penaksiran risiko dan desain pengujian

Document Sample
penaksiran risiko dan desain pengujian Powered By Docstoc
					   Nama : Fajar kusworo
   No    : 29017027
   Prodi : Akuntansi


                       Penaksiran Risiko dan Pengujian
 Penaksiran Risiko Pengendalian
  Penaksiran risiko pengendalian dilakukan oleh auditor pada tahap pemahaman dan
  pengujian atas pengendalian intern klien. Penaksiran risiko pengendalian adalah proses
  evaluasi evektivitas desain dan operasi pengendalian intern entitas dalam rangka
  pencegahan atau pendeteksian salah saji material didalam laporan keuangan. Tahap-tahap
  penaksiran risiko pengendalian adalah sebagai berikut:
     1. Pertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman atas pengendalian
         intern
     2. Lakukan identifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi dalam asersi entitas
     3. Lakukan identifikasi pengendalian yang diperlukan untuk mencegah atau
         mendeteksi salah saji
     4. Lakukan pengujian pengendalian terhadap pengendalian yang diperlukan untuk
         menentukan efektivitas desain dan operasi pengendalian intern
     5. Lakukan evaluasi terhadap bukti dan buat taksiran risiko pengendalian

 Pengujian Pengendalian
  Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan
  efektivitas desain dan/atau operasi pengendalian intern. Karena kebijakan dan prosedur
  akan efektivitas bila diterapkan semestinya secara konsisten oleh orang yang berwenang,
  pengujian pengendalian yang berkaitan dengan efektivitas operasi difokuskan ke tiga
  pertanyaan:
      1. Bagaimana pengendalian tersebut diterapkan ?
      2. Apakah pengendalian tersebut diterapkan secara konsistens ?
      3. Oleh siapa pengendalian tersebut diterapkan ?

 Pengujian Pengendalian Bersamaan
  Pengujian pengendalian bersamaan dilaksanakan oleh auditor bersamaan waktunya
  dengan usaha pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern. Pengujian ini dilakukan
  oleh auditor, baik dalam strategi pendekatan terutama substatif maupun dalam
  pendekatan risiko pengendalian rendah.

 Pengujian Pengendalian Tambahan atau Pengujian Pengendalian yang
  Direncanakan
  Pengujian pengendalian ini dilaksanakan oleh auditor dalam pekerjaan lapangan.
  Pengujian pengendalian ini dapat memberikan bukti tentang penerapan semestinya
  kebijakan dan prosedur pengendalian secara konsisten sepanjang tahun yang diaudit.

 Perancangan Pengujian Pengendalian
  Banyak alternatif yang dapat dipilih auditor berkenaan dengan pengujian pengujian
  pengendalian. Di samping auditor dapat memilih pengujian pengendalian bersamaan atau
   pengujian pengendalian tambahan atau pengujian pengendalian yang direncanakan,
   auditor dapat memilih jenis prosedur yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengujian
   pengendalian, saat, dan lingkup pengujian pengendalian.

 Jenis Pengujian Pengendalian
  Jenis pengujian pengendalian yang dapat dipilih auditor dalam pelaksanaan pengujian
  pengendalian adalah :
      1. Permintaan keterangan
      2. Pengamatan
      3. Inspeksi
      4. Pelaksanaan kembali

 Waktu Pelaksanaan Pengujian Pengendalian
  Waktu pelaksanaan pengujian pengendalian berkaitan dengan kapan prosedur tersebut
  dilaksanakan dan bagian periode akuntansi mana prosedur tersebut berhubungan.
  Pengujian pengendalian tambahan dilaksanakan dalam pekerjaan interim, yang dapat
  dalam jangka waktu beberapa bulan sebelum akhir tahun yang diaudit.

 Lingkup Pengujian Pengendalian
  Biasanya semakin luas lingkup pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor,
  akan dapat dikumpulkan bukti lebih banyak mengenai efektivitas pengendalian intern.
  Semakin banyak orang yang dimintai keterangan tentang pengendalian intern atas asersi
  tertentu, semakin banyak bukti yang dapat dikumpulkan oleh auditor untuk menilai
  efektivitas pengendalian intern atas asersi tersebut.

 Program Audit untuk Pengujian Pengendalian
  Keputusan yang diambil oleh auditor berkaitan dengan jenis, lingkup, dan saat pengujian
  pengendalian harus didokumentasikan dalam suatu program audit dan kertas kerja yang
  bersangkutan. Seperti yang telah diuraikan dalam bab “bukti audit”, program audit adalah
  daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu, sedangkan prosedur audt adalah
  instruksi rinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada
  saat tertentu dalam audit.

 Kerjasama Dengan Auditor Intern dalam Pengujian Pengendalian
  Bilamana auditor independen melakukan audit atas laporan keuangan entitas yang
  memiliki fungsi audit intern, auditor independen dapat
      1. Melakukan koordinasi pekerjaan auditnya dengan auditor intern
      2. Menggunakan auditor intern untuk meyediakan bantuan langsung dalam audit

 Pengujian dengan Pengendalian Ganda
  Bila jenis pengujian dengan pengendalian ganda dilaksanakan, auditor harus mendesain
  pengujiannya sedimikian rupa sehingga ia dapat mengumpulkan bukti tentang efektivitas
  sekaligus mendapatkan bukti tentang kekeliruan moneter dalam akun. Disamping itu,
  auditor harus secara cermat mengevaluasi bukti yang diperoleh. Pengujian dengan tujuan
  ganda digunakan oleh auditor untuk menekan biaya dalam pelaksanaan pengujian.

 Penentuan Risiko Deteksi
   Rumus perhitungan resiko deteksi dapat diuraikan sebagai berikut : untuk menentukan
   resiko audit tertentu yang ditetapkan oleh auditor, resiko deteksi berbanding terbalik
   dengan taksiran tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian.

 Evaluasi Terhadap Tingkat Pengujian Substatif yang Direncanakan
  Setelah memperoleh pemahaman atas pengendalian intern yang relevan denga pelaporan
  keuangan dan setelah menaksir risiko pengendalian untuk suatu asersi resiko laporan
  keuangan, auditor harus membandingkan tingkat risiko pengendalian sesunggunhnya atau
  final dengan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk asersi tersebut.

 Desain Pengujian Substatif
  Pengujian substatif menghasilkan bukti audit tentang kewajaran setiap asersi laporan
  keuangan sigbifikan. Di lain pihak, pengujian substatif dapat mengungkapkan kekeliruan
  atau salah saji moneter dalam pencatatan dan pelaporan transaksi dan saldo akun. Desain
  pengujian substatif mencakup penentuan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang
  diperlukan untuk memenuhi tingakt risiko deteksi setiap asersi.

 Sifat Pengujian Substatif
  Sifat pengujian substatif mencakup jenis dan efektivitas prosedur audit yang dilakukan
  oleh auditor. Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah, auditor harus
  menggunakan prosedur audit yang lebih efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang
  lebih tinggi. Jika tingkat resiko deteksi yang dapat diterima adalah tinggi, auditor dapat
  menggunakan prosedur audit yang kurang efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang
  lebih rendah. Auditor dapat menggunakan jenis pengujian substatif berikut ini:
      1. Prosedur analitik
      2. Pengujian terhadap transaksi rinci
      3. Pengujian terhadap saldo akun rinci

 Saat Pengujian
  Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima berdampak terhadap saat pelaksanaan
  pengujian substatif. Jika resiko deteksi adalah tinggi, pengujian substatif dapat
  dilaksanaakan beberapa bulan sebelum akhir tahun yang diaudit. Sebaliknya, jika risiko
  deteksi adalah rendah, pengujian substatif biasanya dilaksanakan oleh auditor pada atau
  mendekati tanggal neraca.

 Lingkup Pengujian
  Auditor dapat mengubah jumlah bukti audit yang dikumpulkan dengan mengubah
  lingkup pengujian substatif yang dilaksanakan. Lingkup pengujiang substatif menunjukan
  jumlah pos atau besarnya sampel yang diuji.

 Pengembangan Program Audit untuk Pengujian Substatif
  Laporan keuangan berisi lima golongan asersi: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan,
  hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi, penyajian dan pengungkapan. Laporan
  keuangan dinyatakan wajar bila kelima golongan asersi yang terdapat dalam laporan
  keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Dalam
  mendesain pengujian sunstatif, auditor harus menentukan pengujian semestinya untuk
  mencapai setiap tujuan audit khusus yang berkaitan dengan setiap asersi.
 Kerangka Umum Pengembangan Program Audit untuk Pengujian Substatif
     1. Tentukan prosedur audit awal. Prosedur audit awal terdiri dari liam langkah
        berikut ini:
            a. Usut saldo pos yang tercantum didalam neraca ke saldo akun yang
                bersangkutan di dalam buku besar
            b. Hitung kembali saldo akun yang bersangkutan di dalam buku besar
            c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
                posting dalam akun yang bersangkutan
            d. Usut saldo awal akun yang bersangkutan kekertas kerja tahun yang lalu
            e. Usut posting pendebit dan/atau pengkredit akun tersebut kedalam jurnal
                yang bersangkutan
            f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol tersebut dalam buku besar ke buku
                pembantu yang bersangkutan
     2. Tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan
     3. Tentukan pengujian terhadap transaksi rinci
     4. Tentukan pengujian terhadap akun rinci

 Program Audit dalam Perikatan Pertama
  Dua hal yang memerlukan perhatian khusus dari auditor dalam mendesain program audit
  dalam perikatan pertama:
      1. auditor harus memastikan bahwa saldo awal mencerminkan penerapan kebijakan
         akuntansi yang semestinya, dan
      2. bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan
         tahun berjalan. Bila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi atau
         penerapannya, auditor harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut
         memang semestinya dilakukan dan dipertanggungjawabkan serta diungkapkan

 Program Audit dalam Perikatan Berulang
  Dalam periaktan audit berukang, auditor dapat melakukan akses ke program audit yang
  digunakan dalam audit tahun yang lalu dan kertas kerja yang dihasilkan dari program
  audit tersebut.

 Perbandingan Antara Pengujian Pengendalian dengan Pengujian Substatif
  Dua jenis pengujian ini berbeda dalam hal: jenis, tujuan, sifat pengukuran pengujian yang
  digunakan, prosedur audit yang dapat diterapkan dalam masing-masing pengujian, saat
  penerapan, unsur resiko audit yang terdapat didalamnya, standar pekerjaan lapangan yang
  melandasinya, dan sifat kewajiban yang ditentukan oleh standar auditing.


 Sumber
  Mulyadi. Auditing. Edisi ke-6 Jakarta: Salemba Empat, 2002

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1046
posted:12/6/2011
language:Malay
pages:4