MANDI BERSAMA SUAMI-ISTRI

Shared by: GqQo952K
Categories
Tags
-
Stats
views:
231
posted:
12/8/2011
language:
Malay
pages:
13
Document Sample
scope of work template
							SUAMI DAN ISTERI
 MANDI BERSAMA
   Segala puji hanyalah milik ALLAH, Rabb yang Maha Suci lagi Maha Agung, Maha
   Pengasih, Maha Penyayang, penguasa alam semesta. Salam dan selawat semoga
senantiasa kepada kekasih-NYA yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Didalam syariat islam, perkawinan atau percampuran antara seorang lelaki dan seorang
      perempuan yang diikat dengan perjanjian agama adalah perkara yang wajib
dilaksanakan. Perkawinan dimaksudkan sebagai sarana menyalurkan kebutuhan biologis
 manusia berupa hawa nafsu syahwat terhadap lawan jenisnya. Itu adalah kodrat dari
ALLAH subhanahu wa ta’ala yang diberikan-NYA kepada semua makhluk-NYA apakah itu
                    manusia, jin, hewan bahkan tumbuh-tumbuhan.
Adapun tentang manusia, antara hubungan suami dan istri terdapat banyak kebebasan
 yang diperbolehkan dalam Islam. Diantaranya adalah mandi bersama. Perkara ini bagi
kebanyakan bangsa kita orang-orang Melayu tentunya akan mereka bantah dan ditolak.
                  Karena dianggap tidak memiliki adab kesopanan.
     Tetapi jika kita jujur dengan agama Islam ini, dengan kuatnya dalil hadis yang
mengajarkan, tentunya penolakan itu tidak beralasan. Sehingga bagi suami/isteri muslim
yang cinta Rasul jika mereka berkenan, halal saja mereka mengikuti sunnah Rasulnya ini.
               Tujuannya supaya cinta kasih antara suami-isteri tetap utuh.


                     Cinta-Rasul-Owner@yahoogroups.com
             HADIS SAHIH TENTANG MANDI BERSAMA




Dari Ummu Salamah, ia berkata: Ketika aku sedang berbaring bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid,
maka aku keluar dengan pelan-pelan lalu mengambil pakaian khusus waktu
haid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bertanya kepadaku: Apakah
kamu haid? Aku jawab: Ya. Beliau shallallahu 'alaihi wassalam memanggilku
dan aku kembali berbaring bersama beliau dalam satu selimut. Zainab binti
Ummu Salamah berkata: Dia (Ummu Salamah) dan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wassalam mandi jinabat bersama dalam satu bejana.
[Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan Ad Darami]
            HADIS SAHIH TENTANG MANDI BERSAMA




Dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Aisyah menyampaikan bahwa Abdullah bin
Amru memerintahkan para wanita untuk mengurai rambutnya apabila mereka
mandi. Aisyah berkata: Betapa anehnya Ibnu Amru ini, dia menyuruh kaum
wanita untuk menguraikan rambutnya saat mandi, mengapa tidak menyuruh
agar mencukur rambutnya saja? Sesungguhnya aku pernah mandi bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam dari satu wadah dan aku tidak
menyiram kepalaku lebih dari tiga siraman.
[Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan Ad Darami]
       HADIS SAHIH TENTANG MANDI BERSAMA

Dari Aisyah, ia berkata: Aku mandi berduaan dengan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wassalam dari satu bejana yang isinya lebih kurang
tiga mud air (15 liter).
[Muslim]


Dari Aisyah, ia berkata: Aku mandi berduaan dengan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wassalam dari satu bejana, sehingga tangan kami
saling bergantian masuk ke dalam bejana itu. Padahal ketika itu kami
sama-sama mandi junub.
[Muslim]


Dari Aisyah, ia berkata: Saya mandi dan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wassalam (juga ikut mandi) dari air satu bejana yang disebut bejana
Al Faraq (volume 15 liter).
[Bukhari]
      HADIS SAHIH TENTANG MANDI BERSAMA




Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Maimunah (istri Nabi SAW) mengabarkan
kepada saya bahwa ia mandi (berduaan) bersama dengan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wassalam dari satu bak.
[Bukhari, Muslim. Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah & Ahmad]

             --------------------------------------------------

Dari „Aisyah, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama dengan Nabi
Shallallahu „Alaihi wa Sallam dengan satu bejana. Kami biasa
bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).”
[HR. Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah]
      HADIS SAHIH TENTANG MANDI BERSAMA

Dari Aisyah, ia berkata: "Saya dan Rasulullah pernah mandi bersama
dengan satu wadah. (Kami bergantian menyiduknya). Beliau sering
mendahuluiku dalam menciduk sehingga aku mengatakan, “Sisakan
untukku, sisakan untukku!” Padahal ketika itu kami sama-sama dalam
keadaan junub."
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Awanah]
Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wa sallam, seorang hamba pilihan Allah, Rasul terakhir, teladan kita; tidak
segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau, dalam hadits di atas,
beliau Shallallahu „Alaihi wa Sallam mandi bersama dengan „Aisyah dalam
satu kamar mandi dengan bak yang sama.
Betapa mesra apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa
Sallam dengan istri beliau. Beliau yang super sibuk mengurus ummat,
menyebarkan dakwah Islam, mengajarkan Quran, dan lain sebagainya
namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istri beliau.
Apabila beliau bermesra-mesra dengan istrinya, apakah kita tidak boleh
mengikuti Rasul??? Bukankah Rasulullah itu suri tauladan umat muslim???
Mandi bersama antara suami dan istri bukan suatu hal yang tercela.
Junjungan kita, teladan ummat ini, manusia terbaik di sisi Allah Subhanahu
wa Ta‟ala, Rasullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam telah melakukannya.
Apabila hal ini merupakan hal yang tercela, tentulah beliau Rasulullah
Shallallahu „Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya. Jika perkara mandi
bersama itu taboo, tentunya para istri Nabi tidak akan menceritakannya
dalam hadis-hadis sahih seperti Bukhari dan Muslim yang kita claim sebagai
sumber dalil terkuat kedua sesudah Al Qur‟an.
Dengan mandi bersama, akan terwujud suatu kemesraan, jika hal ini biasa
dilakukan oleh pasangan suami istri, insya Allah akan terwujud suatu ikatan
yang kuat antara suami dan istri. Mandi bersama, merupakan salah satu
langkah untuk mengakrabkan dan melestarikan kemesraan antara suami
dan istri. Dengan mandi bersama, kejenuhan, kebosanan, ketegangan
antara suami-istri dapat hilang dan berganti dengan suasana penuh
kedamaian dan ketentraman. Tidak percaya? Silakan anda coba sendiri
dengan pasangan anda.
Oleh karena itu, bila seorang suami minta istrinya menemani mandi,
janganlah istri menolak, demikian juga sebaliknya. Bila suami meminta istri
tuk mengeramasi, menggosokkan sabun di badannya, meluluri badannya;
istri tidak perlu risih, malu atau menganggap suaminya kekanak-kanakan.
Demikian juga sebaliknya. Istri pun boleh melakukan permintaan yang sama
kepada suami. Hal ini bukan hanya monopoli pihak suami. Bukan lah hal
tercela atau aib jika suami melakukan hal-hal di atas.
Mandi bersama antara suami dan istri ini, di antara sebagian pasangan
merupakan hal yang tabu dan tercela. Entah apa alasan mereka. Ada yang
karena malu, ada yang jijik dan sebagainya. Atau mereka menyebutnya
tasyabbuh menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Bagi mereka yang
memiliki pandangan seperti ini, hendaklah mereka takut kepada Allah dan
segera bertaubat kepada Allah. Secara tidak sadar, dan tanpa sengaja;
mereka telah menuduh Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam melakukan
perbuatan yang tidak patut dan tercela. Siapa yang mensyariatkan khitan?
Bukankah itu syariat Allah??? Bahkan orang-orang kafir kemudian
mengikutinya.
Padahal Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling
baik akhlaqnya di muka bumi ini. Apabila hal tersebut (mandi bersama)
merupakan hal yang tidak terpuji, apalagi melanggar syariat Allah
Subhanahu wa Ta‟ala; tentulah Allah Azza wa Jalla akan menegur
Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam sebagai bukti kemaksuman beliau.
Namun hal ini tidak terjadi, alhamdulillah. Jika mandi bersama ini
merupakan suatu hal yang memalukan, tentulah Ummahatul Mukminin,
Aisyah radhiyallahu „anha tidak akan menceritakan hadits ini kepada kita
semua. Bukankah begitu?
Sebagian orang berpendapat bahwa Aisyah dan nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam mandi bersama dalam satu wadah itu tidak telanjang bulat. Mereka
juga beranggapan bahwa selama menikah dengan, Aisyah tidak pernah
melihat alat vital nabi.
Bahkan mereka memiliki keyakinan bahwa nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam melarang untuk melihat kemaluan istri karena mewariskan
kebutaan. Begitulah tradisi Kyai-kyai Melayu dalam ceramahnya yang
mengatakan, “seandainya ada manusia yang melihat alat kelamin Rasul,
niscaya ia akan buta karena cahaya nur Muhammad dan kutukan Allah.”
Masya Allah, mereka mendustakan ALLAH dan Rasul-NYA.
Lebih baik kita puas dengan istri kita yang satu, daripada memilih poligami
dengan alasan servis isteri tidak memuaskan.
Dari Muawiyyah bin Haidah RA: "Saya pernah bertanya kepada Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, manakah di antara aurat-
aurat kami yang boleh kami perlihatkan dan manakah yang tidak?'
Beliau menjawab, “Peliharalah auratmu kecuali kepada istri atau budak laki-
lakimu.”
Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagiamana jika ada sekumpulan
orang, apakah mereka boleh saling melihat aurat mereka satu sama lain?”
Beliau menjawab, “Jika Engkau bisa, usahakan jangan sampai ada seorang
pun yang melihat auratmu!"
Saya lalu bertanya lagi, "Kalau salah seorang dari kami dalam keadaan
sendirian?"
Beliau menjawab, “Dia lebih layak malu kepada Allah daripada kepada
sesama manusia."
[HR. Nasai dalam bab: Istri Melihat Aurat Suaminya]

						
Related docs
Other docs by GqQo952K
High Energy Density Science and
Views: 3  |  Downloads: 0
KARACIGERDE TUZAK LEZYONLAR
Views: 586  |  Downloads: 0
Podr�ka***
Views: 8  |  Downloads: 0
??? ? ??? ???
Views: 41  |  Downloads: 0
MUHASEBE MESLEGI NEDIR? KA�A AYRILIR?
Views: 50  |  Downloads: 0
Una Breve Introduzione a EViews
Views: 13  |  Downloads: 0
Modlitby
Views: 8  |  Downloads: 0
Gas Plants
Views: 17  |  Downloads: 0
REPUBLIKA SRBIJA - Download as DOC
Views: 21  |  Downloads: 0