Docstoc

ETIKA PENDIDIKAN

Document Sample
ETIKA PENDIDIKAN Powered By Docstoc
					ETIKA PENDIDIKAN: (PEMBENTUKAN
KECERDASAN SPIRITUAL)
28 Agustus 2008 zuhdifirdaus Tinggalkan komentar Go to comments

oleh Ahmad Averoz

Salah satu di antara sekian banyak tantangan dalam kebijakan dan perkembangan pendidikan
di Indonesia, menurut Daoed Joesoef (2001: 197-199), adalah tiadanya atau kurang
dihayatinya etika masa depan dalam penalaran dikalangan elit pemimpim bangsa. Etika masa
depan timbul dari dan dibentuk oleh kesadaran bahwa semua manusia, sebagai individu
maupun kolektif akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama dengan sesama
makhluk hidup lainnya yang ada di muka bumi. Hal ini berarti bahwa etika masa depan
menuntuk manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekunsi dari setiap
perbuatan yang dilakukannya di masa sekarang.
Etika masa depan sebagai sebagaimana dimaksud di atas tidak sama dengan etika di masa
depan; etika masa depan adalah etika masa kini untuk masa depan. Sebab di masa depan,
tanpa adanya etika masa depan sekarang ini, semuanya sudah menjadi terlambat. Oleh karena
itu, dalam etika masa depan terkandung keharusan agar manusia berani menjawab tantangan
terhadap kemampuan yang khas yang manusiawi untuk mengantisipasi, merumuskan nilai-
nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-
generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang menjadi semakin tidak terkendali
di zaman mereka di kemudian hari.
Demi pembangunan masa depan yang tetap manusiawi, etika masa depan oleh Karena itu
harus menjadi bagian dari etika pendidikan. Dalam konteks etika pendidikan, etika masa
depan berkaitan dengan out put pendidikan, yakni tipe manusia ideal masa depan yang
hendak di bentuk dalam proses pendidikan. Dalam kaitan ini kita berpendapat bahwa tipe
manusia ideal masa depan yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah manusia yang memiliki
kecerdasan spiritual yang tinggi. Hal ini tentu saja mengharuskan agar etika masa depan
pendidikan kita menekankan pada orientasi pembentukan kecerdasan spiritual peserta didik.
Makalah ini akan mengelaborasi secara seksama gagasan tentang etika masa depan
pendidikan yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan spiritual. Permasalahan yang
dicermati meliputi: Apa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual? Mengapa proses
pendidikan perlu menekankan pembentukan kecerdasan spiritual? Bagaimana metode
pembelajaran dalam pembentukan kecerdasan spiritual?

Konsep dan Karakteristik Kecerdasan Spiritual
Konsep kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ) pertama kali digagas dan dipopulerkan
oleh Donah Zohar dan Ian Marshall (2000). Kedua penulis ini, yang masing-masing berasal
dari Harvard University dan Oxford University, melalui riset yang komprehensif
membuktikan bahwa sesungguhnya kecerdasan manusia yang paling tinggi terletak pada
kecerdasan spiritualnya. Dengan mendasarkan pada hasil penelitian ahli psikologi/saraf,
Michael Persinger (awal 1990-an) dan V.S. Ramachandran (1997), Zohar dan Marshall
mengatakan bahwa terdapat God-Spot dalam otak manusia. God-Spot tersebut sudah built-in
(tertanan mantap) sebagai pusat spiritual diantara jaringan saraf dan otak. Menurut Zohar dan
Marshall (2000), ada dua hal yang merupakan unsure fundamental dari SQ, yaitu aspek nilai
dan makna.
Berdasarkan identifikasi tentang dua unsur fundamental SQ tersebut, mereka mengatakan
bahwa SQ adalah kecerdasan untuk mengahadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai,
kecerdasan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas
dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding
orang lain, dan kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga
untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Penting dikemukakan bahwa Zohar dan Marshall berpendapat SQ itu berbeda dengan agama,
karena agama merupakan aturan-aturan yang datang dari luar (etika heteronom); sedangkan
SQ adalah kemampuan internal, yaitu sesuatu yang menyentuh dan membimbing manusia
dari dalam (etika otonom). Dalam hal ini agama, menurut mereka, adalah salah satu saja di
antara banyak nilai yang dapat meningkatkan SQ, tetapi bukan merupakan penentu utama SQ
yang tinggi. Dimensi spiritual, dengan demikian bukan merupakan dimensi agama, tetapi
dimensi abstrak dari materi invisible (tak kasat mata). Ia tidak berhubungan dengan persoalan
ada atau tidak adanya Tuhan, melainkan sebuah pengembaraan sifat fisik yang invisible. Oleh
karena itu, dalam konsep Zohar dan Marshal, SQ yang tinggi tidak menjamin seseorang
menjadi beriman kepada Tuhan. Sebab, God-Spot yang menjadi pusat spiritual itu hanya
dipandang sebagai sesuatu yang dapat melihat adanya rahasia fenomena yang disebut sebagai
Tuhan, tetapi tidak dapat membawa Tuhan pada kehidupan seseorang. Zohar dan Marshall
memberikan gambaran yang rinci tentang karakteristik SQ. menurut mereka, orang yang
memiliki SQ yang tinggi ditandai dengan ciri-ciri: (1) kemampuan bersifat fleksibel (adaptif
secara spontan dan aktif), (2) tingkat kesadaran yang tinggi, (3) kemampuan menghadapai
dan memanfaatkan penderitaan, (4) kemampuan untuk menghadapai dan melampaui rasa
takut, (5) kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, (6) keengganan untuk
menyebabkan kerugian yang tidak perlu, (7) kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara
berbagai hal (berpandangan holistic), (8) kecenderungan untuk bertanya: “mengapa?”, atau
“bagaimana jika?”, guna mencari jawaban yang mendasar, dan (9) kepemimpinan yang
penuh pengabdian dan bertanggung jawab.
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa konsep SQ yang dielaborasi oleh Zohar dan
Marshall tersebut cenderung memiliki watak yang sekuleristik dan materialistic. Landasan
paradigmatic pembahasan mereka, menurut Aliyah Rasyid Baswedan (2002:1) baru sebatas
tataran biologi dan psikologi semata, tidak bersifat transcendental. Oleh karena itu, temuan
Zohar dan Marshall tentang suara hati (hati nurani) yang bersumber dari pusat spiritual yang
disebur God-Spot itu baru sebatas hardware-nya saja, belum ada software-nya. Dalam
pandangan Aliyah rasyid Baswedan, dari sudut pandang Islam software (perangkat lunak, isi)
SQ ialah dimensi transcendental. Dari perspektif Islam, menurut Ary Ginanjar Agustian
(2001), SQ adalah kemampuan untuk member makna ibadah terhadap setiap perilaku dan
kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia
seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip “hanya
kepada Allah”.
Sesuai dengan pengertian ini, inti SQ ialah bagaimana mendengarkan suara hati yang
terdalam sebai sumber kebenaran yang meupakan karunia Tuhan, yang dari padanya
seseorang dapat merasakan adanya sesuatu yang indah atau mulia dalam dirinya. Efektivitas
suara hati akan mempengaruhi perilaku individu, sehingga akhirnya akan menghasilkan
manusia unggul secara spiritual, yang mampu mengekplorasi dan menginternalisasi kekayaan
ruhaniah dan jasmaniah dalam hidupnya.
Menurut Toto Tasmara (2001), dalam perspektif Islam karakteristik SQ adalah: (1)
menampilkan sosok diri sebagai professional yang berakhlak, (2) pembawa keselamatan,
keteduhan dan kelembutan, (3) terus menerus mengisi kehidupannya dengan cinta, (4)
menjadikan hidup penuh arti, (5) bersiap menghadapi kematian, dan (6) merasakan seluruh
kehidupannya selalu dimonito oleh kamera ilahiah. Secara singkat, dari uraian di atas dapat
dikatakan bahwa SQ adalah kemampuan “menjadikan” Tuhan sebagai mitra kerja dalam
segenap aspek kehidupan. Karakteristiknya ialah unggul secara intelektual, kaya dalam amal,
serta anggun dalam moral dan kebijaksanaan.

Signifikansi Pembentukan SQ dalam Etika Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses panjang dalam rangka mengantarkan manusia menjadi
seseorang yang kaya spiritual dan intelektual, sehingga dia dapat meningkatkan kualitas
hidupnya di segala aspek dan menajalani kehidupan dengan cita-cita dan tujuan yang pasti
(Maarif, 1996: 6). Dalam konteks ini Noeng Muhadjir (1987: 20-25) menyebutkan adanya
tiga fungsi pendidikan, yaitu: pertama, pendidikan berfungsi menumbuhkan kreativitas
peserta didik; kedua, pendidikan berfungsi mewariskan nilai-nilai kepada peserta didik; dan
ketiga, pendidikan berfungsi meningkatkan kemampuan kerja produktif peserta didik. Ketiga
fungsi pendidikan tersebut pada prinsipnya merupakan suatu kesatuan organic dan, karena
itu, harus dilaksanakan secara terpadu dan berimbang. Namun dalam kenyataannya, praktek
pendidikan kita yang berjalan selama ini cenderung hanya mengaktualisasikan fungsi pertama
dan ketiga, tetapi mengabaikan fungsi kedua. Kenyataan inilah yang dimaksud oleh M. Rusli
Karim (1991: 128-129) ketika dia mengatakan bahwa pendidikan kita hanya melakukan
transfer og knowledge (alih pengetahuan) dan tidak melakukan transfer of value (alih nilai).
Kecenderungan praktek pendidikan kita yang lebih mengedepankan alih pengetahuan dan
menomerduakan upaya alih nilai agaknya berkaitan erat dengan paradigma modernisasi yang
menjadi ideologi pembangunan nasional. Paradigma modernisasi dalam pembangunan
nasional memang terutama menekankan pada aspek pertumbuhan sebagai ukuran
keberhasilan pembangunan nasional. Dalam konteks ini pendidikan sebagai institusi yang
diarahkan untuk melayani kepentingan pembangunan kemudian mengalami reduksi
fungsional dengan hanya menjadi sekedar “pemasok” tenaga kerja terampil yang dibutuhkan
oleh dunia industri. Akan tetapi, praktek pendidikan yang hanya menekankan alih
pengetahuan (plus ketrampilan) dan mengabaikan alih nilai tersebut tentu saja bukan tanpa
resiko.
Ahmad Syafii Maarif (1996: 97) dengan tepat menggambarkan akibat dari praktek
pendidikan yang tidak melaksanakan fungsinya secara terpadu, sebagai berikut: Dengan
melihat kondisi pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam yang ada sekarang ini pada
khususnya, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya kita secara moral akan menghadapi
bahaya besar, yaitu telah semakin menipisnya penjunjungan aspek moralitas, atau masalah
moral dijadikan sebagai urusan kedua. Untuk suatu jangka panjang, keadaan ini akan
memberi pengaruh besar pada sisi manusiawi umat dan bangsa, yaitu hilangnya rasa
ukhuwah, yang telah begitu membantu dalam membangun peradapan manusia yang saling
tolong-menolong. Apa yang dikatakan oleh Syafii Maarif di atas dapat kita saksikan secara
kasat mata dewasa ini. Kejahatan berdasi (white color crime) berupa korupsi, kolusi, dan
nepotisme merupakan konsumsi berita yang amat lazim dalam kehidupan kita sehari-hari. Itu
semua dilakukan justru oleh orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi
(hasil aktualisasi fungsi pendidikan yang pertama) dan keterampilan teknis yang tinggi (hasil
aktualisasi fungsi pendidikan yang ketiga), namun mereka pada dasarnya adalah orang-orang
yang “tuna moral” (karena tidak berjalannya fungsi pendidikan yang kedua).
Demikian pula peristiwa-peristiwa kerusuhan dan konflik social yang sebagiannya bermuatan
“sara” terus-menerus menjadi tontonan kita sehari-hari di era reformasi ini, suatu tontonan
yang menunjukkan betapa parahnya krisis ukhuwah dalam kehidupan kita sebagai umat dan
bangsa. Kuntowijoyo (2000:253-244) menyebut gejala ini sebagai kesenjangan antara
kesadaran dan perilaku, suatu gejala yang merupakan anomie era ferormasi. Dalam
menghadapi kondisi tersebut di atas, jauh dilubuk hati kita terasa kerinduan akan adanya
nilai-nilai moral yang luhur yang timbul dari dalam jiwa setiap insan Indonesia, yang pada
gilirannya berperan sebagai acuan hubungan social di antara sesame kita. Adanya nilai-nilai
moral yang luhur tersebut diharapkan mampu membawa kesejukan bagi kehidupan kita
sehari-hari. Dalam konteks inilah kita melihat bahwa pembentukan SQ menjadi sangat
penting sebagai etika masa depan pendidikan nasional.Selain itu, semakin menguatnya
desakan pemilikan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk hidup bersama
dalam pusaran global membuat SQ terasa kian penting peranannya. Djamaludin Ancok
(2001) menjelaskan bahwa memasuki ekonomi baru yang virtual diperlukan empat modal,
yaitu intelektual, modal social, modal spiritual, dan modal kesehatan. Menurutnya, modal
spiritual menjadi sangat penting, karena upaya membangun manusia yang cerdas dengan IQ
tinggi dan manusia pandai mengelola emosinya dalam berhubungan dengan orang lain
tidaklah mengantarkan manusia pada kebermaknaan hidup. Padahal kebermaknaan hidup
adalah suatu motivisai yang kuat yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu
yang berguna. Hidup yang berguna adalah hidup yang member makna pada diri sendiri dan
orang lain. Modal spiritual juga dapat memberikan perasaan hidup yang komplit (wholenees),
karena adanya kedekatan dengan sang Pencipta.

Metode Pendidikan Berbasis Pembentukan SQ
Dari uraian tentang konsep dan karakteristik SQ di atas dapat ditegaskan bahwa SQ yang
sejati adalah SQ yang berlandaskan pada kesadaran transcendental, bukan sekedar SQ pada
tataran biologi dan psikologi. Menurut Roger Garaudy (1986: 256-267), dari perspektif
syari’ah kesadaran transcendental mempunyai tiga unsur. Pertama, pengakuan tentang
ketergantungan manusia kepada Tuhan. Kedua, adanya perbedaan yang mutlah antara Tuhan
dan manusia. Ketiga, pengakuan tentang adanya noema-norma mutlak dari Tuhan yang tidak
berasal dari manusia.
Bertolak dari pandangan bahwa SQ yang berlandaskan kesadaran transcendental, maka
secara teoritis pembentukan SQ yang sejati harus melalui pendidikan agama. Sehubungan
dengan pembentukan SQ ini, Ary Ginanjar Agustian (2001) menyarankan perlunya
diupayakan empat langkah pokok, yaitu: Melakukan kejernihan emosi (zero mind process)
sebagai prasyarat lahirnya alam pikiran yang jernih dan suci (God-Spot/fitrah), yaitu kembali
kepada hati dan pikiran yang bersifat meedeka serta bebas dari belenggu. Membangun mental
yang berkaitan dengan kesadaran diri, yang dibangun dari alam pikiran dan emosi secara
sistematis berdasarkan rukun iman (prinsip: bintang atau ilahi, malaikat, kepemimpinan,
pembelajaran, masa depan, keteraturan). Membentuk ketangguhan pribadi, suatu langkah
pengasahan hati yang telah terbentuk berdasarkan rukun islam, yang dimulai dari: (a)
penetapan misi, (b) pembentukan karakter secara kontinyu dan intensif, dan (c) pelatihan
pengendalian diri. Membentuk ketangguhan social, yaitu melakukan aliansi atau sinergi
dengan orang lain atau lingkungan social sebagai suatu perwujudan tanggung jawab social
seseorang yang telah memiliki ketangguhan pribadi. Hal ini dilakukan dengan dua langkah,
yaitu (a) sinergi, dan (b) aplikasi total. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang al-asmaul
husna. Dengan al-asmaul husna yang merupakan junci dasar rukuk imam dan rukun Islam,
seseorang dapat merasakan dan mendeteksi satu per satu dorongan suara hati terdalam
dengan jelas; juga perasaan serta suara hati orang lain yang pada hakekatnya bersuber pada
suara hati Allah yang Maha Mulia dan Maha Benar.

Dalam praktis pendidikan agama Islam.
Metode pembelajaran yang tepat diterapkan dalam rangka pembentukan SQ, menurut hemat
penulis, adalah metode atau pendekatan substansialis. Inti metode atau pendekatan
substansialis ialah pembentukan sikap dan gaya hidup yang agamis, humanis, dan ilmiah
pada diri peserta didik. Dengan demikian, pelaksanaannya adalah pada penjiwaan,
penghayatan, penyerapan, dan internalisisi nilai-nilai fundamental keagamaan, kemanusiaan
universal, dan nilai-nilai ilmiah pada diri peseta didik.
Model pembelajaran seperti ini dimaksudkan agar nilai-nilai gundamental agama, nilai-nilai
kemanusiaan universal, dan nilai-nilai ilmiah membentuk dan menjadi pendangan dunia
(world-view) peserta didik dalam setiap aspek dan langkah kehidupannya (Abdullah, 1996:
73-75).
Dalam kaitan dengan metode substansial dimaksud di atas, ada dua strategi mengajar yang
nampaknya tepat digunakan, yaitu strategi meaningful-discovery learning dan strategi values
clarification. Strategi meaningful-discovery learning adalah strategi mengajar dimana
penyampaian bahan pelajaran mengutamakan maknanya bagi peserta didik. Dalam hal ini
bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir; sebaliknya, peserta didik justru dituntut untuk
melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, menganalisis,
mengintegrasikan, mereorganisasikan, dan membuat kesimpulan-kesimpulan.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut peserta didik akan menguasai, menerapkan dan
menemukan hal-hal baru yang bermanfaat baginya (Sukmadinata, 2000: 107-108). Strategi
inilah yang disebut Paulo Freire (2000: 61) sebagai model pembelajaran “hadap masalah”
(problem posing). Sementara itu, strategi value clarification adalah strategi pembelajaran
yang menekankan pada upaya untuk membantu peserta didik mengklarifikasikan nilai-nilai
yang ada pada diri mereka sendiri dan yang ada pada masyarakat.
Dalam strategi ini proses pembelajaran tidak sekedar untuk menghapal berbagai tuntutan
dalam nilai-nilai (agama, social, budaya, ilmu dan sebagainya), tetapi guru perlu memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk melakukan refleksi terhadap
nilai-nilai yang sedang mereka pelajari (Suyanto dan Djihan Hisyam, 2000:77). Penulis
percaya bahwa jika kita konsisten menerapkan metode substansialis berserta kedua
strateginya tersebut dalam proses pembelajaran agama Islam, maka kita akan bisa berhasil
secara efektif membentuk SQ peserta didik. Bila hal ini menjadi kenyataan, tentunya kita
boleh berharap bahwa wajah moralitas bangsa ini akan berubah positif di masa depan.
Penutup
Dalam paragraf-paragraf sebelumnya telah coba ditelusuri tiga permasalahan pokok seputar
etika pendidikan berorientasi pada pembentukan SQ. Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik
kesimpulan-kesimpulan sebagai berikuti:
Kecerdasan spiritual (SQ) pada hakekatnya adalah kemampuan pribadi yang tertanam dalam
struktur mental untuk selalu menjadikan Tuhan sebagai mitra kerja dalam segenap aspek dan
setiap langkah-langkah kehidupan. Karakteristik seseorang yang memiliki SQ yang tinggi
adalah unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan
kebijaksamaan (wisdom).
Secara substansial raison d’entre bagi perlunya menetapkan penbentukan SQ sebagai etika
masa depan pendidikan nasional adalah fakta tentang adanya kebangkrutan moral yang
melanda (sebagian) anak bangsa ini, yang pada kenyataannya telah melemahkan sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam praksis pendidikan agama Isam, motede yang
tepat digunakan dalam proses pembelajaran berbasis pembentukan SQ adalah metode atau
pendekatan substansialis beserta dua perangkat strategi pembelajarannya, yaitu strategi
meaningful-discovery learning dan strategi values clarification.
10 ciri guru profesional
                        1. Selalu punya energi untuk siswanya
  Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi
   dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

                         2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
  Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja
                   untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

                  3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
     Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa
               mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

                 4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
  Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat
 memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,
   membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

                       5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka
selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum,
disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan
                           telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

                    6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
  Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua
     siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

                           7. Pengetahuan tentang Kurikulum
 Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan
  standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka
                               memenuhi standar-standar itu.

                   8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
  Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik
 memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan.
 Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa,
   bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

     9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira
bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh
 yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah
                                   beranjak dewasa.

                 10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
      Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat
       menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.
Guru menjadi ujung tombak dalam pembangunan pendidikan nasional. Utamanya dalam
membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal.

Guru profesional dan bermartabat menjadi impian kita semua karena akan melahirkan anak
bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak. Guru profesional dan
bermartabat memberikan teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat.
Sertifikasi guru mendulang harapan agar terwujudnya impian tersebut. Perwujudan impian ini
tidak seperti membalik talapak tangan. Karena itu, perlu kerja keras dan sinergi dari semua
pihak yakni, pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan guru.

Sertifikasi guru merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru
sehingga pembelajaran di sekolah menjadi berkualitas. Peningkatan program lain yaitu;
peningkatan kualifikasi akademik guru menjadi S1/D4, peningkatan kompetensi guru,
pembinaan karir guru, pemberian tunjangan guru, pemberian maslahat tambahan,
penghargaan, dan perlindungan guru.

Sertifikasi guru melalui uji kompetensi memperhitungkan pengalaman profesionalitas guru,
melalui penilaian portofolio guru. Sepuluh komponen portofolio guru akan dinilai oleh
perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru. Bagi guru yang belum memenuhi batas
minimal lolos, akan mengikuti pendidikan dan pelatihan hingga guru dapat menguasai
kompetensi guru.

                                                     Oct 18, '08 12:06 AM
    Menjadi Guru Profesional
                                                     untuk semuanya




                                               Dalam    manajemen sumber daya manusia,
menjadi profesional adalah tuntutan jabatan, pekerjaan ataupun profesi. Ada satu hal penting
yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Profesional
(dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti.

Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya
berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi
berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut
persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia,
menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang
dipadupadankan                dengan                skil              atau             keahliannya.

Menjadi profesional adalah tuntutan setiap profesi, seperti dokter, insinyur, pilot, ataupun profesi
yang telah familiar ditengah masyarakat. Akan tetapi guru...? Sudahkan menjadi profesi dengan
kriteria diatas. Guru jelas sebuah profesi. Akan tetapi sudahkah ada sebuah profesi yang
profesional...? Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara
kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki, maka tidak dapat disebut guru. Artinya
tidak            sembarangan            orang              bisa           menjadi              guru.

Namun pada kenyataanya, banyak ditemui menjadi guru seperti pilihan profesi terakhir. Kurang
bonafide, kalau sudah mentok tidak ada pekerjaan lain atau sebuah status sosial yang lekat dengan
kemarginalan, gaji kecil, tidak sejahtera malah dibawah garis kemisikinan. Bahkan guru ada yang
dipilih asal comot yang penting ada yang mengajar. Padahal guru adalah operator sebuah
kurikulum pendidikan.Ujung tombak pejuang pengentas kebodohan. Bahkan guru adalah mata
rantai dan pilar peradaban dan benang merah bagi proses perubahan dan kemajuan suatu
masyarakat                                       atau                                      bangsa.

Mengingat guru adalah profesi yang sangat idealis, pertanyaannya adakah guru profesional itu...?
Dan    bagaimana       melahirkan     sosok        guru     yang    profesional     tersebut...?

Guru                                                                             Profesional
Kalau mengacu pada konsep di atas, menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan
intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga
sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan.
Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen
terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa.Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru
profesional.

Memiliki          skill/keahlian          dalam            mendidik          atau        mengajar

Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam
mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Dalam
kontek diatas, untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki
adalah:

      Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
      Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
      Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
      Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
      Kemampuan mengorganisir dan problem solving
      Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik

Personaliti                                                                                   Guru

Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh
ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk
hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru) otomatis menjadi
teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas
dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya
mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai - nilai dasar dari bangun karakter atau
akhlak                                                                                       anak.
Memposisikan         profesi     guru      sebagai        The      High       Class      Profesi

Di negeri ini sudah menjadi realitas umum guru bukan menjadi profesi yang berkelas baik secara
sosial maupun ekonomi. Hal yang biasa, apabila menjadi Teller di sebuah Bank, lebih terlihat high
class dibandingkan guru. jika ingin menposisikan profesi guru setara dengan profesi lainnya,
mulai di blow up bahwa profesi guru strata atau derajat yang tinggi dan dihormati dalam
masyarakat. Karena mengingat begitu fundamental peran guru bagi proses perubahan dan
perbaikan                                    di                                      masyarakat.

Mungkin kita perlu berguru dari sebuah negara yang pernah porak poranda akibat perang.
Namun kini telah menjelma menjadi negara maju yang memiliki tingkat kemajuan ekonomi dan
teknologi yang sangat tinggi. Jepang merupakan contoh bijak untuk kita tiru. Setelah Jepang kalah
dalam perang dunia kedua, dengan dibom atom dua kota besarnya, Hirohima dan Nagasaki,
Jepang menghadapi masa krisis dan kritis kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat parah.
Namun ditengah kehancuran akibat perang, ditengah ribuan orang tewas dan porandanya
infrastruktur negaranya, Jepang berpikir cerdas untuk memulai dan keluar dari kehancuran
perang. Jepang hanya butuh satu keyakinan, untuk bangkit. Berapa guru yang masih hidup...?

Hasilnya setelah berpuluh tahun berikut, semua orang terkesima dengan kemajuan yang dicapai
Jepang. Dan tidak bisa dipungkiri, semua perubahan dan kemajuan yang dicapai, ada dibalik
sosok         Guru         yang       begitu        dihormati       dinegeri      tersebut.

Kini, lihatlah Indonesia, negara yang sangat kurang respek dengan posisi guru. Negara yang
kurang peduli dengan nasib guru. Kini lihatlah hasilnya. Apabila mengacu pada Human Index
Development (HDI), Indonesia menjadi negara dengan kualias SDM yang memprihatinkan.
Berdasarkan HDI tahun 2007, Indonesia berada diperingkat 107 dunia dari 177 negara. Bila
dibandingkan dengan negara sekitar, tingkat HDI Indonesia jauh tertinggal.Contoh Malaysia
berada diperingkat 63, Thailand 78, dan Singapura 25. Indonesia hanya lebih baik dari Papua
Nugini       dan    Timor      Leste    yang     berada     diposisi   145     dan     150.

HDI merupakan potret tahunan untuk melihat perkembangan manusia di suatu negara. HDI
adalah kumpulan penilaian dari 3 kategori, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menjadi
jelaslah bahwa, sudah saatnya Indonesia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama
dalam program pembangunan. Apabilah hal ini tidak dibenahi, bukan hal mustahil daya saing dan
kualitas manusia Indonesia akan lebih rendah dari negara yang baru saja merdeka seperti Vietnam
atau                                       Timor                                          Leste.

Program Profesionalisme Guru

      Pola rekruitmen yang berstandar dan selektif
      Pelatihan yang terpadu, berjenjang dan berkesinambungan (long life eduction)
      Penyetaraan pendidikan dan membuat standarisasi mimimum pendidikan
      Pengembangan diri dan motivasi riset
      Pengayaan kreatifitas untuk menjadi guru karya (Guru yang bisa menjadi guru)

Peran Manajeman Sekolah

      Fasilitator program Pelatihan dan Pengembangan profesi
      Menciptakan jenjang karir yang fair dan terbuka
      Membangun manajemen dan sistem ketenagaan yang baku
       Membangun sistem kesejahteraan guru berbasis prestasi


ENGEMBANGAN PROFESIONALISME
GURU [2]

Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si

Tuesday, 02 March 2010 01:47
Profesi dan Profesionalisasi Keguruan

  (tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel yang berjudul ”Pengembangan Profesionalisme
               Guru” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com)

Guru sebagai profesi perlu diiringi dengan pemberlakuan aturan profesi keguruan, sehingga
akan ada keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi seseorang yang berprofesi guru,
antara lain: Indonesia memerlukan guru yang bukan hanya disebut guru, melainkan guru
yang profesional terhadap profesinya sebagai guru. Aturan profesi keguruan berasal dari dua
kata dasar profesi dan bidang spesifik guru/keguruan.

Secara logik, setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari
konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan
dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk
profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan. Lebih khusus
lagi, penemukenalan muatan didasarkan pada khalayak sasaran profesi tersebut. Karena itu,
pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah akan menyentuh
persoalan: (1) sosok profesional secara umum, (2) sosok profesional guru secara umum, dan
(3) sosok profesional guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi
sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[1]
Bagaimana dengan pekerjaan keguruan?

Tak diragukan, guru merupakan pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi
begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu. Secara
teoretik, ini sejalan dengan syarat pertama profesi menurut Ritzer (1972), yakni pengetahuan
teoretik (theoretical knowledge). Guru memang bukan sekedar pekerjaan atau mata
pencaharian yang membutuhkan ketrampilan teknis, tetapi juga pengetahuan teoretik.[2]
Sekedar contoh, siapa pun bisa trampil melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan
(PPPK), tetapi hanya seorang dokter yang bisa mengakui dan diakui memiliki pemahaman
teoretik tentang kesehatan dan penyakit manusia.

Pun demikian dengan pekerjaan keguruan. Siapa saja bisa trampil mengajar orang lain, tetapi
hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya
memiliki pemahaman teoretik bidang keahlian kependidikan. Kualifikasi pendidikan ini
hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.[3]

Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi
pedagogik menunjuk pada kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi
kepribadian menunjuk pada kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan
berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional menunjuk pada
kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial
menunjuk kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien
dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[4]

Tampaknya, Kendati syarat kualifikasi pendidikan terpenuhi, tak berarti dengan sendirinya
seseorang bisa bekerja profesional, sebab juga harus ada cukup bukti bahwa dia memiliki
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu.
Karena itu, belakangan ditetapkan bahwa sertifikasi pendidik merupakan pengakuan yang
diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

Syarat kedua profesi adalah pemberlakuan pelatihan dan praktik yang diatur secara mandiri
(self-regulated training and practice). Kalau kebanyakan orang bekerja di bawah
pengawasan ketat atasan, tak demikian dengan profesi. Pekerjaan profesional menikmati
derajat otonomi tinggi, yang bahkan cenderung bekerja secara mandiri. Sejumlah pelatihan
profesional masih diperlukan dan diselenggarakan oleh asosiasi profesi. Gelar formal dan
berbagai bentuk sertifikasi dipersyaratkan untuk berpraktik profesional. Bahkan, pada
sejumlah profesi yang cukup mapan, lobi-lobi politik asosiasi profesi ini bisa memberikan
saksi hukum terhadap mereka yang melakukan praktik tanpa sertifikasi terkait.

Bila tolak-ukur ini dikenakan pada pekerjaan keguruan, jelas kemantapan guru sebagai
profesi belum sampai tahapan ini. Banyak guru masih bekerja dalam pengawasan ketat para
atasan serta tidak memiliki derajat otonomi dan kemandirian sebagaimana layaknya profesi.
Pun nyaris tanpa sanksi bagi siapa saja yang berpraktik keguruan meskipun tanpa sertifikasi
kependidikan. Sistem konvensional teramat jelas tidak mendukung pemantapan profesi
keguruan. Keputusan penilaian seorang guru bidang studi, misalnya, sama sekali tidak
bersifat final karena untuk menentukan kelulusan, atau kenaikan kelas, masih ada rapat
dewan guru. Tak jarang, dalam rapat demikian, seorang guru bidang studi harus “mengubah”
nilai yang telah ditetapkan agar sesuai dengan keputusan rapat dewan guru.

Dalam konteks otoritas profesional tersebut, tampak berbeda antara otonomi profesi dosen
dengan otonomi profesi guru. Dengan sistem kredit semester, seorang dosen bisa membuat
keputusan profesional secara mandiri dan bertanggung-jawab. Keputusan seorang dosen
profesional memiliki bobot mengikat sebagaimana keputusan seorang dokter untuk
memberikan atau tidak memberikan obat tertentu. Tak sesiapa pun, termasuk Ketua Jurusan,
Dekan, dan bahkan Rektor, yang bisa melakukan intervensi langsung terhadap penilaian yang
telah dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. Tentu saja, di balik otoritas
demikian, juga dituntut adanya tanggung-jawab dan keberanian moral seorang tenaga
profesional.

Guru bukan pedagang. Itu jelas, karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu
dorongan, yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Prinsip
pembeli adalah raja, tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Ini terkait dengan
syarat profesi ketiga, yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients).

Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif, para profesional mengakui dan
diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat
memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Karena pengakuan demikian, maka seorang
profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan, diagnosis masalah, hingga
pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Seperti
seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan
dan obat apa, demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang
berhak mendikte materi, metode dan penilaian seorang guru.

Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat, karena tugas guru
membantu dan membuat peserta didik belajar. Perlu diingat, seorang guru atau dosen
memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka.
Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah
membantu peserta didik belajar (to help the others learn), yang bahkan terlepas dari
persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.

Syarat terakhir, pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada
masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation).
Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan
kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi.
Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi, bobot cinta altruistik
profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi.

Adapun karakteristik profesional minimum guru, berdasarkan sintesis temuan-temuan
penelitian, telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru, yaitu: (1)
mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam
bahan belajar atau mata pelajaran serta cara pembelajarannya, (3) bertanggung jawab
memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) mampu berfikir sistematis
tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, dan (5) menjadi partisipan
aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.[5]

Secara substantif, sejumlah karakteristik tersebut sudah terakomodasi dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
Beberapa di antaranya adalah: (1) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik,
moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, (2) menguasai teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik, (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan
bidang pengembangan yang diampu, (4) menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang
mendidik, (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik, dan (6) memfasilitasi
pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimiliki.

Mencermati sejumlah materi sajian dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru dalam
jabatan ini, tampak jelas bahwa penekanan yang diberikan pada aspek kompetensi, sedangkan
aspek-aspek lain dari penguatan profesi belum cukup tampak dalam kurikulum pendidikan
dan pelatihan ini. Karena itu, saya berharap agar sejumlah aspek yang masih tercecer bisa
diagendakan di luar kurikulum tertulis (written curriculum), agar sosok profesional guru
madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar yang dihasilkan merupakan sosok profesional yang
utuh.

Akhirnya, memang masih cukup panjang dan berliku jalan untuk menegakkan profesi
keguruan. Selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualifikasi, kompetensi dan
sertifikasi, masih ada tantangan yang lebih berdimensi legal dan moral. Namun demikian,
satu atau dua langkah sudah berhasil dilakukan. Kalau dari perspektif kemauan politik sudah
pengakuan terhadap profesi guru dan dosen sudah diundangkan, maka dari perspektif guru
sendiri juga harus ada usaha untuk senantiasa memantapkan profesinya.

Kalau transformasi organisasi profesi berhasil dilakukan, maka letak kendali (locus of
control) profesi keguruan, seperti kewenangan sertifikasi, evaluasi dan pemberian sanksi,
juga bergeser dari ranah politik pemerintah ke ranah profesi keguruan. Karena pergeseran
letak kendali dari pemerintah ke organisasi profesi menyangkut kewenangan dan sumberdaya
untuk sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi, maka persoalan menjadi sangat berdimensi politik
serta sarat dengan konflik kepentingan.

Dari perspektif struktur kekuasaan, mungkinkah para pejabat birokrasi pendidikan yang
masih berkecenderungan senantiasa memperluas bidang kekuasaan, merelakan terjadinya
redefinisi kekuasaan menjadi lebih terbatas? Atau, bisakah watak birokrasi pendidikan kita
yang senantiasa ingin memusatkan kekuasaan pada sekelompok kecil orang, diubah agar
terjadi redistribusi kekuasaan kepada masyarakat sipil seperti organisasi profesi keguruan?

Dari perspektif kultur masyarakat, bisakah kita mengubah mentalitas masyarakat berorientasi
serba-negara (state-oriented society) ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada jasa
nyata dan prestasi (merit and achievement-oriented society)? Beranikah para guru
mengambil-alih kembali (reclaiming) sebagian kewenangan yang sudah cukup lama kita
serahkan kepada negara dan atau pemerintah?

Bila jawaban positif kita berikan, maka sudah saatnya kita menyiapkan kata perpisahan
kepada sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi oleh pemerintah. Sudah saatnya organisasi profesi
keguruan melakukan sertifikasi profesi keguruan. Sudah saatnya akreditasi sekolah dan
perguruan tinggi dilakukan oleh lembaga independen. Sudah saatnya pula pelaksanaan dan
keputusan hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh para pendidik profesional. Sekian.




[1] Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

[2] Sakban Rosidi, Sistem Kredit dan Profesionalisasi Keguruan, Surya, 13 Maret 2007.

[3] Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.




                                   MAKALAH
     PEMBENTUKAN CALON GURU YANG PROFESIONAL DAN KREATIF
     (Disusun sebagai syarat mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus)

Disusun Oleh:
Lailatus Sakinah
Pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
IKIP PGRI
SEMARANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Salah satu kunci pokok kemajuan suatu bangsa dan negara adalah terletak pada bidang
pendidikan, walaupun apabila dilihat dengan kasat mata dan dengan pemikiran yang awam
pendidikan tidaklah penting, namun sebenarnya pendidikan adalah penggerak dan penentu
kemajuan suatu bangsa dan negara. Hal ini sejalan dengan perkembangan tuntutan dunia
kerja yang tidak hanya membutuhkan SDM yang berorientasi untuk kebutuhan dunia industri.
SDM yang dibutuhkan saat ini adalah SDM yang memiliki kompetensi unggulan terutama
dalam hal kemampuan berpikir. Dengan demikian kebutuhan SDM saat ini adalah SDM yang
berorientasi kepada kerja pikiran.
Sejalan dengan pergerseran kebutuhan tersebut, restrukturisasi pendidikan haruslah
dilakukan. Pendidikan tidaklah diarahkan hanya dalam mencetak tenaga kerja untuk industri
melainkan juga tenaga kerja yang mengoptimalkan kemampuan berpikir dalam menjalankan
pekerjaanya. Hal ini berarti bahwa pendidikan haruslah diarahkan pada upaya menciptakan
situasi agar siswa mampu belajar dan memiliki kemampuan berpikir tahap tinggi. Guna dapat
mencapai fungsi di atas, pendidikan saat ini haruslah menekankan pada upaya pembentukan
kompetensi kepada para siswa yang sekaligus berarti bahwa harus pula diikuti dengan
perubahan radikal atas budaya mengajar saat ini.
Kondisi di atas menunjukkan bahwa misi guru dalam melaksanakan pendidikan berubah dari
menciptakan lulusan hanya untuk dunia industri menjadi lulusan yang siap untuk menghadapi
pekerjaan yang mengutamakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini berarti bahwa
guru diharuskan mampu untuk mempersiapkan seluruh siswa agar memiliki kemampuan
berpikir yang meliputi kemampuan menemukan masalah, menemukan, mengintegrasikan,
dan mensintesis informasi, menciptakan solusi baru, dan menciptakan kemampuan siswa
dalam hal belajar mandiri dan bekerja dalam kelompok. Dengan demikian guru haruslah
benar-benar mampu untuk menemukan cara untuk mendorong dan mengembangkan
pemenuhan seluruh kebutuhan siswa berdasarkan potensi yang dimilikinya. Tanpa usaha ini
akan sulit tercipta lulusan yang berbekal kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Guna dapat menjalankan misi barunya tersebut, guru haruslah benar-benar memahami
kognisi dan berbagai cara yang berbeda dalam belajar. Guru haruslah pula memahami
perkembangan siswa dan berbagai konsep pedagogi sebaik mereka menguasai materi
pembelajaran dan penilaian alternatif yang digunakannya untuk mengukur hasil belajar siswa.
Dengan demikian guru harus mampu menempatkan berbagai substansi perbedaan
pengalaman belajar, perbedaan bahasa dan budaya, gaya belajar, talenta, dan intelegensi
sebagai dasar dalam melaksanakan berbagai strategi pengajaran yang dipilihnya.
Berdasarkan kondisi di atas, pembelajaran haruslah dilaksanakan atas dasar apa yang
diketahui dan dapat dilakukan siswa sebaik bagaimana siswa berpikir dan belajar dan untuk
menyelaraskan proses belajar dengan performa yang dibutuhkan sejalan dengan kebutuhan
individu siswa. Melihat kenyataan ini, jelaslah guru harus benar-benar memiliki karateristik
unggul sehingga ia akan dapat melaksanakan misi barunya dalam proses pendidikan.
Penciptaan guru berkarakteristik unggulan ini haruslah dilakukan baik pada saat guru
menempuh proses pendidikan keguruan maupun pada saat ia sudah melaksanakan jabatannya
sebagai tenaga pendidik.
Melihat hal diatas dapat dikatakan betapa penting dan perlunya peningkatan kreativitas dan
kualitas di Sekolah Dasar. Karena sudah dua puluh tahun yangn lalu para wakil rakyat
(pemerintah) telah memikirkannya, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi era globalisasi
dimana persaingan akan sangat ketat baik dalam pendidikan maupun dunia kerja.
BAB II
PEMBENTUKAN CALON GURU YANG PROFESIONAL DAN KREATIF

II.1 Seperti Apakah Profesionalisme Guru ?
Untuk memahami profesionalisme, berikut beberapa deskripsi yang disarikan dari
“Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan”, Dra. Ani M. Hasan, M.Pd., 13
Juli 2003 (http://re-searchengines.com//.html). Menurut para ahli, profesionalisme
menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta
strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar
pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan
profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi
tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Memperhatikan kualitas guru di Indonesia memang jauh berbeda dengan dengan guru-guru
yang ada di Amerika Serikat atau Inggris. Di Amerika Serikat pengembangan profesional
guru harus memenuhi standar sebagaimana yang dikemukakan Stiles dan Horsley (1998) dan
NRC (1996) bahwa ada empat standar standar pengembangan profesi guru yaitu:
1) Standar pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para guru sains
memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan
metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses observasi fenomena
alam, membuat penjelasan-penjelasan dan menguji penjelasan-penjelasan tersebut
berdasarkan fenomena alam;
2) Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru sains
memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga
menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya
tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat
memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa
yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan
pengalaman, contoh dan representasi apa yang bisa membantu siswa belajar;
3) Standar pengembangan profesi C adalah pengembangan profesi untuk para guru sains
memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa.
Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah
berkomitmen untuk belajar sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga
guru berkesempatan terus untuk belajar;
4) Standar pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains
harus koheren (berkaitan) dan terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal
kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak
berkelanjutan.
Apabila guru di Indonesia telah memenuhi standar profesional guru sebagaimana yang
berlaku di Amerika Serikat maka kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia semakin baik.
Selain memiliki standar profesional guru sebagaimana uraian di atas, di Amerika Serikat
sebagaimana diuraikan dalam jurnal Educational Leadership 1993 (dalam Supriadi 1998)
dijelaskan bahwa untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal:
1) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya;
2) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara
mengajarnya kepada siswa;
3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi;
4) Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya;
5) Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan
profesinya.
Selanjutnya dijelaskan menurut Arifin (2000), bahwa guru Indonesia yang profesional
dipersyaratkan mempunyai:
1) Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan
masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21;
2) Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu
pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan
merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan
hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia;
3) Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru merupakan
profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek
pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program
pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen
pendidikan yang lemah.
Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran guru
yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat
Semiawan (1991) bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru
yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan
suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment. Dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator,
informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan
administrator (Soewondo, 1972 dalam Arifin 2000).
Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki
tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era
hiperkompetisi. Tugas guru adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi
terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya.
Pemberdayaan peserta didik ini meliputi aspek-aspek kepribadian terutama aspek intelektual,
sosial, emosional, dan keterampilan.
Tugas mulia itu menjadi berat karena bukan saja guru harus mempersiapkan generasi muda
memasuki abad pengetahuan, melainkan harus mempersiapkan diri agar tetap eksis, baik
sebagai individu maupun sebagai profesional. Faktor-faktor Penyebab Rendahnya
Profesionalisme Guru Kondisi pendidikan nasional kita memang tidak secerah di negara-
negara maju. Baik institusi maupun isinya masih memerlukan perhatian ekstra pemerintah
maupun masyarakat.
Dalam pendidikan formal, selain ada kemajemukan peserta, institusi yang cukup mapan, dan
kepercayaan masyarakat yang kuat, juga merupakan tempat bertemunya bibit-bibit unggul
yang sedang tumbuh dan perlu penyemaian yang baik. Pekerjaan penyemaian yang baik itu
adalah pekerjaan seorang guru. Jadi guru memiliki peran utama dalam sistem pendidikan
nasional khususnya dan kehidupan kita umumnya. Guru sangat mungkin dalam menjalankan
profesinya bertentangan dengan hati nuraninya, karena ia paham bagaimana harus
menjalankan profesinya namun karena tidak sesuai dengan kehendak pemberi petunjuk atau
komando maka cara-cara para guru tidak dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Guru
selalu diinterpensi.
Tidak adanya kemandirian atau otonomi itulah yang mematikan profesi guru dari sebagai
pendidik menjadi pemberi instruksi atau penatar. Bahkan sebagai penatarpun guru tidak
memiliki otonomi sama sekali. Selain itu, ruang gerak guru selalu dikontrol melalui
keharusan membuat satuan pelajaran (SP). Padahal, seorang guru yang telah memiliki
pengalaman mengajar di atas lima tahun sebetulnya telah menemukan pola belajarnya sendiri.
Dengan dituntutnya guru setiap kali mengajar membuat SP maka waktu dan energi guru
banyak terbuang. Waktu dan energi yang terbuang ini dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan dirinya.
II.2 Perlunya Meningkatkan Kreativitas Guru
Anak-anak membutuhkan sosok guru yang kreatif sehingga bisa membawakan setiap mata
pelajaran dengan menyenangkan. Sosok guru seperti itu akan mendorong anak terus belajar.
Jika guru kreatif, anak dengan sendirinya juga akan menjadi kreatif.
“Proses kreatif tersebut dapat diterapkan di semua mata pelajaran sekolah. Guru yang kreatif
dapat mencampurkan isi mata pelajaran dengan kegiatan menyanyi, mendongeng, dan
memasukkan unsur humor atau sulap,” kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto
Mulyadi, Senin (23/3), di Kota Semarang. Persoalan mendasar yang dihadapi para guru dapat
menghambat proses kreatif guru. Persoalan tersebut antara lain kesejahteraan dan
kemampuan guru yang rendah.
Kondisi tersebut tidak memungkinkan guru memikirkan proses kreatif dalam mengajar,
apalagi menciptakan peralatan seperti boneka atau alat peraga lain. Oleh karena itu,
pemerintah perlu segera memperbaiki anggaran guru sehingga memadai untuk meningkatkan
kesejahteraan guru.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari data yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dirasakan
dewasa ini dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia serta kreativitasnya adalah
bahwa pengajaran yang diberikan guru masih satu arah walaupun kebijakan sudah sangat
mendukung, pemberian perhatian khusus kepada murid yang menekankan pada pentingnya
kreativitas dikembangkan sejak dini (GBHN 1983) dan diperbaharui dalam GBHN (1993),
serta peraturan daerah yang telah ditetapkan dan disyahkan. Namun dalam kenyataannya
pelayanan pendidikan yang bermuatan kreativitas belum diterapkan secara menyeluruh
padahal kreativitas disamping bermakna untuk pengembangan diri juga bermakna bagi
pengembangan masyarakat. Oleh karena itu guru sebagai pendidik disekolah perlu
memperhatikan aspek-aspek belajar mengajar yang bermuatan kreatif agar anak didik dapat
menyumbangkan pengetahuannya bagi kemajuan masyarakat, nusa dan bangsa.
B. Saran
Sekolah dan guru hanyalah sebagai media maka kita hendaknya bertindak tegas pada diri kita
sendiri dan dengan konsentrasi penuh namun tidak tegang, wajib untuk menyerap,
melaksanakan dan menyelesaikan pendidikan demi kebaikan diri kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rozaq, Drs. 2000. Upaya Peningkatan Kretivitas Di Sekolah Dasar Dalam
Menghadapi Era Globalisasi. Bandung : Remaja Rosdakarya
Achmad Rifa’i, Drs. 1999. Peningkatan Kualitas Profesional Guru Sekolah Dasar Senter
Kabupaten Demak. Demak : Makalah Seminar Pendidikan
Sri Maryati Deliana, Dra. 1995. Upaya Pengembangan Kreativitas Di Sekolah Dasar.
Semarang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tri Joko Raharjo, M.pd. 1997. Perlunya Peningkatan Pengajar Sekolah Dasar. Demak :
Makalah Simposium Sekolah Dasar dan Pendidikannya
(http://re-searchengines.com//.html

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:141
posted:12/16/2011
language:Indonesian
pages:18