Embed
Email

Ahli Project Management BPMIGAS

Document Sample
Ahli Project Management BPMIGAS
Shared by: HC111214112127
Categories
Tags
Stats
views:
32
posted:
12/14/2011
language:
pages:
12
Ahli Project Management BPMIGAS



irviantanto



Rekan KMI,

Sekedar ikut nimbrung saja. Sebetulnya penerapan SNI itu sendiri sudah sejauh mana?

Pada saat saya masih duduk dibangku kuliah, saya banyak belajar beberapa standard

nasional maupun internasional. Akan tetapi begitu saya masuk ke dunia kerja, lebih

banyak standard international yang saya gunakan.

Misalnya saja JIS, BS, AS dan lain sebagainya. Karena menurut bos2 saya yang notabene

non Indonesia merasa lebih yakin dengan standard internasional.

Saya sendiri tidak terlalu mengikuti proses perumusan SNI, hanya saja itu akan

menimbulkan kebingunan kepada engineer2 dengan level fresh gaduate.

Saya pribadi saat ini lebih banyak berkecimpung di dunia project managementdan

construction management. Kebanyakan referensi untuk itu lebih banyak mengacu keluar

negeri seperti AACE, PMI dlsbnya. Sekedar sharing,





Alex Iskandar



Rekan Irvianto,



Saya mungkin sama dengan anda, lebih banyak berkutat dengan Project Managemen dan

sekitarnya. Sebenarnya begitupun dengan Project Management sebagai suatu cabang ilmu

yang juga mempunyai standar keilmuan, apakah tidak ada niatan untuk menguatkan

lembaga sertifikasi lokal seperti IAMPI dll ??



Adakah rencana BPMIGAS/MIGAS dan pemerintah menguatkan lembaga sertifikasi lokal

kita tersebut. Sehingga mungkin nantinya ada sertifikasi oleh IAMPI-BPMIGAS ??



Sepanjang pengetahuan saya, IAMPI telah menyadur (baca: menyarikan secara ilmiah

secara legal dan terdaftar tentunya) dasar2 keilmuan dari PMI dg PmBOK nya termasuk

juga AACE dll.



Seperti halnya dengan sertifikat PTK007, jadi sekedar lontaran usulan, untuk menyaring

tenaga kerja asing secara lebih "ilmiah", tanpa harus menyebutkan Project Manager tidak

boleh expat / bule. Sehingga kalau bisa diterapkan, kalau perlu BPMIGAS mensyaratkan

project manager harus mempunyai sertifikat IAMPI.

Otomatis semua orang termasuk bulenya KPS mungkin akan berusaha mengambil

sertifikat ini.

Dan mereka harus bisa bahasa Indonesia... :)



Jadi tidak usah lah insan migas mengangkat senjata, cukup dukungannya mengangkat

harkat bangsa dan lembaga-lembaga nasional.



Kalau kita sendiri yang tidak mendukung lembaga-lembaga nasional siapa lagi...

Admin Migas



Boleh juga usulannya Mas Alex untuk sertifikasi project manager asing, tapi pasti ada

perlawanan hebat dari KKKS itu sendiri.

Kalau BPMIGAS semangatnya adalah Indonesian Corporate, jadi pasting mendukung

kalau usulan tersebut dapat direalisasikan.

Dan jangan lupa tentunya para expat tersebut harus mengikuti kursus "cross culture".

Sebenarnya banyak item yang harus dipertimbangkan sewaktu rapat RPTKA antara

BPMIGAS dan KKKS.



Kebetulan malam ini saya lagi berdiskusi dengan seseorang expert di bidang project

management.

Tertarik nggak agar KMI membuat event di bidang project management sesuai dengan

diskusi saya dibawah ini.

Kalau tertarik, bantuin saya dong biar event ini bisa terwujud.



Dirman Artib



Sekalian aja Sertifikasi Auditor untuk Sistem Manajemen juga harus disertifikasi oleh

lembaga lokal. Saya dengar ada lembaga sertifikasi lokal untuk Auditor QMS, tapi mereka

main nya di area Kehutanan (minta masukan jika ada yang lebih tahu). Mana tahu bisa

dikembangkan ke migas, daripada bayar iuran tiap tahun GBP 94 per tahun.





Sketska Naratama



Dear pak Budhi

Seperti nya "gayung bersambut" pada topik project management seperti ini. Beberapa

bulan yang lalu saya pun meng kontak DR Paul untuk kebutuhan sertifikasi, sudah ada

beberapa orang kita (Ind) yang mendapatkan cert keluaran AACE ini. Rekan-rekan kita di

Project Control Indonesia, bisa jadi lebih familiar dengan "dunia" ini, walau jika ada

kesempatan DR paul presentasi pun memberikan nilai tambah tersendiri karena

pengakuan keahlian beliau sudah worldwide.



Dengan PMI Chapter Jakarta, juga mungkin dapat berkolaborasi. Tentu tangan terbuka

akan membantu membuat event nya, terutama pada saat ini. Jika dapat dibuat semacam

"Maprec" akan cukup berharga pengetahuan yang didapat beserta dengan jalinan relasi

nya. Bravo migas Ind.



ayubarrohman



Saya doakan semoga cepat terealisasi



Alex Iskandar



Memang betul pak banyak restriksi dan perlawanan, namun sepertinya perlu segera

digulirkan, saya lihat PTK nya sudah ada draftnya ,CMMIW, walaupun belum menjadi

keputusan, tinggal digulirkan dan menjadi keputusan. Tidak mengapa masih belum

sempurna, yang penting kita sudah punya dulu sambil berjalan diperbaiki. Mungkin yang

saya sebutkan terlalu "ekstrim", namun bisa jadi di awal penerapan aturan tersebut

disebutkan paling tidak ada deputy PM yang punya sertifikat Ahli PM BPMIGAS. Sehingga

mendorong adanya real "knowledge transfer" dan "balancing power of interest" dengan

dorongan BPMIGAS tentunya.

Seperti yang sudah jamak di proyek, PM adalah kunci sebuah proyek, "center of gravity,

power dan keputusan" ada pada PM. PM nya tentunya membawa orang-orang "yang

dipercaya" olehnya, sehingga dengan adanya deputy PM dapat "mem balance power"

interest. Tersebut, kecuali memang PMnya sudah 100% TKDN nya. Tentunya ini sekedar

saran perlu dipikirkan lebih matang bagaimana mekanisme teknisnya...



It's my pleasure also pak to help ... Mohon advise dan saran apa saja yang perlu

dipersiapkan.

Sedikit kendala, lebih baiknya lagi, mungkin perlu adanya dukungan resni dari BPMIGAS,

karena mau tidak mau ada "company propetiary" yang harus dishare. Sehingga perlu di

tambah dukungan real oleh "pemilik sah" suatu proyek KKS, dengan suatu surat

resmi.Dalam hal ini BPMIGAS dapat saja meminta seseorang di KKS untuk membantu,

sehingga kami juga tidak "jengah" untuk sharing knowledge dan aplikasi yang selama ini

kami kerjakan dalam koridor share company propetiary yg diijinkan.



Saya mengenal baik Dr.Paul ini di training PM beberapa tahun yng lalu dan masih sering

ber-email dengannya.



Admin Migas



Umumnya untuk kondisi tertentu, bila PM expat, maka deputy PM adalah nasional.

Selanjutnya di tahun-tahun mendatang, deputy PM ini dipromosikan menjadi PM.

Biasanya itu catatan yang ada di dalam rapat RPTKA.



Mengenai rencana event manajemen proyek, senin pagi saya usahakan untuk berbicara

dengan Kadiv MP BPMIGAS. Sekaligus dengan para Kepala Dinas MP Onshore maupun

Offshore. Doakan semoga berhasil mendapat dukungan dari BPMIGAS.



Irviantanto Hadiprasetyo



Pak Budhi S,



Saya sangat mendukung sekali apabila di Indonesia ada semacam SNI untuk Manajemen

Proyek maupun Manajemen Konstruksi. Sayapun melihat belum adanya “transfer of

knowledge” khususnya di bidang ini oleh para expatriate yang berkecimpung di industri

MIGAS di Indonesia. Menurut pengalaman “practice” saya kebanyakan dari para

professional kita masih banyak mengacu kepada “common sense” atau kebiasaan sehari-

hari yang dilaksanakan oleh perusahaan dimana kita bekerja. Kebetulan di milist Project

Controls Indonesia, kami sering membahas beberapa hal mengenai Manajemen Proyek

dan Manajemen Konstruksi yang pada umumnya cenderung belum baku. Untuk

standarisasi kebanyakan dari kami masih mengacu kepada AACE maupun PMI dengan

PMBOKnya.



Mudah-mudahan dengan dukungan KMI, bisa lebih membumikan transfer pengetahuan di

bidang ini.

El Mundo



Orang Angola saja bisa, kok Indonesia tidak bisa, mengapa?



Di Angloa berlaku hukum sbb:

Setiap jabatan/posisi yang di isi expat harus ada deputynya orang Angloa.

Tergantung dari jabatan, makin tinggi jabatannya, makin lama jabatan tsb dapat diisi oleh

expt.

Utk level Project Manager paling lama 5 thn. Maka di passport atau working permit si

expat akan di cap "valid for 5 years - No extention" (valida por cinco anos, nao pode ser

prorrogado). Dengan demikian si expat tidak dapat memperpanjang masa kerjanya di

Angloa dan harus menyerahkan posisi tsb ke Angolan. Jika oleh perusahan menganggap si

Angolan belum siap maka Perusahaan akan dikenai denda (dihitung berdasarkan

pengeluaran perusahaan utk si expat selama waktu bekerja di Angola). Dengan mencap

passport batas waktu bekerja di Angola si expat tidak dapat ber alih profesi supaya dapat

terus bekerja di sana.



Di Indonesia, seorang expat dapat beprofesi macam2.

Oleh HR di rubah RPTKA dan job description si expat tsb. sehingga dapat terus tinggal di

negeri yang serba murah ini

Contoh nya ada di Premier, ConocoPhillps, Chevron.. Mereka dihire lewat third party

(penyedia tenaga kerja).



Julius Jul



Dear Rekan2 Milis,



Setahu saya mengenai izin bekerja di Angola hanya pertahun yg setiap tahun akan

diperpanjang jika dibutuhkan, dan selama 3X extension, berarti hanya dibolehkan

bekerja secara resmi 3 tahun berturut2 dengan nomor passport yg sama, tetapi setelah

masa ultima (3tahun) kita masih akan dapatkan izin bekerja dengan mengajukan passport

yg baru.

Dan mengenai setiap jabatan yg diisi expat TIDAK selalu punya deputy dr Angola.

Contoh seperti Sonangol yg dulunya sempet di olah oleh lokal, krn produksinya makin

berkurang, maka sekarang ini boleh dikata di nominasi oleh Expat terutama dr France.

Demikian penjelasan singkat ini. semoga bermanfaat.



hadi muttaqien



Di Indonesia yang namanya expart seperti raja, saya temui mereka sudah berasan tahun

tinggal dan kerja di Indonesia. Kenapa bisa begitu, karena Indonesia surganya koruptor,

semua bisa di atur dengan cara menyoqok aparat. Perusahaan Indonesia dan

petugas/aparat Indonesia juga berperan melanggengkan mereka berlama-lama kerja di

Indonesia. DItempat asalnya mereka tinggal di kolong jembatan dan hidup dari bantuan

negara, subsidi.

Keahlian "NOL" di Indonesia dengan Paspor di stempel Engineer jadilah Expart di

Indonesia. Saya sering geram melihat kemampuan mereka yang minus di proyek2 di

Indonesia.

Di Indonesia menjadi tempat belajar mereka, memperoleh ketrampilan, keahlian dan

menimba ilmu, tetapi berstatus Expart.

Salut saya dengan pemerintah Angola, ketegasan mereka saya ragukan bisa di tiru

pemerintah RI.





Admin Migas



Kalau apa yang dikatakan Mas Hadi Muttaqien ini benar 100%, maka sebagian kerjaan

saya jadi ringan karena 100% expat bisa kita pulangkan ke negaranya. Tapi sayangnya,

sebagian expat ini kualitasnya bagus-bagus, punya sertifikasi keahlian yang diakui

internasional, punya international exposure dengan berbagai proyek di belahan dunia

lainnya, punyai kompetensi yang bagus di bidang pekerjaannya, bisa berbahasa Indonesia,

dsb. Sehingga butuh debat panjang untuk tidak menggunakan mereka di Indonesia.



Di sisi lain, memang benar bahwa expat menemukan surganya di Indonesia karena rupiah

melemah terhadap dollar. Dan saya juga tidak menutup mata bahwa ada sebagian expat

yang tidak mempunyai keahlian tapi tetap bisa bekerja di Indonesia. Jadi kalau ada

permintaan kursus pelatihan dari expat, maka seharusnya tidak dikabulkan karena kita

mengharapkan expat yang expert. Betul juga kalau keberadaan sebagian expat ini

bertahun-tahun di Indonesia dikarenakan adanya permainan dengan orang pemerintahan.



Intinya sih yang saya ingin sampaikan, kalau dalam berdiskusi janganlah digenarilisir kalau

bukti penunjangnya masih kurang. Yang bingung nanti para fresh graduate atau junior

engineer, lho kok apa yang didiskusikan oleh para senior berbeda dengan kenyataan.



El Mundo



Pak Budhi,



Saya kurang setuju dengan alasan di paragraph 1. Ini tidak dapat digeneralisasi bahwa

expat yang bagus harus terus dipakai.

BPMIGAS harus memberi garis yang jelas hanya bidang tertentu saja yg boleh diisi oleh

expat yg berqualifikasi S3 plus pengalaman minimum 10 tahun misalnya. Emangnya tak

ada expert orang Indonesia?...banyak bung... kalau saja mereka itu di bayar setara dan

sama besar jaminan nya dengan si expat yg expert itu, pasti para expert lokal itu pulang

kampung! sayangnya sejak di sekolah kita tidak dilatih utuk berbeda pendapat, jadi

kalau si expert lokal berbeda pendapat dengan bossnya ya larilah dia cari makan di negeri

orang. Sayang dong kita anggarkan 20% APBN untuk pendidikan, akhirnya dinikmati

oleh negara lain.



Utk paragraph 2. Banyak contoh yang dapat di lihat.

Ada seorang Briton, datang ke Indonesia 1997 sebagai "Safety Engineer" setelah 5 thn,

seharusnya dia direpatriet tetapi oleh pershnya dirubah job desnay dan diajukan RPTKA

yang baru. jabatannya menjadi "Safety Advisor", lima tahun berikutnya jabatannya

menjadi "Safety Manager", sekarang jabatannya menjadi "SHE and Sustainable

Development Manager".....Orangnya sama! Namanya sama. sekolahnya hanya setingkat

D3 ! Oya, saya ingat dia direkrut dan di interview oleh boss nya yg juga British di Blok M

- Keb Baru, tepatnya di TOP 10.

Apakah di BPMIGAS/DEPNAKER/IMMIGRASI tidak ada screening tools utuk mencegah

para exapt seperti ini.



Appreciate your comments



Dedy edy_rakhmat



!00 % betul apa yang disampaikan oleh pak El Mun & Hadi, Masalah expat ini terjadi

hampir disemua bidang pak tidak hanya di Oil & Gas saja. Expertise saya di konsultan IT

& Telecomunikasi, saya sering merasa diperlakukan tidak adil baik oleh perusahaan swasta

maupun pemerintah di Indonesia. Dari pengalaman saya hampir 25 tahun bekerja sama

dengan konsultan / expat asing yang datang ke Indonesia yang menangani bersama

proyek IT & Telco kebanyakan atau boleh dibilang semuanya tidak memiliki skill yang

melebih dari konsultan orang Indonesia tapi sayangnya perusahaan swasta maupun

pemerintah Indonesia terlalu mengagung-agungkan mereka (saya juga tidak tahu kenapa),

padahal yang bekerja & membuatkan laporan ya dari konsultan Indonesia sedangkan

konsultan asing hanya menerima & merangkumnya dari konsultan Indonesia.

Para expat ini diberikan fasilitas & Gaji yang besar sedangkan Konsultan Indonesia di beri

gaji yang lebih kecil dari para expat dari luar. Makanya tidak heran para expert Indonesia

mencari kerja di Luar Negeri karena mendapatkan Gaji & Fasilitas yang memadai. Bahkan

saya pernah menanyakan dengan Expat dari India kenapa mereka bekerja di Indonesia,

dia mengatakan bahwa dinegaranya dia tidak mendapat pekerjaan karena kopetensi &

persaingan di sana sangat tinggi. Lebih mengagetkan lagi dia mengatakan bahwa ini

proyek pertama yang dia tangani. Sehingga tidaklah heran kaum expat yang datang ke

Indonesia yang second/thid grade level & mereka amat senang bekerja di indonesia.

Saya nyakin pak kalau orang Indonesia diberikan kesempatan & hak yang sama dengan

expat dari luar, para expert Indonesia yang bekerja diluar akan kembali ke Indonesia &

negara kita akan lebih maju lagi karena devisa negara tidak dibawa keluar.

Jika ada expat yang memiliki skill yang bagus bukan berarti dia harus terus bekerja di

Indonesia justru harus dipaksa agar expart yang bagus tersebut bisa memberikan/sharing

ilmu kepada orang indonesia sehingga ada alih teknologi bukan untuk melanggengkan

pekerjaannya di Indonesia.

Orang Indonesia sudah CERDAS-CERDAS pak terbukti banyak pelajar Indonesia yang

menjuarai berbagai kejuaran dunia ilmu pengetahuan, ilmuan, peneliti atau pemimpin

perusahaan yang bekerja diluar negeri berasal dari Indonesia hanya kesempatan saja yang

tidak ada di Indonesia.



gsudarka



Pak ElMun,

Tepat apa yg saya alami ditahun 1997 sd 2003. Setelah itu baru mereka selesai dari

Indonesia tapi apa kemudian corporate meng-create job baru ditempatkan di singapore

atau negara lain, apa yg terjadi kami tetap dibawah mereka. Nasib.





Dirman Artib

Pekerja asing ditulis dengan singkat expat yang bearasal dari kata expatriat (bukan ditulis

expart). Jadi sopir helicopter, pengawal VIP, inspector bawah laut, penyiar radio

berkewarganegaraan asing pun disebut expat.



Agar bisa membedakan dengan istilah "Expert" yang artinya individu yang punya keahlian

khusus, misanya Certified Welding Engineer. Dokter Bedah Jantung, Hull Engineer, dll.





hadi muttaqien



Cuplikannya;





Expatriate is any person living in a different country from where he or she is a citizen. In

common usage, the term is often used in the context of professionals sent abroad by their

companies, as opposed to locally hired staff (who can also be foreigners). The

differentiation found in common usage usually comes down to socio-economic factors, so

skilled professionals working in another country are described as expatriates, whereas a

manual labourer who has moved to another country to earn more money might be

labelled an 'immigrant'. There is no set definition and usage does vary depending on

context and individual preferences and prejudices.





An expert is someone widely recognized as a reliable source of technique or skill whose

faculty for judging or deciding rightly, justly, or wisely is accorded authority and status by

their peers or the public in a specific well-distinguished domain. An expert, more

generally, is a person with extensive knowledge or ability based on research, experience,

or occupation and in a particular area of study. Experts are called in for advice on their

respective subject, but they do not always agree on the particulars of a field of study. An

expert can be, by virtue of credential, training,education, profession, publication or

experience, believed to have special knowledge of a subject beyond that of the average

person, sufficient that others may officially (and legally) rely upon the individual's

opinion.



Admin Migas



Maklum, mengikuti penyebutan lokal dilingkungan kami, ceritanya Expatriate yang Expert

kali ya?

Terimkasih untuk komentarnya.



Kalau apa yang dikatakan Mas Hadi Muttaqien ini benar 100%, maka sebagian kerjaan

saya jadi ringan karena 100% expat bisa kita pulangkan ke negaranya. Tapi sayangnya,

sebagian expat ini kualitasnya bagus-bagus, punya sertifikasi keahlian yang diakui

internasional, punya international exposure dengan berbagai proyek di belahan dunia

lainnya, punyai kompetensi yang bagus di bidang pekerjaannya, bisa berbahasa Indonesia,

dsb. Sehingga butuh debat panjang untuk tidak menggunakan mereka di Indonesia.

Di sisi lain, memang benar bahwa expat menemukan surganya di Indonesia karena rupiah

melemah terhadap dollar. Dan saya juga tidak menutup mata bahwa ada sebagian expat

yang tidak mempunyai keahlian tapi tetap bisa bekerja di Indonesia. Jadi kalau ada

permintaan kursus pelatihan dari expat, maka seharusnya tidak dikabulkan karena kita

mengharapkan expat yang expert. Betul juga kalau keberadaan sebagian expat ini

bertahun-tahun di Indonesia dikarenakan adanya permainan dengan orang pemerintahan.



Intinya sih yang saya ingin sampaikan, kalau dalam berdiskusi janganlah digenarilisir kalau

bukti penunjangnya masih kurang. Yang bingung nanti para fresh graduate atau junior

engineer, lho kok apa yang didiskusikan oleh para senior berbeda dengan kenyataan.





hadi muttaqien



Mas Budhi,





Sebagaimana biasanya, tulisan saya di Milis ini berdasarkan pengalaman saya, cerita saya

adalah apa yang pernah saya temui dan alami, jadi kasuistis sifatnya, tidak me-generalisir.

Syukurlah kalau kita ketemu Expatriate yang benar2 Expert bisa belajar kita dari mereka.

Kebetulan topik yang kita bahas adalah yang menjadi unek-unek saya selama ini, jadi

seperti komplain say terhadap keadaan, kita rugi kalau pajak yang di ambil dari kita untuk

membayar mereka yang Expatriate tetapi tidak Expert.

Saya mohon maaf bila ada yang tidak berkenan di tulisan saya tersebut, mumpung bulan

Puasa menghadapi Lebaran; Mohon maaf lahir bathin.

Salam kompak selalu.



Admin Migas



It's OK Mas Hadi, saya hanya sekedar meluruskan saja kok.

Dengan klarifikasi anda kan sudah jelas bahwa hal ini bersifat kasuistis.

Dan itu menurut saja kemungkinan besar terjadi melihat latar belakang pekerjaan anda di

EPCI dan Service Company.

Tangan BPMIGAS memang tidak bisa mengjangkau engineering, construction maupun

service company.

Paling-paling kita minta para KKKS untuk mencantumkan di dalam kontraknya dengan

perusahaan di atas untuk menggunakan minimal 70% engineer nasional (misalnya).

Kalau kita semuanya mempunyai komitmen terhadap merah putih, porsi engineer

nasional di perusahaan di atas bisa diperbesar ke 95%.



Kalau expat yang bekerja di KKKS, BPMIGAS mempunyai wewenang untuk me-review

keberadaan para expat tersebut melalui RPTKA.

Kalau ada pelanggaran, maka IMTA bisa dicabut dan expat tersebut dipulangkan ke

negaranya.

Yang agak susah dikontrol yang melalui profesional service contract atau third party

(contract engineer).

Ada KKKS yang masih bermain-main di daerah ini.



hadi muttaqien

Terimaksih Mas Budhi untuk tanggapannya, semoga pemerintah kita memperhatikan dan

dapat memajukan dunia Engineering kita.

Kita cinta Indonesia dan mengangankan kemajuan Engineering di Indonesia sebagaimana

mestinya.

Terimakasih.



Dirman Artib



Sebelum ditutup, saya mau mengemukakan pandangan dan pendapat.



Negara-negara yang kekurangan SDA dalam artian jumlah sangat wajar bila

mendatangkan expat, contohnya adalah Malaysia, Saudi, Qatar, Oman,Australia, Canada

, S'pore dll. Mereka memerlukan expat sebagai pekerja yang akan patuh pada arahan

mereka untuk mendukung tumbuh kembangnya perekonomian mereka baik dalam

pengolahan SDA maupun sektor-sektor jasa. Dalam prakteknya, peranan expat memang

sangat-sangat positif memompa ekonomi mereka. Lalu terjadi pergeseran level sosial pada

penduduk lokal yang dulunya berprofesi sebagai pekerja, maka dengan kedatangan expat

mereka menempatkan diri sebagai tuan, karena berbagai fasilitas yang mereka miliki

misalnya tanah, kemudahan pinjaman modal, akses kepada birokrasi, dan barang modal

lainnya. Jumlah warga Qatar yang hanya segelintir dibanding expat telah ditunjang oleh

kehadiran para expat sehingga posisi orang lokal menempati status sosial pada segment

tingkat atas. Mereka menjadi tuan tanah yang menyewakan ruang/hotel/apartment,

kendaraan, jasa agency yang berhubungan dengan birokrasi. Makanya orang lokal Qatar

selalu mempunyai ballpoint di saku bajunya untuk menendatangani cek di mana saja dan

kapan saja. Bagi negara seperti Malaysia tak jauh beda, hanya pada penduduk jiran

mereka masih significant ditemukan pada segment menengah yaitu masih menjadi tukang

insinyur, designers, inspectors, auditors dll.

Jadi pada segment tengah masih terjadi kompetisi antara expat dan orang lokal. Tetapi

saya berhipotesa bahwa penduduk lokal akan terus disundul ke atas oleh para expats

"Encik duduk sahaja, biar kami yang kerje".



Saat majleis buka puasa 2 tahun lalu, tanpa sengaja saya satu table dengan Dato'

Chairman sebuah syarekat Engineering lokal yang tergabung dalam group yang cukup

besar. Chairman posisinya di atas CEO yang merupakan representasi pemilik perusahaan.

Dato' ini juga seorang PhD lecture di sebuah perguruan tinggi negeri bonafide di jiran tsb.

Sang Dato' pun tak menyadari jika saya adalah pekerja asing asal Indonesia, yang

kemudian meminta ma'af kalau-kalau ada hal yang menyinggung saya. Lalu sebelum

waktu berbuka tiba, dia membuka pembicaraan tentang perbincangannya dengan Mr.

Minister tadi pagi tentang rencana membuat "1000 PhD". Latarbelakangnya adalah bahwa

Rakyat Malaysia tak terlalu kompetitif bersaing dengan para expats dari Indonesia,

Phillipine, Indian, Bangladesh, Sri Lanka pada level bawah maupun tengah. Selain

daripada pengetahuan dan skills, keunggulan utama para expats adalah kegigihan,

tangguh, stamina mantap dalam waktu kerja yang lebih lama, dan mudah dipecat

kapanpun anda mau. Penduduk lokal 1 s/d 2 points di bawah para expats. Permasalahan

unik Malaysia adalah juga gender, di mana jumlah perempuan hampir 3X laki-laki. Data

menunjukkan bahwa perempuan yang sudah dikirim belajar sampai ke UK, akhirnya

kembali hanya bekerja sekitar 3-4 tahun, karena memilih profesi sebagai Ibu RT untuk

menghasilkan generasi berikutnya yang lebih berkualitas.

Maka strategy yang akan mereka jalankan adalah mengangkat pekerja Malaysia di level

bawah dan tengah kepada level atas dengan cara memberikan kesempatan kepada

mereka untuk mengikuti program pencetakan PhD. Pekerja dan Engineers Malaysia akan

diberikan kemudahan untuk mengikuti program ini, yang secara detail program akan

berbeda dengan program PhD yang regular. Dia mengatakan ini mirip-mirip apa yang

dibuat oleh Canada (saya nggak tahu apa maksudnya). Jadi dengan cara begitu, Malaysia

akan berada pada jajaran executive, Managerial, pemilik syarekat, pemberi atau mediasi

pendanaan, Consultant Management dsb. Negara sumber SDA yang paling diunggulkan

pada level bawah dan tengah adalah Indonesia, selain SDA nya pintar-pintar, kualitas

universitasnya, juga karena langsung berbatasan, tetapi ada sedikit ancaman yaitu bila

pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi untuk mempekerjakan sendiri SDA nya,

maka Malaysia akan kekurangan orang yang akan mengayunkan pacul. Secara implisit dia

memandang bahwa kecukupan pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan resiko

tersendiri bagi mereka, karena ekonomi India dan China yg juga tumbuh pesat akan

menimbulkan dampak yang sama juga bagi mereka. Pekerja Phillipine lebih suka ke

Middle East karena income sedikit lebih baik. bersaing dengan Middle East dalam

pemberian upah adalah hal yang ditakuti mereka. Tetapi pertumbuhan Indonesia itu akan

memerlukan proses dan waktu di tengah-tengah ujian efektifitas sistem demo crazy. Maka

program pencetakan 1000 PhD harus dipercepat, karena jika program ini selesai sebelum

krisis SDA itu datang, maka justru akan menguntungkan, karena "orang Malaysia sudah

akan berperan pada puncak pyramid", tidak hanya di Malaysia tetapi juga pada

perusahaan-perusahaan Malaysia yang beroperasi di kawasan, dia memberikan contoh

Petronas, Maxis dan rencana beberapa Banks yang waktu itu akan ekpansi ke Jakarta.



Istilah 1000 Phd bukanlah maksudnya hanya PhD, tetapi juga program-program seperti

MBA dan sejenisnya yang akan berperan menjadi pemain pada level strategis sebuah

perusahaan.



Mudah-mudahan info ini memjadi inspirasi bagi kita, paling tidak mengintip strategy

tetangga untuk terus mempekerjakan negara yang kaya SDA. Cuma yang saya prihatin

bahwa dengan prediksi produksi hanya 900 an bbl/day tentu tidak cukup untuk

mengancam jiran pada sektor migas untuk 5-8 tahun ke depan, ya ikhlas saja untuk

mengayunkan lagi cangkul untuk kakek Ipin dan Upin.



Dirman Artib



Sorry semua term SDA dikoreski menjadi SDM,



Joi Surya Dharma



Sebagai referensi Pak Budhi,



Pernah disuatu forum saya berinteraksi dengan Advisor dari PTTEP (Pertamina nya

Thailand).

Menurut dia di Thailand, BPMIGAS nya Thailand hanya meng-approve max 5 tahun

untuk suatu posisi ditempati oleh Expat.



Apa impact positifnya?

Perusahaan asing disana suka tidak suka harus mendevelop orang lokal nya (Thai) untuk

dapat menggantikan para expat tersebut otherwise project atau business nya akan

terimbas jika penggantinya tidak competent.



Bagaimana di tanah air ?



Mungkin Pak Budhi atau kawan HR di BPMIGAS bisa share hal ini. Maklum industri migas

ditanah air khan sudah 100 tahun lebih, posisi apa sih yang tidak bisa dihandle oleh orang

kita sendiri.

Saya ingat 2 tahun lalu lagi2 di forum ditanah air, BPMIGAS menyatakan bahwa staf dari

KKKS adalah transferable dikarenakan 85% nya adalah milik negara. Jadi misalnya,

seorang deepwater engineer di Chevron, bisa ditransfer ke Statoil atau Marathon yang

sedang terlibat di deepwater project. Saya belum liat mekanisme nyatanya, apa ini sudah

berjalan ? atau hanya wacana politis pada waktu itu. Jika beberapa KKKS yang terlibat

investment di block yang sama tentu memungkinkan, tapi kalo antar block ? ehm apa

Chevron walau dipaksa BPMIGAS akan mau staff ahlinya dipinjam ke prs lain dengan

resiko informasi dan data2nya terbawa keluar juga.



gsudarka



Rekan sekalian,

Saya tertarik dengan bahasan expart di Indonesia, saya pernah alami hal yang sama saat

atasan seorag expart aviatian dibawah kontrak drilling dan dalam perjanjian kerjanya di

indonesia disebutkan harus memberikan alih technologi ke coworker orang local dan

tentu kita harus pinter2 menggalinya technologi dari berbagai referensi sesuai bidang kerja

masing2, kadang2 mereka menghargai initiatif baik kita, dan tentu banyak diam (diam itu

emas, katanya ketoprak semalam di TV), harus tahu mereka terkadang bersifat feodal

minta dihormati, tidak kurang orang kita juga sama. Terkadang mereka meng-cerrete

sesuatu untuk tetap di jabatannya karena salery nya tinggi, sementara biaya hidup di

negara kita murah. Ini kadang membuat mereka kadang2 membenarkan segala cara untuk

tetap dijabatannya. Jaman sekarang perlu mengalah dan belajar kerang dari pengalaman

kalau mau terima alih technologi mereka.



made.sudarta1964



Kalau saya melihat arah kebijakan kita tidak jelas, atau jangan2 kita belum memiliki policy

kearah itu dimana tujuannya adalah menciptakan manusia indonesia yg berdaya saing

tinggi serta memeiliki kualifikasi yg sebagian didapat dari knowledge transfer tersebut.

Tetapi lagi2 kita bertanya apakah kita sudah memiliki alat ukur atau ukuran atau indikator

apa yg dimaksud dgn knowledge transfer sudah dilakukan dan apa bentuk pencaiannya

atau adakah timeline untuk itu? Sifat manusia akan mempertahankan kenyamaman yg

mereka dapatkan hanya enforcement yg ketat dan konsisten serta terukur yg dapat

merubah kondisi tsb.





Sulistiyono



Sejak dulu kontrak PSC , dalam RPTKA selalu mencantumkan adanya TENAGA

PENDAMPING NASIONAL bagi tenaga expatriate yang menduduki posisi tertentu.

Bahkan beberapa posisi TIDAK DIPERBOLEHKAN lagi didudki tenaga expatriate karena

tenaga nasional yang tersedia sudah dianggap mampu menduduki jabatan tersebut.

Seharusnya pada waktu yang ditetapkan tenaga pendamping nasional HARUS menduduki

jabatan tenaga expatriate tersebut. Itulah yang diterapkan Thailand, China dan Petronas

yang mengadopt PSC kita dan berhasil.



Kenapa Indonesia TIDAK berhasil ? Kemungkinan yang menyebabkan kegagalan

tersebut antara lain :



- Pendamping dikatakan / dianggap BELUM SIAP



- Dikirim ke training /kursus di Luar negeri dan penyelenggaranya melaporkan

bahwa ybs TIDAK MAMPU.



- Sebelum saat PENDAMPINGAN selesai PENDAMPING dipindahkan ke bagian

lain







Oleh karena itu diharapkan Badab atau Institusi Pemerintah yang berwenang seyogyanya

lebih dapat menilai kebenaran informasi yang diterima dari mitra kerjanya.dalam hal

penggantian expatriate.



Oleh karena itu seyogyanya pejabat HR di badan dan institusi Pemerintah yang terlibat

dalam penanganan personil/expatriate Migas adalah orang yang memahami operasional

industry migas hulu, Saya tidak meragukan semangat nasionalisme mereka. Demi

kemajuan Indonesia.



hadiwinoto soedar



Kalau melihat pendapat teman2 dibawah ini, rekan2 ini sudah sepatutnya anda menjadi

salah satu expert dinegara sendiri.....tinggal keberanian pemerintah untuk menerapkan

kebijaksanaan pemanfaatan expert lokal semaksimal mungkin (dng gaji bagus, teman2 yg

merantau.....akan balik semua...YAKIN 1000%) Hambatan memang ada, karena share

holder asing, tentu akan mencoba mencarikan perkerjaan bagi negaranya, disamping

kepentingan non-teknis lainnya.





Dirman Artib



Walaupun gaji bagus, mungkin harus dipertimbangkan juga tempat kerja yang nggak

macet.

Jika hanya 25-30 menit ke kantor boleh la...


Related docs
Other docs by HC111214112127
1:30 P
Views: 6  |  Downloads: 0
GRUPPI 2011
Views: 17  |  Downloads: 0
Hooker Info and App 2011
Views: 6  |  Downloads: 0
RECOGNITION OF ANNIVERSARIES
Views: 0  |  Downloads: 0
elenchi secondo anno per SITO 1
Views: 1  |  Downloads: 0
Slide 1
Views: 1  |  Downloads: 0
Children and Domestic Violence
Views: 1  |  Downloads: 0
New Member Meetings
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!