PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP STATUS KABUPATEN TABANAN SEBAGAI DAERAH SWASEMBADA PANGAN DAN LUMBUNG PADI PROVINSI BALI

Document Sample
PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP STATUS KABUPATEN TABANAN SEBAGAI DAERAH SWASEMBADA PANGAN DAN LUMBUNG PADI PROVINSI BALI Powered By Docstoc
					                                                                            1



                                       BAB I

                               PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jineng (lumbung) berasnya Pulau Bali. Demikian julukan yang diberikan
bagi Kabupaten Tabanan. Bersama dua kabupaten lainnya, yaitu Gianyar
dan Buleleng, Tabanan merupakan salah satu pilar penyangga pangan tiga
juta    lebih   penduduk       Bali.   Setiap   tahun,   Kabupaten    Tabanan
menyumbangkan hampir sepertiga dari keseluruhan produksi padi di Pulau
Bali. angka statistik dari produksi padi tahun 2008 sebanyak 221.439 ton
atau 26,35% persen dari total produksi padi di Bali, disumbangkan oleh
Tabanan

Bagi kabupaten yang terletak di arah barat Kota Denpasar ini, sektor
pertanian khususnya pertanian sawah dan ladang menjadi mata pencaharian
hampir 50 persen penduduk. Statistik Tabanan tahun 2009 menunjukkan,
sekitar 117.236 orang dari 254.272 penduduk usia kerja di Tabanan atau
sekitar 46% persen terserap di sektor pertanian. Mereka terbagi dalam 281
subak (organisasi pengairan tradisional untuk pertanian) yang tersebar di
113 desa di kabupaten ini.

Tidak     berlebihan   kalau     Pemerintah     Kabupaten   Tabanan    sangat
berkepentingan atas sektor ini. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Tabanan 2008 menunjukkan, sektor pertanian adalah penyumbang terbesar,
yaitu 33,74 persen, untuk PDRB disusul dua sektor lainnya, yaitu sektor
perdagangan dan restoran serta sektor industri dan pengolahan yang masing-
masing menyumbang 22,15 persen dan 6,95 persen dari total PDRB.

Dari data yang dikeluarkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan di Tabanan
tahun 2006, luas baku sawah 22.626 ha dengan luas tanam padi 39.650 ha
dan luas panen bersih 42.715 ha. Sementara dari jumlah tersebut diperoleh




                                         1
                                                                            2



total produksi gabah kering giling (GKG) 251.806 ton. Jika dihitung dengan
selisih produksi dan kebutuhan, terdapat surplus 52.029 ton.

Sementara disisi lain, terjadi pengurangan luas lahan pertanian hampir
mencapai 166 Ha ha per tahun. Tahun 2005 luas lahan pertanian dilaporkan
22,626 ha, tahun 2006 menipis kembali menjadi 22,490 ha, tahun 2007
berkurang menjadi 22,479 ha.

Konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian sebenarnya bukan
masalah baru. Hal ini mulai terjadi sejak dikeluarkannya paket-paket
kebijakan yang mendorong investor dalam dan luar negeri menanamkan
modalnya di bidang nonpertanian sekitar pertengahan 1980-an. Keperluan
lahan nonpertanian mengikuti trend peningkatan investasi tersebut.
Keperluan lahan untuk bidang nonpertanian semakin meningkat pula seiring
dengan booming pembangunan perumahan pada awal tahun 1990-an.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa konversi lahan pertanian ke
nonpertanian adalah proses alamiah sebagai konsekuensi pertumbuhan
urbanisasi mengikuti hukum ekonomi dimana lahan akan digunakan sesuai
dengan nilai ekonomi tertinggi (Sekretariat DKP, 2002). Pendapat lain
mengatakan bahwa konversi lahan pertanian ke nonpertanian akan
mengurangi kapasitas produksi pangan nasional, sehingga ketahanan pangan
akan menjadi rentan sebagai akibat dari ketergantungan terhadap pangan
melalui kebijakan impor.

Namun demikian, untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang
bertumpu    pada    sumber    daya   domestik,    pemerintah    harus   tetap
mempertahankan lahan pertanian subur yang ada bahkan harus diusahakan
bertambah seiring dengan program peningkatan produktivitas melalui
inovasi teknologi baru. Demikian pula masalah yang dihadapi oleh
Kabupaten Tabanan. Semakin menyempitnya lahan produktif di Tabanan
dikhawatirkan banyak pihak. Lahan produktif di Tabanan kini hanya tersisa
22 ribu hektar, jauh menipis dari luas lahan semula lebih dari 60 ribu hektar.
Alih fungsi lahan ini tentu saja akan berdampak terhadap produksi pangan.



                                      1
                                                                             3



Dengan jumlah penduduk yang bertambah setiap tahun,tentu kebutuhan
pangan juga akan meningkat. Jika daerah tidak dapat memenuhi kebutuhan
ini,tentunya akan mendorong adanya impor beras dari luar Bali karena
Tabanan yang selama ini menjadi lumbung pangan tidak dapat memenuhi
kebutuhan. Jika alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian terus
terjadi dan tidak diimbangi upaya lain seperti intensifikasi dan modernisasi
pertanian , maka tak mustahil status Tabanan sebagai lumbung pangan Bali
akan menghilang.

1.2. Identifikasi Masalah

Pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan berkembangnya industri,
prasarana ekonomi, fasilitas umum, dan permukiman dimana semuanya
memerlukan lahan telah meningkatkan permintaan lahan untuk memenuhi
kebutuhan nonpertanian. Namun tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan
ekonomi     juga    meningkatkan     kondisi   sosial   ekonomi   pada   lahan
nonpertanian. Kondisi seperti inilah yang membuat konversi lahan pertanian
terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi yang tidak mungkin dapat dihindari.

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Tabanan terus
menurun sepanjang tahun 2005-2008. Pada tahun 2005, pertanian memberi
kontribusi sebesar 36,09 %, 35,31% tahun 2006, 35,24% tahun 2007 dan
33,74% tahun 2008. Salah satu penyebab turunnya kontribusi sektor
pertanian terhadap PDRB adalah menurunnya tingkat pertumbuhan
pertanian yang salah satunya diakibatkan oleh berkurangnya lahan pertanian
akibat alih fungsi lahan.

Tingginya    alih   fungsi   lahan    pertanian   ke    lahan   non   pertanian
(perumahan,industri pariwisata) berdampak terhadap jumlah produksi
tanaman pangan terutama beras. Alih fungsi lahan tentu berakibat pada
berkurangnya lahan sawah yang ditanami padi.




                                       1
                                                                        4



Jika tidak diatasi, maka kemungkinan besar dalam waktu beberapa tahun
lagi, Bali harus mengimpor lebih banyak lagi beras dari luar pulau karena
produksi dalam provinsi belum mencukupi. Tahun 2009 saja Tabanan sudah
mengimpor 5000 ton beras dari luar daerah untuk mencukupi kebutuhan
pangan atau 12% dari total kebutuhan pangan masyarakat(Bataviase, 9
Desember 2009). Jika keadaan ini berlanjut tanpa disertai penanganan yang
baik,tentunya status Kabupaten Tabanan sebagai lumbung pangan Provinsi
Bali akan hilang.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa rumusan masalah:

           1. Bagaimana proyeksi luas lahan sawah dan produksi padi di
               Kabupaten Tabanan sepuluh tahun yang akan datang?
           2. Bagaimana pengaruh alih fungsi lahan terhadap kecukupan
               produksi padi sepuluh tahun yang akan datang di kabupaten
               Tabanan?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

   1. Untuk menganalisis proyeksi luas lahan sawah dan produksi padi di
       Kabupaten Tabanan sepuluh tahun kedepan.
   2. Mengetahui pengaruh luas lahan sawah dan alih fungsi lahan
       pertanian ke non pertanian terhadap produksi tanaman pangan di
       kabupaten Tabanan

1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
   1. Sebagai aplikasi konsep teori ekonomi produksi khususnya masalah-
       masalah riil di sektor tanaman pangan terutama dari sisi luas lahan
       pertanian dan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian serta
       produksi padi total dan tanaman pangan total.




                                     1
                                                                 5



2. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan dan
   informasi bagi pengambil kebijakan di sektor pertanian khususnya
   yang berkaitan dengan alih fungsi lahan dan produksi tanaman
   pangan.




                               1
                                                                         6



                                   BAB II

          LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Alih Fungsi Lahan

Lestari dalam Anonim (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau yang
biasa disebut konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh
kawasan lahan dari fungsinya semula(seperti yang direncanakan) menjadi
fungsi lain yang berdampak negatif(masalah) terhadap lingkungan dan
potensi   lahan   itu   sendiri.   Alih     fungsi   lahan   dalam   artian
perubahan/penyesuaian peruntukan,penggunaan, disebabkan oleh faktor-
faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya.

Alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain telah menjadi salah satu
ancaman yang serius terhadap keberlanjutan swasembada pangan. Intensitas
alih fungsi lahan masih sulit dikendalikan, dan sebagian besar lahan sawah
yang beralih fungsi tersebut justru yang produktivitasnya termasuk kategori
tinggi-sangat tinggi. Lahan-lahan tersebut adalah lahan sawah beririgasi
teknis atau semi teknis dan berlokasi di kawasan pertanian dimana tingkat
aplikasi teknologi dan kelembagaan penunjang pengembangan produksi
padi telah maju      ( Murningtyas,dalam Anonim 2009).

Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian cenderung terus meningkat
seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan struktur
perekonomian. Alih fungsi lahan pertanian sulit dihindari akibat
kecenderungan tersebut. Beberapa kasus menunjukkan jika di suatu lokasi
terjadi alih fungsi lahan, maka dalam waktu yang tidak lama lahan di
sekitarnya juga beralih fungsi secara progresif. Menurut Irawan (2005), hal
tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, sejalan dengan pembangunan
kawasan perumahan atau industri di suatu lokasi alih fungsi lahan, maka




                                     6
                                     1
                                                                                7



aksesibilitas   di   lokasi   tersebut   menjadi     semakin     kondusif   untuk
pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong
meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah
sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga
lahan selanjutnya dapat merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual
lahan. Wibowo (1996) menambahkan bahwa pelaku pembelian tanah
biasanya bukan penduduk setempat, sehingga mengakibatkan terbentuknya
lahan-lahan guntai yang secara umum rentan terhadap proses alih fungsi
lahan.


Winoto (2005) mengemukakan bahwa lahan pertanian yang paling rentan
terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh :
1. Kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem
dominan      sawah   pada     umumnya        jauh   lebih   tinggi   dibandingkan
agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga
lebih inggi.

2. Daerah persawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah
perkotaan.

3. Akibat pola pembangunan di masa sebelumnya. Infrastruktur wilayah
persawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering

4. Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan
sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar,
dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa)
ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan.


Fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah menjadi perhatian semua pihak.
Pada tingkat mikro,proses alih fungsi lahan pertanian(konversi lahan) dapat
dilakukan oleh petani atau pihak lain. Secara umum,alih fungsi lahan
memiliki dampak terhadap penurunan kapasitas produksi pangan karena alih
fungsi lahan biasanya mencakup hamparan lahan yang luas. Konversi lahan
ini menimbulkan dampak yang sangat luas dari segi sosial, ekonomi dan



                                         1
                                                                         8



budaya, pengurangan produksi pangan,dan pengurangan kesempatan kerja
pertanian (Irawan, dalam Irawan 1999).
Menurut Wicaksono (dalam Irsalina,2010), faktor lain penyebab alih fungsi
lahan pertanian terutama ditentukan oleh :
1. Rendahnya nilai sewa tanah (land rent); lahan sawah yang berada
disekitar pusat pembangunan dibandingkan dengan nilai sewa tanah untuk
pemukiman dan industri.

2. Lemahnya fungsi kontrol dan pemberlakuan peraturan oleh lembaga
terkait.

3. Semakin menonjolnya tujuan jangka pendek yaitu memperbesar
pendapatan asli daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan kelestarian
(sustainability)     sumberdaya          alam    di      era      otonomi.
Menurut Irawan dan Friyatno (Dalam Anonim, 2005) proses alih fungsi
lahan pertanian pada tingkat mikro dapat dilakukan oleh petani sendiri atau
dilakukan pihak lain. Alih fungsi lahan yang dilakukan oleh pihak lain
secara umum memiliki dampak yang lebih besar terhadap penurunan
kapasitas produksi pangan karena proses alih fungsi lahan tersebut biasanya
mencakup hamparan lahan yang cukup luas, terutama ditujukan untuk
pembangunan kawasan perumahan. Alih fungsi lahan yang dilakukan oleh
pihak lain tersebut biasanya berlangsung melalui pelepasan hak pemilikan
lahan petani kepada pihak lain yang kemudian diikuti dengan, pemanfaatan
lahan tersebut untuk kegiatan non pertanian.




                                     1
                                                                           9



       Dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap masalah pengadaan
pangan pada dasarnya terjadi pada tahap kedua. Namun tahap kedua
tersebut secara umum tidak akan terjadi tanpa melalui tahap pertama karena
sebagian besar lahan pertanian dimiliki oleh petani. Oleh karena itu
pengendalian pemanfaatan lahan untuk kepentingan pengadaan pangan pada
dasarnya dapat ditempuh melalui dua pendekatan yaitu:
1. Mengendalikan pelepasan hak pemilikan lahan petani kepada pihak lain,
dan

2. Mengendalikan dampak alih fungsi lahan tanaman pangan tersebut
terhadap keseimbangan pengadaan pangan.


Dari uraian-uaraian di atas dapat dilihat bahwa alih fungsi lahan sawah tidak
terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi
yang tinggi menyebabkan beberapa sektor ekonomi tumbuh dengan cepat
sehingga sektor tersebut membutuhkan lahan yang lebih luas. Lahan sawah
yang terletak dekat dengan sumber ekonomi akan mengalami pergeseran
penggunaan kebentuk lain seperti pemukiman, industri manufaktur dan
fasilitas infrastruktur. Hal ini terjadi karena land rent persatuan luas yang
diperoleh dari aktivitas baru lebih tinggi daripada yang dihasilkan sawah
(Prayudho, dalam Irsalina ,2010). Selain itu, alih fungsi lahan sawah yang
terjadi ditentukan juga oleh pertumbuhan sektor tanaman pangan, dalam hal
ini mengenai nilai hasil sawah. Hal tersebut sesuai dengan teori lokasi neo
klasik yang menyatakan bahwa substitusi diantara berbagai penggunaan
faktor produksi dimungkinkan agar dicapai keuntungan maksimum. Jika
dengan mengurangi/mengalih fungsikan faktor produksi berupa lahan
dianggap dapat memberi keuntungan yang lebih tinggi,maka petani dapat
saja melakukan hal ini.


Secara umum, produksi padi secara nasional terus meningkat setiap tahun,
tetapi dengan laju pertumbuhan yang cenderung semakin menurun. Alih
fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian karena pesatnya




                                     1
                                                                            10



pembangunan dianggap sebagai salah satu penyebab utama melandainya
pertumbuhan produksi padi (Bapeda, 2006).




2.1.2 Teori Produksi Pertanian

Pengurangan produksi pangan secara terus menerus akan membuat suatu
daerah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan secara swasembada.
Untuk tetap menjadi daerah berswasembada pangan, daerah harus
memproduksi pangan dalam jumlah yang cukup. Dalam usaha tani, untuk
memperoleh/meningkatkan hasil       produksi,   petani melakukan usaha
pengkombinasian faktor-faktor produksi yang dimiliki, seperti luas tanah,
modal(pupuk,obat-obatan,bibit,    dsb),tenaga    kerja,     dan       keahlian.
Produktivitas adalah kemampuan suatu faktor produksi, seperti luas lahan
untuk memperoleh hasil produksi per hektar. Produksi dan produktivitas
ditentukan oleh banyak faktor, seperti kesuburan tanah, varietas bibit yang
ditanam, penggunaan pupuk yang memadai, tersedianya air dalam jumlah
yang cukup, teknik bercocok tanam, alat-alat produksi pertanian yang
memadai, dan tersedianya tenaga kerja.( Ace Partadiredja, dalam
Martinadewi,2008)

Dalam kondisi nyata,luas dan kesuburan tanah yang dimiliki petani berbeda-
beda, demikian pula keadaan lingkungan kehidupan sosial ekonomi mereka.
Dengan perbedaan yang ada maka usaha tani dapat dikelompokkan sebagai
berikut :

    a. Usaha tani yang bersifat subsisten, yakni dengan ciri-ciri sebagai
        berikut:

        1. Produksi subsisten (subsistence production) dengan tingkat
        komersial yang rendah       dan     produksi      digunakan      untuk
        memenuhi kebutuhan keluarga sendiri




                                    1
                                                                         11



       2. Tingkat kehidupan subsisten (subsistence living), yakni yang
       berhubungan dengan kemampuan memenuhi tingkat kebutuhan
       hidup yang minimum.

   b. Usaha tani yang bersifat seperti sebuah perusahaan (farm bussines)
       dengan ciri-ciri sebagai berikut:

       1. Pengalokasian biaya disesuaikan dengan kegiatan usaha yang
       dilakukan.

       2. Pencapaian tingkat efisiensi teknis(penggunaan tenaga kerja dan
       modal) agar     diperoleh kuantitas produksi yang optimum dan
       pencapaian tingkat efisiensi ekonomis, yakni laba yang maksimum
       (Warton Jr dan Cliffon, 1969)

Walaupun ada perbedaan seperti yang diuraikan di atas, tetapi terdapat suatu
kesamaan di antara kedua jenis petani tersebut,yaitu mereka memandang
pertanian sebagai suatu sarana pokok untuk memenuhi kebutuhan keluarga
melalui hasil-hasil produksi pertanian.(Mosher, A.T.,1969)




                                       1
                                                                          12



2.1.3 Teori Fungsi Produksi

Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menggambarkan jumlah
output maksimum yang dapat dihasilkan oleh suatu set faktor-faktor
produksi tertentu dan dengan tingkat teknologi tertentu pula. Secara teoritis
dianggap setiap petani/produsen mempunyai fungsi produksi sesuai dengan
kegiatan produksi yang dilakukan. Fungsi produksi yang dimaksud
dirumuskan sebagai berikut:

                         Q = f (T,M,L,S)

Dimana:

Q = jumlah produksi fisik total

T= luas tanah

M=jumlah modal

L= jumlah tenaga kerja

S=skill

Perbedaan di dalam penggunaan faktor-faktor produksi dapat menyebabkan
petani memiliki fungsi produksi yang berbeda-beda. Bila fungsi produksi
tersebut disederhanakan dengan mengasumsikan bahwa hanya tanah yang
mempengaruhi output(faktor lain ceteris paribus), maka fungsi produksi
akan dirumuskan sebagai berikut:

                         Q= f( T )

Fungsi produksi yang dimiliki dalam setiap kegiatan usaha tani dapat
diestimasi berdasarkan data yang ada. Selanjutnya fungsi produksi ini dapat
digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut (Mubyarto,dalam
Martini,2008)




                                     1
                                                                      13




          Gambar 2.1 Produksi Total,Produksi Marginal, dan Produksi
Rata-Rata Padi




Keterangan:

PT = produksi total, PM = produksi marginal, PR= produksi rata-rata




                                    1
                                                                           14



I dan II = tahapan produksi yang kurang efesien secara teknis

III= tahapan produksi yang efesien secara teknis

Pada grafik tersebut diperlihatkan tahapan kegiatan produksi mulai dari
awal. Pada setiap kegiatan produksi,akan berlaku hukum kenaikan hasil
yang makin berkurang ( the law of diminishing return). Peningkatan
penggunaan tanah antara 0 – T1 menunjukkan kenaikan hasil mula-mula
yang bertambah seiring bertambahnya penggunaan lahan. Pada jarak ini
kurva PT,PM, dan PR mengalami kenaikan pesat. Pada penggunaan tanah
antara T1 – T2 terlihat bahwa kurva PT, PR mengalami peningkatan,tetapi
tidak terlalu pesat, sedangkan PM setelah mencapai tingkat maksimum akan
menurun. Pada penggunaan tanah antara T2-T3 tampak bahwa kurva PT
tetap meningkat,tetapi dengan pertambahan yang semakin mengecil dan
dapat mencapai tingkat maksimum, sedangkan kurva PM terus menurun dan
dapat mencapai nol. Sebaliknya, pada saat itu kurva PR masih mengalami
peningkatan, bahkan dapat mencapai titik maksimum dan menurun kembali.
Tahapan terakhir ini dikatakan sebagai tahapan produksi yang efisien secara
teknis. Jika kegiatan berproduksi melebihi penggunaan tanah T3, maka
tampak kurva PT justru menurun, demikian pula kurva PM menurun dan
mencapai titik nol saat kurva PT mencapai titik maksimum. Pada saat yang
sama, kurva PR terus mengalami penurunan dan tidak pernah sampai
memotong sumbu datar.




2.1.4 Proyeksi Alih Fungsi Lahan dan Produksi Padi dengan Analisis
Trend

Pembangunan ekonomi yang terus berkembang akan mengakibatkan
naiknya permintaan lahan. Lahan merupakan sumber daya terbatas sehingga
alih fungsi lahan, terutama dari pertanian ke non pertanian,tidak dapat
dihindari.   Berdasarkan    penelitian   Sudirja(   dalam       Anonim,2010),
menunjukkan bahwa diperkirakan sampai tahun 2020 akan terjadi alih




                                     1
                                                                            15



fungsi lahan seluas 30.000 ha di Bali. Proyeksi tersebut diteliti melalui suatu
metode proyeksi dengan analisis tren.

Tren adalah salah satu peralatan statistik yang dapat digunakan untuk
memperkirakan keadaan di masa datang berdasarkan data yang ada di masa
sekarang dan masa lalu. Analisis ini ditujukan untuk melakukan suatu
estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan
peramalan dengan baik maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data)
yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup
panjang, sehingga dari hasil analisis tersebut dapat diketahui sampai berapa
besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
terhadap perubahan tersebut. Secara teoristis, dalam analisis time series
yang paling menentukan adalah kualitas atau keakuratan dari informasi atau
data-data yang diperoleh serta waktu atau periode dari data-data tersebut
dikumpulkan (Santoso,2008).

Perhitungan tren linear menggunakan analisis regresi linier sederhana
dengan metode kuadrat terkecil (least square method), yang dapat
dinyatakan dalam bentuk : Y = a + b (x). Proyeksi ini menjelaskan
hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Tren linear dilihat
melalui garis lurus pada grafik tren yang dibentuk berdasarkan data
proyeksi. Penyimpangan tren menunjukkan besarnya kesalahan nilai
proyeksi dengan data yang aktual (Pasaribu, dalam Irsalinda 2010).

Analisis tren memperlihatkan kecendrungan ketersediaan lahan dalam hal
ini yaitu usahatani padi dan kecenderungan alih fungsi lahan sawah. Hasil
proyeksi ini dapat dipergunakan untuk memperkirakan kebutuhan pangan
masyarakat. Melalui proyeksi ini dapat pula diperkirakan apa yang akan
terjadi di masa datang apabila kecenderungan yang ada saat ini sama dengan
kecenderungan yang berlaku di masa yang akan datang (konstan).




                                        1
                                                                         16



2.2 Kerangka Pemikiran

Tanah merupakan sumberdaya strategis yang bernilai ekonomis. Luas lahan
pertanian tiap tahun mengalami penurunan. Berkurangnya jumlah lahan
pertanian ini merupakan akibat dari adanya peningkatan jumlah dan
aktivitas   penduduk    serta   aktivitas   pembangunan.     Hal    tersebut
mengakibatkan permintaan akan lahan pun meningkat sehingga timbul alih
fungsi lahan pertanian ke non pertanian seperti perumahan, industri,
infrastruktur dan lain sebagainya untuk memenuhi permintaan yang ada.

Alih fungsi lahan pertanian terus meningkat dan sulit dikendalikan, terutama
di wilayah-wilayah dengan tingkat intensitas kegiatan ekonomi tinggi. Laju
alih fungsi lahan yang tinggi pada daerah pusat perekonomian ataupun yang
berada disekitar pusat perekonomian menyebabkan tekanan terhadap lahan
pertanian pada penggunaan nonpertanian. Keadaan tersebut jelas tidak
kondusif bagi keberlangsungan pertanian dan perwujudan kebijakan pangan
dalam jangka panjang.

Kabupaten Tabanan merupakan salah satu kabupaten di Bali yang
mengalami alih fungsi lahan dalam skala yang tinggi. Lahan yang paling
banyak beralih fungsi adalah jenis lahan sawah, yang beralih fungsi menjadi
perumahan dan sarana pengembangan pariwisata. Laju alih fungsi dilihat
berdasarkan data luas lahan sawah di Kabupaten Tabanan yang diperoleh
dari Badan Pusat Statistik. Proyeksi luas lahan sawah dan produksi padi
akan dianilis trennya melalui kecenderungan laju alih fungsi secara regresi
linier sederhana. Hasil proyeksi ini nantinya akan menjadi alat analisis
untuk melihat pengaruh alih fungsi terhadap produksi padi di Kabupaten
Tabanan sepuluh tahun yang akan datang dengan kondisi alih fungsi lahan
sawah sekarang.




                                     1
                                                                      17



Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar skema kerangka pemikiran berikut :


   Luas lahan                      Proyeksi                  Pengaruh alih
   pertanian                       luas lahan                fungsi lahan
                                   dan                       terhadap
                                   produksi                  produksi padi
                  Laju alih        padi
                  fungsi lahan




                             Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran




2.3 Hipotesis

Luas lahan sawah dan alih fungsi lahan sawah berpengaruh signifikan
terhadap produksi tanaman pangan di Kabupaten Tabanan.




                                   1
                                                                                     18




                                      BAB III

                         METODOLOGI PENELITIAN



3.1 Operasional Variabel Penelitian

3.1.1 Identifikasi Variabel

Variabel yang dianalisis diidentifikasikan sebagai berikut:

a. Luas lahan sawah

b. Produksi padi

c. Alih fungsi lahan pertanian



3.1.2 Definisi Operasional Variabel

a.     Luas    lahan     sawah      adalah     luas     lahan      yang       mencakup
      sawah pengairan, sawah tadah           hujan, sawah pasang            surut, sawah
     rembesan, lebak dan sebagainya yang utamanya digunakan menanam
     padi.

b. Total produksi padi adalah keseluruhan jumlah produksi padi di daerah
     penelitian yang dihitung dalam ton.
c. Alih fungsi lahan pertanian adalah peralihan fungsi lahan produktif dari
     sektor pertanian ke sektor non pertanian. Luas alih fungsi lahan adalah
     luas lahan sawah yang dialihfungsikan menjadi non pertanian.


3.2 Jenis dan Sumber Data
3.2.1 Jenis Data Menurut Sumber
Data sekunder adalah data yang diperoleh bukan dari sumber data
pertama,melainkan        sudah     dikumpulkan        dan     disajikan     oleh   pihak
lain,misalnya instansi tertentu. Pada penelitian ini dipergunakan data
sekunder      yang     diperoleh   dari   Badan       Pusat     Statistik    Kabupaten



                                          18
                                          1
                                                                               19



Tabanan,Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tabanan,
dan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan.




3.2.2 Jenis Data Menurut Sifat
                                       kuantitatif yaitu data yang
Dalam penelitian ini dipergunakan data 14
dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Data kuantitatif yang dipergunakan
yaitu data luas lahan sawah, total produksi padi dan luas alih fungsi lahan.


3.3 Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder sehingga data penelitian ini
dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dari sumber-sumber dan instansi
terkait. Pada penelitian ini dipergunakan data sekunder yang diperoleh dari
Badan      Pusat      Statistik   Kabupaten   Tabanan,Badan      Perencanaan
Pembangunan Daerah Kabupaten Tabanan, dan Dinas Pertanian Kabupaten
Tabanan.


3.4 Metode Analisis
Untuk memproyeksikan luas lahan sawah di Kabupaten Tabanan selama 10
tahun yang akan datang dianalisis dengan metode proyeksi (trend) dengan
menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan metode kuadrat
terkecil (least square method). Persamaan regresi linier sederhana dapat
dituliskan sebagai berikut :
        y = a + bxt
dimana:
y : luas lahan sawah (ha)
xt : tahun ke –t (dihitung dari tahun dasar (tahun 0)
a : koefisien intercept
b : koefisien regresi




                                       1
                                                                       20



dimana nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan rumus - rumus
sebagai berikut :

                    dan


Dimana (x = -4,-3,-2,-1,0,1,2,3,4), maka

           dan


Menurut Ibrahim (2009) setelah persamaan garis trend linier tersusun, maka
garis tersebut dapat digunakan untuk peramalan dengan asumsi tidak ada
intervensi terhadap kecenderungan yang ada saat ini.
Proyeksi produksi beras diperoleh dengan mengalikan luas lahan sawah
terhadap produktivitas rata-rata di Kabupaten Tabanan sejak tahun 2000
hingga tahun 2009 dengan asumsi bahwa produktivitas beras tetap.
Berdasarkan Buku Pedoman Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
Tanaman Pangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perhitungan konversi
berat padi ke beras adalah sebagai berikut :
      Produksi Gabah Kering Panen(GKP) : Luas Lahan (ha)               x
       Produktivitas (ton/ha)
      Produksi Gabah Kering Giling : 86,59% x GKP (ton)
      Produksi beras : 63,20% x GKG (ton)


Untuk mengetahui pengaruh luas sawah terhadap produksi padi total
digunakan regresi log linier bivariabel sebagai berikut (Duane D.
Baumann,dkk, 1998) :
Log Qt = a0 + a1 Log Lt
Dimana:
Qt : produksi padi total
Lt : luas lahan sawah (ha)
a0 dan a1 : konstanta




                                      1
                                                                          21



kemudian untuk mengetahui pengaruh luas sawah dan alih fungsi lahan
terhadap produksi padi total akan dipergunakan metode semi log sebagai
berikut :
Log Qt = a0 + a1 Log Lt + a2 D
Dimana :
Qt : produksi padi total
Lt : luas lahan sawah (ha)
D      : dummy variabel yang dikategorikan sebagai berikut:
          D=0 , berarti tidak ada alih fungsi lahan
          D =1, berarti ada alih fungsi lahan
a0 dan a1 : konstanta
bila ternyata alih fungsi lahan berpengaruh signifikan terhadap produksi
padi total, maka dilakukan pendugaan produksi padi setelah terjadinya
konversi lahan dengan menghitung besarnya produksi padi yang hilang
akibat konversi lahan. Persamaan yang digunakan adalh sebagai berikut
(Supeno,2002):
Vkti      = (Lti – L(t-1)i) x Iti x Yti
          = Kti x Iti x Yti


Qkt       = Qk(t-1) +
Dimana:
Vkti = volume produksi padi yang hilang di kecamatan i akibat konversi
lahan pada tahun t
Kti      = luas konversi lahan di kecamatan i pada tahun t. Kondisi ini
dicerminkan oleh perubahan luas sawah di tingkat kecamatan yang bernilai
negatif
Qkt = produksi padi Tabanan setelah terjadi konversi lahan pada tahun t
Lti = luas sawah pada tahun t di kecamatan i
Iti    = intensitas panen padi pada tahun t di kecamatan i
Yti = produktivitas padi per musim pada tahun t kecamatan i




                                          1
                                                                           22



3.5 Rancangan Uji Hipotesis

Untuk menguji bahwa luas sawah dan alih fungsi lahan sawah berpengaruh
signifikan terhadap produksi tanaman pangan di Kabupaten Tabanan,
digunakan statistik uji yang berkaitan dengan koefisien regresi linier(sesuai
dengan metode analisis) yaitu:

a. Uji t dipergunakan untuk mengetahui apakah luas lahan dan alih fungsi
lahan sawah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap produksi padi di
Kabupaten Tabanan.

Secara statistik dapat dituliskan sebagai berikut:

Hipotesis: H0 : ai = 0 (variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh
signifikan terhadap       produksi padi)

             H1 : ai ≠ 0 (variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan
terhadap                  produksi padi)

Tingkat signifikansi : α = 5%


Statistik uji :


Wilayah kritik : Tolak H0 bila tobservasi > tα/2

b. Uji F dipergunakan untuk mengetahui apakah luas lahan dan alih fungsi
lahan sawah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produksi padi
di kabupaten Tabanan.

Secara statistik dapat dituliskan sebagai berikut:

Hipotesis: H0 : a1= a2 = 0 (variabel bebas tidak berpengaruh signifikan
terhadap                  produksi                 padi)

             H1 : minimal ada satu ai yang tidak sama dengan nol (variabel
bebas berpengaruh         signifikan terhadap produksi padi)



                                         1
                                                                     23



Tingkat signifikansi : α = 5%


Statistik uji :


Wilayah kritik : Tolak H0 bila Fobservasi > Fα/2

c. R2 dipergunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan variabel
dependen akibat perubahan variabel bebas.




3.6 Rancangan Implikasi Hasil Penelitian
Jika hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan sawah
berpengaruh signifikan terhadap total produksi padi,maka kebijakan yang
bisa diambil agar produksi padi kabupaten Tabanan tetap mencukupi adalah
meningkatkan produktivitas lahan sawah dengan intensifikasi pertanian,
meningkatkan kapasitas subak (irigasi pertanian).


Upaya pengendalian konversi lahan dapat dilakukan dengan penegakan
kebijakan tata ruang,pengawasan dan penerapan sangsi yang adil. Di
samping itu, dapat dilakukan melalui pendekatan ekonomi,yaitu lewat
kebijakan kompensasi dan pajak.


Upaya pengendalian konversi lahan hendaknya dilaksanakan secara
terintegrasi antar pemilik lahan berbagai pihak yang terkait.




                                        1
                                                                            24




                                  Daftar Pustaka

Antara,Made. 2002.Konversi Lahan Pertanian: Bagaimana Dampaknya
       Terhadap Produksi Pangan Nasional. Soca. Nomor 2, volume 1,
       diakses dari
       http://ejournal.unud.ac.id/index.php?start=8&module=daftarpenelitia
       n&idf=7&idj=48         &idv=185&idi=188

Aziz,Harry Ashar.2007. Pertanian, Pengangguran dan Kemiskinan.Jurnal
      Ekonomi Rakyat. No. 105.Volume 4.
      http://www.ekonomirakyat.org/_artikel.php?id=4


BPS dan Deptan Kabupaten Langkat, 2007. Buku Pedoman Pengumpulan
      Data dan Pengolahan Data Tanaman Pangan. Kabupaten Langkat.

Dewi,Martina. 2008. Pengaruh Alih Fungsi Lahan Terhadap Produksi
      Tanaman Pangan di Kabupaten Badung.Buletin Studi Ekonomi
      Volume 13 Nomor 2. Diakses dari
      ejournal.unud.ac.id/abstrak/martini%20dewi.pdf

Hartopo,Hendri.2008.Lahan Pertanian Terus Menyusut.
      http://hendrihartopo.info/index.php?pilih=news&aksi=lihat&id=258.
      diakses tanggal 9 Januari 2011

Hasan,Rofiqi.2007. 10 Ribu Hektare Hutan di Bali Berubah Fungsi.
      http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/22/10-ribu-hektare-
      hutan-di-bali-berubah-fungsi/ diakses tanggal 9 Januari 2011


Ibrahim, H.M.Y., 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Revisi. Rineka
      Cipta. Jakarta.


Ilham, dkk, 2003. Perkembangan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
       Konversi Lahan Sawah Serta Dampak Ekonominya. IPB Press.
       Bogor.

Iqbal,Muhammad.2007. Fenomena dan Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah
       dalam Pengendalian Konversi Lahan Sawah di Provinsi Bali dan Nusa
       Tenggara Barat.Analisis Kebijakan         Pertanian Nomor 4 Volume 5.
       Diakses dari
       http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=vi
       ew&id=446&Item            id=60




                                      1
                                     24
                                                                           25




Irawan, B. dan Friyatno, 2005. Dampak Konversi Lahan Sawah di Jawa
      Terhadap Produksi Beras dan Kebijakan Pengendaliannya. Pusat
      Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan
      Penelitian dan Pengembangan Pertanian, R.I., Bogor.

Irianto,Gatot.2002. Menyoal Alih Fungsi Lahan, Kekeringan, dan Ketahanan
Pangan.
          http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=474&coid=1&caid=56.
          Diakses tanggal 9 Januari 2011

Irsalina,Sabrina.2010. Analisis Alih Fungsi Lahan Sawah di Kabupaten
        Langkat. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
        Medan.


Lestari, T., 2009. Dampak Konversi Lahan Pertanian Bagi Taraf Hidup
       Petani. Makalah Kolokium. Departemen Sains Komunikasi dan
       Pengembangan Msyarakat tanggal 21 April 2009. Institut
       Pertanian Bogor.

Tarigan, R., 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Edisi Revisi. Bumi
       Aksara. Jakarta

Widjanarko, dkk, 2006. Aspek Pertahanan Dalam Pengendalian Alih Fungsi
      Lahan Pertnian (Sawah). Prosiding Seminar Nasional
      Multifungsi Lahan Sawah : 22-23. Pusat Penelitian dan
      Pengembangan BPN. Jakarta.

Winoto, J. 2005. Kebijakan Pengendalian Alih Fungsi Tanah Pertanian dan
      Implementasinya. Kerjasama Kantor Kementerian Koordinator
      Bidang Perekonomian dengan Pusat Studi Pembangunan
      Pertanian dan Pedesaan (Institut Pertanian Bogor). Jakarta.

Wicaksono, R.B., 2007. Konversi Lahan Sawah ke Non Pertanian dalam
      Perkembangan Kota Nganjuk dan Pengaruhnya terhadap
      Perubahan Mata Pencaharian dan Pendapatan Petani. Diakses
      dari http://www.lib.itb.ac.id


Wardana,Agung. 2008. Menari di Atas Pijakan Rapuh (Refleksi
      Keterdesakan Bali Dari Ekspansi Industri Pariwisata).
      http://taman65.wordpress.com/2008/08/30/menari- diatas-pijakan-
      rapuh-refleksi-keterdesakan-bali-dari-ekspansi-industri-pariwisata/
      Diakses tanggal 10 januari 2011




                                       1
    26




1

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2385
posted:1/6/2012
language:Malay
pages:26