Docstoc

KONDISI FISIK DI PERAIRAN ESTUARI

Document Sample
KONDISI FISIK DI PERAIRAN ESTUARI Powered By Docstoc
					KONDISI FISIK DI PERAIRAN ESTUARI DAN KAITANNYA DENGAN PEMBENTUKAN HABITAT
1. Pendahuluan
Estuari adalah jenis perairan yang memiliki variasi yang tinggi ditinjau dari faktor fisik, kimia, biologi, ekologi dan jenis habitat yang terbentuk di dalamnya. Oleh karena itu interaksi antara komponen fisik, kimia dan biologi yang membentuk suatu ekosistem sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena dinamika dari estuari sangat besar, baik dalam skala waktu yang pendek karena adanya pasang surut maupun dalam skala waktu yang panjang karena adanya pergantian musim. Pada ekosistem estuari ini terbentuk habitat-habitat yang memiliki ciri khas tersendiri dengan organisme-organisme penyusunnya yang spesifik. Hal ini disebabkan karena organisme tersebut harus mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Respon dari tingkah laku organisme tersebut dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga beragam dan memiliki ciri khas tersendiri. Pada batas ambang toleransi organisme terhadap lingkungan membatasi keberadaannya di suatu organisme. Organisme yang mampu bertahap pada kondisi fisik dan kimia perairan dapat tetap hidup dan tinggal nyaman di habitatnya, tetapi bagi organisme yang tidak mampu bertahan pada ambang toleransinya akan menjadi organisme pengunjung transisi, dimana pada saat sesuai dengan batas ambangnya organisme ini akan masuk ke habitat di estuari, tetapi jika tidak maka organisme ini akan meninggalkan daerah estuari ini. Pada makalah ini dititik beratkan pada proses-proses fisik yang terjadi pada setiap jenis tipe estuari dan pengaruhnya terhadap pembentukan habitat-habitat yang spesifik dengan organisme yang menyusunnya. Makalah ini tidak mempelajari secara mendalam tentang bagaimana organisme di suatu habitat di estuari bertahan dan menyesuaikan diri pada kondisi lingkungan fisik dan kimia di suatu ekosistem.

2.

Tipe Perairan Estuari

Pembagian tipe estuari ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu kekuatan gelombang, pasang surut dan keberadaaan sungai. Kuat lemahnya faktor ini tergantung dari bentuk geomorphologi estuarinya. Secara umum tipe estuari dikelompokkan menjadi tujuh tipe, yaitu sebagai berikut: 1. Embayments and drown river valleys (Teluk dengan sungai dari lembah bukit) 2. Wave-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi gelombang) 3. Wave-dominated deltas (Delta dengan dominasi gelombang) 4. Coastal lagoons and strandplains (Lagun dengan hamparan tanah datar) 5. Tide-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi pasang surut) 6. Tide-dominated deltas (Delta dengan dominasi pasang surut) 7. Tidal creeks (Daerah pasang surut dengan banyak anak sungai) Pembagian tipe estuari ini dapat pula digambarkan dalam bentuk segitiga dari kuat lemahnya faktor yang mempengaruhinya, yaitu meliputi gelombang, pasang surut dan

1

sungai. Pada Gambar 1., memperlihatkan tipe estuari yang keberadaannya didominasi oleh interaksi kekuatan antara sungai, gelombang dan pasang surut.

Gambar 1. Tipe-tipe estuari berdasarkan daerah yang mendominasi dari sungai, gelombang dan pasang surut.

Pada pembahasan berikutnya akan dipaparkan proses-proses fisik, kimia dan biologi yang terjadi secara detail pada tiap tipe estuari. Tipe ke-1 : Teluk dengan sungai dari lembah bukit

Gambar 2. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Estuari Teluk dengan Sungai dari Lembah Bukit

2

Gambar 3. Habitat Penyusun Ekosistem di Perairan pada Tipe Estuari Teluk dengan Sungai dari Lembah Bukit

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Habitat yang mendominasi di daerah ini adalah dari laut dengan lingkungan yang memiliki pengaruh subtidal yang besar dan pengaruh lingkungan intertidal yang kecil. 2. Masukan massa air yang besar dan marine flushing yang efisien, meskipun di daerah microtidal. Kedalaman laut yang dalam memiliki daerah yang luas. 3. Beradam masukan air tawar dari sungai, masuknya massa air laut dihalangi dan tidal adanya massa air tawar yang keluar langsung ke laut lepas, karena area yang luas. 4. Kekeruhan dan perluasan habitat intertidal tergantung dari kuat-lemahnya pasut lokal. 5. Sedimentasi dan material terkontaminasi pada umumnya tidak terhalang. Biasanya terjadi pada pergerakan coarse sedimen dasar. 6. Dinamika nutrien pada umumnya memiliki kesamaan dengan perairan pesisir lepas pantai. 7. Perubahan morpologi pantai sangat lambat. Habitat dan Ekologi Pada perairan teluk di tipe estuari ini merupakan daerah lingkungan transisi antara daerah estuari sebenarnya dengan kondisi lingkungan laut seperti salinitas, suhu, kekeruhan dan energi dinamik yang menyertainya. Diperairan tipe ini juga memiliki keragaman spesies biota yang besar. Terbentuknya habita saltmarshes, mangrove,

3

intertidal flats dan lingkungan pantai berpasir dipinggiran teluk tergantung dari dinamika energi massa air dan kondisi iklim. Daerah berawa dan tanah basah dari air tawar cenderung terjadi di belakang daerah berpasir. Tipe ke-2 : Estuari dengan dominasi gelombang.

Gambar 4. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Estuari dengan Dominasi Gelombang (Sebelah Kiri Bawah : Jenis Positif dan Sebelah Kanan Bawah : Jenis Negatif).

4

Gambar 5. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Estuari dengan Dominasi Gelombang.

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Mendukung keberadaan beragam habitat baik laut atau payau, meliputi daerah subtidal, intertidal dan supratidal. 2. Celah masuk yang sempit membatasi terjadinya marine flushing, hanya dalam porsi yang sedikit dari massa air estuari yang terjadi pertukaran dengan massa air laut dalam setiap fase bolak-balik pasut. 3. Aliran sungai pada umumnya besar dan jika dalam jumlah sangat besar menyingkirkan massa air laut dan material lain keluar area estuari. 4. Kekeruhan dalam kaitannya dengan sedimen terlarut, secara alamiah rendah kecuali pada kondisi angin ekstrim dan terdapat aliran fluvial dari sungai. 5. Di pusat basin estuari adalah merupakan daerah yang efisien sebagai perangkap sedimen dan bahan polutan lainnya. 6. Daerah yang memiliki residence time yang lama karena berfungsi sebagai daerah perangkap dan proses-proses seperti denitrifikasi dari sangat penting untuk memuat kandungan nitrogen yang tinggi. 7. Semi-mature dalam kaitan dengan evolusi morphologi pantai dimana perubahan morphologi berjalan dengan cepat sepanjang waktu sebagai penyebab dari daerah perangkap sediment akan berakibat kedalaman di pusat basin estuari tipe ini akan semakin dangkal dan juga tipe ini merupakan peralihan dari tipe fluvial delta. Habitat dan Ekologi Tipe estuari dengan dominasi gelombang secara umum memiliki spesies yang asli dari estuari (true estuarine species) dan spesies pengujung sementara dari lingkungan laut lepas. Hal ini terjadi pada tipe estuari yang didominasi gelombang disebabkan tipe ini

5

penyediakan beragam habitat, seperti pada habitat dengan energi yang tinggi yaitu pantai berpasir (sandy beaches) dan terusan berpasir (channel sands), lumpur tersembunyi di dasar basin, habitat dengan kedalaman air rendah, mangrove, saltmarshes dan intertidal flat. Tergantung dari kondisi di luar mulut estuari dan posisi lintang, saltmarshes dan mangrove dapat pula ditemukan disekitar tepi dari pusat basin dan kondisi energi yang tinggi dari mulut estuari menghasilkan substrat berpasir dan tingkat kecerahan di daerah dangkal ini cukup tinggi yang mendukung beberapa jenis seagrass untuk hidup. Keberadaan lumpur di pusat basin estuari mendukung sepenuhnya kehidupan bentik dari algae mikro dan makro, dan beberapa jenis invetebrata lainnya. Tipe estuari dengan dominasi gelombang ini, jika memiliki masukan sedimen yang lambat dapat memiliki pantai berbatu yang luas dan habitat terumbu karang yang mendukung beberapa jenis biota. Tipe ke-3 : Delta dengan dominasi gelombang.

Gambar 6. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Delta dengan Dominasi Gelombang.

6

Gambar 7. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Delta dengan Dominasi Gelombang.

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Habitat yang didukungnya bervariasi, pada umunya kebanyakan habitat air payau subtidal, intertidal dan supratidal. 2. Mulut esturi yang sempit menghalangi terjadinya flushing air laut, pertukaran massa air hanya dalam porsi volume massa air yang rendah dan terjadi mengikuti proses pasut. 3. Aliran sungai yang besar dan umumnya membuang air laut dan material lainnya dari delta. 4. Kondisi kekeruhan tergantung dari daerah aliran sungainya, umumnya secara alami rendah kecuali pada saat kondisi aliran fluvial sungai yang ekstrim. 5. Sedimen kebanyakan terbuang menuju laut. 6. Residence time yang pendek karena adanya flushing yang kuat menyebabkan proses terperangkapnya nutrin rendah 7. Mature dalam proses evolusi morphologi. Cenderung stabil kondisi morphologinya karena adanya tinggi muka laut yang stabil. Habitat dan Ekologi Tipe estuari delta dengan dominasi gelombang mendukung spesies euryhaline, tidak sebaik habitat untuk spesies transisi dari lingkungan laut dan kondisi ini tergantung dari kondisi aliran sungai. Habitat intertidal dibatasi perluasannya dan terutama dibatasi barrier dan delta yang tergenang air laut. Tipe estuari delta yang didominasi gelombang secara umum mendukung habitat pantai berpasir dan celah aliran dengan energi tinggi, intertidal mudflats, saltmarshes dan mangrove. Umumnya tepian celah berpasir mendukung hidupnya macrophytes seperti seagrass.

7

Tipe ke-4 : Lagun dengan hamparan tanah datar.

Gambar 8. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Lagun dengan Hamparan Tanah Datar.

8

Gambar 9. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Lagun dengan Hamparan Tanah Datar.

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Habitat yang didukung adalah kondisi kimia yang disebabkan oleh sedikitnya pertukaran massa air dari lingkungan laut dan variasi salinitas yang tinggi. 2. Pintu masuk ke lagun yang seringkali tertutup mengisolasi lagun dari laut untuk periode yang lama 3. Aliran sungai sangat sedikit cenderung tidak ada. Masukan air dalam jumlah sangat sedikit kemungkinannya, tetapi jika ada akan berdampak besar terhadap penggerusan muka tanah dan masuk kedalam basin. 4. Kekeruhan secara alamiah rendah, tetapi perairan basin yang dangkal rentan akibat proses resuspensi karena adanya angin, terutama jika tidak ada seagrass. 5. Jika terdapat kedalaman yang besar di tengah basin, akan memungkinkan sebagai temapat yang efisien sebagai perangkap sedimen dan bahan polutan lain. 6. Memiliki residence time yang lama memperkuat perangkap sedimen dan proses penimbunan nutrien, meskipun tidak akan berlebihan karena ukuran dari lagun tidak terlalu besar. 7. Evolusi morphologi pantai sangat lambat disebabkan oleh sedikitnya masukan sedimen dari aliran sungai. Habitat dan Ekologi Meskipun secara berkala mengalami perubahan salinitas yang signifikan, tipe estuari jenis ini biasanya memiliki koloni invertebrata estuari dan organisme euryhalin lainnya yang dapat mentoleransi kondisi perubahan selang salintas yang besar. Biasanya terdapat tingkat kematian yang tinggi untuk spesies laut selama periode tertutupnya

9

pintu masuk lagun dimana hal ini memberikan kesempatan berkembangbiak dan tumbuh baik untuk spesies estuari atau spesies dengan salinitas rendah. Meskipun luasan area lagun sangat kecil (<100 m2), tetapi daerah tipe estuari ini merupakan habitat yang sangat penting dari kumpulan beragam juvenil dan beberapa diantaranya merupakan ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi. Lamanya pertukaran massa air laut dan lagun merupakan faktor penting dari perkembangbiakan organisme dari laut. Beberapa tipe estuari jenis lagun ini mendukung habitat dari jenis macroalgae, sebagia kecil seagrass dasar, saltmarshes dan spesies transisi air tawar. Keberadaan mangrove tidak ada karena sedikitnya area yang bersentuhan langsung dengan laut lepas. Tipe ke-5 : Estuari dengan dominasi pasang surut.

Gambar 10. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Estuari dengan Dominasi Pasang-Surut (Sebelah Kiri Bawah : Jenis Positif dan Sebelah Kanan Bawah : Jenis Negatif).

10

Gambar 11. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Estuari dengan Dominasi Pasang-Surut (Sebelah Kiri Bawah : Jenis Positif dan Sebelah Kanan Bawah : Jenis Negatif).

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Mendukung beragam jenis habitat meliputi habitat laut dan payau, subtidal, intertidal dan supratidal di estuari. Wilayah intertidal dan supratidal seringkali sangat banyak dimana kekeruhan menghalangi seagrass dibeberapa tempat. 2. Mulut estuari yang luas sangat mendukung terjadinya pencucian oleh massa air laut. 3. Aliran sungai umumnya besar, tetapi efek dari pasang yang tinggi menyebakan area pembatas air yang luas dan terjadinya pertukaran air dan daratan yang besar. 4. Kekeruhan secara alamiah tinggi sebagai akibat dari proses turbulen yang kuat oleh pasut. 5. Lingkungan pinggir estuari seperti intertidal flats, mangrove, saltmarshes dan saltflats cenderung sebagai perangkap sedimen dan bahan polutan lainnya. Pencucian oleh massa air laut menghasilkan beberapa material ke luar menuju laut lepas. 6. Pergerakan pasut di pinggiran estuari mendorong terbentuknya perangkap dan sebagai tempat bahan nutrien yang berlimpah. 7. Semi-Mature dari evolusi morphologi pantai. Hasil dari banyak sedimen yang terperangkap di pinggir estuari akan mengakibatkan perubahan morphologi pantai, mempersempit celah estuari ke arah laut lepas.

11

Habitat dan Ekologi Tipe estuari dengan dominasi pasut ini memiliki habitat celah estuari, intertidal berlumput, mangrove, saltmarshes, saltflats dan rocky shores dan rocky reffs. Habitathabita ini umumnya mendukung kehidupan biota laut, termasuk spesies pengunjung transisi dan tetap, sedangkan spesies estuari tidak lebih dominan dari spesies lainnya. Produktifitas tumbuhan pantai akan meningkat sejalan dengan meluasnya areal yang terkena pengaruh pasut karena adanya pencucian massa air dan sumber nutrien terbaharukan. Hutan mangrove littoral mendominasi tipe estuari jenis ini dan tanaman tanah datar dengan vegetasi rumput besar dan juga tumbuhan lahan basah dari air tawar. Kekeruhan air yang terjadi di semua area estuari mengganggu pertumbuhan dari tumbuhan subaquatic benthic macrophytes seperti seagrass dan juga membatasi distribusi phytoplankton berdasarkan kedalaman. Beberapa spesies akan bertahan hidup jika berada mendekati mulut estuari yang menghadap ke arah laut. Tipe ke-6 : Delta dengan dominasi pasang surut.

Gambar 12. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Delta dengan Dominasi Pasang-Surut.

12

Gambar 13. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Delta dengan Dominasi Pasang-Surut.

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Beragam habitat yang mendukung meliputi habitat laut dan payau, subtidal, intertidal dan supratidal. Habitat intertidal dan supratidal lebih dominan dimana tingkat kekeruhan yang tinggi menghambat pertumbuhan seagrass. 2. Pencucian oleh massa air laut yang besar dan luas. 3. Aliran sungai pada umumnya besar dan massa air tawar akan mendesak massa air laut dengan membawa berbagai material laut ke delta. 4. Kekeruhan secara alamiah tinggi karena adanya turbulen akibat pasut. 5. Lingkungan pinggiran delta seperti intertidal flats, mangrove, saltmarshes dan saltflats berfungsi sebagai perangkap sedimen dan bahan polutan. Aliran sungai dan pencucian oleh massa air laut akan membawa material estuari ke laut lepas. 6. Pergerakan vertikal pasut di pinggiran delta akan mendorong terbentuknya perangkap sedimen dan proses pembentukan nutrien yang tinggi. 7. Mature dari evolusi morphologi pantai. Cenderung stabil dari segi morphologi pantai. Habitat dan Ekologi Tipe estuari delta dengan dominasi pasut menyediakan habitat seperti celah delta, intertidal berlumpur, mangrove, saltmarshes dan saltflats. Habitat ini umumnya mendukun spesies dari laut. Produktifitas tumbuhan meningkat sejalan dengan meningkatnya energi dan amplitudo pasut karena adanya proses pencucian massa air dan pembentukan nutrien terbaharukan. Hutan mangrove littoral pada umumnya

13

terdapat dalam jumlah yang banyak di tipe estuari ini, tetapi jauh lebih sedikit dari mangrove dan saltmarshes di pinggiran estuari. Tipe ke-7 : Daerah pasang surut dengan banyak anak sungai.

Gambar 14. Peta dari Citra Satelit dan Ilustrasi Proses Hidrodinamika Tipe Daerah Pasang-Surut dengan Banyak Anak Sungai.

14

Gambar 15. Habitat Penyusun Ekosistem pada Tipe Daerah Pasang-Surut dengan Banyak Anak Sungai.

Ciri-ciri Utama Ciri-ciri utama tipe estuari ini adalah sebagai berikut: 1. Habitat yang didukung dari tipe estuari ini adalah habitat laut dan payau, subtidal, intertidal dan supratidal. 2. Luas dan lebarnya mulut estuari memicu terjadinya pencucian massa air. 3. Aliran sungai sama sekali tidak ada. Kelimpahan massa air tawar sama sekali tidak ada. 4. Kekeruhan secara alamiah tinggi karena adanya energi dan amplitudo pasut yang besar. 5. Lingkungan di pinggir estuari terdiri dari intertidal flats, mangroves, saltmarshes dan saltflats cenderung menjadi perangkap sedimen dan bahan polutan. 6. Pergerakan vertikal pasut di lingkungan pinggiran estuari berfungsi sebagai perangkap sedimen dan sumber nutrien. 7. Berdasarkan evolusi morphologi pantai, secara bertahap dan lambat, proses sedimentasi akan membentuk daratan ke arah laut lepas. Habitat dan Ekologi Tipe estuari ini menyediakan habitat seperti celah berpasir, intertidal berlumpur, mangrove, saltmarshes, saltflat flats dan rocky shores dan rocky reefs di beberapa tempat. Habitat ini mendukung spesies laut, termasuk pengunjung transisi dan spesies tetap. Produktifitas tumbuhan di pinggir estuari akan meningkat sejalan dengan peningkatan energi dan amplitudo pasut sebagai akibat dari adanya pencucian massa air dan sumber nutrien terbaharukan. Air yang keruh di sepanjang celah estuari secara luas menghalangi pertumbuhan seagrass dan membatasi distribusi vertikal dari

15

phytoplankton. Spesies yang bertahan adalah spesies yang berada di tingkat kekeruhan yang rendah yaitu berada di dekat mulut estuari.

3.

Tipe Habitat di Perairan Estuari

Pada sub bab ini akan dibahas mengenai jenis habitat dengan kondisi fisik, kimia dan biologi yang memiliki ciri khas tersendiri. Keberadaan suatu organisme yang menyusunnya dan interaksi antara faktor tekanan lingkungan dengan pembatas alamiah memberikan gambaran tentang bagaimana suatu organisme akan berada di suatu habitat di perairan estuari. 3.1. Habitat Barrier (Pembatas) Lingkungan pembatas (Barrier) memiliki ciri khas dari estuari dengan dominasi gelombang dan umumnya merupakan bagian dari tepi pantai dengan energi gelombang yang besar. Barrier seringkali terdapat habitat intertidal dan supratidal di muka pantai, kanal yang dangkal dan berpasir. Di wilayah belakang barrier terdapat sedimen yang telah dicuci pada saat terjadi gelombang besar dan badai. Ukuran sedimen yang ditemukan yaitu fine sediment sampai dengan coarse bahkan pasir. Kandungan konsentrasi mineral berat terdapat dalam jumlah yang sedikit. Kandungan karbonat pada umumnya tinggi terutama pada wilayah tropis, kecual pada habitat supra tidal yang berpasir dan umumnya konsentrasi bahan organik umumnya sangat rendah. Penyerapan oksigen secara alamiah besar, karena pori-pori yang besar pada sedimen sampai pada lapisan sub permukaan sedimen. Pada tipe pantai yang didominasi gelombang, barrier yang baru akan terbentuk di belakang barrier yang lama dan lambat laun barrier yang lama akan terkikis sampai hilang. Pada permukaan pantai di belakang muka pantai umumnya ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Infauna dan epifauna (interstitial microfauna, crustacea, worms dan moluska) terdapat pada supra tidal sampai dengan ketinggian subtidal. Stabilitas komunitas biologi bervariasi dan umumnya berasosiasi dengan vegetasi pada areal berpasir yang stabil di atas ketinggian supratidal. Area ini merupakan habitat yang baik bagi pengunjung sementara berupa burung, penyu dan anjing laut. 3.2. Habitat Central Basin (Pusat Basin) Pusat basin adalah uniform, lingkungan energi yang lemah di kedalaman yang dalam di basin dan merupakan wilayah yang tenang di estuari dan sebagai deposit dari sedimen di barrier pada tipe estuari yang didominasi gelombang. Pada basin terdapat kangungan bahan organik di dalam sedimen yang berupa lumpur dan lumpur berpasir. Pada batas perairan yang dangkal dari pusat basin, jenis sedimen umumnya sering berupa coarse sedimen (pasir), hasil dari gelombang yang disebabkan oleh angin dan akibat fluktuasi tinggi muka laut di beberapa estuari. Konsentrasi karbonat pada umumnya rendah, tetapi secara lokal juga ditemukan cangkang-cangkang dari hewan bioherm. Konsentrasi bahan organik pada umumnya sangat tinggi dicirikan oleh warna sedimen yang hitam dan abu-abu. Permukaan sedimen umumnya datar dan tidak ada vegetasi yang hidup, tetapi ditemukan pula beberapa jenis padang lamun yang tumbuh di perairan yang lebih dangkal. Kondisi sub-surface sedimen anoxic, tetapi banyak terdapat biopertubasi karena kelimpahan dari infauna dan epifauna yang besar.

16

3.3.

Habitat Channel (Kanal Sungai)

Lingkungan kanal memiliki energi yang besar karena adanya pergerakan massa air akibat dari pasang surut (tidal channel) atau kanal sungai (fluvial channel). Oleh karena itu, salinitas, kualitas air dan sedimen bervariasi, tetapi banyak ditemukan deposit sedimen coarse dan pasir sampai dengan gravel pada dasar kanal. Seringkali pada kanal berasosiasi dengan delta karena adanya aliran fluvial, pasang tinggi delta, tidal sand bank, intertidal flat, dan mangrove pada lingkungan macrotidal. Kanal merupakan daerah transisi dan perpaduan antara aliran sungai dan aliran massa air pasut. Kanal merupakan daerah yang tidak memiliki deposit tetap dan kadangkala terjadi erosi. Konsentrasi karbonat dan bahan organik bervariasi dan pada umumnya tinggi pada daerah tropis. Daerah kanal biasanya merupakan daerah subtidal, tetapi daerah macrotidal di sepanjang jaringan kanal dibentuk daera energi pasang surut yang rendah. Kanal merupakan daerah yang penting bagi banyak organisme estuari dan laut tergantung dari besarnya salinitas dan kekeruhannya dan juga kanal sebagai tempat tinggal dan akses bagi organisme predator yang besar. Kanal juga sebagai tempat tinggal yang baik untuk padang lamun. 3.4. Habitat Flood and Ebb Tidal Delta (Delta dengan Pasang Naik dan Pasang Surut)

Pasang tinggi dan rendah delta adalah daerah subtidal sampai supra tidal berpasir dan dan berbentuk kanal, umumnya ditemukan di pintu masuk dari tipe estuari yang di dominasi gelombang dan delta (berdampingan dengan tipe barrier) dan dibentuk dari distribusi keluar masuk sedimen karena adanya pergerakan massa air akibat pasang surut. Ukuran sedimen berbentuk halus, quarzt dan pasir. Ukuran gravel kadang ditemukan ketika terjadi pasang tinggi dan aliran arus akibat pasut yang besar. Konsentrasi mineral berat terdapat dalam jumlah yang sedikit. Konsentrasi karbonat umumnya tinggi dan konsentrasi bahan organik umumnya rendah. Pasang naik akan berorientasi membentuk terjadinya gelombang pecah kuat dengan panjang gelombang yang besar (shoal) akan membentuk butiran pasir yang halus dan pada saat surut akan membentuk gelombang pecah yang lemah dan akan membentuk butiran pasir sedang. Padang lamun dan komunitas yang berasosiasi dengannya, seringkali terjadi dimana arus pasang lemah. Infauna dan epifauna seperti interstitial microfauna, crustacea, worms dan moluska terdapat pada daerah supratidal sampai subtidal. 3.5. Habitat Fluvial Delta (Delta dengan Aliran Sungai) Delta dari aliran sungai merupakan hasil bentukan dari proses geomorphologi dengan asosiasi yang kompleks, jenis sedimen dan habitat dari ekologi pada saat sumber dari air tawar memasuki badan air dari estuari. Kondisi lingkungan dimulai dari kanal subtidal melalui daerah intertidal sampai tepi daratan dan mulut dari barrier. Pada mulul kanal kecepatan aliran dari sungai akan berkurang secara drastis ketikan memasuki laut atau pusat basin. Pada bagian depan dari muka kanal sungai adalah tempat deposit dari sedimen. Tipe sedimennya berupa pasir halus dan gravel dengan butiran pasir yang terdistribusi berurutan, lumpur dan bahan organik dari daratan. Deposisi dari sedimen dan bahan organik memiliki siklus sesuai dengan siklus dari pasang surut. Konsentrasi karbonat rendah dan konsentrasi bahan organik umumnya besar. Pembentukan endapan sedimen dasar yang terbentuk dengan cepat pada tipe aliran sungai yang besar dan energi pasang surut yang kecil. Pada daerah supratidal ditumbuhi dengan baik berupa

17

habita dari saltmarsh, mangrove atau ekosistem tumbuhan daratan. Variasi salinitas yang besar akan menyebabkan spesies ikan dan crustacea sangat terbatas. 3.6. Habitat Inner Continental Shelf (Dasar Paparan Benua) Pada daerah inner continental shelf memiliki lingkungan dari laut dangkal, berasal dari laut lepas yang masuk ke daerah ini. Dasar perairan dan jenis sedimennya bervariasi tergantung dari gelombang pasut dan kondisi iklim. Biota yang hidup di dalamnya umumnya berasal dari laut atau organisme yagn berasal dari dalam estuari yang masuk pada saat kondisi ekstrim dimana aliran sungai sangat besar. Hal ini tergantung dari kondisi lokal di estuarinya. 3.7. Habitat Intertidal Flats (Daerah Intertidal Datar) Daerah intertidal mud flat umumnya tidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, umumnya memiliki gradien rendah dan energi lingkungan yang rendah, memiliki jenis sedimen pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Jenis gravel dapat terjadi dalam jumlah yang sedang pada daerah dangkal aliran sungai dan sedimen coarse biasanya terdapat pada daerah pada batas surut terendah. Konsentrasi karbonat sedang sebagai cerminan dari kandungan kulit cangkang di sedimen dan konsentrasi dari bahan organik bervariasi tetapi pada umumnya tinggi. Intertidal flat terdapat pada daerah yang luas dan lebih intensif pada daerah sistem makrotidal. Permukaan cenderung terbentang pada ketinggian dari mean low water spring sampai mean high water spring dan umumnya datar dan tidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, tetapi jika terdapat kanal dari sungai yang membelah daerah intertidal flat akan ditumbuhi tumbuhan dari spesies saltmarsh. Aktifitas biologi berasal dari pengunjung pasang naik dan pasang surut selain dari biota tetap di daerah ini. Burrowing infauna, crustacea, moluska, ikan dan burung terdapat dalam jumlah yang besar. 3.8. Habitat Mangrove (Bakau) Lingkungan mangrove umumnya terdapat sedimen yang ditumbuhi oleh jenis hutan mangrove yang tahan terhadap toleransi salinitas. Kadangkala pada daerah tropis di daerah mangrove juga diikuti saltmarsh meskipun tidak selalu ada bersamaan. Mangrove banyak terdapat didaerah tropis dan tumbuh baik dari mulai rata-rata muka laut sampai pasang tinggi. Sedimen terakumulasi akibat dari akar-akar mangrove yang berfungsi sebagai jebakan sedimen. Jenis sedimen dibawah mangrove berukuran silt dan clay. Konsentrasi karbonat umumnya rendah dan konsentrasi bahan organik sangat tinggi. Mangrove mendukung komunitas yang produktif baik flora maupun fauna. Pada habitat hutan mangrove banyak ditemui organisme seperti burrowing infauna, epifauna invetrebrata (organisme sesil dan crustacea), moluska dan organisme pengujung pada saat surut dan pasang seperti ikan dan burung. 3.9. Habitat Rocky Reef (Bebatuan dan Terumbu Karang) Habitat karang berbatu dengan substrat keras terdapat pada daerah ketinggian supratidal dan subtidal. Permukaannya pada umumnya bukan sebagai tempat deposit sedimen bahkan kadangkala terjadi erosi. Organisme yang menyusunnya didominasi oleh epifauna dan komunitas alga. Bentuk dasar bebatuan sebagai pengontrol pembentukan aliran air pada saat pasang atau surut atau pada saya air masuk dan mengalir kembali dari gelombang. Di bawah batas air, biasanya ditempati habitat termasuk intertidal rocky shore sampai pada subtidal reef. Dasar bebatuan dan terumbu karang membatasi keberadaan habitat dengan organisme burrowing, tetapi merupakan habitat yang penting

18

bagi organisme sesil, organisme dengan kondisi tempat tinggal yang memadai dan berasosiasi dengan komunitas ikan. 3.10. Habitat Saltmarshes (Rawa Payau) Lingkungan saltmarsh terdapat pada high-intertidal sampai supratidal tumbuhan halophytic seperti lamun yang memiliki toleransi terhadap salinitas, alang-alang, sedge dan belukar dengan kondisi sedimen yang stabil yang disuplai dari air yang masuk. Jenis sedimennya berupa sandy silt dan clay dengan kondisi yang anoxic. Konsentrasi dari karbonat kecil dan konsentrasi dari bahan organik tinggi. Saltmarsh umumnya terdapat pada daerah temperate dan kadangkala berasosiasi dengan mangrove pada daerah beriklim tropis. Saltmarsh memiliki gradien yang rendah dan membelah daerah yang tergenang kolam air payau. Saltmarsh berasosiasi dengan tumbuhan dan sebagai habitat dari bioturbasi infauna dan epifauna invertebrata dan juga pengunjung transisi seperti ikan dan burung. 3.11. Habitat Salt Flats (Perairan Datar dengan Salinitas Tinggi) Salt flat atau saline supratidal mudflat terdapat pada daerah dengan lingkungan yang memiliki uap air yang besar, banyak terdapat di daerah tropis dan sedikit tergenang air oleh pasut. Jenis sedimennya berbentuk sandy silt dan clay, termasuk deposit mineral seperti gypsum dan halite dan pecahan-pecahan cangkang. Konsentrasi karbonat sangat tinggi dan konsentrasi dari bahan organik umumnya rendah. Salt flat cenderung memiliki gradien permukaan yang rendah dan kebanyakan tidak terdapat bentukanbentukan pada bentang datarannya. Salt flat memiliki koloni alga yang beragam. Salt flat umumnya terdapat di atas rata-rata muka laut dan jarang tergenang oleh pasang, membentuk daerah yang memiliki lingkungan dengan tingkat evaporasi yang tinggi dimana beberapa jenis alga dapat tumbuh dan kadangkala ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan terhadap toleransi salinitas. Tingginya kadar salinitas di permukaan dan didalam tanah membatasi pertumbuhan vegetasi tingkat tinggi dan biota (beberapa infauna dan epifauna juga dijumpai pada dataran yang lebih rendah). Salt flat merupakan habitat yang baik bagi burung terutama pada musim hujan. 3.12. Habitat Tidal Sand Bank (Penumpukan Pasir karena Pasut) Tidal sand bank adalah daerah sedimentasi yang banyak ditemukan di daerah estuari dengan dominasi pasang surut, delta dan tidal creeks. Tidal sand bank umumnya berada pada ketinggian subtidal dan intertidal dan terdapat paparan pasir bergelombang dengan jenis sedimen dari lumpur sampai pasir. Kanal yang membelah tidal sand bank diliputi dengan arus yang kuat yang mengikis sedimen di dasar perairan dalam bentuk gravel yang bercampur dengan cangkang dan pecahan batuan debris. Sebaran sedimen besar di depan mulut kanal mulut sungai dan semakin kecil di depan estuari. Konsentrasi material karbonat umumnya besar dimana kandungan bahan organiknya umumnya kecil, tetapi umumnya tinggi pada daerah tropis. Shear stress dari arus pasut dan variasi morphologi dasar perairan menghasilkan proses turbulen baik untuk percampuran oksigen di perairan dan memiliki kekeruhan yang tinggi. Tidal sand bank dapat ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, tetapi memiliki produktifitas primer yang rendah karena adannya tingkat kekeruhan yang tinggi.

19

4.

Model Pemunahan dan Gangguan Biota

Model pemunahan dan gangguan biota dapat dilihat melalui ilustrasi pada gambar di bawah ini.

Gambar 16. Ilustrasi Model Penyebab Pemunahan dan Gangguan Biota di Perairan Estuari.

Pemunahan, kehilangan atau gangguan dari individu suatu organisme dari spesies tertentu akan menghasilkan penurunan biodiversitas. Biodiversitas adalah keanekaragaman hayati, seperti beragam tumbuhan, hewan dan mikro organisme yang membentuk suatu ekosistem. Merawat diversitas biologi adalah bagian dari menjaga sumberdaya hayati agar keberlangsungan hidupnya terjaga dan mendukung kehidupan di bumi. Kehilangan biota secara langsung disebabkan oleh kegiatan komersial dan rekreasi untuk menangkap ikan, banyaknya alat tangkap dan pengoleksi ikan hias adalah indikator yang menekan keberadaan suatu jenis organisme di estuari. Dampak dari kehilangan suatu spesies organisme sangat signifikan, suatu saat jika kegiatan ini berlangsung cukup lama akan mengurangi stok organisme di perairan estuari. Pemanfaatan jaring sebagai alat tangkap juga secara signifikan akan mengurangi spesies organisme yang bukan menjadi target tangkapan, seperti spesies dari hiu, ikan pari, lumba-lumba, dugong, pesut, penyu dan lain-lain. Selain itu juga padatnya lalulintas pelayaran juga akan menyebabkan hilangnya suatu spesies tertentu karena terkena benturan dan baling-baling perahu, seperti mamalia laut, hiu dan reptil laut. Faktor yang paling besar adalah akibat peningkatan populasi manusia di daerah estuari, sehingga sumberdaya estuari dimanfaatkan secara berlebihan.

5.

Model Pemunahan dan Gangguan Habitat

Model pemunahan dan gangguan biota dapat dilihat melalui ilustrasi pada gambar di bawah ini.

20

Gambar 17. Ilustrasi Model Penyebab Pemunahan dan Gangguan Habitat di Perairan Estuari.

Dampak dari kehilangan atau gangguan dari habitat akan berakibat global. Kehilangan habitat adalah penyebab utama menurunnya spesies di perairan estuari. Habitat adalah merupakan kunci dari beragam komunitas dari mulai estuari, pesisir dan atau subsistem laut dimana habitat ini memiliki tingkat biodiversitas, pariwisata, pemanfaatan oleh manusia dan nilai konservasi yang tinggi. Kehilangan habitat dapat disebabkan oleh berbagai faktor meliputi kegiatan konstruksi, pembangunan di tepi pantai, fasilitas laut, budidaya laut dan urbanisasi. Gangguan habitat juga terjadi dikarenakan adanya kerusakan oleh jangkar, erosi pantai akibat adanya perubahan alamiah atau buatan dari morphologi pantai. Kerusakan habitat juga dapat terjadi karena adalah kejadian alamiah yaitu badai dan tsunami. Dampak negatif potensial yang timbul akibat adanya perubahan habitat adalah erosi, deposisi sedimen, menurunnya kualitas perairan, hilangnya spesies pada habitatnya dan hilangnya nilai keindahannya.

6.

Kesimpulan

Interaksi faktor fisik, kimia dan biologi memberikan peranan yang nyata terhadap pembentukan suatu habitat di dalam ekosistem perairan estuari. Keragaman habitat yang terbentuk lebih banyak disebabkan oleh pembentukan struktur estuari oleh faktor fisik. Proses kimiawi perairan akan terjadi seiring dengan pembentukan struktur estuari oleh faktor fisik. Kondisi fisik dan kimia ini lambat laut akan memberikan suatu batasan bagi kehidupan suatu organisme. Organisme yang telah menyesuaikan diri akan tetap bertahan dan ditinggal di tempatnya membentuk struktur komunitas dalam suatu habitat. Oleh karena itu setiap habitat yang terbentuk memiliki ciri khas tersendiri baik fisik, kimia, biologi maupun kondisi ekologisnya. Pada tiap tipe estuari, akan memiliki satu atau lebih habitat yang menyusunnya dalam satu kesatuan ekosistem. Komposisi dan banyaknya habitat tergantung dari tipe estuarinya. Semakin stabil atau semakin kecil dinamikanya maka cenderung semakin

21

khas habitatnya. Selain itu semakin beragam bentukan morphologi estuari maka semakin banyak jenis habitat yang akan terbentuk.

7.

Pustaka

Alongi, D. M., Tirendi, F., Trott, L. A., and Brunskill, G. J., (1999) Mineralization of organic matter in intertidal sediments of a tropical semi-enclosed delta. Estuarine, Coastal and Shelf Science. 48:451-467. ANZECC and ARMCANZ, (2000). Australian and New Zealand Guidelines for Fresh and Marine Water Quality. National Water Quality Management Strategy Paper No. 4. Barnett, E. J., Harvey N, Belperio, A. P., and Bourman, R. P., (1997) Sea-level indicators from a Holocene, tide-dominated coastal succession, Port Pirie, South Australia. Transactions of the Royal Society of South Australia. 121:125-135. Bhattacharya, J. P. and Walker, R. G., (1992) Deltas. In: Facies Models: Response to Sea Level Change. Geological Association of Canada. pp 157-178. Bowers, D. G. and Al-Barakati, A., (1997) Tidal rectification on drying estuarine sandbanks. Estuaries. 20(3):559-568 Bryce, S., Larcombe, P., and Ridd, P. V., (1998) The relative importance of landward-directed tidal sediment transport versus freshwater flood events in the Normanby River estuary, Cape York Peninsula, Australia. Marine Geology. 149:55-78. Bucher, D. and Saenger, P., (1991). An inventory of Australian estuaries and enclosed marine waters: an overview of results. Australian Geographical studies. 29:370-381. Chappell, J. and Woodroffe, C. D. (1994) Macrotidal estuaries. In: Carter, R. W. G. and Woodroffe, C. D. (Eds.) Coastal Evolution: Late Quaternary Shoreline Morphodynamics, pp. 187-218. Cambridge University Press. Cooper, J. A. G., Ramm, A. E. L., and Harrison, T. D., (1994) The estuarine Health Index : a new approach to scientific information transfer. Ocean and Coastal Management. 25:103-141. Dalrymple, R. W., Zaitlin, B. A., and Boyd, R., (1992) Estuarine facies models; conceptual basis and stratigraphic implications. Journal of Sedimentary Petrology. 62:1130-1146. Edgar, G. J., Barrett, N. S., Graddon, D. J., and Last, P. R., (2000) The conservation significance of estuaries: a classification of Tasmanian estuaries using ecological, physicial and demographic attributes as a case study. Biological Conservation. 92 (3):383-397. Galloway, R., W., Story, R., Cooper, R., and Yapp, G., A., (1984) Coastal lands of Australia. Natural Resources Series No. 1. CSIRO. 59pp Green, M., O., and Macdonald, I., T., (2001) Processes driving estuary infilling by marine sands on an embayed coast. Marine Geology. 178:11-37. Gregory, D., and Petrie, B., (1994) A classification scheme for estuaries and inlets. Coastal Zone Canada. 5:1884-1893. Harris, P. T., Heap, A. D., Bryce, S. M., Porter-Smith, R., Ryan, D. A., and Heggie, D. T., (2002) Classification of Australian clastic coastal depositional environments based on a quantitative analysis of wave, tide and river power. Journal of Sedimentary Research. 72 (6):858-870. Heap, A., Bryce, S., Ryan, D., Radke, L., Smith, C., Smith, R., Harris, P., and Heggie, D., (2001) Australian estuaries and coastal waterways: A geoscience perspective for improved and integrated resource management. AGSO Record 2001/07 Kench, P., (1999) Geomorphology of Australian estuaries: a review and prospect. Australian Journal of Ecology. 24:367-380. McLean, E. J. and Hinwood, J. B., (1993) Model segmentation of estuaries using geomorphological, sedimentological and hydrodynamic evidence. Coastal engineering: a partnership with nature: Australasian Conference on Coastal and Ocean Engineering, 11th, 23-27 Aug 1993, Townsville QLD, Preprints of papers. Institution of Engineers, Australia, Barton ACT. National conference publication; no 93/4., pp 625-630. Nichol, S. L., (1991) Zonation and sedimentology of estuarine facies in an incised-valley, wavedominated, microtidal setting, New South Wales, Australia. In: Smith, D. G., Reinson, G. E.,

22

Zaitlin, B. A., and Rahmani, R. A., (Eds) Clastic tidal sedimentology. Canadian Society of Petroleum Geologists Memoir. 16:41-58 Nichol, S. L., (1991) Zonation and sedimentology of estuarine facies in an incised-valley, wavedominated, microtidal setting, New South Wales, Australia. In: Smith, D. G., Reinson, G. E., Zaitlin, B. A., and Rahmani, R. A., (Eds) Clastic tidal sedimentology. Canadian Society of Petroleum Geologists Memoir. 16:41-58 Ridd, P., Sandstrom, M. W., and Wolanski, E., (1988) Outwelling from tropical tidal salt flats. Estuarine, Coastal and Shelf Science. 26:243-254. Smith, C., Radke, L., Ryan, D., and Heggie, D., (2002) OzEstuaries: Future Developments. In: Proceedings of the 1st Australian National Coastal Conference, pp 371-374. Turner, A., Millward, G. E., and Tyler, A. O., (1994) The distribution and chemical composition of particles in a macrotidal estuary. Estuarine, Coastal adn Shelf Science. 38:1-17. Wright, L. D., Chappell, J., Thom, B. G., Bradshaw, M. P., and Cowell, P. J., (1979) Morphodynamics of reflective and dissipative beach and inshore systems: southeastern Australia. Marine Geology. 32:105-140.

23


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8501
posted:9/1/2009
language:Indonesian
pages:23