Embed
Email

Lagu Terakhir Selepas Kau Pergi

Document Sample
Lagu Terakhir Selepas Kau Pergi
Description

This is my first ebook And include my poem. I am sory if dont understand this poem, because i am use indonesian. Yeah.. Thanks

Shared by: Syaiful Bahri
Stats
views:
57
posted:
12/13/2011
language:
pages:
42
Lagu Terakhir Selepas Kau Pergi

Kumpulan Puisi









Syaiful Bahri









1

Untuk Ibu dan Ayah saya, Sri Hartatik dan Soedarsono.



Terima kasih telah membuat saya terlahir di dunia ini.









2

Pengantar Penyair







Tahukan Anda, kalau membuat pengantar adalah pekerjaan yang saya anggap

percuma. Dan ternyata adalah pekerjaan paling sulit yang saya temui. Dari pengalaman saya,

banyak pembaca yang tidak melihat pengantar dalam sebuah buku. Mereka langsung saja

membuka halaman isi buku tersebut. Seakan-akan tidak ada gunanya membacanya. Realitas

seperti ini sering saya temui. Padahal dalam pengantar seorang penulis biasanya

mendudukkan buku tersebut dan hal apa saja yang menjadi sasaran. Dalam pengantar E-Book

ini misalnya, yang akan saya jelaskan pada paragraf selanjutnya. Oleh karena itu saya

berasumsi bahwa Anda akan membaca pengantar E-Book ini.



E-Book kumpulan puisi ini memuat 23 sajak yang saya tulis dalam rentang waktu

2009-2011. Walau pun saya sendiri memulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP. Itu

berarti kira-kira tahun 2003. Dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut, ternyata saya

hanya bisa menghasilkan 23 puisi. Maksud saya, saya hanya bisa menghasilkan 23 puisi yang

saya kira layak Anda baca. Puisi-puisi yang saya kira layak Anda baca itulah, yang saya

cantumkan dalam E-Book ini. Beberapa teman, baik dari kalangan penulis mau pun bukan,

menyuruh dan mendorong saya untuk mengajukan naskah ini untuk diajukan ke sebuah

penerbit. Hal tersebut mereka ungkapkan ketika saya memperlihatkan naskah ini kepada

mereka. Tentu saja saran tersebut sangat menarik, akan tetapi saya pikir sebagai permulaan

saya harus mengetahui terlebih dahulu seberapa besarkah minat pembaca terhadap puisi-puisi

saya. Agar saya mempunyai cukup nyali mengajukan naskah lain ke sebuah penerbit. Dan

saya pikir membuat E-Book adalah jalan yang baik untuk mengetahui hal tersebut.



Buku saya kira tetap saja adalah sebuah buku. Meski pun ini hanya sebuah buku

digital. Karena itu, lelaku ini tetap saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Barangkali

dengan segenap hati saya. Saya selalu ingat penyair terkemuka, Pablo Neruda, dalam sebuah

puisinya berjudul Ode Bagi Buku berkata ketika sebuah buku aku tutup/aku membuka hidup.

Saya akan merasa malu jika saya membuat E-Book ini dengan setengah hati. Apalagi ketika

saya ingat perkataan Neruda di atas. Dan celakanya, saya selalu ingat kalimat tersebut.

barangkali karena saya menganggapnya sebagai motto saya ketika membaca buku.









3

Namun ternyata, karena dalam soal penggarapan E-Book ini harus saya kerjakan

sendiri dengan kemampuan tentang komputer saya yang pas-pasan. Maka jadilah E-Book ini

sederhana dan apa adanya. Saya harap hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati

puisi-puisi nantinya.



Karena saya menganggap E-Book sama dengan buku cetak, maka tak ada salahnya

saya mengucapkan terima kasih kepada kakak kandung saya, Sigit Sujatmiko. Yang dengan

sebuah software yang dia berikan kepada saya dan kuliah tiga puluh menitnya saya bisa tahu

cara membuat E-Book. Sebagai ucapan terima kasih yang dalam, saya ingin mempromosikan

bisnis online yang dia kerjakan di sini. Saya tidak bisa membahas bisnis online tersebut

panjang lebar karena akan mengganggu Anda. Silahkan jika Anda ingin membantu saya

berterima kasih kepada kakak saya kunjungi saja website ini http://harikerja.co.cc/. Terima

kasih kepada Hasan Aspahani, Aan Mansyur dan Acep Zamzam Noer, yang meski pun tidak

pernah mengajari saya menulis puisi, karya mereka telah mengajari saya demikian. Dan

terima kasih kepada teman-teman penyair muda seperti Eko Putra , Dea Anugrah, Rozy

Kembara, Dwi S Wibowo, Pringadi Abdi Surya, Na Lesmana, dan nama-nama penyair lain

yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih yang tak terhingga bagi kalian semua.



Surabaya, 18 Juni 2011









Syaiful Bahri









4

Daftar Isi









Pengantar Penyair — 3



Daftar Is i— 5









Bagian I Selepas Kau Perg i— 7



Selepas Kau Pergi — 8



Karena Waktu — 9



Selalu Begitu — 10



Pasar Lama—11



Marilah Tidur—12



Bukan Cintaku Padamu—13



Ketika Mau Menjemput—14



Kapten Barbossa—15



Kembali Terkenang—16



Kiranya Kau Terlalu Jauh—17



Fragment on The Picture—18









Bagian II Lagu Terakhir—19



Sepotong Lagu Kecil—20



Sajak Ini Mestinya Ditulis Ayah—21



Mesti Menyelam ke Dasar Laut—23



Setelah Tanah Tandus—24



Pahami dengan Ciuman—25



5

Nyanyian Bulan Mei—26



Lagu Semangat—29



Lagu Terakhir—31



Biarkan Kerudung Menjuntai—33



Tahi Lalat—34



Anak-anak dari foto Jamie Baldridge, 2 —35



Kepada Sungai—38



Bagian III Penutup—41



Tentang Penyair—42









6

Bagian I



Selepas Kau Pergi









7

Selepas Kau Pergi









Selepas kau pergi, tanganku terus memanjang

Mau membelai kebahagian masa lalu

Yang bergelantungan di rambutmu

Melewati rel menuju utara

Lalu hilang ditelan kelokan

Ingin sekali aku menyalakan rokok

Tapi korek apiku berulangkali padam

Ditiup angin sekalian rindu.

Perpisahan adalah pasti

Orang-orang yang mencintai

Dan kita cintai, rumah

Juga segala sesuatu yang pernah kita jumpa

Perlahan meninggalkan kita

Dan hanya meninggalkan kenangan

Selepas kau pergi, tanganku terus memanjang

Dan setiap akan sampai pada rambutmu

Ada getaran puisi yang memanggilnya kembali

Tapi keanehan ini mungkin sebuah anugerah

Untuk apa bersedih pada yang telah terjadi

Maka kucoba sekali lagi menyalakan rokok

Di antara hujan yang turun patah-patah

Dan kepak burung yang basah

Ada tangan yang memanjang ke arah rambutku

Tapi tiba-tiba kembali sebelum menyentuh

Seperti ada sesuatu yang memanggil.









2010









8

Karena Waktu

: D. Zamawi Imron









Karena waktu segalanya bisa

berubah. Juga jalan pulang, Jembatan Suramadu

dan lampu lampu kendaraan terasa asing, tak ada penjual

keliling menjajakan nasi dan tangan yang menjulur

ke arah wajah. Di Selat Madura sebuah ingatan jatuh

menjadi kapal juga sauh. Mobil mobil membuat

kemacetan, rindu meninggalkan tubuhku melesat ke arah rumah

dan aku menatap keluar jendela bus, ada gedung gedung

tower tower telepon genggam, segalanya terasa asing

seperti puisi yang gelap, tak ada yang bisa kukenali.



Karena waktu segalanya bisa

berubah. Tak ada lagi nyanyian gadis gadis desa

yang mencari kayu bakar juga siul pemanjat

pohon siwalan. Seorang lelaki memandangku

seperti pendatang baru, seperti puisi yang dibaca

tergesa gesa kemudian dilupakan, pun aku. Sepanjang jalan

ingatanku seperti bintang di antara awan hitam

sebentar terlihat lalu hilang. Sumenep perlahan

memasuki pagi, ketika aku sampai di rumah



tak ada yang bisa kutemui selain kenangan

tak ada siapa-siapa!









2010









9

Selalu Begitu









membaca puisi aku yang dulu

betapa rumitnya, seperti Cinta ku padamu

sementara kata sejatinya sederhana



ku buka halaman buku puisi itu

ungkapan Cinta tenggelam di puncak kata yang jauh



selalu begitu



aku mengenangmu lewat puisi-puisi itu

lewat Cinta yang belum kau tahu



kenapa aku baru sadar di saat kau tak ada

di saat aku tahu bagaimana menulis puisi Cinta



tapi, ah, aku tulis saja puisi ini

sebagai ungkapan Cinta yang sia-sia



selalu, selalu begitu

puisi tak pernah bisa

Dan aku tetap saja menulisnya



selalu, selalu begitu

puisi tak pernah bisa

Dan ada saja yang tetap membacanya









2009









10

Pasar Lama









Baiklah, kutulis puisi lagi

untukmu. Sekarang adalah waktunya

adegan di pasar lama telah kembali

sebagai kenangan. Perbincangan di lapak lapak

pedagang, jejak kaki dan ciuman ciuman

mengetuk ngetuk jemari, tentu puisi keluar

pasar lama mungkin telah terbakar tapi kenangan

tetap mekar tetap menjalar. Lalu puisi

menjadikannya lebih halus, lebih harus menarik tubuh

melakukan pertemuan lebih luas memandang kehidupan.



Memandang pasar lama

memang lapak lapak telah abu

baju dan sepatu sepatu, Dan pecahan harapan

keuntungan para pedagang. Tapi kenangan tentangnya

telah rindang telah rindang. Marilah

perempuan berbulu mata lentik, marilah mengenang bersama

tawaran kita yang lebih uang dari yang diminta pedagang itu

senyum pedagang lainnya setelah rombongnya diamankan

dan kegagahan petugas melaksanakan perintah.

Marilah, mari membaca puisi

di sini, di pasar lama ini. Lalu lupakan saja

untuk kenangan yang lebih mulus, lebih haus

melakukan pertemuan, lebih tulus



lalu lupakan lagi.









2010



11

Marilah Tidur









Marilah tidur sekarang ini

perempuan berbulu mata lentik berhentilah mengenangku

dengan cara apa pun. Bunga mekar, bulan purnama

dan gairah kerja. Sebuah puisi mengeras di jemariku

tapi bukan saatnya menulis. Marilah kita saling melupakan

rindu juga cinta. Bunga harus gugur, bulan harus sabit,

gairah kerja harus luntur semua orang harus tidur.

Sekarang adalah waktunya

malam semakin kelam menyebarkan kesepiannya

di antara baris baris hujan dan kesiur daun daun

yang ditinggalkan burung.



Marilah tidur, kasur telah membuka tubuhnya

meski guling dan bantal telah lapuk

kantuk telah mengetuk mata. Berhentilah mengenangku

perempuan berbulu mata lentik.

Sepanjang jalan, perpisahan ini biarlah menjadi puisi sendiri

marilah tidur atau biarkan aku tidur. Sebentar melupakanmu

rindu juga cinta ini. bunga bersemi kembali, bulan purnama datang lagi

pun gairah kerja. Besok, hidup pasti lebih segar dan cintaku akan lebih dalam

juga pencarian ini pasti akan jadi lebih khusyuk.









2010









12

Bukan Cintaku Padamu









Bukan cintaku padamu, tetapi cinta yang abadi!

bulu mata, alis, bibir dan harum rambutmu yang unik

baiknya kini aku serahkan pada waktu yang terus bergerak

atau pada gelegat laut membentuk ombak dan sesekali badai.





Tidak sulit aku menjadi lupa lalu mencinta perempuan lain

seperti sekuntum bunga, barangkali bunga mawar

menemui ajal sebelum daya tarik itu penuh keluar

dari kelopak, putik sampai durinya. Karena musim angin.





Aku tak bisa janji akan selalu mengenang dan mencinta

meski kisah remaja bersamamu ini begitu madu murni

dan gairahku tambah membakar dan tambah membakar





Tetapi jika kelak cintaku padamu masih memiliki daya hidupnya,

Sumpah! Akan aku jadikan cintaku padamu mendekati abadi

dengan puisi dan tentu saja dengan mahar.









2011









13

Ketika Maut Menjemput









Ketika maut menjemput, aku tak lagi mencintai

Hanya menahan sakit dan jiwa yang mau lepas

Jadi lambat dan sepi dan menembus

langit tertinggi, di batas itu sendiri





Dan lihat kau menangis, di samping tubuh

tahu bahwa tak akan kembali, dan anak-anak

yang tak mengerti kehilangan, juga tersedak

dalam airmata, seperti hanya tumbuh.





Oh, kau mesti belajar hidup tanpa cinta ini!

bernyanyi saja, terus, meski tak aku dengar

dan tegar seperti pohon besar, sebentar

saja. Aku akan kembali mencintai





ketika aku telah mati dan benar mati

menunggumu, di antara dewi-dewi.









2010









14

Kapten Barbossa









malam belum larut sungguh dalam tidur

bersama kru bajak lautnya

ia menyerang sebuah kerajaan

bukan demi mahkota, perempuan atau harga buron

hanya demi sekeping emas

yang mengutuknya menjadi abadi

berapa puluh tahun sudah ia berlabuh

dari dermaga ke dermaga dari pulau ke pulau

dari laut ke laut dihantam badai sekalian ombak

berkelahi dengan musim dan cuaca, tanpa

merasa apa pun, sekeping emas mesti dikembalikan

bagi masa lalu yang keliru, di sebuah gua tersembunyi

sebab kematian memberi arti hidup

ia merindukan rasa takut dan sakit

yang merambat di tubuh

berlayar, memutar kemudi, melempar jangkar

dengan debar yang menyebar dada

apalagi yang jauh menyiksa dari pelayaran yang hambar

lebih-lebih ia seorang kapten bajak laut

ia ingin kembali menghirup kenangan

bersama kru bajak lautnya

ia menyerang sebuah kerajaan

mengayun pedang, berperang sambil tertawa

iri kepada prajurit kerajaan satu-satu mengerang

ah, betapa ingin menjadi manusia biasa lagi

sementara malam telah larut benar dalam tidur









2009-2010







15

Kembali Terkenang









Sudah sembilan malam bintang terlihat begitu dingin

dan bulan bunting karena keindahannya sendiri.

Di kota Surabaya, aku tak pernah bisa lari

dari kenangan, seperti datang melalui angin.





Tiba-tiba aku ingin menyusuri jejak masa lalu

di sepanjang Joyoboyo, Pasar Wonokromo dan ketintang

sehingga suasana romantis itu kembali terbentang

saling bergandengan tangan dan saling membujuk rayu.





Berdesakan dalam bus kota. Memasuki berbagai toko buku.

Bersamamu, aku melewati banyak masalah hidup. Lalu

berkejaran dengan waktu kuhirup aroma tubuhmu.





Bagaimana mungkin lari dari kenangan ini. Selalu ada ruang

selalu ada peluang untuk tetap tersimpan. Meski hanya liang

dalam pikiran. Dan sekarang, aku berusaha menjaga riang.









2010









16

Kiranya Kau Terlalu Jauh









Kiranya kau terlalu jauh dan mustahil dikejar

Karena kakimu seperti kijang di padang rumput.

Apa yang lebih indah dari pohon-pohon mekar

Dan itu adalah rambutmu. Berjuntai-juntai bagai laut.

Aku berteduh di bawahnya, tapi hatiku masih berlari

Karena tubuhmu adalah mawar dan seluruh rempah

Wajahku sejuk dihembus angin dari arah lembah

Tetapi mataku nanar mencari bibirmu lagi dan lagi

Demikianlah, Manisku, seumpama batang tebu atau gula

Yang memiliki kebun anggur berpagar rapat dan tinggi

Karena pernah masuk dan menikmati buah anggurnya

Maka dengan sombong aku tinggalkan kau sendiri

Demikianlah, Manisku, aku umpakan cinta dan hidupku

Ketika tak kutemukan yang lebih nikmat dari anggurmu!









2011









17

Fragment On The Picture









Jalan yang berkelok dan panjang pun

pasti memilik ujung. Aku akan membeli sepatu

sepatu merah dan sepatu hitam

aku suka rindu yang berbunyi

di bawah sepatu ketika aku melangkah

daripada bunyi telapak kaki atau sandal.

Dan mendengar suara aspal

dari bagian bawah sepatu.

Apalagi melihat pohon tumbang

seekor ulat tertindih batang pohon

menggeliat kemudian lolos

dan seekor burung mematuknya.

Atau warung kopi yang teduh

lagi ramai, bukan karena kopi

hanya gadis berkerudung hijau itu.

Tetapi aku masih berjalan memakai sandal

aku tidak suka duka yang berbunyi

di bawah sandal ketika aku melangkah

menuju pasar.









2011









18

Bagian II



Lagu Terakhir









19

Sepotong Lagu Kecil









Ini kali lelaki itu mengajakmu pergi

Keliling kota paling plaza ini

Jalan raya penuh lampu merkuri

Dan taman taman kota

Alun alun kota

Lelaki itu mencintaimu

Seperti aku

Aku tidak marah

Dan sekali waktu

Kau memang pergi

Bersamanya

Aku tidak cemburu

Tahu aku

Meski tubuhmu pergi

Hatimu tetap di sini

Di hatiku.









2010









20

Sajak Ini Mestinya Ditulis Ayah









/1/





Aku tak peduli

Walau nanti kau tak kembali

Membawa anakanak

Kau singkap mereka bersama bendabenda

Di koper itu

Tapi tolong jangan kau ambil

Wangi parfummu yang menempel di kemejaku





/2/





Aku tak akan menjadi pohon

Yang akarnya menancap di rumah

Diam dan menanti kau datang, dengan ramah

Aku jadi daun saja

Bila ada angin melepaskanku dari dahan

Aku dapat terbang ke gedung malam

Dan pergi ke kampung yang kita kira surga

Saat malam pertama, bersamanya

Tetapi rupanya tak ada angin

Sebadai dirimu yang sanggup menghempaskan

Aku ke langit yang sama





/3/





Sudah dua tahun kau pergi





Aku senang sebab ranjang ini terasa lengang

Dan kakinya tak lagi berisik

Sebab sintal tubuhmu tak lagi mengganggu tidurku

Yang mengharuskan aku bekerja penuh semalam

Dan di kamar ini, Kamar dimana



21

Kita saling meminjam tubuh

Sedang turun salju, dingin sekali









2009









22

Mesti Menyelam ke Dasar Laut









Mesti menyelam ke dasar laut sebelum darat sesak

malam diam dan berhenti menyulam benang hitam

sebelum pabrik terus berisik dan beranak pinak

tak lagi beri waktu dan ruang untuk sekedar mencium





Sebelum dengung lebah, sisa hujan pada jalan

dan kelopak payung yang dibiarkan terbuka

membuatku tambah tak mengerti saja

gerak bibir atau liuk lidahmu yang melantun





Sebab hanya di sana, seluruh tak bersuara, tak butuh kata

Terumbu karang, cumi, ubur dan lumba-lumba

akan mengajarkan bahasa tubuh begitu sempurna





Mesti menyelam ke dasar laut sebelum cinta

yang membuat kita mampu bernafas bagai ikan

kehilangan gairah dan tenaga gaibnya.









2011









23

Setelah Tanah Tandus









Setelah tanah tandus dan berbatu, sebelum sungai besar

terbentang padang rumput, matahari masih berkobar

Aku berjalan dengan kaki yang terbakar, menahan rindu

Musim kemarau begitu panjang dan belum akan berlalu





Para gembala sedang mengarit. Kambing dan sapi

Seperti tak pernah kenyang, tak henti berkembang biak

Tapi rumput-rumput tak pernah habis. Tumbuh secara rapi

tertata melalui keikhlasan pada seluruh kehendak





Aku melangkah, kesejukan menjalar di telapak kaki

dari kehijauan rumput-rumput, bergoyang lembut sekali

ditiup angin dari arah timur, di sini begitu damai





Wajar bila aku berhenti dan duduk mendengar

suara kambing, sapi dan tebasan celurit yang samar

ternyata desa ini masih seperti dulu, lalu aku pun tertidur.









2011









24

Pahami Dengan Ciuman

--nes urrutia









Begitu banyak yang telah aku pahami

tentangmu. bila kau mengangkat sepasang alis

seperti garis lengkung

kian merapatlah tubuhku

untuk menampung rasa dingin

yang begitu menguasaimu.

bila kau menggerakkan jari manis

terus. aku genggam tanganmu

seperti malam yang larut benar dalam tidur

untuk menyelimuti seluruh kecemasanmu

akan rasa kehilangan

meski kau rahasiakan

di balik kemeja dan jaket

tebal itu. cinta telah membuka

teka teki tubuh

dan rasa melindungi

memberikan beribu puisi

untuk aku sampaikan kepadamu

dari bibir ke bibir

bacalah puisi ini dengan pelan

agar kau mengerti

tak ada lagi perempuan

yang aku cinta selain dirimu.

karena kau telah mencintaiku, kini

belajarlah sedikit demi sedikit memahamiku

dengan ciuman demi ciuman, kekasih









2010



25

Nyanyian Bulan Mei









I



Pada hari-hari di minggu awal Mei,



Langit masih suka menumpahkan hujan,



Sungai mengantarkannya ke gemuruh laut.



Kau masih setia, tak pernah lagi menikah.



Bau kemejamu adalah parfum lama.



Seluruh bunga mawar putih akan basah,



Dan kesedihan jadi sementara,



Hanya jika berjalan dengan cintamu.









II



Tetapi laut tak pernah penuh,



Seperti bisa menampung seluruh hujan,



Dan setumpah air yang jatuh ke dalamnya.



Kau tak pernah mengeluh, menyimpan gaduh.



Katamu, sudah terlanjur melempar sauh.



Lampu-lampu kapal menyala amat terang,



Dan kau akan menunggu, seperti perompak,



Dan awak kapalnya.









26

III



Batu karang itu tetap berdiri di tengah laut,



Dan ombak memukulnya berkali-kali,



Seperti tubuhmu dan bisa bertahan,



bukan karena keras dan bentuknya.



Tapi berusaha menyayangi.



Siang dan malam, pagi dan senja.



Jiwa karang sangat lembut, lembut sekali.









IV



Mei selalu datang sehabis April



Ketika seluruh ikan berenang ke arah Timur.



Seluruh burung membentuk segitiga ke arah Timur.



Serpihan masa silam dan Mei yang menjauh,



Menyelimuti tubuhmu saban kali.



Dan kau tak beranjak kemana-mana.



Sudah terbiasa memendam hidup.









V



Menatap jauh dan tersenyum kecil,



Hujan tak pernah membuat laut penuh,



Hanya mengisi laut sampai kapal terangkat,



Tak lama akan seperti semula.



27

Dan barangkali penantianmu akan sia-sia.



Dalam jiwa, dan sentuhan takdir.



Oleh aliran waktu dan ruang di antaranya,



Sebab dia tak kembali, tak pernah kembali.



Katamu, setidaknya aku bisa menjadi ibu,



Sekaligus istri yang baik.









VI



Tumbuhlah bunga mawar dari luka,



Mekar, dan seekor kupu-kupu hendak terbang,



Mei sekarang, adalah Mei seperti dulu.



Dan kupersembahkan bunga melati putih,



Sembari menengadahkan dua tangan,



Dan hujan kembali turun di awal Mei.









2011









28

Lagu Semangat









Pada bulan Mei setelah gerak alam,



menyapu rencana demi rencana,



aku bernyanyi keras-keras,



hatiku terbakar,



oleh jilatan lidahmu yang basah,



datang dari arah tempat lama,



hujan turun tak memadamkan apa pun,



setelah tak kumiliki lagi sepasang sandal,



untuk sekedar menyusur jalan menuju mulutmu.



Duri menusuk telapak kakiku,



rasa sakit dari seranting cinta,



hilang dari pepohonan,



pepohonan dari masa remaja.









Tapi aku tak pernah menyerah,



pada sentuhan nasib.









29

Seluruh tubuhku adalah api,



ingin kuremas segala masalah hidup,



agar kembali kenangan itu.



Mulanya kau memakai payung.



ketika itu hatiku kuyup



di bawah hujan yang terbuang.



dan aku berusaha mengingatnya.



dan aku tak pernah bisa,



peristiwa demi peristiwa



seperti lewat begitu saja.









Dan malam ini, di bulan Mei,



aku bernyanyi keras-keras,



langit memerah,



bintang-bintang dan bulan terbakar,



memikirkan seruas jalan lain,



menuju mulutmu, tempat segala harapan



ruang sepenuh cita-cita menjadi kenyataan.









2011







30

Lagu Terakhir









Malam tidak berwarna

sebenarnya.

Hanya saja mendung itu

berwarna darah hitam

atau boleh juga lumpur.

Dan angin yang berlari itu

mengejar kemeja

jepit rambut

dan rok pendek

semacam benda lama

di musim hujan.

Dan aku bernyanyi

mungkin juga tidak!

tetapi hatiku yang bernyanyi

untuk sepasang telinga

diiringi getar gitar

diiringi musik alam

bunyi dung kodok

kerik jangkrik

dan gemericik air.

Ah, begitu merdu suara hatiku

tetapi sesungguhnya

hatiku tidak bernyanyi

hanya ingin jatuh

pada sepasang telinga

yang jauh

jauh dan jauh lagi.

Dan mulutku bernyanyi

nyanyian sumbang

Dan telingaku mendengarkannya

sendirian.

Dan aku bernyanyi



31

sepanjang malam.









2011









32

Biarkan Kerudung Menjuntai









Lebih dari cinta, aku memuja rambut ikal itu



Sebagai gerak antara ombak dan perahu pada angin



Yang berlari ke arah pantai dan tahun-tahun



Hingga melepas usia remaja juga kelahiran baru



Aku berikan desis matahari bagi rambut ikal itu



Lalu bulan membuatnya memiliki siang dan malam



Pergantian musim di situ adalah warna putih dan hitam



Maka gerai rambutmu saja sanggup membuta mataku



Ombak liar bagi perahuku Nin, kau adalah laut itu



Tapi biarkan kerudung menjuntai sampai dadamu



Biarkan tak ada nelayan yang tahu seberapa biru



Hingga membuatnya penuh rahasia dan tanda tanya



Dan melangkah di jalan fitrah, nyaris seperti sentuhan takdir



Sesungguhnya itu kebaikan bagimu dan mata manusia









2011









33

Tahi Lalat









Hai! Begitu manis tahi lalatmu, kecil tapi sangat jelas



Berdiri di samping bibir seperti menunjuk jalan lurus



Matahari dan bulan kulihat berputar pada garisnya



Pergantian siang dan malam selaras dengan gerak alis mata



Ketika kau tersenyum, terdengar samar dengung lebah



Lalu perutnya terbuka, mengucurkan madu bermacam warna



Dari situ aku menyembuhkan berbagai penyakit dan juga



Tumbuh berbagai buah, buah apa saja dan melimpah ruah



Demikianlah, kau memberiku nikmat berulang dan teratur



Bergetaran bagai gitar, memainkan lagu ke seluruh penjuru



Menghanyutkan guguran daun di alir sungai tenang



Maka semua itu adalah lebih bagiku untuk menyusur



Jalan yang ditunjukkan, melintasi batas-batas sunyi dan luka



Tahi lalatmu mengingatkanku kembali pada latar belakang.









2011









34

Anak-anak dari foto Jamie Baldridge, 2









1

–vox dei



ketika pagi mampir di rumahmu

tiba-tiba kau rindu suaraku

lewat keriuhan kicau burung-burung

dan musik dari requiem mozart yang tak kau kenali



lalu kau ingat ucapanku;

rindu harus diterima

tanpa harus ditangisi



maka kau mencoba mengakrabkan diri–

membiarkan burung-burung itu hinggap

di tubuhmu. lalu kau merangkak mendekati

requiem mozart, hendak menjabat telinganya



sembari berkata senang berkenalan denganmu



2

–the 55th parallel



sehabis sarapan kau kenang ciuman-ciumanku–

kemudian berubah jadi bola-bola yang menghantam keningmu



kau nikmati itu dengan secangkir kopi

sebab mungkin kau telah mengerti

bagian lain dari kepergian adalah kabahagiaan



3

–a confluence of arbi#18869A



35

di tangan kirimu kau memegang sangkar berisi

pohon yang tak punya daun. sedang di tangan kanan

tergantung sangkar berisi awan yang hendak hujan.



kau bingung memilih mana yang tepat

untuk menemani seekor burung di belakangmu



tetapi burung itu terbang masuk ke dalam pigura

sebelum kau menjatuhkan pilihan



anehnya, kau malah tersenyum

dan setelahnya kau senang

menghabiskan waktu memandangi pigura itu



mungkin kau merasa burung itu mirip

denganku.



4

–ova sacro emblemata



sekarang burung itu bersarang di kepalamu

kicaunya begitu jelas kau dengar. tapi belum

kau tahu itu jenis burung apa. sebab kicaunya

begitu beragam kadang cit cit kadang kur kur

kadang ku kuk kadang bicara seperti manusia



tapi kau tak pernah pusing apa nama burung itu

sebenarnya. sebab kau selalu memanggilnya dengan namaku.

tapi burung itu tampaknya ingin sekali memperkenalkan

dirinya setelah kau melahirkan telurnya

yang cuma berisi gir-gir mesin bekas masa lalu.



5

–on reading ovid



karena sepasang dadamu ingin bicara tentang rindu dan sakit





36

kau telanjang dan mengirim

seekor kuda dari lamunanmu

ke tempat yang kau kira perantauanku



agar aku bisa pulang dan meletakkan

telinga di dadamu itu.



6

–annunciation



di kamarmu angin bertiup kencang. lantai kedinginan

maka kau menghamparkan selimut ke tubuh lantai



burung itu yang kini berada di ranting dekat jendela

diam-diam merencanakan mengembalikan

selimut itu ke tubuhmu. sebab dia tak punya sepasang

lengan untuk memberimu hangat pelukan. lalu pergi

tanpa memberi tahumu bahwa dirinya sebenarnya adalah aku.



2010









37

Kepada Sungai









Barangkali kau akan pergi sebelum senja



melengkapkan kehilangan demi kehilangan



yang akrab menyusun diri dalam tubuhmu.



Matahari turun menguapkan seluruh



melemahkan tenaga gaib dari sungai



di mana masa lalu dan masa kini menjadi beban



untuk mengapung ke arah masa depan.







Barangkali kau akan pergi diam-diam



karena merasa percuma saja di sini,



tak ada yang bisa kau lakukan, tak ada



tunas yang mekar dan bunga melati putih.



hingga keindahan hanya bualan burung



di dalam sangkarnya. Sebagai akar



yang tercerabut dari silsilah leluhur.







sehelai daun jatuh ke permukan air tenang



dari mulutmu, dan berhenti selama menyerah



masih berbuah dan tanganmu memetiknya.



Seperti ikan yang malas menggerakkan sirip



seperti pohon yang berhenti menancapkan akar





38

sampai perut bumi terdalam.







Maka pergilah, karena tak ada seseorang di sini



akan mengenangmu. Kebaikan bahkan kejahatan



yang telah kau lakukan tak akan tercatat



dalam sejarah mana pun. Sebab peristiwa lain



menenggelamkan sesuatu yang lebih ringan.



gugur hujan, es krim lalu buah semangka.



Dan kesulitan demi kesulitan



akan membuatmu celaka,



menjadikan tubuhmu lebih lagi menderita,



seperti puisi yang harus kusembunyikan



setelah berhasil menuliskannya.







Tetapi perlu aku beri tahu, wahai sungai



yang berhenti mengalir karena batu-batu,



memang begitulah cita-cita,



selalu tumbuh dengan memakan luka,



sebab bahagia selalu dibayar dengan darah



dan keringat, barangkali juga kesabaran



menunggu saat tepat untuk mengaruskan air.







Karenanya, lebih baik bagimu untuk tetap di sini bersamaku



memperhatikan gelegat udara dan pergantian musim,



dan dengan teliti memperhitungkan perihal kecil





39

dari kemungkinan mencapai debur ombak.



2011









40

Bagian III



Penutup









41

Tentang Penyair









Syaiful Bahri, lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 11 Maret 1991. Kini tinggal di

Surabaya dan berhimpun di komunitas ESOK. Sejumlah puisinya termaktub dalam antologi

bersama, Teka-Teki tentang Tubuh dan Kematian (IBC, 2010), Antologi 100 Puisi Ibu

(Satriowelang Publisher, 2011) dan Mengejar Matahari (2011). Penggila buku politik ini

sedang berusaha menyelesaikan belajarnya di sebuah Universitas Swasta di Surabaya. Karya-

karyanya banyak tersebar dimuat di surat kabar seperti Jawa Post, Harian Global, Berita

Pagi, Jurnal Bogor dan Batam Post. Ketika masih duduk di SMK Negeri 5 Surabaya,

sejumlah puisinya pernah dimuat di Majalah Sastra Horison.



Kecuali menjadi seorang mahasiswa, Syaiful Bahri juga bekerja secara serabutan. Waktunya

banyak tersita di sana. Sehingga terkadang dia tidak bisa menulis dalam seminggu. Syaiful

Bahri juga sering tidak bisa menuangkan pikirannya ke dalam sebuah tulisan, karena sesuatu

yang belum dia ketahui.



Jika pembaca ingin mengenalnya lebih dekat, dia bisa dihubungi via email di

syaiful.bahri6@yahoo.com, atau bisa berkunjung di website yang dia kelola

http://majalahterbit.com. Atau jika lebih ingin berbalas-balasan sms nomer HP-nya adalah

081554318848. Karena alasan yang tidak dapat dijelaskan panjang lebar di sini, dia terkadang

membantu kakaknya mengelola website http://harikerja.co.cc.









42



Related docs
Other docs by Syaiful Bahri
Lagu Terakhir Selepas Kau Pergi
Views: 57  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!