Docstoc

Tehnik Pemasangan NGT

Document Sample
Tehnik Pemasangan NGT Powered By Docstoc
					                           Tehnik Pemasangan NGT

1.   Persiapan alat




1.1. NGT ( Naso Gastric Tube) No.18 sesuai kebutuhan

1.2. Disposisi spuit 50 cc/blas spuit

1.3. Bengkok

1.4. Klem dan Jelly

1.5. Plaster dan gunting

1.6. Pengalas untuk tutup dada penderita

1.7. Stetoskop

1.8. Baskom berisi air

2.     Prosedur




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
2.1. Apabila penderita sadar, jelaskan terlebih dahulu tujuan pemasangan NGT

2.2. Alat-alat diletakkan sebelah penderita arah kepala

2.3. Petugas mencuci tangan yang bersih

2.4. Atur posisi penderita, tidur terlentang kepala ditinggikan pakai 1-2 bantal

2.5. NGT diukur, dengan meletakkan ujung NGT pada ujung tulang dada kemudian
memanjang lurus sampai kedahi, lalu diberi tanda panjang 45 cm atau 50 cm pangkal NGT di
kleim.

2.6. Pasang alas dada

2.7. Ujung NGT diolesi dengan jelly

2.8. Bila sadar untuk menelan bersama dengan NGT dimasukkan

2.9. Secara perlahan NGT dimasukkan kedalam lambung melalui lubang hidung

2.10. Sesudah NGT masuk sampai batas, bila tidak segera kontrol sudah masuk dalam
lambung atau saluran nafas caranya :

2.10.1. Buka kleim keluar cairan berarti sudah masuk dalam lambung, bila tidak keluar
cairan segera kontrol

2.10.2. Masukkkan pangkal NGT kedalam baskom berisi air, bila bergelembung segera
cabut. Berarti masuk kedalam saluran pernafasan dan bila tidak kontrol dengan cara sebagai
berikut

2.10.3. Masukkan udara kedalam lambung sebanyak 30 cc segera cepat perawat yang satu
mendengar dengan stetoskop didaerah lambung, bila terdengar suara ” kreseg” berarti NGT
sudah benar masuk lambung

2.10.4. Tutup NGT lalu difiksasi



Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
2.11. Bereskan alat-alat dan perawat cuci tangan

3. Tehnik Pemasangan




3.1. Sebelum SB Tube dipasang,sebaiknya balon tes lagi dengan mengembangkannya
didalam air, kemudian kedua balon (esofagus dan lambung ) dikempeskan, SB Tube diberi
jeli kemudian ujung pipa dimasukkan lewat lubang hidung perlahan-lahan terus didorong
kalau perlu dibantu dengan memberikan sedikit demi sedikit sampai masuk sedalam 50 cm
(batas yang ditentukan)

3.2. Setelah pasti Tube berada dilubang, balon lambung dikembangkan dengan isi udara 80-
100 cc dan dengan tekanan yang sama, kemudian ujung luar pipa ditarik sampai terasa
adanya tahanan dari balon lambung daerah kardia, ujung luar pipa dipiksasi dihidung

3.3. Selanjutnya balon esofagusdikembangkan sampai tekanan 35-40 mg. Dan ujung pipa
ditutup rapat

3.4. Lakukan GC, bila aspirasi lambung bersih, dibiarkan tetap berkembang selama 24 jam
dan selama ini tetap dilakukan tindakan pendinginan lambung penderita daharuskan puasa

3.5. Setelah 24 jam aspirasi tetap bersih, balon esofagus mulai dikempeskan, tetapi tetap
ditinggalkan ditempat selam 24 jam berikutnya. Mulai saat ini penderita sudah diperbolehkan
minum sedikit demi sedikit selama itu aspirasi lambung tetap dikerjakan

3.6. Bila dalam waktu ini terjadi perdarahan ulang ( Aspirasi Positif ) balon esofagus
dikembangkan kembali dalam prosedur 2 diulang lagi

3.7. SB Tube dapat dilepas bila selama 24 jam pengempesan balon esofagus tidak terjadi
perdarahan ulang.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
       TINDAKAN PEMASANGAN NASOGASTRIK TUBE ( NGT )




BAB I : PENDAHULUAN
A. Later belakang
       Nasogastric Tubes (NGT) sering digunakan untuk menghisap isi lambung, juga
digunakan untuk memasukan obat-obatan dan makananan. NGT ini digunakan hanya dalam
waktu yang singkat. (Metheny & Titler, 2001). Untuk memenuhi kebutuhan pasien,
pengetahuan dan kemampuan perawat dalam memasukan dan melakukan perawatan NGT
adalah sangat dibutuhkan. Bagi anak-anak,kebutuhan akan NGT disebabkan oleh beberapa
kondisi seperti anomali anatomi jalan makanan; oesophagus atau alat eliminasi, kelemahan
reflek menelan, distress pernafasan atau tidak sadarkan diri.
       Keselamatan adalah selalu menjadi perhatian,dimana kerjasama perawat pasien dan
keluarga sangat dibutuhkan dan pada sebagian anak terkadang agak sedikit dipaksakan.
Sebagai perawat profesional,harus berhati-hati dalam melaksanakan tindakan serta
memperhatikan keunikan variasi di dalam melaksanakan tindakan secara aman dan nyaman.
(WALLEY & WONG, 2000).


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Teori


Nasogastric Tubes (NGT) sering digunakan untuk menghisap isi lambung, juga digunakan
untuk memasukan obat-obatan dan makananan. NGT ini digunakan hanya dalam waktu yang
singkat. (Metheny & Titler, 2001). Tindakan pemasangan Selang Nasogastrik adalah proses
medis yaitu memasukkan sebuah selang plastik ( selang nasogastrik, NG tube) melalui


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
hidung, melewatI tenggorokan dan terus sampai ke dalam lambung. Nasogastrik: Menunjuk
kepada jalan dari hidung sampai ke lambung. Selang Nasogastrik adalah suatu selang yang
dimasukkan melalui hidung ( melewati nasopharynx dan esophagus ) menuju ke lambung.
Singkatan untuk Nasogastrik adalah NG. Selangnya disebut selang Nasogastrik.
"Nasogastric" terdiri dari dua kata, dari bahasa Latin dan dari bahasa Yunani, Naso adalah
suatu kata yang berhubungan dengan hidung dan berasal dari Latin “nasus”untuk hidung atau
moncong hidung. Gastik berasal dari bahasa Yunani “gaster” yang artinya the paunch ( perut
gendut ) atau yang berhubungan dengan perut. Istilah “nasogastric” bukanlah istilah kuno
melainkan sudah disebut pada tahun 1942.


Definisi NGT :
Selang Nasogastrik atau NG tube adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung
sampai ke lambung. Sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada
seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara
oral. Juga dapat digunakan untuk mengeluarkan isi dari lambung dengan cara disedot.




Tujuan dan Manfaat Tindakan
Naso Gastric Tube digunakan untuk:
1. Mengeluarkan isi perut dengan cara menghisap apa yang ada dalam
lambung(cairan,udara,darah,racun)
2. Untuk memasukan cairan( memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi)
3. Untuk membantu memudahkan diagnosa klinik melalui analisa subtansi isi lambung
4. Persiapan sebelum operasi dengan general anaesthesia
5. Menghisap dan mengalirkan untuk pasien yang sedang melaksanakan operasi
pneumonectomy untuk mencegah muntah dan kemungkinan aspirasi isi lambung sewaktu
recovery (pemulihan dari general anaesthesia)


NUTRISI ENTERAL
       Nutrisi Enteral merupakan pemberian nutrient melalui saluran cerna dengan
menggunakan sonde (tube feeding).Nutrisi enteral direkomendasikan bagi pasien-pasien yang
tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara volunter melalui asupan oral.Pemberian
nutrisi enteral dini (yang dimulai dalam 12 jam sampai 48 jam setelah pasien masuk ke dalam
perawatan intensif [ICU]) lebih baik dibandingkan pemberian nutrisi parenteral.

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Manfaat dari pemberian nutrisi enteral antara lain:
• Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus
• Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna
• Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna
• Mengurangi proses katabolic
• Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna
• Mempercepat penyembuhan luka
• Lebih murah dibandingkan nutrisi parenteral
• Lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih pendek dibandingkan dengan Nutrisi
Parenteral
• Pasien-pasien yang dapat diberikan nutrisi enteral adalah mereka yang tidak bisa makan,
tidak dapat makan, dan tidak cukup makan (ASPEN, 1998)


“Bila usus bekerja, gunakanlah.” Kalimat yang sudah sering diucapkan berulang-ulang kali
itu, merupakan panduan untuk pemberian dukungan nutrisi.
Biasanya, adanya bunyi usus dan flatus merupakan indikator bahwa saluran cerna berfungsi,
khususnya pada pasien-pasien paska pembedahan.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa motilitas saluran cerna yang menurun pada periode
paska operasi ini, hanya mempengaruhi lambung dan usus besar (kolon), dan tidak
mempengaruhi fungsi usus halus. Berkurangnya ataupun hilangnya bunyi usus tidak perlu
sampai menghambat pemberian nutrisi enteral (Lewis et al 2001). Sebaliknya, adanya bunyi
usus juga tidak menjamin bahwa pemberian nutrisi enteral bisa sukses, misalnya pada pasien-
pasien dengan Intractable diarrhea.




DOKUMENTASI
Catat hal-hal berikut pada lembar dokumentasi:
-Tanggal dan waktu insersi slang
-Warna dan jumlah drainase
-ukuran dan tipe slang-Toleransi klien terhadap prosedur




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
KOMPLIKASI YANG DISEBABKAN OLEH NGT


1. Komplikasi mekanis
-Sondenya tersumbat.
-Dislokasi dari sonde, misalnya karena ketidaksempurnaan melekatkatnya sonde dengan
plester di sayap hidung.
2.Komplikasi pulmonal: misalnya aspirasi.
Dikarenakan pemberian NGT feeding yang terlalu cepat
3.Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde
-Yang menyerupai jerat
-Yang menyerupai simpul
-Apabila sonde terus meluncur ke duodenum atau jejunum.
Hal ini dapat langsung menyebabkan diare.
4.Komplikasi yang disebabkan oleh zat nutrisi




B.PENGKAJIAN


Pengkajian pada pasien yang akan dilakukan pemasangan NGT meliputi:
1.Biodata klien: Nama, jenis kelamin, usia, pekerjaan,tingkat pendidikan, Diagnosa
medis,Tanggal admission.
2.Riwayat kesehatan: Riwayat Masa lalu klien, Riwayat kesehatan keluarga dan Riwayat
kesehatan klien saat ini.
3.Kondisi kesehatan saat ini


Pemeriksaan fisik:
*Kesadaran umum: Allert/letargic, (regular/irregular),Pulse rate,Blood pressure.
*Tanda-tanda Vital: Respiration(regular/irregular),Respiration rate,Pulse rate,Blood pressure.
*Head to too; Apakah terdapat trauma di bagian kepala; nasophageal trauma,skull
fracture,maxilo fracture,cervical fracture,disphagia,atresia oesophagus,naso-oro-pharyngeal
burn.apakah terdapat paresthesia, hemipharesis,Apakah terdapat alat bantu
pernafasan;pemasangan mask oksigen,nasal canula,endotracheal
tube,guedel/mayo,ventilator,distensi abnominal, muntah(cairan,darah;warna,konsistensi)

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Data Penunjang:
• Oxygen saturation
• Chest X-Ray


NGT on Chest-X Ray dan Upper Abdominal X Ray
sesudah insertion untuk memastikan posisi NGT di lambung


• Laboratorium: sample darah lengkap,urine,stool


PENGKAJIAN SECARA UMUM


Pengkajian harus berfokus pada:
-Instruksi dokter tentang tipe slang dan penggunaan slang
-Ukuran slang yang digunakan sebelumnya, jika ada
-Riwayat masalah sinus atau nasal
-Distensi abdomen, nyeri atau mual




Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan pemasangan NGT adalah
sebagai berikut :
-Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan
-Gangguan Rasa Nyaman : mual muntah
-Kurang pengetahuan




C.PERENCANAAN SECARA UMUM
Perencanaan untuk pemasangan NGT sesuai dengan tujuan dan manfaat tindakan dan
indikasi kontraindikasi


Perencanaan keperawatan yang bertujuan untuk menghindari beberapa komplikasi
1. Komplikasi mekanis
a) Agar sonde tidak tersumbat perawat atau pasien harus teratur membersihkan sonde dengan

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
menyemprotkan air atau teh sedikitnya tiap 24 jam bila aliran nutrisi enteral sementara
terhenti, sonde harus dibersihkan setiap 30 menit dengan menyemprotkan air atau teh.


b) Agar sonde tidak mengalami dislokasi sonde harus dilekatkan dengan sempurna di sayap
hidung dengan plester yang baik tanpa menimbulkan rasa sakit, posisi kepala pasien harus
lebih tinggi dari alas tempat tidur (+ 30°)


2. Komplikasi pulmonal: aspirasi
a) Kecepatan aliran nutrisi enteral tidak boleh terlalu tinggi
b) Letak sonde mulai hidung sampai ke lambung harus sempurna.


Untuk mengontrol letak sonde tepat di lambung, kita menggunakan stetoskop guna auskultasi
lambung sambil menyemprot udara melalui sonde.


3. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde
a) sebelum sonde dimasukkan, harus diukur dahulu secara individual (pada setiap pasien)
panjangnya sonde yang diperlukan, dari permukaan lubang hidung sampai keujung distal
sternum.
b) sonde harus diberi tanda setinggi permukaan lubang hidung
c) sonde harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik tanpa
menimbulkan rasasakit
d) perawat dan pasien harus setiap kali mengontrol letaknya tanda di sonde, apakah masih
tetap tidak berubah (tergeser).


4. Komplikasi yang disebabkan oleh yang zat nutrisi antara lain
4.1. Komplikasi yang terjadi di usus
a) Diare
b) Perut terasa penuh
c) Rasa mual, terutama pada masa permulaan pemberian nutrisi enteral
4.2. Komplikasi metabolik hiperglikemia


Perencanaan keperawatanya dari komplikasi yang terjadi di usus
Pemberian nutrisi enteral harus dilakukan secara bertahap.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Tahap pembangunan; dengan mempergunakan mesin pompa
Hari 1 : kecepatan aliran 20 ml/jam = 480 ml/hari
Hari 2 : kecepatan aliran 40 ml/jam = 960 ml/hari
Hari 3 : kecepatan aliran 60 ml/jam = 1440 ml/hari
Hari 4 : kecepatan aliran 80 ml/jam = 1920 ml/hari
Hari 5 : kecepatan aliran 100 ml/jam = 2400 ml/hari =
2400 kcal/hari
Kekurangan kebutuhan cairan dalam tubuh pada hari pertama sampai dengan hari keempat
harus ditambahkan dalam bentuk air, teh atau dengan sistem infus (parenteral).


Selanjutnya ada dua kemungkinan:
Kemungkinan I
Nutrisi enteral konsep 24 jam:
Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 100 ml/jam = 2400
ml/hari = 2400 kcal/hari.


Kemungkinan II
Hari 6: kecepatan aliran 120 ml/jam (selama 20 jam/hari)
Hari 7: kecepatan aliran 140 ml/jam (selama 17 jam/hari)
Hari 8: kecepatan aliran 160 ml/jam (selama 15 jam/hari)
Hari 9: kecepatan aliran 180 ml/jam (selama 13 jam/hari)
Hari 10: kecepatan aliran 200 ml/jam (selama 12 jam/hari)


Nutrisi enteral konsep 12 jam
Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 200 ml/jam = 2400ml/hari = 2400 kcal/hari


Maksud konsep 12 jam ini agar pasien hanya terikat oleh pemberian nutrisi enteral selama 12
jam sehari. Misalnya,hanya antara jam 19 sampai jam 7 pagi sambil tidur.
Apabila timbul rasa mual atau diare, pada waktu tahap pembangunan dianjurkan supaya
kecepatan aliran nutrisi enteral diturunkan 40 ml/jam.


Contoh :


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
26 Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987
Pada kecepatan 100 ml/jam, pasien merasa mual dan mendapat diare.
Dianjurkan:
-- kecepatan diturunkan sampai 60 ml/jam
-- ditunggu 24 sampai 48 jam sehingga rasa mual dan diare hilang
-- setelah rasa mual dan diare hilang, kecepatan boleh dinaikkan lagi menjadi 80 ml/jam
-- tunggu lagi 48 jam
-- bila tak ada keluhan, kecepatan boleh dinaikkan lagi menjadi 120 ml/jam, dan seterusnya.
Tiap kali timbul rasa mual atau diare, kecepatan aliran nutrisi langsung dikurangi 40 ml/jam
dan perlahan-lahan setelah rasa mual dan diare hilang, kecepatan dinaikkan lagi.




• perencanaan keperawatan dari komplikasi metabolik


- periksa kadar gula dalam darah selama nutrisi enteral
- bila terjadi hiperglikemia, terutama pada pasien-pasien yang menderita dibetes melitus,
harus dilakukan terapi dengan insulin.




BEBERAPA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


A. Nutrisi enteral per sonde tak perlu dihentikan, bila
1. diare ringan
2. perut terasa penuh
3. pasien terus menerus harus bertahak
4. dislokasi sonde yang tidak terlalu berat


Dalam hal ini, pasien dan perawat dapat menanggulanginya dengan cara-cara sebagai berikut:
-- kecepatan nutrisi enteral harus diturunkan 40 ml/jam
-- apakah ada kemungkinan kontaminasi pada waktu mempersiapkan zat nutrisi?


Bila demikian, sistem saluran dan zat nutrisi harus diganti dengan yang baru dan bersih.
-- periksa letak sonde. Gunakan stetoskop untuk mengauskultasi lambung sambil
menyemprot udara ke dalam sonde.

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
B. Nutrisi enteral harus dihentikan sementara sampai kesukaran-kesukaran ditanggulangi,
bila:
1. muntah-muntah
2. pilek (rinitis) yang berat
3. kalau simtom-simtom dari A dalam waktu 48 jam tidak mereda
Selama penghentian ini, perawat atau pasien harus secara teratur membersihkan sonde
dengan menyemprotkan air atau teh agar sonde tidak tersumbat.


C. Nutrisi enteral harus langsung dihentikan dan konsultasi ke
dokter, bila:
1. muntah-muntah yang berat
2. diare yang berat
3. diduga aspirasi


KONTROL RUTIN


1. Setiap 2 hari menimbang berat badan
-- ini merupakan kontrol rutin yang mudah dan efektif
-- bila berat badan tidak naik atau bahkan menurun menunjukkan sesuatu yang tidak
sempurna
-- dalam hal ini harus konsultasi ke dokter.
2. Pasien atau perawat harus secara teratur membuat protokol
tentang frekuensi, jumlah dan konsistensi dari tinja.
3. Pasien atau perawat harus setiap kali mengontrol apakah letak tanda pada sonde masih
berada di permukaan lubang hidung dan tidak tergeser. Sonde harus tetap melekat sempurna
di sayap hidung dengan plester yang baik, tanpa menimbulkan rasa sakit.
4. Mesin pompa dan sistem pipa plastik harus dikontrol baik- baik kebersihannya dan tidak
boleh bocor


"CHECK LIST"
Harus konsultasi ke dokter, bila :
1. berat badan turun

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
2. pilek (rinitis) yang berat
3. diduga aspirasi
4. muntah-muntah yang berat


Apakah kedudukan sonde masih sempurna? Bila:
1. pasien terus menerus bertahak (refluks)
2. diare: ini akan terjadi bila sonde meluncur terus menuju abdomen atau jejunum.
Dalam hal ini sonde harus agak ditarik ke luar.


Apakah osmolaritas zat nutrisi sesuai dengan yang dianjurkan? Bila:
1. diare
2. perut terasa penuh.
Dalam hal ini harus diperiksa apakah zat nutrisi dipersiapkan sesuai dengan yang dianjurkan
oleh pabrik. Perhatikan perbandingan antara jumlah air terhadap jumlah bubuk zatnutrisi.
Apakah kecepatan aliran nutrisi enteral tidak terlalu cepat?
Apakah mesin pompa atau sistem pipa tidak sempurna?
Bila
1. diare
2. perut terasa penuh


D. Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan NGT


INDIKASI:


• Pasien dengan distensi abdomen karena gas,darah dan cairan
• Keracunan makanan minuman
• Pasien yang membutuhkan nutrisi melalui NGT
• Pasien yang memerlukan NGT untuk diagnosa atau analisa isi lambung




KONTRAINDIKASI:
Nasogastric tube tidak dianjurkan atau digunakan dengan berlebihan kepada beberapa pasien
predisposisi yang bisa mengakibatkan bahaya sewaktu memasang NGT,seperti:


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
• Klien dengan sustained head trauma, maxillofacial injury, atau anterior fossa skull fracture.
Memasukan NGT begitu saja melalui hidung maka potensial akan melewati criboform plate,
ini akan menimbulkan penetrasi intracranial.
• Klien dengan riwayat esophageal stricture, esophageal varices, alkali ingestion juga
beresiko untuk esophageal penetration.
• Klien dengan Koma juga potensial vomiting dan aspirasi sewaktu memasukan NGT, pada
tindakan ini diperlukan tindakan proteksi seperti airway dipasang terlebih dahulu sebelum
NGT
• Pasien dengan gastric bypass surgery yang mana pasien ini mempunyai kantong lambung
yang kecil untuk membatasi asupan makanan konstruksi bypass adalah dari kantong lambung
yang   kecil   ke   duodenum     dan     bagian   bagain   usus   kecil   yang   menyebabkan
malabsorpsi(mengurangi kemampuan untuk menyerap kalori dan nutrisi


BAB III. PEMBAHASAN


IMPLEMENTASI (PEMASANGAN) NGT
Insersi slang nasogastrik meliputi pemasangan slang plastik lunak melalui nasofaring klien ke
dalam lambung. Slang mempunyai lumen berongga yang memungkinkan baik pembuangan
sekret gastrik dan pemasukan cairan ke dalam lambung.


Pelaksana harus seorang professional kesehatan yang berkompeten dalam prosedur dan
praktek dalam pekerjaannya.
Pengetahuan dan ketrampilan dibutuhkan untuk melakukan procedure dengan aman adalah :
1) Anatomi dan fisiologi saluran gastro-intestinal bagian atas dan system pernafasan..
2) Kehati-hatian dalam procedure pemasangan dan kebijaksanaan penatalaksanaan NGT.
Pengetahuan mendalam pada pasien ( misalnya : perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat
mambuat sulitnya pemasangan NGT tersebut


PERALATAN
- Slang nasogastrik (ukuran tergantung pada kebutuhan pasien)
- Pelumas/ jelly
- Spuit berujung kateter 60 ml
- Stetoskop
- lampu senter/ pen light

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
- klem
- Handuk kecil
- Tissue
- Spatel lidah
- Sarung tangan dispossible
- Plester
- Kidney tray
- Bak instrumen


UKURAN SELANG NASOGASTRIC
Digunakan berbagai ukuran selang, and pemilihan ukuran yang sesuai tergantung pada tujua
penggunaan dan perkiraan lama/ durasi penggunaan selang


 Selang berdiameter kecil ( 8 Fr sampai 12 Fr ), lunak, fleksible, sering digunakan untuk
pasien yang membutuhkan enteral feeding untuk kurang dari 6 minggu


NGT berdiameter besar, kurang flexible, lebih kaku, digunakan untuk pemberian obat,
dekompresi/pengurangan tekanan udara di lambung, dan untuk feeding jangka pendek (
biasanya kurang dari 1 minggu ).


Keuntungan NG tubes ukuran kecil dengan ukuran besar meliputi : kurang menimbulkan
trauma pada mukosa nasal baik selama pemasangan maupun NG tube insitu, dan toleransi
klien lebih


Penggunaan NGT ukuran kecil sebagai tindakan propilaksis untuk pencegahan gastro-
oesofageal reflux dan micro-aspiration isi lambung, ke dalam jalan napas bagian bawah
meskipun masih kontroversial sebagaimana yang lain menunjukkan tak ada hubungan antara
ukuran NGT dan komplikasi-komplikasi ini.


Displacement dapat terjadi ukuran besar maupun kecil, namun ukuran kecil lebih mudah
dislokasi, sering ke dalam jalan napas dan tanpa tanda-tanda dapat terlihat dari luar, dan
mudah terjadi kemacetan dan melilit.
.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Insertion of the NG tube adalah suatu procedure yang kompleks, and membutuhkan skill
and keahlian sebaimana kesalahan-kesalahan penempatan dapat berakibat pada komplikasi-
komplikasi .


Selama awal pemasangan NGT, misplacement dapat meliputi respiratory tract , brain,
oesophagus, peritoneum, stomach (duodenal tube) and intestine (gastric tube) .


Upward displacement meningkatkan resiko pada pulmonary aspiration, sedangkan downward
displacement meningkatkan resiko feeding intolerance jika formula atau obat-obatan
diberikan melalui tubing itu.


HASIL YANG DIHARAPKAN


-Klien tidak mempunyai keluhan mual atau muntah.
-Klien berkurang rasa nyeri dari distensi abdomen
-Distensi abdomen berkurang
-Kebutuhan Nutrisi terpenuhi
-Tidak terjadi aspirasi


LANGKAH PELAKSANAAN


- Cuci tangan dan atur peralatan
-Jika memungkinan, jelaskan prosedur kepada klien dan keluarga
- Identifikasi kebutuhan ukuran NGT klien
- Bantu klien untuk posisi semifowler
- Posisi klien yang diperlukan :
Posisi untuk memudahkan memasukan NGT adalah semi sitting position atau high-Fowler
jika tidak ada kontra indikasi (misalnya pasien dengan patah tulang belakang).
Berdirilah disisi kanan tempat tidur klien bila anda bertangan dominant kanan(atau sisi kiri
bila anda bertangan dominan kiri).
Periksa dan perbaiki kepatenan nasal:Minta klien untuk bernafas melalui satu lubang
hidung saat lubang yang lain tersumbat, ulangi pada lubang hidung yang lain, Bersihkan
mukus dan sekresi dari hidung dengan tissue lembab atau lidi kapas.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Tempatkan handuk mandi diatas dada klien. Pertahankan tissue wajah dalam jangkauan
klien.
Gunakan sarung tangan
Tentukan panjang slang yang akan dimasukkan dan ditandai dengan plester.
Ukur jarak dari lubang hidung ke daun telinga, dengan menempatkan ujung melingkar slang
pada daun telinga; Lanjutkan pengukuran dari daun telinga ke tonjolan sternum; tandai lokasi
tonjolan sternum di sepanjang slang dengan plester kecil


Minta klien menengadahkan kepala, masukkan selang ke dalam lubang hidung yang paling
bersih


Pada saat anda memasukkan slang lebih dalam ke hidung, minta klien menahan kepala dan
leher lurus dan membuka mulut


Ketika slang terlihat dan klien bisa merasakan slang dalam faring, instruksikan klien untuk
menekuk kepala ke depan dan menelan


Masukkan slang lebih dalam ke esofagus dengan memberikan tekanan lembut tanpa
memaksa saat klien menelan (jika klien batuk atau slang menggulung di tenggorokan, tarik
slang ke faring dan ulangi langkah-langkahnya), diantara upaya tersebut dorong klien untuk
bernafas dalam


Ketika tanda plester pada selang mencapai jalan masuk ke lubang hidung, hentikan insersi
selang dan periksa penempatannya:minta klien membuka mulut untuk melihat slang, Aspirasi
dengan spuit dan pantau drainase lambung, tarik udara ke dalam spuit sebanyak 10-20 ml
masukkan ke selang dan dorong udara sambil mendengarkan lambung dengan stetoskop jika
terdengar gemuruh, fiksasi slang.
Untuk mengamankan slang: gunting bagian tengah plester sepanjang 2 inchi, sisakan 1 inci
tetap utuh, tempelkan 1 inchi plester pada lubang hidung, lilitkan salah satu ujung, kemudian
yang lain, satu sisi plester lilitan mengitari slang


Plesterkan slang secara melengkung ke satu sisi wajah klien. Pita karet dapat digunakan
untuk memfiksasi slang.

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Kurangi manipulasi atau merubah posisi klien sewaktu memasukan NGT, termasuk juga
batuk atau tersedak karena bisa menyebabkan cervical injury karena manual stabilization of
the head sangat diperlukan sewaktu melaksanakan prosedur.
Stabilisasikan posisi kepala.


INITIAL CONFIRMATION OF POSITION


Posisi tubing yang benar harus dipastikan seebelum penggunaan NGT untuk tujuan apapun.
Biarkan guide wire di tempat sampai posisi
Untuk meyakinkan tubing didalam lambung sebelum cairan diberikan
Cirgin-Elliott et al (1999)
X-Ray confirmation , harus dilakukan pada semua klien, •


Peringatan : X Ray confirmation hanya valid pada waktu X_Ray dilakukan. Warning – x-ray


Semua NGT yang telah dimasukkan, harus mempunyai X-Ray Thorax dan upper abdomen
untuk konfirmasi
X-Ray harus di review oleh seorang dokter dan konfirmasi tentang posisi di catat dalam
catatan medis. Kemudianm introducer dapat di removed dan aspirate di test untuk di check
pH-nya. Metheny N.A.& Titler M (2001)


Testing of aspirate
Sebelum aspirating flush the tube dengan 20 ml udara untuk membebaskan selang NGT
dari zat-zat lain (gunakan syringe > 30 ml).
Aspirate 20 mls dari tubing ( gunakan large syringe > 30ml ) and test pH dengan indicator
strips.
pH 4 atau kurang mengindikasikan gastric placement dan confirms correct positioning.


BAB IV. EVALUASI
Setelah melakukan proses keperawatan baik dari hasil pengkajian diagnosa perencananaan
pemasangan NGT perlu dikaji hasil yang diharapkan sudah tercapai atau belum. Pengkajian
yang terus – menerus terhaap kriteria hasil yang diharapkan sehingga tercapai tindakan
keperawatan yang berkualitas.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
1. Tidak terjadi komplikasi aspirasi, nasal irritation, sinusitis, epistaxis, rhinorrhea, skin
erosion or esophagotracheal fistula sebagai dampak dari pemasangan NGT.
2. Tingkat pengetahuan pasien dan keluarga akan bertambah, bisa diajak berkerjasama dalam
melaksanakan asuhan keperawatan secara utuh baik pengkajian, menentukan masalah,
perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi.
3. Kebutuhan pasien terpenuhi secara adekuat baik berupa kebutuhan nutrisi maupun cairan




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Referensi:
ADA Pocket Guide to Enteral Nutrition. American Dietetic Association, 2006.
http://en.wikipedia.org/wiki/Nasogastric_intubation
http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=9348
http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_tube.htm
Canaby A, Evans L and Freeman ( 2002 ) Nursing care of patients with nasogastric
feedingtube. British Journal of Nursing 11 (6 )
http://www.southtees.nhs.uk/UseFiles/pages/2249.pdf
Mallett, J & Dougherty, L (2000) Marsden Manual 5TH Ed Blackwell Science, United
Kingdom




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
                      Bilas Lambung (Gastric Lavage)
1. Pengertian

Bilas lambung, atau disebut juga pompa perut dan irigasi lambung merupakan suatu prosedur
yang dilakukan untuk membersihkan isi perut dengan cara mengurasnya.




                        Prosedur Bilas Lambung (Gastric Lavage)

2. Tujuan

Tindakan ini dapat dilakukan dengan tujuan hanya untuk mengambil contoh racun dari dalam
tubuh, sampai dengan menguras isi lambung sampai bersih. Untuk mengetes benar tidaknya
tube dimasukkan ke lambung, harus didengarkan dengan menginjeksekan udara dan kemudia
mendengarkannya (Lihat NGT). Hal ini untuk memastikan bahwa tube tidak masuk ke paru-
paru.

3. Indikasi

Prosedur ini sudah dilakukan selama 200 tahun dengan indikasi :

   1. Keracunan obat oral kurang dari 1 jam
   2. Overdosis obat/narkotik
   3. Terjadi perdarahan lama (hematemesis Melena) pada saluran pencernaan atas.
   4. Mengambil contoh asam lambung untuk dianalisis lebih lanjut.
   5. Dekompresi lambung
   6. Sebelum operasi perut atau biasanya sebelum dilakukan endoskopi




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Tindakan ini dapat dilakukan dengan tujuan hanya untuk mengambil contoh racun dari dalam
tubuh, sampai dengan menguras isi lambung sampai bersih. Untuk mengetes benar tidaknya
tube dimasukkan ke lambung, harus didengarkan dengan menginjeksekan udara dan
kemudian mendengarkannya. Hal ini untuk memastikan bahwa tube tidak masuk ke paru-
paru.



4. Cairan yang digunakan

Pada anak-anak, jika menggunakan air biasa untuk membilas lambung akan berpotensi
hiponatremi karena merangsang muntah. Pada umumnya digunakan air hangat (tap water)
atau cairan isotonis seperti Nacl 0,9 %. Pada orang dewasa menggunakan 100-300 cc sekali
memasukkan, sedangkan pada anak-anak 10 cc/kg dalam sekali memasukkan ke lambung
pasien.




5. Persiapan pelaksanaan

Pada keadaan darurat, misalnya pada pasien yang keracunan, tidak ada persiapan khusus yang
dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan bilas lambung, akan tetapi pada waktu tindakan
dilakukan untuk mengambil specimen lambung sebagai persiapan operasi, biasanya dokter
akan menyarankan akan pasien puasa terlebih dahulu atau berhenti dalam meminum obat
sementara.




6. Prosedur Tindakan

Sebuah pipa dimasukkan kedalam lambung melalui mulut atau hidung lalu ke esophagus.
Dan berakhir di lambung. Kadang-kadang obat anti nyeri/anastesi harus diberikan untuk
mengurangi rasa sakit dan iritasi pada pasien. Dan mencegah pasien untuk memuntahkan
kembali tube/pipa yang sedang di masukkan. Peralatan suction di siapkan apabila terjadi
aspirasi isi perut. Bilas lambung terus diulangi pada pasien yang keracunan sampai perutnya
bersih. Pada pasien yang tidak sadar dan tidak dapat menjaga jalan nafas mereka, sebelum
dilakukan bilas lambung/ menginseresikan tube untuk bilas lambung, terlebih dahulu pada
pasien dipasang intubasi.


Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
7. Kontra Indikasi

Pada pasien yang mengalami cedera/injuri pada system pencernaan bagian atas, menelan
racun yang bersifat keras/korosif pada kulit, daln mengalami cedera pada jalan nafasnya,
serta mengalami perforasi pada saluran cerna bagian atas.

8. komplikasi

   1. Aspirasi
   2. Bradikardi
   3. Hiponatremia
   4. Epistaksis
   5. Spasme laring
   6. Hipoksia dan hiperkapnia
   7. Injuri mekanik pada leher, eksofagus dan saluran percernaan atas
   8. Ketidakseimbangan antara cairan dan elektrolit
   9. Pasien yang berontak memperbesar resiko komplikasi




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Sumber Referensi :
- http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/bilas-lambung.html




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
                      PERAWATAN KOLOSTOMI




Pengertian
* Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk
mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)
* Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk
mengeluarkan feses (Randy, 1987)
* Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan
feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)


Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa
macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun
sementara.


* Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak
memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau
pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus.
Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)


* Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses
sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup
kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui
abdomen yang disebut kolostomi double barrel.



Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang
disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan
sehingga stoma tampak membesar.


Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi
(pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena
letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses
yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka
dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.


Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses
atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus
mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari
terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada
dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi
tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien
tidak teriritasi.


Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun
setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan
kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:


* Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar
* Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma
* Waktu penggantian kantong kolostomi
* Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
* Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
* Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien
* Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
* Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
* Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
dirumah)
* Berobat/ control ke dokter secara teratur
* Makanan yang tinggi serat


Komplikasi kolostomi




1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses
yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan
irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini
perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.


2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi
pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan
dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat
bermakna untuk mencegah infeksi.


3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena
adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.


4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang
kurang adekuat pada saat pembedahan.




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma


6.Perdarahan stoma


Perawatan kolostomi




Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi
secara berkala sesuai kebutuhan.


Tujuan
* Menjaga kebersihan pasien
* Mencegah terjadinya infeksi
* Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
* Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya


Persiapan pasien
* Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
* Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
* Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu,
memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar
kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
PERSIAPAN ALAT




1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3. Kapas kering atau tissue
4. 1 pasang sarung tangan bersih
5. Kantong untuk balutan kotor
6. Baju ruangan / celemek
7. Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi
8. Zink salep
9. Perlak dan alasnya
10. Plester dan gunting
11. Bila perlu obat desinfektan
12. bengkok
13. Set ganti balut

PENGKAJIAN:

1. Tentukan tipe kolostomi pasien.

2. Kaji alasan dilakukan kolostomi.

3. Tanyakan apakah pasien mengerti cara perawatan stoma.

4. Observasi respon pasien baik verbal maupun non verbal saat diskusi tentangstoma.

5. Kaji warna, size, kelembaban, dan intact jahitan luka stoma.

6. Inspeksi peristoma apakah ada kemerahan, area yang teriritasi, dan abnormallainnya.



Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
DIAGNOSA KEPERAWATAN:

1. Perilaku mencari tenaga kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuantentang merawat
stoma.

2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering tereksposdengan
keluaran dari stoma.

3. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh.

4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan perubahan pola eliminasi.


PERENCANAAN:
1. Peristoma intact tidak ada kemerahan, iritasi, dan erosi.
2. Tidak ada kebocoran di sekitar stoma.
3. Kantong stoma hanya terisi separuh kantong setiap saat.
4. Kantong stoma terhindar dari bau.
5. Perawat/care giver/pasien dapat mendemonstrasikan cara perawatan kolostomi.



PERSIAPAN KLIEN
1. Memberitahu klien
2. Menyiapkan lingkungan klien
3. Mengatur posisi tidur klien


PROSEDUR KERJA
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5. Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
6. Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri
menekan kulit pasien
7. Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9. Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas

Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
hangat (air hangat)/ NaCl
10. Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11. Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
12. Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13. Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai
kebutuhan pasien
14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15. Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16. Merapikan klien dan lingkungannya
17. Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18. Melepas sarung tangan
19. Mencuci tangan
20. Membuat laporan




EVALUASI:
1. Tidak ada kemerahan, iritasi, erosi, dan gangguan kulit sekitar peristoma.
2. Sekitar stoma bebas dari kebocoran.
3. Kantong stoma hanya berisi setengah oleh feses dan bebas dari flatus (tidak kembung).
4. Bebas bau dari kantong stoma.
5. Pasien dapat merawat stoma secara mandiri.


DOKUMENTASI:
1. Penampilan dari stoma, kulit peristoma, karakter keluaran dari stoma.
2. Dokumentasikan respon pasien terhadap stoma.
3. Laporkan proses pembelajaran dalam merawat stoma secara mandiri.




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
Referensi

      Colostomy:... Peran historis dalam operasi dari usus besar dan rektum Bedah 1952
       Mei; 31 (5) :794-804 [ PubMed ]




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060
     MAKALAH SISTEM RESPIRASI
                                 O
                                 L
                                 E
                                 H


              BERNARDO SIMATUPANG
                              10.02.060
                             KELAS: 2-2


                        DOSEN PEMBINGBING
                          Ns. AGNES, S.Kep




                PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
                      STIKES MUTIARA INDONESIA
                           MEDAN 2011-2012




Bernardo Simatupang
Nim : 10.02.060

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:6321
posted:12/11/2011
language:Indonesian
pages:33