Embed
Email

sufi wanita

Document Sample
sufi wanita
Shared by: kasti zaenuri
Categories
Stats
views:
85
posted:
12/22/2011
language:
pages:
12
Sufi Wanita

Rabi’ah Al-Adawiah : Mencapai Al-Hubb Al-Ilahi



Rahimah



Jurusan Bahasa Arab

Fakultas Sastra

Universitas Sumatera Utara



1. Pendahuluan

Timbulnya taswuf dalam Islam bersamaan dengan kelahiran agama Islam

itu sendiri, yaitu semenjak Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul untuk

segenap ummat manusia dan seluruh alam semesta. Fakta sejarah menunjukkan

bahwa pribadi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali

melakukan tahnnuts dan Khalwat di gua Hira’ di samping untuk mengasingkan

diri dari kehidupan masyarakat Mekkah yang sibuk dengan hal-hal yang

memperturutkan hawa nafsu keduniaan, Muhammad juga berusaha mencari jalan

untuk membersihkan hati dan mensucikan jiwanya dari noda-noda yang

menghinggapi masyarakat di sekitarnya pada waktu itu.

Kecenderungan yang seperti inilah yang diikuti oleh orang-orang Sufi,

mereka berusaha untuk mendekatkan diri dan mensucikan diri serta meninggikan

“cintanya” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pengalaman religius orang Sufi sangat berbeda jauh dengan pengalaman

religius orang biasa (awam), pengalaman religius mereka dapat menghantarkan

kepada ma’rifah bahkan sampai dapat bertemu dengan Tuhan.

Orang Sufi melalui maqam-maqam sebagai stasion untuk mencapai

tingkatan pengalaman religius tertinggi itu tidak hanya dialami oleh kaum laki-

laki saja, tetapi dapat dicapai oleh kaum wanita, yang salah satu diantaranya

adalah Rabi’ah Al-Adawiah.

Rabi’ah Al-Adawiah tercatat dalam lembaran sejarah Sufi di abad ke-2

Hijriah. Kemasyhuran yang diperolehnya adalah karena mengemukakan versi

baru dalam hidup kerohanian, di mana tingkat zuhud yang diciptakan Hasan

Basri dalam bentuk Khauf dan Raja’ dinaikkan oleh Rabi’ah ke tingkat zuhud

yang bersifat Hubb (cinta). Cinta yang suci murni lebih tinggi pada takut dan

pengharapan, karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa.

Dalam tulisan singkat ini penulis mencoba mengungkapkan bagaimana

Hubb “Al-Hubb Al-Ilahi” yang dilaksanakan oleh Rabi’ah Al-Adawiah, tentunya

uraian akan dimulai dengan pendahuluan, riwayat singkat Rabi’ah Al-Adawiah.

Pengertian Hubb Al-Ilahi dilengkapi dengan beberapa syair dan dalil mengenal

hal itu tulisan akan diakhiri dengan kesimpulan.



2. Riwayat Singkat Rabi’ah Al-Adawiah

Nama lengkapnya adalah Umm Al-Khair Rabi’ah binti Ismail Al-

Adawiah. Dia lahir pada tahun 714 M 1) , sebagai anak keempat dari keluarga

Isma’il yang semuanya wanita.

Pada waktu kelahirannya itu ayah dan ibunya dalam cobaan Allah Ta’ala

hidup dalam kemiskinan namun mereka ini tetap bertawakkal kepada Allah,

Ayahandanya senantiasa membaca 5 Juz Al-Qur’an setelah selesai shalat Isya’,



1)

Ibn Khalikan, Wafayat al-A’yan, Kairo, tp, 1299 H, hal. 227.

Nasution Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, UI Press, 1974, hal. 76.



1

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

melakukan shalat Tahajjut dan berzikir sampai subuh, setelah Rabi’ah lahir

ayahnya ditawari pekerjaan mengajarkan membaca Al-Qur’an untuk anak-anak

orang kaya di Baghdad. 2)

Semasa kecilnya Rabi’ah tumbuh seperti anak-anak sebayanya secara

wajar, ia kelihatan cerdik dan lincah. Pancaran sinar ketaqwaan telah tampak

jelas pada pribadinya.

Abdul Mun’im Qandil, mengisahkan dalam bukunya, Figur Wanita Sufi,

menceritakan: Ayah ibu Rabi’ah terheran mendengar kata-kata yang

diucapkannya ketika ia ditanya oleh Ayahnya, “Wahai Rabi’ah, bagaimana

pendapatmu sekiranya ayah tidak menemukan makanan kecuali yang haram?”

dengan tangkas ia menjawab, “Kita harus banyak bersabar, karena menahan lapar

di dunia jauh lebih ringan dan lebih baik dari pada menanggung siksa neraka”. 3)

Jawaban Rabi’ah ini menyangkut halal dan haram, sabar dan siksa neraka,

menunjukkan bahwasannya dia telah memilih jalan yang terang; tanda-tanda

kejuhudan, ketaqwaan serta ke wira’an telah tampak pada dirinya. Perwujudan

cintanya kepada Allah dengan cara bezikir, menjauhkan diri dari hal-hal yang

Syubhat, memelihara sifat-sifat terpuji, berakhlaq karimah, berpenampilan

simpati, ia juga telah hafal Al-Qur’an ketika berumur 10 tahun, ia mempunyai

ingatan yang kuat. Semasa kecilnya selalu dibawa oleh ayahnya ke Mesjid,

dengan maksud agar akhlaqnya terpelihara dari pengaruh akhlaq masyarakat

Baghdad kala itu, yang gemerlap dengan kesenangan duniawi.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia ia dijual sbagai budak.

Tetapi pada akhirnya ia memperoleh kemerdekaan. Menurut orang yang

memilikinya, ia mempunyai cahaya di atas kepalanya sewaktu ia beribadah, yang

dapat menerangi seluruh ruangan rumah. Setelah dibebaskan ia pergi menyendiri

ke padang pasir dan memilih hidup zahid. 4)

Hati Rabi’ah sudah penuh dengan cahaya cinta kepada Tuhan, beribadah

dan berdialog dengan Allah mempunyai keasyikan dan kelezatan tersendiri

baginya.

Derita silih berganti yang dihadapinya sejak meninggalnya kedua orang

tuanya, dan ketika kota Basrah dilanda kemarau panjang, lalu diceritakan pula

Rabi’ah terpisah dari kakaknya karena diculik dan kemudian dijadikan budak,

semuanya menjadi motivasi bagi Rabi’ah untuk lebih mendekatkan diri pada

Allah. Siang dan malam ia selalu sibuk dengan zikir, Tashbih, Shalat, Tafakkur.

Ia shalat sepanjang malam, bila fajar tiba, ia tidur sebentar setelah dia bangun

dia selalu berkata : “Wahai jiwa, berapa lama engkau tertidur? Sampai mana

engkau tertidur? Engkau terlalu nyenyak tidur, sehingga hampir saja tertidur

tanpa bangkit kembali kecuali oleh terompet hari kebangkitan”, hal ini

dilakukannya setiap hari sampai akhir hayatnya. 5)

Rabi’ah hidup dalam keadaan miskin dan ketika teman-temannya ingin

membantunya, ia menolak bantuan mereka. Salah seorang dari mereka

memberikan rumah kepadanya. Ia mengatakan : “Aku takut kalau-kalau rumah

ini akan mengikat hatiku, sehingga aku terganggu dalam amal ku untuk akhirat”.





2)

Qandil Abd Mun’im., Figur Wanita Sufi, Pustaka Progresif, Surabaya, 1993, hal.

15-16.

3)

Op.Cit., hal. 15.

4)

Nasution Harun., Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jilid II, UI Press, 1974, hal.

76.

5)

Al-Yafi’i, Raudlah al-Riyahin, Kairo, 1324 H, hal. 101.



2

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Kepada seorang pengunjung ia memberikan nasihat : “Pandangan dunia ini

sebagai sesuatu yang hina dan tiada berharga”. 6)

Dia selalu menangis bukan karena memikirkan kekasihnya di dunia, tetapi

karena kerinduan pada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang kasih

sayang-Nya tiada tanding.

Menurut riwayat dari Imam Sya’rani, pada suatu waktu ada seseorang

yang menyebut-nyebut azab dan siksa neraka dihadapan Rabi’ah, maka Rabi’ah

pingsan, dalam menyebut Istighfar kepada Allah, setelah siuman dari pingsannya

itu beliau berkata : “Saya mesti meminta ampun, dari cara saya meminta ampun

(yang pertama) tadi”. Sajadah tempat beliau sujud senantiasa basah oleh air

matanya. 7)

Rabi’ah hidup sezaman dengan Sofyan Tsaury, seorang zuhud ternama,

salah seorang murid Hasan Basyri.

Suatu ketika Sofyan mengeluh, “wahai sedihnya hatiku”, sebagai suatu

ungkapan sedih oleh seorang sufi yang diajarkan oleh gurunya, mendengar ini

Rabi’ah berkata, “Kesedihan kita masih sedikit sekali, karena kalau kita benar-

benar sedih kita tidak ada lagi di dunia ini”. 8)

Ajaran yang ditinggalkan oleh Rabi’ah, juga syair-syair cintanya, yang

memuji keagungan Tuhan digemakan kembali dalam kehidupan sufi lainnya

seperti : Ibnul Farid, Al-Hallaj, Jalaluddin Ar-Rumi dan lainnya. Bahagian dari

Syair Rabi’ah itu adalah :









Artinya : ‘Aku mencintai-Mu dengan dua cinta,

Cinta karena rinduku dan cinta karena diri-Mu

Cinta karena diriku, adalah keadaanku yang senantiasa mengingat-

Mu

Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan Tabir hingga

Engkau kulihat. Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujian bukanlah

untukku, bagi-Mu lah pujian untuk semuanya.9)









6)

Nasution Harun., Ibid, hal. 77.

7)

HAKMA, Taswuf Perkembangan dan Pemurniannya, Penerbit Pustaka Panjimas,

Jakarta, 1993, hal. 73.

8)

Ibn al-‘Imad, Syazarat al-Zahab, Juz I, Kairo, 1931, hal. 319.

HAMKA, Ibid, hal. 74.

9)

Al-Kalabazi, Muhammad Abu Bakkar, At-Ta’rif limazhabi ahlu at-tashawwufi,

Maktabah Kulliyah Al-Azhar, Kairo, 1969, hal. 131-132.



3

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Rabi’ah sufi yang terkenal dengan Mahabbahnya itu menerangkan pula :

Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena ingin masuk sorga, tetapi karena

cintaku kepada-Nya.

Taubat menurut Rabi’ah; taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah

berdasarkan kehendak Allah, bukan kehendak manusia itu sendiri. Jika Allah

berkehendak, maka Dia akan membukakan pintu taubat bagi seseorang yang

berbuat maksiat. Suatu ketika seseorang bertanya kepada Rabi’ah : “aku ini banyak

berbuat maksiat dan dosa; adakah Allah akan membuka pintu taubat jika aku

bertaubat? Rabi’ah menjawab, “Tidak, sebaliknya, kalau Allah berkenan membuka

pintu taubat untukmu, maka kamu akan bertaubat”. 10) Allah mengetuk hati

makhluk-Nya untuk sadar akan perbuatan dosa dan kembali ke jalan-Nya.

Mengenai Ridha, diriwayatkan oleh al-Kalabazi, suatu ketika Sofyan

Saury berkata di depan Rabi’ah : “Ya, Tuhanku, ridhailah diriku ini!”, maka

Rabi’ah berkata : “Tidakkah engkau malu meminta keridhaan dari Tuhan, yang

engkau sendiri tidak ridha kepadaNya”. Ucapan ini mengandung arti bahwa :

Ridha itu berlangsung secara timbal balik, antara seorang hamba dengan

Tuhannya. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala :









Artinya : ‘Allah Ridha kepada mereka dan merekapun Ridha kepadaNya’ (QS 5 :

119).



3. Pengertian Al-Hubb Al-Ilahi

Di dalam Al-Qur’an kata hubb dan istiqaqnya terdapat lebih dari 90 ayat.

Secara etimologi, hub berarti widad yang diartikan : cinta/mencintai atau

suka/menyukai. 11) Sedangkan Al-Hubb dalam terminologi ilmu Tasawwuf adalah Al-

Hubb Al-Ilahi (cinta kepada Tuhan), dan ungkapan populernya adalah Mahabbah.

Dalam buku al-ta’rifu li mazhabi ahli al-Tasawwufi, terdapat beberapa

pendapat tentang al-mahabbah :

- Al-Junaidi al-Baghdady menyatakan :









‘Cinta adalah cenderung/berpaling hati.

Maksudnya hati seseorang tersebut cenderung atau ditujukan kepada

Allah dan pada apa saja yang ada di sisi-Nya tanpa dibuat-buat’. 12)



- Muhammad Ibn Ali Al-Kattany berpendapat :







‘Cinta adalah mengutamakan yang dicintai’.



10)

Al-Qusyairy, Al-Risalah al-Qusyairiyyah, Kairo 1330 H, hal. 48.

11)

Fuad Abd Al-Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahras li Ayati al-Qurani, Libanon, Daral Fikri,

1981, hal. 191.

12)

Al-Kalabazi, Loccit, hal. 130-131.



4

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

- Menurut Abu ‘Ubaidah al-Nabaji :







‘Cinta adalah kelezatan pada makhluk dan menghanyutkan diri pada

Khaliq’.



- Sahal berpendapat bahwa :









‘Barangsiapa mencintai Allah, maka ia akan memperoleh kehidupan

yang nikmat, barangsiapa mencintai Allah maka dia tidak akan terlepas

dari, memperoleh kehidupan (dari-Nya)’.



Al-Kalabazi mengulas dari ungkapan ini bahwa : orang yang mencintai

Allah, ia akan tetap merasakan nikmatnya kehidupan. Sebab semua yang

datang dari yang dicintainya terasa indah dan nikmat, sekalipun yang datang itu

merupakan sesuatu yang semestinya dibenci/tidak disenangi.

Menurut beberapa pendapat yang lainnya :

Mahabbah adalah penyesuaian, keta’atan akan perintah, meninggalkan apa yang

dilarang, ridha terhadap apa yang telah ditetapkan. Mahabbah juga diartikan

pada mengutamakan apa-apa yang engkau cintai untuk zat yang engkau cintai.

Sementara Rabi’ah sendiri mendefenisikan Mahabba/Hubb adalah :









‘Cinta adalah ungkapan rasa rindu, penuturan dari perasaan.

Barangsiapa merasakannya, ia akan mengenal, barangsiapa yang menuturkan,

ia sendiri tak terditeksi (lenyap), karena telah menyatu dengan yang dicintai”.



Al-Sarraj menerangkan tentang Mahabbah pada 3 (tiga) tingkatan yakni :

1. Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan zikir, suka menyebut

nama-nama Allah, memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.

Senantiasa memuji Tuhan.

2. Cinta orang yang siddik ( ) yaitu yang kenal kepada Tuhan,

pada kebesaran-Nya, dan lain-lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir

pemisah diri seseorang dari Tuhannya dengan demikian ia dapat melihat

rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan

dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini sanggup

menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh

dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.









5

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

3. Cinta orang yang ‘Arif ( ), yaitu orang yang tahu betul pada Tuhan.

Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tapi diri yang dicintai. Akhirnya

sifat-sifat yang dicintai masuk pada diri yang mencintai. 13)



Faham Mahabbah ini mengambil dalil dari Al-Qur’an Surat al-Ma’dah ayat 54.









‘Allah akan mendatangkan suatu ummat yang dicintai-Nya dan yang

mencitai-Nya’ (QS. 5 : 54).

Kemudian Surat Ali Imran ayat 31 :









‘Jika kamu cinta pada Tuhan, maka turutlah Aku dan Allah akan

mencintaimu’ (QS. 3 : 31).

Dari Hadist Nabi diambil juga dalil sebagai adalah sebagai berikut :









‘Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-

perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang Ku cintai menjadi

telinga, mata dan tangan-Ku (al-Hadist)’.



Pada beberapa bahan bacaan diriwayatkan bahwa, Sufi wanita, Rabi’ah

al-Adawiah (713 – 801 H) dari Basrah, Irak; dalam hidupnya selalu beribadah,

taubat, menjauhi kehidupan duniawi, meskipun dalam kemiskinan dia tak pernah

meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan. Ia benar-benar zuhud. Bagi

dirinya Al-Hubb itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah yang

tertuju pada-Nya, hal ini terungkap lewat prosa lirisnya.









13)

Nasution Harun., Falsafah dan Mistisime Dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973,

hal. 70.



6

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Artinya : ‘Wahai Tuhanku’ tenggelamkanlah daku dalam mencintai-Mu,

sehingga tidaklah aku tidak lagi membimbangkan-Mu ya Tuhan.

Bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran, pintu-pintu

istana telah terkunci dan tiap pencinta telah menyendiri dengan yang

dicintainya, inilah aku berada di hadirat-Mu’.



Sewaktu fajar menyingsingkan sinarnya Rabi’ah pun berujar, menuturkan

kata :









Artinya : ‘Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri,

aku gelisah, apakah amalanku Engkau terima hingga aku merasa

bahagia, ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Demi ke-

Maha kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri

daku hidup. Sekiranya jika Engkau usir daku dari depan pintu-Mu aku

tak akan pergi karena cinta pada-Mu telah memenuhi hatiku’.



Ungkapan syair Rabi’ah yang dijiwai ketinggian imannya, diulas oleh

HAMKA dalam buku Tasawwuf Pemurnian dan Perkembangannya.









Artinya : ‘Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku.

Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk

Jisimku biar bercengkerama dengan Taulanku

Isi hatiku, hanya tetap Engkau sendiri’. 14)



Dalam sya’irnya yang lain tertuang pula harapan :









Artinya : ‘Buah hatiku, hanyalah Engkau yang kukasihi

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadirat-Mu

Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku.

Hatiku telah enggan mencintai selain dari diri-Mu’. 15)



14)

HAMKA, Tasawwuf Pemurnian dan Pengembangannya, Jakarta, Pustaka Panjimas,

1993, hal. 75.



7

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Dari sya’ir-sya’irnya yang amat masyhur itu, menunjukkan tujuan

zuhudnya Rabi’ah al-Adawiah, yakni : semuanya hanya untuk Tuhan, bukan

karena mengharap. Baginya soal surga atau neraka, adalah bukan persoalan yang

diharap dan ditakuti, cintanya kepada Allah merupakan suatu nikmat tiada tara,

bagi Rabi’ah cinta dibaginya kepada dua tingkatan : Pertama cinta karena

kerinduan. Dirindu semata-mata karena Allah memang puncak segala kerinduan

serta keindahan, sehingga tiada yang lain dalam ingatannya, melainkan Allah.

Kedua, kecintaan dan keinginan dibukakannya hijab, selubung yang

membatasi diantara dirinya dengan Dia (Ilahi), tujuan utamanya adalah untuk

dapat melihat Tuhan (Musyahadah).

Rabi’ah berseru kepada Tuhan Rabbul ‘Ijzati :

Ya Ilahi! Jika sekiranya aku beribadat kepada Engkau karena harap akan

masuk syurga, biar jauhkanlah dia dari ku tapi jika aku beribadat semata-mata

karena cinta kepada-Mu, maka janganlah ya Ilahi Engkau haramkan aku, melihat

keindahan yang azali. 16)

Syekh Mustafa Abdur Razik, telah menulis komentar pada buku salinan

ensiklopedi Islam : Sebelum Rabi’ah Tasawwuf itu masih bersifat sederhana,

perkataan ahli Tasawwuf belum menyinggung rasa sufi dan belum merentang

pada jalannya yang tertentu. Rabi’ah yang mula pertama menyanyikan nyanyian

cinta dalam tasawwuf dengan bentuk syair dan puisi. Pantaslah bagi dayang

keluarga Uthai ini sebagai seorang wanita utama di zamannya, yang mempunyai

jiwa suci murni, yang tidak terpedaya duniawi. Jika ia memutuskan hubungannya

dengan segalanya dan menjuruskan perhatian semata-mata kepada yang dicintai.

Hubbul Ilahi, cinta Ilahi, yang didengungkannya dalam segenap nyanyiannya. 17)

Cinta Ilahi yang tertanam dalam hatinya membuat dia menolak semua

tawaran orang untuk menikahinya. Ia takut akan mengurangi cintanya kepada

Tuhan.

Menurut Nicholson, kedudukan Rabi’ah itu sangat penting, sebagai

menandai faham asketisme Islam, dengan corak mahabbah. 18)

Kalau Hasan Basyri mencapai maqamat yang dijiwai oleh rasa takut/al-

Khauf. Rabi’ah melengkapinya dengan Mahabbah, guna untuk menjadikan

ibadahnya semata-mata hanya karena Allah.

Falsafah Al-hubb dari Rabi’ah terungkap dalam kata-katanya sebagai

berikut :

“Tak ada jarak antara yang mencintai dan yang dicintai. Cinta adalah

pengungkapan dari rasa rindu, penuturan perasaan : barangsiapa merasakan

ia akan mengenal. Barangsiapa menuturkan, ia sendiri tidak dapat

dituturkan. Bagaimana engkau akan menuturkan sesuatu, sedangkan

engkau sendiri lenyap di khadirat-Nya, lebur dengan wujud-Nya, sirna

karena menyaksikan-Nya dalam kondisi sehat engkau mabuk dibuat-Nya.

Dengan memusatkan perhatian kepada-Nya engkau menjadi mantap.

Dengan bersenang-senang dengan-Nya engkau menjadi sedih. Rasa takut

membenteng lisan untuk bicara. Rasa bingung menahan hati untuk

mengungkapkan sesuatu. Rasa cemburu mendinding mata untuk melihat.

Rasa kebesaran mengikat akal untuk mengaku. Tiada dalam cinta, selain



15)

Nasution Harun, Loccit, hal. 73-74.

16)

HAMKA., Loc.Cit, hal. 75-76.

17)

Ibid, HAMKA, hal. 76-77.

18)

Nicholson, R.A. Al-Sufiah fi al-Islami, terjemahan Nur al-din Syaribah, Kairo, 1951,

hal. 5.



8

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

kebesaran yang langgeng, kebingungan yang melekat, hati yang rindu,

rahasia yang tertutup, badan yang terasa sakit dan tidak aman, cinta

dengan segala keunggulannya telah menguasai hati”. 19)



4. Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan sebagai berikut :

- Rabi’ah Al-Adawiah adalah tokoh sufi yang pertama sekali menuangkan

untaian sya’ir sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Khaliqnya. Dia

terkenal dengan pengungkap faham asketisme yang membahas sedalam-

dalamnya zuq (perasaan) Hubbu al-Ilahi atau lazimnya disebut Mahabbah.

- Jika diperhatikan dari tingkatan Mahabbah oleh al-Sarraj, maka Rabi’ah

termasuk pada tingkatan kedua yakni cinta seorang yang shadiq.

- Rabi’ah seorang sufi yang menonjol dalam maqam al-Mahabbah. Dia melihat

Tuhan kemudian dia mencintainya, setelah melalui maqam-maqam

sebelumnya; yang dijalani oleh paa sufi.









19)

Al-Faqi, Muhammad, Al-Tasawwuf Hayat wa Suluk, Kairo, 1979, hal. 34.



9

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

DAFTAR BACAAN







Abd al-Baqi, Fuad, Al-Mu’jam al-Mufahras li al-Ayat Al-Qur’an, Dar al-

Fikri, Bairut, 1981.



Al-Kalabazi, Abu Bakkar Muhammad, Al-Ta’arifu limazhabi Ahli Al-

Tashawwufi, Maktabah Kulliah Kairo, 1969.



Al-Yafi’i, Raudlah al-Riyahin, Kairo, 1324 H.



Al-Qusyairi, Al-Risalah Al-Qusyairiyyah, Kairo, 1330 H.



Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan, 1983.



Ibn al-Imad, Syazarat al-A’yan, Juz I, Kairo, 1931.



HAMKA, Tashawwuf Perkembangan dan Pemurniannya, Penerbit Pustaka

Panjimas, 1993.



Nasution Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, UI Press,

1986.



Nasution Harun, Falsafah dan Mistisisme Dalam, Jakarta, 1973.



Nicholson, R.A., Al Shufiyyah fi al-Islam, Terjemahan Nur al-din Syaribah,

Kairo, 1951.



Said Usman, dkk., Pengantar Ilmu Tasauf, Medan IAIN, 1983.



Qandil Mun’im Abdul., Figur Wanita Sufi, Surabaya, Pustaka Progressif, 1995.









10

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR



Alhamdulillah wa syukrillah atas segala apa yang dikaruniakan Allah

selama ini dan yang akan daang kepada makhluk-Nya di muka bumi ini.

Kesadaran akan posisi wanita di tengah-tengah kehidupan skarang yang

sedemikian majunya, namun di satu sisi posisi wanita juga demikian terperosok

ke jurang kenistaan, yakni bagi wanita-wanita yang larut dalam gemerlapnya

dunia hiburan sehingga bergelimang dosa dan membuat aib pada kaumnya, maka

penulis mencoba membangkitkan semangat kaum wanita kembali dengan cara

bagaimana mereka dapat mendekatkan diri kepada Rabbul Jalil sampai ke tahap

mendapat Mahabbah (kasih sayang) dari-Nya.

Tulisan ini mudah-mudahan bisa sedikit memberi nuansa imani bagi para

wanita dan menambah taqwa kepada Allah.

Amin ya Rabbal Alamin.



Medan, 11 April 2004

Penulis,





Dra. Hj. Rahimah, M.Ag

NIP. 131 785 643



SUFI WANITA

RABI’AH AL-ADAWIAH : MENCAPAI AL-HUBB AL-ILAHI





KARYA ILMIAH



D

I

T

U

L

I

S



OLEH



Dra. Hj. Rahimah, M.Ag

NIP. 131 785 643









11

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

JURUSAN BAHASA ARAB

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

1 9 9 4

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................... ii

SUFI WANITA RABI’AH AL-ADAWIAH : MENCAPAI AL-HUBB ALL-

ILAHI 1

1. Pendahuluan ................................................................................... 1

2. Riwayat Singkat Rabi’ah Al-Adawiah ............................................. 2

3. Pengertian Al-Hubb Al-Ilahi ........................................................... 8

4. Kesimpulan ..................................................................................... 17

DAFTAR BACAAN .............................................................................. 18









12

e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara


Related docs
Other docs by kasti zaenuri
sufi wanita
Views: 85  |  Downloads: 7
biofarmasetika infus intra vena
Views: 113  |  Downloads: 13