Embed
Email

Ringkasan-disertasi_Bu.Amanah

Document Sample

Shared by: hilman munawar
Categories
Tags
Stats
views:
71
posted:
1/1/2012
language:
pages:
33
RINGKASAN DISERTASI



STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Studi Pada SMP Al Falah Deltasari, MTS Negeri II Surabaya,

dan MTs Amanatul Ummah Surabaya









Oleh:

AMA NA H

NIM.F0.1.5.07.05









PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN AMPEL

SURABAYA

2010

STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

di LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

(Studi Pada SMP al Falah Deltasari, MTS Negeri II, dan

MTs Amanatul Ummah Surabaya)









Oleh:

AMA NA H

NIM. F0.1.5.07.05









Promotor

Prof. Dr H. Imam Bawani, MA.

Prof. Dr. H. Muhaimin, MA.









DISERTASI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Doktor dalam Program Studi Dirasah Islamiyah

Konsentrasi Pendidikan Islam









PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN) SUNAN AMPEL

SURABAYA

2010

Telah diuji pada Tahap I

Tanggal 31 Mei 2010

==================================================



TIM PENGUJI



Ketua : Prof. Dr. H. Nur Syam , M.Si

Sekretaris : Prof. Dr. H. M.Ridlwan Nasir,MA.

Promotor/ Anggota : Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA

: Prof. Dr. H. Muhaimin, MA

Penguji Utama/ Anggota : Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA

Anggota : Prof. Dr. H. Abd. Haris, MA

Masdar Hilmy, MA,Phd

UCAPAN TERIMA KASIH



Segala puja dan puji syukur yang sedalam-dalamnya hanya untuk Allah,

>

Tuhan yang Maha Rah}ma>n dan Rah}im, yang senantiasa mencurahkan rahmat,

karunia, hidayah, serta maunahNya kepada kita, khususnya bagi penulis, sehingga

penulis dapat menyelesaikan desertasi ini di tengah kesibukan mengemban

amanah dan tugas rutin di Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya serta di

Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya. Menulis disertasi adalah

pekerjaan intelektual yang berat, yang membutuhkan keuletan, ketekunan

kesabaran, ketelitian, dan ketabahan. Tentu penyelsaian disertasi ini tidak lepas

dari berbagai tantangan dan hambatan, namun berkat Rahmat dan Hidayah Allah

serta bimbingan dan arahan yang signifikan dari berbagai fihak, terutama para

Promotor yang terus menerus memberikan dorongan dan semangat serta arahan

agar penulisan disertasi ini segera selesai.

Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada

Prof Dr. H. Imam Bawani, MA, dan Prof Dr. H. Muhaimin, MA, selaku promotor,

karena ditengah kesibukan beliau berdua berkenan meluangkan waktu untuk

mengoreksi dan membimbing penulis, dengan sabar, tekun, teliti dan kritis, mulai

dari pembuatan proposal penelitian sampai penulisan disertasi ini. Penulis tak bisa

membalas budi dan jasa beliau berdua, kecuali memohon kepada Allah, agar

Allah membalas budi dan jasa baik tersebut dengan balasan rahmat melebihi apa

yang beliau berikan kepada penulis. Jaza>kumullah khairan jaza>.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si,

selaku Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, beserta para Pembantu Rektor yang

telah menerima penulis study Program Doktor di Program Pascasarjana hingga

selesai penulisan disertasi ini.

Kepada Bapak Prof. Dr. H. M. Ridlwan Nasir MA, selaku Direktur Program

Pascasarjana IAIN Sunan Ampel beserta para Asisten Direktur dan staf, penulis

juga mengucapkan ribuan terima kasih, karena beliau juga tidak henti-hentinya

memberikan motivasi dan arahan serta informasi-informasi kepada penulis agar

segera menyelesaikan disertasi ini.

Kepada para dosen, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. Prof. Dr. H. Imam

Bawani, MA. Prof. Dr. H. Muhaimin, MA. Prof. Dr. H. Bisri Affandi, MA, Prof. Dr. H.

Amin Abdullah, MA, Mr. Backley, MA., Phd, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Si,

dan Prof. Dr. H. Muhlas Samani, M.Pd. yang telah memberikan ilmu dan

pengalaman kepada penulis selama masa pekuliahan, penulis juga mengucapkan

banyak terima kasih, semoga ilmu yang beliau-beliau berikan kepada kami

bermanfaat bagi penulis, masyarakat, bangsa dan Negara.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Kepala SMP al-Falah

Deltasari beserta para guru dan staf, Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri 2

(MTsN 2) Surabaya beserta para guru dan staf, serta kepala Madrasah Tsanawiyah

(MTs) Amanatul Ummah Surabaya berserta para dewan guru dan staf, yang telah

berkenan menerima penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah/madrasah

yang beliau pimpin, bahkan menyediakan dan meminjamkan dokumen-dokumen

yang penulis perlukan untuk kelengkapan data, serta mendampingi penulis untuk

mengobservasi langsung kegiatan di sekolah tersebut.

Kepada rekan-rekan seangkatan (2007), penulis mengucapkan banyak terima

atas kerja sama dan bantuannya selama mengikuti kuliah, terutama dalam pengadaan

buku dan pemberian foto copy tugas, sehingga memperlancar kegiatan kuliah.

Yang tidak kalah penting, juga kepada kedua orang tua penulis, Bapak H.

Muhammad Fadhil (almarhum) dan Ibu Mestri (almarhumah), kedua beliaulah yang

membesarkan, mendidik, membimbing, mengarahkan, dan selalu berpesan agar tidak

henti-hentinya menambah ilmu, karena dengan ilmu dapat mencapai kebahagiaan di

dunia dan diakhirat. Kepada beliau penulis ucapkan sungkem dan terima kasih

yang sedalam-dalamnya serta memohon kepada Allah, agar amal ibadah beliau

diterima Allah, diampuni semua dosa dan kesalahannya, serta dilapangkan

kuburnya dan di masukkan kedalam golongan orang-orang yang shalih.

Kepada suami tercinta, Drs H. Sutisbak Sutisna,Ak, beserta ke lima anak

penulis, Tazuddin Ifai, Fahrudi Ifai, Imaduddin Rusydiana Fithriyati dan Abadi

Muttaqien Ifai yang banyak membantu penulis terutama saat-saat penelitian yang

cukup melelahkan, Semoga dengan selesainya desertasi ini menambah kualitas kasih

sayang penulis kepada mereka, dalam meniti hidup dan karirnya.

Akhirnya kepada Allah SWT, penulis berserah diri, memohon tambahan

rahmat dan karuniaNya, semoga ilmu yang penulis terima dari Program

Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya bermanfaat bagi penulis sekeluarga,

masyarakat, bangsa dan Negara. Amin.

Surabaya, 10 Ramadlan 1431 H.

20 Agustus 2010 M.



Amanah

ABSTRAK





Judul : Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Lembaga

Pendidikan Islam( Studi Pada SMP Al-Falah Deltasari, MTs N II

Surabaya, dan MTs Amanatul Ummah Surabaya)

Promotor : Prof.Dr.H. Imam Bawani,M.A dan Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A.

Kata Kunci : Pengembangan SDM Tenaga Pendidik



Penelitian ini bertolak dari satu pertanyaan mayor: Bagaimana Strategi

Pengembangan SDM Tenaga Pendidik di Lembaga Pendidikan Islam pada SMP

Al-Falah Deltasari, MTs N II Surabaya dan MTs Amanatul Ummah Surabaya?

Untuk memahami strategi pengembangan SDM di lembaga pendidikan Islam

tersebut penelitian ini berusaha menjawab tiga pertanyaan minor: (1) Bagaimana

langkah-langkah pimpinan tiga lembaga pendidikan Islam dalam merencanakan

SDM tenaga pendidik? (2)Apa upaya yang dilakukan pimpinan tiga lembaga

pendidikan Islam dalam mengendalikan SDM tenaga pendidik ? (3) Apa upaya

pimpinan tiga lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan tenaga pendidik?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dilakukan penelitian

kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui

wawancara mendalam (in depth interview), pengamatan partisipatif (participant

observation), dan telaah terhadap dokumen (study document). Proses analisa data

dilakukan sebelum peneliti berada di lapanagan, maupun setelah berada di

lapangan, yaitu saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai

pengumpulan data. Data yang telah terkumpul dapat dianalisis dengan

menggunakan tehnik analisis data kualitatif. Aktifitas dalam analisa data adalah

dengan mereduksi data, menyajikan data (data display), kemudian menarik

kesimpulan dan kongklusi (conclusion drawing/verification. Bersadarkan data

yang dihimpun, peneliti menyimpulkan bahwa strategi pengembangan tenaga

pendidik di tiga Lembaga Pendidikan dengan melalui tahapan (1) Langkah-

langkah pimpinan lembaga pendidikan Islam dalam merencanakan SDM tenaga

pendidik dengan melibatkan semua unsur dalam merencanakan, mengendalikan

dan meningkatkan sumber daya serta secara bersama-sama menetapkan standar

mutu yang akan dicapai, menentukan kebutuhan bersama, mengembangkan

kualitas layanan dan lulusan, mengendalikan proses yang mendukung

keberhasilan lulusan, menerjemahkan semua rencana yang telah disepakati dalam

aktifitas yang riil (2) Upaya yang dilakukan Pimpinan dalam mengendalikan

SDM, dengan malakukan evaluasi kinerja bersama, membandingkan kinerja

dengan rencana yang telah ditetapkan, dilengkapi dengan fasilitas pendukung.

(3)Upaya peningkatan SDM tenaga pendidik bervariatif, antara lain: melalukan

usaha-usaha terprogram : on the job training maupun off the training, program

pendidikan khusus, pendidikan bilingual, pembuatan RRP, dan pendidikan lanjutan.

Berdasarkan temuan ini maka peneliti merekomendasikan kepada para pengelola

lembaga pendidikan, para guru, masyarakat muslim dan pemerintah,bahwa lembaga

pendidikan Islam akan dapat menyaingi lembaga pendidikan umum apabila di kelola

secara profesional, oleh tenaga pendidik yang professional.

‫اﻻﺧﺘﺼﺎر‬





‫: اﻻﺳﺘﺮاﺗﯿﺠﯿﺔ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻓﻲ ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ )اﻟﻄﻼﻋﺔ اﻟﻌﻠﻤﯿﺔ ﻓﻲ‬ ‫اﻟﻤﻮﺿﻮع‬

‫اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ " اﻟﻔﻼح" دﻟﺘﺎﺳﺮي ,واﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ اﻟﺤﻜﻮﻣﯿﺔ ‪ II‬ﺳﻮرﺑﯿﺎ,‬

‫واﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ " اﻣﺎﻧﺔ اﻻﻣﺔ" ﺳﻮرﺑﯿﺎ(‬

‫: اﻻﺳﺘﺎذ دﻛﺘﻮر. اﻟﺤﺎج اﻣﺎم ﺑﻮاﻧﻲ, م. و اﻻﺳﺘﺎذ دﻛﺘﻮر. اﻟﺤﺎج ﻣﮭﯿﻤﯿﻦ, م.‬ ‫اﻟﻤﺆﯾﺪ‬

‫اﻟﻜﻠﻤﺔ اﻟﻤﻔﺘﺎﺣﯿﺔ : اﻟﺘﻨﻤﯿﺔ ﻟﻠﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻟﻠﻤﺮﺑﯿﻦ‬

‫ﻛﺎن ھﺬااﻻﺳﺘﻘﺮاء ﻧﺎﺷﺌﺎ ﻣﻦ ﺳﺆل اﺟﻤﺎﻟﻲ : ﻛﯿﻒ اﻻﺳﺘﺮاﺗﯿﺠﯿﺔ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻟﻤﺮﺑﻲ اﻟﮭﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ‬

‫اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ ﺑﺎﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ " اﻟﻔﻼح" دﻟﺘﺎﺳﺮي ,واﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ اﻟﺤﻜﻮﻣﯿﺔ ‪ II‬ﺳﻮرﺑﯿﺎ, واﻟﻤﺪرﺳﺔ‬

‫اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ " اﻣﺎﻧﺔ اﻻﻣﺔ" ﺳﻮرﺑﯿﺎ ؟‬

‫ان اﻟﻄﺮﯾﻖ واﻟﻜﯿﻔﯿﺔ ﻻﺳﺘﻔﮭﺎم اﻻﺳﺘﺮاﺗﯿﺠﯿﺔ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻓﻲ ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ اﻟﻤﺬﻛﻮرة : ﻛﺎن‬

‫اﻟﻤﺴﺘﻘﺮء ﯾﺴﻌﻰ وﯾﺤﺎول ﻻن ﯾﺠﻮب ﺛﻼﺛﺔ اﺳﺌﻠﺔ ﺗﻔﺼﯿﻠﯿﺔ )١( ﻛﯿﻒ ﺧﻄﻮات رؤﺳﺎء ذاك اﻟﮭﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ‬

‫اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ ﻓﻲ ﺗﺨﺼﯿﻂ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻟﻠﻤﺮﺑﯿﻦ؟ )٢( ﻣﺎ ﺳﻌﻲ ھﺆﻻء ﺛﻼﺛﺔ رؤﺳﺎء ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ‬

‫اﻟﺬي ﻗﺎﻣﻮا ﺑﮫ ﻓﻲ ﺗﺤﻜﻢ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻓﻲ اﻟﻤﺮﺑﯿﻦ؟ )٣( ﻣﺎ ﺳﻌﻲ ﺛﻼﺛﺔ رؤﺳﺎء ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ اﻟﻤﺮﺑﯿﻦ؟‬

‫ان اﻻﺟﻮﺑﺔ ﻋﻠﻰ اﺳﺌﻠﺔ اﻟﻤﺬﻛﻮرة ﻓﻼﺑﺪ ﻣﻦ اﻻﺳﺘﻘﺮاء اﻟﺪرﺟﻲ ﺑﻄﺮﯾﻖ ﻋﻠﻢ اﻟﻤﻈﺎھﺮ وﻣﻘﺘﻀﻰ اﻟﺤﺎل. ﻓﺠﻤﯿﻊ‬

‫اﻟﺴﺠﻼت )‪ (data‬ھﻲ ﺑﻄﺮﯾﻖ اﻟﻤﺤﺎورة اﻟﻌﻤﯿﻘﺔ, واﻟﺮﺻﺪ اﻟﻤﺸﺎرك, واﻟﻄﻼﻋﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺛﺎﺋﻖ ) ‪study‬‬

‫‪ .(document‬ﻓﻜﺎن اﻻﺟﺮاء ﻋﻠﻰ ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻟﺴﺠﻼت اﻗﯿﻢ ﻗﺒﻞ ﻧﺰول اﻟﻤﺴﺘﻘﺮء اﻟﻰ اﻟﻤﯿﺪان اوﺑﻌﺪه اي ﺣﯿﻦ‬

‫ﺟﻤﻌﮭﺎ او ﺑﻌﺪ اﻟﺠﻤﻊ. اﻣﺎ اﻟﺴﺠﻼت اﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺎت ﺣﻠﻠﺖ ﺑﻄﺮﯾﻖ ﺗﺤﻠﯿﻠﮭﺎ اﻟﺪرﺟﯿﺎت. واﻟﻮﻇﯿﻔﺔ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﻠﯿﻞ‬

‫اﻟﺴﺠﻼت ﻣﺮﻛﺒﺔ ﻣﻦ ﺳﺠﻼت ﻛﻠﯿﺎت, وﺳﺠﻼت ﻣﺬاﻋﯿﺎت واﻟﻤﻼﺣﻈﺎت ﻋﻠﻰ ﺗﻠﻚ اﻟﺴﺠﻼت.‬

‫ﻓﺒﺎﻻﻋﺘﻤﺎد ﻋﻠﻰ اﻟﺴﺠﻼت اﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺎت ﻛﺎن اﻟﻤﺴﺘﻘﺮء ﯾﻼﺣﻆ و ﯾﻨﺘﺞ ان اﻻﺳﺘﺮاﺗﯿﺠﯿﺔ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ اﻟﻤﺮﺑﯿﻦ ﻓﻲ ھﯿﺌﺔ‬

‫اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻟﻤﺬﻛﻮرة ﻣﺘﺮﺗﺒﺔ ﻣﻦ ﻣﺮاﺣﻞ‬

‫)١( ﺧﻄﻮات رؤﺳﺎء اﻟﮭﯿﺌﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ ﻓﻲ ﺗﺨﺼﯿﻂ اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺮﺑﯿﻦ ﻣﺤﺘﺎج اﻟﻰ ﻣﺸﺎرﻛﺔ ﺟﻤﯿﻊ‬

‫اﻻﻋﻮان ﻓﻲ اﻟﺘﺨﺼﯿﻂ واﻟﺘﺤﻜﻢ واﻟﻘﯿﺎدة واﻟﺘﻨﻤﯿﺔ ﻓﻲ اﻟﻄﺎﻗﺎت اﻟﻤﻮﺟﻮدات وﺗﺜﺒﯿﺖ اﻟﺪرﺟﺎت ﺑﺎﻟﺘﺴﻮﯾﺎت‬

‫اﻟﻤﻄﻠﻮﺑﺎت, وﺗﺜﺒﯿﺖ ﻛﻞ ﺷﯿﺊ ﻣﺤﺘﺎج اﻟﯿﮫ وﺗﻨﻤﯿﺔ درﺟﺔاﻟﻤﻼﺣﺎت واﻟﺨﺪﻣﺎت واﻟﺪرﺟﺎت اﻟﻤﺘﺨﺮﺟﯿﻦ وﺗﺤﻜﻢ‬

‫اﻻﺟﺮاء اﻟﺪاﻋﻰ اﻟﺒﺎﻋﺚ ﻟﻨﺠﺎح اﻟﻤﺘﺨﺮﺣﯿﻦ وﺗﺮﺟﻤﺎن اﻟﺘﺨﺼﯿﻄﺎت اﻟﻤﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﮭﺎ ﻓﻲ ﺣﻘﯿﻘﺔ اﻟﺤﺎل.‬

‫)٢( اﻟﻤﺤﺎوﻟﺔ اﻟﺘﻲ ﯾﺴﻌﻰ ھﺎ اﻟﺮؤﺳﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻃﺎﻗﺎة اﻟﺒﺸﺮﯾﺔ ﺑﺎﺧﺘﺒﺎروﺗﻘﻮﯾﻢ اﻓﻌﺎل اﻟﺠﻤﯿﻊ, وﻣﻘﺎرﻧﺔ‬

‫اﻻﻓﻌﺎل ﺑﺎﻟﺘﺨﺼﯿﻂ اﻟﻤﺜﺒﻮت اﻟﻤﺘﻢ ﺑﺎﺗﺒﺎع اﻟﺪاﻋﯿﺔ اﻟﺒﺎﻋﺜﺔ‬

‫)٣( اﻟﺴﻌﻲ ﻟﺘﻨﻤﯿﺔ ﻃﺎﻗﺔ ﺑﺸﺮﯾﺔ اﻟﻤﺮﺑﯿﻦ ﻣﺘﻨﻮع ﻣﻨﮭﺎ : اﻟﻘﯿﺎم ﺑﺎﻟﺠﮭﻮد اﻟﻤﻨﻈﻤﺔ : اﻣﺎ ﺑﺎﻟﺘﺪرﯾﺒﺎت اﻟﺘﻲ ﺗﻘﺎم داﺧﻞ‬

‫اﻟﻤﺪارس ﻧﻔﺴﮭﺎ ﺑﺎﻟﻤﺪرﺑﯿﻦ ﻣﻦ داﺧﻞ ﺗﻠﻚ اﻟﻤﺪارس )‪ (in service training‬واﻣﺎ ﺑﺎﻟﺘﺪرﺑﺎت ﺗﻘﺎم ﺧﺎرح‬

‫اﻟﻤﺪارس ﺑﺎﻟﻤﺪرﺑﯿﻦ ﻣﻦ ﺧﺎرج ﺗﻠﻚ اﻟﻤﺪارس )‪ ,(on service training‬و ﺑﺎﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻟﻤﺨﺼﺼﺔ, و ﺑﺘﺮﺑﯿﺔ‬

‫اﻟﻠﻐﺘﯿﻦ, واﺳﺘﻌﺪاد اﻋﺪاد اﻟﺪروس, واﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺗﺼﺎﻟﯿﺔ‬

‫ﻓﺒﺬﻟﻚ ﻛﺎن اﻟﻤﺴﺘﻘﺮء ﯾﻮﺻﻲ ﻋﻠﻰ ﺟﻤﯿﻊ ﻣﺪﯾﺮي اﻟﮭﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ وﻋﻠﻰ ﺟﻤﯿﻊ اﻻﺳﺎﺗﯿﺬ واﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ‬

‫اﺟﻤﻌﯿﻦ واﻟﺤﻜﻮﻣﺔ ان ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻻﺳﻼﻣﯿﺔ ﺳﻮف ﯾﻘﺎﺑﻞ وﯾﻘﺎرن ﻋﻠﻰ ھﯿﺌﺔ اﻟﺘﺮﺑﯿﺔ اﻟﻌﺎﻣﯿﺔ ان ﻧﻈﻤﺖ ﺑﺎﻟﺤﻖ‬

‫وﻣﺮﺑﻮھﺎ اﻟﻤﮭﺮة‬

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah



Dalam dunia pendidikan masa sekarang khususnya pendidikan Islam

yang ada di Indonesia seringkali berhadapan dengan berbagai problematika

yang tidak ringan, dalam arti bahwa sebagai sebuah sistem, pendidikan Islam

mengandung berbagai komponen antara satu dengan yang lainnya saling

berkaitan.1 Di sisi lain permasalahan pendidikan nasional yang muncul dan

sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan

pada setiap jenjang. Sementara berbagai usaha telah dilakukan dalam

meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai

pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, perbaikan sarana prasarana

pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Hal yang demikian

berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang

berarti, sebagian sekolah terutama di kota-kota menunjukkan peningkatan

mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya

masih memprihatinkan.2 Untuk memperbaiki mutu pendidikan, salah satu

upaya yang harus dilakukan, adalah menjadikan guru sebagai pendidik yang

profesional.

Sebagai pendidik profesional, harus memiliki pengetahuan dan

kemampuan profesional. Pendidik yang profesional memiliki 10 ciri suatu

profesi yaitu: memiliki fungsi dan signifikansi sosial, memiliki keahlian/

keterampilan tertentu, keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan

teori dan metode ilmiah, didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas, diperoleh

dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama, aplikasi dan

sosialisasi nilai-nilai profesional, memiliki kode etik, kebebasan untuk

memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkungan

kerjanya, memiliki tanggungjawab profesional dan otonomi, dan ada

pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya. 3

Guru yang profesional harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang

akan diajarkan dengan baik dan harus memiliki kemampuan menyampaikan

atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya (transfer of knowledge) secara efektif

dan efisien, serta harus berpegang teguh kepada kode etik profesional, yaitu

memiliki akhlaq yang mulia. 4

Senada dengan pendapat diatas Ibnu Muqaffa mengatakan bahwa guru

yang baik adalah guru yang mampu berusaha memulai dengan mendidik









1

Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Mutiara, 1986), 65.

2

Departemen Pendidikan Nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Jakarta: t.p,

2001),1.

3

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung : Remadja Rosdakarya, 1997), 14.

4

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia,

(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007),141-142.

dirinya, memperbaiki tingkah lakunya, meluruskan pikirannya dan menjaga

kata-katanya terlebih dahulu sebelum menyampaikan kepada orang lain. 5

Sejalan dengan bunyi pasal 39 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003

tersebut, Crow and Crow dalam Ety Rohaity Rahayuningsih menjelaskan

bahwa “modern educational theory and practice not only are aimed at

preparation for future but also are operative in determining the pattern of

present, by day attitude and behavior”6 (teori dan praktek pendidikan modern

tidak hanya bertujuan untuk mempersiapkan kehidupan masa depan tapi juga

untuk menentukan pola yang muncul melalui sikap dan perilaku sehari-hari).

Tenaga pendidik mempunyai posisi strategis dalam proses belajar

mengajar siswa. Mutu proses dan hasil belajar pada akhirnya ditentukan oleh

mutu tenaga pendidik, ilmu mereka baik yang empirik maupun yang rasional

serta berbagai keterampilan yang dimilikinya akan diteruskan dan menjadi alat

pengembangan sikap keilmuan para siswanya.

Sebagaimana dikemukakan oleh Knowles bahwa:

“The most important people in colleges and university are not the

president or deans, the student or staff are the member of faculty. The

faculty is the essential ingredian in the control of academic program, and

such programs are the basic reason for having colleges and university…

Faculty member are the people in closest and most continuous contact

with student. The are key people who meet with student in classes”.7

Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini mulai

dipertanyakan eksistensinya secara fungsional. Hal ini antara lain disebabkan

oleh munculnya serangkaian fenomena para lulusan pendidikan yang secara

moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap

untuk memasuki lapangan kerja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur yang amat penting

dan menentukan tercapai tujuan pendidikan adalah anak didik dan semua

tenaga pendidik. Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut di

perlukan pengembangan sumberdaya manusia Indonesia yang tangguh,

berwawasan keunggulan dan terampil. Sumberdaya manusia Indonesia

berkualitas tersebut di kehendaki dalam era reformasi masyarakat Indonesia

serta masyarakat kompetitif abad 21, merupakan produk sistem pembangunan

pendidikan nasional yang mantap dan tangguh. 8

Kualitas merupakan faktor-faktor penentu bagi mutu hasil belajar dan

hasil pendidikan pada umumnya sesuai dengan tujuan lembaga pendidikan,

yang tercantum didalam visi dan misinya. Visi dan misi pendidikan Islam yang

merupakan harapan, cita-cita, dan tujuan pendidikan Islam, pada dasarnya



5

Ibn Al-Muqaffa, al-Fikr al-Tarbiyawy ind Ibn-al-Muqaffa (Adab al-Shagir), Aljadid (Beirut: Dar

Iqra’, 1403), 117.

6

Crow and Crow dalam Rohaity Poncorini, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (Jakarta:

Bumi Aksara, 2005), 6-7.

7

Knowles, AS, The International Encyclopedia of Higher Education (San Francisco: Yossey Bass,

Inc, Publisher, 1997), 1613.

8

Tillar, H.R, Manajemen Pendidikan Nasional: Kajian Pendidikan Masa Depan (Bandung:

Rosdakarya, 1992)

dibangun dari nilai-nilai Islam dan hasil analisa terhadap keberadaan

pendidikan Islam.

Syafi’i Ma’arif dalam Marmo dan Triyo Supriyatno, merumuskan Visi

pendidikan Islam, yaitu: manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam

amal, serta anggun dan moral dan kebijakan. 9

Senada dengan hal tersebut Smith Arnold & Brizzel mengemukakan

bahwa “the term objective refers to all the target result, or outcomes, desired

by a firm. These desired results, or outcomes, can be separated into four

categories: Company vision, mission, long-term goals, and short-term goal”.10

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa keberhasilan suatu lembaga

bukan sekedar hanya melihat lembaga itu sendiri, tetapi melihat kepada sumber

dayanya, dalam hal ini adalah tenaga pendidik.

Permasalahan pendidikan Nasional yang sampai sekarang masih hangat

adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan,

khususnya pendidikan dasar dan menengah. Hal demikian bisa dilihat melalui

hasil kajian United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2004

yang menempatkan Human Development Index (HDI) pada urutan 112 dari

174 Negara. Hasil survei yang dilakukan oleh Political Economic Risk

Consultation (PERC) tahun 2004 memposisikan Indonesia pada urutan 12 dari

12 negara.11

Tiga aspek yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami

peningkatan secara merata.

Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan

pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak

dilaksanakan secara konsekuen.

Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-

sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan

sangat tergantung pada keputusan birokrasi. Sekolah lebih merupakan subordinat

dari birokrasi di atasnya, sehingga mereka kehilangan kemandiriannya, keluwesan,

motivasi, kreatifitas /inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya.

Ketiga, partisipasi dan peranserta warga sekolah khususnya guru seringkali

diabaikan dalam pengambilan keputusan, dan peranserta masyarakat khususnya

Di samping tiga penyebab rendahnya mutu pendidikan seperti tersebut di

atas, juga karena motivasi kerja pendidik dipengaruhi oleh tiga karakteristik yaitu

karakteristik individu, karakteristik pekerjaan dan karakteristik situasi kerja.

Karakteristik individu terdiri atas minat, sikap dan kebutuhan yang di bawa

pendidik ke dalam situasi kerja, karakteristik yaitu pekerjaan mencakup sifat tugas

karyawan di mana orang itu bekerja, karakteristik situasi kerja merupakan kondisi

kerja, faktot-faktor tersebut juga mempengaruhi kinerja tertentu dari karyawan.12



9

Marmo dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung:

Refika Aditama, 2008), 56.

10

Smith, Arnold and Bobby G. Brizzel, Organization and Management : Basic Concept (Bostom:

Houghton Mifflin Company, 1991), 54.

11

Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21 (Magelang:

Tera Indonesia, 2000), 54

12

Ahmad Sanusi, Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan (Bandung: FPS IKIP, 1990): 10-11.

Sungguh sulit untuk menentukan ukuran yang digunakan untuk

mengukur kualitas pendidikan, namun beberapa indikator dapat digunakan

sebagai rambu-rambu pemberi sinyal mengenai kekhawatiran kita tentang

kualitas atau mutu pendidikan kita. Beberapa indikator itu yang penting adalah

mutu pendidik yang masih rendah pada semua jenjang pendidikan, meskipun

rasio guru-murid termasuk rendah di Asean. Begitu pula alat bantu proses

belajar mengajar seperti buku teks, peralatan laboratorium yang belum

memadai. Sebagaimana pendapat Tilaar bahwa dewasa ini dunia pendidikan

kita mengalami empat krisis pokok: kualitas, relevansi, efisiensi eksternal,

elitism, dan manajemen.

Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh kejelasan langkah-langkah

yang efisien dan efektif dalam manajemen pengembangan SDM tenaga

pendidik dari tiga lembaga pendidikan Islam ( SMP al Falah Deltasai, MTs

Negeri II Surabaya dan MTs Amanatul Ummah Surabaya), sebagai lembaga

pendidikan Islam yang juga menghadapi tantangan akan kemajuan teknologi

yang sangat pesat khususnya tehnologi informatika, dan adanya pengaruh

kehidupan global. Untuk menjawab kecenderungan-kecenderungan tersebut,

diperlukan suatu bentuk pendidikan baru untuk mengembangkan tenaga

pendidik agar dapat memberikan jawaban yang tepat atas lahirnya serta

pengaruh budaya global.



B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah seperti tersebut diatas, maka peneliti

menetapkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana langkah-langkah pimpinan SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri

II Surabaya dan MTs Amanatul ummah.Surabaya dalam merencanakan

SDM tenaga pendidik?

2. Apa upaya yang dilakukan pimpinan SMP al-Falah Deltasari, MTS Negeri

II Surabaya dan MTS Amanatul Ummah Surabaya dalam melakukan

pengawasan (Controlle) SDM tenaga pendidik?

3. Apa upaya yang dilakukan pimpinan SMP al-Falah, MTs Negeri II dan MTs

Amanatul Ummah Surabaya dalam meningkatkan SDM tenaga pendidik ?



C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, penelitian ini bertujuan

untuk memberikan gambaran tentang Strategi Pengembangan SDM pada SMP

al-Falah Deltasari, MTs N II Surabaya dan MTs Amanatul Ummah Surabaya,

dengan tiga ruang lingkup yaitu:

1. Langkah-langkah pimpinan SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri II dan MTs

Amanatul Ummah di Surabaya dalam merencanakan SDM tenaga pendidik

2. Upaya yang dilakukan Pimpinan SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri II dan MTs

Amanatul Umah dalam mengendalikan (controlling) SDM tenaga pendidik.

3. Upaya yang dilakukan oleh pimpinan SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri II dan

MTs Amantul Ummah di Surabaya dalam meningkatkan SDM tenaga pendidik

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat baik dari segi teoritis

maupun dari segi praktis.

1. Manfaat Teoritis.

Hasil yang diperoleh dari upaya penelitian ini dapat dijadikan sebagai

landasan kajian ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan

manajemen pendidikan Islam.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi para pengelola lembaga pendidikan Islam, dapat dijadikan sebagai

sarana masukan dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam yang

dikelolanya.

b. Bagi kepala sekolah, dapat dijadikan sebagai acuan mrancang jenis

kegiatan manajemen yang kondusif untuk memacu kegiatan para tenaga

pendidik sehingga mencapai kualifikasi guru yang bermutu.

c. Bagi para guru yang bertugas di garis terdepan, hendaknya dapat

menjadikan hasil penelitian ini sebagai pedoman melangkah

mewujudkan program dan cita-cita pendidikan pada skala tingkat

sekolah, daerah dan nasional.

d. Dapat menjadi acuan bagi peneliti berikutnya yang lebih mendalam

untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya penelitian.



E. Penegasan Istilah

Dalam penelitian ini perlu ditegaskan beberapa istilah yang digunakan

berkaitan dengan Strategi Pengembangan SDM tenaga pendidik pada SMP al-

Falah Deltasari, MTsN II, dan MTs Amantul Ummah di Surabaya.

1. Strategi adalah siasat yang diupayakan untuk mencapai suatu tujuan yang

ingin dicapai.

Glueek mendifinisikan strategi sebagai suatu kesatuan rencana yang

komprehensif dan terpadu yang menghubungkan kekuatan strategi

organisasi dengan lingkungan yang dihadapinya, kesemuanya menjamin

agar tujuan organisasi tercapai. 13

Menurut Robson strategi merupakan pola keputusan dari alokasi

sumber yang dibuat untuk mencapai tujuan.14 Gaffar, mendifinisikan

strategi sebagai suatu rencana yang mengandung cara konprehensif dan

integrative yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja, berjuang dan

berbuat guna memenangkan kompetisi.15

2. Pengembangan berarti perbaikan, menjadi lebih baik, lebih pandai dan

lebih efektif, yang terjadi ketika orang menjalani hidupnya dengan cara

yang memungkinkan mereka belajar dan mnyesuaikan diri.16



13

Glueck, Willam F, Manajemen Strategis dalam Kebijakan Perusahaan (Jakarta: Erlangga,

1998), 6.

14

Robson, Wendy, Strategic Management Information System (New York: Prentice-Hall, 1977), 5.

15

Gaffar, M.F,Membangun Kembali Pendidikan Nasional dengan Fokus: Pembaharuan

Manajemen Perguruan Tinggi Pada Era Globalisasi (Surabaya: Makalah Konfensi Nasional

Pendidikan Indonesia V 5-9 Oktober, 2004)14.

16

Margareth Attwood dab Stuart Demock, Manajemen Personalia (Bandung: ITB,1999),167-168

Pengembangan juga berarti usaha-usaha untuk meningkatkan keterampilan

maupun pengetahuan umum bagi karyawan agar pelaksanaan pencapaian

tujuan lebih efisien. 17

Pengembangan juga dapat diartikan sebagai usaha untuk meningkatkan

kemampuan seseorang untuk memahami dan meng- interpretasi

pengetahuan bukan mengajarkan ketrampilan tehnis. 18

3. Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan

diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan, yang sekurang-



F. METODE PENELITIAN.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sejenis penelitian

yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau

bentuk hitungan lainnya. 19 Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada

latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity), hal ini

dilakukan karena ontology alamiah menghendaki adanya kenyataan-

kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat difahami jika dipisahkan dari

konteksnya.20

Melalui pendekatan kualitatif, diharapkan terangkat gambaran

mengenai aktualitas, realitas sosial dan persepsi sasaran penelitian tanpa

tercemar oleh pengukuran formal.

Tujuan penelitian dengan pendekatan ini adalah untuk

menggambarkan secara deskriptif keberadaan tiga lembaga pendidikan

Islam yang dapat meraih prestasi yang tinggi secara akademik (academic

achievement), berupa nilai ulangan harian, nilai ulangan umum, atau nilai

ketuntasan kompetensi, nilai ujian akhir nasional (UAN), karya ilmiah,

lomba akademik, dan karya-karya lain dari siswa, juga prestasi non

akademik (non academic achievement), berupa iman dan taqwa

(IMTAQ), kesopanan, olah raga, kesenian, harga diri, kejujuran, kerja

sama, solidaritas, toleransi, disiplin, kepramukaan, dan kegiatan ekstra

kurikuler lainnya.

Dipilihnya ke tiga sekolah/madrasah tersebut sebagai obyek

penelitian karena ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda satu

dengan yang lain.



1. SMP al-Falah Deltasari, adalah sebuah SMP umum yang bernafaskan Islam,

telah menyelenggarakan kelas Sekolah bertaraf Internasional (SBI) yang

memiliki beberapa keunggulan antara lain:









17

Purwadarminto, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), 876.

18

Mutiara S. Panggabean, Manajemen Sumber Daya manusia (Bogor: Ghalia Indonesia,2004),51.

19

Strauss, Anselm & Corbin Juliet, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif Tata Langkah dan Tehnik-

tehnik Teoritisasi Data (Jogjakarta: Pustaka Pelajar,cet ke 2, 2007), 4.

20

Lincoln & Guba, Natura listic Inquiry (Beverly Hills: Sage Publication,1985), 39.

a. Mewujudkan siswa yang berakhlaq mulia, memiliki kesadaran

beribadah, dan berprestasi tinggi, yang diwujudkan dalam

kegiatan nyata, antara lain:

1) Mewajibkan para siswa menjalankan s}alat d}uha setiap hari pada jam

9.00 sd. jam 10.00 secara bergantian antar kelas.

2) Mengharuskan para siswa menghafal semua surat-surat yang ada di

dalam juz Amma (merupakan syarat mutlak untuk dinyatakan lulus

dari SMP al-Falah),

3) Mengadakan kajian ke Islaman,

4) Belajar bertausiyah antar siswa,

5) S}ubuh call untuk membangunkan menjalankan s}alat s}ubuh.

6) Mewajibkan orang tua melaporkan kegiatan keagamaan siswa di

luar sekolah

b. SMP al-Falah Deltasari, menjadi sekolah percontohan yang

menyelenggarakan program Pendidikan Tehnologi Dasar (PTD) di Jawa

Timur, dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar

pembelajaran.

2. MTsN II, adalah madrasah setingkat SMP yang ada dibawah naungan

Kementerian Agama. Peneliti menetapkan MTsN II sebagai obyek

penelitian, karena memiliki beberapa keunggulan yaitu:



a. Memberikan pelajaran membaca kitab kuning/kitab klasik kepada

semua siswa.

b.Menghidupkan budaya Islam klasik (misalnya: seni hadrah, diba’ dan

qasidah

c. Melakukan istighatsah rutin setiap dua minggu sekali yang diikuti oleh

semua siswa, semua guru dan semua staf adminsitrasi.

d.Mewajibkan semua siswa mengikuti pelatihan bela diri, dan

kepramukaan.

e.Menerapkan metodologi ilmiah, mampu mengaplikasikan ICT, dan

membaca cepat.

3. MTs Amanatul Ummah, adalah madrasah yang dikelola Pondok

Pesantren Amanatul Ummah memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

a. Memiliki kelas akselerasi yang berlokasi di Pacet Mojokerto

b. Menggunakan tiga kurikulum sekaligus, dengan pengaturan: mata

pelajaran umum menggunakan kurikulum dari kementerian

Pendidikan Nasional, mata pelajaran Agama menggunakan

kurikulum Kementerian Agama, sedangkan untuk muaddalah

menggunakan kurikulum Madrasah Tsanawiyah Caero Mesir.

c. Mata pelajaran umum diberikan pada jam 6.45 sampai dengan jam

13.00, sedangkan mata pelajaran agama diberikan pada sore hari

diluar jam efektif, yaitu pada jam 15.00 sampai dengan jam 17.30.

Muadalah diberikan pada jam 19.00 sampai dengan jam 21.00.

d. Budaya (culture) pondok pesantren sangat melekat pada manajemen

madrasah.

e. Sebagai Madrasah bertaraf internasional.

Rancangan penelitian ini dengan menggunakan tehnik sampling dua

tahap:

a. Penelitian pada obyek pertama (SMP al-Falah) digunakan tehnik

purposive sampling yaitu mencari informan kunci (key informance)

menggunakan tehnik snow ball sampling.21

b. Tehnik pengambilan sampel seperti pada obyek penelitian pertama

digunakan pula untuk memperoleh data pada obyek penelitian kedua

dan ketiga.

Data mengenai strategi pengembangan SDM tenaga pendidik di SMP al-

Falah Deltasari, MTsN II Surabaya, serta MTs Amanatul Ummah terdiri

atas: a. Proses perencanaan SDM tenaga pendidik, b. Upaya pengendalian

SDM tenaga pendidik, c. Upaya pengembangan SDM tenaga pendidik,

dijaring melalui wawancara mendalam dan observasi, antara lain tentang:

filosofi, ideologi, nilai, visi, misi, tujuan, strategi, serta target yang

dilakukan oleh ke tiga lembaga pendidikan Islam tersebut

Subyek dalam penelitian ini adalah semua komponen yang terdapat di

sekolah/madrasah dengan segala permasalahannya yang terkait dengan

pelaksanaan pengembangan SDM tenaga pendidik.

Komponen-komponen tersebut adalah: a.Lokasi fisik: SMP al-Falah,

MTsN 2, dan MTs Amanatul Ummah Surabaya, b. Orang-orang yang

menduduki posisi tertentu dan memainkan peranan tertentu, yaitu kepala

sekolah dan wakil, guru, staf administrasi, dan anggota majlis

sekolah/madrasah di ketiga lembaga pendidikan Islam tersebut, c.

Kegiatan atau aktifitas yang berlangsung pada lokasi penelitian.

Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan tehnik snow ball

sampling22. Informan dipilih dengan berpedoman pada kriteria yang

dianjurkan Faisal yaitu: a. Subyek cukup lama dan intensif menyatu

dengan kegiatan atau medan aktifitas yang menjadi sasaran penelitian, b.

Subyek masih terlibat secara aktif di lingkungan/kegiatan yang mejadi

sasaran penelitian, c. Subyek yang bersifat lugu dalam memberikan

informasi, d. Subyek yang mempunyai cukup waktu untuk memberikan



Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti23



Lincoln dan Guba berpendapat bahwa:24



The instrument of choice in naturalistis inquiry is human. We Shall see

that other forms of instrumentation may be used in later phase of the



21

Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif) (Jakarta:

Gaung Persada Press, 2008), 220.

22

Bogdan, R.C. & Biklen SK. Qualitative Rerearch for Education, an Introduction To

Theory and Methods (Boston: Allyn and Bacon, 1992), 545.

23

Sugiono, Metodologi Penelitian Adminstrasi (Bandung: CV Alfabeta, 2005), 105.

24

Ibid.,

inquire, but the human is the initial and continuing mainstay. But if the

human instrument has been used extensively in earlier stages of inquiry, so

that an instrument can be constructed that is grounded in data that the

human instrument has product. (pemilihan instrument pada penelitian alami

adalah manusia. Kita dapat melihat bahwa bentuk lain dari instrumen

digunakan pada fase akhir dari penelitian, tapi manusia adalah aspek yang

paling penting. Tapi jika instrument manusia digunakan secara luas pada

tahap awal penelitian, maka instrumen tersebut dapat dikonstruksikan

sebagai dasar dari data yang didapatkan oleh manusia).

Kehadiran dan keterlibatan peneliti di lapangan lebih menemukan

makna dari obyek penelitian dibandingkan dengan alat non human, karena

penelitian dapat mengkonfirmasikan dan mengecek langsung apabila ada

informasi yang kurang jelas atau kurang sesuai dengan tafsiran peneliti,

melalui pengecekan anggota (member check)



Tehnik Pengumpulan Data



Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan tiga metode yaitu:

a. Wawancara mendalam tidak terstandar (in depth Unstandarized interview),

tujuannya untuk menggali pendapat beberapa sumber data, yaitu kepala

sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/madrasah, kepala-kepala

laboratorium, dan para guru secara mendalam terhadap visi, misi, tujuan

dan kegiatan program-program sekolah, proses penyusunan program dan

pelaksanaannya, yang dilakukan tanpa menyusun suatu daftar pertanyaan

yang ketat. Wawancara tidak terstandar dilakukan secara bebas (free

interview) untuk pertanyaan tentang eksistensi SMP al-Falah

Deltasari/MTsN II dan MTs Amanatul Ummah, birokrasi yang ada di

tiga lembaga pendidikan Islam tersebut, persepsi masyarakat, kondisi

internal dan hal-hal lain yang bersifat umum.

b. Metode observasi partisipan (participant observation), atau Observasi

langsung (direct observation), yaitu cara pengumpulan data dengan

mengadakan pengamatan langsung, peneliti terlibat dengan kegiatan

sehari-hari subyek yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai

sumber penelitian

c. Studi dokumentasi (document study) yaitu mencari data berupa catatan,

transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,

agenda, sejarah kehidupan (life histories), film, karya seni, dll, tujuannya

untuk mencermati dokumen-dokumen program sekolah/madrasah,

kondisi sosial sekolah dan orang tua siswa, fasilitas yang dimiliki untuk

mendukung program-program sekolah, hasil-hasil yang dicapai oleh

program sekolah seperti nilai akhir ujian nasional, hasil berbagai

kejuaraan dan sebagainya

Analisa Data



Ada dua langkah yang ditempuh dalam menganalisis data yaitu:

a. Mengkonfirmasikan keseluruhan data yang diperoleh melalui wawancara

mendalam, observasi partisipan, dan pencatatan dokumen.

b.Mentabulasi keseluruhan data yang diperoleh sesuai dengan sifat dan

tujuan analisis data. Analisis data kualitatif adalah proses mencari dan

menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil pengamatan

(observasi), wawancara, catatan laporan, dan studi dokumentasi, dengan

cara mengorganisasikan data ke sintetis, menyusun ke dalam pola ,

memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat

kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang

lain.25



Proses Analisa Data



a. Analisa data sebelum dilapangan

b. Analisa data dilapangan

Analisa data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan

setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat

wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban

wawancara. Bila jawaban tersebut belum memuaskan, maka peneliti akan

melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang

dianggap kredibel.



Aktifitas dalam analisa data:

a. Data reduksi (reduction data,. Mereduksi data berarti merangkum,

memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting,

dicari tema dan rancangan polanya.Dengan demikian, data yang telah

direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan mempermudah

peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

b.Data display (penyajian data). Sesudah data direduksi, maka dilakukan

penyajian data. dll.

c. Langkah ketiga adalah conclusion drawing/verification, yaitu penarikan

kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih

bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti

kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.



Kesimpulan dalam penelitian ini adalah merupakan temuan berupa

deskripsi yang mendukung temuan sebelumnya yang telah dilakukan oleh

para peneliti sebelumnya. Harapan peneliti dengan temuan ini dapat

menguatkan temuan-temuan sebelumnya.





25

Sugiono, Metodology Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan RD

(Bandung: Alfabeta,2007), 335.

Pengecekan Keabsahan Data

a.Derajat kepercayaan (credibility) untuk membuktikan apakah yang

diamati peneliti benar-benar sesuai dengan apa yang sesungguhnya

terjadi sewajarnya. Derajat kepercayaan data (kesahihan data) dalam

penelitian kualitatif digunakan untuk memenuhi kriteria (nilai)

kebenaran yang bersifat emic, baik bagi pembaca maupun bagi subyek

yang diteliti.

Untuk memperoleh data yang valid dapat dilakukan dengan tehnik

pengecekan data, seperti yang dianjurkan Lincoln dan Guba dengan

melalui:

1) Observasi di lapangan secara terus menerus (persistent observation),

2) Triangulasi (triangulation) sumber data, metode, dan peneliti lainnya,

dilakukan dengan cara membanding bandingkan dan mengecek balik

derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari satu informan

dengan informan yang lainnya.

3) Pengecekan anggota (member check), diskusi teman sejawat (peer

reviewing), yang dilakukan pada subyek wawancara melalui dua cara,

yaitu langsung pada saat wawancara dalam bentuk penyampaian

gagasan yang data direkan oleh peneliti saat wawancara,dan cara

kedua secara tidak langsung dalam bentuk penyampaian rangkuman

hasil wawancara yang sudah dibuat oleh peneliti. Diskusi akan

dilakukan dalam penelitian ini dengan cara mendiskusikan data yang

telah terkumpul dengan fihak-fihak yang memiliki pengetahuan dan

keahian yang relevan dan beberapa kolega yang bersedia untuk

dimintai pertimbangan .

4) Pengecekan mengenai kecukupan referensi (referential adequacy

checks), dilakukan dengan meng arsip data-data yang telah terkumpul

selama penelitian dilapangan.

b.Keteralihan (transferability), dapat dicapai dengan cara uraian rinci.

penafsirannya diuraikan secara rinci dengan penuh tanggung jawab

berdasarkan kejadian-kejadian nyata.

c.Kebergantungan (dependability) dilakukan untuk menaggulangi

kesalahan-kesalahan dalam konseptualisasi rencana penelitian,

pengumpulan data, interpretasi temuan, dan pelaporan hasil penelitian.

Dengan penanggulang tersebut, diharapkan pelaksanaan penelitian serta

temuan data benar-benar valid.

d. Kepastian (confirmability), dilakukan bersama-sama dengan pengauditan



G. Temuan Penelitian



1. Pengembangan SDM Pendidik

Berdasarkan temuan data lapangan pada tiga lembaga pendidikan

Islam yaitu: SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri II dan MTs Amanatul

Ummah Surabaya, ketiganya telah menerapkan konsep-konsep

pengelolaan tentang pengembangan SDM tenaga pendidik. Konsep-

konsep pengelolaan tentang pengembangan SDM tenaga pendidik,

dapat dipaparkan sebagai berikut:

a. Perencanaan SDM tenaga pendidik

1). Perencanaan sumber daya manusia (SDM) SMP al-Falah Deltasari

Perencanaan sumber daya manusia meliputi penyusunan anggaran

tenaga kerja (man power budgeting) yaitu kegiatan memadukan jumlah

tenaga kerja yang tersedia dengan jumlah tenaga kerja yang

dibutuhkan, tujuannya untuk mendapat gambaran mengenai kebutuhan

tenaga kerja, dan penyusunan program tenaga kerja (man power

programming), yaitu kegiatan untuk mengisi formasi yang meliputi

program pengadaan tenaga kerja, promosi jabatan, pelatihan dan

pengembangan pegawai, pengembangan karier, program pemeliharan

pegawai, dan program pemberhentian pegawai26

Perencanaan SDM tenaga pendidik yang dilakukan oleh SMP al-

Falah Deltasari, hemat peneliti telah sesuai dengan pendapat Andre

Sikula sebagaimana ditegaskan sebagai berikut:

“Human Resource of manpower planning has been defined as the

process of determining manpower reqruitments and the means for

meeting those requirements in order to carry out the integrated

plans of the organization27 (Perencanaan Sumberdaya manusia

atau perencanaan tenaga kerja didefinisikan sebagai proses rencana

organisasi. mempertemukan kebutuhan tersebut agar

pelaksanaannya terintegrasi dengan organisasi).

Andre Sikula menambahkan bahwa perencanaan tenaga kerja

yang tepat dalam sebuah perusahaan meliputi usaha untuk

mendapatkan: ”orang yang tepat, jumlah yang tepat, pengetahuan dan

ketrampilan yang tepat, dalam pekerjaan yang tepat, di tempat yang

tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan biaya yang sesuai.28

Hal senada dengan pendapat Gibson R. Oliver and Hunt Herold C, bahwa

kegiatan yang harus dilakukan dalam pengadaan tenaga pendidik

antara lain adalah: 1) reqution (pencarian personel, kualitas maupun

kuantitas); 2) recruitment (pencarian personel untuk memenuhi

kebutuhan sekolah); 3) selection (memutuskan personel yang

memenuhi persyaratan kebutuhan sekolah); 4) appointment (kegiatan

memilih posisi personil) 29

Upaya yang dilakukan SMP al-Falah dalam merencanakan

penarikan tenaga kerja dengan melalui tahapan-tahapan seperti diatas

26

Anwar Prabu Mangkunegara, Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung:

Rafika Aditama,2003),10.

27

Andrew Sikula, Personnel administration and Human Resources Management (John Wiley &

Son s, Inc, 1981), 183.

28

Ibid,.

29

Gibson R. Oliver, and Hunt Herold C, The School personnel Adminstrator (Bonton: Houghton Miffilin

Co, 1965), 84.

dengan melibatkan beberapa orang, adalah untuk memenuhi

kebutuhan tenaga pendidik yang dibutuhkan dan sesuai juga dengan

kualifikasi yang dimiliki calon tenaga pendidik, sehingga calon yang

diterima mampu menunjang cita-cita SMP al-Falah seperti yang

tercantum didalam visi, misi dan tujuan SMP al-Falah.

Perencanaan tenaga pendidik SMP al-Falah Deltasari dilakukan

melalui tahapan sebagai berikut:

b. Seleksi (rekrutment)

Seleksi merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk memutuskan

pelamar/calon tenaga pendidik mana yang akan diterima atau ditolak.

Proses seleksi penerimaan tenaga pendidik di SMP al-Falah Deltasari

dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) wawancara

pendahuluan; 2) pengisian formulir/blangko lamaran; 3) pemeriksaan

berkas lamaran; 4) test psikologi; 5) wawancara; 6) persetujuan

atasan langsung; 7) pemeriksaan kesehatan; 8) induksi atau orientasi.



Proses rekrutmen tenaga pendidik di SMP al-Falah Deltasari juga

sesuai dengan pendapat Mutiara S. Panggabean yang menganjurkan

agar proses rekrutment hendaklah melalui tahapan-tahapan: 1)

penerimaan pendahuluan; 2) pemeriksaan berkas lamaran; 3) test

pekerjaan, wawancara seleksi; 4) pemeriksaan latar belakang dan

referensi; 5) test kesehatan; 6) wawancara dengan atasan angsung;

7) ulasan pekerjaan yang sebenarnya, dan 8) keputusan

penerimaan30

Tujuan rekrutmen adalah memenuhi kebutuhan jangka pendek

(short-term) dan jangka panjang (long-term). Tujuan jangka pendek

berarti memenuhi kebutuhan akan personil sesuai dengan tuntutan

saat ini (current situation), sedang tujuan jangka panjang adalah

memenuhi penyediaan personil terus menerus baik personil

pelayanan maupun personil profesional.

b. Perencanaan SDM tenaga pendidik pada MTs N II Surabaya .

MTsN II Surabaya merencanakan SDM para tenaga pendidiknya,

didasarkan pada rencana Kementerian Agama RI yang dilaksanakan

oleh Kementerian Agama Kanwil Propinsi Jawa Timur dengan

menyelenggarakan test CPNS, untuk mengisi formasi calon tenaga

pendidik dan pegawai di lingkungan Kementerian Agama Propinsi

Jawa Timur. Hasil tes CPNS tersebut kemudian di distribusikan ke madrasah-

madrasah Negeri di Jawa Timur termasuk ke MTs Negeri II Surabaya.

c. Perencanaan SDM pada MTs Amanatul Ummah.





30

Mutiara S.Panggabean, Manajemen Sumber Daya manusia (Bogor: Ghalia Indonesia,2004), 18-

19.

MTs Amanatul Ummah mempunyai pola tersendiri. MTs

Amanatul Ummah tidak membuka pengumuman penerimaan

calon tenaga pendidik atau calon tenaga kependidikan secara

resmi. Ketentuan yang dilakukan adalah: meminta tutor dari

beberapa LBB yang qualified untuk menjadi tenaga pendidik di

MTs Amanatul Ummah, atau menerima pelamar mantan tenaga

pendidik dari lembaga pendidikan Islam bonafide di Surabaya

atau Sidoarjo yang telah memenuhi standar kualifikasi sebagai

tenaga pendidik. Para pelamar tersebut tidak secara otomatis

diterima, namun menunggu saat kapan MTs Amanatul Ummah

membutuhkan tambahan tenaga pendidik baru.

Kriteria diterima tidaknya pelamar tergantung pada hasil micro teaching

di depan siswa dan team seleksi. Ukuran berkualitas tidaknya pelamar

sangat tergantung pada penilaian siswa, pelamar menyenangkan siswa

atau tidak waktu mengajar. Apabila siswa merasa senang, maka team

akan merekomendasikan kepada Kepala MTs Amanatul Ummah.

Keputusan terakhir ditentukan oleh kepala madrasah.

B. Pengendalian SDM Tenaga Pendidik SMP al-Falah Deltasari,

MTsN II dan MTs Amanatul Ummah Surabaya

1. SMP al-Falah Deltasari

Berdasarkan temuan peneliti tentang langkah-langkah yang diambil

oleh kepala SMP al-Falah Deltasari adalah sebagai berikut:

a. Menentukan standar-standar untuk melakukan control terhadap:

1) Pengembangan standar kompetensi:

2) Pengembangan standar proses

3) Standar penilaian.

4) Standar pendidik

b. Membandingkan pelaksanaan performance dengan standar

c. Pengembangan standar proses

d. Standar penilaian

e. Standar pendidik



2. MTs N II Surabaya.

a. Memahami dan melaksanakan peraturan baik yang di edarkan oleh

Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya maupun yang dibuat oleh

MTsN II Surabaya.

b. Memberikan les tambahan kepada siswa kelas III yang akan menghadapi UAN.

c. Melakukan inovasi pembelajaran.Pembenahan kegiatan belajar mengajar

(PBM) dilakukan terus menerus dengan supervisi dan pertemuan rutin MGMP.

d. Mengadakan penataan SDM pendidik dan staf sesuai dengan kemam-

puannya, dan mengadakan rotasi tugas.

e. Meningkatkan program kegiatan intra dan ekstra kurkuler.Program ini

dimaksudkan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi

akademik dan non akademik.

f. Mengeluarkan biaya tambahan untuk peningkatan kesejahteraan

tenaga pendidik dan karyawan.

3. MTs Amanatul Ummah Surabaya.

a. Siswa wajib memahami, mengerti dan menghafalkan tentang visi,

misi, dan tujuan MTs Amanatul Ummah

b. Setiap Guru diwajibkan memberi soal kepada siswa setiap hari

minimal 2 soal untuk dipelajari dan dikerjakan siswa pada hari itu

juga setelah jam belajar efektif selesai.

c. Guru tidak boleh meninggalkan madrasah sebelum jam belajar usai,

kecuali ada keperluan penting dan dengan seizin pimpinan.

d. Guru diharapkan mempunyai bank soal sebanyak-banyaknya yang

diper-gunakan untuk melatih kepada siswa mengerjakan soal-soal UAN.

e. Madrasah memberikan kesejahteraan yang memadai.



Langkah pimpinan 3 lembaga Pendidikan Islam SMP al-Falah,

mengendalikan SDM tenaga pendidik tersebut sesuai dengan pendapat

Caldwell dan Spinks didalam bukunya yang berjudul: Leading the staff

managing School: bahwa pemimpin pendidikan yang sukses tidak hanya

bersifat transaksional yang bertujuan semata-mata memuaskan

kebutuhan para anggotanya, tetapi juga bersifat transformasional yang

menekankan prestasi sekolah pada leven exellence atau jika perubahan

diarahkan atau mempunyai level prestasi yang diharapkan. Pemimpin

pendidikan yang efektif adalah pemimpin yang berhasil mempunyai

komitmen pengikut-pengikutnya mencapai tingkat level pencapaiannya

lebih tinggi menjadi virtually a moral imperative 31



B. Pengembangan SDM Tenaga pendidik SMP al-Falah Deltasari, MTs

N II dan MTs Amanatul Ummah Surabaya



1. Pola pengembangan SDM tenaga pendidik pada SMP al-Falah Deltasari ll

a. Scanning, untuk melihat kemampuan tenaga pendidik baik dalam

ketrampilan mengajar maupun ketrampilan dasar lainnya, atau

dilakukan Training need assesment sebagai upaya mencari kebutuhan

pelatihan. Setelah data terkumpul tentang kesenjangan antara kinerja

dengan harapan, maka dilakukan tahap berikutnya .

Tahap pengembangan yang dilakukan SMP al-Falah Deltasari, telah

sesuai dengan pendapat Summer yang dikutip oleh Massie, bahwa

faktor-kator yang harus dikembangkan pada diri tenaga pendidik yaitu:

1) Faktor pengetahuan, termasuk ilmu yang dimiliki oleh tenaga

pendidik sebagai pendukung pekerjaannya. Pengetahuan yang

paling penting adalah ide-ide, konsep,dan prinsip-prinsip.









31

Caldwell & Spikn, Leading the Staff Managing School (London: The Falmers Press,1993), 523.

2) Sikap merupakan sumber perilaku, yang mencakup: kepercayaan,

perasaan, keinginan, dan nilai-nilai yang positif terhadap tugas

pekerjaan.

3) Kemampuan, mencakup ketrampilan, seni, kebijakan, dan kemampuan

memberi pertimbangan32



Bentuk penataran yang dilaksanakan oleh SMP al-Falah Deltasari

juga sejalan dengan pendapat Andrew E. Sikula yang mengemukakan

metode pelatihan dan pengembangan sebagai berikut:

“On the job, vestibule, demonstration and examples, simulation,

apprenticeship, classroom methods (lecture, conference, case study, role

playing and programmed instruction) and other training methods: some

of the most commonly used management development methods include:

training method, understudies, job rotation and planned progression,

coaching-consouling, junior boards of executives or multiple

management, community assignments, staff meetings and projects,

business games, sensitivy training, and other development method.33

c. Mengikuti MGMP, yang dilakukan secara berkala bekerja sama

dengan PSB (Pusat Sumber Belajar) dengan biaya swadana dan dana

dari MGMP.

d. Pertemuan antar Guru dan kepala Sekolah setiap bulan, mengadakan

PKG, penataran, bekerja sama dengan UNESA dan ITS,

mengirimkan utusan untuk mengikuti kursus, studi komparatif,

workshop, dan seminar dll.

e. KKG, sebagai wadah untuk melakukan sharing para guru untuk

pengutaraan kendala yang dihadapi, serta berupaya memperoleh

input solusi, atau dalam bentuk bertukar informasi tentang

pengalaman yang diperoleh guru dari luar sekolah. Tujuan pertemuan

yang dilakukan oleh KKG adalah untuk menambah wawasan guru, dan

memperakrab hubungan kemanuasiaan antar guru.

f. Pengawasan Sekolah (controlling)

Proses pengawasan Tenaga pendidik di SMP al-Falah dilakukan

melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

1) Penetapan standar pelaksanaan PBM oleh tenaga pendidik;

2) Penentuan Pengukuran pelaksanaan PBM;

3) Pengukuran kegiatan nyata PBM;

4) Pembandingan pelaksanaan PBM dengan standar dan peng-

analisaan penyimpangan-penyimpangan;



32

Joseph L. Massie, Essentials of Management (New Delhi: Prentice-Hall of India Private

Limited, 1973), 8-9.

33

Andrew E. Sikula, Personnel Administration and Human Resources Management (John Wiey &

Sons, Inc, 1981), 243.

5) Pengambilan tindakan koreksi bila perlu.

g. Laporan pengawasan, yang dilakukan setiap bulan kepada ketua

lembaga/Kepala Sekolah pada rapat pimpinan



2 Pengembangan SDM Tenaga Pendidik pada MTs N II Surabaya



a. Mengikuti kegiatan MGMP

b. Mengikuti seminar atau workshop yang diselenggarakan oleh instansi

lain, walaupun harus menggati ongkos cetak piagam.

c. Pertemuan dengan guru-guru anggota KKM, untuk membahas

masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pada guru.

Walaupun MTs N II tidak menyelenggakan sendiri kegiatan

pengembangan SDM tenaga pendidiknya, namun menurut hemat

peneliti bahwa upaya pengembangan yang dilaksanakan oleh

kementrian Agama maupun Dinas Pendidikan, sesuai dengan anjuran

Flippo yang mengatakan: bahwa pengembangan SDM tenaga

pendidikan hendaknya menggunakan metode yaitu:

1). Pelatihan di tempat kerja (on the job training). Materinya adalah

hal-hal yang dapat dipelajari dalam waktu singkat.kegiatan ini

memberikan motivasi yang besar bagi trainer, sebab pelatihan

berlangsung pada situasi kerja yang sesungguhnya.

2).Sekolah Vestibule, yaitu bentuk pendidikan yang melatih

pekerjaan ketrampilan yang sama persis dengan ketrampilan yang

dituntut ditempat kerja. Dilakukan diluar tempat kerja karena

keterbatasan tempat dan pelatih ditemat kerja.





3. Pola pengembangan SDM tenaga pendidik MTs Amanatul Ummah Surabaya.

Sebagaimana SMP al-Falah Deltasari dan MTs N II Surabaya,

MTs Amanatul Ummah juga melaksanakan pengembangan SDM

tenaga pendidik, namun cara yang dilakukan agak berbeda. Kepala

MTs Amanatul Ummah menawarkan kepada para pendidik, apabila

madrasah menerima undangan pelatihan yang diselenggarakan oleh

Kementerian Agama. Tenaga pendidik yang berminat, akan merespon

tawaran tersebut. Pendidik yang berstatus PNS, ada kewajiban untuk

menghadiri kegiatan MGMP.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan, bahwa pola

pengembangan SDM pada SMP al-Falah Deltasari, MTs N II Surabaya

dapat dilaksanakan secara profesional, karena menggunakan tiga

prinsip pendekatan yaitu a. prinsip sitstemik, yaitu memperhitungkan

kondisi serta kemampuan internal juga kekuatan-kekuatan eksternal

yang akan mempengaruhi proses pendidikan, b. prinsip keterarahan,

yaitu prinsip-prinsip kebijakan sekolah/madrasah yang konsisten

sehingga apa yang akan dilaksanakan akan lebih efisien, dan c. Prinsip

holistik yaitu program-program pengembangan dijabarkan secara nyata

dari visi, misi dan tujuan sekolah/madrasah. Sedangkan pada MTs

Amanatul Ummah kurang mengetrapkan ketentuan pola pengembangan

SDM manajemen modern.

Ciri-ciri pelaksanaan manajemen pengembangan SDM yang

efektif diorientasikan pada kepentingan siswa agar dapat mencapai

prestasi yang tinggi. Siswa dapat mencapai prestasi yang tinggi, sangat

tergantung pada efektifitas proses pembelajaran di kelas dan di luar

kelas, dan keefektifan tersebut ditentukan oleh kompetensi guru,

kemampuan siswa itu sendiri, lingkungan dan fasilitas yang disediakan

yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar pengajar. Guru harus

memiliki 10 kompetensi, agar proses pembelajaran efektif. 10

Kompetensi itu adalah: a. mengembangkan kepribadian, b. menguasai

landasan kependidikan, c. menguasai bahan pengajaran, d. menguasai

program pengajaran, e. melaksanakan program pengajaran, f. menilai

hasil dan proses belajar mengajar, g. menyelenggarakan program

bimbingan, h. menyelenggarakan administrasi sekolah, i. kerjasama

dengahn sejawat dan masyarakat, j. Menyelenggarakan penelitian

sederhana untuk keperluan pengajaran34



D. Upaya Meningkatkan Mutu Melalui Perbaikan Berbagai Fasilitas Pendukung

Berdasar hasil temuan di lapangan, diketahui adanya upaya untuk selalu

melakukan perbaikan berbagai fasilitas pendukung. Keberhasilan ketiga

lembaga pendidikan Islam di atas, diantaranya:

1. Tenaga pendidik .

2. Siswa

3. Sarana prasarana

4. Kemitraan

5. Semangat Kerja, iklim kerja dan hasil kinerja

6. Pelaksanaan manajemen pengembangan SDM yang efektif

Hasil temuan di ketiga lembaga Pendidikan Islam di atas menunjukkan

bahwa keberhasilan sekolah/madrasah, disebabkan karena semangat dan

motivasi semua tenaga pendidik, di tauladani oleh sikap kepala sekolah yang

inovatif, terbuka, menampung dan memperhatikan gagasan-gagasan

perbaikan dan pengembangan yang diusulkan para tenaga pendidik di

sekolah/madrasah tersebut. Sosok kepala sekolah yang mampu menjadi

teladan para guru dan murid dan gaya kepemimpinan yang luwes dapat

memperbesar semangat para tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas

dan keterampilannya untuk mendongkrak prestasi yang tinggi bagi siswa

siswanya. Di samping faktor keteladanan, ketersediaan dana penunjang dan

pemberian kesejahteraan karyawan juga ikut mempengaruhi keberhasilan

sekolah/marasah meningkatkan prestasi kerja para tenaga pendidik.









34

Depdikbud, Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Menjelang Era Tinggal Landas

(Jakarta: Depdikbud,1994)

E. Perbandingan 3 Lembaga Pendidikan Islam Berprestasi

Sebagai institusi pendidikan Islam, SMP al-Falah Deltasari, MTs Negeri

II Surabaya dan MTs Amanatul Ummah memiliki sejumlah persamaan dan

perbedaan. Persamaannya adalah: karena ketiga lembaga pendidikan

Islam tersebut merupakan pendidikan yang diatur didalam Undang-Undang

Sistem Pendidikan Nasional Bab VI pasal 17. 35

Disamping persamaan yang tercantum di dalam Undang-Undang Sistem

pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Bab VI Bagian kedua Pasal 17,

juga ada persamaan dalam berbagai aturan yang diperlakukan sama, seperti

pelaksanaan UAN, dan UAS SMP/MTs.

Ketiga lembaga pendidikan Islam tersebut sama-sama ingin

mewujudkan siswa yang berakhlaq mulia dan berprestasi, baik prestasi

akademik maupun non akademik, keinginan tersebut tercantum didalam

visi, misi, serta tujuan yang hendak dicapai.

Persamaan berikutnya adalah ketiga lembaga pendidikan Islam tersebut

sama-sama memiliki brand image yang cukup bagus di masyarakat masing-

masing. SMP al-Falah Deltasari merupakan sebuah lembaga pendidikan yang

cukup kondang bagi masyarakat urban kelas menengah ke atas sejak cukup

lama. Eksistensinya merupakan representasi dari lembaga pendidikan agama

yang diselenggarakan di bawah payung Yayasan al-Falah yang berkantor di

masjid al-Falah Jl Raya Darmo sebuah lokasi prestisius bagi masyarakat

menengah kota Surabaya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa keberadaan SMP

al-Falah Deltasari tidak bisa dilepaskan dari jejaring sosial yang sudah

terbangun sedemikian rupa di lembaga pendidikan agama di bawah naungan

Yayasan al-Falah tersebut, dan mayoritas dari pengguna lembaga tersebut

adalah masyarakat santri perkotaan dengan basis status sosial-ekonomi menengah

ke atas. Di Surabaya, keberadaan Yayasan al-Falah, terutama SMP al-Falah

Deltasari, sudah cukup dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang

menyediakan jasa pendidikan dan pengajaran bagi mereka yang berkantong tebal.

Sementara itu, MTs Amanatul Ummah juga memiliki brand image yang

cukup kuat akibat terobosan-terobosan di bidang pendidikan oleh lingkaran

top manajemen pesantren. Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis di

lingkungan pesantren, MTs Amanatul Ummah tentu saja memberikan pilihan

alternatif bagi masyarakat Muslim perkotaan yang disibukkan dengan

kehidupan sehari-hari yang sudah sedemikian sibuk. Seperti diketahui

bersama, upaya mem pesantrenkan putra-putri masyarakat perkotaan tengah

menjadi kecenderungan baru di tengah derasnya arus globalisasi dan

modernisasi yang mengancam identitas keagamaan mereka. Memasukkan

putra-putri mereka ke pesantren dianggap menjadi perlindungan terakhir bagi

benteng pertahanan moral-religius anak-anak perkotaan. Harus diakui,





35

Anwar, Arifin, Memehami Paradigm Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang

Sisdikna (Jakarta:Depag, 2003), 41-42.

gebrakan demi gebrakan yang dilakukan oleh unsur pimpinan madrasah

mampu mendongkrak citra MTs Amanatul Ummah di mata masyarakat

Perbedaan dari ke 3 lembaga pendidikan Islam, adalah terletak pada

kebijakan, peraturan, tata tertib yang dibuat oleh masing-masing sekolah/

madrasah itu sendiri. Perbedaan antara 3 lembaga pendidikan Islam tersebut

dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Lokasi pendidikan.

SMP al-Falah Deltasari berada di Pusat Kota (Urban), sangat

mempengaruhi laju pertumbuhan sekolah berprestasi, disebabkan latar

belakang pendidikan, tingkat sosial dan ekonomi orang tua siswa yang

tinggi, gaya hidup orang tua siswa yang eksklusif, kerana sebagian besar

mereka dari kalangan menengah keatas. Karena dukungan orang tua

yang tinggi, maka pengelolaan sekolah lebih mudah dari pada dukungan

yang kecil, disamping kepala sekolah dan para stafnya, dalam mengelola

sekolah menggunakan azas-azas pengelolaan perusahaan dengan

manajemen modern dan dilandasi dengan ajaran agama dan semangat

keagamaan. Kuatnya Yayasan tersebut otomatis mempermudah

pengelolaan SMP al-Falah.

Lokasi MTs Negeri II Surabaya berada di Kecamatan Lakarsantri,

jauh dari pusat kota Surabaya. Kondisi alam pedesaan berpengaruh

terhadap laju pertumbuhan madrasah, karena sebagian besar para siswa

berasal dari desa sekitar Kecamatan Lakarsanti, Kecamatan Sambi Kerep,

Kecamatan Wiyung, dan Kecamatan Menganti. Semua kecamatan tersebut

berada di pedesaan yang jauh dari pusat kota. Disamping faktor geografis

tersebut, juga faktor Orang tua siswa yang mendaftar ke MTs Negeri 2

yang sebagian besar berlatar pendidikan yang tidak tinggi, dengan latar

sosial ekonomi yang sedang, ditunjang oleh kultur masyarakat pedesaan

yang agraris, maka untuk mengembangkan MTs Negeri II bisa dilaksanakan

secara pelan, dan juga tergantung pada Kantor Departemen Agama.

Berbeda dengan SMP al-Falah Deltasari yang maju dengan cepat dan

pesat karena keleluasaan otoritas pihak Yayasan dalam mengembangkan

lembaga pendidikan tersebut. Ketersediaan dana yang cukup memadai dan

latar belakang sosial-ekonomi orang tua siswa yang kebanyakan kelas

menengah ke atas mampu mendongkrak image madrasah sebagai sekolah

elit. Di sisi lain, tiadanya kendala struktural dengan lembaga di atasnya

membuat pihak manajemen sekolah merasa lebih leluasa dalam

mengembangkan serangkaian inovasi atau terobosan di bidang

pengembangan kualitas pendidikan. Hal-hal positif ini pada taraf tertentu

juga menciptakan iklim kondusif bagi proses pengembangan SDM di

kalangan pendidik di lembaga pendidikan tersebut.

MTs Amanatul Ummah terletak di pusat kota Surabaya, tepatnya di

kecamatan Wonocolo, namun lokasi madrasah di tengah-tengah

perkampungan yang padat pendukuknya. Kultur masyarakatnya agamis,

terbukti dengan banyaknya Pondok pesantren baik yang salafi maupun

khalafi di sekitar MTs Unggulan PP Amanatul Ummah.

Orang tua siswa berasal dari masyarakat menengah kebawah,

walaupun demikian pendaftar banyak yang mampu membayar uang

adminstrasi Rp.1.750.000, dan membayar uang pondokan Rp.500,000

setiap bulan.

2. Penampilan Fisik.

SMP al-Falah berdiri diatas lahan tanah 4000 meter2, dengan dua

bangunan gedung berlantai dua yang mewah dan eksklusif yang tampak

dari luar seperti hotel, terdiri atas 16 kelas, dengan 9 ruang laboratorium, 1

ruang tata usaha, 1 ruang kepala Sekolah, 1 ruang guru, dan 1 mushala.

MTs Negeri 2 masih sederhana, berdiri diatas lahan 4.000 m2, di

desa Lakarsantri dengan kesan alam pedesaan yang khas. Bangunan

madrasah sebagian besar adalah bangunan tua yang di renovasi disana sini,

dan sebagian bangunan baru dari rehab Depag. Perawatan gedung dan

halaman cukup, tidak terlalu indah karena kurangnya pepohonan dan bunga

kebersihan juga sedang-sedang saja, karena tenaga kebersihan sangat

terbatas, sehingga piket kelas tetap berlaku bagi setiap kelas. Kelas tidak

dipel, tetapi hanya disapu oleh siswa yang piket.

Gedung MTs Amanatul Ummah berdiri diatas tanah 10.000 m2

dengan luas lantai 34 m2 yang dipergunakan untuk ruang kelas sebanyak 16

ruangan, dan 9 ruangan lainnya untuk laboratorim, perpustakaan, UKS,

ruang guru, ruang TU, ruang konseling, ruang pimpinan dan ruang

sirkulasi. Secara fisik, bangunan MTs Unggulan Amanatul Ummah cukup

bagus, berlantai 4, namun karena berada di jalan desa yang hanya muat

untuk satu jalur kendaraan roda empat, maka dari jalan tersebut tidak

nampak bangunan madrasah, karena bangunan membujur ke utara selatan,

dari jalan desa tersebut, yang nampak dari luar adalah gapura sekolah, yang

disebelah selatan, justru yang nampak dari jalan adalah bangunan rumah Kiai

dan lorong masuk ke madrasah.

3. Layanan akademik yang dilengkapi dengan prasarana dan media

pembelajaran, tersedia di ruang-ruang laboratorium maupun perpustakaan,

proses pembela-jaran dengan system siswa belajar secara aktif, dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa, sesuai dengan harapan

sekolah/madrasah dan orang tua siswa.

4. Program sekolah dan mekanisme organisasi telah tersusun secara

rasional dan relevan dengan visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan,

serta sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

5. Iklim kerja di 3 lembaga pendidikan Islam tersebut sangat sehat, dengan

motivasi intrinsik maupun ekstrinsik. motivasi intrinsik dari masing-

masing guru, menginginkan agar mata peljaran yang diberikan pada

siswa dapat diterima dengan baik oleh siawa, sehingga siswa akan

mendapatkan nilai yang tinggi, baik pada saat ulangan harian, ujian

semester maupun ujian kenaikan kelas, apalagi untuk menghadapi UAN.

Motivasi ekstrinsik, karena dorongan dan pimpinan kepala sekolah, yang

menginginkan adanya kemajuan bersama, untuk meningkatkan

kepercayaan masyarakat terhadap sekolah/madrasah, sehingga

sekolah/madrasah akan menerima calon siswa bukan saja dari kalangan

menengah kebawah, tetapi juga dari kalangan atas.

6.Figur kepala Sekolah dan kepala madrasah yang dapat dijadikan uswah

bagi para tenaga pendidik, baik dari segi profesionalitasnya maupun dari

akhlaq/moral dan kemampuan dan pengamalan agamanya.

7. Input siswa yang diterima ke tiga lembaga pendidikan Islam tersebut

adalah siswa-siswa yang sudah terseleksi secara akademik, melalui

pendidikan di SD atau MI. Khususnya bagi SMP al-Falah Deltasari,

apabila menerima alumni SD al-Falah, maka tidak diragukan lagi bekal

dasar ilmu pengetahuannya baik pengetahuan umum maupun agamanya.

8 Latar belakang orang tua siswa yang bervariasi dalam pendidikan,

pekerjaan, dan kualitas keberagamanan melatari tinggi rendahnya

dukungan pada sekolah/madrasah.

9. Kegiatan ekstra kulikuler yang bervariasi dapat menyalurkan bakat dan

minat siswa secara individu mapupun kelompok, baik dari segi kognitif

maupun psikomotorik.

10Dukungan masyarakat diwujudkan dalam bentuk sokongan dana, atau

pemikiran tentang perkembangan sekolah/madrasah.

11.Pencapaian prestasi akademik dan non akademik yang mangikuti dan

memenuhi standar nasional sangat menentukan keefktifan

sekolah/madrasah. Di SMP al-Falah telah di buka kelas SBI (sekolah

bertaraf Internasional), dan kelas Pendidikan Tehnologi Dasar (PTD), di

MTs Unggulan PP Amanatul Ummah ada kelas akselerai, dan kelas MBI

(Madrasah Bertaraf Internasional).



Temuan ini dikembangkan menjadi dua bagian, yaitu temuan yang

menggambarkan tipologi sekolah/madrasah yang berprestasi terdapat

pada gambar di bawah ini:



No Item SMP al-Falah MTsN II MTs A.U



1. Sistem Ikon terbuka Via Jaringan

Perikrutan Depag

Pengembangan

SDM Analisis Kalau

kebutuhan Via diperlukan

a. Perencanaan workshop Depag

b. Pelaksanaan Jatah dari

Keberhasilan Depag Mengikuti

PBM kegiatan

c. Evaluasi Prestasi MGMP, dll

siswa



2. Sistem reward Mutasi jabatan Rotasi Prestai siswa

and Pengurangan tugas Kesejakteraan

Punishment jam Mutasi di non

a. Reward tugas aktifkan

b. Punishment







ImpliKasi teoritis

Pembahasan tentang hasil penelitian memberi gambaran bahwa

efektifitas pelaksanaan pengembangan SDM tenaga pendidik pada SMP

al Falah Deltasari, MTs Negeri II Surabaya dan MTs Amanatul Ummah

adalah sebagai berikut:

Pola pelaksanaan pengembangan SDM yang efektif dilakukan oleh

kepala sekolah dengan menggunakan lima tipologi yaitu:



Pola pelaksanaan pengembangan SDM yang efektif dilakukan oleh

kepala sekolah dengan menggunakan lima tipologi yaitu:

a. Mengubah sekolah/madrasah yang biasa menjadi sekolah yang

berprestasi baik prestasi akademik maupun non akademik dengan

cara memadukan tuntutan kurikulum dengan kualifikasi tenaga

pendidik dan kesejahteraannya,

b. Kepala Sekolah senantiasa motivasi semua tenaga kependidikannya

dengan berpedoman pada Visi, Misi dan tujuan sekolah/madrasah yang

setiap tahun dianalisa kembali dengan semboyan: ing ngarso sun

tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani,



c. Di tiga lembaga pendidikan Islam tersebut terdapat team work yang baik

antara Kepala Sekolah/Madrasah dengan para wakil Kepala Sekolah/

madrasah, serta guru-guru dan staf tata usaha,dengan pendekatan religi

kultural untuk menghimpun dukungan masyarakat terhadap kebutuhan

sekolah/ madrasah, sehingga memungkinkan terlaksananya kepemimpinan

tim (team leadership) yang mampu mendinamisasi keadaan di sekolah/

madrasah, sehingga memunculkan ide-ide segar dan kreatifitas untuk

pengembangan sekolah melalui peningkatan SDM tenaga pendidiknya,

yang berdampak positif terhadap pencapaian prestasi siswa.

d. Kepala sekolah mempunyai kemampuan intelektual, sosial dan kultural,

berperan sebagai perantara ide dalam inovasi dan perubahan sekolah

/madrasah, dengan menerapkan kepemimpinan yang kolaboratif dan

keteladanan maupun kepeloporan untuk terus melakukan perbaikan-

perbaikan di segala sektor .

e. Para tenaga pendidik bersikap pro aktif dalam menghadapi perubahan

dan perkembangan pendidikan melalui inovasi pembelajaran,ditunjang

dengan tersedianya sarana dan prasarana yang cukup dan memadai,

sehingga memungkinkan para siswa dapat memanfaatkan berbagai

sumber belajar dan sumber informasi.

Temuan-temuan diatas menggambarkan bahwa ketiga lembaga

pendidikan Islam tersebut telah mengembangkan sumber daya tenaga

pendidiknya yang mampu meningkatkan keunggulan komparatif dan

kompetitif lulusannya baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

Hal ini sesuai dengan pendapat Tilaar bahwa : mengelola Pendidikan

Islam, hendaknya di fokuskan pada empat bidang prioritas, yaitu: a)

peningkatan mutu, b) pengembangan inovasi dan kreatifitas,

c).pengembangan jaringan kerja (networking), d) pelaksanaan otonomi

daerah36.

Temuan tersebut juga sesuai dengan pendapat Malik Fajar: bahwa

pendidikan Islam dapat menjadi alternatif apabila memenuhi empat

tuntutan yaitu: a).kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah yang

operasional di dalam usaha mewujudkan cita-cita pendidikan

Islam.b).memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali

sistemnya.c). meningkatkan dan memperbaiki manajemen dan d)

peningkatan mutu sumber daya manusianya.





Implikasi Praktis.



Implikasi praktis hasil penelitian strategi pengembangan SDM

tenaga kependidikan pada lembaga pendidikan Islam adalah:



a.Membantu para guru dan warga sekolah lainnya untuk memahami

strategi pengembangan SDM secara baik dan memadai, melalui on

the job training maupun off the job training.. Salah satu strategi itu

antara lain adalah memberdayakan semua komponen pendidikan di

lembaga tersebut, kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah yang

visioner dengan memahami fungsi-fungsinya, dan tugas-tugas yang

menjadi tanggung jawabnya.

b.Dapat berimprovisasi kreatif untuk membangun diri terdapat ilmu

pengetahuan dan tehnologi, mengadakan uji coba laboratorium sekolah,

c.Berkarya ilmiah melalui buku-buku perpustakaan, Introspeksi diri

terhadap kekurangan dan mau menindak lanjuti,

d. Mengembangkan diri melalui kerja kelompok kerja guru, penataran,

seminar, lokakarya, pelatihan dan tutor sebaya.

e. meningkatkan kesadaran dedikasi dan pemahaman gutu bahwa prinsip

pembelajaran mengacu kearah : a. learning to know., b. learning to do, c.

learning to life together, d.learning to be.



C. Saran-Saran



1. Kepada SMP al-Falah, MTsN II Surabaya, dan MTs Amanatul Ummah

Surabaya.

a. Agar tetap mempertahankan prestasi akademik dan non akademik

yang telah diraihnya, masyarakat telah menaruh kepercayaan terhadap

SMP al-Falah, MTsN II Surabaya, dan MTs Unggulan PP Amanatul

Ummah Surabaya, karena sekolah tersebut mampu bersaing dengan

lembaga pendidikan umum.

36

Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional,( Jakarta : Rineka Cipta,2004)

b.Guru-guru yang telah ditingkatkan SDMnya, hendaknya jangan

mening-galkan sekolah/madrasah itu hanya karena diluar di janjikan

akan memperoleh gaji yang lebih tinggi.

c.Melakukan studi banding ke Sekolah/Madrasah yanglebih maju,

untuk memacu semangat guru lebih tinggi lagi.

d.Tetap memegang komitmen, bahwa tujuan utama dari pengelolaan

dan perbaikan madrasah adalah agar siswa dapat mencapai prestasi

yang lebih tinggi, baik prestasi akademik maupun non akademik.



2. Penyelenggara Pendidikan dan Kepala Sekolah pada Umumnya.



a. Mencontoh kesuksesan ke 3 lembaga pendidikan Islam tersebut, dalam

pengelolaan manajemen peningkatan SDM tenaga kependidikan

b. Keunggulan ke 3 lembaga pendidikan Islam tersebut, salah satu

indikator adalah ditentukan oleh kepiawian Kepala

Sekolah/Madrasah dalam memimpin sekolah/madrasah.



3. Masyarakat Pendidik dan Pemuka Keagamaan.



a. Agar disadari, bahwa lembaga pendidkan Islam selain memberi ilmu

pengetahuan umum, juga memberi pengetahuan agama, yang porsinya

lebih banyak dari sekolah umum. Kenakalan siswa terjadi, karena

salah satu indikatornya adalah kurang atau tidak berhasilnya

penanaman agama pada siswa.

b. Agar ikut menghilangkan image yang berkembang di masyarakat,

bahwa sekolah-sekolah Islam adalah sekolah kelas 2, karena kualitas

dan SDM tenaga kependidikannya yang kurang profesional.



4. Peneliti lain.



Agar di adakan penelitian lanjutan yang mampu mengungkap tentang

keberhasilan lembaga pendidikan Islam dalam mendidik siswa-siswinya.


Other docs by hilman munawar
Ringkasan-disertasi_Bu.Amanah
Views: 71  |  Downloads: 0
skripsi
Views: 119  |  Downloads: 1
An Ebook Recommending Business
Views: 3  |  Downloads: 0
Rosemeilia_Yeny_Artati
Views: 5  |  Downloads: 0
jurnal_muhaimin
Views: 28  |  Downloads: 0
peluang kemitraan
Views: 19  |  Downloads: 2
2012 Outlook the Post-Stimulus Economy
Views: 4  |  Downloads: 0
Anonymous Survival Guide for Citizen
Views: 0  |  Downloads: 0