Docstoc

Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Belajar Bruner

Document Sample
Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Belajar Bruner Powered By Docstoc
					                                         BAB I

                                   PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG

        Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan yang berlangsung dari

  dalam diri siswa, oleh karena itu pendidikan sangat menekankan pada proses

  belajar mengajarnya. Disamping itu guru sebagai fasilitator sangat berperan

  penting dalam proses pengembangan yang berlangsung dari diri pesertadidik.

        Seperti yang kita ketahui banyak asumsi dari siswa yang menyatakan bahwa

  belajar sangatlah sulit dan rumit. Oleh karena itu siswa cenderung berdiam diri

  dan tidak berusaha mengembangkan potensinya lebih dalam. Sedangkan ilmu

  pengetahuan yang saat ini semakin berkembang, siswa dituntut untuk memiliki

  kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif.

        Oleh karena itu Bruner memberikan dorongan agar pendidikan memberikan

  pengertian tentang pentingnya pengembangan berpikir. Dasar pemikiran Bruner

  memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi.

  Pada teori belajar menurut Bruner menekankan pada penemuan pengalaman

  belajar yang dibimbing oleh guru. Bruner menyatakan bahwa belajar merupakan

  suatu proses aktif yag memungkinkan manusia menemukan hal-hal baru diluar

  informasi yang diberikan.



B. TUJUAN
Terdapat beberapa tujuan yang diharapkan dalam dalam penulisan makalah ini

yang membahas mengenai teori belajar menurut Bruner. Tujuan secara umum

yaitu untuk memahami dan menganalisis mengenai penerapan teori belajar

menurut Bruner dengan perkembangan pembelajaran sekarang ini. Sedangkan

tujuan secara khusus mengarah kepada perluasan wawasan bagi penulis dan

pembaca dalam memahami dan mengetahui teori belajar, khususnya teori belajar

menurut Bruner.
C. RUMUSAN MASALAH

  Pada makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah mengenai topik teori

  belajar menurut Bruner, tersusun dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  a. Bagaimana Konsep Dan Teori Belajar Menurut Para Pakar?

  b. Bagaimana Proses Belajar-Mengajar Menurut Bruner?

  c. Analisis SWOT teori belajar menurut Bruner?
                                         BAB II

                                   KAJIAN TEORI



A. KONSEP BELAJAR

         Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan

  tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit

  (tersembunyi). Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar

  tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah :

   1. Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran

      atau pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan,

      analisis, sintesis dan evaluasi.

   2. Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-

      reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan,

      partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.

   3. Psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani

      terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan

      kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.

         Belajar menurut pandangan B.F.Skiner (1958) adalah suatu proses

  adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

  Menurut Skiner dalam belajar ditemukan hal-hal berikut:

   1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar,

   2. Respon si belajar,
 3. Konsekwensi       yang      bersifat   menggunakan     respon     tersebut,baik

    konsekwensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman.

       Skinner menbagi dua jenis respon dalam proses belajar yakni :

 1. respondents response yaitu respon yang terjadi karena stimuli khusus,

    perangsang-perangsang yang demikian ini mendahului respons yang

    ditimbulkannya.

 2. operants conditioning dalam clasical condotioning menggambarkan suatu

    situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement

    langsung yaitu respon yang terjadi karena situasi random.

       Menurut Skinner mengajar itu pada hakekatnya adalah rangkaian dari

penguatan yang terdiri dari suatu peristiwa dimana prilaku terjadi, perilaku itu

sendiri, dan akibat perilaku.

       Menurut Gagne (1970), Belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan

hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebab oleh stimulasi yang

berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Belajar

terdiri dari tiga komponen penting yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dari

lingkungan dari acara belajar, kondisi internal yang menggambarkan keadaan

internal dan proses kognitif siswa, dan hasil belajar yang menggambarkan

informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat

kognitif.

       Robert M. Gagne mengemukakan delapan tipe belajar yang membentuk

suatu hirarki dari paling sederhana sampai paling kompleks yakni :
belajar tanda-tanda atau isyarat (Signal Learning) yang menimbulkan perasaan

tertentu, mengambil sikap tertentu,yang dapat menimbulkan perasaan sedih atau

senang.

1. belajar hubungan stimulus-respons (Stimulus Response-Learning)dimana

    respon bersifat spesifik, tidak umum dan kabur.

2. belajar     menguasai   rantai   atau   rangkaian   hal   (Chaining    Learning)

    mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan

    motorik.

3. belajar hubungan verbal atau asosiasi verbal (Verbal Association) bersifat

    asosiatif tingkat tinggi tetapi fungsi nalarlah yang menentukan.

4. belajar mebedakan atau diskriminasi (Discrimination Learning) yang

    menghasilkan kemampuan membeda-bedakan berbagai gejala.

5. belajar konsep-konsep (Concept Learning) yaitu corak belajar yang

    menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pula

    pada berbagai objek.

6. belajar     aturan   atau   hukum-hukum     (Rule     Learning)     dengan   cara

    mengumpulkan sejumlah sifat kejadian yang kemudian dalam macam-macam

    aturan.

7. belajar memecahkan masalah (Problem Solving) menggunakan aturan-aturan

    yang ada disertai proses analysis dan penyimpulan.

       Inti dari pembelajaran tersebut adalah interaksi dan proses untuk

mengungkapkan ilmu pengetahuan oleh pendidik dan peserta didik yang

menghasilkan suatu hasil belajar.
         Ada tiga aspek perkembangan intelektual yang diteliti oleh Jean Piaget

yaitu:

 1. Struktur, yaitu ada hubungan fungsional antara tindakan pisik, tindakan

    mental, dan perkembangan berpikir logis anak.

 2. Isi, yaitu pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang

    diberikannya terhadap berbagai masalah atau masalah yang dihadapinya.

 3. Fungsi, yaitu cara yanag digunakan organisme untuk membuat kemajuan

    intelektual.

         Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa belajar dalam hal ini dapat

mengandung makna sebagai perubahan struktural yang saling melengkapi antara

asimilasi dan akomodasi dalam proses menyusun kembali dan mengubah apa

yang telah diketahui melalui belajar.

         Menurut pendapat Carl R. Rogers (Ahli Psikoterapi) praktek pendidikan

menitikberatkan pada segi pengajaran, bukuan pada siswa yang belajar. Praktek

tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan

pelajaran.

         Langkah-langkah dan sasaran pembelajaran yang perlu dilakukan oleh

guru menurut Rogers adalah meliputi : guru memberi kepercayaan kepada kelas

agar kelas memilih belajar secara terstruktur, guru dan siswa membuat kontrak

belajar, guru menggunakan metode inquiri atau belajar menemukan (discovery

learning), guru menggunakan metode simulasi, guru mengadakan latihan

kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan

kelompok lain, guru bertindak sebagai fasilitator belajar dan sebaiknya guru
menggunakan pengajaran berprogram agar tercipta peluang bagi siswa untuk

timbulnya kreatifitas dalam belajar (Dimyati dan Mudjiono, 1999:17).

       Jadi dapat ditegaskan belajar menurut Carl R. Rogers adalah untuk

membimbing anak kearah kebebasan dan kemerdekaan, mengetahui apa yang baik

dan yang buruk, dapat melakukan pilihan tentang apa yang dilakukannya dengan

penuh tanggung jawab sebagai hasil belajar. Kebebasan itu hanya dapat di pelajari

dengan memberi anak didik kebebasan sejak mulanya sejauh ia dapat memikulnya

sendiri, hal ini dilakukan dalam konteks belajar.

       Keseluruhan tujuan pendidikan dibagi atas hirarki atau taksonomi menurut

Benjamin Bloom (1956) menjadi tiga kawasan (dominan) yaitu : domain kognitif

mencakup kemampuan intelektual mengenal lingkungan yang terdiri atas 6

macam kemampuan yang disusun secara hirarki dari yang paling sederhana

sampai yang paling kompleks yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan,

analysis, sintesis dan penilaian; domain afektif mencakup kemampuan-kemapuan

emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal yang meliputi lima

macam kemampuan emosional disusun secara hirarki yaitu kesadaran, partisipasi,

penghayatan nilai, pengorganisasian nilai, dan karakterisasi diri; domain

psikomotor      yaitu   kemampuan-kemampuan         motorik   menggiatkan    dan

mengkoordinasikan gerakan terdiri dari : gerakan repleks, gerakan dasar,

kemampuan perseptual, kemampuan jasmani, gerakan terlatih, dan komunikasi

nondiskursif.

       Jadi dapat ditegaskan bahwa belajar adalah perubahan kualitas

kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk meningkatkan taraf
   hidupnya sebagai pribadi, masyarakat, maupun sebagai mahluk Tuhan Yang Maha

   Esa.

          Menurut Bruner (1960) dalam proses belajar dapat dibedakan dalam tiga

   fase yaitu : informasi, transpormasi dan evaluasi.Bruner mengemukan empat tema

   pendidikan, tema pertama mengemukan pentingnya arti struktur pengetahuan,

   tema kedua ialah tentang kesiapan (readines) untuk belajar, tema ketiga

   menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan, tema keempat ialah tentang

   motivasi atau keinginan untuk belajar, dan cara-cara yang tersedia pada para guru

   untuk merangsang motivasi itu.

          Bruner menyimpulkan bahwa pendidikan bukan sekedar persoalan teknik

   pengelolaan informasi, bahkan bukan penerapan teori belajar dokelas atau

   menggunakan hasil ujian prestasi yang berpusat pada mata pelajaran.



B. TEORI-TEORI BELAJAR

1. Teori Behaviorisme

          Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai

   hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya

   interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah

   belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori

   ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang

   berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,

   sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang

   diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
   penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

   Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang

   diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus

   dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran

   merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan

   tingkah laku tersebut.

          Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor

   penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement)

   maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan

   (negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat.



2. Teori Konstruktivisme

          Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori

   pembelajaran    konstruktivis   (constructivist   theories   of   learning).   Teori

   konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan

   mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan

   aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.

   Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,

   mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk

   dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari

   kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi

   kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Slavin dalam Nur, 2002: 8).
         Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam

  psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan

  pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di

  dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan

  memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka

  sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi

  mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang

  membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri

  yang harus memanjat anak tangga tersebut ( Nur, 2002 :8).



3. Teori Humanisme

  Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.

  proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan

  dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia

  mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini

  berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari

  sudut pandang pengamatnya.


         Tujuan   utama    para   pendidik    adalah   membantu     siswa   untuk

  mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk

  mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam

  mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.


  Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah:

  Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
4. Teori Kognitivisme

           Dalam      bab   sebelumnya    telah    dikemukan     tentang   aspek    aspek

   perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor; (2) pre

   operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Menurut Piaget,

   bahwa    belajar    akan   lebih   berhasil    apabila   disesuaikan    dengan   tahap

   perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan

   untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi

   dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru

   hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau

   berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai

   hal dari lingkungan.

           Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:

   a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu

       guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir

       anak.

   b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan

       dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan

       lingkungan sebaik-baiknya.

   c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak

       asing.

   d. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
   e. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara

       dan diskusi dengan teman-temanya.



C. TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER

1. Biografi Jerome Bruner

          Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli

   psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori

   pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner bersetuju

   dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui

   peringkat-peringkat tertentu. Walau bagaimanapun, Bruner lebih menegaskan

   pembelajaran secara penemuan iaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu

   kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).

          Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di

   Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari

   tahun 1961 sehingga 1972, dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek

   Madison di Amerika Syarikat. Setelah itu, beliau menjadi seorang profesor

   Psikologi di Universiti Oxford di England.

          Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli

   psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik.

   Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi,

   belajar dan berfikir. Dalam mempelajarai manusia, ia menganggap manusia

   sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menganggap, bahwa

   belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru,
   transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

   Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental

   itu, didasarkan pada dua prinsip, yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan

   pada model-model mengenai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu

   diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu.

          Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan

   oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Pertumbuhan

   itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa

   menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan. Pertumbuhan

   itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada

   dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan

   dilakukannya.

          Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar

   penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama,

   dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan

   penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-

   keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.

          Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup:

1. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar, ditinjau

   dari segi aktivasi, pemeliharaan dan pengarahan.

2. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal, ditinjau dari segi cara

   penyajian, ekonomi dan kuasa.
3. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal, dengan

   memperhatikan faktor-faktor belajar sebelumnya, tingkat perkembangan anak,

   sifat materi pelajaran dan perbedaan individu.

4. Bentuk dan pemberian reinforsemen.

          Beliau berpendapat bahawa seseorang murid belajar dengan cara menemui

   struktur konsep-konsep yang dipelajari. Kanak-kanak membentuk konsep dengan

   mengasingkan benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan perbezaan. Selain

   itu, pengajaran didasarkan kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan

   pengetahuan sedia ada. Misalnya,kanak-kanak membentuk konsep segiempat

   dengan mengenal segiempat mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk

   bersisi empat kedalam kategori segiempat,dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi

   tiga kedalam kategori segitiga.

          Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar

   akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan

   atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap.

   Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh

   pengetahuan atau pengalaman baru, (2) tahap transformasi, yaitu tahap

   memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan

   dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan (3)

   evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi

   benar atau tidak.



2. Proses Belajar Mengajar Menurut Jerome S. Bruner
       Bruner menjadi sangat terkenal karena dia lebih peduli terhadap proses

belajar daripada hasil belajar, metode yang digunakannya adalah metode

Penemuan (discovery learning). Discovery learning dari Bruner merupakan model

pengajaran yang dikembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang

pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivitas. Dalam Teori Bruner dengan

metode Penemuan (discovery learning), kekurangannya tidak bisa digunakan pada

semua materi dalam matematika hanya beberapa materi saja yang dapat

digunakan dengan metode penemuan. Teori belajar matematika menurut J.S.

Bruner tidak jauh berbeda dengan teori J. Piaget. Menurut teori J.S. Bruner

langkah yang paling baik belajar matematika adalah dengan melakukan

penyusunan presentasinya, karena langkah permulaan belajar konsep, pengertian

akan lebih melekat bila kegiatan-kegiatan yang menunjukkan representasi (model)

konsep dilakukan oleh siswa sendiri dan antara pelajaran yang lalu dengan yang

dipelajari harus ada kaitannya. Menurut Bruner, agar proses mempelajari sesuatu

pengetahuan    atau kemampuan berlangsung secara optimal, dalam               arti

pengetahuan taua kemampuan dapat diinternalisasi dalam struktur kognitif orang

yang bersangkutan.Kemampuan tersebut dibagi dalam 3 tahap yaitu, tahap

enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik.

       Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa

setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur

secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya.

Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:

a. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
    b. Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah

       keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.

    c. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

    d. Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau

       ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.

    e. Tahap evaluasi

    f. Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana

       informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk

       memahami gejala atau masalah yang dihadapi.




3. Proses Belajar Siswa

          Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa

   setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur

   secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya.

   Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang

   perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain:

    a. Perkembangan intelektual anak

             Menurut penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat

       dibagi menjadi tiga taraf. Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa

       pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia

       belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan dan motif

       pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat memahami
   dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah tidak

   berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk

   menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.

b. Fase operasi kongkrit,

          Pada taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam

   menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan

   dan perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya.

   Namun pada taraf operai kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah

   yang langsung dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan

   masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum

   pernah dialami sebelumnya.

c. Fase operasi formal

          Pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan

   kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung

   dihadapinya sebelumnya.

d. Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar

   Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap yaitu:

   1) Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

              Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh

       sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.

   2) Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
                   Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis,

            diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau

            konseptual.

        3) Tahap evaluasi

                   Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai

            sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat

            dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.



4. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner

a. Empat Tema tentang Pendidikan

           Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal

   ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk

   melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat

   dihubungkan satu dengan yang lain.

           Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner

   kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana

   yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang

   lebih tinggi.

           Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan.

   Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi

   tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah

   formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak.
          Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan

   cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.



b. Model dan Kategori

          Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Asumsi

   pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif.

   Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang

   belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya

   terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri.

          Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan

   menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang

   diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world). Model Bruner ini

   mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi

   dirinya. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan

   membentuk     suatu    struktur   atau   model    yang   mengizinkan    kita   untuk

   mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal

   yang diketahui



c. Belajar sebagai Proses Kognitif

          Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang

   berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh

   informasi baru, (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan

   ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).
       Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya

yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa

sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.

Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar

cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan

pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain.

       Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan

untuk menyatakan kemampuanny secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan

itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner

(1966). Ketiga cara itu ialah: cara enaktif, cara ikonik dan cara simbolik.

       Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif.

Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa

menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-

kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Misalnya seseorang anak

yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda.

       Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan

disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi

tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Misalnya sebuah segitiga

menyatakan konsep kesegitigaan.

       Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian

simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi

atau pernyataan daripada objek-objek, memberikan struktur hirarkis pada konsep-
   konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu

   cara kombinatorial.

          Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini, tentang pelajaran

   penggunaan timbangan. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-

   prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-

   jungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih

   menjauhi pusat. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya

   sendiri dengan suatu model atau gambaran. ”Bayangan” timbangan itu dapat

   diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Akhirnya suatu timbangan

   dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau

   dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton

   tentang momen.



d. Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain

          Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu

   tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Disamping

   itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka

   desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. Secara

   singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap

   demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang

   sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di

   dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga

   siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
           Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui

struktur konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan

melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu,

pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang

baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran

penemuan.

    5. BELAJAR PENEMUAN

           Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari

Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery

learning). Bruner menganggap bahwa belajar peneuan sesuai dengan pencarian

pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil

yang paling baik. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui

berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka

dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-

eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu

sendiri.

           Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan

beberapa kebaikan. Diantaranya adalah:

1) Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat.

2) Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.

3) Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan

    kemampuan untuk berfikir secara bebas.
         Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. Bahwa pembelajaran baru

berasal dari proses pembelajaran sebelumnya. b. Belajar melibatkan adanya proses

informasi (active learning). c. Pemaknaan berdasarkan hubungan. d. Proses

kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi.

         Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes

terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif

ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan

pelajaran   melalui   upayanya   mengorganisir,   menyimpan,    dan     kemudian

menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang

telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

         Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan

Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang

berbeda.    Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang

memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Menurut Ausubel, konsep tersebut

dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman

belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep

sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari

lingkungan. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual,

yaitu:

 1) enactive, dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui

    tindakannya pada objek, siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam

    usahanya memahami lingkungan.

 2) iconic, dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar
3) symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak, siswa

    mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan

    logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin

    dewasa sistem simbol ini samakin dominan.

       Sejalan dengan pernyataan di atas, maka untuk mengajar sesuatu tidak

usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting

bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan

lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan

mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat

perkembangannya.

       Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah

kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari

Sekolah   Dasar    sampai   Perguruan   tinggi   disesuaikan   dengan   tingkap

perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini

adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif

kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).

       Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner, Ausubel, dan gagne),

ternyata teori kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang

individu. Teori ini ada kaitan dengan ingatan jangka pendek dan ingatan jangka

panjang. Sesuatu pengetahuan yang diperolehi melalui pengalaman atau

pendidikan formal akan disimpan dan disusun       melalui proses pengumpulan

pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian.
                      Tabel 2.1 Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran

Belajar    Karakteristik Teori              Penerapan Dalam pembelajaran

Kognitif   Model          ini     sangat 1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional

Bruner     membebaskan peserta didik 2. Memilih materi pelajaran

           untuk belajar sendiri. Teori 3. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta

           ini     mengarahkan    peserta      didiki

           didik untuk belajar secara 4. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dsbnya.,

           discovery learning.                 yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan

                                               belajar

                                            5. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang

                                               paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang

                                               sederhana ke kompleks

                                            6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar

Bermakna Dalam aplikasinya menuntut 1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional

Ausubel    peserta didik belajar secara 2. Mengukur         kesiapan     peserta   didik   (minat,

           deduktif (dari umum        ke       kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes

           khusus)        dan       lebih      awal, interviw, pertanyaan dll.

           mementingkan            aspek 3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam

           struktur    kognitif   peserta      bentuk penyajian konsep-konsep kunci

           didik                            4. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus

                                               dikuasai peserta didik dari materi tsb.

                                            5. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh

                                               tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik
                                    6. Membuat       dan       menggunakan     “advanced

                                        organizer” paling tidak dengan cara membuat

                                        rangkuman terhadap materi yang baru disajikan,

                                        dilengkapi    dengan     uraian   singkat     yang

                                        menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang

                                        sudah diberikan dengan yang akan diberikan

                                    7. Mengajar peserta didik untuk memahami konsep-

                                        konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan

                                        dengan memberi fokus pada hubungan yang

                                        terjalin antara konsep yang ada

                                    8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar



e. Penerapan dalam Pembelajaran IPA*contoh penerapan*

          Pada bagian ini akan dibahas bagaimana menerapkan belajar penemuan

   pada siswa, ditinjau dari segi metode, tujuan serta peranan guru khususnya dalam

   pembelajaran IPA.

   1) Metode dan Tujuan

              Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya

       beriring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja.

       Tujuan belajar sepenuhnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan

       suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual siswa dan merangsang

       keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang

       dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan.
            Jadi kalau kita mengajar sains (IPA) misalnya, kita bukan akan

  menghasilkan       perpustakaan-perpustakaan   hidup   kecil   tentang   sains,

  melainkan kita ingin membuat anak-anak kita berfikir secara matematis bagi

  dirinya sendiri, berperan serta dalam proses perolehan pengetahuan.

  Mengetahui itu adalah suatu proses, bukan suatu produk.

2) Peranan Guru

            Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan

  adalah:

  a) Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat

     pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.

  b) Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para

     siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya memulai dengan

     sesuatu yang sudah dikenal siswa. Kemudian guru mengemukakan

     sesuatau yang berlawanan. Dengan demikian terjadi onflik dengn

     pengalaman siswa. Akibatnya timbulah masalah. Dalam keadaan yang

     ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang

     merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun

     hipotesis-hipotesis dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang

     mendasari masalah itu.

  c) Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif

     adalah melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan

     (learning by doing). Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal.
         Pengetahuan disajikan melalui gambar-gambar yang mewakili suatu

         konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa.

      d) Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru

         hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru

         hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan

         yang akan dipelajari, tetapi hendaknya memberikan saran-saran bila

         diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru hendaknya memberikan umpan

         balik pada waktu yang tepat.

      e) Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.

         Secara garis besar belajar penemuan ialah mempelajarai generalisasi-

         generalisasi dengan menemukan sendiri konsep-konsep itu. Di lapangan,

         penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang konsep

         dasar, dan kemampuan untuk menerapkan konsep itu ke dalam situsi baru

         dan situasi kehidupan nyata sehari-hari pada siswa.

                Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan

         proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada

         penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi

         tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru.



f. Alat-Alat Mengajar

         Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut

   fungsinya
1) alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan bahan-

   bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan

   pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui

   film, TV, rekaman suara dll.

2) Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip

   suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga

   eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-

   langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.

3) Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau

   tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk

   memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.

4) Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma,

   yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi

   ballikan atau feedback tentang responds murid.
                                     BAB III


                                PEMBAHASAN




A. Kelebihan dan kelemhan Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner

   Setiap sesuatu itu memilki kelebihan dan kelemahan begitu juga dengan teori

penemuan menurut Jerome Bruner. Sebagaimana dijelaskan Syaiful Bahri

Djamarah, dalam bukunya Psikologi belajar, bahwa teori-teori belajar yang baru

hadir mengisi lembaran sejarah dalam dunia pendidikan, tapi perlu dipahami

setiap teori belajar tersimpan kelemahan dibalik kelebihannya. [11].

       Menurut syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain dalam bukunya strategi

belajar mengajar menjelaskan bahwa kelebihan dan kelemahan konsep ini yaitu

belajar mengajar konsep ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat

kognitif. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau

kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjerumus kepada kekacauan dan

kekaburan atas materi yang dipelajari. [12].

       Penggunaan konsep discovery ini berusaha meningkatkan aktivitas belajar,

maka konsep ini memiliki keunggulan sebagai berikut:

1. Konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakatnya, membentuk

   sifat kesiapan serta kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta

   didik.

2. Peserta didik mendapatkan pengetahuan yang bersifat pribadi sehingga

   pengetahuan tersebut dapat bertahan lama dalam diri peserta didik.
3. Konsep ini memberikan semangat belajar peserta didik, dimana dengan

   konsep belajar mencari dan menemukan pengetahuan sendiri tentu rasa ingin

   tau itu timbul sehinnga akan membentuk belajar yang ikhlas dan aktif.

4. Konsep     ini   memberikan     kesempatan   kepada   peserta   didik     untuk

   menegembangkan kemampuannya dan keterampilannya sendiri sesuai dengan

   bakat dan hobi yang dimilikinya.

5. Konsep ini mampu membantu cara belajar peserta didik yang baik, sehingga

   peserta memiliki motivasi yang kuat untuk tetap semangat dalam belajar.

6. Memberikan kepercayaan tersendiri bagi peserta didik karena mampu

   menemukan, mengolah, memilah dan mengembangkan pengetahuan sendiri.

7. Konsep ini berpusat pada peserta didik, dan guru hanya membantu saja.



Adapun kelemahan konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner, yaitu:

1. Konsep belajar ini menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan

   kematangan mental. Peserta didik harus berani dan berkeinginan mengetahuai

   keadaan disekitarnya. Jika tidak memiliki keberanian dan keinginan tentu

   proses belajar akan gagal.

2. Konsep ini kurang berhasil apabila di laksanakan didalam kelas yang besar.

3. Konsep     ini   terlalu   mementingkan   proses   pengertian   saja,   kurang

   memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi

   peserta didik.

4. Konsep ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk bepikir secara

   kretaif. [13].
   Mempelajari keunggulan dan kekurangan teori belajar menurut Bruner

sebagaimana      beberapa   penjelasan   di   atas,   tentu   kita   harus   mampu

mempergunakan konsep belajar ini sesuai dengan keadaan dan tempatnya,

sehingga nantinya dapat memaksimalkan penggunaaan konsep ini dan tidak

terjadinya kegalalan pembelajaran karena salah dalam penggunaannya.



B. Implikasi Konsep Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner Dalam

   Kegiatan Pembelajaran.

       Meneurut Syiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain impliklasi konsep

belajar discovery dalam pembelajaran yaitu:

1. Simulation, guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau

   menyuruh anak didik untuk membaca atau mendengarkan uraian yang memuat

   uraian permasalahan.

2. Problem Statement, anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai

   permasalahan. Sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik

   dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya

   harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan

   (statemen) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang di ajukan.

3. Data collection, Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar

   tidaknya hipotesis ini, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan

   (Collection) berbagai informasi yang relavan, membaca literature, mengamati

   obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan

   sebagainya.
4. Data prossesing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara observasi, dan

   sebagainya, semunya diolah, diacak, diklasifikasikn, ditabulasi, bahkan

   apabila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat

   kepercayaan tertentu.

5. Verfication, atau pembuktian. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau

   informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan

   terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau

   tidak.

6. Generalization. Tahap selanjutnya berdasarkan verifikasi tadi, anak didik

   belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.

       Sistem belajar yang dikembangkan Brunner ini menggunakan landasan

pemikiran pendekatan belajar mengajar. Hasil belajar cara ini lebih mudah dihapal

dan diingat, mudah dtransfer untuk memecahkan masalah. Pengetahuan dan

kecakapan anak didikbersangkutan lebih jauh dapat menumbuhkan motivasi

instrik, karena anak merasa puas atas penggunaannya sendiri. [14].

        Kemudian Oemar Halik dalam bukunya perencanaan                Pengajaran

Berdasarkan Pendekatan Sistem, menjelaskan konsep belajar penemuan Jerome

Bruner dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dengan bentuk pendekatan

komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah, tergantung pada besarnya kelas.



a. Sistem satu arah (ceramah Reflektif)

       Pendekatan     satu     arah    berdasarkan     penyajian     satu   arah

(penuangan/expotision) yang dilakukan oleh guru. Struktur penyajiaannya dalam
bentuk usaha merangsang siswa melakukan proses penemuan (discovery) didepan

kelas. Guru mengajukan suatu masalah, dan kemudian memecahkan masalah-

masalah tersebut melalui discovery. Caranya adalah mengajukan pertanyaan

kepada kelas, memberikan kesempatan kepada kelas untuk melakukan refleksi.

Selanjutkan guru menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan itu. Dalam prosedur

ini guru tidak menentukan/menunjukkan aturan-aturan yang harus digunakan oleh

siswa. Guru mengharapkan agar siswa secara keseluruhan berhasil melibatkan

dirinya dalam proses pemecahan masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

diajukannya secarareflektif. Dalam eadaan ini, sesungguhnya tidak ada jaminan

bahwa adanya penyajian oleh guru. Penggunaan discovery dalam kelompok kecil

sangat bergantung pada kemampuan dan pengalaman guru sendiri, serta waktu

dan kemampuan mengantisifikasi kesulitan siswa.



b. Sistem dua rah (discovery terbimbing)

       System dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-

pertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing

mereka kearah yang tepat/benar. Sekalipun di dalam kelas yang terdiri dari 20-3o

orang siswa. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar melakukan discovery,

sedangkan yang lainnya berpartisipasi dalam proses discovery misalnya dalam

system ceramah reflektif. Dalam kelompok yang lebih kecil, guru dapat

melibatkan hamper semua siswa dalam prose situ. Dalam system ini guru perlu

memilki keterampilan memberikan bimbingan, yakni mendiagnosis kesulitan –

kesulitan siswa dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang
dihadapi. Namun demikian, tidak berarti guru menggunakan metode ceramah

reflektif sebagaimana halnya pada strategi diatas. [15].

       Adapun Menurut Ahmad Sabri pendekatan ini merupakan pendekatan

mengajar yang mberusaha meletakkan dasar dan mengembangan berpikir cara

ilmiah. Pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri,

mengembangkan kreatifitas dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul

ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Peranan guru dalam pendekatan ini

adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama guru adalah

memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh

siswa sendiri. Tiugas beriutnya dari guru adlah menyediakan sumber belajar bagi

siswa dalam memecahkan masalah. Sudah tentu bimbingan dan pengawasan dari

guru masih tetap diperlukan, namun campur tangan interverensi terhadap kegiatan

siswa dalam pemecahan masalah, harus dikurangi.

       Pendekatan ini merupakan pendekatan modern, yang sangat didambakan

untuk dilaksanakann disetiap sekolah. Adanya tuduhan sekolah menciptakan

kultur bisu, tiak akan terjadi apabila pendekatan inidigunaka. Selanjutnya Ahmad

Sabri menambahkan bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam

pelaksanaan pendekatan ini.

1) Guru harus terampil memilih persoalan yang relavan untuk diajukan kepada

   kelas (persoalan yang bersumber dari bahan pelajaran yang menantang

   siswa/problematik) dan sesuai dengan nalar siswa.

2) Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan penciptaan

   situasi belajar yang menyenangkan.
   3) Adanya faslitas dan sumber belajar yang cukup lengkap sehingga dapat

       memfalisitsi pendekatan ini.

   4) Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya dan berdiskusi.

   5) Partisipasi seto\iap siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan

   6) Guru tidak banyak campurtangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

           Serta ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan

   ini, yakni:

   1) Merumuskan masalah untuk dipecahkan siswa.

   2) Menetapkan jawaban sementara atau yang lebih lebih dikenal dengan istilah

       hipiotesis.

   3) Siswa mencari informasi, data fakta yang diperlukan untuk menjawab

       permasalahn atau hipotesis.

   4) Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi.

   5) Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru. [16].

       Dari beberapa penjelasan para pakar tentang bagaimana pengaplikasian

   konsep penemuan menurut Jerome Bruner diatas, tentu dapat dipahami bahwa ada

   beberapa hal yang benar-benar harus disiapkan dalam pengaplikasian. Karena

   konsep ini dalam pengpliksiannya di dalam pembelajaran memerlukan persiapan

   dari segi fsilitas, guru dan juga muridnya.


C. Konsep Dalil Naqli terhadap Teori Kognitipisme Jerome Bruner

           Dalam teori kognitivisme Jerome brunner terkenal dengan teori belajarnya

   yaitu belajar penemuan (free discovery learnig) yakni menekankan pada

   pemberikan kesempatan kepada siwa untuk menemukan suatu konsep, teori,
aturan, atau pemahamannya sendiri. Teori ini sebenarnya telah lebih dulu

dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam surat ar-Ra’du ayat 11, dimana manusia

harus menemukan nasib mereka sendiri.

……“ Sesengguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga

mereka merobah keadaan mereka sendiri…”

Sementara tahapan dalam proses mengajar menurut Jerome Brunner yaitu :

Stimulus, Problem Statement, data collection, data processing, verifikasi, dan

terakhir generalisasi yang penjelasannya telah dijelaskan di atas. Hal ini sejalan

dengan Al-Qur’an dalam ayat Al-Insyiroh : 7 serta Al-Insyiqoq :19

      “sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat ( dalam kehidupan)

“Man jahada Finaa Hadaynahu Subulanaa” Artinya …..Siapa bersungguh-

sungguh dalam jalanku, maka akan Aku tunjukkan jalan-Ku…..

Man Arofa Nafsahu Faqod arofa Nafsah Artinya ….“Siapa mengenal dirinya

maka dia akan mengenal Tuhannya”…..
                                     BAB IV

                                 KESIMPULAN



               Teori Bruner mempunyai ciri khas dari pada teori belajar yang lain

yaitu tentang ”Discovery Learning” yaitu belajar dengan menemukan konsep

sendiri. Disamping itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-

pengulangan, maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral (a

Spiral Curriculum)”. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk

memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang

kompleks, dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul

kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks.

Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan

secara utuh. Menurut Bruner cara menyajikan pelajaran harus disesuaikan dengan

derajat berfikir anak. Ada tiga tahap berfikir anak yaitu tahap enaktif, ikonik, dan

simbolik.

       Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan yang berlangsung dari

dalam diri siswa. dalam pendidikan itu terjadi proses belajar dan berdasarkan

konsep belajar, belajar itu berlangsung dalam proses yang lama sebagai bentuk

dari usaha pengembangan cara berifikir seseorang. hal demikian pun

dikemukakan oleh bruner yang menyatakan bahwa pendidikan memberikan

dorongan untuk mengembangkan cara berfikir seseorang karena pada dasarnya

manusia adalah sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi.
                             DAFTAR PUSTAKA



Ahmadi, Abu. dan Joko Tri Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. CV.
        Pustaka Setia : Bandung.

Bell, Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan, seri pustaka teknologi
        pendidikan PT. Rajawali : Jakarta

Budininsih, Asri. 2008. Belajar dan Pembelajaran. PT. Rineka Cipta : Jakarta.

Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
         Bumi Akasara : Jakarta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. PT. Rineka
         Cipta : Jakarta

Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan. PT.Rineka Cipta : Jakarta.

Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. PT.Bumi
       Aksara : Jakarta.

http ://(www.teori_belajar_kognitif.com)

http://(www.Jeremo_bruner.com)

http;//(www.gogle_terjemahan_biografi_jerome_bruner.com)

http://eka-yanuarti.blogspot.com/2010/12/teori-kognitifisme-jerome-bruner.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8654
posted:12/22/2011
language:Malay
pages:40
Asep Rosidin Asep Rosidin
About