Pengalamatan IP
IP adalah protokol TCP/IP yang paling sesuai dengan layer 3 dalam model networking OSI. IP
menetapkan pengalamatan, seperti juga routing. Seperti layanan pos, IP menetapkan alamat sehingga
alamat tersebut memiliki struktur, memungkinkan routing yang mudah – networking yang serupa dengan
penyortiran surat. IP juga menyatakan bahwa setiap workstation harus memiliki alamat IP yang unik agar
terhindar dari kebingungan saat mencoba mengirimkan data ke alamat tersebut. Layanan pos menetapkan
detail pengalamatan sehingga pembawa surat dapat mengirim surat dengan mudah dan efektif. Demikian
juga, IP menetapkan detail pengalamatan IP untuk memfasilitas pengiriman paket IP yang mudah dan
efisien.
Setiap antar muka jaringan pada komputer membutuhkan IP address. Sebuah piranti yang memiliki
sebuah alamat IP dapat mengirim dan menerima paket IP dan dianggap sebagai TCP/IP host atau
biasanya disingkat sebagai host.
IP address versi 4 terdiri dari bilangan biner 32 bit. Namun karena manusia tidak terbiasa menulis
dalam biner, alama-alamat tersebut ditulis dalam desimal. Format alamat IP sering disebut format
canonical, kadang-kadang disebut juga format dotted docimal (bilangan desimal bertitik). Misalnya dua
baris berikut menunjukkan versi biner dari sebuah alamat IP, diikuti alamat IP yang sama yang dituliskan
sebagai bilangan dotted-decimal. Jelas dengan membandingkan dua hal di atas bahwa dengan memilih,
jauh lebih mudah bekerja dengan bilangan desimal.
00001000 00000100 00000010 00000001
8.4.2.1
Setiap kelompok bilangan desimal dalam alamat IP disebut octet. Istilah octet hanyalah istilah lain
untuk byte. Jadi setiap octet mewakili 8 bit alamat IP, dengan 4 octet yang dipisah dengan titik. Hal
penting yang harus diperhatikan dalam pengalamatan IP adalah konversi bilangan desimal ke biner dan
sebaliknya. Bilangan biner hanya menggunakan bilangan 1 dan 0, dan urutannya dari LSB (Least
Significant Bit) dari kanan ke kiri berupa pemangkatan.
Urutan bit 27 26 25 24 23 22 21 20
Desimal 128 64 32 16 8 4 2 1
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 59
Untuk memudahkan proses konversi, urutan yang perlu diingat adalah urutan konversi ke bilangan
desimal. Perhatikan contoh berikut.
Octet 1 0 1 1 0 0 1 0
Bobot 128 0 32 16 0 0 2 0
Total 128+0+32+16+0+0+2+0 = 178
Pembagian IP
Pada IP dikenal ada dua cara pembagian IP, yaitu:
1. Classfull addressing
2. Classless addressing.
Classfull merupakan metode pembagian IP dalam berdasarkan kelas dimana alamat IP, yang dibagi
dalam lima kelas, yakni:
1. Class A
- Format : 0nnnnnnn.hhhhhhhh.hhhhhhhh.hhhhhhhh
- Bit pertama :0
- Panjang Net ID : 8 bit
- Panjang Host ID : 24 bit
- Byte Pertama : 0 – 127
00000000 = 0
01111111 = 127
- Jumlah Kelas : 128 (27) (0 dan 127 dicadangkan)
- Range IP : 1.xxx.xxx.xxx sampai 126.xxx.xxx.xxx
(1.0.0.1 s/d 1.255.255.254)
…
(126.0.0.1 s/d 126.255.255.254)
- Jumlah Host : 16.777.214 (224-2) IP pada setiap kelas A
- Deskripsi : Diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang besar
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 60
Ciri:
- Bit pertama = 0
- Standar : 8 bit network dan 24 bit host
- Ada 128 (27) IP kelas A (dikurangi 2 untuk network dan broadcast)
- Kelas A dapat menampung lebih dari 16 juta host (2563-2)
2. Class B
- Format : 10nnnnnn.nnnnnnnn.hhhhhhhh.hhhhhhhh
- Bit pertama : 10
- Panjang Net ID : 16 bit
- Panjang Host ID : 16 bit
- Byte Pertama : 128 – 191
10000000 = 128
10111111 = 191
- Jumlah Kelas : 16.384 (214)
- Range IP : 128.0.xxx.xxx sampai 191.255.xxx.xxx
(128.0.0.1 s/d 128.0.255.254)
…
(191.255.0.1 s/d 191.255.255.254)
- Jumlah Host : 65.534 (216-2) alamat IP pada setiap kelas B
- Deskripsi : dialokasikan untuk jaringan besar dan sedang
Ciri:
- 2 bit pertama = 10
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 61
- Standar : 16 bit network dan 16 bit host
- Ada 214 IP kelas B (64 × 128; 64 adalah range dari 128 hingga 191)
- Satu kelas B dapat menampung 65 ribu host (2562-2)
3. Class C
- Format : 110nnnnn.nnnnnnnn.nnnnnnnn.hhhhhhhh
- Bit pertama : 100
- Panjang Net ID : 24 bit
- Panjang Host ID : 8 bit
- Byte Pertama : 192 – 223
11000000 = 192
11011111 = 223
- Jumlah kelas : 2.097.152 (221)
- Range IP : 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx
(192.0.0.1 s/d 223192.0.0.254)
…
(223.255.255.255.1 s/d 223.255.255.254)
- Jumlah host : 254 (28-2) alamat IP untuk setiap kelas C
- Deskripsi : digunakan untuk jaringan berukuran kecil
Ciri:
- Tiga bit pertama : 110
- Standar : 24 bit network dan 8 bit host
- Ada 32 × 256 × 256 (221) IP kelas C (32 adalah range IP dari 192 hingga 223)
- Satu kelas C dapat menampung hingga 254 host
4. Class D
4 bit pertamanya adalah “1110”.
- Format : 1110mmmm.mmmmmmmm.mmmmmmmm.mmmmmmmm
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 62
- Bit Pertama : 1110 – 11110111
- Bit Multicast : 28 bit
- Byte Inisial : 224 – 239
- Deskripsi : Kelas D digunakan untuk keperluan IP multicast (RFC 1112)
5. Class E
5 bit pertamanya adalah “1111”.
- Format : 1111rrrr . rrrrrrrr . rrrrrrrr . rrrrrrrr
- Bit Pertama : 1111
- Bit Cadangan : 28 bit
- Byte Inisial : 240 – 255
- Deskripsi : Kelas E adalah dicadangkan untuk keperluan eksperimental (research)
Ada beberapa aturan dalam menentukan network ID dan host ID yang akan digunakan:
- Network ID 127.0.0.1 tidak dapat digunakan karena secara default digunakan untuk
keperluan loopback, yaitu menunjuk dirinya sendiri.
- Host ID tidak boleh semua bit-nya di-set 1 karena diartikan sebagai alamat broadcast.
- Network ID dan host ID tidak boleh semuanya 0 (0.0.0.0) karena IP dengan host ID 0
diartikan sebagai alamat network, yang bertugas untuk menunjuk alamat sebuah jaringan
bukan host.
- Host ID dalam sebuah jaringan harus unik.
Selain digunakan dalam jaringan lokal (yang disebut juga dengan private IP), pembagian IP,
khususnya IP kelas C juga diperuntukkan bagi jaringan Internet. Pembagian ini ditulis di dalam RFC
1519, dimana dunia dibagi atas empat zona dengan alokasi IP sebagai berikut:
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 63
1. Alamat 194.0.0.0 hingga 195.255.255.255 untuk Eropa.
2. Alamat 198.0.0.0 hingga 199.255.255.255 untuk Amerika Utara.
3. Alamat 200.0.0.0 hingga 201.255.255.255 untuk Amerika Tengah dan Selatan.
4. Alamat 202.0.0.0 hingga 203.255.255.255 untuk Asia Pasifik.
Subnet dan subnet Mask
Bagian host dari alamat internet dibagi-bagi menjadi sebuah angka subnet dan sebuah angka host
untuk mengakomodasikan level pengalamatan yang baru. Efek dari subnet mask adalah menghapus
bagian bidang host yang menunjuk pada host aktual pada subnet. Pada tabel kedua diberikan salah satu
contoh subnetting, yang akan dibahas lebih lanjut pada minggu ke-8.
Tampilan Biner Desimal bertitik
Default Mask kelas A 11111111.00000000.00000000.00000000 255.0.0.0
Contoh 11111111.11000000.00000000.00000000 255.192.0.0
Default Mask kelas B 11111111.11111111.00000000.00000000 255.255.0.0
Contoh 11111111.11111111.11111000.00000000 255.255.248.0
Default Mask kelas C 11111111.11111111.11111111.00000000 255.255.255.0
Contoh 11111111.11111111.11111111.11111100 255.255.255.252
Pengalamatan dengan menggunakan sistem kelas di atas lebih dikenal sebagai classfull addressing.
Ini dapat dilihat dari byte pertama dan subnet masknya. Contohnya, jika terdapat IP dengan alamat
190.23.55.8 dengan netmask 255.255.0.0, maka alamat IP termasuk dalam pengalamatan classfull kelas
B. Akan tetapi jika diketahui alamat IP 190.23.55.8 dengan netmask 255.255.255.0, maka pengalamatan
ini disebut juga dengan classless addressing, oleh karena IP dari alamat tersebut berada di kelas B,
sedangkan netmask-nya berada di kelas C.
Oleh karena bit-bit pada subnet mask digunakan sebagai penentu jaringan beserta banyaknya host
yang berada di dalam satu jaringan, maka ada cara lain untuk merepresentasikan bit-bit tersebut yakni
dengan menuliskan banyaknya bit yang digunakan sebagai alamat jaringan dalam bentuk desimal atau
juga disebut sebagai panjang prefix (prefix length). Metode ini disebut juga dengan metode Classless
Inter-Domain Routing (CIDR). Contohnya adalah sebagai berikut.
Kelas Subnet mask Panjang prefix
Kelas A 255.0.0.0 /8
Kelas B 255.255.0.0 /16
Kelas C 255.255.255.0 /24
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 64
Dari suatu range alamat IP dengan subnet mask tertentu, seperti contohnya: 192.168.20.0—
192.168.20.255 dengan subnet mask 255.255.255.0, terdapat tiga macam IP, yaitu:
1. Alamat IP Jaringan, merupakan alamat IP paling pertama dari sebuah range. Cara untuk
menemukan alamat IP jaringan adalah dengan melakukan operasi AND untuk setiap bit pada
salah satu alamat IP dengan subnet mask-nya. Contohnya sebagai berikut.
Tampilan Biner Desimal Bertitik
Contoh Alamat IP 11000000.10101000.00010100.00111001 192.168.20.8
Subnet Mask 11111111.11111111.11111111.11100000 255.255.255.0
Bitwise AND dari 11000000. 10101000.00010100.00000000 192.168.20.0
alamat IP dan mask
Dengan demikian, alamat IP jaringan dari contoh range alamat IP di atas adalah 192.168.20.0.
2. Alamat IP broadcast, yang merupakan alamat IP terakhir dari suatu range IP. IP broadcast
merupakan nilai maksimum dari alamat IP host yang diperuntukan bagi jaringan. Dalam kasus
IP di atas IP broadcast-nya adalah 192.168.20.255
3. Alamat IP host, adalah range alamat IP dikurangi dengan alamat IP jaringan (network address)
dan alamat IP broadcast (broadcast address). Dengan demikian, pada kasus di atas, alamat IP
yang tersedia untuk host adalah 192.168.20.1—192.168.20.254.
Sebuah alamat IP sendiri terdiri atas dua bagian, yakni: ID jaringan dan ID host. ID jaringan
digunakan untuk mengidentifikasikan jaringan yang akan digunakan (baik yang bersifat kelas maupun
subnet). Sedangkan ID host merupakan ID yang digunakan dalam menentukan nomor host yang ada pada
jaringan tersebut.
Contoh berikutnya, misalkan sebuah alamat IP kelas A yang belum dilakukan subnetting memiliki
alamat 8.20.15.1 255.0.0.0 (IP: 8.20.15.1 dengan mask 255.0.0.0). Untuk mengidentifikasikan node (atau
komputer pemilik IP) dan jaringannya, konversikan alamat dan mask tersebut ke dalam biner.
8.20.15.1 = 00001000.00010100.00001111.00000001
255.0.0.0 = 11111111.00000000.00000000.00000000
Setelah dikonversi, proses mengidentifikasi ID jaringan dan ID host menjadi lebih mudah. Lakukan
operasi AND pada tiap-tiap bit. Setiap bit yang mask-nya adalah 1 merupakan ID jaringan. Sedangkan
setiap bit yang mask-nya adalah 0 merupakan ID host.
8.20.15.1 = 00001000.00010100.00001111.00000001
255.0.0.0 = 11111111.00000000.00000000.00000000
-----------------------------------------------
net id | host id
netid = 00001000 = 8
hostid = 00010100.00001111.00000001 = 20.15.1
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 65
IPv4 dan IPv6
Karena meledaknya kebutuhan hosting dan berbagai sarana lain di Internet, kebutuhan IP melonjak
naik. Hal ini menyebabkan semakin sedikitnya alamat IP yang tersedia. Selain itu, sering terjadinya
packet sniffing (penyadapan data), maraknya IP spoofing (pemalsuan IP), dan pembajakan koneksi
menjadi masalah utama IPv4. Begitu mendesaknya kebutuhan ini, mendorong para peneliti untuk
mengembangkan pengalamatan IP dengan format yang dapat menampung lebih banyak IP. Dengan
demikian lahirlah Internet Protocol version 6 atau yang lebih dikenal dengan nama IPv6.
Alamat IP versi 6 adalah sebuah jenis pengalamatan yang digunakan dalam protokol TCP/IP yang
menggunakan protokol IP versi 6. Panjang totalnya 128 bit, yang secara teoritis dapat mengalamati
hingga 2128 = 3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Salah satu contoh alamat IPv6:
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A.
IPv6 berbeda dengan IPv4 yang hanya memiliki panjang 32 bit—yang jumlah totalnya mencapai 4
miliar alamat namun pada kenyataannya tidak sampai 4 miliar alamat karena adanya pembatasan
sehingga pada penerapannya hanya mencapai beberapa ratus juta alamat saja.
Ada beberapa tujuan dari IPv6, yaitu:
1. Dapat mendukung miliaran host, walaupun dengan penggunaan yang tidak efisien sekalipun
2. Mengurangi ukuran table routing.
3. Menyederhanakan protokol, sehingga memungkikan router memproses paket lebih cepat
4. Menyediakan keamanan yang lebih baik
5. Lebih memperhatikan jenis layanan, khususnya untuk data real-time
6. Membantu multicasting dengan mengijinkan scope untuk dispesifikasikan
7. Memungkinkan host untuk berpindah-pindah tanpa harus mengubah alamatnya
8. Mengijinkan protokol untuk dikembangkan di masa yang akan datang
9. Mengijinkan protokol lama dan protokol baru untuk berdampingan
Ada beberapa hal yang menyebabkan kenapa IPv6 dibutuhkan, yang pertama karena para desainer
IP tidak menyangka bahwa kebutuhan IP akan sebesar ini. Selain itu, karena kebutuhan alamat IP saat ini
bukan hanya untuk komputer yang terkoneksi, tetapi juga device lain seperti handphone, PDA, atau
mobile communication lain yang membutuhkan alamat IP. Hal terakhir yang menjadi penyebab adalah
kebutuhan akan keamanan jaringan (pada network layer).
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 66
Ada beberapa faktor keamanan pada IPv6 yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Penambahan header AH (authentication header) dan ESP (encrypted security payload) yang
menggunakan konsep keamanan SA (security association). Dengan sistem ini maka duplikasi
data, penyadapan, dan lain-lain akan terhindarkan.
2. Pengamanan berfokus pada layer network, keamanan host berpusat pada masing-masing
aplikasi.
3. Pada IPv6 digunakan algoritma DES.
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 67
Selain itu, ada beberapa fitur yang ditawarkan IPv6, yaitu:
1. Penambahan address space yang cukup besar
2. Header yang lebih disederhanakan
3. Auto konfigurasi (stateless, di dalam RFC 2462, atau stateful, pada DHCPv6)
4. Quality of Service (adanya integrated services dan differentiated services)
5. IPSec (IP Security) seperti pada IPv4
6. Adanya teknik transisi, yaitu: dual stack, tunneling, translasi protokol, TCP relay.
Teknik dual stack adalah teknik penambahan IPv6 dengan tidak menghapus IPv4 yang telah ada.
Teknik tunneling menggunakan IPv4 sebagai layer data link dan IPv6 dienkapsulasi ke dalam jaringan
IPv4. Teknik translasi dilakukan dengan mentranslasikan dari NAT dari IPv6 ke IPv4 dan sebaliknya.
Teknik TCP relay menggunakan DNS, dimana aplikasi yang menggunakan IPv6 di relay di DNS
kemudian diteruskan ke DNS yang menggunakan IPv4.
Ada beberapa karakteristik dari IPv6 :
1. Alamat IPv6 lebih panjang, yaitu 16 byte (16 octet) sehingga address space lebih besar.
2. Header IPv6 lebih sederhana yaitu hanya 7 field, dibandingkan 13 field pada IPv4. Sehingga
lebih efisien pada router-router perantara.
3. IPv6 memberi kemajuan yang besar di bidang keamanan.
4. Teknik NAT (Network Address Translation) tidak lagi diperlukan.
5. Infrastruktur Hierarchical Addressing dan Routing yang efisien.
6. Security Suit Protocol yang sudah build-in. IPv6 memberikan dukungan penuh terhadap IPSec.
Ini menawarkan solusi yang reliabel untuk keamanan jaringan, dan menjamin interoperabilitas
antara implementasi IPv6 yang berbeda.
7. Dukungan yang lebih baik pada Quality of Service dengan field-field baru dalam header IPv6
sehingga trafik dapat diidentifikasi dan ditangani dengan lebiih mudah.
8. Adanya protokol baru untuk menangani interkasi Neighboring Node.
Protokol Neighbor Discovery untuk IPv6 merupakan pesan-pesan ICMPv6 yang berperan
mengelola interaksi di antara node-node yang bertetangga atau node-node dalam link yang
sama.
9. Extensibility.
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 68
Header pada IPv6 dapat dengan mudah menambah fitur baru dengan menambahkan header
tambahan setelah header IPv6 yang utama.
Jaringan Komputer – Week 7 – Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng. Page 69