Docstoc

Penyebab Zonasi

Document Sample
Penyebab Zonasi Powered By Docstoc
					PENYEBAB ZONASI EKOSISTEM INTERTIDAL
Zona intertidal (pasang surut) merupakan daerah terkecil yang merupakan pinggiran yang sempit sekali dan terletak di antara pinggiran air tinggi dan air rendah (Gambar 1). Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun, dan kebanyakan faktor fisiknya, menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air.

Gambar 1. Letak Zona Intertidal Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur. Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen biotik (parameter fisika-kimia lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya. Secara umum daerah intertidal sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona. Zona pertama merupakan daerah diatas pasang tertinggi dari garis laut yang hanya mendapatkan siraman air laut dari hempasan riak gelombang dan ombak yang menerpa daerah tersebut backshore (supratidal), zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan pasang tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal)

dan zona ketiga adalah batas bawah dari surut terendah garis permukaan laut (subtidal).

Gambar 2. Pembagian Zonasi Pantai

Secara

umum

kita

dapat

membagi

tipe-tipe

pantai

berdasarkan

material/substrat penyusun dasar perairan, antara lain: 1. Tipe pantai berbatu 2. Tipe pantai berpasir 3. Tipe pantai berlumpur

Zonasi Vertikal Pantai Berbatu
Hamparan vertikal pada pantai berbatu amat beragam bergantung pada kemiringan permukaan berbatu, kisaran pasang surut, dan keterbukaan terhadap gerakan ombak (Nybakken, 1992). Jika kemiringan batuan landai, maka tiap zona akan menjadi luas, sebaliknya dalam kondisi pasang surut dan keadaan keterbukaan yang sama tetapi permukaannya tegak lurus, zona yang sama akan menyempit. Pantai yang mengalami kisaran pasang surut yang lebih besar mempunyai zona vertikal yang lebih luas, serta daerah yang terbuka cenderung mempunyai zona yang lebih luas di bandingkan pantai yang terlindung.

Gambar 3. Zona Pantai Berbatu

Penyebab zonasi Zonasi adalah distribusi atas & bawah organisme yang dipengaruhi

berbagai faktor. Dari semua pantai intertidal, pantai berbatu paling mudah dikenal dan menonjol zonasi organisme (pembagian horizontal) yang terlihat pada waktu pasang turun, tetapi ternyata sulit untuk mengetahui mengapa organisme tersebar di zona ini. Gagasan Lama Penyebab Zonasi

Gambar 4. (a) Emersion Kurva Devonport (Plymouth), oleh Colman dan Underwood. (b) Batas Kritis Tidal oleh Doty (1946) Menurut Colman (1933) dalam Raffaelli, 1996 bahwa batas-batas kritis pada pantai berubah dengan cepat, dan beberapa organisme mencapai batas atas dan bawahnya sebagai berikut : I. Batas bawah banyak terdapat organisme intertidal terletak antara surut terendah yang ekstrim (ELWS) & air surut rata-rata (MLWS).

II.

Jenis yang hidup di bagian tepi daerah sublitoral mempunyai batas atas antaraair surut rata-rata pasut purnama (MLWS) & air surut rata-rata pasut bulan setengah (MLWN).

III.

Batas atas beberapa organisme terjadi pada kondisi ekstrim, saat batas air tertinggi waktu pasang terendah (E(L)HWN).

Intisari dari pendapat zonasi terkini • Lebih menekankan pola zonasi yang dibagi antara batas zona atas & zona bawah secara terpisah & menggambarkan perbedaan antara tumbuhan & hewan sesil

Menurut Baker, 1909; Gowanloch and Hayes, 1926; Broekhuysen, 1941; Biebl, 1952; Southward, 1958; review: Newell, 1979 dalam Raffaelli, 1996 bahwa penyebab zonasi mengakibatkan organisme memiliki kemampuan yang berbeda dalam bertahan hidup di luar air, yaitu dengan kemampuan penyesuaian morfologi, fisiologi dan tingkah laku.

Penyebab Batas Zona Atas (Tumbuhan & Hewan Sesil) Pantai Berbatu Menurut Newell, 1979; Norton, 1985 dalam Rafaelli, 1996 bahwa faktor fisik seperti kekeringan atau tekanan termal yang membatasi distribusi batas atas pantai berbatu. Ketika organisme berada di udara terbuka (surut terendah), mereka mulai kehilangan air, sehingga organisme harus mempunyai sistem tubuh yang dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan air di udara terbuka.

Gambar 5. Mekanisme Adaptasi Terhadap Kehilangan Air Organisme Intertidal

Beberapa pengamatan secara alami seperti percobaan di lapangan menunjukkan bahwa kekeringan dapat membentuk batas atas bagi organisme dan zona-zona. Sebagai contoh, di zona beriklim sedang bagian utara, batuan yang kemiringannya menghadap ke utara biasanya mempunyai lebih banyak organisme dengan individu yang sama di bandingkan dengan batuan di dekatnya yang kemiringannya menghadap ke selatan. Begitu pula, gua-gua, batu karang dan celah-celah yang berada diatas tingkat pasang surut kritis akan tetap lembab ketika daerah yang terbuka menjadi kering, sehingga memungkinkan organisme dapat hidup di situ. Selain itu kekeringan biasanya bereaksi bersama-sama dengan suhu. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan kekeringan dan pengaruh sinergistik dari faktor tersebut mungkin lebih mematikan daripada jika tiap faktor itu bereaksi sendiri.

Gambar 6. Distribusi Lamun Sepanjang Intertidal Cahaya mengatur penyebaran alga intertidal, alga intertidal di bagi 3 kelompok yaitu alga merah cokelat dan hijau, dan ketiganya menyerap spektrum cahaya yang berbeda. Alga hijau berada di tempat paling atas karena menyerap sinar merah, alga cokelat ditengah dan alga merah yang menyerap cahaya hijau terdapat di daerah yang dalam. Hal ini disebabkan adanya interaksi beberapa faktor dan faktor biologis alga itu sendiri.

Penyebab batas bawah tumbuhan dan hewan sesil pantai berbatu Secara umum, faktor biologis lebih kompleks dan kadang – kadang sukar dipahami karena berkaitan erat dengan faktor- faktor lainnya. Persaingan di

antara organisme umumnya disebabkan karena makanan dan tempat (ruang) hidup. Di zona intertidal berbatu terbatas persediaan ruang hidup karena luas daerah yang terbatas. Akibatnya terjadi persaingan ruang yang intensif. Sebagai contoh penelitian yang dilakukan oleh Connell (1961), dimana dia menunjukkan bahwa terjadi persaingan ruang antara Chathamalus stellatus (Little gray bernacles) dengan Balanus balanoides (Rock bernacles).

Gambar 7. Interaksi Antara Faktor Fisik dan Biologi Contoh yang lebih kompleks mengenai persaingan adalah hasil penelitian Dayton (1971), mengenai persaingan antara kerang Mytilus californianus dan beberapa organisme teritip memperebutkan ruang di pantai terbuka. Pisaster dapat memangsa Thais dan teritip dari berbagai ukuran dan juga merupakan predator utama bagi Mytilus yang berukuran kecil atau sedang. Pisaster mampu mempengaruhi struktur keseluruhan komunitas di intertidal.

Gambar 8. Interaksi Antar Kerang, Teritip dan Predator

Alga intertidal juga sering menujukkan batas dalam penyebaran batas dan bawahnya. Hal ini disebabkan oleh tingkat pasang surut kritis, juga berkaitan dengan persaingan ruang dan cahaya. Sebagai contoh kelp besar yang dominan Hedophyllum sessile, Laminaria setchelli dan Lessionopsis littoralis, semuanya tumbuh lebat dan menyaingi beberapa spesies yang lebih kecil di daerah intertidal bawah. Zonasinya ditentukan oleh perubahan-perubahan faktor fisik yang berhubungan dengan kedalaman seperti cahaya dan gerakan ombak. Semakin dalam perairan, intensitas cahaya semakin terbatas. Sebagian lagi oleh persaingan antar spesies (Nybakken, 1992). Grazer dapat berperan dalam mengatur batas atas dan bawah spesies alga. Kelompok grazer yang dominan adalah berbagai limpet, bulu babi dan siput litorina.

Perilaku larva hewan sesil yang digerakan induknya pada zonasi Komunitas bentik substrat lunak dicirikan dengan penyebaran organisme yang tidak merata serta bervariasi tertentu kelimpahan dan komposisi spesies. Kebanyakan komunitas bentik laut mempunyai tahap larva bergerak bebas dan dapat memilih daerah yang akan mereka tempati. Larva tidak menetap begitu saja pada perairan atau substrat yang ada jika tiba waktunya untuk bermetamorfosis menjadi dewasa. Mereka mempunyai kemampuan untuk menunda selama jangka waktu tertentu sebelum mereka menemukan substrat yang cocok untuk menetap sebagai habitat hidup. Namun jika setelah jangka waktu tertentu mereka belum juga menemukan substrat yang baik, mereka akan melakukan metamorfosis pada substrat yang kurang baik tersebut. Ada 3 kemungkinan tipe dan cara strategi larva invertebrata bentik, cara pertama adalah planktotrofik dengan menghasilkan sejumlah besar telur-telur kecil. Telur-telur itu akan menetas menjadi larva yang berenang bebas sebagai plankton. Cara kedua lesitotrof dengan memproduksi lebih sedikit telur dan membekali dengan lebih banyak energi dari kuning telur. Telur-telur itu akan menetas menjadi larva dan karena mempunyai cadangan kuning telur, mereka tidak makan plankton. Cara ketiga larva non pelagik/juvenil dengan

menghapuskan tahap larva sama sekali. Telur akan mengalami perkembangan yang lama tanpa sumber energi tambahan.

Gambar 9. Pola Pemilihan & Penempatan Larva Planktonik Invertebrata Bentik Intertidal Kebanyakan larva mengapung bebas dan bersifat fototaksis positif sehingga memungkinkan mereka bebas bergerak cepat. Tetapi jika tiba waktunya untuk menetap, mereka menjadi fototaksis negatif dan bermigrasi ke arah dasar perairan. Ada beberapa larva yang sangat sensitif terhadap cahaya dan tekanan sehingga hanya menempati lapisan tertentu pada kolom perairan. Selain itu penyebaran yang menuju dekat dasar hanya untuk larva yang siap untuk menetap. Sedangkan spesies yang berlainan mempunyai waktu produksi yang berlainan juga dalam setahun Menurut MacArthur (1960), di kenal dua pola daur hidup organisme yang agak berbeda pada habitat mana pun juga, yaitu tipe oportunistik dan ekuilibrium. Namun, ada pula organisme yang bersifat antara keduanya dan mempunyai variasi campuran dari sifat-sifat tersebut. Pada perairan yang dangkal dengan substrat lunak dan banyak terdapat pergerakan ombak yang mengacaukan substrat tersebut dan mengangkat lapisan atas sedimen banyak ditemukan organisme tipe opurtunistik. Komunitas bentik umumnya terdiri dari opurtunistik. Sedangkan tipe ekuilibrium cenderung menempati perairan yang lebih dalam. Pemakan suspensi lebih melimpah pada substrat berpasir karena substrat biasanya lebih stabil sehingga tidak mengakibatkan tersumbatnya permukaan

penyaring makanannya. Sedangkan kebanyakan pemakan deposit melimpah pada sedimen lumpur dan lumak yang banyak mengandung bahan organik. Hal ini disebabkan karena organisme pemakan deposit menggali beberapa sentimeter teratas dari dasar dan menyebabkan lapisan berpatikel halus menjadi renggang dan tidak stabil dan lapisan ini mudah tersuspensi kembali oleh gerakan air. Namun keadaan ini tidak mematikan larvanya karena mereka menggali ke dalam substrat yang lebih padat di bawahnya. Dengan cara ini, pemakan deposit membentuk komunitasnya sendiri.

Faktor Penentu Beberapa Jenis Pantai
Pantai berpasir dan berlumpur memperlihatkan perbedaan yang nyata dari pantai berbatu. Seperti pada pantai berbatu, pantai berpasir dan berlumpur juga disusun oleh faktor-faktor fisik yang sama, tetapi kepentingan dari faktorfaktor ini dalam menyusun komunitas dan pengaruhnya terhadap substrat berbeda. Pantai Berpasir Faktor fisik yang berperan penting mengatur kehidupan di pantai berpasir adalah gerakan ombak. Gerakan ombak ini mempengaruhi ukuran partikel dan pergerakan substrat di pantai. Jika gerakan ombak kecil, ukuran partikelnya kecil, tetapi jika gerakan ombak besar atau kuat, ukuran partikelnya akan menjadi kasar dan membentuk deposit kerikil.

Gambar 10. Perbandingan Pantai Berbutir Halus & Pantai Berbutir Kasar

Pengaruh ukuran partkel terhadap organisme yang hidup pada pantai tersebut adalah pada penyebaran dan kelimpahannya. Butiran pasir yang halus mempunyai retensi air yang mampu menampung lebih banyak air di atas dan memudahkan organisme untuk menggali. Jadi tidak heran bila pada daerah ini banyak ditemukan organisme dibandingkan pantai berpasir kasar. Namun konsentrasi oksigen menjadi faktor pembatas, dimana pantai berpasir halus pertukaran air lambat sehingga dapat mengurangi persediaan oksigen. Gerakan ombak dapat pula mengakibatkan partikel-partikel pasir atau kerikil menjadi tidak stabil sehingga partikel-partikel substrat akan terangkut, teraduk, dan terdeposit kembali. Karena kondisi di lapisan permukaan sedimen yang terus menerus bergerak, maka hanya sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk menetap secara permanen sehingga inilah yang

menyebabkan pantai seperti terlihat tandus.

Gambar 11. Zonasi Pantai Berpasir Faktor lingkungan seperti suhu, kekeringan, serta gerakan ombak beraksi secara beragam pada tiap pasang surut. Kekeringan bukan merupakan masalah selama pasir pantai cukup halus sehingga dapat menahan air melalui kegiatan kapiler selama pasang turun. Pasir juga merupakan penyangga yang baik bagi perubahan suhu dan salinitas yang besar. Organisme yang berada di pantai berpasir mempunyai kemampuan beradaptasi dengan dua cara yaitu dengan menggali substrat sampai kedalaman yang tidak lagi di pengaruhi gelombang yang lewat, kemampuan menggali

substrat dengan cepat ketika gelombang lewat memindahkan organisme dari substrat. Adaptasi lain, kebanyakan molusca yang mengubur dirinya cenderung mempunyai cangkang yang licin dan berat. Adaptasi terakhir adalah mencegah terjadinya penyumbatan permukaan alat pernapasan yaitu dengan penyaring (sekat) yang dapat mencegah pasir masuk kedalamnya tetapi air dapat masuk. Tumbuhan makroskopik tidak ditemukan pada pantai berpasir terbuka. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada tempat yang cocok untuk menancapkan akarnya agar terhindar dari gerakan ombak. Akan tetapi diatom bentik yang kecil dapat tumbuh di atas butiran pasir. Tidak ada herbivora makroskopis, makanan organisme yang hidup di pantai ini bergantung pada fitoplankton yang terbawa air laut, dan runtuhan organik yang di bawa ombak, atau memakan hewan pantai lainnya. Ada pola zonasi organisme di pantai ini tetapi tidak sejelas dan semudah yang terdapat di pantai berbatu. Bagian paling atas sama dengan tepi sublitoral, biasanya di huni oleh krustacea dan kepiting yang bergerak cepat yang merupakan hewan penggali dan pemakan bangkai. Di daerah litoral tengah yang luas di huni oleh teritip dan kerang. Zona paling bawah dihuni oleh sejumlah organisme kerang besar, dolar pasir, berbagai cacing polichaeta, krustacea dan siput karnivora besar.

Pantai Berlumpur Pantai berlumpur terbatas pada daerah intertidal yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka. Pantai ini dapat berkembang dengan baik jika ada sumber partikel sedimen yang butirannya halus. Kemiringan pantainya lebih datar sehingga air di dalam sedimen tidak mengalir ke luar dan tertahan di dalam substrat. Lamanya waktu penyimpanan air di dalam sedimen dan tidak terjadi pergantian air sehingga banyak terdapat populasi bakteri sehingga menurunkan kadar oksigen di dalam sedimen yang terletak hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan. Beberapa penelitian menunjukkan pembagian spesies berdasarkan kedalaman substrat. Kebanyakan organisme yang menempati daerah ini

menunjukkan adaptasi dalam menggali dan melewati saluran yang permanen dalam substrat. Kehadiran organisme ditunjukkan oleh adanya berbagai lubang dipermukaan dengan ukuran dan bentuk yang berbeda. Ketika organisme

berada di dalam substrat, mereka harus beradaptasi untuk hidup dalam keadaan anaerobik atau harus membuat beberapa jalan yang dapat mengalirkan air dari permukaan yang mengadung oksigen ke bawah. Selain itu mereka juga mempunyai alat pengangkut misalnya hemoglobin yang dapat terus menerus mengangkut oksigen dengan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan dengan pigmen yang sama pada organisme lain. Polichaeta pemakan deposit genus Arenicola dan Capitella jumlahnya melimpah pada daerah ini karena banyaknya bahan organik dan populasi bakteri di sedimen. Kedua organisme ini menggali substrat, mencerna dan menyerap bahan organik (bakteri) dan mengeluarkan bahan yang tidak di cerna melalui anus. Arenicola spp,menggali saluran yang berbentuk U dengan ujung yang satu tegak lurus ke permukaan dan terbuka secara permanen sedangkan ujung yang lain berisi sedimen yang akan dicerna oleh cacing. Capitella spp, tidak membentuk saluran permanen melainkan bergerak seperti cacing tanah akuatik di lapisan permukaan substrat dan mencernanya. Sedikit terdapat herbivora walaupun bahan tumbuhan melimpah. Semua bahan tumbuhan masuk ke dalam rantai makanan hanya setelah mati dan terurai masuk ke dalam deposit rantai makanan.

Penyebab Zonasi Sepanjang Gradien Pantai
Organisme hewan dan tumbuhan yang terdistribusi atau terzonasi di sepanjang gradien menunjukkan bahwa dengan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan faktor fisik dan biologis.

a. Interaksi Ukuran partikel dan keterbukaan pantai

Interaksi antara ukuran partikel dan keterbukaan pantai di pengaruhi oleh hempasan gelombang. Hasil penelitian Walcott dan Jattu (2007) menemukan fenomena aksi gelombang mempengaruhi serta menjadi faktor yang membatasi distribusi dari spesies laut penghuni pantai berbatu dalam hal ini adalah bivalva Mytillus edulis. Dimana kepadatan bivalva meningkat seiring dengan

meningkatnya ekspose gelombang dengan kepadatan tertinggi terjadi pada area intermediate dari pantai yang terkena paparan gelombang. Kondisi pantai yang terbuka sangat cocok untuk organisme suspensi feeder seperti bivalva dan teritip atau predator yang menetap seperti anemon laut, karena pergerakkan air banyak membawa makanan. Sedangkan untuk organisme yang melekat atau yang aktif mencari makanan sangat sulit. Rendahnya atau ketiadaan turbulensi pergerakkan massa air dapat juga mengakibatkan terbatasnya suplai oksigen yang dibutuhkan baik oleh tanaman maupun bagi hewan serta nutrien terlarut bagi seaweeds. Hal ini yang ditemui oleh Hepburn, et al. (2007) pada komunitas kebun kelp di Paterson inlet, Pulau Steward, New Zealand daerah bahwa yang dengan adanya paparan aliran gelombang yang

mengakibatkan

terpapar

terdapat

osillatori

memungkinkan kandungan nutrien nitrogen anorganik tetap berada dalam kawasan sehingga dapat dimanfaatkan oleh organisme penghuni pantai.

Gambar 12. Pantai Berbatu (A) Terbuka dan (B) Terlindung Interaksi antara keterbukaan dan ukuran partikel mempengaruhi kondisi kehidupan yang berada dalam sedimen. Partikel-partikel yang lebih halus

membentuk pantai dan profil pantai yang lebih landai akan lebih lama menyimpan air karena lambatnya pergerakkan air dalam sedimen dan tingginya kapilaritas. Mikroorganisme seperti bakteri adalah organisme yang cukup kecil untuk melekat pada permukaan butiran pasir, karena bakteri tidak terdapat pada permukaan partikel yang berukuran kurang dari 10 µm. Partikel berukuran kecil akan menyediakan area permukaan yang relatif lebih luas terhadap volumenya dibanding partikel yang berukuran besar sehingga volume yang disediakan oleh substrat berlumpur lebih luas dibanding total permukaan untuk pelekatan bakteri pada volume yang sama dari sedimen di pantai berpasir. Hubungan antara luas permukaan dengan volume partikel merupakan suatu hubungan eksponensial sederhana dan pantai-pantai yang memiliki perbedaan walaupun hanya sejumlah kecil dari ukuran rata-rata partikel maka biomassa dari bakteri yang berasosiasinya juga berbeda. Ukuran rata-rata dari partikel merupakan refleksi akan pergerakkan air seperti aksi gelombang dan arus terutama pada daerah pantai terbuka, dan sebagiannya merupakan hasil dari proses evolusi secara geologi. Pasir halus hanya terakumulasi pada daerah pantai yang terlindung, tetapi pada tipe habitat berupa karang terjal akan didapati pada akhir dari gradien pantai yang terbuka.

Gambar 13. Gradien Ukuran Partikel

b. Interaksi Salinitas dan Ukuran Partikel.

Pantai yang mengalami aksi gelombang yang besar atau energi arus yang kuat memiliki partikel kerikil. Wilayah pantai yang jauh dari mulut estuari,

Sirkulasi arus pasang surut memiliki pengaruh yang kuat terhadap distribusi sedimen. Arus pasang surut pada saat pasang naik mentransportasikan

sedimen pasir ke arah atas estuari (kedalam) dan arus kuat pada dataran pantai yang miring merupakan bagian dari proses pendepositan material tersuspensi pada bagian dangkal dari daerah pantai yang rendah. Partikel berukuran besar memasuki kawasan estuari bersamaan masukan dari air tawar yang

terdepositkan pada daerah ujung dari intrusi air laut. Secara teoritis, sedimen menjadi lebih halus pada wilayah yang jauh dari jangkauan mulut hingga bagian atas (dalam). Bagaimanapun, karena kompleksnya karakteristik dari arus

pasang surut sehingga kehadiran yang terpisah antara pasang dan surut serta tak seragamnya garis pantai estuari sehingga pola yang jelas hampir tak terlihat.

Kesimpulan
Organisme sesil yang hidup di zona atas di pantai berbatu kemungkinan diatur secara langsung oleh faktor fisik. Sedangkan, batas bawah diatur oleh kompetisi, predator dan grazing. Organisme yang bergerak memiliki batas bawah dan atas yang dinamis. Karakteristik tersebut telah berkembang secara baik meliputi fisik dan interaksi biologi. Lingkungan fisik mempengaruhi distribusi baik secara langsung maupun tidak langsung setiap organisme. Dengan kata lain lingkungan fisik

mempengaruhi intensitas dan hasil dari interaksi biologi. Interaksi hasil percobaan manipulasi lapang menjadi nyata, dan diduga hasil ini menjadi lebih jelas terlihat langsung maupun tidak langsung baik fisik maupun biologi untuk menetapkan pola distribusi.

Daftar Pustaka
Barnes, R.S.K. and Hughes (1982) An introduction to Marine Ecology, Blackwell Scientifitc Oxford. David Raffaelli and Stephen Hawkins, (1996) Intertidal Ecology Chapman & Hall, 2-6 Boundary Row, London SEI 8HN. Dayton P.K. 1975.Experimental evaluation of Ecological dominance in a rocky intertidal algal comunity. Ecol Monogr. Hutabarat, H and Steward M. Evans. 2000. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia (UI-Press) Jakarta James W. Nybakken (1992) . Biologi Laut suatu pendekatan ekologi PT Gramedia Jakarta Karleskint, G, Jr. 1998. Introduction to Marine Biology. Harcout Brace College Publishers. USA. Sumich, J.L., 1992. An Introduction to the Biology of Marine Life 5 th Edition. Wm.C. Brown Publishers, USA


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2916
posted:9/1/2009
language:Indonesian
pages:16