1.a.Jelaskan makna dan konsep belajar berdasarkan tiga aliran (teori
belajar)
1). Teori behaveriostik tentang belajar
Teori-teori behavioristik mene-kankan proses belajar sebagai perubahan
relatif permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil
pengalaman. Tiga teori behavioristik tentang belajar yang cukup terkenal adalah
teori connectionism, teori classical conditioning, dan teori operant con-ditioning.
Teori connectionisme ditemu-kan dan dikembangkan oleh Edward L.
Thorndike (1874 - 1949). Menurut Thorndike, seluruh kegiatan belajar adalah
didasarkan pada jaringan asosiasi atau hubungan (bonds) yang dibentuk antara
stimulus dan respon. Karena itu, teori ini disebut juga S-R bond theory atau S-R
psychology of learning. Selain itu, teori ini juga disebut trial and error learning.
Hal ini karena hubungan yang terbentuk antara stimulus dan respon tersebut
timbul terutama melalui trial and error, yaitu suatu upaya mencoba berbagai
respon untuk mencapai stimulus meski berkali-kali me-ngalami kegagalan.
Proses ini kemudian oleh Thorndike juga disebut sebagai connectionisme, atau
learning by selecting and connecting. Dalam eksperimennya, Thorndike
menggunakan berbagai jenis hewan percobaan, diantaranya kucing. Pertama-
tama, kucing diletakkan di dalam sangkar berjeruji (yang disebut puzzle box)
yang dilengkapi dengan peralatan seperti tuas pengungkit, grendel pintu, dan tali
yang meng-hubungkan tuas dan grendel. Per-alatan tersebut dipasang
sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut untuk dapat membuka
sangkar dan menjangkau makanan yang terletak di depan sangkar dengan suatu
usaha. Mula-mula kucing mengeong, mencakar, me-lompat dan berlari-larian,
namun berkali-kali usaha itu gagal. Kucing itu terus berusaha dan berusaha
sehingga akhirnya berhasil, pintu sangkar terbuka dan kucing dapat mencapai
makanan.
Thorndike juga membuat ru-musan hukum belajar. Tiga hukum belajar
mayor yang dikemukakan oleh Thorndike adalah: (1) law of readiness, (2) law of
exercise, dan (3) law of effect. Berdasarkan law of readiness (hukum kesiapan),
belajar akan terjadi bila ada kesiapan dari individu. Manakala organisme, baik
manusia maupun hewan, memiliki kesiapan untuk belajar, maka ia akan
mengalami kepuasan, tetapi jika ia tidak siap maka akan terjadi kekecewaan.
Berdasarkan law of exercise (hukum latihan), perilaku sebagai hasil belajar
terbentuk karena adanya hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan
tersebut diperkuat atau diperlemah oleh tingkat intensitas dan durasi
pengulangan hubungan atau latihan. Jika tidak terjadi latihan selama beberapa
waktu, hubungan akan melemah. Sebaliknya, hubungan akan bertambah kuat
kalau ada latihan. Berdasarkan law of effect (hukum efek), jika sebuah respon
menghasilkan efek yang me-nyenangkan, hubungan antara sti-mulus dan respon
akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dihasilkan
respon, semakin lemah pula hu-bungan stimulus dan respon ter-sebut, kemudian
pada akhirnya respon tersebut tidak dimunculkan lagi.
2). teori Kognitif tentang belajar
Berbeda dengan teori-teori be-lajar behavioral yang menjelaskan belajar sebagai
perubahan perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman,
teori belajar kognitif menjelaskan belajar dengan berfokus pada perubahan-
perubahan proses mental internal yang digunakan dalam upaya me-mahami
dunia eksternal. Proses tersebut digunakan mulai dari mem-pelajari tugas-tugas
sederhana se-perti mengingat nomor telepon hingga tugas-tugas yang kompleks
seperti memecahkam soal mate-matika yang rumit. Dengan demikian, teori-teori
kognitif menekankan bah-wa - dalam proses belajar - pemelajar aktif dalam
mengembangkan pe-mahaman mereka sendiri tentang topik yang mereka
pelajari.
Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental
seseorang yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan pe-rubahan perilaku.
Struktur mental ini meliputi pengetahuan, keyakinan, keterampilan, harapan dan
me-kanisme lain “dalam kepala pe-melajar”. Fokus teori kognitif adalah potensi
untuk berperilaku dan bukan pada perilakunya sendiri. Teori belajar kognitif
menekankan pen-tingnya proses-proses mental seperti berpikir, dan
memfokuskan pada apa yang terjadi pada pemelajar. Proses ini memungkinkan
pemelajar untuk menginterpretasi dan mengorganisir informasi secara aktif.
Inilah prinsip yang mendasari semua teori kognitif.
Di antara teori-teori kognitif yang terkenal adalah teori cognitive field, teori
schema, dan information-processing theory. Teori cognitive field dikemukakan
oleh Kurt Lewin (1892-1947). Menurutnya, masing-masing individu berada dalam
medan kekuatan yang bersifat psikologis di mana ia bereaksi terhadap “life
space” yang mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi. Teori
ini berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan dalam struktur kognitif.
Artinya, apabila seseorang belajar maka akan bertambah pe-ngetahuannya.
Yang lebih berperan penting dalam belajar adalah motivasi dan bukan reward.
Lewin juga lebih setuju dengan penggunaan istilah sukses dan gagal dari pada
reward dan punishment.
Teori schema mengemukakan keberadaan struktur pengetahuan yang
disebut dengan schema atau schemata yang memiliki dua bentuk, yaitu:
berbentuk objek dan berbentuk kejadian. Bentuk yang terakhir secara umum
disebut sebagai script. Meski schemata kadang-kadang menye-babkan kita
salah pengertian atau salah mengingat segala sesuatu, schemata membuat kita
mampu memecahkan masalah secara lebih baik dan sangat membantu dalam
mengkategorisasi, memahami dan mengingat segala hal (Byrnes, 1996: 19-21).
Schema dibentuk melalui se-buah proses abstraksi (Adams dan Hintzman,
dalam Byrnes, 1996: 22). Schema yang sudah terbentuk akan mempengaruhi
apa yang diingat tentang sebuah pengalaman melalui tiga proses, yaitu: (1)
seleksi, di mana seseorang hanya akan mengingat aspek-aspek situasi yang
relevan dengan schema, (2) pengambilan intisari, di mana seseorang akan me-
ngingat aspek-aspek situasi yang penting saja, dan (3) interpretasi, di mana
seseorang akan mengingat aspek-aspek situasi berdasarkan in-terpretasinya.
Schema juga dapat diubah atau dimodifikasi dengan tiga proses, yaitu:
penambahan, pe-nyesuaian, dan restrukturisasi (Ru-melhart, dalam Byrnes,
1996: 23-24). Siswa yang adaptif memperoleh schemata dan memodifikasinya
ber-dasarkan pengalaman.
Teori pemrosesan informasi (information-processing theory) me-rupakan
salah satu teori kognitif tentang belajar yang pertama dan paling berpengaruh
(Eggen dan Kauchak, 1997:239). Teori pemro-sesan informasi adalah teori
kognitif tentang belajar yang menggam-barkan pemrosesan, penyimpanan dan
perolehan pengetahuan oleh pikiran (Byrnes, 1996: 26). Teori yang berakar pada
lapangan Artificial Intelligence (AI) ini merupakan karya dari Alexandra Luria
(1902-1077) (Sukadji, 1998: 3).
Menurut teori ini, belajar adalah menyangkut tentang bagaimana informasi
dari lingkungan dapat disimpan dalam memori. Untuk menggambarkan proses
tersebut digunakan pemodelan. Model proses penyimpanan informasi yang
paling berpengaruh dalam hal ini adalah model yang dikemukakan oleh Atkinson
dan Shiffrin pada tahun 1968. Model tersebut memiliki tiga komponen mayor,
yaitu: penyim-panan informasi (information store), proses kognitif (cognitive
process), dan metakognisi (metakognition) (Eggen dan Kauchak, 1997: 239).
Komponen penyimpanan informasi adalah tempat penyimpanan data yang
digunakan untuk menyimpan informasi, seringkali dianalogikan dengan filing
cabinet, buku alamat, atau harddisc komputer. Dalam model pemrosesan
informasi, tempat penyimpanan informasi pada ma-nusia tersusun dari tiga
storage (penyimpanan). Informasi (yaitu stimulus dari lingkungan) terlebih dahulu
melalui sensory storage, lalu melewati short-term memory (STM) dan pada
akhirnya berakhir dalam long-term memory (LTM). Siegler, seperti yang dikutip
oleh Byrnes (1996: 26) menyatakan bahwa ketiga penyimpanan memori tersebut
di-tandai oleh ciri-ciri struktural seperti seberapa banyak informasi yang disimpan
(kapasitas) dan berapa la-ma informasi tersebut disimpan. Komponen proses
kognitif adalah tindakan intelektual internal yang mentransfer informasi dari satu
tempat penyimpanan ke tempat penyimpanan yang lain. Proses-proses kognitif
yang terlibat dalam pemrosesan informasi tersebut ada-lah perhatian, persepsi,
rehearsal (pengulangan/latihan), encoding (pe-nyandian), dan retrieval (peng-
ungkapan kembali). Komponen me-takognisi yaitu pengetahuan dan kontrol
terhadap proses-proses kog-nitif. Metakognisi mengontrol dan
mengkoordinasikan proses-proses yang mentransfer informasi dari satu tempat
penyimpanan ke tempat penyimpanan lainnya.
3)Teori-teori Konstruktivis tentang Belajar
Paradigma konstruktivis me-mandang ilmu pengetahuan bersifat non-
objective, temporer, dan selalu berubah. Hal ini sesuai dengan pendapat radical
constructivists yang menyatakan bahwa pengetahuan itu terbentuk dalam
struktur kognisi si pemelajar, bukan berada secara terpisah di luar diri si
pemelajar. Oleh karena itu, belajar menurut kon-struktivis dapat dirumuskan
sebagai penyusunan pengetahuan dari pe-ngalaman kongkrit, melalui aktivitas
kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Aktivitas yang demikian memung-kinkan si
pemelajar memiliki pe-mahaman yang berbeda terhadap pengetahuan
tergantung pada pe-ngalamannya dan perspektif yang dipakai dalam
menginterpretasikan-nya. Tujuan belajar adalah pe-mahaman yang mendalam,
bukan perilaku imitatif (Brooks & Brooks, 1993: 16).
Karenanya, pembelajaran me-rupakan aktivitas pengaturan ling-kungan
agar terjadi proses belajar, yaitu interaksi si pemelajar dengan lingkungannya.
Menurut Wilson, se-perti yang dikutip oleh Nyoman S. Degeng (1998: 129), inti
dari kegiatan pembelajaran dalam perspektif kon-struktivis adalah penataan
lingkungan belajar. Lingkungan belajar berarti tempat di mana si pemelajar dapat
bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain, sebagaimana mereka
menggunakan berbagai sarana dan sumber informasi dalam mencapai tujuan
belajar dan aktivitas pe-mecahan masalah. Sedangkan tujuan pembelajaran
menurut konstruktivis adalah menanamkan pada diri si pemelajar rasa tanggung
jawab dan kemandirian, mampu mengembang-kan studi, penyelidikan dan pe-
mecahan masalah nyata, keber-maknaan dan berdasarkan situasi nyata, dan
menggunakan aktivitas belajar dinamik yang dapat me-ningkat pada level
operasi tingkat tinggi.
Menurut Eggen dan Kauchak (1997: 275-278), ada empat ciri teori
konstriktivis, yaitu: (1) dalam proses belajar, individu mengembangkan
pemahaman sendiri, bukan me-nerima pemahaman dari orang lain; (2) proses
belajar sangat tergantung pada pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya; (3)
belajar difasilitasi oleh interaksi sosial; dan (4) belajar yang bermakna
(meaningful learning) timbul dalam tugas-tugas belajar yang otentik.
Dari berbagai pandangan kon-struktivis yang ada, ada dua pandangan yang
mendominasi, yaitu individual cognitive constructivist dan sociocultural
constructivist. Teori individual cognitive constructivist dikemukakan oleh Jean
Piaget (1977). Moshman Fowler, seperti yang dikutip oleh Eggen dan Kauchak
(1997: 277), menyatakan bahwa teori ini berfokus pada konstruksi internal
individu terhadap pengetahuan. Pe-ngetahuan tidak berasal dari ling-kungan
sosial, akan tetapi interaksi sosial penting sebagai stimulus terjadinya konflik
kognitif internal pada individu. Cognitive constructivist menekankan pada
aktivitas belajar yang ditentukan oleh pemelajar dan berorientasi pada
penemuan sendiri. Misalnya, guru matematika yang menggunakan perspektif ini
akan berpandangan bahwa anak akan belajar fakta matematika lebih efektif jika
mereka menemukan fakta tersebut sendiri atas dasar apa yang telah mereka
ketahui, dibandingkan jika fakta tersebut disajikan oleh guru. Dengan demikian,
belajar merupakan proses reorganisasi kognitif secara aktif (Duffy dan
Cunningham, dalam Jonnasen, 1996: 184).
Untuk menggambarkan penge-tahuan, Piaget menggunakan salah satu dari
tiga istilah yaitu: scheme, konsep dan struktur. Sebuah scheme dapat berbentuk
fisik atau mental dan bisa digambarkan sebagai tindakan atau proses yang
digunakan secara berulang-ulang oleh seorang anak untuk mencapai tujuan atau
me-ngatasi masalah. Berbeda dengan scheme, konsep bukan merupakan
prosedur yang diarahkan pada tujuan tapi lebih sebagai bentuk pema-haman
yang meliputi hubungan diantara hal-hal atau aspek-aspek dari hal-hal itu.
Misalnya, konsep waktu meliputi hubungan antara kecepatan dan jarak. Konsep
hanya dimiliki oleh anak-anak yang sudah cukup besar dan orang dewasa dan
dibentuk dengan cara abstraksi terhadap objek dan situasi yang berbeda-beda.
Struktur adalah se-suatu yang memiliki bentuk dan isi. Bentuk struktur
pengetahuan me-rupakan organisasi ide-ide.
Teori ini juga mengemukakan tahap-tahap perkembangan kognitif serta
pertambahan umur yang mem-pengaruhi kemampuan belajar in-dividu. Menurut
Piaget, perkem-bangaan kapasitas mental mem-berikan kemampuan-
kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Dalam hal ini,
perkembangan kognitif manusia melalui 4 (empat) tahap, yaitu: (1) tahap sensori
motoris (0 – 2 tahun), di mana anak belum mempunyai konsepsi tentang objek
secara tetap. Ia hanya dapat me-ngetahui hal-hal yang ditangkap melalui
indranya; (2) tahap pre-operasional (2 – 7 tahun), di mana anak mulai timbul
perkembangan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat
dijumpai; (3) tahap operasional kongkrit (7 – 11 tahun), di mana anak telah
dapat berpikir kongkrit; dan (4) tahap operasional formal (11 – 15 tahun), di
mana anak telah mempunyai pe-mikiran abstrak terhadap bentuk-bentuk yang
kompleks.
Teori sociocultural construc-tivist dikemukakan oleh Lev Vygot-sky. Teori ini
berpandangan bahwa pengetahuan berada dalam konteks sosial, karenanya
ditekankan pen-tingnya bahasa dalam belajar yang timbul dalam situasi-situasi
sosial yang berorientasi pada aktivitas (Eggen dan Kauchak, 1997: 54). Menurut
Vygotsky, anak-anak hanya dapat belajar dengan cara terlibat langsung dalam
aktivitas-aktivitas bermakna dengan orang-orang yang lebih pandai. Dengan
berinteraksi dengan orang lain, anak mem-perbaiki pemahaman dan pe-
ngetahuan mereka dan membantu membentuk pemahaman tentang orang lain.
Strategi-strategi pem-belajaran yang didasarkan pada teori Vygotsky ini
menempatkan pemelajar dalam situasi di mana bahan pelajaran yang diberikan
berada dalam jangkauan perkembangan mereka.
Berkaitan dengan ini, Vygotsky mengemukakan sebuah konsep yang
disebut Zone of Proximal Deve-lopment (ZPD), yaitu level kecakapan melebihi
apa yang dapat dilakukan sendiri oleh anak didik dan me-nunjukkan rentang
tugas belajar yang dapat dikerjakan jika dibantu oleh orang dewasa atau teman
sebaya yang berkompeten. Di bawah zona tersebut anak didik dapat me-
laksanakan tugas-tugas tanpa ban-tuan, dalam zona tersebut bantuan tambahan
diperlukan untuk me-laksanakan tugas-tugas dengan berhasil, di atas zona
tersebut meski bantuan tambahan telah diberikan tetap tidak akan berhasil. Zona
tersebut menunjukkan rentang tugas di mana seorang guru dapat mem-bantu
perkembangan anak didik secara produktif.
1. b.Jelaskan beberapa definisi pembelajaran dan konsep pokok yang terkandung
di dalamnya.
Istilah pembelajaran berasal dari bahasa Inggris “instruction” yang dimaknai
sebagai usaha yang bertujuan membantu orang belajar. Menurut Miarso (2004:
545), pem-belajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan
terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap
pada diri orang lain. Smith dan Ragan (1993: 4) menyatakan bahwa pembe-
lajaran adalah desain dan pengem-bangan penyajian informasi dan aktivitas-
aktivitas yang diarahkan pa-da hasil belajar tertentu. Walter Dick (dalam Duffy
dan Jonnasen (Eds), 1992: 96-97) mendefinisikan pembe-lajaran sebagai
intervensi pendidikan yang dilaksanakan dengan tujuan tertentu, bahan atau
prosedur yang ditargetkan pada pencapaian tujuan tersebut, dan pengukuran
yang me-nentukan perubahan yang diinginkan pada perilaku. Dengan
membanding-kannya dengan istilah kurikulum, Snelbecker, seperti yang dikutip
oleh Reigeluth (1983: 81), menyatakan bahwa perbedaan utama antara
kurikulum dan pembelajaran adalah bahwa kurikulum berkaitan dengan apa
yang diajarkan sedang pembe-lajaran berkaitan dengan bagaimana
mengajarkannya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa makna pembelajaran bukan
menitik-beratkan pada “apa yang dipelajari”, melainkan pada “bagaimana mem-
buat pemelajar mengalami proses be-lajar”, yaitu cara-cara yang dilakukan untuk
mencapai tujuan yang berkait-an dengan cara pengorganisasian materi, cara
penyampaian pelajaran, dan cara mengelola pembelajaran.
1.c. Jelaskan kaitan belajar dan pembelajaran dalam konteks teknologi
pembelajaran
Teori pembelajaran bersifat preskriptif , dibandingkan teori –teori belajar yang
menggunakan pendekatan deskriptif Bruner (1964, dalam Miarso, 1988, hlm
12)
Landa 1983 (dalam Miarso 1988, hlm 13) mempertegas pendapat Bruner,
teori preskriptif merupakan serangkaian proposisi yang menunjukkan kepada
kita apa yang perlu dilakukan terhadap sesuatu gejala.
Proposisi teori preskriptif :
“Agar supaya ... Lakukan ini (Agar supaya diperoleh A dalam kondisi B
lakukan C)
Proposisi teori deskriptif adalah:
“Bila seorang siswa telah dapat merumuskan suatu pernyataan dengan
menggunakan kata-kata sendiri, maka ia telah memahaminya dengan benar”.
Tidak boleh:
“Agar siswa memahami suatu pernyataan, maka ia harusdapat merumuskan
pernyataan itu kembali dalam kata-kata sendiri. Konversi ini salah karena
menyatakan kembali bukan satu-satunya kondisi untuk memahami (Landa,
1983, hlm 59-60)
Menurut Reigeluth berpendapat bahwa pembelajaran sebaiknya didasarkan
pada teori-teori pembelajaran yang bersifat preskreptif, yaitu teori yang
memberikan resep untuk mengatasi masalah belajar.
1. d. Jelaskan Rasionnal dan pemikiran pokok penggunaan pendekatan
konstruktivistik dalam pembelajaran
• Teori Konstruktivisme merupakan teori tentang cara pembelajaran
manusia yang diperkenalkan oleh ahli psikologi Jean Piaget pada abad
ke-20.
• Konstruktivisme adalah teori tentang pengetahuan dan belajar.yang
menggambarkan apa itu ‘pengetahuan’ dan bagaimana proses ‘tahu’
terjadi.
• Adalah suatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan
adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri.
• Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan
seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang
diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
• Pengetahuan merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar.
• Pengetahuan bukan kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang
dipelajari, tetapi merupakan konstruksi kognitif seseorang terhadap objek,
pengalaman, maupun lingkungannya.
• Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada dan orang tinggal
mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan secara terus menerus
dari seseorang yang secara berkala mengadakan reorganisasi karena
munculnya pemahaman baru.
Konteks digunakannya konstrutivis
Konstruktivisme digunakan dalam konteks pembentukan pengetahuan, nilai,
dan sikap oleh siswa, terutama dilihat dari dimensi “aktif atau proses” yakni
bagaimana pengetahuan, nilai, dan sikap dibangun atau dikonstruksi oleh
siswa
Apabila seseorang mengalami sesuatu fenomena baru, seseorang itu
perlu menilai fenomena itu berdasarkan ide serta pengalamannya.
Penilaian berupaya mengubah persepsi dan pemahaman kita ataupun
berupaya mengabaikan pengetahuan baru itu sebagai sesuatu yang tidak
relevan.
Dengan kata lain, seorang individu itulah yang menjadi pembina
pengetahuan yang sedang ditimba.
Dalam proses pembinaan pengetahuan tersebut, seorang individu perlu
bertanya dan mengungkapkan persoalan-persoalan mereka dan menilai
apa saja yang diketahui
Konstruktivisme menyatakan bahwa manusia dapat mengetahui sesuatu
dengan inderanya.
Dengan berinteraksi terhadap lingkungannya melalui proses melihat,
mendengar, menjamah, mencium dan merasakan, orang dapat
mengetahui sesuatu.
Misalnya: dengan mengamati air, bermain dengan air, mengoperasikan
air, orang membentuk pengetahuan akan air.
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran
seseorang yang mempunyai pengetahuan (guru) ke pikiran orang yang
belum punya pengetahuan (siswa)
Bila guru bermaksud mentransfer konsep, ide dan pengertiannya kepada
siswa, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh
siswa dengan pengalaman mereka.
2.a. Uraikan difinisi dan karakteristik tradisi penelitian kualitatif menurut creswell
Definisi penelitian kualitatif menurut Cresswell adalah jenis penelitian pendidikan
dimana peneliti bergantung pada pandangan partisipan, bertanya pada anggota,
pertanyaan umum, dan megoleksi mengumpulkan data dalam bentuk kata2 yang
diambil dari partisipan, menggambarkan dan menganalisis kata2 sesuai dengan
tema, dan melaksanakan penelitian secara subyektif dengan memasukan bias
(dipengaruhi oleh factor lain)
Karakteristik adalah :
- Untuk mengetahui secara individu untuk memberi phenomena secara
induktif
- Penggunaan litarur berperan minor/kurang dan menjustifikasi problem
- Insitas penelitian dipusatkan pada pertanyaan2 open ended
- Mengerti kompleksitas dari ide2 tuggal
2.b. Jelaskan 5 jenis penelitian kualitatif menurut creswell dan fokus penelitian
yang mungkin dicapai dari masing-masing jenis penelitian tersebut
Jenis-jenis penelitian :
1. Penelitian Biography
Biografi adalah metode berbentuk sebgai kajian yang menggunakan dan
mengumpulkan dukumen-dukumen pribadi yang menggambarkan
kejadian-kejadian yang dialami orang selama hidupnya
Berfokus: pada pencaritahuan kehidupan seseorang
2. Penelitian studi gejala
Mengeksplorasi susunan kesadaran yang menjadi pengalaman manusia
Berfokus : pada pengalaman2 dari gejala2
3. Penelitian grounded theory
Untuk menemukan sebuah theory, analisis abstrak dari skema
phenomena dari situasi tertentu
Berfokus : pada pengembangan teori2 dasar secara langsung dari
lapangan
4. Penelelitian ethnography
Berfokus pada prosedur penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan ,
menganalisis, dan menginterpretasikan pola2 perilaku kepercayaan dan
bahasa yang berkembang pada kelaompok budaya yang diteliti
5. Penelitian studi kasus
Sebuah eksplorasi dari suatu system atau sebuah kasus/multi kasus yang
terjadi pada suatu waktu yang diugkpa secara detail, mendalam dalam
mengoleksi data yang melibatkan berbagai sumber informasi yang
diperluas dalam sebuah konteks
Berfokus : pada satu kasus atau beberapa kasus yang mendalam
3. Konsep TP terkini
a. Dalam konsep TP terkini istilah study cenderung digunakan dari pada
research. Jelaskan alasan yang mendasari pokok pikiran tersebut:
Istilah studi berbeda dengan riset. Dalam buku Januszewski dan Molenda
(2008). Study didefiinikan sebagai upaya pengumpulan dan analisis
informasi selain dari konsepsi penelitian tradisional. Studi membutuhkan
bangunan pengetahuan yang dilakukan secara kontinyu melalui penelitian
dan praktek reflektif; melibatkan penelitian kuantitatif dan kualitatif, juga
bentuk-bentuk pencarian disiplin lain, seperti analisis filosofis dan teoritis,
investigasi historis, proyek pengembangan, analisis kesalahan, analisis
sistem dan evaluasi. Sedangkan penelitian merupakan investigasi yang
dilakukan berdasarkan bangaunan metodologi dan berbagai bangunan teori
yangketat. Penelitian dalam TP berkembang dari upaya invesitgasi untuk
membuktikan bahwa media dan teknologi adalah peralatan nyang efektif
dalam pembelajaran dan menguji aplikasi yang sesuai dan teknologi untuk
perbaikan pembelajaran. Penelitian mencoba untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan dengan mencari solusi serta upaya-upaya yang
dilakukan untuk pembeharuan-pembaharuan praktek.
Dalam TP yang lebih dipentingkan adalah prinsip kemanfaatan. Dalam
kaitan ini studi lebih memberikan kemanfaatan karena lebih banyak
merefleksi untuk perbiakn dari pada penelitian yang hanya bersifat
pembuktian yang kadang tidak ada tindak lanjut.
b. Jelaskakn istilah perbaikan kinerja (performance improvement) dalam
konsep TP.
Perbaikan kinerja dalam TP berbeda dengan perbaikan kinerja dalam teori
manajemen bisnis. Dalam perspektif manajemen biasanya orang
memandang perbaikan kinerja sebagai proses menggunakan semua
peralatan yang tersedia untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kinerja.
Dalam organisasi perbaikan kinerja ini mencakup mengintervensi seperti
seleksi personalia, program insentif dan perancangan kembali organisasi
dalam kaitannya dengan pelatihan-pelatihan; sedangkan perbaikan kinerja
dalam TP terkait dengan intervensi berkaitan dengan bagaimana
meningkatkan kinerja dalam melalui proses belajar. Oleh karena itu
perbaikan kinerja dalam TP hanya berhubungan dengan berbagai cara
dimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk intervensi dalam memperbaiki
kinerja manusia melalui proses belajar.
c. Jelaskan sistem konsep dengan sistemik dalam disain pengembangan
program pembelajaran dan berikan contohnya.
Pada dasarnya kedua istilah sistemik dan sistematik mempunyai akar kata
yang sama yakni sistem. Namun kedua kata tersebut mempunyai maksud
dan tujuan yang berbeda dalam penggunaanya. Dari kata ini muncul
beberapa istilah seperti Pendekatan Sistem (systems approach), systemic
reform, systems thinking, dsb. Pada mulanya istilah sistematic approaches,
pendekatan sistem, yang diangkat dari istilah systems engineering,
rekayasa sistem, diterjemahkan ke dalam Instructional Systems Design
(ISD), dalam aplikasi dunia militer. Pada waktu yang sama teori sistem
secara umum muncul tanpa ada hubungan sama sekali dengan ISD.
Pada tahun 1950an dan 1960an ada penyatuan dari berbagai disiplin
ilmu yang dapat digolongkan dalam satu topik umum ”systems Thinking”
termasuk dalam bidang biologi, teori informasi, dan teori komunikasi. Istilah
systemic selalu berhubungan dengan pandangan linear dan model
bagaimana melakukan sesuatu yang dapat digeneralisasi. Sebaliknya istilah
systemic merujuk pada persepsi umum dari suatu masalah dan
pemahaman terhadap saling berhubungan dan interkoneksitas. Kedua
istilah systemic dan systematic digunakan dalam mendifinisikan desain dan
teknologi pembelajaran.
Disain sistem pembelajaran menekankan pada pendekatan sistem
yang menerima adanya saling keterkaitan dari bagian-bagian tetapi terfokus
pada konsep seperti input, output, feedback, dan proses. Perspektif
sistemik dalam disain pembelajaran secara tradisional hanya terbatas pada
feedback melalui analisis dan evaluasi kebutuhan. Namun, secara tegas
merepresentasi berbagai model yang dilakukan secara bertahap, tahap
demi tahap.
Mendefinisikan systemic sedikit lebih sulit dari pada systematic,
tetapi istilah ini mencakup seluruh perangkat nilai dan teori. Boulding
(1985) memberi definisi paling luas ttg sistem, yaitu sesuatu yang tidak
kacau. Sedangkan Carr memberi definsi sistem sebagai struktur yang
memperlihatkan pola dan keteraturan. Penting juga untuk dipahami
mengenai dasar-dasar teori sistem; Teori sistem fisika seperti cuaca, sistem
fisik yang dirancang seperti jembatan, sistem aktivitas manusia seperti
sekolah merupakan contoh perbedaan jenis sistem. Kecenderungan sistem
sosial mencakup keterpaduan, saling berhungan, pembaruan diri, dan
saling ketergantungan. Kecenderungan ini menyebabkan terjadinya
perubahan sistem termasuk dalam menekankan pandangan umum tentang
sekolah. Misalnya, ketika satu perubahan dalam suatu sistem, maka akan
berdampak pada terjadinya perubahan pada bagian lain dari subsistem
yang menyebabkan terjadi perubahan yang tidak dapat diprediksi.
Perubahan sistem dalam pendidikan berdasarkan pada pemikiran
sistem yang yang lebih fokus pada teori sistem umum dari pada tradisi
perekayasaan sistem. Aplikasi pandangan berpikir holistik dalam desain
sistem pendidikan yakni menciptakan sistem baru dalam membelajarkan
manusia merupakan fokus peneliti dalam bidang perubahan sistem. Dalam
kebanyakan faham dari para disigner, disain adalah urutan rapi (apik) dari
berbagai aktivitas. Disain seperti inilah yang dimaksud dengan sistematik.
Pendekatan sistematik sangat menghambat disain jika digunakan pada
konteks yang bukan pada perekasaan. Disarankan bahwa model disain
sistem tidak linear, tidak berurutan, dan tidak sistematik. Disain
menunjukkan interaksi dinamik antara feedback dan feedforward, refleksi
dan kreasi, dan divergen dan konvergen. Hal ini penting untuk diketahui
untuk membedakan antara sistematik dan sistemik.
Bagan sistem pengembangan instruksional
Disain Penang
Adopsi Produ anan Pemero
ksi inform lehan &
Analisis asi alokasi
Kebutu
sumber
han
Evalua
Komunikasi orang
si
Pelaks fasilitas
prototi manaje
anaan Instala
pe men
si
Contoh:
4. a.Uraikan latar belakang digunakan PBL dalam aktivitas pembelajaran .
Berikan contoh sesuai konteks tugas anda:
-Paradigma guru menjadi pusat dalam pembelajaran berubah siswa
menjadi pusat dalam sistem pembelajaran.
-Siswa adalah individu yang selalu ingin tahuperlu difasilitasi lewat
lingkungan yang kondusif.
-Pembelajaran individualistik/ kompetitif berubah menjadi kooperatif.
-Dibutuhkan kemampuan siswa pada saat ini untuk memecahkan
persoalan-persoalan dalam kehidupan.
Contoh: Sesuai bidang tugas masing-masing
b. Jelaskan langkah-langkah pendekatan PBL dalam sistem pembelajaran:
-Siswa dihadapkan pada satu masalah
-Siswa melaksanakan diskusi kelompok atas masalah yang disampaikan
-Guru bertindak sebagai fasilitator dalam diskusi tersebut
-Siswa memunculkan pemecahan masalah
-Hasil diskusi kelompok dipresentasikan di dalam kelas
-Kelompok lain memberi tanggapan atas hasil presentasi siswa dari
kelompok lain tersebut.
-Guru memberi masukan dan tanggapan terhadap hasil presentasi dan
diskusi siswa
-Dari hasil diskusi, siswa membuat kesimpulan pemecahan masalah.
-Akhir dari PBL adalah setiap siswa membuat laporannya.
5. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Disiplin dan kemukakan
perbedaan pokok pemikiran mengenai organisasi belajar menurut P
Senge dan Marquardt.
Peter Senge mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin
untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang
dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:
1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)
Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena
senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling
berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu
organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan,
dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling
mempengaruhi dan membentuk sinergi.
2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)
Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan
sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara
optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain
menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami
visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan kesabaran, dan
memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa
seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi
setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya.
Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan
untuk organisasi belajar.
3) Pola Mental (Mental Models)
Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang
dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari
apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental
yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap
orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran
internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan
mengambil keputusan yang sesuai.
4) Visi Bersama (Shared Vision)
Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan
identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam
suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan
keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan
bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam
organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.
5) Belajar Beregu (Team Learning)
Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan
menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan
masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang
memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung
kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing
anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena - regu
bukan perorangan - merupakan unit belajar utama dalam organisasi.
Marquardt menjelaskan Disiplin sebagai berikut:
Terdapat enam disiplin kunci dalam organisasi belajar yang mencakup
penguasan pribadi, visi bersama, model mental, belajar beregu, berpikir sistem
seperti telah dijelaskan oleh Peter Senge dan ditambah satu yakni dialog.
Perbedaan ciri-ciri organisasi belajar menurut Peter Senge (2000), M.J.
Marquardt (1996).
Peter Senge:
1. Pembahasan tentang organisasi belajar lebih bersifat teoretis dan
mengandung hal-hal yang masih umum.
2. Organisasi belajar yang dikembangkan menekankan pada apa yang
harus dimiliki oleh organisasi yang belajar.
3. Terdapat lima disiplin kunci dalam organisasi belajar yang mencakup
penguasan pribadi, visi bersama, model mental, belajar beregu, dan
berpikir sistem.
4. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar atau belajar aksi, orang
belajar melalui lingkaran belajar yang dimulai dengan kegiatan
observasi, refleksi, memutuskan, dan melakukan. Pada tataran refleksi,
terjadi lompatan ganda (double-loop) jika tidak menemukan sesuatu
sesuai dengan harapan.
Marquardt:
1. Pembahasan tentang Learning organization lebih bersifat praktis dan
terapan karena telah mengimplementasikan sampai pada level, jenis,
dan keterampilan subsistem yang lebih detail.
2. Organisasi belajar yang dikembangkan memberi penekanan pada
bagaimana organisasi itu belajar.
3. Terdapat enam disiplin kunci dalam organisasi belajar yang mencakup
penguasan pribadi, visi bersama, model mental, belajar beregu,
berpikir sistem seperti telah dijelaskan oleh Peter Senge dan ditambah
satu yakni dialog.
4. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar atau belajar aksi, orang
belajar melalui tahapan belajar yang dimulai dengan kegiatan
perencanaan, penerapan, dan refleksi.
5.b. Jelaskan perbedaan dan keterkaitan belajar individual dan organisasi
dalam konteks organisasi belajar dan sebutkan contohnya
Tingkatan Belajar
Belajar Individu;
Pada hakikatnya setiap individu melakukan belajar pada setiap aktivitasnya.
Oleh karena itu belajar pada level individu dibutuhkan kapan dan dimana
saja. Individu melakukan belajar untuk menjawab kebutuhan yang
dihadapinya.
Contohnya:
1. Pada Organisasi Sekolah, setiap individu baik pemelajar dan pebelajar
harus melakukan belajar setiap saat, baik untuk meningkatkan kapasitas
maupun mengembangkan keilmuannya
2. Pada Perusahaan bisnis, setiap karyawan yang diberikan tugas baik
tugas baru maupun tugas lama, karyawan harus belajar untuk
melakukan yang terbaik. Tetapi yang perlu ditekankan adalah berpikir
sistem. Keterkaitan semua sistem dalam organisasi tersebut.
Belajar Organisasi;
Karena organisasi belajar di samping memberdayakan orang-orang yang
ada dalam organisasi, juga mengintegrasi gagasan kualitas dengan kualitas
kerja, menciptakan ruangan yang bebas untuk belajar, meningkatkan
kolaborasi dan membagi keuntungan, mengembangkan penelitian, dan
menciptakan kesempatan belajar secara terus menerus. Belajar dalam
organisasi belajar mengubah persepsi, perilaku, kepercayaan, model
mental, strategi, kebijakan, dan prosedur tidak hanya pada orang, tetapi
juga organisasi.
Contohnya:
1. Seluruh Komponen Organisasi harus melakukan belajar, baik
Transformasi Organisasi meliputi Visi, orang, budaya, strategi, dan
struktur. Organisasi harus belajar secara komprehensif dan secara
berkelanjutan. Pada Sekolah; Seluruh komponen sekolah baik Orang,
Budaya, Strategi, Struktur dan semuanya harus melakukan belajar.