efek bioakumulasi tbt thd makrozoobentos

					EFEK BIOAKUMULASI TBT TERHADAP MAKROZOOBENTOS

I. PENDAHULUAN
I. 1. LATAR BELAKANG
Lautan telah lama dikenal sebagai salah satu ekosistem yang paling besar, paling kompleks dan paling dinamis di dunia. Interaksi antara faktor fisik, kimia dan biologi yang terjadi di lautan berlangsung sangat cepat dan terus menerus sehingga amat menentukan kondisi ekosistem yang ada di lingkungan perairan tersebut. Organisme yang ada harus mampu beradaptasi, baik secara morfologis maupun fisiologis untuk dapat bertahan hidup. Selain menjadi habitat bagi organisme, laut juga menjadi sumber bahan pangan, media transportasi, sumber bahan tambang, sumber energi, sumber mineral dan obat-obatan yang sangat penting. Adanya gangguan terhadap lautan dan ekosistemnya baik secara langsung ataupun tidak langsung akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Salah satu kelompok organisme penyusun ekosistem laut adalah bentos. Kelompok ini umumnya hidup di dasar perairan dengan melekatkan diri pada substrat atau membenamkan diri di dalam sedimen. Di perairan sekitar pantai terutama daerah pelabuhan, banyak ditemukan makrozoobentos yang hidup melekat pada tiang dermaga, talut penahan abrasi dan bangunan pemecah ombak. Seringkali, makrozoobentos terutama dari kelompok Bivalvia hidup menempel (biofouling) pada lunas-lunas kapal. Menurut Brady et. al (2006), berbagai jenis tiram, bernakel dan algae yang menempel pada lunas dan baling-baling kapal akan mengurangi kemampuan manuver kapal dan memperlambat laju/kecepatan kapal sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar. Hal ini sangat merugikan pemilik kapal, terutama kapal-kapal berukuran besar seperti kapal kargo dan tanker yang menghabiskan waktu berbulan-bulan berlayar di laut lepas. Selain itu, biofouling juga dapat mempercepat terjadinya korosi pada lunas kapal yang dapat meningkatkan resiko kebocoran dan mengurangi usia pakai kapal. Untuk mencegah terjadinya biofouling, sejak akhir tahun 1960-an telah digunakan cat kapal yang diberi senyawa antifouling khusus yang dikenal dengan nama Tributyl Tin (TBT). Senyawa ini sangat efektif membunuh larva maupun hewan penempel dewasa (Dobson dan Cabridenc, 1990). Penggunaan TBT ini ternyata menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem laut (Walmsley, 2006; Langston, 2006). Dalam waktu yang tidak lama setelah dimulainya penggunaan TBT sebagai senyawa antifouling, Blaber (1970) dalam Brady et. al., (2006), melaporkan bahwa populasi keong Nucella lapillus atau “dogwhelk” di sepanjang pantai Inggris (UK) mengalami kelainan, di mana pada hewan betina terbentuk semacam organ penis dan vas deferens. Beberapa tahun kemudian diketahui bahwa kelainan pada keong tersebut Eko Efendi Page 1

diakibatkan oleh TBT dan dikenal sebagai Imposex. Hewan betina dan jantan yang mengalami Imposex tidak dapat bereproduksi sehingga populasi jenis keong ini di pantai-pantai Inggris menurun secara drastis. TBT tergolong senyawa yang sangat beracun dan secara alami sangat sulit diuraikan (resisten). Dengan demikian, kemungkinan terpaparnya organisme laut yang habitatnya terkontaminasi oleh TBT akan semakin besar. Bioakumulasi TBT dapat ditemukan di seluruh jaringan tubuh, organ dan sistem organ dari makrozoobentos yang hidup di laut. Namun, efek bioakumulasi TBT yang paling berbahaya adalah kegagalan pada sistem reproduksi karena akan mengakibatkan penurunan populasi yang diikuti kepunahan spesies dan berujung pada gangguan ekosistem secara keseluruhan. Gangguan pada sistem reproduksi seperti terjadinya imposex akibat bioakumulasi TBT telah banyak diketahui sehingga menjadi salah satu indikator utama tercemarnya suatu perairan oleh senyawa organotin. Namun mekanisme fisiologi yang terjadi khususnya pada sistem reproduksi, sebagian masih menjadi misteri. Berdasarkan hal tersebut, maka kami mencoba untuk mengkaji efek bioakumulasi TBT terhadap makrozoobentos khususnya mekanisme fisiologi sistem reproduksi dari Gastropoda.

II. PENGERTIAN MAKROZOOBENTOS, BIOFOULING DAN TRIBUTYLTIN
II. 1. BIO-EKOLOGI MAKROZOOBENTOS
Bentos merupakan salah satu kelompok organisme yang berperan penting dalam ekosistem laut. Berbagai jenis hewan (zoobentos) dan tumbuhan (fitobentos) yang hidup di dasar perairan tergolong dalam kelompok organisme ini. Berdasarkan ukurannya, bentos dibagi menjadi 3 (Mare, 1942; Coull dan Wales 1983 dalam Knox, 2001), yaitu : mikrobentos (< 500 µm), meiobentos (500-1000 µm) dan makrobentos (>1000 µm). Dengan demikian, tumbuhan yang berukuran besar dan hidup di dasar perairan disebut makrofitobentos dan hewan berukuran besar yang hidup di dasar perairan di sebut makrozoobentos (Knox, 2001). Selain berdasarkan ukurannya, pengelompokan organisme bentos juga dilakukan berdasarkan tempat hidupnya atau kemampuan untuk berpindah tempat. Berdasarkan tempat hidupnya, bentos dibagi menjadi 2, yaitu : jenis bentos yang hidup di permukaan dasar perairan (epifauna) dan jenis organisme yang hidup dengan mengubur diri di dalam sedimen atau membuat liang di dasar perairan (infauna). Sedangkan berdasarkan kemampuan untuk berpindah tempat, hewan bentos dibagi menjadi 2, yaitu : hewan yang melekat pada substrat (sesil) dan hewan yang aktif berpindah tempat (motil) (Knox, 2001).

Eko Efendi

Page 2

II.2. BIOFOULING II.2.1 PENGERTIAN BIOFOULING
Istilah fouling atau biofouling digunakan untuk mendeskripsikan pertumbuhan dan akumulasi organisme akuatik yang hidup pada permukaan benda keras yang dibangun atau dibuat oleh manusia. Perhatian terhadap biofouling mulai meningkat seiring dengan disadarinya dampak negatif yang timbul akibat penempelan organisme pada lunas dan baling-baling kapal, pelampung, pipa, kabel dan bangunan bawah air lainnya. Sejak pertama kali dibenamkan ke dalam air, permukaan dari struktur buatan manusia mengalami perubahan seiring waktu akibat dari pengaruh eksternal yang bervariasi seperti lokasi, musim serta faktor fisik dan biologi lainnya. Komunitas fouling yang tumbuh pada permukaan benda buatan manusia yang terbenam juga mengalami proses suksesi hingga mencapai fase klimaks. Peneliti telah menemukan 2 tahap yang berbeda dari proses penempelan pada substrat keras. 1). Tahap primer atau tahap mikrofouling dan 2). Tahap sekunder atau tahap makrofouling (Bortman, et al. 2003). Proses fouling pada permukaan substrat keras (benda buatan manusia) diawali dengan penempelan mikroorganisme terutama oleh bakteri dan diatom yang tumbuh berlipat kali secara cepat. Bersama dengan debris dan bahan organik partikulat lainnya, mikroorganisme ini membentuk lapisan film pada permukaan benda. Tahap ini merupakan tahap primer dimana mikroorganisme berperan sebagai perintis bagi organisme penempel berikutnya yang umumnya berukuran lebih besar. Hewan dan tumbuhan yang selanjutnya menempel pada benda buatan manusia umumnya berasal dari hewan dan tumbuhan yang secara alami hidup menempel (sesil) di sekitar lokasi bangunan pada substrat seperti karang dan lain-lain. Perkembangan komunitas fouling di laut bergantung pada kemampuan organisme lokal untuk beradaptasi terhadap kondisi permukaan benda buatan manusia yang menjadi habitat barunya. Organisme pertama yang menempel pada permukaan benda buatan adalah larva spesies yang berenang saat benda tersebut terbenam ke dalam air untuk pertama kalinya. Jenis larva yang ada sangat bergantung pada musim. Di ketahui, sekitar 2000 jenis hewan dan tumbuhan ditemukan menempel pada berbagai benda buatan manusia. Namun hanya sekitar 50 – 100 jenis saja yang umum ditemukan, termasuk bivalvia (tiram dan kerang), bernakel, anggota phylum Bryozoa, cacing tabung, polychaeta dan tumbuhan dari alga hijau dan alga coklat (Bortman, et al. 2003). Pada lunas kapal tanker dan kapal kargo ditemukan organisme penempel dalam jumlah yang sangat banyak. Pada saat naik dok, rata-rata biomassa organisme biofouling yang dikerok dari dinding kapal besar seperti kapal tanker dan kapal kargo dapat mencapai 200 – 400 ton. Tingginya pertumbuhan biofouling ini dipicu oleh pergerakan kapal yang menghasilkan turbulensi di sekitar lunas kapal. Adanya turbulensi ini mempercepat sirkulasi arus di sekitar hewan penempel sehingga makanan berupa plankton yang terbawa arus tersebut lebih banyak yang mendekat kemudian tersaring oleh organisme penempel (Railkin, 2005).

Eko Efendi

Page 3

Gambar 1. Contoh tumbuhan dan hewan penyebab biofouling yang menempel pada bahan/material buatan manusia. Atas dari kiri ke kanan: Enteromorpha intestinalis (alga hijau), Ulva lactuca (alga hijau), Laminaria digitata (alga coklat), Ahnfeltia sp. (alga merah). Kedua dari atas dari kiri ke kanan : Aglaophenia cupressina (hydroid), Polycarpa aurata (tunicata), Rhopalaea crassa (ascidians). Ketiga dari atas dari tengah ke kanan: Teredo navalis (cacing kapal), Asterias rubens (bintang laut). Keempat dari atas dari kiri ke kanan: Balanus sp. (barnacle), cacing tabung (tubeworm), Spondylus sp. (kerang bivalvia). Bawah dari kiri ke kanan: Lepas sp. (Gooseneck Barnacle), Haliclona sp. (sponges), Mytilus edulis (kerang). (Google Image, 2008).

Eko Efendi

Page 4

II.2.2 EFEK BIOFOULING
Fouling pada lunas kapal mengakibatkan berkurangnya kecepatan kapal hingga 40 % (Redfield dan Ketchum, 1952 dalam Railkin, 2005). Hal ini menyebabkan naiknya biaya bahan bakar. Daya hambat bertambah oleh adanya penempelan oleh mikro dan makrofouling. Dampak yang paling besar diakibatkan oleh makrofouling yang menyebabkan permukaan kapal menjadi lebih kasar (tidak beraturan) sehingga meningkatkan nilai daya hambat. Di Russia, berdasarkan stdanar teknis, kekasaran permukaan lunas kapal tidak boleh melebihi 0.12 mm hingga 0.15 mm saat kapal dibangun. Kenaikan kekasaran permukaan lunas kapal sebesar 0,025 mm dapat meningkatkan daya hambat hingga 2,5 % dan hal ini menyebabkan konsumsi bahan bakar makin meningkat (Gurevich et al., 1989 dalam Railkin, 2005). Pada beberapa kasus, fouling pada baling-baling kapal memberikan efek yang lebih drastis terhadap peningkatan konsumsi bahan bakar dibdanngkan dengan biofouling pada lunas kapal. Efek negatif lainnya dari biofouling adalah berkurangnya efektifitas lapisan antifouling. Hal ini diakibatkan oleh tumbuhnya organisme biofouling terutama dari Phylum Bryozoa yang membentuk lapisan tebal sehingga menutupi cat yang mengdanung zat antifouling. Racun yang dikeluarkan oleh organisme tersebut juga akan mengurangi kemampuan cat antifouling. Selain itu, penempelan oleh Bryozoa menyebabkan tersedianya substrat bagi organisme lain untuk menempel pada dinding kapal. Organisme biofouling juga tumbuh pada jaringan pipa dan memblok lubang pipa tersebut sehingga mempengaruhi kerja mesin dan manuver kapal. Jenis-jenis organisme yang umumnya tumbuh di dalam jaringan pipa adalah bivalvia, hydroid, polychaeta, bernacle, bryozoa dan Ascidians (Gambar 1). Tenggelamnya kapal akibat kegagalan mesin sering terjadi akibat tertutupnya pipa bahan bakar oleh organisme biofouling (Bowes 1987 dalam Railkin et al., 2005) . Kondisi di dalam pipa yang lembab menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme terutama bakteri yang menghasilkan media pertumbuhan yang kental dan kemudian memblok aliran bahan bakar sehingga mesin kapal mati secara tiba-tiba. Cuaca buruk dan badai di laut akan menyebabkan kapal tersebut tenggelam. Efek lain yang berbahaya dari biofouling adalah penempelan pada sistem pendingin mesin kapal dimana bakteri memiliki peran utama (Adamson et al.,1984; Charaklis et al. 1984 dalam Railkin, 2005). Berkembangnya koloni bakteri pada dinding sebelah dalam dari sistem pendingin mesin kapal akan memicu larva invertebrata untuk melekat dan mempercepat proses biofouling. Lapisan mikro dan makrofouler yang terbentuk, bersama dengan sedimen dan bahan yang telah mengalami perkaratan (korosi) akan berperan sebagai buffer antara air yang berada di dalam dengan air yang dimasukkan dari laut melalui pompa. Lapisan biofouler ini akan menahan panas yang seharusnya berpindah ke air laut yang dipompa tadi sehingga hal ini akan mengurangi efektifitas kerja dari sistem pendingin mesin kapal. Konsumsi bahan bakar pun lebih besar sehingga biaya operasional meningkat. Biofouling juga mempercepat proses perkaratan pada dinding logam dari sistem pendingin mesin kapal (Railkin 2005). Eko Efendi Page 5

Semua struktur bangunan dan peralatan yang berada di laut dan perairan tawar, seperti: pipa minyak, rambu-rambu navigasi di jalur pelayaran laut, pelampung, penambangan minyak lepas pantai, berbagai fasilitas pelabuhan dan struktur yang bersifat statis lainnya tidak lepas dari ancaman biofouling. Hidroid, bernakel, moluska dan bryozoa umumnya akan menempel pada pipa yang digunakan untuk mengambil air laut (intake water pipe). Biomassa hidroid yang menempel dapat mencapai 6 – 10 kg/m2, bernakel dan bivalvia mencapai 9 kg/m2 dan bryozoa sebesar 2 9 kg/m2. Di daerah temperata, biofouling yang menempel pada pelampung navigasi dapat mencapai 70 kg/m2 (Yan et al., 1990; dalam Railkin 2005) dan seringkali menyebabkan tenggelamnya rambu navigasi tersebut. Biofouling juga sangat berbahaya bagi instalasi terutama Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang (Usachev, 1990 dalam Railkin, 2005). Oganisme penyebab biofouling (fouler) memiliki kemampuan untuk merusak berbagai jenis material. Hal ini telah diteliti dengan intensif pada material yang terbuat dari logam, beton dan kayu. Biokorosi seringkali menjadi penyebab rusaknya bahan material di laut. Hal ini diakibatkan oleh proses elektrokimia yang terjadi dan aktifitas biokimiawi dari organisme. Mekanisme perusakan material disebabkan oleh proses pertumbuhan atau materi yang ada dimakan oleh fouler. Beberapa fouler terspesialisasi untuk membuat liang pada kayu, jenis yang lain merusak beton atau bahkan menyerang kerang bernilai ekonomis tinggi yang sedang dibudidayakan (Railkin, 2005). Mekanisme korosi bergantung pada heterogenitas elektrokimiawi organisme dan permukaan logam yang terendam di dalam larutan elektrolit (air laut) serta proses penyeimbangan kutub anoda dan katoda (Lyublinskii, 1980 dalam Railkin 2005). Kontak organisme dengan permukaan logam akan berlangsung secara efektif jika melalui media air laut (Redfield dan Ketchum, 1952; Ulanovskii dan Gerasimenko, 1963; Terry dan Edyvean, 1981; Gerchakov dan Udey, 1984; Korovin dan Ledenev, 1990; Lukasheva et al., 1992 dalam Railkin 2005). Mekanisme adhesi yang spesifik untuk masing-masing organisme, metabolisme dan distribusi logam umumnya berpengaruh terhadap proses terjadinya korosi. Pada beberapa kasus, proses adhesi yang kuat pada permukaan logam berlangsung secara perlahan-lahan dan hal ini menjadikan logam tersebut terlindung dari korosi. Korosi dapat terjadi secara tersebar (dispersi) atau menyeluruh (oleh kumpulan organisme sesil yang rapat). Pada kondisi aerobik, agen yang menjadi medium korosi adalah Thiobakteri dan bakteri heterotrofik (e.g., Danreyuk et al., 1980; Kwiatkowska dan Wichary, 2001; Kaluzhny dan Ivanov, 2002 dalam Railkin 2005). Proses korosi yang cepat dari organisme ini berkaitan dengan proses kimiawi yang melarutkan logam, beton dan material lainnya (Sdan, 2000 dalam Railkin, 2005). Sebagai hasilnya, terlihat mikrosite heterogen yang baru dan proses korosi pada permukaan benda pun berlangsung lebih cepat. Aktifitas oksidasi dari enzim Thiobakteri sangat tinggi. Laju oksidasi Besi disulfida beratus-ratus atau beribu-ribu kali lebih tinggi dibdaningkan dengan oksidasi secara kimiawi (Railkin, 2005). Destruksi struktur besi di dalam air laut terkait dengan senyawa sulfur, yang selalu ada dalam air laut dan di adsorbsi oleh permukaan benda. Reaksi ini melibatkan

Eko Efendi

Page 6

enzim oksidatif yang menyebabkan terbentuknya sulfur bebas dan asam sulfur yang merupakan penyebab utama efek korosi secara mikrobiologis. Mekanisme Thiobakteri merusak bahan material terjadi melalui proses yang sama. Bakteri mikrofouler dari genus Achromobacter, Bacillus, Flavobacterium, Micrococcus, Pseudomonas, dan Vibrio umumnya bersifat heterotrofik (Gorbenko, 1977 dalam Railkin, 2005). Mekanisme utama dari proses korosi pada material ini terdiri dari pelepasan eksometabolit yang menciptakan medium yang agresif pada permukaan benda (Danreyuk et al., 1980; Sdan, 2000; Kwiatkowska dan Wichary, 2001 dalam Railkin, 2005). Eksometabolit ini berupa asam organik, karbondioksida, hidrogen sulfida, ammonia peroksida dan enzim-enzim. Jenis hewan seperti bernakel merusak cat yang menutupi besi dengan cara bertumbuh di dalam lapisan cat tersebut. Krustasea muda, dengan cangkang yang tingginya hanya mencapai beberapa mm dapat merusak 5 lapis cat antifouling yang memiliki ketebalan 0,2 mm dengan tepi cangkangnya yang tajam (Tarasov, 1961a dalam Railkin, 2005). Bivalvia dari familia Teredinidae dan Pholadidae tergolong pembor pada kayu (Nair, 1994 dalam Railkin, 2005). Makanan pokok hewan tersebut adalah kayu yang dicerna dengan bantuan enzim sellulase (Mann, 1984 dalam Railkin, 2005). Kadangkadang ditambah dengan substansi yang mengdanung senyawa Nitrogen yang berasal dari bakteri simbion atau dengan cara mengabsorbsi asam amino terlarut (Turner, 1984 dalam Railkin, 2005). Sejak jaman dahulu, moluska jenis Teredo navalis dikenal sebagai pembor yang merusak lunas kapal-kapal kayu. Alat yang digunakan untuk mengebor kayu adalah cangkang yang terdapat pada bagian depan tubuh. Cangkang tersebut telah mengalami reduksi sehingga memiliki ukuran yang kecil dan bergerigi tajam pada bagian tepinya yang berfungsi untuk membuat lubang/liang di dalam kayu. Jenis moluska lain yang merusak kayu adalah genera genera Bankia, Xylophaga, dan Martesia. Di pelabuhan, genera ini merusak struktur bangunan dari kayu, kabel fiber seluloid bahkan merusak beton. Martesia tergolong marga moluska yang berbahaya karena mampu merusak material kayu yang telah dilapisi oleh senyawa khusus berupa creosete. Jenis Martesia striata bahkan mampu mengebor kabel listrik yang sangat terlindung dan bahkan mampu melarutkan struktur beton sekalipun (Fischer et al. 1984 dalam Railkin, 2005). Kelompok pembor kayu lainnya adalah krustasea dari familia Limnoriidae dan Chelluridae. Limnoria lignorum ditemukan memakan jamur mikroskopik dan bakteri heterotrofik yang tumbuh di dalam liang (Boyle dan Mitchell, 1984 dalam Railkin, 2005). Makanan dari jenis Krustasea lainnya umumnya relatif sama. Mikroorganisme ini juga hidup dalam tegumen hewan pembor dan menyebarkan spora ke dalam liang kayu. Dengan cara ini organisme tersebut “berkebun” fungi dan mikroba. Tidak seperti Terenid yang mampu merusak kayu secara total hanya dalam beberapa bulan musim panas, jenis krustasea yang memboring secara cepat relatif jarang ditemukan. Pada Limnoria, hanya mencapai 2 cm per tahun. Krustasea hanya membor pada daerah permukaan saja. Dengan perlahan-lahan dalam waktu beberapa tahun, jenis Krustasea ini akan mampu memboring hingga pada bagian tengah dari kayu (Railkin, 2005).

Eko Efendi

Page 7

Gambar 2. Efek Biofouling dan Korosi pada Kapal. Dari kiri ke kanan. Atas : Biofouling pada lunas kapal; korosi pada badan kapal. Tengah atas: Penyemprotan kapal dengan zat antifouling; Pengecatan kapal dengan senyawa antifouling. Tengah bawah: biofouling pada lunas kapal kayu oleh algae; biofouling pada dinding kapal kayu oleh algae. Bawah : Efek Biofouling pada material kayu (akibat Teredo navalis); ilustrasi cacing kapal (Teredo navalis) yang membuat lubang dalam kayu. (Google Image, 2008).

Eko Efendi

Page 8

II.3. TRIBUTYLTIN (TBT)
Tributyltin (TBT) adalah senyawa organik turunan dari tetravalent tin seperti tampak pada Gambar 3. Senyawa ini dicirikan oleh adanya ikatan kovalen antara atom karbon dengan atom timah dan memiliki rumus umum (n-C4H9)3 Sn-X (dimana X adalah anion). Kemurnian dari tributyltin oxide (TBTO) umumnya diatas 96%, sedangkan kelompok Butyltin yang memiliki konsentrasi lebih rendah adalah senyawa turunan dibutyltin, tetrabutyltin dan senyawa trialkyltin lainnya (Dobson dan Cabridenc, 1990).

Gambar 3. Struktur kimia Tributyltin (Wikipedia-The Free Encyclopedia, 2008). TBT merupakan cairan yang tidak berwarna dengan bau khas dan kepadatan relatif 1.17 – 1.18. Daya larut dalam air tergolong sangat rendah berkisar antara <1.0 dan >100 mg/liter, tergantung pada pH, suhu dan anion dalam air (yang menentukan spesiasi Butyltin). Dalam air laut dengan kondisi normal, TBT dapat ditemukan dalam 3 bentuk/jenis, yaitu; hidroksida, klorida dan karbonat yang konsentrasinya berada dalam kesetimbangan. Pada pH 7.0, bentuk yang dominan adalah Bu3SnOH2+ dan Bu3SnCl, pada pH 8, yang dominan adalah Bu3SnCl, Bu3SnOH, dan Bu3SnCO3-, sedangkan pada pH di atas 10, bentuk yang dominan adalah Bu3SnOH dan Bu3SnCO3-. Senyawa Tributyltin terdaftar sebagai moluskisida, sebagai antifoulan pada kapal, perahu, karamba, jaring, pengawet kayu, desinfektan, biosida untuk mesin pendingin, sistem pendingin pembangkit listrik, pabrik kertas, pabrik fermentasi bir, pabrik tekstil dan penyamakan kulit. TBT pertama kali dilepaskan ke pasar dalam bentuk senyawa yang diizinkan. Penggunaan TBT kemudian berkembang menjadi campuran cat dengan pelarutan yang terkontrol dan tersedia dalam bentuk matriks ko-polimer. Matriks karet juga ditambahkan pada cat untuk memperlambat pelepasan TBT ke lingkungan sekitarnya dan memberikan efek perlindungan yang lebih panjang sebagai cat antifouling dan moluskisida. TBT tidak digunakan dalam bidang pertanian karena sifatnya yang sangat toksik bagi tumbuhan (Dobson dan Cabridenc, 1990). Sebagian besar negara di dunia membatasi penggunaan cat antifouling yang mengdanung TBT karena memberikan efek negatif bagi kerang. Aturan yang ditetapkan tiap-tiap negara bervariasi, namun sebagian besar negara melarang penggunaan cat yang mengdanung TBT untuk kapal yang berukuran kurang dari 25 meter. Beberapa negara tetap mengizinkan penggunaan cat ini khusus untuk kapal yang memiliki lunas

Eko Efendi

Page 9

dari alumunium. Sebagai tambahan, beberapa aturan hanya terbatas untuk cat yang memiliki laju pelarutan 4 atau 5 µg/cm2 per hari (Dobson dan Cabridenc, 1990). Kandungan TBT yang tinggi di dalam air, sedimen dan biota telah ditemukan pada lokasi yang dekat dengan aktifitas kapal terutama di daerah pelabuhan, marina, tempat sdanar kapal, dok kering, jaring, karamba dan mesin pendingin. Kondisi pasangsurut dan turbiditas dari air juga mempengaruhi konsentrasi TBT. Konsentrasi TBT umumnya mencapai 1.58 µg/liter di air laut dan estuari, 7.1 µg/liter di air tawar, 26.300 µg/kg di sedimen pantai, 3.700 µg/kg di sedimen air tawar, 6,36 mg/kg di tubuh bivalvia, 1,92 mg/kg di tubuh gastropoda dan 11 mg/kg di dalam tubuh ikan. Namun, konsentrasi maksimum ini tidak secara representatif mewakili keseluruhan kondisi di tiap-tiap negara di dunia karena metode sampling yang berbeda. Demikian pula data yang lama (1970-1990) sudah tidak dapat dibdaningkan dengan data yang baru mengingat adanya perkembangan metode analisis TBT di air, sedimen dan jaringan tubuh organisme (Dobson dan Cabridenc, 1990). TBT bersifat toksik pada organisme dan telah digunakan secara komersial sebagai bakterisida dan algisida. Konsentrasi TBT yang mengakibatkan efek toksik pada organisme bervariasi menurut spesies. TBT lebih toksik pada bakteri gram positif (dengan KMI = konsentrasi minimal inhibitor = 0,2-0,8 mg/L) dibdaningkan dengan gram negatif (dengan KMI = 3 mg/L). KMI TBTO Asetat untuk jamur adalah : 0,5-1 mg/L dan pada alga hijau Chlorella pyrenoidosa sekitar 0.5 mg/L. Produktifitas primer komunitas alami alga di perairan tawar akan berkurang sebesar 50% pada konsentrasi TBTO 3 µg/L. Saat ini kategori pengamatan dalam bentuk nilai no-observed-effect level (NOEL) untuk 2 jenis alga adalah 18 dan 32 µg/L. Derajat toksisitas untuk mikroorganisme laut juga bervariasi menurut spesies dan metode studi yang dilakukan. Namun nilai NOEL sangat sulit untuk ditetapkan tetapi kemungkinan berkisar di bawah 0,1 µg/L. Konsentrasi Algisidal yang ada bervariasi antara < 1,5 µg/L hingga > 1000 µg/L untuk spesies yang berbeda (Dobson dan Cabridenc, 1990). TBT tergolong senyawa yang sangat sulit terdegradasi di alam. Namun pada beberapa kondisi lingkungan tertentu, diketahui bahwa TBT dapat diuraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana. Umumnya TBT lebih cepat terdegradasi pada kondisi lingkungan yang ekstrim dan berlangsung terus menerus. Adanya kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi oleh faktor lingkungan inilah yang menyebabkan TBT sangat lambat terurai di alam di samping karakter TBT itu sendiri yang memiliki daya larut dan sifat lipofilik yang rendah (Dobson dan Cabridenc, 1990). Sebagai hasil dari kelarutan dan karakter lipofilik yang rendah, TBT di adsorbsi ke dalam partikel. Dari sejumlah TBT yang masuk ke dalam sistem perairan, sekitar 10% hingga 95% dari senyawa tersebut akan bergabung dengan partikulat melalui proses adsorbsi. Berkurangnya kandungan TBT dari dalam air bukan disebabkan oleh proses desorbsi tetapi melalui proses degradasi. Kemampuan adsorbsi bergantung pada salinitas, faktor fisik lingkungan, ukuran partikel tersuspensi, jumlah materi tersuspensi, suhu dan ada tidaknya bahan organik terlarut (Dobson dan Cabridenc, 1990).

Eko Efendi

Page 10

Gambar 4. Beberapa cat kayu yang mengdanung biosida untuk mengatasi jamur, rayap dan organime perusak kayu lainnya (Google Image, 2008). Degradasi TBTO terjadi karena pemutusan ikatan karbon-timah. Hal ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme yang terjadi secara terus menerus di alam, termasuk mekanisme fisik-kimiawi (hidrolisis dan fotodegradasi) dan mekanisme biologis (degradasi oleh mikroorganisme dan metabolisme oleh organisme tingkat tinggi). Proses hidrolisis senyawa organotin terjadi di bawah kondisi pH yang ekstrim yang jarang terjadi di alam (Dobson dan Cabridenc, 1990). Fotodegradasi dibuktikan melalui eksperimen di laboratorium dimana senyawa TBT di sinari dengan cahaya UV pada panjang gelombang 300 nm hingga 350 nm. Pada kondisi sebenarnya, fotolisis terbatas oleh panjang gelombang yang dipancarkan oleh cahaya matahari dan dibatasi oleh penetrasi gelombang UV yang masuk ke dalam perairan. Kehadiran bahan yang sensitif terhadap cahaya dapat mempercepat terjadinya fotodegradasi (Dobson dan Cabridenc, 1990). Biodegradasi bergantung pada kondisi lingkungan seperti suhu, oksigenasi, pH, jumlah kandungan mineral, ada tidaknya materi organik yang mudah terdegradasi untuk membantu metabolisme, serta kehadiran mikroflora beserta kemampuannya untuk beradaptasi. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah konsentrasi TBT dalam keadaan lebih rendah dibdaningkan dengan daya tahan bakteri terhadap zat toksik (LC) (Dobson dan Cabridenc, 1990). Sebagaimana pada proses degradasi abiotik, penguraian TBT secara biotik juga terjadi melalui pemutusan ikatan Karbon-Timah yang diakibatkan oleh debutilisasi oksidatif yang berlangsung intensif. Sebagai hasilnya adalah Dibutil yang lebih mudah terdegradasi dibdaningkan Tributil. Monobutiltin akan mengalami proses mineralisasi secara lambat. Degradasi anaerobik seringkali terjadi, namun tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap laju penguraian Monobutiltin. Berbagai jenis bakteri, algae dan jamur pendegradasi kayu diketahui memiliki kemampuan untuk mendegradasi TBTO. Waktu paruh TBT di alam sangat bervariasi dan bergantung pada kondisi lingkungan (Dobson dan Cabridenc, 1990). Meskipun beberapa oranisme dapat mendegradasi TBT, namun kerusakan yang ditimbulkan TBT bersifat irreversible (Hyeon Seo Cho et al 2005).

Eko Efendi

Page 11

III. ANATOMI TUBUH DAN SISTEM REPRODUKSI GASTROPODA III.1. ANATOMI TUBUH GASTROPODA
Moluska memiliki bentuk tubuh simetris bilateral, rongga dalam tubuh (coelom) umumnya terbagi menjadi 2 ruang, yaitu: bagian pertama (pericardial chamber) berupa ruang yang berisi organ hati, gonad, nephridia/ginjal dan bagian kedua (perivisceral coelom) memuat organ pencernaan seperti usus. Kedua rongga tersebut membentuk suatu sistem sirkulasi terbuka. Tubuh gastropoda dapat dibedakan menjadi 3 bagian utama, yaitu: kepala, kaki dan sistem pencernaan (massa visceral). Kepala terdiri dari berbagai organ sensorik seperti mata, statocyst (organ yang mengatur keseimbangan) serta tentakel yang berperan untuk mendeteksi mangsa. Tubuh Gastropoda juga diselubungi oleh suatu lembaran kulit epidermal-kutikular tebal yang disebut mantel atau pallium dan memiliki peran yang vital dalam mengorganisasi tubuh. Mantel mengeluarkan calcareous suatu senyawa yang sifatnya keras dan digunakan untuk menyusun cangkang dalam, cangkang luar atau semacam struktur berbentuk lempeng untuk pertahanan diri. Bagian tubuh lainnya yang berukuran sangat besar adalah sekumpulan otot yang membentuk kaki perut (ventral foot) (Ghiselin, M. T., 2005). Secara umum anatomi gastropoda dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini :

Gambar 5. Anatomi Gastropoda (Ghiselin, M. T., 2005). Di bagian belakang Gastropoda terdapat ruangan yang terbentuk dari mantel dan massa visceral yang disebut mantel cavity/pallial cavity. Rongga ini memuat insang atau ctenidium, ginjal (nephridia), sistem reproduksi dan organ sensorik epitel khusus yang disebut Osphradia. Air yang masuk ke dalam rongga tersebut akan melalui ctenidia, ginjal, anus dan lain-lain. Gastropoda memiliki semacam lidah atau gigi yang disebut gigi radula. Fertilisasi pada gastropoda dapat terjadi secara eksternal dan internal. Tubuh gastropoda (body wall) tersusun atas tiga lapisan, yaitu: kutikula,

Eko Efendi

Page 12

epidermis dan otot. Kutikula tersusun dari asam amino dan chonchin (sclerotized protein). Epidermis tersusun dari selapis sel berbentuk kuboid atau kolumnar dengan banyak silia. (Brusca, 2002).

Gambar 6. Anatomi Gastropoda (Brusca, R. C., 2002). Organ yang menyusun sistem pencernaan pada Gastropoda meliputi : mulut, gigi radula, esophagus, lambung, usus, kelenjar pencernaan dan berakhir di anus (Gambar 6). Organ respirasi utama adalah ctenidium (insang) yang berhubungan langsung dengan sistem peredaran darah. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi melalui ctenidium. Darah yang kaya akan O2 selanjutnya masuk ke jantung dan diedarkan ke seluruh tubuh. Sistem ekskresi utama adalah ginjal. Sedangkan sistem reproduksi meliputi oviduk, gonad , seminal receptacel (tempat berlangsungnya fertilisasi) pada betina dan vas deferens, penis serta testis pada jantan (Brusca, 2002). Kelimpahan dan keanekaragaman jenis gastropoda merupakan bagian yang sangat penting dari jaring-jaring makanan dimana gastropoda berperan sebagai herbivor, carnivor, omnivor atau detritivor (scavenger). Beberapa jenis gastropoda bersifat parasit. Jenis lainnya terspesialisasi untuk memanfaatkan makanan dari bahan yang keras dan sulit dicerna seperti kayu dan lain-lain. Jenis gastropoda yang besar seperti Charonia tritonis sangat berperan dalam mengontrol laju populasi bintang laut bulu seribu Acanthaster planci yang dapat merusak terumbu karang (Brusca, 2002). Eko Efendi Page 13

III.2. ANATOMI SISTEM REPRODUKSI GASTROPODA
Sistem reproduksi hewan bentos seperti moluska umumnya terjadi melalui fertilisasi eksternal. Namun, beberapa spesies diketahui melakukan pembuahan melalui fertilisasi internal. Moluska umumnya memiliki sepasang gonad atau sepasang organ reproduksi akan tetapi hanya satu gonad saja yang berkembang. Anatomi sistem reproduksi selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 7 di bawah ini (Brusca, 2002):

Gambar 7. Atas: Anatomi Sistem Reproduksi Gastropoda Jantan. Bawah: Anatomi Sistem Reproduksi Gastropoda Betina (Brusca, R.C., 2002). Pada gastropoda, salah satu dari sepasang gonad akan menghilang dan gonad yang lainnya akan menggulung bersama dengan massa visceral. Saluran gonad selalu berkembang dari nefridium kanan. Jika nefridium kanan masih berfungsi untuk membawa hasil ekskresi seperti ditemukan pada ordo Archaeogastropoda, maka saluran gonad tersebut dikenal dengan nama saluran urogenitalia karena bersama-sama digunakan untuk mengeluarkan urine dan gamet. Sebagian besar gastropoda memiliki organ kelamin jantan dan betina yang terpisah (dioecious). Adapula individu yang bersifat hermafrodit (dimana organ kelamin jantan dan betina berada dalam satu individu). Namun hanya satu gonad saja (ovotestis) yang masih tersisa (Brusca, 2002). Eko Efendi Page 14

Pada kebanyakan gastropoda, sistem reproduksi terisolasi dimana organ reproduksi betina dilengkapi dengan silia atau struktur serupa tabung yang membentuk vagina dan oviduk (pallial duct). Tabung tersebut berkembang ke arah dalam dari dinding mantel dan berhubungan dengan saluran genital. Oviduk dapat pula terspesialisasi membentuk kantong penyimpan sperma atau saluran untuk mengeluarkan telur. Sebuah kantung yang disebut seminal receptacle terletak di sekitar ovarium pada akhir saluran oviduk. Telur akan dibuahi di kantung ini sebelum memasuki saluran sekretori oviduk yang panjang. Pada gastropoda betina, juga ditemukan semacam kantung untuk kopulasi (copulatory bursa) yang terletak pada akhir saluran oviduk dimana sperma diterima saat terjadi perkawinan (mating). Sperma yang masuk akan melalui sebuah saluran sempit bersilia dalam oviduk dan tiba di seminal receptacle dimana akan terjadi fertilisasi internal (Gambar 7). Kelenjar sekretori pada oviduk mengalami modifikasi membentuk kelenjar yang menghasilkan albumin dan sebuah kelenjar mukosa. Kebanyakan gastropoda dari Subkelas Opistobranchia mengeluarkan telur yang telah dibuahi ke lingkungan perairan dan meletakkannya pada struktur seperti jelly yang terbuat dari mukopolisakarida atau semacam serabut/benang-benang yang sangat halus yang dihasilkan oleh kelenjar sekretori (Brusca, 2002). Pada gastropoda yang memproduksi selubung, kapsul atau cangkang telur, individu jantan umumnya memiliki penis sebagai alat untuk mentransfer sperma (spermatofor). Fertilisasi internal kemudian terjadi sebelum selubung telur terbentuk. Penis gastropoda berasal dari dinding tubuh yang berkembang memanjang dan muncul dibelakang tentakel kepala bagian kanan. Saluran genital jantan disebut vas deferens termasuk kelenjar prostat yang berfungsi menghasilkan cairan semen (seminal). Pada kebanyakan moluska, daerah awal dari saluran oviduk berfungsi sebagai tempat untuk menampung atau menimpan sperma yang disebut juga seminal vesicle (Brusca, 2002). Hermafrodit simultan dan Hermafrodit sekuensial umum ditemukan pada gastropoda. Pada saat kopulasi, salah satu individu berperan sebagai jantan dan individu yang lain sebagai betina atau kedua individu gastropoda tersebut saling bertukar sperma. Pada gastropoda yang bersifat sesil seperti limpet, tipe yang sering ditemukan adalah hermafrodit protandri. Pada Crepidula sp, sejenis gastropoda yang bersifat hermafrodit, sekelompok individu akan bergerak naik pada saat musim kawin dan bertumpuk di atas individu lainnya yang menempel pada substrat. Individu yang berada di atas merupakan jantan dan yang di bawah merupakan betina. Setiap individu Crepidula sp jantan tersebut akan menggunakan penisnya yang panjang untuk membuahi betina yang ada dibawahnya. Peran jantan dan betina ini umumnya terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Jika sekelompok Crepidula sp jantan hidup dalam komunitas yang terisolasi, maka akan ada beberapa individu yang mengalami perubahan organ kelamin menjadi betina. Jika telah mengalami perubahan maka individu tersebut tidak akan dapat berubah kembali menjadi jantan karena organ reproduksi jantan yang dimiliki sebelumnya telah mengalami degenerasi (Brusca, 2002).

Eko Efendi

Page 15

IV. FISIOLOGI REPRODUKSI GASTROPODA IV.1. SISTEM REPRODUKSI GASTROPODA
Reproduksi pada dasarnya merupakan suatu upaya dari individu atau kelompok organisme untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dalam jangka waktu yang panjang atau untuk melestarikan spesiesnya. Pada beberapa jenis hewan tingkat rendah yang berumur pendek, perubahan kondisi lingkungan yang datang dengan tiba-tiba (ekstrim) seperti peningkatan suhu secara drastis akan menimbulkan stress. Kondisi tersebut akan merangsang individu yang tertekan untuk segera bereproduksi (melepaskan gamet) guna melestarikan spesiesnya. Dengan demikian, faktor lingkungan berperan penting dalam sistem reproduksi pada organisme laut, termasuk gastropoda. Adanya kondisi lingkungan yang bervariasi juga menyebabkan timbulnya strategi yang berbeda-beda dari setiap jenis gastropoda untuk bereproduksi. Gastropoda memiliki cara bereproduksi yang bervariasi. Umumnya jantan dan betina terpisah (dioecious) dan terdapat pada individu yang berbeda. Namun ada pula jenis gastropoda yang memiliki organ kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu individu. Fenomena ini disebut hermafrodit (hermaphrodite). Berdasarkan waktu matangnya gonad, hermaphrodite dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: Hermafrodit Sinkroni (Simultan) di mana sperma dan ovum matang pada saat yang sama (tanpa memperhatikan apakah individu tersebut dapat membuahi dirinya sendiri atau tidak) dan Hermafrodit Metagoni (beriring)/Sekuensial dimana fase jantan dan betina dalam satu individu terjadi secara berurutan (tidak bersamaan). Berdasarkan awal urutan jenis kelamin yang muncul, maka Hermafrodit Metagoni dibagi menjadi dua, yaitu: Hermafrodit Protandri dimana individu gastropoda awalnya berjenis kelamin jantan kemudian berubah menjadi betina dan Hermafrodit Protogini dimana individu gastropoda awal mulanya berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan. Pada gastropoda, Hermafrodit Protogini lebih umum ditemukan dibdaningkan dengan Hermafrodit Protandri (Sjafei et al. 1992). Mekanisme reproduksi lainnya yang kemungkinan juga ditemukan pada gastropoda adalah Gonochorisme dimana suatu individu memiliki gonad yang belum terdiferensiasi dengan sempurna sehingga tidak dapat digolongkan sebagai jantan, betina atau kedua-duanya. Berdasarkan proses perkembangan gonadnya, gonochorisme dibagi menjadi 2, yaitu: Gonochorisme berdiferensiasi jika gonad yang awalnya tidak diketahui jenisnya langsung berubah (berkembang) menjadi testis (jantan) atau ovum (betina) dan Gonochorisme tidak berdiferensiasi, jika gonad yang awalnya tidak diketahui jenisnya tersebut terlebih dahulu berkembang menjadi gonad yang menyerupai ovarium lalu kemudian gonad tersebut setengahnya berkembang menjadi jantan dan yang setengahnya lagi berkembang menjadi betina. Mekanisme reproduksi lainnya yang belum dapat dipastikan keberadaannya pada gastropoda, namun ditemukan pada ikan dan serangga adalah Partenogenesis (gynogenesis), yaitu suatu keadaan dimana terjadi kemunculan individu baru tanpa

Eko Efendi

Page 16

melalui proses fertilisasi. Kehadiran individu jantan tidak diperlukan. Namun, jika terjadi perkawinan, maka sperma tidak terlibat dalam hereditas dan hanya berfungsi merangsang perkembangan telur saja. Akibatnya individu yang muncul selalu betina. Materi genetik pada individu yang baru muncul diwariskan secara langsung dari induknya (Sjafei et al. 1992). Pada gastropoda sel-sel germinal (sel-sel kelamin) dibentuk dan berkembang di dalam gonad. Perubahan bentuk dari sel primordial jantan (spermatogonia) menjadi spermatozoa terjadi di testis dan disebut spermatogenesis. Mula-mula spermatogonia berubah bentuk dan berkembang menjadi spermatosit primer. Kemudian membelah secara meiosis menjadi dua sel anak yang disebut spermatosit sekunder. Selanjutnya, spermatosit sekunder mengalami pembelahan meiosis yang kedua membentuk spermatid yang memiliki jumlah kromosom yang haploid. Sebagaimana halnya dengan spermatogenesis, di ovarium juga terjadi pembentukan oosit yang berasal dari sel germinal oogonia dan disebut oogenesis. Oosit akan mengalami proses penimbunan kuning telur yang nantinya akan menjadi cadangan makanan bagi embrio yang baru terbentuk. Ovarium juga mengeluarkan hormon steroid estrogen termasuk 17β-estradiol yang merangsang hati untuk membentuk vitellogenin yang menjadi prekursor pembentukan kuning telur. Kuning telur akan dibentuk oleh selsel follikel ovarium. Proses pembentukan vitellogenin disebut vitellogenesis. Menurut Matty (1985), testoteron memicu perkembangan ciri kelamin sekunder jantan pada hewan betina dan 17β-estradiol memicu perkembangan ciri kelamin sekunder betina pada hewan jantan. Sedangkan Cammack (2006), menyatakan bahwa enzim CYP19 aromatase merupakan senyawa yang berperan besar dalam mengkonversi testoteron menjadi estradiol. Mutasi gen CYP19 dapat menyebabkan defisiensi enzim aromatase yang mengakibatkan kandungan testoteron meningkat drastis. Hal ini akan menyebabkan pseudohermaphroditisme atau imposex pada betina.

IV.2. FISIOLOGI REPRODUKSI Babylonia japonica BETINA
Horiguchi et al. (2006), membagi tahap perkembangan sel reproduktif pada Babylonia japonica menjadi 5 tahap perkembangan, yaitu: Oogonium, Oosit primer, Globulus kuning telur pertama yang mengakumulasi Oosit, Globulus kuning telur kedua yang mengakumulasi Oosit dan Oosit matang (Gambar 8). Oogonium berupa sel oval yang memiliki nukleus dengan granula kecil dan sitoplasma yang tidak berwarna. Nukleus memiliki beberapa anak inti yang dapat dilihat dengan pewarnaan eosin (Gambar 8A). Pada Keong Gading Oosit primer berbentuk tidak beraturan dan berukuran lebih besar jika dibdaningkan dengan Oogonium. Inti dari oosit primer bervariasi mulai dari yang tidak memiliki anak inti (nukleolus) hingga yang memiliki anak inti yang besar seperti tampak pada Gambar 8B. Pada 2 tahap perkembangan awal ini belum terbentuk akumulasi globulus. Globulus tahap pertama yang mengakumulasi kuning telur berukuran lebih besar dari oosit primer (Gambar 8C). Globulus tahap kedua yang juga mengakumulasi kuning telur memiliki bentuk seperti buah pear dengan Eko Efendi Page 17

beberapa globulus lainnya tersebar di sitoplasma. Pada bagian tepi dari globulus tahap kedua berada disekitar epitel dari lobulus ovarium (Gambar 8D). Oosit yang telah matang berbentuk seperti sel oval yang besar dengan globulus kuning telur yang banyak dan terpisah dari epitel lobulus ovarium. Pada bagian ini nukleus masih dapat terlihat jelas dengan pewarnaan hematoxylin (Gambar 8E).

Gambar 8. Sel-sel Reproduktif dalam ovarium Keong Gading Babylonia japonica. Kiri atas : Keong Gading Dewasa (Babylonia japonica). A. Oogonium; B. Oosit Primer; C. Globulus kuning telur pertama yang mengakumulasi Oosit; D. Globulus kuning telur kedua yang mengakumulasi Oosit; E. Oosit yang telah matang. Singkatan: Fyo, Globulus kuning telur pertama yang mengakumulasi Oosit. Mo: Oosit yang telah matang. Singkatan; Nc: Nukleolus, Nu: Nukleus, Oo: Oogonium, Ovl: lobulus ovarium, Po: Oosit primer, Syo: Globulus kuning telur kedua yang mengakumulasi Oosit; Yg: globulus kunig telur. Horiguchi et al.(2006) Journal of Environmental Health Perspective. Volume 114 : 13-19 (Supplement 1) April 2006. Eko Efendi Page 18

IV.3. FISIOLOGI REPRODUKSI Babylonia japonica JANTAN
Perkembangan sel reproduktif jantan dapat dibagi menjadi 4 tahap (Horiguchi et. al 2006), yaitu: pembentukan spermatogonium, spermatosit, spermatid dan spermatozoa seperti dapat dilihat pada Gambar 9. Sebuah spermatogonium tampak seperti sebuah sel oval yang memiliki nukleus yang dilengkapi dengan beberapa granula yang dapat dilihat dengan bantuan pewarnaan hematoxylin. Nukleus juga memiliki beberapa anak inti yang dapat dilihat dengan pewarnaan eosin (Gambar 9A). Spermatosit berupa sebuah sel yang memiliki beberapa granula. Inti dari spermatosit memiliki bentuk yang bervariasi yang kemungkinan bergantung kepada asalnya apakah termasuk spermatosit primer atau sekunder (Gambar 9B). Spermatid memiliki bentuk seperti bulan sabit dimana nukleus terkonsentrasi di satu kutub sel. Bentuk dari beberapa spermatid menyerupai oval atau tongkat yang tipis dengan jumlah sitoplasma yang sedikit (Gambar 9C). Spermatozoa berbentuk seperti serabut atau benang-benang yang berkepala (Gambar 9D).

Gambar 9. Sel-sel Reproduksi dalam Testis Keong Gading Babylonia japonica Jantan. A. Spermatogonium; B. Spermatosit; C. Spermatid; D. Spermatozoa. Singkatan: Nc: Nukleolus, Sc: Spermatosit, Sg: Spermatogonium, Smt: Tubulus Seminiferus, St: Spermatid, Sz: Spermatozoa. Horiguchi et al. (2006) Journal of Environmental Health Perspective. Volume 114 : 13-19 (Supplement 1) April 2006.

Eko Efendi

Page 19

V. MEKANISME DAN EFEK BIOAKUMULASI TBT V.1. MEKANISME DAN EFEK BIOAKUMULASI TBT DALAM JARINGAN TUBUH GASTROPODA
Bioakumulasi TBT dalam tubuh organisme terjadi karena sifat TBT yang mudah larut dalam lemak. Faktor Biokonsentrasi yang mencapai 7000 kali konsentrasi TBT di perairan telah ditemukan dalam skala laboratorium. Berbagai jenis moluska dan ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan hidup di alam telah dilaporkan terkontaminasi TBT. Mekanisme masuknya senyawa TBT melalui makanan lebih berpengaruh terhadap bioakumulasi TBT dalam tubuh organisme dibdaningkan dengan masuknya senyawa tersebut melalui air. Faktor konsentrasi TBT dalam tubuh mikroorganisme (antara 100 hingga 30.000 kali) dapat menggambarkan besarnya konsentrasi senyawa yang masuk melalui proses adsorbsi dibdaningkan dengan pengambilan langsung melalui dinding sel. Belum ada bukti yang menunjukkan terjadinya transfer senyawa TBT dari organisme perairan menuju ke organisme darat melalui rantai makanan. TBT di absorbsi melalui saluran pencernaan (20-50% tergantung medianya) dan melalui kulit mamalia (sekitar 10 %). Pada mamalia, TBT dapat ditransfer dari peredaran darah ibu ke janin bayi. Absorbsi TBT berlangsung cepat dan disebarkan ke seluruh jaringan dimana sebagian besar senyawa tersebut akan terakumulasi di hati dan ginjal. Metabolisme TBT pada mamalia berlangsung cepat dimana metabolit akan terdeteksi di aliran darah 3 jam dalam waktu 3 jam sejak pemberian TBT. Studi in vitro menunjukkan bahwa TBT adalah substrat bagi enzim oksidase yang memiliki berbagai fungsi. Namun enzim ini akan mengalami hambatan jika konsentrasi TBT terlalu tinggi. Laju penurunan konsentrasi TBT berbeda-beda pada tiap-tiap jaringan dan pada mamalia waktu paruh biologis dari konsentrasi TBT berkisar antara 23 hingga 30 hari. Metabolisme TBT juga ditemukan pada organisme tingkat rendah dengan laju yang lebih lambat terutama pada Moluska. Dengan demikian kapasitas bioakumulasi akan lebih besar pada moluska dibdaningkan dengan mamalia. Senyawa TBT memiliki kemampuan untuk menghambat proses fosforilasi oksidatif dan mengubah struktur dan fungsi mitokondria. TBT juga diketahui menghambat proses kalsifikasi cangkang terutama pada tiram Crassostrea sp (Dobson dan Crabidenc, 1990). Penelitian tentang distribusi konsentrasi senyawa organotin seperti butyltin dan phenyltin dalam berbagai jaringan dan organ dari Keong Gading Babylonia japonica menggunakan GC-FPD di teluk Yodoe Tottori Jepang telah dilakukan (Horiguchi et al. 2003). Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa akumulasi TBT untuk masingmasing organ menunjukkan nilai yang berbeda seperti tampak pada Gambar 10 di bawah. Akumulasi TBT ditemukan pada ctenidium (insang), osphradium serta jantung dari keong jantan dan betina. Sedangkan konsentrasi tertinggi dari TPhT (Triphenyltin) pada keong betina ditemukan di ovarium dan pada jantan ditemukan di kelenjar pencernaan (Horiguchi et al., 2006).

Eko Efendi

Page 20

Gambar 10. Distribusi senyawa organotin dalam jaringan tubuh Babylonia japonica atau keong gading (Ivory Shell) dari Yodoe Tottori Jepang (Juni 1991). A. Butyltin pada Jantan; B. Phenylti pada Jantan; C. Butyltin pada betina (termasuk individu imposex). D. Phenyltin pada betina (termasuk individu imposex). Singkatan: DBT, Dibutyltin; DPhT, Diphenyltin; MBT, Monobutyltin; MPhT, Monophenyltin; TBT, Tributyltin; TPhT, Triphenyltin. Horiguchi et al. (2006). Journal of Environmental Health Perspective. Volume 114 : 13-19 (Supplement 1) April 2006. Berdasarkan jumlah kandungan TBT yang terakumulasi di tubuh B. japonica lebih dari sepertiga TBT yang terakumulasi di kelenjar pencernaan, baik pada jantan maupun betina. Konsentrasi TBT kemudian secara berturut-turut menurun pada testis, ctenidium (insang), otot dan jantung pada jantan serta otot, ovarium, ctenidium, dan kepala (termasuk dalam susunan syaraf pusat) pada betina (Gambar 11). Untuk kandungan TphT, sekitar tigaperempat dari total TPhT terakumulasi di kelenjar pencernaan pada jantan dan satu setengah kali pada betina. Organ berikutnya yang memiliki akumulasi TPhT yang tinggi adalah gonad pada jantan dan betina, diikuti oleh otot, ctenidium dan jantung pada jantan serta otot, oviduk, dan kepala pada betina.

Eko Efendi

Page 21

Gambar 11. Total kandungan senyawa organotin (ng) pada Keong Gading Babylonia japonica dari Yodoe Tottori Jepang (Data Juni 1991). A. Tributyltin pada jantan; B. Triphenyltin pada jantan; C. Tributyltin pada betina (termasuk individu imposex); D. Triphenyltin pada betina (termasuk individu imposex). Horiguchi et al. (2006). Journal of Environmental Health Perspective. Volume 114 : 13-19 (Supplement 1) April 2006.

Eko Efendi

Page 22

Tingginya akumulasi TBT dan TPhT di kelenjar pencernaan kemungkinan mengindikasikan adanya proses metabolisme kedua senyawa tersebut dengan melibatkan beberapa enzim. Kandungan relatif butyltin dan phenyltin di kelenjar pencernaan dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dari Babylonia japonica dalam memproses TBT dan TPhT. Rasio TBT terhadap total tributyltin pada kelenjar pencernaan ditemukan lebih tinggi pada Babylonia japonica dibdaningkan dengan T. clavigera. Hal ini kemungkinan menunjukkan kemampuan metabolisme yang lebih rendah dari Babylonia japonica dalam memproses zat tersebut (Horiguchi et al. 2003). Kemampuan menguraikan TBT berbeda pada tiap-tiap spesies, sedangkan kemampuan menguraikan TPhT umumnya rendah pada hampir semua spesies. Dari sisi biologis dan ekologis, waktu paruh TBT dan TPhT pada T. clavigera berturut-turut berkisar antara 22 hari dan 347 hari. Waktu paruh biologis diperkirakan antara 50 hari hingga > 100 hari pada Nucella lapillus bergantung pada kondisi lingkungan. Kandungan TBT dan TPht yang relatif tinggi pada jaringan ditemukan dalam sistem reproduksi (ovarium, oviduk, testis) dan kepala (termasuk sistem syaraf pusat), otot dan jaringan di sekitar mantel seperti ctenidium, siphon dan jantung (Gambar 11). Pola akumulasi yang sama juga ditemukan pada T. clavigera. Namun, perbedaan pola yang jelas ditemukan pada Ocinebrina erinacea dimana setengah dari kandungan TBT yang ada didalam tubuhnya ditemukan pada capsule gldans. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pola akumulasi senyawa organotin di antara spesies-spesies gastropoda. Konsentrasi TBT dan TPhT pada sistem syaraf T. clavigera relatif tinggi. Namun secara keseluruhan, kandungan seyawa organotin dalam spesies tersebut tergolong rendah karena ukuran sistem syaraf dari spesies tersebut relatif kecil . Fakta ini mugkin juga berlaku untuk Babylonia japonica dalam studi ini. Konsentrasi TBT dan TPhT yang sama juga ditemukan pada ganglia Buccinum undulatum. Nishikawa et al. (2004) dalam Horiguchi (2006) mendiskusikan kemungkinan adanya peran TBT dan TPhT dalam memicu terjadinya imposex pada gastropoda. Nishikawa et al. (2004) juga menyatakan bahwa pada manusia, senyawa organotin (TBT dan TPhT) akan berikatan dengan hRXRs (human retinoid X receptors) dengan afinitas yang tinggi. Injeksi 9-cis asam retinoid (RA), ligan alami dari hRXRs ke dalam tubuh T. clavigera memicu timbulnya imposex. Kloning RXR (retinoid X receptors) yang homolog dari T. clavigera menunjukkan bahwa ikatan ligan RXR dari keong tersebut sangat mirip dengan RXR vertebrata dimana reseptor tersebut berikatan dengan 9-cis asam retinoid (RA) dan senyawa organotin. Kanyataan ini menunjukkan bahwa RXR berperan penting dalam memicu perkembangan imposex , proses diferensiasi dan pertumbuhan organ genital jantan pada gastropoda betina. Selain merusak sistem reproduksi dan sel syaraf, TBT juga dilaporkan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan organ tubuh (hyperplasia) dan menimbulkan kerusakan pada material genetik (DNA) yang ada dalam tubuh keong. Hagger et al, (2006) melaporkan bahwa dari sampel Nucella lapillus yang diambil dari sebelah barat daya Inggris, diketahui bahwa DNA dari sebagian besar sampel yang dikumpulkan mengalami kerusakan akibat kontaminasi TBT.

Eko Efendi

Page 23

V.2. EFEK BIOAKUMULASI TBT DALAM SISTEM REPRODUKSI GASTROPODA V.2.1 MEKANISME IMPOSEX PADA KEONG GADING (Babylonia japonica).
Mortalitas larva dan juvenil dari Babylonia japonica kemungkinan berkaitan erat dengan akumulasi TPhT dan TBT dalam ovarium akibat air laut yang terkontaminasi senyawa organotin tersebut (Coelho et al. 2001; Inoue et al. 2004; Lapota et al. 1993; Li et al. 1997; Nakayama et al. 2005; Ruiz et al. 1995; Treuner AB, Horiguchi T, Takiguchi N, Imai T, Morita M, unpublished data dalam Horiguchi et al. 2006). Tahap planktonik dari Babylonia japonica diperkirakan berlangsung 4-5 hari (Hamada et al. 1988, 1989 dalam Horiguchi et.al 2006). Rekruitmen larva veliger dari populasi lain tidak diketahui. Kegagalan reproduksi keong dewasa akibat imposex menyebabkan menurunnya populasi B. Japonica dalam beberapa tahun di Jepang. Hal ini terlihat dari menurunnya jumlah larva yang dihasilkan setiap tahunnya. Dengan demikian, keberadaan larva yang berenang bebas dalam air selama masa perkembangan larva merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam kemampuan reproduksi dari keong yang populasinya terkontaminasi senyawa organotin (Bryan et al. 1986; Gibbs dan Bryan 1986; Gibbs et al. 1988, 1990 1991 dalam Horiguchi et.al 2006). Berdasarkan survei imposex dan konsentrasi organotin dalam tubuh Thais clavigera (Horiguchi et al. 1994 dalam Horiguchi et al. 2006), kontaminasi TBT dan TPhT relatif serius di sepanjang pantai Prefecture Tottori terutama di Teluk Miho di mana sampel Babylonia japonica dalam studi ini diambil. Konsentrasi TBT dan TPhT relatif tinggi dalam ovarium betina. Konsentrasi kedua senyawa organotin tersebut dalam gonad berkorelasi positif dengan panjang penis yang tumbuh pada gastropoda betina dari Babylonia japonica sebagaimana juga ditemukan pada Thais clavigera (Hyeon Seo Cho, et al. 2005 dan Horiguchi et al. 1994; Shim et al. 2000 dalam Horiguchi et al. 2006) Eksperimen Laboratorium menunjukkan bahwa TBT dan TPhT memicu pembentukan imposex pada tubuh Thais clavigera (Horiguchi et al. 1995, 1997a dalam Horiguchi et al. 2006). Dengan demikian, kemungkinan imposex pada Babylonia japonica juga dipicu oleh TBT dan TPhT relatif tinggi. Namun, sulit untuk mengetahui berapa konsentrasi senyawa organotin yang dibutuhkan untuk memicu timbulnya gejala imposex tersebut. Gibbs et al (1987) dalam Horiguchi et al.(2006) menyatakan bahwa konsentrasi TBT (di seluruh tubuh) yang dapat memicu timbulnya imposex pada Nucella lapillus sekitar 20 ng Sn/g berat kering yang diperkirakan setara dengan 10-12.5 ng TBT/g berat basah dengan asumsi bahwa konsentrasi senyawa organotin yang dihitung dalam berat kering sekitar 4 atau 5 kali lebih besar dari konsentrasi dalam berat basah. Berdasarkan perhitungan di atas, maka untuk Thais clavigera diperoleh perkiraan konsentrasi minimal dari senyawa organotin sebesar 10-20 ng/g berat basah yang dapat menimbulkan imposex (Horiguchi et al. 1994 dalam Horiguchi et al. 2006). Untuk Babylonia japonica, karena keterbatasan eksperimen dan analisis data, maka sensitivitas terhadap TBT dan TPhT yang dapat menimbulkan imposex masih sulit untuk diperkirakan atau dibdaningkan dengan jenis lainnya seperti Nucella lapillus, Ocinebrina

Eko Efendi

Page 24

erinacea, U. cinerea, dan T. clavigera (Bryan et al. 1987; Gibbs et al. 1987, 1990, 1991; Horiguchi et al. 1994, 1995 dalam Horiguchi et.al 2006). Variasi temporal dalam penilaian perkembangan reproduksi dari Babylonia japonica berbeda antara betina (termasuk betina yang mengalami imposex) dan jantan. Musim memijah dari Babylonia japonica berlangsung antara akhir bulan Juni hingga awal Agustus (Kajikawa et al. 1983 dalam Horiguchi et. al 2006). Pematangan telur pada keong betina tampaknya mengalami penundaan dibdaningkan dengan pematangan sperma pada jantan. Adanya penundaan ini ditdanai dengan adanya betina yang belum mencapai kematangan gonad selama musim pemijahan. Pematangan gonad pada saat yang sama masih ditemukan pada populasi Babylonia japonica yang berasal dari perairan Teradomari Prefecture Niigata Jepang. Sedangkan populasi Babylonia japonica di Tottori tidak menunjukkan adanya pematangan gonad pada betina. Padahal, populasi keong ini telah lama dibudidayakan dan memiliki musim pemisahan yang serentak di seluruh perairan Jepang. Adanya penundaan pematangan gonad ini diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah telur yang dipijah oleh Babylonia japonica di bak-bak budidaya dan kemungkinan berkaitan dengan imposex. Takeda (1979; 1983) dalam Horiguchi et al (2006) melaporkan bahwa spermatogenesis dan Oogenesis ditemukan pada salah satu organ hermafrodit gastropoda yang dikebiri terutama gonad pada siput Limax marginatus betina yang diberi perlakuan dengan hormon 17β-estradiol dan siput jantan jenis yang sama yang diberi testoteron. Pemberian 17β-estradiol juga merangsang memijahnya telur pada spesies keong ini. Metabolisme in-vitro dari danrostenedione dan identifikasi steroid endogen (danrosteron, dehydroepidanrosteron, danrostenedion, 3α-danrostanediol, estron, 17β-estradiol, dan estriol) oleh gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS) telah dilaporkan pada jenis Helix persa (Le Guellecet al. 1987 dalam Horiguchi et al 2006). Beberapa steroid (danrosteron, estron, 17β-estradiol, ethinylestradiol, dan testosteron) juga telah diidentifikasi menggunakan GC-MS pada gonad Babylonia japonica. Identifikasi estrogen sintetik ethinylestradiol pada gonad menunjukkan adanya kontaminasi habitat dari Babylonia japonica (Lu et al 2001 dalam Horiguchi et al 2006). Penambahan testoteron (danrogen) untuk mereduksi konsentrasi enzim aromatase pada keong betina yang terkontaminasi TBT diperkirakan akan memicu terjadinya imposex pada gastropoda (Gooding 2003 serta Bettin et al. 1996; Matthiessen dan Gibbs 1998; Spooner et al. 1991 dalam Horiguchi et al., 2006). Beberapa neuropeptida yang dilepaskan oleh ganglia visceral, ganglia serebral atau kelenjar prostat dari gastropoda seperti Aplysia californica dan Lymnaea stagnalis adalah merupakan hormon yang merangsang pemijahan, ovulasi dan pelepasan telur (Chiu et al. 1979; Ebberink et al. 1985 dalam Horiguchi et al 2006). Féral dan Le Gall (1983) dalam Horiguchi et al 2006, menyatakan bahwa timbulnya imposex yang diakibatkan oleh TBT pada keong Ocinebrina erinacea mungkin berkaitan dengan pelepasan neural morphogenic controlling factors. Pernyataan tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan menggunakan kultur jaringan

Eko Efendi

Page 25

in vitro dari jaringan di sekitar penis yang terbentuk pada jenis limpet Crepidula fornicata yang belum dewasa dan sistem syaraf yang diisolasi dari jantan atau betina keong O. erinacea pada media yang mengdanung TBT 0,2 µg/L. Akumulasi TBT dan TPhT pada sistem syaraf pusat dari Haliotis gigantea, Nucella lapillus dan Thais clavigera (Horiguchi et al 1992; 2003; Bryan et al. 1993 dalam Horiguchi et al. 2006) dapat memberikan efek toksik pada sistem neuro-endokrin. Oberdörster dan McClellan-Green (2000; 2002) dalam Horiguchi et al 2006 melaporkan bahwa pemberian APG Wamide, sebuah neuropeptida yang dilepaskan oleh ganglia serebral gastropoda seperti Lymnaea stagnalis yang terkontaminasi TBT pada keong betina Ilyanassa obsoleta secara signifikan memicu terjadinya imposex. Sedangkan Gooding et.al. (2003) melaporkan bahwa TBT mereduksi akumulasi testoteron sebagai ester asam lemak pada Ilyanassa obsoleta sehingga hal ini diduga menjadi penyebab imosex pada spesies keong tersebut. Sekitar 150 jenis gastropoda dilaporkan ditemukan mengalami gejala imposex di seluruh dunia. (Bech 2002a, 2002b; Fioroni et al. 1991; Horiguchi et al. 1997b; Marshall dan Rajkumar 2003; Sole et al. 1998; ten Hallers-Tjabbes et al. 2003; Terlizzi et al. 2004 dalam Horiguchi et l 2006). Sebagian besar spesies gastropoda tergolong familia Muricidae seperti : Nucella lapillus, Ocenebra erinacea, Thais clavigera, Urosalpinx cinerea), Buccinidae (Babylonia japonica, Buccinum undatum, Neptunea arthritica arthritica), Conidae (Conus marmoreus bdananus, Virroconus ebraeus), dan Nassariidae (Ilyanassa obsoleta, Nassarius reticulatus) dari ordo Neogastropoda. (Fioroni et al. 1991; Horiguchiet al. 1997b dalam Horiguchi et al., 2006). Horiguchi et al (1997b) dalam Horiguchi et al (2006) menyatakan bahwa sekitar 39 jenis gastropoda menunjukkan gejala imposex (7 mesogastroposa dan 32 jenis neogastropoda). Sebagian besar menunjukkan kontaminasi senyawa organotin (TBT dan TPhT) yang akut yang menyebabkan menurunnya populasi gastropoda secara drastis akibat imposex. Oleh karena itu, gejala imposex dijadikan sebagai bioindikator adanya pencemaran atau kontaminasi senyawa organotin di suatu perairan. Penelitian tentang imposex dapat dilakukan dengan melihat penyimpangan morfologis pada gastropoda maupun dengan menggunakan metode histologis (Bryan et al. 1986; Gibbs dan Bryan 1986; Gibbs et al. 1988, 1990, 1991; Horiguchi 2000; Horiguchi et al. 1994, 2000a; Oehlmannet al. 1996; Schulte-Oehlmann et al. 1997 dalam Horiguchi et al. 2006). Keong Gading Babylonia japonica (Neogastropoda: Buccinidae), hidup pada substrat berpasir atau berlumpur di daerah perairan yang dangkal (dengan kedalaman berkisar 10-20 m) dari selatan Pulau Hokkaido hingga Kyushu, Jepang. Jenis ini tergolong pemakan bangkai (scavenger) di ekosistem pantai dan secara tradisional menjadi spesies target untuk usaha komersial di Jepang. Imposex pada Babylonia japonica ditemukan pertamakali pada tahun 1970-an dan berakibat pada penurunan hasil tangkapan secara drastis pada awal tahun 1980-an di seluruh Jepang (Horiguchi dan Shimizu 1992 dalam Horiguchi et al., 2006). Banyak usaha telah dilakukan untuk memulihkan populasi keong ini termasuk melakukan pembenihan di bak-bak budidaya (hatchery) dan pelepasan juvenil ke laut. Sekitar 90 % dari juvenil yang diproduksi di Jepang berasal dari hatchery

Eko Efendi

Page 26

di Prefecture Tomari dan Tottori Jepang Barat. Total hasil tangkapan Babylonia japonica diketahui menurun drastis sejak tahun 1984, 2 tahun setelah penemuan pertama dari individu yang menunjukkan gejala imposex. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentase imposex dan persentase rata-rata panjang penis yang ditemukan pada keong betina (Hamada et al. 1988, 1989; Horiguchi 1998; Kajikawa 1984; Kajikawa et al. 1983 dalam Horiguchi et al 2006). (Gambar 12). Jumlah kapsul telur yang keluarkan oleh Babylonia japonica dewasa di hatchery dan jumlah juvenil yang dilepaskan secara sengaja mengalami penurunan sejak pertengahan tahun 1980-an. Introduksi Babylonia japonica dewasa dari Prefecture Niigata pada tahun 1992 untuk menghasilkan benih yang akan dilepaskan ke alam mengalami kegagalan karena juvenile yang lahir di bak-bak pemijahan banyak yang mati. Hingga saat ini upaya rehabilitasi populasi Babylonia japonica tidak pernah dapat mengembalikan populasi keong tersebut seperti tahun 1970-an sebelum terkena imposex. Tahun 1996, hatchery di Tottori yang digunakan untuk memijahkan juvenil keong Gading yang akan dilepaskan ke laut ditutup (Horiguchi et al 2006). Persentase Imposex keong Babylonia japonica yang dikoleksi antara bulan Desember 1988 hingga November 1989 dan bulan Juni 1991 berturut-turut sebesar 82,6 % dan 88,9 %. Penis dan vas deferens ditemukan berkembang dengan baik pada keong betina yang terkontaminasi TBT. Tidak ada blokade terhadap oviduk akibat terbentuknya vas deferens pada keong yang mengalami imposex. Hal ini berbeda dengan simptom imposex yang ditemukan pada Nucella lapillus, Ocinebrina aciculata, dan Thais clavigera (Gibbs dan Bryan 1986; Gibbs et al. 1987; Horiguchi et al. 1994; Oehlmann et al. 1996 dalam Horiguchi et al. 2006).

Gambar 12. Hubungan antara Konsentrasi Triorganotin (jumlah tributyltin dan triphenyltin) yang ditemukan dalam gonad dengan panjang penis dalam tubuh Keong Gading Babylonia japonica betina. Horiguchi et al. (2006). Journal of Environmental Health Perspective. Volume 114 : 13-19 (Supplement 1) April 2006.

Eko Efendi

Page 27

Bigatti dan Penchaszadeh (2005), melaporkan bahwa jenis keong laut dangkal Odontocymbiola magellanica (Gmelin, 1791) yang berasal dari Golfo Nuevo, Golfo San Jose dan Golfo San Matias di Patagonia, Argentina Selatan diketahui mengalami imposex akibat kontaminasi TBT. Persentase imposex dilaporkan tertinggi (100%) berasal dari sampel yang diambil dekat pelabuhan. Makin jauh dari pelabuhan, persentase individu yang mengalami imposex makin menurun.

Gambar 13. Imposex pada keong Odontocymbiola magellanica akibat kontaminasi TBT. Kiri: Tampak hewan betina yang mengalami imposex menunjukkan karakteristik ciri kelamin jantan berupa Penis (P)dan Vas Deferens (VD). Kanan: Keong Odontocymbiola magellanica jantan yang normal. Tampak bahwa penis (P) dari jantan normal ini berukuran jauh lebih besar dibandingkan dengan penis yang ditemukan pada keong betina yang mengalami imposex. Bigatti dan Penchaszadeh (2005).

Gambar 14. Imposex pada Hinia reticulata. Tampak betina (kiri) menunjukkan adanya perkembangan penis seperti pada jantan (kanan). Pertumbuhan penis pada betina akibat kerusakan kelenjar endokrin merupakan respon yang sangat spesifik hanya terhadap kontaminasi TBT dan bersifat irreversible sehingga digunakan sebagai bioindikator pencemaran senyawa organotin (TBT) di daerah perairan (Strand, 2003). Eko Efendi Page 28

V.2.2 MEKANISME OVARIAN SPERMATOGENESIS PADA Babylonia japonica.
Salah satu penyimpangan sistem reproduksi akibat TBT adalah ditemukannya gonad keong Babylonia japonica betina yang memproduksi sperma. Hal ini dikenal sebagai ovarian spermatogenesis (ovotestis). Horiguchi et. al (2006), melaporkan bahwa dari 92 betina normal dan imposex dari keong Babylonia japonica yang diuji, 6 individu (1 betina normal dan 5 betina imposex) atau sekitar 6,5 % dari total populasi yang diuji menunjukkan gejala Ovarian spermatogenesis. Telah diketahui bahwa sebagian besar gastropoda memiliki kelamin terpisah (dioecious) dan hanya sedikit yang bersifat hermafrodit dengan gonad yang memproduksi sperma dan sel telur terus menerus (Fretter 1984; Uki 1989 dalam Horiguchi et al. 2006) dan Iguchi, et al. 2007. Beberapa anggota ordo Neogastropoda betina diketahui mengalami fenomena Ovarian spermatogenesis misalnya: Nucella lapillus, O. aciculata dan Thais clavigera. Sedangkan dari ordo Archaeogastropoda, betina yang diketahui mengalami ovotestis adalah Haliotis madaka dan Haliotis gigantea. Kedua jenis abalone ini diketahui telah terkontaminasi oleh TBT dan TPhT, namun tidak ditemukan adanya penis yang terbentuk seperti tampak pada gejala imposex (Gibbs et al. 1988; Horiguchi dan Shimizu 1992; Horiguchi et al. 2000b, 2002, 2005; Oehlmann et al. 1996 dalam Horiguchi et al 2006). Ovarian spermatogenesis juga sering ditemukan pada keong Babylonia japonica betina yang normal tanpa pembentukan penis atau vas deferens. Namun frekuensi kejadian ini relatif rendah (16,7 % dari populasi yang terpapar TBT dan TPhT). Pembentukan penis dan vas deferens serta ovarian spermatogenesis pada betina yang terekspose TBT dan TPhT kemungkinan besar memiliki mekanisme fisiologi yang berbeda dengan imposex. Ovarian spermatogenesis diduga merupakan penyebab utama menurunnya kemampuan keong untuk memijah. Hormon steroid yang terkait dengan reproduksi seperti testoteron dan 17β-estradiol secara fisiologis adalah merupakan senyawa yang penting dalam pembentukan organ reproduksi dan pematangan gonad (spermatogenesis dan oogenesis) pada vertebrata. Hormon steroid yang sama kemungkinan juga mengatur mekanisme reproduksi pada organisme invertebrata termasuk gastropoda (LeBlanc et al. 1999 dalam Horiguchi et al. 2006).

Gambar 15. Spermatogenesis pada ovarium dari Babylonia japonica betina yang normal (tanpa penis dan vas deferens). A. Testis; B. Jaringan (ovo-testis) yang ditemukan pada gonad betina; C. Tubulus seminiferus. Dg: digestive gldan,Ov: ovarium, Smt: Tubulus Seminiferus, Sz: spermatozoa. Te: Testis. Horiguchi et. al., 2006.

Eko Efendi

Page 29

V.2.3 MEKANISME BIPHALLIA (IMPOSEX) PADA Leucozonia nassa
Imposex ditandai dengan berkembangnya ciri-ciri kelamin jantan seperti penis dan vas deferens pada gastropoda betina dari sub kelas Prosobranchia (Smith, 1971 dalam Meirelles, 2007). Abnormalitas ini disebabkan oleh terpaparnya hewan tersebut oleh senyawa organotin (OTs) yang terkandung dalam cat antifouling (Gibbs & Bryan, 1987; Matthiessen & Gibbs, 1998, dalam Meirelles, 2007) yang digunakan secara luas di dunia untuk melindungi kapal dan berbagai struktur berbahan logam (metal) dari ancaman korosi dan biofouling yang secara drastis meningkatkan konsumsi bahan bakar dan memperpendek usia pakai kapal. Studi tentang imposex telah digunakan di beberapa tempat sebagai alat untuk mendeteksi pencemaran oleh senyawa organotin mengingat sulitnya mendeteksi senyawa tersebut dengan metode analisis kimia (Oehlmann et al., 1996 dalam Meirelles, 2007). Di Brazil, imposex telah diamati dari gastropoda familia Muricidae Stramonita haemastoma (Linnaeus, 1767) (Castro et al., 2000; Ferndanez et al., 2002; Ferndanez et al., 2005; Castro et al., 2007a,b dalam Meirelles, 2007 ) dan Stramonita rustica (Lamarck, 1822) (Camillo et al., 2004; de Castro et al., 2004, 2007 dalam Meirelles, 2007) dan pada Olivancillaria vesica (Gmelin, 1791) (Caetano & Absalão, 2003 dalam Meirelles, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Meirelles (2007) juga menunjukkan adanya indikasi pencemaran oleh senyawa organotin di Brazil. Penelitian tersebut dilakukan terhadap jenis kerang Leucozonia nassa. 54 individu (jantan dan betina) dewasa dikumpulkan secara manual di rataan terumbu Ilha do Japonês, Cabo Frio County, Rio de Janeiro State, South-east Brazil pada bulan Februari 2004 saat surut rendah. Hewan yang telah dikoleksi kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik yang berisi air laut yang diambil dari stasiun yang sama di mana hewan tersebut diambil dan dibawa ke laboratorium untuk di analisis lebih lanjut. Sampel kemudian dianestesi dengan menggunakan larutan magnesium chloride 3.5% (Huet et al., 1995 dalam Meirelles, 2007 ). Bagian-bagian tubuh terutama jaringan lunak dari sampel kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop binokuler. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa Individu Leucozonia nassa yang memiliki oviduk dan penis (mengalami imposex) umumnya berjenis kelamin betina. Pada jantan yang normal, penis umumnya panjang dan memiliki pangkal yang besar (panjang penis= 9.4 ±1.0 mm). Sekitar 98.15% dari seluruh sampel yang dikoleksi berjenis kelamin betina (N=30). Penis yang ditemukan umumnya lebih kecil dari penis jantan (dengan panjang penis=5.96 ± 3.15 mm). Pada beberapa kasus ditemukan pembentukan vas deferens yang lengkap. Salah satu hal yang paling menarik adalah ditemukannya satu individu betina imposex yang menunjukkan gejala biphallia (bi= 2, phallus=penis) atau berpenis ganda. Kedua penis ini berbentuk pipih dan memiliki ukuran yang sama (panjang penis masing-masing 4.35 dan 4.75 mm). Kasus biphallia-imposex ini adalah merupakan penemuan pertama yang dipublikasikan untuk spesies Leucozonia nassa.

Eko Efendi

Page 30

Gambar 16. Karakteristik Imposex-Biphallia (Penis Ganda) pada keong Leucozonia nassa dari rataan terumbu Ilha do Japonês, Cabo Frio County, Rio de Janeiro State, South-east Brazil . Kiri atas dan A. Leucozonia nassa dewasa; B. Jaringan Lunak Keong Jantan; C. Jaringan Lunak Keong Betina yang mengalami Imposex; D. Jaringan Lunak Keong Betina yang mengalami Imposex-Biphallia; E. Jaringan Lunak yang menunjukkan gejala Imposex-Biphallia diperbesar. Singkatan: dp: double penis, p: penis. Skala Bar: A. 15 mm, B. 5 mm, C. 6 mm, D. 4.5 mm E. 2.4 mm. Meirelles C. A. O. et. al. (2007).

Eko Efendi

Page 31

V.2.4. MEKANISME IMPOSEX-INTRAKAPSULAR (TERSUMBATNYA SISTEM GENITAL GASTROPODA) PADA Nucella lapillus
Mekanisme imposex pada gastropoda betina dari Sub-kelas Prosobranchia belum sepenuhnya dipahami. Namun, inhibisi (penghambatan) sitokrom P450 yang mendukung aktifitas enzim aromatase (CYP19) (bertanggung jawab dalam mengubah hormon androgen menjadi estrogen) oleh senyawa organotin diduga berperan sebagai pemicu mekanisme imposex. Penghambatan (inhibisi) ini menyebabkan meningkatnya konsentrasi (kandungan) hormon androgen dalam jaringan tubuh (Bettin et al., 1996 dalam Meirelles, 2007). Pada kasus yang ekstrim dimana bioakumulasi senyawa organotin dalam tubuh sangat tinggi, terjadi pembelahan sel tubuh dan pertumbuhan jaringan (proliferasi) yang sangat cepat yang menyebabkan tersumbatnya (terblokirnya) sistem genital gastropoda betina. (Gibbs & Bryan, 1987; Gibbs et al., 1987 dalam Meirelles, 2007). Kondisi ini menyebabkan terjadinya sterilisasi dan kematian pada gastropoda betina akibat akumulasi kapsul (cangkang) telur dalam organ kapsul atau capsule gland (Gibbs & Bryan, 1986; Gibson & Wilson, 2003 dalam Meirelles, 2007). Kegagalan proses reproduksi akibat imposex juga ditemukan pada gastropoda dari jenis Nucella lapillus (Linnaeus, 1758) (familia Muricidae) yang populasinya menurun drastis sejak tahun 1980-an di selatan Inggris (Gibbs & Bryan, 1986 dalam Meirelles, 2007) akibat efek imposex dan terbentuknya intracapsular yang menyebabkan tidak adanya larva yang menetas dari populasi keong yang sehat (Spence et al., 1990 dalam Meirelles, 2007). Hal ini perlu diperhatikan oleh ahli konservasi dan budidaya kerang, mengingat efek imposex yang besar dapat menyebabkan gastropoda yang mengalami perkembangan intrakapsular (pemblokiran sistem genital) akan mengalami kepunahan (Gibbs & Bryan, 1986, dalam Meirelles, 2007).

Gambar 17. Hasil scanning mikrograf elektron dari Jaringan Lunak Nucella lapillus menunjukkan: A. Imposex tahap 3a dengan penis dan bagian depan vas deferens dan B. Imposex tahap 5a dengan perkembangan penis, vas deferens, dan kelenjar prostat yang menekan/memblok vagina. Singkatan: gp, genital papilla; p, penis; pr, kelenjar prostat; vd, vas deferens. Hagger. et. al. (2006).

Eko Efendi

Page 32

Pada Nucella lapillus, proses terjadinya imposex dapat dibagi menjadi 6 tahap yang menunjukkan pertambahan derajat maskulinisasi (Gibbs et al. 1987; Oehlmann et al. 1991). Dalam tahap perkembangan individu imposex, terdapat 3 sub-tahap yang berbeda yang terjadi pada populasi Nucella lapillus di Eropa (Oehlmann et al. 1991). Dari tahap 0, dimana betina normal tidak menunjukkan tanda-tanda imposex hingga tahap 4 dimana jumlah dan ukuran organ kelamin jantan bertambah secara gradual tetapi tidak menyebabkan hilangnya kemampuan untuk bereproduksi (Hagger et al. 2006).

Gambar 18. Singkatan: ac, massa kapsul abortif yang berpenetrasi ke dinding mantel; Gi, gill (insang); ne, pertumbuhan organ yang serupa dengan neoplasmik; P, penis; Pr, kelenjar prostat; Os, osphradium; Vb, bukaan vagina yang terblok; Vd, vas deferens. A-C Scanning mikrograf elektron dari spesimen dengan jaringan yang berproliferasi pada organ genital jantan (penis dan vas deferens). A. Jantan dengan neoplasia seperti pertumbuhan penis, vas deferens dan mantel pada dasar epitelium. B. Imposex tahap 5 dengan vas deferens yang masih kecil. C. Imposex tahap 6 dengan vas deferens yang makin berkembang. D. Mikrograf dari spesimen dengan banyak mengalami proliferasi pada bagian Osphradium. Hagger. et. al. (2006).

Eko Efendi

Page 33

Proses imposex diawali pada tahap 1 yang ditandai dengan terbentuknya penis oriment (Tahap 1a) atau bagian vas deferens yang terisolasi (tahap 1b, 1c). Pada tahap 2a. penis oriment berkembang menjadi saluran pineal, sedangkan pada tahap 2b dan 2c bagian vas deferens berkembang lebih pesat, penis oriment masih terlihat. Bagian vas deferens terus tumbuh hingga melewati bagian bawah rongga mantel pada tahap 3 (Gambar 17A). Pada tahap 4, organ kelamin jantan mulai terbentuk sempurna dengan vas deferens yang memanjang mulai dari dasar penis hingga bukaan vagina. Pada tahap 5, oviduk terblok oleh jaringan vas deferens yang berproliferasi (Gambar 18 B) atau oleh perkembangan kelenjar prostat. Pada tahap 6 proses maskulinisasi telah sempurna.

VI. UPAYA MENGURANGI PENCEMARAN TBT DI PERAIRAN
Beberapa negara seperti Inggris dan Irldania telah menetapkan peraturan hukum yang melarang penggunaan senyawa organotin (TBT) pada kapal dan struktur bangunan lainnya yang berukuran (panjang) kurang dari 25 meter ( Santillo et al., 2000) dan (Evans et al., 1991; Michin et al., 1995 dalam Meirelles, 2007). Peraturan ini berhasil mengurangi kandungan TBT dalam ekosistem perairan dan efek imposex pada Nucella lapillus (dogwhelk) dalam kurun waktu 6 tahun (Michin et al., 1995 dalam Meirelles, 2007). Studi lain menunjukkan hasil yang menarik terkait efek imposex, seperti pemaparan 3-MC (3-methylcholanthrene) (McClellan-Green & Robbins, 2000 dalam Meirelles, 2007). Senyawa ini berperan menetralisir senyawa organotin yang menyebabkan rusaknya sistem endokrin pada gastropoda. Pemaparan senyawa ini dilaporkan memiliki dampak positif bagi organisme laut yang terkontaminasi TBT, di mana ukuran penis pada jenis Ilyanassa obsoleta betina berkurang (Say 1982, dalam Meirelles, 2007) dan mengembalikan kemampuan jenis tersebut untuk memijah (McClellan-Green & Robbins, 2000 dalam Meirelles, 2007). Masalah utama dari upaya monitoring terhadap kontaminasi senyawa organotin adalah bagaimana mengetahui efek dari setiap tingkatan kontaminasi senyawa organotin pada spesies gastropoda yang menjadi bio-indikator. Dengan kata lain sensitivitas dari setiap spesies terhadap senyawa organotin (yang kemungkinan besar berbeda-beda) belum pernah diuji (Camillo et al., 2004 dalam Meirelles, 2007).

Eko Efendi

Page 34

VII. KESIMPULAN
Dari hasil studi literatur dan bahan pustaka tentang efek bioakumulasi Tributyltin (TBT) terhadap sistem reproduksi gastropoda, maka dapat disimpulkan bahwa bioakumulasi TBT menimbulkan berbagai gangguan pada sistem reproduksi sehingga keong yang mengalami gangguan tidak dapat menghasilkan gonad, bertelur, dan bahkan memijah. Imposex pada sistem reproduksi merupakan respon yang paling khas dan paling spesifik dari gastropoda terhadap kontaminasi TBT. Meskipun bagian lain dari gastropoda seperti hati, jantung, ctenidium dan saluran pencernaan juga mengandung akumulasi TBT yang tinggi, namun hanya sistem reproduksi saja yang menunjukkan efek/respon yang jelas dan nyata sehingga digunakan sebagai bioindikator pencemaran TBT. Hingga saat ini, mekanisme imposex pada gastropoda akibat kontaminasi TBT belum dapat dipastikan, karena respon yang ditunjukkan oleh hewan yang diteliti terhadap paparan TBT berbeda-beda bergantung pada jenisnya. Adapun beberapa respon (efek) yang timbul akibat kontaminasi TBT adalah :  Imposex. Gangguan ini ditandai dengan terbentuknya ciri-ciri kelamin jantan seperti penis dan vas deferens pada gastropoda betina dari Sub kelas Prosobranchia. Mekanisme imposex pada gastropoda betina dari Sub-kelas Prosobranchia belum sepenuhnya dipahami. Namun, inhibisi (penghambatan) sitokrom P-450 yang mendukung aktifitas enzim aromatase (CYP19) (bertanggung jawab dalam mengubah hormon androgen menjadi estrogen) oleh senyawa organotin diduga berperan sebagai pemicu mekanisme imposex. Gangguan lain yang timbul adalah tertundanya pematangan gonad pada betina sehingga saat musim kawin tiba sangat sedikit juvenil yang terbentuk.  Ovarian spermatogenesis, merupakan salah satu penyimpangan sistem reproduksi yang dipicu oleh TBT dimana gonad keong Babylonia japonica betina memiliki kemampuan untuk memproduksi sperma. Meskipun secara alami ovarian spermatogenesis dapat ditemukan pada berbagai jenis keong, namun hal tersebut termasuk jarang terjadi. Adanya kontaminasi TBT menyebabkan meningkatnya persentase keong betina yang mengalami efek ini sehingga menurunkan kemampuan untuk bereproduksi.  Imposex-Biphallia, merupakan salah satu jenis imposex yang ditandai dengan terbentuknya penis ganda pada keong betina. Timbulnya efek ini diduga sebagai akibat dari paparan TBT yang tinggi. Salah satu jenis keong yang dilaporkan menderita efek ini adalah Leucozonia nassa.  Imposex- Intrakapsular. Pada kasus yang ekstrim dimana bioakumulasi senyawa organotin dalam tubuh sangat tinggi, terjadi pembelahan sel tubuh dan pertumbuhan jaringan (proliferasi) yang sangat cepat yang menyebabkan tersumbatnya (terblokirnya) sistem genital gastropoda betina. Kondisi ini

Eko Efendi

Page 35

menyebabkan terjadinya sterilisasi dan kematian pada gastropoda betina akibat akumulasi kapsul (cangkang) telur dalam organ kapsul atau capsule gland. Sedangkan beberapa mekanisme yang diperkirakan terjadi pada gastropoda yang mengalami imposex adalah :        Penolakan TBT oleh betina yang kemudian dilepaskan oleh ganglia cerebropleural sebagai faktor retrogesif bagi pertumbuhan penis (Feral dan Legal 1983). Inhibisi (penghambatan) aromatase (Bettin et al. 1996) Inhibisi Ekskresi Testoteron ( Ronis dan Mason, 1996) Promosi APGW Amida sebagai faktor morfogenetik penis (Oberdorster dan Mc Clellan-Green, 2000). Reduksi Ester Asam Lemak Testoteron (Gooding, 2003) Retinoid X Receptor (Nishikawa et al. 2004). Kerusakan DNA yang menimbulkan gangguan pada sistem endokrin sehingga memicu pertumbuhan hiperplasmik pada gastropoda (Hagger et al. 2006).

Eko Efendi

Page 36

DAFTAR PUSTAKA
Bigatti, Gregorio. dan Pablo E. Penchaszadeh. 2005. Imposex in Odontocymbiola magellanica. (Caenogastropoda; Volutidae) in Patagonia. Communicaciones de La Sociedad Malacologica del Uruguay. Vol. 9 (88: 371-375). Birnbaum, Linda S. dan Suzanne E. Fenton. 2003. Cancer dan Developmental Exposure to Endocrine Disruptors. Research Review. Journal of Environmental Health Perspectives. Volume 111 (4: 389-394) April 2003. Bortman, Marci., Peter Brimblecombe, Mary Ann Cunningham, William P. Cunningham, dan William Freedman, (Editor).2003. Environmental Encyclopedia 3rd Edition. Volume I (A-M). Thomson-Gale Publishers. Detroit. USA. 1641 pp + XXIX. Brady, Bruce, et al. 2006. Imposex Frequency. Marine dan Freshwater Resources Institute (MAFRI),Victoria. Website: http://www.ozcoasts.org.au/indicators/ imposex_ frequency.jsp (diakses Tanggal : 20 November 2008). Brusca, Richard. C. 2002. The Invertebrates 2nd Edition. Chapter 20 Mollusca. John Wiley dan Sons. New York. USA. 890 p + XXIV Cammack, R dan General Editors. 2006. Oxford Dictionary of Biochemistry dan Moleculer Biology. Oxford University Press. Inc. New York. 722 p + xv. Castro, Ítalo Braga, Carlos A. O. Meirelles, Helena Matthews-Cascon dan Marcos Antonio Ferndanez. 2004. Thais (Stramonita) rustica (Lamarck, 1822) (Mollusca: Gastropoda: Thaididae), A Potential Bioindicator of Contamination by Organotin Northeast Brazil. Brazilian Journal of Oceanography, 52 (2) : 135 – 139, 2004. Dobson, S. dan Cabridenc, R. 1990. Tributyltin Compounds. Environmental Healt Criteria 116. International Programme on Chemical Safety (IPCS). UNDP-ILO-WHO. 179 pages. Website: http://www.inchem.org/documents/ehc/ehc/ehc116.htm. (diakses Tanggal : 20 November 2008). Ghiselin. Michael T., 2005. Anatomy of Gastropods. Microsoft ® Encarta® 2006. © 19932005 Microsoft Corporation. All rights reserved. Gooding, Meredith P., Vickie S. Wilson, Leroy C. Folmar, Dragoslav T. Marcovich, dan Gerald A. LeBlanc. 2003. The Biocide Tributyltin Reduces the Accumulation of Testosterone as Fatty Acid Esters in the Mud Snail (Ilyanassa obsoleta). Research Article. Journal of Environmental Health Perspectives. Volume 111 (4: 426-430) April 2003. Hagger, Josephine A., Michael H. Depledge, Jörg Oehlmann, Susan Jobling, dan Tamara S. Galloway. 2006. Is There a Causal Association between Genotoxicity dan the Imposex Effect?. Monograph. Journal of Environmental Health Perspectives. Volume : 114 (Supplement 1 : 20-26) April 2006.

Eko Efendi

Page 37

Horiguchi, Toshihiro, Hyeon-Seo Cho, Hiroaki Shiraishi, Mitsuhiro Kojima, Miyuki Kaya, Masatoshi Morita, dan Makoto Shimizu. 2001. Contamination by Organotin (Tributyltin dan Triphenyltin) Compounds from Antifouling Paints dan Endocrine Disruption in Marine Gastropods. Riken Review (Focused on New Trends in Bio-Trace Elements Research) No. 35 May 2001. Horiguchi, Toshihiro., Mitsuhiro Kojima, Fumihiko Hamada, Akira Kajikawa, Hiroaki Shiraishi, Masatoshi Morita, dan Makoto Shimizu. 2006. Impact of Tributyltin dan Triphenyltin on Ivory Shell (Babylonia japonica) Populations. Monograph. Journal of Environmental Health Perspectives. Volume : 114 (Supplement 1 : 13-19) April 2006. Hyeon Seo Cho, Soon Woo Seo dan Toshihiro Horiguchi. 2005. Less Recovery from Imposex dan Organotin Pollution in the Rock Shell, Thais clavigera in Korea. Abstract. Symposium 13. Pollutant Response In Marine Organisms (PRIMO). Organized by Environmental dan Life Sciences Department, Eastern Piedmont University. Alessdanria Italy, June 19-22, 2005. Iguchi, et al. 2007. Hypotheses on Induction Mechanism of Imposex Caused by TBT in Gastropods. Powerpoint Presentation from the Internet. Knox, George A., 2001. The Ecology of Seashores. CRC Press. Boca Raton. 557 p + viii Langston, William J. (Editor). 2006. Tributyltin Pollution On a Global Scale. An Overview of Relevant dan Recent Research: Impacts dan Issues. WWF UK. Godalming, Surrey. United Kingdom. 48 pp. Matty, A. J. 1985. Fish Endocrinology. Timber Press. Portldan Oregon USA. 267 p + xi. Meirelles, Carlos A. O. Ítalo B. Castro dan Jully C.L. Pinheiro. 2007. A first record of biphallia in imposexed female of Leucozonia nassa (Caenogastropoda: Fasciolariidae). Published on-line: July 2nd, 2007. Journal of the Marine Biological Association (JMBA 2) of the United Kingdom. Railkin, Alexdaner I., Tatiana A. Ganf dan Oleg G. Manylov (Translator). 2005. Marine Biofouling. Colonization Processes dan Defences. CRC Press dan Taylor-Francis Boca Raton. 303 pp + VII. Santillo, David, Paul Johnston dan William J. Langston. 2000. Tributyltin (TBT) Antifoulants : A Tale of Ships, Snails dan Imposex. Late Lessons from Early Warnings: The Precautionary Principle 1896–2000. p: 135-148. Sjafei, Djadja. S., M. F. Rahardjo, Ridwan Affandi, Murniarti Brojo, Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan II. Reproduksi Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat. Strand, Jacob. 2003. Imposex Gastropods as Biomarkers for detect Tributyltin (TBT) Contamination. Website: http://www.dmu.dk/NR/rdonlyres/ (diakses Tanggal : 20 November 2008). Walmsley, S. 2006. TBT from Antifouling Paint is still Endangering Marine Life (WWFEvisa). Website: http://www.speciation.net/Public/News/2006/10/11/2445 .html (diakses Tanggal : 20 November 2008).

Eko Efendi

Page 38


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5320
posted:9/8/2009
language:Indonesian
pages:38