Embed
Email

hakekat ipa

Document Sample

Shared by: A1E108020
Categories
Tags
Stats
views:
325
posted:
12/27/2011
language:
pages:
4
Rabu, 14 Januari 2009

Hakikat Pembelajaran IPA



Pada dasarnya manusia ingin tahu lebih banyak tentang IPA atau Sains, antara lain sifat sains,

model sains, dan filsafat sains. Pada saat setiap orang mengakui pentingnya sains dipelajari dan

dipahami, tidak semua masyarakat mendukung. Pada umumnya siswa merasa bahwa sains sulit,

dan untuk mempelajari sains harus mempunyai kemampuan memadai seperti bila akan menjadi

seorang ilmuan. Ada tiga alasan perlunya memahami sains antara lain, pertama bahwa kita

membutuhkan lebih banyak ilmuan yang baik, kedua untuk mendapatkan penghasilan, ketiga

karena tiap kurikulum menuntut untuk mempelajari sains. Mendefinisikan sains secara

sederhana, singkat dan yang dapat diterima secara universal sangat sulit dibandingkan dengan

mendefinisikan ilmu-ilmu lain.



Beberapa ilmuwan memberikan definisi sains sesuai dengan pengamatan dan pemahamannya.

Carin (1993:3) mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the

universe and finding and expressing it‟s hidden order, yaitu “ Suatu kegiatan berupa pertanyaan

dan penyelidikan alam semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam.”

Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban,

penyempurnaan jawaban baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara

sistematis (Depdiknas,2002a: 1).



Belajar sains tidak sekedar belajar informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam

wujud „pengetahuan deklaratif‟, akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh

informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural,

termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah.



Berdasar pada definisi yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa

sains selain sebagai produk juga sebagai proses tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pernyataan di atas selaras dengan pendapat Carin yang menyatakan bahwa sains sebagai produk

atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum dan teori sains. Fakta merupakan

kegiatan-kegiatan empiris di dalam sains dan konsep, prinsip, hukum-hukum, teori merupakan

kegiatan-kegiatan analisis di dalam sains. Sebagai proses sains dipandang sebagai kerja atau

sesuatu yang harus dilakukan dan diteliti yang dikenal dengan proses ilmiah atau metode ilmiah,

melalui keterampilan menemukan antara lain, mengamati, mengklasifikasi, mengukur,

menggunakan keterampilan spesial, mengkomunikasikan, memprediksi, menduga,

mendefinisikan secara operasional, merumuskan hipotesis, menginterprestasikan data,

mengontrol variabel, melakukan eksperimen. Sebagai sikap sains dipandang sebagai sikap ilmiah

yang mencakup rasa ingin tahu, berusaha untuk membuktikan menjadi skeptis, menerima

perbedaan, bersikap kooperatif, menerima kegagalan sebagai suatu hal yang positif.



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya sains terdiri atas tiga komponen,

yaitu produk, proses, dan sikap ilmiah. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau

fakta yang dihafal, namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran

dalam mempelajari rahasia gejala alam.

Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan

kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan

penyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan

matematika serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri.

Melalui pelajaran fisika diharapkan para siswa memperoleh pengalaman dalam membentuk

kemampuan untuk bernalar deduktif kuantitatif matematis berdasar pada analisis kualitatif

dengan menggunakan berbagai konsep dan prinsip fisika (Depdiknas, 2002a: 6).



Dari uraian di atas dapat disimpulkan dalam pembelajaran fisika untuk meneliti masalah-masalah

harus melalui kerja ilmiah, yang disebut metode ilmiah yaitu: merumuskan masalah,

merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan ekperimen, menganalisis data pengamatan,

serta menarik simpulan.



Ilmu Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan,

dan konsep yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui

serangkaian proses ilmiah. Hal ini berarti bahwa fisika harus diajarkan pada siswa secara utuh

baik sikap ilmiah, proses ilmiah, maupun produk ilmiah, sehingga siswa dapat belajar mandiri

untuk mencapai hasil yang optimal. Kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah perlu

dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan nyata.



http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/hakikat-pembelajaran-ipa.html







Hakikat Pembelajaran IPA Pada dasarnya manusia ingin tahu lebih banyak tentang IPA atau Sains, antara

lain sifat sains, model sains, dan filsafat sains. Pada saat setiap orang mengakui pentingnya sains

dipelajari dan dipahami, tidak semua masyarakat mendukung. Pada umumnya siswa merasa bahwa

sains sulit, dan untuk mempelajari sains harus mempunyai kemampuan memadai seperti bila akan

menjadi seorang ilmuan. Ada tiga alasan perlunya memahami sains antara lain, pertama bahwa kita

membutuhkan lebih banyak ilmuan yang baik, kedua untuk mendapatkan penghasilan, ketiga karena

tiap kurikulum menuntut untuk mempelajari sains. Mendefinisikan sains secara sederhana, singkat dan

yang dapat diterima secara universal sangat sulit dibandingkan dengan mendefinisikan ilmu-ilmu lain.

Beberapa ilmuwan memberikan definisi sains sesuai dengan pengamatan dan pemahamannya. Carin

mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the universe and finding and

expressing it’s hidden order, yaitu “Suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam semesta

dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam”. Sains mengandung makna pengajuan

pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban baik tentang gejala

maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis. Belajar sains tidak sekedar belajar

informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud pengetahuan deklaratif, akan tetapi

belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja

dalam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan

sikap ilmiah. Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa

sains selain sebagai produk juga sebagai proses tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pernyataan di

atas selaras dengan pendapat Carin yang menyatakan bahwa sains sebagai produk atau isi mencakup

fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum dan teori sains. Fakta merupakan kegiatan-kegiatan empiris

didalam sains dan konsep, prinsip, hukum-hukum, teori merupakan kegiatan-kegiatan analisis didalam

sains. Sebagai proses sains dipandang sebagai kerja atau sesuatu yang harus dilakukan dan diteliti yang

dikenal dengan proses ilmiah atau metode ilmiah, melalui keterampilan menemukan antara lain,

mengamati, mengklasifikasi, mengukur, menggunakan keterampilan spesial, mengkomunikasikan,

memprediksi, menduga, mendefinisikan secara operasional, merumuskan hipotesis,

menginterprestasikan data, mengontrol variabel, melakukan eksperimen. Sebagai sikap sains dipandang

sebagai sikap ilmiah yang mencakup rasa ingin tahu, berusaha untuk membuktikan menjadi skeptis,

menerima perbedaan, bersikap kooperatif, menerima kegagalan sebagai suatu hal yang positif. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya sains terdiri atas tiga komponen, yaitu produk,

proses, dan sikap ilmiah. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau fakta yang dihafal,

namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari rahasia

gejala alam. Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan

kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan penyelesaian

masalah baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan matematika serta dapat

mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. Melalui pelajaran fisika diharapkan

para siswa memperoleh pengalaman dalam membentuk kemampuan untuk bernalar deduktif kuantitatif

matematis berdasar pada analisis kualitatif dengan menggunakan berbagai konsep dan prinsip fisika.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan dalam pembelajaran fisika untuk meneliti masalah-masalah harus

melalui kerja ilmiah, yang disebut metode ilmiah yaitu: merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,

merancang dan melaksanakan ekperimen, menganalisis data pengamatan, serta menarik simpulan. Ilmu

Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep

yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses

ilmiah. Hakekat Sains dan Pembelajaran Sains Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit

telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik), dan life

sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu, astronomi, kimia, geologi,

mineralogy, eteorologi, dan fisika. sedangkan life science meliputi astronomi, fisiologi, zoology, citologi,

embriologi, mikrobiologi. IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan

kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tidak habis-

habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang

dihasilkannya, jangkauan sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu tekhnologi adalah lebar.

Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan " Sains hari ini

adalah tekhnologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan

kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang saling

mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of

Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology). IPA

membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil

percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh

Powler bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang

sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan

eksperimen. Dari uraian di atas Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan

metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan

mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata

pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa menegemukakan empat

alasan sains dimasukan dikurikulum yaitu: Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu

dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada

kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-

sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang

tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas

mengenai berbagai gejala alam. Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan

suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan

mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya

dapat dikemukakan suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak diminta

untuk mencari dan menyelidiki hal ini. Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan

sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka. Mata

pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk

keprbadian anak secara keseluruhan. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI

merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan

dalam pengembangan kurikulum disetiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada

pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri

yang difasilitasi oleh guru.



Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-ipa.html

Copyright aadesanjaya.blogspot.com



http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-ipa.html


Related docs
Other docs by A1E108020
hakekat ipa
Views: 325  |  Downloads: 6