KEAMPUHAN SYARIAT ISLAM MENGATASI KRIMINALITAS
Oleh : Ir. Achmad Saifullah
Falsafah Hukum Sanksi
Islam menganggap bahwa kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qabih).
Sedangkan yang dimaksud dengan tercela (al-qabih) adalah perbuatan-perbuatan yang Allah cela.
Itu sebabnya, suatu perbuatan tidak dianggap jahat kecuali jika ditetapkan oleh syara‟ bahwa
perbuatan tersebut tercela. Ketika syara‟ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka
sudah pasti perbuatan tersebut disebut kejahatan, tanpa melihat lagi apakah tingkat dan jenis
kejahatan tersebut besar ataupun kecil. Syara‟ telah menetapkan perbuatan tercela sebagai dosa
(dzunub) yang harus dikenai sanksi. Jadi, dosa itu substansinya adalah kejahatan.
Kejahatan sendiri bukan berasal dari fitrah manusia. Kejahatan bukan pula semacam
“profesi” yang diusahakan oleh manusia. Kejahatan bukan juga „penyakit‟ yang menimpa manusia.
Kejahatan (jarimah) adalah tindakan melanggar aturan yang mengatur perbuatan-perbuatan
manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan hubungannya dengan
manusia lain. Allah Swt telah menciptakan manusia lengkap dengan potensi kehidupannya, yaitu
meliputi naluri-naluri dan kebutuhan jasmani. Naluri-naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi
hidup manusia yang mampu mendorong manusia untuk melakukan pemenuhan terhadap potensi
hidupnya. Manusia yang mengerjakan suatu perbuatan yang muncul dari potensi hidup tadi,
adalah dalam rangka mendapatkan pemenuhan terhadap potensi hidupnya.
Meskipun demikian membiarkan pemenuhan itu tanpa aturan, akan menghantarkan
kepada kekacauan dan kegoncangan. Juga akan menghantarkan kepada pemenuhan naluri
maupun kebutuhan jasmani yang salah, atau pemenuhan yang tercela. Oleh karena itu, ketika
Allah Swt. mengatur perbuatan-perbuatan manusia, Allah juga telah mengatur pemenuhan
terhadap naluri-naluri dan kebutuhan jasmani harus diatur dan sesuai dengan hukum. Syari‟at
Islam telah menjelaskan kepada manusia, hukum atas setiap peristiwa yang terjadi. Itu sebabnya
Allah Swt. mensyari‟atkan halal dan haram. Syara‟ mengandung perintah dan larangan-Nya, dan
Allah Swt. meminta manusia untuk berbuat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt. dan
menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika menyalahi hal tersebut, maka manusia telah melakukan
perbuatan tercela, yakni melakukan kejahatan. Oleh karena itu, orang-orang yang berdosa harus
dikenai sanksi („iqab). Dengan demikian, manusia dituntut untuk mengerjakan apa yang
diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Perintah dan larangan tersebut tidak akan berarti sama sekali jika tidak ada sanksi bagi
orang yang melanggarnya. Syari‟at Islam menjelaskan bahwa bagi pelanggar akan dikenai sanksi
di akhirat dan di dunia. Allah Swt. akan memberi sanksi di akhirat bagi pelanggar, dan Allah juga
akan mengadzabnya kelak di hari kiamat. Firman Allah Swt:
ُ جَهٌََّ ٌَصِيىَِّهَب فَجِئْطَ اىَِْهَبٍوَإ َّ ى َّبغِنيَ ىَش َّ ٍَآة
د َ َْ َس ُِ ِيط
“Beginilah (keadaan mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar
(disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahannam, yang mereka masuk ke
dalamnya; maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal.” (TQS. Shâd [38]: 55-56)
Sanksi („iqab) disyari‟atkan untuk mencegah manusia dari tindak kejahatan. Allah Swt.
berfirman:
ُ َين َّق ح أ ص ُ
﴾َ ﴿وَىَنٌِ فًِ اْىقِ َبصِ حٍََب ٌ ٌَبُوىًِ اْألَىْجَبةِ َىع َّ ٌُِ رَز ُى
„Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal,
supaya kamu bertaqwa.‟ (TQS. al-Baqarah [2]:179)
Maksud ayat tersebut bahwa di dalam pensyari‟atan qishash bagi kalian, yakni membunuh lagi si
pembunuh, terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu menjaga jiwa (manusia). Sebab, jika
pembunuh mengetahui akan dibunuh lagi, maka ia akan merasa takut untuk melakukan
pembunuhan. Itu sebabnya, di dalam qishash ada jaminan hidup bagi jiwa. Pada ghalibnya, jika
orang berakal mengetahui bahwa bila ia membunuh akan dibunuh lagi, maka ia tidak akan
melakukan pembunuhan tersebut. Dengan demikian, „uqubat (sanksi-sanksi) berfungsi sebagai
zawajir (pencegahan). Keberadaannya disebut sebagai zawajir, sebab dapat mencegah manusia
dari tindak kejahatan.
Sanksi di dunia bagi para pendosa atas dosa yang dikerjakannya di dunia dapat
menghapuskan sanksi di akhirat bagi pelaku dosa tersebut. Hal itu karena „uqubat berfungsi
sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Keberadaan uqubat sebagai zawajir, karena
mampu mencegah manusia dari perbuatan dosa dan tindakan pelanggaran. Keberadaan „uqubat
sebagai zawabir, dikarenakan ‟uqubat dapat menebus sanksi akhirat. Sanksi akhirat bagi seorang
muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara di dunia. Dalilnya adalah apa diriwayatkan
oleh Bukhari dari „Ubadah bin Shamit ra berkata:
ّ ُس ُ ر ُ َق ًِْاى ُْ
، فًِ ٍَجِيِطِ ف َبهَ: ثَبٌَعىًِِّ عَيَى أَُْ الَ ُشِسِمىِا ثِبهللِ شٍَِئبً، وَالَ رَعِ ُقىِا وَالَ رَصُِوىِا ِّ «مَّب عِِْدَ َّج
َُ ت ه ِ ََ َٓ َف ن َ س ُي
َوَقَسَأَ َٕرِِٓ اٌََْخِ م ُّهَب، فََِِ و َّى ٍِِْ ٌُِ فؤَجِ ُ ُ عَيَى اهللِ، وٍِِ َأصَبةَ ٍِِ ذَِىلَ شٍَِئبً فعىِقِ ُ ِثِٔ فَ ُوى
ٔش ر ُ ٓ هلل ِ ش ِ َ َ ٔ َف ح
»ُ م َّبزَ ٌ َى ُ، وٍِِ َأصَبةَ ٍِِ ذَِىلَ شٍَِئًب فَعَزَسَ ُ ا ُ عَئٍَِ إُِْ َبءَ غفِسََىُٔ، وَإُِْ َبءَ عَ ََّث
“Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu majelis dan beliau bersabda, “Kalian telah
membai‟atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina,
kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa diantara kalian
memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu
maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu
sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau mengadzab.”
Hadits ini menjelaskan bahwa sanksi dunia diperuntukkan untuk dosa tertentu, yakni sanksi yang
dijatuhkan negara bagi pelaku dosa, dan ini akan menggugurkan sanksi akhirat.
Dengan demikian, tidak ada satu sistem hukum-pun di dunia ini yang serupa sebagaimana
sistem hukum Islam. Sistem hukum Islam berfungsi sebagai pencegah (zawajir) atas tindak
kriminalitas sekaligus sebagai penebus (jawabir) atas tindakan jahat yang telah dilakukan oleh si
pelaku.
Keampuhan Syariat Islam karena Dorongan Takwa Individu dan Ketegasan Negara
Membicarakan tentang syariat Islam tidak bisa dipisahkan dengan akidah Islam. Sebab,
syariat Islam muncul dan berasal dari akidah Islam. Oleh karena itu syariat Islam tidak akan dapat
tegak di tengah-tengah masyarakat, kecuali masyarakat tersebut telah menjadikan akidah Islam
(tentu juga syariatnya) sebagai pandangan hidup, sebagai ideologi (mabda)-nya. Sehingga
masyarakat tersebut memiliki ciri khas sebagai masyarakat Islam, yang menjalankan sistem
hukum (peraturan) Islam secara total.
Al-Quran telah menggandeng keimanan dengan kerelaan untuk menerima dan
menjalankan sistem hukum Islam. Firman Allah Swt:
ِ َِ ف ُ ٌُ ه َ ُ ِ ُ َز ٌ َن ِّ
َ﴿فَالَ وَزَثلَ الَ ٌُؤٍِْىَُِ حَّى ُح َِّىِكَ فٍِ َب شَجَسَ ثٍََِْ ٌُِ ث َّ الَ ٌَجِدوِا فًِِ أَِّ ُعِهٌِِ حَسَجّب ٍ َّب قَضٍَذ
ُ ٌ َي
﴾وَُع َِّىِا رَعِيٍَِّب
„Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
(Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa
keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan. Dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.‟ (TQS. an-Nisa [4]: 65)
Ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara perkara akidah (yang menyangkut keimanan) dengan
syariat (yang menyangkut sikap rela dengan pelaksanaan hukum Islam) tidak dapat dipisahkan.
Dan menganggap bahwa Muslim mana saja yang mengaku-ngaku beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya tetapi tidak mau menjalankan hukum-hukum Islam, bahkan menolak penerapan hukum
Islam atas dirinya, atas masyarakat dan atas negara, maka sama saja ia dengan orang yang tidak
beriman. Seorang Muslim tidak patut melawan dan menolak penarapan sistem hukum Islam.
Rasulullah saw bersabda:
ُ ِ ِِ دم َىت ُ َ ٓ َع
»ِٔ«الَ ٌُؤٍ ُ أَحَ ُ ٌُِ ح َّ ٌَنىَُِ ٕىَا ُ رَج ّب ىََِب جِئْذ ِث
„Tidak beriman seseorang sehingga hawa nafsunya (keinginannya) disesuaikan dengan apa yang
telah didatangkan bersama aku (yaitu hukum-hukum Islam)‟
Sungguh sikap penolakan dan perlawanan atas diterapkannya sistem hukum Islam yang
tampak di sebagian masyarakat kaum Muslim –terutama kalangan intelektualnya- sangat berbeda
dengan sikap kaum Muslim di masa Rasulullah saw. Ibnu Jarir berkata, telah berkata kepadaku
Muhammad bin Khilif, dari Sa‟id bin Muhammad al-Harami, dari Abi Namilah, dari Salam maula
Hafsh Abi al-Qasim, dari Abi Buraidah dari bapaknya, yang berkata, „Kami tengah duduk-duduk
sambil minum di atas pasir, dan kami bertiga atau berempat. Di tengah kami terdapat bejana
(berisi khamar), dan kami tengah minum-minum menikmatinya. Saat itu Rasulullah saw menerima
ayat pengharaman khamar (TQS. al-Maidah [5]: 90-91). Akupun datang kepada sahabat-
sahabatku, lalu aku bacakan ayat tersebut sampai pada bagian akhir ayat (yaitu), „Maka
berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)‟. (Ia berkata), sebagian masyarakat (saat itu)
tengah memegang minuman di tangannya, sebagian lagi telah meminumnya, dan sebagian lagi
(khamarnya) masih berada di dalam cangkirnya. Tatkala cangkirnya diangkat (hampir menyentuh
bibirnya), maka seketika itu juga dicampakkannya cangkir dan wadah-wadah khamar, seraya
(mereka) berkata: „Kami telah berhenti wahai Tuhan kami‟ (Tafsir Ibnu Katsir, jilid II/118). Hanya
masyarakat yang memiliki akidah mendalam dan terpateri di dalam jiwanyalah yang sanggup
menyingkirkan hawa nafsu dan keinginannya yang jahat, seraya mendengar dan mentaati apa
saja yang berasal dari Allah Swt dn Rasul-Nya.
Akidah pulalah yang mendorong al-Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw,
memintanya untuk mensucikan dirinya dari perbuatan dosa (yaitu berzina). Dari „Abdullâh bin
Buraidah dari bapaknya berkata:
َد ََ َّ َّٔ ِذ َه ِّ ُ ٌ َ َّخ َج
« َبءدِ اْىغَبٍِدٌِ ُ فقَبَىذِ َب زَظىِهَ اهللِ إًِِّ قَدِشٍََّ ُ فَط ِّسًِِِّ، وَأَّ ُ زَدَٕب، فَي َّب مَبَُ اْىغ ُّ قَبىَوذِ ٌَوب
َز ْ ٍِ ِّ
زَظىِهَ اهللِ ىٌَِ ُس َّدًِِِّ، َىعَيلَ رَس َّدًِِِّ مَ َب ز َّددَ َبعِصّا، فىِ اهللِ إًِِّ ىَحُجِيَى، قَبهَ: إ َّبالَ فَبذَٕجًِ حَّى
َ ٍ ِ َ َد َّ ُد ر َد ُ
ِ ِ ِ ِ َز ْ ٔ َ ََ َ ِٔ َّج
،ٍَِِِٔرَيِدِيِ: فَي َّب وَىَددِ أَرَز ُ ثِبىصًِّ فًِ خِسِقخٍ، قَبَىذِ: َٕرَا قَدِ وَىَدُِر ُ، قَبهَ: اِذَٕجًِ فَبزضعٍِِٔ حَّى َرفْط
َ َّع ُ َ حخ ًِِٔ ِٔ ِبىص ََ
،ًَفَي َّب فَطَََز ُ أَرَز ُ ث َّج ِّ فًِ ٌَدِِٓ مِعِسَ ُ ُجِصٍ، فقَبَىذِ: َٕرَا ٌَب َّجًَِ اهللِ قَدِ فَطََِزُٔ، وَقَدِ أَموَ اىط َوب
ُِ ْاى ِ ُ ه ٌُ ِ َ ِ ُ ًِاىص
»فَدَفَعَ َّج َّ اِىَى زَجوٍ ٍَِ اىْ ُعِيٍََِِِ، ث َّ َأٍَسَ ثِهَب فَحفِسَ ىَ َب اِىَى صَدِزَٕب، وََأٍَسَ َّبضَ فَسَجََىَٕب
Telah datang kepada Rasulullah saw., al-Ghâmidiyyah dan ia berkata, “Ya Rasulullah saw., aku
telah berzina, sucikanlah aku!” Beliau saw. menolaknya. Besoknya ia berkata lagi, “Wahai
Rasulullah mengapa engkau menolak aku, engkau menolak aku sebagaimana engkau menolak
Ma‟iz. Demi Allah aku telah hamil”. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan, pulanglah sampai engkau
melahirkan.” Ketika ia telah melahirkan, ia mendatangi Rasulullah saw. kembali dengan anaknya
yang berada di gendongan, seraya berkata, “Ini adalah anakku.” Rasulullah saw. bersabda, ”Pergi,
dan susuilah sampai engkau menyapihnya!” Ketika ia telah menyapihnya ia mendatangi Rasulullah
saw. sambil membawa anaknya yang sedang menggenggam sepotong roti. Ia kemudian berkata,
“Ya Nabiyullah, aku telah menyapihnya, dan ia sudah bisa memakan makanan”. Lalu, anak itu
diberikan kepada salah seorang laki-laki dari kaum Muslim. Kemudian Rasulullah saw.
memerintahkan menanam wanita itu hingga dadanya, lalu memerintahkan manusia untuk
merajamnya.
Untuk meraih keridlaan Allah Swt, dan kebahagiaan di akhirat Ghamidiyyah bersedia mengakui
perzinaannya, mendatangi Rasulullah saw untuk disucikan dengan diterapkan atasnya hukum
rajam bagi pezina, kemudian dirajam hingga mati. Rasulullah saw berkomentar tentang kesediaan
Ghamidiyah untuk menerima hukuman rajam:
َ ِ ه ِ ِ ِِ ِ َ ث ق
»ٌُِ ِ«َىقَدِ ربََثذِ َرىَِخ َىىِ ُعَِذِ ثٍََِ ظَجعٍَِِ ٍِِ َإٔوِ اىََْدٌِِْخِ َىىَظعَز
“Sungguh ia telah bertaubat, seandainya dibagi antara 70 penduduk Madinah, sungguh akan
mencakup semuanya.”
Mereka meminta negara agar menjatuhkan sanksi atas pelanggaran mereka di dunia agar sanksi
akhirat bagi mereka gugur. Oleh karena itu Ghamidiyyah berkata kepada Rasulullah saw, “Ya
Rasulullah sucikanlah aku!” Mereka mengakui pelanggaran yang mereka lakukan agar mereka
dikenai had oleh Rasulullah saw sehingga mereka terbebas dari „adzab Allah di hari akhir. Mereka
rela menanggung sakitnya had dan qishash di dunia, karena takut adzab akhirat. Oleh karena itu
„uqubat berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus).
Seorang mukmin mengetahui bahwa Allah Swt senantiasa mengawasinya, baik ia tengah
sendirian, berduaan, ataupun berada di tengah-tengah kerumunan manusia. Allah Swt Maha
Mendengar bisikan hati setiap manusia. Allah Swt Maha Melihat apapun yang manusia lakukan,
baik disembunyikannya dari pandangan manusia maupun yang terang-terangan diperlihatkannya.
Seorang mukmin juga menyadari bahwa pada hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan kembali, lalu
akan dihisab seluruh amal perbuatannya. Hal ini adalah ketetapan yang pasti. Dan Allah Swt
akan menghisab amal perbuatan baik maupun buruk, meski seberat dzarrah sekalipun. Firman
Allah Swt:
ٓ ٓ َ َ َ ْق َز َس َ َ ْق ز
﴾ُ َوٍِِ ٌَعَِوْ ٍِث َبهَ ذ َّحٍ ش ِّا ٌَسُ َ﴿فََِِ ٌَعَِوْ ٍِث َبهَ ذَ َّحٍ خٍَِسّا ٌَس
„Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat
(balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia
akan melihat (bakasannya) pula.‟ (TQS. al-Zalzalah [99]: 7-8)
Dari sinilah Allah Swt menjadikan hukum-hukum sanksi („uqubat) sebagai bentuk hukum
praktis sekaligus sebagai metoda pelaksanaan atas perintah maupun larangan Allah Swt bagi
siapa saja yang melanggar kewajiban-Nya dan terjerumus dalam tindakan yang diharamkan-Nya.
Tatkala Allah Swt mengharamkan perzinaan, maka Allah Swt mensyariatkan hukum jilid
(cambuk) atau rajam atas pelaku zina. Tatkala Allah Swt mengharamkan minum khamar, maka
Allah Swt juga mensyariatkan hukum cambuk bagi peminumnya, serta mencela 10 orang yang
terlibat di dlam proses produksi minuman khamar. Tatkala Allah Swt melarang untuk membunuh
seseorang, maka Allah Swt juga mensyariatkan hukum qishash bagi pelanggarnya. Tatkala Allah
Swt melarang tindak pencurian, maka Allah Swt mensyariatkan hukum potong tangan bagi pelaku
pencurian. Tatkala Allah Swt mewajibkan untuk mentaati ulil amri (Khalifah), maka Allah Swt
mensyariatkan hukum bughat bagi para pembangkang. Tatkala Allah Swt mewajibkan untuk
selalu terikat dengan akidah dan syariat Islam, maka Allah Swt mensyariatkan hukum riddah bagi
orang-orang yang murtad. Dan banyak lagi.
Semua itu menunjukkan bahwa tidaklah Allah Swt dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu
melainkan terdapat pula hukum-hukum (sanksi) bagi yang meninggalkannya. Begitu juga tidaklah
Allah Swt dan Rasul-Nya memerintahkan untuk meninggalkan sesuatu, melainkan pasti dijumpai
hukum-hukum yang berkaitan dengan „iqab (sanksi) atas pelakunya.
Pihak yang menjadi pelaksana atas seluruh hukum-hukum sanksi yang dijatuhkan kepada
para pelanggar adalah negara, melalui proses peradilan dengan menghadirkan terdakwa,
pendakwa, saksi-saksi maupun bukti. Dalam hal ini syariat Islam juga memiliki sistem hukum yang
menjadi salah satu unsur dari sistem peradilan Islam, yaitu hukum-hukum tentang pembuktian
(ahkam al-bayyinaat). Bukti merupakan hujjah bagi si pendakwa untuk memperkuat dakwaannya.
Bukti juga merupakan penjelas untuk memperkuat dakwaan. Oleh karenanya bukti haruslah
bersifat pasti dan meyakinkan. Untuk itu Rasulullah saw meminta bukti-bukti haruslah
meyakinkan:
ِال ْ اىش ف
»ِ«إِذَا زَأٌَِذَ ٍِثوَ ََِّطِ َبشِهَدِ وَا َّ فَدَع
„Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (namun) jika tidak,
maka tinggalkanlah‟.
Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa tatkala Khalifah Ali bin Abi Thalib ra mendakwa
salah seorang Yahudi dengan tuduhan pencurian (atas baju zirahnya), dan bukti-bukti yang
diminta oleh qadliy Syuraih kepada Khalifah Ali tidak mencukupi (tidak meyakinkan), maka qadliy
memutuskan untuk membebaskan si Yahudi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun
seorang kepala negara (Khalifah) yang mendakwa salah seorang rakyatnya dengan tindak
kejahatan, maka tetap melalui prosedur persidangan. Jika tidak terbukti, maka dibebaskan.
Artinya, seluruh warga negara –siapapun orangnya- sama kedudukannya di depan hukum.
Hal yang sama ditunjukkan oleh sikap Rasulullah saw yang tetap menjatuhkan hukum
potong tangan terhadap salah seorang wanita bangsawan yang kedapatan mencuri, meskipun
Usamah bin Zaid (sahabat kesayangan beliau) meminta untuk tidak menjatuhkan sanksi tersebut.
Lalu Rasulullah saw bersabda:
ٌ اىض ُ ٌ اىش ف ن َّه َ َ ِّ
ُ»إََّبَ َٕيلَ ٍِِ مبََُ قَجِيَ ٌُِ ِثؤَّ ٌُِ مَبُّىِا إِذاَ ظَسَقَ فٍِِهِ ُ َّسٌِِ ُ رَسَمىُِٓ، وَإِذاَ ظَسَقَ فٍِِهِ ُ َّوعٍِِف
« ُ َُ
ِٓقَطعى
„Kehancuran orang-orang sebelum kalian (diakibatkan) karena jika pembesar-pembesar mereka
mencuri, mereka biarkan. Namun jika orang yang lemah mencuri, mereka memotong (tangan)-
nya.‟
Sikap tegas negara (dalam hal ini diwakili oleh sikap Rasulullah saw selaku kepala negara)
tampak di dalam sabdanya:
َٕ َ ِذ َ ََ ٍ ِ َ َُ
»«َىىِ أ َّ فَبطَِخَ ثِْذَ ُح َّدٍ ظَسَقذِ َىقَطع ُ ٌَد َب
„Seandainya Fathimah binti Muhammad kedapatan mencuri, maka aku sendiri yang akan
memotong tangannya‟. (HR al-Bukhari).
Berdasarkan paparan diatas, maka pelaksanaan sistem hukum Islam termasuk sanksi-
sanksi, ditentukan oleh dorongan ketakwaan kaum Muslim dan ketegasan negara di dalam
menjalankan sistem hukum Islam. Apabila hal ini terwujud, maka fungsi hukum Islam sebagai
pencegah (zawajir) dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, semua itu
memerlukan eksistensi masyarakat Islam –yang memiliki ketakwaan tinggi- yang berada di bawah
naungan Daulah Khilafah Islamiyah, yang menjalankan sistem hukum Islam secara total. Tanpa
itu, mustahil !