askeb bbl patologi asfiksia
W
Description
midwifery care msword (asuhan kebidanan )
Document Sample


ASUHAN KEBIDANAN
PADA By. Ny. “I” DENGAN ASFIKSIA SEDANG
Di RUANG NEONATUS
RSUD SIDOARJO
Oleh
Nuril Athira
NIM 09021029
1
PRODI DIII KEBIDANAN
STIKES INSAN UNGGUL SURABAYA
TAHUN AJARAN
2010 - 2011
LEMBAR PENGESAHAN
Telah disetujui dan disahkan laporan yang berjudul ASUHAN KEBIDANAN PADA By. Ny. “I” “Dengan
Asfiksi Sedang di Ruang neonates RSUD SIDOARJO, Periode tanggal 25 Juli 2011 – 5 Agustus 2011.
Sidoarjo, juli 2011
Mahasiswa STIKES Insan Unggul Surabaya
Nuril Athira
(09021029)
2
Pembimbing Pendidikan Pembimbing Ruangan Poli Tumbuh
Kembang
STIKES INSANUNGGUL
RSUD SIDOARJO
SURABAYA
AMBAR, S.Kep, Ners
SITI MUDLIKAH, SST
197611022007012008
Ketua Prodi Kebidanan
STIKES INSAN UNGGUL
SURABAYA
Sutjiati Dwi Handayani,S.Pd,SST,M.Mkes
3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat
Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Kebidanan
PADA By.Ny.”I” “DENGAN Asfiksia Sedang di Ruang neonatus RSUD SIDOARJO
Makalah ini disusun dan diajukan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan DIII kebidanan di STIKES INSAN UNGGUL
SURABAYA.
Dalam rangka meningkatkan keterampilan mahasiswa diharapkan tindakan
asuhan kebidanan dapat dilaksanakan dengan baik dan optimal . Dalam makalah ini
penyusun menggunakan dasar teori dari berbagai sumber buku dan pengamatan secara
langsung pada klien serta dengan tanggung jawab maupun dari status klien . Selain itu
penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak .
Penulis sangat menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini tidak
mungkin dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dukungan serta keterlibatan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada ibu Siti Mudlika, SST selaku Pembimbing Akademik dan
ibu Ambar pembimbing Ruangan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
kekeliruannya . Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak untuk makalah selanjutnya . Sehingga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya .
Penyusun
Sidoarjo, Juli 2011
4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN :
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................................. 1
1.2 TUJUAN ....................................................................................................................................... 2
1.2.1 Umum .................................................................................................................................... 2
1.2.2 Khusus.................................................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA :
2.1 Bayi Baru Lahir............................................................................................................................. 3
2.1.1 Fisiologi ................................................................................................................................. 3
2.1.2 Penanganan bayi baru lahir .................................................................................................... 4
2.1.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi baru lahir ............................................................ 5
2.1.4 Menilai refleks pada bayi ....................................................................................................... 7
2.1.5 Pemeriksaan fisik ................................................................................................................... 8
2.1.6 Penatalaksanaan ................................................................................................................... 12
2.1.7 Prognosa dan Komplikasi .................................................................................................... 13
2.2 ASFIKSIA................................................................................................................................... 13
2.2.1 Pengertian ............................................................................................................................ 13
2.2.2 Etiologi ................................................................................................................................. 14
2.2.3 Patofisiologi ......................................................................................................................... 15
2.2.4 Manifestasi Klinis ................................................................................................................ 16
2.2.5 Diagnosis.............................................................................................................................. 16
2.2.6 Dengan Menilai Apgar Skor ................................................................................................ 17
2.2.7 Komplikasi ........................................................................................................................... 18
2.2.8 Prognosa ............................................................................................................................... 18
Penatalaksanaan ............................................................................................................................ 19
5
BAB III TINJAUAN TEORI
BAB IV PENUTUP :
4.1 KESIMPULAN ........................................................................................................................... 34
4.2 SARAN ....................................................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA
6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dewasa ini sekitar 45 % kematian bayi terjadi pada bayi umur < 1 bulan. Kematian
ini terutama disebabkan oleh tetanus neonatorum dan gangguan perinatal sebagai akibat
dari kehamilan risiko tinggi seperti : asfiksia, bayi berat lahir rendah dan trauma lahir;
yang masing-masing menyebabkan sekitar 20 % kematian bayi. Secara nasional proporsi
bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan sekitar 8 – 10 % dan bervariasi sampai
15%. (Depkes,1996).
Dampak dari berat bayi lahir rendah ini adalah pertumbuhannya akan lambat, dan
kecendrungan memiliki penampilan intelektual yang lebih rendah daripada bayi yang
selama janin tumbuh normal. Disamping itu mempunyai risiko kematian yang lebih
tinggi dibandingkan dengan bayi dengan berat badan normal ketika dilahirkan. Faktor
instrinsik yang mempengaruhi bayi berat lahir rendah adalah status gizi ibu sebelum dan
selama kehamilan, periode gestasi > 8 bulan, jarak ideal antara 18 – 36 minggu jika
pernah terjadi komplikasi, umur ibu antara 20-35 tahun, jumlah kehamilan, pemeriksaan
kehamilan, penyakit infeksi saluran kencing, kebiasaan ibu merokok atau minum-
minuman keras, penyakit malaria, anemi, persalinan premature(Mariyati Sukarni,1989).
Sedangkan menurut Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tahun 2000,
hal V, penyebab BBLR adalah akumulasi dari kurang energi protein, anemia kurang zat
besi, tingkat pendidikan yang rendah, kurangnya pengetahuan tentang KB dan kawin
muda atau hamil pada usia sebelum 20 tahun.
Faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi BBLR salah satunya adalah lingkungan
akibat paparan. karbon monoksida dari asap rokok maupun dari kayu bakar. Ternyata
berat badan bayi yang lahir dari ibu merokok lebih rendah dibandingkan dengan bayi
yang dilahirkan oleh ibu yang tidak merokok.
Tindakan preventif mencegah kejadian BBLR perlu dilakukan . Dipandang dari segi
ekonomi, melakukan investasi pada orang yang “tidak atau belum sakit lebih “cost
7
effective” daripada terhadap orang sakit, karena investasi pada orang “sehat” dan orang
“tidak sakit “ lebih dekat ke produktivitas ketimbang investasi pada orang sakit.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Umum
a) Agar mengetahui pengertian dari asfeksia
b) Agar mengetahui etiologi dari asfeksia
c) Agar mengetahui patofisiologi dari asfeksia
d) Agar mengetahui manifestasi klinis dari asfeksia
e) Agar mengetahui diagnosis dari asfeksia
f) Agar mengetahui komplikasi dari asfeksia
g) Agar mengetahui prognosa dari asfeksia
h) Agar mengetahui penatalaksanaan dari asfeksia
i) Agar mengetahui konsep asuhan keperawatan dari asfeksia
1.2.2 Khusus
a) Meningkatkan ketrampilan tulis menulis bagi mahasiswa
b) Menambah wawasan
c) Menambah ilmu pengetahuan
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Bayi Baru Lahir
Asuhan Bayi Baru Lahir (BBL) adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut
selama jam pertama setelah kelahiran walaupun sebagian besar proses persalinan
terfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran
hasil kehamilan (bayi) maka penatalaksanaan suatu persalinan baru dikatakan
berhasil apabila selama ibu dan bayi yang dilahirkannya juga dalam kondisi yang
optimal (Buku Panduan Praktis Yankes Maternal dan Neonatal, 2006).
Neonatal adalah masa bayi selama 28 hari pertama setelah bayi lahir (usia 0-28
hari) (Pusdiknakes, 2001).
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
(Saifuddin, 2002)
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirrnya biasanya
dengan usia gestasi 38 – 42 minggu. (Donna L. Wong, 2003)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Dep. Kes. RI,
2005)
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan,
lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang
berat. (M. Sholeh Kosim, 2007)
2.1.1 Fisiologi
Saat bayi dilahirkan dan sirkulasi fetoplasenta berhenti berfungsi, bayi
mengalami perubahan fisiologis yang besar sekali dan sangat cepat. Segera setelah
pola pernafasan bergeser dari satu inspirasi episodic dangkal menjadi pola inhalasi
lebih dalam dan teratur.
9
Neonatus mulai bernapas dan menangis segera setelah lahir yang
menunjukkan terbentuknya mekanisme pada thoraks sewaktu melalui jalan lahir.
Penurunan kadar oksigen dan kenaikan karbondioksida merangsang
kemoreseptor.pada sinus karotis (stimulasi kimiawi) dan rangsangan dingin di
daerah muka dapat merangsang permulaan gerakan pernafasan (stimulasi
sensorik).
Dengan terpotongnya tali pusat bayi maka sirkulasi plasenta terhenti.
Aliran darah ke atrium kanan menurun sehingga tekanan jantung menurun,
tekanan darah di aorta hilang sehingga tekanan jantung kiri meningkat. Paru-paru
mengalami retensi dan aliran darah ke paru-paru meningkat yang menyebabkan
tekanan ventrikel kiri meningkat. Hal tersebut mengakibatkan duktus botalii tidak
berfungsi dan foramen ovale menutup.
2.1.2 Penanganan bayi baru lahir
1. Membersihkan jalan nafas
2. Jaga bayi tetap hangat
3. Memotong dan merawat tali pusat
a) Klem tali pusat dengan 2 klem
b) Potong tali pusat di anatara 2 klem
c) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat dengan gunting
steril/DTT
d) Periksa tali pusat tiap 15 menit
4. Kontak dini dengan ibu
Beru bayi pada ibunya segera setelah lahir,kontak ibu denagn bayi sangat
penting,kehangatan,ikatan batin dan pemberian ASI,dorong ibu untuk menyusui
bayinya apabila bayi telah siap.
5. Mempertahankan suhu tubuh bayi
Setelah bayi baru lahir belum mampu mengatur tetap suhu badanya, dibutuhkan
pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat.
6. Memberi Vit K1 injeksi IM dip aha kiri dengan dosis 10U.
7. Memberi obat tetes/salep mata
10
Setiap bayi baru lahir perlu di beri salep mata sesudah 5 jam bayi lahir.
Pemberian obat mata eritromisin 0,5% dan tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
penscegahan penyakit mata Karena klamida
8. Identifikasi bayi
a) Gelang yang digunakan harus kebal air, dengan tepi halus tidak mudah
sobek dan tidak melukai tidak mudah lepas
b) Pada alat harus tercantum : nama, tanggal lahir, No, jenis kelamin.
c) Ditiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan , nama,
tanggal lahir, No
d) Sidik telapak kaki bayi dan sidik telapak jari ibu harus dicetak dicatat yang
tidak mudah hilang
e) Ukurlah BB, PB, L.kepala, L.dada, catat dalam rekam medis.
2.1.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi baru lahir
1. Kesadaran dan reaksi Perlu di kenali kurangnya reaksi terhadap rayuan,
terhadap sekeliling rangsangan sakit, atau suara keras yang mengejutkan
atau suara mainan
2. Keaktifan Bayi normal melakukan gerakan-gerakan tangan dan
kaki yang simetri pada waktu bangun, adanya tremor
pada bibir, kaki dan tangan pada waktu menangis
adalah normal, tetapi bila hal ini terjadi pada waktu
tidur, kemungkinan gejala suatu kelainan yang perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
3. Simetris Apakah secara keseluruhan badan seimbang
4. Kepala Apakah tidak simetris, berupa tumor luank di
belakang atas yang menyebabkan kepala tampak
lebih panjang, sebagai akibat proses kelahiran, atau
tumor luank hanya di belahan kiri atau kanan saja,
atau di sisi kiri dan kanan tetapi tidak melampaui
garis tengah bujur kepala.ukur lingkar kepala
5. muka dan wajah Bayi tanpa ekspresi
11
6. mulut Salivasi tidak terdapat pada bayi normal. Bila
terdapat secret yang berlebihan kemungkianan ada
kelainan bawaan saluran cerna
7. leher, dada, abdomen Melihat adanya cedera akibat persalianan, ukur
lingkar perut
8. punggung Adakah benjolan /tumor atau tulang punggung
dengan lekukan yang kurang sempurna
9. bahu, tangan, sendi, Perlu di perhatikan bentuk, geraknya, fraktur, paresis
tungkai
10.kulit dan kuku Dalam keadaan normal kulit berwarna kemerahan.
Kadang-kaadang di dapatkan kulit yang mengelupas
ringan. Pengelupasan yang berlabihan harus di
pikirkan kemungkianan adanya kelahiran, waspada
timbulnya kulit dengan warna yang tidak merata
(cutis marmorata) telapak tangan, telapak kaki atau
kuku yang menjadi biru, kulit menjadi pucat atau
kuning. Bercak-bercak besar biru yang sering bokong
(Mongolian spot) akan menghilang pada umur 1-5
tahun
11.kelancaran menghisap Harus diperhatikan
12.tinja dan kemih Diharapkan keluar pada 24 jam pertama. Waspada
bila terjadi perut tiba-tiba membesar, tanpa keluar
tinjadisertai muntah, dan mungkin dengan kulit
kebiruan, harap segera konsultasi untuk pemeriksaan
lebih lanjut
13.reflex reflex rooting,bayi menoleh kearah benda yang
menyentuh pipi
reflex isap, terjadi apabila terdapat benda
menyentuh bibir, yang disertai reflex menelan
reflex moro ialah timbulnya pergerakan tangan
yang simetris apabila kepala tiba-tiba di gerakan
reflex mengeluarkan lidah terjadi apabila
diletakan benda didalam mulut, yang sering
12
ditafsirkan bayi menolak makanan/minuman
14.berat badan Sebaiknya tiap hari di pantau,penurunan berat badan
>5% berat badan waktu lahir, menunjukan
kekurangnan cairan
2.1.4 Menilai refleks pada bayi
1. Refleks babinski : menggores permukaan plantar kaki dengan benda
runcing, (+) bila ibu jari akan terangkat, jari lainnya
meregang.
2. Refleks rooting : menyentuhkan sesuatu ke sudut mulut. (+) bila bayi
menengok ke arah rangsangan dan berusaha
memasukkannya ke dalam mulut.
3. Refleks sucking : (+) bila bayi menghisap kuat.
4. Refleks swallowing : (+) bila bayi menelan dengan kuat.
5. Refleks moro : mengejutkan bayi, (+) bila kaget disertai lengan
direntangkan dalam posisi abduksi ekstensi dan
tangan disertai gerakan lengan adduksi dan fleksi.
6. Refleks tonic neck : menengokkan kepala bayi ke kiri/ke kanan, (+) bila
kepala ditengokkan ke kanan, (+) bila kepala
ditengokkan ke kanan, anggota gerak bagian kanan
akan melakukan ekstensi dan anggota gerak lainnya
melakukan fleksi.
7. Refleks plantar graps : meletakkan sesuatu pada telapak kaki bayi, (+) bila
terjadi fleksi pada jari – jari kaki.
8. Refleks palmar graps : meletakkan sesuatu pada telapak tangan bayi, (+) bila
terjadi fleksi pada jari – jari tangan.
13
9. Refleks Galant : memberikan stimulus dengan benda tumpul pada
paravertebra (kurang lebih 2 cm di samping tulang
belakang). Stimulus diulangi 3 kali tiap sisi dengan
kepala posisi fleksi. Reaksi lengkung vertebra berubah
pada sisi yang sama.
2.1.5 Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda vital
a) Laju napas normal 40-60 x/menit.
b) Laju jantung normal 120-160 x/menit.
c) Suhu normal 36,5-37,5 °C.
b. Ukuran keseluruhan (antropometri)
a) Berat badan normal adalah 2500-3500 gram, apabila berat badan kurang
dari 2500 gram disebut bayi prematur dan apabila berat badan lahir lebih
dari 3500 maka bayi disebut makrosomia.
b) Panjang badan normal adalah 45-50 cm.
c) Lingkar kepala normal adalah 33-35 cm.
d) Lingkar dada normal adalah 30-33 cm, apabila diameter kepala lebih besar
3 cm dari lingkar dada maka bayi mengalami hidocephalus dan apabila
diameter kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar dada maka bayi mengalami
microsephalus.
c. Kepala
a) Deteksi apakah ada caput suksedenum (cairan efusion terletak di atas
periosteum dan terdiri dari cairan edema, melewati batas sutura, tidak
tampak jelas), atau sefalohematoma (cairan yang berupa darah terletak di
bawah periousteum dan tidak melewati sutura, tampak jelas dan lembek
jika diraba).
b) Sutura tulang tengkorak harus diperiksa untuk melihat apakah sutura
melebar atau tumpang tindih. Fontanella yang terbuka penuh menunjukkan
adanya kenaikan tekanan intrakranial (TIK)
yang bisa disebabkan oleh perdarahan intrakranial, edema otak, atau
hidrosefalus.
14
c) Periksa adanya massa di garis tengah yang keluar dari tulang kepala
mungkin suatu omfalokel dan perlu pemeriksaan yang lengkap.
d) Ubun–ubun yang cekung menandakan bayi dehidrasi dan terlalu cembung
disertai badan demam menandakan bayi terkena infeksi.
d. Mata
Adanya perdarahan subkonjungtiva, mata yang menonjol, katarak, kesimetrisan
kedua mata, keluarnya sekret mata, pergerakan kelopak mata yang seimbang.
e. Telinga
a) Posisi, rotasi dan letak telinga harus dicatat. Letak telinga yang lebih rendah
harus cepat diperiksa dengan teliti kemungkinan adanya tanda dismorfik
lainnya.
b) Pada bayi sangat prematur, pinnanya pendek, datar, dan mudah terlipat ke
belakang.
c) Pada bayi matur, heliks luar dari pinna akan membentuk kurvatura yang
jelas.
d) Telinga harus diamati dengan teliti untuk memastikan tidak ada kelainan
pada kanalis auditoris eksterna.
f. Mulut
Pemeriksaan yang harus diperiksa meliputi lengkung palatum dan bibir
(labioskisis atau labiognatopalatoskisis), bentuk dan gerakan lidah, adanya
massa abnormal di daerah mulut dan faring membutuhkan perhatian segera
terhadap kemungkinan terjadi obstruksi jalan napas.
g. Leher
Apakah ada gumpalan atau pembengkakan pada leher, deteksi adanya
kemungkinan hematoma sternokleidomastoideus, duktus tiroglosus, higroma
koli.
h. Dada
a) Bentuk, pembesaran buah dada, adanya massa pada dinding dada.
b) Pernafasan : nafas yang bunyi (grunting) terjadi karena udara yang
dikeluarkan bayi mengenai glotis yang tertutup sebagian dan merupakan
petunjuk terjadinya proses–proses yang menyebabkan kolaps atau
atelektasis. Stridor terjadi karena berbagai sebab obstruksi jalan nafas, akan
tetapi pada bayi yang pernapasannya sangat lemah mungkin tidak terdengar
atau sulit didiagnosis.
15
c) Gerakan dinding dada yang asimetris pada pernafasan terjadi pada beberapa
lesi diafragma atau ruangan intra pleura unilateral. Retraksi supra sernal bisa
terjadi pada distres respirasi berat.
d) Mendengarkan suara jantung bayi dengan menggunakan stetoskop, irama
dan keteraturannya untuk mendeteksi kelainan bunyi jantung.
i. Abdomen
a) Inspeksi apakah ada pembesaran pada perut (membuncit yang terjadi
kemungkinan karena pembesaran hati, limfe, tumor, asites). Pembesaran hati
tampak dari pemebesaran 1-2 cm di bawah batas kosta kanan. Sedang limpa
biasanya tidak teraba.
b) Hernia diafragmatika dapat menyebabkan abdomen membentuk skapoid
akibat protrusi isi abdomen ke dalam rongga toraks. Usus yang tampak di
permukaan usus memberikan adanya obstruksi usus, khususnya bila terjadi
emesis bilius (muntah empedu) atau aspirat lambung.
c) Periksa tali pusat, jangan sampai terjadi perdarahan dari tali pusat, bernanah,
ataupun berbau. Permukaan tali pusat juga perlu diperhatikan, warna
kemerahan disertai suhu meningkat merupakan tanda infeksi tali pusat.
j. Alat kelamin
a) Wanita : bila cukup bulan, labia mayora lebih menonjol dibandingkan labia
minora dan umumnya menutupi labia minora. Tonjolan mukosa vagina
umumnya tejadi karena pengaruh hormonal ibu terhadap janin. Pada bayi
prematur, labia minoranya lebih menonjol dan klitoris relatif mengalami
protusi ke dalam lipatan labia. Pada bayi wanita normalnya gonad berada
dalam kanalis inguinalis atau lipatan labia yang tidak teraba.
b) Laki–laki : harus diperiksa apakah ada hipospadia atau epispodia. Penis yang
terlalu kecil menunjukkan hipopituitarisme. Testis bayi laki – laki cukup
umur biasanya berada dalam kantong skrotum. Penurunan skrotum yang
tidak komplet dan testis pada kanalis inguinalis dapat diketahui melalui
palpasi.
c) Pastikan pula, bahwa tidak ada kelainan, misalnya bayi wanita tidak
mengalami maskulinisasi, atau bayi yang memiliki alat kelamin dua, jenis
kelamin tidak dapat ditentukan sampai dilakukan pemeriksaan yang lebih
komplit lagi.
16
k. Punggung
Punggung harus diinspeksi dan kolumna vertebralis harus dipalpasi. Harus
dicatat keabnormalannya seperti: meningomielokel, skoliosis dan defek kulit
pada linea mediana. Deteksi pula adanya spina bifida, pilonidal sinus atau
dimple.
l. Ekstremitas
Inspeksi yang cermat biasanya cukup untuk memastikan apakah bentuk
ekstremitas baik. Beberapa abnormalitas struktur yang jelas atau pemendekkan
anggota gerak dapat dievaluasi lebih lanjut dengan palpasi dan pemeriksaan
radigrafi. Harus dicatat juga kontraktur sendi, asimetris, atau distorsi.
Abnormalitas jari – jari (pemendekkan, lancip, sindaktili, polidaktili), lipatan
palmar, hipoplasi kuku merupakan petunjuk penting adanya sindrom dismorfik.
m. Anus
Diperhatikan apakah ada lubang pada anus atau tidak, ini bisa kita tunggu
sampai bayi mengeluarkan mekonium dalam 24 jam (asuhan sayang bayi).
Pastikan tidak terjadi atresia ani dan obstruksi usus.
n. Kulit
a) Pada bayi prematur (usia kehamilan 23 –28 minggu) dengan sedikit lemak
subkutan, kulit bayi akan transulen dan terlihat vena –vena superfisial.
Karena stratum korneum sangat tipis, kulit bayi prematur mudah terluka
oleh karena tindakan atau manipulasi yang tampaknya tidak berbahaya
sehingga menyebabkan kerusakan stratum korneum dan permukaan kasar.
b) Saat usia kehamilan 35–36 minggu bayi dilapisi verniks. Lapisan verniks
tipis muncul pada kehamilan matur dan biasanya menghilang pada
postmatur.
c) Bayi postmatur memiliki kulit seperti kertas dengan kerut – kerut tajam
pada badan dan ekstremitas. Pada bayi postmatur juga terdapat kuku jari
atau pengelupasan kulit pada distal ekstremitas.
d) Kulit bayi juga ditumbuhi oleh lanugo, yang banyak terdapat pada
punggung.
e) Perlu diinspeksi seluruh kulit untuk mencari adanya tanda lahir, ataupun
bercak-bercak pada kulit seperti milia (papula keputihan 1 –2 mm,
umumnya ditemukan pada wajah bayi) dan bercak mongol (suatu daerah
hiperpigementasi yang tidak menonjol (datar), lebih banyak terjadi di
17
seluruh pantat atau badan; umumnya terjadi pada bayi kulit hitam atau
oriental.
2.1.6 Penatalaksanaan
1) Hindari memandikan bayi dalam 24 jam pertama
2) Lakukan perawatan tali pusat :
a) Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan
tutupi dengan kain bersih yang longgar
b) Cuci tali pusat dengan sabun dan air bersih lalu keringkan sampai betul-betul
kering
3) Ajarkan tanda-tanda bahaya dan segera rujuk apabila ditemukan tanda bahaya :
a) Pemberian ASI sulit, sulit menghisap atau hisapan lemah.
b) Pernafasan sulit atau > 60x/mnt.
c) Latargi, bayi terus meneru tidur tampa bangun untuk makan.
d) Warna abnormal, kulit/bibir biru (sianosis) atau bayi sangat kuning.
e) Suhu terlalu panas (febris) atau terlalu dingin (hipotermia).
f) Tangis atau perilaku abnormal atau tidak biasa.
g) Gangguan gastrointestinal, misalnya tidak bertinja selama 3 hari pertama
setelah lahir, muntah terus-menerus, muntah dan perut bengkak, tinja hijau
tua atau berdarah/lendir.
h) Mata bengkak atau mengeluarkan cairan.
4) Ajarkan pada orang tua cara merawat bayinya sehari-hari
a) Berikan ASI sesuai kebutuhan setiap 2-3 jam mulai hari kelima
b) Pertahankan bayi selalu dengan ibu
c) Jaga bayi selalu dalam keadaan bersih
d) Jaga tali pusat agar selalu bersih dan kering
e) Jaga keamanan bayi terhadap trauma dan penyakit
f) Awasi masalah dan kesulitan pada bayi
18
2.1.7 Prognosa dan Komplikasi
1) Prognosis
Keadaan bayi sangat tergantung pada pertumbuhan janin dalam uterus,
kualitas pengawasan antenatal, penyakit-penyakit yang diderita ibu saat hamil
serta penanganan persalinan dan perawatan sesudah lahir .
2) Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada neonatus yaitu :
a) Infeksi neonatal
b) Ikterus neonatal
c) Kesulitan bernafas
d) Perdarahan
e) Muntah
f) Sianosis
g) Kejang/tremor
h) Tidak mau menetek
2.2 ASFIKSIA
2.2.1 Pengertian
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas
secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir,
umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat
hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau
masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan
(Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia
janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang
timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat
asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara
sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul
(Wiknjosastro, 1999).
19
2.2.2 Etiologi
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin
yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya
asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi
berikut ini:
1. Faktor ibu
a) Preeklampsia dan eklampsia
b) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c) Partus lama atau partus macet
d) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
e) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
a) Lilitan tali pusat
b) Tali pusat pendek
c) Simpul tali pusat
d) Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,
ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
c) Kelainan bawaan (kongenital)
d) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan).
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang
berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor
risiko tersebut maka hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya
tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya
faktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak
dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu
siap melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan.
20
2.2.3 Patofisiologi
Selama kehidupan di dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam
pertukaran gas oleh karena plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat
CO2 keluar dari tubuh janin. Pada keadaan ini paru janin tidak berisi udara,
sedangkan alveoli janin berisi cairan yang diproduksi didalam paru sehingga
paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah dalam paru saat ini
sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh
karena konstriksi dari arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah
paru akan melewati Duktus Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk
kedalam arteriol paru.
Segera setelah lahir bayi akan menarik nafas yang pertama kali (menangis),
pada saat ini paru janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan
mengembang udara akan masuk dan cairan yang ada didalam alveoli akan
meninggalkan alveoli secara bertahap. Bersamaan dengan ini arteriol paru
akan mengembang dan aliran darah kedalam paru akan meningkat secara
memadai. Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup bersamaan dengan
meningkatnya tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan
(janin) yang sebelumnya melewati DA dan masuk kedalam Aorta akan mulai
memberi aliran darah yang cukup berarti kedalam arteriole paru yang mulai
mengembang DA akan tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi extrauterin
akan dipertahankan.
Dalam hal respirasi selain mengembangnya alveoli dan masuknya udara
kedalam alveoli masih ada masalah lain yang lebih panjang, yakni sirkulasi
dalam paru yang berperan dalam pertukaran gas. Gangguan tersebut antara
lain vasokonstriksi pembuluh darah paru yang berakibat menurunkan perfusi
paru. Pada bayi asfiksia penurunan perfusi paru seringkali disebabkan oleh
vasokonstriksi pembuluh darah paru, sehingga oksigen akan menurun dan
terjadi asidosis. Pada keadaan ini arteriol akan tetap tertutup dan Duktus
Arteriosus akan tetap terbuka dan pertukaran gas dalam paru tidak terjadi.
Hipoksia janin atau bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan
penurunan perfusi paru yang berlanjut dengan asfiksia, pada awalnya akan
terjadi konstriksi Arteriol pada usus, ginjal, otot dan kulit sehingga penyediaan
Oksigen untuk organ vital seperti jantung dan otak akan meningkat. Apabila
askfisia berlanjut maka terjadi gangguan pada fungsi miokard dan cardiac
21
output. Sehingga terjadi penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan
saat ini akan mulai terjadi suatu “Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE)
yang akan memberikan gangguan yang menetap pada bayi sampai dengan
kematian bayi baru lahir. Hal ini pada bayi baru lahir akan terjadi secara cepat
dalam waktu 1-2 jam, bila tidak diatasi secara cepat dan tepat (Aliyah Anna,
1997).
2.2.4 Manifestasi Klinis
Gejala klinik Asfiksia yang khas meliputi :
1) Pernafasan terganggu
2) Detak jantung berkurang
3) Reflek / respon bayi melemah
4) Tonus otot menurun
5) Warna kulit biru atau pucat
2.2.5 Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia/hipoksia
janin. Diagnosis anoksia/hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan
ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu:
1) Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi
apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 x/menit di luar his, dan lebih-lebih jika
tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
2) Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi
kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya
mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk
mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3) Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan
kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-
nya adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai dibawah
7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya. Dengan penilaian pH darah janin dapat
ditemukan derajat asfiksia yaitu:
22
Tabel 2.1. Penilaian pH Darah Janin
NO Hasil Skor Apgar Derajat Asfiksia Nilai Ph
1. 0–3 Berat < 7,2
2. 4–6 Sedang 7,1 – 7,2
3. 7 – 10 Ringan > 7,2
Sumber : Wiroatmodjo, 1994
2.2.6 Dengan Menilai Apgar Skor
Cara yang digunakan untuk menentukan derajat asfiksia yaitu dengan
penilaian APGAR. Apgar mengambil batas waktu 1 menit karena dari hasil
penyelidikan sebagian besar bayi baru lahir mempunyai apgar terendah pada umur
tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk melakukan tindakan resusitasi aktif.
Sedangkan nilai apgar lima menit untuk menentukan prognosa dan berhubungan
dengan kemungkinan terjadinya gangguan neurologik di kemudian hari. Ada lima
tanda (sign) yang dinilai oleh Apgar, yaitu :
Tabel Penilaian Apgar
Akronim Nilai 2 Nilai 1 Nilai 0
Warna Appearance warna kulit tubuh, tangan, dan kaki warna kulit tubuh merah, seluruhnya biru
kulit normal merah, tidak ada sianosis tetapi tangan dan kaki kebiruan
(akrosianosis)
Denyut Pulse >100 kali/menit <100 kali/menit tidak ada
jantung
Respons Grimace meringis/bersin/batuk saat stimulasi meringis/menangis lemah ketika tidak ada respons
refleks saluran napas distimulasi terhadap stimulasi.
Tonus otot Activity bergerak aktif sedikit gerakan lemah/tidak ada
Pernapasa Respiration menangis kuat, pernapasan baik dan lemah atau tidak teratur tidak ada
n teratur
Dari kelima tanda diatas yang paling penting bagi jantung karena peninggian
frekuensi jantung menandakan prognosis yang peka. Keadaan akan memburuk bila
frekuensi tidak bertambah atau melemah walaupun paru-paru telah berkembang.
Dalam hal ini pijatan jantung harus dilakukan. Usaha nafas adalah nomor dua. Bila
apnea berlangsung lama dan ventilasi yang dilakukan tidak berhasil maka bayi
23
menderita depresi hebat yang diikuti asidosis metabolik yang hebat. Sedang ketiga
tanda lain tergantung dari dua tanda penting tersebut.
Ada 3 derajat Asfiksia dari hasil Apgar diatas yaitu:
1) Nilai Apgar 7-10, Vigorous baby atau asfiksia ringan.
Bayi dalam keadaan baik sekali. Tonus otot baik, seluruh tubuh kemerah-
merahan. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan
istimewa.
2) Nilai Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia sedang.
Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali
permenit, tonus otot kurang baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
3) Nilai Apgar 0-3, asfiksia Berat
Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 kali permenit,
tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak
ada.
2.2.7 Komplikasi
1) Sembab Otak
2) Pendarahan Otak
3) Anuria atau Oliguria
4) Hyperbilirubinemia
5) Obstruksi usus yang fungsional
6) Kejang sampai koma
7) Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumonthorax
2.2.8 Prognosa
1) Asfiksia ringan / normal : Baik
2) Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa baik.
3) Asfiksia berat badan dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, atau
kelainan syaraf permanen. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang
sampai koma dan kelainan neurologis yang permanent misalnya cerebal palsy,
mental retardation.
24
2.2.9 Penatalaksanaan
1) Penanganan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Dengan Resusitasi
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai
ABC Resusitasi.
A – Memastikan saluran nafas terbuka
Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal.
Menghisap mulut, hidung dan kadang-kadang trakea.
Bila perlu,masukkan pipa endotrakeal (pipa ET) untuk memastikan saluran
pernafasan terbuka.
B – Memulai pernafasan
Memakain rangsangan taktil untuk memulai pernafasan.
Memakai VTP, bila perlu seperti :
- Sungkup dan balon, atau
- Pipa ET dan balon,
- Mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
C – Mempertahankan sirkulasi darah
Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara :
- Kompresi dada.
- Pengobatan.
2) Urutan Pelaksanaan Resusitasi
a. Mencegah kehilangan panas dan mengeringkan tubuh bayi
Alat pemancar panas telah diaktifkan sebelumnya sehingga tempat meletakkan
bayi hangat.
Bayi diletakkan di bawah alat pemancar panas, tubuh dan kepala bayi
dikeringkan dengan menggunakan handuk atau selimut hangat (Apabila
diperlukan penghisapan mekoneum, dianjurkan untuk menunda pengeringan
tubuh yaitu setelah mekoneum dihisap dari trakea).
Untuk bayi sangat kecil (berat badan kurang dari 1500gram) atau apabila suhu
ruangan sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai plastik tipis
yang tembus pandang.
25
b. Meletakkan bayi dalam posisi yang benar
Bayi diletakkan terlentang di alas yang datar, kepala lurus dan leher sedikit
tengadah (ekstensi).
Untuk mempertahankan agar leher tetap tengadah, letakkan handuk atau
selimut yang digulung di bawah bahu bayi, sehingga bahu terangkat ¾
sampai 1 inci (2-3 cm).
c. Membersihkan jalan nafas
Kepala bayi dimiringkan agar cairan berkumpul di mulut dan tidak di faring
bagian belakang.
Mulut dibersihkan terlebih dahulu dengan maksud:
- cairan tidak teraspirasi.
- hisapan pada hidung akan menimbulkan pernafasan megap-megap
(gasping).
Apabila mekoneum kental dan bayi mengalami depresi harus dilakukan
penghisapan dari trakea dengan menggunakan pipa endotrakea (pipa ET).
d. Menilai bayi
Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi
kelanjutan hidup bayi.
Usaha bernafas.
Frekuensi denyut jantung.
Warna kulit.
e. Menilai usaha bernafas
Apabila bayi bernafas spontan dan memadai, lanjutkan dengan menilai
frekuensi denyut jantung.
Apabila bayi mengalami apnu atau sukar bernafas (megap-megap atau
gasping) dilakukan rangsangan taktil dengan menepuk-nepuk atau menyentil
telapak kaki bayi atau menggosok-gosok punggung bayi sambil memberikan
oksigen.
Apabila setelah beberapa detik tidak terjadi reaksi atas rangsangan taktil,
mulailah pemberian VTP (ventilasi tekanan positif).
Pemberian oksigen harus berkonsentrasi 100% (yang diperoleh dari tabung
oksigen). Kecepatan aliran oksigen paling sedikit 5 liter/menit. Apabila
sungkup tidak tersedia, oksigen 100% diberikan melalui pipa yang ditutupi
tangan di atas muka bayi dan aliran oksigen tetap terkonsentrasi pada muka
26
bayi, oksigen yang diberikan perlu dihangatkan dan ditambahkan melalui
pipa berdiameter besar.
f. Menilai frekuensi denyut jantung bayi
Segera setelah menilai usaha bernafas dan melakukan tindakan yang
diperlukan, tanpa memperhatikan pernafasan apakah spontan normal atau
tidak, segera dilakukan penilaian frekuensi denyut jantung bayi.
Apabila frekuensi denyut jantung lebih dari 100/menit dan bayi bernafas
spontan, dilanjutkan dengan menilai warna kulit.
Apabila frekuensi denyut jantung kurang dari 100/menit, walaupun bayi
bernafas spontan, menjadi indikasi untuk dilakukan VTP.
Apabila detak jantung tidak dapat dideteksi, epinefrin harus segera diberikan
dan pada saat yang sama VTP dan kompresi dada dimulai.
g. Menilai warna kulit
Penilaian warna kulit dilakukan apabila bayi bernafas spontan dan frekuensi
denyut jantung bayi lebih dari 100/menit.
Apabila terdapat sianosis sentral, oksigen diberikan.
Apabila terdapat sianosis perifer, oksigen tidak perlu diberikan. Sianosis
perifer disebabkan oleh karena peredaran darah yang masih lamban, antara
lain karena suhu ruang bersalin yang dingin, bukan akibat hipoksemia.
3) Penatalaksanaan Berdasarkan Penilaian Apgar Skor
1. Apgar skor menit I : 0-3
Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat menimbulkan hipotermis dengan
segala akibatnya. Jangan diberi rangsangan taktil, jangan diberi obat perangsang nafas
lekukan resusitasi.
Lakukan segera intubasi dan lakukan mouth ke tube atau pulmanator to tube
ventilasi. Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth respiration kemudian
dibawa ke ICU.
Ventilasi Biokemial
Dengan melakukan pemeriksaan blood gas, kalau perlu dikoreksi dengan
Natrium Bicarbonat. Bila fasilitas Blood gas tidak ada, berikan Natrium Bicarbonat
pada asfiksia berat dengan dosis 2-4 mcg/kg BB, maksimum 8 meg/kg BB / 24 jam.
Ventilasi tetap dilakukan. Pada detik jantung kurang dari 100/menit lakukan pijat
27
jantung 120/menit, ventilasi diteruskan 40 x menit. Cara 3-4 x pijat jantung disusul 1
x ventilasi (Lab./UPF Ilmu Kesehatan Anak, 1994 : 167).
2. Apgar skor menit I : 4-6
Seperti yang diatas, jangan dimandikan, keringkan seperti diatas. Beri
rangsangan taktil dengan tepukan pada telapak kaki, maksimum 15-30 detik. Bila
belum berhasil, beri O2 dengan atau tanpa corong (lebih baik O2 yang dihangatkan).
Skor apgar 4-6 dengan detik jantung kurang dari 100 kali permenit lakukan bag dan
mask ventilation dan pijat jantung.
3. Apgar skor menit I : 7-10
Bersihkan jalan nafas dengan kateter dari lubang hidung dahulu (karena bayi
adalah bernafas dengan hidung) sambil melihat adakah atresia choane, kemudian
mulut, jangan terlalu dalam hanya sampai fasofaring. Kecuali pada bayi asfiksia
dengan ketuban mengandung mekonium, suction dilakukan dari mulut kemudian
hidung karena untuk menghindari aspirasi paru. Bayi dibersihkan (boleh
dimandikan) kemudian dikeringkan, termasuk rambut kepala, karena kehilangan
panas paling besar terutama daerah kepala. Observasi tanda vital sampai stabil,
biasanya 2 jam sampai 4 jam.
3 Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah tindakan yang berurutan dilakukan sistematis
untuk menentukan masalah pasien, membuat perencanaan untuk mengatasinya,
melaksanakan rencana itu / menugaskan orang lain untuk melakukan dan
mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasinya (Efendi.
Nasrul, 1995 ; 3).
28
BAB III
TINJAUAN TEORI
I. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Bayi
Nama bayi : By. Ny. I
Tanggal/ Jam lahir : 27-07-2011 / 01.00 WIB
Jenis kelamin : Laki-Laki
b. Orang tua
Nama Ibu : Ny. I Nama Ayah : Tn. A
Umur : 26 th Umur : 30 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku /Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa :Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jln. Balai desa Alamat : Jln. Balai desa
Selatan no.23 Buduran Selatan no.23 Buduran
II. RIWAYAT PERSALINAN
1. Riwayat persalinan
a. Persalinan ditolong oleh : Bidan
b. Jenis persalinan : Spontan pervaginam
c. Tempat Persalinan : RSUD Sidoarjo
d. Lama Persalinan
Kala I : 11 Jam
Kala II : 1jam 40 menit
Kala III : 30 menit
29
e. Masalah yang terjadi selama persalinan
Tidak ada masalah selama persalinan
f. Keadaan air ketuban : Jernih
g. Keadaan Umum BBL
- Kelahiran tunggal
- Usia kehamilan saat melahirkan + 38 minggu
A. PEMERIKSAAN FISIK
1. Nilai Apgar
Waktu
No Aspek Yang Dinilai 0 1 2
1 5
1. Frekuensi denyut Tidak ada Kurang dari 100 Lebih dari 100 1 2
jantung
2. Usaha Bernapas Tidak ada Lambat teratur Menangis kuat 1 1
3. Tonus otot Lumpuh Ekstremitas Gerakan aktif 1 1
fleksi
4. Reaksi terhadap Tidak ada Gerakan sedikit Menangis 1 1
rangsangan
5. Warna kulit Biru / pucat Tubuh Seluruh tubuh 1 1
kemerahan kemerahan
ekstermitas biru
2. Antropometri
a. Berat badan : 2900 gr
b. Panjang badan : 49 cm
c. Lingkar Kepala : 34 cm
d. Lila : 10 cm
30
3. Refleks
a. Moro/kaget : ada, lemah
b. Palmargraf /menggenggam : ada, lemah
c. Sucking/ menghisap : ada, lemah
d. Rooting Reflek / mencari : ada, lemah
e. swallowing / menelan : ada, lemah
4. Menangis : merintih
5. Tanda vital
a. Suhu : 360 C
b. Nadi : 85 x/menit
c. Pernapasan : 28 x/menit
6. Kepala
a. Simetris : Tidak ada kelainan yang dialami
b. ubun-ubun besar : Cembung
c. Ubun-ubun kecil : tidak ada
d. Caput succeederium : tidak ada
e. Cephal hematoma : Tidak ada
f. Sutura : Tidak Moulage
g. Luka di kepala : Tidak ada
h. Kelainan yang dijumpai : tidak ada kelainan
7. Mata
a. Posisi : Simetris mata kanan dan kiri
b. kotoran : tidak terdapat kotoran
c. Perdarahan : Tidak terdapat perdarahan
d. Bulu mata : ada
8. Hidung
a. Lubang Hidung : terdapat 2 lubang (kanan dan kiri)
b. Cuping Hidung : ada , kanan dan kiri simetris,
gerakan antara kanan dan kiri kembang
kempis secara bersamaan
c. Keluaran : Tidak ada
9. Mulut
a. Simetris : atas dan bawah
31
b. Palatum : tidak ada
c. Saliva : tidak ada hipersaliva
d. Bibir : tidak ada labio skizis
e. Gusi : merah tidak ada laserasi
f. Lidah bintik putih : tidak ada
10. Telinga
a. Simetris : Kanan dan kiri
b. Daun Telinga : ada kanan dan kiri
c. Lubang telinga : ada kanan dan kiri
d. Keluaran : tidak ada
11. Leher
a. Kelainan : tidak ada kelainan
b. Pergerakan : dapat bergerak kekanan dan kiri
12. Dada
a. Simetris : Simetris ada kelainan
b. Pergerakan : bergerak waktu bernafas
c. Bunyi nafas : napas cepat, lembut teratur, dangkal
d. Bunyi jantung : Lup- duk teratur
13. Perut
a. Bentuk : tidak ada kelainan
b. Bising usus : Teratur
c. Kelainan : tidak ada kelainan
14. Tali pusat
a. Pembuluh darah : 2 arteri dan 1 veria
b. Perdarahan : tidak ada perdarahan
c. Kelainan : tidak ada kelainan
15. Kulit
a. Warna : Kemerahan dan ekstremitas biru
b. Tunger : (+) ada
c. Lanugo : ada
d. Vernik caseosa : ada
e. Kelainan : tidak ada kelainan
16. Punggung
a. Bentuk : Lurus
32
b. Kelainan : tidak ada kelainan
17. Ekstremitas
a. Tnagan : Simetris kanan dan kiri
b. Kaki : Simetris kanan dan kiri
c. Gerakan : (+) ada
d. Kuku : lengkap
e. Bentuk kaki : lurus
f. Bentuk tangan : lurus
g. Kelainan : tidak ada kelainan
18. Genetalia
Pria
a. Scrotum : ada
b. Testis : sudah turun
c. Penis : tidak ada kelainan
d. Kelainan : tidak ada
III. IDENTIFIKASI MASALAH, DIAGNOSA DAN KEBUTUHAN
Diagnosa
Bayi baru lahir spontan pervaginam cukup bulan, letak kepala diameter sub occipito
Bregmatika lahir dengan asfiksia.
Dasar :
Ds : By. Ny. I Lahir spontan pervaginam tanggal 27-7-2011 dengan nafas
cepat, dangkal, dengan ekstremitas biru dan menangis lemah
Do : Suhu tubuh 360C, APGAR 5-6, BB: 2900 gr, PB: 49 cm
DJJ : 85 x/menit, Lila : 10 cm Ekstremitas biru, RR: 28 x/menit
Masalah
Gangguan pemenuhan O2
Dasar : 1. Terdapat lendir pada jalan nafas
2. Nafas masih terdapat ronkhi
33
Kebutuhan
Membersihkan jalan nafas, suhu Perawatan tali pusat, pemenuhan cairan dan
nutrisi
Dasar :
1. Apgar, pengaturan suhu
2. Tali pusat masih basah
3. Pemberian ASI eksklusif
IV. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL ATAU DIAGNOSA LAIN
Asfiksia sedang
Hipotermi berat / sedang
Infeksi tali pusat
Dasar :
1. Ekstremitas bayi terlihat biru
2. Suhu tubuh 360C
3. Tali pusat masih basah
EVALUASI KEBUTUHAN SEGERA
Bersihkan jalan nafas
Keringkan tubuh bayi
Melakukan rangsangan taktil
V. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TERHADAP TINDAKAN DAN KOLABORASI
Pemantauan terhadap kemajuan kondisi By. Ny. I. Jika berlanjut menjadi Asfiksia
sedang atau berat dapat melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
VI. PERENCANAAN
RENCANA I
Tujuan: Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
34
Intervensi:
1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan kain diatas leher dan bahu bayi sehingga
bahu terangkat 2-3 cm
R/ Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi
kelancaran jalan nafas.
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
R/ Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin
pertukaran gas yang sempurna
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis, apnea & bradikardi tiap 4 jam
R/ Deteksi dini adanya kelainan.
4. Monitor TTV
R/ Deteksi dini adanya kelainan
5. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2
R/ Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak.
RENCANA II
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil: - Bayi dapat minum pespen / personde dengan baik.
- Berat badan tidak turun lebih dari 10%.
- Retensi tidak ada.
Intervensi :
1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi
R/ Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan /
perawatan yang tepat.
2. Monitor turgor dan mukosa mulut
R/ Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
R/ Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance)
4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan .
R/ Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
5. Lakukan control berat badan setiap hari.
R/ Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.
35
RENCANA III
Tujuan : Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria Hasil : - Tidak ada tanda-tanda infeksi.
- Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
Intervensi :
1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan kebidanan
R/ Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ Mencegah penyebaran infeksi nosokomial
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi)
R/ Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
R/ Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena
mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
R/ Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal
R/ Deteksi dini adanya kelainan
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
R/ Mencegah terjadinya penularan infeksi
8. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
R/ Mencegah infeksi dari pneumonia
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP
R/ Sebagai pemeriksaan penunjang.
10. Menjelaskan pada ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif
R/ Agar bayi mempunyai daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah sakit.
11. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi sayur-sayuran hijau
R/ agar pengeluaran ASI baik.
PELAKSANAAN
tanggal 27-7-2011 Pukul 01.30 WIB
36
1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan kain diatas leher dan bahu bayi sehingga
bahu terangkat 2-3 cm
R/ Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi
kelancaran jalan nafas.
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
R/ Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin
pertukaran gas yang sempurna
3.Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis, apnea & bradikardi tiap 4 jam
R/ Deteksi dini adanya kelainan.
4. Monitor TTV
R/ Deteksi dini adanya kelainan
5. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2
R/ Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak.
12. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi
R/ Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan /
perawatan yang tepat.
13. Monitor turgor dan mukosa mulut
R/ Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
14. Monitor intake dan out put.
R/ Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance)
15. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan .
R/ Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
16. Lakukan control berat badan setiap hari.
R/ Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.
17. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan kebidanan
R/ Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah
18. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ Mencegah penyebaran infeksi nosokomial
19. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi)
R/ Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi
20. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
37
R/ Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena
mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan
21. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
R/ Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
22. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal
R/ Deteksi dini adanya kelainan
23. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
R/ Mencegah terjadinya penularan infeksi
24. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
R/ Mencegah infeksi dari pneumonia
25. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP
R/ Sebagai pemeriksaan penunjang.
26. Menjelaskan pada ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif
- Menjelaskan pada ibu bahawa ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama
6 bulan tanpa makanan tambahan
27. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi sayur-sayuran hijau agar pengeluaran
ASI baik.
- Kandungan didalam ASI tersebut sudah mencukupi kebutuhan bayi untuk
- perkembangan otaknya dan sudah mencukupi kebutuhan nutrisinya
VII. EVALUASI
tanggal 27-7-2011, Pukul 02.10 WIB
Suhu tubuh bayi telah dipertahankan
Bayi telah dibungkus dengan handuk kering dan bersih
Tubuh dan kepala bayi telah dikeringkan dengan handuk
Radian warmer telah melakukan pembebasan jalan nafas
Pembebasan Jalan nafas telah dilakukan
Mata, hidung, dan mulut telah dibersihkan
Bayit telah diposisikan dengan benar
Jalan nafas telah dibersihkan
38
Rangsangan taktil telah dilakukan
Punggung telah diusap kearah atas
Bayi bernafas spontan
Perawatan tali pusat telah dilakukan
Ibu mengerti mengenai pentingnya ASI ekslusif
Ibu mengerti dan bersedia untuk memberikan ASI eksklusif
Ibu mengerti dan bersedia untuk mengkonsumsi sayur-sayuran hijau.
39
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
1. Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan
teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami
asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan
ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi
selama atau sesudah persalinan(Asuhan Persalinan Normal, 2007).
2. Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah
uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di
dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi
baru lahir.
3. Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat menimbulkan hipotermis dengan segala
akibatnya. Jangan diberi rangsangan taktil, jangan diberi obat perangsang nafas lakukan
resusitasi. Lakukan segera intubasi Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth
respiration kemudian dibawa ke NICU.
4.2 SARAN
Bagi Petugas
Bidan dalam fungsinya sebagai pelaksana pelayanan kebidanan harus
meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki serta harus
memiliki kepribadian yang baik sehingga dapat bekerja sama dengan petugas
kesehatan yang lain, klien dan keluarga.
Bagi klien.
Klien harus dapat bekerja sama dengan baik dengan tenaga kesehatan agar
keberhasilan dalam asuhan kebidanan dapat tercapai serta semua masalah
klien dapat terpecahkan.
Bagi Instansi.
40
Instansi harus berusaha untuk mempertahankan pelayanan yang sudah ada
dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
serta memberikan bimbingan kepada calon tenaga kesehatan yang merupakan
generasi penerus dan tongkat estafet dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak.
41
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono Prawiro, 2002. Praktisi Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Prof. Dr. dr. 1992 Ilmu kebidanan. Yayasan Bina Pustaka
:Jakarta
Mochtar Rustam, 1998. Sinopsis obstetric : Obstetric Fisiologis. Obstetric Patologi.
Editor. Delfi Lutan. Edisi 2. Jakarta : EGC
42
Get documents about "