Docstoc

SCIZOFRENIA ASKEP

Document Sample
SCIZOFRENIA ASKEP Powered By Docstoc
					                                                                                  1



DOWNLOAD KUMPULAN ASKEP GRATIS :


HTTP://MANISJAVANICA.BLOGSPOT.COM


LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Skizofrenia
1. Pengertian
    Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
    belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
    deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
    pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997;
    46).

2.     Penyebab
     a. Keturunan
        Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri
        0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang
        tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar
        satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).

     b. Endokrin
        Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada
        waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium.,
        tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.

     c. Metabolisme
        Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat,
        ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan
        menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam
        menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat
        halusinogenik.

     d. Susunan saraf pusat
        Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon
        atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin
        disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu
        membuat sediaan.

     e. Teori Adolf Meyer :
        Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang
        tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas
        pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior
        atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut
        Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi,
        sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut
        menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

     f. Teori Sigmund Freud
        Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab
        psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak
                                                                                   2



        bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase
        narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference)
        sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.

     g. Eugen Bleuler
        Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu
        jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses
        berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi
        2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi,
        gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala
        katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

     h. Teori lain
        Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-
        macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi,
        tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan
        penyakit lain yang belum diketahui.

     i. Ringkasan
        Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat
        dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang
        mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating
        factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak
        menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit
        Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).

3.     Pembagian Skizofrenia
       Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama
       antara lain :
     a. Skizofrenia Simplek
        Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
        kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar
        ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-
        lahan.

     b. Skizofrenia Hebefrenia
        Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
        remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses
        berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double
        personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
        perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak
        sekali.

     c. Skizofrenia Katatonia
        Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
        didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau
        stupor katatonik.

     d. Skizofrenia Paranoid
        Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham
        sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya
        gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
                                                                                   3



  e. Episode Skizofrenia akut
     Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan
     mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan
     seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-
     akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.

  f. Skizofrenia Residual
     Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas
     adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
     serangan Skizofrenia.

  g. Skizofrenia Skizo Afektif
     Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga
     gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini
     cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul
     serangan lagi.

Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik
  1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;
               1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau
                   (disorganized).
               2. Tidak terdapat wamam yang sistemik
               3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.

   2. Gejala Klinik
      Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
      - Inkoherensi yang jelas
      - Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.
      - Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
      - Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi
          sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran
          penyerta yang sering di jumpai.
      - Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.
      - Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.
      - Berbagai perilaku tanpa tujuan.

      Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan –
      pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial
      terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.
                                                                               4



Konsep Dasar Halusinasi
   1. Pengertian
      Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
      rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien
      memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau
      rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara.
      Padahal tidak ada orang yang bicara.

   2. Proses terjadinya halusinasi
      Fase pertama
             Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang
      memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan
      memikirkan hal – hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong
      sementara.

      Fase kedua
             Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi
      dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin
      orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.

      Fase ketiga.
             Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
      mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
      halusinasinya.

      Fase keempat
              Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi
      klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya,
      hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di
      lingkungan

   3. Tanda – tanda halusinasi
      Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang
      satu arah, menyerang tiba – tiba, arah gelisah.

   4. Jenis halusinasi
      a. Halusinasi dengar
         Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam
         tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.

      b. Halusinasi terlihat
         Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi
         klien yakin ada.

      c. Halusinasi penciuman
         Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain
         dan ada sumber.

      d. Halusinasi kecap
         Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.

      e. Halusinasi raba
         Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.
                                                                                    5



PENGKAJIAN
        Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah
klien.
        Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor
predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan
kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian
lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan
spiritual. Isi pengkajian meliputi :
     1. Identitas klien
     2. Keluhan utama/alasan masuk
     3. Faktor predisposisi
     4. Dimensi fisik / biologis
     5. Dimensi psikososial
     6. Status mental
     7. Kebutuhan persiapan pulang
     8. Mekanisme koping
     9. Masalah psikososial dan lingkungan
     10. Aspek medik
        Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data
obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga
melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.
Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan
pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling
berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF,
1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk
diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama
(core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari
beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat
dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa
masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari
beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon
masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa
keperawatan
                                                                         6



ANALISA DATA
                            POHON MASALAH

                                                        Resiko tinggi
                                                       mencederai diri
                                                        & Orang lain




                                                          Perubahan
                                                           perilaku
                       Kerusakan Komunikasi Verbal        kekerasan

 Gangguan pola tidur


                       Perubahan persepsi sensori :      Perubahan
                         Halusinasi pendengaran          proses fikir



                                                       Sidroma defisit
                       Isolasi sosial : menarik diri
                                                       perawatan diri




 Koping keluarga             Harga diri rendah         Koping individu
   tak efektif                                           tak efektif



                                   Stressor
                                                                                                7



DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
    DIAGNOSA
NO                  RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
    KEPERAWATAN
1   Resiko     mencederai   diri   Tujuan Umum :
    sendiri dan atau orang         Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain /
    lain/lingkungan berhubungan    lingkungan.
    dengan perubahan persepsi      Tujuan khusus :
    sensori/halusinasi             1. Klien dapat hubungan saling percaya :
                                       a. Bina hubungan saling percaya
                                           - Salam terapeutik
                                           - Perkenalan diri
                                            - Jelaskan tujuan interaksi
                                            - Ciptakan lingkungan yang tenang
                                            - Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan
                                               (topik, waktu dan tempat berbicara).
                                       b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
                                           perasaannya.
                                       c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

                                   2.   Klien dapat mengenal halusinasinya
                                        a. Lakukan kontak sering dan singkat
                                           rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan
                                           halusinasinya.

                                        b.   Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan
                                             halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus,
                                             memandang kesekitarnya seolah – olah ada teman
                                             bicara.

                                        c.   Bantu klien untuk mengenal halusinasinya;
                                             - Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang
                                                  dikatakan ?
                                             - Katakan bahwa perawat percaya klien
                                                  mendengarnya.
                                             - Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti
                                                 klien.
                                             - Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.

                                        d.   Diskusikan dengan klien tentang ;
                                             - Situasi yang dapat menimbulkan / tidak
                                                 menimbulkan halusinasi.
                                             - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,
                                                 siang sore, malam atau bila sendiri atau bila
                                                 jengkel / sedih).

                                        e.Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan
                                           bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang)
                                           dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.
                                   3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
                                      a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang
                                          dilakukan           bila       terjadi         halusinasi
                                          (tidur/marah/menyibukkan diri)
                                      b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila
                                          bermanfaat beri pujian.
                                      c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol
                                           timbulnya halusinasi :
                                           - Katakan “saya tidak mau dengan kamu” (pada
                                                halusinasi).
                                           - Menemui orang lain (perawat / teman / anggota
                                                keluarga untuk bercakap – cakap . mengatakan
                                                halusinaasinya.
                                           - Membuat jadwal kegiatan sehari – hari agar
                                               halusinasi tidak sempat muncul.
                                                                                               8



                                            -    Meminta orang lain (perawat / teman anggota
                                                keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.
                                       d.   Bantu klien memilih dan melatih cara memutus /
                                            mengontrol halusinasi secara bertahap.
                                       e.   Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah
                                            dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil.
                                       f.   Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas
                                            kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).

                                  4.   Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol
                                       halusinasinya :
                                       a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami
                                           halusinasi.
                                       b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung /
                                           pada saat kunjungan rumah)
                                            - Gejala halusinasinya yang dialami klien
                                            - Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga
                                                 untuk memutus halusinasi
                                            - Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi
                                                di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,
                                                makan bersama, berpergian bersama
                                            - Berikan informasi waktu follow up atau kapan
                                                perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol
                                                dan resiko mencederai orang lain.

                                  5.   Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :
                                       a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis,
                                           frekuensi dan manfaat obat.
                                       b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat
                                           merasakan manfaatnya.
                                       c. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat
                                            tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.
                                       d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi.
                                       e. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5
                                            (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)

2   Kerusakan komunikasi verbal   Tujuan Umum :
    berhubungan         dengan    Klien dapat melakukan komunikasi verbal
    perubahan   proses    pikir   Tujuan Khusus :
    (waham).                      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
                                      a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.

                                       b.   Jangan membantah dan mendukung waham klien.
                                             - Katakan perawat menerima : saya menerima
                                                keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.
                                             - Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi
                                                saya untuk mempercayainya disertai ekspresi
                                                ragu dan empati.
                                             - Tidak membicarakan isi waham klien.

                                       c.   Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan
                                            terlindung.
                                            - Gunakan keterbukaan dan kejujuran
                                            - Jangan tinggalkan klien sendirian
                                            - Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak
                                                  sendirian.

                                  2.   Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki
                                       a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien
                                           yang realitas.
                                       b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki
                                           pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
                                       c. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari –
                                            hari)
                                                                                             9



                                       d.   Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan
                                             sampai waham tidak ada.

                                  3.    Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak
                                       terpenuhi :
                                       a. Observasi kebutuhan klien sehari – hari.
                                       b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik
                                            selama di rumah / di RS.
                                       c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan
                                             timbulnya waham.
                                       d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan
                                             klien (buat jadwal aktivitas klien).

                                  4.   Klien dapat berhubungan dengan realitas :
                                       a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri
                                           orang lain, tempat, waktu)
                                       b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok:
                                           orientasi realitas
                                       c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang
                                            dilakukan klien.

                                  5.   Klien dapat dukungan keluarga :
                                       a. Gejala waham.
                                       b. Cara merawatnya.
                                       c. Lingkungan keluarga.

                                  6.    Klien dapat menggunakan obat dengan benar
                                       -        Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang
                                            obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat
                                            penghentian.
                                       -        Diskusikan perasaan klien setelah minum obat
                                       -        Berikan obat dengan prinsip 5 tepat

3   Difisit     perawatan  diri   Tujuan Umum :
    berhubungan dengan koping     Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri
    individu tidak efektif        menjadi adekuat
                                  Tujuan Khusus :
                                  1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri
                                      a. Dorong klien mengungkakan perasaan tentang
                                          keadaan dan kebersihan dirinya.
                                      b. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan
                                          empati.
                                      c. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan
                                           perasaan tentang kebersihan dirinya.
                                      d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri
                                      e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.

                                  2.   Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan
                                       kebersihan dirinya.
                                       a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang
                                           kebutuhan perawatan diri klien
                                       b. Diskusikan dengan keluarga
                                       c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi
                                            kebutuhan perawatan diri klien.
                                       d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan
                                            keluaga
                                                                                                   10



4   Isolasi sosial : menarik diri   Tujuan Umum :
    berhubungan dengan harga        Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap
    diri rendah.                    Tujuan Khusus :
                                          1.1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
                                                dengan perawat
                                        a. Bina hubungan saling percaya
                                              - Salam terapeutik
                                              - Perkenalan diri
                                              - Jelaskan tujuan interaksi
                                              - Ciptakan lingkungan yang tenang
                                              - Bina kontrak yang jelas (topik, waktu, tempak).
                                        b. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
                                             tentang penyakit yang diderita
                                        c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
                                        d. Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang
                                              berharga dan bertanggung jawab Serta mampu
                                              menolong dirinya sendiri.

                                            1.1. Klien dapat mengindetifikasi kemampuan dan
                                                 aspek positf yang memiliki

                                           a.     Diskusikan kemampuan dan aspek yang di miliki
                                                  klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih
                                                  berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki
                                                  oleh klien, aspek positif (keluarga, lingkungan) yang
                                                  dimiliki    klien.  Bila      klien    tidak  mampu
                                                  mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat memberi
                                                  pujian terhadap aspek positif klien.

                                           b.     Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian
                                                  negatif. Utamakan memberikan pujian yang realistis.


                                    1.1.          Klien dapat menilai kemampuan yang dapat
                                           digunakan
                                           a. Diskusikan selama sakit
                                                Misal : penampilan klien dalam “self care”, latihan
                                                fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan
                                                gangguan fisik yang dialami klien.
                                           b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan
                                               penggunaanya setelah plan sesuai dengan kondisi
                                               sakit klien.

                                    1.1.          Klien dapat menetapkan / merencakan kegiatan
                                           sesuai kemampuan yang dimiliki :
                                           a. Rencanakan bersama klien aktivitas bersama klien
                                               aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
                                               kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan
                                               bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan
                                               bantuan total.
                                           b. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi kondisi
                                               klien
                                           c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh
                                                klien    lakukan  (kadang    klien   takut   me
                                                laksanakannya).

                                    1.1.              Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi
                                                sakit dan kemampuan.
                                                a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba
                                                     kegiatan yang telah direncanakan
                                                b. Beri pujian atas keberhasilan klien
                                                c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
                                                        11




1.1.          Klien dapat menfaatkan sistem pendukung yang
       ada
       a. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang
           cara merawat klien harga diri rendah
       b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien
           dirawat
       c. Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:37
posted:12/28/2011
language:Indonesian
pages:11