Embed
Email

Keampuhan Syariat Islam Mengatasi Kriminalitas

Document Sample
Keampuhan Syariat Islam Mengatasi Kriminalitas
Shared by: agus musoleh
Stats
views:
25
posted:
12/4/2011
language:
pages:
6
KEAMPUHAN SYARIAT ISLAM MENGATASI KRIMINALITAS

Oleh : Ir. Achmad Saifullah









Falsafah Hukum Sanksi





Islam menganggap bahwa kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qabih).

Sedangkan yang dimaksud dengan tercela (al-qabih) adalah perbuatan-perbuatan yang Allah cela.

Itu sebabnya, suatu perbuatan tidak dianggap jahat kecuali jika ditetapkan oleh syara‟ bahwa

perbuatan tersebut tercela. Ketika syara‟ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka

sudah pasti perbuatan tersebut disebut kejahatan, tanpa melihat lagi apakah tingkat dan jenis

kejahatan tersebut besar ataupun kecil. Syara‟ telah menetapkan perbuatan tercela sebagai dosa

(dzunub) yang harus dikenai sanksi. Jadi, dosa itu substansinya adalah kejahatan.

Kejahatan sendiri bukan berasal dari fitrah manusia. Kejahatan bukan pula semacam

“profesi” yang diusahakan oleh manusia. Kejahatan bukan juga „penyakit‟ yang menimpa manusia.

Kejahatan (jarimah) adalah tindakan melanggar aturan yang mengatur perbuatan-perbuatan

manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan hubungannya dengan

manusia lain. Allah Swt telah menciptakan manusia lengkap dengan potensi kehidupannya, yaitu

meliputi naluri-naluri dan kebutuhan jasmani. Naluri-naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi

hidup manusia yang mampu mendorong manusia untuk melakukan pemenuhan terhadap potensi

hidupnya. Manusia yang mengerjakan suatu perbuatan yang muncul dari potensi hidup tadi,

adalah dalam rangka mendapatkan pemenuhan terhadap potensi hidupnya.

Meskipun demikian membiarkan pemenuhan itu tanpa aturan, akan menghantarkan

kepada kekacauan dan kegoncangan. Juga akan menghantarkan kepada pemenuhan naluri

maupun kebutuhan jasmani yang salah, atau pemenuhan yang tercela. Oleh karena itu, ketika

Allah Swt. mengatur perbuatan-perbuatan manusia, Allah juga telah mengatur pemenuhan

terhadap naluri-naluri dan kebutuhan jasmani harus diatur dan sesuai dengan hukum. Syari‟at

Islam telah menjelaskan kepada manusia, hukum atas setiap peristiwa yang terjadi. Itu sebabnya

Allah Swt. mensyari‟atkan halal dan haram. Syara‟ mengandung perintah dan larangan-Nya, dan

Allah Swt. meminta manusia untuk berbuat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt. dan

menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika menyalahi hal tersebut, maka manusia telah melakukan

perbuatan tercela, yakni melakukan kejahatan. Oleh karena itu, orang-orang yang berdosa harus

dikenai sanksi („iqab). Dengan demikian, manusia dituntut untuk mengerjakan apa yang

diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Perintah dan larangan tersebut tidak akan berarti sama sekali jika tidak ada sanksi bagi

orang yang melanggarnya. Syari‟at Islam menjelaskan bahwa bagi pelanggar akan dikenai sanksi

di akhirat dan di dunia. Allah Swt. akan memberi sanksi di akhirat bagi pelanggar, dan Allah juga

akan mengadzabnya kelak di hari kiamat. Firman Allah Swt:



 ُ ‫جَهٌََّ ٌَصِيىَِّهَب فَجِئْطَ اىَِْهَب‬ٍ‫وَإ َّ ى َّبغِنيَ ىَش َّ ٍَآة‬

‫د‬ َ َْ ‫َس‬ ‫ُِ ِيط‬

“Beginilah (keadaan mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar

(disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahannam, yang mereka masuk ke

dalamnya; maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal.” (TQS. Shâd [38]: 55-56)





Sanksi („iqab) disyari‟atkan untuk mencegah manusia dari tindak kejahatan. Allah Swt.

berfirman:

ُ ‫َين َّق‬ ‫ح أ‬ ‫ص‬ ُ

﴾َ ‫﴿وَىَنٌِ فًِ اْىقِ َبصِ حٍََب ٌ ٌَبُوىًِ اْألَىْجَبةِ َىع َّ ٌُِ رَز ُى‬

„Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal,

supaya kamu bertaqwa.‟ (TQS. al-Baqarah [2]:179)





Maksud ayat tersebut bahwa di dalam pensyari‟atan qishash bagi kalian, yakni membunuh lagi si

pembunuh, terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu menjaga jiwa (manusia). Sebab, jika

pembunuh mengetahui akan dibunuh lagi, maka ia akan merasa takut untuk melakukan

pembunuhan. Itu sebabnya, di dalam qishash ada jaminan hidup bagi jiwa. Pada ghalibnya, jika

orang berakal mengetahui bahwa bila ia membunuh akan dibunuh lagi, maka ia tidak akan

melakukan pembunuhan tersebut. Dengan demikian, „uqubat (sanksi-sanksi) berfungsi sebagai

zawajir (pencegahan). Keberadaannya disebut sebagai zawajir, sebab dapat mencegah manusia

dari tindak kejahatan.





Sanksi di dunia bagi para pendosa atas dosa yang dikerjakannya di dunia dapat

menghapuskan sanksi di akhirat bagi pelaku dosa tersebut. Hal itu karena „uqubat berfungsi

sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Keberadaan uqubat sebagai zawajir, karena

mampu mencegah manusia dari perbuatan dosa dan tindakan pelanggaran. Keberadaan „uqubat

sebagai zawabir, dikarenakan ‟uqubat dapat menebus sanksi akhirat. Sanksi akhirat bagi seorang

muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara di dunia. Dalilnya adalah apa diriwayatkan

oleh Bukhari dari „Ubadah bin Shamit ra berkata:







ّ ُ‫س‬ ُ ‫ر‬ ُ ‫َق‬ ًِْ‫اى‬ ُْ

،‫ فًِ ٍَجِيِطِ ف َبهَ: ثَبٌَعىًِِّ عَيَى أَُْ الَ ُشِسِمىِا ثِبهللِ شٍَِئبً، وَالَ رَعِ ُقىِا وَالَ رَصُِوىِا‬ ِّ ‫«مَّب عِِْدَ َّج‬

‫َُ ت ه‬ ِ ََ ٓ‫َ َف ن َ س‬ ‫ُي‬

َ‫وَقَسَأَ َٕرِِٓ اٌََْخِ م ُّهَب، فََِِ و َّى ٍِِْ ٌُِ فؤَجِ ُ ُ عَيَى اهللِ، وٍِِ َأصَبةَ ٍِِ ذَِىلَ شٍَِئبً فعىِقِ ُ ِثِٔ فَ ُوى‬

ٔ‫ش ر‬ ُ ‫ٓ هلل ِ ش‬ ِ َ َ ٔ ‫َف ح‬

»ُ ‫م َّبزَ ٌ َى ُ، وٍِِ َأصَبةَ ٍِِ ذَِىلَ شٍَِئًب فَعَزَسَ ُ ا ُ عَئٍَِ إُِْ َبءَ غفِسََىُٔ، وَإُِْ َبءَ عَ ََّث‬



“Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu majelis dan beliau bersabda, “Kalian telah

membai‟atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina,

kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa diantara kalian

memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu

maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu

sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau mengadzab.”





Hadits ini menjelaskan bahwa sanksi dunia diperuntukkan untuk dosa tertentu, yakni sanksi yang

dijatuhkan negara bagi pelaku dosa, dan ini akan menggugurkan sanksi akhirat.

Dengan demikian, tidak ada satu sistem hukum-pun di dunia ini yang serupa sebagaimana

sistem hukum Islam. Sistem hukum Islam berfungsi sebagai pencegah (zawajir) atas tindak

kriminalitas sekaligus sebagai penebus (jawabir) atas tindakan jahat yang telah dilakukan oleh si

pelaku.





Keampuhan Syariat Islam karena Dorongan Takwa Individu dan Ketegasan Negara





Membicarakan tentang syariat Islam tidak bisa dipisahkan dengan akidah Islam. Sebab,

syariat Islam muncul dan berasal dari akidah Islam. Oleh karena itu syariat Islam tidak akan dapat

tegak di tengah-tengah masyarakat, kecuali masyarakat tersebut telah menjadikan akidah Islam

(tentu juga syariatnya) sebagai pandangan hidup, sebagai ideologi (mabda)-nya. Sehingga

masyarakat tersebut memiliki ciri khas sebagai masyarakat Islam, yang menjalankan sistem

hukum (peraturan) Islam secara total.

Al-Quran telah menggandeng keimanan dengan kerelaan untuk menerima dan

menjalankan sistem hukum Islam. Firman Allah Swt:







ِ َِ ‫ف‬ ُ ٌُ ‫ه‬ َ ُ ‫ِ ُ َز ٌ َن‬ ِّ

َ‫﴿فَالَ وَزَثلَ الَ ٌُؤٍِْىَُِ حَّى ُح َِّىِكَ فٍِ َب شَجَسَ ثٍََِْ ٌُِ ث َّ الَ ٌَجِدوِا فًِِ أَِّ ُعِهٌِِ حَسَجّب ٍ َّب قَضٍَذ‬

ُ ‫ٌ َي‬

﴾‫وَُع َِّىِا رَعِيٍَِّب‬

„Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu

(Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa

keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan. Dan mereka menerima

dengan sepenuhnya.‟ (TQS. an-Nisa [4]: 65)





Ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara perkara akidah (yang menyangkut keimanan) dengan

syariat (yang menyangkut sikap rela dengan pelaksanaan hukum Islam) tidak dapat dipisahkan.

Dan menganggap bahwa Muslim mana saja yang mengaku-ngaku beriman kepada Allah dan

Rasul-Nya tetapi tidak mau menjalankan hukum-hukum Islam, bahkan menolak penerapan hukum

Islam atas dirinya, atas masyarakat dan atas negara, maka sama saja ia dengan orang yang tidak

beriman. Seorang Muslim tidak patut melawan dan menolak penarapan sistem hukum Islam.

Rasulullah saw bersabda:





ُ ‫ِ ِِ دم َىت ُ َ ٓ َع‬

»ِٔ‫«الَ ٌُؤٍ ُ أَحَ ُ ٌُِ ح َّ ٌَنىَُِ ٕىَا ُ رَج ّب ىََِب جِئْذ ِث‬



„Tidak beriman seseorang sehingga hawa nafsunya (keinginannya) disesuaikan dengan apa yang

telah didatangkan bersama aku (yaitu hukum-hukum Islam)‟

Sungguh sikap penolakan dan perlawanan atas diterapkannya sistem hukum Islam yang

tampak di sebagian masyarakat kaum Muslim –terutama kalangan intelektualnya- sangat berbeda

dengan sikap kaum Muslim di masa Rasulullah saw. Ibnu Jarir berkata, telah berkata kepadaku

Muhammad bin Khilif, dari Sa‟id bin Muhammad al-Harami, dari Abi Namilah, dari Salam maula

Hafsh Abi al-Qasim, dari Abi Buraidah dari bapaknya, yang berkata, „Kami tengah duduk-duduk

sambil minum di atas pasir, dan kami bertiga atau berempat. Di tengah kami terdapat bejana

(berisi khamar), dan kami tengah minum-minum menikmatinya. Saat itu Rasulullah saw menerima

ayat pengharaman khamar (TQS. al-Maidah [5]: 90-91). Akupun datang kepada sahabat-

sahabatku, lalu aku bacakan ayat tersebut sampai pada bagian akhir ayat (yaitu), „Maka

berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)‟. (Ia berkata), sebagian masyarakat (saat itu)

tengah memegang minuman di tangannya, sebagian lagi telah meminumnya, dan sebagian lagi

(khamarnya) masih berada di dalam cangkirnya. Tatkala cangkirnya diangkat (hampir menyentuh

bibirnya), maka seketika itu juga dicampakkannya cangkir dan wadah-wadah khamar, seraya

(mereka) berkata: „Kami telah berhenti wahai Tuhan kami‟ (Tafsir Ibnu Katsir, jilid II/118). Hanya

masyarakat yang memiliki akidah mendalam dan terpateri di dalam jiwanyalah yang sanggup

menyingkirkan hawa nafsu dan keinginannya yang jahat, seraya mendengar dan mentaati apa

saja yang berasal dari Allah Swt dn Rasul-Nya.

Akidah pulalah yang mendorong al-Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw,

memintanya untuk mensucikan dirinya dari perbuatan dosa (yaitu berzina). Dari „Abdullâh bin

Buraidah dari bapaknya berkata:

‫َد‬ ََ َّ َّٔ ‫ِذ َه‬ ِّ ُ ٌ َ ‫َّخ‬ َ‫ج‬

‫« َبءدِ اْىغَبٍِدٌِ ُ فقَبَىذِ َب زَظىِهَ اهللِ إًِِّ قَدِشٍََّ ُ فَط ِّسًِِِّ، وَأَّ ُ زَدَٕب، فَي َّب مَبَُ اْىغ ُّ قَبىَوذِ ٌَوب‬

‫َز‬ ْ ٍِ ِّ

‫زَظىِهَ اهللِ ىٌَِ ُس َّدًِِِّ، َىعَيلَ رَس َّدًِِِّ مَ َب ز َّددَ َبعِصّا، فىِ اهللِ إًِِّ ىَحُجِيَى، قَبهَ: إ َّبالَ فَبذَٕجًِ حَّى‬

َ ٍ ِ ‫َ َد‬ ‫َّ ُد‬ ‫ر َد‬ ُ

ِ ‫ِ ِ ِ َز‬ ْ ٔ َ ‫ََ َ ِٔ َّج‬

،ٍَِِِٔ‫رَيِدِيِ: فَي َّب وَىَددِ أَرَز ُ ثِبىصًِّ فًِ خِسِقخٍ، قَبَىذِ: َٕرَا قَدِ وَىَدُِر ُ، قَبهَ: اِذَٕجًِ فَبزضعٍِِٔ حَّى َرفْط‬

‫َ َّع‬ ُ َ ‫حخ‬ ًِ‫ِٔ ِٔ ِبىص‬ ََ

،ًَ‫فَي َّب فَطَََز ُ أَرَز ُ ث َّج ِّ فًِ ٌَدِِٓ مِعِسَ ُ ُجِصٍ، فقَبَىذِ: َٕرَا ٌَب َّجًَِ اهللِ قَدِ فَطََِزُٔ، وَقَدِ أَموَ اىط َوب‬

ُِ ْ‫اى‬ ِ ‫ُ ه‬ ٌُ ِ َ ِ ُ ًِ‫اىص‬

»‫فَدَفَعَ َّج َّ اِىَى زَجوٍ ٍَِ اىْ ُعِيٍََِِِ، ث َّ َأٍَسَ ثِهَب فَحفِسَ ىَ َب اِىَى صَدِزَٕب، وََأٍَسَ َّبضَ فَسَجََىَٕب‬



Telah datang kepada Rasulullah saw., al-Ghâmidiyyah dan ia berkata, “Ya Rasulullah saw., aku

telah berzina, sucikanlah aku!” Beliau saw. menolaknya. Besoknya ia berkata lagi, “Wahai

Rasulullah mengapa engkau menolak aku, engkau menolak aku sebagaimana engkau menolak

Ma‟iz. Demi Allah aku telah hamil”. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan, pulanglah sampai engkau

melahirkan.” Ketika ia telah melahirkan, ia mendatangi Rasulullah saw. kembali dengan anaknya

yang berada di gendongan, seraya berkata, “Ini adalah anakku.” Rasulullah saw. bersabda, ”Pergi,

dan susuilah sampai engkau menyapihnya!” Ketika ia telah menyapihnya ia mendatangi Rasulullah

saw. sambil membawa anaknya yang sedang menggenggam sepotong roti. Ia kemudian berkata,

“Ya Nabiyullah, aku telah menyapihnya, dan ia sudah bisa memakan makanan”. Lalu, anak itu

diberikan kepada salah seorang laki-laki dari kaum Muslim. Kemudian Rasulullah saw.

memerintahkan menanam wanita itu hingga dadanya, lalu memerintahkan manusia untuk

merajamnya.





Untuk meraih keridlaan Allah Swt, dan kebahagiaan di akhirat Ghamidiyyah bersedia mengakui

perzinaannya, mendatangi Rasulullah saw untuk disucikan dengan diterapkan atasnya hukum

rajam bagi pezina, kemudian dirajam hingga mati. Rasulullah saw berkomentar tentang kesediaan

Ghamidiyah untuk menerima hukuman rajam:







‫َ ِ ه‬ ِ ِ ِِ ِ َ ‫ث ق‬

»ٌُِ ِ‫«َىقَدِ ربََثذِ َرىَِخ َىىِ ُعَِذِ ثٍََِ ظَجعٍَِِ ٍِِ َإٔوِ اىََْدٌِِْخِ َىىَظعَز‬



“Sungguh ia telah bertaubat, seandainya dibagi antara 70 penduduk Madinah, sungguh akan

mencakup semuanya.”





Mereka meminta negara agar menjatuhkan sanksi atas pelanggaran mereka di dunia agar sanksi

akhirat bagi mereka gugur. Oleh karena itu Ghamidiyyah berkata kepada Rasulullah saw, “Ya

Rasulullah sucikanlah aku!” Mereka mengakui pelanggaran yang mereka lakukan agar mereka

dikenai had oleh Rasulullah saw sehingga mereka terbebas dari „adzab Allah di hari akhir. Mereka

rela menanggung sakitnya had dan qishash di dunia, karena takut adzab akhirat. Oleh karena itu

„uqubat berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus).

Seorang mukmin mengetahui bahwa Allah Swt senantiasa mengawasinya, baik ia tengah

sendirian, berduaan, ataupun berada di tengah-tengah kerumunan manusia. Allah Swt Maha

Mendengar bisikan hati setiap manusia. Allah Swt Maha Melihat apapun yang manusia lakukan,

baik disembunyikannya dari pandangan manusia maupun yang terang-terangan diperlihatkannya.

Seorang mukmin juga menyadari bahwa pada hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan kembali, lalu

akan dihisab seluruh amal perbuatannya. Hal ini adalah ketetapan yang pasti. Dan Allah Swt

akan menghisab amal perbuatan baik maupun buruk, meski seberat dzarrah sekalipun. Firman

Allah Swt:

ٓ ‫ٓ َ َ َ ْق َز َس‬ ‫َ َ ْق ز‬

﴾ُ َ‫وٍِِ ٌَعَِوْ ٍِث َبهَ ذ َّحٍ ش ِّا ٌَس‬ُ َ‫﴿فََِِ ٌَعَِوْ ٍِث َبهَ ذَ َّحٍ خٍَِسّا ٌَس‬

„Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat

(balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia

akan melihat (bakasannya) pula.‟ (TQS. al-Zalzalah [99]: 7-8)





Dari sinilah Allah Swt menjadikan hukum-hukum sanksi („uqubat) sebagai bentuk hukum

praktis sekaligus sebagai metoda pelaksanaan atas perintah maupun larangan Allah Swt bagi

siapa saja yang melanggar kewajiban-Nya dan terjerumus dalam tindakan yang diharamkan-Nya.

Tatkala Allah Swt mengharamkan perzinaan, maka Allah Swt mensyariatkan hukum jilid

(cambuk) atau rajam atas pelaku zina. Tatkala Allah Swt mengharamkan minum khamar, maka

Allah Swt juga mensyariatkan hukum cambuk bagi peminumnya, serta mencela 10 orang yang

terlibat di dlam proses produksi minuman khamar. Tatkala Allah Swt melarang untuk membunuh

seseorang, maka Allah Swt juga mensyariatkan hukum qishash bagi pelanggarnya. Tatkala Allah

Swt melarang tindak pencurian, maka Allah Swt mensyariatkan hukum potong tangan bagi pelaku

pencurian. Tatkala Allah Swt mewajibkan untuk mentaati ulil amri (Khalifah), maka Allah Swt

mensyariatkan hukum bughat bagi para pembangkang. Tatkala Allah Swt mewajibkan untuk

selalu terikat dengan akidah dan syariat Islam, maka Allah Swt mensyariatkan hukum riddah bagi

orang-orang yang murtad. Dan banyak lagi.

Semua itu menunjukkan bahwa tidaklah Allah Swt dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu

melainkan terdapat pula hukum-hukum (sanksi) bagi yang meninggalkannya. Begitu juga tidaklah

Allah Swt dan Rasul-Nya memerintahkan untuk meninggalkan sesuatu, melainkan pasti dijumpai

hukum-hukum yang berkaitan dengan „iqab (sanksi) atas pelakunya.

Pihak yang menjadi pelaksana atas seluruh hukum-hukum sanksi yang dijatuhkan kepada

para pelanggar adalah negara, melalui proses peradilan dengan menghadirkan terdakwa,

pendakwa, saksi-saksi maupun bukti. Dalam hal ini syariat Islam juga memiliki sistem hukum yang

menjadi salah satu unsur dari sistem peradilan Islam, yaitu hukum-hukum tentang pembuktian

(ahkam al-bayyinaat). Bukti merupakan hujjah bagi si pendakwa untuk memperkuat dakwaannya.

Bukti juga merupakan penjelas untuk memperkuat dakwaan. Oleh karenanya bukti haruslah

bersifat pasti dan meyakinkan. Untuk itu Rasulullah saw meminta bukti-bukti haruslah

meyakinkan:



‫ِال‬ ‫ْ اىش ف‬

»ِ‫«إِذَا زَأٌَِذَ ٍِثوَ ََِّطِ َبشِهَدِ وَا َّ فَدَع‬



„Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (namun) jika tidak,

maka tinggalkanlah‟.

Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa tatkala Khalifah Ali bin Abi Thalib ra mendakwa

salah seorang Yahudi dengan tuduhan pencurian (atas baju zirahnya), dan bukti-bukti yang

diminta oleh qadliy Syuraih kepada Khalifah Ali tidak mencukupi (tidak meyakinkan), maka qadliy

memutuskan untuk membebaskan si Yahudi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun

seorang kepala negara (Khalifah) yang mendakwa salah seorang rakyatnya dengan tindak

kejahatan, maka tetap melalui prosedur persidangan. Jika tidak terbukti, maka dibebaskan.

Artinya, seluruh warga negara –siapapun orangnya- sama kedudukannya di depan hukum.

Hal yang sama ditunjukkan oleh sikap Rasulullah saw yang tetap menjatuhkan hukum

potong tangan terhadap salah seorang wanita bangsawan yang kedapatan mencuri, meskipun

Usamah bin Zaid (sahabat kesayangan beliau) meminta untuk tidak menjatuhkan sanksi tersebut.

Lalu Rasulullah saw bersabda:

‫ٌ اىض‬ ُ ‫ٌ اىش ف‬ ‫ن َّه‬ َ َ ِّ

ُ‫»إََّبَ َٕيلَ ٍِِ مبََُ قَجِيَ ٌُِ ِثؤَّ ٌُِ مَبُّىِا إِذاَ ظَسَقَ فٍِِهِ ُ َّسٌِِ ُ رَسَمىُِٓ، وَإِذاَ ظَسَقَ فٍِِهِ ُ َّوعٍِِف‬

« ُ َُ

ِٓ‫قَطعى‬



„Kehancuran orang-orang sebelum kalian (diakibatkan) karena jika pembesar-pembesar mereka

mencuri, mereka biarkan. Namun jika orang yang lemah mencuri, mereka memotong (tangan)-

nya.‟





Sikap tegas negara (dalam hal ini diwakili oleh sikap Rasulullah saw selaku kepala negara)

tampak di dalam sabdanya:







َٕ ‫َ ِذ‬ َ ََ ٍ ِ َ َُ

»‫«َىىِ أ َّ فَبطَِخَ ثِْذَ ُح َّدٍ ظَسَقذِ َىقَطع ُ ٌَد َب‬

„Seandainya Fathimah binti Muhammad kedapatan mencuri, maka aku sendiri yang akan

memotong tangannya‟. (HR al-Bukhari).

Berdasarkan paparan diatas, maka pelaksanaan sistem hukum Islam termasuk sanksi-

sanksi, ditentukan oleh dorongan ketakwaan kaum Muslim dan ketegasan negara di dalam

menjalankan sistem hukum Islam. Apabila hal ini terwujud, maka fungsi hukum Islam sebagai

pencegah (zawajir) dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, semua itu

memerlukan eksistensi masyarakat Islam –yang memiliki ketakwaan tinggi- yang berada di bawah

naungan Daulah Khilafah Islamiyah, yang menjalankan sistem hukum Islam secara total. Tanpa

itu, mustahil !


Related docs
Other docs by agus musoleh
Bunga Bank adalah Riba
Views: 21  |  Downloads: 0
Cantik
Views: 8  |  Downloads: 0
Keampuhan Syariat Islam Mengatasi Kriminalitas
Views: 25  |  Downloads: 0
Memanfaatkan Bungkus Rokok Menjadi Kerajinan
Views: 266  |  Downloads: 0
akibat_hancurnya_khilafah
Views: 6  |  Downloads: 0
Menggugat Thagut Demokrasi
Views: 31  |  Downloads: 0
mafahim-ht
Views: 25  |  Downloads: 0
peraturan-hidup-dalam-islam
Views: 25  |  Downloads: 0
terjun ke masyarakat
Views: 33  |  Downloads: 0
bunga rampai
Views: 20  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!