Embed
Email

Tari Nusantara

Document Sample
Tari Nusantara
Description

tari nusantara

Shared by: adit faizah
Categories
Stats
views:
620
posted:
1/6/2012
language:
pages:
6
Tari Tunggal



Tari Topeng Cirebon









Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk

Indramayu dan Jatibarang. Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar

Parahyangan. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal

gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru

penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.



Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu

merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana wungu

yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya

masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan

manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun

anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter

yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.



Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang

dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng.



Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih

sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah

lainnya.



Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan

kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa

Pekandangan, Indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, namun ia

masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir

hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.

Tari Tunggal



Tarian Jaipong Seni Tari Asal Jawa Barat

Jaipongan adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum

Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu

menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi

yang ada pada Kliningan atau Bajidoran atau Ketuk Tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan

tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Jaipongan.



Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser

Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari

berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai

gerakan yang erotis dan vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai

meningkat frekuensi pertunjukkannya baik di media televisi, hajatan, maupun perayaan-

perayaan yang disenggelarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.









Dari tari Jaipong ini mulai lahir beberapa penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh,

Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kirniadi. Kehadiran tari Jaipongan memberikan

kontribusi yang cukup besar terhadap para pencinta seni tari untuk lebih aktif lagi menggali

jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang di perhatikan. Dengan munculnya tari Jaipongan

ini mulai banyak yang membuat kursus-kursus tari Jaipongan, dan banyak dimanfaatkan oleh

para pengusaha untuk pemikat tamu undangan.



Di Subang Jaipongan gaya “Kaleran” memiliki ciri khas yakni keceriaan, erotis, humoris,

semangat, spontanitas, dan kesederhanaan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada

pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di

Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan

Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di

daerah Subang.



Tari Jaipongan pada saat ini bisa disebut sebagai salah satu tarian khas Jawa Barat, terlihat

pada acara-acara penting kedatangan tamu-tamu dari Negara asing yang datang ke Jawa

Barat, selalu di sambut dengan pertunjukkan tari Jaipongan. Tari Jaipongan ini banyak

mempengaruhi pada kesenian-kesenian lainnya yang ada di Jawa Barat, baik pada seni

pertunjukkan wayang, degung, genjring dan lainnya yang bahkan telah dikolaborasikan

dengan Dangdut Modern oleh Mr. Nur dan Leni hingga menjadi kesenian Pong-Dut.

Tari Berpasangan



Tari Ketuk Tilu dari Jawa Barat









Istilah ketuk tilu diambil dari alat musik pengiringnya, yaitu 3 buah ketuk (bonang) yang

memberi pola irama rebab, kendang (gendang) indung(besar) dan kulanter(kecil) untur

mengatur dinamika tari/kendang yang diiringi kecrek dan goong. Dahulu, ketuk tilu adalah

upacara menyambut panen padi sebagai rasa terima kasih kepada Dewi Sri. Upacara ini

dilakukan pada waktu malam hari, dengan mengarak seorang gadis diiringi bunyi-bunyian

yang berhenti di tempat luas. Sekarang, ketuk tilu menjadi tarian pergaulan dan hiburan,

biasanya diselenggarakan pada pesta perkawinan, hiburan penutup suatu kegiatan, atau

digelar pada acara-acara khusus. Di desa-desa tertentu, pertunjukan tari ketuk tilu sering

dilakukan semalaman suntuk. Kostum yang dipakai penari wanita ketuk tilu adalah kebaya,

sinjang (celana panjang) sabuk, dan beragam aksesoris, seperti gelang dan kalung. Sedangkan

untuk penari pria, mengenakan baju kampret warna gelap, celana pangsi, ikat kepala, dan

sabuk kulit.

Tari Kelompok



Tari Pendet Dari Bali









Penari pendet memegang bokor tempat bunga yang akan ditaburkan.



Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura,

tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas

turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman

Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir

yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? -

1967).



Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak

seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat

ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.



Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-

banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti

tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.



Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan

secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman

pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara

dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen

lainnya.

Tari Kelompok



Bedhaya Ketawang









Tari Bedhaya Ketawang, tarian sakral khas Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian sakral

yang rutin dibawakan dalam istana sultan Jawa (Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo).



Disebut juga tarian langit, bedhaya ketawang merupakan suatu upacara yang berupa tarian

dengan tujuan pemujaan dan persembahan kepada Sang Pencipta.



Pada awal mulanya di Keraton Surakarta tarian ini hanya diperagakan oleh tujuh wanita

saja. Namun karena tarian ini dianggap tarian khusus yang amat sacral, jumlah penarik

kemudian ditambah menjadi sembilan orang.



Sembilan penari terdiri dari delapan putra-putri yang masih ada hubungan darah dan

kekerabatan dari keraton serta seorang penari gaib yag dipercaya sebagai sosok Nyai Roro

Kidul.



Tarian ini diciptakan oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan latar

belakang mitos percintaan raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kanjeng

Ratu Kidul (penguasa laut selatan).



Sebagai tarian sakral, terdapat beberapa aturan dan upacara ritus yang harus dijalankan oleh

keraton juga para penari.



Bedhaya ketawang bisa dimainkan sekitar 5,5 jam dan berlangsung hingga pukul 01.00 pagi.



Hadirin yang terpilih untuk melihat atau menyaksikan tarian ini pun harus dalam keadaan

khusuk, semedi dan hening.



Artinya hadirin tidak boleh berbicara atau makan, dan hanya boleh diam dan menyaksikan

gerakan demi gerakan sang penari.



Tarian Bedhaya Ketawang besar hanya di lakukan setiap 8 tahun sekali atau sewindu sekali.



Sementara, Tarian Bedhaya Ketawang kecil dilakukan pada saat penobatan raja atau sultan,

pernikahan salah satu anggota keraton yang ditambah simbol-simbol.

Tari Berpasangan



Tari Payung-Tari Muda Mudi asal Sumatera Barat









Tari Payung adalah salah satu tari klasik dari Daerah Minang dan menggambarkan kasih

sayang seorang kekasih yang dilambangkan dengan melindungi dengan payungnya.



Tarian ini memang merupakan tari pergaulan muda-mudi sehingga dibawakan secara

berpasang-pasangan. Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh

penari pria, bisa juga ditambah dengan selendang untuk penari wanita.



Musiknya cukup variatif, mulai dari agak pelan, lalu agak cepat dan cepat, sangat dinamis.

Tari ini biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya.


Related docs
Other docs by adit faizah
10 Sikap Wanita Yang Disukai Oleh Pria
Views: 28  |  Downloads: 1
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
Views: 150  |  Downloads: 3
tips & triks
Views: 77  |  Downloads: 0
ilmu pengetahuan islam
Views: 53  |  Downloads: 2
CERITA RAKYAT BAHASA JAWA
Views: 299  |  Downloads: 1
Baturraden
Views: 21  |  Downloads: 0
sejarah komputer
Views: 30  |  Downloads: 0
Tari Nusantara
Views: 620  |  Downloads: 5
Presentation
Views: 84  |  Downloads: 0
cerita
Views: 28  |  Downloads: 0