Embed
Email

Stop Tradisi Kekerasan REPUBLIKA_ Jumat_ 16 April 2010 pukul 10 ...

Document Sample

Shared by: gegeshandong
Categories
Tags
Stats
views:
0
posted:
12/8/2011
language:
pages:
3
Stop Tradisi Kekerasan

REPUBLIKA, Jumat, 16 April 2010 pukul 10:48:00





Marwan Ja'far

(Ketua Fraksi PKB DPR RI)



Wajah negeri ini kembali dilanda amuk yang tidak perlu. Penertiban lahan yang dilakukan

oleh ribuan Satpol PP dan polisi justru berbuah bentrok selama belasan jam dengan warga

setempat. Setidaknya dua orang tewas, ratusan orang dari kedua belah pihak terluka,

puluhan truk dan bus dibakar, ribuan kontainer tidak bisa melakukan bongkar muat, dan

kerugian akibat kerusuhan diperkirakan mencapai ratusan miliar. Sontak, semua pihak

menyesalkan dan sangat prihatin dengan terjadinya insiden berdarah tersebut. Tak kurang,

para pimpinan organisasi kemasyarakatan hingga pejabat tinggi negara langsung

mengeluarkan pernyataan keprihatinan terkait huru-hara Priok. Bahkan, Presiden SBY

dengan tegas meminta agar bentrokan fisik dan penertiban dihentikan.



Efek demonstratif, ekonomi, dan sosial sangatlah besar. Terlebih, peristiwa tersebut terjadi

di ibu kota negara. Dampak kerusuhan secara psikologis tidak hanya melanda warga ibu

kota, tetapi meluas ke seantero negeri. Bangsa ini seolah tidak juga belajar dari pengalaman

bahwa bentrokan fisik hanya akan menimbulkan kerugian materiil dan jiwa yang tak

terkira. Bukankah sejarah negeri ini telah menunjukkan bahwa kekerasan fisik begitu

mudah meletupnya dan sulit menghentikannya?



Inilah amuk terparah di Tanjung Priok sejak kasus serupa terjadi pada 1984 yang

menewaskan Amir Biki. Pemicu pertikaian pun tidak jauh berbeda, yakni persinggungan

dengan keyakinan (tradisi) keagamaan. Jika pada 1984 bentrok terjadi hanya dikarenakan

seorang aparat yang masuk masjid tanpa membuka alas kaki, rusuh Priok kemarin dipicu

oleh santernya kabar bahwa kompleks makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

(yang lebih dikenal dengan Mbah Priuk) akan digusur paksa. Sementara bagi pemerintah

daerah, langkah penertiban tersebut adalah upaya menegakkan hukum, bukan penggusuran

makam keramat.



Merampas Spiritualitas

Negara (baca: pemerintah daerah) dinilai kurang mencermati dan kurang peka terhadap

perkembangan di masyarakat dan kompleksitas persoalan yang mengitari areal makam

Mbah Priuk. Hal ini ditandai dengan kecerobohan Pejabat daerah DKI yang lebih memilih

cara mudah untuk menghadapi pihak yang mempertahankan makam dan lahannya dengan

mengerahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Pemda tampaknya begitu yakin

bahwa penertiban dengan menggunakan Satpol PP akan menghasilkan 'business as usual',

yakni terlaksananya penertiban (penggusuran) lahan tanpa ada perlawanan yang berarti dari

warga.



Namun, di makam Mbah Priuk, tradisi Satpol PP 'main gusur' membentur tembok

perlawanan tradisi spiritualitas masyarakat. Sebab, lahan yang hendak ditertibkan tersebut

bukanlah menjadi monopoli 'ahli waris makam', melainkan sudah menjadi semacam situs

religius milik mayoritas umat Islam Jakarta dan sekitarnya. Bagi sebagian besar umat

Islam--apalagi warga Nahdliyin--kebiasaan 'ngalap berkah' ke makam-makam para wali

Allah adalah tradisi spiritualitas yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan

bahkan sudah seperti ritual keagamaan yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi mereka,

melindungi makam waliyullah sama berharganya dengan rasa kecintaaan dan

penghormatan mereka kepada waliyullah itu sendiri. Karena itu, tindakan Satpol PP dan

Pemda DKI dibaca oleh warga sebagai bentuk 'perampasan' terhadap salah satu sumber

energi spiritualitas dan tradisi keagamaan mereka.



Karena itu, mempertahankan makam--meski harus dengan jalan kekerasan--dengan tetesan

darah dan nyawa sekalipun adalah risiko yang pantas diambil sebagai bentuk pembelaan

atas tradisi keagamaan yang mereka yakini.



Inilah tradisi dan budaya keagamaan yang tidak pernah mampu dibaca dengan baik oleh

pemerintah daerah. Para pemangku kebijakan cenderung masih menggunakan paradigma

pembangunan warisan Orde Baru, yakni 'main tertib' bahkan 'main gusur' tanpa

mengindahkan tradisi dan budaya keagamaan yang dianut oleh masyarakatnya. Mereka

lupa bahwa negara ini ditegakkan salah satunya oleh tradisi spiritual mayoritas warga

negaranya yang memanjatkan doa-doa keselamatan dan kesejahteraan bagi negara di

makam-makam keramat waliyullah di penjuru negeri.



Dalam konteks insiden Priok sulit dimungkiri bahwa Pemda DKI dengan Satpol PP-nya

telah mengadopsi pemahaman Weber dan Hobbes, yang menempatkan kekuasaan

berdampingan dengan kekerasan. Pemda menggunakan kekerasan saat hendak menggusur

kaum marginal. Entah itu dibungkus dengan Satpol PP atau aparat lain, tetapi tetap saja ada

praktik kekerasan. Kesannya tak ada cara yang persuasif dan lebih humanis. Jika adopsi itu

berlanjut, mustahil menghentikan kekerasan. Artinya, selama Pemda DKI masih

mempraktikkan kekerasan, praktik ini menular ke masyarakat.



Siapa pun yang duduk sebagai penguasa lebih mengedepankan kekuasaan komunikatif

ketimbang menjalani kekuasaan administratif di mana negara bersinergi dengan kekuasaan

ekonomis. Salah satu syarat utama untuk mewujudkannya, pejabat Pemda DKI harus

memerankan diri sebagai pemimpin dialogis. Pemimpin dialogis tersebut harus terbuka dan

komunikatif. Pejabat pemda dengan penuh kesabaran harus mau mendengar, bukan hanya

menuntut didengar. Suara warga adalah inspirasi dan sumber kebijakan pemimpin itu

sehingga setiap keputusan yang dibuat tetap menghormati peran warga negara. Karena itu,

sejak sekarang simpan tameng dan pentungan Satpol PP, gantikan dengan senjata dialog,

rasionalitas, dan tindakan komunikatif. Sebab, apa pun yang dilakukan oleh pemerintah

daerah harus berbasis kemauan rakyat. Inilah substansi dari kekuasaan komunikatif.

Terakhir, tragedi Priok hendaknya dijadikan momentum bagi pemerintah provinsi untuk

mengevaluasi cara penertiban dan pelaksanaan tugas Satpol PP dalam menegakkan

peraturan daerah dan peraturan gubernur.



Fungsi dan tugas Satpol PP mendesak dievaluasi dan direformasi karena selama ini tidak

efektif dan tidak manusiawi dalam menjalankan tugas-tugas lapangannya. Jika perlu

ditiadakan saja alat pemerintah daerah yang satu ini, sebab sudah ada aparat kepolisian

yang jauh lebih terlatih dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan penanganan

penertiban umum.



(-)



Related docs
Other docs by gegeshandong
Chapter 10 Slides-Cavico
Views: 0  |  Downloads: 0
100 Mile Club tracking sheet
Views: 3  |  Downloads: 0
lit11-12
Views: 0  |  Downloads: 0
Terranora Primary.xlsx
Views: 0  |  Downloads: 0
Study Guide Chp 17_ 19-20
Views: 0  |  Downloads: 0
8
Views: 7  |  Downloads: 0
1735-1250240321-jh09cp_ladies_footwear_wk24
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!