Docstoc

perspektif pendidikan keluarga menurut al quran

Document Sample
perspektif pendidikan keluarga menurut al quran Powered By Docstoc
					                                         BAB I
                                PENDAHULUAN

     Paradigma pendidikan sangat penting karena akan menentukan corak dan bentuk
suatu pendidikan. Dalam konteks inilah membicarakan konsep pendidikan menurut al-
Qur’an sangat penting untuk dilakukan.

     Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Al-Qur’an
menjadikan iman dan ilmu sebagai tolak ukur derajat manusia (QS. al-Mujadalah: 11;
at-Taubah: 122; dan az-Zumar 9). Ayat al-Qur’an yang pertama kali turun berisi
perintah untuk membaca (iqra’). Membaca adalah kunci ilmu pengetahuan, sehingga
sejak awal Islam memang mencurahkan pehatian pada penguasaan ilmu. Pada wahyu
pertama tersebut disebutkan juga al-qolam, yang tentu saja menyiratkan pesan
pengembangan ilmu, sebab ia merupakan alat tarnsformasi dan trnasmisinya. Ini
menunjukkan bahwa agama sangat menekankan pentingnya aktifitas membaca,
menelaah dan meneliti segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Dan aktifitas membaca
tersebut hanya di perintahkan kepada manusia, karena hanya manusialah makhluk yang
memiliki akal dan hati, yang menjadi pembeda utama dengan makhluk lainnya. Dengan
hati dan akal itulah manusia bisa memahami fenomena-fenomena yang ada di
sekitarnya, sehingga memiliki kemampuan untuk mengemban amanah sebagai
khalifatullah fil ardh.

     Semua ini memberi pemahaman betapa pentingnya pengetahuan bagi
kelangsungann hidup manusia, karena dengan pengetahuan itu manusia akan bisa
mengetahui mana yang baik dan buruk, benar salah, yang bermanfaat dan berbahaya.
Oleh karena itu, salah satu do’a yang diajarkan al-Qur’an dalam surat Thaha: 114
adalah, “Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.
Tidak ada agama selain Islam, tidak ada Kitab Suci selain al-Qur’an yang demikian
tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, serta memuji
orang-orang yang menguasainya. Jika ilmu pengetahuan diposisikan begitu istimewa di
alam Kitab Suci, dan tidak ada cara yang lebih ideal melebihi pendidikan dalam rangka
menanamkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut, maka sudah tentu
bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat strategis dan penting menurut al-Qur’an.
                                   BAB II
                                PEMBAHASAN


  A. Pengertian Pendidikan, Keluarga, dan Bentuk-Bentuk Keluarga

     a. Pengertian Pendidikan

     Kata pendidikan menurut etimologi berasal dari kata dasar didik.Apabila diberi
awalan me-,menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja yang berarti
memelihara dan memberi latihan (ajaran). Sedangkan bila berbentuk kata benda
akan menjadi pendidikan yang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah
laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan latihan.

     Istilah pendidikan dalam konteks Islam telah banyak dikenal dengan
menggunakan term yang beragam, sepertiat-Tarbiyah, at-Ta’lim dan at-Ta’dib.
Setiap term tersebut mempunyai makna dan pemahaman yang berbeda, walaupun
dalam hal-hal tertentu, kata-kata tersebut mempunyai kesamaan pengertian.

     Pemakaian ketiga istilah tersebut, apalagi pengakajiannya dirujuk berdasarkan
sumber pokok ajaran Islam (al-Qur’an dan al-Sunnah).Selain akan memberikan
pemahaman yang luas tentang pengertian pendidikan Islam secara substansial,
pengkajian melalui Al-Qur’an dan al-Sunnah pun akan memberi makna filosofis
tentang bagaimana sebenarnya hakikat dari pendidikan Islam tersebut……?

     Dalam al-Qur’an Allah memberikan sedikit gambaran bahwa at-Tarbiyah
mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan,
memelihara, membuat, membesarkan dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks
Al-Isra maknaat-Tarbiyah sedikit lebih luas mencakup aspek jasmani dan rohani,
sedangkan dalam surat asy-Syura hanya menyangkut aspek jasmani saja.

     b. Pengertian Keluarga

     Keluarga dalam bahasa Arab adalah Al-Usroh yang berasal dari kata Al-Asru
yang secara etimologis mampunyai arti ikatan.
     Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam
masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko-sosio-spiritual dimana anggota keluarga
terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan
bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga
keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim.
Sementara satu    Al- Razi mengatakan al-asru maknanya mengikat dengan tali,
kemudian meluas menjadi segala sesuatu yang diikat baik dengan tali atau yang lain.

     Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian
pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam
kelompok atau unit sosialterkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan
lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan
mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan
pribadi keluarga dan masyarakat.

     c. Bentuk-Bentuk Keluarga

     Dalam norma ajaran sosial, asal-usul keluargaterbentuk dari perkawinan (laki-
laki dan perempuan dan kelahiranmanusia seperti yang ditegaskan Allah dalm surat
an-Nisa ayat satuyang berbunyi:

                                              ‫وخلق منها زوجهاوبث منها رجاال كثيرا ونساء‬
Artinya:

     “Dan Ia ciptakan dari padaNyapasanganny dan Ia tebarkan dari keduanya laki-
laki dan perempuan yang banyak”. (Q.S.An-Nisa: 1)

     Asal-usul ini erat kaitannya dengan aturan Islam bahwa dalam upaya
pengembang-biakan keturunan manusia,hendaklah dilakukan dengan perkawinan.
Oleh sebab itu, pembentukan keluarga di luar peraturan perkawinan dianggap
sebagai perbuatan dosa.

     Adapun bentuk-bentuk keluarga sebagaimana dijelaskan William J. Goode
dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk:
  1. Keluarga nuklir (nuclear family) sekelompok keluarga yang terdiri dari ayah,
     ibu dan anak yang belum memisahkan diri membentuk keluarga tersendiri.
  2. Keluarga luas (extentended family) yaitu keluarga yang terdiri dari semua
     orang yang berketurunan dari kakek, nenek yang sama termasuk dari
     keturunan masing-masing istri dan suami.
  3. Keluarga pangkal (sistem family) yaitu jenis keluaarga yang menggunakan
     sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua, seperti banyak
     terdapat di Eropa pada zaman Feodal, para imigran Amerika Serikat, zaman
     Tokugawa di Jepang, seorang anak yang paling tua bertanggung jawab
     terhadap adik-adiknya yang perempuan sampai ia menikah, begitu pula
     terhadap saudara laki-laki yang lainnya.
  4. Keluarga gabungan (joint family) yaitu keluarga yang terdiri dari orang-orang
     yang berhak atas hasil milik keluarga, mereka antara lain saudara laki-laki
     pada setiap generasi, dan sebagai tekanannya pada saudara laki-laki, sebab
     menurut adat Hindu, anak laki-laki sejak lahirnya mempunyai hak atas
     kekayaan keluarganya.

     Sementara itu dalam hubungan keluarga,Jalaluddin Rahmat mengungkapkan
dalam bukunya yang berjudul Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern bahwa
biasanya sepasang suami istri memiliki tiga struktur. Pertama,sruktur komplementer
atau dengan kata lain dikenal dengan keluarga tradisional. Kedua, struktur simetris
atau yang sering disebut dengankeluarga modern. Ketiga, struktur pararel yang
merupakan hubunganantara struktur simetris dan struktur komplementer yang kedu
belahpihak tersebut saling melengkapi dan saling bergantung, tetapi dalamwaktu
yang sama mereka memiliki beberapa bagian dari perilaku kekeluargaan mereka
yang mandiri.

  B. Aspek-Aspek Pendidikan Keluarga

     Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalammasyarakat merupakan lingkungan
budaya pertama dan utama dalam rangkamenanamkan norma dan mengembangkan
berbagai kebiasaan dan perilakuyang dianggap penting bagi kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat.
      Dalam buku The National Studi on Family Strength,Nick dan De Frain
mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menujuhubungan keluarga yang
sehat dan bahagia, yaitu:

   1. Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
   2. Tersedianya waktu untuk bersama keluarga.
   3. Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak.
   4. Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak
   5. Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi

      Seiring kriteria keluarga yang diungkapkan diatas, sujana memberikan
beberapa fungsi pada pendidikan keluarga yangterdiri dari fungsi biologis, edukatif,
religius, protektif, sosialisasi dan ekonomis.

      Dari beberapa fungsi tersebut, fungsi religius dianggap fungsi palingpenting
karena sangat erat kaitannya dengan edukatif, sosialisasi dan protektif. Jika fungsi
keagamaan dapat dijalankan, maka keluargatersebut akan memiliki kedewasaan
dengan pengakuan pada suatu system dan ketentuan norma beragama yang
direalisasikan       di      lingkungan          dalam       kehidupan         sehari-hari.
Penanaman akidah sejak dini telah dijelaskandalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat
132 yang berbunyi.

      ‫.ووصىبها إبراهيم ببنيه ويعقوب‘ يا بني إناهلل إصطفى لكم الدين فال تموتن إال وأنتممسلمون‬
Artinya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapankepada anak-anaknya, demikian
juga Ya’kub. Ibrahim berkata: haianak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini bagimu, makajanganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.



      Secara garis besar pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu:

   a. Pembinaan Akidah dan Akhlak

      Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominanadalah seorang anak dengan
dasar-dasar keimanan, ke-Islaman, sejak mulai mengerti dan dapat memahami
sesuatu, maka al-Ghazali memberikan beberapa metode dalam rangka menanamkan
aqidah dan keimanan dengan cara memberikan hafalan. Sebab kita tahu bahwa
proses pemahaman diawali dengan hafalan terlebih dahulu (al-Fahmu Ba’d al-
Hifdzi).Ketika mau menghafalkan dan kemudian memahaminya, akan tumbuh
dalam dirinya sebuah keyakinan dan pada akhirnya membenarkan apa yang
diayakini. Inilah proses yang dialami anak pada umumnya. Bukankah mereka atau
anak-anak kita adalah tanggungjawab kita sebagaimana yang telah Allah
peringatkan dalam al-Qur’an yang berbunyi:

                                                       ‫يا أيهاالذين أمنوا قوا انفسكم وأهليكم‬
‫نارا‬

Artinya: “Jagalah diri kalian dan keluargakalian dari panasnya api neraka”

         Muhammad Nur Hafidz merumuskan empat pola dasar dalam bukunya.
Pertama, senantiasa membacakan kalimat Tauhid pada                  anaknya. Kedua,
menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.Ketiga, mengajarkan al-Qur’an
dan keempat menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan.

         Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku,
pendidikan dan pembinaan akhlak anak. Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan
teladan dari orang tua.Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan
hubungan antaraibu, bapak dan masyarakat. Dalam hal ini Benjamin Spock
menyatakanbahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikan
teladan ataupun idola bagi mereka.

       b. Pembinaan Intelektual

         Pembinaan intelektual dalam keluarga memgang peranan penting dalam upaya
meningkatkan kualitas manusia, baik, intelektual, spiritual maupun sosial. Karena
manusia yang berkualitas akan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah
sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Mujadalah yang berbunyi:

         ‫أوتواالعلمدرجات‬     ‫والذين‬      ‫منكم‬        ‫آمنوا‬          ‫الذين‬           ‫يرفعاهلل‬
Artinya:
     “Allah akan mengangkat derajatorang-orang yang beriman dan orang-orang
yang berilmu diantara kalian”.

     Nabi Muhammad juga mewajibkan kepada pengikutnya untuk selalu mencari
ilmu sampai kapanpun sebagaimana sabda beliau yang berbunyi:

     ‫ومسلمة‬          ‫مسلم‬          ‫كل‬          ‫على‬           ‫فريضة‬         ‫طلبالعلم‬
Artinya:

     “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi muslim dan muslimat”.

  c. Pembinaan Kepribadian dan Sosial

     Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses
pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai
pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatar
belakanginya. Mengingat hal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat
menjaga emosional diri dan jiwa seseorang. Dalam hal yang baik ini adanya
kewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi support kepribadian
yang baik bagi anak didik yang relative masih muda danbelum mengenal pentingnya
arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar
terbiasa berprilaku sopan santun dalam bersosial dengan sesamanya. Untuk
memulainya, orang tua bias dengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orang
tua agar kelak sianak dapat menghormati orang yang lebih tua darinya.




  C. Al-Qur’an Sebagai Pedoman Dalam Pendidikan

     a. Al-Qur’an Dalam Pendidikan Anak

     Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya empat belas
abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan: "Suatu saat kamu akan
menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombing oleh ombak serta
mengikut ke arah mana jalannya angin.
       Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah
? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit "wahan". Para sahabat bertanya: Apakah
penyakit wahan itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa
karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)" (hadits).

       Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya
faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita
akan    hidup   seribu   tahun   lagi   (abadi).   Lihat   QS:   Al   Humazah:   2-3.
Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak
kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan
segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan
Ya'quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan
mereka.
Al Qur'an mengisahkan, Ibrahim dan Ya'qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya
tentang agama ini. "Sungguh Allah telah memilih bagimu agama ini, maka
janganlah sekali-kali kamu mati kecuali telah berislam secara benar" (QS: Al
Baqarah: 132). Bahkan Ya'qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya,
menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: "madzaa ta'buduuna min ba'di"
(Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku) ?". (Lihat QS: Al
Baqarah:133).

       Gambaran Ibrahim dan Ya'qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian
mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka.
Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat "maadza
ta'buduuna" (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata "maadza ta'kuluuna" (apa
yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan
kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim. Sebagai ilustrasi, seringkali jika
anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan
? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.

       Perhatikan kebanggaan seorang orang tua bila anaknya meraih suatu predikat
kesarjanaan (Dr, MBA, dst). Namun alangkah sedikitnya yang menyadari kiranya
predikat -predikat tersebut dapat menjadi jembatan kebahagiaan anaknya dunia-
Akhirat, serta menjaganya dari jilatan api neraka. Kesadaran kita terhadap doa sapu
jagad kita (memohon kebajikan dunia-Akhirat) masih berada di sekitar lingkaran
lisan kita. Sementara dalam fakta sikap kita menunjukkan bahwa kita menghendaki
dunia semata.

      b. Pendidikan Islam Sifatnya Terpadu

      Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai
sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/
fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan
Intelektualitas.

      Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek
yang tidak dapat dipilah-pilah :

      1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah),
      2. Pendidikan Ruh (tarbiyah ruhiyah),
      3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah 'aqliyah).

      Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan
pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan, pendidikan
berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-
milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya. Hakikat inilah
yang menjadi salah satu rahasia sehingga wahyu dimulai dengan perintah "Iqra"
(membaca), lalu dikaitkan dengan "khalq" (ciptaan) dan "Asma Allah" (Bismi
Rabbik). Lihat QS: Al 'Alaq: 1-5. Maksudnya, bahwa dalam menjalani kehidupan
dunianya, manusia dituntut untuk mengembangkan daya inteletualitasnya dengan
suatu catatan bahwa ia harus mempergunakan sarana "khalq" (ciptaan) sebagai
object dan "Asma Allah" (ikatan suci dengan Nama Allah/hukumnya) sebagai
acuan. Bila ketiganya terpisah, akan melahirkan, sebagaimana telah disinggung
terdahulu, suatu ketidak-harmonisan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

      c. Dasar-dasar Pendidikan Anak Dalam Islam
     Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai
ayat, antara lain QS: Luqman: 12 - 19 dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits
Rasulullah SAW. Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan "al
hakiim" atau "Luqman yang bijaksana" mengajarkan bahwa sifat bijak bagi seorang
pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang
secara khusus dikaruniai ni'mat "hikmah" oleh Allah itu menyadari sepenuhnya
bahwa anak adalah bagian dari keni'matan Ilahi yang menjadi cobaan (fitnah)
atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya sebagai
manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni'mat. (ayat: 12)..

     Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari
berbagai ayat Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW:

     1. Mananamkan nilai "tauhidullah" dengan benar
     2. Mengajarkan "ta'at al waalidaen" (mentaati kedua orang tua), dalam batas-
         batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang
         kepada Ilahi.
     3. Mengajarkan "husnul mu'asyarah" (pergaulan yang benar) serta dibangun
         di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut
         memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan
     4. Menanamkan nilai-nilai "Takwallah".
     5. Menumbuhkan kepribadian yang memiliki "Shilah bi Allah" yang kuat
         (dirikan shalat).
     6. Menumbuhkan dalam diri anak "kepedulian sosial" yang tinggi. (amr
         ma'ruf-nahi munkar).
     7. Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar)
     8. Menumbuhkan "sifat rendah hati" serta menjauhkan "sifat arogan".
     9. Mengajarkan          "kesopanan"    dalam     sikap     dan     ucapannya.
         {Kesembilan poin tersebut di atas disimpulkan dari QS. Luqmaan: 12-19}.
     10. Sedangkan QS: As Shafaat: 102, mengajarkan "metodologi" pendidikan
         anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan
         putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan.
         Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita.
Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam
meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu.
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode "dialogis" dalam
mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini yang
pula menolak anggapan sebagian orang, bahwa Islam mengajarkan
ummatnya otoriter, khususnya dalam mendidik anak.

1.1.Pendidikan hendaknya dimulai sejak dini, sehingga tertanam kebiasaan
   dalam diri anak sejak kecil. Kebiasaan ini kelak akan menjadi
   kesadaran penuh saat anak telah mencapai usia akil baligh. Dalam
   hadits nabi, yang artinya, dijelaskan :"Suruhlah anak-anak kamu shalat
   jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah
   berumur sepuluh tahun (apabila masih tidak melakukannya)"
   Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan
   sesuai dengan situasi dimana kita hidup. Pertama, tentu pukulan
   tersebut bukanlah suatu pukulan yang sifatnya "siksaan". Melainkan
   pukulan         yang          bersifat        "didikan"         semata.
   Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan "fisik".
   Melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan "psykologis" atau
   kejiwaan. Sebagai misal, jika anak kita senang piknik di hari libur, dan
   hal ini bila piknik tersebut sebelumnya sudah menjadi kebiasaan
   keluarga, maka jika mereka tidak melakukan kewajiban agamanya
   (shalatnya) maka kebiasaan piknik itu dapat dihentikan sementara.
   Menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya
   dapat menjadi pukulan bathin bagi mereka.
1.2.Tegakkah shalat berjama'ah di rumah tangga masing-masing. Untuk
   anak laki-laki tentu berjama'ah di masjid adalah yang paling afdol,
   sedang untuk anak perempuan lebih afdolnya berjama'ah di rumah.
   Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :"Sinarilah rumah kamu
   dengan shalat" Menghidupkan shalat berjama'ah di rumah memberikan
   pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kejiwaan seorang anak.
1.3.Tanamkan cinta Al Qur'an dalam diri anak sedini mungkin. Al Qur'an
   adalah kalam Ilahi yang bukan saja sebagai petunjuk (hudan),
             melainkan juga sebagai "Syifaa limaa fis Shuduur" (obat terhadap
             berbagai penyakit kerohanian), dan "Nuur" (cahaya/pelita hati).
             Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :"Barangsiapa yang tidak ada
             Al Qur'an di hatinya maka ia seperti rumah runtuh"..
         1.4.Membiasakan praktek-praktek sunnah dalam kehidupan keseharian.
             Misalnya    makan     dengan    membaca      "Bismillah"   dan    doa,
             mengakhirinya dengan "Al Hamdulillah" dan doa, masuk/keluar rumah
             dengan salam, dll. Menghapalkan doa-doa sejak dini juga memberikan
             pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak..
         1.5.Yang terakhir dan yang terpenting adalah hendaknya para orang tua
             menjadi "tauladan" (uswah) bagi kehidupan anak-anaknya. Hidupkan
             agama Allah dalam diri kita, keluarga kita, insya Allah dengan izinNya
             anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran keagamaan yang tinggi.
             Janganlah seperti apa yang biasa terjadi di sekitar kita, dimana orang
             tua mengantarkan anaknya ke sekolah Al Qur'an, agar anaknya belajar
             shalat, namun orang tuanya sendiri justeru mengabaikan Al Qur'an, dan
             shalatnya juga seringkali diabaikan.
         1.6.Memperbanyak doa. Bagaimanapun juga usaha manusia sifatnya
             terbatas. Namun dengan pertolongan Allah, sesuatu dapat berubah di
             luar perkiraannya. Oleh sebab itu, doa dalam hidup kita sangat penting
             untuk menunjang usaha-usaha yang kita lakukan.

     Akhirnya hanya kepadaNya semata kita bergantung dan berserah diri. Semoga
Allah senantiasa menanamkan kesadaran kepada kita semua untuk mendidik anak-
anak kita menjadi harapan masa depan ummat. Yang terpenting, demi keselamatan
keluarga dari jilatan api neraka. "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri
kamu dan keluargamu dari api neraka". Bersihkanlah jalanan (kehidupan) anak kita
dari kuman-kuman yang merusak. Tanamkan benteng penjaga ketakwaan dan
keimanan yang kokoh, pedang keilmuan yang tajam, sarana ibadah yang mantap,
strategi akhlaq yang mulia dalam kehidupan anak kita.
                                     BAB III
                                     PENUTUP
     A. Kesimpulan
     Pengertian dari pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan
sikap di dalam kelompok atau unitsosial terkecil dalam masyarakat. Sebabkeluarga
merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalammenanamkan norma
dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilakuyang penting bagi kehidupan
pribadi, keluarga dan masyarakat.
     Kunci keberhasilan pendidikan dalam keluargasebenarnya terletak pada
pendidikan rohani dengan artian keagamaanseseorang. Beberapa hal yang
memegang peranan penting dalam membentukpandangan hidup seseorang meliputi
pembinaan akidah, akhlak, keilmuandan kreativitas yang mereka miliki.
     Sedangkan pendidikan dalam keluarga itu sendirisecara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
     1. Pembinaan akdah dan akhlak
     2. Pembinaan intelektual
     3. Pembinaan kepribadian dan social


     B. Kritik dan Saran


     Demikian makalah ini kami buat, sebagai manusia pasti banyak sekali
kekurangan dan kehilafan yang kami sengaja maupun tidak kami sengaja. Untuk itu
kami mohon saran dan kritik dari bapak Dosen, agar kami dapat memperbaiki
kesalahan dalam penulisan makalah ini.
     Terima kasih………….
DAFTAR PUSTAKA

   J. Goode, William, SosiologiKeluarga, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
   Muhaimin, Pemikiran PendidikanIslam: Kajian Filosofis dan Kerangka
     Dasar Operasionalnya, Bandung:Trigenda Karya, 1993.
   Poerwadarminta,        W.J.S.,   KamusBesar   Bahasa   Indonesia,   Jakarta:
     BalaiPustaka, 1985.
   Rahmat, Jalaluddin dan Muhtar Gandatama, KeluargaMuslim Dalam
     Masyarakat Modern, Bandung:Remaja Rosdakarya, 1994.
   Sujana, Djuju, PerananKeluarga Dalam Lingkungan Masyarakat,Bandung:
     Remaja Rosdakarya, 1996.
   W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
     Pustaka, 1985, hlm. 702.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:225
posted:12/1/2011
language:Indonesian
pages:14