Embed
Email

laporan

Document Sample

Shared by: Kerala g
Categories
Tags
Stats
views:
255
posted:
12/10/2011
language:
pages:
50
Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB I

PENDAHULUAN





!.1 Latar Belakang

Dalam proses pendidikan diperguruan tinggi ada dua hal yang mendapatkan

penekanan, yaitu pelajaran di bangku kuliah dan pengamatan langsung di lapangan.

Pengamatan di lapangan dilakukan karena mahasiswa belumlah cukup menerima ilmu

yang bersifat teoritis. Pengamatan dilapangan diperlukan sebagai proses aplikasi ilmu yang

diperoleh mahasiswa di bangku kuliah.

Kerja praktek merupakan salah satu mata kuliah daari kurikulum juruasn Teknik

Telekomunikasi fakultas Politeknik Elektronika Negeri Surabaya - ITS (PENS - ITS) yang

dapat dijadikan penerapan ilmu yang diperoleh mahasiswa dibangku kuliah. Kerja praktek

dilakukan dilapangan pada perangkat yang telah ada atau proyek fisik yang sedang

berlangsung. Obyek pengamatan dalam kerja praktek ini diharapkan sesuai dengan disipiln

ilmu jurusan Teknik Telekomunikasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – ITS (PENS

- ITS).

Dalam pelaksanaan kerja praktek diharapkan mahasiswa mendapatkan pengalaman

kerja tentang teknis kerja dilapangan dan sosialisasi kerja teamwork. Selain itu dengan

adanya kerja praktek ini mahasiswa akan memperoleh pengalaman cara mengatasi masalah

yang timbul pada pelaksanaan pekerjaan secara cepat dan tepat. Hal itu merupakan tujuan

dari pelaksanaan kerja praktek dimana faktor efektifitas dan efisiensi menjadi dasar utama

untuk menunjang pelaksanaan suatu pekerjaan.





I.2 Tujuan Kerja Praktek

Dengan tujuan yang jelas, maka mahasiswa dituntut dapat melaksanakannya sesuai

dengan apa yang diharapkan, yaitu :

a. Memenuhi kurikulum yang ada di PENS – ITS

b. Menerapkan ilmu Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) pada perusahaan yang

sebenarnya.









1

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







c. Membandingkan antara teori dan praktek yaitu penerapan teori dan mengetahui

relevansi materi sistem SKSO yang diberikan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

d. Menambah wawasan SKSO, dan gambaran kerja yang sesungguhnya serta pengalaman

kerja.

e. Membiasakan diri sejak dini tentang suasana di dunia kerja yang sesunguhnya.

f. Mencari ilmu pengetahuan baru yang mungkin tidak didapatkan dibangku kuliah.





I.3 Waktu dan Tempat Kerja Praktek

Kerja praktek dilaksanakan di PT. TELKOM AREA NETWORK SURABAYA

TIMUR, dan dilakukan di bagian INFRATEL Transmisi SKSO/SKKL, serta dilaksanakan

pada tanggal 1Februari – 1 Maret 2007.





I.4 Sasaran Kerja Praktek

Sasaran kerja praktek yang diambil adalah mempelajari Sistem Komunikasi Serat

Optik (SKSO) yang ada di PT. TELKOM AREA NETWORK SURABAYA TIMUR yang

meliputi :

1. Mengetahui tentang PT. TELKOM meliputi sejarah keberadaan, struktur organisasi,

fungsi, sasaran, dan produk-produk PT. TELKOM yang disediakan dalam rangka

memenuhi kebutuhan konsumen.

2. Mempelajari dasar-dasar komunikasi serat opik yang meliputi jenis serat optik, sejarah

dan perkembangan serat optik, perangkat yang digunakan, dan pemeliharaan jaringan.

3. Mempraktekkan penyambungan serat optik, melakukan troubleshooting terhadap

perangkat dan jaringan serta pengukuran serat optik.





I.5 Metode Penulisan Laporan

Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, pengumpulan data kami lakukan dengan cara :

1. Metode kepustakaan, yaitu melakukan studi kepustakaan dari buku dan literatur yang

ada di AREA NETWORK SURABAYA TIMUR.









2

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







2. Metode lapangan, yaitu dengan mengadakan praktek langsung dan dibantu para

pembimbing secara langsung pada perangkat yang digunakan dalam operasional dan

pemeliharaan SKSO di PT. TELKOM AREA NETWORK SURABAYA TIMUR.

3. Metode analisa, yaitu menganalisa hasil kegiatan yang berupa pengukuran pada

perangkat yang digunakan dalam kerja praktek.





I.6 Sistematika Penulisan Laporan

Adapun sistematika penulisan yang digunakan dalam menyusun laporan kerja

praktek ini adalah :





1. BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan latar belakang dan tujuan kerja praktek serta sasaran kerja praktek

dan sistematika penulisan laporan.





2. BAB II : PROFIL PT. TELKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk

Bab ini menjelaskan tentang sejarah dan kedudukan serta fungsi PT.

TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk sebagai BUMN dan juga tentang produk

serta struktur organisasi dari PT. TELKOM ARNET SURABAYA TIMUR sebagai

salah satu dari PT. TELKOM REGIONAL NETWORK JAWA TIMUR DIVISI

INFRATEL.





3. BAB III : SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK

Bab ini meliputi kosep dasar SKSO, sejarah dan perkembangan SKSO, rugi-rugi serat

optik, dan jenis-jenis serat optik.





4. BAB IV : SISTEM KONFIGURASI SERAT OPTIK

Bab ini menjelaskan tentang sistem konfigurasi kabel serat optik, termasuk fungsi

masing-masing bagian dari perangkat OLTE, dan juga perhitungan Link Budget.









3

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







5. BAB V : PENGUKURAN DAN PENYAMBUNGAN SERAT OPTIK

Bab ini meliputi alat ukur yang digunakan untuk troubleshooting, penggunaan OTDR

(Optical Time Domain Reflectometer), prosedur penyambungan serat optic





6. BAB VI : PEMELIHARAAN PERANGKAT DAN JARINGAN KABEL OPTIK

Bab ini membahas tentang Standart Opersional Procedure (SOP) dan Standart

Maintenance Procedure (SMP).





7. BAB VII : PENUTUP

Bab ini meliputi kesimpulan dari apa yang dijelaskan pada bab-bab sebelumnya dan

juga laporan kerja praktek serta saran yang dapat dijadikan masukan.









4

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB II

PROFIL PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk





II.1 Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu aktifitas manusia sejak zaman dahulu sampai sekarang

semakin bertambah banyak. Semua aktifitas manusia tersebut menimbulkan berbagai

macam kebutuhan, termasuk kebutuhan untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan

manusia lainnya. Karena dengan berkomunikasi, manusia akan mendapatkan berbagai

informasi yang bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kemajuan peradabannya.

Informasi-informasi tersebut meliputi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijaksanaan, dan

strategi yang sesuai dengan perkembangan zaman, dimana informasi-informasi tersebut

tidak berada pada satu tempat sehingga dibutuhkan adanya komunikasi jarak jauh antar

tempat-tempat tersebut. Untuk itulah dibutuhkan sarana komunikasi yang dapat membuat

perbedaan jarak itu bukan menjadi suatu penghalang untuk mendapatkan informasi. Sarana

komunikasi tersebut antara lain telepon, teleks, faksimile, internet, telegram dan sarana

komunikasi lainnya.





II.2.1 Sejarah PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Perkembangan dunia telekomunikasi di Indonesia dimulai pada zaman penjajahan

Belanda, dimana pada saat itu, komuikasi dilakukan dengan menggunakan telegraf, mulai

tahun 1856 yang digunakan untuk mengirimkan berita atau informasi antar gubernur-

gubernur Belanda yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Di masa Belanda tersebut

pengiriman telegraf dilakukan oleh dinas telegraf yang bernama Ir. Grole. Seiring dengan

hal tersebut Belanda akhirnya membangun jaringan telegraf internasional melalui kabel

dari Jawa ke Singapura dan dari Jawa ke Australia (Banyuwangi-Port Darwin).

Pembangunan jaringan telegraf tersebut dilakukan oleh perusahaan telegraf British

Australian yang dilaksanakan pada tahun 1870.









5

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Setelah penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell maka pihak Belanda yang

berkedudukan di Indonesia juga merasa perlu mengadakan perkembangan dari telegraf

menuju ke telepon yang dilaksanakan pada tahun 1880. Pada masa itu sekitar tahun 1882,

pelayanan jasa telepon diselenggarakan oleh pihak swasta didaerah Jakarta, Jatinegara,

Semarang, dan Surabaya dimana di daerah-daerah yang lain belum mendapatkan pelayanan

jasa telepon.

Pada tahun 1906 sampai pada perkembangan pos dan telegraf diubah menjadi dinas

PTT (POS TELEGRAF dan TELEFOONDIENST) yang kemudian pada tahun 1907

pemerintah Belanda mengambil alih jaringan telepon dari pihak swasta yang ada di

Bandung, Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Madiun, dan Jakarta. Karena merasa perlu maka

pemerintah Belanda pada tahun 1910 mendirikan jaringan telepon lagi di Jambi dan

Palembang, kemudian pada tanggal 1 Agustus 1921 pemerintah Belanda mengambil alih

jaringan dari pihak swasta yaitu yang ada di Makasar. Sehingga hampir semua jaringan

telepon dikuasai oleh pemerintah Belanda kecuali jaringan telepon pihak PJKA.





II.2.2 Pembentukan PTT

Dinas PTT merupakan suatu bentuk baru dari stasiun pos dan telegraf yang dididirikan

pada tahun 1906. Dinas PTT ini merupakan departemen perusahaan pemerintah Belanda

yang berkantor di Gambir pada tahun 1907 dan dikepalai oleh Chep Van de PTT Dienst.

Pada tahun 1923 kantor pusat PTT dipindahkan ke Bandung dengan pembagian wilayah

PTT sebanyak tujuh daerah inspeksi pos dan telegraf serta tujuh distrik telegraf dan

telepon. Pada tiap daerah inspeksi dipimpin oleh inspektur dan tiap distrik dipimpin oleh

kepala distrik yang bertugas mengawasi seluruh dinas pos dan operasi telegraf serta

mengawasi teknik telegraf. Tahun 1931 dinas PTT dijadikan perusahaan milik Negara

berdasarkan Indische Berdrijvan Wet (IBW) dan mulai berlaku sejak 1 Januari 1932.





II.2.3 PTT menjadi PN. POSTEL

Setelah Indonesia merdeka maka seluruh perusahaan Belanda diambil alih oleh

pemerintah Indonesia. Kemudian dengan adanya koferensi dinas di PTT di Bandung pada

tahun 1956, Dirjen PTT mengusulkan perubahan status PTT dari perusahaan jawatan.







6

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Menjadi perushaan milik Negara. Sehingga pada tahun 1960 pemerintah mengeluarkan

Perpu pengganti UU No. 19/1960 yang mengatur bentuk Perusahaan Negara. Tanggal 21

desember 1961 berdasarkan PP NO. 240/1961 yang dikeluarakan pemerintah maka PTT

diubah menjadi PN. POSTEL dan tahun1965 PN. POSTEL menjadi PN. POS dan GIRO

(PP No. 29/1965) dan PN.TELKOM (PP No. 30/1965). Hal tersebut dikarenakan

perusahaan Negara yang dibentuk berdasarkan Perpu No. 19/1965 dipandang sudah tidak

efisien lagi





II.2.4 PN. TELKOM menjadi PERUMTEL

Sejak diterapkan TAP MPRS No. XXIII/1965 semua peranan pemerintah dibidang

ekonomi ditekankan pada pengawasan dan pengarahan kegiatan ekonomi dan ditambah

dengan UU No. 09/1969, pemerintah menggolongkan perusahaan-perusahaan Negara ke

dalam tiga bentuk yaitu :

1. Perusahaan Negara Jawatan (PERJAN).

2. Perusahaan Negara Umum (PERUM).

3. Perusahaan Negara Perseroan (PT. PERSEROAN).

Dan sejak itu pula PN. TELKOM diubah menjadi PERUMTEL berdasarkan PP No.

35/1974 sejak tanggal 11 Oktober 1974. PP ini memperkokoh kelangsungan PERUMTEL

yaitu membangun, mengembangkan dan mengusahakan telekomunikasi umtuk umum guna

mempertinggi kelancaran hubungan masyarakat dalam menunjang pembangunan nasional.





II.2.5 PERUMTEL menjadi PT. TELKOM

PERUMTEL yang selama ini telah membangun dan mengembangkan dunia

pertelekomunikasian di Indonesia serta telah melayani masyarakat dengan profesionalisme

yang tinggi, sehingga dapat memajukan negara terutama di bidang pertelekomunikasian

nasional. Dan hasil-hasilnya dapat dilihat diseluruh wilayah Indonesia dan sesuai dengan

tuntutan kemajuan di abad informasi ini. Karena PERUMTEL selama ini telah mampu

menyediakan sarana komunikasi yang telah dipakai oleh masyarakat maka pemerintah.









7

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Melalui Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada tanggal 24 September

1991,PERUMTEL beralih status menjadi PT (PERSERO) TELEKOMUNIKASI Indonesia

yang disingkat PT. TELKOM, dimana akte pendiriannya yaitu No. 28 ditandatangani pada

tanggal 24 September 1991 yang merupakan lanjutan dari PP No. 25/1991.





II.3 Misi PT TELKOM

PT.TELKOM mempunyai misi untuk beberapa tahun ke depan, yaitu :

“ To become aleading Solution Provider of Infocom Industry in the region by providing ‘

one stop service ‘, whilest guaranteening the best quality of service and competitive

prising, thru utilization of ‘ state of the art ‘ technology and partnership “.





II.4 Tujuan PT. TELKOM

PT. TELKOM mempunyai tujuan membangun, mengembangkan dan mengusahakan

telekomunikasi untuk umum baik dalam dan luar negeri dalam artian yang seluas-luasnya

guna mempertinggi kelancaran hubungan masyarakat, untuk melaksanakan pembangunan

nasional serta hubungan internasional.





II.5 Bidang Usaha

PT. TELKOM bergerak dalam bidang penyelenggaraan serta pelayanan telekomunikasi

untuk umum dalam negeri meliputi telepon, teleteks, telegambar dan pelayanan lainnya.









8

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB III

SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK





III.1 Pendahuluan

Perkembangan Teknologi dalam bidang Telekomunikasi memungkinkan penyediaan

sarana Telekomunikasi dalam biaya relatif rendah, mutu pelayanan yang tinggi, cepat,

aman, mempunyai kapasitas yang besar dalam menyalurkjan informasi.

Seiring dengan perkembangan Telekomunikasi digital maka kemampuan sistem

transmisi dengan menggunakan Teknologi serat optik semakin dikembangkan dengan

cepat, sehingga dapat menggeser penggunaan sistem transmisi konvensional dimasa

mendatang, terutama untuk media transmisi jarak jauh (long distance circuit).

Dampak dari perkembangann Teknologi digital adalah perubahan jaringan analog

menjadi jaringan digital baik dalam sistem Switching maupun dalam sistem Transmisinya.

Katerpaduan ini akan meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi yang dikirim, serta

biaya operasi dan pemeliharaan lebih ekonomis. Sebagai sarana transmisi dalam jaringan

digital, Serat Optik berperan sebagai pemandu gelombang cahaya serat optik dari bahan

gelas atau silika dengan ukuran kecil dan sangat ringan, dapat melakukan informasi dalam

jumlah besar dengan rugi-rugi relatif rendah.

Dalam sistem komunikasi serat optik, informasi diubah menjadi sinyal optik (cahaya)

dengan menggunakan sumber cahaya LED atau Diode Laser.

Kemudian dengan dasar hukum pemantulan sempurna, sinyal optik yang berisi

informasi dilewatkan sepanjang serat sampai pada penerima, selanjutnya Detektor Optik

akan mengubah sinyal optik tersebut menjadi sinyal listrik kembali.





III.2 Sejarah dan Perkembangan Teknologi Serat Optik

Dari teori telekomunikasi diketahui bahwa dengan menggunakan frekuensi yang lebih

tinggi akan didapat lebar band yang lebih besar sehingga kapasitas penyaluran akan lebih

besar pula. Berdasarkan teori ini dilakukan penelitian penggunaan cahaya untuk

komunikasi.









9

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







a. Pada tahun 1960, Maiman dari Hunges Airecraft menemukan LASER (Light

Amplication by Stimulated Emission of Radiotion), kemudian timbul pemikiran untuk

menggunakan cahaya sebagai alat komunikasi.

b. Sinar LASER karena karaakteristiknya, dapat diperlukan sama dengan seperti

gelombang elektromagnetik dan cukup baik digunakan untuk menyalurkan informasi.

c. Laser pertama kali dicoba sebagai alat komunikasi dengan cara memancarkan sinar

tersebut ke udara, namun percobaan ini gagal karena banyaknya gangguan seperti

hujan, angin, salju dan lain-lain sehingga percobaan serupa tidak pernah dilakukan lagi.

d. Percobaan selanjutnya dilakukan dengan memancarkan sinar Laser ke dalam BEAM

GUIDE (pipa) yang didalamnya dipasang lensa pada jarak tertentu, lensa tersebut

berfungsi untuk memfokuskan sinar Laser yang datang.

Dari hasil percobaan ini ternyata, rugi-rugi transmisi seperti pada butir 3 diatas dapat

diperkecil, namun akurasi letak lensa sepanjang BEAM GUIDE harus dijaga tetap,

karena bila ada perubahan atau pergeseran letak lensa (akibat benturan atau goncangan)

akan mengganggu perambatan sinar Laser tersebut.

Komunikasi dengan cara ini, tidak dipergunakan lagi karena tidak praktis serta

membutuhkan biaya mahal.

e. Dari bermacam-macam jenis Laser (Laser solid, liquid dan semikoduktor) maka jenis

Laser semikonduktor yang terbaik, meskipun umur operasionalnya pendek.

f. Pada tahun 1966, DR KAO melakukan percobaan dengan merambatkan sinar Laser ke

dalam Transparan Fiber. Namun cara tersebut hanya berhasil untuk jarak relatif

pendek. Hal tersebut disebabkan karena kurang sempurna proses pembuatan

Transparan Fiber, sehingga timbul rugi-rugi bahan yang dapat menghambat proses

perambatan cahaya didalamnya.

g. Pada tahun 1970, pabrik gelas Cording di Amerika Serikat berhasil membuat fiber

dengan bahan dasar silica yang mempunyai rugi-rugi bahan relatif kecil (± 20 dB/km),

sehingga sangat baik digunakan untuk komunikasi cahaya.

h. Bersamaan waktu dengan ditemukan silica sebagai bahan dasar fiber, umur operasional

Laser semikonduktorpun berhasil ditingkatkan menjadi 10.000 jam (oleh Hayashi dan

Panish).







10

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







i. Selain Laser semikonduktor, dikembangkan sumber optik lainnya yang dinamakan

LED. Sama halnya dengan Laser dapat memancarkan cahaya dengan baik, namun

karena tidak adanya umpan balik pada cahaya yang dipancarkannya atau dimasukkan

pada fiber, maka LED menghasilkan cahaya yang tidak koheren.

Sinar LED dapat memancarkan dalam beberapa mode yang berbeda sehingga hanya

sesuai untuk serat optik multimode dengan diameter besar.

j. Pada sisi penerima (Detektor), Johnson menemukan Photo Diode yang dapat

menguatkan sinyal datang dan Avalanche Photo Diode (APD) sampai saat ini masih

merupakan Detektor optik yang diunggulkan.

k. Pada tahun 1976, dilakukan uji coba penggunaan kabel optik untuk jaringan

penghubung (junction) ternyata hasilnya cukup baik, sehingga pada tahun-tahun

berikutnya penggunaannya mulai dipromosikan secara meluas.

l. Pada tahun 1980, Amerika dan Spanyol telah menggunakan kabel optik sebagai sarana

Telekomunikasi pedesaan (Rural Telecommunication).

m. Pada tahun 1983, setelah serat optik dikembangkan dan diproduksi oleh banyak negara

dan penggunaannya secara luas mulai dilakukan, Jepang dan Amerika bekerja sama

membangun sistem transmisi yang menghubungkan Jepang-Hawaii (sepanjang 7000

km) dengan menggunakan kabel optik.

n. Indonesia sendiri sejak tahun 1986 telah menggunakan kabel serat optik sebagai

jaringan penghubung antar sentral lokal di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

sedang yang terjauh adalah pembangunan kabel opitk Jakarta- Surabaya oleh NKF.

o. Pada tahun 1996 dimulai penggunaan secara massal tipe serat optik single mode di

Indonesia oleh PT Telkom dan Indosat. Untuk menggantikan Tipe Multimode, karena

pertimbangan redaman pada tipe singlemode lebih kecil daripada tipe multimode.

p. Pada tahun 1999 di Indonesia dibangun Sistem Komunikasi Kabel Laut yang

menghubungkan Surabaya – Banjarmasin, Surabaya – Makassar, Banjarmasin –

Makassar menggunakan topologi SDH.









11

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







III.3 KARAKTERISTIK SERAT OPTIK

Untuk mengetahui lebih jauh mengapa teknologi serat optik mendapat perhatian dari

negara-negara maju maupun yang sedang bekrembang di dunia ini, sehingga negara-negara

pabrikan berlomba-lomba mengadakan penggunaan teknologi serat optik sebagai alat

komunikasi. Maka ada baiknya diketahui karakteristik serat optik dibandingkan dengan

kabel-kabel telekomunikasi yang ada sekarang ini, yaitu :

a. Ukuran kecil

Diameter luar serat optik berkisar antara 100-250 µm. diameter maksimum setelah

dilapisi/dibungkus dengan plastick/nilon sebagai jaket menjadi ± 1 mm. Ukuran ini

masih sangat kecil dibandingkan dengan konduktor kabel coaxial (1-10 mm).

b. Ringan

Dibandingkan dengan kabel transmisi biasa (Spesifigravity 9.8) maka specifigravity

bahan silica sebagai serat optik yaitu 2.2, sehingga beratnya menjadi 1/2 – 1/3 berat

kabel transmisi biasa.

c. Lentur

Pada umumnya serat optik tidak akan patah bila dilengkungkan dengan radius 5mm.

Oleh karenanya kabel serat optik mempunyai kelenturan yang sama dengan kabel

transmisi biasa, sehingga teknis pemasangannya tidak jauh berbeda dengan teknik

pemasangan kabel biasa.

d. Tidak berkarat

Bahan silica sebagai bahan dasar serat optik mempunyai sifat kimia yang sangat stabil

oleh karenanya tidak mungkin berkarat.

e. Rugi-rugi rendah

Serat optik dengan bahan silica mempunyai rugi-rugi transmisi rendah, besarnya

berkisar 2-8 dB/km dengan panjang gelombang 830 nm. Dibandingkan dengan kabel

coaksial yang mempunyai rugi-rugi transmisi sebesar 19 dB/km pada frekuensi 60

Mhz.









12

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







f. Kapasitas tinggi

Kapasitas dalam menyalurkan informasi per cross section area sangat besar disamping

mempunyai bandwidth yang lebar (Broadband).

Sebagai contoh :

Kapasitas penyaluran per cross section area 100 x dibandngkan dengan multi pair cable

dan 10 x dibandingkan dengan coaxial cable.

g. Bebas induksi

Serat optik menggunakan bahan dasar silica yang pada dasarnya merupakan bahan

dielektrik yang sangat baik dan kebal terhadap induksi elektromagnet dan juga terhadap

kilat/petir.

h. Cross Talk rendah

Kemungkinan terjadinya kebocoran sinar antar serat optik sangat kecil, demikian pula

kebocoran akibat masuknya sinar dari luar kemudian ikut merambat dalam serat optik.

i. Tahan temperatur tinggi

Bahan silica mempuyai titik leleh ± 1900º C dan ini sangat jauh diatas titik leleh capper

dan plastik. Sangat ideal bila dipergunakakn sebagai sarana komunikasi pada daerah

yang rawan terhadap tenperatur tinggi.

j. Tidak menimbulkan bunga api

Pada titik sambung tidak mungkin terjadi bunga api (discharge), oleh karenanya sangat

ideal bila digunakan pada tempat-tempat yang peka terhadap ledakan/kebakaran.

k. Tidak dapat dicabangkan

Serat optik mempunyai ukuran sangat kecil/sangat tipis. Oleh karenanya sangat sulit

bahkan tidak mungkin untuk dicabangkan. Bila harus dicabangkan maka harus

dilakukan perubahan terlebih dahulu dari sinyal optik ke sinyal elektrik.

l. Tidak menggunakan bahan tembaga

Serat optik menggunakan bahan silica yang tidak mengandung unsur logam bahkan

serat optik yang menggunakan Multicomponent Glass, unsur campuran logam (copper)

sangat kecil. Tembaga hanya digunakan sebagai pelapis pelidung pada kabel fiber optic

untuk komunikasi kabel laut dan sebagai lewatnya arus DC untuk mencatu tegangan

pada repeater-repeater di bawah laut.







13

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







m. Rapuh

Meskipun rapuh, namun masih mempunyai daya peregangan kurang lebih sebesar 5%

untuk menghindarkan kerusakan serat optik pada waktu pemasangan/penarikan, maka

pada waktu disusun menjadi kabel optik diberi penguat.





III.4 Pengertian dan Blok Diagram Sistem Komunikasi Serat Optik

Sistem komunikasi serat optik menggunakan sinyal-sinyal informasi dalam bentuk

energi cahaya yang disalurkan melalui serat optik. Sinyal informasi yang dikirirmkan

tersebut, dapat berupa sinyal audio, video ataupun data dalam bentuk sinyal elektrik dan

kemudian diubah menjadi sinyal optik sebelum ditransmisikan melalui serat optik. Untuk

mengubah sinyal listrik menjadi sinyal optik diperlukan suatu sumber optik yang dapat

menghasilkan cahaya yang intensitasnya dapat diatur sesuai dengan sinyal elektrik yang

mengendalikannya. Begitu pula pada sisi penerima, diperlukan Detektor optik yang dapat

mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik sesuai dengan aslinya. Blok diagram

sederhana dari sistem komunikasi serat optik tersebut adalah sebagai berikut :









Gambar 1. Prinsip Dasar Sistem Komunikasi Serat Optik









14

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Fungsi dari masing-masing blok adalah :

1. Rangkaian Driver

Berfungsi mengendalikan sumber cahaya berdasarkan sinyal elektrik yang diterima dan

mengubah sinyal tersebut menjadi sinyal optik.

2. Sumber Optik (Cahaya)

Dapat menggunakan LED atau LASER.

LED merupakan perangkat yang memancarkan cahaya dengan arah menyebar. Pada

umumnya digunakan untuk serat optik dengan diameter core berukuran besar

(multimode step indeks).

LASER merupakan perangkat yang lebih kompleks dan dapat memancarkan cahaya

lebih terang dengan daya 10-100 kali lebih besar dibandingkan dengan LED. Pada

umumnya digunakan untuk serat optik dengan diameter core berukuran kecil

(singlemode step indeks). Untuk transmisi jarak jauh, penggunaan LASER sebagai

sumber cahaya lebih menguntungkan dibandingkan menggunakan LED.

3. Detektor Optik

Berfungsi untuk mengubah kembali sinyal optic menjadi sinyal elektrik sesuai dengan

intensitas cahaya yang diterimanya. Detector optik dapat menghasilkan gelombang

sesuai aslinya, dengan meminimalisasi losses yang timbul selama perambatan,

sehingga dapat juga menghasilkan sinyal elektrik yang maksimum dengan daya optic

yang kecil.

Detektor optik yang sering digunakan ada 2, yaitu :

a. Detector Optic PIN (Positive Intrinsic Negative) Photodiode

Diode PIN adalah sebuah semikonduktor dengan bagian yang didop P, sebuah

intrinsik dan bagian yang didop N,sehingga sebagai berikut apat menimbulkan satu

pasang elektron tunggal yang diabsorbsi

Detektor ini bekerja menurut fungsi modulasi arus oleh cahaya yang diserap,

dimana daya optik yang masuk selama sebuah pulsa da[pat dianggap sebagai

penerimaan dari sejumlah foton yang masin-masing mempunyai energi sebesar :









15

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







E = H/V

Dimana : H = konstanta Planck (6,0625. 10-34)

V = kecepatan Foton (C/λ)

E = energi Foton

Susunan dan prinsip dari dsebuah photodiode adalah :

b. Detector Optic APD (Avalanche Photodiode)

Dapat menghasilkan lebih dari satu pasang elektron tunggal melalui ionisasi. APD

biasa digunakan untuk sistem yang memerlukan sensitifitas tinggi, sedangkan PIN

digunakan untuk sistem yang memerlukan sensitifitas rendah.

4. Rangkaian Penguat

Berfungsi untuk menguatkan sinyal elektrik sesuai dengan sinyal elektrik yang

ditransmisikan.





III.4 Struktur Dasar Serat Optik

Struktur dasar dari serat optik sebenarnya tersusun atas coating, cladding dan core.

Namun demi alasan keamanan. Maka ditambahkan pengaman setelah lapisan coating.

Lapisan tersebut bisa berupa plastik, seng, atau anyaman kawat besi. Pada serat oprtik

yang digunakan untuk SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut). Lapisan pelindung bisa

berlapis-lapis. Berikut adalah gambar susunan dari fiber optik.









Gambar . Susunan Serat Optik









16

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Keterangan :

1. Core (inti)

Core berfungsi untuk menentukan cahaya merambat dari satu ujung ke ujung lainnya.

Core terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas sangat tinggi. Ada juga yang terbuat

dari hasil campuran silica dan glass. Sebagai inti, core juga tempat merambatnya

cahaya pada serat optik. Memiliki diameter 10 µm - 50 µm. Ukuran core

mempengaruhi karakteristik dari serat optik.

2. Cladding (lapisan)

Cladding berfungsi sebagai cermin yaitu memantulkan cahaya agar dapat merambat ke

ujung lainnya. Dengan adanya cladding ini cahaya dapat merambat dalam core serata

optic. Cladding terbuat dari bahan gelas. Dengan indeks bias yang lebih kecil dari

core.Cladding merupakan selubung dari core. Diameter cladding antara 5 µm – 250

µm. Hubungan indeks bias antara core dan cladding akan mempengaruhi perambatan

cahaya pada core (mempengaruhi besarnya sudut kritis).

3. Coating (jaket)

Coating berfungsi sebagai pelindung mekanis pada serat optik dan identitas kode

warna.Terbuat dari bahan plastic. Berfungsi untuk melindungi serat optik dari

kerusakan.









Gambar . Susunan Fiber Optik setelah dikupas









17

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







III.5 Jenis-jenis Serat Optik :

Serat optik terdiri dari beberapa jenis, yaitu :

1. Multimode Step Index

Pada jenis multimode step index ini, diameter core lebih besar dari diameter cladding.

Dampak dari besarnya diameter core menyebakan rugi-rugi dispersi waktu transmitnya

besar. Penambahan prosentase bahan silica pada waktu pembuatan. Tidak terlalu

berpengaruh dalam menekan rugi-rugi dispersi waktu transmit. Berikut adalah gambar dari

perambatan gelombang dalam serat optik multimode step index.









Gambar . Perambatan Gelombang pada Multimode Step Index

Jenis serat optik ini mempunyai perubahan index bias yang mendadak seperti ditunjukkan

oleh gambar berikut.









Gambar index bias dari multimode step index





Multimode Step Index mempunyai karakteristik sebagai berikut :

 Indeks bias core konstan.

 Ukuran core besar (50mm) dan dilapisi cladding yang sangat tipis.

 Penyambungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar.

 Sering terjadi dispersi.

 Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah.









18

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







2. Multimode Graded Index

Pada jenis serat optik multimode graded index ini. Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas

yang memiliki indeks bias yang berbeda, indeks bias tertinggi terdapat pada pusat core dan

berangsur-angsur turun sampai ke batas core-cladding. Akibatnya dispersi waktu berbagai

mode cahaya yang merambat berkurang sehingga cahaya akan tiba pada waktu yang

bersamaaan. Berikut adalah gambar perambatan gelombang dalam multimode graded index.









Gambar . Perambatan Gelombang pada Multimode Graded Index

Index bias yang berubah secara perlahan ditunjukkan pada gambar berikut.









Gambar perubahan index bias pada multimode graded index





Multimode Graded Index mempunyai karakteristik sebagai berikut :

 Cahaya merambat karena difraksi yang terjadi pada core sehingga rambatan cahaya

sejajar dengan sumbu serat.

 Dispersi minimum sehingga baik jika digunakan untuk jarak menengah

 Ukuran diameter core antara 30 µm – 60 µm. lebih kecil dari multimode step index.

Dan dibuat dari bahan silica glass.

 Harganya lebih mahal dari serat optik Multimode Step Index karena proses

pembuatannya lebih sulit.





19

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







3. Single mode Step Index

Pada jenis single mode step index. Baik core maupun claddingnya dibuat dari bahan silica

glass. Ukuran core yang jauh lebih kecil dari cladding dibuat demikian agar rugi-rugi

transmisi berkurang akibat fading. Seperti ditunjukan gambar berikut.









Gambar . Perambatan Gelombang pada Singlemode Step Index

Pada single mode step index ini. Index biasnya berubah secara mendadak seperti pada

multimode step index. Seperti ditunjukan gambar berikut.









gambar index bias untuk single mode step index

Singlemode Step Index mempunyai karakteristik sebagai berikut :

 Serat optik Singlemode Step Index memiliki diameter core yang sangat kecil

dibandingkan ukuran claddingnya.

 Ukuran diameter core antara 2 µm – 10µm.

 Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan sumbu serat

optik.

 Memiliki redaman yang sangat kecil.

 Memiliki bandwidth yang lebar.

 Digunakan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi.

 Dapat digunakan untuk transmisi jarak dekat, menengah dan jauh.

Untuk jenis single mode ini ada beberapa spesifikasi yang umum digunakan. Yaitu

G652, G653, G665, G662.





20

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







III.6 Parameter Serat Optik

Parameter serat optic antara lain :

a.. Kecepatan Propagasi

b. Numerical Aperture (NA)

c. Dispersi

d. Penghamburan Rayleigh

e. Pemantulan Fresnel

f. Pemantulan dan Pembiasan

Keterangan :

a. Kecepatan Propagasi

Propagasi dalam serat optik disebabkan oleh adanya suatu refleksi (pantulan),

sedangkan refleksi terjadi akibatnya adanya perbedaan indeks bias antara core dengan

clading. Bila berkas cahaya datang dari suatu media yang lebih padat (n1) ke media

yang kurang padat (n2) dimana n1>n2 maka pada bidang batas antara kedua media

terjadi pantulan. Bila sudut datang melebihi sudut kritis maka diperoleh pantulan total

dan bila sudut datang lebih kecil dari sudut kritis akan terjadi pembiasan dan

pemantulan sebagian.

Kecepatan perambatan cahaya pada medium memiliki kecepatan rambat yang lebih

kecil dari kecepatan rambat cahaya pada ruang hampa, kecepatan tersebut dapat

dirumuskan sebagai berikut :



V=C/n



dimana :

V = kecepatan rambat cahaya pada media

C = kecepatan rambat cahaya pada ruang hampa

n = indeks bias media yang dilalui berkas cahaya

b. Numerical Aperture (NA)

Numerical Aperture adalah ukuran atau besarnya sinus sudut pancaran maksimum

dari sumber optik yang merambat pada inti serat yang cahayanya masih dapat







21

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







dipantulkan secara total, dimana nilai NA juga dipengaruhi oleh indeks bias core

dan cladding. Besarnya nilai NA dapat diperoleh dengan rumus :









dimana :

NA = Numerical Aperture

θ = sudut cahaya yang masuk dalam serat optik

n1 = indeks bias core

n2 = indeks bias cladding









Gambar . Numerical Aperture





c. Dispersi

Dispersi adalah suatu berkas cahaya yang melintas didalam serat optik dengan

mode, kecepatan atau panjang gelombang yang berbeda. Dispersi dapat menyebabkan

pelebaran pulsa pada pulsa cahaya yang ditransmisikan pada serat optik sehingga

mengakibatkan jumlah pulsa/satuan waktu (bit rate) dan jarak menjadi terbatas.

Dispersi dibedakan menjadi 2, yaitu :

a. Dispersi Intermodal

Bila pada suatu serat step indaks dimasukkan impulse cahaya monokromatis dan hanya

dua mode yang ditransmisikan, menyebabkan perbedaan jalur yang dilewati impulse

tersebut akan sampai diujung serat pada saat yang berbeda. Jika kedua impulse tersebut

digabungkan, akan terlihat adanya suatu pelebaran pulsa yang dikenal sebagai dispersi







22

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







modal/multimode. Pada serat multimode step indeks, cahaya yang masuk terbagi dalam

beberapa mode yang merambat dengan kecepatan yang berbeda. Sedangkan pada graded

indeks, perbedaan kecepatan rambat antar mode relatif kecil. Hal ini disebabkan adanya

peningkatan kecepatan dari mode orde yang mempunyai sudut datang yang lebih besar

sehingga dapat mengkompensasi perbedaan lintasan. Hal tersebut dapat menyebabkan

penurunan pulsa, sehingga berpengaruh pada bandwidth (semakin mengecil).

b. Dispersi Kromatik

Impulse cahaya yang melintas diserat optik terdiri atas berbagai macam warna

yang merambat dengan kecepatan yang berbeda sehingga menyebabkan terjadinya

pelebaran pulsa cahaya pada ujung serat. Jadi pelebaran impulse tersebut dipengaruhi

oleh lebar spektrum cahaya dari sumber optik. Efek tersebut disebut dengan dispersi

kromatik. Jika kecepatan data bertambah, durasi T (periode) berkurang maka impulse

akan saling tumpang tindih (overlap) sehingga tidak bisa dikenali lagi (cacat). Hal

tersebut mengakibatkan kecepatan sinyal cahaya yang ditransmisikan menjadi

terbatas.

Dispersi kromatik dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

a. Dispersi Material

Dispersi ini disebabkan adanya perbedaan kecepatan rambat cahaya (indeks

bias suatu material merupakan fungsi dari panjang gelombang).

b. Dispersi Waveguide

Dispersi ini trejadi karena variasi waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke

ujung serat optik dan disebabkan oleh perbedaan panjang gelombang. Dispersi ini

nilainya relatif lebih kecil dibandingkan dispersi jenis lain.

c. Penghamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering)

Peristiwa ini terjadi karena adanya berkas cahaya yang meengenai suatu materi

dalam serat optik yang kemudian menghamburkan\memancarkan berkas-berkas

cahaya tersebut ke segala arah. Hal ini disebabkan ketidak homogenan materi yang

terdapat dalam serat optik tersebut yang mempunyai sifat menghamburkan suatu

berkas cahaya.









23

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







d.Pemantulan dan Pembiasan

- Pemantulan

Pemantukan adalah suatu keadaan dimana berkas cahaya dari suatu media yang rapat

ke media yang kurang rapat. Bila sudut datang dari suat berkas cahaya lebih besa dari

sudut kritisnya maka akan terjadi pemantulan sempurna.

- Pembiasan

Pembiasan terjadi apabila sudut datang lebih kecil daripada sudut kritis. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa proses pemantulan akan terjadi apabila sudut datang sama

dengan sudut pantul ( 1,5 dB dengan menyalakan lampu LED alarm “1

Bias“.

 Arus bias (1b) laser naik > 50 % dengan menyalakan lampu LED alarm “1

Bias“.

 BER > 10-6 dengan menyalakan lampu LED “EBER“ > 10-6 .

Ketiga alarm sinyal tersebut dikirim ke sistem alarm unit.

 Mengirim FLEC (Fault Location Emergency Carrier)

e. Mengirimkan FLEC (Fault Locating Emergency Carrier) 11,94 MHz sebagai

pengganti sinyal data 167.117 Kbit/s, apabila sinyal data tersebut tidak diterima,

sehingga proses pengiriman sinyal F1 1000 Bd, sinyal Optical Service Line Order

Wire 32 KHz dan frekunsi Pilot 7,8 KHz tetap dapat dilaksanakan.

f. Mengirimkan sinyal Optical Line Service Equipment melalui proses super impose

pada sinyal FL 1.000 Bd.

4. Receive Unit berfungsi :

a. Mengubah sinyal optik 167.117 KBd menjadi sinyal elektrik 167.117 KBd.

b. Memperkuat dan meregenerasi sinyal elektrik 167.117 KBd.

c. Membangkitkan sinyal clock 167.117 KBd yang mempunyai fase sama dengan

sinyal data input dengan bantuan rangkaian PLL.

d. Mendeteksi sinyal FL 1.000 Bd.

e. Memberikan indikasi alarm apabila :

 Receive Unit tidak menerima sinyal input (misalnya kabel putus) dan atau

terjadi gangguan pada rangkaian PLL (Pembangkit Sinyal Clock 167.117 KHz)

dengan menyalakan lampu LED alarm “REC”.









27

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Receive Unit tidak menerima sinyal input (misalnya kabel putus) dengan

menyalakan lampu LED alarm “LIS”. Kedua sinyal alarm tersebut dikirim ke

Sistem Alarm Unit (SAU), sedangkan sinyal alarm “LIS” selain dikirim ke

SAU juga diteruskan ke Multiplexer.

 FL-IC pada Unit 5B/6B DECODER sebagai sinyal LIS-GO direction (LIS-G).

 FL-IC pada Unit TRANSMIT sebagai sinyal LIS return direction (LIS-R) yang

membuat LASER Switch Off (mati).

f. Mendeteksi sinyal Optical Service Line Order Wire.

5. Unit 5B/6B Decoder berfungsi :

a. Mengubah sinyal 167.117 Kbit/s menjadi sinyal CMI 139.264 Kbit/s.

b. Mendeteksi error rate dari sinyal input.

c. Memproses sinyal FL 1.000 Bd yang diterima dari Unit Receive untuk diteruskan

ke perangkat FAULT LOCATING 8TR680/FL.

d. Memberikan indikasi alarm apabila :

 Terjadinya gangguan pada Unit 5B/6B DECODER dengan menyalanya lampu

LED Alarm ”5B/6B”.

 Nilai EBER > 106 dengan menyalanya lampu LED Alarm “EBER > 106 “.

 Nilai EBER > 103 dengan menyalanya lampu LED Alarm “EBER > 103 “.

Ketiga alarm tersebut dikirim ke Sistem Alarm Unit (SAU).

6. Unit AIS Generator berfungsi :

a. Membangkitkan sinyal clock 46.421,23 KHz yang dicatukan ke CMI DECODER.

b. Membangkitkan sinyal clock 139.264 KHz yang dicatukan ke CMI DECODER.

c. Memberikan indikasi alarm apabila terjadi gangguan Unit AIS GENERATOR

dengan menyalanya lampu LED Alarm “139.264”.

7. Unit Power Supply berfungsi :

a. Mengubah tegangan primer -48 VDC menjadi tegangan catuan perangkat yang

terdiri dari 8V, 7V, 5V dan -5,2 VDC yang dilengkapi dengan detektor pada

tegangan optiknya.









28

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







b. Memberikan indikasi alarm apabila salah satu atau lebih tegangan outputnya tidak

ada, dengan menyalanya lampu LED Alarm dan mengirimkan sinyal alarm ke

SAU.

8. Sistem Alarm Unit (SAU) berfungsi :

 Menerima sinyal-sinyal alarm dari masing-masing sinyal alarm OLTE 8TR648

apabil terjadi gangguan, memproises sinyal-sinyal alarm tersebut untuk diteruskan

ke perangkat Supervisory dan menginstruksikan Unit CMI CODER dan 5B/6B

CODER untuk mengirimkan sinyal AIS 139.264 Kbit/s.

 Untuk menginstruksikan lokasi gangguan dengan memproses 10 jenis alarm

kedalam “8 bit alarm word” dan mengirimkan ke FL-IC 5B/6B DECODER.

 Membangkitkan test sinyal “Fault Locating” atau “Outside FL Test Signal” dan

mengirimkan ke Unit 5B/6B CODER berdasarkan instruksi “Remote FL Test

Command” yang diterima dari perangkat ANCILLARY 8TR680 atau secara

manual dengan memindahkan U-Link dari X4 ke X3 yang ada pada bagian depan

unit.









29

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB V

PENGUKURAN DAN PENYAMBUNGAN SERAT OPTIK





V.1 Pengukuran Serat Optik

Alat ukur serat optik digunakan untuk proses pemeliharaan perangkat transmisi serat

optik, baik pemeliharaan rutin (preventive maintenance) maupun dadakan (corrective

maintenance). Adapun beberapa jenis alat ukur yang biasa digunakan antara lain :

1. OTDR (Optical Time Domain Reflectometer)

2. Laser source

3. Optical power meter

4. Attenuator (fixed & variable)

5. Splicer dan aksesorisnya





V.1.1 OTDR (Optical Time Domain Reflectometer)

 OTDR merupakan salah satu peralatan utama baik untuk instalasi maupun

pemeliharaan link serat optik

 OTDR memungkinkan sebuah link diukur dari satu ujung

 OTDR dipakai untuk mendapatkan gambaran visual dari redaman serat optik

sepanjang sebuah link yang diplot pada sebuah layar dengan jarak digambarkan

pada sumbu X dan redaman pada sumbu Y.

 OTDR berfungsi juga untuk mengetahui redaman serat, loss sambungan, loss

konektor dan lokasi gangguan / letak titik putus serat optik seperti pada

gambar/display.





V.1.1.1 Pemakaian OTDR :

 Saat instalasi :

OTDR dipakai untuk memastikan loss sambungan, konektor dan loss karena

tekukan atau tekanan terhadap kabel.









30

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Dalam pemeliharaan :

 Pengecekan periodik untuk memastikan tidak ada degradasi serat

 Melokalisir gangguan dengan tahap-tahap sebagai berikut :

 OTDR memancarkan pulsa-pulsa cahaya dari sebuah sumber dioda laser

kedalam sebuah Serat Optik.

 Sebagian sinyal-sinyal dibalikan ke OTDR, sinyal diarahkan melalui

sebuah coupler ke Detektor Optik dimana sinyal tersebut diubah menjadi

sinyal listrik dan ditampilkan pada layar CRT.

 OTDR mengukur sinyal balik terhadap waktu.

 Waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan cahaya dalam serat

digunakan untuk menghitung jarak atau l = v x t/2

 Tampilan OTDR menggambarkan daya relatif dari sinyal balik

terhadap jarak.





V.1.1.2 Backscattering : pemantulan yang kembali ke sisi pengirim yang disebabkan adanya

bending ataupun connector loss. Gambar dibawah ini menjelaskan penyebab-penyebab

terjadinya backscattering.









Gambar . Faktor-faktor penyebab Backscattering





31

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







V.1.1.3 Dead Zone :

 Dead Zone menentukan sampai berapa dekat OTDR dapat mengukur.

 Dead Zone adalah “blind spots” yang terjadi karena refleksi.





Attenuation Dead Zone :

 Jarak dari awal refleksi ke titik dimana penerima dapat menerima pada 0,5 dB

dari backscatter linier.

 Ini merupakan titik dimana OTDR dapat mengukur lagi redaman dan loss.

 Event dead zone adalah jarak dari awal refleksi ke titik dimana OTDR dapat

menerima 1,5 dibawah puncak refleksi.









V.1.1.4 Agar OTDR dapat bekerja dengan baik, harus dihindari lokasi sebagai berikut :

 Vibrasi yang kuat.

 Kelembaban yang tinggi atau kotor (debu).

 Dihadapkan langsung ke matahari.

 Daerah gas reaktif.

V.1.1.5 Sebelum bekerja dengan OTDR :

 Perhatikan spesifikasi teknik yang dimiliki perangkat.





32

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Lakukan pembersihan terhadap konektor (jumper cord).









Gambar . Cara membersihkan konektor





V.1.1.6 Dalam mempergunakan OTDR perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

 Jangan melihat langsung laser ke mata, karena berbahaya bagi mata.

 Konektor harus bersih, agar didapat hasil yang benar.

 Tegangan catuan yang diijinkan.

 Penanganan kabel konektor.

 Kondisi lingkungan alat.

 Kemampuan spesifik dari peralatan.

V.1.1.7 Pengukuran kabel serat optic dengan menggunakan OTDR

A. Alat-alat yang digunak an antara lain :

1. OTDR

2. Printer

3. Adaptor

4. Power supply

5. Patch Cord

6. Kabel penghubung

B. Gambar rangkaian pengukuran

C. Prosedur pengukuran







33

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







a. Rangkailah seperti pada gambar.

b. Nyalakan OTDR (tekan switch power).

c. Settinglah parameter-parameter berikut ini :

- panjang gelombang () =1310 nm

- scatter coefficient = 48,5 dB

- refractive index = 1,47180

- set pada kondisi real time

d. Hubungkan terminal input dari OTDR ke idle core (core yang tidak beroperasi)

dari OTB.

e. Tekan tombol RUN/STOP untuk menembakkna laser ke idle core.

f. Setelah mencapai ujung core yang dimaksud, teksan kembali tombol

RUN/STOP untuk mematikan laser.

g. Maka pada layar OTDR akan muncul grafik seperti dibawah ini :





Dari grafik diatas dapat diketahui keterangan-keterangan sebagai berikut :

 Jarak antara dua terminal (dua titik pengukuran), rugi-rugi pada setiap titik

penyambungan, serta total estimasi loss antara dua terminal tersebut.

 Untuk menganalisa rugi-rugi tersebut, tekan tombol ENTER dan pilih menu

SCAN  ANALYSIS.

 Simbol-simbol diatas sumbu horisontal menunjukkan jenis-jenis losses

yang terjadi disepanjang saluran.

h. Untuk memberi keterangan hasil pengukuran, tekan tombol ENTER dan pilih

menu file  trace info, kemudian beri identitas pada masing-masing point

dengasn menekan tombol enter, misal :

1. Cable ID : JALUR TIMUR

2. Fiber ID : 25

3. Orig. Loc : RUNGKUT

4. Term. Loc : CERME

5. Operator : TEGUH









34

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







i. Untuk menyimpan hasil pengukuran, tekan tombol ENTER, pilih menu file 

Save As.

j. Untuk mencetak hasil pengukuran tekan tombol ENTER, pilih menu file 

print.





D. Hasil Pengukuran di Lapangan

Data pengukuran jarak, melokalisir gangguan dan mengestimasi total loss dengan

menggunakan OTDR :

Tempat : PT. TELKOM ARNET SURABAYATIMUR (RUNGKUT)

Hari/tanggal : Kamis / 15 Februari 2007

Waktu : 14.00-15.00 WIB

Tujuan : Dapat mengukur jarak, melokalisir gangguan dan

mengestimasi total loss sepanjang link

Spesifikasi Alat : OTDR (HP type E6000A)

Pembimbing : Bpk. Azrial

Hasil : OK

Kesimpulan :

 Jarak terminal A – B adalah 36,881 km.

 Total loss sepanjang saluran adalah 9,630 dB.

 Besarnya masing-masing loss dapat dilihat pada keterangan dibawah grafik.

 Simbol-simbol diatas sumbu horisontal menunjukkan jenis-jenis losses yang

terjadi disepanjang saluran dan juga untuk melokalisir gangguan.





V.1.2 Power Meter Test & Laser Source

Dipakai untuk mengukur total loss dalam sebuah link optik baik saat instalasi (uji akhir)

atau pemeliharaan dan juga untuk kelurusan core optik.

• Laser Source : Sebagai sumber laser ( Signal Optik )

• Power Meter : Meter untuk mengetahui besarnya signal optik

yang datang pada sisi penerima ( Rx ).

Redaman : Diukur dalam satuan Decibel (dB)





35

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







• Loss atau redaman dinyatakan :

L (dB) = Pin (dBm) - Pout (dBm)

L (dB) = 10 Log (Pin / Pout) dB









Contoh Pengukuran Serat Optik :









V.1.2.1 Pengukuran kabel serat optic dengan menggunakan Laser Source dan Power

Meter.

A. Alat-alat yang digunakan :







36

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







1. Laser Source (sebagai sumber sinyal optik).

2. Power Meter (untuk mengetahui besarnya sinyal optik yang datang pada sisi

receiver/ Rx).

3. Optical Varible Attenuator.

4. patch cord (FC to FC).

B. Prosedur Percobaan :

1. Sebelum melakukan pengukuran dilakukan kalibrasi trelebih dahulu untuk

mengetahui besar daya laser yang dipancarkan oleh Laser Source.

Langkah-langkah pengkalibrasian adalah sebagi berikut :

a. Hubungkan Laser Source dengan Power Meter seperti pada gambar

berikut :

b. Nyalakan Laser Source untuk menembakkan laser ke Power Meter.

c. Lihatlah tampilan pada layar Power Meter untuk melihat besarnya daya

laser yang dipancarkan oleh Laser Source.

2. Hubungkan Laser sorce dengan Optical Variable Attenuator pada sisi input dan

Power Meter pada sisi output.

3. Optical Varible Attenuator dipakai sebagai pengganti rugi-rugi yang terjadi di

sepanjang saluran karena pengukuran tidak dilakukan di lapangan, sehingga

dapat diatur intensitas rugi-ruginya.

4. Nyalakan Laser Source untuk menembakkan laser ke Power Meter.

5. Lihatlah tampilan pada layar Power Meter untuk mengetahui total losses di

sepanjang saluran.

C. Gambar Rangkaian

D. Hasil Pengukuran di Lapangan

Data pengukuran total loss dengan menggunakan Lser Source dan Power Meter :

Tempat : PT. TELKOM RO SURABAYA TIMUR (RUNGKUT)

Hari/tanggal : Kamis / 01 Maret 2006

Waktu : 14.00 – 15.00 WIB

Tujuan : Dapat mengukur besarnya total loss link

Spesifikasi Alat : Power Meter (WG OLP - 15)







37

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







Laser Source (HP 81554 SM)

Optical Varible Attenuator (Anritsu MN924C)

Pembimbing : Bpk. Azrial

Hasil : OK

Kesimpulan :

 Optical Varible Attenuator dipakai sebagai pengganti rugi-rugi yang terjadi di

sepanjang saluran karena pengukuran tidak dilakukan di lapangan, sehingga

dapat diatur intensitas rugi-ruginya. Laser Source dapat disimulasikan sebagai

terminal A (transmitter) dan Power Meter sebagai treminal B (receiver).

 Pada saat laser ditembakkan oleh Laser Source sampai menuju teminal B, maka

Power Meter akan menampilkan besarnya total loss di sepanjang saluran antara

treminal A sampai terminal B.

 Misal pada layar Power Meter menunjukkan nilai -20 dBm dengan cara

mengatur Optical Varible Attenuator, maka besarnya total loss di sepanjang

saluran antara terminal A dan terminal B adalah sebesar -20 dBm, sehingga

dapat dihitung jarak dari terminal A sampai terminal terminal B, yaitu sebesar ±

66,67 km.





V.2 Penyambungan Kabel Serat Optik

V.2.1 Hal-hal yang harus diperhatikan :

a. Sambungan kabel merupakan titik rawan terjadinya gangguan.

b. Hal tersebut disebabkan karena saat penanganannya tidak mengikuti prosedur

yang ditentukan.

V.2.2 Prosedur Penyambungan Kabel Serat Optik

a. Penyambungan kabel serat optik harus sesuai prosedur.

b. Penggunaan peralatan dan material harus benar.

c. Pengetesan harus dilaksanakan setelah selesai penyambungan.

V.2.3 Penyambungan Kabel Serat Optik

Penyambungan kabel serat optik terdiri dari :

 Penyambungan kabel.





38

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Penyambungan serat.

Pertama yang harus dilakukan adalah penanganan sarana sambung kabel ( SSK ) lalu

penyambungan serat.

 PENYAMBUNGAN KABEL (PENANGANAN CLOSURE)

- Jenis penyambungan (Sarana Sambung Kabel) kabel :

UCSO 4-6 ( Universal Closure Serat Optik ).

- Fungsi sarana sambung kabel (closure) adalah untuk melindungi dan

menempatkan tray agar terhindar dari pengaruh mekanis.

 SARANA SAMBUNG KABEL

Syarat yang harus dipenuhi, yaitu harus mampu melindungi fiber dari gangguan

alam dan mekanis seperti :

* Air * Tension

* Panas * Bending / Tekukan

* Getaran * Reaksi kimia

 PENANGANAN SARANA SAMBUNG KABEL (CLOSURE) :

Prosedur penanganan sarana sambung kabel harus memperhatikan hal-hal sebagai

berikut :

- Tangan, kabel dan SSK harus bersih.

- Sealing cord, sealing tape atau sealing ring harus bersih.

- Ikuti prosedur yang ada.

 MATERIAL :

Material penyambungan kabel serat optik klarifikasikan menjadi dua bagian yaitu

:

- Material khusus

- Material umum.

 PENYAMBUNGAN SERAT OPTIK

Dalam penyambungan serat ada 2 cara :

 Secara fusion









39

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL









Gambar 1. Penyambungan secara fusion









 Secara mekanik (sementara )









Gambar 2. Penyambungan secara mekanik.





 RUGI RUGI PENYAMBUNGAN

1. Rugi-rugi penyambungan dpat terjadi karena :

 Perbedaan struktur fiber.









Gambar 3. Diameter core tidak sama Gambar 4. Diameter core tidak center







40

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Kualitas penyambungan.









Gambar 5. Permukaan fiber tidak rata Gambar 6. Sumbu fiber tidak

sejajar









Gambar 7. Penyimpangan sudut Gambar 8. Ujung fiber jauh





2. Kualitas penyambungan

Untuk mendapatkan hasil penyambungan yang baik harus diperhatikan :

 Kualitas kabel sesuai spesifikasi.

 Alat sambung yang baik.

 Lingkungan harus bersih.

 Jointer harus berpengalaman.









41

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB VI

PEMELIHARAAN PERANGKAT DAN JARINGAN KABEL OPTIK





I. PEMELIHARAAN RUTIN

Pemeliharaan rutin dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Pemeliharaan Rutin Perangkat SKSO / OLTE, meliputi :

 Pemeliharaan Harian : Check-list Perangkat OLTE.

 Pemeliharaan Mingguan :

Agar peralatan dan material kerja siap pakai, perlu dilakukan pemeliharaan

setiap minggu satu kali yang meliputi pengecekan, pengetesan dan pembersihan

fisik antara lain sebagai berikut :

a. Alat sambung kabel serat optik (splicer).

b. Alat ukur kabel serat optik (OTDR).

c. Generator Set.

d. Mobil SKSO.

e. Alat komunikasi (Talk Set).

f. Power Meter.

g. Sarana penunjang lainnya.

 Pemeliharaan Bulanan :

1. Pengecekan Manhole/Handhole

Untuk menghindari gangguan pada titik sambung (joint closure) akibat

masuknya air/lumpur pada Manhole/Handhole dan menghilangnya tanda-tanda

yang terdapat pada kabel pada Manhole/Handhole perlu dilakukan hal-hal

sebagai berikut :

a. Bersihkan/kuras Manhole/Handhole yang terdapat pda titik sambung kabel

optik secara rutin sesuai jadwal pemeliharaan.

b. Cek kondisi stopper yang menutupi lubang-lubang polongan, bila terjadi

penyimpangan segera diadakan perbaikan untuk mencapai kondisi

seharusnya.









42

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







c. Cek kondisi kabel dan penyangga kabel beserta aksesorisnya, bila ada yang

kurang/terlepas segera diperbaiki/diganti.

d. Mengganti tanda pada kabel jika tanda pada kabel yang sebelumnya hilang,

untuk mempermudah mengetahui jenis kabel yang ada pada

Manhole/Handhole tersebut.

e. Cek kondisi tutup Manhole/Handhole bila ada yang rusak atau catnya

kusam segera diganti/dicat ulang.

f. Sehabis bekerja pada Manhole/Handhole jangan kupa menutup kembali

tutup Manhole/Handhole dengan rapat dan sempurna.

g. Memberi tanda berupa patok pada Manhole/Handhole yang berada pada

posisi rawan, persawahan dan perbukitan.

2. Patroli Kabel Serat Optik Tanah (Buried Cable)

Pelaksanaan patroli dengan menelusuri rute kabel sejauh 6 km/hari, agar

situasi dan kondisi kabel optik dapat diketahui sedini mungkin perlu dilakukan

hal-hal sebagai berikut :

a. Cek pipa besi galvanis jembatan kabel pada penyeberangan sungai.

b. Cek tiang beserta aksesorisnya, pondasi dan kawat duri sebagai pengaman,

bila terjadi kerusakan segera dilaksanakan perbaikan.

c. Cek rute dan tanda rute (rambu-rambu) untuk mengetahui kondisi

lingkungan disekitar rute kabel, apabila terdapat hal-hal yang

membahayakan kabel serat optik, misalnya longsor, rumput tinggi dan

pepohonan, kegiatan penduduk karena adanya pemukiman baru serta proyek

PU/PERUMKA maka segera diambil langkah-langkah pengamanan

maupun perbaikan.

d. Cek lokasi Manhole/Handhole tempat sambungan, untuk mengetahui

kondisi lingkungan sekitar, bila terjadi hal-hal yang membahayakan segera

dilaksanakan langkah pengamanan.

e. Mengganti tanda rute kabel yang berupa patok apabila patok yang lama

hilang/rusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.









43

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







3. Patroli Kabel Serat Optik Udara (Aireal Cable)

a. Cek pepohonan dan rerumputan sekitar rute yang dilewati kabel serat optik,

bila membahayakan perlu dilakukan perambahan dan pemotongan.

b. Cek kondisi joint closure yang berada di tiang atau di Handhole, bila

membahayakan perlu dilakukan pengamanan.

c. Patroli dilaksanakan dengan jalan kaki menelusuri rute kabel sejauh 7

km/hari, agar situasi kabel dapat diketahui sedini mungkin.

4. Pengecatan Tiang, Jembatan Kabel dan Rambu-rambu Rute

Untuk menghindari warna yang kusam/kotor maupun berlumut pada tiang,

jembatan dan rambu-rambu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Bersihkan tiang, jembatan dan rambu-rambu rute kabel dari rumput ilalang

dan pepohonan.

b. Pengecatan tiang menggunakan cat warna hitam dengan strip putih 0,5 m

dan berjarak 1,5 m dari tanah.

c. Memperbaiki posisi tiang yang miring agar kembali tegak.

d. Pengecatan jembatan kabel dengan warna silver dan diberi pengaman kawat

berduri yang melingkar disepanjang pipa jembatan.

e. Pengecatan rambu-rambu rute kabel.

f. Kencangkan/ganti tembarang.

 Pemeliharaan 6-Bulanan :

Pengukuran core yang kosong dilakukan dua kali dalam setahun yang meliputi :

a. Mendeteksi penigkatan loss kabel (dB/km).

b. Mendeteksi peningkatan loss pada titk sambung.

c. Mendeteksi kerusakan fisik serat optik (lokalisir gangguan).

 Pemeliharaan Tahunan :

a. Pengukuran Optical Output Power.

b. Pengukuran BER (Bit Error Rate).

c. Alarm test.

d. Pengukuran Sensitivitas dan Margin Receiver.

e.







44

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







2. Pemeliharaan Rutin Jaringan Kabel Optik :

 Pemeliharaan 2 - Mingguan :

1. Patroli Jarkab Optik Kabel Udara.

2. Patroli Jarkab Optik Kabel Tanah.

3. Patroli Jarkab Optik Kabel Duct.

 Pemeliharaan 6 - Bulanan :

Pengukuran Core Optik yang Idle meliputi;

a. Kontinuitas Fiber Optik ( OTDR )

b. Redaman total antar terminal ( Laser Source dan Power meter ).





II. Pemeliharaan Dadakan

Pemeliharaan dadakan juga dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Pemeliharaan Dadakan Perangkat SKSO / OLTE.

Pada kondisi operasi normal (tidak terjadi ganguan sistem). Padsa waktu terjadi

gangguan pada sistem maupun perngkat, unutk mengatasi hal ini maka modul yang

mengalami alarm segera diganti.

2. Pemeliharaan Dadakan Jaringan Kabel Optik.

Pemeliharaan dadakan pada kabel serat optik terjadi apabila kabel serat optikyang

digunakan sebagai media transmisi terputus. Putusnya kabel serat optik ini dapat terjadi

karena beberapa factor, yaitu terkena senapan angina, gesekan benang layang-layang,

proyek pemerintah dan kegiatan masyarakat.





III. Pemeliharaan Power Feeding Equipment (untuk SKKL)

1. Pemeliharaan harian

 Visual check semua perangkat

 Pembacaan tegangan dan arus output

 Tegangan dan arus output pada kertas recorder

 Pengaturan kesetimbangan tegangan converter

 Pengaturan kesetimbangan dan arus pada control arus









45

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







2. Pemeliharaan mingguan

 Pembersihan perangkat luar

 Tegangan dan arus output CTE

3. Pemeliharaan 2 mingguan

 Penggantian kertas recorder

4. Pemeliharaan 3 bulanan

 Pengukuran tegengan input output power supply

 Pemeriksaan fungsi alarm

 Pengaturan level alarm

5. Pemeliharaan tahunan

 Karakteristik tegengan dan arus output

 Pemeriksaan fungsi elektroding

Pada pemeliharaan power feeding tahunan, juga dilakukan pengukuran tegangan

PFE secara berikut :

1. Pengukuran Both Feeding

Yaitu pengukuran yang dilakukan oleh 2 stasiun landing point untuk

mengetahui apakah catuan repeater bawah laut baik.

2. Pengukuran Single Feeding

Yaitu pengukuran yang dilakukan oleh 1 stasiun landing point untuk

mengetahui apakah dengan menggunakan satu perangkat PFE bisa mencatu

semua repeater. Operasi Single Feeding dilakukan bila ada salah satu perangkat

PFE yang jatuh.





IV. Pemeliharaan Rutin Repeater Supervisory Equipment

 Pemeliharaan Harian

Visual check semua parangkat

 Pemeliharaan Mingguan

Pemeliharaan perangkat tampak luar

 Pemeliharaan Bulanan

Penyimpanan dari hardisk ke kaset atau pita





46

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







 Pemeliharaan 3 Bulanan

- Pengukuran tegangan output power supply

- Pemeriksaan fungsi alarm

- Pemeriksaan fungsi perangkat RSE

 Pemeliharaan 6 Bulanan

- Pemeliharaan panel SIG / SV-1

- Pemeliharaan panel BER / SIV-1

 Pemeliharaan Tahunan

- Penggantian kertas printer

- Penggantian pita printer









47

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







BAB VII

PENUTUP





7.1 Kesimpulan

Selama melakukan Kerja Praktek di PT.Telkom Area Network Surabaya Timur, kami

mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah kami

dapat di bangku perkuliahan. Tentunya pengetahuan yang kami dapatkan berkaitan dengan

Sistem Komunikasi Serat Optik yang dewasa ini merupakan salah satu teknologi komunikasi

yang berkembang sangat pesat, bahkan akan menjadi trend sebagai media penyalur data untuk

komunikasi yang akan datang.

Tidak salah kiranya apabila kami mengambil Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO)

sebagai objek Kerja Praktek., karena SKSO mempunyai banyak kelebihan dibandingkan

dengan sistem komunikasi lainnya, seperti Komunikasi Satelit (KOMSAT), Sistem Radio

GMD, dan sistem-sistem komunikasi lainnya.

Hal inilah yang perlu dikaji dan dilakukan terobosan baru dalam Sistem Komunikasi

Serat Optik. Setelah kami menyelesaikan laporan Kerja praktek ini, selanjutnya kami dapat

mengambil kesimpulan, yaitu :

1. Serat Optik terdiri dari Core, Cladding,, dan Coating.

2. Sumber cahaya yang biasa digunakan dalam Serat Optik adalah LD (Laser Diode) dan

LED (Light Emithing Diode).

3. Kelebihan penggunaan Serat Optik dibandingkan dengan media transmisi yang lainnya

antara lain :

Redaman transmisi sangat kecil.

Mempunyai bidang frekuensi yang lebar yaitu 1013 sampai 1016.

Ukuran fisiknya kecil dan ringan.

Kebal terhadap gangguan gelombang Elektromagnetik.

Dapat menyalurkan informasi Digital dengan kecepatan yang sangat tinggi yaitu

sama dengan kacepatan cahaya (3.108 m/s).

Kerahasiaan informasi terjaga dengan baik.

Tidak berkarat dan tidak memiliki Crosstalk.







48

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL







4. Kerugian penggunaan Serat Optik dibandingkan dengan media transmisi yang lainnya

antara lain:

Konstruksi Serat Optik cukup lemah, maka dalam pemakaiannya diperlukan lapisan

penguat sebagai proteksi.

Karakteristik transmisi dapat berubah jika terjadi tekanan dari luar yang berlebihan.

Tidak dapat dilewati arus listrik sehingga tidak dapat memberi catuan pada

pemasangan repeater.

Relatif sulit pada saat instalasi Kabel Serat Optik.

5. Perawatan jaringan Serat Optik dapat dikategorikan sebagai berikut :

Perawatan rutin, yaitu perawatan yang dilakukan setiap jangka waktu tertentu secara

rutin. Perawatan ini meliputi pengecekan semua perangkat pada tiap Terminal dan

Repeater.

Perawatan dadakan, yaitu perawatan yang dilakukan apabila ada Kabel Optik yang

putus, perawatan ini meliputi penyambungan kabel dan pengetesan pada terminal

terdekat.

6. Pada saat proses Splicing sangat dibutuhkan kesabaran dan ketelitian karena proses ini

membutuhkan waktu yang lama dan Core yang telah dikupas harus dibersihkan sampai

nilai lossnya mencapai nilai Loss maksimum yang diizinkan.

7.2 Saran

1. Praktek kerja sebaiknya tidak hanya dilakukan di lingkungan kantor saja, tetapi juga

dilakukan di lapangan.

2. Jika melaksanakan Trouble Shooting di lapangan, sebaiknya praktikan yang melaksanakan

Kerja Praktek diikutsertakan., sehingga para praktikan tersebut bisa mendapatkan

pengalaman tentang cara mengatasi Trouble Shooting secara langsung.

3. PT. TELKOM sebaiknya lebih mempererat hubungan kerjasama dengan pihak sekolah

atau instansi terkait, terutama dalam pembinaan pendidikan (Education).

Demikian kesimpulan dan saran yang dapat kami sampaikan, semoga berkenan dan

dapat menjadi masukan yang bermanfaat, khususnya dalam upaya meningkatkan mutu dan

kualitas pelayanan PT.TELKOM kepada masyarakat, serta agar Sistem Komunikasi Serat









49

Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Area Network Surabaya Timur Divisi INFRATEL



Optik bisa berkembang lebih pesat dalam memudahkan komunikasi di dunia global pada

umumnya.









50



Related docs
Other docs by Kerala g
union-budget-2012-13-highlights
Views: 89  |  Downloads: 0
notification M.Tech_05-03-09
Views: 58  |  Downloads: 0
India_Customs Regulation 1
Views: 55  |  Downloads: 0
CE Notification 39-2011-12.9.2011
Views: 53  |  Downloads: 0
STATISTICS
Views: 71  |  Downloads: 0
A Hero (R.K. Narayan)
Views: 88  |  Downloads: 6
RRBPatna-Info-HN
Views: 100  |  Downloads: 0
RRB-Notice-Para
Views: 102  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!