Embed
Email

pertanian

Document Sample

Shared by: GeRu Salem
Categories
Tags
Stats
views:
61
posted:
12/2/2011
language:
Indonesian
pages:
10
BUDAYA DAN DAMPAKNYA BAGI MASYARAKAT SUMBA TIMUR









BAB I



BAB I



PENDAHULUAN



A. Latar Belakang



Pulau Sumba sejak dahulu telah dikenal dengan nama Pulau Cendana. Pulau ini disebut demikian karena

merupakan penghasil kayu cendana terbesar, namun jenis kayu tersebut telah punah karena

pembabatan besar-besaran pada masa lampau. Kayu inilah yang menarik perhatian para pedagang Cina,

Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda untuk datang ke pulau ini. Karena hasil alam ini juga para pendatang

memberi julukan kepada pulau Sumba dengan sebutan Sandlewood. Sebutan sandlewood diberikan

kepada pulau sumba karena populasi ternak kuda yang paling banyak diternakkan di NTT.



Sumba berasal dari kata Humba atau Hubba yang berarti asli. Penduduk pulau Sumba biasa menyebut

pulau mereka dengan nama Tana Humba yang berarti tanah asli, dan mereka menyebut dirinya sebagai

Tau Humba atau orang-orang asli. Penduduk pulau Sumba sendiri sebenarnya bukan penduduk asli,

tetapi pendatang dari berbagai daerah seperti Sawu, Bima, Ende, Makasar, Bugis, Selayar, Buton, dan

yang paling utama dikatakan dalam beberapa cerita, nenek moyang orang Sumba berasal dari Malaka

Tana Bara atau dari Semenanjung Malaka.



Masyarakat Sumba Timur sangat terkenal dengan keberadaan budaya atau tradisi yang sangat unik bila

dibandingkan dengan dengan daerah lain. Tradisi atau budaya ini telah diturunkan secara turun-

temurun sejak dahulu kala oleh nenek moyang masyarakat Sumba Timur dan hingga saat ini masih

diwarisi oleh seluruh masyarakat Sumba Timur. Salah satu budaya atau tradisi yang dianut secara turun

temurun dan tidak dapat dihilangkan adalah tradisi mengorbankan ternak secara besar- besaran.



Tradisi seperti ini telah membudaya, dan bila dipikirkan secara rasional sangat merugikan masyarakat

karena mengorbankan begitu banyak hewan atau ternak misalnya pada saat upacara adat, kematian,

dan acara perkawinan. Tradisi seperti ini dapat dinilai sebagai salah satu penyebab kemiskinan di daerah

Sumba Timur yang tidak kunjung teratasi. Tradisi seperti mendapat keluhan dari sebagian masyarakat

Sumba Timur, namun diantara keluhan tersebut tidak ada tindak lanjut yang dapat dilakukan guna

menghindari tradisi seperti ini. Budaya masyarakat Sumba Timur yang lebih mementingkan adat sangat

dirasakan oleh para pelajar yang berasal dari daerah itu. Sebagian besar masyarakat masih

mengganggap bahwa adat lebih penting daripada pendidikan sehingga anak- anak mereka yang tengah

menimbah ilmu di luar daerah seringkali dikorbankan dalam pengertian bahwa mereka kurang

memperhatikan anak- anak mereka yang belajar di luar daerah karena lebih mementingkan adat.



B. Tujuan



Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan karya tulis ini yaitu untuk mengetahui

dan menjelaskan budaya masyarakat kabupaten Sumba Timur dan bagaimana dampaknya terhadap

kesejahteraan masyarakat.

BAB II



HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Profil Kabupaten Sumba Timur



1. Kondisi Umum



Kondisi geografis : merupakan daerah / salah satu Kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang terletak

dibagian selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya secara astronomis membentang

antara 119° 45 – 120° 52 Bujur Timur (BT) disebelah Timur dan 9° 16 – 10° 20 Lintang Selatan (LS)

disebelah Selatan.



Berdasarkan posisi geografis maka kondisi daerah Sumba Timur merupakan daerah yang berbukit –

bukit dengan rata – rata kemiringan yang tertinggi 40 persen luas wilayah, dan pada bagian Utara

merupakan daerah yang datar dan berbatu – batu serta kurang subur, sedangkan bagian Selatan

merupakan daerah yang berbukit – bukit terjal. Pada lereng - lereng bukit tersebut merupakan lahan

yang cukup subur.



Iklim yang tidak menentu merupakan hambatan atau masalah yang cukup klasik di Sumba Timur. Hujan

yang tidak menentu dan merata dimana musim penghujan relatif lebih pendek dari pada musim

kemarau serta keadaan geografis yang berbatu karang dan wilayah yang terjal merupakan rintangan

untuk percetakan/perluasan lahan sawah dan ladang untuk tanaman pangan.



2. Jumlah penduduk : 233.568 jiwa (2009)



a. Laki-laki : 119.202 jiwa



b. Perempuan : 114.366 jiwa



3. Wilayah administrasi



a. Jumlah kecamatan : 22 Kecamatan



b. Jumlah kelurahan : 16 Kelurahan

c. Jumlah desa : 140 Desa









4. Potensi Daerah :



1) Pertanian : Produksi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2009 lebih

banyak berasal dari komoditi padi yaitu sebanyak 32.621 ton, kemudian jagung sebanyak 27.287 ton,

Ubi kayu 22.197 ton , Ubi Jalar 3.008 ton, kacang tanah 1.249 ton, kacang hijau 174 ton dan kedelai 17

ton.



2) Perkebunan : produksi kopi pada tahun 2009 sebanyak 144,0 ton.



3) Peternakan : Ternak babi, sapi dan kuda merupakan ternak yang paling banyak dipelihara di Sumba

Timur. Hal ini mempunyai kaitan yang erat dengan kondisi daerah yang sangat luas dengan padang

rumput/savana dan juga kondisi budaya yang mendukung karena upaya pengembangan sub sektor ini di

Sumba Timur mendapat perhatian yang besar dari pemerintah daerah. Hasil produksi ternak tahun 2009

diantaranay sapi (42.695 ekor), kerbau (36.195 ekor) dan kuda (31.040 ekor).



5. Transportasi



• Darat : Banyaknya kendaraan bermotor dalam tahun 2009 terlihat ada penambahan yang cukup besar,

yaitu naik sebesar 17,30 persen dimana jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2008 ada sebanyak

17.114 unit bertambah menjadi 23.260 unit pada tahun 2009. Hal ini juga diimbangi dengan

peningkatan kondisi jalan dimana dari 725,15 km jalan kondisi baik pada tahun 2008 naik menjadi

751,96 Km pada tahun 2009.



• Laut : Dermaga Waingapu



• Udara : Bandara Umbu Mehang Kunda



B. Asal- usul Masyarakat Sumba Timur



Nenek moyang orang Sumba pertama kali tiba di pulau Sumba lewat Tanjung Sasar dan muara Sungai

Pandawai menyebar dan menetap di berbagai tempat di pulau Sumba. Di tempat yang baru itu, mereka

menyebar keseluruh penjuru Sumba dan membuat pemukiman yang disebut Paraingu atau kampung.

Setiap paraingu mempunyai seorang kepala paraingu atau kepala kampung (Raja) yang bertugas sebagai

pemimpin dan yang mengkoordinir segala kegiatan di dalam paraingu tersebut. Paraingu didirikan diatas

bukit dan dikelilingi oleh pagar batu yang tinggi dan tanaman berduri. Hal ini dimaksudkan agar

melindungi diri dari serangan musuh yang terjadi (perang antar-paraingu). Pada umumnya paraingu

terdiri dari beberapa rumah, yang mempunyai sebuah Uma Bokulu atau Uma Bakul (rumah besar). Di

dalam paraingu inilah orang Sumba menetap dan melakukan kegiatan sosial, ekonomi, politik,

keagamaan dan kebudayaan. Sedangkan Uma Bakul merupakan tempat persekutuan, tempat

pertemuan, dan tempat mengadakan ritual-ritual keagamaan.

Sumba berasal dari kata Humba atau Hubba yang berarti asli. Penduduk pulau Sumba biasa menyebut

pulau mereka dengan nama Tana Humba yang berarti tanah asli, dan mereka menyebut dirinya sebagai

Tau Humba atau orang-orang asli. Penduduk pulau Sumba sendiri sebenarnya bukan penduduk asli,

tetapi pendatang dari berbagai daerah seperti Sawu, Bima, Ende, Makasar, Bugis, Selayar, Buton, dan

yang paling utama dikatakan dalam beberapa cerita, nenek moyang orang Sumba berasal dari Malaka

Tana Bara atau dari Semenanjung Malaka.



C. Marapu Sebagai Kepercayaan Masyarakat Sumba Timur



Pada jaman dulu orang Sumba sering melaksanakan ritual-ritual keagamaan yang disebut Hamayang

(ritual doa, sembahyang). Ritual-ritual tersebut ditujukan kepada roh-roh nenek moyang, karena orang

Sumba percaya bahwa roh-roh nenek moyang tersebut adalah pemelihara orang-orang yang masih

hidup di dunia. Kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang bagi orang Sumba disebut Marapu. Pada

jaman dulu, bahkan setelah penjajahan Belanda dan Jepang orang mengidentifikasikan dirinya sebagai

orang Marapu. Sehingga seluruh bidang kehidupan orang Sumba dikaitkan dengan Marapu.



Marapu berasal dari dua kata yaitu ma berarti ‘Yang’ dan rapu artinya ‘dihormati’, ‘disembah’, dan

‘didewakan’. Ada juga mengatakan Marapu terdiri dari kata mera artinya ‘serupa’ dan appu artinya

‘nenek moyang’. Sehingga banyak yang mengartikan Marapu adalah roh-roh leluhur atau nenek

moyang.



Kehadiran Marapu diwujudkan dalam berbagai bentuk benda, seperti tombak, emas, gading, gong,

manik-manik dan lain sebagainya. Di samping para leluhur dijadikan objek penyembahan, ada kampong-

kampung tertentu yang menyembah binatang-binatang tertentu, dan yang pada dasarnya mewujudkan

Marapu. Binatang-binatang tersebut seperti ular, buaya, anjing, dan lain sebagainya.



Marapu dipandang sebagai perantara antara Sang Pencipta dan manusia. Sang Marapu inilah yang

menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta dan Sang Pencipta menjawabnya melalui Marapu

(dalam konsep modern disebut animisme). Bagi masyarakat Sumba, Marapu menjadi falsafah hidup bagi

berbagai ungkapan budaya Sumba. Mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu),

rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunannya, sampai kepada seluruh aspek kehidupan dan

kegiatan orang Sumba.



Marapu merupakan tata nilai mendasar yang dipegang dan dianut oleh masyarakat Sumba. Tidak

berbeda dengan sistem kepercayaan umumnya Marapu mempunyai dua peranan penting dalam

kehidupan masyarakat Sumba.



Pertama, Marapu berperan sebagai pedoman hidup, tingkah dan laku masyarakat Sumba. Marapu

sendiri mempunyai aturan-aturan atau hukum. Aturan-aturan tersebut dapat didefinisikan sebagai

”pedoman untuk berprilaku menurut tata-cara Marapu”. Aturan-aturan itu tidak hanya bertalian dengan

akal budi dan pengertian manusia saja, melainkan dengan seluruh pola kehidupannya. Sebagai sistem

kepercayaan yang mempunyai aturan-aturan, sampai dengan saat ini masih dapat diterima karena

keseluruhan tata nilai diarahkan pada kebaikan kehidupan manusia.

Kedua, Marapu berperan sebagai ‘penolong’. Artinya ketika manusia (masyarakat Sumba) mampu untuk

menjalankan aturan-aturan dalam Marapu maka ia akan selamat. Selamat dimaksudkan dengan:



1. Berhasil dalam segala usahanya didunia, pertanian, peternakan dll.



2. Akan dilindungi oleh Sang Pencipta melalui roh nenek moyang dalam segala malapetaka.



3. ketika meniggal setelah rohnya melayang-layang diangkasa rohnya akan masuk pada langit kedelapan

(Surga).



Untuk lebih jelasnya orang Sumba memandang alam semesta dalam gambaran ‘walu danu awangu,

pucu danu lauri’ (delapan lapis langit dan tujuh lapis bumi. Lapisan-lapisan bumi dihuni oleh roh jahat,

susunannya dari terjahat (lapisan I) hingga terbaik, yaitu hunian manusia (lapisan 7). Sedangkan lapisan

langit dihuni oleh roh baik dari susunan roh kurang baik (lapisan 1) hingga roh paling baik yaitu surga

(lapisan 8).



Pemahaman ini sangat mempengaruhi pola-pola tindakan masyarakat Sumba Timur.



D. Upacara Kematian Dalam Budaya Masyarakat Sumba Timur



Upacara kematian dirayakan dengan menyembelih korban seperti kerbau, kuda, sapi, babi dll, kemudian

dimakamkan sebagai jamuan upacara kematian. Mayat dikubur dengan pakaian lengkap, dengan

tumpukan kain sarung serta perhiasan sperti, mas maupun perak. Hal ini dilakukan oleh masyarakat

Sumba dengan harapan bahwa korban yang berupa, kain sarung, serta perhiasan, merupakan bekal bagi

roh yang meninggal dalam perjalanan dari langit lapisan pertama hinggan langit lapisan kedelapan

(Surga).



Dalam budaya masyarakat Sumba Timur terutama yang menganut Marapu asli, penguburan mayat akan

dilakukan bertahun- tahun setelah orang tersebut meninggal. Ada beberapa factor yang menyebabkan

hal tersebut terjadi:



1. Kepercayaan bahwa selama belum dikuburkan arwah dari yang meninggal selalu ada disekitar kita.



2. Keinginan dari keluarga yang ingin mayat lebih lama berada di dalam rumah



3. Perjanjian dari keluarga yang menginginkan penguburan tersebut dirayakan secara besar- besaran

guna menghormati almarhum.



Yang penting untuk diperhatikan dalam upacara penguburan orang yang meninggal adalah pada poin

yang ketiga dimana ketika ada perjanjian harus ditepati karena jika tidak ditepati akan berdampak buruk

kedepannya.



Keadaan demikian akan memacu untuk meningkatnya angka kemiskinan bagi masyarakat Sumba Timur.

Dari pengalaman yang dapat ditemui dalam kehidupan bermasyarakat waktu tercepat dalam

mengadakan upacara penguburan mayat yaitu satu minggu dan ini berlaku bagi masyarakat asli Sumba

Timur yang telah menganut agama Kristiani terkecuali yang telah menganut agama islam, selain dari

pada itu penguburan mayat akan dilakukan berbulan- bula bahkan bertahun- tahun.



Ketika mayat belum dikuburkan atau masih dalam berada dalam tempat persemayaman tentu akan

mengeluarkan biaya konsumsi yang sangat banyak terutama penyembelihan ternak setiap hari sebagai

makanan bagi para tamu yang datang untuk melayat.



Lamanya waktu penguburan juga dipengaruhi factor gengsi oleh masyarakat Sumba Timur, karena

semakin lama mayat belum dikuburkan berarti pengeluaran untuk konsumsi akan semakin banyak

berarti banyak harta kekayaan yang dikorbankan, dan ini berarti bahwa masyarakat tersebut termasuk

orang yang mampu atau dapat digolongkan sebagai orang kaya padahal sebenarnya dalam kehidupa

sehari- hari keadaan ekonominya pas- pasan. Jadi dapat ditari kesimpulan bahwa ketika ada upacara

kematian, kekayaan dari masyarakat Sumba Timur akan ditunjukan.



E. Upacara Perkawinan Dalam Budaya Masyarakat Sumba Timur



Upacara perkawinan merupakan salah satu upacara terbesar selain upacara kematian yang berada di

kabupaten Sumba Timur. Yang paling menarik dalam upacara perkawinan adalah keberadaan “BELIS”.

Bagi masyarakat NTT, belis bukanlah hal baru untuk didengar lagi. Yang menarik disini adalah bahwa

suku sumba identik dengan belis yang sangat mahal dan hal ini tidak dapat dipungkiri lagi karena

kenyataannya memang betul. Ketika kita ingin jalan- jalan ke luar daerah Sumba Timur tapi masih dalam

wilayah NTT, banyak masyarakat yang mengidentikkan suku Sumba dengan belis yang sangat mahal.



Pada hakikatnya pelaksanaan perkawinan adat dalam suatu masyarakat senantiasa bertolak pada

pemahaman tata cara adat istiadat dan tujuan yang berbeda-beda tentang pemahaman perkawinan

adat itu sendiri. Perkawinan yang dianut oleh masyarakat Sumba merupakan suatu usaha untuk

mempertahankan keturunan yang berlangsung menurut sistem kekerabatan patrilineal. Sistem

perkawinan di masyarakat ini dimulai dengan sistem perkawinan eksogami atau perkawinan anak om

atau anak dari keluarga om. Perkawinan adat di Sumba mengenal perkawinan adat dengan tradisi belis

yaitu pemberian mas kawin belis dari pihak keluarga pria kepada pihak keluarga mempelai wanita

sebagai pemberi gadis.



Belis merupakan hal yang sangat sakral bagi masyarakat budaya Sumba. Belis berasal dari kata beli yang

artinya membeli atau suatu kewajiban memberi dan juga menerima atau membayar berupa ternak

seperti kerbau, kuda, dan sapi serta berupa benda seperti emas, perak dan kain tenun kepada pihak

keluarga wanita sebelum dilangsungkannya perkawinan adat dalam masyarakat budaya Sumba.



Bentuk perkawinan tradisional Sumba Timur adalah eksogamai searah (asymetris Comnubium). Yakni

perkawinan di luar suatu kabisu (clan) dalam hubungan yang mengikuti satu arah. Sangat

mengutamakan perkawinan antar kemanakan (cross cousin marriage), yang dilakukan antara anak gadis

saudara laki-laki dengan putra saudara perempuan.



Eksogami searah menjalin hubungan perkawinan yang tetap antara paling sedikit 3 kabihu. Dalam

hubungan lalulintas perkawinan masing-masing kabihu berfungsi sebagai pemberi gadis (tuya) di satu

pihak, dan sebagai penerima gadis (mamu) di lain pihak. Kedudukan pemberi gadis lebih tinggi dari

penerima gadis, karena pemberi gadis berfungsi sumber keturunan. Sistem perkawinan antar

kemanakan dalam pola perkawinan asymetris comnubium menempatkan kedudkan tuya (paman)

sebagai wali kuasa (patria potestas) dari gadis. Karena itu pihak penerima gadis harus memberi belis

kepada paman (bapak gadis) untuk memutuskan hubungannya dengan gadis yang selama ini ada dalam

pengawasannya.



Perkawinan eksogami searah juga berarti perkawinan antar kabihu yang masih termasuk dalam satu

kelompok suku. Tapi juga terbuka kemungkinan hubungan poerkawinan dengan kabihu dari suku lain.

Membuka hubungan baru dalam perkawinan antar kabihu dimungkinkan oleh adapt dalam bahasa

baitan dikenal dengan sebutan, “parai bidi tula, pindu bidi loka”, yang artinya, negeri yang baru

dibentuk, pintu yang baru diberi warna.



Yang dilarang oleh adat adalah perkawinan yang masih termasuk keluarga sebatih, yaitu antara paman

bibi dengan kemanakan sendiri, atau yang punya hubungan kakak beradik. Perkawinan Tradisional

Sumba Timur mengenal beberapa cara:



1. Tama la kurung (masuk kamar). Cara perkawinan ini dilakukan antara kelompok keluaraga yang

berkedudukan perkawinan tetap selama beberapa generasi. Bila keluarga yang berkedudukan sebagai

pihak pemberi wanita melahirkan seorang bayi perempuan, maka keluarga penerima wanita akan

memesan bayi tersebut sebagai bakal isteri salah seorang putranya. Ikatan itu ditandai dengan

pemberian hewan atau mamoli sampai anak-anak itu dewasa. Apakah ikatan itu berlanjut atau tidak,

tergantung pada kesepakatan kedua pihak dalam pembicaraan belis. Jika disepakati termasuk jumlah

belis, maka pria diperkenankan masuk kamar mempelai perempuan.



2. Hari Terang (Haringu). Pilihan jodoh ditentukan oleh muda-mudi sendiri. Orang tua wajib menghargai

pilihan mereka. Kebebasan memilih ini tidak terbatas pada lingkungan antara kabihu pemberi dan

penerima anak wanita secara tetap. Persyaratan ialah pemuda sanggup memenuhi kewajiban,

khususnya dalam membayar belis yang biasanya jumlahnya besar. Cara ini diutempuh bila sepasang

muda-mudi nekat untuk kawin padahal orang tua masing-masing pihak belum mengetahui hubungan

cinta mereka. Untuk itu pemuda harus membuat persoalan persoalan menjadi terang yang disebut

“haringu”. Cara yang dipakai adalah, pemuda masuk kamar gadis secara diam-diam pada malam

sehingga tidak diketahui oleh orang tua gadis. Setelah hari terang, pemuda dan gadis keluar dari kamar

sehinga diketahui oleh orang tua gadis. Untuk mencegah keributan, pengantara pemuda menyerahkan

sirih pinang dan mamoli serta kalung kepada paman atau orang tua gadis. Kuda tunggang diikat di

tangga pintu rumah, dengan demikian orang yang menjadi maklum adanya pemuda yang melakukan

“haringu”. Kemudian paman atau orang tua gadis akan mengalah setelah pengatara mengemukakan

maksud secara resmi.

BAB III



PENUTUP



A. Kesimpulan



Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

DAFTAR PUSTAKA



http://www.nttprov.go.id/



http://maxfm-waingapu.net/



Blog pada WordPress.com . by Fredy Umbu Bewa Guty on Juli 30, 2010 •







Selamat Datang di www.nttprov.go.id



www.nttprov.go.id


Related docs
Other docs by GeRu Salem
pertanian
Views: 58  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!