PANTAI SEBAGAI SUATU SISTEM
Perairan pantai merupakan bagian terbesar dari ekosistem pesisir, pantai sebagai tempat produksi yang mendapat masukan dari sungai dan didistribusikan ke laut lepas. Proses distribusi material di pantai bisa terjadi pada ekosistem yang terbuka atau yang semi tertutup seperti laguna dan beberapa jenis estuari. Material-material ini berbentuk larutan organik maupun anorganik, partikel organik, serpihan-serpihan detritus, larva dan juvenil ikan. Ikan dewasa, krustasea, burung dan beberapa jenis reptil aktif bermigrasi di kawasan intertidal dan pesisir yang merupkan zona makan dan reproduksi. Pengaruh ekosistem daratan lebih banyak disebabkan oleh adanya masukan berupa air tawar yang dibawa oleh aliran sungai. Percampuran antara kedua kompenen air tersebut menimbulkan strata yang berbeda pada setiap daerah pantai. Stratifikasi massa air di pantai tergantung pada tipe sungai dan karakteristik pantai itu sendiri. Material daratan yang banyak terkandung dalam air sungai menyebabkan terjadinya percampuran dan pengayaan bagi ekosistem pantai. Proses-proses yang terjadi dalam ekosistem pantai tergantung pada kondisi kedua ekosistem yang mengapitnya. Semua komponen yang saling berinteraksi tersebut menciptakan suatu kondisi yang unik. Kondisi yang unik tersebut menyebabkan kawasan pantai memiliki ekosistem yang sangat beragam dengan karakteristik yang sangat berbeda, tetapi berbatasan secara langsung. Keragaman tersebut menciptakan suatu sistem yang mendukung keberadaan daerah pantai sebagai sebuah ekoton yang bisa melindungi dua ekosistem besar yang mengapitnya yaitu ekosistem daratan dan ekosistem lautan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai fungsi dari pantai sebagai sebuah sistem dan interaksinya dengan laut lepas dan ekosistem daratan. Pembahasan dimulai dengan bagaimana pengaruh proses daerah pesisir terhadap komunitas pantai dengan menampilkan beberapa contoh sistem lautan dan bagan alir energi dan material yang terdapat disana. Kemudian kita menyusun jaring-jaring kehidupan dari berbagai spesies yang terdapat di daerah pantai dan kaitannya dengan migrasi dan hubungannya dengan daerah lepas pantai dan ekosistem daratan.
I. KONDISI OSEANOGRAFI PANTAI
Daerah pantai adalah daerah transisi antara lingkungan laut dan lingkungan darat. Akan tetapi oleh karena adanya gerakan air yang berasosiasi dengan pasang surut, gelombang dan percikanpercikan ombak maka dapat dikatakan bahwa daerah pantai adalah transisi habitat yang dihuni organisme dari laut dan dari darat.
1
Paktor fisik ( energi gelombang, fluktuasi suhu) dapat digunakan untuk membandingkan dua pantai, yang mendorong faktor lain menyebabkan perbedaan struktur komunitas. (Menge A. Bruce at al. 1999). Beberapa parameter oseanografi yang berperan penting dalam menentukan struktur komunitas di lingkungan pantai antara lain, sistem arus dan gelombang, angin, pasang surut, kandungan nutrien, serta suhu dan salinitas. Sebagai akibat dari bekerjanya sistem arus dan gelombang pada sistem pantai menciptakan suatu kondisi dimana pantai dapat terdiri dari 1) pantai berbatu, biasanya terdapat pada wilayah yang lebih terbuka terhadap laut lepas dengan pengaruh gelombang yang dominan, 2) pantai berpasir, serta 3) pantai berlumpur yang biasanya terbentuk pada daerah terlindung dengan suplai sedimen halus yang tinggi dan lemahnya pengaruh arus dalam gelombang. Distribusi lokal dari spesies tunggal sering dibatasi oleh perbedaan dari faktor lingkungan pada tempat yang berbeda. Faktor fisik cenderung membatasi pada level pantai bagian atas atau pada kondisi gelombang ekstrim, kekeruhan,atau salinitas rendah. Bilogical menjadi pembatas oleh akibat faktor fisik seperti rendah zat hara, atau pada level pantai rendah dengan aksi gelombang dan arus yang cukup, (Connell, 1972). Sistem arus adalah faktor utama yang mempengaruhi iklim yang terdapat pada daratan karena merupakan faktor penentu pada ekosistem pantai yang berkaitan dengan distribusi suhu dan nutrien yang terdapat dalam air. Hal ini dapat digambarkan dengan membandingkan dua daerah pantai yang terdapat pada lintang yang sama tapi pada sisi yang berbeda di Atlantik. Wilayah barat daya Inggris memiliki suhu yang relatif hangat untuk biota karena didukung oleh massa air hangat Gulf Stream, sementara komunitas Labrador, walaupun terdapat pada lintang yang sama namun memiliki karakter massa air yang lebih dingin karena pengaruh arus dingin Labrador. Pada kondisi lokal daerah selatan dan pantai barat Kepulauan Inggris dan pantai barat Perancis memiliki banyak perbedaan kondisi dan fauna bila dibandingkan dengan daerah pantai Laut Utara. Yang pertama kali melakukan penelitian tentang kondisi ekologi laut lepas di Afrika Selatan adalah Stephensons, yang terdapat pada buku Branch and Branch (1981) (Gambar 1). Pantai barat Afrika Selatan cenderung dingin, memiliki kandungan nutrien yang tinggi karena di pengaruhi oleh arus Benguela, dan upwelling yang terjadi sepanjang tahun. Di sekitar Semenanjung tersebut karakter perairannya hangat dan ini terjadi karena adanya percampuran massa air dari arus panas Agulhas dan air dingin Benguela. Pada daerah timur, memiliki perairan yang hangat, komunitas subtropikal banyak ditemukan dan memiliki kandungan nutrien yang rendah. Bagian barat semenanjung terdiri atas lapisan hutan kelp yang luas, memiliki produktivitas yang tinggi dan populasi burung yang sangat banyak, daerah perburuan pantai dan
2
deposit nutrien dalam bentuk guano pada daerah pantai. Zona pantai batu memiliki komposisi yang berbeda sesuai dengan wilayah (Gambar 1). Pada daerah pantai barat kelimpahan alga sangat tinggi yang ditandai dengan perairan yang berwarna coklat dan hijau. Produktivitas yang lebih rendah terdapat pada daerah pantai selatan dan timur dengan diversitas dan keragaman hewan yang lebih tinggi. Salah satu yang juga mempengaruhi karakeristik pantai adalah angin. Keberadaan angin sangat berkaitan dengan adanya arus yang menyusuri sepanjang tepi pantai (long shore current), arus ini sangat mempengaruhi bentuk pantai. Selain itu hembusan angin juga menyebabkan terjadinya percampuran vertikal pada perairan sehingga memungkinkan adanya pengadukan dan pengangkatan nutrisi yang mengendap pada sedimen yang berada di dasar perairan.
Gambar 1. Faktor-faktor oseanografi yang dominan di sekitar pantai selatan Afrika dan berasosiasi dengan komunitas pantai (Hal 187, 188 dan 189) (diadaptasi dengan izin dari Branch dan Branch, 1981, The Living Shores of Southern Afrika). Daerah upwelling merupakan salah satu kondisi oseanografi yang memiliki pengaruh terhadap komunitas pantai (Gambar 1). Biomassa alga dan produktivitas primer cenderung tinggi dan di daerah upwelling seperti di Oman (Elliott dan Savidge, 1990; Savidge et al, 1990, 1992; Brock et al, 1991; Currie, 1992), rumput laut merupakan salah satu hasil dari proses upwelling. Kawasan upwelling biasanya memiliki kandungan populasi plankton yang tinggi, yang menjadi sumber makanan bagi suspension feeders sementara material detritus dari produksi rumput laut juga dimanfaatkan oleh detritivora dan suspension feeders (Velimiriv et al, 1977; Field et al, 1980a,b; Branch dan Griffiths, 1988; Filed dan Griffiths, 1991). Sebaliknya, rumput laut di komunitas tropik yang cenderung memiliki produksi yang lebih rendah. Tingginya variasi pemangsa (grazer) serta tekanan-tekanan lingkungan mengontrol bimassa alga di tempat tersebut. Banyak rumput laut yang berada di daerah sublitoral atau yang
3
berasosiasi dengan terumbu karang (Brosnan, 1992; For a Comparison of Temperate and Tropical Shores). Disini produktivitas primer terjadi oleh simbiosis antara alga dengan terumbu karang (Spencer Davies, 1992). Pada kondisi yang kaya nutrien makro alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat pada fase awal kehidupannya, ini sebagai strategi untuk mengurangi kerusakan akibat pemangsaan. Proses yang terjadi pada jaring-jaring kehidupan seperti ini dikontrol oleh konsumen (Menge, 1992). Ini terjadi pada pantai barat Afrika Selatan yang dikendalikan oleh adanya proses upwelling, sedangkan pada daerah selatan dan sebagian pantai timur dikendalikan oleh konsumen.
II. ALIRAN BAHAN DAN ALIRAN ENERGI PADA SISTEM PANTAI
III.1 Produktivitas Primer: Tingkat dan Keberadaan
Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa nonorganik (Nybakken, 1992). Produktivitas primer pada daerah pantai dan sublitoral akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis sistem yang lain (tabel 1). Kawasan hutan kelp secara kontinyu memproduksi karbon yang sangat besar per meter persegi dari daerah pantai (1000grC/m2/tahun). Sama seperti rumput laut dan makrofita yang terdapat pada pantai berbatu, lamun, rawa-rawa dan vegetasi mangrove mempunyai produktivitas primer yang tinggi setiap tahunnya. Produktivitas makrofita pertahun yang terdapat pada pantai berpasir cenderung rendah, hanya beberapa gram karbon per meter persegi pertahun (tabel 1), tetapi memiliki pantai yang luas dan landai. Kurang lebih 90 persen dari produktivitas primer makrofita tidak bisa dimanfaatkan. Rantai makanan di daerah seperti ini di dominasi oleh detritus dan DOM. Banyak dari material detritus didistribusikan dari daerah ini. Ini dapat dilihat dengan membandingkan aliran energi antara komponen pantai utama (Gambar 2 dan 4 – 9). Rantai ini sangat terbuka untuk menyesuaikan dengan berbagai tipe pemangsa langsung dan berbagai macam detritus. Contohnya, sangat sedikit komponen makrofita yang dimakan secara langsung, dan merupakan jalur-jalur dari rantai makanan. Hanya detritus yang masih segar yang dimakan oleh organisme besar, dan beberapa diantaranya diuraikan oleh mikroba. Kemudian dimanfaatkan oleh invertebrata, proses inilah yang sering terjadi dalam mengurangi kehadiran detritus. Odum dan Heald, 1975 menyampaikan bahwa ada empat jalan bagi bahan organik yang masih segar seperti daun mangrove dapat dipakai oleh organisme yang lain hal ini juga bisa terjadi pada serasah makrofita yang lain (Gambar 3).
4
Gambar 2. Aliran energi utama(gCm-2year-1) di hutan kelp Afrika Selatan (data dari Field dan Griffith, 1991). Pada permukaan yang keras lapisan mikroalga bisa sangat produktif, melebihi dari produktivitas makroalga yang terdapat pada daerah pantai (Gambar 4). Lapisan ini terdiri atas molekul organik, bakteri heterotrof, sianobakteria, diatom, fungi, protista dan fase awal kehidupan makroalga. Banyak dari produktivitas mikroba ini dimanfaatkan oleh organisme lain. Lendir dari diatom dan lendir dari gastropoda juga merupakan elemen penting pada lapisan ini sebagai media pertumbuhan bagi rumput laut dan perkembangan diatom pada tahap selanjutnya (Connor dan Quinn, 1984; Davies et al, 1992a,b). Lendir-lendir di produksi oleh gastropoda herbivora dan didistribusikan ke wilayah pesisir, dan memicu adanya pertumbuhan alga (Conner dan Quinn, 1984).
5
Gambar 3. Jalur pemanfaatan sampah makrofita oleh organisme lain (Data dari Odum dan Heald, 1975). Pada sedimen pantai produktivitas insitu mikrofita terlihat tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan material terlarut yang berasal dari daratan. Fitoplankton dan detritus merupakan komponen yang banyak terdapat disini akan tetapi produktivitas daerah pantainya di dominasi oleh bakteri heterotrof. Pada daerah pantai berpasir di Afrika Selatan, Australia, Pantai Barat Amerika, produktivitas fitoplankton sangat tinggi dan merupakan komponen energi utama dalam sistem tersebut (Brown dan McLachan, 1990, Gambar 5). Kelompok diatom seperti anaulus terkonsentrasi pada jaring sirkulasi dan terakumulasi pada daerah pantai yang tertutup. Pada siang hari mereka turun kedasar dan mengendap membentuk lapisan lendir yang tebal pada permukaan-permukaan sedimen pasir. Pada pagi hari mereka naik keatas dan mengikuti gerakan ombak menuju ke pantai (McLachan dan Lewin, 1981; Reviews: Brown dan McLachan, 1990; Talbot et al, 1990). Hal itu juga terjadi pada pantai berbatu produktivitas lendir memberikan kontribusi yang signifikan pada partikel dan DOC, kurang lebih 40% (Gambar 5) dimana pada daerah in situ produktivitas primer berasal dari laut dan daerah pantai.
6
Gambar 4. Aliran energi utama (gC m-2 year - s)pada pantai terbuka, semiterbuka dan terlindung pada pantai berbatu di Isle of Man, UK (data dari hawkins et al., 1992)
1
Gambar 5. Aliran energi utama sebagai gC per meter panjang pantai-1 dan dikumpulkan dengan koreksi area (gC m-2 year-1) di pantai berombak besar di Afrika Selatan (Data dari Brown dan McLachlan, 1990).
7
Tabel 1. Estimasi produksi primer di intertidal dan sistem perairan dangkal.
Spesies dan Lokasi Produksi (gCm-2 year-1) Sumber Field dan Griffiths (1991) Mann (1982) Mann (1982) Mann (1982) Mann (1982) Mann (1982) Dawes dkk (1991) Dawes dkk (1991) Dawes dkk (1991) King dkk (1991) Mann (1982) Wallentinus (1991) Niell (1997) Hawkins dkk (1992a) Hawkins dkk (1992a) Hawkins dkk (1992a) Hawkins dkk (1992a) Workman (1983) Workman (1983) Mann (1982) Hilman dkk (1989) Hilman dkk (1989) Hilman dkk (1989) Hilman dkk (1989) Hilman dkk (1989) Mann (1982) Mann (1982) Mann (1982) Mann (1982) Knox (1986) King dkk (1991) Wolf f (1977) Mann (1982) Baird dan Milne (1981) Steele dan Baird (1968) Reise (1992) Knox (1986)
KELP Komunitas kelp (Ecklonia maxima, Laminaria, Macrocystis) (Afrika 760 Selatan) Laminaria pallida (Afrika Selatan) 1330 Laminaria hyperborea (Inggris) 1225 Macrocystis pyrifera (California) 800 – 1000 Ecklonia radiata (Australia Barat) 1500 ALGA DI INTERTIDAL BERBATU Sargassum platycaspum (Karibia) 500* Karang Encrusting (Karibia) 1000* Distyopteris justii (Karibia) 200* Dictyota dentata (Karibia) 900* Homosira banksii (New South Wales) 200 Fucoids (Atlantik Kanada) 700 Fucus vesiculosus (Baltic) 350 Fucus spiralis (Spanyol) 120 Fucoids (Inggris) Terbuka 16 Semi terbuka 160 Tertutup 1250 Lapisan mikroalga (Inggris) Semi terbuka 100 Pantai terjal, terbuka 60 Pantai landai, terbuka 100 PADANG LAMUN Zostera marina (Carolina Utara) 350 Zostera marina (Australia) 190 - 800 Posidonia australis (Australia) 140 - 190 Amphibolis spp (Australia) 340 - 430 Cymodocea spp (Australia) 365 - 657 Halodule spp (Australia) 280 Thalassia testudinum (Florida) 900 RAWA PAYAU Spartina (Selatan Amerika) 500 Spartina, Limoniumdan Salicornia (Inggris) 400 MANGROVE Rhizopora mangal (Florida) 350 - 500 Mangrove (New Zealand) 310 PANTAI BERPASIR DAN PANTAI BERLUMPUR Pantai berpasir mikroalga (New South Wales) 50 Mikrofitobentos (Belanda) 25 - 57 Bentik microalga (Inggris) 143 Bentik microalga (Inggris) 31 Bentik microalga (Inggris) 5 Bentik microalga (seluruhnya) 20 - 200 Bentik microalga (New Zealand) 170
-2 -1
Seluruh nilai dalam gCm year . mengikuti perubahan dari literatur asli: 1gC = 12 Cal or 50 kJ. Nilai dengan tanda bintang adalah ekstrapolasi dari estimasi jangka pendek yang digambarkan dalam jumlah hari.
Produser primer yang kecil bisa memainkan peran yang penting di tropodinamik pada daerah pantai berbatu dan pantai berpasir. Pada kawasan yang berlumpur mikrofita memegang peranan yang penting, seperti pada laut Wadden (Asmus dan Asmus, 1985), tetapi produktivitas bakteri heterotrof memiliki peran yang lebih penting. Mikroba memakan material-material partikel terlarut dan kemudian bakteri tersebut dimakan oleh organisme multiseluler yang lebih besar.
8
Yang menjadi pertanyaan adalah apa hubungan dari produktivitas bakteri di sedimen dengan meiofauna (Gambar 5 dan 6). Biasanya kelompok ini terlihat berdiri sendiri sebagai suatu sistem (predator, scavanger, herbivor dan sebagian besar detritivor), dan memiliki interaksi yang terbatas dengan makrofauna tetapi mungkin berperan penting untuk proses siklus nutrien dan mineral. Bagaimanapun, kelompok-kelompok tersebut merupakan makanan bagi predator epibentik kecil seperti juvenil ikan, kepiting, udang, meiofauna besar khususnya kopepoda dan nematoda (Warwick et al, 1978; Gee, 1989).
Gambar 6. Aliran energi utama (gC m-2 year -1) di estuaria Ythan, bagian timur laut Skotlandia (Data dari Baird dan Milne, 1981).
Gambar 7. Aliran energi utama (gC m-2 year-1) di padang lamun Amerika Utara (data dari Thayer dkk, 1975 dan Mann, 1982) Reimann dan Schrage, 1978 menyatakan bahwa lendir siput dimanfaatkan oleh nematoda dan meiofauna yang terdapat pada sedimen untuk menangkap bahan-bahan organik juga untuk sebagai media pertumbuhan mikroba. Lendir dan komponennya dimakan kembali oleh siput jenis lain. Menurut hipotesis perangkap lendir ini sama dengan lendir yang dihasilkan oleh gastropoda pada pantai berbatu. Nematoda mungkin memiliki ektosimbion berupa mikroalga dan bakteri pada bagian terluar dari kutikulanya (Gerlach, 1978), tetapi belum bisa dibuktikan secara signifikan (Jensen, 1988).
9
III.2
Eksport dan Import dari Produksi Primer
Kunci dari semua ekosistem pantai adalah sangat tergantung dari pasang surut, gelombang dan arus menyusur pantai. Ini juga merupakan ciri dari habitat estuari dengan pergerakan air yang lambat seperti halnya daerah rawa dan vegetasi mangrove. Karena tingginya produktivitas primer oleh makrofita yang tidak dimanfaatkan tetapi tetap dalam bentuk partikel karbon atau DOC (Gambar 7 – 9). Keberadaan partikel-partikel itu yang melimpah kebanyakan didistribusikan oleh pergerakan massa air. Pada pantai berbatu memiliki material yang terdistribusi relatif bervariasi. Studi yang dilakukan di Kepulauan Man Inggris distribusi bersih energi, dihasilkan terutama oleh fitoplankton (Hawkins et al, 1992a) (Gambar 4).
Gambar 8. Aliran energi utama (gC m-2 year-1) di rawa payau Georgia, Amerika (data dari Teal, 1962) Perkiraan dari jumlah produktifitas primer yang masuk ke kolom air berpariasi di air laut. Nilai dari DOM bisa menjadi sangat tinggi mencapai 1-10 mgC/l bahkan bisa mencapai 100 mgC/l. Ini didapatkan dari perhitungan lapisan alga (Schramm, 1991). Gambaran ini berbeda dengan yang terdapat pada daerah peisisir yang hanya beberapa mg/liternya. Lebih dari 40% karbon yang diikat oleh rumput laut hilang sebagai DOM, tumbuhan rawa dan lamun memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberadaan DOM di daerah pesisir. Proses ini berdampak juga pada fitoplankton yang terdapat pada daerah pantai berpasir Afrika Selatan (Gambar 5) kurang lebih 25% produktivitas primer dalam bentuk DOM. Banyak diantara DOM ini dalam bentuk molekul karbohidrat ringan atau molekul gula bebas dan asam amino komplek. Komposisi ini merupakan sumber energi bagi bakteri, selanjutnya di mangsa oleh flagellata, kemudian dimakan oleh ciliata, proses makan memakan ini membentuk microbial loop. Siklus ini merupakan salah satu komponen yang penting dalam jejaring makanan di ekosistm laut, baik yang dekat pantai maupun yang lepas pantai. Penelitian yang dilakukan di pantai berpasir barat daya Afrika Selatan, Mclachlan dan Romer (1990) menghitung rentang konsumsi karbon, hasilnya memperlihatkan bahwa microbial loop memegang peranan dalam
10
sistem tersebut (gambar 10). Sebagian besar DOM juga dimanfaatkan secara langsung oleh invertebrata in situ. Contoh, sebagain nematoda dalam famili Oncholaimidae, karena memiliki ukuran mulut yang besar sehingga sering dianggap sebagai predators, pada saat ini famili tersebut memanfaatka DOM dalam jumlah besar (Chia dan Warwick, 1996; Lopez et al., 1979; Jensen, 1987). Sehingga bisa dikategorikan sebagai salah satu komponen yang paling penting dalam tropik ekologi. DOM terlarut pada umumnya dimanfaatkan oleh mikroba dan metazoa dan ditransformasikan dalam bentuk POM. Proses peralihan bentuk dari DOM pada daerah permukaan biasanya menjadi partikel anorganik atau gelembung udara; bentuk-bentuk seperti ini penting pada sistem intertidal dimana gelembung air selalu dibentuk dan partikel-partikel ini dilarutkan kembali oleh pergerakan air (Schramm,1991). Kehilangan utama dari partikel karbon yang berasal dari sistem yang didominasi oleh makrofita (Gambar 7 - 9), adalah akibat pergerakan dari massa air lokal. Daerah rawa-rawa pantai timur Amerika Utara mendistribusikan DOC dan POC (tabel 2), proses ini disebut outwelling. Perhitungan outwelling dari mangrove berbeda (Woodroffe, 1985; Hutchings dan Saenger, 1987), tetapi untuk hutan kelp dan pantai berbatu mungkin hanya tergantung pada kondisi lokal, seperti upwelling atau downwelling (gambar 2) atau kondisi hidrooseanografi seperti salinitas. Tidak seperti sistem-sistem sebelumnya mungkin distribusi bersih dari DOM dan POM masuk sampai kedaerah tepian pantai berpasir atau pantai berlumpur. Hal ini tidak mungkin menambah produksi sekunder dari pantai berpasir atau pantai berlumpur tanpa adanya masukan material organik tambahan.
Gambar 9. Aliran energi utama (gC m-2 year-1) pada mangrove di New World (data dari Odum dkk, 1982)
11
Gambar 10. Tiga kelompok tropik yang relatif penting dalam pantai berpasir di Afrika Selatan (adaptasi dengan ijin dari McLachlan dan Romer, 1990). Seperti halnya daerah barat Laut Wadden konsumsi pertahun dari energi oleh mikro dan neobentos berkisar antara 260 grC/m dan untuk makrobentos kurang lebih 90grC/m . Produktivitas bentik mikroalga mencapai 100 grC/m , nilai ini jauh dari kebutuhan total bentos yaitu sebesar 350grC/m ditambah lagi dengan kebutuhannya sebesar 250 grC/m , ini memperlihatkan kurang lebih tujuh puluh persen dari total detrital karbon yang masuk kedalam sistem (Knox, 1986). Sama seperti area pasir yang dangkal di barat laut Skotlandia kebutuhan tahunan dari bentos kurang lebih 50 grC/m , tetapi hanya 5 grC/m diproduksi oleh mikroalga sedangkan sisanya 45 grC/m (90% dari kebutuhan) harus didatangkan dari detritus yang berasal dari pantai (Steele dan Baird, 1968). Masukkan POM dari makrofita yang mendominasi sistem dapat berlangsung dengan cepat seperti pada pantai yang memiliki hutan kelp yang luas, merupakan gudang untuk menyimpan bahan-bahan organik pada kedalaman satu meter di daerah pantai. Perhitungan yang dilakukan di Pantai Kommitjie di Afrika Selatan memiliki kelp seberat 2000 kg/meter pantai (griffiths et al, 1983; Koop dan Lucas, 1983). Material ini membuat tingginya kekayaan dan diversitas makrofauna yang di dominasi oleh insekta, oligochaeta, ampipod dan isopod. Larva insekta penting dalam stratifikasi pantai (Stenton Dozey dan Griffiths, 1983). Stratifikasi pantai juga ditandai dengan adanya variasi burung (Puttick, 1979). Pantai dengan hutan kelp memiliki detritus yang sangat banyak tetapi sangat sulit menghitung berapa banyak material yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen. Seperti menanyakan dari mana asalnya detritus tersebut. Untuk mengatasi masalah ini kita bisa mengadakan uji biokimia untuk
2 2 2 2 2 2 2 2
12
menentukan asal material tersebut dengan asumsi bahwa jaringan dari invertebrata mengandung material tersebut. Dengan harapan bahwa setiap karbon yang dimakan dan di metabolisme memiliki jalan dan proses yang berbeda terhadap rasio dua isotop karbon stabil C dan
13 12
C, dari rasio ini dapat di hitung kandungan alami dari inorganik karbon. Dengan
pengukuran proporsi relatif dari kedua isotop ini dalam detritus POM kita dapat mengambil kesimpulan bahwa produser primer yang mana (bakteri, diatom, kelp, lamun, rawa-rawa atau tumbuhan mangrove) material ini berasal. Selanjutnya karena material ini akan diubah oleh invertebrata konsumen, jaringannya tentu akan mengandung
12 13
C dan
C dengan rasio yang
sama dengan asal dari karbon itu sendiri. Menggunakan teknik tertentu kita dapat mengikuti alur tropik pada jaring makanan (Peterson dan Frey, 1987). Pendekatan yang dapat di pakai untuk isotop stabil dari elemen yang lain dan dapat dipakai untuk menghitung berapa banyak invertebrata yang bersimbiosis dengan mikroba di dalam jaringannya (Conway dan Capuzzo, 1980) Tabel 2. Perubahan tahunan organik karbon antara rawa payau dan perairan pantai* Tanda minus mengindiksikan adanya ekspor Carbon flux (gCm-2year-1) Site DOC POC Great Sippewisset, Cape Cod, Massachusetts -76 Flax Pond, Long Island, New York - 8.4 61 Canary Creek, Lewes. Delaware -38 -62 Gott’s Marsh, Patuxant River,Maryland - 7.3 Ware Creek, York River, Virginia -80 -32 Carter Creek, York River, Virginia -25 -116 Dill Creek, Charleston, South Carolina -303 Barataria Bay, Louisiana -140 -25 Pantai yang memiliki konsumen sekunder juga bisa memiliki input material organik yang signifikan. Ubur-ubur juga terdapat pada daerah ini sebagai neuston hidup pada lapisan atas dari air laut. Hewan laut seperti ini memangsa scavanger pasir seperti kepiting. Dikawasan pantai Afrika Selatan terdapat Bulia sebagai scavanger utama yang memakan material-material yang terdapat di pantai (A.C. Brown, 1982). Pantai berbatu secara alami merupakan eksportir alami dari produktivitas primer dan menjadi importir pada waktu yang sama. Sebagai contoh pantai yang terbuka seperti Kepulauan Man sewaktu-waktu bisa didominasi oleh alga tetapi di lain waktu didominasi oleh teritip dan limpet. Interaksi antara konsumen dan produsen pada daerah pantai ini tidak hanya berdasarkan struktur komunitasnya tetapi juga oleh alur-alur dari siklus energi. Pada kenyataannya untuk
13
mengurangi tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh konsumen maka strateginya adalah produsen memiliki pertumbuhan yang sangat cepat hal ini merupakan jalan untuk mempertahankan aliran energi. III.3 Peran Meiofauna Untuk Aliran Energi
Salah satu alasan mengapa meiofauna tidak banyak diketahui dan tidak terlalu dipahami adalah karena ukurannya kecil. Alasan yang sama juga berlaku pada mikroalga. Sebelum kedua grup ini dipahami sepenuhnya mereka cenderung diabaikan dalam mempelajari aliran energi. Kecuali pada daerah pantai berpasir (laut dalam), biomassa meiofauna dianggap jauh lebih kecil dengan makrofauna, walaupun keberadaan mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan makrofauna (tabel 3). Satu hal yang dipikirkan tentang aliran energi pada sistem tersebut sangat didominasi oleh makrofauna. Fenchel (1969) menyatakan bahwa pada berbagai daerah, hanya cilliata saja mungkin delapan kali lebih besar metabolismenya dibandingkan dengan makrofauna pada pantai berpasir. Stok total dari biomassa meiofauna merupakan indikator yang sangat penting. Ini lebih relevan dibandingkan distribusi dari masing-masing individu. 1 gr biomassanya mengandung kurang lebih 5000 individu nematoda, dimana 1 gr makrofauna mungkin hanya mengandung 1 polichaeta.Meiofauna dan mikrofauna yang lain mungkin lebih kecil lagi (Gambar 11). Statistik ini penting diprtimbangkan untuk pengukuran kisaran metabolisme dari poikiloterm invertebrata laut. Berat spesifik dari rata-rata metabolisme (sebanding dengan konsumsi oksigen meningkat seiring dengan semakin kecilnya organisme (Gambar 12), jadi 1 gr meiofauna ebih banyak menggunakan oksigen dan energi dibandingkan dengan 1 gr makrofauna.
Gambar 11. Kisaran ukuran kelompok meiofauna utama (diadaptasi dengan ijin dari Mann, 1982).
14
Gambar 12. Hubungan antara organisme dan tingkat metabolisme Ukuran berbanding lurus dengan kecepatan reproduksi. Banyak dari spesies meiofauna memiliki lebih dari satu generasi pertahun bahkan ada yang sampai 10 (Gerlach, 1971). Jika dirataratakan 3 generasi pertahun dan untuk setiap 1 gr meiofauna berarti menghasilkan 3 gr generasi baru (Gerlach, 1971), kemudian 1 gr stok tetap meiofauna akan menghasilkan 9 gr dalam setahun. Banyak dari biomassa ini dikurangi oleh predator dan berbagai faktor alami lainnya. Berbeda dengan makrofauna yang memiliki reproduksi yang relatif lama rata-ratanya lebih kecil 10 - 50% (Gerlach, 1971). Ini mengikuti penggunaan energi dan reproduksinya sendiri, meiofauna akan lebih berarti dibandingkan dengan perhitungan stok totalnya. Kenyataannya rasio produktivitas biomassa, kurang lebih 10 untuk meiofauna dan hanya kira-kira 2.5 untuk makrofauna (Tabel 3; McLachlan dan Romer, 1990). Tabel 3. Produksi dan biomassa meio- dan makrofauna di sedimen estuari intertidal*
Meiofauna Site Ythan estuary Lynher estuary Biomass Production (gC m-2) (gCm-2year-1) 2.1 1.2 20.0 13.5 P/B ratios 10.0 11.3 Makrofauna Biomass Production (gCm-2) (gCm-2year-1) 15.1 5.4 37.0 5.4 P/B ratios 2.4 1.0
*Berdasarkan pada data dari Baird dan Milne (1981) dan Warwick et al.(1979)
15
Gambar 13. Kepentingan relatif meio dan macrofauna pada leve; yang berbeda di daerah pantai berbatu di Afrika Selatan (modifikasi Gibbons dan Griffith) Meiofauna selalu melimpah keberadaannya pada daerah pantai berbatu (Hicks, 1985) hal ini membutuhkan sedikit usaha untuk mempelajari peranan mereka dalam aliran energi. Seperti yang disampaikan oleh Gibbons dan Griffiths (1986), perhitungan densitas biomassa dan produktivitas makrofauna dan meiofauna di lima pantai di kawasan intertidal Teluk False, Afrika Selatan (Gambar 13). Memperlihatkan bahwa makrofauna 12 kali lebih penting pada kawasan ini dalam biomassa, makrofauna selalu 3 kali lebih penting dalam hal produktivitas. Jelasnya ekologi pantai berbatu mengikuti ekologi sedimen termasuk meiofauna dalam jaring energi mereka. Tentunya beberapa argumen yang sama menyatakan bahwa untuk larva dari alga kecil dan komponen lapisan mikrobial pada pantai berbatu. Karena rata-rata keperluan mereka lebih kecil dari aktivitas pemangsaan limpet, produktivitas mereka sama dengan makrofita pada pantai yang sama (Field, 1983). Ini sangat penting tetapi diabaikan di ekologi pantai berbatu. Komposisi lapisan alga dijelaskan (McLulich, 1986; Hill dan Hawkins, 1990, 1991) dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan teknik yang sulit untuk mengukur rata-rata produksi dan konsumsi oleh pemangsa.
III. INTERAKSI ANTARA SISTEM PANTAI DAN SISTEM LAINNYA
IV.1 Larva Planktonis dari Organisme Pantai
Perairan pantai senantiasa mengalami pertukaran bahan organik dengan sistem-sistem ekologi lainnya yang ada di sekitarnya, sebagaimana digambarkan dalam Gambar 2. dan 4-9. Kondisi ini terjadi secara terus menerus, dimana makro invertebrata bentik mensuplai sejumlah besar larva dan tumbuh-tumbuhan berperan penting dalam penyediaan propagul-propagul algae ke perairan pesisir. Larva yang masuk ke perairan ini memanfaatkan energi yang berasal dari
16
plankton dan larva tersebut juga merupakan sumber makanan bagi organisme pelagis dan bentik sehingga larva merupakan salah satu komponen penting yang menghubungkan ekosistem pantai dengan ekosistem laut lepas. Sebagai contoh, larva nauplii teritip yang telah berumur 4-6 minggu memakan plankton yang pada gilirannya larva tersebut dimangsa oleh zooplankton lainnya termasuk oleh larva ikan. Selanjutnya, pelepasan larva teritip Boreal-Artik Semibalanus balanoides, bersamaan dengan berkembangnya fitoplankton yang didominasi oleh diatom dan hal ini juga dipicu oleh hadirnya diatom tertentu seperti Skeletonema. Bila pelepasan larva terjadi pada waktu yang tepat dan bersamaan juga dengan peningkatan biomassa fitoplankton, maka kesempatan bagi larva teritip ini berkembang dan melekat pada substrat juga akan meningkat (Barnes, 1956; Connel 1961a; Hawkins dan Hartnol, 1982a). Pada perairan pantai yang garis pantainya menekuk atau pantai yang berdekatan dengan pulau, adanya angin yang menuju pantai selama musim pelekatan meningkatkan kemungkinan pengangkutan larva mendekati pantai (Hawkins dan Hartnol, 1982a; Shanks, 1986; Bertnes et al., 1991) selanjutnya akan mempengaruhi tingkat keberhasilan rekruitmen (Barnes dan Barnes, 1977). Pada daerah upwelling di sekitar pantai California, tingkat keberhasilan rekruitmen berhubungan kuat dengan waktu terjadinya upwelling yang membawa larvae ke daerah pantai (Gaineas et al., 1985). Variasi dari tersedianya individu muda selanjutnya akan mempengaruhi seluruh struktur komunitas di daerah pantai, karena pelekatan massal juga menentukan tersedianya kebutuhan makanan bagi predator lainnya (Sebens dan Lewis, 1985). Pengaruh ini dapat dengan jelas teramati pada jenis-jenis pemijah tunggal, dimana penyebaran larva terbatasi ketika massa air melalui suatu area sempit seperti laguna atau teluk yang sempit dimana larva tertahan dan terkonsentrasi sehingga kesempatan pelekatan menjadi lebih tinggi. Hal ini juga terjadi pada area laut yang terdapat front --seperti di Gulf Maine—yang memerangkap larva. Oleh karenanya interaksi biologi intensif terjadi pada pantai-pantai dengan tingkat pelekatan biota kunci seperti teritip dan kerang yang tinggi. Keberadaan larva teritip sebelum masa pelekatan secara efektif dapat digunakan sebagai ‘contoh' ekosistem laut lepas dimana tingkat pelekatan dari organisma tersebut dapat dijadikan sebagai bioindikator dari kondisi di laut lepas. Di wilayah barat-daya Inggris, Southward (1967, 1980, 1991) memperlihatlan adanya perubahan keseimbangan antara populasi utara Semibalanus balanoides dan populasi selatan Chthamalus spp. selama lebih dari 80 tahun yang mencerminkan perubahan-perubahan di laut lepas. Dominansi Semibalanus berasosiasi komunitas pelagis yang dicirikan oleh jenis-jenis ikan laut lepas bagian utara termasuk indikator
17
chaetognath Sagitta elegans dengan ikan hering atau mackerel sebagai ikan pelagis utama. Sebaliknya, dominansi Chthamalus mencerminkan suatu sistim dengan lebih banyak jenis-jenis bagian selatan dan kumpulan zooplankton dekat ke pantai (termasuk Sagitta setosa) dan ikan sardine Sardina pilchardus. Dengan demikian, kelimpahan relatif dari Semibalanus dan Chthamalus berkaitan erat dengan karakteristik massa air yang melewati wilayah barat daya Inggris.
Gambar 14. Model aliran energi pada ekosistem intertidal (Baird et al. 2004 ) IV.2 Riwayat Hidup dan Bentuk Migrasi
Berbagai jenis organisme memanfaatkan pantai secara temporal sebagai daerah asuhan, atau secara episodik seperti ikan dan burung migran. Beberapa jenis ikan yang bermigrasi menggunakan estuari sebagai sebuah koridor. Ikan-ikan ini bermigrasi dari perairan tawar untuk memijah di laut (catadromous fish) seperti belut Anguilla atau bermigrasi dari laut untuk memijah di perairan tawar (anaadromous fish) seperti ikan salem Atlantik Salmo salar atau belut Petromyzon, dan beberapa jenis tertentu melakukan pemijahan di daerah intertidal. Sebagai contoh, ikan hering pasific Clupea pallidus meletakkan telurnya pada rumput laut di daerah dangkan dan capelin meletakkan telurnya pada pantai berpasir di atas zona pecahan ombak. Salah satu contoh paling menarik dari organisme yang menggunakan pantai berpasir sematamata hanya untuk bertelur adalah berbagai jenis penyu, dan sekaligus merupakan mangsa dari berbagai predator di intertidal baik anakan maupun telurnya.
18
Di wilayah tropis dan subtropis, anakan dari berbagai krustasea penting seperti udang penaeid menggunakan estuari, laguna dan mangrove sebagai tempat mencari makan sebelum bermigrasi ke laut lepas untuk memijah. Berbagai jenis ikan juga memijah jauh dari daerah intertidal dan dalam perkembangannya larva berpindah mendekati pantai dan berkembang menjadi anakan selama menempati habitat pantai. Peranan kebun kelp, estuari, mangrove dan padang lamun serta teluk tertutup lainnya sebagai daerah asuhan menyebabkan tingginya biomassa biota invertebrata dan melindungi mereka dari predator karena tingginya kekeruhan serta heterogenitas habitat yang tercepta melaui vegetasi dan perairan dangkal. Selain itu, karena perairan dangkal lebih cepat hangat sehingga menyediakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan organisma. Masuknya ikan ke estuari juga dimaksudkan untuk mengurangi tekanan psikologis karena perbedaan osmotik antara anakan ikan laut dengan lingkungannya. (Rankin dan Davenport, 1981). Mengingat bahwa sejumlah besar anakan ikan ikan ditemukan di habitat-habitat pantai, termasuk jenis terumbu karang yang ditemukan di mangrove, anakananakan ikan ini berperan penting dalam pemeliharaan stok ikan komersil di laut lepas. (Gunter, 1967; Haedrich, 1983). Meskipun berbagai jenis vertebrata laut seperti ikan paus dan beruang laut secara teratur bermigrasi ke daerah dekat pantai untuk mencari makan, data terbaik mengenai laju konsumsi para pengunjung pantai berasal dari studi-studi tentang burung-burung pantai. Setiap tahun sejumlah besar burung-burung migran (waders) dan unggas liar (wildfowl) mengunjungi pantai berpasir dan berlumpur yang terlindung selama migrasi musim gugur dan musim semi. Pada saat tersebut, tidak semua area yang dikunjungi digunakan untuk tujuan yang sama. Estuari digunakan sebagai area overwintering, daerah lainnya sebagai tempat awal selama migrasi atau tempat bertelur ataupun sebagai tempat untuk menghilangkan rasa dingin selama musim dingin yang baru dilalui, sekaligus untuk mencari makan. Ketika burung-burung tersebut berpeindah dari pantai tersebut ke tempat makan yang lain, mereka membawa serta bahan dan energi yang telah dikonsumsi di pantai itu. Tabel 4. Dampak Konsumsi Burung Pantai (wildfowl) terhadap standing crop Makrofita * Macrophyte Zostera marina Ruppia maritima and Zostera marina Ruppia cirrhosa Potamogeton spp. Zostera spp. ‘submerged aquatic plant’ % consumed 1 1-25 20 13 30-75 50
19
IV. ALIRAN ENERGI DAN INTERAKSI FUNGSIONAL DI PANTAI
Dalam ekosistem pantai dan estuaria dengan populasi atau komunitas dari kerang yang tinggi, organisme ini sering menjadi komponen fungsional utama. Mereka mememanfatkan lebih banyak produktifitas primer pada kolom air. (Kohata,2003) Aliran energi utama yang ditunjukkan dalam gambar 2 dan 4-9 memperlihatkan bahwa beberapa pola aliran lebih penting dibanding lainnya dalam proses pemindahan energi di antara berbagai kelompok trofik yang berbeda. Sehingga, pada kebun kelp dan intertidal berbatu, POM dalam bentuk detritus tersuspensi dan fitoplankton merupakan material utama yang mengalir dalam rantai makanan ke tingkat trofik yang lebih tinggi. Sebaliknya, sejumlah kelp atau rumput laut yang secara langsung dikonsumsi herbivora < 10% dari produksi primer. Namun experimen manipulatif terhadap grazer seringkali mengungkapkan bahwa konsumer-konsumer minor memainkan peran kunci dalam mengontrol dinamika dari suatu ekosistem. Antara ekosistem pesisir terdapat keterkaitan dikarenakan mereka saling berhubungan. Hubungan atau keterkaitan tersebut terjadi lewat beberapa proses, misalnya badan air yang mengalir dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya, adanya migrasi hewan dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya, dan proses lain akibat ulah alam maupun manusia. V.1 Keterkaitan antara ekosistem terestrial dengan ekosistem pesisir Keterkaitan ini akan sangat mudah dimengerti kalau kita melihat interaksi antara ekosistem terestrial dan ekosistem pantai lewat aliran sungai; apapun yang terjadi di daerah hulu akan dialirkan ke daerah hilir lewat sungai. Pada masa dimana penggunaan pupuk fosfat dan nitrat di sawah sangat tinggi, beberapa persen dari pupuk tersebut terbawa oleh aliran air ke sungai dan selanjutnya ke daerah hilir. Masukan fosfat dan nitrat yang tinggi ke perairan pesisir ini dapat menyebabkan terjadinya yutrofikasi (penyuburan), dan beberapa jenis alga menggandakan diri dengan sangat cepat (blooming), akibatnya terjadi penghambatan sinar matahari ke kolom air di bawah permukaan. Akibat selanjutnya adalah banyak organisme (alga, termasuk fitoplankton) yang mati, dan bangkainya akan diuraikan oleh bakteri. Untuk mengurai ini diperlukan oksigen, sehingga karena banyaknya organisme yang mati, perairan menjadi kekurangan oksigen yang berakibat turunnya kualitas air dan akhirnya mempengaruhi kehidupan organisme yang lain.
20
V.2 Keterkaitan antara ekosistem hutan bakau-padang lamun Keterkaitan antara hutan bakau dengan padang lamun dapat lewat proses fisik, nutrien, migrasi hewan, dan dampak kegiatan manusia. Padang lamun meredam gerakan air dengan cara melemahkan energi gelombang dan menciptakan zone energi rendah yang cocok buat hutan bakau. Padang lamun juga menjebak, menstabilkan, dan menghasilkan sedimen, yang penting bagi hutan bakau karena dapat mencegah abrasi atau penenggelaman bagian-bagian bakau yang diperlukan untuk aerasi. Sebaliknya, hutan bakau bertindak sebagai tempat sedimentasi dan pengikat sedimen yang efektif, membalas keuntungan yang didapat dari padang lamun. Kemampuan bakau mengatur aliran air tawar di wilayah pesisir menahan/menyangga perubahan salinitas yang kalau tidak akan merugikan lamun. Baik hutan bakau maupun padang lamun cenderung melepaskan atau mengekspor nutrien. Penglepasan berkaitan positif dengan pasokan nutrien yang tinggi, sedangkan ekspor berkaitan dengan masukan nutrien yang rendah kepada ekosistem di dekatnya. Penglepasan nutrien menjamin bahwa setiap sistem menerima nutrien yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan. Lagipula, burung-burung yang beristirahat di pohon bakau dan mencari makan di padang lamun akan membawa kembali nutrien ke hutan bakau dengan cara lewat kotoran yang dikeluarkan setelah kembali dari mencari makan di padang lamun. Bahan organik
(partikulat maupun terlarut) yang mengalir dari hutan bakau ke padang lamun dan sebaliknya, membantu mempertahankan perairan kedua habitat ini tetap kaya akan nutrien. Hutan bakau dan padang lamun juga saling terkait oleh migrasi hewan yang mencari makan dan perlindungan dan menyebabkan pertukaran energi antar habitat. Migrasi atau perpindahan ini dapat dalam jangka pendek (harian atau musiman) atau jangka-panjang (seumur hidup), dan pertukaran energi ini dilakukan oleh bentuk kehidupan dewasa ataupun juvenil. Lobster,
Panilurus sp. dan udang Penaeus duorarum, serta berbagai jenis ikan menghabiskan sebagian dari awal hidup mereka di ekosistem hutan bakau atau padang lamun dan kemudian bermigrasi ke sistem yang lain. Larva bersifat planktonik yang dihasilkan oleh biota yang menempel di pohon bakau dapat terbawa oleh aliran air ke padang lamun, menjadi sumber makanan yang potensial bagi hewan di padang lamun. Perusakan hutan bakau akan menyebabkan aliran erosi daratan ke dalam padang lamun, menyebabkan penutupan (shading), dan yutrofikasi. Konsekuensi ini akan menurunkan Berkurangnya
produktivitas primer dan sekunder, terutama penurunan laju fotosintesis.
padang lamun membuat sedimen menjadi tidak stabil. Hal ini kemudian menyebabkan sedimen
21
terangkut oleh arus air atau badai ke daerah hutan bakau dan memperparah ekosistem yang telah mengalami gangguan, misalnya kerusakan daerah asuhan dan daerah mencari makan atau perubahan pola jaring-jaring makanan. V.3 Keterkaitan antara terumbu karang , padang lamun dan bakau Ketiga ekosistem pesisir ini tidak selalu dijumpai pada satu wilayah pesisir. Kalau ketiganya dijumpai, maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Misalnya, hutan bakau adalah penghasil detritus yang akan dibawa oleh arus ke padang lamun untuk dimanfaatkan oleh organisme di ekosistem tersebut. Selain itu, ekosistem bakau juga merupakan sumber bahan organik, dan nutrien yang oleh arus akan dibawa ke padang lamun. Sebaliknya, padang lamun adalah sumber bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang untuk kemudian dimanfaatkan oleh organisme penghuni terumbu karang. Padang lamun juga mengikat sedimen sehingga tidak terbawa ke terumbu karang, yang kalau terjadi akan mengganggu kehidupan terumbu karang. Terumbu karang sendiri, terutama di daerah tubir merupakan pemecah gelombang , menghempaskan energi gelombang di tubir karang sehingga secara fisik melindungi padang lamun dan hutan bakau. Terumbu karang juga menyediakan berbagai macam habitat bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun hutan bakau. Di samping hal-hal yang disebutkan di atas, ketiga ekosistem tadi juga menjadi tempat migrasi atau sekedar berkelana dari organisme perairan hutan bakau ke padang lamun, kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya. V.4 Keterkaitan antara hutan bakau dengan perairan di depannya Hutan bakau merupakan daerah asuhan dan mencari makan beberapa jenis udang dan ikan. Udang bertelur di laut lepas, kemudian telur menetas dan berkembang menjadi larva, nauplius, mysis, post mysis, dan udang juvenil. Selama perkembangannya, organisme ini akan terbawa atau mengikuti arus ke daerah pantai, dan akan tinggal disini untuk mencari makan dan tumbuh menjadi lebih besar di antara akar-akar pohon bakau Kalau saatnya tiba, udang juvenil akan bermigrasi ke arah laut lepas dan tumbuh menjadi dewasa disana. Jadi jelas disini bahwa keberadaan udang dewasa di lepas pantai sangat dipengaruhi oleh tersedianya tumbuhan bakau di pantai. Hal ini tercermin dari hubungan antara luas hutan di pantai dengan hasil tangkapan udang di laut. Semakin luas pantai yang ditumbuhi tumbuhan, semakin besar hasil tangkapan udang di perairan di depannya Penggundulan hutan pantai karena alasan apapun akan menghilangkan daerah asuhan tempat beberapa biota hidup. Akibatnya adalah sumber bibit alami bagi perairan lepas pantai akan berkurang sehingga tangkapan udang atau ikan tertentu juga akan berkurang. Bibit alami ini
22
merupakan satu-satunya sumber bibit bagi tambak tradisional. Oleh karena itu, penggundulan hutan pantai yang sering dilakukan untuk menyediakan lahan tambak, justru merugikan tambak tradisional.
V. IKHTISAR
Kondisi ekologi pantai memiliki pengaruh yang kuat terhadap kejadian yang ada di laut lepas. Sebagaimana zona penghubung, pantai merupakan daerah yang memiliki produktivitas yang tinggi. Sebagian besar dari produksi ini berasal dari aliran detrital, sama seperti di ekosistem daratan atau perairan tawar. Hal ini berbeda dengan sistem laut terbuka dimana produksi umumnya melalui copepoda herbivor dan kelompok mikrobial yang menghasilkan bahan organik terlarut dalam jumlah besar. Di perairan pesisir, proses mikrobial dari detritus merupakan hal yang penting karena proses ini mampu menyediakan bahan ke tingkat trofik yang lebih tinggi terutama pemakan suspensi. Pantai juga menerima material dari subtidal dangkal dalam bentuk detritus yang dihasilkan dari kebun kelp pada pantai berpasir atau pantai berbatu. Komunitas yang didominasi oleh makrofita seperti padang rumput laut, mangrove, dan rawa payau juga menghasilkan matetail bagi perairan pantai sekitarnya. Organisme intertidal menghasilkan larva ke laut lepas dan pola rekruitmennya sendiri dipengaruhi oleh kondisi hidrografi pantai di sekitarnya Daerah intertidal digunakan sebagai tempat mencari makan bagi krustasea dan ikan serta bagi burung-burung pantai dewasa. Pantai memainkan peran yang penting dalam proses migrasi beberapa hewan tersebut, dan dalam kasus sebagai daerah asuhan, fase krusial dari organisme ini berlangsung di pantai. Pola aliran energi dan materi dalam komunitas intertidal terutama dipengaruhi oleh konsumer kunci yang memindahkan bahan dan energi dari produser ke konsumer selanjutnya.
23
Daftar Pustaka
Baird et al. 2004 Energy flow of a boreal intertidal ecosystem, the Sylt-Rømø Bight. MARINE
ECOLOGY PROGRESS SERIES Mar Ecol Prog Ser Vol. 279: 45–61,
Connell H. Joseph. 1972. Community Interction on Marine Rocky Intertidal Shores. Annual Review of Ecological and Sytematics, Vol. 3 (1972), pp 169-192 Finkl C. W., 2004. Coastal Classification: Systematic Approaches to Consider in the Development of a Comprehensive Scheme. Journal of Coastal Research 20 1 166–213 West Palm Beach, Florida Winter 2004. Kohata, K. T.Hiwatari, T. Hagiwara. Natural water-purification system observed in a shallow coastal lagoon: Matsukawa-ura, Japan Marine Pollution Bulletin 47 (2003) 148–154 Menge A. Beruce at al. 1999. Top-Down and Bottom-Up Regulation of New Zealand Rocky Intertidal Communities. Ecological Monographs., Vol. 69, No. 3 (Aug.,1999), pp 297-330
Nybakken, J.W., 1992. Biologi Laut: suatu pendekatan ekologis. Penerjemah: H.M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo dan S. Sukardjo. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
24