Rabu, 14 Januari 2009
Hakikat Pembelajaran IPA
Pada dasarnya manusia ingin tahu lebih banyak tentang IPA atau Sains, antara lain sifat sains,
model sains, dan filsafat sains. Pada saat setiap orang mengakui pentingnya sains dipelajari dan
dipahami, tidak semua masyarakat mendukung. Pada umumnya siswa merasa bahwa sains sulit,
dan untuk mempelajari sains harus mempunyai kemampuan memadai seperti bila akan menjadi
seorang ilmuan. Ada tiga alasan perlunya memahami sains antara lain, pertama bahwa kita
membutuhkan lebih banyak ilmuan yang baik, kedua untuk mendapatkan penghasilan, ketiga
karena tiap kurikulum menuntut untuk mempelajari sains. Mendefinisikan sains secara
sederhana, singkat dan yang dapat diterima secara universal sangat sulit dibandingkan dengan
mendefinisikan ilmu-ilmu lain.
Beberapa ilmuwan memberikan definisi sains sesuai dengan pengamatan dan pemahamannya.
Carin (1993:3) mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the
universe and finding and expressing it‟s hidden order, yaitu “ Suatu kegiatan berupa pertanyaan
dan penyelidikan alam semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam.”
Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban,
penyempurnaan jawaban baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara
sistematis (Depdiknas,2002a: 1).
Belajar sains tidak sekedar belajar informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam
wujud „pengetahuan deklaratif‟, akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh
informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural,
termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah.
Berdasar pada definisi yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa
sains selain sebagai produk juga sebagai proses tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Pernyataan di atas selaras dengan pendapat Carin yang menyatakan bahwa sains sebagai produk
atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum dan teori sains. Fakta merupakan
kegiatan-kegiatan empiris di dalam sains dan konsep, prinsip, hukum-hukum, teori merupakan
kegiatan-kegiatan analisis di dalam sains. Sebagai proses sains dipandang sebagai kerja atau
sesuatu yang harus dilakukan dan diteliti yang dikenal dengan proses ilmiah atau metode ilmiah,
melalui keterampilan menemukan antara lain, mengamati, mengklasifikasi, mengukur,
menggunakan keterampilan spesial, mengkomunikasikan, memprediksi, menduga,
mendefinisikan secara operasional, merumuskan hipotesis, menginterprestasikan data,
mengontrol variabel, melakukan eksperimen. Sebagai sikap sains dipandang sebagai sikap ilmiah
yang mencakup rasa ingin tahu, berusaha untuk membuktikan menjadi skeptis, menerima
perbedaan, bersikap kooperatif, menerima kegagalan sebagai suatu hal yang positif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya sains terdiri atas tiga komponen,
yaitu produk, proses, dan sikap ilmiah. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau
fakta yang dihafal, namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran
dalam mempelajari rahasia gejala alam.
Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan
kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan
penyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan
matematika serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri.
Melalui pelajaran fisika diharapkan para siswa memperoleh pengalaman dalam membentuk
kemampuan untuk bernalar deduktif kuantitatif matematis berdasar pada analisis kualitatif
dengan menggunakan berbagai konsep dan prinsip fisika (Depdiknas, 2002a: 6).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan dalam pembelajaran fisika untuk meneliti masalah-masalah
harus melalui kerja ilmiah, yang disebut metode ilmiah yaitu: merumuskan masalah,
merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan ekperimen, menganalisis data pengamatan,
serta menarik simpulan.
Ilmu Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan,
dan konsep yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui
serangkaian proses ilmiah. Hal ini berarti bahwa fisika harus diajarkan pada siswa secara utuh
baik sikap ilmiah, proses ilmiah, maupun produk ilmiah, sehingga siswa dapat belajar mandiri
untuk mencapai hasil yang optimal. Kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah perlu
dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan nyata.
http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/hakikat-pembelajaran-ipa.html
Hakikat Pembelajaran IPA Pada dasarnya manusia ingin tahu lebih banyak tentang IPA atau Sains, antara
lain sifat sains, model sains, dan filsafat sains. Pada saat setiap orang mengakui pentingnya sains
dipelajari dan dipahami, tidak semua masyarakat mendukung. Pada umumnya siswa merasa bahwa
sains sulit, dan untuk mempelajari sains harus mempunyai kemampuan memadai seperti bila akan
menjadi seorang ilmuan. Ada tiga alasan perlunya memahami sains antara lain, pertama bahwa kita
membutuhkan lebih banyak ilmuan yang baik, kedua untuk mendapatkan penghasilan, ketiga karena
tiap kurikulum menuntut untuk mempelajari sains. Mendefinisikan sains secara sederhana, singkat dan
yang dapat diterima secara universal sangat sulit dibandingkan dengan mendefinisikan ilmu-ilmu lain.
Beberapa ilmuwan memberikan definisi sains sesuai dengan pengamatan dan pemahamannya. Carin
mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the universe and finding and
expressing it’s hidden order, yaitu “Suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam semesta
dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam”. Sains mengandung makna pengajuan
pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban baik tentang gejala
maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis. Belajar sains tidak sekedar belajar
informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud pengetahuan deklaratif, akan tetapi
belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja
dalam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan
sikap ilmiah. Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa
sains selain sebagai produk juga sebagai proses tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pernyataan di
atas selaras dengan pendapat Carin yang menyatakan bahwa sains sebagai produk atau isi mencakup
fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum dan teori sains. Fakta merupakan kegiatan-kegiatan empiris
didalam sains dan konsep, prinsip, hukum-hukum, teori merupakan kegiatan-kegiatan analisis didalam
sains. Sebagai proses sains dipandang sebagai kerja atau sesuatu yang harus dilakukan dan diteliti yang
dikenal dengan proses ilmiah atau metode ilmiah, melalui keterampilan menemukan antara lain,
mengamati, mengklasifikasi, mengukur, menggunakan keterampilan spesial, mengkomunikasikan,
memprediksi, menduga, mendefinisikan secara operasional, merumuskan hipotesis,
menginterprestasikan data, mengontrol variabel, melakukan eksperimen. Sebagai sikap sains dipandang
sebagai sikap ilmiah yang mencakup rasa ingin tahu, berusaha untuk membuktikan menjadi skeptis,
menerima perbedaan, bersikap kooperatif, menerima kegagalan sebagai suatu hal yang positif. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya sains terdiri atas tiga komponen, yaitu produk,
proses, dan sikap ilmiah. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau fakta yang dihafal,
namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari rahasia
gejala alam. Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan
kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan penyelesaian
masalah baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan matematika serta dapat
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. Melalui pelajaran fisika diharapkan
para siswa memperoleh pengalaman dalam membentuk kemampuan untuk bernalar deduktif kuantitatif
matematis berdasar pada analisis kualitatif dengan menggunakan berbagai konsep dan prinsip fisika.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan dalam pembelajaran fisika untuk meneliti masalah-masalah harus
melalui kerja ilmiah, yang disebut metode ilmiah yaitu: merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
merancang dan melaksanakan ekperimen, menganalisis data pengamatan, serta menarik simpulan. Ilmu
Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep
yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses
ilmiah. Hakekat Sains dan Pembelajaran Sains Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit
telah dijelaskan diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik), dan life
sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu, astronomi, kimia, geologi,
mineralogy, eteorologi, dan fisika. sedangkan life science meliputi astronomi, fisiologi, zoology, citologi,
embriologi, mikrobiologi. IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan
kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tidak habis-
habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang
dihasilkannya, jangkauan sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu tekhnologi adalah lebar.
Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan " Sains hari ini
adalah tekhnologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan
kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang saling
mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of
Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology). IPA
membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil
percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh
Powler bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang
sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan
eksperimen. Dari uraian di atas Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan
metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan
mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata
pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa menegemukakan empat
alasan sains dimasukan dikurikulum yaitu: Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu
dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada
kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-
sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang
tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas
mengenai berbagai gejala alam. Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan
suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan
mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya
dapat dikemukakan suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak diminta
untuk mencari dan menyelidiki hal ini. Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan
sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka. Mata
pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk
keprbadian anak secara keseluruhan. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI
merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan
dalam pengembangan kurikulum disetiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada
pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri
yang difasilitasi oleh guru.
Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-ipa.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com
http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-ipa.html