • Kuat dan tahan tekukan.

   Serat abaka digunakan antara lain untuk untuk bahan
   pakaian, untuk tali temali dan kadang-kadang serat abaka
   dicampur dengan serat nilon dan ditenun menjadi tenunan
   tembus terang.

   b) Serat Sisal
      Sisal adalah serat yang berasal    dari daun tumbuh-
   tumbuhan agave sisalana.




                                                        159
          Sifat-sifat serat sisal yaitu :
          • Warna serat sisal putih dan berkilau.
          • Seratnya kaku.
          • Kekuatannya sangat baik dan tahan terhadap air
          laut
          Kegunaan serat sisal terutama untuk keperluan tali
          temali.

b. Serat Binatang (Protein)
    Serat hewan adalah serat yang berasal dari binatang seperti
bulu biri-biri, unta, kambing, dan kepompong sutera. Wol dan
sutera adalah bahan yang berasal dari serat protein. Pada
umumnya serat dari protein lebih mudah dipengaruhi bahan-
bahan kimia dari pada serat sellulosa.

   1) Wol
       Wol berasal dari bulu biri-biri, kelinci angora, rambut kuda
     atau domba. Wol selain mengandung protein juga
     mengandung belerang. Wol telah mulai dipakai lebih kurang
     4000 tahun sebelum Masehi di Mesir. Serat wol dapat dibagi
     atas wol halus, wol sedang dan wol kasar atau wol
     permadani.
       • Wol halus. Wol ini seratnya halus, lembut, kuat, elastis
          dan keriting
       • Wol sedang.Sebagian besar wol sedang dihasilkan
          oleh biri-biri dari Inggris. Serat wol ini lebih kasar, lebih
          panjang dan lebih berkilau dari wol halus.
       • Wol Kasar.Wol kasar dihasilkan dari biri-biri yang
          berekor gemuk dan berekor lebar. Warna serat ini
          bervariasi dari putih sampai hitam panjang dan serat
          bagian dalam halus.

      Sifat-sifat serat wol yaitu :
      Sifat fisika :
      • Serat wol dapat menyerap uap air yang tinggi dari
          udara. Besar kecilnya kadar uap air yang diserap
          bergantung pada kelembaban udara.
      • Berat jenis wol kering 1,304.
      • Kilau serat berbeda-beda tergantung dari susunan
          permukaan serat, ukuran serat, serat gelombang atau
          keriting.
      • Kilau wol tidak tampak pada satu serat, tetapi tampak
          pada sekelompok benang atau kain.
      • Kekuatan serat dalam keadaan basah berkisar antara
          1,2 – 1,7 gram per denier dengan mulur 30 – 40 %.



                                                                  160
•   Di dalam air dingin wol mempunyai elastis sempurna.
•   Daya pegasnya besar sehingga kain wol tidak dapat
    kusut, kalau kain diremas dan dilepaskan maka akan
    kembali pada bentuk semula.
•   Panjang serat wol 4 – 35.
•   Wol tidak tahan ngengat.

Sifat kimia :
• Di dalam air serat wol mengelembung, tetapi setelah
    kering akan kembali ke bentuk semula.
• Wol dapat bereaksi dengan asam kuat atau lemah,
    tetapi tidak larut.
• Wol mudah rusak dalam alkali.
• Wol tahan terhadap jamur dan bakteri, tetapi bila wol
    telah dirusak oleh zat kimia, terutama alkali maka wol
    mudah diserang serangga dan jamur, yaitu kekuatan
    menurun, warna berubah dan serat dimakan serangga.
• Finished        wol   dengan    formaldehida    bertujuan
    melindungi serat terhadap alkali, kaustik soda dan
    sterilisasi.
• Wol dapat dicelup dengan zat warna asam, direk dan
    krom.

a) Macam-Macam Wol
Wol terdiri atas beberapa jenis yaitu :
   Wol guru, dibuat dari serat yang pendek dan sangat
   keriting.
   Wol sisir, dibuat dari serat yang panjang dan sedikit
   ikalnya.
   Reprocessed wool. Diperoleh dari sisa-sisa dan perca-
   perca kain wol baru yang ditenun atau dikempa,
   dengan jalan diuraikan dalam mesin maka dihasilkan
   serat-serat wol kembali dan dipintal serta ditenun
   kembali menjadi kain. Sifat wol ini diantaranya
   serabutnya pendek, kurang kenyal, kurang kuat, dan
   susah dikempa karena sisik-sisik banyak hilang.
   Re-used wool disebut juga shoddy, diperoleh dengan
   jalan menguraikan kain-kain tua dari wol yang telah
   dipakai. Sebelum diuraikan kain-kain itu dibersihkan
   dan dipilih dahulu. Sifatnya sama sekali tidak kuat,
   karena itu waktu memintal dicampur dengan wol baru
   atau serat kapas.




                                                       161
   b) Teknik pemeliharaan bahan dari serat wol yaitu :
      Pakaian dari wol hendaklah disikat setelah dipakai
      untuk membuang debu dan kotoran-kotoran yang
      menempel. Gunakan sikat yang lemas tetapi kuat
      supaya bulu-bulu wol berdiri dan sifat pegasnya
      kembali.
      Gantung pakaian beberapa lama supaya kusutnya
      hilang dan bentuk kembali seperti semula. Dengan
      menggantungkan pakaian di atas uap air panas dapat
      mempercepat hilangnya kusut-kusut.
      Simpan kain wol dalam keadaan bersih dan kering.
      Mencuci wol harus dilakukan dengan hati-hati
      meskipun kain wol itu telah dibuat tahan kusut. Pakaian
      cukup diremas-remas untuk mengeluarkan kotoran.
      Membilasnya harus bersih.

   c) Serat wol digunakan antara lain untuk :
      Wol dipergunakan untuk bahan pakaian pria dan
      wanita serta pakaian anak-anak.
      Untuk keperluan alat-alat rumah tangga seperti karpet,
      kursi, tirai, selimut dan lain-lain.
      Untuk keperluan-keperluan industri seperti untuk piano,
      isolasi, sumbu lampu dan lain-lain.

2) Bulu-bulu
    Serat binatang selain bulu biri-biri yang dapat
dipergunakan untuk pembuatan kain adalah bulu kambing dan
sejenisnya, misalnya mohair dan cashmere, bulu unta dan
sejenisnya misalnya unta, alpaca, vicuna dan llama dan
binatang berbulu terutama kelinci angora.
    Serat-serat tersebut biasanya dicampur dengan wol untuk
mendapatkan efek khusus, misalnya untuk menambah
keindahan, kadang juga dipakai untuk keperluan khusus,
seperti bulu kambing untuk sikat.

   a) Serat Mohair
     Mohair adalah serat bulu kambing angora yang berasal
   dari Asia Kecil. Warna serat mohair kecoklat-coklatan
   karena tercampur kotoran, tetapi setelah dimasak putih
   berkilau seperti sutera sehingga mudah dicelup dengan
   warna cerah. Bentuk serat hampir sama dengan wol,
   hanya sisiknya lebih runcing. Lebih sukar dipintal dari pada
   wol karena permukaan serat licin. Sifat-sifat serat mohair
   hampir sama dengan wol. Kegunan serat mohair
   diantaranya yaitu untuk kain berbulu (selimut), untuk



                                                           162
   pakaian musim panas, untuk kain rajut dan untuk kain
   penutup kursi dan permadani.
   b) Serat Kasmer
       Serat kasmer diperoleh dari bulu kambing kasmer yang
   lebih besar dari angora dan mempunyai rambut atau bulu
   yang lurus.
   c) Serat Unta
       Serat unta diperoleh dari bulu unta. Kehalusan dan
   kekuatannya hampir sama dengan wol dan mohair.
   Penggunaan terutama untuk pakaian pria yang bermutu
   tinggi.
   d) Serat llama atau lama glama-glama
       Serat ilama diperoleh dari binatang yang termasuk
   sejenis unta di daerah pegunungan Andes antara Peru dan
   Bolivia. Sisik tidak terlihat jelas. Sebagian besar
   mempunyai medula meskipun seratnya halus. Warna
   bervariasi dari putih sampai hitam, tetapi umumnya coklat.
   e) Serat Alpaka
       Alpaka hampir sama dengan ilama, hanya lebih kecil
   dan mempunyai bulu lebih seragam. Warna bervariasi dari
   putih, coklat kekuning-kuningan, dan berkilau. Kekuatan
   hampir sama dengan wol.
   f) Serat Vikuna
       Serat vikuna diperoleh dari jenis ilama yang paling
   kecil. Kekuatan hampir sama dengan kasmer.
   g) Serat Kelinci Angora
       Serat atau bulu kelinci angora sudah lama
   dipergunakan industri tekstil. Penggunaan terutama untuk
   pembuatan topi, kain rajut dan sebagai campuran serat
   wol atau nylon.

3) Serat Sutera
    Sutera adalah serat berbentuk filamen yang diperoleh dari
sejenis serangga yang disebut Lepidoptera. Serat tersebut
dihasilkan oleh larva ulat sutera sewaktu membentuk
kepompong yaitu bentuk ulat sebelum menjadi kupu-kupu.

   Sifat-sifat serat sutera adalah :
       Benang sutera adalah yang terhalus dari bahan-bahan
       tekstil asli dan yang terkuat jika dibandingkan dengan
       bahan lain yang sama halusnya. Dalam keadaan
       basah kekuatan susut 15 %.
       Terdiri atas benang filamen yang panjangnya 300
       sampai 1600 meter. Penampangnya berbentuk segi
       tiga dengan sudut-sudut membulat yang menyebabkan
       kilau pada sutera.


                                                         163
           Licin, berkilau, lembut, kenyal, kuat dan dapat
           menyesuaikan diri dengan temperatur udara.
           Sutera bukan pengantar panas yang baik, tetapi
           karena seratnya licin menyebabkan rasa dingin kalau
           dipakai.
           Sangat hygroscopis atau menghisap keringat, baik
           untuk pakaian musin panas maupun musim dingin.
           Tahan ngengat.
           Sutera dapat rusak oleh sinar matahari, menyebabkan
           warnanya menjadi kuning. Oleh karena ini waktu
           menjemur jangan kena sinar matahari.
           Sutera dapat rusak oleh obat kelantang yang
           mengandung chloor dan dapat rusak dengan
           pemakaian sterika dengan panas 110oC. Oleh karena
           itu setrikalah sutera dengan panas rendah.
           Lebih tahan lindi dibandingkan dengan wol. Waktu
           mencuci harus memakai sabun lunak supaya jangan
           mengurangi kilaunya.
           Sutera tidak tahan asam. Pemakaian asam cair waktu
           mencuci dapat merusak warna dan kilau

           Kegunaan serat sutera antara lain untuk bahan
       pakaian yang bermutu tinggi seperti bahan pakaian wanita,
       kaos kaki wanita, dasi, sapu tangan, untuk keperluan alat-
       alat rumah tangga seperti kain gorden, seprei, untuk
       benang jahit, benang sulam, isolasi listrik, kain parasut,
       senar alat-alat musik dan lain-lain.
           Untuk mengenal serat dari protein dapat dilakukan
       dengan membakar serat. Serat protein jika dibakar akan
       berbau rambut atau tanduk terbakar dan meninggalkan
       noda hitam.

c. Serat Barang Galian
    Serabut galian merupakan serabut yang berasal dari dalam
tanah seperti asbes dan logam. Serat ini umumnya tahan api,
tidak kusut dan tidak mengisap bau. Serat dari bahan galian yang
tidak dilapis mudah berubah warnanya karena pengaruh suhu,
seperti benang logam, benang emas atau perak. Benang atau
pakaian yang terbuat dari logam biasanya dilapisi dengan plastik
agar tidak cepat rusak. Serabut galian buatan disebut juga dengan
fiberglass. Fiberglass ini tahan api, licin dan tembus terang, kuat
dan tahan asam, tahan cendawan dan bahan kimia.

   Serat Asbes
   Serat asbes adalah serat yang diperoleh dari batu karang
   yang terletak jauh dibawah permukaan tanah. Batu karang


                                                               164
       tersebut dinamakan “peridotite” tersusun dari besi, magnesium
       dan siliket. Karena pengaruh tekanan tinggi dan air panas
       yang mengandung garam-garam dan karbondioksida
       menjadikan kristal-kristal dengan berbagai bentuk. Kristal-
       kristal itulah yang disebut asbes.
           Sifat beberapa jenis asbes berbeda satu sama lain.
       Perbedaan itu bukan hanya antara golongan tetapi juga dalam
       satu golongan asbes itu sendiri. Perbedaan tersebut karena
       asbes dibentuk oleh alam dengan kondisi yang berlainan
       sehingga menghasilkan asbes yang tidak rata susunannya.
       Sifat-sifat asbes yaitu :
           Kekuatan dan mulur asbes bervariasi, tergantung dari
           jenis, cara penambangan dan pengambilan serat batunya.
           Mulur serat asbes sangat rendah yaitu 1 – 3%.
           Serat asbes hanya sedikit menyerap air.
           Serat asbes bersifat sangat tahan terhadap panas dan api.
           Asbes tahan terhadap asam.
           Penghantar listrik dan panas yang jelek.
           Tahan terhadap gesekan dan cuaca.
           Menyerap suara, terutama untuk frekuensi tinggi.
           Serat asbes digunakan antara lain untuk benang sehingga
       dapat dibuat jadi kain, untuk bahan pencampur atap, bahan
       pembungkus, bahan penahan panas dan api dan bahan
       pelapis rem dan kopling

2. Serat Buatan
    Serat buatan terbentuk dari polimer-polimer yang berasal dari
alam maupun polimer-polimer buatan yang dibuat dengan cara
kepolimeran senyawa-senyawa kimia yang relatif sederhana. Semua
proses pembuatan serat dilakukan dengan menyemprotkan polimer
yang berbentuk cairan melalui lubang-lubang kecil (spinneter).
         Serat buatan (serat termoplastik) disebut juga man-made
fibres terdiri dari merk nylon, perlon, decron, teriline, trivera, terlenka,
tetoron, prinsip, bellini, laceri, larici, orlon, cashmilon, silk, caterina
dan lain-lain.

Sifat-sifat umum dari serat buatan adalah:
• Sangat kuat dan tahan gesekan.
• Dalam keadaan kering atau basah kekuatannya tetap sama
    kecuali asetat.
• Kenyal, pegas (elastis dan tahan regangan)
• Kurang menghisap air.
• Peka terhadap panas.
• Tahan alkali, tahan ngengat, jemur, serangga, dan lain-lain.
• Dapat diawetkan dengan panas.



                                                                        165
Sifat-sifat lain yang perlu diketahui antara lain :
• Bahan awet.
• Mudah dalam pemeliharaan.
• Mudah menghilangkan noda yang menempel.
• Sukar mengisap air karena memberi rasa lembab.
• Terasa panas bila dipakai.
• Melunak dan meleleh kena strika panas.
• Cepat menimbulkan statis electricity.

    Selain sifat-sifat di atas kain dari serat buatan dapat dibuat
macam-macam effek timbul, dapat dibuat lipatan, ukuran baju dapat
stabil tak berubah dan kain-kain yang berupa kain rajutan tak perlu
dikelim. Keburukannya antara lain lipatan-lipatan yang terjadi sukar
dihilangkan. Walaupun kelompok serat di atas berbeda dalam
komposisi kimia dan struktur namun mempunyai sifat-sifat yang
hampir sama. Serat ini sering disebut serat sintetis, termoplastik atau
serat kimia. Serat sintetis disebut “heat sensitive”, karena mempunyai
sifat mengerut, melembek atau meleleh kalau dipanaskan. Tekstil
yang dibuat dari serat “heat sensitive” sukar dijahit seperti kain wol
memerlukan penyelesaian yang cukup banyak, misalnya:
menguapkan, memproses dan membentuk.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan serat sintetis antara
lain :
1. Gunakan suhu yang rendah untuk menyetrika.
2. Gunakan lap basah atau setrika uap untuk mengontrol suhu.
3. Tekanan pada kelim jangan terlalu banyak untuk menghindari lipit-
    lipit permanen dan sifat mengkilap.
4. Jangan menggunakan kapur berlemak karena jika disetrika akan
    meninggalkan bekas yang berminyak pada kain.

a. Rayon
   1) Rayon Viskosa
       Rayon viskosa digunakan untuk pakaian dan tekstil keperluan
   rumah tangga seperti kain tirai, kain penutup kursi, taplak meja,
   seprai, kain renda. Kain-kain yang halus digunakan untuk pakaian
   dan pakaian dalam. Rayon viskosa baik untuk kain lapis karena
   tahan gesekan, berkilau dan licin. Campuran rayon viskosa dan
   polyester banyak digunakan sebagai bahan pakaian

   Sifat-sifat rayon viskosa antara lain :
   • Kekuatan serat rayon viskosa kira-kira 2,6 gram per denier
       dalam keadaan kering dan kekuatan basahnya kira-kira 15%
       dalam keadaan kering dan kira-kira 25% dalam keadaan
       basah.




                                                                   166
•   Kurang elastis. Apabila benangnya mendapat suatu tarikan
    mendadak, kemungkinan benangnya tetap mulur dan tidak
    mudah kembali lagi, jadi jika dicelup akan menghasilkan
    celupan yang tidak rata dan kelihatan seperti garis-garis yang
    berkilau.
•   Berat jenis rayon viskosa adalah 1,52.
•   Dalam keadaan kering rayon viskosa merupakan isolator listrik
    yang baik, tetapi uap air yang diserap oleh rayon akan
    mengurangi daya isolasinya.
•   Penyinaran dapat menyebabkan kekuatannya berkurang.
•   Rayon viskosa tahan terhadap setrika panas tetapi berubah
    menjadi kuning jika terlalu lama disetrika.
•   Rayon viskosa lebih cepat rusak oleh asam dibandingkan
    dengan kapas, terutama dalam keadaan panas.
•   Rayon viskosa tahan terhadap pelarut-pelarut untuk pencucian
    kering.

2) Rayon Kupramonium
    Larutan kupramonium adalah selulosa yang diregenerasi,
maka sifatnya dalam banyak hal sama dengan rayon viskosa.
Perbedaan sifat-sifatnya antara rayon kupramonium sangat halus,
rata-rata 1,2 lenier per filamen, kekuatan rayon kupramonium
berkurang dalam keadaan basah, lebih mulur diwaktu basah dari
pada waktu kering, dan rayon kupramonium dapat terbakar, pada
suhu 1800C rusak, dan kekuatannya berkurang oleh sinar
matahari. Dalam pembakaran akan meninggalkan abu yang
mengandung sedikit sekali tembaga.
    Sifat kimia rayon kupramonium sama dengan rayon viskosa.
Rusak oleh alkali, kuat, tetapi tahan alkali lemah dan zat-zat
oksidator. Pemutihan dapat dilakukan dengan larutan hipoklorit
dalam suasana sedikit basah atau dengan hydrogen peroksida.
Pencelupan rayon kupramonium sama dengan pencelupan rayon
viskosa.
    Rayon kupramonium terutama digunakan untuk pakaian, kaos
kaki wanita, pakaian dalam dan kebanyakan untuk kain-kain
dengan mutu baik. Kehalusan filamennya memberikan sifat lemas
dan drape yang baik (sifat gelombang yang baik).

3) Rayon Asetat
    Tenunan Asetat menyerupai tenunan sutera karena kilaunya
dan sifat lembutnya, benangnya mudah dilewat sering, baik untuk
tenunan crepe. Tanda-tanda jika asetat dibakar adalah cepat
terbakar dan mencair, meninggalkan bundaran keras dan berbau
asam. Serat asetat banyak dipergunakan untuk pakaian wanita
dan untuk tekstil keperluan rumah tangga, untuk lapisan pengeras



                                                              167
   kain, misalnya untuk leher kemeja, untuk isolasi listrik dan untuk
   penyaring pada rokok.

   Sifat-sifat rayon asetat antara lain :
   • Daya mulurnya lebih besar dari daya mulur rayon.
   • Kurang kuat dari rayon, terlebih dalam keadaan basah,
       kekuatan susutnya sampai 65%, rayon 50%.
   • Daya menghisap air kurang dari pada rayon.
   • Daya menghisap cat kurang, karena itu perlu dipergunakan cat
       istimewa untuk asetat.
   • Rayon asetat kurang mengantarkan panas.
   • Tidak tahan panas. Pada temperatur tinggi mencair dan
       setelah dingin membeku dan menjadi kaku. Karena sifat-sifat
       ini serat asetat digunakan untuk mengakukan kerah pada
       pakaian laki-laki atau wanita yang disebut trubenais (tenunan
       kapas yang dilapisi asetat). Caranya kerah dilapisi dengan
       trubenya, kemudian disetrika hingga asetat mencair dan
       tenunan menjadi kaku setelah menjadi dingin.
   • Tidak tahan alkali dan zat pemutih yang mengandung chloor.
   • Asetat larut dalam aseton.

   Teknik pemeliharaan rayon asetat yaitu :
   • Mencuci      harus    dilakukan     dengan     cepat      karena
      kekuatannya berkurang dalam keadaan basah.
   • Gunakan sabun yang tidak mengandug lindi.
   • Dibilas dalam air suam-suam kuku.
   • Disetrika setelah kering dan tidak perlu dibasahi. Jika disetrika
      sewaktu basah akan terjadi kilau. Disetrika dengan temperatur
      paling tinggi 1200C. Panas yang lebih tinggi menyebabkan
      bahan mencair, melekat pada setrika dan akan menyebabkan
      kain berlubang.

   4) Polinosik
       Serat polinosik mempunyai kekuatan lebih tinggi, mulur lebih
   rendah, perbandingan kekuatan basah dengan kering jauh lebih
   tinggi, dan penggelembungan dalam air lebih kecil. Polinosik
   digunakan terutama untuk bahan pakaian dan juga untuk kain tirai
   vince atau moynel. Vince adalah salah satu serat polinosik, di
   Amerika dikenal dengan nama moynel.

b. Polimer Alam Dari Protein
   Pembuatan serat polimer alam dari protein dilakukan untuk
mengetahui sifat-sifat serat yang dimiliki oleh serat wol. Beberapa
percobaan yang telah dilakukan antara lain serat dari protein susu,




                                                                  168
serat dari protein jagung, serat dari kacang kedele dan serat dari
kacang tanah.

   1) Serat dari protein susu
       Serat dari protein susu menyerupai wol marino yang digaru.
   Serat ini menyekat panas yang baik, lembut dan licin, pegas dan
   lenting seperti rambut kuda, daya mulur dan kuatnya kurang dari
   pada wol asli, tidak dapat di kempa karena tak bersisik dan jika di
   bakar seratnya cepat terbakar dan berbau tanduk atau rambut
   terbakar.
       Kegunaanya antara lain untuk pakaian dalam di negeri yang
   beriklim dingin, ditenun untuk meniru tenunan rambut kuda dan
   sebagai serat pengisi kasur.

   2) Serat dari protein jagung
       Serat yang dibuat dari protein jagung disebut vicara. Serat ini
   dibuat berupa benang filamen dan serat yang dibuat khusus untuk
   campuran dengan serat lain misalnya :
   a) Vicara dengan wol, hasilnya mendekati wol cashmir.
   b) Vicara dengan kapas dapat lebih mengembang.
   c) Vicara dengan nylon lebih mudah mengisap dan lembut.
   d) Vicara dengan asetat lebih lembut, rasa kaku berkurang.

   Sifat-sifat serat dari protein jagung antara lain :
   •     Kilau keras tetapi dapat diredamkan
   •     Pegas dan kuat
   •     Tahan cendawan dan ngengat
   •     Lebih tahan alkali dari pada wol
   •     Murah

   3) Serat dari kacang kedele
       Serat kacang kedele dibuat dari tepung kacang kedele yang
   telah diambil minyaknya. Protein dan tepung dipisahkan,
   dilarutkan, disemprotkan melalui alat pemintal seperti pembuatan
   serat sintetis yang lain. Benang filamen ditarik dan dikeraskan
   secara kimia, akhirnya dipotong-potong menjadi serat.
         Sifat-sifat serat dari kacang kedele antara lain yaitu serat
   kacang kedele berkilau, mengerut, ringan dan berwarna coklat,
   memberi rasa panas seperti serat wol, kenyal tetapi kurang kuat
   lebih-lebih dalam keadaan basah dan baik dipakai sebagai bahan
   campuran untuk kapas dan rayon. Hasil dari serat ini masih belum
   diperdagangkan

   4) Serat dari kacang tanah
       Serat dari kacang tanah ini disebut ardil, menyerupai wol,
   tetapi tidak mengerut dan tahan ngengat. Warna serat creme dan


                                                                  169
   lembut, jika disentuh terasa panas dan daya mengisap lengas
   sama seperti wol. Serat ini digunakan sebagai campuran pada
   serat kapas dan wol. Campuran dari 50% ardil dan 50% wol
   memberikan bahan seperti terdiri dari 100% wol. Jika dicampur
   dengan serat selulosa memberikan rasa panas dan tahan kusut
   seperti wol.


c. Polimer Kondensasi
Polimer kondensasi terbagi menjadi Poliamida (Nylon) dan Poliester

   1) Poliamida (Nylon)
       Poliamida (Nylon) merupakan serat yang kuat. Nylon yang
   cukup mahal ialah supernilon yang dapat ditenun menjadi kain-
   kain yang indah, baik yang menyerupai tweed maupun yang
   menyerupai brokat emas atau sutera.

   Sifat-sifat nylon adalah sebagai berikut:
   • Kuat dan tahan gesekan
   • Daya mulurnya besar, kalau diregang sampai 8%, benang
       akan kembali pada panjang semula, tetapi kalau terlalu
       regang, bentuk akan berubah.
   • Kenyal, tidak mengisap lengas atau air sehingga mudah
       kering., Baik digunakan untuk pakaian bepergian terutama
       pakaian dalam karena ringan dan cepat kering.
   • Pada umumnya tidak tahan panas, kalau bahan di setrika
       harus dicoba terlebih dahulu dengan temperatur yang rendah.
   • Larut dalam phenol, tetapi kalau dipakai phenol cair akan
       mengerit dan dapat digunakan untuk membuat hiasan-hiasan.
   • Tahan lindi/ alkali dan tidak tahan chloor.
   • Tahan air garam (baik untuk tali dan jala ikan)
   • Tahan ngengat/ cendawan
   • Jika dibakar terlihat meleleh, tidak menyala dan membentuk
       tepi berwarna coklat.

       Untuk memperbaiki kualitas nylon dapat dibuat kain renda
   (lece), dibuat lubang-lubang dan diselesaikan tepinya dengan cat
   nylon dan disempurnakan melalui proses nylonizing hingga dapat
   lebih mengisap, lembut dan lemas.
       Mengingat kekuatan nylon yang sangat tinggi maka nylon
   sangat baik untuk dibuat kain parasut, tali temali yang
   memerlukan kekuatan tinggi, benang ban terpal, jala dan untuk
   tekstil industri lainnya. Selain untuk keperluan industri, nylon juga
   dapat dipakai untuk bahan pakaian, terutama untuk pakaian
   wanita, kaos kaki dan tekstil rumah tangga seperti gorden jendela



                                                                    170
atau pintu. Selain itu nylon juga digunakan untuk kain kursi,
permadani dan kain penyaring.

Teknik pemeliharaan kain nylon adalah sebagai berikut :
• Nylon putih setelah dipakai hendaknya segera dicuci karena
   bisa menjadi kuning.
• Bahan tidak perlu direndam lama karena kotoran hanya
   menempel.
• Cuci dengan cara diremas-remas dalam air sabun suam-suam
   kuku dan bilas dalam air suam-suam kuku juga.
• Gantung basah-basah sampai kering dan tidak perlu diperas.
• Setrika dengan panas rendah jika diperlukan.

2) Poliester
    Kain-kain yang dibuat dari poliester mempunyai sifat cepat
kering, kuat dan dapat berbentuk seperti serat alam. Serat-serat
poliester bisa dicampur dengan serat-serat katun, wol, rayon dan
sutera. Poliester berwarna kuning gading, sehingga kadang-
kadang perlu diputihkan. Untuk pemutihan dipergunakan natrium
klorit pada suhu mendidih dengan penambahan asam nitrat.
    Serat poliester dapat menghasilkan kain yang tipis atau tebal
dengan cara menenun atau merajut sesuai dengan kebutuhan,
Jika menghendaki kain yang terasa sejuk atau hangat, dapat
dibuat kain yang menyerupai katun atau wol. Poliester
menghasilkan filamen-filamen poliester yang licin, serat-serat
profil dan benang-benang tekstur yang elastis, yang biasanya
dirajut menjadi jersey seperti Trivera 2000, Crimplene dan Diolen-
lect.

Sifat-sifat serat poliester adalah sebagai berikut:
• Tahan kusut, baik untuk pakaian wanita maupun pria.
• Tahan cuci dan tidak kusut kalau dicuci.
• Tahan obat kelantang.
• Lebih tahan sinar matahari dari pada nylon.
• Dapat ditekan dengan setrika panas (150o C), hingga terjadi
    lipatan tetapi dapat dihilangkan dengan panas yang sama.
    Untuk membuat lipatan yang permanen diperlukan panas
    210oC.
• Mempunyai sifat elastis yang baik.
• Poliester berbentuk selinder dengan penampang lintang bulat.
• Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih.
• Poliester meleleh di udara pada suhu 205o C dan tidak
    menguning pada suhu tinggi.
• Poliester tahan serangga, jamur dan bakteri.



                                                              171
   •   Dimenesi kain poliester dapat distabilkan dengan cara
       pemantapan panas yang diatur pada suhu tertentu.

    Bahan dari serat poliester hendaklah dicuci dengan air sabun dan
dibilas. Tidak perlu diperas dan gantungkan hingga kering. Bahan ini
tidak perlu disetrika kalau sudah digantungkan dengan baik.
    Sifat poliester yang sangat baik, terutama tahan kusut dan
dimensinya yang stabil maka poliester banyak dipakai untuk bahan
pakaian dan dasi. Untuk pakaian tipis poliester sangat baik dicampur
dengan kapas dengan perbandingan 2 ; 1. Selain itu poliester juga
banyak digunakan untuk kain tirai, karena ketahanannya terhadap
sinar dibalik kaca. Poliester juga digunakan sebagai pipa pemadam
kebakaran, tali temali, jala, kain layar dan terpal. Sebagai tali temali
kapal, poliester lebih tahan lama dibanding nylon atau sisal. Sifat
poliester yang tahan asam, membuat poliester baik digunakan
sebagai pakaian pelindung dalam pabrik yang banyak memakai
asam-asam. Akhir-akhir ini poliester mulai digunakan sebagai benang
ban.

d. Anorganik
Serat buatan an organic terdiri dari serat gelas dan serat logam.
   1) Serat Gelas
       Ada dua macam serat gelas yaitu filamen dan staple dengan
   panjang rata-rata 9 inci. Filament gelas terbentuk dari
   pencampuran secara teliti bahan-bahan pasir silikat, batu kapur
   dan paduan mineral untuk pembuatan gelasnya. Staple glass
   terutama benang stafel gelas terbuat dari gelas yang tahan zat
   kimia.

   Sifat-sifat serat gelas yaitu :
   • Serat gelas yang telah dicuci dengan bersih dari sari minyak,
       kelihatan licin dan halus dibawah mikroskop dan susunan
       permukaannya tidak kelihatan.
   • Dalam keadaan panas, gelas tidak terbakar hanya menjadi
       lembek dan meleleh dan tidak mengeluarkan asap atau gas
       yang mengganggu. Serat gelas tahan panas sampai 538 0C
       tanpa rusak.
   • Kekuatan serat gelas bertambah jika diameter makin kecil.
   • Daya serap gelas terhadap air sangat rendah, ini
       menguntungkan untuk pemakaian pada teknik listrik.
   • Serat gelas bersifat sangat elastis.
   • Ketahanan listrik dari serat gelas sangat tinggi.
   • Serat gelas mempunyai sifat rapuh
   • Pada umumnya serat gelas tahan terhadap semua asam
       kecuali asam fluoride dan cukup tahan terhadap alkali.



                                                                    172
        Pencelupan serat gelas sukar dilakukan karena tidak
   menyerap zat air. Pemberian warna serat gelas dapat dilakukan
   dengan cara-cara khusus. Serat gelas terutama digunakan untuk
   tirai jendela dan isolasi listrik. Serat gelas sudah pernah dibuat
   untuk pakaian penganten tetapi belum pernah dibuat untuk
   pakaian sehari-hari. Hal ini disebabkan karena kain dari serat
   gelas tidak tahan gosok, dan jika dilipat, fiamen-filamennya dapat
   putus dan kain menjadi berbulu.
        Sebagai bahan campuran dengan serat-serat alam, kainnya
   dapat digunakan untuk kap lampu, saringan, kain kursi, taplak
   meja, kain gorden dan lain-lain. Kain-kain dari serat gelas tahan
   api, bahkan jika rokok yang menyala jatuh di atas kain, kain
   tersebut tidak terbakar. Serat gelas yang ditenun jadi kain dapat
   digunakan untuk saringan karena tahan terhadap zat kimia. Juga
   banyak digunakan sebagai kap lampu. Benang gelas dapat
   digunakan sebagai pembungkus kawat tembaga. Sedang pita kain
   gelas digunakan untuk pembungkus kabel listrik tegangan tinggi.

2) Serat Logam
    Serat logam adalah serat buatan yang dibuat dari logam. Serat
logam sudah lama digunakan. Serat logam menghasilkan benang
logam yang digunakan sebagai bahan penghias tekstil, baik tekstil
untuk keperluan rumah tangga maupun pakaian.
    Mengingat banyaknya jenis bahan yang beredar dipasar,
sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas ada beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk membedakan bahan asli dan bahan tiruan
yaitu:

   a) Dengan mikroskop
   Bila dilihat dengan mikroskop maka struktur beberapa serat tekstil
   adalah sebagai berikut :
   • Serat kapas seperti pita pipih yang berpilin
   • Serat lenan seperti pita yang beruas-ruas
   • Serat wol seperti pita yang bersisik
   • Serat sutera seperti pita ang bergaris
   • Serat sintetis seperti pita dengan tepi yang lurus

   b) Tes Pembakaran
   Bila dilakukan tes pembakaran maka diketahui bahwa:
   • Jika dibakar serat kapas dan lenan akan berbau kertas
       terbakar karena berasal dari selulosa. Setelah nyala api
       padam terlihat baranya merambat sepanjang benang yang
       tidak terbakar dan yang terbakar akan menjadi abu.
   • Serat wol nyala apinya kecil, berbau tanduk atau rambut
       terbakar. Meninggalkan gumpalan yang berbentuk arang dan
       membulat.


                                                                 173
•   Serat sutera, nyala apinya kecil dan baunya seperti bau wol
    terbakar. Abunya seperti pada pembakaran wol dan berwarna
    hitam, mengkilat dan mempunyai gumpalan dan arang.
•   Serat sintetis, karena cara pembuatan serat sintetis
    bermacam-macam maka setelah dibakar maka hasilnya juga
    berlainan. Beberapa diantaranya ada yang apinya bernyala
    besar dan ada pula yang tidak ada sama sekali. Beberapa
    diantaranya ada yang berbau seperti wol, kapas dan sutera.
    Kadang-kadang meninggalkan abu yang besar dan berwarna
    hitam dan ada juga yang berbentuk arang yang keras atau
    sukar dipecah.

c) Tes Kimia
Pemeriksaan dengan tes kimia dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu :
• Dengan soda api
   Serat yang berasal dari serat binatang seperti wol dan sutera
   akan larut dalam soda api sedangkan serat yang lain tidak.
• Dengan asam garam (asam klorida)
   Sutera akan larut dalam asam klorida sedangkan wol tidak,
   tetapi mengembang dalam larutan tersebut. Serat sintetis akan
   menimbulkan bermacam-macam reaksi tergantung proses
   pembuatannya. Kapas dan lenan tidak larut dalam larutan ini.
• Dengan asam sulfat
   Serat yang berasal dari serat binatang tidak larut dalam
   larutan asam sulfat sebaliknya serat tumbuhan larut dalam
   asam sulfat.
• Dengan tinta
   Sebelum diuji dengan tinta bahan kapas dan lenen di cuci dan
   dikeringkan terlebih dahulu. Pada bahan lenen tinta akan
   cepat meresap dan membentuk bekas berupa lingkaran
   sedangkan kapas meresap secara perlahan-lahan dan
   membentuk bekas gambar yang tidak beraturan.
• Dengan minyak zaitun
   Pada bahan kapas akan terlihat transparan bila ditetesi
   dengan minyak zaitun sedangkan pada bahan lenan tidak
   kelihatan.

    Agar tidak tertipu atau salah dalam membeli bahan, ada
beberapa hal harus diketahui konsumen dalam pemilihan tekstil
diantaranya adalah :
1. Kegunaan dari bahan tekstil
    Dalam memilih bahan tekstil perlu disesuaikan dengan
    kegunaannya misalnya untuk pakaian anak, pakaian rumah,
    pakaian pesta, pakaian sekolah, pakaian olah raga dan lenan



                                                            174
      rumah tangga. Untuk pakaian anak pilih bahan yang kuat,
      menghisap keringat serta tidak mengantar panas.
   2. Asal serat tekstil
      Serat tekstil dapat dipilih serat alami atau serat buatan. Serat
      alami akan lebih sejuk dipakai dibandingkan dengan serat
      sintetis.
   3. Sifat sifat serat tekstil
      Sifat–sifat serat tekstil diantaranya menghisap air atau
      keringat, kuat, tahan ngengat, tahan obat–obat kelantang,
      berkilau, elastis dan lain–lain. Sifat–sifat ini perlu disesuaikan
      dengan pakaian yan akan dibuat.
   4. Pemeliharaan serat tekstil

    Beberapa serat tekstil atau bahan tekstil tidak tahan terhadap
sabun, jamur, obat kelantang, panas yang tinggi dan lain–lain. Oleh
sebab itu kita harus mengetahui pemeliharaan serat tekstil yang
digunakan. Pada umumnya di industri pakaian pakain jadi atau
garmen, cara memelihara pakaian sudah diterakan berupa simbol-
simbol tertentu pada label atau merk yang dipasang pada pakaian.
Pada dasarnya kain atau bahan berasal dari tiga unsur utama, yaitu
serat yang berasal dari alam (tumbuh-tumbuhan dan hewan), serat
buatan(sintetis) dan galian (asbes, logam).
a. Serat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain: kapas,
    lenan, rayon, nenas, pisang. Serat yang berasal dari hewan yakni:
    dari bulu beri-beri, adapun bahan yang berasal dari serat tersebut
    adalah bahan wol.sedangkan serat dari ulat sutera menghasilkan
    bahan tekstil sutera
b. Serat buatan (termoplastik) bahan tekstil yang berasal dari serat
    buatan ini adalah berupa Dacron, polyester, nylon.
c. Serat galian adalah yang berasal dari dalam tanah, contoh asbes
    dan logam, benang logam, bahan asbes banyak digunakan untuk
    sumbu kompor minyak tanah, untuk mengisi aneka bunga yang
    berasal dari bermacam-macam bahan tekstil seperti: stoking,
    nylon, tula dan bahan rajutan. Serat logam lebih banyak
    digunakan untuk membuat bermacam-macam jenis benang
    seperti, benang emas, benang perak, tembaga, aluminium, selain
    itu ada pula benang logam yang dilapisi dengan plastik.
    Apabila benang logam tersebut akan di tenun, sebaiknya di
    gabung dengan benang dari bahan lain. Hal ini disebabkan
    benang logam tersebut memiliki sifat kaku dan sukar dipelihara.
    Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil
    seperti:borkat, lame, tenunan songket yang ditemukan diseluruh
    daerah Indonesia antara lain: songket pandai sikek, songket
    silungkang, songket kubang, songket palembang, songket
    Kalimantan, songket jambi dll.



                                                                    175
B. Pemilihan Bahan Tekstil
    Kain yang beredar di pasaran banyak jenis dan kualitasnya.
Sebagai orang yang berkecimpung di bidang busana, kita harus dapat
memilih bahan tekstil sesuai dengan yang dibutuhkan. Agar tidak
keliru dalam memilih bahan maka kita harus mempunyai pengetahuan
tentang bahan tekstil. Adapun tujuan mempelajari pengetahuan
bahan tekstil ini adalah : 1) untuk mengetahui asal bahan, 2) untuk
mengetahui sifat-sifat bahan dan pemeliharaannya, 3) supaya dapat
membedakan bahan tiruan dengan bahan yang asli, dan 4) agar
dapat menyesuaikan atau memilih bahan sesuai dengan waktu,
tempat, kegunaan dan kesempatan pemakaiannya.
    Pengetahuan tentang tekstil yang akan dijelaskan dalam bab ini
meliputi pengetahuan tentang bahan utama busana, bahan pelapis
dan bahan pelengkap busana. Pengetahuan ini merupakan
pengetahuan dasar dalam pembuatan busana.

   1. Bahan Utama Busana
          Pakaian yang baik ditentukan oleh pemilihan dan
   pemakaian bahan tekstil yang tepat. Terkadang kita kecewa
   terhadap hasil pakaian yang dibuat karena menggunakan bahan
   yang tidak atau kurang sesuai dengan model yang ditentukan.
   Desain pakaian yang berbeda tentunya menuntut pemakaian
   bahan yang berbeda pula. Untuk itu bahan yang akan digunakan
   hendaklah dipilih dengan pertimbangan yang matang sesuai
   dengan model yang diharapkan.

       a. Teknik memilih bahan tekstil
           Bahan utama busana yang dimaksud disini adalah bahan
       tekstil berupa kain yang menjadi bahan pokok pembuatan
       busana. Bahan atau kain yang diperdagangkan beragam jenis
       dan kualitasnya, ada yang tipis, sedang dan ada yang tebal.
       Agar dapat memilih dan membeli bahan yang tepat sesuai
       dengan yang diharapkan ada beberapa faktor yang perlu
       diperhatikan diantaranya yaitu :

          1). Memilih bahan yang sesuai dengan desain.
              Desain pakaian bisa berupa foto atau sketsa. Untuk
          menentukan bahan yang cocok digunakan untuk model
          tersebut dapat dilakukan dengan menganalisa model
          secara cermat. Analisa ini meliputi jenis pakaian yang akan
          dibuat, kesempatan pemakaiannya, siapa yang akan
          memakai, bagaimana bentuk tubuh pemakai, bagaimana
          jatuh pakaian pada tubuh, dan lain-lain. Hal-hal di atas
          merupakan pedoman dalam menentukan bahan yang
          cocok dipilih dan dibeli.



                                                                 176
    Letak jatuh bahan yang melangsai pada tubuh atau
mengikuti bentuk tubuh dapat diketahui kalau bahan yang
digunakan bertekstur lembut atau melangsai. Untuk bahan
yang jatuhnya kaku pada tubuh, dapat diperkirakan kalau
bahan yang digunakan agak tebal atau tebal. Begitu juga
dengan bahan yang berkilau. Bahan yang berkilau terlihat
lebih bercahaya pada desain.
    Bahan yang tipis dan lembut baik digunakan untuk
model pakaian yang mempunyai lipit-lipit kecil, lipit jarum
dan lajur yang dikerut. Contoh bahannya seperti kain
chiffon, sutera, saten, dan lain sebagainya. Bahan tipis ada
yang transparan atau tembus pandang dan bersifat agak
kaku. Contohnya seperti gelas-gelas kaca, organdi dan
kain serat nenas. Bahan ini cocok digunakan untuk
pakaian yang kerutannya sedikit dan modelnya tidak
longgar. Jika pakaian yang dibuat longgar maka letak jatuh
bahan pada tubuh terlihat kaku sehingga kesannya kurang
bagus. Bahan yang tipis sebaiknya digunakan untuk
pakaian yang tidak terlalu sering dipakai seperti pakaian
pesta. Bahan yang tipis biasanya mudah rusak dan lebih
rumit dalam pemeliharaannya.
    Bahan yang lembut dan ringan baik digunakan untuk
model pakaian yang dikerut atau model pakaian yang agak
longgar karena jatuh bahan agak melangsai pada tubuh.
Seperti untuk pakaian rumah, pakaian sehari-hari dan
pakaian santai.
    Bahan yang agak tebal baik digunakan untuk pakaian
berupa mantel, jas, mantel pak dan pantalon terutama
untuk jenis pakaian kerja dan pakaian pria. Sesuai dengan
sifat bahan yang tebal dan cukup kuat, maka dapat dibuat
untuk pakaian yang sering digunakan. Bahan tebal juga
ada yang jatuhnya melangsai dan kaku. Untuk bahan yang
agak melangsai dapat digunakan untuk pakaian kerja pria
dan wanita berupa jas atau blazer dan pantalon seperti
kain bellini, wol, dan lain-lain. Sedangkan bahan yang
agak kaku sering digunakan untuk pakaian seragam
sekolah seperti rok dan celana sekolah.
    Bahan yang berbulu seperti beledru dapat digunakan
untuk model pakaian adat daerah tertentu, pakaian pesta,
dan lain-lain. Bahan beledru ini biasanya agak tebal, ada
yang lembut dan ada juga yang kaku. Bahan beledru yang
berkualitas bagus dapat digunakan untuk pakaian pesta
malam. Bahan ini tidak cocok untuk desain pakaian yang
memiliki kerutan atau lipit.
    Bahan crepe yaitu bahan yang ada lipatan-lipatan
halus, bisa digunakan untuk beberapa model pakaian


                                                        177
   pesta siang atau malam, tergantung warna yang dipilih.
   Bahan ini juga cocok untuk desain yang memiliki kerutan-
   kerutan asalkan arah kerut disesuaikan dengan lipit bahan.
       Bahan rajutan, cocok digunakan untuk pakaian santai,
   kaos kaki, sweater, pakaian bayi terutama untuk baju
   dingin, dan lain-lain. Biasanya bahan rajutan diolah
   menggunakan mesin khusus dan sudah berdasarkan pola
   pakaian tertentu.

2). Memilih bahan yang sesuai dengan pemakai
    Desain pakaian tertentu adakalanya bagus terlihat pada
sketsa atau desain, namun setelah pakaian dipakai seseorang
bisa saja kecewa karena terlihat aneh memakai pakaian
tersebut. Hal ini bisa saja terjadi karena bahan yang
digunakan kurang cocok dengan pemakai. Agar tidak keliru
dalam memilih bahan sebaiknya bahan yang dipilih di
sesuaikan dengan pemakai, seperti jenis bahan, warna bahan,
tekstur bahan, corak bahan, dan lain-lain.
    Bahan yang tebal dan kaku membuat pemakainya terlihat
lebih gemuk karena jatuh bahan pada badan juga kaku. Bahan
yang lembut dan melangsai membuat pemakainya kelihatan
lebih langsing karena jatuh pakaian pada badan mengikuti
bentuk tubuh. Bahan yang mengkilap atau berkilau juga dapat
memberi efek pemakai terlihat lebih gemuk, maka bahan ini
cocok dipakai oleh orang yang bertubuh sedang atau kurus.
    Begitu juga dengan corak bahan. Corak bahan yang
besar-besar sebaiknya dihindari untuk orang yang bertubuh
gemuk. Untuk orang yang bertubuh gemuk sebaiknya memilih
bahan yang bercorak tidak terlalu besar dan warna-warna
yang tidak terlalu cerah. Sesuai dengan psikologi warna,
warna yang terang bersifat melebarkan dan warna yang gelap
dapat mengecilkan. Sebaliknya corak yang kecil-kecil, hindari
pemakaiannya bagi orang yang kurus. Pemakai yang bertubuh
kurus dapat menggunakan bahan yang bercorak tidak terlalu
kecil atau sedang dan memakai warna yang lebih cerah.
    Untuk menutupi kekurangan bentuk tubuh seseorang, juga
dapat dilakukan dengan pemilihan bahan yang tepat.
Contohnya orang yang mempunyai pinggul kecil dapat
menggunakan bahan dengan corak garis diagonal dan
sebaliknya orang yang sudah memiliki pinggul besar hindari
pemakaian bahan ini. Sedangkan untuk memberi kesan lebih
tinggi, dapat dipilih corak bahan dengan arah garis vertikal,
dan untuk memberi kesan pendek dapat dipilih bahan dengan
corak garis horizontal. Bahan ini terutama digunakan bagi
orang yang bertubuh gemuk pendek dan kurus tinggi.



                                                         178
     Warna bahan merupakan hal yang sangat penting
diperhatikan. Warna gelap atau redup hendaknya dihindari
bagi orang yang berkulit gelap karena dapat memberi kesan
pemakainya bertambah hitam/gelap. Pemakaian warna yang
agak lembut dan terang seperti warna-warna pastel sangat
cocok karena dapat memberikan efek lebih terang pada wajah
dan kulit. Sedangkan bagi pemakai yang berkulit kuning
langsat atau putih, hindari pemakaian bahan dengan warna-
warna yang lembut dan terlalu terang karena efeknya wajah
terlihat lebih pucat.

3). Memilih bahan yang sesuai dengan kesempatan
    Untuk pakaian-pakaian yang sering digunakan seperti
pakaian kerja, pakaian rumah, pakaian santai, pakaian
sekolah dan pakaian olah raga sebaiknya menggunakan
bahan yang menghisap keringat dan umumnya dibuat dari
serat alam atau campuran serat alam.
       Untuk pakaian sekolah, pakaian kerja dan pakaian santai
bahan dari kapas atau campuran kapas dan poliester seperti
katun, tetoron, batik cocok digunakan. Bahan ini dapat
mengisap keringat, kuat dan mudah dalam pemeliharaannya.
Sangat cocok untuk pakaian sekolah atau pakaian kerja
karena sering digunakan.
    Untuk pakaian pesta, seperti pesta siang, pesta malam,
dapat dipilih bahan seperti sutera, brokat, saten, chiffon,
beledru dan lain-lain. Untuk pesta siang atau pesta malam,
bahan yang digunakan tidak sama. Begitu juga dengan jenis
pesta yang dihadiri seperti pesta perkawinan, pesta ulang
tahun, pesta selamatan, dan lain-lain. Setiap kesempatan
pesta, menuntut penampilan yang berbeda pula. Pakaian
untuk pesta siang hendaklah dipilih bahan yang sedikit mewah
tetapi tidak berkilau. Sebaliknya untuk menghadiri pesta
malam, dapat dipilih pakaian dari bahan yang mewah, berkilau
dan berwarna cerah.
    Untuk pakaian rumah dan pakaian tidur dapat dipilih bahan
yang lembut dan nyaman dipakai, seperti katun, lenen, rayon
dengan warna yang lembut atau netral. Ini dapat membuat kita
nyaman karena aktifitas di rumah banyak dan juga sebagai
tempat beristirahat setelah capek bekerja.
    Untuk pakaian olahraga sebaiknya memilih bahan yang
menghisap keringat dan elastis agar tidak mengganggu
pergerakan. Beberapa jenis olah raga menuntut pakaian yang
elastis seperti pakaian renang, senam, lari dan lain-lain. Tetapi
untuk pakaian karate, taekwondo, pencak silat dapat dipilih
bahan yang menghisap keringat seperti kain katun yang agak
tebal.


                                                             179
2. Bahan Pelapis (lining dan interlining)
    Bahan pelapis secara garis besar dapat dibagi atas 2 kelompok
yaitu lining dan interlining.
    a. Lining
    Lining merupakan bahan pelapis berupa kain yang melapisi bahan
    utama sebahagian maupun seluruhnya. Bahan lining sering juga
    disebut dengan furing. Bahan lining yang sering dipakai
    diantaranya yaitu kain hero, kain hvl, kain abutai, kain saten, kain
    yasanta, kain dormeuil england dan lain-lain.
    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan
    lining yaitu :

       1) Jenis bahan utama
           Jika bahan utama busana bersifat agak kaku seperti bahan
       untuk pakaian kerja, berupa jas atau semi jas, blazer dan lain-
       lain, hendaklah menggunakan bahan lining yang bertekstur
       hampir sama, seperti kain hero dan kain abutai agar dapat
       mengimbangi bahan luarnya. Begitu juga dengan bahan luar
       yang tipis dan melangsai. Untuk bahan yang melangsai
       sebaiknya juga menggunakan bahan lining yang lembut dan
       melangsai seperti kain yasanta, hvl, dll. Bahan yang melangsai
       dan lembut seperti sutera, terutama bahan yang harganya
       mahal, lining yang digunakan hendaklah yang sebanding,
       dengan kata lain lining yang digunakan dapat mempertinggi
       mutu busana yang dibuat. Untuk bahan yang tipis atau tembus
       pandang seperti tile atau chiffon dapat menggunakan bahan
       yang mengkilat seperti saten, tetapi jika pemakai tidak
       menyukai bahan yang mengkilat dapat juga digunakan bahan
       yang lembut dan melangsai atau tidak kaku.

       2) Warna bahan
           Warna bahan untuk lining disesuaikan dengan warna
       bahan utamanya. Tetapi untuk efek warna tertentu terutama
       untuk bahan yang tipis dan tembus pandang dapat digunakan
       warna yang diinginkan, tentunya yang serasi dengan bahan.
       Bahan lining dapat dipilih bahan dengan warna yang sedikit
       lebih tua atau sedikit lebih muda dari bahan utamanya.

       3) Sifat luntur dan susut kain.
           Bahan lining adakalanya luntur dan susut setelah dicuci,
       terutama lining yang berasal dari bahan katun. Agar lining
       yang digunakan tidak luntur atau susut setelah dibuatkan
       busana, hendaklah sebelum digunting terlebih dahulu dicuci
       dan dikeringkan lalu disetrika. Untuk bahan lining yang luntur
       setelah dicuci sebaiknya ditukar dengan bahan yang tidak


                                                                    180
   luntur. Bahan yang luntur dapat merusak warna busana yang
   dibuat.

   4) Kesempatan pemakaian busana.
       Pemilihan bahan untuk lining juga perlu memperhatikan
   kesempatan pemakaian busana. Seperti sweater atau baju
   dingin atau jaket hendaklah menggunakan lining yang dapat
   menghangatkan tubuh karena sweater atau jaket ini sering
   digunakan pada saat udara dingin atau untuk berkendaraan
   roda dua. Lining yang dapat digunakan diantaranya kain
   abutai atau sejenisnya. Begitu juga dengan pakaian kerja,
   hendaklah dipilih bahan lining yang dapat menghisap keringat
   dan dapat memberi kenyamanan pada saat bekerja, seperti
   kain hero dan sejenisnya.

b. Interlining
    Interlining merupakan pelapis antara, yang membantu
membentuk siluet pakaian. Interlining sering digunakan pada
bagian-bagian pakaian seperti lingkar leher, kerah, belahan
tengah muka, ujung bawah pakaian, bagian pundak pada jas,
pinggang dan lain-lain. Interlining banyak jenisnya, diantaranya
ada yang mempunyai lem atau perekat dan ada yang tidak
berperekat. Interlining yang mempunyai lem atau perekat
biasanya ditempelkan dengan jalan disetrika pada bahan yang
akan dilapisi. Begitu juga dengan ketebalannya. Interlining ini ada
yang tebal seperti untuk pengeras kerah dan pengeras pinggang.
Interlining yang relatif tipis dapat digunakan untuk melapisi
belahan tengah muka, saku, deppun leher, kerah dan lain-lain.

Jenis-jenis interlining antara lain :
   • Trubenais yaitu kain pelapis yang tebal dan kaku, baik
       digunakan untuk melapisi kerah kemeja dan kerah board
       atau krah yang letaknya tegak atau kaku dan ban
       pinggang. Trubenais ini ada yang dlapisi plastik dan ada
       juga yang tidak dilapisi. Trubenais yang dilapisi lebih
       praktis dalam pemakaiannya karena hanya perlu
       disetrikakan pada bahan yang hendak dilapisi. Sedangkan
       trubenais yang tidak dilapisi plastik terlebih dahulu perlu
       dijahitkan pada bahan yang akan dilapisi. Trubenais jenis
       ini biasanya dipakai untuk melapisi ban pinggang rok atau
       celana.
   • Fisilin yaitu pelapis yang relatif tipis dan mempunyai
       perekat/lem yang mencair jika disetrika. Jenis ini ada yang
       sangat tipis, sedang dan agak tebal. Yang baik kualitasnya
       biasanya yang sangat tipis. Jenis ini berbentuk serabut
       yang berupa lembaran dan mudah robek. Fisilint sering


                                                               181
           digunakan untuk melapisi kerah pakaian wanita, lapisan
           belahan, lapisan rumah kancing vasfoal, dan lain-lain.
       •   Bulu kuda, yaitu pelapis yang biasanya digunakan untuk
           melapisi bagian dada jas atau mantel. Berupa lembaran
           kain tipis yang berwarna agak kecoklatan dan mempunyai
           lem. Lem ini juga mencair jika disetrika pada bahaan yang
           akan dilapisi.
       •   Pelapis gula merupakan pelapis yang sangat cocok
           digunakan untuk melapisi bagian dada dan punggung
           pakaian resmi pria seperti semi jas. Pelapis ini berupa
           lembaran kain tipis berwarna putih yang dilapisi dengan
           lem berbentuk gula. Untuk melapisi bagian busana dapat
           ditempelkan dengan cara disetrika pada bahan.

       Agar pakaian yang dihasilkan lebih bagus siluetnya hendaklah
   digunakan lining dan interlining yang tepat sehingga dapat
   mempertinggi mutu busana yang dihasilkan.


3. Bahan Pelengkap
   Bahan pelengkap merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dengan busana yang akan di buat. Bahan pelengkap dapat berupa
benang jahit dan benang hias, zipper atau ritsluiting, kancing, pita,
renda, hak atau kancing kait dan lain-lain.

   a. Benang
       Benang yang digunakan untuk pekerjaan menjahit ada
   beberapa macam, ini disesuaikan dengan kebutuhan. Sebagai
   pedoman dalam pemakaian benang jahit, secara umum dapat
   dipedomani nomor yang ada pada bungkus benang tersebut
   sebagaimana dikemukakan oleh Wancik (1992:62) antara lain :
   Benang no 50 artinya panjang benang 50 meter dan berat 1 gram.
   Digunakan untuk menjahit bahan yang tidak terlalu tebal / tipis.
   Benang no 60 artinya panjang benang 60 meter berat 1 gram.
   Digunakan untuk menjahit kain yang sangat tipis. Benang no 8
   artinya panjang benang 8 meter beratnya 1 gram. Digunakan
   untuk menjahit bahan jok mobil, terpal, bahan tas atau kulit.
   Benang ini lebih kasar dan kuat.
       Selain itu benang yang digunakan hendaklah disesuaikan
   dengan serat bahan, ketebalan bahan serta jenis setikan yang
   diinginkan. Benang yang digunakan sebaiknya mempunyai asal
   serat yang sama dengan bahan yang akan dijahit. Misalnya
   benang dari serat alam hendaklah digunakan untuk menjahit
   bahan yang dari serat alam pula, begitu juga dengan benang dari
   serat sintetis digunakan untuk menjahit bahan dari serat sintetis
   pula. Untuk setikan hias sering digunakan benang yang relatif


                                                                 182
kasar seperti setikan hias pada celana jeans, karena sesuai
dengan fungsinya yang mana benang ini berfungsi untuk hiasan.
Beberapa jenis benang yang digunakan untuk menjahit dan
menghias busana di antaranya yaitu :
   1) Benang Jahit
       Benang jahit ialah benang yang digunakan untuk menjahit.
       Halus kasar benang ditentukan menurut nomor benang.
       Makin tinggi nomor benang makin halus benang tersebut.
       Misalnya benang jahit no 60 lebih halus dari benang no 50
       dan no 40.
   2) Benang mouline yaitu benang yang berlainan warna di
       sering/ dipilin jadi satu sehingga benang mouline disebut
       juga benang pelangi. Benang ini digunakan untuk
       menghias pakaian atau kain.
   3) Benang melange (benang serabut campur) yaitu benang
       yang mempunyai warna beraneka ragam yang dibuat
       dengan cara dipintal. Digunakan untuk menghias pakaian.
   4) Benang yaspis yaitu benang yang dipilin dari dua benang
       yang belum dipilin sehingga bentuknya berupa satu
       benang bulat. Digunakan untuk menghias pakaian.
   5) Benang logam yaitu benang yang terbuat dari logam
       berlapis plastik atau plastik berlapis logam. Bentuk benang
       berkilau, ada yang warna perak dan ada yang warna
       emas. Digunakan untuk menghias pakaian atau lenan
       rumah tangga dan juga digunakan sebagai bahan untuk
       tenunan seperti tenun songket.
   6) Benang karet yaitu benang yang terbuat dari karet yang
       telah divulkanisasi. Benang ini bersifat elastis sehingga
       banyak digunakan untuk mengerutkan bagian-bagian
       pakaian.
   7) Benang sulam/suji yaitu benang yang digunakan untuk
       menyulam/menghias pakaian. Benang suji tersedia dalam
       aneka warna. Ada yang hanya satu warna dan ada juga
       yang palang atau warna bertingkat.
   8) Benang bordir yaitu benang yang digunakan untuk
       membordir atau menyulam dengan mesin. Benang ini
       mengkilat dan tersedia dalam aneka warna.
   9) Benang jagung yaitu benang yang terbuat dari serat
       selulosa berwarna krem/broken white. Digunakan untuk
       membuat renda, menjahit kasur dan lain-lain.
   10) Benang tetoron yaitu benang sintetis yang kuat digunakan
       sebagai bahan kaitan untuk membuat pelengkap busana
       berupa tas, ikat pinggang, dan lain-lain.
   11) Benang wol yaitu benang yang agak berbulu dan
       pilinannya longgar. Digunakan untuk bahan menghias



                                                              183
       lenan rumah tangga berupa taplak meja, hiasan dinding
       dan lain-lain.
   12) Dan lain sebagainya.

b. Pita dan renda
    Pita tersedia dalam beberapa ukuran dan warna. Ada yang
lebarnya ¼ cm, ½ cm, 1 cm, 2 cm dan 3 cm. Pita ini juga terbuat
dari bahan yang berbeda dengan warna yang beraneka, mulai
dari warna perak, emas, dan warna-warna pada umumnya. Pita
digunakan sebagai bahan untuk menghias busana, baik busana
anak maupun busana orang dewasa. Pada busana anak, pita
umumnya dibuatkan bunga atau bahan untuk ikat pinggang,
sedangkan pada busana wanita dewasa atau busana remaja pita
bisa dibuatkan sulaman dengan teknik sulaman pita.
    Renda tersedia dalam aneka bahan dan model. Renda dari
bahan katun digunakan untuk menghias busana dari bahan katun
pula dan sebaliknya. Renda yang terbuat dari bahan sintetis
seperti renda organdi lebih cocok digunakan untuk busana yang
berbahan sama dengan renda sehingga terlihat kesatuannya
dengan bahan pakaian.

c. Kancing
    Kancing mempunyai model dan ukuran yang bervariasi. Selain
berfungsi sebagai penutup belahan, kancing juga bisa berfungsi
sebagai hiasan busana. Ukuran dan model kancing yang
beraneka ragam memungkinkan kita dapat memilih kancing yang
sesuai dengan pakaian yang dibuat. Kancing ada beberapa
macam, antara lain :
    1)   Kancing jepret. Kancing ini berukuran agak kecil yang
         terdiri atas dua bagian. Satu bagian mempunyai tombol
         dan tipis dan yang satu lagi mempunyai lobang tetapi
         tidak tembus sampai kebelakangnya. Kancing jenis ini
         ada yang terbuat dari bahan besi atau stainlesteel dan
         ada juga yang terbuat dari plastik. Kualitas dari kancing
         inipun beragam. Untuk membuat busana yang
         berkualitas baik hendaklah dipilih kancing jepret yang
         berkualitas bagus. Kancing jepret yang berkualitas
         rendah adakalanya berkarat jika sudah dipakai dalam
         waktu yang lama.
    2)   Kancing bermata. Kancing ini sering digunakan untuk
         pakaian laki-laki dan sering juga disebut kancing kemeja.
         Bentuk kancing ini bulat dan memiliki lobang tempat
         memasukkan benang. Ukuran kancing inipun beragam,
         mulai dari yang kecil, menengah dan besar.
    3)   Kancing berkaki, biasanya digunakan untuk pakaian
         wanita, baik sebagai hiasan maupun sebagai penutup


                                                              184
            belahan. Kancing ini banyak jenisnya, ada yang terbuat
            dari logam dan ada juga yang dibuat dari plastik.
            Bentuknya mempunyai kaki atau tempat memasukkan
            benang pada bagian bawah kancing. Warna dan
            modelnyapun beragam, berubah sejalan dengan
            perkembangan mode.
      4)    Hak.Hak terdiri atas dua bagian yaitu bagian penyangkut
            dan bagian penahan sangkutan. Hak ini ada dua macam.
            Ada hak yang ukurannya kecil dan ada yang ukurannya
            agak besar. Hak yang kecil sering juga disebut kancing
            kait. Biasanya digunakan sebagai pengancing bra,
            longtorso dan untuk penahan belahan yang dipasangkan
            pada akhir pemasangan zipper. Hak yang ukuran besar
            biasanya dipasangkan pada ban pinggang rok atau
            celana. Hal ini ada yang pemasangannya dilakukan
            dengan cara dijahitkan dan ada juga dengan jalan
            ditekan. Hak yang ditekan ini banyak ditemui pada ban
            pinggang celana pria.



   d. Zipper
       Zipper lazim disebut dengan ritsluiting, digunakan untuk
   membuat bukaan pada pakaian agar pakaian tersebut mudah
   dipasang atau dibuka. Zipper ini bermacam-macam model dan
   ukurannya tergantung kegunaannya.
       1) Zipper model biasa, biasanya dipasangkan dengan
          jahitannya terlihat pada bagian luar. Sering digunakan
          untuk bukaan pada rok wanita, blus pada bagian tengah
          belakang, celana pria dan pakaian anak-anak. Ukurannya
          ada yang pendek berukuran panjang 17 dan 20 cm dan
          ada yang panjang, yang ukurannya 35, 45 dan 50 cm.
          Jenis zipper ini tersedia dalam beberapa merk. Agar tahan
          lama dalam pemakaiannya, sebaiknya zipper dipilih yang
          berkualitas bagus.
       2) Zipper jepang, dijahitkan dari bagian dalam pakaian dan
          zipper ini tidak terlihat dari bagian luar. Untuk menjahit
          zipper ini biasanya dibantu dengan sepatu mesin khusus,
          agar pemasangannya bagus
       3) Zipper untuk mantel atau jacket, ukurannya lebih besar
          dari zipper biasa dan lebih kuat sesuai juga dengan
          fungsinya.

C. Pemeliharaan Bahan Tekstil
     Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, maka
perkembangan bahan tekstilpun semakin pesat sesuai dengan


                                                                185
kebutuhan para konsumen. Bahan tekstil untuk busana tersebut
berasal dari bermacam-macam serat.

   1. Jenis-jenis serat
   Pada dasarnya serat tekstil berasal dari tiga unsur utama, yaitu
   serat yang berasal dari alam(tumbuh-tumbuhan dan hewan), serat
   buatan(sintetis) dan galian (asbes, logam).
   a. Serat alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain:
       kapas, lenan, rayon, nenas, pisang. Serat alam yang berasal
       dari hewan yakni: dari bulu beri-beri, adapun bahan yang
       berasal dari serat tersebut adalah bahan wol.sedangkan serat
       dari ulat sutra menghasilkan bahan tekstil sutra
   b. Serat buatan (termoplastik) bahan tekstil yang berasal dari
       serat buatan ini adalah berupa Dacron, polyester, nylon.
   c. Serat galian serat galian adalah yang berasal dari dalam
       tanah.contoh asbes dan logam, benang logam.bahan asbes
       banyak digunakan untuk sumbu kompor minyak tanah, untuk
       mengisi aneka bunga yang berasal dari bermacam-macam
       bahan tekstil seperti: stoking, nylon, tula dan bahan rajutan.
   Serat logam lebih banyak digunakan untuk membuat bermacam-
   macam jenis benang, seperti, benang emas, benang perak,
   tembaga, aluminium, selain itu ada pula benang logam yang
   dilapisi dengan plastik.
   Apabila benang logam tersebut akan di tenun, sebaiknya di
   gabung dengan benang dari bahan lain. Hal ini disebabkan
   benang logam tersebut memiliki sifat kaku dan sukar dipelihara.
   Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil
   seperti:borkat, lame, tenunan songket yang ditemukan diseluruh
   daerah Indonesia antara lain: songket pandai sikek, songket
   silungkang, songket kubang, songket palembang, songket
   Kalimantan, songket jambi dll.

   2. Sifat bahan tekstil
   Untuk dapat melakukan pemeliharan bahan tekstil (bahan busana)
   dengan tepat dan benar, terlebih dahulu harus diketahui sifat-sifat
   dari bahan tersebut:

      a. Katun
          Sifat-sifat bahan katun adalah bersifat hidroskopis atau
      menyerap air, mudah kusut, kenyal, dalam keadaan basah
      kekutannya bertambah lebih kurang 25%, dapat disetrika
      dalam temperatur panas yang tinggi, katun lenan tersebut
      mengandung lilin, oleh sebab itu tidak perlu dikanji. Katun
      lenan ini tidak tahan chloor. Sementara rayon lebih licin dan
      mengkilap, tidak menghisap debu dan kotoran, karna kotoran



                                                                  186
       itu melekat hanya pada permukaan bahan saja. Sedangkan
       sintetis sifatnya tidak jauh berbeda dengan katun lainnya

       b. wol
          Bahan wol memiliki sifat sangat kenyal hingga tidak mudah
       kusut, bila wol dipanaskan ia akan menjadi lunak karena
       kenyalnya berkurang. Wol mengikat, panas, karena serabut
       wol keriting. Udara dalam pori-pori wol bertahan, bila dipakai
       dapat mengantarkan panas, wol tidak tahan akan nyengat.

       c. Sutera
          Bahan sutera memiliki sifat lembut, licin dan berkilap,
       kenyal dan kuat. Dalam keadaan basah sutera berkurang
       kekuatannya 15%. Bahan sutera tahan ngenyat, banyak
       menghisap air dan bila dipergunakan memberi rasa sejuk.

       d. Dacron, polyester dan nylon
          Bahan tekstil ini apabila dicuci cepat menjadi kering, tidak
       kusut jadi tidak perlu di setrika, kuat dan tahan lama
       dipergunakan, lebih tahan panas.

       e. Brokat, lame dan songket
         Bahan tekstil / busana yang berasal dari brokat, lame dan
       songket ini mudah berubah warna, tidak mudah kusut, kurang
       menyerap air, tidak tahan temperatur setrika yang tinggi.


D. Pemeliharaan busana
       Seiring dengan perkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni (IPTEKS) saat ini, maka perkembangan bahan busanapun
semakin pesat sesuai dengan kebutuhan para konsumen. Kain atau
tekstil untuk busana ini berasal dari bermacam-macam serat dan
bahan. Masing-masing bahan menuntut perlakuan atau teknik
pemeliharaan yang berbeda pula untuk masing-masingnya.
     Agar busana dapat ditampilkan dengan baik perlu adanya
pemeliharaan yang tepat. Namun kebanyakan orang berpendapat
bahwa memelihara busana adalah pekerjaan yang mudah, siapapun
dapat melakukannya. Pendapat ini ada benarnya,hampir setiap orang
mampu mencuci busana, akan tetapi tidak semuanya benar. Oleh
karena itu untuk mencuci atau nmemelihara busana sebagaimana
mestinya tidak semudah yang difikirkan.
     Busana perlu dipelihara agar selalu bersih, awet/tahan lama dan
selalu terlihat indah. Umumnya busana yang dipelihara, dicuci,
distrika dan disimpan dengan rapi akan awet dan tahan lama baik dari
segi serat bahan itu sendiri maupun dari warnanya. Sementara itu
dalam pelaksanaannya tidak semua busana yang kotor dapat dicuci.


                                                                  187
Apabila busana kena noda, dan sebagainya perlu dipisahkan, karena
memerlukan pemeliharaan atau teknik mencuci yang khusus.
      Noda pada busana bermacam-macam, setiap noda memerlukan
bahan penghilang noda yang berbeda. Sedangkan busana yang
robek/rusak, seperti kancing baju yang lepas, kelim atau jahitan yang
lepas, perlu diperbaiki terlebih dahulu.
     Pemeliharaan dan perbaikan busana yang dapat dilakukan antara
lain: pencucian, penyisipan, penambalan, menghilangkan noda dan
menyeterika pakaian.
Pencucian dengan tangan dan pencucian dengan mesin. Pencucian
tersebut harus disesuaikan dengan sifat-sifat bahan.

1. Mencuci secara manual
       Sebelum mencuci lakukan pemisahan busana yang berwarna
   dengan yang putih. Setelah itu rendam dengan menggunakan
   sabun/deterjen selama lebih kurang 20 menit. Lalu dikucek-kucek
   dan dibilas sampai bersih. Teruskan dengan menjemur sesuai
   sifat dan asal bahan.
2. Mencuci dengan mesin cuci
       Mesin cuci dipergunakan untuk mencuci kain, kecuali bahan
   dari wol dan sutera asli. Kapasitas mesin cuci yang ada
   bermacam-macam. Untuk rumah tangga kapasitas 4 kg, 6 kg dan
   10 kg. Untuk industri kapasitasnya lebih besar misalnya 25 kg, 30
   kg dan 35 kg. Kebanyakan cucian atau kain dalam keadaan
   kering. Mesin ini dilengkapi dengan alat pengukur air dan alat
   pengukur suhu panas (thermometer). Biasanya setiap pabrik yang
   membuat mesin cuci selalu dilengkapi dengan buku petunjuk.
       Cara mempergunakan pada umumnya adalah: 1) cucian dipilih
   dan ditimbang dalam keadaan kering; 2) cucian dimasukkan ke
   dalam mesin dan diberi air (kocok kira-kira 10 menit) dengan
   menekan tombol; 3) air kocokan dibuang; 4) diberi air baru
   dengan suhu 60-70 derjat celcius dan deterjen (kira-kira 350
   gram) untuk mesin yang berkapasitas 35 kg dan 200 liter air (kira-
   kira 15 menit); 5) air deterjen yang kotor dibuang; 6) dibilas
   sampai bersih (kira-kira 15menit); 7) bila perlu diberi deterjen
   kedua (untuk cucian yang sangat kotor (kira-kira 15 menit);
   8) lama mencuci (kira-kira 1 jam); 9) mesin setelah dipergunakan
   dibersihkan dengan lap basah kemudian dikeringkan.

   1. Mesin pemeras
       Mesin pemeras dipergunakan untuk memeras air dari cucian
   yang tebal seperti handuk dan selimut. Kapasitas mesin misalnya
   tergantung pada muatan mesin. Mesin ini memakai 5000 watt
   dengan voltage setempat.




                                                                 188
Cara mempergunakan :
a) Masukan cucian dari mesin cuci kedalam mesin pemeras,
   permukaan cucian harus rata supaya mengimbangi putaran
   jalannya mesin
b) Tombol ditekan, lampu menyala (10-15menit)
c) Setelah lampu mati pintu dibuka dan cucian diangkat
d) Setelah selesai dipergunakan, di bersihkan seperti mesin cuci.

2. Mesin pengering
    Mesin pengering dipergunakan untuk mengeringkan cucian,
dilengkapi dengan regulator/timer. Kapasitas mesin bermacam-
macam seperti 25 kg, 30 kg, 35 kg, mesin ini memakai 2000 watt
dengan voltage setempat.
Cara mempergunakan :
a) Cucian dari mesin cuci/pemeras dimasukkan ke dalam mesin
    pengering selama 5-10 menit dengan menekan tombol (bila
    terlalu lama cucian yang berwarna putih akan menjadi kuning)
b) Setelah selesai digunakan mesin hendaklah dibersihkan
    seperti mesin cuci dan mesin pemeras di atas.

3. Mesin cuci tanpa air (dry cleaning)
   Mesin ini digunakan untuk memelihara pakaian dari bahan
   wol, sutera asli dan dari bahan yang halus. Mesin ini berfungsi
   sebagai alat pembersih, pemeras dan pengering.
   Pencucian dengan mesin dry cleaning ini sebagai bahan
   pembersih tidak dipergunakan air dan sabun, tetapi solvent
   (solvent alam yang berasal dari minyak bumi/solvent buatan
   yang disebut chlorinated hidrocharbons). Yang sering
   dipergunakan yaitu perchlorothylene solvent, sifatnya tidak
   dapat terbakar dan tidak berbau. solvent sebelum dipakai
   perlu dibersihkan dahulu oleh karena itu mesin cuci dry
   cleaning selalu dilengkapi dengan sebuah saringan, pompa
   dan alat penyuling.
   Pompa ini berguna untuk menyedot solvent bekas dari tangki,
   kemudian ditekan sampai masuk melalui saringan, sehingga
   solvent jernih kembali kemudian dipakai lagi.

   Cara mencuci mesin dry cleaning:
   a) Solvent ditimbang sesuai dengan tangki yang telah
      ditentukan muatannya dari pabrik
   b) Pompa dijalankan supaya solvent terus menerus mengalir
      dari tangki ke filter (penyaring) dan dari filter ke mesin cuci
   c) Setelah solvent jernih (dilihat dari pipa kaca) cucian
      dimasukkan dan ditekan tombol. Waktu pencucian
      misalnya 3 menit, 8 menit dan 15 menit



                                                                 189
             d) Sebuah tanda akan berbunyi atau lampu menyala yang
                menandakan bahwa cucian telah selesai
             e) Kemudian diperas dan dikeringkan pada mesin itu juga,
                lamanya umpama 2 menit, 4 menit dan 6 menit
             f) Bau solvent dihilangkan dengan deodorizer.

                 Cucian dari bahan yang halus dan banyak perhiasan tidak
             boleh dimasukkan kedalam mesin dry cleaning. Tetapi harus
             dikerjakan dengan tangan. Buruknya akan kehilangan solvent
             karena penguapan, tangan menjadi gatal dan bau solvent
             akan menjalar kemana mana.
                 Mesin setrika pada dry cleaning prinsipnya sama dengan
             mesin setrika laundry, tetapi ada berbeda yaitu form finisher,
             dipergunakan untuk melicinkan dan menghilangkan kekusutan
             pada jas atau busana wanita yang telah distrika.
                 Cara mempergunakannya itu: jas/busana wanita
             dimasukkan kedalam kerangka besi dan tombol ditekan, maka
             uap keluar melalui lobang-lobang sehingga melicinkan dan
             menghilangkan kekusutan secara otomatis.



   Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah :
     1. Siswa dapat mengidentifikasi jenis bahan utama (fashion
     fabric)
     2. Siswa dapat mengidentifikasi jenis bahan pelapis,
         menentukan bahan pelengkap serta menyediakan bahan
         utama dan bahan pelengkap.
     3. Siswa dapat memilih bahan sesuai dengan desain yang
         meliputi bahan utama busana, bahan pelapis (lining dan
         interlining) dan bahan pelengkap busana.
     4. Siswa dapat mengelompokkan serat sesuai dengan jenisnya.
     5. Siswa dapat memilih bahan tektil yang sesuai dengan
         kebutuhan serta mampu memelihara bahan tekstil tersebut.
     6. Siswa mampu memelihara bermacam-macam jenis busana


Evaluasi :

   1. Jelaskanlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih
      dan membeli bahan tekstil !
   2. Jelaskanlah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
      mengetahui bahan asli dan bahan tiruan
   3. Jelaskanlah sifat-sifat dari bahan yang berasal dari serat alam




                                                                       190
4. Untuk membuat pakaian pesta yang memiliki banyak kerutan,
   bahan apakah yang cocok digunakan? Berikan alasanmu
   kenapa memilih bahan tersebut
5. Untuk membuat pakaian kerja tentukanlah bahan utama,
   bahan lining dan interlining yang cocok digunakan ! Jelaskan
6. Bahan pelengkap busana salah satunya adalah benang.
   Jelaskanlah beberapa jenis benang yang digunakan untuk
   menjahit dan menghias busana !
7. Jelaskan manfaat melakukan pencucian pada pakaian yang
   telah diproduksi.
8. Sebutkan jenis busana yang harus dicuci dengan manual
   (tanpa menggunakan mesin cuci).




                                                           191
                                 BAB VI
                       DESAIN BUSANA
      Busana dan pelengkap (milineris dan asesoris) yang kita pakai
setiap hari dibuat tidak asal jadi, tetapi berdasarkan pola atau rancangan
tetentu yang disebut dengan desain. Semakin maju tingkat kehidupan
masyarakat, semakin banyak memerlukan peran desain, semakin tinggi
selera masyarakat semakin tinggi pula tuntutan kecermatan desainnya.
Hal ini disebab karena dalam berbusana manusia selalu menuntut dua
nilai sekaligus yaitu nilai jasmaniah berupa enak dan nyaman dipakai,
dan nilai rohaniah berupa keindahan dan keanggunan.
      Desain busana merupakan pengetahuan dasar bagi seorang calon
desainer. Pada desain busana ini akan di jelaskan tentang pengertian
desain busana, jenis-jenis desain, unsur-unsur desain, prinsip-prinsip
desain, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mendesain, desain
anatomi tubuh, teknik menggambar bagian-bagian busana dan teknik
pewarnaan dan penyelesaian desain.
      Sebuah desain tidak mungkin tercipta tanpa ada unsur-unsur
pembentuknya, dan tidak akan indah atau menarik dilihat tanpa
mempertimbangkan prinsip-prinsip desain. Apa saja yang tergolong pada
unsur dan prinsip desain ini akan dibahas secara mendalam pada Bab ini.
Dengan pengetahuan tentang desain ini, diharapkan seorang calon
desainer dapat membuat desain busana dengan baik dan benar.
      Desain tidak hanya sekedar gambar saja tetapi dengan desain
seseorang dapat membuat pakaian mulai dari mengambil ukuran,
membuat pola, pecah pola, menggunting sampai menjahit pakaian
dengan kata lain desain merupakan pedoman seseorang dalam
mewujudkan pakaian ke bentuk sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa desain
memegang peranan penting dalam pembuatan suatu pakaian.

A. Pengertian Desain
       Desain berasal dari Bahasa Inggris (design) yang berarti
   “rancangan, rencana atau reka rupa”. Dari kata design muncullah kata
   desain yang berarti mencipta, memikir atau merancang. Dilihat dari
   kata benda, “desain” dapat diartikan sebagai rancangan yang
   merupakan susunan dari garis, bentuk, ukuran, warna, tekstur dan
   value dari suatu benda yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip
   desain. Selanjutnya dilihat dari kata kerja, desain dapat diartikan
   sebagai proses perencanaan bentuk dengan tujuan supaya benda
   yang dirancang mempunyai fungsi atau berguna serta mempunyai
   nilai keindahan.
       Desain merupakan pola rancangan yang menjadi dasar
   pembuatan suatu benda seperti busana. Desain dihasilkan melalui
   pemikiran, pertimbangan, perhitungan, cita, rasa, seni serta


                                                                      192
  kegemaran orang banyak yang dituangkan di atas kertas berwujud
  gambar. Desain ini mudah dibaca atau di pahami maksud dan
  pengertiannya oleh orang lain sehingga mudah diwujudkan ke bentuk
  benda yang sebenarnya.
     Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa desain merupakan
  bentuk rumusan dari suatu proses pemikiran, pertimbangan dan
  perhitungan dari desainer yang dituangkan dalam wujud gambar.
  Gambar tersebut merupakan pengalihan gagasan atau pola pikir
  konkret dari perancang kepada orang lain. Setiap busana adalah hasil
  pengungkapan dari sebuah proses desain.

B. Jenis-jenis Desain
      Secara umum desain dapat dibagi 2 yaitu desain struktur
  (structural design) dan desain hiasan (decorative design).

  1. Desain Struktur (Struktural Design)

         Desain struktur pada busana disebut juga dengan siluet
     busana (silhoutte). Siluet adalah garis luar dari suatu pakaian,
     tampa bagian-bagian atau detail seperti lipit, kerut, kelim, kup dan
     lain-lain. Namun jika detail ini ditemukan pada desain struktur
     fungsinya hanyalah sebagai pelengkap.
              Berdasarkan garis-garis yang dipergunakan, siluet dapat
     dibedakan atas beberapa bagian yang ditunjukkan dalam bentuk
     huruf. Dalam bidang busana dikenal beberapa siluet yaitu :

     a. Siluet A

             Merupakan pakaian yang mempunyai model bagian atas
         kecil, dan bagian bawah besar. Bisa juga tidak mempunyai
         lengan. Perhatikan gambar 77 di bawah ini :

     b. Siluet Y
            Merupakan model pakaian dengan model bagian atas
        lebar tetapi bagian bawah atau rok mengecil. Perhatikan
        gambar 78 di bawah ini :




                                                                     193
Gambar 77. Contoh desain dengan siluet A   Gambar 78. Contoh desain dengan siluet Y



                                                                                194
c. Siluet I
       Merupakan pakaian yang mempunyai model bagian atas
   besar atau lebar, bagian badan atau tengah lurus dan bagian
   bawah atau rok besar.




          Gambar 79. Contoh desain dengan siluet I



                                                          195
 d. Siluet S
Merupakan pakaian yang mempunyai model dengan bagian atas
besar , bagian pinggang kecil dan bagian bawah atau rok besar.




              Gambar 80. Contoh desain dengan siluet S




                                                             196
e. Siluet T
       Merupakan pakaian yang mempunyai desain garis leher
   kecil, ukuran lengan panjang dan bagian bawah atau rok kecil.




          Gambar 81. Contoh desain dengan siluet T



                                                            197
     f.   Siluet L
              Merupakan bentuk pakaian variasi dari berbagai siluet,
          dapat diberikan tambahan dibagian belakang dengan bentuk
          yang panjang/drapery. Bentuk ini biasanya terlihat pada
          pakaian pengantin barat.

  2. Desain Hiasan (Decorative Design)
         Desain hiasan pada busana mempunyai tujuan untuk
     menambah keindahan desain struktur atau siluet. Desain hiasan
     dapat berupa krah, saku, renda, sulaman, kancing hias, bis dan
     lain-lain.
              Desain hiasan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
     berikut yaitu :
     a. Hiasan harus dipergunakan secara terbatas atau tidak
         berlebihan.
     b. Letak hiasan harus disesuaikan dengan bentuk strukturnya.
     c. Cukup ruang untuk latar belakang, yang memberikan efek
         kesederhanaan dan keindahan terhadap desain tersebut.
     d. Bentuk latar belakang harus dipelajari secara teliti dan sama
         indahnya dengan penempatan pola-pola pada benda tersebut.
     e. Hiasan harus cocok dengan bahan desain strukturnya dan
         sesuai dengan cara pemeliharaannya.

C. Unsur-unsur Desain
      Seorang      desainer      adalah      seorang     seniman      yang
  mengekspresikan ide dan kreatifitasnya dalam bentuk rancangan
  busana. Suatu rancangan tercipta melalui suatu proses totalitas
  berfikir dengan memadukan ilmu seni rupa dengan unsur-unsur lain
  yang mendukung. Unsur desain merupakan unsur-unsur yang
  digunakan untuk mewujudkan desain sehingga orang lain dapat
  membaca desain tersebut. Maksud unsur disini adalah unsur-unsur
  yang dapat dilihat atau sering disebut dengan unsur visual. Unsur-
  unsur desain ini terdiri atas garis, arah, bentuk, tekstur, ukuran, value
  dan warna. Melalui unsur-unsur visual inilah seorang perancang dapat
  mewujudkan rancangannya.

  1. Garis
      Garis merupakan unsur yang paling tua yang digunakan manusia
  dalam mengungkapkan perasaan atau emosi. Yang dimaksud dengan
  unsur garis ialah hasil goresan dengan benda keras di atas
  permukaan benda alam (tanah, pasir, daun, batang, pohon dan
  sebagainya) dan benda-benda buatan (kertas, dinding, papan dan
  sebagainya). Melalui goresan-goresan berupa unsur garis tersebut
  seseorang dapat berkomunikasi dan mengemukakan pola




                                                                       198
rancangannya kepada orang lain. Ada 2 jenis garis sebagai dasar
dalam pembuatan bermacam-macam garis yaitu :

   a. Garis lurus
      Garis lurus adalah garis yang jarak antara ujung dan
   pangkalnya mengambil jarak yang paling pendek. Garis lurus
   merupakan dasar untuk membuat garis patah dan bentuk-bentuik
   bersudut. Apabila diperhatikan dengan baik, akan terasa bahwa
   macam-macam garis ini memberikan kesan yang berbeda pula.
   Kesan yang ditimbulkan garis ini disebut watak garis.

   b. Garis lengkung
      Garis lengkung adalah jarak terpanjang yang menghubungkan
   dua titik atau lebih. Garis lengkung ini berwatak lebih dinamis dan
   luwes.
      Contoh-contoh garis :




     Vertikal            Horizontal     Garis diagonal




   Garis lengkung                       Garis kusut

   Setiap garis memberi kesan tertentu yang dinamakan sifat / watak
   garis. Adapun sifat-sifat dari garis yaitu :

   a. Sifat garis lurus
       Garis lurus mempunyai sifat kaku dan memberi kesan kokoh,
   sungguh-sungguh dan keras, namun dengan adanya arah sifat
   garis dapat berubah seperti :
   1) Garis lurus tegak memberikan kesan keluhuran
   2) Garis lurus mendatar memberikan kesan tenang
   3) Garis lurus miring/diagonal merupakan kombinasi dari sifat
       garis vertikal dan horizontal yang mempunyai sifat lebih hidup
       (dinamis).


                                                                  199
   b. Sifat garis lengkung
       Garis lengkung memberi kesan luwes, kadang-kadang bersifat
   riang dan gembira.
   Dalam bidang busana garis mempunyai fungsi :
   1) Membatasi bentuk struktur atau siluet.
   2) Membagi bentuk struktur ke dalam bagian-bagian pakaian
       untuk menentukan model pakaian.
   3) Memberikan arah dan pergerakan model untuk menutupi
       kekurangan bentuk tubuh, seperti garis princes, garis empire
       dan lain-lain.

2. Arah
    Pada benda apapun dapat kita rasakan adanya arah tertentu,
misalnya mendatar, tegak lurus, miring dan sebagainya. Arah ini
dapat dilihat dan dirasakan keberadaannya. Hal ini sering
dimanfaatkan dalam merancang benda dengan tujuan tertentu.
Misalnya dalam rancangan busana, unsur arah pada motif bahannya
dapat digunakan untuk mengubah penampilan dan bentuk tubuh
sipemakai. Pada bentuk tubuh gemuk, sebaiknya menghindari arah
mendatar karena dapat menimbulkan kesan melebarkan. Begitu juga
dalam pemilihan model pakaian, garis hias yang digunakan dapat
berupa garis princes atau garis tegak lurus yang dapat memberi
kesan meninggikan atau mengecilkan orang yang bertubuh gemuk
tersebut.

3. Bentuk
    Setiap benda mempunyai bentuk. Bentuk adalah hasill hubungan
dari beberapa garis yang mempunyai area atau bidang dua dimensi
(shape). Apabila bidang tersebut disusun dalam suatu ruang maka
terjadilah bentuk tiga dimensi atau form. Jadi bentuk dua dimensi
adalah bentuk perencanaan secara lengkap untuk benda atau barang
datar (dipakai untuk benda yang memiliki ukuran panjang dan lebar)
sedangkan tiga dimensi adalah yang memiliki panjang, lebar dan
tinggi.
    Berdasarkan jenisnya bentuk terdiri atas bentuk naturalis atau
bentuk organik, bentuk geometris, bentuk dekoratif dan bentuk
abstrak. Bentuk naturalis adalah bentuk yang berasal dari bentuk-
bentuk alam seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bentuk-bentuk
alam lainnya. Bentuk geometris adalah bentuk yang dapat diukur
dengan alat pegukur dan mempunyai bentuk yang teratur, contohnya
bentuk segi empat, segi tiga, bujur sangkar, kerucut, lingkaran dan
lain sebagainya. Sedangkan bentuk dekoratif merupakan bentuk yang
sudah dirobah dari bentuk asli melalui proses stilasi atau stilir yang
masih ada ciri khas bentuk aslinya. Bentuk-bentuk ini dapat berupa
ragam hias pada sulaman atau hiasan lainnya yang mana bentuknya
sudah tidak seperti bentuk sebenarnya. Bentuk ini lebih banyak di


                                                                  200
pakai untuk menghias bidang atau benda tertentu. Bentuk abstak
merupakan bentuk yang tidak terikat pada bentuk apapun tetapi tetap
mempertimbangkan prinsip-prinsip desain.

4. Ukuran
    Ukuran merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi desain
pakaian ataupun benda lainnya. Unsur-unsur yang dipergunakan
dalam suatu desain hendaklah diatur ukurannya dengan baik agar
desain tersebut memperlihatkan keseimbangan. Apabila ukurannya
tidak seimbang maka desain yang dihasilkannya akan kelihatan
kurang baik. Misalnya dalam menata busana untuk seseorang, orang
yang bertubuh kecil mungil sebaiknya tidak menggunakan tas atau
aksesories yang terlalu besar karena terlihat tidak seimbang.

5. Tekstur
     Setiap benda mempunyai permukaan yang berbeda-beda, ada
yang halus dan ada yang kasar. Tekstur merupakan keadaan
permukaan suatu benda atau kesan yang timbul dari apa yang terlihat
pada permukaan benda. Tekstur ini dapat diketahui dengan cara
melihat atau meraba. Dengan melihat akan tampak pemukaan suatu
benda misalnya berkilau, bercahaya, kusam tembus terang, kaku,
lemas, dan lain-lain. Sedangkan dengan meraba akan diketahui
apakah permukaan suatu benda kasar, halus, tipis, tebal ataupun
licin. Tekstur yang bercahaya atau berkilau         dapat membuat
seseorang kelihatan lebih besar (gemuk), maka bahan tekstil yang
bercahaya lebih cocok dipakai oleh orang yang bertubuh kurus
sehingga terlihat lebih gemuk. Tekstur bahan yang tembus terang
seperti siffon, brokat dan lain-lain kurang cocok dipakai oleh orang
yang berbadan gemuk karena memberi kesan bertambah gemuk.

6. Value (Nada Gelap dan Terang)
   Benda hanya dapat terlihat karena adanya cahaya, baik cahaya
alam maupun cahaya buatan. Jika diamati pada suatu benda terlihat
bahwa bagian-bagian permukaan benda tidak diterpa oleh cahaya
secara merata, ada bagian yang terang dan ada bagian yang gelap.
Hal ini menimbulkan adanya nada gelap terang pada permukaan
benda. Nada gelap terang ini disebut dengan istilah value.




                                                                201
                        Gambar 82. Value warna putih ke hitam




             Gambar 83. Value beberapa warna ke warna putih dan hitam

7. Warna
    Warna merupakan unsur desain yang paling menonjol. Dengan
adanya warna menjadikan suatu benda dapat dilihat. Selain itu warna
juga dapat mengungkapkan suasana perasaan atau watak benda
yang dirancang. Warna dapat menunjukkan sifat dan watak yang
berbeda-beda, bahkan mempunyai variasi yang sangat banyak yaitu
warna muda, warna tua, warna terang, warna gelap, warna redup,
dan warna cemerlang. Sedangkan dilihat dari sumbernya, ada warna
merah, biru, kuning, hijau, orange dan lain sebagainya. Tetapi jika
disebut warna panas, warna dingin, warna lembut, warna ringan,
warna sedih, warna gembira dan sebagainya maka ini disebut juga
dengan watak warna.
    Warna-warna tua atau warna hitam dapat memberi kesan berat
dan menyusutkan bentuk. Oleh karena itu apabila kita menata busana


                                                                        202
untuk seseorang hendaklah disesuaikan dengan orang tersebut.
Misalnya orang yang bertubuh gemuk hendaklah dipilih warna yang
tidak terlalu cerah atau warna-warna redup karena warna ini dapat
menyusutkan bentuk tubuh yang gemuk tersebut.

   a. Pengelompokan warna
       Ada bermacam-macam teori yang berkembang mengenai
   warna, diantaranya teori Oswolk, Mussel, Prang, buwster dan lain-
   lain. Dari bermacam-macam teori ini yang lazim dipergunakan
   dalam desain busana dan mudah dalam proses pencampurannya
   adalah teori warna Prang karena kesederhanaannya. Prang
   mengelompokkan warna menjadi lima bagian yakni warna primer,
   sekunder, intermedier, tertier dan kuarter.




                                   K
                      KO                         KH



               O                                       H




           M                                               BH
           O



               M                                       B


                      MU                          BU
                                    U



                    Gambar 84. Lingkaran Warna




                                                                203
1) Warna primer, warna ini disebut juga dengan warna dasar
   atau pokok, karena warna ini tidak dapat diperoleh dengan
   pencampuran hue lain. Warna primer ini terdiri dari merah,
   kuning dan biru.

                   K




    M                                  B

              Gambar 85. Warna Primer

2) Warna       Sekunder.      Warna      ini  merupakan hasil
   pencampuran dari dua warna primer, warna sekunder
   terdiri terdiri dari orange, hijau dan ungu.
   a) Warna orange merupakan hasil dari pencampuran
       warna merah dan warna kuning.
   b) Warna hijau merupakan pencampuran dari warna
       kuning dan biru.
   c) Warna ungu adalah hasil pencampuran merah dan
       biru.

                  O                                H




                                   U


                       Gambar 86. Warna sekunder

3) Warna intermediet, warna ini dapat diperoleh dengan dua
   cara yaitu dengan mencampurkan warna primer dengan
   warna sekunder yang berdekatan dalam lingkaran warna
   atau dengan cara mencampurkan dua warna primer




                                                         204
dengan perbandingan 1 : 2. Ada enam macam warna
intermedier yaitu :
a) Kuning hijau (KH) adalah hasil pencampuran dari
    kuning ditambah hijau atau dua bagian kuning
    ditambah satu bagian biru (K+K+B)


                     KH


b) Biru hijau (BH) adalah hasil pencampuran biru
   ditambah hijau atau dua bagian biru di tambah satu
   bagian kuning (B+B+K)


                     BH


c) Biru ungu (BU) adalah hasil pencampuran biru dengan
   ungu atau pencampuran dua bagian biru dengan satu
   bagian merah (B+B+M).

                     BU


d) Merah ungu (MU) adalah hasil pencampuran merah
   dengan ungu atau pencampuran dua bagian merah
   dan satu bagian biru (M+M+B)

                     MU


e) Merah orange (MO) adalah hasil pencampuran merah
   dengan orange atau pencampuran dua bagian merah
   dan satu bagian kuning (M+M+K)


                     MO


f)   Kuning orange (KO) adalah hasil pencampuran kuning
     dengan orange atau pencampuran dua bagian kuning
     dan satu bagian merah (K+K+M)



                                                   205
                            KO



   4) Warna tertier.
   Warna tertier adalah warna yang terjadi apabila dua warna
   sekunder dicampur. Warna tertier ada tiga yaitu tertier biru,
   tertier merah dan tertier kuning.
        a) Tertier biru adalah hasil pencampuran ungu dengan
            hijau.
        b) Tertier merah adalah hasil      pencampuran orange
            dengan ungu
        c) Tertier kuning adalah hasil pencampuran hijau dengan
            orange.

   5) Warna kwarter.
   Warna kwarter adalah warna yang dihasilkan oleh
   pencampuran dua warna tertier. Warna kwarter ada tiga yaitu
   kwarter hijau, kwarter orange dan kwarter ungu.
      a) Kwarter hijau terjadi karena percampuran tertier biru
          dengan tertier kuning.
      b) Kwarter orange terjadi karena percampuran tertier
          merah dengan tertier kuning.
      c) Kwarter ungu terjadi karena percampuran tertier merah
          dengan tertier biru

b. Pembagian Warna Menurut Sifatnya
    Warna menurut sifatnya dapat dibagi atas 3 bagian yaitu sifat
panas dan dingin atau hue dari suatu warna, sifat terang dan
gelap atau value warna serta sifat terang dan kusam atau
intensitas dari warna.

   1) Sifat panas dan dingin
       Sifat panas dan dingin suatu warna sangat dipengaruhi
   oleh huenya. Hue merupakan suatu istilah yang dipakai untuk
   membedakan suatu warna dengan warna yang lainnya, seperti
   merah, kuning, biru dan lainnya. Perbedaan antara merah dan
   kuning ini adalah perbedaan huenya. Hue dari suatu warna
   mempunyai sifat panas dan dingin. Warna-warna panas
   adalah warna yang berada pada bagian kiri dalam lingkaran
   warna, yang termasuk dalam warna panas ini yaitu warna
   yang mengandung unsur merah, kuning dan jingga. Warna
   panas ini memberi kesan berarti, agresif, menyerang,
   membangkitkan,      gembira,    semangat    dan    menonjol.
   Sedangkan warna yang mengandung unsur hijau, biru, ungu


                                                             206
   disebut warna dingin. Warna dingin lebih bersifat tenang, fasif,
   tenggelam, melankolis serta kurang menarik perhatian.

   2) Sifat terang dan gelap
       Sifat terang dan gelap suatu warna disebut dengan value
   warna. Value warna ini terdiri atas beberapa tingkat. Untuk
   mendapatkan value ke arah yang lebih tua dari warna aslinya
   disebut dengan shade, dilakukan dengan penambahan warna
   hitam. Sedangkan untuk warna yang lebih muda disebut
   dengan tint, dilakukan dengan penambahan warna putih.

   3) Sifat terang dan kusam
        Sifat erang dan kusam suatu warna dipengaruhi oleh
   kekuatan warna atau intensitasnya. Warna-warna yang
   mempunyai intensitas kuat akan kelihatan lebih terang
   sedangkan warna yang mempunyai intensitas lemah akan
   terlihat kusam.

c. Kombinasi Warna
    Dari berbagai warna yang sudah ada, besar kemungkinan
belum ditemui warna yang diinginkan. Oleh sebab itu warna ini
perlu dikombinasikan. Mengkombinasikan warna berarti
meletakkan dua warna atau lebih secara berjejer atau
bersebelahan.

   Jenis-jenis kombinasi warna dapat dikelompokkan atas :
   1) Kombinasi monokromatis atau kombinasi satu warna yaitu
      kombinasi satu warna dengan value yang berbeda.
      Misalnya merah muda dengan merah, hijau muda dengan
      hijau tua, dll, seperti di bawah ini :




   2) Kombinasi analogus yaitu kombinasi warna yang
      berdekatan letaknya dalam lingkaran warna. Seperti merah
      dengan merah keorenan, hijau dengan biru kehijauan, dll


             K                O              U              B

            KH              MO             MU              BU




                                                                207
         3) Kombinasi warna komplementer yaitu kombinasi warna
            yang bertentangan letaknya dalam lingkaran warna,
            seperti merah dengan hijau, biru dengan orange dan
            kuning dengan ungu.
                                                                  B
                 K                       M                        O
                 U                       H



         4) Kombinasi warna split komplementer yaitu kombinasi
            warna yang terletak pada semua titik yang membentuk
            huruf Y pada lingkaran warna. Misalnya kuning dengan
            merah keunguan dan biru keunguan, Biru dengan merah
            keorenan dan kuning keorenan, dan lain-lain.
         5) Kombinasi warna double komplementer yaitu kombinasi
            sepasang warna yang berdampingan dengan sepasang
            komplementernya. Misalnya kuning orange dan biru ungu.
         6) Kombinasi warna segitiga yaitu kombinasi warna yang
            membentuk segitiga dalam lingkaran warna. Misalnya
            merah, kuning dan biru, orange. Hijau damn ungu.
            Kombinasi warna monokromatis dan kombinasi warna
            analogus di atas disebut kombinasi warna harmonis,
            sedangkan kombinasi warna komplementer, split
            komplementer, double komplementer dan segitiga disebut
            juga kombinasi warna kontras.

D. Prinsip-prinsip Desain
  Untuk dapat menciptakan desain yang lebih baik dan menarik perlu
  diketahui tentang prinsip-prinsip desain. Adapun prinsip-prinsip desain
  yaitu :

  1. Harmoni
     Harmoni adalah prinsip desain yang menimbulkan kesan adanya
  kesatuan melalui pemilihan dan susunan objek atau ide atau adanya
  keselarasan dan kesan kesesuaian antara bagian yang satu dengan
  bagian yang lain dalam suatu benda, atau antara benda yang satu
  dengan benda lain yang dipadukan. Dalam suatu bentuk, harmoni
  dapat dicapai melalui kesesuaian setiap unsur yang membentuknya.

  2. Proporsi
     Proporsi adalah perbandingan antara bagian yang satu dengan
  bagian yang lain yang dipadukan. Untuk mendapatkan suatu susunan


                                                                      208
yang menarik perlu diketahui bagaimana cara menciptakan hubungan
jarak yang tepat atau membandingkan ukuran objek yang satu
dengan objek yang dipadukan secara proporsional.

3. Balance
   Balance     atau    keseimbangan    adalah   hubungan   yang
menyenangkan antar bagian-bagian dalam suatu desain sehingga
menghasilkan susunanyang menarik. Keseimbangan ada 2 yaitu :
a. Keseimbangan simetris atau formal maksudnya yaitu sama antara
   bagian kiri dan kanan serta mempunyai daya tarik yang sama.
   Keseimbangan ini dapat memberikan rasa tenang, rapi, agung
   dan abadi.
b. Keseimbangan asimetris atau informal yaitu keseimbangan yang
   diciptakan dengan cara menyusun beberapa objek yang tidak
   serupa tapi mempunyai jumlah perhatian yang sama. Objek ini
   dapat diletakkan pada jarak yang berbeda dari pusat perhatian.
   Keseimbangan ini lebih halus dan lembut serta menghasilkan
   variasi yang lebih banyak dalam susunannya.

4. Irama
    Irama dalam desain dapat dirasakan melalui mata. Irama dapat
menimbulkan kesan gerak gemulai yang menyambung dari bagian
yang satu ke bagian yang lain pada suatu benda, sehingga akan
membawa pandangan mata berpindah-pindah dari suatu bagian ke
bagian lainnya. Akan tetapi tidak semua pergerakan akan
menimbulkan irama.
Irama dapat diciptakan melalui :
a. Pengulangan bentuk secara teratur
b. Perubahan atau peralihan ukuran
c. Melalui pancaran atau radiasi

5. Aksen/center of interest
   Aksen merupakan pusat perhatian yang pertama kali membawa
mata pada sesuatu yang penting dalam suatu rancangan. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menempatkan aksen :
a. Apa yang akan di jadikan aksen
b. Bagaimana menciptakan aksen
c. Berapa banyak aksen yang dibutuhkan
d. Dimana aksen ditempatkan

6. Unity
   Unity atau kesatuan merupakan sesuatu yang memberikan kesan
adanya keterpaduan tiap unsurnya. Hal ini tergantung pada
bagiamana suatu bagian menunjang bagian yang lain secara selaras
sehingga terlihat seperti sebuah benda yang utuh tidak terpisah-



                                                             209
   pisah. Misalnya leher berbentuk bulat diberi krah yang berbentuk bulat
   pula dan begitu juga sebaliknya.

E. Penerapan Unsur dan Prinsip Desain
      Dalam mendesain busana unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain
hendaklah diperhatikan. Kedua elemen tersebut sangat menentukan
bagaimana hasil desain busana yang kita buat. Dengan adanya unsur
desain kita dapat melihat wujud dari desain yang kita buat dan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip desain, sebuah desain yang kita ciptakan
dapat lebih indah dan sempurna.
      Pada desain busana setiap unsur atau karya yang kita tuangkan
hendaklah mudah dibaca atau dipahami desainnya oleh orang lain dan
sesuai dengan siapa orang yang akan memakainya. Hal ini penting
karena setiap orang mempunyai bentuk tubuh yang tidak sama sehingga
untuk menutupi kekurangan atau menonjolkan kelebihan sipemakai dapat
kita gunakan unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain di atas.

   a. Penerapan unsur-unsur desain pada busana
         Garis merupakan unsur yang pertama yang sangat penting
   dalam desain karena dengan garis kita dapat menghasilkan sebuah
   rancangan busana yang menarik selain unsur-unsur desain lainnya.
   Garis busana yang perlu diperhatikan yaitu berupa siluet pakaian atau
   garis luar pakaian dan garis bagian-bagian busana seperti kerah,
   lengan, garis hias (garis princes, garis empire, dll) dan lain-lain.
         Siluet pakaian dibuat hendaklah disesuaikan dengan bentuk
   tubuh sipemakai dan sesuai dengan trend mode saat itu. Seperti
   untuk orang yang bertubuh kurus hendaknya jangan menggunakan
   siluet I karena memberi kesan lebih kurus, begitu juga sebaliknya
   orang yang bertubuh gemuk hendaklah menghindari pakaian dengan
   siluet S karena gelombang-gelombang pada pakaian memberi kesan
   tambah menggemukkan. Begitu juga dengan warna dan tekstur serta
   unsur-unsur lainnya. Warna dan tekstur ini perlu disesuaikan dengan
   banyak faktor seperti warna kulit, kesempatan pemakaian, bentuk
   tubuh dan lain-lain. Jadi setiap sifat atau watak dari masing-masing
   unsur dapat dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan dan
   menonjolkan kelebihan yang dimiliki sipemakai.
         Seorang perancang atau desainer juga harus mempunyai
   pengetahuan tentang menjahit agar dapat menuangkan idenya
   dengan lebih kreatif dan rancangan ini dapat dibuat menjadi sebuah
   pakaian, dengan kata lain setiap garis-garis busana yang dibuat
   benar-benar dapat diwujudkan menjadi benda yang sesungguhnya.
   Jadi setiap garis atau bentuk yang dirancang tidak hanya indah di
   atas kertas saja tetapi orang lain juga dapat memahami desainnya
   untuk diwujudkan ke bentuk yang sebenarnya.

   b. Penerapan prinsip-prinsip desain pada busana


                                                                     210
         Setiap unsur-unsur desain disusun sedemikian rupa sehingga
   menghasilkan sebuah rancangan yang indah. Namun ini bukanlah
   pekerjaan yang mudah. Agar susunan setiap unsur ini indah maka
   diperlukan cara-cara tertentu yang dikenal dengan prinsip-prinsip
   desain sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Setiap prinsip ini
   tidak digunakan secara terpisah-pisah melainkan satu kesatuan
   dalam suatu desain. Prinsip-prinsip ini yaitu harmoni, proporsi,
   balance, irama, aksen dan unity.
         Sebuah desain yang dirancang tentunya ada ide-ide yang
   ditonjolkan. Misalnya ide busana wanita dengan lipit-lipit. Maka agar
   busana tersebut terlihat harmoni (serasi) maka bagian busana
   hendaklah juga menggunakan lipit yang bila dilihat tidak terlalu
   berlebihan. Janganlah menggunakan lipit pada rok kemudian kerut
   pada lengan, tentunya akan terlihat tidak harmoni. Begitu juga garis
   hias. Apabila kita menggunakan garis yang melengkung, sebaiknya
   juga disesuaikan dengan garis leher atau bentuk kerah dan juga
   ujung bawah pakaian. Pilihlah kerah atau ujung bawah baju yang
   bagian ujungnya juga melengkung sehingga terlihat serasi.
         Begitu juga dengan prinsip proporsi. Agar setiap bagian terlihat
   proporsional, susunlah setiap bagian tersebut dengan baik. Misalnya
   orang yang bertubuh kurus, jangan gunakan motif yang membuatnya
   tambah kurus atau motif garis vertikal dan lain-lain. Penempatan
   setiap bagian juga perlu diperhatikan keseimbangannya (balance),
   misalnya keseimbangan simetris atau asimetris.
         Irama pada desain juga perlu diperhatikan. Ada beberapa cara
   yang dapat digunakan untuk menentukan irama pada desain
   sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Kita bisa memilih salah satu
   irama pada pakaian yang diinginkan misalnya ada pengulangan
   bentuk seperti ada rimpel kecil yang dibuat pada garis leher maka
   diberi pengulanganya dengan membuat rimpel kecil juga pada ujung
   lengan. Kita bisa memilih salah satu irama yang diinginkan. Hal yang
   tidak kalah pentingnya adalah adanya kesatuan pada setiap unsur
   yang ada dalam desain.


F. Alat dan Bahan untuk Mendesain
    Untuk menghasilkan suatu rancangan yang baik perlu ditunjang
dengan pengadaan alat dan bahan yang menunjang. Peralatan gambar
adalah bagian penting yang harus disediakan untuk kelancaran kerja.
Peralatan yang bermutu baik juga akan meningkatkan mutu desain yang
dihasilkan, karena akan memberikan kemudahan dalam bekerja sehingga
mencapai hasil yang maksimal.
    Pengetahuan dan keterampilan tentang alat gambar sangatlah
pemting. Kadang kala tidak semua pekerja seni/desainer cocok dan
mampu mempergunakan alat tertentu atau alat yang sama dalam
mewujudkan desainnya seperti menggunakan cat air/aquarel, pensil


                                                                     211
warna, cat minyak, tinta, spidol dan lainnya. Pada dasarnya setiap jenis
peralatan tersebut mempunyai kebaikan dan keburukan, dan setiap alat-
alat tersebut juga mempunyai efek yang berbeda pada hasil desain.
    Khusus bagi fashion designer dianjurkan untuk berlatih cara memakai
semua alat-alat menggambar termasuk komputer khusus desain bila
perlu karena masing-masing alat tersebut penting dan membutuhkan skill
tertentu.

   Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk mendesain yaitu :
   1. Pensil
       Pensil yang digunakan adalah lead pensil yang terbuat dari
   graphite. Pensil ini sangat baik untuk digunakan dan tersedia dalam
   beberapa ukuran yang berbeda. Untuk goresan yang agak keras
   dengan kode H/HB, untuk menggambar sketsa busana sebaiknya
   menggunakan pensil B. Pensil B mempunyai ukuran dari 1 B sampai
   8 B. Makin tinggi nomornya maka makin lunak pensilnya. Pensil yang
   lunak berguna untuk mengarsir atau memberikan bayangan pada
   desain.

   2. Pensil warna (colored pencil)
        Pensil warna digunakan untuk menyempurnakan desain agar
   terlihat lebih menarik. Pensil ini juga dapat diruncingkan sehingga bisa
   menyempurnakan bagian-bagian yang rumit dan kecil seperti
   kantong, krah motif tekstil dan lain-lain.

   3. Penghapus (eraser)
      Penghapus perlu disediakan sewaktu mendesain karena goresan
   awal belum tentu langsung bagus dan memuaskan, terutama bagi
   pemula.

   4. Rol/penggaris
     Rol berguna untuk memberi bingkai dari kertas gambar atau
   membuat bidang-bidang bergaris lurus.

   5. Kuas (brushes)
        Kuas berbentuk bulu-bulu halus yang terbuat dari bahan
   sintetis.Kuas mempunyai variasi bentuk dan ukuran yang banyak.
   Pilihlah kuas yang bermutu baik dan ukuran yang cocok untuk
   mendesain. Apabila kuas sudah selesai digunakan harus disimpan
   dalam keadaan bersih dan bulunya dihadapkan ke atas sehingga
   bulunya tidak mudah lepas atau patah

   6. Cat air (water colour)
      Cat air tersedia dalam bentuk cake dan tube. Pilihlan cat yang
   bagus dan berkualitas baik. Apabila memilih bentuk tube tersedia



                                                                       212
   warna yang bervariasi, jika memilih bentuk cake/botol maka biasanya
   kita yang mencampur sendiri sesuai dengan yang diinginkan.

   7. Kertas
      Kertas tersedia dalam bermacam-macam bentuk dan ukuran.
   Pakailah kertas yang sesuai dengan kebutuhan. Jenis-jenis kertas ini
   antara lain kertas photocopy, kertas transparan, dan kertas
   gambar/buku gambar.

   8. File/amplop
       File atau amplop berguna untuk menyimpan kliping-kliping mode,
   potongan-potongan bahan tekstil dan untuk penyimpanan desain
   yang sudah selesai. Kliping berguna untuk meningkatkan inspirasi
   dari desainer dalam mengembangkan idenya.

G. Anatomi Tubuh untuk Desain
    Pengetahuan dan keterampilan menggambar anatomi tubuh sangat
penting bagi seorang fashion designer terutama bagi pemula karena ilmu
ini merupakan landasan atau keterampilan basic yang perlu dipelajari dan
dilatihkan agar menghasilkan desain yang baik.
    Perbandingan tubuh merupakan ketentuan yang dipakai untuk
menggambar ukuran tubuh manusia. Perbandingan ini diperoleh dari
gambar dua dimensi/foto orang yang sesungguhnya dalam keadaaan
berdiri lurus dan menghadap ke depan.

   1. Pengertian Anatomi Tubuh
       Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh manusia
   secara keseluruhan mulai dari kepala sampai ujung kaki. Dalam
   bidang desain busana, anatomi dipelajari terbatas pada bentuk dan
   gerakan tubuh dengan bagian-bagiannya seperti persendian, otot dan
   syaraf. Dengan adanya persendian, otot dan syaraf pada tubuh, arah
   gambar tangan, kaki, leher dan wajah harus diperhatikan agar jangan
   salah arah dan gambar ini harus sesuai dengan gerakan tubuh yang
   sebenarnya.
       Untuk menggambar anatomi tubuh dengan ukuran yang ideal ada
   beberapa hal yang perlu diperhatikan :
   a. Perbandingan tinggi dan lebar tubuh
   b. Letak bagian-bagian tubuh
   c. Sikap, gaya dan gerak tubuh
   d. Jatuhnya pakaian pada tubuh.
       Untuk memperoleh gambar anatomi tubuh yang sesuai dengan
   perbandingan dan letak bagian-bagian tubuh, pada saat menggambar
   harus dibantu dengan pertolongan garis-garis dengan perbandingan
   tertentu. Perbandingan ini harus dibuat untuk seluruh bagian-bagian
   tubuh mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki.



                                                                    213
2. Tujuan Mempelajari Anatomi Tubuh
   Anatomi tubuh sangat penting sekali terutama bagi seorang
desainer dalam menuangkan ide dan gagasannya kepada orang lain.
Desain busana pada anatomi tubuh sangat besar pengaruhnya pada
model pakaian yang disajikan. Desain yang dituangkan pada anatomi
tubuh akan terlihat semakin jelas dan menarik dibandingkan tampa
anatomi tubuh. Selain itu perbandingan masing-masing ukuran model
pakaian pada anatomi tubuh lebih mudah dibaca orang yang
melihatnya seperti :
a. Ukuran garis leher dan krah
b. Bentuk lengan dan panjang lengan
c. Bagian badan, pinggang dan panggul
d. Garis hias, saku dan hiasan pada pakaian
e. Siluet blus atau model secara keseluruhan
f. Pemilihan bahan dan perlengkapan pakaian

Berdasarkan penjelasan di atas, anatomi tubuh mempunyai tujuan di
antaranya :
a. Dapat membawa pesan dan citra dari penciptanya
b. Sebagai media perwujudan bentuk dan model pakaian
c. Dapat menentukan perbandingan makna dari model pakaian
d. Membantu penyajian gambar dari beberapa arah
e. Sebagai alat komunikasi kepada orang lain.

3. Jenis–jenis Perbandingan Tubuh
   Salah satu hal yang penting diperhatikan dalam menggambar
anatomi tubuh untuk desain adalah memahami konsep untuk
menentukan ukuran perbandingan tubuh seperti ukuran kepala,
ukuran badan, ukuran tangan dan kaki. Dalam menggambar
perbandingan tubuh untuk desain pakaian kita dapat memilih
beberapa jenis perbandingan yang biasa dipakai yaitu :
a. Perbandingan menurut anatomi sesungguhnya yaitu tinggi tubuh
   7½ kali tinggi kepala
b. Perbandingan menurut desain busana ialah tinggi tubuh 8 kali
   tinggi kepala dan ada pula yang memakai 8 ½ tinggi kepala, ini
   biasanya disebut dengan anatomi model.
c. Perbadingan tubuh secara ilustrasi yang biasanya digunakan
   untuk desain yang dipublikasikan atau gaya tertentu yaitu
   perbandingan 9 kali tinggi kepala bahkan mencapai 12 kali tinggi
   kepala atau disebut juga perbandingan secara ilustrasi.

   Perbandingan tubuh ini mengacu pada bentuk tubuh yang ideal,
sehat jasmani dan rohani, dengan kata lain ukuran yang ideal
haruslah memenuhi ketentuan dan syarat sebagai berikut :




                                                               214
a. Tubuh yang sehat tidak mempunyai cacat fisik dan mengidap
   suatu penyakit seperti penyakit beri-beri yang dapat menyebabkan
   badan gemuk atau berat tidak seimbang.
b. Lengan dan kaki padat, tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu
   kurus atau kecil
c. Perbandingan ukuran bagian-bagian tubuh normal seperti besar
   mata, hidung dan telinga.

4. Menggambar Perbandingan Tubuh
    Perbandingan tubuh menurut desain busana dibuat dengan
ukuran tinggi tubuh 8 kali tinggi kepala atau 8 ½ tinggi kepala, ini
biasanya disebut dengan anatomi model. Namun untuk keperluan
desain ilustrasi proporsi tubuh dibuat lebih tinggi, 10 x tinggi kepala
dan bahkan ada yang membuat 11 x tinggi kepala. Perbandingan
tubuh menurut desain busana ini dapat di lihat pada tabel berikut :

                                Tabel 1.
        Perbandingan letak bagian-bagian tubuh menurut desain busana

     No           Letak tubuh menurut tinggi dan lebar       Anatomi
                                                              model
                        TINGGI TUBUH                         8 ½ TK
                         Letak menurut tinggi tubuh
    1       Kepala                                             0–1
    2       Bahu                                                1½
    3       Dada                                                 2
    4       Pinggang dan siku                                    3
    5       Batas pinggul dan pergelangan tangan                 4
    6       Ujung jari tangan                                   4¾
    7       Lutut                                               5¾
    8       Betis                                                7
    9       Pergelangan kaki                                     8
    10      Tumit dari bagian belakang                         8 1/6
    11      Ujung jari kaki                                     8½
                            Letak menurut lebar tubuh
    1       Lebar kepala                                     2/3 x TK
    2       Lebar leher                                        ½ LK
    3       Lebar bahu                                        2 x LK
    4       Lebar pinggang                                     =LK
    5       Lebar panggul                                     2 x LK
    6       Jaraklutut                                         = LK
    7       Jarak tumit atau pergelangan kaki                   LK
    8       Jarak ujung jari kaki                              = LK
                    Letak bagian-bagian tubuh pada kepala
    1       Ubun-ubun                                            0
    2       Batas dahi                                          ¼
    3       Letak mata                                          ½
    4       Latak hidung                                        ¾
    5       Letak telinga antara angka                        ½ - 3/4
    6       Letak bibir di atas angka                          7/8
    7       Dagu                                                 1




                                                                        215
    Perbandingan tinggi dan lebar tubuh biasanya diukur berdasarkan
tinggi kepala, misalnya tinggi tubuh 8 ½ kali tinggi kepala. Jika tinggi
kepala 3 cm maka tinggi tubuh adalah 8 ½ x 3 cm = 25 ½ cm. Ukuran
tersebut merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambar bagian-
bagian tubuh mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Untuk
menggambar anatomi tubuh untuk desain busana ini, ukuran dan
perbandingan yang dipakai ialah tinggi kepala 3 cm, namun bisa juga kita
ambil ukuran lain seperti 2 ½ cm atau 2 cm dan dapat pula lebih dari 3
cm tergantung pada gambar yang kita inginkan.

Ikuti langkah-langkah berikut ini :
1. Buat garis pertolongan tegak lurus dan beri nama titik O dan X. Titik O
    terletak pada bagian ubun-ubun dan X terletak pada ujung kaki.
    Panjang garis O-X adalah tinggi tubuh berdasarkan tinggi kepala.
    Misalnya tinggi kepala yang diinginkan 3 cm maka panjang O-X = 8 ½
    x 3 cm = 25 ½ cm. Jadi panjang O-X = 25 ½ cm dan jarak 0 – 1 = 3
    cm. Bagi titik O-X menjadi 8 ½ bagian.
2. Tandai titik 0, 1, 1 ½ , 2, 3, 4, 4 ¾ , 5 3/4, 7, 8, 8 1/6, 8 ½ seperti letak-
    letak bagian tubuh pada tabel 2 di atas. Hubungkan garis-garis
    tersebut menggunakan garis lurus untuk garis pertolongan seperti
    gambar di bawah, sehingga terbentuk sketsa tubuh yang belum
    sempurna atau belum berdaging.
    0-1 = tinggi kepala dan lebar kepala adalah 2/3 x tinggi kepala = 2
    cm
    1-1 ½ = tinggi leher dan lebar leher = ½ lebar kepala
    lebar bahu = 2 x lebar kepala
    2 = batas ketiak / dada
    3 = batas pinggang dan siku, lebar pinggang = lebar kepala
    4 = batas pinggul dan pergelangan tangan, lebar panggul = 2 x lebar
    kepala
    4¾=      Ujung jari tangan
    5 3/4 = lutut dan jarak lutut = lebar kepala
    7=       betis
    8=       pergelangan kaki
    8 1/6 = tumit dan jarak tumit = lebar kepala
    8 ½ = ujung jari kaki dan jarak ujung jari kaki = lebar kepala




                                                                            216
Perhatikan gambar di bawah ini :




   3. Bentuk bagian tubuh sehingga terlihat seperti sudah ada
      dagingnya dengan bantuan garis di atas.




                                                         217
4. Hapus garis bantu dan rapikan gambar anatomi yang dibuat
   sehingga diperoleh sebuah anatomi tubuh yang utuh yang
   dapat divariasikan gerak dan gayanya.



                                                       218
219
5. Sempurnakan gambar dengan melengkapi bagian-bagian
   pada wajah dan menyempurnakan bentuk bagian-bagian
   tubuh seperti bentuk badan, pinggang, panggul, paha, betis,
   tangan dan kaki seperti pada gambar di bawah ini :

   Letak bagian-bagian wajah yaitu :

   0 = ubun-ubun
   ¼ = batas dahi
   ½ = letak mata
   ¾ = letak hidung
   ½-¾       = letak telinga
   7/8       = letak bibir
   1 = dagu




                                                          220
6. Anatomi ini dapat dirubah gerak dan gayanya dengan cara
   membuat rangka benang atau rangka balok. Anatomi tubuh
   sudah dapat digunakan sebagai pedoman dalam menggambar
   bermacam-macam busana. Lihat gambar dibawah ini :




                                                      221
5. Menggambar Bagian-bagian Tubuh
   a. Wajah
       Pada umumnya wajah digambar dengan bentuk oval karena
   bentuk ini dianggap lebih menarik dibandingkan wajah dengan
   bentuk bulat, persegi empat, segi tiga dan lainnya. Wajah terdiri
   atas bagian-bagian yaitu mata, hidung, mulut, telinga, alis dan
   dilengkapi dengan rambut pada kepala. Dalam menggambarkan
   wajah dapat disesuaikan dengan trend yang sedang berkembang.
   Selain itu dalam menggambarkan wajah juga perlu memahami
   tentang ekspresi wajah karena ekspresi wajah juga
   mempengaruhi penampilan desain secara menyeluruh. Ekspresi
   wajah biasanya disesuaikan dengan tema desain misalnya desain
   pakaian remaja ditampilkan dengan ekspresi wajah yang ceria,
   untuk pakaian pesta ditampilkan dengan ekspresi yang anggun
   seperti tersenyum.
       Berikut ini akan dibahas dan digambarkan bagian-bagian
   wajah yang meliputi mata dan alis, hidung, Bibir, telinga dan
   rambut.
   1) Mata dan alis
            Mata diperkirakan letaknya di tengah antara puncak
       kepala/ubun-ubun dan dagu. Bentuk mata seperti buah kenari,
       lebar mata diperkirakan lebih kurang 1/5 bagian jarak antara
       telinga kanan dan kiri. Mata yang dilihat dari arah depan
       terlihat seluruhnya dan alis dibuat di atas mata dengan ujung
       alis runcing. Berikut digambarkan bentuk mata dilihat dari
       beberapa arah :




                     Gambar 87. Mata terlihat dari depan



                                                                222
   Gambar 88. Mata menunduk




Gambar 89. Mata terlihat dari samping




                                        223
2) Hidung
        Hidung terletak antara mata dan bibir. Bentuk hidung
   disesuaikan dengan arah wajah. Berikut gambar hidung jika
   dilihat dari beberapa arah :




    Gambar 90. Hidung tampak depan, tampak tiga perempat, tampak samping
                      dan hidung pada wajah menunduk

3) Bibir
       Bibir terletak dibawah hidung atau antara hidung dan
   dagu. Bentuk bibir digambarkan sesuai ekspresi yang
   diinginkan seperti sedang tersenyum dan lain-lain. Berikut ini
   gambar bibir jika dilihat dari beberapa arah :




                                                                    224
                  Gambar 91. Bibir dilihat dari beberapa arah

4) Telinga
       Posisi telinga adakalanya tertutup oleh gaya rambut,
   namun ada juga yang menggambarkannya terlihat seluruhnya.
   Berikut beberapa gambar telinga pada wajah yang dilihat dari
   beberapa arah :




   Gambar 92. Telinga tampak depan, samping dan tiga per empat



                                                                 225
5) Rambut

      Batas rambut adalah pertengahan antara puncak kepala
   dan alis mata. Gaya atau model rambut dapat digambar
   sesuai gaya atau mode yang sedang berkembang.




                       Gambar 93. Batas rambut

b. Tangan
       Tangan terdiri atas lengan, siku, pergelangan tangan,
   telapak tangan dan jari-jari tangan. Dalam menggambar
   lengan kita perlu memperhatikan arah lengan yang digambar,
   tentunya disesuaikan dengan posisi tubuh/gaya berdiri.
   Gambar bahu atau pangkal lengan dibuat agak membulat,
   gambar lengan dari siku ke ujung tangan dibuat agak
   melengkung, pergelangan tangan dibuat ramping atau
   mengecil dan gambar telapak tangan dan jari disesuaikan
   dengan arah telapak tangan. Gambar beberapa pergerakan
   tangan dan gerakan telapak tangan dan jari dapat dilihat pada
   gambar berikut:




                                                            226
     Gambar 94. Beberapa pergerakan tangan




Gambar 84. Beberapa gerakan telapak tangan dan jari



                                                      227
c. Kaki dan telapak kaki
      Kaki merupakan bagian penopang tubuh yang terdiri atas
   paha, lutut, betis dan telapak kaki. Besar kaki tergantung pada
   perbandingan tubuh yang akan dibuat. Besar kaki ukuran
   anatomi sesungguhnya berbeda dengan anatomi untuk model
   atau ilustrasi. Secara umum ukuran kaki dapat diperkirakan
   sebagai berikut :
   1) Paha terbesar terletak pada bagian atas, ukurannya lebih
      kurang setengah lebar panggul, paha akan mengecil ke
      bawah sampai mendekati lutut.
   2) Lutut agak kecil dibanding paha
   3) Betis digambar agak melengkung dan sedikit lebih besar
      dari lutut dan akan mengecil akan mengecil pertengahan
      antara lutut dan mata kaki. Pada gambar berikut terlihat
      sketsa kaki dengan beberapa gaya berdiri dan telapak kaki
      dilihat dari beberapa arah. Menggambar telapak kaki
      disesuaikan dengan alas kaki atau sepatu yang dipakai.
      Untuk desain adakalanya menggunakan sepatu yang
      memakai hak tinggi seperti sepatu untuk pesta, untuk kerja
      dan sebagainya serta sepatu hak rendah untuk pakaian
      santai, pakaian rumah, dll.




             Gambar 96. Kaki dengan beberapa gaya berdiri



                                                              228
             Gambar 97. Kaki dengan alas kaki dari beberapa arah

6. Gerakan Tubuh pada Desain Busana
       Gerakan tubuh pada desain busana disebut juga dengan
   gesture atau movement. Gerakan tubuh ini perlu dipelajari dan
   dilatihkan karena tidak mungkin seorang desainer menuangkan
   idenya hanya pada proporsi tubuh yang menghadap kedepan saja
   karena ini bisa mengakibatkan desainnya terlihat kaku atau tidak
   menarik dan tidak dapat memperlihatkan hasil rancangan secara
   menyeluruh seperti arah samping kiri atau samping kanan,
   maupun dari arah belakang. Untuk memudahkan mempelajari
   gerak tubuh dapat diamati dari majalah mode dan foto-foto dari
   rancangan busana.
       Beberapa hal yang perlu dipahami dalam gerak tubuh adalah
   dengan memperhatikan titik tumpu tubuh apakah pada kaki kiri,
   kaki kanan atau kedua kaki. Selanjutnya perhatikan arah garis
   bahu, garis pinggang dan garis panggul, biasanya garis tersebut
   mengikuti arah garis tulang punggung sebagai action lines/gerak
   garis tubuh, lalu perhatikan arah arah gerak tangan dan
   keseimbangan tubuh secara menyeluruh.
       Ada beberapa metode yang dapat dipedomani dalam
   menggambar gaya dan gerak anatomi tubuh yaitu :
   1. Rangka benang
   2. Rangka balok
   3. Rangka elips


                                                                   229
Rangka benang dan rangka balok dapat membantu kita
memperlihatkan rancangan busana khusus menghadap kedepan,
sedangkat rangka elips untuk memperlihatkan rancangan busana
dari arah samping.
Berikut ini beberapa gerak dan gaya berdiri dengan rangka balok
dan rangka elips




Gambar 98. Teknik merobah gaya dan gerak tubuh dengan rangka balok



                                                                     230
Gambar 99. Hasil gerak dan gaya dengan teknik rangka balok



                                                             231
Gambar 100. Gerak tubuh dengan rangka elips



                                              232
H. Menggambar Bagian-bagian Busana
   Desain pakaian hendaklah digambar dengan baik sesuai dengan ide
atau gagasan yang dituangkan pada desain tersebut. Desain yang dibuat
hendaknya mudah dibaca dan dapat menjadi pedoman dalam pembuatan
suatu pakaian. Untuk itu sebuah desain busana dan bagian-bagian
busana harus digambar secara jelas seperti garis leher, bentuk atau siluet
pakaian, bentuk rok dan bentuk celana.

   1. Garis Leher (Neck Lines)
       Garis leher merupakan bagian pakaian yang terletak paling atas.
   Bentuk garis leher banyak variasinya, yang umum di pakai yaitu
   bentuk leher bulat. Selain bentuk bulat, ada juga bentuk perahu,
   bentuk hati, bentuk segitiga bentuk U, V dan lain-lain. Bentuk leher ini
   dapat divariasikan sesuai dengan yang diinginkan.
       Faktor-faktor yang penting diperhatikan dalam menggambar garis
   leher adalah menentukan garis tengah muka pakaian, garis pangkal
   leher muka dan belakang, dan batas antara bahu dan leher.
   Menggambar garis leher disesuaikan dengan arah anatomi, misalnya
   arah lurus menghadap ke depan, menyamping atau miring ¾. Arah
   berdiri ini menentukan letak garis leher yang akan digambar. Untuk
   desain yang menonjolkan garis leher hendaklah dibuat menghadap ke
   depan atau miring ¾.

   2. Kerah
      Kerah adalah bagian dari sebuah desain pakaian, yang terletak
   pada bagian atas pakaian. Dalam menggambar busana perlu
   mempertimbangkan bentuk wajah dan leher. Bentuk leher tinggi
   sebaiknya menggunakan kerah tinggi atau menutupi sebagian leher
   seperti krah kemeja, kerah mandarin dan lain-lain. Sebaliknya leher
   yang pendek/rendah, pilih kerah yang agak rebah seperti kerah
   rebah, ½ berdiri, cape/palerin, dan variasi kerah-kerah yang terletak.
      Selain berfungsi untuk memperindah, kerah juga berfungsi
   memberi kenyamanan pada pemakai seperti mempertimbangkan iklim
   pada suatu daerah. Kerah terdiri atas beberapa ukuran mulai dari
   yang kecil seperti kerah rebah sampai yang lebar seperti kerah cape.
   Kerah juga bermacam-macam bentuknya yaitu kerah yang terletak, ½
   berdiri, berdiri. Berikut ini digambarkan beberapa macam kerah.




                                                                       233
Gambar 101. Beberapa desain kerah



                                    234
3. Lengan
    Lengan adalah bagian pakaian yang menutupi puncak lengan
bahkan sampai ke ujung lengan sesuai dengan keinginan. Hal yang
perlu diperhatikan dalam menggambar lengan adalah garis batas
lingkar kerung lengan. Ini akan memudahkan dalam menggambarkan
desain lengan sesuai dengan model yang diinginkan.
Lengan ada yang modelnya suai, berkerut dan ada juga lengan setali.
Berikut dapat dilihat beberapa model lengan.




                   Gambar 102. Beberapa model desain lengan


4. Blus
   Blus merupakan bagian pakaian yang menutupi badan bagian
atas. Blus ada yang mempunyai belahan di depan dan ada juga yang
tampa belahan. Model blus setiap tahun mengalami perubahan


                                                               235
sesuai dengan perkembangan selera masyarakat yang disebut
dengan trend mode.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar blus yaitu :
a. Garis bahu dan lingkar kerung lengan
b. Blus dipakai diluar atau di dalam rok atau celana
c. Detail-detail blus seperti krah, kantong atau hiasan.
d. Model lengan secara keseluruhan
e. Siluet blus , pas atau longgar (oversize)
       Gambar detail blus dapat dilihat pada bahasan
   sebelumnya(krah, lengan, garis leher, dll) beberapa model blus
   dapat dilihat pada gambar berikut :




                      Gambar 103. Beberapa desain blus




                                                              236
5. Rok
    Rok adalah bagian pakaian yang berada pada bagian bawah
badan. Umumnya rok dibuat mulai dari pinggang sampai ke bawah
sesuai dengan model yang diinginkan. Berdasarkan ukuran rok, rok
dapat dikelompokkan atas rok mini, rok kini. rok midi, rok maksi dan
longdress. Berdasarkan desain rok, rok juga dapat dikelompokkan
atas rok suai/lurus (straight), rok kerut (gathered), rok lipit (pleated),
rok lingkaran atau setengah lingkaran (flared), rok bias (seam) dan
rok drapery. Selain model-model yang disebutkan di atas masih ada
model rok lain yang merupakan kombinasi model-model di atas yang
ditambahkan detail-detailnya seperti godet, rimpel, kantong dan lain
sebagainya. Dalam menggambar rok ini perlu diperhatikan jatuh rok
pada badan Untuk menggambarkannya butuh latihan yang banyak.




                         Gambar 104. Beberapa model rok




                                                                      237
   6. Celana
        Celana hampir sama dengan rok, tetapi celana mempunyai pipa
   yang membungkus kedua kaki. Panjang celana biasanya bervariasi
   mulai dari yang pendek (short) sampai yang panjang. Celana juga
   bisa dibuat pas pada tubuh (fit) atau longgar (oversize). Celana yang
   pas biasanya dibuat dari bahan yang elastis (stretch). biasanya
   dipakai untuk busana olah raga seperti senam atau renang, dll. Untuk
   celana yang longgar seperti pantalon pria, perlu diperhatikan detail
   celana seperti garis patahan celana, kantong dan detail lainnya.
   Selain itu juga perlu diperhatikan model celana yang diinginkan. Saat
   ini banyak bermunculan model celana dengan detil yang rumit seperti
   kantong yang banyak dan model yang unik.

I. Pewarnaan dan Penyelesaian Gambar
    Desain yang sudah dibuat dilakukan penyempurnaan yang disebut
dengan finishing.        Mewarnai merupakan salah satu teknik
penyempurnaan desain, sehingga desain terlihat lebih menarik. Dalam
mewarnai sebuah desain kita perlu memahami cara-cara mengarsir.
Mewarnai desain atau gambar dapat dilakukan dengan pensil warna atau
pensil biasa dengan kode 2B atau 3B. Selain itu desain juga dapat
diwarnai dengan cat air atau cat minyak. Tentunya mewarnai dengan cat
air atau cat minyak berbeda dengan mewarnai dengan pensil biasa.

   1. Penyelesaian dengan pensil biasa
       Mewarnai dengan pensil biasa disebut dengan teknik mengarsir.
   Dalam mengarsir kita perlu memperhatikan daerah gelap atau terang
   dari gambar atau area yang banyak terkena cahaya dengan yang
   kurang terkena cahaya. Daerah yang banyak terkena cahaya terlihat
   lebih terang dan arsirannya lebih lembut sedangkan yang kurang
   terkena cahaya akan diarsir lebih tebal. Agar diperoleh gambar
   dengan arsiran yang bagus perlu juga diperhatikan jenis pensil yang
   digunakan. Pensil untuk mengarsir berbeda dengan pensil yang
   digunakan untuk membuat sketsa. Untuk mengarsir gunakan pensil
   yang lebih lunak atau khusus untuk arsiran seperti 2B, 3B, dll.

   2. Penyelesaian dengan pensil warna
       Teknik mewarnai dengan pensil warna tidak jauh berbeda dengan
   mewarnai dengan pensil biasa. Dalam mewarnai dengan pensil
   warna, kita perlu memahami warna-warna dan kombinasi warna yang
   akan digunakan. Apabila desain pakaian dibuat dengan corak bahan
   tertentu kita juga perlu menyesuaikan motif dan warnanya dengan
   letak jatuh pakaian pada badan. Hal ini perlu dilatihkan secara
   berulang-ulang agar diperoleh sebuah desain dengan teknik
   mewarnai yang baik dan benar.




                                                                    238
   3. Penyelesaian dengan cat air dan cat minyak
       Mewarnai dengan cat minyak atau cat air butuh keterampillan
   khusus. Warna-warna yang digunakan terlebih dahulu dicampur atau
   di aduk untuk mendapat warna yang diinginkan. Dalam mewarnai
   desain kita juga perlu memperhatikan gelap terang dari desain
   busana yang diwarnai. Kertas gambar yang sudah diwarnai dengan
   cat minyak atau cat air terlebih dahulu dikeringkan agar warna tidak
   rusak.

Rangkuman :

        Berdasarkan materi yang di uraikan di atas dapat disimpulkan
bahwa desain sangat besar peranannya dalam pembuatan suatu busana.
Untuk menghasilkan desain yang baik kita terlebih dahulu perlu
memahami konsep dasar desain yang meliputi unsur-unsur desain,
prinsip-prinsip desain, bagian-bagian busana dan proporsi tubuh. Dengan
desain yang baik dan dibuat di atas proporsi tubuh yang seimbang kita
dapat menghasilkan sebuah desain yang dapat menjadi pedoman dalam
pembuatan busana mulai dari mengambil ukuran, membuat pola dasar
dan pecah pola sampai menjahit dan penyelesaian busana.
        Untuk mendesain dibutuhkan alat dan bahan menggambar. Alat
dan bahan mendesain ini dapat berupa pensil dengan bebagai jenis
ukuran, pensil warna, spidol, cat air, kuas, rol, penghapus, kertas gambar,
file atau amplop dan lain-lain. Agar desain yang dihasilkan terlihat
sempurna perlu dilakukan teknik pewarnaan dan teknik penyelesaian
yang tepat. Teknik penyelesaian gambar dapat dilakukan dengan pensil
biasa, pensil warna, spidol dan cat air. Agar hasilnya bagus perlu juga di
pahami teknik penyelesaian gambar. Supaya terampil dalam mendesain
dibutuhkan latihan secara kontinue dan terus belajar.

    Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah siswa dapat
    mengetahui, memahami dan mengaplikasikan materi ini yang
    meliputi :
    1. Konsep dasar desain (unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain,
       bagian-bagian busana dan proporsi tubuh atau desain anatomi
       tubuh)
    2. Alat dan bahan menggambar
    3. Teknik pewarnaan dan penyelesaian gambar




                                                                       239
Evaluasi :

Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas.

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan desain busana !
2. Sebutkanlah unsur-unsur desain busana dan jelaskan masing-
   masingnya !
3. Jelaskan apa saja yang termasuk prinsip-prinsip desain busana !
4. Untuk mendesain ada beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan.
   Jelaskanlah alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mendesain !
5. Buatlah anatomi tubuh wanita dengan perbandingan 8 ½ x tinggi
   kepala !
6. Jelaskanlah beberapa teknik penyelesaian gambar atau desain !




                         *** Selamat Belajar ***




                                                                    240
                                BAB VII
                MEMBUAT POLA BUSANA
A. Pengertian P0la Busana
     Pola sangat penting artinya dalam membuat busana. Baik tidaknya
busana yang dikenakan dibadan seseorang (kup) sangat dipengaruhi
oleh kebenaran pola itu sendiri. Tanpa pola, memang suatu pakaian
dapat dibuat, tetapi hasilnya tidaklah sebagus yang diharapkan. Dapat
pula diartikan bahwa pola-pola pakaian yang berkualitas akan
menghasilkan busana yang enak dipakai, indah dipandang dan bernilai
tinggi, sehingga akan tercipta suatu kepuasan bagi sipemakai.
     Kualitas pola pakaian akan ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya
adalah: 1). Ketepatan dalam mengambil ukuran tubuh sipemakai, hal ini
mesti didukug oleh kecermatan dan ketelitian dalam menentukan posisi
titik dan garis tubuh serta menganalisa posisi titik dan garis tubuh
sipemakai; 2) kemampuan dalam menentukan kebenaran garis-garis
pola, seperti garis lingkar kerung lengan, garis lekuk leher, bahu, sisi
badan, sisi rok, bentuk lengan, kerah dan lain sebagainya, untuk
mendapatkan garis pola yang luwes mesti memiliki sikap cermat dan teliti
dalam melakukan pengecekan ukuran; 3) Ketepatan memilih kertas untuk
pola, seperti kertas dorslag, kertas karton manila atau kertas koran; 4)
kemampuan dan ketelitian memberi tanda dan keterangan setiap bagian-
bagian pola, misalnya tanda pola bagian muka dan belakang, tanda arah
benang/serat kain, tanda kerutan atau lipit, tanda kampuh dan tiras, tanda
kelim dan lain sebagainya; 5) kemampuan dan ketelitian dalam
menyimpan dan mengarsipkan pola. Agar pola tahan lama sebaiknya
disimpan pada tempat-tempat khusus seperti rak dan dalam kantong-
kantong plastik, diarsipkan dengan memberi nomor, nama dan tanggal
serta dilengkapi dengan buku katalog.
      Dengan adanya pola yang sesuai dengan ukuran, kita dengan mudah
dapat membuat busana yang dikehendaki. Menurut Porrie Muliawan
(1990:2) pengertian pola dalam bidang jahit menjahit maksudnya adalah
potongan kain atau kertas yang dipakai sebagai contoh untuk membuat
pakaian. Selanjutnya Tamimi (1982:133) mengemukakan pola
merupakan ciplakan bentuk badan yang biasa dibuat dari kertas, yang
nanti dipakai sebagai contoh untuk menggunting pakaian seseorang,
ciplakan bentuk badan ini disebut pola dasar. Tanpa pola pembuatan
busana tidak akan terujut dengan baik, maka dari itu jelaslah bahwa pola
memegang peranan penting di dalam membuat busana.
     Bagaimanapun baiknya desain pakaian, jika dibuat berdasarkan pola
yang tidak benar dan garis-garis pola yang tidak luwes seperti lekukan
kerung lengan, lingkar leher, maka busana tersebut tidak akan enak
dipakai. Pendapat ini didukung oleh Sri Rudiati Sunato (1993:6) fungsi
pola ini sangat penting bagi seseorang yang ingin membuat busana
dengan bentuk serasi mengikuti lekuk-lekuk tubuh, serta membuat


                                                                      241
potongan-potongan lain dengan bermacam-macam model yang
dikehendaki. Maka dari itu jelaslah bahwa di dalam membuat busana
sangat diperlukan suatu pola, karena dengan adanya pola, akan dapat
mempermudah para pencinta busana untuk mempraktekkan kegiatan
jahit menjahit secara tepat dan benar. Sebaliknya jika dalam membuat
busana tidak menggunakan pola, hasilnya akan mengecewakan. Hal ini
didukung oleh pendapat Porrie Muliawan (1985:1) tanpa pola, pembuatan
busana dapat dilaksanakan tetapi kup dari busana tersebut tidak akan
memperlihatkan bentuk feminim dari seseorang.
    Dengan demikian pola busana merupakan suatu sistem dalam
membuat busana. Sebagai suatu sistem tentu pola busana juga terkait
dengan sistem lainnya. Jika pola busana digambar dengan benar
berdasarkan ukuran badan seseorang yang diukur secara cermat, maka
busana tersebut mestinya sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Begitu
pula sebaliknya, jika ukuran yang diambil tidak tepat, menggambar pola
juga tidak benar, maka hasil yang didapatkan akan mengecewakan.
Dengan demikian untuk mendapatkan busana yang baik dan sesuai
dengan desain, maka setiap sub sistem di atas haruslah mendapat
perhatian yang sangat penting dan serius.
    Ada beberapa macam pola yang dapat digunakan dalam membuat
busana, diantaranya ialah pola konstruksi dan pola standar. Masing-
masing pola ini digambar dengan cara yang berbeda, memiliki kelebihan
dan kekurangan masing-masing, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu
persatu:

   1. Pola Konstruksi
       Pola konstruksi adalah pola dasar yang dibuat berdasarkan
   ukuran badan sipemakai, dan digambar dengan perhitungan secara
   matematika sesuai dengan sistem pola konstruksi masing-masing.
   Pembuatan pola konstruksi lebih rumit dari pada pola standar
   disamping itu juga memerlukan waktu yang lebih lama, tetapi hasilnya
   lebih baik dan sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Ada beberapa
   macam pola konstruksi antara lain : pola sistem Dressmaking, pola
   sistem So-en , pola sistem Charmant, pola sistem Aldrich, pola sistem
   Meyneke dan lain-lain sebagainya.

   2. Pola standar
       Pola standar adalah pola yang dibuat berdasarkan daftar ukuran
   umum atau ukuran yang telah distandarkan, seperti ukuran Small (S),
   Medium (M), Large (L), dan Extra Large (XL). Pola standar di dalam
   pemakaiannya kadang diperlukan penyesuaian menurut ukuran
   sipemakai. Jika sipemakai bertubuh gemuk atau kurus, harus
   menyesuaikan besar pola, jika sipemakai tinggi atau pendek
   diperlukan penyesuaian panjang pola.
       Menyesuaikan pola standar tidak dapat dilakukan dengan hanya
   mengecilkan pada sisi badan atau pada sisi rok, atau menggunting


                                                                    242
     pada bagian bawah pola, pada pinggang atau bagian bawah rok,
     karena hal tersebut akan membuat bentuk pola tidak seimbang atau
     akan menyebabkan bentuk pola tidak sesuai dengan proporsinya
     masing-masing.
         Cara yang paling mudah dan cepat untuk menyesuaikan pola
     standar, adalah dengan cara mengetahui ukuran badan sendiri dan
     memilih pola standar yang ukurannya hampir mendekati dengan
     ukuran badan dengan mempedomani ukuran lingkar badan, kemudian
     membuat daftar ukuran badan seseorang dan ukuran pola standar
     dalam bentuk tabel. Daftar ukuran tersebut ialah sejumlah ukuran
     yang diambil dari badan seseorang (ukuran sebenarnya). Bagi
     seseorang yang baru belajar menyesuaikan pola standar, cukup
     menggunakan ukuran yang penting, misalnya ukuran lingkar badan,
     lingkar pinggang, panjang muka dan panjang punggung.
         Disamping hal di atas seseorang yang ingin menyesuaikan pola
     standar dengan ukurannya, mesti dapat memilih pola yang ukurannya
     mendekati dengan ukuran badannya. Untuk memudahkan pekerjaan
     penyesuaian pola standar, berikut dapat dilihat pola standar dengan
     ukuran S,M dan L baik pola badan, pola lengan dan pola rok dengan
     ukuran sbb;

                                    Tabel 2.
                               Ukuran Pola Standar

No    ukuran    Lingkar    Lingkar    Lebar    Lebar     Pjg    Ling   Pjg
                badan      ping       muka     pung      pung   pang   lengan
1      Large       94         70        34          35    38    100      28
2     Medium       90         68        33          34    37     94      26
3      Small       86         66        32          33    36     90      24

        a. Pola Lengan




                        Gambar 105.   Pola lengan



                                                                         243
b. Pola Badan




              Gambar 106.   Pola standar badan

c. Pola rok




                Gambar 107. Pola standar rok



                                                 244
                                 Tabel 3.
                          Penyesuaian pola standar

N0        Nama Ukuran            Ukuran        Ukuran      Selisih
                                Sipemakai        pola
                                               standar
1     Lingkar badan                 92            90   +2:4 = + 1/2 cm
2     Lingkar pinggang              70               72   2:4 = - 1/2 cm
3     Lebar muka                   33,5              33   +½ :2=+¼ cm
4     Panjang punggung             37,5              37   + ½ cm
5     Panjang Muka                  44               43   + 1 cm
6     Lebar punggung                35               34   + 1:2= + ½ cm
7     Lingkar Panggul               98               94   +4:4=+1 cm
8     Ling Ker Lengan               44               42   + 2 cm

          Di dalam menyesuaikan pola standar, selisih yang terdapat pada
    ukuran lingkaran dibagi empat, hal ini disebakan karena pola badan
    atau pola rok umumnya dibuat setengah dari badan bagian muka dan
    setengah dari badan belakang, atau sama dengan seperempat dari
    ukuran lingkaran dan jumlah sisi yang ditambah atau dikurangi ada
    empat, oleh sebab itu untuk ukuran melingkar selisih ukuran dibagi
    empat.
          Untuk ukuran lebar selisih dibagi dua, sebab pada pola ukuran
    melebar dipakai setengahnya., misalnya : lebar muka dan lebar
    punggung. Untuk ukuran panjang, selisih ukuran tidak dibagi, sebab
    pola dibuat dengan ukuran penuh sepanjang ukuran yang diambil,
    misalnya ukuran panjang punggung, panjang lengan dan panjang rok,
    dengan demikian untuk ukuran panjang ditambah atau dikurangi
    sebanyak selisih.
          Daftar ukuran di atas perlu diperhatikan dalam menyesuaikan pola
    standar agar mudah mengetahui pada lajur selisih, apakah ukuran
    pola ditambah atau dikurangi dengan melihat tanda plus atau minus.
    Berapa cm ditambah atau dikurangi perlu diperhitungkan betul,
    dengan pengertian bahwa untuk ukuran melingkar selisih dibagi
    empat, untuk ukuran melebar selisih dibagi dua dan untuk ukuran
    panjang selisih tidak dibagi. Berikut ini dapat dilihat beberapa contoh
    cara menyesuaikan pola standar. Didalam menyesuaikan pola
    standar perhatikan tanda pada kolom selisih. Pada pola yang
    disesuaikan tanda plus / membesarkan pola di arsir dengan tanda
    ///////////, sedangkan tanda minus / mengecilkan di tandai dengan
    xxxxxxx.



                                                                       245
1) Cara menambah ukuran lingkar badan

Muka                                                 Belakang




   Gambar 108. Lingkar badan pola muka dan pola belakang yang telah dibesarkan

2) Cara mengurangi ukuran lingkar pinggang

           Muka                                        Belakang




   Gambar 109. Lingkar pinggang pola muka dan pola belakang yang telah
               dikecilkan




                                                                          246
3) Cara menambah ukuran lebar muka dan lebar punggung

     Lebar Muka                                     Lebar Punggung




   Gambar 110. Lebar muka dan lebar punggung yang telah dibesarkan.

4) Cara menambah ukuran lingkar panggul




   Gambar 111. Lingkar panggul pola rok muka dan belakang yang telah
                  dibesarkan




                                                                      247
   5) Cara menambah ukuran panjang muka dan panjang punggung




     Gambar 112. Panjang muka dan panjang punggung yang telah ditambah

   6) Cara membesarkan lingkar kerung lengan




             Gambar 113. Lingkar Kerung lengan yang telah ditambah



B. Konsep Dasar Membuat Pola Busana
   Pekerjaan menggambar pola busana memerlukan peralatan tertentu,
spesifikasi dan berkualitas. Alat yang diperlukan untuk menggambar pola
busana banyak jenisnya antara lain.



                                                                         248
1. Pita ukuran (cm)
     Pita ukuran (cm), digunakan untuk mengambil ukuran badan
seseorang yang akan membuat busana atau ukuran model,
disamping itu pita ukuran juga dipakai untuk menggambar pola
pakaian dan juga digunakan pada waktu penyesuaian pola. Pita
ukuran (cm) ada beberapa macam yakni ada yang menggunakan
ukuran centimeter dan ada yang ukuran inchi bahkan ada yang
menggunakan kedua ukuran tersebut. Pita ukuran (cm) yang baik
terbuat dari serbuk kaca atau terbuat dari bahan yang lemas seperti
plastik, tepinya tidak bertiras, tidak boleh meregang, garis-garis dan
angka kedua permukaan memiliki ukuran yang dicetak dengan jelas,
dan letak garis ukuran tepat pada tepi pita ukuran.




                      Gambar 114. Pita ukuran
2. Penggaris
     Untuk menggambar pola busana diperlukan            penggaris/rol
dressmaker dengan bentuk yang berbeda-beda. Penggaris lurus,
digunakan untuk membuat garis lurus. Penggaris lengkung digunakan
untuk membuat garis-garis melengkung seperti garis lingkar leher,
lingkar kerung lengan, krah dan garis sisi rok. Sedangkan penggaris
segi tiga siku-siku digunakan untuk membentuk garis sudut, seperti
garis badan dan tengah muka, garis badan dan tengah belakang
serta garis lebar muka dan garis lebar punggung.




                     Gambar 115. Rol dressmaker



                                                                  249
3. Kertas Pola (buku pola atau buku kostum)
     Kertas pola (buku pola atau buku kostum) merupakan tempat
menggambar pola. Kertas pola merupakan alat penting untuk
menggambar pola. Kertas yang biasa digunakan untuk menggambar
pola dengan ukuran centimeter adalah kertas dorslag, kertas karton
manila atau kertas koran. Buku pola digunakan untuk menggambar
pola busana dengan ukuran skala. Buku pola yang baik berukuran
folio kertasnya bewarna putih, tebal dan halaman terdiri dari kertas
bergaris dan kertas polos dengan letak yang berselang-seling.
Lembar halaman bergaris diperlukan untuk mencatat ukuran dan
mencatat keterangan pola yang dibuat. Lembaran halaman tidak
bergaris (polos) digunakan untuk menggambar pola dengan ukuran
skala.

4. Skala
     Skala atau ukuran perbandingan, adalah alat ukur yang
digunakan untuk menggambar pola di buku pola. Skala ada beberapa
macam yakni ada yang menggunakan ukuran satu berbanding dua,
satu berbanding empat, satu berbanding enam dan satu berbanding
delapan. Skala yang baik terbuat dari kertas yang agak tebal seperti
kertas karton dan berbentuk segi panjang, dan letak garis ukuran
tepat pada tepi skala. Tepinya tidak bertiras, kedua permukaan
memiliki ukuran skala yang berbeda salah satu diantaranya ukuran
skala satu berbanding empat, karena skala ukuran ini sering
digunakan didalam menggambar pola busana.

5. Pensil dan bool point
     Pensil digunakan untuk menggambar pola di buku pola atau di
kertas pola. Pensil yang baik digunakan untuk menggambar pola ada
beberapa macam yakni pensil terbuat dari graphite, pensil ini bagus
digunakan dan mempunyai ukuran yang berbeda. Untuk yang agak
keras dengan kode H / HB pensil ini tulisannya jelas dan mudah
dihapus jika terjadi kesalahan. Pensil ini digunakan untuk
menggambar garis-garis pola, setelah polanya selesai dibuat, garis
dengan pensil ini dipertajam dengan pensil bewarna. Pensil bewarna
merah untuk garis pola bagian muka dan pensil bewarna biru untuk
garis pola bagian belakang. Garis bantu pola di pertajam dengan
bollpoin warna hitam.

6. Penghapus (Eraser)
    Penghapus perlu disediakan sewaktu menggambar pola,
penghapus digunakan untuk membersihkan goresan pola yang salah.
Penghapus yang baik adalah yang bewarna hitam terbuat dari karet
yang lemas, dengan menggunakan penghabus ini goresan-goresan
yang salah akan menjadi hilang dan tidak meninggalkan bekas
sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.


                                                                250
   7. Jarum
        Jarum pentul yang baik terbuat dari baja dan berukuran panjang
   3 s.d 4 cm. Bentuk jarum pentul / jarum penyemat yang dipergunakan
   pada pembuatan pola adalah jarum pentul yang baik yaitu ujungnya
   runcing dan terdapat pegangan mutiara dipangkalnya, sehingga
   mudah dalam menggunakannya.

C. Membuat Pola Busana Dengan Teknik Drapping
    Menggambar pola dasar dengan teknik drapping adalah membuat
pola sesuai dengan ukuran dan bentuk badan seorang model. Untuk
mempermudah prosedur pembutan pola, model dapat diganti dengan
dressform atau boneka jahit yang ukurannya sama atau mendekati
ukuran model. Sebelum membuat pola dengan teknik drapping, terlebih
dahulu dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti :
1. Dressform / boneka jahit
2. Pita ukur / centimeter
3. Jarum pentul
4. Jarum tangan
5. Penggaris
6. Pensil dan kapur jahit
7. Gunting kain
8. Karbon jahit dan rader
9. Tali kord
10. Blaco / bahan dasar yang dipakai untuk mendrapping.

    Didalam membuat pola perlu diperhatikan kesehatan dan
keselamatan dalam bekerja. Duduklah ketika mengerjakan drapping
untuk bagian yang terjangkau, jika mengerjakan drapping pada bagian
yang tinggi lakukan dengan posisi berdiri.
    Perhitungkan kebutuhan bahan blaco yang dibutuhkan secara teliti,
dengan menghitung secara matematik sederhana, yaitu dengan
menggunakan panjang dan lingkaran dressform dan ditambah kampuh.
Sediakan kotak khusus untuk tempat alat dan bahan yang diperlukan.
Sematan ujung jarum pentul harus terpasang dengan baik atau
dimasukkan ke dalam. Sediakan keranjang sampah untuk membuang
sisa-sisa bahan yang tidak terpakai.
    Tali kord dipasangkan pada dressform/boneka jahit sebagai garis-
garis pola. Pemasangan tali kord pada dressform/boneka jahit dibantu
dengan jarum pentul. Garis-garis pola ditentukan dengan menggunakan
garis vertikal, garis horizontal dan garis melingkar. Garis vertikal (garis
tegak) untuk garis tengah muka/panjang muka, garis tengah
belakang/panjang punggung, garis sisi / panjang sisi dan panjang rok.
Garis horizontal (garis mendatar) untuk garis bahu, garis dada, garis
lebar punggung dan garis lebar muka. Garis melingkar, untuk garis lingkar
leher, lingkar badan, lingkar pinggang dan lingkar panggul.



                                                                       251
            Gambar 116. Garis-garis pola pada dressform/boneka jahit.

    1. Membuat Pola Badan Atas.
          Ada tiga macam arah serat kain yang digunakan dalam
    pembuatan pola dengan teknik drapping. 1) Arah serat memanjang
    (Length Wise grain), arah serat memanjang selalu sejajar dengan tepi
    kain; 2) Arah serat melabar (Cross Wise Grain), arah serat melebar
    selalu tegak lurus dengan arah serat memanjang; 3) Arah serat
    serong (true Bias), untuk membuat arah serat serong dengan mudah
    lipit arah serat dengan sudut 45 derajat. Masing-masing arah serat
    seperti gambar berikut

.




                                Gambar 117. Arah serat




                                                                        252
a. Pola Bagian Muka (dibuat keterangan satu persatu)
     Sebelum membuat pola badan atas, siapkan bahan blaco,
buat garis tengah muka dari tepi kain 4 s.d 5 cm. Lipatkan agar
lebih tebal sehingga tidak mudah bertiras. Buat garis dada , tegak
lurus dengan tengah muka. Terlebih dahulu ukur dressform
dengan centimeter, panjang dari bahu ke dada ditambah 7 cm.
Sehingga terbentuk gambar sebagai berikut.




                       Gambar 118. Bahan blaco

    Letakkan garis tengah muka blaco pada tengah muka
dressform / boneka jahit, semat dengan rata sepanjang tengah
muka, dengan arah sematan jarum pentul mendatar, ujung jarum
dimasukkan kebadan boneka. Tarik garis blaco dada ke sisi,
semat pada batas garis sisi pola.




           Gambar 119. Blaco pada posisi tengah muka



                                                              253
       Tarik blaco bagian sisi tegak lurus pada bagian pinggang,
ratakan lalu disemat. Selisih antara dada dan pinggang dijadikan
lipit kup. Letak lipit kup 1/10 lingkar pinggang ditambah 1 cm
diukur dari tengah muka, arah lipit kup / ujung lipit kup berpusat
pada titik dada.




         Gambar 120. Membentuk lipit kup pada pinggang

     Buat guntingan-guntingan kecil di sekeliling lingkar pinggang,
kain belaco diratakan membentuk pinggang dan semat pada garis
pinggang menggunakan jarum pentul degan rapi. Ratakan kain
belaco pada bagian atas pinggang, dengan membentuk lipit kup
pada garis bahu, letak lipit kup setengah dari ukuran panjang bahu
dikurang satu cm diukur dari leher dari garis bahu tertinggi.
     Arah lipit kup atau ujung lipit kup berpusat pada titik dada,
semat dengan jarum pentul pada garis badan terbesar dimulai dari
tengah muka terus kebatas garis lingkar kerung lengan. Ratakan
bagian leher dan buat guntingan-guntingan kecil sekeliling leher,
lalu disemat pada garis leher mulai dari bahu tertinggi sampai
batas lekuk leher. Sehingga terbentuk garis leher, garis pinggang
dan garis bahu, sesuai dengan bentuk masing-masing.




                                                               254
       Gambar 121. Blaco pada posisi garis bahu dan leher

      Rapikan bagian kerung lengan, buat guntingan-guntingan
kecil. Beri kampuh pada garis leher 1 cm, pada garis bahu,
bagian sisi dan kerung lengan masing-masing 2 cm. Bagian kelim
3 s.d 4 cm.




                Gambar 122. Memberi kampuh



                                                            255
b. Pola Bagian Belakang
     Membuat pola badan bagian belakang sama dengan pola
bagian muka. Siapkan bahan blaco, buat garis tengah belakang
dari tepi kain selebar 4 cm lipatkan agar lebih kuat dan tidak
berobah bentuk




         Gambar 123.Blaco pada posisi tengah belakang

     Letakkan garis tengah belakang blaco pada garis tengah
belakang dan garis lebar punggung dressform / boneka jahit,
ratakan dan semat. Ratakan garis pinggang ke sisi, semat pada
batas garis pola.




   Gambar 124. Membentuk garis punggung dan lebar punggung




                                                             256
     Tarik blaco bagian sisi ke pinggang, ratakan dan semat.
Selisih antara punggung dan pinggang dibuat lipit kup, letak lipit
kup 1/10 lingkar pinggang dikurang 1 cm, diukur dari tengah
belakang, arah lipit kup tegak lurus dengan garis pinggang.




          Gambar 125. Membentuk lipit kup pada pinggang

      Buat guntingan-guntingan kecil di sekitar pinggang, ratakan
dan semat. Ratakan bagian atas, semat pada garis pinggang dan
bahu. Jika ada kelebihan / selisih buat lipit kup. Letak lipit kup
segaris dengan lipit kup bahu badan muka dan segaris dengan
lipit kup pinggang badan belakang. Ratakan bagian leher, buat
guntingan- guntingan kecil.




Gambar 126. Blaco pada posisi garis bahu dan leher



                                                              257
        Rapikan bagian kerung lengan, buat guntingan - guntingan
  kecil. Gunting bagian tepi pola, beri kampuh, bagian sisi, kerung
  lengan, bahu masing-masing 2 cm, bagian leher 1 cm, bagian
  kelim 3 s.d 4 cm. Pindahkan garis-garis pola pada bahan blaco,
  tandai bagian lipit kup, sisi dan bahu.

2. Membuat Pola Badan Bagian Bawah / Rok
  a. Pola Bagian Muka
        Sebelum membuat pola badan bagian bawah / pola rok
  siapkan bahan blaco, buat garis tengah muka dari tepi kain 4 s.d 5
  cm, lipatkan agar tengah belakang jadi tebal. Sebelumnya
  dressform diukur dari pinggang sampai panjang rok.
        Letakkan garis tengah muka blaco pada tengah muka
  dressform / boneka jahit dari pinggang ke bawah, ratakan dan
  semat. Letakkan garis panggul blaco pada garis panggul boneka
  jahit, ratakan, semat pada garis panggul.




         Gambar 127. Posisi blaco pada pinggang dan panggul

        Tarik tegak lurus bahan blaco bagian panggul ke atas sampai
  garis pinggang, ratakan sisi panggul, semat pada garis pinggang.
  Selisih garis panggul dan pinggang di buat lipit kup.
        Letak lipit kup 1/10 lingkar pinggang ditambah 1 cm dari
  tengah muka. Lipit kup miring ke arah garis panggul. Ratakan
  bagian pinggang. Buat guntingan-guntingan kecil sekitar
  pinggang, untuk memberi bentuk yang bagus pada pinggang.
  Rapikan bagian sisi dan bawah rok. Tambahkan kampuh untuk
  sisi rok dan pinggang selebar 2 cm. Tambahkan kelim pada
  bagian bawah rok 3 s.d 4 cm. Pindahkan garis-garis pola boneka,
  jahit pada blaco, tandai bagian lipit kup.


                                                                258
              Gambar 128. Membuat lipit kup dan sisi rok

   b. Pola Bagian Belakang.
        Letakkan garis tengah belakang blaco pada tengah belakang
   dressform / boneka jahit. Letakkan garis panggul blaco pada garis
   panggul boneka jahit. Ratakan dari tengah muka pinggang sampai
   panjang rok dan di semat. Ratakan garis panggul ke samping pas
   garis pola, semat. Tarik tegak lurus bahan blaco garis panggul ke
   pinggang, ratakan, semat. Selisih garis panggul dari pinggang,
   dibuat lipit kup, letak lipit kup 1/10 lingkar pnggng dikurang 1 cm
   dari tengah belakang, lipit kup mengarah ke garis panggul.
   Ratakan bagian pinggang.
            Buat guntingan-guntingan kecil pada garis pinggang untuk
   memberi bentuk yang bagus pada pinggang. Rapikan bagian sisi
   dan bawah rok. Tambahkan kampuh pada bagian sisi dan
   pinggang masing-masing 2 cm, tambahkan kelim 3 s.d 4 cm pada
   bagian bawah rok. Pindahkan / tandai garis-garis pola boneka jahit
   pada bahan blaco, dengan pensil lunak, posisi garis tengah
   belakang dari blus / badan, rok, dan kerah, posisi garis bahu,
   posisi kampuh sisi, semua lipatan, kelim, lipatan lipit kup. Posisi
   garis dada, posisi garis punggung, poisi leher, posisi garis
   pinggang, posisi garis panggul, pola bagian muka ditandai dengan
   satu titik, pola bagian belakang ditandai dengan dua titik.

D. Membuat    Pola              Busana            Dengan    Teknik
   Konstruksi
    Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi yang baik
mempunyai lipit kup untuk ruang bentuk buah dada. Bentuk lipit kup
ada yang dipinggang, dibahu, disisi, dan ada pula yang terletak
dipinggang dan disisi. Pola konstruksi untuk wanita banyak


                                                                  259
macamnya, (sudah dijelaskan pada BAB terdahulu) tetapi semua
jenis sistem pola konstruksi memiliki lipit kup.
    Untuk menggambar pola sesuai dengan masing-masing sistem
pola konstruksi di perlukan ukuran tubuh sipemakai yang diambil
yang diukur dengan cermat menurut cara mengambil ukuran masing-
masing. Ukuran tersebut disesuaikan dengan masing-masing sistem
pola konstruksi yang akan digambar, walaupun demikian ukuran yang
diperlukan dalam menggambar pola konstruksi secara umum adalah
sbb:
a. Lingkar Badan (L.B)
b. Lingkar Pinggang (L.Pi)
c. Lingkar Panggul (L.Pa)
d. Lingkar Leher (L.L)
e. Panjang Punggung ( P.Pu)
f. Lebar Punggung (L.Pu)
g. Panjang Muka (P.M)
h. Lebar Muka (L.M)
i. Panjang Bahu P. B)
j. Panjang Sisi (P. S)
k. Panjang rok (P.Rok)
l. Panjang Lengan (P.L)
m. Tinggi Dada (T.D)
n. Tinggi Panggul (T.Pa)
    Berdasarkan jenis ukuran tersebut di atas dapat digambar pola
menurut sistem pola konstruksi yang diinginkan. Jenis ukuran yang
diperlukan, serta cara menggambar pola untuk setiap sistem
konstruksi berbeda-beda. Cara menggambar pola sistem
Dressmaking dimulai dari pola bagian belakang sedangkan pola
sistem So-en dimulai dari pola bagian muka.          Untuk sistem
Dressmaking jumlah ukuran yang diperlukan lebih banyak di
bandingkan dengan ukuran yang digunakan untuk menggambar pola
sistem So-en.
    Di dalam menggambar pola untuk kedua sistem pola konstruksi ini
sama-sama menggunakan perhitungan secara matematika.
Menggambar pola sistem Dressmaking perhitungan matematiknya
sangat sederhana, karena jumlah ukurannya banyak/ukuran yang
diperlukan dalam menggambar pola telah ada, ketika menggambar
bagian pola cukup dengan cara memindahkan ukuran yang telah ada
tersebut, sebagai contoh ukuran panjang bahu pada pola diambil
ukuran panjang bahu yang telah ada, lebar muka dan lebar punggung
jika kita memerlukannya ketika menggambar pola tinggal melihat
ukuran yang telah ada lalu dipindahkan ke pola sesuai dengan
tempatnya masing-masing.
    Tetapi untuk menggambar pola sistem So-en perhitungan
matematikanya lebih rumit dibandingkan denga sistem dressmaking,
karena ukurannya sedikit. Untuk menentukan garis lebar punggung, di


                                                               260
dapatkan dari ukuran lingkar badan dibagi enam ditambah 4,5
centimeter. Untuk mendapatkan garis lingkar leher, didapatkan dari
ukuran lingkar badan dibagi dua puluh. Untuk mendapatkan ukuran
panjang bahu, lebar muka, dicari dari ukuran lingkar badan, lingkar
pinggang dan ukuran panjang punggung yang di perhitungkan secara
matematika.
    Untuk lebih jelasnya berikut ini dapat dilihat cara menggambar
pola konstruksi sistem Dressmaking dan sistem So-en untuk wanita
dewasa berdasarkan jumlah ukuran masing-masing dan berdasarkan
perhitungan matematika yang telah ditentukan.
    Disamping menggambar pola untuk wanita dewasa, pada bab ini
juga dijelaskan bagaimana mengambil ukuran untuk pria dan anak-
anak, apa saja ukuran yang diperlukan untuk pria dan anak-anak,
serta bagaimana cara menggambar pola untuk pria dan anak-anak.
Berikut ini dapat dilihat ukuran yang dibutuhkan, bagaimana cara
mengambil ukuran, dan bagaimana cara menggambar pola untuk pria
dan untuk anak-anak.

1. Pola dasar wanita dewasa
   a. Sistem Dressmaking
      1). Ukuran yang diperlukan dan cara mengambil ukuran




            Gambar 129. Cara mengambil ukuran sistem Dressmaking


                                                                   261
Keterangan gambar :
a) Lingkar leher : diukur sekeliling leher tidak terlalu ketat dan
   tidak terlalu longgar
b) Lebar muka: diukur 6 atau 7 cm dari lekuk leher ke bawah,
   kemudian diukur datar dari batas lingkar kerung lengan kiri
   sampai batas lingkar kerung lengan kanan
c) Lingkar badan: diukur sekeliling badan terbesar dengan
   posisi cm tidak terlalu kencang dan ditambah 4 cm.
d) Tinggi dada : diukur dari lekuk leher tengah muka sampai
   batas diantara dua titik payudara kiri dan kanan.
e) Lingkar pinggang: diukur pas sekeliling pinggang
f) Lingkar panggul ; diukur melingkar pada pinggul yang
   paling tebal secara horizontal dengan tidak terlalu ketat
g) Tinggi panggul : diukur dari pinggang sampai batas
   panggul terbesar pada bagian belakang
h) Lebar punggung : diukur 9 cm ke bawah dari tulang leher
   belakang kemudian diukur mendatar dari batas lingkar
   kerung lengan kiri ke lingkar kerung lengan kanan
i) Panjang punggung : diukur dari tulang belakang lurus
   sampai batas pinggang
j) Panjang rok : diukur dari pinggang sampai panjang rok
   yang diinginkan
k) Panjang bahu : diukur dari batas lingkar leher sampai
   batas bahu terendah
l) Panjang lengan : diukur dari bahu terendah sampai
   panjang yang diinginkan
m) Tinggi puncak lengan :diukur dari bahu terendah sampai
   batas lengan terbesar/otot lengan atau sama dengan
   panjang bahu

2). Ukuran yang dibutuhkan untuk pola sistem Dressmaking
    a) Lingkar leher                   : 38 cm
    b) Lebar muka                      : 33 cm
    c) Lingkar badan                   : 88 cm
    d) Tinggi dada                     : 15 cm
    e) Lingkar pinggang                : 66 cm
    f) Lingkar panggul                 : 96 cm
    g) Tinggi panggul                  : 16 cm
    h) Lebar punggung                  : 34 cm
    i) Panjang punggung                : 37 cm
    j) Panjang rok                     : 50 cm
    k) Panjang bahu                    : 12 cm
    l) Panjang lengan                  : 24 cm
    m) Tinggi puncak lengan            : 12 cm




                                                              262
   3). Cara menggambar pola dasar sistem Dressmaking (skala
       1:6)
       a). Pola Dasar Badan




                Gambar 130. Pola dasar badan

Keterangan Pola
   Menggambar pola sistem Dressmaking dimulai dari pola
belakang, tetapi sebelumnya ditentukan pedomam umumnya yaitu
ukuran ½ lingkar badan yang dimulai dengan sebuah titik.
A - B = ½ ukuran lingkar badan.
A - C = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
B - B1 = 1,5 cm.
B1 - D = ukuran panjang punggung, buat garis horizontal ketitik E.
B - B2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm.
Hubungkan titik B1 dengan B2 seperti gambar (leher belakang).
C - C1 = 5cm, hubungkan ke titik B2 dengan garis putus-putus
(garis bantu).
B2 dipindahkan ukuran panjang bahu melalui garis bantu diberi
nama titik B3
B3 - B4 = 1 cm, samakan ukuran B2 ke B4 dan dihubungkan
dengan garis tegas.
B1 - G = ½ panjang punggung ditambah 1 cm, buat garis
horizontal kekiri dan beri nama titik H.
B1 - G1 = 9 cm.
G1 - F1 = ½ lebar punggung (buat garis batas lebar punggung).
Bentuk garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari titik B4
menuju F1 terus ke F seperti gambar.


                                                              263
D - D1 = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm (besar lipit
kup) dikurang 1 cm.
D - D2 = 1/10 lingkar pinggang.
D2 - D3 = 3 cm (besar lipit kup).
Dari D2 dan D3 dibagi 2, dibuat garis putus-putus sampai kegaris
badan (G dan H) diukur 3 cm kebawah, dihubungkan dengan titik
D2 dan D3 menjadi lipit kup.
D - D1 = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm.
D1 dihubungkan dengan F, menjadi garis sisi badan bagian
belakang.

Keterangan pola bagian muka
A - A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm.
A - A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 cm.
Hubungkan titik A1 dengan A2 seperti gambar (garis leher pola
muka).
A1 - C2 = ukuran panjang bahu.
A2 - A3 = 5 cm.
A3 - F2 = ½ lebar muka.
Hubungka titik C2 ke F2 terus ke F seperti gambar (lingkar kerung
lengan bagian muka).
E - E1 = 2 cm (sama besarnya dengan ukuran kup sisi).
E1 - E4 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm (3 cm besar lipit kup
dan 1 cm untuk membedakan pola muka dengan belakang).
E1 - E2 = 1/10 lingkar pinggang.
E2 - E3 = 3 cm (besar lipit kup).
E2 dan E3 dibagi dua dibuat garis putus-putus sampai kegaris
tengah bahu.
A2 - J = ukuran tinggi dada.
Dari J dibuat garis sampai ke J1.
J1 - J2 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan titik E2 dan E3
membentuk lipit kup.
F - I = 9 cm, lalu dihubungkan dengan garis putus-putus ke titik J1.
J1 - K = 2 cm.
Dari I ke I1 dan I2 diukur masing-masing 1 cm, lalu hubungkan
dengan titik K.
I1 - K = I2 - K, yang dijadikan patokan panjang adalah ukuran I1
ke K.
E4 dihubungkan dengan I2 dan titik I1 dengan F, menjadi garis sisi
badan bagian muka.

b). Pola Lengan
Ukuran Yang Diperlukan
1). Lingkar kerung lengan   = 40cm (diukur dari pola badan)
2). Tinggi puncak lengan = 12 cm
3). Panjang lengan = 24 cm


                                                                264
                  Gambar 131. Pola lengan

Keterangan pola lengan
     Menggambar pola lengan dimulai dai titik A yang merupakan
puncak lengan.
A - B = panjang lengan.
A - C = ukuran tinggi puncak lengan, buat garis sampai ke titik D
dan E, setelah diukur dari titik A ½ lingkar kerung lengan yang
ukurannya bertemu dengan garis dari tititk C.
Buat garis putus-putus (garis bantu) dari A ke D dan dari A ke E.
Garis bantu dari A ke D dan A ke E dibagi tiga. 1/3 dari A ke D
diberi titik A1 dan dari A ke E dinamakan titik A2.
A1 - A4 = A2 - A3 = 1,5 cm.
Titik D1 = 1/3 D - A
D ke D1 dibagi dua dinamakan titik D2.
D2 - D3 = 0,5 cm.
Hubungkan A dengan A4 dengan D1, D3 dan D seperti gambar
(lingkar kerung lengan bagian muka).
Hubungkan A dengan A3 dan E seperti gambar (lingkar kerung
lengan bagian belakang).
G - G1 = E1 - E2 = 1,5 cm.
Hubungkan E dengan E2 (sisi lengan bagian belakang), dan D
dengan G seperti gambar (sisi lengan bagian muka)

c). Pola rok
Ukuran yang diperlukan
1). Lingkar pinggang         = 66 cm
2). Tinggi panggul           = 16 cm
3). Lingkar Panggul          = 96 cm
4). Panjang Rok              = 50 cm




                                                             265
           Gambar 132. Pola rok muka dan belakang

Keterangan pola rok muka
Menggambar pola rok dimulai dari titik A.
A - B = panjang rok.
A - C = tinggi panggul.
A - A1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm ( 3 cm untuk besar
lipit kup, 1 cm untuk membedakan ukuran pola muka degan pola
belakang).
A1 - A2 = 1,5 cm.
Hubungkan A dengan A1 seperti gambar (garis pinggang).
A - D = 1/10 lingkar pinggang.
D - D1 = 3 cm.
Pada garis tengah antara D dan D1 dibuat garis lurus sampai
batas garis C dengan C1(garis panggul).
D - D1 = 12 cm.
C - C1 = ¼ lingkar panggul ditambah 1 cm.
B - B1 = C - C1.
B1 - B2 = 3 cm.
B2 - B3 = 1,5 cm.
Hubungkan A1 dengan C1 membentuk garis pinggul dan dari C1
ke B3. Hubungkan B dengan B3 seperti gambar (garis bawah rok).

Keterangan pola rok belakang
   Menggambar pola rok bagian belakang sama dengan cara
meggambar pola rok bagian muka. Bedanya hanya terletak pada
ukuran lingkar pinggang dan lingkar panggul. Ukuran lingkar


                                                          266
pinggang dan ukuran lingkar panggul pola bagian muka lebih
besar 2 cm dari pada pola bagian belakang.
    Tetapi bentuk garis sisi, garis pinggang dan garis bawah rok
sama dengan pola rok bagian muka. Untuk itu maka pola rok
bagian belakang dibuat dari pola rok bagian muka. Untuk
membedakannya cukup dengan memindahkan garis tengah muka
sebesar 2 cm dengan cara mengukur dari A ke E sama dengan
dari B ke F yaitu 2 cm, hubungkan titik E dengan F dengan garis
lurus (garis tengah belakang).
    Jika ingin memiliki pola bagian muka dan pola bagian
belakang pada kertas yang berbeda, sebaiknya salah satu dari
pola rok dipindahkan. Sebaiknya pola yang dipindahkan itu adalah
pola bagian belakang, dengan demikian pada pola rok bagian
muka juga terdapat pola bagian belakang. Didalam memindahkan
pola perlu diperhatikan garis tengah belakang pola mesti dalam
posisi lurus, garis pinggang dan garis sisi rok bentuknya mesti
sama dengan yang asli.

b. Pola sistem So-En
   1). Cara mengambil ukuran




           Gambar 133. Cara mengambil ukuran sistem So-en



                                                            267
    a) Lingkar Badan : diukur sekeliling badan terbesar dengan
        posisi cm tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar.
    b) Lingkar Pinggang : diukur pas sekeliling pinggang
    c) Panjang Punggung : diukur dari tulang belakang lurus
        sampai batas pinggang
    d) Panjang Lengan : diukur dari bahu terendah sampai
        panjang yang diinginkan
    e) Tinggi Panggul : diukur dari pinggang sampai batas
        panggul terbesar pada bagian belakang
    f) Lingkar Panggul          ; diukur melingkar pada pinggul
        yang paling tebal secara horizontal dengan tidak terlalu
        ketat
    g) Panjang Rok : diukur dari pinggang sampai panjang rok
        yang diinginkan
2). Ukuran yang dibutuhkan untuk menggambar pola dasar
    sistem So-en
    a) Lingkar Badan            : 88 cm
    b) Lingkar Pinggang         : 66 cm
    c) Panjang Punggung : 37 cm
    d) Panjang Lengan           : 24 cm
    e) Tinggi Panggul           : 16 cm
    f) Lingkar Panggul          : 96 cm
    g) Panjang Rok              : 50 cm
3). Cara menggambar pola dasar sistem So-en ( skala 1:6)
    a) Pola dasar badan




              Gambar 134. Pola dasar badan



                                                              268
     Menggambar pola konstruksi sistem So-en, dimulai dengan
ukuran badan. Cara mengkonstruksi pola badan yaitu :
A - B = ½ ukuran lingkar badan ditambah 5 cm.
A dan B dihubungkan dengan garis putus-putus.
A - C = 1/6 lingkar badan ditambah 7 cm.
A - D = ukuran panjang punggung.
Buat garis empat persegi dari A ke B, A ke D, D ke D1 dan B ke
D1 dan C ke E dihubungkan dengan garis putus-putus.
Garis C dengan E dibagi dua dengan nama E1.
E1 - E2 = 0,5 cm.
E2 dibuat garis bantu sampai ke garis pinggang diberi nama titik
d. Dengan demikian selisih pola badan bagian muka dengan
pola badan bagian belakang adalah 1 cm.
C - F = 1/6 lingkar badan ditambah 4,5 cm (buat garis vertikal).
A - A1 = 1/20 lingkar badan ditambah 2,7 cm.
A dengan A1 dibagi tiga, sepertiga bagian dipindahkan dari A1
ke A2, lalu dibuat garis leher belakang seperti gambar.
a - a1 = A1 - A2.
a1 - a2 = 2 cm.
Hubungkan titik A2 dengan a2, ukuran panjang bahu dibagi dua
dinamai titik H.
H - H1 = 6 cm(panjang kup), dengan lebar kup 2 cm, lalu buat
kup seperti gambar.
Buat garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari a2 terus ke
E2 dengan besar lekukan pada ketiak berpedoman kepada ½
jarak dari F dengan E2 dan ditambah 0,5 cm.
d - d1 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan E2 (garis sisi pola
belakang).
D - d3 = 1/10 lingkar pinggang.
Hubungkan d3 dengan H.
D - d3 ditambah d1 - d2 = ¼ lingkar pinggang.
d2 - d3 = besar kup.
B - B1 = A - A1.
B - B2 = B - B1.
B1 - X = 0,5 cm.
B1 dengan B2 dibuat garis persegi, pada sudutnya dinamakan
titik O. Titik O dan B2 dibagi dua, setengah bagian dipindahkan
ke garis O dan B diberi nama titik O1.
Hubungkan X dengan O1 terus ke B2 seperti gambar (garis
leher pola bagian muka)
E - F1 = 1/6 ukuran lingkar badan ditambah 3 cm.
Buat garis vertikal sampai kegaris A dengan B, dinamakan titik b
b - b1 = 2 kali ukuran a - a1
Ukur panjang bahu dari X ke X1, melalui titik b1
F1 - f1 = ½ F - E2



                                                            269
Bentuk lingkar kerung lengan pola bagian muka mulai dari X1
melalui f1 menuju E2 seperti gambar
D1 - G = O - O1
d - g = 2 cm
G - G1 = 1/10 lingkar pinggang, hubungkan g dengan E2
G - G1 ditambah G2 - g = ¼ lingkar pinggang
G1 - G2 = besar kup, pada garis tengah antara G1 dengan G2
dibuat garis bantu sampai ke garis badan, diturunkan 4 cm, lalu
dihubungkan dengan G1 dan G2
Besar kup pola so-en ditentukan oleh perbandingan ukuran
lingkar badan dengan lingkar pinggang, jika perbedaan
ukurannya banyak maka kupnya menjadi besar, karena pada
sisi jaraknya hanya 2cm. Jika ditemukan ukuran kup lebih dari 4
cm, sebaiknya kup dipecah menjadi dua dengan ukuran yang
sama besar, antara kup yang satu dengan yang lainnya diberi
jarak dua cm, dan panjang kup yang kedua dikurangi 2 cm dari
kup utama.

 b) Pola lengan
 Ukuran yang diperlukan
 - Lingkar kerung lengan     : 40 cm (diukur dari pola
    badan muka dan belakang)
 - Panjang lengan            : 24 cm
 - Tinggi puncak lengan      : 12 cm




                Gambar 135. Pola lengan



                                                           270
Keterangan pola lengan
A - B = panjang lengan.
A - C = ¼ ukuran lingkar kerung lengan ditambah 3 cm (tinggi
puncak lengan).
A - E = ½ ukuran lingkar kerung lengan.
A - F = ½ ukuran lingkar kerung lengan ditambah 1,5 cm.
A - A1 = 1/3 A – F.
A - A3 = 1/3 A - E
E1 = 1/3 dari E - A.
A1 - A2 = 1,5 cm.
A3 - A4 = 1,8 cm.
E1 - E2 = 1,3 cm.
Hubungkan F dengan A2 terus ke A (lingkar kerung lengan
bagian belakang), hubungkan A dengan A4 terus ke E2 dan E
seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka)
      Untuk membentuk sisi lengan pola dasar sitem So-en,
tergantung pada ukuran panjang lengan. Untuk lengan panjang
ujung lengan dibentuk pada bagian muka dan belakang,
sedangkan untuk lengan pendek ujung lengan tidak dibentuk.
Untuk lebih jelasnya akan digambar kedua ukuran yaitu lengan
pendek dan lengan panjang.
      Untuk menentukan lengan panjang, dibuat garis vertikal
dari titik E dan F sampai panjang lengan.
Garis B dan B1 dibagi dua.
B1 - B2 = 1 cm lalu bentuk seperti gambar (pola bagian muka).
J - j1 = 1 cm, lalu bentuk seperti gambar (pola bagian belakang).
      Untuk menentukan lengan pendek, diukur dari titik A ke O
panjang lengan, buat garis horizontal dari O ke H dan dari O ke
G.
H - H1 = 2 cm, hubungkan H1 dengan E seperti gambar (sisi
lengan bagian muka).
G - G1 = 2 cm, hubungkan F dengan G1 seperti gambar (sisi
lengan bagian belakang).

 c) Pola rok
    Ukuran yang diperlukan
  - Lingkar pinggang     = 66 cm
  - Tinggi panggul       = 16 cm
  - Lingkar Panggul      = 96 cm
  - Panjang Rok          = 50 cm




                                                             271
         Gambar 136. Pola rok muka dan belakang

Keterangan pola rok
A - A1 = 1 cm
A1 - B = ¼ lingkar pinggang dikurang 1 cm ditambah 2 cm (lipit
kup).
B - B1 = 0,7 cm.
Hubungkan A1 dengan B1 seperti gambar (garis pinggang pola
belakang).
A1 - A2 = 1/10 lingkar pinggang.
A2 - A3 = 2 cm (lipit Kup).
Untuk membentuk lipit kup, besar lipit kup dibagi dua dinamakan
titik A4. A4 - A5 = panjang kup, dibuat garis putus-putus.
A5 - A6 = 0,5 cm.
Hubungkan titik A2 dengan A6 dan A3 dengan A6.
A1 - C = tinggi panggul.
C - D = ½ lingkar panggul ditambah 2 cm, dihubungkan dengan
garis putus-putus.
C - E = ¼ lingkar panggul (setengah C dengan D).
A - F = ukuran panjang rok.
F-I=C-D
F - F1 = C - E.
Hubungkan B1 dengan E, membentuk garis sisi panggul, terus
ke F1.
I - G = panjang rok.



                                                           272
     G - H = ¼ lingkar pinggang ditambah 3 cm ( 2 cm untuk besar
     kup, dan 1 cm untuk membedakan pola rok muka dengan
     belakang).
     H - H1 = 0,7 cm.
     Hubungkan G dengan H1 seperti gambar (garis pinggang pola
     bagian muka).
     G - G1 = 1/10 lingkar pinggang.
     G1 - G2 = 2 cm.
     G3 = besar lipit kup dibagi dua
     G3 - G4 = panjang kup, dibuat garis putus-putus.
     G4 - G5 = 0,5 cm
     Hubungkan titik G1 dengan G5 dan G2 dengan G5.
     Hubungkan H1 dengan E, membentuk garis sisi panggul terus
     ke F1.

2. Pola dasar pria dewasa
    Sebelum menggambar pola dasar badan untuk pria terlebih
dahulu diambil ukuran. Ukuran yang diperlukan untuk menggambar
pola dasar untuk pria, hanya membutuhkan empat jenis ukuran, yaitu
lingkar badan, lingkar leher, panjang bahu dan panjang punggung.
Dibawah ini dapat dilihat cara mengambil ukuran satu persatu.


1). Lingkar badan, diukur sekeliling badan terbesar
    ditambah 4 cm




2). Panjang bahu, diukur dari bahu
    tertinggi pada leher sampai bahu
    terendah




                                                              273
3). Lingkar leher, diukur sekeliling pangkal leher




4). Panjang punggung, diukur dari tulang leher
    Belakang dalam posisi lurus sampai batas
    pinggang.


 Ukuran yang di butuhkan :
 Lingkar badan          = 86 cm
 Lingkar leher          = 40 cm
 Panjang bahu           = 17 cm
 Panjang Punggung       = 46 cm




                      Gambar 137. Pola dasar pria

Keterangan pola dasar pria
A - B = adalah ½ lingkar badan.
B - B1 = 3 cm
B1 - D = panjang punggung.
Buat garis empat persegi A – B – D – C


                                                     274
A - E = ½ A - B,
C - F = ½ C - D.
Hubungkan E dan F dengan garis putus-putus.
B - G = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm, hubungkan B1 dengan G
seperti gambar.
B1 - H = ½ ukuran panjang punggung, buat garis horizontal dari H ke
J.
E - E1 = 3 cm, dibuat garis datar kekiri dan kanan.
G - I = ukur panjang bahu
H - H1 = ½ lebar punggung, dibuat garis vertikal sampai garis bahu.
Hubungkan I dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan pola
belakang)
A - A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm.
A - A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 cm.
Hubungkan A1 dengan A2 seperti gambar (leher bagian muka).
A1 - d = panjang bahu.
J - J1 = ½ lebar muka, dibuat garis vertikal sampai garis bahu di
namakan titik d1.
Hubungkan d dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan pola
bagian muka)

3. Pola dasar anak-anak
    Mengambil ukuran anak harus dipelajari dan dilakukan dengan
penuh perhatian. Karena ukuran merupakan dasar dalam
menggambar pola busana, jika ukuran salah maka hasil pola tidak
akan sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Untuk memperkecil
kesalahan ambillah ukuran dengan tepat dan benar dengan urutan
sebagai berikut :
a). Ukuran yang diperlukan dan cara mengambil ukuran

1). Lingkar badan, diukur sekeliling
    Badan melalui ketiak ditambah
    4 centimeter


2). Lingkar pinggang, diukur sekeliling
    Pinggang ditambah dua centimeter.

3). Panjang punggung, diukur dari ruas
    Tulang leher belakang yang paling
    Menonjol, sampai kebatas pinggang

4). Lebar punggung, diukur melebar di
    Punggung, dari batas lingkar kerung
    Lengan kiri sampai batas lingkar kerung
    Lengan kanan.


                                                               275
5). Lebar muka, diukur melebar didada
    dari batas lingkar kerung kiri sampai
    batas lingkar kerung lengan kanan.

6). Panjang muka, diukur dari lekuk leher
    sampai batas pinggang.


7). Panjang bahu, diukur dari batas leher
    Sampai ujung bahu.


8). Lingkar Kerung lengan, diukur
    sekeliling lubang lengan datambah
    satu centimeter

9). Lingkar leher, diukur sekeliling
    leher
     Ukuran : Lingkar badan                 = 72 cm
               Lingkar pinggang             = 64 cm
               Panjang punggung             = 29 cm
               Lebar punggung               = 30 cm
               Lebar muka                   = 28 cm
               Panjang bahu                 = 10 cm
               Lingkar Kerung lengan        = 30 cm
               Lingkar leher                = 30 cm

b). Cara menggambar pola dasar anak




                     Gambar 138. Pola dasar badan



                                                      276
Keterangan pola bagian muka
A - B = ½ lingkar badan.
B - B1 = 1,5 cm.
B1 - D = ukuran panjang punggung,
Buat garis empat persegi dari A ke B, B ke D dan dari A ke C, terus
dari B ke C dan dari D ke C dengan garis bantu.
A - E = D - F = ¼ lingkar badan, hubungkan E dan F dengan garis
bantu (garis putus-putus).
A - A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 0,5 cm,
A - A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm,
Hubungkan A1 dengan A2 seperti gambar (garis leher bagian muka).
E - E1 = 1/3 panjang bahu, buat garis mendatar pada titik E1.
a2 - A3 = panjang bahu, garis bahu harus menyentuh garis E1.
A - e1 = ½ panjang punggung.
C1 - C2 = ½ lebar muka, buat garis vertikal sampai garis bahu.
Hubungkan A3 dengan K seperti gambar.
C - C1 = 1/10 lingkar pinggang,
C1 ke C2 dibagi dua, hubungkan dengan garis bahu titik A4,
Bentuk lipit kup dari C1 dan C2 seperti gambar.
B - B2 = 1,5 cm.
B - b2 = 1/6 lingkar leher ditambah 0,5 cm,
Hubungkan B1 dengan B2 seperti gambar.
B2 - B3 = panjang bahu, garis bahu harus menyentuh garis E1.
B - D1 = ½ panjang punggung,
D1 - D2 = ½ lebar punggung, buat garis vertikal sampai garis bahu.
Hubungkan titik B3 dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan
bagian belakang).
D - D1 = 1/10 lingkar pinggang,
D1 ke D2 dibagi dua, hubungkan dengan titik B4.
Hubungkan D1 dengan D2 membentuk lipit kup seperti gambar.

Pola dasar lengan
Ukuran yang diperlukan : 1. lingkar kerung lengan      = 30 cm
                        2. Tinggi puncak lengan        = 9 cm
                        3. Panjang lengan              = 14 cm




                  Gambar 139. Pola dasar lengan anak




                                                                 277
Keterangan pola lengan
A - B = panjang lengan.
A - E = ukuran panjang bahu.
A - C = A - D = ½ lingkar kerung lengan (titik C dan D menyentuh
garis bantu).
Buat garis vertikal dari titik A ke B.
D - D1 = C - C1.
D - A dan A - C dibagi tiga.
C2 = ⅓ C - A
A1 = ⅓ A – D
C dengan C2 diturunkan 0,5 cm.
A1 - A2 = 1,5 cm,
hubungkan titik A dengan C dan A dengan D seperti gambar
(lingkar kerung lengan bagian muka dan lingkar kerung lengan
belakang)
C - F = D - G = 1 cm.
Hubungkan titik C dengan E (sisi lengan bagian muka), dan titik D
dengan G seperti gambar (sisi lengan bagian belakang)

Pola dasar rok anak
Ukuran yang diperlukan
1). Lingkar pinggang           = 60 cm
2). Tinggi panggul             = 14 cm
3). Lingkar panggul            = 68 cm
4). Panjang rok                = 30 cm




       Gambar 140. Pola dasar rok anak



                                                             278
   Keterangan pola rok
   A - A1 = 1 cm.
   A1 - B = ¼ lingkar pinggang ditambah 2 cm (besar kup),
   Hubungkan A1 dengan B seperti gambar (garis pinggang pola bagian
   muka).
   A1 - A2 = 1/10 lingkar pinggang,
   A2 - A3 = 2 cm (besar kup).
   A2 - A4 = 8 cm (panjang kup),
   Hubungkan titik A2 dengan A4 dan A3 dengan A4 seperti gambar
   (lipit kup).
   A1 - C = tinggi panggul.
   C - D = ¼ lingkar panggul ditambah 2 cm, dihubungkan dengan garis
   putus-putus.
   A1 - F = panjang rok, buat garis horizontal ke titik D sama dengan
   ukuran C dengan D.
   F - F1 = C - D.
   Hubungkan B dengan D membentuk garis sisi panggul, terus ke F1.
   F1 - F2 = 1 cm, hubungkan E dengan F2 seperti gambar.
         Pola rok bagian belakang untuk anak-anak sama dengan pola rok
   bagian muka. Oleh karena itu pola rok bagian belakang tidak perlu
   digambar lagi. Dengan demikian pola rok untuk anak-anak cukup satu
   pola saja, dh muka dan tengah belakang dibuat garis pola dengan
   warna merah dan warna biru, hal ini merupakan pertanda bahwa pola
   rok bagian muka sama dengan pola rok bagian belakang.

E. Menggambar Pola Busana                         Dengan         Teknik
   Konstruksi Di Atas Kain
      Menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain berarti
menggambar pola tidak menggunakan pola yang digambar di atas kertas,
tetapi pola digambar langsung di atas kain yang merupakan bahan dasar
dari pakaian yang akan dibuat pakaian. Pola digambar sesuai dengan
desain yang telah ditentukan, dan berpedoman pada ukuran
model/ukuran sipemakai. Langkah kerja yang dilakukan hampir sama
dengan menggambar pola di atas kertas, tetapi pola yang digambar
langsung mengikuti desain dan tidak berdasarkan pola dasar. Dengan
demikian, desainnya jangan yang rumit, tetapi desain yang sederhana.
Untuk desain yang rumit sebaiknya menggambar pola berdasarkan pola
dasar.
      Alat dan bahan yang diperlukan untuk menggambar pola di atas
kain adalah : 1) desain pakaian; 2) ukuran sipemakai; 3) bahan pakaian
sesuai dengan desain; 4) centimeter; 5) rol pola; 6) kapur jahit (sebaiknya
yang berbentuk pensil); 7) jarum pentul; 8) gunting kain.
      Sebelum menggambar pola, tentu telah memiliki desain pakaian
dan ukuran sipemakai, karena menggambar pola di atas kain akan
berpedoman kepada kedua hal tersebut. Menggambar pola busana



                                                                       279
dengan teknik konstruksi langsung di atas kain, sebaiknya dilakukan
untuk desain pakaian yang sederhana, baik untuk wanita, pria maupun
untuk anak-anak.
       Untuk desain pakaian yang sulit atau rumit sebaiknya dikonstruksi
berdasarkan pola dasar, baik pola dasar badan, rok dan lengan.
Disarankan juga untuk desain yang sulit sebaiknya diuji cobakan terlebih
dahulu. Menguji cobakan pola dapat dibuat dalam ukuran kecil (fragmen)
terlebih dahulu. Membuat fragmen berarti kita membuat pakaian dengan
ukuran yang lebih kecil. Fragmen yang dibuat sebaiknya dari bahan yang
sama dengan bahan pakaian yang sebenarnya. Jika harga bahan
pakaian terlalu mahal, untuk bahan fragmen dapat diganti dengan bahan
yang memiliki sifat yang sama atau mendekati dengan sifat bahan
utama.
       Tujuan membuat fragmen adalah untuk melihat apakah desainnya
sudah sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Garis-garis polanya
sudah sesuai dengan desain pakaian, kupnya sudah tepat atau belum.
       Untuk lebih jelasnya berikut ini dapat dilihat bagaimana cara
menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain, untuk wanita,
pria dan anak-anak :

   1. Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di
      atas kain untuk wanita dewasa.
        Desainnya terdiri dari blus dan celana panjang. Blus memiliki
   belahan didepan, memiliki rumah kancing dan kancing sebanyak
   enam buah. Lengan licin/lengan suai, panjang lengan sampai batas
   pergelangan dan pada ujung lengan ada belahan dan dihiasi dengan
   tiga buah kancing. Pada badan bagian muka memiliki garis princes
   dengan bentuk simetris, yang dimulai dari pertengahan garis lingkar
   kerung lengan menuju puncak dada terus ke garis kupnat sampai
   panjang blus. Pada badan bagian belakang memiliki dua buah kup.
   Kerah setengah berdiri. Panjang blus lebih kurang tiga puluh cm
   dibawah garis pinggang.
       Celana panjang sampai mata kaki, pada tengah muka ada
   ritsluiting atau tutup tarik sepanjang lebih kurang 17 cm yang
   diselesaikan dengan menggunakan gulbi. Pakai kantong sisi dengan
   model simetris. Pinggang diselesaikan dengan menggunakan ban
   selebar 4 cm.




                                                                    280
Desain




         Gambar 141. Desain busana wanita



                                            281
a.   Cara mengambil ukuran
     Ukuran dan cara mengambil ukuran yang diperlukan untuk
menggambar pola konstruksi di atas kain, sesuai dengan model di
atas adalah sebagai berikut :
1) Lingkar Leher, diukur sekeliling leher terbesar.
2) Lingkar Badan, diukur sekeliling badan terbesar dengan posisi cm
    tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar dan ditambah 6 cm.
3) Lebar Muka, diukur enam atau tujuh cm dari lekuk leher kebawah,
    kemudian diukur datar dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai
    batas lingkar kerung lengan kanan
4) Lingkar Pinggang, diukur pas sekeliling pinggang ditambah 6 cm
5) Tinggi Dada, diukur dari pinggang dibawah payu dara, keatas
    menuju puncak dada, dikurangi 4 cm.
6) Lebar Dada, diukur jarak antara payudara kiri dan kanan (untuk
    menentukan garis princes)
7) Panjang Punggung, diukur dari tulang belakang lurus sampai batas
    pinggang
8) Lebar Punggung, diukur 9 cm dari tulang leher belakang, pada
    garis tersebut diukur mendatar dari batas lingkar kerung lengan kiri
    sampai batas lingkar kerung lengan kanan.
9) Panjang Bahu, diukur dari bahu tertinggi/batas lingkar leher sampai
    ujung bahu/ batas bahu terendah ditambah 1 cm
10) Panjang Lengan, diukur dari bahu terendah sampai pergelangan
    tangan
11) Lingkar ujung lengan, diukur sekeliling ujung lengan
12) Tinggi duduk, diukur dari pinggang sampai batas panggul terbesar
    pada bagian belakang (dalam posisi duduk)
13) Lingkar Panggul, diukur melingkar pada pinggul yang paling tebal
    secara horizontal ditambah 4 cm.
14) Panjang celana, diukur dari pinggang sampai batas mata kaki
    (sesuai dengan model)
15) Lingkar ujung kaki, Diukur sekeliling ujung kaki celana sesuai
    dengan ukuran yang diinginkan
16) Lingkar paha, diukur sekeliling paha terbesar

Ukuran blus
1) Lingkar leher                  : 38 cm
2) Lingkar badan                  : 90 cm
3) Panjang muka                   : 33 cm
4) Lebar muka                     : 34 cm
5) Lingkar pinggang               : 70 cm
6) Tinggi dada                    : 14 cm


                                                                    282
7) Lebar dada                    : 23 cm
8) Panjang punggung              : 37 cm
9) Lebar punggung                : 35 cm
10) Panjang bahu                 : 13 cm
11) Panjang lengan               : 54 cm
12) Lingkar ujung lengan         : 22 cm
13) Tinggi duduk                 : 23 cm
14) Lingkar panggul              : 96 cm
15) Panjang celana               : 94 cm
16) Lingkar kaki celana          : 42 cm
17) Panjang lutut                : 54 cm

Keterangan pola bagian belakang
    Bahan blus dilipat dua, pada bagian tepi kain digambar pola blus
bagian muka, dan pada lipatan kain digambar pola blus bagian
belakang, untuk langkah berikutnya ikuti keterangan berikut : Ukur tiga
cm dari ujung kain, beri nama titik A, buat garis dari A ke F.
A - A1 = 1,5 cm,
A - A2 = 7 cm,
hubungkan A2 dengan A1 membentuk garis leher belakang.
F - F1 = 4 cm, buat garis mendatar.
A2 - A3 = panjang bahu, ujung bahu menyentuh garis datar F1.
A1 - B = 9 cm
G - B1 = ½ lebar punggung
A1 - G = ½ panjang punggung ditambah 1 cm
G - G1 = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
Hubungkan titk A3 dengan B1 terus ke G1 (lingkar kerung lengan
belakang).
A1 - C = panjang punggung.
C - C1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 3 cm (untuk kup dan dikurangi
1 cm).
C - C2 = 1/10 lingkar pinggang
C2 - C3 = 3 cm.
Besar kup di bagi dua dibuat garis bantu sampai ketitik C4 dan C5
(panjang kup) hubungkan C2 dan C3 ke C4 dan C5 seperti gambar.
C - D = ukuran tinggi panggul.
D - D1 = ¼ lingkar panggul dikurangi 1 cm.
C - E = ukuran panjang blus,
E - E1 = D - D1.
E1 - E2 = 1 cm.
Bentuk garis sisi blus dengan menghubungkan titik G1 dengan C1,
dan C1 ke D1 membentuk garis panggul, terus ke E2 seperti gambar.




                                                                   283
b.   Menggambar pola blus




                      Gambar 142. Pola badan

Keterangan pola bagian muka
    Kain dilipat dua, lalu disemat dengan jarum pentul, ukur dari tepi
kain sebesar 7 cm (2 cm untuk lidah belahan dan 5 cm untuk lipatan)
sepanjang tengah muka atau sepanjang ukuran blus. Samakan garis
bantu pola belakang, seperti garis badan, pinggang, panggul dan
panjang rok. Beri kode yang sama, seperti titik G pada badan, titik C
pada pinggang, titik D pada panggul dan titik E pada panjang rok.
G - G1 = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
C - C1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm (3 cm untuk kup, dan 1
cm untuk kebesaran pola bagian muka dari pola belakang)
D - D1 = ¼ lingkar panggul ditambah 1 cm.
E - E1 = D - D1,
E1 - E2 = 1 cm, dan dibentuk seperti gambar.
C - A1 = ukuran panjang muka.



                                                                  284
A1 - A = 1/6 lingkar leher ditambah 2 cm,
A - A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 cm.
A2 - F = panjang bahu,
F - F1 = 5 cm, buat garis mendatar,
A2 - F1 = panjang bahu.
A1 - G = 5 cm,
G - G1 = ½ lebar muka.
Hubungkan titik F1 ke G1 terus ke B1 seperti gambar (lingkar kerung
lengan bagian muka).
C - C2 = 1/10 lingkar pinggang,
C2 - C3 = 3 cm (besar lipit kup).
E2 diukur 1,5 cm, dibuat garis putus-putus sampai ke C4 dan C5
(panjang kup)
Hubungkan C2 dan C3 ke C4 dan C5 seperti gambar.
Hubungkan titik B1 dengan C1, terus ke D1 dengan membentuk sisi
panggul, terus ke E2 seperti gambar.

Keterangan pola lengan
    Menggambar pola lengan diatas kain yang terdiri dari dua lapis,
dengan posisi bagian baik bahan berhadapan, dengan kata lain
bahagian buruk bahan terletak pada bagian atas lalu digambar pola
lengan sebagai berikut : ambil satu titik diberi nama titik A.
A - B = panjang lengan.
A - E = tinggi puncak lengan.
Dari titik E buat garis vertikal lebih kurang 20 cm kekiri dan kanan.
Dari titik A ukur ke C dan D ½ lingkar kerung lengan, letak titik C dan
D harus menyentuh garis datar B.
Buat garis putus-putus (garis bantu) dari A ke C dan dari A ke D.
Garis bantu dari A ke C dan A ke E dibagi tiga.
A1 = 1/3 A - C
A2 = 1/3 A - E
A1 - A3 = A2 - A4 = 1,5 cm.
B3 = 1/3 C1 - A
C1 ke C2 turunkan 1 cm.
Hubungkan A dengan A4 dan D1 seperti gambar (lingkar kerung
lengan bagian muka).
Hubungkan A dengan A4 dan B2 seperti gambar (lingkar kerung
lengan bagian belakang).
B - B1 = ½ lingkar ujung lengan,
B - B2 = ½ ukuran lingkar ujung lengan
B2 - B3 = 1,5 cm
Hubungkan B dengan B3 (sisi lengan bagian belakang), dan B
dengan B1 seperti gambar (sisi lengan bagian muka)




                                                                   285
Pola lengan

Ukuran yang diperlukan
1). Lingkar kerung lengan           : 40 cm ( diukur dari pola badan)
2). Tinggi puncak lengan            : 12 cm
3). Panjang lengan                  : 54 cm




          Gambar 143. Pola lengan          Gambar 144. Pola kerah

Menggambar pola kerah dilakukan di atas kain yang berlipat dua.

A - C = lipatan kain.
A - B = ½ lingkar leher,
A - A1 = 3 cm,
A1 - C = 5 cm (lebar kerah).
B - D = 7 cm,
D - D1 = 4 cm.
Hubungkan A1 dengan B dengan garis melengkung (garis leher), B ke
D1 (ujung kerah) dan dari C ke D1 melalui titik D.




                                                                        286
c. Menggambar pola celana
Ukuran Celana
a). Lingkar Pinggang      : 66 cm
b). Tinggi duduk          : 23 cm
c). Lingkar Panggul       : 96 cm
d). Panjang Celana        : 90 cm


      Pola bagian muka                           Pola bagian belakang




                Gambar 145. Pola celana wanita




                                                                  287
Keterangan menggambar pola celana wanita
Pola celana bagian muka
A - B = panjang celana.
A - C = 1/3 lingkar pesak dibagi 3 ditambah 4 cm.
C - D = C - E - ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm.
E - D1 = 4 cm tarik garis lurus sampai garis pinggang namakan titik H.
H - G = lingkar pinggang dibagi 4 ditambah 2 cm.
A - F = panjang lutut.
F - F1 = F - F2 = ½ lingkar lutut.
B - B1 = B - B2 = ½ lingkar kaki celana.
G - I = 3 cm.
G - j = 12 cm.
Hubungkan I dengan j seperti gambar saku sisi celana.
Hubungkan H dengan E seperti gambar ( pesak celana bagian muka
).
Hubungkan E dengan F2 terus ke titik B2, seperti gambar (garis sisi
celana).
Hubungkan G dengan D membentuk garis panggul, terus ke titik B1
melalui titik F1 seperti gambar (sisi celana).

Pola celana bagian belakang
     Pola celana bagian belakang digambar berdasarkan pola celana
bagian muka, untuk itu pindahkan pola celana bagian muka dengan
cara menjiblak sekaligus memindahkan tanda-tanda pola seperti titik
E, F2 dan B2.
E - E1 = 8 cm.
F2 - F3 = 4 cm.
B2 - B3 = 4 cm.
Hubungkan titik E1 dengan F3 terus ketitik B3 seperti gambar (garis
sisi celana bagian belakang).
G - G1 = 4 cm.
H - H1 = 3 cm.
G1 - H1 = 1/4 lingkar pinggang dibagi ditambah 4 cm.
E1 - E2 = 1 cm,
Hubungkan H1 dengan E1 seperti gambar (pesak celana bagian
belakang).
D - J = 5 cm.
J - J1 ditambah J - J2 = ½ ukuran lingkar panggul.

d. Memeriksa Pola
      Memeriksa pola merupakan salah satu langkah dalam
pembuatan busana. Pemeriksaan pola mencakup tentang kesuaian
pola dengan desain yang telah dirancang. Dalam hal ini perlu
diperhatikan apakah desain mengunakan garis princess, model saku,
kerah, desain lengan, panjang baju, dan lain-lain. Selain itu juga perlu
diperhatikan kesesuaian ukuran dengan pola yang telah dibuat. Untuk


                                                                    288
itu, pola yang telah selesai dibuat sebaiknya dicek atau diperiksa
terlebih dahulu sebelum dilakukan pemotongan atau menggunting.

2. Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di atas
   kain untuk pria dewasa. Desain terdiri dari kemeja dan celana
   panjang.

Desain




                  Gambar 146. Desain busana pria


                                                              289
Cara mengambil ukuran kemeja dan celana pria.

1) Panjang kemeja, diukur dari bahu tertinggi sampai panjang yang
    sesuai dengan model.
2) Lingkar badan, diukur sekeliling badan terbesar ditambah 4 cm
3) Rendah bahu, diukur dari tulang leher belakang sampai batas
    pertengahan garis bahu pada punggung.
4) Rendah Punggung, diukur dari tulang leher belakang sampai
    batas pertengahan garis lingkar badan (untuk menentukan batas
    kerung lengan pada ketiak)
5) Lebar punggung, diukur dari pertengahan lingkar kerung lengan
    kiri sampai batas lingkar kerung lengan sebelah kanan.
6) Panjang punggung, diukur dari tulang leher belakang dalam posis
    lurus sampai bapas pinggang.
7) Lingkar leher, diukur sekeliling pangkal leher
8) Panjang lengan, diukur dari bahu terendah sampai panjang lengan
    pada model.
9) Lingkar lengan, diukur sekeliling garis siku selebar ukuran lengan
    pada model.
10) Lingkar manset, diukur lingkar ujung lengan ditambah 3 cm
11) Lebar manset, ukurannya disesuaikan dengan model
12) Panjang celana, diukur dari pinggang sampai panjang yang
    diinginkan.
13) Lingkar pinggang, diukur sekeliling pinggang.
14) Lingkar pesak, diukur dari batas pinggang belakang, melalui
    selangkangan menuju garis pinggang bagian muka.
15) Lingkar paha, diukur sekeliling paha terbesar
16) Lingkar panggul, diukur sekeliling panggul terbesar.
17) Lingkar ujung kaki celana, diukur sekeliling kaki celana sesuai
    dengan model.
18) Panjang lutut, diukur dari pinggang sampai batas lutut.
19) Lingkar Lutut, diukur sekeliling lutut sesuai dengan keinginan.

Ukuran :   1) Panjang kemeja           : 75 cm
           2) Lingkar badan            : 100 cm
           3) Rendah bahu              : 4 cm
           4) Rendah Punggung          : 22 cm
           5) Lebar punggung           : 42 cm
           6) Panjang punggung         : 41 cm
           7) Lingkar leher            : 40 cm
           8) Panjang lengan           : 60 cm
           9) Lingkar lengan           : 30 cm
           10) Lingkar manset          : 20 cm
           11) Lebar manset            : 3 cm
           12) Panjang celana          : 103 cm
           13) Lingkar pinggang        : 74 cm


                                                                 290
          14) Lingkar pesak             : 70 cm
          15) Lingkar paha              : 64 cm
          16) Lingkar panggul           : 94 cm
          17) Lingkar kaki celana       : 44 cm
          18) Panjang lutut             : 52 cm
          19) Lingkar Lutut             : 50 cm

Menggambar pola kemeja pria

Pola badan bagian muka          Pola badan bagian belakang
   Skala 1;4                           Skala 1;4




                     Gambar 147. Pola kemeja

Keterangan pola kemeja bagian muka
   Bahan kemeja dilipat dua, pada bagian tepi kain digambar pola
kemeja dengan urutan sbb. Ukur dari tepi kain kedalam sebesar 5 cm


                                                              291
sepanjang tengah muka/sepanjang ukuran panjang kemeja dan
ditambah dengan kampuh. Ambil satu titik pada garis tersebut yang
diberi nama titik A, untuk langkah berikutnya ikuti keterangan berikut :
A - B = 2 cm,
A - C = ukuran rendah bahu,
B - D = ukuran rendah punggung,
B - E = ukuran panjang punggung,
A - F = panjang kemeja, setiap titik buat garis bantu ( garis putus-
putus).
A - a1      = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm,
         1
A - a = /6 lingkar leher ditambah 2 cm.
Hubungkan a dengan a 1 dengan garis bantu,
a - a 1 dibagi dua dinamakan titik g
g - g1 = 1,5 cm,
hubungkan a dengan a1 melalui titik g1 seperti gambar.
C - I = ½ lebar punggung ditambah 1 cm.
Hubungkan titik a ke I menjadi garis bahu.
I-x=C-D,
Buat garis vertikal dari x ke I,
Garis I dan x dibagi tiga, sepertiga bagian dari x dinamakan titik i,
i - i 2 = 1 s.d 2 cm.
D - L = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
E - K = ¼ lingkar badan dikurangi 1 cm.
F - O = D - L yaitu ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
Hubungkan titik I dengan L melalui titik i2 seperti gambar (lingkar
kerung lengan pola bagian muka).
O - O1 = 1 cm,
Hubungkan L dengan K dan dengan O1 seperti gambar (sisi badan).
Hubungkan a1 ke F dengan garis strip dan titik berselang seling
(tanda tengah muka),
Hubungkan dari F terus ke O1 seperti gambar (bawah baju)
a1 - n = F - F1 yaitu 1,5 cm,
Hubungkan titik n dengan F1 dengan garis lurus.
Jarak rumah kancing lebih kurang 8 cm.

Keterangan pola kemeja bagian belakang
     Untuk menggambar pola kemeja bagian belakang yang
dipedomani adalah pola kemeja bagian muka. Letakkan pola badan
bagian muka diatas kain yang sudah dilipat untuk tengah belakang
kemeja, dengan posisi tengah muka pola bagian muka dikurangi 1
cm, hal ini disebabkan karena pola kemeja bagian belakang lebih
kecil dua centimeter dari pada pola bagian muka. Karena pola bagian
muka dibuat setengah dari badan bagian muka, maka sepanjang
garis tengah muka dikurangi satu centimeter, pada gambar dapat
dilihat pengurangan pola bagian muka dengan keterangan sbb : Titik



                                                                    292
a1, D, E dan F adalah pindahan dari pola bagian muka. Dari titik a ke
m diukur sama dengan titik F ke u yaitu 1 cm.
      Sisi badan pola bagian belakang disamakan dengan pola bagian
muka. Garis bahu pola bagian belakang dibuat berdasarkan pola
bagian muka sbb:
I - H = 7 cm,
a1 - Q = 6 cm.
Sambungkan garis dari titik m keatas sampai sejajar dengan titik H,
beri nama titik S.
S - H1 = ½ lebar punggung ditambah 1 cm.
Q1 - Q = 1/10 lebar punggung.
Hubungkan S ke Q dengan garis bantu.
S - Q dibagi dua diberi nama titik t.
t - t1 = 1,5 cm,
Hubungkan S dengan Q melalui titik t1, seperti gambar (lingkar lrher
pola bagian belakang),
Q - H1 = garis bahu.
Hubungkan titik H1 dengan L seperti gambar (lingkar kerung lengan
bagian belakang).
F - U = 1 cm, bentuk garis dari titik U ke garis sisi badan.
Hubungkan titik U dengan titik S dengan garis strip dan titik berselang
seling ini adalah tanda garis tengah belakang pola badan.




        Gambar 148. Pola lengan

Menggambar pola lengan di atas kain berlipat dua. Kain diukur
menurut arah serat kain, sepanjang lebih kurang 50 cm dari tepi kain,



                                                                   293
lalu dilipat dua. Garis lipatan dijadikan garis tengah pola lengan.
Kemudian diikuti langkah kerja sbb :
Pada lipatan kain paling atas diambil satu titik dinamakan titik A.
A - B = panjang lengan.
A - C = B - D yaitu ukuran rendah punggung,
Buat garis empat persegi dengan menghubungkan titik A dengan B, A
dengan C, B dengan D dan C dengan D.
C - F = ½ ukuran A - C,
Hubungkan A ke F dengan garis bantu.
A - L = ½ A - F.
L - L1 = 1,5 cm.
Hubungkan titik A dengan F, melalui L (kerung lengan bagian muka),
Hubungkan A dengan F, melalui L1 (kerung lengan bagian belakang).
F - E = ½ F - D dikurangi 2 cm,
Buat garis horizontal kegaris A dan B, diberi nama titik K.
K - H = ½ ukuran lingkar lengan.
B - D1 = ½ ukuran lingkar ujung lengan dikurangi 2 cm.
Hubungkan F dengan D1, melalui titih H (sisi lengan muka dan
belakang). B - B1 = 6 cm.
B1 - B2 = 9 cm (belahan ujung lengan kemeja).

Keterangan pola board dan kerah
Pola board dan kerah dibuat menurut lebar kain, caranya diukur kain
sepanjang lingkar leher yang ada pada pola bagian muka dan
belakang ditambah dengan kampuh, kain dilipat dua dan digambar
dengan urutan sbb :
A - B = 3 cm (lebar board pada lipatan kain).
A - C = ½ lingkar leher.
C - D = 1,5 cm
D - E = 2,5 cm.
Hubungkan B dengan D melewati titik E dan hubungkan A dengan C,
B dan D seperti gambar.
Pola kerah dibuat menyatu dengan boar.
B - F = 3,5 cm (lebar kerah).
E - G = B - F.
G - G1 = 1,5 cm,
G1 - G2 = 1,5 cm.
Hubungkan B dengan F, F dengan G2 dan E dengan G2 seperti
gambar.




                                                               294
Pola kerah




                  Gambar 149. Pola kerah kemeja


Keterangan pola saku kemeja
Saku kemeja digambar menurut arah panjang kain, dengan ukuran
sebagai berikut:
A - B = 11 cm,
A - C = 12 cm.
C - D = A - B ( lebar saku),
A - C = B - D (dalam saku).
Titik E = ½ C - D .
E - F = 1,5 cm.
Hubungkan A dengan B, A dengan C, B dengan D, C dengan F terus
ke D.



Keterangan pola manset:
A-B = Lingkar Menset           C                                D
A-C = 2 X Lebar Manset
C-D = A-B                      E
A-C = B-D
A-E = ½ A-C                    A                                B



Keterangan pola klep manset:
A-B = 11 cm
A Lebarnya Lebih kurang 1,75 cm
B Lebarnya Lebih Kurang 2 cm                                    B
                                   A
                                Gambar 150. Pola manset dan klep manset




                                                                    295
Pola celana pria

Pola bagian muka                  Pola bagian belakang




                   Gambar 151. Pola celana pria



                                                         296
Keterangan menggambar celana pria

Pola bagian muka
Ambil titik A, buat garis mendatar dan garis tegak lurus.
A - C = panjang celana.
A - B = 1/3 lingkar pesak ditambah 5 cm
Buat garis datar kekiri dan kekanan.
B - D = B - E yaitu ¼ lingkar paha dikurangi 4 cm
(ukuran E ke D adalah ½ lingkar paha dikurang 4 cm).
D - F = F - G yaitu 3 cm,
Buat garis vertikal dinamakan titik H (buat garis antu).
H - I = 1 cm,
Hubungkan titik I - G dengan garis lurus terus ke D dengan garis
melengkung.
I - N = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm untuk kup.
I - Y = 1/10 lingkar pinggang.
Y - K = L - M yaitu 2 cm.
K - L = 3 cm.
N - O = 3 cm.
O - P = 13 cm,
Hubungkan O ke P dengan garis lurus (untuk saku samping).
A - Q = ukuran panjang lutut.
Q - R = Q - S yaitu 1/4 lingkar lutut dikurang 2 cm
(R ke S adalah ½ lingkar lutut).
C - C1 = C - C2 yaitu ¼ lingkar kaki dikurang 2 cm
(C1 ke C2 adalah ½ lingkar ujung kaki celana).
H - H1 = 4 cm.
I - I1 = 18 cm.
Hubungkan H1 dengan I1 seperti gambar.
Hubungkan N dengan C2 melewati titik E dan S seperti gambar, dan
hubungkan D dengan C1 melewati titik R.

Pola bagian belakang.
     Pola celana bahagian belakang di buat berdasarkan pola bagian
muka, caranya sebagai berikut : Pindahkan pola celana bahagian
muka bersamaan dengan tanda-tanda pola. Garis sisi celana
bahagian pinggang diberi nama titik A.
A - C = ¼ lingkar pinggang ditambah 2 cm untuk kup nat.
Hubungkan A dengan C, dengan membentuk sudut siku pada garis A
ke C dan A ke E.
Titik B = ½ A - B.
B - B1 = 2 cm.
D - E = 5 cm,
Buat garis datar kekanan melewati pola bagian muka.
E - F ditambah E - H = ½ lingkar panggul.
I - Y = 8 cm,


                                                              297
Hubungkan titik C ke H dengan garis lurus, terus ke Y dengan garis
melengkung.
K - M = L - N yaitu 4 cm.
Hubungkan titik Y ke M dengan garis melengkung, terus ke titik N
dengan garis lurus seperti gambar.

3. Menggambar pola busana dengan teknik kontruksi di
   atas kain untuk anak-anak.
    Desain busana anak-anak berikut ini adalah baju setali atau
bebe, panjang baju setengah paha. Memiliki garis prinses dari
pertengahan garis bahu melalui dada sampai panjang baju dengan
model simetris. Lengan kop pendek. Pakai kerah polo. Pada bagian
belakang pakai risleting panjang 30 cm. Bagian bawah baju agak
sedikit kembang.

Cara Mengambil Ukuran
a. Lingkar badan, diukur sekeliling badan melalui ketiak ditambah
   empat centimeter.
b. Lingkar pinggang, diukur sekeliling pinggang ditambah dua
   centimeter.
c. Panjang punggung, diukur dari ruas tulang leher belakang yang
   paling menonjol, sampai kebatas pinggang
d. Lebar punggung, diukur melebar di punggung, dari batas lingkar
   kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan.
e. Lebar muka, diukur melebar didada dari batas lingkar kerung kiri
   sampai batas lingkar kerung lengan kanan.
f. Panjang bahu, diukur dari batas leher sampai ujung bahu.
g. Lingkar Kerung lengan, diukur sekeliling lubang lengan datambah
   satu centimeter
h. Lingkar leher, diukur sekeliling leher
i. Panjang muka, diukur dari lekuk leher sampai batas pinggang.
j. Panjang lengan, diukur dari bahu terendah sampai panjang lengan
   sesuai dengan model.
k. Panjang baju, diukur dari lekuk leher sampai panjang baju sesuai
   dengann model.




                                                               298
Desain




                 Gambar 152. Desain busana anak


Ukuran :
Lingkar badan           = 64 cm
Lingkar pinggang        = 60 cm
Panjang punggung        = 27 cm
Lebar punggung          = 26 cm
Lebar muka              = 25 cm
Panjang bahu            = 8 cm
Lingkar Kerung lengan   = 30 cm
Lingkar leher           = 27 cm
Panjang muka            = 23 cm
Panjang lengan          = 13 cm
Panjang baju            = 50 cm




                                                  299
Menggambar pola anak




                  Gambar 153. Pola busana anak

Keterangan pola bagian muka
    Agar pola yang dibuat diatas bahan tidak bergeser, serta pola
yang dibuat sesuai dengan desain model, perlu diperhatikan bentuk
pola dan bahan dasar yang akan digunakan, untuk itu perhatikanlah
cara membuat pola diatas bahan berikut ini :
    Ambil bahan dasar untuk busana anak yang lebarnya 115 cm,
lipat dua dengan arah panjang benang (lungsin). Buat pola bagian
muka dengan cara;
A - A1 = 6 cm;
A - A2 = 8 cm.
A2 - C1 = panjang punggung.



                                                             300
A2 - B = panjang baju bagian muka.
A - C = ½ panjang punggung ditambah 1 cm.
C - G = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
C1 - C2 = ¼ lingkar pinggang ditambah 1 cm.
Titik A3 = ½ panjang bahu.
B - B2 = 1/10 lingkar pinggang,
Hubungkan dengan A3, untuk garis prinses.
A2 - A4 = 9 cm (panjang bahu)
A3 - A4 = 3 cm (keluwesan garis bahu).
Hubungkan A3 dengan G (lingkar kerung lengan muka).
Ukur dari titik A sebanyak 3 cm.
Berikutnya adalah mengembangkan dari D1 kesisi kanan sebanyak 3
cm dari garis sisi pola muka beri titik D ke D2, dari D2 naikan 1 cm,
bentuk garis tersebut dengan luwes seperti gambar (garis bawah
baju).

Keterangan pola bagian belakang
C - C1 = A - A1
C - C2 = 1,5 cm.
C1 - C3 = A1 - C1
D - D3 = B - B1 ditambah 3 cm.
D1 - H = ½ lingkar badan.
C3 - C4 = ¼ lingkar pinggang.
Hubungkan H ke D3 (sisi badan belakang).
Hubungkan C1 ke H (kerung lengan belakang).
Hubungkan D ke D3 seperti gambar ( garis bawah baju)

Pola Lengan
Ukuran
Lingkar kerung lengan           : 38 cm
Tinggi puncak lengan            : 10 cm
Lingkar ujung lengan            : 18 cm




                   Gambar 154. Pola Lengan Anak



                                                                 301
   Keterangan Pola lengan
   A - B = panjang lengan,
   A - C = tinggi puncak lengan,
   A - D = A - E adalah ½ lingkar kerung lengan.
   Puncak lengan digunting, dikembangkan kekiri dan kanan masing-
   masing 3 cm. Bentuk ujung




                          Gambar 155. Pola kerah

   Keterangan pola kerah.
   A - B = ½ lingkar leher.
   A - C = 7 cm ( lebar kerah).
   B - B1 = 1,5 cm.
   B1 - B2 = 5 cm.
   B2 - B3 = 1 cm.
   Hubungkan A ke B1 terus ke B3 dan C seperti gambar.

F. Membuat Pola Busana Dengan Teknik Kombinasi
       Membuat pola busana dengan teknik kombinasi merupakan salah
satu cara pembuatan pola dengan mengombinasikan teknik konstruksi A
dengan teknik konstruksi B, teknik dressmaking dengan teknik konstruksi
atau teknik konstruksi dengan teknik drapping. Pada BAB ini dijelaskan
cara membuat pola busana dengan kombinasi teknik konstruksi dengan
teknik drapping. Tujuan dari teknik kombinasi adalah untuk membuat
busana dengan desain-desain yang sulit seperti desain busana pesta.
       Untuk menggambar pola kombinasi sama halnya dengan membuat
pola lainnya yang membutuhkan ukuran tubuh sipemakai. Ukuran yang
diperlukan secara umum adalah: lingkar badan; lingkar pinggang; lingkar
panggul; lingkar leher; panjang punggung; lebar punggung; panjang
muka; lebar muka; panjang bahu; panjang sisi; panjang rok; panjang
lengan; tinggi dada dan tinggi panggul.
       Karena desain yang akan dibuat sangat sulit atau rumit, sebaiknya
dikonstruksi berdasarkan pola dasar, baik pola dasar badan, rok dan
lengan. Sebelum dibuat sebaiknya diuji cobakan terlebih dahulu. Menguji
cobakan pola dapat dibuat dalam ukuran kecil (fragmen). Fragmen yang
dibuat sebaiknya dari bahan yang sama dengan bahan pakaian yang
sebenarnya. Jika harga bahan
pakaian terlalu mahal, untuk bahan fragmen dapat diganti dengan bahan
yang memiliki sifat yang sama atau mendekati dengan sifat bahan
utama.


                                                                    302
   Desain




                      Gambar 156. Desain busana pesta

Dari desain di atas dapat kita analisa bahwa busana tersebut terdiri atas
2 bagian yaitu bagian dalam yang menggunakan bahan yang tidak
transparan dan bagian luar yang di drapir pada pinggang menggunakan
bahan transparan dan melangsai. Busana bagian dalam dapat kita buat
menggunakan teknik konstruksi yang mana di buat berdasarkan pola
dasar yang dikembangkan. Sedangkan busana bagian luar dapat
dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan teknik konstruksi atau dengan
metode potong dan dapat juga menggunakan teknik drapping. Namun
dari dua cara tersebut, teknik drapping dapat menghasilkan bentuk yang
lebih bagus karena pola diperoleh dengan teknik langsung mengatur kain



                                                                     303
yang akan dijadikan busana pada dressform yang ukurannya sama
dengan sipemakai. Jadi dalam pembuatan busana ini kita menggunakan
teknik kombinasi antara teknik konstruksi dengan teknik drapping.

   1. Teknik konstruksi busana bagian dalam (Furing)
      Cara membuat pola busana bagian dalam (furing) adalah :
   Langkah pertama:




                        Gambar 157. Pecah pola



                                                                304
Keterangan :
1. Ciplak pola dasar badan muka dan belakang dan kup sisi
   dipindahkan ke bahu dengan cara membuka kup bahu dan
   menutup kup sisi.
2. Sambungkan pola dasar badan dengan pola dasar rok
3. Bagi pola rok menjadi empat bagian untuk pengembangan bawah
   gaun.
4. Bagian sisi rok diluruskan karena model gaun lebar ke bawah.

Langkah kedua:




                 Gambar 158. Pengembangan pecah pola



                                                           305
Keterangan :
1. Gunting dan kembangkan pola rok masing-masing 6-9 cm.
2. Bentuk garis dada sesuai dengan desain. Caranya yaitu:
   a. Tengah muka turun dari garis leher muka 8 - 11cm
   b. Bagian sisi tetap
3. Besar kup bahu ditambah 1-2 cm agar jatuh gaun pada bagian
   dada bagus atau tidak menganga (menggelembung).

Langkah ketiga:




            Gambar 159. Gabungan pola muka kiri dan kanan



                                                            306
Keterangan :
      Setelah dilakukan pecah pola pada rok seperti yang dilakukan
pada langkah kedua maka pola tersebut sudah dapat digunakan
untuk memotong pakaian yang bagian dalam (furing).

2. Teknik drapping untuk bahan bagian luar (bahan
   transparan dan melangsai)
      Untuk pakaian bagian luar dilakukan dengan teknik drapping,
yaitu dengan mengatur kain langsung pada dressform. Caranya
adalah pertama-tama kita sampirkan kain ke dresform yang
ukurannya sama dengan sipemakai. Perhatikan gambar berikut :




                Gambar 160. Menyampirkan kain pada dressform

      Langkah kedua yaitu bahan di pentul pada bagian belakang
seperti gambar di bawah ini. Pada bahagian atas perlu di
perhitungkan letak jatuh pakaian pada bagian dada, jadi dalam
menyampirkan kain kita perhitungkan letak jatuhnya pakaian pada
badan secara keseluruhan. Setelah itu baru dipentul pada bahagian
belakang agar kita mudah membentuk pada bagian dada dan drapir
pada sisi. Perhatikan gambar berikut :




                                                               307
     Gambar 161. Mementul bahan pada bagian belakang

       Langkah ketiga adalah membentuk drapir pada bagian sisi
kanan. Buatlah lipatan-lipatan pada bagian sisi dan atur jarak serta
besar lipit. Kemudian tandai batas sisi kiri dan kanan menggunakan
kapur jahit. Tanda yang dibuat menggunakan kapur jahit merupakan
batas jahitan pada bagian sisi. Jadi untuk mendapatkan polanya perlu
kita tambahkan kampuh. Perhatikan gambar berikut :




     Gambar 162. Membentuk lipit pada bagian sisi



                                                                308
      Langkah keempat adalah membentuk hiasan pada bagian
dada. Motif dapat disesuaikan dengan hiasan yang diinginkan. Aturlah
jarak motif dengan tetap berpedoman dengan desain yang
direncanakan. Perhatikan gambar berikut :




     Gambar 163. Membentuk hiasan pada bagian dada

      Langkah kelima adalah menggunting bahan hasil dari teknik
draping sesuai dengan tanda yang di buat. Sebagai kontrol hasil
draping dapat disesuaikan dengan ukuran pada pola yang ada atau
dengan ukuran badan sipemakai. Untuk bagian bawah rok perlu
disesuaikan dengan lebar rok yang dikonstruksi. Sementara untuk
pola belakang dapat digunakan pola yang dikonstruksi. Setelah itu,
barulah dijahit dengan teknik yang tepat.




     Gambar 164. Hasil teknik drapping pola bagian muka



                                                                309
G. Menyimpan Pola
       Pola pakaian ada yang berbentuk pola dasar dan ada juga yang
dalam bentuk pola pakaian yaitu pola yang sudah dibuat atau dirobah
sesuai desain. Penyimpanan pola dapat dilakukan dengan beberapa cara
yaitu:
1. Digulung pada tempat yang bersih dan aman seperti dalam lemari
    khusus atau pada tempat khusus yang terletak di ruangan potong
    disediakan box tempat penggantungan pola.
2. Di dalam kantong plastik atau amplop yaitu dengan menyusun secara
    rapi dan pada amplop diberi keterangan desain, nama pemilik atau
    diberi ukuran pola itu sendiri kemudian disusun pada lemari atau rak
    atau box.
3. Digulung dan dibungkus dengan plastik atau diikat dengan perca dari
    bahan yang terakhir digunting dan kemudian disimpan pada
    keranjang atau dus khusus yang dipakai untuk penyimpanan pola, tali
    pengikat pola juga berfungsi untuk tanda pemilik dari pola.
4. Seiring dengan kemajuan teknologi sekarang ini pola juga dapat
    disimpan pada komputer, flashdisk, atau CD.
       Tujuan penyimpanan pola yaitu:
1. Supaya pola dapat dipakai lebih dari satu kali (berulang kali).
2. Kalau akan mengulangi pemakaian pola dapat dengan mudah
    mencarinya dan selalu dalam keadaan baik (layak pakai).
3. Bila ada permintaan pakaian dengan desain yang sama untuk
    seanjutnya dapat diproduksi persis seperti desain sebelumnya.
4. Dari semua tujuan penyimpanan pola dengan baik ini akan dapat
    menghemat waktu, tenaga ataupun keuangan.


Rangkuman
      Membuat pola busana merupakan langkah yang paling penting
dalam membuat busana. Pola yang baik akan menghasilkan busana yang
baik pula, namun untuk mendapatkan pola yang baik tersebut ditentukan
oleh beberapa hal, diantaranya adalah: 1). Ketepatan dalam mengambil
ukuran tubuh sipemakai; 2) kemampuan dalam menentukan kebenaran
garis-garis pola; 3) Ketepatan memilih kertas untuk pola; 4) kemampuan
dan ketelitian memberi tanda dan keterangan setiap bagian-bagian pola;
5) kemampuan dan ketelitian dalam menyimpan dan mengarsipkan pola.
      Ada beberapa macam pola yang dapat digunakan dalam membuat
busana, diantaranya ialah pola konstruksi dan pola standar. Pola
konstruksi adalah pola dasar yang dibuat berdasarkan ukuran badan
sipemakai, dan digambar dengan perhitungan secara matematika sesuai
dengan sistem pola konstruksi masing-masing. Ada beberapa macam
pola konstruksi antara lain : pola sistem Dressmaking, pola sistem So-en,
pola sistem Charmant, pola sistem Aldrich, pola sistem Meyneke dan lain-
lain.



                                                                     310
       Sedangkan pola standar adalah pola yang dibuat berdasarkan
daftar ukuran umum atau ukuran yang telah distandarkan, seperti ukuran
Small (S), Medium (M), Large (L), dan Extra Large (XL). Pola standar di
dalam pemakaiannya kadang diperlukan penyesuaian menurut ukuran
sipemakai. Jika sipemakai bertubuh gemuk atau kurus, harus
menyesuaikan besar pola, jika sipemakai tinggi atau pendek diperlukan
penyesuaian panjang pola.
       Alat yang diperlukan untuk menggambar pola busana banyak
jenisnya antara lain pita ukuran (cm), penggaris, kertas pola (buku pola
atau buku kostum), skala, pensil dan bool point, penghapus (eraser), dan
jarum.
       Menggambar pola dasar dengan teknik drapping adalah membuat
pola sesuai dengan ukuran dan bentuk badan seorang model.
Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi yang baik
mempunyai lipit kup untuk ruang bentuk buah dada. Bentuk lipit kup ada
yang dipinggang, dibahu, dipinggang dan disisi. Pola konstruksi untuk
wanita banyak jenisnya, tetapi semua jenis sistem pola konstruksi
memiliki lipit kup.
       Menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain berarti
menggambar pola tidak menggunakan pola yang digambar di atas kertas,
tetapi pola digambar langsung di atas kain yang merupakan bahan dasar
dari pakaian yang akan dibuat pakaian.
       Membuat pola busana dengan teknik kombinasi merupakan salah
satu cara pembuatan pola dengan mengkombinasikan teknik konstruksi A
dengan teknik konstruksi B, teknik dressmaking dengan teknik konstruksi
lain atau teknik konstruksi dengan teknik drapping.
       Pola yang sudah dibuat perlu disimpan dengan baik. Penyimpanan
pola dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu digulung pada tempat
yang bersih dan aman seperti dalam lemari khusus, di dalam kantong
plastik atau amplop, digulung dan dibungkus dengan plastik atau diikat
dengan perca dari bahan yang terakhir digunting, serta pola juga dapat
disimpan pada komputer, flashdisk, atau CD.

  Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah :
  Mengukur   tubuh    pelanggan   sesuai  dengan    desain,
  menyesuaikan pola standar sesuai dengan tubuh pelanggan,
  menggambar pola busana dengan teknik drapping,
  menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di atas
  kain untuk wanita, pria dan anak-anak, menggambar pola
  busana dengan teknik kombinasi




                                                                    311
Evaluasi :

1. Kualitas pola busana ditentukan oleh banyak hal, jelaskan satu
   persatu.
2. Jelaskan perbedaan pola konstruksi dengan pola standar
3. Sebutkan alat yang diperlukan untuk menggambar pola dengan teknik
   drapping.
4. Buatlah pola busana dengan teknik kombinasi
5. Jelaskan pentingnya memeriksa pola busana
6. Jelaskan manfaat menyimpan pola busana



                       *** Selamat Bekerja***




                                                                312
                               BAB VIII
     PECAH POLA BUSANA SESUAI DESAIN

    Busana wanita mempunyai desain yang beraneka ragam. Karena
beranekaragamnya desain pakaian wanita ini, sering kali kita kesulitan
dalam melakukan pecah pola busananya. Dalam bab ini akan dibahas
tentang konsep dasar pecah pola serta beberapa contoh pecah pola rok,
blus dan celana untuk beberapa desain dan kesempatan pemakaian.

A. Konsep Dasar Pecah Pola Busana Wanita
     Busana wanita memerlukan teknik pecah pola yang lebih cermat
dibandingkan pakaian pria dan anak-anak. Pakaian wanita yang dibuat
hendaklah dapat menonjolkan sisi feminim dari wanita dan dapat
menonjolkan kelebihan yang dimilikinya sehingga dalam berpenampilan
terlihat cantik, rapi dan menarik. Untuk itu dalam pembuatan pakaian
perlu dilakukan pecah pola yang benar sesuai dengan desain dan bentuk
tubuh sipemakai. Agar pola yang dihasilkan sesuai dengan desain dan
bentuk tubuh maka terlebih dahulu perlu dilakukan analisa bentuk tubuh
dan analisa desain.
     Bentuk tubuh wanita secara umum ada 5 macam yaitu ideal, kurus
tinggi, gemuk tinggi, kurus pendek dan gemuk pendek. Bentuk tubuh
wanita yang baik tentunya adalah bentuk tubuh yang ideal dimana
terdapat keseimbangan antara berat badan dan tinggi badan dan
mempunyai proporsi tubuh yang seimbang.
     Desain pakaian yang dibuat adakalanya terlihat indah karena dibuat
pada proporsi tubuh yang seimbang atau bentuk tubuh yang ideal.
Namun belum tentu desain yang sama cocok di pakai oleh orang yang
bertubuh kurus atau gemuk. Jadi dari analisa bentuk tubuh ini kita dapat
menyesuaikan pola dengan bentuk tubuh sipemakai, dengan kata lain
kekurangan bentuk tubuh dapat tertutupi dengan teknik pengembangan
pola yang tepat. Misalnya untuk bentuk tubuh yang gemuk hendaklah
hindari pakaian yang mengembang atau yang berkerut banyak seperti rok
kerut atau rok kembang dan model lengan balon atau lonceng. Jika
menggunakan lengan balon atau lengan yang lebar pada ujung lengan
hendaklah pengembangannya disesuaikan dengan bentuk tubuh gemuk
tersebut artinya pengembangannya tidak terlalu lebar.

Selain analisa bentuk tubuh di atas dilakukan analisa desain. Analisa
desain pakaian dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Memperhatikan desain secara keseluruhan.
    Lihat gaya berdiri dari   model. Umumnya desain digambarkan
dengan gaya berdiri menghadap kedepan atau miring tiga per empat.
Perbandingan letak bagian-bagian busana pada sikap berdiri model akan
lebih memudahkan kita memahami desain pakaian yang akan dibuat.



                                                                    322
2. Pahami gambar bagian-bagian busana pada desain.
    Gambar bagian-bagian busana yang dimaksud merupakan garis-garis
pakaian pada desain, misalnya garis leher, garis lingkar badan, garis
pinggang, garis panggul, garis tengah muka dan tengah belakang, garis
lingkar kerung lengan, garis besar lengan dan garis batas kup atau tinggi
dada. Garis-garis ini akan memudahkan kita untuk menganalisa bagian-
bagian busana yang ada pada desain.

   a. Desain pakaian pada badan bagian atas.
       Desain pakaian pada badan bagian atas meliputi bentuk garis
   leher atau kerah, lengan, kantong, garis hias, kup dan belahan
   pakaian. Letak garis leher dapat dilihat dengan membandingkan garis
   leher dasar dengan garis leher pada desain. Perkiraan ukuran inilah
   yang menjadi pedoman dalam merobah garis leher pada pakaian.
   Begitu juga dengan lengan dan badan. Desain lengan apakah
   berbentuk lengan kop, lengan poff, lengan balon dan lain sebagainya.
       Khusus untuk bagian badan, kita harus memperhatikan letak kup
   apakah kup berada pada tempat biasa atau disalurkan ke tempat lain
   atau dihilangkan menjadi garis hias. Hal ini penting karena kup
   merupakan bagian yang dapat menonjolkan sisi feminim wanita.
   Perhatikan juga garis belahan pakaian untuk menghindari kesalahan
   dalam memberi tanda pola dan menggunting kain.

   b. Desain pakaian bagian bawah
       Pakaian bagian bawah dapat berupa rok atau celana. Namun
   celana ataupun rok mempunyai desain yang bervariasi. Terlebih
   dahulu pahami desain rok yang ada pada desain seperti desain rok,
   ukuran panjang rok, lebar rok, kembang rok (jika rok kembang) dan
   kerutan rok (jika rok dikerut). Begitu juga dengan desain celana,
   pahami desain celana, ukuran celana, lebar celana atau besar celana
   dan lain sebagainya.

3. Pahami letak jatuh pakaian pada badan.
     Bahan atau kain yang cocok untuk sebuah desain dapat dilihat dari
letak jatuh pakaian pada badan. Hal ini dapat diamati pada bagian sisi
atau bagian bawah pakaian. Jika dilihat pada bagian sisi, bahan yang
jatuhnya lurus ke bawah atau agak kaku dapat diperkirakan bahannya
tebal dan kaku. Sebaliknya jika jatuh bahan mengikuti bentuk tubuh
berarti bahan yang digunakan bahan yang tipis atau melangsai. Begitu
juga jika dilihat pada bagian bawah rok/pakaian. Bagian bawah rok yang
terlihat agak bergelombang, maka bahan yang digunakan tipis atau
melangsai sebaliknya bagian bawah yang lurus dan terlihat agak kaku,
berarti menggunakan bahan yang agak tebal dan kaku.
     Agar dapat menganalisa bentuk tubuh dan model pakaian dengan
baik dan benar diperlukan latihan yang banyak sehingga memudahkan



                                                                     323
kita dalam membuat pecah pola busana yang sesuai dengan desain.
Berikut ini dapat dilihat pecah pola beberapa model rok, blus dan celana.

B. Pecah Pola Rok Sesuai Desain
     Rok merupakan bagian pakaian yang dipakai mulai dari pinggang
melewati panggul sampai ke bawah sesuai dengan keinginan. Biasanya
rok dipakai sebagai pasangan blus. Desain rok cukup bervariasi baik
dilihat dari ukuran panjang rok maupun dari siluet rok.
Berdasarkan ukuran panjangnya, rok dapat dibagi atas :
1. Rok micro yaitu rok yang panjangnya sampai batas pangkal paha.
2. Rok mini yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan paha atau
     10 cm di atas lutut.
3. Rok kini yaitu rok yang panjangnya sampai batas lutut.
4. Rok midi yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan betis.
5. Rok maxi yaitu rok yang panjangnya sampai mata kaki.
6. Rok floor yaitu rok yang panjangnya sampai menyentuh lantai.

Berdasarkan siluet/bentuk rok, desain rok dapat dibedakan atas :
1. Rok dari pola dasar, merupakan rok yang modelnya seperti pada pola
   dasar tampa ada lipit atau kerut. Rok biasanya menggunakan
   ritsluiting pada bagian tengah muka atau tengah belakang.
2. Rok span dan semi span, rok span merupakan rok yang bagian sisi
   bawahnya dimasukkan 2 sampai 5 cm ke dalam sehingga terlihat
   kecil ke bawah, sedangkan rok semi span merupakan rok yang
   bagian sisinya lurus ke bawah atau bagian bawah sama besarnya
   dengan bagian panggul.
3. Rok pias, nama dari rok pias tergantung jumlah pias atau potongan
   yang dibuat, misalnya rok pias 3, rok pias 4, rok pias 6 dan
   seterusnya.
4. Rok kerut yaitu rok yang dibuat dengan model ada kerutan mulai dari
   batas pinggang atau panggul sehingga bagian bawah lebar.
5. Rok kembang atau rok klok, yaitu rok yang bagian bawahnya lebar.
   Rok ini dikenal dengan rok kembang, rok lingkaran dan rok ½
   lingkaran.
6. Rok lipit, rok lipit ada 3 yaitu rok lipit pipih, rok lipit hadap dan rok lipit
   sungkup. Rok lipit pipih yaitu rok yang lipitannya dibuat searah seperti
   rok sekolah murid SD. Rok lipit hadap yaitu rok yang lipitnya dibuat
   berhadapan, baik pada bagian tengah muka, tengah belakang atau
   diatur beberapa lipitan pada sekeliling rok. Sedangkan rok lipit
   sungkup yaitu rok yang lipitnya dibuat berlawanan arah. Misalnya lipit
   yang satu dibuat kekanan dan yang satu lagi dibuat arah ke kiri. Lipit
   ini juga sama dengan lipit pada bagian dalam atau bagian buruk
   bahan pada lipit hadap.
7. Rok bertingkat yaitu rok yang dibuat beberapa tingkat. Rok ini ada
   yang dibuat 2 atau 3 tingkat yang diatur panjangnya. Umumnya
   bentuk rok ini sering dijumpai pada busana anak-anak.


                                                                             324
   Berikut ini dapat dilihat beberapa pecah pola rok sesuai dengan
desain dan kesempatan pemakaiannya.

Desain 1. Rok span
   Rok span sering dipakai untuk pasangan blus atau jas dan blazer
yang dipakai untuk busana kerja.




                      Gambar 165. Pecah pola rok span

Keterangan :
    Tarik garis lurus dari panggul ke bawah, pada bagian bawah rok
masukkan 2 sampai 5 cm ke dalam dari batas garis tersebut lalu
hubungkan ke garis panggul. Bagian bawah rok akan terlihat lebih kecil
dari pada garis lingkar panggul.

Desain 2. Rok semi span
   Sama dengan rok span, rok semi span juga sering dipakai untuk
pasangan blus atau jas dan blazer yang dipakai untuk busana kerja.
Panjang rok bervariasi mulai dari selutut, sampai betis atau sampai mata
kaki.




                                                                    325
                   Gambar 166. Pecah Pola Rok Semi Span

Keterangan :
   Tarik garis lurus dari panggul ke bawah lalu hubungkan ke garis
panggul. Bagian bawah rok akan terlihat sama besar dengan garis lingkar
panggul.

Desain 3. Rok dengan lipit hadap
    Rok dengan lipit hadap biasanya dibuat untuk busana sekolah bagi
siswa SLTP atau SLTA. Model rok ini juga sering dibuat untuk rok
pasangan baju kurung.


      a   a




                  Gambar 167. Pecah Pola Rok Lipit Hadap



                                                                   326
Keterangan :
     a = besar lipit sesuai dengan yang kita inginkan. Biasanya sekitar
5 - 10 cm. Jika besar lipit yang diinginkan 8 cm maka untuk seluruh
lipit dibutuhkan kain 8 cm x 4 bh = 32 cm. Jadi lipit kanan
membutuhkan 16 cm dan lipit kiri membutuhkan 16 cm juga. Lipit
disusun berhadapan. Tengah muka diletakkan pada lipatan kain dan
tengah belakang pada tepi kain.

Rok pias
   Rok pias dapat dipakai untuk busana sehari-hari baik untuk
kesempatan santai di rumah maupun santai di taman.

Desain 4. Rok pias dua yang dikembangkan




           Gambar 168. Pecah pola rok pias dua dikembangkan



                                                                   327
Keterangan :
    Rok pias 2 ini sama dengan rok model A yang mana bagian yang
dipecah tidak diputus tetapi hanya dikembangkan. Besar
pengembangan disesuaikan dengan model yang diinginkan, biasanya
3 – 5 cm. Jika kup tidak digunakan maka pada bagian sisi pinggang
dikurangi sebesar kup yang dihilangkan tersebut.

Desain 5. Rok pias enam




               Gambar 169. Pecah pola rok pias enam



                                                             328
Keterangan :
    Rok pias enam merupakan rok yang jumlah piasnya 6 buah terdiri
atas 3 buah pias di bagian muka dan 3 buah pias pada bagian
belakang. Untuk mengembangkan pola terlebih dahulu tandai bagian
yang akan digunting atau dipecah. Pola depan di bagi menjadi 2
bagian, bagian sisi merupakan 1/3 lebar rok depan. Kemudian gunting
bagian pola yang di tandai tersebut dan dikembangkan. Besar
pengembangannya atau (tanda a pada gambar di atas) disesuaikan
dengan desain, bisa 3 - 7 cm. Begitu juga dengan pola belakang,
caranya sama dengan pecah pola bagian depan rok.

Desain 6. Rok dengan lipit sungkup




             a    a

           Gambar 170. Pecah pola rok lipit sungkup



Keterangan :
     Lipit sungkup merupakan kebalikan dari lipit hadap, arah lipit
dibuat berlawanan sehingga pada bagian baik bahan terlihat
lipitannya. Lipit ini biasanya dijahit kecil pada bagian tepi lipitan. Jika
lipit sungkup dibuat pada bagian depan atau pada garis kup depan
maka pada bagian kup tersebut digunting lurus ke bawah, kemudian
dilebarkan sebesar lipit yang diinginkan. Jika besar lipit 6 cm, maka
besar tanda a pada gambar = 2 x 6 = 12 cm. Jadi untuk lipit sungkup
ini dilebarkan 2 x 12 cm atau 24 cm.


                                                                       329
   Desain 7. Rok kerut




              a      a                                   a   a

                      Gambar 171. Pecah pola rok kerut

   Keterangan :
       Rok kerut sering dibuat untuk pakaian pesta anak dan remaja,
   pakaian sehari-hari dan pakaian santai. Untuk membuat rok kerut
   terlebih dahulu pola dibagi menjadi beberapa bagian. Untuk pedoman
   mengembangkan pola jangan lupa pindahkan tanda garis lingkar
   panggul sebagai pedoman. Besar pengembangan pola (tanda a pada
   gambar) disesuaikan dengan model dan lebar kain yang digunakan.
   Pola dikembangkan dengan tetap menjaga garis pedoman (garis
   lingkar panggul) tetap lurus. Kemudian hubungkan masing-masing
   pecah pola tersebut. Adakalanya bagian sisi tidak diputus, maka
   dapat disatukan dengan bagian sisi belakang dan bagian sisi ini
   diluruskan.

C. Pecah Pola Blus Sesuai Desain
    Blus merupakan pakaian yang dikenakan pada badan atas sampai
batas pinggang atau ke bawah hingga panggul sesuai dengan yang
diinginkan. Blus dapat dipasangkan dengan rok atau celana. Secara garis
besar blus dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Blus luar yaitu blus yang dipakai diluar rok atau celana.
2. Blus dalam yaitu blus yang pemakaiannya dimasukkan kedalam rok
    atau celana. Biasanya blus seperti ini mempunyai model lurus sampai
    batas panggul dan adakalanya juga lebih longgar dibanding blus luar.
    Berikut ini beberapa model blus dan pecah polanya :

   Desain 1


                                                                    330
   Blus luar dengan kerah ½ rebah, memakai garis princes dari bahu
melewati kup dan lengan suai pendek . Panjang blus ± 10 cm dari garis
panggul. Panjang lengan ± 25 cm dan krah pas pada garis leher dasar.
Pakaian ini dapat dipakai untuk kesempatan resmi seperti ke kantor.

Pola blus




                       Gambar 172. Pecah pola blus

Keterangan :
    Pertama-tama pola dasar rok dan badan disatukan. Untuk membuat
garis princes pada pola depan terlebih dahulu tutup kup sisi dan bentuk
garis princes dari pertengahan bahu melewati puncak dada dan kup
pinggang dan luruskan dari kup ke bawah. Tambahkan tengah muka 2
cm untuk lidah belahan dan 4 cm untuk lapisan ke bagian dalamnya.
Turunkan bagian sisi ketiak 1 cm dan keluarkan 1 cm, bentuk sampai
batas panggul. Pada sisi bawah blus dikeluarkan 2 cm untuk melebarkan
bagian bawah blus.
    Untuk pola belakang sama dengan pola depan yang mana bagian sisi
pada ketiak diturunkan 1 cm dan dikeluarkan 1 cm. Bagian pinggang
dikeluarkan 1 cm dan bagian sisi bawah blus dikeluarkan 2 cm kemudiian
hubungkan garis tersebut.




                                                                   331
Pola lengan dan kerah

       Pola kerah ½ rebah                   Pola lengan

   Lingkar leher -1




   ½




                Gambar 173. Pecah pola kerah dan pola lengan

Keterangan :
    Untuk membuat pola kerah lihat gambar di atas. Ukuran lingkar leher
diperoleh dari ukuran leher depan sampai batas tengah muka ditambah
ukuran leher belakang. Buat pola dengan ukuran seperti pada gambar.
Pola lengan dibuat sama dengan cara membuat pola dasar lengan tetapi
ukuran lingkar kerung lengan disesuaikan dengan lingkar lengan yang
sudah dirobah.

   Desain 2
    Blus luar dengan belahan asimetris ± 7 atau 8 cm dari garis tengah
muka, panjang blus ± 25 cm dari garis pinggang atau 10 cm dari garis
panggul. Memakai kerah board dan lengan kop poff dengan panjang ¾
lengan. Pada ujung lengan ada bis yang ujungnya diikat. Mempunyai kup
pinggang dan kup sisi.




                      Gambar 174. Pecah pola blus belahan asimetris



                                                                      332
Keterangan :
    Hubungkan pola dasar rok dengan pola dasar badan. Tambahkan
bagian tengah muka 2 cm untuk lidah belahan. Untuk belahan asimetris
atau overslah, dibentuk dari garis leher ke arah tengah muka. Besar
overslah ini disesuaikan dengan model atau lebih kurang 7 atau 8 cm.
Bentuk garis tersebut sampai ke batas pinggang seperti terlihat pada
gambar. Untuk lapisan tengah muka di buat 4 – 5 cm. Pada bagian sisi
atas blus atau bagian ketiak, diturunkan 1 cm dan dikeluarkan 1 cm.
Pada pinggang dikeluarkan 1 cm, panggul 1 cm dan bagian bawah baju 1
½ - 2 cm, kemudian dibentuk. Pola bagian belakang sama halnya dengan
pola depan. Pada bagian sisi dilonggarkan sama dengan pola depan.




                                         Keterangan
                                         Gunting pola lengan pada
                                         garis tengah lengan lalu
                                         lebarkan 5 cm dan naikkan 3
                                         cm. Kemudian bentuk pada
                                         bagian      puncak    lengan.
                                         Semakin tinggi dinaikkan
                                         pada puncak lengan maka
                                         kerutan pada puncak lengan
                                         akan semakin tinggi pula dan
                                         semakin lebar dilebarkan pola
                                         maka       semakin    banyak
                                         kerutan pada puncak lengan.
                                         Untuk pembuatan pola kerah
                                         dapat dilihat pada gambar
                                         Panjang kerah = ½ lingkar
                                         leher pada pola badan.
Gambar 175. Pecah pola lengan




Desain 3
    Blus dalam atau blus yang dimasukkan ke dalam rok, menggunakan
kerah setali model runcing, lengan kop pendek ± 30 cm dan belahan
memakai kancing. Garis leher turun ± 8 cm. Panjang blus ± 25 cm karena
dilebihkan untuk gelembung pada pinggang.




                                                                  333
Gambar 176. Pecah pola blus yang dimasukkan ke dalam




                                                       334
Keterangan :
    Untuk kelonggaran blus pada sisi baju atau pada ketiak diturunkan 2
cm dan dikeluarkan 3 cm sama dengan pada bagian panggul. Untuk
membuat kerah setali pada tengah muka dikeluarkan 2 cm untuk lidah
belahan. Untuk membentuk kerah pertama-tama dibuat garis patahan
kerah dengan cara turunkan dari garis leher dasar ke bawah 8 cm pada
garis TM. Panjang kerah belakang = ½ lingkar leher belakang. Lebar
kerah ± 7 cm. Bentuklah kerah seperti pada gambar. Lapisan kerah dan
tengah muka dibuat dari garis bahu sampai bawah blus mengikuti bentuk
kerah dengan lebar 3 cm pada garis bahu dan 8 cm pada bagian bawah
blus. Bentuklah seperti terlihat pada gambar.

D. Pecah Pola Celana Sesuai Desain
    Celana adalah pakaian bagian bawah yang dipakai mulai dari
pinggang melewati panggul sampai ke bawah sesuai yang diinginkan dan
berbentuk pipa yang berguna untuk memasukkan kaki. Celana untuk
wanita biasa disebut dengan slack sedangkan celana untuk pria disebut
dengan pantalon. Berdasarkan siluet dan panjangnya celana dapat
dibedakan menjadi 8 macam yaitu :
1. Celana short atau hot pant yaitu celana pendek atau yang panjangnya
    sampai pertengahan paha.
2. Celana bermuda yaitu celana yang panjangnya lebih kurang 10 cm di
    atas lutut.
3. Cullotte yaitu celana rok dengan bentuk agak melebar ke bawah
4. Knikers yaitu celana yang menggelembung dengan kerut dibagian
    pinggang dan bagian bawah celana diberi manset. Panjangnya lebih
    kurang 10 cm dibawah lutut.
5. Jodh pure adalah celana dengan siluet Y, menggelembung pada
    bagian atas dan menyempit ke bawah dan panjangnya sampai batas
    lutut. Jika panjangnya sampai mata kaki disebut dengan celana
    baggy.
6. Legging yaitu celana pas kaki yang biasanya dibuat dari bahan yang
    stretch atau lentur dan panjangnya sampai mata kaki.
7. Capri yaitu celana yang panjangnya di atas mata kaki dan bagian
    bawah diberi belahan lebih kurang 20 cm.
8. Bell botton yaitu celana dengan panjang sampai mata kaki atau
    menutup mata kaki dan melebar dari lutut ke bawah. Celana ini
    biasanya disebut dengan cutbray.

   Berikut ini dapat dilihat beberapa teknik pecah pola celana sesuai
dengan model di atas.

Model 1. Celana model jodh pure
   Celana bersiluet Y, menggelembung pada bagian atas dan
menyempit ke bawah dan panjangnya sampai batas lutut. Jika
panjangnya sampai mata kaki disebut dengan celana baggy.


                                                                   335
                  Gambar 177. Pecah pola model jodh pure

Keterangan :
    Celana digunting pada garis panggul dan garis tengah celana sampai
batas lutut. Tarik ke luar bagian pola yang sudah digunting. Besar
pelebaran celana pada garis tengah celana 5 cm. Bentuklah bagian sisi
celana mengikuti pola yang sudah dilebarkan tersebut. Pecah pola celana


                                                                   336
bagian belakang sama dengan bagian depan. Celana model ini cocok
digunakan untuk pakaian santai.

Desain 2. Celana model bell botton
   Celana ini panjangnya sampai mata kaki atau menutup mata kaki dan
melebar dari lutut ke bawah. Celana ini biasa disebut dengan cut bray.




                  Gambar 178. Pecah pola calana bell bolton



                                                                  337
Keterangan :
    Teknik pecah pola depan dan pola belakang sama. Pertama-tama
guntinglah bagian ujung celana sampai batas lutut menjadi 3 bagian.
Masing-masing bagian tersebut dilebarkan ± 5 cm sehingga bagian ujung
celana menjadi lebar. Bentuklah pola mengikuti pola yang sudah
dilebarkan.

Model 3. Celana model knikers
   Celana model ini menggelembung dengan kerut dibagian pinggang
dan bagian bawah celana, pada ujung bawah celana diberi manset.
Panjang celana ± 10 cm dibawah lutut.




                   Gambar 179. Pecah pola calana krikers



                                                                 338
Keterangan :
    Pertama-tama tandai batas panjang celana, kemudian gunting celana
mengikuti garis tengah celana. Masing-masing bagian yang digunting,
dilebarkan 10 cm agar celana lebih longgar dan untuk mendapatkan
kerutan pada ujung celana. Bentuklah pola mengikuti bagian yang
dilebarkan tersebut. Pecah pola muka sama dengan pecah pola
belakang.

Model 3. Celana bermuda
Celana model ini panjangnya lebih kurang 10 cm diatas lutut.




                   Gambar 180. Pecah pola celana Bermuda

 Keterangan :
   Untuk celana model di atas, cukup dipendekkan saja sesuai dengan
desain yang mana celana ini panjangnya 10 cm di atas lutut. Celana
model ini biasanya di pakai untuk kesempatan santai. Dengan memakai




                                                                 339
bahan tertentu seperti bahan stretch atau elastis dapat dipakai untuk
kesempatan olah raga.

 Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : siswa
 dapat membuat pecah pola busana wanita sesuai dengan desain
 dan kesempatan pemakaian, baik berupa rok, blus dan celana




Evaluasi :
Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas.

1. Sebelum merobah pola sesuai dengan model atau desain ada
   beberapa hal yang perlu dilakukan!
2. Sebutkan dan jelaskanlah beberapa model rok berdasarkan ukuran
   panjangnya !
3. Buatlah analisa desain dan pecah pola pada gambar – gambar
   berikut ini :




       Gambar (a)           Gambar (b)             Gambar (c)




                         *** Selamat Belajar ***




                                                                    340
                                BAB IX
    MEMOTONG, MENJAHIT, PENYELESAIAN
                 (CUTTING, SEWING, FINISHING)

A. Menyiapkan Tempat Kerja
    Tempat kerja merupakan bagian yang penting dalam suatu usaha,
secara tidak langsung tempat kerja akan berpengaruh pada kesenangan,
kenyamanan dan keselamatan dari para siswa/pekerja. Keadaan atau
suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan
menimbulkan gairah produktivitas kerja.
    Menyiapkan tempat kerja untuk memotong bahan berbeda dengan
tempat kerja menjahit dengan tangan ataupun dengan mesin. Suatu
tempat kerja yang diatur teliti dengan mengingat tertib kerja dan rasa
keindahan, akan menyebabkan siswa/pekerja yang sedang melakukan
kegiatan memotong bahan akan bekerja dengan perasaan senang.
Tempat kerja yang dimaksud adalah yang ergonomik dengan kata lain
tempat kerja yang sesuai dengan kebutuhan.
    Alat seperti meja potong, bahan/kain yang akan dipotong dan alat-alat
potong lainnya yang diperlukan disusun sesuai dengan urutan proses
kerja dalam menyelesaikan suatu potongan. Fasilitas yang harus
disediakan adalah : Ruang kerja untuk memotong bahan, almari tempat
bahan dan tempat alat potong serta tempat khusus untuk menyimpan
bahan yang telah dipotong dan yang tidak kalah pentingnya adalah
tempat sampah/tempat sisa-sisa potongan.
        Memotong bahan dengan menggunakan mesin potong
membutuhkan tempat kerja yang berbeda dengan memotong bahan
menggunakan gunting biasa yang dilakukan secara manual. Memotong
bahan dengan gunting biasa tempat yang dibutuhkan cukup dengan
menggunakan meja potong yang sederhana. Sedangkan untuk
memotong bahan dengan mesin potong tempatnya disesuaikan dengan
jenis dan besarnya mesin potong yang dipakai. Biasanya meja yang
digunakan untuk memotong bahan pada produksi massal adalah:
1. Meja dengan ukuran yang lebih besar. Lebarnya minimal 1,5 m dan
    panjangya minimal 3 m sesuai dengan besar kecilnya kapasitas
    produksi.
2. Gunting khusus untuk konveksi (round knife, band knife, double knife,
    straight knife).
        Tempat potong untuk perorangan lebih sederhana dari pada untuk
memotong secara massal. Meja potong untuk perorangan cukup dengan
meja berukuran 2 m x 0,8 m. Di sekolah/workshop tempat bekerja untuk
memotong bahan, lay outnya disesuaikan dengan jumlah siswa dan
besar ruangan. Jumlah siswa setiap kelas praktek berkisar antara 16 s.d
20 orang. Ukuran yang ideal untuk setiap siswa membutuhkan tempat
seluas 4 s.d 5 meter bujur sangkar, karena setiap siswa membutuhkan
satu meja dan satu mesin jahit serta satu loker untuk menyimpan alat-alat


                                                                     332
jahit dan alat lainnya. Semua alat haruslah tertata dengan rapi dan
efisien begitu pula dengan alat-alat kecil harus tersedia dalam sebuah
kotak.
        Ruang kerja yang perlu diperhatikan adalah ruang kerja yang
sesuai dengan kebutuhan, rapi dan menyenangkan sehingga tidak
menimbulkan kebosanan. Untuk sebuah perusahaan konveksi yang
mempunyai karyawan dalam jumlah banyak sangat diajurkan agar
disediakan tempat istirahat atau tempat olahraga ringan di ruangan kerja
tersebut. Tempat berbaring disebuah ruangan terpisah untuk pekerja
yang ingin melemaskan otot punggung, selain dari itu juga kamar kecil
dan kamar ganti atau kamar rias sekedarnya harus pula disediakan. Perlu
juga disediakan sebuah kantin, mushala, dan tempat berobat. Dan yang
sangat penting diperhatikan adalah kebersihan seluruh tempat kerja dan
juga tempat lainnya sehingga karyawan merasa betah dan nyaman dalam
melakukan aktifitas sehari-hari.
        Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan tempat
kerja yang sesuai dengan konsep budaya kerja, diantaranya:
1. Tempat kerja menjadi lebih teratur dan efisien, sehingga bila ingin
    melakukan diversifikasi produk lebih mudah.
2. Tempat kerja, mesin-mesin dan peralatan yang teratur dan bersih
    siswa/pekerja akan termotivasi untuk datang ketempat          kerja,
    sehingga ketidak hadiran dapat dikurangi.
3. Tempat kerja yang terorganisir dan bersih akan lebih meningkatkan
    semangat kerja siswa untuk menghasilkan produk yang baik.
4. Tempat kerja yang teratur secara rapih dan bersih akan mengurangi
    resiko terjadinya kecelakaan di tempat kerja, dapat menghasilkan
    proses pemotongan bahan yang tepat waktu.

B. Menyiapkan Bahan
   1. Memilih bahan
         Bahan atau tekstil mempunyai aneka ragam jenis dan sifatnya.
   Akibat proses pembuatan yang berlainan dan bahan mentah (asal
   bahan) serta zat pelarutnya yang berbeda, menyebabkan ciri-ciri dan
   sifat bahan bebeda pula, ada yang kaku, ada yang melansai, yang
   lembut, lemas, berat, ringan, tebal, tipis, transparan dan sebagainya.
         Untuk itu pembelian bahan atau tekstil harus dilakukan oleh
   seorang yang ahli dibidang tekstil. Pembelian kain yang sesuai
   dengan kebutuhan akan menghindarkan dari kelambatan dalam
   pemotongan. Pada waktu pembelian kain, spesifikasi mutu kain harus
   dinyatakan dengan jelas. Spesifikasi mutu kain tersebut antara lain
   adalah :
   a) Dimensi, meliputi ukuran panjang, lebar, berat dan mungkin tebal
       kain, termasuk toleransinya.
   b) Jumlah dan jenis cacat yang diperbolehkan tiap unit, termasuk
       cara penilaiannya dan lembaga penilai yang ditunjuk jika terjadi
       perbedaan pendapat.


                                                                     333
c) Rincian konstruksi dan sifat kain yang diminta, didasarkan pada
     laporan uji.
     Di samping hal di atas, keserasian antara bahan dengan desain
busana sangat perlu diperhatikan. Siluet pakaian menjadi
pertimbangan sebelum kita memilih bahan, apakah sesuai untuk
desain pakaian berkerut, berlipit atau mengembang. Caranya, bahan
digantungkan memanjang dengan dilipit-lipit untuk memperhatikan
jatuhnya, begitu pula untuk memperhatikan kasar halusnya kita raba
dan beratnya kita timang apakah syarat-syarat pada desain telah
terpenuhi.
     Permukaan bahan (tekstur) ada empat karakter: 1) Bila dilihat dari
efek pantulan cahaya dari bahan misalnya berkilau atau kusam; 2)
Jika diraba terasa kasar atau halus; 3) Kalau dipegang terasa berat,
ringan, tipis dan kaku; 4) Kesan pada penglihatan adalah mewah
atau sederhana.
Setiap tekstur mempunyai pengaruh terhadap penampilan suatu
busana dan bentuk badan sipemakai, bahan yang berat atau tebal
akan menambah bentuk. Bahan yang berkilau akan menambah besar
dari pada bahan tenunan yang permukaan kusam, seperti bahan satin
akan memperbesar bentuk badan dari pada bahan Cape. Maka dari
itu kita perlu memilih bahan yang tepat.
     Jika suatu desain memerlukan efek mengembang, pilihlah bahan
busana yang dapat membentuk gelembung dengan wajar. Sebaliknya
bila suatu desain memperlihatkan kelembutan perhatikanlah jangan
memakai bahan yang kaku. Bahan tekstil yang bercorak atau bermotif
juga akan ikut berperan membentuk kesan tertentu pada busana atau
sipemakainya. Penyesuaian karakter motif seperti garis-garis atau
kotak–kotak akan memberikan kesan kaku. Maka dari itu desain
mengarah kepada kesan sportif, begitu pula dengan bulatan maka
lebih mengarah pada lengkung.
     Untuk itu dalam menyiapkan bahan perlu disesuaikan dengan
desain, bentuk tubuh, usia, jenis pakaian serta kesempatan
sipemakai.

2. Memeriksa bahan
     Memeriksa bahan sebelum dibeli sangat perlu dilakukan.
Biasanya untuk memastikan sifat kain perlu dilakukan pengujian. Uji-
uji yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan pemakainya, beberapa
pengujian kain yang umum dan biasa dilakukan antara lain adalah :
a. Warna, kesesuaian warna dan tahan luntur warna terhadap
     pencucian, keringat, gosokan, sinar matahari, terhadap
     penyetrikaan, gas tertentu dan air laut.
b. Kestabilan dimensi kain dalam pencucian
c. Ketahanan kusut dan sifat langsai (drape) termasuk sifat kain
     yang tidak memerlukan penyetrikaan setelah pencucian (sifat
     durable press).


                                                                   334
d.   Kekuatan tarik, sobek dan jebol.
e.   Tahan gesekan dan pilling, terutama untuk serat sintetik
f.   Sifat nyala api, sebelum atau sesudah beberapa kali pencucian.
g.   Lengkungan dan kemiringan benang pada kain.
h.   Penyerapan atau tolak air kain sesuai penggunaan.

    Disamping memeriksa bahan sebelum membeli, juga diperlukan
memeriksa bahan sebelum dipotong , terlebih terhadap kain yang
dibeli dalam bentuk kayu/gulung. Disamping itu juga sangat
diperlukan memeriksa bahan dengan mempertimbangkan segi
ekonomis dan psikologisnya, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Kesesuaian bahan dengan desain.
b. Berapa ukuran bahan agar bisa dibuat rancangan bahan atau
    marker, sesuai dengan ukuran bahan.
c. Pemeriksaan cacat kain, baik cacat bahan, cacat warna atau pun
    cacat printing, maka yang cacat supaya ditandai dan dihindari
    waktu menyusun pola perseorangan.
d. Apakah bahannya menyusut, kalau menyusut direndam terlebih
    dahulu agar nanti setelah dipakai dan dicuci ukuran tidak berubah
    atau bajunya tidak sempit.
e. Apakah bahan yang ada sesuai dengan kesempatan sipemakai,
    sesuai dengan usia, jenis kelamin, bentuk tubuh, warna kulit dan
    lain sebagainya.
f. Produksi massal supaya ditandai atau bila perlu dipotong agar
    tidak masuk kedalam penggelaran bahan.
g. Penggelaran bahan–bahan dilakukan panjangnya berdasarkan
    marker.

   Pernyataan di atas mengingatkan kepada kita semua bahwa,
sebelum membuat busana terlebih dahulu kita hendaklah membuat
perencanan, dengan perencanaan yang baik diharapkan hasil akan
baik. Perencanaan busana dituangkan dalam bentuk desain atau
model busana. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain
busana adalah:
1. Bentuk tubuh si pemakai, seperti langsing, gemuk pendek, tinggi
    langsing dan sebagainya.
    Dalam mendesain busana untuk model dengan tipe tersebut
    hendaklah dapat mengatasi masalah-masalah tubuh, seperti
    bagian yang kurang sesuai dapat disembunyikan sehingga
    tertutupi kelemahannya.
2. Kesempatan
    Kesempatan yang dimaksud disini adalah busana untuk
    kesempatan kerja, busana pesta, busana sehari-hari, dan
    sebagainya. Mendesain busana untuk pesta hendaklah desainnya
    kelihatan memberi kesan lebih mewah dan untuk busana kerja
    diharapkan dapat memberi kesan resmi dan nyaman.


                                                                  335
a. Desain Busana
        Kalau akan membuat busana terlebih dahulu tentukanlah
desain busana itu sendiri. Desain dapat dirancang sendiri ataupun
dengan mengambil/memilih desain dari majalah. Sebagai seorang
penata atau pengelola busana harus dapat memahami atau
membaca desain busana itu sendiri, untuk itu diperlukan pengetahuan
dasar dan latihan-latihan menyimak model dan mengkonstruksi pola
sesuai dengandesain.
Masalah yang sering terjadi dilapangan adalah tidak tepatnya hasil
pakaian dengan desain yang diharapkan. Ini disebabkan tidak
benarnya cara merubah pola dasar sesuai dengan desain. Kesalahan
teknis mengubah pola akan mengakibatkan pakaian tidak sesuai
dengan desain, hasilnya bisa lebih buruk dan juga bisa lebih baik,
tetapi yang jelas sudah tidak sesuai dengan yang diminta, inilah yang
sering membuat konsumen merasa kecewa. Untuk itu marilah
dipahami terlebih dahulu analisa desain dan konstruksi pola serta
dapat mengenal ciri-ciri desain.

b. Analisa Desain
Dalam menganalisa desain kita bisa mengamati dari gejala-gejala
atau ciri-ciri dari desain itu sendiri seperti :

   1) Gejala perspektif
       Desain apakah berupa sketsa atau foto, ada yang lurus
   kedepan, sikap dengan gaya menyamping ataupun sikap
   membelakangi lensa, dengan gaya tersebut satu desain pakaian
   ada kala dapat dilihat dengan jelas dan ada kalanya meragukan
   terutama pada saat menoleh ke kiri atau ke kekanan, jika desain
   seperti ini jika diperhatikan maka bagian kiri atau kanannya tidak
   sama, bagian yang dekat dengan mata lebih besar dari pada
   yang letaknya agak jauh, semakin jauh jarak semakin kecil
   letaknya. Hal ini disebabkan gejala perspektif dalam pandangan
   mata, sedangkan bila dilihat lurus kedepan bagian kiri dan kanan
   sama. Jadi dalam menganalisa model hal-hal tersebut di atas
   perlu diperhatikan agar tidak salah dalam memahami desain.

   2) Siluet
       Dengan melihat dan mengamati siluet dari busana kita dapat
   menaksir dan menentukan wujud bahan dari busana itu sendiri.
   Siluet yang tegang dan mengembang dengan garis sisi yang
   lurus, menandakan bahannya tebal dan kaku, bila sisinya
   lengkung atau bawah baju/rok agak bergelombang maka bahan
   yang digunakan adalah lembut.
   Siluet yang melangsai kebawah selain menandakan bahannya
   lembut juga dapat dilihat arah benangnya yang memanjang



                                                                 336
kebawah dan bila lebih bergelombang pinggirnya berarti arah
benang diagonal dan sebagainya.

3) Teknik penyelesaian busana.
   Teknik penyelesaian suatu busana sangat menentukan
kualitas dari busana itu sendiri, kesalahan dalam menganalisa
desain akan menjadi kesalahan dalam teknik penyelesaiannya.
Seperti ada desain dengan kantong klep, kemudian dibuat
dengan klep palsu (tanpa kantong), dilihat dari bentuk sama tapi
kualitas dari busana itu sendiri akan turun dari yang semestinya.

4) Warna dan corak bahan
   Gambar desain pada majalah mode tidak selalu memakai
warna sehingga penyimak mode perlu menaksir warna dan corak
untuk suatu desain. Sebaiknya kita mencari suatu desain yang
cocok untuk bahan yang telah kita beli. Misalnya desain busana
yang ramai kita kombinasikan dengan warna yang lembut
sehingga lebih serasi dengan corak dan warna yang menyolok.

5) Ciri-ciri desain
    Ciri-ciri khusus pada busana dapat kita amati untuk
menentukan desain yang benar karena terlihat sama atau serupa
tapi sebenarnya konstruksinya berbeda, seperti desain berikut: 1).
Kerah setali dengan kerah river, perbedaannya terletak pada
garis sambungan pada kerah bagian muka dan kalau dilihat dari
belakang yaitu pada kerah tengah belakang mempunyai
sambungan untuk kerah setali, sedangkan kerah river tidak
mempunyai sambungan .2) Ciri-ciri blus yang mempunyai kampuh
pinggang dan yang tidak berkampuh pinggang.
    Ciri–ciri blus yang berkampuh pinggang dibawah ikat pinggang
terdapat lipit kup atau kerutan, diatasnya polos. Untuk yang tidak
memakai kampuh pinggang di atas ataupun dibawah ikat
pinggang sama, pakai kerutan atau tanpa kerutan dan pakai lipit
atau tidak pakai lipit.

6)  Analisa desain dan konstruksi.
    Merobah pola dasar menjadi pola busana sesuai dengan
desain tertentu terdapat pada cara memindahkan lipit pantas (lipit
kup) pola dasar wanita dewasa, karena lipit pantas ini merupakan
aset dalam pecah pola atau merobah pola.
    Begitu pula mengkonstruksi pola pakaian sesuai dengan
desain dapat dengan memindahkan lipit pantas sehingga menjadi
desain yang baru atau menjadi garis hias seperti garis princes,
garis empire serta garis hias lainnya. Memecah lipit pantas pada
rok dan mengembangkannya menjadi rok model A. Begitu pula
dengan bentuk kerah, bentuk lengan dan sebagainya.


                                                              337
Amatilah desain di bawah ini, lalu dianalisa dan kita coba
bagaimana membuat konstruksinya.

      Desain




                                                      338
     7) Analisa desain
        Gaun ini mempunyai garis pas empire, lipit kup dijadikan
     kerutan dibawah buste (buah dada). Konstruksinya, lebih kurang 9
     cm dari garis pinggang (½ panjang sisi) untuk pas pinggang
     kupnya dihilangkan. Memakai lengan kop, konstruksinya adalah;
     puncak lengan dipecah (digunting) dan dikembangkan. Kerah
     sanghai (kerah board). Rok model A, konstruksinya; lipit kup (lipit
     pantas) dilipatkan dan pada ujung kup digunting dan secara
     otomatis akan menjadi kembang ( terbuka ) setelah lipit kup
     ditutup.

  c. Pola Busana
      Pola busana adalah pola yang telah dirubah berdasarkan desain
  dari busana tersebut. Untuk membuat pola busana dapat dengan
  pengembangan, pecah pola, ataupun mengkostruksi pola
  berdasarkan model dan analisis model seperti pola blus yang terdiri
  dari pola blus muka, belakang, lengan, kerah dan perlengkapan
  lainnya seperti saku kalau ada sesuai dengan model, semua sudah
  lengkap dengan tanda-tanda pola seperti tanda arah benang, tanda
  lipatan, tanda kampuh dan sebagainya. Contoh lain pola celana yaitu:
  pola celana bagian muka, pola celana bagian belakang, saku, pola
  ban pinggang dan sebagainya. Begitu juga dengan model-model
  busana lainnya.

C. Meletakkan Pola Di Atas Bahan
  1. Rancangan bahan.
      Merancang bahan adalah memperkirakan banyaknya bahan yang
  dibutuhkan pada proses pemotongan. Rancangan bahan diperlukan
  sebagai pedoman ketika memotong bahan.

  Cara membuat rancangan bahan yaitu:
  a) Buat semua bagian-bagian pola yang telah dirobah menurut
      desain serta bagian-bagian yang digunakan sebagai lapisan
      dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala 1:4.
  b) Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang
      akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut dalam ukuran
      skala yang sama dengan skala pola yaitu 1:4.
  c) Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang kain dan
      bagian-bagian pola disusun di atas kertas tersebut. Terlebih
      dahulu susunlah bagian-bagian pola yang besar baru kemudian
      pola-pola yang kecil agar lebih efektif dan efisien.
  d) Hitung berapa banyak kain yang terpakai setelah pola diberi
      tanda-tanda pola dan kampuh.
          Rancangan bahan diperlukan sebagai pedoman ketika
  memotong bahan. Bila rancangan bahan berbentuk marker yang
  dipakai untuk memotong bahan dalam jumlah banyak maka, sebelum


                                                                    339
diletakkan di atas bahan, panjang marker dijadikan ukuran untuk
menggelar bahan sebanyak jumlah yang akan diproduksi, atau
disesuaikan dengan kemampuan alat potong yang digunakan.
Metoda didalam perencanaan marker ini dapat dibedakan sebagai
berikut:
1) Menggunakan pola dengan ukuran sebenarnya langsung diatas
    marker dengan jalan mengatur letak pola-pola agar didapat
    efisiensi marker yang terbaik.
2) Menggunakan pola yang diperkecil. Untuk memperkecil pola ini,
    digunakan peralatan antara lain, pantograph, meja skala dan
    kamera.
3) Menggunakan computer yang terintegrasi, yang terdiri dari:
    a) Digitizer, keyboard, mouse sebagai pemasok data.
    b) CPU sebagai pengolah data dan media penyimpanan.
    c) Monitor sebagai media pemantau
    d) Printer, plotter sebagai media pencetak.

Metoda dalam penggambaran dan penggandaan marker dibedakan
menjadi:
1) Digambar dengan tangan, mengikuti pola pada kertas. Pembuat
   marker meletakkan pola di atas kertas, lalu menggambar dengan
   mengitari pola untuk setiap pola dan masing-masing ukuran diberi
   kode.
2) Dengan perantara komputer.
   Pembuat marker tinggal memberi instruksi ke komputer untuk
   menggambarkan marker keatas kertas. Perintah ini diteruskan
   sampai marker digambar oleh plotter. Proses penggambaran dan
   penggandaan membutuhkan sedikit perhatian dari pembuat
   marker.
3) Digambar langsung ke kain/bahan, caranya dengan mengitari pola
   dan dengan spray marking.

Merancang Bahan dan Harga
  Merancang bahan dan harga artinya memperkirakan banyaknya
keperluan bahan serta biaya yang dibutuhkan untuk selembar
pakaian. Merancang bahan dan harga ada dua cara :

   a) Dengan menghitung jumlah bahan secara global, kita dapat
   memperkirakan jumlah bahan yang terpakai atau yang akan
   digunakan untuk satu desain pakaian. Caranya dapat dilakukan
   dengan mengukur panjang bagian-bagian pola pakaian seperti ,
   panjang blus/gaun, panjang lengan, panjang rok atau panjang
   celana dan ditambah kampuh setiap bagian pakaian. Disamping
   itu kita juga mempertimbangkan lebar kain yang digunakan dan
   membandingkannya dengan bagian pola yang terlebar dan letak
   masing-masing pola. Namun perhitungan secara global ini dapat


                                                               340
  diaplikasikan untuk desain pakaian yang tidak terlalu rumit seperti
  rok, celana atau blus dengan desain yang sederhana.

  b) Membuat rancangan bahan dengan ukuran skala yaitu pola
  pakaian dibuat dengan ukuran skala, apakah skala 1;4, 1:2, 1:6
  atau 1:8 atau dengan pola ukuran asli/ukuran sebenarnya dan
  kertas juga dipakai ukuran sebenarnya. Sesuaikan lebar bahan
  yang akan dipotong dengan lebar kertas yang dijadikan untuk
  rancangan bahan/kertas pengganti kain. Susun pola pakaian di
  atas kertas pengganti kain seefektif dan seefisien mungkin.

2. Tujuan membuat rancangan bahan dan harga
  a) Untuk mengetahui banyak bahan yang dibutuhkan sesuai
     desain busana yang akan dibuat.
  b) Untuk menghindari kekurangan dan kelebihan bahan.
  c) Sebagai pedoman waktu menggunting agar tidak terjadi
     kesalahan.
  d) Untuk mengetahui jumlah biaya yang diperlukan.

3. Cara membuat rancangan bahan dan harga;
  a) Buatlah semua bagian–bagian pola yang telah dirobah
  b) menurut desain dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala
     1:4. Setiap pola dilengkapi dengan tanda–tanda pola yaitu
     arah serat, tanda lipatan bahan, kampuh dan sebagai nya, dan
     juga siapkan bagian-bagian pola yang kecil seperti kerah,
     lapisan–lapisan pakaian termasuk depun atau serip dan
     sebagainya;
  c) Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang
     akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut seperti :
     kain dengan lebar 90 cm, 115 cm, atau kain dengan lebar 150
     cm dalam ukuran skala yang sama dengan skala pola
  d) Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang serat,
     susun dan tempelkan pola-pola tersebut di atas kertas
     pengganti kain sesuai dengan tanda–tanda pola seperti tanda
     arah benang, tanda lipatan kain dan sebagainya, selain itu
     yang juga perlu diingat yaitu susunlah pola yang ukurannya
     paling besar, setelah itu baru menyusun bagian–bagian pola
     yang lebih kecil dan terakhir menyusun pola yang kecil–kecil,
     cara ini bisa membuat kita bekerja lebih efisien dan lebih
     efektif. Jika pola yang disusun belum memakai kampuh,
     ketika menyusun pola harus dipertimbangkan jarak antara
     masing-masing pola lalu diberi tanda kampuh pada setiap
     bagian pola tersebut.
  e) Jika semua pola telah diletakkan dan telah diberi tanda,
     ukurlah panjang bahan yang terpakai, sehingga dapat ukuran
     kain yang dibutuhkan/berapa banyak kain yang terpakai.


                                                                 341
f) Hitung juga pelengkap yang dibutuhkan, seperti kain furing,
   ritsleting, pita/renda, benang, kancing baju, kancing hak dan
   lain sebagainya (sesuai desain)
g) Hitunglah berapa banyak uang yang diperlukan untuk
   membeli bahan dan perlengkapan lainnya dalam pembuatan
   pakaian tersebut. Berikut ini dapat dilihat contoh rancangan
   bahan. Rancangan bahan dibawah ini kainnya dilipat, pola
   bagian belakang terletak pada lipatan kain, dan pola bagian
   depan terletak pada tengah muka yang dilipat selebar lebih
   kurang 5 cm, yang berguna untuk lidah belahan. Lengan
   panjang dan licin/lengan suai, kerah setengah berdiri. Desain
   ini memiliki garis prinses dari pertengahan lingkar lengan
   bagian muka, menuju garis kupnat dan terus sepanjang
   baju/blus. Pada bagian bawah adalah celana yang memiliki 2
   buah kupnat pada bagian belakang dan 1 kupnat pada bagian
   depan. Untuk lebih jelasnya desain busana ini dapat dilihat
   pada BAB VII halaman 281.




            2x                         2x



                          2x


            1x


                     2x           2x
            1x




           1
            1x


               Gambar 181. Contoh rancangan bahan



                                                            342
      Untuk produksi massal bahan tidak dilipat dua tetapi
  dikembangkan, polanya juga dibuat lengkap (utuh) bukan sebelah,
  pola tersebut itulah yang disusun untuk membuat marker, dan marker
  ini selain untuk menghitung jumlah bahan, juga dipakai sebagai
  pedoman untuk ukuran penggelaran bahan (spreading). Setelah siap
  marker ditempelkan diatas spreading yang akan digunting.

  Persyaratan proses spreading yang baik adalah:
  a) Kerataan sisi tumpukan kain.
  b) Penanggulangan cacat kain
  c) Arah lapisan kain
  d) Tegangan lapisan kain
  e) Kemudahan dalam memisahkan antar lapisan hasil pemotongan
  f) Penghindari distorsikain pada saat penggelaran
  g) Penghindaran pelelahan pada saat pemotongan.

      Metoda penggelaran kain yang digunakan di industri pakaian jadi
  dapat dibagi dalam : 1). Penggelaran kain dengan tangan diatas meja
  datar; 2). Penggelaran kain dengan tangan dengan bantuan jarum
  kait; 3). Penggelaran kain dengan menggunakan mesin penggelar.

D. Memotong Bahan Sesuai Pola Pakaian
  1. Memotong (cutting)
        Memotong (cutting) bahan yang akan dijahit akan memberi
  pengaruh yang besar kepada pembuatan busana, jika salah potong
  akan menimbulkan kerugian baik dari segi biaya maupun waktu.
  Resiko ini berlaku untuk memotong busana perorangan atau pun
  untuk produksi massal. Bagian pemotongan mempunyai pengaruh
  yang besar pada biaya pembuatan garmen, karena di bagian
  pemotongan ini apabila terjadi kesalahan potong akan mengakibatkan
  potongan kain tersebut tidak bisa diperbaiki.
        Pada dasarnya, semua perusahaan garmen mempunyai alur
  proses produksi yang sama dalam menghasilkan potongan kain yang
  siap jahit, baik perusahaan kecil atau besar, hanya tingkat operasi
  teknologi saja yang berbeda.
        Tujuan pemotongan kain adalah untuk memisahkan bagian-
  bagian lapisan kain sesuai dengan pola pada rancangan
  bahan/marker. Hasil potongan kain yang baik adalah yang hasil
  potongannya bersih, pinggiran kain hasil potongan tidak saling
  menempel, tetapi terputus satu dengan yang lainnya.

  Proses dalam memotong (cutting) adalah sebagai berikut:
  a) Menyiapkan tempat dan alat-alat yang diperlukan
     Alat-alat yang diperlukan yaitu berupa meja potong dengan
     ukuruan sekitar 2m x 0,8m; gunting / alat potong; alat untuk



                                                                 343
   memberi tanda seperti kapur jahit, rader, karbon jahit, pensil
   merah biru; dan alat bantu jarum pentul.

b) Menyiapkan bahan
   1) Memilih bahan
       Keserasian antara bahan dengan desain perlu diperhatikan
   sebelum memilih bahan serta perlu diuji daya lansainya, apakah
   sesuai untuk model pakaian berkerut, lipit atau mengembang.
   Caranya, bahan digantungkan memanjang dengan dilipit-lipit
   untuk memperhatikan jatuhnya bahan, serta untuk memperhatikan
   kasar halusnya bahan bisa dengan diraba apakah syarat-syarat
   pada desain terpenuhi. Jika desain memerlukan efek
   mengembang sebaiknya pilih bahan yang dapat membentuk
   gelembung dengan wajar. Sebaliknya jika desain memperlihatkan
   tekstur lembut maka jangan memakai bahan yang kaku.

   2) Memeriksa bahan
   Sebelum bahan dipotong atau digunting perlu dilakukan
   pemeriksaan bahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
   • Kesesuaian bahan dengan desain.
   • Ukuran lebar kain agar bisa dibuat rancangan bahan.
   • Pemeriksaan cacat kain seperti cacat bahan, cacat
      warna, ataupun cacat printing sehingga bisa ditandai dan
      dihindari saat menyusun pola
   • Apakah bahannya menyusut. Jika menyusut sebaiknya bahan
      direndam agar setelah dipakai dan dicuci ukuran baju tidak
      mengalami perubahan.

   3) Teknik menggunting
   • Bahan dilipat dua di atas meja potong.
   • Pola-pola disusun dengan pedoman rancangan bahan dengan
      bantuan jarum pentul.
   • Menggunting bahan. Jika menggunting dengan tangan kanan
      maka tangan kiri diletakkan di atas kain yang akan digunting.
   • Bahan tidak boleh diangkat pada saat menggunting. Pola yang
      terlebih dahulu digunting adalah pola-pola yang besar seperti
      pola badan dan pola lengan. Setelah itu baru menggunting
      pola-pola yang kecil seperti kerah dan lapisan leher.
   • Sebelum pola dilepaskan dari bahan, beri tanda-tanda pola
      dan batas-batas kampuh terlebih dahulu. Caranya dengan
      menggunakan kapur jahit, rader dan karbon jahit, pensil kapur
      dan sebagainya. Cara pemakaian rader yaitu jika bahan baik
      keluar maka karbon dilipat dua dan bagian yang memberikan
      efek bekas dibagian luar diletakkan diantara dua bahan atau




                                                               344
   bagian buruk bahan. Lalu dirader pada batas kampuh atau
   garis kupnat. Setelah itu baru pola dilepaskan dari kain.

      Alat potong yang digunakan ada beberapa jenis yaitu : pisau
potong lurus (straight knife), mesin potong pisau bundar (round
knife) atau menggunakan gunting biasa. Hasil pemotongan yang
baik, adalah pemotongan yang tepat pada tanda-tanda pola dan
tidak terjadi perobahan bentuk. Hal ini akan memudahkan dalam
menjahit dan menghasilkan jahitan yang sesuai dengan
kebutuhan/ukuran.
      Alat potong/gunting yang digunakan adalah gunting yang
tajam dan jangan dipakai gunting yang tumpul. Jangan dibiasakan
menggunakan gunting kain untuk menggunting kertas atau pun
yang lainnya, juga perlu dijaga gunting jangan sampai jatuh
karena akan mengakibatkan pergeseran mata gunting sehingga
terasa tumpul atau tidak dapat berfungsi lagi.
 Alat potong untuk produksi massal, ada beberapa jenis yaitu:
1. Pisau potong lurus (straight knife) yang mempunyai 2 mata
    pisau, ukuran panjang mata pisau berfariasi 10 s.d 33 cm
    dengan gerakan naik dan turunnya 2,5 s.d 4,5 cm, makin
    besar gerakan pisau pemotong maka semakin cepat proses
    pemotongan dan lebih memudahkan operator dalam
    mendorong pisau tersebut dan bisa memotong kain lebih
    banyak. Pisau ini banyak digunakan oleh industri pakaian jadi.
2. Mesin potong pisau bundar (round knife) pisau ini hanya bisa
    memotong dalam jumlah sedikit/terbatas dan untuk
    pemotongan yang lurus. Bila digunakan untuk memotong
    jumlah yang banyak dan bentuk lengkungan akan
    menghasilkan potongan yang tidak sama dengan bentuk pola,
    dengan kata lain hasil potongan kain lapisan bawah berbeda
    ukuran dengan kain lapisan atas, diameter pisau bervariasi
    mulai dari 6 cm sampai dengan 30 cm.
3. Mesin potong pita (Band Knife), hasil potong pisau ini sangat
    akurat, terutama dipakai untuk pemotongan pola-pola kecil
    atau yang berbentuk aneh. Caranya: lapisan kain digerakkan
    kearah pisau yang berputar, sedangkan pisau sendiri diam.
    Berikut ini dapat dilihat contoh mesin potong tersebut:




                                                              345
Gambar 182. Mesin potong bulat




Gambar 183. Mesin potong pita




                                 346
                     Gambar 184. Mesin potong lurus

4. Alat potong cetak (Dil Cutting), bentuk alatnya sama dengan
    pola dan bila tumpul tidak bisa dipakai lagi. Pemakaian bahan
    agak boros dan biasanya untuk memotong kerah, kaos,
    manset dan sebagainya.
5. Alat pemotong yang dikendalikan dengan komputer. Cara ini
    lebih akurat dan cepat. Disini tidak perlu marker karena
    susunan pola telah tertata di dalam komputer.
    Ketika proses pemotongan diperlukan alat bantu seperti alat
untuk memberi tanda seperti tanda kampuh. Jika kampuh
pakaian yang dipotong sudah standar sesuai dengan produk
yang akan dibuat, hal ini sudah diketahui operator penjahitan
sehingga tidak memerlukan tanda, dan kalau ada tanda-tanda
yang khusus seperti kupnat hanya dengan memberi titik pada
ujung atau sudutnya dengan lubang halus dan tanda lainnya yang
sudah dipahami bersama.
    Teknik/strategi memotong juga perlu diperhatikan, misalnya
sebelum memotong sudah disiapkan semua pola sampai pada
komponen–komponen yang kecil-kecil. Bahan sudah diperiksa
dan bila tidak lurus diluruskan bila susah meluruskannya dapat
dengan cara menarik satu benang kemudian dipotong pada bekas
tarikan benang tersebut. Jika bahannya tidak rata maka ditarik
dua sudut dengan arah diagonal sehingga hasilnya rata dengan
sudut 900 langkahnya sebagai berikut.
1. Bahan dilipat dua di atas meja potong dengan posisi bagian
    baik bahan keluar atau sebaliknya.




                                                             347
   2. Pola–pola disusun dengan pedoman rancangan bahan
      dengan bantuan jarum pentul.
   3. Setelah semua diletakkan baru dipotong, jika memotong
      dengan tangan/menggunakan gunting biasa, gunting dipegang
      dengan tangan kanan dan tangan kiri diletakkan rata di atas
      kain dekat bahan yang digunting atau sebaliknya.
   4. Bahan tidak boleh diangkat pada saat menggunting karena hal
      ini akan menyebabkan hasil guntingan tidak sesuai dengan
      bentuk pola. Guntinglah bagian–bagian yang besar terlebih
      dahulu seperti pola bagian muka dan pola bagian belakang,
      pola lengan, setelah itu bagian yang kecil–kecil, seperti kerah,
      lapisan leher dan sebagainya. Hasil guntingan harus rata dan
      rapi. Sisa–sisa guntingan atau perca disisihkan sehingga meja
      dan ruangan tetap bersih. Usahakan pola atau perca tidak
      berantakan/berserakan baik di atas meja maupun di bawah
      meja.
   5. Sebelum pola di lepaskan tanda–tanda pola dan batas–batas
      kampuh dipindahkan, cara memindahkannya bermacam–
      macam antara lain menggunakan kapur jahit, rader dan
      karbon jahit, pensil kapur dan sebagainya..

       Kalau memotong bahan untuk produksi massal seperti konveksi,
caranya adalah : 1). Bahan digelar tak perlu dilipat sesuai ukuran
panjang marker dan ditumpuk sesuai dengan rencana jumlah
produksi. Yang perlu diperhatikan sewaktu penggelaran bahan adalah
: sisi tumpukan kain harus rata ketegangan lapisan kain sama, dan
bahan–bahan bersih dari yang cacat. Penggelaran dapat dilakuklan
secara manual dan dapat juga dengan mesin penggelaran. Bila sudah
cocok jumlahnya lalu marker diletakkan diatas bahan, digunting
dengan gunting listrik bila jumlahnya tidak terlalu banyak cukup
dengan gunting listrik atau pisau bundar. 2). Pada saat pemotongan,
bahan pembantu (pelapis) juga ikut dipotong. Hasil pemotongan
harus rapi dan bersih, pinggir kain potongan tidak saling menempel.
Pemotongan harus konsisten setelah selesai pemotongan dibundel
dan di beri nomor kode sesuai dengan desain, ukuran dan warna juga
disesuaikan dengan urutan proses penjahitan sehingga pekerjaan
lebih cepat dan lancar.

2. Mengemas Pola dan Potongan Bagian-Bagian Busana
   (Bundeling)
    Bundeling yaitu pemisahan dan penggulungan bagian-bagian pola
yang sudah diberi tiket yang kemudian jumlah penggulungan
disesuaikan dengan jumlah yang tertera pada tiket tersebut.
Pekerjaan bundeling bisa juga :
1. Menghitung bahan yang sudah dipotong (bagian-bagiannya)
2. Menulis order


                                                                  348
3.  Pemberian tiket
4.  Jumlah
5.  Size/ukuran
6.  Stamfing
    Komponen-komponen busana yang sudah dipotong di bundle,
maksudnya komponen disiapkan berdasarkan ukuran, warna dan
jumlahnya sesuai dengan komposisi yang diperlukan di bagian
penjahitan/sewing.
    Mengemas pola dan mengemas potongan-potongan bagian
busana sangatr penting dalam persiapan penjahitan. membuat bundle
serta mempersiapkannya sesuai dengan kebutuhan dibagian
penjahitan. Bundle adalah komponen yang sudah dipotong, disiapkan
berdasarkan ukuran, warna dan jumlah yang dibutuhkan sesuai
dengan komposisi yang diperlukan dibagian sewing. Penjahitan
merupakan bagian yang paling penting dalam membuat busana,
tanpa penjahitan maka bagian-bagian pakaian yang sudah dipotong
tidak akan ada artinya sama sekali.
    Pada perusahaan pakaian jadi/garmen, bagian mengemas pola
dan bagian-bagian busana (bundeling) dipimpin oleh seorang
menager (menager bundeling). Maneger bundeling bertanggung
jawab kepada operator devisi terhadap bahan-bahan dan
perlengkapannya. Ketepatan mengemas bagian-bagian busana
(bundeling) dapat memperlancar proses produksi, dan sebaliknya
kelalaian/kesalahan mengemas bagian-bagian busana (bundeling)
menyebabkan proses penjahitan menjadi terganggu, lambat dan tidak
tepat waktu.

Manager bundeling juga bertugas :
1. Membagi bundle bahan-bahan dan perlengkapannya kepada
   operator dan mengambil bahan-bahan yang yang telah selesai
   dikerjakan, selanjutnya memberi tanda periksa pada tiap-tiap
   operasi.
2. Bekerja sama dengan section chief/assistant chief mecari
   penambahan material dari line lain untuk dikerjakan oleh operator
   yang kekurangan material.
3. Bekerja sama dengan supervisor bila terdapat ketidak lengkapan,
   kerusakan bundle untuk mendapat penyelesaian, agar bundle
   tersebut dapat segera diproduksi.
4. Membuat bon permohonan pengambilan material untuk
   penambahan atau penggantian dan melengkapi kekurangan
   dengan persetujuan assistant production maneger.

    Jika suatu pekerjaan tidak bisa diselesaikan tepat waktu, maka
biaya produksi akan menjadi besar. Setiap jenis busana yang
diproduksi dijahit pada devisi masing-masing. Setiap devisi
membutuhkan proses bundeling, setiap bundeling terdiri dari bagian-


                                                                349
   bagian busana, hal ini sangat tergantung dari desain busana yang
   sedang diproduksi.
       Untuk membundel busana perorangan, juga berpedoman kepada
   desain yang dibuat. Pastikan ketika menggunting bahwa bagian-
   bagian busana telah sesuai dengan desain. Pada proses bundeling
   baik untuk perorangan ataupun untuk produksi masal disamping
   membundel bagian-bagian busana juga disertai dengan bagian yang
   lain, misalnya lapisan garis leher, tengah muka, kantong dan lain
   sebagainya.

E. Memindahkan Tanda-Tanda Pola
       Setelah bahan digunting, bentuk pola dipindahkan pada bahan
dan tanda-tanda pola yang lainnya kadang-kadang juga perlu
dipindahkan.
Berikut ini adalah tanda-tanda pola yang akan dipindahkan pada bahan
adalah
1. Garis pinggir (tepi) pola
2. Garis bahu muka dan belakang
3. Garis sisi badan muka dan belakang
4. Garis lingkar kerung lengan
5. Garis lipit pantas (kupnat)
6. Garis tengah muka dan tengah belakang
7. Garis lipatan bawah baju/blus, bawah rok, ujung lengan
8. Tanda puncak lengan
9. Batas pinggang, garis empire, garis princes kalau ada.
10. Batas kerutan kalau ada
11. Dan tanda-tanda khusus lainnya sesuai desain

    Alat-alat yang digunakan untuk memberi tanda pada bahan adalah
rader, karbon jahit, pensil kapur, Rader biasanya digunakan berpasangan
dengan karbon jahit, rader ada yang memakai gigi dan ada yang licin.
Waktu pemakaian rader rodanya dapat dipergunakan dengan lancar dan
tidak oleng dan hasilnya dapat memberikan bekas yang rapi, karbon jahit
yang dipakai yaitu karbon jahit yang khusus untuk kain. Warna karbon
bermacam-macam ada berwarna putih, kuning, hijau, merah. Jangan
memakai karbon mesin tik karena karbon mesin tik tidak dapat hilang
walaupun sudah dicuci.
    Kapur jahit, berbentuk segitiga dengan warna putih, merah, kuning,
biru, pensil jahit juga mempunyai isi kapur yang mempunyai warna yang
beraneka ragam memilih warna kapur atau pensil kapur yang berbeda
dengan warna kain.




                                                                   350
                     Gambar 185. Alat pemberi tanda pada bahan

     Pemilihan alat pemberi tanda ini disesuaikan dengan jenis bahan
yang akan diberi tanda (dipotong) seperti tenunan berat, tebal, tenunan
tipis ataupun ringan serta tembus pandang dan sebagainya. Berikut ini
akan dijelaskan penggunaan dari masing-masing alat pemberi tanda
serta cara pemindahan tanda-tanda pola :
1. Memindahkan tanda dengan rader dan karbon jahit.
     Rader bergigi digunakan untuk kain yang berat dan tebal serta
     sedang dan rader yang licin (tanpa gigi) untuk bahan dengan tenunan
     tipis (ringan) sampai sedang. Sebaiknya sewaktu penggunaan rader
     meja kerja dialas dengan karton agar meja tidak rusak oleh tekanan
     rader.
     Pemakaian rader dikombinasikan dengan karbon jahit yang mana
     cara pemakaiannya adalah, bila bahan bagian baik keluar, karbon
     dilipat dua bagian yang memberi efek bekasnya diluar diletakkan
     diantara dua bahan atau bagian buruk bahan, dan jika bagian baik
     kedalam karbon dilipat kedalam kemudian diapitkan pada bahan, lalu
     dirader pada batas kampuh atau garis kupnat dan sebagainya, jangan
     ditekan terlalu keras, cukup asal memberi bekas, bila sudah selesai
     dirader barulah pola dilepas dari kain.




                                                                    351
    bagian buruk bahan berhadapan dan karbon jahit diletakkan
   diantaranya, sehingga setelah ditekan dengan rader akan
   meninggalkan bekas rader pada kedua bagian buruk bahan. Jika
   melipat bahan yang bagian buruk di dalam atau bagian baik bahan
   berhadapan, maka karbon diletakkan masing-masing pada bagian
   buruk bahan (karban dilipatkan). Warna karbon dipilih yang dekat atau
   bertingkat dengan warna bahan agar tidak memberi bekas yang
   tajam. Janganlah memakai karbon tik, karena tidak hilang bila dicuci,
   tetapi gunakanlah karbon khusus untuk memberi tanda bahan
   pakaian(karbon jahit)
   Kalau dengan rader yang dipakai adalah karbon jahit.




                 Gambar 186. Pemakaian rader


2. Menggunakan kapur jahit dan pensil kapur
   Penggunaan kapur jahit sebagai pemindahan tanda-tanda pola
   apabila tidak dapat diberi tanda dengan karbon, misalnya bahan tebal
   seperti wool, atau bila pembuatan pola langsung di atas bahan.
   Pemakaian pensil kapur sama dengan kapur jahit dan hasilnya
   penggunaan pensil kapur garisnya lebih halus dan lebih rapi, bekas
   kapur jahit atau pun pensil kapur dapat hilang bila dicuci.
3. Memakai lilin jahit
   Memberi tanda-tanda dengan lilin pada bagian dalam bahan pakaian,
   lilin jahit tidak hilang waktu dicuci dan atau diseterika, jadi
   usahakanlah dipakai bila perlu saja, lilin jahit dapat diganti dengan
   sisa sabun mandi. Lilin jahit juga ada yang putih dan ada juga
   berwarna.
4. Memakai tusuk jelujur.
   Tusuk jelujur digunakan untuk memberi tanda pada bahan yang
   halus, seperti sutra. Hal ini dilakukan agan bahan tetap bersih.
   Caranya adalah, pada garis pola dijahit dengan teknik jelujur, ketika
   menjahit dengan mesin, jahit jelujur inilah yang dipedomani.


                                                                    352
     Dari semua cara di atas yang banyak dipakai untuk memberi tanda
adalah menggunakan rader dengan karbon jahit dan kapur jahit, karena
ini lebih praktis dan tidak terlalu banyak noda asal sesuai dengan cara
pemakaian yang benar. Jika menggunakan kapur jahit terlalu kuat atau
kasar, apalagi warnanya kontras dengan warna bahan pakaian hasilnya
akan mengecewakan. Untuk itu berhati-hatilah didalam memberi tanda,
supaya hasilnya lebih rapi.

F. Menjahit (sewing)
    Menjahit merupakan proses dalam menyatukan bagian-bagian kain
yang telah digunting berdasarkan pola. Teknik jahit yang digunakan harus
sesuai dengan desain dan bahan karena jika tekniknya tidak tepat maka
hasil yang diperoleh pun tidak akan berkualitas. Langkah-langkah yang
dilakukan dalam proses menjahit adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan alat-alat jahit yang diperlukan seperti mesin jahit yang
    siap pakai yang telah diatur jarak setikannya, jarum tangan, jarum
    pentul, pendedel, seterika dan sebagainya, serta bahan yang telah
    dipotong beserta bahan penunjang/pelengkap yang sesuai dengan
    desain.
2. Pelaksanaan menjahit
    Dalam pelaksanaan menjahit untuk mendapatkan hasil yang
    berkualitas hendaklah mengikuti prosedur kerja yang benar dan tepat
    disesuaikan dengan desain. Secara umum langkah–langkah
    pelaksanaan menjahit sebagai berikut.

   Langkah-langkah yang dilakukan dalam menjahit desain busana
   halaman 381adalah:
   a. Menyambungkan bagian bahu yaitu bagian muka dan belakang,
       untuk busana wanita dijahit dengan teknik kampuh terbuka
       sedangkan untuk busana anak-anak dijahit dengan teknik kampuh
       balik. Kemudian dilanjutkan dengan menjahit bagian sisi muka
       dan belakang.
   b. Memasang kerung lengan. Saat memasang lengan harus
       diperhatikan bahwa titik puncak lengan harus tepat agar jatuhnya
       lengan bagus.
   c. Penyelesaian belahan sesuai dengan jenis belahannya.
   d. Penyelesaian leher harus sesuai dengan desain, apakah memakai
       kerah atau lapisan leher.
   e. Penyelesaian kelim dengan cara sum atau dengan setikan mesin,
       disesuaikan dengan desain busana itu sendiri. Kalau untuk
       busana wanita setelah pas pertama atau fitting setelah itu baru
       dijahit dengan mesin.




                                                                    353
    Penjahitan merupakan proses yang sangat penting dalam suatu
usaha busana. Menjahit yaitu menyatukan bagian–bagian kain yang telah
dipotong berdasarkan pola dan sesuai dengan desain. Tujuan penjahitan
adalah untuk membentuk sambungan jahitan (seam) dengan
mengkombinasikan antara penampilan yang memenuhi standar proses
produksi yang ekonomis.
    Teknik jahit yang dipakai hendaklah disesuaikan dengan desain serta
bahan busana itu sendiri. Suatu seam dikatakan memenuhi standar
apabila hasil sambungan rapi dan halus tanpa cacat, baik hasil jahitan
ataupun kenampakan kain yang telah dijahit terlihat rapi. Ada kalanya kita
menemukan kain yang telah dijahit tidak rapi, hal ini dapat disebabkan
karena jarum mesin yang digunakan tidak tajam.
    Bagaimanapun baiknya pola, bila teknik jahit tidak tepat tentunya
kualitas busana tidak akan baik. Maka dari itu kita harus dapat menguasai
dan memilih teknik jahit/jenis seam yang digunakan. Pemilihan jenis
seam ini juga berdasarkan estetika, kekuatan, ketahanan, kenyamanan,
ketersediaan mesin dan biaya.
    Tempat duduk untuk menjahit pilihlah kursi dengan sandaran yang
lurus dan tanpa tangan agar siswa dapat duduk dengan sempurna dan
tidak cepat lelah. Ruangan ini juga dilengkapi dengan alat untuk mempres
atau memampat dan juga tersedia ruang pas/fiting.
    Untuk kelancaran proses manjahit terlebih dahulu dilakukan persiapan
yang matang antara lain adalah : Siapkan alat jahit yang diperlukan
seperti :
1. Mesin jahit lengkap dengan komponen–komponen siap pakai, sudah
    diberi minyak mesin dan dibersihkan dengan lap agar tidak
    menumpuk minyaknya
2. Periksa jarak antara setikan sudah sesuai dengan yang diinginkan
3. Alat–alat jahit tangan dan alat penunjang seperti: jarum tangan, jarum
    pentul, pendedel, setrika dan sebagainya
4. Bahan yang sudah dipotong beserta bahan pelengkap sesuai dengan
    desain/sesuai dengan kebutuhan.

     Menjahit busana untuk produksi massal, proses menjahit sebaiknya
dilakukan dengan ban berjalan, maksudnya untuk selembar pakaian
dikerjakan oleh sederet operator menjahit. Setiap bagian menggunakan
mesin jahit yang khusus, sesuai dengan teknik jahitnya, dan operatornya
disesuaikan dengan keahliannya. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan di dalam menjahit untuk produksi masal antara lain :
1. Persiapan penjahitan, tujuannya adalah untuk memberi tanda,
    membuat bundle serta mempersiapkannya sesuai dengan kebutuhan
    dibagian penjahitan.
2. Shade marking, proses ini memastikan komponen-komponen yang
    dipotong tidak tercampur pada waktu penggabungan, terutama untuk
    warna yang sama.



                                                                      354
3. Ticketing, setiap komponen untuk satu garment, diberi nomor spesifik,
   biasanya memakai kertas kecil.
4. Bundle, bundle komponen yang sudah dipotong, disiapkan
   berdasarkan ukuran, warna dan jumlahnya sesuai dengan komposisi
   yang diperlukan dibagian sewing.

    Berdasarkan British Standard BS 3870: Part 2: 1983, jenis seam
dibedakan dalam 8 kelas menurut type dan jumlah komponen
pembentukannya. Komponen pembentuk dapat berupa bahan utamanya
atau bahan tambahan yang mempunyai lebar terbatas maupun tidak
terbatas. Dikatakan komponen terbatas pada satu sisinya, maka sisi
tersebut merupakan sisi guntingan yang akan dijadikan seam. Komponen
yang terbatas pada kedua sisinya seperti renda, pita atau elastic yang
lebarnya kecil. Sedangkan komponen dikatakan tidak terbatas pada satu
sisinya, maka sisi tersebut merupakan sisi yang berlawanan dengan sisi
terbatas.

   Adapun 8 kelas dari seam adalah sebagai berikut:
   Kelas 1 (superimposed seams), seam ini dibentuk oleh minimum dua
buah komponen, yang mana letak sisi terbatasnya sama.




                     Gambar 187. Superimposed seams

   Kelas 2 (lapped seam) seam ini dibrentuk oleh minimum dua buah
komponen, yang mana letak sisi terbatasnya berlawanan dan saling
menumpang.




                     Gambar 188. Lap seam




                                                                    355
                   Gambar 189. Lap felled seam

   Kelas 3 (bound seam), seam ini dibentuk minimum oleh dua buah
komponen, komponen pertama terbatas pada salah satu sisinya
sedangkan komponen kedua terbatas pada kedua sisinya dan letaknya
membungkus ujung terbatas pada komponen pertama.




                   Gambar 190. Bound seam

   Kelas 4 (flat seam), seam ini dibentuk oleh hinimum dua buah
komponen, yang mana letak sisi terbatasnya berlawanan dan
kedudukannya sejajar.




                   Gambar 191. Flat seams



                                                             356
   Kelas 5 (decorative stitching), seam ini dibentuk oleh minimum satu
buah komponen yang tidak terbatas pada kedua sisinya.




                 Gambar 192. Decorative seams

   Kelas 6 (edge neatening), seam ini hanya dibentuk oleh sebuah
komponen yang terbatas pada salah satu sisinya.




                       Gambar 193. Edge neatening.

    Kelas 7 (shirt buttonhole band, seam ini dibentuk oleh minimum dua
buah komponen, yang mana komponen pertamanya terbatas pada salah
satu sisinya dan komponen yang lain terbatas pada kedua sisinya.




                    Gambar 194. Shirt buttonhole band




                                                                  357
       Kelas 8, seam ini hanya dibentuk oleh satu komponen yang
   terbatas pada kedua sisinya.




                     Gambar 195. Seam kelas 8

1. Alat-alat untuk menjahit.
       Pengetahuan tentang macam-macam alat menjahit serta
   menggunakannya dengan terampil, dimulai dengan alat pokok yaitu
   mesin jahit biasa. Yang dimaksud dengan mesin jahit biasa ialah
   mesin yang jalannya sederhana, yaitu hanya dapat menjahit lurus
   saja. Bentuk mesin dapat berupa mesin duduk, standar, atau kabinet.
   Mesin duduk sudah jarang di pakai baik oleh ibu rumah tangga
   apalagi di tempat usaha, yang ada hanya mesin dengan injakan kaki,
   atau mesin yang dioperasikan dengan tenaga listrik (dinamo).
       Pelajaran pertama ialah mengenal bagian-bagian mesin dan cara
   menggerakkannya. Bagian-bagian mesin tersebut dapat dilihat pada
   gambar berikut




              Gambar 196. Mesin jahit dan bagian-bagiannya


                                                                  358
    Latihan menjahit untuk melatih keterampilan dapat dengan
membuat macam-macam contoh jahitan, berupa sebuah lap jahitan
atau fragmen-fragmen, dengan bermacam-macam jahitan seperti
jahitan garis lurus, jahitan melengkung (lingkaran), dan jahitan empat
persegi.




                   Gambar 197. Macam-macam jahitan

    Secara umum alat jahit terbagi atas dua bagian yaitu alat menjahit
pokok dan alat menjahit tambahan. Alat menjahit pokok terdiri dari:
mesin jahit ditambah alat-alat jahit lain yang dipergunakan untuk
menjahit sederhana, sedangkan alat menjahit tambahan adalah alat
yang dipergunakan untuk mempermudah dan mempercepat
pekerjaan. Jadi penyediaan alat ini selain dari mesin jahit tergantung
dari kebutuhan apakah untuk siswa disekolah atau untuk pengusaha
disebuah usaha busana, dan juga disesuaikan dengan kemampuan
dalam hal keuangan untuk memenuhi kebutuhan alat-alat tersebut,
serta keterampilan siswa/karyawan dan besar kecilnya usaha. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat perbedaan alat jahit pokok dengan alat
jahit tambahan pada keterangan berikut:

a) Alat menjahit pokok
   Dalam membuat pakaian perlu dipersiapkan paling sedikit alat dan
   perlengkapan menjahit seperti mesin jahit, meja kerja, cermin,
   strika, papan strika, kotak jahit yang diisi dengan pita ukuran (cm)
   tali pengikat, gunting, rader, karbon jahit, jarum jahit, jarum pentul
   alat-alat tulis, karbon jahit dan lain sebagainya.

b) Alat-alat menjahit tambahan
       Alat-alat menjahit tambahan yang kita perlukan tergantung
   pada macam dan banyaknya jahitan yang akan dikerjakan. Alat
   tambahan ini selain dapat menghemat waktu juga dapat
   memberikan hasil yang lebih baik seperti: alat tambahan untuk
   hiasan-hiasan pakaian dengan mesin serbaguna. Kita dapat
   menggunakan alat tersebut untuk menghiasi pakaian luar maupun
   pakaian dalam, pakaian anak dan pakaian bayi maupun lenan
   rumah tangga.


                                                                     359
       Alat menjahit tambahan yang terkelompok kepada mesin, alat
       potong dan alat mengukur, sepatu-sepatu mesin dan alat lain
       yang dapat dimasukkan sebagai alat menjahit tambahan adalah
       sebagai berikut:
       1) Macam-macam mesin jahit: yaitu mesin jahit khusus dan
           mesin jahit serba guna, mesin jahit lurus dan zik zak .
       2) Macam-macam gunting seperti gunting rumah kancing,
           gunting bordir, gunting zik-zak, gunting tiras, gunting listrik,
           gunting jelujur dan gunting benang
       3) Macam-macam pengukur yaitu: pengukur lebar klim, pengukur
           panjang rok.
       4) Macam-macam mistar atau rol, mistar lengkung pendek,
           lengkung panjang, siku-siku
       5) Macam-macam sepatu mesin: sepatu pengelim, sepatu tutup
           tarik, sepatu kancing dsb.
       6) Macam-macam alat pres dan :alat pembuat gesper dan
           kancing bungkus.
       7) Cemin diperlukan untuk dapat melihat pakaian yang sedang di
           pas tingginya hendaklah setinggi dari ujung kepala sampai
           ujung kaki dan lebarnya minimal 50 cm.

2. Alat Jahit dan Penggunaannya
   a. Mesin jahit
       Peralatan pokok yang paling penting diruangan jahit adalah mesin
   jahit yang terletak ditempat datar dan cukup cahaya matahari atau
   lampu sehingga mesin dapat dioperasikan dengan lancar
       Sewaktu akan mengoperasikan mesin jahit hendaknya dicoba
   dahulu apakah jalannya sudah sesuai dengan keinginan kita. Kita
   coba jahitan dengan bahan yang berbeda. Mesin yang baik jalannya
   lancar ketika melalui bahan yang lebih tebal karena ada lipatan atau
   sambungan dan tusuknya tidak melompat.
   Cara menggerakkan mesin jahit ada empat:
   1) Dengan tangan yaitu memakai engkol pada roda mesin lalu
       diputar dengan tangan, ini adalah mesin yang tertua, sekarang
       sudah jarang digunakan kecuali untuk orang–orang yang
       bermasalah dengan kaki (cacat kaki).
   2) Dengan kaki yaitu diputar dengan injakan kaki, mesin ini banyak
       dipakai dirumah tangga dan disekolah
   3) Dengan tenaga listrik, mesin yang diputar dengan listrik lebih
       cepat putarannya yaitu dengan memasangkan dinamo pada
       mesin, mesin tangan atau mesin kaki juga dapat diputar dengan
       dinamo listrik yaitu dengan menambahkan dinamo, dinamo ini ada
       yang besar dan ada yang kecil. Mesin dengan listrik ini biasanya
       dipakai ditempat-tempat usaha busana namun mesin dirumah
       tangga dan sekolah sudah banyak digerakkan dengan listrik agar
       lebih praktis dan efisien.


                                                                       360
4) Mesin high speed, yaitu mesin dengan kecepatan tinggi, biasa
   dipakai pada industri pakaian jadi.




          Gambar 198. Mesin yang digerakkan dengan tangan




             Gambar 199. Mesin yang digerakkan dengan kaki


                                                             361
                      Gambar 200. Dinamo mesin jahit

b. Macam-macam gunting dan alat pemotong
     Alat potong dalam jahit menjahit ada bermacam-macam dengan
fungsi yang berbeda-beda pula seperti: gunting kain yaitu gunting yang
digunakan untuk menggunting kain, gunting zig zag , gunting rumah
kancing, gunting bordir, gunting tiras, gunting listrik, gunting benang
jelujur, alat pembuka jahitan atau pendedel.
     Gunting kain paling banyak digunakan sedangkan yang lainnya hanya
sesuai dengan keperluan, gunting harus tajam, untuk menguji ketajaman
gunting dengan cara menggunting perca pada bahagian seluruh mata
gunting jika bekas guntingan pada perca tidak berbulu berarti gunting itu
cukup tajam untuk kain.




                              Gambar 201. Alat pemotong



                                                                     362
c. Alat ukur
    Untuk proses pembuatan pakaian mulai dari persiapan pola sampai
penyelesaian diperlukan beberapa alat ukur, yang penggunaan alat ini
berbeda sesuai fungsinya. Ketelitian dalam mengukur sangat
memberikan sumbangan untuk memperoleh hasil yang berkualitas,. Saat
mengukur haruslah diusahakan setepat mungkin.
    Pita ukuran dalam perdagangan ada yang terbuat dari plastik, kain,
dan kertas, pita ukuran yang terbuat dari kertas mudah robek. Garis-garis
dan angka-angka pita ukuran harus dicetak terang pada kedua sisinya,
logam yang menjepit ujung pita harus rapi. Mistar dapat terbuat dari kayu,
aluminium dan plastik, alat pengukur panjang rok dapat distel dan alat ini
lengkap dengan alat penyemprot, sebelumnya juga dapat dilakukan
dengan centi meter (pita ukuran) kemudian ditandai dengan jarum pentul
ini sekarang masih banyak dipakai karena masih praktis terutama bagi
orang-orang yang sudah terampil.




                               Gambar 202. Alat-alat ukur

d. Meja kerja dan alat tulis
    Meja kerja dan alat tulis terutama diperlukan pada waktu menyiapkan
pola dan memotong bahan. Meja kerja terbuat dari kayu dengan ukuran
tinggi 75 cm lebar minimal 75 cm serta panjang minimal 120 cm Adapun
syarat meja kerja untuk jahit menjahit adalah: kokoh dan kuat, permukaan
daun meja harus datar dan licin, tidak miring, rata dan rapi, agar tidak
merusak bahan. Alat tulis menulis terdiri dari pensil, pensil merah biru,
buku catatan ukuran untuk menerima pesanan bisa juga diganti dengan
kartu ukuran yang terdapat didalam buku, yang terdiri dari:


                                                                      363
1)   daftar ukuran
2)   gambar model
3)   contoh bahan
4)   catatan perlengkapan tambahan
5)   nama pemesan dan nomor telpon
6)   tanggal dibuat dan tanggal siap
7)   dsb

e. Jarum
    Jarum-jarum mempunyai nomor menurut besarnya. Pemilihan nomor
jarum harus disesuaikan dengan bahan yang akan dijahit. Pada
umumnya syarat macam-macam jarum adalah ujungnya cukup tajam
bentuknya ramping dan tidak berkarat. Dalam jahit menjahit perlengkapan
menyemat dan jarum terdiri atas jarum jahit mesin jarum tangan, jarum
pentul, pengait benang dan tempat penyimpan jarum. Jarum mesin yang
baik terbuat dari baja ujung tajam agar bahan yang dijahit tidak rusak.
Jarum tangan sama yaitu terbuat dari baja mempunyai tingkatan nomor,
jarum tangan yang baik panjang dan ramping. Jarum jahit tangan
digunakan untuk menghias menyisip dan menjelujur. Jarum pentul yang
baik juga terbuat dari baja panjang 2,5 cm sampai 3 cm. jarum pentul
yang berkepala dengan warna bermacam-macam itulah yang tajam.
    Pengait benang digunakan untuk pengait benang kelubang jarum.
Alat ini sangat berguna bagi mengalami kesulitan dalam memasukkan
benang ke lubang jarum karma penglihatan yang kuran tajam.

f.  Tempat menyimpan jarum
    Tempat menyimpan jarum-jarum digunakan kotak atau bantalan
jarum, jarum pentul atau jarum mesin disematkan pada bantalan jarum.




                       Gambar 203. Tempat menyimpan jarum



                                                                   364
g. Perlengkapan memampat
    Perlengkapan memampat atau mempress diperlukan untuk
memampat kampuh kampuh lengan dan bagian lainya ketika menjahit
pakaian agar hasil jahitan lebih rapi. Sebenarnya keberhasilan dalam
menjahit adalah menekan disaat proses menjahit. Perlakuan yang cermat
dan hati-hati selama tahapan pembuatan akan menghasilkan busana
yang tampak indah dan hanya membutuhkan sentuhan ringan sewaktu
penyelesaian anda akan temukan bahwa lebih cepat dan lebih mudah
ditemukan pada unit-unit begitu anda menjahitnya misalnya tekanlah
semua bentuk-bentuk atau penutup kantong dan lainnya.

h. Boneka jahit (dressform)
       Boneka jahit memakai standar dan dapat distel tingginya dan
besarnya. Boneka jahit hendaklah disemat dengan jarum pentul
memudahkan memulir jadi sebaiknya bagian luar boneka bahan katun
atau kaos yang polos. Didalamnya dilapisi dengan spoons sebagai dasar
bahan polos. Boneka jahit mempunyai bermacam-macam ukuran S, M, L
dan XL juga tersedia boneka untuk wanita, pria dan anak-anak, ada juga
boneka jahit tersedia dalam ukuran skala 1:2 atau 3:4.




                    Gambar 204. Boneka jahit (Dressform)



                                                                  365
3. Cara Pemakaian Mesin Jahit
   a. Badan mesin.
        Badan mesin jahit yang sering kita jumpai pada umumnya
   berbentuk huruf G. Bagian bawah mesin berbentuk plat yang bertugas
   sebagai landasan jahit. Bagian atas badan mesin berongga, disinilah
   tempat bagian-bagian mesin mengubah dan meneruskan gerakan
   putar menjadi gerakan bagian-bagian yang lain.
        Pada badan mesin ini juga terdapat beberapa lubang yang
   digunakan untuk meneteskan minyak pelumas ke bagian mesin yang
   memerlukan, agar gerakan bagian mesin yang bersangkutan menjadi
   licin dan lancar.
        Pada pelat mesin tersebut dipasang engsel, sehingga bagian
   mesin yang terletak di bawah pelat badan dapat dibersihkan dan
   diperbaiki bila rusak.
        Pada mesin yang memakai kaki, badan mesin jahit tersebut dapat
   dilipat ke bawah di bawah meja dari daun meja dan dapat ditutupkan
   dengan lipatan daun meja.

   b. Kepala mesin.
       Kepala mesin jahit terbuat dari baja tuang. Kepala mesin tersebut
   terpasang dibagian kanan atas dari badan mesin jahit. Ia menerima
   gaya putar dari alat pemutar mesin jahit dan meneruskan gerak putar
   tersebut ke semua bagian mesin lain yang harus bergerak. Jadi
   kepala mesin bertugas sebagai roda penerus tenaga penggerak
   mesin jahit. Pada mesin jahit yang digerakkan dengan injakan kaki
   atau motor listrik, kepalanya dibuat lebih kecil, agar berputar secara
   ringan.
       Gerak putar dari kepala mesin itu diubah menjadi bentuk gerakan
   bolak balik atau naik turun dari jarum jahit, tangan penarik benang,
   gigi penarik, sekoci dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
   gambar a. adalah kepala mesin yang berfungsi untuk menggerakkan
   turun naiknya jarum untuk mengangkat benang bawah dari sekoci.




                                                                     366
                 Gambar 205. Cara mengeluarkan benang bawah

c. Alat-alat penggerak mesin jahit
    Semua jenis mesin tersebut dapat digerakan dengan motor listrik
tapi yang lebih banyak digerakan dengan motor listrik adalah mesin
khusus dan mesin serbaguna.

d. Kopleng
    Kopleng adalah alat yang menghubungkan antara kepala mesin
dengan poros utama mesin jahit. Kopleng terbuat dari pelat baja
setebal 1,5 milimeter berbentuk bulat dan mempunyai tonjolan keluar
serta kedalam yang berfungsi untuk membantu roda berputar, bila
dikencangkan putaran roda menekan kopleng dan bila roda penekan
dikendurkan maka pelat kopleng tidak tertekan akibatnya kepala
mesin tidak dapat mengerakan bagian mesin yang lain.

e. Poros utama.
    Poros utama pada mesin jahit terpasang dalam rongga badan
mesin jahit pada bagian atasnya. Panjang poros utama ini dari pelat
kopleng sampai kaki pemegang jarum jahit. Poros utama ini secara
lansung mengerakan tangkai penarik benang dan kaki pemegang
jarum.

f.  Sepatu jahit (sepatu mesin)
    Dinamakan sepatu jahit karena bentuknya menyerupai sepatu.
Kaki yang dipasang sepatu ini dapat diatur tekanannya terhadap gigi
penarik kain. Pengaturan tekanan dengan menyetel mur penekan
pegas di atas kaki tempat sepatu tersebut. Tekanan sepatu ini dapat
dibebaskan dengan cara menaikan sepatu. Ini dilakukan saat




                                                               367
   memasang dan melepaskan kain yang dijahit, maka injakan sepatu
   haruslah dilepaskan dahulu.
   g. Kaki pemegang jarum
       Jarum untuk menjahit dipasangkan pada kaki pemegang jarum.
   Kaki ini digerakan oleh poros utama. Untuk memegang jarum pada
   ujung kaki dipasangkan dengan alat pencekamjarum yang disebut
   sekrup jarum. Pemasangan jarum harus kuat agar tidak mudah lepas
   sewaktu menjahit.

   h. Sekoci
       Sekoci adalah alat yang berfungsi untuk mengatur pengeluaran
   benang bawah dan pengatur ketegangan benang bawah, sedangkan
   jarum pembawa benang atas pada kain jahitan. Maka terjadilah
   sengkelit benang atas dengan benang bawah pada kain yang ditekan
   oleh sepatu jahit.

4. Pengatur Panjang setikan
    Tusuk atau setikan jahitan dapat diatur panjangnya. Pengaturan itu
dilakukan dengan mengatur tombol atau tangkai penyetel panjang setikan
sehingga sesuai dengan panjang setikan yang diinginkan. Misalnya
disetel pada angka 15 itu berarti 15 tusuk setiap inci, dengan demikian
berarti makin kecil angkanya makin besar jarak setikan dan sebaliknya
makin besar angkanya makin kecil jarak setikannya.
    Penyetelan panjang setikan sebenarnya adalah penyetelan panjang
langkah penarik kain. Alat penyetel jarak tusuk itu ada yang berbentuk
tombol putar ada pula yang berbentuk tangkai. Posisinya pada bagian
tegak sebelah kanan.




                       Gambar 206. Pengatur panjang tusukan



                                                                   368
5. Alat-alat Pelengkap
   Alat pelengkap adalah alat digunakanuntuk membantusuatu
pekerjaan dalam menggunakan mesin jahi agarlebih mudah, cepat dan
hasilnya lebih rapi . alat pelengkap ini dapat dibeli tersendari seperti:
bermacam-macam sepatu mesin alat pembuat rumah kancing, dan
sebagainya. Alat pelengkap ini ada yang dipasangkan untuk mesin biasa
dan ada juga yang untuk mesin seba guna, untuk mesin serba guna lebih
banyak alat pelengkap yang cocok, dan dapat dimanfaatkan.
Pengoperasian mesin jahit dimulai dengan langkah sebagai berikut:
a. Bukalah mesin jahit dan dipasangkan tali mesin dari pada kepala
   mesin, pasangkan jarum mesin ysng sesusai yang sesuai dengan
   bahan dan benang mesin bila yang dijahit kasar atau tebal seperti
   bahan blu jeans jarumnya yang besar No 15 dan benangnya juga
   yang kasar sehingga ada kesesuaian jarum atau benang begitu pula
   sebaliknya.
b. Pasangkan jarum untuk mesin biasa yang di sebelah kiri dan yang
   pipih menempel ke batang, kalau untuk mesin serba guna, dari depan
   dan yang pipih ke btang tau belakang.
c. Gulungkan benang ke kumparan sekoci dengan memakai alat
   penggulung yang ada dekat kepala mesin. Dan dimasukkan pada
   sekoci




                  Gambar 207. Menggulung benang kesekoci


                                                                     369
d. Pasangkan sekoci ke rumah kumparan pada mesin




                 Gambar 208. Cara pemasangan sekoci ke kumparan

e. Mengangkat sepatu mesin dengan mengangkat                  tiang   yang
   dibelakang.
f. Menaikkan benang dari kumparan sekoci.
g. Cara mengoperasikan mesin

Kalau semua sudah siap terpasang mulailah menjahit dengan cara:
a. Pasangkan benang atas mulai dari tiang benang klos pada tiang
   benang tarik ujung benang mengikuti saluran benang terus ke
   regulator dan kembali ke pengungkit dan selanjutnya melalui lobang
   (sengkelit) dan turunkan benang sampai masuk kelobang jarum.




                      Gambar 209. Pemasangan benang atas



                                                                      370
b. Keluarkan benang bawah dengan cara memegang ujung benang lalu
   diturunkan jarum sampai kebawah dan bila jarum keluar ujung benang
   bawah akan terangkat keluar melalui lobang jarum. Ketegangan dan
   kekuatan benang bawah
c. Cobakanlah menjahit ke pada kain untuk melihat hasilnya dan akan
   didapatkan hasil seperti berikut. Ada tiga kemungkinan.
   1) Tegangan benang atas sama denan benang bawah ini           hasil
       yang benar
   2) Tegangan benang atas lebih kuat dari benang bawah artinya
       benang merentang di bagian atas.
   3) Tegangan benang atas lebih lemah dari benang bawah artinya
       benang merentang dibawah.




               Gambar 210. Ketegangan benang hasil jaitan a,b,c

    Bila benang atas lemah dan banang bawah tegang maka distel
pengatur benang atas atau regulator diputar untuk mengencangkan, bila
benang atas tegang regulator dilemahkan bila ini tidak membuahkan hasil
yang baik, periksa sekoci kemungkinan benang sekoci tidak masuk pada
jepitan sekoci atau jepitan sekoci agak longgar perlu dikencangkan




                      Gambar 211. Mengatur ketegangan benang



                                                                   371
       Seandainya akan menjahit dengan menggunakan benang karet
   atau benang yang lebih kasar pasangkanlah di bawah (sekoci),
   kemudian longgarkanlah sedikit sekrup sekocinya selanjutnya aturlah
   setikan mesin yang agak lebih jarak sesuai dengan model yang akan
   dijahit.

G. Gangguan dan Perbaikan Mesin Jahit
   Mengatasi ganguan pada mesin jahit, berbagai macam jenis
gangguan yang dijumpai pada pemakaian mesin jahit harus di cari
penyababnya dan diusahakan perbaikan-parbaikan agar hasilnya
memuaskan. Berikut beberapa pentunjuk untuk mengatasi gangguan
mesin jahit.

   1. Mesin tidak lancar dan berisik.
       Penyebab dari gangguan ini terjadi karena kurang minyak
   pelumas pada mesin jahit, selain itu pelumas yang digunakan tidak
   bermutu baik. Adanya benang-benang yang lepas menyangkut pada
   mesin dan juga penumpukan debu dan sisa serat kain pada gigi
   mesin.
       Perbaikan pada gangguan tersebut di mulai dari membersihkan
   mesin dari serat-serat kain dan benang yang tertinggal dengan kuas
   atau sikat. Memberikan minyak pelumas pada throat plate (penutup
   gigi) dengan pelumas yang berkualitas baik.

   2. Benang jahitan atas sering putus.
       Penyebab gangguan antara lain benang jahit menyangkut karena
   menjahit dengan arah yang salah. Memasang jarum tidak tepat pada
   tempatnya yang menyebabkan jarum cepat tumpul atau bengkok
   sehingga ketegangan benang menjadi terlalu besar. Benang terlalu
   kasar atau terlalu halus yang tidak sesuai dengan jenis kain yang
   digunakan.
   Perbaikan pada gangguan tersebut dapat dilakukan dengan cara: 1)
   menganti jarum dengan jenis yang baik, 2) menyesuaikan nomor
   benang dengan nomor jarum yang akan digunakan, 3) setel kembali
   rumah sekoci dan kendurkan tegangan dengan memperhatikan
   keseimbangan dengan benang jahit bawah, 4) tarik kain kearah
   belakang mesin jahit.

   3. Benang jahit bawah sering putus
        Penyebab gangguan antara lain: benang jahit tidak rapi digulung
   pada spul/kumparan, tegangan benang pada sekoci (bob bin case)
   terlalu besar, benang tidak sempurna lewat rumah sekoci, dan banyak
   debu terdapat pada mekanisme mesin.
        Perbaikan pada gangguan tersebut dapat dilakukan dengan cara:
   1) bersihkan bagian mekanisme mesin, 2) garis tengah sekoci harus
   rata secara keseluruhan sehingga benang lewat pada arah yang


                                                                   372
seharusnya, 3) kurangi ketegangan dan benang dan sesuaikan
dengan tegangan benang atas.

4. Benang sering putus.
    Gangguan terjadi karena jarum tidak pada tempatnya sehingga
sering mengenai hook dan menyebabkan jarum tumpul. Jenis jarum
tidak sesuai dengan kain yang digunakan. Setelah selesai menjahit
kain ditarik kearah yang salah.
    Perbaikan dapat dilakukan dengan cara: 1) Ganti jarum, sesuikan
antara benang jahit, jarum dan kain, 2) Pasanglah jarum pada tempat
yang tepat, 3) kendurkan tegangan dengan memperhatikan
keseimbangan antara benang atas dan benang bawah jahitan.
    Penyabab gangguan yang lain: jarum tidak tepat pada tempatnya,
jarum tumpul, ukuran benang tidak sesuai dengan jarum yang
digunakan, benang atas tidak melewati jalan yang benar.
    Perbaikan pada gangguan tersebut dilakukan dengan cara: 1)
ganti jarum dengan yang tajam dan pasang pada tempat yang tepat,
2) Sesuaikan bengan dengan nomor jarum, 3) Pasang benang
melewati jalur yang seharusnya.

5. Jerat benang mengerut
    Penyebab gangguan antara lain: tegangan benang terlalu kuat,
benang tidak melewati jalan yang benar, jarum terlalu besar untuk
jenis kain yang digunakan, dan benang bagian bawah tidak digulung
dengan rapi.
    Perbaikan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:   1)   kendurkan    tegangan    dengan     memperhatikan
keseimbangan dengan benang jahitan bawah, 2) sesuaikan jarum
sehingga benang atas melewati jalan yang benar, 3) sesuaikan nomor
jarum dengan bahan yang digunakan.

6. Jerat benang kendur.
    Penyebab gangguan antara lain: tegangan benang atas terlalu
kendur atau terlalu kencang, pegas pengatur tegangan pada rumah
sekoci terlalu besar, dan ukuran jarum tidak sesuai dengan jenis kain.
    Perbaikan dapat dilakukan dengan: 1) kendurkan tegangan
dengan memperhatikan keseimbangan dengan benang jahitan
bawah, 2) sesuaikan tegangan benang atas dengan benang bawah,
3) sesuaikan antara benang jahit, jarum dan kain yang akan
digunakan.

7. Jalannya kain tidak lancar.
    Penyebab gangguan antara lain: banyaknya serat berkumpul di
sekitar gigi penyuap dan tinggi rendahnya gigi penyuap tidak sasuai.




                                                                  373
   Perbaikan dapat dilakukan dengan cara: 1) bersihkan bagian gigi
   penyuap kemudian beri pelumas kemudian tutup kembali dengan
   cepat, 2) atur mekanisme dan knop gigi penyuap.


H. Penyelesaian (Finishing)
    Finishing adalah kegiatan penyelesaian akhir yang meliputi
pemeriksaan (inspection), pembersihan (triming), penyetrikaan (pressing)
serta melipat dan mengemas. Tujuannya adalah agar pakaian yang
dibuat terlihat rapi dan bersih. Kegiatan ini dilakukan setelah proses
menjahit dengan mesin.
    Pemeriksaan atau inpection merupakan kegiatan yang menentukan
kualitas dari hasil jahitan. Pada kegiatan pemeriksaan ini dilakukan
pembuangan sisa-sisa benang dan pemeriksaan bagian-bagian busana
apakah terdapat kesalahan dalam menjahit atau ketidakrapian dari hasil
jahitan seperti ada bagian yang berkerut, ada bagian yang tidak terjahit
atau ada bagian-bagian busana yang tidak rapi. Setelah dilakukan
pemeriksaan ini, dilakukan pemisahan pakaian yang hasilnya baik dan
yang tidak baik. Kualitas pakaian yang tidak baik biasanya dikembalikan
ke bagian produksi untuk diperbaiki.
    Langkah selanjutnya adalah pembersihan (trimming). Kegiatan ini
dilakukan khusus di bagian quality control yang mana sisa-sisa benang
dibuang dan pelengkap pakaian seperti kancing dan perlengkapan
lainnya dipasangkan. Pakaian yang sudah dibersihkan dilanjutkan ke
bagian penyetrikaan (pressing). Penyetrikaan yang dimaksud merupakan
penyetrikaan akhir sebelum pakaian dipasang label dan dikemas.
Pressing ini bertujuan untuk menghilangkan kerutan-kerutan dan
menghaluskan bekas-bekas lipatan yang tidak diinginkan, membuat
lipatan-lipatan yang diinginkan, menambah kerapian dan keindahan pada
pakaian serta untuk memberikan finis akhir pada pakaian setelah proses
pembuatan.
    Penyetrikaan ini ada yang menggunakan setrika uap dan ada juga
yang menggunakan mesin khusus pressing. Menyetrika merupakan
pekerjaan yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena beresiko
tinggi. Untuk itu, suhu perlu diatur sesuai dengan jenis bahan seperti
linen, katun, wol, sutera, dan lain-lain.
    Disaat melakukan pressing perlu dilakukan pengontrolan seperti
tingkat kerataan bahan dan lapisan serta hasil pressing jangan sampai
berkerut atau tidak rata. Pakaian yang sudah selesai di press barulah
dipasang label dan dikemas.
    Pekerjaan lain dalam penyelesaian atau finishing yaitu memasang
kancing; membersihkan sisa benang; memeriksa jahitan, apakah sudah
tepat pada garis pola, jahitan tidak berkerut, serta jarak setikan sudah
tepat; pemeriksaan cacat, apakah kotor atau ternoda minyak mesin, atau
mengalami kerusakan selama proses menjahit. Setelah itu dilakukan



                                                                    374
pengemasan busana sebelum diserahkan kepada konsumen atau
pemesan.
   Penyempurnaan pakaian setelah pengepresan sangat diperlukan
untuk mendapatkan kualitas yang diinginkan adapun langkah-langkahnya
sebagai berikut.
a. Membersihkan sisa-sisa benang, sisa benang dan dibersihkan
   (dipotong), bekas jelujuran dibuka dan diperiksa apakah masih ada
   tiras-tiras yang tidak dirapikan atau diobras dan belum rapi.
b. Memeriksa jahitan apakah jahitannya sudah tepat pada garisnya,
   sudah datar, tidak berkerut atau jarak setikan sudah sesuai dan
   apakah setiap ujung jahitan sudah dimatikan. Bila ada yang belum
   memenuhi standar perlu diperbaiki.
c. Pemeriksaan cacat apakah ada kotor atau ternoda minyak mesin,
   kalau ada perlukah diadakan pencucian dan kalau dicuci dengan apa
   dicuci apakah cukup dengan sabun atau perlu dengan obat-obat
   pembersih. Bila ternoda oleh minyak mesin dapat dihilangkan dengan
   menaburkan bedak pouder tepat pada noda dan dibiarkan beberapa
   jam, nanti minyak akan diserap oleh bedak, untuk menghilangkan
   noda bedak perlu dicuci. Apakah dicuci dengan sabun saja atau
   memakai obat. Jika memakai obat perlu disesuaikan dengan asal
   bahan seperti katun putih dapat dipakai pemutih dan bila katun
   bewarna atau batik dilarang memakai pemutih karena akan
   mengakibatkan warnanya tidak rata lagi.


Rangkuman

      Tempat kerja masing-masing siswa hendaklan selalu tertata dengan
teratur, mengingat tempat ini selalu digunakan setiap harinya dalam
melaksanakan proses suatu pekerjaan.
      Pada prinsipnya perencanaan marker ini ditujukan untuk
mendapatkan efisiensi marker yang besar. Rumus efisiensi marker
adalah, jumlah luas seluruh pola pada marker dibagi dengan luas
keseluruhan marker dikalikan 100 %.
      Tujuan pemotongan kain adalah untuk memisahkan bagian-bagian
busana sesuai dengan desain busana yang dibuat. Hasil pemotongan
yang baik, adalah pemotongan yang tepat dan tidak terjadi perubahan
bentuk (hasil pemotongan sesuai dengan bentuk pola).
      Proses pemotongan kain menjadi bagian-bagian busana yang
sesuai dengan bentuk pola, adalah hasil dari pemotongan dengan
menggunakan alat potong yang tajam dan alat yang digunakan
disesuaikan dengan ketebalan bahan. Ketebalan tumpukan kain yang
akan dipotong disesuaikan dengan kapasitas mesin potong.
      Setelah bahan dipotong lalu diberi tanda. Alat memberi tanda yang
digunakan disesuaikan dengan jenis bahan. Lalu dilakukan penjahitan,
alat jahit yang digunakan adalah alat yang baik dan siap pakai. Jika


                                                                   375
menggunakan alat jahit yang tidak baik, maka hasilnya juga
mengecewakan. Masalah yang sering timbul dari hasil jahitan adalah,
yang kenampakan jahitan yang kurang rapih, ada kerutan yang kelihatan
disepanjang garis jahitan pada kain yang rata. Ada beberapa factor yang
menimbulkan adanya kerutan antara lain:
1. Struktur kain
2. Konstruksi seam (sambungan jahitan)
3. Ukuran jarum
4. Tegangan benang yang tidak baik
5. Ukuran benang yang tidak sesuai
    Kerusakan jahitan merupakan masalah yang serius didalam produksi
garmen, karena akan menyebabkan kenampakan dan unjuk kerja seam
buruk, dan juga pada kasus tertentu seam tersebut rusak atau putus.
Kerusakan kain sepanjang garis jahitan dapat dibagi dalam:
1. Kerusakan mekanik
2. Kerusakan akibat panas yang ditimbulkan oleh jarum jahit.
Untuk memperkecil kesalahan dalam membuat busana, sangat
diperlukan pengetahuan tentang bahan tekstil. Salah satu factor yang
menentukan mutu kain adalah banyaknya baris dan deret jeratan
persatuan panjang (jumlah inchi/cm). Makin banyak baris dan deret
jeratan/cm makin rapat kainnya.



 Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah :
   1. Menyiapkan tempat kerja yang sesuai dengan
      kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa/pekerja.
   2. Menyiapkan bahan, meletakkan pola di atas bahan
      sesuai dengan rancangan bahan yang dibuat
      berdasarkan desain busana.
   3. Memotong bahan sesuai dengan pola/rancangan
      bahan, dengan menggunakan gunting listrik atau
      gunting biasa.
   4. Memindahkan tanda-tanda pola pada bahan serta
      mengemas pola dan potongan bahan bagian-bagian
      busana.


Evaluasi :

1. Jelaskan tempat kerja yang ergonomik.
2. Hal apa yang perlu diperhatikan dalam menggunting bahan
   sehigga hasilnya tidak mengecewakan.
3. Jelaskan prinsi-prinsip meletakkan pola di atas bahan.
4. Jelaskan cara memindahkan tanda-tanda pola pada bahan yang
   tembus terang.


                                                                   376
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan mengemas pola.
6. Jelaskan beda rancangan bahan secara global dengan
   rancangan bahan menggunakan pola.
7. Jelaskan manfaat rancangan bahan
8. Bagaimana cara mengatasi masalah-masalah bila terjadi benang
   mesin yang sering putus dalam proses manjahit.
9. Jelaskan alat utama dan alat Bantu dalam proses menjahit.




                                                           377
                                 BAB X
                    MENGHIAS BUSANA
A. Menyiapkan Tempat Kerja, Alat dan Bahan
    Sebelum kita membuat hiasan atau melakukan pekerjaan menghias
baik itu menghias lenan rumah tangga ataupun menghias busana terlebih
dahulu perlu disiapkan tempat kerja, alat serta bahan yang dibutuhkan
untuk menghias. Agar pekerjaan dapat berjalan efektif dan efesien maka
tempat atau ruang kerja hendaklah ditata sebaik mungkin. Ruang kerja
hendaknya tidak sempit atau dapat memberi keleluasaan dalam bekerja.
Di sekolah umumnya kegiatan ini dilakukan di workshop atau bengkel.
Bengkel atau workshop hendaklah bersih dan memberi kenyamanan
untuk bekerja. Semua alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menghias
ditata sesuai dengan kegunaannya.
    Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menghias sebaiknya disediakan
seluruhnya sebelum pekerjaan menghias dilakukan. Ini bertujuan untuk
menghemat waktu dan untuk kelancaran dalam bekerja. Karena
pekerjaan menghias kain atau menghias busana ini membutuhkan
ketelitian dan kesabaran maka dalam bekerja tidak salahnya distel musik
yang dapat membangkitkan gairah dalam bekerja sehingga bekerja
menjadi tidak membosankan.
    Untuk menghias busana dibutuhkan alat dan bahan. Adapun alat dan
bahan yang dibutuhkan di antaranya yaitu :
1. Jarum tangan dengan berbagai ukuran
2. Jarum pentul
3. Gunting besar dan gnting kecil
4. Tudung jari
5. Pandedel
6. Rader
7. Karbon jahit
8. Ram atau pemidangan
9. dll
    Adapun bahan yang dibutuhkan untuk menghias busana disesuaikan
dengan jenis hiasan yang di gunakan. Secara umum bahan yang
dibutuhkan untuk menghias busana adalah bahan utama dan bahan
penunjang. Bahan utama yaitu kain yang akan di hias. Sedangkan bahan
penunjang merupakan bahan yang digunakan untuk membuat hiasan itu
sendiri. Bahan ini dapat berupa aneka jenis benang, aneka jenis pita,
aneka jenis tali, manik, payet, batu-batuan dan lain-lain. Aneka jenis
benang di antaranya seperti benang bordir, benang sulam, benang wol
dan lain-lain. Jenis benang ini biasanya di jual dengan aneka rupa sesuai
dengan yang diproduksi pada waktu itu, karena perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, perkembangan bahan tekstilpun juga makin
berkembang pesat.




                                                                     378
B. Konsep Dasar Menghias Busana
    Menghias dalam Bahasa Inggris berasal dari kata “to decorate” yang
berarti menghias atau memperindah. Dalam busana menghias berarti
menghias atau memperindah segala sesuatu yang dipakai oleh manusia
baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keperluan rumah tangga. Benda
yang dipakai untuk diri sendiri antara lain blus, rok, celana, tas, topi dan
lain-lain, sedangkan untuk keperluan rumah tangga diantaranya yaitu
taplak meja, bed cover, bantal kursi, gorden dan lain-lain.
    Ditinjau dari tekniknya, menghias kain dibedakan atas 2 macam yaitu
1) menghias permukaan bahan yang sudah ada dengan bermacam-
macam tusuk hias baik yang menggunakan tangan maupun dengan
menggunakan mesin dan 2) dengan cara membuat bahan baru yang
berfungsi untuk hiasan benda. Menghias permukaan kain atau bahan
yaitu berupa aneka teknik hias seperti sulaman, lekapan, mengubah
corak, smock, kruisteek, terawang dan metelase. Sedangkan membuat
bahan baru yaitu berupa membuat kaitan, rajutan, frivolite, macrame dan
sambungan perca. Yang akan dibahas pada bab ini hanyalah menghias
busana dengan cara menghias permukaan bahan atau busana dengan
beberapa teknik hias.
    Sebelum kita membuat hiasan pada suatu benda atau busana baik
dengan cara menghias kain maupun dengan membuat bahan baru,
terlebih dahulu kita perlu membuat suatu rencana tentang hiasan yang
akan dibuat yang disebut dengan desain hiasan busana.

   1. DESAIN HIASAN BUSANA
       Desain hiasan merupakan desain yang dibuat untuk meningkatkan
   mutu dari desain struktur suatu benda. Desain hiasan ini terbentuk
   dari susunan berbagai unsur seperti garis, arah, bentuk, ukuran,
   tekstur, value dan warna. Bentuk dan warna merupakan unsur yang
   sangat mempengaruhi tampilan sebuah desain hiasan. Agar indah
   dan menarik dilihat dalam mendesain hiasan ini juga harus
   memperhatikan prinsip-prinsip desain sebagaimana sudah dijelaskan
   pada bab VII desain busana. Prinsip-prinsip desain ini pada dasarnya
   sama,      hanya    saja   penerapannya     berbeda.    Keselarasan,
   keseimbangan dan kesatuan desain hiasan dengan benda yang akan
   dihias merupakan hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam
   merancang desain hiasan suatu benda.
       Keselarasan merupakan kesesuaian antara bagian yang satu
   dengan bagian yang lainnya baik antara benda yang dihias dengan
   hiasannya maupun antara hiasan yang digunakan itu sendiri. Agar
   hiasan yang digunakan sesuai dan dapat memperindah bidang yang
   dihias maka perlu diperhatikan beberapa hal yaitu :
   a. Hiasan yang digunakan hendaklah tidak berlebihan. Hiasan yang
       terlalu berlebihan membuat pakaian terlihat norak atau terlalu
       ramai. Oleh sebab itu penggunaan hiasan hendaklah dibatasi



                                                                        379
   sehingga fungsinya untuk meningkatkan mutu produk tersebut
   dapat tercapai.
b. Hiasan yang digunakan disesuaikan dengan desain struktur benda
   yang dihias. Contohnya pada bidang benda yang berbentuk segi
   empat dapat digunakan motif yang mengikuti bidang segi empat
   tersebut, atau hanya membuat hiasan berbentuk siku pada setiap
   sudutnya. Janganlah menggunakan hiasan yang merubah desain
   struktur seperti bidang segi empat dibuat hiasan berbentuk
   lingkaran pada bagian tengah bidang benda. Ini artinya sudah
   merubah bentuk struktur benda tersebut.
c. Penempatan desain hiasan disesuaikan dengan luasnya
   background dari benda yang dihias. Bidang yang kecil sebaiknya
   juga menggunakan hiasan yang kecil dan sebaliknya bidang yang
   luas dapat menggunakan hiasan yang sedikit lebih besar.

    Keseimbangan dari hiasan juga perlu diperhatikan. Keseimbangan
ini secara garis besar dapat dikelompokkan atas 2 yaitu
keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris.

a. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan yang tercipta
   dimana bagian yang satu sama dengan bagian yang lain.
   Contohnya bagian kiri sama besar dengan bagian kanan atau
   bagian atas sama dengan bagian bawah.




         Gambar 212. Keseimbangan simetris pada desain hiasan

b. Keseimbangan asimetri (keseimbangan informal) merupakan
   keseimbangan yang dibuat dimana bagian yang satu tidak sama
   dengan bagian yang lain tetapi tetap menimbulkan kesan
   seimbang.



                                                                380
        Gambar 213. Keseimbangan asimetris pada desain hiasan

   Untuk menciptakan irama pada desain hiasan dapat dilakukan
dengan cara pengulangan bentuk secara teratur, radiasi atau
pancaran dan perubahan atau peralihan ukuran. Pengulangan bentuk
secara teratur dibuat dengan mengulang bentuk yang sama yang



                                                                381
disusun berjejer mengikuti garis lurus atau garis lengkung. Dengan
teknik radiasi atau pancaran dilakukan dengan menyusun ragam hias
pada bidang lingkaran dari tengah menyebar ke seluruh sisi atau dari
sisi ke tengah bidang.
     Kesatuan pada desain merupakan terdapatnya kesatuan pada
keseluruhan komponen desain baik bentuk desain, warna desain,
ukuran desain, dan lain-lain sehingga tercipta sebuah desain hiasan
yang baik atau sesuai dengan bidang yang akan kita hias.

2. JENIS-JENIS RAGAM HIAS
    Desain hiasan dapat dibuat dari berbagai bentuk ragam hias.
Adapun jenis-jenis ragam hias yang dapat digunakan untuk menghias
bidang atau benda yaitu :
a. Bentuk naturalis
       Bentuk naturalis yaitu bentuk yang dibuat berdasarkan bentuk-
    bentuk yang ada di alam sekitar seperti bentuk tumbuh-tumbuhan,
    bentuk hewan atau binatang, bentuk batu-batuan, bentuk awan,
    matahari, bintang, bentuk pemandangan alam dan lain-lain.
    Berikut ini dapat dilihat beberapa contoh ragam hias naturalis :




                      Gambar 214. Bentuk ragam hias naturalis

b. Bentuk geometris
      Bentuk geometris yaitu bentuk-bentuk yang mempunyai
   bentuk teratur dan dapat diukur menggunakan alat ukur.
   Contohnya bentuk segi empat, segi tiga, lingkaran, kerucut,


                                                                382
   silinder dan    lain-lain.   Berikut   ini   beberapa   bentuk-bentuk
   geometris :




               Gambar 215. Bentuk ragam hias geometris

c. Bentuk dekoratif
      Bentuk dekoratif merupakan bentuk yang berasal dari bentuk
   naturalis dan bentuk geometris yang sudah distilasi atau direngga



                                                                    383
   sehingga muncul bentuk baru tetapi ciri khas bentuk tersebut
   masih terlihat. Bentuk-bentuk ini sering digunakan untuk membuat
   hiasan pada benda baik pada benda-benda keperluan rumah
   tangga maupun untuk hiasan pada busana.




                Gambar 216. Bentuk ragam hias dekoratif


3. STILASI
     Ragam hias yang digunakan untuk menghias benda umumnya
ragam hias yang sudah di stilasi. Stilasi yaitu mengubah dan
menyederhanakan bentuk asli sehingga terdapat bentuk gambar lain
yang kita kehendaki. Stilasi ini dapat dilakukan dengan cara
menggubah bentuk atau dengan melihat objek dari berbagai arah
misalnya dilihat dari depan, belakang, dari atas dan lain-lain sehingga
dapat menghasilkan ragam hias baru yang diinginkan. Ragam hias ini
dapat dibuat menjadi bermacam-macam ragam hias dengan gaya
yang berbeda namun ciri khas bentuk aslinya masih kelihatan. Stilasi
ini dapat dilakukan untuk bentuk-bentuk geometris dan bentuk-bentuk



                                                                   384
naturalis seperti stilasi bentuk segitiga, bentuk segi empat, bentuk
lingkaran dan sebagainya. Stilasi bentuk-bentuk alam seperti stilasi
buah-buahan, stilasi daun, stilasi bunga, stilasi manusia, sitilasi
binatang, dan stilasi bentuk-bentuk alam lainnya. Selain itu stilasi juga
dapat dilakukan pada berbagai ragam hias yang sudah ada baik
ragam hias naturalis, geometris maupun ragam hias dekoratif.
Contoh beberapa stilasi bentuk naturalis dan bentuk geometris :




                      Gambar 217. Contoh stilasi



                                                                     385
C. Membuat Desain Hiasan Untuk Busana
    Agar ragam hias di atas dapat digunakan untuk menghias suatu
benda maka perlu dirancang bentuk susunan ragam hiasnya yang
disebut dengan pola hias. Pola hias merupakan susunan ragam hias
yang disusun jarak dan ukurannya berdasarkan aturan-aturan
tertentu. Pola hiasan juga harus menerapkan prinsip-prinsip desain
seperti keseimbangan, irama, aksentuasi, dan kesatuan sehingga
terdapat motif hias atau desain ragam hias yang kita inginkan. Desain
ragam hias yang sudah berbentuk pola hias sudah dapat kita gunakan
untuk menghias sesuatu benda.
    Pola hias ini ada 4 macam yaitu: pola serak, pola pinggiran, pola
mengisi bidang dan pola bebas.
1. Pola serak atau pola tabur yaitu ragam hias kecil-kecil yang
diatur jarak dan susunannya mengisi seluruh permukaan atau
sebahagian bidang yang dihias. Ragam hias dapat diatur jarak dan
susunannya apakah ke satu arah, dua arah, dua arah (bolak balik)
atau ke semua arah. Contoh pola serak/pola tabur yaitu :




               Gambar 218. Contoh pola serak/pola tabur




                                                                 386
2. Pola pinggiran yaitu ragam hias disusun berjajar mengikuti garis
   lurus atau garis lengkung yang saling berhubungan satu dengan yang
   lainnya. Pola pinggiran ini ada lima macam yaitu pola pinggiran
   berdiri, pola pinggiran bergantung, pola pinggiran simetris, pola
   pinggiran berjalan, dan pola pinggiran memanjat.
   a. Pola pinggiran berdiri yaitu ragam hias disusun berjajar berat ke
       bawah atau disusun makin ke atas makin kecil. Pola pinggiran ini
       sering digunakan untuk menghias pinggiran bawah rok, pinggiran
       bawah blus, ujung lengan dan lain-lain. Contoh pola pinggiran
       berdiri :




                  Gambar 219. Contoh pola pinggiran berdiri



                                                                   387
b. Pola pinggiran bergantung yaitu kebalikan dari pola pinggiran
   berdiri yang mana ragam hias disusun berjajar dengan susunan
   berat ke atas atau makin ke bawah makin kecil sehingga terlihat
   seperti menggantung. Pola pinggiran ini digunakan untuk
   menghias garis leher pakaian, garis hias horizontal yang mana
   ujung motif menghadap ke bawah. Contoh pola pinggiran
   bergantung :




             Gambar 220. Contoh pola pinggiran bergantung

c. Pola pinggiran simetris yaitu ragam hias di susun berjajar dimana
   bagian atas dan bagian bawah sama besar. Pinggiran ini
   digunakan untuk menghias pinggiran rok, pinggiran ujung lengan,
   tengah muka blus, gaun ataupun rok. Contoh pola pinggiran
   simetris yaitu :


                                                                388
Gambar 221. Contoh pola pinggiran simetris



                                             389
d. Pola pinggiran berjalan yaitu susunan ragam hias yang disusun
   berjajar pada garis horizontal dan dihubungkan dengan garis
   lengkung sehingga motif seolah-olah bergerak ke satu arah. Pola
   pinggiran berjalan ini digunakan untuk menghias bagian bawah
   rok, bawah blus, ujung lengan, dan garis hias yang horizontal.
   Contoh pola pinggiran berjalan yaitu :




             Gambar 222. Contoh pola pinggiran berjalan

e. Pola pinggiran memanjat yaitu susunan ragam hias yang disusun
   berjajar pada garis tegak lurus sehingga seolah-olah motif
   bergerak ke atas/memanjat. Pola hiasan seperti ini digunakan
   untuk menghias bagian yang tegak lurus seperti tengah muka
   blus, tengah muka rok, garis princes dan lain-lain. Contoh pola
   pinggiran memanjat yaitu :


                                                              390
Gambar 223. Contoh pola pinggiran memanjat



                                             391
3. Pola mengisi bidang
    Pola mengisi bidang yaitu ragam hias disusun mengikuti bentuk
bidang yang akan dihias. Contohnya bidang segi empat, bidang segi tiga,
bidang lingkaran dan lain-lain.
a. Mengisi bidang segi empat, ragam hias bisa disusun di pinggir atau di
   tengah atau pada sudutnya saja sehingga memberi kesan bentuk segi
   empat. Pola mengisi bidang segi empat ini bisa digunakan untuk
   menghias benda yang berbentuk bidang segi empat seperti alas meja,
   blus dengan belahan di tengah muka seperti kebaya.




                Gambar 224. Contoh pola mengisi bidang segi empat



                                                                    392
Gambar 225. Contoh pola mengisi bidang segi empat



                                                    393
b. Mengisi bidang segi tiga, ragam hias disusun memenuhi bidang segi
   tiga atau di hias pada setiap sudut segitiga. Pola seperti ini digunakan
   untuk menghias taplak meja, saku, puncak lengan, dan lain-lain.




              Gambar 226. Contoh pola mengisi bidang segitiga sama sisi



                                                                          394
               Gambar 227. Contoh pola mengisi bidang segi tiga siku

c. Pola mengisi bidang lingkaran/setengah lingkaran, ragam hias dapat
   disusun mengikuti pinggir lingkaran, di tengah atau memenuhi semua
   bidang lingkaran. Pola mengisi bidang lingkaran ini dapat digunakan
   untuk menghias garis leher yang berbentuk bulat atau leher Sabrina,
   taplak meja yang berbentuk lingkaran, dan lain-lain. Contoh pola
   mengisi bidang lingkaran yaitu :



                                                                       395
              Gambar 228. Contoh pola mengisi bidang lingkaran / oval

4. Pola bebas
    Pola bebas yaitu susunan ragam hias yang tidak terikat susunannya
apakah arah horizontal atau vertikal, makin ke atas susunannya makin
kecil atau sebaliknya, dll. Yang perlu diperhatikan adalah susunannya
tetap sesuai dengan prinsip-prinsip desain dan penempatan hiasan pada




                                                                        396
benda tidak mengganggu jahitan atau desain struktur benda. Beberapa
contoh pola bebas yaitu :




                     Gambar 229. Contoh pola hias bebas



                                                               397
Gambar 230. Contoh pola hias bebas



                                     398
D. Memindahkan Desain Hiasan Pada Kain Atau
   Busana
      Pola hias yang sudah di rancang untuk busana atau untuk
keperluan lenan rumah tangga dipindahkan terlebih dahulu pada
bahan yang akan dihias. Cara memindahkan desain hiasan ini
tergantung pada kain yang digunakan. Untuk kain yang tebal atau
tidak transparan dapat menggunakan karbon jahit. Karbon jahit
diletakkan di atas kain atau antara bagian baik kain dengan kertas
desain motif, kemudian motif ditekan menggunakan pensil sehingga
motif pindah ke atas kain. Dalam menjiplak motif pada kain ini
sebaiknya kertas motif dipentulkan terlebih dahulu ke kain sehingga
kertas motif tidak bergeser. Tekanan pensil pada saat menjiplak motif
juga perlu diperhatikan. Tekanan pensil ini sebaiknya jangan terlalu
keras sehingga berkas karbon di atas kain tidak mengotori permukaan
kain.
      Sedangkan untuk kain yang tipis atau transparan dapat
langsung dijiplak menggunakan pensil, yang mana kertas motif
diletakkan di bawah bahan. Bekas motif yang terlihat pada bagian
baik bahan bisa langsung dijiplak menggunakan pensil.
      Selain cara yang dikemukakan di atas ada juga yang menjiplak
motif dengan cara mengkasarkan motif yang ada di kertas kemudian
di tekan ke atas bahan sehingga bekas pensil yang kasar ini pindah
ke bahan. Namun cara ini kurang efektif karena adakalanya ada
bagian motif yang tidak terlalu kasar sehingga motif tersebut tidak
pindah ke kain. Hal yang perlu diingat dalam menjiplak motif ini yaitu
motif hendaknya ditempatkan secara tepat pada bagian busana yang
akan dhias. Jika kita salah dalam memindahkan motif pada bahan
maka sudah barang tentu hiasan yang dibuat tidak sesuai dengan
desain busana yang direncanakan.

E. Membuat Hiasan Pada Kain Atau Busana
    Untuk membuat hiasan pada permukaan kain digunakan tusuk
hias. Kegiatan ini disebut juga dengan teknik sulaman yaitu teknik
membuat ragam hias pada permukaan kain dengan benang. Benang
tersebut diatur secara dekoratif pada permukaan kain dengan jalan
menusukkan benang dengan bermacam-macam cara. Macam-
macam tusuk ini dinamakan dengan tusuk hias. Tusuk hias terdiri atas
dua kelompok yaitu tusuk hias dasar dan tusuk hias variasi. Tusuk
hias dasar yaitu tusuk-tusuk yang merupakan dasar untuk membuat
tusuk hias variasi. Tusuk variasi yaitu tusuk yang berasal dari variasi
tusuk hias dasar baik dengan memvariasikan arah, jarak dan
sebagainya sehingga menghasilkan bermacam-macam tusuk dengan
gaya yang berbeda.




                                                                   399
1. TUSUK HIAS
a. Tusuk hias dasar
   Tusuk hias dasar ada tiga belas macam yatu :

   1) Tusuk jelujur yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal
      ukuran dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang.




   2) Tusuk veston yaitu tusuk yang mempunyai dua arah yaitu arah
      vertikal dan arah horizontal, kaki tusuk arah vertikal dan arah
      horizontal mempunyai pilinan




   3) Tusuk flanel yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan
      pada bagian atas dan bagian bawah tusuk bersilang




   4) Tusuk batang yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan
      setengah dari ukuran tusuk masing-masing saling bersentuhan




   5) Tusuk pipih yaitu tusuk yang dibuat turun naik sama panjang
      dan menutup seluruh permukaan ragam hias.




   6) Tusuk rantai yaitu tusuk mempunyai arah horizontal atau
      vertikal dimana masing-masing tusuk saling tindih menindih
      sehingga     membentuk    rantai-rantai  yang     sambung
      menyambung.


                                                                 400
7) Tusuk silang yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan
   pada garis tengahnya ada persilangan antara tusuk bagian
   atas dan tusuk bagian bawah.




8) Tusuk biku yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal ke kiri
   dan ke kanan




9) Tusuk palestrina yaitu tusuk mempunyai arah horizontal dan
   setiap tusukan mempunyai tonjolan atau buhulan




10) Tusuk kepala peniti yaitu tusuk yang mempunyai pilihan-
    pilihan pada permukaan kain dan menutup semua permukaan
    ragam hias.




11) Tusuk tikam jejak yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal
    dan setengah dari ukuran tusuk saling bersentuhan sehingga
    pada permukaan kelihatan seperti setikan mesin.


                                                            401
   12) Tusuk balut yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal yang
       dilakukan di atas benang lain atau pada pinggir ragam hias
       yang dilobangi.




   13) Tusuk Holben yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal
       dan vertikal dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang
       sehingga berbentuk jajaran.




b. Tusuk hias variasi yaitu tusuk yang merupakan variasi dari
   tusuk-tusuk dasar, variasi tusuk-tusuk dasar tersebut dapat
   dilakukan dengan merubah arah, ukuran, jarak tusuk atau
   mengkombinasikan satu tusuk dengan tusuk yang lain sehingga
   dari satu tusuk dasar dapat menghasilkan bermacam-macam
   tusuk variasi yang mempunyai nama tersendiri misalnya variasi
   dari tusuk silang disebut tusuk silang ganda, variasi dari tusuk
   rantai tusuk rantai terbuka atau tusuk tulang ikan, variasi tusuk
   pipih disebut long and short stich, variasi tusuk flanel disebut tusuk
   chevron dan lainnya. Berikut beberapa contoh tusuk hias variasi :

   Variasi tusuk flanel




   Variasi tusuk holben




                                                                     402
2. JENIS SULAMAN
     Ada berbagai jenis sulaman yang dapat digunakan untuk
menghias busana, baik sulaman yang dibuat menggunakan bantuan
mesin maupun menggunakan tangan. Apalagi jika kita amati
perkembangan mesin sulam saat ini. Dengan bantuan mesin sulam,
komputer dan satu orang operator dapat dihasilkan kain yang disulam
dalam jumlah banyak. Namun masih banyak jenis sulaman yang
harus dikerjakan dengan tangan dan jenis sulaman ini dihargai
dengan harga yang relatif tinggi. Ada banyak sulaman yang dibuat
menggunakan tangan yang dijelaskan dalam banyak literatur.
Beberapa jenis sulaman yang dapat digunakan untuk menghias kain
atau busana di antaranya yaitu:

   a. Sulaman Fantasi
       Sulaman fantasi sering juga disebut sulaman bebas karena
   sulaman ini di desain dengan memvariasikan tusuk hias dan
   warna benang pada bahan tenunan polos. Ragam hias yang
   digunakan untuk sulaman fantasi sering menggunakan ragam hias
   naturalis seperti bentuk bunga-bunga, binatang, buah-buahan dan
   lain-lain.
       Warna yang digunakan untuk sulaman fantasi lebih dari dua
   warna. Kombinasi warna dapat memakai kombinasi warna kontras
   atau komplement dan kombinasi warna harmonis seperti
   kombinasi warna analog dan kombinasi warna monolog.
       Untuk menghasilkan aksentuasi dapat dilakukan dengan
   teknik kontras baik kontras warna, kontras tusuk, atau kontras
   ukuran ragam hias. Penggunaan tusuk juga divariasikan lebih dari
   dua macam tusuk seperti tusuk pipih, tusuk tangkai, tusuk veston,
   dan tusuk kepala peniti. Untuk menghasilkan aksentuasi atau
   pusat perhatian seperti kontras tusuk , maka pilih tusuk hias yang
   kesannya menonjol dari tusuk yang lain seperti misalnya tusuk
   pipih karena semua permukaan ragam tertutup oleh tusuk atau
   tusuk palestrin karena permukaan tusuknya menonjol.
       Pola hias yang digunakan untuk sulaman fantasi ini
   disesuaikan       dengan penempatan sulaman pada desain
   strukturnya.
   Berikut ini contoh desain sulaman fantasi :




                                                                 403
            Gambar 231. Desain sulaman fantasi




Gambar 232. Desain sulaman fantasi dengan pola hias mengisi
             bidang lingkaran




                                                              404
    Adapun alat yang dibutuhkan adalah ram, gunting dan jarum
tangan. Bahan yang digunakan adalah kain dengan tenunan rapat
dan polos seperti tetoron, berkolin, poplin dan lain-lain. Benda yang
dapat dihias antara lain blus, rok, gaun dan aneka lenan rumah
tangga.
    Cara mengerjakannya yaitu motif yang sudah di desain
dipindahkan ke bahan. Motif dapat berupa bunga-bungaan atau
bentuk-bentuk naturalis. Setelah itu ram di pasang di atas bahan yang
akan di hias. Mulailah membuat bermacam-macam tusuk di atas
bahan sesuai dengan motif yang direncanakan. Warna benang yang
digunakan boleh dikombinasikan dan tidak lebih dari 3 warna karena
akan membuat desain terlalu ramai atau tidak menarik, disamping itu
kita juga dapat menggunakan beraneka tusuk hias. Dalam
mengkombinasikan warna dan mengkombinasikan tusuk hias
hendaklah diperhatikan kesatuan dari desain yang dibuat sehingga
sulaman yang dihasilkan benar-benar dapat meningkatkan mutu dari
kain yang kita hias.

b. Sulaman Hongkong
     Sulaman hongkong yaitu sulaman yang dijahit dengan variasi
tusuk pipih yang dijahitkan mengisi seluruh permukaan motif. Jahitan
dibuat beberapa jajaran dengan menggunakan warna bertingkat.
Tusuk pipih dijahitkan bolak balik dengan ukuran yang tidak sama
panjang atau disebut tusuk “long and short stitch” Setiap jajaran tusuk
menggunakan kombinasi warna bertingkat. Warna bertingkat dapat
dipilih warna value, warna shade, atau warna tint. Warna value yaitu
tingkatan warna yang terjadi dari campuran warna hitam dan putih.
Warna shade yaitu tingkatan warna yang terjadi karena campuran
warna dengan warna hitam. Warna tint yaitu tingkatan warna yang
terjadi karena pencampuran warna dengan warna putih.
     Ragam hias yang digunakan untuk sulaman hongkong yaitu
ragam hias naturalis atau ragam dekoratif berupa bunga-bunga dan
daun-daun, atau hewan seperti burung-burung atau kupu-kupu dan
sebagainya. Pola hiasan dapat menggunakan semua pola hias
tergantung jenis ragam hias yang digunakan. Aksentuasi dapat
dihasilkan dengan teknik kontras warna dan ukuran.
     Adapun alat yang dibutuhkan adalah ram dan jarum tangan.
Bahan yang dibutuhkan yaitu kain dengan tenunan polos dan benang
sulam. Cara mengerjakannya yaitu : desain motif di pindahkan ke atas
kain. Ram dipasang di atas kain yang bermotif. Mulailah menyulam
dengan menggunakan tusuk long and short sticth. Tusuk ini dijahitkan
dari bagian luar motif, tusuk rata pada bagian luar dan tidak sama
panjang (panjang pendek) pada bagian dalam motif, dengan
menggunakan warna bertingkat. Jika warna pada bagian luar motif
warna yang lebih muda maka warna benang yang digunakan makin
ke dalam motif makin tua. Lakukan sampai seluruh motif selesai


                                                                   405
dijahit. Rapikan sisa-sisa benang. Untuk bagian batang dapat
digunakan tusuk lain seperti tusuk batang, tusuk tikam jejak dan lain-
lain.
     Berikut ini contoh desain sulaman hongkong :




                Gambar 233. Desain sulaman hongkong



                                                                  406
c. Sulaman Aplikasi
     Sulaman aplikasi merupakan salah satu sulaman dengan teknik
lekapan. Sulaman dengan teknik lekapan yaitu sulaman yang ragam
hiasnya dibentuk dari bahan lain kemudian ditempelkan pada
permukaan kain. Bahan tempelan untuk membentuk ragam hias
dapat berupa kain, benang yang kasar, pita atau tali dan payet.
Lekapan ini bermacam-macam sesuai dengan bahan tempelan yang
digunakan. Jenis sulaman ini yaitu sulaman aplikasi, sulaman
inkrustasi, sulaman melekatkan benang atau tali, melekatkan payet
dan quilting.
     Aplikasi yaitu satu metode menghias kain dengan menjahitkan
sepotong kain yang digunting pada permukaan kain. Ragam hias
dibentuk dari kain lain atau pita dan ditempelkan dengan tusuk hias
pada permukaan benda yang akan dihias. Bahan tempelan dapat
digunakan bahan yang tidak bercorak atau dapat pula digunakan
bahan yang bercorak atau bermotif. Tempelan dari bahan yang tidak
bercorak disebut aplikasi Cina sedangkan tempelan dari bahan
bercorak disebut aplikasi Persia.
     Pada aplikasi persia kita tidak perlu mendesain ragam hiasnya
karena kita hanya mengambil ragam hias yang sudah ada pada kain
tersebut, kemudian disusun di atas permukaan kain dan ditempelkan
dengan tusuk. Sedangkan pada aplikasi Cina ragam hias dibentuk
dari kain yang tidak bercorak. Ragam hias dibentuk dari bahan polos
yang digunting sesuai desain. Bahan tempelan sebaiknya diberi
pengeras seperti fliselin agar tiras kain tidak mudah lepas. Warna kain
tempelan dapat dikombinasikan sesuai dengan keinginan. Ragam
hias untuk aplikasi ini umumnya menggunakan ragam hias dekoratif
yang distilasi dari ragam naturalis seperti bentuk bunga-bunga,
pohon, pemandangan, bentuk binatang dan lain sebagainya. Ragam
hias yang didesain diusahakan tidak mempunyai lengkungan yang
terlalu tajam atau bentuk-bentuk yang terlalu lancip, karena akan
menyulitkan dalam pekerjaan menyulam dan akan mempengaruhi
hasil sulaman tersebut.
     Warna ragam hias untuk aplikasi dapat menggunakan warna
tunggal atau warna yang dikombinasikan. Untuk penggunaan warna
tunggal dapat memilih warna yang senada atau warna bertingkat
dengan warna benda yang akan dihias atau dapat pula menggunakan
warna kontras dengan warna benda yang akan dihias. Sedangkan
untuk ragam hias yang menggunakan kombinasi dua atau tiga warna
juga dapat memakai kombinasi warna harmonis atau kombinasi
warna kontras.
     Tusuk hias yang dipakai untuk menempelkan ragam hias pada
permukaan kain dapat dipakai tusuk veston atau tusuk klim
tergantung pada ketebalan bahan tempelan. Untuk bahan yang tipis
digunakan tusuk klim sedangkan untuk bahan yang tebal digunakan



                                                                   407
tusuk veston. Untuk menambahkan hiasan pada tempelan dapat
digunakan tusuk pipih atau tusuk batang.
    Pola hiasan untuk aplikasi tergantung pada ragam yang
digunakan misalnya ragam hias pemandangan alam akan
menggunakan pola hiasan bebas, apabila menggunakan ragam
bunga-bunga dan lainnya dapat menggunakan semua pola hiasan
yang disesuaikan dengan penempatannya pada desain struktur.
    Adapun alat yang dibutuhkan untuk sulaman aplikasi adalah ram
dan jarum tangan. Bahan yang digunakan yaitu kain yang akan di hias
berupa tenunan polos, bahan tempelan sesuai dengan jenis aplikasi
yang diinginkan apakah aplikasi cina atau aplikasi persia, benang jahit
dan benang sulam.
    Cara mengerjakannya yaitu motif yang sudah ada dipindahkan ke
kain yang akan di hias. Kemudian bahan tempelan di tempel ke bahan
dan dijelujur agar tidak bergeser. Pasanglah ram di atas bahan yang
sudah ditempel tersebut kemudian mulailah membuat tusuk feston
pada bagian pinggir tempelan sehingga bahan lekapan ini menyatu
dengan kain. Contoh desain sulaman aplikasi :




                 Gambar 234. Desain sulaman aplikasi



                                                                   408
d. Sulaman Melekatkan Benang
     Melekatkan benang yaitu sulaman yang ragam hiasnya dibentuk
dari benang sulam yang kasar yang ditempelkan secara kontinue atau
terus menerus tidak terputus-putus pada permukaan kain dengan
tusuk hias. Benang dibentuk menjadi ragam hias pada permukaan
kain dan dijahitkan dengan tusuk balut atau silang.
     Desain melekatkan benang ini ada dua jenis yaitu pertama desain
pinggiran yaitu benang hanya ditempelkan pada pinggiran luar ragam
hias dan yang kedua benang ditempelkan pada seluruh permukaan
ragam hias. Ragam hias melekatkan benang hanya menggunakan
ragam hias geometris berbentuk garis-garis lengkung. Desain ragam
hias hendaklah tidak mempunyai lengkungan yang terlalu kecil atau
terlalu lancip karena akan menyulitkan dalam pekerjaan menyulam
dan akan mempengaruhi hasil sulaman tersebut.
     Warna benang untuk tempelan atau ragam hias menggunakan
warna tunggal yang harmonis atau kontras dengan kain yang akan
dihias. Tetapi warna benang untuk tusuk balut atau tusuk silang
sebaiknya menggunakan warna kontras dengan warna benang
tempelan.
     Untuk menghasilkan aksentuasi ragam hias dapat dilakukan
dengan teknik kontras ukuran dimana pada bagian yang merupakan
aksentuasi ukuran ragamnya dibuat lebih besar dari ukuran ragam
yang lain. Sulaman ini dapat menggunakan seluruh pola hias kecuali
pola serak. Karena untuk sulaman ini benang diatur tidak terputus-
putus.
     Adapun alat yang digunakan untuk membuat sulaman melekatkan
benang ini yaitu ram, gunting dan jarum tangan. Bahan yang
digunakan yaitu bahan yang akan di hias, benang kasar yang akan
menjadi lekapan dan benang sulam untuk tusuk hiasnya.
     Cara membuat sulaman melekatkan benang ini yaitu terlebih
dahulu motif dipindahkan ke atas bahan dan pasang ram. Benang
lekapan di tempelkan ke atas bahan menggunakan tusuk hias. Tusuk
hias yang di gunakan dapat di pilih salah satu apakah tusuk balut atau
tusuk silang. Jarak tusuk ini sebaiknya tidak terlalu jarang atau tidak
lebih dari 0,5 cm. Aturlah benang yang dilekapkan sampai seluruh
motif selesai. Rapikan sisa-sisa benang.




                                                                   409
Contoh desain sulaman melekatkan benang yaitu :




           Gambar 235. Desain sulaman melekatkan benang



                                                          410
e. Terawang Hardanger
      Terawang yaitu ragam hias yang dibentuk dari ragam yang
mempunyai lobang-lobang berbentuk geometris. Terawang ini ada
macam-macam yaitu terawang hardanger, terawang inggris, terawang
richeliu, terawang putih, terawang fillet dan terawang persia.
      Terawang hardanger adalah terawang dengan ragam hias
geometris berbentuk empat persegi dan bentuk lobang-kobangnya
juga berbentuk empat persegi. Pada bagian lobang dihiasi dengan
trens atau rentangan benang dan dapat juga dihias dengan teknik
sisipan atau pada rentangan benang disisip dengan benang.
      Tusuk yang digunakan untuk terawang hardanger ini ada dua
macam yaitu tusuk pipih dan tusuk jelujur yang dijahit bolak-balik
pada pinggira lobang. Warna ragam hias untuk terawang hardanger
ini menggunakan warna tunggal yaitu warna yang senada atau warna
yang harmonis dengan warna kain yang akan dihias. Untuk
menghasilkan aksentuasi pada ragam hias dapat dilakukan dengan
teknik kontras ukuran ragam hias atau kontras ukuran lobang ragam
hias. Pola hias untuk terawang hardanger dapat menggunakan pola
hias pinggiran berdiri atau pinggiran bergantung dan pola hiasan
mengisi bidang-bidang segi empat, bidang segi tiga dan bidang belah
ketupat karena untuk pola-pola lain sukar membentuknya.
      Alat yang digunakan untuk membuat terawang hardanger ini
yaitu ram, jarum tangan, gunting dan pisau silet. Adapun bahan yang
digunakan yaitu bahan dengan tenunan polos, benang sulam yang
sewarna atau setingkat lebih tua atau lebih muda dengan bahan.
      Cara mengerjakan terawang hardanger ini yaitu terlebih dahulu
pindahkan motif pada bahan. Hal yang perlu diingat dalam
mengerjakan terawang ini adalah arah motif mengikuti serat benang
pada bahan atau kain. Buangkah bagian bahan yang akan dilobangi
menggunakan pisau silet. Bagian pinggir lobang hendaknya di jelujur
terlebih dahulu sebelum di lobangi sehingga pinggir lobang tidak
bertiras. Setelah selesai melobangi barulah dilakukan menjahitkan
tusuk pipih pada motif atau pada sekeliling tepi lobang. Setelah
selesai menjahitkan tusuk pipih atau tusuk balut ini baru dilakukan
membuat rentangan benang (trens) pada bagian tengah lobang
dengan cara menyilangkan benang pada bagian lobang. Lakukan
hingga seluruh motif selesai dihias. Rapikan sisa-sisa benang.




                                                               411
Contoh desain terawang hardanger :




               Gambar 236. Desain terawang hardanger

f.  Terawang Inggris
     Terawang Inggris yaitu ragam hias yang dibentuk dari ragam yang
mempunyai lobang-lobang berbentuk geometris bundaran-bundaran
atau bentuk oval yang terjadi karena kainnya ditoreh atau digunting.
Tusuk yang digunakan untuk terawang inggris ini yaitu tusuk balut
sehingga kain guntingnya tergulung dan lobang-lobang yang terjadi
tidak berbulu. Warna ragam hias untuk terawang Inggris ini
menggunakan warna tunggal yaitu warna yang senada atau warna
yang harmonis dengan warna kain yang akan dihias. Untuk
menghasilkan aksentuasi ragam hias dapat dilakukan dengan teknik
kontras ukuran dari ragam hias atau kontras ukuran dari lobang-
lobang ragam hias.
     Pola hiasan untuk terawang inggris dapat menggunakan semua
pola hias mulai dari pola hias tabur, pola hias pinggiran, pola hias
mengisi bidang atau pola hias bebas, karena ragamnya kecil-kecil dan
dapat diatur sesuai keinginan para perancang.
     Alat yang digunakan untuk membuat terawang Inggris adalah
ram, jarum jahit, gunting dan pisau silet. Bahan yang digunakan dapat
menggunakan kain dengan tenunan polos, benang sulam dan benang
jahit.
     Cara mengerjakannya yaitu terlebih dahulu motif dipindahkan ke
kain sesuai dengan penempatannya pada busana. Jelujur sekeliling
motif yang akan dilobangi kemudian toreh atau lobangi. Jelujur ini
berfungsi untuk tusuk penahan agar lobang tidak bertiras. Setelah
selesai dilobangi barulah dilanjutkan dengan membuat tusuk balut


                                                                 412
pada sekeliling lobang. Selesaikan bagian batang dengan
menggunakan tusuk batang atau tusuk tikam jejak. Rapikan sisa-sisa
benang.
    Contoh desain terawang inggris yaitu :




                Gambar 237. Desain terawang inggris



                                                              413
        Masih banyak lagi jenis sulaman yang dapat digunakan untuk
menghias busana dan lenan rumah tangga. Agar terampil dalam
mendesain hiasan untuk busana terutama dengan teknik sulaman tangan
diperlukan latihan yang banyak dan dilakukan secara kontinue.

F. Menyimpan Kain/Busana Yang Telah Dihias
      Busana atau kain yang telah dihias hendaklah sudah bersih atau
sudah dicuci ketika akan di simpan. Cara penyimpanannya dapat
dilakukan dengan cara di gantung pada hanger dan ditutup dengan
plastik sehingga terhindar dari debu. Jika penyimpanan dilakukan dalam
lemari maka aturlah posisinya agar tidak terlalu berdempet sehingga
ragam hias pada busana tidak rusak. Di dalam lemari sebaiknya
dilengkapi dengan obat pembasmi ngengat seperti kapur barus dan lain-
lain.
      Jika bahan yang dihias masih berupa lembaran kain yang akan
dibuat menjadi busana atau yang di buat dengan tujuan untuk di jual,
maka lipatlah bahan dengan posisi lipatan kain tidak mengganggu hiasan
yang ada, kemudian digantung menggunakan hanger. Penyimpanan
bahan ini juga ada yang dilakukan dengan cara dilipat dengan posisi
bagian motif menghadap ke atas lalu dimasukkan ke dalam kantong
plastik transparan. Susunlah letaknya dalam etalase sehingga terlihat
lebih menarik.

G. Merapikan Area Dan Tempat Kerja
      Setiap kegiatan yang dilakukan telah selesai, maka area atau
tempat kerja yang kita gunakan sebaiknya dibersihkan. Perca-perca atau
sisa-sisa benang yang digunakan dibuang pada tempat sampah. Alat dan
bahan yang sudah selesai digunakan disimpan kembali pada tempatnya.
Sebelum menyimpan alat-alat ini terlebih dahulu dibersihkan dan diberi
minyak seperti gunting yang digunakan untuk menghindari gunting
berkarat jika disimpan dalam waktu yang lama. Dengan pengaturan dan
penyimpanan yang baik setiap komponen yang digunakan dapat
memudahkan kita jika suatu saat membutuhkan alat tersebut kembali.
      Begitu juga dengan area kerja. Area kerja yang bersih dapat
menimbulkan gairah dalam bekerja, disamping itu dengan area kerja
yang bersih dapat menghindari bersarangnya binatang perusak seperti
tikus dan lain-lain.




                                                                  414
Rangkuman :

      Dari uraian yang dikemukan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam
membuat hiasan untuk busana kita perlu melakukan persiapan tempat
kerja, alat dan bahan. Tempat kerja hendaklah disiapkan senyaman
mungkin sehingga dapat menimbulkan gairah dalam bekerja. Alat dan
bahan yang dibutuhkan sebaiknya disediakan semua sebelum pekerjaan
menghias di lakukan. Untuk pekerjaan menghias ini diperlukan
pengetahuan atau konsep dasar menghias busana yang meliputi jenis-
jenis ragam hias dan teknik menstilasi ragam hias. Untuk merancang
hiasan yang cocok di gunakan untuk busana terlebih dahulu kita perlu
memahami pola hias.
      Pola hias meliputi pola serak atau tabur, pola pinggiran, pola
mengisi bidang dan pola bebas. Untuk memulai menghias desain motif
yang dirancang terlebih dahulu dipindahkan ke bahan atau kain, baik
menggunakan karbon ataupun pensil. Hiasan yang dapat digunakan
untuk busana cukup banyak di antaranya sulaman fantasi, sulaman
aplikasi, sulaman hongkong, sulaman melekatkan benang, terawang
hardanger, terawang inggris dan lain-lain.
      Busana yang telah selesai dihias hendaklah disimpan dengan cara
yang tepat. Penyimpanan dapat dilakukan dengan cara menggantung
pada hanger atau dengan cara dilipat. Dalam hal ini yang penting
diperhatikan adalah hiasan yang dibuat tidak rusak atau tidak terganggu
pada saat kain atau busana disimpan. Setelah selesai melakukan
pekerjaan menghias maka area kerja atau tempat kerja serta alat dan
bahan yang telah selesai digunakan dirapikan kembali dan alat serta
bahan sisa disimpan kembali pada tempat penyimpanan sehingga
memudahkan saat kita membutuhkan alat atau bahan tersebut kembali di
masa yang akan datang.

  Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah siswa
  dapat mengetahui, memahami dan mengaplikasikan materi ini
  yang meliputi :
  1. Menyiapkan tempat kerja, alat dan bahan
  2. Membuat desain hiasan untuk busana
  3. Memindahkan desain hiasan pada kain atau busana
  4. Membuat hiasan pada kain atau busana
  5. Menyimpan busana atau kain yang telah di hias
  6. Merapikan area dan alat kerja.




                                                                   415
Evaluasi :

1. Jelaskanlah hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan tempat
   kerja, alat dan bahan sebelum menghias busana di lakukan!
2. Buatlah 5 buah desain hiasan untuk busana dengan berbagai
   penempatan pada busana !
3. Jelaskanlah cara memindahkan motif pada bahan atau kain yang
   akan di hias !
4. Jelaskanlah cara membuat hiasan pada busana dengan sulaman
   fantasi, sulaman aplikasi dan sulaman hongkong !
5. Terangkanlah bagaimana cara menyimpan busana atau kain yang
   telah di hias !
6. Terangkanlah hal yang perlu diperhatikan dalam merapikan area dan
   alat kerja setelah pekerjaan menghias dilakukan !


                       *** Selamat Bekerja ***




                                                                416
                     DAFTAR PUSTAKA

2004. Busana Tingkat Dasar Terampil dan Mahir. Jakarta: Kawan
      Pustaka.

1996. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Ardiati Kamil, Sri. 1986. Fashion Design. Jakarta: CV Baru.

Adelina dkk. 1995. Etika Komunikasi. Bandung: Angkasa.

Bagyono. 2004. Mengikuti Prosedur Kesehatan dan Keamanan di Tempat
      Kerja.

Cavandish, Marshall.1972 – 84. Encyclopedia of Dressmaking. London:
      Cavendish Books Limited.

Du Bois, W.F Textielvezels, Wolter- Noordhoff Groningen, 1971
     Pengetahuan Bahan tekstil. Dapartemen Pendidikan dan
     Kebudayaan.

Elina Hasyim. Pengendalian Mula pada Industri Pakaian Jadi.

Falicitas Djawc, dkk. 1979. Pemeliharaan Busana dan Lenan Rumah
        Tangga.

Jane Saddler, Textiles, Third Edition, The Macmillan Company/ Collier-
      Macmillan Limited, London. Hollen, Norme and Saddler, Jane,
      Textiles, The Mac Millan

Kumangai, Kujiro, 1988. Fashion Ilustration for ladies, Men & Children.
     Tokyo: Graphic – sha Publishing

Nurseha, 2005. Mengikuti prosedur Kesehatan, Keselamatan, Keamanan
      dalam bekerja. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan
      Menengah, Departemen Pendidikan Nasional

Harpini Kadaraan, Syahandini Purnomo, Sri Kiswani. Tata Busana 3.

Heru Sulanto. Teknologi Pakaian Jadi.

Hollen, Norma and Risina Pamuntjak Sjahrial, cet. Ke V, Pradnya
       Paramita, Jakarta, 1977.
Kujiro. 1988. Pesona wisata Klaten Kumangai, Fashion Ilustration. Tokyo:
        Graphic – sha Publishing.

Mulyana, Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.
      Remaja Rosdakarya.

Purba, Rasita dan Farihah. 1997. Teknologi Busana.

Ramainas. 1989. Busana Pria. FPTK IKIP Padang

SINGER Sewing Reference Library Sewing Essentials

Soekarno Lanawati Basuki Panduan Membuat Desain Ilustrasi

Soedjono. 1985. Keselamatan Kerja. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

------------. 1985. Petunjuk Praktis Keselamatan Kerja jilid 2.Jakarta.
          Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sri Kiswani, Harpini Kadaiaan, Yusmi Marjoko. Tata Btusana 2.

Sumakmur. 1997. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta :
     Gunung Agung

Suyetty dan Gita kurniawan. 2000. Pelayanan Prima ( customer care)
       Yudistira anggota Ikapi

Takawa, dkk. 2004. Ergonomic untuk Kesehatan Keselamatan Kerja dan
      Produktivitas. Surakarta, UN, BA Pres.

Tim materi 5 S PMU SPSM. 2002. Budaya Kerja 5 S. Sucofindo.

Uchjana, Effendy Onang .2005. Komunikasi Teori dan Praktek.. Bandung:
      Remaja Rosdakarya

Undang-undang Nomor 1 tahun 1970. Diterbitkan oleh Proyek
      Pengembangan Kondisi dan Lingkungan Kerja tahun 1990.
      Direktorat Jenderal Bina Hubungan Ketenaga Kerjaan dan
      Pengawasan Kerja.

Van   Paassen, V,J,G Ruygrok.J.R, Pengetahuan Barang Tekstil
       sederhana, disesuaikan untuk keperluan di Indonesia oleh Ny.

Vidya.L. Dra, B. Sc, 1976, Jakarta, Pengetahuan Barang Tekstil, FIP IKIP

Widya, D. Dra, D. Sc, Penyempurnaan Lahan Tekstil, Fakultas.

Wildati Zahri. 1993. Penyelesaian pakaian.
----------------. 1984. Menghias Busana, Fakultas Pendiikan Teknlogi dan
          Kejuruan, IKIP.

Wisri Adi Pertiwi Mamdy. 2001. Menggambar Anatomi Modis untuk
       Merancang Busana Indonesia Kartini. Jakarta. Departemen
       Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, 1978.

Yusmerita dkk. 2000. Desain Busana. UNP Padang Ilmu Pendidikan IKIP

Yusmerita dan Ernawati. 2000. Desain Busana. Padang: Jurusan
     Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri
     Padang.
                          ISBN XXX-XXX-XXX-X


Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.


          HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00

								
To top