Docstoc

APENDISITIS

Document Sample
APENDISITIS Powered By Docstoc
					APENDISITIS


         Bernardo Simatupang
ANATOMI
   APPENDIX = USUS BUNTU
           UMBAI CACING
                  VERMICULARIS
   LETAK       = CAECUM
                  TITIK Mc BURNEY
                  1/3 LATERAL UMBILICAL
            &     SIAS
Mukosa normal apendiks dapat mensekresi
 cairan 1 ml dalam 24 jam. Apendiks juga
   berperan sebagai sistem immun pada
       sistem gastrointestinal (GIT).


            Sekresi immunoglobulin diproduksi oleh
               Gut-Associated Lymphoid Tissues
            (GALD) dan hasil sekresi yang dominan
              adalah IgA. Antibodi ini mengontrol
            proliferasi bakteri, netralisasi virus, dan
             mencegah penetrasi enterotoksin dan
                    antigen intestinal lainnya
Faktor Predisposisi
    faktor penyumbatan (obstruksi) pada
      lapisan saluran (lumen) apendiks oleh
    timbunan tinja/feces yang keras (fekalit),
    hiperplasia (pembesaran) jaringan
      limfoid,
    penyakit cacing,
    parasit,
    benda asing dalam tubuh,
    kanker
Gejala apendisitis akut adalah demam, mual-muntah,
 penurunan nafsu makan, nyeri tumpul sekitar pusar
  yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah,
 nyeri bertambah untuk berjalan, namun tidak semua
orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga
   hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.


Gejala apendisitis kronis sedikit mirip dengan sakit asam
 lambung dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah
sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul.
  Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang
  muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut
   kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada
                     apendisitis akut.
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala
           klasik apendisitis adalah
     nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah
    epigastrium di sekitar umbilikus atau
                periumbilikus.

 Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa
 mual, bahkan terkadang muntah, dan pada
     umumnya nafsu makan menurun.
Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke
    kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney.

     Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas
    letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik
setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya
     nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat
 konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan
                     obat pencahar.

   Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa
       mempermudah terjadinya perforasi.

 Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam
  derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat
timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala
  ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang.
           Berikut gejala yang timbul tersebut:

1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di
   belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri
perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
   rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut
  kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan
 seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan.
Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor
                yang menegang dari dorsal.
     2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
 - Bila apendiks terletak di dekat atau menempel
 pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan
     sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih
         cepat dan berulang-ulang (diare).




        - Bila apendiks terletak di dekat atau
     menempel pada kandung kemih, dapat terjadi
        peningkatan frekuensi kemih, karena
             rangsangannya dindingnya.
                  APPENDICITIS

           AKUT                  KRONIS
-20-30 TAHUN               - FIBROSIS DINDING APP
-LK > PR                   - SUMBATAN LUMEN
-JARANG < 2 THN            - JARINGAN PARUT
-ANAK & ORANGTUA          - ULKUS LAMA
BOCOR BAGIAN PROX SEMPIT
                           - INFLAMASI
-CAUSA NON OBSTRUKTIF
            OBSTRUKTIF
MANTREL
        OBSTRUKSI
        APPENDICITIS
       SUMBATAN LUMEN APPENDIX

             TEK INTRALUMINAL

       SUMBATAN DARI LENDIR APP KE
                CAECUM

SUMBATAN LEPAS                  SUMBATAN
  KE CAECUM                      MENETAP


  APPENDIX
   NORMAL
        GANGGUAN VASKULARISASI

       NEKROTIK DINDING APPENDIX
         INVASI BAKTERI ( AEROB &
                ANAEROB )
              SUPURATIF INFLAMASI

UJUNG APP          PERFORASI

                   ISI CAECUM       PERITONEAL
WALL ING OF
 OMENTUM
                  PERITONITIS
PERITONITIS         DIFFUSA
  LOKAL
GEJALA KLINIK

 AKIBAT OBSTRUKSI      KONSTRAKSI BAGIAN PROX

                        DISTENSI

                        NYERI VISCERAL

                       RANGSANGAN SISTEMIK

                        ANOREKSIA NAUSEA VOMITING

AKIBAT IRITASI PERITONEAL
   SEMBUH
   PERFORASI      MIKRO  SEMBUH, ABCES
                    MAKRO  PERITONITIS
  APPENDICECTOMY
   APPENDECTOMY


     SEGERA


KECUALI
ADVANCE  PERITONITIS
KELUHAN       APP KRONIS
KONDISI TDK MUNGKIN BILA
DILAKUKAN OPERASI
     PERIAPPENDICULAS MASS


    PERIAPPENDICULAR ABSCES


MASSA PADAT  LUNAK, FLUKTUASI (+)
      SUHU 40 C. MENGGIGIL,
        LEUKOSIT > 15.000


        INCISI DRAINAGE
    Pada tahap apendisitis
          supurativa,
  bakteri aerobik terutama
Escherichia coli & Bacteroides
   fragilis (keduanya Flora
     Normal Usus)banyak
          ditemukan,
   ketika gejala memberat
banyak organisme, termasuk
      Proteus, Klebsiella,
       Streptococcus dan
     Pseudomonas dapat
           ditemukan

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:167
posted:12/11/2011
language:
pages:19