hakekat manusia by sichankomik

VIEWS: 347 PAGES: 17

More Info
									                               PENDAHULUAN


           Dan …pada dirimu (dibalik jasad kasarmu) apakah kamu tidak
memperhatikan?( Adz dzaariyat : 21 ). Demikianlah firman Allah, yang berperan serta
menggugah dan memacu nalar manusia untuk kembali dan kembali lagi untuk
menukik dalam dirinya sendiri. Mengenal dan memahami arti dan tugas kehadiranya.
Maka para ahli pikirpun bersimbah peluh, membanting tulang, memeras otak dan
merekapun sepakat bahwa manusialah yang menjadi pokok pangkal segala
permasalahan, factor penentu pada setiap fakulta kehidupan baik yang pertama mupun
yang paling utama sehingga kitapun mengenal sebuah semboyan popular yang
menyatakan :
               The essential and fundamental problem is the problem of man of his
               knowledge, his problem, his creativeness.
               Problem     yang     esensial   dan    fondamental    adalah   manusia,
               pengetahuannya, kebebasannya, daya karsa ciptanya.


           Demikian      Pertanyaan:    Berdyacv     (1874-1948)    yang   memandang
urgensinya manusia dengan segenap aspek kehidupannya. Demikian unik dan
kompleksnya sosok manusia sehingga tampillah bermacam ungkapan dan pernyataan
yang tak jarang salin bertentangan, saling simpang siur namun terkadang juga saling
mengisi dan melengkapi.
           Setiap kali para ahli pikir menyingkap satu lapisan tabir misteri yang
menyelubungi manusia, seketika itu pula terpampang dihadapan mereka berlapis-lapis
misteri yang lain yang selalu bermunculan dan menggugah rangsang untuk segera
disentuh, disikapi dan dibedah. Namun, sungguh bukan suatu kerja yang ringan. Tak
segampang jika sekiranya kita mencoba untuk mengenal manusia dari sosok lahirnya
atau yang disebut jasad kasarnya.
           Mengenal eksistensi manusia tidaklah sekedar membaca dan mengurangi
structural biologisnya, tidak sekedar mengenal warna darah dan kulitnya, tidak
sekedar mengukur panjang dan pendeknya hidung dan betis maupun pinggulnya,
tetapi mengenal dan menghayati apa-apa yang tersimpan dibalik tubuh kasarnya,
mengurangi susunan anatomi “Ruhaniah”. Tubuh kasarnya hanyalah alat, sarana
untuk mengekspresikan idenya, persepsinya, imajinasinya, hasratnya, cita-citanya,
senyum dan kemarahannya, kesopanan atau bahkan kebrutalannya yang semua itu
pada pokoknya merupakan “Aktifitas Ruhanih”. Jadi mengenal dan membaca diri
manusia adalah study tentang sesuatu yang bersifat abstrak, tidak exsak, gaib dan
penuh misteri yaitu ruhaniahnya, jiwanya dengan segala implimentasinya yang aneh-
aneh. Yang kemudian ia jabarkan dalam bentuk kongkrit atau samar-samar lewat
tubuh kasarnya, tangannya, mulutnya, senyumnya, pandangannya, tekanan suaranya,
tarikan nafasnya dan seluruh aktifitas hidupnya, tak terkecuali dengan kepalsuannya.
           Itulah sebabnya, tak aneh jika terlalu sedikit manusia yang mampu
membaca dan mengenal dirinya. Sebagian besar hanya sempat membaca kulitnya
tanpa mengenal sesuatu yang ada di sebaliknya. Sehingga banyak pula yang tak
memahami hakikat keberadaannya, asal mulanya, misi hidupnya dan akhir
kesudahannya.
           Tanpa mengkerdilkan arti kehadiran para pemikir yang telah berupaya
penuh, mereka telah memberi jawab dan membuka misteri tentang manusia.
Walaupun sebenarnya masih terlalu banyak yang belum sempat terpecahkan karena
pelik dan uniknya manusia itu sendiri. Dan agaknya sampai kapanpun manusia tak
akan pernah tau tentang “hakikat dirinya sendiri”. Apa yang telah dipecahkan oleh
para pemikir selama ini masih saja pada tepi-tepinya, sayup-sayup sampai.
           Semua itu dikarenakan bahwa, manusia dihadirkan bukan karena
hendaknya sendiri. Ia tidaklah mencipta dirinya sendiri. Tetapi, ia hadir karena di
hadirkan, ia tercipta karena dicipta oleh Kuasa Besar diluar dirinya, itulah Sang Maha
Pencipta, Tuhan Sekalian Alam. Karena Dialah mengetahui setepat-tepatnya tentang
hakikat Nya.
                                PEMBAHASAN


     1.      MENURUT SAINS
             Pertanyaan tentang siapakah itu manusia berkaitan dengan pertanyaan lain
yaitu dari mana manusia itu?
             Dari mana asal manusia? Jawaban itu adalah mudah. Manusia itu berasal
dari orang tuanya. Dari mana asal orang tuanya itu? Masih mudah menjawabnya. Ya,
mereka berasal dari orang tuanya pula. Kalau pertanyaan itu kita lanjutkan berulang-
ulang, sampailah kita pada orang tua yang pertama. Orang tua pertama tentu tidak
mempunyai orang tua. Bagaimanakah kejadiannya, sehingga orang tua itu ujud?
             Pertanyaan itu dijawab oleh dua ilmu dengan teori desendasi (keturunan)
atau teori evolusi. Teori evolusi ialah anggapan ilmu bahwa jenis-jenis hewan dan
tumbuhan yang ada sekarang tidak lahir menurut ujudnya seperti sekarang ini. Dan
manusia berasal dari bangsa yang lebih rendah, yakni hewan. Teori ini berpangkal
dari Lamarck, seorang ahli ilmu hayat termasyur perancis. Pada Lamarck (1744-1829)
teori itu baru bersifat spekulatif atau pemikiran. Charles Darwin lah (1802-1887), ahli
ilmu hayat Inggris terkenal, yang menjadikan ilmiah dengan memberikan dasar data-
data. Teori itu beranggapan, bahwa tiap jenis makhluk tumbuhan dan hewan berasal
dari jenis yang paling rendah. Jenis yang paling rendah, yakni yang awal sekali, ialah
amuba atau makhluk satu sel. Jenis yang paling tinggi dan akhir sekali adalah
manusia. Dalam sejarah dunia tumbuhan dan hewan, kira-kira dua milyard tahun
sampai sekarang, semenjak makhluk satu sel yang timbul di dalam laut sampai
sekarang, berlangsung evolusi atau perubahan dari satu jenis melalui antara kepada
jenis lainnya. Ilmu sistematik menghitung sekarang sepertiga juta jenis tumbuhan dan
sejuta jenis hewan. Dan semuanya itu berpangkal pada satu jenis; makhluk satu sel di
dalam air.
             Kalau manusia terjadi dari evolusi hayat, tentu ia berasal dari jenis yang
lebih rendah. Ya, demikianlah anggapan teori evolusi. Manusia berasal dari jenis yang
lebih rendah. Bangsa yang lebih rendah dari manusia ialah hewan. Demikianlah
manusia menurut sains , merupakan hasil evolusi organic, hasil perkembangan
organisme dari yang paling bersahaja sampai kepada hewan tingkat tinggi (bangsa
antropoide) dan akhirnya jenis manusia.
           Teori evolusi sebagai teori sains seperti pula teori-teori lainnya, tidaklah
mengandung kebenaran yang mutlak. Kebenaran teori ilmu bergantung pada data-data
tempat ia berpijak. Apabila ditemukan data baru atau diperbaharui data lama, suatu
teori dapat jatuh. Berakhirlah kebenaran teori lama untuk digantikan oleh teori baru.
Teori baru ini adalah benar selama belum terjatuhkan. Demikianlah sejarah ilmu
mengandung sejarah pembangunan dan kejatuhan teori. Ilmu adalah “produk” atau
hasil akal manusia. Maka sejarah ilmu adalah sejarah akal mencari kebenaran.
Pembangunan dan kejatuhan teori dalam sejarah merupakan sejarah kekhilafan akal
itu dalam usahanya menemukan kebenaran.
           Teori evolusi hanya memberatkan pandangan pada satu segi saja, yakni ia
menekankan pada persamaan pada sudut jasmaniah, sambil mengabaikan dari segi
perbedaan yang asasi pada sudut ruhaniah. Antara robot dan manusia memang ada
segi persamaan, tapi segi perbedaannya jauh lebih asasi.Kesimpulan jawaban sains
terhadap pertanyaan tentang asal manusia ialah: manusia berasal dari hewan . Ia lahir
diujung evolusi dunia binatang. Darwin menteorikan: manusia dan beruk
bermoyangkan yang sama, yakni kera purba. Teori sains itu adalah jawaban akal
manusia. Tetapi teori tersebut perlahan-lahan mulai dibatah oleh para tokoh antara
lain yaitu Harun Yahya.
           Dia (Harun Yahya) membantah adanya hubungan spesies antara seluruh
makhluk di Bumi, termasuk manusia. Kemudian Dia mengajukan pendapat yang
mengatakan bahwa setiap spesies di Bumi diciptakan sendiri-sendiri, tak ada
hubungan kerabat antara berbagai spesies. Pendapat ini sebetulnya sudah dilontarkan
semasa Darwin hidup pada abad ke-19. Terutama oleh para ahli Sistematik dan
Anatomi.
           Kemudian Harun Yahya mengatakan dengan ditemukannya ilmu baru,
yaitu biokimia dan genetika, terutama tentang gen, kromosom, dan DNA, maka teori
evolusi Darwin sudah masuk keranjang sampah. Dapat saya katakan bahwa kedua
mata pelajaran yang di masa Darwin belum berkembang itu justru kini jadi
memperkuat teori evolusi itu sendiri, dan membantah teori penciptaan khusus yang
diajukan kembali oleh Harun Yahya.
           Teori penciptaan khusus dan serentak hampir tak ada lagi sarjana biologi
mana pun kini yang menganut. Jadi mencengangkan saya, seorang sarjana biologi dari
institut terkenal ada yang bersosoh melawan arus pemikiran yang deras.
            Setiap mahasiswa Biologi akan menemui data evolusi dalam setiap mata
kuliah. Terutama ketika kuliah Taksonomi atau Sistematik, Anatomi Manusia,
Anatomi Komparatif, Embriologi, Biogeografi, Zoo- Fisiologi, Paleontologi, dan
bahkan dalam Genetika. Di dalam tiap mata pelajaran itu akan selalu ditemui bukti
adanya evolusi dan adanya hubungan kerabat antara berbagai hewan.
            Dari Anatomi ia akan mendapat kuliah bahwa ada kesamaan dan variasi
antara berbagai hewan, berderajat menurut kedudukan taksonomi. Jika ia belajar
anatomi manusia akan tahu adanya bukti evolusi pada alat persisaan yang mendekati
100 banyaknya. Alat persisaan ini masih utuh dan fungsional pada hewan yang
berkedudukan sistematik lebih rendah, dan ini berkaitan dengan adaptasi terhadap
lingkungan. Misalnya usus buntu yang sudah menyusut pada orang yang kurang
makan sayur, sedangkan pada sapi pemakan rumput berukuran besar dan berperan
besar pula dalam proses pencernaan.
            Dari Embriologi akan dapat terlihat adanya hubungan kerabat itu melihat
pada pertumbuhan embrio awal dan organogenesis. Ginjal orang misalnya tumbuh
bertingkat-tingkat, menurut Hukum Haeckel pula. Mula-mula tumbuh seperti ginjal
cacing yang disebut pronephros. Pronephros hilang muncul mesonephros, seperti
ginjal amfibi. Lalu mesonephros hilang pula, digantikan ginjal tetap yang disebut
metanephros, yang terdapat pada reptil, burung, dan mamalia.
            Dari Paleontologi akan ditemukan bahwa kejadian berbagai makhluk
adalah secara bertingkat-tingkat, dan peningkatan itu, seperti disinggung tadi di atas,
sesuai dengan kedudukan sistematik. Orang muncul setelah ungka dulu ada, ungka
muncul setelah kera sederhana seperti Tarsius lebih dulu ada. Ini sesuai dengan yang
disebut dalam Al Quran bahwa manusia itu timbul setelah hewan dan tumbuhan lebih
dulu ada.


     2.     MENURUT BIBEL
            Penciptaan manusia menurut Bibel hanya mengisahkan peristiwa-peristiwa
tertentu pada masa lampau, seperti yang berada pada kitab genesis dalam Bab satu,
ayat 24 sampai 31 yang berbunyi :
            “Dan Tuhan berkata: „Jadilah bumi melahirkan makhluk-makhluk hidup
sesuai dengan jenis-jenisnya : ternak dan hewan melata serta binatang-binatang sesuai
dengan jenisnya. „ Dan begitulah kehendak-Nya terjadi. Dan Tuhan membuat
binatang-binatang itu sesuai dengan jenis masing-masing dan ternak itu sesuai dengan
jenis masing-masing, dan segala yang melata di atas tanah sesuai dengan jenis
masing-masing. Dan Tuhan melihat bahwa hal itu bagus.
           “ Lalu Tuhan Berkata, „Biarlah Kita membuat manusia dalam citra kita,
sesuai dengan kita: dan jadilah mereka menguasai ikan di laut, burung di udara, ternak
dan segala sesuatu diatas bumi serta setiap makhluk yang melata di atas bumi.
           “ Maka Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri,
dalam citra Tuhan dia menciptakannya; Dia ciptakan mereka laki-laki dan perempuan.
           “ Dan Tuhan merahmati mereka, dan Tuhan berkata kepada mereka,
„suburlah dan berkembangbiaklah, dan isilah bumi dan tundukkanlah ia; dan kuasailah
ikan di laut dan burung di udara dan semua makhluk hidup yang bergerak di atas
bumi. „Dan Tuhan berkata. „Lihat, aku telah memberimu semua tanaman yang
melahirkan biji yang meliputi seluruh bumi dan setiap pohon lahirkan biji di dalam
buahnya; hendaklah engkau manfaatkan semua itu sebagai makanan. Dan setiap
binatang di atas bumi dan pada setiap burung di udara dan segala melata di atas tanah,
segala yang bernafas, aku telah memberikan seluruh tanaman hijau sebagai makanan.
„Dan jadilah kehendak-Nya. Dan Tuhan melihat segala yang dibuat-Nya dan melihat
bahwa hal itu bagus. Dan ada malam dan pagi, pada hari keenam.”
           Kisah penciptaan ini berakhir dengan ayat 4a dari bab dua:
           “Demikianlah langit dan bumi selesai tercipta, dan seluruh penghuninya.
Dan pada heri ketujuh Tuhan menyelesaikan karyanya, dan ia beristirahat pada hari
ketujuh. Maka tuhan merahmati hari ketujuh dan mensucikannya, karena pada hari itu
Tuhan telah selesai melakukan penciptaan.
           “Ini semua merupakan kelahiran langit dan bumi ketika keduanya
diciptakan.”
           Sampai jaman ilmu, teks mengenai penciptaan yang terdapat di dalam
Kitab Genesis merupakan satu-satunya sumber informasi sejarah yang diakui
menyangkut peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kemunculan manusia dan
makhluk-makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Pada masa silam, teks Bibel
karenanya di anggap sebagai titik acuan dasar. Ketika para ahli ilmu alam ingin
menyelaraskan gagasan-gagasan yang muncul dari suatu penelitian atas fosil-fosil
yang pertama kali ditemukan dengan ajaran-ajaran Bibel menyangkut ketetapan
spesies-spesies, mereka membayangkan bahwa eksistensi flora dan fauna yang
terdapat di dalam tanah-tanah yang sangat tua umurnya itu hanya dapat di jelaskan
melalui terjadinya bencana-bencana alam yang akan terjadi secara berturut-turut,
seperti air bah, yang pasti telah menghancurkan segala sesuatu dan diikuti dengan
penciptaan-penciptaan baru. Inilah yang dipikirkan oleh Cuver pada awal abad 19.
Pangaruh teori ini bertahan lama sesudah Cuver, sebab pada tahun 1862, Aleide
d‟Orbigny menyebutkan terjadinya dua puluh tujuh penciptaan berturut-turut sebagai
akibatnya terjadinya bencana-bencana alam yang berulang-ulang!.
          Dalam kenyataannya, Merupakan suatu kesalahan bila kita beranggapan
bahwa air bah, yang dilukiskan dalam Bibel, telah menghancurkan segala sesuatu
dimuka bumi pada masa tertentu. Menurut kisah Bibel, hampir dapat dipastikan
bahwa memang ada suatu bencana alam universal, tapi halitu tetap menyelamatkan
beberapa orang. Mereka itu adalah yang ikut bersama Nuh didalam perahu, dan
bersama mereka ikut juga hewan-hewan dari setiap jenis yang ada. Bumi dikatakan
telah dipenuhi kembali oleh hewan-hewan dan manusia-manusia yang berhasil
menyelamatkan diri dari air bah. Tapi Bibel tidak membicarakan spesies ciptaan baru
yang muncul kemudian hari.


     3.   MENURUT SOSIOLOGI
          Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku
masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial
yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai
cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August
Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah
mencatat bahwa Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian
berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Tokoh lainnya adalah
Max Weber dan Karl Marx, keduanya ilmuwan asal Jerman. Karl Marx yang terkenal
dengan pemikiran sosialisme.
          Sosiologi, sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya
teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya
dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte
(1798-1857). Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan
intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
            Tiga tahapan itu adalah :

   1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di
         dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di
         atas manusia.
   2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap
         gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan
         dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita
         terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan
         hukum-hukum alam yang seragam.
   3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah



            Menurut Durkheim hakekat manusia adalah bagian dari makhluk hidup
yang memiliki kolektifitas tinggi yang hidup dalam kebersamaan atau kelompok, jadi
manusia adalah manifestasi dari dari jiwa kelompok. Sehingga untuk memahami ciri-
ciri dan sifat-sifat individu itu , cukuplah jika dipelajari ciri-ciri kelompok tempat ia
hidup. Sebenarnya inilah yang membedakan sosiologi dengan psikologi social.


       4.   MENURUT PSIKOLOGI
            Psikologi menurut artinya berasal dari kata psyche yang dalam bahasa
yunani berarti jiwa dan kata logos yang dapat diterjemahkan dengan kata ilmu,
sehingga ilmu jiwa merupakan terjemahan dari istilah psikologi. Sehingga objek dari
ilmu jiwa ialah manusia serta kegiatan-kegiatannya dalam hubungan dengan
lingkungan.
            Hakekat manusia dilihat dari sudut pandang psikologi ialah manusia
merupakan makhluk teringgi yang dapat kita jumpai di alam ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa di dunia ini. Bahwasannya manusia merupakan makhluk tertinggi di dunia
ini sudah dapat kita temukan dalam uraian Aristoteles yang membeda-bedakan
manusia dari hewan dan tumbuh-tumbuhan secara bertingkat-tingkat. Hanya
manusialah yang mempunyai rasio-kecerdasan dan kemauan, demikianlah yang
diutarakan oleh Aristoteles.
            Namun hakekat manusia juga dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
        Makhluk individual
           Bahwasanya manusia itu merupakan suatu keseluruhan yang tak dapat di
bagi-bagi, kiranya sudah jelas bagi kita. Hal ini merupakan arti dari manusia adalah
makhluk individual. Asal kata individu berarti tidak dapat dibagi-bagi. Makhluk
individual berarti makhluk yang tidak dapat dibagi-bagi ( in-divideri ).
           Aristoteles seakan-akan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja
tersendiri, seperti kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak, kemampuan
sensitif: Bergerak mengamat-amati, bernafsu dan berperasaan dan kemampuan
intelektual: berkemauan dan berkecerdasan.
           Descrates pun menyatakan bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah
ditambah zat material yang masing-masing mempunyai peraturan-peraturan tersendiri
yang malah bertentangan.
           Manusia merupakan makhluk individual tidak hanya dalam arti makhluk
keselurahan jiwa raga, tetapi juga dalam arti bahwa tiap-tiap orang merupakan pribadi
yang khas menurut corak kepribadiannya, termasuk kecakapan-kecakapan sendiri. Hal
ini nyata sekali dalam rumusan Allport mengenai kepribadian manusia sebagai
berikut: Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sitem psiko-fisik dalam individu
yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan.
      Makhluk sosial
           Segi utama lainnya yang perlu kita perhatikan ialah bahwa manusia secara
hakiki merupakan makhluk social. Sejak manusia dilahirkan manusia membutuhkan
pergaulan dari orang-orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya,
makanan, minuman, dan lain-lainnya.
           Teapi dalam dua bulan hubungan dengan ibunya sudah mulai berlangsung
secara psikis dan tidak hanya biologis saja, yaitu dengan menjawab senyuman dengan
tersenyum pula. Bahkan oleh beberapa peneliti psikologi anak telah dibuktikan
bahwa, apabila tak ada hubungan psikis antara ibu, perkembangan anak terhambat
untuk beberapa tahun lamanya.
           Kelak, apabila ia sudah mulai bergaul dengan kawan-kawan sebaya, ia pun
tidak lagi hanya menerima kontak social itu, tetapi ia juga dapat memberikan kontak
social. Ia mulai mengerti      bahwa didalam kelompok sepermainannya terdapat
peraturan-peraturan tertentu, norma-norma social yang hendaknya ia patuhi dengan
rela guna melanjutkan hubungannya dengan kelompok tersebut secara lancar. Ia pun
turut membentuk norma-norma pergaulan tertentu yang sesuai bagi interakasi
kelompok. Ia mulai mengakui bahwa ia mempunyai peranan dalam kelompoknya
yang berdasarkan hubungan timbale-balik dengan anggota lainnya.Kelompok itu
bukan hanya kesempatan untuk memperoleh sesuatu bagi dirinya, melainkan juga
membutuhkan sumbangannya. Ia belajar mengembangkan kecakapannya untuk dapat
membarikan sumbangannya terhadap kelompok sosialnya. Ia belajar menyesuaikan
dirinya dengan norma-norma yang sudahterbentuk dalam kelompoknya atau ikut serta
dalam pembentukan norma-norma baru. Ia belajar mengebelangkan keinginan-
keinginan individual demi kebutuhan kelompoknya.
      Makhluk Berketuhanan
          Manusia, selain makhluk individual yang sebenarnya tidak usah dibuktikan
kebenarannya, sekaligus juga merupakan makhluk social. Hal ini pun sebenarnya tak
usah dibuktikan. Disamping itu ia merupakan makhluk berketuhanan. Sebab bagi tiap-
tiap manusiayang sudah dewasa dan sadar akan dirinya, sudah jelas sekali untuk
menolak adanya kepercayaan akan Tuhan, sebagai segi hakiki dalam peri kehidupan
manusia dan segi ini adalah segi khas bagi manusia pada umumnya.
          Bahwasanya Tuhan itu sukar dibuktikan secara empiris eksperimental bagi
mereka yang belum berketuhanan, tidak berarti bahwa Tuhan itu tidak ada. Dan bagi
mereka yang belum sadar akan segi kemanusiaan mereka sebagai sebagai makhluk
yang berketuhanan, sukar menerima atau mengakui hakekatnya dari sesi ketiga
kemanusiaannya itu.
          Tetapi orang ateis yang belum sadar akan hal ini, tanpa disadarinya
sebenarnya sudah berketuhanan pula, tetapi dalam bentuk pertuhanan benda-benda,
orang-orang atau gagasan-gagasan tertentu yang bukan Tuhan Yang Maha Esa.
Misalnya bentuk ketuhanan modern ialah pertuhanan kepada aliran berfikir
materealisme, baik dalam anggapan maupun dalam perbuatannya. Dalam pada itu
mereka, dengan sadar atau tidak, sudah menyalah gunakan segi berketuhanannya,
yang sebenarnya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta,
langit, bumi, dan semuanya yang ada di dalam universum kita ini. Yakni
menyeleweng sehingga yang disembahnya bukan lagi Tuhan Yang Maha Esa,
melainkan ciptaannya sendiri.
          Walaupun begitu , secara psikologis dapatlah diakui bahwa segi manusia
sebagai makhluk berketuahananitu dapat pula dengan sadar atau tidak dengan sadar
ditujukan dan digerakkan oleh suatu objek yang bukan merupakan Tuhan Yang Maha
Esa, pencipta seluruh universum itu, universum yang tak terhingga dan yang menurut
ahli-ahli ilmu alam sekurang-kurangnya 2000 juta tahun lagi.


      5.   MENURUT Al-QUR’AN
           Pada dasarnya Al-Qur‟an telah menerangkan tentang awal mula tejadinya
manusia. Contohnya, seperti pada ayat berikut :
        “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
        (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati air mani (yang
        disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
        jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
        daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
        belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia
        makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucillah Allah, Pencipta Yang
        Paling Baik.
        ( Al-Qur‟an, 23: 12-14 )
Dan didalam ayat Al-Qur‟an yang lain juga menyatakan bahwa tetesan sperma
berkembang menjadi sebuah gumpalan darah yang membeku, (sebuah blastosit yang
tertanam atau orok (conceptus) yang gugur secara mendadak akan menyerupai sebuah
gumpalan darah). Referensi dalam Al-Qur‟an juga menyebutkan sebagai penampakan
seperti lintah dalam embrio. Embrio juga dikatakan menyerupai sebuah benda yang
dikunyah seperti permen karet atau kayu.
           Embrio yang berkembang bisa dianggap sebagai manusia pada hari ke 40
atau ke 42 dan tidak lagi menyerupai hewan pada tahap ini. Al-Qur‟an juga
menyebutkan bahwa embrio berkembang dalam tiga dinding kegelapan. Mungkin hal
ini berkenaan dengan :
                 1. Dinding abdomin muka.
                 2. Dinding rahim
                 3. selaput amniochorionic.
           Study intensif terhadap Al-Qur‟an dan hadist dalam empat tahun terakhir
ini   menunjukkan      sebuah   sistem   pengklasifikasian   embrio   manusia   yang
mengagumkan sejak hal ini direkam pada abad ke 7. Meskipun Aristotle, penemu
sains embriologi, menyadari bahwa embrio ayam berkembang dalam tahap-tahap
tertentu dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad ke 4 SM, dia tidak
memberikan klasifikasi detail mengenai tahap-tahap ini. Sejauh yang diketahui dari
sejarah embriologi, sangat sedikit yang diketahui tantang pentahapan dan
pengklasifikasian embrio manusia hingga abad ke 20. Dengan alasan ini, diskripsi
embrio manusia dalam Al-Qur‟an tidak bisa didasarkan pada sains (pada abad ke 7
yaitu pada masa Al-Qur‟an diturunkan). Kesimpulan yang paling masuk akal adalah
bahwa diskripsi ini diwahyukan kepada Muhammad saw dari Allah. Dia tidak
mungkin memiliki pengetahuan sedetail itu karena dia tidak bisa menulis dan tidak
pernah mendapatkan pelatihan ilmiah.
             Formulasi sains sebagai produk pemikiran manusia berbeda dengan
formulasi Al-Qur‟ani yang berpijak pada berita-berita wahyu Tuhan sebagai Sang
Pencipta manusia itu sendiri. Sehingga hasilnya pun mempunyai perbedaan yang
radikal. Al-Qur‟an mengawali persepsinya tentang manusia secara umum dan utuh
walau Al-Qur‟an juga menjelaskan secara parsiel, menunjukkan detail-detail sifat dan
wataknya, kelebihan serta kelemahannya sekaligus arti hakiki dari kehadirannya.
Dengan kata lain, menurut pandangan Al-Qur‟an manusia diterima sebagai sosok
pribadi yang utuh, tidak dipreteli, tidak dipilah-pilah.
             Dan Al-Qur‟an menempatkan sosok manusia pada posisi yang berimbang;
antara jasmaniah dan ruhaniah. Keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh,
kemanunggalan yang totalitas. Karena itu Al-Qur‟an dalam gagasannya tentang tata
sistem ruhaniah manusia tidaklah menganak tirikan kepentingan jasmaniah, tidak juga
menganak emaskan kepentingan ruhani. Walaupun mereka mempunyai perbedaan
yang mendasar, mempunyai tuntunan dan kebutuhan yang berbeda namun keduanya
merupakan kelengkapan yang sempurna yang saling mengisi dan menunjang sehingga
dari kesatuan jasmani dan ruhani itulah tampil sosok manusia dalam arti dan ujud
yang utuh.
             Al-Qur‟an sekaligus menunjukkan arti kehadiran manusia yang luhur
sebagai “khalifah Tuhan”. Wakil Tuhan didalam nmenegakkan tata kehidupan yang
manusiawi di panggung bumi ini. Ditegaskan pula bahwa masa depan manusia yang
hakiki adalah kehidupannya di “Negeri Akhirat”. Yang bekal-bekalnya harus
dipersiapkan dari sejak keberadaanya di dunia fana ini. Dengan demikian seluruh
akibat yang diterimanya kelak diakhirat adalah merupakan mata rantai yang tak
terpisahkan dari segenap kegiatan hidupnya semasa didunia. Namun, kenyataan telah
membuktikan bahwa kebanyakan manusia justru hanya mengenal kulitnya kehidupan
ini, terkungkung dan terbius semata-mata oleh glamornya kehidupan dunia yang tidak
langgeng sehingga sempat menutup mata ruhaniahnya, sempat memendamkan cahaya
batinnya.
            Dan Allah mengutus Nabi Muhammad saw, sebagai seorang Utusan
(Rosul) untuk seluruh alam semesta. Allah berfirman dalam Al-Qur‟an :
       “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
       semesta alam. ( Al-Qur‟an 21:107 ).
Pesan yang dibawa Nabi Muhammad saw, adalah untuk seluruh umat manusia, untuk
itu, Allah memberikan dukungan bukti-bukti dari pesan yang dibawa Nabi
Muhammad saw. Bukti yang berbeda dari bukti-bukti yang diberikan kepada setiap
Utusan-Utusan Allah sebelumnya. Bukti-bukti yang yang dibawa oleh Utusan-Utusan
sebelumnya hanya bisa dilahat oleh orang-orang pada jamannya dan mungkin juga
oleh beberapa generasi setelahnya. Kemudian Allah akan mengirimkan Utusan yang
baru, yang didukung dengan keajaiban yang baru pula untuk mengembalikan
kepercayaan orang-orang pada jamannya. Akan tetapi, karena Nabi Muhammad saw
ditakdirkan sebagai Nabi Terakhir diantara Nabi-Nabi yang lain hingga hari
kebangkitan, Allah telah menganugrahi Dia keajaiban yang kekal sebagi bukti
pendukung yaitu Al-Qur’an.
                              KESIMPULAN
          Pada dasarnya penciptaan manusia itu bersumber pada Al-Qur‟an. Ini
disebabkan karena Al-Qur‟an adalah sebuah kebenaran hakiki yang mutlak dan tidak
dapat diganggu gugat.
          Banyak para ahli yang mengakuinya, misalnya adalah Profesor Moore. Dia
adalah salah seorang ilmuwan terkenal dalam dunia anatomi dan embriologi. Profesor
Moore adalah penulis buku yang berjudul „The developing Human (perkembangan
manusia)‟. Dia adalah mantan Profesor dalam bidang anatomi dan biologi sel di
Universitas Toronto, Kanada, menjabat sebagai Dekan Kepala Dasar Sains pada
Fakultas Ilmu kedokteran dan selama 8 tahun menjabat sebagai Ketua Departemen
Anatomi. Profesor Moore juga pernah mengajar di Universitas Winnepeg, Kanada,
selama 11 tahun. Dia pernah mengepalai berbagai asosiasi internasional anatomi dan
Dewan Serikat Ilmu Biologi. Profesor Moore juga pernah diangkat sebagai anggota
Royal Medical association, Kanada, Akademi Ilmu Pengetahuan Sel Internasional,
Serikat Ahli Anatomi Amerika dan Serikat Ahli Anatomi Amerika Utara dan Selatan.
Pada tahun 1984 dia menerima penghargaan paling terhormat yang diberikan pada
bidang anatomi di Kanada, penghargaan J.C.B Grant dari asosiasi Ahli Anatomi
Kanada.
          Profesor Moore juga mempelajari embrio pada mudghah (zat yang
kenyal/seperti dikunyah). Dia mngambil sepotong benda kenyal dan mengunyah
didalam mulutnya, keudian membandingkan dengan sebuah gambar embrio pada
tahap mudgoh. Profesor Moore menyimpulkan bahwa embrio pada tahap mudgoh
memiliki penampakan yang sama persis sesuatu yang dikunyah. Beberapa penerbit
Kanada menerbitkan banyak sekali pernyataan-pernyataan Profesor Moore.
          Sebagai tambahan, dia menampilkan tiga program televisi dimana dia
menyorot keserasian antara sains modern dengan apa yang ada didalam Al-Qur‟an
selama seribu empat ratus tahun. Sebagai konsekwensinya, Profesor Moore didaulat
dengan pertanyaan berikut : „Apakah ini berarti Anda mempercayai bahwa Al-Qur‟an
adalah firman Allah?‟, dijawabnya : „Saya tidak merasa kesulitan untuk mengakuinya.
„Profesor Moore juga ditanya : „Bagaimana bisa Anda mempercayai Muhammad
sedangkan Anda mempercayai Jesus Kristus?‟ Jawabanya : „Saya mempercayai
keduanya berasal dari sekolah yang sama‟.
          Demikianlah para ahli sains di seluruh dunia sekarang bisa mengetahui
bahwa Al-Qur‟an benar-benar diwahyukan dari ilmu Allah. Allah swt berfirman :
       ‘Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan Nya kepadamu. Allah
       menurunkannya dengan ilmu Nya…’ (Q. S. 4: 166).
          Sehingga untuk selanjutnya, para ahli sains di abad modern ini seharusnya
tidak menemui kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah benar-benar Utusan Allah.
                          Daftar pustaka


Ccsp Sean P. Kealy. 1994. Ilmu pengetahuan dan       kitab suci, Kanisius,
Yogyakarta.
Gazalba Sidi. 1992. Ilmu, Filsafat dan islam tentang Manusia dan Agama,
Bulan Bintang, Jakarta.
Bucaille Maurice. 1990. Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Mizan, Bandung.
Purwanto Yadi. 2002. Manusia dalam Persepektif Islam, Surakarta
Gerungan, 1996. Psikologi Sosial, Bandung
Ritzer George, 2003. Sosiologi ilmu pengetahuan yang berparadigma ganda,
Jakarta
           HAKEKAT MANUSIA
MENURUT SAINS, BIBEL, SOSIOLOGI, PSIKOLOGI DAN AL-QUR’AN




          Disusun Untuk Melengkapi Tugas Filsafat Manusia


                              Oleh :


               YOPHI MEGA KURNIAWAN
                         F 100 030 216




              FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
                              2006

								
To top