Embed
Email

Ebook

Document Sample
Ebook
Shared by: salti8
Categories
Tags
Stats
views:
16
posted:
12/11/2011
language:
pages:
5
PSIKOLOGI ONLINE





Bab 4. Memahami Diri Sendiri

Kontribusi dari Achmanto Mendatu

Tuesday, 27 January 2009





Apakah arti persepsi diri atau memahami diri?

Bagaimana Anda menyadari apa yang Anda alami?

Bagaimana Anda menilai diri Anda diri sendiri?

Bagaimana Anda menjelaskan sebab perilaku Anda?

Apakah yang dimaksud dengan kesadaran diri?

Apakah presentasi diri?





Apakah arti persepsi diri atau memahami diri?



Persepsi diri adalah upaya Anda mengamati diri Anda sendiri; baik sifat, motivasi, perasaan dan emosi, atau lainnya.

Anda sadar perasaan yang Anda alami. Anda tahu niat Anda dalam melakukan sesuatu. Anda paham sikap Anda

terhadap sesuatu. Anda tahu alasan mengapa Anda berbuat sesuatu. Anda paham sifat-sifat Anda. Anda tahu

kemampuan Anda. Pendek kata, Anda tahu diri Anda sendiri.



Apa saja yang Anda lakukan dalam memahami diri? Ada tiga hal yang Anda lakukan dalam memahami diri, yakni proses

menyadari apa yang sedang Anda alami pada suatu saat, proses menyadari sebab dari perilaku Anda, dan proses

menilai diri Anda sendiri.



Bagaimana caranya Anda memahami diri Anda? Anda tahu diri Anda sendiri dengan dua cara, yakni mengamati

langsung ke dalam diri sendiri dan mengamati bagaimana persepsi orang lain terhadap diri Anda. Bahkan, Anda

tergantung pada informasi dari orang lain tentang diri Anda untuk tahu diri Anda sendiri. Anda kadang tidak bisa

mengetahui emosi, perasaan, sifat ataupun kemampuan yang Anda miliki dengan secara langsung melihat ke dalam diri

Anda sendiri. Anda justru tahu karena adanya informasi dari luar diri Anda.



Bagaimana Anda menyadari apa yang Anda alami?



Bagaimana Anda menyadari bahwa diri Anda sedang marah, sakit, terangsang secara seksual, sedih, kecewa, jijik, atau

bangga? Ada beberapa cara yang Anda lakukan sehingga Anda sadar apa yang sedang Anda alami. Pertama, dengan

cara melihat situasi di luar diri Anda. Anda merasa sedang mengalami emosi tertentu setelah Anda melihat situasi yang

terjadi.



Bayangkan pada saat Anda berjalan-jalan dengan teman, Anda bertemu dengan kekasih Anda yang sedang berduaan

dengan orang lain. Jantung Anda langsung berdegup kencang, muka Anda memerah, dan Anda mengatupkan mulut.

“Sabar!”, kata teman Anda. Nah, Anda menyadari diri Anda marah karena adanya situasi diselingkuhi dan

adanya perkataan teman Anda.



Contoh lainnya adalah pada saat Anda terangsang secara seksual. Anda merasa diri Anda terangsang setelah melihat

gambar telanjang, film hubungan seksual, atau adanya kehadiran seseorang. Anda tahu bahwa situasi-situasi itu

memang menimbulkan rangsangan seksual. Oleh sebab itu perasaan yang muncul saat adanya situasi itu Anda sadari

sebagai terangsang. Perasaan yang sama jika tidak muncul dalam situasi itu tidak akan Anda sadari sebagai terangsang.



Kedua, mengamati perilaku Anda sendiri. Anda menyadari apa yang sedang Anda rasakan dengan mengamati tindakan

yang Anda lakukan sendiri. Ini persis sama dengan yang Anda lakukan pada orang lain; Anda melihat perilaku orang lain

untuk menduga yang dirasakan atau yang dialami orang tersebut. Misalnya Anda menyadari bahwa diri Anda menyukai

sepakbola karena meskipun Anda tidak mendapat imbalan apa-apa, toh Anda melakukannya juga setiap hari.



Bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri?



Anda merasa sangat cerdas, cukup cerdas, rata-rata, atau bodoh? Apapun yang Anda sadari, itulah hasil penilaian diri.

Anda berupaya menilai kualitas Anda sendiri. Proses menilai itu disebut evaluasi diri. Sadar atau tidak sadar, Anda pasti

melakukannya.



Anda menilai diri sendiri setelah melakukan perbandingan dengan orang lain. Anda tahu diri Anda cerdas, sangat

cerdas, atau bodoh, setelah membandingkan diri dengan orang lain. Begitu juga Anda merasa cantik atau jelek, merasa

pelit atau murah hati, merasa baik hati atau jelek hati, semuanya setelah Anda bandingkan dengan orang lain.



Tentu saja Anda akan membandingkan dengan yang setara. Anda merasa diri pintar bermain bola atau tidak, tentu

dengan membandingkan keterampilan bermain bola orang lain yang selevel dengan Anda. Jika Anda pemain sepak bola

antar kampung, maka Anda juga membandingkan diri dengan pemain bola antar kampung. Anda tidak akan

membandingkan diri dengan pemain sepakbola di Liga Italia seri A atau di Liga Champion Eropa.

http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 6 April, 2009, 08:34

PSIKOLOGI ONLINE









Evaluasi diri bisa negatif dan bisa juga positif. Evaluasi negatif misalnya merasa tidak menarik, tidak disukai, fisiknya

jelek, bodoh, tidak percaya diri, pemalas, sial, tidak punya kemampuan. Evaluasi positif misalnya merasa cantik, tampan,

cerdas, kreatif, disukai banyak orang, atau berkemampuan tinggi. Baik evaluasi negatif maupun positif yang ada dalam

diri Anda, disebut sebagai harga diri (self esteem). Jika Anda mengevaluasi diri Anda negatif, maka harga diri Anda

negatif. Jika evaluasi Anda positif, maka harga diri Anda positif.



Penilaian yang baik terhadap diri bisa terancam oleh orang atau keadaan tertentu. Misalnya Anda menganggap diri Anda

cerdas. Jika ternyata Anda pergi ke sebuah perguruan tinggi yang dihuni orang-orang yang jauh lebih cerdas ketimbang

Anda, maka penilaian diri Anda yang cerdas bisa terancam. Pun Anda akan bereaksi terhadap keberhasilan orang-orang

yang penting dalam hidup Anda dalam bentuk cemburu atau bangga. Jika keberhasilan teman Anda membuat harga diri

Anda menurun, maka Anda akan cemburu. Sedangkan jika keberhasilan teman Anda membuat harga diri Anda ikut naik

maka Anda akan bangga.



Terdapat beberapa hal khusus yang terdapat dalam proses mengevaluasi diri. Berikut, masing-masing akan diterangkan

lebih terperinci :



1. Konsep diri dan skema diri



Setelah Anda tahu tentang diri Anda sendiri, Anda akan mempercayai beberapa hal yang khas dari diri Anda. Nah, apa

yang Anda percayai ada dalam diri Anda, dinamakan konsep diri. Misalnya Anda percaya bahwa diri Anda cantik,

cerdas, baik hati, rajin, gemar menabung, atau apapun yang lain.



Salah satu bagian terpenting dari konsep diri adalah skema diri, yakni himpunan informasi yang terorganisasi dalam

ingatan Anda tentang diri Anda sendiri. Dengan kata lain skema diri adalah kerangka mental yang berisi informasi yang

relevan dengan diri Anda sendiri. Skema diri dan skema sosial berbeda hanya dalam objeknya. Jika skema sosial

objeknya orang lain, maka dalam skema diri objeknya diri sendiri. Contoh dari skema diri adalah merasa diri pendek, kulit

hitam, rambut keriting, gendut, suka makan ikan, suka renang, takut gelap, percaya diri, gampang jatuh hati, pemalas,

pembohong.



Skema diri Anda akan Anda gunakan untuk memprediksikan apa yang akan Anda lakukan. Misalnya Anda memiliki

skema dalam diri Anda sebagai orang yang takut gelap. Nah, jika Anda diajak jalan-jalan malam di hutan, maka Anda

tidak akan mau melakukannya.



2. Efikasi diri



Anda sedang berada di depan jurang, lalu Anda berpikir tidak mampu melewatinya. Anda berpikir tentang rumah mewah,

lalu Anda menyimpulkan tidak akan mampu memilikinya. Anda berpikir tentang wawancara kerja, lalu Anda berpikir Anda

akan bisa lulus melewatinya. Nah, Anda bisa atau tidak bisa adalah bagian dari efikasi diri, yaitu keyakinan bahwa Anda

mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu.



Orang yang memiliki efikasi diri tinggi kadang disebut sebagai orang optimis. Ia tahu bahwa dirinya bisa melakukan

sesuatu. Sebaliknya orang yang memiliki efikasi diri rendah kadang disebut orang pesimis. Ia tidak yakin mampu

melakukan sesuatu.



Mereka yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya

kemampuan, skill atau usaha. Sedangkan yang memiliki efikasi diri rendah cenderung menganggap kegagalan

disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan

kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan,

daripada berusaha untuk sukses. Mereka juga cepat menyerah.



3. Diri yang mungkin



Pernahkah Anda memikirkan kira-kira seperti apa diri Anda yang Anda inginkan, misalnya Anda ingin terlihat menarik,

terlihat cerdas, atau terlihat dewasa? Mungkin Anda pernah. Jikalau Anda ditanya Anda ingin seperti apa, maka

Jawaban Anda adalah ‘diri yang mungkin’ atau possible selves.



‘Diri yang mungkin’ bisa beberapa hal, yakni diri yang Anda inginkan, diri yang tidak Anda inginkan, diri

yang Anda sukai, atau diri yang seharusnya Anda miliki. Diri yang Anda inginkan misalnya ingin lebih cantik, ingin lebih

cerdas, ingin lebih matang, ingin lebih kalem, ingin lebih ramah, dan sebagainya. Diri yang tidak Anda inginkan misalnya

lebih jelek, lebih kejam, lebih banyak berbohong, lebih pemarah, dan lainnya. Semua yang tidak Anda inginkan terjadi

dalam diri Anda termasuk dalam diri yang tidak Anda inginkan. Diri yang Anda sukai adalah diri ideal menurut Anda.

Sedangkan diri yang seharusnya adalah diri yang diharapkan norma sosial terhadap Anda, misalnya Anda lebih sopan,

Anda membantu orang miskin, Anda lebih perhatian terhadap saudara, dan Anda-Anda yang lain.



http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 6 April, 2009, 08:34

PSIKOLOGI ONLINE









Apakah ‘diri yang mungkin’ memiliki peranan bagi Anda? Ya. “Diri yang mungkin’ memiliki

peranan bagi Anda. Pertama, ‘diri yang mungkin’ bisa menjadi motivasi bagi Anda. Anda ingin menjadi

sarjana, ingin menjadi kaya, menjadi terkenal, menjadi ibu, menjadi suami, atau menjadi apapun yang lain akan

mendorong Anda untuk terus berjuang menjadi seperti yang Anda inginkan.



Kedua, ‘diri yang mungkin’ bisa menimbulkan kesenjangan dalam diri Anda. Kesenjangan itu muncul

karena berbeda antara apa yang Anda lihat dalam diri Anda dan apa yang dilihat orang lain tentang Anda. Misalnya

Anda merasa memiliki beberapa sifat tertentu, sedangkan orang lain tidak melihat Anda memiliki sifat-sifat itu. Oleh

sebab itu kesenjangan akan muncul. Bagaimana perbedaan itu muncul? Karena Anda melihat diri Anda dalam konteks

‘diri yang Anda inginkan’ (Anda ingin menjadi jujur, maka Anda merasa jujur), sedangkan orang lain

melihat Anda dalam diri apa adanya Anda saat itu (orang lain melihat Anda sedang berbohong).



Ketiga, ‘diri yang mungkin’ mempengaruhi keadaan emosi Anda. Bayangkan jika Anda ingin menjadi

sarjana, tapi malah dikeluarkan dari perguruan tinggi. Apa yang Anda rasakan? Nah, otomatis, kesenjangan itu akan

mempengaruhi emosi Anda. Jika Anda membayangkan ‘diri yang mungkin’ yang positif, misalnya jujur,

tapi Anda malah berbohong, maka Anda akan langsung mengalami perubahan emosional dalam diri Anda.



Keempat, ‘diri yang mungkin’ bisa membedakan Anda dengan orang lain. Orang yang memiliki tekad kuat

untuk menjadi ‘diri yang mungkin’ sering disebut orang optimis. Mereka berharap kuat akan berubah

menjadi seperti yang diinginkan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keinginan menjadi ‘diri yang

mungkin’ sering disebut orang pesimis. Orang yang pesimis tidak ingin berubah menjadi lebih baik. Mereka sudah

cukup puas dengan keadaan dirinya.



Bagaimana Anda menjelaskan sebab perilaku Anda?



Istilah untuk menjelaskan sebab perilaku diri sendiri adalah atribusi diri. Anda menjelaskan sebab dari perilaku Anda,

persis sebagaimana Anda menjelaskan sebab perilaku orang lain. Jadi, Anda juga menjelaskan pada diri Anda sendiri

apakah perilaku Anda disebabkan disposisi Anda (sifat, sikap, kemampuan, motivasi, usaha, emosi) atau disebabkan

situasi yang terjadi.



Bayangkan Anda berkali-kali berhasil menyeberangi sungai dengan berpegangan pada satu tali. Suatu ketika Anda

gagal dan tercebur ke sungai. Apa kira-kira penjelasan Anda tentang kegagalan itu? Mungkin Anda akan menganggap

diri Anda sedang lelah, talinya terlalu licin, atau talinya kurang kencang diikat. Pada saat Anda berhasil, mungkin Anda

akan menganggap disebabkan karena Anda memang lihai, kuat dan terampil.



Terdapat beberapa hal khusus dalam menilai sebab dari perilaku Anda sendiri, yakni adanya motivasi intrinsik dan

ekstrinsik, adanya self handicapping, adanya ilusi kendali, dan adanya identifikasi tindakan.



1. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik



Anda bermain sepakbola setiap sore tanpa kenal libur. Hujan deras sekalipun tidak menghalangi Anda untuk bermain

bola. Nah, kira-kira apakah Anda bermain bola karena Anda menyukai sepakbola (motivasi intrinsik) atau karena gadis

yang Anda taksir tinggal di rumah di depan lapangan (motivasi ekstrinsik)?



Ketika melakukan sesuatu, biasanya seseorang menilai dirinya memiliki motivasi intrinsik atau ekstrinsik. Motivasi

intrinsik adalah motivasi yang menyebabkan orang melakukan tindakan tertentu karena ia memang senang

melakukannya, bukan untuk mendapatkan imbalan. Tanpa imbalan, tindakan itu akan tetap dilakukan. Jika Anda suka

bermain bola, maka tanpa imbalan Anda akan terus bermain bola.



Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang menyebabkan orang mau melakukan tindakan tertentu karena memperoleh

imbalan. Misalnya Anda bermain bola setiap hari karena Anda berharap bisa melihat gadis yang Anda taksir setiap hari,

sebaliknya Anda berharap gadis yang Anda taksir melihat Anda. Lalu misalnya Anda menunjukkan kesedihan saat

pemakaman seseorang karena Anda berharap orang lain mengira Anda sangat kehilangan.



Bisa saja, Anda sebenarnya sangat menyukai sepakbola. Tanpa ada imbalan Anda akan bermain bola setiap hari

karena Anda sangat menikmati sepakbola. Namun kemudian ada yang memberi imbalan uang jika Anda bermain bola

untuk sebuah tim. Anda kemudian menjadi kurang menikmati bermain bola karena dituntut untuk selalu menang. Artinya,

motivasi intrinsik Anda bisa menurun karena adanya imbalan. Efek tersebut disebut overjustification, yakni penurunan

motivasi intrinsik saat mendapat imbalan dari luar.



2. Self handicapping



Anda bermain bola sangat jelek. Berkali-kali Anda salah mengoper bola dan berkali-kali pula Anda gagal mengontrol

bola. Pun Anda tidak bisa menjaga lawan yang melewati Anda. Lantas Anda menganggap diri Anda sedang kelelahan

atau sedang tidak serius. Nah, bisa saja terjadi, sebelum bermain bola Anda mengatakan pada orang lain bahwa Anda

http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 6 April, 2009, 08:34

PSIKOLOGI ONLINE









kelelahan dan akan bermain tidak serius untuk mengantisipasi jika Anda bermain jelek. Inilah yang disebut self-

handicapping. Anda sengaja mengemukakan sebuah alasan sebelum mengambil tindakan untuk membuat harga diri

Anda tetap terjaga meski Anda mengalami kegagalan.



Contoh lainnya, saat Anda akan ikut sebuah ujian. Anda mengatakan pada teman Anda bahwa Anda kekurangan tidur.

Mengapa Anda mengatakan itu pada teman Anda? Karena jika Anda gagal ujian, harga diri Anda tidak akan terganggu.

Dengan mengatakan kurang tidur, Anda berharap tidak akan dianggap tidak mampu atau bodoh. Kegagalan Anda

semata-mata hanya karena kurang tidur sehingga tidak maksimal. Namun jika ternyata Anda lulus, maka hal tersebut

akan menambah harga diri Anda “lihat, meski kurang tidur, toh, tetap saja saya berhasil!”



3. Ilusi kendali



Tidak jarang Anda merasa diri sangat mampu mengontrol keadaan. Anda merasa sangat yakin seseorang akan

berperilaku tertentu. Misalnya, Anda yakin bahwa teman Anda, Dina akan menangis jika menonton film tertentu. Padahal

belum tentu. Lalu Anda sangat yakin Anda tidak akan takut jika melihat hiu di lautan. Nah, nyatanya Anda takut.

Demikian juga saat Anda merasa tahu persis bahwa istri atau suami Anda tidak akan marah kalau Anda pulang

terlambat.



Coba Anda ingat-ingat. Mungkin ada banyak situasi di mana Anda secara berlebihan menganggap bahwa situasi bisa

Anda kendalikan atau Anda kontrol. Anda merasa tahu persis apa yang akan terjadi. Begitu yakinnya Anda bahwa suatu

kejadian akan terjadi seperti yang Anda perkirakan.



4. Identifikasi tindakan (action identification)



Seseorang biasanya selalu memiliki beberapa penjelasan atas perilaku yang sedang dilakukannya. Misalnya untuk

kegiatan yang sama, Anda bisa mengatakan sedang menonton TV, mencari hiburan, mengisi waktu, mencari informasi,

daripada menganggur atau yang lainnya. Lalu misalnya untuk tindakan makan, Anda juga bisa menjelaskan sedang

mengganjal perut, menambah energi, memenuhi gizi, mengobati lapar, atau yang lainnya. Nah, penafsiran atas apa

yang sedang Anda lakukan itu merupakan identifikasi tindakan.



Ada derajat tingkatan penjelasan yang berbeda. Pada kasus makan di atas, baik mengganjal perut dan mengobati lapar

memiliki derajat lebih rendah ketimbang menambah gizi dan memenuhi energi. Mengganjal perut dan mengobati lapar

lebih sederhana serta langsung, oleh karena itu lebih rendah. Menambah energi dan memenuhi gizi lebih abstrak dan

kompleks, yang oleh karena itu lebih tinggi.



Penjelasan Anda tentang apa yang sedang Anda lakukan berpengaruh terhadap tindakan Anda. Jika Anda menjelaskan

pada level rendah, misalnya ‘mengganjal perut’, maka mungkin Anda akan makan apapun saja yang

penting bisa mengenyangkan. Namun bila Anda menjelaskan pada level tinggi, misalnya ‘memenuhi gizi’

maka mungkin Anda akan memilih-milih jenis makanan yang Anda konsumsi.



Anda sedang merokok. Lalu Anda ditanya, “apa yang kamu lakukan?” Jika Anda menjawab dengan

penjelasan pada level rendah, misalnya ‘hanya mencoba’, atau ‘ngisap asap’, maka Anda

lebih mungkin untuk berubah menjadi tidak perokok. Sedangkan jika Anda menjawab dengan penjelasan pada level

yang lebih tinggi, misalnya ‘lagi stres’, ‘melegakan otak’, maka Anda akan lebih sulit

berubah menjadi tidak perokok.



Apakah yang dimaksud kesadaran diri?



Kesadaran diri adalah keadaan di mana Anda bisa memahami diri Anda sendiri dengan setepat-tepatnya. Anda disebut

memiliki kesadaran diri jika Anda memahami emosi dan mood yang sedang dirasakan, kritis terhadap informasi

mengenai diri Anda sendiri, dan sadar tentang diri Anda yang nyata. Pendek kata, kesadaran diri adalah jika Anda sadar

mengenai pikiran, perasaan, dan evaluasi diri yang ada dalam diri Anda.



Orang sedang berada dalam kesadaran diri memiliki kemampuan memonitor diri, yakni mampu membaca situasi sosial

dalam memahami orang lain dan mengerti harapan orang lain terhadap dirinya. Kalau orang lain mengharapkan Anda

bicara, maka Anda bicara. Kalau orang lain mengharapkan Anda diam, maka Anda diam. Kalau orang lain

mengharapkan Anda yang maju duluan, Anda maju duluan.



Orang yang bisa memonitor diri pasti disukai orang lain. Namun jika kemampuan monitor dirinya sangat tinggi malah

bisa menjadi bunglon, alias tidak memiliki identitas karena di mana-mana selalu berusaha menyesuaikan diri.

Sebaliknya, orang yang rendah monitor dirinya selalu berperilaku konsisten karena tidak ada usaha untuk menyesuaikan

diri dengan situasi yang dihadapi. Entah di pesta, di rapat, di acara apapun dan bertemu siapa pun perilakunya tetap

saja sama.



Secara ekstrem, kesadaran diri bisa dibedakan menjadi dua, yakni kesadaran diri publik dan kesadaran diri pribadi.

http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 6 April, 2009, 08:34

PSIKOLOGI ONLINE









Orang yang memiliki kesadaran diri publik berperilaku mengarah keluar dirinya. Artinya, tindakan-tindakannya dilakukan

dengan harapan agar diketahui orang lain. Orang dengan kesadaran publik tinggi cenderung selalu berusaha untuk

melakukan penyesuaian diri dengan norma masyarakat. Dirinya tidak nyaman jika berbeda dengan orang lain.



Orang dengan kesadaran diri pribadi tinggi berkebalikan dengan kesadaran diri publik. Tindakannya mengikuti standar

dirinya sendiri. Mereka tidak peduli norma sosial. Mereka nyaman-nyaman saja berbeda dengan orang lain. Bahkan

tidak jarang mereka ingin tampil beda. Mereka-mereka yang mengikuti berbagai kegiatan yang tidak lazim dan aneh

termasuk orang-orang yang memiliki kesadaran diri pribadi yang tinggi.



Apakah presentasi diri?



Pernahkah Anda berusaha membuat orang lain terkesan pada Anda? Misalnya saat Anda tertarik atau naksir seorang

gadis atau pria, Anda lantas berbuat sesuatu untuk menarik perhatiannya? Merupakan hal biasa seseorang berusaha

membuat terkesan orang lain. Hal tersebut dikenal dengan istilah presentasi diri, yakni upaya Anda menciptakan kesan

khusus pada orang lain. Biasanya kesan yang Anda harapkan berupa kesan yang positif. Misalnya terkesan cerdas,

terkesan mampu, terkesan menarik, terkesan baik hati, terkesan murah hati, dan sebagainya.



Terdapat beragam bentuk presentasi diri yang biasa dilakukan orang. Beberapa di antaranya adalah menyenangkan

penonton, konstruksi diri, ingratiasi, promosi diri, intimidasi, eksemplifikasi, dan suplikasi.



Menyenangkan penonton (audience pleasing). Ini adalah perilaku yang dirancang untuk membuat penonton atau yang

melihat Anda merasa senang. Misalnya membuat lawakan atau guyonan. Untuk membuat kesan bahwa diri Anda orang

yang menyenangkan, sering-sering lah membuat tertawa orang lain.



Konstruksi diri (self construction). Ini adalah presentasi diri yang dimaksudkan untuk membenarkan pandangan kita

terhadap diri kita sendiri. Misalnya Anda berpandangan bahwa diri Anda baik hati. Lalu Anda berbuat kebaikan, misalnya

membantu anak terlantar, agar Anda mendapat kesan bahwa Anda memang baik hati.



Ingratiasi (ingratiation). adalah usaha disengaja untuk menciptakan kesan baik. Banyak orang berupaya melakukan ini.

Dorongan berbuat baik karena ingin memperoleh pujian. Misalnya menyumbang jumlah besar pada orang susah,

membantu kaum miskin, sampai memberikan uang pada pengemis hanya karena biar dianggap pemurah.



Promosi diri. Ini adalah tindakan yang dirancang untuk membuat seseorang tampak lebih kompeten. Biasanya para

pencari kerja berusaha melakukan promosi diri pada saat wawancara kerja. Mereka berupaya menunjukkan diri mampu

dan layak diterima kerja.



Intimidasi (Intimidation). Ini adalah strategi presentasi diri di mana orang mengkomunikasikan suatu kemampuan dan

kecenderungan untuk menyebabkan orang lain menghasilkan sesuatu yang negatif. Misalnya Anda pamer bahwa Anda

kaya untuk membuat seseorang merasa rendah diri.



Eksemplifikasi (exemplification). Ini adalah suatu teknik dimana orang berusaha untuk menciptakan kesan memiliki

superioritas moral dan integrasi. Kaum politisi sering melakukan teknik ini agar dihormati masyarakat. Misalnya dengan

keras mengutuk pelacuran dan perjudian (meskipun biasa melacur dan berjudi).



Suplikasi (supplication). Ini adalah cara presentasi diri berupa penciptaan kesan bahwa seseorang dalam keadaan

miskin, lemah, dan tergantung pada orang lain. Mungkin Anda sering melakukan ini agar memperoleh bantuan dan

simpati. Pengemis biasa melakukan teknik suplikasi ini.









http://psikologi-online.com Powered by Joomla! Generated: 6 April, 2009, 08:34


Related docs
Other docs by salti8
Ebook
Views: 16  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!