Docstoc

Tafsir Almarghi "Perintah Mendirikan Sholat"

Document Sample
Tafsir Almarghi "Perintah Mendirikan Sholat" Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                                PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

          al-Qur‟an   sebagai   mukjizat   Nabi   Muhammad,      terbukti   mampu
   menampakkan sisi kemukjizatannya yang luar biasa, bukan hanya pada
   eksistensinya yang tidak pernah rapuh, tetapi juga pada ajarannya yang telah
   terbukti sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga ia menjadi referensi bagi
   umat manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia. al-Qur‟an tidak hanya
   berbicara tentang moralitas dan spritualitas, tetapi juga berbicara tentang ilmu
   pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia.

          al-Qur‟an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril
   dengan menggunakan Bahasa Arab yang sempurna. Di dalamnya terdapat
   penjelasan mengenai dasar-dasar akidah, kaidah-kaidah hukum, asas-asas
   perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan berbuat. Akan
   tetapi penjelasan itu tidak dirinci oleh Allah SWT, terutama terkait dengan
   susunan kalimat yang singkat dan syarat, maka muncullah banyak penafsiran.

          Banyak ulama yang telah menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur‟an, salah
   satunya adalah seorang mufassir yang bernama Mustafa Al-Maraghi‟ dalam
   karyanya yang dikenal tafsir al-maraghi. Beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an
   dengan metode Tahlili dan metode Ijmali. Pada kesempatan ini saya akan
   mencoba untuk memberikan contoh ayat dalam Al-Qur‟an yang telah ditafsirkan
   oleh mufassir Mustafa Al-Maraghi, yaitu surat Al-Isra ayat 78-79 tentang
   “PERINTAH MENDIRIKAN SHALAT.”




                                                                                 1
B. Rumusan Masalah

  1. Siapa Mustafa Al-Maraghi itu?
  2. Apa saja karya-karya Mustafa Al-Maraghi?
  3. Apa metode yang digunakan Mustafa Al-Maraghi dalam menafsirkan ayat-
     ayat Al-Qur‟an?
  4. Bagaiman corak penafsiran Mustafa Al-Maraghi?
  5. Apa contoh ayat dalam Al-Qur‟an yang ditafsirkan oleh Mustafa Al-Maraghi?
  6. Bagaiman analisa atau pendapat penulis tentang Mustafa Al-Maraghi?




                                                                             2
                                 BAB II
                              PEMBAHASAN


                   TAFSIR AL-MARAGHI
              PERINTAH MENDIRIKAN SHALAT
                     (QS, Al-Isra: 78-79)

A. Biografi Mustafa Al-Maraghi




   Tahun Lahir    : 1883 M.
   Tahun Wafat : 1952 M.
   Mazhab         : Syafii-Asyariyah
   Tokoh          : Mufassir Qur'an

           Nama lengkapnya adalah Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul
   Mun‟im al-Maraghi. Kadang-kadang nama tersebut diperpanjang dengan kata
   Beik, sehingga menjadi Ahmad Musthafa al-Maraghi Beik. Ia berasal dari
   keluarga yang sangat tekun dalam mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan




                                                                          3
    dan peradilan secara turun-temurun, sehingga keluarga mereka dikenal sebagai
    keluarga hakim.

            Al-Maraghi lahir di kota Maraghah,1 sebuah kota kabupaten di tepi barat
    sungai Nil sekitar 70 km di sebelah selatan kota Kairo, pada tahun 1300 H./1883
    M. Nama Kota kelahirannya inilah yang kemudian melekat dan menjadi nisbah
    (nama belakang) bagi dirinya, bukan keluarganya. Ini berarti nama al-Maraghi
    bukan monopoli bagi dirinya dan keluarganya.

            Ia mempunyai 7 orang saudara. Lima di antaranya laki-laki, yaitu
    Muhammad Musthafa al-Maraghi (pernah menjadi Grand Syekh Al-Azhar),
    Abdul Aziz al-Maraghi, Abdullah Musthafa al-Maraghi, dan Abdul Wafa‟
    Mustafa al-Maraghi. Hal ini perlu diperjelas sebab seringkali terjadi salah kaprah
    tentang siapa sebenarnya penulis Tafsir al-Maraghi di antara kelima putra
    Mustahafa itu. Kesalah kaprahan ini terjadi karena Muhammad Musthafa al-
    Maraghi (kakanya) juga terkenal sebagai seorang mufassir. Sebagai mufassir,
    Muhammad Musthafa juga melahirkan sejumlah karya tafsir, hanya saja ia tidak
    meninggalkan karya tafsir Alquran secara menyeluruh. Ia hanya berhasil menulis
    tafsir beberapa bagian Alquran, seperti surah al-Hujurat dan lain-lain. Dengan
    demikian, jelaslah yang dimaksud di sini sebagai penulis Tafsir al-Maraghi adalah
    Ahmad Musthafa al-Maraghi, adik kandung dari Muhammad Musthafa al-
    Maraghi.

            Masa kanak-kanaknya dilalui dalam lingkungan keluarga yang religius.
    Pendidikan dasarnya ia tempuh pada sebuah Madrasah di desanya, tempat di
    mana ia mempelajari Alquran, memperbaiki bacaan, dan menghafal ayat-ayatnya,
    sehingga sebelum usi 13 tahun ia sudah menghafal seluruh ayat Alquran. Di
    samping itu, ia juga mempelajari ilmu tajwid dan dasa-dasar ilmu agama yang
    lain.

        1
             Sandy Dwiyono. Ahmad Musthafa Al-Maraghi.               (http://www.   republika.
co.id/berita/45689/Tafsir Al-Maraghi memaduakn Aql dan Naql, 2010)



                                                                                            4
       Setelah menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1314 H./1897 M, atas
persetujuan orangtuanya, al-Maraghi melanjutkan pendidikannya ke Universitas
al-Azhar di Kairo. Ia juga mengikuti kuliah di Universitas Darul „Ulum Kairo.
Dengan kesibukannya di dua perguruan tinggi ini, al-Maraghi dapat disebut
sebagai orang yang ulet, sebab keduanya berhasil diselesaikan pada saat yang
sama, tahun 1909 M.

       Di kedua Universitas tersebut, al-Maraghi mendapatkan bimbingan
langsung dari tokoh-tokoh ternama dan ahli di bidangnya masing-masing pada
waktu itu, seperti: Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait al-
Muthi‟i, Ahmad Rifa‟i al-Fayumi, dan lain-lain. Merekalah antara lain yang
menjadi narasumber bagi al-Maraghi, sehingga ia tumbuh menjadi sosok
intelektual muslim yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.




       Setelah menamatkan pendidikannya di Universitas al-Azhar dan Darul
„Ulum, ia terjun ke masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pengajaran.
Beliau mengabdi sebagai guru di beberapa madrasah dengan mengajarkan
beberapa cabang ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya. Beberapa tahun
kemudian, ia diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu‟allimin di Fayum, sebuah
kota setingkat kabupaten yang terletak 300 Km sebelah barat daya kota Kairo.
Dan, pada tahun 1916, ia diminta sebagai Dosen Utusan untuk mengajar di
Fakultas Filial Universitas al-Azhar di Qurthum, Sudan, selama empat tahun.




                                                                              5
          Pada tahun 1920, setelah tugasnya di Sudan berakhir, ia kembali ke Mesir
   dan langsung diangkat sebagai dosen Bahasa Arab di Universitas Darul „Ulum
   serta dosen Ilmu Balaghah dan Kebudayaan pada Fakultas Bahasa Arab di
   Universitas al-Azhar. Pada rentang waktu yang sama, al-Maraghi juga menjadi
   guru di beberapa madrasah, di antaranya Ma‟had Tarbiyah Mu‟allimah, dan
   dipercaya memimpin Madrasah Utsman Basya di Kairo. Karena jasanya di salah
   satu madrasah tersebut, al-Maraghi dianugerahi penghargaan oleh raja Mesir,
   Faruq, pada tahun 1361 H.

          Dalam menjalankan tugas-tugasnya di Mesir, al-Maraghi tinggal di daerah
   Hilwan, sebuah kota yang terletak sekitar 25 Km sebelah selatan kota Kairo. Ia
   menetap di sana sampai akhir hayatnya. Ia wafat pada usia 69 tahun (1371
   H./1952 M.). Namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang
   ada di kota tersebut.

B. Karya-karya Al-Maraghi

          Dengan segala kesibukannya, Al-Maraghi menulis karya monumentalnya
   ini selama kurang lebih 10 tahun. Karena disiplin waktu yang ketat, al-Maraghi
   mampu menyelesaikan penulisan tafsir ini tanpa mengganggu aktivitas primernya
   sebagai seorang dosen dan pengajar. Menurut salah satu referensi, ketika al-
   Maraghi menulis tafsirnya ini, ia hanya membutuhkan waktu istirahat selama 4
   jam, sedangkan 20 jam yang tersisa digunakan untuk mengajar dan menulis.

          Al-Maraghi adalah ulama kontemporer terbaik yang pernah dimiliki oleh
   dunia Islam. Selama hidup, ia telah mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan
   agama. Banyak hal yang telah ia lakukan. Selain mengajar di beberapa lembaga
   pendidikan yang telah disebutkan, ia juga mewariskan kepada umat ini karya
   ilmiyah. Salah satu di antaranya adalah Tafsi-r al-Maraghi, sebuah kitab tafsir
   yang beredar dan dikenal di seluruh dunia Islam sampai saat ini.




                                                                                6
            Karya-karyanya yang lain adalah:

    1. Al-Hisbat fi al-Islam

    2. Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh

    3. „Ulum al-Balaghah

    4. Muqaddimat at-Tafsir

    5. Buhûts wa A-ra‟ fi Funûn al-Balaghah, dan

    6. Ad-Diyanat wa al-Akhlaq

C. Metode Penafsiran Al-Maraghi

            Dari sisi metodologi, al-Maraghi bisa disebut telah mengembangkan
    metode baru. Bagi sebagian pengamat tafsir, al-Maraghi adalah mufassir yang
    pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara “uraian
    global” dan “uraian rincian”, sehingga penjelasan ayat-ayat di dalamnya dibagi
    menjadi dua kategori, yaitu ma‟na ijma-li dan ma‟na tahlili.2

            Kemudian, dari segi sumber yang digunakan selain menggunakan ayat dan
    atsar, al-Maraghi juga menggunakan ra‟yi (nalar) sebagai sumber dalam
    menafsirkan ayat-ayat. Namun perlu diketahui, penafsirannya yang bersumber
    dari riwayat (relatif) terpelihara dari riwayat yang lemah (dha‟if) dan susah
    diterima akal atau tidak didukung oleh bukti-bukti secara ilmiah. Hal ini
    diungkapkan oleh al-Maraghi sendiri pada muqaddimahnya tafsirnya ini. Al-
    Maraghi sangat menyadari kebutuhan kontemporer. Dalam konteks kekinian,
    merupakan keniscayaan bagi mufassir untuk melibatkan dua sumber penafsiran
    („aql dan naql).3



        2
           Baidan, Nashiruddin, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1998), Hlm 24-27
         3
            Nailurrahman    dan      Shalehuddin.  Metode    Tafsir     Tahlili Dan   Ijmali.
(http://www.khabarislam.com/tafsir-al-maraghi-memadukan-aql-dan-naql).html




                                                                                            7
   1. Metode Tahlili

           Secara etimologis, metode tahlili berarti menjelaskan ayat-ayat al-Qur‟an
   dengan meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya, mulai dari uraian
   makna kosa kata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan antar pemisah
   (munasabat), hingga sisi keterkaitan antar pemisah itu (wajh al munasabat)
   dengan bantuan latar belakang turunnya ayat (asbab al nuzul), riwayat-riwayat
   yang berasal dari Nabi saw., Sahabat dan tabi‟in.

           Dari sekian metode tafsir yang ada, metode tahlili merupakan metode
   yang paling lama usianya dan paling sering digunakan. Selain menjelaskan kosa
   kata dan lafaz, tahlili juga menjelaskan sasaran yang dituju dan kandungan ayat,
   seperti unsur-unsur i‟jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, serta
   menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat tersebut untuk hukum fikih, dalil
   syar‟i, arti secara bahasa, dan norma-norma akhlak. Hampir seluruh kitab-kitab
   tafsir al-Qur‟an yang ada sekarang dan yang digunakan dalam studi tafsir adalah
   menggunakan metode tafsir tahlili, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an secara
   berurutan menurut urutan ayat-ayat yang ada dalam mushaf, mulai dari awal
   surat al-Fatihah sampai akhir surat al-Nas tanpa dikaitkan dengan ayat-ayat lain
   yang semakna.4

           Artinya, meyoritas mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an selalu
   mengikuti tertib urutan ayat-ayat yang ditafsirkan tanpa memerhatikan topik ayat-
   ayatnya.




       4
           Muhammad Husayn Al-Dhahabi, Al-Tafsir wa al-Mufassirun. (Maktabah Mush‟ab ibnu
Umair al-Islamiyah, 2004), Hlm. 139



                                                                                       8
   a. Ciri-ciri Metode Tahlili

           Ada dua ciri utama dalam metode tahlili, yaitu:

           Pertama, tafsir bi al ma‟thur, yaitu penafsiran ayat al-Qur‟an dengan ayat;
   penafsiran ayat dengan Hadist Nabi saw, untuk ayat yang dirasa sulit dipahami
   oleh para sahabat; atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para sahabat; atau
   penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para tabi‟in. Tafsir bi al ma‟thur (literal) juga
   dikenal dengan tafsir bi al riwayah. Di antara kitab tafsir yang menggunakan
   metode bi al ma‟thur adalah Jami‟ al-Bayan fi Tafsir al-Qur‟an karya Imam Ibn
   Jarir al-Tabari. Tafsir al-Qur‟an al-‟Adim karya Ibn Kathir. Menurut W.
   Montgomery Watt, tafsir al-Tabari adalah tafsir al-Qur‟an yang paling penting di
   antara kitab tafsir yang masih ada dan dapat diperoleh dengan mudah. Karyanya
   itu dicetak pertama kali di Kairo pada tahun 1903 M dalam tiga jilid dan
   kemudian dicetak berulang kali.

           Kedua, tafsir bi al ra‟yi, yaitu penafsiran al-Qur‟an dengan ijtihad, 5
   terutama setelah seorang mufassir betul-betul mengetahui perihal bahasa
   Arab, asbab al nuzul, nasikh-mansukh dan beberapa hal yang diperlukan oleh
   lazimnya seorang penafsir. Tafsirbi al ra‟yi (rasional) juga dikenal dengan
   tafsir bi al dirayah.

           Dalam menyikapi tafsir bi al ra‟yi, para ulama ada yang menerima dan
   ada yang menolak. Apabila ia memenuhi persyaratan yang dikemukakan para
   ulama tafsir, maka penafsiran itu bisa diterima. Sebaliknya, jika tidak memenuhi
   persayaratan, maka penafsirannya ditolak. Di antara kitab tafsir yang
   menggunakan metode bi al ra‟yi adalah: Madarik al-Tanzil wa Haqa‟iq al-Ta‟wil,
   karangan Mahmud al-Nasafi, dan Lubab al-Ta‟wil fi Ma‟ani al-Tanzil karya Al-
   Khazin.


       5
            W. Montgomery Watt, Pengantar Studi Al-Qur’an (Terjmah). Taufik Adnan Amal
(Jakarta: CV Rajawali, 1991), Hlm 265



                                                                                       9
b. Keistimewaan dan Kelemahaman Metode Tahlili

       Keistimewaan metode ini terletak pada ruang lingkupnya yang luas
sehingga dapat menampung berbagai ide dan gagasan dalam upaya menafsirkan
al-Qur‟an. Jadi dalam tafsir analitik ini mufassir relatif lebih mempunyai
kebebasan dalam memajukan ide-ide dan gagasan-gagasan baru dalam penafsiran
al-Qur‟an. Mungkin kondisi inilah yang membuat tafsir tahlili lebih pesat
perkembangannya.

       Sebaliknya, kelemahan metode tahlili bisa dilihat dari tiga hal: (1)
menjadikan petunjuk al-Qur‟an secara parsial, (2) melahirkan penafsiran yang
subyektif, dan (3) membuka peluang masuknya pemikiran isra‟iliyat.

       Meskipun demikian, metodologi tahlili telah memberikan pemahaman
yang luas dari suatu ayat dengan melihatnya dari berbagai aspek: bahasa, fikih,
teologi, filsafat, sain dan sebagainya.

2. Metode Ijmali

       Metode ijmali (global) ialah metode yang mencoba menjelaskan ayat-ayat
al-Qur‟an secara ringkas dan padat, tetapi mencakup (global). Metode ini
mengulas setiap ayat al-Qur‟an dengan sangat sederhana, tanpa ada upaya untuk
memberikan pengkayaan dengan wawasan yang lain, sehingga pembahasan yang
dilakukan hanya menekankan pada pemahaman yang ringkas dan bersifat global.

       Dalam metode ini, seorang mufassir berupaya untuk menjelaskan makna-
makna al-Qur‟an dengan uraian singkat dan mudah dipahami oleh pembaca dalam
semua tingkatan, baik tingkatan orang yang memiliki pengetahuan yang ala
kadarnya sampai pada orang yang berpengetahuan luas.

       Dengan kata lain, metode tafsir ijmali menempatkan setiap ayat hanya
sekadar ditafsirkan dan tidak diletakkan sebagai obyek yang harus dianalisa
secara tajam dan berwawasan luas, sehingga masih menyisakan sesuatu yang



                                                                            10
dangkal, karena penyajian yang dilakukan tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-
Qur‟an, sehingga membaca tafsir yang dihasilkan dengan memakai metodeijmali,
layaknya membaca ayat al-Qur‟an. Uraian yang singkat dan padat membuat tafsir
dengan metode ijmali tidak jauh berbeda dengan ayat yang ditafsirkan.

a. Ciri Metode Ijmali

         Perbedaan utama antara metode ijmali dengan metode tahlili, muqaran,
ataupun mawdu‟i adalah terletak pada: (1) cara seorang mufassir melakukan
penafsiran, di mana seorang mufassir langsug menafsirkan ayat al-Qur‟an dari
awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul, (2) mufassir tidak
banyak mengemukakan pendapat dan idenya, (3) mufassir tidak banyak
memberikan penafsiran secara rinci tetapi ringkas dan umum, meskipun pada
beberapa ayat tertentu memberikan penafsiran yang agak luas, namun tidak pada
wilayah analitis

b. Keistimewan dan Kelemahan Metode Ijmali

         Kelebihan pada metode ijmali, terletak pada: (1) proses dan bentuknya
yang mudah dibaca dan sangat ringkas serta bersifat umum, (2) terhindar dari
upaya-upaya penafsiran yang bersifat isra‟iliyat, karena pembahasan tafsir yang
ringkas dan padat, sehingga sangat tidak memungkinkan seorang mufassir
memasukkan unsur-unsur lain, dan (3) bahasanya yang akrab dengan bahasa al-
Qur‟an.

         Adapun kekurangan metode ijmali adalah: (1) menjadikan petunjuk Al-
Qur‟an     bersifat   parsial,   (2)   tidak   ada   ruang   untuk   analisis   yang
memadai. Meskipun demikian model penafsirannya yang sangat ringkas, maka
metode ijmali sangat cocok bagi mereka yang berada pada tahap permulaan
mempelajari tafsir, dan mereka yang disibukkan oleh pekerjannya sehari-hari atau
mereka yang tidak membutuhkan uraian yang detail tentang pemahaman suatu
ayat.




                                                                                 11
           Metode ijmali yang dipakai oleh para mufassir memang sangat mudah
   untuk dibaca karena tidak mengandalkan pendekatan analitis, tetapi dilakukan
   dengan pola tafsir yang mudah dan tidak berbelit-belit, walaupun masih
   menyisakan sesuatu yang harus ditelaah ulang. Metode ijmali memiliki tujuan dan
   target bahwa pembaca harus bisa memahami kandungan pokok al-Qur‟an sebagai
   kitab suci yang memberikan petunjuk hidup.6

D. Corak Penafsiran Al-Maraghi

           Ada banyak corak tafsir yang termasuk di dalam metode tafsir Tahlili ini,
   yang berdasarkan klasifikasi kecenderungan utama pemikiran dan karakter
   pendekatan ilmiahnya dapat dibagi ke dalam 7 corak penafsiran: Tafsir bi al-
   Ma‟tsur, Tafsir bi al-Ra‟yi, Tafsir Sufi, Tafsir Fiqhi, Tafsir Falsafi, Tafsir Ilmi,
   dan Tafsîr Adabi ijtima„i.      Corak penafsiran yang dipakai oleh Mustafa Al-
   Maraghi adalah Tafsîr Adabi ijtima„i.7

           Corak Adabi Ijtima‟i adalah corak penafsiran yang menekankan
   penjelasan tentang aspek-aspek yang terkait dengan ketinggian gaya bahasa al-
   Qur‟an (balaghah) yang menjadi dasar kemukjizatannya. Atas dasar itu mufassir
   menerangkan makna-makna ayat-ayat al-Qur‟an, menampilkan sunnatullah yang
   tertuang di alam raya dan sistem-sistem sosial, sehingga ia dapat memberikan
   jalan keluar bagi persoalan kaum muslimin secara khusus, dan persoalan ummat
   manusia secara universal sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh al-Qur‟an.
   Karya-karya tafsir yang dapat dimasukkan dalam kategori ini selain Tafsir al-
   Maraghi karya Mustafa al-Maraghi (w. 1945) adalah Tafsir al-Manar karya
   Muhammad Rasyid Rida (w. 1935), dan Tafsir al-Qur‟an al-Karim karya
   Mahmud Syaltut.



       6
          Abd al-Hayy al-Farmawi. al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdu’i (Terjmah). Suryan A.
Jamrah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), Hlm. 12
        7
          M. Syarifuddin, Anwar. Corak Penafsiran. (http:// Metode Tafsir « Blog MENGAJAR,
2009)



                                                                                       12
E. Contoh tafsir Al-Maraghi

    Q.S, Al-Isra: 78-79, tentang Perintah mendirikan solat.


              
      
                 
      
      
            
      
       
            
          

    Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap
                malam dan dirikanlah pula shalat subuh [865]. Sesungguhnya shalat
                subuh itu disaksikan oleh malaikat (78). Dan pada sebahagian malam
                hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
                bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
                Terpuji (79).”8


            [865] ayat Ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. tergelincir
    matahari untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, gelap malam untuk waktu Magrib
    dan Isya.

                              TAFSIRU „L-MUFRADAT
                              (Penafsiran Kta-kata Sulit)


    Perintah Mendirikan Shalat



        8
          Mustafa Al-Maraghi, Ahmad. Tafsir Al-Marghi 15 (trjmah). (Semarang: CV. Toha Putra
Semarang, 1988), Hlm. 152-157



                                                                                         13
       Duluqu „sy-Syams: Tergelincirnya matahari dari lingkaran pertengahan
siang (meridian)
       Al-Ghasaq: Kegelapan yang pekat
       Qur‟anu „l-fajr: Shalat Subuh
       Kana masyhuda: Disaksiakan oleh saksi-saksi kekuasaan Allah, aneka
ragam hikmah Ilahi dan keindahan alam atas maupun bawah. Dari gelap gulita
berubah menjadi cahaya yang terang benderang dan sinar yang cemerlang; dari
tidur yang lelap menjadi bangun dan bergerak ,terus berusaha mencari rezeki.
Maka, Maha Sucilah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Dan adakah di
sana pemandangan yang lebih indah dalam pandangan orang yang melihat
daripada munculnya cahaya pagi yang terbit dari sela-sela kegelapan yang pekat
cahaya itu mendesaknya dengan kuat, untuk selanjutnya menerangi alam dengan
keindahannya; dan dengan bangkitnya orang-orang yang tidur dan gerak mereka
di atas permukaan hamparan bumi, padahal beberapa saat yang lalu mereka diam
tidak berkutik. Sungguh, shalat subuh merupakan awal kehidupan baru setelah
bangkit dari mati dan lelapnya panca indra.
       At-Tahajud: Bngun dari tidur untuk melakukan shalat malam.
       Nafilah: Kewajiban tambahan atas sembahyang lima waktu yang
difardhukan kepadamu.

                                PENJELASAN


                              ‫ٲقم الصالةلدلىك الشمس ٳلى غسق اللٻل‬

Artinya:     “Laksanakanlah     shalat   yang   difardukan   kepadamu   setelah
            tergelincirnya matahari, sampai dengan gelapnya malam.”
       Pernyataan ini, memuat shalat yang empat, yaitu: Zhuhur, Ashar, magrib,
dan isya.

                                                              ‫وقراوالفجر‬


                                                                            14
         Dan tunaikanlah pula shalat subuh. Tentang hal itu, Sunnah Nabi yang
Mutawatir telah menerangkan pula lewat perkataan atau perbuatan beliau saw.,
rincian tentang waktu-waktu shalat yang dilaksanakan oleh umat Islam sampai
sekarang, yang dilakukan dari masa Nabi saw. Dan generasi, dari zaman ke
zaman.

         Tentang hal itu telah diterangkan pula dalam Surat Al-Bqarah, bahwa
yang dimaksud dengan mendirikan shalat, adalah melaksanakannya sesuai dengan
cara yang telah digariskan oleh agama dan jalan yang telah disyaratkannya,
seperti menghadapkan hati kepada munajat di hadapan Tuhan dan takut kepada-
Nya dalam kerahasiaan, atau terang-terangan, di samping shalat itu harus memuat
syarat-syarat dan rukun-rukun yang telah dijelaskan oleh para Imam Mujtahid.

         Shalat adalah inti ibadah, karena dalam shalat terkandung munajat kepada
Yang Maha Pencipta serta berpaling dari apa saja selain Allah, juga memuat doa
kepada-Nya semata-mata. Doa adalah sumsum ibadah mana pun, karena dalam
hadist disebutkan:


                     ‫اعبدهللا كأ وك تراه٬فٳن لم تكٮه تراه فاوه يراك‬
Artinya: “Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa
          melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

Malaikat Silih Berganti
Menjaga Manusia

         Sesungguhnya shalat subuh adalah shalat yang disaksikan, karena di
waktu fajar itulah para malaikat malam dan malaikat siang bertemu dan
menyaksikan pada waktu fajar itu bersama-sama. Sesudah itu, malaikat malam
pun naik, sedang yang tinggal adalah Malaikat siang. Menurut Abu Hurairah,
bahwa Nabi saw., pernah bersabda:




                                                                               15
       Pergantian menjaga kalian para Malaikat malam dan Malaikat siang, dan
mereka bertemu pada shalat Shubuh dan shalat Ashar.          Maka, naiklah para
Malaikat yang tadi tinggal bersamamu, lalu ditanyalah mereka oleh Tuhan,
padahal Dia lebih tahu mengenai halmu, “Bagaimanakah keadaan hamba-hamba-
Ku ketika kamu tinggalkan?” Maka jawab para Malaikat, “Kami datang kepada
mereka ketika mereka shalat, dan kami tinggalkan mereka ketika mereka sedang
shalat.”

       Sedangkan menurut riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dari Nabi
saw., mengenai firman Allah Ta‟ala, Nabi saw. Bersabda:



                                 ‫تشهد ه مالٮكه الليل ومال ٮكه الهار‬

Artinya: “Shalat subuh itu disaksikan oleh Malaikat malam dan Malaikat siang.”

       Namun demikian, yang dimaksud ialah, seperti yang dikatakan Ar-Razi,
bahwa pada waktu subuh itu manusia menyaksikan bekas-bekas kekuasaan Ilahi
dan aneka ragam nikmat-Nya, baik di langit maupun bumi, karena di sana
manusia menyaksikan kegelapan kelam yang sedang diusir oleh cahaya yang
cemerlang. Dan di sanalah kebangkitan dari tidur setelah padam dan lelapnya
panca indra, serta gejala-gejala kekuasaan Ilahi lain, seterusnya yang tampak pada
kekuasaan dan kerajaan-Nya.      Seluruh alam berkata dengan keadaan bahasa
masing-masing, atau bahkan dengan ucapan:


                                   ‫سٮبىح قدوس٬ رالمال ٮكت والروح‬

Artinya: “ Maha Suci dan Maha Qudus Tuhan yang memiliki malaikat-malaikat
           dan Jibril.” 165

                                                    ‫ومه الٮيل فتهٮجد به‬


                                                                               16
   Artinya: “Dan bangunlah pada sebagian malam serta bertahajudlah kepada-
            Nya.”
          Ayat ini merupakan perintah pertama kepada Nabi saw., agar melakukan
   shalat malam, selain shalat-shalat yang telah difardukan.

          Diriwayatkan oleh Muslim oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi saw., pernah
   ditanya, “Shalat apakah yang utama setelah shalat fardhu?” Maka jawab beliau ,
   “ Shalat Sunnah di waktu shubuh.”

          Tentang hal itu, terdapat pula dalam hadist-hadist shahih yang
   diriwayatkan dari „Aisyah dan Ibnu Abbas maupun sahabat-sahabat Nabi lainnya:


                                                       ‫كان يتهٮجد بعد وىمه‬

   Artinya: “Bahwa Nabi saw., melakukan shalat tahajud setelah tidur.”


                                                                    ‫وا قلت لك‬
          Sesungguhnya sahlat tahajjud itu suatu kewajiban khusus untuknu semata-
   mata, bukan untuk umatmu. Bagimu, shalat tahajjud itu fardhu, sedang bagi
   umatmu mandub.


F. Analisis Penulis terhadap Mustafa Al-Maraghi

          Menurut analisis saya Mustafa Al-Maraghi adalah seorang Mufassir yang
   hebat, cerdas, dan disiplin, karena jika membaca biografi beliau, sejak ia kecil
   (mulai menempuh pendidikan dasar), hingga ia lulus dari perguruan tinggi yaitu
   Universitas al-Azhar di Kairo dan Universitas Darul „Ulum Kairo, ia selalu
   berusaha dengan ulet dan tekun dalam belajar dan memahami ayat-ayat Al-
   Qur‟an , sehingga beliau menjadi Direktur di Madrasah Mu‟allimin di Fayum,
   dan pada tahun 1916, ia diminta sebagai Dosen Utusan untuk mengajar di



                                                                                17
Fakultas Filial Universitas al-Azhar di Qurthum, Sudan, selama empat tahun.
Karena jasanya di salah satu madrasah tempat ia mengajar (menjadi guru), al-
Maraghi dianugerahi penghargaan oleh raja Mesir, Faruq, pada tahun 1361 H.
       Karena ketekunan dan keuletannya tersebut, selain beliau berhasil menjadi
direktur dan dosen (guru) dibeberapa madrasah. Ia juga berhasil menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur‟an dalam beberapa karyanya, yaitu; Tafsir Al-Maraghi, Al-
Hisbat fi al-Islam, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, „Ulum al-Balaghah, Muqaddimat
at-Tafsir, Buhûts wa A-ra‟ fi Funûn al-Balaghah, dan Ad-Diyanat wa al-Akhlaq.

       Dalam menafsirkan ayat-ayatnya, Musthafa Al-Maraghi adalah mufassir
yang pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara
“uraian global” dan “uraian rincian”, sehingga penjelasan ayat-ayat di dalamnya
dibagi menjadi dua kategori, yaitu ma‟na ijmali dan ma‟na tahlili. Dan berbeda
dengan para Mufassir yang lain, Musthafa Al-Maraghi juga menggunakan ra‟yi
(nalar) sebagai sumber penafsiran ayat-ayat, yaitu dengan melibatkan aql dan naql.

       Tafsir al-maraghi merupakan salah satu tafsir Al-Qur‟an kontemporer.
Nama al-maraghi diambil dari nama belakang Muhammad Musthafa Al-Maraghi..
Tafsir ini merupakan hasil dari jirih payah dan keuletan beliau selama kurang
lebih 10 thn, dari tahun 1940-1950. Tafsir ini pertama kali diterbitkan tahun 1951
di Kairo. Pada terbitan yang pertama ini, tafsir al-maraghi terdiri atas 30 juz atau
dengan kata lain sesuai dengan pembagian juz Al-Qur‟an, kemudian pada tebitan
kedua terdiri dari 10 jilid, dimana setiap jilidnya        berisi 3 juz, dan pernah
diterbitakan ke dalm 15 jilid, dimana setiap jilid berisi 2 juz.

       Sunnguh mengagumkan sekali seorang Mustahfa Al-Maraghi menurut
pandangan saya, karena di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, hingga ia
menjadi guru di beberapa madrasah, ia juga dapat menyelesaikan menulis tafsir
Al-Qur‟an kontemporer yang menjadi karyanya dan masih kita kenal hinnga saat
ini. Terlebih lagi, penulisan tafsir ini tidak terlepas dari rasa tanggung jawab dan
tuntutan ilmiah beliau sebagai salah satu ulama tafsir yang melihat begitu banyak



                                                                                 18
problema dalm masyarakat     kontemporer yang membutuhkan pemecahan.
Hingga ia merasa merasa terpannggil untuk menawarkan solusi bedasarkan
makna yang terkandung dalam Al-Qur‟an.




                                                                   19

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:1029
posted:1/4/2012
language:Malay
pages:19