Embed
Email

paparan Kebijakan PUG Kunham Kanwil 28 nop

Document Sample

Shared by: wvictori
Categories
Tags
Stats
views:
76
posted:
12/14/2011
language:
pages:
27
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

JL. MERDEKA BARAT NOMOR 15 JAKARTA 10110









KEBIJAKAN PELAKSANAAN STRATEGI

PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG)

MELALUI PERENCANAAN PENGANGGARAN

MENUJU REFORMASI BIROKRASI



oleh

Deputi PUG Bidang Polsoskum







Disampaikan dalam acara Perencanaan Penganggaran Responsif Gender Dalam Pembangunan

Hukum dan Ham, Di Hotel Aston Jakarta, 28 Nopember 2011

1

MISI 2005-2025

1. Mewujudkan masy berakhlak, mulia,

bermoral, beretika, berbudaya,

beradab

2. Mewujudkan bangsa yang berdaya VISI 2005-2025 Tujuan Negara

saing (UUD 1945)

3. Mewujudkan masy demokratis MAJU - Melindungi tumpah

berlandaskan hukum darah

4. Mewujudkan Indonesia aman, MANDIRI - Memajukan

damai, dan bersatu kesejahteraan umum

5. Mewujudkan pemerataan ADIL - Mencerdaskan

pembangunan dan berkeadilan kehidupan bangsa

6. Mewujudkan Indonesia asri dan MAKMUR - Ikut melaksanakan

lestari ketertiban dunia

7. Mewujudkan Indonesia menjadi

negara kepulauan yang mandiri,

maju, kuat, dan berbasiskan

kepentingan nasional

8. Mewujudkan Indonesia berperan

penting dalam pergaulan dunia

internasional

Strategi Pembangunan Kesetaraan Gender

Dalam RPJPN 2005-2025 RPJMN 4 (2020-2024







- Bertahannya kondisi

penduduk tumbuh

RPJPM 3 (2015-2019) seimbang

- Terwujudnya

- Tercapainya kondisi kesetaraan gender

penduduk tumbuh - Meningkatnya

RPJM 2(2010-2014) seimbang tumbuh optimal,

- Meningkatnya kesej dan

- Terkendalinya jumlah kesetaraan gender perlindungan anak

dan laju pertumbuhan - Meningkatnya

RPJM 1 (2005-2009) penduduk tumbuh kembang

- Meningkatnya optimal, kesej dan

kesetaraan gender perlindungan anak

- Mengendalikan jumlah dan

laju pertumbuhan - Meningkatnya

penduduk tumbuh kembang

- Meningkatnya kesetaraan optimal, kesej dan

gender di berbagai bidang perlindungan anak

pemb

- Meningkatnya IPG

- Meningkatnya kesej dan

perlindungan perempuan

dan anak

IV. KEBIJAKAN PUG DALAM RPJMN 2010-2014 DAN

HASIL YANG DIHADAPKAN DARI PELAKSANAAN PUG





• Buku I – Prioritas Nasional

• Buku II Bab 1 – Kebijakan PUG

• Buku II Bab 2 – Pembangunan Sosial Budaya dan

Kehidupan Beragama

• Buku III – Pembangunan Berdimensi Kewilayahan

BUKU II BAB 1 – KEBIJAKAN PUG (1)

• Prinsip pengarusutamaan merupakan landasan operasional

bagi seluruh pelaksanaan pembangunan

• Prinsip-prinsip pengarusutamaan diarahkan untuk dapat

tercermin di dalam keluaran pada kebijakan pembangunan

• Prinsip-prinsip pengarusutamaan ini akan menjadi jiwa dan

semangat yang mewarnai berbagai kebijakan pembangunan di

setiap bidang pembangunan

• Kriteria pengarusutamaan:

• Bukanlah merupakan upaya yang terpisah dari

kegiatan pembangunan sektoral;

• Tidak mengimplikasikan adanya tambahan pendanaan

(investasi) yang signifikan; dan

• Dilakukan pada semua sektor terkait namun

diprioritaskan pada sektor penting yang terkait langsung

dengan isu-isu pengarusutamaan.

SASARAN

Kebijakan Pengarusutamaan Gender dalam RPJMN 2010-2014



Meningkatnya kesetaraan gender, yang ditandai dengan:

a) meningkatnya kualitas hidup dan peran perempuan terutama di bidang

kesehatan, pendidikan, ekonomi termasuk akses terhadap penguasaan

sumber daya, dan politik;

b) meningkatnya persentase cakupan perempuan korban kekerasan yang

mendapat penanganan pengaduan; dan

c) meningkatnya efektivitas kelembagaan PUG dalam perencanaan,

penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan

dan program pembangunan yang responsif gender di tingkat

nasional dan daerah.









6

PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG)

SEBAGAI STRATEGI PEMBANGUNAN

Strategi Pengarusutamaan Gender (PUG)

Inpres No. 9/2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional :

mengintruksikan kepada seluruh Menteri, Kepala Lembaga

Pemerintah Non Departemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga

Tertinggi/Tinggi Negara, Panglima TNI, Kepala Kepolisian RI, Jaksa

Agung, dan Gubernur, Bupati/Walikota untuk melaksanakan PUG:





Pengarusutamaan Gender

adalah strategi pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan

permasalahan laki-laki dan perempuan ke dalam perencanaan,

penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh

kebijakan, program, dan kegiatan di berbagai bidang kehidupan dan

pembangunan yg dilakukan oleh K/L dan daerah.

Gender : Di dalam masyarakat diasumsikan bagaimana membentuk

perempuan “menjadi perempuan” dan laki-laki “menjadi

laki-laki”, yang menyebabkan adanya peran dan

kebutuhan berbeda diantara keduanya di dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

PUG : Strategi untuk mengintegrasikan kebutuhan, pengalaman,

permasalahan yang berbeda antara perempuan dan laki-

laki ke dalam proses pembangunan, agar keduanya

mendapat akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang

sama dalam pembangunan.









8

PAYUNG HUKUM DALAM PELAKSANAAN PUG



1. Pasal 27 dan 28 UUD 1945;

2. UU No. 7/1984 tentang Ratifikasi Cedaw;

3. UU No. 17/2007 tentang RPJPN;

4. Perpres No.5 Tahun 2010 tentang RPJMN

5. Instruksi Presiden No. 9/2000 tentang PUG dalam Pembangunan

Nasional;

6. Permendagri No. 15/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan PUG di

Daerah;

7. Keputusan Meneg.PPN/Kepala Bappenas No. Kep.30/M.PPN/HK/03/

2009 tentang Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Teknis

Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender.

8. PMK no.93 Tahun 2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan

penelaahan RKA K/L

PRASYARAT PELAKSANAAN PUG





• KOMITMEN POLITIK;

• KEBIJAKAN;

• SUMBER DAYA;

• KELEMBAGAAN;

• DATA TERPILAH DAN ANALISIS GENDER

• PARTISIPASI MASYARAKAT



SEHINGGA DAPAT DILAKSANAKAN STRATEGI PUG TERSEBUT DAN

DIPANTAU SERTA DIEVALUASI.

Mengapa perlu Penguatan Kelembagaan PUG





• Gender merupakan isu lintas pembangunan bidang (cross

cutting issues);

• Belum semua K/L dan daerah merespons isu gender secara

proaktif dalam perencanaan dan penganggaran;

• Belum berjalannya mekanisme pelaksanaan PUG sesuai

Inpres No.9/2000;

• Kebijakan, program dan kegiatan yang bias gender.

Untuk Apa Penguatan Kelembagaan PUG?



• Terwujudnya pengarusutamaan tata kepemerintahan

yang baik (good governance); partisipasi masyarakat;

pembangunan berkelanjutan; penanggulangan

kemiskinan;

• Terwujudnya Kesetaraan Gender di K/L dan daerah;

• Dalam rangka mendukung pencapaian MDGs; dan

pencapaian sasaran RJMN 2010-2014,

untuk pencapaian RPJPN 2005-2025.

• Terwujudnya kebijakan, program, kegiatan dan

penganggaran yang responsif gender.

Percepatan PUG melalui

Perencanaan dan

Penganggaran yang

Responsif Gender (PPRG)





13

PPRG



• Agar dana pembangunan yang digunakan dapat

memberikan manfaat yang adil bagi kesejahteraan

perempuan dan laki-laki (termasuk anak laki-laki

dan anak perempuan).

• Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan

anggaran, serta membangun akuntabilitas dan

transparansi anggaran.

• Membantu mengurangi kesenjangan dan

menghapuskan diskriminasi, sesuai dengan yang

diamanatkan dalam konvensi CEDAW, BPFA, MDGs

(Anggaran untuk mewujudkan KKG dalam

pemenuhan hak dasar kaum perempuan).

• Meningkatkan partisipasi masyarakat laki-laki dan

perempuan di dalam penyusunan perencanaan

kegiatan anggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan

evaluasi.

PPRG



• Menyediakan alat untuk memantau input dan

output pembangunan secara responsif gender.

• Memberdayakan pemerintah agar dapat

bertanggung jawab dalam perumusan

anggaran yang responsif gender.

• PPRG menjamin agar kebutuhan dan aspirasi

individu dari berbagai kelompok sosial

(berdasarkan jenis kelamin, usia, ras, suku,

dan lokasi) dapat diakomodasikan ke dalam

pembiayaan/pengeluaran dan pemasukan

kebijakan.

• Alat dan proses yang dirancang untuk memfasilitasi

suatu analisis gender dalam penyusunan anggaran

negara dan alokasi sumber daya.

• Merupakan alat untuk mencapai kesetaraan gender.

• PPRG BUKAN berarti membagi anggaran 50% untuk

laki-laki dan 50% untuk perempuan, bukan pula

pemisahan anggaran khusus bagi perempuan.

• PPRG dipakai untuk melihat keseluruhan anggaran

pemerintah dari perspektif gender, agar dapat

mengintegrasikan kebutuhan laki-laki dan perempuan,

anak laki-laki dan perempuan, dan kelompok yang

termarginalkan.

 Integrasi isu gender ke dalam perencanaan dan

penganggaran:

 Tidak untuk menambah anggaran baru

 Menggunakan indikator/keluaran yang sudah

tersedia

I. DEMOKRATISASI

(Masyarakat dan DPR dapat berperan besar dalam penyusunan anggaran

yang responsif gender)

II. DESENTRALISASI

(Meningkatkan partisipasi masyarakat, pemantauan)

III.PEM (Public Expenditure Management)

UU 17/2003 tentang Keuangan Negara, UU 25/2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional, PP 20/2004 tentang RKP, PP 21/2004

tentang RENJA K/L, PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan di Pusat dan

Daerah, PP 39/2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi

Pelaksanaan Rencana Pembangunan dan Permendagri nomor 59 tahun 2007

tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

(Pelaksanaan Unified Budget, Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah, dan

Anggaran Berbasis Kinerja).

Sebelumnya telah ditetapkan:

 INPRES 9/2000 tentang PUG; dan

 KEPUTUSAN MENEG.PPN/KEPALA BAPPENAS NO. KEP.30/M.PPN/HK/03/2009,

tentang Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Teknis Perencanaan dan

Penganggaran yang Responsif Gender.

Reformasi Perencanaan Dan

Penganggaran

• UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

menetapkan pendekatan anggaran berbasis kinerja yang

kemudian memberikan peluang bagi pengintegrasian

gender kedalam sistem perencanaan dan penganggaran

nasional.

• UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional, menetapkan sistem perencanaan

multi tahunan nasional yang berbasis prioritas, serta

menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,

penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan.

REFORMASI BIROKRASI







merupakan upaya untuk melakukan

pembaharuan dan perubahan mendasar

terhadap sistem penyelenggaraan

pemerintahan terutama menyangkut aspek-

aspek kelembagaan (organisasi),

ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber

daya manusia aparatur.

REFORMASI BIROKRASI



• Meningkatkan kualitas pelayanan publik yang belum

mampu memenuhi harapan publik

Meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas

yang belum optimal dari birokrasi pemerintahan

Kaitan PPRG dan Reformasi

Birokrasi

• Menciptakan tata kelola pemerintahan yang

baik karena melalui peningkatan kapasitas

SDM aparatur komponen perencana yang

telah menyusun program kegiatan

menggunakan analisis gender untuk

mewujudkan peningkatan pelayanan publik

dan efisiensi, efektivitas, ekonomis terhadap

bidang pembangunan

PROGRESS PELAKSANAAN PUG TINGKAT NASIONAL



1. Regulasi :

a. PMK 119/2009 sebagai sarana uji coba PPRG

terhadap 7 K/L;

b. PMK 104/2010 sebagai sarana penguatan dan

pengembangan PPRG terhadap K/L yang

bergerak di bidang ekonomi dan polsoskum;

c. PMK 93/2011 tentang petunjuk penyusunan

penelaahan RKA KL

d. Keputusan Meneg PPN/Bappenas No.

Kep.30/M.PPN/HK/03/ 2009 tentang

Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Teknis

PPRG.

Komitmen K/L

a. MOU antara Kementerian PP dan PA dan K/L terkait implementasi

PUG dan PUHA (11 MOU: Kemdiknas, Kem.KumHam, Kem.KUKM,

Kem.Kominfo. Kem.Nakertrans, Kem.Kelautan dan Perikanan,

Kem.Perhubungan, Kem.LH, Kem.Agama, Kem.Kesehatan dan

Kementerian Kehutanan);

b. Inisiasi SKB 4 Menteri (Bappenas, Kem.Keu, Kem.Dagri, Kem.PP

dan PA) tentang penyusunan perencanaan dan penganggaran masih

dalam proses;

c. Komitmen para pimpinan (Renstra K/L);

d. Komitmen internal antara Karo Perencanaan selaku Ketua Pokja

PUG dengan pimpinan DJA Kem.Keu (PMK 119/PMK 02/2010 dan

PMK 104/PMK 02/2010).

e. Penyusunan Stranas PPRG

lanjutan

3. Kelembagaan dan Mekanisme :

a. Melalui proyek GRS II, bantuan teknis CIDA telah membantu

Bappenas dalam pembentukan Tim Pengarah dan Tim Teknis

PPRG serta mendukung Bappenas dalam menjalankan fungsi

Sekretariat PPRG;

b. Di tingkat pusat, perencanaan anggaran berada di bawah

koordinasi dan tanggung jawab Biro Perencanaan, sehingga

terjalin kerjasama antara Pokja PUG dengan Biro Perencanaan

sebagai pendukung pelaksanaan ARG di K/L.

4. SDM dan Anggaran

a. Meningkatnya jumlah fasilitator PPRG di kalangan pemerintah,

akademisi, LSM/CSO/NGI (meskipun secara kuantitas dan kualitas

belum memadai);

b. Pendampingan ARG kepada 26 K/L (advokasi, sosialisasi, dan

pelatihan PPRG)- menumbuhkan pemahaman dan keterampilan

para perencana program dan telah menghasilkan GBS pada 43

program pada 26 K/L;

lanjutan

c. Tersusunnya ARG di level out put/kegiatan pada 26 K/L (berdasarkan

jumlah GBS yang diterima DJA, dan hasil evaluasi DJA KemKeu).

d. Meningkatnya inisiasi K/L untuk melaksanakan sendiri pelatihan teknis

PPRG dengan dana masing-masing K/L.

5. Alat Analisis :

a. GAP

b. GBS

6. Data Terpilah

a. Meningkatnya kesadaran K/L akan pentingnya data terpilah dan kajian

gender;

b. Meningkatnya inisiasi K/L untuk membuat data terpilah di masing-

masing sektor.

7. Partisipasi Masyarakat

a. Terjalinnya kerjasama antara LSM, PSW (akademisi) dengan

pemerintah dalam mempercepat pelaksanaan PUG melalui PPRG;

b. Meningkatnya jumlah LSM dan PSW yang tertarik pada isu PPRG.

RENCANA TINDAK LANJUT KEBIJAKAN PUG

Di KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM:







1. Melaksanakan Pedoman PPRG yang telah disusun

untuk perencanaan di unit utama maupun di Kanwil

2. Mengembangkan POKJA PUG;

3. Menyusun Rencana Kerja Pokja PUG 2012-2014;

5. Pendampingan penyusunan GBS (Gender

Budget Statement) RKA KL Tahun Anggaran 2013 di

11 unit utama dan Diseluruh Kanwil

6. Penyusunan data terpilah di Program dan Kegiatan

7. Penyusunan monitoring dan evaluasi dan

pelaporan mengenai pelaksanaan PUG









26

Terima Kasih

Atas Perhatiannya


Related docs
Other docs by wvictori
paparan Kebijakan PUG Kunham Kanwil 28 nop
Views: 76  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!