Docstoc

Bimbingan%20Konseling

Document Sample
Bimbingan%20Konseling Powered By Docstoc
					                                                                         Satu Untuk UNM


                                                       PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL


         Modul disusun dengan maksud utama: memberi manfaat yang optimal bagi
kelancaran dan efektivitas pelaksanaan PLPG Bimbingan Konseling. Guna mencapai maksud
tersebut, penggunaan modul perlu memperhatikan beberapa karakteristik penting dari modul
ini.
         Pertama, uraian materi dalam modul ini disusun dengan mengacu pada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 27 tahun 2008 tentang Kualifikasi Akademik dan Standar
Kompetensi Konselor. Dua kompetensi utama yang menjadi fokus kajian dalam modul adalah
kompetensi pedagogik dan komptensi profesional. Modul terdiri atas 10 Kegiatan Belajar
(KB). Uraian materi pada Kegiatan Belajar (KB) 1, 2, 3, dan 4 didasarkan terutama pada
Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di Institusi Pendidikan Formal
(Depdiknas, 2009), sedangkan uraian materi pada KB 5, 6, 7, dan 8 dikembangkan
berdasarkan referensi terkait yang tersedia. Uraian materi pada setiap kegiatan belajar
diusahan sesimpel mungkin sehingga bahan yang ada dalam modul hanya memenuhi
standar minimum dari apa yang seharusnya dipelajari dan dikaji. Oleh karena itu, fasilitator
dan peserta perlu memperkaya dengan bahan lain dari sumber referensi terkait lainnya.
         Kedua, modul ini berisi lesson plan berbasis active-learning. Pelaksanaan pelatihan
terutama berpusat pada peserta (trainee-centered). Keaktifan dan keterlibatan penuh setiap
peserta adalah kondisi esensial yang harus menyertai pelaksanaan setiap sesi pelatihan.
Walaupun sesi pelatihan banyak menggunkan format kelompok dan klasikal, namun
perhatian terhadap kondisi, keunikan, dan kebutuhan khas setiap peserta merupakan faktor
penentu keberhasilan pelatihan. Oleh karena itu, fasilitator perlu mengupayakan agar pada
setiap sesi yang dilakukan, setiap peserta didorong untuk mampu mengeksplorasi
permasalahan, pemikiran, ataupun pengalaman individualnya masing-masing. Di samping
itu, model prosedur, langkah-langkah, ataupun format-format yang ada pada setiap aktivitas
bersifat opsional. Fasilitator dapat meramu, mengkombinasi, atau bahkan menggantinya
dengan metode/format lain yang dirasa lebih cocok, sejauh tidak menyimpang dari tujuan-
tujuan yang ingin dicapai pada unit KB yang bersangkuitan dan tetap menggunakan prinsip
active-learning.
         Ketiga, struktur modul disusun dan dengan memperhatikan urutan logis penguasaan
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional konselor. Unit Kegiatan Belajar 1, 2, 3,
dan 4 dimaksudkan menjadi bahan pengganti pelatihan pada bagian Pendalaman Materi
dalam PLPG, sementara Unit Kegiatan Belajar 5, 6, 7, dan 8 dimaksukan untuk menjadi
bahan pelatihan pada bagian Model-Model Bimbingan Konseling. Masing-masing unit KB

       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                       1
                                                                                    Satu Untuk UNM


berdurasi waktu 5 x 50 menit (kecuali unit KB 5 dan 8 yang berdurasi 6 x 50 menit). Urutan
penyajian unit KB dalam modul diharapkan dapat diikuti secara konsisten agar tidak
mengacaukan        pemahaman        peserta       terhadap   keseluruhan   isi   modul.    Begitu   pula,
pelaksanaan pelatihan pada setiap unit KB perlu memperhatikan alokasi waktu yang
disediakan untuk unit tersebut agar tidak mengganggu pelaksanaan pelatihan pada unit-unit
KB berikutnya.
         Deskripsi isi dan alokasi waktu setiap unit Kegiatan Belajar diuraikan pada Matrik
berikut.
           Kode                                                                             Durasi
   No                                   Judul Kegiatan Belajar
            Unit                                                                            Waktu
    1.     KB 1      Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling                      5   x 50 menit
    2.     KB 2      Program Bimbingan dan Konseling                                  5   x 50 menit
    3.     KB 3      Asesmen dan Perencanaan Bimbingan Konseling                      5   x 50 menit
    4.     KB 4      Organisasi, Fasilitas, dan Evaluasi Bimbingan Knbseling          5   x 50 menit
    5.     KB 5      Konseling Behavioristik                                          6   x 50 menit
    6.     KB 6      Konseling Rational Emotive Behavior Therapy                      5   x 50 menit
    7.     KB 7      Konseling Humanistik                                             5   x 50 menit
    8.     KB 8      Keterampilan Dasar Konseling                                     6   x 50 menit




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                       2
                                                                         Satu Untuk UNM


                                                                              PENGANTAR


Pendahuluan
       Keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam sistem pendidikan
nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,
dosen, pamong belajar, tutor, widya iswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal
1 ayat 6). Kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnya
tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks
tugas, ekspektasi kinerja, dan seting pelayanan spesifik yang satu dan yang lainnya
mengandung keunikan dan perbedaan. Oleh sebab itu, di dalam naskah ini konteks dan
ekspektasi kinerja guru bimbingan dan konseling atau konselor mendapatkan penegasan
kembali dengan maksud untuk meluruskan konsep dan praktik bimbingan dan konseling ke
arah yang tepat.
       Merujuk pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, tenaga
pendidik di bidang bimbingan dan konseling disebut dengan Guru Bimbingan dan Konseling
atau Konselor. Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, perbedaan
rentang usia peserta didik pada tiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan pelayanan
bimbingan dan konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan. Batas ragam
kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lainnya tidak terbedakan sangat
tajam. Dengan kata lain, batas perbedaan antar jenjang tersebut lebih merupakan suatu
wilayah. Di pihak lain, perbedaan yang lebih signifikan tampak pada sisi pengaturan
birokratik, seperti misalnya di Taman Kanak-kanak sebagian besar tugas guru bimbingan dan
konseling atau konselor ditangani langsung oleh guru kelas taman kanak-kanak. Sedangkan
di jenjang Sekolah Dasar, meskipun memang ada permasalahan yang memerlukan
penanganan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor, namun cakupan
pelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya guru bimbingan dan konseling
atau konselor di setiap Sekolah Dasar, sebagaimana yang diperlukan di jenjang sekolah
menengah (SMP/MTs, SMA/MA, SMK). Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan siswa
didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus
dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling atau konselor, dan
tenaga pendidik dan kependidikan lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu masing-masing
pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan
pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara guru
bimbingan dan konseling atau konselor dengan guru mata pelajaran, antara lain dapat
dilakukan melalui kegiatan rujukan (referral). Masalah-masalah perkembangan peserta didik

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                          3
                                                                                Satu Untuk UNM


yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada guru bimbingan dan konseling
atau konselor untuk penanganannya, demikian pula masalah yang ditangani guru bimbingan
dan konseling atau konselor dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya apabila itu
terkait dengan proses pembelajaran mata pelajaran atau bidang studi. Masalah kesulitan
belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran
itu sendiri. Ini berarti di dalam pengembangan dan proses pembelajaran bermutu, fungsi-
fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru, dan sebaliknya, fungsi-
fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian guru bimbingan dan konseling
atau konselor.
         Berdasarkan keunikan pelayanan bimbingan dan konseling oleh guru bimbingan dan
konseling atau konselor, maka sosok kompetensi utuh seorang Guru Bimbingan dan
Konseling atau Konselor adalah sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No 27 tahun
2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Sosok utuh
kompetensi guru bimbingan dan konseling atau konselor mencakup kompetensi akademik
dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah
dari kiat pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik
merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1)
memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka
teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan
konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas guru
bimbingan dan konseling atau konselor secara berkelanjutan. Unjuk kerja guru bimbingan
dan konseling atau konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat
kompetensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang
mendukung. Kompetensi akademik dan profesional guru bimbingan dan konseling atau
konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional.
         Pembentukan kompetensi akademik guru bimbingan dan konseling atau konselor ini
merupakan proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang Bimbingan dan
Konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd)
bidang    Bimbingan       dan    Konseling.       Sedangkan   kompetensi   profesional   merupakan
penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang
ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah
diperoleh dalam konteks otentik Rumusan Standar Kompetensi Lulusan telah dikembangkan
dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi
kinerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. Namun bila ditata ke dalam empat

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                4
                                                                          Satu Untuk UNM


kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP RI 19/2005, maka rumusan
kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat dipetakan dan dirumuskan
ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana
termaktub dalam Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Konselor. Merujuk pada Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
dan Peraturan Pemerintah RI No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
menyatakan guru adalah pendidik professional, termasuk guru bimbingan dan konseling atau
konselor dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas. Untuk itu guru dipersyaratkan
memiliki kualifikasi akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan
menguasai kompetensi sebagaimana yang dituntut oleh UU Guru dan Dosen. Pengakuan
professional bagi guru dibuktikan melalui sertifikasi pendidik. Sertifikasi pendidik bagi guru
prajabatan diperoleh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), sedangkan bagi guru dalam
jabatan diperoleh melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio atau pemberian
sertifikat secara langsung. Sertifikasi sebagai upaya peningkatan mutu guru diharapkan
dapat meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling. Peserta sertifikasi melalui
penilaian portofolio yang belum mencapai skor minimal kelulusan, diharuskan (a) melengkapi
kekuarangan portofolio atau (b) mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang
diakhiri dengan ujian.
       Kebijakan pemerintah untuk melakukan standarisasi penyelenggaraan dan pengujian
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) merupakan upaya peningkatan kualitas guru
(termasuk di dalamnya guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor) perlu diapresiasi dan
dipandang sebagai salah satu proses profesionalisasi guru Bimbingan dan Konseling atau
Konselor. Oleh karena itu, standar kompetensi lulusan PLPG guru BK atau Konselor mengacu
pada Permendiknas Nomor 27 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi konselor. PLPG diselenggarakan sebagai salah satu upaya ―menambal‖
(melengkapi) kompetensi-kompetensi guru Bimbingan dan Konseling yang dinilai masih perlu
ditingkatkan. Peningkatan guru bimbingan dan konseling atau konselor melalui PLPG
ditunjukkan oleh hasil uji kompetensi meliputi uji tulis dan uji praktik, yang dilaksanakan
pada akhir PLPG. Pada uji tulis, yang diuji kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional
BK. Sedangkan kompetensi kepribadian dan sosial diuji melalui uji praktik dan atau penilaian
sejawat. Oleh karena itu tidak semua kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling atau
Konselor sebagaimana diamanatkan dalam Permendiknas 27 tahun 2008 dilatihkan dalam
PLPG yang berdurasi hanya 90 jam pelajaran.



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                           5
                                                                            Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 1

A. Judul    : Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
B. Indikator
  1. Menjelaskan konteks tugas konselor di sekolah
  2. Menjelaskan urgensi pelayanan bimbimbingan konseling di sekolah
  3. Menilai ketercapaian tujuan-tujuan tiga bidang pelayanan bimbingan konseling di
      sekolah
  4. Menjelaskan dengan contoh keterlaksanaan ketujuh fungsi bimbingan konseling di
      sekolah
  5. Menyebutkan contoh pelaksanaan enam prinsip bimbingan dan konseling
  6. Menyebutkan minimal tiga contoh pelaksanaan azas bimbingan konseling yang telah
      dilakukan di sekolah.
  7. Membedakan fokus pelayanan konseling di SD, SMP, SMA, SMK, dan PT.


C. Waktu        : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
       Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
      lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk enam kelompok. Setiap kelompok
      menilai sejauhmana butir-butir yang diuraikan dalam bahan tersebut telah terlaksana
      dan apa saja hambatan dalam mengimplementasikannya di lapangan. Bagilah tugas
      membuat evaluasi ini dengan rincian sebagai berikut:

           Kelompok                        Bahan yang dievaluasi
               I              Konteks Tugas Konselor & Urgensi pelayanan BK
                II            Tujuan Bimbingan dan Konseling
                III           Fungsi Bimbingan dan Konseling
                IV            Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
                V             Azas Bimbingan dan Konseling
                VI            Pelayanan BK di Berbagai Jenjang Pendidikan

      3. Wakil setiap pasangan kelompok secara bergantian menyajikan hasil kerja
           kelompok mereka di depan kelas
      4. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
           atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                         6
                                                                              Satu Untuk UNM


          dan memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
          topik diskusi pada butir 3.
      5. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
          mengungkapkan ketercapaiannya


E. URAIAN MATERI
  1. Konteks Tugas Konselor
      Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan formal telah dipetakan
secara tepat dalam Kurikulum 1975, meskipun ketika itu masih dinamakan pelayanan
Bimbingan dan Penyuluhan, yang                   diposisikan sejajar dengan pelayanan Manajemen
Penidikan, dan pelayanan di bidang pembelajaran yang dibingkai dalam Kurikulum,
sebagaimana tampak pada Gambar 1.1




 Gambar 1.1 Wilayah Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal

      Akan tetapi, dalam Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi, pelayanan
Bimbingan dan Konseling diletakkan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah
menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan lokal, dan (c) Materi Pengembangan Diri,
yang harus ―disampaikan‖ oleh Konselor kepada peserta didik, sebagaimana dapat
dilukiskan seperti Gambar 1.2




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                             7
                                                                         Satu Untuk UNM




Gambar 1.2 Kerancuan Wilayah Pelayanan Konselor dengan Wilayah Pelayanan Guru dalam
                                       KTSP


       Haruslah dihindari dampak yang membawa Konselor yang tidak menggunakan materi
pelajaran sebagai konteks layanan, ke dalam wilayah pelayanan Guru yang menggunakan
mata pelajaran sebagai konteks pelayanan.
       Dengan kata lain, sesungguhnya penanganan pengembangan diri lebih banyak terkait
dengan      wilayah pelayanan guru, khususnya melalui pengacaraan berbagai dampak
pengiring (nurturant effects) yang relevan, yang dapat dan oleh karena itu perlu, dirajutkan
ke dalam pembelajaran yang mendidik yang menggunakan mata pelajaran sebagai konteks
pelayanan. Meskipun demikian, Konselor memang juga diharapkan untuk berperan serta
dalam bingkai pelayanan yang komplementer dengan layanan guru, bahu-membahu dengan
Guru termasuk dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler. Persamaan, keunikan, dan
keterkaitan antara wilayah layanan, konteks tugas dan ekspektasi kinerja guru dengan
wilayah pelayanan, konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor dapat digambarkan seperti
tampak pada Gambar 1.3, di mana Materi Pengembangan Diri berada dan merupakan
wilayah komplementer antara guru dan konselor.




         Gambar 1.3 Keunikan Komplementaritas Wilayah Pelayanan Guru dan Konselor
     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                         8
                                                                         Satu Untuk UNM


   2. Urgensi Bimbingan dan Konseling
       Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah,
bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-
undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya
memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai
tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan
moral-spiritual).
       Peserta didik sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau
kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan
karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan
lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu
terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan peserta didik tidak selalu
berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses
perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi,
harapan dan nilai-nilai yang dianut.
       Perkembangan peserta didik tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis
maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang
terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat.
Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka
akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku peserta didik, seperti terjadinya
stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan
perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan
perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat,
pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi
informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari
agraris ke industri.
       Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti: maraknya tayangan
pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-
obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga;
dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup
peserta didik (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah
moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran,
meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika,



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                         9
                                                                            Satu Untuk UNM


dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas,
dan pergaulan bebas (free sex).
       Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak
sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam
tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan
keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang
mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi
semua tingkat satuan         pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya
secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut.
       Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti
disebutkan, adalah mengembangkan potensi peserta didik dan memfasilitasi mereka secara
sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi            kemandirian. Upaya ini
merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif
dan berbasis data tentang perkembangan peserta didik beserta berbagai faktor yang
mempengaruhinya.
       Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang
mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif
dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan
konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional
dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan peserta
didik yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan
atau kematangan dalam aspek kepribadian.
       Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan
konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat
pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif.
Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and
Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and
Counseling). Pepepelayanani bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada
upaya pencapaian          tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan
masalah-masalah peserta didik. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar
kompetensi yang harus dicapai peserta didik, sehingga pendekatan ini disebut juga
bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling).



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                             10
                                                                           Satu Untuk UNM


        Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor
dengan para personal Sekolah/Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru,
dan staf administrasi), orang tua peserta didik, dan pihak-pihak terkait lainnya (seperti
instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi
dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu
para peserta didik agar dapat mengembangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara
penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
        Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah
diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi          peserta didik,    yang
meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi
peserta didik sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial,
dan spiritual).


    3. Tujuan Bimbingan dan Konseling
        Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar peserta didik dapat: (1) merencanakan
kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan
datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal
mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta
lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi,
penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
        Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan
untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya,
(2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3)
mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan
tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan
kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan
masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan
(7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
        Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu peserta didik
atau peserta didik agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek
pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
    a. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial peserta
        didik adalah sebagai berikut.
        1)    Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan
              ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                            11
                                                                         Satu Untuk UNM


           keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja,
           maupun masyarakat pada umumnya.
    2)     Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling
           menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
    3)     Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara
           yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta
           dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang
           dianut.
    4)     Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik
           yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
    5)     Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
    6)     Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
    7)     Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain,
           tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
    8)     Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen
           terhadap tugas atau kewajibannya.
    9)     Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan
           dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan
           sesama manusia.
    10) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat
           internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain..
    11) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.


b. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar)
    adalah sebagai berikut.
   1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami
         berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
   2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca
         buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran,
         dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
   3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
   4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan
         membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan
         diri menghadapi ujian.
   5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                          12
                                                                        Satu Untuk UNM


        seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri
        dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi
        tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
     6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
c.   Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah sebagai
     berikut.
     1) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait
        dengan pekerjaan.
     2) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang
        kematangan kompetensi karir.
     3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang
        pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan
        sesuai dengan norma agama.
     4) Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)
        dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi
        citra-cita karirnya masa depan.
     5) Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali
        ciri-ciri   pekerjaan,     kemampuan   (persyaratan)   yang   dituntut,   lingkungan
        sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
     6) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan
        secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat,
        kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
     7) Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila
        seorang peserta didik bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa
        harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir
        keguruan tersebut.
     8) Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan
        dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.
        Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya,
        dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap
        pekerjaan tersebut.
     9) Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.
4. Fungsi Bimbingan dan Konseling
     a. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik
        (peserta didik) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                             13
                                                                              Satu Untuk UNM


       lingkungannya        (pendidikan,     pekerjaan,   dan   norma      agama).    Berdasarkan
       pemahaman ini, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan potensi
       dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara
       dinamis dan konstruktif.
  b. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk
       senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya
       untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini,
       konselor      memberikan         bimbingan   kepada      peserta    didik    tentang   cara
       menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
       Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan
       bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para
       peserta didik dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak
       diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan
       obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
  c. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari
       fungsi-fungsi      lainnya.    Konselor   senantiasa     berupaya    untuk    menciptakan
       lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta
       didik. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai
       teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan
       program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya
       membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik
       bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial,
       diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
       karyawisata.
  d. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini
       berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada peserta didik yang telah
       mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun
       karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  e. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu peserta didik
       memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan
       penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan
       ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu
       bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga
       pendidikan.



Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar                                                                    14
                                                                    Satu Untuk UNM


   f.   Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala
        Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program
        pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan
        kebutuhan peserta didik (peserta didik). Dengan menggunakan informasi yang
        memadai mengenai peserta didik, pembimbing/konselor dapat membantu para
        guru dalam memperlakukan peserta didik secara tepat, baik dalam memilih dan
        menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran,
        maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan
        peserta didik.
   g. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu peserta didik
        agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan
        konstruktif.


5. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
    Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi
pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang
kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan,
baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah
sebagai berikut.
a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik). Prinsip
   ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik atau peserta didik,
   baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik
   anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan
   dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan
   (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik
   bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan peserta didik
   dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga
   berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah peserta didik, meskipun
   pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
c. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada peserta
   didik yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan
   dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan
   pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang
   menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                         15
                                                                                      Satu Untuk UNM


      membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan,
      dan peluang untuk berkembang.
  d. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya
      tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala
      Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja
      sebagai teamwork.
  e. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan
      dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu peserta didik agar dapat
      melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk
      memberikan informasi dan nasihat kepada peserta didik, yang itu semua sangat
      penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan peserta didik diarahkan
      oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi peserta didik untuk memper-
      timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan
      keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan
      kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama
      bimbingan adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
      masalahnya dan mengambil keputusan.
  f. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan)
      Kehidupan.         Pemberian       pelayanan          bimbingan    tidak   hanya    berlangsung   di
      Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-
      lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan
      bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan,
      dan pekerjaan.

6. Asas Bimbingan dan Konseling
           Keterlaksanaan dan keberhasilan pepelayanan bimbingan dan konseling sangat
  ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
  a. Asas       Kerahasiaan,         yaitu       asas   bimbingan       dan   konseling   yang   menuntut
      dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang
      menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak
      layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh
      memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya
      benar-benar terjamin.
  b. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya
      kesukaan         dan      kerelaan          peserta      didik     (konseli)   mengikuti/menjalani


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                         16
                                                                         Satu Untuk UNM


   pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing
   berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
c. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
   peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan
   tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri
   maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi
   pengembangan           dirinya.     Dalam   hal   ini   guru   pembimbing   berkewajiban
   mengembangkan keterbukaan peserta didik (konseli). Keterbukaan ini amat terkait
   pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta
   didik yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka,
   guru pembimbing terlebih dahuu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
d. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta
   didik (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam
   penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing
   perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan
   bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
e. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan
   umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (konseli) sebagai sasaran
   pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi peserta didik-peserta didik
   yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,
   mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru
   pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan
   konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
f. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek
   sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik
   (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan ―masa
   depan atau kondisi masa lampau pun‖ dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan
   kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
g. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi
   pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu
   bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai
   dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
   berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh
   guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu.

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                            17
                                                                                  Satu Untuk UNM


      Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam
      penyelenggaraan pepelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan.
      Koordinasi      segenap      pelayanan/kegiatan     bimbingan     dan     konseling   itu   harus
      dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
   i. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
      segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak
      boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama,
      hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.
      Bukanlah       pelayanan      atau     kegiatan   bimbingan    dan    konseling    yang     dapat
      dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan
      norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan
      konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (konseli)
      memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
   j. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
      pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-
      kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan
      dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan
      konseling.      Keprofesionalan        guru   pembimbing      harus     terwujud   baik     dalam
      penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam
      penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
   k. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
      agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan
      konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (konseli)
      mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing
      dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan
      demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata
      pelajaran/praktik dan lain-lain.

7. Pelayanan Bimbingan Konseling di Berbagai Jenjang Pendidikan
           Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, namun perbedaan
   rentang usia peserta didik pada tiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan layanan
   Bimbingan dan Konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan, namun batas
   ragam kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lain tidak terbedakan
   sangat tajam yang tergambar sebagai gair. Dengan kata lain, batas perbedaan antar
   jenjang tersebut lebih merupakan suatu wilayah. Di pihak lain, perbedaan yang lebih


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                      18
                                                                              Satu Untuk UNM


signifikan, juga nampak pada pada sisi pengaturan birokratik, seperti misalnya di Taman
Kanak-kanak sebahagian besar tugas Konselor ditangani langsung oleh Guru Kelas
Taman Kanak-kanak. Sedangkan di jenjang Sekolah Dasar, meskipun memang ada
permasalahan       yang     memerlukan        penanganan   oleh   Konselor,    namun   cakupan
pelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya posisi struktural Konselor di
tiap Sekolah Dasar, sebagaimana yang diperlukan di jenjang Sekolah Menengah. Berikut
ini, digambarkan secara umum perbedaan ciri khas ekspektasi kinerja Konselor di tiap
jenjang pendidikan.
a. Jenjang Taman Kanak-kanak.
   Di jenjang Taman Kanak-kanak di tanah air tidak ditemukan posisi struktural bagi
   Konselor. Pada jenjang ini fungsi bimbingan dan konseling lebih bersifat preventif dan
   developmental. Secara programatik, komponen kurikulum bimbingan dan konseling
   yang perlu dikembangkan oleh konselor jenjang Taman Kanak-kanak membutuhkan
   alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh siswa
   pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, pada jenjang TK komponen
   individual student planning (yang terdiri dari: pelayanan appraisal, advicement,
   transition planning) dan responsive services (yang berupa pelayanan konseling dan
   konsultasi) memerlukan alokasi waktu yang lebih kecil. Kegiatan konselor di jenjang
   Taman Kanak-kanak dalam komponen responsive services, dilaksanakan terutama
   untuk memberikan pelayanan konsultasi kepada guru dan orang tua dalam mengatasi
   perilaku-perilaku disruptive siswa Taman Kanak-kanak.
b. Jenjang Sekolah Dasar.
   Sampai saat ini, di jenjang Sekolah Dasar pun juga tidak ditemukan posisi struktural
   untuk Konselor. Namun demikian, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik
   usia Sekolah Dasar, kebutuhan akan pelayanannya bukannya tidak ada, meskipun
   tentu saja berbeda dari ekspektasi kinerja Konselor di jenjang Sekolah Menengah dan
   jenjang perguruan tinggi. Dengan kata lain, konselor juga dapat berperan serta
   secara produktif di jenjang Sekolah Dasar, bukan dengan memosisikan dari sebagai
   fasilitator pengembangan diri peserta didik yang tidak jelas posisinya, melainkan
   mungkin dengan memosisikan diri sebagai Konselor Kunjung yang membantu guru
   Sekolah Dasar mengatasi perilaku mengganggu (disruptive behavior), antara lain
   dengan pendekatan Direct Behavioral Consultation.
c. Jenjang Sekolah Menengah.
   Secara hukum, posisi konselor di tingkat sekolah menengah telah ada sejak tahun
   1975, yaitu sejak diberlakukannya Kurikulum Bimbingan dan Konseling. Dalam sistem

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                19
                                                                 Satu Untuk UNM


   pendidikan di Indonesia konselor di sekolah menengah mendapat ‖tempat yang
   cukup leluasa‖. Peran konselor, sebagai salah satu komponen student support
   services, adalah men-support perkembangan aspek-aspek pribadi-sosial, karier, dan
   akademik siswa, melalui pengembangan menu program bimbingan dan konseling,
   pembantuan kepada siswa dalam individual student planning, pemberian layanan
   responsive, serta pengembangan system support. Pada jenjang ini, konselor
   menjalankan semua fungsi bimbingan dan konseling, yang meliputi fungsi preventif,
   developmental, maupun fungsi kuratif.
d. Jenjang Perguruan Tinggi.
   Meskipun secara struktural posisi konselor perguruan tinggi belum tercantum dalam
   sistem pendidikan di tanah air, namun bimbingan dan konseling dalam rangka
   men‖support‖ perkembangan personal, sosial, akademik, dan karier mahasiswa
   dibutuhkan. Sama dengan konselor pada jenjang pendidikan TK, SD, dan SM;
   konselor perguruan tinggi juga harus mengembangkan dan mengimplementasikan
   kurikulum bimbingan dan konseling, individual student planning, dan responsive
   services, serta system support. Namun, alokasi waktu yang digunakan konselor
   perguruan tinggi lebih banyak pada pemberian bantuan dalam individual student
   career planning dan penyelenggaraan responsive services.




 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                     20
                                                                          Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 2

A. Judul           : Program Bimbingan dan Konseling
B. Indikator
   1. Menguraikan peran bimbingan konseling dalam program pengembangan diri siswa di
         sekolah
   2. Membandingkan komponen program pada pola 17, pola 17 plus, dan pola
         komprehensif
   3. Menjelaskan bagan kerangka utuh layanan bimbingan konseling komprehensif
   4. Menjelaskan perbedaan strategi pelayanan dasar dan pelayanan responsif bimbingan
         konseling di sekolah
   5. Menguraikan langkah umum pelaksanaan layanan perencanaan individual dalam
         bimbingan konseling
   6. Menjelaskan dengan contoh kegiatan pokok dalam komponen program dukungan
         sistem dalam pelayanan BK di sekolah
C. Waktu          : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
            Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta ruang
         lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Lakukan curah pendapat dengan peserta bagaimana pendapat mereka mengenai
         program bimbingan konseling dan pengembangan diri siswa di sekolah.
  3.      Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang)
  4. Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
         melakukan curah pendapat dan menyepakati butir-butir tentang:
             Peran konselor dalam program pengembangan diri siswa
             Perbedaan pokok dalam Pola 17, Pola 17 plus, dan Pola Komprehensif
             Tantangan dalam melaksanakan empat komponen utama dalam program BK pada
              Pola Komprehensif
             Usaha mengatasi hambatan pelaksanaan program BK di sekolah
  5. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
         manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
  6. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
         kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;




       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                       21
                                                                      Satu Untuk UNM


  7. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
     atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
  8. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
     topik diskusi pada butir 4.
  9. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
     mengungkapkan ketercapaiannya.


D. URAIAN MATERI
  1. Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
          Seperti ditegaskan di muka bahwa Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud
  dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.
          Penjelasan tentang Pengembangan Diri yang tertulis dalam Struktur Kurikulum
  dijelaskan bahwa:
       Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.
       Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
       mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan
       minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Kegiatan
       pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga
       kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
       Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pepelayanan konseling
       yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan
       pengembangan karir peserta didik.

          Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh
  penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur
  pendidikan formal, sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi
  kinerja konselor.
  a. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk,
     rancangan, dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah
     adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Namun, manakala
     masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan
     terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan
     bakat dan minat peserta didik dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi.       Ini
     berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan
     tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.


   Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
   Universitas Negeri Makassar                                                        22
                                                                                Satu Untuk UNM


   b. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa
      di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang
      memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Inipun berarti
      bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan tidak
      semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.
   c. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau
      pengganti pelayanan bimbingan dan konseling, melainkan di dalamnya mengandung
      sebagian saja dari pelayanan (dasar, responsif, perencanaan individual) bimbingan
      dan konseling yang harus diperankan oleh konselor.
      Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian
yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Pelayanan
pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum.
Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan
bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap
posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal               dapat terlukiskan seperti
tampak pada Gambar 2.1

                  Pimpinan Satuan
                  Pendidikan
                                                  Manajemen



            Guru,
            Menyelenggarakan             Muatan Lokal
            Pembelajaran yang
            Mendidik                                          KURIKULUM      Perkembangan
                                         Mata Pelajaran/        (KTSP)       Optimum
                                         Bidang Studi                        Peserta Didik

                   Wilayah
                   Komplementer          Pengembangan Diri

          Konselor, Menyelenggarakan
          Bimbingan dan Konseling                Bimbingan. dan
          Yang Memandirikan                        Konseling




              Gambar 2.1 Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP)
                               dalam Jalur Pendidikan Formal


      Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal
yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan
konseling dalam upaya memfasilitasi peserta didik mencapai perkembangan optimum yang
diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Dengan demikian pengembangan
diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah



    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                 23
                                                                          Satu Untuk UNM


komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri
peserta didik.
2. Komponen Program BK
        Program bimbingan konseling di sekolah mengalami pasang surut sejalan dengan
perkembangan profesionalisasi dan upaya aktualisasi profesi bimbingan konseling di
Indonesia. Pada sekitar akhirt tahun 1990an dikenalkan apa yang disebut dengan POLA 17.
Di sebutkan demikian, karena komponen program digambarkan dalam suatu skema yang
terdiri atas 17 kotak. Ini terdiri atas empat bidang layanan (pribadi, sosial, belajar, dan
karir), tujuah jenis layanan (orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok), serta lima layanan pendukung
(Instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan pelimpahan kasus).
Program bimbingan konseling Pola 17 digambarkan sebagai berikut:




                         Gambar 2.2 Program Bimbingan Konseling Pola 17

        Selanjutnya, dikembangkan Program bimbingan konseling Pola 17 Plus, di mana
program bimbingan konseling disempurnakan dengan menambahkan bidang bimbingan
keberagamaan dan bimbingan keluarga, serta tamnbahan layanan mediasi dan layanan
konsultasi.
        Terakhir dikembangkan lagi pola program bimbingan konseling yang lebih utuh,
yang dikenal dengan Pola Kompreghensif Program bimbingan dan konseling. Dalam pola ini,
program bimbingan konseling terdiri atas empat komponen pelayanan, yaitu: (1) pelayanan
dasar bimbingan; (2) pelayanan responsif, (3)      perencanaan indiviual, dan (4) dukungan
sistem. Keempat komponen program tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                        24
                                                                         Satu Untuk UNM




                                            Gambar 2.3
                              Komponen Program Bimbingan dan Konseling


       Di samping empat komponen program tersebut, dalam Pola Komprehensif ini
dikemukakan 16 strategi layanan bimbingan konseling (orientasi, informasi, bimbingan
kelompok, konseling individual, konseling kelompok, referal, konseling sebaya, konsultasi,
penempatan & penyeluran, kunjungan rumah, konferensi kasus, kolaborasi, akses TIK,
sistem najemen, akuntabilitas, dan pengembangan profesi). Secara utuh keseluruhan proses
kerja bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal dapat digambarkan pada
gambar 2.4.




      Gambar 2.4. Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling Pola Komprehensif

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                       25
                                                                            Satu Untuk UNM


       Gambar 2.4 menunjukkan bahwa seluruh pelayanan bimbingan dan konseling yang
selama ini dilaksanakan di Sekolah/Madrasah bisa dipayungi oleh dan terakomodasi ke dalam
kerangka kerja tersebut. Berdaarkan kerangka kerja utuh dimaksud pelayanan bimbingan
dan konseling harus dikelola dengan baik sehingga berjalan secara efektif dan produktif.
Fungsi manajemen         yang penting dijalankan dalam pelayanan bimbingan dan konseling
meliputi: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis dan tindak lanjut.


3. Uraian Program Bimbingan Konseling
a. Pelayanan Dasar
            Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh
   peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
   kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku
   jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan
   sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan
   kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.
   Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di
   kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen
   kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman tersetruktur
   yang disebutkan.
            Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua peserta didik agar memperoleh
   perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan
   dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu peserta didik agar mereka dapat
   mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat
   dirumuskan sebagai upaya untuk membantu peserta didik agar (1) memiliki kesadaran
   (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan
   agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
   jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan
   lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
   (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
            Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut
   aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya
   membantu peserta didik dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai
   standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas
   dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan: (1) self-
   esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4)

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                        26
                                                                       Satu Untuk UNM


keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau
berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya,          dan (7) perilaku    bertanggung
jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA)
mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan
program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis,
jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6)
iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas,
(9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.
        Pelayanan Dasar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, sebagai berikut:
1) Bimbingan Kelas
   Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung
   dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan
   bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa
   diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
2) Pelayanan Orientasi
   Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat
   memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan
   Sekolah/Madrasah, untuk mempernudah atau memperlancar berperannya mereka di
   lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal
   program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di Sekolah/Madrasah biasanya
   mencakup organisasi Sekolah/Madrasah, staf dan guru-guru, kurikulum, program
   bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana,
   dan tata tertib Sekolah/Madrasah.
3) Pelayanan Informasi
   Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi
   peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media
   cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).
4) Bimbingan Kelompok
   Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-
   kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan
   dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini,
   adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti :
   cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.




 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                           27
                                                                       Satu Untuk UNM


  5) Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi)
           merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi
  peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan
  dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
b. Pelayanan Responsif
           Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada peserta didik yang
  menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera,
  sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian
  tugas-tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, konsultasi dengan
  orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat
  dilakukan dalam pelayanan responsif.
           Tujuan pelayanan responsif adalah membantu peserta didik agar dapat
  memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu
  peserta didik yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas
  perkembangannya. Tujuan pelayanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk
  mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi peserta didik yang muncul
  segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau
  masalah pengembangan pendidikan.
           Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan peserta
  didik. Masalah dan kebutuhan peserta didik berkaitan dengan keinginan untuk
  memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara
  positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain tentang
  pilihan karir dan program studi, sumber-sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman
  keras, narkotika, pergaulan bebas.
           Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan
  mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri peserta didik,
  karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas
  perkembangan. Masalah peserta didik pada umumnya          tidak mudah diketahui secara
  langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.
           Gejala perilaku bermasalah yang mungkin dialami peserta didik diantaranya: (1)
  merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif
  (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan-nya secara
  matang), (4) membolos dari Sekolah/Madrasah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki
  kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9)



    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                         28
                                                                               Satu Untuk UNM


malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas (free sex), (11) masalah tawuran, (12)
manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.
        Pelayanan responsif dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut:
1) Konseling Individual dan Kelompok
   Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu peserta didik yang
   mengalami        kesulitan,      mengalami     hambatan      dalam     mencapai     tugas-tugas
   perkembangannya.           Melalui    konseling,   peserta   didik   (konseli)   dibantu   untuk
   mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan
   masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat
   dilakukan secara individual maupun kelompok.
2) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
   Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah
   konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak
   lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli
   yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi,
   tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
3) Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
   Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh
   informasi tentang peserta didik (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya),
   membantu memecahkan masalah peserta didik, dan mengidentifikasi aspek-aspek
   bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di
   antaranya: (1) menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar
   peserta didik; (2) memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam; (3)
   menandai peserta didik yang diduga bermasalah; (4) membantu peserta didik yang
   mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (5) mereferal
   (mengalihtangankan) peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan
   konseling kepada guru pembimbing; (6) memberikan informasi yang up to date
   tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati peserta didik; (7)
   memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat
   memberikan informasi yang luas kepada peserta didik tentang dunia kerja (tuntutan
   keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (8)
   menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun
   moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan ―figur central‖ bagi peserta
   didik); dan (9) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran
   yang diberikannya secara efektif.

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                    29
                                                                        Satu Untuk UNM


4) Kolaborasi dengan Orang tua
   Konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua peserta didik. Kerjasama
   ini penting agar proses bimbingan terhadap peserta didik tidak hanya berlangsung di
   Sekolah/Madrasah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini
   memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran
   antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik
   atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik. Untuk melakukan
   kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala
   Sekolah/ Madrasah atau komite Sekolah/Madrasah mengundang para orang tua
   untuk datang ke Sekolah/Madrasah (minimal satu semester satu kali), yang
   pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) Sekolah/Madrasah
   memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar
   atau masalah peserta didik, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan
   anaknya di rumah ke Sekolah/Madrasah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan
   perilaku sehari-harinya.
5) Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait di luar Sekolah/Madrasah
   Yaitu berkaitan dengan upaya Sekolah/Madrasah untuk menjalin kerjasama dengan
   unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu
   pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi
   pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi
   Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang
   terkait, seperti psikolog, psikiater, dan dokter, (5) MGP (Musyawarah Guru
   Pembimbing), dan (6)              Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan
   pekerjaan).
6) Konsultasi
   Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan
   Sekolah/Madrasah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam
   memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan Sekolah/
   Madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan referal, dan
   meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.
7) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
   Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh peserta didik
   terhadap peserta didik yang lainnya. Peserta didik yang menjadi pembimbing
   sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Peserta didik yang
   menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                          30
                                                                          Satu Untuk UNM


      didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun
      non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu
      konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau
      masalah peserta didik yang perlu mendapat pelayanan bantuan bimbingan atau
      konseling.
  8) Konferensi Kasus
      Yaitu kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan
      yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan
      komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi
      kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.
  9) Kunjungan Rumah
      Yaitu kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang peserta didik
      tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya menggentaskan masalahnya, melalui
      kunjungan ke rumahnya.


c. Perencanaan Individual
           Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada peserta didik agar
  mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa
  depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta
  pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman
  peserta didik        secara mendalam dengan segala karakteristiknya, penafsiran hasil
  asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi
  yang dimiliki peserta didik amat diperlukan sehingga peserta didik mampu memilih dan
  mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal,
  termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan orientasi,
  informasi, konseling individual, rujukan, kolaborasi, dan advokasi     diperlukan di dalam
  implementasi pelayanan ini.
           Perencanaan individual           bertujuan untuk membantu peserta didik agar (1)
  memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan,
  perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek
  pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan
  pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.
           Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya
  memfasilitasi peserta didik untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana
  pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi layana

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                          31
                                                                         Satu Untuk UNM


perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan peserta didik untuk
memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian
meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh peserta didik,
pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan,
tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing peserta didik. Melalui
pelayanan perencanaan individual, peserta didik diharapkan dapat:
1) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan
   mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan
   akan dirinya, informasi tentang Sekolah/Madrasah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
3) Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
4) Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.
        Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan
aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain
mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan
belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus
atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2)
karir meliputi     mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan
pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (3) sosial-
pribadi meliputi         pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan
keterampilan sosial yang efektif.
        Konselor membantu peserta didik menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya
berdasarkan data atau informasi yang diperoleh, yaitu yang menyangkut pencapaian
tugas-tugas perkembangan, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, peserta didik akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif. Pelayanan perencanaan individual ini
dapat dilakukan juga melalui pelayanan penempatan (penjurusan, dan penyaluran),
untuk membentu peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat dan
minatnya.
        Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang
diperolehnya untuk (1) merumuskan             tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif
kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk
memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau
perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah
dilakukannya.

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                            32
                                                                                 Satu Untuk UNM


d. Dukungan Sistem
           Ketiga komponen diatas, merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada
   peserta didik secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen
   pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi
   Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara
   berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik
   atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik.
           Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memper-lancar
   penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah
   untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah/Madrasah.
   Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (a) pengembangan jejaring (networking), (b)
   kegiatan manajemen, (c) riset dan pengembangan.
  1) Pengembangan Jejaring (networking)
           Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi (1)
   konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang
   tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan
   kegiatan-kegiatan         Sekolah/Madrasah,         (4)   bekerjasama         dengan    personel
   Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah
   yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, (5) melakukan penelitian tentang
   masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6)
   melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan
   bimbingan dan konseling.
  2) Kegiatan Manajemen
           Kegiatan      manajemen         merupakan    berbagai    upaya     untuk   memantapkan,
   memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui
   kegiatan-kegiatan       (1)    pengembangan     program,        (2)    pengembangan    staf,   (3)
   pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
  a) Pengembangan Professionalitas.
           Konselor secara terus menerus berusaha untuk                  memutakhirkan pengetahuan
      dan keterampilannya melalui (a) in-service training, (b) aktif dalam organisasi profesi,
      (c) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah; seperti seminar dan workshop (lokakarya),
      atau (d) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
  b) Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
           Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf
      Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah/Madrasah (pemerintah,

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                   33
                                                                                 Satu Untuk UNM


   dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan
   bantuan yang telah diberikannya kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan
   Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan
   referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata
   lain strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah/Madrasah untuk menjalin kerjasama
   dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu
   pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi
   pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi
   Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang
   terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua peserta didik, (5) MGBK
   (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6)                     Depnaker (dalam rangka
   analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
c) Manajemen Program
        Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
   terselenggara,       dan    tercapai       bila   tidak   memiliki   suatu   sistem   pengelolaan
   (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan
   terarah.




 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                     34
                                                                       Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 3

A. Judul       : Asesmen dan Perencanaan Program BK
B. Indikator
   1. Menguraikan pokok-pokok langkah kegiatan dalam perencanaan program bimbingan
      konseling
   2. Menguraikan tanggung jawab persenil sekolah dalam pelaksanaan program BK di
      sekolah
   3. Merancang denah ruang BK yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing
   4. Menyusun alokasi anggaran untuk pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah


C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
         Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
  1. Fasilitator menjelaskan secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta
      ruang lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
     Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
     menyusun rancangan program dan pengembangan layanan BK di sekolah, mencakup:
          Analisis dan deskripsi kebutuhan
          Rumusan tujuan
          Komponen program
          Rencana operasional
          Organisasi pelaksana dan tanggung jawab
          Anggaran
  3. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
     manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
  4. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
     kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;
  5. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
     atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
  6. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
     mengungkapkan ketercapaiannya.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                        35
                                                                                Satu Untuk UNM


E. Uraian Materi
   1. Asesmen Kebutuhan Bimbingan Konseling
       Menurut Kubinski (1999), asesmen kebutuhan (need assessment) di sekolah adalah
proses sistematik untuk memperoleh gambaran akurat dan menyeluruh mengenai kekuatan
dan kelemahan suatu komunitas sekola yang dapat digunakan untuk merespon kebutuhan
akademik semua siswa guna meningkatkan prestasi siswa dan memenuhi standar akademik
yang dihadapi. Asesmen kebutuhan melibatkan proses mengumpulkan dan menguji
informasi tentang isu-isu persekolahan dan selanjutnya menggunakan data itu untuk
menentukan prioritas tujuan, menyusun suatu rencana, dan mengalokasikan anggaran dan
sumber yang diperlukan. Dalam pengumpulan data perlu melibatkan siswa, orangtua, guru,
staf administrasi, dan anggota masyarakat lainnya.
       Kegiatan asesmen ini meliputi (1) asesmen lingkungan, yang terkait dengan kegiatan
mengidentifikasi harapan Sekolah/Madrasah dan masyarakat (orangtua peserta didik),
sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, dan
kebijakan pimpinan Sekolah/Madrasah; dan (2) asesmen kebutuhan atau masalah peserta
didik, yang menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan
keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya
(pekerjaan, jurusan, olahraga, seni, dan keagamaan), masalah-masalah yang dialami, dan
kepribadian; atau tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan
pelayanan bimbingan dan konseling.
       Asesmen mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam
pelaksanaan bimbingan dan konseling. Konselor di sekolah mempunyai tanggung jawab
untuk membantu siswa atau konseli agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya
secara optimal. Membantu perkembangan para siswa atau konseli berarti melakukan sesuatu
untuk siswa tersebut. Agar konselor dapat melakukan sesuatu untuk siswa maka seorang
konselor perlu mengetahui keadaan siswa yang dibimbing. Untuk itu sangat diperlukan
berbagai informasi/data-data yang akurat dan relevan. Dalam hal ini pengukuran dan
penilaian   psikologis     merupakan        sarana   dan   wahana   terbaik   untuk   mendapatkan
informasi/data-data yang akurat dan relavan mengenai keadaan siswa atau konseli.
a. Fungsi Asesmen Kebutuhan
            Hasil-hasil yang diperoleh dalam asesmen berfungsi sebagai dasar dalam
   mengambil keputusan. Berdasarkan atas keputusan yang diambil dalam asesmen
   psikologis mempunyai fungsi sebagai berikut:
   a. Fungsi seleksi yaitu untuk memutuskan individu-individu yang akan dipilih. Misalnya
       tes masuk suatu lembaga pendidikan atau suatu jenis jabatan tertentu. Berdasarkan

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                               36
                                                                                    Satu Untuk UNM


     hasil-hasil asesmen psikologis yang telah dilakukan pimpinan lembaga dapat
     memutuskan calon-calon pelamar yang diterima dan menolak calon-calon yang
     lainnya.
  b. Fungsi klasifikasi yaitu mengelompokan individu dalam kelompok sejenis. Misalnya
     mengelompokkan siswa yang mempunyai maslah yang sejenis sehingga dapat
     diberikan bantuan yang sesuai masalahnya. Atau pengelompokkan siswa ke dalam
     program khusus.
  c. Fungsi deskripsi yaitu menyuguhkan hasil asesmen psikologis yang telah dilakukan
     tanpa klasifikasi tertentu. Misalnya melaporkan profile minat dan bakat seseorang
     yang telah dites dengan tes minat dan bakat.
  d. Mengevaluasi suatu treatment yaitu untuk mengetahui apakah suatu tindakan
     tertentu yang dilakukan terhadap seseorang atau kelompok individu telah mencapai
     hasil atau belum, atau beberapa hasil yang ditimbulkan oleh suatu tindakan tertentu
     terhadap seorang atau kelompok orang. Misalnya, seorang siswa yang mengalami
     kesulitan belajar diberikan remedial. Setelah pemberian remedial tersebut lalu
     diadakan tes untuk mengetahui apakah remedial yang diberikan sudah berhasil atau
     belum.
b. Tujuan Asesmen Kebutuhan
          Tujuan asesmen psikologis khususnya dlam layanan bimbingan dan konseling di
  sekolah dapat dikemukakan sebagai beriktu:
  a. Membantu siswa untuk mengenal dirinya sendiri, yaitu agar siswa mengerti apa
     kelebihan dan apa kekurangannya. Berdasarkan pemahaman diri tersebut siswa
     diharapkan dapat merencanakan masa depannya secara realistis.
  b. Membantu orangtua mengenal anaknya. Sama hal dengan yang disebutkan diatas,
     yaitu agar orang tua memahami segala kelebihan dan kelemahan putra putrinya. Dan
     dengan      pemahaman         tersebut       pula   orang   tua   diharapkan    dapat   membuat
     perencanaan yang realistis sehubungan dengan masa depan putra-putrinya.
  c. Membantu kepala sekolah dalam menetapkan suatu kebijakan. Kepala sekolah perlu
     mendapatkan pandangan umum tentang keadaan siswa pada masing-masing kelas.
     Kelas mana yang berprestasi baik, kelas mana yang menunjukkan kinerja akademik
     rendah, dan sebagainya. Gambaran tentang masing-masing kelas kita disebut peta
     kelas. Berdasarkan peta kelas tersebut kepala sekolah akan dapat mengambil
     kebijakan-kebijakan         yang     tepat     yang   berhubungan     dengan     pengembangan
     pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut.



   Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
   Universitas Negeri Makassar                                                                    37
                                                                        Satu Untuk UNM


  d. Untuk keperluan layanan bimbingan dan konseling, seperti bahan-bahan diagnostik
      (baik diagnostik kesulitan belajar maupun diagnostik kesulitan pribadi lainnya) bahan
      informasi dalam layanan penempatan (pemilihan program khusus, pemilihan
      kelanjutan studi, pemilihan lapangna kerja dan penempatan lainnya).
  e. Membantu guru dalam merencanakan dan mengelola program pembelajaran agar
      lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Guru akan dapat
      melaksanakan tugas dengan baik apabila ia mengenal siswa-siswanya dengan baik
      pula. Guru perlu mengetahui mana siswa yang mempunya kemampuan yang tinggi,
      mana yang memiliki kemampuan yang rendah atau lemah, mana siswa yang selalu
      antusias dalam mengikuti pelajaran, mana siswa yang loyo, mana siswa yang suka
      mengganggu teman-temannya dan sebagainya. Berdasarkan peta siswa tersebut
      guru dapat merencanakan dan mengelola proses pembelajaran dengan tepat.
c. Langkah-langkah dalam Asesmen Kebutuhan
         Pelaksanaan asesmen kebutuhan dilakukan dalam tujuah langkah utama, yaitu:
  1) Mengklarifikasi maksud asesmen kebutuhan.
     Ada beberapa pertanyaan yang perlu diklarifikasi sebelum melakukan asesmen
     kebutuhan, antara lain:
         Apa yang anda telah ketahui? Apa yang anda pikirkan tentang yang diketahui itu?
          Apa yang anda ingin ketahui lagi?
         Mengapa anda perlu melakukan asesmen kebutuhan?
         Apa yang anda ingin ukur?
         Apa yang anda ingin lakukan dengan informasi yang anda kumpulkan?
         Bagaimana anda akan melaporkan informasi itu? Apakah informasi itu dimengerti
          dan mudah dipahami?
         Apakah semua kelompok peminat terlibat dala      perencanaan dan pelaksanaan
          asesmen kebutuhan?
         Siapa yang bertanggung jawab pada setiap tahap kegiatan?
     Jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut akan membantu dalam
     memutuskan apa yang perlu dilakukan, bagaimana itu dilakukan, dan siapa saja yang
     perlu terlibat dalam asesmen kebutuhan.
  2) Mengidentifikasi populasi
     Siapa yang akan menjadi sasaran asesmen kebutuhan: siswa, guru, pimpinan, staf
     administrasi, staf sekolah lainnya, orangtua, warga masyarakat, tenaga bantu,
     penyedia layanan, atau lainnya?
  3) Menentukan bagaimana anda akan melakukan asesmen kebutuhan.

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                         38
                                                                                  Satu Untuk UNM


   Kembangkan desain dan mekanisme yang akan ditempuh dalam pelaksanaan
   kegiatan pengumpulan data dan analisis data. Termasuk menentukan skedul kegiatan
   serta organisasi pelasana yang terlibat beserta tanggung jawab masing-masing.
   Diskusikan desain dan prosedur ini dengan semua pihak yang akan terlibat langsung
   dalam kegiatan lapangan.
4) Menyusun instrumen survey atau mengadopsi instrumen yang telah tersedia.
   Beberapa pertanyaan penting yang perlu dijawab, antara lain: apakah instrumen yang
   diperlukan tersedia? Apakah instrumen itu mudah digunakan? Apakah format
   instrumennya mudah diorganisasi dan dianalisis? Jika tersedia, bagaimana instrumen
   itu diadakan, disusun sendiri atau mengadopsi dari yang sudah ada? Lembaga apa
   saja yang dapat diajak bekerjasama dalam mengukuran psikologis siswa di sekolah?
   Dalam pelaksanaan asesmen kebutuhan, konselor dapat menggunakan instrumen
   berbentuk tes ataupun non-tes. Instrumen tes dapat berbentuk tes intelegensi, tes
   bakat, tes minat, tes kepribadian, ataupun tes hasil belajar. Untuk penggunaan teknik
   tes, khususnya tes psikologi, sekolah/konselor dapat bekerja sama dengan lembaga
   penyedia layanan pengukuran psikologis yang berwenang untuk melaksanakannya.
   Yang tergolong jenis instrumen non-tes adalah: observasi, interview (langsung dan
   tak langsung), angket (langsung dan tak langusng), sosiometri, daftar cek masalah
   (problem check-list), pengumpulan bahan/portofolio siswa (bahan permainan dan
   hasil karya), bogragfis (biografi, otobiografi, buku harian, kenang-kenangan masa
   muda dan case history), dan sebagainya. Konselor diharapkan mampu menyusun
   sendiri bentuk-bentuk instrumen non-tes sesuai kebutuhan sekolah.
5) Mengumpulkan data
   Pengumpulan data diarahkan, antara lain untuk mendapatkan infomasi tentang:
       kebutuhan sekarang dan masa depan dari sekolah siswa, guru, orangtua, guru,
        dan warga masyarakat
       sebarapa baik proses yang ada sekarang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan
        sasaran-sasaran tersebut
       pola perubahan yang terjadi di sekolah dan masyarakat
       akar terjadinya problem yang dihadapi siswa/sekolah
       bentuk program dan keahlian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan di
        masa depan
   Guna      memudahkan          proses        analisis   data,   proses   pengumpulan   data   perlu
   memperhatikan kegiatan berikut:
       Kembangkan sistem pengelolaan dalam mengumpulkan dan mengorganisasi data

  Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
  Universitas Negeri Makassar                                                                     39
                                                                                 Satu Untuk UNM


          Tentukan data dasar (baseline data)
          Pikirkan bagaimana anda menindaklanjuti mereka yang tidak merespon dan
           menjawab/mengisi alat pengumpulan data yang diberikan.
          Organisasi data dengan membuat kategori-kategoti kunci guna memudahkan
           untuk menemukan makna dan kesimpulan.
          Gunakan lembar/format ringkasan data untuk membantu menentukan pola-pola
           informasi dan untuk mempermudah analisis data
  6) Menganalisis data
      Analisis data diarahkan terutama untuk menjawab menjawab pertanyaan yang
      diajukan dan untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bagi pelaksanaan analisis
      kebutuhan yang dilakukan. Secara umum, analisis data diarahkan untuk memetakan
      kedaan (kelemahan dan kekuatan) dalam rangka meningkatkan kualitas program dan
      layanan, menyediuakan balikan mengenai kinerja dan capaian siswa, serta
      memperoleh pemahaman mengenai bagaimana kualitas kinerja yang telah dicapai dan
      seberapa jauh kita telah mencapainya
  7) Memanfaatkan hasil
      Pelajari kembali tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang telah dirumuskan—
      gunakan setidaknya 3 sumber data untuk menjelaskan (menjustifikasi) pencapaian
      setiap tujuan atau area target.
      Berdasarkan hasil analisis data, kembangkan suatu draf rencana tentang apa yang
      harus dilakukan. Identifikasi dan alokasikan sumber-sumber yang diperlukan bagi
      pelaksanaan        rencana.     Terakhir,   buat   kesimpulan   mengenai    temuan   analisis
      kebutuhan.


   2. Perencanaan Program
       Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan
kebutuhan peserta didik (hasil need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi
instrumentasi. Struktur program pelayanan bimbingan konseling mencakup: (1) empat
bidang layanan, (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung, (3) format kegiatan, (4) sasaran
pelayanan, dan (5) volume/beban tugas konselor. Program bimbingan dan konseling di
Sekolah/Madrasah dapat disusun secara makro untuk 3-5 tahun, meso 1 tahun dan mikro
sebagai kegiatan opersional dan untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan khusus.
       Berikut adalah struktur pengembangan program berbasis tugas-tugas perkembangan
sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Dalam merumuskan program,



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                40
                                                                             Satu Untuk UNM


struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi atau
kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing Sekolah.
b. Rasionel
            Rumuskan dasar pemikiran tentang urgensi bimbingan dan konseling dalam
   keseluruhan program Sekolah/Madrasah. Ke dalam rumusan ini dapat menyangkut
   konsep      dasar      yang     digunakan,     kaitan   bimbingan   dan   konseling   dengan
   pembelajaran/implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan sosial budaya
   terhadap gaya hidup masyarakat (termasuk para peserta didik), dan hal-hal lain yang
   dianggap relevan.
c. Visi dan Misi
            Secara mendasar visi dan misi bimbingan dan konseling perlu dirumuskan ulang
   ke dalam fokus isi: Membangun iklim Sekolah/Madrasah bagi kesuksesan seluruh peserta
   didik. Misi: Memfasilitasi seluruh peserta didik memperoleh dan menguasai kompetensi di
   bidang akademik, pribadi-sosial, karir berlandasakan pada tata kehidupan etis normatif
   dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
d. Deskripsi Kebutuhan
            Rumuskan hasil needs assessment (penilaian kebutuhan) peserta didik dan
   lingkungannya ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan dikuasai peserta
   didik. Rumusan ini tiada lain adalah rumusan tugas-tugas perkembangan, yakni Standar
   Kompetensi Kemandirian yang disepakati bersama.
e. Tujuan
            Rumuskan tujuan yang akan dicapai dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai
   peserta didik setelah memperoleh pelayanan bimbingan dan konseling. Tujuan
   hendaknya dirumuskan ke dalam tataran tujuan:
   1) Penyadaran, untuk membangun pengetahuan dan pemahamsan peserta didik
       terhadap perilaku atau standar kompetensi yang harus dipelajari dan dikuasai
   2) Akomodasi, untuk membangun pemaknaan, internalisasi, dan menjadikan perilaku
       atau kompetensi baru sebagai bagian dari kemampuan dirinya, dan
   3) Tindakan, yaitu mendorong peserta didik untuk mewujudkan perilaku dan kompetensi
       baru itu dalam tindakan nyata sehari-hari.
f. Komponen Program.
   Komponen program meliputi: (a) Komponen Pelayanan Dasar, (b) Komponen Pelayanan
   Responsif, (c) Komponen Perencanaan Individual, dan d) Komponen dukungan sistem
   (manajemen)



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                             41
                                                                        Satu Untuk UNM


g. Rencana Operasional (Action Plan)
   Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin peluncuran program
   bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana
   kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program,
   baik kegiatan di Sekolah/Madrasah maupun luar Sekolah/Madrasah, untuk memfasilitasi
   peserta didik mencapai tugas perkembangan atau kompetensi tertentu.
      Atas dasar komponen program di atas lakukan:
   1) Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan
      ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai
      peserta didik
   2) Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di
      atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus.
      Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan
      konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat. Peren-
      canaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang
      harus dilakukan oleh konselor. Berikut dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar
      perkiraan atau pedoman relatif dalam pengalokasian waktu untuk konselor dalam
      pelaksanaan komponen pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.

           Tabel 3.1 Perkiraan Alokasi Waktu Pelayanan

                                                     JENJANG PENDIDIKAN
    KOMPONEN PELAYANAN
                                            SD/MI     SMP/MTs      SMA/MAN/SMK
   1. Pelayanan Dasar                    45 – 55 %   35 – 45 %   25 – 35 %

   2. Pelayanan Responsif                20 – 30 %   25 – 35 %   15 – 25 %

   3. Pelayanan Perencanaan                                      25 – 35 % (Porsi
                                         5 – 10 %    15 – 25 %
      Individual dan keluarga                                    untuk SMK lebih besar

   4. Dukungan Sistem                    10 – 15 %   10 – 15 %   10 – 15 %

   3) Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel
      kebutuhan yang akan menjadi renana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud
      dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun.
      Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan Program semester.
   4) Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam
      rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender
      kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan.


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                          42
                                                                             Satu Untuk UNM


     5) Program bimbingan perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b)
         tanpa kontak langsung dengan peserta didik. Untuk kegiatan kontak langsung yang
         dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu
         terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan bimbingan
         tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan
         (seperti e-mail, buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home
         visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referal).
h. Pengembangan Tema/Topik (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
     Tema ini merupakan rincian lanjut dari kegiatan yang sudah diidentifikasikan yang terkait
     dengan tugas-tugas perkembangan. Tema secara spesifik dirumuskan dalam bentuk
     materi untuk setiap komponen program.
i.   Pengembangan Satuan Pelayanan (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
     Ini dikembangkan secara bertahap sesuai dengan tema/topik.
j.   Evaluasi
     Rencana evaluasi perkembangan peserta didik dirumuskan atas dasar tujuan yang ingin
     dicapai. Sejauh mungkin perlu dirumuskan pula evaluasi program yang berfokus kepada
     keterlaksanaan program, sebagai bentuk akuntabilitas pelayanan bimbingan dan
     konseling.
k. Anggaran
     Rencana anggaran untuk mendukung implementasi program dinyatakan secara cermat,
     rasional, dan realistik.
         Secara operasional, program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-
masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan
kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan
program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran
dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan
fasilitas sekolah/ madrasah.
         Dilihat dari jenisnya, program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program,
yaitu:
     1. Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
         seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
     2. Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
         seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
     3. Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
         seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

      Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
      Universitas Negeri Makassar                                                           43
                                                                                  Satu Untuk UNM


   4. Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
      seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
   5. Program      Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang
      dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan
      jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau
      satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling.

3. Peyusunan Silabus Bimbingan Konseling
      Guna manjamin pelaksanaan layanan bimbingan konseling dapat berjalan secara
sistematis, terencana, dan terarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan, perlu disusun
silabus bimbingan konseling. Silabus menjadi pemandu bagi konselor dalam melaksanakan
semua layanan dasardalam program bimbingan konseling.
      Dalam      pelaksanaan        program      bimbingan      konseling   berbasis   perkembangan,
penyusunan silabus mengacu pada butir-butir tugas perkembangan individu menurut
kelompok usia peserta didik yang dilayani. Aspek dan rumusan tugas perkembangan dapat
mengacu pada salah satu sumber yang tersedia, yang biasanya diuraikan dalam buku
psikologi perkembangan. Dalam Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling Sekolah Menengah
Umum/Kejuruan, Madrasah Aliyah, dan Sederajat yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum
Balitbang Depdiknas (2004), dikemukakan sembilan asepek tugas perkembangan yang
menjadi acuan dalam merumuskan tujuan kompetensi pelayanan bimbingan konseling.
Tugas perkembangan tersebut, meliputi:
1) Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam
   perannya sebagai pria atau wanita
3) Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
4) Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi,                 dan kesenian sesuai dengan program
   kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi, serta                 berperan dalam
   kehidupan masyarakat yang lebih luas
5) Mencapai kematangan dalam pilihan karir
6) Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional,
   sosial, intelektual dan ekonomi
7) Mencapai      kematangan        gambaran       dan   sikap     tentang   kehidupan     berkeluarga,
   bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
8) Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni
9) Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                    44
                                                                                    Satu Untuk UNM


         Gunan membantu peserta didik mampu merealisasi dengan optimal tugas-tugas
  perkembangan        tersebut,     maka      konselor    perlu   menjabarkan   setiap   aspek      tugas
  perkembangan tersebut ke dalam suatu silabus. Salah satu format silabus yang dapat
  digunakan adalah sebagai berikut:

  Silabus Pelayanan BK Berbasis Kompetensi
  Nama Sekolah                 : SMA X
  Sub Tugas Perkembangan:
                            Materi
     Bidang   Rumusan                      Kegiatan Kegiatan
                        Pengembangan Kelas                   Penilaian                               Ket.
   Bimbingan Kompetensi                    Layanan Pendukung
                          Kompetensi




     Contoh silabus untuk tugas perkembangan 1: Mencapai kematangan dalam beriman dan
     bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
                                          Materi
  Bidang          Rumusan                                         Kegiatan    Kegiatan Penila
                                      Pengembanga        Kelas                                         Ket.
Bimbingan        Kompetensi                                       Layanan    Pendukung  ian
                                      n Kompetensi
              1. Memiliki             Kaidah-kaidah
                 kemantapan           keimanan dan
                 keimanan dan         ketaqwaan
                 ketaqwaan            kepada Tuhan
                 kepada Tuhan         Yang Maha Esa
                 Yang Maha Esa                                                                       Bekerja
                                                                                          Laijape
                 sesuai agama                                    ORIN                                sama
Bimbingan                                                                    APIN         n
                 yang dianut                             1, 2, 3 INP                                 dengan
Pribadi                                                          PBLJ
                                                                             HPDT         Laijapa
                                                                                                     Guru
              2. Memiliki             Cara dan
                                                                                          ng
                 kemantapan           penerapan                                                      Agama
                 dalam                kaidah-kaidah
                 melaksanakan         keimanan dan
                 kaidah-kaidah        ketaqwaan
                 ajaran agama         kepada Tuhan
                 yang dianut          Yang Maha Esa.
              1. Memiliki             Pendalaman
                 kemantapan           aspek-aspek
                 keyakinan            sosial dalam
                 tentang aspek-       kehidupan
                 aspek sosial         beragama.                                                      Bekerja
                                                                                          Laijape
Bimbingan        kehidupan                                       ORIN                                sama
                                                                             APIN         n
Sosial           beragama                                1, 2, 3 INP                                 dengan
                                                                             HPDT         Laijapa
              2. Melaksanakan         Praktik bagi               PBLJ                                Guru
                                                                                          ng
                 secara mantap        terwujudnya                                                    Agama
                 aspek-aspek          aspek-aspek
                 sosial               sosial dalam
                 kehidupan            kehidupan
                 beragama             beragama.

       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                                     45
                                                                                  Satu Untuk UNM


                                          Materi
  Bidang           Rumusan                                     Kegiat-an    Kegiatan Penila
                                     Pengembanga       Kelas                                     Ket.
Bimbingan         Kompetensi                                   La-yanan    Pendukung  ian
                                      n Kompetensi
             1. Memiliki             Pendalaman
                  kemantapan         aspek-aspek
                  keyakinan          belajar dalam
                  bahwa belajar      kehidupan
                  merupakan          beragama
                  perintah Tuhan
                  Yang Maha Esa
             2.   Memiliki           Contoh-contoh
                  kemantapan         bahwa belajar
                  keyakinan          keras akan
                  bahwa              meningkatkan
                  kegiatan           mutu kehidupan
                  belajar yang       beragama                                                   Bekerja
                                                                                      Laijape
                  sebaik-baiknya                               ORIN                             sama
Bimbingan                                                                  APIN       n
                  akan                                 1, 2, 3 INP                              dengan
Belajar                                                                    HPDT       Laijapa
                  meningkatkan                                 PBLJ                             Guru
                                                                                      ng
                  mutu                                                                          Agama
                  kehidupan
                  beragama
             3.   Mampu              Praktik
                  mewujudkan         terwujudnya
                  secara efektif,    aspek-aspek
                  efisien dan        belajar dalam
                  produktif          kehidupan
                  tentang            beragama.
                  kegiatan
                  belajar sesuai
                  dengan ajaran
                  agama
             1.   Memiliki            Pendalaman
                  kemantapan         aspek-aspek
                  keyakinan          bekerja dan
                  bahwa bekerja      pengembangan
                  dan                karir dalam
                  pengemba-          kehidupan
                  ngan karir         beragama.
                  merupakan
                  perintah Tuhan                                                                Bekerja
                                                                                      Laijape
Bimbingan         Yang Maha Esa                                ORIN                             sama
                                                                           APIN       n
Karir        2.   Memiliki            Contoh-contoh    1, 2, 3 INP                              dengan
                                                                           HPDT       Laijapa
                  kemantapan         bahwa bekerja             PBLJ                             Guru
                                                                                      ng
                  keyakinan          dan pengemba-                                              Agama
                  bahwa bekerja      ngan karir akan
                  dan                dapat mening-
                  pengemba-          katkan
                  ngan karir         kehidupan
                  dapat              kehidupan
                  meningkatkan       beragama.
                  kehidupan
                  beragama




      Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
      Universitas Negeri Makassar                                                                46
                                                                                Satu Untuk UNM


            3. Mampu                 Praktik bagi
                mewujudkan          terwujudnya
                secara efektif,     pengembangan
                efisien dan         persiapan karir
                produktif           sesuai dengan
                tentang             ajaran agama
                pengembanga
                n persiapan
                karir sesuai
                dengan ajaran
                agama


4. Implementasi Kegiatan Bimbingan Konseling
       Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi
secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan
keteladanan. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk
renacan kegiatan bimbingan (Satlan dan Satkung) dilaksanakan sesuai dengan sasaran,
substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
       Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam
dan di luar jam pelajaran, yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan
sekolah/madrasah.
       Pelaksanaan        kegiatan     pelayanan      Bimbingan   dan   Konseling   di   dalam   jam
pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk:
a. Kegiatan tatap muka, yaitu kegiatan bimbingan konseling yang dilakukan dengan
   berinteraksi langsung dengan peserta didik, baik secara individual, kelompok, maupun
   klasikal. Ini dapat dilakuan dalam bentuk layanan konseling, pemberian informasi,
   penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta
   layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di ruang bimbingan konseling ataupun di
   dalam kelas. Untuk kegiatan tatap muka secara klasikal, volume kegiatan membutuhkan
   alokasi waktu 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal.
b. Kegiatan non-tatap muka, adalah kegiatan bimbingan konseling yang tidak berhadapan
   langsung dengan peserta didik. Bentuk kegiatan yang termasuk dalam kategori ini,
   antara lain: layanan konsultasi (dengan guru atau orangtua), kegiatan konferensi kasus,
   himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
       Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan di luar jam
pembelajaran sekolah/madrasah. Ini dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non
tatap muka dengan peserta didik, untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya
yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                  47
                                                                                 Satu Untuk UNM


Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran
tatap muka dalam kelas. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam
pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan
dan Konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Setiap kegiatan
pelayanan    Bimbingan       dan     Konseling    dicatat   dalam   laporan   pelaksanaan   program
(LAPELPROG).




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                 48
                                                                        Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 4
A. Judul     : Organisasi, Fasilitas, dan Evaluasi Bimbingan Konseling
B. Indikator
   1. Menjelaskan peran dan fungsi setiap persenol sekolah dalam pelayanan bimbingan
      konseling
   2. Menguraikan kebutuhan fasilitas bagi kelancaran pelayanan bimbingan konseling
   3. Menjelaskan pentingnya penilaian dan evaluasi dalam bimbingan konseling
   4. Menyebutkan dengan contoh aspek-aspek yang dievaluasi dalam bimbingan konseling
   5. Menyusun rancangan program evaluasi bimbingan konseling di sekolah
C. Waktu       : 4 x 60 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
   Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Fasilitator menjelaskan secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta
      ruang lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
      Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
      melakukan evaluasi/penilaian terhadap program bimbingan konseling di sekolah,
      khususnya pada aspek-aspek berikut:
          pelaksanaan peran dan tanggung jawab persenil sekolah dalam pelayanan
           bimbingan konseling
          ketersediaan fasilitas dalam pelayanan bimbingan konseling
          ketersediaan anggaran dalam pelayanan bimbingan konseling.
          keterlaksanaan layanan bimbingan konseling
  3. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
      manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
  4. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
      kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;
  5. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
      atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
  6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
      mengungkapkan ketercapaiannya.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                        49
                                                                                      Satu Untuk UNM


E. URAIAN MATERI
a. Organisasi Personel Bimbingan dan Konseling
        Personil pelaksana pepelayanan bimbingan dan konseling adalah segenap unsur yang
terkait di dalam organigram pepelayanan bimbingan dan konseling, dengan Koordinator dan
Guru Pembimbing sebagai             pelaksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personil
tersebut, khusus dalam kaitannya dengan pepelayanan bimbingan dan konseling, adalah
sebagai berikut.
a. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
   Sebagai     penanggung         jawab     kegiatan     pendidikan    di     Sekolah/Madrasah     secara
   menyeluruh,       khususnya       pepelayanan        bimbingan     dan     konseling.   Tugas   kepala
   Sekolah/Madrasah dan wakil kepala Sekolah/Madrasah adalah:
   1) Mengkoordinir segenap kegiatan yang direncanakan, diprogramkan dan berlangsung
        di Sekolah, sehingga pepelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling
        merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
   2) Menyediakan sarana dan prasarana, tenaga, dan berbagai fasilitas lainnya untuk
        kemudahan bagi terlaksananya pepelayanan bimbingan dan konseling yang efektif
        dan efisien.
   3) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan
        program, penilaian dan upaya tindak lanjut pepelayanan bimbingan dan konseling.
   4) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pepelayanan bimbingan dan konseling di
        Sekolah/Madrasah kepada pihak-pihak terkait, terutama Dinas Pendidikan yang
        menjadi atasannya.
   5) Menyediakan fasilitas, kesempatan dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan
        yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
b. Koordinator Bimbingan dan Konseling
            Koordinator       Bimbingan           dan   Konseling           adalah   pembantu      kepala
   Sekolah/Madrasah bidang pelayanan bimbingan dan konseling yang bertugas:
   1)    Mengkoordinasikan para konselor dalam :
   2)    memasyarakatkan pepelayanan bimbingan dan konseling kepada segenap warga
         Sekolah/Madrasah (peserta didik, guru, dan personil Sekolah/Madrasah lainnya),
         orang tua peserta didik, dan masyarakat.
   3)    menyusun        program kegiatan bimbingan dan konseling (program pelayanan dan
         kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan)
   4)    melaksanakan program bimbingan dan konseling
   5)    mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dan konseling

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                      50
                                                                                    Satu Untuk UNM


   6)   menilai hasil pelaksanaan program kegiatan bimbingan dan konseling
   7)   menganalisis hasil penilaian pelaksanaan bimbingan dan konseling
   8)   memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian bimbingan dan konseling
   9)   Mengusulkan        kepada       Kepala    Sekolah/Madrasah    dan     mengusahakan       bagi
        terpenuhinya tenaga, prasana dan sarana, alat dan perlengkapan pepelayanan
        bimbingan dan konseling.
   10) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pepelayanan bimbingan dan konseling
        kepada Kepala Sekolah/Madrasah.
   11) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah
        Bidang Bimbingan dan Konseling.
c. Konselor
   Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, konselor bertugas:
   1)   Melakukan studi kelayakan dan needs assessment pepelayanan bimbingan dan
        konseling.
   2)   Merencanakan program bimbingan dan konseling                  untuk satuan-satuan waktu
        tertentu. Program-program tersebut dikemas dalam program harian, mingguan,
        bulanan, semesteran, dan tahunan.
   3)   Melaksanakan program pelayanan bimbingan dan konseling.
   4)   Menilai proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
   5)   Menganalisis hasil penilaian pelayanan bimbingan dan konseling.
   6)   Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian pelayanan bimbingan dan
        konseling.
   7)   Mengadministrasikan kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling yang
        dilaksanakannya.
   8)   Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dalam pepelayanan bimbingan dan
        konseling secara menyeluruh kepada Koordinator Bimbingan dan Konseling serta
        Kepala Sekolah/Madrasah.
   9)   Mempersiapkan          diri,   menerima     dan   berpartisipasi    aktif    dalam   kegiatan
        kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
   10) Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas serta pihak terkait dalam
        pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
d. Guru Mata Pelajaran/Praktik
   Sebagai pengampu mata pelajaran dan/atau praktikum, guru dalam pepelayanan
   bimbingan dan konseling memiliki peran sebagai berikut:



    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                   51
                                                                                 Satu Untuk UNM


   1)    Membantu konselor mengidentifikasi peserta didik-peserta didik yang memerlukan
         pelayanan bimbingan dan konseling, serta membantu pengumpulan data tentang
         peserta didik.
   2)    Mereferal peserta didik yang memerlukan pepelayanan bimbingan dan konseling
         kepada konselor.
   3)    Menerima peserta didik alih tangan dari konselor, yaitu peserta didik yang menurut
         konselor     memerlukan         pepelayanan   pengajaran/    latihan     khusus   (seperti
         pengajaran/latihan perbaikan, program pengayaan).
   4)    Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada peserta didik yang memerlukan
         pelayanan/kegiatan         bimbingan    dan   konseling     untuk      mengikuti/menjalani
         pelayanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
   5)    Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah peserta didik, seperti
         konferensi kasus.
   6)    Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian
         pelayanan bimbingan konseling dan upaya tindak lanjutnya.
e. Wali Kelas
   Sebagai pembina kelas, dalam pepelayanan bimbingan dan konseling Wali Kelas
   berperan :
   1)    Melaksanakan peranannya sebagai penasihat kepada peserta didik khususnya di
         kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
   2)    Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya
         di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk menjalani pelayanan dan/atau
         kegiatan bimbingan dan konseling.
   3)    Berpartisipasi aktif dalam konferensi kasus.
   4)    Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
         kepada konselor.
f. Staf Administrasi
   Staf administrasi memiliki peranan yang tidak kecil dalam memperlancar pelaksanaan
   program bimbingan dan konseling. Mereka diharapkan membantu menyediakan format-
   format yang diperlukan dan membantu para konselor dalam memelihara data dan serta
   sarana dan fasilitas bimbingan dan konseling yang ada.
b. Ruang Bimbingan dan Konseling
        Ruang bimbingan dan konseling merupakan salah satu sarana penting yang turut
mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, pengadaan ruang

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                 52
                                                                           Satu Untuk UNM


bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan letak atau lokasi, ukuran, jenis dan
jumlah ruangan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
       Letak atau lokasi ruang bimbingan dan konseling di suatu Sekolah/Madrasah dipilih
lokasi yang mudah diakses oleh peserta didik (strategis) tetapi tidak terlalu terbuka. Dengan
demikian seluruh peserta didik bisa dengan mudah dan tertarik mengunjungi ruang
bimbingan dan konseling, dan prinsip-prinsip convidential tetap terjaga.
       Ukuran ruang bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis dan jumlah ruangan. Antar ruangan sebaiknya tidak tembus pandang. Jenis ruangan
yang perlu ada antara lain (1) ruang kerja staf dan administrasi, (2) ruang tamu, (3) ruang
konseling individual      (4) ruang data, dan (5) ruang bimbingan dan konseling kelompok.
Jumlah ruang kerja staff, dan ruang konseling individual, serta ruang bimbingan dan
konseling kelompok disesuaikan dengan jumlah peserta didik dan jumlah konselor yang ada
di suatu Sekolah/Madrasah.
         Berikut dikemukakan gambar contoh minimal ruangan Bimbingan dan konseling di
Sekolah/Madrasah.




                Gambar 4.1: Contoh Minimal Ruangan Bimbingan dan Konseling

       Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia ialah ruangan tempat bimbingan yang
khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses


     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                          53
                                                                        Satu Untuk UNM


pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa
sehingga di satu segi para peserta didik yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa
nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan
bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Khusus
ruangan konseling individual harus merupakan ruangan yang memberi rasa aman, nyaman
dan menjamin kerahasiaan konseli.
       Di dalam ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen
bimbingan dan konseling, himpunan data peserta didik, dan berbagai data serta informasi
lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti
penampilan informasi pendidikan dan jabatan. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu
hendaklah nyaman yang            menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah
bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan program pelayanan yang
disediakan.
c. Fasilitas Lain
       Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan
konseling antara lain:
a. Dokumen program Bimbingan dan Konseling (buku program tahunan, buku program
   semesteran, buku kasus, dan buku harian)
b. Instrumen pengumpul data dan kelengkapan administrasi seperti:
   1) Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat
       Sekolah/Madrasah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi
       belajar.
   2) Alat pengumpul data teknik non-tes yaitu: biodata peserta didik, pedoman
       wawancara, pedoman observasi (seperti pedoman observasi dalam kegiatan
       pembelajaran, pedoman observasi dalam bimbingan dan konseling kelompok),
       catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, angket (angket peserta didik dan orang
       tua), biografi dan autobiografi, sosiometri, AUM, ITP, format satuan pelayanan,
       format-format surat (panggilan, referal), format pelaksanaan pelayanan, dan format
       evaluasi.
   3) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data
       itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi, map dan file dalam komputer. Bentuk kartu
       ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga
       mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan,
       informasi atau pun data untuk masing-masing peserta didik, maka perlu disediakan
       map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data peserta didik yang perlu dan

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                        54
                                                                              Satu Untuk UNM


       harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data
       secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
   4) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu
       bimbingan perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, blanko surat, kartu
       konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat, buku-buku
       panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul
       bimbingan, atau buku materi pelayanan bimbingan, buku hasil wawancara, laporan
       kegiatan pelayanan, data kehadiran peserta didik, leger Bimbingan dan Konseling,
       buku     realisasi    kegiatan      Bimbingan   dan   Konseling,   bahan-bahan   informasi
       pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir, dan buku/ bahan
       informasi pengembangan keterampilan hidup,                 perangkat elektronik (seperti
       komputer, tape recorder, film, dan CD interaktif, CD pembelajaran, OHP, LCD, TV);
       filing kabinet/lemari data (tempat penyimpanan dokumentasi dan data peserta didik),
       dan papan informasi Bimbingan dan Konseling.

       Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja Bimbingan dan Konseling terkini, para
konselor Sekolah/Madrasah perlu terampil menggunakan perangkat komputer, perangkat
komunikasi dan berbagai software untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data,
menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat diakases secara cepat dan secara
interaktif. Perangkat tersebut memiliki peranan yang sangat strategis dalam pelayanan
Bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah dewasa ini. Dalam konteks ini, para konselor
dituntut untuk menguasai sewajarnya penggunaan beberapa perangkat lunak dan perangkat
keras komputer. Banyak sekali perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh konselor
dalam upaya memberikan pepelayanan terbaik kepada para peserta didik. Selain itu dengan
menggunakan perangkat lunak komputer, konselor dapat memberikan pelayanan Bimbingan
dan konseling secara lebih efisien, dan dengan daya jangkau pelayanan yang lebih luas.
Sebagai contoh perangkat lunak itu antara lain, program database peserta didik, perangkat
ungkap masalah, analisis tugas dan tingkat perkembangan peserta didik, dan beberapa
perangkat tes tertentu.
       Komputer yang disediakan di ruang Bimbingan dan Konseling hendaknya memiliki
memori yang cukup besar karena akan menyimpan semua data peserta didik, memiliki
kelengkapan audio agar dapat dimanfaatkan setiap peserta didik untuk menggunakan
berbagai CD interaktif informasi maupun pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan masalah,
serta kelengkapan akses internet agar dapat mengakses informasi penting yang diperlukan
peserta didik maupun dimanfaatkan peserta didik untuk melakukan e-counseling.


     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                              55
                                                                              Satu Untuk UNM


       Salah satu perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi kebutuhan
pelayanan bimbingan dan konseling adalah Inventori Tugas Perkembangan (ITP).
Pengolahan data secara komputerisasi memungkinkan kebutuhan peserta didik terdeteksi
secara rinci sehingga dapat diturunkan manjadi program umum sekoloha, program untuk
tingkatan kelas maupun program individual setiap peserta didik. Kondisi ini memungkinkan
karena data setiap peserta didik, data peserta didik dalam kelompok kelas, data peserta didik
sebagai bagian dari tingkatan kelas maupun data seluruh Sekolah/Madrasah dapat
tertampilkan.
       Berbagai      film   dan     CD    interaktif   sebagai bahan   penunjang   pengembangan
keterampilan pribadi, sosial, belajar dan karir juga harus tersedia, sehingga para peserta
didik tidak hanya memperoleh informasi melalui buku ataupun papan informasi. Media
bimbingan merupakan pendukung optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling.

d. Pembiayaan: Sumber dan Alokasi
       Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen bimbingan
dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk
mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan
Belanja Sekolah/Madrasah.
       Memilih strategi manajemen yang tepat dalam usaha mencapai tujuan program
bimbingan dan konseling memerlukan analisa terhadap anggaran yang dimiliki. Strategi
manajemen program yang dipilih harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Strategi
yang dipilih tanpa mempertimbangkan anggaran yang dimiliki mungkin hanya akan menjadi
angan-angan yang mungkin sulit untuk sampai mencapai tujuan program.
       Kebijakan lembaga yang kondusif perlu diupayakan. Kepala Sekolah/Madrasah harus
memberikan dukungan yang serius dan sistematis terhadap penyelenggaraan program
bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus diperlakukan
sebagai kegiatan yang utuh dari seluruh program pendidikan.
       Komponen anggaran meliputi:
a. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum pada program
b. Anggaran untuk aktivitas pendukung (seperti untuk home visit, pembelian buku
   pendukung/sumber bacaan, mengikuti seminar/ workshop atau kegiatan profesi dan
   pengembangan staf, penyelenggaraan MGMP, pembelian CD pelayanan bimbingan dan
   konseling)




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                             56
                                                                                     Satu Untuk UNM


c. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan kenyamanan ruang atau pepelayanan
   bimbingan dan konseling (seperti pembenahan ruangan, pengadaan buku-buku untuk
   terapi pustaka, penyiapan perangkat konseling kelompok).

         Sumber biaya selain dari RABS (rencana anggaran belanja Sekolah), dengan
dukungan kebijakan kepala Sekolah/Madrasah jika memungkinkan dapat mengakses dana
dari    sumber-sumber         lain   melalui        kesepakatan   lembaga   dengan   pihak   lain,   atau
menggunakan sumber yang dialokasikan oleh komite Sekolah/Madrasah.

e. Evaluasi Bimbingan Konseling
a. Konsep Dasar dan Fungsi Evaluasi
         Evaluasi atau penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program
bimbingan. Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program
bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam
pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat lewat kegiatan penilaian.
         Menurut Shertzer dan Stone (1966), evaluasi melibatkan kegiatan pembuatan
penilaian sistematis mengenai keefektifan program dalam mencapai tujuan berdasarkan
standar khusus tertentu. Evaluasi dapat pula diartikan sebagai proses pengumpulan
informasi (data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian) kegiatan-
kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Pengertian lain dari
evaluasi ini adalah suatu usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala,
berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan
perilaku, atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui program kegiatan yang telah
dilaksanakan.
         Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala upaya, tindakan atau proses
untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu
sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
         Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program
layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi atau tidak
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan siswa dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung
maupun tidak langsung berperan membantu siswa memperoleh perubahan perilaku dan
pribadi ke arah yang lebih baik.



       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                                    57
                                                                       Satu Untuk UNM


       Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, penilaian diperlukan
untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektivan layanan bimbingan yang telah
dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan
kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah
tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya. Kegiatan
evaluasi bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari
program yang telah ditetapkan.
   Adapun fungsi evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah adalah:
   1. Memberikan umpan balik (feed back) kepada guru pembimbing konselor) untuk
       memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling.
   2. Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan
       orang tua siswa tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian
       tugas-tugas perkembangan siswa, agar secara bersinergi atau berkolaborasi
       meningkatkan kualitas implementasi program BK di sekolah.
b. Aspek-aspek yang Dievaluasi
       Ada dua macam aspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilain
proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana keefektivan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil
dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektivan layanan bimbingan dilihat dari
hasilnya. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain:
   1) Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan;
   2) Keterlaksanaan program;
   3) Hambatan-hambatan yang dijumpai;
   4) Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar;
   5) Respon siswa, personil sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan
       bimbingan;
   6) Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan,
       pencapaian tugas-tugas perkembangan, dan hasil belajar; dan keberhasilan siswa
       setelah menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan ataupun pada kehidupannya di
       masyarakat.
            Berbeda dengan hasil evaluasi pengajaran yang pada umumnya berbentuk angka
   atau skor, maka hasil evaluasi bimbingan dan konseling berupa deskripsi tentang aspek-
   aspek yang dievaluasi (seperti partisipasi/aktivitas dan pemahaman siswa; kegunaan
   layanan menurut siswa; perolehan siswa dari layanan; dan minat siswa terhadap layanan
   lebih lanjut; perkembangan siswa dari waktu ke waktu; perolehan guru pembimbing;

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                       58
                                                                                     Satu Untuk UNM


komitmen pihak-pihak terkait; serta kelancaran dan suasana penyelenggaraan kegiatan).
Deskripsi     tersebut        mencerminkan            sejauh     mana      proses      penyelenggaraan
layanan/pendukung         memberikan          sesuatu     yang    berharga      bagi   kemajuan    dan
perkembangan dan/atau memberikan bahan atau kemudahan untuk kegiatan layanan
terhadap siswa.
c. Langkah-langkah Evaluasi
        Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh langkah-langkah berikut.
   1) Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah
        untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka
        konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-
        hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait
        dengan dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu : (1) tingkat keterlaksanaan
        program (aspek proses), dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek
        hasil).
   2) Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh
        data yang diperlukan, yaitu mengenai tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian
        program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua
        aspek     tersebut.     Instrumen       itu    diantaranya      inventori,   angket,   pedoman
        wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi.
   3) Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu
        dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum
        dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai.
   4) Melakukan tindak lanjut (Follow Up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka
        dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan,
        yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau kurang
        relevan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) mengembangkan program,
        dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yang dipandang dapat
        meningkatkan kualitas atau efektivitas program.
        Penilaian di tingkat sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah yang
dibantu oleh pembimbing khusus dan personel sekolah lainnya. Di samping itu penilaian
kegiatan bimbingan dilakukan juga oleh pejabat yang berwenang (pengawas bimbingan
dan konseling) dari instansi yang lebih tinggi (Departemen Pendidikan Nasional Kota atau
kabupaten).
        Sumber informasi untuk keperluan penilaian ini antara lain siswa, kepala sekolah,
para wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tokoh masyarakat, para pejabat

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                        59
                                                                                Satu Untuk UNM


depdikbud, organisasi profesi bimbingan, sekolah lanjutan, dan sebagainya. Penilaian
dilakukan dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi,
studi dokumentasi, angket, tes, analisis hasil kerja siswa, dan sebagainya.
        Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian
perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam tindak lanjut untuk perbaikan dan
pengembangan program layanan bimbingan. Dengan dilakukan penilaian secara
komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan
hasil seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Data dan informasi ini dapat dijadikan
bahan untuk pertanggungjawaban (akuntabiltas) pelaksanaan program bimbingan dan
konseling. Secara skematis evaluasi program bimbingan dan konseling tersebut dapat
digambarkan pada bagan 4.2.

                                        EVALUASI PROGRAM




                                FUNGSI
     TUJUAN                                                      LANGKAH-LANGKAH
                         1. Memberikan umpan
    Mengetahui              balik bagi konselor               1. Memberikan umpan balik
  keterlaksanaan         2. Memberikan                          bagi konselor
 dan ketercapaian           informasi kepada                  2. Memberikan informasi
  tujuan program            pihak lain tentang                  kepada pihak lain tentang
                            perkembangan                        perkembangan siswa
                            siswa




                                              ASPEK YANG
                                              DIEVALUASI




                PROSES                                               HASIL
 1. Kesesuaian pelaksanaan dan                    1. Kualitas ketaqwaaan dan akhlak siswa
    rancangan program                             2. Kualitas pemahaman, penerimaan, dan
 2. Tingkat partisipasi personel                    pangarahan diri siswa
 3. Keberhasilan dan hambatan yang                3. Sikap dan kebiasaan belajar siswa
    dialami                                       4. Prestasi belajar siswa
 4. Respons stakeholder (siswa, kepala            5. Kualitas kedisiplinan siswa
    sekolah, guru, orangtua)                      6. Kualitas sikap sosial siswa
                                                  7. Pemahaman dan persiapan karir siswa
                                                  8. Sikap siswa terhadap program BK


                             Bagan 4.2 Skema Evaluasi Program
 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                60
                                                                                 Satu Untuk UNM


       Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan dalam bentuk mendorong
konselor dan personil layanan bimbingan dan konseling untuk melakukan evaluasi program
dan keterlaksanaan program. Minimal evaluasi dilakukan pada akhir tahun ajaran dan
menjadi slaah satu dasar pengembangan program untuk tahun ajaran berikutnya. Evaluasi
proses sebaiknya dilakukan setiap bulan melalui forum pertemuan staf (MGBK di sekolah)
dan dapat dihadiri oleh unsur pimpinan sekolah. Konselor dapat mengembangkan instrumen
yang dapat menjaring umpan balik secara triangulasi yaitu dari siswa sebagai objek dan
subjek bimbingan, dari pendidik di sekolah sebagai person yang terlibat dan berinteraksi
langsung dengan siswa, pimpinan sekolah terkait dengan ketercapaian tujuan dan dukungan
terhadap program sekolah, orang tua terkait dengan perubahan perilaku dan perkembangan
siswa. Dokumen pelaksanaan evaluasi menjadi salah satu indikator unjuk kerja konselor.
d. Penilaian Proses Kegiatan
       Penilaian proses dimaksudkan untuk menilai keterlaksanaan berbagaai proses dan
pengelolaan dalam bimbingan dan konseling. Ini dapat mencakup penilaian terhadap:
   1) layanan bimbingan dan konseling
   2) kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
   3) mekanisme dan instrumentasi yang digunakan dalam layanan
   4) pengelolaan dan administrasi layanan
       Penilaian proses dalam bimbingan konseling dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
   1) Mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan layanan bimbingan.
   2) Mengungkapkan           pemahaman           siswa   atas   bahan-bahan   yang   disajikan   atau
       pemahaman/pendalaman siswa atas masalah yang dialaminya.
   3) Mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa sebagai hasil dari
       partisipasi/aktivitasnya dalam kegiatan layanan bimbingan.
   4) Mengungkapkan minat siswa tentang perlunya layanan bimbingan lebih lanjut.
   5) Mengamati perkembangan siswa dari waktu ke waktu (butir ini terutama dilakukan
       dalam kegiatan layanan bimbingan yang berkesinambungan).
   6) Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan.
e. Penilaian Hasil Layanan
       Penilaian hasil layanan dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan layanan
dilakukan penilaian. Dengan penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif
dan membawa dampak positif terhadap siswa yang mendapatkan layanan.
       Penilaian ditujukan kepada perolehan siswa yang menjalani layanan. Perolehan ini
diorientasikan pada:



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                   61
                                                                              Satu Untuk UNM


   a. Pengentasan masalah siswa: sejauh manakah perolehan siswa menunjang bagi
       pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang
       terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan permasalahan dan
       perkembangan diri siswa.
   b. Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan,
       keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep diri, kemam-puan berkomunikasi,
       kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.
       Secara      khusus      fokus      penilaian   bimbingan   konseling   diarahkan   kepada
berkembangnya:
   1) Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah
       yang dibahas.
   2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui
       layanan.
   3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan
       dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
       Semua fokus penilaian tersebut mengacu kepada kompetensi yang ditunjukkan dan
mampu aplikasikan oleh p[eserta didik untuk pengentasan permasalahan yang dihadapinya
dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.
       Penilaian dapat dilakukan dalam bentuk: (1) format individual, kelompok, dan/atau
klasikal; (2) media, lisan dan/atau tulisan; ataupun (3) penggunaan panduan dan/atau
instrumen baku dan/atau yang disusun sendiri oleh guru pembimbing.
       Dilihat dari jenisnya, penilaian bimbingan konseling dapat dibedakan atas:
   1) Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal, yang dilakukan segera
       setelah atau menjelang diakhirinya layanan yang dimaksud.
   2) Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan
       setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai
       paling lama satu bulan.
   3) Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah
       dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu
       semester.
f. Analisis Hasil Evaluasi Program dan Tindak Lanjut
       Hasil evaluasi menjadi umpan balik program yang memerlukan perbaikan, kebutuhan
peserta didik yang belum terlayani, kemampuan personil dalam melaksanakan program,
serta dampak program terhadap perubahan perilaku peserta didik dan pencapaian prestasi
akademik, peningkatan mutu proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                              62
                                                                       Satu Untuk UNM


       Hasil analisa harus ditindaklanjuti dengan menyusun program selanjutnya sebagai
kesinambungan program, mengembangkan jejaring pelayanan agar pelayanan bimbingan
dan konseling lebih optimal, melakukan referal bagi peserta didik-peserta didik yang
memerlukan bantuan khusus dari ahli lain, serta mengembangkan komitmen baru kebijakan
orientasi dan implementasi pelayanan bimbingan dna koseling selanjutnya.
       Hasil evaluasi proses juga digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan
bimbingan dan konseling secara menyeluruh. Laporan hasil penilaian dalam bentuk
‗portofolio‘ dituangkan berbentuk profil laporan siswa berisi prestasi kegiatan akademik,
psikologis, bakat dan minat siswa yang ditandatangani guru pembimbing, koordinator dan
kepala sekolah. diketahui orang tua




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                      63
                                                                       Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 5
A. Judul        : Konseling Behavioristik
B. Indikator:
  1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling Behavioristik
  2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
      pandangan Behavioristik
  3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling Behavioristik
  4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling Behavioristik
  5. Menentukan teknik konseling Behavioristik yang sesuai pada kasus tertentu.
C. Waktu        : 6 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
        Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
   1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
       lingkup materi yang akan dikaji.
   2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
   3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
       rangkuman mengenai karakteristik konseling behavioristik, khususnya mengenai:
                Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
                Tujuan konseling
                Proses konseling
                Peran konselor
                Teknik-teknik konseling yang digunakan
   4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
       selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenbai karakteristik konseling
       behavioristik. Hasil rumusan Tim Perumus dibacakan di depan kelas.
   5. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
       topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
   6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
       mengungkapkan ketercapaiannya.


E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
   Terapi behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia
yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosiokultural (Corey,
2005). Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Modifikasi

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                       64
                                                                            Satu Untuk UNM


perilaku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunya lebih
banyak pilihan dalam memilih suatu perilaku.
    Bagi para ahli modifikasi perilaku, penting untuk menemukan bukti empirik dan
dukungan ilmiah bagi teknik yang mereka pakai. Beberapa ahli yang menyikapi pembelajaran
sosial-kognitif menekankan bahwa orang memperoleh pengetahuan dan perilaku baru
dengan cara mengamati orang lain dan berbagai macam kejadian tanpa mereka sendiri
harus melakukan perilaku tersebut dan tanpa konsekuensi langsung kepada diri mereka
(misalnya modeling). Tipe belajar ini tidak memerlukan partisipasi aktif.
    Berikut dikemukakan berapa konsep kunci yang mendasari pemikiran konseling
behavioristik, yaitu:
a. Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari
    luar.
b. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan
    interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
c. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima
    dalam situasi hidupnya.
d. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-
    hukum belajar: (a) pembiasaan klasik, (b) pembiasaan operan, dan (c) peniruan.
e. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang
    diperolehnya.
f. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar,
    sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi
    pembentukan tingkah laku.
g. Karakteristik konseling behavioral adalah: (1) berfokus pada tingkah laku yang tampak
    dan spesifik, (2) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (3)
    mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah konseli, dan (4)
    penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
   a. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau
       tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan
       lingkungan.
   b. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang
       salah.




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                         65
                                                                                Satu Untuk UNM


  c. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif
      dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman
      dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
  d. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku
      tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar
3. Tujuan Konseling
        Konseling behavioral mengarahkan proses konseling pada pencapaian tujuan-tujuan
   berikut:
  a. Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan
      dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan konseli.
  b. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik: (1)
      diinginkan oleh konseli; (2) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai
      tujuan tersebut; (3) konseli dapat mencapai tujuan tersebut; (4) dirumuskan secara
      spesifik
  c. Konselor dan konseli bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/ merumuskan
      tujuan-tujuan khusus konseling.
4. Deskripsi Proses Konseling
      Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar
   tersebut. Langkah utama yang dilakukan dalam proses konseling mencakup:
  a. Assesment, yaitu langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika
      perkembangan konseli (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya,
      kekuatan       dan     kelemahannya,       pola    hubungan    interpersonal,    tingkah    laku
      penyesuaian,         dan    area     masalahnya)    Konselor    mendorong       konseli    untuk
      mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment
      diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai
      dengan tingkah laku yang ingin diubah.
  b. Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan
      informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan konseli menyusun
      dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Perumusan tujuan
      konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) Konselor dan konseli
      mendifinisikan masalah yang dihadapi konseli; (2) Konseli mengkhususkan perubahan
      positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling; (3) Konselor dan konseli
      mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan konseli: apakah merupakan tujuan yang
      benar-benar dimiliki dan diinginkan konseli; apakah tujuan itu realistik; kemungkinan
      manfaatnya; atau kemungkinan kerugiannya; (4) konselor dan konseli membuat

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                    66
                                                                        Satu Untuk UNM


         keputusan apakah melanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan
         dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai, atau melakukan
         referal.
  c. Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling
         yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan
         konseling.
  d. Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan
         konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan
         tujuan konseling.
  e. Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan
         meingkatkan proses konseling.
5. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral
  a. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah
         dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan
         demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.
  b. Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar konseli terdorong
         untuk merubah tingkah lakunya, penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya
         yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan
         melalui tingkah laku konseli.
  c. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.
  d. Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan dapat mengakibatkan
         terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  e. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model
         (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung).
  f.     Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan
         dengan sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk
         materi maupun keuntungan sosial.
6. Peran Konselor
          Pada umumnya konselor yang berorientasi behavioral bersikap aktif dalam sesi-sesi
   konseling. Konseli belajar menghilangkan atau belajar kembali berperilaku tertentu.
   Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasihat, pemberi
   dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau mensupervisi orang-orang
   pendukung yang ada di lingkungan konseli yang membantu dalam proses perubahan
   tersebut
  Dalam konseling behavioristik, peran utama konselor adalah:

       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                      67
                                                                                  Satu Untuk UNM


  a. Merumuskan masalah yang dialami konseli dan menetapkan apakah konselor dapat
      membantu pemecahannya atu tidak
  b. Memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya
      tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
  c. Mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.
7. Teknik Konseling
        Pelaksanaan konseling behavioral menggunakan teknik-teknik umum modofikasi
   perilaku seperti:
  a. Skedul penguatan. Bila suatu perilaku baru saja dipelajari, maka perilaku itu harus
      diperkuat setiap kali muncul-dengan perkataan lain penguatan yang berlangsung
      terus. Setelah terbentuk, frekuensi penguat dapat dikurangi, dengan perkataan lain
      memakai penguat intermiten, supaya perilaku tetap bertahan
  b. Shaping. Perilaku yang dipelajari secara bertahap dengan pendekatan suksesif,
      disebut sebagai shaping. Untuk mempelajari keterampilan baru, konselor dapat
      memecah-mecah perilaku ke dalam unit-unit, dan mempelajarinya dalam unit-unit
      kecil.
  c. Ekstingsi. Eliminasi dari perilaku karena penguat tidak diberikan lagi. Hanya sedikit
      individu yang mau melakukan sesuatu yang tidak memberi keuntungan.

        Selain teknik-teknik umum tersebut, sering pula digunakan beberapa teknik-teknik
   khusus, sebagai berikut:
  a. Desensitisasi sistematik. Desensitisasi sistematik dirancang untuk membantu
      konseli mengatasi anxietas dalam situasi-situasi tertentu. Konseli diminta supaya
      menggambarkan situasi yang menimbulkan kecemasan dan kemudian harus
      membuat urutan situasi yang paling menimbulkan kecemasan (100), sampai yang
      tidak menimbulkan keprihatinan (0). Konselor mengajar konseli untuk rileks secara
      fisik dan mental. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat
      secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang
      akan     dihilangkan.      Dengan          pengkondisian   klasik   respon-respon   yang   tidak
      dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.
  b. Time-out. Time-out adalah teknik aversif yang sangat ringan. Konseli dipisahkan
      dari kemungkinan mendapatkan penguat positif. Sangat efektif bila digunakan untuk
      waktu yang singkat, misalnya dalam menit.
  c. Implosion dan flooding. Gladding (2004) menjelaskan terapi implosif sebagai
      suatu teknik yang sudah lanjut (advanced) yang mencakup mendesensitisasi konseli


    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                    68
                                                                        Satu Untuk UNM


        dengan cara meminta konseli membayangkan suatu situasi penimbul anxietas yang
        bisa berakibat parah. Konseli tidak diajarkan untuk rileks terlebih dahulu (seperti
        dalam desensitisasi sistematik). Flooding lebih ringan sifatnya, karena situasi
        penimbul anxietas yang dibayangkan tidak menimbulkan konsekuensi yang parah
   d. Latihan Asertif. Teknik ini dugunakan untuk melatih konseli yang mengalami
        kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan
        ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu
        mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan
        afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan
        peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan
        dalam latihan asertif ini.
   e. Pengkondisian Aversi. Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan
        buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan konseli agar
        mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus
        tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan
        secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki
        kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku
        yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
   f.   Pembentukan Tingkah laku Model. Teknik ini dapat                 digunakan untuk
        membentuk tingkah laku baru pada konseli, dan memperkuat tingkah laku yang
        sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada konseli tentang
        tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau
        lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh.
        Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran
        dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial


F. Tugas Latihan
   1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
        konseli dari sudut pandang Konseling Behavioral.
   2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling Behavioral.
   3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
        pelaksanakan Konseling Behavioral.
   4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan skenario
        wawancara Konseling Behavioral.



    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                         69
                                                                      Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 6
A. Judul        : Konseling Rational Emtove Behavior Therapy
B. Indikator:
  1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling REBT
  2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
     pandangan REBT
  3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling REBT
  4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling REBT
  5. Menentukan teknik konseling REBT yang sesuai pada kasus tertentu.
C. Waktu        : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
       Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
      lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
  3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
      rangkuman mengenai karakteristik konseling REBT, khususnya mengenai:
               Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
               Tujuan konseling
               Proses konseling
               Peran konselor
               Teknik-teknik konseling yang digunakan
  4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
      selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenbai karakterstik konseling
      REBT. Hasil rumusan Tim Perumus dibacakan di depan kelas.
  5. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
      topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
  6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
      mengungkapkan ketercapaiannya.


E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
       Manusia pada dasarnya adalah unik dan memiliki kecenderungan untuk berpikir
rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif,
bahagia, dan kompeten. Sebaliknya, ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional, individu

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                       70
                                                                         Satu Untuk UNM


akan menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang terhadap suatu situasi/kejadian
sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun
tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang
tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka,
sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis
yang diperoleh dari orangtua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan
tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara
berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.
Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang
rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara
verbalisasi yang rasional.
       Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-
konsep kunci teori Albert Ellis: ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu
Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional Consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
Perceraian dalam keluarga, kelulusan bagi siswa, dan putus hubungan merupakan contoh
antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang
rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana,
dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau
system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak
produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan
antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi
disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun
yang iB.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
       Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah
adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Menurut
Gladding (2004), REBT berasumsi bahwa orang secara inheren adalah rasional dan irasional,

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                          71
                                                                           Satu Untuk UNM


masuk akal (sensible) dan gila. Dualitas ini sifatnya inheren secara biologis dan akan
menjadi menetap kecuali bila dipelajari cara berpikir yang baru. Menurut Ellis (1973) anak-
anak lebih rentan terhadap pengaruh luar dan pemikiran irasional dibandingkan dengan
orang dewasa. Ia percaya bahwa manusia mudah dipengaruhi, sangat sugestif dan mudah
terganggu. Tetapi, manusia mempunyai sarana yang berasal dari dalam dirinya sendiri untuk
mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakannya, tetapi ia harus menyadari dulu apa yang
dia katakan pada dirinya sendiri (self-talk), supaya ia dapat menguasai hidupnya sendiri.
       Ellis (1995) mendeskripsikan proposisi utama REBT sebagai berikut:
a. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk rasional (self-constructive) dan irasional (self-
    defeating). Mereka mempunyai potensi melakukan preservasi-diri, untuk berpikir, untuk
    kreatif, untuk berminat terhadap orang lain, belajar dari kesalahan, rnengaktualisasi
    potensinya untuk berkembang. Tetapi, mereka juga mempunyai kecenderungan untuk
    destruksi-diri, menyukai kesenangan sesaat, rnenghindar berpikir panjang, untuk
    melakukan kesalahan yang sama, untuk percaya tahayul, tidak toleran, perfeksionistik
    dan memikir yang besar-besar dan menghindar rnengaktualisasikan potensinya untuk
    berkembang.
b. Kecenderungan orang untuk berpikir irasional, kebiasaan yang merugikan diri sendiri,
    wishful thinking, dan tidak toleran seringkali dipertebal oleh budaya mereka dan
    kelompok keluarga mereka.
c. Orang mempersepsi, berpikir, merasa dan berperilaku secara simultan. Dengan
    demikian, pada saat yang bersamaan mereka kognitif, konatif, dan motorik. Sensasi dan
    tindakan dipandang dengan kerangka pengalaman, dengan memori yang terdahulu.
    Orang jarang melakukan tindakan tanpa mempersepsi, berpikir dan merasa, karena
    proses-proses ini memberikan alasan untuk bertindak. Dalam hal perilaku yang
    terganggu, berlaku proses yang sama, karena itu harus diubah dengan metode-metode
    yang sifatnya perseptual-kognitif, emotif-evokatif dan behavioristik-reedukatif.
d. Memperoleh wawasan (insight) tidak membawa kepada perubahan kepribadian yang
    besar. Bukan activating events (A) dalam kehidupan seseorang yang "menyebabkan"
    konsekuensi emosi yang disfungsional (C), tetapi fakta bahwa orang menginterpretasi
    peristiwa ini secara tidak realistik dan karena itu mempunyai keyakinan yang self-
    defeating (B) tentang hal itu. Dengan demikian, penyebab "sesungguhnya" terletak di
    dalam diri orang itu sendiri dan bukan apa yang terjadi pada diri mereka.
       Penyebab sehingga individu tidak mampu berpikir secara rasional, adalah: (1) tidak
mampu membedakan dengan jelas tentang saat ini dan yang akan datang, atau antara
kenyatan dan imajinasi; (2) tunduk dan menggantungkan diri pada perencanaan dan

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                            72
                                                                          Satu Untuk UNM


pemikiran orang lain; (3) mengadopsi kecenderungan cara berpikir irasional dari orangtua
atau masyarakat yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.


3. Tujuan Konseling
    Menurut REBT, kebanyakan problem nerotik menyangkut pemikiran magis, pemikiran
yang secara empirik tidak dapat divalidasi, dan bila ide-ide yang menimbulkan gangguan ini
ditantang habis-habisan melalui pemikiran logis-empiris, pemikiran-pemikiran ini dapat
dikenali sebagai sesuatu yang palsu atau salah dan kemudian diminimalisasi. Tidak peduli
seberapa defektifnya hereditas seseorang, dan tidak peduli bagaimana traumatiknya
pengalaman seseorang, alasan utama mereka sekarang ini bereaksi berlebih atau tak
bereaksi adalah karena mereka sekarang ini mempunyai keyakinan yang dogmatik, irasional
dan yang tidak ada buktinya
    Tujuan konseling REBT adalah memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir,
keyakinan serta pandangan konseli yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang
rasional dan logis agar dia dapat mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi dirinya
seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Di samping itu,
dalam konseling REBT, konseli dibantu untuk menghilangkan gangguan-gangguan emosional
yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas,
merasa was-was, rasa marah.
Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai konseli dalam konseling dengan pendekatan
rasional-emotif:
Pertama, insight dicapai ketika konseli memahami bahwa tingkah laku penolakan diri
berhubungan dengan penyebab yang sebagian besar berkaitan dengan keyakinannya
tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
Kedua, insight terjadi ketika konselor membantu konseli untuk memahami bahwa apa yang
menganggu konseli pada saat ini adalah keyakinan irasional yang dipelajari dari dan
diperoleh sebelumnya.
Ketiga, insight dicapai pada saat konselor membantu konseli untuk mencapai pemahaman
ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan emosional kecuali dengan
mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional itu.
Konseli yang telah memiliki keyakinan rasional akan memiliki peningkatan dalam hal: (1)
minat kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi terhadap pihak
lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen terhadap sesuatu di luar
dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil risiko, dan (10) menerima kenyataan.



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                           73
                                                                           Satu Untuk UNM


4. Deskripsi Proses Konseling
   Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan
sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-
batas tujuan yang disusun secara bersama oleh konselor dan konseli.
   Proses Konseling REBT memiliki karakteristik, sebagai berikut:
a. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu
   mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek
   kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga
   memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan
   emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
   gangguan tersebut.
d. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya
   menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.


5. Peran Konselor
       Dalam pendekatan REBT, konselor adalah aktif dan direktif. Mereka adalah instruktur
yang mengajari dan membetulkan kognisi konseli. Menentang keyakinan yang sudah berakar
mendalam memerlukan lebih daripada sekadar logika. Perlu repetisi konsisten. Karena itu
konselor harus mendengarkan dengan hati-hati pernyataan-pernyataan konseli yang tidak
logis atau salah dan menantang keyakinan ini. Seorang konselor REBT hams mempunyai ciri-
ciri berikut: pandai, berpengetahuan luas, empatik, menambah respek, genuine, konkret,
persisten, ilmiah, berminat membantu orang lain dan ia sendiri) menggunakan REBT.
       Dalam Konseling REBT, tugas konselor adalah menunjukkan kepada konseli bahwa:
(1) masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak
rasional; (2) bahwa usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-
sebab permulaan.
   Operasionalisasi tugas konselor, mencakup fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. lebih edukatif-direktif kepada konseli, dengan cara lebih banyak memberikan cerita dan
   penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah konseli secara
   langsung;
b. menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara
   berpikir konseli, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                       74
                                                                             Satu Untuk UNM


    dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang
    menyebabkan hambatan emosional pada dirinya;
c. mendorong konseli menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya;
d. menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis dengan menggunakan humor dan
    ―menekan‖ sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.

6. Teknik Konseling
       Dalam konseling REBT konselor menggunakan berbagai macam teknik, bermain-
peran, pelatihan asertivitas, desensitisasi, humor, sugesti, dukungan dan lain-lain, atau apa
saja yang efektif untuk membantu konseli mengubah keyakinan yang sudah begitu menetap
dalam. REBT tidak hanya bertujuan menghilangkan simtom, tetapi juga membantu orang
untuk memeriksa dan mengubah beberapa nilai dasar mereka - terutama yang menimbulkan
gangguan.
       Pendekatan konseling REBT menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud
antara lain adalah sebagai berikut.
a. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
   1) Assertive adaptive
       Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan konseli untuk
       secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
       Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri konseli.
   2) Bermain peran
       Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-
       perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga
       konseli dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
   3) Imitasi
       Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu
       dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang
       negatif.
b. Teknik-teknik Behavioristik
   1) Reinforcement
       Teknik untuk mendorong konseli ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis
       dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).
       eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional
       pada konseli dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.


     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                          75
                                                                                Satu Untuk UNM


      Dengan       memberikan          reward      ataupun   punishment,     maka    konseli    akan
      menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
  2) Social modeling
      Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada konseli. Teknik ini
      dilakukan agar konseli dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan
      dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
      menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
      tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
c. Teknik-teknik Kognitif
  1) Home work assigments
      Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
      membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola
      tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, konseli
      diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan
      yang tidak dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk
      mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
      berdasarkan tugas yang diberikan. Pelaksanaan homework assigment yang diberikan
      konselor dilaporkan oleh konseli dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor
      Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung
      jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
      pengelolaan diri konseli dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
  2) Latihan assertive
      Teknik untuk melatih keberanian konseli dalam mengekspresikan tingkah laku
      tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model
      sosial.
      Maksud utama teknik latihan asertif adalah: (a) mendorong kemampuan konseli
      mengekspresikan          berbagai      hal   yang   berhubungan      dengan   emosinya;    (b)
      membangkitkan kemampuan konseli dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri
      tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong konseli untuk
      meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan
      untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                   76
                                                                   Satu Untuk UNM


F. Tugas Latihan
   1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
      konseli dari sudut pandang REBT
   2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling REBT
   3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
      pelaksanakan konseling REBT.
   4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan         skenario
      wawancara konseling REBT.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                  77
                                                                     Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 7
A. Judul        : Konseling Humanistik (Berpusat Pada Pribadi)
B. Indikator:
  1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling humanistik
  2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
     pandangan humanistik
  3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling humanistik
  4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling humanistik
  5. Menejelaskan peran konselor dalam konseling humanistik
C. Waktu        : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
       Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
      lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
  3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
      rangkuman mengenai karakteristik konseling humanistik, khususnya mengenai:
               Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
               Tujuan konseling
               Proses konseling
               Peran konselor
               Teknik-teknik konseling yang digunakan
  4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
      selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenai karakteristik konseling
      humanistik.
  5. Anggota tim perumus dari setiap kelompok kembali ke kelompk masing-masing untuk
      menjelaskan hasil rumusan Tim Perumus.
  6. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
      topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
  7. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
      mengungkapkan ketercapaiannya.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                    78
                                                                               Satu Untuk UNM


E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
       Konseling humanistik berakar dari aliran pemikiran humanistik dalam psikologi.
Pemikiran humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai
reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan
perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan
teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari
James Bugental (1964), sebagai berikut:
   a. Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
   b. Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
   c. Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
   d. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
   e. Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
       Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan
tokoh-tokohnya seperti Kierkegard, Nierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre.
       Konseling      humanistik       seringpula   disebut   konseling   berpusat   pada   pribadi
dikembangkan oleh Carl Rogers. Konseling ini memfokuskan perhatian pada potensi individu
untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan
dirinya sendiri dan lingkungannya. Para konselor yang memakai Konseling berpusat pada
pribadi membantu konseli untuk meningkatkan pemahaman diri melalui mengalami
perasaan-perasaan mereka.
       Pendekatan konseling ini memandang manusia sebagai individu yang unik. Manusia
merupakan seseorang yang ada, sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Setiap
orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya, menyempurnakan
esensi dan fakta eksistensinya. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan
sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang
ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Manusia tidak pernah
statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani
menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri. Setiap orang memiliki
potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal
kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
       Konseling humanistik berpandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik
Karakteristik manusia adalah positif, ingin berkembang kearah yang lebih baik, konstruktif,
realistik, and trustworthy (Rogers, 1980). Setiap pribadi adalah orang yang sadar, terarah
dari dalam (inner directed) dan bergerak ke arah aktualisasi diri. Menurut Rogers, aktualisasi

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                                79
                                                                          Satu Untuk UNM


diri adalah dorongan yang paling menonjol dan memotivasi eksistensi dan mencakup
tindakan yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
       Kemunculan diri (self) yang sehat, memerlukan penghargaan positif, kasih sayang,
perhatian, dan penerimaan. Tetapi, pada masa kanak-kanak, orang biasanya menerima
conditional regards dari orangtua dan orang lain. Perasaan berharga berkembang bila
seseorang berperilaku dengan cara tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang
yang persetujuannya diharapkan, karena akseptansi kondisional mengajarkan orang untuk
merasa berharga hanya bila ia konform dengan keinginan orang lain. Kalau orang tidak
melakukan seperti yang dikehendaki orang lain, ia tidak akan diterima atau dihargai. Tetapi,
bila ia konform, ia akan membuka jurang antara ideal self (apa yang orang inginkan dirinya
untuk menjadi) dan real self (apa adanya dirinya). Makin jauh jurang antara keduanya,
orang akan menjadi makin maladjusted.
       Dalam pandangan pendekatan humanistik, gangguan jiwa disebabkan karena individu
yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Dengan perkataan lain,
pengalamannya tertekan.
3. Tujuan Konseling
       Konseling humanistik mengarahkan proses konseling pada pencapaian tujuan-tujuan
berikut:
   a. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya
       menurut apa adanya—―Saya adalah saya‖.
   b. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta
       pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan
       dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization
       seoptimal mungkin.
   c. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam
       proses aktualisasi dirinya.
   d. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat
       dijangkau menurut kondisi dirinya.
4. Deskripsi Proses Konseling
       Proses konseling humanistik ditandai beberapa karakteristik, antara lain:
   a. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli.
   b. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan
       apa yang diinginkannya.



     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                         80
                                                                           Satu Untuk UNM


   c. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku
          individu dengan tanpa memberikan sanggahan.
   d. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan
          kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam
          hubungan konseling.
   e. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat
          diperlukan oleh konselor.
5. Peran Konselor
          Peran konselor bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap-sikap
mereka, tidak pada teknik-teknik yang dirancang agar konseli melakukan sesuatu. Konselor
menggunakan dirinya sendiri, sebagai instrumen perubahan. Fungsi mereka menciptakan
iklim terapeutik yang membantu konseli untuk tumbuh. (Rogers,1980). Konselor menyadari
bahasa verbal dan nonverbal konseli dan merefleksikannya kembali. Konselor dan konseli
tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan dicapai. Konselor percaya
bahwa konseli akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin dicapainya. Konselor
hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
6. Teknik Konseling
          Pendekatan ini menganggap kualitas hubungan konseling jauh lebih penting daripada
teknik. Ada tiga kondisi yang dibutuhkan dalam konseling, yaitu 1) empathy; (2) positive
regard (acceptance), dan (3) congruence genuineness. Empati adalah kemampuan konselor
untuk merasakan bersama dengan konseli dan menyampaikan pemahaman ini kembali
kepada mereka. Empati dalam hubungan konseling adalah faktor yang paling berpengaruh
dan membawa perubahan dan pembelajaran. Positive regard atau akseptansi                adalah
penerimaan yang tulus dan penghargaan yang mendalam terhadap konseli. Kongruensi
adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik dengan tidak memakai topeng.
          Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client
centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi:
   a. acceptance (penerimaan);
   b. respect (rasa hormat);
   c. understanding (pemahaman);
   d. reassurance (menentramkan hati);
   e. encouragement (memberi dorongan);
   f.     limited questioning (pertanyaan terbatas; dan
   g. reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).



        Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
        Universitas Negeri Makassar                                                        81
                                                                        Satu Untuk UNM


       Teknik-teknik tersebut sesungguhnya mendasari dan diterapkan pada pelaksanaan
proses konseling pada hampir semua pendekatan konseling. Melalui penggunaan teknik-
teknik tersebut diharapkan konseli dapat:
   a. memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik;
   b. mengambil keputusan yang tepat;
   c. mengarahkan diri; dan
   d. mewujudkan dirinya.
F. Tugas Latihan
   1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
       konseli dari sudut pandang konseling humanistik (Berpusat pada Pribadi).
   2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling           Berpusat pada
       Pribadi.
   3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
       pelaksanakan Konseling Berpusat pada Pribadi.
   4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan               skenario
       wawancara Konseling Berpusat pada Pribadi.




     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                       82
                                                                       Satu Untuk UNM


KEGIATAN BELAJAR 8

A. Judul        : Keterampilan Dasar dalam Konseling
B. Indikator:
  1. Menjelaskan pentingnya setiap keterampilan dasar konseling
  2. Memperagakan contoh pelaksanaan setiap keterampilan dasar konseling
  3. Menentukan letak ketidakefektifan suatu respons konselor dalam percakapan
     konseling
  4. Menjelaskan keterampilan komunikasi yang terlibat dalam prosedur pemecahan
     masalah
C. Waktu        : 6 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
       Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
      lingkup materi yang akan dikaji.
  2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
      Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan kemudian
      melakukan permainan peran secara bergantian, yaitu bertindak sebagai konselor,
      konseli, dan pengamat.
  3. Praktikkan setiap keterampilan komunikasi secara bertahap. Ikuti prosedur berikut:
      a. Fasilitator memberi penjelasan singkat tetntang keterampilan yang akan
           dipraktikkan. Disarankan fasilitator dapat memeragakan langsung keterampilan
           yang dimaksud
      b. Pemeran konselor dan pemeran konseli diminta memerankan suatu dialog
           konseling. Pemeran konseli mengungkapkan suatu problem hipotetik dan
           pemeran konselor mempraktikkan keterampilan dasar konseling yang telah
           dipelajari.
      c. Selama simulasi dialog konseling, anggota kelompok lainnya bertindak sebagai
           pengamat yang bertugas mengamati dan mencatat perilaku keterampilan dari
           pemeran konselor.
      d. Setelah sesi dialog, lakukan revie dan refleksi atas pelaksanaan simulasi dialog
           konseling tersebut.
      e. Lanjutkan simulasi dialog konseling kepada peserta lainnya sampai semua
           anggota berkesempatan melakukan peran konselor.




    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                           83
                                                                              Satu Untuk UNM


   4. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
       mengungkapkan ketercapaiannya.
E. Uraian Materi
       Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan menolong orang lain (helping job)
pasti melibatkan proses komunikasi. Bahkan, pada sejumlah pekerjaan menolong, seperti
guru, psikolog, konselor, dan semacamnya, proses komunikasi ini menjadi wahana utama
kegiatan kerjanya. Mereka menolong orang lain—mengajar, mengkonseling, mengarahkan,
menasehati,      dan     sebagainya—dengan        menerapkan   keterampilan     mereka   dalam
berkomunikasi. Karena itu, terampil berkomunikasi menjadi salah satu prasyarat penting
yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin bekerja secara efektif dalam peranan dan
tugas menolong orang lain.
       Kegiatan menolong seperti yang dilakukan oleh konselor sekolah juga melibatkan dan
mempersyaratkan keterampilan berkomunikasi. Untuk bisa menolong orang lain, konselor
harus bisa berkomunikasi secara efektif. Dengan menerapkan kemampuan berkomunikasi
yang efektif, konselor dapat menciptakan suasana yang kondusuf bagi pelaksanaan proses
konseling. Konseli yang dibantu dapat merasa aman dan merasa diterima sehingga mereka
bisa lebih percaya dan terbuka untuk mengungkapkan persoalan yang dihadapinya.
       Konselor membutuhkan sejumlah keterampilan komunikasi. Dalam uraian ini
dikemukakan sebagian dari keterampilan komunikasi dasar yang dimaksud, yaitu:
1. Keterampilan penampilan dalam penerimaan.
2. Keterampilan bertanya dan membuka percakapan
3. Keterampilan membuat paraprase
4. Keterampilan mengempati perasaan
5. Keterampilan membuat ringkasan
6. Keterampilan pemecahan masalah
        Keenam keterampilan tersebut hanyalah sebagian dari keseluruhan keterampilan
komunikasi yang diperlukan dalam kegiatan menolong orang lain. Namun demikian, keenam
keterampilan tersebut merupakan unsur keteram[ilan penting yang perlu dikuasai guna
melaksanakan suatu proses konseling yang efektif.
       Berikut dikjelaskan secara ringkat keenam keterampilan dasar tersebut.
1. Keterampilan Attending (Penampilan Dalam Penerimaan)
       Perhatian yang baik adalah komponen penting dalam menjalin komunikasi yang baik.
   Perilaku penampilan yang tepat dapat menunjukkan kepada orang yang anda ajak
   berbicara bahwa anda menghormatinya sebagai pribadi, bahwa anda bersedia
   menerimanya, dan bahwa anda bersungguh-sungguh ingin menolongnya.

     Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
     Universitas Negeri Makassar                                                            84
                                                                    Satu Untuk UNM


   Sebagai suatu keterampilan, penampilan melibatkan berbagai proses dan pengelolaan
diri. Yang penting diingat, jika ingin menjadi seorang penolong, anda harus menunjukkan
diri secara fisik bahwa anda memiliki keinginan dan kesediaan menolong orang yang
datang kepada anda.
   Unsur keterampilan yang terlaku dengan attending, meliputi:
a. Penampilan badaniah, meliputi posisi tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan anggota
   badan.
   Penampilan badaniah yang baik, antara lain:
   1) Duduk dengan badan menghadap ke arah konseli.
   2) Posisi tangan di atas pangkuan
   3) Gerakan tangan yang sesuai mengikuti komunikasi verbal.
   4) Ekspresi wajah yang responsif, misalnya tersenyum spontan atau anggukan kepala
       sebagai tanda persetujuan dan mengerutkan dahi sebagai tanda kurang mengerti.
   5) Duduk dengan kepala tegak dan dengan badan yang agak condong ke arah
       konseli
   Penampilan badaniah yang kurang baik:
   1) Duduk dengan badan dan kepala tidak menghadap ke arah konseli
   2) Kepala selalu menunduk atau duduk terpaku dalam posisi yang kaku tanpa gerak
   3) Penampilan badan ekspresi wajah yang gelisah atau tidak tenang
   4) Mempermainkan tangan atau benda tertentu yang dipegang atau menggigit kuku
   5) Tangan tidak memperlihatkan gerakan isyarat yang menyertai komunikasi verbal
   6) Muka tampak kaku, tegang, tanpa senyum
   7) Senyum yang dibuat-buat, tidak spontan, atau dilakukan pada saat yang tidak
       tepat.
b. Kontak Mata (Eye Contact), yaitu keterampilan menggunakan mata dalam
   berkomunikasi.
   Kontak mata yang baik, antara lain:
   1) Pandangan mata yang diarahkan langsung ke konseli
   2) Kontak pandangan dengan gerakan mata yang spontan.
   3) Pandangan mata yang berbinar, pupil mata agak terbuka
   Kontak mata kurang baik, antara lain:
   1) Memandang ke arah lain saat berbicara
   2) Menghindari memandang konseli
   3) Pandangan kosong dan kaku
   4) Pandangan terlalu tajam atau melotot

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                        85
                                                                            Satu Untuk UNM


  c. Pengelolaan Suara, yaitu keterampilan menglola nada dan intonasi suara saat
      berbicara.
      Pengelolaan suara yang baik, antara lain:
     1) Nada suara yang hangat dan lembut
     2) Kecepatan suara yang sedang dan diatur sesuai isi pembicaraan
     3) Intonasi dan kekerasan (lodness) suara yang tepat yang tepat sesuai materi
          pembicaraan
     4) Gaya bicara (diction) yang cermat dan teratur.
     Pengelolaan suara yang kurang baik, antara lain:
     1) Nada suara yang monoton
     2) Cara bicara terlalu cepat atau sebaliknya terlalu pelan.
     3) Intonasi suara yang terlalu tinggi atau sebaliknya terlalu rendah
     4) Gaya bicara ceplas-ceplos, tidak teratur, atau berbelit-belit.
  d. Pendengaran (listening), yaitu keterampilan badaniah saat           mendengar orang lain
      berbicara.
      Pendengaran yang baik, antara lain:
     1) Menunjukkan perhatian penuh pada isi pembicaraan konseli
     2) Mendengarkan semua apa yang disampaikan oleh konseli
     3) Menyimak secara utuh pesan yang disampaikan—kata-kata, perasaan, dan
          perilakunya.
     4) Menggunakan ransangan minimal (seperti hmm, ya, lalu, dsb)
     5) Menunjukkan minat mendengarkan melalui penerapan keterampilan penampilan
          badaniah, kontak mata, dan penglolaan suara.
      Pandengaran yang kurang baik, antara lain:
     1) Perhatian terbagi atau melakukan kegiatan lain saat mendengarkan konseli
     2) Cepat membuat penilaian dan tanggapan sebelum mendengarkan semua yang
          disampaikan oleh konseli
     3) Memotong pembicaraan ketika konseli masih ingin berbicara
     4) Melompat dari satu topik ke topik yang lain, tanpa sistematika yang jelas.
2. Keterampilan Bertanya dan Membuka Percakapan
  Konseli yang datang meminta bantuan kepada anda membawa sejumlah perasaan yang
  merupakan masalah baginya. Agar anda dapat memahami bagaimana konseli melihat
  situasi permasalahannya, maka anda memerlukan alat yang disebut ―pertanyaan
  terbuka,‖ suatu jenis pertanyaan yang membuka kemungkinan jawaban baru namun
  tidak menyimpang dari konteks permasalahan yang sedang dibicarakan.

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                           86
                                                                     Satu Untuk UNM


Unsur keterampilan yang terlibat dalam bertanya dan membuka percakapan, meliputi:
a. Keterampilan Bertanya
   Pertanyaan yang baik bercirikan antara lain:
  1) Menggunakan pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban
      yang bersifat mengurai dan menjelaskan
  2) Menggunakan kata tanya: apa?, bagaimana?, atau dapatkah?
  3) Bersifat spesifik dan jelas maksudnya
  4) Menanyakan hanya satu topik untuk satu pertanyaan yang diajukan.
   Di samping itu, pertanyaan dalam proses bantuan mempunyai empat macam, yaitu:
  1) Pertanyaan untuk membuka percakapan, contoh:
          ―Apa yang anda ingin kemukakan sekarang?‖
          ―Bagaimana keadaan anda sesudah pertemuan kita yang terakhir?‖
  2) Pertanyaan untuk memnacing konseli berbicara lebih jauh tentang masalahnya.
      Contoh:
          ―Dapatkah anda mengemukakan lebih jauh tentang hal tersebut?‖
          ―Saya ingin tahu lebih jauh tentang apa yang menyebabkan anda bereaksi
           seperti itu?‖
  3) Pertanyaan        untuk     memberi contoh untuk membantu konseli memahami
      perilakunya dengan lebih baik. Contoh:
          ―Dapatkah anda mengatakan apa yang anda lakukan ketika sedang marah?‖
  4) Pertanyaan untuk memokuskan perasaan konseli. Contoh:
          ‖Anda tampaknya sangat mencemaskan hal itu. Coba jelaskan lebih jauh hal
           tersebut?‖
          ―Bagaimana perasaan anda terhadap perlakuan teman anda itu?‖
   Pertanyaan yang kurang baik, mancakup:
   1) Banyak menggunakan pertanyaan tertutup, seperti:
           ―Apakah anda merasa kecewa dengan keadaan tersebut?‖
   2) Menggunakan pertanyaan-pertanyaan beruntun dan membutuhkan jawaban yang
        beruntun pula, seperti:
          ―Dapakah anda mengemukakan hal itu kepada saya? Di manakah terjadinya?
           Kapan itu terjadi? Bagaimana perasaan anda atas kejadian itu?‖
   3) Menggunakan kata tanya mengapa (sehingga menyulitkan konseli untuk memberi
        jawaban yang diinginkan), misalnya:
          ―Mengapa anda melakukan hal itu?‖


 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                        87
                                                                      Satu Untuk UNM


      4) Mengajukan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah inklusif dalam
           pertanyaan itu, misalnya:
              ―Apakah anda tidak menyenanginya, lalu anda tidak mau lagi berbicara
               kepadanya?‖
  b. Ransangan Minimal (Minimal Encourages)
      Ransangan minimal yang baik, mencakup:
     1) mengelaborasi aspek-aspek non-verbal dari perlaku penampilan yang baik,
          misalnya:
              memelihara kontak mata
              badan yang condong ke depan sebagai tanda penuh perhatian
              gerakan-gerakan anggota badan yang wajar
              gerakan isyarat yang memadai
              anggukan kepala
     2) ucapan-ucapan verbal yang singkat, seperti:
              ―Oh?‖ ―dan?‖ ―lalu?‖ ―terus?‖
              ―Coba anda teruskan?‖
              ―Umm-mmm‖, ―Uh-huh‖, ―Yaaah‖
      Ransangan minimal yang kurang baik, mencakup:
      1) Posisi badan yang kaku
      2) Gerakan badan yang berlebihan (overacting)
      3) Malu dan diam
      4) Bermasa bodoh dan kebingungan.


3. Keterampilan Membuat Paraprhase
      Paraphrase adalah suatu kerampilan dasar komunikasi untuk memperbaiki hubungan
  interpersonal dengan konseli. Keterampilan ini membutuhkan kemampuan untuk
  ―menangkap‖ esensi isi pembicaraan dan ―menyatakannya kembali‖ kepada lawan bicara.
  Paraphrase mempunyai tiga tujuan, yakni: (1) menyatakan kepada konseli bahwa kita
  ada bersamanya, dan bahwa kita berusaha memahami apa yang dikatakannya, (2)
  mengendapkan apa yang dibicarakan konseli tentang dirinya dengan membuat ringkasan
  yang berguna untuk memberi arah wawancara yang dilakukan; dan (3) mengecek
  kembali mengenai persepsi kita terhadap masalah yang diajukan oleh konseli.
  a. Paraphrase yang baik, mencakup pernyataan kembali pesan dasar konseli dengan
      kata-kata yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi makna yang terkandung



    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                   88
                                                                       Satu Untuk UNM


      dalam pernyataan tersebut. Paraphrase yang baik ditandai dengan suatu kalimat
      awal, seperti:
                ―Apakah yang anda katakan adalah bahwa…………….‖
                ―Tampaknya yang anda katakan adalah ……………….‖
      Misalnya:
      Konseli     :    ―Biasanya ia selalu senang dengan saya, tapi kok tiba-tiba saja ia
                      memusuhi saya.‖
      Konselor: ―Apakah yang anda katakan adalah bahwa perilakunya tidak konsisten lagi
                      terhadap anda.‖
  b. Pokok-pokok yang disarankan untuk membuat paraphrase yang baik, antara laian:
      1) Dengarkan secara teliti pesan dasar yang disampaikan oleh klein
      2) Nyatakan kembali kepada konseli kesimpulan atau ringkasan singkat pesan dasar
           tersebut.
      3) Amatilah apakah perilaku konseli menunjukkan respon yanbg tegas terhadap
           paraphrase yang anda buat. Aatau mintalah konseli menanggapi paraphrase
           tersebut.
  c. Paraphrase yang kurang baik, meliputi:
      1) Memasukkan respon yang bersifat analisis, interpretasi atau penilaian terhadap
           pesan yang disampaikan oleh konseli.
      2) Memberikan respon terhadap hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan pesan
           yang disampaikan konseli
      3) Menggunakan kata-kata atau phrase yang sifatnya tidak cocok terhadap
           wawancara, misalnya kata-kata teknis, kata-kata jargon (istilah khusus pada
           bidang tertentu).
4. Mengempati Perasaan
      Empati berarti memahami individu secara penuh, bahwa perasaan, pikiran, dan
  motive mereka bisa dimengerti. Empati berarti menyelam ke dalam diri individu dan
  mencoba melihat dunia melalui mata mereka, mencoba mengalami dunia individu seolah-
  olah anda adalah mereka.
      Empati merupakan unsur terpenting dalam berhubungan dengan orang lain.
  Keterampilan ini sangat vital dalam menjalankan peranan sebagai seorang penolong.
  Keterampilan ini juga merupakan sentral di hampir semua teori bantuan terapi. Empati
  seringkali disebutkan dan dikaitkan dengan istilah lain seperti: kehangatan (warmth),
  kepedulian (compasion), dan pemahaman (understanding), atau istilah lain yang memiliki
  makna yang sama. Berbagai hasil penelitian menunjukkan, keterampilan ini dapat

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                       89
                                                                                    Satu Untuk UNM


dipelajari, dan bahwa sebagian besar orang, melalaui latihan yang efektif, dapat belajar
menjadi empatik.
a. Mengenal berbagai kata-kata perasaan.
   Untuk menangkap perasaan orang lain, anda perlu mengetahui banyak kata-kata
   perasaan. Anda perlu mengembangkan satu daftar kosa-kata perasaan. Untuk
   latihan, lakukan langkah-langkah berikut:
b. Bacalah daftar kosa kata perasaan, seperti contoh berikut:
    Tersinggung        Terkekang       Dihargai         Terganggu        Intim          Sedih
    Diterima           Gagal           Gelisah          Disaingi         Gembira        Puas
    Ditolak            Tertekan        Sakit hati       Disayangi        Curiga         Takut
                                                                                        Kalah,
    Dimarahi           Rendah diri     Bodoh, tolol     Bebas            Kesepian
                                                                                        ―down‖
    Cemas              Malu            Cemburu          Frustrasi        Mencintai      Dipercaya
    Diperhatikan       Gugup           Bingung          Berdosa          Ditinggalkan   Hebat
                       Bersemang
    Bosan                              Tegang           Terbuka          Terpukul       Bangga
                       at


c. Cobalah gambarkan diri anda jika berada situasi mengalami perasaan atau emosi
   tersebut. Contoh, ―Bila saya merasa tersinggung‖, maka:

          Saya   merasa   tidak berharga                      Saya   merasa   tidak berguna apa-apa
          Saya   merasa   seperti badan teriris-iris          Saya   merasa   seperti binatang saja
          Saya   merasa   seperti ingin menangis              Saya   merasa   terpukul
          Saya   merasa   malu sekali                         Saya   merasa   divonis
          Saya   merasa   hancur                              Saya   merasa   dilimpari kotoran
          Saya   merasa   terpojok                            Saya   merasa   seperti ditampar saja

d. Menggambarkan perasaan
   Perasaan yang terkandung dalam pernyataan konseli dapat dikelompokkan menadi
   dua bagian. Pertama, perasaan yang tampak atau perasaan permukaan, yaitu
   perasaan yang dinyatakan langsung oleh konseli. Kedua, pernyataan tersembunyi,
   yaitu perasaan yang tersirat di balik kata-kata dan pernyataan konseli. Perhatikan
   contoh berikut:
   Konseli : ―Saya sangat marah pada diri sendiri. Setiap kali saya mencoba berbuat
                  sesuatu yang benar, selalu saja berakhir dengan kekacauan. Sungguh berat
                  dan mengecewakan untuk tetap berbuat sesuatu.‖
   Perasaan permukaan: jengkel, marah, kecewa, kacau.
   Perasaan tersembunyi: kasihan pada diri sendiri, kurang berharga, kurang percaya
   diri.




 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                        90
                                                                                  Satu Untuk UNM


  e. Mengenali bentuk pengungkapan perasaan
         Individu dalam mengungkapkan perasaannya dapat menggunakan salah satu dari
         empat bentuk, yaitu dengan kata tunggal, dengan phrase, dengan pernyataan
         eksperiensial, dan dengan pernyataan verbal. Berikuit dikemukakan contoh ekspresi
         perasaan gembira dengan menggunakan keempat cara tersebut:
         1) Dengan kata tunggal               : ―Saya merasa marah.‖
         2) Menggunakan kiasan                : ―Saya merasa seperti di surga.‖
         3) Pernyataan eksperiensial: ―Saya merasa ia menyukai pekerjaan saya.‖
         4) Pernyataan behavioral             : ―Saya merasa seperti pergi ke acara resepsi yang
              meriah.‖
  f.     Menanggapi dan merefleksi perasaan
         Anda perlu belajar menanggapi isi perasaan yang terkandung dalam pernyataan
         konseli dan kemudiaan menyatakannya kembali kepada konseli. Untuk maksud ini,
         disarankan melakukan perilaku berikut:
        1) Menyimak         semua       kata-kata   yang   mengungkapkan      perasaan,   saat   anda
             mendengar pembicaraan konseli.
        2) Mengatur waktu yang tepat dalam memberi komentar. Jangan mengulang setiap
             pertanyaan
        3) Memparaphrasa kata-kata perasaan dan maksud pesan yang diungkapkan, baik
             positif maupun negatif. Gunakan kata-kata kunci pendahuluan, berikut:
                 ―Tampaknya yang anda katakan adalah………..‖
                 ―Barangkali anda merasa…………………………‖
                 ―Kalau begitu, rupanya yang anda alami adalah…………..‖
                 ―Adakah kamu mengatakan bahwa anda………………….‖
              Contoh:
              Konseli     : ―Guru itu jahanam, Saya membencinya. Saya tidak akan mengerjakan
                             tugas PR yang diberikannya. Saya tidak akan mengerjkan tugas-tugas
                             darinya‖
              Penolong : ―Tampaknya anda merasa sungguh-sungguh marah.‖


5. Keterampilan Membuat Ringkasan
         Biasanya dalam setiap wawancara banyak bermunculan ide dan perasaan.
  Keterampilan membuat ringkasan diperlukan untuk membantu anda mengklarifikasikan
  dan memfokuskan serangkaian ide yang agak berkepanjangan dan leboh menjelaskan
  cara bagaimana suatu ide akan dibicarakan lebih lanjut. Keterampilan ini juga membantu

       Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
       Universitas Negeri Makassar                                                                 91
                                                                    Satu Untuk UNM


memberi konseli kemungkinan hasrat untuk mengungkapkan berbagai ide dan perasaan,
serta memberi kesadaran akan kemajuan dalam pemahaman diri dan proses pemecahan
masalah. Di samping itu, keterampilan ini juga memberi efek ―jaminan‖ kepada konseli
bahwaanda berada bersama-sama dengannya, bahwa anda tetap mengikuti semua pokok
pembicaraannya.
   Keterampilan meringkas melibatkan perilakumendengar secara penuh problem
konseli dan kemudian meringkas pernyataan-pernyataan tentang problem itu dengan
memberi sorotan baru kepada konseli.
   Unsur keterampilan yang terkait dengan keterampilan membuat kesimpilan, meliputi:
a. Keterampilan meringkas, melibatkan perhatian terhadap:
   1) Apa yang dikatakan konseli---yang selanjutnya merupakan perluasan dari
       keterampilan paraphrase.
   2) Bagaimana konseli mengemukakan perasaan dan berbibicara---yang selanjutnya
       merupakan perluasan dari keterampilan merefleksi perasaan.
   3) Tujuan, waktu, dan efek dari pernyataan-pernyatan konseli (proses)—suatu
       pernyataan dari mana proses bantuan itu dimulai dan berlangsung hingga ankhir.
b. Pembuatan ringkasan yang memadai hanya terbatas pada suatu aspek saja atau
   dapat pula merupakan kombinasi dua atau tiga aspek lainnya. Beberapa petunjuk
   untuk membuat ringkasan, antara lain:
   1) Mencerminkan bermacam-macam tema dan dengan nada suara emosional
        sebagaimana konseli mengucapkannya.
   2) Ambillah perasaan dan ide-ide kunci yang dinyatakan konseli ke dalam
        pernyataan umum dari pengertian dasarnya.
   3) Jangan menambahkan ide baru dalam ringkasan yang dibuat
   4) Putuskan membuat ringkasan jika itu sangat membantu anda sebagai penolong,
        dan nyatakan rumusan ringkasan anda kepada konseli.
   5) Dalam proses pembuatan keputusan ini, pertimbangkan tujuan anda, apakah
        karena didasari oleh pertimbangan berikut:
           Adakah hal itu menghangatkan konseli pada permulaan wawancara?
           Adakah hal itu berpusat pada pemikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh
            konseli?
           Adakah itu merupakan pembahasan yang intensif terhadap topik/tema
            pembicaraan?
           Adakah hal itu mengecek pemahaman anda?



 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                       92
                                                                              Satu Untuk UNM


                Adakah hal itu mendorong konseli mengeksplorasi topik/tema secara lebih
                 mendalam?
                Adakah hal itu merupakan terminasi hubungan dengan suatu ringkasan
                 kemajuan (summary of progress)?
                Adakah hal itu menjamin kelangsungan wawancara?
      6) Kata-kata kunci yang dapat digunakan untuk membuat ringkasan, antara lain:
                ―Apa yang saya dengar, yang anda katakan adalah……………….‖
                ―Tampak bagi saya bahwa yang anda katakan adalah…………..‖
                ―Makna     yang      sebenarnya   di   balik   semua     yang    anda    katakan
                 adalah……………..‖
                ―Maksud utama di balik yang anda rasakan adalah…………………‖
6. Keterampilan Pemecahan Masalah
      Konseli yang datang mengemukakan masalahnya kepada anda, akan mengharapkan
  anda untuk membantunya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Proses
  pemberian bantuan seperti ini akan melibatkan keterampilan pemecahan masalah
  (problem solving). Karena itu, anda perlu melengkapi diri dengan keterampilan
  pemecahan masalah ini.             Berbagai keterampilan komunikasi dasar yang telah anda
  pelajari juga akan digunakan dalam tindakan dan pelaksanaan pemecahan masalah
  konseli.
      Keterampilan pemecahan masalah melibatkan tujuh tahap. Ke dalam setiap tahap,
  akan digunakan keterampilan komunikasi tertentu sebegaimana yang sudah anda
  pelajari. Berikut dikemukakan ketujuh tahap dalam pemecahan masalah tersebut, disertai
  gambaran mengenai peran konseli dan peran anda sebagai penolong.
Tujuh Tahap Dalam Pemecahan Masalah
        TAHAP                      PERAN KONSELI                     PERAN KONSELOR
   1. Mengukap-kan        Mengemukakan dan menjelaskan as-      Menggunakan keterampilan penam-
      Problem             pek permukaan problem yang            pilan, pertanyaan terbuka, serta
                          dihadapi dalam bahasa yang sangat     mengenal dan merefleksi perasaan.
                          umum
   2. Memahami            Melihat semua aspek problem, alasan   Menggunakan keterampilan penam-
      Problem             sehingga membutuhkan perhatian        pilan, mengenal dan merefleksi
                          dan menggarisbawahi perasaan          perasaan, pertanyaan terbuka
                          terhadap berbagai aspek problem       ketulusan, dan paraprase
                          tersebut.
   3. Membatasi           Menyatakan secara jelas problem       Mendapatkan persetujuan
      Problem             yang dihadapi dalam ungkapan yang     mengenai problem konseli yanng
                          lebih spesifik. Pembatasan            sebenarnya melalui penggunaan
                          dibutuhkan tidak hanya pada dimensi   keterampilan paraprase dan
                          problem, tapi juga pada tujuan yang   meringkas.
                          ingin dicapai oleh konseli dengan
                          mengatasi problemnya.

    Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
    Universitas Negeri Makassar                                                                  93
                                                                                Satu Untuk UNM


4. Mengung-            Memikirkan dan mengungkapkan             Bersama konseli mengungkapkan
   kapkan              semua alternatif pemecahan masalah       semua jalan tindakan (alternatif)
   Aternatif           yang mungkin ditempuh tanpa              yang bisa ditempuh untuk
   Pemecahan           mengevaluasinya. Tujuannya adalah        mengatasi problem konseli. Anda
                       mendapatkan sebanyak mungkin             dapat meng-usulkan alternatif
                       alternatif yang bisa dibayangkan.        tertentu jika konseli mengalami
                                                                kesulitan atau mengaju-kan
                                                                pertanyaan terbuka untuk men-
                                                                dorong konseli memikirkan
                                                                alternatif.
5. Mengevaluasi        Menguji setiap alternatif sehubungan     Membuat daftar nilai yang
   Alternatif          dengan nilai yang dianut. (Nilai         berkaitan dengan problem konseli
                       adalah sesuatu yang dipandang            dan menggaris-bawahi nilai paling
                       sangat penting oleh konseli. Nilai ini   penting yang dianut konseli.
                       membantu untuk membuat priorotas         Kemudian mencatat kekuatan dan
                       dan menentukan pilihan alternatif).      kelemahan konseli dalam
                       Konseli juga menguji kekuatan dan        menerapkan setiap alternatif. Kete-
                       kelemahan setiap alternatif yang         rampilan yang digunakan meliputi
                       diidentifikasi.                          memahami dan merefleksi
                                                                perasaan, pertanyaan terbuka,
                                                                paraprase, dan membuat
                                                                ringkasan.
6. Memutuskan          Memutuskan alternatif terbaik sesuai     Mencatat solusi terbaik dan nilai
   Alternatif          nilai yang dianut. Konseli menguji       yang terlibat dalam membuat
   Terbaik             keku-atan yang dimiliki untuk            keputusan. Kemudian membuat
                       menerapkan alternatif itiu. Konseli      daftar kekuatan konseli dalam
                       perlu menguji alternatif pilihan         menerapkan alternatif, dengan
                       dengan menjawab beberapa                 mengajukan pertanyaan berikut:
                       pertanyaan berikut:                      a. Apakah anda memililiki data
                       a. Apakah saya memililiki data yang           yang diperlukan?
                            diperlukan?                         b. Apakah alternatif itu cukup
                       b. Apakah alternatif itu cukup                spesifik?
                            sfesifik?                           c. Apakah alternatif itu
                       c. Apakah alternatif itu meyakinkan           meyakinkan dan sesuai dengan
                            dan sesuai dengan nilai yang             nilai yang anda anut?
                            saya anut?                          d. Apakah alternatif membantu
                       d. Apakah alternatif itu membantu             an-da bertumbuh sebagai
                            saya bertumubh sebagai pribadi?          pribadi?
                       e. Apakah alternatif itu adalah          e. Apakah alternatif itu adalah
                            sesuatu yang saya inginkan?              sesuatu yang anda inginkan
7. Menerapkan          Mengembangkan rencana tindakan           Membantu konseli membuat
   Alternatif          untuk menerapkan alternatif terbaik,     rencana tindakan yang masuk akal,
                       dengan menjawab pertanyaan               dengan mengajukan pertanyaan
                       berikut:                                 berikut:
                       a. Apa tujuan saya sayang perlu          a. Apa tujuan anda sayang perlu
                            dipenuhi dengan mengatasi                dipenuhi dengan mengatasi
                            problem ini?                             problem ini?
                       b. Apa tindakan pertama yang             b. Apa tindakan pertama yang
                            diperlukan untuk menjalankan             anda perlukan untuk
                            rencana?                                 menjalankan rencana?
                       c. Apa saja rencana kegiatan             c. Apa saja rencana kegiatan
                            berikutnya yang akan dilakukan           berikutnya yang akan anda
                            guna mencapai tujuan yang saya           lakukan guna mencapai tujuan
                            harapkan?                                yang saya harapkan?
                       d. Apa kendala yang akan saya            d. Apa kendala yang akan anda
                            tempui untuk mencapai tujuan?            tempuh untuk mencapai
                       e. Apa kekuatan yang saya miliki              tujuan?

 Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
 Universitas Negeri Makassar                                                                      94
                                                                        Satu Untuk UNM


                         untuk mengatasi kendala itu?     e. Apa kekuatan yang anda miliki
                      f. Apa lagi yang dibutuhkan untuk      untuk mengatasi kendala itu?
                         menjalankan alternatif yang      f. Apa lagi yang dibutuhkan untuk
                         dipilih?                            menjalankan alternatif yg
                      g. Berapa lama waktu yang dibu-        dipilih?
                         tuhkan untuk mencapai tujuan?    g. Berapa lama waktu yang dibu-
                      h. Di manakah alternatif dan           tuhkan untuk mencapai tujuan?
                         rencana tindakan akan            h. Di manakah alternatif dan
                         dilaksanakan?                       renca-na tindakan akan
                      i. Kapan saya memulai melaksakan       dilaksanakan?
                         tindakan pertama?                i. Kapan anda mulai melaksakan
                                                             tindakan pertama?




Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar                                                               95

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:215
posted:12/27/2011
language:Malay
pages:95