Docstoc

modul_smk_x

Document Sample
modul_smk_x Powered By Docstoc
					       MODUL
ILMU PENGETAHUAN ALAM

 SMKN 3 KOTA BENGKULU




          OLEH:

   NORA FERDIANA, S.Pd




                  KELAS      : X (sepuluh)

                  SEMESTER: I dan 2
                               KATA PENGANTAR
                                  (PREFACE)

      Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia, rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan modul pelajaran IPA untuk
SMK kelas X ini. Shalawat beriring salam tak lupa pula penulis haturkan kepada nabi kita
Muhammad SAW, yang telah membimbing kita dari zaman kebodohan menuju zaman yang
penuh limpahan teknologi seperti sekarang ini.

       Modul IPA SMK ini disusun untuk siswa SMK kelas X semester 1. Sistem dan kedalaman
materi yang dibahas dalam buku ini mengacu pada Standar isi KTSP 2006. Kurikulum ini lebih
menekankan terciptanya proses pembelajaran untuk membentuk kompetensi dasar pada
siswa, yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas,
kesehatan, akhlak, ketakwaan, dan kewarganegaraan. Seorang siswa dapat dikatakan telah
mengalami proses pembelajaran apabila pada pada dirinya telah terjadi perubahan
kemampuan, sikap atau prilaku tertentu yang rellatif permanen sebagai akibat dari pengalaman
atau pelatihan dalam proses pembelajaran tersebut. Modul ini dimaksudkan untuk membantu
para siswa dan guru dalam upaya memenuhi tuntutan kurikulum tersebut.

       Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, menuntut akan suatu program
pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan, khususnya Ilmu kimia yang baik dan berkualitas.
Hal ini sesuai dengan adanya upaya pemerintah untuk terus menyempurnakan Sistem
Pendididkan Nasional

        Untuk menunjang upaya pemerintah diatas, peran modul sebagai media dalam
pendidikan dan pembelajaran sangat penting, disamping buku pegangan lainnya. Untuk itu
penulis menyusun Modul IPA SMK ini diharapkan tidak hanya membantu pemerintah dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi juga untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

        Modul IPA SMK ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mohon kritik dan
saran dari pembaca demi kesempurnaan untuk penulisan edisi berikutnya. Terbitnya modul ini
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak terutama SMK Negeri 3 Bengkulu oleh karena itu
penulis ucapkan terima kasih.

                                                                    Bengkulu, Juli 2010



                                                                        TIm Penulis
                                          BAB I

                           PENGAMATAN OBJEK DALAM IPA

                                                         KELAS/SEMESTER: X/Ganjil



STANDAR KOMPETENSI:
1. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik

MATERI AJAR
 A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
    Ilmu Pengetahuan Alam disebut juga Sains, yang bahasa Inggrisnya science,
    berasal dari bahasa latin yaitu ” scientia” yang berarti ”pengetahuan”. Sains tidak
    statis, tetapi sains adalah ilmu pengetahuan yang sangat dinamis dan selalu
    mengalami perubahan dan perkembangan yang kontinyu. Sains deroleh dengan
    cara-cara yang teratur, yaitu dapat dengan observasi dan metode ilmiah.Sains
    adalah pengetahuan tentang gejala-gejala alam, yang tergantung pada proses
    dimana pengetahuan tersebut diperoleh. Sains juga adalah pikiran sehat yang
    terorganisir, yang melukiskan kewajaran. Kajian sains mencangkup makhluk hidup,
    benda mati dan zat-zat yang terkandung di dalamnya serta peristiwa-peristiwa
    perubahan alam yang terjadi. Para ahli memecah sains menjadi beberapa cabang
    ilmu antara lain biologi, fisika dan kimia. Seorang ahli dalam ilu pengetahuan
    disebut saintis atau scientist (ilmuan), seperti Isaac Newton, Jhon Dalton, Gregor
    Mendel, Charles Darwin dan lain-lain.

    Ciri dan sifat sains:
    1. Diperolah dari hasil observasi dan eksperimen
    2. Menuntut dilakukan pemeriksaan dan pembuktian tentang kebenaran laporan
    3. Dapat dibuktikan kebenarannya
    4. Tidak mutlak, artinya suatu produk sains menjadi tidak berlaku seteleh ditemukan
        produk sains yang baru.

    Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Alam:
    1. Objek berupa alam semesta, meliputi mahkluk hidup, mahkluk tak hidup, dan
         angkasa
     2. Persoalannya berupa gejala-gejala yang terjadi pada objek, mulai tingkat
         molekuler sampai galaksi.

     3. Metodologi yang digunakan adalah metode-metode khas berupa cara-cara
        ilmiah yang logis (masuk akal) dan dapat diulang oleh orang lain.

  Pengertian Ilmu pengetahuan alam
  Adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui metode ilmiah.
  3 komponen dalam sains:
   Proses ilmiah (scientific methods), yaitu proses-proses yang diperlukan untuk
     mempelajari sains atau cara-cara khusus dalam menyelidiki atau memecahkan
     masalah.misalnya: mengidentifikasi masalah, mengamati, mengukur, merumuskan
     hipotesis, merancang dan melaksanakan eksperimen, mengumpulkan dan
     menyusun data, mengevalusi data, menganalisis, membuat sintesis dan
     sebagainya.
  Sikap Ilmiah (scientific attitude), yaitu bagaimana seseorang harus bertindak dalam
   sains. Meliputi: hasrat ingin tahu, kerendahan hati, sikap terbuka, teliti, objektif, dan
   kemauan untuk mempertimbangkan data baru, pendekatan positif terhadap
   kegagalan, tidak putus asa dan sebagainya.
  Produk ilmiah (scientific product), yaitu hasil dari belajar sains, dapat berupa fakta,
   konsep, pronsip, hukum, teori, generalisasi dan sebagainya.
   Beberapa contoh temuan sains:
   1. Rekayasa reproduksi, mengembangbiakkan mahkluk hidup di luar proses alami
       Contoh: kloning, bayi tabung
   2. Rekayasa genetika, untuk memperbaiki kualitas gen (pembawa sifat keturunan)
   3. Pengendalian hama tanaman menggunakan pestisida, radiasi, dsb
   4. Pengobatan berbagai penyakit manusia dengan antibiotik, analgesik, dsb.


B. Metode ilmiah
   Metode ilmiah adalah suatu cara untuk mengungkapkan kebenaran yang belum
   terungkap/menemukan kebenaran dari sesuatu. Dalam melaksanakan penelitian,
   kita harus memenuhi persyaratan, yaitu: sistematis, berencana dan mengikuti
   konsep ilmiah.
    Kerja ilmiah yang biasa dilakukan dalam pembelajaran sains antara lain:
   1. Pengamatan
      Mengamati (observasi) merupakan suatu cara mengenal sesuatu dengan
      memperhatikan objek dan peristiwa dengan menggunakan indera penglihatan,
      pendengaran, pembau, pengecap dan peraba.
   2. Penafsiran Hasil Pengamatan
      Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil pengamatan terhadap suatu
      peristiwa atau keadaan.
   3. Pengelompokkan
      Pengelompokkan dilakukan dengan melihat persamaan dan perbedaan objek.
      Persamaan dan perbedaan adalah fakta hasil observasi.
   4. Mengkomunikasikan hasil pengamatan (data)
      Hasil pengamatan yang berupa data dikomunikasikan dalam bentuk tabel, tulisan,
      informasi lisan atau tulisan, grafik, diagram dan sebagainya.

   Langkah-langkah dalam metode ilmiah:
   1. Perumusan masalah
   2. Pengumpulan data
   3. Menyusun hipotesis
   4. Pengujian Hipotesis
   5. Penarikan kesimpulan
   6. Menguji kesimpulan dengan percobaan ulang


C. Gejala alam di lingkungan sekitar
   Gejala alam dikelompokkan menjadi 2:
   - Gejala alam biotik, terdiri dari semua mahkluk hidup. Gejala biotik terdiri dari
     produsen, konsumen, pengurai dan detrivor.
     1. Produsen
        Adalah makhluk hidup yang dapat membuat makanan sendiri (autotrof).
        Contoh: Tumbuhan hijau
     2. Konsumen
        Adalah makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri melainkan
        memperoleh makanan dari mahkluk hidup lain (heterotrof).
        Contoh: Sapi, Kambing, Harimau dan sebagainya
 3. Pengurai (dekomposer)
    Adalah mahkluk hidup yang bertugas menguraikan sisa-sisa makhluk hidup
    yang sudah mati.
    Contoh: Jamur dan Bakteri Pengurai
 4. Detrititvor
    Adalah makhluk hidup yang memperoleh makanan dari sisa-sisa organik dari
    makhluk hidup, seperti sampah, kotoran hewan dan bangkai binatang.
    Contoh: Cacing. Siput dan Kaki seribu

Satuan mahkluk hidup disuatu tempat hidup adalah individu, populasi, komunitas,
ekosistem dan biosfer.




- Gejala alam abiotik, terdiri dari semua benda mati, misal: air, tanah, udara, suhu,
  kelembaban, intensitas cahaya.
  1. Air
     Digunakan sebagai pelarut zat-zat yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Air
     juga sebagai habitat dari organisme perairandan dapat juga menjadi penentu
     kelembaban udara di ekosistem darat.
  2. Tanah
     Merupakan tempat hidup organisme yang mengandung komposisi tertentu dan
     mengandung zat-zat hara (bahan mineral) bagi tumbuhan.
  3. Udara
     Terdiri dari beberapa macam gas, diantaranya oksigen dan karbondioksida.
     Oksigen digunakan untuk pernapasan, karbondioksida dibutuhkan tumbuhan
     untuk fotosistesis.
  4. Suhu
     Mempengaruhi proses metabolisme makhluk hidup. Umumnya, bila suhu terlalu
     rendah, metabolisme berjalan lambat dan sebaliknya.
  5. Kelembaban
     Menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung di udara.
  6. Intensitas cahaya
     Merupakan sumber energi utama bagi kehidupan.

a. Ciri-ciri makhluk hidup
    Ciri-ciri mahkluk hidup antara lain: Bernapas (respirasi), bergerak dan bereaksi
    terhadap rangsang, memerlukan air, memerlukan makan, mengeluarkan zat sisa
    (Ekskresi), tumbuh dan berkembang, berkembang biak (reproduksi)
 b. Gejala alam biotik
    Gejala-gejala alam biotik yang lain yaitu perubahan bentuk luar (morfologi),
    interaksi antar komponen biotik (rantai makanan, jaring-jaring makanan,
     simbiosis, penyakit/hama dan pengendaliannya, adaptasi, seleksi alam,
     hilangnya populasi), dan interaksi antara komponen biotik dan abiotik.
     Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan dengan urutan tertentu
     yang memungkinkan terjadinya perpindahan energi dari mahkluk hidup satu ke
     mahkluk hidup yang lain.
     Jaring-jaring makanan adalah peristiwa makan dan dimakan, akan tetapi hewan
     tidak hanya memakan salah satu jenis makanan saja atau dapat dikatakan
     sebagai rantai makanan yang saling berhubungan satu dengan yang lain.
     Piramida makanan adalah suatu keadaan dimana dalam suatu ekosistem,
     jumlah produsen lebih banyak dari pada jumlah konsumen.


     Contoh jaring-jaring makanan:

     Padi         Tikus       Ular         Elang      bakteri

                 Belalang

                  Ulat         Burung




     Contoh piramida makanan:




                                     Konsumen
                                       tk. III


                                Konsumen tk. II




                                 Konsumen tk. I




                                     Produsen




Simbiosis dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Simbiosis mutualisme, cara hidup bersama antara dua mahkluk hidup yang
   berbeda jenis yang saling menguntungkan.
   Cotohnya: Semut dan kutu buah, kupu-kupu dan bunga, burung kolibri dan bunga
2. Simbiosis komensalisme, cara hidup bersama antara dua mahkluk hidup yang
   berbeda jenis dimana mahkluk hidup yang satu mendapat keuntungan dan yang
   lainnya tidak dirugikan.
   Contohnya: Ikan hiu dan ikan remora, Anggrek dan inangnya, ikan badut dan
   anemon laut
3. Simbiosis parasitisme, cara hidup bersama antara dua mahkluk hidup yang
   berbeda jenis dimana mahkluk hidup yang satu mendapat keuntungan dan yang
   lainnya dirugikan.
   Contohnya: Benalu dan inangnya, kutu dan manusia, cacing pita dan manusia.

Antibiosis adalah hubungan dua jenis mahkluk hidup yang berbeda, salah satu
menghambat pertumbuhan yang lainnya.
Cotohnya: Jamur Penicillum notatum menghambat pertumbuhan bakteri yang hidup
bersama pada satu tempat.

Predasi adalah peristiwa suatu jenis mahkluk hidup yang memakan mahkluk hidup yang
lain sebagai makanannya.
Contohnya: Harimau yang memakan rusa, rusa yang memakan rumput-rumputan

Kompetisi merupakan bentuk hubungan persaingan antara dua mahkluk hidup yang
berbeda jenis untuk mendapatkan makanan yang sama, tempat hidup yang sama, atau
hal-hal lain dalam kelangsungan hidupnya.
Contohnya: Kambing bersaing dengan sapi untuk mendapatkan rumput-rumputan

Netral adalah hubungan dua mahkluk hidup yang tidak saling mempengaruhi meskipun
hidup bersama disuatu daerah.
Contohnya: ayam yang hidup bersama dengan kambing.

Adaptasi adalah penyesuaian mahkluk hidup dengan lingkungannya. Adaptasi
dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
    1. Adaptasi Morfologi, perubahan bentuk bagian tubuh disesuaikan dengan
       lingkungannya.
       Cotohnya: Macam-macam bentuk paruh burung sesuai dengan jenis
       makanannya, macam-macam bentuk kaki burung sesuai dengan habitatnya.
    2. Adaptasi fisiologi, perubahan proses fisiologi disesuaikan dengan lingkungannya.
       Contohnya: Bunga pukul 4 menutup pada pukul 4 sore sampai 5 sore
    3. Adaptasi tingkah laku, perubahan tinngkah laku mahkluk hidup untuk menyiasati
       perubahan lingkungan, misalnya bahaya yang mengancam.
       Contohnya: Peristiwa mimikri (perubahan warna kulit sesuai dengan
       lingkungannya) pada bunglon, lepasnya ekor cecak untuk mengelabui
       pemangsa, mengelupasnya kulit rayap dan dimakan kembali oleh rayap.
                                        BAB II

                              PERUMUSAN MASALAH

                                                      KELAS/SEMESTER: X/Ganjil


STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik


MATERI
A. Masalah
   Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara kondisi yang sebenarnya
   (yang diharapkan) dengan apa yang benar-benar terjadi (kenyataan). Sumber-
   sumber masalah dalam bidang sains adalah sebagai berikut:
   1. Terdapat penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan
   2. Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan
      kenyataan.
   3. Terdapat keinginan mengembangkan hasil penelitian
   4. Terdapat penyimpangan pada proses penelitian yang dilakukan terdahulu

    Ciri-ciri rumusan masalah yang baik:
    1. Dinyatakan dalam kalimat tanya
    2. Terdapat dua atau lebih variabel
    3. Mempertanyakan hubungan antara variabel
    4. Variabel yang diajukan harus dapat diukur dengan tepat dan mudah
    5. Dinyatakan dengan singkat dan jelas

    Tiga fenomena dan gejala yang dapat dijadikan permasalahan penelitian:
    1. Untuk mengetahui status atau mendiskripsikan fenomena tertentu
    2. Untuk membandingkan dua fenomena atau lebih (problrm komparasi)
    3. Untuk mencari hubungan antara dua fenomena (problem korelasi)

    Contoh rumusan masalah:
    - Adanya permasalahan tentang pengaruh merokok terhadap kualitas kesehatan
    - Adanya permasalahan tentang pengaruh jumlah pemberian air pada proses
      pengomposan
    - Adanya permasalahan tentang pengaruh limbah rumah tangga terhadap kualitas
      kesehatan keluarga.

    Terdapat 4 hal yang harus dipenuhi bagi didapatkannya masalah atau judul
    penelitian, yaitu: Permasalahan harus sesuai dengan minat peneliti, penelitian
    dapat dilaksanakan, tersedia faktor pendukung, hasil penelitian bermanfaat.

     Syarat/kriteria rumusan masalah yang baik:
     1. Masalah harus fleksibel, artinya masalah tersebut harus dapat dicarikan
         jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak banyak menghabiskan dana,
         tenaga dan waktu
     2. Masalah harus jelas, artinya semua orang memiliki persepsi yang sama
         terhadap masalah tersebut
   3. Masalah harus signifikan, artinya arti jawaban masalah yang diberikan harus
      memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan
      masalah kehidupan manusia
   4. Masalah bersifat etis, tidak berkenaan dengan hal-hal yang melanggar etika,
      moral, nilai-nilai keyakinan dan agama

B. Variabel penelitian
   Variabel penelitian adalah suatu antribut atau sifat atau aspek dari objek yang
   mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
   ditarik kesimpulan.
   Macam-macam variabel:
    Variabel independen/variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab
       berubahnya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
    Variabel dependen/variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau
       menjadi akibat dari variabel bebas.
    Variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan/dibuat konstan
       sehingga peneliti dapat melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
    Variabel moderator merupakan variabel yang mempengaruhi (memperkuat
       dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variaben
       dependen.
    Variabel intervening merupakan variabel yang mempengaruhi (memperkuat
       dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variaben
       dependen tetapi tidak dapat diukur.

   Bentuk-bentuk rumusan masalah
   Bentuk-bentuk rumusan masalah dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
   1. Permasalahan deskriptif, adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan
      variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan dan hubungan.
      Contoh: Berapa kadar vitamin C pada beberapa jenis jeruk?
   2. Permasalahan komparatif, adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat
      membandingkan keberadaan suatu variabel pada dua sampel atau lebih.
      Contoh: Adakah perbedaan tinggi batang antara tanaman jagung yang
      ditanam di tanah berlumpur, berpasir dan tanah biasa?
   3. Permasalahan asosiatif, adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat
      menghubungkan dua variabel atau lebih.
      Ada 3 macam permasalahan asosiatif, yaitu:
       Hubungan simetris; hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat
        kebersamaan
        Contoh: Adakah hubungan antara banyaknya bunyi burung beo dengan tamu
                yang datang?
       Hubungan kausal; hubungan yang bersifat sebab akibat
        Contoh: Seberapa besar pengaruh jumlah tamu terhadap banyaknya bunyi
                 burung beo?
       Hubungan interaktif; hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak
        diketahui mana variabel independen dan variabel dependen.
         Contoh: Hubungan antara frekuensi olah raga dengan kebugaran tubuh. Di
                 sini dapat dinyatakan frekuensi olah raga mempengaruhi kebugaran
                 tubuh dan kebugaran tubuh mempengaruhi frekuensi olah raga.
                                           BAB III

                                 PERUMUSAN HIPOTESIS

                                                          KELAS/SEMESTER: X/Ganjil



STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik

MATERI
  Hipotesis
  Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejala-gejala atau
  kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Dikatakan sementara,
  karena jawaban untuk pertanyaan itu berasal dari teori yang relevan, dan belum
  berdasarkan fakta-fakta empiris dari pengumpulan data. Hipotesis tidak harus ada
  dalam penelitian. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang
  menggunakan pendekatan kuantitatif ( menggunakan data angka sebagai hasil
  penelitian). Penelitian kualitatif yang merumuskan hipotesis dapat diuji oleh peneliti
  jika data yang didapat dapat dibuat (dikonversikan) dalam bentuk angka. Hipotesis
  penelitian dapat dibagi menjadi 2, yaitu: Hipotesis penelitian dan Hipotesis statistik.

  Hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi:
   1. Hipotesis penelitian, jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
      Dibedakan menjadi 2, yaitu:
      a. Hipotesis kerja, dinyatakan dalam kalimat positif
          Contoh: ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan jumlah limbah
      b. Hipotesis nol, dinyatakan dalam kalimat negatif
          Contoh: tidak ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan jumlah
          limbah
   2. Hipotesis statistik, terdapat pada penelitian yang menggunakan sampel (contoh).
      Digunakan untuk menguji apakah hipotesis penelitian yang hanya diuji dengan
      sampel dapat berlaku pada populasi atau tidak, sehingga dalam pembuktiannya
      akan muncul istilah signifikan, taraf kesalahan dan kepercayaan dari pengujian.
      Dibedakan menjadi 2, yaitu:
      a. Hipotesis kerja
          Contoh: semakin tinggi frekuensi merokok, maka semakin baik kealitas
          kesehatannya
      b. Hipotesis alternatif
          Contoh: semakin tinggi frekuensi merokok, maka semakin buruk kualitas
          kesehatannya

  Bentuk-bentuk hipotesis:
  Sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bentuk rumusan masalah
  penelitian ada tiga, yaitu rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif
  (perbandingan) dan asosiatif (hubungan).
  Hipotesis deskriptif, jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif yaitu
    berkenaan dengan variabel mandiri.
  Hipotesis komparatif, jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif,
    variabelnya sama tetapi populasi dan sampelnya berbeda.
Hipotesis asosiatif, jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif yaitu
 yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih

Tujuan hipotesis:
1. Menyediakan keterangan sementara terhadap gejala dan memungkinkan untuk
   pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Menyatakan hubungan antara variabel yang akan diuji kebenarannya.
3. Memberikan arah yang perlu dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.
4. Memberikan kisi-kisi laporan untuk melaporkan kesimpulan.

Cara merumuskan hipotesis:
1. Hendaknya menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih
2. Hendaknya dinyatakan dalam kalimat tanya
3. Dirumuskan secara singkat, padat dan jelas
4. Hendaknya dapat diuji.

Fungsi hipotesis:
1. Memperkenalkan peneliti untuk berfikir dari awal suatu penelitian
2. Menentukan tahap-tahap atau prosedur suatu penelitian
3. Membantu menetapkan bentuk untuk penyajian, analisis dan interpretasi data
   dalam laporan.
                                         BAB IV

                             PERANCANGAN PENELITIAN

                                                        KELAS/SEMESTER: X/Ganjil



STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik

MATERI
  Rancangan penelitian merupakan pedoman atau langkah-langkah yang akan diikuti
  oleh peneliti untuk melakukan penelitian. Rancangan penelitian harus tersusun
  secara sistematis dan logis supaya dapat menjadi pedoman yang betul-betul mudah
  diikuti.
  Pertimbangan dalam menyusun suatu rancangan penelitian:
  1. Cara pendekatan apa yang hendak dipakai?
  2. Metode apa yang hendak dipakai?
  3. Strategi apa yang kiranya paling efektif?

  Fungsi menentukan rancangan penelitian:
  1. Merupakan kerangka kerja yang operasional
  2. Memperjelas ekstensitas dan intensitas penelitian
  3. Memperkirakan penelitian yang akan dihadapi dan perkiraan hasil penelitian
  4. Memperkirakan kelemahan penelitian dan alternatif langkah antisipasinya

  Jenis-jenis penelitian:
  1. Penelitian Sejarah, membuat rekrontruksi masa lampau secara sistematis dan
     objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, serta
     mensitesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan
     yang kuat.
  2. Penelitian deskriptif, mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat
     terhadap suatu populasi tertentu, berkenaan dengan sifat atau faktor tertentu.
  3. Penelitian kausal, menyelidiki kemungkinan terjadinya hubungan sebab akibat
  4. Penelitian korelasi, memdeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor
     berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada
     koefisien korelasi.
  5. Penelitian kasus, mempelajari secara mendalam tentang latar belakang keadaan
     sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga
     atau masyarakat.
  6. Penelitian perkembangan, menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan dan atau
     perubahan sesuatu hal sebagai fungsi waktu.
  7. Penelitian eksperimen, mengetahui hasil sebuah perlakuan terhadap suatu
     variabel, harus ada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
  8. Penelitian tindakan, mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara
     pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di
     dunia kerja atau dunia aktual yang lainnya.
Secara mendasar isi rancangan penelitian akan memuat hal-hal:
a. Bagian awal (perencanaan)
    Permasalahan (Pendahuluan)
     - Latar belakang masalah
     - Identifikasi masalah
     - Batasan masalah
     - Rumusan masalah
     - Tujuan dan kegunaan penelitian
        Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah.
     Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak tercapainya tujuan. Kegunaan
     hasil penelitian dapat dibagi menjadi 2:
     a. Kegunaan teoritis, untuk mengembangkan ilmu
     b. Kegunaan praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi
        masalah yang ada pada objek yang diteliti.
   Landasan Teori dan Hipotesis
     - Landasan teori
       Landasan teori adalah teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk
       menjelaskan/mendukung variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk
       memberikan jawaban sementara terhadap rfumusan masalah yang diajukan
       (hipotesis). Sumber kepustakaan untuk landasan teori:Buku, jurnal, skripsi,
       majalah, tesis, internet, surat kabar dan lain-lain
     - Hipotesis penelitian
       Rumusan masalah yang hanya dapat terjawab dengan teori adalah hipotesis.
       Untuk menuliskan hipotesis harus ada asumsi (anggapan) lebih dahulu,
       karena asumsi ini merupakan titik tolak untuk merumuskan masalah.
    Prosedur penelitian
     1. Menentukan populasi dan sampel
         Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
         mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
         untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan.
         Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
         populasi.Sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representatif
         (mewakili). Teknik sampling adalah teknik yang digunakan apabila kita
         hendak melakukan penelitian pada sampel bukan pada populasi.
         Beberapa strategi pengambilan sampel:
          Teknik acak/random, untuk populasi yang homogen
          Sampel sistematis, berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah
             diberi nomor urut
          Sampel strata, populasi tidak homogen tetapi berstrata (bertingkat)
          Sampel kluster, sampel acak sederhana
          Sampel non acak, memberi peluang yang sama kepada anggota
             populasi untuk dipilih menjadi sampel berdasarkan tujuan, urutan
             tertentu
          Sampel wilayah, melibatkan wilayah-wilayah yang memiliki ciri-ciri yang
             berbeda.
     2. Teknik pengumpulan data
         - Penelitian survei (semacam observasi), menggunakan teknik
             pengamatan dengan indera yang dimiliki, yaitu mata, telinga, hidung,
             lidah ataupun kulit.
         - Penelitian eksperimen, perlu merancang urutan eksperimen yang akan
             dilakukan, termasuk cara menyusun data penelitian (tabulasi data)
     3. Organisasi pelaksanaan penelitian
         Bila penelitian secara berkelompok, maka diperlukan organisasi pelaksana
         penelitian yang disesuaikan dengan kompleksitas objek penelitian.
  Rancangan penelitian perlu membuat jadwal pelaksanaan penelitiaan dan
  bagaimana tahap-tahapnya mulai dari persiapan, pelaksanaan dan
  penyelesaian serta berapa lama satu proyek penelitian akan dapat
  diselesaikan. Jadwal kegiatan penelitian antara lain meliputi:

No.            Tahap-tahap penelitian                  Minggu ke-
                                                  1   2 3 4 5             6

1.    Persiapan
      a. Mengurus perijinan (bila diperlukan)
      b. Menentukan responden (bila memakai
         subjek penelitian manusia)
      c. Menyusun instrumen (alat/angket, dll)
2.    Pelaksanaan
      a. Pengumpulan data
      b. Klasifikasi dan tabulasi data
      c. Penarikan kesimpulan
3.    Penyelesaian
      a. Menyusun laporan diskusi
      b. Penggandaan laporan
      Jumlah waktu yang diperlukan
                                            BAB V

                              PELAKSANAAN PENELITIAN

                                                               KELAS/SEMESTER: X/Ganjil


STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik

MATERI
  Pelaksanaan penelitian merupakan tindakan realisasi perancangan penelitian yang
  telah disusun. Dari tahapan pelaksanaan penelitian ini akan didapatkan keberhasilan
  atau dapat juga kegagalan dalam penyelidikan masalah yang telah ditentukan.
  Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Sampel adalah sebagian dari
  populasi, yang memiliki sifat populasi. Tekhnik sampling adalah tekhnik yang
  digunakan apabila kita hendak melakukan penelitian pada sampel bukan pada
  populasi. Secara mendasar isi pelaksanaan penelitian akan memuat hal-hal seperti
  berikut:
  a. Menentukan tempat penelitian
      Tempat penelitian akan ditentukan jika kita akan melaksanakan penelitian survei.
      Penentuan tempat penelitian biasanya berkaitan dengan pembatasan sampel
      penelitian, tetapi kadang juga hanya spontanitas peneliti.
  b. Menentukan populasi dan sampel
      Pengambilan sampel adalah proses yang meliputi pengambilan satu bagian dari
      populasi, melakukan pengamatan atas kelompok sampel, kemudian
      menggeneralisasikan penemuan-penemuan pada sampel terhadap populasi.
      Cara pengambilan sampel:
        Menentukan jumlah sampel
        Menentukan anggota sampel
  c. Teknik pengumpulan data
      Teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan masalah penelitian yang
      dikaji sehingga data yang diperoleh merupakan data yang valid (sesuai dengan
      keadaan yang sebenarnya) dan reliabel (dapat dipercaya). Teknik pengumpulan
      datanya bisa berupa pengisian angket, observasi/pengamatan atau wawancara
      serta eksperimen/percobaan.
      Untuk penelitian survei menggunakan angket, chek list, daftar pertanyaan dan
      sebagainya.
      Untuk penelitian eksperimen menggunakan alat ukur misalnya penggaris,
      termometer, respirometer, kalorimeter, barometer, timbangan dan sebagainya.
  d. Tabulasi data penelitian
      Hasil pengamatan dikomunikasikan dalam bentuk tabel, tulisan, informasi lisan,
      grafik dan diagram. Data peneliti harus dapat menimbang data atau informasi
      yang lebih akurat.
      Beberapa cara untuk mengkomunikasikan hasil pengamatan:
        Merangkum informasi dari teks
        Mengkomunikasikan ciri-ciri objek sains
        Menyajikan data dalam bentuk tabel
        Mengkomunikasikan data dalam bentuk grafik atau diagram
         Berikut ini contoh tabel untuk menyajikan data hasil pengamatan kualitatif

No          Objek               Indera yang                  Hasil pengamatan
                                 digunakan
                             dalam pengamatan
1     Akar tumbuhan        Mata                      Akar serabut
2     Daun tumbuhan        Mata, kulit               Tepi bergerigi, tipis
3     Bunga                Mata, kulit, hidung       Warna putih, halus, wangi
4     Buah                 Hidung, lidah             Bau menyengat, manis
5     Jangkrik             Mata, kulit, telinga      Warna coklat, kasar, suara nyaring




         Contoh tabel untuk menyajikan data hasil pengamatan kualitatif

Kabupaten        Jumlah perokok           Jumlah penderita penyakit paru-paru
    I                  45                                 20
    II                 34                                 23
   III                 65                                 31
   IV                  23                                 41


     e. Menentukan teknik analisis data
        Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik, misalnya
        statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
        menganalisis data dengan cara mengdeskripsikan/menggambarkan data yang
        telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan
        yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Yang termasuk statistik deskriptif
        antara lain penyajian data dalam melaui tabel, grafik, diagram lingkaran,
        piktogram (diagram batang), pengukuran tendensi sentral yang meliputi
        perhitungan modus (data yang sering muncul), median (nilai tengah), mean
        (rata-rata), perhitungan desil, presentil, perghitungan penyebaran data melalui
        perhitungan rata-rata, standar deviasi, dan perhitungan presentase.
                                          BAB VI

                                 LAPORAN PENELITIAN

                                                          KELAS/SEMESTER: X/Ganjil



STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.1 Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
    informasi gejala alam biotik

MATERI
  Menyusun laporan merupakan tugas akhir dari proses penelitian. Laporan penelitian
  adalah tulisan yang menggambarkan seluruh proses penelitian yang didasarkan hasil
  pengamatan, peninjauan, disusun dengan metode tertentu dengan sistematika
  penulisan yang bahasa dan kebenaran isinya dapat dipertanggung jawabkan.
  Laporan penelitian ini sangat diperlukan agar hasil penelitian kita dapat dibaca orang
  lain dan bermanfaat bagi orang lain. Laporan penelitian sebaiknya dibuat dua tahap,
  tahap pertama berupa laporan pendahuluan dan tahap kedua berupa laporan
  akhir/penelitian.
  Laporan pendahuluan ini sifatnya draf yang masih perlu disempurnakan dengan cara
  hasil penelitian diseminarkan, atau dikonsultasikan kepada ahli/pembimbingnya,
  sehingga kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pola laporan penelitian akan
  dapat diperbaiki.
  Laporan penelitian merupakan laporan ilmiah, untuk itu setiap bagiannya harus dibuat
  secara sistematis dan logis, sehingga pembaca mudah memahami. Laporan
  penelitian harus replicable yaitu harus bisa diulangi oleh orang lain yang akan
  membuktikan hasil penemuan dalam penelitian. Laporan penelitian merupakan
  kelanjutan dari rancangan penelitian.

  Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menuliskan laporan penelitian:
  1. Penulis harus tahu benar kepada siapa laporan tersebut dibuat dan dalam bentuk
     apa hendak disajikan. Penulisan untuk skripsi, majalah, buletin, jurnal, surat kabar
     memiliki aturan yang berbeda-beda.
  2. Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan penelitian tidak
     mengikuti kegiatan proses penelitian. Oleh karena itu setiap langkah yang
     dilakukan harus dilaporkan sejelas mungkin, termasuk alasan-alasan mengapa
     hal tersebut dilakukan.
  3. Penulis laporan harus memahami bahwa latar belakang pengetahuan,
     pengalaman, dan minat pembaca laporan tidak sama, sehingga barangkali yang
     menurut kita penting menurut orang lain tidak penting. Untuk itu kita harus
     meyakinkan dalam menulis latar belakang permasalahan bahwa penelitian yang
     kita lakukan adalah penting.
  4. Laporan penelitian merupakan elemen pokok dalam proses kemajuan ilmu
     pengetahuan. Tidak mungkin semua yang dilakukan selama penelitian dapat
     dilaporkan seluruhnya, untuk itu penulis harus dapat membuat tulisannya jelas
     dan meyakinkan.

  Beberapa ciri tulisan ilmiah:
   1. Logis, informasi yang diberikan harus dapat dipertanggungjawabkan secara akal
      sehat.
2.  Sistematis, susunannya urut dan berkesinambungan
3.  Obyektif, apa adanya
4.  Tuntas dan menyeluruh, segala masalah diungkapkan secara lengkap
5.  Seksama, menghindarkan diri dari kekeliruan
6.  Jelas, baik dari segi alur berpikir, bahasa dan grafis
7.  Kebenarannya dapat diuji
8.  Terbuka, apa yang dikemukakan dapat berubah bila ada pendapat baru yang
    diakui kebenarannya
9. Berlaku umum, kesimpulannya berlaku untuk semua populasinya
10. Penyajiannya menggunakan bahasa yang santun dan tata tulis baku.

Format laporan penelitian
Contoh format laporan penelitian:
BAGIAN AWAL, berisi:
       1. Halaman judul
       2. Halaman pendahuluan
       3. Halaman daftar isi
       4. Halaman daftar tabel (jika ada)
       5. Halaman daftar gambar (jika ada)
       6. Halaman daftar lampiran (jika ada)
BAB I. PERMASALAHAN/PENDAHULUAN
       1. Latar belakang masalah
       2. Identifikasi masalah
       3. Batasan masalah
       4. Perumusan masalah
       5. Tujuan penelitian
       6. Kegunaan penelitian
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
       1. Penelaahan kepustakaan
       2. Kerangka berfikir
       3. Perumusan hipotesis (jika ada)
BAB III. PROSEDUR PENELITIAN
       1. Tempat dan waktu penelitian
       2. Metode penelitian
       3. Populasi dan sampel
       4. Teknik pengumpulan data
       5. Teknik analisis data
BAB IV. HASIL PENELITIAN
       1. Deskripsi data
       2. Pengujian persyaratan analisis (bagi penelitian kuantitatif)
       3. Pengujian hipotesis (bagi penelitian kuantitatif)
       4. Pembahasan hasil analisis data
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
       1. Kesimpulan
       2. Saran
BAGIAN AKHIR, berisi:
       1. Daftar pustaka
       2. Lampiran-lampiran (jika ada)
                                        BAB VII

                 ROTASI BUMI DAN PERISTIWA SIANG DAN MALAM

                                                     KELAS/SEMESTER: X/Genap


STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR:
1.2. Mengidentifikasi obyek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
     informasi gejala alam abiotik

MATERI
 Rotasi bumi dan Peristiwa siang dan malam
 A. Matahari
    Merupakan bintang yang terdekat dengan bumi, massanya 99,8% dari massa tata
    surya. Matahari termasuk bintang sebab bias menghasilkan cahaya sendiri. Jarak
    matahari dengan bumi berkisar 150 juta km, yang menyebabkan cahaya matahari
    memerlukan waktu 9 menit untuk sampai ke bumi. Cahaya dan panas matahari
    merupakan sumber utama energi bagi bumi dan kehidupan di atasnya.
    Besarnya energi dirumuskan oleh Einstein sebagai:
                                                   Dimana:
                                                   E : Energi yang dipancarkan
                           2
                  E= mc                            m : Massa matahari
                                                   c : Kecepatan cahaya
                                                       diruang hampa



     Matahari terdiri dari:
     a. Inti Matahari
         Tersusun oleh: gas Hidrogen (92%)
                          Helium (7,8%)
         Suhu: 15.000.000 0C
         Dalam inti terjadi reaksi fusi hidrogen menjadi helium
     b. Permukaan matahari
        1. Fotosfer : Permukaan yang tampak dari bumi
        2. Kromosfer: Lapisan berwarna kemerah-merahan, tidak bias dilihat tanpa alat
           bantu (spectograf), tetapi akan tampak jika terjadi gerhana matahari.
        3. Korona: Terlihat seperti mahkota yang mengelilingi matahari, akan tampak
           saat terjadi gerhana matahari

 B. Bulan
    Merupakan benda langit yang terdekat dengan bumi. Bulan merupakan satelit
    bumi. Satelit adalah benda langit yang merupakan pengikut planet. Satelit
    terbentuk secara alami bersama-sama dengan proses pembentukan planet. Massa
    bulan 1/8 massa bumi dengan massa jenis 3,3 g/cm3. Graviatasi bulan 1/6
    gravitasi bumi.
    Bulan terdiri dari:
    a. Inti kecil kaya besi
    b. Mantel padat
    c. Kerak
    Bulan tidak memiliki atmosfer, sehingga:
    a. Suhu dipermukaan bulan dapat berubah dengan cepat
   b. Bunyi tidak dapat dirambatkan
   c. Langit di bulan tampak hitam
   d. Tidak ada siklus air
   Bulan mengalami 3 gerakan sekaligus:
   a. Berevolusi terhadap matahari
   b. Berevolusi bersama bumi terhadap matahari
   c. Berotasi pada porosnya sendiri

C. Bumi
   Bumi merupakan bola padat yang bergerak di angkasa dengan kecepatan
   mencapai 3000 meter per detik. Bumi dikenal sebagai planet biru karena 70%
   permukaan bumi terdiri dari perairan dan 30 % berupa daratan yang meliputi
   daratan, gunung dan lembah. Bumi merupakan planet ketiga setelah merkurius dan
   venus. Dalam system tata surya hanya di bumilah kehidupan dapat berkembang,
   karena:
   a. Bumi dilingkupi oleh lapisan atmosfer yang mencapai 700 km dari permukaan
      bumi. Atmosfer bumi terdiri dari gas nitrogen, oksigen dan gas lainnya dalam
      jumlah kecil. Atmosfer melindungi bumi dari benda-benda angkasa yang jatuh
      menimpa bumi dan melindungi bumi dari sengatan sinar matahari.
   b. Bumi juga mengandung air yang sangat banyak
   c. Bumi memiliki suhu yang relatif sedang sehingga cocok untuk kehidupan
      makhluk hidup
   d. Bumi juga mengandung berbagai senyawa kimia yang juga mendukung
      kehidupan.

  Bumi memiliki bentuk bulat dan permukaan yang melengkung, buktinya adalah :
  a. Ketika matahari terbenam, awan dan gunung tinggi masih terlihat terang.
  b. Kapal yang berlayar meninggalkan pelabuhan, tubuh kapal lenyap terlebiih
     dahulu kemudian tiangnya.
  c. Bila berlayar kesatu arah akan tiba ketempat semula
  d. Gambar bumi hasil pemotretan satelit buatan dan kapal ruang angkasa luar
     yang menunjukan bentuk bumi adalah bulat pepat

     Bumi kita terdiri dari:
      1. Lapisan Litosfer (bebatuan)
      2. Lapisan Hidrosfer (Air)
      3. Lapisan Atmosfer (Udara)

     Struktur bumi
      Bumi berbentuk bulat seperti bola, tetapi tidak sempurna. Bentuk bumi sedikit
      mengembung di bagian ekuator dan merata di bagian kutubnya, sehingga
      bentuknya sering juga disebut geoida (bulat pepat). Geoida merupakan
      peralihan bentuk ellipsoida (bulat telur) dengan bentuk bola (bulat sempurna)
      karena ada pemepatan (perataan) di masing-masing kutub sekitar 21 km,
      sangat kecil dibandingkan jari-jari bumi 6.370 km. Gaya gravitasi bumi adalah
      9,8 m/s2, dengan gaya ini setiap benda yang ditarik menuju pusat bumi
      mengalami percepatan 9,8m/s2, sehingga benda di bumi turut bergerak
      bersama gerakan bumi.

     Lapisan bumi
      1. Lapisan inti (core)
         Letak         : Bagian tengah/pusat bumi
         Tebal         : sekitar 3.500 km
         Komposisi : Bagian luar terdapat cairan
                         Bagian dalam berbentuk padat
          Penyusun : Sebagian besi dan nikel
          Temperatur : 3.000oC – 5.000oC
       2. Mantel bumi (mantle)
          Letak        : Menyelubungi inti
          Tebal        : sekitar 2.900 km
          Penyusun : mineral mafic (campuran antara magnesium dan besi)
          Temperatur : 2.800oC pada bagian yang dekat inti
                            1.800oC pada bagian yang dekat dengan kerak
       3. Kerak bumi (crust)
          Letak        : Paling luar dan tipis
          Tebal      : sekitar 8 - 40 km
          Penyusun : Batuan beku, batuan metamorf dan sedimen
          Kerak bumi terbagi 2:
           Kerak benua yang merupakan daratan, ketebalannya sekitar 35 km
           Kerak samudra yang merupakan perairan,ketebalannya sekitar
            7 km.

D. Rotasi bumi
   Rotasi bumi adalah proses perputaran bumi mengelilingi sumbunya. Waktu yang
   digunakan untuk satu kali rotasi adalah 23 jam 56 menit (24 jam kurang 4 menit).
   Arah rotasi dari barat ke timur (arah negatif / berlawanan dengan jarum jam).
   Kecepatan rotasi di setiap tempat di bumi berbeda, karena bentuk bumi yang bulat
   pepat (geonida). Arah gerak berputar bumi agak condong ke satu sisi.
    Akibat rotasi bumi:
    Bentuk bumi geoida
    Peredaran semu benda-benda langit
       Benda-benda langit yang tampak bergerak sebenarnya tidak bergerak. Akibat
      rotasi bumi dari barat ke timur, buntang-bintang tersebut tampak seolah-olah
      bergerak dari timur ke barat (berlawanan dengan arah rotasi bumi sebenarnya).
      Pergerakan dari timur ke barat yang tampak pada matahari dan benda-benda
      langit ini dinamakan gerak semu harian bintang. Karena gerak semu ini dapat
      diamati setiap hari, maka disebut gerak semu harian. Peredaraan semu bintang
      sejati adalah 23 jam 56 menit, dinamakan satu hari bintang. Peredaran semu
      matahari adalah 24 jam lebih lambat 4 menit dari bintang sejati. Peredaran semu
      bulan lebih lambat lagi yaitu 24 jam 50 menit. Perbedaan periode peredaran
      semu harian ketiga benda langit itu disebabkan karena kedudukan bintang sejati
      selalu tetap di langit. Matahari mempunyai peredaran semu yang lain akibat
      revolusi bumi, sedangkan bulan sebagai satelit bumi, mempunyai peredaran
      bulan mengelilingi bumi.
    Peristiwa siang dan malam
      Bagian bumi yang menghadap matahari akan mengalami siang hari, sedang
      bagian bumi yang membelakangi matahari mengalami malam hari. Akibat rotasi
      bumi, bagian bumi yang menghadap dan membelakangi matahari berganti
      secara bergantian, ini adalah peristiwa siang dan malam. Karena periode
      peredaran semu harian matahari 24 jam, maka panjang siang atau malam rata-
      rata 12 jam. Panjang siang dan malam hari di daerah khatulistiwa hampir sama,
      walaupun kadang siang lebih panjang dari malam. Suatu waktu panjang siang
      lebih besar dari 12 jam, dan ini berarti panjang malam hari kurang dari 12 jam.
      Perbedaan ini menjadi lebih besar untuk tempat-tempat yang jauh dari
      khatulistiwa (misalnya di daerah lintang dan kutub).
    Perbedaan waktu berbai tempat di muka bumi
      Seluruh permukaan bumi terbagi ke dalam jaring-jaring derajat yang dinamakan
      garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis yang sejajar dengan garis
     tengah khatulistiwa, sedang garis bujur adalah garis yang sejajar dengan garis
     tengah kutub. Tempat-tempat pada bujur sebelah timur akan menyaksikan
     matahari terlebih dahulu daripada tempat yang berbeda pada bujur sebelah
     barat. Perbedaan waktu setiap 1 derajat adalah 4 menit. Garis bujur 0o
     ditetapkan sebagai garis yang melewati kota Greenwich di London, Inggris.
     Wilayah yang berada pada sudut 15o lebih ke timur akan mengamati matahari
     terbit lebih cepat 1 jam. Seluruh permukaan bumi terdiri dari 360o, secara
     internasional dibagi menjadi 24 daerah waktu, untuk setiap perbedaan 15o
     memiliki selisih 1 jam. Zona-zona waktu di seluruh dunia berpangkal pada GMT
     (Greenwich Mean Time).
     Indonesia terletak memanjang dari 95o BT hingga 141o BT, dibagi atas 3 daerah
     waktu sebagai berikut:
      Waktu Indonesia bagian Barat (WIB): 105o BT
        Meliputi Jawa, Sumatra, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. GMT + 7
        jam
      Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA): 120o BT
        Meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Sulawesi dan Nusa
        Tenggara. GMT + 8 jam
      Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT): 135o BT
        Meliputi Maluku dan Papua. GMT + 9 jam
    Pembelokan arah angin
     Akibat rotasi bumi menyebabkan timbulnya gaya Coriolis. Gaya tersebut
     mengakibatkan terjadinya pembelokan arah angin. Di belahan bumi utara (BBU)
     gaya Coriolis menyebabkan angin di belokkan ke kanan dan pada belahan bumi
     bagian selatan angin dibelokkan ke kiri. Gaya Coriolis semakin bertambah
     dengan bertambahnya lintang tempat.
      Menurut hukum Boys Ballot:
       Udara bergerak dari daerah yang memiliki tekanan tinggi menuju ke daerah
         bertekanan rendah.
       Di belahan bumi utara angin membelok ke kanan dan di belahan bumi
         selatan angin membelok ke kiri
    Pembelokan arus laut
      Pergerakan arus laut dipengaruhi oleh angin. Laut pada belahan bumi utara
     mengalami pembelokkan ke arah kanan (searah putaran jarum jam). Sedangkan
     laut pada belahan bumi selatan berbelok ke arah kiri (berlawanan arah putaran
     jarum jam)
    Perbedaan gravitasi
     Bentuk bumi geoida mengakibatkan gravitasi yang berbeda. Karena percepatan
     gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jari-jari, maka percepatan gravitasi
     tempat-tempat di kutb lebih besar daripada di sekitar khatulistiwa.

E. Pelangi
   Pelangi merupakan fenomena optic dan meteorology yang menghasilkan spectrum
   cahaya yang hamper bersambung di langit apabila matahari bersinar setelah terjadi
   hujan. Pelangi berupa lengkungan warna warni dengan warna merah pada
   lengkungan paling luar dan warna ungu pada lengkungan paling dalam. Warna-
   warna pelangi adalah merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Pelangi
   dihasilkan dari peristiwa pembiasan sinar matahari oleh titik-titik air hujan, Bentuk
   pelangi yang berupa lengkungan disebabkan tetes air hujan di udara yang
   berbentuk bulat (sfera). Pelangi secara utuh dapat dilihat jika sedang berada di
   pesawat terbang yang mengudara. Kunci terjadinya pelangi adalah pembiasan
   cahaya. Cahaya yang melewati dua medium yang berbeda akan mengalami
   pembiasan dan berubah arahnya karena cahaya bergerak dengan kecepatan
   berbeda ketika melalui medium yang berlainan.
Ada dua jenis pelangi yaitu :
a. Pelangi primer adalah pelangi yang terjadi akibat satu pantulan air hujan.
   Memiliki warna yang terkuat, dengan warna merah pada bagian luar dan warna
   ungu pada bagian dalamnya.
b. Pelangi sekunder adalah terjadinya pemantulan cahaya sebanyak dua kali atau
   lebih. Pelangi sekunder yang dihasilkan oleh dua pemantulan akan terlihat di
   langit berada di atas pelangi primer. Susunan warna pelangi sekunder
   merupakan kebalikan dari susunan warna pelangi primer. Pada pelangi sekunder
   warna merah pada bagian dalam sedangkan warna ungu pada bagian luar.
                                        BAB VIII

        GEMPA BUMI SEBAGAI BENTUK GEJALA ALAM DAN ANTISIPASINYA

                                                     KELAS/SEMESTER: X/Genap

STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR
1.2. Mengidentifikasi objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
     informasi gejala alam abiotik

MATERI
 A. Proses Terjadinya Gempa
    Bumi yang berwujud padat selalu bergerak, akibat gerak tersebut bumi mengalami
    tekanan. Jika tekanan yang diterima bumi terlalu besar untuk ditahan lempeng
    tektonik maka terjadilah gempa. Gempa merupakan peristiwa terjadinya
    pergeseran dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi secara tiba-tiba. Saat
    terjadi pergeseran, timbul getaran yang disebut gelombang seismik. Gelombang
    seismik bergerak menjalar menjauhi pusat gempa ke segala arah di dalam bumi.
    Jika gelombang seismik mencapai permukaan bumi, gelombang ini memiliki
    kemungkinan untuk dapat merusak bangunan yang ada. Hal ini tergantung pada
    kekuatan sumber dan jaraknya terhadap pusat gempa.
    Gempa dapat terjadi kapan saja. Konsentrasi gempa terjadi di daerah tertentu,
    seperti plate pasifik. Tempat ini dikenal dengan nama Lingkaran Api karena
    banyaknya gunung api.
    Istilah-istilah dalam gempa:
    1. Hyposentrum, berasal dari kata hypo berarti bawah, sentrum berarti pusat. Jadi
         hyposentrum merupakan pusat asal mulanya getaran gempa yang terdapat di
         bawah permukaan bumi, terdapat dua macam getaran dalam hyposentrum
         yakni Gelombang Longitudinal (Gelombang Primer) dan Gelombang
         Transversal (Gelombang Sekunder).
    2. Episentrum, tempat di permukaan bumi yang terdekat dengan hyposentrum
         (biasa disebut juga pusat gempa di permukaan bumi).
    3. Macroseisme, wilayah Episentrum yang paling hebat menderita kerusakan.
    4. Microseisme, getaran kulit bumi yang amat halus. Getarannya tidak terasa
         kecuali oleh seismograf (alat pencatat getaran gempa).
    5. Pleistoseista, daerah yang dibatasi oleh Isoseista yang berada di sekitar
         episentrum yang paling banyak mendapat kerusakan. Dapat juga diartikan
         sebagai garis khayal yang membatasi tempat yang episentrumnya mengalami
         kerusakan paling hebat akibat gempa.
    6. Isoseista, garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang sama
         keras getaran gempanya.
    7. Homoseista, garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang pada
         saat yang sama mengalami getaran gempanya.

 B. Penyebab Gempa Bumi
    1. Faktor luar bumi, misal: bom nuklir, jatuhnya meteor
    2. Faktor dalam bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen. Faktor endogen
       dibedakan atas 2 macam:
         Gempa tektonik: Gempa yang disebabkan oleh aktivitas tektonisme.
           Misal: Pergeseran lempeng
         Gempa vulkanik: Gempa yang disebabkan oleh aktivitas vulkanisme.
            Misal: Gunung Meletus
C. Gelombang gempa
   1. Gelombang Longitudinal (gelombang Primer)
      Adalah gelombang gempa yang merambat dari sumber gempa ke segala arah
      dengan kecepatan 7 – 14 km per detik. Gelombang ini merupakan gelombang
      yang pertama kali dicatat oleh seismograf dan pertama kali dirasakan oleh
      orang di daerah gempa. Amplitudo gelombang ini kecil.
   2. Gelombang Transversal (Gelombang Sekunder)
      Adalah gelombang gempa yang merambat dari sumber gempa ke segala arah
      dengan kecepatan 4 - 7 km per detik. Amplitudonya lebih besar dari gelombang
      primer.
   3. Gelombang Panjang (Gelombang L)
      Adalah gelombang gempa yang merambat dari permukaan bumi dengan
      kecepatan sekitar 3,5 – 3,9 km per detik. Gelombang panjang disebut
      gelombang permukaan. Karena merambat di permukaan maka kerusakan yang
      ditimbulkan akibat gelombang jenis ini adalah yang paling banyak.

D. Macam-macam gempa
   Berdasarkan penyebabnya ada lima macam gempa, yaitu:
    1. Gempa Tektonik
       Disebabkan oleh adanya gerak tektonik berupa patahan atau retakan.
    2. Gempa Vulkanik
       Disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanik gunung berapi berupa gerakan
       magma di dalam perut bumi yang mendesak ke atas untuk ke luar. Getaran ini
       tersebut dapat dirasakan dalam beberapa jam bahkan beberapa hari dan dapat
       terjadi sebelum ataupun sesudah gunung api meletus. Gempa vulkanik
       merupakan salah satu tanda gunung berapi akan meletus.
    3. Gempa Geseran atau Gempa Runtuhan
       Gempa runtuhan adalah gempa yang terjadi akibat runtuhnya atap gua yang
       terdapat dalam litosfer, seperti gua kapur atau terowongan pertambangan.
    4. Gempa Jatuhan
       Disebabkan oleh jatuhnya benda langit ke bumi, seperti meteor. Meteor yang
       jatuh ke permukaan bumi menimbulkan getaran.
    5. Gempa buatan
       Disebabkan oleh peledakan nuklir bawah tanah atau laut yang dapat
       menimbulkan getaran bumi dan dapat tercatat oleh seismograf seluruh
       permukaan bumi tergantung dengan kekuatan ledakan. Sedangkan ledakan
       dinamit di bawah permukaan bumi juga dapat menimbulkan getaran namun
       efek getarannya sangat lokal.
   Berdasarkan bentuk episentrum, yaitu:
    1. Gempa Sentral, adalah gempa yang memiliki episentrum berbentuk titik.
    2. Gempa Linear, adalah gempa yang episentrumnya berbentuk garis.
   Berdasarkan kedalaman hiposentrum, yaitu:
    1. Gempa Bumi Dalam, adalah gempa yang terjadi dengan kedalaman
       hiposentrum kurang dari 300 km.
    2. Gempa Bumi Intermedier (menengah), adalah gempa yang terjadi dengan
       kedalaman hiposentrum antara 100 – 300 km.
    3. Gempa Bumi Dangkal, adalah gempa yang terjadi dengan hiposentrum kurang
       dari 100 km.
   Berdasarkan jarak dari episentrum, yaitu:
    1. Gempa Lokal (setempat), adalah gempa yang berjarak kurang dari 10.000 km
       dari episentrum.
    2. Gempa Jauh, adalah gempa yang berjarak sekitar 10.000 km dari episentrum.
    3. Gempa Sangat Jauh, adalah gempa yang berjarak lebih dari 10.000 km dari
       episentrumnya.
   Berdasarkan letak episentrum, yaitu:
    1. Gempa Laut, adalah gempa yang episentrumnya terletak di laut.
    2. Gempa darat, adalah gempa yang episetrumnya terletak di darat.

E. Alat Pencatat Gempa
   Alat pencatat gempa yaitu seismograf. Seismograf/seismometer adalah alat yang
   digunakan untuk mengukur kekuatan gempa. Seismometer menghasilkan
   seismogram, yaitu rekaman gerakan gempa berupa grafik aktivitas gempa terhadap
   fungsi waktu. Seismometer dapat dipergunakan untuk menetukan pusat gempa.
   Gempa yang terjadi menghasilkan getaran baik vertikal maupun horizontal,
   sehingga pada waktu gempa kita merasakan getaran bumi yang bergoyang ke
   samping dan ke atas.
   1. Berdasarkan getaran gempa, ada dua macam seismograf:
        Seismograf Horizontal
          Dipergunakan untuk mencatat gempa gelombang horizontal. Terdiri atas
          sebuah massa stasioner (massa yang diam) yang digantung pada sebuah
          tiang yang dilengkapi dengan engsel, tepat dimana massa digantungkan
          serta jarum penunjuk di bawah massa stasioner tersebut. Pada waktu terjadi
          getaran gempa, meskipun tiang dan silinder bergetar, massa stasioner tetap
          diam.
        Seismograf vertikal
          Dipergunakan untuk mencatat getaran gempa gelombang vertikal. Gempa
          bumi diamati dari sebuah stasiun gempa. Pada sebuah suatu stasiun gempa
          terdapat dua buah seismograf horizontal, yaitu seismograf yang berarah
          timur-barat dan berarah utara-selatan. Juga sebuah seismograf vertikal yang
          diletakkan bersama dengan seismograf horizontal.
   2. Prinsip kerja Seismograf
       Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang
       seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik terjadi selama
       gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist
       mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa. Seismograf
       menggunakan dua gerakan mekanik yang dapat mendeteksi baik gerakan
       vertikal mapupun gerakan horizontal dan elektromagnetik seismographer yang
       digunakan untuk memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke suatu daerah
       magnetis. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan getaran kemudian dideteksi
       melalui spejlgalvanometer.

F. Skala Gempa
   Terdiri dari Skala Richter dan Skala Mercalli. Skala Richter digunakan untuk
   menggambarkan besaran gempa, sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk
   menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung dan
   manusia.
   a. Klasifikasi besaran Gempa
      Pada tahun 1935, seorang Geophysics Amerika bernama Charles Francis
      Richter bersama Beno Gotenberg mengembangkan skala yang dapat
      membandingkan semua seismogram sehingga mendapat gambaran tremors
      kekuatan yang serupa. Skala tersebut bernama Skala Richter yang dirancang
      dengan logaritma, yang berarti setiap langkah menunjukkan kekuatan yang 10
      kali lebih hebat dari para pendahulunya. 5 Skala Richter menunjukkan benturan
      keras, yang 10 kali lebih kuat dari satu di 4 dan 100 kali lebih kuat dari satu di 3
      Skala Richter.
      Tabel ukuran Skala Richter
         Ukuran Skala                               Keterangan
             Richter
             1,0 – 3,0      Tidak diberi label oleh manusia
             3,0 – 3,9      Dirasakan oleh masyarakat disekitar pusat gempa.
                            Lampu gantung mulai goyang.
             4,0 – 4,9      Terasa sekali getarannya. Jendela bergetar, permukaan
                            air beriak-riak, daun pintu terbuka tertutup sendiri.
             5,0 – 5,9      Sangat sulit untuk berdiri tegak. Porselin dan kaca pecah,
                            dinding yang lemah pecah, lepas dari batu bata dan
                            permukaan air di daratan terbentuk gelombang air.
             6,0 – 6,9      Batu runtuh bersama-sama, runtuhnya bangunan
                            bertingkat tinggi,rubuhnya bagunan lemah, ketekan di
                            dalam tanah.
             7,0 – 7,9      Tanah longsor, jemabatan roboh, bendungan rusak dan
                            hancur. Beberapa bangunan tetap, keretakan besar di
                            tanah, trek kereta api bengkok, terjadi kerusakan total di
                            daerah gempa.
             8,0 - ......   Dapat menyebabkan kerusakan serius di beberapa
                            daerah dalam radius seratus kilometer dari wilayah
                            gempa.

       Skala gempa lain yang digunakan adalah:
       1. Skala Cancani
       2. Skala Derossiforel
       3. Skala Omori
       Sedangkan skala besarnya gempa pada sumbernya dinyatakan dengan
       magnitudo gempa. Magnitudo gempa terdiri dari:
        Magnitudo gelombang badan
        Magnitudo gelombang permukaan
        Magnitudo gempa ”seismik moment”
       Aktivitas gempa dan peristiwa yang menyertainya dapat diukur dengan
       pengukuran berikut:
        Seismometer, mengukur getaran gempa
        Scintilation Counter, mengukur adanya gas radon yang aktif
        Tiltmeter, mengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi
        Magnetometer, mengukur perubahan medan magnet bumi
        Creep meter, mengukur gerak horizontal dan patahan
        Gravimeter, mengukur gaya berat bumi
   b. Gempa Susulan
      Merupakan proses stabilisasi ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan
      energi pada waktu gempa.

G. Awan Gempa
   Adalah awan yang diduga sebagai tanda akan terjadinya gempa bumi. Awan aneh
   ini bentuknya memanjang seperti asap yang ke luar dari pesawat.
   Menurut ilmuan India yang bernama Varahamihira, tanda-tanda peringatan akan
   adanya gempa bumi, adalah:
   1. Kelakuan binatang-binatang yang tidak seperti biasanya
   2. Pengaruh astrologi
   3. Pergerakan bawah air tanah
   4. Formasi awan yang aneh yang muncul seminggu sebelum terjadinya gempa
       bumi.
H. Jalur Gempa
   Menurut teori tektonik lempeng, gempa potensial terjadi saat pertemuan dua
   lempeng yang membentuk jalur-jalur tertentu. Jalur-jalur ini disebut sabuk gempa
   bumi. Dikenal 2 sabuk gempa bumi, yaitu:
   a. Sabuk Mediteran (Alpen Himalaya)
      Sabuk ini membujur dari Samudra Atlantik, terus ke Turki, Iran, Himalaya,
      Birma, Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku.
   b. Sabuk Pasifik
      Dari mulai dari tepi Samudra Pasifik, dari Filipina ke Jepang, Semenanjung
      Kamchatka, Kepulauan Aleut, pantai barat Benua Amerika, menuju ke
      Selandia Baru, Kepulauan Samoa, Irian dan bertemu sabuk Mediteran di
      Maluku.

I. Antisipasi Gempa
   1. Langkah-langkah sebelum terjadi gempa bumi
      a. Kunci utama
          Mengenali dan mengerti tentang gempa bumi dengan membaca buku, surat
            kabar atau informasi dari internet.
          Memastikan letak dan struktur rumah aman dari bahaya gempa bumi.
          Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur rumah agar terhindar dari
            bahaya gempa bumi.
      b. Kenali lingkungan tempat Anda beraktivitas dan tinggal
      c. Persiapan rutin pada tempat Anda beraktivitas atau tempat tinggal, seperti
         perabotan diatur menempel pada dinding, hati-hati dalam menyimpan bahan
         yangm mudah terbakar dan selalu mematikan air, api dan gas apabila sudah
         tidak dipergunakan lagi.
      d. Penyebab celaka yang palingt banyak pada saat terjadi gempa bumi adalah
         akibat kejatuhan material.
  2. Saat terjadi Gempa
      a. Jika Anda berada dalam ruangan di sebuah bangunan, maka berlidunglah dari
         reruntuhan bangunan, mencari tempat yang aman dari reruntuhan bangunan
         dan berlarilah ke luar dari bangunan jika masih ada waktu.
      b. Jika Anda berada di luar bangunan atau berada pada suatu areal terbuka
         maka hindarilah bangunan yang ada disekitar Anda, jangan berdiri di dekat
         tiang listrik atau pohon dan berdirilah menjauh dari rekahan tanah agar Anda
         aman.
      c. Jika Anda sedang mengendarai kendaraan, segera matikan mesin dan ke luar
         dari kendaraan Anda. Pergi menjauh dari kendaraan Anda untuk menghindari
         terjadinya pergeseran dan kebakaran.
      d. Jika Anda tinggal di dekat pantai atau pada saat terjadi gempa Anda berada di
         pantai maka segera menjauh dari pantai sebisa mungkin untuk menghindari
         terjadinya tsunami.
      e. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan hindarilah tempat-tempat yang
         memungkinkan terjadinya longsor.
  3. Setelah terjadi gempa
      a. Jika Anda berada dalam bangunan, maka segeralah ke luar dari bangunan,
         jangan menggunakan lift dan segera hubungi tim medis jika ada yang terluka.
      b. Periksalah lingkungan sekitar
      c. Jangan masuk ke dalam bangunan
      d. Jangan berjalan-jalan atau berkeliling ke daerah gempa
      e. Selalu mengikuti informasi tentang gempa yang terjadi.
  4. Persiapan Keadaan Darurat
      a. Menentukan tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa
      b. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat
     c. Menyediakan tas ransel yang berisi barang-barang untuk keperluan darurat
  5. Prediksi gempa
     a. Prediksi tradisional
         Adanya goncangan-goncangan kecil terhadap bangunan
         Binantang-binatang dan Burung terlihat tidak tenang dan gelisah
         Air sumur keruh dan mengeluarkan bau tidak enak.
     b. Prediksi dengan peralatan dan metode ilmiah
         Mempelajari tentang zona seismik dan daerah beresiko gempa si lapangan
         Memantau gempa bumi melalui stasiun pemantau gempa
         Melakukan observasi ilmiah tentang aktivitas seismik
         Memonitor tingkat seismik global

J. Dampak Gempa
    a. Dampak Primer, rusaknya infrastruktur seperti jalan, jembatan, rel
       KA,bendungan dan sebagainya.
    b. Dampak Sekunder, terjadinya tsunami, kebakaran, tanah yang berubah seperti
       cairan kental, penyakit dan sebagainya.

K. Mengidentifikasi Kerusakan Bangunan Akibat Gempa
   1. Kerusakan ringan non-struktur, seperti adanya retak halus, serpihan plester
      berjatuhan.
   2. Kerusakaan ringan struktur, seperti adanya retak kecil, plester berjatuhan.
   3. Kerusakan struktur tingkat sedang, seperti adanya retak besar.
   4. Keruskan struktur tingkat berat, seperti dinding pemikul beban terbelah dan
      runtuh.
   5. Kerusakan total, seperti banguna roboh seluruhnya.
                                        BAB IX

          TSUNAMI SEBAGAI BENTUK GEJALA ALAM DAN ANTISIPASINYA

                                                    KELAS/SEMESTER: X/Genap


STANDAR KOMPETENSI:
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

KOMPETENSI DASAR
1.2. Mengidentifikasi objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh
     informasi gejala alam abiotik

MATERI
 A. Pengertian Tsunami
    Secara etimologi istilah tsunami berasal dari bahasa jepang yang berarti
    pelabuhan (tsu) dan gelombang (nami). Tsunami adalah peristiwa datangnya
    gelombang laut yang tinggi dan besar ke daratan pinggir pantai setelah beberapa
    saat terjadinya gempa bumi. Gelombang di tengah laut masih berupa gelombang
    osilasi yaitu gerakan air dan peninggian puncak gelombang sehingga pecah
    menjadi gelora.
    Tsunami terjadi selang beberapa waktu setelah gempa dasyat (lebih dari 6 skala
    richter). Selang waktu tersebut terjadi akibat massa air masuk ke dalam patahan
    litosfer untuk kembali keluar sebagai gelombang.Tsunami berbeda dengan badai
    angin dan badai hujan yang deras atau bahkan topan yang keras. Tsunami juga
    bukan berupa gelombang ombak besar disertai angin keras dan kuat dari lautan.
    Ciri-ciri tsunami:
    1. Gelombang air laut yang bergerak dengan cepat
    2. Memiliki gelombang pasang yang tinggi amplitudonya dan panjang
    3. Bergerak dengan kecepatan mencapai 500 sampai 1000 km per jam
    4. Gelombang tsunami biasanya berlapis-lapis
    Tsunami biasanya terjadi karena adanya:
    1. Patahan di permukaan litosfer bawah laut
    2. Rekahan di dasar laut
    3. Letusan gunung api laut
    4. Tanah longsor di laut
    5. Meteor yang jatuh di laut
    6. dll

 B. Gelombang Tsunami dan Kecepatan Gelombang Tsunami
    Gelombang tsunami memiliki panjang gelombang yang sangat besar, yang
    berperan sebagai gelombang air dangkal (rasio kedalaman air dan panjang
    gelombang menjadi sangat kecil) bahkan di samudra yang dalam.
    Gelombang air dangkal bergerak dengan kecepatan yang setara dengan akar
    kuadrat hasil perkalian antara percepatan gravitasi (9,8ms2) dan kedalaman air
    laut.
                                            Dimana:
        √
    v= g x d
                                            v = velocity (kecepatan)
                                            g = gravitasi (9,8ms2)
                                            d = depth (kedalaman)
   Contoh:
   Samudra Pasific dengan kedalaman air rata-rata 4000 meter gelombang tsunami
   dapat merambat dengan kecepatan 200 m/s (kira-kira 712 km/jam). Pada
   kedalaman 40 meter, kecepatan mencapai 20 m/s (sekitar 71 km/jam) lebih lambat
   namun sulit dilampaui.
   Saat memasuki wilayah dangkal, kecepatan gelombang tsunami menurun
   sedangkan tingginya meningkat, menciptakan gelombang mengerikan yang sangat
   merusak.
   Tabel panjang gelombang dan kecepatan gelombang tsunami
     Kedalaman (meter) Kecepatan (mph) Panjang Gelombang (km)

                     7000                  568                         282
                     4000                  443                         213
                     2000                  313                         151
                      200                   99                          48
                       50                   49                          23
                       10                   22                         10,6

    Tsunami bergerak maju ke satu arah dari sumbernya, sehingga wilayah yang
   berada di daerah “bayangan” relative dalam kondisi aman. Tetapi gelombang
   tsunami dapat berbelok di sekitar daratan. Gelombang ini kadang tidak simetris,
   gelombang ke satu arah mungkin lebih kuat dibandingkan gelombang kea rah
   lainnya. Hal ini tergantung dari peristiwa alam yang memicunya dan kondisi
   wilayah di sekitarnya. Periode terjadinya tsunami beragam, kadang dalam waktu 2
   menit sampai lebih dari 1 jam dengan panjang gelombang antara 100 – 200 km.
   Gelombang tsunami merupakan rangkaian gelombang atau disebut juga kereta
   gelombang. Karena merupakan rangkaian maka gelombang yang terjadi tidak
   hanya satu kali atau berupa gelombang tunggal tetapi terjadi beberapa kali
   gelombang. Dan gelombang pertama bukanlah gelombang yang menghancurkan
   karena sesudah gelombang pertama akan disusul gelombang kedua dan ketiga
   yang lebih besar kekuatannya. Sebuah gelombang tsunami dengan panjang
   gelombang mencapai 100 km dapat menyapu selama satu jam non stop.

C. Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Tsunami
   1. Bentuk pantai
      Refraksi adalah transformasi gelombang akibat adanya perubahan geometri
      dasar laut. Di tempat di mana terjadi penyempitan maka akan terjadi
      konsentrasi energi, sehingga tinggi gelombang di tempat itu akan membesar.
   2. Kelandaian pantai
      Jarak jangkauan tsunami ke daratan juga sangat ditentukan oleh terjal dan
      landainya morfologi pantai, di mana pada pantai terjal tsunami tak akan terlalu
      jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing
      pantai, sementara di pantai landai tsunami menerjang sampai beberapa
      kilometer masuk daratan. Bila tsunami menjalar ke pantai maka ia akan
      mengalami perubahan kecepatan, tinggi dan arah, suatu proses yang sangan
      kompleks meliputi shoaling, refraksi, difraksi dan lain-lain.
      Shoaling adalah proses pembesaran tinggi gelombang karena pendangkalan
      dasar laut.
   3. Vegetasi dan strukur penghalang di sekitar pantai
      Kekuatan hutan pantai meredam tsunami makin terbukti jika hutan semakin
      tebal, misalnya hutan dengan lebar 400 meter dihantam tsunami dengan
      ketinggian 3 meter maka jangkauan run up tinggal 57%, tinggi genangan
      setelah melewati hutan pantai tersisa 18%, arus tinggal 24%.
      Difraksi adalah transformasi gelombang akibat ada tidaknya bangunan atau
      struktur penghalang. Ini terjadi bila gelombang terintangi sehingga dipantulkan
     kembali. Suatu bangunan yang tegak dan padat akan lebih mampu memecah
     daripada yang miring dan tembus air.
  4. Arah gelombang tsunami
     Gelombang tsunami yang dating dengan arah tegak lurus dengan pantai tentu
     akan menyebabkan tinggi gelombang tsunami lebih tinggi jika dibandingkan
     tinggi gelombang tsunami yang datang dengan arah sejajar atau dengan sudut
     tertentu.
  5. Efek pemantulan dari pulau lain
     Gelombang tsunami yang terjadi tidak langsung berasal dari sumbernya, akan
     tetapi terjadi karena akibat adanya pemantulan gelombang dari sekitar pulau
     yang terkena dampak gelombang tsunami.

D. Penyebab Tsunami
   1. Adanya gempa di bawah laut (Undersea Eartquake)
      Pergerakan lempeng bumi menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa
      tektonik yang terjadi di bawah laut mengakibatkan air yang berada di atas
      permukaan lempeng tersebut mengalami gangguan dan bergerak dari titik
      keseimbangannya. Adanya gaya gravitasi bumi mengakibatkan terjadinya
      gelombang ketika air bergerak kembali ke titik seimbangnya mula-mula. Jika
      gerak naik turun terjadi pada suatu wilayah yang cukup luas di dasar laut dapat
      menyebabkan terjadinya tsunami.
   2. Longsor di dasar laut (Undersea landslides)
      Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi di perbatasan antar
      lempeng tektonik. Celah retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut
      Sesar (fault). Contohnya: sekeliling tepian Samudra Pasifik yang disebut juga
      Lingkaran Api (Ring of Fire), lempeng samudra yang lebih padat menujam
      masuk ke bawah lempeng benua. Gempa subduksi efektif membangkitkan
      gelombang tsunami.
   3. Aktivitas vulkanik (Volcanic activities)
       Terjadinya pergeseran di dasar laut juga menyebabkan terjadinya peningkatan
       aktivitas gunung berapi. Jika hal ini terjadi dapat mengakibatkan goncangan
       pada air laut yang berada di atas permukaan lempeng. Jika gunung berapi
       yang berada di dasar laut meletus dapat menyebabkan naiknya permukaan air
       laut dan menyebabkan terjadinya tsunami.
   4. Tumbukan benda ruang angkasa (Cosmic body impacts)
       Tumbukan benda luar angkasa seperti meteor dapat mengakibatkan gangguan
       terhadap permukaan air laut tapi ini jarang terjadi.
   Menurut BMG, gempa bumi yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami adalah
   gempa bumi yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
   a. Gempa bumi yang memiliki pusat gempa (episentrum) berada di bawah
       permukaan bumi.
   b. Gempa bumi yang terjadi merupakan gempa dangkal, yaitu gempa dengan
       pusat gempa (episentrum) antara 0 – 30 km.
   c. Gempa bumi dengan magnitude lebih besar dari 6 Skala Richter.
   d. Terjadinya dislokasi vertical atau sesar naik atau sesar turun.

E. Jenis-jenis Gelombang Tsunami
   Menurut BMG, gempa bumi dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
   1. Tsunami jarak dekat (local)
       Tsunami jarak dekat terjadi 0 – 30 menit setelah terjadinya gempa bumi. Jarak
       episentrum sejauh 2000 km.
   2. Tsunami jarak menengah
      Tsunami yang terjadi 30 menit sampai dengan 2 jam setelah terjadi gempa
      bumi. Lokasi terjadinya tsunami berjarak 200 km sampai 1000 km dari pusat
      gempa.
   3. Tsunami jarak jauh
      Tsunami yang terjadi lebih dari 2 jam setelah terjadinya gempa bumi.
      Lokasinya berjarak lebih dari 1000 km dari pusat gempa.

F. Tanda-tanda Tsunami
   1. Terjadinya gempa tektonik yang terasa di kawasan pantai
   2. Air laut dipantai tiba-tiba surut
   3. Jika dasar laut strukturnya berupa lereng, sebelum terjadi tsunami akan
      terdengar bunyi ledakan seperti bunyi bom
   4. Jika dasar laut strukturnya landai, sebelum terjadi tsunami akan terdengar
      suara seperti gendering
   5. Tercium bau garam yang yang terbawa oleh angin
   6. Udara yang terasa dingin

G. Megatsunami dan Seiche
   1. Megatsunami adalah tsunami yang mencapai ketinggian 100 meter. Bisa
      diakibatkan oleh sebuah pulau yang cukup besar amblas ke dasar samudra.
   2. Seiche adalah fluktuasi atau pengalunan permukaan danau atau badan air
      yang kecil iang disebabkan oleh gempa bumi kecil, angina tau oleh keragaman
      tekanan udara.

H. Cara Mengurangi Resiko Dampak Tsunami
   1. Hindari bertempat tinggal di daerah sekitar 100 meter dari tepi pantai
   2. Menanam tanaman yang mampu menahan gelombang seperti palem, waru,
      camplung, beringin atau sejenisnya.
   3. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.

I. Tsunami di Dunia
   1. Tsunami dengan gelombang tertinggi
       Terjadi di Alaska tahun 1958 yang disebabkan amblasnya lempeng tektonik di
       Teluk Lituya. Ketinggian tsunaminya adalah lebih dari 500 meter.
   2. Tsunami di Indonesia
       Wilayah rawan tsunami di Indonesia dikelompokkan menjadi 21 daerah, yaitu:
       NAD, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Lampung-Banten, Jateng bagian selatan,
       Jatim bagian selatan, Bali, NTB, NTT, Sulteng, Sulsel, Maluku Utara, Maluku
       Selatan, Biak-Yapen, Balikpapan,Sengkurau, Palu,Talaud, Kendari.
       Tsunami yang pernah terjadi di Indonesia:
       Tsunami akibat letusan gunung Krakatau, dengan ketinggian gelombang 40
          meter.
       Tsunami di Aceh
       Tsunami di Flores

J. Langkah Penyelamatan Menghadapi Tsunami
   1. Jika berada di daerah sekitar pantai dan merasakan adanya gempa bumi,
      kemudian terlihat air laut surut secara tiba-tiba maka segera Anda berlarilah
      menyelamatkan diri ke tempat yang tinggi seperti perbukitan sambil memberi
      tahu orang yang ada disekitar Anda.
   2. Jika Anda berada di atas perahu atau kapal ketika tsunami terjadi, jangan
      merapatkan perahu atau kapal ke pelabuhan atau mendekati pantai karena
      tsunami akan menghancurkan perahu atau kapal. Sebaiknya Anda membawa
      perahu/kapal menjauh dari pantai atau pelabuhan menuju ke laut.
   3. Hindarilah sungai karena tsunami yang terjadi di laut akan merambat melalui
      aliran yang berhubungan dengan laut seperti sungai.
   4. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, maka Anda jangan
      terburu-buru untuk kembali ke daerah yang rendah. Karena gelombang
      tsunami bukan gelombang tunggal yang hanya sekali terjadi, tetapi merupakan
      rangkaian gelombang.
   5. Jika gelombang tsunami telah benar-benar reda, maka Anda dapat melakukan
      pertolongan kepada korban.

K. Antisipasi Gelombang Tsunami
   Untuk mengantisipasi gelombang tsunami, maka perlu adanya Sistem Peringatan
   Dini Tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) di kawasan Samudra
   Hindia. TEWS adalah sebuah system yang dirancang untuk mendeteksi tsunami
   kemudian mberikan peringatan untuk mencegah jatuhnya korban. Sistem ini terdiri
   dari dua bagian penting, yaitu jaringan sensor untuk mendeteksi tsunami serta
   infrastruktur jaringan komunikasi untuk memberikan peringatan dini adanya
   bahaya tsunami kepada wilayah yang diancam bahaya, agar proses evakuasi
   dapat dilakukan secepat mungkin.
   Komponen utama TEWS:
       a. Komponen Struktur
           Termasuk kelengkapan peralatan seperti Seismometer, Akselerometer,
           GPS, Buoy, dan Tide Gauges serta Tsunami Database untuk menangkap
           gejala alam dan mengolah data menjadi sebuah informasi.
       b. Komponen Kultur
           Adalah peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi atau
           mengantisipasi datangnya bencana tsunami.
   1. Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)
       Peringatan dini diberikan sebelum kejadian supaya masyarakat dapat
       dievakuasi untuk menghindar. Sedangkan peringatan darurat disampaikan
       setelah kejadian berlangsung untuk menyelamatkan diri.
       a. Kegiatan dan komponen sistem peringatan dini
            Deteksi dini penyebab tsunami
            Kemungkinan terjadinya tsunami
            Prediksi penyebaran tsunami
            Penyampaian informasi tentang tsunami kepada masyarakat secara
             tepat dan akurat.
       b. Sistem peringatan dini terdiri dari 2 komponen, yaitu:
            Jaringan sensor, untuk mendeteksi tsunami
            Jaringan komunikasi, untuk memberikan peringatan dini adanya bahaya
             tsunami kepada masyarakat agar proses evakuasi dapat segera
             dilakukan.
       c. Macam-macam system peringatan dini
           Untuk memperkirakan datangnya tsunami dapat dilakukan dengan
           menggunakan system Tremors (Tsunami Risk Evaluation trought seismic
           Moment from Realtime System) dan pengukuran pasang surut air laut
           Analisis Gempa dan Tsunami. Diperlukan 5 Tremors yang terintegras
           dengan system pemantauan lainnya. Dengan alat tersebut terjadinya
           tsunami dapat diprediksi dalam waktu 15 menit.
           Sistem peringatan dini tsunami ada 2 macam, yaitu:
           1. Sistem peringatan dini tsunami Internasional, meliputi:
                Samudra Pasifik
                Samudra Hindia
                Atlantik Timur Laut, Laut Mediterania dan sekitarnya
           2. Sistem peringatan dini tsunami regional
           Sistem komunikasi dalam system peringatan dini:
           a. Komunikasi dari stasiun ke aparat setempat
           b. Komunikasi dari stasiun ke BMG setempat
           c. Komunikasi dari BMG pusat kejaringan peringatan dini lainnya
           Tujuan diadakannya sosialisasi dalam system peringatan dini:
           a. Meminimalisasi dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi dan
               tsunami.
           b. Terbentuk SOP (Standar Operation Procedure) Antisipasi dan Mitigasi
               bencana gempa bumi dan tsunami.
           c. Pendidikan bagi masyarakat untuk dapat melaksanakan SOP tersebut.
           d. Menjalin kerja sama yang baik antara Badan Meteorologi dan
               Pemerintah Daerah setempat.
           e. Memasyarakatkan informasi tentang tsunami meliputi penyebab,
               dampak, dan langkah-langkah antisipasinya.
   2. Prosedur Evakuasi
      Merupakan segala kegiatan yang berhubungan dengan pemindahan penduduk
      dari wilayahnya ke suatu wilayah yang aman, sebelum tsunami datang
      melanda wilayahnya, meliputi:
      a. Pemberian informasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda terjadinya
           tsunami.
      b. Latihan evakuasi untuk menyelamatkan diri.
      c. Simuasi dan perencanaan jalur evakuasi yang efisien.
      d. Membuat bangunan khusus untuk menyelamatkan diri.
   3. Perlindungan Pantai
      Pantai merupakan tempat pertama yang terkena sapuan gelombang tsunami,
      sehingga dampaknya lebih besar dibandingkan daerah lainnya. Oleh karena
      itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk melindungi pantai dari terjangan
      gelombang tsunami yang bersifat merusak. Perlindungan pantai merupakan
      segala kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengurangi dan meredam
      energy gelombang tsunami di wilayah pantai, sehingga diharapkan dapat
      meminimalisasi dampak hempasan gelombang tsunami ke wilayah yang lebih
      tinggi/daratan.
      Ada 2 cara perlindungan pantai:
       Cara buatan, dengan membangun batu-batu buatan pemecah gelombang.
       Cara Alami, dapat menggunakan hutan bakau sebagai peredam alami dari
           tanaman pantai.
   4. Perencanaan Tata Ruang Pantai
      Meliputi kegiatan penetapan wilayah pemukiman dan industri yang aman dari
      serangan gelombang.

L. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi
   Mitigasi dapat didefinisikan sebagai aksi yang mengurangi atau menghilangkan
   resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia dan
   harta benda (FEMA, 2000).
   Kegiatan-kegiatannya meliputi:
   1. Penilaian Bahaya (Hazard Assesment)
       Untuk komunitas pesisir, penialian bahaya tsunami diperlukan untuk
       mengidentifikasi populasi dan asset yang terancam, dan tingkat ancaman
       (level of risk).
       Tahapan-tahapannya:
       a. Data rekaman tsunami (Historical tsunami data)
       b. Data paleotsunami
   c. Penyelidikan pasca tsunami
   d. Permodelan numerik
2. Peringatan (Warning)
   Didasarkan pada data gempa bumi sebagai peringatan dini, dan data
   perubahan muka air laut untuk konfirmasi dan pengawasan tsunami.
   Pusat peringatan (Warning center) haruslah:
   a. Cepat
   b. Tepat
   c. Dipercaya
3. Persiapan
   a. Adanya pengetahuan tentang daerah kemungkinan terkena bahaya (peta
      inundasi tsunami) dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk
      mengetahui kapan harus mengevakuasi dan kapan saatnya kembali ketika
      situasi telah aman.
   b. Perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas vital
      masyarakat seperti sekolah, kantor polisi dan pemadam kebakaran, rumah
      sakit berada di luar zona berbahaya.
   c. Membangun struktur yang tahan terhadap tsunami
   d. Melindungi bangunan yang telah ada
   e. Menciptakan breakwater penghalang tsunami
4. Penelitian
   Tujuan:
   a. Meningkatkan tingkat akurasi penilaian bahaya.
   b. Meningkatkan cara pendidikan publik sehingga tingkat kepedulian
      masyarakat akan bahaya tsunami akan meningkat.
   c. Menciptakan prosedur evakuasi yang efektif
   d. Memberikan panduan perencanaan tata ruang dalam zona inundasi
      potensial.
   e. Meningkatkan daya struktur dan infrastruktur terhadap tekanan tsunami.

Untuk mengurangi bahaya bencana tsunami diperlukan perhatian khusus terhadap
3 hal, yaitu:
1. Struktur pantai (Coastal Structures)
   Sebaiknya dibangun struktur bangunan penahan ombak berupa dinding pantai
   yang merupakan pertahanan terhadap tsunami.
2. Penataan Wilayah (City Planning)
   Memindahkan wilayah pemukiman pantai ke daerah bebas tsunami.
3. Sistem yang terpadu (Tsunami Prevention Sytem)
   Meliputi peramalan, peringatan, evakuasi, pendidikan masyarakat, latihan,
   kebiasaan untuk selalu waspada terhadap bencana, dan kesigapan pasca
   bencana.
                        DAFTAR PUSTAKA




Anonim. 2010. Modul Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK kelas X semester 1.
     Palur: Cipta pustaka

Kusumajati, tatik dan Sudarmi. 2009. IPA untuk SMK Kelas X. Yogyakarta:
    LP2IP

Mutiara, tia dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK dan MAK Kelas X.
      Jakarta: Erlangga

Sumardi, dkk. 2010. Modul Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK Kelas X
    semester 2. Solo: CV. Haka MJ

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:676
posted:1/4/2012
language:Malay
pages:37