Embed
Email

jbptunikompp gdl laibrichan 17449 2 lappkl

Document Sample
jbptunikompp gdl laibrichan 17449 2 lappkl
Shared by: HC111202235414
Categories
Tags
Stats
views:
0
posted:
12/2/2011
language:
Indonesian
pages:
44
1









BAB I



PENDAHULUAN







A. Latar Belakang



Kehidupan manusia yang mengalami perkembangan cukup pesat ini sebagai



negara yang masih berkembang Indonesia cukup kelelahan mengikuti



perkembangan jaman khususnya dalam bidang ekonomi. Ada penjual pasti ada



konsumen, seiring berkembangnya jaman tingkat kebutuhan pun semakin



meningkat dan berbagai barang yang ditawarkan kepada konsumen pun semakin



beragam. Umumnya kita sering menemukan dalam hal membeli barang seperti



kata-kata ”memecahkan berarti membeli” atau ”teliti sebelum membeli, barang



yang sudah dibeli tidak dapat ditukar ataupun dikembalikan”. Meskipun kata-



kata atau klausula-klausula tersebut ditulis dengan huruf jelas namun terkadang



menimbulkan suatu masalah yang cenderung lebih merugikan konsumen.



Lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan



dimaksud adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang selanjutnya



disebut BPSK. Dengan demikian tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa



BPSK adalah Badan publik yang menjalankan kekuasaan kehakiman yang



eksklusif dibidang perlindungan konsumen.

2









B. Sejarah Badan Penyelesaian Konsumen



BPSK kota Bandung ini merupakan amanat dari Undang-Undang No.8 tahun



1999 tentang Perlindungan Konsumen yang kemudian dipertegas oleh KEPPRES



No.90 tahun 2001 tentang Pembentukan BPSK di 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota



yang salah satunya adalah kota Bandung.







Kedudukan BPSK kota Bandung berada di bawah Pemerintah kota Bandung,



telah berdiri sejak ditetapkannya Undang-Undang No.8 tahun 1999. Namun



demikian badan ini baru bisa terbentuk dan mulai melakukan kegiatannya pada



tanggal 01 November 2002 dengan dilantiknya pengurus oleh Wali Kota



Bandung, dengan fungsi utama menangani dan menyelesaikan sengketa



konsumen di luar pengadilan.







Sejak kelahirannya BPSK kota Bandung yang terdiri dari oleh 9 (sembilan) orang



anggota yaitu tiga orang dari unsur pemerintah, tiga orang dari unsur pelaku



usaha, dan tiga orang dari unsur konsumen serta dibantu oleh lima orang



sekretariat dari unsur pemerintah. BPSK kota Bandung telah berupaya maksimal



untuk menjalankan amanat undang-undang tersebut berupa sengketa



perlindungan konsumen khususnya di kota Bandung. Visi misi BPSK antara lain:



1) Visi BPSK Kota Bandung, menyelaraskan dengan visi Kota Bandung dalam



jangka waktu tahun 2004 -2008 adalah Kota Bandung Sebagai kota jasa yang



BERMARTABAT (Bersih, Makmur, Taat dan BERSAHABAT). Untuk

3









merealisasikan keinginan, harapan serta tujuan, sebagaimana tertuang pada



visi yang telah ditetapkan, maka akan terwujudnya upaya penyelesaian



sengketa konsumen dalam rangka pemberdayaan dan perlindungan



masyarakat sehingga tercapainya peningkatan kualitas barang dan pelayanan



jasa di Kota Bandung dan sekitarnya.







2) Untuk merealisasikan visi yang telah ditetapkan dalam lima tahun kedepan



(2004-2005) yang bertumpu pada potensi sumber daya dan kemampuan yang



dimiliki serta ditunjang dengan semangat kebersamaan, tanggung jawab yang



optimal dan proporsional dari seluruh komponen kota, maka misi yang akan



dilaksanakan sebagai berikut :



a. Mewujudkan Kota Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat



sehingga memacu terciptanya situasi ekonomi yang kondusif dan



menguntungkan dengan mengutamakan perlindungan konsumen.



b. Mewujudkan kemandirian dan keberdayaan konsumen dalam



mempertahankan hak dan menjalankan kewajibannya sehingga



terangkat harkat dan martabatnya sebagai kosumen.



c. Mewujudkan sistim perlindungan yang mengandung unsure kepastian



hukum, keadilan dan manfaat secara berimbang bagi konsumen dan



pelaku usaha.

4









d. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha untuk bersikap jujur dan



bertanggung jawab sehingga mampu menjamin kelangsungan usaha



dan perlindungan konsumen.







C. Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen



Tugas dan wewenang BPSK dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai badan



yang menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan,



adalah sebagi berikut :



1) Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan



cara konsiliasi, mediasi dan arbitrase;



2) Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;



3) Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;



4) Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan



dalam Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;



5) Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen



tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;



6) Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;



7) Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap



perlindungan konsumen ;



8) Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan atau setiap orang yang



dianggap mengetahui pelangaran terhadap Undang-undang No. 8 tahun 1999



tentang Perlindungan Konsumen;

5









9) Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi



ahli atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada poin 7 dan 8 yang tidak



bersedia memenuhi panggilan BPSK;



10) Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen atau alat bukti lain



guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan;



11) Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak



konsumen;



12) Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran



terhadap perlindungan konsumen;



13) Menjatuhkan sangsi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar



ketentuan Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan



Konsumen.







Dengan demikian, kesulitan yang dihadapi oleh konsumen akan berkurang



setelah hadirnya BPSK sebagai penyelasai sengketa konsumen di luar



pengadilan, namun sayangnya pada jaman modern seperti ini, BPSK tidak terlalu



dikenal oleh masyarakat sehingga sengketa konsumen di dalam kehidupan



bermasyarakat belum dapat diselesaikan secara bijaksana.

6









D. Struktur BPSK





KETUA BPSK









WAKIL KETUA

MAJELIS

KEPALA

KETUA SEKRETARIAT









ANGGOTA ANGGOTA

ANGGOTA









KONSUMEN





Bagan 1.1







E. Identifikasi Masalah



Berdasaarkan yang telah diuraikan di atas maka, penulis mengidentifikasikan



permasalahannya sebagai berikut :



1. Bagaimana proses penyelesaian sengketa konsumen melalui Badan



Penyelesaian Sengketa Konsumen?



2. Bagaimana kekuatan hukum pembuktian digital dalam penyelesaian



konsumen melalui proses mediasi?

7









F. Maksud dan Tujuan



Adapun maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan laporan kerja



praktek ini adalah:



1. Agar dapat mengetahui proses penyelesaian sengketa yang dilalui BPSK;



2. Agar dapat mengetahui kekuatan hukum pembuktian digital dalam proses



penyelesaian sengketa konsumen melalui mediasi.

8









BAB II



LANDASAN TEORI







Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,



mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan



masyarakat adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui



sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan dan



mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi



oleh masyarakat.







Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat ”kemudian daripada itu



untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap



bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan



kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan



ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan



sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu



Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan



Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada



Ketuhanan Yana Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia



dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

9









Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi



seluruh rakyat Indonesia”.







Pancasila sila ke dua ”Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan pada sila keempat



”kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan keadilan sosial”







Dalam Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen



(UU Perlindungan Konsumen), pada Pasal 45 menyatakan bahwa konsumen dapat



mengajukan keluhan atau sengketanya terhadap pelaku usaha kepada lembaga di luar



pengadilan maupun dalam pengadilan negeri.







Apabila kita telah memilih jalan untuk menyelesaikan permasalahan terhadap pelaku



usaha maka sebaiknya mengajukan gugatan, dimana dalam pengajuan gugatan



tersebut tidak bertentangan dengan UU Perlindungan Konsumen Pasal 46, dalam hal



ini mengatur bahwa pengajuan gugatan dapat dilakukan oleh seorang konsumen yang



merasa dirinya dirugikan oleh pelaku usaha atau pewarisnya. Sesungguhnya



penyelesaian sengketa dapat diamanatkan atau dilanjutkan kepada ahli waris



konsumen. Apabila dalam sengketa konsumen ini kita menemukan orang yang



merasa senasib sepenanggungan alias sama-sama merasa dirugikan oleh pelaku usaha



maka pengajuan gugatan tersebut bisa dilakukan secara bersama-sama, asal



mempunyai kepentingan yang sama.

10









UU Perlindungan Konsumen dalam Pasal 47 bahwa penyelesaian sengketa konsumen



yang ditempuh dengan jalur si luar pengadilan apabila diselenggarakan untuk



mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi atau mengenai



tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan terulang



kembali kerugian yang diderita oleh konsumen. Oleh karena itu hasil ganti rugi yang



pasti akan ditempuh dalam penyelesaian sengketa di luar pengadilan adalah pelaku



usaha berpegang teguh untuk tidak melakukan kembali kelalaian tersebut yang



mengakibatkan konsumen menderita rugi.







Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dapat di tempuh dengan cara



mengajukan keluhan konsumen kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen



(BPSK) di tingkat II, dalam Pasal 49 UU Perlindungan Konsumen mengatur syarat-



syarat seseorang yang dapat menjadi anggota BPSK , dalam ayat (2): warga negara



Republik Indonesia, berbadan sehat, berkelakuan baik, tidak pernah dihukum karena



kejahatan, memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen,



berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. Sedangkan pengangkatan dan



pemberhentian anggota BPSK dilakukan oleh Menteri. Tugas dan wewenang BPSK



sendiri tercantum dalam Pasal 52 UU Perl;indungan Konsumen sedangkan dalam



pemaparan kinerja BPSK itu sendiri untuk tiap anggotanya diterangkan lebih jelas



dalam surat keputusan menteri seperti yang tercakup dalam Pasal 53 UU



Perlindungan Konsumen.

11









Pengaturan dalam majelis diatur dalam Pasal 54, sebagai berikut:

1) Untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, badan penyelesaian

sengketa konsumen membentuk majelis.

2) Jumlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ganjil dan

sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 49 ayat (3), serta dibantu oleh seorang panitera.

3) Putusan majelis bersifat final dan mengikat.

4) Ketentuan teknis lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas majelis diatur

dalam surat keputusan menteri.





BPSK wajib mengeluarkan putusan paling lambat dalam waktu 21 (dua puluh satu)



hari kerja setelah gugatan diterima, hal ini tercantum dalam Pasal 55 UU



Perlindungan Konsumen. Sedangkan peraturan mengenai jangka waktu yang lain-lain



diatur dalam Pasal 56, 57, dan 58, sebagai berikut:







Pasal 56

1) Dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan badan

penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55

pelaku usaha wajib melaksanakan putusan tersebut.

2) Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri paling

lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan

tersebut.

3) Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap menerima putusan badan

penyelesaian sengketa konsumen.

4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak

dijalankan oleh pelaku usaha, badan penyelesaian sengketa konsumen

menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk melakukan penyidikan

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

5) Putusan badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada

ayat (3) merupakan bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk

melakukan penyidikan.

12









Pasal 57



”Putusan majelis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (3) dimintakan



penetapan eksekusinya kepada Pengadilan Negeri di tempat konsumen yang



dirugikan”.





Pasal 58

1) Pengadilan Negeri wajib mengeluarkan putusan atas keberatan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) dalam waktu paling lambat 21 (dua puluh

satu) hari sejak diterimanya keberatan.

2) Terhadap putusan Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

para pihak dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari dapat

mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.

3) Mahkamah Agung Republik Indonesia wajib mengeluarkan putusan dalam

waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak menerima permohonan kasasi.





Wewenang khusus dalam BPSK sebagai penyidik diatur pada Pasal 59, sebagai

berikut:

1) Selain Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri

Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan

tanggung jawabnya di bidang perlindungan konsumen juga diberi wewenang

khusus sebagai penyidik

2) sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang

berlaku.

3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

berwenang:

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan

dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga

melakukan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum

sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang perlindungan

konsumen;

d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain

berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan

bukti serta melakukan penyitaan terhadap barang hasil pelanggaran yang

dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang perlindungan

konsumen;

13









f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak

pidana di bidang perlindungan konsumen.

3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada

Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik

Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.





Dalam Undang-Undang RI Nomor: 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi



Elektronik Pasal 1 ayat (4) mengartikan dokumen elektronik yaitu ”setiap informasi



elektronik yang dibuat, diteruskan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog,



digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan,



dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak



terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf,



tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau



dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya” sedangkan dalam Pasal 5



pada ayat (1) menyatakan ”Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik



dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah” dan dalam Pasal 5



ayat (2) menyatakan ”Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau



hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat



bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia”.







Keppres No.90/2001, Untuk Pertama kali dibentuk disepuluh kota di Indonesia



(Medan, Palembang, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Yogyakarta,



Surabaya, Malang dan Makasar).

14









Hukum Perlindungan Konsumen membagi pengertiannya sebagai berikut:



Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian



hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen sedangkan konsumen



adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat,



baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain



dan tidak untuk diperdagangkan . Hukum Perlindungan Konsumen mengenal 5 (lima)



asas, antara lain:



1. Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan



perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi



kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan,



2. Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal



dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk



memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil,



3. Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan



konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual,



4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan atas



keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan, pemakaian



dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan;



5. Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati



hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan



konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

15









Dalam Hukum Perlindungan Konsumen dikenal beberapa pendapat tentangnya yang



menciptakan batasan Hukum Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen, dalam



Hukum Konsumen menurut Mochtar Kusumaatmaja adalah: “Keseluruhan asas-asas



dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai



pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa konsumen di dalam



pergaulan hidup”. Sedangkan dalam Hukum Perlindungan Konsumen adalah:



“Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan melindungi



konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan/ atau



jasa konsumen”. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan: hukum konsumen pada



pokoknya lebih berperan dalam hubungan dan masalah konsumen yang kondisi para



pihaknya berimbang dalam kedudukan sosial ekonomi, daya saing maupun tingkat



pendidikannya. Kemudian hukum perlindungan konsumen dibutuhkan apabila



kondisi pihak-pihak yang mengadakan hubungan hukum atau bermasalah itu dalam



masyarakat tidak seimbang. Dalam kepentingan fisik konsumen: “kepentingan badani



konsumen yang berhubungan dengan keamanan dan keselamatan tubuh dan/ atau



jiwa mereka dalam penggunaan barang atau jasa konsumen. Dalam setiap perolehan



barang atau jasa konsumen, barang atau jasa tersebut harus memenuhi kebutuhan



hidup dari konsumen tersebut dan memberikan manfaat baginya (tubuh dan



jiwanya)”. Kepentingan sosial ekonomi konsumen: “Setiap konsumen dapat



memperoleh hasil optimal dengan penggunaan sumber-sumber ekonomi mereka



dalam mendapatkan barang atau jasa kebutuhan hidup mereka. Untuk keperluan itu,



tentu saja konsumen harus mendapatkan informasi yang benar dan bertanggungjawab

16









tentang produk konsumen tersebut, yaitu informasi yang informatif tentang segala



sesuatu kebutuhan hidup yang diperlukan”. kepentingan perlindungan hukum:



Sampai saat ini masih merupakan hambatan bagi konsumen atas peraturan yang



diterbitkan bukan tujuan utamanya mengatur dan/atau melindungi konsumen, kriteria



konsumen dan apa kategori kepentingan konsumen, perilaku dari pelaku bisnis yang



canggih, sehingga terhadap perbuatan tersebut undang-undang tidak dapat



menjangkaunya, hukum acara yang ada tidak dapat secara mudah dimanfaatkan oleh



konsumen yang dirugikan dalam hubungannya dengan penyedia barang dan/atau jasa.







Tanggung jawab produsen di bidang goods (barang) dan bukan jasa, karena



pertanggungjawaban jasa telah khusus yaitu Proffesional liability yang bersandar



pada contractual liability. Dalam product liability dikenal dua caveat yaitu Caveat



Emptor (konsumen berhati-hati) dan Caveat Venditor (produsen berhati-hati).



Pertanggung jawaban produk ini merupakan tanggungjawab produsen kalau



produknya menimbulkan kerugian dan merupakan tanggung jawab perdata. Untuk



melindungi konsumen terdapat dua ketentuan yaitu hukum publik dan hukum



perdata, di mana dalam hukum perdata terdiri dari hukum perjanjian dan hukum



tentang perbuatan melawan hukum. Hukum perjanjian didalamnya terdapat tanggung



jawab atas dasar kontrak (contractual liability) sedangkan hukum tentang perbuatan



melawan hukum atas dasar Tortius liability (Tanggungjawab atas dasar perbuatan



melawan hukum.

17









Bagan 2.1









Bagan 2.2

18









Penyelesian Sengketa Konsumen Secara Konsiliasi dan Mediasi



1. Pemeriksaan identitas para pihak;



2. Pelaku usaha menyerahkan surat jawaban pada sidang pertama;



3. Majelis Pasif Dalam Sidang Konsiliasi (Sebagai Konsiliator);



4. Pemeriksaan identitas para pihak;



5. Pelaku usaha menyerahkan surat jawaban pada sidang pertama;



6. Majelis aktif pada sidang mediasi (sebagai mediator);



7. Hasil musyawarah berupa perjanjian/kesepakatan tertulis & ditandatangani



para pihak;



8. Putusan majelis berupa pengukuhan kesepakatan/perjanjian



9. Selesai.









Bagan 2.3

19









Keberatan Atas Putusan BPSK pada hakekatnya tidak dapat diajukan keberatan



terhadap putusan BPSK yang final dan mengikat, kecuali dipenuhi syarat-syarat



tertentu sesuai dengan Perma No. 1 Tahun 2006. Syarat-syarat mengajukan



keberatan: surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan



dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; setelah putusan diambil ditemukan



dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau



putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam



pemeriksaan sengketa. Untuk diperhatikan dalam pengajuan keberatan adalah



keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 hari sejak para pihak menerima



pemberitahuan putusan arbitrase BPSK; pengajuan dibuat 6 rangkap; apabila



keduanya mengajukan keberatan, maka perkara harus didaftar dengan nomor yang



sama; BPSK bukan merupakan pihak.









Bagan 2.4

20









Dalam sistem hukum dan kehidupan sehari-hari, keberadaan suatu arsip adalah



sebagai suatu alat bukti yang merekam/menerangkan keberadaan suatu informasi



tertentu, atau dalam bahasa hukum ini dinyatakan sebagai pembuktian terhadap telah



terjadinya suatu peristiwa hukum yang tentunya mempunyai akibat hukum tertentu



bagi hak dan kewajiban para pihak yang tersangkut daripadanya. Demikian dengan



keberadaan arsip elektronik, namun unsur trustworthiness dan reliability dari media



elektronik, walaupun sebenarnya memiliki beberapa keunggulan tertentu, ternyata



tidak dapat dengan mudah diakses dengan panca indera manusia sehingga sekilas



kekuatan pembuktiannya lemah. Beberapa alasan tersebut, menyebabkan lahirnya



rekomendasi dari UNICITRAL pada tahun 1985 yang lalu (UNICITRAL recomends



”Legal Value of Computer Records”),1 yaitu:



1. To review the legal rules affecting the use of computer records aas avidence



in litigation in order to eliminate unnecessary obstacles to their admission, to



be assured that the rules are consistent with developments in technology, and



provide appropriate means for a court to evaluate the credibility of the data



contained in those records;



2. To review legal requirements that certain trade transactions or trade related



documents be in writing, whether the written from is condition to the



enforceability or to the validity of the transaction or document, with a view to









1

UNICITRAL Model Law on Eletonoc Commerce With Guide to Enacment 1996, United

Nation: http://www.un.or.at/unicitral/english/texts/electron/mlec.htm

21









permitting, where appropriate, the transaction or document to be recorded



and transmitted in computer readable form:



3. To review legal requirements of a handwritten signature or other paper based



method of authentication on trade related documents with a view to



permitting, where appropriate, the use of electronic means of authentication;



4. To review legal requirements that documents for submission to governments



be in writing and manually signed with a view to permitting, where



appropriate, such documents to be submitted in computer readable from to



those administrative services which have acquired the necessary aquipment



and established the necessary procedures;







Jasa perbankan sesuai dengan karakteristiknya, maka bentuknya: tidak berwujud,



tidak dapat dipisahkan yaitu melekat pada sumbernya, tidak dapat disimpan untuk



persediaan, serta memiliki sifat keanekaragaman. Dilihat dari kegiatan lembaganya,



jasa perbankan merupakan refleksi dari kegiatan lembaga perbankan tersebut yang



berupa: financial intermediary (lembaga perantara keuangan) sebagai bentuk kegiatan



di bidang administrasi dan layanan. Kemudian pada dunia globalisasi saat ini, Bank



dituntut untuk meningkatkan pelayanan salah satunya dengan sistem elektronik



dengan fungsi membangun perekonomian Indonesia, jenis-jenis teknologi e-banking,



antara lain adalah:

22









1. Computer Banking. Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui



koneksi internet ke pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan



perbankan, menerima dan membayar tagihan, dan lain-lain.







2. Debit (or check) Card. Kartu yang digunakan pada ATM atau terminal point-



of-sale (POS) yang memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang



langsung didebet (diambil) dari rekening banknya.







3. Direct Deposit. Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi



(misalnya pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah



dana (misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer



langsung ke setiap rekening nasabah.







4. Direct Payment (also electronic bill payment). Salah satu bentuk pembayaran



yang mengizinkan nasabah untuk membayar tagihan melalui transfer dana



elektronik. Dana tersebut secara elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke



rekening kreditor. Direct payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal



ini, nasabah harus menginisiasi setiap transaksi direct payment.







5. Electronic Bill Presentment and Payment (EBPP). Bentuk pembayaran



tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke nasabah atau pelanggan



secara online, misalnya melalui email atau catatan dalam rekening bank.

23









Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh membayar tagihan



tersebut secara online juga. Pembayaran tersebut secara elektronik akan



mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.







6. Electronic Check Conversion. Proses konversi informasi yang tertuang dalam



cek (nomor rekening, jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar



bisa dilakukan pemindahan dana elektronik atau proses lebih lanjut.







7. Electronic Fund Transfer (EFT). Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari



satu rekening ke rekening lainnya melalui media elektronik.







8. Payroll Card. Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan oelh



pemberi kerja sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya



mengakses pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales. Pemberi



kerja menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara



elektronik.







9. Preauthorized Debit (or automatic bill payment). Bentuk pembayaran yang



mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi pembayaran rutin otomatis yang



diambil dari rekening banknya pada tanggal-tangal tertentu dan biasanya



dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya pembayaran listrik, tagihan

24









telpon, dll). Dana secara elektronik ditransfer dari rekening pelanggan ke



rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).







10. Prepaid Card. Salah satu tipe Stored-Value Card yang menyimpan nilai



moneter di dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai



tersebut ke penerbit kartu.







11. Smart Card. Salah satu tipe stored-value card yang di dalamnya tertanam satu



atau lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data,



melakukan perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus



(misalnya validasi PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan



menyimpan data pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada sistem terbuka



(misalnya untuk pembayaran transportasi publik) atau sistem tertutup



(misalnya MasterCard atau Visa networks).







12. Stored-Value Card. Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai



moneter, yang diisi melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau



melalui simpanan yang diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain.



Untuk single-purpose stored value card, penerbit (issuer) dan penerima



(acceptor) kartu adalah perusahaan yang sama dan dana pada kartu tersebut



menunjukkan pembayaran di muka untuk penggunaan barang dan jasa tertentu



(misalnya kartu telepon). Limited-purpose card secara umum digunakan

25









secara terbatas pada terminal POS yang teridentifikasi sebelumnya di lokasi-



lokasi tertentu (misalnya vending machines di sekolah-sekolah). Sedangkan



multi-purpose card dapat digunakan pada beberapa penyedia jasa dengan



kisaran yang lebih luas, misalnya kartu dengan logo MasterCard, Visa, atau



logo lainnya dalam jaringan antar bank.







13. Automated Teller Machine (ATM). Terminal elektronik yang disediakan



lembaga keuangan atau perusahaan lainnya yang membolehkan nasabah untuk



melakukan penarikan tunai dari rekening simpanannya di bank, melakukan



setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.







ATM termasuk dalam salah satu arsip elektronik yang dihasilkan oleh sistem



informasi elektronik yang telah dilegalisasi atau dijamin oleh para profesional yang



berwenang untuk itu, jika tetap berjalan sebagaimana mestinya, sepanjang tidak



dibuktikan lain oleh para pihak, semestinya dapat diterima sebagaimana layaknya



akta autentik, bukan akta di bawah tangan. Dengan demikian, keberadaan dokumen



tersebut semestinya tidak dapat disangkal lagi dan mempunyai kekuatan hukum yang



mengikat bagi para pihak tersebut.

26









BAB III



KEGIATAN KERJA PRAKTEK







Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang konsumtif terutama memenuhi



kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan yang kini pilihannya bervariasi sesuai



dengan selera yang diinginkan, oleh karena itu tidak aneh apabila terjadi pembelian



dalam jumlah besar. Dalam pelaksanaan perlindungan konsumen memerlukan



pembinaan sikap, baik dari pelaku usaha maupun konsumen. Pembinaan sikap



dilakukan melalui pendidikan sebagai salah satu media sosialisasi. Karena itu



sebabnya pendidikan konsumen diperlukan dalam pelaksanaan perlindungan



konsumen. Kepentingan perlindungan hak-hak konsumen mendorong organisasi



nonpemerintah di bidang perlindungan konsumen untuk menempatkan isu pendidikan



konsumen sebagai bagian dari advokasi untuk mendesakkan perubahan-perubahan



kebijakan publik yang transparan dan akuntabel terhadap kepentingan-kepentingan



konsumen. Sengketa konsumen biasanya muncul dikarenakan adanya klausula-



klausula baku dalam pembelian barang tidak terlalu jelas untuk dimengerti oleh



konsumen, perjanjian jual-beli yang tidak dipedulikan oleh kedua belah pihak namun



yang sering terjadi adalah konsumen yang tidak teliti dalam membaca ketentuan-



ketentuan yang ditawarkan penjual/pelaku usaha.

27









Adapun tugas dan wewenang BPSK sebagaimana yang termuat dalam Pasal 52



Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU



Perlindungan Konsumen) menyatakan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang



BPSK yaitu :



a. Melaksanakan penanganan dan peneyelesaian sengketa konsumen dengan cara

konsiliasi, mediasi dan arbitrase;

b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;

c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;

d. Melaporkan kepada penyidik umum jika terjadi pelanggaran Undang-undang

Perlindungan Konsumen;

e. Menerima pengaduan tertulis maupun tidak dari konsumen tentang terjadinya

pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;

f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;

g. Memanggil pelaku usaha uang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap

perlindungan konsumen;

h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi akhli dan/atau setiap orang yang

diduga mengetahui pelanggaran Undang-undang Perlindungan Konsumen;

i. Meminta bantuan kepada penyidik untuk menghadirkan saksi, saksi akhli atau

setiap orang pada butir g dan butir h yan g tidak bersedia memenuhi panggilan

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);

j. Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna

penyelidikan dan / atau pemeriksaan;

k. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian dipihak konsumen;

l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran

terhadap perlindungan konsumen;

m. Menjatuhkan sanksi administrasi kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan

Undang –Undang Perlindungan Konsumen.



Adapun dalam kelembagaan BPSK :



a. Legalitas Pembentukan



Pasal 49 ayat (1) jo. Keppres No.90/2001, Untuk Pertama kali dibentuk disepuluh



kota di Indonesia( Medan, Palembang, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Bandung,



Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Makasar).

28









b. Kedudukan



Tiap-tiap Dati II, Pasal 49 ayat (1) UUPK, Pemerintah membentuk Badan



Penyelesaian Sengketa Konsumen diluar pengadilan, sejak Tahun 2004, BPSK



Kota Bandung, telah memiliki gedung sendiri, yang terletak di Jl. Mataraman



No.17 Bandung Telepon 022-7308147, Bantuan dari Bapak Walikota Bandung



(H. Dada Rosada, SH, Msi)



c. Keanggotaan



Anggota BPSK terdiri dari 3 (tiga) unsur : Pemerintah, Pelaku Usaha dan



Konsumen, Anggota dari setiap unsur, berjumlah sedikitnya 3 orang dan



maksimal 5 orang. Tugas-tugas BPSK, dibantu oleh Sekretariat BPSK dari unsur



PNS, yang terdiri dari, Kepala Sekretariat dan anggotanya, yang pengangkatan



dan pemberhentiannya ditetapkan oleh Menteri.







Mekanisme Peneyelesaian Sengketa



1. Pra- Sidang



a. Proses pada masa pra sidang :



1) Pemanggilan kepada para pihak untuk melakukan Pra Sidang dilakukan



oleh ketua BPSK.



2) Panggilan kepada para pihak harus disampaikan secara langsung baik



oleh sekretariat ataupun utusan untuk itu dan harus diterima langsung



oleh para pihak yang bersangkutan.



3) Nomor Surat Panggilan;

29









 Hari, tanggal, tahun panggilan tersebut diserahkan;



 Identitas dan kedudukan para pihak yang berperkara;



 Kepentingan dipanggil;



 Hari,tanggal,tahun panggilan tersebut harus dipenuhi;



 Surat, bukti yang harus dibawa pada saat memenuhi panggilan;



 Nama, tandatangan pihak yang memanggil;



 Nama tandatangan Format pemanggilan berisi tentang :



 pihak yang menyerahkan.



4) Pelaku usaha yang dipanggil selaku tergugat dapat memberi kuasa atau



memberi tugas kepada karyawan yang bertugas di bagian hukum.



5) Dalam hal Pelaku Usaha tidak memenuhi panggilan maka ketua BPSK



dapat meminta bantuan penyidik untuk menghadirkannya.



6) Dalam hal Pelaku usaha tidak memenuhi panggilan setelah dipanggil



secara patut, maka Ketua BPSK dapat melaporkannya kepada penyidik



untuk mendapatkan pengusutan adanya dugaan pelanggaran terhadap



peraturan perlindungan konsumen.



7) Apabila para pihak yang dipanggil pada masa pra sidang datang



menghadap, Ketua BPSK atau anggota yang ditunjuk akan memeriksa



dan mencatat pilihan forum dan pilihan cara penyelesaian sengketa yang



disepakati para pihak.



8) Apabila dalam Pra Sidang tidak terjadi kesepakatan pemilihan forum



dan pilihan cara penyelesaian sengketa, maka persidangan tidak bisa

30









dilanjutkan dan untuk itu Ketua BPSK membuat surat keterangan



tentang tidak terjadinya kesepakatan tersebut.



b. Proses Persidangan



1. Penunjukan Panitera dan Pembentukan Majelis



a. Penunjukan Panitera dilakukan oleh Ketua BPSK setelah berkas



perkara diterima Ketua BPSK.



b. Pembentukan Majelis dalam acara Konsiliasi dan Mediasi dilakukan



oleh ketua BPSK setelah para pihak hadir dalam acara Pra Sidang



dan memilih penyelesaian dengan cara Konsiliasi atau Mediasi.



c. Pembentukan Majelis dalam acara Arbitrasi dilakukan setelah para



pihak hadir dalam acara pra sidang, para pihak memilih arbiter



masing-masing dan selanjutnya Arbiter yang dipilih para pihak, akan



memilih Arbiter dari unsur pemerintah, yang akan bertindak sebagai



ketua Majelis.



2. Pemanggilan Para Pihak



Pemanggilan kepada para pihak untuk hadir dalam sidang dilakukan



oleh panitera atas perintah ketua Majelis.







Metode Persidangan :



1. Cara Mediasi :



(a) Dalam sidang pertama, Majelis mempersilahkan para pihak untuk melakukan



negosiasi dalam mencari solusi atas sengketa yang dihadapi.

31









(b) Majelis berupaya membantu para pihak untuk memberikan alternatif



penyelesaian sengketa yang dihadapi para pihak berdasarkan peraturan



perundang-undangan yang berlaku.



(c) Apabila tercapai kesepakatan di antara para pihak dalam penyelesaian



sengketa, maka hasil kesepakatan tersebut dituangkan dalam keputusan



BPSK. Yang ditandatangani oleh para pihak, ketua dan anggota majelis serta



panitera.



(d) Apabila tidak tercapai kesepakatan diantara para pihak dalam penyelesaian



sengketa, maka ketua Majelis mengeluarkan Surat Keputusan yang



menyatakan bahwa para pihak telah sepakat untuk tidak sepakat terhadap hasil



penyelesaian sengketa.



3. Cara Konsiliasi



(a) Dalam sidang pertama, Majelis mempersilahkan para pihak untuk



melakukan negosiasi dalam mencari solusi atas sengketa yang dihadapi.



(b) Majelis berupaya mengarahkan para pihak untuk mencari dan menentukan



alternatif penyelesaian sengketa yang dihadapi para pihak.



(c) Apabila tercapai kesepakatan di antara para pihak dalam penyelesaian



sengketa, maka hasil kesepakatan tersebut dituangkan dalam keputusan



BPSK. Yang ditandatangani oleh para pihak, ketua dan anggota majelis serta



panitera.



(d) Apabila tidak tercapai kesepakatan diantara para pihak dalam penyelesaian



sengketa, maka ketua Majelis mengeluarkan Surat Keputusan yang

32









menyatakan bahwa para pihak telah sepakat untuk tidak sepakat terhadap hasil



penyelesaian sengketa.



4. Cara Arbitrase



(a) Dalam sidang pertama, Majelis akan berusaha untuk mendamaikan para pihak



yang bersengketa



(b) Apabila upaya perdamaian tersebut berhasil, maka Majelis akan



mengeluarkan putusan perdamaian.



(c) Putusan Perdamaian bersifat final dan mengikat.



(d) Apabila upaya perdamaian tidak berhasil, Maka majelis akan melanjutkan



persidangan untuk memutuskan sengketa tersebut.



(e) Putusan Majelis bersifat final dan mengikat.







Mengenai kegiatan kerja praktek di instansi yang terkait yaitu dalam hal ini adalah



BPSK antara lain adalah mengenali terlebih dahulu isi dan maksud dari UU



Perlindungan Konsumen, menganalisis pasal demi pasal yang terdapat dalam UU



Perlindungan Konsumen, memepelajari teori-teori hukum perlindungan konsumen,



kemudian mengikuti acara peradilan yang berlangsung dalam BPSK. Sebagai



mahasiswa yang praktek kerja lapangan di BPSK menempati posisi sebagai asisten



sekretaris yang bekerja mencatat perkara yang masuk dan mengikuti pra sidang dan



persidangan yang berlangsung.

33









Di persidangan BPSK mengenal istilah pra sidang, sidang I, sidang II, hingga sidang



III. Perkara konsumen yang diikuti penuh oleh penulis adalah perkara konsumen



nasabah Bank Mandiri mengenai pembobolan ATM, perkara ini mengambil jenis



persidangan mediasi, dimana majelis hanyalah sebuah fasilitator untuk mengambil



jalan penyelesaian sengketa. Sedangkan perkara-perkara lain yang diikuti oleh



penulis antara lain mengenai sengketa konsumen PT. Cipta Karya dengan konsumen



bernama Ibu Puspitawati melalui metode arbitrase dan pra sidang PT. Potencial



dengan konsumen bernama Bapak Budi, pra sidang sengketa konsumen Blue Top



dengan konsumen bernama Bapak Andi S. Selain itu, pekerjaan lainnya yaitu



mencatat nomor perkara yang masuk ke dalam daftar persidangan.

34









BAB IV



ANALISA







A. Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen melalui Badan Penyelesaian



Sengketa Konsumen.







Pada tanggal 13 Oktober 2008, para pelaku di dalam sengketa konsumen



pembobolan ATM Bank Mandiri di undang oleh BPSK untuk mengikuti acara



pra sidang yang menetapkan Bank Mandiri yang diwakili oleh karyawannya di



bagian legal yaitu Bapak Amin dan Bapak Budito selaku kuasa hukum dari Bank



Mandiri selanjutnya disebut pelaku usaha, kemudian Ibu Hj. Yayah beserta



pendampingnya dalam pra sidang ini didampingi oleh Ibu Eti Mulyati adik



kandung dan selaku kuasa hukum selanjutnya disebut konsumen. Mereka semua



dikumpulkan oleh BPSK dengan majelis yang dipimpin oleh Bapak Dedi



menjelaskan secara rinci proses persidangan yang akan dilalui sesuai dengan



Pasal 55 dan Pasal 56 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang



Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen), dimana pada Pasal 55



menyebutkan ”Badan penyelesaian sengketa konsumen wajib mengeluarkan



putusan paling lambat dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah



gugatan diterima”, dapat dikatakan proses pra sidang ini adalah konsulidasi bagi

35









para pihak yang terkait agar tidak salah dalam memahami maupun menjalankan



proses persidangan.







Dalam hal ini para pihak baik konsumen maupun pelaku usaha ditawarkan untuk



mengambil proses persidangan yang menurut kedua belah pihak dirasa efektik



dan efisien. Oleh karena itu dalam hal ini majelis menawarkan tiga metode dalam



persidangan BPSK kepada para pihak, yaitu konsiliasi, mediasi, dan arbitrase.



Pada tahap ini, konsumen memilih metode mediasi namun pelaku usaha sepakat



untuk mengambil jalur hukum yaitu mengajukannya ke pengadilan negeri namun



majelis menjelaskan bahwa pelaku usaha harus mengikuti prosedur yang telah



diputuskan oleh konsumen maka dari itu kedua belah pihak sepakat untuk



mengambil metode mediasi melalui BPSK. Para pihak terutama khususnya



konsumen mengambil metode mediasi dikarenakan metode ini mengutamakan



prosedur musyawarah lebih kekeluargaan dan majelis hanya berperan sebagai



mediator dalam metode ini sedangkan yang berperan aktif tetaplah para pihak



yang bersangkutan. Dalam proses persidangan BPSK pelaku usaha dalam hal ini



yang berusaha untuk membuktikan dan menghadirkan bukti-bukti dan/atau saksi



yang menurut pelaku usaha dapat membuktikan bahwa pelaku usaha tidak



bersalah.







Proses persidangan tahap pertama, konsumen mengutarakan keluhannya secara



langsung kepada pelaku usaha bahwasannya pengambilan uang melalui ATM

36









adalah pembobolan dikarenakan konsumen tidak merasa mengambil uang pada



tanggal tersebut dikarenakan pada saat itu konsumen sedang terbaring sakit



ditambah lagi lokasi dari pengambilan uang tersebut yaitu Metro Bandung adalah



area yang tidak terjangkau oleh konsumen atau jauh dari tempat tinggal dan



konsumen belum sama sekali mengambil uang melalui ATM di area tersebut.



Kemudian dalam proses ini pelaku usaha memberikan print out yang



menunjukan lokasi pengambilan uang melalui ATM yang dilakukan konsumen.



Hasil print out tersebut membuktikan bahwa konsumen hanya melakukan



pengambilan uang di Metro Bandung pada saat pembobolan uang tersebut



terjadi. Konsumen meminta pelaku usaha untuk membuktikan print out



pengambilan uang tersebut namun pelaku usaha berdalih bahwasannya



pengambilan uang secara digital tidak bisa di tunjjukan dalam pengadilan



dikarenakan hal ini adalah termasuk rahasia Bank. Namun majelis memberikan



kelonggoran terhadap pelaku usaha untuk tidak menunjukan hasil print out



pengambilan uang kepada pengadilan namun majelis menegaskan bahwa apabila



pelaku usaha tidak dapat melakukannya maka posisi pelaku usaha terancam



untuk kalah dalam proses persidangan karena bukti digital tersebut adalah satu-



satunya dokumen yang dapat membuktikan bahwa pelaku usaha tidak melakukan



kesalahan. Di mana dalam teori hukum perlindungan konsumen tanggung jawab



produsen di bidang goods (barang) dan bukan jasa, karena pertanggungjawaban



jasa telah khusus yaitu Proffesional liability yang bersandar pada contractual



liability. Dalam product liability dikenal dua caveat yaitu Caveat Emptor

37









(konsumen berhati-hati) dan Caveat Venditor (produsen berhati-hati).



Pertanggung jawaban produk ini merupakan tanggungjawab produsen kalau



produknya menimbulkan kerugian dan merupakan tanggung jawab perdata.



Untuk melindungi konsumen terdapat dua ketentuan yaitu hukum publik dan



hukum perdata, di mana dalam hukum perdata terdiri dari hukum perjanjian dan



hukum tentang perbuatan melawan hukum. Hukum perjanjian didalamnya



terdapat tanggung jawab atas dasar kontrak (contractual liability) sedangkan



hukum tentang perbuatan melawan hukum atas dasar Tortius liability (tanggung



jawab atas dasar perbuatan melawan hukum). 2







Proses sidang tahap kedua, pelaku usaha dapat membawa bukti digital berupa



print out pengambilan berupa:



1. Pada tanggal 2 Agustus 2008, melakukan pengambilan sebesar



Rp.2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) sebanyak dua kali



pengambilan, kemudian



2. Pada tanggal 10 Agustus 2008, melakukan kembali pengambilan sebesar



Rp.2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) sebanyak dua kali



pengambilan.









2

Handout mata kuliah Hukum Perlindungan Konsumen, Dosen Budi Fitriadi S, S.H, M.H.

Tahun 2008.

38









Pada tahap terakhir ini, konsumen dan pelaku usaha diberi kesempatan untuk



membela diri dan memberi keluhan-keluhannya dengan tempat dan waktu yang



berbeda di muka majelis BPSK. Kemudian mereka kembali dipertemukan dalam



persidangan dan dipersilahkan untuk bermusyawarah. Dalam permusyawarahan



tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa



1. Perbaikan sistem di tempat pengambilan uang melalui ATM di mana



disetiap tempat pengambilan harus disediakan kamera CCTV sebagai



bukti kuat pelaku pembobolan ATM.



2. Apabila satu hari kasus yang sama seperti yang dialami konsumen maka



pihak pelaku usaha bersedia mengaku salah dan memberikan



kompensasi kepada nasabah yang bersangkutan dan kepada konsumen.







B. Kekuatan Hukum Pembuktian Digital dalam Penyelesaian Konsumen



melalui Proses Mediasi.







Penyelesian Sengketa Konsumen secara Mediasi, meliputi:



1. Pemeriksaan identitas para pihak;



2. Pelaku usaha menyerahkan surat jawaban pada sidang pertama;



3. Pemeriksaan identitas para pihak;



4. Pelaku usaha menyerahkan surat jawaban pada sidang pertama;



5. Majelis aktif pada sidang mediasi (sebagai mediator);

39









6. Hasil musyawarah berupa perjanjian/kesepakatan tertulis &



ditandatangani para pihak;



7. Putusan majelis berupa pengukuhan kesepakatan/perjanjian



8. Selesai.







Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam proses persidangan BPSK seperti



Pengadilam Negeri pada umumnya dalam hukum positif Indonesia mengakui atas



pembuktian digital. Dalam hal ini ATM termasuk dalam salah satu arsip elektronik



yang dihasilkan oleh sistem informasi elektronik yang telah dilegalisasi atau dijamin



oleh para profesional yang berwenang untuk itu, jika tetap berjalan sebagaimana



mestinya, sepanjang tidak dibuktikan lain oleh para pihak, semestinya dapat diterima



sebagaimana layaknya akta autentik, bukan akta di bawah tangan. Bahwa keberadaan



dokumen tersebut semestinya tidak dapat disangkal lagi dan mempunyai kekuatan



hukum yang mengikat bagi para pihak tersebut ditambah dengan kekuatan hukum



dari UNICITRAL yang mengakui adanya dokumen elektronik yang telah



direkomendasi Indonesia.







Selanjutnya, Undang-Undang RI Nomor: 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan



Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 1 ayat (4) mengartikan dokumen elektronik



yaitu ”setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, diterima, atau disimpan



dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat



dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik,

40









termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau



sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki



makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”



sedangkan dalam Pasal 5 pada ayat (1) menyatakan ”Informasi elektronik dan/atau



dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah”



dan dalam Pasal 5 ayat (2) menyatakan ”Informasi elektronik dan/atau dokumen



elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan



perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di



Indonesia”. Dengan demikian, hukum acara peradilan yang diatur dalam hukum



positif Indonesia secara langsung dan tegas mengakui keberadaan dokumen



elektronik sebagai alat bukti yang sah dan selama dokumen elektronik tersebut



memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UU ITE.







Oleh karena itu pihak dalam sengketa konsumen harus mengakui keberadaan bukti



digital tersebut apalagi dalam sengketa ini bukti digital tersebut merupakan kunci dari



penyelesaian sengketa konsumen yang dihadapi yang memakai metode mediasi.

41









BAB V



KESIMPULAN DAN SARAN







A. Kesimpulan



1. Proses penyelesaian sengketa konsumen dalam Badan Penyelesaian Sengketa



(BPSK), konsumen diberi kebebasan untuk memilih cara mana yang dianggap



paling tepat untuk menyelesaikan permasalahan konsumen yang dihadapi,



cara tersebut antara lain:



1) Cara Mediasi;



2) Cara Konsiliasi;



3) Cara Arbitrase.







Dalam kenyataannya proses yang selalu dipilih oleh konsumen adalah cara



mediasi, alasan utama konsumen dalam memakai cara mediasi dikarenakan



cara ini lebih mengutamakan kemusyawarahan dalam mengambil kesepakatan



atau keputusan itu sendiri sedangkan majelis hanya sebagai mediator bagi



konsumen dengan pelaku usaha. Ciri khas yang sangat menonjol dalam



penyelesaian sengketa konsumen di BPSK adalah dimana pelaku usaha yang



hanya memberikan bukti-bukti yang terkait dalam pembelaan/alibi dari pelaku



usaha. Dalam kata lain pelaku usaha yang membuktikan bahwasannya dirinya



tidak bersalah.

42









2. Dalam Hukum Acara di Indonesia diakui adanya alat bukti digital sebagai alat



bukti yang sah di mata pengadilan. Hal ini diperkuat dalam UNICITRAL dan



Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi



Elektronik (UU ITE). Oleh karena itu kekuatan hukum pembuktian digital



dalam penyelesaian konsumen melalui proses mediasi dianggap sah dan kuat



adanya selama alat bukti tersebut memenuhi kriteria dalam UNICITRAL dan



dalam UU ITE.







C. Saran



1. Pemerintah harus membuat aturan yang tegas secara khusus mengenai tata



cara pengajuan Fiat eksekusi ke Pengadilan Negeri belum diatur; penetapan



sanksi administrasi belum diatur; pedoman pengawasan, pencantuman



klausula baku belum diatur; biaya pendaftaran dan persidangan belum diatur;



tugas dan wewenang Kepala Sekretariat dan anggota belum diatur, kecuali



panitera; pemanggilan dan/atau penyidikan oleh Polri terhadap pihak-pihak



yang tidak bersedia datang atau tidak melaksanakan putusan, belum diatur;



Protokoler BPSK belum diatur; dan belum optimalnya sosialisasi keberadaan



BPSK. Peraturan tersebut baiknya diatur secara tertulis dalam bentuk Undang-



Undang tentang Tata Cara Hukum Beracara Badan Penyelesaian Sengketa



Konsumen. Karena menurut penulis kekuatan hukumnya agar sama kuatnya



dengan Undang-Undang Acara Peradilan lainnya baik Acara Pidana maupun



Acara Perdata.

43









2. Perlu adanya sosialisasi agar masyarakat atau konsumen dapat mengetahui



tempat untuk menampung keluhan dan menyelesaikan permasalahan yang



telah mereka hadapi dalam persengketaan dengan pelaku usaha mengenai



perkara sengketa konsumen.





3. Perlu dibuat batasan sebagaimana diatur dalam UNICITRAL dan UU ITE



mengenai alat bukti digital, sehingga dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam



penyelesaian sengketa konsumen baik melalui proses arbitrase, konsiliasi, dan



mediasi dalam Putusan Pengadilannya bersifat final dan mengikat bagi para



pihak yang terkait, layaknya persidangan dalam Acara Pengadilan Negeri.

44









DAFTAR PUSTAKA







Sri Wahyuni, Endang. Aspek Hukum Sertifikasi Dan Keterkaitannya Dengan



Perlindungan Konsumen. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.



Shofie, Yusuf. Perlindungan Konsumen Dan Instrumen-Instrumen Hukumnya.



Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.



Miru, Ahmadi dan Sutarman Yodo. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: PT.



RajaGrafindo Persada, 2004



Handout Hukum Perlindungan Konsumen, Dosen Budi Fitriadi S, S.H.,M.H. Tahun



2008, Bandung







UUD 1945



Pembukaan UUD 1945



Pancasila



Undang-Undang RI No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen



Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi



Elektronik



Keppres No.90/2001



UNICITRAL Model Law on Eletonoc Commerce With Guide to Enacment 1996,



United Nation: http://www.un.or.at/unicitral/english/texts/electron/mlec.htm.



Dokumen-Dokumen Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.


Related docs
Other docs by HC111202235414
PowerPoint Presentation
Views: 0  |  Downloads: 0
RAMIRIS_arlista___2011_11_25_08
Views: 0  |  Downloads: 0
Guidelines
Views: 1  |  Downloads: 0
A to Z Feeders
Views: 2  |  Downloads: 0
Chapter # 5: Arithmetic Circuits
Views: 0  |  Downloads: 0
PowerPoint Presentation
Views: 6  |  Downloads: 0
Web Enabled Databases
Views: 4  |  Downloads: 0
WORLD TRADE
Views: 1  |  Downloads: 0
qreport1 04
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!