Tradisi “Toron” dan Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura

Document Sample
Tradisi “Toron” dan Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura Powered By Docstoc
					                            Articles of Lontar Madura
Tradisi “Toron” dan Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura
2011-11-04 12:11:42 admin

Oleh : Syaf Anton Wr




                                            Toron (Madura) mempunyai makna “turun kebawah”,
atau pulang kampung atau mudik. Namun makna toron pada dasarnya mempunyai makna lebih luas lagi,
yaitu membangun kembali solidaritas yang mengarah jalinan tali silaturrahmi antar keluarga dan kerabat
orang Madura yang di tanah kelahirannya.

Dengan toron, keutuhan dan keakraban antar warga Madura akan tetap terjalin semakin rapat dan mesra.
Untuk itu, ketika orang Madura pada saatnya mudik, tentu telah mempersiapkan diri dengan bekal-bekal
bawaan yang secara formalis sebagai oleh-oleh, sekaligus sebagai bentuk manifestasi dari keterikatan
kekeluargaan, meski mereka harus merantau sejauh mana meninggalkan tanah kelahirannya.

Ada tiga peristiwa penting bagi warga Madura untuk toron. Yang pertama, yaitu pada saat lebaran Hari
Raya Idul Ftri, Hari Raya Idul Adha dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain tiga peristiwa
tersebut, toron bisa dilakukan setiap saat.

Pada saat Idul Fitri secara umum dilakukan hampir suluruh warga Madura harus toron, tanpa melihat
siapa dan apa urusan mereka di tanah rantau. Hal ini sama dengan ummat muslim lainnya. Namun pada
saat Hari Raya Idul Adha, yang kemudian disebut Hari Raya Besar atau Hari Raya Reaje (rajhe), toron
umumnya dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pedesaan, yang note bene mempunyai
wilayah tradiri kekerabatan yang sangat kental dan kuat.

Panutan masyarakat Madura terhadap tokoh, kiyai, ulama, guru dan orang tua tentu menjadi tolok ukur
tingkat pengabdiannya terhadap sesepuh dan pendahulu mereka. Hal ini juga diimplementasikan pada
saat Peringatan Maulud Nabi Besar Muhamad SAW. Kesungguhan masyarakat Madura terhadap panutan
kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, tidak sekedar melaksanakan sunnah-sunnahnya, namun lebih
jauh lagi mempunyai makna yang dalam terhadap peristiwa itu dengan melakukan tindakan nyata, yaitu
memeriahkan hari besar Islam tersebut dengan berbagai katifitasnya.

Khususnya untuk Hari Raya Besar dan Peringatan Maulud Nabi, telah menjadi simbol tingkat keperhatian
masyarakat Madura terhadap solidaritas dan tali persaudaraan : bila cempa palotan, bila kanca taretan,
merupakan manifestasi nilai persaudaraan dan kekerabatan.

Bagai orang Madura toron tidak akan merendahkan martabat orang Madura, sebagaimana dihawatirkan
Bupati Pamekasan Kholilurrahman, (oase kompas.com), karena kata dalam bahasa Madura mempunyai
makna tersendiri. Dengan toron justru akan memgembalikan jatidiri dan kodratnya sebagai manusia
Madura. Dan saya pikir biarlah istilah toron berjalan secara alamiah, sebab toron sendiri merupakan
bagian peristiwa budaya yang tidak lepas dari tingkah laku masyarakat (Madura) yang menjalankannya.

Dalam posisi ini tidak ada bedanya istiralah “carok”, yang bermakna negatif dimata orang luar, yang tidak
mungkin diganti dengan ucapan atokar (bertengkar) dan sejenisnya, karena toron sendiri, pada akhirnya
menjadi simbol nilai kekerabatan orang Madura.

Meski ada toron tidak ada sitilah ongga (naik), karena ketika orang Madura kembali kedaerah rantauannya
kata ongga tidak lagi digunakan, justru kerap disebut dengan istilah alajar (berlayar). Seharusnya Pak
Bupati Pamekasan berbangga dengan lahirnya istilah toron, karena toron merupakan peristiwa spontan
dan tak seorangpun dapat mengubah kata toron, kecuali ada istilah lain yang dapat diterima oleh warga
Madura.




Peringatan Maulud Nabi warga Madura (sumber foto: plat--m,com)

Menjaga Kearifal Lokal Madura

Kearifan lokal menjadikan media dalam menyusun kebutuhan rohaniyah bagi keberlangsungan hidup
masyarakat Madura, dimana ia bermukim. Selain agama (Islam) kearifan lokal menjadi pemicu
bertahannya sebuah tradisi yang tetap bertahan dan menjadi pertahanan kekerabatan antar warga
Madura. Kearifan lokal kerap diekspresiakan dalam bentuk saloka seperti :

Andhap asor tampaknya menjadi tolok ukur dalam menanamkan etika dan estetika, termasuk
didalamnya tentang kesantunan, kesopanan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur lainnya sehingga
menjadi raddin atena, bagus tengka gulina (cantik hatinya, baik tingkah lakunya). Untuk membangun
kebersamaan dalam saloka diungkap bila cempa, palotan, bila kanca, taretan, (bila beras (kualitas)
yaitu ketan, bila teman adalah saudara), hal disimbolkan sebagai bentuk untuk menjaga keutuhan
persabatan perlu dijaga: Mon ba’na etobi’ sake’ ja’ nobi’an oreng (kalau kamu dicubit sakit, jangan
nyubit orang lain)

Kehidupan yang harmoni menjadi penekanan kehidupan yang diharapkan dalam rampa’ naong
beringin korong, serta ghu’tegghu’ sabbhu’ at au song-osong lombung, merupakan solidaritas
sosial antar warga. Meski kekerasan kerap menjadi indentitas orang Madura seperti carok misal, dalam
pandangan orang Madura memiliki tempat tersendiri, karena alasan-alasan tertentu menyangkut
perasaan malo (malu) akibat harga diri diinjak-injak sehingga melahirkan carok.

Ango’ potea tolang etembang pote mata (lebih baik putih tulang daripada putih mata, lebih baik mati
daripada menanggung malu) atau otang pesse nyerra pesse, otang rassa nyerra rassa, otang nyaba
nyerra nyaba (hutang uang uang dibayar uang, hutang rasa dibayar rasa, hutang nyawa dibayar nyawa)
yang barangkali menjadi pertimbangan mereka. Sebenarnya semua itu dapat diselesaikan dengan
terhormat bila diawali dengan abhak-rembhak (berembuk, musyawarah) yang telah mengakar kuat
dalam masyarakat Madura.

Masyarakat Madura dikenal sebagai perantau, dan dari sinilah kemampuan dalam etos kerja diungkap
seperti karkar kar colpe’, bantheng tolang seang are seang malem, sapa atane bakal atana’, sapa
adagang bakal adaging, abharentheng, abanthal omba’ asapo’ angin, alako berra’ apello koneng
dan sejenisnya menunjukkan etos kerja dalam usaha memenuhi kehidupan sehari-harinya, meski harus
“kepada jadi kaki, kaki jadi kepala”.

Bila kerja banyak menghasilkan untung sehingga menjadi kaya, jalan lupa yang miskin atau tidak mampu,
karena yang kaya berkewajiban menjadi tulang punggung yang miskin, mon sogi pasogha’ (bila sudah
kaya harus perkasa), jangan sekali-kali raja guntorra tadha’ ojanna (besar bunyi halililantar, tapi tidak
ada hujan) dan sebaliknya atau menjadi keras ta’ akerre (keras tapi tidak sakti).

Untuk itu dalam menjaga martabat keluarga atau kelompok jangan sampai jha’ methha’ buri’ etengnga
lorong, (jangan menunjukkan bokong/dubur ditengah jalan)        sebab sapenter-penterra nyimpen
babathang paste e kaedhing bauna (sepintar-pintar nyembunyikan bangkai, pasti akan dirasaukan
baunya).

Landasan kearifan lokal inilah, yang menjadikan masyarakat Madura sangat diikat dan terikat oleh nilai
kekebaratan, sehingga dalam kondisi apapun toron merupakan bentuk “kewajiban” meski secara finalsial
mereka mempunyai keterbatasan. Bahkan dalam kondisi tertentu, hasil upaya ekonomi dari hasil kerja
kerasnya di tanah rantau, sebagaian disisakan dan disimpan untuk persiapan ketika mereka harus toron.

Namun demikian meski kata toron mempunyai makna turun, tidak ada istilah sebaliknya onggha (naik).
Karena toron bukan berararti turun dari atas kebawah. Toron merupakan istilah yang menajam sebagai
bentuk kekentalan nilai dari dasar toron sendiri. Toron bisa berkembang menjadi toronan yaitu manifestasi
dari silsilah keturunan dari tingkat keluarga, dengan pengertian, kembali ke pangkuan orang tua, atau
dalam makna “turun temurun”, yang mempunyai arti peristiwa toron telah dilakukan secara turun temurun,
yaitu mengikat tali silaturrahmi antar sanak keluarga dan kerabat pendahulunya.

Namun kenyataannya, masyarakat Madura sebagai masyarakat religius tradisi toron menjadi tradisi kuat
yang selalu menjadi harapan dan kebanggaan tersendiri yang patut menjadi contoh bagi warga lainnya.

Sebagaimana sabda Nabi: Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau
mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesame Muslim dengan
menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di
antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya
Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (Riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar RA) atau
Persaudaraan dalam Islam memperkuat ikatan antara orang-orang Muslim dan menjadikan mereka satu
bangunan yang kokoh.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat
satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa
demam.” (Riwayat Muslim) atau “Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa
sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan
sakit.” (Riwayat Muslim)

   Suka    14 suka. Mendaftar untuk melihat seperti apa teman Anda.
Artikel Menarik lainnya
    Pra Kongres Budaya Madura di Sumenep, Ada Apa Denganmu?
    Rokad Pandhâbâ, Ruwatan Murwakala Cara Madura
    Labang Mesem: Pintu Gerbang Kraton Sumenep
    Raden Abdul Kadirun, Pimpin Bangkalan Dengan Nuansa Islam
    Muhammad Saleh Werdisastro, Penulis Buku Babad Sumenep

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:45
posted:12/11/2011
language:Malay
pages:4
Description: Toron (Madura) mempunyai makna “turun kebawah”, atau pulang kampung atau mudik. Namun makna toron pada dasarnya mempunyai makna lebih luas lagi, yaitu membangun kembali solidaritas yang mengarah jalinan tali silaturrahmi antar keluarga dan kerabat orang Madura yang di tanah kelahirannya.