Keterkaitan Psikology Belajar dan Media Pendidikan

Document Sample
Keterkaitan Psikology Belajar dan Media Pendidikan Powered By Docstoc
					  KETERKAITAN ANTARA PSYKOLOGI BELAJAR DENGAN
                MEDIA PENDIDIKAN



A.PENDAHULUAN

            Psikologi belajar adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
tentang berbagai tingkah laku dan kondisi kejiwaan pesrta didik dalam kegitan belajar
dan mengajar. Sedangkan Media merupakan alat atau perantara yang digunakan oleh
guru       (pendidik)   dalam   proses    pembelajaran,      untuk     memudahkan   dalam
menyampaikan meteri pelajaran kepada murid (peserta didik). Kata media berasal
dari bahasa latin yang secara harfifah berarti tengah, perantara atau pengantar.1
Secara lebih khusus, pengertian media dalam kegiatan belajar dan mengajar diartikan
sebagai alat-alat grafis, alat-alat elektronik untuk mengangkat, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual dan verbal. Peranan media dalam kegiatan belajar
dan mengajar sangatlah penting. Tanpa media mungkin saja guru akan kesulitan
dalam mengajar. Antara media pendidikan (pembelajaran) dan psikologi belajar
keduanya salaing berkaitan, dan sama-sama memiliki peranan yang penting dalam
kegiatan belajar dan mengajar.

           Mengingat pentingnya peran psikologi belajar dan media pendidikan dalam
proses belajar mengajar. Maka pada kesempatan ini penulis akan mencoba
memberikan sedikit uraian tentang ” KETERKAITAN ANTARA PSYKOLOGI
BELAJAR DENGAN MEDIA PENDIDIKAN”




       1
         Iswantosahir. 2010.       M       akalah              Media          Pembelajaran.
http://www.slideshare.net/iswantosahir/makalah-media-pembelajaran


                                               1
B. PSIKOLOGI BELAJAR
1. Pengertian Belajar dan Psikologi Belajar

              Belajar adalah suatu proses perubahan yang dialami setiap individu,
sehingga seorang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya tidak baik
menjadi baik, yang awalnya bodoh menjadi pintar, dan lain-lain. Pada intinya belajar
adalah suatu proses perubahan, dimana perubahan tersebut bertujuan untuk mengubah
perilaku seorang individu menjadi lebih baik, dan perubahan tersebut dapat dicapai
melalui latihan dan pengalaman. Suatu proses atau perbutan tidak dapat dikatakan
belajar apabila tidak terjadi perubahan dalam proses tersebut.
              Banyak ahli psikologi yang memberikan pendapat tentang pengertian
belajar, pendapat-pendapat tersebut diantaranya, adalah:
    1. R. Gagne, Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam
          pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku.2
    2. Thorndike, Belajar adalah proses ‘stamping in’ ( diingat), forming, hubungan
          antara stimulus dan respon.3
              Setelah memahami tentang apa yang dimaksud dengan belajar, tentu kita
menyadari bahwa belajar adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap
individu. Belajar sangat penting karena tanpa belajar sesorang akan sulit untuk
memahami dirinya sendiri dan orang lain, tanpa belajar sesorang akan ketinggalan
dengan orang lain, tanpa belajar sulit bagi seorang individu dalam menyesuaikan
sikap dan tingkah lakunya untuk berinteraksi dengan masyarakat luas. Belajar
berperan penting dalam kehidupan manusia untuk dapat mempertahankan
kehidupannya ditengah persaingan dengan manusia atau bangsa lain yang lebih maju
dan pintar karena belajar. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus selalu belajar
agar tidak kalah dalam persaingan tersebut, apalagi dengan semakain majunya Ilmu
Pengetahuan dan Teknology (IPTEK).



          2
              Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar. ( Jakarta: Rineka Cipta; 1999) hal 22
          3
              Djiwandono, Siti wuryani, Psikologi Pendidikan; Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. 2002).
hal 127


                                                    2
            Psikologi adalah cabang disiplin ilmu yang mempelajari tentang tingkah
laku dan perkembangan kejiwaan manusia, serta tentang bagaimana manusia
menanggapi respon yang ada pada kehidupannya yang berhubungan dengan
lingkungan. Hubungan antara belajar dan psikologi yaitu: belajar adalah suatu proses
perubahan dalam tingkah laku manusia menuju kearah yang lebih baik, sedangkan
psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia. Jadi,
hubungan antara belajar dan psikologi adalah psikologi merupakan ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang perubahan tingkah laku manusia, sehingga dalam proses
belajar seorang pendidik dapat menyalurkan ilmunya kepada peserta didik dengan
baik dan terarah, sebab seoarang pendidik tersebut sudah memahami tentang
psikologi (kondisi kejiwaan) para peserta didiknya, sehingga siswa dapat merespon
ilmu yang diterimanya dengan baik dan bermanfaat dalam kehidupannya.
        Berdasarkan pada penjelasan mengenai belajar dan psikologi diatas, maka
dapat kita simpulkan bahwa pengertian psikologi belajar adalah Ilmu yang
mempelajari perilaku belajar terutama sehubungan dengan kecenderungan-
kecenderungan fisik dan mental seseorang di dalam usahanya mempelajari sesuatu,
pengaruh lingkungan, pengaruh penciptaan kondisi-kondisi yang merangsang , dan
berbagai cara penguatan minat dan semangat belajar untuk jangka panjang.

2. Ruang Lingkup dan Manfaat Psikologi Belajar

        Psikologi belajar adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
tentang berbagai tingkah laku dan kondisi kejiawaan pesrta didik dalam kegitan
belajar dan mengajar, berikut ini adalah ruang lingkup kajian psikologi belajar dan
manfaat psikologi belajar:
1. Ruang Lingkup Psikologi Belajar
  a. Context of Teaching Learning (situasi dan tempat yang berkaitan dengan
     belajar dan mengajar)
  b. Process of Teaching Learning (proses ataun tahapan-tahapan dalam belajar
     mengajar).




                                         3
  c. Out Comes of Teaching Learning (hasil-hasil yang dicapai dalam proses belajar
     mengajar).


2. Manfaat Psikologi Belajar
  Manfaat psikologi belajar ialah untuk memberikan bekal kepada guru dan calon
  guru bahwa anak berbeda dalam hal pembawaan kematangan jasmani intelegensi
  dan keterampilan motorik.


3. Teori-teori Belajar
        Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan
hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks dalam
pembelajaran, adapun teori-teori belajar tersebut adalah:
a. Teori behavioristik, yaitu teori belajar dimana dalam pembelajaran murid
  diberikan stimulus (rangsangan) dan kemudian mereka memberikan respon dari
  rangsangan tersebut. Akan tetapi pada teori ini respon dari murid adalah respon
  yang spontan tanpa harus selalu diperinta oleh gurunya, sebagai contoh: 1) saat
  guru datang dan memberikan salam maka secara otomatis murid akan
  meresponnya dengan menjawab salam itu, tanpa harus diperintah oleh guru selalu.
  2) saat guru memberikan soal ujian kepada murid, maka murid akan meresponnya
  dengan menjawab soal ujian tersebut, meskipun guru tidak memerintahkan untuk
  menjawabnya.


b. Teori Kontruktivisme, yaitu teori belajar yang berpusat pada aktivitas. Tujuan
  belajar menurut kontruktivisme mendasarkan diri pada tiga focus belajar, yaitu; 1)
  Proses, 2) Transfer belajar, 3) Bagaimana belajar. Penerapannya yaitu dengan
  berbagai aktivitas atau interaksi yang terjadi antara guru dan murid di kelas, baik
  itu aktivitas saat guru menjelaskan, murid bertanya, ataupun diskusi mengenai
  materi pembelajaran yang sedang dipelajari, dan lainnya.




                                          4
c. Teori Kognitif, yaitu teori belajar yang berorientasi pada perolehan informasi dan
  transformasi belajar, pada teori ini murid suka belajar melalui kelompok diskusi
  dengan metode belajar aktif               dan saling berinteraksi antar teman untuk
  memperoleh informasi dan umpan balik (bertukar pikiran). Penerapannya yaitu
  dimana dalam proses belajar mengajar guru menyampaikan informasi mengenai
  materi pembelajaran kepada murid dengan metode-metode tertentu, hingga
  informasi (materi belajar) dapat sampai dengan baik kepada siswa. Pada teori ini
  yang ditekankan adalah materi (bahan) pembelajaran.


4. Perkembangan dan Hubungannya dengan Belajar
          Perkembangan ialah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah
laku yang bukan hasil belajar. Dalam ilmu psikologi perkembangan dibagi menjadi 3,
yaitu: 1). Perkembangan motorik (fisik) siswa. 2) Perkembangan kognitif siswa. 3)
Perkembangan sosial dan moral siswa.4 Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan adalah:
a. Nativisme, berarti perkembangan manusia dipengaruhi oleh pembawaan yang
  diterima ileh orang tuanya sedangkan pengalaman atau lingkungan tidak
  berpengaruh sama sekali.
b. Empirisme, adalah istilah dari bahasa latin yang berarti lembaran kosong, paham
  ini menekankan pentingnya pengalaman lingungan dan pendidikan sebagai faktor
  yang mempengaruhi perkembangan. Perkembangan manusia tergantung kepada
  lingkungan dan pendidikan.
c. Kovergensi, berarti pembawaan dan lingkungan pada tatanan praktis jika seorang
  berasal dari orang tua yang cerdas dan pintar, dan mendapat pendidikan yangf
  berkualitas tinggi maka akan menjadi anak yang cerdas dan pintar.


          Berdasarkan pada penjelasan mengenai pengertian belajar dan pekembangan
yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara


     4
         Muhibbin Syah, Psikologi Belajar. ( Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. 2008). Hlm 12


                                                 5
perkembangan dan belajar adalah bahwa dalam proses belajar, perkembangan ranah
kognitif memberikan arti ,manfaat yang besar, yaitu:
a. mengembangkan kecakapan kognitif strategi yang penting dikembangkan dalam
   ranah kognitif adalah strategi belajar memahami isi atau materi pelajaran, strategi
   memahami arti penting isi atau materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap
   pesan-pesan yang terkandung didalam materi.
b. Menegembangkan kecakapan efektif, pengembangan ranah kognitif yang telah
   dijelaskan diatas, juga dibarengi dengan pengembangan ranah efektif.
c. Mengembangkan kecakapan psikomotor, pengembangan kecakapan psikomotor
   harus bersamaan dengan pengembangan kedua ranah sebelumnya (ranah afektif
   dan ranah kognitif).


C. MEDIA PENDIDIKAN

1. Pengertian Media

            Media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium, secara
harfiah berarti perantara atau pengantar. Ada banyak pengertian media menurut para
ahli, diantaranya :

1. Gegne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
   merangsangnya untuk belajar.
2. Briggs, media adalah segala bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang
   dapat merangsang siswa untuk belajar.
3. Vernous, media pendidikan adalah sumber belajar dan dapat juga diartikan dengan
   manusia dan benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa mungkin
   memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.5

            Berdasarkan pendapat ahli di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa
media pendidikan adalah suatu alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran, untuk
memperlancar jalannya proses belajar mengajar, sehingga mempermudah guru dalam

      5
          Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. ( Jakarta : Kalam Mulia. 2002 ) hlm. 203


                                                  6
menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik dan membantu agar materi
yang disampaikan dapat lebih dimengerti dan dipahami oleh peserta didik.

2. Ciri-ciri Media Pembelajaran
            Menurut Gerlach dan Ely ( dalam Arsyad, 2003: 11) ciri - ciri media
pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran6 adalah sebagai berikut :
1. Fiksatif (fixative property)
               Media      pembelajaran       mempunyai        kemampuan         untuk     merekam,
   menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Dengan
   kemampuan ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan,
   kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati
   kembali seperti kejadian aslinya.


2. Manipulatif (manipulatif property)
               Media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai
   macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya,
   kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.


3. Distributif (distributive property)
               Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan
   yang terintegrasi dan secara bersamaan, objek dapat menggambarkan kondisi yang
   sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian
   itu, artinya: media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu
   kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau Radio.


3. Fungsi Media Pembelajaran
            Media adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran untuk dapat
membantu dan mempermudah, serta melancarkan jalannya proses belajar dan
mengajar. Seperti yang sudah diutarakan pada penjelasan sebelumnya, media memilki

      6
          Arsyad, Azhar . Media Pembelajaran, edisi 1. ( Jakarta: PT.Rajawali Pers . 2003) hlm. 11


                                                   7
peranan yang penting dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran. Sebelum kita
membahas seberapa pentingnya peran media dalam pembelajaran ini, kita akan
membahas terlebih dahulu apa fungsi dari media itu sendiri. Secara umum, media
memiliki fungsi sebagai berikut;


1. Memperjelas penyajian atau penyampaian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal
   (hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)7. Maksudnya; dengan
   adanya media pendidikan maka akan dapat membantu guru dalam penyampaian
   materi ( informasi ) mengenai pembelajaran yang sedang dibahas atau dipelajari,
   dengan bantuan media guru dapat menyambaikan materi pembelajaran dengan
   beragam cara, tidak hanya melalui lisan atau tulisan saja (media tradisional),
   seperti ceramah saja.


2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra. Maksudnya; dengan adanya
   media pendidikan maka akan dapat memudahkan guru dalam menyampaikan
   materi pembelajaran, sebab dengan bantuan media’ materi yang disampaikan oleh
   guru dapat tersampaikan dan diterima oleh siswa/i dalam jumlah yang banyak,
   contohnya dengan penggunaan media radio (keterbatasan ruang). Melalui media
   rekaman, dan CD, juga dapat memudahkan guru dan siswa dalam pembelajaran,
   sebab dengan adanya alat perekam, siswa dapat merekam penjelasan gurunya saat
   sedang menyampaikan materi pembelajaran di kelas, yang dapat siswa/i dengarkan
   kembali kapan pun meraka inginkan saat sudah diluar proses KBM (keterbatasan
   waktu). Media pembelajaran juga dapat membantu guru dalam mengatasi
   keterbatasan indera, maksunya; dengan media pembelajaran, baik media audio
   (pendengaran), media visual (penglihatan), maupun media audio visual
   (penglihatan dan pendengaran), dapat memebantu menyelesaikan kesulitan guru
   dalam menyampaikan meteri pembelajaran kepada siswa/i, contohnya; jika siswa/i
   tersebut tidak dapat mendengar maka guru dapat menggunakan media visual,
        7
           Deddy Krishannato. Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. 2009.
http://techonly13.wordpress.com/2009/10/18/kegunaan-media-pendidikan-dalam-proses-belajar-
mengajar/


                                             8
   untuk siswa yang tidak dapat melihat guru dapat menggunakan media audio,
   sedangakan untuk siswa yang tidak memiliki masalah terhadap panca indera
   mereka’ guru dapat menggunkan media audio, visual, dan audio visual tersebut.


3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi
   sikap pasif anak didik. Maksunya; dengan adanya berbagai media pendidikan dan
   penggunaanya yang tepat juga bervariasai, dapat memotivasi dan membangkitkan
   pemikiran kritis anak didik, dan dapat merangsang anak didik untuk berimaginasi,
   sehingga dapat tercipta pembelajaran yang aktif. Proses pembelajaran dengan
   menggunakan media yang bervariasai juga akan lebih membuat siswa/i nyaman
   dan tidak bosan, jika dibandingkan dengan penyampaian materi yang hanya media
   lisan, seperti; ceramah (satu media saja), menggunakan media yang tidak
   bervariasi dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa/i dalam proses KBM.

            Pada penjelasan sebelumnya telah dibahas mengenai fungsi media secara
umum, berikut adalah penjelasan tentang fungsi media pembelajran secara lebih
khusus8, yaitu:


1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
   Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat
   dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa
   dimanapun berada.


2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
   Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna,
   baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk
   menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak
   membosankan.




        8
             Ardiani   Mustikasari.   Mengenal   Media   Pembelajaran.   2008.   http://edu-
articles.com/mengenal-media-pembelajaran/


                                             9
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
   Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa
   media guru cenderung bicara satu arah.


4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
   Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan
   waktu dan tenaga seminimal mungkin.


5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
   Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih
   mandalam dan utuh.

D. Keterkaitan antara Psikologi Belajar dengan Media Pendidikan

         Psikologi belajar adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
tentang berbagai tingkah laku dan kondisi kejiwaan pesrta didik dalam kegitan belajar
dan mengajar. Ini artinya objek kajian psikologi belajar adalah segala tingkah lku
peserta didi dalam kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan, media pendidikan adalah
alat yang digunakan oleh pendidik dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat
membantu memudahkan, dan memperlancar jalannya proses kegiatan belajar dan
mengajar. Dengan tujuan, agar melalui bantuan berbagai media pendidikan dalam
kegiatan dan proses belajar mengajar, materi yang disampaikan oleh guru kepada
siswa dapat lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami.

         Adapun keterkaitan atau hubungan antara psikologi belajar dan media
pendidikan adalah sangat erat sekali, yaitu: Keduanya sama-sama bertujuan untuk
memmudahkan siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar, dengan mempelajari
psikologi belajar’ guru mengetahui faktor apa yang menyebabkan kesulitan belajar
siswa, faktor apa yang membuat mereka jenuh dalam belajar, dan lainnya. Setelah
semua itu diketahui, maka guru dapat menentukan media pembelajaran apa yang
sebaiknya ia gunakan dalam proses belajar dan mengajar agar siswa semangat dan
termotivasi untuk giat belajar



                                         10
                             DAFTAR PUSTAKA



Azhar, Aryad. 2003. Media Pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT.Rajawali Pers

Djamarah, Syaiful Bahri. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Djiwandono, dkk. 2002. Psikologi Pendidikan; Jakarta; PT Raja Grafindo Persada

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia

Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta; PT Raja Grafindo Persada

Ardiani   Mustikasari.    2008.   Mengenal     Media     Pembelajaran.    http://edu-
       articles.com/mengenal-media-pembelajaran/

Iswantosahir. 2010.   M      akalah              Media                Pembelajaran.
       http://www.slideshare.net/iswantosahir/makalah-media-pembelajaran

Krishannato, Deddy. 2009. Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar
       Mengajar..     http://techonly13.wordpress.com/2009/10/18/kegunaan-media-
       pendidikan-dalam-proses-belajar-mengajar/




                                         11

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:71
posted:12/27/2011
language:Indonesian
pages:11