Embed
Email

human impact on the shore

Document Sample

Shared by: ecko effendi
Categories
Tags
Stats
views:
4658
posted:
9/1/2009
language:
Indonesian
pages:
33
Tugas Ekologi Laut



HUMAN IMPACT ON THE SHORE



Oleh : EKO EFENDI C 551070051



DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



PENGARUH MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN PANTAI



1. Pendahuluan Manusia mempunyai suatu sejarah yang panjang tentang pemanfaatan pantai untuk makanan, transportasi dan sebagai tempat untuk tinggal. Bukti nyata penempatan dan pemakaian ditunjukkan oleh timbunan sampah prasejarah besar dari kerang-kerangan (Meehan, 1982 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996) dan sisa dari lautan lainnya, keduaduanya pada lokasi-lokasi yang terpencil dan di pusat pengembangan kota pantai modern (Cunliffe dan Hawkins, 1988). Suatu contoh yang khas adalah di mulut sungai Plym dan Tamar di Devon (UK). Di sini, ada bukti luas seminomadic di dalam Jaman Batu, jaman perunggu dan jaman besi (Cunliffe dan Hawkins, 1988 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Ada juga suatu pelabuhan Roma setelah jaman kegelapan menunjukan perdagangan Inggris dan pelabuhan angkatan laut di akhir medieval dan periode Tudor. Plymouth sebagai peninggalan kota pelabuhan sampai saat ini Di dalam tulisan ini, dibahas berbagai dampak manusia pada pantai dan estuari dengan cakupan yang luas dan detail dari studi kasus terpilih. Dimulai dari jaman awal pengumpulan tanaman dan hewan pantai, efek kronis polutan, masuknya spesies asing dan implikasi yang luas dari pengembangan, reklamasi terhadap ekologi pantai dikaitkan dengan kenaikan muka laut akibat pemanasan global.



2. Koleksi Tumbuhan Dan Binatang Laut Untuk Makanan, Umpan Dan Suvenir. 2.1 Spesies target Pada masa prasejarah sejumlah besar kerang-kerangan dikumpulkan oleh orangorang, pada mulanya tanpa perkakas, lalu menggunakan alat-alat sederhana seperti batu-batu. Sejumlah besar ikan yang bermigrasi ke daerah estuari, laguna, dan yang berada dekat pantai juga telah ditangkap sejak dahulu kala (Meehan, 1982 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996), menggunakan berbagai macam alat. Tanaman dan hewan telah juga digunakan untuk menangkap ikan. Penduduk Indian asli Amerika Selatan menggunakan berbagai ekstrak tumbuhan untuk membius atau membunuh ikan, seperti dengan Rotenon yang menyumbat insang. Di Jepang, burung Cormorant secara tradisional digunakan untuk menangkap ikan pantai. Eko Efendi – C 551070051 Page 1



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Ketergantungan yang besar pada kerang-kerangan menjadi ciri utama penduduk semi nomaden eropa pada awal abad ke 16-18. Pengumpulan kerang-kerangan, masih menjadi unsur penting aktivitas bagi penduduk yang telah menetap sebgai petani atau nelayan. Dalam banyak kasus cangkang kerang atau produknya digunakan sebagai atal tukar (uang). Di Eropa utara, saat ini relatif sedikit spesies yang dikumpulkan, terutama jenis siput (Littorina) dan remis (Cerastoderma). Kebanyakan kerang-kerangan dan tiram-tiram dibudidayakan dengan berbagai cara. Di Prancis, Spanyol, Portugal dan Kepulauan Atlantik (kepulauan Canaryi, Azores, Madeira), banyak spesies dikumpulkan untuk makanan, termasuk bulu babi, teritip bertangkai (Pollicipes), teritip acorn yang besar (Megabalanus di Kepulauan Atlantik), berbagai bivalvia, ketimun laut, gurita dan bermacam ketam. Di tempat lain, di negara berkembang, banyak hewan laut yang sekarang menjadi menu utama, terutama di Jepang dan Korea, pengumpulan kerang telah berubah dari aktivitas mata pencaharian hingga kegiatan dengan keuntungan komersial tinggi dan kerang-kerangan telah menjadi barang mewah. Binatang laut yang secara niaga penting berasal dari empat kelompok yaitu ikan bertulang keras dan ikan bertulang rawan, mamlia laut, moluska dan krustacea. Ikan haring, sardin dan teri merupakan kelompok ikan yang mempunyai tonase terbesar. Jenis ikan teri dari Peru (Engraulis ringens) hampir mencapai setengah dari hasil perikanan dunia. Kelompok ikan hering, teri, dan achoverta merupakan kelompok ikan klupeiod, berukuran kecil dan pemangsa pada trofik terendah. Hampir semua tidak dikonsumsi langsung sebagai makanan manusia, tetapi diolah menjadi protein kasar untuk makanan hewan. Kelompok ikan lain yang penting adalah kelompok ikan gadoid terdiri dari kan kod, haddock, pollock dan hake yang berasal dari Lautan Atlantik Utara dan Pasisfik Utara yang merupakan ikan demersal. Kelompok ketiga dalah ikan skombroid yang dikenal sebagai ikan makerel yang merupakan jenis karnivora pelagik. Kelompok ikan yang dekat dengan jenis ikan makerel adalah ikan tuna. Jenis ikan lain yang penting diantaranya redfish, rockfish, seabass, ikan sebelah yang dimanfaatkan sebagai makanan dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Kelompok ikan bertulang rawan seperti ikan hiu biasanya tidak dimanfaatkan secara langsung karena kandungan urea yang tinggi dalam dagingnya. Kelompok krustasea utama adalah jenis udang-udangan, kepiting-kepitingan dan udang lobster. Kelompok moluska yang utama adalah cumi-cumi, tiram, gastropod (Nybaken, 1988). Rumput laut merupakan salah satu hasil perikanan laut yang dapat menghasilkan devisa negara dan merupakan sumber pendapatan masyarakat pesisir. Sampai saat ini sebagian besar rumput laut diekspor dalam keadaan kering dan baru sebagian diolah menjadi agar-agar di samping dimakan sebagai sayuran. Jenis-jenis rumput laut yang sudah diolah Eko Efendi – C 551070051 Page 2



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



diantaranya Gracilaria sp., Gelidium sp. menjadi agar-agar yang dilakukan oleh negaranegara Jepang (Okazaki, 1971), Amerika, New Zealand, Australia maupun Indonesia (Sugiarto, 1978). Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika. Diantaranya sebagai nori, kombu, puding atau dalam bentuk hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk mentah sebagai sayuran. Adapun pemanfaatan rumput laut sebagai makanan karena mempunyai gizi yang cukup tinggi yang sebagian besar terletak pada karbohidrat di samping lemak dan protein yang terdapat di dalamnya Di samping digunakan sebagai makanan, rumput laut juga dapat digunakan sebagai penghasil alginat, agar-agar, carrageenan, fulceran, pupuk, makanan ternak dan Yodium (Okazaki, 1971). Beberapa hasil olahan rumput laut yang bernilai ekonomis yaitu 1. Alginat, digunakan pada industri :





farmasi sebagai emulsifier, stabilizer, suspended agent dalam pembuatan tablet, kapsul;



  



kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan cream, lotion dan saus. makanan : sebagai stabilizer, additive atau bahan tambahan dalam industri tekstil, kertas, keramik, fotografi dan lain-lain.



2. Agar-agar, banyak digunakan pada industri/bidang :

   



makanan : sebagai stabilizer, emulsifier, thickener mikrobiological : sebagai cultur media kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan lotion, cream dan salep. lainnya digunakan sebagai additive dalam industri kertas, tekstil.



Karaginan, biasanya diproduksi dalam bentuk garam Na, K, Ca yang dibedakan dua macam yaitu Kappa karaginan dan lota karaginan berasal dari Eucheuma cottonii dan Eucheuma striatum. Iota kagarinan berasal dari Eucheuma spinosum. Kedua jenis karaginan tersebut dapat berfungsi sebagai stabilizer, thickener, emulsifer, gelling agent, pengental. Pemakaian karaginan diperkirakan 80% digunakan di bidang industri makanan, farmasi dan kosmetik. Pada industri makanan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, additive atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, milk, pudding, instant milk, makanan kaleng dan bakery. Untuk industri non-makanan antara lain pada industri :





farmasi : sebagai suspensi, emulsi, stabilizer dalam pembuatan pasta gigi, obatobatan, mineral oil.







Industri-industri lain : misalnya pada industri keramik, cat dan lain-lain Page 3



Eko Efendi – C 551070051



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



2.2 Konsekuensi komunitas Ikan-ikan besar merupakan hewan yang paling terancam di lautan. Secara virtual semua spesies ikan pelagik besar di Atlantik telah mengalami overfishing. Billfish dan tuna merupakan ikan predator kunci di laut dengan menghilangkan banyak predator kan melemahkan strata rantai makanan yang tak dapat diprediksi. Over eksploitasi predator besar akan berdapak pada stabilitas ekosistem. Predator umumnya memiliki umur yang lebih lama dari mangsanya, sehingga akan lebih lambat merespon perubahan lingkungan. Larkin (1979) menyatakan bahwa peningkatan eksploitasi akan mengurangi jumlah total pemangsaan, hasilnya jumlah mangsa akan bertambah dan secara dramatis mengubah strata ekologis atau memicu pertumbuhan parasit, penyakit dan pengurangan makanan. Penghilangan spesies tertentu, atau himpunan dari spesies, dapat memberi efek pembentukan komunitas secara keseluruhan. Perpindahan antara ruang yang ditempati suatu spesies seperti teritip, kerang-kerangan, atau tunicates besar seperti Pyura (diambil untuk umpan) akan membukaruang dan memulai urutan suksesi. Penghilangan predator gastropods (untuk makanan atau souvenir) atau bintang laut (untuk souvenir) akan meningkatkan frekuensi dari materi mangsa mereka seperti teritip atau kerang-kerangan. Interaksi-interaksi kompetitif akan terganggu (Oliva dan Castilla, 1986 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Eksploitasi predator utama mungkin mempunyai konsekuensi yang lama untuk kumpulan-kumpulan pantai. Overfishing untuk udang laut dan ikan mungkin telah berperanan dalam overgrazing bulu babi dari kebun kelp Lautan Atlantik Utara. Perburuan gastropoda jenis giant triton, ikan napoleon telah menyebabkan populasi bintang laut berduri mengalami blooming yang mengakibatkan kerusakan terumbu karang dalam skala yang luas.



Eko Efendi – C 551070051



Page 4



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



3. Polusi Yang Kronis Salah satu konsekuensi dari kemajuan teknologi saat ini, adalah meningkatnya produksi dan penggunaan bahan kimia untuk keperluan manusia baik industri, pertanian dan rumah tangga. Kenyataan ini juga menyebabkan emisi sejumlah besar bahan kimia beracun ke lingkungan yang pada akhirnya juga meningkatkan ekspos bahan-bahan kimia ini ke tubuh manusia dan hewan. Karena itu, masalah lingkungan yang berkaitan dengan kontaminan beracun telah menjadi perhatian yang amat besar bagi banyak kalangan. Lautan telah lama dipandang sebagai tempat pembuangan sampah oleh manusia. Oleh karena itu laut dapat tercemar oleh berbagai bahan pencemar yang berasal dari daerah sepanjang pantai atau laut itu sendiri. Berbagai bahan pencemar dapat terakumulasi dalam organisme laut serta merusak ekosistem tempat organisme tersebut hidup. Dengan bertambahnya penduduk dunia dan makin meningkatnya industri mengakibatkan makin banyaknya bahan-bahan yang bersifat racun ysng dibuang ke laut dalam jumlah yang sulit untuk dikontrol secara tepat. Pada mulanya manusia berpikir dengan melihat luasnya lautan maka semua hasil buangan dapat ditampung oleh lautan sehingga tidak membahayakan. Bahan pencemar yang masuk ke lautan akan diencerkan dan kekuatan pencemarnya akan secara perlahan-lahan dilemahkan sehingga membuatnya tidak berbahaya.



3.1 Logam berat Logam-logam dalam berbagai bentuk adalah pembagun alamiah dari badan air dan air tawar dan diturunkan dari proses alamiah seperti erosi batuan dan aktivitas gunung berapi. Batuan dan tanah yang kontak langsung dengan air permukaan merupakan sumber alamiah terbesar dari logam di perairan. Pengendapan dan jatuhan atmosferik yang menghilangkan bahan partikulat atau aerosol dari atmosfer merupakan sumber penting laiinya. Masukan antropogenik meliputi sampah domestik, tambang, dan cairan buangan industri juga menyumbang logam ke perairan. Logam-logam diakumulasi oleh seluruh makhluk hidup perairan sampai beberapa tingkatan. Banyak logam dalam jumlah runutan sangat penting bagi makhluk hidup. Kepekatan logam sangat beragam tergantung dari faktor perkiraan terhadap sumber masukan, suhu dan salinitas (Clark, 1986). Daya racun logam berat ditentukan oleh faktor-faktor: senyawa logam berat yang teredapat dalam air, adanya unsur logam lain, faktor lingkungan yang mempengaruhi fisiologi organisme misalnya suhu, DO, cahaya, perubahan siklus hidup, Eko Efendi – C 551070051 Page 5



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



umur, makanan, seks dan adaptasi terhadap logam berat. Kesadahan dari perairan tersebut juga turut mempengaruhi toksisitas logam berat. Kesadahan yang tinggi dapat mengurangi toksisitas logam berat, karena logam berat dalam air dalam kesadahan yang tinggi akan membentuk senyawa kompleks yang mengendap dalam air. Contoh klasik pencemaran logam Hg dan Cd adalah di Teluk Minamata, Jepang. Bangsa Jepang telah membuang limbah logam berat ke dalam teluk sejak tahun 1940-an dan dampaknya baru terdeteksi pada tahun 1960-an.



3.2 Air pendingin Kehidupan di laut sangat peka terhadap perubahan suhu air. Suhu tinggi di laut dapat menyebabkan peneluran dini, migrasi ikan yang tidak alami, penurunan oksigen terlarut, atau kematian binatang laut. Air pendingin (cooling water) dan effluent dari beberapa industri dibuang ke laut pada suhu yang lebih tinggi dari laut itu sendiri. Temperatur limbah buangan yang lebih tinggi dari temperatus air laut dan kandungan klorin untuk mencegah penyumbatan saluran pembuangan menjadi faktor utama pencemaran dari pembangkit listrik. Pendinginan buangan limbah panas biasanya terjadi karena tercampur dengan air laut. Area yang terpengaruh oleh limbah ini dibatasi oleh plume air panas dan kecepatan arus lingkungan disekitarnya. Meskipun dengan demikian arah arus yang membawa plume dapat berubah karena arus pasang surut dan dengan demikian total area yang terpengaruh akan menjadi lebih besar. Sangat sulit untuk membedakan efek dari limbah panas dengan limbah lainnya. Karena air pendingin umumya telah diolah dan terkadang diselingi dengan pemberian klorin yang menghalangi pengendapan organisme pada sistem heat exchange. Scouring yang terjadi di dasar laut disebabkan aliran plume yang dapat merubah aliran alami lingkungan alut dan juga mempengaruhi biota. Pengaruhnya biasa terbatas sekitar saluran pembuangan. Ganggang laut coklat seperti Ascophyllum dan Fucus akan menghilang dari daerah pantai berbatu ketika terjadi kenaikan temperatur 27-30 akibat limbah buangan pembangkit di Maine, dan diikuti dengan



peningkatan Enteromorpha intestinalis di dekat daerah pembuangan. (Vadas et al., 1976 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Dampak-dampak di perairan tropis cenderung untuk bersifat lebih besar karena spesies didaerah tropis mempunyai rentang toleransi yang sempit terhadap perubahan temperatur lebih dari 2 – 3oC, sehingga peningkatan temperatur pada beberapa sepesies akan melebihi nilai ambang yang mematikan. Sponge, moluska, dan krustasea mati pada suhu Eko Efendi – C 551070051 Page 6



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



diatas 37oC. Peningkatan suhu juga akan menyebabkan pemutihan pada terumbu karang Jokiel dan Coles (1990), selain itu akan mempengaruhi hutan mangrove (Banus, 1983), dan kematian seagrass di dekat instalasi nuklir di Turkey point di Florida. Spesies intertidal umumnya lebih mampu bertahan pada suhu yang lebih tinggi daripada spesies bentik.



3.3 Hydrokarbon Ketika sejumlah minyak tumpah dilautan maka berbagai proses pelapukan secara fisik, kimia dan biologi akan terjadi. Pergerakan dan penyebaran slick akan terjadi dengan cepat pada kondisi yang tenang untuk lapisan yang tipis, pada kondisi yang kurang ideal makan penyebaran akan dipengaruhi oleh angin, keadaan laut, dan temperatur laut. Proses penyebaran akan semakin meningkat dengan adanya evaporasi. Evaporasi akan sangat tergantung dari faktor lingkungan seperti temperatur udara dan laut, angin dan keadaan laut. Kecepatan evaporasi juga dipengaruhi oleh konsentrasi minyak dan banyaknya jumlah atom C yang terikat (Riley, 1989). Kebanyakan komponen minyak mentah memiliki kelarutan yang terbatas di air (bahkan sangat tidak mungkin untuk > C10), tingkat kecepatan disolusi tergantung dari kondisi cuaca (Riley, 1989). Setelah minyak dengan berat molekul ringan terevaporasi, komponen terlarut mengalami disolusi dan komponen tak dapat dilarutkan (immescible) akan teremulsi. Kecepatan emulsi akan dipengaruhi oleh gangguan yang diakibatkan oleh gelombang dan turbulensi.



Gambar 1. Fate pencemaran minyak



Eko Efendi – C 551070051



Page 7



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Komponen minyak yang tidak larut dalam air akan mengapung pada permukaan laut sehingga meyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak akan tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai. Hal ini menimbulkan pengaruh yang luas tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan. Beberapa kasus pencemaran minyak telah menghancurkan hewan dan tumbuhan yang hidup di batuan dan pasir wilayah pantai, juga merusak area mangrove serta daerah payau secara luas. Hutan mangrove, yang merupakan sumber nutrien dan tempat pemijahan bagi ikan, dapat rusak oleh pengaruh minyak. Hal ini dikarenakan sistem perakaran hutan mangrove yang berfungsi untuk pertukaran CO2 dan O2 akan tertutup minyak sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang dan akan berpengaruh terhadap kehidupan mangrove secara keseluruhan. Begitu juga dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang terkena kontak langsung dengan minyak. Kerusakan akibat dari kontaminasi minyak antara pembuangan/tumpahan tunggal dan pembuangan tunggal dan pembuangan dengan konsentrasi rendah yang terus menerus akan berdampak lain. Pada kasus tumpahan tunggal, seperti kecelakaan tanker, dampak awal yang hebat adalah kematian dan berkurangnya spesies. Pemulihan ini hanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk pantai berbatu dimana area dapat dibersihkan dengan cepat atau untuk di dasar atau beberapa tahun untuk di dasar atau area rawa dimana minyak tahan untuk periode waktu yang lama (tabel 1.) (Hyland dan Sceneider, 1976 dalam Bishop, 1983). Tabel 1. Efek minyak pada komunitas dan populasi laut.

Tipe komunitas/populasi Plankton Komunitas bentik  Pada pasut bebatuan  Pada pasut berlumpur atau berpasir  Pada daerah sub tidal atau offshore Ikan Burung Mamalia laut Perkiraan dampak awal Ringan – sedang Ringan Sedang berat Ringan – sedang Berat Ringan Perkiraan tingkat pemulihan Cepat – sedang Cepat Sedang Lambat Cepat – sedang Lambat Lambat



Daerah pasang surut umumnya dapat pulih dengan cepat ketika gelombang membersihkan area yang terkontaminasi minyak dengan sangat cepat. Dengan alasan yang sama, pantai berbatu akan pulih lebih cepat dibandingkan dengan lapisan dasar yang lembut dimana minyak akan bertahan untuk periode yang lama. Kontaminasi tingkat rendah yang berkelanjutan dari pelabuhan, kilang minyak atau pabrik pengolahan limbah, tidak menyebabkan kematian spesies seperti pada tumpahan tunggal. Minayak akan terakumulasi dan menghitam secara berangsur-angsur, dan secara berangsur-angsur pula terjadi perubahan dalam struktur komunitas dan populasi akrana efek sublethal kronik yang terjadi. Eko Efendi – C 551070051 Page 8



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



PAH adalah komponen organik derivatif dari mineral minyak bumi dan batubara (fossil fuel), merupakan senyawa hidrokarbon (HC) dengan kandungan karbon siklik komplek, bersifat persisten dan toksik terhadap beberapa jenis biota laut. Dalam alam aktivitas mikroba juga mampu menghasilkan senyawa (biosynthesis) PAH. Toksisitas senyawa PAH dalam perairan sangat tergantung pada faktor faktor : karakteristik senyawa PAH, kadar senyawa PAH, kadar O2 terlarut, temperatur, salinitas, aktivitas mikroba, jenis biota laut, lamanya pemaparan. Efek akut terhadap biota laut terjadi apabila senyawa PAH (C8-C14) memiliki toksisitas dan kelarutan tinggi, senyawa PAH dengan jumlah karbon tinggi (C>14) bersifat kurang toksik (efek kronis) karena kelarutannya yang rendah. Efek kronis yang ditimbulkan antara lain (Neff, 1979) :       Meningkatkan permebilitas sel tubuh, menimbulkan gangguan terhadap osmosis dan pertukaran ion sel Mengganggu reaksi cahaya untuk proses fotosintesis fitoplankton Akumulasi secara biologis Mengganggu perkembangan embrio dan larva biota laut Menghambat kemampuan makan Mengganggu sistem reproduksi



Efek toksik PAH terhadap fitoplankton berdasarkan pada beberapa hasil penelitian adalah mereduksi penetrasi cahaya dan kecepatan fotosintesis. Sementara efek toksik PAH terhadap zooplankton dapat meningkatkan mortalitas, menyebabkan pertumbuhan abnormal serta perubahan perilaku dan metabolisme. Pada organisme karang dan bentik senyawa PAH menyebabkan penutupan permukaan karang dan sedimentasi oleh fraksi beratnya (senyawa PAH C>14). Termakannya sedimen yang terkontaminasi fraksi berat senyawa PAH oleh organisme bentik juga dapat meningkatkan mortalitas dan menyebabkan pertumbuhan abnormal. Efek toksik senyawa PAH terhadap ikan dapat menyebabkan kegagalan penetasan telur, deformiti dan kematian stadia larva. Namun ikan memiliki kemampuan untuk menghindar, memetabolisme dan mensekresikan metabolit senyawa PAH.



Eko Efendi – C 551070051



Page 9



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



3.4 Limbah domestik dan eutrofikasi Eutrofikasi terjadi ketika suplai nutrien terutama nitrat dan fosfat didalam perairan meningkat melebihi batas kemampuan fotosintesis normal suatu komunitas dalam ekosistem tersebut. Produktivitas dari sebagian besar sistem di perairan dapat dipengaruhi oleh terbatasnya masukan nutrien, misalnya fosfat dalam perairan tawar dan nitrogen dalam perairan laut (Howarth, 1988). Penambahan suplai nutrien ke dalam perairan akan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan makrorganisme fitoplankton. Pembuangan limbah dapat diasosiasikan dengan penambahan karbon organik terlarut, warna air yang rendah dan substansi toksik lain, yang tergantung dari sumbernya (Neverauskas, 1987; Livingston et al., 1998 dalam Runcie et al., 2006). Aliran buangan yang berisis bahan organik yang berasal dari manusia menyebabkan peningkatan sulfida dalam sedimen di Pantai Florida; sementara jaringan bawah dapat mentoleransi terhadap tingkat sulfide yang tinggi, ketika dikombinasikan dengan temperatur dan salinitas yang tinggi, tingkat sulfida yang tinggi berkontribusi terhadap mati pucuk daun seagrass Thalasia testudinum ( Koch &Erskine, 2001 dalam Runcie et al., 2006). Limbah pertanian menyebabkan eutrofikasi yang diakibatkan akumulasi bahan organik seperti sisa tumbuhan yang membusuk. Selain itu kegiatan dari pertanian berupa perladangan berpindah, penebangan hutan akan menimbulkan sedimentasi dan pendangkalan sungai. Pestisida yang digunakan untuk memberantas hama, yang bervariasi jenisnya, yang mempunyai sifat fisik-kimia yang berbeda-beda. Di antara semua jenis pestisida, insektisida organoklorin dikenal sangat persisten, seperti DDT, dieldrin, endrin, klordane dan heptaklor. Materi organik dan anorganik di limbah pertanian akan meningkatkan produksi sekunder pada perairan pantai dan terjadi pergeseran komposisi spesies yang didominasi polychaeta dan oligochaeta. Perubahan-perubahan konsentrasi nutrien di perairan pesisir bisa mengubah produktivitas nutrien berbasis laut dan mungkin mengubah frekuensi blooming alga berbahaya yang berdampak bagi sumberdaya ikan dan kerang, sehingga mempengaruhi kegiatan-kegiatan komersial maupun kegiatan mata pencaharian. Perubahan produksi primer laut akan mempengaruhi aliran energi, dan standing stock (cadangan tetap), ke topik level yang lebih tinggi termasuk ikan konsumsi manusia. Perubahan-perubahan ini bisa mengubah kelayakan ekonomis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sumberdaya hayati dengan mempengaruhi spesies-spesies ekonomi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan



sumberdaya hayati dengan mempengaruhi spesies-spesies ekonomi penting seperti udang penaid. Eko Efendi – C 551070051 Page 10



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Pengkayaan bahan organik akan mempunyai dampak positif terhadap trofik level yang lebih tinggi, akan tetapi dapat juga memicu blooming alga oportunis seperti Enteromorpha, Cladophora, dan Ulva, sampai diluar batas kemampuan wilayah untuk menampung pertumbuhannya (Knox, 1986 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Pencemaran limbah organik mudah terurai seperti yang bersal dari aktivitas rumah tangga akan berakibat meningkatanya populasi bakteri, gas-gas terlarut yang bersifat racun (NH3, S2-, CH4) dan menurunnya kadar O2 terlarut karena dimanfaatkan oleh bakteri untuk proses respirasi. Bila beban pencemaran limbah organik tinggi, maka kadar O2 terlarut akan menurun drastis dan mengakibatkan kematian biota air (Bacci, 1987). Selain itu kematian biota air juga disebabkan oleh gas-gas beracun terlarut yang diakibatkan proses degradasi bahan organik oleh bakteri pembusuk. Kematian biota air akibat kekurangan O 2 terlarut disebut aspisiasi atau sufokasi. Limbah rumah tangga masuk keperairan laut secara langsung dari outfall di pinggir pantai dari sungai yang bermuara ke laut dan dari aliran air hujan. Sekitar 2000 juta galon limbah rumah tangga perhari dibuang secara langsung ke laut di seluruh Amerika, dari sekitar 170 kota dan 80 buangan industri (Bishop, 1983). Di Indonesia pencemaran limbah rumah tangga banyak terjadi, terutama di kota-kota besar dekat daerah pantai. Dampak pencemaran ini ditandai dengan peningkatan penyakit diare dan membengkaknya biaya pengolahan air. Limbah cair yang dihasilkan oleh rumah tangga banyak mengandung bahan organik yang dicirikan dengan tingginya nilai BOD (Biological Oxygen Demand) pada air yang tercemar limbah ini. Sekitar 50-70% beban BOD sungai diperkotaan dihasilkan dari rumah tangga, sedangkan sisanya 25-50% berasal dari industri. Aliran sungai ini akhirnya bermuara ke pantai dimana bahan organik akan diakumulasi ( meskipun sebagian telah terdegradasi), dan kemudian menciptakan kawasan anoksik. Tingginya nilai BOD menunjukan penurunan DO di laut yang berbahaya bagi komunitas biologi laut, bahkan dapat menyebabkan kematian kehidupan laut. Pengurangan kadar oksigen sering mengakibatkan peristiwa ikan mungut (ikan mati masal akibat kekurangan oksigen). Selain itu, banyaknya bahan organik yang masuk ke lingkungan laut dapat menimbulkan kelebihan pasokan unsur hara yang dapat merangsang ledakan pertumbuhan alga. Limbah rumah tangga juga mengandung bakteri Faecal coliform dalam konsentrasi tinggi yang dihasilkan dari buangan tinja manusia. Hal ini menimbulkan potensi penularan penyakit oleh bakteri patogen di dalam limbah. Selain itu padatan terlarut yang terkandung dalam limbah rumah tangga juga dapat mengganggu pernafasan organisme yang tinggal di dasar laut akan menyumbat organ makan dari organisme filter feeder dan insang dari ikan. Eko Efendi – C 551070051 Page 11



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Selain itu, padatan terlarut yang tinggi yang terkandung dalam limbah organik dapat menimbulkan kekeruhan dan mengurangi penetrasi cahaya untuk proses fotosintesis. Meskipun dampak ekologi daripada limbah seringkali terbatas pada area pantai, namun hal ini juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Hewan filter feeder , seperti kerang dan tiram serta sebagian ikan dasar, akan mengakumulasi limbah beracun yang tersaring tubuhnya, sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia, kandungan bahan beracun dalam tubuh hewan tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dalam jumlah banyak. Salah satu strategi menjaga kebersihan pantai adalah memparpanjang jarak antara lokasi industri dan pemikiman dengan muara sungai. Limbah padat biasanya tersaring lebih dulu. Masalah akan muncul ketika pipa pembuangan limbah tidak mencukupi atau ditempatkan dengan kurang sempurna, yang akan mengalirkan limbah cair ke perairan pantai, sehingga pembuangan terganggu. Proses kedua yang dapat dilakukan adalah: menurunkan kandungan BOD dan limbah padat yang terlarut. Sedangkan proses ketiga adalah; menghilangkan kandungan nutrien dan menurunkan lagi kandungan BODnya, hal ini merupakan solusi terbaik meskipun ongkosnya sangat mahal.



3.5 Cat antifouling Penggunaan cat anti organisme penempel ternyata telah menimbulkan pencemaran logam berat yang serius di laut serta sedimen di dekat dok dan tempat sandar kapal. Cat ini dirancang untuk secara terus menerus mengeluarkan racun untuk membunuh organisme penempel di dasar kapal. Senyawa yang dikandung adalah tembaga, timbal, timah, zink, atau air raksa. Tributyltin (TBT) dan produk turunannya bersifat beracun dengan variasi yang lebar tehadap organisme laut, dan efek sub-letal telah ditunjukkan terjadi pada konsentrasikonsentrasi sangat rendah, ( 10 -9 g) per liter. Sayangnya, konsentrasi-konsentrasi di perairan yang dekat pantai dapat mencapai 40 ng l-1, dan di pelabuhan atau dok kapal mencapai 880 ng 1-1 (Cleary dan Stebbing, 1985 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Konsentrasi biasanya aan tinggi pad lapisan mikrolayer karena sifat TBT yang lipofili dan juga karena konsentrasi bahan organik dan lemak yang tinggi pula. Biosida yang dirancang untuk membunuh organisme penempel telah memiliki dampak ekologis. Sebelumnya pengaruhnya hanya terbatas pada daerah industri di estuari dan pelabuhan yang efeknya akan tersembunyi karena pengaruh polutan lain, termasuk BOD yang tinggi. Perhatian pertama terhadap dampak biosida ini difokuskan pada kematian dan deformitis dari tiram, kemudian muncul stenoglosan pada moluska. Pada konsentrasi rendah Eko Efendi – C 551070051 Page 12



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



akan mengakibatkan fenomena imposex dimana terjadi super imposisi jantan pada betina. Fenomena ini terjadi ketika terjadi pertumbuhan “penis” dalam tubuh betina, pertumbuhan vas deferen akan menghalangi saluran genital betina (oviduct) dan secara efektif mensterilkannya. Penghalangan pelepasan telur akan menyebabkan kematian pada betina.



4.



Pengaruh Yang Akut Di Pantai



4.1 Ledakan populasi alga beracun (red tides) Alga dan organisme serupa banyak terdapat dilingkungan perairan. Beberapa dari alga ini secara periodik mengalami pertumbuhan yang luar biasa (blooming), dan ketika mempunyai dampak yang merugikan manusia disebut Harmful Alga Blooms (HABs). Red Tides dinoflagellates yang beracun dan ganggang lain merupakan kejadian alami yang dapat mengakibatkan kematian binatang baik pada pantai keras atau lunak. Tanaman akan kurang terpengaruh dan keseluruhan dampak biasanya mengurangi ruang tumbuh karena kelimpahan teritip dan kerang serta grazer, sehingga akan membentuk suatu dominasi dari alga. Terdapat bukti pangaruh manusia pada eurotrofikasi akan menyebabkan “red tide” termasuk bloming Gyrodinium aureolum,ceratium spp dan Chrysochromulina polylepis di di Laut Utara dan Skagerrak pada tahun 1988 yang mematikan ikan, invertebrata dan organisme akuakultur. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan mahluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan dalam mata rantai ekosistem perairan akan menyebabkan terganggunya keseimbangan dalam ekosistem air. Permasalahan lain, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa resiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Alga bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional dan parawisata sehingga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengatasinya.



4.2 Dumping Pembuangan limbah hasil tambang lebih dekenal sebagai tailing mempunyai potensi beban sedimentasi yang besar untuk ekosistem. Fraksi logam berat yang terkandung dalam limbah tailing mempunyai potensi yang tinggi terhadap kematian organisme. Perubahan kondisi lingkungan biasanya terjadi adanya perubahan keaneka ragaman dan komposisi spesies. Perubahan fisik lingkungan seperti temperatur, DO, salinitas dan pH, partikel tersuspensi, penetrasi cahaya, bahan organik sebagai akibat sedimentasi limbah tailing akan Eko Efendi – C 551070051 Page 13



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



berpengaruh terhadp kehidupan organisme yang tergantung dari nilai ambang yang masih dapat ditoleransi oleh organisme tersebut. Pengaruh kandungan logam berat pad limbah tailing dapat mengakibatkan penurunan populasi, akibat kematian embrio yang tinggi maupun penurunan kemampuan reproduksi atau kematian langsung. Sedimentasi yang berlebihan juga akan membunuh organisme bentos karena terkubur dalam sedimen, mengurangi kandungan oksigen dalam porewater dan menyebabkan kondisi anoksik. Partikel-partikel yang kasar cenderung untuk mengikis pantai, membunuh organisme-organisme substrat yang lebih kasar, tetapi mereka terlalu besar dan tidak dapat dikolonisasikan oleh endapan sediment. Dalam banyak kasus, sampah dapat digunakan untuk reklamasi pada didinding pantai.



4.3 Tumpahan minyak Pencemaran minyak dan hidokarbon minyak bumi mendapat perhatian besar karena pengaruhnya tehadap penurunan kualitas air yang merupakan efek langsung atau efek jangka panjang. Petroleum hidrokarbon masuk ke perairan laut melalui berbagai cara, yaitu rembesan alam dari dasar laut (natural seep), kecelakaan tanker (tanker accident), operasi normal tanker, kebocoran dan semburan proses produksi dan eksplorasi, run off sungai, kilang minyak di darat, limbah kota dan jatuhan atmosfer. Kecelakaan tanker menjadi permasahan karena buangan minyak yang relatif besar pada suatu lokasi. Konsentrasi polutan yang besar pada suat area akan menyebabkan kerusakan pada area tersebut, karena efek akur dan berjangka pendek pada area yang sempit dan efek kronis pada area yang lebih luas. Tabel 1. Beberapa kasus tumpahan minyak

Nama Tumpahan Torrey Canyon Sea Star Showa Maru Urquiola Amoco Cadiz Independenia Nowruz Oilfield Arabian Gulf/Kuwait Lokasi Land End, Inggris Gulf of Oman Selat Malaka, Indonesia La Coruna, spanyol Brittany, Prancis Istambul, Turki Persian Gulf, Iran Persian Gulf. Iran Tanggal 18-03-1967 19-12-1972 06-01-1975 12-05-1976 16-03-1978 15-11-1979 04-02-1983 19-01-1991 Jumlah Barrel 860.000 937.000 1.000.000 733.000 1.619.048 687.785 1.904.762 9.000.000



Eko Efendi – C 551070051



Page 14



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis bagi jalur perdaganagan dari Eropa, Afrika Timur dan Timur Tengah,menuju Asia Tenggara, Asia Timur dan Amerika, dirasakan lebih efisien sehingga menjadikan jalur Selat Malaka banyak diminati. Potensi pencemaran minyak akibat tumpahan dari kapal tanker, operasional standar, buangan air ballast menjadi relatif besar. Tabel 2. Peristiwa tumpahan minyak di Indonesia

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Tahun 1975 Januari 1975 Desember 1979 Pebruari 1979 33848 Januari 1993 34425 1996 Oktober 1997 1998 1999-2000 Oktober 2000 2001 2003-2005 Juli 2003 Lokasi Selat Malaka Selat Malaka Pelabuhan Buleleng Bali Pelabuhan Lhokseumawe Selat malaka Selat Malaka Pelabuhan Cilacap Natuna Selat Singapura Tanjung Priok Cilacap Batam Tegal-Cirebon Kepulauan Seribu Palembang Keterangan Kandasnya kapal tanker Showa Maru yang menumpahkan minyak sebesar 1 juta barel minyak solar tabrakan kapal Isugawa Maru dengan Silver Palace Kecelakaan kapal tanker Choya Maru pada Desember menumpahkan 300 ton bensin. Bocornya kapal tanker Golden Win yang mengangkut 1500 kilo liter minyak tanah Tabrakan kapal tanker Ocean Blessing dan MT Nagasaki Spirit yang menumpahkan 13000 ton minyak Kandasnya Kapal Tanker Maersk Navigator Tabrakan kapal tanker MV Bandar Ayu dengan Kapal Ikan Tanjung Permata III Tenggelamnya KM Batamas II yang memuat MFO Kapal Orapin Global bertabrakan dengan kapal tanker Evoikos Kandasnya kapal Pertamina Supply No 27 yang memuat solar Robeknya kapal tanker MT King Fisher dengan menumpahkan sekitar 4000 barel Kandasnya MT Natuna Sea dan menumpahkan 4000 ton minyak mentah Tenggelamnya tanker Stedfast yang mengangkut 1200 ton limbah minyak Tergenangnya tumpahan minyak di perairan Kepulauan Seribu Tabrakan antara tongkang PLTU-I/PLN yang mengangkut 363 kiloliter IDF dengan kapal kargo An Giang. Menyebabkan sungai Musi di sekitar kota Palembang tercemar Kapal tanker Vista Marine tenggelam akibat cuaca buruk dan menumpahkan limbah minyak dalam tangki slop sebanyak 200 ton Tumpahan Minyak oleh MT Lucky Lady yang memuat Syria Crude Oil sebanyak 625044 barel. Volume minyak yang tumpah ke perairan adalah sekitar 8000 barel dan menyebar 5 km sepanjang pantai Tumpahan Minyak mentah dari Pertamina UP VI Balongan, tumpahan ini merusak terumbu karang tempat pengasuhan ikanikan milik masyarakat sekitar Tumpahan minyak dari Perusahaan Total E dan P Indonesia, membuat nelayan sekitar tidak dapat melaut dalam beberapa waktu Meledaknya kapal ikan MV Fu Yuan Fu F66 yang menyebabkan tumpahnya minyak ke perairan



16



Juli 2004



Kepulauan Riau



17



38231



Cilacap



18



Oktober 2004 2004



Pantai Indramayu



19



Balikpapan



20



Agustus 2005



Teluk ambon



Eko Efendi – C 551070051



Page 15



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Studi kasus Torrey Canyon Torrey Canyon merupakan peristiwa polusi minyak pertama yang di dokumentasikan oleh ahli ekologi pantai. Meski pengaruhnya kurang sensasional dibanding tumpahan minyak Exxon Valdez terhadap sensitivitas ekologi dan keindahan alam, sejarah yang terperinci dari proses recovery di pantai yang dipengaruhi oleh tumpahan Torrey Canyon tak ada bandingnya (Smith, 1968; Southward dan Southward, 1978; Hawkins dan Southward, 1992 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Torrey Canyon itu membawa 119 000 ton minyak mentah Kuwait pada instalasi penyulingan pada Milford Haven, Southward Wales. Pada jam 08:50 Sabtu 18 Maret 1967, kapal menabrak Pollard Rock, bagian dari Seven Stones di lepas pantai barat daya UK, pada kecepatan 16 knots. Momentum kapal merusak hampir setengah dari panjang kapal, menyebabkan 30 000 ton minyak tumpah pada jam pertama setelah kejadian dan selanjutnya 20 000 ton tumpah selama tujuh hari operasi penyelamatan. Yang membedakan bencana Torrey Canyon bukan berasal dari volume tumpahan minyak tetapi volume dispersan untuk menghilangkan minyak dari pantai berpasir dan berbatu. Toksisitas minyak pada awalnya relatif randah, evaporai dari fraksi yang lebih ringan akan mengurangi toksisitasnya. Jadi konsekuensi ekologis dari tumpahan minyak Torrey Canyon adalah penggunaan dispersant yang intensif selama musim semi 1967, yang mana lebih dari 10 000 ton dispersan digunakan pada 14 000 ton minyak yang sampai ke pantai di Cornwall. Dispersan generasi yang pertama yang tersedia dalam 1967 memiliki toksisitas yang tinggi terhadap organisme laut, hanya waktu aplikasi yang kurang diketahui dengan baik. Hasil laboratorium menunjukan bahwa LC50-24 jam bervariasi dari 0,5 – 5 ppm pada organisme sublitoral dan 5 – 100 ppm pada organisme intertidal. Konsentrasi etal ini jauh lebih rendah dari konsentrasi yang dibutuhkan untuk mendispersi minyak dan



konsekuensinya semua hewan dan banyak alga mati pada area yang dekat dengan penggunaan dispersan. Toksisitas dispersan akam mengubah sifat fisik dari pantai berpasir. Surfaktan mengubah sifat kohesif pasir dengan menurunkan tegangan permukaan air interstitial.



Pergeraka pasir dalam jumlah besar tercata selama penggunaan detergen. Campuran antara minyak dan detergen juga meningkatkan biomassa bakteri anaerobik membawa lapisan hitam Redox Potential Discontinuity (RPD) ke permukaan sedimen, sedangkan emulsi detergenminyak masuk lebih dalam ke pasir ( hingga 50 cm). surfaktan juga menyebabkan air terkuras dari pasir secara lebih efektif, yang mengakibatkan peningkatan proporsi udara pada pasang Eko Efendi – C 551070051 Page 16



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



rendah. Pada paang tinggi gelembung udara interstitial dikuatkan oleh molekul surfaktan sehingga sulit untuk dikeluarkan, akibatnya akan menghalangi dan membatasi sirkulai air jebakan di pantai (Webb, 1991 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Waktu pemulihan dampak Sebelum menduga recovery, kodisi normal fluktuasi spasial dan temporal komponen utama fucoid, barnacle dan limpet di eulitoral pantai Devon dan Cornwall yang merupakan terpapar harus di didefinisikan. Kumpulan kecil yang diisolasi menghasilkan fucus, tetapi lebih sedikit dari tanaman yang total penutupannya tidak lebih dari 20%. Pengeompokan dan fluktuasi dihasilkan dari variasi rekruitmen dalam skala kecil yang berbeda dalam



mikrohabitat. Rcovery dideinisikan sebagai pengembalian ke kondisi normal dalam variasi spasial dan temporal. Setelah peningkatan masif fucul awal, penurunan kemampuan dari kunci herbivora Patella meningkat, dengan fluktuasi lebih kecil. Penutupan fucus menjadi abnormal pada 11 tahun pertama, dan mungkin sedikit meningkat pada awal 1980-an, sebelum kembali normal setelah 15 tahun atau lebih. Kelimpahan dan struktur populai Patella vulgata abnormal selama 10 – 13 tahun. Jadi, dengan demikian, waktu recovery setidaknya 10 tahun, jika struktur populasi dari limpet dan kepadatan teritip yang dijadikan indikator, waktu recovery lebih dari 15 tahun. Skala waktu ini tidak mengherankan jika dibandingkan dengan masa hidup organisme utama yang menjadi pertimbangan; Fucus 4 – 5 tahun, Patella mencapai 20 tahun tetapi biasanya , 10 tahun, dan Chthamalus setidaknya 5 – 20 tahun. Jika memperkirakan rata-rata masa hidup limpet 7 – 10 tahun, maka kestabilan struktur populasi akan stabil setelah 15 tahun. Pembelajaran Hal yang dapat dipelajari secara cepat dari kasus ini adalah penggunaan dispersan dalam skal luas menyebabkan efek toksik akut, maka pendekatan berbeda digunakan pada kasus yang lain. Penggunaan biodegradasi alami „bioremediasi‟ dengan menambahkan nutrien yang membatasi pertumbuhan bakteri pada minyak, khususnya pada media oleophilic. Dengan jelas, peristiwa Torrey Canyon adalah satu awal contoh dari suatu bencana ekologis yang besardibuat menjadi lebih buruk karena penaganan yang tidak tepat. Pendekatan yang lebih dipertimbankan telah dilakukan dan prosedur yang lebih masuk akal telah diterpkan dan di tingkatkan dalam kasus Exxon Valdez.



Eko Efendi – C 551070051



Page 17



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



5. Introduksi spesies baru Biogeografi pantai telah berubah lebih dari 200 tahun yang lalu atau masunya spesies dari satu bagian ke bagian dunia yang lain. Kebanyakan masuknya merupakan hasil sampingan dari perdagangan melalui jalur laut. Hal lain karena merupakan usaha yang disengaja untuk meningkatakan perikanan atau menyediakan spesies budidaya yang sesuai. Terkadang spesies baru yang masuk menyertai spesies taget. Pemasukan baik sengaja atau tidak telah berhasil pada beberapa tingkatan. Yang paling dramatis menjadikan invasi penuh dengan kisaran ekspansi yang luas, menggantikan spesias lokal dan menggangu dinamika komunitas. Biasanya terjadi secara bertahap yang mengikuti ekspansi awal dengan kisaran dan kelimpahan yang stabil. Kebanyakan introduksi yang tidak sengaja bersal dari organisme penempel yang hidup dan tumbuh pada bawah kapal tau organisme yang hidup di air ballast. Yag paling terdokumnetasi dengan baik adalah spesies australia Elminius modestus yang pertama kali terdeteksi di pantai Britania setelah Perang Dunia II. Elminius dengan cepat menyebar, terutama pada saat docking yang mana kapal berada di pelabuhan selama berminggu-minggu. Penyebaran larva melalui pergerakan kapal secara cepat di kepulauan Inggris dan daratan utama Eropa. Spesies ini dapat menyesuaikan diri pada daerah estuari dan pantai dan dapat menggantikan teritip lokal seperti Semibalanus balanoides dan Chthamlus montagui. Pergatian secara lengkap tidak pernah terjadi karena spesies lokal dapat bertahan lebih baik pada pantai terbuka. Elminius sekarang telah menjadi bagian utama fauna pantai Eropa Utara dari Skandinavia hingga Portugal. Secara keseluruhan efek pada dinamika pantai berbatu lebih kecil karena hanya menggantikan beberapa individu dari kelompok teritip. Jenis teritip imigran lain di UK adalah spesies air hangat Balanus improvisus, yang dibatasi pada daerah seperti Swansea Docks yang mana temperaturnya akan naik karena buangan air hangat (Naylor, 1965 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Spesies imigran yang tak di sengaja yang menjadi perhatian di Pantai Pasifik Amerika Utara dan Eropa Utara adalah makro alga coklat „Jap Weed‟ Sargasum muticum. Spesies ini di invasi di kedua kawasan tersebut sebagai hasil transplantasi tiram. Penyebaran alga ini sangat cepat dan dibatu oleh fragmen pelampung yang masih aktif secara reproduktif. Penyebarannya sepanjang pantai selatan Kepulauan Inggris ke arah timur dan barat dari Pulau Wight, dan diperluas hingga Denmark, Barat Swedia, Belanda, Belgia dan Perancis. Di UK mendominasi habitat pantai rendah yang merupakan campuran batu dan pasir atau bongkahan. Dalam area dengan pergerakan pasang surut tumbuh luar biasa cepat, menutup mendekati pelabuhan kecil. Alga ini juga tumbuh dan menyatu di batuan dalam. Eko Efendi – C 551070051 Page 18



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Tidak ada spesies asli yang benar-benra mendominasi di habitat yang sama dengan Sargassum, meskipun telah digantikan beberapa spesies seperti Chorda filum dan Halidrys tumbuh di kolam rendah. Bentuk pertumbuhan yang komplek menyediakan mikro habitat ideal bagi hewan kecil dan kehadirannya yantanya meningkatkan kekayaan spesies (Withers et al., 1975; Critchley et al., 1990; Norton dan Benson, 1983 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Sargassum melakukan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan lingkungan asli. Di tempat aslinya, Jepang, Sargassum jarang mencapai ukuran besar dan tidak dominan secara ekologis, sedangkan di Eropa dapat tumbuh sangat panjang, mencapai bimasa yang sangat tinggi, dan menjadi spesies yang melimpah dalam habitat yang sesuai. Walaupun Sargassum juga menyebar di US, tetapi tidak sama suburnya dengan di Eropa. Kemungkinan kehadiran kompetiror dan grazer yang sama dengan di Indo Pasifik mempertahankan dan mengendalikannya di Amerika Utara. Alternatifnya beberapa aspek lingkungan fisik mungkin disukai di eropa. Paling mutakhir perhatian di fokuskan pada Undaria. Alga jepang yang telah menyebar di seluruh dunia ( seperti New Zealand) dan setelah sengaja di masukkan ke Mediterrania dan Atlantik di Perancis, baru-baru ini ditemukan di Humble, UK (Fletcher dan Manfredi, 1995 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Jenis lain yang di introduksi bersama kerang yang dibudidayakan adalah limpet (Crepidula fornicata) dan oyster drill (Urosalpinx cinerea) dari USA. Kedua spesies ini di introduksi ke UK ketika substrat tiram Crasostrea virginica. Mereka menjadi hama pada tiram asli Ostrea edulis. Predator almi mereka seperti Ocenebra erinacea tidak serakus Urosalpinx. Fiter feeder Crepidula berkompetisi dalam ruang dan makanan dengan tiram asli. Yang menarik, TBT cat anti fouling dapat menurunkan jumlah Urosalpinx. Di timur US siput Littorina littorea di introduksi ke Newfoundland di pertengahan abad ke-19, kemungkinan dalam air ballast. Siput ini mengurangi kelimpahan dan pada beberapa kasus telah menggati siput lumpur asli Ilyanassa obsoleta di teluk dan rawa asin. Introduksi invertebrata pengebor sedimen asing terlihat kurang mempunyai dampak yang dramatis. Populasi kecil Mercenaria mercenaria kemungkinan telah diintroduksi ke Southampton UK. Hasil studi reproduktif menunjukan kesuksesan pemijahan, yang meningkat ketika suhu air naik sampai 18 – 19oC, yang 3 – 4oC lebih rendah dari suhu di USA. Hal ini mengndikasikan aklimatisasi fisiologis telah terjadi. Kerang bercangkang keras ini telah menggantikan posisi kerang bercangkang lunak Mya arenaria.



Eko Efendi – C 551070051



Page 19



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Table 3. Introduksi spesies asing di dunia

Mechanism of introduction Taxa introduced Sardinella aurita > 30 spp. Lessepsian migrations (via the Suez Terusan) From To References Dutt and Raju (1983) Ben-Tuvia (1973) Calman (1927) Rees and Cattley (1949) Ben-Tuvia (1973) Ben-Tuvia (1973) Ben-Tuvia (1973)



Fishes Mediterranean Arabian Sea (rare) Red Sea/Indo-Pacific Mediterranean Crustacea Neptunus pelagicus Red Sea Mediterranean Processa aequimona Red Sea Mediterranean Panaeus japonicas Red Sea Mediterranean P, semisulcatus Red Sea Mediterranean Red Sea Mediterranean Metapenaeus monoceros Fishes Tarpon atlanticus Ostrea edulis Crassostrea gigas Crassostrea virginica Western Atlantic Eastern Pacific Mollusca Europe Eastern USA Japan Tasmania USA Hawaii



Migration via terusan Panama (rare)



Hildebrand (1939) Loosanoff (1955) Thompson (1952) Edmondson and Wilson (1940)



Deliberate introduction through aquaculture



Oncorhynchus spp. (Pacific salmon) Morose saxatilis (striped bass) Sargassum muticum Urosalpinx cinerea Crepidula lomicata Mya arenaria



Accidental introduction through aquaculture



Fishes Chile , Tasmania , Elton (1958) New Zealand Eastern USA Western USA Scofield and Bryant (1926) Macrophytes Japan Europe , NE acific Druel (1973), Farnham et a/. (1973) USA USA UK USA UK Eastern USA Western USA Phytoplankton Asia Northern Europe Cole (1942) Walne (1956) Elton (1958) Hardy (1956)



Biddulphia sinensis Macrophytes Falkenbergia rufulanosa Australia Asparagopsis armata Australia Transport on ships as fouling Littorina littorea organisms or in ballast water Elminius modestus Balanus improvises B. eboneus Eriocheir sinensis Europe Australia



Europe Walker et at. (1954) Europe Walker et al. (1954) Mollusca Eastern USA Carlton (1989) Crustacea Europe, South Crisp and Chipperfield Africa (1948), Sandison (1950) UK UK UK Bishop (1951) Bishop (1951) Elton (1958), (1980)



N. Hemisphere Eastern USA Asia



Barnes



*Further reading: Elton (1958), Por (1978), Carlton et al. (1982), Carlton (1989), Godeaux (1990).



Eko Efendi – C 551070051



Page 20



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Habitat sedimen secara signifikan terpengaruh oleh introduksi tanaman rawa asin, Cord Grass Amerika Utara Spartina alteriflora. Spesies ini diintroduksi akhir abad ke 19 untuk menstabilkan dan mereklamasi lumpur di intertidal. Sayangnya persilangan S. Alterniflora dengan S. Maritima untuk menghasilkan hibrida yang infertil (S. Townsendii), kemudian malah menghasilkan hibrid yang feltil S. Anglica. Hasil persilangan yang agresif, pertumbuhan cepat telah berkolonisasi secara luas. Terusan Suez yang selesai di bangun tahun 1869 menyediakan penghubung buatan antara Laut Merah dan Indo-Pasifik. Banyak spesies Laut Merah menggunakan jalur ini untuk menginvasi Laut Mediterania, mengambil keuntungan dari aliran air utara yang dominan dengan lebih sedikit spesies yang bermigrasi jauh di arah lain. Selama operasional kanal lintasan spesies menjadi lebih mudah pada salinitas tinggi 50 o/oo. Populasi laut merah kini telah menetap di mediterania timur, migrasi ini diistilahkan sebagai Lessepsia sesuai nama pembangun terusan Ferdinand de Lesseps. Invasi ini secara terus menerus terjadi: sea squirts Korea Styela clava merupakan spesies yang banyak di Pelabuhan Inggris, Kepiting pantai Atlantik Utara Carcinus maenas telah ditemukan di Cape Town. Tiram jepang Crassostrea gigas pada tahun 1993 telah di temukan sukses berkembang biak di pantai utara Wales. Sedikit dari invasi ini telah menjadi katastropik di sistem perairan tawar. Sebagai contoh, kerang air tawar Dreissena dari eropa timur sekarang mengganggu sistem persediaan air tawar dan secara drastis mempengaruhi ekologi Great Lakes. Bagaimanapun potensi bencana ekologi di perairan pantai masih ada, khususnya jika patogen di transfer bersama dengan spesies yang di introduksi.



6. Perubahan Zona Pantai. Zona Intertidal merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia, merupakan pinggiran yang sempit sekali hanya beberapa meter luasnya, terletak di antara air tinggi dan air rendah. Naik turunya permukaan laut secara periodik selama satu interval waktu tertentu disebut pasang-surut. Pasang surut merupakan faktor lingkungan yang paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Tanpa adanya pasang surut atau hal-hal lain yang menyebabkan naik dan turunnya permukaan air secara periodik, Zona ini tidak akan seperti itu, dan faktor-faktor lain akan kehilanagan pengaruhnya. Ini disebabkan kisaran luas pada banyak faktor akibat hubungan langsung yang bergantian antara keadaan terkena udara terbuka dan keadaan yang terendam air. Jika tidak ada pasang surut fluktuasi yang besar ini tidak akan terjadi. Eko Efendi – C 551070051 Page 21



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Arus menyusur pantai memiliki peran yang sangat besar dalam dinamika fisik maupun biologi di wilayah pesisir. Arus menyusur pantai dapat bekerja secara alamiah membentuk kekhasan profil biofisik pantai. Gelombang yang bergerak ke arah pantai dengan membentuk sudut tertentu menyebabkan lidah air tetap bergerak ke arah darat dalam sudut yang sama dengan sudut datangnya gelombang sambil menggerus sedimen. Sebaliknya, lidah air yang telah kehabisan momentum bergerak kembali ke arah laut dengan arah tegak lurus dengan garis pantai juga menggerus sedimen. Akibatnya, sedimen yang tergerus tersebut akan bergerak dengan pola zigzag sambil bergeser searah dengan pergerakan arus menyusur pantai. Gelombang yang bergerak ke arah pantai menyebabkan terjadinya turbulent-eddy yang menyebabkan pasir tergerus. Sebelum pasir tersebut mengendap, gelombang yang menuju ke arah pantai kemudian berbalik menuju laut dan menarik sedimen pasir tersebut. Sandspit (lidah pasir) adalah penumpukan pasir/sediment yang terjadi di muara sungai atau teluk dimana penumpukan tersebut masih terhubung dengan daratan utama sehingga menyebabkan celah keluar masuknya air menjadi menyempit. Pembentukan sandspit memiliki dampak yang baik dan buruk bagi daya dukung pesisir. Secara umum pembentukan sandspit memberikan ruang baru bagi organisme bentik dan burung air untuk hidup termasuk ekspansi mangrove. Kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan membaiknya kondisi ekologis wilayah di sekitar sandspit dengan munculnya berbagai biota dan memperkaya struktur ekosistem. Terlepas dari dampak positif tersebut, pembentukan sandspit juga dapat mengurangi daya dukung pesisir terhadap aktivitas manusia. Sandspit jika terbentuk di muara sungai dapat menghalangi keluarnya air sungai pada musim hujan sehingga menyebabkan banjir. Sandspit juga dapat mengurangi sirkulasi air dalam teluk sehingga menyebabkan kondisi ekologis dalam teluk menjadi menurun. Secara fisik, teluk yang biasanya digunakan sebagai pelabuhan alami karena perairannya yang relatif tenang akan menjadi lebih dangkal sehingga menyulitkan kapal untuk berlabuh.



Gambar 2. Sandspit yang terbentuk dimulut estuary yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan tertutupnya akses estuary ke laut lepas. (Sumber gambar:

http://web.clas.ufl.edu/users/mrosenme/Oceanography/Lectures/coastal_dynamics.htm)



Eko Efendi – C 551070051



Page 22



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Arus menyusur pantai telah lama diketahuI memiliki peranan yang besar dalam membantu menyebarkan biota perairan, terutama yang bersifat planktonik seperti plankton, telur dan larva. Sifat ini memiliki dampak positif dalam menjaga kesetimbangan kondisi ekologis perairan sebab penyebaran biota planktonik dapat tetap berlangsung secara alamiah (Caldeira, 2003). Secara alamiah, lemahnya arus menyusur pantai dapat menyebabkan terjadinya red tide yaitu peristiwa kematian massal plankton Dynoflagellata yang didahului oleh terjadinya blooming dynoflagellata. Red tide bersifat meracuni perairan sehingga berbahaya bagi manusia maupun biota perairan. Hasil penelitian di Elands Bay, Afrika Selatan menunjukkan bahwa melemahnya arus menyusur pantai dapat menyebabkan terjadinya penumpukan Gonyaulax catenella di perairan. Akibatnya, perairan akan mengalami red tide dan menyebabkan perairan menjadi sangat beracun (Burgers, 1995). Peristiwa ini menunjukkan bahwa setiap kegiatan manusia yang akan mengakibatkan arus menyusur pantai melemah di kawasan tertentu memerlukan kajian ekologis yang mendalam. Upaya manusia untuk memodifikasi kondisi alamiah wilayah pesisir tersebut kemudian berinteraksi dengan proses alamiah pasang surut, gelombang dan transport sedimen menyusur pantai. Berbagai metode yang dikembangkan untuk mengatasi dampak buruk interaksi tersebut seringkali menimbulkan masalah baru. Terdapat tiga bentuk upaya manusia yang paling popular dalam memodifikasi kondisi alamiah pantai untuk mengurangi dampak pasang surut, gelombang dan transport sedimen menyusur pantai yaitu Groin, Jetty, dan Breakwater. Ketiga upaya tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan perubahan profil fisik pantai akibat interaksinya dengan arus menyusur pantai. Berikut disajikan dampak arus menyusur pantai terhadap upaya manusia untuk meningkatkan daya dukung pesisir dengan melakukan modifikasi kondisi fisik pantai.



Gambar 3. Dampak pembangunan groin pada pola pengendapan pasir/sedimen akibat arus transport sediment menyusur pantai.

(Sumber gambar:www.pitt.edu/AFShome/c/e/cejones/public/html/Geology0860/8_Beaches.pdf)



Eko Efendi – C 551070051



Page 23



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Gambar 4. Bentuk awal pembangunan jetty di Pelabuhan Santa Barbara, tahap pertama (kiri) pasir mengendap di dalam kolam pelabuhan, tahap kedua (kanan) pasir mengendap di mulut pelabuhan.



Gambar 5. Breakwater yang dibangun untuk melindungi pantai menyebabkan munculnya tumpukan pasir (biasa disebut tombolo) yang menghubungkan daratan dengan breakwater. ( Sumbe gambarr: http://www.seamentshorelinesystem.com/breakwaters.html )



Gambar 6. Pengaruh abrasi (kiri) akan memperluas zona intertidal, pengaruh reklamasi (kanan) akan menghilangkan zona intertidal Pengembangan pantai menghasilkan sebuah lagon di pinggir, pantai, reklamasi rawa dan bagian pantai dan satu keseluruhan liniarisai dan pemadatan. Menurut sejarah orangorang Belanda yang sudah berjuang di laut utara dengan satu sistim pematang yang ekstensif sudah memperluas daratan dan mengubah pantai Zuider Zee menjadi setengah tertutup. Bagaimanapun, pengembangan pantai sedikit demi sedikit membahayakan dan karenanya sulit untuk secara efektif mengatur. Pengaruh kumulatif seperti pengembangan di muara tertentu seperti itu dapat menimbulkan tekanan.



Eko Efendi – C 551070051



Page 24



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



6.1 Kenaikan muka air laut Fenomena kenaikan muka air laut merupakan issue yang mengemuka seiring dengan terjadinya persoalan pemanasan global (global warming) dampak yang diakibatkannya akan sangat besar. Pemanasan global yang terjadi akan menyebabkan kenaikan suhu permukaan laut yang kemudian mengakibatkan pemuaian air laut. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca (Park et al., 1989; Titus dan Narayanan, 1995; UNEP/WMO 2007 ). Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin (mencapai -180 C) sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya ( Schneider dan Chen, 1980; Park et al., 1989; Titus et al., 1991). Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian (Schneider dan Chen. 1980). Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri



Eko Efendi – C 551070051



Page 25



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat (Schneider dan Chen, 1980) Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pra industri (Wigley dan Raper. 1987). Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan temoat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet) (Wigley dan Raper. 1987).

Naiknya muka laut (Sea level rise) merupakan salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh negara-negara pantai atau negara kepulauan di dunia. Fenomena alam ini perlu diperhitungkan dalam semua kegiatan pengelolaan wilayah pesisir, karena dapat berdampak langsung pada pemunduran garis pantai serta dapat mengganggu aset-aset penduduk, mengganggu perkembangan ekonomi penduduk bahkan menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk yang mendiami wilayah-wilayah rentan di sepanjang pesisir. Dewasa ini kecenderungan kenaikan muka laut memperkuat dugaan bahwa laju rat-



rata kenaikan muka laut sat ini kira-kira 1,5 mm per tahun, sedangkan perkiraan IPPC terakhir mengenai pemanasan global di masa mendatang menyebutkan bahwa laju ini meningkat hingga tinggi muka laut global naik sebesar (28 ± 14) cm pada tahun 2050 (Titus et al., 1991). Kenaikan muka laut global tidak hanya mengancam lingkungan alami daerah pesisir tetapi juga negara-negara dan pusat-pusat pemukiman dataran rendah (Pernetta dan Elder, 1993). Pengaruh kenaikan muka laut di masa silam telah dapat dirasakan dimana proporsi garis pesisir yang mundur selama satu abad terakhir melebihi garis pesisir yang maju meskipun sektor-sektor yang luas tetap stabil.



Eko Efendi – C 551070051



Page 26



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Gambar 7. Estimasi kenaikan muka laut di masa datang. (US. EPA, 1983; IPCC. 1990; Meier, 1990; Meier et al., 1985; NRC. 1983; WMO. 1985 in Titus et al., 1991). Perubahan muka laut dapat diakibatkan oleh pengaruh estuatic (naik turunya muka laut karena faktor mencairnya es di kutub) secara global yang berkaitan dengan perubahan glasial; fenomena laut/iklim seperti El Nino Southern Ocillation (ENSO) yang menaikkna muka laut di pesisir Pasifik Barat; oleh pembentukan cekungan geologis yang lebar dan dangkal; dan oleh berbagai pengaruh kegiatan manusia pada skala lokal. Kegatan manusia menyebabkan kekurangan sdimen di delta akibat dilakukannya pembangunan bendungan, pembelokan air dan penggalian kanal, serta pemadatan substrat yang menembus lapisan cadangan air tanah akibat penambangan hidrokarbon. Bangkok sebagai contoh, tenggelam dengan kecepatan 8 mm pertahun akibat pengelolaan air tanah. Kecenderungan global yang menyebabkan kenaikan muka laut, rata-rata diramalkan dengan memperhatikan pencairan es asal darat pada kondisi dunia yang memanas, bersamasama dengan keperluan energi panas lapisan air laut teratas. Ketidak pastian kecenderungan global ini menimbulkan masalah tersendiri, tetapi pendugaan yang terbaik dapat dipakai dalam perencanaan di masa mendatang asalkan informasi mengenai kecenderungan lokal dan regional terdokumentasi dengan baik. Pengubahan ekosistem mangrove secara luas untuk tujuan budidaya laut atau produksi pada sawah, secara serius mengurangi kemampuan perlindungan pesisir terhadap badai dan energi gelomabang serta menurunkan laju akresi sedimen di daerah pesisir. Demikian pula pengeringan rawa asin (salt marsh) dan rawa pesisir (coastal wetland) menyebabkan penurunkan permukaan tanah sehingga mempercepat kenaikan relatif muka laut.



Eko Efendi – C 551070051



Page 27



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Dahuri et al. (2004) menyebtkan dampak primer yang ditimbulkan akibat menaiknya permukaan laut adalah: a) Terjadinya frekuensi banjir di wilayah pesisir, akan tetapi meningkatnya frekuensi banjir ini dapat juga disebabkan oleh perubahan regim arus pesisir yang mempengaruhi iklim gelombang, perubahan pola badai dan perubahan curah hujan yang mungkin meningkatkan volume banjir asal sungai dalam sistem sungai besar. b) Membatasi volume persediaan air tawar dan intrusi; perubahan ini menyebabkan perubahan vegetasi, pertanian dan kesuburan tanah pesisir. Pemasukan air tawar dari sungai dan air tanah akan mengubah pemasukan sedimen dan nutrien ke pesisir dan daerah dekat pantai dan selanjutnya mengubah regim salinitas perairan pesisir. c) Penyusunan kembali sedimen dan tanah pesisir yang renggang. d) Peningkatan salinitas tanah di daerah-daerah yang semula tidak terpengaruh. e) Perubahan iklim gelombang. f) Peningkatan laju erosi pantai dan bukit pasir. g) Kemunduran ke arah darat batas antara perairan tawar dan payau. h) Perubahan vegetasi yang tumbuh di rawa dan tebing. i) Perubahan lokasi fisik batas perairan darat. j) Perubahan kebersihan dan sirkulasi perairan pesisir. k) Perubahan volume sedimen yang tenggelam. Sebagai akibat dampak primer, berbagai macam dampak sekunder dapat diidentifikasi yang mencakup antara lain: perubahan profil dasar lepas pantai, perubahan lau pemasukan sedimen dan nutrien, perubahan produksi primer laut dan perubahan produksi primer wilayah pesisir. Kompleksitas interaksi dan umpan balik yang menjadi khas proses-proses biogeofisika di perairan pesisir emmbuat peramalan fisika garis pantai yang hana disebabkan oleh kenaikan muka laut saja (Dahuri et al., 2004).



Eko Efendi – C 551070051



Page 28



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Ikhtisar Dari berbagai dampak di pantai, pengumpulan makanan manusia, rekreasi dan discharge dapat bersifat bolak balik jika pengumpulan di hentikan dan standar lingkungan ditingkatkan. Setelah bencana lingkungan seperti tumpahan minyak, perbaikan adalah mungkin melalui kolonisasi kembali secara alami. Dalam banyak kasus, polusi lebih dari sekedar konis atau akut, cenderung untuk memendekkan umur spesies oportunistik. Mereka dapat berkolonosasi secara cepat setelah dampak akut dan waktu generasi yang pendek memungkinkan perkembangan untuk mentoleransi pengaruh kronis. Sebuah pengecualian di salt marsh dimana angiospermae tahunan sangat berbahaya. Penghilangan ruang spesies berumur panjang mendukung spesies sama baiknya dengan grazer dan predator. Lebih lanjut eutrofikasi merangsang pertumbuhan alga hijau seperti Ulva dan Enteromorpha. Di tahun terakhir, teknik pemulihan telah diikuti di habitat akuatik, usaha telah di buat dengan kesuksesan untuk mengembalikan ladang kelp, ladang seagrass dan salt marsh. Bahkan dok yang tak dipakai lagi di estuari yang terdegradasi di kota telah dikelola untuk mendukung kesuburan komunitas laut. Recovery diperlukan proses aktif tergantung pada rekolonisasi alami dan suksesi dan dapat diakselerasi. Introduksi kemungkinan tidak bolak balik karena pemberatasan tidak mungkin dilakukan, tetapi efek introduksi baik disengaja atau tidak menjadi dipertentangkan oleh kesadaran yang lebih besar dari resiko karena spesies asing. Ancaman terbesar terhadap pantai juga tidak bolak balik. Pengembangan perlindungan pantai dengan dinding mengakibatkan pelemahan habitat, sedimen pantai yang lebih kasar dikembalikan oleh dinding dengan dibatasi pantai berbatu, situasinya di perburuk dengan percepatan kenaikan muka laut akibat pemanasan global. Penahan laut bagaimanapun dirancang untuk meminimalkan dampak dan dapat meningkatkan keakeka ragaman habitat. Penahan gelombang lepas pantai yang dirancang dengan model angkutan sedimen dapat menghasilkan penambahan pantai secara alami. Dapat juga mengarahkan keaneka ragaman tipe sedimen dengan konsekuensi peningkatan berbagai infauna. Peme menyediakan habitat pantai berbatu yang baru di area yang sebelumnya tanpa substrat keras. Overtopping penahan laut juga dapat dihilangkan dengan mengembangkan laguna asin buatan di belakang penahan, pada saat yang sama akan membantu merestorasi habitat pantai yang paling terancam. Juga secara politis keputusan kontoversial pemunduran garis pantai mengakibatkan trangresi daratan. Tanpa perlindungan dan pegelolaan daerah estuari yang sangat produktif dan perantara antara daratan dan lautan akan hilang. Eko Efendi – C 551070051 Page 29



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Hanya dengan penetapan wilayah alami untuk mengendalikan perkembangan, memelihara rangkaian cagar alam di seluruh dunia dan pengetatan standar emisi dapat menyelamatkan masa depan pantai dan estuari. Untungnya ide pengelolaan zona pantai menyeluruh dapat dipahami, tetapi tindakan akan selalu lebih baik dari pada sekedar katakata klise.



Eko Efendi – C 551070051



Page 30



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Referensi Okazaki, A. 1971, Seaweeds and their uses in Japan, Tokai University Press, Tokyo. Chapman, V.J. 1970, Seaweeds and their uses, Methuen & Co. LTD, London. Davidson, R.L. 1980. Handbook of Water-Soluble Gums and Resins, Mc. Graw-Hill, Inc, New York. Bacci, E. 1987. Ecotoxicology of Organic Contaminants. Lewis Publishing. London Bishop, P. L. 1983. Marine Pollution and Its Control. McGraw Hill Book Company. USA Burgers, CJ. 1995. Ramsar Information Sheet of verlorenvlei. http://www.ngo.grida.no/soesa/nsoer/resource/wetland/verlorenvle_ris.htm. diakses pada tanggal 24 April 2004.



Caldeira, R. M. A. 2003. Hydrodynamic characterization with relevance to the genetic patterns of Bembicium vittatum and Austrocochlea constricta around the Easter Group coastal lagoon, Houtman Abrolhos Islands, Western Australia. http://www.islandoceanography.org/abrolhos/hydrodynamic_reconnaisance_egl.pdf diakses tanggal 24 April 2004. Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting dan M. J. Sitepu. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta. (Hal. 108-124). Howarth, R. W. 1988. Nutrien limitation of net primary production in marine ecosystem. Annual review of ecology. 19:89-110 Larkin, P.A. 1979. Predator-Prey Relations in Fishes: An Overview of the Theory. PredatorPrey Systems in Fisheries Management. Sport Fishing Institute, Washington, DC. Neff, J. M. 1976. Effect of Petroleum on Survival Respiration and Growth of Marine Animal. American Institute of Biological Science. Washington DC. Nybakken, W.J. 1982. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta. (Hal.421-430). Pernetta, J and Elder. 1993. Cross sectoral, integrated coastal area planning (CICAP): Guidelines and principle for coastal area development. IUCN. Gland. Park, R.A., M.S. Treehan, P.W. Mausel, and R.C. Howe. 1989. The Effects of Sea Level Rise on U.S. Coastal Wetlands. In U.S. Environmental Protection Agency. 1989. Potential Effects of Global Climate Change on the United States. Washington, DC: Environmental Protection Agency. Pierce, R. H. and G. J. Kirkpatrick. 2001. Innovative techniques for harmful algal toxin analysis. Environ Toxicol Chem 20(1):107–114. Raffaelli, D and S. Hawkins. 1996. Intertidal Ecology. Chapman and Hall. London. 356 +xi hal. Riley, J. P. 1989. Chemical Oceanography. Vol.9. academic Press. London Runcie, J. and C. Macinis-Ng. 2006. The Toxic effect of Petrochemical on Seagrasses. University of Technology.Sidney Schneider, S.H. and R.S. Chen. 1980. "Carbon Dioxide Flooding: Physical Factors and Climatic Impact." Annual Review of Energy. 5:107-140.



Eko Efendi – C 551070051



Page 31



Tugas Ekologi Laut



C 551070051



Sugiarto, A. 1978, Rumput Laut (Algae), manfaat, Potensial dan Usaha Budidayanya, LON LIPI, Jakarta. Titus, J. G., ,R. A. Park, S. P. Leatherman, J. R. Weggel , M. S. Greene, and P. W. Mausel . 1991. Greenhouse Effect and Sea Level Rise: The Cost of Holding Back the Sea. Coastal Management, Volume 19, pp. 171-204 (1991) Titus, J. G. and V. K. Narayanan. 1995. The probability of sea level rise Library of Congress Cataloging-in-Publication UNEP/WMO. 2007. Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Intergovernmental Panel On Climate Change. Summary for Policymakers was formally approved at the 10th Session of Working Group I of the IPCC, Paris van Dolah, F. M. 2000. Marine algal toxins: origins, health effects and their increased occurrence. Environ Health Perspect 108(suppl 1):133–141. Wigley, T.M.L. and S.C.B. Raper. 1987. Thermal expansion of sea water associated with global warming. Nature 357: 293-300



Eko Efendi – C 551070051



Page 32




Related docs
Other docs by ecko effendi
pola distribusi ekosistem intertidal
Views: 1227  |  Downloads: 80
PANTAI BERBATU _ROCKY SHORE__ppt
Views: 1225  |  Downloads: 56
Penyebab Zonasi
Views: 2544  |  Downloads: 130
dinamika pantai sedimen
Views: 2711  |  Downloads: 227
human impact on the shore
Views: 4658  |  Downloads: 95
efek bioakumulasi tbt thd makrozoobentos
Views: 4640  |  Downloads: 400
pola distribusi ekosistem intertidal_ppt
Views: 1102  |  Downloads: 81
A Geospatial Framework for the Coastal Zone
Views: 108  |  Downloads: 6
KONDISI FISIK DI PERAIRAN ESTUARI_ppt
Views: 2006  |  Downloads: 104
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!