askeb kespro suspact infertil by tiramun10

VIEWS: 2,153 PAGES: 54

									                                             BAB I

                                    PENDAHUALUAN



I.1   LATAR BELAKANG

                 Sekalipun gerakan keluarga berencana sangat gencar di galakan, tetapi ada
      beberapa masyarakat yang sangat mendambakan keturunan karena telah cukup waktu untuk
      menanggungnya namun belum berhasil. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000
      pasangan suami istri di Indonesia sekitar 12% atau sekitar 3 juta pasangan mengalami infertil.
      Dan baru sekitar 50% dari pasangan tersebut yang berhasil ditolong untuk menangani
      masalah infertil dan selebihnya harus mengadopsi atau hidup tanpa seorang anak. Berkat
      kemajuan teknologi kedokteran, beberapa pasangan telah dimungkinkan memperoleh anak
      dengan jalan inseminasi buatan donor, “ bayi tabung “, atau membesarkan janin didalam
      rahim wanita lain.

                 Namun infertilitas masih menjadi masalah sebagian pasangan suami istri, hal ini
      dikarenakan kemungkinan untuk mendapatkan seorang anak masih kecil. Di Indonesia sendiri
      masih langka sekali dokter yang berminat dalam ilmu infertilitas. Faktor kurangnya
      pengetahuan tentang kesuburan dan infertil juga menjadi faktor penyebab masih tingginya
      angka infertilitas. Selain itu, faktor-faktor seperti kesehatan lingkungan, gizi, dan status
      ekonomi juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Penanganan pasangan mandul atau kurang
      subur ( infertilitas ) merupakan masalah medis yang kompleks dan menyangkut beberapa
      disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan konsultasi pemeriksaan yang kompleks pula.




I.2   TUJUAN PENULISAN

      I.2.1   TUJUAN UMUM

                     diharapkan Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada keluarga
              dengan gangguan reproduksi dengan menerapkan manajemen asuhan kebidanan.




                                                                                                  1
      I.2.2   TUJUAN KHUSUS

                 1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian subjektif maupun objektif pada
                     keluarga dengan gangguan reproduksi

                 2. Mahasiswa mampu untuk menganalisis dan mengidentifikasi kedaan keluarga
                     dengan gangguan reproduksi.

                 3. Mahasiswa        mampu   melaksanakan   serta   mendokumentasikan   asuhan
                     kebidanan yang telah dilakukan.

                 4. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan.




1.3 METODE PENULISAN

       1.3.1 Metode pendekatan yang sifatnya mengungkapkan peristiwa yang terjadi.

       1.3.2 Pengumpulan data dan pengolahan data melalui observasi, wawancara dan

                pemeriksaan fisik.

       1.3.3 Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari petugas kesehatan.

       1.3.4 Sumber teori dari literature.



I.4   MANFAAT PENULISAN

      I.4.1   BAGI PASIEN

                 1. Pasien mendapat keturunan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
                     keluarganya.

                 2. Pasien mendapatkan pelayanan yang bermutu.




      I.4.2   BAGI MAHASISWA

                                                                                             2
                 1. Mahasiswa lebih memahami tentang gangguan reproduksi yang dialaminya.

                 2. Mahsiswa     dapat   meningkatkan     kemampuan       dan   ketrampilan   dalam
                    memberikan asuhan kebidanan pada keluarga dengan gangguan reproduksi.




I.5   SISTEMATIKA PENULISAN

      BAB I         : PENDAHULUAN

              Menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, manfaat, pelaksanaan serta
      sistematika penulisan

      BAB II        : LANDASAN TEORI

              Menguraikan tentang konsep infertilitas, macam – macam infertilitas, definisi
      infertilitas, penyebab, beserta pemeriksaan yang dapat dilakukan.

      BAB III       : TINJAUAN KASUS

              Menguraikan tentang pengkajian data secara subjektif, objektif, diagnoa kebidanan,
      masalah potensial serta terdapat perencanaan langkah – langkah yang akan dilakukan beserta
      evaluasi dan perkembangannya.

      BAB IV        : PENUTUP

              Menguraikan tentang kesimpulan dan saran.

      BAB V         : DAFTAR PUSTAKA

              Menguraikan sumber referensi yang digunakan untuk penulisan.




                                                                                                  3
                                            BAB II

                                    LANDASAN TEORI



2.1   KONSEP DASAR INFERTILITAS

              Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap
      tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi
      karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi
      menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara penggunaannya




2.2   DEFINISI INFERTILITAS

             Fertilitas adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa menghamili.
      Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu
      tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi
      belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).

             Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha
      selama satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).

             Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun. Infertilitas
      primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah hamil.
      (Siswandi, 2006).

2.3   MACAM – MACAM INFERTILITAS

      Ada 2 jenis infertilitas :
          1. Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama
              sekali.
          2. Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah
              itu tidak pernah hamil lagi



                                                                                                    4
2.4    ETIOLOGI INFERTILITAS

              Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian
       membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-55%,
       keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas
       terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri.

              Penyebab infertilitas pada perempuan dan laki – laki adalah sebagai berikut :

      1. Penyebab kemandulan pada perempuan.
                      Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan
         ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi. Salah
         satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah haid yang tidak teratur dan
         haid yang tidak ada sama sekali.

         Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan pada wanita adalah :

         a. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh karena infeksi, endometriosis
            dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik.
         b. Gangguan fisik rahim.
         c. Umur.
         d. Stress.
         e. Kurang gizi.
         f. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
         g. Merokok.
         h. Alkohol.
         i. Penyakit menular seksual.
         j. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan hormon.



      2. Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki
         a. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau tidak
            sama sekali.




                                                                                                 5
         b. Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah ini
             biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
             pergerakannya pun tidak normal.
      Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :

      a. Suka minum alkohol.
      b. Suka menggunakan narkoba.
      c. Polusi udara.
      d. Merokok.
      e. Masalah kesehatan lainnya.
      f. Obat – obatan yang tidak jelas.
      g. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker.
      h. Umur.


2.5    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFERTIL

       Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain :
      1. Pada Perempuan
         a. Hormonal
             Gangguan glandula pituitaria, thyroidea, adrenalis atau ovarium yang menyebabkan :

             1. Kegagalan ovulasi.
             2. Kegagalan endometrium uterus untuk berproliferasi dan sekresi.
             3. Sekresi vagina dan cervix yang tidak menguntungkan bagi sperma.
             4. Kegagalan gerakan ( motilitas ) tuba falopii yang menghalangi spermatozoa
                 mencapai uterus.
         b. Sumbatan
             Tuba falopii yang tersumbat bertanggung jawab untuk kira– kira sepertiga dari
             penyebab infertilitas. Sumbatan tersebut dapat disebabkan :

             1. Kelainan kongenital.
             2. Penyakit radang pelvis umum, misalnya apendisitis dan peritonitis.
             3. Infeksi tractus genitalis yang naik, misalnya gonore.
         c. Faktor Lokal
             Keadaan – keadaan seperti :
                                                                                                  6
      1. Fibroid uterus, yang menghambat implantasi ovum.
      2. Erosi cervix yang mempengaruhi pH sekresi sehingga merusak sperma.
      3. Kelainan kongenital vagina, cervix atau uterus yang menhalangi pertemuan sperma
         ayau ovum.


2. Pada Laki – Laki
   a. Gangguan Spermatogenesis
      Analisis cairan seminal dapat mengungkapkan :

      1. Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter cairan seminel.
      2. Jumlah spermatozoa yang abnormal lebih dari 40% yang berupa defek kepala (
         caput ) atau ekor ( cauda ) yang spesifik. Keadaan ini mungkin karena adanya
         aplasia sel germinal, pengelupasan, atau suatu defek kongenital, atau beberapa
         penyebab yang tidak dapat ditetapkan.
      3. Cairan seminal yang diejakulasikan kurang dr 2 ml.
      4. Kandungan kimia cairan seminal tidak memuaskan, misalnya kadar glukosa,
         kolesterol, atau enzim hialuronidase abnormal dan pH – nya terlalu tinggi atau
         terlalu rendah.


   b. Obstruksi
      1. Sumbatan ( oklusi ) kongenital duktus atau tubulus.
      2. Sumbatan duktus atau tubulus yang disebabkan oleh penyakit peradangan (
         inflamasi ) akut atau kronis yang mengenai membran basalais atau dinding otot
         tubulus seminiferus, misalnya orkitis, infeksi prostat, infeksi gognokokus. Penyakit
         ini merupakan penyebab yang paling umum pada infertilitas pria.


   c. Ketidakmampuan Koitus atau Ejakulasi
      1. Faktor – faktor fisik, misalnya hipospadia, epispadia, deviasi penis sperti pada
         priapismus atau penyakit Peyronie.
      2. Faktor – faktor psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mencapai
         atau mempertahankan ereksi.
      3. Alkoholisme kronik.



                                                                                           7
       d. Faktor Sederhana
          Kadang – kadang faktor – faktor sederhana seperti memakai celana jeans ketat, mandi
          dengan air terlalu panas, atau berganti lingkungan ke iklim tropis dapat menyebabkan
          keadaan luar ( panas ) yang tidak menguntungkan untuk produksi sperma yang sehat.


2.6   PATOFISIOLOGI INFERTILITAS

      a. Wanita
            Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan
         stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak
         adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. Penyebab lain
         yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk
         anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba
         dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari
         ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak
         berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium,
         mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses
         pemasukan sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik
         yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak
         berkembang dengan baik.
            Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga
         terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga
         menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan
         implantasi zigot yang berujung pada abortus.


      b. Pria
           Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan
         hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan
         peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok, penggunaan
         obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan
         libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan

                                                                                               8
         berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi
         abnormalitas     spermatogenesis.     Terjadinya       ejakulasi   retrograt   misalnya   akibat
         pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang
         mengakibatkan komposisi sperma terganggu.


2.7   MANIFESTASI KLINIS

      a. Wanita
             Terjadi kelainan sistem endokrin
             Hipomenore dan amenore
             Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan
                  masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik
             Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak
                  berkembang,dan gonatnya abnormal
             Wanita infertil dapat memiliki uterus
             Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi,
                  adhesi, atau tumor
             Traktus reproduksi internal yang abnormal
      b. Pria
             Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas,
                  radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
             Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
                  Riwayat infeksi genitorurinaria
             Hipertiroidisme dan hipotiroid
             Tumor hipofisis atau prolactinoma
             Disfungsi ereksi berat
             Ejakulasi retrograt
             Hypo/epispadia
             Mikropenis
             Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
             Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
             Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
             Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)

                                                                                                       9
                Abnormalitas cairan semen



2.8    PEMERIKSAAN PADA INFERTILITAS

Pemeriksaan infertilitas dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan, yaitu :

      1. Uji Pascasenggama
                    Walaupun uji Sims – Huhner atau uji pasca-senggama telah lama dikenal di
         seluruh dunia, tetapi ternyata nilai kliniknya belum diterima secra seragam. Salah satu
         penyebabnya adalah karena belum adanya standarisasi cara melakukannya. Kebanyakan
         peneliti sepakat untuk melakukannya pada tengah siklus haid, yang berarti 1 - 2 hari
         sebelum meningkatnya suhu basal badan yang diperkirakan. Akan tetapi, belum ada
         kesepakatan berapa hari abstinensi harus dilakukan sebelumnya, walaupun kebanyakan
         menganjurkan 2 hari. Demikian pula belum terdapat kesepakatan kapan pemeriksaan itu
         dilakukan setelah senggama.

                    Menurut kepustakaan, ada yang melakukannya setelah 90 detik sampai setelah 8
         hari. Sebagaimana telah diuraikan, spermatozoa sudah dapat dampai pada lendir serviks
         segera setelah senggama, dan dapat hidup di dalamnya sampai 8 hari. Menurut Denezis uji
         pasca-senggama baru dapat dipercaya kalau dilakukan dalam 8 jam setelah senggama.
         Perloff melakukan penelitian pada golongan fertil dan infertil, dan berkesimpulan tidak ada
         perbedaan hasil yang antara kedua golongan itu kalau pemeriksaannya dilakukan lebih dari
         2 jam setelah senggama. Jika kesimpulan ini benar, maka uji pascasenggama dilakukan
         secepatnya setelah senggama. Davajan menganjurkan 2 jam setelah senggama, walaupun
         penilaian secepat itu tidak akan sempat menilai ketahanan hidup spermatozoa dalam lendir
         serviks.




      2. Histeroskopi
         Histeroskopi adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digelembungkan
         dengan media dekstran 32%, glukosa 5%, garam fisiologik, atau gas CO2.

         Dalam infertilitas, pemeriksaan histeroskopi dilakukan apabila terdapat :

         a. Kelainan pada pemeriksaan histerosalpingografi.
                                                                                                 10
   b. Riwayat abortus habitualis.
   c. Duaan adanya mioma atau polip submukosa.
   d. Perdarahan abnormal dari uterus.
   e. Sebelum dilakukan bedah plastik tuba, untuk menempatkan kateter sebagai splint pada
      bagian proksirnal tuba.



3. Pemeriksaan Hormonal
   Hasil pemeriksaan hormonal dengan RIA harus selalu dibandingkan dengan nilai normal
   masing – masing laboratorium.

   Pemeriksaan FSH berturut – turut untuk memeriksa kenaikan FSH tidak selalu mudah,
   karena perbedaan kenaikannya tidak sangat nyata, kecuali pada tengah – tengah siklus haid
   ( walaupun masih kurang nyata dibandingkan dengan puncak LH ). Pada fungsi ovarium
   tidak aktif, nilai FSH yang rendah sampai normal menunjukkan kelainan pada tingkat
   hipotalamus atau hipofisis. Sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kelainan primernya
   pada ovarium.




4. Sitologi Vaginal Hormonal
   Sitologi vagina hormonal menyelidiki sel – sel yang terlepas dari selaput lendir vagina,
   sebagai pengaruh hormon – hormon ovarium (estrogen dan progesteron). Pemeriksaan ini
   sangat sederhana, mudah dan tidak menimbulkan nyeri, sehingga dapat dilakukan secara
   berkala pada seluruh siklus haid.

   Tujuan pemeriksaan sitologi vagina hormonal ialah :

   a. Memeriksa pengaruh estrogen dengan mengenal perubahan sitologik yang khas pada
      fase proliferasi.
   b. Memeriksa adanya ovulasi dengan mengenal gambaran sistologik pada fase luteal
      lanjut.
   c. Menentukan saat ovulasi dengan mengenal gambaran sitologik ovulasi yang khas.
   d. Memeriksa kelainan fungsi ovarium pada siklus haid yang tidak berovulasi.




                                                                                         11
2..9   PEMERIKSAAN PADA INFERTILITAS SEKUNDER

           a. Syarat-syarat pemeriksaan
                  Setiap pasangan infertile harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Itu berarti,
              kalau istri saja sedangkan istrinya tidak mau di periksa, maka pasangan itu tidak
              diperiksa.

           Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut :

           1) Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha
              mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan bisa dilakukan lebih dini bila :
                a) Pernah mengalami keguguran berulang,
                b) Diketahui mengidap kelainan endokrin,
                c) Pernah mengalami rongga panggul atau rongga perut, dan
                d) Pernah mengalami bedah ginekologi.
           2) istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama
              pasangan itu datang ke dokter
           3) pasangan infertile yang berumur 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan
              infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.
           4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertile yang tidak satu
              pasangan anggotannya mengidap penyakit yang membahayakan kesehatan istri
              dan anaknya.



           b. Rencana dan jadwal pemeriksaan
                  Rencana dan jadwal pemeriksaan infertilitas terhadap pasangan suami dan istri
              selama 3 siklus haid istri.

           c. Pemeriksaan masalah-masalah infertilitas
                  Masalah-masalah infertilitas yang penting adalah (1) masalah air mani, (2)
              masalah vagina, (3) masalah serviks, (4) masalah uterus, (5) masalah tuba, (6)
              masalah ovarium, dan (7) masalah peritoneum.

           1. Masalah air mani
                      Air mani yang ditampung dengan jalan masturbasi langsung kedalam botol
              gelas bersih yang bermulut lebar, setelah obstinensi 3-5 hari. Sebaiknya
                                                                                               12
   penampungan air mani itu dilakukan dirumah pasien sendiri dan dibawa ke
   laboratorium setelah 2 jam.

   Karateristik air mani

   1) Koagulasi dan likuefaksi. Air mani yang di ejakulasi dalam bentuk cair akan
      segera menjadi “agar” atau koagulum, untuk kemudian melekuefaksi dalam 5-
      20 menit menjadi cairan yang agak pekat guna memungkinkan spermatozoa
      bergerak dengan leluasa. Proses koagulasi dan likuefaksi diatur oleh enzim.
   2) Viskositas. Setelah berlikuefaksi, ejakulat akan menjadi cairan homogen yang
      agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek dengan sebatang lidi. Makin
      panjang membenangnya makin tinggi viskositasnya. Pengukuran viskositas
      seperti itu sangat subyektif.
   3) rupa dan bau. Air mani yang baru di ejakulasi rupanya putih-kelabu, seperti
      agar-agar.baunya langu seperti bau bunga akasia.
   4) volum. Setelah abstinensi selama 3 hari, volum air mani berkisar antara 2,0-
      5,0 ml.
   5) PH air mani yang baru diejakulasi PH-nya berkisar antara 7,3-7,7, yang bila
      dibiarkan lebih lama akn meningkat karena penguapan CO2-nya.
   6) kecepatan gerak sperma 0,8-1,2 detik.
   7) persentase gerak sperma motil 60%
   8) uji fruktosa posiif.
      Uji ketidak cocokan imunologik, Uji kontak air mani dengan lender serviks
      (sperm cervical mucus contact test – SCMC test) yang dikembangkan oleh
      Kremer dan Jager memperyunjukan adanya antibody lookal pada pria atau
      wanita.

2. Masalah vagina
          Kemampuan menyampaikan air mani kedalam vagina sekitar serviks perlu
   untuk fertilitas. Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini adalah
   adanya sumbatan dan peradangan. Sumbatan psikosen disebut Vaginismus atau
   Disparenia, sedangkan sumbatan anatomic dapat karena bawaan atau perolehan.
   Vaginitis karena Kandida albikans atau Trikomonas vaginalis hebat dapat



                                                                                    13
   merupakan masalah, bukan karena anti spermisidalnya, melainkan arti
   sengamanya.

3. Masalah serviks
          Infertilitas Sekunder yang berhubungan dengan fakto serviks dapat
   disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lender serviks yang abnormal, mal
   posisi dari serviks, atau kombinasinya. Kelainan anatomis serviks misalnya ; cacat
   bawaan (atresia), polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan serviks,
   sinekia setelah konisasi, dan insenimasi yang tidak adekuat.

4. Masalah uterus
          Prostaglandin memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa
   kedalam uterus dan melewati penyempitan pada batas uterus dan tuba itu, uterus
   sangat sensitive terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan
   fase sekresi. Dengan demikian, kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat
   merupakan masalah infertilitas.

           Masalah lain yang dapat mengangu transportasi spermatozoa melalui
   uterus adalah distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma atau polip; peradangan
   endrometrium, dan gangguan kontraksi utrus. Kelainan-kelainan itu dapat
   menggangu dalam hal implantasi, pertumbuhan intra uterin, dan nutrisi serta
   oksigenasi janin.

5. Masalah tuba
          Frekuensi factor tuba dalam infertilitas sangat bergantung pada populasi
   yang diselidiki. Peranan factor tuba yang masuk akal adalah 25-50%. Dengan
   deikian factor tuba dapat dikatakan paling sering ditemukan dalam masalah
   infertilitas. Oleh karena itulah, penilain potensi tuba dianggap sebagai salah satu
   pemeriksaan terpenting dalam pengobatan infertilitas.

6. Masalah ovarium
          Deteksi tepat ovulasi kini tidak seberap penting lagi setelah diketahui
   sperma dapat hidup dalam lender serviks selama 8 hari. Deteksi tepat ovulasi baru
   diperlukan kalau akan dilakukan inseminasi buatan, menentukan saat senggama
   yang jarang dilakukan, atau karena siklus hidnya sangat panjang. Bagi pasangan-

                                                                                   14
          pasngan infertile yang bersenggama teratur , cukup dianjurkan bersenggama dua
          kali sehari pada minggu dimana ovulasi diharapkan akan terjadi.dengan demikian
          nasehat senggama yang terlalu ketat tidak dianjurkan lagi.

       7. Masalah peritoneum
                  Laparoskopi diagnostic telah menjadi bagian integral terahkir pengelolaan
          infertilitas untuk memeriksa masalah peritoneum. Menurut Albano, indikasi untuk
          melakukan laparoskopi dignostik adalah :

       a) Apabila selama 1 tahun pengobatan belum juga terjadi kehamilan
       b) Siklus haid tidak teratur, ataun suhu basal badan monofasik;
       c) Apabila istri pasangan infertil berumur 20 tahun lebih, atau mengalami infertilitas
          selama 30 tahun lebih.
       d) Terdapat riwayat laparotomi
       e) Pernah dilkukan histerosalpingografi dengan media kontras larut minyak.
       f) Terdapat riwayat apendititis
       g) Pasturbasi beulang-ulang abnormal;
       h) Di diagnosa endrometriosis;
       i) Saat akan dilakukan inseminasi buatan.
       j) Apabila hasil pemeriksaan laparoskopi sangat meragukan, dapat dilakukan
          pemeriksaan histeroskopi.




LANGKAH PEMERIKSAAN

       Pertama kali yang dilakukan dalam pemeriksaan adalah dengan mencari
penyebabnya. Adapun langkah pemeriksaan infertilitas adalah sebagai berikut :

Pemeriksaan Umum

   Anamnesa, terdiri dari pengumpulan data dari pasangan suami istri secara umum dan
    khusus.

Anamnesa umum



                                                                                          15
             Berapa lama menikah, umur suami istri, frekuensi hubungan seksual, tingkat
    kepuasan seks, penyakit yang pernah diderita, teknik hubungan seks, riwayat perkawinan
    yang dulu, apakah dari perkawinan dulu mempunyai anak, umur anak terkecil dari
    perkawinan tersebut.

    Anamnesa khusus

    Istri : Usia saat menarche, apakah haid teratur, berapa lama terjadi perdarahan/ haid, apakah
    pada saat haid terjadi gumpalan darah dan rasa nyeri, adakah keputihan abnormal, apakah
    pernah terjadi kontak bleeding, riwayat alat reproduksi (riwayat operasi, kontrasepsi, abortus,
    infeksi genitalia).

    Suami : Bagaimanakah tingkat ereksi, apakah pernah mengalami penyakit hubungan seksual,
    apakah pernah sakit mump (parotitis epidemika) sewaktu kecil.

         Pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan fisik umum meliputi tanda vital (tekanan darah,
           nadi, suhu dan pernafasan).
         Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin meliputi
           darah lengkap, urin lengkap, fungsi hepar dan ginjal serta gula darah.
         Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan penunjang disini bias pemeriksaan roentgen
           ataupun USG.

    Pemeriksaan Khusus

   Pemeriksaan Ovulasi

             Pemeriksaan ovulasi dapat diketahui dengan berbagai pemeriksaan diantaranya : a)
    Penatalaksanaan suhu basal; Kenaikan suhu basal setelah selesai ovulasi dipengaruhi oleh
    hormon progesteron. b) Pemeriksaan vaginal smear; Pengaruh progesteron menimbulkan
    sitologi pada sel-sel superfisial. c) Pemeriksaan lendir serviks; Hormon progesteron
    menyebabkan perubahan lendir serviks menjadi kental. d) Pemeriksaan endometrium. e)
    Pemeriksaan endometrium; Hormon estrogen, ICSH dan pregnandiol.




                                                                                                16
           Gangguan ovulasi disebabkan : a) Faktor susunan saraf pusat ; misal tumor, disfungsi,
    hypothalamus, psikogen. b)       Faktor intermediate ; misal gizi, penyakit kronis, penyakit
    metabolis. c) Faktor ovarial ; misal tumor, disfungsi, turner syndrome.

           Terapi : Sesuai dengan etiologi, bila terdapat disfungsi kelenjar hipofise ddengan
    memberikan pil oral yang mengandung estrogen dan progesteron, substitusi terapi
    (pemberian FSH dan LH) serta pemberian clomiphen untuk merangsang hipofise membuat
    FSH dan LH. Selain clomiphen dapat diberikan bromokriptin yang diberikan pada wanita
    anovulatoir dengan hiperprolaktinemia. Atau dengan pemberian Human Menopausal
    Gonadotropin/ Human Chorionic Gonadotropin untuk wanita yang tidak mampu
    menghasilkan hormon gonadotropin endogen yang adekuat.

   Pemeriksaan Sperma

                   Pemeriksaan sperma dinilai atas jumlah spermatozoa, bentuk dan
           pergerakannya. Sperma yang ditampung/ diperiksa adalah sperma yang keluar dari
           pasangan suami istri yang tidak melakukan coitus selama 3 hari. Pemeriksaan sperma
           dilakukan 1 jam setelah sperma keluar.

           Ejakulat normal         : volume 2-5 cc, jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc,
           pergerakan 60 % masih bergerak selama 4 jam setelah dikeluarkan, bentuk abnormal
           25 %.

           Spermatozoa pria fertil : 60 juta per cc atau lebih, subfertil : 20-60 juta per cc, steril :
           20 juta per cc atau kurang.

           Sebab-sebab kemandulan pada pria adalah masalah gizi, kelainan metabolisme,
           keracunan, disfungsi hipofise, kelainan traktus genetalis (vas deferens).

   Pemeriksaan Lendir Serviks

                   Keadaan dan sifat lendir yang mempengaruhi keadaan spermatozoa adalah : a)
           Kentalnya lendir serviks; Lendir serviks yang mudah dilalui spermatozoa adalah
           lendir yang cair. b) pH lendir serviks; pH lendir serviks ± 9 dan bersifat alkalis. c)



                                                                                                     17
                  Enzim proteolitik. d) Kuman-kuman dalam lendir serviks dapat membunuh
                  spermatozoa.




       Baik tidaknya lendir serviks dapat diperiksa dengan :

               Sims Huhner Test (post coital tes), dilakukan sekitar ovulasi. Pemeriksaan ini
                  menandakan bahwa : teknik coitus baik, lendir cerviks normal, estrogen ovarial
                  cukup ataupun sperma cukup baik.
               Kurzrork Miller Test, dilakukan bila hasil dari pemeriksaan Sims Huhner Test kurang
                  baik dan dilakukan pada pertengahan siklus.

Terapi yang diberikan adalah pemberian hormone estrogen ataupun antibiotika bila terdapat infeksi.

      Pemeriksaan Tuba

                  Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan : a) Pertubasi (insuflasi = rubin test);
       pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan CO2 ke dalam cavum uteri. b)
       Hysterosalpingografi; pemeriksaan ini dapat mengetahui bentuk cavum uteri, bentuk liang
       tuba bila terdapat sumbatan. c) Koldoskopi; cara ini dapat digunakan untuk melihat keadaan
       tuba dan ovarium. e) Laparoskopi; cara ini dapat melihat keadaan genetalia interna dan
       sekitarnya.

      Pemeriksaan Endometrium

                  Pada saat haid hari pertama atau saat terjadi stadium sekresi dilakukan mikrokuretase.
       Jika pada stadium sekresi tidak ditemukan, maka : endometrium tidak bereaksi terhadap
       progesteron, produksi progesterone kurang.

       Terapi yang diberikan adalah pemberian hormon progesteron dan antibiotika bila terjadi
       infeksi.




                                                                                                     18
      2.10   PENATALAKSANAAN
                            PASANGAN MANDUL (INFERTILITAS)

                                  Merupakan kesatuan biologis.



             ANAMNESA UMUM                                                   KECANDUAN DALAM
                   Berapa lama kawin                                                 Perokok
                   Tentang hubungan seks                                             Peminum
                   Apakah infeksi                                                    Narkotik
                    -penyakit hubungan seks

                    -operasi alat kandungan
                    genetalia luar


                                        PEMERIKSAAN DASAR UMUM

                                                 Fisik umum suami/istri
                                                 Laboratorium dasar
                                                 Roentgen/ultrasonografi.


PEMERIKSAAN KHUSUS WANITA                                                     PEMERIKSAAN KHUSUS
      Cairan serviks                                                                   Penis –kelainan anatomi
       -Imunologis                                                                             -ejakulasi terbalik
       -Shim Huhner                                                                     Testis – kelainan anatomi
                                                                                               -kelinan pem. darah
      Mikrokuretage
      Partubasi
      Hiteroskopi
      Histerosalpingografi
      Tes terjadinya ovulasi
      laparoskopi



                                    PENGOBATAN PASANGAN KURANG SUBUR

                                             Bersifat spesialis
                                             Pengobatan kompleks
                                             Dengan obat khusus
                                             Dengan tindakan operasi



                                     SIKAP BIDAN DI DESA/POLINDES

                                             Melakukan rujukan                                                      19
                                             Memberikan nasehat
Nasehat Untuk Pasangan Infertil
Bidan dapat memberikan nasehat kepada pasangan infertil, diantaranya :

      Meminta pasangan infertil mengubah teknik hubungan seksual dengan memperhatikan masa
       subur.
      Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan.
      Menghitung minggu masa subur.
      Membiasakan pola hidup sehat.




       2.11 KONSEP ASUHAN KEBIDANAN
            2.11.1 Definisi
                              Asuhan kebidanan adalah aktifitas atau intervensi yang dilaksanakan
                  oleh bidan kepada klien yang mempunyi kebutuhan atau permasalahan khususnya
                  dalam bidang KIA.




            2.11.2 Tujuan Asuhan Kebidanan
                     Asuhan kebidanan masa nifas bertujuan sebagai :

                       1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya secara fisik dan psikologis.
                       2. Melaksanakan skrening yang komprehensif, mendeteksi masalah,
                           mengobati atau merujuk bila trejadi komplikasi pada ibu maupun
                           bayinya.
                       3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
                           nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan
                           bayi sehat.
                       4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.



            2.11.3 Metode
                              Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien, bidan menggunakan
                  pendekatan pemecahan masalah yang disebut manajemen kebidanan.


                                                                                              20
                 Tahap – tahap manajemen ada 7 langkah yang berurutan              (7
      langkah Varney) :

        1. Pengumpulan data – data
        2. Mengidentifikasi masalah atau diagnosa
        3. Mengantisipasi masalah potensial
        4. Menetapkan kebutuhan segera
        5. Menyusun rencana tindakan
        6. Melaksanakan perencanaan
        7. Evaluasi



 Langkah I : Pengumpulan data – data
           Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang
    berkaitan dengn kondisi klien.

 Langkah II : Mengidentifikasi masalah atau diagnosa
           Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau
    masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi data yang telah dikumpulkan
    sehingga ditentukan masalah atau diagnosa yang spesifik.

   Langkah III : Mengantisipasi masalah potensial
           Pada langkah ini kita mengantisipasi masalah potensial berdasarkan diagnosa
    atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap
    – siap mencegah masalah potensial ini benar – benar terjadi.

   Langkah IV : Menentukan kebutuhan segera
           Bidan perlu tindakan segera untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama
    dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai kondisi klien.




   Langkah V : Menyusun rencana tindakan
           Pada langkah ini direncanakan asuhan menyeluruh ditentukan oleh langkah –
    langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan langkah selanjutnya dari manajemen
    terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.

                                                                                   21
         Langkah VI : Melaksanakan perencanaan
                 Perencanaan ini dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh
          klien atau anggota tim kesehatan lainnya, walau bidan tidak melakukannya sendiri ia
          tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

         Langkah VII : Evaluasi
                 Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
          pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar – benar terpenuhi sesuai
          kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam diagnosa atau masalah. Rencana
          tersebut dapat dianggap efektif jika memang efektif dalam pelaksanaannya.




1. PENGKAJIAN DATA

          A. Data Subyektif
             a) Biodata

                 Nama         : Nama perlu ditanyakan agar tidak

                               keliru bila ada kesamaa nama dengan klien lain. (Ibrahim C.,
                               1984 : 84)

                 Umur         : Dalam kurun waktu reproduksi sehat

                               dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 –
                               30 tahun.

                               (Sarwono, 1999 : 23)

                               Semua wanita subur 20 – 30 tahun saat yang tepat untuk
                               persalinan dengna jarak > 2 tahun merupakan masa reproduksi
                               yang sehat. (Depkes RI, 1993 : 23)

                 Pendidikan   : Makin rendah pendidikan ibu, kematian bayi




                                                                                          22
                    semakin tinggi sehingga perlu diberi penyuluhan. (Depkes RI,
                    1993 : 30)




   Pekerjaan       : Untuk mengetahui taraf hidup dan sosial

                    ekonominya agar nasehat yang diberikan sesuai, juga
                    mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak,
                    misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin zat yang dihisap
                    akan berpengaruh pada janin.                (Ibrahim .C, 1989
                    : 85)

   Paritas         : Paritas 2 – 3 merupakan paritas yang paling

                    aman ditijnau dari sudut kematian maternal. (Prawirohardjo
                    .S, 1999 : 23)

   Perkawinan : Berapa kali nikah atau berapa lamanya untuk

                    membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu,
                    bila orang hamil sudah lama menikah nilai anak tentu besar
                    sekali dan ini harus diperhitungkan dalam pimpinan
                    persalinan. (Sastrawinata S., 1983 : 55)

   Alamat          : Untuk mengetahui ibu tinggal dimana,

                    menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namnya sama agar
                    dapat dipastikan ibu yang mana yang hndak ditolong untuk
                    kunjungan pasien. (Ibrahim C., 1989 : 84)




b) Keluhan Utama
      2 – 6 jam            : - Nyeri perut bagian bawah
                             -   Darah keluar banyak
                             -   Nyeri luka jahitan
                             -   ASI belum keluar

                                                                                 23
                         -     Ibu belum bisa BAK
      2 - 6 hari       :-     Ibu belum bisa meneteki bayi
                         -     Ibu belum bisa BAB
                         -     Payudara terasa penuh dan keras
                         -     Badan teraba panas
      2 – 6 minggu     :-     Bayinya tidak mau menetek
                         -     Darah yang keluar berwarna merah dan berbau
                               busuk.
                         -     Ibu bingung untuk ikut KB
                         (Ibrahim C., 1980 : 37 dan Prawirohardjo S., 2002 :
                         123)




c) Riwayat Menstruasi
           Haid : menarche pada umur pubertas 12 – 16 tahun, selama haid
   siklus teratur 28 – 35 hari, lama 3 – 7 hari dengan pengeluaran darah +/- 50 –
   70 cc. ibu tidak mengalami gangguan haid. (Sarwono, 1999 : 103 – 104)

           Selama haid tidak ditemukan keluhan pusing, pingsan, ataupun tanda
   – tanda anemia yang lain serta jumlah perdarahan yang berlebihan hingga
   atau stosel. (Persis Mary H., 1995)




d) Riwayat Kesehatan Ibu
      Ibu hamil dengan riwayat hipertensi perlu ditentukan pimpinan persalinan
       dan kemungkinan bisa menyebabkan transrent hypertension.
      Ibu hamil dengan riwayat PMS aktif kemungkinan bisa menyebabkan
       kuman bisa menular pada bayi saat persalinan.
      Ibu dengan penyakit DM mempunyai pengaruh pada persalinannya dan
       bayi bisa cacat bawaan – janin besar.
      Ibu menderita hepatitis kemungkinan bayi akan tertular melalui ASI.
       (Sarwono, 1999 : 401)


                                                                               24
e) Riwayat Kesehatan
   Ditanyakan mengenai latar belakang kesehatan keluarga terutama :

      Anggota keluarga yang mempunyai penyakit tertentu terutama penyakit
       menular (TBC, hepatitis).
      Penyakit keluarga yang dapat diturunkan (jantung, asma).
      Keturunan hasil kembar.
   Informasi ini sangat penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi
   pada ibu dan mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya. (Depkes
   RI, 1993 : 63)




f) Riwayat Kehamilan Dulu
          Hal ini ditanyakan khusus untuk multigravida, apakah kehamilan
   yang dulu ada penyakit seperti perdarahan, mual, muntah, dan lain – lain,
   berapa kali periksa ANC dan pernah imunisasi TT pemberian tambah darah
   minimal 90 tablet dan vitamin hamil dan nutrisi.




g) Riwayat Persalinan Dulu
          Adakah penyakit pada persalinan terdahulu seperti perdarahan,
   section caesaria, sulutio placenta. Hal ini ditanyakan untuk persiapan
   persalinan ini.




h) Riwayat Nifas Dahulu
          Adakah penyakit nifas yang lalu (perdarahan, febris, kemungkinan
   terjadi pada nifas sekarang) missal syok pada masa nifas, seperti syok
   haemoragik, syok kardiogenik, infeksi pada nifas (febris).




i) Riwayat Keluarga Berencana



                                                                         25
            Ditanyakan jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, lama memakai
   alat kontrasepsi, alasan memakai, adakah keuhan selama memakai alat
   kontrasepsi. (Depdikbud Unair, 1999 : 111)




j) Pola Kebiasaan
      Nutrisi       :
       Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan
       makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur – sayuran dan
       buah – buahan.

       (Mochtar .R, 1998 : 117)

      Personal Hygiene :
       Menjaga kebersihan tubuh dan terutama pada alat genetalia, mencegah
       terjadinya infeksi. Usahakan agar ibu mandi dengan air bersih dan juga
       membersihkan daerah vital, merawat luka perineum jika ada jahitan.

      Eliminasi :
       BAK hendaknya dapat dilakukan sendiri secepatnya, kadang – kadang
       wanita mengalami sulit kencing karena sfingter uretra ditekan oleh kepala
       janin dan spasme oleh iritasi M. Sfingter Ani. Selama persalinan BAB
       harus dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan.

      Istirahat :
       Istirahat sangat penting bagi ibu pasca persalinan. Ibu harus terlentang
       selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring ke kanan dan ke
       kiri untuk mencegah terjadinya trombosit. (Rustam Mochtar, 1998 : 116)

      Aktivitas
       Ibu diperbolehkan miring ke kanan dan ke kiri, bangun, duduk di tempat
       tidur cukup istirahat beberapa jam setelah melahirkan ± 6 – 8 jam.
       Setelah melahirkan, diperbolehkan turun dan jalan – jalan ini biasanya
       disebut early ambulation. (Ibrahim C., 1980 : 36)



                                                                             26
B. Data Obyektif
   a) Pemeriksaan umum : Baik
      Keadaan umum          : Baik

      Kesadaran             : Composmentis

      Tensi normal          : 110 / 70 mmHg – 130 / 90 mmHg

      Nadi normal           : 80 – 100x / menit

      Suhu normal           : 36,5 o C – 37 o C

      Nafas normal          : 16 – 24x / menit




   b) Riwayat Persalinan
      Riwayat persalinan secara normal, spontan belakang kepala, ditolong bidan.

         Kala I
          Untuk primigravida berlangsung ± 12 jam kontraksi yang sebelumnya
          tidak teratur menjadi lebih lama dan kuat sehingga pembukaan menjadi
          lengkap 10 cm.

          - Fase laten 0 – 4 cm            : ± 7 – 8 jam

          - Fase aktif : fase akselarasi   : 2 jam

          - Fase dilatasi maksimal         : 2 jam

         Kala II
          Primi berlangsung 60 menit dan multi berlangsung 30 menit dengan his
          menjadi lebih kuat, kontraksinya        50 – 100 / detik datangnya tiap 2 –
          3 menit.

          (Sulaiman, 1983 : 260)




         Kala III

                                                                                  27
           Berlangsung 5 – 10 menit setelah anak lahir. Keadaan placenta lengkap
           15 – 20 kotiledon, diameter 15 – 20 cm, tebal 1,5 – 2,5 cm, berat ± 500
           gram, panjang tali pusat 50 – 60 cm, tidak ditentukan placenta berlubang.

           Tidak ada pembuluh darah yang terputus.

           (Prawirohardjo .S, 1983 : 264)




c) Pemeriksaan Fisik
          Kepala
           - Muka : pucat atau tidak, warna muka ibu setelah
                        melahirkan kelihatan pucat disebabkan adanya perdarahan.

           - Mata : simetris atau tidak, conjungtiva pucat atau
                        tidak karena berhubungan dengan anemia karena kehilangan
                        darah saat proses persalinan. (Ibrahim C., 1980 : 81)

           - Mulut : bibir tampak pucat kemungkinan anemia
                        (timbulnya rasa nyeri hebat).

           - Leher : pembesaran kelenjar tiroid kemungkinan
                        mengalami kekurangan yodium.

           - Dada : puting susu menonjol atau tidak, ASI keluar
                        banyak atau sedikit, karena air susu merupakan makanan
                        pokok bagi bayi untuk tumbuh kembang. (Ibrahim C., 1980 :
                        19)

          Abdomen
       -     Inspeksi         : tidak ada luka bekas operasi.
       -     Palpasi          : TFU 2 jari di bawah pusat merupakan
                               perubahan alat – alat kandungan atau uterus yanbg
                               terjadi setelah uri lahir, kontraksi otot – otot uterus
                               baik atau lemah, kontraksi tersebut berguna untuk
                               mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan dan

                                                                                   28
                             mencegah terjadinya perdarahan. (Ibrahim C., 1980 :
                             12).

     -     Auscultasi      : bising usus
     -     Perkusi         : tidak kembung



        Genetalia
         - Lochea rubra
           Pada kurang 2 hari post partum berisi darah segar dan sisa – sisa
           selaput ketuban, sel – sel desidua, verniks kaseosa, lanugo dan
           mekonium.

         - Lochea sanguinolenta
           Berwarna kuning berisi darah dan lendir pada hari ke     3 – 7 pasca
           persalinan.

         - Lochea serosa
           Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7 – 14 pasca
           persalinan.

         - Lochea alba
           Cairan putih selama 2 minggu/ perineum utuh atau episiotomi.
           (Mochtar Rustam, 1998 : 116)

         - Anus
           Ada atau tidak haemoroid

         - Ekstrimitas
           Oedema atau tidak, jika ada oedema disebabkan adanya trombosit dan
           tromboplebitis.




Pemeriksaan penunjang

           1. Laboratorium


                                                                             29
                 2. Rongent




II. Identifikasi Masalah atau Diagnosa
   Diagnosa : P10001 dengan 2 – 6 jam post partum fisiologis masalah yang terjadi 2 – 4
   jam post partum.

   -   Kontraksi uterus lemah
   -   Perdarahan yang bayak
   -   Gangguan psikologis (cemas, sehubungan dengan tidak bisa meneteki bayinya).
   -   Potensial terjadinya pembengkakan payudara.
   -   Potensial terjadi fenris puerperalis.



III. Mengantisipasi Masalah Potensial
   Masalah potensial yang terjadi pada masa nifas

   1. Perdarahan
   2. Terjadinya infeksi
   3. Terjadinya bendungan payudara



IV. Menentukan Kebutuhan Segera
   Kebutuhan yang segera diberikan adalah :

   1. Observasi tanda – tanda vital.
   2. Observasi tanda infeksi, perdarahan, kontraksi uterus.
   3. Rawat luka perineum.
   4. Pemberian antibiotika.



V. Menyusun Rencana Tindakan
      Perencanaan
       -   Diagnosa      : Ibu post partum
       -   Tujuan        : Setelah dilakukan asuhan kebidanan
                           diharapkan tidak terjadi komplikasi
                                                                                    30
    -   Kriteria :
    1. Keadaan umum ibu baik.
    2. Tanda – tanda vital normal.
    3. Suhu : 36,5 o C
        Tensi : 110/70 mmHg – 130/90 mmHg

        Nadi : 80 – 100x / menit

        R-R : 16 – 24x / menit




   Intervensi
    1. Jelaskan pada ibu pentingnya masa nifas
        R/ Ibu mengerti dan mampu beradaptasi dengan keadaan.

    2. Anjurkan ibu untuk mobilisasi diri
        R/ mempercepat proses involusi dan mencegah terjadinya infeksi.

    3. Anjurkan ibu untuk makan dan minum
        R/ mengganti tenaga yang dikeluarkan saat persalinan.




    4. Beri posisi senyaman mungkin untuk istirahat
        R/ memperlancar peredarana darah dan membuat ibu nyaman.




    Masalah 1: Nyeri bekas jahitan perineum

    Tujuan       : Ibu dapat beradaptasi dengan nyerinya dan lebih

                  tenang.

    Intervensi :

    1. Jelaskan pada ibu tentang penyebab nyeri
        R/ Ibu kooperatif dan mengerti tentang penyebab nyeri.

    2. Anjurkan ibu untuk menarik nafas panjang
                                                                          31
   R/ Relaksasi oto – otot untuk mengurangi rasa nyeri.

3. Ajarkan cara merawat luka perineum dengan mnegganti kasa tiap kali habis
   mandi dan setelah BAB dan BAK
   R/ mencegah infeksi dan mengurangi rasa nyeri.




Masalah II      : Kontraksi uterus lemah

Tujuan          : Tidak terjadi perdarahan

Kriteria        : Kontaksi uterus baik fundus uteri teraba bulat,

                    keras

Intervensi      :

1. Lakukan massage uterus secara melingkar
   R/ Memberi rangsangan uterus berkontraksi dengan baik.

2. Keluarkan stosel darah dalam uterus
   R/ Uterus mnejadi berkontraksi.

3. Kosongkan kandung kemih yang penuh
   R/ Tidak menghambat kontraksi uterus.

4. Berikan alat uterotonika
   R/ Dapat membantu kontraksi uterus.




Masalah III     : Perdarahan yang banyak

Tujuan          : Perdarahan dapat diatasi

Kriteria        :-      Nadi normal 80 – 100 x / menit

                    -   Warna muka tidak pucat
                    -   Ibu merasa tenang
                    -   Perdarahan normal ± 50 cc

                                                                        32
Intervensi      :

1. Cari penyebab perdarahan
   R/ Dapat menfokuskan pada penyebab dan segera mengatasinya.

2. Lakukan massage uterus
   R/ Menguatkan kontraksi uterus.

3. Lakukan penekanan aorta abdominal
   R/ Menekan aorta addominal mencegah keluarnya darah.




Masalah IV      : Gangguan psikologis (cemas)

Tujuan          : Cemas dapat teratasi

Kriteria        :-      Ibu senang dengan kelahiran bayinya.

                    -   Ibu dapat merawat bayinya dengan benar.
                    -   Ibu dapat meneteki bayinya dengan benar.
Intervensi      :

1. Berikan bimbingan kepada ibu tentang penyesuaian diri
   R/ Mengatakan rasa cemas karena kelahiran sang bayi.

2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat bayinya
   R/ Ibu dapat merawa bayinya dengan benar.

3. Berikan pendidikan kesehatan tentang cara meneteki yang benar.
   R/ Ibu dapat meneteki bayinya dengan benar.

4. Tunjukkan rasa simpati, menghargai, memberi ucapan selamat kepada ibu
   R/ Memberikan perasaan senang pada ibu.




Masalah V       : Potensi terjadinya pembengkakan payudara

                                                                           33
      Tujuan            : Tidak terjadinya pembengkakan payudara.

      Kriteria          : - ASI keluar lancar

                            -   Ibu mau menyusui bayinya.
      Intervensi        :

      1. Anjurkan pada ibu untuk menyusui bayinya dengan segera
         R/ Memperlancar produksi ASI.

      2. Ajarkan perawatan payudara dengan massage
         R/ Melebarkan pembuluh darah pada payudara sehingga ASI keluar banyak.

      3. Anjurkan ibu makan makanan bergizi
         R/ Meningkatkan kualitas air susu dan memperbanyak produksi air susu.




      Masalah VI        : Potensial terjadinya februs puerperalis

      Tujuan            : Tidak terjadi febris puerperalis

      Kriteria          : - Suhu ibu normal 36,5 o C - 37 o C

      Intervensi        :

      1. Lakukan observasi pada 2 jam post partum
         R/ Mengetahui peningkatan suhu tubuh normal atau tidak.

      2. Anjurkan ibu untuk banyak minum
         R/ Memperlancar proses metabolisme.

      3. Jaga kebersihan ibu, petugas dan ruang perawatan
         R/ Mencegah terjadinya infeksi.




VI.   Melakukan Perencanaan
                 Langkah ini dilakukan oleh seluruh bidan atau sebagian oleh wanita
      tersebutjika belum ditugaskan oleh orang lain tetapibidan memikul tanggung
      jawab tentang pelaksanaannya.
                                                                                 34
VII. Evaluasi
     S. Data Subyektif
          -       Ibu mengatakan sudah menjalankan nasehat yang diberikan oleh petugas
                  kesehatan.
          -       Ibu mengatakan keadaannya mulai membaik.
     O. Data Obyektif
          - Suhu                    : 36,5 o C

          - Nadi                    : 84x / menit

          - Nafas                   : 20x / menit

          - Tensi                   : 120 / 90 mmHg

          - TFU                     : 2 jari di bawah pusat

          - Perdarahan              : 1 kotek penuh

          - Kontraksi uterus : baik




     A.       Assesment
              P10001 dengan post partum normal.




     P. Rencana

              -    Observasi tanda vital ibu.

              -    Observasi TFU, perdarahan, kontraksi uterus.

              -    Kolaborai dengan dokter dalam pemberian terapis.

                                                    (Mochtar Rustam, 1995)




                                                                                   35
                                                BAB III

                                            TINJAUAN KASUS



Pengkajian tanggal : 21 Agustus 2011

Jam                  : 19.30

   I.   PENGKAJIAN
   DATA SUBYEKTIF
        A. Identitas
           Nama Istri              : Ny “B”               Nama Suami          : Tn “H”

            Umur                   : 26thn                Umur                : 27thn

            Suku/Bangsa            : Jawa/Indonesia       Suku/Bangsa         : Jawa/Indonesia

            Agama                  : Islam                Agama               : Islam

            Pendidikan             : SMA                  Pendidikan          : STM

            Pekerjaan              : IRT                  Pekerjaan           : Swasta

            Alamat                 : Granit Kumala Sari

            Kunjungan ke           :1

            Alasan kunjungan       :

                Ibu mengatakan ingin berkonsultasi perihal keadaanya yang tak kunjung hamil.

            Keluhan utama          :

                Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah 1thn lebih dan sangat mendambakan
            hadirnya seorang anak namun sampai sekarang tak kunjung hamil.



        B. Riwayat Obstetri
        1. Riwayat Menstruasi
           Menarche      : 14 tahun

            Siklus             : 28 hari

            Lama Haid          : 6-7 hari

            Sifat Darah        :encer, merah dan berbau khas

                                                                                                 36
                    Banyak Darah    : 2-3x ganti pembalut dalam sehari

                    Dismenorhoe     :-

                    Fluor Albus     :-



             2. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

    Um                                        Komplikasi                          Bayi                            Nifas
           Usia         Jenis      Tempat
N   ur                                                       Penolo   Jenis
          Kehamil     Persalin    Persalina                                      PB/B       Keadaa      Keadaa         Laktas
o   Ana                                        Ibu    Bayi    ng      Kelami
            an           an          n                                             B             n            n            i
     k                                                                   n

                                      Belum pernah hamil,bersalin dan nifas



             3. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
                                              Mulai memakai                            Berhenti / ganti cara
    No    Jenis Kontrasepsi
                                   tanggal     oleh    tempat keluhan        Tanggal      oleh       tempat       alasan

                                    Belum pernah menggunakkan alat kontrasepsi

                                                         .

             C. Riwayat Kesehatan
             1.     Riwayatah penyakit yang pernah diderita
                           Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (tbc, hiv), menurun
                  (DM,Hipertensi), dan berbahaya (kanker).

             2.     Penyakit penyakit keluarga
                           Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang pernah atau sedang
                    menderita penyakit menular (tbc,hiv), menurun (DM,Hipertensi), berbahaya (kanker)

             3.     Riwayat penyakit ginekologi
                           Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak sedang dan tidak pernah menderita penykit
                    ginekologi seperti ( kanker serviks, kanker ovarium, radang panggul)

                                                                                                                  37
D. Pola Kehidupan Sehari – hari (Sebelum dan Selama MKB)
1. Pola nutrisi dan cairan:
            Nutrisi : Makan 3x sehari porsi sedang gizi seimbang
            Cairan   : Minum air putih7gelas sehari dan sering minum susu kedelai
2. Pola Eliminasi:
            BAB      : 1x dalam sehari, konsistensi lembek dan berwarna kuning
            BAK      : 4-5x dalam sehari, warna kuning jernih
3. Pola Aktivitas:
     Ibu mengatakan bahwa setiap harinya dia hanya melakukan pekrjaan rumah seperti
     biasa yaitu menyapu, mengepel dan mencuci piring.




4. Pola Istirahat:
            Tidur malam      : 8 jam
            Tidur siang      : + 2 jam
5. Pola Personal Hygiene:
     Mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari, gosok gigi 2x sehari keramas 1x dalam seminggu.

6. Pola Hubungan Seksual:
     6-7 kali dalam seminggu.

E. Riwayat pernikahan, psikososial dan spiritual
1.   Riwayat pernikahan
     Status pernikahan                      : sah

     Lama menikah                           : + 12 bulan

     Pengambil keputusan dalam keluarga : suami

2.   Riwayat psikologi
            Ibu mengatakan bahwa dirinya dan suaminya saat ingin memiliki anak dan ibu
     juga mengatakan sangat khawatir dengan keadaanya karena takut terjadi masalah pada
     organ reproduksinya.


                                                                                        38
   3. Riwayat spiritual
              Ibu mengatakan bahwa dia selalu beribadah sesuai dengan agamanya dan selalu
       berdoa agar dikaruniai seorang anak.

DATA OBYEKTIF
   A. Pemeriksaan Umum
   1. Tanda-tanda Vital:
      Tensi            : 120/70 mm/Hg

      Nadi             : 80 x/menit

      Suhu             : 36 ºC

      Pernapasan       : 24 x/menit

   2. Keadaan Umum: Baik
   3. Kesadaran: Composmentis
   B. Pemeriksaan Antopometri
   1. Berat Badan: 49kg
   2. Tinggi Badan: 152cm
   3. LILA: 25 cm
   C. Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi)
      Kepala:

      Bersih, tidak ada ketombe, rambut sedikit rontok panjang hitam.

      Muka:

      Tidak ada hiperpigmentasi, tidak ada odem. Tidak pucat

      Mata:

      sclera tidak kuning, konjungtiva tidak pucat, fungsi penglihatan baik,simetris.

      Telinga:

      Bersih, tidak ada secret, fungsi pendengaran baik

      Hidung:

                                                                                        39
           Tidak ada polip, tidak ada secret, tidak ada pernapasan cuping hidung.

           Mulut dan Gigi:

                    Mulut   : Tidak ada sariawan, bibir basah
                    Gigi    : Sedikit caries, tidak ada gigi yang berlubang
           Leher:

           Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugolaris.

           Ketiak:

           Tidak teraba adanya benjolan

           Payudara:

           tidak teraba adanya benjolan, konsistensi kenyal, tidak ada odem, puting belum
menonjol

           Abdomen:

           Tidak ada luka bekas operasi,tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan

           Perineum :

           Bersih, tidak terdapat jaringan parut.

           Genetalia:

           Tidak ada odem, tidak ada varises, tidak ada condiloma, tidak ada herpes.

           Anus:

           Tidak ada haemorroid

           Ekstremitas:

                   Atas      : tidak ada odem, tidak ada varises, tidak cacat

                   Bawah     : tidak ada odem, tidak ada varises, tidak cacat




                                                                                            40
            D. Pemeriksaan Dalam & Penunjang
                        Tidak dilakukan




     II.    INTERPRETASI DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN


TGL/ jam                         Data Dasar                              DX/ Masalah

21 Agst 2011 S :                                              Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya
19.30 WIB         Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah anak
                    menikah + 12 bulan tapi tidak kunjung
                    hamil
                  Ibu mengatakan sangat khawatir dengan
                    keadaannya takut dirinya ada masalah
                    dengan organ reproduksinya.
               O:
                 Keadaan umum        : Baik
                 Kesadaran : Composmentis
                 Tanda – tanda vital
                    Tensi: 120 mmHg

                    Nadi         : 80 x/mnit

                    Suhu         : 37oC

                    Pernapasan : 24 x/mnit




            A. Diagnosa:
                         Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya anak

               Dasar:

               Data Subyektif:

                                                                                            41
               Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah + 12 bulan tapi tidak kunjung
                hamil
               Ibu mengatakan sangat khawatir dengan keadaannya takut dirinya ada masalah
                dengan organ reproduksinya.
        Data Obyektif:

               Keadaan umum : Baik
               Kesadaran        : Composmentis
               Tanda – tanda vital
                        Tensi          : 120 mmHg

                        Nadi           : 80 x/mnit

                        Suhu           : 37oC

                        Pernapasan     : 24 x/mnit

     B. Masalah
            1. Ibu mengatakan ingin memiliki anak.
     C. Kebutuhan
            1. Lakukan pemeriksaan TTV
            2. KIE ibu tentang pola hubungan seksual
            3. KIE ibu tentang pola hidup sehat




III. ANTISIPASI MASALAH/DIAGNOSA POTENSIAL


           - Infertilitas sekunder
                  Menikah >12 bulan belum kunjung hamil.




IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA (Bila ada)
     Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan gynekologi untuk pemberian terapi dan
pemeriksaan lebih lanjut dan menyeluruh.

                                                                                             42
        V.   PERENCANAAN (Disertai dengan rasional)


 Tgl/ jam           diagnosa                      tujuan                                   intervensi

21-080-11    Ny “B” P0-0 usia 1. Setelah          dilakukan       asuhan    1. Lakukan pendekatan pada
19.40        26thn Ingin punya      kebidanan diharapkan ibu dan                  klien
             anak                   suami merasa puas.                       R/:Hubungan yang kooperatif
                                 2. Ibu dan suami berusaha bersama                antara petugas kesehatan
                                    untuk mendapat keturunan agar                 dan         klien         dapat
                                    keluarga bahagia dan sejahtera.               mempermudah             asuhan
                                 3. Ibu   dan     suami     mendapatkan           Kabidanan        yang     akan
                                    asuhan         kebidanan        yang          dilakukan
                                    komprehensif dan bermutu.
                                                                            2. Lakukan pemeriksaan TTV
                                                                                          R/: Tanda-tanda vital
                                 Kriteria Hasil        :
                                                                                  merupakan             gambaran
                                 1. Ibu dan suami merasa tenang                   umum dari keadaan pasien.
                                    setelah      mendapat      penjelasan
                                                                            3. Beritahu hasil pemeriksaan
                                    tentang keadaanya.
                                                                            R/:    Dengan       memberitahukan
                                 2. Pasangan tau,mau dan mampu
                                                                                  hasil pemeriksaan pada ibu
                                    untuk berusaha agar segera hamil.
                                                                                  maka ibu dapat mengetahui
                                 3. Keadaan umum : Baik
                                                                                  keadaan      dan      kondisinya
                                 4. Keasadadaran       : Composmentis
                                                                                  sehingga ibu lebih tenang.
                                 5. Tanda – tanda vital
                                    TD        : 90/60 – 140/90 mmHg         4. KIE ibu tentang infertilitas
                                                                                  R/: Agar pasangan tidak
                                    Nadi : 80 – 100 x/menit
                                                                                  saling menyalahkan dan
                                    RR     : 18 – 25 x/mnit                       berusaha bersama

                                    Suhu : 36,5oC – 37,5oC                  5. Berikan informasi tentang
                                                                                  pola hubungan seksual
                                                                                  R/:      Dapat        membantu


                                                                                                           43
                                                         memperbesar
                                                         kemungkinan hamil.

                                                      6. Anjurkan ibu untuk makan –
                                                         makanan        bergizi    yang
                                                         dapat              menunjang
                                                         kesuburan
                                                         R/: Nutrisi yang adekuat
                                                         membantu tubuh lebih kuat
                                                         dan terhindar dari berbagai
                                                         penyakit.

                                                      7. Anjurkan ibu untuk pola
                                                         hidup sehat
                                                         R/: Pola hidup yang tidak
                                                         sehat dapat menjadi faktor
                                                         resiko              terjadinya
                                                         infertlitas.

                                                      8. Kolaborasi dengan dokter
                                                         spesialis      obstetri     dan
                                                         gynekologi.
                                                        R/:Untuk             mendapat
                                                         pemeriksaan       dan     terapi
                                                         yang     lebih    tepat     dan
                                                         komprehensif.




Tanggal: 21 Agustus 2011                               Pukul: 19.40

Diagnosa     :

           Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya anak.

Tujuan       :

                                                                                   44
   4. Setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu dan suami merasa puas.
   5. Ibu dan suami berusaha bersama untuk mendapat keturunan agar keluarga bahagia
       dan sejahtera.
   6. Ibu dan suami mendapatkan asuhan kebidanan yang komprehensif dan bermutu.
Kriteria Hasil :

   6. Ibu dan suami merasa tenang setelah mendapat penjelasan tentang keadaanya.
   7. Pasangan tau,mau dan mampu untuk berusaha agar segera hamil.
   8. Keadaan umum             : Baik
   9. Keasadadaran             : Composmentis
   10.Tanda – tanda vital
           TD           : 90/60 – 140/90 mmHg

           Nadi         : 80 – 100 x/menit

           RR           : 18 – 25 x/mnit

           Suhu         : 36,5oC – 37,5oC

Rencana         :

   9. Lakukan pendekatan pada klien
       R/:Hubungan yang kooperatif antara petugas kesehatan dan klien dapat
          mempermudah asuhan Kabidanan yang akan dilakukan

   10.Lakukan pemeriksaan TTV
       R/: Tanda-tanda vital merupakan gambaran umum dari keadaan pasien.

   11.Beritahu hasil pemeriksaan
       R/: Dengan memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu maka ibu dapat mengetahui
           keadaan dan kondisinya sehingga ibu lebih tenang.

   12.KIE ibu tentang infertilitas
       R/: Agar pasangan tidak saling menyalahkan dan berusaha bersama

   13.Berikan informasi tentang pola hubungan seksual
       R/: Dapat membantu memperbesar kemungkinan hamil.

   14.Anjurkan ibu untuk makan – makanan bergizi yang dapat menunjang kesuburan
                                                                                   45
                   R/: Nutrisi yang adekuat membantu tubuh lebih kuat dan terhindar dari berbagai
                   penyakit.

                15.Anjurkan ibu untuk pola hidup sehat
                   R/: Pola hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor resiko terjadinya infertlitas.

                16.Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan gynekologi.
                   R/:Untuk mendapat pemeriksaan dan terapi yang lebih tepat dan komprehensif.




        VI. PELAKSANAAN/IMPLEMENTASI


Tgl/jam            Diagnosa                                       Implementasi

21-08-11   Ny “B” P0-0 usia 26thn        1. Melakukan pendekatan kepada klien dengan cara :
19.45      Ingin punya anak                     Memberikan salam
                                                Menyapa ibu
                                                Menanyakan keluhan ibu
                                                .Bersikap ramah
                                                Sabar
                                                Menghargai dan menghormati ibu.
                                         2. Melakukan pemeriksaan ttv dan memberitahukan hasilnya
                                                Tensi          : 120/80 mmHg
                                                Nadi           : 80x/mnit
                                                Suhu           : 37C
                                                Pernapasan     :24x/mnit
                                         3. Memberitahu ibu dan suami tentang pengertian dan macam
                                            – macam infertlitas dan penyebabnya.
                                Infertlitas : Pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta
                                            berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil.Infertilitas
                                            merupakan masalah pasangan yaitu 50% pria dan 50%
                                            wanita.

                                Macam – macam infertilitas.

                                                                                                         46
 Infertilitas Primer
        Bila pasangan tersebut belum hamil sama sekali.

 Infertilitas Sekunder
        Bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan
   namun setelah itu tidak dapat hamil kembali

Penyebab kemandulan pada perempuan.

               Gangguan yang paling sering dialami perempuan
   mandul adalah gangguan ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi
   maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi. Salah satu
   tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah
   haid yang tidak teratur dan haid yang tidak ada sama
   sekali.

             Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan
   pada wanita adalah :

   a. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh
      karena infeksi, endometriosis dan operasi pengangkatan
      kehamilan ektopik.
   b.Gangguan fisik rahim.
   c. Umur.
   d.Stress.
   e. Kurang gizi.
   f. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
   g.Merokok.
   h.Alkohol.
   i. Penyakit menular seksual.
   j. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya
      keseimbangan hormon.


   Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki

 a. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang
                                                           47
                                 dihasilkan sedikit atau tidak sama sekali.
                             b.Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan
                                 membuahinya. Masalah ini biasanya disebabkan oleh
                                 karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
                                 pergerakannyapun tidak normal.
                             c. Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :

                             d.Suka minum alcohol dan narkoba.
                             e. Polusi udara.
                             f. Merokok.
                             g.Masalah kesehatan lainnya.
                             h.Obat – obatan yang tidak jelas.
                             i. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan
                                 kanker.
                             j. Umur.


                           4. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga pola hidup sehat
                               dengan istirahat yang cukup dan makan – makanan yang
                               bergizi dan yang banyak mengandung vit.e seperti
                               kecambah dsb.
                           5. Menganjurkan ibu dan suami. untuk melakukan hubungan
                              seksual setidaknya 3x/seminggu.
                           6. Menganjurkan ibu dan suami untuk selalu berdoa dan
                              berusaha.
                           7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
                              terapi.
                           8. Memberikan dukungan moril kepada ibu dengan menjawab
                              dan mendengarkan keluhan ibu dengan sabar.




Tanggal: 21 Agustus 2011                                         Pukul: 19.45

   1. Melakukan pendekatan kepada klien dengan cara :
           Memberikan salam
                                                                                       48
       Menyapa ibu
       Menanyakan keluhan ibu
       .Bersikap ramah
       Sabar
       Menghargai dan menghormati ibu.
2. Melakukan pemeriksaan ttv dan memberitahukan hasilnya
       Tensi          : 120/80 mmHg
       Nadi           : 80x/mnit
       Suhu           : 37C
       Pernapasan     :24x/mnit
3. Memberitahu ibu dan suami tentang pengertian dan macam – macam infertlitas dan
   penyebabnya.
  Infertlitas : Pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama
              satu tahun tetapi belum hamil.Infertilitas merupakan masalah pasangan
              yaitu 50% pria dan 50% wanita.

  Macam – macam infertilitas.

      Infertilitas Primer
                Bila pasangan tersebut belum hamil sama sekali.

      Infertilitas Sekunder
                Bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu
        tidak dapat hamil kembali

  Penyebab kemandulan pada perempuan.

           Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan
  ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi.
  Salah satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah haid yang tidak
  teratur dan haid yang tidak ada sama sekali.

  Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan pada wanita adalah :

      k. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh karena infeksi,
         endometriosis dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik.

                                                                                   49
       l. Gangguan fisik rahim.
       m. Umur.
       n. Stress.
       o. Kurang gizi.
       p. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
       q. Merokok.
       r. Alkohol.
       s. Penyakit menular seksual.
       t. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan
          hormon.
  Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki

  c. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau
     tidak sama sekali.
  d. Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah
     ini biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
     pergerakannyapun tidak normal.
  Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :

           i.   Suka minum alcohol dan narkoba.
           j.   Polusi udara.
           k.   Merokok.
           l.   Masalah kesehatan lainnya.
           m. Obat – obatan yang tidak jelas.
           n.   Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker.
           o.   Umur.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga pola hidup sehat dengan istirahat yang
   cukup dan makan – makanan yang bergizi dan yang banyak mengandung vit.e
   seperti kecambah dsb.
5. Menganjurkan ibu dan suami. untuk melakukan hubungan seksual setidaknya
   3x/seminggu.
6. Menganjurkan ibu dan suami untuk selalu berdoa dan berusaha.
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.


                                                                                  50
       8. Memberikan dukungan moril kepada ibu dengan menjawab dan mendengarkan
           keluhan ibu dengan sabar.




VII. EVALUASI
   Tanggal: 21 Agustus 2011                                 Pukul: 19.55

   S : Ibu dan suami mengerti tentang kondisi saat ini.Terlihat saat diberi penjelasan ibu
         menganggukkan kepala dan selalu memperhatikan sebagai tanda mengerti akan
         penjelasannya.Ibu juga mengikuti semua yang dianjurkan oleh ibu bidan.

   O :

         Tensi          : 120/80 mm/Hg

         Pernapasan     : 24 x/menit

         Nadi           : 80 x/menit

         Suhu           : 37 ºC

   A         :

                        Ny “B” P0-0 usia 26thn dengan IPA

   P         :

       1. Anjurkan ibu untuk memeriksakan keadaanya kembali bila ada keluhan.
       2. Anjurkan ibu untuk memeriksakan keadaannya pada dokter spesialis obstetri dan
          gynekologi.
       3. Anjurkan ibu untuk selalu berdoa dan berusaha.




                                                                                          51
                                                   BAB IV

                                               PENUTUP

IV.1   KESIMPULAN.

               Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurang mampuan pasangan
       untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki
       keturunan. Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga
       mengalami pembuahan, sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur -
       tanpa kontrasepsi - dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah
       perempuan      yang    rahimnya     telah    diangkat    atau   laki-laki   yang     telah   dikebiri
       (dikastrasi).infertilitas terbagi menjadi infertilitas primer dab inrfertilitas sekunder. Infertilitas
       primer adalah bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali,
       sedangkan infertilitas sekunder adalah bila pasangan tersebut sudah memiliki anak, kemudian
       memakai kontrasepsi namun setelah di lepas selama satu tahun belum juga hamil.




IV.2   SARAN

               Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan anak dari hasil perkawinannya itu,
       anak adalah merupakan suatu pelengkap dari sebuah keluarga inti,tanpa anak pasangan suami
       istri tersebut belum bisa dikatakan sebuah keluarga inti/lengkap. Namun, sebuah keluarga
       berencana demi kesehatan tidak pernah lengkap tanpa penanggulangan masalah infertilitas.
       Ditinjau dari sudut kesehatanya, keluarga berencana harus meliputi pencegahan dan
       pengobatan infertilitas, apalagi kalau kejadiannya sebelum pasangan memperoleh anak-anak
       yang diharapkan.

       Beberapa saran untuk pasangan kurang subur :

          Mengubah tehnik hubungan seks, dapat memperhatikan masa subur istri.
          Memilih makanan yang dapat meningkatkan kesuburan suami-istri.
          Menghitung masa minggu subur dengan jalan menggunakan termokauter khusus atau
           menghitung melalui hari pertama dating bulan.



                                                                                                          52
                                 DAFTAR PUSTAKA




 Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.oleh
   Prof. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG.
 Ilmu Kandungan, Editor ketua Prof. Hanifa Wiknjosatro, dr , DSOG. Editor Prof. Abdul Bari
   saifudin, dr, DSOG, MPH & Trijatmo Rachimhadhi, dr, dsog,edisi kedua.(yayasan bina
   pustaka sarwono prawirohardjo. Jakarta, 1994.
 Kapita selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Pertama. Editor Arief Mansjoer, Kuspuji
   Trianti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setio Wulan.
 Dikutip Dari : www.google.com




                                                                                        53
                         Tugas askeb IV

Asuhan Kebidanan Pada Ny.”B” Dengan Infertil Primer

              Dosen : Endeh Tresnawati syam, SST




                        Nama kelompok :

               Endah mulyani              (09021002)

               Yashenta Parastiara        (09021018)

               Dian Nurotul ilmi          (09021025)

               Nia pratiwi W              (09021028)

               Nuril athira               (09021029)

               Pophi indriana             (09021030)




   Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Unggul Surabaya

                 Prodi DIII kebidanan 5.2

                     Tahun ajaran 2011


                                                         54

								
To top