ّر ْم ّر م
ِ بِسْــمِ اهللِ ال َح َنِ ال َحِيْــ
AMANAH
Amanah adalah sifat mulia yang -amat disayangkan-
sebagian besar kaum muslimin kehilangan sifat mulia
ini.[1] Padahal AllahSubhanahu wa Ta’ala dan
RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan
kepada setiap muslim untuk menunaikan amanah. Juga
menjelaskan akibat buruk dari mengabaikan dan melalaikan
amanah ini. Hal ini terjadi karena banyak sebab. Dan sebab
utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan
meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kejahilan
(kebodohan).[2]
Kebodohan seorang muslim terhadap pentingnya masalah
amanah, telah membuatnya meninggalkan satu perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat agung ini, sekaligus ia
telah bermaksiat karena meninggalkan satu perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bahkan ia akan berdosa besar
jika ia telah mengetahui hukumnya sedangkan ia tetap menyia-
nyiakan amanah.
Oleh karena itu, marilah kita -sebagai seorang muslim-
senantiasa berusaha keras dan sungguh-sungguh mengangkat
kajahilan dari diri kita dengan menuntut ilmu syar’i secara umum,
dan memahami urgensi amanah ini secara khusus, lalu
mengamalkannya. Serta tetap terus memohon dan berdoa
kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaagar kita semua senantisa
diberikan tawfiq, hidayah, dan segala kemudahan dalam
menuntut ilmu syar’i dan memahaminya, serta merealisasikan
syariat Islam yang sempurna dan mulia ini dalam keseharian
hidup kita.
MAKNA AMANAH
Al Imam Ibnu al Atsir -rahimahullah- berkata, “…Amanah
(bisa bermakna) ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan
(jaminan) keamanan…”.[3]
Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- juga membawakan beberapa
perkataan dari shahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini,
ketika beliau menafsirkan ayat ke-72 dalam surat al Ahzab, yaitu
bermakna: ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah)
agama, dan batasan-batasan hukum.[4]
Asy Syaikh al Mubarakfuri -rahimahullah- berkata, “(Amanah)
adalah segala sesuatu yang mewajibkanmu untuk
menunaikannya”.[5]
Asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah-
berkata, “Yang dimaksud dengan amanah adalah kepercayaan
orang berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa
shalat, puasa, zakat dan yang semisalnya, menjaga kemaluan
dari hal-hal yang haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari
segala perbuatan dosa”.[6]
Dan asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali -hafizhahullah- menjelaskan
dan berkata, “Amanah adalah sebuah perintah menyeluruh dan
mencakup segala hal yang berkaitan dengan perkara-perkara
yang dengannya seseorang terbebani (untuk menunaikannya),
atau ia dipercaya dengannya. (Sehingga amanah ini) meliputi dan
mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti
perintah-perintahNya yang wajib. Juga meliputi hak-hak orang
lain, seperti barang-barang titipan (yang harus ditunaikan dan
disampaikan kepada si pemiliknya, Pen). Sehingga, sudah
semestinya seorang (yang dibebani amanah ini) menunaikan
amanah dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikannya
kepada pemiliknya. Ia tidak boleh menyembunyikan,
mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin
yangsyar’i.[7]
Dan asy Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu asy Syaikh -
hafizhahullah- juga menjelaskan dan berkata, “Para ulama telah
berkata, hal-hal yang termasuk amanah sangatlah banyak.
Kaidah dan dasar hukumnya adalah segala sesuatu yang
seseorang terbebani dengannya, dan hak-hak yang telah
diperintah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memelihara
dan menunaikannya, baik (sesuatu tersebut) berkaitan dengan
agama, jiwa manusia, akal, harta, dan kehormatan (harga diri).[8]
DALIL-DALIL DARI AL QUR’AN, AS SUNNAH DAN
PENJELASAN PARA ULAMA YANG BERKAITAN DENGAN
AMANAH DAN KETERANGAN WAJIBNYA MENUNAIKAN
AMANAH, SERTA AKIBAT BURUK DARI MENYIA-NYIAKAN
DAN MELALAIKAN AMANAH
Terdapat beberapa ayat maupun hadits shahih yang
menerangkan urgensi amanah dan wajibnya setiap muslim untuk
menunaikan amanah ini.
Di antara ayat-ayat al Qur’an yang menjelaskan hal itu
adalah:
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat an Nisa, ayat
ke-58:
ِّن ّه َ ُرك أ ت ّد َ ن ِل َ ْله
…إ َ الل َ يأْم ُ ُمْ َّن ُؤ ُواْ األمَا َاتِ إ َى أه ِ َا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya…”.
Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,[9] “Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah mengkhabarkan bahwa sesungguhnya Ia
memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada
pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah,
sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َك َ ُ َّد َ َ ِل َن َ َك و ت
))َ ((أ ِ األمَانةَ إ َى م ِ ائْـتمَن َ، َالَ َخنْ منْ خَان
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya
(untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati
orang yang telah mengkhianatimu.”
Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan.[10] Dan ini
mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh
seorang (yang terbebani dengannya). Baik (amanah itu) berupa
hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan) shalat,
zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani
dengannya dan tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya.
Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-
barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling
mempercayai satu orang dengan yang lainnya tanpa ada bukti
atasnya. Maka, Allah‘Azza wa Jalla telah memerintahkannya
untuk menunaikannya. Dan barang siapa yang tidak
menunaikannya, akan diambil darinya pada hari kiamat
kelak”.[11]
2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al Anfal, ayat
ke-27:
ي أيه َذ من َ تخ ن ّه َس ل تخ ن َ تك وأ ت ت ْ َم ّن
َ َا َ ُ َا ال ِينَ آ َ ُواْ ال َ ُو ُواْ الل َ وَالر ُو َ وَ َ ُو ُواْ أمَانَا ِ ُمْ ََن ُمْ َعل ُو
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah
dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui.”
Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “…Dan khianat
mencakup seluruh perbuatan dosa, baik yang kecil maupun yang
besar, dan baik (dosanya) terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain. Dan Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu
‘Abbas, (tentang firmanNya): ), amanah adalah
seluruh perbuatan yang telah Allah bebankan kepada hamba-
hambaNya (agar mereka menunaikannya, Pen), yaitu kewajiban-
kewajiban. Dan maksud “janganlah kamu mengkhianati amanat-
amanat” adalah janganlah kamu menggugurkannya. Dan dalam
sebuah riwayat, maksud firmanNya: ), berkata
‘Ibnu Abbas, (janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul)
dengan cara meninggalkan sunnahnya dan melakukan maksiat
kepadanya”.[12]
3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al Ahzab, ayat
ke-72:
ل َأب ْن ي ْ ِ ه وَ ْن م ه و َ َله َ و ت و أل ض ن ع ن َ َة َل
إِ َا َرَضْ َا األمَان َ ع َى الّسمَا َا ِ َا َرْ ِ وَالْجِبَا ِ ف َ َـي َ أَّن َحملْنَ َا َأشْـفَق َ ِنْ َا َحم َ َا
ه ال إل ّس ّن َه ك ّن َل
ً ا ِن َا ُ إِن ُ َا َ ظُوماً جَ ُو
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,
dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zhalim dan amat bodoh”.
Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah-, setelah membawakan
beberapa perkataan dari shahabat dan tabi’in tentang makna
amanah ini, beliau berkata, “Seluruh perkataan ini, tidak ada
pertentangan sesamanya. Bahkan seluruhnya bermakna sama
dan kembali kepada satu makna, (yaitu) pembebanan,
penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan
syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya,
maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-nyiakannya,
maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima
amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim.
Kecuali orang yang diberi tawfiq oleh Allah, dan Allah-lah tempat
memohon pertolongan”.[13]
4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al Mu’minun,
ayat ke-8, atau surat al Ma’arij, ayat ke-32:
َ وَال ِي َ ُمْ أل َـا َـاتِ ِمْ و َـهْـد ِمْ َا ُو
َذ ن ه َم ن ه َع ِه ر ع ّن
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya”.
Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,[14] “Maksudnya,
apabila mereka dipercaya (dalam suatu urusan), mereka tidak
berkhianat. Dan apabila mereka mengadakan perjanjian, mereka
tidak menyelisihinya. Dan inilah sifat-sifat orang-orang yang
beriman. Dan kebalikan dari ini, adalah sifat-sifat orang-
orang munafiq. Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih,
(Tanda orang munafiq ada tiga; apabila berbicara ia berdusta;
apabila berjanji ia menyelisihi janjinya; dan apabila diberi amanah
(kepercayaan) ia berkhianat). Dalam sebuah riwayat, (apabila
berbicara ia berdusta; apabila berjanji ia menyelisihi janjinya; dan
apabila bertengkar ia berbuat curang)”.[15]
5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al Baqarah,
ayat ke-283:
ت ِ َم ن َ ُ َ ي ت ق ّ ب ه َ ي َ ِ لذ
…ُ …فلْـ ُـؤّد اَ ِي اؤْ ُـمنَ أ َـا َـته ولْـ َـ َـ ِ اللهَ رَ َـ
“…Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya
(hutangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah
Tuhannya…”.
Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengan amanah
dan keterangan wajibnya menunaikan amanah, serta akibat
buruk dari menyia-nyiakan dan melalaikan amanah, di
antaranya adalah:
1. Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, yang menjelaskan
wajibnya menunaikan amanah kepada pemiliknya, beliau
berkata:
َك َ ُ َ ن َ ق ل س ل صّل هلل ع ْه سّلم َّد َ ن ِل
.))َ َا َ رَ ُوْ ُ اهللِ ََى ا ُ َّلَي ِ وَ ََ َ: ((أ ِ األمَا َـةَ إ َى منِ ائْـتمَ َكَ، وَالَ تَـخنْ منْ خَان
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah
amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk
menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang
yang telah mengkhianatimu.”[16]
Berkaitan dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits ini untuk menunaikan amanah, Asy Syaikh al
Mubarakfuri -rahimahullah- berkata, “Dan perintah (di dalam
hadits ini) menunjukkan wajibnya hal tersebut”.[17]
Yakni, wajibnya seseorang menunaikan amanah. Dan berdosa
besarnya seseorang yang berkhianat, menyia-nyiakan dan
melalaikan amanah.
Sehingga, al Imam ad Dzahabi -rahimahullah- pun
mengkategorikan perbuatan khianat ini ke dalam perbuatan dosa
besar. Beliau berkata, “Dan khianat sangat buruk dalam segala
hal, sebagiannya lebih buruk dari sebagian yang lainnya. Dan
tidaklah orang yang mengkhianatimu dengan sedikit uang, seperti
orang yang mengkhianatimu pada keluargamu, hartamu, dan ia
pun melakukan dosa-dosa besar (lainnya)”.[18]
2. Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- pula, yang
menjelaskan bahwa salah satu tanda hari kiamat adalah apabila
amanah telah disia-siakan, beliau berkata:
َم ن ِّي صّل هلل ع ْه سّلم ف م ِس ي ّدث ق ج َه أ ْ ِّي فق ل ت س َة
بَيْن َا ال َـب ُ ََى ا ُ َّلَي ِ وَ ََ َ ِّي َجّْل ٍ ُحَ ِ ُ ال َوْمَ، َاء ُ َعّرَاب ٌ، َ َا َ: مَ َى ال َاع ُ؟
َمض س ل هلل صّل هلل ع ْه سّلم ي ّدث فق ل َ ض م سمع م ق ل َ َ ِه م ق ل
،َ ف َ َى رَ ُوْ ُ ا ِ ََى ا ُ َّلَي ِ وَ ََ َ ُحَ ِ ُ، َ َا َ بعْ ُ القَوْ ِ: َ ِ َ َا َا َ فكّر َ َا َا
ن ُر ه ّس ل َن ّس َة َه ق ل ت ذ قض َق ل َ ُه ب ل ْم
،))و َا َ بعْض ُمْ: َلْ َمْ يَس َعْ، حَ َى إِ َا َ َى حَّدِيْـث ُ، َا َ: ((أَيْ َ -أ َا ُ- ال َائِ ُ ع ِ ال َاع ِ؟
َ َا َ: َا أَ َا َا رَ ُوْ َ ا ِ، َا َ: ((فإ َا ُـ ِع ِ األمَا َـ ُ، َانْـ َ ِ ِ ال َاع َ))، َا َ: كَي
ق ل ْف ق ل ه ن ي س ل هلل ق ل َِذ ض ي َت َ ن ة ف تظر ّس َة
تظر ّس َة َ ْ ِه إض ُه ق ل ِذ ُ ِ َ ر ِل
.))َ ِ َاعَت َا؟ َا َ: ((إ َا وسدَ األمْ ُ إ َى غَيْرِ أهل ِ، فَانْـ َ ِ ِ ال َاع
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam sebuah
majelis (dan) berbicara dengan sekelompok orang, datanglah
kepadanya seorang sahabat (dari sebuah perkampungan) dan
berkata, “Kapankah hari kiamat?”. Namun Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan pembicaraannya. Maka
sebagian orang ada yang berkata, “Ia (Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam) mendengar ucapannya, namun ia tidak
menyukainya”. Dan sebagian yang lain berkata, “Bahkan beliau
tidak mendengarnya”. Hingga akhirnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam selesai dari pembicaraannya, dan beliau pun
bersabda, “Mana orang yang (tadi) bertanya?”. Orang itu
berkata, “Inilah saya wahai Rasulullah”. Rasulullah
bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan, maka
tunggulah hari kiamat!”. Orang itu kembali bertanya,
“Bagaimanakah penyia-nyiaan amanah itu?”. Rasulullah
bersabda,“Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang
yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!”.[19]
3. Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- pula, yang
menerangkan bahwa khianat adalah salah satu tanda-tanda
orang munafiq, beliau berkata:
ة م ن فق َ َث ِذ َ َث َ َ وِذ َ َد أ َف عن ن ِّي صّل هلل ع ْه سّلم ق ل
َ ِ ال َب ِ ََى ا ُ َّلَي ِ وَ ََ َ، َا َ: ((آيَـ ُ ال ُـ َا ِ ِ ثال ٌ، إ َا حد َ كذبَ؛ َإ َا وع َ َخْـل َ؛
وِذ ت ِ خ ّن
.))َ َإ َا اؤْ ُـمنَ َا
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda
orang munafiq ada tiga; apabila berbicara ia berdusta;
apabila berjanji ia menyelisihi janjinya; dan apabila diberi
amanah (kepercayaan) ia berkhianat”.[20]
4. Hadits Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, yang menjelaskan
bahwa amanah dan menepati janji adalah salah satu sifat-sifat
orang beriman, beliau berkata:
م خ ن ِّي هلل صّل هلل ع ْه سّلم إّال ق ل ال م ّن ِم ال َ ن ة َه ال ن ِ َ ال
َ َْا َطَبَ َا نَب ُ ا ِ ََى ا ُ َّلَي ِ وَ ََ َ، ِ َ َا َ: (( َ إِيْـ َا َ ل َنْ َ أمَا َـ َ ل ُ، وَ َ ّدِيْـ َ لمن
ْد ل ه
.))ُ عَه َ َـ
Tidaklah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah
kepada kami, melainkan beliau bersabda, “Tidak ada iman bagi
orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada
agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”.[21]
Berkaitan dengan hadits ini, asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu
Salman -hafizhahullah- berkata, “Maksud sabda beliau ( ),
dikatakan oleh as Sindi, ada yang mengatakan bahwa maksud
dari ke dua penafian (peniadaan) dalam hadits ini adalah nafyul
kamal (peniadaan kesempurnaan iman dan agama). Dan ada
yang mengatakan pula bahwa maksudnya adalah tidak beriman
sama sekali orang yang menganggap halal meninggalkan
amanah, dan tidak beragama sama sekali orang yang
menganggap halal melanggar janjinya… Dan maksud dari sabda
beliau ( ), adalah barang siapa yang mengadakan
sebuah perjanjian dengan orang lain, lalu ia sendiri yang
melanggar dan tidak menepati janjinya tanpa ada ‘udzur (alasan)
yang syar’i, maka agamanya kurang. Adapun jika
dengan ‘udzur (alasan yang syar’i) -seperti seorang Imam
(pemimpin) yang membatalkan perjanjian dengan
seorang harbi (orang kafir yang diperangi), jika ia melihat ada
kemaslahatan padanya-, maka hal ini boleh. Wallahu Ta’ala
a’lam”.[22]
5. Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash -radhiyallahu ‘anhuma-,
yang menerangkan bahwa salah satu tanda hari kiamat adalah
datangnya sebuah zaman yang pada saat itu orang yang amanah
(jujur) dianggap pengkhianat, dan pengkhianat dianggap orang
yang amanah (jujur), beliau mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda:
َ َ َ(( إ َ ا َ ُـبْ ِ ُ ال ُحْ َ َال َـ َ ُ َ، وَالذِيْ نَفْ ُ ُحم ٍ ِـيد ِ، َ َـ ُوْ ُ ال َاع ُ َ َى ُـخ
س م َ َد ب َ ِه ال ت ق م ّس َة حت ي وّن َ ِّن هلل ي غض ف ش و ت فحش
َم ْن ي ت َ َ خ ِن ت ي هر ف ش ت فحش وقط َة أل ح ِ َس ْء و ر
.))…ِ األ ِـي ُ وَ ُؤْ َـمن ال َائ ُ، حَ َى َظْ َ َ ال ُحْ ُ وَال َـ َ ُ ُ َ َ ِـيْع ُ ا َرْ َام و ُو ُ الجِ َا
“Sesungguhnya Allah membenci (sifat) keji dan kekejian.
Dan demi (Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangannya,
tidak akan terjadi hari kiamat sampai orang yang amanah
(jujur) dianggap pengkhianat, dan seorang pengkhianat
dipercaya, sampai muncul (sifat) keji dan kekejian,
pemutusan hubungan silaturahim (kerabat), dan buruk dalam
bertetangga…”.[23]
SIAPAKAH ORANG YANG BERHAK DIBERI AMANAH
(KEPERCAYAAN)?
Judul di atas memberikan pemahaman bahwa tidak semua orang
bisa di percaya atau diberi amanah. Maksudnya, ada orang yang
memiliki sifat-sifat tertentu, yang dengannya ia adalah orang yang
paling tepat dan paling berhak untuk di bebani dengan sebuah
amanah atau kepercayaan.
Asy Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr -
hafizhahullah- menjelaskan permasalahan ini dan berkata, “Dasar
untuk memilih seorang pegawai atau pekerja adalah ia seorang
yang kuat dan amanah (terpercaya). Karena dengan
kekuatannya, ia mampu melakukan pekerjaannya dengan baik.
Dan dengan sifat amanahnya, ia akan menempatkan semua
perkara yang berkaitan dengan tugasnya pada tempatnya. Dan
dengan kekuatannya pula, ia sanggup menunaikan kewajiban
yang telah dibebani atasnya. Allah telah mengkhabarkan tentang
salah satu dari kedua anak perempuan seorang penduduk
Madyan, ia berkata kepada ayahnya tatkala Nabi
Musa ‘alaihissalammengambilkan minum untuk hewan ternak
kedua wanita tersebut:
ُ … َا أَبت اسْـتأْ ِر ُ إ َ خَيْ َ من اسْـتأْ َرْ َ الْ َوِ ُ األمِي
ي َ ِ َ ج ْه ِّن ر َ ِ َ ج ت ق ي َ ن
“… Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja
(pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang
kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi
dapat dipercaya”. (QS. Al Qashash: 26).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhabarkan tentang
‘Ifrit dari golongan jin, yang memperlihatkan kesanggupannya
kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam untuk membawa singgasana
Balqis:
ٌ …أَ َا آ ِي َ بهِ قَبْ َ َّن تَـ ُو َ ِن َ َام َ َِ ِي علَيْـ ِ لَ َـوِ ٌ أ ِـي
ن ت ك ِ ل أ ق م م مق ِك وإن َ ه ق ي َم ن
“…Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu
kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu;
sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi
dapat dipercaya”. (QS. An Naml: 39).
Maknanya, ia telah memiliki kemampuan untuk membawa dan
mendatangkannya, sekaligus menjaga apa-apa yang terdapat di
dalamnya.
Kemudian Allah mengkhabarkan tentang Nabi
Yusuf ‘alaihissalam, tatkala ia berkata kepada sang raja:
ٌ …اجْعلْ ِي َ َى َ َآئنِ ا َرْضِ ِ ِي حَ ِي ٌ علِي
إن ف ظ َ م َ ن عل خز ِ أل
“… Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya
aku adalah orang yang pandai menjaga lagi
berpengetahuan”. (QS. Yusuf: 55).
Kemudian, kebalikan (sifat) kuat dan amanah adalah lemah dan
khianat. Sehingga, inipun menjadi dasar seseorang untuk tidak
dipilih dan dibebani kepercayaan atau pekerjaan, bahkan hal ini
mengharuskannya untuk dijauhi atau dipisahkan dari
kepercayaan atau pekerjaan.
Tatkala Umar bin al Khaththab -radhiyallahu ‘anhu- menjadikan
Sa’ad bin Abi Waqqash -radhiyallahu ‘anhu- seorang gubernur di
Kufah, dan kemudian orang-orang dungu di Kufah mencelanya
dan membicarakan buruk padanya, Umar -radhiyallahu ‘anhu-
melihat adanya kemaslahatan dalam menghentikan (Sa’ad bin
Abi Waqqash -radhiyallahu ‘anhu-) dari pekerjaannya dalam
rangka menghindari fitnah. Selain itu juga, agar tidak ada orang
yang berani berbuat macam-macam padanya. Kendatipun
demikian, Umar -radhiyallahu ‘anhu- menjelang wafatnya memilih
enam orangshahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk dijadikan salah satu dari mereka
seorang khalifahsepeninggalnya. Dan salah satu dari mereka
adalah Sa’ad bin Abi Waqqash -radhiyallahu ‘anhu-. Hal ini
karena Umar -radhiyallahu ‘anhu- khawatir timbul prasangka
bahwa penghentiannya terhadap Sa’ad bin Abi Waqqash -
radhiyallahu ‘anhu- disebabkan ketidakmampuannya dalam
memimpin sebuah wilayah. Dan Umar -radhiyallahu ‘anhu- pun
ingin menafikan dan menghilangkan anggapan itu dengan
berkata:
ع ز ْه ِ َة َ ا َهو ذ ك و ّال ف َع ِه ي ك م ُم َ ن َإ أص ب
ٍفِنْ َ َا َتْ اإلمْـّر ُ سعّْدً ف ُ َ َا َ، َإِ َ َّلْـيَسْـت ِنْ ب ِ أَ ُـ ُمْ َا أ ِـّرَ، فإِ ِّي لَمْ أَعْـ ِل ُ عَنْ َجْـز
ٍ وَّالَ خِ َان
ي َة
“Jika kekuasaan ini terjatuh pada Sa’ad, maka itu memang
haknya. Dan jika tidak, maka hendaknya salah seorang dari
kalian meminta bantuannya, kerena sesungguhnya aku tidak
menghentikannya dengan sebab kelemahan dan
pengkhianatan”. Diriwayatkan oleh al Bukhari (3700).
Dan terdapat di dalam Shahih Muslim (1825) dari Abu Dzar -
radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata:
َ ُّلْ ُ: َا رَ ُوْ َ ا ِ، أَ َ سَسْـ َـع ُِ ِّي؟ َا َ: َض َ َ بِيَّد ِ ََى مَنْ ِبّيْ، ُ َ َا َ: (( َا أَ َا َ ٍ، ِ َـ
ك ِ ثم ق ل ي ب ذر إن ك ق ت ي س ل هلل ّال ت ْمّلن ق ل ف َّرب ِه عّل
ف و ن ه َ ن ة وإن ه م ق ي َة خ ي َد َة ال َ أ َ َه بح قه وأّد َذ
ضَـعِيْ ٌ، َإِ َـ َا أمَا َـ ٌ، َِ َـ َا يَوْ َ ال ِـ َام ِ ِزْ ٌ وَن َام ٌ، إِ َ منْ َخذ َا ِ َـ ِ َا، ََ َ ال ِي
َل ْه ف ه
.))ع َـي ِ ِيْ َا
“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang
pemimpin)?”, lalu Rasulullah memukulkan tangannya di bahuku,
dan bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau
lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, dan ia
merupakan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat. Kecuali
orang yang mengambilnya dengan haknya, dan
menunaikannya (dengan sebaik-baiknya)”.
Dan terdapat di dalam Shahih Muslim pula, nomor (1826), dari
Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وال ن َ ب ذر إن أر ك ع ا وإن أ ِّب َك م أ ِّب ل ن ّْس ال َم َّن َل
َ َ ،ِ((ي ا أَ َا َ ٍ، ِ ِي َ َا َ ضَـ ِـيْف ً، َِ ِي ُح ُ ل َ َا ُح ُ ِـ َـف ِيْ، َ تَـأ َـر َ ع َى اثْـ َـيْن
َل َن َ ي ت م
.))ٍ ْتَوَـي َ مَال َـ ِـي
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku memandangmu orang
yang lemah, sedangkan aku mencintai untukmu seperti aku
mencintai untuk diriku. Janganlah kamu menjadi pemimpin
(walaupun terhadap) dua orang (saja)! Dan janganlah kamu
mengatur harta (anak) yatim”.”[24]
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa
menjadikan kita semua orang-orang yang jujur, amanah, dan
menjauhi kita semua dari kelemahan, kedustaan, dan khianat.
Dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah Maha
Pemberi tawfiq.
Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali, Lc.
Maraji’ & Mashadir:
1. Al Quran dan terjemahnya, Cet. Mujamma’ Malik Fahd,
Saudi Arabia.
2. Shahih al Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin al
Mughirah al Bukhari (194-256 H), tahqiqMusthafa Dib al
Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, Cet. III, Th.
1407 H/1987 M.
3. Shahih Muslim, Abu al Husain Muslim bin Hajjaaj al Qusyairi
an Naisaburi (204-261 H), tahqiq Muhammad Fuad Abdul
Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.
4. Sunan Abi Daud, Abu Daud Sulaiman bin al Asy’ats As
Sijistani (202-275 H), tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul
Hamid, Daar al Fikr.
5. Jami’ at Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa at Tirmidzi
(209-279 H), tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, Daar
Ihya at Turats, Beirut.
6. Musnad al Imam Ahmad, Abu Abdillah Ahmad bin
Muhammad bin Hanbal asy Syaibani (164-241 H),
Mu’assasah Qurthubah, Mesir.
7. An Nihayah Fi Gharib al Hadits wa al Atsar, al Imam Majd ad
Diin Abi as Sa’adat al Mubarak bin Muhammad al Jazari Ibnu
al Atsir (544-606 H), tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Daar al
Ma’rifah, Beirut-Libanon, cet I, th 1422 H/ 2001 M.
8. Al Kaba-ir, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman
bin Qaymaz adz Dzahabi (673-748 H), tahqiq Abu ‘Ubaidah
Masyhur bin Hasan Alu Salman, Maktabah al Furqan,
‘Ajman, Uni Emirat Arab, Cet. II, Th. 1424 H/ 2003 M.
9. Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy Syaithan, Syamsuddin
Ibnu Qayyim al Jauziyah (691-751 H), takhrijMuhammad
Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), tahqiq Ali bin Hasan
bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi,
Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H.
10. Fawa-id al Fawa-id, Syamsuddin Ibnu Qayyim al
Jauziyah (751 H), tartib dan takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin
Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam,
KSA, Cet. V, Th. 1422 H.
11. Zaadul Ma’ad, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah
(691-751 H), tahqiq Syu’aib Al Arna’uth dan Abdul Qadir Al
Arna’uth, Mu’assasah ar Risalah, Beirut, Libanon, cet III, th
1423 H/2002 M.
12. Tafsir Ibnu Katsir (Tasir Al Qur’an Al ‘Azhim), Abu al
Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir (700-774 H), tahqiq Sami bin
Muhammad as Salamah, Daar ath Thayibah, Riyadh, Cet. I,
Th. 1422 H/ 2002 M.
13. Jami’ al Ulum wa al Hikam fi Syarhi Khamsina Haditsan
min Jawami’ al Kalim, Zainuddin Abu al Faraj Abdurrahman
bin Syihabuddin al Baghdadi Ibnu Rajab al Hanbali (736-795
H), tahqiq Syu’aib Al Arna-uth dan Ibrahim Bajis, Mu’assasah
ar Risalah, Beirut, Libanon, Cet. VII, Th. 1422 H/ 2001 M.
14. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at Tirmidzi, Muhammad
bin Abdurrahman bin Abdurrahim al Mubarakfuri (1283-1353
H), Daar al Kutub al Ilmiah, Beirut.
15. Shahih Sunan Abi Daud, Muhammad Nashiruddin al
Albani (1332-1420 H), Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.
16. Shahih Sunan at Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al
Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.
17. Shahih al Jami’ ash Shaghir, Muhammad Nashiruddin al
Albani (1332-1420 H), Al Maktab al Islami.
18. As Silsilah as Shahihah, Muhammad Nashiruddin al
Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.
19. Irwa-ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manar as Sabil,
Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), al Maktab
al Islami, Beirut, Cet. II, Th. 1405 H/ 1985 M.
20. Shahih at Targhib wa at Tarhib, Muhammad Nashiruddin
al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet. I,
Th. 1421 H/ 2000 M.
21. Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, Abdul Muhsin
bin Hamd al ‘Abbad al Badr, ad Daar al Haditsah, Mesir, Cet.
I. Th. 1425 H/ 2004 M.
22. Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash Shalihin, Salim bin
‘Id al Hilali, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. VI, Th.
1422 H.
[1] Dan yang lebih menyedihkan lagi, adalah tatkala sifat amanah
ini juga ternyata telah hilang dari sebagian saudara kita
(baca: ikhwan atau akhawat) yang sudah “mengaji”. Ketahuilah
wahai segenap pembaca yang budiman, hendaknya
istilah ikhwan atau akhawat tidak hanya berlaku pada sebatas
lingkup pengajian saja! Akan tetapi, sudah semestinya digunakan
dalam seluruh sisi kehidupannya sebagai seorang muslim atau
muslimah -baik dari sisi ibadah, maupun sisi mu’amalah-, jika ia
memang benar-benar mengaku beriman kepada Allah dan
mengaku mengikuti manhaj salaf yang sempurna dan mulia ini!
Maka, perhatikanlah baik-baik!
Bahkan, tidak jarang penulis mendapatkan khabar tentang
si ikhwan Fulan yang tidak menepati janjinya… Si ikhwanFulan
berpura-pura lupa dengan janjinya… Si ikhwan Fulan sangat
mengampang-gampangkan sesuatu yang berkaitan dengan
tugasnya… Bahkan… Si ikhwan Fulan telah menipu rekan
bisnisnya… Si ikhwan Fulan berbohong dan tidak amanah
kepada atasannya… Si ikhwan Fulan menipu ustadznya yang
berbisnis dengannya… …
Sungguh mengherankan sekaligus memalukan! Wallahul
Musta’an, wa laa haula wa laa quwwata illa billah…
[2] Lihat kitab Fawa-id al Fawa-id, hlm. 193-195, dan 215-231.
[3] Di dalam kitabnya an Nihayah fi Gharib al Hadits wa al
Atsar (1/80).
[4] Lihat kitab tafsirnya Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/488-489).
[5] Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).
[6] Lihat ta’liq (komentar) beliau dalam kitab al Kabair, hlm. 282.
[7] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash
Shalihin (1/288).
[8] Dari naskah khuthbah Jum’at yang beliau sampaikan di Masjid
Nabawi, al Madinah an Nabawiyah, KSA, pada tanggal 13 Rabi’ul
Awwal 1426 H, yang bertema ‘Izhamu Qadril Amanah (Agungnya
Kedudukan Amanah).
[9] Di dalam kitab tafsirnya Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339).
[10] Berkaitan dengan hadits yang dibawakan oleh al Hafizh Ibnu
Katsir -rahimahullah- di dalam kitab tafsirnya (2/339) ini,
pentahqiq Sami bin Muhammad as Salamah berkata, “Saya tidak
mendapatkan hadits ini diriwayatkan dari jalan Samurah -
radhiyallahu ‘anhu-, akan tetapi hadits ini diriwayatkan oleh:
a. Al Imam Ahmad di dalam Musnadnya (3/414), dari seseorang,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
b. At Tirmidzi di dalam Sunannya nomor (1264), dan Abu Dawud
di dalam Sunannya nomor (3535), dari jalan Thalq bin Ghannam,
dari Syarik dan Qais, dari Abu Hushain, dari Abu Hurairah -
radhiyallahu ‘anhu-. Dan at Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan
Gharib”. Dan Abu Hatim berkata, “Hadits Munkar, tidak ada yang
meriwayatkan hadits ini melainkan Thalq saja”. (Lihat) al
‘Ilal (1/375).
c. Al Hakim di dalam al Mustadrak (2/64), dan ath Thabrani di
dalam al Mu’jam ash Shaghir (1/171), dari jalan Ayyub bin
Suwaid, dari Ibnu Syaudzab, dari Abu at Tayyah, dari Anas -
radhiyallahu ‘anhu-. Dan Ayyub bin Suwaid dha’if.
d. Ath Thabrani di dalam al Mu’jam al Kabir (8/150), dari jalan
Yahya bin ‘Utsman, paman ‘Amr bin ar Rabi’, dari Yahya bin
Ayyub, dari Ishaq bin Asid, dari Abu Hafsh, dari Makhul, dari Abu
Umamah -radhiyallahu ‘anhu-. Al Haitsami di dalam al Majma’
(8/128) berkata, “Di dalamnya terdapat Yahya bin ‘Utsman bin
Shalih al Mishri. Ibnu Abi Hatim berkata, mereka (para ulama)
berbicara tentangnya (mempermasalahkannya)”.
e. Ath Thabari di dalam tafsirnya (8/493), dari jalan Qatadah, dari
al Hasan, secara mursal.”
Demikian perkataan pentahqiq kitab Tafsir al Qur’an al
‘Azhim (2/339), Sami bin Muhammad as Salamah. Namun, hadits
ini shahih. Lihat keterangan berikutnya tentang hadits ini
pada footnote nomor (16).
[11] Lihat pula risalah yang berjudul Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf
al Amanah, hlm. 4-5.
[12] Lihat kitab Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (4/41).
[13] Lihat kitab Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/489).
[14] Di dalam kitab tafsirnya Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/227).
[15] Muttafaq ‘alaih, lihat takhrij ringkasnya pada footnote nomor
(20).
[16] HR Abu Dawud (3/290 no. 3535), at Tirmidzi (3/564 no.
1264), dan lain-lain. Lihat kembali footnote nomor (10).
Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani -rahimahullah- di
dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih Sunan at
Tirmidzi, Shahih al Jami’ (240), as Silsilah ash Shahihah (1/783
no. 423-424), dan Irwa-ul Ghalil (5/381 no. 1544).
Setelah beliau mentakhrij hadits ini, beliau berkata,
“Kesimpulannya, hadits ini dengan seluruh jalan-jalan
(periwayatan)nya adalah tsabit (tegak/tetap). Adapun yang
dinukilkan oleh sebagian ulama (hadits) terdahulu yang
mengatakan bahwa hadits ini tidak tegak/tetap, hal itu
disebabkan penilaian mereka terhadap sebagian jalan
periwayatannya saja, dan bukan dari seluruh jalan-jalannya yang
telah sampai sebagiannya kepada kami. Wallahu a’lam”.
Lihat perkataan beliau ini dalam kitabnya Irwa-ul Ghalil (5/383).
Lihat pula tahkrij pentahqiq kitab Jami’ al Ulum wa al Hikam, hlm.
488-489, dan kitab Zaadul Ma’ad (5/450), asy Syaikh Syu’aib al
Arna-uth,. Dan lihat pula takhrij asy Syaikh al Albani -
rahimahullah- dalam kitab Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy
Syaithan (1/626-628, 2/760).
[17] Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).
[18] Lihat kitab al Kabair, hlm. 282.
[19] HR al Bukhari (1/33 no. 59) dan (5/2382 no. 6131), Ahmad
(2/361 no. 8714), dan lain-lain.
[20] HR al Bukhari (1/21 no. 33, 2/952 no. 2536, 3/1010 no. 2598,
5/2262 no. 5744), Muslim (1/78 no. 59), dan lain-lain.
[21] HR Ahmad (3/135, 154, 210, 251), dan lain-lain. Hadits ini
dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani -rahimahullah- di
dalam Shahih al Jami’ (7179), Shahih at Targhib wa at
Tarhib (3/156 no. 3004), dan lain-lain. Lihat pula takhrij asy
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- terhadap
hadits ini dalam kitab al Kabair, hlm. 280-282.
[22] Lihat ta’liq (komentar) beliau terhadap hadits ini dalam
kitab al Kabair, hlm. 282.
[23] HR Ahmad (2/199 no. 6872), dan lain-lain. Dan Hadits ini
dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani -rahimahullah- di dalam as
Silsilah ash Shahihah (5/360).
[24] Lihat risalah beliau yang berjudul Kaifa yu-addi al
Muwazhzhaf al Amanah, hlm. 13-15.