Embed
Email

Asuransi Takaful Menrut HUkum Islam

Document Sample
Asuransi Takaful Menrut HUkum Islam
Description

Asuransi Takaful Menurut Hukum Islam

Shared by: Faiz liverpudlian
Categories
Tags
Stats
views:
158
posted:
12/21/2011
language:
pages:
12
Nama :Ahmad Halim Faiz

NIM : 08120006

MK : Hukum Asuransi takaful





OPERASIONAL DAN RUANG LINGKUP KEGIATAN USAHA PERUSAHAAN

PERASURANSIAN BERDASARKAN PRINSIP SYARI’AH BERDASARKAN UU

NOMOR 2 TAHUN 1992 UNTUK MENGAKSELERASI PERKEMBANGAN BISNIS

ASURANSI UMUM SYARIAH





Pengertian Asuransi (Syari`ah)



Dalam bahasa Arab Asuransi disebut at-ta`min, penanggung disebut mu`ammin,

sedangkan tertanggung disebut mu`amman lahu atau musta`min. At-Ta`min diambil dari kata

amana memiliki arti memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman dan bebas dari rasa takut.



Asuransi dalam istilah adalah sebuah gabungan kesepakatan untuk saling menolong, yang

telah diatur dengan sistem yang sangat rapih, antara sejumlah besar manusia, tujuannya adalah

menghilangkan atau meringankan kerugian dari peristiwa-peristiwa yang terkadang menimpa

sebagian mereka, dan jalan yang mereka tempuh adalah dengan memberikan sedikit pemberian

(derma) dari masing-masing individu.



Asuransi dalam pengertian ini dibolehkan, dan tanpa ada perbedaan pendapat. Tetapi

perbedaan pendapat timbul dalam sebagian sarana-sarana kerja yang berusaha merealisasikan

dan mengaplikasikan teori dan sistem tersebut, yaitu akad-akad asuransi yang dilangsungkan

oleh para tertanggung bersama perseroan-perseroan asuransi.



Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI)1 dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi

syariah, memberi defenisi tentang asuransi sebagai berikut: Asuransi syariah (Ta`min, Takaful,

Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak

melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola pengembalian

untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.



1

www.http.Fatwa Dewan Syariah Nasional No.21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi

Syariah.htm

Dari definisi diatas nampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong

menolong yang disebut dengan “ta`awun”, yaitu prinsip hidup saling melindungi dan tolong

menolong atas dasar ukhuwah islamiyah antara sesama anggota peserta Asuransi Syariah dalam

menghadapi malapetaka (resiko).



Oleh sebab itu, premi pada Asuransi Syariah adalah sejumlah dana yang dibayarkan oleh

peserta yang terdiri atas Dana Tabungan dan Tabarru`. Dana Tabungan adalah dana titipan dari

peserta Asuransi Syariah (life insurance) dan akan mendapat alokasi bagi hasil (al mudharabah)

dari pendapatan investasi bersih yang diperoleh setiap tahun. Dana tabungan beserta alokasi bagi

hasil akan dikembalikan kepada peserta apabila peserta yang bersangkutan mengajukan klaim,

baik berupa klaim nilai tunai maupun klaim manfaat asuransi. Sedangkan Tabarru` adalah derma

atau dana kebajikan yang diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi jika sewaktu-waktu

akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi (life maupun general

insurance).



Operasional dan ruang lingkup Perusahaan Asuransi Umum Syari`ah





Prinsip Kegiatan Operasional Bank Syari’ah

- Wadi’ah :

Perjanjian antara pemilik barang/atau uang dengan penyimpan (termasuk bank) dimana pihak

penyimpan bersedia untuk menyimpan dan menjaga keselamatan barang/uang yang

dititipkannya.

Ada 2 jenis wadia’ah ini yaitu:

· Wadi’ah amanah: pihak penyimpan tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan atau

kehilangan barang yang disimpan, yang tidak diakaibatkan oleh perbuatan atau kelalaian

penyimpan.

· Wadi’ah Dhamanan: pihak penyimpan dengan atau tanpa ijin pemilik barang/uang dapat

memanfaatkan barang yang dititipkan dan bertanggung jawab atas kerusakan dan kehilangan

barang/uang yang disimpan. Semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dalam

penggunaan barang tersebut menjadi hak penyimpan.

- Mudharabah: Perjanjian antara pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (Mudharib)

untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan. Ada 2 jenis Mudharabah:

· Mudharabah Mutlaqah: Mudharib diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola modal

· Mudharabah Muqayyadah: Shahibul maal menetapkan syarat tertentu yang harus dipatuhi

mudharib.

- Musyarakah: Perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih pemilik modal (uang atau

barang) untuk membiayai suatu usaha.

- Murabahah: Persetujuan jual beli suatu barang dengan harga sebesar harga pokok ditambah

dengan keuntungan yang disepakati bersama.

- Ijarah: Perjanjian antara pemilik barang dengan penyewa yang membolehkan penyewa untuk

memanfatkan barang tersebut dengan membayar sewa sesuai dengan persetujuan kedua belah

pihak. Setelah masa sewa berakhir, maka barang dikembalikan pada pemiliknya.

- Ta’jiri: sama dengan ijarah, tetapi pada akhir masa sewa barang dijual pada penyewa dengan

harga yang disepakati bersama

- Sharf: Kegiatan jual beli mata uang dengan mata uang lainnya

- Qard: Pinjaman dari bank (muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) yang wajib

dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai dengan pinjaman. Muqridh dapat meminta

jaminan atas pinjaman kepada muqtaridh. Pengembalian pinjaman dapat dapat dilakukan

secara angsuran ataupun sekaligus.

- Qard Ul Hasan: Perjanjian pinjam meminjam uang atau barang dengan tujuan untuk

membantu penerima pinjaman.

- Bai Al Dayn: Perjanjian jual beli secara diskonto atas piutang atau tagihan yang berasal dari

jual beli barang dan jasa

- Kafalah: Jaminan yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain dimana pihak pemberi

jaminan bertanggung jawab atas pembayaran kembali suatu hutang atau pelaksanaan prestasi

tertentu yang menjadi hak penerima jaminan.

- Rahn: Menjadikan barang berharga sebagai agunan untuk menjamin dipenuhinya suatu

kewajiban

- Salam: perjanjian jual beli barang pesanan (muslim fiih) antara pembeli (muslam) dengan

penjual (muslamilaih)

- Hiwalah: Pengalihan kewajiban dari satu pihak yang mempunyai kewajiban kepada pihak lain.

- Ujr: imbalan yang diberikan atau yang diminta atas suatu pekerjaan yang dilakukan

- Wakalah: Perjanjian pemberian kuasa kepd pihak lain yang ditunjuk untuk mewakilinya dalam

melaksanakan suatu tugas/kerja atas nama pemberi kuasa.





D. Kegiatan Usaha

Bank wajib menerapkan prinsip syari’ah dalam melakukan kegiatan usahanya yang meliputi:

a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang meliputi:

- Giro berdasarkan prinsip wadi’ah

- Tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah

- Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah, atau

- Bentuk lain berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah

b. Melakukan penyaluran dana melalui:

- Transaksi jual beli berdasarkan prinsip murabahah, istisna, ijarah, salam, dan jual beli lainnya

- Pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip mudharabah, musyarakah, dan bagi hasil lainnya

- Pembiayaan lainnya berdasarkan prinsip hiwalah, rahn, qard, membeli, menjual dan atau

menjamin atas resiko sendiri surat-surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar

transaksi nyata (underlying transaction) berdasarkan prinsip jual beli atau hiwalah

- Membeli surat-surat berharga pemerintah dan atau Bank Indonesia yang diterbitkan

berdasarkan prinsip syari’ah

c. Memberikan jasa-jasa:

- Memindahkan uang untuk kepentingan sendiri atau nasabah berdasarkan prinsip wakalah

- Menerima pembayaran tagihan atas surat berharga yang diterbitkan dan melakukan perhitungan

dengan atau antar pihak ketiga berdasarkan prinsip wakalah

- Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip

wadi’ah yad amanah

- Melakukan kegiatan penitipan termasuk penatausahaannya untuk kepentingan pihak lain

berdasarkan suatu kontrak dengan prinsip wakalah

- Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lain dalam bentuk surat berharga

yang tidak tercatat di bursa efek berdasarkan prinsip Ujr

- Memberikan fasilitas LC berdasarkan prinsip wakalah, murabahah, mudharabah, musyarakah,

dan wadi’ah serta memberikan garansi bank berdasarkan prinsip kafalah

- Melakukan kegiatan usaha kartu debet berdasarkan prinsip Ujr

- Melakukan kegiatan wali amanat berdasarkan prinsip wakalah

d. Melakukan kegiatan lain:

- Melakukan kegiatan dalam valuta asing berdasarkan pinsip sharf

- Melakukan kegiatan penyertaan modal berdasarkan prinsip musyarakah dan atau mudharabah

pada bank atau perusahaan lain yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah

- Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara berdasarkan prinsip musyarakah dan atau

mudharabah untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan dengan syarat harus menarik

kembali penyertaannya

- Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun berdasarkan prinsip

syari’ah sesuai dengan ketentuan undang-undang

- Bank dapat bertindak sebagai lembaga baitul maal.

e. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan bank sepanjang disetujui oleh dewan syari’ah

nasional.2



Di tingkat undang-undang dasar hukum bagi usaha perasuransian adalah Undang-undang

Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Undang-undang ini tidak memadahi jika

dijadikan sebagai dasar hukum bagi usaha perasuransian yang berdasarkan prinsip syariah,

kecuali dari segi kelembagaannya. Untuk itu bagi bisnis asuransi umum berdasarkan prinsip

syariah, dasar pijakan awalnya berupa fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

(DSN-MUI), dan kemudian setelah itu muncullah peraturan perundang-undangan berupa

Keputusan Menteri Keuangan (KMK), serta lebih teknis lagi berupa Keputusan Direktorat

Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK) dimana di dalamnya telah memasukkan nilai-nilai syariah3.



Dengan demikian asuransi sebagai lembaga keuangan bukan bank juga menerapkan

prinsip syariah dalam operasional usahanya. Konsep asuransi konvensional yang menekankan

pada pengalihan risiko (risk transfering), agar sesuai dengan prinsip syariah perlu diubah

menjadi pembagian risiko (risk sharing) berdasarkan prinsip tolong menolong (ta’awuniyah) dan

menghilangkan adanya unsur yang dilarang dalam Islam berupa MAGHRIB.





2

http://blog.uad.ac.id/aftoni/files/2009/03/bank-syariah1.doc



3

www. http//.google.com, Urgensi Amandemen UU 2 Tahun 1992 ttg Usaha Perasuransian dlm Rangka Akselerasi

Perkembangan Bisnis Asuransi Umum Syari'ah.htm

Secara umum perihal asuransi syariah ini mempunyai dua fungsi yaitu fungsi bisnis

(tijarah) dan fungsi sosial (tabarru’). Untuk fungsi tijarah, maka para pihak dapat menerapkan

akad mudharabah musytarakah dan akad wakalah bil ujrah, sedangkan untuk fungsi tabarru’ para

pihak dapat menerapkan akad akad tabarru’ yang merupakan akad yang harus melekat pada

semua produk asuransi. Adapun pengertian tabarru’ sendiri adalah akad yang dilakukan dalam

bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong menolong antar peserta, bukan untuk tujuan

komersial an sich.



Mengenai asuransi syariah ini Dalam fatwa DSN-MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001

tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, dikatakan bahwa Asuransi Syariah (ta’min, takful,

atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah

orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/tabarru’ yang memberikan pola

pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan

syariah.



Akad atau perjanjian yang menjadi dasar bagi setiap transaksi, termasuk dalam asuransi

atau yang lazim disebut dengan polis dalam hal ini harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip

syariah. Untuk itu maka dalam pembuatan polis asuransi dapat menerapkan akad-akad

tradisional Islam, baik itu akad tijarah maupun akad tabarru. Dalam fatwa DSN-MUI Nomor

21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah disebutkan bahwa yang

dimaksud dengan akad yang sesuai dengan syariah adalah akad yang tidak mengandung gharar

(penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan

maksiat.





Secara faktual operasional asuransi syariah selain dilaksanakan berdasarkan Undang-

undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dan ketentuan fatwa DSN-MUI di

atas, secara teknis diatur dalam beberapa KMK, yaitu KMK No. 422/KMK.06/2003 tentang

Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dan KMK No.

426/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan

Perusahaan Reasuransi. KMK inilah yang menjadi dasar dalam pendirian asuransi syariah

sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 3 KMK No. 426/KMK.06/2003 yang menyebutkan

bahwa: “Setiap pihak dapat melakukan usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip

syaria.”Ruang lingkup dan Operasional Prosedur ini merupakan panduan untuk

mengoperasionalkan berbagai kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pengelolaan usaha

jasa keuangan syariah, berisikan prosedur rinci yang dijabarkan dari Standar Operasional

Manajemen (SOM)4.



Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 3-4 mengenai

persyaratan dan tatacara memperoleh izin usaha perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi

dengan prinsip syariah. Kemudian Pasal 33 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip

syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.



Mengenai kesehatan keuangan perusahaan asuransi syariah dan perusahaan reasuransi

syariah secara teknis telah diatur dalam KMK No. 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan

Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Adapun ketentuan yang yang

berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 15-18 mengenai kekayaan yang harus

dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.

Dengan demikian hampir sama dengan asuransi konvensional, usaha perasuransian berdasarkan

prinsip syariah secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni perusahaan

asuransi dan perusahaan reasuransi. Perbedaannya dengan asuransi konvensional adalah terletak

pada akad/perjanjian yang digunakan dan pengelolaan premi yang terkumpul, serta manfaat

asuransi yang akan diperoleh para peserta asuransi yang bersangkutan. Cara melakukan usaha

asuransi atau reasuransi berdasarkan Prinsip Syariah dapat dilakukan dengan melalui beberapa

cara. Hal ini tertuang dalam Pasal 3 KMK No. 426/KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan

Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, yaitu sebagai berikut:



 Pendirian baru Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi dengan Prinsip Syariah;

 Konversi dari Perusahaan Asuransi dengan prinsip konvensional menjadi Perusahaan

Asuransi dengan Prinsip Syariah atau konversi dari Perusahaan Reasuransi dengan

prinsip konvensional menjadi Perusahaan Reasuransi dengan Prinsip Syariah;

 Pendirian kantor cabang baru dengan Prinsip Syariah dari Perusahaan Asuransi dengan

prinsip konvensional atau Perusahaan Asuransi dengan prinsip konvensional; atau







4

www.http.Standar operasional dan ruang lingkup keuangan syari`ah. pdf

 Konversi dari kantor cabang Perusahaan Asuransi dengan prinsip konvensional menjadi

kantor cabang dengan Prinsip Syariah dari Perusahaan Asuransi dengan prinsip

konvensional, atau konversi dari kantor cabang Perusahaan Reasuransi dengan prinsip

konvensional menjadi kantor cabang dengan Prinsip Syariah dari Perusahaan Reasuransi

dengan prinsip konvensional.



Berdasarkan ketentuan di atas, secara ringkas dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat

mendirikan Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi melalui tiga macam cara, yaitu:



 Pendirian baru

 Konversi dari konvensional ke Perusahaan Asuransi/Perusahaan Reasuransi Berdasarkan

Prinsip Syariah

 Islamic Windows, yaitu dengan pendirian kantor cabang baru dengan prinsip syariah di

Perusahaan Asuransi/Perusahaan



Reasuransi Konvensional, atau melalui konversi cabang konvensional ke cabang syariah

Khusus mengenai konversi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi konvensional

menjadi perusahaan asuransi atau perusahaan dengan Prinsip Syariah harus memenuhi

persyaratan sebagai berikut:



 Tidak merugikan tertanggung atau pemegang polis;

 Memberitahukan konversi tersebut kepada pemegang polis; dan

 Memindahkan portofolio pertanggungan ke perusahaan asuransi konvensional lain atau

membayarkan nilai tunai pertanggungan, bagi tertanggung atau pemegang polis yang

tidak bersedia menjadi tertanggung atau pemegang polis dari perusahaan asuransi dengan

Prinsip Syariah.



Di samping itu dalam rangka pendirian atau konversi Perusahaan Asuransi atau

Perusahaan Reasuransi dengan Prinsip Syariah harus pula menyampaikan:



 Bukti pendukung bahwa tenaga ahli yang dipekerjakan memiliki keahlian di bidang

asuransi dan atau ekonomi syariah;

 Bukti pengesahan Dewan Syariah Nasional tentang penunjukan Dewan Pengawas

Syariah Perusahaan;

 Bukti pengesahan Dewan Pengawas Syariah Perusahaan atas produk asuransi yang akan

dipasarkan yang sekurang-kurangnya meliputi:

o dasar perhitungan tarif premi, cadangan premi, dan asset share atau profit testing

bagi Perusahaan Asuransi Jiwa;

o dasar perhitungan tarif premi, cadangan premi, dan proyeksi underwriting bagi

Perusahaan Asuransi Kerugian;

o cara pemasaran;

o rencana dukungan reasuransi otomatis bagi Perusahaan Asuransi dan rencana

dukungan retrosesi bagi Perusahaan Reasuransi; dan

o contoh polis, surat permohonan penutupan asuransi (SPPA) dan brosur.

 Pedoman pelaksanaan manajemen keuangan sesuai syariah yang sekurang-kurangya

mengatur mengenai penempatan investasi baik batas jenis maupun jumlah;

 Pedoman penyelenggaraan usaha sesuai syariah yang sekurang-kurangnya mengatur

mengenai penyebaran risiko; dan

 Bukti pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bagi konversi

Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3

huruf b.



Ketentuan lain yang harus diperhatikan kaitannya dengan usaha asuransi dengan Prinsip

Syariah dalam bentuk kantor cabang ialah adanya keharusan untuk melakukan pemisahan

kekayaan dan kewajiban usaha asuransi dengan Prinsip Syariah dari kekayaan dan kewajiban

usaha asuransi dengan prinsip konvensional. Hal ini berlaku baik bagi Perusahaan Asuransi

ataupun Perusahaan Reasuransi



Secara empiris mengenai produk yang ada di dalam asuransi syariah dapat dilihat pada

produk yang disediakan oleh PT. Asuransi Umum Bumiputeramuda 1967 Syariah, yaitu:



 Produk Standard Syariah berupa: Asuransi Kebakaran, Asuransi Kendaraan, Asuransi

Kesehatan, Asuransi Kecelakaan Diri, Asuransi Pengangkutan, Asuransi Engineering,

Asuransi Kebongkaran, Asuransi Cash In Safe & Transit, Asuransi Aneka (Billboard,

Public Liability, Glass, Moveable All Risk, dll), Tanggung Gugat Dokter serta asuransi

yang bersifat tailor made (sesuai kebutuhan).

 Produk Paketkoe Syariah berupa: Asuransi Rumahkoe, Motorkoe, Mobilkoe, Sehatkoe,

Siswakoe, Karyawankoe, dan Wargakoe.



Urgensi Amandemen Terhadap Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 untuk

Mengakselerasi Perkembangan Bisnis Asuransi Umum Syariah



Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa undang-undang yang mengatur tentang

usaha perasuransian, yakni Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tidak bisa dijadikan sebagai

dasar hukum bagi usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah, kecuali hanya terkait dengan

dengan kelembagaan dan perizinannya.



Dalam rangka meningkatkan peranan usaha perasuransian dalam pembangunan, perlu

diberikan kesempatan yang lebih luas bagi pihak-pihak yang ingin berusaha di bidang

perasuransian, dengan tidak mengabaikan prinsip usaha yang sehat dan bertanggung jawab,

sekaligus dapat mendorong kegiatan perekonomian pada umumnya. Di samping itu adanya usaha

perasuransian yang mendasarkan pada prinsip syariah yang secara empiris telah dilakukan oleh

perusahaan-perusahaan perasuransian perlu mendapatkan landasan hukum yang kuat.



Usaha perasuransian yang sehat merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi risiko

yang dihadapi oleh masyarakat dan sekaligus merupakan salah satu lembaga penghimpun dana

masyarakat, sehingga memiliki kedudukan strategis dalam pembangunan dan kehidupan

perekonomian, dalam upaya memajukan kesejahteraan umum.



Dengan demikian perlunya pengaturan usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah

dalam undang-undang adalah dalam rangka memperkokoh eksistensinya dalam lalu-lintas

hukum. Adalah tidak logis jika sudah ada peraturan teknisnya, namun di tingkat peraturan yang

mempunyai kekuatan mengikat bagi semua warga negara yakni berupa undang-undang belum

ada. Adapun untuk mengatur perihal usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah di tataran

undang-undang ini pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua macam cara, yaitu:

 Melalui amandemen/perubahan atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha

Perasuransian.

 Pembuatan undang-undang yang secara khusus mengatur tentang usaha perasuransian

berdasarkan prinsip syariah.



Dari dua alternatif tersebut, menurut hemat Penulis cara pertamalah yang hendaknya di tempuh,

yaitu melakukan perubahan atau amandemen atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang

Usaha Perasuransian. Hasil perubahannya nanti di dalamnya perlu ada pasal-pasal yang

memberikan dasar hukum bagi usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah, disamping

pasal-pasal yang mengatur perasuransian konvensional.



Dengan demikian pengaturan mengenai usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah ini

nantinya menjadi satu dengan pengaturan mengenai usaha perasuransian konvensional, seperti

halnya dengan pengaturan perbankan syariah pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998

tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Adanya amandemen/perubahan atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha

Perasuransian yang di dalamnya mengakui eksistensi usaha perasuransian berdasarkan prinsip

syariah mempunyai urgensi untuk dilaksanakan. Melalui undang-undang baru nantinya

diharapkan dapat memperkokoh kedudukan usaha perasuransian berdasarkan prinsip syariah dan

lebih lanjut dapat mengakselerasi perkembangan bisnis asuransi umum berdasarkan prinsip

syariah di Indonesia.









Daftar Pustaka



1. UU. No. 2 Tahun 1992 Tentang Perasuransian. pdf

2. www.//httpUrgensi Amandemen UU 2 Tahun 1992 ttg Usaha Perasuransian dlm Rangka

Akselerasi Perkembangan Bisnis Asuransi Umum Syari'ah.



3. www.//http.Fatwa Dewan Syariah Nasional No.21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman

Umum Asuransi Syariah.htm

4. www.//http.Standar operasional dan ruang lingkup keuangan syari`ah. Pdf

5. http://blog.uad.ac.id/aftoni/files/2009/03/bank-syariah1.doc


Related docs
Other docs by Faiz liverpudl...
Asuransi Takaful Menrut HUkum Islam
Views: 158  |  Downloads: 2
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!