Docstoc

Pewarna Makanan

Document Sample
Pewarna Makanan Powered By Docstoc
					Bahan Pewarna dalam Produk Makanan

1. Pengantar
2. Mengenal Pewarna Pangan
3. Pewarna yang Aman Dikonsumsi
4. Pewarna yang dilarang untuk Pangan
5. Penutup
6. Team
   Halaman Utuh


Pengantar

Bahan pewarna saat ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dari makanan dan minuman olahan.
Berbagai makanan yang dijual di toko, warung dan para pedagang keliling hampir selalu
menggunakan bahan pewarna. Warna ini biasanya menyesuaikan dengan rasa yang ingin
ditampilkan pada produk tersebut. Misalnya untuk rasa jeruk diberi warna oranye, rasa stroberi
dengan warna merah, rasa nanas dengan warna kuning, rasa leci dengan warna putih, rasa anggur
dengan warna ungu, rasa pandan dengan warna hijau, dan seterusnya.




Penggunaan pewarna sintetis yang tidak proporsional bisa mengganggu kesehatan. Pewarna
alami lebih aman asal bahan pendukungnya adalah bahan halal. Dalam sehari, pernahkan Anda
menghitung berapa jenis makanan yang dikonsumsi anak kita? Permen, jeli, kue lapis, bahkan
minuman warna-warni mungkin adalah makanan favorit mereka. Harganya yang tak sampai Rp
5 ribu rupiah menjadi daya tarik tersendiri. Siapa dari mereka yang akan berpikir "jahat"-nya
pewarna dalam makanan tersebut.

Mengenal Pewarna Pangan

Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air,
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain. Kandungan jenis bahan
tersebut bergantung pada sifat alamiah dari bahan makanan tersebut. Adakalanya makanan yang
tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandungan gizinya tinggi, dengan arti
lain kualitas dari suatu produk makanan sangat ditentukan oleh tingkat kesukaan konsumen
terhadap makanan tersebut. Umumnya pengolahan makanan selalu berusaha untuk menghasilkan
produk yang berkualitas baik. Kualitas makanan adalah keseluruhan sifat-sifat dari makanan
tersebut yang berpengaruh terhadap penerimaan dari konsumen.

Teknologi pengolahan pangan dewasa ini berkembang cukup pesat, termasuk di Indonesia.
Untuk memperoleh produk pangan olahan yang bercita rasa lezat, berpenampilan menarik, tahan
lama, mudah dalam pengangkutan dan pendistribusiannya digunakan berbagai bahan pendukung
yang lazim disebut bahan tambahan makanan (BTM, food additives).

Peraturan pemakaian BTM berbeda-beda antara satu Negara dengan Negara lain. Di Indonesia
pemerintah melalui Departemen Kesehatan telah mengeluarkan peraturan tentang penggunaan
BTM yang dapat dijadikan acuan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah dalam melakukan
pengawasan antara lain :

      Undang-Undang Republik Indonesia No.7 Tahun 1996, Bab II Keamanan Pangan



      Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, tentang persyaratan bahan
       tambahan makanan yang diijinkan, dosis pemakaian, dan label kemasan



      Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 208/Menkes/Per/IV/85, tentang penggunaan
       pemanis buatan



      Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 239/Menkes/Per/V/85, tentang pemakaian zat warna
       yang dilarang

Penggunaan BTM dibenarkan apabila (1) dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan
penggunaan, (2) tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau
tidak memenuhi persyaratan, (3) tidak digunakan untuk menyembunyikan cara kerja yang
bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk makanan dan (4) tidak digunakan untuk
menyembunyikan kerusakan makanan. Pengawasan pelaksanaan peraturan tersebut dilakukan
oleh Ditjen POM, disamping lembaga-lembaga lain seperti LSM dan YLKI.

Apa saja yang termasuk dalam BTM? Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No
235/MEN.KES/ PER/VI/1979 tanggal 19 Juni 1979 mengelompokkan BTM berdasarkan
fungsinya yaitu:

      antioksidan,



      anti kempal,
   pengasam, penetral dan pendapar,



   enzim,



   pemanis buatan,



   pemutih dan pematang,



   penambah gizi,



   pengawet,



   pengemulsi, pemantap dan pengental,



   pengeras,



   pewarna alami dan sitetik,



   penyedap rasa dan aroma,



   seskuestran,
      bahan tambahan lain.



Tujuan penambahan BTM secara umum adalah untuk:

      meningkatkan nilai gizi makanan



      memperbaiki nilai sensori makanan



      memperpanjang umur simpan (shelf life) makanan.



      sering digunakan untuk memproduksi makanan untuk kelompok konsumen khusus,
       seperti penderita diabetes, pasien yang baru mengalami operasi, orang-orang yang
       menjalankan diet rendah kalori atau rendah lemak, dan sebagainya.


Pewarna yang Aman Dikonsumsi

Zat warna/pewarna makanan secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: zat warna
alami, zat warna yang identik dengan zat warna alami, dan zat warna sintetis.

                            Zat warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari
                            tumbuhan,hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Zat warna ini
                            telah sejak dahulu digunakan untuk pewarna makanan dan sampai
                            sekarang umumnya penggunaannya dianggap lebih aman daripada
                            zat warna sintetis. Selain itu penelitian toksikologi zat warna alami
                            masih agak sulit karena zat warna ini umumnya terdiri dari campuran
                            dengan senyawa-senyawa alami lainnya. Misalnya, untuk zat warna
                            alami asal tumbuhan, bentuk dan kadarnya berbeda-beda,
dipengaruhi faktor jenis tumbuhan, iklim, tanah, umur dan faktor-faktor lainnya.



Bila dibandingkan dengan pewarna-pewarna sintetis penggunaan pewarna alami mempunyai
keterbatasan-keterbatasan, antara lain:

      Seringkali memberikan rasa dan flavor khas yang tidak diinginkan
      Konsentrasi pigmen rendah



      Stabilitas pigmen rendah



      Keseragaman warna kurang baik



      Spektrum warna tidak seluas seperti pada pewarna sintetis

                           Jenis zat warna alami yang sering digunakan untuk pewarna makanan
                           antara lain Karotenoid,Antosianin Kurkum, Biksin, Karamel,
                           Titanium oksida, Cochineal, karmin dan asam karminat.

                           Zat warna ini masih satu golongan dengan kelompok zat warna
                           alami, hanya zat warna ini dihasilkan dengan cara sintesis kimia,
                           bukan dengan cara ekstraksi atau isolasi. Jadi pewarna identik alami
                           adalah pigmen-pigmen yang dibuat secara sintetis yang struktur
                           kimianya identik dengan pewarna-pewarna alami. Yang termasuk
golongan ini adalah karotenoid murni antara lain canthaxanthin (merah), apo-karoten (merah-
oranye), betakaroten (oranye-kuning). Semua pewarna-pewarna ini memiliki batas-batas
konsentrasi maksimum penggunaan, terkecuali beta-karoten yang boleh digunakan dalam jumlah
tidak terbatas.

                           Berdasarkan rumus kimianya, zat warna sintetis dalam makanan
                           menurut “Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives”
                           (JECFA) dapat digolongkan dalam beberapa kelas, yaitu : azo,
                           triarilmetana, quinolin, xanten dan indigoid. Kelas azo merupakan zat
                           warna sintetis yang paling banyak jenisnya dan mencakup warna
                           kuning, oranye, merah, ungu, dan coklat, setelah itu kelas
                           triarilmetana yang mencakup warna biru dan hijau.

Zat warna sintetis dipakai sangat luas dalam pembuatan berbagai macam makanan. Zat warna
tersebut dapat dicampurkan dan akan menghasilkan kisaran warna yang luas. Pemakaian zat
warna oleh industri pangan jumlahnya boleh dikatakan tidak begitu banyak, yaitu biasanya tidak
lebih dari 100 mg per kg produk. Pemakaian zat warna sintetis dalam industri pangan.

Jenis Makanan Rata-rata Pemakaian (mg/kg)

      Minuman ringan 50
      Es loli 70



      Sugar confectionery 100



      Preserved dan table jellies 70



      Baked goods – cake dan biskuit 60



      Kalengan buah-buahan dan sayuran 70



      Sosis 10



      Ikan asap 30



      Instant desserts 50



Produk-produk susu – yogurt 20



Pewarna yang dilarang untuk Pangan

Ada beberapa jenis pewarna makanan yang beredar saat ini. Ada yang buatan (sintetik), ada yang
alami (natural). Pewarna sintetik biasanya terbuat dari bahan kimia, seperti tartrazin untuk warna
kuning, blilliant blue untuk warna biru, alura red untuk warna merah, dan seterusnya.

                             Sedangkan pewarna alami biasanya diekstrak dari tanaman atau
                             mikroba, seperti klorophil (hijau), xanthaxanthine (merah) dan
                             sebagainya. Pada umumnya pewarna sintetis ini tidak mengandung
                             bahan haram, tetapi kurang sehat apabila dipakai berlebihan. Ia dapat
berdampak buruk pada kesehatan. Sebaliknya pewarna alami lebih aman dan tidak menimbulkan
efek negatif bagi kesehatan.

Namun demikian pewarna jenis ini perlu dikaji, apakah mengandung bahan haram atau tidak.
Sebab biasanya pewarna ini kurang stabil, sehingga perlu bahan tambahan untuk membuat lebih
stabil. Bahan tambahan inilah yang perlu diwaspadai. Misalnya penggunaan gelatin sebagai
bahan pelapis (micro enkapsulasi) pada pewarna xanthaxanthine.

MASIH rendahnya pengetahuan masyarakat soal mutu dan keamanan pangan menyebabkan
maraknya kasus keracunan makanan. Hal ini diperparah dengan berbagai jenis bahan tambahan
makanan (BTM) yang bersumber dari produk-produk senyawa kimia dan turunannya. Mengingat
beredarnya beberapa bahan tambahan makanan yang berisiko, hendaknya konsumen lebih kritis
dan berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi aneka makanan yang ada. Atau dapat
membiasakan dengan menambahkan bahan tambahan makanan alami semisal kunyit, daun
pandan dan lain sebagainya.

Sebagai konsumen, tentunya kita mempunyai hak untuk memperoleh kebutuhan pokok yang
memadai, mendapatkan keamanan dari makanan dan minuman yang kita akan konsumsi. Bila
konsumen mengalami kerugian dalam mengonsumsi makanan dan minuman, dapat mengajukan
klaim pada instansi yang berwenang. Dalam hal ini instansi yang berwenang tersebut adalah
Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, dan Departemen Kesehatan.




Masyarakat konsumen sebaiknya tidak mengonsumsi makanan dan atau minuman yang tidak
mencantumkan batas tanggal kedaluwarsa. Ada beberapa informasi penting yang harus diketahui
konsumen. Pertama, harga, konsumen berhak mendapatkan informasi dan membandingkannya
dengan informasi lain sehingga ia dapat membeli dengan harga sesuai daya beli mereka. Kedua,
label, sebelum mengonsumsi makanan, konsumen perlu memperhatikan informasi pada kemasan
atau label produksi yang harus meliputi nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat atau isi
bersih, nama dan alamat produsen dan tanggal kadaluwarsa. Pemberian label pada makanan
kemasan itu bertujuan agar konsumen mendapatkan informasi yang benar dan jelas tentang
produk tersebut.

Ketiga, kemasan dan perubahan fisik, produk makanan dengan kemasan yang sudah rusak tidak
layak dikonsumsi. Perhatikan jika bau tidak sedap, perubahan warna, bentuk, dan rasa adalah
tanda-tanda makanan dalam kemasan telah rusak.
                                       Secara umum bahan pewarna yang sering digunakan
                                       dalam makanan olahan terbagi atas pewarna sintetis
                                       (buatan) dan pewarna natural (alami). Pewarna sintetis
                                       pada umumnya terbuat dari bahan-bahan kimia. Misalnya
                                       tartrazin untuk warna kuning, allura red untuk warna
                                       merah, dan seterusnya. Kadang-kadang pengusaha yang
                                       nakal juga menggunakan pewarna bukan makanan (non
                                       food grade) untuk memberikan warna pada makanan.

                                      Misalnya saja penggunaan rhodamin B yang sering
                                      digunakan untuk mewarnai terasi, kerupuk dan minuman
sirup. Penggunaan pewarna jenis ini tentu saja dilarang keras, karena bisa menimbulkan kanker
dan penyakit-penyakit lainnya.

Bahan pewarna sintetis yang boleh digunakan untuk makanan (food grade) pun harus dibatasi
jumlahnya. Karena pada dasarnya, setiap benda sintetis yang masuk ke dalam tubuh kita akan
menimbulkan efek. Beberapa negara maju, seperti Eropa dan Jepang bahkan telah melarang
penggunaan pewarna sintetis tersebut. Misalnya saja pewarna tartrazine, telah mulai
ditinggalkan oleh negara tertentu. Mereka lebih merekomendasikan pewarna alami, seperti beta
karoten.

Mengapa pewarna sintetis masih sangat diminati oleh para produsen makanan? Pertama adalah
masalah harga. Pewarna kimia tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan
dengan pewarna alami. Masalah ini tentu saja sangat diperhatikan oleh produsen, mengingat
daya beli masyarakat Indonesia yang masih cukup rendah.

Faktor kedua adalah stabilitas. Pewarna sintetis memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik,
sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan.
Sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan
disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan
segera pudar manakala mengalami proses penggorengan.

Pewarna alami sebenarnya tidak bebas dari masalah. Dari segi kehalalan, pewarna jenis ini justru
memiliki titik kritis yang lebih tinggi. Sebagaimana dijelaskan, pewarna natural ini tidak stabil
selama penyimpanan. Untuk mempertahankan warna agar tetap cerah, maka sering digunakan
bahan pelapis untuk melindunginya dari pengaruh suhu, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya.
Nah, bahan pelapis yang sering digunakan adalah gelatin, yang berasal dari hewan. Tentu saja
                                         gelatin ini perlu dilihat, apakah berasal dari hewan halal
                                         atau tidak.

                                       Salah satu contoh pewarna alami yang digunakan dalam
                                       pengolahan pangan adalah xanthaxanthine. Bahan
                                       pewarna yang memberikan warna merah ini diekstrak dari
                                       sejenis tanaman. Untuk membuat pewarna tersebut stabil
                                       maka digunakan gelatin sebagai bahan pelapis (coating)
                                       melalui sistem mikroenkapsulasi. Pewarna ini sering
digunakan pada industri daging dan ikan kaleng (ikan sardin).

Di satu sisi penggunaan pewarna sintetis yang tidak proporsional dapat menimbulkan masalah
kesehatan. Namun penggunaan bahan pewarna alamipun jika tidak dilakukan secara hati-hati
dapat menjurus kepada bahan yang haram atau shubhat. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi
dilema tersebut?

Pilihan terbaik tentu saja tetap pewarna alami, karena ia adalah bahan alam yang tidak
menimbulkan efek negatif pada tubuh. Namun harus diingat bahwa penggunaan bahan tambahan
atau bahan penolong semisal pelapis pada pewarna tersebut harus dipilih dari bahan-bahan yang
halal. Kalau harus menggunakan gelatin sebaiknya dengan gelatin yang halal. Bisa juga
digunakan bahan lain, seperti maltodekstrin atau karagenan yang lebih aman dari segi kehalalan.

Jika masalah harga masih menjadi kendala, maka penggunaan bahan pewarna sintetis boleh-
boleh saja. Namun harus jenis pewarna yang untuk makanan (food grade) dengan jumlah yang
proporsional dan tidak berlebihan. Bagi konsumen, perlu juga mengetahui ciri-ciri pewarna yang
tidak baik. Pertama, carilah makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok.
Misalnya, hindari makanan dengan warna merah, kuning dan hijau yang terlihat `ngejreng'.
Tidak menutup kemungkinan warna yang terlalu mencolok tersebut berasal dari bahan pewarna
non food grade, seperti pewarna teksil yang berbahaya bagi kesehatan. Sedangkan untuk melihat
pewarna yang halal dan yang tidak, secara kasat mata memang agak sulit. Oleh karena itu lebih
mudah memilih makanan dan minuman yang telah bersertifikat halal.

Bahan pewarna makanan seperti amaranth, allura merah, citrus merah, karamel, erythrosin,
indigotine, karbon hitam, Ponceau SX, fast green FCF, chocineal, dan kurkumin dibatasi
penggunaannya. Amaranth dapat menimbulkan tumor, reaksi alergi pada pernapasan, dan dapat
menyebabkan hiperaktif pada anak-anak. Allura merah bisa memicu kanker limpa. Karamel
dapat menimbulkan efek pada sistem saraf, dan dapat menyebabkan penyakit pada sistem
kekebalan. Indigotine dapat meningkatkan sensitivitas pada penyakit yang disebabkan oleh virus,
serta mengakibatkan hiperaktif pada anak-anak. Pemakaian Erythrosin menimbulkan reaksi
alergi pada pernapasan, hiperaktif pada anak-anak, dan efek yang kurang baik pada otak dan
perilaku. Ponceau SX dapat berakibat pada kerusakan sistem urin, sedangkan karbon hitam dapat
memicu timbulnya tumor.

Berdasarkan Permenkes No. 239/menkes/Per/V/1985 tentang Zat Warna Tertentu yang
dinyatakan sebagai bahan berbahaya, pewarna yang dilarang untuk pangan antara lain:
Auramine, Alkanet, Butter Yellow, Black 7984, Burn Umber, Chrysoidine, Chrysoine S, Citrus
Red No.2, Chocolate Brown Fb, Fast Red E, Fast Yellow AB, Guinea Green B, Indanthrene Blue
RS, Mageta, Matanil Yellow, Oil Orange SS, Oil Orange XO, Oil Yellow AB, Oil Yellow OB,
Orange G, Orange GGN, Orange RN, Orchil and Orcein, Ponceau 3 R, Ponceau SX, Ponceau 6
R, Rhodamin B, Sudan 1, Scarlet GN, Violet 6 B.

Ada beberapa contoh bahan pewarna berbahaya disebabkan bisa menimbulkan beberapa efek
karena sifat atau karakter dari zat tersebut di antaranya: Butter Yellow bersifat karsinogenitik,
Black 7984 dapat menimbulkan reaksi alergi dan intoleransi, Chrysoidine bersifat karsinogenitik,
Citrus Red No.2 bersifat karsinogenitik, Chocolate Brown FB dapat menimbulkan gejala
intoksikasi (keracunan), CI Basic Red 9 bersifat karsinogenitik, Metanil Yellow menyebabkan
mual, muntah, diare, panas dan dalam jangka panjang bisa menimbulkan kanker kandung kemih,
Oil Orange SS bersifat karsinogenitik, Orange G bersifat tumorigen dan mutagen, Ponceau SX
bisa menyebabkan kerusakan pada sistem urin, Rhodamin B bersifat karsinogenitik dan bisa
menyebabkan gangguan pada fungsi hati.

Penutup

Masyarakat diharapkan berhati-hati terhadap makanan yang menggunakan bahan tambahan
pangan, seperti pewarna dalam makanan karena bisa saja pewarna yang digunakannya bukan
untuk makanan. Sehingga sangat beresiko bagi kesehatan kita. Informasi terkait berkenaan
dengan pengaduan konsumen dalam masalah di atas kepada masyarakat bisa menghubungi:

Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) yaitu unit layanan yang dibentuk untuk
menampung pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan mutu, keamanan dan aspek legalitas
produk : Obat, Makanan dan minuman , Kosmetika dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
(PKRT) , Obat tradisional, Narkoba.

ULPK memberikan layanan informasi yang berkaitan dengan produk-produk obat, makanan,
kosmetika dan PKRT, obat tradisional dan narkotika yang tidak memenuhi syarat dan atau salah
penggunaannya yang dapat merugikan kesehatan.

Sekilas Tentang Bahan Makanan Tambahan
Juni 6th, 2009 by sijanggut and tagged bahan kue, bahan makanan, bahan pewarna makanan,
bahan tambahan makanan, food additives, kue makanan, pemanis makanan, pengawet makanan



Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap produksi yang
beredar dipasaran. Untuk menjamin keamanan pangan olahan, maka dibutuhkan kerjasama
antara pemerintah, produsen industri Makanan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari
produsen, dengan pengaturan dan pembinaan dari pemerintah.

Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis Bahan
Makanan yang diproduksi, dijual dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih
praktis dibanding dengan bentuk segarnya. Semua jenis makanan siap santap dan minuman
awet tersebut dapat menjadi busuk dan masih layak untuk dikonsumsi. Kemudahan tersebut
dapat terwujud diantaranya berkat perkembangan teknologi produksi dan penggunaan Bahan
Tambahan Makanan (BTM).

Salah satu masalah keamanan pangan yang masih memerlukan pemecahan yaitu penggunaan
bahan tambahan pada Bahan Makanan, untuk berbagai keperluan. penggunaan Bahan
tambahan makanan dilakukan pada industri pengolahan pangan maupun dalam pembuatan,
berbagai pengaruh jajanan yang umumnya dihasilkan oleh industri kecil atau rumah tangga
seperti Pewarna Makanan.
Penggunaan Bahan Tambahan Makanan yang tidak memenuhi syarat termasuk bahan
tambahan memang jelas-jelas dilarang, seperti pewarna, pemanis dan bahan pengawet.
Pelarangan juga menyangkut dosis penggunaan bahan tambahan makanan yang melampaui
ambang batas maksimum yang telah ditentukan (Effendi, 2004). Batas maksimum penggunaan
siklamat adalah 500 mg - 3 g/kg bahan, sedangkan untuk sakarin adalah 50-300 mg/kg bahan
(Depkes, 1997). Batas Maksimun Penggunaan pewarna sintetik yang dizinkan seperti Pancrew
4 R : 300mg/Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset yellow : 100mg/Kg bahan
makanan (Depkes, 1998). Klik Bahan Kue dan Pewarna Kue.

Diantara beberapa bahan tambahan makanan, yang sangat sering digunakan adalah pemanis
dan perwarna sintetik/Pewarna Makanan Kue. Pemanis sintetik sering digunakan oleh produsen
pada makanan/minuman jajanan. untuk mendapatkan rasa yang lebih manis dengan harga
yang murah dibandingkan pemanis alami (Pewarna Kue), yang pemakaiannya menurut
peraturan menteri kesehatan 208/ menkes/ per/ IV/ 85, hanya digunakan pada penderita
diabetes mellitus dan penderita yang memerlukan diet rendah kalori yaitu sakarin dan siklamat
(Depkes, 1997). Sementara Pewarna Makanan digunakan produsen untuk memberikan
penampilan yang menarik pada hasil produksi mereka melalui penggunaan bahan–bahan
tambahan kimiawi untuk makanan (BTM) atau Food Additives. Lihat Makanan Kue dan
Pewarna Makanan Kue.

Untuk menghasilkan produk-produk Makanan yang bermutu harus menggunakan beberapa
jenis bahan tambahan makanan yang aman dikonsumsi dan telah diizinkan Depkes. Tujuan
penggunaan bahan tambahan makanan untuk mendapatkan mutu produk yang optimal. Dalam
hal ini penggunaan bahan tambahan makanan, tentunya tidak terlepas dari aspek-aspek
pemilihan atau penetapan, pembelian, aplikasi, cara mendapatkannya, ketersediaan Bahan
Tambahan Makanan, dan peraturan pemerintah mengenai bahan tambahan makanan.

Sumber: astaqauliyah.com


Untuk informasi lebih lanjut, silahkan lihat di Bahan Makanan | Bahan Kue | Bahan Tambahan
Makanan | Pewarna Makanan | Pewarna Kue | Makanan Kue | Pewarna Makanan Kue | Kue
Makanan | Makanan dan Bahan Makanan & Bahan Kue:Bahan Tambahan Makanan & Pewarna
Makanan Kue Denpasar Bali di 88db.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1060
posted:12/31/2011
language:Indonesian
pages:11