studi kelayakan proyek by suryaagung

VIEWS: 476 PAGES: 12

									TUGAS STUDI KELAYAKAN PESISR DAN LAUT




                   Oleh:
            Surya agung nugroho
               K2D 008 075




       JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
       UNIVERSITAS DIPONEGORO
             SEMARANG
                  2011
   I.PENDAHULUAN
         Dewasa ini, Kota Padang punya visi pembangunan pesisir, antara lain reklamasi pantai dengan
Padang Bay City (PBC). Colombijn Freek (1994) di dalam disertasinya, Paco-Paco (Kota) Padang
menjelaskan hasil penelaahannya tentang pertumbuhan dan perkembangan kota Padang dari tinjauan
sejarah politik dan ekonomi sejak awal abad ke 17 hingga tahun 1906. Diskripsi tersebut mengutarakan
bahwa kota Padang tumbuh dan berkembang dari permukiman komunitas nelayan dan pedagang hasil
bumi dan hasil tambang (emas). Pada bagian lain dijelaskan juga hal yang berkaitan dengan perencanaan
kota dan pembangunan infrastruktur
         Rencana pembangunan PBC (PBC) merupakan mega proyek yang sangat besar, tentunya
kegiatan ini akan sulit terwujud apabila semua komponen dan stakeholders yang ada tidak memiliki
pandangan dan visi yang sama dalam mendorong terealisasinya rencana ini. Rencana Pembangunan
                                                        Padang Bay City pada intinya mempunyai
                                                        maksud dan tujuan antara lain mempercepat
                                                        pertumbuhan pembangunan infrastruktur kota
                                                        pada    kawasan     pesisir   pantai      Padang,
                                                        menjadikan Padang Bay City sebagai salah satu
                                                        “Land Mark” Kota Padang yang merupakan
                                                        pintu gerbang dan tujuan wisata Sumatera
                                                        Barat. Hal ini diharapkan akan mampu menjadi
                                                        lokomotif   pergerakan    ekonomi      riil   serta
penyediaan lapangan kerja baru, selain itu juga sebagai salah satu upaya prefentif penanganan resiko
bencana gempa dan tsunami (Vertical Mitigation) bagi masyarakat di wilayah pesisir Pantai Padang. Studi
ini merupakan sebuah sosialisasi yang sangat bernilai dalam menggali partisipasi masyarakat serta
implikasinya terhadap lingkungan sekitar rencana pembangunan Padang Bay City
(PBC).




ASPEK PASAR
          Dilihat dari aspek pasar, proyek ini dapat dikatakan memenuhi selera atau keinginan masyarakat,
berdirinya proyek ini juga Salah satu sasaran sektor penanaman modal di kota Padang adalah menggali
potensi sumber-sumber penerimaan penanaman modal daerah secara intensifikasi dan ekstensifikasi.
Untuk mencapai sasaran tersebut maka indikasi program yang akan dikaji lebih dalam adalah penggalian
sumber-sumber penanaman modal yang baru, melakukan analisis penanaman modal daerah dan
asing.selain itu dari segi aspek pasar juga Rumusan visi kota Padang di dalam RPJM adalah :
”Terwujudnya kota Padang sebagai pusat perekonomian dan pintu gerbang perdagangan terpenting di
Indonesia Bagian Barat Tahun 2008.” Selanjutnya dijelaskan pengertian dan pemahaman kata-kata kunci
rumusan visi tersebut, yakni (a) pusat perekonomian (b) pintu gerbang perdagangan. Untuk mewujudkan
visi tersebut, dipilih 15 misi, yaitu:
1. mengembangkan wilayah pinggiran menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi (kota kecil satelit) untuk
meningkatkan optimasi penggunaan sumber daya;

2. mendorong perekonomian kota dengan memperkuat basis kegiatan ekonomi rakyat;

3. revitalisasi sumber-sumber keuangan Daerah; Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang 30
4. membuka akses melalui peningkatan peran pelabuhan Teluk Bayur, Bandara Ketaping dan terminal
Bingkuang sebesar-besarnya bagi peningkatan ekonomi rakyat;

8. membangun iklim investasi yang sehat bagi peningkatan perekonomian kota secara keseluruhan;

TEKNIS

          Secara teknis proyek ini memiliki tujuan untuk meningkatkan prasarana dan sarana dimulai dari
penataan ruang dengan konsep pembangunan kawasan sebagai landasan bagi keseimbangan dan
keberlanjutan pembangunan antar kawasan ke arah kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur melalui
aplikasi sistem lingkungan. meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah yang dimulai dari rekayasa ulang
sistem dan menata kembali kelembagaan sebagai landasan pelayanan prima ke arah keandalan aparatur
dan peningkatan kewibawaan pemerintah melalui pembinaan, pendidikan dan pelatihan serta
pengembangan;
          Di dalam latar belakang Proposal PBC antara lain dikemukakan bahwa kebijakan yang
memberikan kemudahan di bidang investasi mendapat respons dari investor untuk membangun kawasan
Pantai Padang. Mengacu ke kondisi dan permasalahan kota serta kebijakan pembangunan yang
berkelanjutan, maka harus dilakukan kajian dan perencanaan yang terpadu lagi, sehingga dapat diambil
keputusan tentang rencana pembangunan PBC. Maksud dan tujuan pembangunan PBC pada intinya
adalah:
Mewujudkan visi dan misi kota Padang sebagai Pusat Perekonomian dan Pintu Gerbang Perdagangan
Terpenting di Indonesia Bagian Barat.

       Mempercepat pertumbuhan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana kota Padang.

       Meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota Padang yang ditunjang dari sektor investasi swasta.

       Sebagai salah satu upaya prefentif penanganan resiko bencana gempa dan tsunami (vertical
        mitigation).


Sasaran pembangunan PBC adalah sebagai berikut:
       Mewujudkan rencana pembangunan kawasan wisata terpadu yang terintegrasi dengan rencana
        pembangunan kawasan Gunung Padang (Siti Nurbaya) dan pengembangan Air Manis.
        Pemanfaatan ruang Kawasan PBC meliputi kegiatan jasa dan perdagangan (hotel, mall, plaza,
        convention hall dan ruko) dan selanjutnya akan berfungsi sebagai fasilitas penjunjang pariwisata.

       Menjadikan PBC sebagai salah satu land mark kota Padang sekaligus sebagai pintu gerbang dan
        tujuan wisata Sumatera Barat.

       Sebagai lokomotif pergerakan ekonomi riil serta memberikan multiplier effect terhadap
        penyediaan lapangan kerja baru; pencerahan terhadap perkembangan industri rumah tangga
        seperti meningkatnya produksi kerajinan, makanan khas serta berkembangnya sektor-sektor
        penunjang pariwisata dan perdagangan lainnya.

       Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah;

       Tersedianya lokasi atau kawasan bagi masyarakat di wilayah pesisir pantai Padang sebagai
        tempat evakuasi penanggulangan bencana gempa dan tsunami.


    Reklamasi PBC akan menghasilkan tanah hasil reklamasi seluas ±33 Ha, yang terbagi atas 3 (tiga)
sub Kawasan : Sub Kawasan I, luas ± 13 Ha yang akan diperuntukkan sebagai kawasan perdagangan dan
komersil bisnis, berupa Mall, Hotel, Plaza dan Ruko.
Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang 39 Sub Kawasan II, luas ±9 Ha, diperuntukkan untuk
berbagai fasilitas kota, misalnya gedung serba guna, mesjid, taman dan fasilitas ruang terbuka hijau.
Sub Kawasan III, luas kawasan ±11 Ha, yang akan diperuntukan sebagai kawasan wisata, baik wisata
pantai maupun niaga dengan menyediakan fasilitas pendukung seperti dermaga maupun fasilitas rekreasi
pantai lainnya
MANAJEMEN

        Secara normatif dari penelusuran kajian yang dilakukan oleh PT Pasific Prestress Indonesia, dan
PT Graha Surya Mutiara, dapat dilakukan pelingkupan kegiatan reklamasi PBC yang potensial
menimbulkan perubahan lingkungan. Kegiatan tersebut, adalah sebagai berikut:
A Tahap Perencanaan
1 Penyelenggaraan Survey dan Studi Tematik
2 Sosialisasi Rencana Pembangunan
3 Pengukuran dan Pemetaan Areal Kerja
4 Penetapan Lokasi Areal Kerja Reklamasi
5 Penyusunan General Concept/Detail Design/Detail Engineering Reklamasi
6 Konsultasi Publik
B. Tahap Pra-Konstruksi

1. Perambuan Areal Kerja

2. Mobilisasi Peralatan Berat

3. Rekrutment Tenaga Kerja

4. Penambangan Batu di lokasi Quary

5. Penambangan Pasir Laut

6. Pengangkutan Batu Material Reklamasi\


C. Tahap Konstruksi

1. Pengerukan Muara Batang Arau

2. Konstruksi Tanggul dan Penahan gelombang laut

3. Pemasangan Geotextile dan Vertical Drain

4. Pengisian Pasir Bahan Reklamasi

5. Aktivitas Buruh Konstruksi
Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang 54
6. Proses Settlement/Ripening

7. Pembongkaran Peralatan Berat
D. Tahap Pasca-Konstruksi

1. Penyusunan RDTR Areal Reklamasi/UDGL

2. Penyusunan General Concept/Detail Design/ Detail Engineering Infrastruktur

3. Proses Land Register/Hak Pengelolaan

4. Pembangunan Sarana dan Prasarana

5. Penyediaan Air Bersih dan Listrik

6. Pemasaran Tanah Hasil Reklamasi

7. Pembangunan di atas Tanah Hasil Reklamasi

8. Pekerjaan Lansekap

9. Kegiatan Perkotaan

10. Kegiatan Perawatan Tanggul dan Penahan gelombang laut


FINANSIAL

        Salah satu dari pertimbangan Pemerintah Kota adalah pusat-pusat jasa perdagangan yang baru
yang akan beroperasi di PBC potensial mengalahkan usaha-usaha dari toko-toko kecil yang sudah lama
ada. Terlepas dari pemberian kompensasi kepada mereka yang daerah usahanya secara langsung
bertumpang tindih dengan PBC, sangat sulit untuk meyakini apa yang akan menjadi hasilnya. Hal ini
akan bergantung kepada skala dari toko-toko PBC dan apakah banyak atau tidak pengunjung ke
“landmark” (tanda pengenal) PBC. Masyarakat sekitar pesisir pantai Kota Padang umumnya berprofesi
sebagai nelayan baik dengan menggunakan bagan, perahu maupun pukat tepi. Disamping itu ada yang
berprofesi sebagai pedagang, pengada jasa terutama di lokasi wisata sepanjang pesisir pantai. Tingkat
penghasilan para nelayan tergantung kepada musim dan keadaan cuaca, begitu juga dengan para
pedagang dan pangada jasa tergantung tingkat kunjungan wisatawan baik lokal, nusantara maupun
mancanegara. Dengan tingkat penghasilan yang sangat terbatas maka banyak dari mereka yang belum
punya tempat tinggal sendiri dan hidup pada pemukiman kumuh/ slum area atau yang sedikit mampu
menyewa rumah petak.
ANALISA RATIO
         Rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan PBC dan Gunung
Padang adalah Sub Bidang Kepariwisataan, Penanaman Modal dan Penataan Ruang. Hal itu dijelaskan
sbb:
1. Sub Bidang Kepariwisataan
Salah satu tujuan pengembangan kepariwisataan kota Padang adalah : “menjadikan Padang sebagai pintu
gerbang kepariwisataan wilayah Barat. Sasaran pengembangan kepariwisataan antara lain adalah (a)
“berkembangnya kawasan wisata pesisir terpadu sebagai andalan untuk menarik wisatawan ke kota
Padang”, (b) meningkatnya investasi swasta di sektor pariwisata. Untuk memenuhi sasaran tersebut maka
Dinas Pariwisata merumuskan indikasi program kegiatan, antara lain: Perencanaan Kawasan Wisata
Terpadu Unggulan kota Padang, kajian kerjasama pengembangan kawasan, Revisi Rencana Induk
Pariwisata kota Padang dan objek wisata dengan pihak swasta.
2. Sub Bidang Penanaman Modal
Salah satu sasaran sektor penanaman modal di kota Padang adalah menggali potensi sumber-sumber
penerimaan penanaman modal daerah secara intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk mencapai sasaran
tersebut maka indikasi program yang akan dikaji lebih dalam adalah penggalian sumber-sumber
penanaman modal yang baru, melakukan analisis penanaman modal daerah dan asing.
3. Sub Bidang Penataan Ruang
Di dalam dokumen RPJM dijelaskan bahwa di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang telah
dikaji arahan pusat-pusat pelayanan. Salah satu pusat pelayanan adalah Gunung Padang. Selain itu
ditatapkan 4 sentra pengembangan kota dan 18 kawasan prioritas Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Padang 31
pengembangan. Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang dan kawasan sepanjang pantai termasuk di
antara lokasi sentra pengembangan pusat kota. Dalam rangka kajian keterkaitan gagasan Pembangunan
PBC dengan rumusan RPJP dan RPJM, perlu pula diidentifikasi penjabaran indikasi program tersebut ke
rencana kerja masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota
Padang. Data dan informasi tersebut sangat diperlukan dalam proses evaluasi implikasi gagasan pembangunan terhadap
lingkungan hidup.
SENSITIVITAS SOSIAL DAN LINGKUNGAN

       Dari segi social dan lingkungan Ada beberapa tabel yang berikut yang menarik sebagai indikator
persepsi masyarakat terhadap PBC dan wilayahnya. Tabel dibawah memperlihatkan persentasi
stakeholder yang tidak setuju dengan PBC dibawah 10%, namun sekitar 58% tidak tahu apakah setujuh
atau tidak. Kesadaran umum tentang PBC rendah. Waktu ditanyakan apa yang paling mengawatirkan,
jawaban stakeholder adalah “penurunan pendapatan” (39.3%), menyusul resiko munculnya konflik sosial
(21.4%). 10.7% mengkhawirkan kemacetan lalu lintas (Tabel 11). menunjukkan bahwa banyak responden
tidak punya harapan dari PBC (47.3%). Namun 52.7% mengharapkan kesempatan kerja atau usaha akan
meningkat kalau ada PBC. Kebisingan paling dikhawatirkan dari fase konstruksi (60.7%). Kemacetan
juga dikhawatirkan (35.7%) Tabel 13). Di Tabel 14 terlihat bahwa semua responden mengakui kondisi
disekitar tempat tinggalnya cukup sehat (45.5%) atau sehat (54.6%). Masyarakat yang menghargai
lingkungan seperti ini, tentu tidak memiliki alasan yang kuat untuk berkeinginan pindah ataupun
dipindahkan ke tempat lain. Kesadaran terhadap kondisi Batang Arau terlihat
Sedangkan untuk isu lingkungan yang berikut yang paling pokok untuk ditangani lebih lanjut. Dapat
dirobah sesuai dengan perobahan informasi atau persepsi sampai ada rencana resmi pembangunan PBC.
Abrasi Pantai. Data benthic diperlukan untuk membentuk sebuah model untuk menilai bentuk yang
berbeda-beda dan kondisi-kondisi lain dari PBC pada daerah pesisir pantai yang tergesek dan bertambah.
Analisa dari peta dan foto-foto tua mengindikasikan erosi pada pantai. PBC secara parsial bertumpang
tindih dengan area yang terkikis tersebut.

Drainase, Sanitasi dan Banjir. Potensi gangguan drainase di ujung kota (sebagian dapat ditanggulangi
dalam pembuatan spesifikasi pembangunan; lihat dibawah) dengan implikasi untuk sanitasi serta lebih
memungkinkan banjir. Lagi pula, PBC akan memperpanjang Batang Arau dan begitu meningkatkan
sedimentasi di ujung sungai serta meningkatan lemungkinan banjir.

Permintaan Air. PBC dapat sebagai pemakai air yang besar. Apakah PDAM bisa menyuplainya? Kalau
ada eksploitasi sumur baru ada resiko permintaan air itu yang begitu besar akan menurunkan tingkat
permukaan air dan merangsang masukknya air laut (saline intrusion).

Lalu Lintas. Kegiatan di dalam areal PBC akan membangkitkan volume lalu lintas; karena itu harus sejak
dini dipertimbangkan rencana peningkatan kapasitas jalan dan pola transportasi di kawasan pantai sebagai
bagian dari sistem transportasi kota Padang.

Bentang Budaya. Memelihara keselarasan bentang alam dengan bentang budaya kawasan Muaro.
Perpaduan kawasan kota lama Padang, gedung-gedung tua dengan ekosistem hutan pada daerah Gunung
Padang dan dengan aktor-aktor ekonomis yang ada, semuanya membentuk suatu keanggunan dimana
PBC harus memperhitungkannya secara matang sehingga keberadaanya secara arsitektual tidak merusak,
melainkan menambahkan nilai positif. Tentu saja, nilai ini akan bervariasi tergantung daripada persepsi
turis lokal dan luar negeri.
                                            Daftar Pustaka

        Adiwibowo, Soeryo (2007) Gagasan & arah kebijakan kajian lingkungan hidup strategis. Naskah
kebijakan, Proyek ESP 1, Departemen Lingkungan Hidup.


        DKP dan SAHATI (2004) Rencana Pengelolaan (Management Plan) Pesisir dan Laut Sungai
Pisang. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang dengan Yayasan Hayati Lestari (SAHATI),
December 2004.

        Dinas TRTB, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (2002) Panduan Rancangan Kawasan
dan Bangunan Di Kota Lama Padang. Pemerintah Kota Padang, Dinas TRTB.

        OECD, Organisation for Economic Co-Operation and Development (1993) OECD Core Set
Of Indicators for Environmental Performance Reviews. OECD, Environment Monograph N° 83, A
synthesis report by the Group on the State of the Environment, Paris, 1993.

        Pemerintah Kota Padang (2007) Opini Publik Rencana Pembangunan PBC. Bagian Penanaman
Modal dan Kerjasama, Klipping Surat Kabar

.       Pemerintah Kota Padang (2007) Proposal Padang Bay City. Pemerintah Kota Padang, Bagian
Penanaman Modal dan Kerjasama.

        Pemerintah Kota Padang (2004) Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2004-2020.
Pemerintah Kota Padang. Pemerintah Kota Padang (2004) Rencana Pembangunan Jangka Menegah
(RPJM) 2004-2008. Pemerintah Kota Padang.

        PT. Pacific Prestress Indonesia (2006) Laporan Perencanaan Reklamasi Pantai Padang
Sumatera Barat. PT Pacific Prestress Indonesia

								
To top