Summary CRUSTACEA by maybe_4longTime2

VIEWS: 550 PAGES: 8

									   CRUSTACEA

   BAB I
   CIRI-CIRI

      I.1 Struktur Tubuh

                    Crustacea merupakan hewan yang memiliki anggota badan bersendi-sendi
    sehingga ada yang menggolongkannya ke dalam filum artrhopoda (artrhos =sambungan ,
    podos = kaki) atau hewan yang memiliki kaki-kaki di bagian sendi-sendi tubuhnya. Selain itu
    memiliki kulit yang keras (crusta= kulit keras). Ada juga yang berkulit tebal dan berduri yang
    berfungsi untuk menghindari predator.
                Crustacea memiliki tubuh bersegmen (beruas) dan terdiri dari cephalotoraks
    (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut).Pada bagian anterior (ujung depan),
    Crustacea memiliki tubuh yang besar dan lebih lebar, sedangkan pada bagian posterior
    (ujung belakang) memiliki tubuh yang kecil.
                Crustacea merupakan hewan yang hidup di perairan baik di perairan darat
    maupun perairan laut. Kebanyakan jenis dari Crustacea tingkat rendah didominasi oleh
    plankton laut dan tawar. Copepoda, krill, dan rebon merupakan salah satu contoh Crustacea
    yang memiliki peran penting dalam rantai makanan di perairan, yaitu sebagai penghubung
    antara fitoplankton dengan predator.
                Tubuh Crustacea dibagi ke dalam dua bagian, bagian depan cephalotoraks dan
    bagian belakang abdomen yang bersendi-sendi. Tiap ruas tubuh memiliki apendik (anggota
    badan) yang dalam pertumbuhannya akan mengalami nerevolusi sesuai dengan fungsinya.
    Pada permukaan luar tubuhnya ditutupi oleh cuticula yang terbuat dari chitin keras yang
    disebabkan impregnasi atau meresapnya dengan garam-garam kapur. Pada bagian
    cephalotoraks biasanya tertutup oleh karapak yang mengandung pigmen dan zat kapur dan
    menjulur hingga ke depan diantara dua mata.
                Pada bagian kepala Crustacea dewasa memiliki sepasang antena pertama
    (antenula), sepasang antena kedua (antenna), sepasang mandibula, dan dua pasang maksilla
    yang membantu proses makan. Pada bagian dada terdiri dari delapan segmen dan memiliki
    tiga pasang maksiliped, sepasang cheliped, dan empat pasang periopod (kaki jalan). Pada
    bagian abdomen terdiri dari enam segmen dan memiliki lima pasang pleopod (kaki renang)
    dan sepasang uropod. Pada udang jantan, pasangan pleopod 1 dan 2 bersatu (gonopod) yang
    berfungsi untuk menyalurkan spermatozoa. Pada udang betina, di bagian segmen ke-11
    terdapat penebalan lubang kelamin yang disebut thelycum. Berikut adalah fungsi masing-
    masing lima buah pleopod pada udang jantan dan betina:
<!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Pleopod 1       : pada udang betina berfungsi untuk
    mereduksi, sedangkan pada udang jantan berfungsi untuk memindahkan spermatophor
    kepada betina.
<!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Pleopod 2       : pada udang betina berfungsi untuk
    melekatkan telur dan anak-anaknya yang masih muda, sedangkan pada udang jantan
    berfungsi untuk memindahkan spermatophor kepada yang betina.
<!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Pleopod 3, 4, dan 5 : pada udang betina berfungsi
    untuk melekatkan telur dan anak-anaknya yang masih muda, sedangkan pada udang jantan
    berfungsi untuk menimbulkan aliran air .
   <!--[if !vml]-->


   Gambar 1. Struktur tubuh Crustacea
     I.2 Organ dalam tubuh

              Organ dalam Crustacea bisa dikatakan sudah lengkap. Di dalam tubuh Crustacea
   terdapat sistem-sistem yang sudah kompleks. Sistem-sistem tersebut adalah sistem
   pencernaan, sistem pernafasan, sistem ekskresi, sistem reproduksi, dan sistem peredaran
   darah. Pada sistem pencernaan terdapat mulut, esofagus, kelenjar pencernaan, usus halus, dan
   anus. Pada sistem pernafasan terdapat insang atau seluruh permukaan tubuh. Pada sistem
   reproduksi terdapat testis atau ovarium serta gonopod. Pada sistem peredaran darah terdapat
   jantung yang membentuk sistem peredaran darah terbuka. Pada sistem syaraf terdapat
   ganglion dan otak yang berfungsi mengatur seluruh sistem.




              <!--[if !vml]-->
       <!--[endif]-->


   Gambar 2. bagian dalam tubuh Crustacea




                    BAB II
   KLASIFIKASI CRUSTACEA

    II.1 Entomostraca (udang tingkat rendah)
            Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton. Mereka juga
    dapat digunakan sebagai pakan ikan, seperti : Daphnia sp. sebagai pakan ikan hias ;
    Copepoda sebagai pakan ikan laut. Entomostraca dapat dibagi menjadi 4 ordo yaitu
    Branchiopoda, Ostracoda, Copepoda, dan Cirripedia.
<!--[if !supportLists]-->a) <!--[endif]-->Branchiopoda
        Branchiopoda (kutu air) merupakan kelompok Crustacea kecil yang menjadi salah satu
   penyusun zooplankton, contohnya seperti Daphnia pulex dan Asellus aquaticus. Mereka
   memiliki tubuh pucat dan transparan, tetapi tidak mempunyai cephalotorax. Dan hampir
   semua Branchiopoda hidup di perairan tawar. Keunikan dari ordo ini adalah mereka
   berkembang biak secara partenogenesis.




    Gambar 3. Branchiopoda
<!--[if !supportLists]-->b) <!--[endif]-->Ostracoda
         Ostracoda merupakan kelompok Crustacea yang terdapat di air tawar maupun air asin.
    Ostracoda berperan dalam keseimbangan ekosistem sebagai: herbivora dengan memakan
    ganggang; karnivora dengan memakan Crustacea kecil dan Annelida; scavenger dengan
    memakan bangkai dan detritus.
         Ostracoda memiliki ciri-ciri tubuh yang tidak tampak jelas. Pada tubuhnya, Ostracoda
    mempunyai 6 sampai 7 apendik yang beruas-ruas, yaitu antena pertama, antena kedua,
    maksila pertama, maksila kedua, apendik thorax dan caudal furca. Pada bagian anteriornya,
    Ostracoda memiliki sebuah mata nauplius. Contoh dari Ostracoda antara lain Cypris candida
    dan Codona suburdana.




    Gambar 4. Ostracoda
<!--[if !supportLists]-->c) <!--[endif]-->Copepoda
         Copepoda merupakan salah satu penyusun zooplankton. Sebagian besar dari Copepoda
    hidup bebas di perairan, baik di air tawar maupun air laut. Namun 25% dari Copepoda hidup
    sebagai ektoparasit. Copepoda bersifat filter feeder yaitu memakan fitoplankton.
         Tubuh Copepoda berbentuk silindris dan pendek seperti halnya Branchiopoda, Copepoda
    juga memiliki tubuh transparan. Warna merah, ungu, biru dan sebagainya pada Copepoda
    adalah warna yang ditimbulkan oleh makanan yang dimakan oleh Copepoda. Tubuh
    Copepoda terdiri dari kepala yang membulat, 6 ruas thorax, dan 3 sampai 5 ruas abdomen.
    Contoh dari Copepoda adalah Argulus indicus dan Cyclops.
    Gambar 5. Copecoda
<!--[if !supportLists]-->d) <!--[endif]-->Cirripedia
         Cirripedia mempunyai bentuk tubuh yang berbeda dari 3 ordo sebelumnya. Tubuh
    Cirripedia yang terdiri dari kepala dan dada tertutup oleh karapas yang berbentuk cakram.
    Dan ruas-ruas tubuhnya tidak terlihat jelas.
         Cirripedia ada yang bersifat parasit dan nonparasit. Mereka yang hidup parasit akan
    menempel di dasar kapal, perahu, dan tiang-tiang yang tertanam di pantai. Cirripedia
    termasuk filter feeder dengan memakan mikroplankton. Contoh dari Cirripedia adalah
    Bernakel dan Sacculina.




   Gambar 6. Cirripedia

    II.2 Malakostraca (udang tingkat tinggi)
             Kelompok ini merupakan kelompok Crustacea yang berukuran besar dibandingkan
    dengan kelompok Entomostraca. Hewan ini terdapat di air laut maupun air tawar.
    Malakostraca dan Entomostraca dapat dibedakan dengan melihat ruas-ruas tubuh yang
    tampak jelas pada kelompok Malakostraca. Malakostraca dibagi menjadi 3 ordo, yaitu
    Isopoda, Stomatopoda, dan Decapoda.
<!--[if !supportLists]-->a) <!--[endif]-->Isopoda
         Isopoda (kutu kayu) merupakan kelompok Malakostraca yang hidup sebagai parasit.
    Isopoda dikatakan sebagai kutu kayu karena mereka merupakan pengerek lunas perahu-
    perahu nelayan. Selain sebagai pengerek kayu, Isopoda memakan ganggang, jamur, lumut,
    dan hewan-hewan yang sudah membusuk. Contoh dari Isopoda adalah Onicus asellus (kutu
    perahu) dan Limnoria lignorum.




    Gambar 7. Kutu Perahu
<!--[if !supportLists]-->b) <!--[endif]-->Stomatopoda
         Stomatopoda (udang belalang) merupakan kelompok Crustacea yang mirip dengan
    belalang sembah. Mereka mempunyai warna yang mencolok pada tubuhnya. Contoh dari
    Stomatopoda adalah Squilla empusa.
    Gambar 8. Stomatopoda
<!--[if !supportLists]-->c) <!--[endif]-->Decapoda (kaki sepuluh)
         Decapoda merupakan kelompok Crustacea yang paling banyak ditemukan spesiesnya.
    Decapoda meliputi jenis udang dan kepiting. Hewan ini terdapat di air tawar, payau, maupun
    laut.
         Decapoda mempunyai morfologi yang tampak jelas. Mereka mempunyai 3 pasang
    apendik thorax yang termodifikasi menjadi maksiliped dan 5 pasang apendik thorax
    berikutnya sebagai kaki jalan atau periopod, sehingga Decapoda disebut juga dengan kaki
    sepuluh.
           Dibawah ini beberapa contoh Decapoda yaitu:
<!--[if !supportLists]-->a.   <!--[endif]--> Udang
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau.
<!--[if !supportLists]-->·     <!--[endif]-->Macrobrachium rasenbengi (udang galah), hidup di
    air tawar dan payau.
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Cambarus virilis (udang air tawar).
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Panulirus versicolor (udang karang), hidup di air laut
    dan tidak memiliki kaki catut.
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Palaemon carcinus (udang sotong)
<!--[if !supportLists]-->b.   <!--[endif]-->Ketam
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Portunus sexdentatus (kepiting)
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Parathelpusa maculata (yuyu)
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Scylla serrata (kepiting)
<!--[if !supportLists]-->·    <!--[endif]-->Birgus latro (ketam kenari)




   <!--[if           !vml]-->
             <!--[endif]-->                       Gambar 9. Decapoda
BAB III
FISIOLOGI

        III.1 Sistem Pencernaan
         Crustacea memiliki alat pencernaan yang lengkap. Alat pencernaannya yaitu mulut
yang terletak di bagian anterior, esophagus, lambung, usus dan anus terletak di bagian
posterior. Hewan ini juga memiliki kelenjar pencernaan atau hati di bagian chepalotoraks.
Sisa hasil metabolisme dibuang melalui anus, selain itu juga dibuang melalui alat ekskresi
yang disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.
        Crustacea memiliki cara makan yang beraneka ragam yaitu dengan filter feeder,
pemakan bangkai, herbivora, karnivora, dan parasit. Filter feeder dalam menyaring air untuk
mendapatkan makanan hal ini menyebabkan mandibel (rahang) dan antenna akan berubah
(berevolusi) sesuai dengan fungsinya yaitu mulut untuk menyring air dan antenna untuk
melacak makanan pada air). Pada Crustacea pemakan bangkai, herbivore, dan karnivora
memiliki bagian tubuh yang berfungsi untuk mencengkram atau mengambil makanan,
misalya maksilla mandible yang berfungsi untuk memegang, menggigit, dan menggiling
makanan.
        Biasanya Crustacea aktif di malam hari, pada waktu itu mereka meninggalakan
tempat persembunyiannya untuk mencari makanan. Jenis yang hidup di perairan dangkal
akan menuju terumbu karang, sedangkan yang hidup di perairan agak dalam akan berkeliaran
disekitar tempat persenmbunyiannya untuk mencari makan.
        III.2 Sistem Peredaran darah
        Sistem peredaran darah pada Crustacea disebut sistem peredaran darah terbuka
(haemocoelic). Hal ini berarti bahwa darah beredar tanpa melalui pembuluh darah, sehingga
terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem peredaran darah ini menyebabkan
hilangnya rongga tubuh, karena darah memenuhi celah antar jaringan dan organ tubuh yang
disebut homocoel (rongga tubuh yang dipenuhi darah). Rongga tubuhnya hanya pada rongga
ekskresi dan organ perkembangbiakan.
        Letak jantung dari Crustacea biasanya terdapat di bagian dorsal toraks atau di
sepanjang badan. Darah keluar dari jantung melalui sebuah aorta anterior, arteri abdomen
posterior, beberapa arteri lateral dan sebuah arteri ventral. Beberapa Crustacea tidak
mempunyai sistem arteri. Pada kebanyakan Malakostraca terdapat jantung tambahan
(accessory heart) atau pompa darah untuk menaikan tekanan darah.
        III.3 Sistem ekskresi
        Organ ekskresi yang dimiliki oleh Crustacea berupa kelenjar antenna atau kelenjar
maksilla. Hasil buangannya berupa ammonia dan sedikit urea serta asam urat selai itu
terdapat banyak amina. Organ ekskresi Crustacea terdiri atas sebuah kantong ujung dan
saluran ekskresi yang berhubungan dengan bladder. Kelenjar antenna dan kelenjar maksilla
juga menjadi saluran pembuangan sisa metabolisme, walaupun bukan sebagai saluran utama.
Pada Crustacea insang memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan kadar
garam dalam tubuh. Insang secara aktif mengarbsorbsi garam-garam dari lingkungannya.
Pada sumbu insang biasanya terdapat Mephrocyte atau sel yang mampu mengambil dan
mengumpulkan partikel buangan.
        III.4 Sistem reproduksi
        Kebanyakan Crustacea memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau
terdapat individu jantan dan betina, namun pada Crustacea tingkat rendah ada yang bersifat
hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga dan alat kelamin jantan
terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada spesies tertentu ada yang belum dapat
diketahui perkembangbiakan dan perkelaminannya.
        Gonad biasanya panjang dan sepasang terletak dibagian dorsal toraks dan atau
abdomen. Crustacea bereproduksi dengan mengadakan kopulasi (pembuahan). Pada proses
kopulasi tersebut individu jantan biasanya memiliki apendiks yang dapat berfungsi untuk
memegang betina. Individu jantan akan meletakan massa spermatoforik di bagian sternum
udang betina. Peletakan massa spermatoforik tersebut berlangsung sebelum telur dikeluarkan.
Pembuahan terjadi saat telur yang dikeluarkan dari celah genital ditarik ke arah abdomen oleh
pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur tertarik ke abdomen, sperma keluar dari massa
spermatoforik yang tersobek sehingga terjadi pembuahan.
        Pembuahan tersebut dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Hal ini tergantung
pada sifat dari spermatoforiknya. Jika spermatoforknya bersifat kental, pembuahan terjadi
secara eksternal. Sedangkan spermatoforik yang bersifat cair memungkinkan untuk masuk ke
dalam oviduct (saluran telur) sehingga terjadi secara internal.
        Telur yang sudah menetas akan menjadi nauplius yang planktonis. Naulius tersebut
mempunyai tiga pasang apendik yaitu antenna pertama, antenna kedua dan mandibula; tubuh
belum beruas-ruas; dibagian anterior terdapat mata nauplius.
        III.5 Sistem Syaraf dan alat indra
        Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat
indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan mata majemuk (facet)
yang bertangkai.
        Alat indra terdiri atas mata majemuk, bintik mata, statocyst, proproceptor, alat peraba
dan chemoreceptor. Mata majemuk terdapat pada hampir semua spesies dewasa, biasanya
terletak pada ujung tangkai yang dapat digerakkan tetapi adakalanya sessil. Crustacea dengan
mata majemuk yang berkembang baik mempunyai kemampuan untuk membedakan ukuran
dan bentuk tetapi ketajaman penglihatannya kecil dan gambarnya kasar.
        Bintik mata selalu terletak digaris menengah dan khusus terdapat pada stadium larva
nauplius; terdiri atas 3 sampai 4 ocelli berbentuk mangkuk pigmen; berfungsi untuk
mendeteksi cahaya. Bintik mata diperlukan hewan planktonik untuk menentukan lokasi
permukaan air, dan bagi hewan peliang untuk menentukan lokasi permukaan substrat.
Statocyst hanya terdapat pada beberapa kelompok Malakostraca. Sepasang statocyst biasa
terletak pada pangkaal antenul, uropod atau telson. Propioreceptor merupakan alat indra otot,
terdapat pada malacostraca terutama decapoda. Tiap organ terdiri atas sejumlah sel otot yang
mengalami modifikasi spesial, berperan membantu mengatur kedudukan apendik, semacam
indra gerak yang dirangsang oleh peregangan diantara sel otot, kontraksi otot diskitarnya.
Alat peraba biasanya membentuk bulu-bulu dan tersebar di berbagai tempat pada permukaan
tubuh, terutama apendik. Chemoreceptor merupakn alat indra untuk mendeteksi zat kimia,
terdapat pada kedua pasang antena dan apendik mulut . Esthetasc berbentuk bulu-bulu indra
yang panjang dan lembut merupakan chemoreseptor yang umum terdapat kebanyakan
crustacea.
        III.6 Sistem pernafasan
        Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang bertubuh
sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya. Letak insang pada malacostraca
biasanya terbatas pada apendik thorax. Aliran air kearah insang umumnya dihasilkan dari
gerakan teratur sejumlah apendik. Oksigen dalam peredaran darah terdapat dalam bentuk
larutan sederhana atau terikat pada hemoglobin atau hemocyanin. Hemocyanin hanya trrdapat
pada malacostraca.Pigmen pernapasan larut dalam plasma, tetapi adakalanya hemoglobin
terdapat dalam otot dan jaringan saraf, bahkan dalam telur beberapa jenis Crustacea.
         BAB IV
         PERANAN CRUSTACEA


         IV.1     KEUNTUNGAN
                  Jenis Crustacea yang menguntungkan manusia dalam beberapa hal, antara lain:
             1.   Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misalnya udang, lobster dan kepiting.
             2.   Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber makanan
                  ikan, misal anggota Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda.
             3.   Udang rebon merupakan bahan baku pembuatan terasi.
             4.   Telur artemia banyak diperdagangkan karena naupliusnya merupakan makanan awal
                  bagi anak ikan atau Udang.

         IV.2 KERUGIAN
              Sedangkan beberapa Crustacea yang merugikan antara lain:
           1. Merusak galangan kapal (perahu) oleh anggota Isopoda.
           2. Parasit pada ikan, kura-kura, misal oleh anggota Cirripedia dan Copepoda.
           3. Merusak pematang sawah atau saluran irigasi misalnya ketam.
           4. Copepoda merupakan inang perantara penyakit cacing pita ikan Dibotrio Cephalus
              Latus
           5. Tritip, yang merupakan pengganggu bagi manusia karena mengotori lunas kapal,
              pelampung dan tiang tiang dilaut populasi tritip yang padat dapat mengurangi
              kecepatan kapal.
              BAB V
         KESIMPULAN

     <!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Crustacea adalah avertebrata air yang tergolong filum
         arthropoda dan memiliki anggota badan atau ektremitas yang bersendi-sendi.
     <!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Klasifikasi Crustacea menurut Calman dibagi menjadi 5
         sub kelas yakni Branchiopoda, Ostracoda, Copecoda, Cirripedia, dan Malakostraca.
     <!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Cara makan pada Crustacea sangat beragam yaitu dapat
         sebagai filter feeder (penyaring makanan), scavengers (pemakan bangkai), herbivora,
         karnivora, simbion, epizon, dan parasit.
     <!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Crustacea mempunyai organ ekskresi, respirasi
         peredaran darah terbuka, sistem syaraf dan sistem reproduksinya diocious tetapi pada
         Crustacea tingkat rendah bersifat hermaprodit.
     <!--[if !supportLists]-->Ø <!--[endif]-->Crustacea dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan,
         penyeimbang ekosistem dan berkomensalisme dengan spesies lain, namun Crustacea juga
         dapat bersifat merugikan karena bersifat parasit

                                  DAFTAR PUSTAKA

         Brotowijoyo, Mukayat. 1990 . Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.
         Radiopoetro, dkk. 1991 . Zoology. Jakarta : Erlangga.
Sunardi, Drs. 1983 . Evolusi Avertebrata. Jakarta : Universitas Indonesia ( UI-Press).
Suwignyo, dkk. 2005 . Avertebrata Air. Jilid 2 . Jakarta : Penebar Swadaya.

								
To top