DARI FILSAFAT
MENUJU FILSAFAT SAINS GEOGRAFI
Oleh :
Sulthani Aziz
10/307307/SGE/00192
Pengertian Filsafat
Berasal dari bahasa Yunani:
Philosopia :
̴ Philos cinta atau suka (dalam artian positif)
̴ Sophos bijak bestari
Secara singkat filsafat dapat bermakna suka terhadap
prilaku yang dilandasi sikap bijak dan bestari
Istilah filsafat menurut sejarah berawal dari kecendikiaan seorang
Yunani bernama Phitagoras (582-500 tahun SM). Dia adalah seorang
ahli matematika pada zamannya, sekaligus seorang pencinta musik
yang berat, dialah yang membuat tangga nada dalam musil.
Pengertian Filsafat ternyata sangat beragam, Dalam kamus Bahasa
Indonesia (2005), terdapat 4 makna dalam pengertian filsafat :
1. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang
ada, asal dan hukumnya.
2. Teori yang mendasari alam fikiran atau suatu kegiatan.
3. Ilmu yang mencirikan logika, estetika, metafisika dan estimologi.
4. Falsafah atau anggapan, gagasan dan pandangan hidup, yaitu sifat batin yang
paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat.
Apabila ditelusuri lebih jauh dapat diketahui bahwa filsafat
merupakan hasil renungan orang, berwujud butir-butir mutiara yang
digunakan menjawab persoalan-persoalan yang paling mendasar dalam
kehidupan manusia.
Misalnya:
Mengapa manusia itu ada? Mengapa ada binantang? Tumbuh-tumbuhan,
benda-benda langit dan lain sebagainya.
Filsafat Pengetahuan
Pada intinya membicarakan sumber kebenaran pengetahuan dan
kebenaran pengetahuan (Haryono Semangun, 1992).
Sumber kebenaran pengetahuan dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
̴ Sasaran yang nyata atau maujud (concrete)
̴ Sasaran yang Maya (abstract).
Sasaran maujud sumbernya adalah pengamatan indrawi, sedang
sasaran yang maya adalah penalaran. Adapun sumber pengetahuan
dapat disebutkan menjadi enam yaitu : indrawi (untuk sasaran yang
nyata), nalar, intuisi, otoritas, wahyu dan keyakinan (untuk sasaran
yang maya).
Hal-hal lain yang perlu dipahami adalah :
Pembenaran ≠ Kebenaran
Pembenaran :
̴ Sangat dipengaruhi individu yang bersangkutan, apakah dilatar belakangi
keyakinanya, wawasannya, kepentingan tertentu dari pribadinya atau
paradigma yang menjadi andalan individu tersebut.
̴ Asumsi-asumsi merupakan suatu hal yang dianggap benar tanpa
memperhatikan argumen pembenarannya, artinya terserah masing-masing
mana yang dianggap baik serta cocok bagi dirinya.
Dalam kenyataannya sulit bagi manusia untuk dapat menemukan
kebenaran yang hakiki atau mutlak selama masih ada intervensi unsur
subyektif berupa kepentingan dari individu manusia itu sendiri baik
disadari untuk tujuan tertentu maupun tidak. Sehingga yang ada
bukanlah kebenaran melainkan pembenaran.
Kebenaran :
̴ Plato (filsuf terkemuka dalam sejarah filsafat) : “Kebenaran yang obyektif itu
tidak ada”.
̴ Kata-kata plato tersebut didasarkan keyakinannya pada pandangan relativisme.
Relativisme merupakan fungsi dari ruang dan waktu, oleh karena itu tidak ada
yang disebut benar atau salah, termasuk moral dan keyakinan (Roy Jackson,
2001).
̴ Chain (1981) : Kebenaran itu hanyalah kelakar.
Namun apapun sikap pandangannya akan makna kebenaran dalam
kehidupan masyarakat dimanapun juga, tentulah manusia perlu
mencari kebenaran untuk kehidupan manusia itu sendiri dengan
menatap ke masa depan agar menjadi lebih indah dan menentramkan
bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan..
Cara untuk memperoleh sumber pengetahuan dibedakan menjadi dua :
1. Empirisme, mendasarkan pada kemampuan indrawi, yakni bahwa pengetahuan
merupakan kumpulan dari pengamatan indera manusia. Namun apabila
pengetahuan terdahulu tidak cocok dengan hasil pengamatan kemudian,
pengetahuan terdahulu menjadi batal.
2. Rasionalisme, dianggap sebagai sumber yang dapat dibanggakan, tetapi ada
kelemahannya, yaitu unsur subyektif dari si penalar baik sengaja ataupun tidak.
Satu kenyataan yang sama dapat dimaknai berbeda oleh orang lain.
Haryono Semangun (1992) mengemukakan sejumlah teori kebenaran :
1. Korespondensi, Sesuatu dianggap benar bila cocok dengan kenyataan yang ada.
2. Koherensi atau konsistensi, Sesuatu dianggap benar bila ada korelasi dengan hal
terdahulu yang telah dianggap benar.
3. Prakmatik, Sesuatu dianggap benar bila bermanfaat atau memberikan daya guna
yang relatif besar.
4. Semantik, Sesuatu dianggap benar bila mampu menunjukkan makna yang
sesungguhnya dengan acuan yang ada.
5. Konsesus, sesuatu yang berhubungan dengan pembuatan keputusan, dan
dianggap benar jika disepakati oleh komunitas yang terlibat di dalamnya baik
melalui musyawarah atau mufakat ataupun melalui pemungutan suara.
Wallace (1981) juga menguraikan empat cara bagi seseorang untuk mencari
kebenaran :
1. Kebenaran authoritarian, mencarinya dengan melalui orang lain .
2. Kebenaran mystical berorientasi kepada orang yang dianggap mempunyai kemampuan
spiritual lebih tinggi ketimbang orang kebanyakan. Biasanya mereka yang disebut
paranormal.
3. Kebenaran logical-rational, mendasarkan pada kemampuan penalaran, disebut juga
logika formal. Berbeda dengan dua terdahulu kebenaran ini terbebas dari faktor
individual, jadi siapapun dapat dijadikan sumber kebenaran, dengan syarat apa yang
dinyatakan benar didasarkan pada penalaran yang akurat dari bukti empirik yang dapat
dijelaskan secara nalar.
4. Kebenaran scientific seperti halnya pada (3) tidak bergantung pada siapa orangnya
melainkan apa yang dikemukakan sebagai hal yang dianggap benar, dan telah memenuhi
syarat berdasarkan hasil pengamatan empirik dengan metode tertentu yakni metode
ilmiah yang handal.
FILSAFAT SAINS
Dari sejarah perkembangan filsafat menuju filsafat sains, dapat diketahui, awalnya
antara filsafat dan sains sulit dibedakan. Bukti empirik belum dipandang sebagai
hal yang perlu dan metode ilmiah belum mendapat perhatian khusus.
Pada asasnya, Filsafat Sains bertujuan untuk menemukan alternatif kebijakan yang
dinilai paling akurat dalam upaya menggapai kebenara yang paling hakiki.
Filsafat sains merupakan bagian dari filsafat yang mempelajari pengetahuan
(knowledge) secara ilmiah. Filsafat sains pada dasarnya berkeinginan untuk
menegaskan hakikat sains yang mendasarkan tiga landasan, yakni landasan ontologi,
epistemologi, dan aksiologi.
̴ Landasan ontologi menelaah hakikat mengenai apa yang dikaji.
̴ Landasan epistomologi menjelaskan bagaimana cara memperoleh pengetahuan
yang benar (metodologi),
̴ Landasan aksiologi mempertanyakan kegunaan pengetahuan yang sudah
berstatus sebagai sains, diselaraskan dengan kaidah-kaidah moral manusia.
Haryono Semangun (1992) dari filsafat berkembanglah disiplin ilmu yang
jumlahnya ditaksir sekitar 650 hingga 700 disiplin.
Disiplin sains secara garis besar dapat dipilah menjadi dua group besar, yakni:
Natural Science dan Social Science (Conny Semiawan, dkk. 2005).
Namun apabila diingat bahwa istilah philosophy itu terangkat dari citra komunitas
Yunani pada waktu itu terhadap Phytagoras, tidak salah kiranya ditambah exact
science, bahkan dengan aspek ontologi dalam filsafat perlu dimasukkan juga
applicative science.
Sains geografi sendiri yang bidang studinya merambah natural science, social science, dan
applicative science, lebih cocok ada pada kelompok baru yang dapat diberi nama geoscience.
Dengan demikian dapat dikatakan paling tidak terdapat lima kelompok sains :
1. Natural science
2. Social science
3. Exacta science
4. Geoscience dan
5. Applicative science.
Kelompok Geoscience terdiri atas lima cabang sains geografi yaitu :
1. Geografi Fisis
2. Geografi Human
3. Geografi Regional
4. Geografi Lingkungan
5. Geografi Terapan/ Geografi Aplikatif
Pendekatan Sains
1. Pendekatan deduktif bertolak dari: telaah teoretik, penalaran, perenungan (dari
ranah abstrak) dengan target mengukur konsep, mengevaluasi proposisi pada
ranah empirik.
2. Pendekatan induktif, berawal dari: fenomena atau fakta dari hasil pengamatan
inderawi, yang kemudian bergerak ke arah perumusan konsep atau
modifikasinya, dan proposisi yang selanjutnya menuju pada pembentukan teori.
Nilai Ilmiah.
Terdapat lima patokan yang dapat digunakan sebagai patokan dalam dalam kegiatan
ilmiah khusususnya penelitian yaitu :
1. Objektifitas
2. Universialitas.
3. Desiminisitas
4. Kebebasan Ilmiah
5. Bahasa Komunikasi.
Agar suatu kebenaran dalam ranah sains dapat dipahami oleh pembacanya
diperlukan paling tidak empat perangkat bahasa komunikasi dalam
komunitas sains, yakni (ihalauw, 2004) :
1. Konsep sering disebut juga construct adalah simbul yang digunakan
untuk memaknai sebuah fenomena.
2. Proposisi menunjukkan hubungan antarkonsep sehingga, berujud
pernyataan tentang sifat fenomena.
3. Teori merupakan rangkaian proposisi atau hubungan antarproposisi.
4. Paradigma adalah seperangkat asumsi baik tersurat maupun tersirat
yang merupakan landasan bagi berbagai gagasan ilmiah
Adalah sangat penting untuk memahami benar-benar tentang
pengertian dan makna paradigma.
Paradigma
Semua konsep paradigma berpangkal dari gagasan Thomas S. Kuhn (1962)
tentang revolusi sains yang banyak dikenal secara luas dalam komunitas
sains.
Pengertian Paradigma
1. Ihalauw (2004) paradigma adalah seperangkat asumsi, tersurat dan tersirat,
yang menjadi dasar untuk gagasan-gagasan ilmiah. Paradigma bukanlah salah
atau benar melainkan lebih bermanfaat atau kurang bermanfaat sebagai sebuah
cara pandang terhadap sesuatu.
2. Akira lida (2004) dalam bukunya Paradigm Theory & Policy Making,
Reconfiguring The Future menyatakan : l intent to use the word with a spcific
definition in order to explain current economic, social and political phenomena.
"The activities of mankind, whether political, social or economic, should
conform to a set of norm (rules, principles or standard that are accepted by the
specific group) and these activities are carried out on the basis of a set of
essential preconditions".
3. Heddy Shri Ahimsa-Putra (2005) Pada hakikatnya sebuah paradigma dapat
dipandang sebagai pilihan strategi yang dinilai paling efektif untuk mencapai
kebenaran sebagai tujuan yang ingin dicapai.
4. Goodall (1987) seorang geografiwan, menyebut bahwa paradigma merupakan
Super Model. Paradigma yang disebutnya sebagai super model itu muncul
melalui proses pertentangan antara kelompok minoritas dari komunitas
ilmuwan, menghadapi kelompok mayoritas yang merasa bahwa paradigma
yang sudah berjalan lama itu, sudah mapan dan bagus.
FILSAFAT SAINS GEOGRAFI
Apa yang mendasari bahwa disiplin sains
geografi itu perlu ada?
"Andaikata di permukaan bumi ini tidak ditemukan perbedaan serta
keberagaman fenomena fisis, sosial, ekonomi, budaya, maka tidak ada dasar
landasan untuk exsist bagi disiplin sains geografi" (cf. Finch, 1951).
Sejumlah penulis merumuskan tentang filsafat sains geografi yang bervariasi, antara
lain Harvey (1986), Johnston (1986), Kittchen and Tate (2000).
1. Harvey (1969,1970,1971,1973,1976,1979,1986) dalam chapter I dengan judul
Philosophy and Methodology in Geography menuliskannya sebagai berikut.:
Consider the following statement : Geography is concerned with the description
and explanation of the areal differentiation of the earth's surface.
1. Harvey (1969,1970,1971,1973,1976,1979,1986) dalam chapter I dengan judul
Philosophy and Methodology in Geography menuliskannya sebagai berikut.:
Consider the following statement : Geography is concerned with the description
and explanation of the areal differentiation of the earth's surface.
2. Kitchin and Tate (2000) menyatakan : "By putting forward answers to
research questions you are engaging in the process of debate about what can be
known and how things are known. As such, you are engaging with philosophy".
3. Goodall (1987) merumusan definisi sains geografi sebagai berikut "
....Geography may be viewed as the study of the Earth's surface as the
environment and space within which human beings live. Geography is there for
concerned with the Structure and interaction of the major systems — the
ecological system that links human beings to their environment and the spatial
system that links one area of the Earth's surface with another. The essential
elements in geography are : (a) spatial analysis, with emphasis on location, (b)
ecological analysis, with emphasis on people-environment relationships, and
(c) regional analysis with an emphasis on regional-building and areal
differentiation."
4. Haggett (1989) mengemukakan pendapatnya "Although different definition of
geography abound, there are common elements in all definition. These include
a focus of attention on the Earth's surface, a concern with the Earth as the
home of humanity, the spatial organisation of the human population and with its
ecological relationship of the global environment. All definitions stress
geographers'awareness of the great spatial variety of the planet Earth, and the
distintiveness of its regions".
5. Johnston (1983, 1986) dalam bukunya yang berjudul Philosophy and Human
Geography antara lain menyatakan “In a discipline characterized by
competition between a variety of philosophies, student needs an introduction of
their fundamentals and their relevance to human geography”
de Blij dan Murphy (1998) mengajukan enam buah titik pandang dalam
menjelajahi studi disiplin sains Geografi, sebagaimana dapat diperhatikan dalam
Key Points berikut :
KEY POINTS :
1. Physical and human geography are two great branches of the discipline, but
environmental geography is emerging as a link between the two.
2. During the twentieth century geography has been marked by four durable
traditions: earth-science, culture-environment, locational, and area-analysis.
3. The national Geographic Socety in the 1980s proposed a useful five-theme
frameworks for geography; focused on the concepts of location, interaction
between humans and the environment, regions, place, and movement.
4. The spatial perspective is geography's unifying bond and is demonstrated
throug the use of maps.
5. Maps are used to portray the distinctive character of places; their relationship
to environmental issues, the movements of people, goods, and ideas; and
regions of various types
6. eople's perceptions of places and regions are influenced by their individual
mental maps as well as by printed maps.
Pergeseran Paradigma Sains Geografi
Goodall (1987) pada dasarnya membagi proses perubahan paradigma sains geografi
menjadi tujuh tahapan sebagai berikut:
1. Paradigm is a term derived from T.S. Kuhn, which describes the stable pattern of
scientific activity that holds within a discipline during a period of normal science. It is a
'super model' which provides intuitive and inductive rules about the kinds of phenomena
scientist in that discipline should investigate and the best methods of investivigation.
2. A paradigm represents the universally recognized scientific achievements within a
discipline which, at the time, provide model problems and solutions for the community of
sholars, so regulating research in that discipline
3. The growth of knowledge depends on paradigm shift. Nomal scince proceeds
unquestioned as long as new problems are solved: research the basic construct. Extends
the situations to which they are applicable and improves methods of testing theories.
4. Periodically a discipline fails to make progress — new questions throw up anomalies,
predictions of existing theories prove false and accepted methodologies fail to solve new
problems. There is an accumulation of unsolved problems, and a situation of paradigm
crisis prevails.
5. Minority groups in the discipline propose alternative approaches and there follows
vigorous and protected debate on the new concepts and ideas between the advocates of
the new and the defenders of long-held beliefs.
6. During this period of extraordinary science the new approach win converts, primarily
new entrants to the discipline, where it demonstrates its real chance of advancing the
discipline and answering previously insoluble problems.
7. As the numbers of supporters of the original paradigm dwindle with time through
retirement, death etc. the ideas become generally accepted the scientific revolution is over
and a new paradigm is established in that discipline.
Proses Munculnya Paradigma Baru Dalam Geografi Human
Pendekatan Kualitatif Versus Kuantitatif (cf. Whynne-Hamond, 1979: 8 — 16).
1. Proses itu berawal dari sekelompok geografiwan human yang menyampaikan gagasan
baru sebagai imbas issue para ilmuwan sosial karena merasakan bahwa paradigma
deduktif-kuantitatif tidak dapat menjawab permasalahan sosial secara akurat.
2. Perdebatan sengit antara mereka yang sudah mapan dengan paradigma yang sudah ada,
dengan mereka yang menghendaki perubahan paradigma khususnya mengenai
metodologi untuk bergeser ke metode kualitatif.
3. Perpecahan terjadi lantaran pertentangan soal paradigma. Akibatnya masing-masing
mencari jalannya sendiri.
4. Pertentangan mendingin setelah mengendapkan persoalan
5. Rujuk antara dua pihak yang berbedag paradigma untuk saling menghargai dan
menghormati
6. M.O.U. "There is a place for both the qualitative and the quantitative approaches and
always be openings for geographers specialisings in either. They compliment each other,
and only together will they add in the general interest, understanding, well-being and
future planning of our environment".
Tahun 1980 keatas terjadi pergeseran metode penelitian (khusus untuk
geografi human) dari metode kuantitatif yang sebelumnya mendominasi
metode-metode penelitian geografi human, bergeser atau berubah menjadi
metode penelitian yang latar belakangnya kualitatif.
Memperhatikan perubahan-perbahan pandangan (paradigma) geografi,
pantaslah apabila Johnston (1986) menyampaikan seruan:
"...... geographers have sought to constantly refine and redefine their discipline
in order to demonstrate its intellectual worth.“
Geografiwan perlu dan selalu mengamati adanya paradigma baru yang
diterima oleh komunitas ilmuwan secara luas
Metodologi
Ada dua pemaknaan tehadap istilah metodologi, yakni :
1. Studi yang membahas langkah-langkah berbagai metode
2. langkah-langkah strategis yang perlu ditempuh untuk mencari kebenaran
melalui penelitian berdasarkan metode ilmiah
Metodologi dapat dibagi menjadi tiga tahapan metode, yakni:
1. Metode pendekatan, merupakan langkah strategis, dapat dibedakan menjadi
lima macam, yakni: areal differentiation, landscape, man-environment, spatial
distribution, geometric (cf. Harvey, 1986).
2. Metode pengumpulan data.
3. Metode analisis data variasinya banyak bergantung apa yang dimaui peneliti.
Penutup
Dari pembelajaran/berbagai literatur yang membahas persoalan filafat sains georafi
dapat ditarik pemahaman sebagai berikut.
1. Filsafat Sains bertujuan untuk menemukan alternatif kebijakan yang dinilai paling
akurat dalam upaya menggapai kebenaran yang hakiki.
2. Ada berbagai filosofi yang disarankan sebagai acuan Studi Geografi dapat
diakomodasikan dalam berbagai rumusan tentang definisi geografi.
3. Dalam membicarakan persoalan filsafat sains geografi seyogyanya jangan
dipisahkan dengan metodologinya. Filsafatnya menjawab: what, where, when.
who, sedang metodologinya sebagai jawaban terhadap: how.
4. Aspek penting yang tidak dapat diabaikan dalam metodologi adalah paradigma
yang digunakan.
5. Istilah paradigma dalam pelaksanaan di lapangan bertingkat-tingkat, sesuai
dengan tingkat tujuan yang ingin dicapainya.
6. Dari berbagai variasi perumusan definisi geografi, implikasinya tentu saja dijumpai
dalam pelaksanaan penelitian di lapangan, demikian pula dalam penulisannya.
7. Kiranya sangat penting untuk dihayati bahwa metode ilmiah sangat beragam,
andia (oleh karena itu), sebagai ilmuwan (yang sudah menep / mapan) harus
dapat memahami keberagaman, yakni perbedaan bahkan pertentangan
pandangan, untuk sating menghormati dan menghargainya
Terakhir kiranya penting untuk direnungkan tiga rangkaian kalimat
berikut :
1. Tidak ada suatu paradigma sains yang dapat bertahan untuk skala waktu
yang lama terutama sains sosial, karena sains sifatnya dinamis yang dapat
berubah dan berkembang sebagai hasil konstruksi pemikiran
komunitasnya.
2. Kebenaran sifatnya relatif, tergantung dari landasan dasar filsafati,
paradigma, wawasan, serta subjektivitas dari pihak yang menentukan benar
atau salah.
3. Kebenaran dari suatu sains sesungguhnya merupakan hasil kesepakatan
dari komunitas atau kelompok ilmuwan dad disiplin sains yang
bersangkutan