Embed
Email

Problematika Penegakan Hukum

Document Sample
Problematika Penegakan Hukum
Shared by: Richard cool
Categories
Tags
Stats
views:
971
posted:
12/26/2011
language:
pages:
282
ProblematikA

penegakan hukum

Kajian Reformasi

Lembaga Penegak Hukum









KOMISI HUKUM NASIONAL

Bertekad untuk Turut Mendorong

Reformasi Hukum di Indonesia

PROBLEMATIKA PENEGAKAN HUKUM

Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KTD)

Jakarta: Komisi Hukum Nasional RI



Cetakan Pertama: Jilid 1, Desember 2003, Jilid 2, Desember 2008

Cetakan Kedua: Desember 2010



Jl. Diponegoro 64

Jakarta Pusat 10310

Website: Http//www.komisihukum.go.id



ISBN 978-979-3452-27-2





Mohammad Saihu Mujahid A Latief

Tim Penerbitan: Peneliti KHN Tahun 2010:



Agus Surono T. Rifqy Thantawi

Farakh M. Jodi Santoso

Hardian Aprianto

Ikhwan Fahroji

Totok Suryawan W.

Diani Indah Rahmitasari

Yuniarti Widyaningsih









Hak cipta dilindungi undang-undang

Diterbitkan oleh Komisi Hukum Nasional RI



Pengutipan, pengalihbahasaan dan penggandaan (copy)

Isi buku ini demi pembaruan hukum diperkenankan

dengan menyebutkan sumbernya.



* tidak untuk dijual *

PRAKATA



Buku ”Problematika Penegakan Hukum” berisi kumpulan tulisan banyak

pakar pada Program Kajian KHN Tahun Anggaran 2010. Tema: ”Evaluasi

Terhadap Reformasi Lembaga Penegak Hukum” dengan empat sub topik

pembahasan, yaitu:

1) Kajian Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Reformasi pada Institusi

Kepolisian

2) Kajian Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Reformasi pada Kejaksaan

3) Kajian Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Reformasi pada Kekuasaan

Kehakiman

4) Kajian Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Reformasi pada Organisasi

Advokat.

Kumpulan tulisan buku ini terutama didapatkan dari makalah atau

bahan presentasi pakar (narasumber/peserta) yang disampaikan pada

kegiatan Seminar Pengkajian Hukum Nasional (SPHN 2010), Lokakarya

Kajian Penelitian, dan Program Diseminasi Rekomendasi KHN Tahun 2010.

Penerbitan buku ini merupakan rangkaian tujuan KHN untuk

mengumpulkan dan menjaring aspirasi masyarakat tentang berbagai isu

yang berkaitan dengan upaya menjawab tantangan reformasi di bidang

hukum, khususnya pada lembaga penegak hukum, sebagai sarana untuk

menyelaraskan dinamika hukum yang berkembang di masyarakat. Juga

sebagai sarana untuk melakukan analisis terhadap kegiatan reformasi yang

telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat (government and non

government organizations and persons), dan sebagai evaluasi pelaksanaan

pembangunan hukum yang direncanakan Pemerintah.

KHN berharap pembukuan tulisan para ahli tentang topik-topik di

atas dapat menjadi bagian penting dalam rangka mendorong pelaksanaan

reformasi pada lembaga penegak hukum. Lebih dari itu, gagasan yang

dituangkan para penulis dalam rangka menjawab dan memberikan solusi

pandangan terhadap probelematikan penegakan hukum di Indonesia, dapat

menjadi harapan publik bahwa tidak ada kata terlambat untuk terus berbenah

diri demi masa depan bangsa dan negara.



Jakarta, Desember 2010

Komisi Hukum Nasional

Republik Indonesia

KATA PENGANTAR







Merujuk pada berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto di tahun 1998,

maka sejak saat itu reformasi mulai dikumandangkan dan bergaung tidak

hanya di lingkup nasional namun juga internasional. Pengaruh lanjutan dari

pengumandangan reformasi di tahun 1998 ialah desakan masyarakat untuk

melakukan perubahan terhadap UUD 1945 yang menjadi salah satu persoalan

mendasar bangsa Indonesia. Desakan tersebut telah direspon oleh MPR

dan hingga saat ini telah menghasilkan empat kali amandemen UUD 1945.

Hal tersebut menandai adanya perubahan yang fundamental dalam sistem

ketatanegaraan di Indonesia.

Lembaga penegak hukum pun tidak luput dari perubahan-perubahan

akibat amandemen UUD 1945. Perubahan tersebut dapat dimaknai sebagai

upaya bangsa Indonesia untuk memperbaiki dan sekaligus menyempurnakan

sistem dan mekanisme penegakan hukum yang hingga saat itu tidak

mengakomodasi tuntutan kebutuhan negara hukum yang menjunjung tinggi

hak asasi manusia. Meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa hasil amandemen

UUD 1945 bukanlah produk hukum yang sempurna, namun amandemen

tersebut telah memperkecil permasalahan konstitusional yang ada pada

saat itu yang telah mengemuka sejak lama. Kemudian, cukup banyak respon

positif dalam bentuk program-program reformasi pada lembaga-lembaga

penegak hukum baik lembaga penegak hukum dalam lingkup negara yang

mengaturnya (Kehakiman, Kejaksaan dan Kepolisian) maupun masyarakat

yang mengaturnya (organisasi Advokat).

Memasuki 12 tahun (dua belas tahun lebih) reformasi hukum,

tentunya perlu ditelusuri perkembangan (progress report) agenda reformasi

yang dahulu dikumandangkan dan berlanjut tentang bagaimana hasil pada

program-program reformasi hukum yang diluncurkan kemudian. Dengan

digulirkannya reformasi hukum sejak 12 (dua belas) tahun silam, berbagai

kalangan baik instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun kelompok

masyarakat telah aktif melakukan berbagai kegiatan berupa studi atau

kajian, penelitian dan pencarian data untuk menjawab berbagai tantangan

yang timbul dalam reformasi hukum. Semestinya hasil-hasil kajian tersebut

dapat menjadi referensi dan memperkaya upaya pembangunan hukum. Pada

program anggaran tahun 2010, KHN melakukan kajian khusus mengenai

evaluasi terhadap reformasi lembaga penegak hukum, yaitu:

1. “Kajian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kekuasaan

Kehakiman”.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia vi



2. “Kajian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kejaksaan ”.

3. “Kajian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kepolisian”.

4. “Kajian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Advokat”.

Bermula dari kajian di atas, dapat diketahui bagaimana capaian dari

reformasi lembaga penegak hukum yang sudah dilakukan, dan bagaimana

peningkatan kinerja dari lembaga penegak hukum itu sendiri. Berikut pokok-

pokok pemikiran dalam kajian yang dibahas oleh sejumlah pakar dalam

tulisan buku ini:







1. Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kekuasaan



Reformasi kelembagaan di Mahkamah Agung dan peradilan di

Kehakiman”



bawahnya, juga dilakukan dengan pembentukan beberapa lembaga hukum

baik sebagai organ pelaksana maupun sebagai organ pengawas. Dibentuknya

lembaga atau subsistem baru membutuhkan adanya adaptasi dengan

subsistem lama. Dalam pelaksanaannya terdapat benturan antar lembaga

hukum atau setidaknya belum adanya persamaan persepsi antar lembaga.

Benturan atau perbedaan persepsi dapat diamati dari konflik Mahkamah

Agung dan Komisi Yudisial yang berujung pada pemangkasan kewenangan

Komisi Yudisial melalui putusan Mahkamah Konstitusi. Fakta lain yang

menggambarkan belum adanya persepsi antar lembaga adalah dalam

penanganan korupsi dan Hak Asasi Manusia di mana Komisi Pemberantasan

Korupsi belum sejalan dengan Kepolisian dan Kejaksaan serta Komisi

Nasional Hak Asasi Manusia dengan Kejaksaan dan Dewan Perwakilan

Rakyat. Perbedaan persepsi dan terjadinya ketidaksinkronan pelaksanaan

pembaruan hukum dapat menghambat agenda reformasi hukum itu sendiri.

Reformasi hukum yang berjalan lebih dari 12 tahun sejak reformasi 1998

perlu dievaluasi pelaksanaan dan capaiannya. Beranjak dari latar belakang

demikian maka perlu dilakukan evaluasi terhadap pembaruan reformasi

hukum dan kekuasaan kehakiman di Indonesia.



Sejumlah permasalahan yang dikaji:

1. Bagaimana ide dasar pembaruan hukum khususnya pembaruan kekuasaan

kehakiman yang dicita-citakan?

2. Apa capaian dan kendala reformasi hukum dan kekuasaan kehakiman?

3. Bagaimana reformasi hukum dan kekuasaan kehakiman ke depan?

vii Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







Agenda reformasi Kejaksaan telah cukup lama dicanangkan pasca 1998,

2. Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kejaksaan



dengan cakupan issue yang cukup mendasar dan memiliki nilai reformasi

memunculkan harapan akan timbulnya wajah baru Kejaksaan. Persoalan

reformasi tidak hanya ditentukan oleh perangkat hukum saja (substance of

law), meminjam istilah Friedman komponen yang harus terpenuhi disamping

peraturan, juga perlu struktur hukum (sructure of law) yang mendukung ke

arah perbaikan dan budaya hukum (culture of law) yang dsinyalir sebagai

faktor yang paling sulit sekaligus determinan dalam melakukan perubahan.

Pelaksanaan reformasi kejaksaan, disamping mengalami kemajuan juga

masih menimbulkan sejumlah kelemahan. Oleh karena itu, penelitian ini

bermaksud menelusuri kembali prioritas-prioritas yang dahulu pernah

direkomendasikan pada awal-awal tahun pelaksanaan reformasi, untuk

mengetahui prioritas-prioritas apa saja yang masih belum terlaksana dan

penting untuk dilaksanakan dengan melihat pada perkembangan yang terjadi

sepanjang pelaksanaan reformasi Kejaksaan.



Permasalahan yang dikaji:

1. Bagaimana sejarah dan perkembangan reformasi Kejaksaan?

a. Bagaimana proses pelaksanaan reformasi kejaksaan tersebut, dan

bagian mana saja yang sudah dan belum terlaksana?

b. Bagaimana hasil reformasi kejaksaan tersebut (capaian yang telah

dihasilkan)?

2. Apa saja kendala dan hambatan yang dialami Kejaksaan dalam melakukan

reformasi dan bagaimana memecahkan problem tersebut?

a. Apa saja yang menjadi faktor penghambat?

b. Apa saja yang menjadi faktor pendukung?

3. Bagaimana semestinya reformasi di kejaksaan ke depan, terutama agar

upaya reformasi kejaksaan itu didukung oleh political will dan ownership

dari segenap pimpinan dan aparat di Kejaksaan untuk mengembalikan

kepercayaan masyarakat terhadap Kejaksaan dan mewujudkan lembaga

Kejaksaan dan upaya penegakan hukum yang akuntabel, transparan,

efisien, efektif dan adil?









Pembenahan Kepolisian adalah bagian “fundamental” reformasi

3. Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Kepolisian



hukum, reformasi politik dan reformasi ekonomi yang telah berjalan dengan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia viii



terus didorong oleh pemerintah, legislatif dan masyarakat sipil sejak tahun

1998/1999. Secara internal, reformasi Kepolisian sudah dimulai sejak

tahun 1999 berkenaan dengan aspek struktural, instrumental, dan kultural.

Pada aspek struktural, penguatan organisasi dan kedudukan. Pada aspek

instrumental, perlunya filosofi, doktrin, dan kewenangan. Pada aspek kultural,

perubahan paradigma, pengetahuan dan kemitraan. Desain, arah dan tujuan

reformasi itu sebagaimana tertuang dalam “Buku Biru” dan “Grand Strategi

POLRI 2005 – 2025”. Untuk melihat reformasi Kepolisian setelah sepuluh

tahun lebih reformasi, perlu dikaji secara spesifik sampai tahap mana itu

telah sungguh-sungguh dilaksanakan agar dapat dievaluasi apakah reformasi

Kepolisian lebih terarah atau tidak dalam memenuhi harapan masyarakat dan

desain konstitusi menuju kehidupan yang demokratis berdasarkan hukum.



Permasalahan:

1. Mengapa reformasi Kepolisian menjadi penting dalam konteks penegakkan

hukum?

2. Apa program reformasi Kepolisian dalam kewenangannya dalam bidang

penegakkan hukum?

3. Apakah kebijakan atau langkah yang diambil Kepolisian selama ini sudah

tepat dalam koridor reformasi Kepolisian?

4. Capaian reformasi Kepolisian yang telah dihasilkan?

5. Hambatan apa yang dialami Kepolisian dalam melakukan reformasi dan

bagaimana memecahkan masalah tersebut?

6. Langkah-langkah reformasi hukum yang harus dilakukan Kepolisian

dalam mewujudkan penegakkan hukum yang akuntabel, transparan,

efisien, efektif dan adil?

7. Bagaimana format dan mekanisme penegakkan hukum oleh Kepolisian

yang profesional, sesuai dengan hak asasi manusia dan keadilan?









Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat sesungguhnya

4. Evaluasi terhadap Pelaksanaan Reformasi Advokat



telah meletakkan dasar yang kuat bagi independensi profesi Advokat baik

secara organisatoris maupun etis, bebas dari campur tangan kekuasaan

dengan membentuk satu-satunya organisasi profesi yang berwenang

menyelenggarakan urusan-urusan Advokat, serta mewujudkan profesi

Advokat yang berintegritas melalui penegakan kode etik secara obyektif, non-

diskriminasi, terbuka dan terpercaya, bila amanat tersebut dapat dilaksanakan

dengan baik, maka akan mampu mewujudkan profesi Advokat sebagai

ix Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



profesi mulia (officium nobile). Upaya kearah itu belum sepenuhnya dapat

dicapai, pembentukan organisasi tunggal masih menimbulkan perselisihan

diantara Advokat itu sendiri, penegakan kode etik Advokat juga belum dapat

diakses secara luas oleh masyarakat umum dan proses penegakannya belum

dilaksanakan secara terbuka, obyektif, non-diskriminasi dan akuntabel.

Demikian pula dengan urusan-urusan yang lain, misalnya pemberian bantuan

hukum cuma-cuma bagi Advokat, rekruitmen dan pendidikan khusus profesi

Advokat, pembinaan dan pendidikan lanjutan. Penelitian ini bermaksud

untuk mengetahui sejauhmana reformasi di organisasi Advokat telah berjalan

dalam rangka mewujudkan kemandirian baik secara organisatoris maupun

secara etik.



Permasalahan-permasalahan yang dikaji:

1. Bagaimana konsep pembaharuan Advokat yang akan dimanatkan oleh

Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat?

2. Bagaimana pelaksanaan konsep pembaharuan Advokat tersebut?

3. Apa permasalahan-permasalahan yang dihadapi profesi Advokat dalam

upaya melakukan pembaruan?

4. Apakah pembentukan organisasi Advokat tunggal telah sesuai dengan

ketentuan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat?

5. Bagaimana organisasi Advokat menjalankan fungsi-fungsi yang

diamanatkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat?

6. Bagaimana proses rekruitmen Advokat, apakah syarat-syarat yang

ditetapkan sudah didasarkan pada paramater yang sesuai dengan

kebutuhan profesionalisme dan integritas profesi Advokat?

7. Bagaimana sistem pendidikan Advokat yang telah berjalan selama

ini? Apakah telah cukup mampu memenuhi standar kompetensi yang

dibutuhkan oleh dunia Advokat?

8. Bagaimana sistem pembinaan Advokat yang berjalan selama ini, apakah

telah cukup mampu meningkatkan profesionalisme Advokat?

9. Bagaimana sistem pengawasan/penegakan kode etik Advokat yang

berjalan selama ini? Apakah telah memperluas akses untuk mengawasi

profesi Advokat, baik dari teman sejawat, aparat penegak hukum maupun

masyarakat?

10. Apakah proses penegakan kode etik telah berjalan dengan prinsip

transparansi, partisipasi dan akuntabilitas?

11. Bagaimana bentuk dan mekanisme pembentukan organisasi Advokat

yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang

Advokat?

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia x



12. Bagaimana hubungan antar organisasi Advokat?

13. Bagaimana hubungan antara organisasi Advokat dengan aparat penegak

hukum lain?

14. Bagaimana pelaksanaan kewajiban Advokat dalam memberikan bantuan

hukum pro-bono?

SAMBUTAN MENTERI NEGARA

PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

DAN REFORMASI BIROKRASI1







Kita sering mengatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum, negara

di mana hukum menjadi dasar bagi kehidupan bernegara. Di manapun di

negara-negara yang menganut sistem demokrasi, hukum menjadi panglima.

Penegakan supremasi hukum (rule of law) merupakan salah satu prasyarat

yang sangat penting untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik

dan bersih. Penegakkan hukum secara konsisten, akan memberikan rasa

aman, adil, dan kepastian berusaha.

Dalam berbagai hal, kita memang masih harus belajar, masih harus

banyak memperbaiki, dan masih harus berupaya keras untuk secara konsisten

menegakkan hukum. Jika kita lihat, empat kali amandemen yang dilakukan

terhadap UUD 1945 merupakan contoh nyata bahwa kita masih terus berupaya

untuk menyempurnakan sistem dan mekanisme penegakkan hukum yang

menjunjung tinggi hak azasi manusia. Proses seperti ini, menurut saya akan

terus berlangsung sampai hukum berhasil ditegakkan secara konsisten.

Dalam praktik penyelenggaraan negara hukum, fungsi pemerintahan

dilaksanakan oleh aparatur negara berdasarkan koridor peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Karena itu, menurut saya, penegakkan

hukum sangat tergantung pada lembaga-Iembaga penegak hukum baik

dalam lingkup negara (dalam hal ini Kehakiman, Kejaksaan, dan Kepolisian)

maupun masyarakat (dalam hal ini organisasi Advokat).

Penegakkan hukum dapat berjalan dengan baik jika lembaga-Iembaga

penegak hukum memiliki kapasitas dan kualitas yang mampu mendukung

upaya penegakkan hukum. Betapa pun baiknya kebijakan dan aturan yang

dibuat dan ditetapkan, apabila tidak dilaksanakan oleh aparatur negara yang

kompeten dan profesional untuk memberikan pelayanan yang cepat dan

bermutu kepada masyarakat, maka rasa keadilan masyarakat masih tetap

jauh dari harapan.

Dalam konsepsi Administasi Negara, aparatur negara tidak lain adalah

birokrasi. Birokrasi sendiri memiliki makna kelembagaan (dalam hal ini

adalah lembaga-Iembaga penegak hukum), sistem yang berlaku di dalam

1

Disampaikan dalam Seminar Pengkajian Hukum Nasional (SPHN 2010) di Hotel Millenium,

pada tanggal 7 Nopember 2010. SPHN 2010 merupakan salah satu kegiatan Kajian Tentang

Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Reformasi Lembaga Penegak Hukum yang dilaksanakan KHN

pada program anggaran 2010.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia xii



kelembagaan, dan aparatur yang melaksanakan penegakkan hukum. Karena

itulah, RPJMN 2010 - 2014 menempatkan reformasi birokrasi menjadi

prioritas utama, dari sebelas prioritas pembangunan tahun 2010 - 2014.

Dalam kaitan dengan reformasi bidang hukum, terdapat tiga isu pokok

yang harus dijawab, yaitu:



Pertama, Efektivitas Peraturan Perundang-undangan, yang mencakup antara

lain:

• Proses perumusan peraturan perundang-undangan. Jika proses perumu-

san dilakukan tidak secara transparan, tidak melibatkan seluruh

stakeholders yang terkait serta uji publik yang valid, maka kemungkinan

munculnya penolakan, disharmonis dan multi interpretasi/multi tafsir

akan semakin tinggi.

• Disharmonisasi peraturan perundang-undangan. Masih banyak sekali

peraturan perundang-undangan yang satu sama lain saling berten-

tangan, memiliki interpretasi yang berbeda satu sama lain sehingga

membingungkan saat implementasinya, atau peraturan perundang-

undangan yang cenderung berpihak.



Kedua, Kinerja Lembaga di Bidang Hukum. Meskipun telah banyak dilakukan

berbagai upaya perubahan/reformasi pada lembaga-Iembaga hukum, tetapi

tampaknya kinerja lembaga-Iembaga ini perlu ditingkatkan lagi.



Ketiga, Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN. Upaya

mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN

telah menunjukkan hasil yang nyata. Hal ini dapat dlllhat dari berbagai

indikator, antara lain Indeks Persepsi Korupsi (lPK) Indonesia yang diterbitkan

Transparansi Internasional, telah menunjukkan peningkatan dari tahun ke

tahun, dari yang semula 1,7 pada tahun 1999 menjadi 2,8 pada tahun 2009.

Meskipun terjadi kenaikan, tetapi kita masih masuk dalam kelompok negara-

negara dengan skor rendah. Pada tahun 2014 kita mentargetkan IPK menjadi

5, sebuah target yang sangat berat untuk dicapai, tetapi sudah menjadi

komitmen nasional yang mau tidak mau kita semua harus mendukung upaya

pencapaiannya.

Untuk menjawab berbagai isu tersebut di atas, maka melalui reformasi

birokrasi, kita sebenarnya sudah menyiapkan berbagai instrumen rencana

yang secara garis besar dirumuskan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi

2010 - 2025, yang draftnya sudah final untuk ditetapkan dengan Peraturan

Presiden. Menyusul ditetapkannya Grand Design Reformasi Birokrasi 2010

- 2025, akan ditetapkan pula Road Map Reformasi Birokrasi 2010 - 2014

yang merupakan rencana rinci reformasi birokrasi. Disamping itu juga sudah

dibentuk Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional dan Tim Reformasi

xiii Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Birokrasi Nasional melalui Keppres No. 23 Tahun 2010 tentang Perubahan

Keppres No. 14 Tahun 2010 tentang Pembentukan Komite Pengarah Reformasi

Birokrasi Nasional dan Tim Reformasi Birokrasi Nasional.

Sesuai dengan Grand Design dan Road reformasi birokrasi,ada delapan

area perubahan yang menjadi target perubahan:

1. Organisasi. Target perubahan yang diharapkan adalah organisasi yang

tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing);

2. Tatalaksana. Target perubahan yang diharapkan adalah Sistem, proses

dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur dan sesuai dengan

prinsip- prinsip good governance;

3. Peraturan Perundang-undangan. Target perubahan yang diharapkan

adalah Regulasi yang lebih tertib, tidak tumpang tindih dan kondusif;

4. Sumber daya manusia aparatur. Target perubahan yang diharapkan adalah

SDM apatur yang berintegritas, netral, kompeten, capable, profesional,

berkinerja tinggi dan sejahtera;

5. Pengawasan. Target perubahan yang diharapkan adalah Meningkatnya

penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;

6. Akuntabilitas. Target perubahan yang diharapkan adalah Meningkatnya

kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi;

7. Pelayanan publik. Target perubahan yang diharapkan adalah Pelayanan

prima sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat;

8. Pola pikir (mind set) dan Budaya Kerja (culture set). Target perubahan

yang diharapkan adalah Aparatur Birokrasi dengan integritas dan kinerja

yang tinggi.

Pelaksanaan reformasi birokrasi dengan fokus pada delapan target

perubahan di atas dilakukan melalui tiga tingkatan pelaksanaan. Ketiga

tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:



Tingkatan Makro. -Tingkatan pelaksanaan ini menyangkut penyempurnaan

regulasi nasional yang terkait dengan upaya pelaksanaan reformasi

birokrasi.



Tingkatan Meso. Tingkatan pelaksanaan ini menjalankan fungsi manajerial,

yakni menerjemahkan kebijakan makro dan mengkoordinir (mendorong dan

mengawal) pelaksanaan reformasi birokrasi di tingkat K/L dan Pemda.



Tingkatan Mikro. Tingkatan pelaksanaan ini menyangkut implementasi

kebijakan/program reformasi birokrasi sebagaimana digariskan secara

nasional yang menjadi bagian dari upaya percepatan reformasi birokrasi

pada masing-masing K/L dan Pemda.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia xiv



Dengan cara pelaksanaan seperti ini, Penyempurnaan kebijakan

nasional di bidang aparatur akan mendorong terciptanya kelembagaan yang

sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing

K/L dan Pemda, manajemen pemerintahan dan manajemen SDM aparatur

yang efektif, serta sistem pengawasan dan akuntabilitas yang mampu

mewujudkan pemerintahan yang berintegritas tinggi. Implementasi hal-hal

tersebut pada masing-masing K/L dan Pemda akan mendorong perubahan

mind set dan culture set pada setiap birokrat ke arah budaya yang lebih

profesional, produktif, dan akuntabel.

Setiap perubahan diharapkan dapat memberikan dampak pada

penurunan praktek KKN,pelaksanaan anggaran yang lebih baik, manfaat

program-program pembangunan bagi masyarakat meningkat, kualitas

pengelolaan kebijakan dan pelayanan publik meningkat, produktivitas

aparatur meningkat, kesejahteraan pegawai meningkat, dan hasil- hasil

pembangunan secara nyata dirasakan seluruh masyarakat. Secara bertahap,

upaya tersebut diharapkan akan terus meningkatkan kepercayaan masyarakat

kepada pemerintah.

Secara operasional, pelaksanaan reformasi birokrasi dijabarkan

ke dalam program-program yang harus dilaksanakan oleh Kementerian/

Lembaga termasuk lembaga-Iembaga yang berkaitan dengan penegakkan

hukum. Program-program ini adalah:

1) Manajemen Perubahan

2) Penataan Peraturan Perundang-undangan.

3) Penataan dan penguatan Organisasi

4) Penataan Tatalaksana

5) Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur

6) Penguatan Pengawasan

7) Penguatan Akuntabilitas Kinerja

8) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

9) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan

Melalui program-program operasional ini diharapkan reformasi

birokrasi pada tingkat kementerian/lembaga dapat berjalan sesuai dengan

arahan nasional, sehingga seluruh sumber daya yang digunakan dapat

dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Reformasi birokrasi yang dilakukan

oleh kementerian/lembaga juga diharapkan dampak memberikan dampak

secara nasional.

Untuk menjamin agar reformasi birokrasi memiliki kemampuan untuk

merubah pola pikir dan budaya kerja, maka reformasi birokrasi dilaksanakan

melalui metode sebagai berikut:

xv Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pertama, pre-emtif. Memprediksi kemungkinan terjadinya praktik birokrasi

yang dipandang inefisien, inefektif, menimbulkan proses panjang, membuka

peluang KKN, dan lainnya dan melakukan langkah- langkah antisipatif;



Kedua, persuasif. birokrasi

Melakukan berbagai upaya reformasi seperti melalui soslalisasi, public

campaign,internalisasi, membangun kesadaran dan komitmen individual;



Ketiga, preventif. Mencegah kemungkinan terjadinya praktik birokrasi yang

dipandang inefisien, inefektif, menimbulkan proses panjang, membuka

peluang KKN, dan lainnya, melalui upaya peningkatan profesionalisme,

penerapan etika, disiplin dan penegakan hukum;



Keempat, tindakan/sanksi. Menerapkan sanksi atau punishment bagi mereka

yang tidak perform.

Konsepsi reformasi birokrasi yang saat ini dirumuskan oleh

Kementerian PAN dan RB secara umum mencakup seluruh kementerian/

lembaga dan pemda termasuk lembaga- lembaga penegakkan hukum.

Dalam konteks ini langkah- langkah reformasi birokrasi di lembaga-Iembaga

penegakkan hukum antara lain:

• Menempatkan lembaga-Iembaga penegakkan hukum menjadi prioritas

utama reformasi birokrasi.

• Menjadikan MA sebagai salah satu pilot project reformasi birokrasi pada

tahun 2008, secara terus menerus akan dipantau dan dievaluasi untuk

perbaikan berkelanjutan.

• Memproses reformasi birokrasi pada Kementerian Hukum dan HAM,

Kepolisian Negara RI dan Kejaksaan Agung yang diharapkan akan selesai

pada akhir tahun ini.

• Mendorong restrukturisasi di Kepolisian Negara RI, agar lebih responsif

dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

• Mendorong keterbukaan di Kejaksaan Agung.

• Mengajukan usulan perbaikan tunjangan kinerja sebagai motivating factor

bagi para penegak hukum agar lebih profesional.

• Memperbaiki business process agar lebih cepat dalam memberikan

pelayanan, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Masih banyak perubahan yang perlu dilakukan untuk mendorong

penegakkan hukum melalui reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi

berkaitan dengan ribuan proses tumpang tindih antarfungsi-fungsi

pemerintahan, melibatkan jutaan pegawai, dan memerlukan anggaran yang

tidak sedikit. Selain itu, reformasi birokrasi pun perlu menata ulang proses

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia xvi



birokrasi dari tingkat tertinggi hingga terendah dan melakukan terobosan

baru dengan langkah-langkah bertahap, konkret, realistis, sungguh-sungguh,

berfikir di luar kebiasaan/rutinitas yang ada, perubahan paradigma, dan

dengan upaya luar biasa. Oleh karena itu, yang perlu kita sadari adalah bahwa

reformasi birokrasi bukan upaya yang saat ini dilakukan kemudian hasilnya

langsung diperoleh. Reformasi birokrasi memerlukan waktu, upaya keras

dan pengorbanan dari semua pihak yang terllbat di dalamnya, bahkan juga

masyarakat yang mengharapkan dampak positif dari reformasi birokrasi.



Kunci kerhasilan reformasi birokrasi terletak pada :

• Komitmen. Semua pihak yang berkepentingan harus memiliki komitmen

bersama untuk mewujudkan target-target perubahan yang telah

ditetapkan.

• Penggerak Reformasi Birokrasi. Reformasi birokrasi harus didukung

oleh penggerak yang akan mengawal, melaksanakan dan menjamin

pelaksanaan reformasi birokrasi. Oleh karena itu, pada setiap kementerian

/lembaga dan pemerintah daerah diharuskan membentuk tim reformasi

birokrasi masing- masing, yang dipimpin langsung oleh pejabat tertinggi

yang terkait.

• Muatan Reformasi Birokrasi. Reformasi birokrasi harus mencakup seluruh

substansi perubahan yang ingin dirubah disertai dengan prioritas dan

taregt-target yang jelas.

• Proses Reformasi Birokrasi. Proses reformasi birokrasi dilakukan secara

terdesentralisasi, serentak dan bertahap, serta terkoordinasi.







Menteri Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi

DAFTAR ISI







PRAKATA _____ iii



KATA PENGANTAR _____ v



SAMBUTAN MENTERI NEGARA 0ENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

& REFORMASI BIROKRASI_____ xi



DAFTAR ISI_____ xvii



Bagian Pertama

REFORMASI KEPOLISIAN_____ 1



LAPORAN PRESENTASI HASIL PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI LEMBAGA KEPOLISIAN





Penulis: Novel Ali (Anggota Komisi Kepolisian Nasional/Kompolnas)

1. EVALUASI TERHADAP REFORMASI LEMBAGA KEPOLISIAN_____ 3



2. EVALUASI TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI



Penulis: Dr. Chairul Huda, SH., MH.

KEPOLISIAN_____ 11



3. CATATAN EVALUATIF REFORMASI KEPOLISIAN REPUBLIK_____ 27



Penulis: Moh Jamin (Dosen FH Universitas Sebelas Maret (UNS)

INDONESIA



Surakarta)

4. Evaluasi Reformasi Kepolisian

PENGUATAN SISTEM PEMBATASAN KEKUASAAN KEPOLISIAN



Penulis: Naharuddin Abdul Ghany (Staf Pengajar FH Universitas

NEGARA REPUBLIK INDONESIA_____ 41



Tadulako)

5. EVALUASI REFORMASI KEPOLISIAN DALAM MENANGANI ANAK



Penulis: Riza Nizarli (Dosen/Ketua Lab. Klinis Hukum FH Unsyiah)

BERHADAPAN DENGAN HUKUM_____ 51



6. URGENSI PERUBAHAN PARADIGMA KEPOLISIAN INDONESIA



Penulis: S. Sahabuddin,SH.MH. (Wakil Dekan FH Universitas Batanghari

(Dari Model Konservatif Menuju Polisi Yang Humanis)_____ 71



Jambi)

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia xviii



Bagian Kedua

REFORMASI KEJAKSAAN_____ 81



LAPORAN PRESENTASI HASIL PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI LEMBAGA KEJAKSAAN



1. RE-REFORMASI KEJAKSAAN SEBAGAI UPAYA PENGEMBALIAN

KEPERCAYAAN MASYARAKAT YANG MENDAMBAKAN PENEGAKAN



Penulis: Aliyth Prakarsa (Pengajar di FH Universitas Sultan Ageng

HUKUM_____ 83



Tirtayasa Serang – Banten)



Penulis: Dedy Irsan (Asisten Ombudsman RI Perwakilan Wilayah

2. EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN_____ 93



Sumut-NAD)

3. MENGGAGAS UPAYA MEWUJUDKAN PENINGKATAN KINERJA

LEMBAGA KEJAKSAAN SEBAGAI CITA REFORMASI KEJAKSAAN



Penulis: Elektison Somi (Dosen FH Universitas Bengkulu)

REPUBLIK INDONESIA_____ 101





Penulis: Helmi (Dekan FH Universitas Lambung Mangkurat)

4. REFORMASI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA_____ 113





Penulis: Yohanes G. Tuba Helan (Staf Pengajar pada FH Undana Kupang)

5. EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN_____ 129



6. KEMERDEKAAN PROFESIONALISME JAKSA SEBAGAI PENUNTUT

UMUM: ANALISIS TERHADAP KEBIJAKAN RENCANA TUNTUTAN



Penulis: Zul Akrial (Dosen FH dan Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas

(RENTUT)_____ 137



Islam Riau (UIR)

7. EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN DALAM PERSPEKTIF



Penulis: Muhammad Rifai Darus (Koordinator Papua Corruption Watch)

PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM_____ 145







Bagian Ketiga

REFORMASI KEHAKIMAN_____ 151



LAPORAN PRESENTASI HASIL PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI KEKUASAAN KEHAKIMAN



1. KEBIJAKSANAN DAN STRATEGI PEMBINAAN KEKUASAAN

KEHAKIMAN GUNA TEGAKNYA SUPREMASI HUKUM DALAM RANGKA



Penulis: Abdul Gani Abdulah

PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA_____ 153

xix Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







2. BEDAH CONUNDRUM REFORMASI KEKUASAAN KEHAKIMAN:



Penulis: Adi Sulistiyono (Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas

SUATU ANALISIS_____ 169



Maret)

3. CATATAN ATAS RINGKASAN “EVALUASI TERHADAP PELAKSANAAN



Penulis: Ketua Pengadilan Negeri Surakarta

REFORMASI KEKUASAAN KEHAKIMAN”_____ 191



4. PARADIGMA BARU KONSEP HAKIM TRANSFORMATIF:



Penulis: Prof. DR. Krisna Harahap, SH.,MH. (Hakim Ad Hoc TIPIKOR pada

PERSPEKTIF AGENDA REFORMASI PERADILAN_____ 195



Mahkamah Agung)



Penulis: Idrus Abdullah (Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukm Univ

5. MENAKAR KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA_____ 203



Mataram)





Bagian Keempat

LAPORAN PENELITIAN TENTANG EVALUASI PELAKSANAAN REFORMASI

ADVOKAT_____ 211





A. LATAR BELAKANG MASALAH_____ 213

BAB I PENDAHULUAN_____ 213





BAB II PEMBAHASAN SEJARAH PROFESI ADVOKAT



A. MASA SEBELUM BERLAKU UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG PROFESI

DI INDONESIA_____ 219



ADVOKAT_____ 219

B. MASA SETELAH BERLAKU UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG PROFESI

ADVOKAT_____ 228

C. CAPAIAN DAN HAMBATAN DALAM REFORMASI HUKUM DI BIDANG

ADVOKAT_____ 234

I. Organisasi Profesi Advokat_____ 234

1. Capaian dalam Pembentukan Organisasi Advokat_____ 234

1.1 Terbentuknya PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia)_____ 234

1.2 Terwujudnya Kemandirian Advokat_____ 236

1.3 Status Advokat Sebagai Penegak Hukum_____ 236

1.4 Verifikasi dan Sertifikasi Seluruh Advokat Indonesia_____ 237

1.5 Pengakuan Organisasi Advokat Dunia Terhadap Keberadaan

Organisasi Advokat_____ 237

2. Hambatan Dalam Pembetukan Organisasi Advokat_____ 238

2.1. Muliti Tafsir UU Advokat_____ 238

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia xx



2.2. Munculnya Lebih dari Satu Organisasi Advokat_____ 240

2.3. Peran Organisasi Advokat Belum Maksimal dalam Meningkatkan

Kualitas Profesi Advokat_____ 240

3. Upaya Perbaikan dalam Pembentukan Organisasi Advokat_____ 241

3.1. Tanggapan Para Pihak tentang Perselisihan Organisasi

Advokat_____ 241

3.2. Upaya Mendorong Rekonsilasi_____ 245

D. CAPAIAN DAN HAMBATAN DALAM PENEGAKAN KODE ETIK PROFESI

ADVOKAT_____ 248

1. Gambaran Normatif Ketentuan tentang Penegakan Kode Etik Profesi

Advokat_____ 248

2. Penanganan Terhadap Pelanggaran Kode Etik_____ 249

2.1. Organ / Unit Yang Menangani_____ 249

2.2. Mekanisme / Prosedur Penanganan_____ 250

E. CAPAIAN PELAKSANAAN PENEGAKAN KODE ETIK_____ 251

F. EVALUASI PELAKSANAAN PENEGAKAN KODE ETIK_____ 251

1. Beberapa Kelemahan/Kekurangan Penegakan Kode Etik Profesi

Advokat_____ 251

1.1. Kelemahan Pertama : Kriteria Calon Dewan Kehormatan, Majelis

Kehormatan dan Komisi Pengawas_____ 251

1.2. Kelemahan Kedua: Rekruitmen Organ Penegak Kode Etik Profesi

Advokat_____ 252

1.3. Kelemahan Ketiga: Ketertutupan Dalam Proses Penegakan Kode

Etik_____ 252

1.4. Kelemahan Keempat : Putusan Tidak Dihormati Penegak Hukum

Lain_____ 252

1.5. Kelemahan Kelima : Tidak Adanya Pembatasan Waktu Maksimum

Untuk Menyelesaikan Perkara_____ 253

1.6. Kelemahan Keenam : Penanganan Pelanggaran Kode Etik Hanya

Menunggu Adanya Pengaduan Tertulis_____ 254

1.7. Kelemahan Ketujuh: Prosedur Beracara Apakah Perdata atau

Pidana_____ 255





A. KESIMPULAN_____ 257

BAB III KESIMPULAN & REKOMENDASI_____ 257



B. REKOMENDASI_____ 257

DAFTAR PUSTAKA_____ 259

Bagian Pertama

REFORMASI KEPOLISIAN







LAPORAN PRESENTASI HASIL

PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI

LEMBAGA KEPOLISIAN

EVALUASI TERHADAP REFORMASI

LEMBAGA KEPOLISIAN



Novel Ali1









Di Negara modern manapun, terdapat kecendrungan yang kuat di

Pendahuluan



mana warganya menyerahkan kedaulatannya kepada negara, terutama

untuk memberikan jaminan keamanan bagi warga negara, disamping guna

kelangsungan hidup negara itu sendiri. Dalam kaitan ini, negara memiliki

otoritas (kewenangan), yang seringkali bersifat monopolistik, khususnya

buat menggalang hubungan segitiga timbal balik, yaitu antara “ negara-warga

negara-polisi”, sebagai salah satu prasyarat mutlak (conditio sine qua non)

kepastian terjaminnya keamanan masyarakat pada khususnya, dan keamanan

dalam negeri pada umumnya.

Untuk keseluruhan kepentingan itu, negara memiliki tugas, kewenangan

dan kewajiban membangun tata kehidupan yang harmonis dan sinerjik

antara negara dan warga negara, guna menyediakan jaminan keamanan

warga negara. Dalam konteks ini, warga negara menyerahkan kedaulatannya

kepada negara, karena negara memegang monopoli penggunaan instrument

koersif (memaksa), sebagai persyaratan dasar kemampuan negara memberi

jaminan keamanan warga negara, keamanan nasional, atau keamanan dalam

negerinya. Kewenangan dan tanggung jawab negara itu, didelegasikan kepada

aparat keamanan negara, yang lazim dikenal sebagai lembaga kepolisian, di

Indonesia : Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Sesuai undang-

undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri, fungsi polri meliputi dimensi

yuridis dan sosiologis, yang pada dasarnya adalah fungsi pemerintahan

negara, khususnya di bidang keamanan dan ketertiban umum.

Kemampuan negara, sesuai kewenangan dan tanggung jawab negara

untuk memproduksi serta menjamin keamanan masyarakat, ketertiban umum

dan keamanan nasionalnya, khususnya yang di bebankan kepada Polri, pada

gilirannya merupakan kewenangan dan tanggung jawab Polri. Untuk itu, Polri

dituntut kemampuannya dalam mengadakan kontrak kebudayaan, kontrak

sosial dan kontrak politik dengan warga negara, sebagai jaminan kelanggengan

hubungan harmonis dan sinerjik antara negara dan warga negara.

Perubahan era Orde Baru ke era Reformasi, sedikitnya sejak 1998,

mendorong berbagai pihak berupaya kuat membangun bingkai hukum, social

engineering (rekayasa sosial), dan etos profesionalisme kepolisian, yang

1

Anggota Komisi Kepolisian Nasional (KOMPOLNAS)

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 4



(utamanya) bertujuan memastikan kemampuan negara (yang didelegasikan

kepada Polri), guna menjamin terselenggaranya public goods, khususnya

rasa aman bagi seluruh warga negara. Semangat reformasi itu pula yang

mendorong dikeluarkannya ketetapan MPR No. VI/MPR/2000 tentang

Pemisahan TNI dan Polri, juga ketetapan MPR No. VII/2000 tentang peran

TNI dan Polri, sebagai dua landasan hukum form+al Reformasi Lembaga

Kepolisian di Indonesia (Reformasi Polri). TAP MPR VII/2000 memberikan

arahan hukum bagi terbentuknya lembaga kepolisian nasional (Pasal

8), dengan dua tugas : membantu Presiden menetapkan arah kebijakan

Polri, dan mempertimbangkan kepada Presiden, dalam pengangkatan dan

pemberhentian Kapolri. Selain juga diundangkannya Undang-Undang Nomor

2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, oleh Presiden

Megawati Soekarno Putri (Jakarta, 8 Januari 2002)

Dengan segala plus minusnya, eksistensi lembaga kepolisian nasional

yang kemudian dikenal dengan sebutan Komisi Kepolisian Nasional (Pasal

37-40 UU 2/2002 Tentang Polri), harus diposisikan sebagai kebutuhan

dasar Polri, khususnya guna mengembangkan dirinya sendiri. Penjelasan

UU 2/2002 Tentang Polri, menyebutkan “substansi lain yang baru dalam

Undang-Undang ini, adalah diaturnya lembaga kepolisian sesuai amanat TAP

MPR No VII/MPR/2002, selain terkandung pula fungsi pengawasan fungsional

terhadap kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia, sehingga kemandirian

dan profesionalisme Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat terjamin”.





Alenia terakhir penjelasan UU 2/2002 Tentang Polri menyebutkan

Problematik



“Penerapan Undang-Undang ini akan ditentukan oleh komitmen para pejabat

Polri terhadap pelaksanaan tugasnya, dan juga komitmen masyarakat untuk



dan memenuhi harapan masyarakat”. Dalam praktek di lapangan, diketahui

secara aktif berpartisipasi dalam mewujudkan Polri yang mandiri, profesional,



pelaksanaan peraturan perundangan, kebijakan Polri khususnya, dan etos

kerja Polri pada umumnya, di samping karakter masyarakat, konstruksi

politik, dan dampak globalisasi, mengakibatkan berbagai bentuk ketimpangan

praktis, yang mempengaruhi secara negatif keberlangsungan reformasi

lembaga Kepolisian di Indonesia (Reformasi Polri).

Berbagai pihak berpendapat, reformasi instrumen dan reformasi

struktur yang dicanangkan bertahap dan sistemik sejak 1999, berlangsung

cukup baik, dengan berbagai program yang menonjol, di antaranya program

quick win, quick respon, melibatkan pengawas eksternal, pemberantasan

terorisme, narkoba, kejahatan atas kekayaan negara, kejahatan transnasional,

penataan birokrasi Polri, dan lain-lain. Hanya saja, yang sangat disayangkan,

reformasi kultur Polri, masih jauh dari harapan masyarakat.

5 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Terlalu banyak contoh kasus di lapangan, yang merepresentasikan

mandegnya reformasi kultur Polri, walau (harus diakui) bermuara dari

perilaku/tindakan oknum Polri. Tetapi, karena oknum anggota Polri yang

berperilaku/bertindak demikian sangat banyak (jumlah dan kualitasnya),

pada gilirannya membentuk stereotipe publik sebagai bagian dari sistem.

Perilaku/tindakan oknum Polri yang buruk itu, dianalogkan masyarakat,

sebagai sistem Polri, minimal sebagai kultur pelayanan (Polri) yang buruk.

Sejumlah prilaku/tindakan oknum anggota Polri yang merusak

citra reformasi kultur Polri (dengan segala pengakuan dan penghargaan

saya terhadap Polri), terjadi berbagai satuan kewilayahan dan satuan kerja

Polri. Diantaranya terkemas, dalam sejumlah statemen yang merefleksikan

(terutama) buruknya reformasi kultur Polri. Yaitu :

1. Oknum anggota Polri acapkali ”memanfaatkan” hukum sebagai alat untuk

“melahirkan” impunitas. Impunitas adalah kondisi dimana seseorang

terhindar dari jerat hukum/kebal hukum/tak tersentuh hukum, atau

membiarkan seseorang/sejumlah orang “mencuci dosa hukumnya “

dengan memperjuangkan hukum sebagai legitimasi untuk ”menghalalkan”

perbuatan haramnya.

2. Oknum polisi memanfaatkan diskresinya, dan mendayagunakan

instrument koersifnya, semata-mata dengan pendekatan hukum, dan

(tanpa) sedikitpun merujuk kepada selera keadilan yang di tuntut

stakeholders dan masyarakat luas.

3. Oknum anggota Polri sering “berlindung” di balik norma hukum,

khususnya untuk menyerang balik dan membungkam sikap kritis obyek

pelayanannya, baik di ruang pemeriksaan/penyelidikan/penyidikan/

tahanan, maupun di ruang publik (dalam situasi unjuk rasa).

4. Oknum anggota Polri kerapkali terjebak dalam pola penegakan hukum

yang bersifat diskriminatif (tebang pilih).

5. Oknum polisi kita seringkali “ melacurkan profesinya”, sekaligus melanggar

kode etiknya, dengan cara mengambil tindakan sesuai kewenangannya,

tetapi hanya melandaskan diri kepada prosedur tetap (protap) yang

berlaku bagi dirinya, di samping menggunakan perspektif keadilan

prosedural semata-mata, dan dengan sengaja mengabaikan nilai-nilai

keadilan substansialnya.

6. Polri seringkali dinilai publik sebagai gagal melaksanakan sistem

peradilan pidana, terutama akibat berlarut-larutnya (berkepanjangan)

pemeriksaan/pemeriksaan berjalan lambat, atau (bahkan) laporan yang

tidak ditindaklanjuti tanpa alasan yang jelas, atau alasan kurang bukti,

atau alasan aparat kepolisian kurang memahami tindak pidana yang

dilaporkan.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 6



7. Polri dituduh melakukan viktimasi, karena membiarkan warga masyarakat

menjadi korban berulangkali, apalagi ketika oknum anggota Polri dengan

gampangnya merubah status seseorang, dari (sebagai) saksi, menjadi

(sebagai) tersangka.

8. Oknum anggota Polri dengan sadar atau tidak sadar, melakukan

kriminalisasi, ketika mereka mempidanakan kasus perdata. Kasus

tertentu sebetulnya bukan domain pidana (alias merupakan kasus

perdata), dipaksakan menjadi sesuatu yang dipidanakan. Banyak sekali

kasus sejenis yang dikeluhkan warga masyarakat ke Kompolnas, sebagai

kebiasaan ”mempidanakan kasus perdata” oleh anggota Polri.

9. Polri tidak bekerja secara profesional, terutama dengan sering terjadinya

salah target operasi, atau salah tangkap, atau salah tembak dan lain-lain.

10. Oknum anggota Polri melakukan pembiaran pelanggaran fairtrial,

terutama tercermin dari banyaknya laporan ke Kompolnas, atas cara-cara

penyiksaan oleh anggota Polri, dalam rangka mendapatkan keterangan,

atau pengakuan terperiksa/tersangka.

11. Polri dianggap gagal berperan sebagai institusi pelayanan, terutama

sejumlah oknum anggota Polri terjebak dalam konstribusi viktimasi

terhadap korban kejahatan yang melaporkan kasusnya ke institusi Polri.

Selain sejumlah problematik yang “menyelimuti” reformasi Polri

disebut terdahulu, terhadap kecenderungan problematis di kalangan Polri,

khususnya yang berkaitan dengan keberadaan Komisi Kepolisian Nasional.

Yaitu

1. Terasa sekali kecenderungan resistensi sejumlah petinggi Polri, terutama

terhadap keberadaan Kompolnas sebagai lembaga pengawas (oversight

body) terhadap kinerja Polri.

2. Sikap resistensi dikalangan Petinggi Polri bahwa arah kebijakan Polri

sepenuhnya merupakan domain ”hak” Polri, bukan “hak” Kompolnas,

sebagai tersurat dalam tugas Kompolnas (Pasal 38 UU2/2002 Tentang

Polri).





1. Mengapa Reformasi Kepolisian penting dalam konteks penegakan

Sejumlah Permasalahan yang didiskusikan :



hukum?

 Dalam rangka memantapkan sistem hukum nasional bersumber pancasila

dan UUD 1945, maka pembangunan hukum di Indonesia diarahkan untuk

menghasilkan produk hukum nasional yang mampu mengatur tugas hukum

pemerintahan. Hal ini membutuhkan dukungan aparatur hukum yang

bersih, beribawa, penuh pengabdian, sadar, taat hukum, serta mempunyai

rasa keadilan sesuai dengan kemanusiaan, profesional, efisien, efektif, yang

dilengkapi sarana prasarana hukum secara optimal. Sementara itu, tugas

7 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



pokok Polri adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,

menegakan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman dan

pelayanan kepada masyarakat (UU2/2002 Tentang Polri-Pasal 13).

Dalam praktek di lapangan diketahui, Polri tidak sepenuhnya

mampu memenuhi harapan masyarakat atas pelayanan kinerja Polri.

Sementara di sisi lain, Polri sendiri tidak mampu memberikan jaminan

penegakan hukum, dimana :

a. Prosedur dan substansi hukum yang ditegakkan Polri, benar-benar

terhindar dari segala bentuk penyalahgunaan wewenang, tindakan

korup, pelayanan buruk, perlakuan diskriminatif, penggunaan diskresi

yang keliru, perbuatan yang amoral, pelanggaran kode etik profesi, dan

perilaku/tindakan anggota Polri lain, yang bertentangan dengan norma

positifnya, serta bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat.

Reformasi kepolisian mutlak diperlukan, khususnya di bidang

penegakan hukum, terutama untuk mencegah Polri menjadi organ

(penegak hukum khususnya) yang super power. Kencederungan sikap,

perilaku, tindakan Polri yang terlalu luas bingkai kewenangannya,

terutama yang “memperangkap” Polri sebagai piranti regulator,

sekaligus sebagai piranti eksekutor dalam penegakan hukum dan

memelihara keamanan serta ketertiban umum, dapat bersifat kontra

produktif bagi Polri sebagai penegak hukum.



2. Apa program Reformasi Polri dalam kewenangan di bidang penegakan

hukum?

 Beberapa hal yang patut diacungi jempol dalam konteks Reformasi

Kepolisian di negara kita, khususnya di bidang penegakan hukum,

adalah:

a. Di bentuknya lembaga pengawas penyidik di dalam tubuh Polri salah

satu tugas lembaga ini adalah mencegah kinerja buruk penyidik Polri

b. Peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2009 Tentang Prinsip Dasar Imple-

mentasi Hak Asasi Manusia bagi Anggota Polri.



3. Apakah Kebijakan dan langkah kepolisian selama ini sudah tepat dalam

koridor Reformasi Kepolisian.

 Secara ideal, dalam konteks gagasan, kebijakan dan langkah kepolisian,

boleh di sebut memadai. Hal ini dapat diukur dari Keputusan Kapolri

Nomor Pol: KEP/20/XI/2005 Tanggal 7 September 2005, Tentang Renstra

Polri 2005-2009. Namun, praktek di lapangan acapkali menunjukkan

luasnya bentangan kemampuan Polri memberi pelayanan optimal, dengan

harapan nyata publik.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 8





4. Capaian Reformasi Kepolisian yang di hasilkan?

 Hemat saya, untuk menilai apa-apa yang telah di tentukan oleh Reformasi

Polri, khususnya dari laporan hasil kerja.

a. Tim Pengarah Reformasi Polri

b. Tim Manajemen Perubahan dan Transformasi Budaya

c. Tim Evaluasi Kerja dan Profil Polri 2025

d. Tim Quick Wins

e. Tim Restrukturisasi dan Ketatalaksanaan

f. Tim Manajemen SDM

Kesemua itu dapat dilihat/dikaji khususnya dan Buku Laporan Kemajuan

Awal Program Reformasi Birokrasi Polri, yang diterbitkan oleh Markas

Besar Polri, Jakarta : Maret 2009.



5. Hambatan apa yang dialami Kepolisian dalam melaksanakan Reformasi,

dan bagaimana memecahkan masalah tersebut ?

 Hambatan :

a. Perubahan sistem piranti lunak dalam organisasi Polri, belum

sepenuhnya mendukung landasan sikap dan perilaku sumber daya

manusia (SDM) Polri untuk mewujudkan Polri yang demokratik,

profesional dan mandiri.

b. Reformasi struktural Polri yang mendorong paradigma organisasi

Polri, dimana Markas Besar “kecil” Polda “sedang” Polres/Polresta

“besar” dan Polsek “kecil”, di mana ujung tombak pelayanan Polri di

bebankan ke pundak Polres/Polresta dan Polsek, belum sepenuhnya

diimbangi oleh satuan kewilayahan dan kesatuan kerja seragam di

seluruh pelosok Nusantara untuk menggapai tujuan Reformasi Polri

itu sendiri.

c. Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri, terutama

sebagai akibat trauma public atau persepsi masyarakat terhadap

performance Polri (masa lalu) sebagai Polri yang keras, menimbulkan

rendahnya mutu kualitas partisipasi masyarakat terhadap Polri.



6. Langkah-langkah hukum apa saja yang harus dilakukan Kepolisian dalam

mewujudkan hukum yang akuntable, transparan, efisien, efektif dan adil?

 Hemat saya, dalam menjawab pertanyaan di atas, seluruhnya jajaran

Polri perlu terlebih dahulu memprioritaskan tekad mencegah institusi

Kepolisian sebagai superbody, terutama di bidang penegakan hukum.

Untuk itu, Polri perlu mencegah terjadinya ego sektoral antara Polri dengan

lembaga penegak hukum lain. Di samping meniadakan miskordinasi,

tumpang tindih dan friksi kelembagaan.

9 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







7. Bagaimana format dan mekanisme penegakan hukum oleh Kepolisian

yang profesional, sesuai hak asasi manusia dan keadilan?

 Untuk menjawab pertanyaan itu, sejumlah saran berikut perlu benar-

benar mendapat apresiasi yang memadai oleh seluruh anggota Polri:

a. Setiap anggota Polri harus mematuhi Peraturan Kapolri Nomor 8

Tahun 2009 Tentang Implementasi Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia

Bagi Anggota Polri.

b. Polri tidak boleh terjebak dalam pada penegakan hukum dan keadilan

prosedural, dan kurang menggali hukum dankeadilan substansif.

c. Anggota Polri yang bertugas di bidang penegakan hukum, harus benar-

benar professional.

d. Fungsi penyelidikan dan penyidikan yang diperankan anggota Polri dan

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) perlu benar-benar dilaksanakan

secara terkordinir dan sistemik.

e. Polri perlu lebih memahami berbagai aturan perundangan, dalam

dan luar negeri, guna mencegah rebutan kewenangan, tumpang

tindih kekuasaan di antara sejumlah pranata yang diberikan

kewenangan penyelidikan dan penyidikan di wilayah Negara Kesatuan

Republik Indonesia, di samping dalam kaitannya dengan hukum laut

internasional.

f. Memperkuat kedudukan dan fungsi Polri yang lebih fokus dalam

fungsinya sebagai pranata eksekutor penegakan hukum.

g. Ditetapkan peraturan perundangan yang secara tegas merumuskan

peran kordinasi Polri dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), yang

mengatur secara jelas dan tegas kewenangan masing-masing, selaras

dengan tuntutan Sistem Peradilan Pidana yang berlaku.

h. Perlunya dibentuk peraturan perundangan yang mengatur peran

berbagai pranata penegak hukum di laut, di samping mengacu kepada

ketetapan hukum laut internasional.







1. Untuk memperkuat Polri, keberadaan Komisi Kepolisian Nasional perlu

Penutup



disukai wajar, antara lain (dan utama) denga tidak bersikap resisten

terhadap lembaga pengawas eksternal Polri itu sendiri.

2. Guna memperkuat Kompolnas, seyogyanya dibentuk Undang-Undang

Komisi Kepolisian Nasional.

EVALUASI TERHADAP PELAKSANAAN

REFORMASI KEPOLISIAN



Chairul Huda2









Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara berdasarkan

Latar Belakang



atas hukum (rechstaat). Kewajiban untuk mewujudkan negara hukum,

justru terletak pada para penyelenggara negara dan bukan pertama-tama

ditujukan kepada warga negara. Terdapat “penugasan aktif” konstitusi untuk

membentuk “pemerintahan negara”, yang menjunjung tinggi Hak Asasi

Manusia dan menjamin segenap warga negaranya bersamaan kedudukannya

dalam hukum dan pemerintahan. Baru kemudian timbul kewajiban bagi

warga negara untuk menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan

tidak ada kekecualian. Penyelenggara negara, termasuk penyelenggaran

pemerintahan harus berdasarkan hukum, terlebih lagi dalam kegiatan

pembentukan (law making process), penegakan (law enforcement process)

dan penerapan hukum (law applying process) itu sendiri.

Penyelengaraan negara hukum (rule of law), menyebabkan setiap

tindakan “penegakan hukum” dengan memberikan otoritas kepada aparat

penegak hukum mengurangi dan membatasi hak asasi manusia, harus

dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah

satunya yang terpenting adalah ketika kepolisian melaksanakan tugas pokok,

fungsi dan kewenangannya, sebagai “garda terdepan” sistem peradilan pidana.

Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 dimaksud dengan kepolisian disini bukan

hanya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tetapi pengemban fungsi

kepolisian lainnya, seperti: (1) kepolisian khusus; (2) penyidik pegawai negeri

sipil; dan/atau (3) bentuk-bentuk pengamanan swakarsa. Dalam kerangka

inilah seharusnya reformasi kepolisian sebagai aparatur penegakan hukum

harus ditempatkan. Kelemahan berbagai pengkajian tentang “reformasi

kepolisian” selama ini adalah terlalu terfokus pada Polri, dengan melalaikan

perhatian terhadap pengemban “fungsi” ini.

Tonggak reformasi kepolisian, memang berpangkal pada pemisahan

Polri dari ABRI (baca TNI). Kerusakan mendasar memang telah terjadi

pada pengemban fungsi utama kepolisian itu karena terlalu lama berada

dalam struktur, sebagai bagian instrumen dan budaya tentara, sehingga

2

Dosen Hukum Pidana, Ketua Bagian Hukum Pidana dan Hukum Acara, Ketua Program Magister

Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, Penasihat Ahli Kapolri

dalam Bidang Hukum, dan Direktur Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 12



perlu dievaluasi susunnya (formation) kembali (re), untuk dapat sejalan

dengan suasana demokratis yang dikembangkan, dengan mengutamakan

perlindungan hak asasi manusia dan pemberian pelayanan kepada

masyarakat. Pembahasan mengenai evaluasi terhadap pelaksanaan reformasi

kepolisian dalam kesempatan ini diketengahkan berpangkal tolak pada latar

belakang di atas.







Gagasan “perlindungan hukum” dalam politik kenegaraan termaktub

Urgensi Reformasi Kepolisian



dalam anak kalimat “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia”. Kata-kata “melindungi” disini, mengandung

makna adanya tugas negara untuk secara aktif mengadakan segala macam

perlindungan, terutama terhadap seluruh rakyat Indonesia. Termasuk

didalamnya perlindungan masyarakat dari aktivitas kriminal dan berbagai

aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan

dan ketertiban masyarakat. Oleh karena itu, konstitusi pada dasarnya

memerintahkan kepada para penyelenggara negara untuk mengadakan

“pencegahan dan pemberantasan tindak pidana”, sebagai wujud konkrit

pelaksanaan kebijakan perlindungan hukum.

Pencegahan dan pemberantasan kejahatan merupakan bagian

tugas pemerintahan untuk mengadakan “penegakan hukum”. Dalam arti

sempit istilah “penegakan hukum” sebagai padanan “law enforcement”

terutama dikonotasikan sebagai pemusatan perhatian pada “pencegahan

dan pemberantasan kejahatan”. Artinya, penegakan hukum ditafsirkan

secara sempit sebagai pelaksanaan penerapan dan eksekusi hukum pidana

dalam kejadian-kejadian konkrit. Berkenaan dengan ini, kompetensi utama

penegakan hukum oleh karenanya dilekatkan pada pemberdayaan sistem

peradilan pidana (criminal justice system).

Sistem peradilan pidana memang menempatkan “pencegahan dan

pemberantasan kejahatan” sebagai tujuan utamanya, sampai pada batas

yang dapat ditoleransi (Reksodiputo: 1993). Pemberdayaan sistem peradilan

pidana merupakan bagian dari usaha rasional masyarakat dalam menanggapi

kejahatan. Dalam pada itu, Kepolisian menempati posisi strategis sebagai

“gatekeeper” (Baldwin dan Bottomley: 1978) dan “gaol prevention officer”

(Harvey, et,al: 1989) sistem peradilan pidana. Setiap kali seorang kriminal

“berhubungan” dengan hukum pidana, pada umumnya mula-mula yang

dihadapi adalah kepolisian. Apakah seseorang tersebut akan terus bergulir

masuk ke dalam sistem peradilan pidana sangat ditentukan oleh komponen

kepolisian. Dalam hal ini apakah apakah perbuatan seseorang berbuntut pada

sangkaan terjadinya tindak pidana dan karenanya akan diselesaikan melalui

13 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



penuntutan di pengadilan dan pemidanaan di lembaga pemasyarakatan,

sangat bergantung pada pelaksanaan tugas, wewenang dan tanggung

jawab penyelidik dan penyidik, yang secara umum diemban oleh Polri.

Selain itu perlu diingat, fungsi kepolisian dalam penegakan hukum bukan

semata-mata bersifat represif, melalui penyelidikan dan penyidikan, tetapi

umumnya kurang mendapat perhatian adalah fungsi preventif Polri terhadap

terjadinya kejahatan. Dalam hal ini Polri adalah lembaga (officer) yang tujuan

pelaksanaan tugasnya mencegah (prevention) seseorang di penjara (gaol/

jail). Oleh karena itu, kinerja kepolisian tidak hanya diisi oleh upaya untuk

menemukan fakta-fakta yang mendukung tentang telah terjadinya tindak

pidana (factual guilt) dan menemukan tersangkanya, tetapi juga pencegahan

aktif atas segala potensi yang mungkin menimbulkan kejahatan.

Hal ini semakin krusial mengingat fenomena kejahatan yang semakin

hari semakin kompleks. Kini kejahatan terkadang menimbulkan konsekuensi

yuridis yang tidak lagi memperhatikan batas-batas negara (transnational

crime), seperti tindak pidana penyebaran teror (terorisme), tindak pidana

pencucian uang (money laudering), dan kejahatan bisnis lainnya (Atmasasmita:

2003). Belum lagi adanya perkembangan teknologi informasi yang bukan

hanya menimbulkan modus operandi baru kejahatan, tetapi juga objek dan

subjek kejahatan yang tidak dapat selalu adekwaat apabila dihadapi dengan

hukum pidana yang tengah berlaku, seperti kejahatan dunia maya (cyber



Pelaksanaan fungsi pencegahan dan represi atas kejahatan, termasuk

crime).



terhadap semua tantangan baru kejahatan sebagaimana dikemukakan

di atas, seolah-olah semuanya ditumpahkan kepada Polri. Pada satu

sisi, hal itu menuntut adanya kemandirian atau independensi, untuk

menjamin terlaksananya pencegahan dan represi kejahatan semata-mata

untuk kepentingan penegakan hukum (pro justitia). Dengan kata lain,

independensi melepaskan penegakan hukum dari pengaruh kepentingan

politik dan ekonomi tertentu, melainkan hanya dalam rangka mewujudkan

politik kenegaraan (state policy) “melindungi segenap bangsa Indonesia

dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Independensi menjamin efetivitas

dan efesiensi penegakan hukum, karena kemandirian merupakan faktor

penting peningkatan profesionalisme kepolisian. Dalam hal ini kemandirian

memungkinkan penentuan secara tepat dan berdaya maksimal pencegahan

dan penanggulangan kejahatan. Independensi dapat mendorong mening-

katkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Dalam hal ini wibawa

hukum sedikit banyak sangat tergantung dari tingkat pengungkapan kejahatan

(clearance rate), yang apabila cenderung positif, akan semakin menjamin

kepastian (penegakan) hukum. Hal ini akan membawa dampak meningkatnya

kesadaran hukum masyarakat yang dewasa ini disinyalir semakin merosot.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 14



Salah satu hal yang harus disadari oleh setiap orang adalah bahwa

pelaksanaan tugas kepolisian membawa dampak yang sangat luar biasa

terhadap “hukum”, yaitu apa yang disebut Ruth Finnegan, “how it is actually

implemented”. Setiap hal yang “diputuskan” kepolisian, memberi gambaran

tentang “wajah hukum dimata masyarakat”, sehingga bagi setiap anggota

kepolisian secara imajinatif harus mengandaikan seakan-akan setiap pelosok

negeri ini “ter-cover” oleh CCTV. Tindakan kepolisia adalah “etalase hukum”,

sehingga pimpinannya mempunyai kewajiban berat untuk membawa

“kesadaran” yang demikian itu pada setiap anggotanya.

Berdasarkan hal-hal di atas, urgensi reformasi kepolisian sangat

mendesak dan perlu untuk dilakukan, mengingat prakteknya selama ini

“jauh panggang daripada api”. Hal ini bukan tidak mungkin akan membawa

kepolisian pada kondisi yang “serba salah”, yang mengharuskan dibangunnya

suatu “the new wisdom”, yang menempatkan keberlangsungan peradaban

manusia (human sustainability civilization) sebagai pangkal tolak pengambilan

kebijakan, penggunaan wewenang diskresi kepolisian dan penerapan

hukum secara keseluruhan. Harus dapat diindentikasi hal-hal yang dilihat

dari sifatnya sebagai “pertimbangan non yuridis”, dalam melakukan tugas,

wewenang dan tanggung jawab kepolisian.





Penegakan hukum merupakan upaya yang seimbang melakukan proses

Program Reformasi Kepolisian dan Hambatan-Hambatannya



hukum (legal process) dan penerapan prosedur hukum (legal procedure)

terhadap suatu gejala yang diidentifikasi sebagai suatu pelanggaran hukum.

Proses hukum adalah mekanisme yang dibangun untuk “mengurangi hak

asasi dan kebebasan seseorang. Dalam pelaksanaannya, untuk membuatnya

sebagai proses hukum yang adil (due process of law), diperlukan sejumlah

prosesur hukum, yaitu mekanisme yang ditentukan oleh hukum untuk

melindungi hak asasi dan kebebasan seseorang. Pelaksanaan reformasi

kepolisian belum memastikan bahwa seluruh jajaran kepolisian telah

memperhatikan konstelasi antara proses hukum dan prosedur hukum yang

harus dipatuhi.

Reformasi kepolisian tidak akan berjalan dengan baik apabila

“substance” hukum acara yang ada berkenaan dengan pelaksanaan penegakan

hukum masih menyimpan berbagai permasalahan yang sering muncul

dan menjadi hambatan atau kendala dalam proses penegakan hukum itu

sendiri. Keadaan ini menyebabkan reformasi kepolisian harus didukung oleh

reformasi hukum acara pidana. Beberapa permasalahan penting yang telah

diidentifikasi Polri dalam bidang hukum acara diantaranya:

1) pengiriman SPDP kepada Penuntut Umum (Pasal 109 KUHAP) yang

terlambat. Dalam praktek banyak SPDP dikirim ke Penuntut Umum

15 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



bersamaan saat meminta perpanjangan penahanan ataupun saat berkas

perkara dikirim ke Penuntut Umum, akibatnya Penuntut Umum tidak bisa

mengikuti sejak awal proses penyidikan.

2) Berkas perkara yang bolak balik antara penyidik dengan Jaksa penuntut

umum, yang bisa berkali-kali.

3) Penyidik Polri tidak pernah menerima turunan surat pelimpahan perkara

beserta surat dakwaan yang dikirim JPU ke pengadilan (Pasal 143 ayat (4)

KUHAP). Akibatnya penyidik Polri tidak bisa mengikuti perkembangan

proses penuntutan di pengadilan.

4) Penyidik Polri seringkali tidak mendapatkan salinan surat putusan

pengadilan (Pasal 226 ayat (2) KUHAP). Akibatnya penyidik Polri tidak

mengetahui isi putusan pengadilan yang sangat berguna bagi Polri untuk

melakukan pengawasan terhadap ex narapidana dan sebagai bahan

evaluasi bagi penyidik Polri dalam meningkatkan profesionalisme.

5) Masih terjadinya keterlambatan pengajuan cekal, perpanjangan cekal

maupun pencabutan cekal, akibatnya menjadikan polemik di media massa

seolah-olah aparat penegak hukum tidak serius melakukan penyidikan.

6) Sulitnya mengembalikan tersangka yang melarikan diri ke luar negeri.

Akibatnya aparat penegak hukum dianggap tidak mampu melakukan

penegakan hukum terhadap para pelaku tindak pidana yang berada di

luar negeri.

Masalah-masalah di atas, menunjukkan bahwa reformasi kepolisian

sangat ditentukan sejauhmana antar instansi penegak hukum dapat

menyelaraskan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Petunjuk teknis dan pertunjuk pelaksanaan yang ada bukan hanya terkadang

lebih menekankan pada pengaturan mengenai “penggunaan wewenang” yang

dimiliki kepolisian, padahal penting sekali melihatnya secara terbalik, yaitu

bagaimana “membatasi penggunaan wewenang” tersebut, tetapi juga tidak

terbangun secara harmonis dengan kewenangan instansi lain.

Sementara itu, sebagai penegak hukum, pelaksanaan fungsi kepolisian

secara “structure” terkait erat dengan pengemban fungsi pembentukan hukum

(law maker), seperti: DPR (parliament), DPD (house of representative) dan DPRD

Provinsi/Kabupaten/Kota (local legislator), mengingat “wajah” sesungguhnya

hukum itu tergambar dari apa yang diterapkan atau dilaksanakan kepolisian

menghadapi masalah-masalah hukum yang ditimbul dalam masyarakat.

Selain itu, sebagai penegak hukum, pelaksanaan fungsi Polri sangat terkait

dengan subsistem-subsistem dalam sistem keadilan pidana (criminal justice

system), seperti: pengemban fungsi penuntutan pidana (prosecution service),

advokat, pengadilan (court), dan lembaga pemasyarakatan (correction

service). Sebagai penegak hukum, bagi tindak pidana tertentu, pelaksanaan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 16



fungsi Polri tersebut juga berhubungan dengan kekuasaan pre-judicial yang

diberikan kewenangan khusus oleh undang-undang, seperti: PPATK (financial

intelegent unit) dalam tindak pidana pencucian uang, bagi pelaku tindak

pidana tertentu, pelaksanaan fungsi Polri tersebut juga bertalian dengan

berbagai lembaga negara dan/atau lembaga swadaya masyarakat tertentu,

seperti: bagi anak pelaku tindak pidana berhubungan dengan Komisi Nasional

Perlindungan Anak (Komnaspa), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),

dan bagi perempuan pelaku tindak pidana berhubungan dengan Komisi

Nasional Perempuan. Dalam rangka pelaksanaan fungsi penegakan hukum

yang berorientasi pada kepentingan korban, tindak pidana (victim approach),

tugas Polri juga terkait dengan lembaga negara dan/ atau lembaga swadaya

masyarakat tertentu, seperti: Komisi Perlindungan Saksi dan Korban (victim

support) dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras).

Reformasi kepolisian juga harus ditempatkan bagaimana kepolisian

menempatkan diri dengan berbagai instansi sebagaimana tersebut di

atas, baik judisial maupun non judisial sifatnya. Bahwa, berkenaan dengan

luasnya ruang lingkup kemitraan yang harus dibangun Polri, dalam rangka

melaksanakan fungsi penegakan hukum, maka sangat diperlukan pemilahan

dan penetapan bentuk kerjasama yang tepat, sehingga masing-masing dapat

melaksanakan tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya, secara sinergis,

efektif dan efesien.

Beberapa bentuk kerjasama kepolisian dengan lembaga-lembaga

dimaksud, tidak boleh dipandang dalam kerangka yang sama, antara yang

sifatnya judisial dan non judisial. Apabila diabaikan, independensi penegakan

hukum akan “tergadai” hanya demi menjaga relasi social dan politik

kenegaraan dan kemasyarakatan, yang belum tentu sejalan dengan tujuan

hukum itu sendiri. Beberapa pelaksanaan reformasi kepolisian yang sudah

atau belum tepat dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Kerjasama Konsultasi, khususnya dengan pembentuk perturan

perundang-undangan, terutama dalam rangka pemerolehan sumber

hukum (legal substance) dan penyosialisasikannya, belum berjalan

sebagaimana mestinya. DPR, khususnya Komisi III lebih mengutamakan

fungsi “polisionalnya” terhadap Polri, yang boleh jadi mempengaruhi

indepedensi penyelidikan dan penyidikan suatu perkara pidana.

b. Kerjasama Koordinasi, khususnya dengan kejaksaan dan pengadilan,

terutama dalam rangka pelaksanaan asas diferensiasi fungsional

subsistem-subsistem dalam sistem keadilan pidana, tidak berjalan secara

efektif dan efesien. Bolak balik perkara dalam tahap pra penuntutan

perkara, dan pemerolehan “izin upaya paksa” oleh pengadilan, lebih

dijalankan pada prinsip “no free for lunch”.

17 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



c. Kejasama Supervisi, baik Polri sebagai inferior dalam penyidikan tindak

pidana korupsi oleh KPK, maupun Polri sebagai superior terhadap penyidik

pegawai negeri sipil, belum tersentuh reformasi secara memadai.

d. Kerjasama Perbantuan, baik dalam rangka pemberian bantuan hukum

(legal aid) cuma-cuma (prodeo), seperti dengan organisasi Advokat

(BAR Association) dan Lembaga Keadilan dan Bantuan Hukum Perguruan

Tinggi, pendampingan tersangka anak dan perempuan dengan Komnaspa

dan KPAI, serta Komnas Perempuan, atau bantuan pemanggilan kepada

Komisi Pengawas Persaingan Usaha, sama sekali belum belum menjadi

bagian reformasi kepolisian.

e. Kerjasama Fact Finding, dalam rangka menemukan fata-fakta yang

mengarah pada pengumpualan bukti-bukti dari suatu tindak pidana,

seperti dengan PPATK dan Kontras, belum menjadi bagian upaya

“penemuan bukti awal” tindak pidana, tetapi lebih kepada upaya pemuasan

emosi pubik dan pers.

Sementara itu Kepolisian sejauh ini belum cukup dapat mengubah

“culture” yang menjadi apresiasi terhadap perkembangan politik dan sosial,

yang pada gilirannya dapat mencerminkan responsitas hukum terhadap

masalah-masalah kemasyarakatan dan tuntutan keadilan, sebagai lembaga

yang memberikan service of excellence, sebagai bagian dari good governance dan

birokrasi yang efektif, tetapi tetap menjadi independensi dan profesionalitas

dalam penerapan hukum (law applying). Perlu diingat, tugas kepolisian dalam

penerapan hukum bukan hanya menempatkan Polri sebagai aparat penegak

hukum (law enforcement) tetapi juga aparat pelayanan hukum (law services).

Polri bukan hanya bertanggung jawab atas pencegahan dan penindakan

kejahatan (crime prevention and repression), tetapi juga sebagai bertanggung

jawab untuk memastikan apakah keseluruhan sebagian aktivitas masyarakat

yang terkait dengan sebagian masyarakat yang lain ataupun kepentingan negara

dan bangsa telah memenuhi segala perizinan yang diperlukan, telah mendapat

persetujuan berbagai instansi terkait atau telah mendapatkan pernyataan

tidak keberatan dari anggota masyarakat yang lain. Hal yang terakhir inilah

yang disebut dengan pelayanan hukum (legal services) dari Polri.

Sejauh ini pendekatan ini belum menjadi acuan dalam pelaksanaan

reformasi kepolisian. Keharusan untuk me-redesign kepolisian, untuk

menempatkan performanya bukan saja sebagai penegak hukum, tetapi

juga pelayan masyarakat dalam bidang hukum, belum terjadi. Slogan “to

protect dan to serve”, belum menjadi bagian terbesar acuan reformasi. Suatu

perubahan paradigma yang menyebabkan eksistensi dan kredibilitas Polri

menjadi “taruhan” dalam memperhatikan perkembangan kemasyarakatan

yang sarat dengan tarik menarik kepentingan politik, yang membias dalam

kritik sosial masyarakat.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 18



Penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri harus mengandung

beberapa aspek yang dapat dilihat yang merupakan satu kesatuan, yaitu (1)

aspek pelayanan: (2) aspek perlindungan; dan (3) aspek pengaoman. Reformasi

birokrasi kepolisian ditujukan untuk merubah mind set dan perilaku. Kebijakan

mulai dari akselerasi trasnformasi kultural, program quick wins, blue print

reskrim Polri, hingga keroyok reserse. Semuanya ini dimaksudkan untuk

melakukan perubahan terhadap sikap dan perilaku anggota Polri yang masih

berparadigma lama. Di samping itu untuk meningkatkan efektifitas kinerja

reskrim dan mengurangi peyimpangan telah dikeluarkan Peraturan Kapolri

Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan

Perkara Pidana di Lingkungan Polri untuk melengkapi pengawasan melekat

yang dilakukan oleh masing-masing atasan.







Program reformasi birokrasi di Kepolisian Republik Indonesia, yang

SOLUSI



menempuh strategi tiga tahap yaitu membangun kepercayaan publik (trust

building), membangun kemitraan (partnership building) dan tahap mencapaian

keunggulan (stirve for excellence). Sekalipun demikian, pencapaian Polri

tersebut, yang kini telah memasuki tahap membangun kemitraan, dilalui

dengan dalam suasana penuh keprihatinan, mengingat tantangan-tantangan

dan hambatan-hambatan yang timbul karena dinamika sosial masyarakat

yang begitu tinggi.

Kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy) harus

ditempatkan dalam kerangka kebijakan yang lebih luas, sehingga hukum tidak

lagi dapat ditegakkan demi hukum itu sendiri, tetapi harus diorientasikan

dalam pencapaian tujuan-tujuan sosial (social goals). Oleh karena itu,

kebijakan penegakan hukum ditempatkan sebagai bagian kebijakan

pertahanan sosial (social defense policy), sehingga kepekaan penegak hukum

khususnya Polri sebagai pengemban fungsi penyelidikan dan penyidikan

tindak pidana pada umumnya, harus pula memperhatikan dengan cermat

perkembangan-perkembangan sosial kemasyarakatan. Apabila hal ini

diabaikan dapat menghalangi pencapaian tujuan sosial itu sendiri. Penegakan

hukum, khususnya penegakan hukum pidana, kini dibangun dan dilaksanakan

dalam kerangka kebijakan sosial (social policy), yang pokok-pokoknya

telah digariskan oleh founding fathers bangsa Indonesia, dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Kebijakan penegakan hukum yang tidak ditempatkan dalam kerangka

pembangunan kehidupan sosial masyarakat Indonesia akan menjadi kontra

produktif bagi efektifitas hukum. Fenomena akhir-akhir ini terjadi dalam

proses penegakan hukum, seperti kasus Nenek Minah (Banyumas Jateng),

19 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



kasus Kholil dan Basar (Kediri-Jatim), dan kasus-kasus lain seperti kasus Raju

(Sumatera Utara), serta kasus Mbah Priok (Jakarta Utara), yang disinyalir

mengusik nilai-nilai keadilan dalam masyarakat, membuktikan bahwa

penegakan hukum an sich, sekalipun itu benar menurut peraturan perundang-

undangan, justru membawa kepada keadaan merosotnya wibawa hukum,

termasuk diantaranya para penegak hukum. Dengan demikian, diperlukan

reorientasi dalam kebijakan penegakan hukum yang menjadikan situasi

sosial kemasyakarakatan sebagai saringan (discretionary) pelaksanaan tugas

dan kewenangan aparatur penegak hukum, termasuk anggota Polri.

Perlu diingat, pertimbangan “non yuridis” hanya dapat digunakan

dalam hal “pengakhiran” atas “pengurangan hak asasi dan kebebasan

seseorang. Dengan demikian, hal ini dapat diterapkan terhadap penghentian

proses hukum, dan bukan sebaliknya untuk mengadakan proses hukum

terhadap seseorang. Selain itu, pertimbangan “non yuridis” juga tidak dapat

digunakan untuk “mengabaikan” prosedur hukum. Pendekatan ini, nyaris

belum menjadi acuan pelaksanaan reformasi kepolisian.

Masalah di atas semakin rumit dengan kondisi sosial dan politik

saat ini, dimana “accessable” media massa yang yang sangat luar biasa,

kebebasan pers yang nyaris tanpa batas, dan kecenderungan masyarakat

Indonesia yang mengarah pada “cyber minded”, yang memanfaatkan secara

maksimal teknologi informasi dalam setiap aspek kehidupannya. Ditambah

lagi, sikap politisi yang cenderung inkonsistensi, sehingga setiap kondisi

aktual masyarakat “sangat tindak bersahabat” bagi kepolisian. Tentunya hal

ini menjadi suatu tantangan yang harus disikapi secara positif. Maksudnya,

perkembangan yang dapat dinamakan konstelatif antara politik dan hukum,

belum dijadikan faktor pendorong bagi kepolisian untuk introspeksi dan

memperbaiki diri, sehingga tampilan ideal yang diharapkan masyarakat,

dengan sejauh mungkin mempertimbangkan segala hal berhubungan dengan

kepentingan politik pemerintahan dan masyarakat, tanpa mengorbankan

jatidiri kepolisian itu sendiri, menjadi target reformasi kepolisian.

Dalam kerangka ini diperlukan sinkronisasi substansial, yaitu

sinkronisasi dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, dimana

pembentuk undang-undang harus benar-benar memperhatikan kepentingan

rakyat atau memperhatikan kepentingan sebanyak-banyak rakyat Indoneisa.

Dengan demikian, harus dihindari pembuatan peraturan perundang-

undangan apabila masyarakat sendiri tidak membutuhkan atau tidak memiliki

dampak yang cukup berarti di tengah-tengah masyarakat. Mengingat di negara

Indonesia berlaku suatu asas yang menentukan bahwa ketika peraturan

perundang-undangan telah diberlakukan atau diundangkan, maka akan

menjadi ketentuan hukum yang mengikat setiap individu dari setiap warga

negara Indonesia. Hal ini berarti apabila suatu undang-undang diciptakan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 20



atau dibuat oleh pemerintah, otomatis seluruh warga negara Indonesia harus

mentaati dan melaksanakan Undang-undang tersebut karena sifatnya yang

memang mengikat setiap Warga Negara Indonesia. Pembuatan Undang-

undang yang memang harus sinkron dengan kebutuhan dari masyarakat

memang saat ini belum benar-benar terlaksana dengan baik. Pembentukan

undang-undang harus mempunyai landasar filosofis, sosiologis dan yuridis

yang jelas.

Hal lain yang membutuhkan perhatian berkenaan dengan sinkronisasi

substansial adalah pentingnya harmonisasi peraturan perundang-undangan.

Sudah menjadi hal yang tidak terbantahkan lagi adanya berbagai peraturan

perundang-undangan yang tumpang tindih, tidak lengkap dan saling

bertentangan. Bukan hanya dengan peraturan perundang-undangan yang lebih

tinggi tetapi juga di antaraperaturan perundang-undangan yang setingkat.

Lebih memprihatinkan lagi, hal serupa dapat terjadi dengan peraturan

perundang-undangan yang lebih rendah. Harmonisasi juga diperlukan dengan

peraturan perundang-undangan Negara lain dalam satu kawasan atau regional

maupun global, terutama untuk menghadapi kejahatan transnasional yang

semakin mudah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal inilah yang harus di lihat dan diperbaiki, karena apabila hal ini

tetap terjadi, maka bisa dipastikan tidak akan terjalin suatu kerjasama dan

sinkronisasi yang baik antara sub-sub sistem dalam sistem peradilan pidana.

Bukan sebagai obat atau penawar yang bisa memberikan keadilan kepada

masyarakat, malah membuat masyarakat yang menjalankan undang-undang

semakin tidak mendapatkan rasa keadilan. Hal ini dapat berdampak terhadap

semakin menipisnya kepercayaan masyarakat terhadap para pemerintah,

khususnya pembentuk undang-undang. Selain harus sinkron dengan

subsistem yang berada di dalam sinkronisisasi bidang substansi, subsistem

ini juga harus tetap sinkron dengan subsistem yang lainnya, yaitu sub sistem

struktural.

Reformasi birokrasi kepolisian seharusnya bukan hanya ditujukan pada

reformasi organisasi, tetapi juga reformasi paradigma berfikir dan bersikap

bagi setiap anggota Polri, sebagai pelindung dan pelayan masyarakat (to

protect and serve). Paradigma lama yang menempatkan anggota Polri sebagai

alat-alat kepentingan politik tertentu telah ditinggalkan dan menempatkan

politik kenegaraan yang mengayomi dan melayani masyarakat sebagai

ejawantah dari pelaksanaan tujuan nasional, yaitu melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan

bangsa, memajukan kesejarteraan umum dan ikut menjaga ketertiban dunia,

menjadi paradigma baru Polri.

Dalam kerangka pelaksanaan kebijakan penegakan Hukum, posisi

Polri sangat strategis terutama dalam posisinya sebagai gate keepers Sistem

21 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Peradilan Pidana. Cara pandang yang menempatkan Sistem Peradilan Pidana

semata-mata sebagai mekanisme hukum yang tersedia untuk menindak pelaku

kejahatan (represif) juga telah ketinggalan zaman. Tantangan kedepan Sistem

Peradilan Pidana bukan hanya berfungsi represif tetapi juga harus dapat

mencegah berkembanganya fenomena kejahatan sampai dengan batas-batas

yang dapat ditoleransi. Oleh karena itu, Sistem Peradilan Pidana ke depan

harus di-redesign, yang menempatkan Polri bukan saja sebagai gate keepers

Sistem Peradilan Pidana tetapi juga sebagai gaol prevention officers. Apabila

selama ini pendidikan dalam lingkungan Polri dibangun diatas paradigma

penindakan (represif), maka kini dan pada masa yang akan datang paradigma

pendidikan Polri juga diletakkan dalam kerangka pencegahan kejahatan.

Terlebih lagi terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang menimbulkan

dampak yang besar dan meluas dalam masyarakat, seperti Terorism, Human

Trafficking, Illegal Fishing, Logging and Mining, Money Laundering dan Cyber

Crime, yang potensial dapat terjadi dengan melintasi batas-batas Negara

(Transnational Crime).

Dalam pada ini mendesak diadakan sinkronisasi dalam bidang

struktural. Sinkronosasi dalam bidang struktural terutama diperlukan

antara sub sistem peradilan pidana yang satu dan sub sistem berikutnya

yang menangani kejahatan dan pelakunya. Hal ini yang mengharuskan sistem

ini harus benar-benar tersinkronsasi dengan sebagai suatu sistem peradilan

pidana yang untuh dan sinkronisasi juga sangat diperlukan dalam dianatara

komponen-komponen dalam satu subsistem itu sendiri juga. Sinkronisasi

dalam bidang struktural ini adalah subsistem yang menjadi “agen negara”

yang bertindak untuk menciptakan suatu keadilan.

Dalam bidang struktural sistem peradilan pidana, singkronisasi

pertama-tama dituntut diantara Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan

Lembaga Koreksi (Lembaga Pemasyarakatan). Sinkronisiasi dalam bidang

struktural inilah yang menjadi alat dan pelaksana hukum yang melakukan

tindakan terhadap setiap pelanggaran atas peraturan dan tindakan yang

menyalahi undang-undang yang berlaku. Oleh karena itu, antara Sinkronisasi

dalam bidang Substansi dengan Sinkronisasi dalam bidang structural harus

benar-benar terjalin dengan baik, sehingga apabila sebuah peraturan yang

telah diciptakan oleh pemerintah harusnya bersinergi dengan apa yang harus

dilakukan oleh para penegak hukum yang berada dalam sub sistem bidang

struktural.

Kegagalan sinkronisasi antara singkronisasi substansial dan sinkro-

nisiasi struktural dapat berakibat pada terhambatnya pencapaian sistem

peradilan pidana itu sendiri, bahkan dapat membawa sistem mengarah kepada

“sistem ketidakadilan pidana” (Criminal Injustice System) (Fank Belloni,

1999). Hal ini terlihat dari beberapa kejadian dimana pihak Kepolisian dalam

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 22



melakukan pemeriksaan atau penangkapan terhadap Tersangka atau pelaku

kejahatan, selalu menggunakan unsur kekerasan dan bahkan tidak memenuhi

standard atau tidak mengikuti proses sebagaimana mestinya yang diatur

dalam KUHAP. Misalnya saja adanya penarikan uang pada saat melakukan

penangkapan terhadap pelaku-pelaku kejahatan kecil-kecilan, yang hal ini

digunakan agar pelaku tidak perlu ditangkap dan membebaskan pelaku

pada saat itu pula. Bukannya keadilan yang tercapai, malah hal ini dapat

menimbulkan semakin giatnya pelaku yang memberikan uang tersebut untuk

melakukan suatu kejahatan, dikarenakan pelaku kejahatan tersebut merasa

bahwa hanya dengan membayar beberapa rupiah maka pelaku kejahatan ini

akan terbebas dari segala kejahatan yang telah dilakukannya.

Untuk itu, dukungan peraturan perundang-undangan yang memadai

sangat diperlukan dalam rangka dapat menjawab tantangan ini dan

membangun postur kepolisian yang handal, bukan saja menindak pelaku

kejahatan tetapi melindungi segenap masyarakat dengan melakukan deteksi

dini, scienctific investigation, tindakan-tindakan preventif lainnya dan

membangun kemitraan dengan masyarakat, dalam melalukan upaya-upaya

pencegahan kejahatan, sepanjang masih dalam koridor hukum dan peraturan

dan perundang-undangan. Sepatutnya dihindari, campur tangan masalah-

masalah keamanan oleh kekuatan extra judicial, yang pada dasarnya diluar

aparat keamanan.

Kontribusi yang lebih besar dari pemerintah dalam merancang kebijakan

perumusan hukum melalui peraturan perundang-undangan (legal formulation

policy), sehingga pelaksanaan fungsi dan kewenngan Polri dapat terlaksana

dengan baik. Bagaimana pun Polri adalah pelaksana peraturan perundang-

undangan, yang tidak mempunyai domain yang cukup untuk melakukan

perancangannya. Hukum Nasional yang sesuai dengan cita-cita seluruh umat

manusia (yang berkeadilan, menjamin kepastian, dan kemanfaatannya), yang

sesuai dengan tujuan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang menjamin integrasi bangsa, bukan

hanya menjadi suatu cita-cita tetapi diharapkan segera menjadi kenyataan.

Hukum yang adil akan mendorong penegak hukum, termasuk anggota Polri

untuk melaksanakan penegakan hukum secara adil pula. Sebaliknya, sebaik

apapun pelaksanaan kebijakan penegakan hukum, boleh jadi menjadi tidak

adil, karena hukum yang ditegakkkan itu adalah hukum yang tidak adil.

Tugas pokok Polri yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor

2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, adalah

(1) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakatl (2) memberikan

perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat; (3) melakukan

penegakan hukum. Khusus untuk tugas memberikan perlindungan,

pengayoman, pelayanan dan penegakan hukum merupakan satu kesatuan

23 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



yang simultan, karena dalam penegakan hukum juga terkandung kegiatan

perlindungan, pengayoman dan pelayanan. Dengan demikian pelayanan

tidak diartikan dengan kegiatan memberikan pelayanan administrasi semata

tetapi lebih luas dari itu dalam lingkup tugas Polri.

Penegakan hukum yang ideal harus memenuhi tiga nilai dasar

dari hukum yaitu nilai keadilan (gerechtigkeit), nilai kepastian hukum

(rechtssicherheit) dan nilai kemanfaatan (zweckmassigkeit). Baik dalam

tataran teoritis maupun praktis ketiga nilai dasar tersebut seringkali tidak

bisa berjalan secara seimbang. Pemenuhan nilai keadilan, terkadang harus

mengorbankan keadilan dan kemanfaatan, demikian pula pemenuhan nilai

keadilan dan kemanfaatan disatu sisi, pada sisi yang lain bisa berakibat

dikorbankannya nilai kepastian hukum. Prespektif inilah yang membuat

penilaian kalangan tertentu, termasuk pengamat dan LSM yang memberikan

penilaian negatif terhadap penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri,

seperti kasus mbok Minah yang mencuri coklat.

Berkenaan dengan hal di atas, desakan perlunya sinkronisasi kultural

sudah menjadi keharusan. Didalam sub sistem inilah dapat dilihat apakah

setiap keadilan tersebut dapat tercapai atau tidak. Sinkronisasi dalam bidang

struktural adalah sebuah sinkronisasi yang memang harus berasaskan

masyarakat. Karena sinkronisasi dalm bidang struktural ini adalah sinkronisasi

mengenai kultur atau budaya yang ada di dalam masyarakat. Dimana kita

ketahui bersama, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang

majemuk. Masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku, ras dan warna

kulit. Selain itu di dalam masyarakat sendiri sebagian besar memiliki aturan

atau hukum adat masing-masing, yang memang hal ini juga diakui oleh undang-

undang mengenai berlakunya di tengah-tengah masyarakat. Hal inilah yang

mengakibatkan meskipun undang-undang yang diciptakan sedemikian rupa

dan begitu baiknya dan juga meskipun sedemikian rupa kuatnya dan adilnya

penegak hukum menurut pemerintah, namun apabila tidak sinkron dengan

budaya dan adat yang ada dalam masyarakat maka semuanya itu hanya akan

sia-sia. Karena tidak akan ada undang-undang yang menyalahi mengenai adat

yang ada dalam masyarakat. Dalam praktiknya, hal ini juga belum tercapai

sebagaimana yang seharusnya.

Perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan (disclosure)

mengarah pada pembentukan subkultur baru, terutama dalam masyarakat

perkotaan. Informasi tentang upaya penegakan hukum yang “di-blow up”

bukan tidak mungkin berdampak negative dalam pelaksaanaan tujuan

sistem. Sifat masyarakat Indonesia yang “sensitif” terhadap orang yang

digambar “didzolimi” dan mempunyai memori yang pendek (short memory),

yang dengan cepat dan mudah menyebar melalui media massa, jejaring

sosial (facebook, twitter, yahoo massenger), sms, bbm, kerap menjadi kendala

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 24



dalam melakukan penegakan hukum. Belum lagi gejala polling, pengumpulan

opini publik dan berbagai macam survey, jika tidak dikelola secara hati-hati

dapat menyebabkan terhambatnya pelaksanaan penegakan hukum, yang

pada gilirannya akan membuat kegagalan sistem (system failed). Dalam hal ini

sinkronisasi diperlukan dengan segenap lapisan masyarakat, terutama adalah

dengan media massa. Paling tidak sub-sub sistem dalam sistem peradilan

pidana mempunyai sikap yang seragam (koheren) dalam menghadapi

perkembangan ini.

Dalam memberi tanggapan yang rasional dan terorganisasi terhadap

kejahatan, diberdayakan sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal

justice system), yang bertugas melakukan penegakan hukum dan berkeadilan,

sebagaimana yang dicita-citakan dan didambakan oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai suatu sistem, keadaan yang saling interdependensi di antara sub-

sub sistem yang ada didalamnya, menjadi issue penting dan strategis. Ketika

sistem ini digelar secara konkrit, maka idepedensi sub-sub sistem tersebut

merupakan ketergantungan satu sama lain dari lembaga penegak hukum

dan keadilan, yang sebenarnya masing-masing mempunyai tugas pokok dan

fungsi yang berbeda-beda dan secara intern mempunyai fungsi dan tujuan

sendiri-sendiri. Namun demikian masing-masing lembaga penegak hukum

dan keadilan tersebut harus bekerjasama dan terikat pada satu tujuan yang

sama. Kondisi demikian dapat terjadi apabila didukung peraturan perundang-

undangan yang memadai (substansi hukum), stuktur kelembagaan dengan

kewenangan yang komprehensif, dan kesepahaman mengenai pemaknaan

terhadap peraturan perundang-undangan yang senada, yang memungkinkan

seluruh sub-sistem dapat bekerja secara koheren, koordinatif dan integratif.

Ketiadaan kerjasama dan koordinasi antar lembaga penegak hukum dalam

sistem peradilan pidana dapat mengakibatkan terjadinya fragmentasi dalam

penegakan hukum yang muaranya penegakan hukum menjadi tidak efektif.

Instansi atau lembaga penegak hukum yang mendukung sistem

peradilan pidana terpadu, meliputi kepolisian, kejaksaan, peradilan dan

lembaga pemasyarakatan. Polri merupakan salah satu sub-sistem dari sistem

peradilan pidana terpadu yang berada pada garda terdepan penegakan

hukum pidana. Dalam UU No. 2 tahun 2002, Pasal 13 dijelaskan secara tegas

bahwa tugas pokok Polri adalah : a. memelihara keamanan dan ketertiban

masyarakat; b. Menegakkan hukum dan c. memberikan perlindungan,

pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai penegak hukum

pada garis terdepan, Polri mempunyai tugas yang paling berat, karena

berhadapan langsung dengan pelaku kriminal di lapangan dan tidak jarang

aparat Polri justru menjadi korban pelaku kejahatan yang akan ditindak.

Ditangan aparat Polri hukum tersebut hidup dan bekerja, sehingga ada yang

menyatakan, Polri sebagai hukum yang berjalan. Akan tetapi tugas penegakan

25 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



hukum yang dilakukan oleh Polri hanyalah sebatas pada "penyidikan", yang

harus dilanjutkan dengan "penuntutan" oleh kejaksaan, "peradilan" oleh

Hakim pengadilan dan "pemasyarakatan" oleh Lembaga Pemasyarakatan.

Oleh karena itu koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga penegak hukum

dalam sistem peradilan pidana terpadu mutlak diperlukan, sehingga proses

penegakan hukum yang diharapkan oleh masyarakat dapat terwujud.

Namun demikian, perkembangan dewasa ini koordinasi, koherensi

dan integrasi bukan saja diperlukan diantara lembaga-lembaga penegak

hukum, yang “secara tradisional” menjadi sub-sub sistem peradilan pidana

(kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan), tetapi hal

serupa juga diperlukan terhadap lembaga-lembaga penegak hukum lainnya,

dan lembaga-lembaga ekstra judisial juga diperlukan. Cukup banyak lembaga-

lembaga penegak hukum lain yang mempunyai kewenangan penyidikan yang

juga harus dikoordinasikan, dikoherensikan dan diintegrasikan tindakan

dengan sub-sub sistem peradilan pidana, seperti: Komisi Pemberantasan

Korupsi, Perwira Penyidik TNI AL, dan penyidik pegawai negeri sipil lainnya.

Demikian pula lembaga-lembaga ekstra yudial, seperti: Pusat Pelaporan

Analisis dan Transaksi Keuangan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan

lembaga-lembaga Negara dan lembaga pemerintah yang tugasnya dibidang

pengawasan, menjadi penting untuk “duduk satu meja” dengan aparatur

sistem peradilan pidana yang ada selama ini.

CATATAN EVALUATIF REFORMASI

KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA



Moh Jamin3









Reformasi Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia) senafas

Pendahuluan



dengan momentum dipisahkannya Polri secara kelembagaan dari TNI (ABRI).

Reformasi Polri diawali dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) No

2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan dalam Rangka Pemisahan

Polri dan ABRI4, pada April 1999. Inpres tersebut menginstruksikan kepada

Menteri Pertahanan untuk menyiapkan langkah pemisahan Polri dari

angkatan bersenjata. Pada Juli 2000, pemerintah mengeluarkan Keputusan

Presiden No. 89/2000 tentang kedudukan Polri. Keppres ini menyatakan

bahwa Polri berkedudukan langsung di bawah presiden.

Kebijakan tersebut kemudian didukung politik kenegaraan dengan

dikeluarkannya kebijakan berupa TAP MPR No. VI Tahun 2000 Tentang

Pemisahan Polri dan TNI, dan TAP MPR No. VII Tahun 2000 Tentang Peran

Polri dan TNI. Kebijakan ini mengakhiri status Polri di bawah garis komando

ABRI selama Orde Baru.

Terkait dengan peran Polri, BAB II Pasal 2 TAP MPR No. VII Tahun 2000

menyatakan bahwa;

1. Kepolisian negara merupakan alat negara yang berperan dalam

memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum,

memberikan pengayoman, dan perlindungan masyarakat.

2. Dalam menjalankan perannya Polri wajib memiliki keahlian dan

keterampilan professional.

Berdasarkan kedua TAP MPR tersebut kemudian disusun kebijakan

operasional Polri yaitu Undang-undang No 2 Tahun 2002 Tentang Polri

yang merumuskan perubahan paradigma kepolisian dengan harapan dapat

memantapkan kedudukan, peranan serta pelaksanaan tugas Polri.

Dengan pemisahan struktur organisasi dari militer, aparat kepolisian

diharapkan tidak lagi tampil dalam performance dan watak yang militeristik,

3

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

4

Ditinjau dari sisi norma hukum, Inpres ini sebenarnya mengandung debatable, karena bentuk

Inpres tersebut menyalahi hirarki peraturan perundang-undangan. Inpres tdiakd apat mencabut

berlakunya suatu undang-undang (UU No. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Pertahanan dan Keamanan Negara). Baca : Muhammad Fajrul Falaakh, et.all. Implikasi Reposisi

TNI-Polri di Bidang Hukum, Fakultas Hukum UGM, Jogyakarta,2001, hal 263-274.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 28



dan dapat bekerja profesional sebagai aparat kepolisian sipil. Pemisahan

(kemandirian) Polri dari militer bukan merupakan tujuan, tapi sebagai

langkah dimulainya reformasi Polri. Tujuan reformasi kepolisian adalah

membangun kepolisian sipil yang profesional dan akuntabel dalam melayani

masyarakat sesuai dengan menjunjung tinggi norma-norma demokrasi,

menghormati HAM dan hukum internasional lainnya.

Selanjutnya dalam rangka reformasi kepolisian, Polri telah menyusun

Renstra Polri 25 Tahun sebagai arah dan pedoman. Isi dari Renstra tersebut

adalah:5

1. Rencana jangka pendek (2005-2010): membangun kepercayaan (trust



2. Rencana jangka menengah (2011-2015): membangun kemitraan/jaringan

building).



(partnership/networking)

3. Rencana jangka panjang (2016-2025): meraih keunggulan (strive for



Berdasarkan Renstra tersebut saat ini reformasi Polri baru berada

excellence).



dalam tahap membangun kepercayaan (trust) dari masyarakat yang pada

masa sebelumnya dinilai masih sangat minim, jika tidak dikatakan telah hilang.

Kepercayaan ini diharapkan akan menjadi modal menuju rencana startegis

jangka menengah dan jangka panjang. Tanpa kepercayaan masyarakat

mustahil reformasi kepolisian akan berhasil.

Pada saat ini reformasi kepolisian telah berjalan lebih dari satu

dasawarsa. Sudah saatnya jika dilakukan kontemplasi dan evaluasi terhadap

perjalanan reformasi kepolisian sebagai garda terdepan dalam rangkaian

proses penegakan hukum sekaligus sebagai aparat pelindung dan pengayom

masyarakat. Tulisan ini mencoba untuk memberikan catatan evaluatif

tersebut sebagai kontribusi dan kecintaan terhadap aparat berseragam

cokelat tersebut.





Reformasi polisi dapat didefinisikan sebagai transformasi organisasi

Urgensi Reformasi Kepolisan



kepolisian agar lebih profesional dan akuntabel dalam memberikan pelayanan,

tanggap dalam merespon ancaman, serta responsif dalam memahami

kebutuhan masyarakat.6 Proses reformasi ini merupakan transformasi

kepolisian menuju visi Polri yaitu “Terwujudnya postur Polri yang profesional,

bermoral dan modern sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat

yang terpercaya dalam melindungi masyarakat dan menegakkan hukum”.

5

Bambang Widodo Umar. Reformasi Kepolisian Republik Indonesia, Panduan Pelatihan Tata

Kelola Sektor Keamanan untuk Organisasi Masyarakat Sipil : Sebuah Toolkit, IDSPS, DCAF,

Jakarta. 2009. halaman 3.

6

Ibid. hal 2.

29 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Mengapa reformasi kepolisian penting dilakukan ? Paling tidak ada

beberapa faktor yang dapat menjadi argumen, antara lain7 :

1. Polri berada dalam posisi yang lemah karena selama masa orde baru

menjadi subordinasi satu institusi militer yang secara prinsipiil memiliki

watak dan fungsi yang bertentangan dengan kepolisian sebagai institusi

sipil.

2. Penggabungan Polri dan TNI juga berimplikasi pada tidak profesionalnya

Polri karena terjadinya tumpang tindih peran, tugas dan fungsi TNI

sebagai kekuatan pertahanan dengan Polri sebagai kekuatan keamanan

dalam negeri dan ketertiban di bawah ABRI.

3. Penggabungan Polri dan TNI telah membentuk kultur Polri yang

militeristik tertanam dalam sistem pendidikan dan manajemen Polri,

sehingga mengakibatkan kerentanan terlibat dalam pelanggaran hukum

dan HAM.

4. Polri juga kehilangan kepercayaan dari masyarakat karena bertindak

represif, melanggar hukum dan HAM sebagaimana TNI.

Selain itu, reformasi menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan

dan menuntut pergeseran perspektif di dalam tubuh polisi karena adanya

pergeseran orientasi negara (state) kepada masyarakat (society)8. Sejalan

dengan itu terjadinya transformasi politik dari otoritarianisme ke demokrasi

sehingga memaksa institusi kepolisian untuk ikut berubah dengan mengadopsi

nilai-nilai demokrasi. Di sisi lain, terjadi perubahan dan perkembangan

lingkungan strategis sehingga polisi dituntut untuk mengubah cara pandang,

organisasi, teknis operasional dan lain-lain sejalan dengan perubahan yang

terjadi. Perubahan ini hanya dapat terjadi melalui apa yang disebut sebagai

reformasi kepolisian.

Program Reformasi Kepolisian Dalam Kewenangannya di Bidang

Penegakan Hukum

Secara internal Polri mengartikan pemisahan dari militer tersebut

sebagai upaya pemandirian Polri dengan melakukan perubahan pada 3 (tiga)

aspek;

1. Aspek Struktural: Meliputi perubahan kelembagaan kepolisian dalam

ketatanegaraan, organisasi, susunan dan kedudukan.

2. Aspek Instrumental: Mencakup filosofi (visi, misi dan tujuan), doktrin,

kewenangan, kompetensi, kemampuan fungsi dan Iptek.

3. Aspek kultural: Meliputi perubahan manajerial, sistem rekrutmen, sistem

pendidikan, sistem material fasilitas dan jasa, sistem anggaran, dan

sistem operasional.

7

Ibid, 4.

8

Muhammad Fajrul Falaakh, et.all.Loc.cit.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 30



Kehendak melakukan reformasi kepolisian mendapat kerangka acuan

normatif dengan dikeluarkannya UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri, pada

Januari 2009. Realisasi dari keluarnya UU No. 2/2002, Polri mengeluarkan

sejumlah kebijakan yaitu:9

1. Meredefinisi jati diri Polri.

2. Membangun kemandirian Polri.

3. Membenahi doktrin Tri Barata dan Catur Prasetya.

4. Mengubah bentuk dari general staff system menjadi modifed directory

staff system dan membenahi lembaga pendidikan

5. Merevisi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tugas-tugas

kepolisian

6. Rasionalisasi dan de-otorisasi anggaran Polri.

7. Menetapkan Polda sebagai kesatuan induk penuh

8. Membenahi polisi berseragam dan tidak berseragam

9. Melikuidasi satuan Brimob.

10. Membenahi lagu dan lambang Polri.

11. Mengurangi kegiatan upacara dan seremonial.

12. Membangun makam kehormatan anggota Polri sebagai usaha pemuliaan

profesi

Program reformasi kepolisian dalam konteks kewenangannya di

bidang penegakan hukum (law enforcement) hingga saat ini belum tampak ada

kejelasan. Hal ini tidak terlepas dari UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian

yang lebih banyak mengatur Polri sebagai organisasi, dan sangat minimal

mengatur tentang fungsi10, terutama sebagai penegak hukum. Seharusnya

undang-undang ini mengatur fungsi polisi secara memadai, jadi tidak hanya

tentang organisasi Polri akan tetapi juga fungsi-fungsi kepolisian lainnya.

Secara khusus perlu pengaturan yang reformatif tentang fungsi, peran, lingkup

tugas dan mekanisme wewenang kepolisian dalam penegakan hukum dan

pembina kamtibmas; pengorganisasian dan kedudukan kepolisian; kode etik

polisi; peralatan polisi; sumber pendanaan polisi; serta lembaga pengawas

tugas-tugas kepolisian. Ke depan undang-undang kepolisian perlu direvisi

agar peran penegakan hukum bagi polisi lebih ditekankan ketimbang peran

“pengamanan”.

Dalam desain prosedur sistem peradilan pidana Indonesia, kepolisian

adalah lembaga dan institusi terdepan dalam penegakan hukum di samping

lembaga penegakan hukum lainnya sehingga secara eksplisit verbis manakala

9

Bambang Widodo Umar, “Dampak dari Aturan Legal dan Kebijakan Domestik terhadap

Reformasi Polri” di dalam Beni Sukadis & Eric Hendra (ed.), Perjalanan Reformasi Sektor

Keamanan Indonesia (Jakarta: Lesperssi, IDSPS, HRWG & DCAF, 2008), hal. 68.

10

Berdasar Pasal 2 UU No. 2 Tahun 2002 : “Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi

pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat,

penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”.

31 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



terjadi kekecewaan masyarakat dalam penegakan hukum maka kepolisianlah

yang pertama kali mendapat sorotan dari masyarakat.

Reposisi Polri berimplikasi di bidang penegakan hukum yang

menghendaki adanya kemandirian dalam sistem penyidikan pidana11, hal

ini juga dipertegas dengan Misi Polri yang angka 5 (lima) yang menyatakan

: Menegakkan hukum secara profesional dan obyektif, proporsional,

transparan dan akuntabel untuk menjamin adanya kepastian hukum dan rasa

keadilan.12

Dalam kenyataannya program reformasi di bidang penegakan

hukum ini belum menampakkan hasil yang memadai. Masih banyak terjadi

penyimpangan yang dilakukan polisi sebagai penyidik yang berakibat proses

penegakan hukum tidak obyektif dan jauh dari rasa keadilan. Kasus-kasus

penyimpangan prosedur penangguhan penahanan, rekayasa penanganan/

penindakan kasus illegal logging, penyimpangan terhadap penyidikan

kecelakaan lalu lintas, penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti

dengan jaminan uang, penggunaan kekerasan terhadap tersangka yang tak

berdaya, rekayasa alat bukti13, dan sebagainya.

Reformasi dalam kewenangan sebagai penegak hukum seharusnya

juga diarahkan agar polisi tidak hanya hanya memahami pendekatan normatif

saja. Justru pendekatan normatif yang terlalu kaku oleh polisi selama

ini berpotensi berbenturan dengan fungsi polisi sebagai pelindung dan

pengayom masyarakat. Mungkin ada baiknya Polri sebagai penegak hukum

belajar tentang hukum progresif14 yang dalam hal tertentu, secara terukur

polisi dapat membuat diksresi dan kebijaksanaan dalam menegakkan hukum

(seperti menahan/tidak menahan) untuk memberikan keadilan kepada

masyarakat.

Harus dipahami bahwa tidak semua bentuk pelanggaran hukum tidak

harus bermuara ke pengadilan, terutama untuk kasus kecil yang melibatkan

kelompok rentan dan marginal. Pendekatan normatif positifistik tidak akan

memberi ruang yang cukup bagi satuan bawah kepolisian untuk melakukan

inovasi sesuai kondisi masyarakat lokal, hal ini berakibat tidak banyak

11

Lihat : tiga kategori perubahan Polri, Bambang Widodo Umar, Op.cit, hal. 5.

12

Baca Makalah Akselerasi Transformasi Polisi Menuju Polri Yang Mandiri, Profesional Dan

Dipercaya Masyarakat, “Pokok - Pokok Pikiran Dalam Rangka Fit & Proper Test Calon Kapolri

2009” Komjen Pol Drs. H. Bambang Hendarso Danuri, MM, Jakarta, 22 September 2009.

13

Kasus mutakhir tentang hal ini tampak dalam perkara dugaan penyuapan pimpinan Komisi

Pemberantasan Korupsi oleh Anggodo Widjojo. Dalam hal ini, Kapolri (Jenderal Polisi BHD)

menjadi sasaran langsung kecaman karena tak bisa menunjukkan bukti rekaman percakapan

antara Ade Rahardja, salah seorang deputi Komisi, dan Ary Muladi, pengusaha yang diduga

makelar kasus. Kapolri bersikukuh mengatakan rekaman itu ada di tangannya, padahal

belakangan polisi gagal memperdengarkannya di pengadilan dan akhirnya mengakui rekaman

itu tak pernah ada (SOLOPOS, 23/8/2010).

14

Satjipto Raharjo, “Hukum Progresif (Penjelajahan Suata Gagasan)”, Newsletter No. 59 Desember

2004, Pusat Pengkajian Hukum, Jakarta. Halaman 1-7.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 32



didayagunakannya kearifan lokal untuk menyelesaikan berbagai kasus yang

terjadi di masyarakat. Pendekatan kearifan lokal sangat diperlukan di tengah

masyarakat yang acapkali memaksakan diri menggunakan cara-cara hukum

negara (state law) untuk menyelesaikan masalah yang notabene akan lebih

efektif diselesaikan dengan pendekatan masyarakat lokal.



Evaluasi Ketepatan Langkah yang Diambil Dalam Rangka



Langkah-langkah yang telah dilakukan Polri dalam mereformasi diri

Reformasi Kepolisian



dalam banyak hal masih jauh dari harapan. Kondisi ini mengindikasikan

bahwa langkah yang diambil Polri belum tepat dan kurang memiliki nilai

strategis. Hal ini antara lain dikarenakan adanya kecenderungan untuk lebih

mengedepankan simbol-simbol daripada langkah strategis yang berdampak

pada reformasi yang bersifat substantif.

Langkah reformasi dengan melakukan perubahan sebutan kepangkatan

personil Polri dengan menggunakan peristilahan yang dicoba untuk disipilkan

dan dijauhkan dari peristilah kepangkatan dalam militer,15 sebenarnya cukup

baik. Sayangnya, perubahan yang sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang

lalu ini belum diikuti perubahan kultur dan perilaku anggota Polri dari nilai

militerisme ke nilai sipil. Demikian juga dengan langkah untuk membangun

“makam kehormatan Polri” yang konon dilandasi pemikiran untuk pemuliaan

profesi polisi16, atau langkah membenahi lagu dan lambang Polri yang masuk

dalam kebijakan reformasi kepolisian, hal ini menunjukkan adanya langkah

yang hanya bersifat simbolis yang kurang memiliki nilai strategis.

Pada sisi lain langkah kebijakan pada aspek kultural belum banyak

mendapat porsi yang memadai sehingga belum menampakkan perubahan

yang signifikan. Seharusnya, reformasi diarahkan kepada perubahan sikap

mental yang selama ini masih ada kesan militeristis ke arah polisi sipil yang

lebih menekankan pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat, tanpa

mengurangi profesionalisme. Reformasi kepolisian memang akan banyak

memakan korban terutama dari anggota polisi yang terbiasa bertindak

tidak sesuai dengan code of conduct atau tidak professional. Ibaratnya,

mengamputasi tubuh yang tidak berguna lebih bermanfaat daripada

mengoperasi secara parsial.

Dari aspek kultural, jelas Polri masih berusaha mencari jati diri sebagai

“polisi sipil” (civilian police). Dengan kata lain sasaran yang ditetapkan dan

yang telah dicapai sangat mungkin kurang tepat untuk membangun budaya

polisi sipil. Sangat mungkin perubahan filosofi dan tata-nilai Polri itu lebih

bersifat sloganistis, belum diterjemahkan dalam program operasional.

15

Selengkapnya baca dalam Surat Keputusan Kapolri No. Pol : Skep/1259/X/2000.

16

Bambang Widodo Umar, op.cit, halaman 5.

33 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dari aspek reformasi SDM misalnya, masalah makelar kasus (markus)

dalam tubuh kepolisian telah banyak mengorbankan integritas lembaga

kepolisian, demikian pula dalam hal dugaan rekening yang dimiliki beberapa

perwira tinggi di kepolisian. Peristiwa itu membukakan mata masyarakat

bahwa di lembaga Polri ada masalah walaupun oleh Kapolri dianggap sebagai

masalah kecil. Sayangnya dalam penyelesaian persoalan di tubuh Polri selalu

saja tidak pernah dituntaskan, bersifat tambal sulam dan terkesan ingin

ditutupi, sehingga masyarakat akan menganggap kepolisian tidak serius

mereformasi diri.





Secara jujur harus dikatakan bahwa capaian reformasi kepolisian

Evaluasi Capaian Reformasi Kepolisian



masih jauh dari yang diharapkan. Lembaga kepolisian belum sepenuhnya

mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Seringkali masyarakat (pelapor)

merasa tidak nyaman bila berhubungan dengan lembaga kepolisian karena

proses yang berbelit-belit, makan waktu yang lama, dan membutuhkan biaya

yang tidak sedikit. Pandangan bahwa "melapor kehilangan ayam malah

kehilangan kambing", sampai saat ini masih melekat di sebagian masyarakat.

Sementara dari kinerja penyidikan masih banyak hasil penyidikan yang

dibantah oleh terlapor ketika berperkara di pengadilan karena proses

investigasi diwarnai intimidasi dan penyiksaan.

Peningkatan kepercayaan (trust) masyarakat yang menjadi target

Renstra Polri 2005-2010 masih menjadi impian. Walaupun setiap tahun

anggaran yang diterima kepolisian rata-rata mengalami peningkatan namun

kinerja kepolisian masih sering dikeluhkan. Sebagai contoh pada tahun 2009

kinerja kepolisian menduduki peringkat pertama yang paling dikeluhkan

masyarakat berdasarkan laporan akhir tahun yang dirilis Ombudsman. Dari

1244 laporan masyarakat mengenai kurangnya kinerja institusi negara yang

masuk Ombudsman, sebanyak 30,73% ditujukan pada kinerja kepolisian.

Persoalan perilaku Polri perlu mendapat kritik dimana organisasi

ini dipandang belumlah profesional dan bebas korupsi. Budaya korupsi di

tingkat kepolisian terjadi mulai dari tingkat yang paling rendah seperti dalam

pengurusan SIM, STNK, dan lain-lain, hingga ke tingkat paling tinggi seperti

penanganan kasus kejahatan. Penelitian yang dilakukan oleh Perguruan

Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) menunjukkan bahwa perilaku korupsi, kolusi,

dan nepotisme (KKN) dalam tubuh POLRI terjadi di hampir semua lini/

satuan organisasi kepolisian. Perilaku KKN dalam institusi Polri terjadi

dalam berbagai bentuk di enam satuan organisasi, yaitu reserse kriminal,

intelijen keamanan, samapta, lalu lintas, personil, dan logistik.17 Pada tingkat

17

Uraian deskripsi korupsi dalam Polri dapat dibaca selengkapnya dalam : Bambang Widodo

Umar, Opcit, hal.12.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 34



penyidikan setidaknya terdapat 7 (tujuh) bentuk penyalahgunaan wewenang

oleh polisi.18

Sekalipun harus diakui terdapat beberapa perbaikan dalam sistem

perektrutan anggota kepolisian yang lebih transparan dan objektif. Perbaikan

terhadap pelayanan publik seperti mobil SIM keliling juga sudah dapat

dinikmati masyarakat di beberapa daerah.

Sekalipun pimpinan Polri telah bertekad melakukan langkah

reformasi 19, namun langkah reformasi yang telah dilakukan tidak serta

merta mengubah pandangan publik terhadap Polri. Publik belum percaya

sepenuhnya kepada Polri karena institusi ini dilihat masih mewarisi watak

militeristik dengan citra “having force and power”. Pandangan ini seiring

dengan masih munculnya kasus kekerasan, pelanggaran HAM, serta belum

adanya penegakan hukum yang berkeadilan dan akuntabel atas pelanggaran-

pelanggaran yang melibatkan aparat Polri.

Ketidak percayaan publik terhadap Polri diperparah dengan temuan

kasus penegakan hukum yang mengedepankan pendekatan represif tanpa

mempertimbangkan nilai keadilan.20 Dengan dalih bahwa sekecil apapun

kasus pidana, sepanjang bukti dan unsur-unsurnya terpenuhi penyidik Polri

sah saja melakukan penahanan dan melimpahkan perkara ke Kejaksaan. Hal

ini dilakukan untuk memberikan efek jera dan demi menegakkan hukum.21

Sebenarnya hal tersebut tidak akan terlalu jadi problem jika Polri juga

menunjukkan ketegasan yang sama terhadap pelaku pidana kelas kakap

atau koruptor. Masalahnya, selama ini terdapat diskriminasi yang mencolok

sehingga melukai rasa keadilan yang harus diwujudkan oleh polisi sebagai

penegak hukum.

Reformasi Polri yang menempatkan kedudukan Polri di bawah

Presiden juga menjadi kontroversi. Dari sudut pandang Polri kedudukan ini

mendorong independensi dan otonomi Polri, yang menjamin profesionalisme.

Namun posisi Polri dikhawatirkan mendorong institusi kepolisian memasuki

wilayah politisasi Presiden. Hal ini sangat mudah dilihat misalnya dalam tarik

ulur pencalonan kapolri Komjen Pol Timur Pradopo.22



18

Komisi Hukum Nasional RI, Kebijakan Reformasi Hukum : Suatu Rekomendasi, Jilid II, Jakarta,

2007, halaman 138-142.

19

Bambang Hendarso Danuri, op.cit.

20

Kasus penahanan Prita Mulyasari, penahanan pencuri kapuk randu, penahanan pencuri

cacao, penahanan pencuri 6 buah piring dan sebungkus sop buntut, dan kasus-kasus lain yang

menunjukkan ketegasan dan sikap represif polisi terhadap orang-orang lemah.

21

Keterangan Kabid Humas Polda Metro Kombes Boy Rafli Amar dalam menanggapi sorotan

penahanan terhadap Rasmiah (Seputar Indonesia, 15 Oktober 2010).

22

Beberapa pengamat menilai pencalonan Kapolri Timur Pradopo sangat dipaksakan, terutama

dengan persyaratan kepangkatan yang beitu cepatnya kenaikan pangkat dari bintang dua ke

bintang tiga, kemudian dipromosikan sebagai Kapolri. Suara Media, Sabtu, 09 Oktober 2010.

35 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Sesuai dengan prinsip demokrasi, seharusnya reformasi Polri

ditujukan untuk membangun perpolisian yang mempunyai karakter

sipil, berdasar pada norma demokrasi yaitu keterbukaan (openness) dan

akuntabilitas (accountability). Keterbukaan berarti polisi adalah bagian dari

masyarakat, berintegrasi dengan masyarakat dan memiliki hak yang sama

sebagai warga negara. Polisi adalah mitra sejajar masyarakat dalam melawan

tindak kriminal dan tidak diskriminatif terhadap kelompok tertentu baik

dalam kepolisian maupun dalam pelaksanaan tugasnya, dan polisi adalah

institusi sipil yang profesional. Akuntabilitas artinya polisi harus dapat

mempertanggungjawabkan semua perilakunya secara hukum, meminimalisir

pelanggaran HAM. Begitupun dalam konteks anggaran, polisi harus dapat

mempertanggungjawabkan penggunaan anggarannya kepada masyarakat

dan pemerintah.



Hambatan Kepolisian Dalam Melakukan reformasi Dan



Reformasi Polri yang dicanangkan lebih sepuluh tahun lalu, dan

Pemecahannya



dirumuskan dalam Blue Paper yang berjudul Reformasi Menuju Polri Yang

Profesional belum mampu diejahwantahkan dalam operasional Polri. Banyak

permasalahan yang masih dihadapi Polri diantaranya kebijakan politik

yang kurang mendukung, juga perubahan paradigmatik di tubuh Polri tidak

berjalan dengan baik.

Hambatan dalam reformasi kepolisian itu dapat di jabarkan lagi antara

lain;

Pertama, kondisi di internal Polri sendiri nampak masih mengalami

kejengahan antara belum terkikisnya paradigma dan budaya militer dalam

organisasi, dengan trauma reposisi yang masih membayanginya.

Kedua, keberadaan Polri langsung di bawah presiden, menyebabkan

Polri memposisikan diri sebagai lembaga yang memproduksi kebijakan, dan

operasionalnyasekaligus. Kedudukan Polri ini digugat banyak pihak karena

menimbulkan kekuatiran adanya politisasi.

Ketiga, kendala anggaran yang belum memadai.23 Hal ini menyebabkan

polri mencari anggarannya sendiri dan hal ini di dukung oleh UU Polri dimana

tidak secara eksplisit menegaskan anggaran Polri berasal dari APBN, kecuali

anggaran untuk Komisi Kepolisian Nasional. Dapat diduga sumber anggaran

off-budget dari pos masyarakat menjadi titik lemah dalam akuntabilitas dan

transparansi.





23

Ali Budiarjo, Nugoroho, Reksodiputro, Reformasi Hukum di Indonesia, World Bank Project-PT

Siber Konsultan, Jakarta, 1999, halaman 73.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 36



Keempat, aspek integritas dari jajaran pimpinan hingga anggota Polri.

Aspek integritas ini meliputi kelemahan dalam hal kejujuran, ketidaktaatan

terhadap code of conduct, banyaknya pelanggaran disiplin anggota, dan

sebagainya.24

Kelima, aspek profesionalisme yang masih di bawah standar. Hal ini

menyangkut kurangnya kompetensi anggota Polri di bidang penagakan

hukum dan terbaatsnya sarana prasarana, manajemen SDM yang belum

berjalan efektif, dan sebagainya.

Keenam, kurangnya aspek keteladanan dari lapis pimpinan. Sebagai

besar pimpinan Polri belum bisa menjadi panutan baik menyangkut

konsistensi, kejujuran, kesederhanaan, sikap tegas, berjiwa besar, dan sikap-

sikap yang seharusnya dimiliki sebagai panutan.25

Ketujuh, rasio perbandingan jumlah anggota Polri dengan jumlah

penduduk. Saat ini rasio anggota Polri dengan masyarakat masih berkisar

antara 1:750 hingga 1: 1000. sedangkan menurut PBB idealnya 1:350. Rasio

perbandingan yang tidak ideal ini menyulitkan Polri dalam menjalankan

tugas, khususnya pada Pemolisian Masyarakat (Community Policing) dan

Babinkamtibmas.

Terhadap permasalahan di atas menuntut adanya pemecahan agar

institusi Polri berjalan pada rel reformasi yang benar. Langkah yang bisa di

ambil diantara lain;

Pertama, menghilangkan trauma masa lalu Polri di bawah saudara tua

(TNI) yang membayangi langkah Polri dalam menata kelembagaannya.

Kedua, membangun kepemimpinan Polri yang kuat dan independen.

Pada negara demokratis, posisi polisi selalu berada dalam bentuk

penyelenggara operasional, apakah di bawah departemen terkait, membentuk

departemen sendiri, atau membuat kementerian yang khusus mengurusi

masalah keamanan dalam negeri. Hal ini akan mempertegas kemandirian

Polri. Dengan berada di dalam departemen sendiri, intervensi presiden dapat

tersaring, sehingga tidak akan mengganggu konsolidasi internal Polri.

Ketiga, mengubah budaya negatif Polri menjadi budaya organisasi yang

poisitif sekaligus menciptakan budaya organisasi Polri yang kuat, unggul dan

spesifik guna memenuhi tuntutan profesionalisme Polri di masa datang.

24

Suwarni, Perilaku Polisi, Studi Atas Budaya Organisasi dan Pola Komunikasi, Nusa Media,

Bandung, 2009. halaman 249-250.

25

Kasus Ketidakhadiran dan “menghilangnya” orang nomor satu Kepolisian RI itu untuk melantik

sejumlah pejabat baru polisi belum lama ini, merupakan contoh mutakhir sikap pimpinan Polri

yang tidak jujur dan transparan. Simpang-siurnya penjelasan tentang menghilangnya Bambang

bukanlah semata-mata bukti polisi tak mampu berkomunikasi dengan baik secara internal

maupun eksternal. Tapi dari kejadian itu orang juga bisa mengendus ketidakberesan yang lebih

genting. Kabarnya, pada hari dia menghilang, Bambang dipanggil dan ditegur Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono soal rencana pelantikan para pejabat baru yang tidak mencerminkan

semangat perubahan untuk menjadi lebih baik itu (Koran Tempo, 23 Agustus 2010).

37 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Keempat, meningkatkan profesionalisme melalui pembenahan SDM

Polri. Pembenahan SDM berhubungan dengan kualitas dan mentalitas anggota.

Pembenahan ini harus dimulai sejak rekrutmen, kurikulum pendidikan,

penempatan, kesejahteraan, pembinaan melalui reward and punishment dan

sebagainya.







Berdasarkan Rencana Strategis Kepolisian Indonesia, seharusnya

Langkah Reformasi Yang Harus Dilakukan



tahap membangun kepercayaan publik (trust building) sudah selesai.

Kepolisian mulai tahun 2010 hingga 2013 seharusnya sudah berada di tahap

membangun kemitraan (partnership building) baik dengan masyarakat secara

umum, TNI, pemerintah dan DPR, serta media. Untuk mengakselerasi capain

itu dan drangka mencapai tujuan reformasi terdapat sejumlah langkah yang

harus dilakukan agar progress dapat berjalan sesuai harapan.

Reformasi memerlukan langkah dan kebijakan yang progresif dan

bahkan radikal untuk dapat ke luar dari rutinitas dan sikap konservatif

yang cenderung telah menjadi mainstream dalam organisasi kepolisian.

Keberhasilan reformasi menuntut langkah dan kebijakan radikal dan bukan

sekedar langkah konvensional. Diperlukan langkah terobosan yang strategis

untuk mencapai tujuan reformasi kepolisian.

Agar perubahan yang signifikan itu dapat terjadi diperlukan political

will yang kuat dari pucuk pimpinan Polri agar secara konsisten menggerakkan

refomasi di seluruh jajarannya. Dengan sistem kepolisian yang bersifat

nasional, dimana semua kebijakan dan sistem penganggaran bersifat

sentralistik maka political will yang kuat akan sangat berperan dalam proses

reformasi kepolsian.

Harus ada jaminan bahwa setiap terjadi pergantian pimpinan

Polri akan konsisten melanjutkan langkah-langkah reformasi yang telah

ditetapkan sesuai blue print dan Renstra Kepolisian untuk memastikan

bahwa sustainability program tetap terjaga. Jangan sampai setiap pergantian

pimpinan Polri membuat kebijakan yang tidak konsisten dengan kebijakan

sebelumnya.

Seharusnya langkah reformasi tidak terjebak pada hal-hal yang hanya

bersifat seremonial, sloganistik, simbol-simbol, atau hanya bersifat fisik.

Reformasi harus dimulai dengan merubah mind set dan cultural set agar terjadi

perubahan paradigmatik dan berada pada ranah strategis, yang diharapkan

dapat menjadi energi yang menggerakkan reformasi. Kurangnya pembangunan

kualitas SDM terutama dari sisi moral, etika, dedikasi polisi sebagai penegak

hukum sekaligus pengayom masyarakat akan menghambat reformasi, karena

kualitas SDM merupakan kata kunci keberhasilan reformasi.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 38



Instrumen yang baik saja tidak cukup untuk membuat kepolisian menjadi

lebih baik. Tetap menjadi yang terpenting adalah SDM yang baik, berkualitas

dan kompeten. Sejelek apapun instrumennya kalo yang menjalankan adalah

orang yang benar maka semuanya akan terlaksana dengan baik, sebaliknya

sebagus apapun insrumen tersebut bila yang menjalankannya adalah orang

yang tidak baik, berkualitas dan kompeten maka semuanya akan berjalan

dengan tidak baik.







Reformasi Polri yang telah berjalan lebih sari satu dasawarsa belum

Penutup



membawa perubahan dan hasil yang optimal. Masih banyak pekerjaan rumah

yang harus diselesaikan internal lemnbaga kepolisian. Permasalahan institusi

kepolisian semakin serius jika tahap membangun kepercayaan publik belum

ditangani dengan baik tetapi sudah beranjak ke tahap reformasi berikutnya.

Diperlukan updating kebijakan dan regulasi secara terus-menerus

untuk meningkatkan profesionalisme Polri. Penambahan personal untuk

memperbaiki rasio polisi tetap diperlukan, tetapi yang tidak kalah penting

adalah kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat harus lebih baik.

Indikatornya adalah masyarakat merasa nyaman berhubungan dengan

polisi.

Reformasi kepolisian menyangkut banyak faktor yang terkait dan

saling mempengaruhi. Instituís kepolisian sendiri sesungguhnya mempunyai

keinginan untuk tampil sebagai polisi idaman. Namun, perlu diingat bahwa

semuanya tidak hanya terletak dalam diri para polisi saja, sebagian besar

faktornya berada di luar kaum polisi itu sendiri. Polisi tidak mungkin dapat

mewujudkan kinerjanya dengan optimal tanpa dukungan dari pihak lain

termasuk pemerintah dan masyarakat luas. Kinerja polisi sangat ditentukan

oleh sikap positif dari masyarakat, hal ini yang sampai saat ini mungkin

belum dirasakan oleh polisi.

Kepolisian adalah salah satu unsur yang penting dalam penegakan

hukum di negara kita tercinta ini. Lembaga Kepolisian yang profesional,

transparan, dan akuntabel tentunya adalah merupakan suatu lembaga

kepolisian yang ideal dan diidam-idamkan oleh masyarakat







Ali Budiarjo, Nugroho, Reksodiputro, Reformasi Hukum di Indonesia, World

Daftar Pustaka



Bank Project-PT Siber Konsultan, Jakarta, 1999

Bambang Hendarso Danuri, Makalah Akselerasi Transformasi Polisi Menuju

Polri Yang Mandiri, Profesional Dan Dipercaya Masyarakat, "Pokok -

39 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pokok Pikiran Dalam Rangka Fit & Proper Test Calon Kapolri 2009", 22

September 2009.

Bambang Widodo Umar, “Dampak dari Aturan Legal dan Kebijakan Domestik

terhadap Reformasi Polri” di dalam Beni Sukadis & Eric Hendra (ed.),

Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia (Jakarta: Lesperssi,

IDSPS, HRWG & DCAF, 2008).

----------------. Reformasi Kepolisian Republik Indonesia, Panduan Pelatihan Tata



Toolkit, IDSPS, DCAF, Jakarta. 2009.

Kelola Sektor Keamanan untuk Organisasi Masyarakat Sipil : Sebuah



Komisi Hukum Nasional RI, Kebijakan Reformasi Hukum : Suatu Rekomendasi,

Jilid II, Jakarta, 2007

Muhammad Fajrul Falaakh, et.all. Implikasi Reposisi TNI-Polri di Bidang

Hukum, Fakultas Hukum UGM, Jogyakarta, 2001.

Satjipto Raharjo, “Hukum Progresif (Penjelajahan Suatu Gagasan)”, Newsletter

No. 59 Desember 2004, Pusat Pengkajian Hukum, Jakarta, 2004.

Suwarni, Perilaku Polisi, Studi Atas Budaya Organisasi dan Pola Komunikasi,

Nusa Media, Bandung, 2009.

Koran Tempo, 23 Agustus 2010.

SOLOPOS, 23 Agustus 2010.

Suara Media, Sabtu, 09 Oktober 2010.

PENGUATAN SISTEM PEMBATASAN

KEKUASAAN KEPOLISIAN NEGARA

REPUBLIK INDONESIA





Naharuddin Abdul Ghany26









Salah satu kemajuan penting dapat diamati dalam reformasi sistem

Issue Pokok Pembaharuan Kepolisian Pasca Reformasi



ketatanegaraan di indonesia adalah restrukturisasi, penataan baru struktur

kelembagaan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Restrukturisasi di atas

ditandai dengan penguatan lembaga kepolisian sebagai lembaga negara

yang independen dan netral, keberadaannya dipisahkan dari kekuasaan

Tentara Nasional Indonesia (TNI) seperti pernah dipraktekan dalam periode

pemerintahan orde baru.

Penguatan independensi POLRI tersebut memiliki makna penting

selain untuk menetralkan kekuasaan kepolisian dari rekayasa dan sebagai

alat politik, tetapi juga penting untuk menjinakan karakter personil polri

dari watak militeristik menjadi berwatak sipil. Pengalaman sebelumnya yang

mensubordinasikan institusi POLRI dibawah bagian institusi ABRI,sehingga

dalam prakteknya memunculkan sosok POLRI yang otoritarian, represif dan

militeristik, dan tidak tampil sebagai institusi yang mengayomi masyarakat

sipil dan pro publik.

Bertolak dari kesadaran inilah maka kedepan dalam proses evaluasi

reformasi kepolisian yang berjalan selama 10 tahun lebih pasca reformasi

mesti diarahkan,digagas untuk mendesain kembali struktur kelembagaan

dan otoritas kepolisian serta sistem pembatasannya. Ketiga tema inilah,

(yakni review dan kritik atas hirarki kedudukan kepolisian dalam sistem

ketatanegaraan, pemberian otoritas atau fungsi/kewenangan, berikut sistem

pembatasan kekuasaannya) penting ditekankan guna mencari rumusan

rekomendasi baru dalam konteks reformasi POLRI. Sebab Perubahan karakter

dan budaya ditubuh POLRI tidak akan berjalan maksimal jika tidak dimulai

dari perubahan ketiga prinsip diatas.

Sejauh dapat diamati, usaha pembaharuan institusi kepolisian

selama lebih 10 tahun telah mencapai banyak kemajuan positif, hal ini

disebabkan adanya dukungan kebijakan nasional, baik melalui legitimasi

dalam konstitusi maupun melalui legislasi serta pembentukan sejumlah

26

Staf Pengajar FH Universitas Tadulako

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 42



peraturan pelaksanaannya. Fenomena ini terlihat lahirnya TAP MPR Nomor

VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian

Negara Republik Indonesia, TAP Nomor VII/MPR/2000 Tantang Peran TNI dan

Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang kemudian disusul pengukuhan

melalui legislasi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002

tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ketiga Landasan inilah

menjadi policy pokok dalam menuntun pembaharuan institusi kepolisian

pasca reformasi.

Dalam perjalanan pembaharuan kepolisian, secara internal juga telah

lahir sejumlah regulasi KAPOLRI, yang penting disebutkan disini adalah

Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 Tentang Implementasi Prinsip Dan

Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara

Republik Indonesia dan Peraturan Kapolri Nomor 1 tahun 2009 tentang

Penggunaan Kekuatan Dalam Tindakan Kepolisian.

Hasil sejumlah kerangka kebijakan pembaharuan di atas telah

memunculkan sejumlah peristiwa yang mungkin dapat dipahami hasil

perbaikan di atas misalnya pada masa pemerintahan presiden KH.

Abdurrahman Wahid dimana Kapolri menolak mendukung dekrit presiden

Gusdur tentang percepatan pemilu, pembubaran DPR dan partai Golongan

Karya (mencerminan wujud netralitas dan independensi POLRI). Selain itu

terbit sejumlah regulasi KAPOLRI dalam rangka perbaikan mutu pelayanan

publik di lingkungan kepolisian negara, penangan kasus-kasus terorisme.

Seiring dengan sejumlah kesuksesan di atas dilain pihak dalam

prakteknya tidak jarang pula diamati munculnya berbagi tindakan kekerasan

seperti terjadi di daerah Kabupaten Buol berupa penembakan terhadap rakyat

sipil, Kasus penanganan mafia pajak yang melibatkan sejumlah elit jenderal

Mabes POLRI, dan Penangangan kasus illegal logging di kalimantan yang

diduga melibatkan petinggi POLDA. Sejumlah problem yang masih tersisa

di atas menjadi dasar untuk memikirkan solusi, langka perbaikan didalam

institusi kepolisian negara indonesia ke depan.





Upaya untuk memperkuat hirarki kedudukan kepolisian di indonesia

Penguatan Legitimasi Independensi Institusi Polri



secara formal mendapatkan perhatian nasional sejak tahun 2000. Langka

tersebut dikukuhkan secara formal kedalam 2 (dua) ketetapan MPR yakni TAP

MPR Nomor VI/MPR/2000 Tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia

dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan TAP MPR Nomor VII/

MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian

Negara Republik Indonesia. Gagasan ke arah pembaharuan tersebut kemudian

diadopsi dalam materi muatan konstitusi melalui perubahan kedua UUD 1945,

terutama pengaturan dalam pasal 30 ayat (4) UUD 1945 dimana kepolisian

43 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



negara ditempatkan sebagai bagian dari sistem kelembagaan negara yang

independen, terpisah dari organ Tentara Nasional Indonesia. Dalam pasal

30 ayat 4 UUD 1945 tersebut ditegaskan bahwa Kepolisian Negara Republik

Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban

masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta



Format keberadaan kepolisian sebagaimana digariskan konstitusi di

menegakan hukum.



atas kemudian secara implementatif dijabarkan kedalam Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indoensia. Dalam

Pasal 2 undang-undang ini ditegaskan bahwa fungsi kepolisian adalah salah

satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan

ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan

pelayanan kepada masyarakat. Dalam ketentuan ini kepolisian digolongkan

sebagai fungsi pemerintahan negara (jadi sebagai bagian kekuasaan presiden)

yang menjalankan beberapa fungsi pokok, yakni :

1. pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat

2. penegakan hukum

3. perlindungan dan pengayoman

4. pelayanan kepada masyarakat

Pertanyaannya adalah apakah dengan peletakan fungsi kepolisian

sebagai bagian kekuasaan presiden dapat berimplikasi pada degradasi

kemandirian POLRI yang telah dijamin itu. Apakah format demikian tidak

berpeluang dijadikannya POLRI sebagai alat politik.

Dalam perspektif yuridis, prinsip independensi POLRI pada

hakikatnya dikaitkan dengan kekuasaan TNI, bukan dalam hubungannya

dengan pelakasanaan kekuasaan presiden. Sebab dalam Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 2002 kepolisian merupakan bagian dari fungsi kekuasaan

pemerintahan negara.

Namun demikian walaupun fungsi kepolisian diintegrasikan dalam

kekuasaan presiden bukan berarti tanpa penyediaan mekanisme pembatasan.

Pembatasan ini dapat dilihat dari dua saluran pokok, pertama, sistem

pengisian dan pemberhentian KAPOLRI dan kedua sistem pengambilan

kebijakan mengenai implementasi fungsi Kepolisian.

Dalam perspektif ini walaupun fungsi kepolisian disubordinasikan

dibawah kekuasaan presiden, namun lantaran sistem rekruitmen/pengsian

jabatan KAPOLRI tidak lagi melalui pintu pengangkatan sepihak/hak

prerogatif presiden, melainkan melibatkan persetujuan DPR, maka mekanisme

ini dapat mengontrol presiden serta menjaga netralitas POLRI sebagai alat

kepentingan politik presiden. Jadi, walaupun suatu saat ketika terjadi conflict

of interest antara presiden dengan KAPOLRI atau dengan kata lain KAPOLRI

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 44



tidak loyal terhadap perintah pribadi presiden, maka keberadaan KAPOLRI

tidak mudah diberhentikan oleh presiden, sebab dalam konteks ini presiden

harus meminta terlebih dahulu persetujuan presiden. Dalam pasal 11 ayat (1)

ditentukan bahwa Kapolri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan

persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Contoh kasus ini dapat diamati pada

masa pemerintahan Gus Dur dimana Kapolri saat itu dipimpin Bimantoro

diberhentikan dari jabatannya, yang kemudian dalam proses selanjutnya

tindakan pemberhentian tersebut lalu ditolak oleh DPR.

Aspek yang kedua yang dapat memperkuat independensi kepolisian

adalah prihal otoritas pengambilan kebijakan dalam pelaksanaan fungsi

kepolisian. Hal ini terutama bila dikaitkan dengan dengan fungsi penegakan

hukum, seperti penyelidikan, penyidikan tindak pidana yang sepenuhnya

dalam otoritas penyidik kepolisian. Kewenangan dalam melakukan fungsi

penyelidikan, penyidikan merupakan kewenangan yang bersifat independen

yang tidak dapat dicampuri oleh kekuasaan apapun, termasuk oleh presiden.

Issue penting menarik dimunculkan dalam kaitan pengkonstruksian

kembali kedudukan kepolisian tersebut adalah apakah hirarki kebe-



penden seperti sekarang ini, ataukah perlu didesain kembali dengan

radaan lembaganya masih perlu diorganisir/didudukan secara inde-



mensubordinasikannya dibawah otoritas kementerian sipil tertentu.

Pertanyaan ini berangkat dari pengalaman di banyak negara dimana posisi

kepolisian ditempatkan dibawah institusi pemerintahan sipil. Hal ini penting

untuk meneguhkan prinsip keberadaan polisi sebagai pengayom dan

pelindung masyarakat sipil. Itulah sebabnya keberadaan kepolisian negara

tunduk pada institusi pemerintahan sipil. Pertanyaan ini juga diarahkan untuk

mendorong tumbuhnya pranata kepolisian sebagai alat masyarakat sipil

yang bersifat mengayomi dan melayani.

Keberadaan POLRI di indonesia tergolong istimewa, karena struktur

kelembagaannya bersifat mandiri/independen. Demikian pula sistem

pengangkatan pimpinan POLRI juga bersifat khas. Format demikian membuat

keberadaan POLRI bersifat eksklusif. Walaupun berada dibawah kekuasaan

pemerintahan negara, tetapi kepala pemerintahan/presiden tidak dapat serta

merta mendikte kebijakan kebijakan kepolisian apalagi memberhentikan

KAPOLRI. Posisi yang sangat kuat ini dapat berpeluang munculnya semangat

arogansi kekuasaan, karena sulit dijangkau dengan pengawasan institusi

sipil.

Itulah sebabnya untuk membangun jiwa dan karakter sipil ditubuh

POLRI maka kedepan perlu dipikirkan pengaturan, pengawasan dan

kelembagaan POLRI dimana keberadaannya tidak lagi dikonstruksikan

secara terpisah dari institusi sipil.

45 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







Sebagaimana diuraikan di atas penguatan independensi kepolisian

Review Sistem Pembatasan Kekuasaan Polri



negara yang telah terwujud belakangan ini menyisahkan sedikit problem,

terutama bagaimana merumuskan secara tepat format pembatasan kekuasaan/

sistem pengawasan tindakan kepolisian. Hal ini penting agar independensi

ini tidak tertutup, eksklusif dan melahirkan kebebasan bertindak sewenang-

wenang kepada rakyat. Oleh karena itu kemandirian kepolisian tersebut

perlu dibarengi dengan penyediaan akuntabilitas dan sistem pengawasan

yang efektif dan memadai. Pembatasan kekuasaan ini dapat dilihat dalam dua

optik, pertama, tersedianya sistem pertanggungjawaban dan pengawasan

jabatan yang efektif dan transparan, Kedua, mendorong lahirnya kontrol

ekternal, seperti LSM, Pers didalam memantau polisi dalam menjalankan

fungsinya.

Aspek yang pertama berkaitan sistem pertanggungjawaban

dan pengawasan tindakan kepolisian. Relevan dengan aspek ini adalah

bagaimana menyediakan mekanisme pertanggungjawaban profesi jika

terdapat kesalahan tindakan pejabat/oknum kepolisian. Selama ini prosedur

penanganan atas pelanggaran disiplin oleh oknum/pejabat kepolisian lebih

bersifat internal, yakni dilakukan oleh lembaga yang disediakan secara

internal kepolisian. Guna mengefektifkan sistem pertanggungjawaban ini

maka Kedepan perlu dipikirkan merekonstruksi kedudukan Komisi Kepolisian

Nasional (KOMPOLNAS), dengan meningkatkan hirarki kedudukannya

berikut memperluas kewenangannya. KOMPOLNAS kedepan perlu didesain

fungsinya semacam ombudsman kepolisian untuk menangani kasus-kasus

pelanggaran disiplin kepolisian. Selama ini kewenangan yang diberikan

kepada KOMPOLNAS oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 sangat

terbatas dan lebih bersifat konsultatif yakni :

• mengumpulkan dan menganalisis data sebagai bahan pemberian saran

kepada Presiden yang berkaitan dengan anggaran Kepolisian Negara

Republik Indonesia,

• pengembangan sumber daya manusia Kepolisian Negara Republik

Indonesia, dan pengembangan sarana dan prasarana Kepolisian Negara

Republik Indonesia;

• memberikan saran dan pertimbangan lain kepada Presiden dalam upaya

mewujudkan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang profesional dan

mandiri; dan

• menerima saran dan keluhan dari masyarakat mengenai kinerja kepolisian

dan menyampaikannya kepada Presiden.

Kewenangan KOMPOLNAS seperti di atas jelas tidak mempunyai akses

langsung didalam mengawasi tindakan penggunaan kekuasaan kepolisian

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 46



negara. Kewenangannya sekedar supporting organ presiden dalam konteks

fungsi yang bersifat kepenasehatan. Sebagaimana ditegaskan di atas

kelemahan prosedur pengawasan dan penyelesaian atas pelanggaran kode

etik oleh oknum dan pejabat POLRI karena bersifat internal. Akibatnya

warga tidak dapat mengakses secara terbuka misalnya sidang kode etik polri,

sehingga banyak kasus-kasus yang melibatkan elit POLRI tidak tertangani

secara maksimal. Misalnya kasus mafia pajak yang diungkap Susno Duadji

yang melibatkan sejumlah elit Penyidik Mabes Polri.

Untuk itulah kedepan untuk memperkuat kontrol sipil terhadap

kepolisian negara maka keberadaan KOMPOLNAS perlu ditingkatkan status

dan kewenangannya, terutama dengan mengkonstruksikan KOMPOLNAS

tidak hanya berwewenang memberi pertimbangan kepada presiden, tetapi

juga sebagai wadah untuk menampung keluhan warga akibat pelanggaran

kode etik sekaligus pranata untuk menyelesaikan pelanggaran kode etik

tersebut. Dengan format seperti ini proses penyelesaian pelanggaran kode

etik lebih transparan dan akuntabel.

Proses pemeriksaan pelanggaran disiplin melalui lembaga eksternal

katakanlah melalui KOMPOLNAS bisa lebih transparan dan akuntabel karena

ditangani oleh lembaga otonom diluar POLRI. Penangan pelanggaran disiplin

yang selama ini bersifat internal terkesan eksklusif, tertutup dan tidak

akuntabel.

Oleh karena itu bagian penting dari perbaikan institusi POLRI kedepan

adalah mendesain kembali mekanisme penyelesaian pelanggaran disiplin yang

lebih tranparan dan akuntabel. Dengan demikian rakyat dapat mengetahui

seberapa jauh respon kepolisian atas keluhan masyarakat atau bagaimana

kemajuan dari suatu pemeriksaan atas pelanggaran yang sedang ditangani.

Kalau pilihannya tetap mempertahankan mekanisme internal yang telah

tersedia, maka alternatifnya adalah bagaimana prosedur pemeriksaannya

lebih otonom, tranparan dan dapat diakses oleh publik. Atau sebaliknya perlu

disiapkan institusi eksternal, dengan memfungsikan KOMPOLNAS layaknya

sebagai ombudsman Kepolisian dalam menangani kasus pelanggaran disiplin

tersebut.

Aspek kedua berkaitan dengan prosedur dan otoritas penyelesaian

kasus-kasus pelanggaran hukum oleh oknum kepolisian seperti kasus

pelanggaran HAM. Dalam konteks ini sistem pengawasannya relatif lebih

maju dan transparan. Hal ini seiring dengan dengan keberadaan KOMNAS

HAM. Walaupun dalam hal ini peran KOMNAS HAM sangat terbatas, karena

aksesnya hanya sampe pada tingkat penyelidikan, tetapi kekuatannya

untuk mengontrol pelaksanaan HAM lambat laun memiliki daya tekan yang

kuat. Keterlibatan KOMNAS HAM tidak hanya pada level penyelidikan atas

pelanggaran HAM, tetapi lebih jauh juga mengontrol atas tingkat kemajuan

47 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



proses penanganan kasus pelanggaran hukum yang melibatkan polisi. Sejak

institusi kepolisian dimandirikan dari kekuasaan TNI, maka praktis prosedur

penyelidikan, penyidikan atas pelanggaran hukum yang dilakukan polisi

ditangani sendiri oleh penyidik POLRI. Demikian pula penuntutan dan proses

peradilannya juga tidak lagi melalui Mahkamah Militer, melainkan dilakukan

oleh Jaksa Penuntut Umum dan tunduk pada Pengadilan Umum.

Titik masalah yang rentan muncul dari proses di atas adalah di level

penyelidikan dan penyidikan. Hal ini disebabkan yang bertindak sebagai

penyidik adalah polisi kemudian yang disidik adalah anggota kepolisian.

Budaya saling melindungi, perasaan sebagai satu korps sangat kental menjadi

penghambat kelanjutan penanganan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum

kepolisian.

Sistem pembatasan kekuasaan POLRI juga terkait dengan penguatan

sistem pertanggungjawaban politik. Sebagaimana diketahui sistem

per-tanggungjawaban jabatan KAPOLRI dapat dibaca dalam ketentuan

pasal 8 ayat 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 bahwa Kepolisian

Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang dalam pelaksanaan



perundang-undangan. Ketentuan ini secara eksplisit membatasi tempat

tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan



pertanggungjawaban jabatan KAPOLRI kepada presiden, karena ini sesuai

dengan fungsi kepolisian sebagai bagian dari fungsi pemerintahan negara.

Namun demikian ketentuan ini tidak menutup kemungkinan terlibatnya DPR

untuk mengawasi pelaksanaan fungsi kepolisian. Perlu diketahui mekanisme

pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI mensyaratkan persetujuan

DPR. Mekanisme ini menjadi jalan bagi DPR untuk mempengaruhi perbaikan

kinerja kepolisian terutama dalam menangani kasus-kasus yang menyedot

perhatian publik. Bahkan yang lebih jauh DPR dapat merekomendasikan

kepada presiden tentang pemberhentian KAPOLRI yang buruk kinerjanya,

terutama dalam penanganan suatu kasus kontroversial yang tidak maksimal.

Walaupun kita menganut sistem presidensil, dimana DPR tidak dapat

menjatuhkan pejabat menteri melalui mosi tidak percaya, tapi melihat betapa

besarnya peran DPR dalam pengawasan terhadap pemerintah, terutama

dalam proses legislasi, penetapan anggaran, pengangkatan pejabat, maka

keadaan ini bisa dimanfaatkan DPR untuk menekan presiden dalam proses

pengawasan kinerja kepolisian. Disinilah peran partai oposisi mengawal

kebijakan kepolisian dalam menangani kasus-kasus kontroversial.

Dalam perspektif di atas, maka sistem pertanggungjawaban atas

pelaksanaan fungsi kepolisian bisa dilakukan dengan memaksimalkan peran

pengawasan DPR. Kasus-kasus besar yang terpampang dihadapan kita, misalnya

keterlibatan sejumlah jenderal dalam kasus mafia pajak yang sampai sekarang

belum maksimal tersentuh dalam proses hukum, kekerasan di beberapa daerah

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 48



(seperti Buol), Kasus bank century, Rekening Gendut sejumlah Perwira Tinggi

mestinya didorong terus penyelesaiannya. DPR bersama dengan kekuatan pro

demokrasi lainnya bisa mendorong dan memaksimalkan langka kepolisian

didalam proses penyidikan kasus-kasus di atas.





Di indonesia sistem peradilan pidana melewati beberapa siklus

Review Atas Kedudukan POLRI Dalam Sistem Peradilan Pidana



birokrasi untuk sampai pada proses peradilan lantaran ditangani oleh

beberapa institusi yang masing-masing independen. Struktur seperti ini

bertele-tele dan dapat memperpanjang mata rantai birokrasi bagi warga

untuk memperoleh rasa keadilan. Selain itu proses yang multi institusional

tersebut rentan melahirkan ego sektoral terutama antara kejaksaan dan

kepolisian dalam melakukan proses penyidikan atas suatu kasus. Salah satu

fungsi vital kepolisian negara yang terkait dengan sistem peradilan pidana

adalah fungsi penyelidikan dan penyidikan.

Di indonesia peran kepolisian memang agak istimewa lantaran

mendapat otoritas yang relatif independen dalam melakukan kegiatan

penyidikan tindak pidana, khususnya dalam ruang lingkup tindak pidana

umum. Bahkan dalam penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi sekalipun,

keberadaan polisi juga mendapat bagian kewenangan sejajar dengan jaksa

dan KPK. Format demikian dalam perkembangannya melahirkan gesekan

kepentingan di lapangan, karena masing-masing merasa punya wewenang,

Yang terbaru belakangan ini bagaimana ketika KPK mulai menyusup di tubuh

POLRI dengan menyadap percakapan telepon KABARESKRIM yang ketika itu

dipimpin Susno Duadji.

Pertanyaan yang perlu dipikirkan dalam kaitan keberadaan polisi

dalam sistem peradilan pidana kita adalah, apakah fungsi penyelidikan dan

fungsi penyidikan tetap dipertahankan bersifat mandiri dan prevelege POLRI

atau disubordinasikan dibawah kekuasaan kejaksaan, sehingga dalam proses

penyidikan kedudukan POLRI hanya merupakan supporting organ pihak

kejaksaan. Dengan demikian otoritas atas dimulainya, dilaksanakannya dan

penghentian suatu penyidikan merupakan otoritas kejaksaan. Dalam format

seperti ini maka sejak awal dimulainya tahapan penyelidikan dan penydikan

sudah mendapat pengawasan jaksa. Proses ini sangat berguna untuk

menghindari berbeli-belitnya mata rantai birokrasi atau proses adminsitratif

penegakan hukum sehingga upaya pencarian keadilan dapat berjalan cepat.

Pertanyaan lain menarik dikaji adalah apakah layak tindak pidana

korupsi yang memerlukan pengetahuan, kecermatan dalam penerapan norma

diserahkan kepada polisi untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Apakah penting aktor penanganan korupsi hanya diserahkan kepada KPK

dan kejaksaan guna menghindari conflic of interest. Dalam prakteknya

49 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



kewenangan pemberantasan korupsi yang bersifat multi aktor tersebut

sangat tidak kondusif, menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Dengan

demikian kedepan perlu dipikirkan akses keterlibatan kepolisian dalam

proses penyidikan lebih berkonsentrasi dalam penanganan tindak pidana

umum, dan tindak pidana yang bersifat adhoc seperti korupsi diserahkan

kepada kejaksaan atau KPK.

Sejumlah pertanyaan di atas menarik dikaji untuk menerangkan

letak dan posisi kepolisian yang tepat dalam sistem penegakan hukum di

indonesia. Namun demikian disadari bahwa untuk mendorong pembaharuan

ditubuh POLRI bukan pekerjaan mudah, karena terkait dengan soal kultur

yang demikian lama tertanam. Merubah konstruksi suatu bangunan rumah

mungkin dengan mudah dilakukan, namun merubah watak dan kultur

manusia jauh sulit dan memerlukan waktu yang cukup lama.

Ke depan gagasan reformasi POLRI selain memikirkan soal inde-

pendensi kepolisian yang lebih penting adalah mempersiapkan instrumen

pengawasan kepolisian dalam mengemban fungsinya di masyarakat. Ini

penting untuk mewujudkan sosok POLRI yang mengayomi, melindungi

masyarakat, dan memiliki akuntabilitas yang besar terhadap masyarakat.

EVALUASI REFORMASI KEPOLISIAN

DALAM MENANGANI ANAK BERHADAPAN

DENGAN HUKUM

Riza Nizarli27





Pendahuluan

Setelah 12 tahun berdiri sendiri keberadaan institusi Kepolisian terus

mendapat sorotan tajam dari masyarakat, karena reformasi yang dilakukan

dirasakan masih berjalan lambat. Hal ini dapat dilihat dengan jelas bahwa

budaya dan kultur represif, arogansi, dan eksklusifitas masih melekat di

tubuh Kepolisian. Kepolisian juga masih merasa dirinya benar, dan tidak mau

mendengar masyarakat. Sikap independensi dan transparansi terhadap kasus,

banyak yang tidak ada kepastian hukumnya.” (Syarifuddin Sunding, 2010).

Ada juga yang mengaku pesimis dengan reformasi di tubuh Kepolisian,

karena selama ini Kepolisian masih gagal melepaskan diri dari jerat

kepentingan berbagai pihak, polisi akan sulit lepas dari praktek mafia hukum.

(Adnan Topan Husodo, 2010).

Satjipto Raharjo juga mengatakan ”soratan dan kecaman masyarakat

sudah termasuk makanannya sehari-hari. Itu disebabkan polisi adalah

birokrasi penegakan hukum yang berada langsung di tengah-tengah

masyarakat, ibarat bekerja ”tanpa sarung tangan” dan ”tidak di belakang

loket”. Ia adalah ”penegak hukum jalanan” yang harus membereskan sekalian

kotoran dalam masyarakat. ...aparat penegak hukum yang satu ini sangat

berbeda dengan yang lain, seperti hakim, jaksa dan advokat, yang saya

namakan ”penegak hukum gedongan. (Satjipto Raharjo, 2007:96)

Kepolisian selaku organisasi sipil di alam keterbukaan dewasa ini,

tidak akan terhindar dari kritikan dan gunjingan. Kritikan tersebut bisa

diartika positif, bisa pula negatif, namun yang pasti, masalah Kepolisian

adalah masalah masyarakat juga.

Pada saat Polri bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

(ABRI) ”Panglima ABRI pada waktu apel Kepala Satuan Wilayah Polri se-

Indonesia secara terbuka melontarkan sejumlah kritikan tentang kelemahan

Polri, yang ia katakan sebagai merugikan kredibilitas ABRI” (Satjipto Raharjo,

2007:96-97)

Kepolisian sebagai organisasi penegak hukum dan pemelihara

ketertiban dengan kewenangan yang begitu besar mungkin tidak dapat

27

Dosen/Ketua Lab. Klinis Hukum FH Unsyiah

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 52



bersih ditengah masyarakat yang korup. Namun tidak dapat dijadikan alasan

karena masyarakat, maka mereka melakukan perbuatan yang korup pula,

karena masyarakat tidak pernah disumpah kecualia mereka yang mempunyai

jabatan untuk tidak akan menerima uang atau janji dalam menjalankan

tugasnya, sedangkan polisi sudah disumpah saat mereka menjadi polisi dan

memangku jabatan. Sebenarnya masyarakat selalu mendambakan Polri bisa

tampil sebagai organisasi yang bersih dari KKN, akuntabel dan profesional.

Kita akui ketidak puasan terhadap reformasi yang dilakukan oleh

Kepolisian memang terus terjadi sebelum pihak Kepolisian benar-benar

dapat melindungi masyarakat dan menyelesaikan kasus-kasus yang menjadi

perhatian dan menjadi polimik di dalam masyarakat. Ketidakpuasan juga

terjadi terhadap Kepolisian, karena masih ada yang melakukan kekerasan

terhadap anak seperti dilakukan oleh oknum Polsek Bandar Pulau di Desa

Lobu Jior, Sumatera Utara.

Reformasi Kepolisian dimulai sejak dipisahkannya Polri secara

kelembagaan dari TNI (ABRI), pada April 1999 melalui Instruksi Presiden

(Inpres) No 2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan dalam Rangka

Pemisahan Kepolisian dari ABRI dan diterbitkannya Buku Biru Reformasi

Kepolisian 1999, kemudian diikuti dengan dikeluarkannya TAP MPR No. VI

Tahun 2000 tentang Pemisahan Polri dan TNI, dan TAP MPR No. VII Tahun

2000 tentang Peran Polri dan TNI. Kebijakan ini mengakhiri status Polri di

bawah garis komando ABRI. Setelah itu dilanjutkan dengan dikeluarkan,

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian serta Grand Strategi

Kepolisian 2005-2025.

Pemisahan Polri dari TNI sebagaimana dirumuskan dalam TAP MPR No.

VI/1999 dan TAP MPR No. VII/2000 pada dasarnya adalah untuk mengubah

kelembagaan polisi. Reformasi membawa Kepolisian ke dalam wajah baru,

dari semata alat keamanan menjadi komunitas keadilan, dari ”polisi yang

militeristik” menjadi ”polisi sipil”, menjunjung tinggi HAM, sepenuhnya di

bawah otoritas pemerintahan sipil demokratis, mandiri, serta menjalankan

peran dan fungsinya secara profesional.

Dalam menjalankan perannya Polri wajib memiliki keahlian dan

profesional. Berdasarkan kedua TAP MPR tersebut kemudian disusun

kebijakan operasional Polri yaitu Undang-undang No 2 Tahun 2002 tentang

Kepolisian yang merumuskan perubahan paradigma Polri dengan harapan

dapat memantapkan kedudukan, peranan serta pelaksanaan tugas Polri.

Namun, perubahan yang ada tidak serta merta mengubah pandangan

publik terhadap Polri. Publik belum percaya sepenuhnya kepada Polri karena

institusi ini dilihat masih mewarisi watak militeristik. Pandangan ini seiring

dengan masih munculnya kasus kekerasan, pelanggaran HAM, serta belum

53 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



adanya penegakan hukum yang berkeadilan dan akuntabel atas pelanggaran

yang melibatkan aparat Polri.

Keterbukaan berarti polisi adalah bagian dari masyarakat, berintegrasi

dengan masyarakat dan memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Polisi

adalah mitra sejajar masyarakat dalam melawan tindak kriminal dan tidak

diskriminatif terhadap kelompok tertentu baik dalam Polri maupun dalam

pelaksanaan tugasnya, dan Polri adalah institusi sipil yang profesional.

Akuntabilitas artinya Polri harus dapat mempertanggungjawabkan semua

perilakunya secara hukum, meminimalisir pelanggaran HAM. Begitupun

dalam konteks anggaran, Polri harus dapat mempertanggungjawabkan

penggunaan anggarannya kepada masyarakat dan pemerintah

Adanya pemisahan struktur organisasi ini diharapkan aparat Polri

tidak lagi tampil dalam performance dan watak yang militeristik, dan dapat

bekerja profesional sebagai aparat Polri sipil secara profesional. Mewujudkan

Polisi sipil adalah agenda utama reformasi kepolisian dalam masyarakat yang

demokratis.

Polisi Sipil menghormati hak-hak sipil; masyarakat demokratis

membutuhkan polisi sipil yang mampu berperan sebagai pengawal nilai-nilai

sipil. Nilai-nilai ini telah dirumuskan dalam hak asasi manusia yang dijamin

sebagai hukum positif negara (the guardian of civilian values).

Reformasi Kepolisian yang dirumuskan dalam Blue Paper dengan

berjudul Reformasi Menuju Polri yang profesional belum semuanya mampu

diimplementasikan dalam operasional Polri.

Secara internal Polri mengartikan pemisahan tersebut sebagai upaya

pemandirian Polri dengan melakukan perubahan pada 3 (tiga) aspek;

1. Aspek Struktural: meliputi perubahan kelembagaan kepolisian dalam

ketatanegaraan, organisasi, susunan dan kedudukan.

2. Aspek Instrumental: mencakup filosofi (visi, misi dan tujuan), doktrin,

kewenangan, kompetensi, kemampuan fungsi dan Iptek.

3. Aspek kultural: meliputi perubahan manajerial, sistem rekrutmen, sistem

pendidikan, sistem material fasilitas dan jasa, sistem anggaran, dan sistem

operasional.

Kalangan pemerhati reformasi Polri menggarisbawahi bahwa pemi-

sahan (kemandirian) Polri dari TNI bukan merupakan tujuan, tapi sebagai

langkah dimulainya reformasi. Tujuan reformasi Polri adalah membangun

kepolisian sipil yang profesional dan akuntabel dalam melayani masyarakat

dengan menjunjung tinggi norma-norma demokrasi, menghormati HAM dan

hukum internasional lainnya.

Tujuan reformasi reformasi Polri secara umum adalah membentuk

prilaku aparatur Polri yang berintegritas tinngi, prilaku aparatur Polri yang

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 54



produktivitas tinggi dan bertanggung jawab dan prilaku aparatur Polri yang

mampu memberikan pelayanan prima, sedangkan tujuan khusus adalah

terciptanya birokrasi yang bersih, efisien dan produktif, transparan, melayani

dan birokrasi yang akuntabel. (Kalemdikpol, 2010).

Sasaran umum dari reformasi birokrasi Polri adalah mengubah pola

pikir (mind set), mengubah budaya kerja (culture set), sistem menajemen,

sedangka sasaran khusus adalah kelembagaan (organisasi), budaya organisasi,

ketatalaksanaan, regulasi/deregulasi birokrasi dan sumber daya manusia.

Dalam SK Kapolri No. Pol. Skep/360/VI/2005 tentang Grand Strategi

Kepolisiani 2005–2025, sasaran pembangunan diarahkan sesuai tahap

sebagai berikut :

a. Tahap I Trust Building (2005 – 2010)

Membangun kepercayaan internal Polri dalam grand strategi merupakan

faktor penting karena merupakan awal dari perubahan menuju

pemantapan kepercayaan internal meliputi : kepemimpinan, sumber

dana, sdm, orang yang efektif, pilot projek yang konsisten di bidang Hi-

Tech, kemampuan hukum yang sarpas mendukung Visi Misi Polri.

b. Tahap II Partnership Building (2011 – 2015)

Membangun kerja sama yang erat dengan berbagai pihak yang terkait

dengan fungsi kepolisian dalam penegakan hukum, ketertiban serta

pelayanan, perlindungan, pengayoman untuk menciptakan rasa aman.

c. Tahap III Service for Exellence (2016 – 2025)

Membangun kemampuan pelayanan publik yang unggul, mewujudkan

good government, best practice polri, profesionalisme SDM. Implementasi

teknologi, infrastruktur guna membangun kapasitas polri (capacity

building) yang kredibel di mata masyarakat nasional, regional dan

international.

Dari Grand Strategi 2005-2025 yang ingin dilakukan oleh Polri, adalah

adanya polisi yang profesional dalam menjalankan tugasnya, termasuk dalam

menangani anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Polisi merupakan

sub sistem dari peradilan pidana yang sangat penting dan fundamental

dalam menanganani ABH karena mereka merupakan gerbangnya dan garda

terdepan.

Untuk penanganan ABH maka diperlukan Sub Sistem Peradilan

Pidana yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaaan, Pengadilan dan Lembaga

Pemasyarakatan mempunyai penahaman yang sama. Sistem peradilan pidana

anak (Juvenile Justice System) pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan

prosedur bagi orang dewasa (M.K Dermawan, 2007: 23). Perbedaannya

hanya terletak dari masa penahanan, wajib didampingi oleh orang tua/wali,

55 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



penasehat hukum, sidang tertutup dan masa pidananya yang lebih singkat.

Namun jika proses peradilan terhadap anak disamakan dengan orang

dewasa maka sungguh tidak menguntungkan bagi anak, karena hak-haknya

akan terabaikan. Untuk itu pihak kepolisian yang menangani ABH harus

profesional, memiliki dan memahami pengetahuan tentang anak.







Profesionalisme sebagai landasan utama dalam melaksanakan tugas

Pemahanan Anak Berhadapan Dengan Hukum



dan peran Polri, maka perlu dikembangkan berbagai upaya profesionalisme

dan ini bukan proses yang sederhana untuk dapat dicapai sekaligus dalam

waktu singkat. Untuk meningkatkan profesionalisme Polri dalam penanganan

ABH perlu juga dikembangkan pemahaman peradilan yang ramah anak dan

konsep diversi serta restorative justice, untuk dapat memberikan perlindungan

terbaik terhadap ABH.

Belum terdapatnya pemahaman yang merata dan memadai tentang

hak-hak anak, Undang-Undang tentang HAM dan perlindungan ABH

serta konsep diversi dan restorative justice dikalangan Kepolisian akan

menyulitkan dalam menangani ABH, karena anak menpunyai ciri-ciri khusus

dalam penanganannya. Oleh karena itu sangat penting para penegak hukum

melakukan upaya-upaya untuk kepentingan terbaik bagi anak sebagaimana

tercantum dalam Konvensi Hak Anak Pasal 37 (b), The Beijing Rules (Butir 13.

1 dan 2), dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian yang

mengatur kewenangan polisi mengehentikan penyidikan perkara, khusus

untuk ABH. (Khatarina Ekorini Indriati, 2010:3). Dalam melakukan peyidikan

menurut Pasal 42 ayat (1) UU 3/1997 tentang Pengadilan Anak, penyidik wajib

memeriksa tersangka dalam suasana kekeluargaan. Pemeriksaan dilakukan

dengan pendekatanan secara efektif dan simpatik. Efektif dapar diartikan,

bahwa pemeriksaan tidak memakan waktu lama, dengan menggunakan

bahasa yang mudah dimengerti, dan dapat mengajak tersangka memberi

keterangan yang sejalas-jelasnya. Pendekatana simpatik, tidak melakukan

pemaksaan, intimidasi yang menimbulkan ketakutan atau trauma pada anak.

(Maidin Gultom, 210:29).

Masalah yang sering dihadapi ABH terutama perlakuan yang tidak layak,

dan yang menarik untuk dikaji adalah jarangnya penangguhan penahanan

yang diberikan kepada anak jika dibandingkan dengan tersangka korupsi

(Riza Nizarli, 2010: 28). Ketika anak masih dalam proses pemeriksaan oknum

Aparat Penegak Hukum (APH) seringkali menekan anak agar mau mengakui

tindak kriminal yang dituduhkan kepadanya. Tidak sedikit pula orang tua anak

yang diminta sejumlah uang oleh (oknum) aparat dengan janji, si anak akan

dibebaskan dari tuduhan atau akan mendapatkan keringanan hukuman. ABH

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 56



itu pun pada umumnya tidak mendapat haknya untuk didampingi pengacara.

(Sukira, 2008:61).

Perilaku kekerasan yang dialami oleh ABH setidaknya diasumsikan telah

terjadi sejak ia berhadapan pertama sekali dengan APH di tingkat elementer,

yakni polisi. Kemudian berlanjut di level kejaksaan dan pengadilan. Cara

APH memperlakukan hampir tidak bedanya dengan cara-cara yang mereka

lakukan dalam menangani orang dewasa yang disangkakan melakukan tindak

pidana. Jika ditarik lebih dalam, perilaku yang menyimpang atas hak-hak

anak ini adalah manifetasi dari mindset APH dan institusi negara cenderung

menyederhanakan posisi kerentanan anak dan tidak menganggapnya sebagai

kelompok manusia yang belum bisa dimintakan pertanggungjawaban secara

layaknya orang dewasa. (Redaksional Pledoi, 2010: 1)

Dari ungkapan di atas tidak terlalu berlebihan, bila berbagai kalangan

menilai penegakan hukum lemah dan telah kehilangan kepercayaan

masyarakat. Masyarakat menjadi apatis, mencemohkan dan dalam keadaan

tertentu kerap melakukan proses pengadilan jalanan (street justice).

Keprihatinan masyarakat atas penegakan hukum memunculkan sejumlah

analisis dan lontaran ide bagi perbaikan (Riza Nizarli, 2010: 28).

Dari uraian di atas dan pada kenyataannya ditemukan berbagai

permasalahan bahwa Polri khususnya penyidik belum memahami secara

penuh makna dari perlindungan anak dan prinsip dasar “diversi dan

restorative justice” dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum

serta belum memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak sebagi generasi

penerus bangsa, sehingga sejumlah anak yang mendekam di Lembaga

Pemasyarakatan Anak yang tersebar di seluruh Indonesia saat ini termasuk

yang masih dalam tahap penyidikan tidak terlepas dari andil Polri.

Penyidikan oleh Polri terhadap ABH khususnya yang diduga sebagai

pelaku (tersangka) pada dasarnya tidak berbeda dengan mekanisme

penyidikan yang diterapkan pada mekanisme penyidikan terhadap orang

dewasa.

Seharusnya penyidik yang menangani kasus anak yang diduga sebagai

pelaku (tersangka) adalah yang benar-benar telah memiliki pengetahuan

dan kemampuan tentang perlindungan anak. Jika mereka tidak memahani,

kondisi ini sangat merugikan anak sebab perlakuan yang akan dihadapi anak

dalam proses penyidikan menjadi sama seperti penyidik menangani pelaku/

penjahat dewasa. Sehingga dengan demikian perlindungan anak dan hak–hak

anak dalam mekanisme penyidikan anak akan sulit untuk dilaksanakan oleh

Polri, sebagai contoh bahwa pada pelaksanaan penahanan anak oleh penyidik

Polri di kantor kepolisian tanpa diikuti dengan program yang terarah dan

terencana bagi tahanan anak dan adanya keterbatasan fasilitas khusus anak

57 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



di Polda/Polwil/Polres/Polsek menyebabkan kebutuhan akan fisik, psikis

dan spritual pada tahanan anak tidak dapat terpenuhi.

Penjara memang menjadi tempat paling favorit yang dipilih oleh para

APH untuk menghukum anak. Berdasarkan beberapa hasil pemetaan ABH

tahun 2007 s.d 2009 menunjukkan mayoritas kasus ABH diselesaikan melalui

pengadilan, dan 90% dijatuhi hukuman pidana dan dipenjarakan. Satu hal

yang pasti, anak akan kehilangan berbagai haknya, seperti hak kebebasan,

hak tumbuh kembang, hak untuk memperoleh pendidikan dan pelayanan

kesehatan serta hak-hak dasar anak lainnya.

Data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Departemen Hukum

dan HAM, jumlah narapidana anak (anak didik pemasyarakatan) dari 5.630

anak pada Maret 2008, meningkat menjadi 6.308 anak pada awal tahun

2010, dan hampir 57 persen dari mereka tergabung dengan tahanan orang

dewasa (berada di rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan untuk orang

dewasa). (Linda Amalia Sari Gumelar 2010:3)

Dalam beberapa ketentuan telah ditegaskan bahwa penangkapan,

penahanan atau pidana penjara merupakan upaya terakhir bagi anak

sebagaimana diatur UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam Pasal

66 ayat (4) penangkapan, penahanan atau pidana penjara anak hanya boleh

dilakukan sesuai dengan hukum yg berlaku dan hanya dapat dilaksanakan

sebagai upaya terakhir, sedangkan dalam Pasal 66 ayat (5) disebutkan

“Setiap anak yg dirampas kebebasannya berhak mendapatkan perlakuan

secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan pengembangan

pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan dari orang dewasa.

Sistem peradilan pidana yang diterapkan saat ini tampaknya masih

menitik beratkan untuk menjatuhkan pidana penjara bagi para pelaku tindak

kejahatan sebagai balasan atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan

titik berat seperti ini, dimensi tindak kejahatan sepertinya hanya dilihat dari

satu sisi, yaitu dari sisi si pelaku tindak kejahatan itu sendiri. (Distia Aviandari,

2008: 3)

Pada hal, begitu banyak instrumen hukum yang berlaku baik lokal,

nasional maupun internasional, yang menyebutkan bahwa dalam menangani

ABH, pemenjaraan harus ditempatkan sebagai alternatief terakhir. Namun

selama ini, proses legal-formal masih tetap dipilih sebagai jalan utama untuk

menangani kasus ABH.

Akan menjadi sangat keliru jika aparat Kepolisian dalam penanganannya

hanya berpatokan pada proses dan mekanisme hukum formal semata-mata,

tanpa melibatkan mekanisme sosial yang terkait erat didalamnya. Pada

konteks ini, berbagai kalangan mengatakan persoalan ABH tidak hanya

persoalan hukum, namun harus dilihat juga sebagai suatu persoalan sosial.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 58



Sayangnya, jika dilihat dari kultur masyarakat kita, sepertinya terlanjur

selalu mengaitkan setiap bentuk pelanggaran hukum harus dijatuhkan

pidana penjara. Hal ini bukan tanpa sebab timbulnya persepsi semacam itu.

Salah satu penyebabnya karena masih sedikitnya informasi yang tersedia

tentang penyeleseaian non-formal, seperti penyelesaian secara adat, diversi

dan restorative justice (keadilan yang memulihkan) serta situasi dan kondisi

tentang keberadaan penjara. Jika penanganan ABH masih seperti sekarang,

kondisi anak akan semakin terpuruk dan kita hanya akan mencetak kriminal-

kriminal professional di kemudia hari, tentu ini tidak kita harapkan.

Berkaitan dengan hal tersebut dalam penanganan ABH, Konvensi

Hak Anak menyebutkan bahwa ”proses hukum dilakukan sebagai langkah

terakhir dan untuk masa yang paling singkat dan layak” dan dalam hal ini

implementasinya telah dipertegas dan di dukung oleh Ketua Mahkamah

Agung Bagir Manan yang menyatakan bahwa ”untuk pemidanaan anak agar

dihindarkan dari Penjara Anak” (Kompas, November 2007). Anak yang terlibat

dan dilibatkan dalam proses hukum akan menjalani penyidikan, penahanan,

sampai pemidanaan di mana proses pidana dalam sistem peradilan formal

tersebut lebih banyak berpengaruh buruk pada masa depannya.

Pemikiran baru mengenai penanganan ABH dalam sistem peradilan

formil oleh alat penegak hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Hakim,

Departemen Hukum dan HAM (Rutan, LAPAS, BAPAS), memungkinkan

proses hukum tersebut dapat dialihkan dengan penanganan dan pembinaan

alternatif secara diversi dan resrtorative justice sebagai solusi penyelesaian

yang terbaik bagi kepentingan anak.

Instrumen hukum internasional dan nasional yang mengatur

tentang perlindungan antara lain; Peraturan Minimun Standar PBB tentang

Administrasi Peradilan Bagi Anak (Beijing Rules) dan Pedoman PBB dalam

rangka Pencegahan Tindak Pidana Anak (Riyadh Gidelines), Konvensi Hak Anak

(Convention on the Rights of the Child), UU No. 23/2002 tentang Perlindungan

Anak, UU No. 3/1997 tentang Pengadilan Anak dan UU No. 39/1999 tentang

Hak Asasi Manusia, UU No. 21/2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan

Orang, Surat Edaran Jaksa Agung No. SE-002/j.a/4/1989 tentang Penuntutan

Terhadap Anak, Surat JAMPIDUM. No. B-532/E/11/1995.9-11-1995 tentang

Petunjuk Teknis Penuntutan Terhadap Anak; Surat Jaksa Agung Muda

Tindak Pidana Umum, Nomor B-741/E/Epo.1/XII/1998,15-12-1998 tentang

Pelaksanaan UU 3/1997, Peraturan Kapolri No. Pol: 10/ 2007 tentang Unit

Pelayanan Perempuan dan Anak, Telegram Kabaskrim POLRI No. TR/1124/

XI/2006 6 tgl 16 September 2006 tentang Pedoman Penanganan Terhadap

Anak yang Berhadapan Dengan Hukum, Telegram Kabareskrim Polri No. Pol. :

TR/395/DIT-I/VI/2008 tanggal 09 Juni 2008 tentang Pedoman Dalam Proses

Penyidikan Anak yang Berhadapan Dengan Hukum, Telegram Kabareskrim

59 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Polri No.TR/772/IX./2009 tentang Panangan Anak Berhadapan Dengan

Hukum, Surat Kabareskrim Polri No. Pol: B/2160/IX/2009 tentang Pedoman

Penanganan Anak Berhadapan Dengan Hukum

Selanjutnya pada tahun 2009 telah dikeluarkan pula kesepakatan dan

keputusan bersama yaitu; Surat Kesepakatan Bersama tgl 15 Desember 2009

antara Kementerian Sosial, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian

Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama dan

Kepala Polisi RI tentang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial, dan Keputusan

Bersama tanggal 22 Desember 2009 antara Kementerian Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Mahkamah Agung, Kejaksaan

Agung, Kepala Polisi RI, Kementeria Hukum dan HAM, dan Kementerian

Sosial tentang Penanganan ABH.

Namun dalam pelaksanaannya ketentuan tersebut masih belum

sepenuhnya diakomodir. Berkaitan dengan pelaksanaan perlindungan hak

anak, pemerintah telah melakukan beberapa kegiatan baik dalam bentuk

merumuskan kegiatan maupun legislasi peraturan perundang-undangan.

Dalam legislasi undang-undang secara nyata pemerintah memiliki komitmen

yang tinggi untuk memberikan jaminan hukum bagi perlindungan anak.

Secara empiris implementasi undang-undang belum menampakkan hasil

yang memuaskan. (Riza Nizarli, 2005 : 240)

Perlu dipahami bahwa setiap ABH berhak untuk mendapat perlindungan

baik fisik, mental, spiritual maupun sosial sesuai dengan prinsip kepentingan

yang terbaik bagi anak. Berdasarkan prinsip tersebut, ABH, polisi mempunyai

kewenangan untuk melanjutkan atau menghentikan perkara tersebut dengan

memperhatikan berbagai pertimbangan demi kepentingan terbaik bagi anak

dengan mengirim anak tersebut ke ruang Unit Pelayanan Perempuan dan

Anak (UPPA) yang dulunya dikenal dengan Ruang Pelayanan Khusus (RPK).

Perlindungan anak dari tindak kekerasan dan penguatan sistem

Peradilan Ramah Anak khususnya di lingkungan kepolisian dan lembaga

peradilan lainnya adalah komponen utama dalam mengembangkan pera-

dilan yang ramah anak. Penguatan Sistem Peradilan Ramah Anak adalah

bagian dari reformasi sistem peradilan yang saat ini dijalankan di seluruh

lembaga peradilan termasuk institusi kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan

perguruan tinggi. Salah satu kegiatan yang sangat penting bagi perbaikan

sistem peradilan anak adalah pelaksanaan diversi dan restorative justice,

yaitu mekanisme penyelesaian kasus anak yang berhadapan dengan hukum

di luar jalur formal yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak dan

mengupayakan penahanan atau pemenjaraan sebagai alternatif terakhir. Oleh

karena itu, sangat didambakan agar sitem retributif yang merupakan pilihan

utama dan pertama yang digunakan dalam peradilan anak yang berhadapan

dengan hukum untuk dihindari dan digunakan sebagai upaya terakhir.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 60



Dari berbagai kegiatan tersebut masih terdapat kendala bahwa dalam

pelaksanaan diversi dan restorative justice adalah resistensi dari pihak korban

dan mayoritas masyarakat terhadap diversi dan restorative justice karena

masih kuatnya pemahaman bahwa pelaku harus dihukum (sistem retributif)

tidak memperhatikan latar belakang usia pelakunya serta stigma negatif yang

akan berkembang dimasyarakat terhadap anak-anak yang pernah terlibat

dengan masalah hukum. Di sisi lain masih ada aparat penegak hukum lainnya

yang masih belum bisa menerima atau melaksanakan diversi dan restorative

justice dengan alasan belum ada aturan hukum dan kejelasan aturan serta

prosedur pelaksanaannya.

Permasalahan yang masih dihadapi dalam menangani ABH, antara lain:

kurangnya sosialisasi sehingga pemahaman tentang penanganan hal tersebut

masih bervariasi dan cenderung menggunakan persepsi yang berbeda. Di

samping itu sarana prasarana yang masih terbatas menambah permasalahan

yang dihadapi pada saat menangani ABH.

Oleh sebab itu mekanisme hukum dan sistem peradilan pidana

(criminal justice system) polisi, jaksa,hakim dan lembaga pemasyarakatan

beserta masyarakat menjadi faktor yang mesti mendapat perhatian yang

cukup untuk memberikan perlindungan dan jaminan terpenuhinya hak-hak

dasar seorang anak yang berhadapan dengan hukum. Untuk itu Kepolisian

dan masyarakat perlu mengalami penyegaran pandangan terhadap isu anak

yang berhadapan dengan hukum, agar dapat terlibat dalam upaya menekan

jumlah anak berhadapan dengan hukum dan mengharapkan penyelesaian

yang lebih bijak melalui penerapan konsepsi diversi dan restorative justice.

Untuk meningkatkan profesionalisme Kepolisian, maka diperlukan

pemahaman dan penerapan konsepsi diversi dan restorative justice guna

dapat memberikan perlindungan terbaik terhadap anak yang berhadapan

dengan hukum, hal peningkatan professional perlu waktu yang panjang dan

berkesinambungan agar hasilnya lebih maksimal. Kegunaan konsep diversi

karena anak adalah sosok yang belum matang baik secara phisik maupun

secara psikhis dan dimaksudkan agar anak terhindar dari proses hukum lebih

lanjut, sebab anak tidak mengerti betul tentang kesalahan yang dilakukannya.

Diversi dan restorative justice adalah suatu bentuk penyelesaian

kasus ABH dan lebih mengutamakan penyelesaian secara non-formal

serta menghindarkan anak dari penyelesaian secara hukum normatif yang

mewajibkan anak melalui proses penegakan hukum yang membutuhkan

waktu yang relatif lama dan tentu melelahkan, mulai dari tahap penyidikan,

penuntutan, persidangan sampai dengan pemenjaraan.

Restorative justice sangat menekankan pada upaya perlindungan

masyarakat dan pada pertanggungjawaban penuh pelaku kejahatan untuk

61 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



memulihkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kejahatannya agar pelaku

dapat ter-reintegrasi dengan masyarakat. Kedua penekanan ini mencerminkan

kaitan erat antara restorative justice dan reintegrasi.

Konsep restorative justice menawarkan pendekatan kekeluargaan

yang sangat cocok dengan kondisi lingkungan masyarakat dan budaya bangsa

Indonesia karena secara konstruktif menyadarkan anak yang melakukan

tindak pidana atas kesalahan mereka, daripada melalui pendekatan yang

mengutamakan prosedur penegakan hukum semata, bahkan pendekatan

kekeluargaan ini mungkin akan lebih berhasil daripada mengirim anak ke

lembaga peradilan apalagi sampai mendekam di Lembaga Pemasyarakatan

untuk menjalani pidana penjara.

Resorative Justice (keadilan yang memulihkan) merupakan bentuk

penyelesaianABH berdasarkan partisipasi masyarakat dengan upaya diversi

yaitu kasus anak tidak sampai ke pengadilan untuk diproses secara hukum,

tapi cukup diselesaikan pada tingkat forum atau komunitas di masyarakat

dengan jalan kekeluargaan.

Di Indonesia diversi merupakan konsep semacam diskresi kepolisian

untuk kasus-kasus tertentu di mana pelaku anak tidak harus dilanjutkan

kasusnya ke Kejaksaan dan ke Pengadilan, atas dasar pertimbangan petugas

Balai Pemasyarakatan maka tersangka hanya diproses sampai tingkat

kepolisian, selanjutnya dibina di shelter, atau dipulangkan ke orang tuanya.

Kegunaan konsep diversi karena anak adalah sosok yang belum

matang baik secara phisik maupun secara psikhis dan dimaksudkan agar

anak terhindar dari proses hukum lebih lanjut, sebab anak tidak mengerti

betul tentang kesalahan yang dilakukannya.

Diversi memberikan kesempatan dengan pendekatan kemanusiaan,

karena anak lebih mudah dibina daripada orang dewasa, stigma bahwa

penjara dan penghukuman adalah sekolah kriminal telah tertanam di

masyarakat sehingga memasukkan anak pada Lembaga Pemasyarakatan

dapat menjadikan labelisasi seumur hidup yang menghancurkan masa

depan.

Diversi dapat mencegah efek negatif dalam suatu proses hukum,

khususnya akibat penahanan dan pemenjaraan. Anak masih sangat bergantung

pada orang lain baik secara ekonomi maupun secara social, demikian pula

anak adalah pewaris bangsa dan penerus masa depan, generasi penerus

yang berkualitas tidak dilahirkan di balik jeruji besi, oleh sebab itu hukuman

adalah jalan terakhir.

Memang tidak mudah menerapkan konsep diversi, walaupun UU

No.2/2002 tentang Kepolisian sebenarnya telah memberikan kewenangan

diskresi bagi kepolisian sebagai dasar legitimasi diversi yang dilakukan oleh

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 62



kepolisian. Namun sangat jarang digunakan atau dijadikan sebagai

landasan hukum dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum,

sehingga alasan yang sering muncul bahwa kasus bukan merupakan delik

aduan sehingga tidak dapat diselesaikan secara diversi dan belum adanya

peraturan jelas. Di sini bisa timbul pertanyaan apakah mungkin penyidik

tidak mau melakukan diversi, karena jika melakukan diversi dana penyidikan

mungkin tidak akan bisa ditarik. Jika jawabannya ya perlu dicari solusinya

agar tidak menghambat penyelesaian ABH secara diversi.

Dalam penanganan ABH reformasi Polisi lebih maju dibandingkan

dengan APH lainnya dengan dikeluarkannya beberapa ketentuan seperti

Peraturan Kapolri No. Pol: 10/2007 tentang Unit Pelayanan Perempuan

dan Anak, Telegram Kabaskrim POLRI No. TR/1124/XI/2006 tentang

Pedoman Penanganan Terhadap Anak Berhadapan Dengan Hukum, Telegram

Kabareskrim Polri No. Pol: TR/395/DIT-I /VI/2008 tentang Standar Dalam

Proses Penyidikan Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum, Telegram

Kabareskrim Polri No. TR/772/IX./2009 tentang Panangan anak Berhadapan

Dengan Hukum, Surat Kabareskrim Polri No. Pol: B/2160/IX/2009 tentang

Pedoman Penanganan Anak Berhadapan Dengan Hukum

Polda Aceh dalam melakukan reformasi terhadap penanganan ABH

bekerjasama dengan Unicef dan Restorative Justice Working Group (RJWG)

pada tanggal 31 Maret 2010 dengan SK Kapolda No. Kep. 160/III/2010 telah

berhasil pula menghasilkan Pedoman Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Bagi Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum dan Modul Pelatihan Diversi

dan Restorative Justice Bagi Aparat Penengak Hukum. Dalam SPM tersebut

telah diatur berbagai ketentuan dalam menangani anak seperti; tugas

Pokok, Fungsi, Rincian Tugas, Personil Unit PPA, Konsepsi Pelayanan dan

Perlindungan, standar Pelaksanaan, sistem, Prosedur dan Mekanisme dan

Administrasi Pengarsipan.

Ketentuan yang dikeluarkan oleh Kabareskrim maupun Polda Aceh,

merupakan suatu reformasi yang sangat maju dari pihak Kepolisian dalam

menangani ABH. Isi dari ketentuan tersebut dalam penganan ABH supaya

tindakan yang tidak terpuji yang selama ini dilakukan untuk segera dihentikan

dan pedoman penanganan ABH sedapat mungkin diselesaikan secara diversi

dan restorative.

Polri sebagai aparat penegak hukum memang harus bersikap tegas

dan mungkin juga dalam suatu kondisi perlu bertindak keras. Namun, sebagai

pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat maka sikap sejuk dalam

melaksanakan tugas secara profesional, modern dan bermoral, dan toleran

tetap tidak boleh ditinggalkan.

Penerapan konsep diversi dan restorative justice diharapkan dapat

memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas perlindungan anak

63 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



dan juga akan bermanfaat secara ekonomi, baik bagi pemerintah maupun

masyarakat, karena akan mengurangi beban biaya penyelesaian perkara.

Manfaat penting lainnya adalah mendidik ABH agar menciptakan kesadaran

dan membinanya untuk selanjutnya tidak melakukan pelanggaran hukum.

Permasalahan yang masih dihadapi dalam melaksanakan ketentuan-

ketentuan yang berkaitan dengan penanganan ABH, antara lain: kurangnya

sosialisasi sehingga pemahaman tentang penanganan hal tersebut masih

bervariasi dan cenderung menggunakan persepsi yang berbeda. Di samping

itu sarana prasarana yang masih terbatas menambah permasalahan yang

dihadapi pada saat menangani anak yang berhadapan dengan hukum.

Kondisi ini membuka peluang bagi penempatan anak dilembaga

baik selama proses peradilan dengan status tahanan anak ataupun sebagai

narapidana anak. Oleh karena itu sangat penting Kepolisian melakukan

upaya-upaya untuk kepentingan terbaik anak sebagaimana diatur dalam

Konvensi Hak-Hak anak Pasal 37 (b), The Beijing Rules (Butir 13.1 dan 2),

dan UU No. 2/2002 tentang Kepolisian tepatnya bagian kewenangan polisi

menghentikan penyidikan perkara.

Namun pada kenyataannya, meskipun Indonesia telah meratifikasi

Konvensi Hak Anak dan telah mengesahkan UU No. 23/2002, kondisi

perlindungan anak masih cukup mengkhawatirkan, sebab sejumlah fakta

dan data menunjukkan bahwa pemenuhan dan perlindungan hak anak

belum sesuai dengan harapan, bahkan bentuk-bentuk kekerasan pada anak

dan pelanggaran hak-hak anak masih saja terjadi. Belum lepas dari ingatan

masyarakat bahwa penanganan kasus “Raju” mulai dari proses penyidikan

sampai dengan pelaksanaan persidangan di Stabat Sumatera Utara pada awal

tahun 2006 belum mencerminkan langkah-langkah untuk mengutamakan

kepentingan terbaik bagi anak.

Memahami pentingnya profesionalisme Kepolisian sebagai landasan

utama dalam melaksanakan tugas dan peran dalam perlindungan anak,

maka perlu dikembangkan berbagai upaya menuju profesionalisme dan ini

bukan merupakan proses yang sederhana dan dapat dicapai dalam waktu

singkat. Untuk meningkatkan profesionalisme Kepolisian, maka diperlukan

pemahaman dan penerapan konsepsi diversi dan restorative justice guna dapat

memberikan perlindungan terbaik terhadap ABH, hal peningkatan profesional

perlu waktu yang lebih panjang (tidak sesaat) dan berkesinambungan agar

hasilnya lebih maksimal.

Dari uraian di atas dan pada kenyataannya ditemukan berbagai

permasalahan bahwa Kepolisian belum memahami secara penuh makna dari

perlindungan anak dan prinsip dasar “diversi dan restorative justice” dalam

penanganan ABH serta belum memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 64



sebagi generasi penerus bangsa, sehingga sejumlah anak yang mendekam

di Lembaga Pemasyarakatan Anak yang tersebar di seluruh Indonesia saat

ini termasuk yang masih dalam tahap penyidikan tidak terlepas dari andil

Kepolisian sebagai pilar atau garda terdepan dalam penegakan hukum.



Kapasitan Kepolisian Dalam Menangani Anak Yang Berhadapan



Secara kuantitas, namun pasti masih sangat minim Pimpinan/penyidik

Dengan Hukum



yang mempunyai pengetahuan/pemahaman tentang perlindungan anak dan

tentang prinsip kepentingan terbaik bagi anak, kecuali beberapa personil

Unit PPA di masing-masing Polda/Polres yang telah mengikuti pelatihan yang

difasilitasi/didanai oleh Unicef.

Sedangkan pengetahuan/pemahaman terhadap prinsip-prinsip diversi

dan restorative justice dalam penanganan anak yang berhadapan dengan

hukum (penyidik telah ikut pelatihan belum terdata) menjadi hal yang sangat

langka, dan mereka yang telah dilatih tidak jarang dipindah ke bidang lain,

sehingga arah kebijakan Renstra Polri tahun ke-5 (2009) Polri sebagai pilar

penegak hukum terdepan menjadi belum professional dalam penanganan

anak yang berhadapan dengan hukum dan tentunya belum dapat memberikan

perlindungan terhadap ABH.

Penyidik sebagai pihak pertama dalam proses awal mekanisme

hukum formal, telah memberikan andil besar bagi banyaknya anak yang

harus menerima vonis hakim dan mendekam di ruang tahanan di berbagai

Lembaga Pemasyarakatan Anak dan Dewasa dengan kondisi yang tidak

layak bagi orang dewasa dan lebih-lebih bagi anak, sebagai akibat dari

ketidaktahuan penyidik serta kekakuan penyidik menerapkan sistem hukum

pidana dan tanpa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Hak-hak

Anak, Undang-undang tentang HAM dan Perlindungan Anak khusus konsep

diversi dan restorative justice.

ABH masih mengalami proses pemeriksaan dengan menggunakan

cara-cara kekerasan, seperti ancaman, ditakut-takuti dan dipukuli sejak

berada di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) sampai pada saat dilakukan

proses penyidikan dan penahanan, meskipun di beberapa Polda/Polres telah

terbentuk unit RPK (Ruang Pelayanan Khusus) bagi Anak dan perempuan

yang saat ini berubah nama menjadi Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan

Anak) agar pelaksanaan tugasnya tidak hanya menangani anak yang menjadi

korban tindak pidana.

Selama ini Unit PPA dalam pelaksanaan tugasnya ternyata hanya

melakukan pemeriksaan bagi anak korban kekerasan seksual dan anak

pelaku kekerasan seksual dan belum melayani anak yang diduga sebagai

65 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



pelaku, sehingga anak sebagai pelaku pelanggaran hukum lain akan

dilakukan penyidikan/diperiksa sesuai dengan bidang pelanggaran hukum

yang dilakukan oleh penyidik laki- laki, sebagai contoh anak yang melakukan

pencurian ditangani oleh Sat/Unit Opsnal dan bukan oleh Unit PPA), termasuk

anak yang tersangkut kasus Narkoba (baik penggunan apalagi pengedar)

ditangani oleh Sat/Unit Narkotika yang tentunya belum memiliki kemapuan

penanganan anak.

Unit RPK yang sekarang telah berubah menjadi Unit PPA berdasarkan

Peraturan Kapolri No. Pol. : 10 Tahun 2007 tentang Unit Pelayanan

Perempuan dan Anak cenderung hanya memberikan perlindungan khusus

bagi anak korban kejahatan seksual, yang dapat dilihat dari cara-cara penyidik

melakukan pendekatan dan wawancara terhadap anak.

Pendekatan terhadap anak yang diduga sebagai pelaku, di mana para

penyidik lebih mengutamakan kepentingan mengejar barang bukti dan

pengakuan tersangka, dan bahkan telah melanggar prinsip kepentingan

yang terbaik bagi tersangka anak dan juga korban anak, sebagai contoh :

penyidik melakukan pengumpulan bukti dengan cara mengkonfrontir dan

mempertemukan anak korban kekerasan dengan pelaku, sedangkan terhadap

pelaku kekerasan seksual masih menggunakan kekerasan/penganiayaan

pada saat dilakukan proses pemeriksaan oleh penyidik dengan tujuan untuk

mendapatkan pengakuan.

Umumnya penyidik melakukan upaya/langkah penahanan terhadap

anak yang diduga sebagai pelaku selama proses penyidikan dan tidak

memanfaatkan ketentuan dalam KUHAP tentang tahanan kota atau tahanan

rumah terlebih-lebih langkah inisiatif untuk penangguhan/pengalihan

penahanan, padahal berdasarkan ketentuan bahwa penahanan adalah langkah

terakhir, selanjutnya penyidik justeru meneruskan/melimpahkan tersangka

dan barang bukti berikut berkas perkara hasil penyidikannya kepada jaksa

penuntut umum.

Dalam praktek, ada penyidik melakukakan penyelesaian dengan upaya

perdamaian atau dengan ”musyawarah” antara anak (tersangka) dengan

korban sebenarnya penyelesaian bukan menerapkan diversi, karena dasarnya

diluar prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for child) karena

penyidik bertujuan mengkomersilkan kasus anak, artinya proses kasus dapat

dilakukan perdamaian/musyawarah atau kasus anak tidak diteruskan oleh

penyidik ke Kejaksaan semata-mata agar mendapatkan imbalan dana bukan

sebagai wujud perlindungan terhadap anak.

Pemeriksaan terhadap anak yang diduga sebagai pelaku (tersangka)

lebih banyak tidak didampingi oleh penasehat hukum, petugas BAPAS,

pendamping sosial/psikologis, LSM Anak, atau orang tua anak, meskipun

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 66



sebagian orang tua anak datang ke kantor Polisi. Bahkan tersangka anak yang

telah didampingi oleh penasehat hukum diminta oleh penyidik untuk tidak

menggunakan penasehat hukum dengan alasan agar mudah dibantu untuk

mengupayakan penangguhan penahanan, penyelesaian musyawarah/damai,

dan upaya-upaya non-teknis lainnya.

Demikian salah satu contoh yang dialami tersangka anak bersama

orang tuanya saat berhadapan dengan penyidik Polri yang merupakan garda

terdepan/gerbang awal anak mengalami atau berhadapan dengan hukum,

hasilnya justeru sebaliknya anak bukannya mendapatkan perlindungan

sesuai dengan hak-hak anak yang seharusnya diperoleh, melainkan perlakuan

penyidik yang moralitasnya diraguk

Penanganan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum khususnya

anak yang diduga sebagai pelaku telah dipraktekkan secara beragamnya oleh

masyarakat, penanganan anak yang berhadapan dengan hukum telah ada

dan hidup di masyarakat, antara lain dengan musyawarah atau penyelesaian

secara kekeluargaan atau penyelesaian secara adat istiadat atau penyelesaian

lainnya.

Penanganan ABH yang dilakukan oleh penyidik selama ini sebagaimana

diatur dalam KUHAP, karena memang pengetahuan/teknis penyidikan itulah

yang dimiliki atau lebih dipahami/diketahui oleh penyidik, sedangkan

pengetahuan dan pemahaman tentang alternative lain seperti konsep

diversi dan restorative justice adalah sangat-sangat terbatas baik dikalangan

penyidik maupun tingkat pimpinan Polri, sehingga banyak kasus-kasus anak

yang sifatnya ringan (pencurian biasa, perkelahian yang tidak menimbulkan

korban jiwa, dan lain-lain) harus berakhir dipersidangan karena penyelesaian

kekeluargaan yang telah diprakarsai oleh kedua belah pihak dan oleh pihak

lain yang terkait (sekolah, LSM, lingkungan anak), tertepis oleh kekakuan

penyidik dan Kepala Kesatuan Kewilayahan dalam menerapkan hukum

formal dan berlindung dibalik bukan delik aduan daripada mengutamakan

kepentingan terbaik bagi anak.

Koordinasi dalam menangani ABH saat ini belum dipahami secara

merata oleh Pimpinan dan penyidik, sehingga banyak kasus anak yang

ditangani dan atau diselesaikan oleh penyidik Polri tidak melibatkan pihak-

pihak terkait, seperti BAPAS, Penasehat Hukum/Advokat, LSM Anak, Pihak

Sekolah, Tokoh Masyarakat, dan lain-lain.

Penanganan kasus anak yang belum transparan menjadikan

peluang bagi penyidik untuk melakukan upaya-upaya penyidikan dan atau

penyelesaian kasus yang tidak professional serta tidak memperhatikan

kepentingan terbaik bagi anak.

67 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Setelah Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. Pol. : 10

Tahun 2007 tentang Organisasi Dana Tata Kerja Unit Pelayananan Perempuan

dan Anak (Unit PPA ) di Lingkungan Polri disahkan 06 Juli 2007, maka sampai

dengan saat ini struktur Unit PPA berada di bawah Direktorat I untuk tingkat

Bareskrim Polri serta di bawah Satuan Opsnal I Direktorat Reserse Kriminal

untuk di tingkat Polda dan di bawah Unit Kejahatan Umum Satuan Reserse

Kriminal untuk tingkat Polwil/Polres.

Posisi dan struktur dimaksud di atas menjadi salah satu penyebab

penanganan kasus anak dan perlindungan anak menjadi perhatian

masyarakat karena mereka menganggap Polri belum professional sedang

para pimpinan dan penyidik memiliki kewenangan untuk melaksanakan

diskresi yang bertanggung jawab sehingga dapat dilaksanakan diversi dan

selanjutnya dengan pendekatan restorative justice.

Polda, Poltabes dan Polres belum semuanya memiliki Ruang Unit

PPA yang cukup representative untuk memberikan pelayanan yang aman

dan nyaman bagi anak. Belum tersedianya ruang tahanan khusus anak-anak

sehingga penyidik Polri terpaksa menempatkan pelaku anak menjadi satu

dengan tahanan pelaku dewasa dan atau ditempatkan di suatu ruangan yang

sangat tidak memenuhi syarat keamanan anak.

Belum memadainya anggaran khusus untuk penanganan/penyidikan

anak yang berhadapan dengan hukum, sehingga terkendala dalam hal

memberikan perlindungan bagi anak, antara lain pembangunan Ruang Unit

PPA dan Ruang Tahanan Khusus Anak.







Kepolisian yang telah melakukan reformasi hampir mencapai waktu 12

Penutup



tahun, di alam keterbukaan dewasa ini, masih tidak terhindarkan dari kritikan

dan gunjingan. Kritikan, soratan dan kecaman masyarakat sudah termasuk

makanannya sehari-hari. Itu disebabkan polisi adalah birokrasi penegakan

hukum yang berada langsung di tengah-tengah masyarakat. Kritikan tersebut

bisa diartika positif, bisa pula negatif, namun yang pasti, masalah Kepolisian

adalah masalah masyarakat juga.

Kritikan sorotan tajam dari masyarakat, karena reformasi yang

dilakukan dianggap masih berjalan lambat. Hal ini dapat dilihat dengan jelas

bahwa budaya dan kultur represif, arogansi, tidak bersih dan eksklusifitas

masih melekat di tubuh Kepolisian.

Untuk melakukan reformasi, Kepolisian telah dipayungi dengan

beberapa perturan perundangan-undangan, termasuk Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, Buku Biru Reformasi Kepolisian,

Grand Strategi Kepolisian 2005-2025.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 68



Tujuan reformasi kepolisian adalah membangun kepolisian sipil

yang profesional dan akuntabel dalam melayani masyarakat sesuai dengan

menjunjung tinggi norma-norma demokrasi, menghormati HAM dan

hukum internasional lainnya. Keterbukaan berarti polisi adalah bagian dari

masyarakat, berintegrasi dengan masyarakat dan memiliki hak yang sama

sebagai warga negara. Polisi adalah mitra sejajar masyarakat dalam melawan

tindak kriminal dan tidak diskriminatif terhadap kelompok tertentu baik

dalam kepolisian maupun dalam pelaksanaan tugasnya, dan polisi adalah

institusi sipil yang profesional.

Dalam penanganan ABH Kepolisian juga telah melakukan berbagai

reformasi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang khusus untuk

kepentingan terbaik bagi anak dan telah melakukan pula berbagai pelatihan-

pelatihan dalam menanagana ABH.

Namun reformasi yang dilakukan belum berjalan seluruhnya

sebagaimana diharapakan, karena dalam kenyataannya masih terdapat

kelemahan-kelemahan yang dihadapai didalam masyarkatat, baik itu dari

kepolisian sendiri maupun dari kultur masyarakat. Publik belum percaya

sepenuhnya kepada Polri karena institusi ini dilihat masih mewarisi watak

militeristik. Pandangan ini seiring dengan masih munculnya kasus kekerasan,

pelanggaran HAM, serta belum adanya penegakan hukum yang berkeadilan

dan akuntabel atas pelanggaranpelanggaran yang melibatkan aparat Polri.







Adnan Topan Husodo “Komitmen Polri dalam Pemberantasan Mafia Hukum”

Daftar Pustaka



Kaukus Wartawan Hotel Sultan, Jakarta, Senin 28 Juni 2010.

Bagir Manan, “Restorative Justice dalam Perkara Anak”, Makalah disampaikan

pada Workshop Penanganan Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum

dengan Pendekatan Restoratif Justice, Bogor, Hotel Salak, 5 April 2010.

Distia Aviandari, “Penjara, dan Gagasan Penanganan Alternatif”, Membongkar

Ingatan Berbagai Pengalaman Kumpulan Catatan Pengalaman, Pustaka

Laha, Bandung. 2008.

Khatarina Ekorini Indriati, ”Proses Penanganan Anak Berkonflik Dengan

Hukum Masih Terkendala”, Pledoi, Edisi I/Vol.1, 2010, Pusaka Indonesia,

Medan, 2010.

Kalemdikpol “Reformasi Birokrasi Polri” , Jakarta, 2010.

Linda Amalia Sari Gumelar, “Sambutan Menteri Negara Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak Pada Pembukaan Workshop

Penanganan Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum dengan

Pendekatan Restoratif Justice, Bogor, Hotel salak, 5–6 April 2010.

69 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Maidin Gultom ”Perkembangan Perlindungan Anak Dalam Peradilan Pidana

Anak Indonesia” Pledoi, Edisi I/Vol.1, 2010, Pusaka Indonesia, Medan,

2010.

Muhammad Kemal Dermawan dkk,. Analisis Situasi Anak Yang Berhadapan

Dengan Hukum di Indonesia, Unicef, Jakarta, 2007.

Redaksional “Mencari Solusi Dibalik Persoalan Anak Berkonflik dengan

Hukum, PusakaIndonesia, Pledoi, Medan, 2010.

Riza Nizarli, “Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak, Jurnal Ilmu Hukum

Kanun, No. 41 Tahun XIIV April 2005.

-------, “Penanganan anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Secara Diversi dan

Restorative Justice”, Pledoi, Edisi II 2010, Pusaka Indonesia, Medan,

2010 04.

Satjipto Raharjo, Membangun Polisi Sipil Perspektif Hukum, Sosial, dan

Kemasyarakatan, Kompas, Jakarta 2007.

Sukira, “Mereka Kembali Anak di Penjara dengan Keluarga”, Pustaka Laha,

LAHA, Bandung, 2008.

Syarifuddin Sudding “Reformasi Polri: Upaya Penguatan dan Penegakan

Hukum” PBHMI, Jakarta, Senin 18 Januari 2010.

URGENSI PERUBAHAN PARADIGMA

KEPOLISIAN INDONESIA

(Dari Model Konservatif Menuju Polisi Yang Humanis)





S. Sahabuddin28









Era Reformasi telah bergulir selama dua belas tahun di Indonesia

Latar Belakang



yang menginginkan perubahan besar dalam segala tatanan kehidupan

berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Demikian pula halnya terhadap law

enforcement yang dilakukan oleh para legal officer yang salah satunya adalah

polisi sebagai bumper terdepan dalam sistem penegakan hukum pidana.

Berbagai langkah telah dilakukan sebagai suatu kebijakan dalam rangka

perubahan baik secara kelembagaan maupun secara personal kepolisian,

misalkan saja dari aspek kelembagaan kepolisian sejak April 1999 secara

resmi telah keluar dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Instruksi

Presiden (Inpres) No 2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan

dalam Rangka Pemisahan Polri dan ABRI. Kebijakan tersebut kemudian

diikuti dengan dikeluarkannya kebijakan lain berupa TAP MPR No. VI Tahun

2000 Tentang Pemisahan Polri dan TNI, dan TAP MPR No. VII Tahun 2000

Tentang Peran Polri dan TNI.

Dari aspek personal anggota Kepolisian Republik Indonesia juga

telah dilakukan upaya perubahan (meskipun perubahan itu tidak dalam

tataran yang baik), misalkan saja perubahan fungsi dan tugas polisi dari

fungsi penegakan hukum menuju fungsi pelayanan dan perlindungan hukum

(perhatikan UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia).

Namun perubahan terhadap lembaga yang satu ini tidak semudah

membalikkan telapak tangan, problematika yang dihadapi negara dalam

perubahan ini sangat kompleks, mulai dari persoalan kelembagaan yang

masih berasa sentralistik (kebijakan pengangkatan jabatan, keuangan ataupun

managerial), sampai pada persoalan perilaku personal yang menurunkan

derajat / citra kepolisian itu sendiri (polisi brutal, polisi korup, atau perilaku

lain yang menyimpang).

Reformasi kepolisian sebenarnya merupakan salah satu item kecil

dari perubahan Konstitusi Negara Republik Indonesia yang pada dasarnya

28

Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Batanghari Jambi

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 72



telah meletakkan konstruksi besar suatu perubahan. Sebagai Negara Hukum

(rechtstaats) yang juga mengenal sistem kekuasaan (machtstaats) dalam

rangka menjalankan hukum, maka sudah seharusnya perubahan-perubahan

pada semua lembaga (termasuk kepolisian) harus berdasarkan pada 3

prinsip dasar negara hukum, yaitu a) mengedepankan supremasi hukum;

b) penegakan hukum didasarkan pada asas equality before the law; dan c)

menyelesaikan masalah hukum tanpa melanggar hukum.

Memperhatikan 3 prinsip dasar negara hukum tersebut yang dikaitkan

dengan model penegakan hukum, perlindungan dan pelayanan hukum yang

dilakukan polisi, maka sampai hari ini kita masih merasakan penyimpangan

perilaku personal dan lembaga kepolisian. (contoh paling baru adalah

rekening gendut beberapa perwira tinggi dan sistem pengangkatan Kapolri

baru). Belum lagi banyaknya hutang polisi dalam penyelesaian kasus-kasus.

Satu persoalan penting yang patut menjadi perhatian semua dalam

melakukan perubahan lembaga ini adalah masih kuatnya model konservatif

sebagai paradigma kepolisian di Indonesia, baik dalam tugas-tugas maupun

dalam hubungan antar lembaga dan masyarakat. Konservativism telah men-

jadikan polisi menjadi alat politik kekuasaan (sifat positivis-intrumentalis),

sehingga menyulitkan lembaga ini untuk keluar dari pengaruh kekuasaan,

terutama eksekutif, padahal kita menginginkan polisi yang profesional

yang responsif-populistik. Sepanjang paradigma kepolisian masih bersifat

konservatif, kita jangan terlalu berharap banyak terjadinya perubahan yang

signifikan pada lembaga ini, kita hanya bisa menjadi penonton dagelan polisi

yang dimainkan oleh dalang kekuasaan. Untuk itu menjadi penting bagi kita

semua melakukan lompatan besar dalam mereformasi kepolisian, terutama

perubahan paradigma lembaga tersebut.

Paradigma yang mempuni untuk mengatasi masalah ini adalah

paradigma humanis yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai

bagian dari kehidupan sosial yang harmonis, landasan paradigma ini adalah

moral bangsa yaitu Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pancasila telah

memberikan pandangan keadilan yang humanistik dalam lingkaran sosial.

Sebagai masyarakat komunal, sudah barang tentu nilai sosial yang berbasis

humanis akan memberikan keadilan fairness. Untuk itu lembaga penegakan

hukum juga harus berbasiskan humanistik. Karena dengan paradigma humanis

ini, semua tindakan kepolisian, baik kelembagaan maupun personalnya harus

didasarkan pada moral bangsa yang mengedepankan nilai kemanusiaan.







Menyikapi persoalan-persoalan yang menyelimuti Kepolisian Repu-

Permasalahan



blik Indonesia dan terus berupaya menemukan pemikiran baru agar

73 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



terjadi perubahan pada lembaga ini, maka penulis menitik beratkan pada

permasalahan perubahan paradigma kepolisian yang selama ini lebih pada

sifat yang konservatif menuju paradigma yang humanis. Dengan demikian

yang menjadi persoalan dalam tulisan ini adalah seberapa pentingnya

dilakukan perubahan paradigma tersebut dalam menyikapi perubahan pada

lembaga kepolisian Republik Indonesia, dan model apa yang ditawarkan demi

terciptanya polisi profesional yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.







Sebagaimana telah penulis kemukakan sebelumnya, bahwa reformasi

Pembahasan



kepolisian menjadi penting untuk terus dilakukan dan mendapat pengawalan

ketat dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam kaitan dengan masalah ini

ada hal penting yang juga berpengaruh besar pada perubahan kepolisian di

Indonesia, yaitu persoalan paradigma kepolsian itu sendiri.







Paradigma adalah suatu pola yang mempengaruhi pemikiran dan

Paradigma Kepolisian Saat ini



tindakan dalam suatu kegiatan tertentu. Paradigma memberikan sudut

pandang dalam menilai suatu objek yang dilihat oleh subjek, sehingga

mempengaruhi subjek itu sendiri. Paradigma itu sendiri ditentukan oleh

stimulus yang diterima oleh berbagai aspek dan selanjutnya melalui suatu

proses pematangan menjadi pola fikir yang dipegang kuat untuk dijalankan.

Menyikapi pola kerja Kepolisian Republik Indonesia saat ini sudah

barang tentu dipengaruhi oleh paradigma masa lalu yang sangat mengandalkan

sistem kerja represif yang mengarah pada sifat outonom, yang mana kedua

model/tipe hukum ini sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara maju

(berada pada tataran responsif-progresif).

Pola kerja konservatif ditunjukkan dengan banyaknya produk hukum

yang isi/substansinya mencerminkan visi sosial elit politik (keinginan

penguasa) dan produk ini akan menciptakan alat pelaksana yang dapat

menjalankan kepentingannya. Pada lembaga Kepolisian RI terlihat jelas pada

sistem rekruitment anggota kepolisian tingkat awal yang mengandalkan

model-model birokrasi panjang, mengedepankan pola represif pada

penegakan hukum dan menjadi alat pengawal penguasa.

Satu contoh kasus yang sangat menarik perhatian dimana paradigma

konservatif jelas terlihat, yaitu pengangkatan Kapolri baru (Timur Prodopo)

yang sangat terkesan dipaksakan serta memenuhi permintaan penguasa,

tanpa melalui proses pematangan karir, sarat dengan manipulatif politik dan

dianggap mampu melindungi penguasa.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 74



Bagaimana mungkin program-program Kapolri baru sebagaimana yang

sampaikannya ketika test and property dihadapan DPR dapat dilaksanakan,

ketika berhadapan dengan elit politik yang notabene menjadi dalang dagelan

politik, apakah ini hanya menjadi syarat formal saja bagi calon Kapolri baru?

Sementara paradigma kepolisian masih berkisar konservatif.

Kasus lain yang juga memperlihatkan pemikiran konservatif adalah

ketika terjadi politisasi KPK yang mengarah pada pengembosan kekuatan

lembaga tersebut. Selanjutnya juga diperlihatkan ketika polisi berusaha

menutup-nutupi kasus rekening gendut beberapa perwira tinggi Kepolisian.

Sulit bagi kita semua untuk mengatakan bahwa polisi Indonesia telah

melakukan perubahan besar, bahkan yang tampak hanya cacat bawaan yang

seharusnya diamputasi atau mungkin dimusnahkan dulu (dekonstruksi) dan

dibuat lembaga polisi baru.

Fakta lain juga memperlihatkan perilaku polisi yang brutal (brutally

police) yang merupakan kejahatan (baik dalam artian lembaga maupun

personal) yang jika kita gunakan pandangan Olof Kinberg dalam bukunya Le

droit de punir pada tahun 1948 yang mengatakan: kejahatan pada umumnya

merupakan perwujudan ketidaknormalan atau ketidakmatangan si pelanggar

(the expression of an offenders’s abnormality or immaturity) yang lebih

memerlukan tindakan perawatan (treatment).

Selanjutnya Achmad Ali mengatakan: “ketika hukum terserang oleh

salah satu atau lebih “penyakit hukum”, maka sudah dapat dipastikan bahwa

hukum tidak mampu mencapai tujuan hukum”.

Birocracy crime dan officer’s crime sangat mudah dilakukan ketika

polisi berada pada lingkaran paradigma konservatif yang bernuansa menutupi

tuntutan kaum minoritas (hidden process), dengan demikian sangat mustahil

untuk mengejar tujuan hukum. Hal ini pula yang menjadikan kerenggangan

antara polisi dengan masyarakatnya, karena sudah terlanjur distrust.

Keadilan fairness tidak akan pernah terwujud jika keadilan ditem-

patkan pada posisi yang tidak seimbang. John Stuart Mill mengatakan:

“keadilan bersumber pada naluri manusia untuk menolak atau membalas

kerusakan yang diderita, baik oleh diri sendiri maupun oleh siapapun yang

mendapatkan simpati. Perasaan akan menunjukkan perlawanan terhadap

kerusakan atau penderitaan, tidak hanya berdasarkan kepentingan individu-

individu melainkan lebih luas, yaitu pada lingkungan sosial.

Dengan demikian kita dapat memastikan jika paradigma lama

(konservatif) tetap dijalankan oleh Kepolisian Republik Indonesia dalam

perjalanan tugas dan fungsi-fungsinya, maka sejalan dengan itu pula tidak

akan pernah muncul keadilan yang dinginkan oleh masyarakat.

75 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







Roesco Pound pernah mengatakan bahwa hukum yang baik adalah

Menuju Paradigma Baru Kepolisian



hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Hukum yang

dimaksud di sini juga termasuk alat perangkatnya. Jika dihubungkan dengan

pembukaan konstitusi Indonesia, maka jelas hukum yang dimaksudkan

adalah hukum yang sesuai dengan filosofi bangsa yang berbasis pada kedilan

sosial (social justice) yang pada akhirnya ingin mencapai welfare state.

Welfare state akan dapat dicapai jika negara memberikan perlindungan

sosial (social welfare) yang seluas-luasnya, termasuk dalam bidang hukum,

karena hukum merupakan bagian dari masalah sosial, dan bahkan dalam

rechtstaats hukum adalah panglima yang menjadi primer instrument dalam

menjaga keseimbangan antara nilai-nilai sosial dan nilai-nilai individu.

Konsruksi rechstaats dalam konstitusi harus dijabarkan dengan benar

dan sesuai dengan tujuan penciptaan negara, yaitu memberikan kemakmuran

/ kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia. Untuk itu hukum harus menuju

ke arah barang apa yang berguna (teori utiliti). J. Bentham mengatakan hukum

semata-mata bertujuan memberikan faedah bagi orang banyak, karena apa

yang berfaedah bagi seseorang mungkin akan merugikan orang lain, Setiap

orang bernilai penuh dan tak seorangpun bernilai lebih (everybody to count



Pandangan Jeremy Bentham di atas sejalan dengan tujuan hukum

for one, no body for more than one).



menurut teori hukum Islam, menurut Teori Tujuan Hukum Islam pada

prinsipnya aturan-aturan itu ingin mewujudkan “kemanfaatan” kepada

seluruh ummat manusia yang mencakupi “kemanfaatan” dalam kehidupan di

dunia dan kehidupan di akhirat.

Terdapat beberapa prinsip umum dalam Al-Qur’an yang berkaitan

dengan tujuan hukum, misalnya: a) al-Asl fi al-manafi al-hall wa fi al-mudar

al man’u (segala yang bermanfaat dibolehkan, dan segala yang mudhorat

dilarang). Islam menganggap prinsip ini penting dan mendasar, bahkan

jika mengikuti pendapat Ibn al-Qayyim, prinsip ini menjadi sebagian dari

agama (syara’). Prinsip ini menuntut supaya dilaksanakan secara mutlak ke

atas seluruh individu tanpa melihat kepada perbedaan bangsa, iklim dan

aliran pemikiran (madzhab). Inilah yang diperintahkan oleh Allâh swt. dalam

firman-Nya:



“Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan.”

(QS. al-Nahl/16:90). Selanjutnya alqur’an juga menegaskan prinsip-prinsip

keadilan misalnya: Di dalam QS. al-Syûrâ/42: 15, Rasulullah saw. mengakui

dengan kata-katanya,

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 76



“Aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu”. (QS. al-

Syûrâ/42: 15).

Selanjutnya di dalam QS. al-Nisâ’/4: 58, Allâh swt. berfirman,

“Sesungguhnya Allâh menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada

yang berhak menerimanya dan (menyuruh) kamu apabila menetapkan

hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Sesungguhnya Allâh memberi pengajaran yang sebaik-baiknya

kepadamu. Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(QS. al-Nisâ’/4: 58).

Dalam menafsirkan ayat yang terakhir, al-Thabarî mengatakan:

“...menurut saya pendapat yang benar ialah pendapat yang mengatakan

bahwa itu adalah perintah Allâh kepada pemerintah yang mengurus

urusan umat Islam supaya melaksanakan amanah kepada orang-orang

di bawahnya tentang harta rampasan mereka, hak-hak mereka dan

urusan-urusan yang diamanahkan kepada mereka secara adil dan

pembagian yang sama...”



Konsep-konsep dalam alqur’an ini dapat dijadikan tolak ukur untuk

menciptakan keadilan yang sebenar-benarnya dalam penegakan hukum,

perlindungan dan pelayanan hukum, terutama yang dilakukan oleh polisi

sebagai abdi negara yang juga menduduki posisi mulia (officium nobile).

Dalam hal law enforcement yang menjadi tujuan utama adalah

penciptaan keadilan substantif (fairness), yang mana kedilan ini tidak akan

pernah muncul jika aparat penegak hukumnya justru tidak memiliki rasa

kemanusiaan yang menjadi dasar pemberian keadilan. Demikian pula dalam

hal social protection dan public service, pola pikir legal officer’s harus berada

diatas konsep keadilan yang fairness.





Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia

Model Pemolisian Yang Baik



yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama (Djokosoetono). Pada

hakikatnya negara memiliki 4 fungsi fundamental yaitu, mensejahterakan

rakyat, melaksanakan ketertiban, pertahanan keamanan, dan menegakan

keadilan. Fungsi-fungsi inilah yang melegitimasi negara untuk memiliki

berbagai perangkat di dalamnya untuk mewujudkan fungsi-fungsi tersebut.

Termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan berbagai

perangkatnya berupaya mewujudkan fungsi-fungsi tersebut. Institusi Polri

sebagai salah satu perangkat negara, dengan visi pengayom dan pelayan

masyarakat sebenarnya telah menjadi modal besar yang mensinergiskan

posisi Polri sebagai bagian dari birokrasi (government) yang memiliki tugas

77 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



utama untuk melayani (to govern). Bersama institusi pemerintahan lain, Polri

dapat mewujudkan fungsi pelaksana ketertiban dan penegakan keadilan

sebagai bagian dalam pelayanan.

Hal ini kian menjadi menarik ketika kita melihat arus reformasi yang

berjalan di institusi Polri. Polri secara resmi telah menjadi institusi mandiri

pada tanggal 1 April 1999, yang terpisah dari TNI. Hal ini diharapkan dapat

diikuti perubahan paradigma dan doktrin yaitu, dari paradigm ketentaraan

menjadi paradigma pelayanan masyarakat. Yaitu menitik beratkan pada

perubahan pendekatan yang represif menjadi lebih persuasive tanpa

menafikan upaya pemeliharaan ketertiban dan penegakan hukum. Dengan

hal tersebut diharapkan Polri mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga

dapat menjalankan fungsi pelayanannya dengan baik.

Namun, di sisi lain upaya reformasi Polri ini masih mengalami

hambatan, Institusi Polri masih di identikan dengan praktek suap-menyuap.

Dalam Indeks Suap tahun 2008, pengukuran dilakukan dengan menghitung

rasio kontak antara pelaku bisnis dan institusi publik yang terjadi suap,

dibanding total kontak yang terjadi. Indeks Suap polisi mencapai 48%,

yang berarti dari total interaksi antara responden pelaku bisnis dengan

institusi tersebut (n=1218), hampir setengahnya terjadi suap. Hasil ini masih

relevan dengan hasil Global Corruption Barometer (GCB) yang dikeluarkan

Transparency International pada tahun akhir 2007 lalu. Menyusul polisi,

bea cukai (41%), imigrasi (34%), DLLAJR (33%) dan pemda (33%) adalah

lembaga-lembaga yang berada pada urutan paling tinggi kecenderungan

terjadi suap (Transparansi International Indonesia, 2009).

Hal ini dapat diidentifikasikan sebagai kejanggalan bentuk interaksi

antara polisi dan masyarakat. Dibanyak negara telah dikembangkan sebuah

strategi yang disebut community policing, yaitu sebuah upaya menekan tidak

criminal dan kejahatan lainnya yang berbasis pada interkasi polisi dengan

masyarakat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat

dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Namun, dengan interkasi Polri dan

masyarakat yang tergambar dalam hasil survey bisakah community policing

itu terwujud?

Community policing bukanlah hal yang serta merta bisa terwujud

dengan mudah. Di Indonesia Polri telah mencangkan sebuah strategi

kepolisian masyarakat (polmas) dalam mewujudkan hal tersebut, Selama ini

langkah-langkah yang ditempuh adalah upaya penyadaran masyarakat akan

beratnya tugas yang diemban Polri untuk menjaga ketertiban dan keamanan

sehingga perlu peran serta maayarakat guna mencapai situasi yang aman dan

tertib, namun hal ini tidaklah cukup untuk mencapai community policing

dimana mensyarakatkan hubungan kemitraan antara polisi dan masyarakat.

Polri harus berupaya lebih, dalam meningkatkan kredibilitasnya, dimulai dari

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 78



peningkatan profesionalitas hingga pemberantasan suap mulai dari tingkat

pusat hingga wilayah, dan juga dari pejabat berpangkat tinggi hingga yang

terendah. Dengan hal tersebut diharapkan muncul kepercayaan masyarakat

kepada institusi Polri sehingga dapat terjalin kemitraan dalam meningkatkan

pelayanan khususnya dibidang ketertiban, keamanan dan penegakan

keadilan.

Pada dasarnya community policing ini merupakan sistem pemolisian

yang bersandar pada nilai-nilai kebersamaan antara polisi dengan

masyarakatnya. Paradigma humanis dapat dijadikan konstruksi yang

menjamin terlaksananya hubungan baik tersebut. Ketika hubungan polisi dan

masyarakat menjadi akrab, maka tugas-tugas kepolisian akan mendapatkan

dukungan kuat dan akan menghasilkan keadilan yang seimbang.

Untuk itu perlu dilakukan pemanusiaan hukum, karena hokum memang

memiliki cirri-ciri yang sama dengan manusia serta tidak dapat dilepaskan

dari konsep kemanusiaan







Memperhatikan kondisi dan suasana sistem pemolisian yang bersandar

Penutup



pada paradigma konservatif yang kurang memiliki rasa keberpihakan pada

masyarakat luas, maka sudah saatnya kita perlu melakukan perubahan dari

paradigma konservatif itu ke arah paradigma yang mampu menghubungkan

antara polisi dengan masyarakatnya. Satjipto Rahardjo menegaskan jika

polisi mau sukses dalam menjalankan profesionalisme dan menegakkan

kebenaran, maka polisi itu harus benar-benar memahami dan menjalankan

nilai-nilai habitat tempat ia bekerja. Rasanya tidak ada keraguan dalam hati

jika kepolisian RI mampu melakukan perubahan sudut pandangnya (terutama

tentang keadilan fairness), maka sudah pasti akan tercipta hubungan yang

harmonis dengan masyarakatnya.







Ali, Achmad, Menguak Teori Hukum (legal Theory) dan Teori Peradilan

Daftar Pustaka



(judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (legispru-

dence), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009.

Dimyati, Khudzaifah, Teorisasi Hukum, Studi Tentang Perkembangan Pemikiran

Hukum di Indonesia 1945-1990, Muhammadiyah University Press,

Surakarta, 2004.

Friedmann. W., Legal Theory, Terjemahan (Teori dan Filsafat Hukum), Raja

Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

79 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Manan, Abdul, Aspek-aspek Pengubah Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2005

Muladi dan Arief, Barda Nawawi, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Alumni,

Bandung, 1992

Pedgorecki, Adam and whelan, Cristoper. J., Sociological Approaches to Law

(terjemahan), Bina Aksara, Jakarta, 1987

Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996

_______________, Hukum Progresif, Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta

Publishing, Yogyakarta, 2009

Rasyidi, Lili, Dasar-dasar Filsafat Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990.

UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

TAP MPR No. VI dan VII Tahun 2000

Inpres No 2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan dalam Rangka

Pemisahan Polri dan ABRI

Bagian Kedua

REFORMASI KEJAKSAAN







LAPORAN PRESENTASI HASIL

PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI

LEMBAGA KEJAKSAAN

RE-REFORMASI KEJAKSAAN

SEBAGAI UPAYA PENGEMBALIAN

KEPERCAYAAN MASYARAKAT YANG

MENDAMBAKAN PENEGAKAN HUKUM

Aliyth Prakarsa1







Prefix “re” dalam istilah bahasa Inggris mengandung arti proses

Pendahuluan



mengulang (again), sementara pemahaman reformasi sebagaimana

dalam kamus bahasa Inggris adalah upaya (act) untuk dapat memperbaiki

(improving) atau merubah (changing) seseorang (somebody) atau sesuatu

(something)2. Tulisan ini secara sederhana bertujuan mengingatkan kita

bahwa sebagai sebuah proses dalam berkenegaraan yang dinamis selayaknya

segala upaya dalam rangka menuju arah perbaikan harus terus dilaksanakan

berulang-ulang.

Mohandas Gandhi pernah berucap; “Constant development is the law



consistent drives himself into a false position” Jika sebuah sistem yang telah

of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear



mapan belum juga dirasakan manfaat perubahannya, maka sebagai mahluk

yang diberikan kelebihan akal, manusia selayaknya sering kali melakukan

proses analisis ulang - rancang kembali - susun kembali - terapkan kembali-

evaluasi secara simultan hingga menuju titik kesempurnaan, sekalipun kita

ketahui hal tersebut menguras banyak tenaga, pikiran dan biaya dan kita pun

sadari bahwa titik kesempurnaan adalah sepenuhnya milik Tuhan namun

manusia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menuju titik capaian

tersebut hanya saja harus mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang

dimiliki. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib masyarakat manakala

tidak ada keinginan untuk berubah dari masyarakat itu sendiri.

Kita ketahui bersama Negara Indonesia telah menggulirkan reformasi

dalam rangka perjuangan mencapai titik kesejahteraan yang diharapkan

namun dalam perjalanannya perubahan tersebut baru terlihat ‘belum

cukup’ signifikan dalam berbagai bidang. Sorotan utama masyarakat sebagai

pelaku sekaligus pihak yang mengharapkan reformasi sebagai jalan keluar

dari belenggu pencapaian kesejahteraan sudah pasti salah satunya berada

pada satu titik dalam ranah/sector penegakan hukum karena masyarakat

menyadari yang mendorong terjadinya reformasi adalah sebagai akibat

dari lemahnya proses penegakan hukum yang tidak mencerminkan rasa

1

Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang – Banten

2

Periksa dalam Oxford Learner`s Pocket Dictionary, fourth edition halaman 365 dan 370

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 84



keadilan rakyat yang mendambakan hukum sebagai penghantar kepada titik

kesejahteraan.

Hal ini menjadi kegelisahan Satjipto Rahardjo yang pernah menulis

bahwa hukum tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya alternatif dalam

pengaturan masyarakat. Disadari atau tidak, sejak kemerdekaan sebetulnya

telah terjadi suatu kompetisi terbuka antara keinginan untuk mempertahankan

tatanan hukum dengan usaha melakukan penataan kembali politik, ekonomi,

social dan kebudayaan negeri ini3.







Salah satu ciri negara hukum adalah adanya proses penegakan hukum

Perubahan Wajah Penegakan Hukum dalam dan oleh Kejaksaan



yang bebas dari pengaruh manapun, sekalipun konsep negara hukum yang

diterapkan dalam Republik Indonesia juga terkena pengaruh oleh pemikiran

barat yaitu freedom under the rule of law namun Indonesia memiliki ciri

tersendiri. Konsep negara hukum rechtstaat menurut Julius Stahl terdiri dari

empat elemen penting yaitu perlindungan hak asasi manusia, pembagian

kekuasaan pemerintahan negara, pemerintahan dilaksanakan berdasarkan

undang-undang serta peradilan tata usaha negara (sebagaimana dikutip

Jimly Asshiddiqie, 2006: 152).

Sekalipun Indonesia memiliki konsep tersendiri dalam Negara

Hukum Pancasila namun pada hakikatnya terdapat kesamaan yaitu dalam

hal pembagian kekuasaan pemerintahan negara menjadi eksekutif, legislatif

dan yudikatif meskipun dalam prakteknya masih terdapat banyak titik bias,

di berbagai bidang terkadang tumpang-tindih, seolah masing-masing tidak

memahami batasan kewenangan yang dimiliki. Hal ini juga terjadi di bidang

penegakan hukum, seolah-olah semua elemen negara memiliki kewenangan

dalam pelaksaanan penegakan hukum sehingga terkesan hukum merupakan

alat untuk melanggengkan kekuasaan bagi individu yang berada pada institusi

tersebut.



Peraturan sebagai Penghambat Sikap Independensi dan



Martin Luther King, Jr pernah berkata; “Law and order exist for the

Profesionalitas Kejaksaan



purpose of establishing justice and when they fail in this purpose they become

3

Dalam hal ini Satjipto Rahardjo pun mengutip pendapat Trubek yang menyatakan bahwa

hukum tidak melibatkan diri pada pertanya-pertanyaan fundamental, tentang apakah

sebenarnya fungsi sosial, politik, dan ekonomi dari tatanan hukum itu. Selain itu juga mengutip

Koentjaraningrat bahwa hukum itu bukan satu-satunya alternatif tatanan, melainkan ada pula

tatanan politik, yang cara kerjanya berbeda dari hukum. Periksa: Satjipto Rahardjo, Membangun

dan Merombak Kembali Hukum Indonesia, Sebuah Pendekatan Lintas Disiplin, Genta Publishing,

Yogyakarta, 2009, halaman 4-5

85 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



the dangerously structured dams that block the flow of social progress” bahwa

kemajuan masyarakat dapat terhambat akibat gagalnya hukum dan peraturan

dalam menegakkan tujuannya yaitu keadilan. Sebagaimana dipaparkan oleh

Harkristuti Harkrisnowo bahwa SDM, Sistem dan Institusi, menjadi komponen

penting dalam peningkatan performa Kejaksaan agar menjadi Professional

Legal Organization (PLO)4 Undang-undang yang ada sebagai salah satu

komponen pencipta sistem penegakan hukum kiranya perlu ditinjau ulang.

Dalam perjalanannya Kejaksaan sebagai salah satu institusi dalam

pelaksanaan kekuasaan kehakiman mengalami berbagai proses perubahan

dan dinamika, sebagaimana dapat kita lihat terdapat setidaknya tiga kali

perubahan landasan hukum Kejaksaan dalam melaksanakan tugas dan

wewenang. Jika dicermati melalui perubahan landasan hukum ini maka akan

terlihat bias ketidak kosistenan yang disebutkan diatas, dimulai dari Undang-

Undang Nomor 15 tahun 1961 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kejaksaan

RI, Pasal 1 dari Undang-undang ini menegaskan bahwa Kejaksaan sebagai

alat negara penegak hukum yang bertugas sebagai penuntut umum, selain itu

juga Kejaksaan disebut sebagai alat revolusi maka dapat kita lihat bahwa niat

murni dari Undang-undang ini adalah Kejaksaan diharapkan menjalankan

kekuasaan negara sebagai satu-satunya lembaga yang mempunyai otoritas di

bidang penuntutan (asas dominis litis).

Kemudian Undang-undang tersebut digantikan oleh UU No. 5 Tahun

1991 dimana isi Pasal 2 menerangkan bahwa Kejaksaan adalah lembaga

pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan

sementara dalam Pasal 19 berisi tentang Jaksa Agung diangkat dan

diberhentikan oleh serta bertanggung jawab kepada Presiden, selain itu juga

Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang sebagaimana diatur dalam

Pasal 32 b. mengkoordinasikan penanganan perkara pidana tertentu dengan

instansi terkait berdasarkan undang-undang yang pelaksanaan koordinasinya

ditetapkan oleh Presiden.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Kejaksaan sudah berada

dalam ranah eksekutif sekalipun tugasnya melakukan kewenangan yudikatif,

sekalipun dalam Penjelasan Pasal 32, mengenai Penetapan oleh Presiden

tentang pelaksanaan koordinasi sama sekali tidak mengurangi asas

kekuasaan kehakiman yang merdeka sebagaimana dimaksud dalam Undang-

undang Nomor 14 Tahun 1970 dan tetap memperhatikan asas-asas hukum

yang berlaku demi kepastian hukum. Penjelasan Undang-undang ini meminta

pemakluman adanya campur tangan pihak eksekutif terhadap pelaksaan

kewenangan yudikatif yang justru melukai prinsip kemerdekaan itu sendiri.

4

Menurut Harkristuti Harkrisnowo dalam makalah Membangun Strategi Kinerja Kejaksaan bagi



bahwa komponen SDM yang menjadi factor yang dominan dimana jaksa harus mempunyai

Peningkatan Produktiviitas, Profesionalisme dan Akuntabilitas Publik; Suatu Usulan Pemikiran



sikap profesionalitas, integritas pribadi yang baik dan bekerja efisien

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 86



Hal ini juga senada dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2004

sebagaimana diatur dalam Pasal 12 dan 19 (b).

Perubahan yang signifikan ini yang membuat celah-celah keraguan dan

tidak merdekanya kejaksaan dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya

sebagaimana amanat Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan

Kehakiman dalam Pasal 1; Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara

yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum

dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum

Republik Indonesia. Untuk memperjelas posisi Kejaksaan berada dalam

sector yudikatif dapat dilihat dalam Pasal 41 yang berbunyi; Badan-badan lain

yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman meliputi Kepolisian

Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Republik Indonesia, dan badan-badan

lain diatur dalam undang-undang.

Amanah UU No. 16 Tahun 2004 Pasal 2 ayat 2 bahwa Kejaksaan dalam

menjalankan tugasnya haruslah merdeka yang diterangkan dalam bagian

penjelasan “yang dimaksud dengan “secara merdeka” dalam ketentuan ini

adalah dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya terlepas dari

pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya.”

Pilar-pilar penegakan hukum seperti Kejaksaan dan Pengadilan pada

praktek terlampau terpaku pada peraturan yang ada. Hal mana yang telah

dikhawatirkan Satjipto Rahardjo yang dapat kita lihat dalam tulisannya dalam

sebuah Jurnal bahwa Bifurkasi hukum dimulai dari sini. Saat orang lari dari

hukum, maka ia tidak hanya berhadapan dengan keadilan, melainkan juga

dengan bentuk format hukum tertulis yang dibuat oleh legislative. Dari situ

muncullah pencitraan, bahwa pengadilan bukan lagi semata-mata nerupakan

“rumah keadilan”, melainkan juga “medan pertempuran undang-undang”

atau “rumah undang-undang”.5

Satjipto Rahardjo memberikan tawaran dalam hal perwujudan

penegakan hukum yaitu dengan usaha untuk mewujudkan ide-ide serta

konsep-konsep hakekat hukum yang abstrak menjadi kenyataan yang pada

akhirnya memasuki bidang manajemen6, lebih lanjut Satjipto juga berpendapat

untuk membicarakan penegakan hukum, tidak dapat dilewatkan pembicaran

mengenai segi keorganisasian tersebut. Tujuan-tujuan hukum yang abstrak

di tengah suatu masyarakat yang kompleks hanya dapat diwujudkan melalui

pengorganisasian yang kompleks pula. Untuk mewujudkan tujuan hukum

5

Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif Berhadapan dengan Kemapanan, Jurnal Hukum Progresif

Vol. 4 No. 1/April 2008

6

Sebelum berbicara pada ranah manajemen, Satjipto Rahardjo mengutip Radbruch mengenai

hakekat hukum mengandung ide atau konsep yang mana hal ini digolongkan sebagai hal

yang abstrak seperti ide tentnag keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan social. Periksa;

Satjipto Rahardjo dalam Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Genta Publishing,

Yogyakarta, 2009, halaman 12.

87 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



diperlukan berbagai organisasi, sekalipun pada hakekatnya bertugas

mengantarkan orang kepada tujuan-tujuan hukum, namun masing-masing

tetap berdiri sendiri-sendiri sebagai badan yang bersifat otonom7.







Kejaksaan sebagai institusi penegakan hukum yang fungsinya

Integritas SDM dan Manajemen di Tubuh Kejaksaan



berkaitan dengan kekuasaan kehakiman menjadi salah satu pilar penting

dalam pencapaian tujuan nasional, dimana hal tersebut dapat dilihat pada

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

Harapan ini kemudian dituangkan kembali dalam Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Nasional RPJMN 2010-2014, dalam rangka mendukung

terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan, kebijakan

pembangunan di bidang hukum dan aparatur diarahkan pada perbaikan tata

kelola pemerintahan yang baik, dengan strategi;

1) peningkatan efektivitas peraturan perundang-undangan;

2) peningkatan kinerja lembaga di bidang hukum;

3) peningkatan penghormatan, pemajuan, dan penegakan HAM;

4) peningkatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas

korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN);

5) peningkatan kualitas pelayanan publik;

6) peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi;

7) pemantapan pelaksanaan reformasi birokrasi.

Reformasi birokrasi yang dilontarkan oleh di Kementerian PAN dan RB

secara khusus sudah mulai dilaksanakan sejak tahun 2008. Namun berbagai

program yang ditempuh dalam kurun waktu 2004 – 2009, pada dasarnya

dilakukan untuk membangun fondasi reformasi birokrasi. Program-program

itu antara lain berupa penyusunan peraturan perundang-undangan dan

rancangan kebijakan, perbaikan sistem manajemen, peningkatan kompetensi

pegawai, peningkatan keterlibatan dan kesadaran aparatur pemerintah, dunia

usaha dan masyarakat untuk mendukung reformasi birokrasi dan penerapan

prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik.

Menyambut baik hal tersebut seluruh lembaga Negara telah

melakukan perubahan birokratis di tubuh masing-masing lembaga. Namun

demikian di tengah-tengah deru reformasi birokrasi yang sekarang gencar

dikumandangkan di seluruh jajaran birokrasi di Indonesia, birokrasi kejaksaan

masih terlihat konvensional. Padahal konvensionalitas birokrasi ini menjadi

salah satu sumber patologi birokrasi di birokrasi kejaksaan, sebagaimana

dijelaskan lebih lanjut lagi oleh Yudi Kristiana bahwa hal tersebut ditandai

dengan karakter birokrasi yang melekat yaitu: (1) birokratis; (2) sentralistik;

7

Ibid, halaman 14

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 88



(3) menganut pertanggungjawaban hierarkhis; dan (4) berlaku sistem

komando.8

Karakter birokrasi Kejaksaan ini merupakan pemahaman pimpinan

Kejaksaan terhadap peraturan yang ada yang terkesan tidak mampu

atau tidak diberi ruang improvisasi perombakan yang mereka sendiri

sesunggguhnya merasakan ketidaknyamanan berbelit-belitnya birokrasi

yang ada. Lalu kemudian yang menjadi kekhawatiran masyarakat, bagaimana

mungkin kejaksaan dapat menjalankan fungsi kekuasaan Negara secara

merdeka sedang dalam hal birokrasi saja, kejaksaan seolah terbelunggu pada

ketentuan Pasal 1 ayat 3 bahwa kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan

dan diperkuat lagi dengan pengaturan Pasal 8 ayat 2; Dalam melaksanakan

tugas dan wewenangnya, jaksa bertindak untuk dan atas nama negara serta

bertanggung jawab menurut saluran hierarki.

Yudi Kristiana mengutip dari gagasan Satjipto Rahardjo dalam membuat

identifikasi Hukum Progesif yang bisa jadi menjadi solusi dari fenomena

penegakan hukum oleh Kejaksaan yang berpikir terlampau legalistic formil,

sebagai berikut;

Indentifikasi Hukum Progresif 9





1. Asumsi 1 Hukum untuk manusia bukan sebaliknya;

No Identifikasi Hukum Progresif



2. Hukum bukan merupakan institusi yang mutlak dan

final tetapi selalu dalam proses untuk menjadi (law as



2. Tujuan Kesejahteraan dan kebahagian manusia;

a process, law in the making),





3. Spirit 1. Pembebasan terhadap tipe, cara berpikir, asas dan teori

yang selama ini dipakai (mendominasi);

2. Pembebasan terhadap kultur penegakan hukum

(administration of justice) yang selama ini berkuasa

dan dirasa menghampat hukum dalam menyelesaikan

persoalan;

8

Yudi Kristiana, Rekonstruksi Birokrasi Kejaksaan Dengan Pendekatan Hukum Progresif, dalam

makalah yang disampaikan dalam seminar dengan tema “Hukum Progresif dan Pembaruan

Hukum di Indonesia” guna mengenang pemikiran hukum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH yang

telah berpulang pada tanggal 8 Januari 2010 di RSPP Jakarta. Seminar ini diselenggarakan

oleh Learning Center Perkumpulan HuMa bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Advokasi

untuk Independensi Peradilan (LeIP) dan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) tanggal

19 Januari 2010 di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi Jl. Medan Merdeka No. 6 Jakarta

Pusat. Sebagian dari konten makalah ini pernah disampaikan dalam Seminar dengan tema

“Menembus Kebuntuan Legalitas Formal Menuju Pembangunan Hukum dengan Pendekatan

Hukum Progresif”, dengan Judul “Rekonstruksi Sistem Birokrasi Kejaksaan Secara Integral

Dengan Pendekatan Sistemik” diselenggarakan oleh FH UNDIP, Sabtu, 19 Desember 2009 di

Gedung Pasca Sarjana UNDIP Jl.Imam Bardjo, Semarang.

9

ibid

89 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum





4. Progresifitas 1. Bertujuan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan

manusia dan oleh karenanya memandang hukum selalu

dalam proses untuk menjadi (law in the making).

2. Peka terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat,

balk lokal, nasional maupun global

3. Menolak status-Quo manakala menimbulkan dekadensi,

suasana korup dan sangat merugikan kepentingan

rakyat, sehingga menimbulkan perlawanan dan pem-

berontakan yang berujung pada penafsiran progresif

temadap hukum:

5. Karakter 1. Kajian hukum progresif berusaha mengalihkan titik

berat kajian hukum yang semula menggunakan optik

hukum menuju ke perilaku.

2. Hukum progresif secara sadar menempatkan keha-

dirannya dalam hubungan erat dengan manusia dan

masyarakat. meminjam istilahnya Nonet & Selznick

bertipe responsif.

3. Hukum progresif berbagi paham dengan legal realism

karena hukum tidak dipandang dari kacamata hukum

itu sendiri, melainkan dilihat dan dinilai dan tujuan

sosial yang ingin dicapai dan akibat yang timbul dari

bekerjanya hukum.

4. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan socio-

logical jurisprudence dari Roscoe Pound yang mengkaji

hukum tidak hanya sebatas pada studi tentang

peraturan tetapi keluar dan melihat efek dari hukum

dan bekerjanya hukum.

5. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan teori

hukum alam, karena peduli temadap hal-hal yang

"meta-juridicar.

6. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan critical

legal studies namun cakupannya lebih luas





Desakan agar Kejaksaan melakukan perubahan birokrasi yang

birokratis, bisa jadi telah ditanggapi oleh Kejaksaan namun jika masyarakat

masih juga belum melihat perubahan yang signifikan seharusnya Kejaksaan

tidak patah arang untuk terus melakukan perubahan yang berkesinambungan

namun masyarakat juga mengharapkan perubahan tersebut harus sesegera

mungkin. Sebagaimana dikutip dari Kompas, Jaksa Agung Hendarman

Supandji menyatakan reformasi birokrasi di lingkungan kejaksaan di seluruh

Indonesia membutuhkan waktu lama. "Perubahan tidak bisa dilakukan dalam

waktu cepat. Reformasi ini ditargetkan selesai pada tahun 2025, namun

secara bertahap terus dilakukan, Walau reformasi membutuhkan waktu

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 90



lama, namun Kejaksaan Agung juga menerapkan program perubahan jangka

pendek dan menengah. Program tersebut kini sedang berlangsung".10

Di bidang pembinaan SDM dalam Kejaksaan sudah seharusnya

konsep reward and punishment harus dijalankan dengan sungguh-sungguh

agar dari pihak aparat Kejaksaan merasa dihormati dan diakui ketika telah

memberikan prestasinya sementara ketika ada oknum yang melakukan

ketidakdispilinan akan mendapatkan punishment yang sesuai dengan level

kesalahannya. Masyarakat yang semakin cerdas dan keluasan akses informasi

terhadap proses pembinaan di sector SDM yang lemah akan semakin

menurunkan ketidakpercayaan terhadap niatan baik Kejaksaan dalam

melakukan perubahan.

Masyarakat masih mencatat bahwa Kejaksaan belum mampu terlepas

dari belenggu birokrasi yang terlampau berdasar pada peraturan belaka yaitu

pada saat ramainya kasus Jaksa Agung yang berhadapan dengan Yusril Ihza

Mahendra yang mempermasalahankan legalitas Hendarman Supandji yang

seharus sudah berhenti ketika masa jabatan Presiden berakhir pada jilid

kesatu, yang pada akhirnya membuat Hendarman dicopot dari jabatan. Hal

ini dijelaskan oleh Mahfud MD selaku Ketua MK, "Sejak putusan ini dibacakan,

Jaksa Agung (hendarman Supandji) harus berhenti, karena dia tidak berhenti

pada masa jabatan presiden. Seluruh tindakan Hendarman harus berakhir

sejak putusan ini dibacakan," kata Mahfud MD, kepada wartawan usai sidang

di MK Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara.11

Kemudian ditambah lagi dengan mencuatnya niatan Kejaksaan untuk

mengesampingkan kasus (deponeering) Bibit-Chandra yang disampaikan

oleh Jampidsus M Amari yang kemudian disusul adanya ralat oleh Plt Jaksa

Agung Darmono dengan alasan belum disepakati, jika kita lihat kejadian ini

nyata sebagai bukti bahwa tidak adanya kordinasi yang harmonis dan adanya

pemahaman yang kaku terhadap peraturan yang ada. Dapat dibayangkan

betapa besar tekanan yang harus ditanggung oleh Kejaksaan ketika di satu

sisi banyak pihak dengan desakan politisnya mengusulkan agar Kejaksaan

mengambil langkah deponeering tersebut sementara di sisi lain dalam tubuh

Kejaksaan kehilangan sosok pemimpin yang berakibat kepada siapa yang

berwenang untuk mengambil kebijakan sebagaimana diatur dalam UU No.

16 Tahun 2006 Pasal 35 (c) mengesampingkan perkara demi kepentingan

umum, yang mana hal ini menjadi kewenangan Jaksa Agung.

Hal tersebut mungkin tidak terlampau kompleks manakala masih

ada Jaksa Agung dan tidak kakunya Kejaksaan dalam memahami unsur

10

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/28/20041484/Reformasi.Kejaksaan.Butuh.

Waktu.Lama

11

http://www.antaranews.com/berita/1285148047/ketua-mk-masa-jabatan-jaksa-agung-

hendarman-berakhir

91 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



pimpinan dalam Pasal 18 yang menegaskan bahwa Jaksa Agung dan Wakil

Jaksa Agung merupakan satu kesatuan unsur pimpinan. Ekos Prasojo,

seorang dosen UI ketika dimintai pendapat mengenai refomasi di tubuh

Kejaksaan, menjelasakan; Saya sangat setuju bahwa reformasi birokrasi itu

harus dimulai dari aparat penegak hukum yang langsung berada di bawah

presiden yakni polisi dan jaksa. Komitmen itu kan bisa ditunjukkan dengan

bagaimana menjadikan itu sebagai gerakan politik dan juga gerakan moral.

Lalu, menyediakan anggaran, memberikan kewenangan penuh untuk

melakukan pencopotan, penggantian, perubahan sistem rekrutmen, promosi,

pengukuran kinerja, dan seterusnya.12

Hanya saja perlu diberikan garis demarkasi yang tegas bahwasanya

sekalipun Kapolri dan Jaksa Agung diangkat oleh Presiden, bukan berarti

kedua institusi lantas pemjadi penjamin langgengnya kekuasaan politik

Presiden dari serangan hukum, kedua instansi ini harus terbebas dari

intervensi untuk menjaga profesionalisme. Kenyataan akan diperparah lagi

jika saja pada kenyataan ternyata Kejaksaan dalam mengambil langkah yang

terkesan hati-hati namun terasa tidak tegas dalam mengambil kebijakan,

merupakan imbas dari adanya rasa ewuh pakewuh terhadap Presiden yang

telah mengangkat maka hal ini akan sangat melukai perasaan masyarakat

yang sangat mendambakan penegakan hukum. Wallahualam bissawab





Tulisan sederhana ini pada prinsipnya hanyalah pendapat pribadi

Penutup



penulis dalam melihat fenomena penegakan hukum yang dijalankan oleh

Kejaksaan masih belum dapat menunjukkan kemerdekaan dan profesionalitas

Kejaksaan yang menjadi tantangan besarnya. Penulis setuju dengan tawaran

RPJMN 2010-2014 karena walau bagaimanapun Kejaksaan merupakan

lembaga Pelayanan Publik yang harus mampu menciptakan tata kelola

pemerintahan yang baik (good governance) maka Kejaksaan harus sesegera

mungkin melakukan perubahan dalam lembaganya demi tercapainya harapan

masyrakat terhadap Kejaksaan untuk melaksanakan fungsinya yang merdeka

dan professional.





Harkrisnowo, Harkristuti, Membangun Strategi Kinerja Kejaksaan bagi

Daftar Pustaka





Makalah dismapaikan pada Seminat diselenggarakan oleh Pusat

Peningkatan Produktivitas, Profesionalisme dan Akuntabilitas Publik,



Penelitian dan Pengembangan Kejaksaan, Jakarta 22 Agustus, 2001.

Kristiana, Yudi, Rekonstruksi Birokrasi Kejaksaan Dengan Pendekatan Hukum

Progresif, makalah disampaikan dalam seminar “Hukum Progresif

12

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b23113d1c140/prof-eko-prasodjo

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 92



dan Pembaruan Hukum di Indonesia” diselenggarakan oleh Learning

Center Perkumpulan HuMa bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan

Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) dan Pusat Studi Hukum

dan Kebijakan (PSHK), 19 Januari 2010.

Rahardjo, Satjipto, Membangun dan Merombak Kembali Hukum Indonesia,

Sebuah Pendekatan Lintas Disiplin, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009

------------------- Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Genta Publishing,

Yogyakarta, 2009.

-------------------- Hukum Progresif Berhadapan dengan Kemapanan, Jurnal

Hukum Progresif Vol. 4 No. 1/April 2008.

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/28/20041484/Reformasi.

Kejaksaan.Butuh.Waktu.Lama.

http://www.antaranews.com/berita/1285148047/ketua-mk-masa-jabatan-

jaksa-agung-hendarman-berakhir.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b23113d1c140/prof-eko-

prasodjo.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1961 tentang Ketentuan-

Ketentuan Pokok Kejaksaan RI.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor No. 5 Tahun 1991 Tentang

Kejaksaan Republik Indonesia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan

Republik Indonesia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Ren-

cana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.

EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN

Dedy Irsan13





Reformasi Birokrasi Kejaksaan pada dasarnya merupakan upaya

untuk melakukan pembaruan dan perubahan mendasar terhadap sistem

penyelenggaraan birokrasi di lingkungan Kejaksaan. Salah satu tujuan

Reformasi Birokrasi Kejaksaan ini adalah untuk mewujudkan organisasi

Kejaksaan yang berorientasi pada hasil atau outcome (result oriented

government) secara efisien dan efektif, sehingga keberadaan Kejaksaan

benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam rangka mendorong tercapainya reformasi birokrasi Kejaksaan,

khususnya dalam mewujudkan result oriented goverment inilah maka

dilaksanakan evaluasi kinerja Kejaksaan. Evaluasi kinerja Kejaksaan ini

bertujuan untuk mengetahui kondisi objektif kinerja Kejaksaan saat ini dalam

menerapkan berbagai prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya manusia dan

pencapaian hasil-hasil organisasi Kejaksaan.

Secara umum, sasaran Reformasi Birokrasi Kejaksaan adalah mengubah

pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) serta sistem manajemen.

Secara khusus, sasaran yang ingin dicapai mencakup berbagai segi yaitu:

1. Kelembagaan (organisasi), dengan membentuk Organisasi Kejaksaan yang

tepat fungsi dan tepat ukuran (right size)

2. Budaya organsasi, dengan membentuk Birokrasi Kejaksaan yang

profesional dan memilki kinerja yang tinggi

3. Ketatalaksanaan, dengan membangun sistem, proses dan prosedur kerja

yang jelas, efektif, efisien, terukur, sesuai dengan prinsip prinsip good



4. Regulasi dan deregulasi, dengan menciptakan birokrasi Kejaksaan yang

governance.



menjalankan regulasi dan deregulasi secara lebih tertib, tidak tumpang

tindih dan kondusif

5. Sumber daya manusia, dengan menciptakan SDM Kejaksaan yang

berintegritas, kompeten, profesional, berkinerja tinggi, sejahtera dan

terhormat.

Berbicara mengenai evaluasi reformasi kejaksaan tidak bisa terlepas

dari penanganan kasus korupsi di Indonesia yang dilakukan oleh Kejaksaan,

walaupun ada beberapa persoalan lain yang dapat dijadikan ukuran dalam

melakukan evaluasi terhadap reformasi kejaksaan. Seperti persoalan

mekanisme kejaksaan dalam menangani kasus korupsi dan berbagai

persoalan administratif lainnya.

13

Asisten Ombudsman RI Perwakilan Wilayah Sumut-NAD

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 94



Korupsi telah sejak lama terjadi di Indonesia. Praktik-praktik seperti

penyalahgunaan wewenang, penyuapan, pemberian uang pelicin, pungutan

liar, pemberian imbalan atas dasar kolusi dan nepotisme serta penggunaan

uang negara untuk kepentingan pribadi, oleh masyarakat diartikan sebagai

suatu perbuatan korupsi dan dianggap sebagai hal yang lazim terjadi di

negara ini. Ironisnya, walaupun usaha-usaha pemberantasannya sudah

dilakukan lebih dari empat dekade, praktik-praktik korupsi tersebut tetap

berlangsung, bahkan ada kecenderungan modus operandinya lebih canggih

dan terorganisir, sehingga makin mempersulit penanggulangannya.14

Satjipto Rahardjo dengan penuh harap meminta kejaksaan untuk

berani bertindak cepat, pro-aktif, dan meninggalkan cara-cara konvensional

dengan penegakan hukum progresif yang penuh greget. Namun demikian,

menurut Romli Atmasasmita pemberantasan korupsi bukanlah perkara yang

mudah dan segera dapat diatasi karena:

“Sistem penyelenggaraan pemerintahan yang mentabukan transpa-

ransi dan mengedepankan kerahasiaan dan ketertutupan; dengan menepiskan

akuntabilitas publik dan mengedepankan pertanggungjawaban vertikal yang

dilandaskan pada primordialisme; yang menggunakan sistem rekruitmen

dan mutasi atas dasar koncoisme baik yang didasarkan kesamaan etnis, latar

belakang politik, atau politik balas jasa”.15

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa kejaksaan tidak

berhasil dalam memberantas tindak pidana korupsi? Padahal dilihat dari

aspek peraturan perundang-undangan (legal substance) yang dipakai untuk

menjerat para koruptor sudah dilakukan upaya pembaharuan yang terus

menerus, setidaknya sudah dilakukan 8 (delapan) kali semenjak Indonesia

merdeka. Bahkan dalam UU No. 31 th. 1999 terjadi perubahan mendasar,

antara lain: (1) Perumusan delik formil, yaitu perbuatan yang dipandang

sebagai korupsi tidak memerlukan adanya akibat, dengan demikian unsur

kerugian negara bukan lagi menjadi unsur mutlak untuk membuktikan

adanya tindak pidana korupsi. (2) Dianutnya sifat melawan hukum materiel

dalam fungsinya yang positif, artinya perbuatan melawan hukum bukan

hanya berarti perbuatan melawan hukum yang secara eksplisit diatur dalam

Undang-undang saja yang dapat dikenai pemidanaan, tetapi juga perbuatan

melawan hukum yang bertentangan dengan asas kepatutan masyarakat dan

rasa keadilan masyarakat dapat menjadi dasar penentuan sifat melawan

hukum.16

14

BPKP, Tim Pengkajian SPKN RI, Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Korupsi pada

Pengelolaan Pelayanan Masyarakat, Jakarta, 2002, hal.6

15

Romli Atamasasmita, Sekitar Masalah Korupsi, Aspek Nasional dan Aspek Internasional,

(Bandung, Mandar Maju, 2004), hal. 1-2

16

Dalam perkembangannya, Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan keputusan yang

menyatakan bahwa Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 tahun 1999 tidak mempunyai

kekuatan mengikat lagi. Dengan demikian sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya

95 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Bahkan dalam perkembangannya, Undang-undang No. 31 th. 1999,

disempurnakan dengan UU No. 20 tahun 2001, yang seharusnya semakin

memberikan semangat tentang arti pentingnya pemberantasan korupsi

sebagaimana disebutkan dalam penjelasan bahwa korupsi telah terjadi secara

sistematik sehingga tidak hanya berdampak terhadap keuangan negara

tetapi telah melanggar hak-hak sosial dan ekonomi, sehingga menuntut cara

yang luar biasa untuk mengatasinya.17 Di samping itu juga diatur masalah

gratifikasi,18 pembuktian terbalik yang sifatnya terbatas,19 serta perluasan

pengertian sumber perolehan alat bukti.20 Namun demikian pembaharuan

legal substance TPK tidak dengan sendirinya menjadikan Undang-undang

korupsi efektif. Masih banyak faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan

pemberantasan tindak pidana korupsi.

Penegak hukum yang terlibat di dalam pemberantasan tindak pidana

korupsi adalah Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim. Penentu akhir dalam

pemberantasan TPK adalah Hakim, namun demikian Hakim tidak bisa

bertindak aktif di luar konteks perkara yang diajukan ke persidangan oleh

Jaksa. Sementara yang aktif untuk melakukan penyelidikan, penyidikan

dan penuntutan adalah Jaksa.21 Oleh sebab itu tidak berlebihan kalau

disebutkan bahwa kejaksaan menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam

yang positif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 tahun 1999 yang selama

ini dianggap berperan besar dalam menjerat koruptor telah dibatalkan oleh Mahkamah

Konstitusi. Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi UU No. 31 tahun 1999

yang diajukan oleh Dawud Jatmiko, karyawan PT Jasa Marga yang tersangkut perkara korupsi

dan sedang diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Padahal Sifat melawan hukum materiel

dalam fungsinya yang positif sebelum diatur secara tegas dalam UU No. 31 tahun 1999, sudah

menjadi yurisprudensi jauh sebelum lahirnya UU No. 31 tahun 1999, khususnya dalam perkara

korupsi Bank Bumi Daya atas nama RS. Natalegawa. Periksa: Kompas, 27 Juli 2006.

17

Periksa Penjelasan Umum UU No. 20 th. 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 th. 1999

18

Gratifikasi diatur dalam Pasal 12 B, dalam Penjelasan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.



gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat

(discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan

wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.

19

Pembuktian terbalik yang diatur dalam pasal 37 dan 37A dan 38B sifatnya lebih tegas bila

dibandingkan dengan UU No. 31 th. 1999.

20

Perluasan pengertian mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah berupa petunjuk.

Ketentuan Pasal 26A berbunyi sbb: Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) UU No. 8 th. 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus

untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari: a) alat bukti lain yang berupa informasi

yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau

yang serupa dengan itu; b) dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat

dilihat, dibaca dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu

sarana, baik yang tertuang di atas keras, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang

terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar peta, rancangan, foto, huruf,

tanda, angka atau perforasi yang memiliki makna.

21

Sebelum lahirnya UU No. 30 tahun 2002 tentang KPK, Penyidik dan Penuntut TPK adalah Jaksa.

Penyidik Kepolisian mulai aktif melakukan penyidikan TPK setelah lahirnya UU No. 31 tahun

1999 tentang Pemberantasan TPK, namun demikian hasil penyidikannya tetap dilimpahkan

ke kejaksaan dan Jaksalah yang menjadi Penuntut Umumnya.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 96



pemberantasan korupsi. Demikian juga sebaliknya, kalau sampai saat ini

pemberantasan korupsi dinilai gagal atau belum berhasil, atau setidaknya

belum optimal, maka yang dianggap gagal, atau belum berhasil atau belum

optimal salah satunya adalah kejaksaan.22

Penyimpangan tersebut bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan

tanpa sebab. Penyimpangan birokrasi kejaksaan diakibatkan oleh lemahnya

tiga komponen hukum secara sekaligus, baik berupa peraturan perundang-

undangan (legal substance), struktur birokrasi (legal structure) dan juga

budaya hukum (legal culture) yang membangun birokrasi kejaksaan.

Bentuk penyalahgunaan wewenang Jaksa dalam penuntutan antara

lain :

a. Tidak melimpahkan perkara ke pengadilan

b. Melakukan pemerasan

c. Melepaskan tahanan dengan tujuan mendapat imbalan23

Birokrasi kejaksaan secara umum memiliki karakter birokratis,

sentralistik, menganut pertanggungjawaban hierarkhis dan berlaku sistem

komando. Keempat karakter ini diturunkan dari doktrin bahwa “kejaksaan

adalah satu” (een en ondeelbaar). Karakter birokrasi ini juga berlaku dalam

penanganan perkara korupsi. Itulah sebabnya penanganan TPK mulai dari

tahap penyelidikan, penyidikan dan penuntutan selalu dikendalikan dan

tidak lepas dari policy pimpinan secara berjenjang.

Birokrasi pengendalian penanganan TPK diwujudkan dalam bentuk:

(1) pembuatan laporan penanganan perkara (hasil penyelidikan, hasil

penyidikan, hasil persidangan); (2) ekspose (hasil penyelidikan, hasil

penyidikan, rencana dakwaan); (3) pembuatan rencana dakwaan sebelum

dilimpahkan ke pengadilan; (4) pengajuan rencana tuntutan (rentut)

sebelum pembacaan tuntutan pidana. Keempat hal tersebut dilakukan untuk

mendapatkan persetujuan dan petunjuk dari pimpinan secara berjenjang

sesuai dengan besarnya kerugian negara. Dengan demikian Jaksa tidak

memiliki otoritas untuk menentukan jalanannya penanganan perkara.

Jaksa hanya menjalankan policy pimpinan, atau dengan kata lain jaksa tidak

memiliki independensi dalam penanganan perkara korupsi.

Penanganan tindak pidana korupsi yang dilakukan dengan cara

cara konvensional dimana jaksa hanya sebagai robot yang digerakkan oleh

birokrasi dalam struktur yang lebih atas seperti ini, sudah barang tentu

22

Periksa: konsideran “menimbang” UU No 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi antara lain disebutkan (a) “…pemberantasan tindak pidana korupsi

yang terjadi sampai sekarang belum dapat dilaksanakan secara optimal,…” dan (b) “bahwa

lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara

efektif dan efisien dalam memberantas tindak pidana korupsi”.

23

Mohammad Fajrul Falaakh, Akar-akar mafia peradilan di Indonesia (masalah akuntabilitas

penegak hukum), Jakarta : KHN 2009, hal 45.

97 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



sarat dengan peluang terjadinya penyimpangan yang bersembunyi di balik

bekerjanya birokrasi. Munculnya fenomena tentang tidak sebandingnya

antara jumlah laporan dugaan tindak pidana korupsi dengan yang

diselesaikan melalui pengadilan, banyaknya dugaan korupsi yang dihentikan

dalam proses penyelidikan, dan rendahnya tuntutan pidana, pada hakikatnya

adalah penyimpangan birokrasi, karena tidak ada proses penanganan perkara

yang tidak mendapatkan persetujuan dari pimpinan. Penyimpangan ini

menjadi semakin tidak terdeteksi karena tidak ada transparansi dalam setiap

kebijaksanaan dalam penanganan TPK.

Bertolak dari realitas tersebut di atas, agar pemberantasan korupsi

dapat berhasil dan kejaksaan dapat berperan optimal, tidak berlebihan bila

birokrasi kejaksaan dalam penyelidikan, penyidikan dan penuntutan TPK

perlu direkonstruksi dengan pendekatan baru yaitu dengan pendekatan

hukum yang lebih berani serta aplikable dan sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan zaman saat ini.

Berdasarkan Pasal 30 Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004

tentang Kejaksaan Republik Indonesia, berikut adalah tugas dan wewenang

Kejaksaan.



• melakukan penuntutan;

Di bidang pidana :



• melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap;

• melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat,

putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat;

• melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan

undang-undang;

• melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan

pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam

pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Dalam penanganan tindak pidana khusus misalnya korupsi, tindak

pidana ekonomi, jaksa diberi wewenang mengadakan penyidikan. Hal ini

kadang kala membuat kebingungan di pihak kepolisian pada saat melakukan

penyidikan karena berkenaan dengan kewenangan melakukan penyidikan.

Sehingga kadang kala dapat terjadi benturan antara kejaksaan dan

kepolisian.24

Tugas jaksa penuntut umum dalam proses peradilan pidana adalah

melakukan penuntutan untuk meminta pertanggungjawaban pelaku

kejahatan. Fungsi ini membawa jaksa penuntut umum ke dalam proses



24

Mahmud Mulyadi, Kepolisian dalam Sistem Peradilan Pidana, (Medan, USU Press, 2009) hal

29

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 98



peradilan pidana dari penahanan ke pemidanaan.25

Berdasarkan temuan yang diperoleh oleh Ombudsman RI dalam

melakukan tugas pengawasan, maka ada 4 macam penyimpangan yang turut

terlibat didalamnya kejaksaan. Adapun yang ditemukan sebagai berikut:

a. Belum diberikannya petikan surat putusan pengadilan (extract vonnis)

kepada terdakwa (yang sudah menjadi terpidana) tepat waktu sesuai

Pasal 226 (1) KUHAP

b. Belum tertibnya pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi) oleh Jaksa/

Penuntut umum sesuai pasal 270 KUHAP

c. Pemidanaan yang dijalani melebihi masa hukuman yang dinyatakan dalam

amar putusan.

d. Keterlambatan penyerahan surat penetapan perpanjangan tahanan.

Berdasarkan temuan tersebut maka, kepada Kejaksaan disarankan

agar Extract vonnis pada hari pembacaan putusan diserahkan kepada petugas

kejaksaan (pembantu Jaksa) yang bertanggung jawab atas dihadirkannya para

terdakwa ke persidangan di pengadilan yang diambil dari Rutan, lalu petugas

kejaksaan membawa extract vonnis ke Rutan bersama dengan kepulangan

para terpidana untuk diserahkan kepada petugas rutan untuk dicatat/

register. Dengan mekanisme tersebut, Terpidana yang sudah di putus dan

sudah berkekuatan hukum tetap, akan memperoleh kepastian hukum untuk

segera dieksekusi dan dengan salinan surat putusan pengadilan (Ps 226

ayat (2), Pasal 270 Jo. Pasal 278) Jaksa penuntut umum melakukan eksekusi

terpidana, sehingga status Terpidana segera diubah menjadi narapidana

setelah di register ke Lapas, untuk menjalani pemidanaanya (hukumannya)

selanjutnya kepada Narapidana tersebut dapat segera pula diberikan hak-hak

mereka.

Khusus di Sumatera Utara, pihak kejaksaan Tinggi Sumatera Utara

maupun Kejaksaan-Kejaksaan Negeri di wilayah Sumatera Utara merupakan

institusi penegak hukum yang paling sedikit merespon surat-surat yang

disampaikan oleh Ombudsman RI perwakilan Sumut-NAD. Jadi Reformasi

Kejaksaan yang dilakukan oleh Kejaksaan RI masih dalam tahap wacana,

karena masih banyaknya ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang

dilakukan oleh Kejaksaan yang belum mendapatkan penanganan yang serius.

Sebagai satu contoh kasus di Sumatera Utara ada oknum Jaksa bernama

Umriani yang diduga menerima suap ratusan juta rupiah dan sudah terbukti,

tetapi belum mendapatkan sanksi yang tergas dari institusi Kejaksaan tempat

Jaksa Umriani bernaung.

Pelaksanaan reformasi kejaksaan di daerah belum berjalan secara

maksimal, hal ini ditandai dengan semakin tingginya pengaduan masyarakat

25

Ibid hal.41

99 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



terhadap perilaku Jaksa, dan rendahnya respon institusi kejaksaan dalam

menanggapi laporan pengaduan dari masyarakat, khususnya pengaduan

dari LSM berkaitan dengan temuan-temuan yang diperoleh yang diduga

merupakan kasus-kasus korupsi.

Dampak dari reformasi di kejaksaan bagi kejaksaan akan membuat

Jaksa-jaksa lebih hati-hati dan profesional dalam bekerja, sehingga sasaran

dilakukannya reformasi kejaksaan dapat tercapai sesuai yang diharapkan.

Sedangkan dampak bagi mitra penegak hukum seperti kepolisian dan

Pengadilan diharapkah tercipta sinergisitas dalam pelaksanaan sistem

peradilan pidana di Indonesia. Dampak bagi masyarakat pencari keadilan

dirasakan masih belum maksimal, karena masih banyak masyarakat yang

mengadu disebabkan mendapat perlakuan yang tidak adil dari Jaksa.







BPKP, Tim Pengkajian SPKN RI, Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Daftar Pustaka



Korupsi pada Pengelolaan Pelayanan Masyarakat, Jakarta, 2002.

Romli Atamasasmita, Sekitar Masalah Korupsi, Aspek Nasional dan Aspek

Internasional, (Bandung, Mandar Maju, 2004).

Mohammad Fajrul Falaakh, Akar-akar mafia peradilan di Indonesia (masalah

akuntabilitas penegak hukum), Jakarta : KHN 2009.

Mahmud Mulyadi, Kepolisian dalam Sistem Peradilan Pidana, (Medan, USU

Press, 2009)

MENGGAGAS UPAYA MEWUJUDKAN

PENINGKATAN KINERJA LEMBAGA

KEJAKSAAN SEBAGAI CITA REFORMASI

KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA





Elektison Somi26









Keluarnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan

Pendahuluan



Republik Indonesia, dimaksudkan untuk lebih memantapkan kedudukan dan

peran Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara pemerintahan

yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan. Undang-undang

ini menginginkan agar Lembaga Kejaksaan tersebut harus dibebaskan dari

pengaruh kekuasaan pihak mana pun, yakni yang dilaksanakan secara

merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh

kekuasaan lainnya. Dengan tujuan tersebut terlihat adanya upaya perubahan

yang signifikan yang diinginkan berkaitan dengan Lembaga Kejaksaaan

ini. Perubahan yang demikian ini merupakan salah satu realitas reformasi

yang dikehendaki pada lembaga Kejaksaan ini, karena diketahui bahwa

upaya penegakan hukum yang berjalan sebelum reformasi telah mendapat

sorotan tajam berkaitan dengan kinerja dari lembaga penegak hukum ini.

Hal yang demikian ini selalu dikaitkan dengan persoalan penegakan hukum

terutama berkaitan dengan upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana

korupsi yang terjadi. Pola perubahan yang dikehendaki dalam mewujudkan

penyelenggaraan pemerintahan yang bersih tersebut memberikan

konsekuensi adanya tuntutan bagi aparat penegak hukum agar mampu

secara konsisten dengan tetap menjamin kepastian hukum terhadap upaya

penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi tersebut. Atas dasar

tersebut upaya pemantapan kedudukan dan peran Kejaksaaan Republik

Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tersebut haruslah

disikapi sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan pemenuhan reformasi

hukum yang ada di Indonesia ini.

Lebih lanjut, bertitik tolak dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang

Nomor 16 Tahun 2004, ditegaskan bahwa “Kejaksaan R.I. adalah lembaga

pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara dalam bidang penuntutan

serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang”. Berdasarkan ketentuan

tersebut terlihat bahwa Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara

26

Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 102



(Dominus Litis), mempunyai kedudukan sentral dalam penegakan hukum,

karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus

dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah

menurut Hukum Acara Pidana. Disamping sebagai penyandang Dominus Litis,

Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi pelaksana putusan pidana

(executive ambtenaar), karena itulah, Undang-Undang Kejaksaan yang baru

ini dipandang lebih kuat dalam menetapkan kedudukan dan peran Kejaksaan

RI sebagai lembaga negara pemerintah yang melaksanakan kekuasaan

negara di bidang penuntutan.27 Dengan kedudukan yang demikian ini, tentu

memposisikan gambaran ideal dari lembaga kejaksaan merupakan langkah

yang harus diambil ketika menginginkan adanya upaya penegakan hukum

secara maksimal di Negara Republik Indonesia. Tanpa adanya pelaksanaan

kinerja yang ideal dari Kejaksaan ini terhadap proses penegakan hukum

yang ada, maka kehendak untuk mewujudkan pemenuhan reformasi hanya

merupakan cita-cita belaka yang sulit untuk diterapkan.

Namun demikian, dalam tataran praktik kehendak untuk mewujudkan

pelaksanaan kinerja yang ideal di atas kerap mendapatkan hambatan dalam

pelaksanaannya. Hambatan ini baik berasal dari lembaga kejaksaan itu

sendiri (hambatan internal) maupun berasal dari luar (hambatan eksternal)

yang mampu mempengaruhi pelaksanaan kinerja yang ideal dari kejaksaan

tersebut. Tulisan ini lebih lanjut, akan mencoba untuk mengkritisi secara

penuh hambatan-hambatan yang ada tersebut, untuk kemudian memberikan

solusi atau upaya yang dapat diambil sebagai alternative pilihan untuk

menyelesaikan atau meminimalisir hambatan yang ada.

Dalam rangka memfokuskan kajian dalam makalah ini, berdasarkan

uraian tersebut di atas, maka dua permasalahan utama yang diangkat dan

dibahas dalam makalah ini yaitu meliputi:

1. Apakah yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan kinerja Lembaga

Kejaksaan Republik Indonesia?

2. Apakah langkah yang dapat dilakukan atau direncanakan untuk mengatasi

hambatan pada pelaksanaan kinerja Lembaga Kejaksaan Republik

Indonesia?



Pembahasan



Berkaitan dengan hambatan yang ada dan muncul dalam mewujudkan

1. Hambatan Mewujudkan Reformasi Kejaksaan



reformasi kejaksaan ini, penulis menilai bahwa terdapat dua identifikasi

besar yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan upaya penegakan

27

Lihat Sejarah Setelah Reformasi Kejaksaan Republik Indonesia, http://www.kejaksaan.go.id/

tentang_kejaksaan.php?id=3

103 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



hukum yang dilakukan oleh Kejaksaan ini, yaitu:

a. Hambatan yang Bersifat Eksternal

1) Paradigma Masyarakat yang tidak semuanya siap untuk berjalannya

reformasi kejaksaan secara penuh.

Kelemahan upaya penegakan hukum secara penuh di Indonesia

sesungguhnya juga disebabkan oleh belum ditemukannya kesepakatan

dari seluruh masyarakat untuk menegakkan hukum sesuai dengan

ketentuan hukum yang berlaku. Tanpa disadari dengan kondisi yang

demikian ini, memunculkan adanya hukum pasar jual beli yang kerap

diperistilahkan “ada permintaan maka ada penawaran, semakin tinggi

permintaan maka penawaran yang diajukan juga akan semakin tinggi”

yang terjadi dalam praktik penegakan hukum di Indonesia. Sebagian

masyarakat kerap memandang hukum dengan proses yang telah

berjalan selama ini merupakan “sesuatu yang bisa dibeli, diatur, atau

dikesampingkan”, terlebih ketika dilihat begitu banyak pemberitaan

melalui media baik cetak maupun elektronik dimana hukum diposisikan

sebagai permainan tersebut. Dengan kondisi yang demikian ini, maka

reformasi kejaksaan akan mengalami tantangan yang begitu besar ketika

lembaga tersebut secara internal tidak memiliki sumber daya manusia

yang dapat dianggap “setengah dewa”. Begitu banyak tawaran dari

masyarakat ketika mereka terlibat persoalan-persoalan hukum “terutama

berkaitan dengan tindak pidana korupsi” sehingga seorang jaksa yang

pada awalnya berpikir secara konsisten untuk melaksanakan kinerjanya

secara hukum untuk kemudian akan terpengaruh karena terus-terusan

mendapatkan penawaran-penawaran dari masyarakat yang demikian

tersebut. Kondisi yang demikian ini, meskipun tidak menyeluruh menjadi

perilaku masyarakat, tetapi perilaku yang demikian ini ada di masyarakat,

sehingga mengakibatkan upaya reformasi kejaksaan tadi mengalami

hambatan.

2) Kedudukan Lembaga Kejaksaan dalam Struktur Pemerintahan

Lembaga Kejaksaan melalui ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004, diposisikan sebagai lembaga pemerintahan

yang melaksanakan kekuasaan Negara dibidang penuntutan serta

kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Pengaturan yang demikian

ini memberikan konsekuensi bahwa secara hierarkhi Lembaga Kejaksaan

ini merupakan bagian dari struktur pemerintahan yang ada dibawah

eksekutif yaitu dalam hal ini Presiden. Terlebih ketika Jaksa Agung melalui

ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004, yang

mengatur bahwa Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh Presiden,

maka wujud kedudukan Kejaksaan sebagai bagian dari pemerintahan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 104



mendapatkan pengakuan secara hukum. Demikian halnya pada ketentuan

Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 yang menyatakan

bahwa “Susunan organisasi dan tata kerja kejaksaan ditetapkan oleh

Presiden atas usul Jaksa Agung” memberikan wujud kewenangan yang

begitu besar dimiliki oleh Presiden dalam mempengaruhi Lembaga

Kejaksaan ini.

Dengan pola yang demikian di atas, tentu seorang Jaksa Agung

akan selalu memiliki keterikatan emosional dengan Presiden, yang sangat

dimungkinkan akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan kinerja dari

Lembaga Kejaksaan ini secara keseluruhan. Sehingga ketika Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004 menginginkan adanya kemandirian

dari Lembaga Kejaksaan terlepas dari pengaruh atau intervensi dari

Pemerintah, maka kehendak yang demikian ini tidak mungkin terpenuhi

secara maksimal.

Demikian halnya ketika dilihat pada struktur penyelenggaraan

pemerintahan daerah. Kejaksaan melalui Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan

Negeri, walaupun secara vertikal berada di bawah Kejaksaan Agung, tetapi

pada pelaksanaan hubungan kelembagaan di tingkat Daerah, meskipun

pada saat ini tidak secara tegas dikatakan bahwa Kejaksaan merupakan

bagian dari Unsur Musyawarah Pimpinan Daerah, namun demikian dalam

tataran praktik pengkondisian ini terjadi dalam hubungan kelembagaan

antara Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri dengan Pemerintah Daerah.

Kondisi yang demikian tentu memberikan peluang bagi Pemerintah

Daerah untuk ikut “bermain” dalam mempengaruhi kinerja dari Kejaksaan

yang ada di daerah tersebut. Penyambutan Kepala Kejaksaan Tinggi atau

Kepala Kejaksaan Negeri yang baru menjabat oleh Kepala Daerah yang

diadakan melalui kegiatan “Pisah Sambut” jelas akan dapat membangun

hubungan emosional antara Kepala Kejaksaan tersebut dengan Kepala

Daerah, demikian halnya dengan adanya undangan-undangan dari

Pemerintah Daerah setempat berkaitan dengan kegiatan-kegiatan

seremonial daerah jelas akan dapat membangun faktor kedekatan

emosional antara Kepala Daerah dengan Kepala Kejaksaan yang ada di

daerah tersebut. Pola hubungan pemerintahan yang demikian ini disatu

sisi akan dapat menghambat pelaksanaan kinerja dari Lembaga Kejaksaan

tersebut sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

b. Hambatan yang bersifat Internal

1) Karakter Manusia Indonesia

Manusia Indonesia secara umum memiliki karakter budaya timur

yang kuat, yaitu memiliki jiwa “tenggang rasa dan balas jasa”. Dengan

kondisi yang demikian, apabila Jaksa Agung sebagaimana ketentuan Pasal

105 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



19 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 diangkat dan diberhentikan

oleh Presiden, maka dengan sendirinya sikap atau jiwa sebagai wujud

karakter budaya timur sebagaimana di atas akan terjadi ketika persoalan-

persoalan hukum yang harus dilaksanakan oleh Jaksa Agung tersebut

berbenturan dengan diri atau kepentingan dari Presiden itu sendiri,

termasuk pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan Presiden. Ketika

ini terjadi, maka upaya untuk mewujudkan reformasi kejaksaan akan

menjadi cita atau angan yang tidak mampu berjalan secara maksimal,

karena hanya dimungkinkan berlaku bagi kelompok-kelompok tertentu.

Demikian halnya pada tingkat daerah, dengan karakter manusia

Indonesia yang ada sebagaimana dikemukakan di atas maka ketika

bangunan hubungan emosional antara Kepala Daerah dengan Kepala

Kejaksaaan Tinggi atau Negeri telah terbangun dengan berbagai cara

(sebagaimana diuraikan pada hambatan eksternal sebelumnya) maka

pola yang demikian ini jelas akan berpengaruh kepada ketegasan dari

Kepala Kejaksaan Tinggi atau Kepala Kejaksaan Negeri itu sendiri apakah

mampu untuk menjalankan aturan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

meskipun hal tersebut bersentuhan dengan posisi Kepala Daerah yang

ada. Banyak kasus, apabila seorang Kepala Daerah diduga tersangkut

persoalan hukum yaitu tindak pidana korupsi, maka proses hukum

terhadap Kepala Daerah itu pada umumnya akan diteruskan ketika

yang bersangkutan telah tidak menjabat lagi sebagai Kepala Daerah.

Apapun yang mendasarinya, tapi pengaruh kedekatan emosional dengan

didasarkan atas karakter manusia Indonesia sebagai karakter budaya

timur tersebut terjadi terhadap kondisi tersebut.

2) Mentalitas dari Sistem Birokrasi

Hambatan internal lainnya yaitu berkaitan dengan mentalitas dari

sistem birokrasi yang ada di Kejaksaan itu sendiri. Sistem birokrasi yang

baik salah satu indikator penilaiannya adalah adanya pola profesionalitas

dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. Persoalan ini tidak melekat

penuh pada pola internal yang terjadi pada Lembaga Kejaksaan, artinya

nilai profesionalitas dalam menjalankan tugas dan kewenangan untuk

kemudian berpengaruh terhadap adanya funishment dan reward terhadap

penilaian yang ada ternyata belum mampu berjalan secara penuh pada

Lembaga Kejaksaan. Posisi pengusulan jabatan kerapkali didasarkan atas

pertimbangan faktor kedekatan antara pimpinan dan bawahan. Meskipun

fakta ini sulit untuk dibuktikan, tetapi pola kedekatan ini memiliki peran

yang penting untuk menentukan karir dan jabatan seseorang pada

Lembaga Kejaksaan tersebut.

Tidak terlalu menjadi persoalan urgen mungkin ketika faktor

kedekatan itu hanya berkaitan dengan persoalan kemampuan kedekatan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 106



pribadi atau komunikasi saja. Akan menjadi persoalan ketika faktor

kedekatan itu terbangun dari adanya kemampuan untuk memberikan

“upeti” yang besar dan kontinuitas kepada pimpinan. Kalau kondisi ini

yang terjadi, maka peluang seorang jaksa ketika menjalankan tugas dan

kewenangannya untuk melakukan “kutipan” terhadap perkara yang

sedang ditangani akan sangat besar terjadi. Perlombaan yang terjadi

untuk membangun kedekatan dengan pimpinan dengan menggunakan

upeti tadi jelas akan memberikan peluang perlombaan untuk mencari

“kutipan” terhadap perkara yang ada.

3) Adanya Jiwa Perlindungan dan Pencitraan Terhadap Korps

Secara kelembagaan adanya perlindungan dan keinginan pencitraan

terhadap korps yang dilakukan oleh seluruh elemen dari korps tersebut

juga terjadi di Lembaga Kejaksaan. Dalam tataran praktik apabila dicermati

kondisi yang demikian ini melekat kuat pada Lembaga Kejaksaan. Nilai

positif dari sikap yang demikian ini tentu akan menjadi suatu peluang

yang besar untuk menjadi kekuatan membangun bagi Lembaga Kejaksaan

tersebut, namun demikian selain nilai positif kondisi yang demikian ini juga

akan mampu menimbulkan dampak yang negatif, karena dengan karakter

sifat yang berlebihan tersebut kerapkali mengakibatkan penerimaan

terhadap kondisi yang sebetulnya telah dianggap dan disadari tidak

benar tetapi untuk menjaga citra dan melindungi korps Kejaksaan maka

munculah tindakan yang terkesan membiarkan dan melindungi kondisi

yang bertentangan dengan hukum tersebut. Meskipun diakui bahwa

perkembangan terakhir menunjukkan bahwa upaya penegakan hukum

terhadap “Jaksa-jaksa Nakal” terus dilakukan, tetapi realitas tersebut tentu

akan lebih dari jumlah yang ada apabila proses tersebut terus dilakukan

secara objektif dan maksimal oleh Lembaga Kejaksaan itu sendiri secara

terbuka.

Adanya faktor-faktor penghambat sebagaimana dikemukakan di

atas, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, jelas

akan mengakibatkan pelaksanaan kinerja dari Lembaga Kejaksaan tidak

memberikan hasil yang maksimal. Pada akhirnya, apa yang diinginkan

dari adanya Reformasi Kejaksaan tentu akan menjadi angan yang sulit

untuk diwujudkan.







Dimuka telah diuraikan bahwa terdapat beberapa faktor penghambat

2. Upaya Mewujudkan Reformasi Kejaksaan



berkaitan dengan upaya Reformasi Kejaksaan tersebut. Terhadap faktor

tersebut, penulis menilai bahwa ada beberapa upaya yang dimungkinkan

untuk dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut, untuk kemudian pada

107 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



akhirnya dapat dipergunakan secara penuh dalam rangka mewujudkan

Reformasi Kejaksaan tersebut. Namun demikian, perlu dipahami secara

bersama bahwa keinginan untuk menerapkan upaya ini harus dipahami

sebagai wujud kebersamaan yang secara simultan wajib ditindaklanjuti oleh

seluruh elemen, sehingga membicarakan tanggung jawab untuk mewujudkan

upaya tersebut merupakan suatu wujud upaya secara bersama.

Upaya-upaya mewujudkan reformasi kejaksaan berdasarkan atas

adanya faktor hambatan sebagaimana dikemukakan sebelumnya, yaitu

dilakukan dengan:

a. Upaya yang Melekat Secara Eksternal

1) Perlu untuk membangun kesadaran bagi seluruh elemen masyarakat untuk

mendudukan setiap tindakan yang dilakukan didasarkan atas hukum

yang berlaku. Kesadaran tersebut juga terbangun dengan menerapkan

adanya sikap budaya malu ketika melakukan pelanggaran hukum, malu

ketika melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hukum. Kondisi

yang demikian ini tentu harus diawali oleh contoh yang diberikan oleh

Pejabat, Aparat Penegak Hukum, Tokoh-tokoh Masyarakat, dan Orang

Tua. Dengan contoh paling tidak akan memberikan wujud budaya tiru

yang kuat bagi kalangan atau kelompok lainnya. Atas dasar tersebut

ketika kita menuntut keberhasilan “Reformasi Kejaksaan”, maka terlebih

dahulu kita harus sepakat untuk menundukkan diri pada hukum tersebut.

Selain menerapkan budaya malu tadi, membangun kesadaran tersebut

juga dapat dilakukan dengan menerapkan contoh sanksi yang tegas bagi

setiap pelanggaran-pelanggaran atau tindak pidana yang terjadi. Dengan

pengaturan yang tegas dan tetap mencerminkan prinsip keadilan tersebut,

maka nilai hukum tersebut akan betul-betul dianggap oleh masyarakat

sebagai nilai kebutuhan yang wajib untuk diikuti dan dipatuhi secara

sadar.

2) Melakukan reposisi kedudukan dari Lembaga Kejaksaan tersebut.

Reposisi tersebut baik dilakukan pada struktur kelembagaan yang wajib

untuk dipisahkan secara tegas dari struktur pemerintahan di bawah

Presiden, maupun berkaitan dengan sistem pengisian Jaksa Agung itu

sendiri. Apabila kita secara konsisten menyatakan bahwa Lembaga

Kejaksaan sesungguhnya memiliki rangkaian satu kesatuan dalam rangka

menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman, maka idealnya dalam kerangka

yang demikian, Lembaga Kejaksaan juga harus diposisikan sebagai

lembaga yang mandiri terlepas dari intervensi dari Presiden. Apabila

untuk menjaga kemandirian dari Mahkamah Agung, maka lembaga ini

diposisikan di luar lembaga Eksekutif, sehingga muncul penerapan Teori

Pemisahan terhadap kelembagaan Mahkamah Agung dan Pemerintah

tersebut, maka idealnya Lembaga Kejaksaan juga diposisikan hal yang

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 108



demikian juga. Dengan kedudukan yang demikian tersebut, diharapkan

Reformasi Kejaksaan tersebut akan dapat berjalan secara maksimal tanpa

dipengaruhi oleh interpensi atau campur tangan dari lembaga Negara

lainnya. Perubahan terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004 berkaitan dengan kedudukan lembaga

kejaksaan ini perlu untuk dilakukan ketika keinginan untuk mereposisi

kedudukan lembaga Kejaksaan ini sebagai salah upaya yang dapat

dilakukan untuk mewujudkan reformasi Lembaga Kejaksaan.

Demikian halnya dengan kondisi yang terjadi pada tingkat Daerah,

sebagaimana hambatan yang telah diuraikan sebelumnya, maka secara

tegas harus diberikan pengaturan tentang pemisahan hubungan tersebut

dan juga diberikan pengaturan berkaitan dengan adanya larangan dari

Kepala Kejaksaan atau Jaksa yang ada di Daerah untuk mengadakan

hubungan atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan seremonial pemerintahan

yang dikhawatirkan akan berpotensi melemahkan kinerja lembaga itu

sendiri. Artinya ketika “Komisi Pemberantasan Korupsi” memberikan

pengaturan secara internal untuk membatasi hubungan atau komunikasi

dengan pihak-pihak luar yang dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja,

maka Lembaga Kejaksaan seharusnya juga melakukan tindakan tersebut

melalui aturan internalnya, sehingga peluang terjadinya pelemahan kinerja

karena kondisi hubungan antara Kejaksaan di Daerah dengan Pemerintah

Daerah dapat dihindarkan.

b. Upaya yang Melekat Secara Internal

1) Pemenuhan terhadap upaya yang melekat secara ekternal di atas, jelas

akan berpengaruh terhadap upaya internal berkaitan dengan karakter

budaya timur yang kuat bagi manusia Indonesia, yaitu memiliki jiwa

“tenggang rasa dan balas jasa”. Sehingga ketika secara ekternal dilakukan

reposisi struktur, kelembagaan, dan pembatasan terhadap hubungan

antara Pemerintah Daerah dengan Lembaga Kejaksaan tersebut maka

tidak diperlukan secara penuh untuk merubah karakter budaya timur dari

manusia Indonesia tersebut. Perubahan terhadap karakter budaya timur

manusia Indonesia jelas merupakan upaya yang sulit atau tidak bijak untuk

dilakukan. Oleh karenanya, upaya pemenuhan melalui reposisi struktur,

kelembagaan, dan pembatasan tersebut merupakan tindakan yang tepat

untuk dilakukan dibandingkan melakukan perubahan terhadap karakter

manusia Indonesia tersebut.

2) Membangun pola peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ada di

Lembaga Kejaksaan itu sendiri. Salah satu paradigma yang harus dibangun

adalah dengan memfokuskan pada kualitas dari Jaksa bukan pada kuantitas

dari Jaksa. Artinya, seorang Jaksa dituntut untuk memiliki sikap manusia

“setengah dewa” yang memiliki kemampuan pengetahuan, memiliki nilai

109 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



nalar yang tinggi, dan memiliki nilai empati yang tinggi terhadap upaya

penegakan hukum yang menjadi tugas dan kewenangannya tersebut.

Dalam memposisikan atau mewujudkan “manusia setengah dewa”

tersebut maka kualitas tentu yang harus lebih diutamakan dibandingkan

pada kuantitas, oleh karenanya proses seleksi atau rekrutment dari Jaksa

tersebut harus dilakukan secara maksimal sehingga akan mendapatkan

sumber daya manusia yang berkualitas.

Terdapat kesalahan paradigma yang terjadi selama ini, yang menilai

bahwa tenaga Jaksa untuk saat ini masih terus diperlukan, sehingga pola

rekrutmen dilakukan setiap tahunnya. Penulis menilai apabila Lembaga

Kejaksaan mampu menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai dengan

ketentuan yang berlaku, sehingga ini akan berakibat pada budaya malu atau

ketakutan dari masyarakat Indonesia untuk melakukan pelanggaran hukum,

maka secara otomatis dengan demikian persoalan-persoalan hukum yang

terjadi di masyarakat akan menjadi kecil. Akibat yang timbul, volume kerja

yang dilakukan oleh Jaksa juga tidak terlalu tinggi karena masyarakat telah

terbangun akan kebutuhan untuk mematuhi dan menyadari akan aturan

hukum yang berlaku. Sebaliknya ketika kinerja Lembaga Kejaksaan tersebut

tidak berjalan secara penuh, sehingga ini menjadi contoh atau preseden yang

tidak baik bagi masyarakat, maka budaya untuk melakukan pelanggaran

hukum dengan asumsi bahwa ketika itu dilakukan juga ada peluang untuk

melihat hukum sebagai “sesuatu yang bisa dibeli, diatur, atau dikesampingkan”,

kondisi yang demikian jelas akan semakin meningkatkan kuantitas terjadi

pelanggaran hukum tersebut. Kalau kondisi yang demikian ini terjadi maka

tentu diperlukan Jaksa-jaksa yang tidak sedikit untuk menanganinya. Tetapi

ketika jaksa-jaksa tersebut juga tidak memiliki sikap dan kualitas penuh

sebagai “manusia setengah dewa” tersebut, maka penambahan tenaga Jaksa

jelas bukan merupakan tindakan efektif yang tepat dalam melihat penegakan

hukum yang ada. Atas dasar tersebut peningkatan kualitas ini memang

diperlukan secara penuh pada Lembaga Kejaksaan tersebut. Peningkatan

kualitas ini juga dapat dilakukan melalui pola Pendidikan Jaksa yang

Menekankan pada Pemahaman Etika, Budaya Kerja, dan Nilai Ketuhanan,

artinya Jaksa tidak hanya diberikan kemampuan keahlian berkaitan dengan

pengetahuan dibidang hukum, tapi lebih dari itu juga harus diberikan

pemahaman dan keahlian berkaitan dengan pengetahuan dan membentuk

karakter diri dalam rangka meningkatkan profesionalitas dari kerja Jaksa itu

sendiri. Pola akhir yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas tersebut

yaitu dilakukan dengan penempatan dan penghargaan terhadap jabatan

yang didasarkan atas profesionalitas kerja. Artinya jabatan yang ada tidak

diperoleh berdasarkan atas kedekatan “upeti” tetapi karena budaya kerja

yang ada yang telah terbangun secara penuh.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 110



Berbagai pola di atas pada upaya ke dua ini dapat terwujud apabila

diterapkan sistem pengawasan yang penuh terhadap jalannya Lembaga

Kejaksaan tersebut. Pengawasan idealnya dapat dilakukan secara internal

maupun secara ekternal. Namun demikian, yang utama dalam pengawasan

tersebut adalah adanya ruang untuk dilakukan secara transfaran dan dengan

menggunakan tolok ukur yang jelas, sehingga hasil dari pengawasan tersebut

akan mampu untuk diarahkan dalam rangka peningkatan kualitas sistem

birokrasi yang ada pada LembagaKejaksaan. Apabila upaya ini dilakukan

secara maksimal, maka secara tidak langsung akan meminimalisir terjadinya

peluang munculnya sikap yang berlebihan terhadap korps yang ada.

Berbagai upaya di atas, harus dipahami sebagai alternative pilihan yang

dapat dilakukan dalam rangka mewujudkan kehendak reformasi Lembaga

Kejaksaan yang ada. Apa yang diinginkan oleh Undang-Undang Nomor

16 Tahun 2004 terlepas dari beberapa kelemahan pengaturan yang ada

berkaitan dengan kedudukan Lembaga Kejaksaan itu sendiri harus dipahami

sebagai suatu langkah yang secara ide dasarnya perlu ditindak lanjuti dengan

maksimal. Oleh karenanya ketika ide dasar menuntut adanya kehendak untuk

memposisikan agar Lembaga Kejaksaan lebih mandiri terlepas dari pengaruh

lembaga lainnya, maka idealnya ide dasar tersebut harus diwujudkan sebagai

amanah reformasi, atas dasar tersebut pilihan terhadap beberapa upaya

tersebut di atas akan dapat dijadikan sebagai alternative untuk mewujudkan

amanah reformasi tersebut.





Berdasarkan uraian sebagaimana dikemukakan sebelumnya, maka

Penutup



diketahui bahwa pelaksanaan reformasi kejaksaan sampai dengan saat ini

belum memberikan hasil yang maksimal, hambatan yang bersifat eksternal

dan internal menjadi faktor yang mengakibatkan pelaksanaan reformasi

kejaksaan tersebut belum berjalan maksimal. Atas dasar tersebut alternative

upaya yang penulis lakukan berdasarkan atas upaya internal dari lembaga

kejaksaan itu sendiri maupun upaya ekternal baik dari seluruh elemen

masyarakat ataupun dari kedudukan lembaga kejaksaan secara hukum dan

posisi hubungan lembaga kejaksaan yang ada di daerah dengan Pemerintah

Daerah setempat merupakan upaya yang patut untuk diperhatikan dalam

rangka mewujudkan hal tersebut.





Abdul Azis. Pemantauan Terhadap Kinerja Kejaksaan Terhadap Proses

Daftar Pustaka



Peradilan Pidana. Makalah disampaikan pada Workshop Pemantauan

Kejaksaan diselenggarakan oleh MaPPI FH UI dan Yayasan TIFA di

Jakarta, 28-30 Juni 2004.

111 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Aridjo Alkotsar, dan M. Sholeh Amin. Pembangunan Hukum dalam Perspektif

Politik Hukum Nasional. LBH Jakarta dan Yogyakarta. 1986.

Mulyana W. Kusumah. Perspektif, Teori dan Kebijaksanaan Hukum. Rajawali.

Jakarta. 1986.

Suhadibroto. Kualitas Aparat Kejaksaan dalam Upaya Melaksanakan Penegakan

Hukum, Makalah disampaikan pada Workshop Pemantauan Kejaksaan

diselenggarakan oleh MaPPI FH UI dan Yayasan TIFA di Jakarta, 28-30

Juni 2004.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Negara Republik

Indonesia.

REFORMASI KEJAKSAAN

REPUBLIK INDONESIA

Helmi28







Pembaharuan hukum idealnya harus dilakukan melalui pendekatan

Pendahuluan



sistem hukum (legal system). Sudikno Mertokoesoemo mengartikan sistem

hukum adalah suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai

interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan

tersebut.29

Menurut Lawrence Friedman, dalam setiap sistem hukum terdiri dari

3 (tiga) sub sistem, yaitu susb sistem substansi hukum (legal substance),

sub sistem struktur hukum (legal structure), dan sub sistem budaya hukum

(legal culture).30 Substansi hukum meliputi materi hukum yang diantaranya

dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Struktur hukum,

menyangkut kelembagaan (institusi) pelaksana hukum, kewenangan lembaga

dan personil (aparat penegak hukum). Sedangkan kultur hukum menyangkut

perilaku (hukum) masyarakat. Ketiga unsur itulah yang mempengaruhi

keberhasilan penegakan hukum di suatu masyarakat (Negara), yang antara

satu dengan lainnya saling bersinergi untuk mencapai tujuan penegakan

hukum itu sendiri yakni keadilan.

Penegakan hukum dalam konteks hukum pidana, dilaksanakan melalui

sistem peradilan pidana (SPP) yang pelaksananya terdiri dari setidaknya

3 (tiga) komponen, yakni Kepolisian dengan kompetensi melakukan

penyidikan, Kejaksaan dengan kompetensi penuntutan, dan Kehakiman yang

melaksanakan kompetensi mengadili. Ke 3 (tiga) komponen ini telah diatur

dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Berfungsi tidaknya suatu lembaga

pelaksana peradilan pidana pada prinsipnya berpengaruh pada fungsi

lembaga lain. Dalam pada itulah, Sistem Peradilan pidana yang dicanangkan

dalam KUHAP tersebut disebut sistem peradilan pidana terpadu (integrated

criminal justice system).

Salah satu komponen yang melaksanakan sistem peradilan pidana

sebagaimana telah dikemukakan adalah Kejaksaaan, suatu lembaga yang

tugas pokoknya melakukan penuntutan. Marwan Effendi menilai, kejaksaan

mempunyai peran yang sangat strategis, karena berfungsi sebagai lembaga

28

Dekan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

29

Mertokusumo. 1991. Mengenal Hukum. Yogyakarta : Liberty. Hal. 102.

30

Elwi Danil. 2001. Fungsionalisasi Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Tindak Pidana

Korupsi. Ringkasan Disertasi. Jakarta : Universitas Indonesia. Hal. 12-13.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 114



penyaring (filter) antara proses penyidikan dan proses pemerikskaan di

persidangan.31 Bahkan dalam tindak pidana tertentu yakni tindak pidana

korupsi, Kejaksaan juga “berwenang” sebagai penyidik, dan juga pada

pelanggaran HAM berat. Kewenangan tersebut semakin meluas, karena

menjadi kuasa Negara dalam hal perkara perdata dan tata usaha Negara,

serta kewenangan lain yang sifat ekstra yudisial, seperti mengawasi aliran

kepercayaan dalam masyarakat.

Sehubungan dengan fungsi dan kewenangan Kejaksaan tersebut, maka

mutlak dibutuhkan Kejaksaan yang secara struktural memiliki independensi

(kemandirian) terhadap intervensi kekuasaan Negara khususnya kekuasaan

eksekutif, struktur kejaksaan yang menjamin kemandirian scara internal

dalam menjalankan fungsinya dan sumber daya manusia (SDM) yang

profesional dalam menjalankan kewenangannya. Realitas objektif yang

tidak kondusif mengenai hal-hal tersebut yang menurut penulis menjadi

penghambat reformasi kejaksaan. Dalam tulisan ini dipaparkan bagaimana

semestinya reformasi kejaksaan ke depan sehingga dapat menjalankan tugas

yang diembannya.







Kedudukan Kejaksaan dalam sistem ketatanegaran Republik Indonesia,

Kedudukan Kejaksaan RI dalam Lintasan Sejarah



dalam arti dimana letak Kejaksaan dalam kekuasan Negara yang terdiri dari

kekuasaan legislative, eksekutif dan yudikatif. Dalam 3 (tiga) undang-undang

Kejaksaan dapat dilihat dimana kedudukan Kejaksaan dalam konstelasi

ketatatanegaran RI, dari UU No. 15 tahun 1961 sampai pada undang-undang

yang berlaku sekarang yakni UU No. 16 tahun 2004.

Dalam Pasal 1 UU No. 15 tahun 1961 dinyatakan :”Kejaksaan RI adalah

sebagai alat Negara penegak hukum dalam menyelesaikan revolusi yang

terutama bertugas sebagai penuntut umum”. Kedudukannya ini kemudian

berubah dalam UU No. 5 tahun 1991 menjadi “lembaga pemerintahan”

sebagaimana terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 5 tahun 1991, yang

menyatakan : ”Kejaksaan RI selanjutnya dalam UU ini disebut Kejaksaan,

adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara di

bidang penuntutan”. Ketentuan ini kemudian pada dasarnya diadopsi oleh

UU No. 16 tahun 2004 yang dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan : “Kejaksaan

RI yang selanjutnya disebut kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang

melaksanakan kekuasan Negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain

berdasarkan undang-undang”. Pada ayat (2) dari Pasal tersebut ditegaskan

tentang independensi kejaksaan bahwa “kekuasan Negara sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara merdeka”.



31

Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan Republik Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka utama. Hal. 2

115 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dalam UU No. 15 tahun 1961 dinyatakan kedudukan Kejaksaan sebagai

“alat Negara”, pada hakikatnya yang dimaksud dengan “alat Negara” tidak

lain adalah alat kekuasaan eksekutif. Sehingga kejaksaan dalam konstelasi

ketatanegaran RI menjadi bagian dari lembaga pemerintahan, seperti halnya

dalam UU No. 5 tahun 1991 dan UU No. 16 tahun 2004.

Sehubungan dengan kedudukannya itu berimplikasi pada kedudukan

dan pengangkatan Jaksa Agung. Dalam Pasal 19 ayat (1) UU No. 16 tahun

2004 dinyatakan : “Jaksa Agung adalah pejabat Negara”. Pasal 19 UU No. 5

tahun 1991 dan Pasal 19 ayat (2) UU No. 16 tahun 2004, menyatakan :”Jaksa

Agung diangkat dan pemberhentiannya dilakukan oleh Presiden”. Dengan

kedudukan sebagai “pejabat Negara” tersebut, maka kedudukan Jaksa Agung

sejajar dengan Menteri, yang pengangkatannya dilaksanakan bersama-sama

Menteri, dan karenanya pula Jaksa Agung menjadi anggota kabinet. Sehingga

sangat tepat putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 049/PUU-VIII/2010 tgl 22

September 2010 sehubungan dengan permohonan yudisial review mantan

Menteri Hukum dan HAM Yusrin Ihza Mahendra terhadap Pasal 22 ayat (1)

b yang dalam amar putusannya menyatakan ” masa jabatan Jaksa Agung itu

berakhir dengan berakhirnya masa jabatan Presiden RI dalam satu periode

bersama-sama masa jabatan anggota kabinet atau diberhentikan dalam masa

jabatannya oleh Presiden dalam periode yang bersangkutan”.

Kedudukan Kejaksaan menjadi bagian dari kekuasaan pemerintahan

ini sangat rentan terhadap intervensi dari eksekutif, terutama terhadap

penanganan perkara yang bermuatan politik seperti kejahatan HAM dan

kejahatan terhadap keamanan Negara (termasuk terorisme) serta tindak

pidana korupsi.Dalam kejahatan-kejahatan ini pada umumnya sarat dengan

kepentingan elite politik, maupun kejahatan ini berpotensi besar dilakukan

elite politik. Sangat wajar diragukan keberanian dan transparansi serta

objektifitas Jaksa Agung menangani perkara-perkara ini, karena ada konflik

kepentingan (conflict of intrest).

Antonius Sujata mengatakan : Marzuki Darusman pada saat menjadi

Jaksa Agung, mengeluh soal independensi kejaksaan ini. Untuk itu Marzuki

Darusman pernah mengusulkan agar kejaksaan sepenuhnya terpisah dari

eksekutif. Pemikiran ini terutama sekali dimaksudkan untuk mengatasi

kelambanan dalam memberantas KKN.32

Dalam konteks ke-kinian sangat menarik sekali dicermati “parodi”

Kejaksaan Agung dalam penanganan perkara pimpinan KPK Bibit Samat

Riyanto dan Chandra M. Hamzah dengan keluarnya Surat Keterangan

Penghentian Penuntutan (SK2P) yang berbuntut gugatan praperadilan

Anggodo Wijoyo. Proses hukum SK2P berakhir di tingkat Mahkamah Agung

yang menolak PK Kejaksaan Agung. Padahal sejak awal sudah diestimasi

32

Ibid. hal. 51.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 116



oleh banyak kalangan SK2P ini “bermasalah” karena itu lebih tepat jika Jaksa

Agung mendiponer perkara ini untuk menyelamatkan KPK. Namun, siapapun

tahu bahwa Presiden SBY sebagai atasan Jaksa Agung disebut-sebut terseret

kasus bank Century yang sedang dibidik oleh KPK. Disinyalir kuat kasus bank

Century inilah yang alat bargining Jaksa Agung dengan KPK untuk “ditukar”

dengan hak deponering Jaksa Agung.

Bila menoleh ke belakang yakni pada Pasal 2 Rancangan Undang-

Undang (RUU) Kejaksaan yang kemudian menjadi UU No. 16 tahun 2004, di

situ dinyatakan :“Kejaksaan RI selanjutnya dalam undang-undang ini disebut

Kejaksaan adalah lembaga Negara yang independent terlepas dari pengaruh

kekuasaannya, untuk melaksanakan tugas dan kewenangan di bidang

penuntutan”.

Ketentuan tersebut dijelaskan dalam Penjelasan umum, yang

menyatakan bahwa : ”permasalahan independensi terlihat dalam tidak

mandirinya institusi penegakan hukum terhadap kekuasaan Negara lainnya.

Kebijakan penangan permasalahan hukum terlebih-lebih lagi yang bernuansa

politik selalu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan politis dari institusi

Negara yang berkepentingan terhadapnya. Karena itu, intervensi terhadap

institusi penegak hukum oleh kekuasaan Negara lainnya atau sesama penegak

hukum menjadi kendala bagi penegakan hukum itu”.

Selanjutnya dinyatakan : ”Kejaksaan adalah salah satu institusi penegakan

hukum yang fungsi dan kewenangannya dalam bidang penuntutan umum

dalam peradilan pidana, juga tidak luput dari permasalahan independensi

hukum lainnya dalam satu sistem peradilan pidana. UU No. 5 tahun 1991

yang antara lain meletakan kejaksaan sebagai aparat pemerintah belum

dapat menjawab permasalahan yang dihadapi oleh kejaksaan. Karena itu

perlu dibuat peraturan perundang-undangan mengenai Kejaksaan yang dapat

menjawab dua permasalahan besar yaitu kemandirian dan harmonisasi tugas

dan kewenangan kejaksaan dengan institusi penegakan hukum yang lainnya”.

Dalam Penjelasan Pasal 2 RUU itu dinyatakan : “Kejaksaan dalam

lembaga Negara yang mandiri dalam melaksanakan kekuasaan penuntutan

dalam perkara pidana tidak dipengeruhi oleh kekuasaan manapun juga,

melainkan dilakukan menurut hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila”.

Mencermati ketentuan dalam RUU Kejaksaan tersebut, jelas sekali

kedudukan Kejaksaan yang dicita-citakan adalah Kejaksaan yang memiliki

independensi (kemandirian) dari kekuasaan Negara khususnya kekuasaan

eksekutif. Cita-cita ini merubah secara revolusiner kedudukan Kejaksaan.

Namun, konfigurasi politik yang membidani lahirnya undang-undang ini

ternyata tidak memiliki political wiil untuk melepaskan Kejaksaan dari

kekuasaan eksekutif.

117 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Sebagai komparasinya adalah kedudukan kekuasaan kehakiman

(yudikatif) yang dalam UU No. 14 tahun 1971 berada di 2 (dua) atap yaitu

Departemen Kehakiman untuk hal ikhwal organisasi, administrasi dan

financial, serta Mahkamah Agung untuk hal ikhwal pelaksanaan fungsi yudisial.

Kedudukannya dijadi 1 (satu) atap (one roof system) sejak dikeluarkannya UU

No. 35 tahun 1999 tentang Perubahan atas UU No. 14 tahun 1970 tentang

Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan kemudian diganti dengan UU No.

4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang juga kemudian diganti

dengan UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Sehubungan dengan kedudukan Kejaksaan ini, sangatlah menarik

dicermati Penjelasan umum UU No. 16 tahun 2004, yang menyatakan :

“Pembaharuan undang-undang tentang Kejaksaan RI tersebut

dimaksudkan untuk lebih memantapkan kedudukan dan peran Kejaksaan RI

sebagai lembaga Negara pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara

di bidang penuntutan harus bebas dari pengaruh kekuasan pihak manapun,

yakni dilaksanakan secara merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan

pemerintah dan pengaruh lainnya”.

Selanjutnya dinyatakan : “……….Berdasarkan perubahan tersebut

ditegaskan bahwa ketentuan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan

dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang”. Ketentuan

badan-badan lain tersebut dipertegas oleh Pasal 38 ayat (1) UU No. 48 tahun

2009 yang menyatakan bahwa “selain Mahkamah Agung dan badan peradilan

di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi terdapat badan-badan lain yang

fungdinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman”. Dalam penjelalsannya

disebutkan :” yang dimaksud dengan “badan-badan lain” anara lain kepolisian,

kejakskkaan, advokat, dan Lembaga Pemasyarakatan”. Pada ayat (2) dinyatakan

: fungsi yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) meliputi : (a) penyelidikan dan penyidikan, (b). penuntutan,

(c). pelaksanaan putusan, (d). pemberian jasa hukum dan (e). peneyelesaian

sengketa di luar pengadilan.”.

Bila dicermati ketentuan penjeleasan tersebut dapat dikatakan

bahwa untuk memantapkan kedudukan Kejaksaan sebagai lembaga yang

independen, undang-undang hanya membuat penegasan bahwa “kekuasaan

Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara merdeka”

(Pasal 2 ayat (2)). Sedangkan ayat (1) menyatakan “Kejaksaan adalah

lembaga pemerintahan……”. Ketentuan ini hanya memberikan jaminan

normative berkaitan dengan pelaksanaan kerwenangan, tidak menyangkut

pokok permasalahan yaitu kedudukan lembaga. Padahal badan lainnya yang

melaksanakan fungsi kekuasaan kehakiman yaitu Mahkamah Agung dan

badan peradilan yang di berada di bawahnya, dinyatakan sebagai kekuasaan

Negara yang merdeka.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 118



Apabila hal ini dihubungkan dengan Pasal 3 ayat (1) UU No. 48 Tahun

2009 yang menyatakan bahwa “Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, hakim

dan hakim konstitusi wajib menjaga kemandirian peradilan”. Dihubungkan

juga dengan Pasal 38 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa

“selain Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah

Konstitusi terdapat badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan

kekuasaan kehakiman”.. Dari bunyi undang-undang tersebut dapat dikatakan

semua badan-badan yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman

seharusnya memiliki kedudukan yang independen, bukan hanya kekuasaan

kehakiman dalam arti sempit yaitu Mahkamah Agung dan badan peradilan

yang berada di bawahnya.

Marwan Effendi menyatakan : ”mencermati kedudukan dan fungsi

Kejaksaan RI dalam bingkai teori negara hukum dan teori pembagian kekuasan

adalah sangat tepat apabila Kejaksaan RI tidak berada dalam lingkungan

ekskutif. Kejaksaan RI sebaiknya menjadi suatu “badan khusus” yang mandiri

dan independen dalam melaksanakan kekuasan Negara di bidang penuntutan

dan kewenangan lain sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang”.33

Kemandirian kejaksaan ini juga disetujui kalangan internal kejaksaan

sebagaimana terungkap dalam putaran Focus Group Discution “Kajian Evaluasi

Pelaksanaan Reformasi Kejaksaan” yang diselenggarakan oleh Komisi Hukum

Nasional (KHN) pada tanggal tanggal 6 Mei 2010 di Banjarmasin34.

Kiranya jelas bagaimana urgensi kedudukan Kejaksaan RI sebagai

lembaga yang indenpenden dalam rangka peranannya sebagi salah satu

badan yang berfungsi berkaitan dengan kekuasaan kehakiman.

Sangat menarik disimak pendapat Barda Nawawi Arief dalam

mengkonsepkan penyelengaraan kekuasan kehakiman. Menurut Barda

Nawawi Arief, konsep kekuasaan kehakiman jangan hanya diartikan secara

sempit yaitu kekuasaan untuk mengadili, tapi diartikan luas yaitu kekuasaan

untuk menegakan hukum. Hal ini berarti kekuasaan kehakiman mencakup

kekuasaan menegakan hukum dalam seluruh proses penegakan hukum.

Sehingga dalam perspektif sistem peradilan pidana (SPP), kekuasaan

kehakiman mencakup kekuasaan penyidikan (oleh lembaga penyidik),

kekuasaan penuntutan (oleh kekuasaan penuntut umum), kekuasaan

mengadili (oleh badan peradilan), dan kekuasaan pelaksana putusan/pidana

(lembaga eksekusi), Konsep inilah yang merupakan satu kesatuan sistem

penegakan hukum pidana, yang biasa disebut “sistem peradilan pidana

terpadu” (“integrated criminal justice system”).35

33

Ibid. hal. 53.

34

Catatan Focus Group Discution “Kajian Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Kejaksaan” , Komisi

Hukum Nasional, tgl 6 Mei 2010 di Banjarmasin

35

Barda Nawawi Arief. 2001. Masalah Penegakan Hukum dan Penanggulangan Kejahatan.

Bandung : Citra Aditya Bakti. Hal. 27-28.

119 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Selanjutnya dikatakan bahwa bertitik tolak dari pengertian itu, maka

keseluruhan penegakan kekuasaan kehakiman (penegakan hukum) di bidang

hukum pidana seyogiyanya berada di bawah naungan Mahkamah Agung

sebagai “otorita tunggal dari penyelengara kekuasaan kehakiman yang

merdeka dan mandiri” menurut Pasal 24 UUD 1945.36

Pendapat Barda Nawawi Arief ini, kiranya sekarang sangat tepat dilihat

dalam konteks dengan Pasal 38 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 yang pada

dasarnya menyebutkan Kepolisian dan Kejaksaan juga sebagai badan yang

melaksanakan fungsi berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Walaupun

undang-undang ini tidak menyebut Mahkamah Agung sebagai pemegang

“otorita tunggal dari penyelengara kekuasaan kehakiman yang merdeka dan

mandiri”.

Pendapat Barda Nawawi Arief tersebut juga sangat tepat apabila

dlihat dalam perspektif sistem ketatanegaraan RI yang terdapat dalam UUD

1945 yang samasekali tidak menyebut kejaksaan atau Jaksa Agung. Andi

Hamzah memberikan penjelasan alasan tidak disebutnya kejaksaan atau

Jaksa Agung bahwa hal itu disebabkan menurut pendapat penyusun UUD

yang juga para pendiri republik ini, yang semuanya berpendidikan barat atau

Belanda, kejaksaan dan jaksa agung itu sudah termasuk dalam ruang lingkup

“kekuasaan kehakiman” yang merupakan salinan bahasa Belanda “Rechtelijk

Macht” bukan “kekuasaan hakim”.37

Lebih lanjut Andi Hamzah menyatakan, bahwa pengertian kekuasaan

kehakiman itu sudah kejaksaan dan jaksa agung di dalamnya. Dalam Pasal

24 ayat (1) UUD 1945 (sebelum diamandemen) :” kekuasaan kehakiman

dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung”, bukan lain-lain “badan pengadilan”,

yang berdasarkan system Eropah Kontinental, termasuk pula jaksa agung

pada Mahkamah Agung di situ. Itulah sebabnya antara tahun 1945-1959

jaksa agung disebut Jaksa Agung pada Mahkamah Agung. Hal ini membawa

dampak lebih jauh, yaitu Jaksa Agung itu tidak 100 % eksekutif. Dalam hal

penuntutan, apalagi sejak ia duduk dalam sidang kasasi Mahkamah Agung,

jaksa agung sudah berada dalam ruang lingkup yudikatif. Di situ Jaksa Agung

tidak dapat lagi diberi perintah oleh eksekutif (Presiden).38

Keadaan ini berubah sejak Presiden Soekarno mengobrak-abrik sistem

ketanegaran kita, yang mana Jaksa Agung dan Ketua Mahkamh Agung diangkat

menjadi menteri yang menurut UUD 1945 adalah pembantu presiden. Sejak

itu kejaksaan yang mana jaksa agung berada di puncaknya, menjadi alat

pemukul yang paling efektif bagi penguasa (presiden).39

36

Ibid. Hal. 29.

37

Yudi Kristiana. 2006. Independensi Kejaksaan Dalam Penyidikan Korupsi. Bandung : Citra Aditya

Bakti. Hal. 35.

38

Ibid.

39

Ibid.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 120



Kedudukan kejaksaan sebagaimana diuraikan tersebut, dapat pula

dilihat dari Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyatakan :”sebelum

Negara Republik Indonesia membentuk badan-badan dan peraturan-

peraturan negaranya sendiri sesuai dengan ketentuan udang-undang dasar,

maka segala badan dan peraturan Negara yang ada masih langsung berlaku”.

Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1945 tanggal 10 Oktober

1945, Pasal II Aturan Peralihan ini diberlakukan surut terhitung sejak tanggal

17 Agustus 1945.

Pada saat itu badan Negara dan peraturan yang ada ialah yang

diciptakan oleh pemerintah bala tentara pendudukan Jepang ditambah

dengan peninggalan dari zaman colonial Hindia Belanda yang dinyatakan

masih berlaku, baik dengan maupun tanpa perubahan.

Menurut Osamu Seirei Nomor 3 Tahun 1942 tanggal 20 September

1942 dalam masa pemerintahan bala tentara pendudukan Jepang di Jawa,

eksistensi kejaksaan itu dikaitkan dengan eksistensi bada-badan peradilan,

khususnya pengadilan agung (saikoo hooin), pengadilan tingggi (kootoo

hooin) dan pengadilan negeri (tihoo hooin). Pada saikoo hooin, kootoo

hooin dan tihoo hooin masing-masing ada kejaksaannya (kensatsu kyoku),

yaitu saikoo kensasu kyoku (kejaksaan pengadilan agung), kootoo kensatsu

kyoku (kejaksakan pengadilan tinggi), dan tihoo kensatsu kyoku (kejaksaan

pengadilan negeri).40

Dilihat dari sidang pembentukan departemen-departemen tanggal

19 Agustus 1945 oleh PPKI, dalam konsep yang disusun oleh Mr. Subardjo.

Dalam Departemen kehakiman, selain kejaksaan juga urusan wakaf. Akan

tetapi dirubah oleh Prof. Supomo, sehingga yang termasuk ke dalam urusan

kehakiman adalah urusan-urusan pengadilan, penjara, kejaksaan, kadaster,

dan sebagainya.41 Sejak tanggal 19 Agustus 1945 sampai tahun 1960 kejaksaan

berada di lingkungan Deparetemen Kehakiman. Berdasarkan Keppres

Nomor 204 Tahun 1960, sejak tanggal 22 Juli 1960 kejaksaan terpisah dari

Departemen kehakiman menjadi departemen yang berdiri sendiri.

Dari sejarah kejaksaan di Indonesia tersebut jelaslah bahwa pada awal

terbentuknya kejaksaan, menjadi bagian dari kekuasaan kehakiman.





Dalam Pasal 2 ayat (3) UU No. 16 Tahun 2004 dinyatakan “ kejaksaan

Struktur Organisasi Kejaksaan



sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah satu dan tidak terpisahkan”.

Kejaksaan sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanaan kekuasaan

negara di bidang penuntutan, susunannya terdiri dari Kejaksaan Agung,

Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Negeri.

40

Ibid. hal. 35-36

41

Ibid.

121 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Menurut penjelasan Pasal 2 ayat (3) yang dimaksud dengan “kejaksaan

adalah satu dan tidak terpisahkan” adalah satu landasan dalam pelaksanaan

tugas dan wewenangnya di bidang penuntutan yang bertujuan memelihara

kesatuan kebijakan di bidang penuntutan sehingga dapat menampilkan ciri

khas yang menyatu dalam tata pikir, tata laku, dan tata kerja kejaksaan. Oleh

karena itu kegiatan penuntutan di pengadilan oleh kejaksaan tidak akan

berhenti karena jaksa yang semua bertugas berhalangan. Dalam hal demikian

tugas penuntutan oleh kejaksaan akan tetap berlangsung sekalipun untuk itu

dilakukan oleh jaksa lainnya sebagai pengganti.

Ketentuan tersebut mencerminkan struktur organisasi kejaksaan

di Indonesia bersifat struktur hirarkhis yang sentralistik. Mereka

yang menduduki eselon atas memiliki wewenang untuk memberikan

instruksi-instruksi kepada mereka yang berada di struktur bawah. Hal ini

terimplimentasi dalam setiap tahapan tugas, misalnya dalam membuat surat

dakwaan dan surat tuntutan tidak lepas dari instruksi atasan yang harus

dilaksanakan. Sudah suatu kelaziman di lingkungan kejaksaan ungkapan

seperti “belum dikoordinasikan dengan pimpinan”, yang bermakna belum

ditetapkan atau ditentukan atau diputuskan oleh atasan. Celakanya, apa yang

diputuskan oleh pimpinan (bisa atasan langsung) dari jaksa tersebutlah yang

harus dilaksanakan. Padahal sangat mungkin pendapat (putusan) pimpinan

ternyata bertentangan dengan hasil pemeriksaan faktual jaksa/ Penuntun

Umum terhadap BAP penyidikan dalam hal membuat surat dakwaan dan hasil

pemeriksaan di depan persidangan dalam membuat surat tuntutan . Apa yang

diputuskan oleh pimpinan (atas langsung) bisa saja tidak bersifat objektif

(tidak berdasarkan fakta/bukti) karena pengaruh faktor x. Seorang jaksa

yang ditunjuk menangani suatu perkaralah yang paling mengetahui mengenai

substansi perkara tersebut, termasuk dialah mengetahui fakta hukum apa

yang terungkap dipersidangan. Jadi persoalannya bukan menyangkutan

penggantian jaksa yang berhalangan, tapi menyangkut persoalan substantive

yakni kearah mana perkara yang ditangani oleh seorang jaksa mau dibawa.

Keadaan inilah yang membuat jaksa/ Penuntut Umum dalam posisi

yang dilematis, antara secara organisatoris adanya keharusan mematuhi

instruksi atasan dengan keharusan bersikap objektif (berdasarkan fakta)

dalam melaksanakan tugas dan kewenangan fungsional. Yudi Kristiana

menngatakan, para jaksa penuntut umum baik dalam hirarkhi kepangkatan

maupun promosi sangat tergantung pada loyalitas terhadap atasan yang

sifatnya berjenjang. Ruang lingkup pekerjaan para jaksa penuntut umum yang

berada dalam struktur organisasi yang bersifat hirakhis ini akan cenderung

menciptakan tekanan-tekanan kearah pelaksanaan yang sifatnya seragam.42



42

Ibid. Hal. 39.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 122



Lymen W. Porter, Edward Lawler dan J. Richard Hickman mengatakan,

penekanan pada hal-hal yang berorientasi pada dedikasi dan keterampilan

dalam pelaksaan tugas ditujukan bagi kebanggaan korp lembaga dan kurang

peluang peran personal secara professional. Tipe organisasi yang lebih

menekankan spesifikasi hirarkhi dalam rantai komando ini biasanya bisa

dipahami dari dimensi sentralisasi atau desentralisasi.

Seyogiyanya struktur kejaksaan yang merupakan satu dan tidak

terpisahkan, hendaknya tidak boleh berimplikasi pada kemandirian jaksa

terhadap pimpinannya dalam melaksanakan tugas fungsionalnya sebagai

penuntut. Kalaupun diperlukan koordinasi kepada pimpinan, maka sifatnya

hanya laporan saja (semacam progress report).





Persoalan pokok aparat pelaksana menyangkut 3 (tiga) persoalan yaitu

Sumber Daya Manusia Kejaksaan RI



kuantitas (jumlah), kapabilitas (kemampuan), serta integritas dan moral.

Selama ini persoalan yang banyak mendapat sorotan pelbagai kalangan

sebagai titik paling lemah aparat penegak hukum (termasuk aparat Kejaksaan)

adalah menyangkut persoalan integritas atau kejujuran dan moral.

Ke 3 (tiga) persoalan tersebut bermuara pada rekruitmen, pendidikan

dan latihan jabatan, serta pengawasan. Untuk memilik sumber daya manusia

yang dapat diandalkan, ke 3 (tiga) tersebut harus direformasi.





Rekruitmen adalah proses penerimaan (pencarian) personil sesuai

Rekruitmen



dengan kriteria yang ditetapkan untuk melaksanakan tugas dan kewenagan

tertentu. Rekruitmen Kejaksaan harus dilakukan secara objektif, transparan,

dan dapat dipertanggungjawabkan dalam arti selain harus mengacu pada

syarat-syarat normatif yang ditentukan dalam Pasal 9 UU No. 16 tahun 2004

yang prosesnya dilaksanakan secara transparan.

Rekruitmen dilaksanakan oleh suatu Tim yang terdiri dari unsur

internal yakni kejaksaan dan unsur eksternal yakni lembaga pengembangan

sumber daya manusia yang kredibel. Rekruitmen yang dimaksudkan disini

baik pada tahap penerimaan calon jaksa sebagai calon pegawai negeri

maupun pada tahap Pendidikan dan Pelatihan Jaksa .

Rekruitmen pada tahap pendidikan dan pelatihan jaksa seharusnya

dilaksanakan hanya melalui 1 (satu) pintu, dalam arti tidak dilakukan

pemisahan antara calon dari umum (di luar kejaksaan) dan dari dalam

kejaksaan sendiri. Penggunaan sistim 2 (dua) pintu ini membuka peluang

menggunakan standar penilaian ganda (berbeda) antara penilai terdadap calon

dari luar dan calon dari dalam kejaksaan ataupun mengurangi objektifitas.

123 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Padahal sudah diketahui umum, calon dari dalam kejaksaan sudah menjadi

PNS (bekerja sambil kuliah) pada umumnya berasal dari lulusan Perguruan

Tingggi Swasta yang secara umum kualitasnya lebih rendah dari lulusan

Perguruan Tingggi Negeri. Akibat dari rekruitmen melalui sistim 2 (dua) pintu

ini memunculkan banyak jaksa yang tidak berkualitas. Setahu penulis dalam

tahun-tahun belakangan ini kejaksaan sudah menggunakan pola rekruimen

satu pintu ini, ini berarti adanya reformasi dalam pola rekruitmen.

Dalam pedoman yang dirumuskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa

(PBB), antara lain disebutkan bahwa “mereka yang terpilih sebagai calon

jaksa adalah mereka yang jujur dan cakap dengan memperoleh pelatihan

dan persyaratan yang tepat. Sehingga Negara menjamin bahwa kriteria

penyaringan untuk jaksa dapat mencegah pengangkatan yang didasarkan

pada sikap berat sebelah dan berprasangka, dengan mengenyampingkan

segala diskriminasi karena alasan-alasan ras, warna kulit, jenis kelamin,

bahasa, agama, politik atau perbedaan pendapat, asal-usul bangsa, sosial atau

etnis, kekayaan, keturunan, ekonomi, atau status lain, tetapi tidak dianggap

sebagai diskriminasi apabila kewarganegaraan negara yang bersangkutan

menjadi syarat seorang calon untuk jabatan penuntutan itu”.43

Untuk menilai calon memiliki sifat takwa kepada Tuhan Yang Maha

Esa, berwibawa, jujur, adil, dan tidak berkelakuan tidak tercela sebagaimana

disyaratkan dalam pasal 9 ayat (1) UU No, 16 Tahun 2004, disamping melalui

psikotes dan wawancara juga perlu dilakukan penelusuran rekan jejak (track

record) prilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk itu harus dibuka

akses bagi masyarakat untuk memberikan masukan (in put) mengenai profil

calon jaksa yang bersangkutan.





Pendidikan dan pelatihan (diklat) dilaksanakan pada tahap rekruitmen

Pendidikan dan Pelatihan



khususnya pada tahap Pendidikan dan Pelatihan Jaksa maupun setelah

berstatus sebagai jaksa. Pendidikan dan Pelatihan Jaksa dilaksanakan dalam

upaya untuk mendapatkan (calon) jaksa yang berkualitas dan berintegritas.

Sedangkan diklat yang dilaksanakan pada tahap sudah berstatus sebagai jaksa,

untuk meningkatkan kualitas dan integritas jaksa dalam rangka melaksanakan

tugas dan kewenangan kejaksaan, sehingga diharapkan terdapat peningkatan

profesionalisme dan kinerja. Jadi, tidak hanya bertujuan untuk mencapai

dan meningkatkan kapabilitas juga untuk membentuk dan meningkatkan

integritas dan moral jaksa sebagai landasan pokok melaksanakan tugas dan

kewenangan.



43

Munir Fuady. 2005. Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum Bagi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris,

Kurator, dan Pengurus). Bandung : Citra Aditya Bakti. Hal. 126.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 124



Tugas dan wewenang kejaksaan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal

30 UU No. 16 Tahun 2004, tidak hanya di bidang pidana, juga perdata dan tata

usaha negara serta bidang ketertiban umum, jelas bukanlah tugas yang ringan.

Ditambah lagi dengan perkembangan tindak pidana dan modusnya, semakin

berat tugas yang harus dilaksanakan oleh kejaksaan. Untuk itu dituntut jaksa

yang tidak hanya memiliki kapabilitas yang prima juga integritas dan moral

yang tinggi, dan ini diantarnya diperoleh dari mengikuti diklat kejaksaan.

Sedemikian pentingnya pendidikan dan pelatihan ini, PBB sampai-

sampai telah memuatnya dalam suatu pedoman menyebutkan bahwa “negara

hendaknya menjamin para jaksa mendapat pendidikan dan pelatihan yang

tepat dan harus diberi kesadaran atas tugas-tugas ideal adan etika jabatnnya,

kesadaran atas hak perlindungan tersangka dan korban berdasarkan

konstitusi maupun perundang-undangan serta kesadaran atas hak-hak asasi

manusia dan kebebasan dasar yang diakui oleh hukum nasional maupun

hukum internasional”.44

Kesempatan mengikuti diklat dan penyelenggaraan diklat haruslah

bersifat transparan dan objektif, dalam arti informasi penyelenggaraan

diklat harus dapat bisa di akses oleh setiap jaksa dan pemberian kesempatan

oleh atasan harus berdasarkan ukuran objektif-rasional, sehingga tidak lagi

terdengar isu “segala dapat diatur dengan duit”.

Materi yang disampaikan dalam diklat tidak hanya pengulangan

dan pendalaman, tapi juga materi perkembangan hukum. Sehingga dapat

diharapkan seorang jaksa yang bertugas melakukan penyidikan atau

penuntutan tidak secara berlebihan mengandalkan keterangan seorang ahli

(saksi ahli).





Pengawasan terkait dengan akuntabilitas, untuk mengantisipasi

Pengawasan



terjadinya deviasi (penyimpangan) kewenangan oleh aparat pada saat

menjalankan tugas. Pengawasan terhadap aparat diperlukan agar terbentuk

aparat yang bersih, penuh tanggung jawab, baik secara moral, agama, dan

hukum dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.45

Selama ini pengawasan terhadap jaksa dilakukan melalui sistem

pengawasan fungsional internal dan eksternal. Pengawasan fungsional

internal dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan pada Kejaksaan

Agung oleh Asisten Pengawasan pada Kejaksaan Tinggi dan Seksi Pemeriksa

pada Kejaksaan Negeri. Sedangkan Pengawasan fungsional ekstern dilakukan

oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan dan

Pembangunan (BPKP).

44

Ibid.

45

Marwan Efffendy. Op. Cit. Hal. 148.

125 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Menurut Marwan Effendy, pengawasan fungsinal BPK dan BPKP masih

terbatas jangkauannya, sehinnga produk yang dihasilkan dianggap sempit dan

sektoral, belum menyentuh substansi fungsi yudisial. Pengawasan fungsional

internal meskipun jangkauan pengawasannya lebih menyeluruh termasuk

kinerja institusi yang menyangkut fungsi yudisial, tetapi terbatas pada

aparatur eselon struktural atau fungsional tertentu. Perlu tidaknya proses

atau tindak lanjut berkait dengan pengawasan tersebut sangat tergantung

pada kebijakan Jaksa Agung.46

Pengawasan ini merupakan salah satu titik lemah dari Kejaksaan.

Hal ini dibuktikan dengan masih seringnya terdengarnya jaksa diduga kuat

melakukan pemerasan terhadap calon tersangka, tersangka atau terdakwa

atau menerima suap atau “jaksa masuk angin” sehingga merekayasa BAP/

Surat dakwaan/Surat tuntutan untuk melepaskan atau meringankan dari

tuntutan hukum, seperti kasus jaksa Cyrus Sinaga dalam kasus penanganan

kasus penggelapan pajak.

Sedemikian pentingnya pengawasan terhadap kejaksaan ini, maka PBB

juga merumuskan pedoman penegakan didsiplin bahwa :

(a). Pelanggaran disiplin terhadap jaksa harus didasarkan pada hukum dan

peraturan-peraturan yang sah. Pengaduan terhadap jaksa uyang dituduh

telah nyata-nyata bertindak menyimpang dari standar profesi harus

diproses secepatnya dan seadil-adilnya berdasarkan hukum acara yang

tepat. Para jaksa berhak diperiksa secara adil, keputusannya sebaiknya

dapat ditinjau kembali secara bebas.

(b). Proses pemeriksaan disiplin terhadap para jaksa harus menjamin adanya

evaluasi dan keputusan objektif. Mereka hendaknya diproses sesuai

dengan peraturan tingkah laku profesi, standar, dan etika yang berlaku,

serta sesuai dengan pedoman ini.47

Dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja kejaksaan ini, maka dalam

UU No. 16 Tahun 2004 diintrodusir Komisi Kejaksaan yang dibentuk, susunan

dan kewenangan yang diatur oleh Peraturan Presiden. Atas dasar Peraturan

Presiden (Perpres) No. 18 Tahun 2005 telah dibentuk Komisi Kejaksaan dan

dengan Perpres N0. 116 Tahun 2005 telah ditetapkan 7 (tujuh) orang anggota

Komisi Kejaksaan.

Dengan demikian bertambah lagi pengawasan terhadap kejaksaan,

sehingga pengawasan dilakukan oleh 3 (tiga) pihak, yaitu :

a) Pengawasan internal Kejaksaan; dilakukan oleh Jaksa Agung Muda

Pengawasan di tingkat Kejaksaan Agung, Asisten Pengawasan di tingkat

Kejaksaan Tinggi, dan Seksi Pemeriksa di tingkat Kejaksaan Negeri.

46

Ibid. Hal. 150.

47

Munir Fuady. Op. Cit. 131.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 126



b) Pengawasan eksternal ; dilakukan oleh :

1) BPK dan BPKP, dan

2) Komisi Kejaksaan

Komisi Kejaksaan bertugas :

a) Mengawasi, memantau, dan menilai kinerja jaksa dan pegawai kejaksaan

dalam rangka melaksanakan tugas dan kewenangannya.

b) (b). Mengawasi, memantau, dan menilai sikap dan perilaku jaksa dan

pegawai kejaksaan.

c) (c). Mengawasi, memantau, dan menilai kondisi organisasi, kelengkapan

sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia kejaksaan.

Dengan adanya Komisi Kejaksaan, pelaksaan pengawasan lebih

dapat diharapkan dilakukan secara objektif, dapat dipertanggungjawabkan

dan transparan. Hal yang sama sulit diharapkan bila pengawasan initernal,

karena budaya feodal, “ewuh pakewuh” dan “semangat melindungi korp”

masih melekat kuat pada bangsa Indonesi. Namun efektifitas kinerja komisi

ini juga pada akhirnya tergantung dari kapabilitas dan integritas moral dan

keberanian (nyali) dari para komisioner kejakasaan. Prinsif yang dipegang

adalah pengawas harus menjadi teladan dan panutan bagi orang yang

diawasinya.

Dalam proses pengawasan dan penindakan harus dilakukan secara

transparan, dalam arti masyarakat diberi akses untuk mengetahui mekanisme

pengawasan. Sehingga pengawas dan mekanisme pengawasannya itu sendiri

terbuka untuk diawasi oleh masyarakat. Inilah tujuan akhir dari pengawasan

yaitu adanya pertanggungjawaban kinerja kepada masyarakat.





Reformasi kejaksaan dilakukan berdasarkan pendekatan sistem

Penutup



hukum, yang terdiri dari 3 (tiga) sub sistem yaitu sub sistem substansi hukum,

sub sistem struktur hukum, dan sub sistem budaya hukum. Reformasi pada

sub sistem struktur hukum, meliputi kelembagaan, tugas dan wewenang

serta personil (aparat pelaksana).

Sehubungan dengan hal tersebut, maka sangat diperlukan independensi

(kemandirian) kedudukan lembaga kejaksaan dari intervensi kekuasaan

negara khususnya kekuasaan eksekutif. Disamping itu perlu direformasi

mengenai struktur organisasi kejaksaan di Indonesia bersifat struktur

“hirarkhis yang sentralistik”, karena undang-undang yang menyatakan

“kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan” yang menjadikan seorang

jaksa tidak mandiri dalam melaksanakan tugas fungsional.

Dalam rangka terpenuhi kebutuhan personal baik dalm tataran

kuantitas, kualitas dan integritas, maka mekanisme rekruitmen, pendidikan

127 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



dan latihan serta pengawasan harus juga direformasi. Rekruitmen seyogianya

dilaksanakan secara objektif dan transparan, dilakukan melalui sistem 1

(satu) pintu untuk mengantisipasi diskriminasi dan standar ganda penilaian

terhadap calon jaksa. Disamping itu reformasi sistem pendidikan dan latihan

diarahkan untuk mempersiapkan jaksa yang berkualitas dan berintegrtas

dan moral yang baik dilakukan secara transparan dan objektif.

Pada akhirnya adalah tentang pengawasan yang selama ini dapat

dikatakan tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dengan adanya

tambahan lembaga pengawas yakni Komisi Kejaksaan, pengawasan

diharapkan bisa lebih berdaya guna dan berhasil guna namun sampai

sekarang belum jelas hasilnya.







Anthon F. Susanto. 2004. Wajah Peradilan Kita. Bandung : Fefika Aditama

Daftar Pustaka



Barda Nawawi Arief. 1998. Beberapa Aspek kebijakan Penegakan dan

Pengambangan Hukm Pidana. Bandung : Citra Aditya Bakti.

_________________. 2001. Masalah Penegakan Hukum dan Penanggulangan

Kejahatan. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Elwi Danil. 2001. Fungsionalisasi Hukum Pidana Dalam Penanggulangan

Tindak Pidana Korupsi. Ringkasan Disertasi. Jakarta : Universitas

Indoneisia.

Marwan Effendy. 2005. Kejaksaan Republik Indonesia, Posisi dan Fungsi dari

Perspektif Hukum. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.

Munir Fuady. 2005. Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum bagi Hakim, Jakasa,

Advokat, Notaris, Kurator, dan Pengurus). Bandung : Citra Aditya Bakti.

Sudikno Mertokusumo. 1991. Mengenal Hukum. Yogyakarta : Liberty

Yudi Kristiana. 2006. Independensi Kejaksaan Dalam Penyidikan Korupsi.

Bandung : Citra Aditya Bakti.

EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN

Yohanes G. Tuba Helan48









Kejaksaan sebagai intitusi penegak hukum sangat penting kedudukannya

Pendahuluan



dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Demikian juga di negara lain,

terutama negara-negara yang menganut prinsip negara hukum. Namun,

dilihat dari regulasi, kedudukan, susunan, serta pertanggungjawabannya,

maka setiap negara memiliki perbedaan yang satu dengan yang lainnya.

Pentingnya fungsi kejaksaan dapat terlihat dari penanganan perkara

pidana harus melibatkan kejaksaan baik mulai dari awal (kasus korupsi)

maupun pada tahap penuntutan untuk kasus pidana yang lain. Tanpa kejaksaan,

perkara pidana tidak akan sampai ke pengadilan, karena harus melalui tahap

penuntutan, dan tahap ini hanya dapat dilakukan oleh kejaksaan.

Dalam memainkan peran yang demikian penting tersebut, kejaksaan

dituntut untuk terus berkembang menjadi lebih profesional. Dengan demikian,

kejaksaan harus bisa mengembangkan diri sebagai lembaga yang profesional

dan akuntabel. Kejaksaan telah berupaya mereformasi diri namun, belum

menunjukkan hasil maksimal. Masih saja terjadi berbagai penyimpangan

yang mencoreng institusi kejaksaan, walaupun kasus itu terjadi oleh oknum

secara personal, dan bukan dilakukan oleh institusi.

Kiprah kejaksaan di dunia penegakan hukum mengalami pasang surut

dari waktu ke waktu, baik dari segi regulasi maupun kepemimpinannya. Oleh

karena kejaksaan memiliki posisi penting dimaksud maka akan mendorong

terjadinya penyimpangan sebagai akibat adanya godaan kekuasaan dan juga

godaan uang/harta.

Sering dipublikasikan di media masa bahwa aparat kejaksaan terlibat

dalam mafia hukum, suap menyuap, pemerasan, dsb.nya. Ada yang sudah

diproses secara hukum bahkan sampai dipecat, sedangkan yang lainnya

mampu meloloskan diri sehingga tidak terjerat oleh hukum.

Sehubungan dengan itu, penulisan makalah ini, bermaksud

mendeskripsikan upaya perbaikan kejaksaan dalam rangka meningkatkan

efektivitas kerja dalam penegakan hukum (pidana). Upaya dimaksud

sesungguhnya telah dilakukan sejak tahun 1998, namun belum menunjukkan

hasil yang menggembirakan, karena masih terkendala oleh berbagai faktor

internal maupun eksternal.

48

Staf Pengajar pada Fakultas Hukum Undana Kupang

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 130







Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, Pasal

Kedudukan Kejaksaan dalam Ketatanegaraan Indonesia



2(1) menegaskan bahwa kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang

melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan

lain berdasarkan undang-undang.

Oleh karena kejaksaan sebagai lembaga pemerintahan, maka

kedudukannya berada di bawah Preisden sebagai pimpinan kekuasaan

eksekutif. Dengan demikian, kejaksaan dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Presiden sebagai kepala pemerintahan.

Walaupun kejaksaan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada

Presiden, namun dalam melaksanakan kekuasaan penuntutan kejaksaan

melaksanakannya secara merdeka, artinya dalam melaksanakan tugas, dan

wewenang terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan

lainnya.

Sampai saat ini belum ada gagasan untuk meletakkan kejaksaan yang

benar-benar terpisah dari pemerintah seperti lembaga pengadilan. Kecuali,

dengan posisi kejaksaan berada di bawah Presiden membuat lembaga ini

tidak mandiri dalam melaksanakan tugas penegakan hukum, misalnya terjadi

intervensi dari Presiden terhadap pelaksanaan tugas-tugas kejaksaan di

bidang penegakan hukum. Belum ada bukti yang cukup kuat terjadi intervensi

dari kekuasaan lain terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi kejaksaan dalam

penegakan hukum, sehingga tidak terlalu relevan jika memisahkan lembaga

kejaksaan dari kekuasaan pemerintahan dan berdiri sendiri. Suatu lembaga

yang diberikan kemerdekaan terlalu luas, justru akan mendorong terjadinya

tindakan sewenang-wenang, karena tidak ada kontrol dari lembaga lain. Oleh

karena itu, masih sangat relevan kejaksaan sebagai institusi tetap diletakkan

di bawah Presiden, tetapi tetap melaksanakan tugas dan wewenang secara

merdeka dalam penegakan hukum.

Sesuai dengan pengaturan yang ada, secara struktural kejaksaan tidak

mandiri melainkan berada di bawah kekuasaan pemerintahan. Sedangkan,

secara fungsional kejaksaan merupakan lembaga yang merdeka, yaitu dalam

melaksanakan fungsi penegakan hukum benar-benar bebas dari campur

tangan kekuasaan lain.

Secara teoretis dikenal dua model kelembagaan dalam hubungan

dengan lembaga lain, yaitu, pertama model ketergantungan, yaitu suatu

lembaga diletakkan di bawah lembaga lain. Kedua, model pemisahan yaitu

suatu lembaga yang diberikan kedudukan setara dengan lembaga lain,

sehingga masing-masing melaksanakan kekuasaan secara mandiri (tidak

saling mencampuri).

131 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Kedua model ini masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya,

namun sangat tergantung dari orang-orang yang melaksanakan fungsi dari

lembaga tersebut. Model ketergantungan , maka terdapat pengawasan dari

lembaga di atasnya, sedangkan model pemisahan tidak ada yang mengawasi.

Kekurangan dari kedua model ini hanya dapat teratasi oleh adanya personal

yang kredibel dan memiliki integritas moral yang baik. Pasti mereka tidak

akan melakukan penyimpangan-penyimpangan.





Kejaksaan telah melakukan reformasi yang cukup mendasar dan

Peran Kejaksaan dalam Penegakan Hukum Pidana



substansial, berkenaan dengan aspek struktural, instrumental, dan cultural.

Reformasi struktural mencakup perubahan kelembagaan dalam sistem

ketatanegaran Indonesia, dan perubahan organisasi.

Reformasi instrumental, mencakup perubahan filosofi, (visi, misi, dan

tujuan), perubahan doktrin kejaksaan, perubahan kekuasaan, perubahan

otoritas, perubahan kemampuan teknis. Reformasi cultural, mencakup

pembangunan budaya kejaksaan yang antara lain, mengakui supremasi hukum,

menjunjung tinggi HAM, berwawasan global namun bersendikan lokal.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan kinerja kejaksaan dalam

penegakan hukum pidana yang selama ini rawan terjadi penyimpangan,

bahkan terjadi penyalahgunaan kekuasaan, diantaranya :

1. Proses penyidikan, dalam tahap ini sering terjadi tawar menawar antara

jaksa yang menangani kasus dengan pihak tersangka/keluarga atau

pengacaranya dengan tawaran bahwa perkara tersebut dapat dihentikan.

Jika tawaran ini disetujui oleh pihak tersangka dengan imbalan tertentu,

Pada tahap ini juga, jaksa dapat menggantung status seseorang atau

memperlambat proses pemeriksaan dengan harapan menunggu tersangka

menghubungi dengan ancaman mau lanjut atau stop. Jadi, status bisa

dinegosiasikan dengan jaksa apakah menjadi saksi atau tersangka. Jika

terdakwa bisa menyediakan jumlah uang yang diminta sesuai bobot

kasusnya, maka kasus bisa dihentikan dan diterbitkan P 18 dengan alas

an tidak cukup bukti.

2. Surat dakwaan, seharusnya jaksa mendakwa tersangka dengan pasal-

pasal yang bisa menjerat terdakwa agar tidak bisa lolos dengan dakwaan

berlapis. Namun, jaksa memberi jaminan kepada terdakwa bahwa dakwaan

primer tidak terbukti melainkan subsider atau lebih subsider. Tentu ini

bisa dilakukan dengan imbalan yang memadai. Dapat juga membuat

dakwaan yang kabur (abscur libel)sehingga sulit pembuktiannya.

3. Penuntutatan, bisa terjadi tawar menawar berat ringannya tuntutan jaksa.

Apabila terjadi kesepakatan misalnya dengan pemberian sejumlah uang,

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 132



maka tuntutan dibuat serendah mungkin. Sebaliknya, jika terdakwa tidak

mampu menyediakan uang sejumlah yang diminta maka, tuntutan dibuat

semaksimal mungkin.

4. Penahanan, pada tahap ini kemungkinan terjadi tiga penyimpangan, yaitu

(1)tawar menawar apakah terdakwa ditahan atau tidak, (2) penangguhan

penahanan, (3) perubahan status tahanan dari tahanan rutan menjadi

tanahan rumah atau tahanan kota. Negosiasi ini hanya dapat berhasil jika

pihak terdakwa memenuhi permintaan jaksa. Dilihat dari segi prosedur

kerja, keputusan seorang terdakwa ditahan atau tidak, penangguhan

penahanan, dan perubahan status tahanan menjadi kewenangan subyektif

(diskresi) jaksa, sehingga mudah mendorong terjadinya abuse of power49.

5. Pengembalian barang bukti, barang bukti yang disita oleh kejaksaan sering

dikembalikan kepada pemilik dengan imbalan tertentu. Secara prosedur

hukum memang dibenarkan untuk mengembalikan barang bukti kepada

pemilik untuk mencegah resiko yang terjadi. Namun, pengembalian

tersebut tidak dilakukan dengan melanggar hukum, misalnya jaksa meminta

sejumlah uang kepada pemilik. Beberapa laporan yang disampaikan kepada

Ombudsman Perwakilan NTT – NTB sehubungan dengan pengembalian

barang bukti berupa mobil untuk digunakan oleh pemilik. Pada hal barang

bukti tersebut sangat penting sebagai bukti di persidangan.

6. Bolak balik perkara, dalam praktek penegakan hukum sering terjadi bolak

balik perkara antara polisi dan jaksa yang menangani suatu kasus pidana.

Polisi setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan melimpahkan

berkasnya perkara kepada kejaksaan untuk ditindaklanjuti. Selanjutnya,

apabila BAP belum lengkap jaksa memberikan petunjuk untuk melengkapi.

Setelah polisi melengkapi sesui petunjuk jaksa dan dikirim kembali kepada

kejaksaan, keluar lagi petunjuk baru di luar dari yang sudah dilengkapi

oleh pihak kepolisian. Hal ini, terkesan adanya permainan dari tersangka

dengan pihak kejaksaan untuk menghambat suatu proses penegakan

hukum.

Menjadi permasalahan kita, mengapa praktek seperti ini sulit

diberantas. Abdurahman Iswanto mengidentifikasi beberapa penyebab, di

antaranya :

1. Terdakwa takut karena ancam,an dari pihak jaksa;

2. Menguntungkan kedua belah pihak;

3. Atasan juga tutup mata karena sama-sama kebagian;

4. Membela korps yang berlebihan;

5. Sulit pembuktian materil karena pihak yang bertransaksi mengerti hokum,

sehingga menggunakan cara yang tidak dapat dibuktikan secara hokum;



49

Abdurrahman Iswanto, Reformasi kejaksaan : Catatan yang Terlupakan (makalah), hlm. 6-7.

133 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



6. Tidak ada hukuman yang berat, bahkan ada indikasi pidana tetapi

diselesaikan secara administratif saja.







Upaya yang telah dilakukan untuk mereformasi kejaksaan, berupa :

Berbagai Upaya yang telah Dilakukan



1. Reformasi di bidang regulasi, yakni Undang_Undang Nomor 5 Tahun

1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, yang merupakan warisan

pemerintahan orde lama diganti dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejksaan Republik Indonesia, yang merupakan produk

reformasi.

2. Pembentukan Komisi Kejaksaan yang bertugas mengawasi jaksa dan

pegawai kejaksaan dalam melaksanakan tugas kedinasannya, baik di

dalam maupun di luar tugas kedinasan.

3. Reformasi sistem rekruitment jaksa yang mampu mencegah terjadinya

penyimpangan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rekruitment tidak hanya

untuk jaksa yang baru memulai karir tetapi juga jaksa agung dan jabatan

struktural lainnya. Dengan membenahi sistem rekruitment diharapkan

dapat memilih orang-orang dengan bobot moral dan kemampuan akademik

yang baik dalam menduduki jabatan. Selain itu juga memiliki kemampuan

akademik yang baik. Proses seleksi perlu melibatkan masyarakat karena

masyarakat yang sering berurusan dengan kejaksaan. Cara keterlibatan

masyarakat, misalnya dengan memberikan informasi mengenai perilaku

calon atau jaksa tertentu dalam menangani perkara maupun dalam

kehidupan bermasyarakat. Dengan melibatkan masyarakat diharapkan

mampu menyerap informasi dalam jumlah banyak mengenai seorang

calon(jaksa maupun pejabat.di lingkungan kejaksaan).

4. Penerapa reward and punishment bagi aparat kejaksaan dalam

melaksanakan tugas dan wewenangnya. Bagi yang berprestasi diberikan

penghargaan, sebaliknya bagi aparat kejaksaan yang suka melakukan

penyimpangan diberikan hukuman yang setimpal agar dapat memberikan

efek jerah. Penghargaan dan hukuman sangat penting diberikan dalam

rangka meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi terjadinya

penyimpangan. Tanpa reward terkesan tidak ada perbedaan antara yang

berprestasi dan tidak/kurang berprestasi. Sebaliknya, tanpa penghukuman

bagi aparat kejaksaan yang melakukan penyimpangan akan mendorong

aparat yang lain untuk melakukan hal yang sama. Seorang pemimpin harus

berani memberikan penghargaan bagi yang berprestasi dan menghukum

yang suka menyimpang. Di sini terlihat jelas adanya keadilan dalam

perlakuan pimpinan bagi aparat kejaksaan.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 134



Walaupun upaya ini telah dilakukan namun penyimpangan terus saja

terjadi, sehingga perlu dipertanyakan apa masalah yang menjadi penyebab

utama yang mungkin belum tersentu dalam reformasi.







1. Integritas tinggi yaitu perilaku pegawai kejaksaan yang senantiasa dalam

Tujuan dari suatu reformasi kejaksaan adalah :



bekerja menjaga sikap profesional dan menjunjung tinggi nilai-nilai

moralitas (kejujuran, kesetiaan, komitmen) serta menjaga keutuhan

pribadi;

2. Produktivitas tinggi dan bertanggung jawab, yaitu hasil yang optimal yang

dicapai oleh pegawai kejaksaan dari serangkaian program kegiatan yang

inovatif, efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya yang ada serta

ditunjang oleh dedikasi dan etos kerja yang tinggi;

3. Kemampuan memberikan pelayanan yang prima yaitu kepuasan yang

dirasakan oleh publik sebagai dampak positif dari hasil kerja birokrasi

yang profesional, berdedikasi, dan memiliki standar nilai moral yang

tinggi. Pegawai kejaksaan dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara

dan abdi masyarakat.





Sasaran yang ingin dicapai dari reformasi kejaksaan adalah mengubah

Sasaran dari reformasi kejaksaan :



pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) serta sistem manajemen.

Secara khusus , sasaran yang ingin dicapai mencakup beberapa segi, yaitu :

1. Kelembagaan (organisasi), dengan membentuk organisasi kejaksaan yang

tepat fungsi dan tepat ukuran;

2. Budaya organisasi, dengan membentuk birokrasi kejaksaan yang

profesional dan memiliki kinerja yang tinggi;

3. Ketatalaksanaan, dengan membangun sistem, proses dan prosedur kerja

yang jelas, efektif, efisien, terukur sesuai dengan prinsip-prinsip good



4. Regulasi dan deregulasi, dengan menciptakan birokrasi kejaksaan yang

governance;



menjalankan regulasi dan deregulasi secara lebih tertib, tidak tumpang

tindih dan kondusif;

5. Sumber daya manusia, dengan menciptakan SDM kejaksaan yang

berintegritas, kompeten, profesional, berkinerja tinggi, sejahtera dan

terhormat.





1. Kemauan dan komitmen politikyang kuat dari seluruh pimpinan dan

Faktor penentu keberhasilan reformasi kejaksaan:



pegawai kejaksaan;

135 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



2. Rasa memiliki terhadap program pembaruan kejaksaan;

3. Adanya persamaan persepsi tentang reformasi kejaksaan;

4. Konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan reformasi kejaksaan;

5. Dukungan dana untuk pelaksanaan reformasi;

6. Dukungan dan partisipasi masyarakat;

7. Program percepatan yang jelas dan terarah, terdiri dari : percepatan

penanganan perkara, ketersediaan akses informasi perkara kepada

publik,tranparansi penanganan pengaduan masyarakat

8. Program komunikasi terpadu, (internal, eksternal, publik)50







Hambatan yang dapat diidentifikasi, berupa permasalahan gaji yang

Hambatan dan Upaya Mengatasinya



kurang memadai, mendorong terjadinya penyimpangan. Gaji jaksa yang

rendah dirasakan kurang memadai dalam mendukung kerja kejaksaan.

Banyaknya diskresi (kewenangan subyektif) yang diberikan oleh

undang-undang, seperti diskresi dalam menetapkan seorang menjadi tersangka,

penangguhan penahanan, mengubah status tahanan, membuat dakwaan, juga

tuntutan, serta kewenangan subyektif dalam mengembalikan barang bukti.

Pemberian diskresi tersebut dan diikuti dengan integritas moral yang

buruk mendorong para jaksa melakukan penyimpangan-penyimpangan.

Diskresi merupakan pintu masuk atau sebagai pembuka ruang terjadinya

penyimpangan. Suatu kewenangan yang ketat dengan standar kerja yang baik

akan sangat sulit terjadinya berbagai penyimpangan. Untuk itu, perlu dibatasi

diskresi yang berlebihan dengan mereformasi pengaturan kewenangan.

Dengan pengaturan yang lebih ketat bersifat imperatif dengan standar yang

jelas, akan memaksa para jaksa untuk berbuat sesuai yang diatur. Tidak ada

ruang untuk melakukan di luar yang diatur, dan itu merupakan suatu keharusan.

Jika memang menyimpang pun pasti mudah diketahui pelanggarannnya dan

dapat diambil tindakan secara cepat untuk mengatasinya.





Reformasi kejaksaan harus terus dilakukan sampai terwujudnya

Penutup



kejaksaan yang benar-benar profesional dan akuntabel. Mereformasi suatu

lembaga tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Untuk itu, perlu terus

dilakukan upaya-upaya memperbaiki berbagai regulasi yang mendukung

kejaksaan yang lebih baik dalam penegakan hukum di masa yang akan

datang, yang memenuhi harapan masyarakat. Jika tidak, tingkat kepercayaan

masyarakat akan lembaga ini semakin menurun sehingga menghambat upaya

penegakan hukum secara berkeadilan di masa yang akan datang.

50

Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Tahun 2008.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 136



Seluruh komponen masyarakat baik ademisi, praktisi, lembaga

kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat ikut berpartisipasi

mewujudkan reformasi kejaksaan. Tanpa peranserta masyarakat, mustahil

hal ini dapat terwujud.

Sesungguhnya reformasi kejaksaan telah menunjukkan hasil namun,

masih tercoreng oleh adanya perilaku segelintir aparat kejaksaan yang

melakukan berbagai tindakan tercela dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya.

KEMERDEKAAN PROFESIONALISME

JAKSA SEBAGAI PENUNTUT UMUM:

ANALISIS TERHADAP KEBIJAKAN

RENCANA TUNTUTAN (RENTUT)



Zul Akrial51







Sesuai dengan sub tema yang dimintakan kepada penulis untuk ikut

Pendahuluan



memberikan sumbang fikiran berkaitan dengan soal “Evaluasi Reformasi

Kejaksaan”, mengingat keterbatasan waktu, maka penulis pada kesempatan

ini hanya menyorot satu sisi yaitu yang berkaitan dengan kebijakan Rencana

Tuntutan (Rentut) yang menurut hemat penulis, hal ini merupakan suatu

persoalan yang menarik untuk didiskusikan baik berkaitan dengan eksistensi,

dasar legalitasnya, dan kemanfaatan maupun efektivitasnya.

Seperti yang telah menjadi pengetahuan publik bahwa tingkat

kepercayaan masyarakat terhadap dunia peradilan semakin hari semakin

menipis. Hal ini tercermin dengan fenomena dimana masyarakat mulai

mengambil jalan pintas untuk main hakim sendiri dan enggan untuk

mengadukan atau melaporkan terjadinya suatu tindak pidana kepada aparat

penegak hukum. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh pandangan sebagian

masyarakat bahwa proses penyelesaian hukum melalui lembaga peradilan

penuh dengan permainan, seringkali menimbulkan ketidakadilan dan

ketidakpastian hukum.

Salah satu lembaga yang mendapat sorotan tajam adalah Kejaksaan,

sebab pada pada lembaga inilah nasib seseorang ditentukan apakah akan

diperiksa oleh pengadilan atau tidak, Jaksa pula yang berwenang menentukan

apakah seorang tersangka dapat dituntut atau tidak melalui kualitas surat

dakwaan dan tuntutan yang dibuatnya. Sedemikian penting posisi Jaksa bagi

proses penegakan hukum sehingga lembaga ini harus diisi oleh orang-orang

yang memiliki integritas tinggi.





Kejaksaan R.I. adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan

Eksistensi Lembaga Kejaksaan



negara, khususnya di bidang penuntutan. Sebagai badan yang berwenang

dalam penegakan hukum dan keadilan, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa

Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kejaksaan

51

Dosen Fakultas Hukum dan Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Islam Riau (UIR)

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 138



Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan

negara khususnya di bidang penuntutan, dimana semuanya merupakan satu

kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 yang

menggantikan UU No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia,

Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut untuk lebih

berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan

umum, penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan Korupsi, Kolusi,

dan Nepotisme (KKN). Di dalam Undang-Undang Kejaksaan yang baru ini,

Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara yang melaksanakan

kekuasaan negara di bidang penuntutan harus melaksanakan fungsi, tugas,

dan wewenangnya secara merdeka, terlepas dari pengaruh kekuasaan

pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya (Pasal 2 Ayat (2) Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004).

Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan dipimpin

oleh Jaksa Agung yang membawahi enam Jaksa Agung Muda serta 31 Kepala

Kejaksaan Tinggi pada tiap Provinsi (?). Undang-Undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia juga mengisyaratkan bahwa

lembaga Kejaksaan berada pada posisi sentral dengan peran strategis dalam

pemantapan ketahanan bangsa. Karena Kejaksaan berada di poros dan menjadi

filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan serta

juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan. Sehingga,

Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (Dominus Litis),

karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu

kasus dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang

sah menurut Hukum Acara Pidana.

Perlu ditambahkan, Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi

pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Selain berperan dalam

perkara pidana, Kejaksaan juga memiliki peran lain dalam Hukum Perdata

dan Tata Usaha Negara, yaitu dapat mewakili Pemerintah dalam Perkara

Perdata dan Tata Usaha Negara sebagai Jaksa Pengacara Negara. Jaksa sebagai

pelaksana kewenangan tersebut diberi wewenang sebagai Penuntut Umum

serta melaksanakan putusan pengadilan, dan wewenang lain berdasarkan

Undang-Undang.

Sehubungan dengan hal di atas, mengingat posisi Kejaksaan yang

demikian strategis itu, maka hampir seluruh negara modern di dunia ini

mempunyai sebuah institusi yang disebut dengan istilah "kejaksaan", yang

mempunyai tugas utama melakukan penuntutan dalam perkara pidana ke

pengadilan.52

52

Yusril Ihza Mahendra, Keududukan Kejaksaan Dan Posisi Jaksa Agung Dalam Pemerintahan

Presidensial Di Bawah UUD 1945, Makalah disajikan pada Seminar Nasional, “Pro Kontra

139 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan

Republik Indonesia Pasal 1 butir 1 dan butir 2 disebutkan pengertian jaksa dan

penuntut umum. Bunyi Pasal 1 butir 1 adalah “Jaksa adalah pejabat fungsional

yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai

penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh

kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.”

Sedangkan Pasal 1 butir 2 berbunyi: “Penuntut Umum adalah jaksa yang

diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan

melaksanakan penetapan hakim.”

Berdasarkan Pasal 30 ayat (1) undang-undang di atas, tugas jaksa

adalah. melakukan penuntutan; melaksanakan penetapan hakim dan putusan

pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; melakukan

pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan

pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat; melakukan penyelidikan

terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang; melengkapi

berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan

tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya

dikoordinasikan dengan penyidik.







Dalam kaitannya dengan tugas yang diemban oleh Jaksa sebagai

Jaksa Sebagai Lembaga Penuntut



Penuntut Umum, maka eksistensi surat tuntutan (requisitoir) merupakan

bagian yang penting dalam proses hukum acara pidana. Surat tuntutan

(requisitoir) dibuat secara tertulis dan dibacakan di persidangan sebagaimana

dimaksud oleh Pasal 182 ayat (1) huruf c KUHAP. Surat tuntutan (requisitoir)

mencantumkan tuntutan jaksa penuntut umum terhadap terdakwa,

baik berupa penghukuman atau pembebasan dan disusun berdasarkan

pemeriksaan saksi dan saksi ahli, alat bukti, dan keterangan terdakwa.

Berbeda dengan surat dakwaan yang disampaikan di awal persidangan,

belum ada ancaman pidananya, dan disusun berdasarkan berita acara polisi.

Berlainan dengan Surat Tuntutan, maka Fungsi surat dakwaan adalah

sebagai dasar pemeriksaan di sidang Pengadilan, sebagai dasar pembuatan

surat tuntutan (requisitoir), sebagai dasar pembuatan pembelaan terdakwa

dan atau pembelanya, sebagai dasar bagi hakim untuk menjatuhkan

putusan, dan sebagai dasar pemeriksaan peradilan selanjutnya. Pemeriksaan

didasarkan kepada surat dakwaan dan menurut Nederburg, pemeriksaan

tidak batal jika batas-batas itu dilampaui tetapi putusan hakim hanya boleh

mengenai peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batas itu.53

Keabsahan Jaksa Agung”, yang diselenggarakan Oleh Fakultas Hukum Unissula pada tanggal 8

Agustus 2010.

53

E Sasrodanukusumo, Tuntutan Pidana. Jakarta: Siliwangi, halaman 236.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 140



Tuntutan Penuntut Umum menjadi dasar bagi hakim untuk

menjatuhkan putusan. Putusan hakim tanpa adanya tuntutan penuntut umum

berakibat putusan batal demi hukum.54

Rencana Tuntutan (rentut) bukanlah sebuah istilah yang baru dalam

proses peradilan pidana. Rentut telah mulai dikenal dan diberlakukan serta

diterapkan oleh Kejaksaan sejak tahun 1985, yaitu berdasarkan Surat Edaran

Jaksa Agung (SEJA) Nomor 09/1985. istilah resmi dari Rentut, berdasarkan

Surat Edaran tersebut adalah Pedoman Tuntutan Pidana.

Dasar pemikiran adanya Rentut adalah dalam rangka pengendalian

perkara agar tidak terjadi disparitas tuntutan yang terlalu mencolok pada

perkara-perkara yang jenis tindak pidanya sama. Rentut hanya berlaku untuk

jenis-jenis tindak pidana yang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung yang dari

waktu ke waktu dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman.55

Untuk tindak pidana umum, kriteria perkara penting yang harus mela-

lui Rentut diatur dalam Instruksi Jaksa Agung Nomor INS-004/J.A/3/1994

antara lain adalah dengan melibatkan tokoh masyarakat atau tokoh publik

lainnya, menggunakan modus atau arena yang canggih, menimbulkan

banyak korban, berkaitan dengan keamanan negara, perkara yang diduga

penanganannya telah terjadi penyimpangan oleh aparat penegak hukum,

serta perkara lain yang mendapat perhatian khusus pimpinan.

Sementara untuk tindak pidana khusus diatur dalam Surat Edaran

Jaksa Agung Nomor SE-001/J.A/4/1995 Tentang Pedoman Tuntutan Pidana.

Dalam SEJA keluaran tahun 1995 ini ditetapkan tiga faktor dalam menentukan

apakah suatu perkara tindak pidana khusus itu harus melalui Rentut atau

tidak yakni didasarkan pada kriteria: jenis perbuatan, keadaan diri pelaku

dan dampak dari perbuatan tersebut.

Sebelum melangkah lebih jauh membicarakan tentang eksistensi

Rentut, perlu sekilas uraian tentang surat tuntutan (requisitoir). Surat tuntutan

yang baik adalah surat tuntutan yang mengandung konstruksi hukum yang

objektif, benar, dan jelas. Jelas dalam arti penggambarannya dan hubungan

antara keduanya. Dari kejelasan bentukan peristiwa dan bentukan hukumnya,

maka akan menjadi jelas pula kesimpulan hukum yang ditarik tentang terbukti

atau tidaknya tindak pidana yang didakwakan, terdakwa dapat dipersalahkan

atau tidak, serta apa terdakwa dapat memikul beban pertanggungjawaban

pidana atau tidak dalam peristiwa yang terjadi. Kesimpulan yang benar dari

sudut hukum yang didukung oleh doktrin hukum maupun ilmu sosial lainnya

dan keadilan merupakan taruhan keprofesionalan dan kualitas seorang Jaksa

Penuntut Umum.

54

Lihat Pasal 197 Ayat (1) dan (2) KUHAP !

55

“Memahami Rencana Tuntutan Kasus Pidana”, Tabloid Berita Mingguan, Modus Aceh Edisi 12

Tahun VII, Kamis 9 Juli 2009.

141 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dari kesimpulan yang ditarik itulah jaksa penuntut umum mengajukan

permintaan pada majelis hakim, baik mengenai kedudukan perkara itu dalam

hubungannya dengan tindak pidana yang didakwakan maupun terhadap

terdakwa sendiri mengenai bentuk pertanggungjawaban pidana yang

dimohonkan.

Rentut, sebagaimana telah disinggung di atas, adalah singkatan dari

rencana tuntutan jaksa. Sebelum membacakan tuntutan di pengadilan, Jaksa

Penuntut Umum biasanya melaporkan dulu rencana atas tuntutan itu kepada

atasannya. Untuk perkara tertentu yang mendapat perhatian masyarakat,

rentut harus dilaporkan kepada Kejaksaan Agung. Sulitnya adalah menentukan

mana perkara yang menarik perhatian masyarakat, karena ketiadaan tolok

ukur yang jelas dan objektif.

Menurut Wakil Jaksa Agung, Basrief Arief,56 berkenaan dengan alur

Rentut, dalam prakteknya, rentut diawali dengan pemaparan pendapat dari

Jaksa Penuntut Umum (JPU), selaku pihak yang terjun langsung ke “lapangan“

sidang pengadilan sehingga mengetahui dinamika persidangan.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa secara berjenjang, Rentut mengalir

terus hingga ke Jaksa Agung setelah melalui Seksi Bidang Teknis, untuk

menentukan apakah itu tindak pidana umum atau khusus, ini ditentukan

pada tingkat Kejaksaan Negeri atau kejaksaan Tinggi.

Dalam kaitannya dengan apa yang diuraikan di atas, Andi Hamzah

mengkritik, rentut berjenjang semacam itu hanya dikenal di Indonesia. Pola

semacam itu membuka peluang adanya intervensi atasan. Jaksa itu mestinya

independen, tandas Guru Besar Universitas Trisakti Jakarta itu.57

Dari paparan di atas, maka dapat dikatakan bahwa dengan adanya

kebijakan rentut seperti itu, maka secara otomatis akan menambah panjang

proses birokrasi yang harus dilalui oleh seorang JPU dalam menangani suatu

perkara pidana. Konsekuensinya adalah akan berimplikasi pada terganggunya

proses peradilan yang cepat, murah dan sederhana termasuk di dalamnya

akan mengganggu proses persidangan di pengadilan.

Pasal 182 KUHAP memang tidak menyinggung adanya “kewajiban”

penyampaian rentut kepada atasan JPU, hanya disebutkan, “Setelah



pidana”. Dari redaksi Pasal 182 KUHAP ini, maka dapat dikatakan bahwa

pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan



sesungguhnya prosedur Rentut merupakan kebijakan internal kejaksaan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, apabila sidang selalu ditunda

akibat belum ada petunjuk rencana tuntutan (Rentut) dari Kejaksaan Negeri

56

Lihat Harian Kompas tanggal 13 Nopember 2006, Kejagung Sudah Tetapkan 20 Tindak Pidana

57

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15445/andi-hamzah-hanya-indonesia-yang-

Harus Melalui Rentut !



punya-jenjang-rentut

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 142



atau Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Agung, maka berdasarkan hasil

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung Republik Indonesia

dengan Jajaran Pengadilan Tingkat Banding dari 4 (empat) Peradilan

seluruh Indonesia di palembang pada tanggal 9 Oktober 2009 dengan tema,

“Meningkatkan Kualitas Pengadilan dengan Kesamaan Persepsi Dalam

Penerapan Hukum”, maka Ketua Pengadilan Negeri melakukan koordinasi

dengan Kejaksaan Negeri atau melaporkan kepada Ketua Pengadilan Tinggi,

yang selanjutnya melakukan koordinasi dengan Kejaksaan Tinggi.

Dari hasil Rakernas itu, disarankan pula agar Majelis Hakim meminta

kepada Penuntut Umum atau Kejaksaan Negeri agar menyerahkan bukti tertulis

(surat) bahwa penuntut umum atau Kejaksaan Negeri telah mengajukan

Rentut kepada Kepala Kejaksaan Negeri atau Kepala Kejaksaan Tinggi atau

Kejaksaan Agung. Apabila proses tersebut sudah dijalani dan ternyata Rentut

tidak juga turun, maka perkara tersebut dinyatakan penuntutan tidak dapat

diterima dalam bentuk penetapan.58

Apa yang diuraikan di atas, merupakan respon “keras” dari aparatur

pengadilan dalam menghadapi berlarut-larutnya proses rentut yang justru

telah mengganggu jalannya proses persidangan.

Mengingat masalah Rentut ini murni merupakan kebijakan internal

Kejaksaan, sehingga mengundang untuk diperdebatkan. Kebijakan Rencana

tututan menjadi praktek dalam proses penuntutan karena berbagai alasan,

antara lain:

1. Dalam banyak kasus, pertimbangan hukum oleh Jaksa dinilai kurang

matang dan kurang comprehensive;

2. Adanya centencing policy yang ditetapkan oleh Jaksa Agung;

3. Adanya asas dalam penuntutan, bahwa Jaksa dalam melakukan kekuasaan

Negara di bidang penuntutan adalah satu dan tidak terpisahkan (lihat

Pasal 2 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004);

4. Mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh Jaksa Penuntut

Umum.59

Di samping alasan di atas, kritik terhadap eksistensi Rentut yang

munculpun cukup banyak dan beragam, antara lain dikatakan bahwa:

1. Jaksa menjadi tidak lagi merdeka (dependent) dalam menjalankan tugas

dan fungsinya, karena tuntutan itulah yang merupakan puncak dari tugas

58

Lihat Hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan

Jajaran Pengadilan Tingkat Banding dari 4 (empat) Peradilan seluruh Indonesia di palembang

pada tanggal 9 Oktober 2009 dengan tema, “Meningkatkan Kualitas Pengadilan dengan

Kesamaan Persepsi Dalam Penerapan Hukum” butir 1 !

59

Suhadibroto, Kualitas Aparat Kejaksaan Dalam Upaya Melaksanakan Penegakan Hukum,

Makalah Disampaikan Pada Lokakarya Pemantau Kejaksaan yang diselenggarakan di Jakarta

oleh MAPPI FHUI, tanggal 28-30 Nopember 2004, yang diikuti oleh 25 lembaga-lembaga

Pemantau Peradilan dari berbagai daerah di Indonesia.

143 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Jaksa di persidangan sebelum hakim menjatuhkan vonis, yang justru

penentuan tuntutannya bukan lagi di tangannya tetapi sudah diintervensi

oleh pihak lain (atasan) yang mendapat dasar pembenaran secara legal,

melalui Surat Edaran Jaksa Agung;

2. Jaksa menjadi kurang bertanggung jawab, karena kewenangan tuntutan

pidananya bukan lagi dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum yang

menentukan;

3. Tidak memberi kesempatan berkembangnya profesionalisme Jaksa.

Di samping apa yang telah diuraikan di atas, jika dilihat dari

sisi kewenangan mempertimbangkan unsur yang memberatkan dan

meringankan sesungguhnya justru ada pada hakim, sesuai Pasal 28 Ayat (2)

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, bukan

pada Penuntut Umum.sehingga kebijakan “rencana tuntutan” yang harus

mendapat persetujuan kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), kepala Kejaksaan

Tinggi (Kajati), atau untuk perkara-perkara tertentu bahkan sampai Jaksa

Agung harus diakhiri. Sebab, dalam realitasnya lebih sering dijadikan tawar-

menawar yang berimplikasi uang. Tuntutan tidak perlu mendapat persetujuan

atasan karena merupakan wewenang penuh Jaksa Penuntut Umum yang

menangani perkara tersebut. Dalam tataran realitas, sesungguhnya Jaksa

Penuntut Umulah yang paling mengerti dan mengetahui dengan situasi dan

kondisi yang sebenarnya selama proses persidangan.

Kebijakan internal Kejaksaan berupa “memohon restu” atau

“kewajiban” mengajukan rencana tuntutan kepada atasan seperti diuraikan

di atas, ini menggambarkan secara vulgar dan ketelanjangan kepada publik

bahwa kejaksaan menganut system komando seperti layaknya di institusi

kemiliteran. Di Negara manapun didunia ini, militer adalah menganut system

komando dan untuk itu tidak ada celah bagi yang namanya demokrasi di

tubuh militer, termasuk militer yang ada di Indonesia. Sehingga citra yang

demikian ini dengan kebijakan prosedur rentut itu dipandang perlu untuk

ditinjau dan dikaji ulang.







Kebijakan internal Kejaksaan berupa Rentut menggambarkan

Penutup



ketidakpercayaan atasan kepada bawahan. Jika hal ini tetap berlangsung,

maka pada gilirannya nanti hal ini akan mengarah kepada system komando,

yang justru akan membawa malapetaka bagi kehancuran penegakan hukum

di Indonesia pada masa-masa yang akan datang.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 144





Untuk lebih meningkatkan citra profesionalitas kejaksaan dalam

Rekomendasi



melakukan penuntutan dalam proses peradilan pidana, maka sebaiknya

lembaga rentut dihapuskan, sehingga masalah tuntutan pidana diberi

kepercayaan sepenuhnya kepada Jaksa Penuntut Umum yang bersangkutan.

Dengan catatan Lembaga Eksaminasi harus diperkuat. Eksaminasi yang

dimaksud dalam hal ini adalah Lembaga Eksaminasi yang bersifat Eksternal

bukan eksamin asi internal seperti yang selama ini ada di tubuh kejaksaan

yang dipandang kurang objektif, karena bagaimana mungkin terjadi “jeruk

makan jeruk”. Lembaga eksaminasi eksternal ini nantinya dibentuk secara

permanen, yang bertugas untuk menguji dan menilai kinerja dari Jaksa

Penuntut Umum tersebut, baik yang yang berkaitan dengan dakwaannya

maupun dengan tuntutannya.





E Sasrodanukusumo, Tuntutan Pidana. Jakarta: Siliwangi, “Memahami

Daftar Pustaka



Rencana Tuntutan Kasus Pidana”, Tabloid Berita Mingguan, Modus

Aceh Edisi 12 Tahun VII, Kamis 9 Juli 2009.

Harian Kompas tanggal 13 Nopember 2006, Kejagung Sudah Tetapkan 20

Tindak Pidana Harus Melalui Rentut !

Hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung Republik Indonesia

dengan Jajaran Pengadilan Tingkat Banding dari 4 (empat) Peradilan

seluruh Indonesia di palembang pada tanggal 9 Oktober 2009 dengan

tema, “Meningkatkan Kualitas Pengadilan dengan Kesamaan Persepsi

Dalam Penerapan Hukum”.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15445/andi-hamzah-hanya-

indonesia-yang-punya-jenjang-rentut

Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif Hukum,

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005. Cetakan Pertama.

Suhadibroto, Kualitas Aparat Kejaksaan Dalam Upaya Melaksanakan

Penegakan Hukum, Makalah Disampaikan Pada Lokakarya Pemantau

Kejaksaan yang diselenggarakan di Jakarta oleh MAPPI FHUI, tanggal

28-30 Nopember 2004, yang diikuti oleh 25 lembaga-lembaga

Pemantau Peradilan dari berbagai daerah di Indonesia.

Suhartomo, Penuntutan Dalam Praktek Peradilan, Jakarta: Sinar Grafika, 2004.

Cetakan Kedua

Yusril Ihza Mahendra, Keududukan Kejaksaan Dan Posisi Jaksa Agung Dalam

Pemerintahan Presidensial Di Bawah UUD 1945, Makalah disajikan

pada Seminar Nasional, “Pro Kontra Keabsahan Jaksa Agung”, yang

diselenggarakan Oleh Fakultas Hukum Unissula pada tanggal 8 Agustus

2010.

EVALUASI REFORMASI KEJAKSAAN

DALAM PERSPEKTIF PENEGAKAN

SUPREMASI HUKUM



Muhammad Rifai Darus60





Kondisi obyektif bangsa yang masih jauh dari prinsip-prinsip demokrasi

dan penegakkan supremasi hukum memicu kesadaran dari kelompok pro-

demokrasi terutama mahasiswa dan organisasi pro-demokrasi melakukan

gerakan reformasi melawan pemerintahanotoriter yang dikendalikan

Orde Baru selama 3 (tiga) dasawarsa lebih. Secara politik, pemerintahan

Orde Baru tidak berusaha dan bahkan kehilangan sensivitas secara serius

dalam membangun peradaban bangsa melalui pelaksanaan prinsip-prinsip

demokrasi dan hukum yang mendorong adanya check and balances dan rasa

keadilan dalam kehidupan berbagsa dan bernegara. Eksistensi lembaga-

lembaga negara baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif ketika itu, tidak

mampu menampakan wajah Indonesia sebagai negara demokrasi yang

menjunjung tinggi supremasi hukum sebagai prinsip dasar. Institusi-institusi

negara ini justru terkesan sebagai lembaga stempel untuk melegitimasi

arogansi pemerintah dan melagengkan kekuasaan Orde Baru selama 3 (tiga)

dasawarsa lebih.

Dalam kurun waktu kekuasaan Orde Baru tersebut, korupsi dan

kesewenang-wenangan aparat penegask hukum hampir tak terkendali.

Penculikan, penangkapan bahkan pembunuhan para aktivis dan kelompok

pro-demokrasi menjadi sesuatu yang biasa di hadapan hukum. Hampir tidak

ada satu pejabat pun yang pernah diadili karena korupsi, bahkan mendengan

pejabat pemerintahan ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian atau

kejaksaan merupakan sesuatu yang sangat mustahil. Hal ini bukan karena

para pejabat di era Orde Baru tidak terlibat korupsi atau tergolong bersih

dalam mengelola kekuasaannya, akan tetapi praktek-praktek korupsi yang

dilakukan justru mendapat perlindungan dari aparat penegak hukum, bahkan

jika ada pejabat pemerintah yang berani diproses oleh kejaksaan, justru

aparat kejaksaan itulah yang siap-siap mendapatkan sanksi.

Harapan masyarakat untuk merasakan perubahan dan menyaksikan

keadilan dalam demokrasi dan penegakan hukum akhirnya terjawab,

seiring dengan adanya gelombang dasyat reformasi yang dihembuskan oleh

mahasiswa dan kelompok pro-demokrasi pada tahun 1998. Gelombang

reformasi ini akhirnya mampu mengakhiri kekuasaan otoritarian rezim Orde

60

Koordinator Papua Corruption Watch

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 146



Baru dan melahirkan era reformasi yang lebih menjajikan Indonesia sebagai

negara demokrasi modern dengan penegakan hukum sebagai prinsip dasar

penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan negara.







Reformasi memang bukan jaminan perbaikan kondisi bangsa, tetapi

Reformasi Kinerja Kejaksaan



paling tidak, reformasi merupakan ikon dan momentum untuk melakukan

perbaikan dan penataan system yang tergolong buruk di era sebelumnya.

Apakah setelah rezim Orde Baru runtuh dan berganti dengan era reformasi,

berbagai perubahan dan perbaikan telah dirasakan masyarakat? tentu

jawabannya sangat variatif dan dan relatif. Secara prosedural formal, memang

telah terjadi banyak perubahan, tetapi secara substansial, perubahan yang

terjadi masih jauh dari harapan masyarakat dan tujuan reformasi.

Dalam uraian di atas telah digambarkan bahwa di era Orde Baru,

hampir semua institusi negara tidak dapat berperan secara optimal, baik

eksekutif, legislative maupun yudikatif. Keberadaannya justru memperkuat

kekuasaan negara yang dikelola secara otoriter sehingga merusak tatanan

kehidupan berbangsa dan bernegara. Kejaksaan merupakan salah satu institusi

yang cukup mendapat sorotan public karena eksistensi dan kinerjanya dinilai

masih rendah dan cenderung memburuk. Reformasi institusi korps adiyaksa

ini dinilai masih sebatas wacana dan belum menyentuh permasalahan yang

sesungguhnya sebagaimana yang diharapkan. Berbagai kasus korupsi dan

suap yang melibatkan aparat kejaksaan yang terungkap belakangan ini,

seperti kasus suap jaksa urip, keterlibatan petinggi Kejaksaan Agung dalam

rekaman kasus anggodo, rekayasa kasus Bibit-Candra, indikasi suap kasus

jaksa Cirus dan sebagainnya. Belum lagi ditambah dengan lengsernya Jaksa

Agung Hendarman Supandji karena jabatannya dinilai illegal oleh Mahkamah

Konstitusi RI, merupakan bukti nyata betapa bobroknya lembaga kejaksaan

yang justru harus menjadi institusi penegak hukum terdepan yang bersih

dan terpercaya. Terkuaknya sejumlah kasus yang menyeret aparat kejaksaan

tersebut, menunjukkan betapa rendahnya integritas dan moralitas yang

dimiliki aparat kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum. Hal ini juga

sekaligus merupakan fakta bahwa sesungguhnya reformasi belum mampu

merubah perilaku jaksa dalam melaksanakan tugas dan fungsi penegakan

hukum secara komprehensif. Reformasi justru baru sebatas mengungkap

adanya penyimpangan yang terjadi di lingkungan kejaksaan akibat perilaku

jaksa yang korup. Artinya jika tidak ada reformasi, tentunya kasus-kasus

di atas tidak akan pernah terungkap di permukaan, bahkan bisa jadi akan

semakin mengakar dan merusak sendi-sendi kelembagaan kejaksaan.

Dalam perspektif seperti ini, maka reformasi institusi kejaksaan

harus diorientasikan pada upaya pengungkapan dan pembersihan aparat

147 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



dan institusi kejaksaan, karena dengan terungkapnya sejumlah kasus suap

yang melibatkan aparat kejaksaan, memberikan indikasi kuat bahwa

sesungguhnya perilaku nakal para jaksa ini telah mengakar baik secara

structural maupun cultural, dan ini adalah penyakit korupsi yang sangat

kronis yang terjadi di institusi penegak hokum.

Suatu hal yang patut dicermati adalah bahwa ternyata terungkapnya

berbagai kasus suap tersebut, bukan hasil dari reformasi internal kejaksaan,

tetapi justru karena peran dan pengawasan institusi penegak hukum lainnya

yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini tentu sangat ironis dan

sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada kesungguhan maupun political

will dari kejaksaan untuk mereformasi institusinya. Akibatnya, bukan hanya

reformasi yang berjalan di tempat tetapi performance penegakan hukum di

lingkungan kejaksaan pun tidak menunjukkan adanya perbaikan signifikan

sebagaimana yang diharapkan masyarakat. Kalau saja Komisi Pemberantasan

Korupsi tidak memainkan peran dalam mengungkapkan praktek-praktek

korupsi yang melibatkan aparat kejaksaan, niscaya kasus-kasus suap

tersebut tidak akan pernah terungkap di public dan aroma korupsi di

institusi kejaksaan tidak akan pernah tercium dan public tentu akan terlena

dengan reformasi internal yang sitiap saat diwacanakan oleh korps adiyaksa

tersebut. Apa yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi ini sebenarnya

baru sebatas ekses atau dampak dari strategi penegakan hukum KPK yang

disebut sebut sebagai lembaga super body, bukan tujuan dari penegakan

hokum sebagaimana yang diinginkan. Dengan demikian jika intensitas dari

strategi yang dilakukan KPK ini terus dilakukan, bukan mustahil kasus-kasus

suap yang yang menjerat aparat kejaksaan terus terungkap. Kendati hal

tersebut positif, namun itu bukan merupakan tujuan dan strategi yang tepat

dalam mereformasi institusi kejaksaan. Reformasi institusi kejaksaan harus

lahir dari inisiatif kejaksaan itu sendiri bukan berharap dari kinerja institusi

penegak hukum lain seperti KPK. Kejaksaan harus segera memulai reformasi

internalnya dengan beberapa agenda yaitu ;

1) Mengoptimalkan fungsi pengawasan internal terhadap para jaksa dalam

menangani berbagai perkara di lingkungan kejaksaan.

2) Melakukan pembersihan terhadap jaksa-jaksa yang terindikasi melakukan

penyimpangan dalam penangan perkara, baik indikasi suap maupun jual

beli pasal

3) Mengoptimalkan peran inteljen kejaksaan dalam mendeteksi perilaku

para jaksa.

4) Melakukan promosi dan rekruitmen secara selektif dalam penempatan

pejabat di lingkungan kejaksaan.

Jika keempat agenda reformasi ini dapat dilakukan secara konsisten,

transparan dan akuntable, harapan mengembalikan citra positif kejaksaan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 148



sebagai institusi penegak hukum kian terbuka. Upaya reformasi internal

kejaksaan memang bukan pekerjaan mudah, karena kebobrokan yang terjadi

bukan hanya secara structural tetapi juga cultural.







Pengungkapan berbagai kasus yang menyeret aparat kejaksaan

Reformasi Kejaksaan di Provinsi Papua



belakangan ini, baru terlihat hanya ditingkat pusat, sementara institusi

kejaksaan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota nyaris luput dari

sorotan public, sehingga terkesan tidak ada masalah dengan instiusi kejaksaan

di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Padahal jika ditelesuri secara

jauh dan mendalam, performance kejaksaan dalam penegakan supremasi

hukum di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, masih jauh dari yang di

harapkan, terlebih-lebih institusi kejaksaan di Provinsi Papua.

Wacana reformasi internal kejaksaan yang selama ini digelendingkan

pejabat pusat, sepertinya tidak mampu menembus institusi kejaksaan di

Provinsi Papua. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kasus yang ditangani

Kejaksaan Tinggi Papua selama ini yang belum menyentuh pejabat teras

daerah, sementara di sisi lain indikasi penyimpangan keuangan daerah yang

bersumber dari dana otonomi Khusus Papua tergolong cukup besar dan

fantastis, tapi anehnya, wacana tinggal wacana, tanpa ada inisiatif dari aparat

kejaksaan untuk menelusuri indikasi penyimpangan yang dilakukan pejabat

provinsi. Keberanian institusi kejaksaan di Provinsi Papua hanya baru pada

level pejabat esalon III dan IV dengan jumlah indikasi korupsi yang relative

kecil, sementara indikasi korupsi dengan jumlah besar justru diabaikan

begitu saja. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa kasus yang menyeret

sejumlah bupati di Provinsi Papua, seperti Bupati Boven Digoel, Bupati

Waropen dan Bupati Supiori. Dari ketiga Kepala Daerah yang terlibat kasus

korupsi ini, tidak ada satupun yang merupakan hasil penanganan Kejaksaan

Tinggi Papua, semuanya karena kerja Komisi Pemberantasan Korupsi.

Alasan klasik yang selalu mengemuka dan acap kali disampaikan oleh

aparat Kejaksaan Tinggi Papua adalah, sulitnya memperoleh ijin Presiden

atau Mendagri ketika akan melakukan penyidikan terhadap para Kepala

Daerah. Di satu sisi mungkin dapat dipahami adanya prosedur ijin yang

harus dipenuhi kejaksaan, namun di sisi lain, persoalan mendasar yang

sesungguhnya terjadi adalah, tidak adanya inisiatif institusi kejaksaan di Papua

dalam membongkar indikasi korupsi yang melibatkan pejabat daerah. Hal ini

menyebabkan potensi korupsi di daerah semakin tumbuh dengan subur yang

dapat berdampak pada lambatnya proses pembangunan. Rendahnya kinerja

Kejaksaan Tinggi Papua juga terlihat dari lambannya dalam penanganan

kasus-kasus yang terjadi saat ini, terutama kausus-kasus korupsi.

149 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Berbagai fakta diatas menyebabkan citra Kejaksaan Tinggi Papua

semakin terpuruk, sehingga muncul persepsi dari berbagai kalangan bahwa

para koruptor merasa lebih nyaman dan lega jika kasusnya ditangani kejaksaan

dibandingkan institusi lainnya. Persepsi ini tentu muncul sebagai respon atas

eksistensi dan kinerja kejaksaan yang selama ini dinilai tidak menunjukkan

kesungguhan dan komitmen dalam penegakan supremasi hukum, terutama

pemberantasan korupsi, sehingga dorongan reformasi internal kejaksaan di

Provinsi Papua harus dikencangkan.







1) Bahwa reformasi internal kejaksaan yang selama ini diwacanakan, belum

Kesimpulan dan Saran



berhasil mewujudkan kejaksaan sebagai institusi penegak hukum yang

kredibel dan wacana reformasi tersebut masih berputar di tingkat pusat

belum menggelinding hingga ke daerah terutama di Provinsi Papua.

2) Agenda reformasi internal kejaksaan belum mampu mendokrak citra dan

kinerjanya dalam upaya penegakan supremasi hukum di Indonesia, justru

yang terjadi adalah terbongkarnya kebobrokan kejaksaan satu demi satu.

3) Bahwa terbongkarnya berbagai kasus suap, korupsi dan penyimpangan

dalam penanganan kasus yang terjadi di lingkungan kejaksaan, bukan

hasil dari reformasi internal, melainkan dampak dari penegakan hukum

yang dilakukan institusi lain. Terbukti hingga saat ini belum ada kasus

besar yang melibakan aparat kejaksaan yang terungkap karena dorongan

reformasi internalnya.

4) Bahwa proses reformasi kejaksaan di daerah cenderung tidak bergerak,

sangat lemah, bahkan tidak terdengar sama skali, sehingga kinerja

kejaksaan hingga saat ini tergolong buruk. Oleh karena itu perlu di

dorong munculnya figure-fugur pemimpin institusi kejaksaan di daerah

khususnya di Papua dari sosok yang yang bersih, berani dan memiliki

komitmen yang tinggi dalam penegakan hukum khususnya pemberantasan

tindak pidana korupsi. Jangan jabatan kepala kejaksaan di Provinsi Papua

justru dijadikan tempat buangan dan bagian dari sanksi kepada jaksa-

jaksa nakal.

5) Bahwa agenda reformasi internal kejaksaan harus diorientasikan pada

pembinaan dan pembentukan integritas para jaksa, karena kasus-

kasus yang melibatkan aparat kejaksaan yang terungkap belakangan

ini, disebabkan karena terjadinya krisis integritas yang cukup lama dan

mengakar. Krisis integritas ini hanya bisa di atasi dengan cara pemotongan

generasi, sehingga lahir para aparat kejaksaan yang benar-benar kridibel

dan memiliki komitmen serta pengabdian yang tinggi bagi negara.

Bagian Ketiga

REFORMASI KEHAKIMAN







LAPORAN PRESENTASI HASIL

PENELITIAN KHN TENTANG EVALUASI

TERHADAP PELAKSANAAN REFORMASI

KEKUASAAN KEHAKIMAN

KEBIJAKSANAN DAN STRATEGI

PEMBINAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN

GUNA TEGAKNYA SUPREMASI HUKUM

DALAM RANGKA PENINGKATAN

SUMBER DAYA MANUSIA



Abdul Gani Abdulah1



Strategi pembinaan kekuasaan kehakiman akan bersentuhan dan

bahkan berinti pada -salah satunya- adalah sumber daya manusia, maka

peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam jabatan hakim yang adalah

pejabat negara sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman menjadi conditio

sine qua non. Di dalam upaya peningkatan kualitas tersebut akan terdapat

berbagai kebijaksanaan seperti dalam hal pendaya-gunaan sumber daya

hakim yang telah memperoleh pendidikan jenjang Strata 3 (Doktor). Karena

itu dapat dipahami bahwa koridor undang undang sepanjang mengenai

pelaksanaan tugas kekuasaan kehakiman adalah strategi pembinaan

sedangkan kebijaksanaan adalah salah satu intrumen dari salah satu

komponen pelaksanaan kekuasaan kehakiman.

Sebelum menguraikan mengenai kekuasaan kehakiman dan pelak-

sanaannya, perlu diuraikan mengenai badan lain yang fungsinya berkaitan

dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana yang disebut di dalam Pasal 38

Undang Undang (UU) No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

(UU Kuhak). Badan tersebut bukan merupakan badan yang berada dalam

kekuasaan kehakiman akan tetapi berada dalam kekuasaan eksekutif, kecuali

fungsi arbitrase dan penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Fungsi dari

badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman tersebut meliputi:

(1) penyelidikan dan penyidikan, yang dilakukan oleh Kepolisian Negara

Republik Indonesia (Polri) berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 tentang

Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri), (2) penuntutan berdasarkan

UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU Kejari), (3)

pelaksaan putusan berdasarkan Pasal 38 dan Pasal 54 UU Kuhak, UU Kejari,

UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer jo UU No.34 Tahun 2004

tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI), (4) pemberian jasa hukum

berdasarkan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat (UU Advokat), (5)

penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999

tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan

(UU Arbitrase) sepanjang kaitannya dengan registrasi putusan badan

Arbitrase untuk dapat dieksekusi.

1 Hakim Agung MA RI

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 154



Dalam hal fungsi penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sepanjang

mengenai tindak pidana korupsi, dilakukan oleh badan lain yaitu Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berdasarkan UU No. 30 Tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK), dan UU

No. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

Dalam hal terjadi tindak pidana yang berkarakter militer dilakukan oleh

anggota TNI, penyelidikan dan penyidikan dilakukan oleh Polisi Militer

(POM) dan penuntutannya dilakukan oleh Oditur Militer berdasarkan UU No.

31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer (UU Radmil).







Sistem ketatanegaraan di dalam UUD 1945 telah diatur pembagian

Kekuasaan Kehakiman



kekuasaan negara menjadi Kekuasaan Legislatif, Kekuasaan Pemerintahan

Negara, dan Kekuasaan Kehakiman. Kekuasaan Legislatif seperti yang

ditampilkan dengan keberadaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

disebut dalam Pasal 2, 3, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disebut di dalam

Pasal 19, Pasal 20, Pasal 20A, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 22A, dan Pasal 22B,

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam Pasal 22C Pasal 22D jis. Pasal

22E. Pasal 23, Pasal 23A, Pasal 23B, Pasal 23C, Pasal 23D dan kaitannya dengan

Badan Pemeriksa Keuangan di dalam Pasal 23E, Pasal 23F dan Pasal 23G.

Kekuasaan Pemerintahan Negara yang dalam UUD 1945 diatur

mengenai Presiden dan Wakil Presiden, yang dalam ranah akademik dikenal

dengan Lembaga Kepresidenan, di dalam Pasal 4, Pasal 5, jis Pasal 17 yang

mengatur menteri negara dan Pasal 18 ayat (1) yang mengatur mengenai

pemerintah daerah.

Kekuasaan Kehakiman diatur di dalam Pasal 24, Pasal 24A, dan

Pasal 24C UUD 1945. Pasal 24 menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman

merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan

guna menegakkan hukum dan keadilan (ayat 1). Kekuasaan Kehakiman

dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di

bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,

lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan

oleh sebuah Mahkamah Konstitusi (ayat 2). Di dalam Pasal 24 ini diatur juga

mengenai badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan

kehakiman yang diatur dalam undang-undang (3).

Di dalam Pasal 24A ayat (1) diatur bahwa Mahkamah Agung ber-

wenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-

undangan di bawah undang-undang dan mempunyai wewenang lainnya yang

diberikan oleh undang-undang. Di dalam ayat (2), bahwa hakim agung harus

memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan

155 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



berpengalaman di bidang hukum. Pada ayat (3) disebutkan bahwa calon

hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat

untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim

agung oleh Presiden.

Ketua, dan Wakil Ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim

agung (ayat 4). Ada pun susunan, kedudukan, keanggotaan dan hukum acara

Mahkamah Agung serta badan peradilan di bawahnya diatur dengan undang-

undang (ayat 5).

Di dalam Pasal 24C ayat (1) diatur bahwa Mahkamah Konstitusi

berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya

bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang

Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya

diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik,

dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Mahkamah

Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan

Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden

menurut Undang-Undang Dasar (ayat 2). Mahkamah Konstitusi mempunyai

sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden,

yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang

orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang orang oleh Presdien

(ayat 3). Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh

hakim konstitusi (ayat 4). Hakim Konstitusi harus memiliki integritas dan

kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi

dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat negara (ayat

5). Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara

serta ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan

undang-undang (ayat 6). Kemudian syarat-syarat untuk menjadi dan untuk

diberhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang , diatur di

dalam Pasal 25.

Berbagai ketentuan UUD 1945 yang disebutkan di atas sepanjang

mengenai kekuasaan kehakiman, telah diatur lebih lanjut di dalam undang-

undang No. 35 tahun 1999 tentang perubahan atas UU No. 14 tahun 1971

tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, yang kemudian diubah

dengan UU No. 48 Tahun 2009. Di dalam UU ini diatur berbagai ketentuan

penting antara lain : (1) dipertegas lagi secara operasional bahwa kekuasaan

kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan

peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan

UUD 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum .Republik Indonesia (Pasal

1 angka 1). Selain itu diatur juga mengenai asas penyelenggaraan kekuasaan

kehakiman, seperti peradilan dilakukan "DEMI KEADILAN BERDASARKAN

KETUHANAN YANG MAHA ESA" (Pasal 2 ayat (1), Peradilan negara menerapkan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 156



dan menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila (Pasal 2 ayat

(2). Semua peradilan di seluruh wilayah negara Republik Indonesia adalah

peradilan negara, yang dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ririgan

(Pasal 2 ayat (3). Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, hakim dan hakim

konstitusi wajib menjaga kemandirian peradilan (Pasal 3 ayat (1). Pengadilan

mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang (Pasal 4).

Demikian diatur mengenai pelaku kekuasaan kehakiman. Hakim dan hakim

konstitusi adalah pejabat negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang

diatur di dalam undang-undang.

Mahkamah Agung yang merupakan pengadilan negara tertinggi dari

badan peradilan yang berada di bawahnya, diatur tersendiri di dalam UU No.

14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah yang pertama dengan UU No.5

Tahun 2004 dan sebagaimana diubah lagi dengan UU No.3 Tahun 2009 tentang

Perubahan Kedua atas UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

Sedangkan MK di atur di dalam UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah

Konstitusi.

Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung diatur

tersendiri juga di dalam undang - undang. Lingkungan Peradilan Umum di atur

di dalam UU No. 2 Tahun 1986 yang telah diubah dengan UU No. 8 Tahun 2004

yang kemudian diubah lagi dengan UU 48 Tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum. Lingkungan

Peradilan Agama diatur di dalam UU No. 7 Tahun 1989 sebagaimana telah

diubah dengan UU No. 3 Tahun 2006 dan kemudian diubah lagi dengan UU

No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 7 Tahun 1989

tentang Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer yang diatur di dalam

UU No. 31 Tahun 1979 (RUU tentang perubahan pertama sekarang sedang di

DPR), dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dengan UU No.5 Tahun

1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No.9 Tahun 2004 yang kemudian

diubah lagi dengan UU No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU

No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.







Kerangka umum penegakan hukum mencerminkan lembaga dan pelaku

Penegakan Hukum



penegakan hukum. Secara institusional lembaga penegak hukum itu dapat

diperankan oleh berbagai institusi atau perorangan, sesuai dengan tugas

pokok yang diperankan. Lembaga kementerian dalam pemerintahan negara

adalah pelaksana hukum yang kadang-kadang juga berperan sebagai penegak

hukum untuk subject tertentu sesuai dengan ketentuan undang-undang yang

berkaitan, seperti ketentuan haji oleh lembaga yang mempunyai tugas pokok

dan wewenang dalam pengaturan dan penyelenggaraan haji, zakat oleh

157 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



lembaga zakat nasional, lingkungan hidup yang dilakukan oleh Kementerian

Lingkungan Hidup, Lembaga Penjamin Simpanan yang berperan untuk

mengatur dan memberikan pertanggungan terhadap simpanan nasabah bank

berdasarkan premi yang wajib diterimanya dari lembaga keuangan bank,

lembaga keuangan non bank seperti perusahaan asuransi yang menegakkan

hukum asuransi melalui pemberian claim asuransi ketika habis masa

pertanggungan bagi pemegang polis asuransi. Bahkan Kementerian Hukum

dan HAM menegakkan hukum imigrasi dan hukum hak kekayaan intelektual

serta Lembaga Pemasyarakatan sebagai rangkaian terakhir dari Integrated

Criminal Justice untuk pelaksanaan putusan pidana

Dalam kerangka khusus, penegakan hukum yang berasal dari

permasalahan atau sengketa, pelanggaran atau perbuatan melawan hukum

baik dalam bidang keperdataan maupun kepidanaan, dilakukan oleh institusi

penegak hukum sesuai dengan kompetensi dan yurisdiksinya masing-

masing yang diatur dalam ketentuan undang undang. Dalam perkara pidana

yang juga terlingkup dalam pengertian integrated criminal justice system

penegakan hukum berawal dari penyelidikan dan penyidikan oleh pihak Polri

berdasarkan UU No. 22 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesiaq

(UU Polri), kemudian hasil penyidikan Polri diserahkan/dilimpahkan kepada

Jaksa Penuntut Umum yang bekerja berdasarkan UU No. 16 Tahun 2004

tentang Kejaksaan Agung Republik Indonesia (UU Kejagung). Selanjutnya

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan surat dakwaannya melimpahkan perkara

yang bersangkutan kepada Pengadilan Negeri dalam lingkungan peradilan

umum.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdasarkan UU No. 20 Tahun

2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUKPK)

melakukan penyelidikan dan penyidikan serta penuntutan atas tindak

pidana korupsi dan selanjutnya melimpahkan perkara hasil penyidikannya

itu kepada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang merupakan pengadilan

khusus pada Pengadilan Negeri.

Selain dari pada itu, perlu diuraikan bahwa pada Pengadilan Negeri

terdapat beberapa pengadilan khusus, seperti: (1) Pengadilan Hak Asasi

Manusia (HAM) berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan

HAM, (2) Pengadilan Hubungan Industrial berdasarkan UU 2 Tahun 2004

tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, (3) Pengadilan

Niaga berdasarkan UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan yang di daiam

UU ini diatur mengenai adanya Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus

pada Pengadilan Negeri, (4) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)

berdasarkan UU No.46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

jo. UU No. 20 Tahun 2002, (5) Pengadilan Perikanan berdasarkan UU No.31

Tahun 2004 tentang Perikanan, (6) Pengadilan Anak berdasarkan UU No. 3

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 158



Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, dan Mahkamah Syari'ah sepanjang

kewenangannya atas perkara pidana Islam pada Pengadilan Negeri di Nanggru

Aceh Darussalam (NAD) berdasarkan UU No.18 Tahun 2001 jis. UU No.44

Tahun '1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dan Keputusan

Presiden Republik Indonesia No.11 Tahun 2002 tentang Mahkamah Syar'iyah

dan Mahkamah Syar'iyah Provinsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Demikian pula halnya dengan pelaksanaan putusan Arbitrase didaftar

dan dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri berdasarkan UU No.30 Tahun 1999

tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan

(UU Arbitrase). Penyelenggaran arbitrase oleh badan arbitrase tidak berada di

dalam lingkungan peradilan mana pun, dan arbitrase adalah bentuk alternatif

penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Keterkaitannya dengan pengadilan

khususnya pengadilan negeri ketika para pihak yang bersengketa tidak

secara sukarela melaksanakan putusan badan arbitrase yang dipilih kedua

belah pihak, maka putusan arbitrase itu didaftar di kepaniteraan Pengadilan

Negeri dan dengan demikian maka putusan arbitrase itu dapat dilaksanakan

sebagaimana halnya melaksanakan putusan Pengadilan Negeri yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap.

Dari rangkaian uraian mengenai penegakan hukum pidana umum

di atas terlihat bahwa penegakan hukum sudah dimulai sejak dilakukan

penyelidikan dan penyidikan baik yang dilakukan oleh penyidik Polri, Jaksa

maupun yang dilakukan oleh KPK hingga proses peradilan di pengadilan

dalam lingkungan peradilan umum untuk kasus pidana umum dan pidana

korupsi. Demikian pula halnya dengan penegakan hukum pidana menurut

syari'at Islam terhadap tindak pidana tertentu dilakukan sejak penyelidikan

dan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik polri dan penuntutannya

oleh JPU pada Mahkamah Syari'ah untuk daerah NAD. Penegakan hukum

pidana umum yang berkarakter militer yang dipahami sebagai tindak pidana

militer dalam lingkungan peradilan militer sejak penyelidikan dan penidikan

dilakukan oleh POM TNI dan hasilnya diserahkan kepada Oditur Militer sebagai

penuntut umum dan kemudian dilimpahkan kepada Pengadilan Militer dan

atau ke Pengadilan Militer Utama. Kemudian penyelenggaraan peradilan

itu berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan negara tertinggi.

Satu hal yang patut dicatat bahwa proses penyidikan dan penuntutan suatu

perkara pidana berada dalam ranah kekuasaan eksekutif dengan mekanisme

yuridis sesuai ketentuan hukum di dalam undang-undang yang bersangkutan,

di samping keseluruhan prosedur dan mekanismenya dilakukan berdasarkan

hukum acara yang relevan.

Penglihatan hipotetik saya menggambarkan adanya dinamika

penegakan hukum yang sampai pada berkembangnya pandangan bahwa

penegakan hukum yang tertarnpil di hadapan masyarakat mereduksi keadilan

159 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



pada satu pihak dan pada pihak lain masyarakat menuntut tegaknya keadilan

sehingga keadilan itu tidak lagi dapat diberikan oleh proses penegakan

hukum. Oleh karena itu masyarakat menuntut Mahkamah Agung agar

memberikan keadilan hukum sesuai dengan yang diharapkan masyarakat

sehingga pula menuntut agar Mahkamah Agung ditempatkan pada fungsi

sebagai pemberi keadilan atau justice dispenser function. Bahkan munculnya

tuntutan agar Mahkamah Agung mereformasi secara internal dengan harapan

dapat memberikan keadilan sesuai dengan tuntutan masyarakat seperti

yang disinggung di atas, serta berupaya agar dapat berkemampuan untuk

menyelesaikan perkara sesuai dengan batas waktu yang umum dan wajar.

Perlu sedikit melihat kerangka teoritik ke belakang, mengenai adanya

pandangan bahwa sistem hukum itu dimana pun termasuk di Indonesia

mengandung substansi pembentukan hukum melalui proses politik hukum,

struktur hukum yang berinti pada penegakan hukum dan budaya hukurn.

Dinamika penegakan hukum yang digambarkan di atas dengan mengambil

asumsi pada seperti yang dapat dilihat belakangan ini dengan mengambil

contoh dibentuknya Tim 8 dan Tim Pemberantas Mafia Hukum (TPMH)

perlu dianalisis lebih jauh lagi dengan pertanyaan bahwa ia bergerak dalam

nanah mana dengan implikasinya. Penegakan hukum berada dalam lingkaran

struktur hukum yang secara substansial melintas pada dua kekuasaan yaitu

ada bagian dari penegakan hukum berada dalam ranah kekuasaan eksekutif

seperti proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Polri dan

penuntutan yang dilakukan JPU, dan bagian lainnya berada dalam kekuasaan

yudikatif yaitu proses peradilannya, dan pelaksanaan putusan pengadilan

pidana yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap oleh JPU atau oleh

Oditur Militer ke lembaga pemasyarakatan yang berada dalam ranah

kekuasaan eksekutif. Kedua substansi kekuasaan tadi telah dibentuk melalui

proses politik hukum yang telah bergerak pada ranah pembentukan hukum

yang secara konstitusional melibatkan kekuasaan legislatif dan kekuasaan

eksekutif. Penegakan hukum pada proses inilah hadirnya Tim 8 dan TPMH.

Secara teoritik kedua tim itu adalah bentukan politik dan bukan

bentukan politik hukum, karena itu ia hanya bergerak pada ranah politik.

Akan tetapi secara fenomenalogis ia bergerak dalam ranah penegakan

hukum sekali pun kedua tim itu bukan menjadi instrumen penegakan hukum.

Kehadiran kedua tim itu dapat dipandang sebagai wujud intervensi politik.

I. Apakah impikasinya ketika terjadi intervensi politik pada penegakan

hukum, sekali pun masih pada tataran penyelidikan dan penyidikan

dalam ranah kekuasaan eksekutif. Kehadiran intervensi politik dalam

penegakan hukum itu berbanding searah dengan tuntutan gejolak sosial,

sehingga tuntutan gejolak sosial berpihak pada intervensi politik, pada

hal prinsip hukum menghendaki agar proses penegakan hukum harus

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 160



terbebas dari intervensi politik sehingga obyektifitas pelaksanaan tugas

penegakan hukum dapat tercapai. Ketika demikian maka gejolak sosial

akan berpersepsi bahwa proses penegakan hukum sudah melemah

sekaligus mereduksi harapan lahirnya legal justice dan menuntut agar

social justice dapat diwujudkan. Melemahnya penegakan hukum dalam

persepsi masyarakat seperti diuraikan di atas dapat dikatakan secara

hipotetik disebabkan oleh intervensi politik dan kejadian itu berimbas

pada lahirnya pertanyaan masyarakat dimana peran Mahkamah Agung

dan dituntut untuk merespon dari melemahnya penegakan hukum itu.

Sepanjang masih ada intervensi politik dalam proses penegakan hukum

diasumsikan secara hipotetik sepanjang itu pula penegakan hukum akan

tetap melemah. Selain dari pada itu akan dapat juga mendorong terjadinya



Penegakan hukum di luar hukum pidana yaitu sepanjang mengenai

out of court settlement.



keperdataan dan tata usaha negara, dilakukan juga oleh Pengadilan Negeri

dalam lingkungan peradilan umum sepanjang mengenai kewenangannya di

bidang perkara perdata dan perkara lain seperti yang telah dikemukakan

di atas. Mengenai perdata agama Islam dilakukan oleh pengadilan dalam

lingkungan peradilan agama untuk pencari keadilan yang beragama Islam atau

yang menundukkan diri pada hukum Islam sepanjang mengenai perkawinan,

kewarisan, hibah, wasiat, sadaqah dan zakat serta sengketa mengenai ekonomi

syariah berdasarkan UU No. 21 Tahun 2009 tentang Perbankan Syari'ah, UU

tentang Obligasi dan Surat Berharga Syari'ah, serta kewenangan lain yang

diberikan undang-undang. Sengketa tata usaha negara dalam penegakan

hukumnya dilakukan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dalam lingkungan

peradilan tata usaha negara, di mana di dalamnya melingkupi juga Pengadilan

Pajak sebagai pengadilan khusus.

Setelah disela sedikit oleh uraian mengenai aspek keperdataan dalam

penegakan hukum tadi, perlu dikemukakan di sini mengenai perbedaan istilah

politik dan politik hukum dalam kontek penegakan hukum pidana. Di dalam

uraian di atas tadi selalu dikatakan mengenai adanya intervensi politik dan

mengapa tidak menggunakan politik hukum. Lembaga kepresidenan dimana

Presiden berkedudukan, adalah lembaga politik dan kedudukannya adalah

kedudukan politik dan dengan demikian Presiden adalah jabatan politik.

Dari sana terdapat berbagai produk kekuasaan yang dapat dikatakan sebagai

produk politik, dan hal ini berbeda dengan politik hukum. Produk kekuasaan

pada lembaga kepresidenan tidak membutuhkan keterlibatan pendapat

publik dan atau presensi politik karena kekuasaan lembaga kepresidenan

telah berada dalam garis konstitusional ketika menjalankan fungsinya sebagai

presiden di samping keterbatasannya dalam hal tertentu seperti dalam hal

penegakan hukum.

161 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Akan tetapi berbicara politik hukum itu berarti berbicara mengenai

kewenangan kontitusional dari lembaga legislatif dan lembaga kepresidenan

dalam menciptakan atau membentuk hukum. Dalam proses pembentukan

hukum diperlukan adanya persepsi dan konsepsi politik hukum yang

diperankan secara konstitusional oleh lembaga legislatif dan lembaga

kekuasaan eksekutif yang mau tidak mau membutuhkan keterlibatam

masyarakat luas dalam kaitannya dengan legal needs. Akan lebih berbahaya

lagi apabila keterlibatan masyarakat luas dalam proses penegakan hukum.

Ketika keterlibatan politik hukum seperti pola itu ke dalam proses penegakan

hukum maka secara teoritik akan terjadi pergumulan antara politik hukum

dengan penegakan hukum yang pada akhirnya penegakan hukum akan

melemah karena ia tidak dapat bebas dari pengaruh eksternal sehingga

tidak bebas dari parsialitas sedangkan penegakan hukum membutuhkan

imparsialitas sehingga akan terjamin tegaknya prinsip equality before the law

dan presumption of innosence.

Pertanyaan teoritik yang perlu dikaji secara mendalam adalah menjadi

persoalan yang mendasar dalam sistem hukum nasional ketika terjadi

pertautan apalagi intervensi dan pergumulan antara politik hukum dengan

proses penegakan hukum yang salah satu wujudnya ketika opini publik

dan partisipasi masyarakat menerobos ke dalarn proses penegakan hukum.

Apabila terjadi kumulasi antara intervensi politik dengan politik hukum

beserta opini publik dan menerobos masuk kedalam proses penegakan

hukum akan melahirkan tiga keadaan.

Keadaan pertama, politik kekuasaan dan politik hukum akan menjadi

gangguan proses penegakan hukum, yang rnungkin dipandang dapat menjadi

alternatif penyelesaian persolan penegakan hukum yang oleh sementara

ahli hukum dinamakan dengan out of court settlement. Penyelesaian

demikian sejalan dengan opini publik yang mencerminkan tuntutan social

justice. Sementara itu pada saat yang bersamaan proses penegakan hukum

menjalankan due proces of law untuk terciptanya legal justice.

Keadaan kedua yang akan terjadi adalah sebagaimana yang pernah

dikemukan di atas, bahwa opini publik akan mulai menaruh tidak percaya

kepada proses penegakan hukum dan mereduksi kepercayaan masyarakat

kepada penegakan hukum secara keseluruhan yang meliputi seluruh rangkai-

an penegakan hukum pada semua tingkatan pengadilan. Dari sinilah pada satu

segi Mahkamah Agung dengan fungsinya dituntut untuk dapat memberikan

keadilan atau yang disebut dengan justice dispenser function, dan pada segi

lain bahkan Mahkamah Agung dipandang masyarakat sudah tidak memiliki

kemampuan lagi untuk menegakkan hukum dan keadilan dalam pengertian

supremasi hukum, sehingga pada akhirnya dituntut perlu adanya reformasi

Mahkamah Agung.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 162



Keadaan yang ketiga yang dapat muncul adalah suatu keadaan seakan-

akan telah terjadi ketidak-harmonisan dan tidak adanya sinkronisasi antara

institusi penegakan hukum. Di manakah letak peran Mahkarnah Agung

untuk melakukan hal itu semua agar tidak terjadi dan berulang keadaan

yang demikian. Apakah menjadi solusi apabila Mahkamah Agung mengambil

peran untuk melakukan harmonisasi dan sinkronisasi pelaksanaan tugas

dan hubungan antar lembaga penegakan hukum. Dengan perkataan lain

bahwa Mahkamah Agung harus diperankan untuk mengharmonisasikan

dan menyingkronisasikan hubungan antara lembaga penegak hukum, yaitu

hubungan antara Polri, Kejagung, Mabes TNI, KPK, Advokad yang sudah

barang tentu dengan Mahkamah Agung beserta badan peradilan yang berada

di bawahnya.

Adalah menjadi pertanyaan apakah perlu semacam koordinasi antar

aparat penegak hukum. Pada masa lalu saat masing-masing lingkungan peradi-

lan masih berada di dalam rangkaian stuktur departemen atau kementerian

pemerintahan seperti yang dimaksud oleh Mahkejapol (Mahkamah Agung,



Departemen Agama). Setelah seluruh lingkungan peradilan menurut UUD 1945

Kehakiman, Kejaksaan Agung dan Polri), Mahdepag (Mahkamah Agung dengan



berada di bawah satu atap Mahkamah Agung berdasarkan UU No. 35 Tahun

1999, koordinasi semacam demikian tidak terjadi lagi karena Mahkamah

Agung sudah dapat menjalankan sepenuhnya memberikan pembinaan tehnis,

administrasi dan finansial terhadap seluruh lingkungan peradilan yang ada di

bawahnya dan demikian pula Mahkamah Agung sebagai pengadilan negara

tertinggi dapat melakukan pengawasan internal terhadap semua lingkungan

peradilan. Dalam penyelenggaraan peradilan pidana, terdapat unsur de quorum

seperti JPU, hakim, maka untuk kepentingan pengawasan terhadap perilaku

kedua pejabat de quorum tersebut, antara Ketua Mahkamah Agung dengan

Jaksa Agung telah diadakan kesepakatan untuk melakukan pengawasan dalam

proses penyelenggaraan peradilan pidana terhadap pelaksanaan tugasnya

masing-masing aggota de quorum.





Untuk menjawab tuntutan masyarakat agar Mahkamah Agung

Pembaruan Mahkamah Agung



mereformasi dirinya, telah dilakukan berbagai upaya secara internal dan

membuahkan hasil meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan

agar reformasi berjalan secara total. Mahkamah Agung memulai proses

pembaruan pada tahun 2003 dengan disusunnya Cetak Biru Pembaruan

Peradilan dan Kertas Kerja Pembaruan Peradilan Tahun 2003 yang terdiri

dari Cetak Biru Mahkamah Agung, Kertas Kerja Pembinaan Sumber Daya

Manusia, dan Kertas Kerja Pengelolaan Keuangan Pengadilan, seta Kertas

Kerja Pendidikan dan Pelatihan.

163 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dalam melaksanakan berbagai rekomendasi yang tertuang di dalam

Cetak Biru Pembaruan Mahkamah Agung RI, maka Ketua Mahkamah Agung

memutuskan untuk membentuk Tim Pembaruan melalui Peradilan pada

Mahkamah Agung RI melalui Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI

Nomor: KMA/26/SK/IV/2004. SK ini terakhir kali diubah dengan SK KMA

Nomor: KMA 116/SK/VI/2010 Peran tim pembaruan sangat penting dalam

menentukan program yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan cetak biru,

yaitu : (1) Pengikisan Tumpukan Perkara; (2) Percepatan proses penyatuan

atap dan penguatan dasar-dasar pembinaan kualitas dan integritas hakim;

(3) Pengembalian kepercayaan publik melalui pendisiplinan hakim yang

menyimpang; (4) Publikasi putusan pengadilan dan sistem informasi

peradilan; (5) Peningkatan kesejahteraan dan Anggaran Hakim dan

Pengadilan.

Kemudian, Ketua Mahkamah Agung RI pada tanggal 28 November 2007

mengeluarkan KMA No.203/KMA/SK/XI/2007 untuk membentuk Kelompok

Kerja Pembaruan Peradilan pada Mahkamah Agung RI. SK KMA ini terakhir

kali diubah dengan SK KMA Nomor: KMA 116/SK/VI/2010. Kelompok

kerja Pembaruan ini berangotakan Tim Pembaruan Peradilan dan pejabat

struktural di Mahkamah Agung RI dan pihak non pengadilan. Kelompok

kerja kemudian bertugas untuk mengembangkan strategi, mengkoordinir

berbagai kegiatan terkait, mengawasi serta mengevaluasi program-program

terkait. Sampai saat ini, Mahkamah Agung menetapkan 6 Kelompok kerja,

yaitu (1) Kelompok Kerja Manajemen Perkara dan Keterbukaan Informasi;

(2) Kelompok Kerja Informasi dan Teknologi; (3) Kelompok Kerja Pendidikan

dan Pelatihan; (4) Kelompok Kerja Sumber Daya Manusia; (5) Kelompok

Kerja Manajemen Keuangan; dan (6) Kelompok Kerja Pengawasan.

Dalam jangka waktu 5 tahun implementasi cetak biru tersebut,

Mahkamah Agung telah mengadakan perubahan yang signifikan, khususnya

dalam program:

1. Keterbukaan Informasi di Pengadilan

2. Pengembangan sistem pengaduan yang akuntabel dan transparan.

Menindaklanjuti SK KMA No. 144/KMA/VII/2008 (SK 144) mengenai

keterbukaan informasi di Pengadilan, Pengadilan harus menyediakan

informasi-informasi yang harus diumumkan kepada masyarakat. Mahkamah

Agung menyediakan meja informasi untuk membantu masyarakat khususnya

para pencari keadilan, sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk pengaduan

masyarakat akan kinerja pengadilan. Dengan demikian diharapkan pelapor

akan lebih mudah mengetahui status data pengaduannya.

Pada prinsipnya SK 144 tersebut memberikan kemudahan kepada

masyarakat untuk dapat mengakses informasi di pengadilan sehingga akses

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 164



publik tidak semata-mata berbentuk fisik yang berupa meja informasi, namun

sampai sejauh mana pengadilan yang bersangkutan dapat memberikan

informasi yang dibutuhkan masyarakat khususnya para pencari keadilan.

SK 144 mengkategorisasikan informasi menjadi 3 kategori, antara

lain informasi- informasi yang harus diumumkan, informasi-informasi yang

dapat diakses dengan permohonan kepada petugas informasi, dan informasi-

informasi lainnya yang dapat diberikan atas ijin penanggungjawab pada

pengadilan yang bersangkutan.

Informasi yang harus diumumkan biasanya dapat ditemukan dalam

situs Pengadilan yang bersangkutan, atau jika di Mahkamah Agung melalui

www.mahkamahagung.go.id.

Informasi-informasi lain yang tidak terdapat di dalam situs dapat

diperoleh dengan mengajukan permohonan informasi. Di Mahkamah Agung

sendiri, aplikasi permohonan informasi dan pengaduan online dapat diunduh

dalam situs tersebut.





Dalam hal penyelesaian perkara, Mahkamah Agung melaksanakan

Pembaruan dalam Penanganan Perkara



pembaruan teknis untuk menyelesaikan tumpukan perkara antara lain:

1. Menyusun program terstruktur untuk mengikis tunggakan perkara antara

lain dengan dilakukannya audit perkara, redistribusi perkara tunggakan

tahun tertentu, percepatan minutasi perkara dan peningkatan kapasitas

pendataan perkara.

2. Transparansi dan akuntabilitas publik terhadap informasi putusan dan

perkara yang meliputi data perkara masuk, distribusi, perkara putus,

minutasi dan pengiriman ke pengadilan yang dituju, Upload putusan

dalam website http://putusan.mahkamahagung.go.id, pembuatan SOP

mengenai transparansi putusan & Informasi perkara serta penyempurnaan

mekanisme pengelolaan biaya perkara.

Sepanjang tahun 2009 Mahkamah Agung memiliki keadaan perkara

sebagai berikut:

Sisa Awal Masuk Tahun

(Akhir Des 2009 (Jan-31 Total Putus Sisa

2008) Des 09)

8.280 12.540 20.820 11.985 8.835



Jika dibandingkan dengan 4 tahun sebelumnya, Mahkamah Agung

mengalami peningkatan perkara sebesar 67,9% dengan rincian sebagai

berikut:

165 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum





Tahun Jumlah Perkara Masuk

2005 7.468

2006 7.825

2007 9.516

2008 11.338

2009 12.540





Mahkamah Agung membentuk Tim Pengikisan Perkara berdasarkan

SK Ketua Mahkamah Agung. Pengikisan perkara difokuskan terhadap

perkara-perkara dengan register 2007 dan sebelumnya untuk menekan

lama usia perkara dari yang tadinya 2 tahun sejak diregister menjadi 1 tahun

sejak perkara tersebut diregister. Dalam semester kedua tahun 2009, Tim

Pengikisan Perkara tersebut berhasil menyelesaikan setidak-tidaknya 1500

berkas perkara.



Pembaruan Mahkamah Agung dalam Bidang Peningkatan



Mahkamah agung terus melakukan berbagai upaya pembaruan di

Kualitas SDM



bidang penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan hukum

dan peradilan untuk seluruh anggota dan unsur-unsur peradilan di bawahnya.

Salah satunya adalah dengan mencanangkan beberapa kegiatan prioritas

yang berfokus pada penyempurnaan penyelerenggaraan sistem litbang diklat

untuk membentuk center of excellence di lingkungan Mahkamah Agung.

Mahkamah Agung terus melakukan sosialisasi internal mengenai

Buku Paduan Litbang Diklat yang berlaku sebagai "Petunjuk Teknis bagi

Penyelerenggaraan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan

Hukum dan Peradilan". Konsep dasar yang dianut dalam buku tersebut adalah

penerapan konsep pendidikan dan pelatihan bagi hakim dan tenaga teknis

yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Selama tahun 2009 Mahkamah Agung menyelerenggarakan pendidikan

teknis dengan program-program sebagai berikut:

Lama Jumlah

No Program Pelatihan Klasifikasi Peserta



1. Pelatihan bagi Tim Penyu- Hakim Pengajar 3 hari 40

Pelatihan Peserta



sun Kurikulum dan Materi dan Tim Perumus

Diklat Teknis (ToT) untuk Materi PTUN

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 166



2. Diklat Calon Hakim terpusat Calon hakim/PNS 6 minggu 238

dari 4 lingkungan

peradilan

3. Pendidikan Hakim Berjen- Hakim dengan masa 4 hari 23

jang dan Berkelanjutan kerja 1-5 tahun

4. Diklat Kekhususan atau

sertifikasi bagi tenaga teknis

peradilan dengan masa

kerja diatas 10 tahun:

a. Sertifikasi Mediator Hakim Tingkat Per- 2 minggu 121

Hakim Peradilan Agama tama dan Tingkat

Banding

b. Sertifikasi Mediator Hakim Tingkat 2 minggu 106

Hakim Peradilan Umum Pertama

c. Sertifikasi hakim Niaga Hakim Senior 1 minggu 70

d. Sertifikasi Hakim Hakim Senior 1 minggu 87

Peradilan Hubungan

Industrial (PHI)

e. Sertifikasi Hakim Peri- Hakim Senior 1 minggu 45

kanan

f. Pelatihan pendalaman Hakim PA dan PTA 1 minggu 80

ekonomi syari’ah hakim

Peradilan Agama

g. Pelatihan Teknis fung- Hakim Militer 1 minggu 30

sional hakim Peradilan

Militer

5. Pendidikan dan pelatihan Calon Panitera (2) 4 hari (2) 297

berjenjang dan berkelan- Peradilan Umum

jutanbagi Panitera/Panitera dari 3 lingkungan

Pengganti terbagi dalam: (1) Peradilan kecuali TUN

Diklat Panitera Tahap 1; (2)

Diklat Panitera Tahap 2

6. Pendidikan dan pelatihan Juru sita pengganti 4 hari 288

berjenjang dan berkelan- junior

jutan bagi juru sita

7. Pelatihan gabungan dengan Hakim 5-10 2 minggu 100

kejaksaan

Total Peserta (termasuk sertifikasi hakim tipikor 1.889





Menyinggung mengenai hubungan Pembaruan Mahkamah Agung

sebagai pemegang kekuasaan kehakiman dengan pemberdayaan sumber

daya manusianya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pembaruan tersebut

167 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



terkait erat dengan kebijaksanaan sebagai salah satu komponen pelaksanaan

kekuasaan kehakiman. Hal ini merupakan wewenang penuh Mahkamah

Agung dengan memperhatikan berbagai ketentuan perundang-undangan

sebagai produk politik hukum misalnya mengenai penyatuan atap kekuasaan

kehakiman dan perubahan struktur organisasi Mahkamah Agung. Meskipun

tuntutan pembaruan sendiri berasal dari tuntutan masyarakat agar Mahkamah

Agung berfungsi sebagai justice dispenser.

Berkaitan dengan kelanjutan pembaruan itu, Mahkamah Agung

meninjau kembali cetak biru tahun 2003 dan berupaya mensinergikan

agenda pembaruan mendatang dengan Rencana Strategis Mahkamah Agung

RI, Rencana Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RJPM) serta acuan

reformasi birokrasi dalam Panduan Reformasi Birokrasi Nasional. Rencana

Strategis dan Cetak Biru Mahkamah Agung RI 2010-2035 diharapkan akan

selesai disosialisasikan dalam waktu dekat ini.







Untuk tegaknya hukum dan keadilan, penyelenggaraan kekuasaan

Beberapa Simpulan



kehakiman dan penegakan hukum, pengadilan harus merdeka dari semua

pengaruh eksternal pengadilan. Bahkan sekali pun Mahkamah Agung

melakukan pembinaan tehnis, administrasi, organisasi dan finansial

pengadilan dan melakukan pengawasan secara internal terhadap semua

lingkungan peradilan yang berada di bawahnya, tidak boleh mempengaruhi

kebebasan hakim.

Mahkamah Agung telah sedang melakukan reformasi secara internal

melalui realisasi Cetak Biru Mahkamah Agung dan selalu mengadakan

evaluasi secara berkelanjutan terhadap realisasi Cetak Biru tersebut. Cetak

Biru tersebut telah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pengadilan

untuk semua lingkungan peradilan yang secara bertahap dan berkelanjutan

dilaksanakan sesuai dengan kemampuan anggaran pembanguan yang

dialokasikan untuk pelaksanaan kekuasaan kehakiman melalui Mahkamah

Agung.

Dalam penanganan perkara yang terselesaikan dalam batas waktu

umum dan wajar, Mahkamah Agung secara berkelanjutan melakukan upaya

pengikisan perkara di Mahkamah Agung terutama yang teregistrasi di bawah

tahun 2009, dan perkara teregistrasi tahun 2008 ke bawah sudah terkikis.

Kondisi perkara pada Mahkamah Agung menjadi hal dilematis yaitu tiap

bulan rata-rata perkara yang masuk lebih kurang 1000 (seribu) perkara baru

dan yang berhasil diputus rata-rata sekitar 1000 seribu) perkara.

Untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan berdasarkan

Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Mahkamah

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 168



Agung melakukan pembinaan sumber daya hakim dan aparat pengadilan

yang lainnya secara berkelanjutan baik melalui pendidikan dan pelatihan

secara berkelanjutan, tetapi juga melakukan pengawasan internal dan juga

Komisi Yudisial Republik Indonesia melakukan pengawasan terhadap hakim

secara eksternal. Dalam hal pengawasan tersebut, Mahkamah Agung dan

Komisi Yudisial telah sepakat menetapkan Pedoman Perlaku Hakim dalam

upaya menjaga keluhuran martabat dan kehormatan perilaku hakim sesuai

dengan pesan konstitusional dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945.

Adalah menjadi peringatan bahwa pengawasan baik internal maupun

eksternal dilakukan dengan tidak boleh mempengaruhi kebebasan hakim

sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman. Demikianlah halnya bahwa

penyelenggaran kekuasaan kehakiman yang merdeka dari pengaruh pihak

mana dan apa pun merupakan pesan konstitusional yang dipertahankan

pada rangkaian penegakan hukum dan keadilan dalam masyarakat.







Grad, Frank P., and Robert F Williams, State Constitutions For the Twenty First

Daftar Pustaka





Volume 2, State University of New York Press, 2006.

Century, Drafting State Constitutions, Revisions, and Amandements,



Indonesia, Mahkamah Agung Republik, Biro Hukum dan Humas, Himpunan



Mahkamah Agung RI serta Badan Peradilan di Indonesia, 2009.

Peraturan perundang - undangan tentang Kekuasaan Kehakiman dan



Mahkamah Agung RI, Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI 2009, Jakarta:

Mahkamah Agung RI, Februari 2010

Woolf, Lord, The Pursuit of Justice, Edited by Christofer Campbell-Holt,

BEDAH CONUNDRUM REFORMASI

KEKUASAAN KEHAKIMAN:

SUATU ANALISIS



Adi Sulistiyono2



Reformasi kekuasaan kehakiman telah melahirkan hadiah ‘besar’

bagi masyarakat Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Anti-Korupsi

Sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2010, Pengadilan Negeri Jakarta

Timur telah menjatuhkan vonis dua tahun dan denda Rp. 50 juta pada Muhtadi

Asnun, Mantan Ketua Pengadilan Negeri Tangerang, dan Ketua Majelis Hakim

yang membebaskan Gayus HP Tambunan terdakwa kasus korupsi pajak, karena

terbukti bersalah menerima uang sebesar Rp. 50 juta dari Gayus Tambunan.

Ditengah tengah ketidakpercayaan sebagian besar masyarakat pada

kinerja lembaga peradilan. Penelitian Evaluasi terhadap “Pelaksanaan

Reformasi Kekuasaan Kehakiman” oleh Komisi Hukum Nasional (KHN) perlu

diapresiasi. Bagaimanapun itu sumbang saran yang cukup berharga, sebagai

bacaan akademis dalam mengamati mozaik reformasi hukum, khususnya

sektor peradilan, suatu pekerjaan bangsa yang secara substantif berkembang

sejak reformasi nasional 1998. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan

Lawrence Friedman, yang memotret reformasi hukum mencakup pembaruan

substansi hukum, kelembagaan, dan budaya hukum di Indonesia, sedangkan

penuntasan kasus KKN serta pelanggaran HAM merupakan salah satu tujuan

yang hendak dicapai dari reformasi tersebut.

Sebagai bentuk apresiasi saya terhadap penelitian tersebut, saya ingin

mempertajam dan sekaligus menggarisbawahi beberapa hal pokok sebagai

tanggapan atas penelitian itu. Dalam argumen saya, capaian reformasi

kekuasaan kehakiman seperti diuraikan dalam penelitian tersebut nampaknya

lebih fokus kepada kontur dan struktur, tetapi abai terhadap kerangka

transformasi kelembagaan, sebuah kebutuhan total reformasi tersebut.

Kesimpulan penelitian yang, antara lain, mengatakan bahwa “reformasi

menggunakan pendekatan yang sifatnya taktis” dan “desain reformasi hanya

mengarah kepada pembaruan substansi hukum dan sebatas kebijakan umum”

mengkonfirmasikan argumen tersebut.

Secara keseluruhan, optik amatan terhadap capaian hasil reformasi

kekuasaan kehakiman menampakkan suatu conundrum3, yang menjauhkan

2

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

3

Conundrum (segala sesuatu yang membingungkan atau sebuah teka teki) secara leksikal

berarti suatu kebijakan yang diharapkan akan meningkatkan capaian sesuatu dalam posisi

yang lebih tinggi akan tetapi ternyata hasilnya justru lebih rendah. Ini istilah teknis, yang

digunakan oleh mantan Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal

Reserve), Alan Greenspan, yang pada tahun 2004 meningkatkan tingkat suku bunga FED

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 170



secara asimetris antara argumen idealis dengan praksis yang terjadi.

Cordunum, saya pakai untuk memberikan kesan: reformasi kekuasaan

kehakiman, yang identik dengan pembaruan desain sistem peradilan, berhasil

dalam menempatkan struktur dalam posisi independen, tetapi mempercepat

luncur dan lunturnya substansi reformasi itu sendiri. Bahkan cenderung

buram hasilnya, ketika pasca reformasi justru berbagai perilaku aparatur

peradilan (jaksa, polisi, hakim, panitera, dan lembaga pemasyarakatan) dalam

berbagai kasus justru semakin terbuka dalam melakukan penyimpangan.

Berarti agenda reformasi tidak tercapai, transformasi kelembgaan tidak

terwujud dalam pembaruan sektor peradilan.





Hal yang perlu dicermati dalam penelitian KHN adalah metode yang

Sorotan terhadap Metode



digunakan. Sekalipun mengklaim menggunakan pendekatan Friedman dalam

membahas fenomena reformasi hukum yang mencakup faktor struktur,

substansi, dan budaya hukum dalam pembaruan kekuasaan kehakiman,

tetapi peran masing-masing faktor belum terlihat dengan tegas. Padahal

sebagaimana dilakukan oleh KHN, penelitian itu bersifat deskriptif yang

“memberikan data seteliti mungkin mengenai manusia dan gejala-gejala

lainnya, serta diuraikan sebagaimana keadaan yang sesungguhnya.” Dari

sisi metodologis, masing-masing faktor menggambarkan hal-hal positif

terutama di kala mengulas tujuan keberadaannya, tetapi pada mengulas

kegiatannya, terungkap kekurang berhasilan yang mencerminkan kelemahan

dari sistem hukum. Meskipun secara absolut kelemahan tersebut tidak dapat

dikatakan semata-mata berasal dari faktor hukum, kelemahan tersebut juga

dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti ekonomi dan politik, misalnya

dalam isu independensi kekuasaan kehakiman.4 Namun, hasil penelitian

KHN belum dapat memaparkan interaksi dan penjabaran kelemahan masing-

masing faktor hukum sehingga apabila akan merekomendasikan bagaimana

seharusnya capaian reformasi kekuasaan kehakiman yang ideal, belum dapat

dilakukan urutan prioritas yang sebaiknya diusulkan kepada otoritas atau

lembaga terkait dalam merespons kebijakan yang akan datang.

Sebaiknya, penelitian itu dipertajam dengan data lapangan yang

merupakan data persepsi dari para ahli atau pelaksana yang terkait sehingga

pada saat data terkumpul ada kemungkinan terjadi bias subyektivitas.

dengan harapan akan mampu menjaga kontinuitas dan pengembangan arus kapital domestik,

akan tetapi justru mempercepat penurunan finansial (hasilnya imbal hasil yield US Treasury

jangka panjang bukannya naik tapi malah turun, yang memuncak kepada krisis sejak medio

2007 di Amerika Serikat.

4

Bandingkan juga dengan pendapat Sudikno Mertokusumo ketika membahas bahwa kekuasaan

kehakiman secara mikro tidaklah mutlak karena dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor

antara lain sistem politik dan ekonomi. Lihat dalam Sudikno Mertokusumo, 2004, Hukum

Acara Perdata Indonesia, Jogjakarta, Penerbit Liberty.

171 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dalam rangka mengurangi bias tersebut, pada saat diambil data persepsi,

informan dipilih dari kalangan ahli dan dalam in-depth interview dilakukan

cek ulang, demikian pula dalam focus group discussion atau FGD. Dengan

metode ini, dapat mengkualifikasikan berbagai varibel persepsi, sekaligus

dapat memberikan bobot atau derajat kepentingan atas variabel dimaksud.

Di samping itu akan memberikan hasil yang lebih robust (apabila dilakukan

penelitian berulang dengan kerangka pikir yang sama, meskipun digunakan

data persepsi yang lebih luas, hasilnya akan tetap sama).

Metode itu perlu dipertimbangkan, karena faktor regulasi, kelembagaan,

dan budaya hukum adalah saling pengaruh, tidak searah, atau lebih bersifat

interdependen (network). Ketiga faktor itu memiliki tujuan yaitu reformasi

kekuasaan kehakiman. Selanjutnya, ketiga faktor ini akan dihadapkan pada

pertanyaan penelitian yang menyebutkan “kendala yang dihadapi dalam

reformasi kekuasaan kehakiman” dan bagaimana seharusnya “arah reformasi

hukum dan pembaruan peradilan ke depan.”

Struktur kelembagaan (mestinya) direpresentasikan tidak hanya

pelaku kekuasaan kehakiman (MA, MK, dan KY) tetapi juga Presiden,

Departemen Hukum dan HAM, Sekretariat Negara, Komisi Hukum Nasional,

Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian,

dan Kejaksaan. Sementara itu, regulasi direpresentasikan dengan Exit Policy,

pembentukan lembaga/badan peradilan baru, organ pengawasan, dan

masyarakat sipil. Terakhir, budaya hukum direpresentasikan oleh kompenen

political will atau komitmen, kepentingan, pemahaman, konsistensi, integritas,

dan keterbukaan.

Dengan penajaman yang demikian, maka bentuk interaksi antara

regulasi, kelembagaan, dan budaya hukum dapat diketahui secara jelas.

Penelitian kepustakaan masih memberikan hasil analisis peranan hukum

dalam setiap faktor secara terpisah-terpisah. Melalui penajaman metodologis

itu dapat diperoleh gambaran secara holistik atau menyeluruh peranan hukum

baik untuk masing-masing faktor secara rinci maupun secara keseluruhan.

Data persepsi dari informan yang merupakan informasi yang terpisah-pisah

dengan metode itu dapat merupakan pandangan yang menyeluruh mengenai

peranan hukum dalam reformasi kekuasaan kehakiman.





Penelitian KHN memang bersifat umum, lebih mendeskripsikan

Kajian-Praksis Lampau dan Kini



struktur ketimbang mengambil satu sampel analisis dari pembaruan sektor

peradilan. Oleh karena itu, penelitian gagal menggambarkan “cara bekerjanya”

dalam perspektif komparatif antara sebelum dengan sesudah reformasi.

Padahal ini adalah kebutuhan mahabesar. Dari optik sistem peradilan pidana

misalnya, bangsa ini sejak proklamasi belum pernah melakukan pembaruan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 172



secara konseptual.5 Bahkaan suatu penelitian ada yang meyakini terjadi sejak

pertengahan abad yang lalu.6

Penelitian mengenai evaluasi reformasi kekuasaan kehakiman bukan

hal yang baru juga, tentu dengan perbedaan waktu dan setting sosial politik.

Tulisan Tresna menggambarkan antara lain bahwa pembaruan kekuasaan

kehakiman yang dikeluarkan pada masa awal kemerderkaan, lebih ditujukan

kepada maksud “untuk mengatasi keadaan dan tidak terlepas dari suasana

perjuangan, yang lebih mengutamakan kecepatan, daripada ditujukan

kepada kesempurnaan”.7 Kemudian, disertasi Sudikno Mertokusumo, yang

mendiagnosis antara lain bahwa “untuk lebih meningkatkan peradilan

Indonesia perlu dicurahkan perhatian lebih besar oleh Pemerintah kepada

perkembangan hukum acara dan hukum materiil.”8 Mengenai pengaruh

politik terhadap kekuasaan kehakiman, telah dikaji oleh Benny K. Harman.9

Kemudian, konsideransi pengadilan militer setelah pemisahan TNI/Polri

juga diteliti, yang antara lain mengusulkan “pembentukan pengadilan

khusus, dalam peradilan umum, sebagai bentuk peradilan yang sesuai untuk

memeriksa dan mengadili terdakwa prajurit TNI (atau anggota POLRI) dalam

perkara pidana umum.”10 Kemudian mengenai peran pengadilan dalam

pembentukan hukum telah juga ditulis.11 Termasuk bacaan terhadap kondisi

sistem peradilan kontemporer dan alternatif pemecahannya.12

Selain itu, KHN telah mempublikasikan penelitian serupa untuk

mengkaji masalah hakim ad hoc di Pengadilan Niaga.13 Kemudian MA juga

sudah menerbitkan kajian berupa “cetak biru” pembaruan kelembagaan

pengadilan.14

5

Dokumen perencanaan seperti 7 cetak biru yang dikeluarkan MA sama sekali tidak menyentuh

isu ini: (i) Cetak Biru Pembaruan MA RI; (ii) Naskah Akademik dan Rancangan Undang-

Undang Komisi Yudisial; (iii) Kertas Kerja pembaruan Sistem Pendidikan dan Pelatihan

Hakim; (iv) Kertas Kerja Pembaruan Pembinaan SDM Hakim; (v) Kertas Kerja Pembaruan

Sistem Pengelolaan Keuangan Pengadilan; (vi) Cetak Biru Pengadilan Niaga; dan (vii) Cetak

Biru Pengadilan Antikorupsi.

6

ABNR bekerjasama dengan MKK dan Cyberconsult, 1999, Reformasi Hukum di Indonesia: Hasil

Studi Pengembangan Hukum-Proyek Bank Dunia, Jakarta, hlm. 143.

7

Tresna, 1978, Peradilan di Indonesia, Jakarta, Pradnya Paramita, hlm. 88.

8

Sudikno Mertokusumo, 1971, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangannya di Indonesia

Sejak 1942 dan Apakah Kemanfaatannya Bagi Kita Bangsa Indonesia, Disertasi Doktor, UGM.

9

Benny K. Harman, 1998, Konfigurasi Politik dan Kekuasaan Kehakiman, Jakarta, ELSAM.

10

M. Fajrul Falaakh, dkk, 2001, Implikasi Reposisi TNI-Polri di Bidang Hukum, Jogjakarta, FH

UGM.

11

Untuk pembentukan hukum pidana, lihat misalnya Pontang Moerad B.M., 2004, Pembentukan

Hukum melalui Putusan Pengadilan dalam Perkara Pidana, Bandung, Alumni. Untuk kajian

perkara kepailitan lihat antara lain: M. Hadi Subhan, 2008, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma,

dan Praktik di Peradilan, Jakarta, Prenada Media.

12

Misalnya Adi Sulistiyono, 2006, Krisis Peradilan di Indonesia, Surakarta, UNS Press.

13

KHN, Laporan Tahunan 2004.

14

Lihat dalam Laporan Tahunan MA 2005, Jakarta, 2006. Cetak biru yang sudah dipersiapkan itu

i) Cetak Biru Pembaruan MA RI; (ii) Naskah Akademik dan Rancangan Undang-Undang Komisi

Yudisial; (iii) Kertas Kerja pembaruan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Hakim; (iv) Kertas

173 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dalam ranah praksis kebijakan, di samping sejak masa kemerdekaan,

reformasi kekuasaan kehakiman juga telah dilakukan semenjak era Orde

Lama15 dan Orde Baru.16 Akan tetapi dari perspektif rechsstaat , perkembangan

itu terbatas dalam arti formil belaka. Dengan adanya penambahan undang-

undang adalah tidak sama dengan telah menambah kesempatan untuk

mendapatkan keadilan. KUHAP misalnya, yang dundangkan pada masa Orde

Baru, dan disebut “karya agung”. Namun dalam perkembangan hukum, dalam

arti diterapkannya substansi berupa konsep-konsep hukum yang baru namun

tidak terbatas pada asas rechsstaat, HAM, adanya partisipasi masyarakat,

penerimaan perkembangan teknologi informasi sebagai pendukungnya dan

askes mendapatkan keadilan yang lebih terbuka untuk masyarakat misalnya,

tidak terjadi di KUHAP itu. Bahkan materi HAM dan substansi rechsstaat yang

ada dalam KUHAP seperti hebeas corpus dari sudut hukum acara berhenti

sampai di tingkat angan-angan belaka. Dari sudut yang sama, transplantasi

kelembagaan hukum dalam kasus pengadilan kepailitan, telah menghasilkan

jurang yang menganga antara idealitas dengan praksis, karena justru menjadi

bumerang dalam penegakan rule of law.17

Jadi “negara hukum”, dipandang dari segi manapun merupakan

mata rantai yang paling lemah di dalam rantai reformasi. Reformasi hukum

merupakan korban utama gerakan pro-demokrasi yang menjadi terombang-

ambing ketika Soeharto turun panggung dan sekaligus melenyapkan satu-

satunya sasaran politik yang mempersatukan kekuatan koalisi reformasi.

Mahkamah Agung dituding telah menghalang-halangi usaha-usaha reformasi

karena para hakim agung menyadari bahwa reformasi yang sesungguhnya

hanya dapat berjalan jika mereka disingkirkan.18 Mewakili kasus klasik

pengucilan kelembagaan, reformasi hukum disandera oleh mereka yang akan

paling banyak kehilangan bila perubahan kelembagaan terjadi. Hal ini sama

berlaku bagi kejaksaan, kepolisian, dan badan-badan pengadilan di tingkat

bawah. Misalnya, ketika KUHAP memperkenalkan polisi sebagai penyidik

utama. Tetapi prinsip ini kemudian dianggap tidak memuaskan, karena



Kerja Pembaruan Pembinaan SDM Hakim; (v) Kertas Kerja Pembaruan Sistem Pengelolaan

Keuangan Pengadilan; (vi) Cetak Biru Pengadilan Niaga; dan (vii) Cetak Biru Pengadilan

Antikorupsi.

15

Pada masa ini ada beberapa UU yang bersifat sementara berhubungan dengan reformasi

peradilan yaitu: (i) UU No. 23/1947 tentang Penghapusan Pengadilan Raja di Jawa dan

Sumatera; (ii) UU Dar No. 1/1951 tentang Tindakan Sementara Untuk Menyelenggaraka

Kesatuan Susunan Kekuasaan dan Acara Pengadilan-Pengadilan Sipil, dan (iii) UU Dar No. 36

Tahun 1955 tentang Perubahan UU No.1/1955.

16

Misalnya UU No. 14/1970, UU No. 20/1982 dan UU No. 8/1981 (KUHAP).

17

Sebuah pengadilan di Jakarta (2004) menyatakan Prudential PLc di Inggris bangkrut dan

menyatakan bahwa perusahaan tersebut mempunyai utang 400.000 dolar kepada salah satu

konsultan. Kemudian, sebuah unit Manulife Financial Corp dari Kanada dinyatakan bangkrut

(2002), tetapi kemudian MA mengkoreksi putusan itu dalam waktu yang cepat.

18

Ide Perpu Kocok Ulang Hakim Agung yang pernah digagas oleh Ketua Komisi Yudisial misalnya,

merupakan konfirmasi mengenai hal ini.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 174



kemudian UU Kejaksaan 2004 memungkinkan kejaksaan mengadakan

penyidikan lanjutan sekalipun tanpa memeriksa tersangka. Selain itu, PPNS

sebagai penyidik dalam UU sektoral semakin diterima, diantaranya ada yang

dapat langsung menyerahkan kepada penuntut umum.19



Capaian Reformasi: Bagaimana Harus Dibaca?



Rule of law di Indonesia sebenarnya bukan masalah prosedur tetapi

Pembentukan Organ Baru



bagaimana masalah pembagian kekuasaan. Meskipun kelihatan absah di

permukaan, Orde Baru memimpin pengrusakan sistem hukum secara total.

Rule of law mencerminkan tantangan langsung kepada supremasi militer

serta pertalian yang terus bertambah erat antara pihak militer, birokrasi,

serta para konglomerat yang tengah tumbuh. Saya kira kondisi tarik menarik

diantara ketiga aktor itu terus terkonsolidasi hingga sekarang. Saya membaca

satu hal: reformasi hukum gagal dalam distribusi kekuasaan politik. Militer

masih tetap kuat dan para politisi sipil dari segala aliran dengan teguh

mempertahankan hubungan politik mereka dengan para purnawirawan dan

prajurit yang aktif. Birokrasi tidak mengembangkan suatu konsepsi mengenai

hak-hak warga sipil atau pelayanan publik. Para politisi mengaku mempunyai

basis keragaman konstituen, tetapi dalam kenyataan mereka hanya mewakili

diri sendiri dan para pihak yang berhubungan dengan mereka.

Dalam setting semacam itu, maka cara reformasi tidak mungkin

menghasilkan sistem hukum otonom dan efektif. Strategi yang dijalankan:

menciptakan lembaga baru daripada memperbaiki yang sudah ada.

Selain Mahkamah Konstitusi, Indonesia telah membentuk antara lain

KHN, pengadilan niaga, Komsi Nasional Hak Asasi Manusia, dan Komisi

Pemberantasan Korupsi. Dalam rentang menunjang fungsi eksekutif

maka terciptalah sejak reformasi 14 komisi dan 41 komisi negara atau

badan-badan khusus.20 Paling akhir Presiden membentuk Satuan Tugas

Pemberantasan Mafia Hukum. Bermacam-macam komisi negara dan badan

itu ditambahkan ke dalam struktur yang sudah padat warisan Orde Baru,

yang selain Mahkamah Agung dan badan-badan pengadilan di bawahnya,

mencakup juga Badan Pemeriksa Keuangan dan Unit Kerja Pengawasan dan

19

Misalnya UU Ketenagalistrikan, UU Kehutanan, UU Pasar Modal, UU Kepabeanan, dan UU

Penerbangan.

20

Bermacam-macam istilah untuk menyebutnya: state auxilliary agencies, lembaga negara

independen, lembaga negara struktural, independent regulatory agencies, lembaga negara

sampiran, lembaga negara penunjang. Keseluruhan lembaga itu mayoritas dibentuk dengan

Keputusan Presiden dan Peraturan Presiden, selebihnya dengan UU. Eksistensi lembaga ini

belum optimal karena berbagai persoalan menyangkut proses dan dasar hukum pembentukan,

rekrutmen, mekanisme kerja, hak dan kewajiban termasuk sistem evalusi kinerja lembaga

negara tersebut. Lihat Muladi, “Penataan Lembaga Non Struktural (LNS) dalam Kerangka

Reformasi Birokrasi serta Upaya Formulasi Kebijakan Strategis Kelembagaan Negara”, Makalah

Seminar Nasional di Sekretariat Negara, Jakarta, 22-24 November 2010.

175 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pengendalian Pembangunan. Tetapi kinerja badan-badan ini tidak seluruhnya

memuaskan. Dengan wewenang terbatas dan tanggung jawab yang tumpang

tindih, mereka menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk bersilat lidah

diantara mereka dengan DPR, polisi, dan Kejaksaan agung. Satu masalah yang

penting adalah tidak adanya dukungan politik. Sulit untuk menghindarkan

dugaan bahwa menjamurnya badan-badan itu merupakan salah satu cara

politisi memberikan kesan bahwa mereka melakukan sesuatu tanpa harus

menanggung risiko politik berkaitan dengan tugas menangani kepentingan-

kepentingan yang menentang reformasi hukum yang serius.

Untuk menyebut contoh, KY melaporkan bahwa mereka telah

menerima tentang 1.556 kasus pelanggaran oleh hakim (2008) dan 212

kasus sudah ditangani. MA sama sekali tidak menangani dari 27 kasus yang

diterima. Sementara KPK adalah yang paling efektif karena mencatat rekor

yang nyaris sempurna di pengadilan meskipun menola untuk meloloskan

kasus-kasus yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi. Bukti keefektifan KPK

dapat dilihat dari serangan sengit pihak kepolisian, DPR, dan kejaksaan,

termasuk ancaman balas dendam dan penuntutan terhadap pejabat KPK.

Lembaga DPR juga melancarkan serangan. UU Pengadilan Tindak Pidana

Korupsi yang disahkan bulan September 2009 memberi wewenang kepada

Ketua Pengadilan untuk memilih hakim-hakimnya, yang mungkin akan

mengurangi jumlah penunjukkan hakim ad hoc yang independen.

Pertanyaan yang segera diajukan, “Bagaimanakah konteks kenyataan

pembentukan badan dan komisi negara, terutama yang berhubungan dengan

hukum, dalam konteks reformasi peradilan? Apakah memberikan sumbangan

penting atau justru menambah beban baru? Apakah diperlukan konsolidasi

kelembagaan, menata ulang, dan membubarkan badan dan komisi negara

yang tidak efektif atau bagaimana?”





Selaras dengan hasil penelitian KHN, capaian struktur, walaupun

Masalah Independensi-Politik



parsial dan tambal sulam, nampaknya menjadi hasil konkrit yang dapat

dibaca dalam reformasi kekuasaan kehakiman. Dengan amandemen UUD

1945 maka kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh MA dan MK.21 Selain itu

dibentuk juga KY yang bertugas mengusulkan pengangkatan hakim agung dan

menegakkan kehormatan dan keseluruhan martabat serta menjaga perilaku

hakim.22 Pengadilan diubah menjadi “sistem satu atap” karena dilepaskan

urusan non-yudisial hakim dari departemen kehakiman.23 Namun, dalam

21

UUD 1945 Pasal 24A dan 24C.

22

UUD 1945 Pasal 24B dan UU No. 22/2004. Namun UU No. 22/2004 ini telah direview oleh MK

dalam Putusan No. 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006 atas permohonan 31 hakim

agung. Para pemohon itu, antara lain Hakim Agung Abbas Said, yang ironisnya beberapa waktu

lalu terpilih sebagai anggota KY dan nampaknya dijagokan untuk menduduki posisi Ketua.

23

UU No. 35/1999 yang melaksanakan Ketetapan MPR No. X/MPR/1998.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 176



perubahan ini masalah independensi hakim dari masyarakat dan para pihak

tidak termasuk yang menjadi pertimbangan dalam konsep perubahan MA

satu atap ini. Termasuk bagaimanakah bentuk transparansi dan akuntabilitas

dalam menjalankan kekuasaan mengadili oleh kelembagaan pengadilan

sehingga tetap mendapat kepercayaan masyarakat.

Ini kembali mencuatkan suatu pertanyaan klasik: apakah kemandirian

itu pada lembaganya yakni pada pengadilan ataukah pada hakimnya. Sebab,

bila dihadapkan dengan pilar kekuasaan lain yang secara konstitusional dikenal

yaitu kekuasaan legislasi dan kekuasaan eksekutif maka padananannya ialah

kekuasaan yudikatif. Independensi kekuasaan kehakiman adalah kemandirian

hakim ketika mengadili suatu perkara dan lembaga pengadilan (judiciary)

berhadap-hadapan dengan kekuasaan lembaga legislatif dan eksekutif

(“that the judiciary is independent of the executive and legislature, and has

jurisdiction, directly or by of review, over all issues of the judicial nature”).24 Bila

yang pertama sudah menjadi konsep hukum, akan tetapi yang kedua tetap

masih merupakan konsep politik. Namun menurut Aharon Barak, “These two

foundations are cumulative. Neither is sufficient by itself.”25 Dengan demikian

politik harus tetap menjaga kemandirian kekuasaan itu di samping hakim itu

sendiri ketika sedang mengadili perkara, maka barulah lengkap makna dari

independence of judiciary itu.

Dalam perspektif sempit, independen sudah dicapai sejak reformasi

1999, tetapi dalam perspektif luas, dalam pola integrity justice system,

“berhadap-hadapnnya eksekutif dan legislastif sekaligus dengan kekuasaan

kehakiman di Indonesia masih sangat rawan.” Ketika kepolisian (sebagai judicial

police),26 jaksa agung (dan jaksa & kejaksaan)27 di bawah Presiden, rekrutmen

yang melibatkan DPR; demikian juga dengan lembaga-lembaga independen

as a controlling legal agency seperti semacam Komisi Kepolisian Nasional,

Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bertemunya lembaga-lembaga itu dengan Presiden dan DPR (terutama dengan

Komisi Hukum, yang mayoritas diisi oleh para pengacara), amat rawan untuk

terjadinya arena persaingan dan arena transaksi yang mengikis penegakan

hukum.28 Oleh karena itu, dengan amatan yang berbeda, saya menyetujui

24

Aharon Barak, 2006, The Judge in A Democracy, Princenton, Pricenton University Press, hlm. 77.

25

Ibid., hlm. 129.

26

Ketetapan MPR No. VI/MPR/2000 dan Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000, juga UU No.

2/2002.

27

UU No. 16/2004.

28

Persoalan “perselisihan” Presiden, DPR, Kepolisian, dan Kejaksaan, dalam penangangan

kriminalisasi Pimpinan KPK sejak paruh kedua 2009 mencuatkan fenomena itu. Amat kentara

bagaimana omission, pembiaran, Presiden dan DPR, melawan teriakan kencang dari publik

untuk menghentikan kasus itu sama sekali tidak digubris. Penanganan di luar hukum dengan

aroma politik yang tinggi, rentang antara popularitas dengan desakan koalisi, menjadi pilihan

yang tidak menyenangkan, dan menjadi saksi kelam mekanisme rule of law, yang dicirikan

dengan the indepency of judiciary.

177 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



argumen bahwa reformasi kekuasaan kehakiman hanya bersifat tambal sulam,

bukan dengan membaca keseluruhan persoalan secara menyeluruh.

Seperti ditulis oleh Aharon Barak, “the judicial branch should not

determine its own budget: the judicial branch’s budget should be set by



accounting of the way it is run.”29 Sekarang kekuasaan kehakiman, sejak

legislative branch, and the judicial should give the legislative branch an



reformasi mengendalikan sendiri soal organisasi, administrasi, dan finansial.

Ada 2 sisi, ketika menentukan anggaran dan bertemu DPR, sekali lagi akan

“membuka arena persaingan dan arena transaksi yang mengikis penegakan

hukum.” Di Belanda, pengelolaan the judicial branch’s budget dilakukan dengan

mengintrodusir satu lembaga yaitu Council for the Judiciary, yang antara

lain berfungsi untuk “preparing the budget for the judicial organization, the

granting of budgets of to the courts, the support of the management of the courts,

the supervision of the implementation of the budget by the courts and of the



appoinment and training of staff of the courts.30 Di Indonesia sejak amandemen

management, as well as national activities in the area of recruitmen, selection,



UUD 1945 mengadopsi KY, tetapi berbeda dengan Council for the Judiciary di

Belanda, lembaga ini hanyaberwenang mengusulkan pengangkatan hakim

agung ke DPR dan menegakkan kehormatan dan keseluruhan martabat serta

menjaga perilaku hakim.31 Jadi, KY tidak mengelola anggaran dan mengawasi

penggunaannya oleh badan peradilan. Tetapi, soal urusan administrasi dan

finansial akan potensial dapat mengganggu tugas pokok MA.

Pemberian tunjangan remunerasi penting untuk menjadi bagian

reformasi birokrasi, tetapi apakah serta merta mampu mengikis praktik KKN

di peradilan?32 Kemudian, akankah layanan diskriminasi hukum tidak akan

terjadi lagi?33 Nampaknya, akuntabilitas tetap luput dari jangkauan reformasi

kekuasaan kehakiman tersebut.





Reformasi struktur sebetulnya masih mengoper prinsip-prinsip

Prinsip Lama, Wadah Baru



yang sudah ada sejak UU No. 14/1970. Pertama, pengadilan menerapkan

dan menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila.34 Kedua,

29

Op.cit., hlm. 121.

30

Anthony Hol, 2004, Reshaping Justice, Judicial Reform and Adjudication in the Netherlands,

Maastricht, Shaker Publishing BV, hlm. 17-19.

31

Lihat Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945.

32

Lihat saja kasus Harini Wiyoso, kasus hakim Ibrahim, dan pengakuan Abbas Said, hakim

agung, saat menjalani fit and proper test di DPR mengenai masalah ini. Yang terakhir kasus

Muhtadi Asnun, Ketua Pengadilan Negeri Tangerang, yang terbukti menerima uang dari Gayus

HP. Tambunan sebesar Rp. 50 Juta untuk jasanya memberikan vonis bebas pada Gayus, ketika

Asnun menjadi Ketua Majelisnya. (Kompas, 10 Desember 2010).

33

Lihat kasus 2 janda pensiunan pegadaian, kasus Nenek Minah, dan kasus Prita, yang mana di

tengah reformasi peradilan justru mengoyak-oyak perasaan keadilan masyarakat.

34

Pasal 3 ayat (2) UU No. 4/2004 dan Pasal 2 ayat (2) UU No. 48/2009.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 178



pengadilan tidak boleh menolak perkara.35 Ketiga, segala putusan pengadilan

harus memuat dasar dan alasan yang jelas.36 Keempat, hakim wajib menggali

nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.37 Jadi, prinsip lama dihidupkan

kembali dalam wadah baru. Namun, kelembagaan dalam pengadilan untuk

melaksanakan semua hal yang sudah menjadi ketentuan ini tidak pernah

diadakan. Dengan kata lain, “bagaimanakah mekanisme semuanya ini dapat

terwujud nantinya dalam suatu putusan khususnya, dalam pengadilan belum

ditemukan konsep kelembagaannya dalam konsep hukum acara.38

Penelitian KHN juga menunjukkan bahwa akibat dukungan SDM dan

sistem teknologi informasi yang belum memadai, yurisprudensi seperti

terlewatkan dalam reformasi kekuasaan kehakiman. Dalam kasus Indonesia,

MA adalah “top peradilan”, karena merupakan satu-satunya kasasi untuk

mengadili semua perkara bagi 4 lingkungan peradilan yang ditetapkan dalam

UUD 1945.39 Ini berbeda dengan kasus di Jerman, Prancis, Belanda, dan Belgia,

yang menampakkan divergensi MA dan droit administrative, di mana posisi

MA tidak identik sebagai badan peradilan tertinggi umum dari negara-negara

tersebut. Tetapi dalam pelaksanaannya, konsistensi MA sebagai judex jurist

tidak terjadi akibatnya, kongesti pemeriksaan perkara di MA terus menerus

terjadi dan pada saat yang sama tidak muncul yurisprudensi baru. Dengan

keadaan yang demikian maka sekaligus MA bukan lagi sebagai institusi di

mana its supremacy as the sole source of the law melainkan sudah menjadi

peradilan tingkat ketiga, setelah PN dan PT. Sebagai konsekuensinya, selain

tidak muncul yurisprudensi baru, juga pada saat yang sama penumpukan

perkara yang berkesinambungan terjadi luar biasa.

Menumpuknya perkara di Mahkamah Agung berdasar data statistik

Januari s.d. Desember 1998, khusus perkara perdata umum, menggambarkan

keadaan sebagai berikut: tunggakan perkara tahun sebelumnya 9.518

perkara; permohonan kasasi baru 5.165 perkara. Dengan banyaknya perkara

tersebut, hakim agung bidang perdata umum hanya mampu memutus

3.782 perkara, jauh di bawah jumlah perkara baru yang masuk. Sehingga

tunggakan perkara perdata umum meningkat menjadi 10.901 perkara.

Sedangkan secara keseluruhan seluruh tunggakan perkara (perdata umum,

perdata agama, pidana umum dan militer, dan tata usaha negara) berjumlah

13.743 perkara. Dalam tahun anggaran 1999/2000, Mahkamah Agung

35

Pasal 16 ayat (1) UU No. 4/2004 dan Pasal 10 ayat (1) UU No. 48/2009.

36

Pasal 25 ayat (1) UU No. 4/2004.

37

Pasal 28 ayat (1) UU No. 4/2004 dan Pasal 5 ayat (1) UU No. 48/2009.

38

Dalam peradilan pidana misalnya, di samping KUHAP, ada beberapa ketentuan hukum acara

yang diatur di luar kodifikasi dalam perundang-undangan sektoral seperti UU No. 2/2002

tentang Kepolisian Negara, UU No. 16/2004 tentang Kejaksaan, UU No. 18/2003 tentang

Aadvokat, UU No. 39/1999 tentang HAM, UU No. 30/2002 tentang KPK, UU No 3/1997

tentang Pengadilan Anak, UU No. 15/2003 tentang Terorisme, dan UU No. 31/2004 tentang

Perikanan.

39

Oemar Seno Adji, 1980, Peradilan Bebas Negara Hukum, Jakarta, Erlangga, hlm. 179.

179 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



mempunyai sisa awal tunggakan sebanyak 12.633 ditambah perkara yang

masuk pada awal tahun sejumlah 664 perkara. Dari jumlah itu, sebanyak

1.485 sudah diputuskan dengan 164 perkara dikabulkan dan 1.321 ditolak.

Sisa tunggakan sampai Februari 2000 sebanyak 11.812 perkara,40 pada bulan

November 2000 menjadi 12.870,41 pada bulan September 2001 tunggakan

perkara telah menjadi 16.233.42 Pada Januari 2006 tunggakan perkara 15.974

padahal setiap tahunnya rata-rata 7.500 kasus yang masuk ke Mahkamah

Agung. 43Pada tahun 2007 perkara masuk 9516 tunggakan perkara12025;

tahun 2008 perkara masuk 11.338 tunggakan perkara 10.827; tahun 2009

perkara masuk12540 tunggakan perkara 8280; tahun 2010 perkara masuk

21.00 perkara tunggakan perkara 9.370.

Sehingga telah terjadi fenomena ‘politik penumpukan perkara’44 untuk

‘menyandera’ pemerintah dan DPR. Karena dengan dalih penumpukkan

jumlah perkara di MA sehingga mendorong penambahan jumlah hakim

agung dan perpanjangan usia pensiunnya.45 Penambahan hakim agung

tidak berdasarkan suatu regulasi tetapi hanya menurut perkiraan reaksi

40

Gatra, 22 April 2000.

41

Lihat data perkara secara lengkap dalam Henry P. Panggabean, Fungsi Mahkamah Agung,

Dalam Praktik Sehari-hari, Jakarta, Sinar Harapan, 2001.

42

Kompas, “MA Masih Menunggak 16.233 Perkara”, 2 November 2001.

43

Pernyataan Sekretaris Jendral Mahkamah Agung, Pranowo. Berita TVRI, 11 Januari 2001, Jam

15.00 WIB. Lihat juga Laporan MA Tahun 2005.

44

Dari dulu upaya yang dilakukan untuk mengatasi tunggakan perkara bukan dengan cara

membatasi jumlah perkara yang masuk tapi dilakukan dengan jalan meningkatkan hakim

agung. Anggapan bertambahnya jumlah hakim agung akan menyelesai¬kan jumlah tunggakan

perkara telah menggerakkan ketua Mahkamah Agung, Oemar Seno Adji ( 1974-1981)

menambah hakim agung dari 7 orang (pada masa Ketua MA, Subekti) menjadi 17 orang,

kemudian pada era Mudjono, ketua Mahkamah Agung yang menjabat pada tahun 1982. Dalam

tahun 1982 itu, jumlah hakim agung yang semula 24 orang ditam¬bah 27 orang berdasarkan

Kepres 172/M. Tahun 1982, sedangkan jumlah tunggakan perkara adalah 14.516. Dalam

pemikiran Mudjono, pada waktu menentukan jumlah 51 hakim agung di¬dasar¬kan pada

pertimbangan matematika; satu majelis terdiri dari tiga hakim agung. Setiap majelis, dengan

prakiraan dapat meng¬habiskan 60 perkara per-bulan, diprakirakan dapat menghabiskan

600 perkara per-tahun (satu tahun terdiri dari 10 bulan persidang¬an). Dari 51 orang HA,

tersebut dibentuk 14 majelis, sehingga dalam waktu satu tahun berarti dapat diselesaikan 14

x 600= 8.400 perkara. Dalam perkembangannya prakiraan tersebut ternyata meleset, karena

kenyataannya yang dapat diselesaikan hanya 5.170 perkara per-tahun. Hal ini disebabkan pada

tanggal 25 Nopember 1982 ada seorang hakim yang meninggal, di samping itu ada faktor lain

yang menyebabkan perhitungan tidak tercapai, seperti ada hakim agung yang sakit, mengikuti

seminar, dan pergi dinas ke luar kota/ke luar negeri. Pada tahun 1993, ketika Purwoto S

Gandasubrata diangkat ketua MA, tunggakan perkara yang semakin menumpuk di Mahkamah

Agung juga menjadi beban bagi para hakim agung, pada saat itu masalah tunggakan perkara

mencapai 16.500 kasus. Pemikiran untuk menambah jumlah hakim agung untuk mengikis

tunggakan perkara di Mah¬kamah Agung ini juga yang menggerakkan Yusril Iza Mahendra,

Menegkehham, menyampaikan usulan pada DPR untuk mening¬kat¬kan jumlah Hakim Agung

dari 51 orang menjadi 60 orang. Pada bulan Nopember tahun 2010 jumlah hakim agung telah

mencapai 51 orang, Ketua Mahkamah Agung, Harifin Tumpak, akan mempertimbangkan

menambah hakim agung sampai 60 orang. Hal ini dimungkinkan oleh Pasal 4 ayat (3) UU MA.

45

Setelah melewati perdebatan yang panjang, UU MA 2009 menetapkan batas usia pensiun

hakim agung menjadi 70 tahun.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 180



administratif karena hanya dihubungkan dengan antisipasi jumlah perkara.46

Berdasarkan hal ini, maka penambahan jumlah hakim agung dilakukan atas

inisiatif MA sendiri apalagi tidak ada peraturan yang mengatur mengenai

formasi hakim agung. Dengan penambahan hakim agung, akan membuat

masalah baru, yaitu membengkaknya organisasi, pegawai dan kebutuhan

anggaran MA, menurunnya wibawa jabatan hakim agung atau banyaknya

perbedaan antara majelis dalam memutus perkara sejenis.

Menurut Adi Andoyo Soetjipto,47 mantan Ketua Muda Mahkamah Agung,

dengan jumlah hakim agung yang semakin banyak, masalah mengenai kualitas

putusan pasti akan timbul. Di sini perlu diketahui bahwa ciri sebuah Mahkamah

Agung di manapun di seluruh dunia adalah putusan-putusannya yang uniform.

Uniform berarti bahwa antara putusan hakim agung yang satu dengan yang

lain harus dijaga adanya kesatuan pendapat terhadap dasar hukum yang

dipakai serta bagaimana memutuskannya. Uniformalitas sulit sekali dicapai

apabila hakim agungnya sampai berjumlah puluhan. Pasalnya, antara hakim

agung satu dengan yang lain sukar mencari waktu dan kesempatan untuk

berkomunikasi guna mendikusikan perkara yang ditanganinya. Akibatnya,

masing-masing hakim agung memutus perkara berdasarkan pendapatnya

sendiri yang menurutnya benar (naar eigen goeddenken). Walhasil terdapat

putusan yang beraneka ragam mengenai perkara-perkara yang kasusnya

sama, sehingga sulit dipegang oleh pengadilan bawahan. Menurut Adi Andoyo

Soetjipto, dalam usaha mereformasi Mahkamah Agung, hendaknya jangan

hanya difokuskan pada jumlah tunggakan perkara, tetapi yang lebih penting

adalah mengenai masalah kualitas putusan, mengenai banyaknya praktik

kolusi dan korupsi, dan mengenai semrawutnya administrasi terbukti dari

adanya putusan palsu atau putusan dobel.

Bagi Friedman48 banyaknya kasus yang masuk di pengadilan sudah

menunjukkan indikasi bahwa lembaga itu akan menghadapi suatu krisis.

Friedman selanjutnya mengemukakan beberapa langkah yang hendaknya

diperhatikan untuk mengatasi krisis tersebut. Salah satu langkah yang

disebutnya adalah pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa yang

efisien di luar sistem pengadilan yang berlaku. Secara lengkap langkah-

langkah yang ditawarkan Friedman untuk mengatasi krisis paradigma litigasi

adalah:

1. Meluaskan sistem pengadilan.

2. Penanganan secara rutin dan masal terhadap sengketa-sengketa di bidang

komersial.

46

Pada awal berdirinya MA, jumlah hakim agung adalah 9 orang. Kemudian dengan bertambahnya

perkara ditambah pertama-tama menjadi 19 orang, kemudian 24 orang, 51 orang, dan terakhir

adalah 60 orang.

47

48

Lihat dalan Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, Op.cit, h. 88-89.

Ibid

181 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



3. Penanganan masalah yang sama di luar sidang-sidang pengadilan.

4. Penggunaan atau perluasan penggunaan kebijakan demi penyelesaian-

penyelesaian yang bertujuan untuk mengendalikan arus masuknya

perkara.

5. Pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa yang efisien di luar

sistem pengadilan yang berlaku.

6. Pengundangan peraturan-peraturan atau pengembangan peraturan-

peraturan serupa oleh pengadilan yang tujuannya adalah untuk

menimbulkan efek agar pihak-pihak yang ingin berperkara menjadi gentar

(discourage) dan tidak menggunakan jasa pengadilan.

7. Efek tersebut juga ingin dicapai dengan cara meningkatkan ongkos-

ongkos perkara sedemikian tingginya sehingga cukup untuk menurunkan

perkara yang masuk.

Hal senada dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo,49 menurutnya

meningkatnya kuantatitas arus masuk ke pengadilan saja belum menjamin

peningkatan dalam kualitas keadilan. Oleh karena itu, agar gerakan

pemerataan keadilan bisa terwujud sebaiknya juga memikirkan tentang

bagaimana meningkatkan kualitas yang demikian itu. Dengan demikian kita

tidak cukup puas dengan melihat, bahwa sengketa telah dilayani pada forum-

forum yang resmi, melainkan dikehendaki, agar pemerataan tersebut juga

meliputi peningkatan kualitas hubungan-hubungan transaksi yang dilakukan

oleh orang-orang yang terlibat di situ.

Khusus di bidang pidana, Skolnick50 telah melakukan suatu studi

cara-cara melepaskan diri dari beban tekanan perkara melalui pemanfaatan

lembaga plea of quilty51 secara maksimal. Dengan lembaga ini di mana

terdakwa mengaku salah, perkara-perkara pidana dapat diselesaikan dengan

cepat dan dalam jumlah banyak sekali. Oleh para pejabat yang begerak di

49

Satjipto Rahardjo, “Bantuan Hukum Sebagai Sarana Pemerataan Keadilan”, Dalam Muladi dan

Sulaiman, Masalah-masalah Bantuan Hukum Oleh Pegawai Negeri, Semarang, FH.UNDIP, 1984,

hlm. 45.

50

Skolnick, Op.cit., hlm.13.

51

Lihat pemahaman secara lengkap dalam Albert W. Alschuster, “Plea Bargaining and Its History”,

dalam Richard L. Abel, The Law and Society, New York, New York University Press, 1995, hlm.

138-160. Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, Bandung Binacipta, 1996, hlm. 106-

119. Lihat juga Milton Heumann and Colin Loftin, “Mandatory Sentencing and the Abolition

of Plea Bargaining: The Michigan Felony Firearm Statute”, dalam Richard L.Abel, The Law and

Society, New York, New York University Press, 1995, hlm. 185-212. Kasus pengakuan bersalah

biasanya dimanfaatkan untuk saling bernegosiasi antara Jaksa/Hakim dengan tersangka. Hal

ini dilakukan atas dasar win-win solution, bagi jaksa/hakim proses ini telah menghindari proses

persidangan yang berbelit-belit atau meringankan pekerjaannya, sedangkan keuntungan bagi

tersangkanya adalah adanya pengurangan atau pengganti hukuman. Contoh aktual tentang

hal ini, adalah adanya pengakuan bersalah yang dilakukan James Riady di Kejaksaan Los

Angeles, atas perbuatannya yang telah memberikan satu juta dollar AS pada tahun 1992

untuk mendukung kampanye Clinton. Berdasarkan kesepakatan bersalah itu, James Riady

diwajibkan membayar denda sebesar 8,6 juta dollar, tapi lepas dari jerat pidana penjara. Lihat

Kompas, “James Riady Bisa Tarik Pengakuan Bersalahnya”, 22 Januari 2001.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 182



bidang pidana, lembaga tersebut sering dilihat sebagai cara yang dapat dipakai

untuk mengatasi persoalan keterbatasan fasilitas pengadilan. Dalam bukunya

itu, Skolnick mengutip pendapat seorang hakim yang mempertahankan

keputusannya untuk menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada mereka

yang menolak untuk “mengaku salah” dengan mengatakan, bahwa apabila

248 orang hakim dalam satu tahun harus menyelesaikan 35.517 perkara

pidana, maka tidak ada jalan lain kecuali pengadilan mendorong orang untuk

“mengaku salah”. Salah satu jalan untuk dapat mendorong pengakuan salah

itu adalah dengan mengumumkan kebijakan, bahwa dalam hal-hal yang biasa

maka kepada mereka yang menghendaki agar perkaranya dibawa ke depan

pengadilan, tidak akan diberikan keringanan dalam penghukuman.

Sehubungan dengan itu, MA hanya mencatat bahwa masalah yang

dihadapi sehubungan dengan manajemen perkara mencakup: (i) kelemahan

sistem rekrutmen Hakim Agung; (ii) kelemahaman manajemen perkara; (iii)

kelemahaman dalam sistem pengawasan terhadap integritas dan produktivitas

Hakim Agung, dan (iv) kurang memadainya dukungan sarana, serta hukum

acara.52 Dalam hal ini, MA tidak melihat pada posisinya yang telah menjadi

instansi ketiga yaitu judex factie sekaligus. Berbagai laporan tahunan yang

diterbitkan oleh MA, seperti diakui dalam penelitian KHN, tidak memaparkan

program yang sudah dijalankan akan tetapi lebih kepada aspek administrasi

saja. Dalam laporan itu tidak ditemkan sebagaimana laporan MA Prancis,

yang memuat masalah hukum utama yang dihadapi sepanjang tahun dan

menerbitkan saran-saran hukum kepada legislatif dan eksekutif. Pada saat yang

sama menyediakan putusan yang telah dikomentari (anotasi) dunia akademik

sebagai temuan hukum sebagai yurisprudensi untuk diketahui masyarakat.





Di dalam sistem peradilan kontemporer Indonesia juga mengenal

Masalah Hakim Ad-Hoc



hakim ad hoc, yaitu hakim yang bukan didik dan berkarir secara khusus

menjadi hakim (termasuk dalam UU No. 48 Tahun 2009). Sebenarnya bukan

hal baru, karena setelah kemerdekaan hakim ad hoc bisa ditemukan pertama-

taam dalam lingkungan PTUN. Jauh sebelumnya, dalam pengadilan landraad

sebagai anggota mendampingi hakim karir, disebut lid-landraad dan hakim

pedamaian desa dalam peradilan desa.53 Kemudian secara berturut-turut

hakim ad hoc diadakan lagi di lingkungan peradilan umum yaitu pengadilan

niaga, pengadilan HAM, pengadilan Tipikor, pegadilan Hubungan Industrial,

pengadilan perikanan; serta di lingkungan PTUN, yaitu pengadilan TUN dan

pengadilan pajak. Sejak reformasi, dengan membaca undang-undang terkait,

keberadaan hakim ad hoc belum mengacu kepada konsep tertentu. Kemudian,

52

MA RI, 2003, Cetak Biru Pembaruan Mahkamah Agung RI, Jakarta, hlm. 9-10.

53

R. Soepomo, 1982, Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia II, Jakarta, Pradnya

Paramita, hlm. 56.

183 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



kedudukan hakim ad hoc yang suda ada dalam lingkungan peradilan itu tidak

seragm pula. Berbagai undang-undang memberikan penjelasan yang berbeda

mengenai eksistensi hakim ad hoc ini. Pertama, karena sematamata keperluan

“keahlian khusus” dalam memeriksa dan memutus perkara sesuai sifat

pengadilan khusus dalam perkara hukum tertentu.54 Kedua, karena alasan

perlunya “kepedulian” dalam proses pengambilan keputusan, yang tentu saja

ini merupakan syarat yang bersifat politik.55 Ketiga, partispasi dalam proses

peradilan.56

Dikaitkan dengan reformasi kekuasaan kehakiman sejumlah perta-

nyaan perlu dikemukakan. Pertama, mengapa diantara 4 lingkungan

peradilan hanya peradilan umum dan peradilan TUN yang terdapat hakim ad

hoc? Kedua, mengapa hakim ad hoc tidak diadakan di PN yang memeriksa

perkara pidana atau perdata di lingkungan peradilan umum? Ketiga, mengapa

sistem kelembagaan pengadilan yang ada kurang berfungsi dalam mencapai

tujuannya untuk memberikan keadilan, yang telah dicoba dilakukan dengan

memperkenalkan hakim ad hoc? Hakim ad hoc juga pejabat negara, sama

dengan hakim karir, tetapi diadakan hanya dalam pengadilan khusus. Dapat

dikatakan, hakim ad hoc muncul “diam-diam” karena tidak menemukan

uraian lengkap baik dalam kepustakaan maupun uraian undang-undang.

Sekalipun dalam konteks konsep dipertanyakan, tetapi apresiasi publik,

misalnya dalam kasus Pengadilan Tipikor, tetap tinggi. Dalam mengadili suatu

perkara, hakim ad hoc lebih banyak dari hakim karir, walaupun dalam majelis

selalu hakim karir yang menjadi ketua. Sejauh ini Pengadilan Tipikor telah

menangani cukup banyak perkara, termasuk perkara yang tidak menerima

putusan dalam tingkat pertama dan kemudian naik banding ke PT dan

kasasi ke MA. Selama ini juga tidak ada kasus korupsi yang divonis bebas di

pengadilan ini, suatu kecenderungan diametral jika dibandingkan dengan

banyak vonis bebas perkara korupsi di pengadilan negeri dan pengadilan

tinggi. Konsep mayoritas hakim ad hoc, menyebabkan hakim ad hoc selalu

cenderung menghukum dan dengan hukuman yang berat pula, berhadapan

dengan disseting opinion hakim karir. Ada kesan, kehadirannya merupakan

fasilitasi “kemarahan” publik yang diindikasikan dalam berbagai pemberitaan

kasus korupsi. Artinya, keberadaan hakim ad hoc, terutama dalam perkara

tipikor, belum “dibentuk dalam kerangka reformasi kekuasaan kehakiman.”

Pembentukannya lebih reaktif daripada konseptual. Keahlian yang menjadi

alasan utama dalam pembentukan hakim ad hoc yang ada sekarang ini adalah

samar-samar dan tumpang-tindih dengan ahli sebagai alat bukti.

54

UU No. 51/2009 tentang PTUN dan UU No. 37/2004 tentang Pengadilan Niaga.

55

UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM.

56

UU No. 2/2004 tentang Pengadilan Hubungan Industrial, yaitu organisasi pekerja dan

pengusaha berpartisipasi untuk memasukkan ke dalam daftar calon yang akan menjadi hakim

ad hoc kelak.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 184



Sebagai instrumen peningkatan public trust, fungsi hakim ad hoc yang

ada juga dipertanyakan. Selain karena dilihat dari duduknya hakim karir dan

hakim ad hoc tidak terpisah yakni tetap dalam satu majelis, juga kualifikasi

menjadi hakim ad hoc dengan hakim karir sama. Dengan kata lain, “struktur

dasar pengadilan khusus sekalipun sudah ada hakim ad hoc, belum berubah

sama sekali karena masih tetap sama dengan pengadilan pada umumnya.”

Bagaimanakah masalah ini dikaitkan dengan reformasi kekuasaan

kehakiman? Mungkinkah posisi hakim ad hoc direnovasi kedudukan dan

perannya, misalnya dengan 2 alternatif kemungkinan, pertama, dalam

bentuk majelis yang terpisah dengan hakim karir yang berarti ada pemilahan

tugas dan tanggung jawab, atau kedua, tetap dalam satu majelis dalam satu

pengadilan kolaboratif tanpa pemisahan tugas dan tanggung jawab?





Sistem rekrutmen hakim di Indonesia banyak dipengaruhi oleh sistem

Rekrutmen Hakim dan Pendidikan Hukum



rekrutmen negara Eropa Kontinental (Civil Law System).57 Dalam sistem ini,

calon hakim diambil dari sarjana hukum (freshgraduate). Sistem demikian

berbeda dengan sistem rekrutmen yang ada di negara-negara Anglo

Saxon (Common Law System) di hakim direkrut dari sarjana hukum yang

berpengalaman. Pada posisi demikian peranan Fakultas Hukum, di samping

Fakultas Syariah, memiliki posisi yang penting. Dalam pidato pengukuhan

jabatan guru besar, saya juga menekankan pentingnya peran fakultas hukum

sebagai institusi sumber rekrutmen profesi hukum khususnya hakim.58

Fakultas Hukum59 sebagai pelaku pengembanan hokum teoritis

dan salah satu lembaga yang strategis untuk menopang reformasi hokum,

sebaiknya secara terstruktur menyusun program kerja untuk ikut mengambil

peran membantu reformasi kekuasaan kehakiman. Untuk itu Fakultas

Hukum harus mempunyai visi dan misi yang mampu meramu antara tujuan

program studi ilmu hukum sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0325/U/199460 dengan tuntutan

57

Pulus Efendie Lotulung, “Membangun Sistem Pendidikan dan Pelatihan Hakim, makalah

Lokakarya “Membangun Sistem Pendidikan dan Pelatihan Hakim”, Jakarta, KHN, 5 Juli 2005.

58

Adi Sulistiyono, “Upaya dan Strategi Pembangunan Hukum Ekonomi Untuk Mendukung

Pencapaian Visi Indonesia 2030”, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, November 2007,

Universitas Sebelas Maret.

59

Menurut hasil studi tentang perkembangan hokum Indonesia yang didanai oleh Bank Dunia

(1996), terdapat lebih dari 200 lembaga pendidikan tinggi hokum di Indonesia yang mampu

meluluskan sekitar 13.000 sarjana hokum setiap tahun. Lihat, Sidharta, op.cit., h. 345.

60

Tujuan Program studi ilmu hukum, yakni menyiapkan peserta didik menjadi sarjana hukum

yang menguasai hukum Indonesia; menguasai dasar ilmiah dan dasar kemahiran kerja untuk

mengembankan ilmu hukum dan hukum; mengenal dan peka terhadap masalah keadilan

dan masalah kemasyrakatan; mampu menganalisis hukum dalam masyarakat; serta mampu

menggunakan hukum sebagai sarana untuk memecahkan masalah kemasyarakatan dengan

bijaksana dan berdasarkan atas prinsip hukum.

185 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



reformasi hokum yang ditawarkan World Bank61, dan keberadaan Pasal 33

UUD 4562. Untuk mewujudkan visi dan misi fakultas hukum semacam itu

tidak mudah, karena selama ini sistem pendidikan tinggi hukum yang dianut

Indonsia cenderung sistem civil law, yang lebih menekankan kepada metode

pengajaran yang bersifat doktrinal.63 Dalam hal ini materi yang diberikan

adalah isi pasal-pasal dari suatu perundang-undangan dengan metode

pengajaran cenderung monolog. Dalam sistem ini peranan dosen sebagai

nara sumber dan dukungan perpustakaan yang modern dan lengkap sangat

sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum.





Pengadilan, sebagai tiang utama penyangga paradigma litigasi,

Paradigma Moral



sebenarnya hanya merupakan artifisial dari sekumpulan hakim-hakim yang

berdasarkan amanat undang-undang dipercaya menyelesaikan sengketa/

konflik. Berdasarkan hal itulah maka bagian ini juga akan memberikan

tempat untuk mengulas tentang andilnya hakim pada kerusakan pengadilan.

Ulasan tentang hal ini hanya memfokuskan pada keterbatasan pengetahuan

hukum para hakim dalam menyelesaikan sengketa, rendahnya moralitas

hakim, dan adanya kolusi dan korupsi di kalangan hakim, yang semuanya

berdampak pada kualitas putusan atau vonis hakim yang membingungkan

pencari keadilan.

Oleh karena itu, baik buruknya citra pengadilan ditentukan oleh

kinerja hakim-hakim yang bekerja di dalamnya. Walaupun secara teori

61

Secara umum, dalam melakukan asistensi proyek reformasi hukum, biasanya desain yang

ditawarkan oleh Wold Bank akan diarahkan pada beberapa hal berikut: (1) communicating

laws more effectively; (2) ensuring the consistency of laws; (3) addressing constraints to the

implementation of laws; (4) updating legal systems; (5) training the judiciary in business and

economic laws; (6) encouraging extra-judicial alternatives when legal systems are overburdened

(misalnya: arbitrasi perniagaan, dan alternative disputes settlements mechanism).

62

PASAL 33 UUD 45

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama bdr atas asas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yg penting bagi negara dan yg menguasai hajat hidup orang banyak

dikuasai oleh negara.

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan

digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip

kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,

serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional (hasil

amandemen keempat).

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang (hasil

amandemen keempat).

63

Menurut Soetandyo Wignjoseobroto, metode doctrinal cenderung menggunakan ide in

abstracto sehingga banyak menggunakan silogisme deduktif. Artinya, yang utama bagi kajian

ini adalah memaparkan aspek-aspek normative dari hokum, sekaligus mengasumsikan

seluruh perilaku masyarakatnya bertumpu pada aturan tersebut. Dengan demikian yang

penting adalah kajian terhadap aturan-aturan noramtif yang (dianggap) berlaku pada banyak

masyarakat. Diskusi lebih lanjut sol ini, lihat: Soetandjo Wignjoseobero, Hukum Paradigma,

Metode, dan Parmasalahannya, Jakarta, ELSAM dan HUMA, 2002.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 186



hakim menempati tempat yang terhormat dalam jalur litigasi, sebagaimana

diungkapkan oleh R. Dworkin, judges are its princes of law’s empire64.

Sedangkan menurut Berman, hakim mempunyai status yang tinggi di

pengadilan, maupun arti yang penting dari banyak persoalan-persoalan yang

diajukan untuk keputusan yang berhubungan dengan pengadilan, membantu

membenarkan kepercayaan bahwa hakim tidak hanya seorang pegawai

negara tetapi bahwa ia juga tunduk kepada suatu pihak yang berwenang

yang lebih tinggi daripada negara. Ia tidak berada di bawah manusia tetapi

di bawah hukum dan di bawah Tuhan65. Namun demikian dalam alam nyata,

kita menyadari bahwa hakim adalah manusia biasa ciptaan tuhan yang

mempunyai resistensi yang terbatas ketika menghadapi pengaruh-pengaruh

dari luar66. Pengaruh dan tekanan dari luar yang mempengaruhi hakim inilah

yang sering menjadi faktor utama yang menjadi penyebab penyelesaian

sengketa melalui pengadilan seringkali menghasilkan putusan yang tidak

selaras dengan nilai keadilan masyarakat.

Di sini tahapan dan aktivitas reformasi hukum harus dibasuh dengan

pendekatan moral. Paradigam moral ini relevan dengan kelembagaan

pengadilan. Sekadar catatan bahwa dalam tataran praktis pertanyaan tentang

hubungan moral dan hukum ini sering bercampur dengan praktik pengadilan

yang menyimpang, suatu hal yang tidak berhubungan langsung dengan uraian

ini. Sekalipun begitu, tetap saja sering tidak bisa dibedakan antara hukum

yang buruk atau praktik hukum yang buruk.

Dalam kaiatan antara hubungan moral dan hukum ini, Bruggink67

mengatakan bahwa kaidah hukum adalah derivasi dari moral. Dengan kata

lain hukum senantiasa bertumpu pada kaidah moral karena kaidah moral itu

adalah kaidah yang terpenting diantara semua kaidah yang ada. Oleh karena

itu, antara hukum dan moral adalah dua tatanan yang dalam banyak hal saling

tumpang tindih.

Dalam aktivitas pengadilan, yang berarti penanganan perkara hukum

konkrit, maka hukum merupakan serangkaian fakta yang spesifik, sehingga

antara hukum (baca: undang-undang) dengan kasus selalu ada jarak (a

simetris) sehingga memelukan pencarian makna. Dalam proses ini inilah

maka moralitas hakim menjadi penting. Pada tataran praktis, pencarian itu

melalui intepretasi dan konstruksi hukum, yaitu cara untuk mengetahui

dan memastikan hukum dari suatu kasus. Bila dalam pemberian makna

itu lebih banyak menggunakan diskresi dari pemahaman hakim mengenai

64

Ronald Dworkin, Loc.cit

65

Harold J. Berman. Op.cit., h.271

66

Untuk melihat pengaruh lingkungan terhadap penegak hukum lihat William J. Chambliss

& Robert B. Seidman, Op.cit., Lihat D.S. Lev. Op.cit, hlm. 118. Lihat juga J.H. Skolnick, Op.cit.,

hlm.15.

67

J.J.H. Bruggink, 1996, Refleksi Tentang Hukum (Alih bahasa oleh Arief Sidharta), Bandung, Citra

Aditya Bakti, hlm. 223-263.

187 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



hukum, maka dapat disebut hukum yang demikian sebagai the invisible

justice system. Kenyataan yang demikian melahirkan dalil: bukanlah paham

tentang hukum yang keliru, melainkan karena adanya deviasi dari hakim

dalam mencari makna untuk menutupi kesenjangan antara hukum dan kasus.

Bagaimanapun, peradilan adalah proses pergulatan melawan kemanusiaan.

Dengan demikian, pelembagaan moralitas hakim amat penting dalam capaian

reformasi peradilan.

Dengan matrik di bawah ini Satjipto Rahardjo68 mempertegas

perbedaan yang mendasar antara nilai-nilai yang dibawa Rule of Law dan

Rule of Moral.





1. Penyelesaian konflik 1. Perdamaian

Rule of Law Rule of Moral



2. peraturan perundang-undangan 2. Moral, keadilan

3. Prosedur 3. Empati

4. Kebenaran hukum (legal justice) 4. Kebenaran substantif

5. Birokrasi 5. Komitmen

Artikulasi nilai-nilai masyarakat Indonesia yang dikemas dalam

doktrin Rule of Moral atau paradigma hukum harmoni model Satjipto Rahardjo

ini merupakan gagasan cerdas yang patut disebarluaskan di lingkungan

masyarakat. Sehingga masyarakat akan menyadari kekeliruannya bahwa

nilai-nilai yang selama ini diabaikan ternyata mempunyai derajat yang tidak

kalah bila dibandingkan dengan nilai-nilai masyarakat liberalis yang dikenal

sebagai Rule of Law.

Penggunaan nilai-nilai Pancasila dalam paradigma hukum di atas

barangkali untuk dewasa ini tidak populer.69 Namun dalam konteks pemetaan

hubungan moral dan hukum yang sudah disinggung di atas, maka akan terbaca

relevansi nilai-nilai Pancasila dalam hubungannya dengan hukum.





Saya percaya, dan seperti dikatakan oleh mantan Ketua MA, Bagir

Penutup



Manan, bahwa pencapaian pengadilan yang berwibawa merupakan “suatu

pencarian”, ketimbang suatu pengkajian. Oleh karena itu, sekalipun saya

mempertajam dengan beberapa fokus isu terhadap hasil penelitian KHN ini,

tetapi saya tetap memandang sebagai suatu riset yang penting. Ancangan

68

Satjipto Rahardjo, “Transformasi Nilai-nilai dalam Pembentukan Hukum Nasional”, 1996, hlm.

16.

69

Dalam sebuah kesempatan, almarhum Prof.Dr. Kuntowijoyo, M.A., guru besar sejarah

Universitas Gadjah Mada yang juga seorang budayawan, menengarai bahwa diperlu¬kan

“penafsiran radikal” terhadap Pancasila sebagai salah satu solusi mengatasi krisis kenegaraan

dewasa ini di Indonesia. Secara simetris, apa yang dilakukan Satjipto Rahardjo di atas

barangkali berkesebandingan dengan pendapat Prof. Kuntowijoyo tadi.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 188



kebijakan dan penelitian kinerja kebijakan, memang masih menjadi sesuatu

yang langka dalam aktivitas keilmuan.

Reformasi kekuasaan kehakiman hendaknya tidaklah dibatasi kepada

upaya pembaruan sistem peradilan belaka, namun juga menjangkau justice

system. Tujuan utama adalah untuk mencapai keadilan, demi tuntutan

idealitas rechsstaat sebagaimana amanat UUD 1945. Jangan sampai capaian

kebijakan menciptakan cordunum, menciptakan jurang yang menganga antara

gagasan dengan realita kinerja. Jangan pula reformasi kekuasaan kehakiman

justru menghasilkan ketidakadilan baru yang tentunya amat berbahaya bagi

perkembangan sistem peradilan itu sendiri.







ABNR bekerjasama dengan MKK dan Cyberconsult, 1999, Reformasi Hukum

Daftar Pustaka





Jakarta.

di Indonesia: Hasil Studi Pengembangan Hukum-Proyek Bank Dunia,



Adi Sulistiyono, 2006, Krisis Peradilan di Indonesia, Surakarta, UNS Press.

Adi Sulistiyono, “Upaya dan Strategi Pembangunan Hukum Ekonomi Untuk

Mendukung Pencapaian Visi Indonesia 2030”, Pidato Pengukuhan

Jabatan Guru Besar, November 2007, Universitas Sebelas Maret.

Aharon Barak, 2006, The Judge in A Democracy, Princenton, Pricenton

University Press.

Anthony Hol, 2004, Reshaping Justice, Judicial Reform and Adjudication in the

Netherlands, Maastricht, Shaker Publishing BV.

Benny K. Harman, 1998, Konfigurasi Politik dan Kekuasaan Kehakiman,

Jakarta, ELSAM.

J.J.H. Bruggink, 1996, Refleksi Tentang Hukum (Alih bahasa oleh Arief Sidharta),

Bandung, Citra Aditya Bakti.

Laporan Tahunan MA 2005, Jakarta, 2006.

MA RI, 2003, Cetak Biru Pembaruan Mahkamah Agung RI, Jakarta.

M. Fajrul Falaakh, dkk, 2001, Implikasi Reposisi TNI-Polri di Bidang Hukum,

Jogjakarta, FH UGM.

M. Hadi Subhan, 2008, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di

Peradilan, Jakarta, Prenada Media.

Muladi, “Penataan Lembaga Non Struktural (LNS) dalam Kerangka Reformasi

Birokrasi serta Upaya Formulasi Kebijakan Strategis Kelembagaan

Negara”, Makalah Seminar Nasional di Sekretariat Negara, Jakarta, 22-

24 November 2010.

Oemar Seno Adji, 1980, Peradilan Bebas Negara Hukum, Jakarta, Erlangga.

189 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pulus Efendie Lotulung, “Membangun Sistem Pendidikan dan Pelatihan

Hakim, makalah Lokakarya “Membangun Sistem Pendidikan dan

Pelatihan Hakim”, Jakarta, KHN, 5 Juli 2005.

Pontang Moerad B.M., 2004, Pembentukan Hukum melalui Putusan Pengadilan

dalam Perkara Pidana, Bandung, Alumni.

R. Soepomo, 1982, Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia II,

Jakarta, Pradnya Paramita.

Soetandjo Wignjoseobero, Hukum Paradigma, Metode, dan Parmasalahannya,

Jakarta, ELSAM dan HUMA, 2002.

Sudikno Mertokusumo, 1971, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangannya



Indonesia, Disertasi Doktor, UGM.

di Indonesia Sejak 1942 dan Apakah Kemanfaatannya Bagi Kita Bangsa



Tresna, 1978, Peradilan di Indonesia, Jakarta, Pradnya Paramita.

EVALUASI TERHADAP PELAKSANAAN

REFORMASI KEKUASAAN KEHAKIMAN



Sutanto70





Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka

Pengantar



untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan,

demikian di tegaskan dalam amandemen ketiga UUD Negara RI Tahun 1945.

Di dalam UU No. 48 Tahun 2009 juga dikemukakan “Kekuasaan Kehakiman

adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan

guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD

Negara RI Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik

Indonesia.“

Berbagai program pembaharuan telah dilaksanakan oleh MA

berdasarkan rekomendasi cetak biru 2003 antara lain ;

(1) Program Reformasi Birokrasi dengan fokus Penataan Organisasi,

Perbaikan Tata Kerja, Pengembangan Sumber Daya, Perbaikan Sistem

Remunerasi

(2) Pembentukan Pokja – Pokja Pembaharuan Peradilan

(3) Pengikisan Tumpukan Perkara

(4) Upaya Peningkatan Kualitas Hakim

(5) Perbaikan Sistem Rekruitmen Calon Hakim

(6) Mendorong Keterbukaan Informasi

(7) Penguatan Sistem Pengawasan Internal dan Penguatan Hubungan

dengan Komisi Yudisial

Hasil capaian dari program tersebut memang belum memuaskan , hal

mana tidak terlepas dengan adanya beberapa kendala yang dihadapi MA dan

jajarannya.





Membaca dan menyimak ringkasan penelitian tentang kajian evaluasi

Pembahasan



terhadap pelaksanaan reformasi kekuasaan Kehakiman KHN 2010, secara

garis besar memang demikian adanya. Namun kami akan mencoba memberi

tanggapan atau catatan kecil atas evaluasi tersebut sebagai berikut :

1. Tentang Sumber Daya Manusia di bidang teknologi informasi maupun

tidak seragamnya rancang bangun TI di seluruh jajaran Mahkamah

Agung, adalah merupakan hambatan yang paling dirasakan untuk

mengembangkan pengembangan TI. Di Pengadilan Negeri Surakarta baru

70

Ketua Pengadilan Negeri Surakarta

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 192



memiliki 1 orang yang menguasai TI, sedangkan pekerjaan yang harus

di tangani hampir meliputi seluruh bidang, misalnya untuk menyusun

database tentang :

- Daftar nama orang yang pernah dijatuhi pidana dengan pasal yang

ancamannya 5 tahun atau lebih.

- Daftar tanah-tanah yang dalam penyitaan Pengadilan, dan lain-lain.

Database tersebut diatas untuk meningkatkan pelayanan publik supaya

masyarakat yang membutuhkan data dapat terlayani secara cepat dan

akurat. Sedangkan website yang ada, isinya masih jauh dari harapan,

karena terbatasnya tenaga ahli TI.

2. Tentang TPM (Tim Promosi dan Mutasi) meski belum sesuai dengan

yang diharapkan, tetapi setidaknya para Hakim tidak perlu lagi khawatir

akan bertugas di suatu Pengadilan dalam waktu 5 tahun atau lebih, sebab

saat ini telah tersusun database para Hakim, berapa lama telah bertugas

dan kapan harus di mutasi. Meskipun kami sendiri masih belum tahu

persis tentang parameter obyektif yang dijadikan dasar seorang Hakim

dimutasikan ke suatu tempat atau di promosikan untuk menduduki suatu

jabatan.

3. Silang sikap antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial.

Akibat tidak jelasnya kriteria kewenangan Komisi Yudisial menimbulkan

perbedaan pandangan yang pernah terjadi antara Mahkamah Agung

dengan Komisi Yudisial. Sebagai Hakim di daerah pernah merasakan

keresahan atas kiprah Komisi Yudisial. Bukan resah takut diperiksa, tetapi

lebih takut tentang tata cara pengawasan yang dilakukan oleh Komisi

Yudisial, antara lain :

- Ketika ada anggota masyarakat yang kurang puas terhadap suatu

putusan (yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap) Komisi

Yudisial langsung meminta salinan putusan untuk diperiksa apakah

pertimbangan hukumnya sudah benar atau belum, sedangkan

pelatihan maupun peningkatan kapasitas teknis para Hakim dilakukan

atau mengacu pada Mahkamah Agung. Hal mana akan berbeda apabila

pemeriksaan suatu putusan tersebut dalam rangka untuk promosi

terhadap Hakim yang bersangkutan.

- Contoh lain, ketika ada aduan/laporan yang masuk, KY baru akan

meminta klarifikasi kepada Hakim yang bersangkutan sudah

dipublikasikan di media massa. Kami terkadang berpikir, ini

untuk menegakkan kehormatan dan martabat Hakim atau untuk

menghancurkan? Setelah dilakukan klarifikasi dan serangkaian

tindakan pemeriksaan ternyata Hakim tersebut tidak bersalah, tetapi

tidak ada satu mediapun yang memberitakan. Bahkan pada awalnya

193 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



seorang Hakim yang akan dimintai klarifikasi harus memenuhi

panggilan untuk datang ke kantor KY di Jakarta, untuk Hakim yang

bertugas di daerah akan kebingungan perihal biayanya ke ibukota.

4. Sekedar informasi, bahwa di Pengadilan Negeri Surakarta, ruang tahanan

anak telah terpisah dengan ruang tahana dewasa, demikian pula telah

dipisahkan antara ruang tahanan laki-laki dengan tahanan wanita.

Sedangkan untuk ruang tahanan yang ada di Rutan Surakarta juga telah

dipisahkan antara blok tahanan anak dengan dewasa.

5. Tentang materi maupun metode magang para calon Hakim di Pengadilan

Negeri telah digariskan oleh Mahkamah Agung, bahwa setelah para Calon

Hakim mengikuti diklat, maka harus diangkat menjadi Panitera Pengganti

(lokal) untuk bersidang baik dalam perkara perdata maupun pidana.

Disini para Calon Hakim disuruh untuk membuat berita acara persidangan

sekaligus membuat putusan dengan arahan dan bimbingan Majelis Hakim

yang bersangkutan. Sudah layak atau belumnya untuk diusulkan sebagai

Hakim sepenuhnya berdasarkan kebijaksanaan Ketua Pengadilan Negeri.

6. Perihal kode etik Hakim juga diberlakukan untuk semua pegawai jajaran

Mahkamah Agung

7. Dalam rekomendasi, perlu ditambahkan tentang peningkatan anggaran

bagi lembaga Yudikatif dengan alokasi yang pasti dalam APBN. Hal tersebut

untuk memenuhi kebutuhan sarana, prasarana serta pelatihan-pelatihan

bagi SDM Hakim maupun non Hakim. Dimana pada saat ini Mahkamah

Agung baru dapat mengadakan pelatihan apabila ada negara/lembaga

asing yang menjadi donor.

Demikian sedikit catatan yang dapat disampaikan, semoga dalam cetak

biru ke II untuk tahun 2010 – 2035 dengan misi :

1. Menjaga kemandirian Badan Peradilan

2. Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari

keadilan

3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan Badan Peradilan

4. Meningkatkan kredibilitas dan transparansi Badan Peradilan

Mahkamah Agung dengan jajarannya mampu mewujudkan Peradilan

yang Agung.

PARADIGMA BARU

KONSEP HAKIM TRANSFORMATIF:

PERSPEKTIF AGENDA REFORMASI PERADILAN71



Krisna Harahap72



“Berikan aku Hakim yang baik, jaksa yang baik dan Polisi yang baik, maka

aku akan berantas kejahatan walau tanpa undang-undang secarikpun”

Prof. B.M.Taverne





Intervensi tak henti terhadap kekuasaan kehakiman di masa Orde

Lama dan Orde Baru adalah lumrah, karena konfigurasi politik yang otoriter

senantiasa melahirkan kekuasaan kehakiman yang terkooptasi.

Hidup di masa otoriter yang berkepanjangan membuat rakyat putus

asa mencari keadilan, apalagi untuk menemukannya, padahal upaya untuk

menemukan keadilan adalah hak asasi setiap manusia.

Kendatipun Penjelasan Pasal 24 dan 25 Undang-Undang Dasar 1945

mengisaratkan Kekuasaan Kehakiman yang dikehendaki adalah kekuasaan

yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah, tetapi

dalam kurun Orde Lama, terutama setelah tahun 1960, wujudnya bermuara

pada Pasal 19 UU No. 19/1964 dan Pasal 23 dan 24 UU No. 13/1965 yang

membuka pintu intervensi selebar-lebarnya bagi kekuasaan eksekutif.

Presiden yang mengepalai eksekutif diperkenankan :

• Turun tangan dalam perkara. Ini berarti Presiden dapat menghentikan

perkara yang sedang diperiksa sehingga pengadilan tidak dapat

menjatuhkan putusan.

• Campur tangan dalam perkara. Artinya, Presiden dapat mempengaruhi

jalannya persidangan sesuai dengan kehendaknya.

Alasan yang digunakan oleh Presiden untuk mengintervensi lembaga

Peradilan, beraneka ragam. Siapapun tak mampu menampik manakala

Presiden memberi alasan "demi kepentingan Revolusi". Maklumlah, pada

waktu itu semua alat kelengkapan Negara, tak terkecuali lembaga peradilan,

dijadikan “Alat Revolusi”, sehingga kekuasaan kehakimanpun berada di

bawah kekuasaan Presiden. Ketua Lembaga-lembaga Tinggi Negara, seperti

Ketua Mahkamah Agung, bahkan Lembaga Tertinggi Negara berada di

71

Makalah disampaikan pada Seminar dan Focus Group Discussion Komisi Yudisial tentang

Pendidikan Hakim dan Seleksi Pengangkatan Hakim Terpadu yang dilaksanakan pada tanggal

15 November 2010, di Jakarta.

72

Hakim Ad Hoc TIPIKOR pada Mahkamah Agung

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 196



bawah Presiden, karena mereka diangkat sebagai pembantu Presiden yakni

Menteri.

Yargon samen bundeling van alle krachten melupakan orang akan

keberadaan pilar-pilar demokrasi yang harus tegak berdiri walaupun tidak

dipisahkan secara ketat seperti yang dimaksudkan oleh Montesquieu.

Kekuasaan Kehakiman tidak lagi merupakan pilar demokrasi yang mandiri

tetapi hanya merupakan bagian dari birokrasi pemerintahan. Akhirnya,

Indonesia sebagai suatu negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat)

seperti tertera dalam Penjelasan UUD 1945, pada masa Demokrasi Terpimpin

tenggelam di bawah tekanan patrimonialisme rezim dengan ideologinya

yang radikal-populis.73 Sejalan dengan perkembangan tersebut, pada

tanggal 6 Desember 1960, Menteri Kehakiman memutuskan mengganti

lambang keadilan sang Dewi Keadilan yang dengan mata tertutup memegang

timbangan di satu tangan dan pedang terhunus di tangan yang lain dengan

lambang pohon beringin dibubuhi perkataan Pengayoman yang mengandung

makna perlindungan dan pertolongan. Sangat diragukan apakah pengayoman

itu diperuntukkan bagi segenap pencari keadilan atau bagi orang-orang

tertentu saja.

Di era yang demikian, independensi, integritas, kompetensi74 seorang

hakim tidaklah terlalu penting walau ia seorang meester in de rechten van

Leiden sekalipun. Yang dituntut daripadanya adalah keberpihakan kepada

Revolusi. Tidak mengherankan apabila para Hakim sehari-hari berseragam

khaki drill dan dilatih bukan memegang palu sidang tetapi senjata api laras

panjang.

Tibanya masa Orde Baru disongsong dengan semangat hendak

mewujudkan Negara Hukum seperti yang dijanjikan Penjelasan UUD 1945 itu.

Lahirnya UU No. 14 Tahun 1970 Tentang Kekuasaan Kehakiman menggantikan

UU No. 19 Tahun 1964 dianggap sebagai simbul perwujudannya. Mulai

mengemuka pemikiran dan upaya:

• Menabukan intervensi kekuasaan manapun di lembaga pengadilan;

• Pentingnya jaminan atas hak-hak perseorangan;

• Pembatasan kekuasaan politik.

Ternyata diundangkannya UU 14/1970 tidak menjamin kemandirian

Kekuasaan Kehakiman yang dikehendaki. Pasal 11 ayat 1 undang-undang

ini justru menyatakan bahwa masalah-masalah organisasi, administratif

(personalia) dan finansial lembaga-lembaga peradilan berada di bawah

kekuasaan masing-masing Departemen yang bersangkutan. Jadi, Peradilan

73

Daniel S.Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan, LP3ES,

hlm.384

74

Kemahiran untuk menerapkan secara terintegrasi seluruh pengetahuan, kecakapan, sikap,

sifat dan pertimbangan dalam bertindak secara profesional.

197 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Umum di bawah Departemen Kehakiman, Departemen Agama menaungi

Peradilan Agama dan Departemen Hankam mengurusi Peradilan Militer. Itu

berarti Mahkamah Agung hanya menangani masalah-masalah operasional

sedang selebihnya oleh Pemerintah. Keadaan tersebut memunculkan

ungkapan bahwa "kepala" para hakim berada di Mahkamah Agung, sedang

"perut" mereka diurus oleh Pemerintah. Dapat diperkirakan sejauh mana

kemandirian para hakim tatkala mengetukkan palunya. Demi kariernya dan

agar tidak terpental ke daerah-daerah "kering", putusan mereka haruslah

sesuai selera Pemerintah.

Kekuasaan Kehakiman yang "tiarap", terus berlangsung hingga era Orde

Baru berakhir. Penjelasan Pasal 24 dan 25 UUD 1945 yang menyatakan:

"Kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya

terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu,

harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan

para hakim".

Dalam tataran undang-undang terjadilah pengaturan yang bertolak

belakang dengan kehendak undang-undang dasar. Frasa "kekuasaan yang

merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah" tidak

dijabarkan sebagaimana mestinya, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.

Demikian pula dengan frasa "harus diadakan jaminan dalam undang- undang

tentang kedudukan para hakim" merupakan loop holes yang menjadikan para

hakim tidak lebih dari alat penguasa. Dalam keadaan demikian, mengharapkan

terciptanya Independent Judiciary tentu hanya menggantang-gantang asap

belaka. Dalam konteks yang demikian peningkatan kompetensi para Hakim

dianggap bukan masalah mendesak.

Sementara itu, Undang-undang No. 35 Tahun 1999 menempatkan

seluruh urusan peradilan di bawah satu atap yakni Mahkamah Agung. Secara

teoritis, intervensi Pemerintah melalui "perut" para Hakim dapat ditampik.

Nampaknya, inilah langkah siknifikan yang berhasil diambil setelah lebih dari

2 dekade berlalu, kekuasaan kehakiman dipasung.

Roh kekuasaan kehakiman sesungguhnya memang terletak pada

kemerdekaannya, kemandiriannnya dan sejauh mana proses pengadilan

dapat dilaksanakan secara transparan dalam rangka menemukan keadilan

yang senantiasa didambakan oleh para pencarinya. Proses pengadilan yang

berlangsung tanpa transparansi akan menimbulkan kecurigaan terjadinya

rekayasa. Apabila kecurigaan itu menjadi kenyataan, pastilah keadilan

yang menjadi tujuan akhir sengaja dikorbankan. Kekuasaan Kehakiman

yang merupakan salah satu pilar demokrasi tak lagi dapat menopang

kepercayaan rakyat dan pada gilirannya akan menjadi suatu lembaga yang

tak berwibawa.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 198



Setelah lebih dari dua decade, wacana reformasi Peradilan tetap

menjadi wacana, paling tidak bergerak amat lamban untuk berubah menjadi

suatu kenyataan. Mahkamah Agung sendiri tidak menutup mata terhadap

kenyataan ini. Rakernas di Balikpapan pada tanggal 10-14 Oktober 2010

yang baru lalu, dilangsungkan dengan tema "Dengan Semangat Perubahan

Memperkokoh Landasan Menuju Peradilan yang Agung". Tema ini sebenarnya

menggambarkan bahwa:

- Semangat perubahan di dunia peradilan kita selama ini masih dalam taraf

"EGP"("Emangnye Gue Pikirin ?" - atau paling tidak, setuju perubahan asal

tidak mengganggu kepentingan saya), karena itu semangat perubahan

hendak dihidupkan untuk kemudian dikobarkan;

- Landasan take off hendak dan sedang diperkokoh;

- Peradilan Agung masih merupakan das sollen.



Kualitas serta independensi para Hakim, menurut laporan Ketua MA :

Kualitas Presen-

Tahun Independensi Keterangan



1945-1960 Tinggi Baik 80%

Hakim tase





1960-1970 Berkurang Baik 60%

1970-1980 Pulih Baik 70%

1980-1990 Merosot Baik 40%

Moralitas Beberapa Hakim Ditang-

turun kap dalam kasus suap

1990-2000 Belum pulih Belum 50%

memadai

2000-2009 Pulih Belum 50% Ada hakim dan pegawai

memadai MA yang ditangkap



Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa terutama tingkat kualitas hakim

yang menyangkut juga masalah-masalah integritas, moral dan sebagainya

sejak tahun 2000 hingga kini belum beranjak secara siknifikan. Kendati

independensi hakim dinyatakan telah pulih tapi diakui bahwa kualitas hakim

belum juga memadai.

Mahkamah Agung memperkirakan bahwa perbaikan independensi dan

kualitas para hakim baru akan terjadi secara bertahap mulai dari Rencana

Strategis (Ren Stra I) yang disusun untuk tahun 2010-2014. Pada priode ini,

independensi dan kualitas para hakim diharapkan naik, walau tipis yakni

55%.

199 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Rencana Strategis I yang dimulai dari 2010 dan berakhir pada Renstra

V tahun 2034 itu selengkapnya sebagai berikut :





RenStra I 2010-2014 55%

Rencana Tahun Capaian





RenStra II 2015-2019 65%

RenStra III 2020-2024 70%

RenStra IV 2025-2029 80%

RenStra V 2030-2034 90%





Menyimak Rencana Strategis yang disusun cukup optimistik ini,

capaian hingga 4 tahun mendatang hanya 55 %.

Untuk merealisir capaian tersebut Pimpinan Mahkamah Agung

merumuskan visi Badan Peradilan "Terwujudnya Badan Peradilan Indonesia

yang Agung", dengan sejumlah langkah sampai RenStra V, yakni;

1. Menjaga kemandirian badan peradilan;

2. Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari

keadilan;

3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan badan peradilan;

4. Meningkatkan kredibilitas dan transparansi badan peradilan.

Berhasil tidaknya ayunan langkah menuju RenStra V tersebut banyak

ditentukan berhasil tidaknya kita mengatasi seribu satu macam masalah

yang dewasa ini menghadang, di antaranya kualitas para Hakim yang tidak

memadai yang antara lain mengakibatkan menggunungnya perkara di

Mahkamah Agung. Hingga bulan Agustus 2010 tercatat masih 9.167 perkara

di Mahkamah Agung yang belum diperiksa dan diputus. Oleh karena jumlah

perkara yang masuk hampir sama dengan jumlah perkara yang berhasil

diputus maka tunggakan perkara di MA tidak pernah surut secara siknifikan.

Beban tunggakan perkara yang demikian berat, telah mempersempit

ruang gerak MA.Tugas utama untuk mewujudkan kesatuan penerapan hukum

menjadi terbengkalai sama halnya dengan merosotnya kualitas putusan di

samping terjadinya inkonsistensi putusan yang dibuat oleh Majelis Hakim.

Karena itu "filter" harus segera dipasang agar permohonan Kasasi tidak

lagi membanjir dengan cara merumuskan kembali kriteria permohonan

Kasasi dan PK di samping mempertajam spesialisasi para hakim agar sistem

kamar dapat diterapkan. Yang terjadi selama ini adalah penunjukan majelis

hakim tanpa memperhatikan keahlian sehingga perkara yang menyangkut

kemerdekaan pers, sebagai contoh, diperiksa oleh Hakim Agung yang

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 200



berlatar belakang militer yang tentu saja tidak mendalami dan menghayati

arti kemerdekaan pers.

Di samping Kasasi permohonan Peninjauan Kembali ternyata

juga semakin menumpuk. Khusus dalam perkara tindak pidana korupsi,

permohonan PK banyak diajukan tanpa melalui banding dan kasasi. Pemohon

PK yang sebenarnya telah menjadi Terpidana, dengan tidak mengajukan

banding dan kasasi, ingin memanfaatkan ketentuan Pasal 266 ayat (3)

KUHAP yang menetapkan bahwa Majelis Hakim tidak boleh memperberat

hukuman putusan semula. Inkonsistensi kembali terjadi, manakala pengajuan

PK diperkenankan lebih dari sekali. Juga, pengajuan PK oleh Kuasa tanpa

kehadiran Terpidana untuk menandatangani Berita Acara Pemeriksaan di

depan Majelis Hakim PN yang memeriksa pengajuan permohonan PK itu.

Inkonsistensi prosedur pengajuan PK ini dimanfaatkan oleh para Terpidana

tindak pidana korupsi. Permohonan PK diajukan oleh Kuasa sedang

Terpidana sendiri bersembunyi di luar negeri menghindari eksekusi. Apabila

permohonan dikabulkan, mereka akan kembali tetapi sebaliknya apabila

ditolak oleh MA, mereka tetap bersembunyi, leluasa menikmati hasil korupsi

yang mereka lakukan.75 Inkonsistensi pengajuan Pk, telah menjadikan pula

lembaga upaya hukum luar biasa ini menjadi lembaga pemeriksaan perkara

tingkat IV.

Tanpa kerja keras yang daria dari seluruh jajaran Badan Peradilan, hasrat

mewujudkan visi baru hingga tahun 2035 yang dicanangkan oleh Pimpinan

MA hanyalah pekerjaan menggantang-gantang asap belaka. Tindakan konkrit

yang penuh tanggung jawab harus dimulai, dari rekruitmen tenaga hakim,

pendidikan dan tentu saja peningkatan kesejahteraannya.76 Fit and proper

test untuk mendapat calon yang tepat sebagai Hakim harus diselenggarakan

oleh lembaga independen secara berlapis, untuk menghindari KKN yang

ditengarai masih berlangsung hingga kini.



75

Djoko Tjandra alias Tjan Kok Hui yang terlibat perkara cessie Bank Bali senilai Rp 546,468

milyar oleh Majelis PK dijatuhi hukuman 2 tahun dan denda Rp 15 milyar. Sehari sebelum

musyawarah Majelis Hakim berlangsung pada tanggal l0 Juni 2009, Djoko ternyata sudah

mengetahui hukuman yang bakal dijatuhkan. la melarikan diri ke Papua New Guinea dengan

pesawat carteran dari bandara Halim Perdanakusumah. Dari tempat persembunyiannya

di Singapura, pada tanggal 29 Juni 2009 ia sebagai Terpidana mengajukan PK diwakili oleh

Kuasanya. PK yang pertama diajukan oleh Jaksa, karena Djoko di tingkat Kasasi dinyatakan

bebas ..

76

Mahasiswi saya di S2 yang kini bertugas sebagai Hakim di salah satu ibu kota Kabupaten di

Jawa Barat menceritakan betapa berat beban yang harus dipikulnya walau golongannya sudah

IV a dengan masa dinas 12 tahun sebagai Hakim dan 18 tahun sebagai pegawai negeri.Gajinya

yang Rp 9.450.000,- sudah termasuk remunerasi tak mencukupi untuk hidup karena harus

membiayai 3 anaknya di perguruan tinggi. Begitu pula dengan gaji yang diterima oleh seorang

Hakim yang baru diangkat dan ditempatkan di PN kelas II yakni Rp 5.386.900 termasuk

remunerasi yang dibayarkan sekali 3 bulan.

201 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pendidikan para calon Hakim seyogianya diselenggarakan dengan

perencanaan yang baik. Pendidikan asal jadi selama 4 bulan, harus

ditinggalkan. Sebelum diterjunkan ke lapangan mereka harus menjalani

pendidikan dasar yang kemudian dilanjutkan ke tingkat pendalaman.

Calon Hakim harus dibekali dengan seperangkat kompetensi sebelum

diterjunkan memeriksa dan memutus perkara.

Yang pertama dan utama adalah kompetensi moril. Sejak awal, setiap

calon Hakim harus dibekali kesadaran bahwa ia selain bertanggung jawab

secara horisontal yakni kepada masyarakat (sosiologis) dan kepada hukum

(yuridis), juga secara vertikal yakni kepadaTuhan YME. Jadi sesuai dengan

irah-irah setiap putusan, Hakim harus mempertanggungjawabkan putusan

itu kepada Sang Pencipta. Kesadaran bahwa seorang Hakim tidak boleh main-

main dengan putusan karena harus dipertanggungjawabkan secara filosofis-

sosiologis-yuridis, akan menjadi pedoman dan pegangan kuat bagi seorang

Hakim yang memiliki kompetensi moril yang sudah teguh. Oleh karena itu,

karakter pribadi seseorang dapat dididik, dibangun dan dibina secara terus

menerus melalui kompetensi moril sehingga kemampuan berpikir, kesadaran

sosial, kemampuan bertindak secara mandiri (tanpa harus didorong-dorong

dan dituntun) terbangun dalam jiwa yang bebas disertai keyakinan moral dan

integritas.77

Berbekal kompetensi moril yang kuat, setiap Hakim diharapkan dapat

menjunjung tinggi kewibawaan dan integritas jabatan yang dipercayakan di

atas pundaknya, sehingga ia urung melakukan perbuatan-perbuatan yang

merusak kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Sekali integritas

jabatan dan pribadi Hakim kehilangan trust dari masyarakat, dapat dikatakan

bahwa Hakim yang bersangkutan telah kehilangan segala- galanya.

Ibarat mendirikan bangunan maka kompetensi moril dapat

diibaratkan sebagai fundasi. Agar bangunan yang hendak didirikan tidak

rubuh maka fundasinya harus benar-benar kukuh. Barulah di atas fundasi

yang kukuh itu kita membangun kompetensi-kompetensi lainnya di dalam

rangka melahirkan seorang Hakim yang berwibawa.

Kompetensi jabatan adalah salah satu kompetensi yang dibutuhkan

untuk melahirkan seorang Hakim yang tangguh. Ia harus terus menerus

mengikuti perkembangan yang relevan dengan hukum78 karena kompetensi

77

Setiap memeriksa dan memutus perkara, Hakim harus senantiasa berpedoman dan

mempraktikkan sila-sila Pancasila, sebagai Weltanschauung bangsa Indonesia yang

sengaja tetap dipertahankan walaupun Undang- Undang Dasar RI mengalami beberapa kali

perubahan.

78

Sejauh mana mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan

Administrative Penal Law dapat didakwa dengan pasal-pasal undang-undang tindak pidana

korupsi ? Contoh lain, apakah dapat dibenarkan apabila Majelis Hakim langsung memeriksa

dakwaan subsider padahal dakwaan JPU tidak bersifat alternatif?

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 202



jabatan berhubungan erat dengan tuntutan efisiensi,efektivitas, kendali proses

kerja dan sebagainya yang dibutuhkan sebagai pendukung dan memperkuat

kompetensi tehnis yang tentu saja harus diberikan dalam pendidikan tingkat

dasar.79







- Hakim berwibawa, tidak dilahirkan melainkan dibentuk.

Simpulan



- Calon Hakim seyogianya dibekali selengkap mungkin kompetensi,

terutama kompetensi moril, sebelum diterjunkan ke "lapangan".

- Pancasila sebagai falsafah bangsa harus senantiasa menjadi dasar

mengabdi para Hakim.

- Kesejahteraan Hakim sebagai syarat penunjang pembentukan Hakim

berwibawa, tidak boleh diabaikan.

Hakim berwibawa merupakan landasan u tama Peradilan yang Agung.









79

Kendati telah mengalami 4 kali amandemen, ternyata Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 sama sekali tidak menyentuh arah pembangunan Hukum Nasional

kita. Di lain pihak telah diundangkan beberapa undang-undang terkait Otonomi Daerah.Salah

satu di antaranya, UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang

antara lain mengatur bahwa hak-hak masyarakat adat harus dilindungi “termasuk perkara

pidana bisa diselesaikan secara adat”. Contoh kasus, seorang suami di daerah ini menampar

muka isterinya hingga 100 kali. Sang suami tidak dapat dijerat dengan UU Penghapusan KDRT,

oleh karena telah terjadi konflik antara Hukum Lokal dan Hukum Nasional.

MENAKAR KEKUASAAN KEHAKIMAN

DI INDONESIA



Idrus Abdullah80





Amandemen UUD 1945 yang terjadi sebanyak empat kali pada tahun

1999 hingga tahun 2002 yang lalu memiliki pengaruh yang cukup besar pada

kekuasaan kehakiman di Indonesia. Dua buah institusi baru diperkenalkan,

yaitu Mahkamah Konstitusi sebagai pelaku kekuasaan kehakiman tertinggi

di samping Mahkamah Agung, serta Komisi Yudisial. Perubahan-perubahan

tersebut terjadi dalam dua tahapan, yaitu pada amandemen ke-3 yang

terjadi pada tahun 2001 dan amandemen ke-4 yang terjadi pada tahun 2002.

Ketentuan mengenai Kekuasaan Kehakiman yang pada awalnya hanya terdiri

dari tiga buah ketentuan berubah secara drastis menjadi 19 buah ketentuan.



Ekspektasi Berlebihan Terhadap Reformasi Kekuasaan



Perubahan ketentuan mengenai Kekuasaan Kehakiman yang dilakukan

Kehakiman



mempunyai beban yang sangat berat dikarenakan ekspektasi yang berlebihan

dimana maysarakat sangat berharap akan terjadi perubahan yang signifikan

terhadap berbagai persoalan yang ada di lembaga-lembaga penegakan hukum.

Namun ternyata pembaharuan-pembaharuan yang telah dilakukaan saat

ini dirasakan tidak berdampak banyak pada perubahan kondisi peradilan,

khususnya badan peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung. Secara

umum tingkat kepercayaan publik terhadap institusi peradilan – kecuali

terhadap Mahkamah konstitusi – harus diakui masih cukup rendah, bahkan

tampaknya tidak ada perubahan sebelum atau sesudah terjadi amandemen

atas bab Kekuasaan Kehakiman tersebut. Keberadaan Komisi Yudisial

yang menurut pasal 24B memiliki fungsi mengusulkan calon Hakim Agung

serta wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,

keluhuran martabat serta perilaku hakim, suatu institusi yang awalnya

diharapkan dapat membantu merubah kondisi peradilan Indonesia,

tampaknya tak banyak membantu, setidaknya yang terlihat hingga saat ini.

Di akhir tahun 2009, tepatnya tanggal 29 September 2009, DPR RI

telah mengesahkan Undang-Undang di bidang kekuasaan kehakiman. Yaitu

UU No. 48 Tahun 2009 tetang kekuasaan kehakiman. Bersamaan dengan

itu juga disahkan UU No. 49 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas UU

No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, UU No. 50 Tahun 2009 tentang

80

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukm Univ Mataram

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 204



perubahan kedua atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dan

UU No. 51 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas UU No. 5 Tahun 1986

tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

UU Kekuasaan Kehakiman tersebut perlu dikaji dan dipahami secara

kritis oleh masyarakat terkait dengan bagaimana masa depan kekuasaan

kehakiman yang merdeka. Ini dikarenakan masyarakat mendambakan agar

pelaku kekuasaan kehakiman itu merdeka dan independent dari pengaruh

(intervensi) kekuasaan atau lembaga Negara lainnya baik secara fungsional

dan institusional sehingga keadilan dan kebenaran bisa ditegakkan dengan

konsisten melalui prinsip cheks and balance. Yang kaya dan yang miskin harus

diperlakukan secara sama di depan hukum (equel).

Dambaan masyarakat tersebut muncul karena secara empirik

kekuasaan kehakiman di masa lalu masih menunjukkan adanya potensi

intervensi dari eksekutif dan ekstra yudisial sehingga pelaku kekuasaan

kehakiman menjadi tidak merdeka dan tidak independen.

Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Penegasan Indonesia sebagai

negara yang berdasarkan hukum dituangkan dalam pasal 1 ayat (3) UUD

1945 dan perubahannya yang menyatakan bahwa negara Indonesia adalah

negara hukum.

Konsekuensi dari penegasan tersebut adalah adanya kekuasaan

kehakiman yang merdeka dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Untuk

mewujudkan cita-cita kekuasaan kehakiman yang merdeka, pasal 24 ayat (1)

UUD 1945 menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan

yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum

dan keadilan.

Pada hakikatnya cita-cita untuk menciptakan kekuasaan kehakiman

yang merdeka dan mandiri merupakan cita-cita universal. Hal ini bisa dilihat

dalam Basic Principles On Independence of The Judiciary, yang diajukan oleh

Majelis Umum PBB dan Beijing Statement Of Principles Of The Independence

The Law Asia Region Of The Judiciary di Manila tanggal 28 Agustus 1997.

Untuk mendukung terwujudnya kekuasaan kehakiman yang merdeka

telah diadakan perubahan terhadap UU No. 14 tahun 1970 tentang pokok-

pokok kekuasan kehakiman dan UU No. 35 Tahun 1999 tentang perubahan

UU No. 14 tahun 1970 yang diganti dengan UU No. 4 Tahun 2004 tentang

Kekuasaan Kehakiman. Dan yang terakhir pada tanggal 29 September 2009

UU No. 4 Tahun 2004 tersebut dirubah menjadi UU No. 48 Tahun 2009 tentang

Kekuasan Kehakiman.

Alasan yang mengharuskan adanya perubahan atas UU No. 4 Tahun

2004 menjadi UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasan Kehakiman adalah

karena UU No. 4 Tahun 2004 belum mengatur secara komprehensif tentang

205 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dan perubahan tersebut untuk

memperkuat penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dan mewujudkan

sistem peradilan yang terpadu (integrated justice system).

Di samping itu juga untuk memenuhi putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 005/PUU/2006 yang salah satu amarnya telah membatalkan pasal 34

UU No. 4 Tahun 2004. Putusan MK tersebut juga telah membatalkan ketentuan

yang terkait dengan pengawasan hakim dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang

Komisi Yudisial.



Pembaharuan Kekuasaan Kehakiman dalam UU Nomor 48 Tahun



Adapun perubahan-perubahan penting yang ada dalam UU No. 48

2009



Tahun 2009, antara lain adalah reformulasi dan reposisi sistematika UU

No. 4 Tahun 2004 terkait dengan pengaturan secara komprehensif subtansi

UU No. 48 Tahun 2009, misalnya adanya bab tersendiri mengenai asas-asas

penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang harus dijadikan landasan Hakim

dalam proses memeriksa dan memutus suatu perkara. Asas-asas tersebut

dijabarkan secara detail dalam BAB II mulai pasal 2 sampai pasal 17, tentunya

dengan adanya bab tersendiri terkait dengan asas ini diharapkan betul-betul

menjadi landasan substantive bagi hakim untuk menerima dan memutuskan

sebuah perkara yang diajukan.

Hal penting lainnya adalah pengaturan mengenai pengawasan hakim

dan hakim konstitusi dimana Pengawasan internal dilakukan oleh MA dan

Pengawasan eksternal terkait perilaku hakim oleh KY dengan mendasarkan

pada Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang dibuat oleh MA dan KY.

Hakim yang melakukan pelanggaran kode etik tersebut diadili oleh Majelis

Kehormatan Hakim yang berjumlah 5 orang (2 dari MA dan 3 dari KY).

Pengawasan tersebut tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam

memeriksa dan memutus perkara. (tentang pengawasan ini lihat pasal 5 dan

pasal 39 sampai 44). Bahkan dalam revisi UU bidang peradilan ditegaskan KY

memiliki kewenangan untuk melakukan analisa putusan yang hasilnya bisa

dijadikan sebagai dasar mutasi hakim oleh MA. Kedua ketentuan tersebut

sangat erat kaitannya dengan obyektifitas dari anggota Majelis Kehormatan

Hakim dalam membuat, memutuskan, dan menganalisa Kode Etik dan

Pedoman Perilaku Hakim. Diharapkan ke depan rasa egoisme institusi di

hilangkan dan mengedepankan profesionalisme dalam bekerja.

Dengan adanya ketentuan dan pembagian tugas pengawasan yang jelas

antara MA dan KY, diharapkan kedua lembaga tinggi negara tersebut bisa

menjadi mitra kerja yang harmonis dalam pengawasan hakim. KY harus sadar

bahwa tugas pengawasannya hanya dalam bidang eksternal terkait perilaku

hakim dan tidak boleh melakukan intervensi atas kebebasan hakim dalam

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 206



memutus perkara. Sebaliknya, MA juga harus terbuka atas saran, kritik dan

rekomendasi sesuai dengan kewenangan KY. Hubungan yang lebih harmonis

keduanya diharapkan bisa terwujud di tahun 2010. Sehingga konsekwensi

logisnya peraturan terkait mengenai KY juga harus direvisi agar balance

dengan UU 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Pengaturan umum mengenai pengangkatan dan pemberhentian hakim

dan hakim konstitusi (pasal 30 sampai 37). Pengaturan mengenai hakim ad

hoc yang bersifat sementara dan memiliki keahlian serta pengalaman di

bidang tertentu untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara

(pasal 32). Pengaturan umum mengenai arbitrase dan alternatif penyelesaian

sengketa di luar pengadilan (pasal 58 sampai 61).

UU No. 48 juga menjamin akan adanya bantuan hukum bagi pencari

keadilan yang tidak mampu dan pengaturan mengenai pos bantuan hukum

pada setiap pengadilan (pasal 56 dan 57). Ketentuan ini merupakan

jaminan bahwa orang miskin mendapatkan dispensasi agar bisa beracara

di pengadilan dengan cuma-Cuma (prodeo). Ketentuan ini sebaiknya segera

untuk disosialisasikan keseluruh jajaran kehakiman dan masyarakat umum

secara intensif sehingga maksimal untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.

Permasalahannya adalah criteria “tidak mampu” harus diperjelas untuk

mencegah terjadinya pemanfaatan oleh oknum yang mengatakan atau

merasa “saya tidak mampu”. Selain itu pos bantuan hokum sebaiknya

dibentuk segera dengan batasan waktu tertentu yang ditetapkan oleh MA.

Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kelalaian atau pembiaran yang

mungkin akan terjadi oleh jajaran kehakiman di tingkat bawah tentu dengan

pendanaan yang memadai.

Penegasan bahwa hakim dan hakim konstitusi adalah pejabat negara

(pasal 19). Dalam revisi UU bidang peradilan ditegaskan bahwa rekrutmen

hakim pada tingkat pertama mulai tahun 2010 dilakukan oleh MA dan KY

dan untuk bisa menjadi hakim harus lulus pendidikan hakim. Ketentuan

ini diharapkan bisa menghasilkan kader hakim yang bersih, bermoral dan

profesional.

Perubahan-perubahan penting tersebut yang ada dalam UU No. 48

Tahun 2009 telah menumbuhkan harapan baru terkait independensi dan

kemerdekaan kekuasaan kehakiman pada tahun 2010.

Kekuasaan kehakiman menjadi lebih independen sehingga keadilan dan

kebenaran bisa ditegakkan tanpa terpengaruh oleh siapapun. Kesejahteraan

dan keamanan hakim sudah terjamin sehingga hakim bisa bekerja secara

profesional. Semua orang sama di depan hukum, baik si kaya maupun si

miskin. Tidak ada lagi tekanan-tekanan terhadap pelaku kekuasaan kehakiman

(hakim) dalam melaksanakan tugasnya untuk memutus suatu perkara.

207 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum







Meskipun berbagai upaya pembaharuan yang telah dilakukan untuk

Kekuasaan Kehakiman di Mata Publik



menjaga dan mewujudkan eksistensi kekuasaan kehakiman yang merdeka

namun publik masih merasakan adanya fakta yang memperlihatkan, kekuasaan

kehakiman belum sepenuh-penuhnya menjadi terhormat, bermartabat, dan

mempunyai standar kinerja dengan akuntabilitas yang tinggi. Tentu saja,

pendapat publik tersebut tidak dapat menafikkan berbagai upaya yang terus

menerus dilakukan oleh Mahkamah dan jajarannya. Penilaian negative public

terhadap kekuasaan kehakiman tersebut bukanlah tanpa dilandasi dasar

yang kuat karena masih terdapat berbagai fakta yang ada di lapangan yang

menunjukan adanya penyimpangan-penyimpangan para aparat kekuasaan

kehakiman, fakta-fakat tersebut antara lain :

1. Peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan belum sepenuhnya dapat

diterapkan secara absolut. Tunggakan perkara belum dapat diselesaikan

secara tuntas, di samping begitu banyaknya jumlah perkara yang

diterima oleh Mahkamah Agung untuk diselesaikan. Fakta ini berbanding

terbalik dengan proses yang terjadi di Mahkamah Konstitusi yang sudah

menerapkan prinsip sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam menangani

perkara-perkara yang menjadi tugas dan wewenangnya;

2. Publik belum secara luas bisa mendapatkan akses infomasi terhadap proses

dan tahapan peradilan dari suatu perkara yang diajukannya, khususnya

di tingkat banding dan kasasi. Tidak jelasnya tahapan proses dan waktu

penyelesaian perkara membuat para justiabel menjadi “gamang” dan

bertanya-tanya, apakah kasusnya sedang atau sudah ditangani oleh

pengadilan, baik pada tingkatan banding maupun mahkamah. Di sisi

lainnya, mahkamah juga telah mengeluarkan Surat Edaran yang mengatur

tentang akses informasi;

3. Proses peradilan yang memungkinkan belum dapat diwujudkan

peradilan yang bersih dengan akuntabilitas yang tinggi. Pada saat ini,

mahkamah dan pengadilan di bawahnya mempunyai keleluasaan untuk

menggunakan kewenangannya secara bebas. Independensi yang absolut

tanpa disertai kontrol yang baik tidak akan menghasilkan akuntabilitas,

bahkan potensial memunculkan potensi abuse of power;. Secara umum

hendak dikatakan bahwa hal yang paling subtil dari kekuasaan kehakiman

adalah adanya jaminan kekuasaan yang merdeka dalam menjalankan

kekuasaan peradilan. Tidak ada kekuasaan kehakiman jika independensi

dalam menjalankan wewenangnya “dirampok” atau mudah “diintervensi”.

Periode Orde lama dan Orde Baru menjadi menjadi pelajaran penting

ketika kekuasaan kehakiman dijadikan bagian dari kepentingan kekuasaan

revolusi dan/atau Presiden punya kekuasaan untuk menentukan siapa

yang dapat menjadi hakim agung dan ketua Mahakamah Agung.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 208



4. Ada beberapa putusan pengadilan yang mendapat sorotan publik karena

bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat. Bandingkan saja, putusan

yang menyangkut nenek Minah, Jaksa Esther yang menggelapkan barang

bukti narkoba dan putusan Gayus Tambunan yang divonis bebas padahal

diketahui meneriuma gratifikasi hampir sekitar 25 miliar rupiah. Sebalikya

juga ada putusan yang diapresiasi publik, seperti putusan dalam kasus

Prita Mulyasari.

5. Ada beberapa hakim yang juga masih bermain-main dengan putusannya

sebagai contoh Hakim Muhtadi Asnun yang masih ikut bermain-main

dengan kasus gayus tambunan.

6. Adanya sinyalemen yang diajukan aktivis anti korupsi yang mensinyalir

adanya tendensi putusan pengadilan dalam kasus-kasus korupsi yang

hukumannya ringan dan bahkan sebagiannya dibebaskan. ICW merilis

berita bahwa putusan dengan hukuman percobaan, sanksinya ringan dan

malah dibebaskan;

7. Lembaga Remisi yang masih dibawah eksekutif seringkali masih

digunakan sebagai cara untuk mempercepat proses pidana yang dilakukan

seseorang. Banyak para terpidana yang tiba-tiba sudah bebas dikarenakan

mendapatkan remisi dari berbagai momen mulai dari remisi hari raya

sampai remisi pada peringatan kemerdekaan RI.

Berbagai uraian yang dikemukakan di atas memperlihatkan tantangan

lain yang kini muncul yang ditengarai dapat mengakibatkan tidak dapat

dilaksanakannya kekuasaan kehakiman secara terhormat dan bermartabat

dengan akuntabilitas yang tinggi guna menegakkan hukum dan keadilan.

Pada akhirnya, tantangan dimaksud muncul dari berbagai fakta dalam

penerapan kekuasaan kehakiman telah dinilai masyarakat bahwa peradilan

belum sepenuhnya dapat ditegakkan sesuai dengan tujuan dari kekuasaan

kehakiman yaitu menegakkan hukum dan keadilan.

Dari berbagai kasus yang ada tersebut beberapa masukan yang

diperlukan guna mewujudkan kekuasaan kehakiman yang Independen dan

Akuntabel antara lain :

1. Penguatan lembaga Pengawas eksternal dalam hal ini adalah Komisi

Yudisial. Keberadaan komisi yudisial yang diatur dalam konstitusi

seringkali dianggap hanya “Macan Ompong” hal ini diakibatkan karena

keberadaannya tidak disertai dengan kewenangan yang lebih besar. Komisi

Yudisial hanya ditempatkan sebagai lembaga penyeleksi hakim agung

dan penjaga kode etik saja. Termasuk juga pengawasan terhadap hakim

konstitusi yang telah direduksi oleh putusan Mahkamah konstitusi.

2. Reformulasi lembaga remisi, keberadaan lembaga Remisi seyogyanya

berada dibawah lembaga yudikatif, sedangkan untuk pengusulan

pemberian remisi dapat tetap dilakukan oleh lembaga pelaksanaan pidana

di bawah kementerian hokum dan HAM.

209 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



3. Perekrutan sumberdaya manusia juga perlu mendapat perhatian yang

cukup serius, bagaimanapun baiknya system yang ada apabila para

manusia pengerak sistemnya masih suka “bermain-main” maka rusak

pulalah sistem tersebut, sehingga perekrutan dan pengembangan SDM

harus dibenahi lagi.

Semoga dengan berbagai pembaharuan-pembaharuan yang terus

dilakukan sedikit demi sedikit dapat mengurangi stigma negative

masyarakat yang sudah terlanjur melakat pada badan-badan pelaksana

kekuasaan kehakiman di Indonesia. Amin Yaa Rabb.

Bagian Keempat



LAPORAN PENELITIAN

TENTANG EVALUASI PELAKSANAAN

REFORMASI ADVOKAT

BAB I

PENDAHULUAN









Advokat adalah suatu posisi dan profesi yang mulia yang turut

A. LATAR BELAKANG MASALAH



mempromosikan paham konstitusionalisme di Indonesia. Daniel S. Lev

menyebut para advokat bekerja atau menjalankan profesinya di dalam

ruang-ruang pengadilan maupun di luar ruang persidangan dalam rangka

menggugat dan mempertanyakan kebijakan dan aturan represif negara. Para

advokat pun dituntut untuk senantiasa menjunjung tinggi profesinya sebagai

profesi terhormat (officium nobile). Hal ini, terkait dengan problematika yang

terjadi pada advokat. Karena itu, dalam Program Law Summit (Pertemuan

Puncak Para Pejabat Tinggi Negara di Bidang Hukum), organisasi advokat

termasuk dalam Nota Kesepahaman yang dituntut untuk mereformasi fungsi

dan peranannya sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam lingkaran

Integrated Criminal Justice System di Indonesia.1

Pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat

diharapkan menjadi pintu awal melakukan reformasi terhadap lembaga

advokat dan para advokat dalam menjalankan tugas, fungsi dan profesinya

dengan baik dalam memberikan jasa konsultasi hukum, bantuan hukum,

menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan

tindakan hukum lain untuk kepentingan para pencari keadilan (klien), baik

di dalam maupun di luar pengadilan. Lahirnya Undang-Undang Advokat juga

diharapkan agar organisasi-organisasi advokat dan para advokat menjadi

lebih profesional dan menjaga etika profesinya sebagai penegak hukum

yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab untuk terselenggaranya suatu

peradilan yang jujur, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari

keadilan, kebenaran, dan hak asasi manusia. Namun, setelah lebih dari 7 tahun

Undang-undang Advokat diberlakukan, arah/tujuan, sasaran, nilai-nilai ideal

profesi advokat tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Untuk mewujudkan organisasi profesi advokat yang bersih dan ideal

sesuai keinginan Undang-Undang Advokat menjadi lebih rumit sekarang ini.

Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh organisasi advokat baik secara

kelembagaan maupun para advokat antara lain dapat dilihat pada:

1

Law Summit I dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2001, Law Summit II dilaksanakan pada

tanggal 16 Oktober 2002, dan Law Summit III dilaksanakan pada tanggal 16 April 2004.

Sumber Newsletter Komisi Hukum Nasional, Law Summit III:”Berantas KKN Tanpa Pandang

Bulu Sampai Ke Akar-akarnya”, Newsletter Komisi Hukum Nasional berjudul: Law Summit III:

Ajang Menyatukan Langkah Para Penegak Hukum dan Keadilan, edisi Maret-April 2004, hal.6.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 214



1. Seputar penegakan dan pelaksanaan kode etik oleh masing-masing

organisasi profesi advokat;

2. Perdebatan tentang organisasi profesi advokat yang tunggal, independen,

dan bersih;

3. Masalah terjadinya perpindahan anggota organisasi profesi advokat ke

organisasi profesi advokat lainnya, atau bahkan mendirikan organisasi

profesi advokat yang baru;

4. Tuntutan perbaikan integritas dan profesionalitas terhadap profesi

advokat dan organisasi profesi advokat;

5. Pelaksanaan pendidikan dan ujian profesi advokat serta registrasi ulang

profesi advokat;

6. Masalah pengawasan terhadap perilaku dan etika advokat dalam

melaksanakan advokasi dan pemberian nasehat hukum;

7. Masalah aplikasi bantuan hukum pro bono yang dilakukan kepada

masyarakat yang tidak mampu;

8. Masalah pengangkatan advokat yang dilakukan oleh organisasi advokat

yang saat ini terpecah menjadi 3 organisasi besar;

9. Masalah pengangkatan sumpah dan pengakuan atas advokat oleh pihak

Mahkamah Agung dalam melakukan tugas dan tanggung jawab advokat di

pengadilan;

10. Masalah penjatuhan sanksi atau tindakan hukum lainnya bagi advokat

yang melanggar sumpah, tugas, tanggung jawab profesinya oleh organisasi

advokat;

11. Masalah pelaksanaan dan pengakuan hak dan kewajiban advokat beserta

tindakan illegal yang dilegalkan (diskersi) bagi advokat untuk membantu

masyarakat menyelesaikan kasus-kasus hukum;

12. Masalah penerapan tugas, fungsi, dan tanggung jawab serta peranan dari

Dewan Kehormatan Advokat terhadap penegakan kode etik dan sebagai

struktur tertinggi dari organisasi advokat terhadap reformasi advokat;

13. Masalah pengakuan atas eksistensi dan pendapat atau nasihat hukum yang

diberikan oleh advokat asing yang menjalani profesi advokat di Indonesia

terkait dengan bidang-bidang hukum yang masih belum jelas posisinya

apakah masuk dalam ranah hukum internasional atau hukum nasional

karena belum ada ratifikasi atau pengesahan lebih lanjut dalam bentuk

undang-undang dan peraturan organik atau peraturan pelaksanaan

teknisnya;

14. Masalah pembentukan perangkat organisasi advokat di tingkat daerah.

Masalah utama yang terjadi pada advokat adalah soal klaim keabsahan/

legalitas organisasi. PERADI yang menyatakan sebagai salah satu organisasi

induk dari seluruh organisasi advokat dan pembentukannya diakui oleh

Undang-Undang Advokat, justru mendapat tantangan perpecahan dengan

215 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



berdirinya Kongres Advokat Indonesia (KAI) yang didirikan di Jakarta pada

30 Mei 2008. Juga diaktifkannya kembali Persatuan Advokat Indonesia

(PERADIN) pada perayaan hari jadi PERADIN ke 44 pada 30 Agustus 2008

di Jakarta.

Ketiga organisasi advokat tersebut saling mengklaim sebagai

organisasi profesi advokat yang diamanatkan oleh Undang-Undang Advokat.

Namun, sangat disayangkan tidak satupun dari organisasi advokat ini yang

menunjukkan kiprahnya sebagai organisasi advokat sejati yang menjadi

penjaga terdepan pada tegaknya prinsip-prinsip negara hukum, perlindungan

hak asasi manusia, pembaharuan hukum, dan menjaga kehormatan

masyarakat profesi hukum.

PERADI, KAI, dan PERADIN tampak “gagap” dalam beragam isu

pembaharuan hukum yang berpihak pada hak asasi manusia di antaranya

isu Rancangan Undang-Undang (RUU) Rahasia Negara, RUU KUHAP, dan

RUU KUHP. Tidak hanya itu saja, RUU Pengadilan Tipikor yang akan dibentuk

melalui perintah Mahkamah Konstitusi tidak terdengar kiprah dari tiga

organisasi advokat ini. Ketiga organisasi advokat itu juga tidak bersuara

dalam menyikapi problem-problem hukum yang belakangan berkembang,

seperti; hukuman mati dalam hukum pidana Indonesia, seputar penegakan

dan pelaksanaan kode etik oleh masing-masing organisasi profesi advokat

terkait beragam masalah pelanggaran kode etik oleh para advokat dalam

beracara di pengadilan maupun di luar pengadilan, masalah pengawasan

terhadap perilaku dan etika advokat, masalah pengangkatan sumpah dan

pengakuan atas advokat oleh pihak Mahkamah Agung dalam hal advokat dari

organisasi mana yang legal berperkara di pengadilan.

Sebenarnya konflik perpecahan di antara para advokat hanyalah

konflik kepentingan dan tidak ada isu yang sangat prinsip berkaitan dengan

tegaknya prinsip-prinsip negara hukum, perlindungan hak asasi manusia,

pembaharuan hukum, dan menjaga kehormatan masyarakat profesi hukum.

Perpecahan yang dilandasi konflik kepentingan jelas merugikan tidak hanya

kepentingan masyarakat luas, namun juga kepentingan advokat sendiri pun

menjadi tidak terlindungi. Perpecahan organisasi advokat telah menjadi

penanda yang jelas bahwa cita-cita pembentukan negara hukum modern

yang demokratis, melindungi hak asasi manusia, apalagi tujuan pelaksanaan

reformasi menjadi semakin sirna, manakala organisasi advokat juga dinilai

terlibat dalam segala praktek judicial corruption dan mafia peradilan.

Dengan demikian, persoalan klasik selalu muncul yaitu mewujudkan

organisasi advokat yang tunggal dan independen semakin sulit terwujud.

Perkembangan masalah yang terjadi di tubuh organisasi advokat ini menjadi

sebuah hambatan dan kerugian dalam proses reformasi.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 216



Peran advokat di dalam menjalankan tugasnya tidak hanya sebatas pada

kepentingan dan tanggung jawab kepada klien-nya semata, tetapi juga kepada

negara, masyarakat, dan pengadilan. Tugas advokat antara lain; memberikan

pelayanan hukum (Legal Services), memberikan nasehat hukum (Legal

Advise), memberikan konsultasi hukum, memberikan pendapat hukum (Legal

Opinion), menyusun kontrak-kontrak hukum (Legal Drafting), memberikan

informasi-informasi hukum, membela kepentingan dan mewakili klien di

dalam atau di luar pengadilan, memberikan bantuan hukum dengan cuma-

cuma kepada rakyat yang lemah dan tidak mampu (Legal Aid)/pro bono.

Banyak contoh aturan main dalam organisasi advokat (termasuik tata

cara pemilihan pengurus organisasi advokat), seperti yang dimiliki oleh IBA

Standard For The Independence of The Legal Profession dan United Nations



Dari kutipan di bawah ini dapat disimpulkan bahwa pemilihan pengurus

Convention: Basic Principles on The Role of Lawyers.



organisasi advokat adalah mutlak diperlukan untuk menjamin independensi

dan imparsialitas organisasi profesi advokat (self governing).2

Pasal 17 IBA Standard For The Independende of The Legal Profession

menyatakan penunjukan pengurus organisasi profesi advokat harus dilakukan

melalui suatu pemilihan oleh para anggotanya secara bebas (freely elected by



dan tidak boleh ada campur tangan dari luar, sehingga organisasi profesi itu

all the members without interference of any kind by any other body or person)



bisa dianggap sebagai independen karena menganut prinsip self-governing:3

There shall be established in each jurisdiction one or more independent

self governing associations of lawyers recognized in law, whose council

or other executive body shall be freely elected by all the members without

interference of any kind by any other body or person. This shall be without

prejudice to their right to form or join in addition other professional



Sedangkan Poin 24 United Nations Convention: Basic Principles on The

associations of lawyers and jurists.



Role of Lawyers menyatakan:4

Lawyers shall be entitled to form and join self-governing professional

association to represent their interests, promote their continuing

education and training and protect their professional integrity. The

executive body of the professional association shall be elected by its

members and shall exercise its function without external interference.





2

Frans H. Winarta, Organisasi Profesi Advokat Ideal di Waktu Mendatang, , Minggu, 29 Juni 2008

3

Ibid.

4

Ibid.

217 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Dari kedua kutipan sumber hukum internasional itu sudah jelas

jaminan independensi dan imparsialitas organisasi profesi advokat hanya

dapat diperoleh dari pemilihan jajaran pengurusnya secara bebas, jujur,

independen dan imparsial.

Undang-undang tentang Advokat secara jelas, memperkuat posisi

advokat sebagai suatu profesi yang independen, tidak dapat dikooptasi dan

diintervensi pemerintah, sehingga mampu mewujudkan supremasi hukum

dan membela hak-hak asasi manusia. Namun pelaksanaanya menemui banyak

kendala, antara lain perpecahan yang terjadi di internal organisasi profesi

advokat, sehingga menghambat pelaksanaan fungsi, tugas dan tanggungjawab

organisasi advokat.

Untuk itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana

reformasi di organisasi advokat telah berjalan dalam rangka mewujudkan

kemandirian baik secara organisatoris maupun secara etik.

Adapun pertanyaan penelitian sekaligus sebagai batasan penelitian

adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep pembaharuan advokat yang akan dimanatkan oleh Uu

No. 18 tahun 2003 tentang Advokat?

2. Bagaimana pelaksanaan konsep pembaharuan advokat tersebut?

3. Apa permasalahan-permasalahan yang dihadapi profesi advokat dalam

upaya melakukan pembaruan?

4. Apakah pembentukan organisasi advokat tunggal telah sesuai dengan

ketentuan Uu No. 18 tahun 2003 tentang Advokat?

5. Bagaimana organisasi advokat menjalankan fungsi-fungsi yang

diamanatkan Uu No 18 tahun 2003 tentang Advokat?

6. Bagaimana proses rekruitmen advokat, apakah syarat-syarat yang

ditetapkan sudah didasarkan pada paramater yang sesuai dengan

kebutuhan proffesionalisme dan integritas profesi advokat?

7. Bagaimana sistem pendidikan advokat yang telah berjalan selama

ini? Apakah telah cukup mampu memenuhi standar kompetensi yang

dibutuhkan oleh dunia advokat?

8. Bagaimana sistem pembinaan advokat yang berjalan selama ini, apakah

telah cukup mampu meningkatkan proffesionalisme advokat?

9. Bagaimana sistem pengawasan/penegakan kode etik advokat yang

berjalan selama ini? Apakah telah memperluas akses untuk mengawasi

profesi advokat, baik dari teman sejawat, aparat penegak hukum maupun

masyarakat?

10. Apakah proses penegakan kode etik telah berjalan dengan prinsip

transparansi, partisipasi dan akuntabilitas?

11. Bagaimana bentuk dan mekanisme pembentukan organisasi advokat yang

diamanatkan oleh UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat?

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 218



12. Bagaimana hubungan antar organisasi advokat?

13. Bagaimana hubungan antara organisasi advokat dengan aparat penegak

hukum lain?

14. Bagaimana pelaksanaan kewajiban advokat dalam memberikan bantuan

hukum pro-bono?



Hasil penelitian tentang evaluasi reformasi di bidang profesi advokat

ini dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan; pertama, pendekatan

yuridis-empiris, yaitu dalam menganalisis data yang didasarkan pada asas-

asas hukum dan peraturan perundang-undangan serta perbandingan dengan

praktek peradilan yang terjadi5 dalam hal ini berkaitan dengan pelaksanaan

reformasi di bidang profesi advokat.

Kedua, pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini dipergunakan

metode sosiologis normatif (socio – legal method) dengan menggali data

primer melalui pendapat para ahli (expert meetings), wawancara mendalam

dengan berbagai pihak yang terkait dengan masalah yang diteliti, diskusi

kelompok terarah (focus group discussions) untuk membahas kesimpulan-

kesimpulan sementara yang dibuat oleh Tim Peneliti, serta penyebaran

kuesioner.









5

Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada,

Jakarta, 2001, Hal, 6

BAB II

PEMBAHASAN SEJARAH PROFESI

ADVOKAT DI INDONESIA



A. MASA SEBELUM BERLAKU UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG



Pengadopsian HIR yang menempatkan hakim dalam posisi sentral

PROFESI ADVOKAT



(terutama dalam acara perdata)6 dipengaruhi oleh cara pandang terhadap

tertib hukum tradisional Indonesia. Pelanggengan terhadap sikap dan

pilihan di atas harusnya mempertimbangkan kondisi obyektif yang terus

berkembang terhadap institusi hukum dan sistem hukum Indonesia. Akan

tetapi, kenyataannya adalah pelanggengan kondisi hakim sebagai posisi

sentral memberikan keleluasaan yang besar terhadap penguasa dalam

menjalankan politik hukum yang dinilai menjadi sangat dominan. Yang terjadi

mekanisme checks and balances dalam sistem dan proses penegakan hukum

lemah, minimnya transparansi dan akuntabilitas publik, tidak optimalnya

jaminan hak asasi manusia yang semuanya dapat menjadi pintu gerbang bagi

advokat untuk masuk dan menjadi agen perubah secara obyektif, mandiri,

independen dan memperjuangkan hak-hak masyarakat sesuai dengan UUD

1945. Di Indonesia berbagai pengaturan negara yang pernah dibuat masing-

masing mengintrodusir terminologi tersendiri bagi profesi hukum.

Istilahadvokat,pengacara,jurukuasadanpembelayangpernahdigunakan

dan dikenal tidak lepas dari peran pengaturan negara. Hanya terminologi pokrol

bambu, pembela umum dan konsultan hukum yang tidak secara langsung

dihasilkan oleh pengaturan hukum positif. Namun, pokrol sendiri sebenarnya

berasal dari terminologi procureur yang dikenal lewat pengaturan pada masa

Belanda. Istilah bambu lebih merupakan pengidentifikasian masyarakat atas

pemberian jasa hukum oleh para pokrol yang sering memanfaatkan awamnya

pengetahuan masyarakat tentang prosedur hukum negara atau dengan kata

lain pokrol sering dinilai membohongi masyarakat. Pembela umum adalah

terminologi yang dipilih para sarjana hukum yang melaksanakan bantuan

hukum (legal aid). Sedangkan terminologi konsultan hukum diperkenalkan

sebagai profesional hukum yang pada masa awal pemberlakuan Undang-

Undang tentang Penanaman Modal Asing lebih memilih untuk berspesialisasi

dalam jasa bantuan hukum non litigasi.

6

R. Soepomo, Hukum Atjara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnja Paramita, 1972),

hal.19. Dimana hukum acara yang diterapkan bersifat langsung (onmiddellijkheid van

procedure) yang artinya hakim mempunyai hubungan langsung dangan para pihak dan hakim

adalah aktif dalam persidangan, karena bantuan hukum dari para ahli hukum tidak dianggap

perlu lantaran cukup dilakukan oleh hakim.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 220



Dalam perkembangannya masing-masing istilah memberi batasan

lingkup kerja dan pertanggungjawabannya. Misalnya istilah advokat, pengacara

praktek, dan penasehat hukum lebih diperuntukan bagi praktisi litigasi, atau

istilah konsultan hukum yang dipakai oleh para praktisi non litigasi. Bahkan

terminologi penasehat hukum yang terkesan lebih resmi dan dimaksudkan

meliputi semua lingkup kerja profesional hukum tidak mampu menghindari

dari masalah historis dan linguistik. Secara historis peran pemberian jasa

hukum oleh advokat di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda

setelah pecahnya perang Napoleon pada permulaan abad XIX.

Persinggungan perangkat hukum asing yang diperkenalkan dan

diberlakukan oleh Belanda dengan tata nilai yang telah hidup ditengah-

tengah masyarakat Indonesia menimbulkan hubungan informal antara tata

tertib hukum tradisional dan kolonial. Salah satu mata rantai antara dua dunia

hukum itu adalah pokrol bambu (zaakwaarnemer-ed) di desa-desa dan ahli

hukum profesional (advocaat en procureurs-ed) yang lahir dikota-kota besar

pada pelayanan administrasi kolonial di pengadilan-pengadilan pemerintah

dan sekolah-sekolah hukum.7 Fungsi pokrol bambu dan advokat profesional

awalnya secara umum tidak jauh berbeda yakni untuk menjembatani

kepentingan hukum masyarakat yang oleh politik pemerintah Hindia Belanda

diharuskan menempuh prosedur dan mekanisme dan tata kerja peradilan

pemerintah agar memenuhi standar legalitas formal yang telah ditetapkan.

Satu-satunya yang perlu dibedakan adalah prasyarat yang harus dimiliki

untuk menjalankan fungsi tersebut,8 kelompok masyarakat yang menjadi

target pemberian jasa mereka yang pada gilirannya menentukan pula dari

kelompok masyarakat mana mereka berasal.

Setelah kemerdekaan R.I. kondisi advokat Indonesia sebagaimana

ditemukan pada masa penjajahan terus berlanjut akibat pilihan konstitusi

yaitu Pasal II aturan peralihan UUD 1945 yakni peraturan yang berlaku pada

pemerintahan Hindia Belanda sebelum Indonesia merdeka tetap berlaku

sebelum ada gantinya, sehingga peraturan seperti HIR dan Rbg tetap menjadi

pedoman beracara dalam hukum positif Indonesia. Hal ini dikemudian hari

dinilai sebagai pilihan yang salah, karena berkaitan erat dengan sistem

lembaga peradilan yaitu Landraad beserta hukum acaranya yaitu HIR.9

Pengambilan pilihan ini dipengaruhi oleh pandangan ahli hukum bangsa

ketika itu yang sangat mementingkan prinsip kesimbungan dan kehati-hatian

karena proses berpikir yang dogmatis dan kaku.



7

Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan, (Jakarta: LP3ES,

1980), hal.130.

8

Ibid., Hal ini mempengaruhi pendekatan yang digunakan masing-masing dalam menjalankan

fungsinya.

9

Frans Hendra Winarta, Bantuan Hukum: Suatu Hak Asasi Manusia Bukan Belas Kasihan,

(Jakarta: PT. Elexmedia, 2000), hal.24.

221 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Sekitar tahun 1950-an hingga awal tahun 1960-an belum ada

organisasi advokat yang teratur terutama di Jakarta, sementara dibeberapa

daerah lain seperti Semarang telah terbentuk Balie van Advocaten, namun

aktifitas perkumpulan advokat di Jakarta baru sekedar pertemuan berkala

dan secara informal.

Berdasarkan keinginan untuk menghimpun para advokat di Jakarta,

beberapa orang advokat senior seperti Mohammad Roem menggagas

pendirian Balie van Advocaten Jakarta seperti yang dibentuk para advokat

di Semarang. Awalnya gagasan tersebut hanya membentuk organisasi

advokat lokal dengan landasan anggaran dasar, namun gagasan berkembang

menjadi sebuah ide untuk mempersatukan advokat secara nasional. Ide

ini disambut oleh beberapa advokat senior lainnya sehingga terbentuk tim

penyusun anggaran dasar berikut anggaran rumah tangga yang terdiri atas

A.Z. Abidin, Hasyim Mahdan, Amartiwi Saleh, Harsubeno, Djamaluddin Datuk

Singomangkuto dengan ketua tim Loekman Wiriadinata. Setelah melalui

berbagai perdebatan lahirlah Persatuan Advokat Indonesia (PAI) pada tanggal

14 Maret 1963. Hal ini direspon dengan baik oleh beberapa Balie di daerah.

Dengan dimotori oleh beberapa advokat di Solo, diselenggarakan kongres

advokat tingkat nasional yang pertama setahun kemudian, pada tanggal 30

Agustus 1964, melalui Kongres I Musyawarah Advokat di Hotel Dana Solo,

terbentuklah PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia). Nama Persatuan

Advokat Indonesia dengan singkatan Peradin yang disahkan Kongres.

Dukungan tidak hanya datang dari pemerintah tepatnya dari Pangkostrad

Jenderal Soeharto dengan diterbitkannya Surat Pernyataan Bersama Menteri

Panglima Angkatan Darat selaku Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan

Ketertiban (Pangkopkamtib) (3 Mei 1966).

Pada zaman demokrasi terpimpin para advokat mulai menjauhkan diri

dari lembaga formal, diisolasi sebagai unsur swasta dan sering diperlakukan

seperti musuh dari pihak hakim dan jaksa. Profesi advokat mulai mengalami

masa stagnan dengan jumlah sampai tahun 1966 tidak lebih dari 250 orang

di seluruh Indonesia. Pada masa itu mulai ada advokat yang merasa terpaksa

atau dengan senang hati menyesuaikan diri pada maraknya arus korupsi yang

dilakukan oleh mafia peradilan yang merajalela di lembaga peradilan.

Pada zaman Orde Baru, advokat yang terkumpul dalam Peradin

tidak hanya berperan sebagai advokat dalam arti sempit yang beracara di

pengadilan, tetapi juga sebagai pejuang reformasi, negara hukum, dan hak

asasi manusia. PERADIN sebagai wadah tunggal organisasi avokat Indonesia,

baru mendapat pengakuan pemerintah setelah tumbangnya pemerintahan

orde lama.

Dalam perjalanannya, pengakuan pemerintah terhadap PERADIN

sebagai wadah tunggal organisasi advokat Indonesia mengalami pasang dan

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 222



surut. Jumlah lawyer yang masuk menjadi anggota Peradin hanya merupakan

minoritas yang ada. Menjelang setahun setelah Soeharto menduduki kursi

kepresidenan menggantikan Soekarno, hubungan antara Peradin dengan

pemerintah menemukan batu sandungan pada tahun 1967. Hal ini menjadi

ujian keras bagi perjuangan advokat untuk menegakan kemandiriannya setelah

pendirian Peradin di mana Yap Thiam Hien saat itu diadili oleh Pengadilan

Istimewa DKI Jakarta, dengan tuduhan menghina seorang Inspektur Jenderal

Kepolisian dan seorang hakim tinggi di Jakarta. Walau kalah di tingkat

pertama dan tingkat banding keinginan kuat untuk menjadikan perkara Yap

sebagai test case terhadap kemandirian advokat maupun kemandirian profesi

advokat dengan hasil yang sangat membanggakan. Putusan Mahkamah Agung

ditingkat Kasasi menjadikan perkara ini demikian penting, karena tidak

hanya memberi penegasan kepada imunitas profesi di persidangan, tetapi

juga menunjukan titik cerah bagi imparsialitas pengadilan.10

Perselesihan di antara anggotanya telah pula memberikan andil

timbulnya krisis PERADIN sebagai wadah tunggal, yaitu dengan terbentuknya

Himpunan Penasehat Hukum Indonesia (HPHI), yang kemudian disusul

dengan bermunculannya berbagai organisasi advokat. Gejala berpalingnya

pemerintah dari Peradin direfleksikan dengan izin pemerintah atas

pembentukan LPPH (Lembaga Pelayanan dan Penyuluhan Hukum) yang

dipimpin Albert Hasibuan (1979). LPPH adalah salah satu underbow

dari Golongan Karya, partai yang berkuasa saat itu, dan juga ditengarai

dimaksudkan untuk menandingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang

dibentuk Peradin sebelumnya.

Lembaga Bantuan Hukum yang didirikan pada tahun 1970 oleh Adnan

Buyung Nasution yang disponsori dan didukung oleh Peradin mencerminkan

prinsip dan pandangan banyak anggotanya diantaranya pengacara muda

yang pernah ikut LBH ada juga yang tetap aktif sekarang sebagai advokat yang

mendesak tetap menuju pada realisasi negara hukum yang adil yang sekarang

lebih dikenal dengan LBH/YLBHI. Pada tahun 1977, Peradin menyatakan

sebagai organisasi perjuangan yang bermaksud menciptakan kembali negara

hukum.

Di masa orde baru praktek konsultasi hukum non-litigasi mulai

berkembang dengan pesat sejalan dengan tumbuhnya firma-firma hukum

besar yang menjalankan pola kerja seperti firma-firma hukum di Inggris

dan Amerika. Pilihan untuk berpraktek litigasi di kota-kota besar menjadi

tidak populer seperti semula. Para advokat kembali masuk ke kantor-kantor

10

Ropaun Rambe, Teknik Praktek Advokat, (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), hal.4. Dalam Putusan

No.129K/Kr/1970 tahun 1969 yang dikenal dengan nama “Yurisprudensi Yap Thiam Hien”,

oleh Mahkamah Agung dinyatakan bahwa “Pada hakekatnya pembelaan klien dilakukan oleh

advokat karena terpaksa (noodzakelijkeverdediging), karena ucapan dan tindakan advokat

tersebut masih terbatas dalam pembelaan untuk kliennya”.

223 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



mereka, dan mengasingkan diri dari proses yang berjalan di lembaga-lembaga

peradilan.

Dalam perkembangan penyikapan negara terhadap status dan peran

advokat yang relatif statis ditunjukan pada materi pengaturan sederhana dari

berbagai undang-undang organik di bidang peradilan yang berkaitan dengan

fungsi advokat di dalamnya seperti UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan

Tata Usaha Negara, UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, UU No.

17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Perpajakan, dan UU No.

30 Tahun 1999 tentang Arbitrase yang memperbolehkan pihak berperkara

untuk diwakili oleh kuasanya melalui pemberian surat kuasa khusus atau

secara lisan di muka persidangan. Ada pula beberapa peraturan perundang-

undangan yang mendukung pengakuan fungsi advokat seperti UU No. 4

Tahun 1998 tentang Kepailitan yang mewajibkan permohonan-permohonan

tertentu kepada Pengadilan Niaga untuk diajukan oleh seorang penasehat

hukum yang memiliki izin praktek, contoh lainnya Keputusan Ketua BAPEPAM

NO. 204/PM/1992 yang mensyaratkan advokat yang melakukan kegiatan di

Pasar Modal untuk menjadi anggota HKHPM, melembagakan rekomendasi

HKHPM bagi penerbitan izin advokat yang bergerak di Pasar Modal dan

mengakui kode etik yang dibuat oleh HKHPM untuk ditaati oleh anggotanya.

Catatan penting lainnya yakni pembentukan organisasi Pengabdi

Hukum pada tahun 1966 yang terdiri dari Peradin, himpunan-himpunan

hakim, jaksa, polisi. Pengabdi hukum yang diketuai oleh hakim agung Sri

Widoyati Wiratmosukito dengan tujuan meluruskan penyelewengan proses

hukum dan mulai mengadakan perombakan dari dalam sistem hukum sendiri.

Dengan adanya organisasi ini koreksi penyalahgunaan kekuasaan seperti

penahanan dan penangkapan tanpa dasar, dapat dilakukan melalui kontak

pribadi pejabat yang terlibat.11 Menurut Daniel S. Lev, yang mengomentari

tentang kejadian demikian pada saat itu telah terjadi pertama kalinya sejak

dibentuk demokrasi terpimpin maka advokat dapat diterima secara terbuka

dikalangan sarjana hukum pegawai pemerintah.12 Akan tetapi secara formal

pembentukan Pengabdi Hukum ini tidak dapat dilihat sebagai pengakuan

pemerintah terhadap advokat, sebab keterikatan para anggota tidak mewakili

institusi tempat mereka mengabdi. Akibatnya bila terjadi pertentangan tujuan,

pihak kejaksaan misalnya cukup memerintahkan kepada jaksa yang menjadi

anggota Pengabdi Hukum untuk mengundurkan diri sehingga akhirnya

organisasi itu bubar. Menurut Adnan Buyung Nasution, walaupun lembaga

Pengabdi Hukum ditujukan untuk membangun kembali konsep negara

hukum, trias politika, sikap profesional para hakim, jaksa, polisi dan advokat

tetapi karena mengalami conflict of interest diantara sesama profesi penegak

11

Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan, (Jakarta: LP3ES,

1980), hal.481.

12

Ibid.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 224



hukum maka timbul perpecahan ketika mengalami suatu perkara kongkret.13

Perkembangan waktu menimbulkan pembentukan lembaga Mahkejapol yang

beranggotakan unsur Mahkamah Agung, Departemen Kehakiman, Kejaksaan,

dan Kepolisian yang pada dasarnya bertujuan mengintegrasikan unsur-unsur

penegak hukum dalam menjalankan fungsinya dalam sistem peradilan yang

sayangnya profesi advokat tidak termasuk dalam lembaga ini.

Perkembangan terakhir terhadap pengakuan profesi dan fungsi advokat

adalah dengan pembahasan dan pangajuan RUU tentang Profesi Advokat yang

secara eksklusif melibatkan beberapa organisasi profesi advokat yang dipandang

besar dan dinilai mempunyai pengaruh signifikan dalam merepresentasikan

golongan-golongan yang ada dikalangan advokat yaitu Ikadin, IPHI, AAI, dan

AKHI. Pemerintah lewat tim perumus RUU bentukan Departemen Hukum

dan Perundang-undangan RI yang saat itu diketuai oleh H.A.S Natabaya

Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) malah menyepakati dalam

draf usulannya untuk memberikan kewenangan transisional kepada empat

organisasi advokat tersebut guna melaksanakan fungsi pengaturan terhadap

advokat sebelum organisasi advokat yang diinginkan dalam RUU terbentuk.

Pada Pasal 38 UU No.14 Tahhun 1970 dan penjelasannya mengatakan perlunya

undang-undang mengenai bantuan hukum yang diatur tersendiri walau

terminologi yang digunakan dalam pasal tersebut adalah bantuan hukum

namum substans dari Bab VII UU No.14 Tahun 1970 mengenai bantuan hukum

sebenarnya mengacu kepada fungsi advokat secara umum. Telah timbul

kesadaran dari kebanyakan advokat sendiri serta sebagian dari aparat penegak

hukum lain untuk mendorong adanya sistem penegakan hukum terpadu

yang menempatkan hakim, jaksa, polisi pemasyarakatan dan advokat dalam

kedudukan yang setara. Pendapat yang lebih mengemuka adalah keinginan

adanya Undang-Undang Advokat,14 masih ada pertanyaan kritis yang perlu

diajukan yaitu apakah undang-undang ini memang dibutuhkan untuk dapat

menguatkan kedudukan advokat di Indonesia terutama mengingat hakekat

dari profesi yang memiliki karakter otonom.

Sebagai perbandingan misanya di Amerika Serikat tidak memiliki

undang-undang yang mengatur profesi advokat, pengaturannya dibuat

sendiri-sendiri oleh organisasi advokat dan advokat memiliki kedudukan

13

Adnan Buyung Nasution, “In Memoriam Hardjono Tjitrosoebono”, Kompas, 16 November

1999.

14

Pendapat mengenai pentingnya undang-undang ini antara lain dikemukakan oleh Frans

Hendra Winarta dan Luhut M.P. Pangaribuan, serta pendapat dari advokat-advokat lainnya yang

terekam oleh media massa dalam berbagai kesempatan. Lihat: Winarta, Advokat Indonesia...,

op.cit., dan Luhut M.P. Pangaribuan, Advokat dan Contempt of Court: Suatu Proses di Dewan

Kehormatan Profesi, (Jakarta:Jambatan, 1996). Hal ini semakin terlihat dengan diajukannya

Rancangan Undang-Undang tentang Advokat dari Pemerintah kepada DPR-RI pada media

2000 yang diiringi dengan RUU versi DPR-RI serta berbagai versi RUU Advokat lainnya yang

diajukan oleh organisasi advokat.

225 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



yang baik dan peran yang signifikan dalam pembentukan hukum.15 Trimoelja

D. Soerjadi advokat Surabaya yang menerima Yap Thiam Hien Award tahun

1994 mengungkapkan perlunya profesi advokat untuk diatur dalam undang-

undang dengan alasan bahwa profesi advokat seringkali dilecehkan oleh aparat

penegak hukum lainnya karena belum ada kesetaraan dalam melaksanakan

fungsi di peradilan.16 Akan tetapi pendapat itu dapat dipatahkan dengan

argumentasi dapat diimbangi dengan penguatan profesi yang dapat dibangun

melalui keberadaan code of conduct serta organisasi profesi yang baik. Masalah

lainnya adalah banyaknya perbedaan persepsi dikalangan advokat serta

pertarungan eksistensi antar organisasi advokat yang melemahkan profesi

itu sendiri, terutama dalam mempertahankan posisi tawar dalam kerangka

hubungan administratif antara negara dan advokat yang bersentuhan dalam

praktek peradilan, karena besarnya intervensi kekuasaan pemerintah yang

melemahkan organisasi advokat sendiri.

Perjalanan panjang upaya pembentukan undang-undang advokat

dapat dideteksi sejak awal pembahasan hingga pemberlakuan UU No. 19

Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Dalam Pasal 26 undang-undang tersebut menyatakan hak setiap orang yang

berperkara untuk mendapatkan bantuan hukum diatur dengan undang-

undang. Agaknya negara melalui undang-undang tersebut mulai merespon

kebutuhan akan peran advokat dalam penyelenggaraan peradilan disamping

kebutuhan masyarakat yang terus meningkat akan pendampingan hukum

yang kompeten, karena itu perlu dibentuk undang-undang tersendiri

mengenai bantuan hukum.

Angin segar bagi proses pengundangan RUU Advokat mulai terasa

ketika pada tahun anggaran 1998/1999, RUU Advokat dijadikan prioritas

pembahasan oleh pemerintah. Pada saat yang sama RUU Pelayanan Hukum

yang ada di Sekretariat Negara ditarik oleh Menteri Kehakiman RI Muladi

untuk diubah dengan mempertimbangkan masukan para advokat.17 Pada

tahun sebelumnya yakni 1997, pernah dihasilkan rancangan Keputusan

Menteri Kehakiman RI tentang Advokat yang dimaksudkan untuk menjadi

peraturan pendahuluan dari prinsip-prinsip yang ada dalam RUU Advokat

dan melibatkan organisasi-organisasi advokat dalam pengurusannya,18

tetapi rancangan tersebut tidak pernah diberlakukan. Dalam perkembangan

15



(Studi Tentang Tanggung Jawab Profesi Hukum Di Indonesia), (Jakarta: Pusat Studi Hukum

Binziad Kadafi, Aria Suyudi, Bani Pamungkas et. All, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi



dan Kebijakan, 2001), hal. 90.Perlu dicatat bahwa peran advokat yang signifikan dalam

pembentukan hukum lebih dikarenakan sistem hukum Amerika yang menerapkan Common

16

Ibid., hal. 91. Wawancara mendalam dengan Trimoelja D. Soerjadi di Surabaya, 23 November

Law System.



2000.

17

Ibid., hal. 102, Kompas, 17 Februari 1998.

18

Ibid., hal. 102, Kompas, 23 Juni 1997.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 226



terakhir, proses pengajuan RUU Advokat dikaitkan dengan penguatan

mereformasi sistem hukum dan sistem peradilan Indonesia. Perhatian besar

mau tidak mau harus diberikan kepada profesi advokat antara lain dengan

pengaturan dan upaya memperkuat profesi tersebut. Pemerintah menyatakan

komitmennya secara formal untuk memperkuat standar praktek advokat

pada tanggal 31 Juli 2000 yaitu dalam Letter of Intent dengan International

Monetary Fund (IMF).19 Di pihak DPR RI sendiri dengan dukungan terhadap

RUU Advokat juga cukup besar. Oleh karena dalam masa jabatan DPR tahun

1999-2004 banyak anggota DPR yang berasal dari profesi advokat. Mereka

pernah secara terbuka berjanji untuk memprioritaskan pembahasan RUU

Advokat di DPR, termasuk untuk menyusun RUU usul inisatif jika pemerintah

tidak juga mengajukan RUU yang disusunnya kepada DPR. Janji beberapa

anggota DPR tersebut disambut oleh pengurus Ikadin yang menyerahkan

draf RUU Advokat versi Ikadin kepada DPR untuk dijadikan RUU usul inisatif

pada bulan November 1999. Akan tetapi penyingkapan terhadap isu rangkap

jabatan (advokat yang menjadi pejabat negara)menjadi ganjalan bagi DPR

untuk menerima draf RUU Advokat versi Ikadin. Kepentingan langsung para

anggota DPR yang berasal dari kalangan advokat terusik sementara Ikadin

sangat konsisten mengadvokasikan sikapnya. Sedangkan AAI lebih bersikap

akomodatif terhadap isu rangkap jabatan. Di bulan Februari 2000 AAI yang

diterima Komisi II DPR mengomentari draf RUU Advokat versi Ikadin dan

menyatakan tidak mendukung pelarangan rangkap jabatan. Menurut AAI,

selama tidak ada undang-undang yang melarang perangkapan jabatan maka

praktek tersebut sah.

Di tengah kontroversi diatas serta perdebatan mengenai isu-isu lainnya,

tim penyusun RUU Advokat yang diketuai H.A.S. Natabaya secara mengejutkan

berhasil menyatukan wakil-wakil organisasi advokat dan menghasilkan draf

RUU Advokat versi pemerintah. Lewat surat No.R.19/PU/9/2000 tanggal 28

September 2000 pemerintah memenuhi komitmen dengan membuat Letter

of Intent untuk menyampaikan RUU tentang Profesi Advokat secara resmi

kepada pimpinan DPR RI yang berisi 35 pasal.20 Pada tanggal 28 Oktober 2000,

Pemerintah, lewat Menteri Kehakiman Moh. Machfud MD, menyampaikan

keterangan pemerintah atas RUU Profesi Advokat di depan Rapat Paripurna

DPR. Nuansa lobby antara pemerintah dengan wakil-wakil organisasi advokat

besar sangat kental dalam proses pembahasan sampai materi muatan

terakhir RUU tentang Profesi Advokat. Cukup banyak peran strategis yang

diberikan oleh pemerintah kepada organisasi-organisasi advokat tersebut. 15

November 2000, Fraksi-fraksi yang ada di DPR menyampaikan pemandangan

umum terhadap usulan Pemerintah. Disamping RUU versi pemerintah, DPR

19

Patricia J. Kendall, “Inventory and Assessment of Indonesian Bar Associations” (Laporan

penelitian yang dikerjakan untuk USAID/ELIPS Bridge Project, Maret 2001), hal.4.

20

Kompas, 4 Oktober 2000.

227 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



RI melalui Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi (P3I) menyusun draf

RUU sandingan yang memberikan perhatian lebih besar kepada para advokat

yang tidak tergabung dalam orangisasi-organisasi yang ada.

Pada tanggal 11 Februari 2002, tujuh organisasi Advokat yaitu

Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan

Penasihat Hukum Imdonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara

Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultam

Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKPM)

membentuk Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI) menggantikan Forum

Komunikasi Advokat Indonesia (FKAI) yang dibentuk sebelumnya oleh IKADIN,

AAI dan IPHI pada tanggal 24 Desember 1997. Pada tanggal 17 Februari 2003,

Rapat Panitia Kerja DPR memutuskan untuk membentuk dan menugaskan

Tim Perumus dan Tim Sinkronisasi untuk merumuskan substansi RUU Profesi

Advokat yang sebelumnya sudah disepakati Panitia Kerja. Tim langsung

dipimpin oleh Ketua Komisi II DPR Agustin Teras Narang dan pada tanggal

18 Pebruari 2003 kelompok sarjana syariah mendirikan Asosiasi Pengacara

Syariah Indonesia (APSI), yang selanjutnya pada tanggal 20-21 Februari

2003 dilakukan pembahasan di Tim Perumus. Beberapa hari kemudian yakni

tanggal 25 Februari 2003 Tim Sinkronisasi RUU Advokat melaporkan dalam

Rapat Panja Komisi II DPR tentang capaian dari perumusan, dan pada tanggal

5 Maret 2003 diadakan rapat kerja kembali dengan Menteri Kehakiman

untuk mendengarkan laporan Panja dan kemudian disempurnakan untuk

dibawa ke pembicaraan tingkat dua. Pada tanggal 6 Maret 2003 diadakan

Laporan oleh Komisi II yang kemudian dilanjutkan pendapat akhir Fraksi-

fraksi. Pada tanggal 05 April 2003, RUU Profesi Advokat diundangkan oleh

Menteri Sekretaris Negara ke dalam Lembaran Negara, tanpa tanda tangan

Presiden Megawati.21 Pada tanggal 17 April 2002 bersama Mahkamah Agung

yang selanjutnya menyelenggarakan ujian praktek pengacara secara mandiri

oleh KKAI. KKAI menetapkan Kode Etik Advokat pada tanggal 23 Mei 2002,

kemudian peyelenggaraan ujian pengacara praktek pada tanggal 27 Agustus

2002 di seluruh Indonesia.

Pada 16 Juni 2003 IKADIN, AAI, IPHI, HAPI, SPI, AKHI, dan HKHPM

setuju memakai nama Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI). Pasal 32 ayat

(4) UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat menuntut agar dalam waktu

paling lambat 2 (dua) tahun setelah berlakunya Undang-undang Nomor 18

tahun 2003, Organisasi Advokat harus telah terbentuk. Berkaitan dengan

hal itu, IKADIN, AAI, IPHI, HAPI, SPI, AKHI, dan HKHPM telah bersepakat

untuk mempersiapkan terbentuknya organisasi advokat sebagaimana

dimaksud dalam pasal 32 ayat (4) Undang-undang Nomor 18 tahun 2003.

Pada tanggal 16 Juni 2003, ke tujuh organisasi dimaksud bersepakat untuk

21

Kronologis Perjalanan UU Advokat, www.hukumonline.com, [5/4/04]

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 228



membentuk Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI)22 yang bertujuan untuk

mempersiapkan terbentuknya organisasi advokat. Sebagai kelanjutan dari

terbentuknya KKAI, maka pada tanggal 21 Desember 2004, ke tujuh organisasi

advokat yang merupakan anggota dari KKAI dan Asosiasi Pengacara Syariah

Indonesia (APSI) telah mendeklarasikan pendirian Perhimpunan Advokat

Indonesia (PERADI) sebagai satu-satunya wadah profesi advokat23 dan mereka

beranggapan bahwa PERADI adalah organisasi advokat yang dimaksudkan

dalam Undang-undang Nomor 18 tahun 2003.



B. MASA SETELAH BERLAKU UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG



Menurut Pasal 32 ayat (4) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003

PROFESI ADVOKAT



tentang Advokat (UU Advokat), Organisasi Advokat harus terbentuk dalam

waktu paling lambat dua tahun sejak undang-undang tersebut diundangkan.

Dalam waktu sekitar 20 bulan sejak diundangkannya UU Advokat pada 21

Desember 2004, advokat Indonesia sepakat untuk membentuk PERADI.

Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) mulai diperkenalkan ke

masyarakat, khususnya penegak hukum, pada tanggal 7 April 2005 di Balai

Sudirman, Jakarta Selatan. Acara perkenalan PERADI, selain dihadiri oleh

tidak kurang dari 600 advokat se-Indonesia, juga diikuti oleh Ketua Mahkamah

Agung Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, dan Menteri

Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Persoalan legitimasi

PERADI mengemuka setelah adanya surat terbuka dari Dr. Iur. Adnan

Buyung Nasution, S.H. tertanggal 28 Desember 2005, yang pada dasarnya

mempertanyakan keabsahan pembentukan PERADI, dengan alasan bahwa

pembentukan PERADI ternyata sama sekali tidak melalui dan menghormati

prinsip-prinsip demokrasi, karena ternyata didirikan tidak melalui kongres

nasional yang terbuka yang dihadiri oleh seluruh advokat.24 Adnan Buyung

menilai selama ini Peradi tidak mempunyai kemauan, kejujuran untuk

mendirikan organisasi sesuai dengan jiwa, semangat dan komitmen sesuai

UU No. 18/2003 tentang Advokat. Buyung mengaku sudah berulang kali

mengingatkan Peradi segera memperbaiki diri. Surat terbuka ini tampaknya

dalam batas-batas tertentu mempengaruhi sikap beberapa anggota advokat di

daerah. Persoalan keabsahan keberadaan PERADI mengemuka lebih sebagai

reaksi dari kekecewaan terhadap pelaksanaan ujian advokat yang pertama

dilakukan dibawah naungan PERADI.

Pada tahun 2006 terjadi pula permohonan judicial review terhadap

UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat kepada Mahkamah Konstitusi.

22

Kata Pengantar DPP Asosiasi Advokat Indonesia dalam “Undang-undang Nomor 18 tahun

2003, tentang Advokat dan Kode Etik Advokat Indonesia.

23

Deklarasi Pendirian Perhimpunan Advokat Indonesia (Indonesian Advocates Assosiation)

24

Surat terbuka 017/ABNP/ABN/XII/05 tertanggal 28 Desember 2005.

229 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum





Dalam perkara ini yang diajukan oleh Sudjono cs maka Mahkamah

Konstitusi menyatakan kedelapan organisasi pendiri PERADI tetap eksis

namun kewenangannya sebagai organisasi profesi advokat, yaitu dalam hal

kewenangan membuat kode etik, menguji, mengawasi, dan memberhentikan

Advokat, secara resmi kewenangan tersebut telah menjadi kewenangan

PERADI.25 Mahkamah Konstitusi juga menyatakan bahwa kedelapan Organisasi

Advokat pendiri PERADI tetap memiliki kewenangan selain kewenangan

yang telah menjadi kewenangan PERADI, sehingga tidak dapat dikatakan

bahwa Pasal 28 Ayat (1) UU Advokat meniadakan eksistensi kedelapan

organisasi, yang karenanya melanggar prinsip kebebasan berserikat dan

berkumpul sebagaimana diatur UUD 1945.26 Dalam putusan perkara No.014/

PUU-IV/2006 itu, secara tegas menyatakan PERADI sebagai satu-satunya

wadah profesi Advokat pada dasarnya adalah organ negara dalam arti luas

yang bersifat mandiri yang juga melaksanakan fungsi negara. Majelis Hakim

pada Mahkamah Konstitusi menyatakan menolak permohonan pemohon

untuk seluruhnya karena dalil-dalil yang diajukan tidak cukup beralasan.

Sebagaimana telah diberitakan, pemohon mempersoalkan UU Advokat,

diantaranya Pasal 1 angka 1 dan angka 4, Pasal 28 ayat (1) dan (3) serta Pasal

32 ayat (3) dan (4). Khusus untuk Pasal 32 ayat (3), ini adalah kedua kalinya

pasal tersebut diuji di MK. Fungsi negara yang dimaksud oleh Mahkamah

Konstitusi, dengan merujuk pada putusan atas perkara No. 006/PUU-II/2004,

adalah kewajiban para advokat pada umumnya untuk memberikan akses

pada keadilan bagi semua orang.27

Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat memang tidak

menentukan bagaimana mekanisme pembentukan organisasi advokat,

apakah melalui sebuah musyawarah, kongres, atau mekanisme lainnya. Dalam

Pasal 32 ayat (4) UU Advokat hanya ditentukan bahwa dalam waktu paling

lambat 2 (dua) tahun setelah berlakunya Undang-Undang ini, Organisasi

Advokat telah terbentuk. Ketentuan ini membuka potensi konflik antara

PERADI dan KAI. Menurut KAI, pembentukan PERADI tidak sah, karena tidak

dibentuk berdasarkan musyawarah nasional dan telah melewati batas waktu

2 tahun, yakni pada tanggal 5 September 2005. PERADI pun beralasan bahwa

pembentukan KAI pun tidak sah, karena pembentukannya tidak melalui 8

organisasi advokat yang termaktub dalam UU Advokat dan melebihi batas

waktu yang ditentukan UU Advokat, yakni 31 Mei 2008. Berdasarkan Akta

Pernyataan Pendirian Perhimpunan Advokat Indonesia No. 30 tanggal 8

September 2005 yang dibuat di hadapan Notaris Buntario Tigris Darmawan ,

S.E., S.H., M.H. (Akta Pendirian), PERADI terbentuk pada tanggal 21 Desember

25

Ibid.

26

Ibid.

27

Lagi, Permohonan Uji Materiil UU Advokat Kandas di Tangan MK, , 1 Desember 2006.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 230



2004, bukan pada 5 September 2005 sebagaimana dituduhkan KAI.28 Dengan

demikian, syarat 2 tahun sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 32 ayat

(4) UU Advokat telah dipenuhi oleh PERADI.

Perseteruan antara PERADI dan KAI membuat prihatin berbagai pihak

termasuk juga kalangan kampus. Pada hari Senin tanggal 25 Agustus 2008

sejumlah Guru besar dan mantan Hakim Agung membuat Petisi yang mereka

namakan Petisi 5, karena terdiri dari H. Adi Handoyo Soetjipto, S.H., Prof. Dr.

H.M. Laica Marzuki, Prof. Muhammad Abduh, S.H., Prof. Dr. Ningrum N. Sirait,

S.H. dan Prof. Marbun, S.H. Menurut Andi Handoyo pembuatan petisi 5 ini

adalah karena mereka prihatin atas konflik yang terjadi antara kedua wadah

Advokat tersebut. Mantan hakim agung di era tahun 80-an ini menilai bahwa

terbentuknya kedua organisasi advokat tersebut mengandung cacat hukum,

karena keduanya terbentuk telah melampaui batas waktu yang ditentukan

Pasal 32 ayat 4 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Pasal 32 ayat 4

Undang-undang tersebut bersifat imperatif, tidak dapat disimpangi. Andi

Handoyo berpendapat paling lambat bulan April 2005 harus sudah terbentuk

organisasi advokat, sementara PERADI dibentuk bulan September 2005, ini

tidak sah dan melanggar undang-undang yang didalam hukum berarti batal

demi hukum, begitu juga KAI yang lahir beberapa waktu yang lalu. Petisi 5

menghimbau kepada DPR agar Pasal 32 ayat 4 UU No. 18 Tahun 2003 tersebut

segera dirubah agar semua organisasi advokat yang bernaung di bawah

PERADI dan KAI membekukan diri, meletakkan diri seperti layaknya sebelum

ada PERADI dan KAI, segera mungkin melakukan kongres dan mementuk

organisasi advokat yang baru dan yang sah. Petisi 5 bersifat Independen

dan tidak memihak kepada siapapun.29

Dengan adanya perseteruan panjang antar organisasi advokat yang

ada, pihak Peradi menginginkan kepolisian patut untuk bertindak terhadap

advokat yang bukan anggota Peradi namun menjalankan profesi sebagai

advokat, karena akan merugikan pencari keadilan dan merusak citra advokat

sebagai penegak hukum. Menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003

seluruh advokat wajib menjadi anggota Peradi, satu-satunya organisasi

tunggal profesi advokat yang memiliki kewenangan untuk menyelengarakan

ujian dan mengangkat advokat kepada organisasi profesi. Pimpinan Peradi

meminta pemerintah dan Mahkamah Agung (MA) harus segera turun tangan

dan memutuskan organisasi tunggal mana antara Perhimpunan Advokat

Indonesia (Peradi) dan Kongres Advokat Indonesia (KAI) yang berhak

menaungi seluruh advokat di Indonesia dalam beracara, memberikan

sertifikasi atau pengesahan atas profesi mereka sebagai advokat. Melalui UU

28

Hanya Anggota Peradi yang Advokat, , 7 Agustus 2008.

29

Zohiri Kadir, Peradi dan KAI Organisasi Advocat yang Cacat Hukum, , 26 Agustus2008.

231 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Advokat ditegaskan bahwa advokat merupakan penegak hukum, di samping

polisi, jaksa dan hakim.

Dengan UU Advokat, posisi pengemban profesi ini bukan tidak bisa

dikesampingkan, namun berperan penting dalam seluruh proses penegakan

hukum. Ketua Peradi Otto Hasibuan menyerukan warga masyarakat untuk

berhati-hati terhadap tawaran dari luar Peradi yang memberi kesempatan

mengikuti ujian advokat karena pada akhirnya akan mendapat kesulitan

mengingat keabsahan dan legalitas penyelenggaranya.30 Mahkamah Agung

RI sudah menerbitkan edaran nomor 07/SEK/01/I/2007 tanggal 11 Januari

2007 tentang kewajiban penggunaan Kartu Tanda Pengenal Advokat PERADI

untuk berpraktik di Pengadilan. Yang tentunya ini menimbulkan kerisauan

dan rasa ketidakadilan bagi advokat lain yang berada di bawah naungan

manjemen Kongres Advokat Indonesia selama perseteruan belum mencapai

kata sepakat dan jalan keluar untuk penyatuan organisasi advokat.

Ketua Mahkamah Agung Harifin A. Tumpa menegaskan belum

mencabut surat larangan bagi Ketua Pengadilan Tinggi se-Indonesia untuk

mengambil sumpah advokat baru sebelum ada persatuan organisasi advokat

sebagaimana penjelasan kepada pers pada hari Kamis 15 april 2010 di Gedung

Mahkamah Agung. Pengangkatan berikutnya direncanakan akan dilakukan

di Surabaya, Yogyakarta dan Semarang, serta Denpasar masing-masing-

masing pada bulan Mei, Juni dan Juli. Selain itu, Sekjen Peradi Harry Ponto

menegaskan bahwa kewenangan Peradi yang diatur oleh UU No 18 Tahun

2003 tentang Advokat adalah mengangkat advokat. Sedangkan pengambilan

sumpah adalah kewenangan Pengadilan Tinggi. Putusan Mahkamah

Konstitusi, menurut Harry Ponto semakin menegaskan kewajiban hukum

kepada Pengadilan Tinggi untuk mengambil sumpah advokat. Jika Pengadilan

Tinggi tidak juga mengangkat sumpah advokat baru, maka Pasal 4 Ayat (1)

UU Advokat dianggap bertentangan dengan UUD 1945 dan tak mempunyai

kekuatan mengikat lagi. Menurut Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani yang

menyerukan kepada Pengadilan Tinggi untuk segera mengambil sumpah

advokat baru.31

Gagasan mengakhiri perseteruan antara Peradi dan KAI masih sulit

untuk direalisasikan dalam waktu dekat, walaupun banyak pihak yang

ingin menjadi mediator sebab masih harus dibahas terlebih dulu dalam

Musyawarah Nasional (Munas) I Peradi di Pontianak, Kalimantan Barat pada

tanggal 30 April – 1 Mei 2010. Padatnya kegiatan menjelang Munas perdana

membuat Peradi menunda pembentukan Komisi Pengawasan. Ketua Umum

Peradi Otto Hasibuan berharap Komisi Pengawasan itu nantinya terdiri dari

30

Hanya Anggota Peradi yang Advokat, , 7 Agustus 2008.

31

MA Ngotot Tak Akan Ada Pengambilan Sumpah Advokat Baru, , 19 April2010.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 232



berbagai kalangan misalnya advokat, cendekiawan, dan akademisi. Selain

itu, belum ada kepastian apakah peserta munas menerima poin-poin nota

kesepakatan yang telah disetujui dan ditandatangani oleh para utusan Peradi

dan KAI (Kongres Advokat Indonesia) di Jakarta kemarin seperti dikemukakan

Ketua DPC Peradi Malang, H. Sutrisno, S.H., M.Hum. Menanggapi pemberitaan

harian Kompas pada tanggal 19 April 2010 yang mengabarkan bahwa antara

Peradi dan KAI telah sepakat mengakhiri perseteruan. Dalam pemberitaan

dikemukakan bahwa pointer-pointer rekomendasi dari organisasi pendiri

Peradi telah ditandatangani di Jakarta. Pihak yang mewakili Peradi antara lain

Sugeng Teguh Santoso, Adardam Achyar, dan Felix O. Soebagyo. Sedangkan

dari pihak KAI diwakili oleh Tomy Sihotang, Abdul Rohim Nasution. Mengenai

rancangan program kerja yang diusulkan dalam munas antara lain tentang

upaya-upaya yang harus dijalankan DPN Peradi dalam menyikapi surat

keputusan Mahkamah Agung yang melarang KPT (Ketua Pengadilan Tinggi)

melakukan penyumpahan terhadap para calon advokat yang telah diangkat

dan dilantik oleh Peradi. Selain itu juga perlu segera dibuat program kerja

yang mengarah pada peningkatan profesionalisme advokat.32

Sebelum pelaksanaan Munas I Peradi di Pontianak, maka Perhimpunan

Advokat Indonesia (Peradi) akhirnya mengangkat advokat baru untuk wilayah

Jakarta dan sekitarnya pada hari Kamis 22 April 2010 di salah satu hotel

bintang lima di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta dengan tercatat hampir

900 orang advokat baru yang diangkat. Akan tetapi pengangkatan advokat

kali ini tidak diikuti dengan pengambilan sumpah yang dipimpin Ketua

Pengadilan Tinggi, Ketua Umum Peradi Otto Hasibuan menyatakan akan

segera menyampaikan daftar nama advokat baru ini ke Pengadilan Tinggi

Jakarta. Meski demikian, Peradi tidak akan memberi tenggat waktu kepada

Pengadilan Tinggi. Hasil klarifikasi juru bicara Pengadilan Tinggi Jakarta,

Hakim Tinggi Andi Samsan Nganro mengatakan belum pernah menerima

permintaan pengambilan sumpah dari Peradi. Kalaupun ada permintaan

dari Peradi, tidak akan serta merta Pengadilan Tinggi Jakarta menggelar

sidang terbuka untuk mengambil sumpah advokat, karena akan menunggu

petunjuk terlebih dulu dari Mahkamah Agung sebab pada bulan Mei 2009

Ketua Mahkamah Agung Harifin A. Tumpa telah mengeluarkan surat yang

melarang seluruh Pengadilan Tinggi mengambil sumpah advokat sebelum

organisasi advokat rujuk. Berdasarkan keterangan terpisah ternyata Ketua

Mahkamah Agung secara informal membebaskan sikap Pengadilan Tinggi

untuk mengambil sumpah advokat atau tidak, dengan mempertimbangkan

dan mempelajari dahulu Putusan Mahkamah Konstitusi yang memerintahkan

semua Pengadilan Tinggi untuk mengambil sumpah semua advokat baru

32

Henny Mono, Gagasan “Damai” Peradi Vs KAI Harus Dibahas Munas, , 19 April 2010.

233 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



dalam kurun waktu dua tahun.33

Sementara itu mewarnai persiapan Munas Peradi yang pertama di

Pontianak maka sejumlah advokat membentuk dan mendeklarasikan Forum

Peduli Advokat Indonesia (FPAI) untuk menyatukan wadah advokat di

seluruh Indonesia itu, yang digagas oleh sejumlah advokat senior diantaranya

Yan Apul, Rudhy A. Lontoh, Hakim Simamora, Agust Takarborbir, O.C. Kaligis,

Djony Aluwi, Tjandra Sridjaja, Frans Hendra Winarta, Singap A. Panjaitan,

Assegaf, dan sejumlah nama lainnya. Baru-baru ini juga dideklarasikan

Federasi Advokat Indonesia (FAI) dan Majelis Advokat Indonesia (Madina).

Dalam deklarasinya yang dibacakan Singap A. Panjaitan sebagai Sekjen FPAI,

menyatakan FPAI adalah sekelompok advokat Indonesia dari berbagai latar

belakang dan dari organisasi advokat yang berbeda-beda yang mempunyai

kepedulian dan keprihatinan yang sama terhadap perpecahan, bahkan

pertikaian antarorganisasi advokat yang terjadi dewasa ini. Menurut Yan

Apul sebagai Ketua FPAI, forum ini bertujuan menghantar terbentuknya suatu

wadah tunggal organisasi advokat di Indoensia, dengan menghimbau dan

menggugah seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah RI, lembaga

penegak hukum, masyarakat advokat, KAI, Peradi, Peradin, dan organisasi

advokat lainnya, untuk mendukung penyelenggaraan satu musyawarah

advokat Indonesia. Jika nantinya wadah itu sudah terbentuk tugas FPAI

selesai dan FPAI dengan sendirinya akan membubarkan diri. Organisasi

baru yang nantinya akan dibidani kelahirannya oleh FPAI itu, diharapkan

dapat merangkul seluruh insan advokat di Indonesia, agar menjadi wadah

tunggal dalam melaksakan haknya sebagai penegak hukum, dan officum

nobille sesuai UU no. 18/2003.34 Beberapa rencana yang akan dilakukan

FPAI dalam mewujudkan visinya menyatukan advokat dalam wadah tunggal

yakni Pertama: membuat Anggaran Dasar (AD) organisasi advokat yang bisa

diterima oleh para advokat se-Indonesia yakni mengakomodir one man one

vote dalam pemilihan ketua karena ini tidak dimiliki oleh Peradi; Kedua: FPAI

akan berusaha mendekati organisasi-organisasi advokat yang ada saat ini.

Deklarasi FPAI itu ditandatangani oleh advokat dari organisasi-organisasi

berbeda. Teguh Samudera yang berkecimpung di KAI dan FAI maju pertama

kali untuk menandatangani deklarasi dan ada juga Ketua DPC Peradi Jakarta

Barat Amin Jar. M. Assegaf menyoroti posisi Yan Apul dalam piagam deklarasi

karena dalam piagam itu tertulis Yan Apul sebagai Ketua FPAI dan Assegaf

mengusulkan agar sebutan “ketua” diganti dengan “koordinator” karena

tugasnya hanya untuk mengkoordinir para advokat menuju wadah tunggal.35

33

Pengambilan Sumpah Advokat, Kewajiban Siapa? Mahkamah Agung dan Pengadilan Tinggi

saling lempar. , 22 April 2010.

34

Forum Peduli Advokat Indonesia Dideklarasikan, , 26 april 2010.

35

Quo Vadis Organisasi Advokat, , 28 April 2010

36

Peradi-KAI Damai, Ketua MA Perintahkan KPT Ambil Sumpah Advokat Baru , 24 Juni 2010.

235 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Pasal 28 UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat mengamanatkan

pembentukan Organisasi Advokat sebagai satu-satunya organisasi bagi

advokat Indonesia. Ketentuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa hanya

satu Organisasi Advokat yang dimaksud dalam UU advokat. Pembentukan

organisasi tunggal bagi advokat Indonesia bukan berarti memberangus

kebebasan berorganisasi bagi advokat. Advokat tetap berhak membentuk

organisasi namun bukan satu-satunya Organisasi Advokat sebagaimana

dimaksud dalam UU advokat yaitu sebagai national bar.37 Karena itu maka

organisasi yang ada sebelum lahirnya UU Advokat sampai hari ini masih

eksis.

Pasal 32 ayat (3) dan (4) UU Advokat juga mengatur tentang

masa peralihan, dimana dinyatakan bahwa Organisasi Advokat harus

sudah terbentuk dalam tenggang waktu 2 tahun dan untuk sementara

sampai dengan terbentuknya organisasi advokat yang tunggal, tugas dan

wewenang Organisasi Advokat dijalankan bersama-sama oleh Ikatan

Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan

Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Pengacara dan Advokat

Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan

Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal

(HKHPM), Asosiasi Pengacara Syari’ah Indonesia (APSI).38

Dalam melaksanakan perintah UU untuk membentuk Organisasi

Advokat, kedelapan organisasi tersebut menindaklanjuti dengan

membentuk Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI) pada 16 Juni 2003.

Sebelum membentuk Organisasi Advokat, KKAI melaksanakan beberapa

hal, yaitu:

1. Melaksanakan verifikasi atas semua advokat, penasihat hukum,

pengacara praktik, dan konsultan yang telah diangkat pada saat

Undang-Undang Advokat mulai berlaku untuk dinyatakan sebagai

advokat menurut Undang-Undang Advokat. Dalam verifikasi tersebut

sebanyak 15.489 dari 16.257 dinyatakan memenuhi syarat sebagai

advokat sebagaimana diatur dalam UU Advokat. Mereka adalah para

anggota 8 (delapan) organisasi advokat yang tergabung dalam KKAI.

Bagian dari proses verifikasi adalah dibentuknya sistem penomoran

keanggotaan advokat untuk lingkup nasional yang juga dikenal

dengan Nomor Registrasi Advokat. Kemudian bagi yang dinyatakan

sah sebagai advokat diberikan Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA).

KTPA di masa lalu diterbitkan oleh pengadilan tinggi di mana advokat

yang bersangkutan berdomisili. KTPA tersebut kemudian diluncurkan

di Mahkamah Agung pada tanggl, 30 Maret 2004.

37

Wawancara dengan Otto Hasibuan, Ketua PERADI, tanggal, 23 September 2010

38

Pasal 32 ayat (3) UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 236



2. Pembentukan Komisi Organisasi dalam rangka mempersiapkan

konsep Organisasi Advokat yang sesuai dengan situasi dan kondisi

di Indonesia. Kertas kerja dari Komisi Organisasi kemudian dijadkan

dasar untuk menentukan bentuk dan komposisi Organisasi Advokat

yang dapat diterima oleh semua pihak.39

3. Pembentukan Komisi Sertifikasi. Komisi ini mempersiapkan hal-

hal yang menyangkut pengangkatan advokat baru. Untuk dapat

diangkat menjadi advokat, selain harus lulus Fakultas Hukum juga

harus mengikuti pendidikan khusus profesi advokat (PKPA), magang

selama 2 (dua) tahun di kantor advokat dan lulus ujian advokat yang

diselenggarakan Organisasi Advokat. Peraturan untuk persyaratan di

atas dipersiapkan oleh komisi ini.40



1.2. Terwujudnya Kemandirian Advokat

Salah satu capaian dalam reformasi hukum di bidang advokat

adalah terwujudnya kemandirian advokat dari negara, karena dengan

terbentuknya Organisasi Advokat maka urusan-urusan advokat

dilaksanakan secara mandiri oleh advokat (self-governance), antara lain,

rekruitmen calon advokat dan penegakan kode etik. Sebelumnya semua

urusan-urusan advokat, dari rekruitmen sampai penegakan kode etik

dilaksanakan oleh Departemen Kehakiman dan Pengadilan.



1.3. Status Advokat Sebagai Penegak Hukum

Salah satu capaian reformasi hukum di bidang advokat adalah

pemberian status Advokat sebagai penegak hukum (pasal 5 ayat (1) UU

Advokat). Yang dimaksud Advokat berstatus sebagai penegak hukum

adalah advokat sebagai salah satu perangkat dalam proses peradilan

mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya dalam

menegakkan hukum dan keadilan. Sebagai Penegak Hukum, maka advokat

memiliki kebebasan dan kemandirian, yang dimaksud bebas dalam hal

ini adalah tanpa tekanan, ancaman, hambatan, tanpa rasa takut, atau

perlakuan yang merendahkan harkat martabat profesi.

Menurut Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pertimbangan hukum

putusan Nomor 014/PUU/2006 menyatakan bahwa Pasal (50 Ayat (1)

UU Advokat yang memberikan status kepada Advokat sebagai penegak

hukum yang mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum

lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan menunjukkan bahwa

karena kedudukannya itu diperlukan suatu organisasi yang merupakan

39

www.google.com

40

Ibid

237 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



satu-satunya wadah profesi Advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal

28 Ayat (1) UU Advokat.



1.4. Verifikasi dan Sertifikasi Seluruh Advokat Indonesia

Pasca disahkan UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, maka

urusan-urusan advokat diselenggarakan sendiri oleh Advokat, untuk itu

maka dibentuk Organisasi Advokat, namun sebelum terbentuk Organisasi

Advokat untuk sementara tuga-tugas Organisasi Advokat dilaksanakan

oleh 8 (delapan) organisasi yang kemudian menamakan diri dengan KKAI

(Komite Kerja Advokat Indonesia). Yang dilakukan pertama kali oleh KKAI

adalah melaksanakan verifikasi atas semua advokat, penasihat hukum,

pengacara praktik, dan konsultan yang telah diangkat pada saat Undang-

Undang Advokat mulai berlaku untuk dinyatakan sebagai advokat menurut

Undang-Undang Advokat. Dalam verifikasi tersebut sebanyak 15.489 dari

16.257 dinyatakan memenuhi syarat sebagai advokat sebagaimana diatur

dalam UU Advokat. Mereka adalah para anggota 8 (delapan) organisasi

advokat yang tergabung dalam KKAI. Bagian dari proses verifikasi adalah

dibentuknya sistem penomoran keanggotaan advokat untuk lingkup

nasional yang juga dikenal dengan Nomor Registrasi Advokat. Kemudian

bagi yang dinyatakan sah sebagai advokat diberikan Kartu Tanda Pengenal

Advokat (KTPA).

Ketika 8 (delapan) organisasi advokat yang diberikan mandat

untuk melaksanakan fungsi dan kewenangan Organisasi Advokat telah

mendaklarasikan berdirinya PERADI maka tugas untuk sertifikasi diambil

alih oleh PERADI termasuk untuk memperpanjangan ijin praktek advokat.

Berbeda dengan yang lalu, di mana data tentang keberadaan Advokat tidak

teradministrasikan dengan baik, kini setelah ada kemandirian bagi advokat

maka esemua advokat yang ada di Indonesia telah terdata dengan baik.



1.5. Pengakuan Organisasi Advokat Dunia Terhadap Keberadaan Organisasi

Advokat

Salah satu capaian dalam reformasi hukum di bidang Advokat

adalah pengakuan dunia terhadap keberadaan Organisasi Advokat di

Indonesia, dalam hal ini PERADI yang terbentuk pertama kali dan telah

memperkenalkan diri kepada Organisasi Advokat dunia sebagai “national-

bar”, antara lain International Bar Association (IBA) dan President of Law

Association in Asia (POLA Conference), pengakuan organisasi advokat dunia

terhadap keberadaan Organisasi Advokat nasional adalah agar keberadaan

Organisasi Advokat nasional sesuai dengan standar international baik

profesi maupun organisasi.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 238





2.1. Muliti Tafsir UU Advokat

2. Hambatan Dalam Pembetukan Organisasi Advokat



2.1.1. Multitafsir Ketentuan Tentang Pembentukan Organisasi Advokat

Ketentuan tentang pembentukan Organisasi Advokat kita temukan

dalam Pasal 28 ayat (1) dan (2) dan Pasal 32 ayat (3) dan (4) UU No. 18

tahun 2003 tentang Advokat, yaitu :

”Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi advokat

yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan

undang-undang ini dengan maksud dan tujuan meningkatkan

kualitas profesi Advokat”.

”Ketentuan mengenai susunan Organisasi Advokat ditetapkan

oleh para Advokat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah

Tangga”.

”Untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat

sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, dijalankan

bersama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat

Indonesia (AAI), Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Serikat

Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia

(AKHI), Himpunan Konsultas Hukum Pasar Modal (HKHPM), Asosiasi

Pengacara Syariah Indonesia (APSI)”.

”Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun setelah berlakunya



Ketentuan di atas tidak mengatur secara jelas dan rinci tentang

Undang-Undang ini, Organisasi Advokat telah terbentuk”.



bagaimana mekanisme pembentukan Organisasi Advokat, karena itu

memunculkan banyak interpretasi. Pasal 28 ayat (1) menyatakan bahwa

Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi advokat

yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan undang-

undang ini, kalimat ”dibentuk sesuai dengan ketentuan undang-undang

ini” seolah menunjukkan bahwa dalam UU Advokat telah diatur secara

rigid tentang mekanisme pembentukan Organisasi Advokat, namun bila

kita telaah ketentuan UU Advokat, tidak ada satupun ketentuan yang

mengatur tentang mekanisme pembentukan Organisasi Advokat. Karena

tidak diatur secara rigid mekanisme pembentukan Organisasi Advokat

maka memunculkan banyak interpretasi.



2.1.2. Multitafsir Bentuk Organisasi Advokat; Federasi atau Singlebar

UU Advokat tidak secara jelas mengatur tentang bentuk Organisasi

Advokat, apakah single bar atau federasi. Ketentuan pasal 28 ayat (1)41

41

Pasal 28 ayat (1) ”Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi advokat yang

bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan undang-undang ini dengan maksud

239 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



yang menyatakan bahwa Organisasi Advokat merupakan satu-satunya

wadah profesi advokat...” dan Pasal 28 ayat (2)42 dalam kalimat ”para

advokat”, dapat ditafsirkan bahwa dengan terbentuknya Organisasi

Advokat sebagai wadah tunggal maka semua organisasi advokat harus

membubarkan diri dan melebur kedalam Organisasi Advokat dan

keanggotaan dalam Organisasi Advokat bersifat perseorangan43 bukan

organisasi, dan seharusnya setiap advokat memperkenalkan dirinya

berasal dari Organisasi Advokat yang satu, bukan berasal dari organisasi

advokat sebelumnya.44

Sementara di pihak lain ada yang menafsirkan bahwa meskipun

Organisasi Advokat sebagai wadah tunggal telah terbentuk, namun tidak

memberangus hak untuk berserikat dan berorganisasi karena itu maka

organisasi selain Organisasi Advokat tetap hidup dan berkembang.45

Bila dengan terbentuknya Organisasi Advokat sebagai wadah

tunggal, organisasi advokat non-wadah tunggal tidak membubarkan

diri dan melebur namun tetap hidup dan berkembang, maka bagaimana

hubungan antara Organisasi Advokat wadah tunggal dengan organisasi

advokat non-wadah tunggal? Dan apakah hubungan tersebut dapat

disebut sebagai federasi?

Jawaban atas pertanyaan di atas dapat kita tinjau berdasarkan

Pasal 9 ayat (1) dan (2) dan Pasal 10 ayat (2) Anggaran Dasar PERADI

yang berbunyi :

1) PERADI adalah satu-satunya wadah profesi Advokat yang berbentuk

perhimpunan yang didirikan oleh Organisasi Pendiri pada tanggal dua

pulu satu Desember tahun dua ribu empat (21-12-2004)

2) Apabila PERADI memerlukan, PERADI dapat meminta Organisasi

Pendiri untuk membantu pelaksanaan tugas dan wewenang PERADI.

Sedangkan Pasal 10 ayat (2) AD PERADI berbunyi :

”Anggota PERADI adalah seluruh Advokat, baik yang keanggotaannya

melalui masing-masing Oganisasi Pendiri maupun yang langsung

terdaftar dalam PERADI, dan terdaftar dalam Buku Daftar Advokat”.





42

Pasal 28 ayat (2) ”Ketentuan mengenai susunan Organisasi Advokat ditetapkan oleh para

dan tujuan meningkatkan kualitas profesi Advokat”.





43

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Menteri Hukum dan HAM dalam Surat Nomor M.HH.AH.

Advokat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga”.



03.03-40 tertanggal, 28 Nopember 2008 yang ditujukan kepada Mahkamah Agung perihal

Organisasi Advokat di Indonesia, yang menyatakan bahwa setelah terbentuknya PERADI

maka 8 (delapan) organisasi Advokat tidak mempunyai hubungan yang bersifat struktural

lagi. karena PERADI sebagai wadah tunggal berhimpun Advokat Indonesia beranggotakan

perorangan, bukan beranggotakan organisasi.

44

Wawancara dengan Pengurus DPC PERADI Jawa Timur di Surabaya, tanggal

45

Wawancara dengan Otto Hasibuan, Ketua Umum PERADI di Jakarta, tanggal

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 240



2.2. Munculnya Lebih dari Satu Organisasi Advokat

Salah satu hambatan dalam pembentukan Organisasi Advokat

adalah munculnya lebih dari satu Organisasi Advokat yang masing-

masing mengklaim sebagai Organisasi Advokat wadah tunggal. Hal

tersebut menyebabkan tidak terlaksananya ketentuan UU Advokat,

yang mengamanatkan pembentukan satu Organisasi Advokat sebagai

wadah tunggal dan melamahkan pula peran Organisasi Advokat dalam

meningkatkan kualitas advokat.

Perihal munculnya lebih dari satu Organisasi Advokat adalah karena

menurut sebagian kalangan proses pembentukan PERADI tidak sesuai

dengan ketentuan UU Advokat. Menurut Advokat senior Dr. Iur. Adnan

Buyung Nasution, SH pada surat terbuka tertanggal 28 Desember 2005,

Buyung mempertanyakan keabsahan pembentukan PERADI, dengan

alasan bahwa pembentukan PERADI ternyata sama sekali tidak melalui

dan menghormati prinsip-prinsip demokrasi, karena ternyata didirikan

tidak melalui kongres nasional yang terbuka yang dihadiri oleh seluruh

advokat Indonesia.46

Munculnya lebih dari satu Organisasi Advokat sebagai wadah

tunggal bermula dari tuntutan kepada PERADI untuk menyelenggarakan

musyawarah nasional yang terbuka kepada seluruh advokat Indonesia

untuk membentuk Organisasi Advokat sebagai wadah tunggal dan

menyusun AD/ART, namun tuntutan tersebut tidak dipenuhi oleh

PERADI, karena menurut ketua PERADI UU Advokat tidak mewajibkan

diselenggarakannya MUNAS untuk membentuk Organisasi Advokat,

menurutnya deklarasi oleh 8 (delapan) organisasi yang diberikan mandat

oleh UU untuk membentuk Organisasi Advokat sudah sesuai dengan UU

advokat.



2.3.Peran Organisasi Advokat Belum Maksimal dalam Meningkatkan

Kualitas Profesi Advokat.

Pasal 28 ayat (1) menyatakan bahwa Organisasi Advokat merupakan

satu-satunya wadah profesi Advokat yang bebas dan mandiri sesuai

dengan ketentuan Undang-Undang ini dengan maksud dan tujuan untuk

meningkatkan kualitas profesi Advokat. Pasal tersebut menyatakan bahwa

tujuan Organisasi Advokat adalah untuk meningkatkan kualitas advokat.

Amanat untuk meningkatkan kualitas advokat belum dapat

dilakukan secara maksimal karena Organisasi Advokat masih berkutat pada

masalah konflik internal yang tak kunjung selesai. Program peningkatan

kualitas Advokat hanya terbatas pada PKPA (Pendidikan Khusus Profesi

46

Surat terbuka 017/ABNP/ABN/XII/05 tertanggal 28 Desember 2005

241 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Advokat) dan magang baik yang dilakukan oleh PERADI maupun KAI.

Namun bagi yang Advokat belum ada program peningkatakan kualitas

yang secara sistematis dilakukan Organisasi Advokat.







3.1. Tanggapan Para Pihak tentang Perselisihan Organisasi Advokat

3. Upaya Perbaikan dalam Pembentukan Organisasi Advokat



Menyikapi perpecahan di dunia advokat, muncul beragam tang-

gapan, di antaranya, 5 (lima) tokoh hukum terdiri dari H. Adi Andojo

Soetjipto. SH., FCB.Arb., Prof. Dr. HM. Laica Marzuki, SH., Prof. Muhammad

Abduh, SH., Prof. Dr. Ningrum N. Sirait, SH., dan Dr. SF. Marbun, SH., M.Hum.

mengeluarkan petisi ”5” yang menyatakan :

1. Bahwa konflik yang timbul antara Perhimpunan Advokat Indonesia

(PERADI) dan Kongres Advokat Indonesia (KAI) telah menyebabkan

terjadinya perpecahan yang semakin meluas dan mendalam di

kalangan para Advokat Indonesia serta tercerai berainya persatuan di

kalangan Advokat Indonesia, sehingga telah mengganggu ketenangan

para Advokat dalam memperjuangkan Keadilan, Demokrasi dan

profesinya;

2. Bahwa konflik yang berkepanjangan di antara kedua organisasi Advokat

tersebut, telah menimbulkan dampak negatif buka saja terhadap dunia

profesi Advokat dan mencederai kehormatan profesi Advokat sebagai

Catur Wangsa Penegak Hukum, tetapi telah mengganggu kinerja

institusi penegak hukum lainnya dan membingungkan masyarakat

pencari keadilan (justiabellen);

3. Bahwa konflik antara kedua organisasi Advokat yang ada, sesungguhnya

bersumber dari sikap kedua organisasi yang merasa eksistensinya

lebih absah (ligitimate) satu daripada yang lain, padahal pembentukan

kedua organisasi Advokat tersebut mengandung CACAT YURIDIS,

karena keduanya dibentuk telah melampaui batas waktu yang

ditentukan dalam Pasal 32 ayat (4) Undang-Undang Nomor 18 Tahun

2003 Tentang Advokat, sedangkan ketentuan Pasal 32 ayat (4) bersifat

imperatif dan tidak dapat disimpangi, sehingga kedua organisasi

Advokat telah dibentuk oleh orang/organ yang tidak berwenang

membentuknya. Dengan demikian, kedua organisasi Advokat TIDAK

SAH dan BATAL DEMI HUKUM (ex-tunc);

4. Bahwa oleh karena kedua organisasi Advokat TIDAK SAH dan BATAL

DEMI HUKUM, maka kami menghimbau kepada para Advokat di

seluruh Indonesia yang tergabung dalam IKADIN, AAI, IPHI, HAPI, SPI,

AKHI, HKHPM, APSI, PERADI dan KAI untuk bersepakat bersama kami

menyatakan :

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 242



a. Membekukan eksistensi PERADI dan KAI dan meletakkannya dalam

status quo pada keadaan sebelum adanya PERADI dan KAI;

b. Mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia

(DPR RI) untuk sesegara mungkin melakukan perubahan terhadap

ketentuan Pasal 32 ayat (4) UU No. 18 Tahun 2003 tentang

Advokat;

c. Mendesak pada Advokat Indonesia untuk segera menyelenggarakan

Kongres Advokat setelah dilakukannya perubahan terhadap

ketentuan Pasal 32 ayat (4) UU No. 18 Tahun 2003, untuk

membentuk Organisasi Advokat yang SAH yang merupakan satu-

satunya wadah pada Advokat yang bebas dan mandiri. Dengan

menempun jalan keluar yang kami usulkan ini, diharapkan mampu

menjadi solusi terbaik, terhormat, dan mulia untuk secepatnya

keluar dari belantara konflik yang tak berkesudahan. Dengan

demikian, diharapkan akan terbentuk suatu Organisasi Advokat

baru dan SAH, tidak mengandung cacat hukum serta diakui sebagai

satu-satunya wadah pada Advokat yang bebas dan mandiri.

d. Mengajak kepada semua pihak agar dapat menahan diri dan

mampu menjaga netralitas demi menghindari konflik yang semakin

meluas.

Menteri Hukum dan HAM menanggapi keberadaan PERADI dan

KAI dengan mengirimkan surat No. M.HH.AH.03.03-40 kepada Ketua

Mahkamah Agung RI, yang berisi antara lain :

1. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat mengatur

hal-hal berkaitan dengan organisasi advokat, antara lain :

Pasal 28 ayat (1)

Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi advokat

yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan

undang-undang ini dengan maksud dan tujuan meningkatkan kualitas

profesi Advokat.

Pasal 32 ayat (4)

Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun setelah berlakunya Undang-

Undang ini, Organisasi Advokat telah terbentuk.

2. a. Dalam rangka memenuhi ketentuan perundang-undangan tersebut

diatas, pada tanggal 21 Desember 2004, Advokat Indonesia sepakat

untuk membentuk Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI)

sebagai satu-satunya wadah profesi advokat yang didirikan oleh 8

(delapan) Organisasi Advokat (IKADIN, AAI, IPHI, HAPI, SPI, AKHI,

HKHPM dan APSI).

243 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak

pernah memerintahkan secara tegas kepada 8 (delapan) organisasi

Advokat untuk membentuk Organisasi Advokat sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), namun demikian berdasarkan

Pasal 32 ayat (3) dan 8 (delapan) organisasi tersebut diberi

wewenang sementara untuk menjalankan tugas dan wewenang

organisasi Advokat, hingga Organisasi Advokat terbentuk.

Selanjutnya didasarkan pada tanggung jawab moral untuk

melaksanakan undang-undang, maka kewenangan tersebut

diteruskan dengan membentuk Organisasi Advokat.

c. Setelah terbentuk PERADI, maka 8 (delapan) organisasi Advokat

tidak mempunyai hubungan struktural lagi, karena PERADI sebagai

wadah tunggal berhimpun Advokat Indonesia beranggotakan

perorangan bukan beranggotakan organisasi.

d. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PERADI tertuang

dalam Akta Pernyataan Pendirian Perhimpunan Advokat Indonesia

Nomor 30 tanggal 8 September 2005.

3. a. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka PERADI telah

terbentuk sebagai satu-satunya Organisasi Advokat dalam rangka

melaksanakan ketentuan Pasal 32 ayat (4) UU No. 18 Tahun 2003

Tentang Advokat.

b. Dalam rangka terciptanya tertib hukum dan kepastian hukum, maka

PERADI sebagai Organisasi Advokat yang sesuai amanat undang-

undang, dapat melakukan upaya-upaya yang bersifat positif untuk

menyelesaikan permasalahan yang ada, sehingga dapat melakukan

perannya sebagai satu organisasi advokat yang bebas dan mandiri

dengan keanggotaan yang bukan berdasarkan organisasi tetapi

berdasarkan perorangan.

Sementara Ketua MA dalam surat Nomor 052/KMA/V/2009 perihal

sikap MA terhadap Organisasi Advokat menyatakan bahwa :

1. Urusan perselisihan antara orgnisasi Advokat adalah urusan internal

mereka. Pengadilan tidak dalam posisi mengakui atau tidak mengakui

suatu organisasi. Perselisihan mereka harus diselesaikan sendiri

oleh profesi Advokat atau apabila mengalami jalan buntu maka dapat

diselesaikan melalui jalur hukum.

2. Di dalam Undang-undang Advokat (Undang-undang Nomor 18 Tahun

2003) disebutkan bahwa organisasi Advokat merupakan satu-satunya

wadah profesi Advokat yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai

dengan Undang-undang ini. Hal ini berarti bahwa hanya boleh ada

satu organisasi Advokat, terlepas dari bagaimana cara terbentuknya

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 244



organisasi tersebut yang tidak diatur di dalam Undang-undang yang

bersangkutan. Di dalam kenyataan sekarang ini, ada tiga organisasi

yang menyatakan diri sebagai satu-satunya organisasi advokat yang

sah, yang menurut Mahkamah Agung harus diselesaikan menurut

tata cara yang disebut butir satu diatas. Selama penyelesaian masalah

tersebut belum ada, Mahkamah Agung meminta kepada para Ketua

Pengadilan Tinggi untuk tidak terlibat secara langsung atau tidak

langsung terhadap adanya perselisihan tersebut yang berarti Ketua

Pengadilan Tinggi tidak mengambil sumpah Advokat baru sebagaimana

ditentukan dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003,

karena melanggar pasal 28 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003.

3. Walaupun demikian, Advokat yang telah diambil sumpahnya sesuai

dengan pasal 4 tersebut diatas, tidak bisa dihalangi untuk beracara di

Pengadilan, terlepas dari organisasi manapun ia berasal. Apabila ada

advokat yang diambil sumpahnya menyimpang dari ketentuan Pasal

4 tersebut (bukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi) maka sumpahnya

dianggap tidak sah, sehingga yang bersangkutan tidak dibenarkan

beracara di Pengadilan.

4. Para Ketua Pengadilan Tinggi diminta untuk mendorong pada Advokat

tersebut untuk bersatu, karena tidak bersatunya mereka akan

menyulitkan dirinya sendiri dan juga Pengadilan.

Keluarnya surat Ketua MA Nomor 052/KMA/V/2009 tersebut

menyebabkan calon advokat baik dari KAI maupun PERADI yang telah

memenuhi ketentuan UU Advokat tidak dapat diambil sumpah di hadapan

Pengadilan Tinggi sebagai syarat untuk menjadi advokat. Karena itu 3

(tiga) calon advokat yaitu H.F. Abraham Amos, S.H., Djamhur, S.H. dan

Drs. Rizki Hendra Yoserizal, S.H. mengajukan uji materi (judicial review)

ke Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 4 ayat (1) UU No. 18 Tahun

2003, yang berbunyi: ”Sebelum menjalankan profesinya, Advokat wajib

bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh-sungguh di



Atas permohonan tersebut kemudian Mahkamah Konstitusi pada

sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya”.



30 Desember 2009 memutuskan bahwa Pasal 4 ayat (1) UU No. 18 Tahun

2003 tentang Advokat adalah bertentangan dengan Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai

kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dipenuhi syarat bahwa frase

”di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya” tidak

dimaknai bahwa ”Pengadilan Tinggi atas perintah Undang-Undang wajib

mengambil sumpah bagi para Advokat sebelum menjalankan profesinya

tanpa mengaitkan dengan keanggotaan Organisasi Advokat yang pada

saat ini secara de facto ada, dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak Amar

245 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Putusan ini diucapkan”. MK juga menyatakan dalam putusanannya bahwa

apabila setelah jangka waktu dua tahun Organisasi Advokat sebagaimana

dimaksud Pasal 28 ayat (1) UU Advokat belum juga terbentuk, maka

perselisihan tentang organisasi Advokat yang sah telah diselesaikan

melalui Peradilan Umum.



3.2. Upaya Mendorong Rekonsilasi

Usaha mendamaikan konflik antar advokat digalang oleh para

tokoh-tokoh advokat khususnya deklarator berdirinya PERADI. Pada

tanggal, 29 Januari 2009 digelar pertemuan antar deklarator berdirinya

PERADI yang dihadari oleh Denny Kailimang, Teddy Sumantri, HM Luthfie

Hakim, JB Harjanto, Fredrik B.G Tumbuan, Hoesein Wiridinata dan Harry

Ponto, pertemuan tersebut menghasilkan beberapa hal yaitu :

1. Berdasarkan fakta saat ini terjadi kemelut di kalangan advokat, karena

itu berlandaskan Pasal 32 ayat 3 UU No. 18/2003 tentang Advokat,

para deklarator Peradi diharapkan dapat menjadi pemrakarsa untuk

bersatunya kembali Advokat Indonesia.

2. Harus adanya kebulatan tekad dari Para Deklarator untuk mewujudkan

1 (satu) Organisasi Advokat Indonesia.

3. Untuk menjamin hak Advokat maka setiap Advokat harus mempunyai

hak dipilih dan memilih (one man one vote), karenanya harus diadakan

MUNASLUB PERADI untuk merubah Anggaran Dasar PERADI.

4. Apabila MUNASLUB tidak dapat dilaksanakan, maka perlu dibuat

referendum untuk mengetahui sikap para Advokat.

5. Oleh karena, para Deklarator adalah terdiri dari 8 (delapan)

organisasi, maka selain Pihak-Pihak yang menandatangani Deklarasi

perlu diundang dalam pertemuan yang akan datang para pengurus

(Ketua Umum dan Sekretaris Jendral) dari masing-masing 8 (delapan)

Organisasi Pendiri tersebut.

Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan mengikutsertakan

para deklarator yang lebih luas lagi dan pada jumat, 12 Februari 2010 Pukul

15.00WIB bertempat di Financial Club-Jakarta digelar pertemuan yang

dihadari oleh, Otto Hasibuan, Denny Kailimang, Teddy Soemantri, Sugeng

Teguh Santoso, Fred B.G Tumbuan, Hoessein Wiriadinata, Soemarjono,

Adardam Achyar, Nelson Darwis, Felix Onto Subagyo, Srimiguna dan H.

Abd Rohim Hasibuan, menghasil beberapa hal penting antara lain :

1. Kapasitas para pihak yang hadir dalam pertemuan ini adalah para

deklarator PERADI dan Para Pengurus Organisasi Pendiri Peradi.

2. Adanya keinginan dari Advokat untuk para Advokat dapat bersatu

kembali dalam 1 (satu) Organisasi Advokat Indonesia.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 246



3. Untuk mewujudkan bersatunya kembali para advokat ada 2 (dua) opsi

yaitu :

a. Bertitik tolak kepada Anggaran Dasar PERADI dimana untuk

mengakomodasi masing-masing Advokat sebagai anggota PERADI

yang memiliki hak suara (one man one vote), maka harus merubah

ketentuan mengenai utusan cabang (Vide Pasal 32 ayat 1 jo ayat

3) sehingga terlebih dahulu diadakan Munaslub PERADI untuk

merubah Anggaran Dasar PERADI. Munaslub Peradi dapat diadakan

antara lain dengan Keputusan Dewan Pengurus Nasional (DPN)

Peradi atau

b. Bertitik tolak pada deklarasi Pendirian PERADI tanggal 21 Desember

2004 dimana para Deklarator atau Organisasi Pendiri membentuk

Panitia Bersama untuk menyelenggarakan Musyawarah Nasional

Advokat Indonesia.

4. Para peserta pertemuan sepakat untuk menyerahkan/melimpahkan

ke DPN PERADI untuk membahas lebih lanjut usulan-usulan tersebut.

Pertemuan dilanjutkan pada tanggal, 03 Maret 2010 yang dihadiri

oleh, Denny Kailimang, Teddy Soemantri, Indra Sahnun Lubis, Hoessoein

Wiriadinata, Harry Ponto, Nelson Darwis, Felix Oentoeng Subagjo, H. Abd.

Rahim Hasibuan dan Syarif Bastaman, Sitor Situmorang, menghasilkan

beberapa hal, yaitu :

I. Ada 3 (tiga) opsi untuk pelaksanaan memperkuat Advokat Indonesia.



8 (delapan) organisasi Advokat sebagai pendiri PERADI, sepakat

A. OPSI PERTAMA



untuk mengikuti MUNAS PERADI, dengan terlebih dahulu membuat

kesepakatan bersama :

a. Munas PERADI 2010, merubah AD PERADI yang pokok-pokok

perubahan yaitu :

1. Pemungutan suara dalam Munas PERADI dilakukan melalui

Pemilihan Langsung/Pemilihan Semi distrik dengan sistem satu

orang satu suara.

2. Perumusan dan penjelasan lebih lanjut tentang tata cara,

persyaratan dan pelaksanaan Pemilihan langsung/Pemilihan

Semi Distrik dirumuskan dan dituangkan dalam AD/ART

PERADI yang baru.

3. Masa jabatan ketua DPN PERADI hanya 3 (tiga) tahun, tidak

berturut-turut.

4. MUNAS PERADI berikut pemilihan langsung/Pemilihan Semi

distrik, diadakan paling lambat 2 (dua) tahun atau dalam tahun

2012 dengan menggunakan AD/ART PERADI yang baru.

247 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



b. MUNAS PERADI 2010, memilih Ketua Umum DPN PERADI dengan

masa jabatan 2 (dua) tahun yaitu 2010 s/d 2012 dan dibentuk TIM

Perumus AD/ART.

c. KETUA UMUM DPN PERADI 2010-2012 yang terpilih dalam

MUNAS PERADI 2010 kepengurusannya harus memperhatikan

penempatan orang-orang dari Organisasi Pendiri PERADI.







MUNASLUB PERADI dengan acara :

B. OPSI KEDUA



1. Perubahan AD/ART PERADI dibentuk Tim perumus AD/ART

2. Sistem Pemilihan dengan agenda Pemilihan Langsung/Pemilihan

Semi Distrik dengan sistem satu orang satu suara dan berlaku m

ulai tahun 2012.

3. Perpanjangan masa jabatan Ketua Umum DPN PERADI selama 2

(dua) tahun terhitung dari 2010 s/d 2012

4. Pemilihan Langsung/Pemilihan Semi Distrik dengan sistem satu

anggota satu suara diadakan tahun 2012.







MUNAS ADVOKAT INDONESIA 2010 atau 2011

C. OPSI KETIGA







II. Para peserta pada prinsipnya setuju agar organisasi Advokat bisa

bersatu, agar Organisasi Advokat Kuat dan dapat melindungi advokat

dalam menjalankan profesinya.

III. Untuk sementara peserta yang hadir dapat menyetujui OPSI PERTAMA

dan perlu disosialisasikan atau dibicarakan lebih lanjut oleh 8 (delapan)

organisasi.



Pertemuan untuk mewujudkan satu-satunya Organisasi Advokat

kemudian berlanjut dan mengarah pada mendamaikan PERADI dan

KAI, untuk itu digelar pertemuan antara PERADI dan KAI dalam rangka

Penyatuan Organisasi Advokat Indonesia, pada hari jumat, 16 April 2010

dan menghasilkan beberapa hal, yaitu :

I. Para pihak yang menandatangani Kesepakatan Bersama, yaitu :

a. PERADI

b. KAI

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 248



II. Poin-poin kesepakatam :

1. PERADI dan KAI sepakat untuk bersatu membentuk wadah tunggal

organisasi advokat Indonesia dengan melaksanakan Munas

Bersama Advokat Indonesia selambat-lambatnya tahun 2012.

2. PERADI dan KAI sepakat untuk pelaksanaan Munas Bersama

Advokat Indonesia dengan membentuk Panitia Munas yang

anggotanya terdiri dari PERADI dan KAI secara seimbang/

proporsional.

3. PERADI dan KAI sepakat nama wadah tunggal Organisasi Advokat

Indonesia akan ditentukan dalam Munas Advokat Indonesia

tersebut.

4. PERADI dan KAI meminta kepada Mahkamah Agung untuk

melaksanakan sumpah Advokat yang dilaksanakan sesegara

mungkin.

5. Sejak tanggal ditandatangani Kesepakatan Bersama ini PERADI

dan KAI tidak boleh menerima anggota baru dan tidak boleh

melaksanakan ujian Advokat.

6. Calon Advokat sebelum dilakukan pelantikan oleh Organisasi

Advokat harus diverifikasi oleh tim bersama PERADI dan KAI.

7. Sistem pemilihan Ketua Umum Organisasi Advokat Indonesia pada

Munas Advokat Indonesia tersebut menggunakan sistem pemilihan

1 (satu) anggota 1 (satu) suara (one man one vote)

8. Panitia bersama harus terbentuk paling lambat 1 (satu) bulan sejak

tanggal Kesepakatan Bersama ini ditandatangani oleh PERADI dan

KAI.

III. Kesepakatan Bersama ini ditandatangani oleh PERADI dan KAI

dihadapan Ketua Mahkamah Agung dan Saksi-Saksi.



D. CAPAIAN DAN HAMBATAN DALAM PENEGAKAN KODE ETIK



Sebelum mengevaluasi capaian dan hambatan reformasi hukum di

PROFESI ADVOKAT



bidang Advokat khususnya dalam penegakan kode etik profesi Advokat,

terlebih dahulu akan jelaskan gambaran normatif ketentuan-ketentuan

tentang Penegakan Kode Etik Profesi Advokat, agar mendapat gambaran yang

memadai sebelum mengevaluasi.



1. Gambaran Normatif Ketentuan tentang Penegakan Kode Etik Profesi

Advokat

a) UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat:

b) Kode Etik Advokat Indonesia tahun 2003;

249 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



2. Penanganan Terhadap Pelanggaran Kode Etik

Penegakan kode etik profesi Advokat menyangkut menyangkut 2

(dua) hal, yaitu tentang subyek yang akan menegakkan dan bagaimana

proses penegakan kode etik tersebut.

2.1. Organ / Unit Yang Menangani

Tiga organ yang berwenang untuk menegakkan kode etik profesi

advokat adalah Dewan Kehormatan Organisasi Advokat, Majelis Dewan

Kehormatan, dan Komisi Pengawas.

2.1.1. Dewan Kehormatan

Dewan Kehormatan diatur baik dalam UU Advokat dan Kode Etik

Advokat Indonesia. Dewan Kehormaran diatur dalam 4 (empat) pasal

yang tersebar dalam 2 (dua) bab yakni bab tentang penindakan dan

bab tentang Kode Etik dan Dewan Kehormatan Advokat.

2.1.2. Majelis Dewan Kehormatan

Pasal 27 ayat (4) UU Advokat mengatur bahwa :

“Dalam mengadili sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Dewan

Kehormatan membentuk majelis yang susunannya terdiri atas unsur

Dewan Kehormatan, pakar atau tenaga ahli di bidang hukum dan tokoh

masyarakat”.47

Sementara Pasal 14 dan 15 Kode Etik Advokat Indonesia mengatur

bahwa :

a. Majelis Dewan Kehormatan bertugas untuk memeriksa dan

menyidangkan pengaduan terhadap pelanggaran kode etik profesi,

b. Anggota Majelis harus berjumlah ganjil minimal 3 (tiga) orang yang

susunan anggotanya dapat terdiri dari Dewan Kehormatan atau

ditambah dengan anggota Majelis Kehormatan Ad Hoc yaitu orang



dan menjiwai kode etik Advokat (Pasal 14 ayat 1 dan 2).

yang menjalankan profesi hukum serta mempunyai pengetahuan



c. Keanggotaan dari ini dipilih oleh Dewan Kehormatan Cabang /

Daerah.

d. Majelis berwenang untuk menjatuhkan keputusan dan menghukum

advokat yang terbukti melanggar kode etik profesi melalui

persidangan yang harus dibuat berita acaranya.

e. Majelis mengambil keputusan dengan suara terbanyak dan

mengucapkannya dalam sidang terbuka; anggota yang kalah dalam

pengambilan suara berhak untuk membuat catatan keberatan yang

dilampirkan dalam berkas perkara.

47

Pasal 27 ayat (2) UU Advokat berbunyi: “Dewan Kehormatan di tingkat Daerah mengadili pada

tingkat pertama dan Dewan Kehormatan di tingkat Pusat mengadili pada tingkat banding dan

terakhir”.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 250



f. Majelis dapat memutuskan dengan menyatakan bahwa pengaduan

tak dapat diterima, atau pengaduan ditolak, atau pengaduan

diterima dan diadili sendiri.

2.1.3. Komisi Pengawas

Komisi Pengawas diatur dalam Pasal 12 dan Pasal 13 UU No. 18

tentang Advokat. Namun Komisi Pengawas tidak diatur dalam Kode

Etik Advokat Indonesia. Pasal 12 UU Advokat menyatakan bahwa

1. Pengawasan terhadap Advokat dilakukan oleh Organisasi Advokat.

2. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan agar

Advokat dalam menjalankan profesinya selalu menjunjung tinggi

kode etik profesi Advokat dan peraturan perundang-undangan.



Komisi Pengawas merupakan bagian dari Organisasi Advokat yang

bertugas mengawasi pelanggaran kode etik Profesi Advokat dan

peraturan perundang-undangan.

Komisi Pengawas bersifat aktif untuk mengawasi pelaksanaan kode

etik dan peraturan perundang-undangan, berbeda dengan Dewan

Kehormatan, yang bersifat pasif karena hanya memeriksa dan

mengadili pelanggaran kode etik profesi Advokat. (pasal 26 ayat (5)

UU Advokat).



2.2. Mekanisme / Prosedur Penanganan

Bila melihat pada UU Advokat tahun 2003 dan Kode Etik Advokat

Indonesia tahun yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa pada

prinsipnya:

a. setiap advokat yang menjalankan profesinya di Indonesia secara

sah, akan selalu diawasi perilakunya, hak-haknya, dan tanggung-

jawab profesionalnya oleh Organisasi Advokat, bukan oleh

Pengadilan dan/atau Mahkamah Agung. Hal ini tampak jelas dari isi

UU Advokat maupun dari Kode Etik Advokat Indonesia yang sama

sekali tidak menyebut adanya peran bagi Pengadilan dan/atau

Mahkamah Agung untuk mengawasi, memeriksa, apalagi mengadili

advokat yang diduga melanggar kode etik profesi dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Bahkan, dalam UU Advokat

referensi ke Mahkamah Agung dan/atau Pengadilan dalam konteks

pengawasan ini hanya termuat dalam 2 (dua) pasal saja, itupun

sebatas hanya sebagai pelaporan atau pemberitahuan belaka.48

48

Ketiga pasal itu adalah Pasal 8 ayat 2 dan Pasal 9 ayat 2 yakni tentang penyampaian putusan

penindakan oleh Organisasi Advokat terhadap anggotanya berupa pemberhentian sementara

atau tetap dari profesi advokat kepada Mahkamah Agung.

251 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



b. setiap dugaan pelanggaran kode etik profesi dapat diadukan

kepada Organisasi Advokat, dengan memenuhi sejumlah prosedur

tertentu, dan kemudian pengaduan itu akan ditindak-lanjuti oleh

organisasi yang bersangkutan sesuai dengan tata cara internal dari

organisasi tersebut.

c. yang berwenang untuk menerima, memeriksa, dan mengadili

pengaduan tertulis tersebut adalah Dewan Kehormatan Organisasi

Advokat yang kemudian akan membentuk majelis khusus untuk

menjalankan proses persidangannya.



Prosedur penanganan pelanggaran kode etik profesi advokat yang

untuk alasan sistematis dibagi menjadi 4 (empat) tahapan.

1) Tahap Pertama: Pengaduan49

2) Tahap Kedua: Persidangan50

3) Tahap Ketiga: Keputusan51

4) Tahap Keempat: Upaya Banding52



E. CAPAIAN PELAKSANAAN PENEGAKAN KODE ETIK



Salah satu capaian dalam Penegakan Kode Etik Profesi Advokat

1. Telah Dibentuk Dewan Kehormatan



adalah telah terbentuknya Dewan Kehormatan Daerah dan Pusat PERADI

pada 5 Desember 2007, kurang lebih 4 (empat) tahun setelah pengesahan

UU Advokat. Dewan Kehormatan PERADI berfungsi dan bertugas untuk

memeriksa, mengadili dan memutus perkara pelanggaran kode etik.



F. EVALUASI PELAKSANAAN PENEGAKAN KODE ETIK

1. Beberapa Kelemahan / Kekurangan Penegakan Kode Etik Profesi

Advokat

1.1. Kelemahan Pertama : Kriteria Calon Dewan Kehormatan, Majelis



Satu hal mendasar dalam Penegakan Kode Etik Profesi Advokat

Kehormatan dan Komisi Pengawas



adalah masalah kriteria Calon Anggota Dewan Kehormatan, Majelis

Kehormatan dan Komisi Pengawas yang akan melaksanakan Penegakan

Kode Etik Profesi Advokat. Hal ini sangat penting mengingat keberhasilan

49

Pasal 11, 12, dan 13 ayat (1) sampai dengan ayat (6) Kode Etik Advokat Indonesia 2003.

50

Pasal 13 ayat (7) sampai dengan ayat (9), dan Pasal 14, Kode Etik Advokat Indonesia 2003.

51

Lihat Pasal 15, 16, dan 17 Kode Etik Advokat Indonesia 2003; juga Pasal 7, 8, 9 dan 10 UU

Advokat 2003.

52

Lihat Pasal 18 dan 19 Kode Etik Advokat Indonesia 2003.

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 252



Penegakan Kode Etik Profesi Advokat sangat tergantung dari orang-orang

yang akan mengisi posisi tersebut, bila dalam penilaian masyarakat orang-

orang tersebut tidak memenuhi kriteria integritas dan kompetensi maka

sulit mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi Advokat.

Namun demikian UU Advokat maupun Kode Etik Profesi Advokat

tidak mengatur masalah kriteria tersebut, karena itu seharusnya diatur

dalam Peraturan Organisasi Advokat.

1.2. Kelemahan Kedua: Rekruitmen Organ Penegak Kode Etik Profesi



Rekruitmen Organ Penegak Kode Etik Profesi Advokat seharusnya

Advokat



memperhatikan keterlibatan dan masukan dari publik dalam rangka

meningkatkan kepercayaan publik terhadap Profesi Advokat. Karena itu

ada baiknya bila Organisasi Advokat dalam membentuk Organ Penegak

Kode Etik Profesi Advokat mencontoh rekruitmen bebrapa lembaga

negara, misalnya rekrutmen KPK, Komisi Yudisial, dll. Dengan membentuk

tim independen untuk merekrut calon anggota Dewan Kehormatan,

Majelis Kehormatan dan Dewan Kehormatan, sejumlah dua kali lipat dari

yang dibutuhkan untuk kemudian dipilih oleh Organisasi Advokat.

Mekanisme demikian sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai

oleh Kode Etik Profesi Advokat yaitu meningkatkan kepercayaan publik

terhadap keberadaan profesi Advokat. Mekanisme yang saat ini berlaku

diserahkan sepenuhnya kepada Organisasi Advokat.



Kelemahan ketiga berkaitan dengan keterbukaan dalam Proses

1.3. Kelemahan Ketiga: Ketertutupan Dalam Proses Penegakan Kode Etik.



Penegakan Kode Etik. Proses Penegakan Kode Etik harus berprinsip

pada keterbukaan dan akuntablitas publik dalam rangka membangun

kepercayaan publik. Namun ketentuan Pasal 14 ayat (5) Kode Etik Profesi

Advokat menyatakan bahwa sidang kode etik advokat bersifat tertutup

sedangkan keputusan diucapkan dalam sidang terbuka.



Agar putusan Majelis Kehormatan memiliki efek jera (effect

1.4. Kelemahan Keempat : Putusan Tidak Dihormati Penegak Hukum Lain



detterent), maka putusan tersebut harus dihormati dan ditaati termasuk

oleh Penegak Hukum lain, namun menurut Ketua PERADI, Otto Hasibuan,

seringkali putusan Majelis Kehormatan PERADI tidak dihormati oleh

Pengadilan, sehingga banyak Advokat yang sudah diputus bersalah dan

dijatuhi hukum tidak boleh berpraktek baik sementara maupun tetap

tetap dapat berpraktek.53





53

Wawancara dengan Otto Hasibuan, Ketua PERADI di Jakarta, tanggal, 23 September 2010

253 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



1.5. Kelemahan Kelima : Tidak Adanya Pembatasan Waktu Maksimum



Kekurangan yang cukup menyolok dari mekanisme / prosedur

Untuk Menyelesaikan Perkara



penanganan dugaan pelanggaran kode etik profesi menurut Kode Etik

Advokat Indonesia 2003 adalah pertama, tidak adanya ketentuan yang

memberikan batas waktu (time limit) kepada Dewan Kehormatan untuk

menyelesaikan perkara mulai dari tahap pertama yaitu diterimanya

pengaduan tertulis dari pengadu hingga penjatuhan hukuman melalui

sidang terbuka. Memang, telah diatur time scheduling seperti misalnya

berapa lama batas waktu yang dimiliki oleh Dewan Kehormatan untuk

segera mengirimkan surat pemberitahuan adanya pengaduan kepada

pihak yang teradu, berapa lama teradu memiliki waktu untuk mengirimkan

hak jawabnya, berapa lama Dewan kemudian harus menentukan hari dan

tanggal sidang pertamanya, dst. Namun demikian, tidak ada ketentuan

yang mengatur berapa lama batas waktu maksimum bagi Dewan untuk

menyelesaikan persidangan hingga pembacaan keputusannya. Misalnya

saja, apakah batas waktu itu totalnya 60 hari, 90 hari, atau 120 hari

terhitung sejak hari diterimanya pengaduan perkara. Karena tidak

adanya batas waktu maksimum untuk menyelesaikan perkara dapat

mengakibatkan suatu perkara, entah sengaja atau tidak, dibiarkan

terkatung-katung tanpa ada kejelasan apakah akan diproses atau tidak,

kalau akan diteruskan kapan hal itu dilakukan dan sampai kapan, dsbnya.

Singkatnya, ketiadaan batas waktu maksimum ini dapat menyulitkan

pengadu, teradu, dan masyarakat luas untuk memonitor perkembangan

kasus pelanggaran kode etik.

Kedua, tidak adanya ketentuan dalam Kode Etik Advokat Indonesia

yang mewajibkan Dewan Kehormatan untuk membuat semacam

‘laporan perkembangan penanganan perkara’ dan memberikannya

kepada pengadu maupun teradu. Padahal informasi semacam ini sangat

dibutuhkan terutama oleh pengadu agar ia dapat mengetahui sejauh

mana pengaduannya sudah ditangani, apakah pengaduannya telah

ditindak-lanjuti secara layak atau tidak, atau apabila ada kemacetan

dalam prosesnya pengadu berhak pula mengetahui apa penyebabnya,

dstnya. Hak pengadu untuk mendapatkan informasi semacam ini selain

didasarkan pada alasan kepatutan juga karena menurut ilmu administrasi

publik pihak-pihak yang menangani pengaduan dari publik/masyarakat,

sesuai dengan prinsip good governance, berkewajiban untuk memberikan

pelayanan publik yang memadai dan profesional termasuk didalamnya

profesionalisme dalam mengelola pengaduan/keluhan publik.54 Dalam

54

Lihat, Komisi Hukum Nasional, “Laporan Hasil Penelitian tentang Reformasi Hukum

Administrasi Negara Dalam Rangka Pelayanan Publik”, tahun 2004, serta tentang “Laporan

Penelitian tentang Prosedur Penyampaian Keluhan Publik”, tahun 2004

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 254



kaitan inilah, Dewan Kehormatan Organissi Advokat sebagai instansi

yang wajib menerima keluhan/pengaduan publik mutatis mutandis dapat

disamakan dengan instansi atau aparat administrasi negara, sehingga ia

wajib pula untuk melayani pengaduan publik itu dengan menerapkan

manajemen pengelolaan keluhan publik secara baik pula sesuai dengan

prinsip-prinsip dalam good governance.55

1.6. Kelemahan Keenam : Penanganan Pelanggaran Kode Etik Hanya



Dalam diskusi dengan beberapa advokat dari berbagai organisasi

Menunggu Adanya Pengaduan Tertulis



advokat tradisional dan dengan beberapa narasumber mengemuka

persoalan mengapa penanganan pelanggaran kode etik profesi harus

mensyaratkan adanya pengaduan tertulis terlebih dahulu, mengapa

organisasi advokat tidak bertindak pro aktif yaitu dapat memulai inisiatif

melakukan penyelidikan atas adanya dugaan pelanggaran tanpa harus

selalu menunggu adanya pengaduan? Pertanyaan ini beralasan karena:

a. kalau hanya menunggu adanya pengaduan, maka tidak ada jaminan

bahwa semua pelanggaran-pelanggaran kode etik mulai dari yang

sumir sampai yang berat akan sampai ke Dewan Kehormatan. Hal ini

dikarenakan berbagai faktor, misalnya keengganan masyarakat atau

klien untuk mengadukan karena mereka sudah cenderung bersikap

apatis, atau mungkin karena ketidak-tahuan mereka tentang prosedur

pengaduan, atau kekhawatiran mereka akan ditekan atau diancam

oleh advokat yang diadukan, dsbnya.

b. berkaitan dengan alasan di atas, tidak adanya atau sepinya pengaduan

kepada Dewan Kehormatan sebenarnya tidak mencerminkan bahwa

selama ini tidak pernah ada persoalan pelanggaran kode etik advokat

atau bahwa para advokat perilaku profesionalnya sudah sesuai semua

dengan kode etiknya. Jadi, syarat harus adanya pengaduan dinilai

justru dapat menghambat upaya organisasi untuk menjunjung tinggi

profesi advokat secara keseluruhan.

c. ada fakta dalam masyarakat bahwa perilaku, ucapan, atau komentar

seorang atau beberapa advokat sebenarnya pantas diduga telah

melanggar kode etik, tetapi karena tidak ada satupun pihak yang

mengadukan hal itu ke organisasi profesi, maka fakta itu dibiarkan

berlalu.56

Lebih lanjut, persyaratan bahwa pengaduan itu harus tertulis juga

55

Ibid

56

Sebagai contoh misalnya komentar bernuansa SARA dari seorang advokat mengenai tindakan

koleganya yang menjadi pembela dari seorang tersangka pelaku pembunuhan. Komentar

tersebut diucapkan di depan pers dan ditayangkan dalam berbagai program infotainmen di

televisi swasta.

255 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



dikhawatirkan lebih menyulit pengadu yang berasal dari masyarakat

awam yang mungkin saja tidak faham dengan bahasa / jargon hukum.

Syarat tertulis itu juga menimbulkan pertanyaan: adakah format bakunya?

Apakah pengadu harus membuat pengaduan tertulis sesuai dengan format

baku itu, dan apakah ada sanksinya bila format baku itu tidak diikuti?

Apabila ada format bakunya, bagaimana masyarakat dapat mengaksesnya,

dstnya.



Kode Etik Advokat Indonesia 2003 juga tidak menegaskan apakah

1.7. Kelemahan Ketujuh: Prosedur Beracara Apakah Perdata atau Pidana



prosedur persidangan pelanggaran kode etik dilaksanakan sesuai dengan

prinsip hukum acara perdata ataukah pidana, ataukah sui generis.

Penjelasan tentang sifat dari prosedur beracara ini jelas akan menimbulkan

akibat seperti misalnya dalam hal pembuktiannya, dokumen-dokumen

hukum yang dibutuhkan, dsbnya.

BAB III

KESIMPULAN & REKOMENDASI









Beberapa kesimpulan dari evaluasi terhadap perlaksanaann reformasi

A. KESIMPULAN



pada organisasi advokat adalah:

1) Penegakan Kode Etik Profesi Advokat memiliki beberapa kelemahan

antara lain :

a) Ketidajelasan Kriteria Calon Dewan Kehormatan, Majelis Kehormatan

dan Komisi Pengawas

b) Rekruitmen Organ Penegak Kode Etik Profesi Advokat yang Terbuka

dan Partisipatif

c) Ketertutupan Dalam Proses Penegakan Kode Etik

d) Putusan Tidak Dihormati Penegak Hukum Lain

e) Tidak Adanya Pembatasan Waktu Maksimum Untuk Menyelesaikan

Perkara

f) Penanganan Pelanggaran Kode Etik Hanya Menunggu Adanya

Pengaduan Tertulis

g) Prosedur Beracara Apakah Perdata atau Pidana

2) Kurikulum Pendidikan Khusus Profesi Advokat lebih merupakan

pengulangan terhadap kurikulum S1 hukum.

3) Standar Pendidikan Profesi Advokat dibutuhkan sebagai suatu tolok

ukur untuk menilai keberhasilan pendidikan termaksud. Di samping itu,

standar pendidikan ini sekaligus dapat menjadi pegangan atau pemberi

arah ke mana program pendidikan tersebut harus dikembangkan.







1. Organisasi Advokat hendaknya memperbaiki Penegakan Kode Etik Profesi

B. REKOMENDASI



Advokat dengan melakukan perubahan-perubahan yang telah dicapai

dalam pembentukan advokat, di antaranya: a) Memperjelas mekanisme

pembentukan Organisasi Advokat dan memberikan kewenangan kepada

Organisasi Advokat yang secara de facto ada saat ini yaitu PERADI dan

KAI untuk menyelenggarakan musyawarah nasional advokat Indonesia

dengan sistem pemilihan langsung dan one man one vote dalam waktu

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 258



paling lambat 2 (dua) tahun sejak perubahan undang-undang ini disahkan.

b) Menindaklanjuti prakarsa penyatuan PERADI dan KAI.

2. Kurikulum Pendidikan Khusus Profesi Advokat hendaknya disusun

berdasarkan “standar profesi” advokat sehingga berorientasi untuk

membekali calon advokat dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat.

3. Sebelum menyusun Kurikulum Pendidikan Profesi Advokat hendaknya

disusun terlebih dahulu Standar Pelayanan Jasa Advokat.

4. Organisasi Advokat perlu mengharuskan para Advokat untuk mengikuti

Program Pendidikan Berkelanjutan (Continuing Legal Education) sebagai

syarat memperpanjang ijin praktek Advokat.

5. Terkait dengan “konsep status advokat sebagai Penegak Hukum” adalah

bahwa harus diingat dan diterapkan dalam setiap langkah reformasi

advokat, bahwa advokat itu mempunyai hak untuk mendapatkan kesetaraan

status yang sama dengan penegak hukum lainnya dalam menjalankan

fungsi dan perannya untuk menegakan hukum, jadi sudah selayaknya

profesi advokat mendapatkan status sebagai penegak hukum. Hal ini juga

terkait dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 014/PUU-IV/2006.

Di dalam pertimbangannya, dalam pokok permohonannya, menyatakan

bahwa ketentuan pasal 5 (1) UU Advokat yang memberikan status kepada

Advokat sebagai penegak hukum yang mempunyai kedudukan setara

dengan penegak hukum lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan

menunjukan bahwa karena kedudukannya iyu diperlukan suatu organisasi

yang merupakan satu – satunya wadah profesi Advokat sebagaimana

dimaksud dalam pasal 28 (1) UU Advokat. Akan tetapi harus dicermati

juga, sampai sejauh mana ukuran dan batasan seorang atau pihak penegak

hukum dapat menegakan hukum57. Selain itu, harus diperhatikan, jangan

sampai status penegak hukum ini hanya menjadi suatu bentuk “kegenitan

elit” dari beberapa advokat sendiri, yang muncul agar mereka dapat

mempunyai hak dan status yang sama dengan aparat penegak hukum

lainnya sebagai penegak hukum58. Oleh karena itu, harus ada kesatuan

pemahaman atas konsep tentang status penegak hukum bagi advokat,

khususnya pemahaman yang sama dan kesatuan visi & misi diantara para

advokat itu sendiri, dan kalau ingin mensosialisasikan konsep ini maka para

advokat harus mempunyai kesatuan konsepnya dulu59. Sudah seharusnya

kualitas seorang advokat itu dinilai dari integritas, profesionalitas, serta

bagaimana advokat itu menghormati dan menjunjung tinggi penegakkan

kode etik mereka, dan bukan dinilai dari status mereka (advokat) sebagai

57

Wawancara mendalam dengan Bambang Widjoyanto, untuk Penelitian tentang “Evaluasi

Reformasi Hukum Di Bidang Advokat”, Jakarta, 29 Juni 2010.

58

Ibid.

59

Ibid.

259 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



penegak hukum. Harus dicatat bahwa, jangan sampai citra elit dari status

penegak hukum itu merusak dan menghambat langkah – langkah serta

tujuan kita dalam melakukan reformasi hukum di bidang Advokat ini.







DAFTAR PUSTAKA







ABNR Law Firm, Diagnostic Assesment of Legal Development in Indonesia, vol.

BUKU



III, (Jakarta: PT.Siberkonsultan, 1997)

Adnan Buyung Nasution, Pergulatan Tanpa Henti: Pahit Getir Merintis

Demokrasi, (Jakarta: Aksara Karunia, 2004),

___________________, Bantuan Hukum di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1982).

A.Z. Abidin, “Mengenang Mr. Loekman Wiriadinata” dalam Paul S. Baut dan

Luhut M.P. Pangaribuan (ed.), Loekman Wiriadinata, S.H., Kemandirian

Kekuasaan Kehakiman, (Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum

Indonesia, 1989).

Binziad Kadafi, Aria Suyudi, Bani Pamungkas et. All, Advokat Indonesia

Mencari Legitimasi (Studi Tentang Tanggung Jawab Profesi Hukum Di

Indonesia), (Jakarta: Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, 2001).

Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan,

(Jakarta: LP3ES, 1980).

Frans Hendra Winarta, Bantuan Hukum: Suatu Hak Asasi Manusia Bukan Belas

Kasihan, (Jakarta: PT. Elexmedia, 2000).

Jimly Asshidiqie, Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi,

(Jakarta: Balai Pustaka, 1998).

Lasdin Wlas, Cakrawala Advokat Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 1989).

Patricia J. Kendall, “Inventory and Assessment of Indonesian Bar Associations”

(Laporan penelitian yang dikerjakan untuk USAID/ELIPS Bridge

Project, Maret 2001).

R. Soepomo, Hukum Atjara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnja

Paramita, 1972).

Ropaun Rambe, Teknik Praktek Advokat, (Jakarta: PT. Grasindo, 2001).

R. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Pidana di Indonesia, (Bandung: Sumur

Bandung, 1985).

Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,

(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001).

Soemarno P. Wirjanto, Profesi Advokat, (Bandung: Penerbit Alumni, 1979).

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 260



PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN



(S. 1847 : 23 jo. S. 1848 jo. 57) pasal 185 – ps. 192 dengan segala

Reglement op de Rechtelijk Organisatie en het Beleid der Justitie Indonesia



perubahan dan penambahannya.



Advokaten, procureirs en Deuwaarders (S. 1848 : 8)

Bepalingen betreffende het kostuum der Rechtelije Ambtenaren dat der



Bevoegdheid departemenr hoofd in burgelike zaken van land (S. 1910 : 446 jo.

S. 1922 : 523)

Vertefenwoodiging van de land in recnten (K.B.S 1822 : 522)

Republik Indonesia, Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 14 Tahun

1985 tentang Mahkamah Agung. UU No. 3 Tahun 2009. LN No. 3 Tahun

2009, TLN No. 4958.

___________________, Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman. UU No. 48

Tahun 2009, LN. No. 157 Tahun 2009. TLN 5076

___________________, Undang-Undang tentang Advokat. UU No. 18 Tahun 2003,

LN. No.49 Tahun 2003, TLN. No. 4288

___________________, Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi. UU No. 24

Tahun 2003, LN. No.49 Tahun 2003, TLN. No. 4288

___________________ , Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tentang

Tatacara Memperkerjakan Advokat Asing serta Kewajiban Memberikan



Hukum. Kepmen Nomor M.11-HT.04.02 Tahun 2004.

Jasa Hukum Secara Cuma-Cuma kepada Dunia Pendidikan dan Penelitian



___________________, Putusan Mahkamah Konstitusi. No. 014/PUU-IV/2006.

___________________, Putusan Mahkamah Konstitusi. No. 101/PUU-VII/2009.

___________________, Surat Edaran Mahkamah Agung Tentang Sikap Mahkamah

Agung Terhadap Organisasi Advokat. SEMA Nomor 052/2009

___________________, Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Tentang

Keterbukaan Informasi di Pengadilan. KMA Nomor144/KMA/SK/

VII/2007

___________________ , Peraturan Perhimpunan Advokat Indonesia Tentang

Pelaksanaan Magang untuk Calon Advokat. Peraturan PERADI Nomor

1 Tahun 2006.

___________________ , Peraturan Perhimpunan Advokat Indonesia Tentang

Penyelenggaraan Pendidikan Khusus Profesi Advokat. Peraturan PERADI

Nomor 3 Tahun 2006.







Adnan Buyung Nasution, Surat terbuka 017/ABNP/ABN/XII/05 tertanggal 28

ARTIKEL, SURAT KABAR DAN INTERNET



Desember 2005.

261 Problematika Penegakan Hukum : Kajian Reformasi Lembaga Penegak Hukum



Advokat Muda Menggagas Rekonsiliasi, , 31 Januari

2009.

Advokat Suryadarma Diskorsing, , 21 Februari 2010.

Advokat KAI Gugat Ketua MA ke PTUN Selasa, ,21

September 2010.

Aduh, Para Advokat Bobol Gedung MA, , 19 Juli 2010.

Arief Agus Nindito, Menggugat Ketua Pengadilan Tinggi atas Penolakan

, 11 September 2010.

Amrie Hakim, Catatan Refleksi Atas Pengujian-pengujian UU Advokat, www.

hukumonline.com [12/3/07]

Anggara, Dilema Organisasi Advokat, , 04 Juli 2009.

Aksi Anarkistis KAI Tak Hormati Simbol Hukum, , 15 Juli 2010.

Catatan Awal Tahun 2009: Persatuan Advokat Masih Menjadi Barang Mahal

, 01 Januari 2009.

Daniel S. Lev, Social Movement, Contitusionalism and Human Rights in Daniel S.



Essays. Hague, London, Boston: Kluwer Law International, page 321,

Lev. 2000. Legal Evolution and Political Authority in Indonesia. Selected



dalam Patra M. Zen, Dasar-dasar Peran Mulia Advokat, , 04

November 2008.

Denny Indrayana: Bonaran Jangan Berlindung di Balik UU Advokat, , 18 Februari 2010.

Frans H. Winarta, Organisasi Profesi Advokat Ideal di Waktu Mendatang,

,

Forum Keadilan, Wawancara dengan Indra Sahnun Lubis, Ketua IPHI, 2 April

2006

Forum Keadilan, Wawancara Adnan Buyung Nasution dan Indra Sahnun Lubis,

2 April 2006;

Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia 262



Harian Rakyat Merdeka, Wawancara Denny Kailimang, 7 April 2006.

Harian Rakyat Merdeka, Wawancara Otto Hasibuan, Ketua Umum Peradi, 4

April 2006.

Harian Rakyat Merdeka, “Wawancara Gayus Lumbun”, 4 April 2006

Komisi Hukum Nasional, Law Summit III: Berantas KKN Tanpa Pandang Bulu

Sampai Ke Akar-akarnya”, Newsletter Komisi Hukum Nasional edisi

Maret-April 2004, hal.8.

Kronologis Perjalanan UU Advokat, www.hukumonline.com, [5/4/04]

Kompas, “Menggugah Kembali Integritas Advokat”, 25 Okrober 1999

Mas Achmad Santosa dalam artikelnya "Reformasi Hukum dan Law Summit III

(Kompas, 25 Maret 2004).

Patra M. Zen, Dasar-dasar Peran Mulia Advokat, , 04 November

2008.







Focus Group Discussion tentang Evaluasi Reformasi Hukum di Bidang

WAWANCARA DAN FGD



Advokat, di Ambon, 22 April 20010.

Wawancara mendalam dengan IKADIN & PERADI untuk Penelitian tentang

“Evaluasi Reformasi Hukum Di Bidang Advokat”, Banjarmasin, 6 Mei

2010

Wawancara dengan Luhut M Pangaribuan, untuk Penelitian tentang “Evaluasi

Reformasi Hukum di Bidang Advokat, Jakarta,…Juni 2010

Wawancara mendalam dengan Ketua DPD KAI Medan, SUMUT, untuk

Penelitian tentang “Evaluasi Reformasi Hukum Di Bidang Advokat”,

Medan, 23 Juni 2010.

Wawancara mendalam dengan Bambang Widjoyanto, untuk Penelitian

tentang “Evaluasi Reformasi Hukum Di Bidang Advokat”, Jakarta, 29

Juni 2010.

Wawancara dengan Indra Sahnun Lubis, Presiden KAI di Jakarta, 13 Juli

2010

Wawancara dengan John Jony Sada, KAI Manado di Manado, 5 Agustus 2010.

Wawancara dengan Pengurus DPC PERADI Jawa Timur di Surabaya, tanggal

Wawancara dengan Otto Hasibuan, Ketua PERADI, tanggal, 23 September

2010

Wawancaa dengan Felix O Seobagjo, di Jakarta, tanggal, 25 Sepetember

2010.

Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, 4 Oktober 2010.


Related docs
Other docs by Richard cool
Advokasi dengan Hati Nurani.
Views: 293  |  Downloads: 6
Problematika Penegakan Hukum
Views: 963  |  Downloads: 2
Implikasi Perubahan UUD 1945
Views: 118  |  Downloads: 2
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Views: 430  |  Downloads: 112
Perkembangan dan Konsolidasi
Views: 46  |  Downloads: 1
the philosophy of law
Views: 496  |  Downloads: 4
Pilar Demokrasi
Views: 158  |  Downloads: 1
HUKUM TATA NEGARA
Views: 10654  |  Downloads: 470
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!