askeb kespro suspact infertil
Document Sample


BAB I
PENDAHUALUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Sekalipun gerakan keluarga berencana sangat gencar di galakan, tetapi ada
beberapa masyarakat yang sangat mendambakan keturunan karena telah cukup waktu untuk
menanggungnya namun belum berhasil. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000
pasangan suami istri di Indonesia sekitar 12% atau sekitar 3 juta pasangan mengalami infertil.
Dan baru sekitar 50% dari pasangan tersebut yang berhasil ditolong untuk menangani
masalah infertil dan selebihnya harus mengadopsi atau hidup tanpa seorang anak. Berkat
kemajuan teknologi kedokteran, beberapa pasangan telah dimungkinkan memperoleh anak
dengan jalan inseminasi buatan donor, “ bayi tabung “, atau membesarkan janin didalam
rahim wanita lain.
Namun infertilitas masih menjadi masalah sebagian pasangan suami istri, hal ini
dikarenakan kemungkinan untuk mendapatkan seorang anak masih kecil. Di Indonesia sendiri
masih langka sekali dokter yang berminat dalam ilmu infertilitas. Faktor kurangnya
pengetahuan tentang kesuburan dan infertil juga menjadi faktor penyebab masih tingginya
angka infertilitas. Selain itu, faktor-faktor seperti kesehatan lingkungan, gizi, dan status
ekonomi juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Penanganan pasangan mandul atau kurang
subur ( infertilitas ) merupakan masalah medis yang kompleks dan menyangkut beberapa
disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan konsultasi pemeriksaan yang kompleks pula.
I.2 TUJUAN PENULISAN
I.2.1 TUJUAN UMUM
diharapkan Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada keluarga
dengan gangguan reproduksi dengan menerapkan manajemen asuhan kebidanan.
1
I.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian subjektif maupun objektif pada
keluarga dengan gangguan reproduksi
2. Mahasiswa mampu untuk menganalisis dan mengidentifikasi kedaan keluarga
dengan gangguan reproduksi.
3. Mahasiswa mampu melaksanakan serta mendokumentasikan asuhan
kebidanan yang telah dilakukan.
4. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan.
1.3 METODE PENULISAN
1.3.1 Metode pendekatan yang sifatnya mengungkapkan peristiwa yang terjadi.
1.3.2 Pengumpulan data dan pengolahan data melalui observasi, wawancara dan
pemeriksaan fisik.
1.3.3 Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari petugas kesehatan.
1.3.4 Sumber teori dari literature.
I.4 MANFAAT PENULISAN
I.4.1 BAGI PASIEN
1. Pasien mendapat keturunan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarganya.
2. Pasien mendapatkan pelayanan yang bermutu.
I.4.2 BAGI MAHASISWA
2
1. Mahasiswa lebih memahami tentang gangguan reproduksi yang dialaminya.
2. Mahsiswa dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam
memberikan asuhan kebidanan pada keluarga dengan gangguan reproduksi.
I.5 SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, manfaat, pelaksanaan serta
sistematika penulisan
BAB II : LANDASAN TEORI
Menguraikan tentang konsep infertilitas, macam – macam infertilitas, definisi
infertilitas, penyebab, beserta pemeriksaan yang dapat dilakukan.
BAB III : TINJAUAN KASUS
Menguraikan tentang pengkajian data secara subjektif, objektif, diagnoa kebidanan,
masalah potensial serta terdapat perencanaan langkah – langkah yang akan dilakukan beserta
evaluasi dan perkembangannya.
BAB IV : PENUTUP
Menguraikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB V : DAFTAR PUSTAKA
Menguraikan sumber referensi yang digunakan untuk penulisan.
3
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 KONSEP DASAR INFERTILITAS
Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap
tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi
karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi
menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara penggunaannya
2.2 DEFINISI INFERTILITAS
Fertilitas adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa menghamili.
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu
tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi
belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha
selama satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun. Infertilitas
primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah hamil.
(Siswandi, 2006).
2.3 MACAM – MACAM INFERTILITAS
Ada 2 jenis infertilitas :
1. Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama
sekali.
2. Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah
itu tidak pernah hamil lagi
4
2.4 ETIOLOGI INFERTILITAS
Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian
membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-55%,
keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas
terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri.
Penyebab infertilitas pada perempuan dan laki – laki adalah sebagai berikut :
1. Penyebab kemandulan pada perempuan.
Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan
ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi. Salah
satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah haid yang tidak teratur dan
haid yang tidak ada sama sekali.
Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan pada wanita adalah :
a. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh karena infeksi, endometriosis
dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik.
b. Gangguan fisik rahim.
c. Umur.
d. Stress.
e. Kurang gizi.
f. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
g. Merokok.
h. Alkohol.
i. Penyakit menular seksual.
j. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan hormon.
2. Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki
a. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau tidak
sama sekali.
5
b. Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah ini
biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
pergerakannya pun tidak normal.
Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :
a. Suka minum alkohol.
b. Suka menggunakan narkoba.
c. Polusi udara.
d. Merokok.
e. Masalah kesehatan lainnya.
f. Obat – obatan yang tidak jelas.
g. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker.
h. Umur.
2.5 FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFERTIL
Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain :
1. Pada Perempuan
a. Hormonal
Gangguan glandula pituitaria, thyroidea, adrenalis atau ovarium yang menyebabkan :
1. Kegagalan ovulasi.
2. Kegagalan endometrium uterus untuk berproliferasi dan sekresi.
3. Sekresi vagina dan cervix yang tidak menguntungkan bagi sperma.
4. Kegagalan gerakan ( motilitas ) tuba falopii yang menghalangi spermatozoa
mencapai uterus.
b. Sumbatan
Tuba falopii yang tersumbat bertanggung jawab untuk kira– kira sepertiga dari
penyebab infertilitas. Sumbatan tersebut dapat disebabkan :
1. Kelainan kongenital.
2. Penyakit radang pelvis umum, misalnya apendisitis dan peritonitis.
3. Infeksi tractus genitalis yang naik, misalnya gonore.
c. Faktor Lokal
Keadaan – keadaan seperti :
6
1. Fibroid uterus, yang menghambat implantasi ovum.
2. Erosi cervix yang mempengaruhi pH sekresi sehingga merusak sperma.
3. Kelainan kongenital vagina, cervix atau uterus yang menhalangi pertemuan sperma
ayau ovum.
2. Pada Laki – Laki
a. Gangguan Spermatogenesis
Analisis cairan seminal dapat mengungkapkan :
1. Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter cairan seminel.
2. Jumlah spermatozoa yang abnormal lebih dari 40% yang berupa defek kepala (
caput ) atau ekor ( cauda ) yang spesifik. Keadaan ini mungkin karena adanya
aplasia sel germinal, pengelupasan, atau suatu defek kongenital, atau beberapa
penyebab yang tidak dapat ditetapkan.
3. Cairan seminal yang diejakulasikan kurang dr 2 ml.
4. Kandungan kimia cairan seminal tidak memuaskan, misalnya kadar glukosa,
kolesterol, atau enzim hialuronidase abnormal dan pH – nya terlalu tinggi atau
terlalu rendah.
b. Obstruksi
1. Sumbatan ( oklusi ) kongenital duktus atau tubulus.
2. Sumbatan duktus atau tubulus yang disebabkan oleh penyakit peradangan (
inflamasi ) akut atau kronis yang mengenai membran basalais atau dinding otot
tubulus seminiferus, misalnya orkitis, infeksi prostat, infeksi gognokokus. Penyakit
ini merupakan penyebab yang paling umum pada infertilitas pria.
c. Ketidakmampuan Koitus atau Ejakulasi
1. Faktor – faktor fisik, misalnya hipospadia, epispadia, deviasi penis sperti pada
priapismus atau penyakit Peyronie.
2. Faktor – faktor psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mencapai
atau mempertahankan ereksi.
3. Alkoholisme kronik.
7
d. Faktor Sederhana
Kadang – kadang faktor – faktor sederhana seperti memakai celana jeans ketat, mandi
dengan air terlalu panas, atau berganti lingkungan ke iklim tropis dapat menyebabkan
keadaan luar ( panas ) yang tidak menguntungkan untuk produksi sperma yang sehat.
2.6 PATOFISIOLOGI INFERTILITAS
a. Wanita
Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan
stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak
adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. Penyebab lain
yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk
anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba
dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari
ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak
berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium,
mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses
pemasukan sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik
yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak
berkembang dengan baik.
Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga
terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga
menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan
implantasi zigot yang berujung pada abortus.
b. Pria
Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan
hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan
peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok, penggunaan
obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan
libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan
8
berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi
abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat
pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang
mengakibatkan komposisi sperma terganggu.
2.7 MANIFESTASI KLINIS
a. Wanita
Terjadi kelainan sistem endokrin
Hipomenore dan amenore
Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan
masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik
Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak
berkembang,dan gonatnya abnormal
Wanita infertil dapat memiliki uterus
Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi,
adhesi, atau tumor
Traktus reproduksi internal yang abnormal
b. Pria
Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas,
radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
Riwayat infeksi genitorurinaria
Hipertiroidisme dan hipotiroid
Tumor hipofisis atau prolactinoma
Disfungsi ereksi berat
Ejakulasi retrograt
Hypo/epispadia
Mikropenis
Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
9
Abnormalitas cairan semen
2.8 PEMERIKSAAN PADA INFERTILITAS
Pemeriksaan infertilitas dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan, yaitu :
1. Uji Pascasenggama
Walaupun uji Sims – Huhner atau uji pasca-senggama telah lama dikenal di
seluruh dunia, tetapi ternyata nilai kliniknya belum diterima secra seragam. Salah satu
penyebabnya adalah karena belum adanya standarisasi cara melakukannya. Kebanyakan
peneliti sepakat untuk melakukannya pada tengah siklus haid, yang berarti 1 - 2 hari
sebelum meningkatnya suhu basal badan yang diperkirakan. Akan tetapi, belum ada
kesepakatan berapa hari abstinensi harus dilakukan sebelumnya, walaupun kebanyakan
menganjurkan 2 hari. Demikian pula belum terdapat kesepakatan kapan pemeriksaan itu
dilakukan setelah senggama.
Menurut kepustakaan, ada yang melakukannya setelah 90 detik sampai setelah 8
hari. Sebagaimana telah diuraikan, spermatozoa sudah dapat dampai pada lendir serviks
segera setelah senggama, dan dapat hidup di dalamnya sampai 8 hari. Menurut Denezis uji
pasca-senggama baru dapat dipercaya kalau dilakukan dalam 8 jam setelah senggama.
Perloff melakukan penelitian pada golongan fertil dan infertil, dan berkesimpulan tidak ada
perbedaan hasil yang antara kedua golongan itu kalau pemeriksaannya dilakukan lebih dari
2 jam setelah senggama. Jika kesimpulan ini benar, maka uji pascasenggama dilakukan
secepatnya setelah senggama. Davajan menganjurkan 2 jam setelah senggama, walaupun
penilaian secepat itu tidak akan sempat menilai ketahanan hidup spermatozoa dalam lendir
serviks.
2. Histeroskopi
Histeroskopi adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digelembungkan
dengan media dekstran 32%, glukosa 5%, garam fisiologik, atau gas CO2.
Dalam infertilitas, pemeriksaan histeroskopi dilakukan apabila terdapat :
a. Kelainan pada pemeriksaan histerosalpingografi.
10
b. Riwayat abortus habitualis.
c. Duaan adanya mioma atau polip submukosa.
d. Perdarahan abnormal dari uterus.
e. Sebelum dilakukan bedah plastik tuba, untuk menempatkan kateter sebagai splint pada
bagian proksirnal tuba.
3. Pemeriksaan Hormonal
Hasil pemeriksaan hormonal dengan RIA harus selalu dibandingkan dengan nilai normal
masing – masing laboratorium.
Pemeriksaan FSH berturut – turut untuk memeriksa kenaikan FSH tidak selalu mudah,
karena perbedaan kenaikannya tidak sangat nyata, kecuali pada tengah – tengah siklus haid
( walaupun masih kurang nyata dibandingkan dengan puncak LH ). Pada fungsi ovarium
tidak aktif, nilai FSH yang rendah sampai normal menunjukkan kelainan pada tingkat
hipotalamus atau hipofisis. Sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kelainan primernya
pada ovarium.
4. Sitologi Vaginal Hormonal
Sitologi vagina hormonal menyelidiki sel – sel yang terlepas dari selaput lendir vagina,
sebagai pengaruh hormon – hormon ovarium (estrogen dan progesteron). Pemeriksaan ini
sangat sederhana, mudah dan tidak menimbulkan nyeri, sehingga dapat dilakukan secara
berkala pada seluruh siklus haid.
Tujuan pemeriksaan sitologi vagina hormonal ialah :
a. Memeriksa pengaruh estrogen dengan mengenal perubahan sitologik yang khas pada
fase proliferasi.
b. Memeriksa adanya ovulasi dengan mengenal gambaran sistologik pada fase luteal
lanjut.
c. Menentukan saat ovulasi dengan mengenal gambaran sitologik ovulasi yang khas.
d. Memeriksa kelainan fungsi ovarium pada siklus haid yang tidak berovulasi.
11
2..9 PEMERIKSAAN PADA INFERTILITAS SEKUNDER
a. Syarat-syarat pemeriksaan
Setiap pasangan infertile harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Itu berarti,
kalau istri saja sedangkan istrinya tidak mau di periksa, maka pasangan itu tidak
diperiksa.
Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut :
1) Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha
mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan bisa dilakukan lebih dini bila :
a) Pernah mengalami keguguran berulang,
b) Diketahui mengidap kelainan endokrin,
c) Pernah mengalami rongga panggul atau rongga perut, dan
d) Pernah mengalami bedah ginekologi.
2) istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama
pasangan itu datang ke dokter
3) pasangan infertile yang berumur 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan
infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.
4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertile yang tidak satu
pasangan anggotannya mengidap penyakit yang membahayakan kesehatan istri
dan anaknya.
b. Rencana dan jadwal pemeriksaan
Rencana dan jadwal pemeriksaan infertilitas terhadap pasangan suami dan istri
selama 3 siklus haid istri.
c. Pemeriksaan masalah-masalah infertilitas
Masalah-masalah infertilitas yang penting adalah (1) masalah air mani, (2)
masalah vagina, (3) masalah serviks, (4) masalah uterus, (5) masalah tuba, (6)
masalah ovarium, dan (7) masalah peritoneum.
1. Masalah air mani
Air mani yang ditampung dengan jalan masturbasi langsung kedalam botol
gelas bersih yang bermulut lebar, setelah obstinensi 3-5 hari. Sebaiknya
12
penampungan air mani itu dilakukan dirumah pasien sendiri dan dibawa ke
laboratorium setelah 2 jam.
Karateristik air mani
1) Koagulasi dan likuefaksi. Air mani yang di ejakulasi dalam bentuk cair akan
segera menjadi “agar” atau koagulum, untuk kemudian melekuefaksi dalam 5-
20 menit menjadi cairan yang agak pekat guna memungkinkan spermatozoa
bergerak dengan leluasa. Proses koagulasi dan likuefaksi diatur oleh enzim.
2) Viskositas. Setelah berlikuefaksi, ejakulat akan menjadi cairan homogen yang
agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek dengan sebatang lidi. Makin
panjang membenangnya makin tinggi viskositasnya. Pengukuran viskositas
seperti itu sangat subyektif.
3) rupa dan bau. Air mani yang baru di ejakulasi rupanya putih-kelabu, seperti
agar-agar.baunya langu seperti bau bunga akasia.
4) volum. Setelah abstinensi selama 3 hari, volum air mani berkisar antara 2,0-
5,0 ml.
5) PH air mani yang baru diejakulasi PH-nya berkisar antara 7,3-7,7, yang bila
dibiarkan lebih lama akn meningkat karena penguapan CO2-nya.
6) kecepatan gerak sperma 0,8-1,2 detik.
7) persentase gerak sperma motil 60%
8) uji fruktosa posiif.
Uji ketidak cocokan imunologik, Uji kontak air mani dengan lender serviks
(sperm cervical mucus contact test – SCMC test) yang dikembangkan oleh
Kremer dan Jager memperyunjukan adanya antibody lookal pada pria atau
wanita.
2. Masalah vagina
Kemampuan menyampaikan air mani kedalam vagina sekitar serviks perlu
untuk fertilitas. Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini adalah
adanya sumbatan dan peradangan. Sumbatan psikosen disebut Vaginismus atau
Disparenia, sedangkan sumbatan anatomic dapat karena bawaan atau perolehan.
Vaginitis karena Kandida albikans atau Trikomonas vaginalis hebat dapat
13
merupakan masalah, bukan karena anti spermisidalnya, melainkan arti
sengamanya.
3. Masalah serviks
Infertilitas Sekunder yang berhubungan dengan fakto serviks dapat
disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lender serviks yang abnormal, mal
posisi dari serviks, atau kombinasinya. Kelainan anatomis serviks misalnya ; cacat
bawaan (atresia), polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan serviks,
sinekia setelah konisasi, dan insenimasi yang tidak adekuat.
4. Masalah uterus
Prostaglandin memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa
kedalam uterus dan melewati penyempitan pada batas uterus dan tuba itu, uterus
sangat sensitive terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan
fase sekresi. Dengan demikian, kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat
merupakan masalah infertilitas.
Masalah lain yang dapat mengangu transportasi spermatozoa melalui
uterus adalah distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma atau polip; peradangan
endrometrium, dan gangguan kontraksi utrus. Kelainan-kelainan itu dapat
menggangu dalam hal implantasi, pertumbuhan intra uterin, dan nutrisi serta
oksigenasi janin.
5. Masalah tuba
Frekuensi factor tuba dalam infertilitas sangat bergantung pada populasi
yang diselidiki. Peranan factor tuba yang masuk akal adalah 25-50%. Dengan
deikian factor tuba dapat dikatakan paling sering ditemukan dalam masalah
infertilitas. Oleh karena itulah, penilain potensi tuba dianggap sebagai salah satu
pemeriksaan terpenting dalam pengobatan infertilitas.
6. Masalah ovarium
Deteksi tepat ovulasi kini tidak seberap penting lagi setelah diketahui
sperma dapat hidup dalam lender serviks selama 8 hari. Deteksi tepat ovulasi baru
diperlukan kalau akan dilakukan inseminasi buatan, menentukan saat senggama
yang jarang dilakukan, atau karena siklus hidnya sangat panjang. Bagi pasangan-
14
pasngan infertile yang bersenggama teratur , cukup dianjurkan bersenggama dua
kali sehari pada minggu dimana ovulasi diharapkan akan terjadi.dengan demikian
nasehat senggama yang terlalu ketat tidak dianjurkan lagi.
7. Masalah peritoneum
Laparoskopi diagnostic telah menjadi bagian integral terahkir pengelolaan
infertilitas untuk memeriksa masalah peritoneum. Menurut Albano, indikasi untuk
melakukan laparoskopi dignostik adalah :
a) Apabila selama 1 tahun pengobatan belum juga terjadi kehamilan
b) Siklus haid tidak teratur, ataun suhu basal badan monofasik;
c) Apabila istri pasangan infertil berumur 20 tahun lebih, atau mengalami infertilitas
selama 30 tahun lebih.
d) Terdapat riwayat laparotomi
e) Pernah dilkukan histerosalpingografi dengan media kontras larut minyak.
f) Terdapat riwayat apendititis
g) Pasturbasi beulang-ulang abnormal;
h) Di diagnosa endrometriosis;
i) Saat akan dilakukan inseminasi buatan.
j) Apabila hasil pemeriksaan laparoskopi sangat meragukan, dapat dilakukan
pemeriksaan histeroskopi.
LANGKAH PEMERIKSAAN
Pertama kali yang dilakukan dalam pemeriksaan adalah dengan mencari
penyebabnya. Adapun langkah pemeriksaan infertilitas adalah sebagai berikut :
Pemeriksaan Umum
Anamnesa, terdiri dari pengumpulan data dari pasangan suami istri secara umum dan
khusus.
Anamnesa umum
15
Berapa lama menikah, umur suami istri, frekuensi hubungan seksual, tingkat
kepuasan seks, penyakit yang pernah diderita, teknik hubungan seks, riwayat perkawinan
yang dulu, apakah dari perkawinan dulu mempunyai anak, umur anak terkecil dari
perkawinan tersebut.
Anamnesa khusus
Istri : Usia saat menarche, apakah haid teratur, berapa lama terjadi perdarahan/ haid, apakah
pada saat haid terjadi gumpalan darah dan rasa nyeri, adakah keputihan abnormal, apakah
pernah terjadi kontak bleeding, riwayat alat reproduksi (riwayat operasi, kontrasepsi, abortus,
infeksi genitalia).
Suami : Bagaimanakah tingkat ereksi, apakah pernah mengalami penyakit hubungan seksual,
apakah pernah sakit mump (parotitis epidemika) sewaktu kecil.
Pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan fisik umum meliputi tanda vital (tekanan darah,
nadi, suhu dan pernafasan).
Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin meliputi
darah lengkap, urin lengkap, fungsi hepar dan ginjal serta gula darah.
Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan penunjang disini bias pemeriksaan roentgen
ataupun USG.
Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Ovulasi
Pemeriksaan ovulasi dapat diketahui dengan berbagai pemeriksaan diantaranya : a)
Penatalaksanaan suhu basal; Kenaikan suhu basal setelah selesai ovulasi dipengaruhi oleh
hormon progesteron. b) Pemeriksaan vaginal smear; Pengaruh progesteron menimbulkan
sitologi pada sel-sel superfisial. c) Pemeriksaan lendir serviks; Hormon progesteron
menyebabkan perubahan lendir serviks menjadi kental. d) Pemeriksaan endometrium. e)
Pemeriksaan endometrium; Hormon estrogen, ICSH dan pregnandiol.
16
Gangguan ovulasi disebabkan : a) Faktor susunan saraf pusat ; misal tumor, disfungsi,
hypothalamus, psikogen. b) Faktor intermediate ; misal gizi, penyakit kronis, penyakit
metabolis. c) Faktor ovarial ; misal tumor, disfungsi, turner syndrome.
Terapi : Sesuai dengan etiologi, bila terdapat disfungsi kelenjar hipofise ddengan
memberikan pil oral yang mengandung estrogen dan progesteron, substitusi terapi
(pemberian FSH dan LH) serta pemberian clomiphen untuk merangsang hipofise membuat
FSH dan LH. Selain clomiphen dapat diberikan bromokriptin yang diberikan pada wanita
anovulatoir dengan hiperprolaktinemia. Atau dengan pemberian Human Menopausal
Gonadotropin/ Human Chorionic Gonadotropin untuk wanita yang tidak mampu
menghasilkan hormon gonadotropin endogen yang adekuat.
Pemeriksaan Sperma
Pemeriksaan sperma dinilai atas jumlah spermatozoa, bentuk dan
pergerakannya. Sperma yang ditampung/ diperiksa adalah sperma yang keluar dari
pasangan suami istri yang tidak melakukan coitus selama 3 hari. Pemeriksaan sperma
dilakukan 1 jam setelah sperma keluar.
Ejakulat normal : volume 2-5 cc, jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc,
pergerakan 60 % masih bergerak selama 4 jam setelah dikeluarkan, bentuk abnormal
25 %.
Spermatozoa pria fertil : 60 juta per cc atau lebih, subfertil : 20-60 juta per cc, steril :
20 juta per cc atau kurang.
Sebab-sebab kemandulan pada pria adalah masalah gizi, kelainan metabolisme,
keracunan, disfungsi hipofise, kelainan traktus genetalis (vas deferens).
Pemeriksaan Lendir Serviks
Keadaan dan sifat lendir yang mempengaruhi keadaan spermatozoa adalah : a)
Kentalnya lendir serviks; Lendir serviks yang mudah dilalui spermatozoa adalah
lendir yang cair. b) pH lendir serviks; pH lendir serviks ± 9 dan bersifat alkalis. c)
17
Enzim proteolitik. d) Kuman-kuman dalam lendir serviks dapat membunuh
spermatozoa.
Baik tidaknya lendir serviks dapat diperiksa dengan :
Sims Huhner Test (post coital tes), dilakukan sekitar ovulasi. Pemeriksaan ini
menandakan bahwa : teknik coitus baik, lendir cerviks normal, estrogen ovarial
cukup ataupun sperma cukup baik.
Kurzrork Miller Test, dilakukan bila hasil dari pemeriksaan Sims Huhner Test kurang
baik dan dilakukan pada pertengahan siklus.
Terapi yang diberikan adalah pemberian hormone estrogen ataupun antibiotika bila terdapat infeksi.
Pemeriksaan Tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan : a) Pertubasi (insuflasi = rubin test);
pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan CO2 ke dalam cavum uteri. b)
Hysterosalpingografi; pemeriksaan ini dapat mengetahui bentuk cavum uteri, bentuk liang
tuba bila terdapat sumbatan. c) Koldoskopi; cara ini dapat digunakan untuk melihat keadaan
tuba dan ovarium. e) Laparoskopi; cara ini dapat melihat keadaan genetalia interna dan
sekitarnya.
Pemeriksaan Endometrium
Pada saat haid hari pertama atau saat terjadi stadium sekresi dilakukan mikrokuretase.
Jika pada stadium sekresi tidak ditemukan, maka : endometrium tidak bereaksi terhadap
progesteron, produksi progesterone kurang.
Terapi yang diberikan adalah pemberian hormon progesteron dan antibiotika bila terjadi
infeksi.
18
2.10 PENATALAKSANAAN
PASANGAN MANDUL (INFERTILITAS)
Merupakan kesatuan biologis.
ANAMNESA UMUM KECANDUAN DALAM
Berapa lama kawin Perokok
Tentang hubungan seks Peminum
Apakah infeksi Narkotik
-penyakit hubungan seks
-operasi alat kandungan
genetalia luar
PEMERIKSAAN DASAR UMUM
Fisik umum suami/istri
Laboratorium dasar
Roentgen/ultrasonografi.
PEMERIKSAAN KHUSUS WANITA PEMERIKSAAN KHUSUS
Cairan serviks Penis –kelainan anatomi
-Imunologis -ejakulasi terbalik
-Shim Huhner Testis – kelainan anatomi
-kelinan pem. darah
Mikrokuretage
Partubasi
Hiteroskopi
Histerosalpingografi
Tes terjadinya ovulasi
laparoskopi
PENGOBATAN PASANGAN KURANG SUBUR
Bersifat spesialis
Pengobatan kompleks
Dengan obat khusus
Dengan tindakan operasi
SIKAP BIDAN DI DESA/POLINDES
Melakukan rujukan 19
Memberikan nasehat
Nasehat Untuk Pasangan Infertil
Bidan dapat memberikan nasehat kepada pasangan infertil, diantaranya :
Meminta pasangan infertil mengubah teknik hubungan seksual dengan memperhatikan masa
subur.
Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan.
Menghitung minggu masa subur.
Membiasakan pola hidup sehat.
2.11 KONSEP ASUHAN KEBIDANAN
2.11.1 Definisi
Asuhan kebidanan adalah aktifitas atau intervensi yang dilaksanakan
oleh bidan kepada klien yang mempunyi kebutuhan atau permasalahan khususnya
dalam bidang KIA.
2.11.2 Tujuan Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan masa nifas bertujuan sebagai :
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya secara fisik dan psikologis.
2. Melaksanakan skrening yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila trejadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan
bayi sehat.
4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
2.11.3 Metode
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien, bidan menggunakan
pendekatan pemecahan masalah yang disebut manajemen kebidanan.
20
Tahap – tahap manajemen ada 7 langkah yang berurutan (7
langkah Varney) :
1. Pengumpulan data – data
2. Mengidentifikasi masalah atau diagnosa
3. Mengantisipasi masalah potensial
4. Menetapkan kebutuhan segera
5. Menyusun rencana tindakan
6. Melaksanakan perencanaan
7. Evaluasi
Langkah I : Pengumpulan data – data
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang
berkaitan dengn kondisi klien.
Langkah II : Mengidentifikasi masalah atau diagnosa
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi data yang telah dikumpulkan
sehingga ditentukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
Langkah III : Mengantisipasi masalah potensial
Pada langkah ini kita mengantisipasi masalah potensial berdasarkan diagnosa
atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap
– siap mencegah masalah potensial ini benar – benar terjadi.
Langkah IV : Menentukan kebutuhan segera
Bidan perlu tindakan segera untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama
dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai kondisi klien.
Langkah V : Menyusun rencana tindakan
Pada langkah ini direncanakan asuhan menyeluruh ditentukan oleh langkah –
langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan langkah selanjutnya dari manajemen
terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
21
Langkah VI : Melaksanakan perencanaan
Perencanaan ini dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh
klien atau anggota tim kesehatan lainnya, walau bidan tidak melakukannya sendiri ia
tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
Langkah VII : Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar – benar terpenuhi sesuai
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam diagnosa atau masalah. Rencana
tersebut dapat dianggap efektif jika memang efektif dalam pelaksanaannya.
1. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subyektif
a) Biodata
Nama : Nama perlu ditanyakan agar tidak
keliru bila ada kesamaa nama dengan klien lain. (Ibrahim C.,
1984 : 84)
Umur : Dalam kurun waktu reproduksi sehat
dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 –
30 tahun.
(Sarwono, 1999 : 23)
Semua wanita subur 20 – 30 tahun saat yang tepat untuk
persalinan dengna jarak > 2 tahun merupakan masa reproduksi
yang sehat. (Depkes RI, 1993 : 23)
Pendidikan : Makin rendah pendidikan ibu, kematian bayi
22
semakin tinggi sehingga perlu diberi penyuluhan. (Depkes RI,
1993 : 30)
Pekerjaan : Untuk mengetahui taraf hidup dan sosial
ekonominya agar nasehat yang diberikan sesuai, juga
mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak,
misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin zat yang dihisap
akan berpengaruh pada janin. (Ibrahim .C, 1989
: 85)
Paritas : Paritas 2 – 3 merupakan paritas yang paling
aman ditijnau dari sudut kematian maternal. (Prawirohardjo
.S, 1999 : 23)
Perkawinan : Berapa kali nikah atau berapa lamanya untuk
membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu,
bila orang hamil sudah lama menikah nilai anak tentu besar
sekali dan ini harus diperhitungkan dalam pimpinan
persalinan. (Sastrawinata S., 1983 : 55)
Alamat : Untuk mengetahui ibu tinggal dimana,
menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namnya sama agar
dapat dipastikan ibu yang mana yang hndak ditolong untuk
kunjungan pasien. (Ibrahim C., 1989 : 84)
b) Keluhan Utama
2 – 6 jam : - Nyeri perut bagian bawah
- Darah keluar banyak
- Nyeri luka jahitan
- ASI belum keluar
23
- Ibu belum bisa BAK
2 - 6 hari :- Ibu belum bisa meneteki bayi
- Ibu belum bisa BAB
- Payudara terasa penuh dan keras
- Badan teraba panas
2 – 6 minggu :- Bayinya tidak mau menetek
- Darah yang keluar berwarna merah dan berbau
busuk.
- Ibu bingung untuk ikut KB
(Ibrahim C., 1980 : 37 dan Prawirohardjo S., 2002 :
123)
c) Riwayat Menstruasi
Haid : menarche pada umur pubertas 12 – 16 tahun, selama haid
siklus teratur 28 – 35 hari, lama 3 – 7 hari dengan pengeluaran darah +/- 50 –
70 cc. ibu tidak mengalami gangguan haid. (Sarwono, 1999 : 103 – 104)
Selama haid tidak ditemukan keluhan pusing, pingsan, ataupun tanda
– tanda anemia yang lain serta jumlah perdarahan yang berlebihan hingga
atau stosel. (Persis Mary H., 1995)
d) Riwayat Kesehatan Ibu
Ibu hamil dengan riwayat hipertensi perlu ditentukan pimpinan persalinan
dan kemungkinan bisa menyebabkan transrent hypertension.
Ibu hamil dengan riwayat PMS aktif kemungkinan bisa menyebabkan
kuman bisa menular pada bayi saat persalinan.
Ibu dengan penyakit DM mempunyai pengaruh pada persalinannya dan
bayi bisa cacat bawaan – janin besar.
Ibu menderita hepatitis kemungkinan bayi akan tertular melalui ASI.
(Sarwono, 1999 : 401)
24
e) Riwayat Kesehatan
Ditanyakan mengenai latar belakang kesehatan keluarga terutama :
Anggota keluarga yang mempunyai penyakit tertentu terutama penyakit
menular (TBC, hepatitis).
Penyakit keluarga yang dapat diturunkan (jantung, asma).
Keturunan hasil kembar.
Informasi ini sangat penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi
pada ibu dan mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya. (Depkes
RI, 1993 : 63)
f) Riwayat Kehamilan Dulu
Hal ini ditanyakan khusus untuk multigravida, apakah kehamilan
yang dulu ada penyakit seperti perdarahan, mual, muntah, dan lain – lain,
berapa kali periksa ANC dan pernah imunisasi TT pemberian tambah darah
minimal 90 tablet dan vitamin hamil dan nutrisi.
g) Riwayat Persalinan Dulu
Adakah penyakit pada persalinan terdahulu seperti perdarahan,
section caesaria, sulutio placenta. Hal ini ditanyakan untuk persiapan
persalinan ini.
h) Riwayat Nifas Dahulu
Adakah penyakit nifas yang lalu (perdarahan, febris, kemungkinan
terjadi pada nifas sekarang) missal syok pada masa nifas, seperti syok
haemoragik, syok kardiogenik, infeksi pada nifas (febris).
i) Riwayat Keluarga Berencana
25
Ditanyakan jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, lama memakai
alat kontrasepsi, alasan memakai, adakah keuhan selama memakai alat
kontrasepsi. (Depdikbud Unair, 1999 : 111)
j) Pola Kebiasaan
Nutrisi :
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan
makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur – sayuran dan
buah – buahan.
(Mochtar .R, 1998 : 117)
Personal Hygiene :
Menjaga kebersihan tubuh dan terutama pada alat genetalia, mencegah
terjadinya infeksi. Usahakan agar ibu mandi dengan air bersih dan juga
membersihkan daerah vital, merawat luka perineum jika ada jahitan.
Eliminasi :
BAK hendaknya dapat dilakukan sendiri secepatnya, kadang – kadang
wanita mengalami sulit kencing karena sfingter uretra ditekan oleh kepala
janin dan spasme oleh iritasi M. Sfingter Ani. Selama persalinan BAB
harus dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan.
Istirahat :
Istirahat sangat penting bagi ibu pasca persalinan. Ibu harus terlentang
selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring ke kanan dan ke
kiri untuk mencegah terjadinya trombosit. (Rustam Mochtar, 1998 : 116)
Aktivitas
Ibu diperbolehkan miring ke kanan dan ke kiri, bangun, duduk di tempat
tidur cukup istirahat beberapa jam setelah melahirkan ± 6 – 8 jam.
Setelah melahirkan, diperbolehkan turun dan jalan – jalan ini biasanya
disebut early ambulation. (Ibrahim C., 1980 : 36)
26
B. Data Obyektif
a) Pemeriksaan umum : Baik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tensi normal : 110 / 70 mmHg – 130 / 90 mmHg
Nadi normal : 80 – 100x / menit
Suhu normal : 36,5 o C – 37 o C
Nafas normal : 16 – 24x / menit
b) Riwayat Persalinan
Riwayat persalinan secara normal, spontan belakang kepala, ditolong bidan.
Kala I
Untuk primigravida berlangsung ± 12 jam kontraksi yang sebelumnya
tidak teratur menjadi lebih lama dan kuat sehingga pembukaan menjadi
lengkap 10 cm.
- Fase laten 0 – 4 cm : ± 7 – 8 jam
- Fase aktif : fase akselarasi : 2 jam
- Fase dilatasi maksimal : 2 jam
Kala II
Primi berlangsung 60 menit dan multi berlangsung 30 menit dengan his
menjadi lebih kuat, kontraksinya 50 – 100 / detik datangnya tiap 2 –
3 menit.
(Sulaiman, 1983 : 260)
Kala III
27
Berlangsung 5 – 10 menit setelah anak lahir. Keadaan placenta lengkap
15 – 20 kotiledon, diameter 15 – 20 cm, tebal 1,5 – 2,5 cm, berat ± 500
gram, panjang tali pusat 50 – 60 cm, tidak ditentukan placenta berlubang.
Tidak ada pembuluh darah yang terputus.
(Prawirohardjo .S, 1983 : 264)
c) Pemeriksaan Fisik
Kepala
- Muka : pucat atau tidak, warna muka ibu setelah
melahirkan kelihatan pucat disebabkan adanya perdarahan.
- Mata : simetris atau tidak, conjungtiva pucat atau
tidak karena berhubungan dengan anemia karena kehilangan
darah saat proses persalinan. (Ibrahim C., 1980 : 81)
- Mulut : bibir tampak pucat kemungkinan anemia
(timbulnya rasa nyeri hebat).
- Leher : pembesaran kelenjar tiroid kemungkinan
mengalami kekurangan yodium.
- Dada : puting susu menonjol atau tidak, ASI keluar
banyak atau sedikit, karena air susu merupakan makanan
pokok bagi bayi untuk tumbuh kembang. (Ibrahim C., 1980 :
19)
Abdomen
- Inspeksi : tidak ada luka bekas operasi.
- Palpasi : TFU 2 jari di bawah pusat merupakan
perubahan alat – alat kandungan atau uterus yanbg
terjadi setelah uri lahir, kontraksi otot – otot uterus
baik atau lemah, kontraksi tersebut berguna untuk
mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan dan
28
mencegah terjadinya perdarahan. (Ibrahim C., 1980 :
12).
- Auscultasi : bising usus
- Perkusi : tidak kembung
Genetalia
- Lochea rubra
Pada kurang 2 hari post partum berisi darah segar dan sisa – sisa
selaput ketuban, sel – sel desidua, verniks kaseosa, lanugo dan
mekonium.
- Lochea sanguinolenta
Berwarna kuning berisi darah dan lendir pada hari ke 3 – 7 pasca
persalinan.
- Lochea serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7 – 14 pasca
persalinan.
- Lochea alba
Cairan putih selama 2 minggu/ perineum utuh atau episiotomi.
(Mochtar Rustam, 1998 : 116)
- Anus
Ada atau tidak haemoroid
- Ekstrimitas
Oedema atau tidak, jika ada oedema disebabkan adanya trombosit dan
tromboplebitis.
Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
29
2. Rongent
II. Identifikasi Masalah atau Diagnosa
Diagnosa : P10001 dengan 2 – 6 jam post partum fisiologis masalah yang terjadi 2 – 4
jam post partum.
- Kontraksi uterus lemah
- Perdarahan yang bayak
- Gangguan psikologis (cemas, sehubungan dengan tidak bisa meneteki bayinya).
- Potensial terjadinya pembengkakan payudara.
- Potensial terjadi fenris puerperalis.
III. Mengantisipasi Masalah Potensial
Masalah potensial yang terjadi pada masa nifas
1. Perdarahan
2. Terjadinya infeksi
3. Terjadinya bendungan payudara
IV. Menentukan Kebutuhan Segera
Kebutuhan yang segera diberikan adalah :
1. Observasi tanda – tanda vital.
2. Observasi tanda infeksi, perdarahan, kontraksi uterus.
3. Rawat luka perineum.
4. Pemberian antibiotika.
V. Menyusun Rencana Tindakan
Perencanaan
- Diagnosa : Ibu post partum
- Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan
diharapkan tidak terjadi komplikasi
30
- Kriteria :
1. Keadaan umum ibu baik.
2. Tanda – tanda vital normal.
3. Suhu : 36,5 o C
Tensi : 110/70 mmHg – 130/90 mmHg
Nadi : 80 – 100x / menit
R-R : 16 – 24x / menit
Intervensi
1. Jelaskan pada ibu pentingnya masa nifas
R/ Ibu mengerti dan mampu beradaptasi dengan keadaan.
2. Anjurkan ibu untuk mobilisasi diri
R/ mempercepat proses involusi dan mencegah terjadinya infeksi.
3. Anjurkan ibu untuk makan dan minum
R/ mengganti tenaga yang dikeluarkan saat persalinan.
4. Beri posisi senyaman mungkin untuk istirahat
R/ memperlancar peredarana darah dan membuat ibu nyaman.
Masalah 1: Nyeri bekas jahitan perineum
Tujuan : Ibu dapat beradaptasi dengan nyerinya dan lebih
tenang.
Intervensi :
1. Jelaskan pada ibu tentang penyebab nyeri
R/ Ibu kooperatif dan mengerti tentang penyebab nyeri.
2. Anjurkan ibu untuk menarik nafas panjang
31
R/ Relaksasi oto – otot untuk mengurangi rasa nyeri.
3. Ajarkan cara merawat luka perineum dengan mnegganti kasa tiap kali habis
mandi dan setelah BAB dan BAK
R/ mencegah infeksi dan mengurangi rasa nyeri.
Masalah II : Kontraksi uterus lemah
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : Kontaksi uterus baik fundus uteri teraba bulat,
keras
Intervensi :
1. Lakukan massage uterus secara melingkar
R/ Memberi rangsangan uterus berkontraksi dengan baik.
2. Keluarkan stosel darah dalam uterus
R/ Uterus mnejadi berkontraksi.
3. Kosongkan kandung kemih yang penuh
R/ Tidak menghambat kontraksi uterus.
4. Berikan alat uterotonika
R/ Dapat membantu kontraksi uterus.
Masalah III : Perdarahan yang banyak
Tujuan : Perdarahan dapat diatasi
Kriteria :- Nadi normal 80 – 100 x / menit
- Warna muka tidak pucat
- Ibu merasa tenang
- Perdarahan normal ± 50 cc
32
Intervensi :
1. Cari penyebab perdarahan
R/ Dapat menfokuskan pada penyebab dan segera mengatasinya.
2. Lakukan massage uterus
R/ Menguatkan kontraksi uterus.
3. Lakukan penekanan aorta abdominal
R/ Menekan aorta addominal mencegah keluarnya darah.
Masalah IV : Gangguan psikologis (cemas)
Tujuan : Cemas dapat teratasi
Kriteria :- Ibu senang dengan kelahiran bayinya.
- Ibu dapat merawat bayinya dengan benar.
- Ibu dapat meneteki bayinya dengan benar.
Intervensi :
1. Berikan bimbingan kepada ibu tentang penyesuaian diri
R/ Mengatakan rasa cemas karena kelahiran sang bayi.
2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat bayinya
R/ Ibu dapat merawa bayinya dengan benar.
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang cara meneteki yang benar.
R/ Ibu dapat meneteki bayinya dengan benar.
4. Tunjukkan rasa simpati, menghargai, memberi ucapan selamat kepada ibu
R/ Memberikan perasaan senang pada ibu.
Masalah V : Potensi terjadinya pembengkakan payudara
33
Tujuan : Tidak terjadinya pembengkakan payudara.
Kriteria : - ASI keluar lancar
- Ibu mau menyusui bayinya.
Intervensi :
1. Anjurkan pada ibu untuk menyusui bayinya dengan segera
R/ Memperlancar produksi ASI.
2. Ajarkan perawatan payudara dengan massage
R/ Melebarkan pembuluh darah pada payudara sehingga ASI keluar banyak.
3. Anjurkan ibu makan makanan bergizi
R/ Meningkatkan kualitas air susu dan memperbanyak produksi air susu.
Masalah VI : Potensial terjadinya februs puerperalis
Tujuan : Tidak terjadi febris puerperalis
Kriteria : - Suhu ibu normal 36,5 o C - 37 o C
Intervensi :
1. Lakukan observasi pada 2 jam post partum
R/ Mengetahui peningkatan suhu tubuh normal atau tidak.
2. Anjurkan ibu untuk banyak minum
R/ Memperlancar proses metabolisme.
3. Jaga kebersihan ibu, petugas dan ruang perawatan
R/ Mencegah terjadinya infeksi.
VI. Melakukan Perencanaan
Langkah ini dilakukan oleh seluruh bidan atau sebagian oleh wanita
tersebutjika belum ditugaskan oleh orang lain tetapibidan memikul tanggung
jawab tentang pelaksanaannya.
34
VII. Evaluasi
S. Data Subyektif
- Ibu mengatakan sudah menjalankan nasehat yang diberikan oleh petugas
kesehatan.
- Ibu mengatakan keadaannya mulai membaik.
O. Data Obyektif
- Suhu : 36,5 o C
- Nadi : 84x / menit
- Nafas : 20x / menit
- Tensi : 120 / 90 mmHg
- TFU : 2 jari di bawah pusat
- Perdarahan : 1 kotek penuh
- Kontraksi uterus : baik
A. Assesment
P10001 dengan post partum normal.
P. Rencana
- Observasi tanda vital ibu.
- Observasi TFU, perdarahan, kontraksi uterus.
- Kolaborai dengan dokter dalam pemberian terapis.
(Mochtar Rustam, 1995)
35
BAB III
TINJAUAN KASUS
Pengkajian tanggal : 21 Agustus 2011
Jam : 19.30
I. PENGKAJIAN
DATA SUBYEKTIF
A. Identitas
Nama Istri : Ny “B” Nama Suami : Tn “H”
Umur : 26thn Umur : 27thn
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : STM
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Granit Kumala Sari
Kunjungan ke :1
Alasan kunjungan :
Ibu mengatakan ingin berkonsultasi perihal keadaanya yang tak kunjung hamil.
Keluhan utama :
Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah 1thn lebih dan sangat mendambakan
hadirnya seorang anak namun sampai sekarang tak kunjung hamil.
B. Riwayat Obstetri
1. Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun
Siklus : 28 hari
Lama Haid : 6-7 hari
Sifat Darah :encer, merah dan berbau khas
36
Banyak Darah : 2-3x ganti pembalut dalam sehari
Dismenorhoe :-
Fluor Albus :-
2. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Um Komplikasi Bayi Nifas
Usia Jenis Tempat
N ur Penolo Jenis
Kehamil Persalin Persalina PB/B Keadaa Keadaa Laktas
o Ana Ibu Bayi ng Kelami
an an n B n n i
k n
Belum pernah hamil,bersalin dan nifas
3. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
Mulai memakai Berhenti / ganti cara
No Jenis Kontrasepsi
tanggal oleh tempat keluhan Tanggal oleh tempat alasan
Belum pernah menggunakkan alat kontrasepsi
.
C. Riwayat Kesehatan
1. Riwayatah penyakit yang pernah diderita
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (tbc, hiv), menurun
(DM,Hipertensi), dan berbahaya (kanker).
2. Penyakit penyakit keluarga
Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang pernah atau sedang
menderita penyakit menular (tbc,hiv), menurun (DM,Hipertensi), berbahaya (kanker)
3. Riwayat penyakit ginekologi
Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak sedang dan tidak pernah menderita penykit
ginekologi seperti ( kanker serviks, kanker ovarium, radang panggul)
37
D. Pola Kehidupan Sehari – hari (Sebelum dan Selama MKB)
1. Pola nutrisi dan cairan:
Nutrisi : Makan 3x sehari porsi sedang gizi seimbang
Cairan : Minum air putih7gelas sehari dan sering minum susu kedelai
2. Pola Eliminasi:
BAB : 1x dalam sehari, konsistensi lembek dan berwarna kuning
BAK : 4-5x dalam sehari, warna kuning jernih
3. Pola Aktivitas:
Ibu mengatakan bahwa setiap harinya dia hanya melakukan pekrjaan rumah seperti
biasa yaitu menyapu, mengepel dan mencuci piring.
4. Pola Istirahat:
Tidur malam : 8 jam
Tidur siang : + 2 jam
5. Pola Personal Hygiene:
Mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari, gosok gigi 2x sehari keramas 1x dalam seminggu.
6. Pola Hubungan Seksual:
6-7 kali dalam seminggu.
E. Riwayat pernikahan, psikososial dan spiritual
1. Riwayat pernikahan
Status pernikahan : sah
Lama menikah : + 12 bulan
Pengambil keputusan dalam keluarga : suami
2. Riwayat psikologi
Ibu mengatakan bahwa dirinya dan suaminya saat ingin memiliki anak dan ibu
juga mengatakan sangat khawatir dengan keadaanya karena takut terjadi masalah pada
organ reproduksinya.
38
3. Riwayat spiritual
Ibu mengatakan bahwa dia selalu beribadah sesuai dengan agamanya dan selalu
berdoa agar dikaruniai seorang anak.
DATA OBYEKTIF
A. Pemeriksaan Umum
1. Tanda-tanda Vital:
Tensi : 120/70 mm/Hg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 36 ºC
Pernapasan : 24 x/menit
2. Keadaan Umum: Baik
3. Kesadaran: Composmentis
B. Pemeriksaan Antopometri
1. Berat Badan: 49kg
2. Tinggi Badan: 152cm
3. LILA: 25 cm
C. Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi)
Kepala:
Bersih, tidak ada ketombe, rambut sedikit rontok panjang hitam.
Muka:
Tidak ada hiperpigmentasi, tidak ada odem. Tidak pucat
Mata:
sclera tidak kuning, konjungtiva tidak pucat, fungsi penglihatan baik,simetris.
Telinga:
Bersih, tidak ada secret, fungsi pendengaran baik
Hidung:
39
Tidak ada polip, tidak ada secret, tidak ada pernapasan cuping hidung.
Mulut dan Gigi:
Mulut : Tidak ada sariawan, bibir basah
Gigi : Sedikit caries, tidak ada gigi yang berlubang
Leher:
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugolaris.
Ketiak:
Tidak teraba adanya benjolan
Payudara:
tidak teraba adanya benjolan, konsistensi kenyal, tidak ada odem, puting belum
menonjol
Abdomen:
Tidak ada luka bekas operasi,tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan
Perineum :
Bersih, tidak terdapat jaringan parut.
Genetalia:
Tidak ada odem, tidak ada varises, tidak ada condiloma, tidak ada herpes.
Anus:
Tidak ada haemorroid
Ekstremitas:
Atas : tidak ada odem, tidak ada varises, tidak cacat
Bawah : tidak ada odem, tidak ada varises, tidak cacat
40
D. Pemeriksaan Dalam & Penunjang
Tidak dilakukan
II. INTERPRETASI DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN
TGL/ jam Data Dasar DX/ Masalah
21 Agst 2011 S : Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya
19.30 WIB Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah anak
menikah + 12 bulan tapi tidak kunjung
hamil
Ibu mengatakan sangat khawatir dengan
keadaannya takut dirinya ada masalah
dengan organ reproduksinya.
O:
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda – tanda vital
Tensi: 120 mmHg
Nadi : 80 x/mnit
Suhu : 37oC
Pernapasan : 24 x/mnit
A. Diagnosa:
Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya anak
Dasar:
Data Subyektif:
41
Ibu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah + 12 bulan tapi tidak kunjung
hamil
Ibu mengatakan sangat khawatir dengan keadaannya takut dirinya ada masalah
dengan organ reproduksinya.
Data Obyektif:
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda – tanda vital
Tensi : 120 mmHg
Nadi : 80 x/mnit
Suhu : 37oC
Pernapasan : 24 x/mnit
B. Masalah
1. Ibu mengatakan ingin memiliki anak.
C. Kebutuhan
1. Lakukan pemeriksaan TTV
2. KIE ibu tentang pola hubungan seksual
3. KIE ibu tentang pola hidup sehat
III. ANTISIPASI MASALAH/DIAGNOSA POTENSIAL
- Infertilitas sekunder
Menikah >12 bulan belum kunjung hamil.
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA (Bila ada)
Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan gynekologi untuk pemberian terapi dan
pemeriksaan lebih lanjut dan menyeluruh.
42
V. PERENCANAAN (Disertai dengan rasional)
Tgl/ jam diagnosa tujuan intervensi
21-080-11 Ny “B” P0-0 usia 1. Setelah dilakukan asuhan 1. Lakukan pendekatan pada
19.40 26thn Ingin punya kebidanan diharapkan ibu dan klien
anak suami merasa puas. R/:Hubungan yang kooperatif
2. Ibu dan suami berusaha bersama antara petugas kesehatan
untuk mendapat keturunan agar dan klien dapat
keluarga bahagia dan sejahtera. mempermudah asuhan
3. Ibu dan suami mendapatkan Kabidanan yang akan
asuhan kebidanan yang dilakukan
komprehensif dan bermutu.
2. Lakukan pemeriksaan TTV
R/: Tanda-tanda vital
Kriteria Hasil :
merupakan gambaran
1. Ibu dan suami merasa tenang umum dari keadaan pasien.
setelah mendapat penjelasan
3. Beritahu hasil pemeriksaan
tentang keadaanya.
R/: Dengan memberitahukan
2. Pasangan tau,mau dan mampu
hasil pemeriksaan pada ibu
untuk berusaha agar segera hamil.
maka ibu dapat mengetahui
3. Keadaan umum : Baik
keadaan dan kondisinya
4. Keasadadaran : Composmentis
sehingga ibu lebih tenang.
5. Tanda – tanda vital
TD : 90/60 – 140/90 mmHg 4. KIE ibu tentang infertilitas
R/: Agar pasangan tidak
Nadi : 80 – 100 x/menit
saling menyalahkan dan
RR : 18 – 25 x/mnit berusaha bersama
Suhu : 36,5oC – 37,5oC 5. Berikan informasi tentang
pola hubungan seksual
R/: Dapat membantu
43
memperbesar
kemungkinan hamil.
6. Anjurkan ibu untuk makan –
makanan bergizi yang
dapat menunjang
kesuburan
R/: Nutrisi yang adekuat
membantu tubuh lebih kuat
dan terhindar dari berbagai
penyakit.
7. Anjurkan ibu untuk pola
hidup sehat
R/: Pola hidup yang tidak
sehat dapat menjadi faktor
resiko terjadinya
infertlitas.
8. Kolaborasi dengan dokter
spesialis obstetri dan
gynekologi.
R/:Untuk mendapat
pemeriksaan dan terapi
yang lebih tepat dan
komprehensif.
Tanggal: 21 Agustus 2011 Pukul: 19.40
Diagnosa :
Ny “B” P0-0 usia 26thn Ingin punya anak.
Tujuan :
44
4. Setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu dan suami merasa puas.
5. Ibu dan suami berusaha bersama untuk mendapat keturunan agar keluarga bahagia
dan sejahtera.
6. Ibu dan suami mendapatkan asuhan kebidanan yang komprehensif dan bermutu.
Kriteria Hasil :
6. Ibu dan suami merasa tenang setelah mendapat penjelasan tentang keadaanya.
7. Pasangan tau,mau dan mampu untuk berusaha agar segera hamil.
8. Keadaan umum : Baik
9. Keasadadaran : Composmentis
10.Tanda – tanda vital
TD : 90/60 – 140/90 mmHg
Nadi : 80 – 100 x/menit
RR : 18 – 25 x/mnit
Suhu : 36,5oC – 37,5oC
Rencana :
9. Lakukan pendekatan pada klien
R/:Hubungan yang kooperatif antara petugas kesehatan dan klien dapat
mempermudah asuhan Kabidanan yang akan dilakukan
10.Lakukan pemeriksaan TTV
R/: Tanda-tanda vital merupakan gambaran umum dari keadaan pasien.
11.Beritahu hasil pemeriksaan
R/: Dengan memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu maka ibu dapat mengetahui
keadaan dan kondisinya sehingga ibu lebih tenang.
12.KIE ibu tentang infertilitas
R/: Agar pasangan tidak saling menyalahkan dan berusaha bersama
13.Berikan informasi tentang pola hubungan seksual
R/: Dapat membantu memperbesar kemungkinan hamil.
14.Anjurkan ibu untuk makan – makanan bergizi yang dapat menunjang kesuburan
45
R/: Nutrisi yang adekuat membantu tubuh lebih kuat dan terhindar dari berbagai
penyakit.
15.Anjurkan ibu untuk pola hidup sehat
R/: Pola hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor resiko terjadinya infertlitas.
16.Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan gynekologi.
R/:Untuk mendapat pemeriksaan dan terapi yang lebih tepat dan komprehensif.
VI. PELAKSANAAN/IMPLEMENTASI
Tgl/jam Diagnosa Implementasi
21-08-11 Ny “B” P0-0 usia 26thn 1. Melakukan pendekatan kepada klien dengan cara :
19.45 Ingin punya anak Memberikan salam
Menyapa ibu
Menanyakan keluhan ibu
.Bersikap ramah
Sabar
Menghargai dan menghormati ibu.
2. Melakukan pemeriksaan ttv dan memberitahukan hasilnya
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/mnit
Suhu : 37C
Pernapasan :24x/mnit
3. Memberitahu ibu dan suami tentang pengertian dan macam
– macam infertlitas dan penyebabnya.
Infertlitas : Pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta
berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil.Infertilitas
merupakan masalah pasangan yaitu 50% pria dan 50%
wanita.
Macam – macam infertilitas.
46
Infertilitas Primer
Bila pasangan tersebut belum hamil sama sekali.
Infertilitas Sekunder
Bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan
namun setelah itu tidak dapat hamil kembali
Penyebab kemandulan pada perempuan.
Gangguan yang paling sering dialami perempuan
mandul adalah gangguan ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi
maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi. Salah satu
tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah
haid yang tidak teratur dan haid yang tidak ada sama
sekali.
Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan
pada wanita adalah :
a. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh
karena infeksi, endometriosis dan operasi pengangkatan
kehamilan ektopik.
b.Gangguan fisik rahim.
c. Umur.
d.Stress.
e. Kurang gizi.
f. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
g.Merokok.
h.Alkohol.
i. Penyakit menular seksual.
j. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya
keseimbangan hormon.
Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki
a. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang
47
dihasilkan sedikit atau tidak sama sekali.
b.Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan
membuahinya. Masalah ini biasanya disebabkan oleh
karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
pergerakannyapun tidak normal.
c. Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :
d.Suka minum alcohol dan narkoba.
e. Polusi udara.
f. Merokok.
g.Masalah kesehatan lainnya.
h.Obat – obatan yang tidak jelas.
i. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan
kanker.
j. Umur.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga pola hidup sehat
dengan istirahat yang cukup dan makan – makanan yang
bergizi dan yang banyak mengandung vit.e seperti
kecambah dsb.
5. Menganjurkan ibu dan suami. untuk melakukan hubungan
seksual setidaknya 3x/seminggu.
6. Menganjurkan ibu dan suami untuk selalu berdoa dan
berusaha.
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
terapi.
8. Memberikan dukungan moril kepada ibu dengan menjawab
dan mendengarkan keluhan ibu dengan sabar.
Tanggal: 21 Agustus 2011 Pukul: 19.45
1. Melakukan pendekatan kepada klien dengan cara :
Memberikan salam
48
Menyapa ibu
Menanyakan keluhan ibu
.Bersikap ramah
Sabar
Menghargai dan menghormati ibu.
2. Melakukan pemeriksaan ttv dan memberitahukan hasilnya
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/mnit
Suhu : 37C
Pernapasan :24x/mnit
3. Memberitahu ibu dan suami tentang pengertian dan macam – macam infertlitas dan
penyebabnya.
Infertlitas : Pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama
satu tahun tetapi belum hamil.Infertilitas merupakan masalah pasangan
yaitu 50% pria dan 50% wanita.
Macam – macam infertilitas.
Infertilitas Primer
Bila pasangan tersebut belum hamil sama sekali.
Infertilitas Sekunder
Bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu
tidak dapat hamil kembali
Penyebab kemandulan pada perempuan.
Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan
ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi.
Salah satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah haid yang tidak
teratur dan haid yang tidak ada sama sekali.
Gangguan lain yang bisa menyebabkan kemandulan pada wanita adalah :
k. Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh karena infeksi,
endometriosis dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik.
49
l. Gangguan fisik rahim.
m. Umur.
n. Stress.
o. Kurang gizi.
p. Terlalu gemuk dan terlalu kurus.
q. Merokok.
r. Alkohol.
s. Penyakit menular seksual.
t. Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan
hormon.
Penyebab Kemandulan pada Laki – Laki
c. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau
tidak sama sekali.
d. Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah
ini biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga
pergerakannyapun tidak normal.
Penyebab risiko kemandulan pada laki – laki :
i. Suka minum alcohol dan narkoba.
j. Polusi udara.
k. Merokok.
l. Masalah kesehatan lainnya.
m. Obat – obatan yang tidak jelas.
n. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker.
o. Umur.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga pola hidup sehat dengan istirahat yang
cukup dan makan – makanan yang bergizi dan yang banyak mengandung vit.e
seperti kecambah dsb.
5. Menganjurkan ibu dan suami. untuk melakukan hubungan seksual setidaknya
3x/seminggu.
6. Menganjurkan ibu dan suami untuk selalu berdoa dan berusaha.
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.
50
8. Memberikan dukungan moril kepada ibu dengan menjawab dan mendengarkan
keluhan ibu dengan sabar.
VII. EVALUASI
Tanggal: 21 Agustus 2011 Pukul: 19.55
S : Ibu dan suami mengerti tentang kondisi saat ini.Terlihat saat diberi penjelasan ibu
menganggukkan kepala dan selalu memperhatikan sebagai tanda mengerti akan
penjelasannya.Ibu juga mengikuti semua yang dianjurkan oleh ibu bidan.
O :
Tensi : 120/80 mm/Hg
Pernapasan : 24 x/menit
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 37 ºC
A :
Ny “B” P0-0 usia 26thn dengan IPA
P :
1. Anjurkan ibu untuk memeriksakan keadaanya kembali bila ada keluhan.
2. Anjurkan ibu untuk memeriksakan keadaannya pada dokter spesialis obstetri dan
gynekologi.
3. Anjurkan ibu untuk selalu berdoa dan berusaha.
51
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN.
Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurang mampuan pasangan
untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki
keturunan. Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga
mengalami pembuahan, sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur -
tanpa kontrasepsi - dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah
perempuan yang rahimnya telah diangkat atau laki-laki yang telah dikebiri
(dikastrasi).infertilitas terbagi menjadi infertilitas primer dab inrfertilitas sekunder. Infertilitas
primer adalah bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali,
sedangkan infertilitas sekunder adalah bila pasangan tersebut sudah memiliki anak, kemudian
memakai kontrasepsi namun setelah di lepas selama satu tahun belum juga hamil.
IV.2 SARAN
Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan anak dari hasil perkawinannya itu,
anak adalah merupakan suatu pelengkap dari sebuah keluarga inti,tanpa anak pasangan suami
istri tersebut belum bisa dikatakan sebuah keluarga inti/lengkap. Namun, sebuah keluarga
berencana demi kesehatan tidak pernah lengkap tanpa penanggulangan masalah infertilitas.
Ditinjau dari sudut kesehatanya, keluarga berencana harus meliputi pencegahan dan
pengobatan infertilitas, apalagi kalau kejadiannya sebelum pasangan memperoleh anak-anak
yang diharapkan.
Beberapa saran untuk pasangan kurang subur :
Mengubah tehnik hubungan seks, dapat memperhatikan masa subur istri.
Memilih makanan yang dapat meningkatkan kesuburan suami-istri.
Menghitung masa minggu subur dengan jalan menggunakan termokauter khusus atau
menghitung melalui hari pertama dating bulan.
52
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.oleh
Prof. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG.
Ilmu Kandungan, Editor ketua Prof. Hanifa Wiknjosatro, dr , DSOG. Editor Prof. Abdul Bari
saifudin, dr, DSOG, MPH & Trijatmo Rachimhadhi, dr, dsog,edisi kedua.(yayasan bina
pustaka sarwono prawirohardjo. Jakarta, 1994.
Kapita selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Pertama. Editor Arief Mansjoer, Kuspuji
Trianti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setio Wulan.
Dikutip Dari : www.google.com
53
Tugas askeb IV
Asuhan Kebidanan Pada Ny.”B” Dengan Infertil Primer
Dosen : Endeh Tresnawati syam, SST
Nama kelompok :
Endah mulyani (09021002)
Yashenta Parastiara (09021018)
Dian Nurotul ilmi (09021025)
Nia pratiwi W (09021028)
Nuril athira (09021029)
Pophi indriana (09021030)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Unggul Surabaya
Prodi DIII kebidanan 5.2
Tahun ajaran 2011
54
Get documents about "