Embed
Email

BENTUK konflik

Document Sample

Shared by: akutrinil
Categories
Tags
Stats
views:
48
posted:
12/4/2011
language:
Malay
pages:
6
Apr 19, '08 8:38 AM

BENTUK-BENTUK KONFLIK POLITIK

for everyone



Sosiologi merupakan ilmu social yang sasaranya masyarakat. Masyarakat yang menjadi

sasaran ilmu social dapat dilihat sebagai sesuatu yag terdiri dari berbagai aspek, seperti

halnya dengan sosiologi yang memusatkan perhatiannya kepada aspek masyarakat yang

bersifat umum dan berusaha mendapatkan pola-pola umum darinya. Singkatnya,

sosiologi mempelajari masyarakat dan hubungan antara pribadi-pribadi dalam masyarakat

tersebut.

Sedangkan ilmu politik memusatkan aspek masyarakat yang berhubungan dengan

kekuasaan. Dalam proses tersebut kemudian muncul sebuah fenomena yang disebut

dengan konflik. Untuk memahami fenomena ini secara sosiologis dan politis, maka

diperlukan suatu alat analisa interpreitasi terhadap masalah tersebut, yakni sosiologi

politik.

Konflik diyakini sebagai suatu fakta utama dalam masyarakat, baik itu masyarakat agraris

maupun masyarakat modern. Konflik lebih banyak difahami sebagai keadaan tidak

berfungsinya, komponen-komponen masyarakat sebagaimana mestinya atau gejala

penyakit dalam masyarakat yang terintegrasi secara tidak sempurna. Tetapi, secara

empiris, tidak diakui karena, orang lebih memilih stabilitas sebagai hakikat masyarakat.

Sebaliknya konfik mempunyai fungsi-fungsi positif, salah satunya ialah mengurangi

ketegangan tersebut tidak bertambah dan menimbulkan kekerasan yang memungkinkan

terjadinya perubahan-perubahan.

Salah satu fungsi tersebut ialah berdampak kepada penyegaran pada sistem sosial.

Konflik memang tidak mengubah sistem sosial itu sendiri, namun konflik menciptakan

perubahan-perubahan dalam sistem. Sehingga dengan keberadaan konflik tersebut

berimplikasi terhadap sistem tersebut, yakni sistem akan lebih sedikit efektif dari

sebelumnya.



A. Pengertian konflik

Konflik bukan merupakan suatu hal yang asing didalam hidup manusia. Sejarah mencatat

bahwasanya konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia, sepanjang seseorang

masih hidup hampir mustahil untuk menghilangkan konflik dimuka bumi ini baik itu

konflik antar individu maupun antar kelompok. Jika konflik antara perorangan tidak bisa

diatasi secara adil dan proposional, maka hal itu dapat berakhir dengan konflik antar

kelompok.

Untuk itu, konflik merupakan suatu gejala yang tidak dapat dipisahkan dalam

masyarakat. Fenomena konflik tsb mendapat perhatian bagi manusia, sehingga muncul

penelitian-penelitan yang menciptakan dan mengembangkan berbagai pandangan tentang

konflik.

Diantaranya ialah Charles Watkins yang memberikan suatu analisis tajam tentang kondisi

dan prasyarat terjadinya suatu konflik. Menurutnya, konflik terjadi bila terdapat dua hal.

Pertama, konflik bisa terjadi bila sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang secara

potensial dan praktis/operasional dapat saling menghambat. Secara potensial artinya,

mereka memiliki kemampuan untuk menghambat. Secara praktis/operasional maksudnya

kemampuan tadi bisa diwujudkan dan ada didalam keadaan yang memungkinkan

perwujudannya secara mudah. Artinya, bila kedua belah pihak tidak dapat menghambat

atau tidak melihat pihak lain sebagai hambatan, maka konflik tidak akan terjadi.

Kedua, konflik dapat terjadi bila ada sesuatu sasaran yang sama-sama dikejar oleh kedua

pihak, namun hanya salah satu pihak yang akan memungkinkan mencapainya.

Kemudian, Joyce Hocker dan William Wilmt di dalam bukunya yang berjudul

interpersonal conflict, berupaya untuk memahami pandangan tentang konflik. Pada

umumnya pandangan tentang konflik dapat digambarkan sebagai berikut ;

Pertama, konflik adalah hal yang abnormal karena hal normal adalah keselarasan. Bagi

mereka yang menganut pandangan ini pada dasarnya bermaskud menyampaikan bahwa,

suatu konflik hanya merupakan gangguan stabilitas.

Kedua, konflik sebenarnya hanyalah suatu perbedaan atau salah paham. Mereka yang

perpendapat seperti ini menganggap bahwasanya konflik hanyalah kegagalan

berkomunikasi dengan baik, sehingga pihak lain tidak dapat memahami maksud kita yang

sesungguhnya.

Ketiga, konflik adalah gangguan yang hanya terjadi karena kelakuan orang-orang yang

tidak beres. Menurut penganut pendapat ini, penyebab suatu konflik adalah anti sosial.



B. Konflik dan integrasi

Pengertian konflik merupakan suatu perselisihan yang terjadi antara dua pihak, ketika

keduanya menginginkan suatu kebutuhan yang sama dan ketika adanya hambatan dari

kedua pihak, baik secara potensial dan praktis. Sedangkan integrasi adalah proses

mempersatukan masyarakat, yang cendrung membuat masyarakat menjadi lebih baik atau

harmonis. Disamping itu integrasi juga dipahami sebagai suatu pernyataan yang sudah

dicapai, atau sudah dekat untuk dicapai.

Dalam politik, konflik dan integrasi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Konflik mempunyai hubungan yang erat dengan proses integrasi. Hubungan ini

disebabkan karena dalam proses integrasi terdapat sebuah proses disoraganisasi dan

disintegrasi.

Dalam proses disorganisasi terjadi perbedaan faham tentang tujuan kelompok sosialnya,

tentang norma-norma sosial yang hendak diubah, serta tentang tindakan didalam

masyarakat. Apabila tidak terdapat tindakan dalam menghadapi perbedaan ini, maka

dengan sendirinya langkah pertama menuju disintegrasi terjadi. Jadi, disorganisasi terjadi

apabila perbedaan atau jarak antara tujuan sosial dan pelaksanaan terlalu besar.

Suatu kelompok sosial selalu dipengaruhi oleh beberpa faktor, maka pertentangan atau

konflik akan berkisar pada penyesuaian diri ataupun penolakan dari faktor-faktor sosial

tersebut. Adapun faktor-faktor sosial yang menuju integrasi tersebut ialah tujuan dari

kelompok, sistem sosialnya, tindakan sosialnya.

Pertentangan yang terjadi dalam kelompok maupun diluar kelompok memiliki hubungan

yang saling pengaruh mempengaruhi. Untuk itu, Makin tinggi konflik dalam kelompok,

makin kecil darejat integarasi kelompok. Sedangkan makin besar permusuhan terhadap

kelompok luar, makin besar integrasi.



C. Bentuk-bentuk konflik politik

Hubuangan antara konflik dan integarasi tidak dapat dipisahkan, hubungan ini dapat

diibaratkan dari dua sisi mata uang yang sama. Dalam kenyataanya, kita menemukan

bahwa beberapa jenis konflik sudah mencakup tingkat integrasi tertentu. Tahap pertama

dari integrasi tersebut terdiri dari menahan penggunaan kekerasan, yang berarti

menggantikan bentuk- bentuk konflik dengan bentuk yang lainnya. Buktinya dapat kita

anlisa dari permasalah yang terjadi di Aceh.

Pada mulanya Konflik yang terjadi di aceh disikapi dengan kekerasan yang dilakukan

oleh pemerintah. Namun, ketika adanya kompromi diantara dua kelompok, maka

keduanya mulai berupaya untuk menghindari kekerasan. Dengan adanya kesepakatan ini,

berarti konflik yang terjadi sudah menuju tahap pertama dari integrasi. Kemudian kedua

pihak memulai mengganti bentuk-bentuk konflik dengan bentuk yang lain.

Bentuk-bentuk konflik politik itu dapat diidentifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh

Maurice Devurege. Ia mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik politik menjadi dua

kategori yakni; senjata-senjata pertempuran dan strategi politik

1. Senjata-senjata pertempuran

Manusia dan organisasi dalam konflik satu sama lain mempergunakan berbagai jenis

senjata di dalam perjuangan politik. Senjata yang digunakan tergantung dari masyarakat

setempat dan kelompok-kelompok sosialnya, diantaranya ialah senjata dalam bentuk

kekerasan fisik, senjata dalam bentuk yang lain seperti uang, media dan organisasi.

Namun, belakangan ini kekerasan fisik merupakan senjata yang sering digunakan.

Padahal tujuan pertama-tama dari politik adalah untuk menghapus kekerasan, untuk

menggantikan konflik berdarah dengan bentuk-bentuk perjuangan sipil yang lebih dingin,

dan untuk menghapus peperangan, baik sipil atau internasional. Politik cenderung

menghapus kekerasan, akan tetapi dia tidak pernah berhasil seluruhnya. Senjata-senjata

dalam arti sempitnya —senjata militer— tidak seluruhnya dikeluarkan dari konflik

politik. Memang politik adalah konflik, akan tetapi juga pembatasan konflik, dan

konsekuensinya suatu permulaan dari proses integrasi. Namun, tidaklah mutlak.

a) Kekerasan fisik

Berbicara secara luas, ada dua jenis kekerasan yang dipergunakan sebagai senjata di

dalam pertempuran politik: kekerasan oleh negara melawan para warganya, dan

kekerasan antara kelompok warga negara atau melawan negara.

Alat kekerasan yang digunakan negara untuk melawan negara adalah militer yang

mempergunakan senjata. untuk mempertahankan otoritasnya terhadap rakyat yang

diperintahkannya, senjata militer juga dipergunakan dalam perjuangan politik Pertama,

senjata dipergunakan selama tahap awal dari perkembangan sosial, ketika negara masih

terlalu lemah untuk memperoleh monopoli lengkap dari senjata-senjata militer bagi

keuntungannya sendiri.

Lantas, perjuangan merebut kekuasaan terdiri dari munculnya fraksi bersenjata yang

saling berhadapan baik itu organisasi politik yang mempergunakan senjata maupun

pemberontakan terhadap negara.

Kemudian, ketika militer tidak lagi untuk melayani negara, tidak lagi berada dalam kuasa

mereka yang memerintah, dan ketika mereka sendiri bergabung di dalam perjuangan

untuk merebut kekuasaan. Maka militer berubah menjadi kelompok kepentingan, yang

berupaya untuk merebut kekuasaan.

Bilamana angkatan bersenjata menetapkan dirinya menjadi suatu organisasi politik

yang independen dan tidak lagi menaati pemerintah, jelas ada disorganisasi yang

mendalam dalam organisasi politik.

Justru dari hakikatnya militer selalu merupakan bahaya politik bagi negara. Mereka yang

memegang senjata selalu digoda untuk menyalahgunakannya, sama seperti mereka yang

memegang posisi otoritas mendapat godaan untuk melampaui hak-haknya.

b) Kekayaan

Dalam realitas politik; uang tidak pernah menjadi satu-satunya "penguasa". Namun dalam

banyak masyarakat, seperti dalam masyarakat kapitalis, uang adalah senjata yang hakiki.

Untuk itu, uang yang merupakan simbol dari kekayaan telah menjadi sebuah senjata

politik. Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa kekayaan merupakan bagian dari hal yang

mewarnai bentuk-bentuk konflik politik.

Seperti dalam masyarakat agraris yang menggunakan kekayaannya seperti tanah sebagai

sumber dari kekuatan politik, hal ini dilakukan oleh kelas pemilik tanah atau aristokrat.

Kemudian, pada abad kesembilan belas muncul kalangan borjuis yang menggantikan

sumbernya dari pemilikan tenah kepada kekuatan uang. Jadi, pada pekembangannya uang

mulai terkesan sebagai senjata politik.

c) Organisasi

Di dalam komunitas manusia yang besar, terutama di dalam negara modern, pertikaian

politik dilancarkan antara organisasi-organisasi. Organisasi-organisasi ini kelompok-

kelompok yang berstruktur, dengan kemampuan artikulasi, dan hirarkis, terutama terlatih

bagi perjuangan merebut kekuasaan.

Hakikat organisatoris dari kekuatan- kekuatan sosial ini adalah fakta yang fundamental

dari kehidupan politik masa kini. Tentu saja, ada selalu sejumlah organisasi kekuatan-

kekuatan sosial yang bersungguh-sungguh pada aksi politik, akan tetapi selama seratus

tahun terakhir, teknik organisasi kolektif dan metode memasukkan orang ke dalam

kelompok aksi kolektif telah sangat disempurnakan. Wajah yang sungguh asli dari

perjuangan politik sekarang bukanlah bahwa dia terjadi antar organisasi, akan tetapi

karena organisasi ini begitu rapi dikembangkan.

Kita dapat mengklasifikasikan organisasi politik menjadi dua kategori utama partai-partai

politik dan kelompok kepentingan. Tujuan utama dari partai adalah memperoleh

kekuasaan atau mengambil bagian dalam kekuasaan; mereka berusaha memperoleh kursi

dalam pemilihan umum, mengangkat wakil dan menteri, dan mengontrol pemerintah.

Sedangkan kelompok kepentingan tidak berusaha untuk merebut kekuasaan atau

berpartisipasi di dalam pelaksanaan kekuasaan, namun tujuannya adalah mempengaruhi

dan menekan mereka yang memegang kekuasaan.

d) Media informasi

Media yang merupakan alat untuk menyebarkan pengetahuan dan informasi ini juga

dapat dikatakan sebagai senjata politik, yang mampu dipakai oleh negara, oleh organisasi,

partai dan gerakan rakyat.

Dalam rezim-rezim otoritarian, media informasi biasanya berada dalam kontrol negara,

yang berfungsi untuk menyebarkan propaganda negara. Propaganda ini cenderung untuk

mengamankan dukungan penuh dan pemerintah. Dia tidak berorientasi kepada

perjuangan kelas atau kategori sosial yang meliputi bangsa, akan tetapi kepada penyatuan

negara. Dia merupakan alat integrasi sosial atau pseudointegrasi

Sedangkan dalam rezim demokratis, tidak semua media informasi dikontrol oleh negara;

banyak yang memiliki sifat seperti kelompok kepentingan. Pluralisme media adalah

unsur di dalam pluralisme rezim, bersama dengan pluralisms partai politik.

Namun, jarang kita mendapatkan negara demokratis di mana negara tidak menguasai satu

pun media informasi, sebagaimana di Amerika Serikat. Hampir di mana-mana, penyiaran

radio diorganisir oleh dinas negara, sekurang-kurangnya sebagian.

2. Strategi politik

a) Konsentrasi atau penyebaran-penyebaran senjata politik

Dari segi distribusi senjata-senjata politik, masyarakat dapat dibagi menjadi dua jenis

masyarakat politik, yakni masyarakat dengan konsentrasi senjata dan masyarakat dengan

penyebaran senjata.

Di dalam masyarakat dengan konsentrasi senjata, semua senjata-senjata politik, atau

sekurang-kurangnya yang utama, dipegang oleh satu kelas atau kelompok sosial. Seperti

yang terdapat di dalam masyarakat feodal dan monarki, misalnya, senjata utama pada

masa itu — senjata-senjata militerdan kekayaan pemilikan tanah— dikonsentrasikan di

dalam tangan kaum aristokrat.

Sedangkan di dalam masyarakat dengan penyebaran senjata, senjata-senjata utama dibagi

pada beberapa kelas atau kategori kelas. Saat ini, di satu pihak, kaum kapitalis memiliki

kekayaan, yang dipakainya untuk kepentingan propaganda, dengan demikian memegang

unsur-unsur kekuasaan politik yang paling penting dalam tangannya. Namun dipihak lain,

kaum pekerja/buruh juga mempenyai kekuatan dengan bentuk organisasi masa (partai-

partai rakyat dan serikat buruh)

b) Perjuangan terbuka atau perjuangan diam-diam

Perjuangan terbuka dalam konflik politik dapat ditemukan pada negara yang menganut

faham demokrasi. Dimana dalam demokrasi konflik politik bersifat resmi atau diakui,

seperti dalam kampanye, pemilu, demonstrasi dan di parlemen. Biasanya kelompok-

kelompok yang bertarung dalam konflik politik ini adalah organisasi politik yang legal

seperti partai.

Bagi organisasi yang tidak berorientasi kepada politis, mereka memiliki potensi untuk

berupaya mengejar tujuan-tujuan politiknya dengan cara yang ilegal. Karena sifanya

ilegal, maka perjuangannya dilakukan secara diam-diam. Fakta ini dapat dilihat dari

munculnya gerakan-gerakan bawah tanah yang berupaya untuk merebut kekuasaan.

c) Pergolakan didalam rejim dan perjuangan untuk mengontrol rejim

Dalam negara-negara demokrasi, pergolakan politik terbuka tetap terbatas. Perbedaan

dasar dalam hubungan ini harus dibuat antara pergolakan di dalam dan perjuangan untuk

merebut rezim.

Perbedaan antara perjuangan merebut rezim dan perjuangan di dalam rezim berhubungan

dengan konsep legitimasi. Konflik-konflik berada dalam kerangka pemerintah, bilamana

mayoritas para warga menganggap pemerintah tersebut legitimete, bilamana ada

konsensus tentang hal ini. Konflik tidak dapat ditampung di dalam kerangka pemerintah

kecuali ada konsensus tentang legitimasinya.

Apabila konsensus itu berantakan, ketika hanya sebagain kelompok yang mengakui

legitimasi pemerintah , maka akan muncul perjuangan melawan rezim.

Akibatnya, perjuangan di dalam rezim dan perjuangan melawan rezim bukanlah strategi

alternatif yang bisa dipilih seseorang dalam suatu suasana yang normal, tetapi dalam

situasi tertentu. Bilamana konsensus politik secara mendalam terbagi, maka situasi

revolusioner menghasilkan perjuangan melawan rezim.

Perjuangan melawan suatu rezim bisa mengambil dua bentuk yang berbeda-beda,

tergantung dari apakah dia hanya memperhatikan tujuan-tujuan yang harus dicapai atau

juga cara-cara yang harus dipergunakan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Perjuangan melawan suatu rezim selalu berarti bahwa sebagian warga negara tidak

menerima lembaga-lembaga yang ada dan berjuang untuk menggantikannya dengan

lembaga-lembaga lain.

d) Strategi dua blok atau strategi sentris

Perjuangan politik di dalam suatu sistem dwi-partai berbeda dari perjuangan di dalam

sistem multi-partai. Dalam perjuangan sistem dwi partia mengambil bentuk duel,

sedangkan dalam sistem multi partai, sejumlah musuh saling berhadapan dan membentuk

berbagai koalisi. Perbedaan politik antara kiri dan kanan memungkinkan kita

memperbandingkan kedua situasi tersebut.

Golongan politik “kanan” memilih sikap untuk menerima tatanan sosial yang ada dan

mereka secara relatif puas terhadap tatanan tersebut, yang akhinya mereka putuskan

untuk melanjutkannyas. Sedangkan golongan “kiri” tidak menyukai tatanan sosial yang

ada dan mau mengubahnya.

Namun, pada kenyataannya, strategi dua blok adalah bentuk sentrisme, karena setiap blok

dipaksa untuk mengorientasikan politiknya ke arah tengah.



e) kamuflase

Salah satu alat strategi yang digunakan dalam setiap jenis rezim ialah kamuflase.

Kamuflase merupakan upaya untuk menyembunyikan tujuan-tujuan yang sebenarnya dan

motif-motif aksi politik yang sebenarnya di balik tujuan dan motif yang semu yang lebih

populer, dan karena itu, mengambil keuntungan dari dukungan rakyat yang lebih besar.

Alat ini dipakai oleh individu-individu, partai-partai, dan kelompok-kelompok

kepentingan di dalam perjuangannya untuk memenangkan atau mempengaruhi

kekuasaan. Dia juga dipakai oleh pemerintah untuk memperoleh kepatuhan dari para

warga dan untuk mengembangkan integrasi sosial dan politik yang nyata.

Kamuflase mempunyai beberapa bentuk diantranya ialah Teknik kamuflase yang paling

biasa adalah menutupi suatu tujuan yang kurang terhormat di balik sesuatu yang lebih

terhormat dalam hu-bungan dengan sistem nilai dari suatu masyarakat tertentu. Teknik

lain dalam kamuflase adalah membuat kasak-kusuk terhadap sebagian besar penduduk

bahwa kepentingannya berada dalam ancaman, sedangkan isu tersebut hanya menyangkut

kepentingan pribadi dari se-buah minoritas yang kecil


Related docs
Other docs by akutrinil
BENTUK konflik
Views: 48  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!